NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Saijaku Hakugai Made Sareta Kedo - Chou Nankan Meikyuu de 10 Mannen Shuugyoushita Kekka Volume 3 Prolog

Prolog


Karpet super mewah terhampar di atas lantai. 

Beberapa pria tampak asyik berbincang di atas sofa kulit yang terletak di tengah ruangan gemerlap, dikelilingi pilar dan dinding megah yang melambangkan kekayaan tak terhingga.

"Sir Colin, apakah ucapanmu barusan itu benar!?"

Seorang pria bergaya bangsawan dengan pakaian hijau mewah dan hiasan jabot di dadanya, mencondongkan tubuhnya. 

Ia bertanya kepada seorang pria tampan yang mata dan hidungnya tertutup topeng.

"Teganya Anda berkata begitu, apakah penyelidikan kami dari guild Dice pernah meleset selama ini?"

Pria tampan bertopeng bernama Colin itu dengan anggun menyesap teh hitam menggunakan tangan kanannya yang berbalut sarung tangan putih bersih. Ia lalu melirik sekilas ke arah para bangsawan di depannya.

Hanya dengan ditatap oleh sepasang mata yang berkilat dari balik topeng itu saja, sang bangsawan langsung panik.

"T-Tidak, maafkan aku! Bukan berarti aku tidak memercayaimu!"

Bangsawan itu buru-buru kembali duduk bersandar dalam-dalam di sofa.

Mereka adalah para bangsawan tingkat tertinggi yang berada di pusat politik dan ekonomi Kerajaan Amelia. 

Namun bagi mereka sekalipun, bangsawan di depan mata mereka ini adalah sosok yang tidak bisa diremehkan.

Colin Colturne adalah seorang Hunter aktif yang memiliki julukan Count Berdarah. Ia sekaligus merupakan pemimpin Dice, salah satu dari Empat Guild Suci.

Dice memiliki dimensi kekuatan yang sama sekali berbeda dengan guild abal-abal seperti Coin atau Card. 

Dice adalah guild terkuat yang dirumorkan mampu menandingi kelompok Pahlawan sekalipun, jika hanya mengukur kekuatan tempur murni.

Selain itu, kegilaan Colin ini adalah sebuah fakta yang sudah diketahui semua orang. Jika ada yang berani merusak suasana hati pria ini, tidak ada yang tahu apa yang akan dilakukannya.

Sosok pria ini memancarkan teror semacam itu.

"Namun, jika hal itu benar, berarti kita akhirnya menemukan sisa-sisa anggota keluarga kerajaan dari Kerajaan Buas pada perang sebelumnya!"

Bangsawan lainnya meninggikan suaranya dengan nada penuh semangat.

"Kita memang berhasil menghasut para petinggi Kerajaan Buas untuk menyerang, tapi mereka berhasil meloloskan diri. Kali ini kita tidak boleh gagal."

"Namun, seandainya kita berhasil menangkap keturunan Raja Buas, apakah mereka akan patuh begitu saja? Sama sekali tidak ada gunanya jika mereka terus berpura-pura tidak tahu, kan?"

Bangsawan bertubuh jangkung itu memelintir kumisnya yang melengkung sambil menyuarakan keraguan tersebut.

"Ada benarnya juga. Pendirian negara itu melibatkan Babel, dan bahkan telah disetujui dalam Konferensi Dunia."

"Sebagai sebuah negara yang sah, kita butuh alasan yang kuat untuk menyerang mereka. Namun saat ini, bagi mereka, keturunan terakhir Raja Buas hanyalah sekadar keluarga pendiri."

"Jika aku berada di posisi mereka, aku pasti akan memilih untuk mengabaikannya."

"Kalau begitu, tidak ada gunanya kita menangkap mereka, kan!"

Saat salah satu bangsawan menyuarakan kekecewaannya, desahan napas pun mulai terdengar silih berganti di dalam ruangan.

"Benar, karena itulah kita harus menggunakan bidak ini dengan cerdik."

Colin menarik sudut bibirnya dan berbicara dengan nada yang menyerupai nyanyian.

"Sir Colin, jangan bertele-tele. Anda punya rencana yang bagus, bukan?"

Merespons pertanyaan dari bangsawan jangkung itu, Colin menyeringai jahat.

"Tentu, sebuah rencana brilian yang bagai menyelam minum air."

"Rencana brilian seperti apa itu?"

Para bangsawan menelan ludah dengan gugup.

"Pemicu konflik itu tidak perlu hal yang besar. Meski awalnya kecil, jika disiram dengan minyak, ia akan menjadi kobaran api yang dahsyat."

"Bicara berputar-putar adalah kebiasaan burukmu. Cepat sampaikan saja intinya."

Mendengar sindiran dari bangsawan jangkung itu, Colin hanya mengangkat bahunya.

"Baiklah, baiklah. Jika itu adalah perintah dari Yang Mulia Duke Estark."

Colin berdeham dengan keras sebelum memaparkan rencananya.

"Kita tangkap anak-anak dari keturunan Raja Buas itu, lalu kita paksa orang tua mereka untuk menyerang para bangsawan yang menentang Faksi Pangeran Gilbert. Dengan begitu, kalian bisa menyingkirkan duri dalam daging sekaligus mendapatkan alasan yang sah untuk menyerang negara itu."

Colin mengusulkan sebuah rencana yang menyimpang dari moralitas manusia. 

Normalnya, taktik keji semacam itu sama sekali tidak bisa diterima dan hanya akan memicu amarah. Namun—

"Begitu rupanya! Ketua Parlemen Eldim adalah keturunan raja, dan sudah menjadi rahasia umum bahwa para petingginya juga didominasi oleh keluarga Raja Buas."

"Dengan memanfaatkan fakta itu, jika kita menganggapnya sebagai deklarasi perang Eldim terhadap negara kita, bukankah kita akan punya alasan untuk menyerang negara sialan itu!?"

"Benar! Jika ada bangsawan kita yang menjadi korban, negara-negara lain seperti Babel tidak akan bisa ikut campur!"

Para bangsawan bersahut-sahutan menyuarakan persetujuan yang dipenuhi dengan rasa sukacita. Di tengah euforia tersebut, Colin menyela mereka.

"Mohon maaf, tapi pemikiran kalian masih terlalu naif. Eldim adalah negara yang sama sekali berbeda dengan Kerajaan Buas."

"Hanya karena ada kerabat berbeda kewarganegaraan yang melakukan kejahatan, tidak mungkin kita bisa membebankan tanggung jawab itu pada tingkat negara. Setidaknya, itulah aturan internasionalnya."

Colin menyiramkan air dingin pada para bangsawan yang sedang bersorak kegirangan itu.

"Kalau memang mustahil, kenapa kamu membicarakan hal ini!?"

Salah satu bangsawan tingkat tinggi membentak karena kehabisan kesabaran, yang kemudian diikuti oleh bangsawan lainnya. 

Di tengah hujan kecaman yang mengarah pada Colin, Duke Estark menenangkan mereka dengan mengangkat kedua tangannya.

