Bab 5: 「Epilog Si Mob yang Bereinkarnasi」
"Kalau begitu, pesta piyama kita
mulai sekarang~ Cheers~"
"”Cheers~!!”"
Atas ajakan Shi-chan, aku dan Hoshinon
mengangkat gelas kami.
Sehari setelah Bun-kun menolong
Sasahara-senpai.
Aku, Shi-chan, dan Hoshinon mengadakan
acara menginap bersama.
Sesuai namanya pesta piyama, kami bertiga
mengenakan piyama masing-masing.
"……Kenapa mendadak mengadakan pesta
piyama begini?"
Sambil mengambil camilan yang diletakkan
sembarangan di atas tempat tidur, Hoshinon bergumam kepada Shi-chan yang
menjadi penyelenggara.
"Soalnya kemarin aku membatalkan
janji secara mendadak sampai membuat Hoshino merasa kesepian, jadi ini
gantinya."
"……Bukannya aku merasa kesepian
kok."
Seolah menyembunyikan rasa malunya,
Hoshinon memalingkan wajahnya dengan ketus.
"Hoshinon, hari itu kamu sedang
melakukan apa?"
"…………Hari itu, aku menghabiskan hari
dengan tenang di rumah sambil menonton film lewat layanan streaming, pergi
belanja bahan makanan, terus gara-gara terpengaruh video masak yang tak sengaja
kutonton, aku mencoba membuat paella dan pasta pembunuh (assassin's pasta),
bisa dibilang hari yang sangat produktif sih."
Tapi rasanya menyebalkan, entah kenapa di
akhir dia bergumam seperti itu.
"………………"
"………………"
"………………"
Percakapan terhenti, dan kami bertiga
mulai menyantap camilan dalam diam.
"……Hoshino, pesta piyama itu
harusnya melakukan apa sih?"
"Jangan lempar ke aku dong………… yah,
yang paling umum biasanya pembicaraan soal cinta kan?"
"Boleh juga tuh pembicaraan soal
cinta. Ayo bicara soal cinta…… yuk."
Shi-chan memasang ekspresi tersadar, lalu
perlahan…… menatap ke arahku..
Pasti Shi-chan sedang mencoba
memperhatikan perasaanku dengan caranya sendiri. Aku tersenyum pada mereka
berdua lalu berkata:
"Tidak apa-apa kok. Berkat bantuan
kalian semua, soal Tenma sudah benar-benar bisa kutinggalkan dari pikiranku.
Ayo kita bicara soal cinta."
Melihat keadaanku, ekspresi mereka berdua
tampak lega.
Shi-chan menunjuk Hoshinon secara mantap
menggunakan batang Pocky.
"Kalau begitu, dimulai dari Hoshino
yang pertama kali mengusulkan."
"Eh, aku?"
"Ngomong-ngomong, Hoshinon juga
sering ditembak cowok kan?"
"……Yah, sesekali."
"Jangankan sesekali, jumlah cowok
yang sudah menyatakan cinta kepada Hoshino juga nggak kalah banyak dibanding
aku dan Hiyori, lho…… Tapi selalu ditolak mentah-mentah kan. Biasanya."
"Lagipula aku tidak butuh pacar kok.
Sip, pembicaraan cintaku selesai."
"Hoshinon cepat banget
selesainya……"
"Ngomong-ngomong Hoshino itu lumayan
sudah merasa nyaman sama Bun-bun, ya.."
"!?"
Mendengar nama Bun-kun yang disebut
mendadak, Hoshinon refleks tersedak minuman yang sedang diminumnya.
"A-, ada apa mendadak begini?"
"Tidak, cuma mendadak terlintas
saja. Padahal awalnya jarakmu dengan Bun-bun itu sama seperti ke anak-anak
cowok lainnya, tapi belakangan ini Hoshino sering mengajak bicara duluan. Ada
kejadian sesuatu ya?"
"Yah, memang sih…… kalau dibilang
aku sudah terbuka sama dia, mungkin iya. Tapi itu karena dia selalu benar-benar
memikirkan Hiyori dengan caranya sendiri…… Yah, kurasa dia bukan orang
jahat."
Hoshinon menceritakannya dengan nada
ketus.
Meskipun begitu……
"Beneran cuma sebatas itu?"
Aku melontarkan pertanyaan itu pada
Hoshinon.
Entah kenapa, aku merasa perubahan sikap
Hoshinon terhadap Bun-kun belakangan ini alasannya bukan cuma sebatas itu saja.
"Memang benar tuh. Waktu Hoshino
mendengar gosip buruk soal Bun-bun, raut wajahnya kelihatan sangat tidak senang
tahu."
"Hoshinon, ternyata kamu suka banget
sama Bun-kun ya."
"Ugh…… Hiyori, itu balasan dendam
dari yang tadi ya?"
Di hadapan desakan kami berdua Hoshinon
sempat menciut, namun dia berdehem pelan lalu mulai bercerita.
"Aku terselamatkan oleh
kata-katanya. Waktu di restoran keluarga itu, aku sempat mengungkapkan perasaan
sebenarnya, bahwa aku merasa nggak bisa berbuat apa-apa untuk Hiyori. Tapi dia
membantahnya dan bilang, ‘Bukan begitu.’ Padahal biasanya dia selalu kelihatan
gugup dan ragu-ragu, tapi sesekali dia bisa bicara dengan tegas juga,
kan?"
"Ah, benar juga. Bun-kun memang
punya sisi yang seperti itu ya."
Aku pun ikut berempati karena pernah
dibuat terkejut oleh kata-kata
Bun-kun beberapa kali.
"Yah, mungkin itulah alasanku mau
bersikap terbuka padanya."
Hoshinon memang mengatakan begitu, tapi
rasanya dia belum mengatakan semuanya…… Tapi, dipastikan kalau didesak lebih
jauh dari ini, Hoshinon tidak akan pernah mau menceritakannya.
Merasakan hal itu, aku mencoba melempar
topik pembicaraan ke Shi-chan.
"Shi-chan tidak punya orang yang
disukai?"
"Kalau aku sih kurang begitu paham
soal menyukai seseorang……"
Shi-chan berkata begitu sambil
mengayun-ayunkan kakinya pelan.
Kurang begitu paham soal menyukai
seseorang. Jawaban yang terasa sangat khas Shi-chan.
