Chapter 1
Kasus Piala Dewa
Akhirnya, ada
instruksi dari Kerajaan Amelia kepada Rose untuk kembali ke ibu kota. Saat ini,
kami sedang menuju ke sana menggunakan kereta kuda.
"Meski
begitu, Barce juga sudah banyak berubah, ya."
Mendengar
kesan Rose yang terdengar begitu mendalam itu,
"Yah,
sepertinya sudah banyak Hunter yang beraktivitas di kota baru itu."
Aku pun
ikut menimpali.
Di sisi
utara kuil kuno lama, membentang padang rumput yang luas dan subur. Sebagai
hasil dari penyelidikan para Hunter tingkat tinggi di sana, banyak
sumber daya berharga yang berhasil ditemukan.
Secara
geografis, seseorang harus melewati area sekitar kuil kuno lama untuk bisa
pergi ke utara.
Area
sekitar kuil lama ini merupakan tempat berkumpulnya monster berbahaya, yang
selama ini mencegah siapa pun memasuki tanah tak bertuan tersebut.
Namun,
akibat insiden serangan monster kali ini, gerombolan makhluk itu berhasil
dibasmi habis-habisan oleh para Hunter Barce yang dipimpin oleh Komandan
Kesatria Kerajaan Amelia, Arnold, dan Hunter Rank S, Beo.
Alhasil,
tak ada lagi yang menghalangi jalan masuk ke utara, dan Lautan Pohon Silke pun
benar-benar menjelma menjadi surga bagi para Hunter.
"Kota
baru yang terbentuk karena tindakan nekatmu itu, kan? Sesuai dugaan, kerajaan
mengklaim kepemilikannya dan sepertinya sedang berselisih hebat dengan Guild
Hunter."
"Ah,
soal itu jujur saja sedikit di luar dugaanku."
Di kuil
kuno lama, sebelumnya memang menjulang bangunan berselera buruk yang didirikan
oleh kelompok Tiamat, tetapi aku merombaknya agar bisa digunakan untuk pesta.
Pikirku,
toh pada akhirnya akan dibongkar juga, jadi tidak masalah kalau aku sedikit
bertindak nekat.
Namun,
instruksi sembarangan yang kuberikan pada kelompok Buku Panduan Penaklukan yang
konyol itu justru menjadi bumerang.
Hanya
dalam waktu semalam, sebuah bangunan super raksasa telah berdiri tegak.
"Seharusnya
masalah ini tidak bisa dianggap hal yang sepele, lho."
Saat Rose
melontarkan komentar konyol itu dengan ekspresi campur aduk, kereta kuda kami
mendadak berhenti.
"Aneh.
Seharusnya kita belum sampai di kota penginapan...."
Rose
memiringkan kepalanya dengan raut wajah bingung.
"Nona
Rose, biar aku yang periksa!"
Anna segera
keluar dari kereta. Namun, ia langsung kembali ke dalam dengan panik, lalu—.
"Ada seorang
perempuan yang pingsan di jalan!"
Ia menjerit
dengan suara melengking sambil menunjuk ke arah luar.
◇◆◇
Rose mengusulkan
agar kami menghentikan kereta dan beristirahat sejenak sampai gadis yang
pingsan itu siuman.
Aku pun
menyetujuinya. Lagipula perjalanan ini tidak terburu-buru, jadi kurasa tak
masalah.
Saat ini, kami
menggelar tikar di atas tanah dan membaringkan gadis itu di sana.
Gadis itu
memiliki rambut hitam panjang yang berkilau dengan poni yang terpotong rapi.
Ia mengenakan
gaun terusan berwarna hitam yang memadukan atasan dan rok pendek, dibalut
dengan mantel hitam panjang berkerudung besar.
Dilihat dari
hiasan mewah yang menempel pada pakaiannya, harganya pasti sangat mahal.
Ia tampak seperti
putri dari keluarga bangsawan entah dari mana.
Masalahnya
adalah, mengapa putri bangsawan terhormat sepertinya bisa jatuh pingsan di
tempat yang tidak ada apa-apa selain padang rumput ini?
Tidak ada kota di
sekitarnya. Mustahil kesimpulannya hanya sekadar tersesat. Apakah dia diculik
oleh bandit lalu melarikan diri? Ataukah dia kabur dari rumah?
Yah, semuanya
akan jelas kalau aku bertanya langsung padanya.
"Tuan,
sepertinya gadis ini adalah makhluk campuran."
Asta yang
duduk di sebelahku memberikan laporan itu sambil membenarkan letak kacamata
sebelahnya dengan tangan kanan.
Jika Asta
sudah mengoceh panjang lebar dengan cepat, bisa dipastikan fenomena tersebut
sangatlah langka.
"Makhluk
campuran? Apa maksudmu?"
"Artinya
sesuai dengan namanya. Akibat sebagian jiwanya bercampur secara tidak sempurna,
ada kemungkinan berbagai hal pada dirinya mengalami perubahan."
"Mulai
dari penampilan fisik seperti warna kulit, mata, dan rambut, hingga sifat Mana
serta Physical Stats miliknya. Kemungkinan besar, wujudnya akan kembali
seperti semula jika penyatuan jiwanya sudah stabil."
Hmm.
Intinya, wujudnya yang sekarang hanyalah wujud sementara. Jujur saja, itu
bukanlah hal yang penting bagiku.
"Sepertinya
dia sudah bangun."
Mendengar ucapan
Asta, aku kembali menatap gadis itu. Ia tampak mengucek matanya dengan mengantuk.
Gadis itu
lalu menghalangi sinar matahari dengan tangan kanannya, mengangkat tubuh bagian
atasnya, lalu menguap lebar sambil meregangkan badan.
Benar-benar
sikap yang santai.
Sama
sekali tak terlihat seperti putri bangsawan yang baru saja diculik bandit.
Atau
mungkin saja dia memang punya mental yang kelewat tangguh.
"Sepertinya
kamu sudah sadar."
Gadis itu
menatapku dengan wajah kebingungan.
"Kamu ini
siapa?"
Dia melontarkan
pertanyaan yang sangat tidak sopan.
Hmm, menegur tata
krama anak muda juga merupakan tugas orang dewasa, kan.
"Hmm, kalau
ingin menanyakan nama orang lain, bukankah sebaiknya kamu menyebutkan namamu
sendiri lebih dulu?"
Mendengar
perkataanku, ia memiringkan kepalanya, menyilangkan kedua lengan di dada, lalu
mulai bergumam pelan.
Tingkahnya sama
sekali tak terlihat seperti sedang bercanda.
Dia tampak
benar-benar kebingungan. Jangan-jangan, dia....
"Kai, dia
jadi kebingungan. Kemungkinan ingatannya masih kacau karena baru pingsan, jadi
sebaiknya kita biarkan dia istirahat sebentar sebelum menanyakan
detailnya."
Di tengah suasana
canggung yang terasa seperti baru saja melontarkan lelucon garing, Rose
memberiku bantuan dari samping.
Sudah kuduga, aku
memang tidak seharusnya melakukan hal yang tidak sesuai dengan tabiatku.
Aku berdeham
keras untuk menutupi rasa canggung, lalu berkata.
"Aku Kai
Heineman. Hanya seorang ahli pedang rendahan. Yah, salam kenal."
Aku pun
mengulurkan tangan kananku padanya.
◇◆◇
Kami menanyakan
keadaannya, tetapi situasinya benar-benar seperti lelucon.
Jangankan
namanya, ia bahkan tidak tahu siapa dirinya sendiri.
Inilah
yang biasa disebut dengan hilang ingatan.
Untuk
berjaga-jaga, aku meminta Satori, sang pakar mental, untuk memeriksa apakah
ingatan gadis itu bisa dikembalikan, tetapi ternyata itu mustahil.
Kemungkinan
ini adalah efek samping dari jiwanya yang menyatu secara tidak sempurna.
Melalui
kemampuan Satori, satu-satunya hal yang bisa kami ketahui hanyalah kepingan
ingatan masa lalu yang paling berbekas di hatinya.
Dari
sanalah kami mengetahui bahwa namanya adalah Ash.
Kami
tidak mungkin menelantarkan seorang gadis yang amnesia dan jiwanya sedang
bercampur.
Akhirnya, Ash
ikut bersama kami untuk sementara waktu, dan perjalanan menuju ibu kota pun
dilanjutkan.
Hingga akhirnya,
kami tiba di tujuan.
"Itu dia ibu
kota Kerajaan Amelia, Alamgard!"
Di ujung telunjuk
Anna, tampak sebuah tembok kota yang luas dan menjulang tinggi.
Bagian
dalam tembok itulah yang disebut sebagai wilayah ibu kota.
Membangun
tembok sebesar itu benar-benar pencapaian yang mengagumkan.
Yah, jujur
saja ini bukan sekadar kekaguman biasa, melainkan rasa takjub yang membuatku
ternganga.
Kurang lebih
begitulah perasaanku saat ini.
"Wahh!"
"Waahh!"
"Heeeh...."
Selain Faf dan Miu,
Ash pun ikut mencondongkan tubuhnya keluar dari kereta dan bersorak takjub
bersama mereka.
Hei, Ash... untuk
apa kamu ikut-ikutan heboh begitu?
Mungkin ini
karena usia mental mereka tidak jauh berbeda, sehingga Faf, Miu, dan Ash dengan
cepat menjadi sangat akrab layaknya saudari. Dan kemudian—.
"Semuanya,
setelah kita sampai di ibu kota, aku akan mengantar kalian ke toko manisan
langgananku!"
Anna
mencondongkan badannya ke depan. Ia menempelkan telunjuk di depan wajahnya
sambil mengedipkan mata kanannya.
"Manisan!?"
"Manisaaan!"
"Benarkah!?
Aku juga mau makan!"
Melihat reaksi
ketiga anak itu yang berbeda-beda, senyum di wajah Anna pun mengembang.
Bagi Anna, Faf
dan Miu sudah seperti adik perempuannya sendiri.
Kini, ia sering
merawat mereka di sela-sela tugasnya mengawal Rose. Anak-anak sangat jeli
mengamati orang di sekitarnya.
Awalnya Faf
sangat waspada terhadap Anna.
Namun,
setelah menyadari bahwa gadis itu tak memiliki niat jahat, ia perlahan mulai
menurutinya.
Sekarang,
Faf bahkan lengket padanya, hampir setara dengan kedekatannya padaku dan Rose.
Ash pun
sama. Awalnya ia menjaga jarak, tetapi setelah menyadari bahwa ia adalah gadis
lugu yang ceroboh, Anna mulai sibuk merawatnya dalam banyak hal.
"Anna
benar-benar sudah berubah, ya."
Rose
menatap Anna dengan tatapan hangat layaknya seorang ibu yang mengawasi anaknya.
"Yah,
kalau dalam kasusnya, dia itu cuma pemalu tingkat dewa saja, kan."
Belakangan
ini, gaya bicara Anna pun menjadi sangat lembut seperti orang yang berbeda, dan
ia jadi lebih sering tersenyum. Aku yakin, sosoknya yang sekarang adalah sifat
aslinya.
"Mungkin
saja, ya. Ngomong-ngomong,
Kai, apa yang akan kamu lakukan setelah kita tiba di ibu kota?"
"Paman Olga
sudah mewanti-wantiku dengan keras. Kurasa aku harus menemui Ibunda lebih
dulu."
Sepertinya Ibunda
sangat cemas karena aku tak kunjung datang.
Namun, Keith yang
tiba lebih dulu di ibu kota tampaknya sudah menjelaskan situasinya dengan baik,
sehingga Ibunda tidak sampai nekat menyusulku ke Barce.
Yah, Ibunda pasti
mendengarnya dari Keith. Beliau sepertinya mengirim surat pada Paman Olga di
Barce, dan Paman yang memasang wajah panik terus mendesakku agar segera menemui
Ibunda begitu tiba di ibu kota.
Dilihat dari
ekspresi Paman yang hampir menangis itu, isi surat Ibunda pasti sangat
mengerikan.
Terlepas dari
itu, ini adalah pertemuan pertamaku dengan Ibunda setelah sekitar seratus ribu
tahun, tetapi anehnya aku masih mengingat wajah dan kenangan bersamanya dengan
sangat jelas.
Namun yang jadi
masalah, diriku yang sekarang sudah banyak berubah, sehingga aku sama sekali
tidak yakin bisa berinteraksi dengannya secara normal.
"Benar juga.
Toh kita akan menetap di ibu kota untuk sementara waktu, jadi manfaatkanlah
momen ini untuk menghabiskan waktu berdua sebagai ibu dan anak."
"Tidak, aku
hanya berniat menampakkan diri saja."
Kebiasaan, gaya
bicara, dan sifatku yang sekarang benar-benar berbeda dengan diriku di masa
lalu.
Ibunda pasti juga
enggan jika harus tinggal bersama orang yang terasa asing, walau hanya
sebentar.
"Seperti
biasa, kamu ini memang tidak jujur, ya."
"Bukan
begitu, aku hanya selalu setia pada pendirianku sendiri."
Aku selalu hidup
seperti ini selama seratus ribu tahun terakhir, dan ke depannya pun pasti akan
tetap sama.
"Iya, iya,
anggap saja begitu untuk saat ini."
Rose mengangkat
bahu dengan ekspresi lelah, lalu mengalihkan pandangannya ke arah ibu kota.
Ekspresi yang
terpancar di wajah Rose saat menatap ibu kota kampung halamannya bukanlah
kelegaan karena telah kembali.
Ia justru
memancarkan ketegangan, seolah tengah menginjakkan kaki di wilayah musuh.
Dilihat dari
gelagatnya yang tak biasa ini, ibu kota ini pastilah tak ada bedanya dengan
sarang iblis. Semoga saja tak ada masalah yang merepotkan nanti.
Firasat buruk
yang terlintas di benakku saat itu, ternyata benar-benar menjadi kenyataan.
Kehidupanku pun
kini semakin menjauh dari kehidupan damai yang sangat kudambakan.
◇◆◇
"Kaa-kun!!"
Pintu depan rumah
bata berlantai dua itu terbuka dengan kasar.
Seorang wanita
jangkung berambut perak dengan raut wajah lembut berhambur keluar dan langsung
memelukku erat-erat.
Benar sekali.
Ibunda adalah sosok yang masih belum bisa merelakan anaknya tumbuh dewasa.
"Bagaimana
kabarmu? Ibu dengar rumor kalau keadaan di Barce sedang kacau. Kamu tidak
terjebak dalam bahaya, kan?"
Beliau meraba
seluruh tubuhku untuk memastikan keadaanku.
"Iya. Aku
tidak apa-apa, Ibu."
Seingatku, gaya
bicaraku di masa lalu memang seperti ini. Entah mengapa, rasanya benar-benar
canggung.
"...."
Ibunda
mencengkeram kedua bahuku, lalu menatap wajahku lekat-lekat.
"Kaa-kun,
apa kamu terlihat sedikit lebih dewasa sekarang?"
Dia malah
melontarkan pertanyaan yang sangat sulit untuk kujawab.
"Yah,
begitulah."
Jangankan sedikit
lebih dewasa, aku bahkan sudah berusia seratus ribu tahun. Kalau dipikir-pikir,
eksistensiku sekarang benar-benar terasa seperti lelucon.
"Begitu,
ya.... Kaa-kun sekarang sudah tumbuh besar rupanya."
Air mata
menggenang di sudut matanya saat ia kembali memelukku dengan erat.
Awalnya aku
berniat langsung berpamitan setelah menyapanya, tapi sepertinya itu mustahil.
Sebagai Hunter
Rank A, Ibunda sangatlah sibuk dan pasti tidak akan berlama-lama di rumah
ini.
Aku berencana
kabur saat ia pergi bekerja, dengan meninggalkan sepucuk surat yang mengatakan
bahwa aku sudah mendapat pekerjaan dengan fasilitas tempat tinggal. Toh
alasanku itu tidak sepenuhnya salah.
"Ayo, Ibu
akan masakkan makanan. Masuklah dulu."
Mau bagaimana
lagi, untuk saat ini aku harus menurutinya.
Yang jadi masalah
adalah anak-anak itu, tetapi aku sudah menyerahkan tugas menjaga Faf dan Miu
pada Anna serta Asta si pelayan gadungan. Apalagi, ada Ash juga di sana.
Mereka pasti
tidak akan kesepian, dan seharusnya tidak ada masalah jika aku pergi selama
beberapa hari.
Namun jika lebih
dari itu, Faf pasti akan mulai mencariku, jadi aku harus menampakkan diri di
sana suatu saat nanti.
◇◆◇
Benar saja. Tiga
hari kemudian, Ibunda harus meninggalkan ibu kota selama sekitar dua bulan
karena urusan pekerjaan.
Hunter Rank A yang sedang naik daun memang selalu
sesibuk itu, dan hal ini masih berada dalam jangkauan dugaanku.
Aku meninggalkan
sepucuk surat di atas meja yang menyatakan bahwa aku telah menemukan pekerjaan
baru beserta tempat tinggalnya, lalu bergegas keluar.
Aku pun menuju
penginapan kecil di distrik komersial barat laut ibu kota, tempat Faf dan yang
lainnya menetap.
