NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Saijaku Hakugai Made Sareta Kedo - Chou Nankan Meikyuu de 10 Mannen Shuugyoushita Kekka Volume 4 Prolog

Prolog


Sambil berbaring telentang di atas sofa di sebuah ruangan yang luas.

"Kau bilang sebagian besar rencana telah selesai, tapi kita tidak bisa menghubungi Mara yang paling penting?"

Jenderal Besar Lopt bertanya balik kepada Panpi, salah satu bawahan Mara-sama yang baru saja memberikan laporan. Ekspresi dan gerak-geriknya masih sama seperti Lopt yang selalu bersenda gurau.

Namun, nada bicara dan aura yang dipancarkannya berubah menjadi sesuatu yang sangat berbahaya, hingga sanggup membuat bulu kuduk Panpi berdiri. Lopt mungkin sedang menaruh curiga.

Ia curiga bahwa Panpi telah menentang kehendak Mara-sama dan sengaja memutus komunikasi tersebut.

"Aku sudah mencoba menghubungi bawahanku yang berada di Dunia Bawah berkali-kali, tapi tidak ada satu pun balasan yang kembali."

Panpi menjawab sambil mengangguk pelan. Itu adalah fakta yang tidak dibuat-buat.

Alasan Panpi menuruti perintah ini adalah demi melindungi nyawa para bawahannya. Lagi pula, jika mereka tidak bisa memanggil Mara-sama ke dunia ini sebelum batas waktu, mereka semua akan dibantai.

Ia juga telah memerintahkan bawahannya untuk melakukan penyelidikan dengan metode yang lebih langsung dan spesifik. Bahkan setelah mewujud di dunia ini, mereka masih sering bertukar kabar.

Namun, sejak suatu waktu, semua bentuk komunikasi terputus total begitu saja.

"Yah, memang tidak ada alasan bagimu untuk berbohong. Itu pasti kebenarannya... Lalu, apa kau punya dugaan?"

Jenderal Lopt mengangguk kecil beberapa kali lalu menanyakan hal yang sudah sewajarnya. Panpi lantas menggelengkan kepalanya.

"Tidak sama sekali. Jika dalam masalah ini aku mengusik kemurkaan tuanku, tidak mungkin aku masih bisa baik-baik saja seperti sekarang."

Panpi menegaskannya dengan penuh keyakinan. Benar sekali, saat ini Mara-sama tidak menaruh sedikit pun kepercayaan padanya.

Tubuh Panpi dan para bawahan lainnya telah ditanamkan segel kutukan kematian. Segel itu dirancang agar bisa aktif hanya melalui kehendak Mara-sama.

Dengan tabiat Mara-sama yang sekarang, jika beliau merasa sedikit saja tidak senang dengan pergerakan Panpi, beliau pasti sudah langsung mengaktifkan kutukan kematian itu. Mengabaikannya sama sekali tidak mungkin terjadi.

"Itu masuk akal juga. Satu-satunya entitas yang bisa menyegel total pergerakan Mara hanyalah Panglima Tertinggi."

"Fakta bahwa beliau benar-benar turun tangan adalah insiden tak terduga, tapi sudah jelas ini adalah kehendaknya. Tinggal mencari tahu alasan kenapa beliau mencegah pewujudan Mara ke dunia ini..."

Jenderal Lopt memijat pangkal hidungnya dengan tangan kanan sambil berpikir keras.

"Yah, sudahlah. Walau sangat berbeda dari rencana awal, kalau Mara tidak bisa diandalkan, kita gunakan saja penggantinya. Panpi, kau masih mau terus bekerja sama denganku, kan?"

Lopt menekankan hal itu dengan nada santai. Memang ada kemungkinan rekan-rekannya habis dibantai akibat pelampiasan amarah Mara-sama.

Namun jika begitu, Panpi yang memimpin langsung rencana pewujudan Mara-sama kali ini seharusnya menjadi orang pertama yang mati dikutuk. Akan tetapi, sekarang Panpi masih hidup tanpa luka sedikit pun.

