Bab 2:「Perawatan Mental untuk Heroine Favorit yang Baru Diputuskan」
"……P-pagi! Bun-kun! Kebetulan banget
ya!"
Pagi itu, seperti biasa, aku berangkat
sekolah sendirian, Hiyori menepuk bahuku dari belakang dengan pelan. Suaranya
tetap ceria seperti biasa, tetapi entah kenapa terasa agak kaku.
"P-pagi."
Melihat reaksinya, aku pun membalas
dengan agak bingung.
"Duh, soalnya kamu lambat sih, aku
sampai khawatir kamu tidak masuk
sekolah hari ini tahu?"
"Eh, jangan-jangan kamu
menungguku?"
"Eh……!? A, tidak. A-aku nggak
sengaja nungguin kamu atau semacamnya kok!? Ketemu di sini juga cuma kebetulan,
kebetulan!"
"B-begitu ya……"
Nggak perlu sampai segitunya……
"Bun-kun. Itu…… ya."
Hiyori ragu-ragu sejenak, lalu mulai
berbicara dengan sedikitsegan.
"Boleh tidak kalau aku minta satu
hal?"
"Minta satu hal? Padaku?"
Hiyori mengangguk pelan.
"Anu ya. Aku sedang bingung. Mulai
sekarang, apa aku harus berjuang supaya bisa kembali ke hubungan seperti dulu
lagi dengan Tenma dan Hana-chan, atau justru sekalian tidak usah terlibat lagi
saja……"
Dulu, dia pernah meragukan hubungannya
dengan Tenma yang telah menolaknya, lalu memilih untuk kembali menjadi
temannya. Hal itu sebagian besar mungkin karena Tenma saat itu belum berpacaran
dengan siapa pun.
Namun situasinya sekarang sudah berubah.
"Makanya, apa pun pilihan yang
kuambil nanti…… aku mau Bun-kun tetap berada di sisiku. Jangan pernah
tinggalkan aku."
Sambil mengucapkan hal itu, Hiyori
menggenggam erat jari kelingkingku.
Aku belum pernah melihat Hiyori yang
tampak cemas seperti ini.
"……Aku paham."
Saat aku menjawab begitu, Hiyori
tersenyum seolah-olah hatinya merasa sangat lega.
Aku tidak berpikir kalau hubunganku
dengan Hiyori ini bakal bertahan selamanya. Suatu saat nanti dia pasti akan
menemukan cinta baru dan melangkah pergi meninggalkanku. Baginya, aku ini
mungkin cuma tempat untuk beristirahat sejenak.
Saat saat itu tiba, mari kita restui dia
dengan layak. Walau mungkin kalau sudah sendirian nanti aku bisa-bisa jadi gila
sih.
Sambil merenungkan masa depan yang
seperti itu, aku dan Hiyori pun berjalan berangkat sekolah berdua.
◇
Jam istirahat siang, saat aku berjalan
menuju koperasi, terdengar suara langkah kaki seseorang yang berlari kecil
mendekat dari arah belakang.
"Bisa bicara sebentar?"
"……Eh, aku?"
"Iya dong."
Aku refleks menoleh, dan kulihat Tsukimi
Hoshino sudah berdiri di sana dengan tangan bertolak pinggang.
Tsukimi Hoshino. Nama panggilannya
Hoshinon. Sahabat Nanase Hiyori. Gadis berambut panjang.
"Kamu mau ke koperasi sekarang kan.
Aku juga ikut. Ada yang mau kubicarakan sedikit denganmu."
"……Eh."
Hal yang mau dibicarakan Tsukimi-san
denganku? Eh, sebenarnya aku mau diinterogasi soal apa nih.
Orang ini auranya sedikit mengintimidasi
ya.
"Kemarin-kemarin kamu membolos
pelajaran bareng Hiyori, kan? Ada apa sebenarnya?"
Ternyata ketahuan ya. Padahal aku dan
Hiyori kembali ke kelas dengan jeda waktu yang agak berbeda, dan karena semua
orang cuma memikirkan Hiyori, aku pikir tidak ada satu orang pun yang
memperhatikan diriku.
……Harus dijawab bagaimana ya. Lagipula,
apa Tsukimi-san tahu kalau Hiyori baru saja ditolak?
"......Soal Hiyori yang ditolak Shindou, aku sudah dengar langsung dari dia sendiri, jadi kamu nggak perlu mengkhawatirkan soal itu."
"A, begitu ya……"
Hmm, kalau begitu.
"Shindou dan Ayabe-san. Katanya
mereka berdua sudah jadian."
Karena mereka berdua tampaknya tidak
merahasiakan hal itu, pembicaraannya harusnya tidak masalah. Pada akhirnya
semua orang juga bakal tahu.
"……Paham."
Dengan satu kalimat itu, Tsukimi-san
langsung memahami segalanya.
Pas sekali kami sampai di koperasi, lalu
masing-masing membeli makan siang.
Nah, karena pembicaraan sudah selesai,
saatnya berpisah.
"Kalau begitu, aku duluan……"
"Tidak bisa, pembicaraannya belum
selesai tahu."
Saat aku hendak meninggalkan tempat itu,
tanganku langsung dicengkeram erat untuk menahanku.
Eeh, masih belum selesai……?
"Jujur ya, aku berpikir kalau Hiyori
sebaiknya tidak usah terlibat lagi dengan Shindou."
Jangan-jangan, ini poin utamanya?
"Tidak ada gunanya kan repot-repot
merasakan hal menyakitkan cuma demi kembali ke hubungan seperti dulu?"
Tsukimi-san mengatakannya dengan ekspresi
yang tampak sedikit sedih.
Dia pasti sangat memikirkan temannya dan
tidak ingin Hiyori terluka lebih jauh lagi.
"Kamu perhatian banget ya sama
teman. Tsukimi-san."
"H-haah? Sama sekali…… bukan begitu
kok, j-jijik tahu."
Dengan wajah memerah, Tsukimi-san
langsung memalingkan wajah.
"Sebenarnya, seperti yang dibilang
Tsukimi-san, pilihan untuk tidak terlibat dengan Shindou itu tidak salah kok.
Ya, kalau bisa kembali jadi teman biasa sih jelas lebih bagus…… tapi kalau
begitu Nanase-san bakal terluka kan."
"……Benar. Makanya, tidak usah
repot-repot mengambil pilihan yang bakal bikin terluka—"
"Tapi, yang menentukan hal itu bukan
kita."
"…………"
"Pada akhirnya, ini masalah yang
tidak ada jawaban benarnya. Kita cuma perlu mendukung Nanase-san dengan sekuat
tenaga supaya apa pun pilihan yang diambilnya nanti, dia tidak bakal menyesal.
Cuma sebatas itu kan."
"……Hmm. Di luar dugaan kamu
memikirkan Hiyori juga ya. Padahal kamu itu penyimpang."
"Eh, tunggu sebentar. Penyimpang itu
maksudnya apa?"
Aku refleks merespons kata-kata yang
tidak bisa dibiarkan begitu saja.
Kalau ada kesalahpahaman yang
tidak-tidak, aku harus meluruskannya.
"Penyimpang yang menyamar jadi
perempuan memakai rok dan pita milik Hiyori."
Aduh gawat. Tidak ada satupun yang bisa
kubantah.
"Jujur ya, aku tadinya tidak paham
kenapa Hiyori bisa begitu manja padamu…… tapi ya, makin ke sini rasanya makin
bisa kupahami juga sih."
"Tidak tidak, Nanase-san pasti sama
sekali tidak menganggapku apa-apa kok."
"Haah? Kamu mungkin tidak tahu ya,
belakangan ini kalau ada kesempatan sedikit saja Hiyori pasti langsung bilang
Bun-kun, Bun-kun……"
"Lho? Bun-kun sama Hoshinon?
Kombinasi yang langka ya."
Saat hendak masuk kelas, Hiyori berdiri
tepat di depan pintu, seolah menghalangi jalan masuk.
Tsukimi-san memasang wajah seolah
menyadari kalau dia sudah kelepasan bicara.
"A-etto, aku cuma pergi ke koperasi
bareng sama anak ini kok."
"Hmm? Padahal kelihatannya kalian
berdua lumayan akrab begitu tuh……"
Hiyori, yang biasanya ceria, kali ini
justru memasang wajah tidak senang.
""Kami sama sekali tidak
seakrab itu kok……""
Kami malah menjawab bersamaan dengan
kompak, lalu refleks saling bertatap muka. Melihat reaksi kami, Hiyori makin
cemberut seolah tidak senang.
"P-pokoknya, aku sama anak ini tidak
ada hubungan apa-apa kok."
Sambil berkata begitu, Tsukimi-san
melangkah cepat masuk ke dalam kelas.
"Etto, kalau begitu aku juga……"
Aku mulai berjalan menuju bordes tangga
darurat. Itu adalah tempat menyendiri favoritku nomor 3 belakangan ini.
Ngomong-ngomong, tempat makan siangku
memang berganti secara berkala.
"Ah, tunggu sebentar."
"Eh? Apa?"
Refleks aku berbalik saat dipanggil oleh
Hiyori.
"Bun-kun makan siang bareng
siapa?"
"Ah, sebenarnya—"
"Tidak boleh bohong ya."
"………………………………Makan sendirian."
"Begitu ya, begitu ya……! K-kalau
begitu. Gimana kalau makan bareng kami saja? Aku mau mengenalkan Bun-kun
juga!"
"……Eh?"
◇
"Aku kenalkan ulang ya! Ini dia,
Bun-kun!"
"Ooh…… prok prok"
"………………"
Aku sekarang sedang makan siang bersama
tiga orang gadis cantik di kelas.
Aku diseret sambil dipegang tangannya
oleh Hiyori, lalu berakhir makan siang bergabung dengan kelompok anak perempuan
kasta tertinggi di kelas.
Perasaan asing macam apa ini. Benar-benar
seperti hidangan bubur teh sederhana yang terselip di antara sajian kuliner
mewah Prancis.
Tsukimi-san bahkan menatapku seolah
berkata, ‘Kenapa kau ada di sini, bajingan?!’
Tidak bisa nih. Aku benar-benar ingin
kabur sekarang juga.
"……Sebentar, kenapa bisa jadi begini
sih."
Tsukimi-san di sebelahku berbisik dengan
mata yang seolah menyalahkanku.
"Entah, situasinya berkembang
terlalu cepat sampai aku nggak bisa mengikutinya. Bisa dibilang aku cuma
mengikuti arus, atau lebih tepatnya, nggak bisa menolak…… akhirnya aku
menyerah. Iya."
"Dasar payah."
Hei, hentikan. Jangan membisikkan kalimat
seperti itu di dekat telingaku.
"……Kalian berdua, bukannya sedikit
terlalu dekat ya?"
""Sama sekali tidak dekat
kok.""
Saat kami menyahut bersamaan menanggapi
kata-kata Hiyori, sikut Tsukimi-san melayang dari samping. Sakit tahu.
Entah kenapa Hiyori menatap interaksi
kami berdua dengan mata menyipit tajam.
"Aku sudah dengar ceritanya dari
Hiyori lho. Bun-bun."
Gadis yang bergumam begitu sambil
menatapku dengan penuh rasa ingin tahu adalah Serizawa Shizuku.
Dia gadis cantik berambut perak panjang
dengan wajah yang tampak mengantuk dan membawa aura yang sedikit rapuh,
sekaligus merupakan salah satu sahabat Nanase Hiyori.
……Bentar deh, Bun-bun itu apa coba?
"Sosok tangguh yang pernah kalah 10
kali berturut-turut dalam percintaan dan suka memakai rok Hiyori buat menyamar
jadi perempuan…… benar-benar sangat menarik."
Sialan. Dua-duanya memang benar, jadi aku
tidak bisa membantah apa pun.
"Tuh kan, beneran penyimpang."
"T-tapi Bun-kun itu penyimpang yang
baik kok!"
Hiyori-san. Pembelaanmu sama sekali tidak
membantu tahu.
"Belakangan ini Hiyori cuma
membicarakan Bun-bun terus lho."
"M-masa sih?"
Kalau dipikir-pikir, tadi Tsukimi-san
juga mengatakan hal yang kurang lebih sama ya……
"Iya. Kemarin saat kuhitung, ada 10
kali dia membicarakan Bun-bun……"
"Eh……"
"Hiyori, kamu suka banget ya sama
anak ini."
"Bukan!! Bukan begitu!!"
Tidak usah membantah setegas itu juga
kali……
"D-daripada itu! Shi-chan. Bun-bun
itu maksudnya apa?"
Hiyori mewakili pertanyaan yang muncul
dari dasar hatiku.
"Nama panggilan untuk Bun-kun yang
kupikirkan sendiri. Aku kan tidak tahu nama aslinya orang ini."
Aku, bahkan namanya saja tidak diingat
ya.
"Soalnya Hiyori cuma memanggilnya
Bun-kun terus, jadinya aku terpaksa membuat nama panggilan khusus buatku
sendiri……"
Entah kenapa Serizawa-san mengatakannya
dengan raut wajah yang tampak bersungguh-sungguh.
"Karena itulah, aku sering mendengar
cerita tentang Bun-bun dari Hiyori, jadi sampai batas tertentu aku lumayan tahu
soal Bun-bun. Meski namanya tidak kuingat sih."
Begitu ya……
"……Lho? Kalau begitu bukannya tidak
perlu mengenalkanku lagi?"
"Aku rasa Hiyori cuma ingin
mengenalkan kami kepada Bun-bun kok."
"Ugh……"
Hiyori tampak jelas-jelas goyah.
Sepertinya tebakanku tepat sasaran.
