NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Saijaku Hakugai Made Sareta Kedo - Chou Nankan Meikyuu de 10 Mannen Shuugyoushita Kekka Volume 3 Chapter 1

Chapter 1

Kasus Piala Dewa


Akhirnya, ada instruksi dari Kerajaan Amelia kepada Rose untuk kembali ke ibu kota. Saat ini, kami sedang menuju ke sana menggunakan kereta kuda.

"Meski begitu, Barce juga sudah banyak berubah, ya."

Mendengar kesan Rose yang terdengar begitu mendalam itu,

"Yah, sepertinya sudah banyak Hunter yang beraktivitas di kota baru itu."

Aku pun ikut menimpali.

Di sisi utara kuil kuno lama, membentang padang rumput yang luas dan subur. Sebagai hasil dari penyelidikan para Hunter tingkat tinggi di sana, banyak sumber daya berharga yang berhasil ditemukan.

Secara geografis, seseorang harus melewati area sekitar kuil kuno lama untuk bisa pergi ke utara.

Area sekitar kuil lama ini merupakan tempat berkumpulnya monster berbahaya, yang selama ini mencegah siapa pun memasuki tanah tak bertuan tersebut.

Namun, akibat insiden serangan monster kali ini, gerombolan makhluk itu berhasil dibasmi habis-habisan oleh para Hunter Barce yang dipimpin oleh Komandan Kesatria Kerajaan Amelia, Arnold, dan Hunter Rank S, Beo.

Alhasil, tak ada lagi yang menghalangi jalan masuk ke utara, dan Lautan Pohon Silke pun benar-benar menjelma menjadi surga bagi para Hunter.

"Kota baru yang terbentuk karena tindakan nekatmu itu, kan? Sesuai dugaan, kerajaan mengklaim kepemilikannya dan sepertinya sedang berselisih hebat dengan Guild Hunter."

"Ah, soal itu jujur saja sedikit di luar dugaanku."

Di kuil kuno lama, sebelumnya memang menjulang bangunan berselera buruk yang didirikan oleh kelompok Tiamat, tetapi aku merombaknya agar bisa digunakan untuk pesta.

Pikirku, toh pada akhirnya akan dibongkar juga, jadi tidak masalah kalau aku sedikit bertindak nekat.

Namun, instruksi sembarangan yang kuberikan pada kelompok Buku Panduan Penaklukan yang konyol itu justru menjadi bumerang.

Hanya dalam waktu semalam, sebuah bangunan super raksasa telah berdiri tegak.

"Seharusnya masalah ini tidak bisa dianggap hal yang sepele, lho."

Saat Rose melontarkan komentar konyol itu dengan ekspresi campur aduk, kereta kuda kami mendadak berhenti.

"Aneh. Seharusnya kita belum sampai di kota penginapan...."

Rose memiringkan kepalanya dengan raut wajah bingung.

"Nona Rose, biar aku yang periksa!"

Anna segera keluar dari kereta. Namun, ia langsung kembali ke dalam dengan panik, lalu—.

"Ada seorang perempuan yang pingsan di jalan!"

Ia menjerit dengan suara melengking sambil menunjuk ke arah luar.

◇◆◇

Rose mengusulkan agar kami menghentikan kereta dan beristirahat sejenak sampai gadis yang pingsan itu siuman.

Aku pun menyetujuinya. Lagipula perjalanan ini tidak terburu-buru, jadi kurasa tak masalah.

Saat ini, kami menggelar tikar di atas tanah dan membaringkan gadis itu di sana.

Gadis itu memiliki rambut hitam panjang yang berkilau dengan poni yang terpotong rapi.

Ia mengenakan gaun terusan berwarna hitam yang memadukan atasan dan rok pendek, dibalut dengan mantel hitam panjang berkerudung besar.

Dilihat dari hiasan mewah yang menempel pada pakaiannya, harganya pasti sangat mahal.

Ia tampak seperti putri dari keluarga bangsawan entah dari mana.

Masalahnya adalah, mengapa putri bangsawan terhormat sepertinya bisa jatuh pingsan di tempat yang tidak ada apa-apa selain padang rumput ini?

Tidak ada kota di sekitarnya. Mustahil kesimpulannya hanya sekadar tersesat. Apakah dia diculik oleh bandit lalu melarikan diri? Ataukah dia kabur dari rumah?

Yah, semuanya akan jelas kalau aku bertanya langsung padanya.

"Tuan, sepertinya gadis ini adalah makhluk campuran."

Asta yang duduk di sebelahku memberikan laporan itu sambil membenarkan letak kacamata sebelahnya dengan tangan kanan.

Jika Asta sudah mengoceh panjang lebar dengan cepat, bisa dipastikan fenomena tersebut sangatlah langka.

"Makhluk campuran? Apa maksudmu?"

"Artinya sesuai dengan namanya. Akibat sebagian jiwanya bercampur secara tidak sempurna, ada kemungkinan berbagai hal pada dirinya mengalami perubahan."

"Mulai dari penampilan fisik seperti warna kulit, mata, dan rambut, hingga sifat Mana serta Physical Stats miliknya. Kemungkinan besar, wujudnya akan kembali seperti semula jika penyatuan jiwanya sudah stabil."

Hmm. Intinya, wujudnya yang sekarang hanyalah wujud sementara. Jujur saja, itu bukanlah hal yang penting bagiku.

"Sepertinya dia sudah bangun."

Mendengar ucapan Asta, aku kembali menatap gadis itu. Ia tampak mengucek matanya dengan mengantuk.

Gadis itu lalu menghalangi sinar matahari dengan tangan kanannya, mengangkat tubuh bagian atasnya, lalu menguap lebar sambil meregangkan badan.

Benar-benar sikap yang santai.

Sama sekali tak terlihat seperti putri bangsawan yang baru saja diculik bandit.

Atau mungkin saja dia memang punya mental yang kelewat tangguh.

"Sepertinya kamu sudah sadar."

Gadis itu menatapku dengan wajah kebingungan.

"Kamu ini siapa?"

Dia melontarkan pertanyaan yang sangat tidak sopan.

Hmm, menegur tata krama anak muda juga merupakan tugas orang dewasa, kan.

"Hmm, kalau ingin menanyakan nama orang lain, bukankah sebaiknya kamu menyebutkan namamu sendiri lebih dulu?"

Mendengar perkataanku, ia memiringkan kepalanya, menyilangkan kedua lengan di dada, lalu mulai bergumam pelan.

Tingkahnya sama sekali tak terlihat seperti sedang bercanda.

Dia tampak benar-benar kebingungan. Jangan-jangan, dia....

"Kai, dia jadi kebingungan. Kemungkinan ingatannya masih kacau karena baru pingsan, jadi sebaiknya kita biarkan dia istirahat sebentar sebelum menanyakan detailnya."

Di tengah suasana canggung yang terasa seperti baru saja melontarkan lelucon garing, Rose memberiku bantuan dari samping.

Sudah kuduga, aku memang tidak seharusnya melakukan hal yang tidak sesuai dengan tabiatku.

Aku berdeham keras untuk menutupi rasa canggung, lalu berkata.

"Aku Kai Heineman. Hanya seorang ahli pedang rendahan. Yah, salam kenal."

Aku pun mengulurkan tangan kananku padanya.

◇◆◇

Kami menanyakan keadaannya, tetapi situasinya benar-benar seperti lelucon.

Jangankan namanya, ia bahkan tidak tahu siapa dirinya sendiri.

Inilah yang biasa disebut dengan hilang ingatan.

Untuk berjaga-jaga, aku meminta Satori, sang pakar mental, untuk memeriksa apakah ingatan gadis itu bisa dikembalikan, tetapi ternyata itu mustahil.

Kemungkinan ini adalah efek samping dari jiwanya yang menyatu secara tidak sempurna.

Melalui kemampuan Satori, satu-satunya hal yang bisa kami ketahui hanyalah kepingan ingatan masa lalu yang paling berbekas di hatinya.

Dari sanalah kami mengetahui bahwa namanya adalah Ash.

Kami tidak mungkin menelantarkan seorang gadis yang amnesia dan jiwanya sedang bercampur.

Akhirnya, Ash ikut bersama kami untuk sementara waktu, dan perjalanan menuju ibu kota pun dilanjutkan.

Hingga akhirnya, kami tiba di tujuan.

"Itu dia ibu kota Kerajaan Amelia, Alamgard!"

Di ujung telunjuk Anna, tampak sebuah tembok kota yang luas dan menjulang tinggi.

Bagian dalam tembok itulah yang disebut sebagai wilayah ibu kota.

Membangun tembok sebesar itu benar-benar pencapaian yang mengagumkan.

Yah, jujur saja ini bukan sekadar kekaguman biasa, melainkan rasa takjub yang membuatku ternganga.

Kurang lebih begitulah perasaanku saat ini.

"Wahh!"

"Waahh!"

"Heeeh...."

Selain Faf dan Miu, Ash pun ikut mencondongkan tubuhnya keluar dari kereta dan bersorak takjub bersama mereka.

Hei, Ash... untuk apa kamu ikut-ikutan heboh begitu?

Mungkin ini karena usia mental mereka tidak jauh berbeda, sehingga Faf, Miu, dan Ash dengan cepat menjadi sangat akrab layaknya saudari. Dan kemudian—.

"Semuanya, setelah kita sampai di ibu kota, aku akan mengantar kalian ke toko manisan langgananku!"

Anna mencondongkan badannya ke depan. Ia menempelkan telunjuk di depan wajahnya sambil mengedipkan mata kanannya.

"Manisan!?"

"Manisaaan!"

"Benarkah!? Aku juga mau makan!"

Melihat reaksi ketiga anak itu yang berbeda-beda, senyum di wajah Anna pun mengembang.

Bagi Anna, Faf dan Miu sudah seperti adik perempuannya sendiri.

Kini, ia sering merawat mereka di sela-sela tugasnya mengawal Rose. Anak-anak sangat jeli mengamati orang di sekitarnya.

Awalnya Faf sangat waspada terhadap Anna.

Namun, setelah menyadari bahwa gadis itu tak memiliki niat jahat, ia perlahan mulai menurutinya.

Sekarang, Faf bahkan lengket padanya, hampir setara dengan kedekatannya padaku dan Rose.

Ash pun sama. Awalnya ia menjaga jarak, tetapi setelah menyadari bahwa ia adalah gadis lugu yang ceroboh, Anna mulai sibuk merawatnya dalam banyak hal.

"Anna benar-benar sudah berubah, ya."

Rose menatap Anna dengan tatapan hangat layaknya seorang ibu yang mengawasi anaknya.

"Yah, kalau dalam kasusnya, dia itu cuma pemalu tingkat dewa saja, kan."

Belakangan ini, gaya bicara Anna pun menjadi sangat lembut seperti orang yang berbeda, dan ia jadi lebih sering tersenyum. Aku yakin, sosoknya yang sekarang adalah sifat aslinya.

"Mungkin saja, ya. Ngomong-ngomong, Kai, apa yang akan kamu lakukan setelah kita tiba di ibu kota?"

"Paman Olga sudah mewanti-wantiku dengan keras. Kurasa aku harus menemui Ibunda lebih dulu."

Sepertinya Ibunda sangat cemas karena aku tak kunjung datang.

Namun, Keith yang tiba lebih dulu di ibu kota tampaknya sudah menjelaskan situasinya dengan baik, sehingga Ibunda tidak sampai nekat menyusulku ke Barce.

Yah, Ibunda pasti mendengarnya dari Keith. Beliau sepertinya mengirim surat pada Paman Olga di Barce, dan Paman yang memasang wajah panik terus mendesakku agar segera menemui Ibunda begitu tiba di ibu kota.

Dilihat dari ekspresi Paman yang hampir menangis itu, isi surat Ibunda pasti sangat mengerikan.

Terlepas dari itu, ini adalah pertemuan pertamaku dengan Ibunda setelah sekitar seratus ribu tahun, tetapi anehnya aku masih mengingat wajah dan kenangan bersamanya dengan sangat jelas.

Namun yang jadi masalah, diriku yang sekarang sudah banyak berubah, sehingga aku sama sekali tidak yakin bisa berinteraksi dengannya secara normal.

"Benar juga. Toh kita akan menetap di ibu kota untuk sementara waktu, jadi manfaatkanlah momen ini untuk menghabiskan waktu berdua sebagai ibu dan anak."

"Tidak, aku hanya berniat menampakkan diri saja."

Kebiasaan, gaya bicara, dan sifatku yang sekarang benar-benar berbeda dengan diriku di masa lalu.

Ibunda pasti juga enggan jika harus tinggal bersama orang yang terasa asing, walau hanya sebentar.

"Seperti biasa, kamu ini memang tidak jujur, ya."

"Bukan begitu, aku hanya selalu setia pada pendirianku sendiri."

Aku selalu hidup seperti ini selama seratus ribu tahun terakhir, dan ke depannya pun pasti akan tetap sama.

"Iya, iya, anggap saja begitu untuk saat ini."

Rose mengangkat bahu dengan ekspresi lelah, lalu mengalihkan pandangannya ke arah ibu kota.

Ekspresi yang terpancar di wajah Rose saat menatap ibu kota kampung halamannya bukanlah kelegaan karena telah kembali.

Ia justru memancarkan ketegangan, seolah tengah menginjakkan kaki di wilayah musuh.

Dilihat dari gelagatnya yang tak biasa ini, ibu kota ini pastilah tak ada bedanya dengan sarang iblis. Semoga saja tak ada masalah yang merepotkan nanti.

Firasat buruk yang terlintas di benakku saat itu, ternyata benar-benar menjadi kenyataan.

Kehidupanku pun kini semakin menjauh dari kehidupan damai yang sangat kudambakan.

◇◆◇

"Kaa-kun!!"

Pintu depan rumah bata berlantai dua itu terbuka dengan kasar.

Seorang wanita jangkung berambut perak dengan raut wajah lembut berhambur keluar dan langsung memelukku erat-erat.

Benar sekali. Ibunda adalah sosok yang masih belum bisa merelakan anaknya tumbuh dewasa.

"Bagaimana kabarmu? Ibu dengar rumor kalau keadaan di Barce sedang kacau. Kamu tidak terjebak dalam bahaya, kan?"

Beliau meraba seluruh tubuhku untuk memastikan keadaanku.

"Iya. Aku tidak apa-apa, Ibu."

Seingatku, gaya bicaraku di masa lalu memang seperti ini. Entah mengapa, rasanya benar-benar canggung.

"...."

Ibunda mencengkeram kedua bahuku, lalu menatap wajahku lekat-lekat.

"Kaa-kun, apa kamu terlihat sedikit lebih dewasa sekarang?"

Dia malah melontarkan pertanyaan yang sangat sulit untuk kujawab.

"Yah, begitulah."

Jangankan sedikit lebih dewasa, aku bahkan sudah berusia seratus ribu tahun. Kalau dipikir-pikir, eksistensiku sekarang benar-benar terasa seperti lelucon.

"Begitu, ya.... Kaa-kun sekarang sudah tumbuh besar rupanya."

Air mata menggenang di sudut matanya saat ia kembali memelukku dengan erat.

Awalnya aku berniat langsung berpamitan setelah menyapanya, tapi sepertinya itu mustahil.

Sebagai Hunter Rank A, Ibunda sangatlah sibuk dan pasti tidak akan berlama-lama di rumah ini.

Aku berencana kabur saat ia pergi bekerja, dengan meninggalkan sepucuk surat yang mengatakan bahwa aku sudah mendapat pekerjaan dengan fasilitas tempat tinggal. Toh alasanku itu tidak sepenuhnya salah.

"Ayo, Ibu akan masakkan makanan. Masuklah dulu."

Mau bagaimana lagi, untuk saat ini aku harus menurutinya.

Yang jadi masalah adalah anak-anak itu, tetapi aku sudah menyerahkan tugas menjaga Faf dan Miu pada Anna serta Asta si pelayan gadungan. Apalagi, ada Ash juga di sana.

Mereka pasti tidak akan kesepian, dan seharusnya tidak ada masalah jika aku pergi selama beberapa hari.

Namun jika lebih dari itu, Faf pasti akan mulai mencariku, jadi aku harus menampakkan diri di sana suatu saat nanti.

◇◆◇

Benar saja. Tiga hari kemudian, Ibunda harus meninggalkan ibu kota selama sekitar dua bulan karena urusan pekerjaan.

Hunter Rank A yang sedang naik daun memang selalu sesibuk itu, dan hal ini masih berada dalam jangkauan dugaanku.

Aku meninggalkan sepucuk surat di atas meja yang menyatakan bahwa aku telah menemukan pekerjaan baru beserta tempat tinggalnya, lalu bergegas keluar.

Aku pun menuju penginapan kecil di distrik komersial barat laut ibu kota, tempat Faf dan yang lainnya menetap.

Setibanya di penginapan, Rose memberitahuku bahwa Faf terus-terusan murung belakangan ini. Kondisinya cukup parah sampai-sampai ia menolak makan.

Anna dan Ash bahkan bergantian mengawasinya sepanjang waktu, tetapi mereka tak berhasil menghiburnya.

Begitu aku masuk ke kamar Anna tempat Faf berada, anak itu langsung memelukku erat dan tak mau melepaskannya.

Namun, setelah ia tenang, ia malah membuang muka dan enggan berbicara sepatah kata pun.

Gawat juga, baru berpisah tiga hari denganku, dia benar-benar merajuk. Demi membujuknya, aku terpaksa mengajak Faf dan Miu makan malam lebih awal di kedai terdekat.

"Sudahlah, jangan merajuk lagi."

"Aku tidak peduli!"

Faf kembali membuang muka. Namun, setidaknya ini masih lebih baik daripada saat dia menolak bicara sama sekali tadi.

Yah, selama puluhan ribu tahun ini, Faf dan aku tak pernah berpisah barang sedetik pun, jadi wajar saja jika ia bersikap begini setelah kehilanganku secara tiba-tiba.

Padahal aku sangat paham betapa menakutkan dan mencemaskannya kehilangan keluarga secara mendadak.

Meski terlambat, aku sadar seharusnya aku lebih peka terhadap perasaannya. Aku benar-benar ceroboh.

"Maafkan aku, ya, Faf."

Aku mengelus kepala Faf dengan lembut seperti biasanya.

"Aku takkan tertipu! Faf itu, Faf itu...."

Aku terus mengusap kepalanya dalam diam, membiarkan air mata Faf jatuh berderai membasahi pipinya.

◇◆◇

Miu memandangi Faf dengan tatapan kosong.

Gadis naga itu kini tertidur berbantalkan pangkuanku karena kelelahan menangis.

"Ada apa?"

"Bukan apa-apa...."

Mendengar suaranya yang seakan mau menghilang, ucapannya itu sama sekali tidak meyakinkan.

"Seorang anak tak perlu merasa sungkan. Bukankah aku sudah mengatakannya padamu sejak awal?"

Miu tertunduk sambil mencengkeram erat rok di atas lututnya.

"Aku ingin bertemu Ayah, Ibu, dan Kakak."

Miu berseru dengan suara bergetar. Tetesan air mata jatuh membasahi punggung tangannya yang mungil.

Ingin bertemu keluarga, ya. Benar juga, Miu masih berada di usia di mana ia membutuhkan kasih sayang mereka.

Bahkan aku sendiri sangat merindukan Ibu dan Kakekku saat pertama kali tertelan ke dalam Dungeon Khusus Kaum Lemah, jadi tentu rasanya jauh lebih berat bagi anak sekecil Miu.

"Begitu ya. Setelah urusanku di sini selesai, aku pasti akan punya sedikit waktu luang."

"Nanti, kita akan mencari keluargamu bersama. Jadi, bersabarlah dan jadilah anak baik sampai saat itu tiba, oke?"

"Hiks...."

Miu akhirnya berpegangan padaku dan menangis tersedu-sedu.

Sejujurnya, jika menilik ceritanya, peluang keluarganya masih hidup sangatlah tipis.

Saat militer Kerajaan Amelia menyerang, kedua orang tua Miu menyembunyikan Miu dan kakak perempuannya di hutan, sementara mereka sendiri memilih bertahan di kota demi mengevakuasi para warga sipil.

Sangat mustahil mereka bisa melarikan diri dari kota dalam situasi seperti itu, dan jika tertangkap, para ras Beastkin pasti akan langsung dieksekusi tanpa belas kasihan. Meski begitu—.

(Pahlawan Mashiro... dia benar-benar pria yang sangat menyebalkan.)

Peperangan antara Kerajaan Amelia dan kaum Beastkin pada akhirnya bermula dari sang pahlawan legendaris Mashiro.

Ajaran Gereja Pusat yang memuja Dewa Perang Suci Ares sebagai dewa tunggal menyebutkan bahwa ras Manusia dan Peri yang menerima karunia dari dewa dianggap mulia.

Sebaliknya, ras Beastkin yang jarang mendapatkannya dianggap sebagai kaum hina, sehingga segala bentuk diskriminasi terhadap mereka dianggap wajar.

Pahlawan Mashiro memanfaatkan dogma Gereja Pusat itu sebagai dalih.

Ia bersekongkol dengan bangsawan tingkat atas Kerajaan Amelia dan menjadikan insiden bentrokan kecil dengan ras Beastkin sebagai alasan untuk melenyapkan mereka.

Alhasil, ras Beastkin mengalami kekalahan pahit, akan tetapi itu tidak berarti negara Beastkin lenyap sepenuhnya.

Sedari awal, kaum Beastkin terdiri dari gabungan suku-suku kecil yang membentuk sebuah negara.

Urusan politik negara diputuskan melalui dewan para kepala suku, di mana jabatan raja biasanya diduduki oleh klan yang mewarisi posisi pendeta secara turun-temurun.

Sejak perang tersebut, suku-suku Beastkin yang kalah perang menanggung nasib yang berbeda-beda.

Sebagian dipaksa masuk ke dalam Kerajaan Amelia, sementara sisanya mendeklarasikan diri sebagai Kerajaan Beastkin di bawah bayang-bayang Kerajaan Amelia.

Namun, salah satu anggota keluarga kerajaan berhasil menyatukan suku-suku kecil yang tersisa dan membangun kota netral bernama Eldim.

Berkat penerimaan terbuka terhadap ras-ras selain Beastkin, Eldim pun diakui sebagai Kota Pelajar Netral di Sidang Dunia, bahkan mendapat pengakuan dari Babel, sehingga berhasil menjaga kedaulatannya sebagai sebuah negara.

Berdasarkan hal itu, jelas sekali bahwa Pahlawan Mashiro-lah yang menyeret ras Beastkin ke dalam jurang penderitaan.

Melihat kebejatan Card and Coin, guild sampah yang dibekingi oleh Mashiro, sudah pasti bahwa pahlawan di dunia ini tak lebih dari sekadar benalu.

Masalah utamanya adalah Lena dan Keith, teman masa kecilku yang sangat berharga, malah terseret ke dalam kelompok pahlawan rendahan itu.

Bergabung dengan party pahlawan memang pilihan mereka sendiri, sehingga aku tidak punya hak untuk ikut campur, tapi kasarnya negara busuk bernama Kerajaan Amelia ini seolah telah menahan mereka sebagai tawanan.

Tentu saja, saat mereka berani melukai dua sahabatku itu, pahlawan dan negara sampah ini akan secara resmi menjadi musuhku.

Dan jika itu terjadi, aku takkan memberikan ampun, aku akan melenyapkan keduanya dari muka bumi ini tanpa sisa sedikit pun.

"Yo."

Mendengar sapaan tiba-tiba itu, aku mendongak.

Tampak seorang pria berpostur kekar setinggi dua meter dengan rupa layaknya binatang buas berdiri di depanku.

"Zack, kamu juga datang ke ibu kota?"

"Yah, begitulah. Bisa dibilang, aku juga sudah diangkat menjadi kesatria bagi Putri Rose. Mohon bimbingannya."

Zack mengempaskan tubuhnya ke kursi di seberangku, memesan makanan, lalu melahapnya dengan rakus.

Begitu ya, pasti Rose telah merekrutnya sejak kejadian itu.

Namun, ini adalah situasi yang sangat menguntungkan bagiku karena Zack memiliki bakat bela diri yang luar biasa, sehingga jika dilatih, dia pasti akan menjadi sangat kuat.

Ditambah lagi, dia punya harga diri sebagai seorang prajurit.

Selama dia mendapatkan kekuatan absolut, dia tidak akan pernah kalah dari para petinggi kerajaan yang bodoh itu, dan aku jadi bisa menyerahkan pekerjaan sangat berbahaya seperti Royal Guard ini padanya tanpa rasa khawatir.

Tentu saja, Zack yang sekarang masih jauh dari kata pantas, sehingga aku harus bertindak sebagai Royal Guard sampai dia menguasai tingkat kekuatan tertentu.

Masalah utamanya adalah, apakah Zack bersedia menjalani pelatihanku?

Lagipula, Zack selama ini menganggapku sebagai saingan, jadi tidak mungkin dia mau menerima ajaranku dengan mudah.

Yah, lihat saja nanti perkembangannya.

"Zack, aku akan melatihmu mulai besok."

"B-Benarkah!?"

Zack mencondongkan badannya dengan ekspresi garang.

Meski sedikit kewalahan dengan reaksinya, aku tetap melanjutkan ucapanku.

"Ya. Tapi ingat, aku adalah ahli pedang, dan seni bela diri tangan kosong bukanlah keahlianku. Karena itu, aku hanya bisa mengajarkan metode murni agar kamu menjadi lebih kuat dalam pertarungan. Apa kamu tidak keberatan?"

"Tentu saja! Asalkan bisa tambah kuat, aku tak peduli! Ternyata menerima tawaran sang Putri memang keputusan yang tepat! Kakek tua itu pasti bakal menangis frustrasi!"

Ucapannya barusan sangat tidak masuk akal, tetapi kesediaan Zack untuk berlatih bersamaku adalah keberuntungan yang tak terduga. Mulai besok, aku akan menempa dirinya habis-habisan.

◇◆◇

Sekitar satu bulan telah berlalu sejak kami menetap di ibu kota.

Pertama-tama soal pelatihannya.

Zack memang berbakat dalam seni bela diri, tetapi ia masih jauh dari kata mahir dalam berbagai aspek.

Ia butuh peningkatan Level setidaknya untuk bisa bertahan di pelatihanku, karena kondisinya yang lemah saat ini sama sekali tak layak disebut sebagai latihan.

Cara tercepat untuk meningkatkan kemampuan adalah dengan menguasai konsep yang baru.

Karena itulah, aku memutuskan untuk mengajarinya Non-Elemental Buff Magic.

Sihir ini di dunia ini umumnya butuh perapalan panjang dan khasiatnya pun tak seberapa, menjadikannya sihir yang sama sekali tidak berguna dan reputasinya benar-benar sangat buruk.

Awalnya aku mengira Zack akan menolak mentah-mentah, tetapi ternyata dia dengan patuh mengikuti instruksiku.

Mempelajari teknik semacam ini sangatlah rumit dan memakan waktu bertahun-tahun, namun begitu kau mengerti polanya, itu tak lagi sulit.

Tiga minggu kemudian, Zack berhasil memanggil sihir itu tanpa perlu merapal mantranya.

Akan tetapi, terkadang ia gagal dua atau tiga kali, dan sihir yang ia gunakan baru sebatas merombak kekuatan Mana pada tubuhnya sebagai peningkat kemampuan.

Intinya, ia baru memasuki ambang pintu dari Non-Elemental Buff Magic.

Meski kondisinya masih sangat rentan, Physical Stats miliknya melonjak tajam, sehingga Zack sendiri terus kegirangan sepanjang waktu.

Ada satu hal yang tak terduga, yaitu gadis Beastkin berambut perak, Miu. Melihat latihan Zack, ia memintaku untuk ikut mengajarinya, dan saat kuajari, anak itu bisa menyerap pelajaran dengan sangat cepat.

Bahkan bukan lagi soal kemampuannya dalam memahami sesuatu, ini sudah menyangkut kompabilitas sihir.

Mungkin, sihir ini jauh lebih cocok bagi ras Beastkin daripada manusia.

Walau kemampuan fisiknya meningkat, tanpa penguasaan bela diri yang mumpuni, semua itu percuma.

Aku pun menitipkan Miu pada Nemea yang juga berasal dari ras Beastkin untuk mengajari Miu dasar-dasar bela diri secara perlahan setiap harinya.

Anna bertugas mengasuh Faf dan Miu. Akhir-akhir ini, mereka sepertinya sering bermain bersama di ibu kota.

Rose sendiri sibuk melahap berbagai buku yang kuberikan.

Berbeda dengan Asta, bacaan Rose lebih banyak didominasi oleh literatur politik, mulai dari sistem pemerintahan, sistem pajak, hingga kemiliteran.

Ash tampaknya tak menyukai keramaian, sehingga pada awalnya ia enggan keluar dari penginapan.

Ia sangat cepat bergaul dengan para wanita, tetapi tetap menjaga jarak dariku dan Zack.

Namun, sejak aku mengajarinya memasak karena iseng, ia malah kecanduan dengan aktivitas tersebut. Kebetulan akhir-akhir ini aku juga sedang menganggur, jadi aku mengajarinya memasak secara rutin.

Ngomong-ngomong soal Ibunda, aku tadinya berniat mengucapkan terima kasih pada Lena dan Keith.

Namun sayang, saat ini mereka tengah menimba ilmu di Kota Pelajar Netral, Babel, jadi aku tidak bisa bertemu mereka.

Yah, lagipula aku lumayan tertarik pada Babel, dan mungkin saja suatu hari nanti aku akan mampir ke sana, jadi nanti saja kutemui mereka saat itu terjadi.

Tak lama sebelum keberangkatanku dari Barce, ada seseorang yang secara mengejutkan mencoba menghubungiku lewat perantara Guild Hunter Barce.

Ia adalah pedagang budak yang menjual Miu padaku waktu itu, yang katanya sedang berpikir untuk beralih profesi, jadi ia mencariku untuk meminta saran.

Tentu saja, aku ini hanyalah seorang ahli pedang, dan aku bukanlah pakar dalam bidang semacam itu.

Merasa itu sangat melenceng dari bidangku, awalnya aku menolak, namun Guild Hunter memohon agar aku bersedia membantunya.

Alasan formal mereka adalah untuk mencegah memburuknya keamanan di kota baru yang tengah dibangun dengan sangat pesat itu.

Akan tetapi, mengingat betapa liciknya pedagang budak itu, sepertinya ia berhasil membujuk Guild Hunter untuk bekerja sama dengannya.

Yah, begitulah ceritanya kenapa aku sampai bertemu dan mengobrol langsung dengannya.

Ternyata, dia sudah bertekad untuk terjun ke bisnis penyaluran tenaga kerja, dan ia hanya datang untuk berdiskusi tentang seluk-beluk pelaksanaannya.

Aku mengutip inti sari dari buku-buku manajemen dan ekonomi yang kubaca di dalam Dungeon itu untuk kujadikan saran.

Setelah itu, aku melimpahkan sisanya pada Girimekhala, yang sebelumnya memohon agar aku menyerahkan masalah ini padanya, karena makhluk licik yang berakar di dunia bawah itu merupakan pion terbaik yang dimiliki Girimekhala.

Meski terkesan aku melempar tanggung jawab begitu saja, toh dia sendiri yang memintanya, jadi kurasa tak jadi soal.

Di saat aku sedang menikmati hari-hari yang cukup memuaskan di ibu kota ini, Rose mendadak memanggilku untuk datang ke Istana Kerajaan.

◇◆◇

"Tunggulah di sini sebentar."

Begitulah instruksi yang dilontarkan oleh seorang pemuda dengan sikap angkuh yang tampaknya adalah seorang pejabat sipil.

Aku pun menuruti perkataannya dan duduk menunggu di sofa yang empuk, sampai akhirnya pejabat sipil yang sama kembali masuk ke dalam ruangan.

"Kamu akan menemui Yang Mulia sesaat lagi. Tapi ingat, Ruang Takhta bukanlah tempat yang bisa dipijak oleh pecundang tak berdarah biru sepertimu, jadi ingat baik-baik, jangan sampai kamu melakukan kecerobohan sekecil apa pun."

Aku berasal dari keluarga ksatria kehormatan, yang artinya aku bukanlah seorang bangsawan sejati.

Singkatnya, dia menyindirku agar jangan terlalu besar kepala dan bersikap sok hebat.

"Iya, iya."

Aku menjawabnya dengan enteng, lalu bangkit berdiri sambil meregangkan ototku.

Alis pemuda itu sedikit berkedut kesal, tetapi ia langsung melenggang keluar ruangan tanpa sepatah kata pun.