Setibanya di
penginapan, Rose memberitahuku bahwa Faf terus-terusan murung belakangan ini.
Kondisinya cukup parah sampai-sampai ia menolak makan.
Anna dan Ash
bahkan bergantian mengawasinya sepanjang waktu, tetapi mereka tak berhasil
menghiburnya.
Begitu aku masuk
ke kamar Anna tempat Faf berada, anak itu langsung memelukku erat dan tak mau
melepaskannya.
Namun, setelah ia
tenang, ia malah membuang muka dan enggan berbicara sepatah kata pun.
Gawat juga, baru
berpisah tiga hari denganku, dia benar-benar merajuk. Demi membujuknya, aku
terpaksa mengajak Faf dan Miu makan malam lebih awal di kedai terdekat.
"Sudahlah,
jangan merajuk lagi."
"Aku tidak
peduli!"
Faf kembali
membuang muka. Namun, setidaknya ini masih lebih baik daripada saat dia menolak
bicara sama sekali tadi.
Yah, selama
puluhan ribu tahun ini, Faf dan aku tak pernah berpisah barang sedetik pun,
jadi wajar saja jika ia bersikap begini setelah kehilanganku secara tiba-tiba.
Padahal aku
sangat paham betapa menakutkan dan mencemaskannya kehilangan keluarga secara
mendadak.
Meski terlambat,
aku sadar seharusnya aku lebih peka terhadap perasaannya. Aku benar-benar
ceroboh.
"Maafkan
aku, ya, Faf."
Aku mengelus
kepala Faf dengan lembut seperti biasanya.
"Aku takkan
tertipu! Faf itu, Faf itu...."
Aku terus
mengusap kepalanya dalam diam, membiarkan air mata Faf jatuh berderai membasahi
pipinya.
◇◆◇
Miu memandangi
Faf dengan tatapan kosong.
Gadis naga itu
kini tertidur berbantalkan pangkuanku karena kelelahan menangis.
"Ada
apa?"
"Bukan
apa-apa...."
Mendengar
suaranya yang seakan mau menghilang, ucapannya itu sama sekali tidak
meyakinkan.
"Seorang
anak tak perlu merasa sungkan. Bukankah aku sudah mengatakannya padamu sejak
awal?"
Miu
tertunduk sambil mencengkeram erat rok di atas lututnya.
"Aku
ingin bertemu Ayah, Ibu, dan Kakak."
Miu
berseru dengan suara bergetar. Tetesan air mata jatuh membasahi punggung
tangannya yang mungil.
Ingin
bertemu keluarga, ya. Benar juga, Miu masih berada di usia di mana ia
membutuhkan kasih sayang mereka.
Bahkan
aku sendiri sangat merindukan Ibu dan Kakekku saat pertama kali tertelan ke
dalam Dungeon Khusus Kaum Lemah, jadi tentu rasanya jauh lebih berat bagi anak
sekecil Miu.
"Begitu ya.
Setelah urusanku di sini selesai, aku pasti akan punya sedikit waktu
luang."
"Nanti, kita
akan mencari keluargamu bersama. Jadi, bersabarlah dan jadilah anak baik sampai
saat itu tiba, oke?"
"Hiks...."
Miu
akhirnya berpegangan padaku dan menangis tersedu-sedu.
Sejujurnya,
jika menilik ceritanya, peluang keluarganya masih hidup sangatlah tipis.
Saat
militer Kerajaan Amelia menyerang, kedua orang tua Miu menyembunyikan Miu dan
kakak perempuannya di hutan, sementara mereka sendiri memilih bertahan di kota
demi mengevakuasi para warga sipil.
Sangat mustahil
mereka bisa melarikan diri dari kota dalam situasi seperti itu, dan jika
tertangkap, para ras Beastkin pasti akan langsung dieksekusi tanpa belas
kasihan. Meski begitu—.
(Pahlawan
Mashiro... dia benar-benar pria yang sangat menyebalkan.)
Peperangan antara
Kerajaan Amelia dan kaum Beastkin pada akhirnya bermula dari sang pahlawan
legendaris Mashiro.
Ajaran Gereja
Pusat yang memuja Dewa Perang Suci Ares sebagai dewa tunggal menyebutkan bahwa
ras Manusia dan Peri yang menerima karunia dari dewa dianggap mulia.
Sebaliknya, ras Beastkin
yang jarang mendapatkannya dianggap sebagai kaum hina, sehingga segala bentuk
diskriminasi terhadap mereka dianggap wajar.
Pahlawan Mashiro
memanfaatkan dogma Gereja Pusat itu sebagai dalih.
Ia bersekongkol
dengan bangsawan tingkat atas Kerajaan Amelia dan menjadikan insiden bentrokan
kecil dengan ras Beastkin sebagai alasan untuk melenyapkan mereka.
Alhasil, ras Beastkin
mengalami kekalahan pahit, akan tetapi itu tidak berarti negara Beastkin lenyap
sepenuhnya.
Sedari awal, kaum
Beastkin terdiri dari gabungan suku-suku kecil yang membentuk sebuah negara.
Urusan politik
negara diputuskan melalui dewan para kepala suku, di mana jabatan raja biasanya
diduduki oleh klan yang mewarisi posisi pendeta secara turun-temurun.
Sejak perang
tersebut, suku-suku Beastkin yang kalah perang menanggung nasib yang
berbeda-beda.
Sebagian dipaksa
masuk ke dalam Kerajaan Amelia, sementara sisanya mendeklarasikan diri sebagai
Kerajaan Beastkin di bawah bayang-bayang Kerajaan Amelia.
Namun, salah satu
anggota keluarga kerajaan berhasil menyatukan suku-suku kecil yang tersisa dan
membangun kota netral bernama Eldim.
Berkat penerimaan
terbuka terhadap ras-ras selain Beastkin, Eldim pun diakui sebagai Kota Pelajar
Netral di Sidang Dunia, bahkan mendapat pengakuan dari Babel, sehingga berhasil
menjaga kedaulatannya sebagai sebuah negara.
Berdasarkan hal
itu, jelas sekali bahwa Pahlawan Mashiro-lah yang menyeret ras Beastkin ke
dalam jurang penderitaan.
Melihat kebejatan
Card and Coin, guild sampah yang dibekingi oleh Mashiro, sudah pasti bahwa
pahlawan di dunia ini tak lebih dari sekadar benalu.
Masalah utamanya
adalah Lena dan Keith, teman masa kecilku yang sangat berharga, malah terseret
ke dalam kelompok pahlawan rendahan itu.
Bergabung dengan
party pahlawan memang pilihan mereka sendiri, sehingga aku tidak punya hak
untuk ikut campur, tapi kasarnya negara busuk bernama Kerajaan Amelia ini
seolah telah menahan mereka sebagai tawanan.
Tentu saja, saat
mereka berani melukai dua sahabatku itu, pahlawan dan negara sampah ini akan
secara resmi menjadi musuhku.
Dan jika itu
terjadi, aku takkan memberikan ampun, aku akan melenyapkan keduanya dari muka
bumi ini tanpa sisa sedikit pun.
"Yo."
Mendengar sapaan
tiba-tiba itu, aku mendongak.
Tampak seorang
pria berpostur kekar setinggi dua meter dengan rupa layaknya binatang buas
berdiri di depanku.
"Zack, kamu
juga datang ke ibu kota?"
"Yah,
begitulah. Bisa dibilang, aku juga sudah diangkat menjadi kesatria bagi Putri
Rose. Mohon bimbingannya."
Zack mengempaskan
tubuhnya ke kursi di seberangku, memesan makanan, lalu melahapnya dengan rakus.
Begitu ya, pasti
Rose telah merekrutnya sejak kejadian itu.
Namun, ini adalah
situasi yang sangat menguntungkan bagiku karena Zack memiliki bakat bela diri
yang luar biasa, sehingga jika dilatih, dia pasti akan menjadi sangat kuat.
Ditambah lagi,
dia punya harga diri sebagai seorang prajurit.
Selama dia
mendapatkan kekuatan absolut, dia tidak akan pernah kalah dari para petinggi
kerajaan yang bodoh itu, dan aku jadi bisa menyerahkan pekerjaan sangat
berbahaya seperti Royal Guard ini padanya tanpa rasa khawatir.
Tentu saja, Zack
yang sekarang masih jauh dari kata pantas, sehingga aku harus bertindak sebagai
Royal Guard sampai dia menguasai tingkat kekuatan tertentu.
Masalah utamanya
adalah, apakah Zack bersedia menjalani pelatihanku?
Lagipula, Zack
selama ini menganggapku sebagai saingan, jadi tidak mungkin dia mau menerima
ajaranku dengan mudah.
Yah, lihat saja
nanti perkembangannya.
"Zack, aku
akan melatihmu mulai besok."
"B-Benarkah!?"
Zack
mencondongkan badannya dengan ekspresi garang.
Meski sedikit
kewalahan dengan reaksinya, aku tetap melanjutkan ucapanku.
"Ya. Tapi
ingat, aku adalah ahli pedang, dan seni bela diri tangan kosong bukanlah
keahlianku. Karena itu, aku hanya bisa mengajarkan metode murni agar kamu
menjadi lebih kuat dalam pertarungan. Apa kamu tidak keberatan?"
"Tentu saja!
Asalkan bisa tambah kuat, aku tak peduli! Ternyata menerima tawaran sang Putri
memang keputusan yang tepat! Kakek tua itu pasti bakal menangis
frustrasi!"
Ucapannya barusan
sangat tidak masuk akal, tetapi kesediaan Zack untuk berlatih bersamaku adalah
keberuntungan yang tak terduga. Mulai besok, aku akan menempa dirinya
habis-habisan.
◇◆◇
Sekitar satu
bulan telah berlalu sejak kami menetap di ibu kota.
Pertama-tama soal
pelatihannya.
Zack memang
berbakat dalam seni bela diri, tetapi ia masih jauh dari kata mahir dalam
berbagai aspek.
Ia butuh
peningkatan Level setidaknya untuk bisa bertahan di pelatihanku, karena
kondisinya yang lemah saat ini sama sekali tak layak disebut sebagai latihan.
Cara tercepat
untuk meningkatkan kemampuan adalah dengan menguasai konsep yang baru.
Karena itulah,
aku memutuskan untuk mengajarinya Non-Elemental Buff Magic.
Sihir ini di
dunia ini umumnya butuh perapalan panjang dan khasiatnya pun tak seberapa,
menjadikannya sihir yang sama sekali tidak berguna dan reputasinya benar-benar
sangat buruk.
Awalnya aku
mengira Zack akan menolak mentah-mentah, tetapi ternyata dia dengan patuh
mengikuti instruksiku.
Mempelajari
teknik semacam ini sangatlah rumit dan memakan waktu bertahun-tahun, namun
begitu kau mengerti polanya, itu tak lagi sulit.
Tiga minggu
kemudian, Zack berhasil memanggil sihir itu tanpa perlu merapal mantranya.
Akan tetapi,
terkadang ia gagal dua atau tiga kali, dan sihir yang ia gunakan baru sebatas
merombak kekuatan Mana pada tubuhnya sebagai peningkat kemampuan.
Intinya, ia baru
memasuki ambang pintu dari Non-Elemental Buff Magic.
Meski kondisinya
masih sangat rentan, Physical Stats miliknya melonjak tajam, sehingga
Zack sendiri terus kegirangan sepanjang waktu.
Ada satu hal yang
tak terduga, yaitu gadis Beastkin berambut perak, Miu. Melihat latihan Zack, ia
memintaku untuk ikut mengajarinya, dan saat kuajari, anak itu bisa menyerap
pelajaran dengan sangat cepat.
Bahkan bukan lagi
soal kemampuannya dalam memahami sesuatu, ini sudah menyangkut kompabilitas
sihir.
Mungkin, sihir
ini jauh lebih cocok bagi ras Beastkin daripada manusia.
Walau kemampuan
fisiknya meningkat, tanpa penguasaan bela diri yang mumpuni, semua itu percuma.
Aku pun
menitipkan Miu pada Nemea yang juga berasal dari ras Beastkin untuk mengajari Miu
dasar-dasar bela diri secara perlahan setiap harinya.
Anna bertugas
mengasuh Faf dan Miu. Akhir-akhir ini, mereka sepertinya sering bermain bersama
di ibu kota.
Rose
sendiri sibuk melahap berbagai buku yang kuberikan.
Berbeda
dengan Asta, bacaan Rose lebih banyak didominasi oleh literatur politik, mulai
dari sistem pemerintahan, sistem pajak, hingga kemiliteran.
Ash
tampaknya tak menyukai keramaian, sehingga pada awalnya ia enggan keluar dari
penginapan.
Ia sangat
cepat bergaul dengan para wanita, tetapi tetap menjaga jarak dariku dan Zack.
Namun,
sejak aku mengajarinya memasak karena iseng, ia malah kecanduan dengan
aktivitas tersebut. Kebetulan akhir-akhir ini aku juga sedang menganggur, jadi
aku mengajarinya memasak secara rutin.
Ngomong-ngomong
soal Ibunda, aku tadinya berniat mengucapkan terima kasih pada Lena dan Keith.
Namun
sayang, saat ini mereka tengah menimba ilmu di Kota Pelajar Netral, Babel, jadi
aku tidak bisa bertemu mereka.
Yah, lagipula aku
lumayan tertarik pada Babel, dan mungkin saja suatu hari nanti aku akan mampir
ke sana, jadi nanti saja kutemui mereka saat itu terjadi.
Tak lama sebelum
keberangkatanku dari Barce, ada seseorang yang secara mengejutkan mencoba
menghubungiku lewat perantara Guild Hunter Barce.
Ia adalah
pedagang budak yang menjual Miu padaku waktu itu, yang katanya sedang berpikir
untuk beralih profesi, jadi ia mencariku untuk meminta saran.
Tentu saja, aku
ini hanyalah seorang ahli pedang, dan aku bukanlah pakar dalam bidang semacam
itu.
Merasa itu sangat
melenceng dari bidangku, awalnya aku menolak, namun Guild Hunter memohon
agar aku bersedia membantunya.
Alasan formal
mereka adalah untuk mencegah memburuknya keamanan di kota baru yang tengah
dibangun dengan sangat pesat itu.
Akan tetapi,
mengingat betapa liciknya pedagang budak itu, sepertinya ia berhasil membujuk Guild
Hunter untuk bekerja sama dengannya.
Yah, begitulah
ceritanya kenapa aku sampai bertemu dan mengobrol langsung dengannya.
Ternyata, dia
sudah bertekad untuk terjun ke bisnis penyaluran tenaga kerja, dan ia hanya
datang untuk berdiskusi tentang seluk-beluk pelaksanaannya.
Aku mengutip inti
sari dari buku-buku manajemen dan ekonomi yang kubaca di dalam Dungeon itu
untuk kujadikan saran.
Setelah itu, aku
melimpahkan sisanya pada Girimekhala, yang sebelumnya memohon agar aku
menyerahkan masalah ini padanya, karena makhluk licik yang berakar di dunia
bawah itu merupakan pion terbaik yang dimiliki Girimekhala.
Meski terkesan
aku melempar tanggung jawab begitu saja, toh dia sendiri yang memintanya, jadi
kurasa tak jadi soal.
Di saat aku
sedang menikmati hari-hari yang cukup memuaskan di ibu kota ini, Rose mendadak
memanggilku untuk datang ke Istana Kerajaan.
◇◆◇
"Tunggulah
di sini sebentar."
Begitulah
instruksi yang dilontarkan oleh seorang pemuda dengan sikap angkuh yang
tampaknya adalah seorang pejabat sipil.
Aku pun menuruti
perkataannya dan duduk menunggu di sofa yang empuk, sampai akhirnya pejabat
sipil yang sama kembali masuk ke dalam ruangan.
"Kamu akan
menemui Yang Mulia sesaat lagi. Tapi ingat, Ruang Takhta bukanlah tempat yang
bisa dipijak oleh pecundang tak berdarah biru sepertimu, jadi ingat baik-baik,
jangan sampai kamu melakukan kecerobohan sekecil apa pun."
Aku berasal dari
keluarga ksatria kehormatan, yang artinya aku bukanlah seorang bangsawan
sejati.
Singkatnya, dia
menyindirku agar jangan terlalu besar kepala dan bersikap sok hebat.
"Iya,
iya."
Aku menjawabnya
dengan enteng, lalu bangkit berdiri sambil meregangkan ototku.
Alis pemuda itu
sedikit berkedut kesal, tetapi ia langsung melenggang keluar ruangan tanpa
sepatah kata pun.
Hmm, kelihatannya
aku sudah memancing amarahnya, tapi sungguh, aku sama sekali tak peduli dengan
perasaan si anak manja itu.
Suasana di
sekelilingku dihiasi oleh tangga, pilar, dinding, dan langit-langit yang
terbuat dari batu putih nan memesona, dengan karpet merah menyala membentang di
atas tangga tersebut.
Aku pun menapaki
anak tangga itu, lalu tiba di sebuah pintu ganda berukuran raksasa di ujung
jalan.
"Omong
kosong."
Entah berapa
banyak kekayaan yang digelontorkan untuk menciptakan pemandangan semewah ini.