Ini menandakan bahwa sebelum ada instruksi dari Panglima Tertinggi pun, Mara-sama sudah membatalkan pewujudannya ke dunia ini atas kehendaknya sendiri. Jika begitu--

"Sesuai keinginan Anda, Yang Mulia Jenderal Besar Lopt."

Panpi menundukkan kepalanya dalam-dalam dan mengucapkan persetujuan.

Melalui kejadian kali ini, nyawa Panpi dan yang lainnya berhasil terselamatkan dari ujung tanduk. Dengan begini, Panpi bisa bergerak demi tujuan aslinya.

Tujuan itu adalah menyelamatkan Girimehkala-sama yang disegel di dalam Dungeon terburuk, God's Ordeal.

Panpi merasakan kejanggalan yang kuat dari percakapan antara Hajun-sama dan Jenderal Lopt sebelumnya.

Ia lalu memerintahkan bawahannya untuk menyelidiki pergerakan Hajun-sama belakangan ini.

Hasilnya, terungkap bahwa Hajun-sama sedang mencari lokasi Gate menuju God's Ordeal.

Secara resmi, Girimehkala-sama dinyatakan telah binasa akibat pertarungan melawan Pasukan Surga.

Namun, di saat yang sama, rumor bahwa Girimehkala-sama disegel di Dungeon terburuk itu juga santer terdengar di dalam Pasukan Iblis.

Jika diingat kembali, Mara-sama menjadi begitu kejam justru setelah Girimehkala-sama menghilang.

Hanya Girimehkala-sama yang selalu berani memperingatkan jika Mara-sama mengambil pilihan yang salah.

Meskipun Mara-sama akan murka, pada akhirnya beliau akan mengakui kesalahannya dan mengalah.

Bisa dipastikan bahwa jika Girimehkala-sama ada di sini, Mara-sama tidak akan pernah membunuh bawahannya sendiri.

Fakta bahwa Hajun-sama masih menghilang hingga kini pun akan masuk akal, jika dipahami bahwa ia sedang mencari Gate Dungeon itu di dunia ini demi merebut kembali keseharian mereka di masa lalu.

"Omong-omong, apa Hajun masih belum ditemukan?"

Detak jantung Panpi berdegup kencang mendengar pertanyaan yang seolah mengintip isi kepalanya itu.

"Belum, kami masih belum menemukannya."

Ia berusaha keras bersikap tenang saat menjawab.

"Hmm. Jangan-jangan, absennya Hajun juga ada hubungannya dengan insiden Mara kali ini? Kalau begitu, apa Dungeon sialan itu ikut terlibat? Tidak, mana mungkin! Lagipula, Gate itu..."

Jenderal Lopt menggumamkan sesuatu, lalu menggelengkan kepalanya kuat-kuat.

"Yah, sudahlah. Panpi, aku ingin kau bergerak sesuai instruksiku sekarang juga."

Dengan ekspresi serius yang jarang ditunjukkannya, Jenderal Lopt mulai memaparkan seluruh rencana pewujudan Jenderal Pasukan Iblis.

◇◆◇

-- Dunia Langit, Istana Ares, Ruang Gaoting

Di Ruang Gaoting yang merupakan ruang kerja Istana Ares, seorang gadis berkulit pucat dengan rambut perak ikal sedang menerima laporan dari beberapa Utusan Dewa. Gadis itu adalah penguasa Istana Ares ini, sekaligus Dewa Pengelola dunia lain Lemuria, yaitu Ares.

"Kau bilang tidak ada laporan sama sekali dari kelompok Colin?"

"Benar. Segala bentuk komunikasi telah terputus."

Mendengar nada bicara tuannya yang penuh aura menakutkan, berbanding terbalik dengan sikapnya yang biasa tenang dan lembut, sang Utusan Dewa menelan ludah dan langsung menjawab.

"Segala bentuk komunikasi... terputus, ya..."

Colin adalah Utusan Dewa Tingkat Atas yang ditugaskan di Lemuria, dunia yang dikelola oleh Ares. Bagi Dewa Pengelola seperti Ares, makhluk yang hidup di Lemuria adalah entitas yang harus dilindungi, meskipun ada perbedaan tingkatan.