Hmm, kelihatannya aku sudah memancing amarahnya, tapi sungguh, aku sama sekali tak peduli dengan perasaan si anak manja itu.

Suasana di sekelilingku dihiasi oleh tangga, pilar, dinding, dan langit-langit yang terbuat dari batu putih nan memesona, dengan karpet merah menyala membentang di atas tangga tersebut.

Aku pun menapaki anak tangga itu, lalu tiba di sebuah pintu ganda berukuran raksasa di ujung jalan.

"Omong kosong."

Entah berapa banyak kekayaan yang digelontorkan untuk menciptakan pemandangan semewah ini.

Mustahil kemewahan ini semata-mata dibiayai oleh rampasan perang dari negara lain, dan pastilah sumber pendanaan utamanya berasal dari pajak yang mencekik rakyat mereka sendiri.

Dengan kata lain, kemewahan ini tak ubahnya bukti nyata keserakahan mereka dalam memeras harta rakyatnya sendiri.

Tak peduli betapa mewahnya tempat yang hanya bisa diakses oleh kaum bangsawan dan pejabat tinggi ini, pada akhirnya hal ini hanyalah pemuasan ego semata.

Ada begitu banyak hal yang jauh lebih bermanfaat bagi negara yang bisa dibangun dari uang tersebut. Apa yang dikatakan Rose memang benar, negara ini benar-benar telah membusuk hingga ke akarnya.

Kedua pintu raksasa itu terbuka lebar diiringi tatapan tajam dari para ksatria yang berjaga di sisi kanan dan kirinya.

Inilah yang disebut dengan Ruang Takhta, pikirku, dan di dalam ruangan super megah itu, berdirilah dua kelompok yang saling berhadapan.

Di sisi kiri, berdiri sekelompok pejabat sipil berpakaian mewah yang dipimpin oleh sang menteri, sedangkan di sisi kanan berbarislah para ksatria yang mengenakan zirah putih murni.

Di atas takhta yang menjulang di tengah ruangan, duduk seorang pria berambut pirang yang memancarkan aura liar dan mengintimidasi, dan di depan takhta itu berdirilah dua gadis bergaun dan seorang pemuda.

Gadis bergaun putih di sana adalah Rose, dan jika benar begitu, sepasang pria dan wanita berambut pirang itu pastilah pangeran dan putri yang setara dengannya.

Dua pria di sebelah mereka kemungkinan besar adalah Royal Guard masing-masing.

Dihujani tatapan penuh permusuhan oleh para ksatria dan pejabat sipil, aku berjalan dengan santai mendekati Rose.

Masa bodohlah dengan semua ini. Lagipula aku hanya akan berperan sebagai badut tolol sampai batas kemampuanku.

"Tundukkan kepala kalian!"

Pria yang tampaknya merupakan seorang menteri itu berteriak lantang. Seketika itu juga, semua orang yang ada di sana meletakkan tangan kanan mereka di dada dan membungkuk serempak.

Tentu saja, sebagai pihak luar yang bukan merupakan abdi dalem kerajaan, aku hanya memberikan anggukan kecil sebagai penghormatan.

Yah, setidaknya ini adalah wujud tata kramaku sebagai orang dewasa, dan sambil menyunggingkan seringai congkaknya, sang Raja menyapu pandangannya ke seluruh ruangan.

"Alasanku mengumpulkan kalian kali ini tak lain karena metode pemilihan calon pewaris takhta telah diputuskan."

Sudah kuduga, hawa tegang yang sedari tadi menyelimuti ruangan ini berkaitan dengan perang pewaris takhta, dan intinya metode pemilihan yang ia maksud itu hanyalah sekadar penjelasan mengenai peraturan perang tersebut.

Terbukti, tak seorang pun yang terkejut, seolah perang pewaris takhta itu sudah menjadi rahasia umum.

"Kalau begitu, aku akan menjelaskan peraturannya. Yah, peraturannya tidak terlalu rumit. Mulai sekarang, masing-masing kandidat akan ditugaskan untuk mengelola suatu wilayah."

"Evaluasi dasar akan dinilai dari tingkat perkembangan manajemen wilayah tersebut, ditambah dengan kontribusi kalian terhadap Kerajaan Amelia, dan gabungan dari keduanya akan menentukan total poin kalian dari skala sepuluh. Empat tahun dari sekarang, saat Louise yang termuda genap berusia dewasa, kandidat dengan penilaian tertinggi akan diangkat menjadi Raja berikutnya. Bagaimana? Sangat mudah dipahami, bukan?"

Raja mengangkat sudut bibirnya hingga membentuk sebuah seringai, jelas pria ini sedang menikmati momen ini.

Pada akhirnya, sang Raja telah membiarkan kebrutalan pahlawan dan bangsawan tinggi terus merajalela di negaranya sendiri, padahal jika dia mau, tragedi yang terjadi pasti bisa dicegah.

Tentu saja, aku adalah seorang prajurit tempur, dan usiaku juga sudah terlampau tua. Aku paham betul bahwa pengorbanan nyawa adalah hal mutlak yang terkadang tak bisa dihindari oleh seorang pemimpin.

Namun, mengenai konflik dengan ras Beastkin, semua itu bermula murni demi memuaskan nafsu pribadi mereka semata, jadi setidaknya bagiku tragedi tersebut sama sekali tak diperlukan.

Singkatnya, pria ini adalah raja tidak kompeten yang bahkan tak bisa menuntaskan tanggung jawabnya sendiri.

Tentu saja aku sama sekali tak punya niat untuk menaruh rasa hormat padanya.

"Yang Mulia, siapakah yang akan menilai tingkat perkembangan tersebut?"

Pemuda tampan berambut pirang yang mengenakan pakaian mewah berwarna merah itu bertanya kepada raja sambil menyibakkan rambut panjangnya. Kemungkinan besar, dialah Pangeran Gilbert.

Dilihat dari penampilannya saja, dia tampak seperti pemuda yang memiliki satu atau dua sifat buruk yang tersembunyi.

"Dari sudut pandang untuk menjamin keadilan, penilaiannya akan dilakukan oleh Perdana Menteri."

Raja mengalihkan pandangannya kepada pria bertubuh raksasa dengan rambut hitam dan janggut yang berdiri mendampingi takhta, lalu mengumumkannya.

"I-itu—"

Pemuda tampan berambut pirang yang tampak sangat arogan itu berubah pucat dan mencoba melontarkan bantahan, namun.

"Apakah Anda merasa tidak puas jika saya yang menilainya?"

Hanya dengan ditanya melalui sepasang mata hitam sedingin es milik pria raksasa berambut hitam itu,

"T-tidak..."

Dia langsung memalingkan wajahnya. Louise juga tampak sama sekali tidak terima, namun ia tetap bungkam dan hanya menggertakkan gigi gerahamnya.

Meskipun aku buta dan tidak tertarik pada urusan politik negara, setidaknya aku pernah mendengar namanya.

Dia adalah sosok yang dalam waktu singkat berhasil mendorong Kerajaan Amelia ini menjadi salah satu negara militer terkemuka di dunia.

Perdana Menteri Kerajaan Amelia—Johannes Roosevelt. Pria ini benar-benar berada di level yang berbeda dalam segala artian.

Postur dan auranya terasa jauh lebih ganjil dibandingkan dengan raja yang sedang duduk bersandar angkuh di atas takhtanya.

Bagaimanapun juga, setelah mendengar bahwa Perdana Menteri yang akan melakukan evaluasi, Rose tampak mengelus dada dengan lega.

Dia pastilah pria yang bisa menjamin tingkat keadilan tertentu.

"Kalau begitu, izinkan saya memperkenalkan Royal Guard yang didukung oleh masing-masing Yang Mulia yang hadir di tempat ini."

Pria berambut beruban yang berpakaian layaknya pendeta itu berdeham, lalu melangkah maju dan membuka sebuah gulungan.

"Kita mulai dari Royal Guard milik Putri Kedua Yang Mulia Louise. Sungguh mengejutkan, dia adalah seorang Hunter Rank S aktif, sekaligus sosok yang dirumorkan sebagai yang terkuat di antara para Hunter—Tuan Isaac Giezdoor!"

Pemuda berambut putih dengan mata sipit bagai garis yang berdiri di samping wanita berambut pirang itu meletakkan telapak tangan kanannya di dada dan menunduk hormat sekilas.

Bersamaan dengan itu, sorak-sorai pun pecah dari segala penjuru.

Isaac Giezdoor, tak diragukan lagi dia adalah Hunter terkuat. Aku tak menyangka wanita berambut pirang yang tampak angkuh itu menjadikan orang terkuat di dunia Hunter sebagai Royal Guard-nya.

Dia pasti orang yang sangat cakap.

"Royal Guard milik Pangeran Pertama Yang Mulia Gilbert adalah salah satu pengunjung dari dunia lain, anggota dari Party Pahlawan saat ini—Sang Sage Agung, Tuan Satoru Mizoguchi!"

Saat remaja tampan berambut hitam yang terlihat berusia sekitar belasan tahun itu mengangkat lengan kanannya, sorakan memekakkan telinga menggelegar melebihi sebelumnya.

Tidak heran, dia adalah anggota utama dari kelompok Pahlawan.

Dia sangat populer, ya.

Sesuai dugaan Rose, Pahlawan tidak dipilih menjadi Royal Guard.

Namun, karena orang asing dari dunia yang sama dengan Pahlawan yang terpilih, maka pada kenyataannya Pahlawan telah berpihak pada Gilbert.

Mungkin wajar jika mengambil kesimpulan seperti itu.

"Dan yang terakhir, Royal Guard milik Putri Pertama Yang Mulia Rosemary, adalah Raja Ketidakmampuan yang menyandang gelar Orang Paling Tidak Kompeten di Dunia! Ini adalah Royal Guard paling lemah dalam sejarah!"

Gelak tawa ejekan pun meledak.

Namun omong-omong, pria yang mirip pendeta ini, kenapa saat memperkenalkanku dia terdengar sangat bersemangat?

Apa dia cuma bersungguh-sungguh saat merendahkan orang lain?

Menurutku dia menyalurkan energinya di tempat yang salah.

"Hmph, yang paling lemah, ya."

Raja tertawa meremehkan sembari menatapku tajam.

Pendapat jujurku soal pria ini, kenapa dia harus turun takhta di usia semuda ini?

Terlepas dari kapasitasnya sebagai raja, dia masih berada di usia emas dan sangat sanggup untuk bekerja keras.

Bagaimanapun juga, lawan-lawanku ini hanyalah bocah-bocah yang tidak tahu sopan santun.

Meski tidak perlu sampai marah besar, aku juga tak merasa perlu untuk bersikap merendah kepada mereka.

"Perkenalan yang sangat berharga, aku sungguh tersentuh. Sayangnya, tidak seperti kalian yang banyak waktu luang, aku ini orang yang sibuk. Aku ingin lelucon ini segera diselesaikan."

Keheningan sejenak menyelimuti setelah saran sangat konstruktif yang kulontarkan itu, dan sedetik kemudian, ruang takhta dipenuhi dengan raungan amarah.

Rose yang berdiri di sebelahku menutupi wajah dengan telapak tangan kanannya dan menghela napas panjang. Asal tahu saja, sikapmu yang terlihat sangat muak itu bahkan bisa melukai hatiku, lho.

"Sungguh lancang di hadapan Yang Mulia!! Tidak bisa dimaafkan!"

Salah seorang menteri berteriak,

"Apa yang sedang dilakukan oleh para Pengawal Kerajaan!!"

Pria paruh baya berpakaian pendeta yang tadi memperkenalkan kami para Royal Guard, melengking histeris dengan wajah memerah bagai gurita rebus.

Pria bertubuh besar berambut pirang dengan cambang sangat panjang, yang tampaknya merupakan komandan dari kesatria yang disebut Pengawal Kerajaan itu, melirik sekilas ke arah raja.

"Yang Mulia, apakah Anda mengizinkannya?"

Ia bertanya dengan penuh hormat sembari meletakkan tangannya di dada.

"Tidak masalah. Ini hiburan yang bagus. Lakukan dengan seluruh kekuatanmu, Geralt!"

Raja memajukan tubuhnya dan menatapku dengan mata yang dipenuhi rasa penasaran layaknya orang usil.

Pria besar bercambang panjang itu menghunuskan pedang dari sarungnya lalu mengarahkan ujung pedang itu padaku.

Oh. Dilihat dari gerakannya saja, sepertinya dia memiliki kekuatan yang setara dengan Zack.

Artinya, dia masih dalam tahap perkembangan.

Dia sama sekali belum mencapai ranahku maupun Arnold.

"Kai, tolong jangan sampai terluka—"

"Aku mengerti."

Aku menggunakan tangan kananku untuk menahan Rose yang terus memberiku peringatan dengan wajah yang dipenuhi warna kepanikan tak biasa.

Lagipula lawanku adalah orang yang belum matang.

Tentu saja, aku akan menahan diri dengan baik.

Kukira dia akan langsung menyerangku sama seperti sang Kaisar Pedang atau Zack, tapi,

"..."

Dia sama sekali tidak bergerak dan hanya diam bersiap dengan pedangnya, sementara keringat mengucur deras bagai air terjun hingga menetes ke lantai.

"Komandan Geralt?"

Di tengah suara-suara keraguan yang timbul dari para ksatria,

"Sebaiknya Anda hentikan saja sampai di situ. Tindakan itu kekanak-kanakan lho."

Pria budiman berambut putih, Isaac Giezdoor, terus menatapku sembari membujuk Komandan Geralt untuk mengurungkan niat tersebut seolah sedang menasihati.

"Benar juga, ya. Orang tak kompeten semacam itu memang tidak pantas untuk dihajar langsung oleh Komandan. Lagipula, kalau beliau melakukan hal itu, nama baik Yang Mulia Rose akan tercoreng."

"Benar. Untuk kelancangannya pada Yang Mulia, biar dia membayarnya nanti sebagai penalti dalam Pemilihan Raja."

"Meski dia itu orang tidak berguna yang sombong, menyiksa orang lemah tanpa alasan tentu bukan niat asli Komandan. Memang pantas jadi Komandan kita!"

Suara-suara yang menyetujui dan memuji pendapat Isaac bergema.

Geralt menyarungkan pedangnya dengan wajah pucat pasi bak mayat, lalu menundukkan kepalanya kepada raja tanpa bergerak sedikit pun.

"Menarik. Benar-benar sangat menarik."

Raja bergumam sembari menatap Geralt yang masih menundukkan kepalanya hingga saat ini.

Beliau tertawa seolah-olah itu sangat lucu, namun senyumnya tiba-tiba menghilang dan ia bangkit dari takhtanya.

"Kalau begitu, mari kita lanjutkan pembahasannya. Ini mengenai wilayah spesifik kalian. Gilbert akan mendapatkan wilayah barat, Westland. Louise—wilayah selatan, Thousand."

Raja memotong kalimatnya di sana, lalu menarik sudut bibirnya dan menyeringai.

Sejujurnya, hal itu hanya menimbulkan rasa merinding.

Rose sepertinya merasakan hal yang sama, wajahnya terlihat menegang.

"Rosemary akan mendapatkan ujung timur—East End."

Keheningan tercipta sesaat. Lalu, berbagai macam kata saling bersahutan memenuhi ruang takhta.

"Yang Mulia, sedari awal wilayah East End sama sekali tidak memiliki rakyat! Kalau begitu, bukankah tidak mungkin untuk mengembangkannya!?"

Rose berteriak dengan wajah pucat. Dia benar. East End adalah wilayah paling ujung yang berada lebih jauh ke timur dari kampung halamanku, Lamur.

Secara harfiah, itu adalah wilayah paling ujung di timur.

Wilayah itu dipenuhi padang gurun dan hutan lebat, jangankan rakyat, yang ada di sana hanyalah monster.

Bahkan, masih dipertanyakan apakah tempat itu layak disebut sebagai wilayah Kerajaan Amelia.

"Rose, ini adalah handicap. Kau pasti sangat paham makna dari kata ini, kan?"

"..."

Kepada Rose yang menggertakkan gigi gerahamnya, raja memamerkan senyum jahatnya lalu berkata,

"Jangan khawatir. Aku jamin penilaiannya akan dilakukan dengan adil dan terbuka tanpa melibatkan perasaan pribadi. Itu saja. Kalian boleh bubar!"

Raja pun langsung meninggalkan ruangan.

Para menteri penting dan ksatria lainnya juga beranjak keluar dari ruang takhta sembari melemparkan tatapan iba kepada Rose.

Tentu saja begitu. Royal Guard miliknya adalah orang tak berguna sepertiku yang disebut-sebut sebagai yang paling lemah, dan terlebih lagi, dia baru saja menerima penalti yang luar biasa besar dalam kompetisi Pemilihan Raja ini.

Apa jangan-jangan ini semua gara-gara sikap dan ucapanku tadi?

Kalau begitu, aku sudah melakukan hal buruk.

Namun, mengingat posisi sulit Rose saat ini, handicap sebesar ini harusnya sudah masuk dalam perkiraan sejak awal.

Mau tak mau dia harus bertahan melaluinya.

"Tidak ada gunanya terus bersedih. Ayo kita pergi juga."

Bagaimanapun juga, kita harus mengunjungi wilayah East End itu setidaknya sekali.

"Iya."

Rose mulai melangkah dengan bahu yang merosot lemas, namun remaja tampan berambut hitam, sang Sage—Satoru Mizoguchi berjalan mendekatinya.

"Sudah kubilang, kan. Kau mengalami hal ini karena menolak tawaranku, Rose!"

Ia melontarkan hal tidak masuk akal seperti itu dengan gembira.

"Aku sama sekali tidak menyesal menjadikan Kai sebagai Royal Guard-ku."

"Tapi sepertinya, karena hal itu kekalahanmu dalam kompetisi ini menjadi semakin jelas?"

Sage Satoru mengalihkan pandangannya kepadaku, lalu bertanya kepada Rose seolah sedang meremehkannya.

"Itu adalah perbedaan pendapat. Aku sama sekali tidak berpikir bahwa kekalahanku sudah semakin jelas."

"Apa-apan itu, kau pikir orang seperti dia bisa menang melawanku?"

Sage Satoru memicingkan matanya sembari terus menatap tajam ke arahku.

Pasti rasa cemburunya bangkit karena dia menyukai Rose.

Apa dia cuma anak kecil yang suka tantrum?

Tampaknya dia punya sifat yang luar biasa merepotkan.

Yah, wajar saja untuk anak seusianya yang sedang berada di masa pubertas, kurasa di sini aku harus menghadapi dirinya dengan sikap yang lebih dewasa.

"Kau tak perlu menunjukkan rasa permusuhan sebesar itu padaku. Aku sama sekali tidak tertarik pada Rose sebagai lawan jenis. Aku juga tidak akan mengganggu usaha pendekatanmu, kok."

Lagipula, aku tidak cukup muda untuk merasakan hasrat pada anak yang seratus ribu tahun lebih muda dariku.

"—Gh!?"

Aku menepuk pelan bahu kanan Sage Satoru yang seketika wajahnya memerah padam dan mulutnya megap-megap, lalu berkata,

"Perasaan mentah semacam itu muncul karena kau masih muda. Berjuanglah, Nak!"

Aku merangkai kata-kata penyemangat sembari tersenyum lebar kepadanya.

"K-kau, j-jangan besar kepala, ya!"

Sage Satoru melontarkan kata-kata perpisahan itu lalu lari terbirit-birit sembari tergagap-gagap dengan hebatnya.

Hmmm, karena dia tergabung dalam Party Pahlawan, kukira dia adalah bajingan berdarah dingin.

Tapi dari penampilannya, dia hanyalah anak-anak biasa. Mungkin saja dia sekadar ikut-ikutan saja seperti halnya Rena atau Keith.

"Ayo pergi."

"..."

Alih-alih menjawab ajakanku, Rose malah balas menatap tajam ke arahku dengan matanya yang melotot kesal.

"Ada apa?"

"Bukan apa-apa!"

Meski sedikit keheranan melihat Rose yang mulai berjalan pergi sembari menggembungkan pipinya, aku pun ikut melangkah meninggalkan ruang takhta.

◇◆◇

Setelah kembali ke penginapan, aku dan Rose pergi menuju tujuan dengan menunggangi punggung Phoenix. Tempat yang kami capai hanya dalam beberapa menit adalah—.

"Tempat ini benar-benar tidak ada apa pun, ya..."

Pemandangannya terbagi menjadi dua bagian. Satu bagian berupa padang gurun yang luas, dan yang lainnya adalah hutan lebat.

Memang benar tempat seperti ini bukanlah wilayah yang bisa ditinggali dengan mudah.

Orang yang mau tinggal di sini hanyalah bocah yang sangat tergila-gila dengan kelangsungan hidup ekstrem, atau mereka yang memiliki keadaan mendesak untuk melakukannya.

Tampaknya raja itu benar-benar berniat membiarkan Rose mengelola wilayah yang pada kenyataannya tidak memiliki rakyat sama sekali ini.

Jika dipikir secara logis, orang pasti akan menganggap bahwa raja sangat membenci Rose.

Seharusnya aku juga berpikiran begitu, namun melihat interaksi keduanya tadi, kemungkinannya tidaklah begitu tinggi.

Pertama, jika raja memang tidak ingin menyerahkan takhta kepada Rose, beliau pasti akan menyerahkan penilaian kepada menteri penting lainnya, dan bukan sang Perdana Menteri.

Kemungkinan besar alasan beliau memilih Perdana Menteri, selain karena pria itu bisa memberikan penilaian yang adil dan terbuka, adalah karena tak seorang pun berani menunjuk adanya kecurangan yang dilakukan oleh pria tersebut.

"Kalau begitu, pertama-tama kita harus mengamankan rakyat, ya."

"Kau bisa dengan mudah bilang mengamankan rakyat, tapi apa kau punya petunjuk?"

"Tidak, tidak sama sekali. Lagipula, mana mungkin kita bisa dengan mudah menemukan orang gila yang mau pindah ke daerah pedalaman tak berpenghuni seperti ini."

"Memang benar, tapi... Kalau begitu, menurutmu apa yang harus kita lakukan, Kai?"

"Bukankah kita baru akan memikirkannya mulai dari sekarang?"

Tugas Rose di dalam permainan ini adalah mengamankan rakyat dalam jumlah minimum. Hal itu tidak perlu diragukan lagi.

Namun, ia masih belum menemukan hal yang paling dibutuhkan untuk memecahkan tugas tersebut.

Fakta bahwa ia menanyakan hal-hal dalam percakapan kami ini merupakan buktinya.

Jika demikian, hal yang bisa kulakukan saat ini sangatlah terbatas.

Lebih tepatnya, aku mungkin hanya perlu mempersiapkan segalanya dengan matang untuk berjaga-jaga saat Rose menyadari hal tersebut.

"Ayo kita kembali ke penginapan di ibu kota kerajaan dan menyusun strategi."

Menanggapi jawabanku, Rose menghela napas panjang sebelum akhirnya melontarkan kalimat itu.

◇◆◇

Aroma menggugah selera dari daging ayam yang tengah dimasak tercium.

Menggunakan alat masak yang disebut sumpit panjang, dengan hati-hati kuangkat daging itu dari dalam minyak dan meletakkannya di atas jaring kawat logam tipis.

Kai Heineman, pemuda berambut abu-abu yang sedari tadi memperhatikan dari samping, kini sedang mencicipi hidangan hangat bernama "Karaage" yang baru saja dibuat olehku, Ash.

"Bagaimana... rasanya?"

"Hmmm, tidak buruk, kok."

"Syukurlah!"

Tanpa sadar aku mengepalkan tanganku kegirangan.




Kepala koki penginapan yang bertubuh raksasa dan berkumis tipis itu melempar karaage ke dalam mulutnya. Begitu mengunyahnya, matanya terbelalak lebar.

"Tuan, kalau ada tempat di ibu kota yang menyajikan hidangan selezat ini, itu pasti cuma di istana. Dan fakta bahwa Nona Ash yang baru belajar masak beberapa minggu bisa membuatnya..."

Dia bergumam pelan dengan nada merendahkan diri sendiri.

"Yah, resep karaage itu adalah hasil penyempurnaanku selama bertahun-tahun. Repot juga kalau koki pemula bisa menirunya dengan mudah."

Kai mengangkat bahunya.

"Bertahun-tahun bagaimana? Tuan kan baru belasan tahun? Hidangan ini bukan sesuatu yang bisa diciptakan hanya dalam beberapa tahun, lho. Jangan-jangan Tuan ini sebenarnya ras Elf, ya?"

"Tentu saja bukan. Aku ini manusia tulen. Dari dulu sampai sekarang."

"Kalau begitu, kenyataan ini malah semakin sulit kupercaya."

Kai mengalihkan pandangannya dari kepala koki yang sedang asyik melahap karaage. Ia kemudian menatap ke arahku.

"Hanya sebatas lumayan. Kalau ada resepnya, wajar saja rasa minimumnya bisa terjamin."

"Cara menggunakan pisaumu masih terlalu amatir sehingga merusak rasa gurih dagingnya secara drastis. Bumbu rendamannya juga tidak merata, jadi rasanya belang-belang. Intinya, kamu masih butuh banyak latihan."

"U-Uhm, aku akan berjuang!"

Aku menggenggam sumpit panjangku erat-erat, membulatkan tekadku kembali.

"Kalian ini... sebenarnya mau jadi apa, sih?"

Melihat Kai dan aku, kepala koki menghela napas panjang dengan tatapan tak habis pikir.

Sore harinya, aku dan Kai berencana pergi ke pasar sentral ibu kota untuk mencari bahan masakan. Karena ada sedikit waktu luang, aku kembali ke kamarku.

Tepat saat aku duduk di atas kasur, sebuah suara menggema di dalam kepalaku.

"Ash, apa kamu berencana menjadi seorang koki?"

Suara yang terdengar sedikit meremehkan itu terngiang di benakku.

Suara ini mulai terdengar tidak lama setelah aku bepergian bersama Kai. Awalnya samar, namun berangsur-angsur menjadi jelas hingga kami bisa mengobrol seperti sekarang.

"Hmm, boleh juga, sih."

Awalnya, aku tertarik karena masakan Kai sangat enak. Karena tidak ada kerjaan, aku minta diajari dan ternyata rasanya jauh lebih menyenangkan dari bayanganku, aku jadi sangat ketagihan.

"..."

Karena teman serumah di kepalaku itu tiba-tiba terdiam, aku pun bertanya.

"Haju? Ada apa?"

Aku memiringkan kepalaku sedikit saat menanyakan maksudnya.

Sama sepertiku, teman menginap di benakku ini juga telah melupakan hampir segalanya. Namun, dia hanya mengingat satu kata, yaitu Haju.

Sejak saat itu, aku terus memanggilnya Haju.

"Bukan apa-apa. Lebih baik kamu jangan terlalu lengah di dekat pria itu."

Entah mengapa Haju sepertinya tidak menyukai Kai. Hampir setiap hari dia memperingatkanku untuk menjauh dari Kai.

"Tidak apa-apa kok. Kai itu orang yang baik."

"Justru itu yang paling tidak bisa kupercaya."

Setelah menggumam dengan nada merajuk, Haju langsung terdiam dan tidak berbicara lagi.

―Pasar sentral ibu kota Aramgard, ibu kota Kerajaan Amelia.

Menurut Kai, tempat ini adalah dapurnya Kerajaan Amelia. Katanya, sebagian besar bahan makanan bisa ditemukan di sini.

"Ramai sekali orangnya!"

Berbanding terbalik denganku yang berseru kagum, suara Haju kembali bergema di kepalaku.

"Bau manusia yang menyengat ini membuatku muak."

Nada suaranya terdengar sangat bersungut-sungut. Haju memang sangat membenci manusia, dia selalu saja menjelek-jelekkan mereka.

Mungkin saja, alasannya membenci Kai juga berakar dari sifat Kai yang sangat kental dengan sisi manusianya.

"Bangunan apa itu!?"

Sebuah bangunan belah ketupat berlantai lima menjulang tinggi. Bangunan raksasa seperti itu tidaklah banyak, bahkan di ibu kota ini sekalipun.

"Itu tempat pelelangan. Kudengar, mereka menentukan harga daging, hasil laut, dan sayuran dari seluruh penjuru ibu kota di sana, lalu menjualnya kepada para pedagang."

"Kalau begitu, secara tidak langsung harga barang-barang di ibu kota ini ditentukan di sana, dong?"

"Bisa dibilang begitu. Tentu saja, para pedagang menambahkan keuntungan dari harga lelang sebelum menjualnya kembali."

"Harga pastinya berbeda-beda di setiap toko, tapi kalau bicara soal kisaran harga, ucapanmu itu benar."

Kai menjawabku tanpa menunjukkan raut wajah kesal sama sekali seperti biasanya. Tiap kali aku bertanya padanya seperti ini, dia hampir selalu punya jawabannya.

"Itu artinya, bahan makanan yang kita cari ada dijual di toko-toko sekitar sana?"

"Ya, toko-toko di sekitar sana menjual bahan segar hasil lelang, atau rumah makan yang memasak bahan-bahan tersebut."

Setelah menjawab, Kai berjalan menuju deretan toko di samping gedung besar itu.

Kami telah selesai membeli bahan makanan yang dibutuhkan. Sekarang, aku dan Kai sedang melangkah menuju sebuah toko.

Ini adalah perwujudan dari kutipan Kai—'Untuk membuat masakan yang enak, kau harus memakan makanan yang enak pula!'

Tempat itu adalah sebuah rumah makan kecil yang sudah reyot.

"Hmm, rasanya sedikit hambar, tapi ini lumayan juga."

Meski kami belum lama saling kenal, ini mungkin pertama kalinya aku melihat Kai memuji sebuah masakan secara langsung.

"Iya, rasanya enak sekali!"

Daging ini meleleh begitu masuk ke mulut, dipadukan dengan bumbu yang tidak merusak rasa manis asli dagingnya. Selain itu, ini pasti....

"Bumbu rahasianya stroberi, ya?"

Benar. Ini adalah stroberi.

Buah merah yang sebelumnya kami kumpulkan untuk membuat hidangan penutup. Namun, meski Kai menyebutnya begitu, kepala koki dan yang lainnya menyebut buah itu 'Sekka'.

Kai sering kali menggunakan nama bahan makanan yang berbeda dari panggilan para koki. Aku sudah lama memikirkannya, apakah ada alasan tertentu di balik itu?

"Kai, kenapa kamu..."

Tepat saat aku hendak menanyakan alasannya, terdengar suara pecahan piring.

"Ada serangga di dalam masakannya!"

Seorang pria membentak dengan keras. Saat aku menoleh ke arah sumber suara, mataku menangkap sebuah meja yang terbalik.

Masakan dan pecahan piring berserakan di lantai. Di dekatnya, seorang pria muda berambut emas dengan gaya eksentrik dan pakaian hijau mewah tampak duduk bersandar angkuh di kursi.

"Panggil manajer dan kepala koki tempat ini sekarang juga!"

Pria bergaya pendekar pedang yang sepertinya adalah pengawalnya berteriak nyaring. Tangan kanannya mencengkeram serangga hitam besar yang mengilap dan berlumuran saus makanan.

"B-Baik!"

Seorang wanita yang tampaknya seorang pelayan berlari panik ke bagian dalam rumah makan.

Tak lama kemudian, seorang pria berwajah lembut yang merupakan manajer muncul. Ia datang bersama seorang gadis berambut ungu potongan bob dengan mata sanpaku yang mengenakan seragam koki putih.

Sang manajer langsung meminta maaf berulang kali kepada pria bergaya bangsawan yang berambut eksentrik itu. Meski gadis bermata sanpaku itu ikut menundukkan kepala, ia tampak terus cemberut sejak awal.

"Berengsek! Pendidikan macam apa yang kau berikan pada para kokimu sampai berani menyajikan makanan berserangga pada pelanggan!?"

"Kau yang bertugas mendidik mereka, kan!? Bagaimana kau akan mempertanggungjawabkan ini, hah!?"

Pria berwajah seram dengan luka di dahi itu membentak penuh intimidasi, urat-urat menonjol di pelipisnya.

"M-Mohon maaf sebesar-besarnya. Ini pasti ada sebuah kesalahan..."

"Kesalahan? Jadi kedai ini biasa menghidangkan serangga secara tidak sengaja?"

Bangsawan berambut aneh yang duduk di kursi itu bertanya sambil menatap tajam.

"T-Tidak, bukan begitu maksud saya!"

Sang manajer membela diri dengan wajah putus asa. Aku yang tak paham situasi hanya bisa mematung, hingga percakapan pelanggan lain di sekitarku mulai terdengar olehku.

(Hei, lambang itu, bukankah itu lambang Keluarga Marquis Obtsu?)