"Mengingat dirimu yang tidak pernah ceroboh. Kau pasti sudah mempersiapkan siasat yang matang untuk menyeret mereka ke dalam perang ini, bukan?"

Duke Estark menanyakan inti permasalahannya.

"Tentu saja. Sebuah rencana yang sempurna tanpa celah sedikit pun."

Colin memamerkan senyum tipis, lalu mengangguk mantap dan mulai memaparkan rencananya.

"Begitu rupanya... Kalau begitu, kita bisa merebut kembali mukjizat kita dari tangan binatang buas itu!"

Saat Duke Estark berdiri dan berseru lantang, suara sorak-sorai kembali menggema berulang kali di seluruh ruangan.

Astaga, manusia memang makhluk bodoh yang tidak pernah berubah, ya...

Gumaman Colin itu tertelan dan menghilang di balik hiruk-pikuk ruangan tersebut.

◇◆◇

Tempat itu adalah sebuah ruangan remang-remang yang tampak sederhana. 

Di balik meja kayu dalam ruang kerja yang hanya berisi tumpukan buku dan kertas itu, seorang pria raksasa berambut hitam dengan janggut tebal sedang membaca selembar perkamen.

Kemudian, suara tawa meluncur dari mulutnya.

"Yang Mulia Perdana Menteri?"

Salah satu ajudan tua bertanya dengan takut-takut untuk mencari tahu maksud tawa tersebut. 

Wajah pria yang biasanya selalu tenang hingga dijuluki memiliki mental baja itu, kini terdistorsi oleh euforia luar biasa yang belum pernah mereka lihat sebelumnya.

"Tidak, bukan apa-apa."

Perdana Menteri Kerajaan Amelia, Johannes Roosevelt, kembali memasang wajah tanpa ekspresinya. 

Ia lalu menatap Kusa, agen intelijen yang telah menyerahkan laporan itu.

"Kai Heineman akan berpartisipasi dalam Pemilihan Raja kali ini sebagai Royal Guard milik Yang Mulia Putri Rosemary, kan?"

Johannes memastikan hal itu sembari menggumamkan kata-katanya.

"..."

Melihat Kusa yang membiarkan mulutnya setengah terbuka dengan ekspresi terperangah, Johannes kembali berbicara.

"Ada apa?"

Johannes bertanya dengan nada bicaranya yang selalu datar dan tanpa emosi.

"Mohon maaf! Saya hanya tidak menyangka Anda akan dengan mudah memercayai isi laporan tersebut!"

"Tidak ada alasan bagimu untuk berbohong kepadaku di saat-saat seperti ini. Lagipula, beberapa laporannya memang sudah sampai ke telingaku, jadi hal semacam ini wajar saja terjadi."

Sudah menjadi rahasia umum bahwa Johannes memiliki jaringan intelijennya sendiri. 

Pada dasarnya, mustahil ada hal yang tidak diketahui oleh pria ini di dalam Kerajaan Amelia.

Oleh karena itu, Kusa mengira tuannya pasti sudah mengetahui kronologi kejadiannya. Meski begitu, ia tidak pernah membayangkan Johannes akan memercayai konten tidak masuk akal dalam laporan itu dengan begitu mudah.

"Tuan Johannes, apakah Anda bermaksud mengakui pengangkatan Beliau sebagai Royal Guard?"

Mendengar ucapan Kusa yang tidak biasa itu, sang ajudan tua mengerutkan keningnya. Hal itu sangat wajar.

Menggunakan gelar kehormatan untuk seseorang yang hanya berstatus Royal Guard di depan Perdana Menteri yang dipuja oleh Kusa adalah hal yang mustahil terjadi, bahkan jika langit dan bumi terbalik sekalipun.

"Tentu saja, aku berniat mengakuinya."

"Beliau adalah eksistensi yang berada di luar batas hukum dunia ini! Jika Beliau ikut serta dalam Pemilihan Raja—"

"Ya, permainan yang sesungguhnya sudah tidak akan berlaku lagi."

Johannes menunjuk pada fakta yang persis seperti dikhawatirkan oleh Kusa.

"Jika Anda sudah tahu, lalu kenapa Anda masih mengakuinya!?"

"..."

Menghadapi Johannes yang bungkam sambil mengulum senyum, Kusa kembali merespons.

"Sepertinya Anda sudah mulai bergerak. Percuma saja meski aku berusaha menghentikan Anda, ya..."

Kusa menghela napas panjang, lalu menggelengkan kepalanya untuk menepis sesuatu dari benaknya. Kemudian—

"Tuan Johannes, saya memohon izin untuk mengambil cuti sejenak."

Kusa menundukkan kepalanya dengan penuh hormat.

"Lancang sekali—"

Johannes menggunakan tangan kanannya untuk menahan ajudan tua yang hendak membentak tersebut.

"Katakan padaku alasannya."

Merespons nada bicara Johannes yang menuntut jawaban, Kusa membalasnya dengan berani.

"Saya juga ingin berdiri di panggung utama."

Kusa menjawab dengan nada yang penuh tekad. Di kedalaman matanya, terpancar kilatan cahaya yang sangat intens dan belum pernah terlihat sebelumnya.

"Baiklah. Bertindaklah sesukamu. Namun, kamu harus terus memberiku laporan berkala tentang Kai Heineman, mengerti?"

"Sesuai keinginan Anda."

Sambil meletakkan tangan di dada dan membungkuk hormat, Kusa membalikkan badan lalu keluar dari ruangan.

"Apakah keputusan itu tidak apa-apa?"

Ajudan tua itu bertanya dengan raut wajah kebingungan kepada Johannes.

"Biarkan saja. Lagipula, ini sangat menguntungkan kita."

Mendengar jawaban Johannes, ajudan tua itu meraba janggut dengan tangan kanannya dan merenungkan sesuatu.

"Apa yang sebenarnya ingin Anda lakukan dengan menggunakan orang bernama Kai Heineman itu?"

Ajudan itu dengan jujur memastikan niat sang Perdana Menteri yang dijuluki sebagai pemilik otak terpintar di kerajaan tersebut.

"Tentu saja untuk Pemilihan Raja."

"Tuan Johannes pasti sudah tahu siapa yang menjabat sebagai Royal Guard untuk Pangeran Gilbert dan Putri Louise, bukan? Anda sendiri yang mengatakan bahwa permainan ini sudah tidak akan berlaku lagi, Yang Mulia Perdana Menteri."

"Benar, perang takhta kerajaan dalam artian normal sudah tidak berlaku."

"Apa maksud Anda dengan artian normal?"

"Permainan ini akan segera dimulai."

Johannes berdiri dari kursinya, lalu melangkah ke arah jendela.

"Permainan apa maksud Anda?"

"Permainan untuk memilih Raja terbaik dalam sejarah Kerajaan Amelia!"

Sambil memandangi pemandangan luar, dia merentangkan kedua lengannya ke atas dan berteriak lantang dengan suara yang dipenuhi sukacita luar biasa.

