NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Oshi Heroine wa ~ Tensei Shita Mobu no Ore o Hitorijime Shitai Rashii ~ Shitsuren shita Hiroin o Sasaetara Jojo ni Omoku Natteitta ~ Volume 1 Chapter 5

Bab 5: 「Epilog Si Mob yang Bereinkarnasi」


"Kalau begitu, pesta piyama kita mulai sekarang~ Cheers~"

 

"”Cheers~!!”"

 

Atas ajakan Shi-chan, aku dan Hoshinon mengangkat gelas kami.

 

Sehari setelah Bun-kun menolong Sasahara-senpai.

 

Aku, Shi-chan, dan Hoshinon mengadakan acara menginap bersama.

 

Sesuai namanya pesta piyama, kami bertiga mengenakan piyama masing-masing.

 

"……Kenapa mendadak mengadakan pesta piyama begini?"

 

Sambil mengambil camilan yang diletakkan sembarangan di atas tempat tidur, Hoshinon bergumam kepada Shi-chan yang menjadi penyelenggara.

 

"Soalnya kemarin aku membatalkan janji secara mendadak sampai membuat Hoshino merasa kesepian, jadi ini gantinya."

 

"……Bukannya aku merasa kesepian kok."

 

Seolah menyembunyikan rasa malunya, Hoshinon memalingkan wajahnya dengan ketus.

"Hoshinon, hari itu kamu sedang melakukan apa?"

 

"…………Hari itu, aku menghabiskan hari dengan tenang di rumah sambil menonton film lewat layanan streaming, pergi belanja bahan makanan, terus gara-gara terpengaruh video masak yang tak sengaja kutonton, aku mencoba membuat paella dan pasta pembunuh (assassin's pasta), bisa dibilang hari yang sangat produktif sih."

 

Tapi rasanya menyebalkan, entah kenapa di akhir dia bergumam seperti itu.

 

"………………"

 

"………………"

 

"………………"

 

Percakapan terhenti, dan kami bertiga mulai menyantap camilan dalam diam.

 

"……Hoshino, pesta piyama itu harusnya melakukan apa sih?"

 

"Jangan lempar ke aku dong………… yah, yang paling umum biasanya pembicaraan soal cinta kan?"

 

"Boleh juga tuh pembicaraan soal cinta. Ayo bicara soal cinta…… yuk."

 

Shi-chan memasang ekspresi tersadar, lalu perlahan…… menatap ke arahku..

Pasti Shi-chan sedang mencoba memperhatikan perasaanku dengan caranya sendiri. Aku tersenyum pada mereka berdua lalu berkata:

 

"Tidak apa-apa kok. Berkat bantuan kalian semua, soal Tenma sudah benar-benar bisa kutinggalkan dari pikiranku. Ayo kita bicara soal cinta."

 

Melihat keadaanku, ekspresi mereka berdua tampak lega.

 

Shi-chan menunjuk Hoshinon secara mantap menggunakan batang Pocky.

 

"Kalau begitu, dimulai dari Hoshino yang pertama kali mengusulkan."

 

"Eh, aku?"

 

"Ngomong-ngomong, Hoshinon juga sering ditembak cowok kan?"

 

"……Yah, sesekali."

 

"Jangankan sesekali, jumlah cowok yang sudah menyatakan cinta kepada Hoshino juga nggak kalah banyak dibanding aku dan Hiyori, lho…… Tapi selalu ditolak mentah-mentah kan. Biasanya."

 

"Lagipula aku tidak butuh pacar kok. Sip, pembicaraan cintaku selesai."

 

"Hoshinon cepat banget selesainya……"

 

"Ngomong-ngomong Hoshino itu lumayan sudah merasa nyaman sama Bun-bun, ya.."

 

"!?"

 

Mendengar nama Bun-kun yang disebut mendadak, Hoshinon refleks tersedak minuman yang sedang diminumnya.

 

"A-, ada apa mendadak begini?"

 

"Tidak, cuma mendadak terlintas saja. Padahal awalnya jarakmu dengan Bun-bun itu sama seperti ke anak-anak cowok lainnya, tapi belakangan ini Hoshino sering mengajak bicara duluan. Ada kejadian sesuatu ya?"

 

"Yah, memang sih…… kalau dibilang aku sudah terbuka sama dia, mungkin iya. Tapi itu karena dia selalu benar-benar memikirkan Hiyori dengan caranya sendiri…… Yah, kurasa dia bukan orang jahat."

 

Hoshinon menceritakannya dengan nada ketus.

 

Meskipun begitu……

 

"Beneran cuma sebatas itu?"

 

Aku melontarkan pertanyaan itu pada Hoshinon.

 

Entah kenapa, aku merasa perubahan sikap Hoshinon terhadap Bun-kun belakangan ini alasannya bukan cuma sebatas itu saja.

"Memang benar tuh. Waktu Hoshino mendengar gosip buruk soal Bun-bun, raut wajahnya kelihatan sangat tidak senang tahu."

 

"Hoshinon, ternyata kamu suka banget sama Bun-kun ya."

 

"Ugh…… Hiyori, itu balasan dendam dari yang tadi ya?"

 

Di hadapan desakan kami berdua Hoshinon sempat menciut, namun dia berdehem pelan lalu mulai bercerita.

 

"Aku terselamatkan oleh kata-katanya. Waktu di restoran keluarga itu, aku sempat mengungkapkan perasaan sebenarnya, bahwa aku merasa nggak bisa berbuat apa-apa untuk Hiyori. Tapi dia membantahnya dan bilang, ‘Bukan begitu.’ Padahal biasanya dia selalu kelihatan gugup dan ragu-ragu, tapi sesekali dia bisa bicara dengan tegas juga, kan?"

 

"Ah, benar juga. Bun-kun memang punya sisi yang seperti itu ya."

 

Aku pun ikut berempati karena pernah dibuat terkejut oleh kata-kata

Bun-kun beberapa kali.

 

"Yah, mungkin itulah alasanku mau bersikap terbuka padanya."

 

Hoshinon memang mengatakan begitu, tapi rasanya dia belum mengatakan semuanya…… Tapi, dipastikan kalau didesak lebih jauh dari ini, Hoshinon tidak akan pernah mau menceritakannya.

 

Merasakan hal itu, aku mencoba melempar topik pembicaraan ke Shi-chan.

"Shi-chan tidak punya orang yang disukai?"

 

"Kalau aku sih kurang begitu paham soal menyukai seseorang……"

 

Shi-chan berkata begitu sambil mengayun-ayunkan kakinya pelan.

