NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Oshi Heroine wa ~ Tensei Shita Mobu no Ore o Hitorijime Shitai Rashii ~ Shitsuren shita Hiroin o Sasaetara Jojo ni Omoku Natteitta ~ Volume 1 Chapter 2

Bab 2:「Perawatan Mental untuk Heroine Favorit yang Baru Diputuskan」


"……P-pagi! Bun-kun! Kebetulan banget ya!"

 

Pagi itu, seperti biasa, aku berangkat sekolah sendirian, Hiyori menepuk bahuku dari belakang dengan pelan. Suaranya tetap ceria seperti biasa, tetapi entah kenapa terasa agak kaku.

 

"P-pagi."

 

Melihat reaksinya, aku pun membalas dengan agak bingung.

 

"Duh, soalnya kamu lambat sih, aku sampai khawatir kamu tidak masuk

sekolah hari ini tahu?"

 

"Eh, jangan-jangan kamu menungguku?"

 

"Eh……!? A, tidak. A-aku nggak sengaja nungguin kamu atau semacamnya kok!? Ketemu di sini juga cuma kebetulan, kebetulan!"

 

"B-begitu ya……"

 

Nggak perlu sampai segitunya……

 

"Bun-kun. Itu…… ya."

 

Hiyori ragu-ragu sejenak, lalu mulai berbicara dengan sedikitsegan.

"Boleh tidak kalau aku minta satu hal?"

 

"Minta satu hal? Padaku?"

 

Hiyori mengangguk pelan.

 

"Anu ya. Aku sedang bingung. Mulai sekarang, apa aku harus berjuang supaya bisa kembali ke hubungan seperti dulu lagi dengan Tenma dan Hana-chan, atau justru sekalian tidak usah terlibat lagi saja……"

 

Dulu, dia pernah meragukan hubungannya dengan Tenma yang telah menolaknya, lalu memilih untuk kembali menjadi temannya. Hal itu sebagian besar mungkin karena Tenma saat itu belum berpacaran dengan siapa pun.

 

Namun situasinya sekarang sudah berubah.

 

"Makanya, apa pun pilihan yang kuambil nanti…… aku mau Bun-kun tetap berada di sisiku. Jangan pernah tinggalkan aku."

 

Sambil mengucapkan hal itu, Hiyori menggenggam erat jari kelingkingku.

 

Aku belum pernah melihat Hiyori yang tampak cemas seperti ini.

 

"……Aku paham."

 

Saat aku menjawab begitu, Hiyori tersenyum seolah-olah hatinya merasa sangat lega.

Aku tidak berpikir kalau hubunganku dengan Hiyori ini bakal bertahan selamanya. Suatu saat nanti dia pasti akan menemukan cinta baru dan melangkah pergi meninggalkanku. Baginya, aku ini mungkin cuma tempat untuk beristirahat sejenak.

 

Saat saat itu tiba, mari kita restui dia dengan layak. Walau mungkin kalau sudah sendirian nanti aku bisa-bisa jadi gila sih.

 

Sambil merenungkan masa depan yang seperti itu, aku dan Hiyori pun berjalan berangkat sekolah berdua.

 

◇

 

Jam istirahat siang, saat aku berjalan menuju koperasi, terdengar suara langkah kaki seseorang yang berlari kecil mendekat dari arah belakang.

 

"Bisa bicara sebentar?"

 

"……Eh, aku?"

 

"Iya dong."

 

Aku refleks menoleh, dan kulihat Tsukimi Hoshino sudah berdiri di sana dengan tangan bertolak pinggang.

 

Tsukimi Hoshino. Nama panggilannya Hoshinon. Sahabat Nanase Hiyori. Gadis berambut panjang.

 

"Kamu mau ke koperasi sekarang kan. Aku juga ikut. Ada yang mau kubicarakan sedikit denganmu."

 

"……Eh."

 

Hal yang mau dibicarakan Tsukimi-san denganku? Eh, sebenarnya aku mau diinterogasi soal apa nih.

 

Orang ini auranya sedikit mengintimidasi ya.

 

"Kemarin-kemarin kamu membolos pelajaran bareng Hiyori, kan? Ada apa sebenarnya?"

 

Ternyata ketahuan ya. Padahal aku dan Hiyori kembali ke kelas dengan jeda waktu yang agak berbeda, dan karena semua orang cuma memikirkan Hiyori, aku pikir tidak ada satu orang pun yang memperhatikan diriku.

 

……Harus dijawab bagaimana ya. Lagipula, apa Tsukimi-san tahu kalau Hiyori baru saja ditolak?

 

"......Soal Hiyori yang ditolak Shindou, aku sudah dengar langsung dari dia sendiri, jadi kamu nggak perlu mengkhawatirkan soal itu."




"A, begitu ya……"

 

Hmm, kalau begitu.

 

"Shindou dan Ayabe-san. Katanya mereka berdua sudah jadian."

 

Karena mereka berdua tampaknya tidak merahasiakan hal itu, pembicaraannya harusnya tidak masalah. Pada akhirnya semua orang juga bakal tahu.

 

"……Paham."

 

Dengan satu kalimat itu, Tsukimi-san langsung memahami segalanya.

 

Pas sekali kami sampai di koperasi, lalu masing-masing membeli makan siang.

 

Nah, karena pembicaraan sudah selesai, saatnya berpisah.

 

"Kalau begitu, aku duluan……"

 

"Tidak bisa, pembicaraannya belum selesai tahu."

 

Saat aku hendak meninggalkan tempat itu, tanganku langsung dicengkeram erat untuk menahanku.

 

Eeh, masih belum selesai……?

 

"Jujur ya, aku berpikir kalau Hiyori sebaiknya tidak usah terlibat lagi dengan Shindou."

 

Jangan-jangan, ini poin utamanya?

 

"Tidak ada gunanya kan repot-repot merasakan hal menyakitkan cuma demi kembali ke hubungan seperti dulu?"

 

Tsukimi-san mengatakannya dengan ekspresi yang tampak sedikit sedih.

 

Dia pasti sangat memikirkan temannya dan tidak ingin Hiyori terluka lebih jauh lagi.

 

"Kamu perhatian banget ya sama teman. Tsukimi-san."

 

"H-haah? Sama sekali…… bukan begitu kok, j-jijik tahu."

 

Dengan wajah memerah, Tsukimi-san langsung memalingkan wajah.

 

"Sebenarnya, seperti yang dibilang Tsukimi-san, pilihan untuk tidak terlibat dengan Shindou itu tidak salah kok. Ya, kalau bisa kembali jadi teman biasa sih jelas lebih bagus…… tapi kalau begitu Nanase-san bakal terluka kan."

 

"……Benar. Makanya, tidak usah repot-repot mengambil pilihan yang bakal bikin terluka—"

 

"Tapi, yang menentukan hal itu bukan kita."

 

"…………"

 

"Pada akhirnya, ini masalah yang tidak ada jawaban benarnya. Kita cuma perlu mendukung Nanase-san dengan sekuat tenaga supaya apa pun pilihan yang diambilnya nanti, dia tidak bakal menyesal. Cuma sebatas itu kan."

 

"……Hmm. Di luar dugaan kamu memikirkan Hiyori juga ya. Padahal kamu itu penyimpang."

 

"Eh, tunggu sebentar. Penyimpang itu maksudnya apa?"

 

Aku refleks merespons kata-kata yang tidak bisa dibiarkan begitu saja.

 

Kalau ada kesalahpahaman yang tidak-tidak, aku harus meluruskannya.

 

"Penyimpang yang menyamar jadi perempuan memakai rok dan pita milik Hiyori."

 

Aduh gawat. Tidak ada satupun yang bisa kubantah.

 

"Jujur ya, aku tadinya tidak paham kenapa Hiyori bisa begitu manja padamu…… tapi ya, makin ke sini rasanya makin bisa kupahami juga sih."

 

"Tidak tidak, Nanase-san pasti sama sekali tidak menganggapku apa-apa kok."

"Haah? Kamu mungkin tidak tahu ya, belakangan ini kalau ada kesempatan sedikit saja Hiyori pasti langsung bilang Bun-kun, Bun-kun……"

 

"Lho? Bun-kun sama Hoshinon? Kombinasi yang langka ya."

 

Saat hendak masuk kelas, Hiyori berdiri tepat di depan pintu, seolah menghalangi jalan masuk.

 

Tsukimi-san memasang wajah seolah menyadari kalau dia sudah kelepasan bicara.

 

"A-etto, aku cuma pergi ke koperasi bareng sama anak ini kok."

 

"Hmm? Padahal kelihatannya kalian berdua lumayan akrab begitu tuh……"

 

Hiyori, yang biasanya ceria, kali ini justru memasang wajah tidak senang.

 

""Kami sama sekali tidak seakrab itu kok……""

 

Kami malah menjawab bersamaan dengan kompak, lalu refleks saling bertatap muka. Melihat reaksi kami, Hiyori makin cemberut seolah tidak senang.

 

"P-pokoknya, aku sama anak ini tidak ada hubungan apa-apa kok."

 

Sambil berkata begitu, Tsukimi-san melangkah cepat masuk ke dalam kelas.

 

"Etto, kalau begitu aku juga……"

 

Aku mulai berjalan menuju bordes tangga darurat. Itu adalah tempat menyendiri favoritku nomor 3 belakangan ini.

 

Ngomong-ngomong, tempat makan siangku memang berganti secara berkala.

 

"Ah, tunggu sebentar."

 

"Eh? Apa?"

 

Refleks aku berbalik saat dipanggil oleh Hiyori.

 

"Bun-kun makan siang bareng siapa?"

 

"Ah, sebenarnya—"

 

"Tidak boleh bohong ya."

 

"………………………………Makan sendirian."

 

"Begitu ya, begitu ya……! K-kalau begitu. Gimana kalau makan bareng kami saja? Aku mau mengenalkan Bun-kun juga!"

 

"……Eh?"

◇

 

"Aku kenalkan ulang ya! Ini dia, Bun-kun!"

 

"Ooh…… prok prok"

 

"………………"

 

Aku sekarang sedang makan siang bersama tiga orang gadis cantik di kelas.

 

Aku diseret sambil dipegang tangannya oleh Hiyori, lalu berakhir makan siang bergabung dengan kelompok anak perempuan kasta tertinggi di kelas.

 

Perasaan asing macam apa ini. Benar-benar seperti hidangan bubur teh sederhana yang terselip di antara sajian kuliner mewah Prancis.

 

Tsukimi-san bahkan menatapku seolah berkata, ‘Kenapa kau ada di sini, bajingan?!’

 

Tidak bisa nih. Aku benar-benar ingin kabur sekarang juga.

 

"……Sebentar, kenapa bisa jadi begini sih."

 

Tsukimi-san di sebelahku berbisik dengan mata yang seolah menyalahkanku.

"Entah, situasinya berkembang terlalu cepat sampai aku nggak bisa mengikutinya. Bisa dibilang aku cuma mengikuti arus, atau lebih tepatnya, nggak bisa menolak…… akhirnya aku menyerah. Iya."

 

"Dasar payah."

 

Hei, hentikan. Jangan membisikkan kalimat seperti itu di dekat telingaku.

 

"……Kalian berdua, bukannya sedikit terlalu dekat ya?"

 

""Sama sekali tidak dekat kok.""

 

Saat kami menyahut bersamaan menanggapi kata-kata Hiyori, sikut Tsukimi-san melayang dari samping. Sakit tahu.

 

Entah kenapa Hiyori menatap interaksi kami berdua dengan mata menyipit tajam.

 

"Aku sudah dengar ceritanya dari Hiyori lho. Bun-bun."

 

Gadis yang bergumam begitu sambil menatapku dengan penuh rasa ingin tahu adalah Serizawa Shizuku.

 

Dia gadis cantik berambut perak panjang dengan wajah yang tampak mengantuk dan membawa aura yang sedikit rapuh, sekaligus merupakan salah satu sahabat Nanase Hiyori.

 

……Bentar deh, Bun-bun itu apa coba?

"Sosok tangguh yang pernah kalah 10 kali berturut-turut dalam percintaan dan suka memakai rok Hiyori buat menyamar jadi perempuan…… benar-benar sangat menarik."

 

Sialan. Dua-duanya memang benar, jadi aku tidak bisa membantah apa pun.

 

"Tuh kan, beneran penyimpang."

 

"T-tapi Bun-kun itu penyimpang yang baik kok!"

 

Hiyori-san. Pembelaanmu sama sekali tidak membantu tahu.

 

"Belakangan ini Hiyori cuma membicarakan Bun-bun terus lho."

 

"M-masa sih?"

 

Kalau dipikir-pikir, tadi Tsukimi-san juga mengatakan hal yang kurang lebih sama ya……

 

"Iya. Kemarin saat kuhitung, ada 10 kali dia membicarakan Bun-bun……"

 

"Eh……"

 

"Hiyori, kamu suka banget ya sama anak ini."

 

"Bukan!! Bukan begitu!!"

 

Tidak usah membantah setegas itu juga kali……

 

"D-daripada itu! Shi-chan. Bun-bun itu maksudnya apa?"

 

Hiyori mewakili pertanyaan yang muncul dari dasar hatiku.

 

"Nama panggilan untuk Bun-kun yang kupikirkan sendiri. Aku kan tidak tahu nama aslinya orang ini."

 

Aku, bahkan namanya saja tidak diingat ya.

 

"Soalnya Hiyori cuma memanggilnya Bun-kun terus, jadinya aku terpaksa membuat nama panggilan khusus buatku sendiri……"

 

Entah kenapa Serizawa-san mengatakannya dengan raut wajah yang tampak bersungguh-sungguh.

 

"Karena itulah, aku sering mendengar cerita tentang Bun-bun dari Hiyori, jadi sampai batas tertentu aku lumayan tahu soal Bun-bun. Meski namanya tidak kuingat sih."

 

Begitu ya……

 

"……Lho? Kalau begitu bukannya tidak perlu mengenalkanku lagi?"