Mustahil
kemewahan ini semata-mata dibiayai oleh rampasan perang dari negara lain, dan
pastilah sumber pendanaan utamanya berasal dari pajak yang mencekik rakyat
mereka sendiri.
Dengan kata lain,
kemewahan ini tak ubahnya bukti nyata keserakahan mereka dalam memeras harta
rakyatnya sendiri.
Tak peduli betapa
mewahnya tempat yang hanya bisa diakses oleh kaum bangsawan dan pejabat tinggi
ini, pada akhirnya hal ini hanyalah pemuasan ego semata.
Ada begitu banyak
hal yang jauh lebih bermanfaat bagi negara yang bisa dibangun dari uang
tersebut. Apa yang dikatakan Rose memang benar, negara ini benar-benar telah
membusuk hingga ke akarnya.
Kedua pintu
raksasa itu terbuka lebar diiringi tatapan tajam dari para ksatria yang berjaga
di sisi kanan dan kirinya.
Inilah yang
disebut dengan Ruang Takhta, pikirku, dan di dalam ruangan super megah itu,
berdirilah dua kelompok yang saling berhadapan.
Di sisi kiri,
berdiri sekelompok pejabat sipil berpakaian mewah yang dipimpin oleh sang
menteri, sedangkan di sisi kanan berbarislah para ksatria yang mengenakan zirah
putih murni.
Di atas takhta
yang menjulang di tengah ruangan, duduk seorang pria berambut pirang yang
memancarkan aura liar dan mengintimidasi, dan di depan takhta itu berdirilah
dua gadis bergaun dan seorang pemuda.
Gadis bergaun
putih di sana adalah Rose, dan jika benar begitu, sepasang pria dan wanita
berambut pirang itu pastilah pangeran dan putri yang setara dengannya.
Dua pria di
sebelah mereka kemungkinan besar adalah Royal Guard masing-masing.
Dihujani tatapan
penuh permusuhan oleh para ksatria dan pejabat sipil, aku berjalan dengan
santai mendekati Rose.
Masa bodohlah
dengan semua ini. Lagipula aku hanya akan berperan sebagai badut tolol sampai
batas kemampuanku.
"Tundukkan
kepala kalian!"
Pria yang
tampaknya merupakan seorang menteri itu berteriak lantang. Seketika itu juga,
semua orang yang ada di sana meletakkan tangan kanan mereka di dada dan
membungkuk serempak.
Tentu saja,
sebagai pihak luar yang bukan merupakan abdi dalem kerajaan, aku hanya
memberikan anggukan kecil sebagai penghormatan.
Yah, setidaknya
ini adalah wujud tata kramaku sebagai orang dewasa, dan sambil menyunggingkan
seringai congkaknya, sang Raja menyapu pandangannya ke seluruh ruangan.
"Alasanku
mengumpulkan kalian kali ini tak lain karena metode pemilihan calon pewaris
takhta telah diputuskan."
Sudah kuduga,
hawa tegang yang sedari tadi menyelimuti ruangan ini berkaitan dengan perang
pewaris takhta, dan intinya metode pemilihan yang ia maksud itu hanyalah
sekadar penjelasan mengenai peraturan perang tersebut.
Terbukti, tak
seorang pun yang terkejut, seolah perang pewaris takhta itu sudah menjadi
rahasia umum.
"Kalau
begitu, aku akan menjelaskan peraturannya. Yah, peraturannya tidak terlalu
rumit. Mulai sekarang, masing-masing kandidat akan ditugaskan untuk mengelola
suatu wilayah."
"Evaluasi
dasar akan dinilai dari tingkat perkembangan manajemen wilayah tersebut,
ditambah dengan kontribusi kalian terhadap Kerajaan Amelia, dan gabungan dari
keduanya akan menentukan total poin kalian dari skala sepuluh. Empat tahun dari
sekarang, saat Louise yang termuda genap berusia dewasa, kandidat dengan
penilaian tertinggi akan diangkat menjadi Raja berikutnya. Bagaimana? Sangat
mudah dipahami, bukan?"
Raja mengangkat
sudut bibirnya hingga membentuk sebuah seringai, jelas pria ini sedang
menikmati momen ini.
Pada akhirnya,
sang Raja telah membiarkan kebrutalan pahlawan dan bangsawan tinggi terus
merajalela di negaranya sendiri, padahal jika dia mau, tragedi yang terjadi
pasti bisa dicegah.
Tentu saja, aku
adalah seorang prajurit tempur, dan usiaku juga sudah terlampau tua. Aku paham
betul bahwa pengorbanan nyawa adalah hal mutlak yang terkadang tak bisa
dihindari oleh seorang pemimpin.
Namun, mengenai
konflik dengan ras Beastkin, semua itu bermula murni demi memuaskan nafsu
pribadi mereka semata, jadi setidaknya bagiku tragedi tersebut sama sekali tak
diperlukan.
Singkatnya, pria
ini adalah raja tidak kompeten yang bahkan tak bisa menuntaskan tanggung
jawabnya sendiri.
Tentu saja aku
sama sekali tak punya niat untuk menaruh rasa hormat padanya.
"Yang
Mulia, siapakah yang akan menilai tingkat perkembangan tersebut?"
Pemuda
tampan berambut pirang yang mengenakan pakaian mewah berwarna merah itu
bertanya kepada raja sambil menyibakkan rambut panjangnya. Kemungkinan besar,
dialah Pangeran Gilbert.
Dilihat
dari penampilannya saja, dia tampak seperti pemuda yang memiliki satu atau dua
sifat buruk yang tersembunyi.
"Dari sudut
pandang untuk menjamin keadilan, penilaiannya akan dilakukan oleh Perdana
Menteri."
Raja mengalihkan
pandangannya kepada pria bertubuh raksasa dengan rambut hitam dan janggut yang
berdiri mendampingi takhta, lalu mengumumkannya.
"I-itu—"
Pemuda tampan
berambut pirang yang tampak sangat arogan itu berubah pucat dan mencoba
melontarkan bantahan, namun.
"Apakah Anda
merasa tidak puas jika saya yang menilainya?"
Hanya dengan
ditanya melalui sepasang mata hitam sedingin es milik pria raksasa berambut
hitam itu,
"T-tidak..."
Dia
langsung memalingkan wajahnya. Louise juga tampak sama sekali tidak terima,
namun ia tetap bungkam dan hanya menggertakkan gigi gerahamnya.
Meskipun
aku buta dan tidak tertarik pada urusan politik negara, setidaknya aku pernah
mendengar namanya.
Dia
adalah sosok yang dalam waktu singkat berhasil mendorong Kerajaan Amelia ini
menjadi salah satu negara militer terkemuka di dunia.
Perdana Menteri
Kerajaan Amelia—Johannes Roosevelt. Pria ini benar-benar berada di level yang berbeda dalam segala artian.
Postur
dan auranya terasa jauh lebih ganjil dibandingkan dengan raja yang sedang duduk
bersandar angkuh di atas takhtanya.
Bagaimanapun
juga, setelah mendengar bahwa Perdana Menteri yang akan melakukan evaluasi,
Rose tampak mengelus dada dengan lega.
Dia pastilah pria
yang bisa menjamin tingkat keadilan tertentu.
"Kalau
begitu, izinkan saya memperkenalkan Royal Guard yang didukung oleh
masing-masing Yang Mulia yang hadir di tempat ini."
Pria berambut
beruban yang berpakaian layaknya pendeta itu berdeham, lalu melangkah maju dan
membuka sebuah gulungan.
"Kita mulai
dari Royal Guard milik Putri Kedua Yang Mulia Louise. Sungguh
mengejutkan, dia adalah seorang Hunter Rank S aktif, sekaligus sosok
yang dirumorkan sebagai yang terkuat di antara para Hunter—Tuan Isaac
Giezdoor!"
Pemuda berambut
putih dengan mata sipit bagai garis yang berdiri di samping wanita berambut
pirang itu meletakkan telapak tangan kanannya di dada dan menunduk hormat
sekilas.
Bersamaan dengan
itu, sorak-sorai pun pecah dari segala penjuru.
Isaac Giezdoor,
tak diragukan lagi dia adalah Hunter terkuat. Aku tak menyangka wanita
berambut pirang yang tampak angkuh itu menjadikan orang terkuat di dunia Hunter
sebagai Royal Guard-nya.
Dia pasti orang
yang sangat cakap.
"Royal
Guard milik Pangeran Pertama Yang Mulia Gilbert adalah salah satu
pengunjung dari dunia lain, anggota dari Party Pahlawan saat ini—Sang
Sage Agung, Tuan Satoru Mizoguchi!"
Saat remaja
tampan berambut hitam yang terlihat berusia sekitar belasan tahun itu
mengangkat lengan kanannya, sorakan memekakkan telinga menggelegar melebihi
sebelumnya.
Tidak heran, dia
adalah anggota utama dari kelompok Pahlawan.
Dia sangat
populer, ya.
Sesuai dugaan
Rose, Pahlawan tidak dipilih menjadi Royal Guard.
Namun, karena
orang asing dari dunia yang sama dengan Pahlawan yang terpilih, maka pada
kenyataannya Pahlawan telah berpihak pada Gilbert.
Mungkin wajar
jika mengambil kesimpulan seperti itu.
"Dan yang
terakhir, Royal Guard milik Putri Pertama Yang Mulia Rosemary, adalah
Raja Ketidakmampuan yang menyandang gelar Orang Paling Tidak Kompeten di Dunia!
Ini adalah Royal Guard paling lemah dalam sejarah!"
Gelak tawa ejekan
pun meledak.
Namun
omong-omong, pria yang mirip pendeta ini, kenapa saat memperkenalkanku dia
terdengar sangat bersemangat?
Apa dia cuma
bersungguh-sungguh saat merendahkan orang lain?
Menurutku dia
menyalurkan energinya di tempat yang salah.
"Hmph, yang
paling lemah, ya."
Raja tertawa
meremehkan sembari menatapku tajam.
Pendapat jujurku
soal pria ini, kenapa dia harus turun takhta di usia semuda ini?
Terlepas dari
kapasitasnya sebagai raja, dia masih berada di usia emas dan sangat sanggup
untuk bekerja keras.
Bagaimanapun
juga, lawan-lawanku ini hanyalah bocah-bocah yang tidak tahu sopan santun.
Meski tidak perlu
sampai marah besar, aku juga tak merasa perlu untuk bersikap merendah kepada
mereka.
"Perkenalan
yang sangat berharga, aku sungguh tersentuh. Sayangnya, tidak seperti kalian
yang banyak waktu luang, aku ini orang yang sibuk. Aku ingin lelucon ini segera
diselesaikan."
Keheningan
sejenak menyelimuti setelah saran sangat konstruktif yang kulontarkan itu, dan
sedetik kemudian, ruang takhta dipenuhi dengan raungan amarah.
Rose yang
berdiri di sebelahku menutupi wajah dengan telapak tangan kanannya dan menghela
napas panjang. Asal tahu saja, sikapmu yang terlihat sangat muak itu bahkan
bisa melukai hatiku, lho.
"Sungguh
lancang di hadapan Yang Mulia!! Tidak bisa dimaafkan!"
Salah
seorang menteri berteriak,
"Apa
yang sedang dilakukan oleh para Pengawal Kerajaan!!"
Pria
paruh baya berpakaian pendeta yang tadi memperkenalkan kami para Royal Guard,
melengking histeris dengan wajah memerah bagai gurita rebus.
Pria
bertubuh besar berambut pirang dengan cambang sangat panjang, yang tampaknya
merupakan komandan dari kesatria yang disebut Pengawal Kerajaan itu, melirik
sekilas ke arah raja.
"Yang
Mulia, apakah Anda mengizinkannya?"
Ia
bertanya dengan penuh hormat sembari meletakkan tangannya di dada.
"Tidak
masalah. Ini hiburan yang bagus. Lakukan dengan seluruh kekuatanmu,
Geralt!"
Raja
memajukan tubuhnya dan menatapku dengan mata yang dipenuhi rasa penasaran
layaknya orang usil.
Pria
besar bercambang panjang itu menghunuskan pedang dari sarungnya lalu
mengarahkan ujung pedang itu padaku.
Oh.
Dilihat dari gerakannya saja, sepertinya dia memiliki kekuatan yang setara
dengan Zack.
Artinya, dia
masih dalam tahap perkembangan.
Dia sama sekali
belum mencapai ranahku maupun Arnold.
"Kai, tolong
jangan sampai terluka—"
"Aku
mengerti."
Aku menggunakan
tangan kananku untuk menahan Rose yang terus memberiku peringatan dengan wajah
yang dipenuhi warna kepanikan tak biasa.
Lagipula lawanku
adalah orang yang belum matang.
Tentu saja, aku
akan menahan diri dengan baik.
Kukira dia akan
langsung menyerangku sama seperti sang Kaisar Pedang atau Zack, tapi,
"..."
Dia sama sekali
tidak bergerak dan hanya diam bersiap dengan pedangnya, sementara keringat
mengucur deras bagai air terjun hingga menetes ke lantai.
"Komandan
Geralt?"
Di tengah
suara-suara keraguan yang timbul dari para ksatria,
"Sebaiknya
Anda hentikan saja sampai di situ. Tindakan itu kekanak-kanakan lho."
Pria budiman
berambut putih, Isaac Giezdoor, terus menatapku sembari membujuk Komandan
Geralt untuk mengurungkan niat tersebut seolah sedang menasihati.
"Benar juga,
ya. Orang tak kompeten semacam itu memang tidak pantas untuk dihajar langsung
oleh Komandan. Lagipula, kalau beliau melakukan hal itu, nama baik Yang Mulia
Rose akan tercoreng."
"Benar.
Untuk kelancangannya pada Yang Mulia, biar dia membayarnya nanti sebagai
penalti dalam Pemilihan Raja."
"Meski dia
itu orang tidak berguna yang sombong, menyiksa orang lemah tanpa alasan tentu
bukan niat asli Komandan. Memang pantas jadi Komandan kita!"
Suara-suara yang
menyetujui dan memuji pendapat Isaac bergema.
Geralt
menyarungkan pedangnya dengan wajah pucat pasi bak mayat, lalu menundukkan
kepalanya kepada raja tanpa bergerak sedikit pun.
"Menarik.
Benar-benar sangat menarik."
Raja bergumam
sembari menatap Geralt yang masih menundukkan kepalanya hingga saat ini.
Beliau tertawa
seolah-olah itu sangat lucu, namun senyumnya tiba-tiba menghilang dan ia
bangkit dari takhtanya.
"Kalau
begitu, mari kita lanjutkan pembahasannya. Ini mengenai wilayah spesifik kalian. Gilbert akan mendapatkan wilayah
barat, Westland. Louise—wilayah selatan, Thousand."
Raja
memotong kalimatnya di sana, lalu menarik sudut bibirnya dan menyeringai.
Sejujurnya,
hal itu hanya menimbulkan rasa merinding.
Rose
sepertinya merasakan hal yang sama, wajahnya terlihat menegang.
"Rosemary
akan mendapatkan ujung timur—East End."
Keheningan
tercipta sesaat. Lalu, berbagai macam kata saling bersahutan memenuhi ruang
takhta.
"Yang
Mulia, sedari awal wilayah East End sama sekali tidak memiliki rakyat! Kalau
begitu, bukankah tidak mungkin untuk mengembangkannya!?"
Rose
berteriak dengan wajah pucat. Dia benar. East End adalah wilayah paling ujung
yang berada lebih jauh ke timur dari kampung halamanku, Lamur.
Secara
harfiah, itu adalah wilayah paling ujung di timur.
Wilayah itu
dipenuhi padang gurun dan hutan lebat, jangankan rakyat, yang ada di sana
hanyalah monster.
Bahkan,
masih dipertanyakan apakah tempat itu layak disebut sebagai wilayah Kerajaan
Amelia.
"Rose, ini
adalah handicap. Kau pasti sangat paham makna dari kata ini, kan?"
"..."
Kepada Rose yang
menggertakkan gigi gerahamnya, raja memamerkan senyum jahatnya lalu berkata,
"Jangan
khawatir. Aku jamin penilaiannya akan dilakukan dengan adil dan terbuka tanpa
melibatkan perasaan pribadi. Itu saja. Kalian boleh bubar!"
Raja pun langsung
meninggalkan ruangan.
Para menteri
penting dan ksatria lainnya juga beranjak keluar dari ruang takhta sembari
melemparkan tatapan iba kepada Rose.
Tentu saja
begitu. Royal Guard miliknya adalah orang tak berguna sepertiku yang
disebut-sebut sebagai yang paling lemah, dan terlebih lagi, dia baru saja
menerima penalti yang luar biasa besar dalam kompetisi Pemilihan Raja ini.
Apa jangan-jangan
ini semua gara-gara sikap dan ucapanku tadi?
Kalau begitu, aku
sudah melakukan hal buruk.
Namun, mengingat
posisi sulit Rose saat ini, handicap sebesar ini harusnya sudah masuk
dalam perkiraan sejak awal.
Mau tak mau dia
harus bertahan melaluinya.
"Tidak
ada gunanya terus bersedih. Ayo kita pergi juga."
Bagaimanapun
juga, kita harus mengunjungi wilayah East End itu setidaknya sekali.
"Iya."
