Prolog
Sambil
berbaring telentang di atas sofa di sebuah ruangan yang luas.
"Kau
bilang sebagian besar rencana telah selesai, tapi kita tidak bisa menghubungi
Mara yang paling penting?"
Jenderal
Besar Lopt bertanya balik kepada Panpi, salah satu bawahan Mara-sama yang baru
saja memberikan laporan. Ekspresi dan gerak-geriknya masih sama seperti Lopt
yang selalu bersenda gurau.
Namun,
nada bicara dan aura yang dipancarkannya berubah menjadi sesuatu yang sangat
berbahaya, hingga sanggup membuat bulu kuduk Panpi berdiri. Lopt mungkin sedang
menaruh curiga.
Ia curiga
bahwa Panpi telah menentang kehendak Mara-sama dan sengaja memutus komunikasi
tersebut.
"Aku
sudah mencoba menghubungi bawahanku yang berada di Dunia Bawah berkali-kali,
tapi tidak ada satu pun balasan yang kembali."
Panpi
menjawab sambil mengangguk pelan. Itu adalah fakta yang tidak dibuat-buat.
Alasan Panpi
menuruti perintah ini adalah demi melindungi nyawa para bawahannya. Lagi pula,
jika mereka tidak bisa memanggil Mara-sama ke dunia ini sebelum batas waktu,
mereka semua akan dibantai.
Ia juga telah
memerintahkan bawahannya untuk melakukan penyelidikan dengan metode yang lebih
langsung dan spesifik. Bahkan setelah mewujud di dunia ini, mereka masih sering
bertukar kabar.
Namun, sejak
suatu waktu, semua bentuk komunikasi terputus total begitu saja.
"Yah, memang
tidak ada alasan bagimu untuk berbohong. Itu pasti kebenarannya... Lalu, apa kau punya
dugaan?"
Jenderal
Lopt mengangguk kecil beberapa kali lalu menanyakan hal yang sudah sewajarnya.
Panpi lantas menggelengkan kepalanya.
"Tidak
sama sekali. Jika dalam masalah ini aku mengusik kemurkaan tuanku, tidak
mungkin aku masih bisa baik-baik saja seperti sekarang."
Panpi
menegaskannya dengan penuh keyakinan. Benar sekali, saat ini Mara-sama tidak
menaruh sedikit pun kepercayaan padanya.
Tubuh Panpi dan
para bawahan lainnya telah ditanamkan segel kutukan kematian. Segel itu
dirancang agar bisa aktif hanya melalui kehendak Mara-sama.
Dengan tabiat Mara-sama
yang sekarang, jika beliau merasa sedikit saja tidak senang dengan pergerakan
Panpi, beliau pasti sudah langsung mengaktifkan kutukan kematian itu.
Mengabaikannya sama sekali tidak mungkin terjadi.
"Itu masuk
akal juga. Satu-satunya entitas yang bisa menyegel total pergerakan Mara
hanyalah Panglima Tertinggi."
"Fakta bahwa
beliau benar-benar turun tangan adalah insiden tak terduga, tapi sudah jelas
ini adalah kehendaknya. Tinggal mencari tahu alasan kenapa beliau mencegah
pewujudan Mara ke dunia ini..."
Jenderal
Lopt memijat pangkal hidungnya dengan tangan kanan sambil berpikir keras.
"Yah,
sudahlah. Walau sangat berbeda dari rencana awal, kalau Mara tidak bisa
diandalkan, kita gunakan saja penggantinya. Panpi, kau masih mau terus bekerja sama denganku,
kan?"
Lopt menekankan
hal itu dengan nada santai. Memang ada kemungkinan rekan-rekannya habis
dibantai akibat pelampiasan amarah Mara-sama.
Namun jika
begitu, Panpi yang memimpin langsung rencana pewujudan Mara-sama kali ini
seharusnya menjadi orang pertama yang mati dikutuk. Akan tetapi, sekarang Panpi
masih hidup tanpa luka sedikit pun.
Ini menandakan
bahwa sebelum ada instruksi dari Panglima Tertinggi pun, Mara-sama sudah
membatalkan pewujudannya ke dunia ini atas kehendaknya sendiri. Jika begitu--
"Sesuai
keinginan Anda, Yang Mulia Jenderal Besar Lopt."