◇◆◇

—Kekaisaran Gritnil, Istana Surgawi

Kekaisaran Gritnil. Tepat di tengah ibu kota kekaisaran Gunir, terdapat sebuah bangunan raksasa menyerupai menara bernama Istana Gunir.

Dibangun menggunakan teknologi paling mutakhir di dunia dalam bidang arsitektur, sihir, dan berbagai bidang lainnya, bangunan itu adalah simbol kemakmuran kekaisaran. 

Di singgasana Istana Surgawi yang berada di lantai paling atas, Sang Kaisar Penakluk, Amnes zi Gritnil, duduk bersandar dengan sikap arogan.

"Kalian pasti sudah tahu alasan dari pemanggilan kali ini, bukan?"

Amnes bertanya dengan suara rendah, menatap tajam ke arah empat pria dan wanita yang berlutut di bawah tangga landai menuju singgasananya.

"Apakah ini tentang bocah berambut abu-abu itu?"

Merespons pertanyaan dari raksasa berambut merah itu, pria mungil dengan potongan rambut mangkuk mendengus sinis.

"Jangan konyol. Tidak mungkin kita semua dipanggil hanya gara-gara satu orang anak kecil."

"Hah!? Kalau begitu, kenapa Yang Mulia memanggil kita semua ke sini!?"

"Entahlah."

Mendapat jawaban yang sangat singkat itu, sang raksasa berambut merah langsung membentaknya keras.

"Ramunera, apa kau sedang mempermainkanku, hah?"

Raksasa berambut merah itu menatap tajam ke arah Ramunera di sebelahnya dengan urat nadi yang bermunculan di dahinya.

"Aku tidak bermaksud begitu. Tapi, kalau kau menantangku, akan kulayani."

"Hentikan."

Seorang pria yang bersandar di pilar di belakang Amnes melontarkan kalimat teguran. 

Pria itu mengenakan pakaian serba hitam yang menutupi seluruh tubuhnya, kecuali mata kirinya.

Mendengar hal itu, raksasa berambut merah langsung mendecakkan lidah. 

Sementara itu, Ramunera hanya mengangkat bahu sambil membuka kedua telapak tangannya.

"Bolehkah aku yang menjelaskannya?"

"Silakan. Four, berikan laporanmu."

Amnes mengabulkan permintaan dari Four tersebut.

"Ini adalah informasi yang kudapatkan secara kebetulan saat mengumpulkan data tentang bocah berambut abu-abu di dalam kerajaan. Sepertinya para bangsawan dari faksi Gilbert sedang merencanakan invasi ke Eldim."

Suara riuh rendah langsung terdengar dari para petinggi yang hadir di ruangan itu.

"Tenanglah."

Suara Amnes tidak terlalu keras, namun mampu bergema melintasi ruangan yang bising tersebut. 

Detik berikutnya, keheningan pun merayap kembali.

"Eldim? Maksudmu negara netral yang didirikan oleh keluarga Kerajaan Buas itu?"

Wanita berambut pirang dengan zirah tempur penuh, bertanya kepada pria berpakaian hitam bernama Four.

"Benar, sepertinya mereka berniat merampas segala sesuatu yang dimiliki Eldim."

"Tapi wilayah itu seharusnya sudah diakui secara resmi sebagai negara dalam Konferensi Dunia. Apa mereka berniat memusuhi seluruh dunia?"

Konferensi Perserikatan Bangsa-Bangsa adalah pertemuan tingkat dunia yang diadakan setahun sekali di Kota Akademi Netral Babel. 

Negara-negara dari seluruh dunia hadir dalam konferensi ini untuk mendiskusikan dan mengambil keputusan atas isu-isu penting yang berpotensi memicu konflik.

Beberapa tahun yang lalu, Babel mengusulkan pengakuan Eldim sebagai sebuah negara, yang kemudian disahkan melalui suara mayoritas. 

Dua negara yang memberikan suara penolakan saat itu hanyalah Kerajaan Amelia dan Kekaisaran Gritnil.

"Katanya, mereka berniat menangkap keturunan Raja Buas untuk menyerang bangsawan oposisi di negara mereka. Lalu, mereka akan menggunakan hal itu sebagai alasan untuk memulai perang."

"Hah? Apa mereka bodoh? Rencana itu sudah pasti mustahil, kan!"

Ramunera berteriak seraya meludahkannya.

"Tidak juga. Masih ada satu cara. Ramunera, apa yang akan kau lakukan jika kau berada di posisi mereka?"

Ramunera merenung sejenak. Namun, saat dia akhirnya menyadari metode tersebut, wajahnya dipenuhi dengan rasa jijik.

"Hebat juga Kerajaan Amelia, akal bulus mereka benar-benar jalan."

Dia melontarkan kalimat penghinaan yang kuat.

"Hei, apa maksudnya itu?"

Mendengar pertanyaan dari wanita berambut pirang berbaju zirah, Ramunera menepisnya dengan raut kesal.

"Akan kujelaskan nanti. Daripada itu, jangan bilang kalau kita harus mendukung bangsawan sialan itu?"

Dia menuntut jawaban dari Four dengan permusuhan yang meledak-ledak.

"Kau tidak puas?"

"Tentu saja aku tidak puas melakukan pekerjaan memuakkan seperti itu. Tapi, jika itu demi Yang Mulia dan negara kita, aku akan melakukannya."

Four tersenyum masam, lalu menatap pria tua jangkung berambut setengah uban yang sejak tadi hanya terdiam.

"Apakah Tuan Kaisar Pedang juga tidak keberatan?"

Four memastikan niat pria tua tersebut.

"Tidak ada keberatan."

Setelah jawaban dari Kaisar Pedang Ashburn Gastrea, Kaisar Amnes menarik dagunya sedikit saat mendapat lirikan dari Four.

"Apa yang akan kalian lakukan pada Kai Heineman? Menurut penilaian Four, orang itu sangat berbahaya, kan?"

"Benar, tapi situasinya sedikit berubah. Karena insiden kali ini, aku tidak bisa membiarkan kalian bertindak secara terang-terangan. Oleh karena itu, aku telah mengirimkan orang lain untuk mengurus Kai Heineman."

"Siapa dia? Tidak akan ada ruginya memberitahuku soal itu, kan?"

Four terdiam memikirkannya sejenak, lalu mengangguk kecil.

"Gurunya Enz."

Dia memberikan jawaban singkat. 

Begitu mendengar nama tersebut, seruan terkejut langsung terlontar dari para Enam Jenderal Ksatria. 

Emosi yang terkandung dalam suara-suara tersebut masing-masing sama sekali berbeda.

"Apa itu tidak apa-apa? Jika kau mengutus orang itu, Kai Heineman pasti akan dihancurkan, tahu?"

"Ini seperti sebuah ujian untuk melihat apakah dia pantas menjadi tangan kananku. Jika dia hancur hanya karena orang seperti itu, berarti kemampuannya cuma sebatas itu dan kita tidak perlu merekrutnya."