(Benar. Dengan gaya rambut norak begitu, sudah pasti dia itu Feesez, calon penerus Keluarga Obtsu.)

(Jangan-jangan ini tentang desas-desus yang beredar itu?)

(Mungkin saja. Kepala koki tempat ini akhirnya jadi incaran juga. Tatapan mata kepala koki itu memang tajam, tapi dia lumayan cantik, sih.)

(Sial! Kalau rumor itu benar, kepala koki itu juga akan...)

(Benar-benar bikin mual!)

Meski masih samar, aku mulai paham apa yang sedang direncanakan oleh pria berambut aneh itu beserta komplotannya.

"Menjijikkan. Sampai kapan pun kelakuan manusia itu selalu membuatku mau muntah."

Suara Haju yang terdengar seperti meludah bergema di kepalaku. Aku setuju dengannya.

Gadis itu pasti memiliki seseorang yang ia sukai. Membayangkan hati dan tubuhnya direnggut serta diinjak-injak secara paksa, sungguh sebuah kenyataan yang tidak bisa kumaafkan.

Oleh karena itu....

(Biar aku yang...)

Tepat saat aku hendak beranjak dari kursiku, Kai berdiri mendahuluiku.

"Ash, tunggu di sini sebentar."

Setelah memberikan perintah secara sepihak kepadaku, Kai melangkah mendekati Feesez, pemuda berambut eksentrik itu.

"Emi, ayahmu memiliki utang yang sangat besar kepadaku. Ditambah lagi, karena kecerobohanmu kali ini, rumah makan ini akan dihancurkan."

"Dengan begini, pada dasarnya kamu sudah tidak mungkin bisa melunasi utang itu lagi. Dan kalau kamu tidak bisa membayar, hidupmu hancur. Ya, jika terus begini, sih."

Seolah sudah yakin akan kemenangannya, Feesez mengembangkan lubang hidungnya dan berbicara dengan nada menyanyi yang penuh jebakan.

Emi, gadis bermata sanpaku itu, mengumpulkan air mata di sudut matanya karena marah dan frustrasi. Sambil menahan tubuhnya yang gemetar, dia mengucapkan kata-kata kekalahan.

"Kalau aku menuruti syaratmu, apa rumah makan ini akan selamat?"

"Tentu saja. Sekarang, ikut aku ke kediamanku. Kamu adalah milikku."

Saat Feesez bangkit dari kursinya dengan ekspresi penuh kepuasan, sebuah suara memotongnya.

"Itu tidak perlu."

Kai mencengkeram kerah baju Feesez dan mengangkatnya dengan mudah.

"S-Siapa kau!? Berengsek! L-Lepaskan!"

Kai melempar Feesez yang meronta-ronta bagai serangga itu ke lantai, lalu menatapnya rendah dengan pandangan sedingin es.

"Hiiak!?"

Tubuh Feesez tersentak kaget dan dia memekik kecil, namun wajahnya seketika memerah karena rasa malu.

"Apa yang kalian lihat!? Cepat bunuh orang kurang ajar ini!"

"Siap!"

Tiga pengawal bertubuh kekar langsung mengepung Kai dan mengarahkan ujung pedang mereka. Perbedaan postur tubuh mereka sangat jauh, lagipula lawan membawa senjata.

Kai tak mungkin menang. Kalau sampai salah langkah...

(Tidak boleh!)

Tubuhku bergerak sendiri begitu membayangkan skenario terburuk. Aku baru saja akan melompat dari kursi dan berlari menuju Kai, namun langkahku terhenti.

"Hah?"

Terdengar suara konyol dari pendekar berambut mohawk. Ujung tatapannya terpaku pada kedua lengannya sendiri yang masih menggenggam pedang panjang, namun kini tertekuk ke arah yang tidak masuk akal.

Kai menjegal kakinya, membuat tubuh pria itu berputar beberapa kali di udara sebelum menghantam lantai dengan wajah lebih dulu.

"..."

Semua orang mematung sejenak, memandangi pendekar mohawk yang kini terkapar dan mengejang pelan.

"Hati-hati! Orang ini memakai sihir aneh!"

Pendekar pedang bergigi tonggos menjerit dengan wajah putus asa sambil mengambil jarak dari Kai.

"Ini bukan sihir, tahu."

"Hah?"

Pendekar tonggos itu menolehkan kepalanya mencari sumber suara. Pandangannya pun seketika bertemu dengan mata Kai yang entah sejak kapan sudah berada di belakangnya.

"―!?"

Saat pendekar tonggos itu mengeluarkan jeritan tertahan, Kai menendangnya dengan santai. Tubuh si tonggos itu berguling lurus lalu punggungnya menghantam dinding, tak sadarkan diri dengan mulut berbusa.

"Hiiiiieee!"

Tanpa memedulikan Feesez selaku majikannya lagi, pendekar berwajah seram yang memiliki luka di dahi itu mengambil langkah seribu.

Namun, tangan kiri Kai sudah lebih dulu mencengkeram belakang kepalanya dan mengangkat pria itu ke udara.

"T-Tolong..."

Tubuh si pria berluka dahi itu gemetar hebat. Air mata dan ingus mengalir deras di wajahnya.

"Siapa yang memasukkan serangga ke piring itu?"

Kai bertanya dengan nada suara yang mengerikan. Pria itu melirik ke arah Feesez dan balas berteriak.

"A-Aku tidak tahu!"

Seketika, lengan kanan pria itu patah dan tertekuk ke arah yang tidak wajar. Ia pun menjerit histeris.

"Aku yang memasukkannya! A-Aku terpaksa melakukannya karena diperintah oleh Tuan Feesez!"

Ia menjawab pertanyaan itu dengan mudahnya.

"B-Berengsek kau!"

Feesez meneriaki pria itu, namun Kai membuatnya bungkam hanya dengan satu tatapan tajam.

"Mana buktinya?"

Kai kembali mendesak pria berluka dahi itu.

"Ini buktinya!"

Menggunakan tangan kirinya yang masih utuh, pendekar pedang itu mengeluarkan sebuah botol kecil berisi banyak serangga dari saku dada dan menyerahkannya pada Kai.

"Jadi kau memasukkan serangga ini ke dalam piring, ya?"

"Benar! Aku ini cuma disuruh! Aku tidak salah! Tolong, ampuni aku!"

"Ya, urusan yang satu itu kuanggap impas."

"K-Kalau begitu, biarkan aku pergi..."

"Tentu saja tidak."

"K-Kenapa!? Tadi kau bilang akan menganggapnya impas..."

"Yang kuanggap impas hanyalah soal memasukkan serangga ke piring. Namun, kau telah mengarahkan pedang dengan niat untuk membunuhku."

"Sematang apa pun kau, selama kau memegang pedang dengan niat membunuh, kau adalah seorang pendekar. Kau harus menanggung akibat sebagai pihak yang kalah."

Kai berbisik pelan di telinga pria itu, lalu mengepalkan tangan kanan sambil menarik sikunya ke belakang.

"T-Tidak... Jangan! Tidaaaaaak!"

Diiringi jeritan penuh keputusasaan dari pria yang berusaha melarikan diri itu, seketika muncul banyak cekungan seukuran kepalan tangan di sekujur tubuhnya.

"..."

Pria berluka dahi itu dibuang ke lantai dalam kondisi mengejang-ngejang seperti katak yang terinjak.

Kai lalu mengambil botol berisi serangga yang saling merayap menggeliat itu. Ia melangkah menghampiri Feesez yang kini tubuhnya bergetar hebat tiada henti.

"Kau sudah mencampurnya ke dalam makanan. Berarti, serangga ini adalah bahan masakan spesial untukmu, kan? Kalau begitu, habiskan semua serangga yang kau bawa ini."

"Dengan begitu, keributan konyol kali ini akan kuanggap selesai."

Dengan senyum lebar dan nada yang tidak menerima penolakan, Kai memberikan perintah yang sama mengerikannya dengan mimpi buruk.

"J-Jangan bercanda! Mana mungkin aku memakan benda itu! Memangnya kau pikir aku ini siapa!? Aku adalah Feesez Obtsu, calon penerus Keluarga Obtsu!"

Sesuai dugaan, Feesez melontarkan penolakan keras. Namun, Kai sama sekali tidak memedulikan ucapannya.

Kai mengambil seekor serangga dari botol, lalu mencengkeram rahang Feesez dengan kuat.

"Maaf saja, aku tidak butuh persetujuanmu."

Setelah mengatakannya, Kai langsung melemparkan serangga itu ke dalam mulut Feesez.

Makan serangga hidup-hidup. Hampir tidak ada pemandangan lain yang semengerikan ini.

Feesez yang baru saja menelan serangga terakhirnya, akhirnya jatuh pingsan dengan mata memutih. Para pelanggan di sekitar yang menyaksikan semuanya tampak berwajah pucat pasi, menatap pemandangan bagai mimpi buruk itu tanpa terkecuali.

"Orang itu... sudah pasti gila."

Haju bersuara dengan nada tertahan, menggema di dalam kepalaku.

Kupikir wajar saja dia berkata begitu setelah melihat Kai yang dengan senyum jahat melempar serangga satu per satu ke mulut Feesez.

Lagipula, itu sama sekali bukan perbuatan baik. Itu adalah sebuah kejahatan murni yang dilakukan tanpa ragu sedikit pun.

Aku sangat yakin. Kai jelas-jelas hidup dengan akal sehat yang berbeda dari kita.

Meski begitu, aku sama sekali tak punya niat menyalahkan Kai. Jangankan itu, setitik perasaan negatif pun tak bisa kurasakan terhadapnya.

Sebaliknya, aku justru merasakan kekaguman yang kuat pada Kai. Dia menghukum penjahat kelas teri yang menyedihkan itu dan memastikan mereka menerima ganjaran atas perbuatannya.

"Hmm, sekarang tinggal membereskannya."

Kai mengeluarkan sebuah botol kecil berisi cairan merah dari balik bajunya. Ia mendekati pendekar berluka dahi yang masih kejang-kejang itu dan menyiramkan cairannya.

"Ugh!?"

Dalam sekejap, luka sang pendekar yang seharusnya berstatus kritis itu perlahan sembuh.

Bukan, menyebutnya 'sembuh' mungkin kurang tepat. Tidak berlebihan jika menyebut hal itu sebagai 'perbaikan'. Namun, perbaikan seperti itu adalah hal yang hanya ada di dalam dongeng....

"Guh!"

Rasa sakit kepala yang hebat tiba-tiba menyerang, membuatku mengerang tertahan dan langsung terduduk jongkok.

"Ash! Apa kamu baik-baik saja?"

Suara Haju terdengar khawatir. Saat aku mengangkat tangan kananku dan kembali berdiri, Kai kebetulan baru saja selesai meneteskan Healing Potion pada ketiga pengawal itu.

Kai menepuk pipi pendekar berluka dahi itu dengan telapak tangan kanannya untuk membangunkannya. Dengan mata yang masih mengantuk, si pendekar menatap Kai sekilas.

"Hiiiiieee!"

Jeritan melengking keluar dari mulutnya.

"Berisik. Diamlah."

Mendengar suara yang tak memberi ruang bantahan itu, si pendekar buru-buru menutup mulut dengan kedua tangannya.

"Bawa orang bodoh itu dan teman-temanmu, lalu segera pergi dari sini. Tapi tentu saja, tinggalkan 50.000 Oal di sini untuk biaya perbaikan kekacauan ini serta tagihan makanan."

"Tapi, kau sendiri yang menghancurkannya, kan..."

Pendekar itu melirik ke arah dinding yang hancur akibat salah satu temannya yang terhempas tadi, lalu menunjukkannya dengan takut-takut.

"Hmm? Kau bilang sesuatu barusan?"

Kai bertanya dengan senyum lebar yang mengerikan.

"Hiiak! T-Tidak, bukan apa-apa! Kami akan bayar dan segera pergi!"

Ia merogoh 50.000 Oal dari kantong kain di dadanya dan meletakkannya di atas meja terdekat. Ia lalu membawa Feesez dan dua rekannya yang lain, kemudian melarikan diri keluar kedai.

Kai kembali ke tempat dudukku dan melanjutkan makannya.

Setelah selesai makan dan membayar tagihan, kami pun keluar dari rumah makan itu. Tepat saat kami kembali dan tiba di depan penginapan, Kai mendadak menoleh ke belakang.

"Ada urusan denganku?"

Kai bertanya kepada gadis bermata sanpaku yang sejak tadi hanya memunculkan kepalanya dari gedung sebelah untuk mengintip kami.

"Hawa!"

Emi, si gadis bermata sanpaku, panik dan buru-buru menarik kepalanya kembali. Kai mengangkat bahu lalu berniat masuk ke dalam gedung penginapan.

Namun....

"Kumohon! Tolong pinjamkan aku kekuatanmu!"

Emi melompat keluar dari balik bayangan gedung sebelah, lalu menunduk dalam-dalam untuk memohon kepada Kai.

◇◆◇

―Kediaman Marquis Obtsu.

Di tengah ruangan mewah rumah itu, ada dua pria yang duduk berhadapan di atas sofa. Agak jauh dari mereka, berdiri seorang pria kekar berkepala plontos dengan bibir tebal.

"Jadi, kau dan para pengawalmu dihabisi oleh bocah berambut abu-abu itu?"

Seorang pria berwajah besar dengan filtrum sangat panjang bertanya sambil mencubit kumisnya yang berbentuk aneh, menuntut jawaban dari Feesez yang pipi kirinya masih mengejang.

"Maafkan aku, Ayah. Awalnya semuanya berjalan lancar. Tapi orang itu tiba-tiba muncul dan mengacaukan segalanya!"

Marquis Obtsu mencondongkan tubuhnya ke depan dan menepuk pundak Feesez yang terisak penuh rasa frustrasi.

"Ya, ya, kau tidak salah. Yang salah adalah bocah berambut abu-abu itu dan gadis jalang bernama Emi."

"Memberi hukuman pada si rambut abu-abu itu sudah pasti, tapi wanita jalang itu juga perlu dihabisi. Itulah bayaran yang pantas bagi orang-orang bodoh yang berani menentang kita, keluarga berdarah biru yang mulia. Kau paham, kan?"

Marquis menasihatinya perlahan.

"Tentu saja, Ayah! Lagipula wanita rendahan seperti dia bisa dicari di mana saja, dan pasti bakal cepat hancur kalau kumainkan!"

"Tunjukkan pada wanita jalang keparat itu neraka yang sesungguhnya!"

Mendengar Feesez yang mengiyakan dengan napas memburu, Marquis Obtsu mengangguk puas.

"Yaen, waktunya bekerja! Masukkan gadis jalang bernama Emi dan keluarganya ke dalam pelelangan yang akan kau adakan nanti!"

"Pelelangan itu sangatlah khusus. Saya jamin barang yang masuk ke sana pada akhirnya akan dibuang sebagai sampah. Anda tidak masalah dengan itu?"

"Aku tidak peduli. Biarkan wanita bodoh yang berani mengkhianati kita menjadi mainan para hidung belang di sana."

"Lalu, bagaimana dengan hukuman untuk pemuda berambut abu-abu itu?"

"Mengingat dia sudah repot-repot menyelamatkan gadis itu, dia pasti sangat terpikat padanya, kan!? Kalau begitu, kirimkan saja mayat rusak gadis itu kepadanya!"

"Begitu ya, Anda ingin dia merasakan keputusasaan karena gagal menolong orang yang ingin dilindunginya, lalu baru membunuhnya. Seperti biasa, Anda sungguh menakutkan, Tuan."

"Hmph! Kau keberatan?"

"Tentu saja tidak. Justru itulah Marquis kita yang agung."

"Kalau begitu, saya memiliki rencana yang sangat bagus untuk menghukum si rambut abu-abu. Boleh saya bergerak dengan wewenang saya sendiri?"

"Lakukan sesukamu! Tapi ingat, aku tidak akan memaafkan kegagalan konyol!"

"Tentu saja, Yang Mulia."

Yaen memutar wajahnya hingga terlihat sangat menjijikkan, lalu meletakkan tangan di dada dan membungkuk hormat.

◇◆◇

Saat ini, di ruang tengah penginapan yang kami sewa, aku sedang mendengarkan penjelasan dari Emi, gadis bermata sanpaku yang tadi mengejarku ke mari.

"Ben Obtsu, pimpinan Keluarga Marquis Obtsu saat ini. Dan juga Yaen, organisasi bawah tanah baru yang berpusat di ibu kota ini, ya."

Ringkasan ceritanya adalah sebagai berikut.

Emi adalah putri tunggal seorang koki yang mengelola kedai makan kecil di ibu kota ini. Demi mempertajam kemampuannya, ia bekerja dan tinggal di restoran 'Yuragi-tei' yang tadi.

Awal mula masalah ini terjadi ketika Emi memenangkan perlombaan memasak di ibu kota. Saat itulah Feesez si rambut keriting mulai merayunya.

Awalnya Emi menolak dengan sopan, namun tak lama kemudian, kedai makan keluarganya ditipu oleh Feesez. Keluarganya mengambil pinjaman yang membengkak karena bunga tak masuk akal, dan berakhir dengan utang yang sangat besar.

Sejak saat itu, rayuan Feesez mulai berubah menjadi semacam ancaman. Dan itulah yang berujung pada insiden tadi. Singkatnya, Emi sudah diincar oleh pria yang sangat merepotkan.

"Jika Marquis Ben Obtsu yang menjabat saat ini ikut campur, masalahnya jadi cukup pelik."

Rose memberikan tanggapannya dengan wajah serius.

"Hoo, apa dia itu orang terkenal?"

"Ya, dia adalah salah satu tokoh penting di fraksi Pangeran Gilbert. Soal utang itu, dia pasti sudah menekan Kementerian Kehakiman agar menjadikannya sah secara hukum."

Sudah kuduga. Hukum di negara ini bisa dibilang hanyalah omong kosong. Aturannya bisa dipelintir sesuka hati oleh para bangsawan.

"Lalu? Rose, apa yang akan kau lakukan?"

Bagaimanapun juga, gadis ini bercita-cita menjadi raja. Repot juga kalau dia sampai takut menghadapi lawan sekelas ini.

Namun, saat ini Rose memulai segalanya dari nol tanpa rakyat satupun, dan ia juga tak punya banyak waktu. Belum lagi, dia berada di posisi yang mengharuskannya meminta dukungan dari bangsawan lain.

Masyarakat bangsawan sangat membenci konflik di antara sesama mereka. Terutama dalam kasus ini. Jika Rose bergerak, sangat wajar jika tindakannya dilihat sebagai campur tangan tidak sah dari keluarga kerajaan, yang berusaha merampas hak serta keuntungan bangsawan tingkat tinggi.

Jika dia ikut campur tanpa pikir panjang, reputasinya pasti akan tercoreng. Dampaknya, ia akan semakin kesulitan mendapatkan dukungan dari bangsawan lain.

Sebaliknya, kalaupun masalah ini berhasil diselesaikan, hampir tidak ada keuntungan yang bisa didapatkan oleh Rose.

Orang yang pintar pasti akan menolak permintaan Emi. Namun, aku tak sudi meminjamkan kekuatanku pada orang pintar yang cuma pandai mencari aman.

Jika Rose memilih untuk menutup mata dan tak mau mengambil risiko dalam masalah ini....

"Tentu saja, aku tidak bisa diam saja membiarkan utang ilegal macam itu! Aku akan segera menghubungi Kementerian Kehakiman!"

"Di jajaran petinggi kementerian, masih ada orang-orang yang berpihak padaku. Aku yakin masalah ini bisa diatasi! Tidak, aku yang akan memastikannya!"

"Hmm. Dimengerti."

Jadi dia sama sekali tak punya niat membiarkan kasus ini begitu saja. Baguslah, jika tidak begitu dia tidak pantas menerima bantuanku.

Namun, masalah ini tak akan bisa diselesaikan oleh Rose sendirian. Ujung-ujungnya, akulah yang harus turun tangan.

Permasalahannya ada pada sejauh mana aku harus ikut campur. Kalau aku bergerak terlalu jauh, hal itu malah akan menghambat pertumbuhan Rose. Aku harus menyusun rencananya dengan matang.

"Kai?"

Melihatku tenggelam dalam pikiran, Ash yang berada di sampingku mengintip wajahku dan bertanya.

"Baiklah. Emi, apa yang bisa kau tawarkan pada kami sebagai bayaran untuk urusan ini?"

"Kai? Itu kan..."

Aku mengangkat tangan kananku untuk menghentikan Rose yang hendak menyela.

"Kami juga akan menanggung risiko yang tidak sedikit dalam hal ini. Aku menuntut bayaran yang setimpal."

"Jawab pertanyaanku. Apa yang bisa kau tawarkan pada kami?"

Dunia ini pada dasarnya berputar di atas pertukaran yang sepadan. Bantuan cuma-cuma hanya akan membuatku muak, lagipula hal itu tak akan bisa menumbuhkan rasa saling percaya di antara kedua belah pihak.

"Uang 300.000 Oal yang kutabung sebagai modal untuk membuka usaha di masa depan pun... sudah kuserahkan kepada mereka. Sekarang aku sudah tidak punya apa-apa lagi...."

Emi menunduk, memberikan jawaban yang terdengar konyol.

"Jika tidak ada hal sepadan yang bisa kau berikan, aku tidak bisa meminjamkan kekuatan. Kami bukanlah pahlawan atau kesatria yang baik hati. Jika kau mengharapkan belas kasihan cuma-cuma seperti itu, maka kau telah datang ke tempat yang salah."

"Kai!"

Rose kembali hendak melontarkan kata-kata kecaman, namun,

"Tuan sudah benar. Rose, sebaiknya kau diam saja."

Asta yang duduk di sebelahku menegur Rose dengan nada suara yang tidak membantah.

"...Sungguh, aku benar-benar tidak punya..."

Mendengar Emi yang meratap gemetar sambil mencengkeram celana di lututnya,

"Neng, Guru tidak pernah sekalipun bertanya tentang apa yang bisa kau lakukan. Yang beliau tanyakan adalah apa yang akan kau lakukan."

Zack, yang sedari tadi melipat kedua tangan di dada dan mendengarkan dalam diam, memberikan uluran bantuan dari samping. Padahal kalau diucapkan seperti itu, pertanyaan tersebut jadi kehilangan maknanya.

Omong-omong, sejak aku mulai mengajarinya, Zack jadi memanggilku dengan sebutan Guru.

Meskipun sudah kusuruh untuk berhenti, dia tetap tidak mendengarkan, jadi aku membiarkannya begitu saja. Ya, cara panggil pada dasarnya hanyalah simbol belaka. Itu tidak penting.

"Zack..."

Saat kuberikan tatapan penuh cela, Zack langsung mengalihkan pandangannya dengan panik.

"Apa yang akan kulakukan..."

Setelah mengulangi kata-kata itu beberapa kali,

"Aku hanya mahir dalam hal memasak. Aku akan memasak sebagai balasannya."

Emi memberikan jawaban seperti yang kuharapkan.

"Rose, dia bilang ingin bergabung dengan kelompok kita. Bagus sekali, bukan? Bukankah dia rakyat pertama kita?"

Para perajin yang tinggal di ibu kota ini tidak berada di bawah kendali penguasa tertentu. Mereka diizinkan untuk tinggal di ibu kota dengan membayar pajak yang tinggi kepada negara atas kepemilikan tanah dan kegiatan bisnis yang mereka jalankan.

Intinya, mereka adalah rakyat bebas. Selain itu, tidak ada batasan apa pun bagi para perajin untuk secara sukarela mengabdi kepada penguasa tertentu.

Dengan kata lain, warga ibu kota bisa saja menjadi rakyat Rose jika mereka sendiri yang menginginkannya.

"Kai..."

Menyadari maksudku setelah sekian lama, Rose menghela napas panjang karena jengkel sambil menggelengkan kepala.

Nah, kalau begitu langkah pertama adalah mengumpulkan informasi. Selama ini urusan itu kuserahkan pada Shirou, tapi bidang keahliannya adalah spionase.

Itu tentu berbeda dengan pengumpulan informasi dalam arti yang sebenarnya. Serahkan segala sesuatu pada ahlinya. Kita harus mencari informan profesional di dunia ini.

Lebih lanjut lagi, kita harus segera mengatasi situasi di mana kita masih terus diawasi ini. Yah, para pengawas itu menyamar menjadi tamu lain di penginapan ini atau pegawai yang baru saja masuk.

Kurang lebih yang tidak menyadari hal ini hanyalah Rose dan Ash. Anna dan pemilik penginapan ini bahkan sempat berkonsultasi dengannya, jadi tingkat keahlian mereka benar-benar masih level amatir.

Sekarang memang belum menimbulkan bahaya besar, tapi aku tidak tahu apa yang akan terjadi ke depannya.

"Aku sudah ada urusan. Zack, ikut aku."

"Baiklah!"

Untuk urusan kekerasan semacam ini, Zack pasti sangat diandalkan, dan tampaknya dia juga sudah lama tinggal di ibu kota. Dia mungkin sedikit banyak tahu seluk-beluk dunia hitam.

Kami sekarang berada di sebuah bangunan yang terletak di sudut barat daya ibu kota, tempat di mana para pria berwajah garang dan menyeramkan keluar masuk.

"Mereka itu adalah Kamado-ma Family, bawahan dari kelompok Wild Monkey yang dirumorkan. Tapi ini cuma dari mulut ke mulut jadi jangan terlalu diandalkan."

"Tidak apa-apa, kalau ternyata salah ya tidak masalah. Kita tanyakan saja langsung biar jelas."

Zack menatapku sejenak dengan lekat,

"Hei, Guru, kenapa kita tidak langsung mengincar Wild Monkey yang merupakan salah satu dalang dari insiden kali ini? Kalau memang berniat menghancurkan mereka, bukankah cara itu jauh lebih cepat?"

Dia bertanya dengan ekspresi serius.

"Jika kita menghancurkan Wild Monkey, dalang di balik layar bisa jadi menarik diri dari insiden ini. Kalau begitu, tindakan kita jadi sama sekali tidak ada artinya."

Kita harus membiarkan bajingan-bajingan itu memicu insidennya. Hanya dengan begitu, kita bisa menjatuhkan kehancuran yang setimpal kepada mereka.

"Tapi, tanda matahari dan gagak itu... Kemungkinan besar mereka adalah bagian dari kelompok [Akagarasu], kan? Dan tentu saja Wild Monkey juga termasuk di dalamnya."

[Akagarasu] adalah salah satu dari tiga kekuatan besar di dunia gelap yang dikuasai oleh seorang Raja. Dunia bawah tanah di ibu kota Kerajaan Amelia ini dikatakan berada dalam wilayah kekuasaan [Akagarasu] tersebut.

"Lalu, apa ada masalah dengan hal itu?"

Zack menatapku sejenak, lalu menggelengkan kepalanya dengan kuat.

"Tidak juga. Lagipula, mana mungkin seorang Guru bisa terusik hanya karena menghadapi manusia biasa."

Dia melontarkan kalimat yang terdengar buruk itu.

"Bukannya karena lawannya adalah manusia. Aku hanya bersikap optimis karena lawannya adalah para penghuni dunia hitam."

Aku menyadari satu hal sejak insiden parasit di Papra. Orang-orang di dunia hitam pada dasarnya sangat lemah.

Jika orang-orang dari dunia terang turun tangan secara serius, mereka pasti akan langsung dibasmi dengan mudah.

Dengan kata lain, alasan mereka masih bisa bertahan hingga sekarang adalah karena mereka memberikan keuntungan bagi para penguasa di setiap negara.

"Anggap saja begitu."

Zack bergumam dengan nada jengkel, sementara aku,

"Kalau begitu, mari kita berangkat."

Mengajaknya melangkah maju mendekati gerombolan orang-orang itu.

"Baiklah!"

Zack menyunggingkan senyuman buas bagaikan hewan pemangsa, lalu meretakkan kedua tangannya dan mengikuti di belakangku.

"Hei, berhenti!"

Begitu kami tiba di pintu masuk bangunan, seorang pria berambut kusut dan berbadan kekar bersama seorang pemuda bermata tajam dengan luka di pipinya mengacungkan ujung pedang ke arah hidungku untuk mengintimidasi.

"Bawa aku menemui bos kalian. Kalau kalian patuh dan menurut, aku tidak akan melakukan apa-apa."

Aku menyampaikan ultimatum itu dengan senyuman sesegar mungkin.

"Hah, kami ini kan orangnya baik hati..."

Hei, Zack, kalau kau mengatakannya sambil meretakkan tangan seperti itu, ucapanmu sama sekali tidak punya daya persuasi, tahu. Kau harusnya tersenyum manis memperlihatkan gigi putihmu sepertiku.

Sesuai dugaan, melihat sosok Zack yang bagaikan gumpalan otot itu, pemuda tersebut menarik wajahnya karena ngeri,

"W-wah, ada penyerbuan! Cepat keluar, semuanya!!"

Puluhan pria bersenjata berbadan kekar berbondong-bondong keluar dari dalam bangunan. Hmm, sepertinya situasi ini berkembang persis seperti yang kuperkirakan.

Aku hendak melangkah maju, namun,

"Guru, biarkan aku yang urus tempat ini. Aku baru saja ingin menguji kekuatan yang baru kudapatkan."

Zack berdiri di hadapanku, lalu mengatupkan kedua kepalan tangannya dan mengalirkan Mana.

Seketika itu juga, seluruh tubuh Zack diselimuti oleh selapisan membran tipis berwarna pucat.

Ho, dia sudah bisa menggunakan chantless invocation secara cukup natural sekarang. Terlebih lagi, itu adalah Hardening?

Hardening adalah salah satu jenis sihir penguat di mana seluruh tubuh diselimuti oleh membran Mana secara terus-menerus untuk mengubah sifat fisiknya menjadi lebih keras.

Bisa dibilang, sihir ini memiliki konsep yang bertolak belakang dengan [Vajra] milikku yang membungkus di tingkat sel.

Membungkus hingga tingkat sel sepertinya masih mustahil bagi kemampuan Zack saat ini. Kalau begitu, ini adalah gagasan untuk melapisi sekujur tubuhnya sebagai gantinya.

Pria botak berwajah sangar dengan janggut lebat yang berdiri di barisan paling belakang menatapku dan Zack dengan malas-malasan,

"Aku tidak peduli dari organisasi mana gerombolan bodoh itu berasal. Jadikan mereka orang-orangan sawah, lalu bawa ke dalam!"

Pria itu memerintahkan anak buahnya dengan suara lantang lalu masuk kembali ke dalam bangunan. Dilihat dari wibawanya, pria itu sepertinya adalah bos di tempat ini.

Kemungkinan besar ini karena perbedaan jumlah kekuatan yang telak. Menepis rasa curiga mereka sebelumnya, mereka kini bahkan menyunggingkan senyuman tipis penuh kelonggaran.

Pria berambut kusut mendekati Zack dan mengetes ujung pedang panjangnya secara berulang-ulang ke pipi Zack, sambil berkata,

"Ini perintah bos. Kalau kau patuh saat ditebas, kau tidak akan mati."

Dia melontarkan ancaman bodoh dengan penuh rasa bangga.

"Bodoh."

Zack mencengkeram pedang panjang yang sedang ditekan itu.

"Hei, jangan buat gerakan aneh—eh?"

Pedang panjang yang dipegang si rambut kusut itu mendadak bengkok melengkung dari pangkalnya.

Zack bahkan meremukkan bilah pedang yang melengkung itu dengan tangan kosong seolah-olah sedang meremas sepotong tanah liat.

Di tengah suara derit logam yang bergeming aneh, para pria bersenjata yang mengepung kami terdiam kaku tanpa bergerak sedikit pun.

"M-Monster..."

Mendengar suara melengking penuh ketakutan yang keluar dari tenggorokan si rambut kusut, Zack menarik sudut bibirnya hingga memperlihatkan taring tajamnya.

Lalu, pembantaian oleh sang buas Zack pun dimulai.

Berkat aksi menggila Zack, kecuali satu orang, semuanya benar-benar kehilangan niat bertarung dan kini duduk bersila dalam kondisi gemetar ketakutan.

Satu-satunya pengecualian itu adalah,

"Kami adalah Kamado-ma Family di bawah naungan [Wild Monkey] yang dipercaya oleh [Akagarasu] untuk menguasai ibu kota ini!"

Pria botak berwajah sangar dengan janggut lebat yang merupakan bos dari gerombolan itu terus meneriakkan ancaman yang sama berulang-ulang dari tadi.

"Hmm, aku tahu soal itu. Makanya kami datang kesini, kan."