"Etto, sebenarnya ya…… aku mau
menjadikan ini sebagai kesempatan supaya bukan cuma denganku saja, tapi kamu
juga bisa akrab dengan Hoshinon dan Shi-chan."
"Kenapa begitu?"
"Anu, kalau melihat Bun-kun
sendirian itu rasanya jadi bikin nyesek.
Soalnya tidak bisa kubiarkan begitu saja.
Lagipula, aku berpikir kalau…… aku ingin lebih banyak menghabiskan waktu
bersama Bun-kun."
Sambil sedikit malu-malu, Hiyori
mengatakannya.
Pasti, alasan ingin bersama denganku itu
cuma sekadar alasan formalitas, sedangkan niat aslinya adalah mengenalkanku
pada mereka berdua supaya aku tidak menjadi penyendiri lagi.
Jangan-jangan, Hiyori merasa berutang
budi padaku……?
Kalau memang begitu, rasanya aku jadi
merasa bersalah pada dirinya………
"Benar, makanya, demi Hiyori, kita
harus segera mempererat hubungan."
Entah kenapa sambil memasang wajah bangga
Serizawa-san menjelaskan hal itu, hingga aku refleks menoleh ke arah Hiyori.
"Benar begitu?"
"He? Yah, aku memang mau Bun-kun
cepat terbiasa dengan kelompok kami sih……"
Begitu ya, paling tidak untuk sementara?
Penjelasan Serizawa-san tampaknya memang benar.
"Kalau begitu, Bun-bun. Sepulang
sekolah hari ini…… ayo kencan denganku."
"Aah, iya."
……Iya?
"……Eh?"
"……Ha?"
Di saat Hiyori dan Tsukimi-san menatap
kami berdua dengan wajah cengang, Serizawa-san tersenyum gembira.
"Aku menantikannya ya……"
◇
Sepulang sekolah, aku diajak berkencan
oleh sahabat Nanase Hiyori, Serizawa Shizuku, dan kami berdua melangkah menuju
pusat perbelanjaan di Stasiun Kyoto.
Jujur saja, aku yang meragukan apakah ini
benar-benar bisa disebut kencan, tetapi karena Serizawa-san sendiri yang bilang
kalau ini kencan, berarti ini kencan kan ya.
……Kenapa bisa jadi begini?
Saat aku melirik pelan ke arah
Serizawa-san yang berjalan di sampingku, tampak mata yang mengantuk dan wajah
tanpa ekspresi seperti biasanya.
Aku tidak tahu apa yang sedang ada di
pikirannya.
"…………Ah."
"Eh? A-apa?"
"Coba lihat awan itu…… kelihatan
mirip payudara banget."
Orang ini sebenarnya sedang memikirkan
apa sih, beneran deh.
"Fumu, itu diperkirakan ukuran cup
E. Mungkin seukuran punya Hiyori ya."
"Awan yang mana coba?"
"Tuh, awan yang itu."
Aku menatap awan yang ditunjuk oleh
Serizawa-san.
"Ah, beneran…… mirip payudara……
mesum banget."
"Kan, mesum ya."
"Nah!? S-Serizawa-san! Awan yang di
sebelah sana mirip kotoran lho!"
"Mummum, hobi-hobi. Yang ini
bentuknya lumayan megah ya. Bun-bun. Boleh juga kamu."
"Hehe……"
Tidak, apa-apaan ini. Obrolan anak
laki-laki SD kah?
"Menyenangkan ya. Bun-bun."
"Eh? Masa sih?"
"Iya. Menyenangkan kok. Kamu
merespons percakapanku dengan sangat antusias."
Saat dikatai begitu aku kembali menatap
Serizawa-san, tetapi wajahnya tetap datar seperti biasa. Tidak, apa ini
maksudnya dia sedang santai ya?
Kalau dipikir-pikir, Serizawa-san ini kan
sangat populer ya…… saat jam istirahat siang tadi juga ada obrolan kalau dia
baru saja ditembak lagi.
Jangan-jangan dia sudah sangat
berpengalaman? Perilakunya yang seperti ini ungkin dia memang sudah terbiasa
menghadapi cowok.
"Bun-bun. Jangan-jangan kamu sedang
gugup ya?"
"Eh, yah, begitulah. Soalnya kencan
itu baru pertama kali dalam hidupku."
Berbanding terbalik denganku yang sedikit
gugup, Serizawa-san justru tampak sangat tenang. Seperti yang diduga, dia
memang sudah terbiasa
ya?
Ngomong-ngomong, nonton bioskop bareng
Hiyori kemarin…… untuk sementara tidak kuanggap sebagai kencan deh.
"Tidak usah gugup begitu tidak
apa-apa kok, aku juga baru pertama kali."
Lah, ternyata baru pertama kali juga
toh……
Aku masih bingung melihat Serizawa-san
mengatakan itu sambil memasang wajah bangga dan membuat tanda V, aku pun
memberanikan diri bertanya.
"Etto, kenapa hari ini kamu
mengajakku kencan ya?"
"……Sebenarnya aku sedikit
berbohong."
"Bohong?"
"Iya. Soalnya ini kan bukan
kencan."
Ternyata ini bukan kencan.
"Tujuan aslinya adalah memilih
hadiah buat Hiyori. Soalnya sebentar lagi Hiyori ulang tahun."
"Eh, begitu ya?"
Seriusan? Aku tidak tahu…… padahal aku
ini penggemar karya aslinya kan.
Padahal aku mengaku sebagai penggemarnya,
tapi ketidaktahuanku ini membuatku sedikit merasa bersalah.
"Bun-bun juga kalau menyiapkan
hadiah pasti Hiyori bakal senang, makanya aku bilang kencan buat mengajakmu
memilih hadiah."
Begitu ya. Supaya tidak ketahuan oleh
Hiyori kalau sedang menyiapkan hadiah, dia berbohong mengajak kencan toh.
"Lho? Kalau begitu, kenapa harus
berdua saja? Bukannya lebih baik mengajak Tsukimi-san juga lalu memilih
bertiga?"
Padahal bisa saja janjian bertemu dengan
Tsukimi-san di pusat perbelanjaan atau semacamnya kan.
"Memang sih begitu, tapi aku ingin
pergi berdua dengan Bun-bun."
"Eh? Kenapa?"
"Kan sudah kubilang. Aku tertarik
pada Bun-bun. Makanya, sekalian memilih hadiah buat Hiyori, aku mau melakukan
hal yang seperti
kencan."
"……Begitu ya?"
Maksudnya, pada akhirnya ini adalah……?
"Maksudnya ini…… kencan pura-pura.
Begitulah."
Paham, kencan tapi bukan kencan. Kencan
semacam ini ternyata ada ya.
Aku baru tahu.
"Makanya tidak perlu gugup. Soalnya
tergantung kamu bisa memuaskanku atau tidak, itu cuma bakal menentukan
bagaimana hubungan kita kedepannya kok."
Bukannya itu penting banget ya.
"Yah, tenang saja. Sekarang poinmu
lumayan terkumpul kok."
Bohong kan? Jangan-jangan gara-gara
obrolan awan payudara dan kotoran tadi poinnya langsung terkumpul?
"Ah, Bun-bun."
Saat aku mengikuti arah pandangan
Serizawa-san yang menarik-narik lengan bajuku, tampak sebuah toko es krim. Saat
mendekat karena penasaran, berbagai jenis es krim berjejer rapi, dan sepertinya
itu adalah toko yang terkenal.
"Serizawa-san mau yang mana?"
"Hu, kencannya kan sudah dimulai
tahu. Coba tebak es krim yang mau kumakan."
"……Kalau tidak tertebak
bagaimana?"
"Kencannya selesai kali ya."
"Seriusan? Game busuk banget
kan."
Di bawah tatapan penuh harapan dari
Serizawa-san dan tatapan hangat dari pelayan toko, aku memilih dengan
hati-hati. Jujur saja, memilih satu saja es krim yang ingin dimakan oleh
Serizawa-san di antara banyaknya pilihan itu adalah hal yang mustahil.
Rasanya percuma saja dipikirkan, aku
pilih saja es krim yang ingin kumakan sendiri.
"Etto, kalau begitu melon dan persik
deh."
"Na……!?"
Serizawa-san kaget seolah-olah hal itu
sangat mengejutkan baginya.
"K-kenapa kamu bisa tahu es krim
yang ingin kumakan……?"
Ternyata tebakanku benar dong.
"Eh? Tidak, aku cuma memilih yang
ingin kumakan sendiri seperti biasanya kok."
"B-begitu ya……"
'Wah syukurlah ya' kata pelayan toko
sambil tersenyum menyodorkan wadah cup es krim, lalu kami pun meninggalkan
toko. Di tanganku kini ada es krim melon dan persik.
"Nah, Bun-bun. Sekarang ada dua
pilihan kan. Serahkan yang ingin kumakan padaku."
Sambil memasang wajah
bangga tanpa alasan yang jelas, Serizawa-san mengulurkan kedua tangannya.
"Nih. Es krim
persiknya."
"……!?"
Ekspresi terkejut itu, tadi
aku juga sudah melihatnya.
"Eh, jangan-jangan……
Bun-bun ini seorang esper?"
"Bukan esper
sih, tapi aku cuma memilih yang ingin kumakan sendiri saja…… Mungkin, aku dan
Serizawa-san punya selera yang sama ya."
"Artinya, kecocokan
tubuh kita bagus begitu?"
"Bisa dibilang begitu
tapi bukan ke arah sana sih…… maksudku. Nih, buatmu."
"Nn?"
Saat menyodorkan wadah es
krim melon ke Serizawa-san, dia memiringkan kepalanya.
"Kamu mau makan yang
melon juga kan? Kalau cuma satu-dua suap saja boleh kok. Belum kena mulutku,
jadi silakan."
"Bun-bun. Boleh juga
kamu. Aku sepertinya jadi sedikit suka padamu deh."
"Eeh……"
Jangan-jangan, Serizawa-san
ini tergolong choroin yang gampang gaet ya.
Melihat Serizawa-san yang
sedang makan es krim persik dengan puas, aku pun berpikir begitu.
Setelah itu, saat
melihat-lihat berbagai barang di toko pernak-pernik, ada satu barang yang cukup
menarik perhatianku.
……Aroma stone ya.
Cara pakainya mudah, lalu
tergantung aromanya, katanya bisa memberikan efek rileks juga. Bagi Hiyori yang
belakangan ini hatinya sedang lelah, ini mungkin pas sekali.
……Sip, aku beli ini saja.
"Ah, ternyata kamu
pilih yang itu ya."
Serizawa-san mendadak
mengintip dari belakang.
"Jangan-jangan,
Serizawa-san juga berniat memilih aroma stone?"
"Tenang saja,
kandidatku masih ada kok. Garam mandi yang punya efek rileks…… Hiyori kan suka
mandi."
Pilihan barang yang punya
efek rileks menandakan kalau Serizawa-san juga punya pemikiran yang sama
denganku.
Setelah itu, kami pergi ke
toko khusus garam mandi yang agak modis, lalu Serizawa-san juga berhasil
membeli hadiahnya dengan selamat.
""A……""
Saat berjalan menuju pintu
keluar, kebetulan boneka beruang raksasa tertangkap oleh mata kami, hingga kami
berdua terhenti.
Kalau menjadikan ini
sebagai hadiah kejutan, bukannya bakal menarik dalam arti tertentu? Kesan impact-nya
luar biasa, pasti bakal seru juga……
Saat melirik pelan ke
samping, kebetulan Serizawa-san juga sedang menatapku.
""Kalau
menjadikan ini hadiah kejutan sepertinya bakal seru ya.""
Suara kami berdua bertumpuk
dengan indah seolah-olah sudah direncanakan.
Tanpa sadar, kami berdua
menyeringai sambil membenturkan tinju pelan.
"Tapi, apa tidak
apa-apa ya? Ukuran sebesar ini kalau diterima malah bikin repot tidak
ya……"
"Tidak apa-apa, dulu
dia pernah bilang kalau seumur hidup ingin coba membeli boneka besar sekali
saja…… kalau tidak salah. Mungkin. Kayaknya sih."
"Informasi itu bisa
dipercaya tidak nih?"
Tapi, yah…… dia sendiri
harusnya memang suka boneka beruang sih.
"Bagaimana kalau kita
berdua patungan saja……"
"Boleh juga. Pesta
ulang tahunnya bakal diadakan di vila keluargaku, jadi untuk sementara minta
dikirimkan ke rumahku saja."
Pada akhirnya, karena
terbawa suasana, kami berdua memutuskan untuk patungan membeli boneka beruang
raksasa itu.
Kami akhirnya meninggalkan
pusat perbelanjaan dan berjalan menuju Stasiun Kyoto. Kencan pura-pura ini pun
perlahan mendekati penghujungnya.
"Padahal ini dibeli
karena terbawa suasana, tapi kalau Hiyori mau menerimanya, bagaimana cara
membawanya sampai ke rumah Hiyori?"
"Bukannya tinggal
diangkut oleh Serizawa-san dan Tsukimi-san saja?"
"Hei, Tomida jangan
membolos dong."
"Eh, lagipula…… pesta
ulang tahunnya kan cuma kalian bertiga ya?"
"Eh, Bun-bun tidak
ikut?"
"He? Boleh ikut?"
"Ung."
Serizawa-san mengangguk
pelan seolah hal itu sudah semestinya.
Begitu ya, aku boleh ikut
toh……
"Pasti nanti dimarahi
oleh Hoshino, dibantu oleh Hiyori, lalu aku dan Bun-bun bakal kerepotan
mengangkut boneka raksasa itu sampai ke rumah Hiyori ya."
Nada suaranya terdengar
agak gembira, hingga pemandangan mengangkut boneka bersama Serizawa-san
membayang di kelopak mataku.