 

Kurang begitu paham soal menyukai seseorang. Jawaban yang terasa sangat khas Shi-chan.

 

Tapi, di saat yang sama, mengayun-ayunkan kaki di momen seperti ini justru 'tidak seperti' Shi-chan yang biasanya.

 

"Shi-chan kan juga sering ditembak, di antara penembakan itu apa tidak ada penembakan yang menurutmu berkesan bagus?"

 

"Uumm…… walau bukan penembakan sih, tapi ada yang membuatku berpikir 'andai saja itu penembakan pasti bagus'."

 

"Eh, ada?"

 

Hoshinon sampai condong ke depan karena terkejut. Jujur saja, aku pun merasakan hal yang sama seperti Hoshinon.

 

Sama seperti Hoshinon, aku refleks ikut mencondongkan badan ke depan.

 

"Ung. Dia bilang kalau dia menyukai waktu-waktu saat bisa dihabiskan bersamaku. Walau itu bukan penembakan cinta, tapi rasanya sangat…… bagaimana ya…… nmm entah lah. Tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata, tapi rasanya sangat bagus."

 

Shi-chan terbata-bata menceritakannya sambil memainkan rambutnya.

 

"…………Hal itu, apa dikatakan oleh Bun-kun?"

 

"…………Eh, kenapa bisa tahu."

 

"Entah kenapa ya. Cuma merasa kalau hal itu memang tipe kata-kata

yang bakal diucapkan Bun-kun saja."

 

"Fhuun. B-, begitu ya."

 

"Eh, bagaimana jadinya? Apa benar seperti kata Hiyori, anak itu yang mengucapkannya?"

 

"…………Kebenaran berada di dalam kegelapan~ labirin yang penuh misteri~"

 

"Eeh……"

 

Melihat Shi-chan yang mulai melucu secara asal-asalan, bahu Hoshinon sampai lemas terkulai.

 

Tapi, aku paham. Sudah pasti Bun-kun yang mengucapkannya.

 

Soalnya, saat Shi-chan menceritakannya tadi, wajahnya terlihat begitu bahagia…… dan wajah itu adalah ekspresi yang sama saat Shi-chan sedang berbicara dengan Bun-kun.

 

Tapi ya, kalau dibilang Shi-chan menyukai Bun-kun sebagai lawan jenis sih sepertinya masih samar-samar. Yang jelas, Bun-kun sepertinya sudah menjadi sosok yang spesial bagi Shi-chan.

 

"Bun-bun itu…… mulai sekarang, bakal menyukai orang yang seperti apa ya."

 

"……………Eh?"

 

Kata-kata yang dilontarkan oleh Shi-chan itu seketika membuat dadaku bergolak gelisah.

 

"Soalnya Bun-bun, kemarin kelihatan iri banget waktu melihat pasangan kekasih berjalan sambil berpegangan lengan."

 

"Lagi ngapain sih anak itu."

 

"Bun-bun juga pasti mulai sekarang bakal menemukan orang yang disukai, lalu menyatakan cinta……"

 

"Shi-chan. Jangan bicarakan hal itu lebih jauh lagi ya."

 

"Eh……?"

 

"Soal anak cewek yang bakal disukai Bun-kun atau semacamnya, aku tidak mau membicarakannya, dan tidak mau memikirkannya."

 

Membayangkan Bun-kun berbicara dengan gembira bersama gadis lain yang tidak kukenal saja sudah membuatku merinding.

 

"…………Hiyori, itu kan artinya—fugogo"

 

"Kita ganti topik lain ya. Lagipula pada akhirnya masalah gosip tentang anak itu sudah selesai kan?"

 

Sambil membungkam mulut Shi-chan, Hoshinon mengalihkan

pembicaraan ke masalah dengan Sasahara-senpai.

 

"Ung. Gosipnya juga sudah mulai mereda, sepertinya sudah mulai tenang ya."

 

"Dia sampai masuk ke kolam comberan demi menolong Sasahara-senpai kan? Anak itu beneran deh…………"

 

"Tapi ya, itu terasa sangat khas Bun-bun ya."

 

"Ahaha. Ah, benar juga, ngomong-ngomong dia juga jadi akrab dengan orang-orang OSIS lho."

 

"Eh, benarkah begitu?"

 

Kata-kata acak yang kuucapkan barusan langsung ditanggapi oleh Shi-chan.

"Kalau begitu, ini bisa sedikit gawat."

 

Shi-chan bersedekap sambil merenung serius. Melihatnya, aku hanya bisa memiringkan kepala dengan bingung.

 

"……Sebenarnya, ada satu hal yang ingin kubicarakan dan diskusikan dengan kalian berdua."

 

"Diskusi?"

 

Mendengar ucapanku yang refleks mengulang kata-katanya, Shi-chan mengangguk pelan.

 

"Bagaimana cara kita bertiga agar bisa terus memonopoli Bun-bun untuk diri kita sendiri."

 

"”Eh?”"

 

Pernyataan tidak masuk akal dari Shi-chan membuat kami berdua benar-benar tersentak kaget.

 

"Memonopoli gimana…… anak itu kan bukan orang populer."

 

Menanggapi hela napas Hoshinon, Shi-chan mengangguk seolah setuju.

 

"Memang benar. Bun-bun itu penyendiri dan selalu gugup…… jangankan populer, dia malah agak nggak membaur."

 

Bukannya itu terlalu keterlaluan……?

"Tapi, Bun-bun itu punya bakat pemikat yang luar biasa."

 

"Bener banget!! Persis seperti kata Shi-chan!!"

 

"Sampai Hiyori juga ikut-ikutan…………"

 

"Hoshinon. Kamu bisa ngomong hal yang sama kalau melihat Tenma dan Hana-chan?"

 

"………………"

 

Mendengar teguranku, Hoshinon mendadak langsung bungkam.

 

Tampaknya, dia juga merasakan hal yang sama.

 

Jujur saja, aku sendiri merasa kalau dua orang itu sudah lumayan menaruh perhatian dan masuk terlalu dalam pada Bun-kun.

 

"Lagipula, Bun-bun itu sampai bisa akrab dengan paman petugas sekolah dan sering dapat hadiah camilan sembunyi-sembunyi. Pemikat sejati itu tidak memandang usia maupun jenis kelamin."

 

Menghadapi Shi-chan yang berucap dengan raut bangga, aku mengangguk dalam-dalam. Kemarin, paman penjual toko kroket yang membelikan Sasahara-senpai juga kelihatan sangat akrab dengan Bun-kun, bahkan memberi bonus ekstra.