Rose
mulai melangkah dengan bahu yang merosot lemas, namun remaja tampan berambut
hitam, sang Sage—Satoru Mizoguchi berjalan mendekatinya.
"Sudah
kubilang, kan. Kau mengalami hal ini karena menolak tawaranku, Rose!"
Ia
melontarkan hal tidak masuk akal seperti itu dengan gembira.
"Aku
sama sekali tidak menyesal menjadikan Kai sebagai Royal Guard-ku."
"Tapi
sepertinya, karena hal itu kekalahanmu dalam kompetisi ini menjadi semakin
jelas?"
Sage Satoru
mengalihkan pandangannya kepadaku, lalu bertanya kepada Rose seolah sedang
meremehkannya.
"Itu adalah
perbedaan pendapat. Aku sama sekali tidak berpikir bahwa kekalahanku sudah
semakin jelas."
"Apa-apan
itu, kau pikir orang seperti dia bisa menang melawanku?"
Sage Satoru
memicingkan matanya sembari terus menatap tajam ke arahku.
Pasti rasa
cemburunya bangkit karena dia menyukai Rose.
Apa dia cuma anak
kecil yang suka tantrum?
Tampaknya dia
punya sifat yang luar biasa merepotkan.
Yah, wajar saja
untuk anak seusianya yang sedang berada di masa pubertas, kurasa di sini aku
harus menghadapi dirinya dengan sikap yang lebih dewasa.
"Kau tak
perlu menunjukkan rasa permusuhan sebesar itu padaku. Aku sama sekali tidak
tertarik pada Rose sebagai lawan jenis. Aku juga tidak akan mengganggu usaha
pendekatanmu, kok."
Lagipula, aku
tidak cukup muda untuk merasakan hasrat pada anak yang seratus ribu tahun lebih
muda dariku.
"—Gh!?"
Aku menepuk pelan
bahu kanan Sage Satoru yang seketika wajahnya memerah padam dan mulutnya
megap-megap, lalu berkata,
"Perasaan
mentah semacam itu muncul karena kau masih muda. Berjuanglah, Nak!"
Aku merangkai
kata-kata penyemangat sembari tersenyum lebar kepadanya.
"K-kau,
j-jangan besar kepala, ya!"
Sage Satoru
melontarkan kata-kata perpisahan itu lalu lari terbirit-birit sembari
tergagap-gagap dengan hebatnya.
Hmmm, karena dia
tergabung dalam Party Pahlawan, kukira dia adalah bajingan berdarah
dingin.
Tapi dari
penampilannya, dia hanyalah anak-anak biasa. Mungkin saja dia sekadar
ikut-ikutan saja seperti halnya Rena atau Keith.
"Ayo
pergi."
"..."
Alih-alih
menjawab ajakanku, Rose malah balas menatap tajam ke arahku dengan matanya yang
melotot kesal.
"Ada
apa?"
"Bukan
apa-apa!"
Meski sedikit
keheranan melihat Rose yang mulai berjalan pergi sembari menggembungkan
pipinya, aku pun ikut melangkah meninggalkan ruang takhta.
◇◆◇
Setelah kembali
ke penginapan, aku dan Rose pergi menuju tujuan dengan menunggangi punggung
Phoenix. Tempat yang kami capai hanya dalam beberapa menit adalah—.
"Tempat ini
benar-benar tidak ada apa pun, ya..."
Pemandangannya
terbagi menjadi dua bagian. Satu bagian berupa padang gurun yang luas, dan yang
lainnya adalah hutan lebat.
Memang benar
tempat seperti ini bukanlah wilayah yang bisa ditinggali dengan mudah.
Orang yang mau
tinggal di sini hanyalah bocah yang sangat tergila-gila dengan kelangsungan
hidup ekstrem, atau mereka yang memiliki keadaan mendesak untuk melakukannya.
Tampaknya raja
itu benar-benar berniat membiarkan Rose mengelola wilayah yang pada
kenyataannya tidak memiliki rakyat sama sekali ini.
Jika dipikir
secara logis, orang pasti akan menganggap bahwa raja sangat membenci Rose.
Seharusnya aku
juga berpikiran begitu, namun melihat interaksi keduanya tadi, kemungkinannya
tidaklah begitu tinggi.
Pertama, jika
raja memang tidak ingin menyerahkan takhta kepada Rose, beliau pasti akan
menyerahkan penilaian kepada menteri penting lainnya, dan bukan sang Perdana
Menteri.
Kemungkinan besar
alasan beliau memilih Perdana Menteri, selain karena pria itu bisa memberikan
penilaian yang adil dan terbuka, adalah karena tak seorang pun berani menunjuk
adanya kecurangan yang dilakukan oleh pria tersebut.
"Kalau
begitu, pertama-tama kita harus mengamankan rakyat, ya."
"Kau bisa
dengan mudah bilang mengamankan rakyat, tapi apa kau punya petunjuk?"
"Tidak,
tidak sama sekali. Lagipula, mana mungkin kita bisa dengan mudah menemukan
orang gila yang mau pindah ke daerah pedalaman tak berpenghuni seperti
ini."
"Memang
benar, tapi... Kalau begitu, menurutmu apa yang harus kita lakukan, Kai?"
"Bukankah
kita baru akan memikirkannya mulai dari sekarang?"
Tugas Rose di
dalam permainan ini adalah mengamankan rakyat dalam jumlah minimum. Hal itu
tidak perlu diragukan lagi.
Namun, ia masih
belum menemukan hal yang paling dibutuhkan untuk memecahkan tugas tersebut.
Fakta bahwa ia
menanyakan hal-hal dalam percakapan kami ini merupakan buktinya.
Jika demikian,
hal yang bisa kulakukan saat ini sangatlah terbatas.
Lebih tepatnya,
aku mungkin hanya perlu mempersiapkan segalanya dengan matang untuk
berjaga-jaga saat Rose menyadari hal tersebut.
"Ayo kita
kembali ke penginapan di ibu kota kerajaan dan menyusun strategi."
Menanggapi
jawabanku, Rose menghela napas panjang sebelum akhirnya melontarkan kalimat
itu.
◇◆◇
Aroma menggugah
selera dari daging ayam yang tengah dimasak tercium.
Menggunakan alat
masak yang disebut sumpit panjang, dengan hati-hati kuangkat daging itu dari
dalam minyak dan meletakkannya di atas jaring kawat logam tipis.
Kai Heineman,
pemuda berambut abu-abu yang sedari tadi memperhatikan dari samping, kini
sedang mencicipi hidangan hangat bernama "Karaage" yang baru saja
dibuat olehku, Ash.
"Bagaimana...
rasanya?"
"Hmmm, tidak
buruk, kok."
"Syukurlah!"
Tanpa sadar aku
mengepalkan tanganku kegirangan.
Kepala koki
penginapan yang bertubuh raksasa dan berkumis tipis itu melempar karaage ke
dalam mulutnya. Begitu mengunyahnya, matanya terbelalak lebar.
"Tuan, kalau
ada tempat di ibu kota yang menyajikan hidangan selezat ini, itu pasti cuma di
istana. Dan fakta bahwa Nona Ash yang baru belajar masak beberapa minggu bisa
membuatnya..."
Dia
bergumam pelan dengan nada merendahkan diri sendiri.
"Yah,
resep karaage itu adalah hasil penyempurnaanku selama bertahun-tahun. Repot
juga kalau koki pemula bisa menirunya dengan mudah."
Kai
mengangkat bahunya.
"Bertahun-tahun
bagaimana? Tuan kan baru belasan tahun? Hidangan ini bukan sesuatu yang bisa
diciptakan hanya dalam beberapa tahun, lho. Jangan-jangan Tuan ini sebenarnya
ras Elf, ya?"
"Tentu saja
bukan. Aku ini manusia tulen. Dari dulu sampai sekarang."
"Kalau
begitu, kenyataan ini malah semakin sulit kupercaya."
Kai mengalihkan
pandangannya dari kepala koki yang sedang asyik melahap karaage. Ia kemudian
menatap ke arahku.
"Hanya
sebatas lumayan. Kalau ada resepnya, wajar saja rasa minimumnya bisa
terjamin."
"Cara
menggunakan pisaumu masih terlalu amatir sehingga merusak rasa gurih dagingnya
secara drastis. Bumbu rendamannya juga tidak merata, jadi rasanya
belang-belang. Intinya, kamu masih butuh banyak latihan."
"U-Uhm,
aku akan berjuang!"
Aku
menggenggam sumpit panjangku erat-erat, membulatkan tekadku kembali.
"Kalian
ini... sebenarnya mau jadi apa, sih?"
Melihat Kai dan
aku, kepala koki menghela napas panjang dengan tatapan tak habis pikir.
Sore harinya, aku
dan Kai berencana pergi ke pasar sentral ibu kota untuk mencari bahan masakan.
Karena ada sedikit waktu luang, aku kembali ke kamarku.
Tepat saat aku
duduk di atas kasur, sebuah suara menggema di dalam kepalaku.
"Ash, apa
kamu berencana menjadi seorang koki?"
Suara
yang terdengar sedikit meremehkan itu terngiang di benakku.
Suara ini
mulai terdengar tidak lama setelah aku bepergian bersama Kai. Awalnya samar,
namun berangsur-angsur menjadi jelas hingga kami bisa mengobrol seperti
sekarang.
"Hmm, boleh
juga, sih."
Awalnya, aku
tertarik karena masakan Kai sangat enak. Karena tidak ada kerjaan, aku minta
diajari dan ternyata rasanya jauh lebih menyenangkan dari bayanganku, aku jadi
sangat ketagihan.
"..."
Karena teman
serumah di kepalaku itu tiba-tiba terdiam, aku pun bertanya.
"Haju? Ada
apa?"
Aku memiringkan
kepalaku sedikit saat menanyakan maksudnya.
Sama sepertiku,
teman menginap di benakku ini juga telah melupakan hampir segalanya. Namun, dia
hanya mengingat satu kata, yaitu Haju.
Sejak saat itu,
aku terus memanggilnya Haju.
"Bukan
apa-apa. Lebih baik kamu jangan terlalu lengah di dekat pria itu."
Entah mengapa
Haju sepertinya tidak menyukai Kai. Hampir setiap hari dia memperingatkanku
untuk menjauh dari Kai.
"Tidak
apa-apa kok. Kai itu orang yang baik."
"Justru
itu yang paling tidak bisa kupercaya."
Setelah
menggumam dengan nada merajuk, Haju langsung terdiam dan tidak berbicara lagi.
―Pasar sentral
ibu kota Aramgard, ibu kota Kerajaan Amelia.
Menurut Kai,
tempat ini adalah dapurnya Kerajaan Amelia. Katanya, sebagian besar bahan
makanan bisa ditemukan di sini.
"Ramai
sekali orangnya!"
Berbanding
terbalik denganku yang berseru kagum, suara Haju kembali bergema di kepalaku.
"Bau manusia
yang menyengat ini membuatku muak."
Nada suaranya
terdengar sangat bersungut-sungut. Haju memang sangat membenci manusia, dia
selalu saja menjelek-jelekkan mereka.
Mungkin saja,
alasannya membenci Kai juga berakar dari sifat Kai yang sangat kental dengan
sisi manusianya.
"Bangunan
apa itu!?"
Sebuah bangunan
belah ketupat berlantai lima menjulang tinggi. Bangunan raksasa seperti itu
tidaklah banyak, bahkan di ibu kota ini sekalipun.
"Itu tempat
pelelangan. Kudengar, mereka menentukan harga daging, hasil laut, dan sayuran
dari seluruh penjuru ibu kota di sana, lalu menjualnya kepada para
pedagang."
"Kalau
begitu, secara tidak langsung harga barang-barang di ibu kota ini ditentukan di
sana, dong?"
"Bisa
dibilang begitu. Tentu saja, para pedagang menambahkan keuntungan dari harga
lelang sebelum menjualnya kembali."
"Harga
pastinya berbeda-beda di setiap toko, tapi kalau bicara soal kisaran harga,
ucapanmu itu benar."
Kai menjawabku
tanpa menunjukkan raut wajah kesal sama sekali seperti biasanya. Tiap kali aku
bertanya padanya seperti ini, dia hampir selalu punya jawabannya.
"Itu
artinya, bahan makanan yang kita cari ada dijual di toko-toko sekitar
sana?"
"Ya,
toko-toko di sekitar sana menjual bahan segar hasil lelang, atau rumah makan
yang memasak bahan-bahan tersebut."
Setelah menjawab,
Kai berjalan menuju deretan toko di samping gedung besar itu.
Kami telah
selesai membeli bahan makanan yang dibutuhkan. Sekarang, aku dan Kai sedang melangkah menuju
sebuah toko.
Ini
adalah perwujudan dari kutipan Kai—'Untuk membuat masakan yang enak, kau harus
memakan makanan yang enak pula!'
Tempat
itu adalah sebuah rumah makan kecil yang sudah reyot.
"Hmm,
rasanya sedikit hambar, tapi ini lumayan juga."
Meski
kami belum lama saling kenal, ini mungkin pertama kalinya aku melihat Kai
memuji sebuah masakan secara langsung.
"Iya,
rasanya enak sekali!"
Daging
ini meleleh begitu masuk ke mulut, dipadukan dengan bumbu yang tidak merusak
rasa manis asli dagingnya. Selain
itu, ini pasti....
"Bumbu
rahasianya stroberi, ya?"
Benar. Ini adalah
stroberi.
Buah merah yang
sebelumnya kami kumpulkan untuk membuat hidangan penutup. Namun, meski Kai
menyebutnya begitu, kepala koki dan yang lainnya menyebut buah itu 'Sekka'.
Kai sering kali
menggunakan nama bahan makanan yang berbeda dari panggilan para koki. Aku sudah
lama memikirkannya, apakah ada alasan tertentu di balik itu?
"Kai, kenapa
kamu..."
Tepat saat aku
hendak menanyakan alasannya, terdengar suara pecahan piring.
"Ada
serangga di dalam masakannya!"
Seorang
pria membentak dengan keras. Saat aku menoleh ke arah sumber suara, mataku
menangkap sebuah meja yang terbalik.
Masakan
dan pecahan piring berserakan di lantai. Di dekatnya, seorang pria muda
berambut emas dengan gaya eksentrik dan pakaian hijau mewah tampak duduk
bersandar angkuh di kursi.
"Panggil
manajer dan kepala koki tempat ini sekarang juga!"
Pria bergaya
pendekar pedang yang sepertinya adalah pengawalnya berteriak nyaring. Tangan
kanannya mencengkeram serangga hitam besar yang mengilap dan berlumuran saus
makanan.
"B-Baik!"
Seorang wanita
yang tampaknya seorang pelayan berlari panik ke bagian dalam rumah makan.
Tak lama
kemudian, seorang pria berwajah lembut yang merupakan manajer muncul. Ia datang
bersama seorang gadis berambut ungu potongan bob dengan mata sanpaku yang
mengenakan seragam koki putih.
Sang manajer
langsung meminta maaf berulang kali kepada pria bergaya bangsawan yang berambut
eksentrik itu. Meski gadis bermata sanpaku itu ikut menundukkan kepala, ia
tampak terus cemberut sejak awal.
"Berengsek!
Pendidikan macam apa yang kau berikan pada para kokimu sampai berani menyajikan
makanan berserangga pada pelanggan!?"
"Kau
yang bertugas mendidik mereka, kan!? Bagaimana kau akan mempertanggungjawabkan ini, hah!?"
Pria berwajah
seram dengan luka di dahi itu membentak penuh intimidasi, urat-urat menonjol di
pelipisnya.
"M-Mohon
maaf sebesar-besarnya. Ini pasti ada sebuah kesalahan..."
"Kesalahan?
Jadi kedai ini biasa menghidangkan serangga secara tidak sengaja?"
Bangsawan
berambut aneh yang duduk di kursi itu bertanya sambil menatap tajam.
"T-Tidak,
bukan begitu maksud saya!"
Sang
manajer membela diri dengan wajah putus asa. Aku yang tak paham situasi hanya
bisa mematung, hingga percakapan pelanggan lain di sekitarku mulai terdengar
olehku.
(Hei,
lambang itu, bukankah itu lambang Keluarga Marquis Obtsu?)
(Benar.
Dengan gaya rambut norak begitu, sudah pasti dia itu Feesez, calon penerus
Keluarga Obtsu.)
(Jangan-jangan
ini tentang desas-desus yang beredar itu?)
(Mungkin saja.
Kepala koki tempat ini akhirnya jadi incaran juga. Tatapan mata kepala koki itu
memang tajam, tapi dia lumayan cantik, sih.)
(Sial! Kalau
rumor itu benar, kepala koki itu juga akan...)
(Benar-benar
bikin mual!)
Meski masih
samar, aku mulai paham apa yang sedang direncanakan oleh pria berambut aneh itu
beserta komplotannya.
"Menjijikkan.
Sampai kapan pun kelakuan manusia itu selalu membuatku mau muntah."
Suara
Haju yang terdengar seperti meludah bergema di kepalaku. Aku setuju dengannya.
Gadis itu
pasti memiliki seseorang yang ia sukai. Membayangkan hati dan tubuhnya
direnggut serta diinjak-injak secara paksa, sungguh sebuah kenyataan yang tidak
bisa kumaafkan.