Panpi
menundukkan kepalanya dalam-dalam dan mengucapkan persetujuan.
Melalui
kejadian kali ini, nyawa Panpi dan yang lainnya berhasil terselamatkan dari
ujung tanduk. Dengan begini, Panpi bisa bergerak demi tujuan aslinya.
Tujuan
itu adalah menyelamatkan Girimehkala-sama yang disegel di dalam Dungeon
terburuk, God's Ordeal.
Panpi merasakan
kejanggalan yang kuat dari percakapan antara Hajun-sama dan Jenderal Lopt
sebelumnya.
Ia lalu
memerintahkan bawahannya untuk menyelidiki pergerakan Hajun-sama belakangan
ini.
Hasilnya,
terungkap bahwa Hajun-sama sedang mencari lokasi Gate menuju God's
Ordeal.
Secara resmi, Girimehkala-sama
dinyatakan telah binasa akibat pertarungan melawan Pasukan Surga.
Namun, di saat
yang sama, rumor bahwa Girimehkala-sama disegel di Dungeon terburuk itu juga
santer terdengar di dalam Pasukan Iblis.
Jika diingat
kembali, Mara-sama menjadi begitu kejam justru setelah Girimehkala-sama
menghilang.
Hanya Girimehkala-sama
yang selalu berani memperingatkan jika Mara-sama mengambil pilihan yang salah.
Meskipun Mara-sama
akan murka, pada akhirnya beliau akan mengakui kesalahannya dan mengalah.
Bisa dipastikan
bahwa jika Girimehkala-sama ada di sini, Mara-sama tidak akan pernah membunuh
bawahannya sendiri.
Fakta bahwa Hajun-sama
masih menghilang hingga kini pun akan masuk akal, jika dipahami bahwa ia sedang
mencari Gate Dungeon itu di dunia ini demi merebut kembali keseharian
mereka di masa lalu.
"Omong-omong,
apa Hajun masih belum ditemukan?"
Detak jantung
Panpi berdegup kencang mendengar pertanyaan yang seolah mengintip isi kepalanya
itu.
"Belum, kami
masih belum menemukannya."
Ia berusaha keras
bersikap tenang saat menjawab.
"Hmm.
Jangan-jangan, absennya Hajun juga ada hubungannya dengan insiden Mara kali
ini? Kalau begitu, apa Dungeon sialan itu ikut terlibat? Tidak, mana mungkin!
Lagipula, Gate itu..."
Jenderal Lopt
menggumamkan sesuatu, lalu menggelengkan kepalanya kuat-kuat.
"Yah,
sudahlah. Panpi, aku ingin kau bergerak sesuai instruksiku sekarang juga."
Dengan ekspresi
serius yang jarang ditunjukkannya, Jenderal Lopt mulai memaparkan seluruh
rencana pewujudan Jenderal Pasukan Iblis.
◇◆◇
-- Dunia Langit,
Istana Ares, Ruang Gaoting
Di Ruang Gaoting
yang merupakan ruang kerja Istana Ares, seorang gadis berkulit pucat dengan
rambut perak ikal sedang menerima laporan dari beberapa Utusan Dewa. Gadis itu
adalah penguasa Istana Ares ini, sekaligus Dewa Pengelola dunia lain Lemuria,
yaitu Ares.
"Kau bilang
tidak ada laporan sama sekali dari kelompok Colin?"
"Benar.
Segala bentuk komunikasi telah terputus."
Mendengar nada
bicara tuannya yang penuh aura menakutkan, berbanding terbalik dengan sikapnya
yang biasa tenang dan lembut, sang Utusan Dewa menelan ludah dan langsung
menjawab.
"Segala
bentuk komunikasi... terputus, ya..."
Colin adalah
Utusan Dewa Tingkat Atas yang ditugaskan di Lemuria, dunia yang dikelola oleh
Ares. Bagi Dewa Pengelola seperti Ares, makhluk yang hidup di Lemuria adalah
entitas yang harus dilindungi, meskipun ada perbedaan tingkatan.
Terlebih lagi, di
Lemuria terdapat Raja Kebusukan, Dewa Jahat setingkat Dewa Kelas Atas. Tidak,
bukan hanya Raja Kebusukan.