Tapi, di saat yang sama, mengayun-ayunkan
kaki di momen seperti ini justru 'tidak seperti' Shi-chan yang biasanya.
"Shi-chan kan juga sering ditembak,
di antara penembakan itu apa tidak ada penembakan yang menurutmu berkesan
bagus?"
"Uumm…… walau bukan penembakan sih,
tapi ada yang membuatku berpikir 'andai saja itu penembakan pasti bagus'."
"Eh, ada?"
Hoshinon sampai condong ke depan karena
terkejut. Jujur saja, aku pun merasakan hal yang sama seperti Hoshinon.
Sama seperti Hoshinon, aku refleks ikut
mencondongkan badan ke depan.
"Ung. Dia bilang kalau dia menyukai
waktu-waktu saat bisa dihabiskan bersamaku. Walau itu bukan penembakan cinta,
tapi rasanya sangat…… bagaimana ya…… nmm entah lah. Tidak bisa diungkapkan
dengan kata-kata, tapi rasanya sangat bagus."
Shi-chan terbata-bata menceritakannya
sambil memainkan rambutnya.
"…………Hal itu, apa dikatakan oleh
Bun-kun?"
"…………Eh, kenapa bisa tahu."
"Entah kenapa ya. Cuma merasa kalau
hal itu memang tipe kata-kata
yang bakal diucapkan Bun-kun saja."
"Fhuun. B-, begitu ya."
"Eh, bagaimana jadinya? Apa benar
seperti kata Hiyori, anak itu yang mengucapkannya?"
"…………Kebenaran berada di dalam
kegelapan~ labirin yang penuh misteri~"
"Eeh……"
Melihat Shi-chan yang mulai melucu secara
asal-asalan, bahu Hoshinon sampai lemas terkulai.
Tapi, aku paham. Sudah pasti Bun-kun yang
mengucapkannya.
Soalnya, saat Shi-chan menceritakannya
tadi, wajahnya terlihat begitu bahagia…… dan wajah itu adalah ekspresi yang
sama saat Shi-chan sedang berbicara dengan Bun-kun.
Tapi ya, kalau dibilang Shi-chan menyukai
Bun-kun sebagai lawan jenis sih sepertinya masih samar-samar. Yang jelas,
Bun-kun sepertinya sudah menjadi sosok yang spesial bagi Shi-chan.
"Bun-bun itu…… mulai sekarang, bakal
menyukai orang yang seperti apa ya."
"……………Eh?"
Kata-kata yang dilontarkan oleh Shi-chan
itu seketika membuat dadaku bergolak gelisah.
"Soalnya Bun-bun, kemarin kelihatan
iri banget waktu melihat pasangan kekasih berjalan sambil berpegangan
lengan."
"Lagi ngapain sih anak itu."
"Bun-bun juga pasti mulai sekarang
bakal menemukan orang yang disukai, lalu menyatakan cinta……"
"Shi-chan. Jangan bicarakan hal itu
lebih jauh lagi ya."
"Eh……?"
"Soal anak cewek yang bakal disukai
Bun-kun atau semacamnya, aku tidak mau membicarakannya, dan tidak mau
memikirkannya."
Membayangkan Bun-kun berbicara dengan
gembira bersama gadis lain yang tidak kukenal saja sudah membuatku merinding.
"…………Hiyori, itu kan artinya—fugogo"
"Kita ganti topik lain ya. Lagipula
pada akhirnya masalah gosip tentang anak itu sudah selesai kan?"
Sambil membungkam mulut Shi-chan,
Hoshinon mengalihkan
pembicaraan ke masalah dengan
Sasahara-senpai.
"Ung. Gosipnya juga sudah mulai
mereda, sepertinya sudah mulai tenang ya."
"Dia sampai masuk ke kolam comberan
demi menolong Sasahara-senpai kan? Anak itu beneran deh…………"
"Tapi ya, itu terasa sangat khas
Bun-bun ya."
"Ahaha. Ah, benar juga,
ngomong-ngomong dia juga jadi akrab dengan orang-orang OSIS lho."
"Eh, benarkah begitu?"
Kata-kata acak yang kuucapkan barusan
langsung ditanggapi oleh Shi-chan.
"Kalau begitu, ini bisa sedikit
gawat."
Shi-chan bersedekap sambil merenung
serius. Melihatnya, aku hanya bisa memiringkan kepala dengan bingung.
"……Sebenarnya, ada satu hal yang
ingin kubicarakan dan diskusikan dengan kalian berdua."
"Diskusi?"
Mendengar ucapanku yang refleks mengulang
kata-katanya, Shi-chan mengangguk pelan.
"Bagaimana cara kita bertiga agar
bisa terus memonopoli Bun-bun untuk diri kita sendiri."
"”Eh?”"
Pernyataan tidak masuk akal dari Shi-chan
membuat kami berdua benar-benar tersentak kaget.
"Memonopoli gimana…… anak itu kan
bukan orang populer."
Menanggapi hela napas Hoshinon, Shi-chan
mengangguk seolah setuju.
"Memang benar. Bun-bun itu
penyendiri dan selalu gugup…… jangankan populer, dia malah agak nggak
membaur."
Bukannya itu terlalu keterlaluan……?
"Tapi, Bun-bun itu punya bakat
pemikat yang luar biasa."
"Bener banget!! Persis seperti kata
Shi-chan!!"
"Sampai Hiyori juga
ikut-ikutan…………"
"Hoshinon. Kamu bisa ngomong hal
yang sama kalau melihat Tenma dan Hana-chan?"
"………………"
Mendengar teguranku, Hoshinon mendadak
langsung bungkam.
Tampaknya, dia juga merasakan hal yang
sama.
Jujur saja, aku sendiri merasa kalau dua
orang itu sudah lumayan menaruh perhatian dan masuk terlalu dalam pada Bun-kun.
"Lagipula, Bun-bun itu sampai bisa
akrab dengan paman petugas sekolah dan sering dapat hadiah camilan
sembunyi-sembunyi. Pemikat sejati itu tidak memandang usia maupun jenis
kelamin."
Menghadapi Shi-chan yang berucap dengan
raut bangga, aku mengangguk dalam-dalam. Kemarin, paman penjual toko kroket
yang membelikan Sasahara-senpai juga kelihatan sangat akrab dengan Bun-kun,
bahkan memberi bonus ekstra.