Terlebih lagi, di Lemuria terdapat Raja Kebusukan, Dewa Jahat setingkat Dewa Kelas Atas. Tidak, bukan hanya Raja Kebusukan.

Dewa Naga Marak dan Dewa Api Surtr juga disegel di tanah Lemuria. Masing-masing dari mereka memiliki kekuatan setingkat Dewa Kelas Atas dan menaruh dendam mendalam kepada Ares yang menyegelnya.

Jika mereka sampai terbebas, mereka pasti akan mengacaukan Lemuria hanya demi membalas dendam kepada Ares.

Karena itulah, manajemen Lemuria sangat diperlukan agar segel tersebut tidak pernah terlepas. Ares pun menugaskan para Utusan Dewa kepercayaannya untuk mempertahankan sistem penyegelan tersebut secara terorganisir.

"Kemungkinan besar, Colin bertindak gegabah dan dihancurkan oleh kekuatan dewa lokal di sana. Belakangan ini tindakannya memang sudah kelewatan."

Mendengar pendapat Silket, Utusan Dewa sekaligus ajudan yang paling dipercayainya.

"Apakah separah itu?"

Ares bertanya sambil mengerutkan alisnya.

"Benar. Tampaknya ia menyebarkan ajaran yang membenarkan diskriminasi kejam. Ia hanya melindungi ras yang bisa membangkitkan Gift secara paksa sebagai ras yang pantas menerima kasih sayang Anda, sedangkan ras lain dianggap sebagai ras rendahan."

"Betapa bodohnya..."

Karunia Gift adalah sebutan untuk kemampuan yang berakar pada jiwa. Itu adalah hal paling mendasar yang ada pada segala sesuatu di dunia ini, tertanam di dalam inti seseorang, dan biasanya tidak akan muncul ke permukaan hingga akhir hayat.

Perlindungan suci yang dimiliki Ares mampu membangkitkan karunia Gift tersebut secara paksa.

Namun, kebangkitan paksa ini memiliki tingkat kecocokan; ras manusia adalah yang paling kuat, sementara ras dengan karakteristik yang condong pada elemen Yin akan semakin lemah. Sebenarnya hanya sebatas itu saja.

"Tapi, mudah tidaknya membangkitkan karunia Gift itu bergantung pada ada tidaknya unsur Yin, kan? Kenapa kita tidak boleh membedakan mereka berdasarkan perlindungan Anda, Ares-sama?"

Ramiel, salah satu ajudan Ares, melontarkan omong kosong itu dengan wajah tanpa dosa.

"Ramiel, kau serius mengatakan hal itu?"

Ucapan yang begitu tak tahu malu itu membuat nada suara Ares tanpa sadar dipenuhi amarah.

"Eh, eh? Habisnya, makhluk berunsur Yin itu kan vulgar dan kotor. Karena itulah Anda selama ini selalu mendukung penuh kelompok manusia yang mendekati unsur Yang, bukan?"

Melihat kemarahan Ares yang sangat jarang terjadi, Ramiel menjadi panik dan mempertanyakan hal yang sama sekali di luar dugaan.

"Kau salah besar. Aku melindungi organisasi ras manusia semata-mata karena ingin mempertahankan segel ketiga dewa itu!"

Pada saat penyegelan, wilayah segel ketiga dewa tersebut berada di dalam jangkauan kekuasaan ras manusia. Ada urgensi di mana segel itu paling pas jika dikelola secara terpusat oleh organisasi manusia seperti Gereja Pusat.

Oleh karena itu, Ares selalu memberikan instruksi agar manajemen segel dilakukan melalui ras manusia, di antara semua spesies humanoid yang ada. Mungkin, di situlah awal mula kesalahpahaman ini terjadi.

Jika ajudan terdekatnya seperti Ramiel saja bisa salah paham sejauh ini, maka wajar saja jika Colin dan kelompoknya yang hanya mengetahui urusan segel Raja Kebusukan bertindak melampaui batas.

"Kurasa cara campur tanganku terhadap Lemuria memang bermasalah..."

Intervensi Dewa terhadap dunia yang dikelolanya harus dibatasi pada tingkat minimum. Ares selalu mematuhi kata-kata kakek yang dihormatinya itu dengan setia.