"Namun, jika Kai Heineman memiliki kekuatan yang cukup untuk memukul mundur orang itu—"

Four menghentikan ucapannya, lalu menatap Kaisar Amnes. Sang Kaisar pun bangkit berdiri dari singgasananya.

"Kita akan mendapatkan Transcender yang memiliki level setara atau lebih kuat dari Four. Itu akan menjadi awal bagi Kekaisaran Gritnil untuk merebut hegemoni dunia!"

Amnes berseru lantang penuh dengan gairah.

◇◆◇

Laut biru sebening kristal dan pantai berpasir putih bersih membentang luas. 

Di atas kursi pantai yang terletak di sana, seorang pria berkacamata hitam tampak berbaring sambil merobek daging bertulang dengan giginya.

Pria itu mengenakan celana pendek dan kimono lengan pendek. 

Ia menyisir rambut merah mudanya dengan tangan kiri seraya menatap bongkahan daging di depan matanya.

"Lalu? Apakah ini sampah yang telah melakukan kesalahan kali ini?"




Pria berrambut merah muda itu menanyakan sesuatu kepada perwira tentara jahat yang berlutut sambil gemetaran.

"Kami kehilangan kontak dengan semua pasukan jahat yang telah bangkit di dunia ini, termasuk Tiamat dan Mauve. Ini adalah satu-satunya kurir yang sempat berkomunikasi dengan pasukan Tiamat. Kita harus segera menjatuhkan hukuman pada—"

"Bukan begitu, dong."

Pria berrambut merah muda itu menyela laporan sang perwira, lalu memetik jarinya.

"Gugih!?"

Perwira yang memberi laporan itu mendadak mencengkeram tenggorokannya sendiri dengan kedua tangan.

Darah mulai mengalir dari mata, hidung, dan mulutnya.

Pada detik berikutnya, tubuhnya meledak dengan suara boshu.

"Masih ada banyak sampah tidak berguna yang tersisa, ya."

Beberapa perwira yang bersiaga di sisinya juga mulai mengerang kesakitan.

Darah mengucur dari seluruh tubuh mereka sebelum akhirnya ikut meledak.

Para jenderal dan perwira yang tersisa hanya bisa berlutut dan gemetaran hebat.

Pria berrambut merah muda itu bangkit dari kursinya.

Ia berjalan di antara para perwira yang menempelkan dahi mereka ke pasir pantai.

"Siapa pun yang mencoreng mukaku akan berakhir seperti ini. Kalian paham juga, kan?" bicaranya dengan nada tenang.

"Ya, Ya!"

"Jawaban yang bagus, tapi terlalu bising."

Pria itu mencengkeram kepala orang yang menjawab pertama kali, lalu memuntirnya hingga putus.

Darah segar menyembur dari lehernya. Tubuhnya ambruk ke lantai seperti boneka yang putus talinya.

"Bukankah Aku sudah bilang? Bangkitkan Aku ke dunia ini. Apa hal seperti ini sulit sekali untuk dilakukan?"

Ia mendekati salah satu perwira dan berbisik di telinganya.

"S-Saat ini kami sedang mencari caranya. Bagaimanapun juga, gerbang yang dibutuhkan untuk dilalui oleh sosok sekelas Jenderal Besar Maara—"

"Jangan cari alasan."

"Guga!?"

Seluruh tubuh perwira yang menjawab itu mendadak berdiri tegak.

Tubuh bagian atasnya berputar ke kanan, sementara bagian bawahnya berputar ke kiri, lalu meledak pada detik berikutnya.

"Aku tanya sekali lagi. Kapan Aku bisa bangkit ke dunia ini?"

"S-Segera dalam waktu dekat—"

"Waktu dekat itu kapan?"

Kepala jenderal yang menjawab dengan terburu-buru itu seketika ambles, membuatnya tewas seketika.

"Hei, kapan Aku bisa bangkit?"

"..."

Jenderal dan perwira yang tersisa bahkan tidak mampu menjawab dan hanya bisa gemetaran.

Jenderal Besar Maara melayangkan pandangannya ke sekeliling, lalu memetik jarinya. Sebuah jam pasir raksasa muncul di atas pantai.

"Aku akan menunggu sampai pasir ini habis. Sebelum saat itu tiba, wujudkan kebangkitanku."

Setelah memberikan perintah tegas tersebut, sosot Maara lenyap tanpa menyisakan jejak.

Di tengah suasana duka saat seseorang memeluk jasad rekannya yang tewas mengenaskan, seorang jenderal berkumis kaisar mendekat dan menepuk bahu kanannya.

Ia menatap para petinggi tentara jahat yang beruntung masih bertahan hidup.

"Kita harus bertahan hidup bagaimanapun caranya!" Ujar sang jenderal dengan suara tertahan.

"Tapi, menemukan energi yang cukup untuk membangkitkan sosok Jenderal Besar seperti beliau dalam waktu singkat itu jelas mustahil!"

Salah satu perwira berteriak dengan raut wajah yang penuh keputusasaan. Namun, jenderal berkumis kaisar itu cengkeram kerah bajunya dan menariknya mendekat.

"Kalau begitu, kita harus bagaimana!? Sosok beliau yang sekarang bukan lagi sosok yang dulu kita tempati untuk mengabdi! Jika pasir di jam itu habis, kita semua akan dibantai tanpa ampun!" Teriaknya dengan sekuat tenaga.

"...Maafkan saya. Saya juga tidak ingin mati! Tapi, apa yang benar-benar harus kita lakukan?"

Pertanyaan perwira itu dijawab oleh sebuah suara.

"Bagaimana kalau Kami ulurkan tangan untuk membantu?"

Tanpa ada yang menyadari keberadaannya, seorang gadis berpenampilan yamabushi dengan bakiak dan bersayap di punggungnya telah berdiri di sana.

"Hajun-sama... Apa maksud Anda dengan memberikan bantuan?"

Jenderal berkumis kaisar bertanya untuk memastikan niat sebenarnya di balik ucapan itu, sembari mengamati daerah sekitarnya dengan cermat.

Dewa jahat berambut cokelat muda model mangkok dengan poni putih di bagian depan itu adalah Hajun. Ia merupakan salah satu dari 'Raja Bawahan' milik Maara.

'Raja Bawahan' adalah sebutan untuk segelintir pengawal terdekat yang selalu mendampingi Enam Jenderal Besar—kekuatan tertinggi tentara jahat sekaligus kejahatan di atas kejahatan.

Kadang mereka menjadi tangan dan kaki Enam Jenderal Besar untuk menjalankan perintah, dan kadang menjadi perisai untuk melindungi mereka.

Kekuatan mereka berada di jajaran terkuat di dunia ini. Hajun ini juga secara praktis menjalankan peran sebagai tangan dan kaki dari Jenderal Besar Maara.

Sangat tidak mengherankan jika ia memusnahkan para perwira tadi hanya karena ucapan mereka sebelumnya.