Oleh karena
itu....
(Biar aku
yang...)
Tepat saat aku
hendak beranjak dari kursiku, Kai berdiri mendahuluiku.
"Ash, tunggu
di sini sebentar."
Setelah
memberikan perintah secara sepihak kepadaku, Kai melangkah mendekati Feesez,
pemuda berambut eksentrik itu.
"Emi, ayahmu
memiliki utang yang sangat besar kepadaku. Ditambah lagi, karena kecerobohanmu
kali ini, rumah makan ini akan dihancurkan."
"Dengan
begini, pada dasarnya kamu sudah tidak mungkin bisa melunasi utang itu lagi.
Dan kalau kamu tidak bisa membayar, hidupmu hancur. Ya, jika terus begini,
sih."
Seolah sudah
yakin akan kemenangannya, Feesez mengembangkan lubang hidungnya dan berbicara
dengan nada menyanyi yang penuh jebakan.
Emi, gadis
bermata sanpaku itu, mengumpulkan air mata di sudut matanya karena marah dan
frustrasi. Sambil menahan tubuhnya yang gemetar, dia mengucapkan kata-kata
kekalahan.
"Kalau aku
menuruti syaratmu, apa rumah makan ini akan selamat?"
"Tentu saja.
Sekarang, ikut aku ke kediamanku. Kamu adalah milikku."
Saat Feesez
bangkit dari kursinya dengan ekspresi penuh kepuasan, sebuah suara memotongnya.
"Itu tidak
perlu."
Kai mencengkeram
kerah baju Feesez dan mengangkatnya dengan mudah.
"S-Siapa
kau!? Berengsek! L-Lepaskan!"
Kai
melempar Feesez yang meronta-ronta bagai serangga itu ke lantai, lalu
menatapnya rendah dengan pandangan sedingin es.
"Hiiak!?"
Tubuh
Feesez tersentak kaget dan dia memekik kecil, namun wajahnya seketika memerah
karena rasa malu.
"Apa
yang kalian lihat!? Cepat bunuh orang kurang ajar ini!"
"Siap!"
Tiga
pengawal bertubuh kekar langsung mengepung Kai dan mengarahkan ujung pedang
mereka. Perbedaan postur tubuh mereka sangat jauh, lagipula lawan membawa
senjata.
Kai tak mungkin
menang. Kalau sampai salah langkah...
(Tidak boleh!)
Tubuhku bergerak
sendiri begitu membayangkan skenario terburuk. Aku baru saja akan melompat dari
kursi dan berlari menuju Kai, namun langkahku terhenti.
"Hah?"
Terdengar suara
konyol dari pendekar berambut mohawk. Ujung tatapannya terpaku pada kedua
lengannya sendiri yang masih menggenggam pedang panjang, namun kini tertekuk ke
arah yang tidak masuk akal.
Kai menjegal
kakinya, membuat tubuh pria itu berputar beberapa kali di udara sebelum
menghantam lantai dengan wajah lebih dulu.
"..."
Semua
orang mematung sejenak, memandangi pendekar mohawk yang kini terkapar dan
mengejang pelan.
"Hati-hati!
Orang ini memakai sihir aneh!"
Pendekar
pedang bergigi tonggos menjerit dengan wajah putus asa sambil mengambil jarak
dari Kai.
"Ini bukan
sihir, tahu."
"Hah?"
Pendekar tonggos
itu menolehkan kepalanya mencari sumber suara. Pandangannya pun seketika
bertemu dengan mata Kai yang entah sejak kapan sudah berada di belakangnya.
"―!?"
Saat pendekar
tonggos itu mengeluarkan jeritan tertahan, Kai menendangnya dengan santai.
Tubuh si tonggos itu berguling lurus lalu punggungnya menghantam dinding, tak
sadarkan diri dengan mulut berbusa.
"Hiiiiieee!"
Tanpa memedulikan
Feesez selaku majikannya lagi, pendekar berwajah seram yang memiliki luka di
dahi itu mengambil langkah seribu.
Namun, tangan
kiri Kai sudah lebih dulu mencengkeram belakang kepalanya dan mengangkat pria
itu ke udara.
"T-Tolong..."
Tubuh si pria
berluka dahi itu gemetar hebat. Air mata dan ingus mengalir deras di wajahnya.
"Siapa yang
memasukkan serangga ke piring itu?"
Kai bertanya
dengan nada suara yang mengerikan. Pria itu melirik ke arah Feesez dan balas
berteriak.
"A-Aku tidak
tahu!"
Seketika, lengan
kanan pria itu patah dan tertekuk ke arah yang tidak wajar. Ia pun menjerit
histeris.
"Aku yang
memasukkannya! A-Aku terpaksa melakukannya karena diperintah oleh Tuan
Feesez!"
Ia menjawab
pertanyaan itu dengan mudahnya.
"B-Berengsek
kau!"
Feesez meneriaki
pria itu, namun Kai membuatnya bungkam hanya dengan satu tatapan tajam.
"Mana
buktinya?"
Kai kembali
mendesak pria berluka dahi itu.
"Ini
buktinya!"
Menggunakan
tangan kirinya yang masih utuh, pendekar pedang itu mengeluarkan sebuah botol
kecil berisi banyak serangga dari saku dada dan menyerahkannya pada Kai.
"Jadi kau
memasukkan serangga ini ke dalam piring, ya?"
"Benar! Aku
ini cuma disuruh! Aku tidak salah! Tolong, ampuni aku!"
"Ya, urusan
yang satu itu kuanggap impas."
"K-Kalau
begitu, biarkan aku pergi..."
"Tentu saja
tidak."
"K-Kenapa!?
Tadi kau bilang akan menganggapnya impas..."
"Yang
kuanggap impas hanyalah soal memasukkan serangga ke piring. Namun, kau telah
mengarahkan pedang dengan niat untuk membunuhku."
"Sematang
apa pun kau, selama kau memegang pedang dengan niat membunuh, kau adalah
seorang pendekar. Kau harus menanggung akibat sebagai pihak yang kalah."
Kai berbisik
pelan di telinga pria itu, lalu mengepalkan tangan kanan sambil menarik sikunya
ke belakang.
"T-Tidak...
Jangan! Tidaaaaaak!"
Diiringi
jeritan penuh keputusasaan dari pria yang berusaha melarikan diri itu, seketika
muncul banyak cekungan seukuran kepalan tangan di sekujur tubuhnya.
"..."
Pria
berluka dahi itu dibuang ke lantai dalam kondisi mengejang-ngejang seperti
katak yang terinjak.
Kai lalu
mengambil botol berisi serangga yang saling merayap menggeliat itu. Ia
melangkah menghampiri Feesez yang kini tubuhnya bergetar hebat tiada henti.
"Kau sudah
mencampurnya ke dalam makanan. Berarti, serangga ini adalah bahan masakan spesial untukmu, kan? Kalau
begitu, habiskan semua serangga yang kau bawa ini."
"Dengan
begitu, keributan konyol kali ini akan kuanggap selesai."
Dengan
senyum lebar dan nada yang tidak menerima penolakan, Kai memberikan perintah
yang sama mengerikannya dengan mimpi buruk.
"J-Jangan
bercanda! Mana mungkin aku memakan benda itu! Memangnya kau pikir aku ini
siapa!? Aku adalah Feesez Obtsu, calon penerus Keluarga Obtsu!"
Sesuai
dugaan, Feesez melontarkan penolakan keras. Namun, Kai sama sekali tidak memedulikan
ucapannya.
Kai mengambil
seekor serangga dari botol, lalu mencengkeram rahang Feesez dengan kuat.
"Maaf saja,
aku tidak butuh persetujuanmu."
Setelah
mengatakannya, Kai langsung melemparkan serangga itu ke dalam mulut Feesez.
Makan
serangga hidup-hidup. Hampir tidak ada pemandangan lain yang semengerikan ini.
Feesez
yang baru saja menelan serangga terakhirnya, akhirnya jatuh pingsan dengan mata
memutih. Para pelanggan di sekitar yang menyaksikan semuanya tampak berwajah
pucat pasi, menatap pemandangan bagai mimpi buruk itu tanpa terkecuali.
"Orang
itu... sudah pasti gila."
Haju
bersuara dengan nada tertahan, menggema di dalam kepalaku.
Kupikir
wajar saja dia berkata begitu setelah melihat Kai yang dengan senyum jahat
melempar serangga satu per satu ke mulut Feesez.
Lagipula, itu
sama sekali bukan perbuatan baik. Itu adalah sebuah kejahatan murni yang
dilakukan tanpa ragu sedikit pun.
Aku sangat yakin.
Kai jelas-jelas hidup dengan akal sehat yang berbeda dari kita.
Meski begitu, aku
sama sekali tak punya niat menyalahkan Kai. Jangankan itu, setitik perasaan
negatif pun tak bisa kurasakan terhadapnya.
Sebaliknya, aku
justru merasakan kekaguman yang kuat pada Kai. Dia menghukum penjahat kelas
teri yang menyedihkan itu dan memastikan mereka menerima ganjaran atas
perbuatannya.
"Hmm,
sekarang tinggal membereskannya."
Kai mengeluarkan
sebuah botol kecil berisi cairan merah dari balik bajunya. Ia mendekati
pendekar berluka dahi yang masih kejang-kejang itu dan menyiramkan cairannya.
"Ugh!?"
Dalam sekejap,
luka sang pendekar yang seharusnya berstatus kritis itu perlahan sembuh.
Bukan,
menyebutnya 'sembuh' mungkin kurang tepat. Tidak berlebihan jika menyebut hal
itu sebagai 'perbaikan'. Namun, perbaikan seperti itu adalah hal yang hanya ada
di dalam dongeng....
"Guh!"
Rasa
sakit kepala yang hebat tiba-tiba menyerang, membuatku mengerang tertahan dan
langsung terduduk jongkok.
"Ash!
Apa kamu baik-baik saja?"
Suara
Haju terdengar khawatir. Saat aku mengangkat tangan kananku dan kembali
berdiri, Kai kebetulan baru saja selesai meneteskan Healing Potion pada
ketiga pengawal itu.
Kai
menepuk pipi pendekar berluka dahi itu dengan telapak tangan kanannya untuk
membangunkannya. Dengan mata yang masih mengantuk, si pendekar menatap Kai
sekilas.
"Hiiiiieee!"
Jeritan
melengking keluar dari mulutnya.
"Berisik.
Diamlah."
Mendengar
suara yang tak memberi ruang bantahan itu, si pendekar buru-buru menutup mulut
dengan kedua tangannya.
"Bawa orang
bodoh itu dan teman-temanmu, lalu segera pergi dari sini. Tapi tentu saja,
tinggalkan 50.000 Oal di sini untuk biaya perbaikan kekacauan ini serta tagihan
makanan."
"Tapi, kau
sendiri yang menghancurkannya, kan..."
Pendekar itu
melirik ke arah dinding yang hancur akibat salah satu temannya yang terhempas
tadi, lalu menunjukkannya dengan takut-takut.
"Hmm?
Kau bilang sesuatu barusan?"
Kai
bertanya dengan senyum lebar yang mengerikan.
"Hiiak!
T-Tidak, bukan apa-apa! Kami
akan bayar dan segera pergi!"
Ia merogoh 50.000
Oal dari kantong kain di dadanya dan meletakkannya di atas meja terdekat. Ia
lalu membawa Feesez dan dua rekannya yang lain, kemudian melarikan diri keluar
kedai.
Kai kembali ke
tempat dudukku dan melanjutkan makannya.
Setelah selesai
makan dan membayar tagihan, kami pun keluar dari rumah makan itu. Tepat saat
kami kembali dan tiba di depan penginapan, Kai mendadak menoleh ke belakang.
"Ada urusan
denganku?"
Kai bertanya
kepada gadis bermata sanpaku yang sejak tadi hanya memunculkan kepalanya dari
gedung sebelah untuk mengintip kami.
"Hawa!"
Emi, si gadis
bermata sanpaku, panik dan buru-buru menarik kepalanya kembali. Kai mengangkat
bahu lalu berniat masuk ke dalam gedung penginapan.
Namun....
"Kumohon!
Tolong pinjamkan aku kekuatanmu!"
Emi melompat
keluar dari balik bayangan gedung sebelah, lalu menunduk dalam-dalam untuk
memohon kepada Kai.
◇◆◇
―Kediaman Marquis
Obtsu.
Di tengah ruangan
mewah rumah itu, ada dua pria yang duduk berhadapan di atas sofa. Agak jauh
dari mereka, berdiri seorang pria kekar berkepala plontos dengan bibir tebal.
"Jadi, kau
dan para pengawalmu dihabisi oleh bocah berambut abu-abu itu?"
Seorang pria
berwajah besar dengan filtrum sangat panjang bertanya sambil mencubit kumisnya
yang berbentuk aneh, menuntut jawaban dari Feesez yang pipi kirinya masih
mengejang.
"Maafkan
aku, Ayah. Awalnya semuanya berjalan lancar. Tapi orang itu tiba-tiba muncul
dan mengacaukan segalanya!"
Marquis Obtsu
mencondongkan tubuhnya ke depan dan menepuk pundak Feesez yang terisak penuh
rasa frustrasi.
"Ya, ya, kau
tidak salah. Yang salah adalah bocah berambut abu-abu itu dan gadis jalang
bernama Emi."
"Memberi
hukuman pada si rambut abu-abu itu sudah pasti, tapi wanita jalang itu juga
perlu dihabisi. Itulah bayaran yang pantas bagi orang-orang bodoh yang berani
menentang kita, keluarga berdarah biru yang mulia. Kau paham, kan?"
Marquis
menasihatinya perlahan.
"Tentu saja,
Ayah! Lagipula wanita rendahan seperti dia bisa dicari di mana saja, dan pasti
bakal cepat hancur kalau kumainkan!"
"Tunjukkan
pada wanita jalang keparat itu neraka yang sesungguhnya!"
Mendengar Feesez
yang mengiyakan dengan napas memburu, Marquis Obtsu mengangguk puas.
"Yaen,
waktunya bekerja! Masukkan gadis jalang bernama Emi dan keluarganya ke dalam
pelelangan yang akan kau adakan nanti!"
"Pelelangan
itu sangatlah khusus. Saya jamin barang yang masuk ke sana pada akhirnya akan
dibuang sebagai sampah. Anda tidak masalah dengan itu?"
"Aku tidak
peduli. Biarkan wanita bodoh yang berani mengkhianati kita menjadi mainan para
hidung belang di sana."
"Lalu,
bagaimana dengan hukuman untuk pemuda berambut abu-abu itu?"
"Mengingat
dia sudah repot-repot menyelamatkan gadis itu, dia pasti sangat terpikat
padanya, kan!? Kalau begitu, kirimkan saja mayat rusak gadis itu
kepadanya!"
"Begitu ya,
Anda ingin dia merasakan keputusasaan karena gagal menolong orang yang ingin
dilindunginya, lalu baru membunuhnya. Seperti biasa, Anda sungguh menakutkan,
Tuan."
"Hmph! Kau
keberatan?"
"Tentu saja
tidak. Justru itulah
Marquis kita yang agung."
"Kalau
begitu, saya memiliki rencana yang sangat bagus untuk menghukum si rambut
abu-abu. Boleh saya bergerak dengan wewenang saya sendiri?"
"Lakukan
sesukamu! Tapi ingat, aku tidak akan memaafkan kegagalan konyol!"
"Tentu
saja, Yang Mulia."
Yaen
memutar wajahnya hingga terlihat sangat menjijikkan, lalu meletakkan tangan di
dada dan membungkuk hormat.
◇◆◇
Saat ini,
di ruang tengah penginapan yang kami sewa, aku sedang mendengarkan penjelasan
dari Emi, gadis bermata sanpaku yang tadi mengejarku ke mari.
"Ben Obtsu,
pimpinan Keluarga Marquis Obtsu saat ini. Dan juga Yaen, organisasi bawah tanah
baru yang berpusat di ibu kota ini, ya."
Ringkasan
ceritanya adalah sebagai berikut.
Emi adalah
putri tunggal seorang koki yang mengelola kedai makan kecil di ibu kota ini.
Demi mempertajam kemampuannya, ia bekerja dan tinggal di restoran 'Yuragi-tei'
yang tadi.
Awal mula
masalah ini terjadi ketika Emi memenangkan perlombaan memasak di ibu kota. Saat
itulah Feesez si rambut keriting mulai merayunya.
Awalnya Emi
menolak dengan sopan, namun tak lama kemudian, kedai makan keluarganya ditipu
oleh Feesez. Keluarganya mengambil pinjaman yang membengkak karena bunga tak
masuk akal, dan berakhir dengan utang yang sangat besar.
Sejak saat
itu, rayuan Feesez mulai berubah menjadi semacam ancaman. Dan itulah yang
berujung pada insiden tadi. Singkatnya, Emi sudah diincar oleh pria yang sangat
merepotkan.
"Jika
Marquis Ben Obtsu yang menjabat saat ini ikut campur, masalahnya jadi cukup
pelik."
Rose
memberikan tanggapannya dengan wajah serius.
"Hoo,
apa dia itu orang terkenal?"