Ia memerintahkan para Utusan Dewa untuk melapor hanya jika terjadi situasi yang tidak bisa diatasi oleh penghuni Lemuria sendiri, dan sebisa mungkin ia menghindari untuk ikut campur.

Dengan sifat Ares, jika ia mengetahui penderitaan sebenarnya dari dunia yang dikelolanya, ia pasti akan merasa terpanggil untuk turun tangan.

Akibat dari pengabaian yang nyaris seperti pelarian dari kenyataan itu, bawahannya bertindak sesuka hati, dan dunia yang dikelolanya menjadi melenceng dengan sangat tidak adil.

"Ares-sama, menyesal sekarang pun tidak ada gunanya. Yang terpenting sekarang adalah bagaimana kita menyikapi masalah Colin."

Utusan Dewa Silket, yang sepertinya satu-satunya yang memahami pergolakan batin Ares saat ini, mencoba memastikan langkah mereka selanjutnya secara tersirat.

"Kau... benar. Apa lawannya memang dewa lokal?"

"Kemungkinan besar begitu. Saat kami menginterogasi mantan bawahan Colin terkait hilangnya kelompok mereka, terungkap bahwa mereka diam-diam melakukan tindakan kejam yang memicu dendam dari banyak pihak."

"Tindakan kejam seperti apa?"

Silket menutup matanya dan menggelengkan kepalanya pelan.

"Lebih baik Anda tidak mengetahuinya."

Silket langsung terdiam. Dari pengalaman, Silket yang sudah bersikap begini akan menjadi sangat keras kepala. Ia sama sekali tidak akan memberitahukan hal itu pada Ares.

Mantan bawahan Colin itu pun pasti sudah dieksekusi, sehingga mustahil bagi Ares untuk menggali informasi lebih lanjut.

"Silket, menurutmu apa yang harus kita lakukan dalam masalah ini?"

"Sembilan puluh persen kemungkinan lawan kita adalah dewa. Menurut saya, kita harus menempuh jalur yang semestinya."

"Kau benar. Kalau begitu, jika pihak kita memang bersalah, aku sendiri yang akan menemui dewa itu. Silket, bentuklah tim investigasi yang dipimpin olehmu dan kumpulkan informasi lebih lanjut mengenai insiden ini."

Tepat ketika Ares memberikan instruksi tersebut--

"Itu tidak perluuu!"

Seorang pria botak yang mengenakan topi dan dasi kupu-kupu berbentuk aneh tiba-tiba menampakkan diri, lalu menggoyangkan telunjuk kirinya ke kiri dan kanan.

"Ko-Kolonel Teruteru!"

Silket dan Ramiel segera berlutut dan menundukkan kepala mereka dalam-dalam. Ares juga ikut memperbaiki postur tubuhnya.

"Lama tidak berjumpa."

Ares menunduk hormat dengan pelan.

"Ya, ya, lama tidak berjumpa juga, Ares-chan!"

Pria itu mengedipkan sebelah mata dan melambaikan tangan kanannya dengan heboh.

Dia adalah salah satu bawahan Thanatos-sama, yang merupakan salah satu dari Empat Jenderal Pasukan Surga yang konon memiliki kekuatan tepat di bawah Enam Dewa Langit. Ares pernah menemuinya beberapa kali melalui kakeknya, Deus, yang juga salah satu Enam Dewa Langit.

"Ada keperluan apa Anda datang kemari?"

Jujur saja, Ares sama sekali tidak menyukai Thanatos-sama yang merupakan atasan dari sosok di depannya ini. Mungkin karena itulah nada bicaranya tanpa sadar menjadi sangat kaku.

"Santai, santai, jangan terlalu waspada begitu. Ini bukan berita buruk buatmu, kok."

Bohong besar! Selama Thanatos-sama yang bereputasi buruk itu ikut campur, sudah pasti hal ini bukanlah sesuatu yang menguntungkan bagi Lemuria.

"Bolehkah saya menanyakan keperluan Anda?"

"Kamu ini tidak sabaran banget, ya. Ya sudah, kalau begitu aku langsung saja... Ehem!"