 

"Kalau dibiarkan begitu saja, Bun-bun bakal memikat berbagai macam orang, dan lama-kelamaan kesempatan bermain bersama kita bakal berkurang…… dia tidak bakal jadi Bun-bun milik kita bertiga lagi."

 

"Supaya tidak jadi begitu, berarti kita tinggal mengurung dan memagari Bun-kun yang penyendiri dan tidak punya teman di kelas ini kan."

 

"Seperti yang diharapkan dari Hiyori, pemahamanmu cepat banget, dan membantu. Kalau mau mengurungnya, tidak ada waktu lagi selain sekarang saat dia masih penyendiri dan tidak punya teman bermain."

 

"Kalian berdua…… sadar tidak sih kalau kata-kata kalian ke anak itu lumayan tidak sopan?"

 

Hoshinon menatap kami berdua yang sedang serius membahas strategi dengan wajah heran. Pesta piyama kami pun berlanjut hingga fajar menyingsing.

 

◇

 

"Y-, yaaho Bun-kun…… b-, boleh ngobrol sebentar?"

 

"Eh? U-, ung."

 

Sepulang sekolah, tepat saat aku hendak berjalan pulang, Hiyori memanggilku. Tsukimi-san yang berdiri di sebelahnya entah kenapa menatap jauh dengan tatapan kosong.

 

Ada apa ya…… apa terjadi sesuatu lagi yang meremukkan hatinya terkait Tenma dan Hana-san?

 

Hiyori dan Serizawa-san saling bertukar pandang lalu mengangguk seolah memberi isyarat, kemudian menatapku tajam.

 

"Sampai di titik ini, sudah banyak hal yang terjadi kan…… dan kamu juga sudah mulai menyatu di kelompok kami kan? Makanya, mulai sekarang nggak cuma makan siang saja. Sepulang sekolah kita berempat pergi main ke suatu tempat juga boleh, kan~"

 

"Eh, boleh nih? Aku tidak mengganggu kan?"

 

"Mana ada begitu!! Malahan Bun-kun kan cowok, apa bukannya kamu justru lebih ingin pergi bermain bersama cowok lain daripada sama kami~"

 

"Tidak kok, yang mau mengajak orang sepertiku di kelas ini ya cuma

Nanase-san dan yang lainnya saja."

 

Omonganku memang kedengarannya menyedihkan banget, tapi ya mau bagaimana lagi. Memang kenyataannya begitu.

 

"Makanya, itu, kalau kalian mau mengajakku aku sangat senang…… kok."

 

"Begitu ya……! Kalau begitu mulai sekarang tolong kosongkan jadwalmu dari hari Senin, Selasa, Rabu, Kamis, Jumat, Sabtu, sampai Minggu ya!!"

 

Eh, setiap hari dong……

 

"Terus, terus, mari kita bagikan jadwal kita berempat di aplikasi kalender."

 

Jadwalku bakal ketahuan sepenuhnya dong……

 

"Bun-bun, aku mau unduh aplikasinya jadi beritahu kata sandinya."

 

Ponselku langsung dirampas begitu saja oleh Serizawa-san.

 

"E-, ehto…… kalau sampai jadwal ketahuan orang lain rasanya agak"

 

"Bukannya 123*0♯ ya?"

 

"Wa, beneran…… Hiyori, nice."

 

Kata sandiku ternyata sudah terbongkar dong……

 

Kalender di ponsel yang diserahkan kembali padaku sudah terisi penuh sesak dengan jadwal-jadwal ke depannya.

 

"Sip, dengan begini Misi 『Operasi Besar Pengurungan dan Monopoli Bun-bun (Edisi Monopoli Jadwal Sepulang Sekolah)』 complete. Ya."

 

Eh, apaan tuh……

 

Tiba-tiba, pandanganku bertemu dengan Tsukimi-san yang sejak tadi hanya berdiri mematung.

"……Tsukimi-san, apa terjadi sesuatu di acara menginap kemarin lusa?"

 

"Tidak ada…… tidak terjadi apa-apa kok."

 

"Bukan begitu, pasti ada sesuatu yang terjadi kan!?"

 

"Aku sama sekali tidak tahu-menahu……!!"

 

Cih, Tsukimi-san. Kamu beneran berniat pura-pura tidak tahu sampai akhir ya……!!

 

"Sip, Bun-kun. Sepulang sekolah hari ini langsung saja kita—"

 

"Kyaaa! Kimura-kun!! Keren banget~!"

 

"Eh! Eh!? Kenapa Kimura-kun bisa ada di sini!?"

 

Dari arah pintu masuk kelas terdengar suara teriakan histeris dari anak-anak cewek.

 

Refleks aku mengalihkan pandangan ke arah pintu, dan tampaknya siswi-siswi sekelas sedang heboh berkerumun.

 

Di pusat kerumunan para siswi tersebut berdiri seorang murid laki-laki bertubuh tinggi, berwajah tampan tak kalah dari model, dan berambut pirang mencolok.

 

Tak salah lagi. Dia adalah sahabat dekat Tenma sekaligus Wakil Ketua OSIS, Kimura Ryota.

"Kalau tidak keberatan, aku mau dengar ceritanya!! Kimura-kun!!"

 

"Sebentar!? Aku duluan lho yang menyapa Kimura-kun!?"

 

"Hah!?"

 

Para siswi saling berdebat memperebutkan Ryota-kun.

 

Ryota-kun mengabaikan para siswi yang sedang ribut heboh lalu mengedarkan pandangannya menyapu seisi kelas.

 

"……Ooh! Ketemu!! Oooi Bungaku!!"

 

"””Bungaku!?””"

 

"Bungaku!! Kemarin aku dapat tiket gratis main bowling dari Senpai cewek yang belakangan ini sering menyapa! Ayo pergi bareng!"

 

"Eh, boleh pergi sama aku? Ryota-kun."

 

"Bohong…… Kimura-kun yang itu mengajak pergi main!? Apalagi dari dirinya sendiri!?"

 

"K-, kenapa malah sama Tomida sih……!?"

 

Gara-gara ajakan dari Ryota-kun, para siswi jadi makin riuh bergemuruh.

 

Anu, para siswi sekalian. Tatapan mata kalian menyeramkan tahu.

"Tapi aku tidak jago main bowling dan sering masuk gutter lho."