Mendengar tanggapanku, matanya terbuka lebar karena terkejut,

"Hah!? Kau paham!? Di belakang kami ada Wild Monkey, dan juga [Akagarasu], tahu?!"

Dia melotot sambil menyemburkan air liur.

"Cukup omong kosongnya. Ceritakan semua yang kalian ketahui tentang [Wild Monkey]. Kalau ada orang lain yang tahu lebih banyak, seret dia ke hadapanku."

Aku mendekati si pria botak berjanggut itu, menunduk menatapnya, lalu memberikan perintah tegas.

"Jangan bercanda! Untuk apa kami melakukan hal berkhianat pada rekan sendiri!"

"Ho. Menolak untuk menjual rekan demi membela diri, ya. Semangat yang lumayan."

Aku tidak pernah berasumsi mereka akan membongkar semua rahasia kelompoknya hanya dengan sejauh ini.

Bagaimanapun, jika rahasia itu bocor, mereka akan menjadi target hukuman mati, jadi mereka tidak mungkin membongkar semuanya dengan mudah.

Karena itulah, aku sudah berniat melakukan ini sejak awal.

Aku menyingsingkan lengan bajuku, lalu mengeluarkan beberapa peralatan yang sudah disiapkan dari dalam Item Box.

"Guru, benda-benda itu?"

Zack bertanya dengan ekspresi agak kaku, menanyakan hal yang sudah jelas.

"Hmm, alat sihir yang membuat seseorang jadi patuh dan ingin menceritakan segalanya, sih."

Aku mengambil salah satu peralatan dari lantai dengan santai lalu menjawabnya.

Belakangan ini Faf sering bermain bersama Miu, jadi dia jadi jarang membaca buku. Karena itulah aku bisa melahap banyak buku-buku bertema kejam dari dalam Dungeon.

"T-Tau apa yang mau kau lakukan?!"

Begitu aku mencengkeram kerah baju pria botak berjanggut yang mengeluarkan suara gemetar melengking itu,

"Tentu saja, hal yang membuatmu ingin berbicara dengan nyaman."

Aku mendudukannya di kursi sambil menarik sudut bibirku.

"T-Tolong hentikan!"

"Aku merasa tidak tega. Hatiku juga sangat sakit, tapi berusaha keraslah untuk menuntaskan tanggung jawabmu."

Jeritan kecil mulai meluncur keluar dari mulut si pria botak berjanggut itu—.

"Itulah semuanya!"

Hanya dengan mencoba beberapa tindakan yang sesuai dengan halaman-halaman buku itu, dia langsung berkhianat dan mulai membongkar rahasianya secara sukarela.

Sekitar 40 persen anggota Kamado-ma Family yang menyaksikan langsung kejadian itu langsung berbusa dan kehilangan kesadaran, sementara 60 persen sisanya berlinang air mata dan Sembari mengeluarkan air hidung, mereka memohon pengampunan.

"Kalian ini benar-benar sampah sampai ke akar-akarnya, ya."

Zack, yang awalnya memasang ekspresi iba pada interogasiku, secara bertahap kehilangan rasa kasihan itu saat mendengar sepak terjang gerombolan [Wild Monkey] di ibu kota ini, berganti dengan luapan amarah yang membara di wajahnya.

Penyelundupan, perdagangan barang terlarang, itu semua masih tergolong ringan.

Mereka menyebarkan narkotika ke orang-orang biasa hingga membuat korban kecanduan, membebani mereka dengan utang besar, lalu menjualnya ke pasar budak yang dikelola oleh [Wild Monkey].

Mereka menipu orang tua Emi dengan memberikan pinjaman, menjerat mereka dengan bunga selangit hingga bangkrut, lalu menjual mereka ke pedagang budak.

Lebih parahnya lagi, mereka bahkan menyelenggarakan acara lelang yang sangat kejam yang hanya boleh dihadiri oleh sebagian kecil bangsawan tingkat tinggi.

"Guru, apa yang harus kita lakukan pada mereka?"

"Hmm. Tidak seperti para parasit itu, bajingan-bajingan ini sudah melewati batas. Biar Beelzebub saja yang menghukum mereka."

Kalau tahu mereka sejahat ini, seharusnya sejak awal aku serahkan saja pada Beelzebub.

"Itu kesalahpahaman! M-Memang benar kami berada di bawah naungan [Wild Monkey], tapi pekerjaan yang kami tangani hanya sebatas penyelundupan dan perdagangan barang terlarang! Aku bersumpah tidak melakukan hal yang lebih dari itu!"

Mendengar gumamanku, bos berkepala botak itu buru-buru membela diri dengan suara melengking.

"Satori, apakah ucapan mereka barusan itu benar?"

Aku tidak cukup polos untuk mempercayai begitu saja kata-kata orang-orang yang sedang diinterogasi. Aku menyerahkan penilaiannya sepenuhnya pada Satori.

Sepertinya itu benar. Tidak ada kepalsuan sama sekali dari pernyataan mereka sejauh ini

Suara gadis yang tak kasat mata bergema di sekitarnya, memicu jeritan panik dari para anggota Kamado-ma Family.

"Kalau begitu, pertanyaan terakhir. Apakah [Akagarasu] juga terlibat dalam kebejatan yang dilakukan [Wild Monkey]?"

Jika mereka juga terlibat, maka target pembersihan akan diperluas hingga mencakup [Akagarasu].

"Karena itu adalah urusan para petinggi, aku tidak tahu secara pasti, tapi kurasa hubungan kami hanya sebatas diizinkan bertahan hidup dengan menyetor upeti kepada [Akagarasu] seperti halnya kami!"

"Jadi kalian tidak tahu tindakan [Wild Monkey] di ibu kota ini?"

"B-Benar! [Akagarasu] hanya menuntut upeti, tidak ada batasan lain yang mereka berlakukan! Kami pun menyetorkan upeti melalui perantara, jadi kami tidak tahu apa-apa tentang [Akagarasu]! Sungguh! Tolong percayalah!"

Akhirnya, pria berkepala botak itu menempelkan dahinya ke lantai sambil memohon ampun. Melihat Satori tidak mengatakan apa-apa, sepertinya itu adalah kebenaran.

Yah, kalau [Akagarasu] berniat mencari masalah denganku karena aku menghancurkan [Wild Monkey], justru itu akan menarik. Untuk sementara waktu, [Akagarasu] dibiarkan saja dulu.

Nah, sekarang giliran orang yang tahu lebih banyak daripada mereka. Nama itu terus bermunculan dari sela-sela pembicaraan tadi.

"Kalau begitu, antarkan kami ke informan nomor satu di kerajaan yang bernama Mujina itu."

Orang itu pasti mengetahui semua insiden yang terjadi di kerajaan ini. Setidaknya, bos botak ini sangat meyakini hal tersebut.

"B-Baik! Dengan senang hati!"

Dia mungkin berpikir akhirnya bisa dibebaskan. Seketika suasana menjadi riuh gembira. Bahkan ada yang menangis terharu karena mengira mereka sudah bebas.

Sayangnya aku senang melihat kalian gembira, tapi aku tidak punya hati yang cukup luas untuk membiarkan orang-orang yang tega memerintahkan untuk menjadikan orang biasa sebagai orang-orangan sawah berkeliaran bebas.

Setelah menyuruh Grimekhala memberi mereka sedikit pelatihan kedisiplinan, aku akan menyuruh mereka bekerja di Gill Trading Company yang baru saja didirikan oleh mantan pedagang budak milik Balse.

Perusahaan dagang itu dikelola di bawah kendali Grimekhala, jadi tempat itu sangat cocok untuk mengurus orang-orang bodoh seperti ini.

Lagi pula, ketika aku pergi untuk memeriksa situasi atas permintaan Grimekhala beberapa waktu lalu, manajer yang tampak lemah gemulai itu sempat mengeluhkan kekurangan tenaga kerja karena terlalu sibuk.

"Kalau begitu, mari saya antarkan!"

Bos berkepala botak itu bangkit dengan penuh semangat, lalu mulai melangkah meski sedikit terhuyung-huyung.

Sikapnya yang tadinya melawan kini berubah drastis menjadi sangat patuh.

Benar dugaannya, orang-orang di dunia hitam ini sama seperti monster di Easy Dungeon; cara terbaik adalah dengan menghajar mereka habis-habisan hingga mereka benar-benar memahami perbedaan kekuatan yang telak dan membuat mereka patuh.

"Guru benar-benar orang yang mengerikan, ya."

Zack berkomentar dengan nada prihatin dan setengah melirik ke arah ketakutan si bos botak.

"Begitukah? Kurasa hal semacam itu tidak terlalu berlebihan."

Setidaknya, cara itu jauh lebih penuh belas kasih ketimbang menyerahkannya pada Beelzebub.

"Tidak, orang dengan akal sehat normal tidak akan pernah memikirkan hal sekejam itu."

Hal kejam, ya. Di buku itu masih ada banyak sekali teknik penyiksaan lain yang jauh lebih mengerikan. Apa yang kulakukan tadi masih tergolong wajar, lagipula semuanya sudah disembuhkan kembali setelah selesai.

Terutama, sebagai orang yang telah menghajar habis-habisan semua musuh sendirian, aku sama sekali tidak ingin mendengarnya langsung dari mulut Zack.

"Sebenarnya kalian ini siapa, Tuan?"

Pria botak itu bertanya dengan suara bergetar,

"Kurasa lebih baik kau tidak tahu jawabannya."

Zack melontarkan kalimat bernada penuh arti, membuat darah dari wajah pria botak itu terkuras habis, dan semenjak saat itu ia tidak pernah berani membuka mulutnya lagi di sepanjang perjalanan.

Kemudian, mereka memasuki sebuah rumah berlantai tiga bergaya bata di sudut barat daya ibu kota.

"Ini adalah Mujina, informan nomor satu di ibu kota. Kalau begitu, saya permisi!"

Pria itu memperkenalkan Mujina—seorang gadis yang mengenakan celana pendek, kain hitam yang menutupi bagian dadanya, serta jubah hitam—kepada kami, lalu mencoba melarikan diri dari bangunan itu. Namun—.

"Hiiiii!"

Kerah bajunya keburu dicengkeram oleh monster berhidung panjang.

"Grimekhala, beri pelajaran pada dia dan antek-anteknya hingga akar kebusukan mereka tercabut, lalu pekerjakan mereka di Gill Trading Company di bawah pengaruhmu di [Cartel]."

"Atas perhatian Anda, saya ucapkan terima kasih."

Grimekhala berlutut dan menundukkan kepalanya, lalu menghilang tanpa jejak bersama sang bos botak bagaikan kepulan asap.

"Selamat datang, Tuan adalah pendekar terkuat pemegang Gift dari si 'Tidak Kompeten' yang sedang hangat dibicarakan di kota ini, ya. Tapi kalau dilihat secara langsung, ternyata jauh lebih luar biasa dari rumornya."

Mujina mengamati diriku secara vulgar tanpa rasa sungkan, lalu melontarkan kesan yang begitu besar.

"Sebutan sebagai pendekar terkuat itu terlalu berlebihan. Ada banyak sekali pendekar dengan kemampuan pedang yang jauh melampaui diriku di dunia ini."

Yah, kalau bertarung sungguhan, aku tidak berniat kalah dari siapa pun, sih.

"Jika Tuan menginginkannya, silakan anggap begitu. Jadi, informasi seperti apa yang Tuan inginkan kali ini?"

Mujina tertawa kecil sambil duduk bersila di kursi dan menghisap pipa rokoknya, lalu mulai membuka pembicaraan bisnis.

Informasi yang kuminta dari Mujina kali ini adalah detail lengkap dari semua tindakan keji yang dilakukan oleh [Wild Monkey] dan Marquis Oubutsu selama tiga tahun terakhir.

Untuk markas kami di ibu kota, dia menyarankan untuk membeli sebuah rumah besar bergaya baru di bagian tenggara ibu kota.

Kabarnya, rumah itu terletak tepat di sebelah markas bos Kamado-ma Family, dan karena orang-orang berwajah menyeramkan sering keluar masuk di sekitarnya, tidak ada orang yang ingin membelinya sehingga harganya merosot tajam.

Kawasan tenggara ibu kota terletak di daerah kumuh pinggiran kota dan cukup jauh dari kawasan perumahan mewah para bangsawan.

Para bangsawan tidak akan pernah suci menginjakkan kaki di sana. Tempat itu pastinya sangat ideal untuk merencanakan hal-hal licik.

Setelah itu, melalui perantara Mujina, aku membeli rumah berlantai tiga tersebut dari pemilik aslinya seharga 10 juta oll.

Kemudian, aku menyerahkan tugas renovasi dan pembersihan rumah kepada teman-teman dari Buku Penaklukan, dan tujuh hari kemudian, kami semua pindah dari penginapan menuju rumah baru tersebut.

"Luas sekoliii!"

"Luas sekali, sungguh!!"

Faf dan Miu bersorak gembira dan berlarian di dalam rumah besar itu. Di sini, kita bisa berdiskusi sepuasnya tanpa perlu mengkhawatirkan lingkungan sekitar.

Selain itu, hari yang dijanjikan dengan Mujina sudah semakin dekat. Kurasa aku bisa mendapatkan informasi yang cukup mendalam mengenai insiden tersebut.

Suara kicauan burung kecil di luar jendela menandakan datangnya pagi. Faf mengucek matanya di atas tempat tidur empuk dan merentangkan tubuhnya menyambut cahaya yang menerobos celah tirai. Tepat di sebelahnya, Faf-chan sedang,

"Aku sudah tidak bisa makan lagi..."

Ia mengigau dengan ekspresi bahagia sambil berbalik tidur. Ruangan ini adalah kamar Kakak Kai. Belakangan ini Faf selalu tidur berdekatan dengan Faf-chan dan Kakak Kai.

Tentu saja, Kakak yang sibuk dan bangun pagi-pagi sekali sudah tidak ada di kamar.

Begitu ia mengucek matanya dan bangkit, Kak Ania masuk ke dalam kamar, membuka tirai, dan berkata,

"Nah, Faf, Miu, ayo cuci muka di bawah. Setelah itu, kita sarapan!"

Ia berbicara dengan senyuman dan nada suara yang lembut. Kak Ania selalu menjadi kakak yang baik bagi Miu dan Faf-chan, dan aku sangat menyayanginya.

"Hari ini sarapannya apa!?"

Faf-chan mengucek matanya yang mengantuk, namun begitu mendengar kata 'sarapan', matanya langsung terbuka lebar dan ia melompat turun.

"Sepertinya Ash bilang menu pagi ini adalah Miso Mackerel..."

"Miso Mackerel!"

Wajah Faf-chan langsung bersinar terang, ia melompat-lompat girang dan berkata,

"Miu, ayo cepat pergi!"

Ia menarik tangan Miu dengan kuat.

"Iya! Faf-chan, tunggu sebentar!"

Miu segera mengikuti di belakang Faf agar tidak tertinggal.

Setelah mencuci muka di tempat pemandian lantai satu, kami pergi ke ruang makan dan mendapati semuanya sudah duduk di kursi masing-masing.

"Tuan!"

Faf-chan memamerkan wajah berseri-seri dan berlari memeluk Kakak Kai yang sedang duduk di kursi dapur, lalu membenamkan wajahnya di perut Kakak. Faf-chan sangat menyayangi Kakak Kai dan biasanya selalu menempel padanya.

Dan sepertinya, jika Kakak Kai pergi dalam waktu lama, Faf-chan akan merasa sangat cemas. Miu juga tiba-tiba ingin bertemu setiap hari dengan Ayah, Ibu, dan Kakak perempuan yang terpisah darinya, jadi Miu sangat memahami perasaan itu.

Kuduga bagi Faf-chan, Kakak Kai adalah sosok yang tidak tergantikan dan sangat berharga, sama seperti keluarga bagi Miu.

Saat Miu duduk di sebelah Faf-chan, Kak Ash dan Kak Ania berpenampilan apron muncul dari dapur sambil membawa piring berisi makanan di kedua tangan mereka.

"Sudah selesai."

Begitu Kak Ash dan Kak Ania meletakkan makanan di atas meja,

Ikan! Ikan! Ikan! Iikaaaan!

Anak serigala bernama Fen yang duduk manis di atas pangkuan Kakak Kai mengepakkan ekornya dengan penuh semangat sambil meneriakkan kata 'ikan' dengan mata berbinar-binar.

"Ya, Fen juga suka ikan, kan."

Iya! Akuuu juga suka ikan!!

Melihat pose cakar kecil yang diangkat untuk menegaskan diri, sudut bibirku tanpa sadar melunak. Fen-chan ini menggemaskan di luar batas wajar.

Setelah memastikan Kak Ash yang membuat sarapan dan Kak Ania yang membantu persiapan sudah duduk di kursi mereka, Kak Rose dan Kak Ania melipat tangan untuk memulai doa ucapan syukur kepada dewa, dan Miu ikut menirukannya.

Meskipun begitu, Kakak Kai hanya sibuk mengelus Fen-chan di pangkuannya, sementara Faf-chan mengayun-ayunkan kakinya karena terpaku melihat makanan di hadapannya. Kakak Ekor Sembilan sedang memindahkan makanan ke piring Kakak Kai.

Kak Zack menguap lebar sambil meregangkan tubuhnya, dan Kak Asta bahkan tidak melihat ke arah meja karena terlalu sibuk membaca buku. Semuanya benar-benar bebas, pikirku.

"Kalau begitu, mari kita makan."

Doa selesai, dan atas aba-aba Kak Rose, semua orang mulai makan bersama.

Selesai makan, waktunya untuk belajar dan berlatih. Pelajaran dipandu oleh Kak Asta yang sangat berpengetahuan luas. Kak Asta kelihatannya sangat enggan, tapi dia mengajarinya dengan sangat telaten.

Selesai belajar, giliran latihan. Belakangan ini aku memohon secara khusus kepada Kakak Kai untuk melatihku. Aku sudah muak dengan kehidupan yang hanya bisa melarikan diri.

Kali ini, giliranku yang akan melindungi Ayah dan yang lainnya. Itulah tekad baru yang telah kuambil.

Seperti biasa, aku menerima bimbingan sihir penguat non-atribut dari Kakak Kai. Menurut Kakak, bakat Miu untuk sihir ini sangat luar biasa.

Kami kaum Beastkin pada dasarnya memiliki kecenderungan sihir yang lebih rendah dibandingkan ras manusia atau elf.

Namun, itu hanya berlaku untuk sihir atribut, dan Kakak Kai menegaskan bahwa untuk sihir non-atribut, kaum Beastkin justru memiliki bakat yang jauh lebih kuat.

Dulu, semua kaum Beastkin menyimpan semacam rasa rendah diri karena merasa tidak memiliki bakat sihir.

Karena itulah, pujian dari Kakak Kai yang mengatakan bahwa aku memiliki bakat untuk sihir penguat membuatku merasa sedikit geli namun bangga.

Selesai latihan sihir dan makan siang, jadwal berikutnya adalah latihan tempur.

Gagal! Titik keseimbanganmu sama sekali tidak benar!

Peringatan keras meluncur dari Guru Nemea.

"Baik!"

Kakak Kai telah meminta Guru Nemea untuk melatih Miu. Belakangan ini, aku berlatih keras setiap hari bersama Kak Zack.

Setelah menerima latihan dari Guru Nemea hingga tubuhku terasa lelah, waktu luang pun tiba.

Biasanya aku pergi bermain bersama Faf-chan, namun hari ini Faf-chan dipanggil oleh Paman Radon dan kawan-kawan, jadi aku pergi keluar sendirian.

Beberapa saat setelah berjalan keluar dari rumah besar, sebuah bangunan besar berlantai tiga yang tampak cukup tua terlihat. Itulah rumah makan, [Attakatei].

"Yo, Miu!"

Anak laki-laki berambut cokelat yang keluar dari bangunan itu menyadari kehadiran Miu dan melambaikan tangan kanannya.

"Marco, Paman dan Bibi ada di dalam?"

Lantai satu bangunan ini berfungsi sebagai ruang makan, sementara lantai dua dan tiga dihuni oleh banyak anak-anak yang kehilangan tempat tinggal karena berbagai alasan seperti Miu.

Miu dan Faf juga berteman akrab dengan anak-anak di sini dan sering berkunjung untuk bermain.

"Ada. Emi juga baru datang dan sekarang sedang memasak. Kau mau ikut makan juga?"

"Mau!"

"Ngomong-ngomong, si tukang makan itu tidak ikut hari ini?"

Marco bertanya sambil menoleh ke sana ke mari.

"Hari ini aku sendirian. Kau kecewa, ya?"

Saat aku bertanya dengan wajah bangga kepada Marco, tiba-tiba wajahnya berubah menjadi merah padam,

"Bodoh! Mana mungkin begitu! Aku malah merasa lega karena tidak ada orang yang berisik!"

Setelah melontarkan kata-kata sok kuat itu, dia bersiap untuk pergi ke luar.

"Marco, kamu mau pergi ke mana sekarang?"

"Ah, aku mau belanja bahan makanan untuk hari ini!"

Marco mengangkat tangan kanannya. Dia lalu berlari kecil dan menghilang ke dalam kerumunan di jalan utama.

Saat aku masuk ke dapur restoran di lantai satu, paman koki dan putrinya, Kak Emi, sedang memasak.

"Oh, Miu sudah datang ya. Semuanya ada di halaman, jadi duduklah dulu."

Paman yang sedang lihai menggunakan wajan itu tersenyum lembut seperti biasa. Tepat ketika dia menyapa Miu,

"Gawat. Telurnya pecah."

Terdengar seruan dari Kak Emi.

"Kalau begitu, aku akan menyuruh Marco untuk sekalian membeli telur."

"Maaf! Tolong ya!"

Kak Emi menangkupkan tangannya memohon.

"Jangan sungkan!"

Setelah mengatakan itu, aku pergi ke pasar untuk menyampaikannya pada Marco.

Aku segera bertemu dengan Marco. Saat kami sedang berbelanja bahan makanan di pasar, kami kebetulan berpapasan dengan Kak Ash, jadi aku menjelaskan situasinya kepadanya—tapi....

"Miu ini benar-benar tidak bisa diremehkan ya."

Sepertinya dia telah membuat kesalahpahaman yang sangat konyol. Padahal, Kakak sendiri jauh lebih mudah ditebak.

Selesai berbelanja bahan makanan di pasar, kami pun sedang dalam perjalanan menuju 'Attakatei'.

Kak Ash ikut bersama kami karena alasan terlalu berbahaya bagi anak-anak untuk pulang sendiri.

"...."

Tiba-tiba, Kakak berhenti melangkah. Dia menatap tajam ke satu titik dan tidak bergerak sedikit pun.

Merasa penasaran, aku mengikuti arah pandangan Kakak. Di sana, seorang wanita berambut pirang yang cantik dan berpakaian hitam sedang membeli buah berwarna oranye di kedai buah.

Aku mengintip wajah Kakak, bermaksud bertanya apakah dia mengenal wanita berambut pirang itu. Kak Ash melebarkan matanya, meneteskan air mata besar yang mengalir deras di pipinya.

"K-Kakak?"

Aku yang terkejut melihat Kak Ash menangis pun bertanya padanya.

"Eh?"

Dengan raut wajah terkejut, dia buru-buru menyeka air matanya dengan lengan baju.

"Kamu kenapa?"

"Ya, aku tidak apa-apa."

Kak Ash menggelengkan kepalanya beberapa kali, lalu mulai berjalan kembali.

Suasananya menjadi canggung. Aku sebenarnya ingin bertanya tentang alasan tangisannya tadi dan siapa wanita berambut pirang itu.

Tapi, apakah aku boleh mencampuri urusannya sejauh itu?

Saat sedang berpikir keras, Miu menyadari seorang pria berjalan dari arah depan. Pria itu mengenakan jubah merah dengan tudung yang ditarik dalam menutupi kepalanya.

Kerajaan Amelia adalah negara sihir. Ada banyak sekali penyihir seperti ini di ibukota. Karena itu, penampilan seperti itu saja tidak terlalu terasa aneh.

Hal yang menarik perhatian Miu adalah beberapa tato bermotif geometris yang digambar dengan warna merah di wajah pria itu. Hanya dengan melihat tato itu saja, hatinya entah mengapa merasa sangat gelisah.

(Kak Ash, orang itu...)

(Aku tahu.)

Kak Ash mengangguk kecil dengan ekspresi wajah yang tegang. Dia lalu menarik tangan Miu dan Marco, dan berlari ke arah gang belakang.

"Kalian kabur? Dingin sekali ya...."

Diiringi suara yang aneh dan serak, pria berjubah merah itu sudah berdiri di depan kami. Dia menghalangi jalan pelarian Miu dan yang lainnya.

"Hii!"

Melihat senyuman pria itu yang begitu menyimpang hingga tidak terlihat seperti manusia, Marco menjerit kecil.

"...."

Kak Ash melangkah mundur, memindahkan Miu dan Marco ke belakang punggungnya untuk melindungi kami. Namun, pada detik berikutnya, tinju kanan pria itu sudah bersarang di perut Kakak.

"Kak Ash!"

Saat aku memanggil namanya, telapak tangan kanan pria berjubah merah itu mendekat. Kesadaran Miu pun memudar menjadi putih bersih.

Sensasi unik dari batu keras dan kasar di punggungku membuatku membuka kelopak mataku yang terasa berat. Aku berada di sebuah ruangan redup yang terhalang jeruji besi.

Dari dalam ruangan yang sama, terdengar suara isak tangis.

"Syukurlah! Kamu sudah sadar!"

Marco berseru lega meskipun wajahnya masih berlinang air mata. Lagipula, menilai dari wajahnya yang penuh dengan kesedihan, tidak perlu dipikirkan lagi bagaimana situasi kami saat ini.

Saat aku memeriksa sekeliling,

(Ini ruang bawah tanah...)

Ini adalah penjara batu yang dingin dan keras, tempat aku dikurung setiap hari sebelum bertemu dengan Kak Kai dan yang lainnya.

Benar saja, ada wanita-wanita cantik dan anak-anak dari berbagai ras yang saling berpelukan dan gemetar di sudut ruangan.

(Kak Ash!?)

Kenyataan bahwa keluarga yang paling berharga bagi Miu tidak ada di tempat ini membuat darahku terasa mengalir deras meninggalkan wajahku.

"Kak Ash dibawa pergi oleh mereka!"

Sambil menangis, Marco memberitahukan hal yang paling ingin kudengar saat ini.

Identitas musuh yang menculik Miu dan teman-temannya beserta tujuan mereka, semuanya tidak diketahui.

Terlebih lagi, Miu sama sekali tidak bisa melihat gerakan pria berjubah merah itu.

Sekalipun dinilai secara optimis, ini adalah situasi yang benar-benar putus asa. Pada dasarnya, apa yang bisa dilakukan oleh anak kecil seperti Miu sangatlah terbatas.

Mungkin, jika ini adalah Miu sebelum bertemu dengan Kak Kai, dia pasti hanya akan meratapi tragedi ini. Tapi, sekarang berbeda—.

"Aku akan pergi memanggil bantuan."

Kalau itu Kak Kai, dia pasti bisa mengalahkan orang-orang seperti mereka. Dia akan mengakhiri tragedi ini untuk kami.

"Memanggil bantuan, bagaimana caranya!?"

Menanggapi teriakan Marco yang sangat wajar itu, Miu mendekati jeruji besi dan mencengkeramnya kuat-kuat dengan kedua tangan.

Kemudian, dia membiarkan energi sihir yang muncul dari sekitar pusarnya meresap perlahan ke seluruh tubuhnya.

(Se-keras mungkin, dan dengan penuh tenaga, cepat dan tangguh seperti Dewa Binatang...)

Perlahan-lahan dia mengerahkan kekuatan pada jeruji besi itu. Jeruji itu berderit dan membengkok, dan dalam sekejap tercipta celah yang cukup untuk dilewati oleh satu orang.

"Kalau begitu, aku pergi dulu. Marco, kamu tunggu saja di sini. Tidak apa-apa, aku akan segera membawa pahlawanku kemari!"

Meninggalkan Marco dan orang-orang di dalam penjara yang tercengang, Miu pun berlari keluar.

Dia menendang lantai, melesat ke arah para penjaga yang sedang menguap di depan tangga menuju permukaan.

Pemandangan di sekitarnya mengalir cepat ke belakang, dan tubuh Miu sudah tiba persis di depan hidung kedua pria penjaga itu.

"Hah?"

Miu mengayunkan tinju kirinya ke atas, tepat mengenai salah satu pria yang memasang wajah kebingungan.

Tubuh besar pria yang kekar itu membungkuk membentuk huruf V, lalu dia mengerang kesakitan dan pingsan di lantai hanya dengan satu pukulan.

"B-Bajingan kau—"

Miu melompat ke dekat wajah penjaga satu lagi yang mencoba mencabut pedang dari sarung di pinggangnya.

Dia mendaratkan tendangan memutar kaki kiri dengan gaya sentrifugal yang kuat tepat di wajahnya.

Pria itu berputar beberapa kali di udara sebelum menabrak dinding, lalu jatuh pingsan dengan mulut berbusa.

(Luar biasa! Aku menjadi lebih kuat!)

Saat berlatih dengan Kak Zack, serangan Miu tidak pernah mengenainya sama sekali, sehingga dia tidak merasa kalau dirinya telah bertambah kuat.

Tapi, ternyata kekuatannya sangat ampuh untuk melawan para penjahat.

(Kalau begini, aku pasti bisa—)

Miu pun bisa melakukannya. Seperti yang dilakukan Kakak padanya, Miu mungkin bisa menyelamatkan orang-orang yang kesulitan dari jalan buntu takdir mereka.

Sambil merasakan kegembiraan di dalam dirinya, dia membuka pintu dan keluar ke permukaan.

Ruangan di atas sungguh berbanding terbalik dengan tempat suram tadi, lorong itu terhubung ke sebuah ruangan megah yang dilapisi oleh karpet merah tebal.

Miu bersembunyi di balik bayang-bayang benda di sekitarnya, mencari jalan keluar dengan sangat hati-hati.

(Jalan keluarnya pasti di sana.)

Cahaya bulan bersinar melalui jendela di ujung lorong. Di sanalah letak jalan keluarnya.

Jika Miu bisa keluar dari sana, maka kemenangan akan menjadi milik mereka. Kak Kai pasti akan menyelamatkan Marco dan juga Kak Ash.

Saat dia hendak melangkah maju, terdengar sorak-sorai yang menggelegar. Kemudian, terdengar pula suara anak kecil yang menangis dan menjerit.

Ketika Miu mendengarnya, kakinya langsung berhenti bergerak, seolah-olah dipasangi pemberat besi.

(Aku harus cepat pergi!)

Bertentangan dengan perasaannya yang terburu-buru, sebuah dorongan yang terasa seperti rasa tanggung jawab untuk memeriksa apa yang ada di depan perlahan muncul di hatinya.

Mengingat Miu yang sekarang tidak akan bisa menang melawan pria berjubah merah itu bagaimanapun caranya, syarat kemenangannya hanya ada satu. Yaitu membawa Kak Kai ke sini.

Itu adalah cara yang paling pasti dan paling masuk akal yang harus dilakukan Miu. Tapi—.

(Kalau Kak Kai, dia pasti tidak akan mengabaikan mereka.)

Ketika pemikiran itu terlintas di sudut kepalanya, kaki Miu seakan tersedot ke arah pintu tempat suara itu berasal.

Dia merenggut kesadaran penjaga berseragam hitam yang berdiri di depan pintu itu dengan satu pukulan, lalu menyelinap ke dalam ruangan. Tempat itu terlihat seperti sebuah arena gladiator.

"...."

Otaknya sempat menolak untuk mengenali pemandangan di dalam sana selama beberapa saat.

Di sana, terlihat makhluk besar berwujud harimau dengan gigi taring yang sangat panjang sedang mengejar seorang anak kecil berwajah kelinci yang berlari kebingungan.

"Nah, nah! Sampai kapan anak roh kelinci ini bisa terus melarikan diri dari Saber Liger!"

Seorang pria berpakaian hitam dengan penutup mata berbentuk segitiga memberikan komentar atas pemandangan mengerikan seperti mimpi buruk ini dengan suara riang.

"Ayo, ayo! Kalau kamu tidak berjuang, kamu akan mati lho!"

Pria berpakaian hitam yang tampaknya merupakan seorang pembawa acara itu berseru kepada gadis berwajah kelinci dengan nada seperti sedang bernyanyi.

Gadis berwajah kelinci itu menangis sambil berusaha melarikan diri sekuat tenaga dari kejaran Saber Liger.

"Woi! Tunjukkan keberanianmu sedikit kek! Kamu pikir sudah berapa banyak uang yang kupertaruhkan untukmu!?"