"Rasanya, kita berdua
bakal pulang sambil menyesali betapa melelahkannya hal itu ya……"
"Bun-bun……"
"Nn?"
"Rasanya
menyenangkan…… ya."
Sambil mengucapkan hal itu,
Serizawa-san menengadah menatapku dengan senyuman malu-malu.
"Ah, benar ya."
Membayangkan masa depan
yang bakal datang nanti, kami saling bertatap muka lalu tertawa.
"Ah, Bun-bun. Tunggu
sebentar ya."
Meninggalkan kata-kata itu
secara mendadak, Serizawa-san berlari kecil melangkah pergi. Tempat yang dituju
oleh lariannya adalah sebuah food truck penjual taiyaki.
"Nih. Ini bagian buat
Bun-bun. Ayo makan bareng."
"Eh, a, terima
kasih."
Sambil kebingungan menerima
taiyaki yang disodorkan secara tiba-tiba, aku menyantapnya satu gigitan.
"Ini Matcha Kacang
Merah……! Kesukaanku nih."
"Aku sudah tahu kalau
Bun-bun bakal bilang begitu. Fufun."
Melihat reaksiku, Serizawa-san
membusungkan dadanya dengan bangga sambil tersenyum jahil.
"Ah, tadi harganya berapa?"
"Tidak usah bayar. Aku kan kaya.
Lagipula hari ini menyenangkan kok………… itu, kalau besok-besok kita jalan berdua
lagi, kamu bisa traktir aku sesuatu."
"Tidak ah, aku bayar sekarang
saja."
Jujur saja, belum tentu bakal ada
kesempatan berikutnya kan.
"K-kalau kamu bayar sekarang, aku
jadi tidak punya alasan buat mengajak kencan berikutnya dong……"
Tidak biasanya, Serizawa-san memalingkan
wajahnya dengan canggung dan malu-malu.
"Aku tidak begitu paham sih, tapi
biar aku saja yang bayar porsi kita berdua. Nanti kalau ada kesempatan lagi,
Serizawa-san bisa traktir aku sesuatu."
Yah, harganya juga tidak seberapa, jadi
kalaupun tidak ada kencan pura-pura berikutnya, tidak masalah juga.
"……Pola begitu malah bikin lebih
gampang mengajak ya."
Serizawa-san menerima uangnya seolah bisa
memaklumi hal itu.
Sambil makan taiyaki, kami berdua
melangkah masuk ke Stasiun Kyoto, lalu sampai di gerbang tiket kereta yang
bakal dinaiki oleh Serizawa-san.
"Bun-bun. Hari ini menyenangkan.
Kalau begitu, sampai nanti ya."
"Ung. Sampai ketemu di
sekolah."
Aku melambaikan tangan saat mengantar
Serizawa-san pergi.
Tepat setelah itu, tiba-tiba ponselku
bergetar.
Nn? Ada pesan masuk ya. Dari siapa
kira-kira…… eh? Dari Hiyori?
Hiyori:
『Kalau kencan dengan Shi-chan sudah selesai, boleh
minta tolong hubungi aku?』
Eh? Hubungi? Ada apa ya?
Saat aku berjalan di dalam Stasiun Kyoto
sambil hendak membalas pesan Hiyori, tiba-tiba saja……
""……Ah.""
Siapa sangka aku malah bertemu langsung
dengan Hiyori sendiri.
"Eh, wa, etto. B-Bun-kun. Kebetulan
banget ya. Kencan dengan Shi-chan sudah selesai?"
Sambil mengotak-atik ponsel di tangannya
tanpa alasan yang jelas, Hiyori menghampiriku dengan pandangan mata yang
melayang kemana-mana.
"U-ung. Tadi aku baru saja mau
membalas pesanmu………… jangan-jangan, kamu menungguku dari tadi?"
"Eh, a, tidak kok…… k-kebetulan saja
tahu? Kebetulan aku juga lagi belanja di sekitar Stasiun Kyoto, terus karena
penasaran sama Bun-kun dan Shi-chan, aku coba hubungi saja."
Beneran nih? Aku jelas-jelas
meragukannya, tapi memilih untuk tidak mengatakannya.
Padahal katanya habis belanja, tapi kedua
tangannya tidak membawa apa-apa tuh…… pasti barang belanjaannya dimasukkan ke
dalam tas ya.
Ung.
"G-bagaimana tadi? Kencan dengan
Shi-chan."
"Eh? A, aa…… kencannya"
Tidak, tunggu sebentar. Kalau tidak salah
Serizawa-san tadi bilang berbohong kencan karena mau merahasiakan soal hadiah
kan.
Kalau begitu……
"Ung. Menyenangkan kok. Kencan
dengan Serizawa-san."
Menjawab seperti ini adalah opsi terbaik.
"……B-begitu ya."
Eh, tunggu. Kenapa wajahnya mendadak
meredup?
"……A-apa saja yang kalian lakukan?
Waktu kencan."
"He? A, itu. Makan es krim.
B-belanja……?"
"……Hhee~ beli apa?"
Eh, t-tunggu, k-kenapa dari sekian banyak
hal kamu malah menggalinya sampai sedalam ini?
"E, etto…… itu……"
"Bun-kun. Kamu menyembunyikan
sesuatu dariku ya?"
"EH……"
Saat aku terdiam dan tak tahu harus
menjawab apa, sebuah pertanyaan telak langsung menghantamku.
Melihat diriku yang goyah, pandangan
Hiyori yang tadinya melayang kemana-mana kini menatap mataku dengan tajam tanpa
bergeming sedikit pun.
"Jangan-jangan sama Shi-chan, ada
terjadi sesuatu?"
"Eh, tidak kok."
"Ada kan."
……Tolong aku.
Suaranya tidak berubah. Dia tidak sedang
marah juga. Tapi kenapa ya.
Aura yang mengelilinginya terasa menjadi
sangat berat.
Namun, di sini aku tidak boleh membiarkan
keberadaan hadiah ulang tahunnya tercium.
『Eh, apa-apaan tuh. Pertengkaran hebat?』
『Uwa, dia benar-benar dipojokkan sama pacarnya
tuh.』
Suara-suara dari orang sekitar terdengar
dari suatu tempat.
Pertengkaran hebat…… dalam arti tertentu
mungkin memang situasi yang kacau sih.
"Kita kan sahabat dekat kan?
Makanya, aku mau paham juga soal urusan asmara Bun-kun…… atau semacamnya
gitu……"
Eh, kita berdua ini sahabat dekat? Sejak
kapan hubungan kita naik tingkat sampai ke tahap itu?
T-tidak tidak. Daripada memikirkan hal
itu, rasanya aku sedang disalahpahami secara luar biasa deh.
"……Terus? Apa yang kamu
sembunyikan?"
Introgasi yang tak kunjung berhenti.
Serta tatapan mata yang sama sekali tidak berniat dialihkan.
Aku belum pernah melihat Nanase Hiyori
yang seperti ini.
"……Aku beli ini."
Dari dalam tas, aku mengeluarkan kantong
hadiah berisi aroma stone yang kubeli tadi, lalu menyodorkannya kepada Hiyori.
Maafkan aku, Serizawa-san. Berbohong
secara asal-asalan kepada Hiyori yang sekarang rasanya adalah langkah yang
sangat buruk……
"Ini kan……"
Hiyori mengedipkan matanya berkali-kali
sambil menatap kantong hadiah itu. Aura mengintimidasi yang tadi terasa begitu
kuat mendadak menghilang.
"Hadiah ulang tahun buat Nanase-san.
Tadi aku belinya bareng Serizawa-san."
"Eh? Ah!! Begitu ya,
ternyata……"
Seolah-olah tersadarkan, dia mengangguk
memaklumi.
Syukurlah. Kesalahpahaman tampaknya sudah
lurus sepenuhnya.
"Soalnya hadiah ini tidak boleh
sampai ketahuan oleh Nanase-san, makanya kami berpura-pura kencan."
"J-jadi begitu ya……"
Sambil mengucapkan hal itu, Hiyori
mengelus dadanya seolah merasa sangat lega dari dasar hatinya.
Pada saat itu juga, perutnya mendadak
berbunyi kruuuk.
"A, tidak, ini tuh, itu, bukan
begitu! Soalnya aku menunggumu di sekitar sini terus, jadi belum makan apa-apa,
l-lagipula! Jamnya kan sudah jam segini!"
Tampaknya dia sangat malu hingga wajahnya
memerah padam sampai ke telinga saat membantah. Yah, di jam segini sih wajar
saja kalau lapar.
"Makan malam. Mau makan bareng di
suatu tempat sebelum pulang?"
"Ah, ung!! Ehehe."
Melihat senyumnya yang merekah, tanpa
sadar aku ikut tersenyum.
Sambil memikirkan mau makan apa dan
berjalan asal di sekitar lokasi, tiba-tiba Hiyori menggenggam erat jari
kelingkingku.
"Ada apa?"
"He?"
"Tidak, jari kelingkingku. Kamu
genggam."
"……Eh, a, beneran."
Rupanya dia melakukannya secara tidak
sadar, hingga orang yang menggenggamnya sendiri ikut bingung.
Namun, tidak ada tanda-tanda dia mau
melepaskannya sama sekali.
"……Bagaimana ya, aku sebenarnya
sangat senang kalau Bun-kun bisa akrab dengan Shi-chan atau Hoshinon tahu?
Tapi, begitu membayangkan kamu kencan dengan Shi-chan, rasanya aku jadi
kepikiran banget dan agak cemas. Gimana ya bilangnya, apa aku jadi panik ya.
Ahaha, aneh ya. Padahal aku sendiri yang mengenalkan Bun-kun ke semuanya."
Begitu ya, dia cemas kalau aku dan
Serizawa-san makin akrab, Serizawa-san bakal merebutku darinya.
Memang sih, kalau teman yang kita
kenalkan tahu-tahu jadi lebih akrab melebihi hubungan dengan kita sendiri,
selain senang pasti ada rasa tidak suka juga kan.
Mungkin wajar saja kalau Hiyori sampai
panik begitu.
"A, anu ya……!"
Sambil pipinya agak memerah, Hiyori
menatapku dengan mantap seolah sudah membulatkan tekad.
"Bun-kun. Lain kali ya, itu, mau
tidak denganku…… jalan-jalan? Belanja. B-berdua saja."
"Eh? U-ung. Boleh saja sih."
Sambil bingung menanggapi ajakan mendadak
dari Hiyori, aku menganggukkan kepala.
"Hore! Janji ya! Harus beneran janji
lho!"
"I-iya."
Padahal tidak perlu sampai menegaskan
sejauh itu…… tetapi, kenapa orang sepertiku yang malah diajaknya pergi bersama
ya.
"……Nn!"
Dengan sigap Hiyori menyodorkan jari
kelingkingnya.
"……Ayo janji kelingking."
"He? A, iya."
Meski agak bingung, aku menautkan jari
kelingkingku dengan milik Hiyori.
Lalu, Hiyori menatap mataku dengan lekat
dan berkata:
"……Janji ya?"
◇
"Bun-bun. Ayo makan siang
bareng~"
Saat jam istirahat siang, tepat di saat
aku hendak menyantap makan siang sendirian seperti biasanya, Serizawa-san
mendadak menyapaku.
"Se-Serizawa-san. Eh, a, bolehkah
aku makan bersama kalian?"
"Eh, boleh dong. Kenapa tidak
boleh?"
"Soalnya kan hubungan kita ini baru
sebatas lebih dari kenalan tetapi kurang dari teman……"
"Tidak ah, kita kan sudah
berteman."
"Eh……?"
Aku refleks membeku mendengar pernyataan
mengejutkan dari Serizawa-san.
"Kami sudah menganggap Bun-bun
sebagai teman kok."
Eh? Kami. Berarti itu maksudnya………
"Etto, itu…… artinya, bukan cuma
Serizawa-san saja………… tapi
Nanase-san dan Tsukimi-san juga
menganggapku sebagai teman!?"
"Iya dong."
Beneran nih!?
"Kalau tidak begitu, mana mungkin
kami mengundangmu ke pesta ulang tahun Hiyori."
Memang benar sih…………!!
"Haah, Bun-bun ini merepotkan di
bagian-bagian yang aneh ya. Apa kamu kurang rasa keramahan di dalam hati?"
Aku malah mendapatkan wajah heran dari
Serizawa-san.
R-ramah ya……
Sambil mengucapkan terima kasih dari
lubuk hati kepada Dewa Serizawa yang telah mengulurkan tangan kepadaku, aku pun
menghampiri Hiyori dan Tsukimi-san.
Namun, Hiyori tidak ada di sana.
"Lho, Hiyori mana?"
Serizawa-san bertanya pada Tsukimi-san
yang sedang menyantap bekalnya lebih awal.
"Nn~? Tadi dia dipanggil seseorang.
Katanya bakal agak lama, jadi kita disuruh makan duluan saja…… tapi kenapa kamu
juga ada di sini."
"Ohoi Tsukki~? Jangan dingin begitu
dong. Kita kan teman?"
"Ha? Apa-apaan sih anak ini. Jijik
banget tahu."
"Eh, a…… maaf ya."
M-masa sih. Padahal aku sudah berjuang
mengeluarkan rasa ramahku……
"Hoshino curang. Aku juga mau
dipanggil pakai nama panggilan."
"Kamu malah mempermasalahkan bagian
itu!?"
Sambil menggembungkan pipinya,
Serizawa-san mendapatkan balasan heran dari Tsukimi-san.
"Katanya bakal agak lama, memangnya
Nanase-san ada urusan apa ya?"
"Paling-paling ditembak."