"Jangan ketakutan seperti itu. Berkat kekeji pembatas yang dipasang oleh Dewa Agung yang buruk perangai di sana, Maara-sama bahkan tidak bisa mendeteksi tempat ini."

Gadis itu bertolak pinggang dan mengarahkan tatapan setengah memicing ke belakang para perwira.

"Buruk perangai itu sungguh tidak sopan. Kurasa Aku tidak seburuk Maara, lho?"

Saat berpaling dengan ragu-ragu, tampak seorang pria berpenampilan pesulap dengan riasan ganjil dan pakaian mencolok sedang berdiri dengan senyuman yang mengerikan. Hanya dengan sekali lihat pada sosok itu,

"Jenderal Besar Lopt!"

Semua orang di tempat itu langsung berlutut. Pria ini adalah salah satu dari enam pilar kekuatan tertinggi tentara jahat, sosok penengah di antara Enam Jenderal Besar, sekaligus Dewa Agung yang dijuluki paling jahat, keji, dan tidak boleh diusik sama sekali.

"Aku ini baik hati, tidak seperti Maara. Santai saja."

"B-Baik!"

Rasa takut yang begitu dahsyat hingga bisa membuat pingsan jika lengah, sedikit terangkat berkat kekuatan kata-katanya.

Meski begitu, Hajun menatap para perwira bawahan Maara yang masih gemetaran dengan pandangan tertuju ke tanah.

"Rasanya baru kali ini Kami mendengar kalimat yang sangat tidak bisa dipercaya."

Hajun menggidikkan bahunya dengan raut wajah jengkel.

"Masa, sih. Padahal Aku cukup jujur, lho?"

"Daripada itu, apakah gerbang menuju labirin terburuk itu benar-benar ada di versi gim kali ini?"

"Memang belum ada kepastian, tapi kemungkinan besar iya."

"Kalau begitu, Kami menerima usulan Anda!"

Setelah mengucapkan hal itu kepada Jenderal Besar Lopt, Hajun menatap tajam ke arah jenderal berkumis kaisar dan anak buahnya.

"Jika masalah kali ini sampai diketahui oleh Maara-sama, Kami juga akan dijatuhi hukuman! Dan hal yang sama juga berlaku untuk kalian! Kita sudah berada di perahu yang sama! Karena itu, bergeraklah sesuai dengan petunjuk Dewa Agung itu!"

Setelah memberikan perintah egois itu dengan tempo cepat, sosok Hajun menghilang dari tempat itu.

"Begitulah~ Si Maara itu kan sangat tegas. Kalau dia tahu kalian bergerak atas bantuanku, dia bakal murka seperti api menyala dan membantai kalian sebelum pasir di jam itu habis. Singkatnya, hanya ada satu cara agar kalian bisa selamat, kan? Kalian paham?"

Tawaran itu hanyalah pemanis kata. Pada akhirnya, itu tidak lebih dari sebuah ancaman.

"B-Baik, apa yang harus kami lakukan?"

"Nah, begitu dong, menurut itu hal yang bagus. Terbitkan petunjuk ilahi di versi gim sesuai dengan arahanku. Lalu, Kamu yang berkumis, Aku ingin Kamu bergerak persis seperti yang Kuperintahkan. Tenang saja, kalau Kamu bergerak sesuai ucapanku, Aku tidak akan berbuat jahat padamu."

"Bolehkah saya menanyakan satu hal?"

"Hmm? Apa itu?"

"Jika kami menjalankan sesuai petunjuk Anda, apakah Maara-sama benar-benar bisa bangkit dalam batas waktu?"

"Ah, kalau soal itu pasti Kujamin."

Sama sekali tidak bisa dipercaya.

Mungkin itulah kesan yang dirasakan oleh semua orang di tempat ini.

Meski begitu, usulan ini datang dari Hajun dan Jenderal Besar Lopt.

Jika menolak, mereka pasti akan langsung dimusnahkan.

Lagi pula, jika Maara tidak bisa bangkit dalam batas waktu, mereka tetap akan dibantai. Mungkin mereka harus bersyukur karena setidaknya masih ada harapan terakhir.

(Benar-benar tidak beruntung sampai akhir.)

Sambil merutuki ketidakberuntungannya sendiri,

"Baiklah. Kami akan mematuhi Anda."

Jenderal berkumis kaisar itu mengangguk dalam-dalam dengan wajah bersungguh-sungguh.

◇◆◇

Di dalam istana Raja Iblis Kegelapan Ashmedia—ruang singgasana Istana Kegelapan, dua kubu saling menatap dengan tajam.

"Kalian paham tidak, sih!? Petunjuk ilahi dari Tuhan kita sudah diturunkan! Apalagi, kali ini bentuknya sangat jelas dan konkret, tidak seperti sebelum-sebelumnya yang samar! Bagaimana bisa kita tidak mematuhinya!?"

Seorang pria bertubuh kecil dengan kepala botak penuh luka dan mengenakan jubah membesarkan suaranya.

Pria ini adalah Ega, salah satu dari Tiga Jenderal Iblis yang merupakan petinggi tertinggi Negeri Kegelapan.

Meski ia berasal dari mantan tentara bayaran dan memiliki sikap yang kasar, baru kali ini ia meluapkan emosinya secara terang-terangan di hadapan Ashmedia.

"Tapi, terus-terusan dikendalikan oleh sosok yang disebut Tuhan itu juga kurang baik. Hal yang bisa digapai dengan mengandalkan orang lain itu terbatas. Faktanya, kita sudah gagal dua kali. Kita harus mencari cara lain."

Dolce, si raksasa bertangan empat, menasihati Ega dan para pejabat tinggi yang sedang tersulut emosi dengan nada bicara yang tenang.

"Dolce, Kamu tidak lupa kan bagaimana nasib kota yang diserang oleh para manusia itu!?"

Mendengar perkataan Ega, amarah seketika membumbung tinggi dari para iblis yang tadinya menonton dengan tenang.

Itu adalah pemandangan yang bahkan muncul dalam mimpi buruk Ashmedia.

Beberapa tahun yang lalu, pasukan yang dipimpin oleh Mashiro, Sang Pahlawan dari Kerajaan Amelia, melakukan invasi besar-besaran ke Negeri Kegelapan. Saat itu, beberapa kota kaum iblis berhasil diduduki dan lenyap dari peta.

Ya, benar-benar lenyap secara harfiah. Seluruh makhluk hidup yang menjadi penghuni kota, mulai dari prajurit, rakyat biasa, wanita, anak-anak, hingga hewan ternak dibantai tanpa sisa.

Bangunan-bangunan dihancurkan dengan teliti, lalu dibakar hingga menjadi tanah lapang. Itu benar-benar perbuatan monster yang tidak memiliki hati.

"Tentu saja Aku ingat. Bagaimanapun juga, kampung halamanku juga ikut diserang..."

Melihat ekspresi Dolce yang kehilangan emosinya saat menjawab dengan tenang, Ashmedia merasakan kecemasan yang sangat kuat pada saat ini.