Dewa Naga Marak
dan Dewa Api Surtr juga disegel di tanah Lemuria. Masing-masing dari mereka
memiliki kekuatan setingkat Dewa Kelas Atas dan menaruh dendam mendalam kepada
Ares yang menyegelnya.
Jika mereka
sampai terbebas, mereka pasti akan mengacaukan Lemuria hanya demi membalas
dendam kepada Ares.
Karena itulah,
manajemen Lemuria sangat diperlukan agar segel tersebut tidak pernah terlepas.
Ares pun menugaskan para Utusan Dewa kepercayaannya untuk mempertahankan sistem
penyegelan tersebut secara terorganisir.
"Kemungkinan
besar, Colin bertindak gegabah dan dihancurkan oleh kekuatan dewa lokal di
sana. Belakangan ini tindakannya memang sudah kelewatan."
Mendengar
pendapat Silket, Utusan Dewa sekaligus ajudan yang paling dipercayainya.
"Apakah
separah itu?"
Ares bertanya
sambil mengerutkan alisnya.
"Benar.
Tampaknya ia menyebarkan ajaran yang membenarkan diskriminasi kejam. Ia hanya
melindungi ras yang bisa membangkitkan Gift secara paksa sebagai ras
yang pantas menerima kasih sayang Anda, sedangkan ras lain dianggap sebagai ras
rendahan."
"Betapa
bodohnya..."
Karunia Gift
adalah sebutan untuk kemampuan yang berakar pada jiwa. Itu adalah hal paling
mendasar yang ada pada segala sesuatu di dunia ini, tertanam di dalam inti
seseorang, dan biasanya tidak akan muncul ke permukaan hingga akhir hayat.
Perlindungan suci
yang dimiliki Ares mampu membangkitkan karunia Gift tersebut secara
paksa.
Namun,
kebangkitan paksa ini memiliki tingkat kecocokan; ras manusia adalah yang
paling kuat, sementara ras dengan karakteristik yang condong pada elemen Yin
akan semakin lemah. Sebenarnya hanya sebatas itu saja.
"Tapi, mudah
tidaknya membangkitkan karunia Gift itu bergantung pada ada tidaknya
unsur Yin, kan? Kenapa kita tidak boleh membedakan mereka berdasarkan
perlindungan Anda, Ares-sama?"
Ramiel, salah
satu ajudan Ares, melontarkan omong kosong itu dengan wajah tanpa dosa.
"Ramiel, kau
serius mengatakan hal itu?"
Ucapan yang
begitu tak tahu malu itu membuat nada suara Ares tanpa sadar dipenuhi amarah.
"Eh, eh?
Habisnya, makhluk berunsur Yin itu kan vulgar dan kotor. Karena itulah Anda
selama ini selalu mendukung penuh kelompok manusia yang mendekati unsur Yang,
bukan?"
Melihat kemarahan
Ares yang sangat jarang terjadi, Ramiel menjadi panik dan mempertanyakan hal
yang sama sekali di luar dugaan.
"Kau salah
besar. Aku melindungi organisasi ras manusia semata-mata karena ingin
mempertahankan segel ketiga dewa itu!"
Pada saat
penyegelan, wilayah segel ketiga dewa tersebut berada di dalam jangkauan
kekuasaan ras manusia. Ada urgensi di mana segel itu paling pas jika dikelola
secara terpusat oleh organisasi manusia seperti Gereja Pusat.
Oleh karena itu,
Ares selalu memberikan instruksi agar manajemen segel dilakukan melalui ras
manusia, di antara semua spesies humanoid yang ada. Mungkin, di situlah awal
mula kesalahpahaman ini terjadi.
Jika ajudan
terdekatnya seperti Ramiel saja bisa salah paham sejauh ini, maka wajar saja
jika Colin dan kelompoknya yang hanya mengetahui urusan segel Raja Kebusukan
bertindak melampaui batas.
"Kurasa cara
campur tanganku terhadap Lemuria memang bermasalah..."
Intervensi Dewa
terhadap dunia yang dikelolanya harus dibatasi pada tingkat minimum. Ares
selalu mematuhi kata-kata kakek yang dihormatinya itu dengan setia.