"Begitu ya, ditembak……
DITEMBAK!?"
"Bentar, kenapa kamu yang kaget
sih?"
Eh, soalnya kan ditembak!? Ditembak lho!!
Tampaknya cuma aku saja yang kaget,
sementara Tsukimi-san dan Serizawa-san tampak sudah sangat terbiasa.
Tidak, kalau dipikir-pikir mereka memang
sudah terbiasa ya. Tiga orang ini kan kelompok gadis cantik papan atas di
angkatan kami. Ditembak pria sih sudah jadi makanan sehari-hari.
Yah, bagiku sendiri ditembak juga sudah
jadi makanan sehari-hari sih.
………………Meskipun aku di pihak yang ditolak.
"Daripada berdiri terus di situ
cepat duduk di samping sana kenapa?"
"Ah, tidak. Aku juga sekarang mau
sebentar……"
"Eh, jangan-jangan…… kamu berniat
melihat tempat penembakannya? Parah banget."
"Bukan, aku cuma mau pergi ke
koperasi kok!!"
Aku buru-buru membantah Tsukimi-san yang
jelas-jelas sudah merasa jijik melihat tingkahku, lalu berjalan menuju
koperasi.
Meski begitu, ditembak ya.
Kira-kira Hiyori yang sekarang bakal
memberikan jawaban seperti apa ya. Apa dia bakal bilang masih belum mau
pacaran, atau justru menerima demi mencari cinta yang baru?
Mungkin saja, peranku bakal berakhir
tidak lama lagi……
"Kalau kamu tidak keberatan, maukah
berpacaran denganku?"
Bersamaan dengan sorakan kagum, kalimat
pernyataan cinta itu terdengar.
Seketika aku berbalik ke arah datangnya
suara, dan di sana tampak sosok kapten klub basket yang tampan, Kapten
Sasahara, yang sedang menyatakan cinta, serta Hiyori yang sedang ditembak.
D-d-ditembak di taman tengah…… serius?
Di tengah-tengah banyaknya penonton, dia
mengatakannya dengan sangat mantap…… M-mana ada yang bisa mengalahkan orang
ini…… Kapten Sasahara benar-benar nggak ada obat.
"Kalau ditembak sama Kapten Sasahara
yang terkenal itu, wajarnya orang tidak bakal menolak sih."
"Iya nih~ bukannya tidak menolak,
tapi lebih ke tidak bisa menolak sih."
"Belakangan ini Nanase kan lagi agak
begitu. Jangan-jangan mereka
bakal jadian?"
Banyak penonton yang melihat mulai
kasak-kusuk heboh. Suasananya benar-benar seolah meyakini keberhasilan
penembakan itu.
Jangan-jangan, dia sengaja menyatakan
cinta di taman tengah demi menciptakan suasana seperti ini?
P-perencana yang cerdik…… Seperti yang
diharapkan dari Kapten Sasahara yang merupakan pakar percintaan. Bukankah dia
ini veteran yang kenyang pengalaman?
"Maafkan aku. Saat ini aku belum
berniat untuk berpacaran dengan siapa pun."
Hiyori menundukkan kepalanya menolak
dengan sopan. Pemandangan itu makin membuat orang-orang di sekitarnya riuh.
"Aku tahu situasi yang dialami
Hiyori-chan. Justru karena itulah, aku ingin menjadi penopang buat Hiyori-chan.
Tidak, aku pasti akan menjadi penopangmu."
"Tidak apa-apa kok. Bagi aku, aku
sudah ditopang dengan sangat lebih dari cukup."
Melihat Hiyori yang menyampaikannya
secara tegas seperti itu, entah kenapa aku merasa senang.
Rasanya aku jadi bisa percaya diri bahwa
aku telah menopangnya dengan benar.
Tiba-tiba, mataku berpapasan dengan
Kapten Sasahara. Mata Kapten Sasahara yang menatapku jelas-jelas memancarkan
rasa permusuhan.
"Kalau tidak salah…… Fuji-kun……
bukan ya? Kamu lumayan jadi bahan rumor lho. Kalau menurutku sih, kamu pasti
memanfaatkan kelemahan Hiyori-chan kan."
Ingin rasanya aku berteriak dari dasar
hatiku 'Jangan asal bicara ya!',
tetapi karena aku punya mental baja, aku
berhasil menahannya.
Lagipula nama aku itu Tomida. Ingat itu,
Dasar Cumi-cumi.
"Lagipula, dia itu sama sekali tidak
pantas berada di sisimu—"
"Anu, bisa tolong berhenti bicara
buruk tentang orang yang sangat kusukai?"
"……Eh?"
Ekspresinya tidak kelihatan.
Namun, suara yang dikeluarkan oleh Hiyori
jelas-jelas menyiratkan rasa jijik yang mendalam.
"Bun-kun itu bukan orang seperti
yang dipikirkan oleh Senpai. Dia adalah sosok yang jauh lebih luar biasa
daripada Senpai. Tolong jangan asal bicara sembarangan padahal tidak tahu
apa-apa tentang Bun-kun."
"I-itu sih…… anu."
Dia marah. Hiyori jelas-jelas sedang
marah besar.
Meskipun Hiyori itu ceria dan baik kepada
siapa saja, dia tetaplah manusia biasa. Kalau temannya dikatai buruk, dia pasti
bakal marah dan nada bicaranya bakal jadi kasar.
Namun, bersamaan dengan emosi marah itu,
rasa penolakan serta rasa jijik juga sedikit terlihat.
"Permisi."
Sama sekali tanpa menoleh ke arah Kapten
Sasahara, Hiyori melangkah kembali menuju kelas.
Di saat suasana sekitar mendadak membeku,
Kapten Sasahara cuma bisa tertunduk diam.
◇
Sambil melihat-lihat barang di koperasi,
aku teringat akan Hiyori.
Nanase
Hiyori yang marah seperti itu belum pernah kulihat di 『Tenichi!!』.
Paling tidak, di situasi seperti itu, bayanganku dia bakal marah sambil
menangis lalu membantahnya……
"Bu~n…… kun"
"Uwah!"
Tepat saat aku hendak mengambil roti
melon, Hiyori menyenggol bahuku dengan pelan.
A-alangkah anehnya? Bukannya dia tadi
sudah kembali ke kelas?
"Nanase-san? A-ada apa? Bukannya
makan siangmu biasanya selalu bawa bekal?"
"……Tadi ya. Karena ada kejadian yang
tidak menyenangkan, aku berpikir mau makan yang manis-manis atau
semacamnya."
"B-begitu ya."
Kejadian tidak menyenangkan. Adegan
penembakan tadi kembali terbayang di kepalaku.
Berbeda dengan beberapa saat yang lalu,
Hiyori yang kembali menatap jajanan cokelat kini tampak seperti biasanya.
Sampai-sampai aku berpikir kalau Hiyori
yang tadi itu adalah orang yang berbeda.
"Bun-kun. Kita belakangan ini sering
jalan bareng, kan? Makanya, sepertinya mulai muncul rumor yang sedikit tidak
enak."
Kalau dipikir-pikir, Kapten Sasahara tadi
memang bilang kalau kami sedang jadi bahan rumor ya.
"Anu ya, Bun-kun."
Jari kelingkingku digenggam erat oleh
Hiyori. Kaget, aku menoleh ke arah Hiyori, tetapi pandangannya justru tertuju
lurus ke depan.
"Aku tuh ya, sama sekali tidak
peduli dengan rumor yang disebarkan orang-orang. Makanya…… jangan menghilang
ya?"
Genggaman pada jari kelingkingku makin
mengencang sedikit, lalu dia mendongak menatap wajahku sambil mengucapkan hal
itu.
"Tenang saja, aku tidak bakal
menghilang kok. Kemarin kan aku sudah janji bakal tetap berada di sisimu."
Aku sudah berjanji pada Hiyori.
Bahwa apapun pilihan yang diambilnya
kelak, aku bakal tetap berada di
sisinya.
Seandainya aku sampai mengambil jarak
darinya, berarti aku melanggar janji itu. Hal itu tidak boleh sampai terjadi.
"……Benar juga ya."
Saat berkata begitu, Hiyori tersenyum
tampak sangat gembira.
"Maaf ya mendadak bilang hal yang
aneh. Entah kenapa aku jadi cemas."
Pasti, berkat interaksi dengan Kapten
Sasahara hari ini, pembicaraan soal hubunganku dengan Hiyori bakal menyebar
dalam sekejap.
Soal kami berpacaran lah, atau justru
soal aku yang memanfaatkan kelemahan Hiyori lah.
Mungkin karena hal itulah Hiyori cemas
kalau aku bakal mengambil jarak darinya atas inisiatifku sendiri.
"Nanase-san ini ya, cemas pada
hal-hal yang aneh deh. Padahal mana mungkin aku meninggalkan Nanase-san."
Melihat reaksi Hiyori yang terlampau
berlebihan, mulutku refleks keceplosan bicara.
Yah, kalau sampai ditolak langsung oleh
orangnya, atau keberadaanku bersamanya jelas-jelas malah makin merepotkannya,
tentu saja aku bisa saja mengambil jarak darinya. Tapi paling tidak, aku tidak
berniat mengambil jarak secara mendadak.
"Ahaha……"
"Eh? A-apa?"
"Tidak. Entah kenapa rasanya jadi
lega. Melihat reaksi Bun-kun, aku jadi lega."
Hiyori mengulas senyum lembut seolah
hatinya merasa sangat lega.
Namun, berbanding terbalik dengan
kata-kata dan senyumannya itu, jari kelingkingku tetap digenggam erat-erat
tanpa ada tanda-tanda mau dilepaskan sama sekali.
Seharusnya berjalan menuju kelas dalam
kondisi begini tidak bagus kan ya……
"Anu, Nanase-san. Ini……"
"Nn?"
"A, tidak…… bukan apa-apa."
Sambil melihat jari kelingking yang
digenggam, aku berniat memprotesnya secara halus, tetapi aku kalah oleh tekanan
misterius.
Kalau sampai kejadian hari ini diketahui
oleh Tenma atau Ichika, saat saat itu tiba…… aku harus berhadapan dengan mereka
berdua dengan mantap.
Sambil memikirkan 'saat itu' yang bakal
datang kelak, aku pun melangkah menuju kelas.
◇
"Anu, permisi. Apakah Tomida
Bungaku-kun ada di dalam?"
Sepulang sekolah. Tepat saat aku hendak
pulang, suasana kelas mulai riuh. Saat mengarahkan pandangan ke pintu masuk, di
sana berdirilah heroine utama, Ayabe Ichika.
Hiyori dan yang lainnya sudah
meninggalkan kelas dan tidak ada di sini.
"Ah, Tomida-kun."
Tepat saat menyadari keberadaanku,
Ichika-san yang merupakan heroine utama melambaikan tangannya dengan heboh.
Sambil mengabaikan sekitar yang makin
riuh, aku melangkah menghampiri Ichika.
"E, eto…… Ayabe-san. Kan ya. Ada
urusan apa denganku?"
Entah kenapa, pada akhirnya bicaraku jadi
pakai bahasa formal.
"Duh, kenapa pakai bahasa formal
sih? Padahal kan bagaimana hubungan antara aku dan Tomida-kun."
Ichika terkikik tersenyum seolah hal itu
menyenangkan.
Eh, apa……? Sedikit menakutkan nih,
bagaimana hubungan antara aku
dan Tomida-kun itu maksudnya apa?
"Etto, kita kan baru pertama kali
bertemu!! Kan? Salam kenal! Kan?"
Aku memamerkan fakta bahwa kami baru
pertama kali bertemu kepada teman-teman sekelas secara berlebihan. Tatapan
teman-teman sekelas yang menancap di pipiku terasa menyakitkan. Ichika
menatapku yang sedang mengalihkan pandangan dengan lekat.
"……Sepertinya lebih baik jika aku
bicarakannya secara jelas saja ya. Aku ulangi lagi ya."
Ichika berjinjit lalu berbisik di dekat
telingaku.
"Fumika-chan. Bisakah kita berbicara
sebentar setelah sekian lama?"
◇
"Atas tindakan ini!! Saya telah
memanfaatkan kebaikan hati Ayabe-san!! Menyamar sebagai perempuan dan
memalsukan jenis kelamin, yang pada akhirnya berujung pada penipuan terhadap
Ayabe-san, saya memohon maaf yang sebesar-besarnya!!"
"Fumika-chan!? A, eto, bukan,
Tomida-kun!! T-tunggu sebentar!!
Kenapa mendadak begini!? T-tolong angkat
wajahmu!!"
Sesuai kata-katanya aku diseret oleh
Ichika sampai ke kelas kosong yang
sepi.
Pokoknya, untuk langkah pertama aku
langsung melakukan dogeza pembuka, tetapi Ichika sampai kebingungan hingga ikut
memanggilku Fumika-chan.
Lho, bukan karena hal itu ya.
"……Etto, bukannya kamu memanggilku
ke sini untuk menyelesaikan urusan denganku sebagai bajingan penyimpang yang
menyamar jadi perempuan demi bisa mendekatimu?"
"T-tidak kok!!"
Ah, bukan toh, syukurlah.
"Maaf. Ichika, Tomida, maaf membuat
kalian menunggu…… eh? Apa-apaan situasi ini."
"T-Tenma-kun."
Sang protagonis, Shindou Tenma, muncul
dengan raut kebingungan.
"A, eto, aku pikir aku dipanggil ke
sini terkait masalah maaf ya sudah menipu kalian dan makan bareng selama
ini……"
"Bukan, bukan!! Sepertinya kami
membuatmu salah paham ya. Maaf ya."
Dengan sigap Tenma mengulurkan tangannya
padaku.