 

"Tidak apa-apa, tidak apa-apa!! Nanti kuajarkan cara mainnya sampai tuntas!!"

 

"Yah, kalau begitu sih……"

 

"Tunggu sebentar."

 

Serizawa-san menghentikan pergerakanku yang hendak pergi main bowling bersama Ryota-kun.

 

"Kimura Ryota…… kamu punya hubungan apa sama Bun-bun kami?"

 

Dia melangkah maju ke depan lalu menatap Ryota-kun dengan mata

menyipit tajam.

 

Eh, kenapa kamu sampai segitunya menunjukkan rasa permusuhan?

 

Terus apaan tuh maksudnya Bun-bun kami?

 

"Eh? Gimana ya…… kalau sama Bungaku sih hubungan sesama cowok yang beli makan kroket bareng sambil belepotan lumpur…… kali ya?"

 

"Eh? T-, tidak mungkin…… Bun-bun…… bohong kan? Jajan sembarangan…… sama selain aku…………"

 

Eh, kenapa kamu sampai se-terpukul itu?

"B-, Bun-kun? Anu, kenapa kalian berdua saling memanggil nama depan? Hari Jumat kemarin kan kalian masih memanggil pakai nama marga?"

 

Kali ini, Hiyori yang wajahnya pucat pasi mencengkeram bahuku erat-erat.

 

"Eh? Kemarin lusa kan aku, Tenma-kun, dan Ryota-kun pergi ke karaoke all-night bertiga."

 

"Karaoke all-night…………? Itu artinya kalian menginap semalaman di karaoke!?"

 

"Aku tidak paham kenapa kamu mengulang kalimat yang sama dua kali, tapi ya memang begitu."

 

"Aku tidak dengar!! Cerita begitu tidak pernah kudengar tahu!!"

 

Habisnya kan aku memang tidak cerita…………

 

"Aku belum kalah……"

 

"Eh? Serizawa-san?"

 

“Kimura Ryota itu cowok. Kalaupun kita mengalah satu miliar langkah sampai dia akrab sama Bun-bun…… kita masih belum kalah……!!"

 

 

Serizawa-san ini sebenarnya sedang bertarung melawan apa, sih?

"B-, benar banget! Kalaupun kita mengalah 10 miliar langkah sekalipun, Kimura-kun tetap cowok! Jadi biarpun Bun-kun memikatnya, nggak bakal ada masalah, kan!!"

 

Bahkan Hiyori pun ikut-ikutan ngomong apa coba?

 

"Fuh, kalau Ryota Kimura itu cewek, kita sudah tewas seketika…… ya."

 

"Wakil Ketua, apa ada di dalam?"

 

Di tengah-tengah situasi yang kacau balau itu, tiba-tiba Kirifuji-san memunculkan kepalanya dari arah koridor.

 

"Geh, Kirifuji-chan."

 

"Ah, ternyata beneran ada di sini, ya."

 

Begitu Kirifuji-san masuk ke kelas, kali ini giliran para murid cowok yang langsung heboh. Melihat sosoknya, mereka sontak bersemangat, bahkan para murid cewek pun memandangnya dengan tatapan kagum.

 

Kalau diingat-ingat lagi dengan reaksi saat Ryota-kun datang tadi, dua orang ini rasanya sudah mirip seperti idola sekolah saja.

 

"Selamat siang, Bungaku-senpai. Sudah beberapa hari tidak bertemu, ya."

 

"Ah, ehto, selamat siang. Kenapa bisa ada di sini?"

"Kalau kukatakan aku datang ke sini khusus untuk menemui Bungaku-senpai…… bagaimana?"

 

"Eh."

 

Aku seketika mematung mendengar perkataan Kirifuji-san. Melihat diriku yang seperti itu, dia terkekeh pelan sambil tersenyum manis.

 

Ah, apa-apaan, ternyata cuma bercanda.

 

"Wakil Ketua, kamu mencoba untuk membolos lagi, ya? Ketua tadi marah-marah, lho?"

 

"Ugeh, ternyata sudah ketahuan Tenma juga, ya……"

 

"Ya, karena itulah lebih baik kamu menurut dan pergi ke ruang OSIS saja demi keselamatan dirimu sendiri."

 

"Guuh…… mau bagaimana lagi. Ah—tugas OSIS malas banget~ padahal aku mau pergi main bowling sama Bungaku~"

 

"Kalau begitu, bagaimana kalau kita minta Bungaku-senpai untuk membantu tugas OSIS sekalian?"

 

Eh.

 

"Ooh!! Itu ide bagus!! Tugas OSIS bisa cepat selesai, terus habis itu kita bisa langsung pergi main bowling!"

 

Eh, eh.

 

"Kalau begitu, diputuskan begitu ya. Bungaku-senpai. Tolong pasrah

saja untuk ditangkap♪"

 

"Eh, eh, eh?"

 

Sambil berkata begitu, Kirifuji-san memeluk lengan kananku sambil menariknya mendekat ke tubuhnya..

 

"T-, t-tunggu sebentar!! Tunggu sebentar!! Stop!!"

 

Hiyori yang panik melihatku hendak diseret pergi langsung memeluk

lengan kiriku sekuat tenaga.

 

"Kalian berdua!! Menempelnya terlalu dekat!!"

 

Tidak, anu…… Hiyori juga menempel erat banget padaku, tahu.

 

"Menempel erat-erat begitu kan tidak bagus! Nanti orang-orang di sekitar b-, bisa salah paham tahu!"

 

Benar, tepat saat ini juga. Para murid cowok menatapku seperti melihat musuh bebuyutan……

 

Keringat dingin di tubuhku sama sekali tidak mau berhenti.

 

"Salah paham? Ah…… tidak ada masalah sama sekali, kok. Soalnya aku

kan menyukai Bungaku-senpai."

"Sebagai Senpai!! Maksudmu menyukai sebagai Senpai, kan!! Terima kasih!! Aku senang banget, nih!!"

 

Gawat, tatapan orang-orang di sekitar beneran gawat banget.

 

"Hei, kenapa kamu bisa sampai menyukai Bun-bun?"

 

Serizawa-san yang penasaran mencoba menggali lebih dalam kepada Kirifuji-san.

 

"Eh? Begitulah. Ada berbagai macam alasan sih, tapi kalau disederhanakan secara singkat, mungkin bisa dibilang cinta pada pandangan pertama ya."

 

"Bun-bun, jangan mau ditipu. Ini pasti sejenis penipuan berkedok asmara."