Ia memerintahkan
para Utusan Dewa untuk melapor hanya jika terjadi situasi yang tidak bisa
diatasi oleh penghuni Lemuria sendiri, dan sebisa mungkin ia menghindari untuk
ikut campur.
Dengan sifat
Ares, jika ia mengetahui penderitaan sebenarnya dari dunia yang dikelolanya, ia
pasti akan merasa terpanggil untuk turun tangan.
Akibat dari
pengabaian yang nyaris seperti pelarian dari kenyataan itu, bawahannya
bertindak sesuka hati, dan dunia yang dikelolanya menjadi melenceng dengan
sangat tidak adil.
"Ares-sama,
menyesal sekarang pun tidak ada gunanya. Yang terpenting sekarang adalah
bagaimana kita menyikapi masalah Colin."
Utusan Dewa
Silket, yang sepertinya satu-satunya yang memahami pergolakan batin Ares saat
ini, mencoba memastikan langkah mereka selanjutnya secara tersirat.
"Kau...
benar. Apa lawannya memang dewa lokal?"
"Kemungkinan
besar begitu. Saat kami menginterogasi mantan bawahan Colin terkait hilangnya
kelompok mereka, terungkap bahwa mereka diam-diam melakukan tindakan kejam yang
memicu dendam dari banyak pihak."
"Tindakan
kejam seperti apa?"
Silket menutup
matanya dan menggelengkan kepalanya pelan.
"Lebih baik
Anda tidak mengetahuinya."
Silket langsung
terdiam. Dari pengalaman, Silket yang sudah bersikap begini akan menjadi sangat
keras kepala. Ia sama sekali tidak akan memberitahukan hal itu pada Ares.
Mantan bawahan
Colin itu pun pasti sudah dieksekusi, sehingga mustahil bagi Ares untuk
menggali informasi lebih lanjut.
"Silket,
menurutmu apa yang harus kita lakukan dalam masalah ini?"
"Sembilan
puluh persen kemungkinan lawan kita adalah dewa. Menurut saya, kita harus
menempuh jalur yang semestinya."
"Kau benar.
Kalau begitu, jika pihak kita memang bersalah, aku sendiri yang akan menemui
dewa itu. Silket, bentuklah tim investigasi yang dipimpin olehmu dan kumpulkan
informasi lebih lanjut mengenai insiden ini."
Tepat ketika Ares
memberikan instruksi tersebut--
"Itu tidak
perluuu!"
Seorang pria
botak yang mengenakan topi dan dasi kupu-kupu berbentuk aneh tiba-tiba
menampakkan diri, lalu menggoyangkan telunjuk kirinya ke kiri dan kanan.
"Ko-Kolonel
Teruteru!"
Silket dan Ramiel
segera berlutut dan menundukkan kepala mereka dalam-dalam. Ares juga ikut
memperbaiki postur tubuhnya.
"Lama tidak
berjumpa."
Ares menunduk
hormat dengan pelan.
"Ya, ya,
lama tidak berjumpa juga, Ares-chan!"
Pria itu
mengedipkan sebelah mata dan melambaikan tangan kanannya dengan heboh.
Dia adalah salah
satu bawahan Thanatos-sama, yang merupakan salah satu dari Empat Jenderal
Pasukan Surga yang konon memiliki kekuatan tepat di bawah Enam Dewa Langit.
Ares pernah menemuinya beberapa kali melalui kakeknya, Deus, yang juga salah
satu Enam Dewa Langit.
"Ada
keperluan apa Anda datang kemari?"
Jujur saja, Ares
sama sekali tidak menyukai Thanatos-sama yang merupakan atasan dari sosok di
depannya ini. Mungkin karena itulah nada bicaranya tanpa sadar menjadi sangat
kaku.
"Santai,
santai, jangan terlalu waspada begitu. Ini bukan berita buruk buatmu, kok."
Bohong
besar! Selama Thanatos-sama yang bereputasi buruk itu ikut campur, sudah pasti
hal ini bukanlah sesuatu yang menguntungkan bagi Lemuria.
"Bolehkah
saya menanyakan keperluan Anda?"
"Kamu
ini tidak sabaran banget, ya. Ya sudah, kalau begitu aku langsung saja...
Ehem!"