Seperti yang diharapkan dari sang
protagonis. Kalau dilihat dari dekat dia memang tampan, dan sekarang pun dia
mengulurkan tangannya padaku dengan ramah. Rasanya aku bisa sedikit kepikat.
Aku menggenggam tangan yang diulurkan
itu, lalu beranjak berdiri.
"Anu…… Tomida-kun. Apakah
Hiyori-chan baik-baik saja?"
"Eh? Aah, aku rasa dia baik-baik
saja kok."
"Begitu, ya……"
Bagaimana ya. Ada hal yang ingin
ditanyakan, tetapi tidak bisa ditanyakan. Rasa gemas seperti itulah yang
terasa.
"Anu, Hiyori-chan terhadap
kami……"
Kata-kata yang diucapkan dengan lemah itu
terhenti sampai di sana.
Dia pasti sudah menduga alasan kenapa
Hiyori tidak lagi makan siang bersama mereka.
"Aku sering mendengar cerita tentang
kalian berdua dari Nanase-san kok. Nanase-san sama sekali tidak membenci
Ayabe-san dan yang lainnya. Makanya, tidak apa-apa."
Yah, walau saat menceritakannya, matanya
terkadang jadi seperti mata ikan mati sih.
"A, begitu ya……"
Ichika mengelus dadanya merasa lega.
Tampaknya dia sangat cemas. Sejauh itulah
keberadaan Hiyori Nanase sangat berarti bagi Ichika Ayabe.
"Sebenarnya ya, hari ini kami
mau……"
"Tunggu sebentar Tenma-kun. Biar
dari aku saja."
"……Paham."
Menahan Tenma yang hendak mengatakan
sesuatu, Ichika yang sudah membulatkan tekad tiba-tiba mendekatiku dengan
cepat.
"Anu! Sebenarnya ada hal yang ingin
kuminta dari Tomida-kun!"
"P-padaku?"
Sambil memegang dadanya, dia menarik
napas dalam-dalam, lalu menatap wajahku dengan lekat.
"Itu, aku mau kamu membantu kami……
untuk kembali menjadi teman seperti dulu lagi dengan Hiyori-chan!"
Dia benar-benar serius. Hal itu terlihat
jelas dari tatapannya.
Permintaan ini benar-benar
penting baginya. Bagi Ayabe Ichika…… jika dibesar-besarkan, ini sangat
mempengaruhi kehidupan sekolahnya ke depan.
Karena itulah, aku tidak
mengerti.
"Kenapa harus kepada
orang sepertiku……?"
"Aku menghormati
Tomida-kun sebagai teman, dan memercayaimu dari dasar hatiku."
"Eh, padahal aku ini
penyimpang yang menyamar jadi perempuan lho?"
Tanpa sadar kata-kata itu
keluar dari mulutku. Soalnya selama ini aku sama sekali tidak pernah melakukan
hal yang pantas untuk dipercayai oleh Ichika. Malah sebaliknya, aku cuma
melakukan hal-hal yang bikin ilfeel. Tidak, beneran deh.
"Alasan menyamar jadi
perempuan itu demi Hiyori-chan, kan?"
"Kalau itu sih……"
"Kamu menyamar jadi
perempuan agar kami tidak salah paham, lalu menjadi penengah antara Tenma-kun
dan Hiyori-chan, kan?"
'Kan?' tanyanya, tetapi
Ichika mengatakannya dengan penuh keyakinan.
Menilai bahwa berbohong itu
sia-sia, aku pun mengangguk dalam diam.
"Meskipun berteman,
jarang ada orang yang mau membantu sampai sedalam itu demi orang lain.Karena
itulah, aku ingin menghargai Tomida-kun sebagai teman dari lubuk hatiku, dan
aku sangat memercayaimu."
"Aku senang kamu
memercayaiku sampai sejauh itu sih."
"Lagipula, orang yang
paling dipercayai oleh Hiyori-chan melebihi siapa pun adalah Tomida-kun."
"Itu sih kamu terlalu
berlebihan menilaiku."
"Kalau tidak begitu,
Hiyori-chan tidak akan sampai semarah itu."
Jangan-jangan, dia melihat
adegan penembakan saat jam istirahat siang tadi.
"Melihat Hiyori-chan
saat jam istirahat siang tadi, aku jadi yakin. Bahwa Tomida-kun lah yang selama
ini menopang Hiyori-chan."
Pasti, berkat peristiwa
penembakan Kapten Sasahara tadi, semua hal yang terjadi selama ini mendadak
saling terhubung di dalam kepalanya.
Karena itulah, dia
memanggilku.
"Jujur saja, aku tadi
hampir menyerah. Tapi, kalau ada Tomida-kun…… aku berpikir mungkinkah ada
harapan. Kamu sudah menjadi penengah antara Tenma-kun dan Hiyori-chan saat jam
istirahat siang. Kalau Tomida-kun yang melakukannya, pasti……!!"
Melihat ekspresinya yang
begitu sungguh-sungguh, aku refleks terdiam.
Hal seperti ini bukan
obrolan yang bisa disampaikan kepada siapa saja.
Tidak, ini bukan sesuatu
yang harus dibicarakan kepada orang lain.
Namun, meskipun begitu.
Setelah memahami semuanya, dia tetap membicarakannya padaku. Tentang keinginan
dan perasaannya sendiri.
"Aku tahu kalau aku
mengatakannya sangat tidak masuk akal dan egois. Aku sangat memahami betapa
menyakitkannya hal itu. Tapi, karena dia adalah…… teman pertama yang
kupunya……!!"
Tersadar kembali, Ichika
meminta maaf dengan suara agak pelan dan lemah.
"……Maafkan aku."
"Tidak……"
Kehilangan kedekatan dengan
sahabat yang sangat berharga tentu terasa menyedihkan dan sepi. Itu hal yang
wajar. Aku sama sekali nggak menganggap keinginan seperti itu sebagai sesuatu
yang egois.
Sekali lagi, Ichika
menatapku dengan ekspresi serius.
"Tomida-kun. Tolong
bantulah kami."
"Aku juga mohon
padamu."
Ichika dan Tenma
menundukkan kepala mereka dalam-dalam.
Mereka pasti benar-benar
sedang bersandar pada harapan terakhir……
Ichika menggenggam erat
roknya, dan tangannya gemetaran karena gugup.
Kini, apa yang harus
kulakukan dengan kegelisahan itu sepenuhnya dipercayakan kepadaku.
Pasti, kalau aku menerima
permintaan mereka berdua, kita mungkin bisa mencapai akhir yang bahkan tidak
ada di karya aslinya.
Masa depan bahagia seperti
yang diharapkan oleh semua orang. Sebagai sebuah cerita, itu dipastikan bakal
berakhir dengan sangat indah.
"Kalian berdua, tolong
angkat wajah kalian."
Aku berbicara kepada mereka
berdua yang masih terus menundukkan kepala. Wajah mereka saat mendongak
terlihat sangat tegang.
"Bagi aku, Nanase-san
adalah teman yang berharga, dan Ayabe-san maupun Shindou…… aku juga menganggap
kalian sebagai teman yang sama berharganya. Tapi, aku ini berada di pihak
Nanase-san."
"……Di pihak
Hiyori-chan."
Aku mengangguk menanggapi
kata-kata Ichika.
"Kalau Nanase-san
menginginkannya, kami bakal berjuang sekuat tenaga untuk membantu kalian
bertiga berbaikan. Tapi, kalau Nanase-san tidak menginginkannya…… kami bakal
membuat banyak kenangan menyenangkan bersama sampai dia bisa melupakan kalian
berdua. Cuma sebatas itu."
Bukan cuma aku saja. Pasti,
Serizawa-san dan Tsukimi-san juga bakal memikirkan hal yang sama denganku.
"Makanya, untuk saat
ini aku mau kalian percaya dan menunggu Nanase-san. Meski kalian sudah tahu
bagaimana hasilnya nanti, tolong percayalah pada keberaniannya yang telah
menyampaikan perasaannya dengan jujur."
Begitulah, terakhir aku
mengatakannya sambil menatap wajah Tenma.
"Etto. Maksudnya, itu,
karena jawabannya setengah-setengah dan tidak sesuai harapan, ditambah aku
menyampaikannya secara sepihak dengan nada sok hebat begini, aku minta maaf
ya."
Pada akhirnya, tepat saat
aku sedang menunduk-nunduk meminta maaf, Plak!! Suara tepukan keras
bergema.
Kaget memikirkan ada apa,
aku mendongakkan wajah dan melihat Tenma sedang menampar kedua pipinya sendiri
dengan kedua tangan.
"Tomida, terima kasih.
Berkatmu aku jadi tersadarkan. Padahal aku harusnya sudah tahu, tapi aku tidak
memperhatikan ketangguhan Hiyori dengan benar."
"Eh, a, o-oh."
"Tomida-kun."
"I-iya."
"Aku juga bakal
percaya dan menunggu Hiyori-chan. Karena itulah, kalau seandainya Hiyori-chan
memilih kami…… mohon bantuannya ya."
Ichika menggenggam tangan
kananku dengan erat menggunakan kedua tangannya secara hati-hati.
Tindakan itu membuat dadaku
tanpa sadar berdebar kencang.
"A, eto, hal yang bisa
kulakukan bakal kulakukan sekuat tenaga."
"Duh, kenapa pakai
bahasa formal sih? Padahal kan bagaimana hubungan antara aku dan
Tomida-kun."
"……Benar juga
ya."
Melihat Ichika yang
tersenyum agak canggung, aku tanpa sadar membalas senyumannya dengan kaku.
"Kalau begitu, aku
duluan ya."
"Aa, Tomida. Sampai
besok ya."
"Tomida-kun. Terima
kasih banyak untuk hari ini."
Sambil melambaikan tangan
pada sang protagonis & sang heroine, aku membuka pintu kelas lebih dulu.
Begitu keluar dari kelas,
aku refleks menahan suara yang hampir saja keluar dari mulutku.
"…………………………Bun-kun."
Sebab di samping pintu,
Nanase Hiyori sedang terduduk meringkuk sambil mendongak menatapku dengan mata
berkaca-kaca.
"N-Nanase-san? Kamu
tidak apa-apa……?"
Tanpa sadar aku ikut
berjongkok lalu menyapa Hiyori.
Sambil memeluk lututnya
seperti posisi duduk meringkuk, tubuhnya gemetaran kecil.
Lagipula kenapa dia bisa
ada di tempat seperti ini……?
Saat aku berdiri dan
melirik pelan ke dalam kelas, sepertinya Tenma dan Ichika tidak menyadarinya,
mereka malah melambaikan tangan padaku dengan senyuman.
Aku pun membalas lambaian
mereka dengan canggung, lalu kembali berjongkok di samping Hiyori.
"……Jangan-jangan,
obrolan tadi kamu dengarkan?"
Saat aku bertanya
berhati-hati, Hiyori mengangguk pelan.
"S-sekalian saja, mari
kita pindah dari sini. Bisa berdiri?"
Saat aku bertanya begitu
dia mengangguk lagi, jadinya sambil sebisa mungkin tidak menatap wajah Hiyori,
aku menggenggam tangannya lalu membawanya pergi dari tempat itu.
◇
Tempat yang kami gunakan
untuk mengungsi sementara adalah bangku di taman tengah.
Di jam segini semua orang
sedang ikut kegiatan ekstrakurikuler, dan murid-murid lainnya sudah pada
pulang, jadi pada dasarnya tidak ada orang.
"……Boleh duduk di
sampingmu?"
"……Ung."
Hiyori mengendus pelan,
lalu mengizinkanku duduk di sampingnya.
"Kalau mau, ini ada
tisu saku."
"Wa, tisu sakunya yang
bagus."
Seolah beban di pundaknya
sirna, dia tersenyum lemas.
……Boleh tidak ya aku
menanyakan alasan dia menangis? Tidak, bukannya justru lebih baik ditanyakan?
"Terima kasih ya……
sudah menjadi pihakku."
"Eh?"
Karena Hiyori yang lebih
dulu membuka pembicaraan, aku jadi sedikit terkejut.
"Aku sendiri juga
tahu. Pasti hal terbaik yang harus kulakukan adalah berjuang supaya bisa
kembali ke hubungan seperti dulu lagi dengan mereka berdua…… tapi, Bun-kun
memikirkanku di atas segalanya. Hal itu rasanya sangat membuatku bahagia. Entah
kenapa air mataku jadi keluar."
Hiyori tersenyum serba
salah.
Itulah alasan kenapa dia
menangis.
"……Nanase-san mau
bagaimana?"
"Aku……"
Hiyori tetap menunduk tanpa
mengatakan apa-apa.
Pasti, dia sedang meragukan
pilihan yang kembali dipertanyakan padanya.
Hiyori pasti sudah sangat
memahami betapa berartinya dirinya bagi Ichika.
Bagi Hiyori pun Ichika
adalah sahabat dekat dan sosok yang berharga.
Namun di saat yang sama,
dia adalah sosok yang mulai sekarang harus diperhatikan perasaannya.
"Aku mau merestui
mereka berdua dengan tulus, dan kalau tidak bisa terlibat lagi dengan Tenma
serta Hana-chan rasanya bakal kesepian…… tapi, aku takut."
Kedepannya, situasi dua
orang yang mulai berpacaran pasti bakal berubah. Hal-hal seperti ABC dalam
hubungan antara cowok dan cewek…… dan berbagai hal lainnya.
Kalau mau mengharapkan
hubungan seperti dulu lagi dalam kondisi begini…… dia harus menerima semuanya
itu.
Hal seperti itu bagi siapa
pun adalah hal yang sangat menyiksa. Aku pun paham karena pernah mengalami hal
yang serupa.