"Kalau dibiarkan begitu saja,
Bun-bun bakal memikat berbagai macam orang, dan lama-kelamaan kesempatan
bermain bersama kita bakal berkurang…… dia tidak bakal jadi Bun-bun milik kita
bertiga lagi."
"Supaya tidak jadi begitu, berarti
kita tinggal mengurung dan memagari Bun-kun yang penyendiri dan tidak punya
teman di kelas ini kan."
"Seperti yang diharapkan dari
Hiyori, pemahamanmu cepat banget, dan membantu. Kalau mau mengurungnya, tidak
ada waktu lagi selain sekarang saat dia masih penyendiri dan tidak punya teman
bermain."
"Kalian berdua…… sadar tidak sih
kalau kata-kata kalian ke anak itu lumayan tidak sopan?"
Hoshinon menatap kami berdua yang sedang
serius membahas strategi dengan wajah heran. Pesta piyama kami pun berlanjut
hingga fajar menyingsing.
◇
"Y-, yaaho Bun-kun…… b-, boleh
ngobrol sebentar?"
"Eh? U-, ung."
Sepulang sekolah, tepat saat aku hendak
berjalan pulang, Hiyori memanggilku. Tsukimi-san yang berdiri di sebelahnya
entah kenapa menatap jauh dengan tatapan kosong.
Ada apa ya…… apa terjadi sesuatu lagi
yang meremukkan hatinya terkait Tenma dan Hana-san?
Hiyori dan Serizawa-san saling bertukar
pandang lalu mengangguk seolah memberi isyarat, kemudian menatapku tajam.
"Sampai di titik ini, sudah banyak
hal yang terjadi kan…… dan kamu juga sudah mulai menyatu di kelompok kami kan?
Makanya, mulai sekarang nggak cuma makan siang saja. Sepulang sekolah kita
berempat pergi main ke suatu tempat juga boleh, kan~"
"Eh, boleh nih? Aku tidak mengganggu
kan?"
"Mana ada begitu!! Malahan Bun-kun
kan cowok, apa bukannya kamu justru lebih ingin pergi bermain bersama cowok
lain daripada sama kami~"
"Tidak kok, yang mau mengajak orang
sepertiku di kelas ini ya cuma
Nanase-san dan yang lainnya saja."
Omonganku memang kedengarannya
menyedihkan banget, tapi ya mau bagaimana lagi. Memang kenyataannya begitu.
"Makanya, itu, kalau kalian mau
mengajakku aku sangat senang…… kok."
"Begitu ya……! Kalau begitu mulai
sekarang tolong kosongkan jadwalmu dari hari Senin, Selasa, Rabu, Kamis, Jumat,
Sabtu, sampai Minggu ya!!"
Eh, setiap hari dong……
"Terus, terus, mari kita bagikan
jadwal kita berempat di aplikasi kalender."
Jadwalku bakal ketahuan sepenuhnya dong……
"Bun-bun, aku mau unduh aplikasinya
jadi beritahu kata sandinya."
Ponselku langsung dirampas begitu saja
oleh Serizawa-san.
"E-, ehto…… kalau sampai jadwal
ketahuan orang lain rasanya agak"
"Bukannya
123*0♯ ya?"
"Wa, beneran…… Hiyori, nice."
Kata sandiku ternyata sudah terbongkar
dong……
Kalender di ponsel yang diserahkan
kembali padaku sudah terisi penuh sesak dengan jadwal-jadwal ke depannya.
"Sip,
dengan begini Misi 『Operasi Besar Pengurungan dan Monopoli Bun-bun
(Edisi Monopoli Jadwal Sepulang Sekolah)』
complete. Ya."
Eh, apaan tuh……
Tiba-tiba, pandanganku bertemu dengan
Tsukimi-san yang sejak tadi hanya berdiri mematung.
"……Tsukimi-san, apa terjadi sesuatu
di acara menginap kemarin lusa?"
"Tidak ada…… tidak terjadi apa-apa
kok."
"Bukan begitu, pasti ada sesuatu
yang terjadi kan!?"
"Aku sama sekali tidak
tahu-menahu……!!"
Cih, Tsukimi-san. Kamu beneran berniat
pura-pura tidak tahu sampai akhir ya……!!
"Sip, Bun-kun. Sepulang sekolah hari
ini langsung saja kita—"
"Kyaaa! Kimura-kun!! Keren
banget~!"
"Eh! Eh!? Kenapa Kimura-kun bisa ada
di sini!?"
Dari arah pintu masuk kelas terdengar
suara teriakan histeris dari anak-anak cewek.
Refleks aku mengalihkan pandangan ke arah
pintu, dan tampaknya siswi-siswi sekelas sedang heboh berkerumun.
Di pusat kerumunan para siswi tersebut
berdiri seorang murid laki-laki bertubuh tinggi, berwajah tampan tak kalah dari
model, dan berambut pirang mencolok.
Tak salah lagi. Dia adalah sahabat dekat
Tenma sekaligus Wakil Ketua OSIS, Kimura Ryota.
"Kalau tidak keberatan, aku mau
dengar ceritanya!! Kimura-kun!!"
"Sebentar!? Aku duluan lho yang
menyapa Kimura-kun!?"
"Hah!?"
Para siswi saling berdebat memperebutkan
Ryota-kun.
Ryota-kun mengabaikan para siswi yang
sedang ribut heboh lalu mengedarkan pandangannya menyapu seisi kelas.
"……Ooh! Ketemu!! Oooi
Bungaku!!"
"””Bungaku!?””"
"Bungaku!! Kemarin aku dapat tiket
gratis main bowling dari Senpai cewek yang belakangan ini sering menyapa! Ayo
pergi bareng!"
"Eh, boleh pergi sama aku?
Ryota-kun."
"Bohong…… Kimura-kun yang itu
mengajak pergi main!? Apalagi dari dirinya sendiri!?"
"K-, kenapa malah sama Tomida
sih……!?"
Gara-gara ajakan dari Ryota-kun, para
siswi jadi makin riuh bergemuruh.
Anu, para siswi sekalian. Tatapan mata
kalian menyeramkan tahu.
"Tapi aku tidak jago main bowling
dan sering masuk gutter lho."
"Tidak apa-apa, tidak apa-apa!!
Nanti kuajarkan cara mainnya sampai tuntas!!"