 

"Aku rasa Hiyori cuma ingin mengenalkan kami kepada Bun-bun kok."

 

"Ugh……"

 

Hiyori tampak jelas-jelas goyah. Sepertinya tebakanku tepat sasaran.

 

"Etto, sebenarnya ya…… aku mau menjadikan ini sebagai kesempatan supaya bukan cuma denganku saja, tapi kamu juga bisa akrab dengan Hoshinon dan Shi-chan."

 

"Kenapa begitu?"

 

"Anu, kalau melihat Bun-kun sendirian itu rasanya jadi bikin nyesek.

Soalnya tidak bisa kubiarkan begitu saja. Lagipula, aku berpikir kalau…… aku ingin lebih banyak menghabiskan waktu bersama Bun-kun."

 

Sambil sedikit malu-malu, Hiyori mengatakannya.

 

Pasti, alasan ingin bersama denganku itu cuma sekadar alasan formalitas, sedangkan niat aslinya adalah mengenalkanku pada mereka berdua supaya aku tidak menjadi penyendiri lagi.

 

Jangan-jangan, Hiyori merasa berutang budi padaku……?

 

Kalau memang begitu, rasanya aku jadi merasa bersalah pada dirinya………

 

"Benar, makanya, demi Hiyori, kita harus segera mempererat hubungan."

 

Entah kenapa sambil memasang wajah bangga Serizawa-san menjelaskan hal itu, hingga aku refleks menoleh ke arah Hiyori.

"Benar begitu?"

 

"He? Yah, aku memang mau Bun-kun cepat terbiasa dengan kelompok kami sih……"

 

Begitu ya, paling tidak untuk sementara? Penjelasan Serizawa-san tampaknya memang benar.

 

"Kalau begitu, Bun-bun. Sepulang sekolah hari ini…… ayo kencan denganku."

 

"Aah, iya."

 

……Iya?

 

"……Eh?"

 

"……Ha?"

 

Di saat Hiyori dan Tsukimi-san menatap kami berdua dengan wajah cengang, Serizawa-san tersenyum gembira.

 

"Aku menantikannya ya……"

 

◇

 

Sepulang sekolah, aku diajak berkencan oleh sahabat Nanase Hiyori, Serizawa Shizuku, dan kami berdua melangkah menuju pusat perbelanjaan di Stasiun Kyoto.

Jujur saja, aku yang meragukan apakah ini benar-benar bisa disebut kencan, tetapi karena Serizawa-san sendiri yang bilang kalau ini kencan, berarti ini kencan kan ya.

 

……Kenapa bisa jadi begini?

 

Saat aku melirik pelan ke arah Serizawa-san yang berjalan di sampingku, tampak mata yang mengantuk dan wajah tanpa ekspresi seperti biasanya.

 

Aku tidak tahu apa yang sedang ada di pikirannya.

 

"…………Ah."

 

"Eh? A-apa?"

 

"Coba lihat awan itu…… kelihatan mirip payudara banget."

 

Orang ini sebenarnya sedang memikirkan apa sih, beneran deh.

 

"Fumu, itu diperkirakan ukuran cup E. Mungkin seukuran punya Hiyori ya."

 

"Awan yang mana coba?"

 

"Tuh, awan yang itu."

 

Aku menatap awan yang ditunjuk oleh Serizawa-san.

 

"Ah, beneran…… mirip payudara…… mesum banget."

 

"Kan, mesum ya."

 

"Nah!? S-Serizawa-san! Awan yang di sebelah sana mirip kotoran lho!"

 

"Mummum, hobi-hobi. Yang ini bentuknya lumayan megah ya. Bun-bun. Boleh juga kamu."

 

"Hehe……"

 

Tidak, apa-apaan ini. Obrolan anak laki-laki SD kah?

 

"Menyenangkan ya. Bun-bun."

 

"Eh? Masa sih?"

 

"Iya. Menyenangkan kok. Kamu merespons percakapanku dengan sangat antusias."

 

Saat dikatai begitu aku kembali menatap Serizawa-san, tetapi wajahnya tetap datar seperti biasa. Tidak, apa ini maksudnya dia sedang santai ya?

 

Kalau dipikir-pikir, Serizawa-san ini kan sangat populer ya…… saat jam istirahat siang tadi juga ada obrolan kalau dia baru saja ditembak lagi.

 

Jangan-jangan dia sudah sangat berpengalaman? Perilakunya yang seperti ini ungkin dia memang sudah terbiasa menghadapi cowok.

 

"Bun-bun. Jangan-jangan kamu sedang gugup ya?"

 

"Eh, yah, begitulah. Soalnya kencan itu baru pertama kali dalam hidupku."

 

Berbanding terbalik denganku yang sedikit gugup, Serizawa-san justru tampak sangat tenang. Seperti yang diduga, dia memang sudah terbiasa

ya?

 

Ngomong-ngomong, nonton bioskop bareng Hiyori kemarin…… untuk sementara tidak kuanggap sebagai kencan deh.

 

"Tidak usah gugup begitu tidak apa-apa kok, aku juga baru pertama kali."

 

Lah, ternyata baru pertama kali juga toh……

 

Aku masih bingung melihat Serizawa-san mengatakan itu sambil memasang wajah bangga dan membuat tanda V, aku pun memberanikan diri bertanya.

 

"Etto, kenapa hari ini kamu mengajakku kencan ya?"

 

"……Sebenarnya aku sedikit berbohong."

 

"Bohong?"

 

"Iya. Soalnya ini kan bukan kencan."

 

Ternyata ini bukan kencan.

 

"Tujuan aslinya adalah memilih hadiah buat Hiyori. Soalnya sebentar lagi Hiyori ulang tahun."

 

"Eh, begitu ya?"

 

Seriusan? Aku tidak tahu…… padahal aku ini penggemar karya aslinya kan.

 

Padahal aku mengaku sebagai penggemarnya, tapi ketidaktahuanku ini membuatku sedikit merasa bersalah.

 

"Bun-bun juga kalau menyiapkan hadiah pasti Hiyori bakal senang, makanya aku bilang kencan buat mengajakmu memilih hadiah."

 

Begitu ya. Supaya tidak ketahuan oleh Hiyori kalau sedang menyiapkan hadiah, dia berbohong mengajak kencan toh.

 

"Lho? Kalau begitu, kenapa harus berdua saja? Bukannya lebih baik mengajak Tsukimi-san juga lalu memilih bertiga?"

 

Padahal bisa saja janjian bertemu dengan Tsukimi-san di pusat perbelanjaan atau semacamnya kan.

 

"Memang sih begitu, tapi aku ingin pergi berdua dengan Bun-bun."

 

"Eh? Kenapa?"

"Kan sudah kubilang. Aku tertarik pada Bun-bun. Makanya, sekalian memilih hadiah buat Hiyori, aku mau melakukan hal yang seperti

kencan."

 

"……Begitu ya?"

 

Maksudnya, pada akhirnya ini adalah……?

 

"Maksudnya ini…… kencan pura-pura. Begitulah."

 

Paham, kencan tapi bukan kencan. Kencan semacam ini ternyata ada ya.

 

Aku baru tahu.

 

"Makanya tidak perlu gugup. Soalnya tergantung kamu bisa memuaskanku atau tidak, itu cuma bakal menentukan bagaimana hubungan kita kedepannya kok."

 

Bukannya itu penting banget ya.

 

"Yah, tenang saja. Sekarang poinmu lumayan terkumpul kok."

 

Bohong kan? Jangan-jangan gara-gara obrolan awan payudara dan kotoran tadi poinnya langsung terkumpul?

 

"Ah, Bun-bun."

 

Saat aku mengikuti arah pandangan Serizawa-san yang menarik-narik lengan bajuku, tampak sebuah toko es krim. Saat mendekat karena penasaran, berbagai jenis es krim berjejer rapi, dan sepertinya itu adalah toko yang terkenal.

 

"Serizawa-san mau yang mana?"

 

"Hu, kencannya kan sudah dimulai tahu. Coba tebak es krim yang mau kumakan."

 

"……Kalau tidak tertebak bagaimana?"

 

"Kencannya selesai kali ya."

 

"Seriusan? Game busuk banget kan."

 

Di bawah tatapan penuh harapan dari Serizawa-san dan tatapan hangat dari pelayan toko, aku memilih dengan hati-hati. Jujur saja, memilih satu saja es krim yang ingin dimakan oleh Serizawa-san di antara banyaknya pilihan itu adalah hal yang mustahil.

 

Rasanya percuma saja dipikirkan, aku pilih saja es krim yang ingin kumakan sendiri.

 

"Etto, kalau begitu melon dan persik deh."

 

"Na……!?"

 

Serizawa-san kaget seolah-olah hal itu sangat mengejutkan baginya.

 

"K-kenapa kamu bisa tahu es krim yang ingin kumakan……?"

Ternyata tebakanku benar dong.

 

"Eh? Tidak, aku cuma memilih yang ingin kumakan sendiri seperti biasanya kok."

 

"B-begitu ya……"

 

'Wah syukurlah ya' kata pelayan toko sambil tersenyum menyodorkan wadah cup es krim, lalu kami pun meninggalkan toko. Di tanganku kini ada es krim melon dan persik.

 

"Nah, Bun-bun. Sekarang ada dua pilihan kan. Serahkan yang ingin kumakan padaku."

 

Sambil memasang wajah bangga tanpa alasan yang jelas, Serizawa-san mengulurkan kedua tangannya.

 

"Nih. Es krim persiknya."

 

"……!?"

 

Ekspresi terkejut itu, tadi aku juga sudah melihatnya.

 

"Eh, jangan-jangan…… Bun-bun ini seorang esper?"

 

"Bukan esper sih, tapi aku cuma memilih yang ingin kumakan sendiri saja…… Mungkin, aku dan Serizawa-san punya selera yang sama ya."

 

"Artinya, kecocokan tubuh kita bagus begitu?"

"Bisa dibilang begitu tapi bukan ke arah sana sih…… maksudku. Nih, buatmu."

 

"Nn?"

 

Saat menyodorkan wadah es krim melon ke Serizawa-san, dia memiringkan kepalanya.

 

"Kamu mau makan yang melon juga kan? Kalau cuma satu-dua suap saja boleh kok. Belum kena mulutku, jadi silakan."

 

"Bun-bun. Boleh juga kamu. Aku sepertinya jadi sedikit suka padamu deh."

 

"Eeh……"

 

Jangan-jangan, Serizawa-san ini tergolong choroin yang gampang gaet ya.

 

Melihat Serizawa-san yang sedang makan es krim persik dengan puas, aku pun berpikir begitu.

 

Setelah itu, saat melihat-lihat berbagai barang di toko pernak-pernik, ada satu barang yang cukup menarik perhatianku.

 

……Aroma stone ya.

 

Cara pakainya mudah, lalu tergantung aromanya, katanya bisa memberikan efek rileks juga. Bagi Hiyori yang belakangan ini hatinya sedang lelah, ini mungkin pas sekali.

 

……Sip, aku beli ini saja.

 

"Ah, ternyata kamu pilih yang itu ya."

 

Serizawa-san mendadak mengintip dari belakang.

 

"Jangan-jangan, Serizawa-san juga berniat memilih aroma stone?"

 

"Tenang saja, kandidatku masih ada kok. Garam mandi yang punya efek rileks…… Hiyori kan suka mandi."

 

Pilihan barang yang punya efek rileks menandakan kalau Serizawa-san juga punya pemikiran yang sama denganku.

 

Setelah itu, kami pergi ke toko khusus garam mandi yang agak modis, lalu Serizawa-san juga berhasil membeli hadiahnya dengan selamat.

 

""A……""

 

Saat berjalan menuju pintu keluar, kebetulan boneka beruang raksasa tertangkap oleh mata kami, hingga kami berdua terhenti.

 

Kalau menjadikan ini sebagai hadiah kejutan, bukannya bakal menarik dalam arti tertentu? Kesan impact-nya luar biasa, pasti bakal seru juga……

Saat melirik pelan ke samping, kebetulan Serizawa-san juga sedang menatapku.

 

""Kalau menjadikan ini hadiah kejutan sepertinya bakal seru ya.""

 

Suara kami berdua bertumpuk dengan indah seolah-olah sudah direncanakan.

 

Tanpa sadar, kami berdua menyeringai sambil membenturkan tinju pelan.

 

"Tapi, apa tidak apa-apa ya? Ukuran sebesar ini kalau diterima malah bikin repot tidak ya……"

 

"Tidak apa-apa, dulu dia pernah bilang kalau seumur hidup ingin coba membeli boneka besar sekali saja…… kalau tidak salah. Mungkin. Kayaknya sih."

 

"Informasi itu bisa dipercaya tidak nih?"

 

Tapi, yah…… dia sendiri harusnya memang suka boneka beruang sih.

 

"Bagaimana kalau kita berdua patungan saja……"

 

"Boleh juga. Pesta ulang tahunnya bakal diadakan di vila keluargaku, jadi untuk sementara minta dikirimkan ke rumahku saja."

 

Pada akhirnya, karena terbawa suasana, kami berdua memutuskan untuk patungan membeli boneka beruang raksasa itu.

Kami akhirnya meninggalkan pusat perbelanjaan dan berjalan menuju Stasiun Kyoto. Kencan pura-pura ini pun perlahan mendekati penghujungnya.

 

"Padahal ini dibeli karena terbawa suasana, tapi kalau Hiyori mau menerimanya, bagaimana cara membawanya sampai ke rumah Hiyori?"

 

"Bukannya tinggal diangkut oleh Serizawa-san dan Tsukimi-san saja?"

 

"Hei, Tomida jangan membolos dong."

 

"Eh, lagipula…… pesta ulang tahunnya kan cuma kalian bertiga ya?"

 

"Eh, Bun-bun tidak ikut?"

 

"He? Boleh ikut?"

 

"Ung."

 

Serizawa-san mengangguk pelan seolah hal itu sudah semestinya.