Saat gadis yang kusukai
mulai berpacaran dengan temanku, lalu aku tahu mereka sudah berhubungan intim,
rasanya otakku benar-benar hancur sampai aku jatuh sakit dan terbaring di
tempat tidur.
"Kalau aku bilang
ingin berteman lagi dengan mereka berdua…… kamu bakal menopangku, kan?"
"Ung. Aku bakal
menopangmu. Lebih dari sebelum-sebelumnya."
"B-begitu ya……"
Saat aku menegaskannya
seperti itu, pipi Hiyori memerah lalu memalingkan pandangannya. Kemudian, dia
menunduk bagaikan bunga yang layu.
"Mendengar kamu bilang
begitu benar-benar membuatku bahagia. Tapi…… aku nggak yakin bisa berjuang
sampai akhir. Jujur saja, aku sendiri merasa mungkin aku nggak akan sanggup.
Dan meskipun begitu, aku malah meminta kamu untuk menopangku…… rasanya aku
nggak tega meminta sesuatu yang seegois itu……"
Jika setelah berjuang
ternyata hasilnya tidak berjalan lancar…… dia memikirkan 'bagaimana kalau' yang
seperti itu.
"Tidak apa-apa
kok."
"……Eh?"
Terkejut mendengar
kata-kataku, Hiyori mendongakkan wajahnya.
"Kamu boleh kok
bersikap egois kalau sama aku."
Aku mengumbar senyum pada
Hiyori.
"Seandainya Nanase-san
sudah berjuang tapi tetap tidak berhasil…… mau makan parfe, berteleponan,
menonton bioskop, aku bakal menemanimu sebanyak apa pun."
"……"
Hiyori kembali menatapku
dengan mata berkaca-kaca.
"……Kenapa?"
"Eh?"
"Kenapa kamu mau
melakukan sampai sejauh itu padaku? Padahal aku cuma orang yang…… cuma
memikirkan diri sendiri karena takut cuma bisa merepotkan Bun-kun lalu
dibenci."
"Kalau itu sih……"
'Takut cuma bisa merepotkan
lalu dibenci.'
Kalimat itu tanpa sadar
terlontar dari mulutnya
Pasti ini adalah 'isi hati
terdalam Hiyori' yang sebenarnya tidak berniat disuarakan olehnya.
Karena itu, aku juga ingin
menyampaikan sedikit isi hatiku yang sebenarnya tidak ingin kukatakan
kepadanya.
"Bukan karena alasan
yang mulia kok. Aku cuma tidak mau melihat wajah menderita milik Nanase-san
saja. Cuma sebatas itu."
Soalnya rasa menderita
milik Hiyori itu dipahami betul olehku melebihi siapa pun.
"Makanya aku juga sama
seperti Nanase-san…… pada akhirnya cuma memikirkan diri sendiri kok."
Lagipula, takut dibenci
oleh seseorang itu kan hal yang wajar. Hal seperti itu aku pun takut, siapa pun
pasti takut.
"Maksudku…… yang ingin
kukatakan adalah, apa pun yang terjadi, kami akan tetap berada di pihak
Nanase-san. Kami nggak akan pernah membencimu cuma karena hal seperti
itu."
Hiyori yang mendengarkan
dalam diam menatapku dengan mata berkaca-kaca lalu membuka suara.
"Beneran…… tidak
apa-apa?"
"Tidak apa-apa
kok."
Tanpa ragu, aku mengangguk
menanggapi kata-kata Hiyori.
"Pasti Serizawa-san
dan Tsukimi-san juga punya perasaan yang sama denganku."
Jujur saja, aku tidak
berpikir bisa menopang Hiyori sendirian.
Ada Hiyori, ada
Serizawa-san, ada Tsukimi-san…… lalu jauh dari sana ada diriku.
"Tenang saja. Apa pun
yang dipilih oleh Nanase-san, apapun hasilnya nanti…… kami dipastikan tidak
bakal membuatmu menyesal."
Aku mengulurkan jari
kelingkingku kepada Hiyori.
"……Ung."
Jari kelingking kami saling
bertautan pelan, menyatukan janji kelingking.
Itulah janji besar yang
kami ikat dengan jari kelingking kami.
"Bun-bun & Hiyori,
pembicaraannya sudah kudengar lho."
!?
Refleks aku berbalik kaget
ke arah datangnya suara.
Di sana, Serizawa-san
terlihat mengacungkan tanda V, sementara Tsukimi-san berdiri dengan tangan
terlipat di dada.
"Serizawa-san,
Tsukimi-san!? Kenapa bisa ada di sini!?"
"Hoshino dan aku yang
merasa cemas pada Hiyori yang pergi mengambil barangnya yang tertinggal
berjalan menuju kelas, lalu di sana tampak sosok Bun-bun yang sedang membawa
Hiyori yang menangis ke tempat yang sepi……!!"
Bukan begitu cara bilangnya
woy.
"Hiyori, sampai
sekarang pun aku merasa sebaiknya kamu tidak usah terlibat lagi dengan mereka
berdua. Tapi, yang menentukan hal itu adalah Hiyori. Apapun yang kamu pilih,
apapun yang terjadi, kami bakal menopangmu. Soalnya kami ini berada di pihak Hiyori."
"Aku juga sependapat
dengan Bun-bun & Hoshino…… bagaimanapun juga kami ini berada di pihak
Hiyori, peace."
"……Hoshinon,
Shi-chan."
Anu, kalian berdua, bisa
tolong berhenti mengulangi kalimat milikku tidak? Malunya setengah mati tahu.
"Hiyori, untuk
sekarang, coba saja dulu. Kalau pada akhirnya kita memang akan hancur, sekalian
saja sampai benar-benar nggak tersisa apa-apa."
"Eh, u-ung."
"Sebelum pesta ulang
tahun Hiyori, semoga sudah bisa berbaikan ya."
"……Ung."
"Kalau sudah
berbaikan, waktu pesta ulang tahun. Bagaimana kalau coba mengajak Shindou dan
Ayabe-san juga?"
"Ung……"
Saat melihat obrolan
Nanase-san dan Serizawa-san yang akhirnya berjalan lancar, Tsukimi-san dari
samping tiba-tiba membisikkan sesuatu di telingaku.
"Hei, kenapa Hiyori
tadi menangis?"
Tsukimi-san yang bergumam
menatapku dengan mata menyipit tajam.
Gawat nih, mata ini adalah
mata milik orang yang teman berharganya disakiti.
"Bukan, tunggu
sebentar. Tsukimi-san salah paham. Yang bikin Nanase-san menangis itu
aku……"
Memang aku ding. Ung.
Akulah yang membuatnya menangis.
Tanpa sadar, aku
memalingkan wajah membelakangi pandangan Tsukimi-san demi melarikan diri.
Ah, tunggu sebentar jangan,
jangan pegang dasiku, jangan ditarik.
"……Bun-bun dan
Hoshino, jangan bermesraan terus ayo pergi."
""Sama sekali
tidak bermesraan tahu!!""
Mendengar kata-kata
Serizawa-san, kami berdua refleks menyahut bersamaan.
Kenapa ya kalau dengan
Tsukimi-san kataku selalu saja berbarengan.
Melihat kami berdua yang
seperti itu, Serizawa-san mengungkit alisnya pelan.
Ah, sepertinya sekarang dia
sedang agak tidak senang.
Saat aku sedang memikirkan
harus bagaimana, Hiyori mendatangi kami sambil bicara ragu-ragu.
"A, anu ya. Setelah
ini, kalau tidak keberatan bagaimana kalau kita pergi ke suatu tempat bareng?
Aku mau kalian mendengarkan curhatanku soal hal kedepannya."
"Ah, kalau begitu aku
mau makan kentang di restoran keluarga. Terus rasanya lagi ingin ke drink
bar."
Serizawa-san mengacungkan
tangannya sambil mengotak-atik ponsel.
"Yah, boleh juga
kan?"
"Kalau begitu mari ke
restoran keluarga saja. Bun-kun juga tidak apa-apa kan?"
"Eh, aku juga?"
"Lah, justru kamu yang
paling harus ada di sana kan."
Aku disenggol dari samping
oleh Tsukimi-san yang menatapku tajam seolah memberi teguran.
Eh, a, b-begitu ya…… benar
juga ya. Ung.
Pergi ke restoran keluarga
bersama para gadis (alias para gadis cantik).
Rasanya benar-benar salah
tempat, tapi aku tidak bisa beralasan begitu lagi.
"Bun-kuun?"
"Ah, maaf. Sekarang
aku ke sana."
Aku membulatkan tekad, lalu
menyusul ketiga orang gadis itu.
◇
Restoran keluarga yang
biasa dikunjungi oleh tiga orang gadis itu, berada di dekat sekolah.
Sambil menyantap pizza dan
kentang goreng, 'Rapat Strategi Cara Mengatasi Patah Hati Hiyori Nanase' sedang
melangsungkan pembahasannya.
"Pada akhirnya,
bukannya memang paling benar kalau Hiyori sendiri yang pergi menemui mereka
berdua?"
Tsukimi-san berkata sambil
mengambil kentang goreng.
Setelah berbagai
perdebatan, pada akhirnya kami sampai pada kesimpulan seperti yang dikatakan
Tsukimi-san, yaitu 'Hiyori pergi menemui Tenma & Ichika'.
"Ugh, pada akhirnya
memang jadi begitu ya."
"Jujur ya, kalau dari
sudut pandang Hiyori bagaimana? Apa rasanya masih belum bisa bertemu Ayabe-san
dan Shindou?"
"Bukan begitu…… aku
rasa. Tapi."
Menanggapi konfirmasi dari
Tsukimi-san, Hiyori terdiam ragu sebelum akhirnya mengutarakan pendapatnya.
"Kalau tidak punya
rasa percaya diri, bagaimana kalau pergi bersama Bun-bun saja?"
Eh, denganku?
"Boleh juga kan? Pihak
sana juga kan sudah tahu situasinya, jadi anak ini juga tidak usah menyamar
jadi perempuan lagi."
Memang benar sih seperti
yang dibilang Tsukimi-san, tapi……
"Karena itulah,
Bun-bun. Mohon bantuannya ya."
"Eh, tidak. T-tunggu
sebentar dong. Kita harus dengar dulu pendapat Nanase-san."
Sambil berkata begitu aku
menoleh ke arah Hiyori di sebelahku, lalu dia berpikir sejenak sebelum akhirnya
bergumam.
"Kalau bersama
Bun-kun…… mungkin aku bisa melaluinya."
Eh? Kenapa……? Padahal tadi
dia enggan sekali lho.
"Hiyori, tenang saja.
Kalau ada apa-apa, Bun-bun pasti bakal mengatasi segalanya."
"Memang benar……!
Seperti yang dikatakan Shi-chan, kalau ada Bun-kun, rasanya entah kenapa aku
bisa melaluinya……!"
Kepercayaan mereka kepadaku
ini, bukannya terlalu besar ya.
"T-Tsukimi-san juga
katakan sesuatu dong."
"Aku juga nggak
keberatan kok."
Seriusan nih……
"Kalau begitu, sudah
ketok palu ya. Hiyori saat jam istirahat siang besok bakal pergi menemui
Shindou dan Ayabe-san bersama anak ini."
"H-Hoshinon, tunggu
sebentar. K-kalau besok sih rasanya terlalu…"
"Aku dan Shizuku bakal
mengawasi supaya kamu tidak kabur kok."
"A…… IYA. MOHON
BANTUANNYA."
Merasakan tekanan kuat dari
senyuman Tsukimi-san, Hiyori cuma bisa mengangguk pasrah.
"Kamu juga, sudah
paham kan?"
"A, IYA. SAYA BAKAL
BERJUANG."
Seolah ingin menghindari
tatapan tajam Tsukimi-san, aku pun beranjak dari tempat duduk
"P-permisi, aku mau ke
drink bar sebentar……"
Aku buru-buru menuju
drink bar dan menekan tombol teh es.
"Rasanya malah jadi
gawat ya."
Bukan masalah pergi ke
tempat Tenma dan Ichika sih, cuma peranku rasanya terlalu penting……
"Bisa tidak ya……"
"Kenapa kamu malah
jadi ciut begitu sih?"
"Hie!?
Tsukimi-san!?"
"Apa-apaan sih. Pake
'hie' segala."
"A, tidak. Cuma kaget
sedikit."
Orang yang menyapaku
ternyata adalah Tsukimi-san.
Sambil bingung aku
memasukkan kola ke dalam gelas yang sudah terisi teh es, lalu mengaduknya.
"Uwehk, kombinasi
apaan tuh."
"Kola dan teh? Ini
cara minum kola yang diminum oleh heroine anime sih, tapi waktu kucoba sekali
ternyata lumayan enak lho. Terkadang aku jadi ingin meminumnya."
"Anime……? Kamu nonton
anime?"
"Eh? Yah, sedikit
sih."
"Hmm."
Sambil memilih minumannya,
entah kenapa Tsukimi-san melirik-lirik ke arahku.
"Etto, mau coba minum
sedikit?"
"Nn."
Ah, ternyata mau minum toh.
Menerima gelasnya,
Tsukimi-san meminumnya satu teguk.
"………………"
Dengan ekspresi yang sulit
diungkapkan dengan kata-kata, dia menatap teh kola itu dalam diam, lalu
meminumnya sekali lagi.
……Apa dia menyukainya ya.
"……Terus, kenapa kamu
tadi melamun?"
"Itu, menjadi
pendamping Nanase-san sih tidak masalah, tapi tugas seberat itu, apa bisa
kuemban ya."
Saat aku meluapkan
kelemahanku seperti itu, Tsukimi-san menghela napas dengan wajah heran.