Kolonel
Teruteru mengangkat bahunya dan berdeham keras. Dengan pose aneh, ia menunjuk
Ares menggunakan telunjuknya.
"Serahkan
paspor menuju Lemuria kepadaku, ya."
Ia memintanya
secara sepihak.
"Bolehkah
saya mendengar alasan Anda mengunjungi dunia yang saya kelola?"
"Itu--ra-ha-si-a."
Kolonel
Teruteru mencondongkan tubuhnya ke depan dan mengayunkan telunjuknya beberapa
kali di depan wajahnya.
"Bagaimana
jika aku menolak?"
"Boleh saja
kamu menolak, tapi menurutku hasilnya akan sama. Toh, ini cuma masalah waktu, cepat atau
lambat."
Sial! Ares sudah
muak melihat cara main paksa Thanatos-sama selama ini.
Jika di sini Ares
menolak, sudah jelas Thanatos akan mengarang berbagai alasan untuk
menyingkirkan Ares sementara dari posisinya, lalu mengambil alih pengelolaan
Lemuria di bawah Pasukan Surga.
Jika itu terjadi,
Lemuria yang dicintainya akan dihancurkan oleh Thanatos-sama. Persis seperti
kepahitan yang dirasakan oleh para Dewa Pengelola lainnya.
"Aku
mengerti. Akan kusiapkan."
Melihat
ketenangan Kolonel Teruteru, sepertinya rencana untuk menyingkirkan Ares sudah
matang meskipun ia menolak.
Kalau begitu,
membiarkannya pergi ke Lemuria dengan patuh masih sedikit lebih baik,
setidaknya hak campur tangan Ares di masa depan tidak akan ditolak sepenuhnya.
"Berikan
padaku secepatnya, ya. Mengulur waktu itu percuma loh."
"Aku
mengerti."
Ares
menggigit bibir bawahnya dan mengangguk terpaksa.
"Nah, kalau
begitu, sampai jumpaaa."
Sambil
mengangkat tangan kanannya, Kolonel Teruteru menghilang dari Ruang Gaoting
dalam sekejap.
"Ramiel,
segera buatkan paspor Lemuria untuk Kolonel!"
"B-baik!"
Dengan wajah
tegang, Ramiel segera bergegas keluar dari Ruang Gaoting.
"Silket,
awasi pergerakan Kolonel Teruteru selama di Lemuria. Tentu saja, lakukan
sebatas yang kau bisa."
Silket
adalah ajudan yang sangat penting bagi Ares. Sekalipun pengawasannya
terbongkar, mereka tidak akan berani melukainya.
"Sesuai
perintah Anda."
Silket
meletakkan tangan kanan di dadanya, menunduk hormat, lalu beranjak keluar dari
ruangan.
Jika
mereka berniat mengacak-acak Lemuria sesuka hati, Ares akan melaporkan fakta
itu pada kakeknya dan memohon agar tindakan tersebut segera dihentikan.
Tentu
saja, menentang kehendak Pasukan Surga berarti Ares juga tidak akan lolos
begitu saja. Namun, itu jauh lebih baik daripada membiarkan dunia yang
dicintainya hancur.
"Aku
pasti akan melindunginya."
Ares
mengepalkan tangan kanannya dengan kuat, bersumpah teguh di dalam hatinya.
◇◆◇
Di sebuah
ruangan di Dunia Langit. Ruangan itu tertata dengan elegan dan rapi.
Di tengah
ruangan tersebut, di atas sebuah sofa, duduklah seorang pria bertubuh besar. Ia
mengenakan setelan jas hitam, dengan jambang panjang dan janggut yang
melingkar. Pria itu tengah membaca sebuah dokumen di tangannya.
"Thanatos-sama,
saya datang untuk melapor."
Seorang
pria berkacamata dengan rambut hitam pendek berbelah samping menunduk hormat
kepada pria berjambang itu, Thanatos.
"Bagaimana
hasilnya?"
Thanatos bertanya
tanpa menolehkan pandangannya sedikit pun.
"Kolonel
Teruteru telah turun ke Lemuria. Rencana berjalan lancar sesuai
perkiraan."
Pria berkacamata
dengan rambut belah samping itu memberikan jawabannya.