 

"Serizawa-san, kata-katamu agak jahat, lho? Kamu sadar tidak?"

 

Orang-orang di sekitar sepertinya punya pemikiran yang sama. Begitu berpikir "Apa-apaan, cuma bercanda toh", rasa permusuhan mereka langsung mereda.

 

"Wah, jahat sekali menuduh begitu. Padahal kami…… adalah pasangan yang sudah pernah berciuman, lho?"

 

"”””Ha?”””"

 

Gara-gara bom yang baru saja dijatuhkan itu, Bukan hanya Hiyori dan Serizawa-san, Tsukimi-san pun ikut bungkam tak berkutik.

 

"B-, bukan. Salah paham. Ini murni salah paham……"

 

"Jahatnya…… Bungaku-senpai. Padahal itu yang pertama bagiku…… tapi kamu malah ngomong begitu, ya…… hiks."

 

"Ciuman tidak langsung!! Itu ciuman tidak langsung!!"

 

Aku pun terpaksa mempertaruhkan nyawa untuk memberikan penjelasan kepada tiga gadis dan teman-teman sekelas yang sedang menatapku dengan tatapan seolah melihat pembunuh orang tua mereka.

 

◇

 

"Silakan, Bungaku-senpai."

 

"Terima kasih."

 

Sepulang sekolah, aku yang dipanggil ke ruang OSIS sedang menikmati teh seduhan Kirifuji-san.

 

"Ah, susu dan gulanya tidak usah tidak apa-apa."

 

"Wah? Bungaku-senpai. Cara minummu sudah berganti, ya?"

 

"Habisnya melihat Kirifuji-san meminumnya, aku jadi penasaran juga bagaimana rasanya kalau diminum murni."

Aku sendiri sadar kalau diriku ini memang gampang terpengaruh oleh orang lain.

 

"Fufu, begitu ya. Aku senang sekali karena kamu sudah terwarnai oleh warna diriku."

 

"Tolong perhatikan cara bicaramu, ya."

 

Sambil mengabaikan 'godaan' Kirifuji-san secara halus, aku menyesap teh itu sedikit.

 

Ung. Enak banget.

 

"Ngomong-ngomong, Bungaku-senpai itu selalu menatapku dengan tatapan penuh gairah setiap kali aku menyeduh teh, kan? Bahkan orang sepertiku pun jadi merasa agak malu, tahu."

 

"Eh, a, m-, maaf…… tanpa sadar aku malah terpesona melihatnya."

 

……Nn? Bukannya kata-kataku barusan kedengaran menjijikkan banget, ya? Diriku ini.

 

Dengan ragu-ragu aku melirik ke arah Kirifuji-san,

 

"……………Maksud ucapanmu itu bagaimana, ya?"

 

Sambil tersenyum manis dia mencoba mengorek lebih dalam.

 

"A, etto…… bagaimana ya mengatakannya, setiap gerak-gerikmu terasa begitu teliti, indah, dan hangat. Aku bisa merasakan perhatianmu dengan jelas. Aku merasa, aku pasti sangat menyukai sosok Kirifuji-san yang menyeduh teh sambil tersenyum manis dengan gembira…… kurasa."

 

"………………………"

 

"A, tentu saja teh seduhan Kirifuji-san itu rasanya enak banget!! Aku juga menyukai teh buatanmu itu sendiri, kok!"

 

"………………………"

 

Kirifuji-san hanya menundukkan kepalanya dalam diam.

 

"K-, Kirifuji-san……?"

 

M-, jangan-jangan aku sudah membuatnya merasa risi?

 

"Gawat, rasa sukaku hampir tumpah nih……"

 

"He? Barusan ngomong apa?"

 

"Ah, tidak, bukan apa-apa♪"

 

"B-, begitu? Anu, apa aku membuatmu merasa tidak nyaman?"

 

"Tidak sama sekali, kok. Malahan terima kasih banyak, ya. Berkat hal itu variasi suaramu jadi bertambah."

"Eh? Variasi?"

 

"Bukan apa-apa. Bungaku-senpai ini pandai sekali berbicara, ya."

 

Kirifuji-san membalas dengan senyuman sempurna seperti biasanya.

 

Variasi yang dimaksud itu sebenarnya apa, ya? Aku memang penasaran, tetapi di hadapan Kirifuji Smile itu aku hanya bisa bungkam tak berkutik.

 

"Ah, benar juga. Hampir saja aku lupa pada topik utamanya. Ini soal rumor tentang Bungaku-senpai……"

 

Rumor? Ah, rumor yang disebarkan Sasahara-senpai waktu itu, ya. Aku sampai lupa sama sekali.

 

"Melihat reaksimu yang seperti itu, sepertinya kamu sudah lupa sama sekali, ya."

 

"Yah…… iya."

 

Lho? Tapi kalau diingat-ingat lagi, belakangan ini aku memang sudah tidak pernah mendengar omongan buruk soal diriku lagi, sih.

 

"Saat ini, rumor buruk tentang Bungaku-senpai sudah hampir

sepenuhnya mereda."

 

"Ah, ternyata beneran begitu, ya. Terasa lebih cepat dari dugaanku. Jujur saja, tadinya kupikir bakal memakan waktu jauh lebih lama."

"Ya, kalau tidak terjadi apa-apa sepertinya memang tidak bakal mereda secepat ini. Tolong lihat ini."

 

Sambil tersenyum begitu, Kirifuji-san memperlihatkan sebuah video yang ada di layar ponselnya.

 

"Ini kan…… kejadian waktu masuk ke kolam comberan kemarin."

 

Video itu memperlihatkan diriku yang sedang membantu

Sasahara-senpai yang tampak setengah mati mencari cincin di kolam comberan.

 

"Sebenarnya, video ini sekarang sedang beredar luas di lingkungan sekolah."

 

"Eh, beneran?"

 

"Aku tidak tahu siapa yang menyebarkannya, tetapi kemungkinan besar adalah salah satu orang yang berada di lokasi dan merekamnya menggunakan ponsel waktu itu."

 

Ah, benar juga, waktu itu memang ada beberapa murid yang mengambil foto kami menggunakan ponsel, ya.

 

"Aku tidak tahu apa tujuan awal mereka menyebarkannya, tetapi bagaimanapun berkat video ini, orang-orang mulai menyadari adanya ketidaksesuaian antara rumor dengan kenyataan sosok Bungaku-senpai, sehingga kesan mereka terhadapmu mulai berubah."