"Benar! Mereka bahkan tidak menganggap kita sebagai hewan ternak! Jika kita tidak memusnahkan mereka, kitalah yang akan musnah!"

Suara pilu yang diperah dari tenggorokan Ega memicu seruan persetujuan dari seluruh penjuru ruangan.

Di tengah kepulan kata-kata kebencian terhadap manusia,

"Menurutku, kita sebaiknya menerima tawaran dari sosok bernama Kyo itu."

Sebuah pendapat yang sangat tidak dipercaya keluar dari mulut sosok yang benar-benar tak terduga mengenai topik pembahasan hari ini.

Setelah keheningan sejenak, ruangan itu mendadak dipenuhi kegaduhan seperti kacang yang meletup.

"Tetua, apa Anda masih waras?"

Ega memicingkan sebelah matanya dan menanyakan niat sebenarnya kepada pria tua berkulit biru yang bersiaga di sisi Ashmedia. Pria inilah Tetua Agung Negeri Kegelapan—Yeti.

Ia adalah pengasuh Ashmedia sejak kecil sekaligus sosok yang setara dengan otak kerajaan.

"Tentu saja Aku waras, dan Aku sangat serius."

"Jangan bercanda! Lagipula, bukankah mematuhi petunjuk ilahi itu ide awalmu!? Sudah ada korban jiwa dalam operasi ini! Bagaimana bisa kita mempercayai orang-orang mencurigakan seperti itu sekarang!"

Menanggapi pendapat Ega yang sangat masuk akal itu,

"Situasinya sudah berubah. Kamu paham? Sosok bernama Kyo itu menyusup ke kamar tidur Raja kita dan meletakkan kotak kayu berisi surat itu di atas meja. Apalagi, tanpa disadari oleh siapa pun. Tindakan seperti ini, bahkan pahlawan legendaris pun rasanya tidak akan sanggup melakukannya."

Yeti menegaskan hal itu seolah-olah sedang meyakinkan dirinya sendiri.

Itu benar. Saat bangun di pagi hari, sebuah kotak kayu kecil sudah tergeletak di meja kamar tidur Ashmedia.

Ia segera berkonsultasi dengan Yeti, Tetua Agung yang memegang posisi nomor dua di Negeri Kegelapan.

Awalnya Ashmedia sendiri berniat membuka dan memeriksa kotak itu, namun para pengawal menentang keras karena adanya risiko sihir jebakan.

Pada akhirnya, Yeti yang ditugaskan untuk menyelidiki isi kotak kayu tersebut.

"Cih! Bisa saja dia cuma ahli dalam hal menyusup! Hal seperti itu tidak bisa jadi bukti kekuatannya!"

"Mungkin saja begitu! Tapi, surat dari sosok bernama Kyo itu memiliki gairah yang bahkan sanggup membangkitkan jiwaku yang sudah layu ini. Aku tidak berpikir isi surat itu bohong. Jika sosok tertinggi yang dikatakan Kyo itu benar adanya, beliau akan membawa kita kaum iblis keluar dari jalan buntu tragedi dan kehancuran ini! Aku memercayainya!"

Di balik kedua mata Yeti yang berteriak itu, terpancar cahaya kuat yang seolah membakar.

Sebagai Tetua Agung, Yeti bertugas membimbing kaum Iblis Kegelapan ke jalan yang benar.

Ia tidak pernah meruntuhkan sikapnya yang dingin dan tenang, bahkan terkadang tidak ragu untuk bertindak tega.

Melihat perubahan sikap Yeti yang tidak biasa ini, pandangan ganjil tertuju padanya dari seluruh penjuru ruangan.

"Tetua, Aku tidak berpikir Anda yang seorang realistis bisa percaya sejauh itu hanya karena surat dari orang yang belum pernah Anda temui. Apa dasar Anda sangat memercayainya?"

Dolce menanyakan niat Tetua Agung dengan raut wajah yang sangat bersungguh-sungguh.

Hal itu juga menjadi pertanyaan bagi Ashmedia. Sebab Yeti setidaknya bukanlah tipe orang idealis yang bakal percaya hanya karena isi sebuah surat.

"Dasarnya adalah ini."

Ia mengeluarkan kantong kain dari balik dadanya, merogoh ke dalamnya, lalu menggenggam sebuah liontin bertatahkan permata hitam berkilau.

"Ha!? Barang tidak berguna begitu jadi dasarnya!? Tetua, apa Anda sedang mengerjai kami!?"

Ega berteriak dengan suara keras.

"Mana mungkin ini barang tidak berguna! Bocah tengil yang tidak tahu nilai barang! Ini bukanlah barang sembarangan seperti yang kalian pikirkan!"

Sambil berteriak hingga menyemprotkan ludah karena emosi, Yeti mengangkat liontin itu ke udara dan mencetuskan sesuatu yang terdengar seperti mantra.

Sesaat kemudian, sesuatu yang menyerupai pintu muncul di hadapan Yeti.

"Pintu?"

Ega mengerutkan dahinya sambil mendekati pintu tersebut, yang kemudian terbuka secara perlahan.

Saat Ega mengintip ke dalam pintu dengan ragu-ragu,

"A-Apa-apaan ini!?"

Ia mengeluarkan suara kaget yang konyol.

"Tidak mungkin..."

Dolce yang ikut mengintip dari belakang Ega juga bergumam pendek dengan suara terperanjat.

(Memangnya ada apa?)

Rasa penasaran Ashmedia tergelitik melihat sikap mereka berdua.

Ia bangkit dari singgasana, berjalan ke depan pintu, lalu mengintip dari belakang mereka.

"Eh!?"

Di dalam pintu itu, terhampar pemandangan sebuah kota.

Beberapa jalanan berbatu mengalir rapi dengan bangunan berbahan batu bata yang berjejer teratur di sisinya.

Bahkan di bagian atapnya terdapat sesuatu yang tampak seperti langit malam.

Para pejabat tinggi secara bergantian menyaksikan pemandangan tidak masuk akal yang terhampar di depan mata mereka, membuat mata mereka membelalak keheranan.

"Tetua, dari mana Anda mendapatkan barang konyol itu!?"

Ega melangkah mendekati Yeti, menunjuk ke arah pintu dengan raut wajah yang mencekam saat menuntut jawaban.

"Ini adalah barang yang ditinggalkan Kyo bersama dengan suratnya. Katanya, 'Silakan gunakan dengan bebas'."

"Jangan bercanda! Barang sekelas legenda seperti ini tidak seharusnya diberikan begitu saja sebelum negosiasi bahkan dimulai, kan!?"

Ashmedia sangat setuju dengan ucapan Ega.

Kemungkinan besar, item ini memotong dan membekukan suatu ruang. Item sihir seperti ini sudah melampaui akal sehat manusia.

Benar-benar harta karun tingkat Legend. Tidak mengherankan jika benda ini saja bisa memicu peperangan.

Ashmedia sama sekali tidak bisa memikirkan alasan mengapa benda ini diberikan kepada orang yang tidak dikenal.