"Ya,
dia adalah salah satu tokoh penting di fraksi Pangeran Gilbert. Soal utang itu,
dia pasti sudah menekan Kementerian Kehakiman agar menjadikannya sah secara
hukum."
Sudah
kuduga. Hukum di negara ini bisa dibilang hanyalah omong kosong. Aturannya bisa
dipelintir sesuka hati oleh para bangsawan.
"Lalu?
Rose, apa yang akan kau lakukan?"
Bagaimanapun
juga, gadis ini bercita-cita menjadi raja. Repot juga kalau dia sampai takut menghadapi lawan
sekelas ini.
Namun, saat ini
Rose memulai segalanya dari nol tanpa rakyat satupun, dan ia juga tak punya
banyak waktu. Belum lagi, dia berada di posisi yang mengharuskannya meminta
dukungan dari bangsawan lain.
Masyarakat
bangsawan sangat membenci konflik di antara sesama mereka. Terutama dalam kasus
ini. Jika Rose bergerak, sangat wajar jika tindakannya dilihat sebagai campur
tangan tidak sah dari keluarga kerajaan, yang berusaha merampas hak serta
keuntungan bangsawan tingkat tinggi.
Jika dia ikut
campur tanpa pikir panjang, reputasinya pasti akan tercoreng. Dampaknya, ia
akan semakin kesulitan mendapatkan dukungan dari bangsawan lain.
Sebaliknya,
kalaupun masalah ini berhasil diselesaikan, hampir tidak ada keuntungan yang
bisa didapatkan oleh Rose.
Orang yang pintar
pasti akan menolak permintaan Emi. Namun, aku tak sudi meminjamkan kekuatanku
pada orang pintar yang cuma pandai mencari aman.
Jika Rose memilih
untuk menutup mata dan tak mau mengambil risiko dalam masalah ini....
"Tentu saja,
aku tidak bisa diam saja membiarkan utang ilegal macam itu! Aku akan segera
menghubungi Kementerian Kehakiman!"
"Di jajaran
petinggi kementerian, masih ada orang-orang yang berpihak padaku. Aku yakin
masalah ini bisa diatasi! Tidak, aku yang akan memastikannya!"
"Hmm.
Dimengerti."
Jadi dia sama
sekali tak punya niat membiarkan kasus ini begitu saja. Baguslah, jika tidak
begitu dia tidak pantas menerima bantuanku.
Namun, masalah
ini tak akan bisa diselesaikan oleh Rose sendirian. Ujung-ujungnya, akulah yang
harus turun tangan.
Permasalahannya
ada pada sejauh mana aku harus ikut campur. Kalau aku bergerak terlalu jauh,
hal itu malah akan menghambat pertumbuhan Rose. Aku harus menyusun rencananya
dengan matang.
"Kai?"
Melihatku
tenggelam dalam pikiran, Ash yang berada di sampingku mengintip wajahku dan
bertanya.
"Baiklah.
Emi, apa yang bisa kau tawarkan pada kami sebagai bayaran untuk urusan
ini?"
"Kai?
Itu kan..."
Aku
mengangkat tangan kananku untuk menghentikan Rose yang hendak menyela.
"Kami
juga akan menanggung risiko yang tidak sedikit dalam hal ini. Aku menuntut
bayaran yang setimpal."
"Jawab
pertanyaanku. Apa yang bisa kau tawarkan pada kami?"
Dunia ini
pada dasarnya berputar di atas pertukaran yang sepadan. Bantuan cuma-cuma hanya
akan membuatku muak, lagipula hal itu tak akan bisa menumbuhkan rasa saling
percaya di antara kedua belah pihak.
"Uang
300.000 Oal yang kutabung sebagai modal untuk membuka usaha di masa depan
pun... sudah kuserahkan kepada mereka. Sekarang aku sudah tidak punya apa-apa
lagi...."
Emi
menunduk, memberikan jawaban yang terdengar konyol.
"Jika
tidak ada hal sepadan yang bisa kau berikan, aku tidak bisa meminjamkan
kekuatan. Kami bukanlah pahlawan atau kesatria yang baik hati. Jika kau
mengharapkan belas kasihan cuma-cuma seperti itu, maka kau telah datang ke
tempat yang salah."
"Kai!"
Rose kembali
hendak melontarkan kata-kata kecaman, namun,
"Tuan sudah
benar. Rose, sebaiknya kau diam saja."
Asta yang duduk
di sebelahku menegur Rose dengan nada suara yang tidak membantah.
"...Sungguh,
aku benar-benar tidak punya..."
Mendengar
Emi yang meratap gemetar sambil mencengkeram celana di lututnya,
"Neng,
Guru tidak pernah sekalipun bertanya tentang apa yang bisa kau lakukan. Yang
beliau tanyakan adalah apa yang akan kau lakukan."
Zack,
yang sedari tadi melipat kedua tangan di dada dan mendengarkan dalam diam,
memberikan uluran bantuan dari samping. Padahal kalau diucapkan seperti itu, pertanyaan tersebut jadi kehilangan
maknanya.
Omong-omong,
sejak aku mulai mengajarinya, Zack jadi memanggilku dengan sebutan Guru.
Meskipun sudah
kusuruh untuk berhenti, dia tetap tidak mendengarkan, jadi aku membiarkannya
begitu saja. Ya, cara panggil pada dasarnya hanyalah simbol belaka. Itu tidak
penting.
"Zack..."
Saat kuberikan
tatapan penuh cela, Zack langsung mengalihkan pandangannya dengan panik.
"Apa yang
akan kulakukan..."
Setelah
mengulangi kata-kata itu beberapa kali,
"Aku
hanya mahir dalam hal memasak. Aku akan memasak sebagai balasannya."
Emi
memberikan jawaban seperti yang kuharapkan.
"Rose,
dia bilang ingin bergabung dengan kelompok kita. Bagus sekali, bukan? Bukankah dia rakyat pertama
kita?"
Para perajin yang
tinggal di ibu kota ini tidak berada di bawah kendali penguasa tertentu. Mereka
diizinkan untuk tinggal di ibu kota dengan membayar pajak yang tinggi kepada
negara atas kepemilikan tanah dan kegiatan bisnis yang mereka jalankan.
Intinya, mereka
adalah rakyat bebas. Selain itu, tidak ada batasan apa pun bagi para perajin
untuk secara sukarela mengabdi kepada penguasa tertentu.
Dengan kata lain,
warga ibu kota bisa saja menjadi rakyat Rose jika mereka sendiri yang
menginginkannya.
"Kai..."
Menyadari
maksudku setelah sekian lama, Rose menghela napas panjang karena jengkel sambil
menggelengkan kepala.
Nah, kalau begitu
langkah pertama adalah mengumpulkan informasi. Selama ini urusan itu kuserahkan
pada Shirou, tapi bidang keahliannya adalah spionase.
Itu tentu
berbeda dengan pengumpulan informasi dalam arti yang sebenarnya. Serahkan segala sesuatu pada ahlinya. Kita
harus mencari informan profesional di dunia ini.
Lebih lanjut
lagi, kita harus segera mengatasi situasi di mana kita masih terus diawasi ini.
Yah, para pengawas itu menyamar menjadi tamu lain di penginapan ini atau
pegawai yang baru saja masuk.
Kurang
lebih yang tidak menyadari hal ini hanyalah Rose dan Ash. Anna dan pemilik
penginapan ini bahkan sempat berkonsultasi dengannya, jadi tingkat keahlian
mereka benar-benar masih level amatir.
Sekarang
memang belum menimbulkan bahaya besar, tapi aku tidak tahu apa yang akan
terjadi ke depannya.
"Aku
sudah ada urusan. Zack, ikut aku."
"Baiklah!"
Untuk
urusan kekerasan semacam ini, Zack pasti sangat diandalkan, dan tampaknya dia
juga sudah lama tinggal di ibu kota. Dia mungkin sedikit banyak tahu
seluk-beluk dunia hitam.
Kami
sekarang berada di sebuah bangunan yang terletak di sudut barat daya ibu kota,
tempat di mana para pria berwajah garang dan menyeramkan keluar masuk.
"Mereka
itu adalah Kamado-ma Family, bawahan dari kelompok Wild Monkey yang dirumorkan.
Tapi ini cuma dari mulut ke
mulut jadi jangan terlalu diandalkan."
"Tidak
apa-apa, kalau ternyata salah ya tidak masalah. Kita tanyakan saja langsung
biar jelas."
Zack menatapku
sejenak dengan lekat,
"Hei, Guru,
kenapa kita tidak langsung mengincar Wild Monkey yang merupakan salah satu
dalang dari insiden kali ini? Kalau memang berniat menghancurkan mereka,
bukankah cara itu jauh lebih cepat?"
Dia
bertanya dengan ekspresi serius.
"Jika
kita menghancurkan Wild Monkey, dalang di balik layar bisa jadi menarik diri
dari insiden ini. Kalau
begitu, tindakan kita jadi sama sekali tidak ada artinya."
Kita harus
membiarkan bajingan-bajingan itu memicu insidennya. Hanya dengan begitu, kita
bisa menjatuhkan kehancuran yang setimpal kepada mereka.
"Tapi,
tanda matahari dan gagak itu... Kemungkinan besar mereka adalah bagian dari
kelompok [Akagarasu], kan? Dan tentu saja Wild Monkey juga termasuk di
dalamnya."
[Akagarasu]
adalah salah satu dari tiga kekuatan besar di dunia gelap yang dikuasai oleh
seorang Raja. Dunia bawah tanah di ibu kota Kerajaan Amelia ini dikatakan
berada dalam wilayah kekuasaan [Akagarasu] tersebut.
"Lalu, apa
ada masalah dengan hal itu?"
Zack menatapku
sejenak, lalu menggelengkan kepalanya dengan kuat.
"Tidak juga.
Lagipula, mana mungkin seorang Guru bisa terusik hanya karena menghadapi
manusia biasa."
Dia melontarkan
kalimat yang terdengar buruk itu.
"Bukannya
karena lawannya adalah manusia. Aku hanya bersikap optimis karena lawannya
adalah para penghuni dunia hitam."
Aku menyadari
satu hal sejak insiden parasit di Papra. Orang-orang di dunia hitam pada
dasarnya sangat lemah.
Jika orang-orang
dari dunia terang turun tangan secara serius, mereka pasti akan langsung
dibasmi dengan mudah.
Dengan kata lain,
alasan mereka masih bisa bertahan hingga sekarang adalah karena mereka
memberikan keuntungan bagi para penguasa di setiap negara.
"Anggap
saja begitu."
Zack
bergumam dengan nada jengkel, sementara aku,
"Kalau
begitu, mari kita berangkat."
Mengajaknya
melangkah maju mendekati gerombolan orang-orang itu.
"Baiklah!"
Zack
menyunggingkan senyuman buas bagaikan hewan pemangsa, lalu meretakkan kedua
tangannya dan mengikuti di belakangku.
"Hei,
berhenti!"
Begitu
kami tiba di pintu masuk bangunan, seorang pria berambut kusut dan berbadan
kekar bersama seorang pemuda bermata tajam dengan luka di pipinya mengacungkan
ujung pedang ke arah hidungku untuk mengintimidasi.
"Bawa aku
menemui bos kalian. Kalau kalian patuh dan menurut, aku tidak akan melakukan
apa-apa."
Aku menyampaikan
ultimatum itu dengan senyuman sesegar mungkin.
"Hah, kami
ini kan orangnya baik hati..."
Hei, Zack, kalau
kau mengatakannya sambil meretakkan tangan seperti itu, ucapanmu sama sekali
tidak punya daya persuasi, tahu. Kau harusnya tersenyum manis memperlihatkan
gigi putihmu sepertiku.
Sesuai dugaan,
melihat sosok Zack yang bagaikan gumpalan otot itu, pemuda tersebut menarik
wajahnya karena ngeri,
"W-wah,
ada penyerbuan! Cepat keluar, semuanya!!"
Puluhan
pria bersenjata berbadan kekar berbondong-bondong keluar dari dalam bangunan.
Hmm, sepertinya situasi ini berkembang persis seperti yang kuperkirakan.
Aku
hendak melangkah maju, namun,
"Guru,
biarkan aku yang urus tempat ini. Aku baru saja ingin menguji kekuatan yang
baru kudapatkan."
Zack
berdiri di hadapanku, lalu mengatupkan kedua kepalan tangannya dan mengalirkan Mana.
Seketika
itu juga, seluruh tubuh Zack diselimuti oleh selapisan membran tipis berwarna
pucat.
Ho, dia
sudah bisa menggunakan chantless invocation secara cukup natural
sekarang. Terlebih lagi, itu adalah Hardening?
Hardening adalah salah satu jenis sihir
penguat di mana seluruh tubuh diselimuti oleh membran Mana secara
terus-menerus untuk mengubah sifat fisiknya menjadi lebih keras.
Bisa
dibilang, sihir ini memiliki konsep yang bertolak belakang dengan [Vajra]
milikku yang membungkus di tingkat sel.
Membungkus
hingga tingkat sel sepertinya masih mustahil bagi kemampuan Zack saat ini.
Kalau begitu, ini adalah gagasan untuk melapisi sekujur tubuhnya sebagai
gantinya.
Pria botak
berwajah sangar dengan janggut lebat yang berdiri di barisan paling belakang
menatapku dan Zack dengan malas-malasan,
"Aku
tidak peduli dari organisasi mana gerombolan bodoh itu berasal. Jadikan mereka
orang-orangan sawah, lalu bawa ke dalam!"
Pria itu
memerintahkan anak buahnya dengan suara lantang lalu masuk kembali ke dalam
bangunan. Dilihat dari wibawanya, pria itu sepertinya adalah bos di tempat ini.
Kemungkinan
besar ini karena perbedaan jumlah kekuatan yang telak. Menepis rasa curiga
mereka sebelumnya, mereka kini bahkan menyunggingkan senyuman tipis penuh
kelonggaran.
Pria
berambut kusut mendekati Zack dan mengetes ujung pedang panjangnya secara
berulang-ulang ke pipi Zack, sambil berkata,
"Ini
perintah bos. Kalau kau patuh saat ditebas, kau tidak akan mati."
Dia melontarkan
ancaman bodoh dengan penuh rasa bangga.
"Bodoh."
Zack mencengkeram
pedang panjang yang sedang ditekan itu.
"Hei, jangan
buat gerakan aneh—eh?"
Pedang panjang
yang dipegang si rambut kusut itu mendadak bengkok melengkung dari pangkalnya.
Zack bahkan
meremukkan bilah pedang yang melengkung itu dengan tangan kosong seolah-olah
sedang meremas sepotong tanah liat.
Di tengah suara
derit logam yang bergeming aneh, para pria bersenjata yang mengepung kami
terdiam kaku tanpa bergerak sedikit pun.
"M-Monster..."
Mendengar suara
melengking penuh ketakutan yang keluar dari tenggorokan si rambut kusut, Zack
menarik sudut bibirnya hingga memperlihatkan taring tajamnya.
Lalu, pembantaian
oleh sang buas Zack pun dimulai.
Berkat aksi
menggila Zack, kecuali satu orang, semuanya benar-benar kehilangan niat
bertarung dan kini duduk bersila dalam kondisi gemetar ketakutan.
Satu-satunya
pengecualian itu adalah,
"Kami adalah
Kamado-ma Family di bawah naungan [Wild Monkey] yang dipercaya oleh [Akagarasu]
untuk menguasai ibu kota ini!"
Pria botak
berwajah sangar dengan janggut lebat yang merupakan bos dari gerombolan itu
terus meneriakkan ancaman yang sama berulang-ulang dari tadi.
"Hmm, aku
tahu soal itu. Makanya kami datang kesini, kan."
Mendengar
tanggapanku, matanya terbuka lebar karena terkejut,
"Hah!?
Kau paham!? Di belakang kami ada Wild Monkey, dan juga [Akagarasu],
tahu?!"
Dia
melotot sambil menyemburkan air liur.
"Cukup
omong kosongnya. Ceritakan semua yang kalian ketahui tentang [Wild Monkey].
Kalau ada orang lain yang tahu lebih banyak, seret dia ke hadapanku."
Aku
mendekati si pria botak berjanggut itu, menunduk menatapnya, lalu memberikan
perintah tegas.
"Jangan
bercanda! Untuk apa kami melakukan hal berkhianat pada rekan sendiri!"
"Ho.
Menolak untuk menjual rekan demi membela diri, ya. Semangat yang lumayan."
Aku tidak
pernah berasumsi mereka akan membongkar semua rahasia kelompoknya hanya dengan
sejauh ini.
Bagaimanapun,
jika rahasia itu bocor, mereka akan menjadi target hukuman mati, jadi mereka
tidak mungkin membongkar semuanya dengan mudah.
Karena itulah,
aku sudah berniat melakukan ini sejak awal.
Aku
menyingsingkan lengan bajuku, lalu mengeluarkan beberapa peralatan yang sudah
disiapkan dari dalam Item Box.
"Guru,
benda-benda itu?"
Zack bertanya
dengan ekspresi agak kaku, menanyakan hal yang sudah jelas.
"Hmm, alat
sihir yang membuat seseorang jadi patuh dan ingin menceritakan segalanya,
sih."