Kolonel Teruteru mengangkat bahunya dan berdeham keras. Dengan pose aneh, ia menunjuk Ares menggunakan telunjuknya.

"Serahkan paspor menuju Lemuria kepadaku, ya."

Ia memintanya secara sepihak.

"Bolehkah saya mendengar alasan Anda mengunjungi dunia yang saya kelola?"

"Itu--ra-ha-si-a."

Kolonel Teruteru mencondongkan tubuhnya ke depan dan mengayunkan telunjuknya beberapa kali di depan wajahnya.

"Bagaimana jika aku menolak?"

"Boleh saja kamu menolak, tapi menurutku hasilnya akan sama. Toh, ini cuma masalah waktu, cepat atau lambat."

Sial! Ares sudah muak melihat cara main paksa Thanatos-sama selama ini.

Jika di sini Ares menolak, sudah jelas Thanatos akan mengarang berbagai alasan untuk menyingkirkan Ares sementara dari posisinya, lalu mengambil alih pengelolaan Lemuria di bawah Pasukan Surga.

Jika itu terjadi, Lemuria yang dicintainya akan dihancurkan oleh Thanatos-sama. Persis seperti kepahitan yang dirasakan oleh para Dewa Pengelola lainnya.

"Aku mengerti. Akan kusiapkan."

Melihat ketenangan Kolonel Teruteru, sepertinya rencana untuk menyingkirkan Ares sudah matang meskipun ia menolak.

Kalau begitu, membiarkannya pergi ke Lemuria dengan patuh masih sedikit lebih baik, setidaknya hak campur tangan Ares di masa depan tidak akan ditolak sepenuhnya.

"Berikan padaku secepatnya, ya. Mengulur waktu itu percuma loh."

"Aku mengerti."

Ares menggigit bibir bawahnya dan mengangguk terpaksa.

"Nah, kalau begitu, sampai jumpaaa."

Sambil mengangkat tangan kanannya, Kolonel Teruteru menghilang dari Ruang Gaoting dalam sekejap.

"Ramiel, segera buatkan paspor Lemuria untuk Kolonel!"

"B-baik!"

Dengan wajah tegang, Ramiel segera bergegas keluar dari Ruang Gaoting.

"Silket, awasi pergerakan Kolonel Teruteru selama di Lemuria. Tentu saja, lakukan sebatas yang kau bisa."

Silket adalah ajudan yang sangat penting bagi Ares. Sekalipun pengawasannya terbongkar, mereka tidak akan berani melukainya.

"Sesuai perintah Anda."

Silket meletakkan tangan kanan di dadanya, menunduk hormat, lalu beranjak keluar dari ruangan.

Jika mereka berniat mengacak-acak Lemuria sesuka hati, Ares akan melaporkan fakta itu pada kakeknya dan memohon agar tindakan tersebut segera dihentikan.

Tentu saja, menentang kehendak Pasukan Surga berarti Ares juga tidak akan lolos begitu saja. Namun, itu jauh lebih baik daripada membiarkan dunia yang dicintainya hancur.

"Aku pasti akan melindunginya."

Ares mengepalkan tangan kanannya dengan kuat, bersumpah teguh di dalam hatinya.

◇◆◇

Di sebuah ruangan di Dunia Langit. Ruangan itu tertata dengan elegan dan rapi.

Di tengah ruangan tersebut, di atas sebuah sofa, duduklah seorang pria bertubuh besar. Ia mengenakan setelan jas hitam, dengan jambang panjang dan janggut yang melingkar. Pria itu tengah membaca sebuah dokumen di tangannya.

"Thanatos-sama, saya datang untuk melapor."

Seorang pria berkacamata dengan rambut hitam pendek berbelah samping menunduk hormat kepada pria berjambang itu, Thanatos.

"Bagaimana hasilnya?"

Thanatos bertanya tanpa menolehkan pandangannya sedikit pun.

"Kolonel Teruteru telah turun ke Lemuria. Rencana berjalan lancar sesuai perkiraan."

Pria berkacamata dengan rambut belah samping itu memberikan jawabannya.