"Yah, kalau begitu sih……"
"Tunggu sebentar."
Serizawa-san menghentikan pergerakanku
yang hendak pergi main bowling bersama Ryota-kun.
"Kimura Ryota…… kamu punya hubungan
apa sama Bun-bun kami?"
Dia melangkah maju ke depan lalu menatap
Ryota-kun dengan mata
menyipit tajam.
Eh, kenapa kamu sampai segitunya
menunjukkan rasa permusuhan?
Terus apaan tuh maksudnya Bun-bun kami?
"Eh? Gimana ya…… kalau sama Bungaku
sih hubungan sesama cowok yang beli makan kroket bareng sambil belepotan
lumpur…… kali ya?"
"Eh? T-, tidak mungkin…… Bun-bun……
bohong kan? Jajan sembarangan…… sama selain aku…………"
Eh, kenapa kamu sampai se-terpukul itu?
"B-, Bun-kun? Anu, kenapa kalian
berdua saling memanggil nama depan? Hari Jumat kemarin kan kalian masih
memanggil pakai nama marga?"
Kali ini, Hiyori yang wajahnya pucat pasi
mencengkeram bahuku erat-erat.
"Eh? Kemarin lusa kan aku,
Tenma-kun, dan Ryota-kun pergi ke karaoke all-night bertiga."
"Karaoke all-night…………? Itu artinya
kalian menginap semalaman di karaoke!?"
"Aku tidak paham kenapa kamu
mengulang kalimat yang sama dua kali, tapi ya memang begitu."
"Aku tidak dengar!! Cerita begitu
tidak pernah kudengar tahu!!"
Habisnya kan aku memang tidak cerita…………
"Aku belum kalah……"
"Eh? Serizawa-san?"
“Kimura Ryota itu cowok. Kalaupun kita
mengalah satu miliar langkah sampai dia akrab sama Bun-bun…… kita masih belum
kalah……!!"
Serizawa-san ini sebenarnya sedang
bertarung melawan apa, sih?
"B-, benar banget! Kalaupun kita
mengalah 10 miliar langkah sekalipun, Kimura-kun tetap cowok! Jadi biarpun
Bun-kun memikatnya, nggak bakal ada masalah, kan!!"
Bahkan Hiyori pun ikut-ikutan ngomong apa
coba?
"Fuh, kalau Ryota Kimura itu cewek,
kita sudah tewas seketika…… ya."
"Wakil Ketua, apa ada di
dalam?"
Di tengah-tengah situasi yang kacau balau
itu, tiba-tiba Kirifuji-san memunculkan kepalanya dari arah koridor.
"Geh, Kirifuji-chan."
"Ah, ternyata beneran ada di sini,
ya."
Begitu Kirifuji-san masuk ke kelas, kali
ini giliran para murid cowok yang langsung heboh. Melihat sosoknya, mereka
sontak bersemangat, bahkan para murid cewek pun memandangnya dengan tatapan
kagum.
Kalau diingat-ingat lagi dengan reaksi
saat Ryota-kun datang tadi, dua orang ini rasanya sudah mirip seperti idola
sekolah saja.
"Selamat siang, Bungaku-senpai.
Sudah beberapa hari tidak bertemu, ya."
"Ah, ehto, selamat siang. Kenapa
bisa ada di sini?"
"Kalau kukatakan aku datang ke sini
khusus untuk menemui Bungaku-senpai…… bagaimana?"
"Eh."
Aku seketika mematung mendengar perkataan
Kirifuji-san. Melihat diriku yang seperti itu, dia terkekeh pelan sambil
tersenyum manis.
Ah, apa-apaan, ternyata cuma bercanda.
"Wakil Ketua, kamu mencoba untuk
membolos lagi, ya? Ketua tadi marah-marah, lho?"
"Ugeh, ternyata sudah ketahuan Tenma
juga, ya……"
"Ya, karena itulah lebih baik kamu
menurut dan pergi ke ruang OSIS saja demi keselamatan dirimu sendiri."
"Guuh…… mau bagaimana lagi. Ah—tugas
OSIS malas banget~ padahal aku mau pergi main bowling sama Bungaku~"
"Kalau begitu, bagaimana kalau kita
minta Bungaku-senpai untuk membantu tugas OSIS sekalian?"
Eh.
"Ooh!! Itu ide bagus!! Tugas OSIS
bisa cepat selesai, terus habis itu kita bisa langsung pergi main
bowling!"
Eh, eh.
"Kalau begitu, diputuskan begitu ya.
Bungaku-senpai. Tolong pasrah
saja untuk ditangkap♪"
"Eh, eh, eh?"
Sambil berkata begitu, Kirifuji-san
memeluk lengan kananku sambil menariknya mendekat ke tubuhnya..
"T-, t-tunggu sebentar!! Tunggu
sebentar!! Stop!!"
Hiyori yang panik melihatku hendak
diseret pergi langsung memeluk
lengan kiriku sekuat tenaga.
"Kalian berdua!! Menempelnya terlalu
dekat!!"
Tidak, anu…… Hiyori juga menempel erat
banget padaku, tahu.
"Menempel erat-erat begitu kan tidak
bagus! Nanti orang-orang di sekitar b-, bisa salah paham tahu!"
Benar, tepat saat ini juga. Para murid
cowok menatapku seperti melihat musuh bebuyutan……
Keringat dingin di tubuhku sama sekali
tidak mau berhenti.
"Salah paham? Ah…… tidak ada masalah
sama sekali, kok. Soalnya aku
kan menyukai Bungaku-senpai."
"Sebagai Senpai!! Maksudmu menyukai
sebagai Senpai, kan!! Terima kasih!! Aku senang banget, nih!!"
Gawat, tatapan orang-orang di sekitar
beneran gawat banget.
"Hei, kenapa kamu bisa sampai
menyukai Bun-bun?"
Serizawa-san yang penasaran mencoba
menggali lebih dalam kepada Kirifuji-san.
"Eh? Begitulah. Ada berbagai macam
alasan sih, tapi kalau disederhanakan secara singkat, mungkin bisa dibilang
cinta pada pandangan pertama ya."
"Bun-bun, jangan mau ditipu. Ini
pasti sejenis penipuan berkedok asmara."
"Serizawa-san, kata-katamu agak
jahat, lho? Kamu sadar tidak?"