"Beneran deh…… yang
tegas dong. Padahal kan kami mengandalkanmu tahu."
"Eh……?"
Tsukimi-san mengandalkanku?
"Eh, kenapa?"
Mendengar kata-kataku yang
refleks keluar, Tsukimi-san memasang raut wajah yang tampak agak kesal.
"Kamu itu…… tanpa ragu
lagi sudah menjadi kekuatan buat Hiyori kan. Berbeda denganku."
"Etto, aku rasa
Tsukimi-san sudah sangat cukup menjadi kekuatan buat Nanase-san kok……?"
Sambil tertawa seperti
mengejek diri sendiri, Tsukimi-san menggelengkan kepalanya.
"Mana ada. Aku ini kan
tidak pernah merasakan cinta, jadi aku tidak bisa menyelaraskan perasaanku
dengan anak itu. Niatku mau perhatian, tapi malah aku yang diperhatikan balik.
Jangankan jadi kekuatan, aku cuma jadi beban tahu. Makanya anak itu mau meluapkan
keluh kesah serta isi hatinya padamu, dan mengandalkanmu."
"Itu tidak benar
kok."
"Eh?"
Pandangan Tsukimi-san
beralih menatapku.
"Memang sih, kalau
diperhatikan itu rasanya jadi merasa bersalah, tapi di saat yang sama, fakta
bahwa ada orang yang memedulikan kita itu sendiri sudah menjadi penyelamat
tahu."
"Hal seperti
itu……"
"Aku paham kok.
Soalnya bagiku, walau patah hati itu menyiksa, tidak ada satu orang pun yang
memedulikanku kan."
"……Kamu. Kelihatannya
memang tidak punya teman ya."
"Iya……"
Tsukimi-san menatapku
lekat-lekat, seolah ingin memastikan sesuatu, lalu bergumam pelan.
"Begitu ya, makanya
kamu selalu bilang 'kita' bukannya 'aku' ya."
"Eh? Tsukimi-san? Maaf
kamu tadi bilang apa?"
"Bukan apa-apa……"
Tsukimi-san menjawab dengan
ketus begitu, lalu mengisi gelasnya dengan teh sampai setengah, menambahkannya
dengan kola, lalu mengaduknya.
"Kamu suka cara minum
begitu"
"…………Yah
begitulah."
Entah kenapa Tsukimi-san
menatapku dengan lekat, lalu menjulurkan sedikit lidahnya sambil bicara.
"Ah, Bun-kun dan
Hoshinon. Selamat datang kembali…… kalian berdua, ada terjadi sesuatu?"
"Sama sekali tidak ada
apa-apa kok."
"Masa sih? Kok rasanya
jarak kalian berdua jadi makin dekat ya…… cuma perasaanku saja kah?"
Karena tidak merasa sadar,
aku dan Tsukimi-san saling memiringkan kepala.
"Uumm. Cuma
kesalahpahamanku saja kali ya?"
Sambil menggembungkan
pipinya, Hiyori menatapku dan Tsukimi-san bergantian dengan tatapan curiga.
Tak lama kemudian,
Serizawa-san datang sambil membawa segelas cairan hitam pekat.
"Coba lihat, Bun-bun.
Aku coba buat jus spesial lho. Namanya Serizawa Spesial DX."
Serizawa-san meletakkan
‘Serizawa Spesial DX’ di atas meja dengan wajah penuh kebanggaan.
Uumm. Bagaimana ya
mengatakannya……
"Dari namanya saja
sudah kelihatan rasanya tidak enak."
"Hei."
Serizawa-san menatapku
dengan mata menyipit tajam. Tampaknya dia merasa tidak terima.
"Tidak, habisnya
warnanya hitam pekat begitu. Kamu pasti memasukkan semua minuman dari drink
bar kan."
"Bilang ‘blend’
saja."
Ruwet banget deh.
"Ya sudah. Aku tidak
bakal kasih ke Bun-bun kok."
Serizawa-san meminum
Serizawa Spesial DX dengan sedotan sambil menggembungkan pipinya kesal.
"…………………………………Bun-bun.
Sisanya boleh kamu minum semuanya."
"Hei."
Serizawa Spesial DX pun
perlahan didorong ke arahku.
"Ayo, ayo, langsung
sedot pakai sedotannya."
"Tidak ah, tidak mau
minum."
Saat aku mengembalikan
Serizawa Spesial DX sambil menggelengkan kepala, Serizawa-san tersenyum
menyeringai.
"Jangan-jangan, kamu
malu gara-gara ini bakal jadi ciuman tidak langsung denganku? Hu, Bun-bun.
Masih polos ya."
"Ha? Siapa juga yang
malu?"
Boleh juga. Tantangan itu
bakal kuterima.
Saat aku menarik balik
Serizawa Spesial DX, lalu memegang sedotannya hendak mendekatkannya ke mulut,
tiba-tiba dari arah samping ada satu sedotan lagi yang ditancapkan.
"…………Eh?"
"Bun-kun, kalau
kepikiran soal ciuman tidak langsung dengan Shi-chan, bukannya lebih baik pakai
sedotanku saja?"
"Eh, tidak,
itu……"
"Kan?"
Hiyori tersenyum, tetapi
entah kenapa senyumnya terasa mengintimidasi.
T-terlalu tidak masuk
akal……
"Bun-bun. Tidak mau
pakai sedotanku?"
"Kamu bakal pakai
sedotanku, kan? Bun-kun."
Bentar, apa-apaan nih.
T-tolong aku Tsukimi-sa——ah, dia malah memalingkan pandangannya……
"……Bun-kun."
"……Bun-bun."
Anu, bagaimana ya. Baru
kali ini aku didesak dua pilihan yang rasanya bikin mau muntah begini.
Aku diam-diam menancapkan
sedotanku sendiri, lalu meminum habis Serizawa Spesial DX dalam sekali teguk.
Sesuai dugaan, Serizawa
Spesial DX rasanya payah banget.
◇
Setelah rapat strategi di
restoran keluarga selesai dan kami keluar, suasana di sekitar sudah mulai
gelap.
"Kalau begitu,
semuanya. Mohon bantuannya untuk besok ya."
Semua orang mengangguk
menanggapi kata-kata Hiyori.
Kalau begitu sampai besok,
tepat saat kami hendak berpisah, Hiyori menggenggam jari kelingkingku.
"Eh?"
Saat aku refleks bersuara,
Hiyori langsung tersentak dan buru-buru melepaskan tangannya.
"M-maaf. Maaf
ya……"
Melihat kondisi Hiyori,
Serizawa-san dan Tsukimi-san saling bertatap muka, lalu menyampaikan usulan
kepada Hiyori.
"Hiyori, jalanan sudah
mulai gelap, bagaimana kalau diantarkan oleh anak ini saja? Kalau ada apa-apa
kan dia paling tidak bisa jadi tameng."
"Aku juga sependapat.
Sedungu-dungunya Bun-bun, dia paling tidak bisa mengulur waktu sekitar 5 detik
lah."
Jangan meremehkanku ya.
Kalau 10 detik sih sanggup tahu. Mungkin.
"……Boleh ya?"
Aku mengangguk pada Hiyori
yang menengadah menatapku agak segan.
"Kalau begitu, aku
manfaatkan kebaikan kalian ya."
Mungkin mereka berpikir
sebaiknya Hiyori tidak sendirian untuk sementara.
Tsukimi-san dan
Serizawa-san menyerahkan Hiyori padaku, lalu mereka berdua pulang duluan.
"Etto, rumah
Nanase-san itu dari sini kalau jalan kaki sekitar berapa lama?"
"Uumm. Kira-kira 20
menit kali ya?"
20 menit ya. Jarak yang
serba tanggung banget. Persediaan bahan obrolanku bakal cukup tidak ya?
"Akhirnya besok,
segalanya bakal selesai ya…………"
Hiyori bergumam dengan nada
penuh haru.
"Sampai di titik ini
ada banyak hal yang terjadi ya. Waktu ditolak oleh Tenma lalu menangis ketahuan
oleh Bun-kun. Didengarkan berbagai keluh kesahku…… waktu kupikir sudah bangkit
kembali, mereka berdua malah jadian lalu aku menangis lagi. Terus sesudah
itu——"
Tiba-tiba, Hiyori menatapku
lalu tersenyum serba salah.
"Setiap kali aku
sedang kesulitan, rasanya Bun-kun selalu ada di sisiku. Ah, tidak, bukan begitu
ya. Bun-kun selalu bergegas datang padaku."
"Tidak tidak, itu cuma
kebetulan kok."
"Kalaupun begitu.
Tetap saja kan?"
Entah kenapa Hiyori
menatapku dengan lekat.
"Bun-kun itu ya. Orang
yang terlalu baik. Kan?"
"Eh, masa sih?"
"Orang yang terlalu
baik kok. Gimana ya, tidak punya kesadaran soal hal itu pun rasanya makin
mencirikan kalau kamu orang yang terlalu baik. Atau jangan-jangan……"
Tanpa melanjutkan kata-kata
berikutnya, Hiyori menggelengkan kepalanya seolah hendak menepisnya. Aku tidak
tahu apa yang mau dikatakannya. Namun, dia tampaknya memang tidak berniat
mengucapkannya.
"Pokoknya, aku pikir
Bun-kun itu terlalu baik."
"Kamu itu ya, terlalu
baik."
Kata-kata Hiyori tiba-tiba
mengingatkanku pada perkataan ‘dia. Benar juga. Seperti saat ini, di kehidupan
sebelumnya aku juga pernah dikatain hal yang sama.
Saat itu pun aku cuma——
"Bun-kun?"
"A, tidak. Etto, kalau
bilang begitu, aku pikir Nanase-san juga orang yang baik kok…… kamu kan
bersikap ramah pada siapa saja tanpa membeda-bedakan."
Yah, hasilnya. Banyak anak
laki-laki yang kegeeran bermunculan sih.
"Aku tuh…… tidak
seperti itu kok. Aku cuma melakukan apa yang ingin dilakukan orang lain padaku
saja."
Hiyori mengatakannya sambil
mengulas senyum yang terkesan mengejek diri sendiri.
"Bukannya bisa
melakukan kepada orang lain apa yang kita sendiri ingin mereka lakukan kepada
kita itu justru karena Hiyori orang yang baik?"
Begitu aku mengutarakan apa
yang ada di pikiranku, Hiyori tiba-tiba berhenti dan menatapku dengan ekspresi
tercengang.
"Eh? Anu, Nanase-san
tidak apa-apa?"
A-apa aku bicara hal yang
aneh ya.
Saat aku mendekati Hiyori
yang menunduk sambil menggenggam erat tali tasnya.
"Eiyaa~"
"!?"
Hiyori tiba-tiba menerobos
masuk ke pelukanku. Seketika, rasa hangat tubuhnya menyalur padaku.
Perkembangan yang terlalu mengejutkan ini membuat pikiran dan gerakan tubuhku
berhenti total.
Seolah tak peduli dengan
reaksiku, Hiyori menyandarkan seluruh berat tubuhnya kepadaku tanpa bergerak
sedikit pun.
Aroma sitrus dari Hiyori
membuat pikiranku yang sempat mati mulai bergerak kembali.
"A-a-ada apa?"
"Ini ya. Kepada Tenma,
Hana-chan, Hoshinon, maupun Shi-chan tidak pernah kuceritakan, ini adalah
rahasiaku."
"Eh, U, Un……"
"Aku juga ya. Sebelum
masuk SMA itu sendirian dan tidak punya teman."
Eh? Beneran?
"Pernah dirundung
juga, jadi aku sama sekali tidak punya rasa percaya diri sedikit pun. Tapi,
karena benci pada diriku yang seperti itu, aku mulai memperhatikan penampilan,
mengubah gaya, dan berlagak ceria…… yah, singkatnya begitu deh. Yang dinamakan
SMA debut itu lho."
T-tunggu sebentar.
Gelombang informasinya…… gelombang informasinya terlalu dahsyat sampai tidak
sanggup kuproses……!
"Yang mengubah
kehidupan SMA-ku yang dipenuhi rasa cemas itu adalah Tenma. Tenma itu orang
yang suka ikut campur dan ceria, jadi kalau bersamanya rasanya sangat
menyenangkan. Aku menyukai sisi dirinya yang seperti itu, lalu
mengaguminya."
"B-begitu ya!"
Balasanku terkesan payah
banget.
"Tapi. Mengaguminya
bakal kuakhiri sampai di sini. Soalnya aku mau melangkah maju dengan
mantap."
Pasti, ini adalah
pernyataan tekad sekaligus kata-kata perpisahan dari Hiyori.
Aku menarik napas
dalam-dalam, menata napas kembali.
"Begitu ya. Kalau
begitu, besok kita harus berjuang bareng ya."
Hiyori tersentak kaget
menanggapi kata-kataku.
"Duh…… di saat begini
kamu bisa-bisanya bilang 'bareng' dengan santai begitu. Beneran deh, Bun-kun
itu curang ya."
"Eh? Curang? Maksudnya
bagaimana?"
Karena tidak mengerti
maksudnya, aku pun bertanya. Hiyori mengangkat wajahnya dan menatapku dalam
diam dengan ekspresi heran.
"Tidak. Bukan apa-apa
kok."
◇
"S-siip. Bun-kun.
Sebentar lagi mari kita berangkat ya."
"Nanase-san, kamu
sudah mengucapkannya sampai 5 kali lho."
"……Ugh."
Keesokan harinya setelah
rapat strategi. Aku dan Bun-kun berdiri mematung di belakang bangunan sekolah.
Di meja bangku taman tengah
yang terletak di balik tempat ini, Tenma dan Hana-chan sedang menyantap bekal
mereka berdua.