"Benar sekali! Kalau kamu langsung dimakan, aku tidak akan memaafkanmu!"

Sorak-sorai gila terdengar dari para penonton. Saat Miu memandang kosong ke arah arena, gadis berwajah kelinci itu akhirnya tersandung dan jatuh ke tanah.

Suara kekecewaan dan kegembiraan seketika bercampur aduk memenuhi ruangan. Di tengah keributan itu, buasnya Saber Liger perlahan mendekati sang gadis.

Lalu, di dalam sebuah sangkar yang diletakkan di salah satu kursi penonton, seorang wanita berwajah kelinci yang terikat erat oleh rantai menitikkan air mata sambil berteriak.

"Hentikaaan!"

Kata-kata permohonan itu diteriakkan. Di saat ekspresi keputusasaan dari ikatan keluarga yang akan segera terkoyak itu tumpang tindih dengan keluarga berharga Miu—.

"Gaaaaaahh!"

Emosi Miu meledak dari dalam, dia mengaum seperti binatang buas dan berlari menuruni tangga penonton. Lalu, dia melompat dan menendang sisi wajah Saber Liger itu dengan keras.

Saber Liger itu berguling-guling, sebelum akhirnya kepalanya menghantam dinding arena dan tubuhnya berkedut kejang.

Arena mulai diliputi kegaduhan seperti hutan yang bergoyang tertiup angin. Saat Miu mencoba berlari menghampiri gadis berwajah kelinci itu, beberapa anak panah berlapis api melesat lurus ke arahnya.

Ketika dia memutar tubuhnya untuk menghindari panah-panah itu,

"Ugh!"

Tiba-tiba, rasa sakit yang tajam menyengat bagian belakang lehernya. Miu memukulnya dengan tangan kanannya untuk menepis hal tersebut.

Bangkai seekor lebah kecil menempel di tangannya. Tepat setelah itu, tangan dan kakinya kehilangan tenaga, membuat Miu jatuh tertelungkup ke lantai.

(Kenapa!?)

Dia berusaha mati-matian untuk bangun, tapi dia tidak bisa menggerakkan satu jari pun.

"Tikus dari mana kau ini?"

Pemilik suara itu mendekat, lalu mencengkeram kerah baju Miu dan mengangkatnya. Seorang pria bertubuh kecil dengan rambut keriting rapat yang mengenakan pakaian serba kuning, serta memiliki tato lambang monyet di pipi kanannya, menatap Miu sambil menguap.

"Bos, mau diapakan anak ini?"

Pria yang mencengkeram Miu di tangan kanannya itu menoleh ke arah seorang pria berkepala plontos dengan bibir tebal.

Pria yang ditanyanya itu sedang duduk bersandar dengan angkuh di tengah kursi mewah dengan mengenakan pakaian kuning yang senada.

"Itu adalah salah satu hewan peliharaan milik target kita kali ini. Bagaimana? Daripada disia-siakan, kenapa tidak kita masukkan saja dia ke acara berikutnya bersama ibu dan anak kelinci itu?"

Yang menjawab pertanyaan itu dengan suara seraknya bukanlah sang Bos, melainkan pria berjubah merah yang duduk di sudut kursi mewah. Pria itu... dialah orang yang telah menculik Miu dan yang lainnya.

"Marquis Oobuts, kami akan sedikit mengubah rencananya, apakah Anda tidak keberatan?"

Pria berbibir tebal yang dipanggil Bos itu melirik pria berjubah merah sejenak, lalu bertanya kepada pria berwajah sangat besar di sebelahnya.

"Aku tidak keberatan! Kalau ini membuatnya menjadi lebih menarik, itu menguntungkan bagi kami juga! Benar kan, anakku!"

"Tentu saja, Ayah!"

Ditanya oleh Marquis Oobuts, pemuda dengan gaya rambut ikal spiral yang aneh di sebelahnya pun mengangguk setuju.

"Kalau begitu, mari kita mulaaaai! Ketakutan dan kenikmatan! Pengorbanan dan pengkhianatan! Acara yang menyenangkan dan mendebarkaaan!"

Sambil menyibakkan rambut belakangnya yang dikepang panjang dengan tangan kanan, pria berjubah merah itu berdiri dari kursinya. Dia lalu merentangkan kedua lengannya dan membuat deklarasi yang sangat tidak menyenangkan, dan seketika Miu kehilangan kesadarannya.

Pita cahaya menembus kegelapan yang pekat. Cahaya itu perlahan-lahan bertambah banyak.

Ketika aku membuka kelopak mataku di bawah cahaya itu, aku berada di arena gladiator yang sama seperti tadi. Dan aku baru menyadari bahwa tubuhku telah diikat ke sebuah tiang besi.

Terlebih lagi, aku mengenali sosok wanita berambut hitam panjang yang terbaring telentang di atas alas yang diletakkan di tengah arena,

"Kak Ash!"

Aku meneriakkan namanya. Aku segera berusaha meronta dari tiang besi itu, mencoba merobek rantai yang melilit tubuhku, tapi rantai itu sama sekali tidak bergeming.

(K-Kenapa!?)

Padahal aku bisa membengkokkan jeruji besi tadi. Seharusnya, merobek rantai kecil seperti ini adalah hal yang mudah.

"Bodoh, rantai itu tidak akan bisa kau putuskan bagaimanapun caranya. Kudengar, pria menjijikkan itu merajut rantainya menggunakan kristal jiwa milik roh tingkat menengah."

Pria bertubuh kecil itu mendekati Miu. Dengan nada mengejek, dia melontarkan fakta terburuk yang bisa didengar.

"J-Jiwa roh..."

Roh adalah entitas yang berada di posisi lebih tinggi daripada umat manusia.

Bagi Ras Manusia Hewan yang hidup selaras dengan alam, roh adalah eksistensi yang setara dengan dewa pelindung.

Menggunakan jiwa mereka untuk membuat rantai sungguh di luar akal sehat.

"Roh itu sangat praktis, kau tahu. Jika kami menyerap jiwa mereka, itu akan memberikan kekuatan yang luar biasa bagi kami para penyihir. Bahkan Ras Manusia yang lemah pun bisa mendapatkan Mana dalam jumlah besar. Lihat saja, seperti orang itu."

Pria kecil dengan tato monyet di pipinya itu menunjuk dengan dagunya ke arah ruang VIP.

Di sana, Marquis Oobuts sedang mengiris sesuatu yang menyerupai kristal biru muda di atas piring menggunakan pisau, lalu memasukkannya ke dalam mulut.

"I-Itu... apa?"

"Inti Roh. Itu adalah sumber jiwa dari para roh. Kalau dimakan, kau akan mendapatkan kemampuan fisik dan Mana melampaui batas manusia."

"Lalu, bagaimana dengan roh itu sendiri?"

Tanya Miu dengan suara bergetar.

"Ah, itu sudah kusingkirkan dengan rapi sebelum aku mengambilnya. Ini memang tidak terlalu berguna bagi rakyat biasa yang tidak bisa menggunakan sihir, tapi setidaknya kemampuan fisik mereka akan melonjak drastis, dan usia mereka juga akan sedikit lebih panjang."

Pria kecil bertato monyet itu berbicara dengan sangat bangga tentang komoditas berharga para bangsawan itu.

Miu sama sekali tidak bisa merasakan kenyataan karena perbedaan yang begitu mencolok antara isi percakapan yang sangat kejam dengan nada bicara pria itu yang begitu santai.

Hanya ada satu hal yang dia pahami sekarang—.

"Kalian semua bukan manusia!"

Miu berteriak dari lubuk hatinya yang terdalam.

Pria itu tertawa mengejek Miu yang meninggikan suaranya,

"Tentu saja. Apa kau tahu Gift milikku? Aku adalah seorang Summoner. Singkatnya, aku dicintai oleh Dewa Perang Suci Ares, bisa dibilang aku ini adalah Anak Dewa. Dalam artian tertentu, aku memang sudah melampaui manusia."

Dia melontarkan omong kosong yang benar-benar gila itu.

Tidak bisa. Orang-orang dewasa ini benar-benar tidak waras. Bagi Miu, orang-orang ini hanya terlihat seperti iblis yang muncul dalam cerita pengantar tidur sewaktu dia masih kecil.

"Kalian semua—pasti akan dikalahkan!"

Meskipun baru sebentar tinggal bersama, dia bisa memahaminya. Miu tidak yakin kalau Kak Kai akan membiarkan orang-orang serakah seperti mereka bertindak sesuka hati.

"Ya, ya. Sepertinya semua persiapannya sudah selesai sekarang."

Entah karena menganggap kata-kata tulus Miu sebagai ocehan pecundang atau bukan, pria bertato monyet itu mengalihkan pandangannya ke tengah arena gladiator sambil memamerkan senyum buruk rupanya.

Di depan alas tempat Kak Ash dibaringkan, Kak Emi yang mengenakan celemek putih berdiri dengan wajah pucat pasi.

"Nah, para hadirin sekalian! Permainan yang tadi sempat tertunda karena campur tangan hewan buas, kini akan kami ubah rencananya sesuai dengan usulan dari pihak penyelenggara!"

Ketika pria berpakaian hitam putih yang bertindak sebagai pembawa acara itu membuat deklarasi, sorak-sorai yang riuh kembali menggema dari kursi penonton.

Kemudian, sebuah sangkar besi dibawa dari belakang. Di dalamnya, ibu dan anak kelinci itu dikurung dengan keadaan kedua tangan dan kaki mereka terikat.

"Seperti yang Anda semua ketahui, ini adalah roh tingkat menengah yang dikendalikan oleh Summoner kita! Dan mari kita perkenalkan tamu kita! Pertama-tama, Emi yang akan berperan sebagai Koki dalam acara kali ini!"

Dia mengarahkan tangan kanannya ke arah Kak Emi dan mengeraskan suaranya. Mendengar sorakan yang kembali membahana, Kak Emi menggigit bibir bawahnya dengan penuh rasa frustrasi.

Miu sama sekali tidak percaya kalau Kak Emi mau mengotori tangannya untuk melakukan tindakan sekejam ini. Dia mungkin dipanggil ke tempat ini dengan Marco sebagai sanderanya.

"Selanjutnya adalah wanita milik anak nakal yang telah bersikap tidak sopan kepada Yang Mulia Marquis Oobuts! Setelah kita menyuruh wanita ini mengeksekusi ibu dan anak roh tingkat menengah itu serta hewan buas yang menerobos masuk tadi, kita akan menjadikannya budak Marquis Oobuts sampai dia mati!"

Tidak mungkin Kak Ash yang begitu baik hati mau melakukan hal seperti itu. Seharusnya begitu, tapi pada saat itu, insting bahaya Miu membunyikan alarm peringatan dengan sangat keras.

Dan benar saja, firasat Miu menjadi kenyataan dalam bentuk yang paling buruk.

"Uggh!"

Sambil mengerang seperti binatang buas, Kak Ash melompat dari atas altar layaknya ditarik oleh pegas, lalu mendarat di tanah.

Benang-benang tipis melilit seluruh tubuh Kak Ash, dan ada monster bertopeng yang melayang di atas kepalanya sambil mengendalikan benang tersebut dengan kedua tangannya.

(Itu... apa?)

Sayap putih yang tumbuh di punggung monster bertopeng itu. Penampilannya itu benar-benar terlihat seperti—.

"Nah, permainan akan segeraaa dimulaai!"

Saat pembawa acara mengangkat tangan kanannya, orang-orang berpakaian hitam di sekitarnya membuka kunci pintu sangkar tempat ibu dan anak roh kelinci itu dikurung.

"Pertama-tama, kita mulai dengan perburuan ibu dan anak kelinci iniiii!"

"Gugagaga...."

Dengan mata yang memutih, Kak Ash mencabut pedang panjang yang tertancap di tanah dengan tangan kanannya, lalu mulai mendekati roh tersebut.

Sang ibu roh kelinci memeluk anaknya erat-erat sambil mengerang. Tiba-tiba, Kak Ash menghentikan langkahnya.

"La... ri... lah...."

Kata-kata itu terucap dari mulutnya yang meneteskan air liur. Roh kelinci itu sempat melebarkan matanya karena terkejut melihat sosok Kak Ash.

Tapi tak lama kemudian, dia menghilangkan permusuhannya dan menutup kelopak matanya dengan ekspresi meminta maaf.

"Waah! Aku tidak menyangka dia akan melawan benang keajaiban dari Utusan yang dipanggil dari surga oleh Pendeta kita. Benar-benar wanita yang penuh dosa! Seperti yang diharapkan dari wanita sampah yang telah bersikap tidak sopan kepada anak dewa kita, Marquis Oobuts!"

Di tengah seruan antusias sang pembawa acara, Kak Ash terus diseret hingga mendekati ibu dan anak roh kelinci itu. Akhirnya dia masuk ke dalam jangkauan tebasannya, dan mengangkat pedang panjangnya dengan kedua tangannya.

Kak Ash gemetar hebat berusaha menahannya, tubuhnya menjadi kaku. Ruangan kembali bergejolak dan dengan cepat berubah menjadi hiruk-pikuk.

"Cepat bunuh mereka!"

Marquis Oobuts berteriak mendesak dengan urat tebal yang menonjol di dahinya, namun Kak Ash tetap tidak bergerak.

"Woi, Dokubachi!"

Pria botak berbibir tebal yang tampaknya adalah sang bos memberikan instruksi kepada pria kecil bertato lambang monyet di pipi kanannya, Dokubachi.

"Ya, ya. Mengerti, Bos."

Dia mengangkat bahunya dan menjentikkan jari. Seketika, kawanan lebah yang tak terhitung jumlahnya muncul dari tubuh Dokubachi dan mengerumuni Kak Ash.

"Gu...."

Dia mengeluarkan erangan tertahan karena disengat lebah, dan pedang panjangnya perlahan mulai diayunkan ke bawah.

"Jangaaaan!"

Tepat ketika Miu berteriak secara spontan—garis-garis merah menyala melintasi lebah-lebah yang mengerumuni Kak Ash, serta pada benang yang menempel di sekujur tubuhnya.

Lebah-lebah itu meledak, dan benang yang mengendalikan Kakak pun terputus. Kak Ash yang kehilangan kesadaran dan hampir tumbang itu kemudian ditopang oleh seorang pemuda berambut hitam yang tampak liar, yang membaringkannya perlahan ke tanah.

Dengan wajah bengis bagaikan iblis jahat, pemuda itu mengarahkan ujung pedang panjangnya ke arah monster bersayap putih yang melayang di udara.

—Kisah antara Miu dan pemuda yang berasal dari Kekaisaran, kini dengan jelas bersinggungan di sini.

◇◆◇

—Waktu mundur ke beberapa minggu yang lalu.

Segera setelah Jignir tiba di Barse, dia mencoba menghubungi pedagang budak untuk mencari tahu identitas orang yang telah menebus Miu, putri Gaus. Sayangnya, mereka sudah memindahkan basis operasinya dari Barse ke sebuah kota baru.

Oleh karena itu, dia mengunjungi kota baru [Cartel], tapi....

"Apa-apaan ini..."

Jignir bergumam sendiri dengan pipi berkedut melihat pemandangan yang terlalu tidak masuk akal itu.

Taman yang asri dan terawat dengan bunga-bunga indah yang ditanam di sekelilingnya, serta sebuah air mancur yang terletak di tengahnya. Lalu, ada sebuah bangunan raksasa yang sangat mewah sehingga sulit dipercaya kalau itu dibuat oleh manusia.

Dia nyaris tidak bisa mengenalinya sebagai kenyataan, andai saja tidak ada bangunan-bangunan biasa dari bata bergaya rakyat jelata yang sedang dibangun di sekitarnya.

"Sepertinya inilah kota baru yang belum lama ini dibangun."

Seorang pria paruh baya berambut putih mengelus jenggotnya yang terbentuk rapi, sambil mengucapkan fakta yang sebenarnya tidak perlu dijelaskan lagi.

Pria paruh baya ini memperkenalkan dirinya sebagai Ruth. Menilai dari sikapnya, seperti cara berjalannya dan caranya menghilangkan hawa keberadaannya dengan sangat alami, pria bernama Ruth ini jelas bukanlah pedagang biasa.

Kemungkinan besar, sama seperti Jignir, dia adalah tipe orang yang telah menjalani kehidupan di mana pertempuran menjadi makanan sehari-hari selama bertahun-tahun.

"Jadi? Apa kau tahu di mana markas pedagang budak itu?"

"Ya, kira-kira..."

Tumben sekali Ruth berbicara dengan kata-kata yang ambigu seperti ini. Saat Jignir memiringkan kepalanya dengan heran, alasannya segera terungkap.

"Perusahaan Penyalur Tenaga Kerja Giri?"

Nama yang tertulis di papan reklame yang rapi itu sangatlah wajar dan sama sekali tidak ada hubungannya dengan pedagang budak.

"Tempat ini benar-benar pedagang budak kan?"

"Seharusnya begitu...."

"Sama sekali tidak terlihat seperti itu...."

"Bagaimanapun juga, diam di sini saja tidak akan menyelesaikan masalah. Mari kita masuk dan bertanya di dalam."

"Kau benar."

Mereka masuk ke dalam bangunan itu. Di dalamnya dipenuhi dengan kerumunan orang.

Saat mereka mengantre dan menunggu giliran di meja resepsionis, obrolan seorang wanita yang mengantre tepat di depan Jignir terdengar di telinga mereka.

"Apa aku benar-benar bisa dipekerjakan!?"

Seorang wanita yang mengenakan pakaian yang sangat terbuka, mencondongkan tubuhnya ke depan dan bertanya kepada pria berpakaian rapi di meja resepsionis.

"Tentu. Saat ini ada lowongan pelayan untuk restoran yang baru saja buka. Gaji bulanannya 12.000 Oru, bagaimana dengan tawaran ini?"

"12.000 Oru? Gajinya sebesar itu!? Aku mau! Aku ambil!"

"Kalau begitu, silakan tanda tangani dokumen ini. Mulai sekarang, kami akan memberikan dukungan penuh sampai Anda resmi dipekerjakan."

"M-Mohon bantuannya ya!"

Sambil menangis, wanita itu meraih tangan pria resepsionis itu dan menundukkan kepalanya berkali-kali.

"Hei, tempat ini benar-benar mantan pedagang budak kan?"

"Iya. Yah, saya juga jadi kurang yakin sekarang."

Sambil mengangkat bahu, Ruth menyampaikan keperluannya kepada pria resepsionis itu. Tatapan pria itu seketika berubah sebelum dia menghilang ke ruangan belakang.

Setelah itu, mereka diantar ke tempat yang tampak seperti ruang tamu.

Seseorang yang duduk berseberangan di sofa itu adalah pria berambut hitam yang memakai riasan. Di belakangnya, para penjaga berseragam hitam toko ini berdiri tegak tanpa bergerak, pria berias inilah yang kemungkinan besar adalah manajer perusahaan ini.

"Aku sudah menunggumu, kupikir kalian pasti akan segera datang."

"Menunggu kami? Padahal saya sama sekali belum mengatakan kalau akan berkunjung lagi."

Ruth mengerutkan alisnya dan bertanya kepada pria berias itu. Namun pria itu sama sekali tidak menjawab, dan malah meletakkan gulungan perkamen yang disegel di atas meja.

"Apa ini?"

"Entahlah, aku juga tidak tahu detailnya, tapi ini pasti benda yang kalian cari."

"Apa ini berisi informasi tempat gadis bernama Miu itu berada!?"

Saat Jignir meninggikan suaranya, sang manajer menyipitkan matanya.

"Keterikatanmu pada gadis itu. Pada akhirnya, hidup kalian juga akan diubah oleh gadis itu, sama sepertiku."

Manajer itu melontarkan kata-kata penuh makna sambil tertawa geli.

"Hidup kami akan diubah?"

"Iya. Tapi, aku hanya disuruh memberikan ini tanpa mengatakan apa-apa. Itu adalah instruksi dari Beliau. Jadi, aku tidak bisa menceritakan lebih jauh tentang masalah ini."

Dia menggelengkan kepalanya dari sisi ke sisi, menolak untuk memberikan detail lebih lanjut.

"Kalau begitu, setidaknya jawab saja apakah gadis bernama Miu itu selamat atau tidak!"

"Oh, kalau soal itu sudah terjamin. Karena ini berkaitan dengan Beliau, anak itu pasti dirawat dan sangat disayangi layaknya anak sendiri."

"Begitu ya...."

Tidak ada keuntungan bagi pria di depanku ini untuk berbohong. Dia mungkin benar-benar bersungguh-sungguh dengan ucapannya. Setidaknya, situasi kritis saat ini sepertinya telah berlalu.

"Yah, kurasa satu nasihat saja masih bisa dimaafkan untuk kuberikan."

"Nasihat?"

"Ya, mulai dari sini kalian akan dihadapkan pada sebuah pilihan."

"Pilihan apa itu?"

Menanggapi pertanyaan Ruth, pria manajer itu menyesap cangkirnya di atas meja sejenak.

"Memilih keselamatan diri sendiri dan menjalani kehidupan seperti biasa, atau memilih jalan penderitaan dan melangkah masuk ke dalam kisah Beliau. Mengingat ini adalah ujian dari Beliau, itu pasti akan menjadi tantangan yang sangat mustahil."

"Namun, jika kalian tidak lari dan terus menghadapinya, aku yakin masa depan yang penuh senyuman telah menanti kalian di ujung sana."

Dengan ekspresi yang sangat misterius, dia mengucapkan sesuatu yang sama sekali tidak bisa dipahami maknanya.

"..."

Tanpa mempedulikan Jignir dan yang lainnya yang tampak kebingungan, pria itu kembali bicara.

"Ah, aku baru saja mengatakan sesuatu yang tidak sesuai dengan karakterku. Kalau sudah menyangkut Beliau, entah kenapa aku jadi kehilangan kendali. Baiklah, karena aku sibuk, aku pamit dulu ya."

Dia tersenyum kecut dan dengan langkah gagah segera meninggalkan ruangan tersebut.

Di tempat itu, Ruth membuka segel perkamen dan memeriksa isinya. Di sana tertera sebuah lokasi yang ditunjuk di Ibukota Raja.

"Ruth, bagaimana menurutmu?"

"Ya, kemungkinan besar informasi tentang Nona Miu ada di sini."

Tentu saja, bukan itu maksud dari pertanyaan Jignir.

Dia menanyakan tentang sebutan 'Beliau' yang terus muncul di setiap perkataannya. Juga tentang makna dari kalimat penuh teka-teki yang diucapkan manajer itu di akhir.

"Kau benar. Kita tidak punya pilihan selain pergi ke sana."

Jignir tidak tahu apa niat dari sosok yang disebut 'Beliau' itu. Namun, Jignir telah bersumpah untuk mengantarkan gadis bernama Miu kembali kepada ayahnya, Gauss.

Dia pasti akan menyelesaikannya. Lagipula, hanya itulah satu-satunya tujuan Jignir yang saat ini sedang kehilangan arah.

Segera setelah itu, Jignir dan Ruth memacu kereta kuda mereka menuju Ibukota Raja. Saat ini, mereka telah tiba di sebuah rumah bata tunggal yang merupakan alamat dari perkamen tersebut.

"Ya ampun, kalian datang juga. Halo, mantan Kaisar Pedang Kekaisaran, Tuan Jignir, dan mantan Komandan Ordo Ksatria Penyihir Raja Suci dari Kerajaan Amelia, Tuan Lucas. Namaku Mujina sang informan, salam kenal."

Seorang gadis berbalut jubah hitam dengan pakaian yang sangat terbuka menyapa mereka dengan kalimat yang sangat mengejutkan.

Ia mengembuskan asap dari pipa rokoknya sambil menatap mereka dengan tatapan terhibur.

Jignir pernah mendengar nama itu dari kakeknya. Lucas sang Ular Api, mantan anggota Ordo Ksatria Penyihir Raja Suci.

Kalau tidak salah, dia adalah komandan yang menyandang gelar sebagai yang terkuat sepanjang sejarah Ordo Ksatria tersebut.

Memang benar, jika pria ini adalah Lucas yang legendaris itu, maka semua gerak-geriknya yang luar biasa menjadi sangat masuk akal.

"Kami ingin tahu keberadaan Nona Miu. Kamu bersedia memberitahukannya, kan?"

Berbanding terbalik dengan Jignir, Lucas langsung membahas inti permasalahan tanpa menunjukkan sedikit pun rasa goyah.

"Aku cuma bisa menyampaikan apa yang diminta oleh Tuanku. Sisanya, kalian berdua yang harus memutuskannya sendiri."

Gadis bernama Mujina itu membuka mulutnya tanpa mengiyakan maupun menyangkal pertanyaan Lucas.

"Dasar aib Kerajaan!"

Lucas memuntahkan kata-kata penuh amarah. Mendengar informasi yang dilontarkan Mujina, Lucas yang biasanya sangat tenang kini menunjukkan ekspresi kemarahan yang luar biasa.

Jignir tidak menganggap reaksi Lucas itu aneh.

Jika Kekaisaran yang melakukan hal tersebut, Jignir pasti akan menunjukkan reaksi yang sama.

Seburuk dan senista itulah isi cerita yang baru saja mereka dengar.

Namun, ada hal yang mengganjal.

Jika dipikir dari sudut pandang terburuk, cara ini seolah menggunakan anak bernama Miu sebagai sandera agar Jignir dan Lucas mau membersihkan 'sampah' untuk mereka. Oleh karena itu, dia tidak bisa menahan diri untuk bertanya.

"Dengan memberitahu kami, apakah 'Tuan'-mu itu berniat menyuruh kami memperbaiki dunia ini?"

"Memperbaiki dunia? Tuan itu!? Kuhyahyahyahya!"

Keraguan Jignir yang wajar itu sepertinya adalah sebuah kesalahan besar. Mujina berteriak dengan suara melengking, lalu tertawa terbahak-bahak sambil memegangi perutnya.

"Apa pertanyaan dia barusan sebegitu lucunya?"

Lucas bertanya pada Mujina dengan dahi berkerut.

"Maaf saja, tapi Tuan bukanlah orang baik seperti itu. Kalau bicara manisnya, dia itu orang yang bebas. Tapi buruknya, dia itu sangat egois dan egosentris. Dia tidak akan pernah memikirkan hal-hal seperti memperbaiki dunia seperti yang kalian bayangkan."

Sambil mengisap pipanya, dia menegaskan hal itu seolah menekankan setiap kata. Mendengar ucapan Mujina, kewaspadaan yang kuat langsung tergambar di wajah Lucas.

"Seberapa jauh yang kamu tahu?"

"Ceritaku cukup sampai di sini. Sisanya, kalian sendiri yang putuskan."

"Tunggu dulu! Bagaimana dengan keberadaan anak ras Beastkin bernama Miu itu?"

Dia melontarkan pertanyaan dengan nada jengkel kepada Mujina yang berbicara setengah-setengah.

"Itu di luar bayaran kali ini. Tentu saja, aku akan memberitahumu kalau ada bayaran tambahan, tapi apa kalian punya waktu untuk itu?"

"Apa maksudmu?"

"Pelelangan yang kusebutkan tadi, akan diadakan malam ini."

Matahari sudah mulai terbenam. Itu artinya―.

"Sial! Kenapa kau tidak mengatakannya lebih awal! Jignir, maafkan aku. Ada sesuatu yang harus aku selesaikan."

Lucas bereaksi sangat keras terhadap beberapa orang yang disebutkan dalam cerita Mujina. Mungkin ada dendam masa lalu di antara mereka.

Terlebih lagi, selama perjalanan, Lucas telah membasmi bandit dan goblin yang menyerang desa tanpa meminta bayaran. Pada dasarnya, dia memang bukan tipe orang yang bisa menoleransi perbuatan keji seperti ini.

"Sudah kuduga. Aku juga akan membantu."

Tujuan Jignir adalah melindungi gadis bernama Miu. Melakukan tindakan yang bertentangan dengan tujuan itu tidak akan memberinya keuntungan apa-apa.

Namun, secara alami, kata-kata untuk meminjamkan kekuatan terlontar dari mulutnya.

"Kupikir Kaisar Pedang Kekaisaran adalah pria yang jauh lebih dingin."

"Aku juga berpikir begitu."

Lucas tertawa terbahak-bahak sejenak, namun ekspresinya segera kembali serius.

"Terima kasih. Itu sangat membantu. Kalau begitu, mari kita pergi!"

Dia bergegas berlari ke luar ruangan. Jignir pun ikut berlari menyusul Lucas.

Biar bagaimanapun, Jignir adalah mantan Kaisar Pedang.

Ditambah lagi, ada Lucas sang Ular Api terkuat sepanjang sejarah di sisinya.

Mereka bisa menyusup masuk dengan sangat mudah.

Kemudian, mereka tiba di sebuah tempat yang menyerupai arena pertarungan raksasa berbentuk oval.

Udara panas dan sorak-sorai membahana di dalam sana.

Mereka seolah sedang mendukung aksi dari sosok bersayap putih bersih yang mengendalikan seorang gadis berambut hitam untuk membunuh sepasang makhluk berwajah kelinci.

"Keparat kalian semua!"

Begitu matanya menangkap pemandangan itu, tubuh Jignir bergerak dengan sendirinya.

Dia menjejak tanah beberapa kali dan mencapai gadis berambut hitam yang hendak mengayunkan pedang panjangnya.

Jignir menghunuskan pedang panjang dari pinggangnya dan langsung memotong benang tersebut.

Dia menangkap gadis berambut hitam yang rubuh bagaikan boneka putus benang itu, lalu membaringkannya di tanah. Setelah itu, dia mengarahkan ujung pedangnya pada makhluk aneh yang mengendalikan sang gadis.

Di sela waktu itu, Lucas mendekati gadis ras Beastkin tersebut.

Saat tangan kanannya menyentuh rantai yang mengikat gadis itu dan merapalkan semacam mantra, sebuah lingkaran sihir muncul namun langsung menghilang dengan bunyi pashun.

"Sepertinya ini adalah sihir pengikat yang sangat merepotkan. Nampaknya sulit untuk melepaskannya di sini. Tapi sebelum itu―"

Dia menatap tajam ke arah seorang pria dengan wajah raksasa dan jarak hidung ke bibir yang panjang, yang sedang duduk santai di kursi penonton.

"Mari kita bersihkan sedikit sampah di negara ini."

Lucas mencabut pedang panjang dengan bilah melengkung dari sarung di pinggangnya, lalu memasang kuda-kuda.

"B-brengsek kau, Lucas!"

Pria berwajah raksasa dengan bentuk hidung yang aneh itu bangkit dari kursinya dan berteriak penuh kepanikan. Ketakutan yang pekat terpancar jelas di wajahnya.

"Lama tidak berjumpa. Obutz, aku tidak menyangka kau masih melakukan hal semacam ini tanpa merasa kapok."

"B-berisik! Dasar pengkhianat penjual negara!"

"Ayahmu benar-benar pria yang terhormat. Karena itu, aku sempat berharap sifat busukmu itu bisa diperbaiki di bawah bimbingan Yang Mulia Marquess. Tapi sepertinya aku salah."

"Sampah akan tetap menjadi sampah di mana pun berada. Seharusnya aku membersihkanmu saat itu juga. Namun, sekarang pun belum terlambat. Aku akan memperbaiki kesalahanku di masa lalu di sini."

"B-bunuh dia! Orang itu adalah teroris! Cepat bunuh dia!!"

Saat dia berteriak histeris, sekawanan pria berbaju kuning dengan sulaman monyet di punggung mereka mulai mengepung Jignir dan Lucas.

"Bodoh! Apa kalian pikir bisa menang hanya dengan berdua?"

Pria botak berbibir tebal yang bersikap angkuh—tampaknya bos dari kelompok berbaju kuning itu—mengarahkan pedang besarnya ke arah Jignir dan Lucas.

"Tentu saja."

Benar, Jignir hanyalah pendekar pedang kelas tiga.

Namun, kemampuannya belum jatuh sampai ke titik di mana dia akan kalah dari amatiran yang bahkan tidak tahu cara berpedang. Buktinya―.

Hanya dengan melangkah beberapa kali, dia sudah masuk ke dalam jangkauan serangannya.

"Hah?"

Preman berbaju kuning itu sama sekali tidak bisa mengikuti pergerakan Jignir dan mengeluarkan suara bingung.

Detik berikutnya, pedang panjang Jignir menebas lehernya.

Di tengah cipratan darah, dia menendang tubuh preman yang jatuh ke tanah itu sambil bergerak menuju target selanjutnya.

"Hiii!?"

Dia menusukkan pedangnya ke leher pria berambut pendek yang menjerit ketakutan hingga tewas.