Orang-orang di sekitar sepertinya punya
pemikiran yang sama. Begitu berpikir "Apa-apaan, cuma bercanda toh",
rasa permusuhan mereka langsung mereda.
"Wah, jahat sekali menuduh begitu.
Padahal kami…… adalah pasangan yang sudah pernah berciuman, lho?"
"”””Ha?”””"
Gara-gara bom yang baru saja dijatuhkan
itu, Bukan hanya Hiyori dan Serizawa-san, Tsukimi-san pun ikut bungkam tak
berkutik.
"B-, bukan. Salah paham. Ini murni
salah paham……"
"Jahatnya…… Bungaku-senpai. Padahal
itu yang pertama bagiku…… tapi kamu malah ngomong begitu, ya…… hiks."
"Ciuman tidak langsung!! Itu ciuman
tidak langsung!!"
Aku pun terpaksa mempertaruhkan nyawa
untuk memberikan penjelasan kepada tiga gadis dan teman-teman sekelas yang
sedang menatapku dengan tatapan seolah melihat pembunuh orang tua mereka.
◇
"Silakan, Bungaku-senpai."
"Terima kasih."
Sepulang sekolah, aku yang dipanggil ke
ruang OSIS sedang menikmati teh seduhan Kirifuji-san.
"Ah, susu dan gulanya tidak usah
tidak apa-apa."
"Wah? Bungaku-senpai. Cara minummu
sudah berganti, ya?"
"Habisnya melihat Kirifuji-san
meminumnya, aku jadi penasaran juga bagaimana rasanya kalau diminum
murni."
Aku sendiri sadar kalau diriku ini memang
gampang terpengaruh oleh orang lain.
"Fufu, begitu ya. Aku senang sekali
karena kamu sudah terwarnai oleh warna diriku."
"Tolong perhatikan cara bicaramu,
ya."
Sambil mengabaikan 'godaan' Kirifuji-san
secara halus, aku menyesap teh itu sedikit.
Ung. Enak banget.
"Ngomong-ngomong, Bungaku-senpai itu
selalu menatapku dengan tatapan penuh gairah setiap kali aku menyeduh teh, kan?
Bahkan orang sepertiku pun jadi merasa agak malu, tahu."
"Eh, a, m-, maaf…… tanpa sadar aku
malah terpesona melihatnya."
……Nn? Bukannya kata-kataku barusan
kedengaran menjijikkan banget, ya? Diriku ini.
Dengan ragu-ragu aku melirik ke arah
Kirifuji-san,
"……………Maksud ucapanmu itu bagaimana,
ya?"
Sambil tersenyum manis dia mencoba
mengorek lebih dalam.
"A, etto…… bagaimana ya
mengatakannya, setiap gerak-gerikmu terasa begitu teliti, indah, dan hangat.
Aku bisa merasakan perhatianmu dengan jelas. Aku merasa, aku pasti sangat
menyukai sosok Kirifuji-san yang menyeduh teh sambil tersenyum manis dengan
gembira…… kurasa."
"………………………"
"A, tentu saja teh seduhan
Kirifuji-san itu rasanya enak banget!! Aku juga menyukai teh buatanmu itu
sendiri, kok!"
"………………………"
Kirifuji-san hanya menundukkan kepalanya
dalam diam.
"K-, Kirifuji-san……?"
M-, jangan-jangan aku sudah membuatnya
merasa risi?
"Gawat, rasa sukaku hampir tumpah
nih……"
"He? Barusan ngomong apa?"
"Ah, tidak, bukan apa-apa♪"
"B-, begitu? Anu, apa aku membuatmu
merasa tidak nyaman?"
"Tidak sama sekali, kok. Malahan
terima kasih banyak, ya. Berkat hal itu variasi suaramu jadi bertambah."
"Eh? Variasi?"
"Bukan apa-apa. Bungaku-senpai ini
pandai sekali berbicara, ya."
Kirifuji-san membalas dengan senyuman
sempurna seperti biasanya.
Variasi yang dimaksud itu sebenarnya apa,
ya? Aku memang penasaran, tetapi di hadapan Kirifuji Smile itu aku hanya bisa
bungkam tak berkutik.
"Ah, benar juga. Hampir saja aku
lupa pada topik utamanya. Ini soal rumor tentang Bungaku-senpai……"
Rumor? Ah, rumor yang disebarkan
Sasahara-senpai waktu itu, ya. Aku sampai lupa sama sekali.
"Melihat reaksimu yang seperti itu,
sepertinya kamu sudah lupa sama sekali, ya."
"Yah…… iya."
Lho? Tapi kalau diingat-ingat lagi,
belakangan ini aku memang sudah tidak pernah mendengar omongan buruk soal
diriku lagi, sih.
"Saat ini, rumor buruk tentang
Bungaku-senpai sudah hampir
sepenuhnya mereda."
"Ah, ternyata beneran begitu, ya.
Terasa lebih cepat dari dugaanku. Jujur saja, tadinya kupikir bakal memakan
waktu jauh lebih lama."
"Ya, kalau tidak terjadi apa-apa
sepertinya memang tidak bakal mereda secepat ini. Tolong lihat ini."
Sambil tersenyum begitu, Kirifuji-san
memperlihatkan sebuah video yang ada di layar ponselnya.
"Ini kan…… kejadian waktu masuk ke
kolam comberan kemarin."
Video itu memperlihatkan diriku yang
sedang membantu
Sasahara-senpai yang tampak setengah mati
mencari cincin di kolam comberan.
"Sebenarnya, video ini sekarang
sedang beredar luas di lingkungan sekolah."
"Eh, beneran?"
"Aku tidak tahu siapa yang
menyebarkannya, tetapi kemungkinan besar adalah salah satu orang yang berada di
lokasi dan merekamnya menggunakan ponsel waktu itu."
Ah, benar juga, waktu itu memang ada
beberapa murid yang mengambil foto kami menggunakan ponsel, ya.
"Aku tidak tahu apa tujuan awal
mereka menyebarkannya, tetapi bagaimanapun berkat video ini, orang-orang mulai
menyadari adanya ketidaksesuaian antara rumor dengan kenyataan sosok
Bungaku-senpai, sehingga kesan mereka terhadapmu mulai berubah."