Thanatos ini
merupakan salah satu dari Empat Jenderal Pasukan Surga yang konon memiliki
kekuatan tepat di bawah Enam Dewa Langit.
Ia adalah dewa
yang menguasai kematian, sekaligus bawahan langsung Tartarus, eksistensi dengan
kekuatan tempur tertinggi dan paling misterius di antara Enam Dewa Langit.
Sedangkan pria
berambut hitam belah samping yang menjadi ajudannya itu adalah Lethe, salah
satu dari Tiga Dewa Petarung Thanatos dengan pangkat Mayor Jenderal Pasukan
Surga.
"..."
"Ada apa?
Kau punya sesuatu yang ingin disampaikan?"
Melihat Lethe
yang terdiam, Thanatos akhirnya mengalihkan pandangan dari dokumennya dan
bertanya dengan nada datar tanpa emosi.
"Meskipun
dia adalah keponakan Deus-sama, apakah kita dari Pasukan Surga benar-benar
perlu ikut campur dalam urusan dunia yang dikelola oleh Dewa Kelas Atas?"
"Utusan Dewa
berlatar belakang terhormat dari Dewa Kelas Atas dihabisi oleh dewa lokal
rendahan di dunia bawah, itu adalah sebuah aib yang tidak boleh dibiarkan. Aib
itu harus segera ditebus, bukan begitu?"
"Itu tidak
terdengar seperti ucapan Thanatos-sama yang biasanya lebih mementingkan hasil
daripada nama baik."
Mendengar teguran
Lethe yang blak-blakan, Thanatos mengendurkan sedikit senyumnya untuk pertama
kalinya.
"Ini adalah
permintaan dari kakak Ares-sama. Skandal di dunia yang dikelolanya akan
berdampak buruk pada masa depan Ares-sama, karena itulah aku diminta untuk
menyelesaikannya secara rahasia."
Thanatos
memberikan penjelasan panjang lebar, sangat tidak mencerminkan dirinya yang
biasa.
"Sekilas
alasan itu memang masuk akal, tapi terasa janggal."
Lethe
menyangkalnya sambil tersenyum kecut.
"Tentu saja
itu cuma sekadar alasan manis. Ada alasan yang lebih mutlak di balik ini."
"Jangan-jangan
alasan mutlak itu adalah..."
Mulut Lethe yang
baru saja hendak mengatakan sesuatu tiba-tiba menghilang sepenuhnya tanpa sisa.
"Ngh?!"
Lethe menutupi
bagian wajah yang sebelumnya adalah mulutnya sambil mengerang tertahan.
Namun, ia segera
berlutut di hadapan sosok yang baru saja bermanifestasi di depan mereka.
Thanatos juga langsung berdiri dari tempat duduknya dan berlutut dengan satu
kaki.
"Tartarus-sama,
Anda datang rupanya."
Di hadapan
Thanatos dan Lethe, berdiri seorang bocah laki-laki berpakaian putih bersih
dengan jubah hitam yang melingkupi pundaknya.
Bocah itu
mengenakan topi militer hitam, dengan bibir yang menyeringai melengkung ke atas
membentuk bulan sabit secara tidak wajar.
Kedua matanya
yang menatap Thanatos dan Lethe tampak berputar-putar dengan aura yang
mengerikan.
Para perwira
Pasukan Surga yang sebelumnya hanya berdiri terpaku di dalam ruangan pun segera
berlutut bersujud kepada sosok yang merupakan objek loyalitas mutlak mereka.
"Lethe,
cecunguk bawahan seperti kalian tidak perlu repot-repot memikirkan hal yang
tidak berguna. Benar begitu, kan, Thanatos?"
Mendengar suara
serak layaknya pria tua yang sangat kontras dengan penampilan bocah itu,
tekanan auranya saja sudah cukup untuk membuat Lethe menempelkan dagunya ke
dada dan menundukkan pandangannya sepenuhnya ke lantai. Wajahnya memucat,
kehilangan darah seketika.
"Sesuai
kehendak Anda. Kami telah memproses semuanya mengikuti instruksi Anda."
"Baguslah,
kerja bagus. Omong-omong, ada dua alasan mengapa aku datang kemari. Yang
pertama adalah untuk menghemat usahamu."
"Menghemat
usaha saya... maksud Anda?"