Aku mengambil
salah satu peralatan dari lantai dengan santai lalu menjawabnya.
Belakangan ini
Faf sering bermain bersama Miu, jadi dia jadi jarang membaca buku. Karena
itulah aku bisa melahap banyak buku-buku bertema kejam dari dalam Dungeon.
"T-Tau apa
yang mau kau lakukan?!"
Begitu aku
mencengkeram kerah baju pria botak berjanggut yang mengeluarkan suara gemetar
melengking itu,
"Tentu saja,
hal yang membuatmu ingin berbicara dengan nyaman."
Aku mendudukannya
di kursi sambil menarik sudut bibirku.
"T-Tolong
hentikan!"
"Aku
merasa tidak tega. Hatiku
juga sangat sakit, tapi berusaha keraslah untuk menuntaskan tanggung
jawabmu."
Jeritan kecil
mulai meluncur keluar dari mulut si pria botak berjanggut itu—.
"Itulah
semuanya!"
Hanya dengan
mencoba beberapa tindakan yang sesuai dengan halaman-halaman buku itu, dia
langsung berkhianat dan mulai membongkar rahasianya secara sukarela.
Sekitar 40 persen
anggota Kamado-ma Family yang menyaksikan langsung kejadian itu langsung
berbusa dan kehilangan kesadaran, sementara 60 persen sisanya berlinang air
mata dan Sembari mengeluarkan air hidung, mereka memohon pengampunan.
"Kalian ini
benar-benar sampah sampai ke akar-akarnya, ya."
Zack, yang
awalnya memasang ekspresi iba pada interogasiku, secara bertahap kehilangan
rasa kasihan itu saat mendengar sepak terjang gerombolan [Wild Monkey] di ibu
kota ini, berganti dengan luapan amarah yang membara di wajahnya.
Penyelundupan,
perdagangan barang terlarang, itu semua masih tergolong ringan.
Mereka
menyebarkan narkotika ke orang-orang biasa hingga membuat korban kecanduan,
membebani mereka dengan utang besar, lalu menjualnya ke pasar budak yang
dikelola oleh [Wild Monkey].
Mereka
menipu orang tua Emi dengan memberikan pinjaman, menjerat mereka dengan bunga
selangit hingga bangkrut, lalu menjual mereka ke pedagang budak.
Lebih
parahnya lagi, mereka bahkan menyelenggarakan acara lelang yang sangat kejam
yang hanya boleh dihadiri oleh sebagian kecil bangsawan tingkat tinggi.
"Guru, apa
yang harus kita lakukan pada mereka?"
"Hmm. Tidak
seperti para parasit itu, bajingan-bajingan ini sudah melewati batas. Biar
Beelzebub saja yang menghukum mereka."
Kalau tahu mereka
sejahat ini, seharusnya sejak awal aku serahkan saja pada Beelzebub.
"Itu
kesalahpahaman! M-Memang benar kami berada di bawah naungan [Wild Monkey], tapi
pekerjaan yang kami tangani hanya sebatas penyelundupan dan perdagangan barang
terlarang! Aku bersumpah tidak melakukan hal yang lebih dari itu!"
Mendengar
gumamanku, bos berkepala botak itu buru-buru membela diri dengan suara
melengking.
"Satori,
apakah ucapan mereka barusan itu benar?"
Aku tidak cukup
polos untuk mempercayai begitu saja kata-kata orang-orang yang sedang
diinterogasi. Aku menyerahkan penilaiannya sepenuhnya pada Satori.
『Sepertinya itu benar. Tidak ada kepalsuan sama sekali dari pernyataan
mereka sejauh ini』
Suara gadis yang
tak kasat mata bergema di sekitarnya, memicu jeritan panik dari para anggota
Kamado-ma Family.
"Kalau
begitu, pertanyaan terakhir. Apakah [Akagarasu] juga terlibat dalam kebejatan
yang dilakukan [Wild Monkey]?"
Jika mereka juga
terlibat, maka target pembersihan akan diperluas hingga mencakup [Akagarasu].
"Karena itu
adalah urusan para petinggi, aku tidak tahu secara pasti, tapi kurasa hubungan
kami hanya sebatas diizinkan bertahan hidup dengan menyetor upeti kepada
[Akagarasu] seperti halnya kami!"
"Jadi kalian
tidak tahu tindakan [Wild Monkey] di ibu kota ini?"
"B-Benar!
[Akagarasu] hanya menuntut upeti, tidak ada batasan lain yang mereka
berlakukan! Kami pun menyetorkan upeti melalui perantara, jadi kami tidak tahu
apa-apa tentang [Akagarasu]! Sungguh! Tolong percayalah!"
Akhirnya, pria
berkepala botak itu menempelkan dahinya ke lantai sambil memohon ampun. Melihat
Satori tidak mengatakan apa-apa, sepertinya itu adalah kebenaran.
Yah, kalau
[Akagarasu] berniat mencari masalah denganku karena aku menghancurkan [Wild
Monkey], justru itu akan menarik. Untuk sementara waktu, [Akagarasu] dibiarkan
saja dulu.
Nah, sekarang
giliran orang yang tahu lebih banyak daripada mereka. Nama itu terus
bermunculan dari sela-sela pembicaraan tadi.
"Kalau
begitu, antarkan kami ke informan nomor satu di kerajaan yang bernama Mujina
itu."
Orang itu pasti
mengetahui semua insiden yang terjadi di kerajaan ini. Setidaknya, bos botak
ini sangat meyakini hal tersebut.
"B-Baik! Dengan senang hati!"
Dia
mungkin berpikir akhirnya bisa dibebaskan. Seketika suasana menjadi riuh gembira. Bahkan ada
yang menangis terharu karena mengira mereka sudah bebas.
Sayangnya aku
senang melihat kalian gembira, tapi aku tidak punya hati yang cukup luas untuk
membiarkan orang-orang yang tega memerintahkan untuk menjadikan orang biasa
sebagai orang-orangan sawah berkeliaran bebas.
Setelah menyuruh
Grimekhala memberi mereka sedikit pelatihan kedisiplinan, aku akan menyuruh
mereka bekerja di Gill Trading Company yang baru saja didirikan oleh mantan
pedagang budak milik Balse.
Perusahaan dagang
itu dikelola di bawah kendali Grimekhala, jadi tempat itu sangat cocok untuk
mengurus orang-orang bodoh seperti ini.
Lagi pula, ketika
aku pergi untuk memeriksa situasi atas permintaan Grimekhala beberapa waktu
lalu, manajer yang tampak lemah gemulai itu sempat mengeluhkan kekurangan
tenaga kerja karena terlalu sibuk.
"Kalau
begitu, mari saya antarkan!"
Bos berkepala
botak itu bangkit dengan penuh semangat, lalu mulai melangkah meski sedikit
terhuyung-huyung.
Sikapnya yang
tadinya melawan kini berubah drastis menjadi sangat patuh.
Benar dugaannya,
orang-orang di dunia hitam ini sama seperti monster di Easy Dungeon;
cara terbaik adalah dengan menghajar mereka habis-habisan hingga mereka
benar-benar memahami perbedaan kekuatan yang telak dan membuat mereka patuh.
"Guru
benar-benar orang yang mengerikan, ya."
Zack
berkomentar dengan nada prihatin dan setengah melirik ke arah ketakutan si bos
botak.
"Begitukah?
Kurasa hal semacam itu tidak terlalu berlebihan."
Setidaknya,
cara itu jauh lebih penuh belas kasih ketimbang menyerahkannya pada Beelzebub.
"Tidak,
orang dengan akal sehat normal tidak akan pernah memikirkan hal sekejam
itu."
Hal
kejam, ya. Di buku itu masih ada banyak sekali teknik penyiksaan lain yang jauh
lebih mengerikan. Apa yang kulakukan tadi masih tergolong wajar, lagipula
semuanya sudah disembuhkan kembali setelah selesai.
Terutama,
sebagai orang yang telah menghajar habis-habisan semua musuh sendirian, aku
sama sekali tidak ingin mendengarnya langsung dari mulut Zack.
"Sebenarnya
kalian ini siapa, Tuan?"
Pria botak itu
bertanya dengan suara bergetar,
"Kurasa
lebih baik kau tidak tahu jawabannya."
Zack melontarkan
kalimat bernada penuh arti, membuat darah dari wajah pria botak itu terkuras
habis, dan semenjak saat itu ia tidak pernah berani membuka mulutnya lagi di
sepanjang perjalanan.
Kemudian, mereka
memasuki sebuah rumah berlantai tiga bergaya bata di sudut barat daya ibu kota.
"Ini adalah
Mujina, informan nomor satu di ibu kota. Kalau begitu, saya permisi!"
Pria itu
memperkenalkan Mujina—seorang gadis yang mengenakan celana pendek, kain hitam
yang menutupi bagian dadanya, serta jubah hitam—kepada kami, lalu mencoba
melarikan diri dari bangunan itu. Namun—.
"Hiiiii!"
Kerah bajunya
keburu dicengkeram oleh monster berhidung panjang.
"Grimekhala,
beri pelajaran pada dia dan antek-anteknya hingga akar kebusukan mereka
tercabut, lalu pekerjakan mereka di Gill Trading Company di bawah pengaruhmu di
[Cartel]."
"Atas
perhatian Anda, saya ucapkan terima kasih."
Grimekhala
berlutut dan menundukkan kepalanya, lalu menghilang tanpa jejak bersama sang
bos botak bagaikan kepulan asap.
"Selamat
datang, Tuan adalah pendekar terkuat pemegang Gift dari si 'Tidak Kompeten'
yang sedang hangat dibicarakan di kota ini, ya. Tapi kalau dilihat secara
langsung, ternyata jauh lebih luar biasa dari rumornya."
Mujina
mengamati diriku secara vulgar tanpa rasa sungkan, lalu melontarkan kesan yang
begitu besar.
"Sebutan
sebagai pendekar terkuat itu terlalu berlebihan. Ada banyak sekali pendekar
dengan kemampuan pedang yang jauh melampaui diriku di dunia ini."
Yah,
kalau bertarung sungguhan, aku tidak berniat kalah dari siapa pun, sih.
"Jika Tuan
menginginkannya, silakan anggap begitu. Jadi, informasi seperti apa yang Tuan
inginkan kali ini?"
Mujina tertawa
kecil sambil duduk bersila di kursi dan menghisap pipa rokoknya, lalu mulai
membuka pembicaraan bisnis.
Informasi yang
kuminta dari Mujina kali ini adalah detail lengkap dari semua tindakan keji
yang dilakukan oleh [Wild Monkey] dan Marquis Oubutsu selama tiga tahun
terakhir.
Untuk markas kami
di ibu kota, dia menyarankan untuk membeli sebuah rumah besar bergaya baru di
bagian tenggara ibu kota.
Kabarnya, rumah
itu terletak tepat di sebelah markas bos Kamado-ma Family, dan karena
orang-orang berwajah menyeramkan sering keluar masuk di sekitarnya, tidak ada
orang yang ingin membelinya sehingga harganya merosot tajam.
Kawasan tenggara
ibu kota terletak di daerah kumuh pinggiran kota dan cukup jauh dari kawasan
perumahan mewah para bangsawan.
Para bangsawan
tidak akan pernah suci menginjakkan kaki di sana. Tempat itu pastinya sangat
ideal untuk merencanakan hal-hal licik.
Setelah itu,
melalui perantara Mujina, aku membeli rumah berlantai tiga tersebut dari
pemilik aslinya seharga 10 juta oll.
Kemudian, aku
menyerahkan tugas renovasi dan pembersihan rumah kepada teman-teman dari Buku
Penaklukan, dan tujuh hari kemudian, kami semua pindah dari penginapan menuju
rumah baru tersebut.
"Luas
sekoliii!"
"Luas
sekali, sungguh!!"
Faf dan Miu
bersorak gembira dan berlarian di dalam rumah besar itu. Di sini, kita bisa
berdiskusi sepuasnya tanpa perlu mengkhawatirkan lingkungan sekitar.
Selain itu, hari
yang dijanjikan dengan Mujina sudah semakin dekat. Kurasa aku bisa mendapatkan informasi yang
cukup mendalam mengenai insiden tersebut.
Suara
kicauan burung kecil di luar jendela menandakan datangnya pagi. Faf mengucek
matanya di atas tempat tidur empuk dan merentangkan tubuhnya menyambut cahaya
yang menerobos celah tirai. Tepat di sebelahnya, Faf-chan sedang,
"Aku
sudah tidak bisa makan lagi..."
Ia
mengigau dengan ekspresi bahagia sambil berbalik tidur. Ruangan ini adalah kamar Kakak Kai. Belakangan ini
Faf selalu tidur berdekatan dengan Faf-chan dan Kakak Kai.
Tentu saja, Kakak
yang sibuk dan bangun pagi-pagi sekali sudah tidak ada di kamar.
Begitu ia
mengucek matanya dan bangkit, Kak Ania masuk ke dalam kamar, membuka tirai, dan
berkata,
"Nah, Faf,
Miu, ayo cuci muka di bawah. Setelah itu, kita sarapan!"
Ia berbicara
dengan senyuman dan nada suara yang lembut. Kak Ania selalu menjadi kakak yang
baik bagi Miu dan Faf-chan, dan aku sangat menyayanginya.
"Hari ini
sarapannya apa!?"
Faf-chan mengucek
matanya yang mengantuk, namun begitu mendengar kata 'sarapan', matanya langsung
terbuka lebar dan ia melompat turun.
"Sepertinya
Ash bilang menu pagi ini adalah Miso Mackerel..."
"Miso
Mackerel!"
Wajah
Faf-chan langsung bersinar terang, ia melompat-lompat girang dan berkata,
"Miu,
ayo cepat pergi!"
Ia
menarik tangan Miu dengan kuat.
"Iya!
Faf-chan, tunggu sebentar!"
Miu
segera mengikuti di belakang Faf agar tidak tertinggal.
Setelah
mencuci muka di tempat pemandian lantai satu, kami pergi ke ruang makan dan
mendapati semuanya sudah duduk di kursi masing-masing.
"Tuan!"
Faf-chan
memamerkan wajah berseri-seri dan berlari memeluk Kakak Kai yang sedang duduk
di kursi dapur, lalu membenamkan wajahnya di perut Kakak. Faf-chan sangat
menyayangi Kakak Kai dan biasanya selalu menempel padanya.
Dan sepertinya,
jika Kakak Kai pergi dalam waktu lama, Faf-chan akan merasa sangat cemas. Miu
juga tiba-tiba ingin bertemu setiap hari dengan Ayah, Ibu, dan Kakak perempuan
yang terpisah darinya, jadi Miu sangat memahami perasaan itu.
Kuduga bagi
Faf-chan, Kakak Kai adalah sosok yang tidak tergantikan dan sangat berharga,
sama seperti keluarga bagi Miu.
Saat Miu duduk di
sebelah Faf-chan, Kak Ash dan Kak Ania berpenampilan apron muncul dari dapur
sambil membawa piring berisi makanan di kedua tangan mereka.
"Sudah
selesai."
Begitu Kak Ash
dan Kak Ania meletakkan makanan di atas meja,
Ikan! Ikan!
Ikan! Iikaaaan!
Anak serigala
bernama Fen yang duduk manis di atas pangkuan Kakak Kai mengepakkan ekornya
dengan penuh semangat sambil meneriakkan kata 'ikan' dengan mata
berbinar-binar.
"Ya, Fen
juga suka ikan, kan."
Iya! Akuuu
juga suka ikan!!
Melihat pose
cakar kecil yang diangkat untuk menegaskan diri, sudut bibirku tanpa sadar
melunak. Fen-chan ini menggemaskan di luar batas wajar.
Setelah
memastikan Kak Ash yang membuat sarapan dan Kak Ania yang membantu persiapan
sudah duduk di kursi mereka, Kak Rose dan Kak Ania melipat tangan untuk memulai
doa ucapan syukur kepada dewa, dan Miu ikut menirukannya.
Meskipun begitu,
Kakak Kai hanya sibuk mengelus Fen-chan di pangkuannya, sementara Faf-chan
mengayun-ayunkan kakinya karena terpaku melihat makanan di hadapannya. Kakak
Ekor Sembilan sedang memindahkan makanan ke piring Kakak Kai.
Kak Zack menguap
lebar sambil meregangkan tubuhnya, dan Kak Asta bahkan tidak melihat ke arah
meja karena terlalu sibuk membaca buku. Semuanya benar-benar bebas, pikirku.
"Kalau
begitu, mari kita makan."
Doa selesai, dan
atas aba-aba Kak Rose, semua orang mulai makan bersama.
Selesai makan,
waktunya untuk belajar dan berlatih. Pelajaran dipandu oleh Kak Asta yang
sangat berpengetahuan luas. Kak Asta kelihatannya sangat enggan, tapi dia
mengajarinya dengan sangat telaten.
Selesai belajar,
giliran latihan. Belakangan ini aku memohon secara khusus kepada Kakak Kai
untuk melatihku. Aku sudah muak dengan kehidupan yang hanya bisa melarikan
diri.
Kali ini,
giliranku yang akan melindungi Ayah dan yang lainnya. Itulah tekad baru yang
telah kuambil.