 

Begitu ya, aku boleh ikut toh……

 

"Pasti nanti dimarahi oleh Hoshino, dibantu oleh Hiyori, lalu aku dan Bun-bun bakal kerepotan mengangkut boneka raksasa itu sampai ke rumah Hiyori ya."

 

Nada suaranya terdengar agak gembira, hingga pemandangan mengangkut boneka bersama Serizawa-san membayang di kelopak mataku.

 

"Rasanya, kita berdua bakal pulang sambil menyesali betapa melelahkannya hal itu ya……"

 

"Bun-bun……"

 

"Nn?"

 

"Rasanya menyenangkan…… ya."

 

Sambil mengucapkan hal itu, Serizawa-san menengadah menatapku dengan senyuman malu-malu.

 

"Ah, benar ya."

 

Membayangkan masa depan yang bakal datang nanti, kami saling bertatap muka lalu tertawa.

 

"Ah, Bun-bun. Tunggu sebentar ya."

 

Meninggalkan kata-kata itu secara mendadak, Serizawa-san berlari kecil melangkah pergi. Tempat yang dituju oleh lariannya adalah sebuah food truck penjual taiyaki.

 

"Nih. Ini bagian buat Bun-bun. Ayo makan bareng."

 

"Eh, a, terima kasih."

 

Sambil kebingungan menerima taiyaki yang disodorkan secara tiba-tiba, aku menyantapnya satu gigitan.

 

"Ini Matcha Kacang Merah……! Kesukaanku nih."

 

"Aku sudah tahu kalau Bun-bun bakal bilang begitu. Fufun."




Melihat reaksiku, Serizawa-san membusungkan dadanya dengan bangga sambil tersenyum jahil.

 

"Ah, tadi harganya berapa?"

 

"Tidak usah bayar. Aku kan kaya. Lagipula hari ini menyenangkan kok………… itu, kalau besok-besok kita jalan berdua lagi, kamu bisa traktir aku sesuatu."

 

"Tidak ah, aku bayar sekarang saja."

 

Jujur saja, belum tentu bakal ada kesempatan berikutnya kan.

 

"K-kalau kamu bayar sekarang, aku jadi tidak punya alasan buat mengajak kencan berikutnya dong……"

 

Tidak biasanya, Serizawa-san memalingkan wajahnya dengan canggung dan malu-malu.

 

"Aku tidak begitu paham sih, tapi biar aku saja yang bayar porsi kita berdua. Nanti kalau ada kesempatan lagi, Serizawa-san bisa traktir aku sesuatu."

 

Yah, harganya juga tidak seberapa, jadi kalaupun tidak ada kencan pura-pura berikutnya, tidak masalah juga.

 

"……Pola begitu malah bikin lebih gampang mengajak ya."

 

Serizawa-san menerima uangnya seolah bisa memaklumi hal itu.

Sambil makan taiyaki, kami berdua melangkah masuk ke Stasiun Kyoto, lalu sampai di gerbang tiket kereta yang bakal dinaiki oleh Serizawa-san.

 

"Bun-bun. Hari ini menyenangkan. Kalau begitu, sampai nanti ya."

 

"Ung. Sampai ketemu di sekolah."

 

Aku melambaikan tangan saat mengantar Serizawa-san pergi.

 

Tepat setelah itu, tiba-tiba ponselku bergetar.

 

Nn? Ada pesan masuk ya. Dari siapa kira-kira…… eh? Dari Hiyori?

 

Hiyori: 『Kalau kencan dengan Shi-chan sudah selesai, boleh minta tolong hubungi aku?』

 

Eh? Hubungi? Ada apa ya?

 

Saat aku berjalan di dalam Stasiun Kyoto sambil hendak membalas pesan Hiyori, tiba-tiba saja……

 

""……Ah.""

 

Siapa sangka aku malah bertemu langsung dengan Hiyori sendiri.

 

"Eh, wa, etto. B-Bun-kun. Kebetulan banget ya. Kencan dengan Shi-chan sudah selesai?"

Sambil mengotak-atik ponsel di tangannya tanpa alasan yang jelas, Hiyori menghampiriku dengan pandangan mata yang melayang kemana-mana.

 

"U-ung. Tadi aku baru saja mau membalas pesanmu………… jangan-jangan, kamu menungguku dari tadi?"

 

"Eh, a, tidak kok…… k-kebetulan saja tahu? Kebetulan aku juga lagi belanja di sekitar Stasiun Kyoto, terus karena penasaran sama Bun-kun dan Shi-chan, aku coba hubungi saja."

 

Beneran nih? Aku jelas-jelas meragukannya, tapi memilih untuk tidak mengatakannya.

 

Padahal katanya habis belanja, tapi kedua tangannya tidak membawa apa-apa tuh…… pasti barang belanjaannya dimasukkan ke dalam tas ya.

 

Ung.

 

"G-bagaimana tadi? Kencan dengan Shi-chan."

 

"Eh? A, aa…… kencannya"

 

Tidak, tunggu sebentar. Kalau tidak salah Serizawa-san tadi bilang berbohong kencan karena mau merahasiakan soal hadiah kan.

 

Kalau begitu……

 

"Ung. Menyenangkan kok. Kencan dengan Serizawa-san."

Menjawab seperti ini adalah opsi terbaik.

 

"……B-begitu ya."

 

Eh, tunggu. Kenapa wajahnya mendadak meredup?

 

"……A-apa saja yang kalian lakukan? Waktu kencan."

 

"He? A, itu. Makan es krim. B-belanja……?"

 

"……Hhee~ beli apa?"

 

Eh, t-tunggu, k-kenapa dari sekian banyak hal kamu malah menggalinya sampai sedalam ini?

 

"E, etto…… itu……"

 

"Bun-kun. Kamu menyembunyikan sesuatu dariku ya?"

 

"EH……"

 

Saat aku terdiam dan tak tahu harus menjawab apa, sebuah pertanyaan telak langsung menghantamku.

 

Melihat diriku yang goyah, pandangan Hiyori yang tadinya melayang kemana-mana kini menatap mataku dengan tajam tanpa bergeming sedikit pun.

 

"Jangan-jangan sama Shi-chan, ada terjadi sesuatu?"

"Eh, tidak kok."

 

"Ada kan."

 

……Tolong aku.

 

Suaranya tidak berubah. Dia tidak sedang marah juga. Tapi kenapa ya.

 

Aura yang mengelilinginya terasa menjadi sangat berat.

 

Namun, di sini aku tidak boleh membiarkan keberadaan hadiah ulang tahunnya tercium.

 

『Eh, apa-apaan tuh. Pertengkaran hebat?』

 

『Uwa, dia benar-benar dipojokkan sama pacarnya tuh.』

 

Suara-suara dari orang sekitar terdengar dari suatu tempat.

 

Pertengkaran hebat…… dalam arti tertentu mungkin memang situasi yang kacau sih.

 

"Kita kan sahabat dekat kan? Makanya, aku mau paham juga soal urusan asmara Bun-kun…… atau semacamnya gitu……"

 

Eh, kita berdua ini sahabat dekat? Sejak kapan hubungan kita naik tingkat sampai ke tahap itu?

 

T-tidak tidak. Daripada memikirkan hal itu, rasanya aku sedang disalahpahami secara luar biasa deh.

 

"……Terus? Apa yang kamu sembunyikan?"

 

Introgasi yang tak kunjung berhenti. Serta tatapan mata yang sama sekali tidak berniat dialihkan.

 

Aku belum pernah melihat Nanase Hiyori yang seperti ini.

 

"……Aku beli ini."

 

Dari dalam tas, aku mengeluarkan kantong hadiah berisi aroma stone yang kubeli tadi, lalu menyodorkannya kepada Hiyori.

 

Maafkan aku, Serizawa-san. Berbohong secara asal-asalan kepada Hiyori yang sekarang rasanya adalah langkah yang sangat buruk……

 

"Ini kan……"

 

Hiyori mengedipkan matanya berkali-kali sambil menatap kantong hadiah itu. Aura mengintimidasi yang tadi terasa begitu kuat mendadak menghilang.

 

"Hadiah ulang tahun buat Nanase-san. Tadi aku belinya bareng Serizawa-san."

 

"Eh? Ah!! Begitu ya, ternyata……"

 

Seolah-olah tersadarkan, dia mengangguk memaklumi.

 

Syukurlah. Kesalahpahaman tampaknya sudah lurus sepenuhnya.

 

"Soalnya hadiah ini tidak boleh sampai ketahuan oleh Nanase-san, makanya kami berpura-pura kencan."

 

"J-jadi begitu ya……"

 

Sambil mengucapkan hal itu, Hiyori mengelus dadanya seolah merasa sangat lega dari dasar hatinya.

 

Pada saat itu juga, perutnya mendadak berbunyi kruuuk.

 

"A, tidak, ini tuh, itu, bukan begitu! Soalnya aku menunggumu di sekitar sini terus, jadi belum makan apa-apa, l-lagipula! Jamnya kan sudah jam segini!"

 

Tampaknya dia sangat malu hingga wajahnya memerah padam sampai ke telinga saat membantah. Yah, di jam segini sih wajar saja kalau lapar.

 

"Makan malam. Mau makan bareng di suatu tempat sebelum pulang?"

 

"Ah, ung!! Ehehe."

 

Melihat senyumnya yang merekah, tanpa sadar aku ikut tersenyum.

 

Sambil memikirkan mau makan apa dan berjalan asal di sekitar lokasi, tiba-tiba Hiyori menggenggam erat jari kelingkingku.

"Ada apa?"

 

"He?"

 

"Tidak, jari kelingkingku. Kamu genggam."

 

"……Eh, a, beneran."

 

Rupanya dia melakukannya secara tidak sadar, hingga orang yang menggenggamnya sendiri ikut bingung.

 

Namun, tidak ada tanda-tanda dia mau melepaskannya sama sekali.

 

"……Bagaimana ya, aku sebenarnya sangat senang kalau Bun-kun bisa akrab dengan Shi-chan atau Hoshinon tahu? Tapi, begitu membayangkan kamu kencan dengan Shi-chan, rasanya aku jadi kepikiran banget dan agak cemas. Gimana ya bilangnya, apa aku jadi panik ya. Ahaha, aneh ya. Padahal aku sendiri yang mengenalkan Bun-kun ke semuanya."

 

Begitu ya, dia cemas kalau aku dan Serizawa-san makin akrab, Serizawa-san bakal merebutku darinya.

 

Memang sih, kalau teman yang kita kenalkan tahu-tahu jadi lebih akrab melebihi hubungan dengan kita sendiri, selain senang pasti ada rasa tidak suka juga kan.

 

Mungkin wajar saja kalau Hiyori sampai panik begitu.

 

"A, anu ya……!"

 

Sambil pipinya agak memerah, Hiyori menatapku dengan mantap seolah sudah membulatkan tekad.

 

"Bun-kun. Lain kali ya, itu, mau tidak denganku…… jalan-jalan? Belanja. B-berdua saja."

 

"Eh? U-ung. Boleh saja sih."

 

Sambil bingung menanggapi ajakan mendadak dari Hiyori, aku menganggukkan kepala.

 

"Hore! Janji ya! Harus beneran janji lho!"

 

"I-iya."

 

Padahal tidak perlu sampai menegaskan sejauh itu…… tetapi, kenapa orang sepertiku yang malah diajaknya pergi bersama ya.

 

"……Nn!"

 

Dengan sigap Hiyori menyodorkan jari kelingkingnya.

 

"……Ayo janji kelingking."

 

"He? A, iya."

 

Meski agak bingung, aku menautkan jari kelingkingku dengan milik Hiyori.

 

Lalu, Hiyori menatap mataku dengan lekat dan berkata:

 

"……Janji ya?"

 

◇

 

"Bun-bun. Ayo makan siang bareng~"

 

Saat jam istirahat siang, tepat di saat aku hendak menyantap makan siang sendirian seperti biasanya, Serizawa-san mendadak menyapaku.

 

"Se-Serizawa-san. Eh, a, bolehkah aku makan bersama kalian?"

 

"Eh, boleh dong. Kenapa tidak boleh?"

 

"Soalnya kan hubungan kita ini baru sebatas lebih dari kenalan tetapi kurang dari teman……"

 

"Tidak ah, kita kan sudah berteman."

 

"Eh……?"

 

Aku refleks membeku mendengar pernyataan mengejutkan dari Serizawa-san.

 

"Kami sudah menganggap Bun-bun sebagai teman kok."

Eh? Kami. Berarti itu maksudnya………

 

"Etto, itu…… artinya, bukan cuma Serizawa-san saja………… tapi

Nanase-san dan Tsukimi-san juga menganggapku sebagai teman!?"

 

"Iya dong."

 

Beneran nih!?

 

"Kalau tidak begitu, mana mungkin kami mengundangmu ke pesta ulang tahun Hiyori."

 

Memang benar sih…………!!

 

"Haah, Bun-bun ini merepotkan di bagian-bagian yang aneh ya. Apa kamu kurang rasa keramahan di dalam hati?"

 

Aku malah mendapatkan wajah heran dari Serizawa-san.

 

R-ramah ya……

 

Sambil mengucapkan terima kasih dari lubuk hati kepada Dewa Serizawa yang telah mengulurkan tangan kepadaku, aku pun menghampiri Hiyori dan Tsukimi-san.

 

Namun, Hiyori tidak ada di sana.

 

"Lho, Hiyori mana?"

Serizawa-san bertanya pada Tsukimi-san yang sedang menyantap bekalnya lebih awal.

 

"Nn~? Tadi dia dipanggil seseorang. Katanya bakal agak lama, jadi kita disuruh makan duluan saja…… tapi kenapa kamu juga ada di sini."

 

"Ohoi Tsukki~? Jangan dingin begitu dong. Kita kan teman?"

 

"Ha? Apa-apaan sih anak ini. Jijik banget tahu."

 

"Eh, a…… maaf ya."

 

M-masa sih. Padahal aku sudah berjuang mengeluarkan rasa ramahku……

 

"Hoshino curang. Aku juga mau dipanggil pakai nama panggilan."