Fumu, dengan kata lain ini mirip fenomena
di mana orang yang ditakuti dan dikira anak nakal mendadak terlihat
menyelamatkan anak kucing yang kehujanan, lalu orang yang melihatnya jadi
tersentuh begitu, kali ya.
"Bungaku-senpai."
"……Nn?"
"Syukurlah, ternyata ada juga
orang-orang yang benar-benar melihat dirimu apa adanya."
◇
Setelah menyelesaikan acara minum teh
bersama Kirifuji-san, saat aku berjalan di koridor sambil melihat layar ponsel,
urusan Tenma rupanya sudah selesai juga. Ichika dan Hiyori pun sudah membalas
pesan dari Tenma.
Aku segera mengirim balasan, lalu
melangkah menuju lokasi tempat kami berjanji untuk berkumpul.
Hari
ini kami berempat—aku, Tenma, Ichika, dan Hiyori—sudah berjanji untuk pergi
makan parfait bersama ke 『Karafune Coffee』.
Sambil berjalan, aku sempat berpikir, apa
nggak apa-apa kalau aku ikut bergabung dengan mereka, sampai akhirnya……
"Nn~~…… aduh, poni depanku sama
sekali tidak mau tertata rapi……"
Tampak sosok Hiyori yang sedang merapikan
rambutnya dengan sangat serius di depan cermin sekolah.
Kelihatannya dia sedang berjuang keras.
"Sip, sudah kelihatan bagus.
Harusnya…… sudah manis, kan?"
"Nanase-san."
"Uhyaa!? B-, Bun-kun!? S-, sejak
kapan kamu ada di situ!?"
"Ehto, sejak bagian kamu merapikan
poni depan."
"I-, bagian yang paling tidak ingin
kulihatkan!"
Uugh…… Hiyori merona merah meluapkan rasa
malunya.
"Etto, itu, tidak apa-apa kok.
Hiyori hari ini juga, itu, k, manis kok."
"Eh, a, uugh…… b-, begitu ya…… ehe,
hehehe."
"Ung. Tenma pasti juga bakal
berpikir kalau kamu manis kok."
Meski sudah ditolak, bagi Hiyori, Tenma
tetaplah sosok yang pernah disukainya. Wajar saja jika dia ingin tampil sedikit
lebih manis di hadapan orang tersebut.
"……Pukulan."
Pos, Hiyori
melayangkan pukulan kecil yang imut ke dadaku.
Lho……? Apa jangan-jangan opsi kata-kataku
tadi salah, ya……
"Kalau Bun-kun sudah menganggapku
manis, buatku itu saja sudah cukup, tahu."
"Eh, u-, ung……"
Bisa tidak tolong jangan terlalu
bergantung pada pendapatku……
Seolah bisa membaca isi hatiku, Hiyori
menghela napas pasrah lalu menyenggol tanganku menggunakan sikunya.
◇
"Bungaku-kun, kopi Dutch Ice di toko
ini enak banget lho. Karena menggunakan alat ekstraksi khusus, cita rasanya
punya kenikmatan yang unik."
"Eh, begitu ya."
Setibanya
di 『Karafune Coffee』,
saat aku sedang memperhatikan menu, Ichika memberi tahu rekomendasinya padaku.
Kalau tidak salah ingat, dulu Hiyori pernah bercerita kalau dia sering datang
ke sini bertiga bersama Tenma dan Ichika.
"Ngomong-ngomong, kopi Dutch itu
apa?"
"Maksudnya kopi cold brew, ya.
Asal-usul namanya dari Indonesia…… Tenma-kun? Kenapa kamu malah tertawa?"
"Tidak…… cuma merasa geli saja
melihat Ichika yang begitu bersemangat…… padahal kemarin dia girang banget
bilang mau mengajari berbagai hal ke Bungaku."
"T-, tidak boleh begitu! Tenma-kun!!
Kan sudah janji tidak boleh bilang-bilang!"
Tenma mengelus-elus kepala Ichika yang
sedang menggembungkan pipinya dengan manja.
Dua orang ini malah menjadikanku bahan
untuk bermesraan.
"Bun-kuun, tolong balik ke halaman
berikutnya dong."
"Ah, ung……"
Aku membalik halaman menu sesuai dengan
instruksi Hiyori yang sedang mengintip di sebelahku.
Jarak kami begitu dekat sampai bahu kami
saling menempel erat.
Rasanya, belakangan ini jarakku dengan
Hiyori makin tidak wajar saja.
"Permisi, jika pesanan Anda sudah
siap, saya akan mencatatnya."
Pelayan toko datang untuk mencatat
pesanan, jadi kami mulai memesan minuman masing-masing.
Sesuai saran Ichika, aku memesan kopi
Dutch Ice.
Sebenarnya aku sedikit penasaran dengan
Italian Soda, tetapi kali ini yang kucari dari minuman bukanlah rasa manis.
Setelah menutup menu, aku mengamati sosok
mereka bertiga yang sedang menikmati obrolan dengan gembira.
Di sini, Karafune Coffee ini adalah kafe
tempat aku dan Hiyori berdua datang pada hari di mana Hiyori ditolak oleh
Tenma.
Saat itu aku benar-benar terselamatkan oleh Parfait
Udang Goreng Spesial☆.
Tidak disangka kami berempat bakal
kembali ke tempat ini lagi bersama-sama. Sungguh, sejak saat itu sudah banyak
hal yang terjadi ya, batinku merasakan sedikit nostalgia, hingga kemudian—
"Maaf
membuat Anda menunggu!! Ini dia parfait raksasa nomor 1 di toko kami, 『Le
Rêve』!!"
Bum!! Sebuah parfait
super-super raksasa yang memenuhi seluruh area meja mendadak menghancurkan
lamunan sentimental milikku.
Ya, alasan utama kami datang ke sini hari
ini adalah untuk menyantap monster ini bersama-sama.
Menu ini merupakan parfait yang baru bisa
dimakan jika dipesan 1 minggu sebelum kedatangan, diperuntukkan bagi 20 hingga
25 orang, dengan total bobot mencapai 8 kg (hasil penelusuran internet).
Ukurannya jauh melampaui parfait raksasa
pada umumnya dan memang ditujukan untuk disantap beramai-ramai.
Secara kategori, ini adalah jenis
hidangan yang ingin dicoba setidaknya sekali seumur hidup.
Ini bukan lagi sekadar makanan manis,
melainkan sebuah pertunjukan.