"Mungkin bagi sosok yang disebut sebagai Yang Tertinggi itu, item ini hanyalah barang murahan yang bisa diberikan dengan mudah."

Kata-kata Yeti yang diucapkannya dengan penuh penghayatan itu membuat para pejabat tinggi menjadi gempar.

"Ha! Ini barang yang tidak terlalu bernilai!? Kalau sampai ada orang yang berpikir begitu, dia itu antara orang bodoh yang tidak tahu nilai barang, atau memang seorang Tuhan!"

"Tepat sekali! Karena itulah kita harus memilih! Apakah kita akan mengikuti sosok mahakuasa yang mengirim surat ini, atau sosok mahakuasa yang mengirim petunjuk ilahi!"

Wajah Yeti memerah saat ia membesarkan suaranya.

"Kakek sudah punya jawabannya, kan?"

Menanggapi ucapan berat Ashmedia, Yeti mengangguk mantap,

"Yang Aku percayai bukan hanya item ini saja. Isinya langsung terbakar setelah dibaca dan sekarang hanya ada di dalam kepalaku, tapi ada gairah dalam tulisan itu yang membuatku ingin bertaruh dan memercayainya. Aku sangat menyarankan untuk menerima penawaran dari sosok bernama Kyo itu."

Ia berlutut di hadapan Ashmedia, menundukkan kepalanya dalam-dalam, lalu memberikan saran tersebut.

"Apa isi dari penawaran itu?"

"Ya! Menempatkan Negeri Kegelapan kita di bawah naungan Yang Tertinggi. Selain itu, Yang Tertinggi sendiri akan bertahta sebagai keberadaan mutlak namun tidak akan memerintah. Begitulah yang tertulis di surat."

Yeti menjawab pertanyaan Ashmedia seketika.

Bertahta namun tidak memerintah, ya.

Jika pihak yang mengajukan penawaran bukanlah manusia melainkan sosok mahakuasa, tawaran seperti ini mungkin memang tidak aneh.

Yang terpenting, jika ini benar, ini adalah tawaran yang sangat ideal.

Meski begitu, tulisan di atas surat bisa dibuat seperti apa saja, dan jelas tidak boleh dipercayai begitu saja.

Dalam keadaan normal, seharusnya mereka bertindak hati-hati, tapi...

(Kakek benar-benar serius, ya...)

Yeti biasanya memberikan pendapat atau gagasan, namun ia tidak pernah memaksakan apa yang harus dilakukan.

Mengingat posisinya sebagai Tetua Agung yang bertindak sebagai penengah, ia memiliki tekad kuat bahwa menyerahkan keputusan pada musyawarah bersama adalah cara terbaik dalam mengelola negara.

Namun kini Yeti meruntuhkan keyakinannya sendiri demi bersikeras sejauh ini.

Bagi Yeti, isi surat dari orang bernama Kyo itu mungkin merupakan seutas tali pelindung yang bisa menyelamatkan Negeri Kegelapan dari krisis kepunahan.

"Aku rasa kita boleh mempertimbangkan penawaran dari sosok bernama Kyo itu."

"Yang Mulia!"

Ega membesarkan suaranya dengan penuh rasa cemas, namun Ashmedia menahannya dengan telapak tangan kanan.

"Tentu saja, ini baru sebatas mempertimbangkan. Belum terlambat untuk memutuskannya setelah bertemu dengan Yang Tertinggi itu. Benar, kan?"

Ia mengalihkan pandangannya ke arah Yeti dan mengajukan pertanyaan yang diharapkan pria tua itu.

Yeti sampai mendorongnya seantusias ini.

Tampaknya ia menilai kecil kemungkinan sosok Yang Tertinggi itu akan membahayakan Ashmedia dan para negosiator lainnya.

"Tepat sekali! Di surat Kyo tertulis bahwa meskipun kita menolak, mereka tidak akan segera membahayakan negara kita!"

"Mana bisa percaya cerita yang terlalu menguntungkan begitu!"

Ega membesarkan suaranya yang serak seolah sedang meyakinkan dirinya sendiri, namun,

"Bagaimanapun juga, tidak ada pilihan yang tanpa risiko. Kita tidak mengenal dengan baik sosok Yang Tertinggi maupun Tuhan yang memberi petunjuk ilahi. Sama-sama tidak tahu, Aku lebih memilih memercayai apa yang dipercayai oleh orang terdekatku. Bagaimana dengan kalian?"

Ashmedia menyampaikan pendapat jujurnya sambil melayangkan pandangan ke arah para pejabat tinggi untuk mengonfirmasi.

Para pejabat tinggi serentak berlutut dan menundukkan kepala mereka dalam-dalam,

"Kami akan mengikuti keinginan Yang Mulia!"

Mereka mengucapkan kalimat persetujuan bersama-sama.

Kubu Dolce, kubu Ega, dan kubu netral melangkah keluar dari ruang singgasana Istana Kegelapan, menyisakan Yeti seorang diri di ruang singgasana yang luas itu.

Yeti selalu menunggu sampai Ashmedia keluar sebelum ia sendiri meninggalkan ruangan. Jadi, hal ini sebenarnya berjalan seperti biasa.

Yang berbeda hanyalah ekspresi Yeti yang tampak begitu serius seolah sedang menghadapi takdir.

"Kakek, sebenarnya ada apa?"

Bagi Ashmedia, Yeti sudah seperti orang tua yang membesarkannya.

Karena itu, saat hanya tersisa Yeti seorang, tutur bahasanya kembali ke gaya santai khas masa kecilnya.

Biasanya Yeti akan mengomelinya karena hal itu, namun kali ini berbeda.

"Yang Mulia, mohon terima ini."

Yeti mengeluarkan sebuah cincin bertatahkan permata putih bersih dari balik bajunya, lalu menggenggamkannya ke tangan kanan Ashmedia.

"Ini apa?"

"Yang Mulia, ini adalah permohonanku. Tolong simpan ini dan jangan pernah melepaskannya dari tubuh Anda."

"U-Ung. Aku paham."

Melihat Ashmedia mengangguk, Yeti menghembuskan napas lega dan mengangguk mantap.

Ia tersenyum lembut seperti yang selalu dilakukannya sejak Ashmedia masih kecil,

"Anda benar-benar sudah tumbuh besar. Sama seperti pendahulu Anda, Anda telah menjadi seorang Raja yang sangat luar biasa. Kalau sudah begini, Kakek tidak perlu mendampingi Anda lagi."

Ia bergumam penuh penghayatan. Ucapan itu terdengar seperti sebuah salam perpisahan,

"Aku tidak suka lelucon seperti itu. Kalau cuma itu yang ingin dikatakan, Aku sedang lelah. Bisakah Kakek meninggalkanku sendiri?"

Ashmedia memanyunkan bibirnya dan memerintahkannya untuk keluar.