Fumu, dengan kata lain ini mirip fenomena di mana orang yang ditakuti dan dikira anak nakal mendadak terlihat menyelamatkan anak kucing yang kehujanan, lalu orang yang melihatnya jadi tersentuh begitu, kali ya.

 

"Bungaku-senpai."

 

"……Nn?"

 

"Syukurlah, ternyata ada juga orang-orang yang benar-benar melihat dirimu apa adanya."

 

◇

 

Setelah menyelesaikan acara minum teh bersama Kirifuji-san, saat aku berjalan di koridor sambil melihat layar ponsel, urusan Tenma rupanya sudah selesai juga. Ichika dan Hiyori pun sudah membalas pesan dari Tenma.

 

Aku segera mengirim balasan, lalu melangkah menuju lokasi tempat kami berjanji untuk berkumpul.

 

Hari ini kami berempat—aku, Tenma, Ichika, dan Hiyori—sudah berjanji untuk pergi makan parfait bersama ke 『Karafune Coffee』.

 

Sambil berjalan, aku sempat berpikir, apa nggak apa-apa kalau aku ikut bergabung dengan mereka, sampai akhirnya……

 

"Nn~~…… aduh, poni depanku sama sekali tidak mau tertata rapi……"

Tampak sosok Hiyori yang sedang merapikan rambutnya dengan sangat serius di depan cermin sekolah.

 

Kelihatannya dia sedang berjuang keras.

 

"Sip, sudah kelihatan bagus. Harusnya…… sudah manis, kan?"

 

"Nanase-san."

 

"Uhyaa!? B-, Bun-kun!? S-, sejak kapan kamu ada di situ!?"

 

"Ehto, sejak bagian kamu merapikan poni depan."

 

"I-, bagian yang paling tidak ingin kulihatkan!"

 

Uugh…… Hiyori merona merah meluapkan rasa malunya.

 

"Etto, itu, tidak apa-apa kok. Hiyori hari ini juga, itu, k, manis kok."

 

"Eh, a, uugh…… b-, begitu ya…… ehe, hehehe."

 

"Ung. Tenma pasti juga bakal berpikir kalau kamu manis kok."

 

Meski sudah ditolak, bagi Hiyori, Tenma tetaplah sosok yang pernah disukainya. Wajar saja jika dia ingin tampil sedikit lebih manis di hadapan orang tersebut.

 

"……Pukulan."

 

Pos, Hiyori melayangkan pukulan kecil yang imut ke dadaku.

 

Lho……? Apa jangan-jangan opsi kata-kataku tadi salah, ya……

 

"Kalau Bun-kun sudah menganggapku manis, buatku itu saja sudah cukup, tahu."

 

"Eh, u-, ung……"

 

Bisa tidak tolong jangan terlalu bergantung pada pendapatku……

 

Seolah bisa membaca isi hatiku, Hiyori menghela napas pasrah lalu menyenggol tanganku menggunakan sikunya.

 

◇

 

"Bungaku-kun, kopi Dutch Ice di toko ini enak banget lho. Karena menggunakan alat ekstraksi khusus, cita rasanya punya kenikmatan yang unik."

 

"Eh, begitu ya."

 

Setibanya di 『Karafune Coffee』, saat aku sedang memperhatikan menu, Ichika memberi tahu rekomendasinya padaku. Kalau tidak salah ingat, dulu Hiyori pernah bercerita kalau dia sering datang ke sini bertiga bersama Tenma dan Ichika.

 

"Ngomong-ngomong, kopi Dutch itu apa?"

"Maksudnya kopi cold brew, ya. Asal-usul namanya dari Indonesia…… Tenma-kun? Kenapa kamu malah tertawa?"

 

"Tidak…… cuma merasa geli saja melihat Ichika yang begitu bersemangat…… padahal kemarin dia girang banget bilang mau mengajari berbagai hal ke Bungaku."

 

"T-, tidak boleh begitu! Tenma-kun!! Kan sudah janji tidak boleh bilang-bilang!"

 

Tenma mengelus-elus kepala Ichika yang sedang menggembungkan pipinya dengan manja.

 

Dua orang ini malah menjadikanku bahan untuk bermesraan.

 

"Bun-kuun, tolong balik ke halaman berikutnya dong."

 

"Ah, ung……"

 

Aku membalik halaman menu sesuai dengan instruksi Hiyori yang sedang mengintip di sebelahku.

 

Jarak kami begitu dekat sampai bahu kami saling menempel erat.

 

Rasanya, belakangan ini jarakku dengan Hiyori makin tidak wajar saja.

 

"Permisi, jika pesanan Anda sudah siap, saya akan mencatatnya."

 

Pelayan toko datang untuk mencatat pesanan, jadi kami mulai memesan minuman masing-masing.

 

Sesuai saran Ichika, aku memesan kopi Dutch Ice.

 

Sebenarnya aku sedikit penasaran dengan Italian Soda, tetapi kali ini yang kucari dari minuman bukanlah rasa manis.

 

Setelah menutup menu, aku mengamati sosok mereka bertiga yang sedang menikmati obrolan dengan gembira.

 

Di sini, Karafune Coffee ini adalah kafe tempat aku dan Hiyori berdua datang pada hari di mana Hiyori ditolak oleh Tenma.

 

Saat itu aku benar-benar terselamatkan oleh Parfait Udang Goreng Spesial☆.

 

Tidak disangka kami berempat bakal kembali ke tempat ini lagi bersama-sama. Sungguh, sejak saat itu sudah banyak hal yang terjadi ya, batinku merasakan sedikit nostalgia, hingga kemudian—

 

"Maaf membuat Anda menunggu!! Ini dia parfait raksasa nomor 1 di toko kami, 『Le Rêve』!!"

 

Bum!! Sebuah parfait super-super raksasa yang memenuhi seluruh area meja mendadak menghancurkan lamunan sentimental milikku.

 

Ya, alasan utama kami datang ke sini hari ini adalah untuk menyantap monster ini bersama-sama.

Menu ini merupakan parfait yang baru bisa dimakan jika dipesan 1 minggu sebelum kedatangan, diperuntukkan bagi 20 hingga 25 orang, dengan total bobot mencapai 8 kg (hasil penelusuran internet).

 

Ukurannya jauh melampaui parfait raksasa pada umumnya dan memang ditujukan untuk disantap beramai-ramai.

 

Secara kategori, ini adalah jenis hidangan yang ingin dicoba setidaknya sekali seumur hidup.

 

Ini bukan lagi sekadar makanan manis, melainkan sebuah pertunjukan.