"O-, ooh…… besar banget ya."
"B-, bisakah kita
menghabiskannya………?"
"T-, tenang saja. Kalau kepepet
nanti Bun-kun pasti bakal mengusahakan sesuatu……"
Hiyori, Bun-kun ini bukan sosok serba
bisa, tahu.
Dengan tangan gemetar memegang sendok,
kami berempat mulai menyantapnya secara bersamaan.
Rasanya mirip seperti sedang menjalani
pertarungan raid boss di game ponsel saja…………
Saat sedang menyantap buah-buahan yang
dihias dengan begitu teliti hingga terlihat jelas sentuhan sang pembuat, Hiyori
yang pipinya terkena krim menatapku dengan ekspresi serius.
"Anu, Nanase-san. Ada apa?"
"……Bun-kun, ada hal yang ingin
kubicarakan sedikit."
"Eh, i-, iya……"
"Bun-kun, kita ini kan sahabat, kan?
Sampai saat ini sudah banyak hal yang terjadi, dan kurasa ikatan kita juga
sudah makin dalam, kan? Makanya, bagaimana kalau secara bertahap kamu berhenti
memanggilku dengan sebutan Nanase-san?"
"Ah, Nanase-san. Di pipimu ada
krimnya tuh."
"Eh? B-, beneran!?"
"Beneran, beneran. Jangan bergerak
ya."
Menggunakan tisu yang ada di atas meja,
aku mengusap sisa krim yang menempel di pipi Hiyori yang sedang panik.
"Wah, a-, terima kasih. E-, ehehe……
bukannya begitu!! Soal nama!! Ini soal pembicaraan nama, tahu!!"
Kukira aku sudah berhasil mengalihkan
pembicaraan dengan halus, tapi ternyata gagal ya……
"……Etto, bukannya ada saatnya aku
memanggilmu menggunakan nama depan juga?"
"Itu kan cuma pas waktu elus-elus
saja!! Apalagi sejak dari kafe kucing kemarin kita belum pernah melakukannya
lagi!!"
"Ah, iya……"
Aku malah dimarahi……
"Tapi, kenapa tiba-tiba kamu
membicarakan hal itu?"
"Habisnya kamu memanggilku pakai
nama marga, padahal sama Kimura-kun yang baru dikenal kemarin kamu malah saling
memanggil nama depan……"
……Kenapa dia sampai memikirkan hal itu
sejauh ini, ya?
"Bungaku-kun. Hal itu tidak boleh,
lho."
Serangan susulan datang dari Ichika yang
mendadak memunculkan wajahnya dari balik samping parfait.
"Panggilan nama itu dalam arti
tertentu menunjukkan jarak hubungan dengan orang tersebut. Terlebih lagi
Bungaku-kun memanggilku dan Tenma-kun dengan sebutan 'Hana-san' dan
'Tenma-kun', tetapi ke Hiyori-chan malah 'Nanase-san'. Kalau begini, kesannya
seperti Hiyori-chan malah jadi orang luar."
"Kalau hal itu sih…… memang benar
juga, sih?"
"Betul sekali. Kita berempat ini kan
bakal menjalin hubungan yang panjang ke depannya, jadi hal-hal seperti itu
harus diperhatikan dengan benar."
Rasanya, nuansa kata 'panjang' di situ
sedikit aneh tidak sih?
"………………Bungaku-kun."
"………………Bun-kun."
Ichika dan Hiyori menatapku dengan mata
menyipit tajam.
……Tekanan dari mereka berdua benar-benar
luar biasa.
Aku melirik ke arah Tenma untuk meminta
bantuan, tetapi dia justru menggelengkan kepalanya seolah menyuruhku pasrah
saja.
"……Pokoknya, aku baru akan
memikirkannya setelah berhasil menghabiskan parfait ini."
"Kabur ya."
"Kabur kan."
"Kabur tuh."
Sambil dihujani tatapan mata dari mereka
bertiga yang tampak benar-benar tidak puas, aku pun meminum kopiku.
◇
"Bagaimana pun juga…… akhirnya
berhasil…… dihabiskan ya."
"Ung……"
Setelah
menghabiskan 『Le Rêve』 sampai bersih, aku dan Hiyori terkapar lemas di
tepi Sungai Kamo.
Saat melihat ke sekeliling, tampak
pasangan-pasangan kekasih yang bermesraan dengan jarak teratur. Mau tak mau,
aku jadi merasa agak canggung.
Begitu ya, jadi ini yang dinamakan ‘Hukum
Jarak Teratur Sungai Kamo’ yang terkenal itu.
"Kalau dipikir-pikir, Tenma-kun dan
yang lainnya sudah pulang ya."
"Yah, soalnya ada mitos kalau pergi
ke Sungai Kamo bareng pasangan bisa bikin putus."
"Ah, begitu ya……"
Saat sedang memandangi Sungai Kamo,
mendadak aku teringat sesuatu.
Kalau diingat-ingat lagi, kali terakhir
aku mengobrol dengan 'dia' juga dilakukan di tepi sungai.
'Dia' yang kulindungi dari hantaman truk.
Aku memang tewas dalam kecelakaan itu, tetapi kehidupan milik 'dia' seharusnya
masih terus berlanjut.
…………Saat ini, apa kabarnya ya?
"Sedang mengingat soal siapa?"
——!?
Suara Hiyori yang terdengar agak dingin
menarikku kembali dari lamunan.
"Eh, a, etto…… cuma sedikit
mengingat masa lalu kok."
Aku mengelak tanpa menjawab pertanyaan
Hiyori secara
terang-terangan.
"Jangan-jangan, kamu sedang teringat
soal anak cewek yang dulu pernah kamu sukai ya?"
Eh, kenapa bisa tahu?
"Wajahmu kelihatan seperti itu
tahu?"
Pikiranku ternyata terbaca sepenuhnya.
"…………Masih belum bisa move on ya?
Soal anak itu."
Kata-kata Hiyori yang menusuk ke inti
masalah membuat jantungku serasa dicengkeram erat seketika.
"……Benar juga ya. Mungkin memang
belum bisa move on."
Hal ini sama sekali bukan dalam artian
asmara. Lagipula aku kan sudah pernah ditolak mentah-mentah satu kali.