Thanatos ini merupakan salah satu dari Empat Jenderal Pasukan Surga yang konon memiliki kekuatan tepat di bawah Enam Dewa Langit.

Ia adalah dewa yang menguasai kematian, sekaligus bawahan langsung Tartarus, eksistensi dengan kekuatan tempur tertinggi dan paling misterius di antara Enam Dewa Langit.

Sedangkan pria berambut hitam belah samping yang menjadi ajudannya itu adalah Lethe, salah satu dari Tiga Dewa Petarung Thanatos dengan pangkat Mayor Jenderal Pasukan Surga.

"..."

"Ada apa? Kau punya sesuatu yang ingin disampaikan?"

Melihat Lethe yang terdiam, Thanatos akhirnya mengalihkan pandangan dari dokumennya dan bertanya dengan nada datar tanpa emosi.

"Meskipun dia adalah keponakan Deus-sama, apakah kita dari Pasukan Surga benar-benar perlu ikut campur dalam urusan dunia yang dikelola oleh Dewa Kelas Atas?"

"Utusan Dewa berlatar belakang terhormat dari Dewa Kelas Atas dihabisi oleh dewa lokal rendahan di dunia bawah, itu adalah sebuah aib yang tidak boleh dibiarkan. Aib itu harus segera ditebus, bukan begitu?"

"Itu tidak terdengar seperti ucapan Thanatos-sama yang biasanya lebih mementingkan hasil daripada nama baik."

Mendengar teguran Lethe yang blak-blakan, Thanatos mengendurkan sedikit senyumnya untuk pertama kalinya.

"Ini adalah permintaan dari kakak Ares-sama. Skandal di dunia yang dikelolanya akan berdampak buruk pada masa depan Ares-sama, karena itulah aku diminta untuk menyelesaikannya secara rahasia."

Thanatos memberikan penjelasan panjang lebar, sangat tidak mencerminkan dirinya yang biasa.

"Sekilas alasan itu memang masuk akal, tapi terasa janggal."

Lethe menyangkalnya sambil tersenyum kecut.

"Tentu saja itu cuma sekadar alasan manis. Ada alasan yang lebih mutlak di balik ini."

"Jangan-jangan alasan mutlak itu adalah..."

Mulut Lethe yang baru saja hendak mengatakan sesuatu tiba-tiba menghilang sepenuhnya tanpa sisa.

"Ngh?!"

Lethe menutupi bagian wajah yang sebelumnya adalah mulutnya sambil mengerang tertahan.

Namun, ia segera berlutut di hadapan sosok yang baru saja bermanifestasi di depan mereka. Thanatos juga langsung berdiri dari tempat duduknya dan berlutut dengan satu kaki.

"Tartarus-sama, Anda datang rupanya."

Di hadapan Thanatos dan Lethe, berdiri seorang bocah laki-laki berpakaian putih bersih dengan jubah hitam yang melingkupi pundaknya.

Bocah itu mengenakan topi militer hitam, dengan bibir yang menyeringai melengkung ke atas membentuk bulan sabit secara tidak wajar.

Kedua matanya yang menatap Thanatos dan Lethe tampak berputar-putar dengan aura yang mengerikan.

Para perwira Pasukan Surga yang sebelumnya hanya berdiri terpaku di dalam ruangan pun segera berlutut bersujud kepada sosok yang merupakan objek loyalitas mutlak mereka.

"Lethe, cecunguk bawahan seperti kalian tidak perlu repot-repot memikirkan hal yang tidak berguna. Benar begitu, kan, Thanatos?"

Mendengar suara serak layaknya pria tua yang sangat kontras dengan penampilan bocah itu, tekanan auranya saja sudah cukup untuk membuat Lethe menempelkan dagunya ke dada dan menundukkan pandangannya sepenuhnya ke lantai. Wajahnya memucat, kehilangan darah seketika.

"Sesuai kehendak Anda. Kami telah memproses semuanya mengikuti instruksi Anda."

"Baguslah, kerja bagus. Omong-omong, ada dua alasan mengapa aku datang kemari. Yang pertama adalah untuk menghemat usahamu."