"Benar juga. Kalau begitu, saya permisi dulu. Ah ya, kabarnya di dunia ini ada sebuah negara bernama Eldim yang dihuni oleh berbagai macam suku. Mungkin bisa menjadi referensi bagi Yang Mulia dalam membangun negara ideal. Mencoba menyelidikinya sekali mungkin akan menarik."

"Eh?"

Ashmedia refleks bertanya kembali karena topik Yeti yang mendadak.

Bagaimanapun juga, secara ideologi Yeti adalah faksi elang yang mengagungkan kaum iblis, dan pada dasarnya menentang jalur perdamaian yang diimpikan Ashmedia.

Malahan, saat Ashmedia mengusulkan hubungan dengan suku lain, Yeti biasanya akan marah besar.

"Tidak, abaikan saja. Menyuruh Anda tertarik pada kota yang diperintah oleh kerabat dekat manusia yang dibenci, sepertinya saya sudah pikun."

Yeti menggidikkan bahunya dan menggelengkan kepalanya lebar-lebar,

"Yang Mulia, kalau begitu saya permisi pamit."

Ia membetulkan posisinya, menundukkan kepala dalam-dalam, lalu melangkah keluar dari ruang singgasana.

(Kakek aneh...)

Ashmedia mengenakan cincin yang dititipkan Yeti ke jari tengah tangan kanannya. Ia mengangkat tubuhnya yang berat dari singgasana, lalu berjalan menuju ruang kerjanya untuk menuntaskan tugasnya sebagai Raja Iblis.

"...Ash...-sama."

Suara gedoran pintu yang bising menggetarkan gendang telinganya. Tampaknya ia tertidur di tengah-tengah mengesahkan dokumen.

Sambil mengerutkan wajahnya dengan jengkel ke arah tumpukan dokumen di atas meja, ia bangkit dari kursi dan berjalan menuju pintu.

Dengan alasan ingin fokus, Ashmedia biasanya tidak menempatkan orang di dalam ruang kerja.

Namun, mengingat kejadian di mana orang tak dikenal bernama Kyo bisa menyusup sampai ke kamar tidurnya, saat ini sejumlah prajurit pengawal bersenjata lengkap ditempatkan di luar ruang kerja.

Saat pintu dibuka, Dolce berdiri di sana bersama seorang prajurit pengawal berwajah pucat pasi. Dolce membungkuk hormat dan berkata,

"Yang Mulia, ini situasi darurat. Ega telah melakukan pemberontakan. Saat ini Tetua Agung sedang melakukan pemeriksaan secara langsung."

Ia menyampaikan laporan yang terasa seperti mimpi buruk bagi Ashmedia dengan suara tenang.

—Area Ritual di Lantai Teratas Istana Kegelapan

Kubu Ega mendadak melakukan pemberontakan bersenjata dan menduduki area ritual.

Namun, aksi itu berhasil diredam oleh pasukan khusus tentara inti Raja Iblis yang dipimpin oleh Dolce, dan saat ini mereka ditahan di sana.

(Ini yang terburuk...)

Kabarnya ada cukup banyak korban jiwa. Ia harus menjatuhkan hukuman yang berat kepada Ega.

Namun, bagaimanapun juga Ega adalah salah satu Jenderal Iblis yang memimpin pasukan Raja Iblis bersama Dolce.

Pemecatan Ega bisa menjadi alasan bagi Raja Iblis lain untuk melakukan invasi.

Terlebih lagi, jika hal ini diketahui oleh Mashiro, Sang Pahlawan legendaris yang dibenci itu, Negeri Kegelapan ini bisa hancur jika langkah mereka salah.

Bagaimanapun caranya, masalah ini harus diselesaikan dengan korban dan hukuman seminimal mungkin, atau Negeri Kegelapan ini tidak akan memiliki masa depan.

Sambil menahan perasaannya yang bergejolak, ia tiba di depan pintu area ritual.

Saat pintu dibuka dengan kencang dan ia melangkah masuk, aroma zat besi yang pekat langsung menyengat indra penciumannya.

(Apakah ini bau darah?)

Ia mengamati bagian dalam area ritual, lalu menatap lingkaran sihir berbentuk khusus yang diwarnai merah pekat di hadapannya.

Tampak tujuh tiang berdiri di setiap sudutnya, dan orang-orang terikat pada masing-masing tiang tersebut.

"—gh!?"

Rasa guncangan seolah kepalanya dipukul dengan benda tumpul terpancar ke seluruh tubuhnya. Separuh dari orang-orang yang terikat itu adalah Ega dan para petingginya, dan—

"K-Kakek!"

Tetua Agung Negeri Kegelapan yang sudah seperti ayah bagi Ashmedia, tampak terikat pada salah satu tiang.

"Yang Mulia... lari...lah..."

Tubuh Yeti tertusuk oleh banyak pedang, dan dalam kondisi sekarat jika dilihat secara sekilas.

Saat Ashmedia mengambil satu langkah untuk mendekati Yeti yang mengerang kesakitan, bagian bawah kakinya bersinar dan sesuatu seperti serabut berduri melilit pergelangan kakinya.

"Sekarang! Lakukan!"

Suara pria muda menggema, dan beberapa lapis objek berbentuk balok merah menyelimuti Ashmedia dari empat arah.

Ashmedia adalah Raja Iblis Kegelapan. Jika berpikir bisa mengurungnya dengan barang lemah seperti ini, itu adalah hal yang konyol!

"Jangan remehkan Aku!"

Ia mencengkeram balok merah itu dengan jemarinya dan mencabiknya dengan sekuat tenaga, hingga benda itu buyar menjadi kabut dengan sangat mudah.

"Cih! Dasar wanita beraga monster."

Saat mengalihkan pandangannya ke arah pria yang mendecak kencang itu, tampak seorang pria bertubuh kecil dengan kedua sudut mulut robek sedang berdiri sambil memasukkan tangan ke dalam saku mantel putih bersihnya.

"Procyon! Kenapa Kamu bisa ada di sini!?"

Ashmedia mengenali orang ini. Ia adalah salah satu dari Empat Raja Iblis, Raja Iblis Kabut, Procyon.

Tapi itu tidak mungkin. Ya, keberadaan pria yang merupakan Raja Iblis di tempat ini adalah hal yang tidak mungkin.

Sebab, item sihir tipe kekeji pembatas yang digali oleh pendahulu untuk menutupi seluruh area sekitar ibu kota Negeri Kegelapan ini selalu aktif setiap saat.

Item tipe kekeji pembatas seperti ini bisa memberikan efek yang sangat besar dengan membatasi target yang masuk.

Pendahulu memanfaatkan hal itu secara maksimal untuk membentuk kekeji yang menghalangi masuknya Empat Raja Iblis lainnya, Pahlawan, serta keberadaan yang setara atau lebih kuat dari mereka.

Terlebih lagi, jika ada keberadaan selain Negeri Kegelapan yang memiliki mana di atas tingkatan tertentu menyusup masuk, item itu memiliki efek untuk memberi tahu sosok yang mewarisi tahta Raja Iblis.



Illustrasi | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close