Saat menarik pedangnya, dia membelah kepala pria berkepala plontos di sebelahnya dengan satu tebasan.

Tanpa membuang waktu, dia menendang tanah dan berlari kencang. Ia menebas leher pria berambut mohawk saat berpapasan dengannya.

"Uwa?"

Dia terus menerjang dan menusukkan pedangnya ke tengah alis pria di depannya.

Di saat yang sama, dia melesat maju dan memenggal dua pria yang berada di jalur lurusnya.

Hanya dalam beberapa tarikan napas, sekumpulan mayat berbaju kuning telah bergelimpangan.

"M-Monster!"

Seiring dengan jeritan itu, orang-orang berbaju kuning mulai menjauh dari Jignir.

"Kau kuat juga, ya! Bagaimana, mau bergabung dengan kami? Meskipun kami ilegal, kami berada di bawah perlindungan Pahlawan Mashiro. Pemerintah Kerajaan Amelia ini pun pada praktiknya menutup mata terhadap kami. Sungguh, kau tidak akan pernah kekurangan harta, wanita, maupun makanan enak!"

Pria botak berbibir tebal yang merupakan bos mereka itu, memberikan tawaran yang bahkan tidak layak untuk dipertimbangkan.

"Mati kau!"

Dengan penuh niat membunuh, Jignir berlari ke arah sang bos dan menebas lehernya dengan pedang panjang. Terdengar suara seperti logam bergesekan, namun pedang Jignir tertahan di kulit leher pria itu.

"Sayang sekali. Senjata tidak mempan padaku!"

Dia menyeringai lebar dan melontarkan tinju sebesar batang kayu.

"Cih!"

Jignir seharusnya bisa menghindarinya dengan mudah menggunakan langkah mundur, tetapi pakaian atasnya malah robek menjadi dua.

"Kami telah meminum Batu Roh dan mendapatkan kekuatan dari dimensi lain! Sudah terlambat kalau kau mau memohon ampun! Akan kucincang kau dan kujadikan makanan monster!"

"Menyedihkan sekali..."

Lucas menyuarakan sentimen yang sama persis dengan apa yang Jignir rasakan saat ini. Benar sekali. Apa dia benar-benar berpikir Kekaisaran belum mencampuri hal tabu semacam itu?

Peningkatan kekuatan murahan seperti itu tidak akan cukup untuk membuat seseorang meraih posisi tinggi di Kekaisaran. Dengan kata lain, hasil pertarungan ini sudah jelas.

Daripada sampah semacam ini, makhluk aneh bersayap putih yang entah sejak kapan telah menghilang itulah yang jauh lebih mengkhawatirkan.

"Omong kosongmu sudah cukup. Akan kubunuh kau, jadi cepatlah maju."

Jignir memprovokasi dengan mengarahkan telapak tangan kirinya ke bawah dan menekuk jari-jarinya. Seketika itu juga, urat tebal menonjol di dahi sang bos.

"Hei, Dokubachi, kau urus kakek tua itu! Biar aku yang membereskan pecundang yang tidak tahu posisi dan situasi ini!"

"Tentu! Dimengerti, Bos!"

Mendengar Dokubachi yang mengangguk, Lucas bergumam.

"Aku sungguh diremehkan oleh bocah amatir. Kemarilah. Akan kuajarkan pada kalian bagaimana cara orang dewasa bertarung."

Dengan kalimat terakhir itu, aura Lucas yang biasanya santai berubah menjadi sesuatu yang berbahaya, bagaikan hewan buas pemakan daging.

"Hei, lebah-lebahku, bunuh dia!"

Ribuan lebah muncul dari sekeliling Dokubachi. Mereka semua menerjang Lucas secara serempak dengan kecepatan tinggi.

Lucas mengayunkan pedang melengkungnya sambil bersenandung.

Beberapa pusaran api muncul di udara, menelan habis kawanan lebah tersebut.

Hanya dengan satu serangan, kawanan lebah yang begitu banyak itu lenyap tak bersisa terbakar menjadi abu.

"Apa!?"

Saat Dokubachi berseru kaget, Lucas sudah berada di dalam jangkauan serangnya.

"Kuhi!?"

Jeritan kecil Dokubachi terdengar bersamaan dengan pedang Lucas yang membelah tubuhnya. Tubuh pria itu terbelah menjadi dua dan terbakar habis saat jatuh ke tanah.

"Hah?"

Sang bos membuka mulutnya lebar-lebar dan mengeluarkan suara konyol karena kematian bawahannya yang begitu mudah.

Jignir mengalirkan kekuatan sihir ke pedangnya, lalu mendekati sang bos dan menebas lengan kanannya yang memegang pedang besar.

Pedang Jignir memotong lengan kanan pria itu dengan mudahnya bagaikan memotong tahu, lalu dengan putaran pedangnya, ia menebas putus kedua kaki musuhnya.

"Gi?"

Dia terdiam kebingungan sejenak saat menyadari tubuhnya terpotong.

Setelah akhirnya memahami situasinya, dia menjerit histeris dengan suara yang memekakkan telinga.

"Sakit! Sakit sekali!"

Dia berguling-guling menyedihkan di lantai.

"Tentu saja sakit, kan habis ditebas."

Jignir mendekatinya perlahan dan mengangkat pedangnya tinggi-tinggi.

"Kenapa, kenapa dengan tubuh tak terkalahkanku!?"

"Tubuh tak terkalahkan? Itu sama sekali bukan sesuatu yang tak terkalahkan. Itu hanyalah kekuatan pinjaman yang membosankan."

Pria ini sepertinya telah menyerap Inti Roh yang memiliki dua kemampuan berbeda, yaitu pengerasan dan pemotongan. Namun, aturan mutlak saat menyerap kemampuan khusus adalah fokus pada satu efek saja.

Batas maksimal jumlah mana yang bisa digunakan sudah ditentukan, bahkan orang bodoh pun tahu bahwa memusatkan kekuatan jauh lebih efisien daripada menyebarkannya. Dengan kata lain, mereka justru melemahkan kekuatan itu sendiri. Terlebih lagi, inti sebenarnya dari kekuatan itu tidak terletak pada hal semacam itu―.

"Kekuatan... pinjaman?"

"Hanya dengan menyerap Inti Roh, apa kau pikir kau sudah melampaui Roh itu sendiri? Kekuatan itu sama sekali belum menjadi milikmu."

Mereka telah mengabaikan latihan yang paling penting bagi pengguna kemampuan khusus. Kemampuan itu sama sekali belum menyatu dengan mereka.

Eksperimen Inti Roh adalah hal yang biasa di Kekaisaran. Pengguna kemampuan yang lahir dari eksperimen itu jarang sekali melakukannya atas kehendak sendiri seperti mereka.

Sebagian besar dari mereka dipaksa melakukannya. Selain itu, melalui pelatihan yang sangat brutal, sembilan puluh persen dari mereka hancur, dan hanya sepuluh persen sisanya yang bertahan menjadi pasukan resmi Kekaisaran sebagai prajurit khusus.

Jignir telah menundukkan monster-monster semacam itu dengan kekuatannya hingga menjadi salah satu dari Enam Jenderal Ksatria Kekaisaran.

Itulah sebabnya ia sempat salah paham bahwa dirinya kuat, tapi dia belum jatuh sampai ke titik kalah dari orang yang bahkan bukan seorang prajurit.

"Tidak mungkin... Aku... seharusnya menjadi... yang terkuat..."

"Gelar terkuat tidak semudah yang kau bayangkan."

Bayangan pendekar pedang berambut abu-abu yang terkuat itu melintas di benaknya saat ia menebas putus kepala sang bos.

Melihat 'Monyet Liar'—salah satu kelompok penjahat ternama di kerajaan—kalah dengan begitu mudah, suara kekecewaan dan kepanikan terdengar dari berbagai penjuru kursi penonton.

"L-lari!"

Teriakan itu memicu sebagian penonton untuk bergegas lari menuju pintu keluar arena pertarungan.

"Jangan dorong!"

"Brengsek! Kau yang minggir!"

Mereka berkerumun di depan pintu dengan memalukan, saling berebut untuk membukanya lebih dulu. Kemudian, pintu ganda itu perlahan terbuka.

"Terbuka!"

Tepat ketika mereka bersorak kegirangan, bagian atas tubuh penonton itu terkoyak dan lenyap seketika. Seekor makhluk raksasa berwujud setengah badan bagian atas yang mirip oni melayang perlahan dari luar pintu.

"Hiiiiiihhhh!"

Makhluk itu menangkap salah satu penonton yang menjerit dengan kedua tangannya, lalu mulai memakannya dari bagian kepala dengan suara kunyahan yang keras.

Jeritan kematian itu disusul oleh teriakan ketakutan yang menggema hingga hampir menghancurkan seluruh arena. Di tengah kekacauan itu,

"Tuan Tamu, apa maksud Anda membiarkan penonton dimakan!?"

Seorang pria berjas hitam yang tampaknya adalah sang pembawa acara berteriak bertanya sambil menatap tajam pria berjubah merah, yang masih dengan santai meminum anggur di kursi VIP meski keributan terjadi. Saat mata Jignir mengenali sosok yang menjijikkan itu―.

"Third!"

Jignir berteriak sekeras-kerasnya. Dia tidak akan melupakannya. Dia sama sekali tidak akan pernah melupakan sosok itu. Salah satu dari mantan Enam Jenderal Ksatria Kekaisaran―Third.

Seorang pemanggil yang diberi gelar 'Number', gelar yang diberikan oleh Kaisar Kekaisaran Amnes kepada mereka yang telah memberikan kontribusi besar pada kekaisaran di masa lalu.

Dia juga merupakan guru dari mendiang Enz. Orang ini adalah bajingan paling busuk dan terburuk, yang pernah membantai habis suku asing di perbatasan melalui eksperimen manusia hanya demi memanggil seorang Transcender.

"Maaf, ya. Aku sudah bilang pada anak-anak manjaku kalau mereka boleh langsung memakan siapa saja yang keluar dari gedung ini tanpa izin. Jadi, tolong jangan terlalu menyalahkan anak-anakku."

Pembawa acara itu melirik sekilas ke arah Marquess Obutz.

"I-itu tidak penting sekarang! Cepat bunuh para pengganggu kurang ajar itu!"

Marquess Obutz berdiri, menunjuk Lucas dengan jari telunjuknya, dan memberikan perintah.

"Yang Mulia Marquess kami menginginkan pemusnahan para penyusup. Tuan Tamu, bisakah kami meminta Anda membereskan penyusup-penyusup ini?"

Mendengar perkataan pembawa acara yang seolah tak menerima penolakan, Third mengangkat bahunya.

"Kita adalah kawan yang bekerja sama untuk sebuah tujuan. Tentu saja boleh."

Dengan wajah yang dipenuhi senyum kepuasan, dia berdiri lalu memetikkan jarinya.

Lebah berwajah orang tua muncul dan terbang mengelilingi Jignir, sementara iblis setengah badan yang baru saja memakan penonton turun mendarat di hadapan Lucas.

"Third, kenapa kau bisa ada di tempat seperti ini!?"

Sebenarnya, Jignir sudah bisa menebak alasannya. Terlebih lagi, ini adalah wilayah kekuasaan Pahlawan Mashiro. Apalagi di negara ini juga ada adik dari Raja saat ini.

Rumor mengatakan bahwa sosok itu sudah bukan lagi manusia, dan telah mencapai ranah Transcender sama seperti Four.

Hanya ada satu alasan mengapa pengecut yang sangat berhati-hati ini berani menginjakkan kakinya di wilayah berbahaya seperti ini.

"Kupikir siapa, soalnya penampilanmu sudah banyak berubah. Ternyata kau si Kaisar Pedang yang terlalu percaya diri itu, ya~"

Mendengar kata Kaisar Pedang, keributan kecil terdengar dari arah kursi penonton.

"Mantan Kaisar. Sekarang aku bahkan bukan lagi prajurit Kekaisaran. Lalu? Kenapa kau ada di sini?"

"Hmm, sebenarnya ceritanya panjang, tapi kurasa tak ada gunanya diceritakan pada orang yang akan segera mati di sini. Tentu saja, kau tidak akan mati dengan mudah, lho. Bukankah begitu, Kaisar Lebah Raksasa?"

Dia berbicara kepada lebah berwajah manusia itu sambil mengukir senyum licik.

"Kau memanggilku hanya untuk membunuh kurcaci ini? Walaupun dia lemah, aku akan tetap menagih bayaranku, tahu?"

"Tentu saja. Kalau sudah selesai, akan kuberikan koleksiku padamu. Ditambah lagi, kau bebas melakukan apapun pada anak ras Beastkin itu."

Lebah berwajah manusia itu mengarahkan pandangannya pada gadis ras Beastkin yang dirantai.

"Hmph, kelihatannya cukup lembut dan lezat. Omong-omong, belakangan ini aku memang belum pernah memakan daging anak perempuan. Kalau aku membuat bakso dari tubuhnya dengan cairan pelarut rahasiaku, pasti akan jadi hidangan yang lezat. Baiklah, aku terima tawaranmu."

Lebah berwajah manusia itu terbang melayang di hadapan Jignir.

"Lalu kau... sepertinya dagingmu tidak enak. Mungkin aku akan menjadikan tubuhmu sebagai sarang inkubasi untuk lebah-lebahku saja."

"Coba saja kalau bisa!"

Jignir memasang kuda-kuda dengan pedangnya dan merendahkan titik berat tubuhnya.

"B-bagaimana denganku!? Apa hadiahku!?"

Makhluk iblis setengah badan itu memohon kepada Third.

"Iblis Mulut Hantu, kau kan sudah makan cukup banyak tadi?"

"Iya, aku sudah makan..."

Saat Iblis Mulut Hantu bergumam sedih penuh kekecewaan, Third kembali bicara.

"Iya deh. Aku mengerti. Kalau kau berhasil menyingkirkan kakek itu... ya, di sini sepertinya ada banyak sekali stok makanan, bolehkah aku memberikannya padanya?"

Dia menoleh untuk meminta persetujuan pembawa acara.

"Tentu saja! Jika kau membunuh bajingan itu, aku akan mengabulkan apapun permintaanmu!"

Marquess Obutz menjawab menggantikan sang pembawa acara.

"Begitulah katanya. Berusahalah yang keras. Paham?"

"Aku akan berjuang!"

Melihat Iblis Mulut Hantu yang meneteskan air liur, Lucas menghela napas panjang.

"Aku sangat diremehkan oleh boneka kayu ini. Jignir, aku serahkan serangga itu padamu. Biar aku yang memusnahkan boneka kayu ini."

Sambil memegang pedang melengkungnya di tangan kanan, Lucas perlahan melangkah maju mendekati iblis setengah badan bernama Iblis Mulut Hantu.

Dengan begitu, ronde kedua dari pertarungan Jignir dan kawanannya pun dimulai.

Pertarungan antara Jignir dan Kaisar Lebah Raksasa berjalan seimbang. Namun itu hanya di awal saja, lama-kelamaan situasinya mulai berbalik arah.

Lebah itu terbang dengan kecepatan tinggi mengelilingi Jignir, lalu memuntahkan cairan pelarut dari arah belakang. Jignir memelintir tubuhnya untuk menghindar sambil berteriak.

"Flying Slash!"

Dia melepaskan tebasan yang dilapisi dengan sihir. Teknik yang membutuhkan jeda pengumpulan energi ini biasanya malah akan menjadi celah fatal saat melawan sesama pendekar pedang setingkatnya, namun sangat efektif melawan lebah berwajah manusia itu.

"Uwoh!?"

Tebasan itu membelah salah satu sayap sang lebah dan terus melesat maju, menusuk dalam-dalam ke tubuh Iblis Mulut Hantu yang berada tepat di garis lurusnya.

"Gagh!?"

Saat Iblis Mulut Hantu terbungkuk menahan sakit, pedang berlapis api milik Lucas membelah lengan kanannya.

Menatap Iblis Mulut Hantu yang menjerit kesakitan memegangi lukanya yang terbakar, Lucas menatapnya dengan pandangan dingin.

"Pada akhirnya, kau tak lebih dari sekadar monster pemakan manusia yang kurang akal..."

Bersamaan dengan kata-kata hinaan itu, dia mengayunkan pedang melengkungnya tepat ke tengah kepala monster tersebut. Seluruh tubuh Iblis Mulut Hantu terbakar dan dalam sekejap berubah menjadi abu.

Melihat hal itu, Kaisar Lebah Raksasa menggertakkan giginya dengan keras lalu menyembuhkan sayapnya yang terluka.

"Nah, sekarang tinggal kau sendirian, ya kan?"

"Third! Pinjamkan tanganmu!"

"Ya ampun, aku sudah bertindak lho."

Tepat saat suara ceria itu terdengar, sekujur tubuh Jignir tiba-benar kaku dan tak bisa digerakkan sama sekali. Hal yang sama juga terjadi pada Lucas.

Sosok aneh bertopeng dan bersayap putih bersih tadi melayang di atas udara, benang yang menjulur dari kedua tangannya kini menempel ke sekujur tubuh Jignir dan Lucas.

"Maaf ya, dari awal aku tidak pernah berniat untuk benar-benar bertarung. Lagi pula, kalau dia sudah muncul, semuanya pasti selesai."

Melihat Jignir dan Lucas yang berusaha melepaskan diri dari ikatan benang itu, sosok bertopeng itu bersuara.

"Percuma saja. Benang Surgawi milikku bukanlah sesuatu yang bisa dilepaskan oleh manusia biasa."

Makhluk aneh bertopeng itu menyangkal usaha mereka dengan nada suara yang benar-benar hampa tanpa emosi.

"Oh ya, beliau adalah Tuan Puppet, Utusan Dewa. Utusan yang diturunkan ke bumi ini oleh Dewa Perang Suci Ares, dewa yang kita para manusia sembah. Kalian pasti tak akan bisa melepaskannya."

Utusan Dewa adalah eksistensi yang bahkan Jignir, yang awam soal sihir pemanggilan, pun mengetahuinya.

Mereka dipercaya sebagai perantara yang diutus Dewa dari surga, eksistensi yang sesekali membimbing umat manusia ke jalan yang benar.

Mereka berbeda kasta dari makhluk dunia ini seperti spesies naga ataupun roh, tak diragukan lagi mereka adalah Transcender yang sesungguhnya!

"Third, kenapa kau bisa membuat kontrak dengan seorang Utusan Dewa!"

Utusan Dewa adalah eksistensi yang benar-benar menghancurkan keseimbangan kekuatan di dunia ini.

Jika Kekaisaran bisa dengan mudah mengontrak keberadaan supernatural semacam itu, kaisar pasti sudah memulai penaklukan dunia saat ini. Karena tidak ada desas-desus semacam itu, berarti sang kaisar sendiri tidak mengetahui fakta ini.

"Ya, ya, aku mengerti kok. Aku sendiri tidak pernah bermimpi bisa membuat kontrak dengan Tuan Utusan Dewa. Kaisar memang benar-benar bodoh karena berniat berperang melawan negara Dewa ini."

"Boleh kau bicara seperti itu? Kalau Yang Mulia Kaisar mendengarnya, kau bisa dibunuh, tahu?"

"Bagaimana caranya? Tidak ada eksistensi di dalam Kekaisaran yang bisa mengalahkanku sekarang setelah aku mendapatkan Utusan Dewa."

Jika makhluk itu benar-benar seorang Utusan Dewa, maka apa yang diucapkan Third bukanlah bualan belaka melainkan sebuah fakta mutlak.

Dalam mitologi, semenjak manusia membangun peradaban, tidak pernah ada satupun sosok yang memalingkan diri dari dewa namun masih dibiarkan hidup hingga saat ini.

"Apa mereka berdua benar-benar tidak bisa bergerak?"

Menanggapi pertanyaan cemas dari Marquess Obutz, Third menjawab.

"Tentu saja, meskipun kau melakukan apapun, jari mereka tidak akan bisa bergerak sedikitpuuun! Kau boleh memukul, boleh menusuk! Bebas melakukan apa saajaaa!"

Third menaikkan nada suaranya yang lengket dan membuat tidak nyaman sambil menari berputar-putar.

"B-benarkah itu? Aku takkan memaafkanmu jika kau berbohong!"

"Tentu saja! Aku tidak akan membohongi orang dari Negara Dewa. Begitu, kan, Tuan Puppet?"

"Ya, Dewa yang kami sembah telah memberikan wahyu kepada kami untuk membimbing Pahlawan Mashiro. Semua ini adalah kehendak dari Dewa kami."

Puppet memberikan balasan yang sama sekali tidak menjawab pertanyaan itu.

Marquess Obutz berlari turun menuju arena. Ia berdiri di hadapan Lucas yang masih tidak bisa bergerak, mengangkat siku kanannya, dan mendaratkan pukulan keras.

"Ini balasan karena kau mencoba membunuhku, dasar teroris rendahan!"

Dengan senyum sombong kemenangan di wajahnya, pria itu memukul Lucas berkali-kali. Walau begitu, tak ada seutas alis pun di wajah Lucas yang bergeser.

Kemarahan Marquess Obutz mulai membara, tetapi sang pembawa acara segera mendekat dan membisikkan sesuatu padanya, membuatnya seketika kembali riang.

"Benar juga. Akan kugunakan kau untuk menangkap teroris mantan tuan putri itu."

"..."

Untuk pertama kalinya, mata Lucas diwarnai oleh amarah yang menggelegak.

"Hii!"

Ditakut-takuti oleh tatapan mengintimidasi Lucas yang bahkan tak bisa bergerak, Marquess Obutz melengkingkan jeritan kecil.

"Kau meremehkanku ya!"

Menyadari fakta tersebut, wajahnya memerah karena malu. Dia menghunuskan belati dari tangannya lalu menusukkannya ke paha kanan Lucas.

"Ferris telah membuatku menderita berkali-kali. Kalau aku berhasil menangkapnya, aku akan bersenang-senang dengannya sepuas hati, lalu menjualnya sebagai budak ke rumah bordil!"

"Bangsat! Kata-katamu barusan sudah cukup untuk membuatmu dihukum gantung jika Yang Mulia Raja mendengarnya!"

Kata-katanya sempat tercekat dan ia tersentak kaget akibat intimidasi Lucas. Namun,

"H-Hmph! J-jangan salah paham! B-bocah itu bukan lagi anggota keluarga kerajaan, dia itu teroris! Kalau dia tertangkap, Ferris-lah yang akan dihukum gantung! Ini adalah bentuk belas kasih dariku!"

Meski terus tergagap, ia mati-matian berusaha membenarkan ucapannya. Saat itu, pembawa acara kembali membisikkan sesuatu padanya, dan seketika itu juga suasana hatinya membaik. Dia benar-benar seperti orang yang tumbuh dewasa tapi masih memiliki pemikiran seperti balita.

"Baiklah, karena 'Monyet Liar' yang mengawal 'Piala Suci' telah dibunuh dengan kejam oleh pencuri yang menyusup secara tiba-tiba, pihak penyelenggara ingin menawarkan acara hiburan baru!"

Pembawa acara berjalan mendekati gadis ras Beastkin yang diikat dengan rantai di dalam arena yang riuh. Dia menempelkan tongkat di tangan kanannya ke leher gadis itu.

"Utusan Surgawi kami telah bersabda. Gunakan putri ras buas yang penuh dosa ini untuk menyucikan dan menghilangkan noda kejahatan."

Dia meneriakkan perbuatan laknat itu tanpa rasa malu. Setelah keheningan sesaat, sorak-sorai yang luar biasa menggema di seluruh ruangan.

(Orang-orang ini, mereka benar-benar sudah gila...)

Tidak ada hal apa pun di dunia ini yang pantas dilindungi dengan mengorbankan gadis seperti dia. Namun, orang-orang ini malah mengorbankan gadis itu demi delusi konyol untuk membersihkan diri dari noda kejahatan yang sebenarnya tidak ada.

Dan pada akhirnya, yang mereka lindungi tak lain adalah kekayaan dan kehidupan nyaman mereka sendiri. Jarang sekali ada hal yang sebodoh dan seburuk ini.

"Tuan Pemanggil, kalau begitu kami mohon bantuan Anda!"

Pembawa acara menjauh dari gadis Beastkin, meletakkan tangan di dada, dan membungkuk. Third kemudian melompat dari ruang VIP menuju arena.

Dia menatap sekeliling ke arah para penonton, mengangkat lengan kanannya tinggi-tinggi, dan berseru.

"Nah, ayo kita mulaaaiii! Mulai sekarang, Kaisar Lebah Raksasa panggilanku akan mencairkan gadis ini secara perlaaahaaan dalam keadaan hiduuup. Dengan begitu, barulah ia akan terbebas dari kenajisan dan memperoleh keselamataaannn!"

Tanggapan atas tindakan tak bermoral ini bukanlah kecaman ataupun rasa jijik, melainkan badai pujian.

"Sucikan! Sucikan! Sucikan! Sucikan! Sucikan!"

Wajah mereka memerah panas, dan mata mereka memancarkan antusiasme yang membara.

Mereka meneriakkan kata-kata yang membenarkan kekerasan terhadap gadis kecil itu. Ini tak lagi sebatas persoalan iman maupun doktrin agama. Benar, orang-orang ini hanya murni gila.

"Hentikan!"

Dia meronta mati-matian untuk menghentikan kebodohan ini, tetapi tubuhnya sama sekali tidak bisa digerakkan.

Seakan ingin memastikan ketakutan korbannya, Kaisar Lebah Raksasa perlahan mendekati gadis Beastkin tersebut.

(Bergeraklah! Kumohon bergeraklah!)

Alasan Jignir terus berlatih selama ini adalah demi mencapai puncak tertinggi di ujung Jalan Pedang. Itu adalah kebanggaan dan tujuan akhir bagi seorang pendekar pedang.

Dia selalu meyakini hal itu dan terus mengayunkan pedangnya hingga sekarang. Bahkan saat ia kehilangan arah di jalannya, keyakinan itu tak berubah, dan pastinya akan selalu begitu di sisa hidupnya.

Akan tetapi, apabila di masa depan dia berhasil mencapai puncak itu sementara saat ini ia bahkan tak mampu menyelamatkan satu gadis kecil di hadapannya, akankah Jignir mampu tersenyum puas?

(Tidak! Tentu saja tidak!)

Sesuatu yang panas meledak di dalam diri Jignir.

Dewa Pedang! Aku tahu aku bersikap egois! Tapi, pinjamkan aku kekuatan untuk melindungi orang lain sekali ini saja!

Dalam sekejap, pandangannya berubah menjadi merah pekat, dan sesuatu yang terasa panas mendidih dari dalam tubuhnya.

Walau harus merasakan sensasi menjijikkan dari serat-serat otot di sekujur tubuhnya yang putus satu per satu, dia mencengkeram erat pedang panjang yang telah menjadi rekannya sejak kecil.

"Nnu? I-itu tidak mungkin."

Suara Puppet yang menyiratkan kepanikan terdengar. Pedang panjang Jignir mulai bergerak dengan bunyi decitan yang keras. Di tengah rasa sakit luar biasa seakan tubuhnya dicabik-cabik,

"Uwoooooooooooooohhhhhh!"




Sambil mengeluarkan erangan layaknya binatang buas, dia memutus benang yang mengikat seluruh tubuhnya. Bersamaan dengan itu, lebah berwajah manusia menembakkan cairan racun dari ekornya ke arah gadis itu.

Dia menendang tanah dengan segenap kekuatannya. Pemandangan itu terasa aneh karena berjalan sangat lambat.

Bahkan setiap butir pasir dari tanah yang hancur di bawah kakinya dan pemandangan yang mengalir di sekitarnya bisa dirasakan dengan sangat jelas.

Tepat sebelum cairan pelarut berwarna ungu yang berbisa itu mencapainya, dia memeluk gadis dari ras manusia hewan tersebut. Sesaat kemudian, rasa sakit yang luar biasa seolah-olah lahar panas mengalir di punggungnya mulai bermunculan.

Sambil merasakan kehangatan gadis di pelukannya dan kelegaan yang luar biasa, kesadarannya perlahan-lahan mulai memudar.

"Pertarungan yang bagus."

Terasa sentuhan yang menopang seluruh tubuhnya. Bersamaan dengan suara yang entah mengapa terdengar sangat bisa diandalkan itu, pandangan Jignir pun berubah menjadi putih bersih.

◇◆◇

Dalam beberapa hari, aku mendapatkan banyak informasi dari seorang informan bernama Mujina.

Tidak diragukan lagi bahwa 'Kera Liar' adalah dalang di balik penyelundupan narkoba dan perdagangan manusia.

Namun, pihak yang memberikan berbagai kemudahan resmi kepada 'Kera Liar' itu adalah kelompok politik bernama 'Piala Dewa' yang berpusat pada Marquis Oobuts.

Mereka terdiri dari bangsawan tingkat tinggi yang memiliki rasa hak istimewa dan diskriminasi yang kuat, bahkan di antara mereka yang tergabung dalam aliansi sedarah yang memiliki kekuasaan terbesar di Kerajaan Amelia.

Mereka adalah sekelompok orang dengan pemikiran gila yang percaya bahwa hanya mereka yang diberkati oleh Tuhan yang berharga di dunia ini, sementara yang lain ada hanya untuk menjadi batu pijakan mereka.

Biasanya, sekelompok orang dengan delusi gila seperti ini sudah seharusnya disingkirkan, tapi sebagian besar dari mereka adalah bangsawan tingkat tinggi.

Mereka telah tertanam kuat di dalam perpolitikan negara, sehingga tidak ada sistem pembersihan internal yang baik, dan mereka pun berubah menjadi penjahat yang bertindak sesuka hati.

Terlebih lagi, 'Lelang' yang merupakan perjamuan malam yang diselenggarakan oleh 'Piala Dewa' benar-benar memiliki konten yang membuat mual dari lubuk hati terdalam.

Mereka menculik roh dari seluruh penjuru negeri, membunuhnya untuk bersenang-senang, lalu mengambil kristal yang merupakan jiwa roh tersebut, yaitu Inti Roh.

Setelah dilelang, pemenangnya akan memakan kristal itu untuk mendapatkan sedikit kekuatan dan tenggelam dalam kepuasan.

Dan puncaknya adalah fakta bahwa Pahlawan Mashiro mendukung organisasi mencurigakan bernama 'Piala Dewa' ini.

Setelah mendukung organisasi bodoh bernama Coin dan Card, kali ini dia meminjamkan kekuatannya kepada organisasi semacam ini hanya karena memiliki ideologi yang sejalan.

Dia benar-benar pahlawan yang tidak bisa diselamatkan lagi. Mungkin aku harus benar-benar memikirkan skenario untuk membasmi pahlawan itu.

Bagaimanapun juga, aku sudah tidak punya niat sedikit pun untuk membiarkan organisasi semacam ini terus ada. Aku memutuskan untuk menyusun rencana demi memberikan kehancuran yang luar biasa kepada mereka.

Untuk itu, aku mendapatkan lebih banyak informasi dari Mujina.

Titik baliknya ada pada orang tua Miu yang juga sedang kuselidiki secara bersamaan. Rupanya, orang tua Miu masih hidup, dan atas permintaan mereka, sang Kaisar Pedang Jignir Gastrea mulai melakukan pencarian terhadap Miu.

Terlebih lagi, orang yang menemaninya sebagai rekannya adalah Lucas Gizidor, ajudan dekat bibi Rose, Ferris Roto Amelia. Dia adalah ayah kandung dari Hunter terkuat itu, Isaac Gizidor.

Putri Ferris berada di negara penuh sejarah kelam, Erdim, dan melakukan gerakan pembebasan di dalam Kerajaan Amelia dengan berpusat di sana. Aku pernah mendengar nama Ferris dari Rose sekali.

Dia lebih seperti sosok kakak perempuan daripada seorang bibi, dan sejak menghilang lima tahun lalu, tidak ada kabar sama sekali darinya. Ditambah lagi, menurut informasi dari Mujina, tampaknya ada pergerakan meresahkan di Kerajaan Amelia ini terkait dengan Erdim.

Putri Ferris memimpin gerakan pembebasan di Erdim, dan mantan Kaisar Pedang dari Kekaisaran bergerak bersama ajudan Ferris untuk mencari Miu yang sedang kulindungi. Selain itu, ada pergerakan Kerajaan Amelia dan Kekaisaran Gritnil di sekitar Erdim.

Lalu, Summoner terbaik Kekaisaran kali ini bekerja sama dengan 'Piala Dewa' di Kerajaan. Dan juga, keberadaan Utusan Dewa yang bergerak diam-diam di Kerajaan Amelia.

Semuanya tampak terhubung, tapi ada sedikit ketidakcocokan. Rasanya sungguh aneh, seperti ada sesuatu yang mengganjal di gigi geraham.