"Menghemat usaha saya... maksud Anda?"

Sudut bibir Tartarus tertarik ke atas hingga nyaris merobek telinganya.

Ia lalu membuka kepalan tangan kanannya, memperlihatkan banyak bola berwarna hitam pekat di atas telapak tangannya.

"Apa itu?"

Merasakan nada suara Thanatos yang sedikit menurun, Lethe yang berada di sebelahnya menelan ludah dengan susah payah.

"Tentu saja untuk membuang para sampah yang tidak berguna."

"Mohon maaf sebelumnya, tetapi tidak ada satupun bawahan saya yang tidak berguna!"

Suara tegas dari Thanatos yang biasanya bersikap tenang itu memicu sedikit riak kepanikan di antara para bawahannya di seluruh penjuru ruangan.

Tartarus melangkah mendekati Thanatos dan menatapnya ke bawah, seakan sedang melihat seekor serangga.

"Oh? Orang-orang yang lelet dalam menundukkan sekumpulan serangga kampung bernama Gomura itu tidak kau sebut tidak berguna?"

"Gomura masih memiliki peluang untuk negosiasi--"

"Kau salah. Salah besar, Thanatos. Itu salah. Sampah berengsek seperti mereka tidak butuh negosiasi."

"Kita ini adalah Langit, para eksekutor keadilan mutlak. Menentang Langit sama dengan kejahatan. Dan kejahatan itu harus dibasmi sampai ke akarnya. Bukankah begitu?"

"Tartarus-sama, saya mohon berikan saya sedikit waktu lagi! Gomura itu--"

Kata-kata permohonan Thanatos seketika terpotong saat Tartarus menginjak belakang kepalanya dengan kasar.

"Bodoh, permainannya sudah tamat."

Tartarus meremukkan bola-bola hitam di telapak tangannya.

Dalam sekejap mata, para perwira Pasukan Surga selain Thanatos dan Lethe jatuh terkapar dengan mata terbelalak putih, layaknya boneka yang benangnya diputus.

"Ngggh!"

Tartarus sama sekali tidak mempedulikan Lethe yang berusaha keras menjerit dengan mulutnya yang hilang.

Ia menunduk menatap Thanatos yang diinjaknya dengan kedua mata mengerikan itu.

"Bagi diriku ini, nyawa kalian maupun nyawa serangga-serangga perbatasan itu sama saja seperti permen murahan. Jika aku menekan sedikit saja, mereka akan langsung hancur."

Tartarus mendeklarasikannya dengan nada ceria yang meluap oleh kegilaan.

"Jangan-jangan, Wilayah Suci Gomura...?"

"Ah, sekarang ini mereka pasti sedang bergandengan tangan memulai perjalanan menuju Alam Baka."

"..."

Thanatos menggertakkan gigi gerahamnya sekuat tenaga meski bagian belakang kepalanya terus diinjak.

"Ada apa? Kau tidak suka dengan perbuatanku? Itu yang mau kau katakan?"

"Tidak sama sekali."

Seperti biasa, Thanatos menjawab pertanyaan tuannya tanpa sedikit pun emosi.

"Kalau begitu, ayo masuk ke inti masalahnya. Kau sudah menyiapkan 'itu' sesuai instruksiku, kan?"

"Benar. Bawahan yang turun ke dunia Lemuria telah ditanamkan Core milik Anda. Kami akan mengaktifkan sihir inkarnasinya begitu waktunya tiba."

"Begitu, ya. Kerja bagus. Thanatos, pastikan kali ini kau tidak gagal. Tidak ada kesempatan berikutnya buatmu."

Tartarus menghilang layaknya asap setelah meninggalkan kata-kata itu. Di saat yang sama, mulut Lethe kembali seperti semula.

"Kalian!"

Lethe berlari menghampiri mayat para perwira bawahannya. Ia memeluk mereka satu per satu dan mulai menangis sesenggukan layaknya seorang pria.

"Tinggal sedikit lagi. Sedikit lagi..."

Gumam Thanatos, seolah sedang meyakinkan dirinya sendiri sambil memandang kosong tanpa ekspresi.



Illustrasi | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close