Seperti yang kuduga, begitu
saatnya tiba, langkah kakiku terasa begitu berat
Dulu, situasi yang mirip
seperti ini pernah terjadi. Namun kali ini semuanya berbeda dari yang dulu.
Saat ini Tenma dan
Hana-chan sudah berpacaran. Lalu hubungan kami bertiga pun……
"Hiyori, kalau tidak
segera pergi nanti waktunya keburu habis lho……"
Hoshinon memeriksa waktu di
layar ponselnya.
Ugh, benar-benar deh, aku
harus membulatkan tekad sekarang.
"Bun-kun. Tunggu
sebentar lagi ya. Sekarang aku sedang mengumpulkan keberanian."
"O-oh…… begitu
ya."
Karena itulah, keberanian
yang dibutuhkan kali ini jauh lebih banyak daripada sebelum-sebelumnya.
"………………………………Nanase-san,
keberaniannya sudah terkumpul?"
"Sudah. Tapi, kan
keberanian itu kalau sudah dikumpulkan harus diolah dulu sampai matang……"
"Bun-bun, go."
"Benar juga ya, aku
berangkat dulu."
"Tunggu sebentar
Bun-kun!?"
Tampaknya sudah kehabisan
kesabaran melihatku yang terus ragu-ragu, Bun-kun bertukar anggukan dengan
Shi-chan, lalu menggenggam tanganku dan mulai berjalan.
Hoshinon dan Shi-chan
melambaikan tangan, mengantar kepergian kami.
Benar juga. Cuma ada satu
hal yang tidak berubah dari yang dulu.
Yaitu kenyataan kalau kamu
menggandeng tanganku. Fakta sederhana itu rasanya membuatku sangat bahagia……
Aku membalas menggenggam
tangan yang sedang dipegang oleh Bun-kun. Sambil ditarik oleh Bun-kun, saat
kami terus melangkah maju, sosok mereka berdua pun tertangkap oleh mataku.
Tenma dan Hana-chan. Mereka
berdua sedang tertawa tampak sangat bahagia.
"……"
Melihat sosok mereka berdua
yang seperti itu, refleks langkah kakiku terhenti. Rasa ingin melarikan diri
dari tempat ini mendadak muncul di pikiranku.
Keberanian yang susah payah
kukumpulkan perlahan mengempis. Rasa hangat di sekujur tubuhku mulai terkumpul
menuju ke mata.
Padahal kemarin aku sudah
bicara sok hebat dan membulatkan tekad untuk berjuang.
Aku jadi benci pada diriku
sendiri yang langsung terhenti begitu saja.
"……Nanase-san."
Mendengar suara yang
menyapaku, aku refleks bereaksi secara berlebihan.
Apakah dia kecewa padaku?
Apakah dia sudah menyerah padaku?
Saat aku mendongak dengan
cemas, wajahnya yang menatapku tetap memasang ekspresi lembut seperti biasanya.
"Kemarin kan aku sudah
bilang, kepadaku kamu boleh bersikap lebih egois kok."
Tanpa mengatakan apa-apa
lagi dari itu, Bun-kun cuma mengulas senyum.
Beneran deh, curang banget.
Aku suka sekaligus benci
dengan kebaikan Bun-kun yang seperti itu.
Karena aku jadi tanpa sadar
bermanja-manja padanya. Karena aku jadi lengah dan merasa tenang di dekatnya.
Aku menggenggam erat tangan
Bun-kun dengan sekuat tenaga, lalu kembali mulai melangkah. Sensasi berat yang
menyiksa sampai tadi mendadak sirna entah kemana.
……Lho? Padahal sampai tadi
cuma melihat sosok mereka berdua saja rasanya sangat menyiksa, tapi sekarang
sudah tidak terasa apa-apa.
Kaget, aku refleks menatap
Bun-kun di sebelahku.
"Hei, Bun-kun itu……
benar-benar orang yang luar biasa ya."
"Eh, kenapa mendadak
bilang begitu?"
Bun-kun yang memiringkan
kepalanya karena bingung tampak agak lucu, hingga tanpa sadar senyuman mekar di
bibirku. Dengan langkah kaki yang terasa ringan, aku melangkah menuju tempat
mereka berdua.
"……K-kalian berdua,
sudah lama ya. Kebetulan sekali ketemu di tempat seperti ini."
"Hiyori……?"
"……Hiyori-chan?"
Tenma yang menyadari
keberadaanku kaget, sementara Hana-chan berdiri dengan ekspresi cengang.
Aku melepaskan tangan
Bun-kun, lalu melangkah mendekati Hana-chan seorang diri.
"Kalau Hana-chan dan
Tenma tidak keberatan…… boleh tidak kalau kita makan siang bareng…… lagi?"
"!! Boleh……
boleh!!" Tomida-kun juga sekalian!"
Baru saja Hana-chan
memberiku senyuman ceria dan polos, air matanya langsung berjatuhan.
"H-Hana-chan!?"
"Ichika!?"
Kami panik lalu bergegas
menghampiri Hana-chan.
"Syukurlah……
syukurlah…… syukurlah yaaa."
"Hana-chan……"
Aku memeluk Hana-chan yang
masih terisak-isak dengan lembut, sambil mengusap punggungnya perlahan agar dia
berhenti menangis.
Mungkin saja, dia selama
ini cemas kalau aku tidak bakal pernah datang lagi.
Diabaikan oleh orang yang
dekat itu rasanya sangat menyiksa. Padahal rasa sakit itu harusnya sudah
kuketahui betul sampai terasa menyakitkan……
"M-maafkan aku. Sekarang aku sudah tidak apa-apa…… kok."
Setelah beberapa saat, ketika sudah agak tenang, Hana-chan mengusap sudut matanya lalu mengangkat wajah.
"Lain kali ya, teman-teman sekelas mau mengadakan pesta ulang tahun untukku, apa kalian berdua mau datang juga?"
"Datang! Kami pasti datang! Iya kan, Tenma-kun!"
"Aa…… benar juga ya."
Aku tidak bisa terus menjalani hubungan seperti dulu.
Karena itulah, aku harus berhadapan dengan mereka berdua dengan mantap dan membangun hubungan yang baru.
Mungkin semuanya akan terasa sangat berat dan menyakitkan. Tapi……
Aku tidak sendirian.
Aku kembali menggenggam tangan Bun-kun yang ada di sampingku.
Bun-kun sempat terkejut sejenak sambil menatap ke arahku, tetapi dia diam-diam membalas menggenggamnya. Rasa hangat dari Bun-kun menyalur padaku.
"Ngomong-ngomong, ada hal yang belum kusampaikan pada kalian berdua."
Selama ini terus ada di dalam hatiku, tetapi tidak bisa kuucapkan.
Kata-kata yang tidak ingin kuucapkan.
Namun, kalau ada Bun-kun di sampingku…… rasanya aku bisa
mengucapkannya dari dasar hatiku.
"Kalian berdua, selamat ya."
◇
"……Ah, aku lupa membeli minuman."
Tepat saat duduk di meja bersama Hana-chan dan yang lainnya hendak menyantap makan siang, Bun-kun bergumam begitu.
"Aku mau pergi ke mesin penjual otomatis sebentar, jadi kalian makan duluan saja. Sekalian kalau ada yang mau diminum, bakal kupesankan."
"Ah, kalau begitu, boleh minta tolong kola?"
"Kalau saya minta tolong air rasa persik ya."
"Ah, aku……"
"Nanase-san teh susu saja kan? Ah, sebentar, kenapa malah menepuk bahuku. Jangan-jangan salah?"
"Benar kok…… tapi, gimana ya…… gimana gitu."
Rasanya senang, malu, dan agak geli. Untuk menyembunyikan rasa malu, aku pun menepuk-nepuk bahu Bun-kun.
"Tomida, kamu tidak apa-apa sendiri? Kalau mau, ayo pergi bareng?"
Tenma menyapa Bun-kun yang beranjak berdiri dengan raut khawatir.
Memang benar seperti yang dibilang Tenma. Membawa minuman untuk 4 orang sendirian itu rasanya agak berat.
Kalau begitu, biar aku yang ikut bareng——
"……Memang sih. Kalau begitu Ayabe-san, maaf ya tapi bisakah ikut bersamaku?"
Tepat saat aku hendak beranjak berdiri, Bun-kun malah menyapa Hana-chan.
"Iya. Boleh kok."
Hana-chan sempat memasang ekspresi terkejut sejenak, tetapi dengan raut wajah yang seolah memaklumi, dia pun beranjak berdiri.
"Kalau begitu, kami pergi dulu ya."
"U-ung."
"Aa, maaf merepotkan ya."
Setelah menyerahkan uang, aku melihat mereka berdua berjalan menuju mesin penjual otomatis.
……………………Kenapa bukan aku ya.
Entah kenapa, di dada bagian dalam terasa ada sesuatu yang hitam mengganjal dan bergolak. Yang seperti ini…… baru pertama kali kurasakan.
"……Tomida itu ya. Anak yang baik ya."
"He? Ada apa? Kok mendadak begitu."
"Gara-gara kejadian kali ini aku jadi berpikir begitu. Tomida itu dari awal sampai akhir selalu berada di pihak Hiyori…… Padahal cuma teman, tapi jarang ada orang yang mau menopang sampai sejauh ini lho. Mungkin sekarang pun dia sedang memperhatikan situasi."
"……Eh?"
"Alasan dia mengajak Ichika pergi itu bukannya demi menyediakan ruang buat aku dan Hiyori berbicara ya."
"……Ah."
Benar juga. Aku memang sudah berbicara dengan Hana-chan, tetapi aku belum berbicara dengan benar bersama Tenma.
Kalau begitu ekspresi Hana-chan tadi pun bisa kupahami.
Demi aku. Ternyata semua itu demi aku…… tapi aku malah begini.
Aku jadi benci pada diriku sendiri yang malah merasakan perasaan nggak nyaman.
"Lagipula, dia lumayan bisa diandalkan kan. Waktu aku curhat pada Tomida pun, dia begitu dewasa dan mantap sampai tidak kelihatan seumuran…… Beneran anak yang luar biasa."
Bagaimana ya. Mendengar Bun-kun dipuji seperti ini membuatku merasa jauh lebih bahagia daripada dipuji sendiri.
"Aku bisa berhadapan dengan Tenma dan yang lainnya itu pasti…… karena ada Bun-kun di sisiku, pikirku."
"Aa…… benar juga ya."
Karena Bun-kun yang menopangku, aku bisa sampai sejauh ini……
Benar. Berkat…… Bun-kun……
L-lho……?
Aku, kalau tidak ada Bun-kun…… bakal jadi bagaimana ya……?
"H-Hiyori? Tidak apa-apa?"
"……Eh? Apa?"
"Tidak, habisnya wajahmu mendadak jadi pucat pasi…… apa kamu sedang mual?"
"A, e…… tidak…… tidak apa-apa, aku tidak apa-apa kok."
……Seketika, bulu kudukku merinding hebat. Mari berhenti
memikirkannya lebih jauh dari ini. Rasanya agak tidak bagus.
"Beneran tidak apa-apa? Tadi juga…… ah, tidak."
Tenma mendadak diam menarik kembali kata-katanya.
"Apa? Penasaran tahu, katakan dong?"
"……Kamu tidak sadar ya? Tadi waktu Tomida pergi ke mesin penjual otomatis bersama Ichika, kamu memasang raut wajah yang sangat tidak suka lho."
"……Eh."
Aku……? Melihat mereka berdua……?
"Karena itulah, kalau ada hal yang menyulitkan jangan sungkan-sungkan katakan ya! Kapan pun, hal apa pun, aku bakal jadi kekuatan buat Tomida-kun!"
"Kalau begitu, waktu kesulitan aku tidak bakal sungkan-sungkan curhat pada Ayabe-san ya."
"Iya! Serahkan padaku!"
Di saat aku sedang bingung menanggapi kata-kata Tenma, sosok mereka berdua tertangkap oleh pandangan mataku.
Di depan mata, tampak sosok Bun-kun dan Hana-chan yang sedang berjalan ke sini sambil mengobrol dengan gembira.
Hana-chan terkadang memamerkan ekspresi jahil menggoda Bun-kun, lalu Bun-kun dengan ketus mencolek Hana-chan menggunakan botol plastik. Di sana tidak ada suasana canggung, mereka cuma terlihat seperti sedang bersenda gurau biasa.
Tapi…… kenapa ya, kenapa,
……
…………
………………Padahal punya.
"Padahal Bun-kun itu punyaku……"
"H-Hiyori?"
"……Eh? Apa?"
"T-tidak…… mungkin cuma perasaanku saja."
Tenma tidak mengatakan apa-apa lagi dari itu, lalu melambaikan tangan ke arah mereka berdua.
Sambil kembali merasakan perasaan aneh di dadaku, aku pun ikut melambaikan tangan ke arah mereka berdua.
……Tadi sepertinya aku menyuarakan sesuatu secara tidak sadar.
"Selamat datang kembali kalian berdua."
"Kami kembali. Nih, Tenma-kun."
"Aa, terima kasih."
Hana-chan menyerahkan kola kepada Tenma.
Bun-kun yang kembali membawa 2 botol teh susu.
"Lho? Bun-kun juga memilih teh susu yang sama denganku?"
"Ung. Soalnya Nanase-san selalu meminumnya, jadinya aku juga ingin minum."
"……Hhee~?"
"A-apa?"
"Bukan apa-apa kok!"
Mungkin karena malu, Bun-kun mengatakannya sambil memalingkan pandangan. Aku pun menyenggol bahunya. Entah kenapa ganjalan di dadaku rasanya jadi agak menipis.



Post a Comment