Mengesampingkan Lucas, Kaisar Pedang itu mungkin bisa dimanfaatkan untuk rencanaku kali ini. Dia memang masih sangat amatir, tapi bakat berpedangnya benar-benar luar biasa.

Mungkin saja, sama seperti kakeknya Ashburn, dia memiliki potensi terpendam untuk menginjakkan kaki di puncak jalan pedang. Tentu saja, hal itu tidak mungkin dicapai hanya dengan bakat berpedang saja.

Lagipula, dirinya yang sekarang kekurangan hal yang paling penting bagi seorang pendekar pedang. Jika dia bisa menyadari hal itu, dia mungkin akan berubah secara drastis.

Karena itulah, aku memutuskan untuk melibatkan kelompok Kaisar Pedang itu ke dalam rencanaku.

Saat ini, aku sedang melakukan penyesuaian terakhir pada rencana dengan melibatkan Girimekara dan Spy yang berpartisipasi kali ini. Namun, usulan dari mereka berdua sama sekali tidak bisa kuterima.

"Melibatkan anak kecil seperti Miu dan Ash yang amatir dalam pertarungan itu rasanya...."

Usulan Girimekara dan Spy adalah untuk memaksakan peran tuan putri yang akan membangkitkan semangat sang Pahlawan kali ini kepada Miu dan Ash. Jika lawannya lemah, mungkin tidak apa-apa, tapi dengan adanya Summoner terbaik dari Kekaisaran, ini seharusnya menjadi kasus yang kutangani sendiri.

Tingkat bahayanya jauh berbeda dengan misi-misi mudah yang ada selama ini.

"Ash memang amatir soal pertarungan, tapi tekadnya sangat kuat. Terlebih lagi, penculikan Ash oleh mereka adalah hal yang mutlak diperlukan untuk rencana kali ini. Kamu sudah tahu itu, kan?"

Aku sudah memahami hal itu bahkan tanpa perlu diperingatkan lagi oleh Spy. Aku sudah menyelidiki dan tahu kalau mereka sedang mengintai Ash yang saat itu duduk semeja denganku.

Kemungkinan besar, Ash memang akan diincar oleh mereka.

"Kalau menggunakan orang lain selain Ash... tidak, itu juga sama saja membebankan bahaya kepada orang lain...."

Spy mengangguk tegas.

"Jika anak itu mengetahuinya, dia pasti akan sangat terluka. Dia adalah anak yang baik hati seperti itu."

Spy juga sangat jeli padahal baru beberapa kali bertemu dengan Ash. Dia benar.

Jika itu Ash, dia pasti akan terus dihantui rasa bersalah soal masalah itu. Kalau ingin mencegah hal itu, aku harus meninjau ulang rencana pemasangan jebakan ini.

Namun, hal itu berisiko membuat sampah-sampah itu lolos dari genggamanku.

"Soal Ash, aku mengerti. Tapi, bagaimanapun juga Miu masih terlalu kecil. Dia jelas tidak cocok untuk rencana ini, kan?"

Penilaianku tentang Miu ini disangkal oleh orang yang tak terduga.

"Miu tidak secengeng yang Guru pikirkan. Memang dia belum matang, tapi dia adalah petarung hebat yang bisa berpikir jernih dengan kemampuannya sendiri."

Zack yang sedari tadi mendengarkan dalam diam ikut menimpali.

"Petarung yang hebat, ya... Justru hal itulah yang paling kukhawatirkan."

Kali ini, aku telah memberikan kekuatan ilmu bela diri dan sihir kepada Miu. Kekuatan tanpa pengalaman tempur yang nyata itu sama saja dengan tidak ada.

Sebaliknya, itu hanya akan membawa petaka karena dapat mendorong tindakannya yang sembrono. Jika kali ini aku membiarkan Miu bertindak sesukanya, nyawanya sudah pasti akan berada dalam bahaya.

"Kalau begitu, jika Miu dalam bahaya, Guru tinggal langsung menyelamatkannya. Kejadian kali ini akan membuat Miu tumbuh dengan pesat. Aku mendukung usulan Spy."

Membuatnya tumbuh, ya. Tentu saja, bagi seseorang yang baru saja melangkah ke dunia bela diri, sikap sembrono terasa seperti madu yang manis.

Sekalipun aku menjauhkan Miu dari bahaya secara berlebihan di sini, dia pasti akan menghadapi bahaya yang sama dalam waktu dekat dan menerima balasan yang sangat menyakitkan. Kalau saat itu terjadi dia berada dalam jangkauanku, itu tidak masalah, tapi kalau tidak, Miu akan mati.

Jika sampai seperti itu, itu adalah tanggung jawabku yang telah memberikan kekuatan kepada Miu. Kurasa sedikit bahaya tidak bisa dihindari.

"Baiklah. Spy, aku akan menggunakan rencanamu. Tapi, segera setelah aku menilainya benar-benar berbahaya, aku akan langsung ikut campur. Kalian tidak masalah dengan itu, kan?"

"Tentu saja!"

Sambil tersenyum gembira, Spy menganggukkan kepalanya dengan mantap.

Sambil menepuk kedua lututku, aku berdiri dari kursi.

"Kalau begitu, mari kita segera mulai rencananya. Dengar! Kita akan membasmi semua sampah yang terlibat dalam masalah ini tanpa sisa. Jangan biarkan satu pun dari mereka pulang hidup-hidup! Tunjukkan neraka dunia kepada mereka!"

Aku memberikan perintah tegas.

"Baik! Sesuai dengan kehendak Anda!"

"Baik! Sesuai dengan kehendak Anda!"

Suara Girimekara dan Spy berpadu dengan harmonis, dan rencana kami pun dimulai.

Semuanya berjalan sesuai dengan rencana kami. Semuanya benar-benar sesuai rencana hingga terasa mengerikan.

Meskipun begitu, alasan kenapa aku merasa sangat tidak bisa memaafkan mereka adalah karena tindakan biadab dari keparat 'Piala Dewa' itu jauh melampaui imajinasiku.

Aku hanya terus memperhatikan dalam diam betapa kuatnya perasaan Ash, keberanian yang dikerahkan oleh Miu, tekad Lucas Gizidor, dan perjuangan mati-matian Kaisar Pedang Jignir. Bagiku yang pada dasarnya egois dan tidak sabaran, menahan diri sejauh ini terhadap perbuatan para cecunguk tingkat rendahan itu mungkin adalah pengalaman pertamaku dalam puluhan ribu tahun ini.

Jignir menghancurkan kekangan monster bersayap putih itu dengan kekuatannya sendiri, lalu dia melindungi dan menyelamatkan Miu dari cairan racun yang disemburkan oleh lebah berwajah manusia ke arahnya.

"Pertarungan yang bagus."

Sambil menopang tubuh Jignir yang pingsan dan hampir terjatuh, kata-kata pujian keluar dari mulutku.

Jignir benar-benar masih amatir. Secara umum, dia masih jauh dari kata kelas atas sebagai seorang pendekar pedang.

Fakta bahwa dia awalnya tidak bisa mematahkan kekangan dari monster kroco bersayap putih itu adalah buktinya. Itulah batas kemampuannya saat ini.

Namun, Jignir menghancurkan kekangan monster kroco bersayap putih itu, menembus cangkang batas kemampuannya sendiri dengan tangannya, dan pada akhirnya menyelamatkan Miu, memenuhi perannya sebagai pahlawan. Mungkin, inilah esensi sejati dari Jignir.

Dia bukanlah seorang pahlawan dengan misi menyelamatkan dunia, atau seorang raja yang berjalan di jalur penaklukan. Dia hanyalah seorang pahlawan kecil yang menolong orang lemah yang sedang menderita.

Sosok itu adalah pahlawan ideal yang dulu kuagumi sebelum tertelan oleh Dungeon. Sekarang, mari kita berikan tepuk tangan meriah kepada pahlawan yang telah menyelesaikan perannya ini.

Dan selanjutnya adalah giliranku.

"Nah, giliran pahlawan sudah selesai. Mulai dari sini adalah waktu untuk para penjahat."

Kalian sudah membuatku sangat tidak nyaman sampai sejauh ini. Aku tidak akan melepaskan kalian begitu saja.

Aku akan menunjukkan neraka dunia kepada kalian semua sekaligus. Tentu saja, tidak akan ada kompromi.

Lagipula, aku yang sekarang ini adalah seorang penjahat.

"Siapa orang ini?"

Yang menjawab pertanyaan lebah berwajah manusia itu adalah,

"Ah, Ayah, itu dia! Orang itu adalah pria rendahan yang telah bersikap tidak sopan kepadaku!"

Ficies dengan gaya rambut ikal spiralnya.

"Kebetulan sekali. Orang itu adalah pengkhianat yang telah meludahi keluarga Marquis Oobuts! Terlebih lagi, sepertinya dia adalah pemegang Gift 'Orang Paling Tidak Berguna di Dunia', dan ditambah lagi dia adalah Royal Guard dari Putri Rose yang menyebalkan itu!"

Mengangguk puas berulang kali pada cemoohan yang bermunculan, Marquis Oobuts berkata,

"Semuanya, apa yang harus kita lakukan pada orang tidak berguna ini!?"

Dia bertanya dengan suara lantang.

"Bunuh dia!"

"Benar! Cepat bunuh dia!"

Sesuai dugaan, seruan untuk membunuhnya bergema di seluruh arena.

"Bukan, pengkhianat tidak berguna ini telah bersikap tidak sopan kepada putra Marquis Oobuts yang telah menerima berkat Tuhan! Kematian terlalu ringan untuknya! Bukankah sebaiknya kita membuatnya menyesal dari lubuk jiwanya karena telah dilahirkan ke dunia!?"

Ketika pembawa acara menyatakan hal itu dengan mengangkat kedua tangannya, raungan persetujuan layaknya binatang buas terdengar dari mana-mana.

"Kalau begitu, Tuan Summoner, kami serahkan kepada Anda."

"Baiklah! Dengan senang hati! Kaisar Lebah Raksasa! Hajar dia! Amnes sepertinya cukup terobsesi padanya, jadi tetaplah waspada!"

Atas instruksi dari Summoner kroco bernama Third itu, lebah berwajah manusia mulai terbang mengelilingiku.

"Kau pikir aku ini siapa! Mana mungkin aku kalah dari kroco seperti ini! Daripada itu, pastikan kau memberiku imbalan yang setimpal!"

"Tentu saja! Aku akan memberimu anak kecil yang terlihat empuk dan sesuai dengan seleramu! Sebagai layanan tambahan, kau juga boleh melakukan apa saja pada anak roh di sana itu!"

Third mengarahkan tangan kanannya ke arah anak roh berwajah kelinci itu, lalu meneriakkan omong kosongnya dengan penuh semangat.

"Kata-katamu itu, tidak ada yang salah kan!? Aku tidak akan memaafkanmu kalau kau berbohong!"

"Tentu saja, Anda tidak keberatan kan, Marquis Oobuts?"

"Ah, lakukan sesukamu! Kami punya banyak stok pengganti! Kau boleh menggunakan semua barang dagangan yang ada di sini! Karena itu, buatlah orang tidak berguna itu merasakan neraka dunia!!"

"Begitu, katanya! Bocah, kau sungguh tidak beruntung ya!"

Kepada lebah berwajah manusia yang berbicara dengan wajah sombong itu, aku berkata,

"Aku benar-benar muak dengan omong kosong kalian para kroco. Cepat maju ke sini. Aku akan memberimu perlakuan khusus sebagai hama."

Aku memprovokasinya dengan jari tangan kiriku.

"K-Kau menyebutku kroco! Kau menyebutku hama! Apa orang sepertimu bisa mengimbangi kecepatanku!"

Lebah berwajah manusia itu terbang mengelilingiku dengan sangat menyebalkan.

"Apa-apan ini, sedari tadi kau terbang berdengung-dengung karena ingin pamer kecepatan, ya."

Aku bisa dengan mudah menangkap makhluk lamban seperti ini meskipun sambil menutup mata. Berani-beraninya dia begitu percaya diri dengan kemampuan level ini.

Aku bergerak ke belakang lebah berwajah manusia itu, lalu memotong semua sayapnya dengan Raikiri.

"Hah?"

Saat aku mengarahkan ujung pedang Raikiri ke arah lebah berwajah manusia yang jatuh berdebum ke tanah,

"Jadi? Apa cuma segitu saja?"

Tanyaku dengan singkat.

"M-Mustahil! Kenapa kau bisa mengimbangi kecepatanku!?"

"Jangan salah paham. Bukan aku yang cepat. Kau saja yang terlalu lambat."

Makhluk selambat ini bahkan tidak ada di dalam Easy Dungeon itu.

"Sejauh mana kau mau mengejekku—"

"Berisik."

Aku menendang lebah berwajah manusia yang berteriak sambil menyemburkan air liurnya itu hingga jatuh ke samping. Lalu aku mengambil pedang panjang yang tergeletak begitu saja di tanah, menusukkannya ke pipinya untuk memaku tubuhnya ke tanah, dan membungkamnya.

"Gogaah!?"

Aku menginjak lebah berwajah manusia yang meronta-ronta sambil berteriak itu,

"Dengar ya, kau tadi mau menjadikan Miu sebagai bakso daging untuk kau makan. Singkatnya, kau mencoba merebut keluargaku dariku. Aku sama sekali tidak akan memaafkanmu."

"Kalau aku meminjam kata-kata basi kalian, aku akan membuatmu menyesal dari lubuk jiwamu karena masih hidup sekarang."

Sambil membungkukkan punggungku dan menatap tajam ke arahnya, aku memuntahkan rasa frustrasi yang menumpuk di dadaku.

"Gubih!"

Lebah berwajah manusia itu akhirnya pingsan dengan mulut berbusa.

"Makhluk yang sangat menyebalkan sampai akhir...."

Sama sekali tidak ada perlawanan. Hal itu entah mengapa membuatku merasa kesal.

Yah, sudahlah. Urusan pembersihan bisa dilakukan nanti.

"Kalian juga sama, tahu?"

Aku hanya memiringkan kepalaku, melihat ke sekeliling, dan berbicara kepada mereka.

"O-Oi, Tuan Summoner, makhluk-makhluk ini benar-benar tidak masalah, kan!?"

Marquis Oobuts berteriak dengan nada suara yang penuh dengan rasa frustrasi dan kecemasan,

"Tentu saja, kemenangan yang sangat mudah! Memang sedikit mengejutkan dia bisa mengalahkan Kaisar Lebah Raksasa, tapi aku yang sekarang telah dianugerahi kekuatan Tuhan, jadi kekuatanku telah meningkat pesat!"

Summoner Kekaisaran, Third, menyiapkan tongkatnya dan mulai merapal mantra. Sesaat kemudian, seekor makhluk mirip naga bercangkang dan seekor burung raksasa berwajah manusia merangkak keluar dari dua lingkaran sihir.

"Naga Bumi, Harpy! Hajar dia. Selama dia masih hidup, kau boleh melakukan hal yang sedikit berlebihan. Aku sudah menyiapkan Mana kehidupan yang cukup untuk kalian."

Apa-apan para kroco ini? Aku sama sekali tidak merasakan kekuatan apa pun.

Atau lebih tepatnya, apa bedanya mereka dengan lebah berwajah manusia tadi? Sepertinya Summoner dari Kekaisaran ini benar-benar meremehkanku.

"Hoo, kau dermawan juga! Kau—"

"Aku sudah bosan dengan omong kosong semacam itu."

Makhluk bercangkang mirip naga, yaitu Naga Bumi, memuntahkan api kecil dari mulutnya sambil menatap rendah ke arahku dan melontarkan omongan kosong penuh kemenangan layaknya lebah berwajah manusia tadi. Aku pun secara paksa menghentikannya dengan menjadikannya serpihan daging yang berserakan menggunakan Death Line.

"Hah?"

Mengabaikan Third yang mengeluarkan suara aneh karena terkejut, aku berbalik ke arah Harpy. Hanya dengan hal itu saja, Harpy melompat jauh ke belakang untuk menghindar.

"A-Apa-apaan kau—kueh!?"

Aku bergerak ke kepala Harpy yang berteriak dengan ekspresi putus asa itu. Lalu, aku menusukkan Raikiri ke kepalanya yang kebesaran secara percuma itu dan mengalirkan kekuatan sihirku.

Petir menyambar dari Raikiri, dan dalam sekejap kepala makhluk itu pun hancur berkeping-keping.

Di tengah bau daging terbakar, aku mengayunkan Raikiri untuk menghilangkan noda darahnya, lalu mengarahkan ujung pedangku kepada Third dan berkata,

"Monster kelas teri seperti ini sama sekali tidak ada artinya. Kau ini Summoner terbaik di Kekaisaran saat ini, kan? Cepat keluarkan kartu as milikmu."

Aku memberikan ultimatum terakhir kepada mereka dengan sedikit kesal. Tentu saja, aku melakukan ini bukan karena peduli padanya.

Bagaimanapun juga, dia adalah Summoner nomor satu di Kekaisaran. Terlebih lagi, dia telah membuat pernyataan yang menyiratkan kalau dia telah memperoleh sebuah kekuatan.

Aku menyimpulkan bahwa akan berbahaya jika aku menangkapnya tanpa memaksanya mengeluarkan semua kartu as miliknya. Yah, kalau hanya membunuhnya memang lebih cepat, tapi sekarang aku sama sekali tidak berniat melakukan hal itu.

"Bagaimana caramu melakukannya tadi? Meskipun naga bumi itu kelas bawah, tapi dia adalah spesies naga. Tidak mungkin dia bisa dikalahkan dengan semudah itu!"

Bertolak belakang dengan ekspresi santainya tadi, Third berteriak dengan wajah tegas penuh kepanikan.

"Aku tidak peduli."

"Hah?"

Kepada Third yang bertanya dengan alis berkerut itu, aku berkata,

"Hal semacam itu tidak penting, begitulah maksudku! Cepat tunjukkan kartu as milikmu padaku!"

Sambil mengarahkan ujung pedang Raikiri, aku memberikan perintah dengan nada suara yang tegas. Seketika, urat nadinya bermunculan di dahi Third.

Seolah ingin menenangkan kemarahannya, Third menarik napas dalam-dalam, lalu memegang erat tongkat dengan kedua tangannya.

"Begitu ya, rupanya kau memiliki kekuatan minimal yang membuat Four dan Amnes begitu gigih mempertahankanmu. Kalau begitu, waktu bermain sudah habis."

Setelah menggumamkan hal itu, Third mulai merapalkan mantra. Berkat rapalannya yang panjang, bermunculan beberapa lingkaran sihir di atas tanah.

Lalu, berbagai macam monster dari ukuran kecil hingga besar menyembul keluar dari dalam lingkaran sihir itu. Dalam sekejap, arena gladiator itu dipenuhi oleh kawanan monster.

"Mustahil... tekanan yang mengerikan ini, mana mungkin kita bisa menang melawan monster sebanyak ini!"

Pria paruh baya berambut putih itu menatap tajam ke arah monster-monster yang dipanggil, lalu memaksa suaranya keluar.

"Benar! Ini adalah kekuatan tempur tertinggiku saat ini! Pasukan makhluk mitologis terbaik di dunia!"

Saat Third dengan bangga menyatakan kata-katanya dan mengarahkan tongkatnya kepadaku, kawanan monster itu pun serempak menatap rendah ke arahku.

"Kekuatan tempur tertinggi? Apa benar ini kesungguhanmu?"

Aku menyadari suaraku sedikit bergetar.

"Kau banyak bicara tadi, tapi sekarang kau ngompol karena ketakutan ya? Benar. Inilah kesungguhanku! Aku mengerti! Aku paham sekali! Bahkan ada spesies naga dan adipati binatang buas mitos di sini! Ini jelas merupakan kekuatan tempur yang setara dengan pasukan militer sebuah negara! Sekarang ini hatimu pasti dipenuhi oleh rasa takut dan penyesalan kan!?"

"Tapi, itu tidak akan terjadi! Tidak boleh! Kau telah meludahi harga diriku! Itu adalah dosa besar yang pantas dihukum mati puluhan ribu kali! Aku akan langsung memotong keempat anggota tubuhmu dan—"

Benar-benar di luar ekspektasi....

"Aku sudah paham semuanya. Cukup, jadi diamlah sebentar."

Ini benar-benar sangat mengecewakan.

"Kau ini benar-benar sombong sampai akhir ya! Hajar dia!"

Menghadapi kawanan monster yang menyerbu ke arahku dengan guncangan bumi, aku mengembalikan Raikiri ke sarungnya.

"Sepertinya, kau sudah menyerah ya. Tapi aku tidak akan membunuhmu dengan mudah—"

Saat aku menyentuh gagang Raikiri,

"Ilmu Pedang Aliran Shinkai, Gaya Satu Pedang, Bentuk Keempat—Arachne's Web."

Aku menyambut mereka dengan teknik pembasmi monster kroco. Monster-monster itu terpotong berbentuk salib tepat sebelum mencapai diriku, lalu jatuh bergelimpangan ke atas tanah arena gladiator.

"Hihe?"

Mata Third terbelalak lebar dan dia mulai gemetar ketakutan,

"N-Naga dan adipati binatang buas mitos juga ada di sana, tahu!? B-Bagaimana caramu melakukannya!?"

Dia berteriak histeris.

Apa ini adalah kasus langka di mana informasi dari Mujina meleset hanya pada orang bodoh bernama Third ini? Rasanya aku tidak bisa berhenti menganggapnya sebagai monster kroco yang hanya punya nama kosong sebagai Summoner terbaik di Kekaisaran.

Tidak, dia masih punya kartu as dan semacamnya. Sepertinya tidak ada salahnya untuk tetap waspada.

Yah, meskipun aku sama sekali tidak bisa berharap banyak.

"T-Tuan Puppet, kumohon! Tolong berikan hukuman Tuhan pada pengkhianat jahat dan keji ini!"

Saat Third menyatukan kedua tangannya dan memohon dengan putus asa,

"Baiklah. Dia sepertinya memiliki kekuatan misterius untuk ukuran makhluk dari dunia bawah, tapi aku tidak merasakan kekuatan yang besar darinya. Kalau aku berhati-hati pada teknik aneh tadi, seharusnya membunuhnya adalah hal yang sangat mungkin dilakukan."

Puppet mengangguk setuju.

"Jangan bilang, kau benar-benar menganggap kalau itu adalah kartu as milikmu?"

Sudah kuduga, ternyata begini akhirnya.

"Bicaramu itu terlalu lancang ya. Jangan besar kepala cuma karena bisa mengalahkan makhluk dunia bawah—"

Karena mulai merasa repot, aku menggunakan teknik berjalan unik milikku untuk pindah ke belakangnya, dan menusukkan Raikiri di tangan kananku dalam-dalam ke perutnya.

"Lihat, kau sama sekali tidak bisa bereaksi kan."

"B-Bagaimana caramu?"

Kepada orang yang mencoba memutar tubuhnya untuk bergerak itu, aku berkata,

"Ups, akan lebih pintar kalau kau tidak bergerak. Lagipula, aku menusukkannya di sela-sela organ dalammu. Kalau kau bergerak sedikit saja, itu akan menjadi luka fatal."

Aku memberikannya nasihat yang sangat berharga.

"H-Hiyyyy!"

Mengabaikan pria yang menjerit dengan suara yang nyaris pecah itu,

"Sampai di situ saja, dasar monster! Menjauhlah dari Tuan Puppet! Kalau tidak, aku akan membunuh gadis ini!"

Pria yang menjadi pembawa acara itu menekan pedangnya ke leher Miu sambil berteriak. Rupanya dia memilih pilihan yang paling bodoh ya.

"Hah! Mau direbus atau dibakar, lakukan saja sesukamu."

"Apa!? A-Aku serius, tahu!"

Mungkin karena dia tidak pernah bermimpi akan mendapat balasan seperti ini, dia pun panik dan menempelkan pedangnya ke leher Miu sambil memukulnya pelan.

"Makanya aku bilang tidak peduli. Kau boleh melakukan apa saja sesukamu. Tapi, itu juga kalau kau bisa melakukannya. Hei, begitu kan?"

Tidak mungkin aku membiarkan Miu yang masih kecil itu dalam keadaan seperti itu. Aku sudah lama mengamankannya dan memindahkannya ke tempat lain.

"Sesuai dengan kehendak Anda!"

Kedua mata Miu menjadi hitam legam, dan tumbuh taring yang runcing dan tajam darinya. Lalu otot-ototnya membesar, dan dalam sekejap wujudnya berubah menjadi monster berhidung panjang yang sangat besar.

"Hyaaaah!"

Dengan wajah yang berkerut ketakutan, pembawa acara itu jatuh terduduk dan menjerit dengan suara yang memekakkan telinga. Bukan hanya pembawa acara saja.

"T-T-Tekanan ini, pilar dewa kejahatan!? D-D-Dia menundukkan makhluk itu! Kalau begitu, jangan-jangan, mungkinkah—itu!?"

Puppet juga mengeluarkan suara aneh, seluruh tubuhnya mulai gemetar ketakutan, dan dia mulai bergumam sendiri.

"Nah, sekarang aku sudah melihat batas kemampuan kalian. Jujur saja, aku tidak perlu terlalu waspada sejauh ini...."

Bagaimanapun juga, pria bernama Third ini hanya sekuat ini saat bertarung serius. Kemungkinan besar kabar soal dia sebagai Summoner terbaik di Kekaisaran itu hanyalah kebohongan semata.

Yah, mana mungkin juga Kaisar Amnes yang terkenal hebat mau menghargai orang bodoh yang dengan mudah membelot ke negara musuh.

"A-Apa yang akan kau lakukan padaku?"

Menanggapi pertanyaan yang bahkan tidak perlu dipertimbangkan dari orang yang mengaku sebagai Utusan Dewa, Puppet, aku menjawab,

"Aku sudah bilang. Ini adalah jalan lurus menuju neraka. Lagipula, ini bukanlah kiasan seperti yang kalian ucapkan, melainkan eksekusi yang memiliki tingkat kenyataan sangat tinggi. Benar kan, Beelze?"

Aku kurang berpengalaman dalam menangani hal semacam ini. Untuk hal ini, sebaiknya serahkan pada ahlinya.

Tidak ada yang lebih cocok untuk menyiksa selain Beelze.

Tiba-tiba muncul atas panggilanku, seekor lalat raksasa yang berjalan dengan dua kaki dan memakai mahkota.

"Tidak kumaafkan... dechu...."

"Hm?"

Biasanya, dia akan mengatakan, "Sesuai kehendak Anda, dechu," lalu tertawa geli dengan cara yang menjijikkan.

"Rasa tidak hormat mereka yang bertubi-tubi kepada Tuan Babu! Aku sama sekali tidak akan memaafkannya, dechu! Menjadikan mereka sarang belatung!? Tidak boleh, dechu! Membiarkan mereka membusuk hidup-hidup!? Itu sama sekali belum cukup, dechu!? Sambil mempertahankan indera dan kesadaran mereka, aku harus menghancurkannya jadi berkeping-keping dan terus-menerus meremukkan mereka, dechu!"

Sambil menunduk dengan mata majemuknya yang merah dan kedua tangan yang gemetaran, dia terus menggumamkan kutukan.

"Ada apa, Beelze?"

"Tuan, yang ini dan yang itu, bolehkah aku mengambil semua hama yang ada di sini, dechu?"

Seolah-olah tersadar oleh pertanyaanku, Beelze menundukkan kepalanya dalam-dalam, menunjuk ke arah lebah berwajah manusia dan Puppet untuk meminta persetujuan.

"Ah, aku memang berniat begitu sejak awal, jadi tidak masalah. Girimekara, kalian juga tidak masalah dengan itu, kan?"

"Sejak awal, memang sudah ada kesepakatan seperti itu."

Operasi ini adalah gabungan antara faksi Girimekara dan tim Beelzebub. Segera setelah dinilai berbahaya, Beelzebub yang merupakan bawahanku yang terkuat, telah disiapkan untuk turun tangan.

"Ampuni kami...."

Kepada Puppet yang semangat bertarungnya telah hilang sepenuhnya dan memohon pengampunan dengan menyatukan kedua tangannya meski tubuhnya masih tertusuk Raikiri, aku berkata,

"Aku sudah menyebut diriku sebagai penjahat sejak awal kan. Apa penjahat sepertiku akan memaafkan kalian yang telah membuatku tidak nyaman? Itu adalah pilihan yang sama sekali tidak mungkin."

"Singkatnya, jawabannya sudah jelas."

Saat aku memotong kata-kataku, seolah-olah mewujudkan perasaan Beelze saat ini, kabut hitam pekat keluar dari seluruh tubuh makhluk itu dan menelan Puppet.

Di dalam ruangan yang menjadi sunyi senyap itu,

"Tuan Utusan Dewa kalah...."

"Dia itu monster!"

"Cepat lari!"

Suara itu menjadi pertanda. Para penonton pun berbondong-bondong menuju ke pintu keluar.

"Jangan dorong! Aku buka pintunya sekarang!"

"Pintunya terbuka!"

Begitu membuka pintu dan menyorakkan suara kegembiraan, seluruh tubuhnya membengkak lalu meledak. Kemudian, dari pintu masuk, muncul seorang pria berkacamata hitam dengan pakaian serba hitam yang kebesaran, serta lambang lalat tergambar di punggungnya.

"Tuan kami yang agung, kami telah menyelesaikan seluruh penyelamatan di rumah ini."

Pria itu berlutut di hadapanku sambil melaporkan satu-satunya hal yang dikhawatirkan. Penampilannya sudah banyak berubah, tapi dia adalah Jilma, pelaku utama Insiden Papra.

Sepertinya kali ini dia bertindak sebagai bawahan Beelzebub. Yah, karena dia mantan manusia, dia adalah bawahan Beelzebub yang paling punya akal sehat. Dia pasti sangat cocok untuk misi semacam ini.

"Kerja bagus."

"Itu pujian yang terlalu berlebihan..."

Sambil mengangkat bahu melihat Jilma yang suaranya gemetar, aku mengedarkan pandangan ke arah mereka.

"Kalian pasti sudah paham, tapi kalian tidak bisa kabur. Boleh saja mencoba, tapi itu percuma."

Menanggapi deklarasiku, Marquess Obutz bertepuk tangan sambil memamerkan senyum palsu yang sangat jelas.

"Kekuatan yang luar biasa! Aku sangat kagum dengan kekuatanmu! Kami hanya dihasut oleh pemanggil dari Kekaisaran di sana itu!"

"A-apa yang kau bualkan sekarang!?"

Third berseru dengan suara keras, namun Marquess Obutz segera menyela.

"Diam kau! Dasar anjing Kekaisaran! Kamulah yang benar-benar utusan Tuhan! Izinkan kami mengundangmu ke organisasi kami! Benar begitu, kan!?"

Marquess Obutz melemparkan pertanyaannya kepada sang pembawa acara.

"T-tentu saja! Anda adalah utusan yang dikirim oleh Dewa Perang Suci untuk mewujudkan firman Tuhan di dunia ini! Kami akan memberikan pelayanan terbaik untuk Anda!"

Mereka melontarkan omong kosong. Kemudian, para penonton yang tersisa di arena mulai mengucapkan kata-kata persetujuan akan hal itu.

Seolah merespons hal tersebut, Beelzebub mulai mengeluarkan suara aneh yang melengking.

"Beraninya kalian menyebut Dewa kami sebagai utusan Tuhan rendahan!"

Girimehkala juga mencengkeram lantai tempatnya berlutut dengan ekspresi iblis yang mengerikan. Kemarahan itu perlahan menular kepada bawahanku yang masih bersembunyi.

"Kalian ini benar-benar sampah yang luar biasa. Bahkan aku tidak bisa menjadi serendah kalian."

Jujur saja, mereka adalah sampah yang bahkan tidak pantas untuk dimarahi. Ini pertama kalinya aku bertemu dengan orang-orang yang tidak bernilai sama sekali.

Hanya untuk berurusan dengan mereka saja rasanya sudah merepotkan. Lagi pula, mereka sudah tamat.

Aku mengangkat tangan kanan untuk memberikan isyarat kepada Asta yang entah sejak kapan sudah berada di belakangku. Asta pun menjentikkan jarinya.

"Gugh!"

Marquess Obutz dan para bangsawan tingkat tinggi yang berada di ruang VIP tiba-tiba mulai mengerang kesakitan.

"Ayah!? Keparat kau! Dasar tidak berguna, apa yang kamu lakukan pada ayahku!?"

Feesis bergegas menghampiri Marquess Obutz yang kesakitan, lalu berteriak marah kepadaku.