 

"Kamu malah mempermasalahkan bagian itu!?"

 

Sambil menggembungkan pipinya, Serizawa-san mendapatkan balasan heran dari Tsukimi-san.

 

"Katanya bakal agak lama, memangnya Nanase-san ada urusan apa ya?"

 

"Paling-paling ditembak."

 

"Begitu ya, ditembak…… DITEMBAK!?"

 

"Bentar, kenapa kamu yang kaget sih?"

Eh, soalnya kan ditembak!? Ditembak lho!!

 

Tampaknya cuma aku saja yang kaget, sementara Tsukimi-san dan Serizawa-san tampak sudah sangat terbiasa.

 

Tidak, kalau dipikir-pikir mereka memang sudah terbiasa ya. Tiga orang ini kan kelompok gadis cantik papan atas di angkatan kami. Ditembak pria sih sudah jadi makanan sehari-hari.

 

Yah, bagiku sendiri ditembak juga sudah jadi makanan sehari-hari sih.

 

………………Meskipun aku di pihak yang ditolak.

 

"Daripada berdiri terus di situ cepat duduk di samping sana kenapa?"

 

"Ah, tidak. Aku juga sekarang mau sebentar……"

 

"Eh, jangan-jangan…… kamu berniat melihat tempat penembakannya? Parah banget."

 

"Bukan, aku cuma mau pergi ke koperasi kok!!"

 

Aku buru-buru membantah Tsukimi-san yang jelas-jelas sudah merasa jijik melihat tingkahku, lalu berjalan menuju koperasi.

 

Meski begitu, ditembak ya.

 

Kira-kira Hiyori yang sekarang bakal memberikan jawaban seperti apa ya. Apa dia bakal bilang masih belum mau pacaran, atau justru menerima demi mencari cinta yang baru?

 

Mungkin saja, peranku bakal berakhir tidak lama lagi……

 

"Kalau kamu tidak keberatan, maukah berpacaran denganku?"

 

Bersamaan dengan sorakan kagum, kalimat pernyataan cinta itu terdengar.

 

Seketika aku berbalik ke arah datangnya suara, dan di sana tampak sosok kapten klub basket yang tampan, Kapten Sasahara, yang sedang menyatakan cinta, serta Hiyori yang sedang ditembak.

 

D-d-ditembak di taman tengah…… serius?

 

Di tengah-tengah banyaknya penonton, dia mengatakannya dengan sangat mantap…… M-mana ada yang bisa mengalahkan orang ini…… Kapten Sasahara benar-benar nggak ada obat.

 

"Kalau ditembak sama Kapten Sasahara yang terkenal itu, wajarnya orang tidak bakal menolak sih."

 

"Iya nih~ bukannya tidak menolak, tapi lebih ke tidak bisa menolak sih."

 

"Belakangan ini Nanase kan lagi agak begitu. Jangan-jangan mereka

bakal jadian?"

 

Banyak penonton yang melihat mulai kasak-kusuk heboh. Suasananya benar-benar seolah meyakini keberhasilan penembakan itu.

 

Jangan-jangan, dia sengaja menyatakan cinta di taman tengah demi menciptakan suasana seperti ini?

 

P-perencana yang cerdik…… Seperti yang diharapkan dari Kapten Sasahara yang merupakan pakar percintaan. Bukankah dia ini veteran yang kenyang pengalaman?

 

"Maafkan aku. Saat ini aku belum berniat untuk berpacaran dengan siapa pun."

 

Hiyori menundukkan kepalanya menolak dengan sopan. Pemandangan itu makin membuat orang-orang di sekitarnya riuh.

 

"Aku tahu situasi yang dialami Hiyori-chan. Justru karena itulah, aku ingin menjadi penopang buat Hiyori-chan. Tidak, aku pasti akan menjadi penopangmu."

 

"Tidak apa-apa kok. Bagi aku, aku sudah ditopang dengan sangat lebih dari cukup."

 

Melihat Hiyori yang menyampaikannya secara tegas seperti itu, entah kenapa aku merasa senang.

 

Rasanya aku jadi bisa percaya diri bahwa aku telah menopangnya dengan benar.

Tiba-tiba, mataku berpapasan dengan Kapten Sasahara. Mata Kapten Sasahara yang menatapku jelas-jelas memancarkan rasa permusuhan.

 

"Kalau tidak salah…… Fuji-kun…… bukan ya? Kamu lumayan jadi bahan rumor lho. Kalau menurutku sih, kamu pasti memanfaatkan kelemahan Hiyori-chan kan."

 

Ingin rasanya aku berteriak dari dasar hatiku 'Jangan asal bicara ya!',

tetapi karena aku punya mental baja, aku berhasil menahannya.

 

Lagipula nama aku itu Tomida. Ingat itu, Dasar Cumi-cumi.

 

"Lagipula, dia itu sama sekali tidak pantas berada di sisimu—"

 

"Anu, bisa tolong berhenti bicara buruk tentang orang yang sangat kusukai?"

 

"……Eh?"

 

Ekspresinya tidak kelihatan.

 

Namun, suara yang dikeluarkan oleh Hiyori jelas-jelas menyiratkan rasa jijik yang mendalam.

 

"Bun-kun itu bukan orang seperti yang dipikirkan oleh Senpai. Dia adalah sosok yang jauh lebih luar biasa daripada Senpai. Tolong jangan asal bicara sembarangan padahal tidak tahu apa-apa tentang Bun-kun."

 

"I-itu sih…… anu."

Dia marah. Hiyori jelas-jelas sedang marah besar.

 

Meskipun Hiyori itu ceria dan baik kepada siapa saja, dia tetaplah manusia biasa. Kalau temannya dikatai buruk, dia pasti bakal marah dan nada bicaranya bakal jadi kasar.

 

Namun, bersamaan dengan emosi marah itu, rasa penolakan serta rasa jijik juga sedikit terlihat.

 

"Permisi."

 

Sama sekali tanpa menoleh ke arah Kapten Sasahara, Hiyori melangkah kembali menuju kelas.

 

Di saat suasana sekitar mendadak membeku, Kapten Sasahara cuma bisa tertunduk diam.

 

◇

 

Sambil melihat-lihat barang di koperasi, aku teringat akan Hiyori.

 

Nanase Hiyori yang marah seperti itu belum pernah kulihat di 『Tenichi!!』. Paling tidak, di situasi seperti itu, bayanganku dia bakal marah sambil menangis lalu membantahnya……

 

"Bu~n…… kun"

 

 

 

"Uwah!"

 

Tepat saat aku hendak mengambil roti melon, Hiyori menyenggol bahuku dengan pelan.

 

A-alangkah anehnya? Bukannya dia tadi sudah kembali ke kelas?

 

"Nanase-san? A-ada apa? Bukannya makan siangmu biasanya selalu bawa bekal?"

 

"……Tadi ya. Karena ada kejadian yang tidak menyenangkan, aku berpikir mau makan yang manis-manis atau semacamnya."

 

"B-begitu ya."

 

Kejadian tidak menyenangkan. Adegan penembakan tadi kembali terbayang di kepalaku.

 

Berbeda dengan beberapa saat yang lalu, Hiyori yang kembali menatap jajanan cokelat kini tampak seperti biasanya.

 

Sampai-sampai aku berpikir kalau Hiyori yang tadi itu adalah orang yang berbeda.

 

"Bun-kun. Kita belakangan ini sering jalan bareng, kan? Makanya, sepertinya mulai muncul rumor yang sedikit tidak enak."

 

Kalau dipikir-pikir, Kapten Sasahara tadi memang bilang kalau kami sedang jadi bahan rumor ya.

"Anu ya, Bun-kun."

 

Jari kelingkingku digenggam erat oleh Hiyori. Kaget, aku menoleh ke arah Hiyori, tetapi pandangannya justru tertuju lurus ke depan.

 

"Aku tuh ya, sama sekali tidak peduli dengan rumor yang disebarkan orang-orang. Makanya…… jangan menghilang ya?"

 

Genggaman pada jari kelingkingku makin mengencang sedikit, lalu dia mendongak menatap wajahku sambil mengucapkan hal itu.

 

"Tenang saja, aku tidak bakal menghilang kok. Kemarin kan aku sudah janji bakal tetap berada di sisimu."

 

Aku sudah berjanji pada Hiyori.

 

Bahwa apapun pilihan yang diambilnya kelak, aku bakal tetap berada di

sisinya.

 

Seandainya aku sampai mengambil jarak darinya, berarti aku melanggar janji itu. Hal itu tidak boleh sampai terjadi.

 

"……Benar juga ya."

 

Saat berkata begitu, Hiyori tersenyum tampak sangat gembira.

 

"Maaf ya mendadak bilang hal yang aneh. Entah kenapa aku jadi cemas."

 

Pasti, berkat interaksi dengan Kapten Sasahara hari ini, pembicaraan soal hubunganku dengan Hiyori bakal menyebar dalam sekejap.

 

Soal kami berpacaran lah, atau justru soal aku yang memanfaatkan kelemahan Hiyori lah.

 

Mungkin karena hal itulah Hiyori cemas kalau aku bakal mengambil jarak darinya atas inisiatifku sendiri.

 

"Nanase-san ini ya, cemas pada hal-hal yang aneh deh. Padahal mana mungkin aku meninggalkan Nanase-san."

 

Melihat reaksi Hiyori yang terlampau berlebihan, mulutku refleks keceplosan bicara.

 

Yah, kalau sampai ditolak langsung oleh orangnya, atau keberadaanku bersamanya jelas-jelas malah makin merepotkannya, tentu saja aku bisa saja mengambil jarak darinya. Tapi paling tidak, aku tidak berniat mengambil jarak secara mendadak.

 

"Ahaha……"

 

"Eh? A-apa?"

 

"Tidak. Entah kenapa rasanya jadi lega. Melihat reaksi Bun-kun, aku jadi lega."

 

Hiyori mengulas senyum lembut seolah hatinya merasa sangat lega.

Namun, berbanding terbalik dengan kata-kata dan senyumannya itu, jari kelingkingku tetap digenggam erat-erat tanpa ada tanda-tanda mau dilepaskan sama sekali.

 

Seharusnya berjalan menuju kelas dalam kondisi begini tidak bagus kan ya……

 

"Anu, Nanase-san. Ini……"

 

"Nn?"

 

"A, tidak…… bukan apa-apa."

 

Sambil melihat jari kelingking yang digenggam, aku berniat memprotesnya secara halus, tetapi aku kalah oleh tekanan misterius.

 

Kalau sampai kejadian hari ini diketahui oleh Tenma atau Ichika, saat saat itu tiba…… aku harus berhadapan dengan mereka berdua dengan mantap.

 

Sambil memikirkan 'saat itu' yang bakal datang kelak, aku pun melangkah menuju kelas.

 

◇

 

"Anu, permisi. Apakah Tomida Bungaku-kun ada di dalam?"

 

Sepulang sekolah. Tepat saat aku hendak pulang, suasana kelas mulai riuh. Saat mengarahkan pandangan ke pintu masuk, di sana berdirilah heroine utama, Ayabe Ichika.

 

Hiyori dan yang lainnya sudah meninggalkan kelas dan tidak ada di sini.

 

"Ah, Tomida-kun."

 

Tepat saat menyadari keberadaanku, Ichika-san yang merupakan heroine utama melambaikan tangannya dengan heboh.

 

Sambil mengabaikan sekitar yang makin riuh, aku melangkah menghampiri Ichika.

 

"E, eto…… Ayabe-san. Kan ya. Ada urusan apa denganku?"

 

Entah kenapa, pada akhirnya bicaraku jadi pakai bahasa formal.

 

"Duh, kenapa pakai bahasa formal sih? Padahal kan bagaimana hubungan antara aku dan Tomida-kun."

 

Ichika terkikik tersenyum seolah hal itu menyenangkan.

 

Eh, apa……? Sedikit menakutkan nih, bagaimana hubungan antara aku

dan Tomida-kun itu maksudnya apa?

 

"Etto, kita kan baru pertama kali bertemu!! Kan? Salam kenal! Kan?"

 

Aku memamerkan fakta bahwa kami baru pertama kali bertemu kepada teman-teman sekelas secara berlebihan. Tatapan teman-teman sekelas yang menancap di pipiku terasa menyakitkan. Ichika menatapku yang sedang mengalihkan pandangan dengan lekat.

 

"……Sepertinya lebih baik jika aku bicarakannya secara jelas saja ya. Aku ulangi lagi ya."

 

Ichika berjinjit lalu berbisik di dekat telingaku.

 

"Fumika-chan. Bisakah kita berbicara sebentar setelah sekian lama?"

 

◇

 

"Atas tindakan ini!! Saya telah memanfaatkan kebaikan hati Ayabe-san!! Menyamar sebagai perempuan dan memalsukan jenis kelamin, yang pada akhirnya berujung pada penipuan terhadap Ayabe-san, saya memohon maaf yang sebesar-besarnya!!"

 

"Fumika-chan!? A, eto, bukan, Tomida-kun!! T-tunggu sebentar!!

Kenapa mendadak begini!? T-tolong angkat wajahmu!!"

 

Sesuai kata-katanya aku diseret oleh Ichika sampai ke kelas kosong yang

sepi.

 

Pokoknya, untuk langkah pertama aku langsung melakukan dogeza pembuka, tetapi Ichika sampai kebingungan hingga ikut memanggilku Fumika-chan.

 

Lho, bukan karena hal itu ya.

 

"……Etto, bukannya kamu memanggilku ke sini untuk menyelesaikan urusan denganku sebagai bajingan penyimpang yang menyamar jadi perempuan demi bisa mendekatimu?"

 

"T-tidak kok!!"

 

Ah, bukan toh, syukurlah.

 

"Maaf. Ichika, Tomida, maaf membuat kalian menunggu…… eh? Apa-apaan situasi ini."

 

"T-Tenma-kun."

 

Sang protagonis, Shindou Tenma, muncul dengan raut kebingungan.