 

"O-, ooh…… besar banget ya."

 

"B-, bisakah kita menghabiskannya………?"

 

"T-, tenang saja. Kalau kepepet nanti Bun-kun pasti bakal mengusahakan sesuatu……"

 

Hiyori, Bun-kun ini bukan sosok serba bisa, tahu.

 

Dengan tangan gemetar memegang sendok, kami berempat mulai menyantapnya secara bersamaan.

 

Rasanya mirip seperti sedang menjalani pertarungan raid boss di game ponsel saja…………

 

Saat sedang menyantap buah-buahan yang dihias dengan begitu teliti hingga terlihat jelas sentuhan sang pembuat, Hiyori yang pipinya terkena krim menatapku dengan ekspresi serius.

 

"Anu, Nanase-san. Ada apa?"

 

"……Bun-kun, ada hal yang ingin kubicarakan sedikit."

 

"Eh, i-, iya……"

 

"Bun-kun, kita ini kan sahabat, kan? Sampai saat ini sudah banyak hal yang terjadi, dan kurasa ikatan kita juga sudah makin dalam, kan? Makanya, bagaimana kalau secara bertahap kamu berhenti memanggilku dengan sebutan Nanase-san?"

 

"Ah, Nanase-san. Di pipimu ada krimnya tuh."

 

"Eh? B-, beneran!?"

 

"Beneran, beneran. Jangan bergerak ya."

 

Menggunakan tisu yang ada di atas meja, aku mengusap sisa krim yang menempel di pipi Hiyori yang sedang panik.

 

"Wah, a-, terima kasih. E-, ehehe…… bukannya begitu!! Soal nama!! Ini soal pembicaraan nama, tahu!!"

 

Kukira aku sudah berhasil mengalihkan pembicaraan dengan halus, tapi ternyata gagal ya……

"……Etto, bukannya ada saatnya aku memanggilmu menggunakan nama depan juga?"

 

"Itu kan cuma pas waktu elus-elus saja!! Apalagi sejak dari kafe kucing kemarin kita belum pernah melakukannya lagi!!"

 

"Ah, iya……"

 

Aku malah dimarahi……

 

"Tapi, kenapa tiba-tiba kamu membicarakan hal itu?"

 

"Habisnya kamu memanggilku pakai nama marga, padahal sama Kimura-kun yang baru dikenal kemarin kamu malah saling memanggil nama depan……"

 

……Kenapa dia sampai memikirkan hal itu sejauh ini, ya?

 

"Bungaku-kun. Hal itu tidak boleh, lho."

 

Serangan susulan datang dari Ichika yang mendadak memunculkan wajahnya dari balik samping parfait.

 

"Panggilan nama itu dalam arti tertentu menunjukkan jarak hubungan dengan orang tersebut. Terlebih lagi Bungaku-kun memanggilku dan Tenma-kun dengan sebutan 'Hana-san' dan 'Tenma-kun', tetapi ke Hiyori-chan malah 'Nanase-san'. Kalau begini, kesannya seperti Hiyori-chan malah jadi orang luar."

 

"Kalau hal itu sih…… memang benar juga, sih?"

 

"Betul sekali. Kita berempat ini kan bakal menjalin hubungan yang panjang ke depannya, jadi hal-hal seperti itu harus diperhatikan dengan benar."

 

Rasanya, nuansa kata 'panjang' di situ sedikit aneh tidak sih?

 

"………………Bungaku-kun."

 

"………………Bun-kun."

 

Ichika dan Hiyori menatapku dengan mata menyipit tajam.

 

……Tekanan dari mereka berdua benar-benar luar biasa.

 

Aku melirik ke arah Tenma untuk meminta bantuan, tetapi dia justru menggelengkan kepalanya seolah menyuruhku pasrah saja.

 

"……Pokoknya, aku baru akan memikirkannya setelah berhasil menghabiskan parfait ini."

 

"Kabur ya."

 

"Kabur kan."

 

"Kabur tuh."

 

Sambil dihujani tatapan mata dari mereka bertiga yang tampak benar-benar tidak puas, aku pun meminum kopiku.

 

◇

 

"Bagaimana pun juga…… akhirnya berhasil…… dihabiskan ya."

 

"Ung……"

 

Setelah menghabiskan 『Le Rêve』 sampai bersih, aku dan Hiyori terkapar lemas di tepi Sungai Kamo.

 

Saat melihat ke sekeliling, tampak pasangan-pasangan kekasih yang bermesraan dengan jarak teratur. Mau tak mau, aku jadi merasa agak canggung.

 

Begitu ya, jadi ini yang dinamakan ‘Hukum Jarak Teratur Sungai Kamo’ yang terkenal itu.

 

"Kalau dipikir-pikir, Tenma-kun dan yang lainnya sudah pulang ya."

 

"Yah, soalnya ada mitos kalau pergi ke Sungai Kamo bareng pasangan bisa bikin putus."

 

"Ah, begitu ya……"

 

Saat sedang memandangi Sungai Kamo, mendadak aku teringat sesuatu.

 

Kalau diingat-ingat lagi, kali terakhir aku mengobrol dengan 'dia' juga dilakukan di tepi sungai.

 

'Dia' yang kulindungi dari hantaman truk. Aku memang tewas dalam kecelakaan itu, tetapi kehidupan milik 'dia' seharusnya masih terus berlanjut.

 

…………Saat ini, apa kabarnya ya?

 

"Sedang mengingat soal siapa?"

 

——!?

 

Suara Hiyori yang terdengar agak dingin menarikku kembali dari lamunan.

 

"Eh, a, etto…… cuma sedikit mengingat masa lalu kok."

 

Aku mengelak tanpa menjawab pertanyaan Hiyori secara

terang-terangan.

 

"Jangan-jangan, kamu sedang teringat soal anak cewek yang dulu pernah kamu sukai ya?"

 

Eh, kenapa bisa tahu?

 

"Wajahmu kelihatan seperti itu tahu?"

 

Pikiranku ternyata terbaca sepenuhnya.

"…………Masih belum bisa move on ya? Soal anak itu."

 

Kata-kata Hiyori yang menusuk ke inti masalah membuat jantungku serasa dicengkeram erat seketika.

 

"……Benar juga ya. Mungkin memang belum bisa move on."

 

Hal ini sama sekali bukan dalam artian asmara. Lagipula aku kan sudah pernah ditolak mentah-mentah satu kali.

 

Alasanku belum bisa move on adalah…… karena aku merasa tindakan menyelamatkannya hingga membuatku tewas telah membebaninya dengan berbagai macam hal.