Sudut bibir
Tartarus tertarik ke atas hingga nyaris merobek telinganya.
Ia lalu membuka
kepalan tangan kanannya, memperlihatkan banyak bola berwarna hitam pekat di
atas telapak tangannya.
"Apa
itu?"
Merasakan nada
suara Thanatos yang sedikit menurun, Lethe yang berada di sebelahnya menelan
ludah dengan susah payah.
"Tentu
saja untuk membuang para sampah yang tidak berguna."
"Mohon
maaf sebelumnya, tetapi tidak ada satupun bawahan saya yang tidak
berguna!"
Suara
tegas dari Thanatos yang biasanya bersikap tenang itu memicu sedikit riak
kepanikan di antara para bawahannya di seluruh penjuru ruangan.
Tartarus
melangkah mendekati Thanatos dan menatapnya ke bawah, seakan sedang melihat
seekor serangga.
"Oh?
Orang-orang yang lelet dalam menundukkan sekumpulan serangga kampung bernama
Gomura itu tidak kau sebut tidak berguna?"
"Gomura
masih memiliki peluang untuk negosiasi--"
"Kau salah.
Salah besar, Thanatos. Itu salah. Sampah berengsek seperti mereka tidak butuh
negosiasi."
"Kita ini
adalah Langit, para eksekutor keadilan mutlak. Menentang Langit sama dengan
kejahatan. Dan kejahatan itu harus dibasmi sampai ke akarnya. Bukankah
begitu?"
"Tartarus-sama,
saya mohon berikan saya sedikit waktu lagi! Gomura itu--"
Kata-kata
permohonan Thanatos seketika terpotong saat Tartarus menginjak belakang
kepalanya dengan kasar.
"Bodoh,
permainannya sudah tamat."
Tartarus
meremukkan bola-bola hitam di telapak tangannya.
Dalam sekejap
mata, para perwira Pasukan Surga selain Thanatos dan Lethe jatuh terkapar
dengan mata terbelalak putih, layaknya boneka yang benangnya diputus.
"Ngggh!"
Tartarus sama
sekali tidak mempedulikan Lethe yang berusaha keras menjerit dengan mulutnya
yang hilang.
Ia menunduk
menatap Thanatos yang diinjaknya dengan kedua mata mengerikan itu.
"Bagi diriku
ini, nyawa kalian maupun nyawa serangga-serangga perbatasan itu sama saja
seperti permen murahan. Jika aku menekan sedikit saja, mereka akan langsung
hancur."
Tartarus
mendeklarasikannya dengan nada ceria yang meluap oleh kegilaan.
"Jangan-jangan,
Wilayah Suci Gomura...?"
"Ah,
sekarang ini mereka pasti sedang bergandengan tangan memulai perjalanan menuju
Alam Baka."
"..."
Thanatos
menggertakkan gigi gerahamnya sekuat tenaga meski bagian belakang kepalanya
terus diinjak.
"Ada apa?
Kau tidak suka dengan perbuatanku? Itu yang mau kau katakan?"
"Tidak sama
sekali."
Seperti biasa,
Thanatos menjawab pertanyaan tuannya tanpa sedikit pun emosi.
"Kalau
begitu, ayo masuk ke inti masalahnya. Kau sudah menyiapkan 'itu' sesuai
instruksiku, kan?"
"Benar.
Bawahan yang turun ke dunia Lemuria telah ditanamkan Core milik Anda.
Kami akan mengaktifkan sihir inkarnasinya begitu waktunya tiba."
"Begitu, ya.
Kerja bagus. Thanatos, pastikan kali ini kau tidak gagal. Tidak ada kesempatan
berikutnya buatmu."
Tartarus
menghilang layaknya asap setelah meninggalkan kata-kata itu. Di saat yang sama,
mulut Lethe kembali seperti semula.
"Kalian!"
Lethe berlari
menghampiri mayat para perwira bawahannya. Ia memeluk mereka satu per satu dan
mulai menangis sesenggukan layaknya seorang pria.
"Tinggal
sedikit lagi. Sedikit lagi..."
Gumam Thanatos, seolah sedang meyakinkan dirinya sendiri sambil memandang kosong tanpa ekspresi.



Post a Comment