 

"A, eto, aku pikir aku dipanggil ke sini terkait masalah maaf ya sudah menipu kalian dan makan bareng selama ini……"

 

"Bukan, bukan!! Sepertinya kami membuatmu salah paham ya. Maaf ya."

 

Dengan sigap Tenma mengulurkan tangannya padaku.

 

Seperti yang diharapkan dari sang protagonis. Kalau dilihat dari dekat dia memang tampan, dan sekarang pun dia mengulurkan tangannya padaku dengan ramah. Rasanya aku bisa sedikit kepikat.

 

Aku menggenggam tangan yang diulurkan itu, lalu beranjak berdiri.

 

"Anu…… Tomida-kun. Apakah Hiyori-chan baik-baik saja?"

 

"Eh? Aah, aku rasa dia baik-baik saja kok."

 

"Begitu, ya……"

 

Bagaimana ya. Ada hal yang ingin ditanyakan, tetapi tidak bisa ditanyakan. Rasa gemas seperti itulah yang terasa.

 

"Anu, Hiyori-chan terhadap kami……"

 

Kata-kata yang diucapkan dengan lemah itu terhenti sampai di sana.

 

Dia pasti sudah menduga alasan kenapa Hiyori tidak lagi makan siang bersama mereka.

 

"Aku sering mendengar cerita tentang kalian berdua dari Nanase-san kok. Nanase-san sama sekali tidak membenci Ayabe-san dan yang lainnya. Makanya, tidak apa-apa."

 

Yah, walau saat menceritakannya, matanya terkadang jadi seperti mata ikan mati sih.

 

"A, begitu ya……"

 

Ichika mengelus dadanya merasa lega.

 

Tampaknya dia sangat cemas. Sejauh itulah keberadaan Hiyori Nanase sangat berarti bagi Ichika Ayabe.

 

"Sebenarnya ya, hari ini kami mau……"

 

"Tunggu sebentar Tenma-kun. Biar dari aku saja."

 

"……Paham."

 

Menahan Tenma yang hendak mengatakan sesuatu, Ichika yang sudah membulatkan tekad tiba-tiba mendekatiku dengan cepat.

 

"Anu! Sebenarnya ada hal yang ingin kuminta dari Tomida-kun!"

 

"P-padaku?"

 

Sambil memegang dadanya, dia menarik napas dalam-dalam, lalu menatap wajahku dengan lekat.

 

"Itu, aku mau kamu membantu kami…… untuk kembali menjadi teman seperti dulu lagi dengan Hiyori-chan!"

 

Dia benar-benar serius. Hal itu terlihat jelas dari tatapannya.

 

Permintaan ini benar-benar penting baginya. Bagi Ayabe Ichika…… jika dibesar-besarkan, ini sangat mempengaruhi kehidupan sekolahnya ke depan.

 

Karena itulah, aku tidak mengerti.

"Kenapa harus kepada orang sepertiku……?"

 

"Aku menghormati Tomida-kun sebagai teman, dan memercayaimu dari dasar hatiku."

 

"Eh, padahal aku ini penyimpang yang menyamar jadi perempuan lho?"

 

Tanpa sadar kata-kata itu keluar dari mulutku. Soalnya selama ini aku sama sekali tidak pernah melakukan hal yang pantas untuk dipercayai oleh Ichika. Malah sebaliknya, aku cuma melakukan hal-hal yang bikin ilfeel. Tidak, beneran deh.

 

"Alasan menyamar jadi perempuan itu demi Hiyori-chan, kan?"

 

"Kalau itu sih……"

 

"Kamu menyamar jadi perempuan agar kami tidak salah paham, lalu menjadi penengah antara Tenma-kun dan Hiyori-chan, kan?"

 

'Kan?' tanyanya, tetapi Ichika mengatakannya dengan penuh keyakinan.

 

Menilai bahwa berbohong itu sia-sia, aku pun mengangguk dalam diam.

 

"Meskipun berteman, jarang ada orang yang mau membantu sampai sedalam itu demi orang lain.Karena itulah, aku ingin menghargai Tomida-kun sebagai teman dari lubuk hatiku, dan aku sangat memercayaimu."

 

"Aku senang kamu memercayaiku sampai sejauh itu sih."

"Lagipula, orang yang paling dipercayai oleh Hiyori-chan melebihi siapa pun adalah Tomida-kun."

 

"Itu sih kamu terlalu berlebihan menilaiku."

 

"Kalau tidak begitu, Hiyori-chan tidak akan sampai semarah itu."

 

Jangan-jangan, dia melihat adegan penembakan saat jam istirahat siang tadi.

 

"Melihat Hiyori-chan saat jam istirahat siang tadi, aku jadi yakin. Bahwa Tomida-kun lah yang selama ini menopang Hiyori-chan."

 

Pasti, berkat peristiwa penembakan Kapten Sasahara tadi, semua hal yang terjadi selama ini mendadak saling terhubung di dalam kepalanya.

 

Karena itulah, dia memanggilku.

 

"Jujur saja, aku tadi hampir menyerah. Tapi, kalau ada Tomida-kun…… aku berpikir mungkinkah ada harapan. Kamu sudah menjadi penengah antara Tenma-kun dan Hiyori-chan saat jam istirahat siang. Kalau Tomida-kun yang melakukannya, pasti……!!"

 

Melihat ekspresinya yang begitu sungguh-sungguh, aku refleks terdiam.

 

Hal seperti ini bukan obrolan yang bisa disampaikan kepada siapa saja.

 

Tidak, ini bukan sesuatu yang harus dibicarakan kepada orang lain.

 

Namun, meskipun begitu. Setelah memahami semuanya, dia tetap membicarakannya padaku. Tentang keinginan dan perasaannya sendiri.

 

"Aku tahu kalau aku mengatakannya sangat tidak masuk akal dan egois. Aku sangat memahami betapa menyakitkannya hal itu. Tapi, karena dia adalah…… teman pertama yang kupunya……!!"

 

Tersadar kembali, Ichika meminta maaf dengan suara agak pelan dan lemah.

 

"……Maafkan aku."

 

"Tidak……"

 

Kehilangan kedekatan dengan sahabat yang sangat berharga tentu terasa menyedihkan dan sepi. Itu hal yang wajar. Aku sama sekali nggak menganggap keinginan seperti itu sebagai sesuatu yang egois.

 

Sekali lagi, Ichika menatapku dengan ekspresi serius.

 

"Tomida-kun. Tolong bantulah kami."

 

"Aku juga mohon padamu."

 

Ichika dan Tenma menundukkan kepala mereka dalam-dalam.

 

Mereka pasti benar-benar sedang bersandar pada harapan terakhir……

 

Ichika menggenggam erat roknya, dan tangannya gemetaran karena gugup.

 

Kini, apa yang harus kulakukan dengan kegelisahan itu sepenuhnya dipercayakan kepadaku.

 

Pasti, kalau aku menerima permintaan mereka berdua, kita mungkin bisa mencapai akhir yang bahkan tidak ada di karya aslinya.

 

Masa depan bahagia seperti yang diharapkan oleh semua orang. Sebagai sebuah cerita, itu dipastikan bakal berakhir dengan sangat indah.

 

"Kalian berdua, tolong angkat wajah kalian."

 

Aku berbicara kepada mereka berdua yang masih terus menundukkan kepala. Wajah mereka saat mendongak terlihat sangat tegang.

 

"Bagi aku, Nanase-san adalah teman yang berharga, dan Ayabe-san maupun Shindou…… aku juga menganggap kalian sebagai teman yang sama berharganya. Tapi, aku ini berada di pihak Nanase-san."

 

"……Di pihak Hiyori-chan."

 

Aku mengangguk menanggapi kata-kata Ichika.

 

"Kalau Nanase-san menginginkannya, kami bakal berjuang sekuat tenaga untuk membantu kalian bertiga berbaikan. Tapi, kalau Nanase-san tidak menginginkannya…… kami bakal membuat banyak kenangan menyenangkan bersama sampai dia bisa melupakan kalian berdua. Cuma sebatas itu."

 

Bukan cuma aku saja. Pasti, Serizawa-san dan Tsukimi-san juga bakal memikirkan hal yang sama denganku.

 

"Makanya, untuk saat ini aku mau kalian percaya dan menunggu Nanase-san. Meski kalian sudah tahu bagaimana hasilnya nanti, tolong percayalah pada keberaniannya yang telah menyampaikan perasaannya dengan jujur."

 

Begitulah, terakhir aku mengatakannya sambil menatap wajah Tenma.

 

"Etto. Maksudnya, itu, karena jawabannya setengah-setengah dan tidak sesuai harapan, ditambah aku menyampaikannya secara sepihak dengan nada sok hebat begini, aku minta maaf ya."

 

Pada akhirnya, tepat saat aku sedang menunduk-nunduk meminta maaf, Plak!! Suara tepukan keras bergema.

 

Kaget memikirkan ada apa, aku mendongakkan wajah dan melihat Tenma sedang menampar kedua pipinya sendiri dengan kedua tangan.

 

"Tomida, terima kasih. Berkatmu aku jadi tersadarkan. Padahal aku harusnya sudah tahu, tapi aku tidak memperhatikan ketangguhan Hiyori dengan benar."

 

"Eh, a, o-oh."

 

"Tomida-kun."

 

"I-iya."

 

"Aku juga bakal percaya dan menunggu Hiyori-chan. Karena itulah, kalau seandainya Hiyori-chan memilih kami…… mohon bantuannya ya."

 

Ichika menggenggam tangan kananku dengan erat menggunakan kedua tangannya secara hati-hati.

 

Tindakan itu membuat dadaku tanpa sadar berdebar kencang.

 

"A, eto, hal yang bisa kulakukan bakal kulakukan sekuat tenaga."

 

"Duh, kenapa pakai bahasa formal sih? Padahal kan bagaimana hubungan antara aku dan Tomida-kun."

 

"……Benar juga ya."

 

Melihat Ichika yang tersenyum agak canggung, aku tanpa sadar membalas senyumannya dengan kaku.

 

"Kalau begitu, aku duluan ya."

 

"Aa, Tomida. Sampai besok ya."

 

"Tomida-kun. Terima kasih banyak untuk hari ini."

 

Sambil melambaikan tangan pada sang protagonis & sang heroine, aku membuka pintu kelas lebih dulu.

 

Begitu keluar dari kelas, aku refleks menahan suara yang hampir saja keluar dari mulutku.

 

"…………………………Bun-kun."

 

Sebab di samping pintu, Nanase Hiyori sedang terduduk meringkuk sambil mendongak menatapku dengan mata berkaca-kaca.

 

"N-Nanase-san? Kamu tidak apa-apa……?"

 

Tanpa sadar aku ikut berjongkok lalu menyapa Hiyori.

 

Sambil memeluk lututnya seperti posisi duduk meringkuk, tubuhnya gemetaran kecil.

 

Lagipula kenapa dia bisa ada di tempat seperti ini……?

 

Saat aku berdiri dan melirik pelan ke dalam kelas, sepertinya Tenma dan Ichika tidak menyadarinya, mereka malah melambaikan tangan padaku dengan senyuman.

 

Aku pun membalas lambaian mereka dengan canggung, lalu kembali berjongkok di samping Hiyori.

 

"……Jangan-jangan, obrolan tadi kamu dengarkan?"

 

Saat aku bertanya berhati-hati, Hiyori mengangguk pelan.

 

"S-sekalian saja, mari kita pindah dari sini. Bisa berdiri?"

 

Saat aku bertanya begitu dia mengangguk lagi, jadinya sambil sebisa mungkin tidak menatap wajah Hiyori, aku menggenggam tangannya lalu membawanya pergi dari tempat itu.

 

◇

 

Tempat yang kami gunakan untuk mengungsi sementara adalah bangku di taman tengah.

 

Di jam segini semua orang sedang ikut kegiatan ekstrakurikuler, dan murid-murid lainnya sudah pada pulang, jadi pada dasarnya tidak ada orang.

 

"……Boleh duduk di sampingmu?"

 

"……Ung."

 

Hiyori mengendus pelan, lalu mengizinkanku duduk di sampingnya.

 

"Kalau mau, ini ada tisu saku."

 

"Wa, tisu sakunya yang bagus."

 

Seolah beban di pundaknya sirna, dia tersenyum lemas.

 

……Boleh tidak ya aku menanyakan alasan dia menangis? Tidak, bukannya justru lebih baik ditanyakan?

 

"Terima kasih ya…… sudah menjadi pihakku."

 

"Eh?"

 

Karena Hiyori yang lebih dulu membuka pembicaraan, aku jadi sedikit terkejut.

 

"Aku sendiri juga tahu. Pasti hal terbaik yang harus kulakukan adalah berjuang supaya bisa kembali ke hubungan seperti dulu lagi dengan mereka berdua…… tapi, Bun-kun memikirkanku di atas segalanya. Hal itu rasanya sangat membuatku bahagia. Entah kenapa air mataku jadi keluar."

 

Hiyori tersenyum serba salah.

 

Itulah alasan kenapa dia menangis.

 

"……Nanase-san mau bagaimana?"

 

"Aku……"

 

Hiyori tetap menunduk tanpa mengatakan apa-apa.

 

Pasti, dia sedang meragukan pilihan yang kembali dipertanyakan padanya.

 

Hiyori pasti sudah sangat memahami betapa berartinya dirinya bagi Ichika.

 

Bagi Hiyori pun Ichika adalah sahabat dekat dan sosok yang berharga.

 

Namun di saat yang sama, dia adalah sosok yang mulai sekarang harus diperhatikan perasaannya.

 

"Aku mau merestui mereka berdua dengan tulus, dan kalau tidak bisa terlibat lagi dengan Tenma serta Hana-chan rasanya bakal kesepian…… tapi, aku takut."

 

Kedepannya, situasi dua orang yang mulai berpacaran pasti bakal berubah. Hal-hal seperti ABC dalam hubungan antara cowok dan cewek…… dan berbagai hal lainnya.