"Entahlah, mungkin keracunan makanan?"

Benda yang mereka sebut Inti Roh dan mereka makan itu adalah bijih yang mengandung kutukan khusus buatan Asta. Aku sebelumnya telah memerintahkan Asta untuk menukarnya.

"Gugagagagigigigigigigigigi----!"

Kulit di sekujur tubuhnya bergelombang, menonjol di sana-sini, lalu mulai meleleh menjadi cairan kental.

"Ayahhh!"

Jeritan Feesis menjadi pemicu, jeritan dan teriakan ketakutan langsung saling bersahutan. Saat aku mengibaskan tangan, kabut hitam yang melayang di atas Beelzebub langsung menelan mereka semua.

Marquess Obutz, sang pembawa acara, Feesis, Third, dan para penonton lainnya yang telah berubah menjadi gumpalan daging tertelan habis.

"Kerja bagus, kalian semua. Beelze, Girimehkala, aku serahkan urusan bersih-bersihnya pada kalian."

"Sesuai kehendak Anda!"

"Sesuai kehendak Anda, chu!"

Setelah memberikan kata-kata apresiasi itu, aku melangkah pergi meninggalkan arena pertarungan.

Beberapa hari kemudian, Rose memegangi kepalanya dengan kedua tangan di ruang keluarga lantai satu rumah kami.

"Kak Ferris adalah pemimpin pemberontak? Dan lagi, basis operasinya ada di Eldim yang terkenal itu? Kalau sampai ketahuan, ini pasti akan jadi masalah internasional!"

"Mungkin saja."

Berdasarkan informasi dari Mujina, para bangsawan bodoh dari faksi Gilbert sedang mencoba ikut campur di negara itu. Namun, jika aku memberitahukannya, dia pasti akan pingsan.

"Apa yang akan kamu lakukan pada para pelaku utama kali ini?"

"Tentu saja, aku akan mengurus mereka dengan semestinya."

"Kamu tidak akan menyerahkan mereka ke sistem peradilan Kerajaan?"

"Tentu saja tidak. Mereka telah membuatku sangat muak. Aku sama sekali tidak berniat mengembalikan mereka ke tempat yang tidak punya kemampuan membersihkan diri sendiri seperti itu."

Rose mengelus dadanya lega.

"Begitu, ya."

Dia langsung menyetujuinya dengan mudah. Reaksi ini terasa sedikit janggal untuk ukuran Rose.

"Hoo, kukira kamu akan menentangnya mati-matian?"

Rose itu adalah orang yang terlalu jujur, entah itu hal baik atau buruk. Aku pikir dia pasti tidak akan pernah memaafkan cara yang hanya dipilih oleh penjahat seperti ini.

"Segala sesuatu itu ada batasnya. Membunuh Roh lalu mengambil dan memakan intinya adalah perbuatan iblis. Aku benar-benar tidak bisa memaafkannya."

"Andai saja Yang Mulia Raja tahu, beliau pasti akan sangat murka dan menghukum berat semua pihak yang terlibat. Tidak peduli siapa pun pelakunya."

"Hmm, jadi begitu, ya."

Wilayah ini dulunya merupakan habitat monster buas yang ganas. Namun, dikatakan bahwa Raja pertama Kerajaan Amelia meminjam kekuatan Raja dari Desa Roh, Yougenkyou, untuk menaklukkan para monster dan mendirikan Kerajaan Amelia saat ini.

Dengan kata lain, Roh memiliki posisi layaknya dewa pelindung bagi keluarga kerajaan Kerajaan Amelia. Jika tahu bahwa mereka telah dihina, sang Raja pasti harus mengambil sikap tegas.

Bahkan jika pelakunya adalah bangsawan tinggi, putra kandungnya sendiri, ataupun seorang pahlawan.

Jika masalah ini terungkap ke publik, kemungkinan besar Kerajaan Amelia ini akan menjadi sangat kacau. Kalau tidak hati-hati, ada risiko hal ini bisa berkembang menjadi perang saudara.

Kukira itulah yang dikhawatirkan oleh Rose.

"Selain itu, aku benar-benar marah atas apa yang mereka lakukan pada Miu dan Ash."

Menyadari nyala api kemarahan yang berkobar di kedalaman mata Rose, aku tanpa sadar tersenyum. Intinya begitu.

Bagi Rose saat ini, kurasa Miu dan Ash sudah seperti keluarganya sendiri.

"Jangan khawatir. Setelah semuanya selesai, setidaknya aku berniat mengirim mereka ke tiang gantungan."

Meski begitu, aku yakin saat itu tiba, mereka pasti akan memohon untuk dibunuh saja.

"Setelah semuanya selesai... kamu memang merencanakan sesuatu, kan?"

"Merencanakan sesuatu itu terdengar agak kasar, tahu. Aku hanya meminta benda asing yang tidak membawa keuntungan apa pun bagi kerajaan ini untuk segera menyingkir."

"Aku cuma ingin mengembalikan semuanya ke kondisi yang seharusnya."

Kesimpulanku setelah menganalisis informasi dari Mujina adalah, serangkaian insiden ini semuanya saling berkaitan erat. Sepertinya niat dari berbagai faksi saling bersilangan dan terjalin dengan rumit.

Akan sedikit merepotkan jika orang luar terus ikut campur, dan itu akan menghambat kelancaran permainan pemilihan pewaris takhta ke depannya. Oleh karena itu, aku berpikir untuk memusnahkan semua elemen pemberontak di kerajaan ini sekaligus.

Lagipula, permainan tidak akan menyenangkan kalau tidak ada keadilan setidaknya sedikit pun.

"Tuh kan, kamu memang sedang merencanakan sesuatu yang gila."

"Jangankan gila, ini adalah rencana yang hanya bisa dipikirkan oleh seseorang yang sekrup di kepalanya sudah lepas sepenuhnya."

Asta yang berada di sebelahku melontarkan sindiran dengan ekspresi yang sangat muak. Mendengar ucapan Asta itu, Rose mengerjap beberapa saat.

"Kai, kamu sebenarnya mau melakukan apa!?"

Dia menahan napas sejenak, lalu menuntut jawaban dengan aura yang mengintimidasi.

"Asta, jangan bicara sembarangan. Rose jadi menganggapnya serius, tahu."

"Aku sama sekali tidak berniat melebih-lebihkannya."

Saat aku memberitahukan keseluruhan rencananya, Asta awalnya memegangi kepalanya, tetapi ujung-ujungnya dia malah mulai melontarkan komentar seperti itu.

"Kai, tidak ada bahaya, kan?"

"Tentu saja tidak."

Aku segera menjawabnya dengan wajah bangga sambil mengacungkan jempol kepada Rose yang bertanya dengan ekspresi serius.

"Aku percaya padamu. Aku percaya, lho. Kamu bisa dipercaya, kan?"

Rose mengulangnya berkali-kali dengan ekspresi putus asa.

"Ah, iya, iya. Aku mengerti."

Menanggapi aku yang menjawab sekenanya, Rose menatapku dengan mata setengah tertutup.

"Lalu, apa rencanamu untuk Tuan Lucas dan Kaisar Pedang Kekaisaran?"

Dia akhirnya membahas kelanjutan rencananya.

"Aku tidak akan melakukan apa-apa. Aku hanya akan memberikan informasi yang diperlukan kepada mereka."

Hanya dengan begitu, mereka berdua pasti akan membuat pilihan seperti yang aku harapkan.

"Kai, sudah kuduga--"

Rose mencoba mengembalikan topik pembicaraan ke awal.

"Nona Rose, Emi dan para Roh meminta untuk bertemu. Saya sudah meminta mereka menunggu di ruang tamu."

Anna yang baru saja memasuki ruangan, melaporkan hal tersebut. Sejak kejadian itu, ada risiko mereka diincar oleh sisa-sisa kelompok 'Piala Suci' dan para bangsawan sekutu mereka.

Oleh karena itu, aku menginstruksikan orang tua Emi, anak-anak itu, serta para Roh yang kami lindungi untuk menetap di kediaman ini.

"Begitulah. Ayo kita pergi."

"Kamu selalu saja mengalihkan pembicaraan seperti itu!"

Aku mendekati Rose yang menggembungkan pipi dan membuang muka, lalu menepuk pelan puncak kepalanya sebelum berjalan menuju ruang tamu.

◇◆◇

Orang-orang yang terlibat dalam insiden penculikan kali ini telah berkumpul di kursi masing-masing di meja panjang yang berada di ruang tamu. Pertama, Emi dan orang tuanya duduk dengan ekspresi serius.

Lalu, ada para makhluk non-manusia yang pernah ditawan oleh 'Piala Suci'. Mereka dipimpin oleh Roh berwajah kelinci yang tubuhnya kaku dan gemetar karena tegang dengan ekspresi tajam.

Saat aku memasuki ruangan, para Roh serentak berlutut dan menunduk dalam-dalam sambil gemetar. Reaksi ini lagi, ya.

Sepertinya di mata para makhluk non-manusia ini, aku terlihat seperti Raja Iblis jahat atau iblis pembantai dari suatu tempat.

"Sudah kubilang hentikan itu. Bukankah aku sudah mengatakannya?"

"B-baik!"

Mereka semua buru-buru berdiri dan memperbaiki postur tubuh. Astaga, mereka sama sekali tidak paham. Kalau begini, kita tidak akan bisa bicara.

Sambil menghela napas pasrah, aku mengangkat tangan kanan untuk menyerahkan urusan ini pada Rose, lalu duduk di sofa sudut ruangan.

"Salam kenal, semuanya. Namaku Rosemary Loto Amelia, Putri Pertama Kerajaan Amelia ini. Pria ini adalah Kai Heineman, kesatriaku. Dia tidak akan memakan kalian, jadi tenang saja, ya."

Rose biasanya tidak pernah secara terang-terangan mendeklarasikan bahwa dirinya adalah anggota keluarga kerajaan. Alasan dia sengaja menyebutkan gelarnya kali ini mungkin untuk menghilangkan rasa takut mereka kepadaku, yang seperti biasa dianggap sebagai Raja Iblis jahat.

Bagi para Roh, seorang kesatria dari keluarga kerajaan manusia yang mereka benci sekalipun masih sedikit lebih baik daripada Raja Iblis agung.

"Tuan Putri? Apakah pria ini benar-benar kesatria Anda?"

Sudah kuduga, wanita berwajah kelinci itu bertanya dengan ekspresi bingung dan ketakutan.

"Ya, benar begitu, kan? Kai?"

Rose mengangguk dengan senyum lebar dan meminta persetujuanku. Aku ingin menyangkalnya, tetapi jika aku melakukannya, posisiku sebagai Raja Iblis jahat pasti akan semakin permanen.

Namun, sejujurnya aku juga tidak ingin membenarkannya begitu saja.

"Ada sedikit koreksi. Aku hanyalah kesatria sementara."

"Iya, iya, aku tahu kok. Kamu cuma kesatria sementara sampai aku menemukan pengawal kerajaan yang lebih pantas, kan?"

Sambil tersenyum, Rose mengambil cangkir di atas meja lalu meminum isinya.

"Memang benar, tapi entah kenapa aku merasa tidak terima."

Aku merasakan hawa dingin dari cara bicara Rose.

"Kalau begitu, mari kita langsung masuk ke inti pembicaraan."

Karena Rose memberikan isyarat dalam diam agar aku yang memimpin, aku mengarahkan pandanganku pada Emi dan orang tuanya terlebih dahulu.

"Sekarang setelah Marquess Obutz disingkirkan, aku ingin kalian bergabung dengan faksi Rose sesuai kesepakatan awal kita. Kalian tidak keberatan, kan?"

Orang tua Emi saling berpandangan dengan ekspresi serius, lalu mengangguk mantap.

"Kami telah diselamatkan oleh Anda. Kami memang hanya bisa memasak, tetapi kami akan membantu sebisa kami."

"Terima kasih banyak!"

Ekspresi Rose yang sebelumnya tampak kaku kini berubah cerah dan dipenuhi kebahagiaan saat ia menggenggam tangan mereka berdua.

Meski mendapatkan tiga orang dewasa dan belasan anak-anak ini terasa seperti rezeki nomplok, mereka adalah rakyat pertama yang dimiliki oleh Rose. Jelas saja dia merasa senang.

Lagi pula, kandidat lain sudah memiliki rakyat sejak awal. Jadi, tidak adil jika Rose harus melakukan semuanya sendiri untuk mendapatkan rakyat.

Namun, bergantung sepenuhnya padaku seperti ini akan berakhir pada insiden kali ini. Setelah aku membasmi para pengganggu dan mengembalikan permainan ini menjadi adil, aku berniat meminta Rose merancang strateginya sendiri untuk menarik rakyat.

"Emi, kamu juga setuju?"

"Tentu saja, itu kan sudah janji. Daripada itu, aku ingin kamu mengajariku cara membuat masakan yang dihidangkan tadi malam!"

Tadi malam? Maksudnya hamburger steak? Semalam aku memang membuat makan malam karena terus-terusan diminta oleh Faf, dan sepertinya masakan itu sangat membekas di hatinya.

"Ah, baiklah. Malam ini akan kuajari."

Lagi pula, Ash juga memintaku mengajarinya cara membuat hamburger steak malam ini. Mengajari satu orang maupun dua orang tidak ada bedanya.

"Kai. Kalau kamu membuat para Roh menunggu lebih lama..."

Rose mendesakku untuk melanjutkan pembicaraan yang mulai melenceng itu. Aku pun mengangkat telapak tangan kanan sebagai tanda setuju.

Namun, ketika aku menoleh ke arah para Roh berwajah kelinci, ekspresi mereka semua menegang hingga terlihat menyedihkan.

"Jangan ketakutan begitu. Kalau aku berniat menyakiti kalian, aku tidak akan menyelamatkan kalian sejak awal."

Aku menasihati mereka sambil menghela napas.

"K-kami tidak ketakutan! Kami cuma merasa gugup!"

Ibu berwajah kelinci itu melambaikan kedua tangannya dengan panik untuk menyangkal tebakanku.

"Kalau begitu, syukurlah. Mari masuk ke inti pembicaraan. Aku sudah melaporkan masalah ini kepada Guild Hunter."

"Sebentar lagi, perwakilan Guild Hunter yang tepat akan datang dan mengantar kalian kembali ke kampung halaman."

Jika aku melaporkannya kepada Kerajaan, masalah ini pasti akan ditutupi, dan ujung-ujungnya mereka akan menuntut penyerahan anggota 'Piala Suci' yang kutangkap. Terlebih lagi, akan sangat merepotkan jika Kerajaan salah langkah dan membuat para badut yang sedang asyik menari sekarang jadi menunda pergerakan mereka.

Oleh karena itu, aku tidak memberi tahu Kerajaan dan hanya melapor secara diam-diam ke Guild Hunter di Barse. Entah kenapa, para petinggi Guild Hunter di Barse bersikap sangat ramah kepadaku hingga terasa tidak wajar, dan mereka menerima usulanku dengan senang hati.

Sang ibu berwajah kelinci menatap Roh lainnya, dan mereka semua mengangguk serempak. Kemudian, ia berdeham dan menunduk dalam-dalam kepadaku.

"Ku mohon! Bersediakah Anda menemui Raja kami!?"

Mereka memohon dengan ekspresi yang luar biasa serius, seolah-olah sedang mempertaruhkan nasib.

"Hmm, aku akan menyampaikan pesan itu kepada para petinggi Guild Hunter."

Terutama para penyihir di Guild Hunter yang marah besar saat mendengar seluruh kronologi kejadiannya. Tidak diragukan lagi, mereka sangat memihak para Roh.

Selama para Roh menginginkannya, pertemuan dengan Raja Roh pasti akan membawa keuntungan tertentu bagi kedua belah pihak.

"Bukan, yang kami ingin Raja kami temui adalah Anda!"

"Hah? Memangnya kenapa aku harus menemui Raja kalian?"

"Tentu saja, kami sangat sadar betapa tidak sopannya permintaan kami ini! Tapi, bagi kami yang sedang berada di ambang kehancuran, hal ini sangatlah penting saat ini!"

"Bukan, maksudku bukan begitu..."

"Kami mohon... tolong kabulkanlah!"

Akhirnya, semua Roh bersujud di lantai dan menundukkan kepala sambil berseru keras.

Ini benar-benar situasi di luar dugaan. Bertanya kepada Rose, yang kini terbelalak dan terpaku melihat tingkah aneh para Roh, juga pasti akan sia-sia.

"Bagaimana menurutmu?"

Saat aku meminta pendapat Asta yang sedang meminum tehnya dengan anggun di sebelahku, dia pun membalas.

"Mereka tidak sadar diri dan memohon bantuan kepada Tuan. Kalau begitu, sikap mereka itu sudah sangat sepantasnya."

Malah makin tidak mengerti maksudnya. Ya sudahlah. Kalau cuma bertemu, itu tidak merugikanku sama sekali.

"Baiklah. Tapi, saat ini aku sedang sibuk. Apa tidak masalah kalau kita bertemu setelah urusanku selesai?"

"Tentu saja!"

Para Roh saling berpelukan dan bersorak gembira. Melihat ada yang menangis terharu hingga ada yang mulai menyembahku, aku merasa pipiku berkedut.

"Kalau begitu, aku sendirilah yang harus mengantar mereka. Tapi sampai saat itu tiba, kalian harus tetap di rumah ini. Rose, apa tidak masalah?"

Sejujurnya, aku sangat meragukan apakah bertemu dengan seorang pendekar pedang biasa sepertiku akan memberi keuntungan bagi Raja Roh. Tapi, karena mereka sendiri yang menginginkannya, mau bagaimana lagi.

"Y-ya, tentu saja, aku juga tidak keberatan..."

Mungkin karena belum sepenuhnya memahami situasi, jawaban Rose terdengar aneh dan ragu-ragu. Aku pun mengembuskan napas panjang.

"Begitulah. Jadi, bersantailah sampai waktunya tiba."

Aku melontarkan kata-kata sambutan yang lebih terdengar seperti nada kepasrahan.

◇◆◇

Di dalam ruangan gelap di mana tata letaknya hampir tak terlihat, Colin Cortane, seorang pria tampan yang menutupi mata dan hidungnya dengan topeng, mulai angkat bicara.

"Puppet hilang, ya..."

Mendengar laporan pria berjas putih dan bertopi serba putih yang berlutut di depannya, ia memijat pangkal hidungnya lalu berdiri. Colin berjalan menuju jendela dan membukanya.

Cahaya bulan menyinari ruangan tersebut, memperlihatkan siluet beberapa pria dan wanita yang berdiri di dalamnya. Semua pria dan wanita itu memiliki sayap putih bersih di punggung mereka.

"Bagaimana pendapat kalian tentang hal ini?"

"Walaupun lemah, Puppet tetaplah salah satu dari kita, Utusan Dewa. Makhluk-makhluk di dunia ini tidak akan bisa melukainya sama sekali, tahu."

Bianca sang Utusan Dewa, seorang wanita berambut bob yang mengenakan pakaian putih dan topeng, menyilangkan tangan di belakang kepala lalu menjawab dengan malas.

"Aku setuju. Kalau begitu, kemungkinannya cuma dua, kan? Dia mengkhianati kita, atau dikalahkan oleh pasukan dari dewa lain?"

Luze sang Utusan Dewa, seorang pria jangkung dengan wajah sangat panjang dan lonjong, melontarkan pertanyaannya sambil menggaruk kepalanya yang berpotongan cepak.

"Kami adalah pelayan setia yang menyampaikan kehendak Dewa Ares ke dunia fana. Pengkhianatan adalah hal yang mustahil!"

Sambil memegang kitab suci di tangan kirinya, Preto sang Utusan Dewa, pria berkepala plontos dan berbentuk kotak, mengepalkan tangan kanannya dan berdebat dengan penuh semangat.

"Kalau begitu, apakah ini ulah kelompok Raja Busuk itu?"

"Di dunia ini, hanya merekalah yang mampu menghancurkan Puppet!"

Preto sang Utusan Dewa mengangguk dengan kuat.

"Tapi, tidak mungkin segelnya sudah terbuka, tahu. Kalau memang begitu, manusia pasti sudah panik dan heboh saat ini."

"Kau benar. Paling-paling ini cuma ulah salah satu bawahannya yang sedang bergerak."

"Kita memang tidak akan tertinggal jika berhadapan dengannya, namun tidak ada salahnya berhati-hati..."

Seakan mengingatkan dirinya sendiri, Colin Cortane mengelus dagunya dengan tangan kanan.

"Lalu, bagaimana dengan urusan desa ras monster itu?"

Ia mengarahkan pertanyaannya kepada Bianca sang Utusan Dewa.

"Kelompok tentara bayaran yang disewa oleh para bangsawan itu baru saja menculik anak gadis ras monster yang menjadi target kita. Selanjutnya, kita tinggal menggunakan gadis itu sebagai umpan untuk memancing amarah ayahnya."

"Berarti semuanya berjalan lancar, ya. Aturan bahwa dewa kita—sang pengelola dunia ini—tidak bisa menginjakkan kakinya di sini jika kita tidak memperbanyak pengikut dari kalangan manusia, benar-benar sangat merepotkan."

Mendengar keluhan Colin yang menghela napas panjang sambil duduk di kursi terdekat, para Utusan Dewa lainnya pun ikut tersenyum kecut.

"Tapi, kita hampir berhasil."

Merespons ucapan Preto, mereka semua mengangguk setuju dengan ekspresi serius.

"Ngomong-ngomong, Luze, bagaimana dengan penyelidikan reruntuhan di dekat kota tempat para manusia yang akan kita manfaatkan itu berada?"

"Soal itu..."

Pertanyaan Colin membuat Luze terdiam sejenak.

"Itu semacam kuil yang dibangun manusia di masa lalu. Hanya reruntuhan biasa yang tidak menyimpan kekuatan apa pun."

Seperti biasa, dia menjawab tanpa mengubah ekspresi wajahnya sedikit pun.

"Begitu, ya. Ya sudahlah."

Colin mengangguk puas.

Seandainya saat itu Colin menyadari hasrat kelam yang bersembunyi di balik tatapan Luze lebih awal, bencana terburuk yang akan datang selanjutnya mungkin bisa dicegah.

Namun, Colin menepis firasat buruknya saat itu, dan roda nasib pun mulai bergerak menuju kekacauan.

◇◆◇

—Sebuah kamar penginapan di Ibukota Raja.

"Tuan Ash menghilang!? Apa itu benar!?"

Nail, salah satu petinggi tertinggi dari Pasukan Empat Raja Iblis—Ashmedia—bertanya dengan nada meninggi.

"Informasinya memang simpang siur, tetapi pesan ini datang dari Tuan Dolce, jadi kemungkinannya sangat besar."

Dengan ekspresi getir, iblis bawahan Nail itu melontarkan kalimat yang terdengar bagaikan mimpi buruk bagi Nail.

"Dari sekian banyak kemungkinan, kita malah membiarkan party Pahlawan Kekaisaran menyusup, Elder dan Ega terbunuh, serta Tuan Ash diculik!? Mana mungkin aku percaya hal seperti itu! Lagipula, kenapa pelindungnya tidak berfungsi!?"

Dengan pelindung itu, bahkan party Pahlawan sekalipun seharusnya tidak bisa menerobos masuk begitu saja.

"Sepertinya ini akibat Magic Item milik orang yang dipanggil 'Kyou'! Konferensi Darurat juga telah digelar, dan dengan suara mayoritas, kita telah memutuskan untuk bersekutu dengan Procyon, sang Raja Iblis Kabut!"

"Hah!? Kenapa dia yang maju!?"

Raja Iblis Kabut, Procyon. Salah satu Raja Iblis yang menguasai kabut dan memiliki kemampuan memanipulasi kabut putih yang sangat licik dan kuat.

Empat Raja Iblis pada dasarnya berisi penjahat kejam yang menganggap makhluk lain lebih rendah dari serangga. Raja Iblis berhati lembut yang memikirkan rakyatnya mungkin hanyalah Tuan Ash seorang.

Itulah sebabnya, hingga saat ini, para iblis tidak pernah bisa bersatu untuk menghadapi ancaman yang disebut Pahlawan.

"Sepertinya ini adalah langkah awal untuk mengalahkan manusia. Bersamaan dengan itu, ada perintah baru yang turun!"

"Perintah baru dalam situasi seperti ini!?"

Nail tanpa sadar membentak keras. Itu wajar saja. Saat ini, menyelamatkan Tuan Ash seharusnya menjadi prioritas utama mereka.

"Benar. Perintahnya adalah untuk menghasut manusia agar membuka segel dari reruntuhan yang telah ditentukan."

"Kalau semudah itu, kita tidak akan sesusah ini! Memangnya kalian pikir seberapa besar usaha yang telah kami kerahkan selama ini!"

Mereka telah kehilangan banyak pasukan, harga diri mereka hancur, dan seluruh rencana mereka selalu digagalkan oleh party Pahlawan. Bagi Nail, cara ini tidak lagi terasa sebagai solusi yang tepat.

"Kita tetap harus melakukannya! Kalau tidak, rakyat Negara Kegelapan kitalah yang akan menjadi korbannya!"

"Apa maksudmu!?"

"Sebuah Upacara Panggilan Dewa Agung berskala besar akan dilaksanakan di ruang ritual lantai atas Kastil Kegelapan. Kabarnya, mereka membutuhkan benda yang disegel di reruntuhan tersebut untuk upacara itu."

"Jika kita tidak membawanya sebelum batas waktu yang ditentukan, mereka mengancam akan mengorbankan separuh dari rakyat kita."

"Itu sama saja dengan pemerasan! Apa yang sebenarnya dipikirkan oleh orang-orang di pusat, ah, maksudku Dolce!?"

"Perintah ini sangat berbeda dari instruksi pusat selama ini. Walau belum ada bukti pasti, ada dugaan bahwa Tuan Dolce telah berpindah pihak ke kubu Raja Iblis Procyon."

"Ini benar-benar yang terburuk..."

Tuan Ash diculik, dan Dolce sang petinggi puncak berkhianat. Ditambah lagi, Negara Kegelapan dikuasai oleh Procyon, dan rakyat mereka dijadikan sandera. Ini benar-benar situasi jalan buntu.

"Tuan Nail, apa yang harus kita lakukan?"

Melihat ekspresi kesedihan dan keputusasaan di wajah bawahannya, jawabannya sudah sangat jelas.

"Kita tidak punya pilihan lain selain melakukannya. Jika kita membiarkan kekejaman seperti itu terjadi, aku tidak akan punya muka lagi untuk menghadap Tuan Ash."

Namun, perintah kali ini terasa berbeda. Ini bukanlah perintah ambigu seperti biasanya untuk membangkitkan Dewa Kegelapan yang tersegel di reruntuhan, melainkan ada niat yang lebih spesifik tersembunyi di baliknya.

"Jadi, di mana reruntuhan yang ditentukan oleh Dolce?"

"Ada tujuh lokasi, tapi yang paling dekat adalah Sauropeaks!"

"Sauropeaks? Oh, bukankah itu tepat di tempat bangsawan tinggi Kerajaan Amelia bermarkas..."

Tentu ada alasan mengapa sekelompok orang yang sangat mencurigakan itu sengaja menetap di sana dalam jangka waktu lama. Sudah pasti itu bukan sesuatu yang baik.

Di sisi lain, jika mereka adalah orang-orang yang mudah dikuasai hasrat, mungkin akan mudah bagi kita untuk menghasut mereka.

"Aku mengerti. Kita akan segera berangkat ke Sauropeaks!"

Nail segera berdiri dan mulai mempersiapkan keberangkatan.

◇◆◇

Di kamarku di Kerajaan Amelia, pihak-pihak yang terlibat dalam rencana ini telah berkumpul. Kelompok ini sebagian besar diisi oleh kawan-kawan lamaku yang menyenangkan dari Pasukan Penakluk.

"Kamu benar-benar berniat melakukannya?"

Asta melemparkan pertanyaan itu dengan ekspresi muak.

"Tentu saja."

Aku menjawabnya sambil tersenyum lebar. Bagaimanapun juga, inilah inti dari rencana kali ini. Aku sama sekali tidak berniat menahan diri.

"Aku sungguh tidak mengerti alasan mengapa Tuan bersikeras menggunakan dua monyet tak berdaya itu."

"Ya, wajar saja. Aku menggunakan mereka berdua dalam rencana ini bukan karena kekuatan mereka."

Alasan aku memutuskan untuk menyerahkan peran pahlawan kepada Jignir kali ini adalah karena kegigihan terakhir yang ia tunjukkan. Sebaliknya, Lucas adalah kebalikannya.

Aku merasakan sesuatu yang mirip dengan diriku di kedalaman matanya.

"Meski begitu, menjadikan anak perempuan itu sebagai... sudahlah, lupakan saja."

Asta membuang muka seakan sedang merajuk. Dia memang selalu bersikap aneh, tetapi hari ini keanehannya benar-benar keterlaluan. Yah, suasana hati Asta bukanlah urusanku.

"Satori, bagaimana persiapannya?"

Aku bertanya kepada gadis berambut hijau model bob yang berdiri di belakangku.

"Sesuai instruksi Anda, semua ingatan pihak yang terlibat telah ditulis ulang."

"Begitu, ya. Girimehkala, Spy, persiapan kalian berdua juga tidak ada masalah, kan?"

"Siap! Semuanya telah berjalan sesuai dengan kehendak Anda!"

"Persiapannya sudah beres tanpa halangan!"

Girimehkala dan Spy langsung merespons dengan cepat.

"Kerja bagus. Kalau begitu, aku cuma tinggal berangkat saja."

Dengan ini, permainan akan dimulai. Para bajingan yang mengatur rencana rendahan kali ini benar-benar telah menyulut amarahku.

Oleh karena itu, aku akan memanfaatkan mereka sepenuhnya sebagai batu pijakan untuk pertumbuhan para pemuda itu.

"Itulah bagian yang paling tidak bisa aku terima. Kenapa aku ditinggalkan!?"

Sama seperti Asta, Rose mencibir dan melontarkan keluhannya.

"Sebenarnya, kamu memang masuk dalam daftar kandidat personel untuk rencana ini. Tapi, karena melibatkan terlalu banyak karakter hanya akan membuat situasi makin rumit dan menghambat rencana, aku membatalkannya."

"Meski begitu, kenapa harus Ash!?"

"Itu karena sepertinya Ash memiliki ikatan yang kuat dengan Eldim. Kemungkinan besar, ini juga berkaitan dengan ingatannya yang hilang."

Ash memiliki obsesi yang kuat terhadap Eldim dan mengatakan sangat ingin mengunjunginya.

Aku memang sudah meminta Satori untuk menyelidikinya, tetapi karena terhalang oleh beberapa lapis perlindungan yang rumit, ia tak bisa mendapatkan informasi baru.

Kemungkinan besar, hal ini berkaitan dengan masalah perpaduan jiwanya. Sepertinya perpaduan jiwa yang awalnya tidak stabil itu, entah bagaimana, mencapai stabilitas setengah matang.

Saat ini, tubuh Ash berada dalam kondisi di mana dua jiwa hidup berdampingan.

Yah, mengingat betapa terkejutnya Satori, kasus seperti ini pasti sangatlah langka.

"Aku memahaminya. Aku sama sekali tidak melarangmu membawa Ash ke Eldim!"

"Hmm, lalu apa yang kamu tidak suka?"

"I-itu karena..."

Dia menggumamkan sesuatu, namun...

"Sudahlah, terserah."

Rose menghela napas dan menutup mulutnya. Karena Rose sepertinya sudah mulai memahaminya, aku memutuskan untuk segera memulai rencana ini.

Aku mengalirkan mana ke cincin di jari tengah tangan kiriku.

Dalam sekejap, penampilanku berubah menjadi pemuda berambut pirang dengan potongan two-block, mengenakan jubah berkerudung dan sepatu bot layaknya seorang pedagang.

"Nah, mari kita mulai permainan yang menyenangkan dan mendebarkan ini!"

Aku mengangkat tangan kananku lalu berjalan menuju pintu.

—Ini hanyalah keisengan dari seorang monster. Ini hanyalah sekadar permainan belaka.

Hanya saja, monster ini sama sekali tidak pernah berkompromi maupun menahan diri dalam permainannya. Demi mencapai tujuan dari permainannya itu, ia akan memberikan berbagai ujian kepada para pahlawan.

Dengan Kota Negara Netral Eldim sebagai panggungnya, tirai dari festival paling mengganggu di dunia ini secara perlahan mulai terangkat.

Ya, sebuah permainan yang akan menyeret umat manusia, ras Beastkin, ras elf, para iblis, pasukan kejahatan, dan segala macam makhluk lainnya...



Prolog | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close