Alasanku belum bisa move on adalah……
karena aku merasa tindakan menyelamatkannya hingga membuatku tewas telah
membebaninya dengan berbagai macam hal.
Terlebih lagi, posisinya di sekolah dulu
juga tidak begitu baik…… ada rasa cemas yang seperti itu juga.
Puk. Mendadak, ada
beban lembut yang hinggap di bahuku.
Saat melirik ke samping, Hiyori tampak
bersandar pelan di bahuku.
Gara-gara kejadian yang terlalu mendadak
ini, pikiran dan tubuhku
seketika membeku kaku.
"Eh, a, ada apa?"
"Kupikir, bukannya lebih baik kalau
kita juga melakukan hal-hal seperti itu."
"T-, tidak perlu dipaksa menyamakan
diri dengan orang-orang di sekitar kok—"
"Lalu, kenapa kamu tidak mau
memanggilku dengan sebutan 'Hiyori'?"
Mendadak banget masuk ke topik itu.
"Habisnya, rasanya agak malu."
"Kalau cuma gara-gara itu, kenapa
kamu bisa memanggil Hana-chan dengan sebutan 'Hana-san' tanpa ragu
begitu?"
Wa, waah…… aku kalah telak dalam
berargumen.
"Anu, kenapa dia sampai segitunya
mempermasalahkan…… soal panggilan nama?"
"……Hana-chan kan sudah bilang.
Panggilan nama itu menunjukkan jarak hubungan dengan orang tersebut. Aku ini
sedang panik tahu."
"Panik?"
"Dulu kan. Aku bisa memonopoli
Bun-kun sendirian, tapi sekarang kan tidak begitu lagi ya? Di sekeliling
Bun-kun ada Shi-chan dan Hoshinon. Ada Tenma, Hana-chan, dan orang-orang OSIS.
Di antara mereka semua, rasanya keberadaanku jadi makin mengecil saja……"
Memang sih dibandingkan awal-awal dulu,
aku jadi mengobrol dengan jauh lebih banyak orang, tapi ternyata dia memikirkan
hal semacam itu ya.
"Aku sudah menjawabnya dengan benar
lho. Sekarang giliran Bun-kun yang menjawab."
"……Nanase-san itu bagiku adalah
'oshi'. Makanya, bagaimana ya mengatakannya, rasanya kurang sopan kalau
memanggil nama depan secara sembarangan."
Jujur saja, kata-kataku sendiri
kedengaran menjijikkan banget ya. Diriku ini.
Namun Hiyori mendengarkan pengakuanku itu
dengan sorot mata yang serius.
"Hal itu…… kenapa bisa begitu?"
"Nanase-san itu kan, walau sudah
paham kalau bakal ditolak, kamu tetap mengumpulkan keberanian untuk menyatakan
cinta pada Tenma-kun kan? Hal itu adalah sesuatu yang tidak akan pernah bisa
kulakukan."
Benar. Bahkan bagiku yang di kehidupan
sebelumnya sering ditolak mentah-mentah, menyatakan cinta sambil sudah tahu
bakal ditolak itu terasa begitu menakutkan sampai aku tak pernah sekalipun
berani melakukannya.
Karena itulah, bagiku Nanase Hiyori
adalah sosok 'oshi heroine'.
"Aku merasa hal itu sangat luar
biasa. Bisa dibilang aku sangat kagum. Terlebih lagi, sebagai sesama rekan yang
pernah patah hati, aku merasakan simpati, dan justru karena itu, aku ingin
perjuanganmu terbayar dan kamu bisa bahagia."
Perasaan ini tidak bisa diungkapkan hanya
dengan satu kata. Ini bukan sekadar emosi sederhana seperti 'suka' atau
semacamnya.
Justru karena tidak bisa kuraih, rasanya
malah semakin berharga.
"Begitu ya…… 'oshi' toh—"
Suara Hiyori terdengar datar. Namun,
tidak ada tanda-tanda dia sedang marah.
"Yah, untuk sekarang kalau begitu
dulu juga tidak apa-apa deh."
"Nanase-san?"
"Bun-kun."
"Y-, ya."
"Bun-kun."
"Eh? Iya."
"Bun-kun."
"A-, anu……"
"Bun-kun."
Oh, jadi begini toh. Kalau aku nggak
membalas memanggil nama depannya, ini nggak bakal selesai.
……Setelah saling mengutarakan alasan
masing-masing, Hiyori rupanya tetap ingin aku memanggil nama depannya.
『Di antara mereka semua, rasanya keberadaanku jadi
semakin kecil saja……』
Menyampaikan padanya bahwa hal seperti
itu tidak benar adalah hal yang mudah.
Namun, kalau ingin kata-kata itu
benar-benar meyakinkannya, aku harus menunjukkannya lewat tindakan.
Saat ini bukan waktunya untuk malu-malu
tidak jelas kan.
"……Hiyori."
Begitu aku memanggil nama depannya,
Hiyori mengangguk puas.
"N-, nah, Hi, Hiyori. Bagaimana
kalau kita pulang sekarang?"
Uuh, ternyata tetap terasa agak malu ya.
Hiyori menatapku yang sedang salah
tingkah sambil tersenyum seolah merasa geli.
"Benar juga ya. Ah, mumpung sudah
begini bagaimana kalau kita pulang sambil jalan-jalan santai sebentar di
sepanjang Sungai Kamo?"
"Boleh kok. Ayo kita lakukan."
Sip, kalau sudah diputuskan begitu
berarti tinggal berangkat.
Tepat saat aku berdiri, Hiyori perlahan
mencengkeram jari kelingkingku.
"Etto, Hiyori?"
"Bun-kun itu, masih belum bisa move
on dari anak yang kamu sukai dulu kan?"
"Eh? U-, ung."
"Kalau begitu. Kali ini giliran aku
yang bakal menopang Bun-kun. Sama seperti yang sudah Bun-kun lakukan
padaku."
Hiyori mendongak menatapku sambil
tersenyum lepas.
"……Ung."
Aku pun mengangguk menanggapi ucapannya.
"Ngomong-ngomong, Hiyori itu kenapa
selalu mendadak mencengkeram jari kelingkingku ya…… alasannya apa?"
Sambil menatap jari kelingking yang
dicengkeram aku bertanya pada Hiyori, dan dia membalasnya dengan senyuman
jahil.
"Entahlah, cuma asal saja kali ya."



Post a Comment