 

Kalau mau mengharapkan hubungan seperti dulu lagi dalam kondisi begini…… dia harus menerima semuanya itu.

 

Hal seperti itu bagi siapa pun adalah hal yang sangat menyiksa. Aku pun paham karena pernah mengalami hal yang serupa.

 

Saat gadis yang kusukai mulai berpacaran dengan temanku, lalu aku tahu mereka sudah berhubungan intim, rasanya otakku benar-benar hancur sampai aku jatuh sakit dan terbaring di tempat tidur.

 

"Kalau aku bilang ingin berteman lagi dengan mereka berdua…… kamu bakal menopangku, kan?"

 

"Ung. Aku bakal menopangmu. Lebih dari sebelum-sebelumnya."

 

"B-begitu ya……"

 

Saat aku menegaskannya seperti itu, pipi Hiyori memerah lalu memalingkan pandangannya. Kemudian, dia menunduk bagaikan bunga yang layu.

 

"Mendengar kamu bilang begitu benar-benar membuatku bahagia. Tapi…… aku nggak yakin bisa berjuang sampai akhir. Jujur saja, aku sendiri merasa mungkin aku nggak akan sanggup. Dan meskipun begitu, aku malah meminta kamu untuk menopangku…… rasanya aku nggak tega meminta sesuatu yang seegois itu……"

 

Jika setelah berjuang ternyata hasilnya tidak berjalan lancar…… dia memikirkan 'bagaimana kalau' yang seperti itu.

 

"Tidak apa-apa kok."

 

"……Eh?"

 

Terkejut mendengar kata-kataku, Hiyori mendongakkan wajahnya.

 

"Kamu boleh kok bersikap egois kalau sama aku."

 

Aku mengumbar senyum pada Hiyori.

 

"Seandainya Nanase-san sudah berjuang tapi tetap tidak berhasil…… mau makan parfe, berteleponan, menonton bioskop, aku bakal menemanimu sebanyak apa pun."

 

"……"

 

Hiyori kembali menatapku dengan mata berkaca-kaca.

 

"……Kenapa?"

 

"Eh?"

 

"Kenapa kamu mau melakukan sampai sejauh itu padaku? Padahal aku cuma orang yang…… cuma memikirkan diri sendiri karena takut cuma bisa merepotkan Bun-kun lalu dibenci."

 

"Kalau itu sih……"

 

'Takut cuma bisa merepotkan lalu dibenci.'

 

Kalimat itu tanpa sadar terlontar dari mulutnya

 

Pasti ini adalah 'isi hati terdalam Hiyori' yang sebenarnya tidak berniat disuarakan olehnya.

 

Karena itu, aku juga ingin menyampaikan sedikit isi hatiku yang sebenarnya tidak ingin kukatakan kepadanya.

 

"Bukan karena alasan yang mulia kok. Aku cuma tidak mau melihat wajah menderita milik Nanase-san saja. Cuma sebatas itu."

 

Soalnya rasa menderita milik Hiyori itu dipahami betul olehku melebihi siapa pun.

 

"Makanya aku juga sama seperti Nanase-san…… pada akhirnya cuma memikirkan diri sendiri kok."

 

Lagipula, takut dibenci oleh seseorang itu kan hal yang wajar. Hal seperti itu aku pun takut, siapa pun pasti takut.

 

"Maksudku…… yang ingin kukatakan adalah, apa pun yang terjadi, kami akan tetap berada di pihak Nanase-san. Kami nggak akan pernah membencimu cuma karena hal seperti itu."

 

Hiyori yang mendengarkan dalam diam menatapku dengan mata berkaca-kaca lalu membuka suara.

 

"Beneran…… tidak apa-apa?"

 

"Tidak apa-apa kok."

 

Tanpa ragu, aku mengangguk menanggapi kata-kata Hiyori.

 

"Pasti Serizawa-san dan Tsukimi-san juga punya perasaan yang sama denganku."

 

Jujur saja, aku tidak berpikir bisa menopang Hiyori sendirian.

Ada Hiyori, ada Serizawa-san, ada Tsukimi-san…… lalu jauh dari sana ada diriku.

 

"Tenang saja. Apa pun yang dipilih oleh Nanase-san, apapun hasilnya nanti…… kami dipastikan tidak bakal membuatmu menyesal."

 

Aku mengulurkan jari kelingkingku kepada Hiyori.

 

"……Ung."

 

Jari kelingking kami saling bertautan pelan, menyatukan janji kelingking.

 

Itulah janji besar yang kami ikat dengan jari kelingking kami.

 

"Bun-bun & Hiyori, pembicaraannya sudah kudengar lho."

 

!?

 

Refleks aku berbalik kaget ke arah datangnya suara.

 

Di sana, Serizawa-san terlihat mengacungkan tanda V, sementara Tsukimi-san berdiri dengan tangan terlipat di dada.

 

"Serizawa-san, Tsukimi-san!? Kenapa bisa ada di sini!?"

 

"Hoshino dan aku yang merasa cemas pada Hiyori yang pergi mengambil barangnya yang tertinggal berjalan menuju kelas, lalu di sana tampak sosok Bun-bun yang sedang membawa Hiyori yang menangis ke tempat yang sepi……!!"

 

Bukan begitu cara bilangnya woy.

 

"Hiyori, sampai sekarang pun aku merasa sebaiknya kamu tidak usah terlibat lagi dengan mereka berdua. Tapi, yang menentukan hal itu adalah Hiyori. Apapun yang kamu pilih, apapun yang terjadi, kami bakal menopangmu. Soalnya kami ini berada di pihak Hiyori."

 

"Aku juga sependapat dengan Bun-bun & Hoshino…… bagaimanapun juga kami ini berada di pihak Hiyori, peace."

 

"……Hoshinon, Shi-chan."

 

Anu, kalian berdua, bisa tolong berhenti mengulangi kalimat milikku tidak? Malunya setengah mati tahu.

 

"Hiyori, untuk sekarang, coba saja dulu. Kalau pada akhirnya kita memang akan hancur, sekalian saja sampai benar-benar nggak tersisa apa-apa."

 

"Eh, u-ung."

 

"Sebelum pesta ulang tahun Hiyori, semoga sudah bisa berbaikan ya."

 

"……Ung."

 

"Kalau sudah berbaikan, waktu pesta ulang tahun. Bagaimana kalau coba mengajak Shindou dan Ayabe-san juga?"

 

"Ung……"

 

Saat melihat obrolan Nanase-san dan Serizawa-san yang akhirnya berjalan lancar, Tsukimi-san dari samping tiba-tiba membisikkan sesuatu di telingaku.

 

"Hei, kenapa Hiyori tadi menangis?"

 

Tsukimi-san yang bergumam menatapku dengan mata menyipit tajam.

 

Gawat nih, mata ini adalah mata milik orang yang teman berharganya disakiti.

 

"Bukan, tunggu sebentar. Tsukimi-san salah paham. Yang bikin Nanase-san menangis itu aku……"

 

Memang aku ding. Ung. Akulah yang membuatnya menangis.

 

Tanpa sadar, aku memalingkan wajah membelakangi pandangan Tsukimi-san demi melarikan diri.

 

Ah, tunggu sebentar jangan, jangan pegang dasiku, jangan ditarik.

 

"……Bun-bun dan Hoshino, jangan bermesraan terus ayo pergi."

 

""Sama sekali tidak bermesraan tahu!!""

Mendengar kata-kata Serizawa-san, kami berdua refleks menyahut bersamaan.

 

Kenapa ya kalau dengan Tsukimi-san kataku selalu saja berbarengan.

 

Melihat kami berdua yang seperti itu, Serizawa-san mengungkit alisnya pelan.

 

Ah, sepertinya sekarang dia sedang agak tidak senang.

 

Saat aku sedang memikirkan harus bagaimana, Hiyori mendatangi kami sambil bicara ragu-ragu.

 

"A, anu ya. Setelah ini, kalau tidak keberatan bagaimana kalau kita pergi ke suatu tempat bareng? Aku mau kalian mendengarkan curhatanku soal hal kedepannya."

 

"Ah, kalau begitu aku mau makan kentang di restoran keluarga. Terus rasanya lagi ingin ke drink bar."

 

Serizawa-san mengacungkan tangannya sambil mengotak-atik ponsel.

 

"Yah, boleh juga kan?"

 

"Kalau begitu mari ke restoran keluarga saja. Bun-kun juga tidak apa-apa kan?"

 

"Eh, aku juga?"

 

"Lah, justru kamu yang paling harus ada di sana kan."

 

Aku disenggol dari samping oleh Tsukimi-san yang menatapku tajam seolah memberi teguran.

 

Eh, a, b-begitu ya…… benar juga ya. Ung.

 

Pergi ke restoran keluarga bersama para gadis (alias para gadis cantik).

 

Rasanya benar-benar salah tempat, tapi aku tidak bisa beralasan begitu lagi.

 

"Bun-kuun?"

 

"Ah, maaf. Sekarang aku ke sana."

 

Aku membulatkan tekad, lalu menyusul ketiga orang gadis itu.

 

◇

 

Restoran keluarga yang biasa dikunjungi oleh tiga orang gadis itu, berada di dekat sekolah.

 

Sambil menyantap pizza dan kentang goreng, 'Rapat Strategi Cara Mengatasi Patah Hati Hiyori Nanase' sedang melangsungkan pembahasannya.

 

"Pada akhirnya, bukannya memang paling benar kalau Hiyori sendiri yang pergi menemui mereka berdua?"

Tsukimi-san berkata sambil mengambil kentang goreng.

 

Setelah berbagai perdebatan, pada akhirnya kami sampai pada kesimpulan seperti yang dikatakan Tsukimi-san, yaitu 'Hiyori pergi menemui Tenma & Ichika'.

 

"Ugh, pada akhirnya memang jadi begitu ya."

 

"Jujur ya, kalau dari sudut pandang Hiyori bagaimana? Apa rasanya masih belum bisa bertemu Ayabe-san dan Shindou?"

 

"Bukan begitu…… aku rasa. Tapi."

 

Menanggapi konfirmasi dari Tsukimi-san, Hiyori terdiam ragu sebelum akhirnya mengutarakan pendapatnya.

 

"Kalau tidak punya rasa percaya diri, bagaimana kalau pergi bersama Bun-bun saja?"

 

Eh, denganku?

 

"Boleh juga kan? Pihak sana juga kan sudah tahu situasinya, jadi anak ini juga tidak usah menyamar jadi perempuan lagi."

 

Memang benar sih seperti yang dibilang Tsukimi-san, tapi……

 

"Karena itulah, Bun-bun. Mohon bantuannya ya."

 

"Eh, tidak. T-tunggu sebentar dong. Kita harus dengar dulu pendapat Nanase-san."

 

Sambil berkata begitu aku menoleh ke arah Hiyori di sebelahku, lalu dia berpikir sejenak sebelum akhirnya bergumam.

 

"Kalau bersama Bun-kun…… mungkin aku bisa melaluinya."

 

Eh? Kenapa……? Padahal tadi dia enggan sekali lho.

 

"Hiyori, tenang saja. Kalau ada apa-apa, Bun-bun pasti bakal mengatasi segalanya."

 

"Memang benar……! Seperti yang dikatakan Shi-chan, kalau ada Bun-kun, rasanya entah kenapa aku bisa melaluinya……!"

 

Kepercayaan mereka kepadaku ini, bukannya terlalu besar ya.

 

"T-Tsukimi-san juga katakan sesuatu dong."

 

"Aku juga nggak keberatan kok."

 

Seriusan nih……

 

"Kalau begitu, sudah ketok palu ya. Hiyori saat jam istirahat siang besok bakal pergi menemui Shindou dan Ayabe-san bersama anak ini."

 

"H-Hoshinon, tunggu sebentar. K-kalau besok sih rasanya terlalu…"

 

"Aku dan Shizuku bakal mengawasi supaya kamu tidak kabur kok."

 

"A…… IYA. MOHON BANTUANNYA."

 

Merasakan tekanan kuat dari senyuman Tsukimi-san, Hiyori cuma bisa mengangguk pasrah.

 

"Kamu juga, sudah paham kan?"

 

"A, IYA. SAYA BAKAL BERJUANG."

 

Seolah ingin menghindari tatapan tajam Tsukimi-san, aku pun beranjak dari tempat duduk

 

"P-permisi, aku mau ke drink bar sebentar……"

 

Aku buru-buru menuju drink bar dan menekan tombol teh es.

 

"Rasanya malah jadi gawat ya."

 

Bukan masalah pergi ke tempat Tenma dan Ichika sih, cuma peranku rasanya terlalu penting……

 

"Bisa tidak ya……"

 

"Kenapa kamu malah jadi ciut begitu sih?"

 

"Hie!? Tsukimi-san!?"

 

"Apa-apaan sih. Pake 'hie' segala."

 

"A, tidak. Cuma kaget sedikit."

 

Orang yang menyapaku ternyata adalah Tsukimi-san.

 

Sambil bingung aku memasukkan kola ke dalam gelas yang sudah terisi teh es, lalu mengaduknya.

 

"Uwehk, kombinasi apaan tuh."

 

"Kola dan teh? Ini cara minum kola yang diminum oleh heroine anime sih, tapi waktu kucoba sekali ternyata lumayan enak lho. Terkadang aku jadi ingin meminumnya."

 

"Anime……? Kamu nonton anime?"

 

"Eh? Yah, sedikit sih."

 

"Hmm."

 

Sambil memilih minumannya, entah kenapa Tsukimi-san melirik-lirik ke arahku.

 

"Etto, mau coba minum sedikit?"

 

"Nn."

 

Ah, ternyata mau minum toh.

Menerima gelasnya, Tsukimi-san meminumnya satu teguk.

 

"………………"

 

Dengan ekspresi yang sulit diungkapkan dengan kata-kata, dia menatap teh kola itu dalam diam, lalu meminumnya sekali lagi.

 

……Apa dia menyukainya ya.

 

"……Terus, kenapa kamu tadi melamun?"