 

Terlebih lagi, posisinya di sekolah dulu juga tidak begitu baik…… ada rasa cemas yang seperti itu juga.

 

Puk. Mendadak, ada beban lembut yang hinggap di bahuku.

Saat melirik ke samping, Hiyori tampak bersandar pelan di bahuku.

 

Gara-gara kejadian yang terlalu mendadak ini, pikiran dan tubuhku

seketika membeku kaku.

 

"Eh, a, ada apa?"

 

"Kupikir, bukannya lebih baik kalau kita juga melakukan hal-hal seperti itu."

 

"T-, tidak perlu dipaksa menyamakan diri dengan orang-orang di sekitar kok—"

 

"Lalu, kenapa kamu tidak mau memanggilku dengan sebutan 'Hiyori'?"

 

Mendadak banget masuk ke topik itu.

 

"Habisnya, rasanya agak malu."

 

"Kalau cuma gara-gara itu, kenapa kamu bisa memanggil Hana-chan dengan sebutan 'Hana-san' tanpa ragu begitu?"

 

Wa, waah…… aku kalah telak dalam berargumen.

 

"Anu, kenapa dia sampai segitunya mempermasalahkan…… soal panggilan nama?"

 

"……Hana-chan kan sudah bilang. Panggilan nama itu menunjukkan jarak hubungan dengan orang tersebut. Aku ini sedang panik tahu."

 

"Panik?"

 

"Dulu kan. Aku bisa memonopoli Bun-kun sendirian, tapi sekarang kan tidak begitu lagi ya? Di sekeliling Bun-kun ada Shi-chan dan Hoshinon. Ada Tenma, Hana-chan, dan orang-orang OSIS. Di antara mereka semua, rasanya keberadaanku jadi makin mengecil saja……"

 

Memang sih dibandingkan awal-awal dulu, aku jadi mengobrol dengan jauh lebih banyak orang, tapi ternyata dia memikirkan hal semacam itu ya.

 

"Aku sudah menjawabnya dengan benar lho. Sekarang giliran Bun-kun yang menjawab."

 

"……Nanase-san itu bagiku adalah 'oshi'. Makanya, bagaimana ya mengatakannya, rasanya kurang sopan kalau memanggil nama depan secara sembarangan."

 

Jujur saja, kata-kataku sendiri kedengaran menjijikkan banget ya. Diriku ini.

 

Namun Hiyori mendengarkan pengakuanku itu dengan sorot mata yang serius.

 

"Hal itu…… kenapa bisa begitu?"

 

"Nanase-san itu kan, walau sudah paham kalau bakal ditolak, kamu tetap mengumpulkan keberanian untuk menyatakan cinta pada Tenma-kun kan? Hal itu adalah sesuatu yang tidak akan pernah bisa kulakukan."

 

Benar. Bahkan bagiku yang di kehidupan sebelumnya sering ditolak mentah-mentah, menyatakan cinta sambil sudah tahu bakal ditolak itu terasa begitu menakutkan sampai aku tak pernah sekalipun berani melakukannya.

 

Karena itulah, bagiku Nanase Hiyori adalah sosok 'oshi heroine'.

 

"Aku merasa hal itu sangat luar biasa. Bisa dibilang aku sangat kagum. Terlebih lagi, sebagai sesama rekan yang pernah patah hati, aku merasakan simpati, dan justru karena itu, aku ingin perjuanganmu terbayar dan kamu bisa bahagia."

 

Perasaan ini tidak bisa diungkapkan hanya dengan satu kata. Ini bukan sekadar emosi sederhana seperti 'suka' atau semacamnya.

 

Justru karena tidak bisa kuraih, rasanya malah semakin berharga.

 

"Begitu ya…… 'oshi' toh—"

 

Suara Hiyori terdengar datar. Namun, tidak ada tanda-tanda dia sedang marah.

 

"Yah, untuk sekarang kalau begitu dulu juga tidak apa-apa deh."

 

"Nanase-san?"

 

"Bun-kun."

 

"Y-, ya."

 

"Bun-kun."

 

"Eh? Iya."

 

"Bun-kun."

 

"A-, anu……"

 

"Bun-kun."

 

Oh, jadi begini toh. Kalau aku nggak membalas memanggil nama depannya, ini nggak bakal selesai.

 

……Setelah saling mengutarakan alasan masing-masing, Hiyori rupanya tetap ingin aku memanggil nama depannya.

 

『Di antara mereka semua, rasanya keberadaanku jadi semakin kecil saja……』

 

Menyampaikan padanya bahwa hal seperti itu tidak benar adalah hal yang mudah.

 

Namun, kalau ingin kata-kata itu benar-benar meyakinkannya, aku harus menunjukkannya lewat tindakan.

 

Saat ini bukan waktunya untuk malu-malu tidak jelas kan.

 

"……Hiyori."

 

Begitu aku memanggil nama depannya, Hiyori mengangguk puas.

 

"N-, nah, Hi, Hiyori. Bagaimana kalau kita pulang sekarang?"

 

Uuh, ternyata tetap terasa agak malu ya.

 

Hiyori menatapku yang sedang salah tingkah sambil tersenyum seolah merasa geli.

 

"Benar juga ya. Ah, mumpung sudah begini bagaimana kalau kita pulang sambil jalan-jalan santai sebentar di sepanjang Sungai Kamo?"

 

"Boleh kok. Ayo kita lakukan."

 

Sip, kalau sudah diputuskan begitu berarti tinggal berangkat.

 

Tepat saat aku berdiri, Hiyori perlahan mencengkeram jari kelingkingku.

 

"Etto, Hiyori?"

 

"Bun-kun itu, masih belum bisa move on dari anak yang kamu sukai dulu kan?"

 

"Eh? U-, ung."

 

"Kalau begitu. Kali ini giliran aku yang bakal menopang Bun-kun. Sama seperti yang sudah Bun-kun lakukan padaku."

 

Hiyori mendongak menatapku sambil tersenyum lepas.

 

"……Ung."

 

Aku pun mengangguk menanggapi ucapannya.

"Ngomong-ngomong, Hiyori itu kenapa selalu mendadak mencengkeram jari kelingkingku ya…… alasannya apa?"

 

Sambil menatap jari kelingking yang dicengkeram aku bertanya pada Hiyori, dan dia membalasnya dengan senyuman jahil.

 

"Entahlah, cuma asal saja kali ya."




Prrevious Chapter | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close