 

"Itu, menjadi pendamping Nanase-san sih tidak masalah, tapi tugas seberat itu, apa bisa kuemban ya."

 

Saat aku meluapkan kelemahanku seperti itu, Tsukimi-san menghela napas dengan wajah heran.

 

"Beneran deh…… yang tegas dong. Padahal kan kami mengandalkanmu tahu."

 

"Eh……?"

 

Tsukimi-san mengandalkanku?

 

"Eh, kenapa?"

 

Mendengar kata-kataku yang refleks keluar, Tsukimi-san memasang raut wajah yang tampak agak kesal.

 

"Kamu itu…… tanpa ragu lagi sudah menjadi kekuatan buat Hiyori kan. Berbeda denganku."

 

"Etto, aku rasa Tsukimi-san sudah sangat cukup menjadi kekuatan buat Nanase-san kok……?"

 

Sambil tertawa seperti mengejek diri sendiri, Tsukimi-san menggelengkan kepalanya.

 

"Mana ada. Aku ini kan tidak pernah merasakan cinta, jadi aku tidak bisa menyelaraskan perasaanku dengan anak itu. Niatku mau perhatian, tapi malah aku yang diperhatikan balik. Jangankan jadi kekuatan, aku cuma jadi beban tahu. Makanya anak itu mau meluapkan keluh kesah serta isi hatinya padamu, dan mengandalkanmu."

 

"Itu tidak benar kok."

 

"Eh?"

 

Pandangan Tsukimi-san beralih menatapku.

 

"Memang sih, kalau diperhatikan itu rasanya jadi merasa bersalah, tapi di saat yang sama, fakta bahwa ada orang yang memedulikan kita itu sendiri sudah menjadi penyelamat tahu."

 

"Hal seperti itu……"

 

"Aku paham kok. Soalnya bagiku, walau patah hati itu menyiksa, tidak ada satu orang pun yang memedulikanku kan."

"……Kamu. Kelihatannya memang tidak punya teman ya."

 

"Iya……"

 

Tsukimi-san menatapku lekat-lekat, seolah ingin memastikan sesuatu, lalu bergumam pelan.

 

"Begitu ya, makanya kamu selalu bilang 'kita' bukannya 'aku' ya."

 

"Eh? Tsukimi-san? Maaf kamu tadi bilang apa?"

 

"Bukan apa-apa……"

 

Tsukimi-san menjawab dengan ketus begitu, lalu mengisi gelasnya dengan teh sampai setengah, menambahkannya dengan kola, lalu mengaduknya.

 

"Kamu suka cara minum begitu"

 

"…………Yah begitulah."

 

Entah kenapa Tsukimi-san menatapku dengan lekat, lalu menjulurkan sedikit lidahnya sambil bicara.

 

"Ah, Bun-kun dan Hoshinon. Selamat datang kembali…… kalian berdua, ada terjadi sesuatu?"

 

"Sama sekali tidak ada apa-apa kok."

 

"Masa sih? Kok rasanya jarak kalian berdua jadi makin dekat ya…… cuma perasaanku saja kah?"

 

Karena tidak merasa sadar, aku dan Tsukimi-san saling memiringkan kepala.

 

"Uumm. Cuma kesalahpahamanku saja kali ya?"

 

Sambil menggembungkan pipinya, Hiyori menatapku dan Tsukimi-san bergantian dengan tatapan curiga.

 

Tak lama kemudian, Serizawa-san datang sambil membawa segelas cairan hitam pekat.

 

"Coba lihat, Bun-bun. Aku coba buat jus spesial lho. Namanya Serizawa Spesial DX."

 

Serizawa-san meletakkan ‘Serizawa Spesial DX’ di atas meja dengan wajah penuh kebanggaan.

 

Uumm. Bagaimana ya mengatakannya……

 

"Dari namanya saja sudah kelihatan rasanya tidak enak."

 

"Hei."

 

Serizawa-san menatapku dengan mata menyipit tajam. Tampaknya dia merasa tidak terima.

 

"Tidak, habisnya warnanya hitam pekat begitu. Kamu pasti memasukkan semua minuman dari drink bar kan."

 

"Bilang ‘blend’ saja."

 

Ruwet banget deh.

 

"Ya sudah. Aku tidak bakal kasih ke Bun-bun kok."

 

Serizawa-san meminum Serizawa Spesial DX dengan sedotan sambil menggembungkan pipinya kesal.

 

"…………………………………Bun-bun. Sisanya boleh kamu minum semuanya."

 

"Hei."

 

Serizawa Spesial DX pun perlahan didorong ke arahku.

 

"Ayo, ayo, langsung sedot pakai sedotannya."

 

"Tidak ah, tidak mau minum."

 

Saat aku mengembalikan Serizawa Spesial DX sambil menggelengkan kepala, Serizawa-san tersenyum menyeringai.

 

"Jangan-jangan, kamu malu gara-gara ini bakal jadi ciuman tidak langsung denganku? Hu, Bun-bun. Masih polos ya."

 

"Ha? Siapa juga yang malu?"

 

Boleh juga. Tantangan itu bakal kuterima.

 

Saat aku menarik balik Serizawa Spesial DX, lalu memegang sedotannya hendak mendekatkannya ke mulut, tiba-tiba dari arah samping ada satu sedotan lagi yang ditancapkan.

 

"…………Eh?"

 

"Bun-kun, kalau kepikiran soal ciuman tidak langsung dengan Shi-chan, bukannya lebih baik pakai sedotanku saja?"

 

"Eh, tidak, itu……"

 

"Kan?"

 

Hiyori tersenyum, tetapi entah kenapa senyumnya terasa mengintimidasi.

 

T-terlalu tidak masuk akal……

 

"Bun-bun. Tidak mau pakai sedotanku?"

 

"Kamu bakal pakai sedotanku, kan? Bun-kun."

 

Bentar, apa-apaan nih. T-tolong aku Tsukimi-sa——ah, dia malah memalingkan pandangannya……

 

"……Bun-kun."

 

"……Bun-bun."

 

Anu, bagaimana ya. Baru kali ini aku didesak dua pilihan yang rasanya bikin mau muntah begini.

 

Aku diam-diam menancapkan sedotanku sendiri, lalu meminum habis Serizawa Spesial DX dalam sekali teguk.

 

Sesuai dugaan, Serizawa Spesial DX rasanya payah banget.

 

◇

 

Setelah rapat strategi di restoran keluarga selesai dan kami keluar, suasana di sekitar sudah mulai gelap.

 

"Kalau begitu, semuanya. Mohon bantuannya untuk besok ya."

 

Semua orang mengangguk menanggapi kata-kata Hiyori.

 

Kalau begitu sampai besok, tepat saat kami hendak berpisah, Hiyori menggenggam jari kelingkingku.

 

"Eh?"

 

Saat aku refleks bersuara, Hiyori langsung tersentak dan buru-buru melepaskan tangannya.

 

"M-maaf. Maaf ya……"

 

Melihat kondisi Hiyori, Serizawa-san dan Tsukimi-san saling bertatap muka, lalu menyampaikan usulan kepada Hiyori.

 

"Hiyori, jalanan sudah mulai gelap, bagaimana kalau diantarkan oleh anak ini saja? Kalau ada apa-apa kan dia paling tidak bisa jadi tameng."

 

"Aku juga sependapat. Sedungu-dungunya Bun-bun, dia paling tidak bisa mengulur waktu sekitar 5 detik lah."

 

Jangan meremehkanku ya. Kalau 10 detik sih sanggup tahu. Mungkin.

 

"……Boleh ya?"

 

Aku mengangguk pada Hiyori yang menengadah menatapku agak segan.

 

"Kalau begitu, aku manfaatkan kebaikan kalian ya."

 

Mungkin mereka berpikir sebaiknya Hiyori tidak sendirian untuk sementara.

 

Tsukimi-san dan Serizawa-san menyerahkan Hiyori padaku, lalu mereka berdua pulang duluan.

 

"Etto, rumah Nanase-san itu dari sini kalau jalan kaki sekitar berapa lama?"

 

"Uumm. Kira-kira 20 menit kali ya?"

20 menit ya. Jarak yang serba tanggung banget. Persediaan bahan obrolanku bakal cukup tidak ya?

 

"Akhirnya besok, segalanya bakal selesai ya…………"

 

Hiyori bergumam dengan nada penuh haru.

 

"Sampai di titik ini ada banyak hal yang terjadi ya. Waktu ditolak oleh Tenma lalu menangis ketahuan oleh Bun-kun. Didengarkan berbagai keluh kesahku…… waktu kupikir sudah bangkit kembali, mereka berdua malah jadian lalu aku menangis lagi. Terus sesudah itu——"

 

Tiba-tiba, Hiyori menatapku lalu tersenyum serba salah.

 

"Setiap kali aku sedang kesulitan, rasanya Bun-kun selalu ada di sisiku. Ah, tidak, bukan begitu ya. Bun-kun selalu bergegas datang padaku."

 

"Tidak tidak, itu cuma kebetulan kok."

 

"Kalaupun begitu. Tetap saja kan?"

 

Entah kenapa Hiyori menatapku dengan lekat.

 

"Bun-kun itu ya. Orang yang terlalu baik. Kan?"

 

"Eh, masa sih?"

 

"Orang yang terlalu baik kok. Gimana ya, tidak punya kesadaran soal hal itu pun rasanya makin mencirikan kalau kamu orang yang terlalu baik. Atau jangan-jangan……"

 

Tanpa melanjutkan kata-kata berikutnya, Hiyori menggelengkan kepalanya seolah hendak menepisnya. Aku tidak tahu apa yang mau dikatakannya. Namun, dia tampaknya memang tidak berniat mengucapkannya.

 

"Pokoknya, aku pikir Bun-kun itu terlalu baik."

 

"Kamu itu ya, terlalu baik."

 

Kata-kata Hiyori tiba-tiba mengingatkanku pada perkataan ‘dia. Benar juga. Seperti saat ini, di kehidupan sebelumnya aku juga pernah dikatain hal yang sama.

 

Saat itu pun aku cuma——

 

"Bun-kun?"

 

"A, tidak. Etto, kalau bilang begitu, aku pikir Nanase-san juga orang yang baik kok…… kamu kan bersikap ramah pada siapa saja tanpa membeda-bedakan."

 

Yah, hasilnya. Banyak anak laki-laki yang kegeeran bermunculan sih.

 

"Aku tuh…… tidak seperti itu kok. Aku cuma melakukan apa yang ingin dilakukan orang lain padaku saja."

Hiyori mengatakannya sambil mengulas senyum yang terkesan mengejek diri sendiri.

 

"Bukannya bisa melakukan kepada orang lain apa yang kita sendiri ingin mereka lakukan kepada kita itu justru karena Hiyori orang yang baik?"

 

Begitu aku mengutarakan apa yang ada di pikiranku, Hiyori tiba-tiba berhenti dan menatapku dengan ekspresi tercengang.

 

"Eh? Anu, Nanase-san tidak apa-apa?"

 

A-apa aku bicara hal yang aneh ya.

 

Saat aku mendekati Hiyori yang menunduk sambil menggenggam erat tali tasnya.

 

"Eiyaa~"

 

"!?"

 

Hiyori tiba-tiba menerobos masuk ke pelukanku. Seketika, rasa hangat tubuhnya menyalur padaku. Perkembangan yang terlalu mengejutkan ini membuat pikiran dan gerakan tubuhku berhenti total.

 

Seolah tak peduli dengan reaksiku, Hiyori menyandarkan seluruh berat tubuhnya kepadaku tanpa bergerak sedikit pun.

 

Aroma sitrus dari Hiyori membuat pikiranku yang sempat mati mulai bergerak kembali.

"A-a-ada apa?"

 

"Ini ya. Kepada Tenma, Hana-chan, Hoshinon, maupun Shi-chan tidak pernah kuceritakan, ini adalah rahasiaku."

 

"Eh, U, Un……"

 

"Aku juga ya. Sebelum masuk SMA itu sendirian dan tidak punya teman."

 

Eh? Beneran?

 

"Pernah dirundung juga, jadi aku sama sekali tidak punya rasa percaya diri sedikit pun. Tapi, karena benci pada diriku yang seperti itu, aku mulai memperhatikan penampilan, mengubah gaya, dan berlagak ceria…… yah, singkatnya begitu deh. Yang dinamakan SMA debut itu lho."

 

T-tunggu sebentar. Gelombang informasinya…… gelombang informasinya terlalu dahsyat sampai tidak sanggup kuproses……!

 

"Yang mengubah kehidupan SMA-ku yang dipenuhi rasa cemas itu adalah Tenma. Tenma itu orang yang suka ikut campur dan ceria, jadi kalau bersamanya rasanya sangat menyenangkan. Aku menyukai sisi dirinya yang seperti itu, lalu mengaguminya."

 

"B-begitu ya!"

 

Balasanku terkesan payah banget.

"Tapi. Mengaguminya bakal kuakhiri sampai di sini. Soalnya aku mau melangkah maju dengan mantap."

 

Pasti, ini adalah pernyataan tekad sekaligus kata-kata perpisahan dari Hiyori.

 

Aku menarik napas dalam-dalam, menata napas kembali.

 

"Begitu ya. Kalau begitu, besok kita harus berjuang bareng ya."

 

Hiyori tersentak kaget menanggapi kata-kataku.

 

"Duh…… di saat begini kamu bisa-bisanya bilang 'bareng' dengan santai begitu. Beneran deh, Bun-kun itu curang ya."

 

"Eh? Curang? Maksudnya bagaimana?"

 

Karena tidak mengerti maksudnya, aku pun bertanya. Hiyori mengangkat wajahnya dan menatapku dalam diam dengan ekspresi heran.

 

"Tidak. Bukan apa-apa kok."

 

◇

 

"S-siip. Bun-kun. Sebentar lagi mari kita berangkat ya."

 

"Nanase-san, kamu sudah mengucapkannya sampai 5 kali lho."

 

"……Ugh."

 

Keesokan harinya setelah rapat strategi. Aku dan Bun-kun berdiri mematung di belakang bangunan sekolah.

 

Di meja bangku taman tengah yang terletak di balik tempat ini, Tenma dan Hana-chan sedang menyantap bekal mereka berdua.

 

Seperti yang kuduga, begitu saatnya tiba, langkah kakiku terasa begitu berat

 

Dulu, situasi yang mirip seperti ini pernah terjadi. Namun kali ini semuanya berbeda dari yang dulu.

 

Saat ini Tenma dan Hana-chan sudah berpacaran. Lalu hubungan kami bertiga pun……

 

"Hiyori, kalau tidak segera pergi nanti waktunya keburu habis lho……"

 

Hoshinon memeriksa waktu di layar ponselnya.

 

Ugh, benar-benar deh, aku harus membulatkan tekad sekarang.

 

"Bun-kun. Tunggu sebentar lagi ya. Sekarang aku sedang mengumpulkan keberanian."

 

"O-oh…… begitu ya."

 

Karena itulah, keberanian yang dibutuhkan kali ini jauh lebih banyak daripada sebelum-sebelumnya.

 

"………………………………Nanase-san, keberaniannya sudah terkumpul?"

 

"Sudah. Tapi, kan keberanian itu kalau sudah dikumpulkan harus diolah dulu sampai matang……"

 

"Bun-bun, go."

 

"Benar juga ya, aku berangkat dulu."

 

"Tunggu sebentar Bun-kun!?"

 

Tampaknya sudah kehabisan kesabaran melihatku yang terus ragu-ragu, Bun-kun bertukar anggukan dengan Shi-chan, lalu menggenggam tanganku dan mulai berjalan.

 

Hoshinon dan Shi-chan melambaikan tangan, mengantar kepergian kami.

 

Benar juga. Cuma ada satu hal yang tidak berubah dari yang dulu.

 

Yaitu kenyataan kalau kamu menggandeng tanganku. Fakta sederhana itu rasanya membuatku sangat bahagia……

 

Aku membalas menggenggam tangan yang sedang dipegang oleh Bun-kun. Sambil ditarik oleh Bun-kun, saat kami terus melangkah maju, sosok mereka berdua pun tertangkap oleh mataku.

Tenma dan Hana-chan. Mereka berdua sedang tertawa tampak sangat bahagia.

 

"……"

 

Melihat sosok mereka berdua yang seperti itu, refleks langkah kakiku terhenti. Rasa ingin melarikan diri dari tempat ini mendadak muncul di pikiranku.

 

Keberanian yang susah payah kukumpulkan perlahan mengempis. Rasa hangat di sekujur tubuhku mulai terkumpul menuju ke mata.

 

Padahal kemarin aku sudah bicara sok hebat dan membulatkan tekad untuk berjuang.

 

Aku jadi benci pada diriku sendiri yang langsung terhenti begitu saja.

 

"……Nanase-san."

 

Mendengar suara yang menyapaku, aku refleks bereaksi secara berlebihan.

 

Apakah dia kecewa padaku? Apakah dia sudah menyerah padaku?

 

Saat aku mendongak dengan cemas, wajahnya yang menatapku tetap memasang ekspresi lembut seperti biasanya.

 

"Kemarin kan aku sudah bilang, kepadaku kamu boleh bersikap lebih egois kok."

Tanpa mengatakan apa-apa lagi dari itu, Bun-kun cuma mengulas senyum.

 

Beneran deh, curang banget.

 

Aku suka sekaligus benci dengan kebaikan Bun-kun yang seperti itu.

 

Karena aku jadi tanpa sadar bermanja-manja padanya. Karena aku jadi lengah dan merasa tenang di dekatnya.

 

Aku menggenggam erat tangan Bun-kun dengan sekuat tenaga, lalu kembali mulai melangkah. Sensasi berat yang menyiksa sampai tadi mendadak sirna entah kemana.

 

……Lho? Padahal sampai tadi cuma melihat sosok mereka berdua saja rasanya sangat menyiksa, tapi sekarang sudah tidak terasa apa-apa.

 

Kaget, aku refleks menatap Bun-kun di sebelahku.

 

"Hei, Bun-kun itu…… benar-benar orang yang luar biasa ya."

 

"Eh, kenapa mendadak bilang begitu?"

 

Bun-kun yang memiringkan kepalanya karena bingung tampak agak lucu, hingga tanpa sadar senyuman mekar di bibirku. Dengan langkah kaki yang terasa ringan, aku melangkah menuju tempat mereka berdua.

 

"……K-kalian berdua, sudah lama ya. Kebetulan sekali ketemu di tempat seperti ini."

"Hiyori……?"

 

"……Hiyori-chan?"

 

Tenma yang menyadari keberadaanku kaget, sementara Hana-chan berdiri dengan ekspresi cengang.

 

Aku melepaskan tangan Bun-kun, lalu melangkah mendekati Hana-chan seorang diri.

 

"Kalau Hana-chan dan Tenma tidak keberatan…… boleh tidak kalau kita makan siang bareng…… lagi?"

 

"!! Boleh…… boleh!!" Tomida-kun juga sekalian!"

 

Baru saja Hana-chan memberiku senyuman ceria dan polos, air matanya langsung berjatuhan.

 

"H-Hana-chan!?"

 

"Ichika!?"

 

Kami panik lalu bergegas menghampiri Hana-chan.

 

"Syukurlah…… syukurlah…… syukurlah yaaa."

 

"Hana-chan……"

 

Aku memeluk Hana-chan yang masih terisak-isak dengan lembut, sambil mengusap punggungnya perlahan agar dia berhenti menangis.

 

Mungkin saja, dia selama ini cemas kalau aku tidak bakal pernah datang lagi.

 

Diabaikan oleh orang yang dekat itu rasanya sangat menyiksa. Padahal rasa sakit itu harusnya sudah kuketahui betul sampai terasa menyakitkan……

 

"M-maafkan aku. Sekarang aku sudah tidak apa-apa…… kok."




Setelah beberapa saat, ketika sudah agak tenang, Hana-chan mengusap sudut matanya lalu mengangkat wajah.


"Lain kali ya, teman-teman sekelas mau mengadakan pesta ulang tahun untukku, apa kalian berdua mau datang juga?"


"Datang! Kami pasti datang! Iya kan, Tenma-kun!"


"Aa…… benar juga ya."


Aku tidak bisa terus menjalani hubungan seperti dulu.


Karena itulah, aku harus berhadapan dengan mereka berdua dengan mantap dan membangun hubungan yang baru.


Mungkin semuanya akan terasa sangat berat dan menyakitkan. Tapi……


Aku tidak sendirian.


Aku kembali menggenggam tangan Bun-kun yang ada di sampingku.


Bun-kun sempat terkejut sejenak sambil menatap ke arahku, tetapi dia diam-diam membalas menggenggamnya. Rasa hangat dari Bun-kun menyalur padaku.


"Ngomong-ngomong, ada hal yang belum kusampaikan pada kalian berdua."


Selama ini terus ada di dalam hatiku, tetapi tidak bisa kuucapkan. 

Kata-kata yang tidak ingin kuucapkan.


Namun, kalau ada Bun-kun di sampingku…… rasanya aku bisa 

mengucapkannya dari dasar hatiku.


"Kalian berdua, selamat ya."


◇


"……Ah, aku lupa membeli minuman."


Tepat saat duduk di meja bersama Hana-chan dan yang lainnya hendak menyantap makan siang, Bun-kun bergumam begitu.


"Aku mau pergi ke mesin penjual otomatis sebentar, jadi kalian makan duluan saja. Sekalian kalau ada yang mau diminum, bakal kupesankan."


"Ah, kalau begitu, boleh minta tolong kola?"


"Kalau saya minta tolong air rasa persik ya."


"Ah, aku……"


"Nanase-san teh susu saja kan? Ah, sebentar, kenapa malah menepuk bahuku. Jangan-jangan salah?"


"Benar kok…… tapi, gimana ya…… gimana gitu."


Rasanya senang, malu, dan agak geli. Untuk menyembunyikan rasa malu, aku pun menepuk-nepuk bahu Bun-kun.


"Tomida, kamu tidak apa-apa sendiri? Kalau mau, ayo pergi bareng?"


Tenma menyapa Bun-kun yang beranjak berdiri dengan raut khawatir.


Memang benar seperti yang dibilang Tenma. Membawa minuman untuk 4 orang sendirian itu rasanya agak berat.


Kalau begitu, biar aku yang ikut bareng——


"……Memang sih. Kalau begitu Ayabe-san, maaf ya tapi bisakah ikut bersamaku?"


Tepat saat aku hendak beranjak berdiri, Bun-kun malah menyapa Hana-chan.


"Iya. Boleh kok."


Hana-chan sempat memasang ekspresi terkejut sejenak, tetapi dengan raut wajah yang seolah memaklumi, dia pun beranjak berdiri.


"Kalau begitu, kami pergi dulu ya."


"U-ung."


"Aa, maaf merepotkan ya."


Setelah menyerahkan uang, aku melihat mereka berdua berjalan menuju mesin penjual otomatis.


……………………Kenapa bukan aku ya.


Entah kenapa, di dada bagian dalam terasa ada sesuatu yang hitam mengganjal dan bergolak. Yang seperti ini…… baru pertama kali kurasakan.


"……Tomida itu ya. Anak yang baik ya."


"He? Ada apa? Kok mendadak begitu."


"Gara-gara kejadian kali ini aku jadi berpikir begitu. Tomida itu dari awal sampai akhir selalu berada di pihak Hiyori…… Padahal cuma teman, tapi jarang ada orang yang mau menopang sampai sejauh ini lho. Mungkin sekarang pun dia sedang memperhatikan situasi."


"……Eh?"


"Alasan dia mengajak Ichika pergi itu bukannya demi menyediakan ruang buat aku dan Hiyori berbicara ya."


"……Ah."


Benar juga. Aku memang sudah berbicara dengan Hana-chan, tetapi aku belum berbicara dengan benar bersama Tenma.


Kalau begitu ekspresi Hana-chan tadi pun bisa kupahami.

Demi aku. Ternyata semua itu demi aku…… tapi aku malah begini.


Aku jadi benci pada diriku sendiri yang malah merasakan perasaan nggak nyaman.


"Lagipula, dia lumayan bisa diandalkan kan. Waktu aku curhat pada Tomida pun, dia begitu dewasa dan mantap sampai tidak kelihatan seumuran…… Beneran anak yang luar biasa."


Bagaimana ya. Mendengar Bun-kun dipuji seperti ini membuatku merasa jauh lebih bahagia daripada dipuji sendiri.


"Aku bisa berhadapan dengan Tenma dan yang lainnya itu pasti…… karena ada Bun-kun di sisiku, pikirku."


"Aa…… benar juga ya."


Karena Bun-kun yang menopangku, aku bisa sampai sejauh ini……


Benar. Berkat…… Bun-kun……


L-lho……?


Aku, kalau tidak ada Bun-kun…… bakal jadi bagaimana ya……?


"H-Hiyori? Tidak apa-apa?"


"……Eh? Apa?"

"Tidak, habisnya wajahmu mendadak jadi pucat pasi…… apa kamu sedang mual?"


"A, e…… tidak…… tidak apa-apa, aku tidak apa-apa kok."


……Seketika, bulu kudukku merinding hebat. Mari berhenti 

memikirkannya lebih jauh dari ini. Rasanya agak tidak bagus.


"Beneran tidak apa-apa? Tadi juga…… ah, tidak."


Tenma mendadak diam menarik kembali kata-katanya.


"Apa? Penasaran tahu, katakan dong?"


"……Kamu tidak sadar ya? Tadi waktu Tomida pergi ke mesin penjual otomatis bersama Ichika, kamu memasang raut wajah yang sangat tidak suka lho."


"……Eh."


Aku……? Melihat mereka berdua……?


"Karena itulah, kalau ada hal yang menyulitkan jangan sungkan-sungkan katakan ya! Kapan pun, hal apa pun, aku bakal jadi kekuatan buat Tomida-kun!"


"Kalau begitu, waktu kesulitan aku tidak bakal sungkan-sungkan curhat pada Ayabe-san ya."


"Iya! Serahkan padaku!"


Di saat aku sedang bingung menanggapi kata-kata Tenma, sosok mereka berdua tertangkap oleh pandangan mataku.


Di depan mata, tampak sosok Bun-kun dan Hana-chan yang sedang berjalan ke sini sambil mengobrol dengan gembira.


Hana-chan terkadang memamerkan ekspresi jahil menggoda Bun-kun, lalu Bun-kun dengan ketus mencolek Hana-chan menggunakan botol plastik. Di sana tidak ada suasana canggung, mereka cuma terlihat seperti sedang bersenda gurau biasa.


Tapi…… kenapa ya, kenapa,


……


…………


………………Padahal punya.


"Padahal Bun-kun itu punyaku……"


"H-Hiyori?"


"……Eh? Apa?"


"T-tidak…… mungkin cuma perasaanku saja."

Tenma tidak mengatakan apa-apa lagi dari itu, lalu melambaikan tangan ke arah mereka berdua.


Sambil kembali merasakan perasaan aneh di dadaku, aku pun ikut melambaikan tangan ke arah mereka berdua.


……Tadi sepertinya aku menyuarakan sesuatu secara tidak sadar.


"Selamat datang kembali kalian berdua."


"Kami kembali. Nih, Tenma-kun."


"Aa, terima kasih."


Hana-chan menyerahkan kola kepada Tenma.


Bun-kun yang kembali membawa 2 botol teh susu.


"Lho? Bun-kun juga memilih teh susu yang sama denganku?"


"Ung. Soalnya Nanase-san selalu meminumnya, jadinya aku juga ingin minum."


"……Hhee~?"


"A-apa?"


"Bukan apa-apa kok!"

Mungkin karena malu, Bun-kun mengatakannya sambil memalingkan pandangan. Aku pun menyenggol bahunya. Entah kenapa ganjalan di dadaku rasanya jadi agak menipis.



Previous Chapter | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close