Seperti biasa,
aku menerima bimbingan sihir penguat non-atribut dari Kakak Kai. Menurut Kakak,
bakat Miu untuk sihir ini sangat luar biasa.
Kami kaum
Beastkin pada dasarnya memiliki kecenderungan sihir yang lebih rendah
dibandingkan ras manusia atau elf.
Namun, itu hanya
berlaku untuk sihir atribut, dan Kakak Kai menegaskan bahwa untuk sihir
non-atribut, kaum Beastkin justru memiliki bakat yang jauh lebih kuat.
Dulu, semua kaum
Beastkin menyimpan semacam rasa rendah diri karena merasa tidak memiliki bakat
sihir.
Karena itulah,
pujian dari Kakak Kai yang mengatakan bahwa aku memiliki bakat untuk sihir
penguat membuatku merasa sedikit geli namun bangga.
Selesai latihan
sihir dan makan siang, jadwal berikutnya adalah latihan tempur.
Gagal! Titik
keseimbanganmu sama sekali tidak benar!
Peringatan keras
meluncur dari Guru Nemea.
"Baik!"
Kakak Kai telah
meminta Guru Nemea untuk melatih Miu. Belakangan ini, aku berlatih keras setiap
hari bersama Kak Zack.
Setelah menerima
latihan dari Guru Nemea hingga tubuhku terasa lelah, waktu luang pun tiba.
Biasanya aku
pergi bermain bersama Faf-chan, namun hari ini Faf-chan dipanggil oleh Paman
Radon dan kawan-kawan, jadi aku pergi keluar sendirian.
Beberapa saat
setelah berjalan keluar dari rumah besar, sebuah bangunan besar berlantai tiga
yang tampak cukup tua terlihat. Itulah rumah makan, [Attakatei].
"Yo,
Miu!"
Anak laki-laki
berambut cokelat yang keluar dari bangunan itu menyadari kehadiran Miu dan
melambaikan tangan kanannya.
"Marco,
Paman dan Bibi ada di dalam?"
Lantai
satu bangunan ini berfungsi sebagai ruang makan, sementara lantai dua dan tiga
dihuni oleh banyak anak-anak yang kehilangan tempat tinggal karena berbagai
alasan seperti Miu.
Miu dan
Faf juga berteman akrab dengan anak-anak di sini dan sering berkunjung untuk
bermain.
"Ada.
Emi juga baru datang dan sekarang sedang memasak. Kau mau ikut makan juga?"
"Mau!"
"Ngomong-ngomong,
si tukang makan itu tidak ikut hari ini?"
Marco bertanya
sambil menoleh ke sana ke mari.
"Hari ini
aku sendirian. Kau kecewa, ya?"
Saat aku bertanya
dengan wajah bangga kepada Marco, tiba-tiba wajahnya berubah menjadi merah
padam,
"Bodoh! Mana
mungkin begitu! Aku malah merasa lega karena tidak ada orang yang
berisik!"
Setelah
melontarkan kata-kata sok kuat itu, dia bersiap untuk pergi ke luar.
"Marco, kamu
mau pergi ke mana sekarang?"
"Ah, aku mau
belanja bahan makanan untuk hari ini!"
Marco mengangkat
tangan kanannya. Dia lalu berlari kecil dan menghilang ke dalam kerumunan di
jalan utama.
Saat aku masuk ke
dapur restoran di lantai satu, paman koki dan putrinya, Kak Emi, sedang
memasak.
"Oh,
Miu sudah datang ya. Semuanya
ada di halaman, jadi duduklah dulu."
Paman yang sedang
lihai menggunakan wajan itu tersenyum lembut seperti biasa. Tepat ketika dia
menyapa Miu,
"Gawat.
Telurnya pecah."
Terdengar seruan
dari Kak Emi.
"Kalau
begitu, aku akan menyuruh Marco untuk sekalian membeli telur."
"Maaf!
Tolong ya!"
Kak Emi
menangkupkan tangannya memohon.
"Jangan
sungkan!"
Setelah
mengatakan itu, aku pergi ke pasar untuk menyampaikannya pada Marco.
Aku
segera bertemu dengan Marco. Saat kami sedang berbelanja bahan makanan di
pasar, kami kebetulan berpapasan dengan Kak Ash, jadi aku menjelaskan
situasinya kepadanya—tapi....
"Miu
ini benar-benar tidak bisa diremehkan ya."
Sepertinya dia
telah membuat kesalahpahaman yang sangat konyol. Padahal, Kakak sendiri jauh
lebih mudah ditebak.
Selesai
berbelanja bahan makanan di pasar, kami pun sedang dalam perjalanan menuju
'Attakatei'.
Kak Ash ikut
bersama kami karena alasan terlalu berbahaya bagi anak-anak untuk pulang
sendiri.
"...."
Tiba-tiba, Kakak
berhenti melangkah. Dia menatap tajam ke satu titik dan tidak bergerak sedikit
pun.
Merasa penasaran,
aku mengikuti arah pandangan Kakak. Di sana, seorang wanita berambut pirang
yang cantik dan berpakaian hitam sedang membeli buah berwarna oranye di kedai
buah.
Aku mengintip
wajah Kakak, bermaksud bertanya apakah dia mengenal wanita berambut pirang itu.
Kak Ash melebarkan matanya, meneteskan air mata besar yang mengalir deras di
pipinya.
"K-Kakak?"
Aku yang terkejut
melihat Kak Ash menangis pun bertanya padanya.
"Eh?"
Dengan raut wajah
terkejut, dia buru-buru menyeka air matanya dengan lengan baju.
"Kamu
kenapa?"
"Ya, aku
tidak apa-apa."
Kak Ash
menggelengkan kepalanya beberapa kali, lalu mulai berjalan kembali.
Suasananya
menjadi canggung. Aku sebenarnya ingin bertanya tentang alasan tangisannya tadi
dan siapa wanita berambut pirang itu.
Tapi, apakah aku
boleh mencampuri urusannya sejauh itu?
Saat sedang
berpikir keras, Miu menyadari seorang pria berjalan dari arah depan. Pria itu
mengenakan jubah merah dengan tudung yang ditarik dalam menutupi kepalanya.
Kerajaan Amelia
adalah negara sihir. Ada banyak sekali penyihir seperti ini di ibukota. Karena
itu, penampilan seperti itu saja tidak terlalu terasa aneh.
Hal yang menarik
perhatian Miu adalah beberapa tato bermotif geometris yang digambar dengan
warna merah di wajah pria itu. Hanya dengan melihat tato itu saja, hatinya
entah mengapa merasa sangat gelisah.
(Kak Ash, orang
itu...)
(Aku tahu.)
Kak Ash
mengangguk kecil dengan ekspresi wajah yang tegang. Dia lalu menarik tangan Miu
dan Marco, dan berlari ke arah gang belakang.
"Kalian
kabur? Dingin sekali ya...."
Diiringi suara
yang aneh dan serak, pria berjubah merah itu sudah berdiri di depan kami. Dia
menghalangi jalan pelarian Miu dan yang lainnya.
"Hii!"
Melihat senyuman
pria itu yang begitu menyimpang hingga tidak terlihat seperti manusia, Marco
menjerit kecil.
"...."
Kak Ash melangkah
mundur, memindahkan Miu dan Marco ke belakang punggungnya untuk melindungi
kami. Namun, pada detik berikutnya, tinju kanan pria itu sudah bersarang di
perut Kakak.
"Kak
Ash!"
Saat aku
memanggil namanya, telapak tangan kanan pria berjubah merah itu mendekat.
Kesadaran Miu pun memudar menjadi putih bersih.
Sensasi unik dari
batu keras dan kasar di punggungku membuatku membuka kelopak mataku yang terasa
berat. Aku berada di
sebuah ruangan redup yang terhalang jeruji besi.
Dari
dalam ruangan yang sama, terdengar suara isak tangis.
"Syukurlah!
Kamu sudah sadar!"
Marco
berseru lega meskipun wajahnya masih berlinang air mata. Lagipula, menilai dari
wajahnya yang penuh dengan kesedihan, tidak perlu dipikirkan lagi bagaimana
situasi kami saat ini.
Saat aku
memeriksa sekeliling,
(Ini
ruang bawah tanah...)
Ini
adalah penjara batu yang dingin dan keras, tempat aku dikurung setiap hari
sebelum bertemu dengan Kak Kai dan yang lainnya.
Benar
saja, ada wanita-wanita cantik dan anak-anak dari berbagai ras yang saling
berpelukan dan gemetar di sudut ruangan.
(Kak
Ash!?)
Kenyataan
bahwa keluarga yang paling berharga bagi Miu tidak ada di tempat ini membuat
darahku terasa mengalir deras meninggalkan wajahku.
"Kak Ash
dibawa pergi oleh mereka!"
Sambil
menangis, Marco memberitahukan hal yang paling ingin kudengar saat ini.
Identitas
musuh yang menculik Miu dan teman-temannya beserta tujuan mereka, semuanya
tidak diketahui.
Terlebih
lagi, Miu sama sekali tidak bisa melihat gerakan pria berjubah merah itu.
Sekalipun dinilai
secara optimis, ini adalah situasi yang benar-benar putus asa. Pada dasarnya,
apa yang bisa dilakukan oleh anak kecil seperti Miu sangatlah terbatas.
Mungkin, jika ini
adalah Miu sebelum bertemu dengan Kak Kai, dia pasti hanya akan meratapi
tragedi ini. Tapi, sekarang berbeda—.
"Aku akan
pergi memanggil bantuan."
Kalau itu Kak
Kai, dia pasti bisa mengalahkan orang-orang seperti mereka. Dia akan mengakhiri
tragedi ini untuk kami.
"Memanggil
bantuan, bagaimana caranya!?"
Menanggapi
teriakan Marco yang sangat wajar itu, Miu mendekati jeruji besi dan
mencengkeramnya kuat-kuat dengan kedua tangan.
Kemudian, dia
membiarkan energi sihir yang muncul dari sekitar pusarnya meresap perlahan ke
seluruh tubuhnya.
(Se-keras
mungkin, dan dengan penuh tenaga, cepat dan tangguh seperti Dewa Binatang...)
Perlahan-lahan
dia mengerahkan kekuatan pada jeruji besi itu. Jeruji itu berderit dan
membengkok, dan dalam sekejap tercipta celah yang cukup untuk dilewati oleh
satu orang.
"Kalau
begitu, aku pergi dulu. Marco, kamu tunggu saja di sini. Tidak apa-apa, aku
akan segera membawa pahlawanku kemari!"
Meninggalkan
Marco dan orang-orang di dalam penjara yang tercengang, Miu pun berlari keluar.
Dia
menendang lantai, melesat ke arah para penjaga yang sedang menguap di depan
tangga menuju permukaan.
Pemandangan
di sekitarnya mengalir cepat ke belakang, dan tubuh Miu sudah tiba persis di
depan hidung kedua pria penjaga itu.
"Hah?"
Miu
mengayunkan tinju kirinya ke atas, tepat mengenai salah satu pria yang memasang
wajah kebingungan.
Tubuh
besar pria yang kekar itu membungkuk membentuk huruf V, lalu dia mengerang
kesakitan dan pingsan di lantai hanya dengan satu pukulan.
"B-Bajingan
kau—"
Miu
melompat ke dekat wajah penjaga satu lagi yang mencoba mencabut pedang dari
sarung di pinggangnya.
Dia
mendaratkan tendangan memutar kaki kiri dengan gaya sentrifugal yang kuat tepat
di wajahnya.
Pria itu
berputar beberapa kali di udara sebelum menabrak dinding, lalu jatuh pingsan
dengan mulut berbusa.
(Luar biasa! Aku
menjadi lebih kuat!)
Saat berlatih
dengan Kak Zack, serangan Miu tidak pernah mengenainya sama sekali, sehingga
dia tidak merasa kalau dirinya telah bertambah kuat.
Tapi, ternyata
kekuatannya sangat ampuh untuk melawan para penjahat.
(Kalau begini,
aku pasti bisa—)
Miu pun bisa
melakukannya. Seperti yang dilakukan Kakak padanya, Miu mungkin bisa
menyelamatkan orang-orang yang kesulitan dari jalan buntu takdir mereka.
Sambil merasakan
kegembiraan di dalam dirinya, dia membuka pintu dan keluar ke permukaan.
Ruangan di atas
sungguh berbanding terbalik dengan tempat suram tadi, lorong itu terhubung ke
sebuah ruangan megah yang dilapisi oleh karpet merah tebal.
Miu bersembunyi
di balik bayang-bayang benda di sekitarnya, mencari jalan keluar dengan sangat
hati-hati.
(Jalan keluarnya
pasti di sana.)
Cahaya
bulan bersinar melalui jendela di ujung lorong. Di sanalah letak jalan keluarnya.
Jika Miu bisa
keluar dari sana, maka kemenangan akan menjadi milik mereka. Kak Kai pasti akan
menyelamatkan Marco dan juga Kak Ash.
Saat dia
hendak melangkah maju, terdengar sorak-sorai yang menggelegar. Kemudian,
terdengar pula suara anak kecil yang menangis dan menjerit.
Ketika
Miu mendengarnya, kakinya langsung berhenti bergerak, seolah-olah dipasangi
pemberat besi.
(Aku
harus cepat pergi!)
Bertentangan
dengan perasaannya yang terburu-buru, sebuah dorongan yang terasa seperti rasa
tanggung jawab untuk memeriksa apa yang ada di depan perlahan muncul di
hatinya.
Mengingat
Miu yang sekarang tidak akan bisa menang melawan pria berjubah merah itu
bagaimanapun caranya, syarat kemenangannya hanya ada satu. Yaitu membawa Kak
Kai ke sini.
Itu
adalah cara yang paling pasti dan paling masuk akal yang harus dilakukan Miu. Tapi—.
(Kalau Kak Kai,
dia pasti tidak akan mengabaikan mereka.)
Ketika pemikiran
itu terlintas di sudut kepalanya, kaki Miu seakan tersedot ke arah pintu tempat
suara itu berasal.
Dia merenggut
kesadaran penjaga berseragam hitam yang berdiri di depan pintu itu dengan satu
pukulan, lalu menyelinap ke dalam ruangan. Tempat itu terlihat seperti sebuah
arena gladiator.
"...."
Otaknya sempat
menolak untuk mengenali pemandangan di dalam sana selama beberapa saat.
Di sana, terlihat
makhluk besar berwujud harimau dengan gigi taring yang sangat panjang sedang
mengejar seorang anak kecil berwajah kelinci yang berlari kebingungan.
"Nah, nah!
Sampai kapan anak roh kelinci ini bisa terus melarikan diri dari Saber
Liger!"
Seorang pria
berpakaian hitam dengan penutup mata berbentuk segitiga memberikan komentar
atas pemandangan mengerikan seperti mimpi buruk ini dengan suara riang.
"Ayo, ayo!
Kalau kamu tidak berjuang, kamu akan mati lho!"
Pria berpakaian
hitam yang tampaknya merupakan seorang pembawa acara itu berseru kepada gadis
berwajah kelinci dengan nada seperti sedang bernyanyi.
Gadis berwajah
kelinci itu menangis sambil berusaha melarikan diri sekuat tenaga dari kejaran
Saber Liger.
"Woi!
Tunjukkan keberanianmu sedikit kek! Kamu pikir sudah berapa banyak uang yang
kupertaruhkan untukmu!?"
"Benar
sekali! Kalau kamu langsung dimakan, aku tidak akan memaafkanmu!"
Sorak-sorai gila
terdengar dari para penonton. Saat Miu memandang kosong ke arah arena, gadis
berwajah kelinci itu akhirnya tersandung dan jatuh ke tanah.
Suara kekecewaan
dan kegembiraan seketika bercampur aduk memenuhi ruangan. Di tengah keributan itu, buasnya
Saber Liger perlahan mendekati sang gadis.
Lalu, di
dalam sebuah sangkar yang diletakkan di salah satu kursi penonton, seorang
wanita berwajah kelinci yang terikat erat oleh rantai menitikkan air mata
sambil berteriak.
"Hentikaaan!"
Kata-kata
permohonan itu diteriakkan. Di saat ekspresi keputusasaan dari ikatan keluarga
yang akan segera terkoyak itu tumpang tindih dengan keluarga berharga Miu—.
"Gaaaaaahh!"
Emosi Miu meledak
dari dalam, dia mengaum seperti binatang buas dan berlari menuruni tangga
penonton. Lalu, dia
melompat dan menendang sisi wajah Saber Liger itu dengan keras.
Saber
Liger itu berguling-guling, sebelum akhirnya kepalanya menghantam dinding arena
dan tubuhnya berkedut kejang.
Arena
mulai diliputi kegaduhan seperti hutan yang bergoyang tertiup angin. Saat Miu
mencoba berlari menghampiri gadis berwajah kelinci itu, beberapa anak panah
berlapis api melesat lurus ke arahnya.
Ketika dia
memutar tubuhnya untuk menghindari panah-panah itu,
"Ugh!"
Tiba-tiba, rasa
sakit yang tajam menyengat bagian belakang lehernya. Miu memukulnya dengan
tangan kanannya untuk menepis hal tersebut.
Bangkai seekor
lebah kecil menempel di tangannya. Tepat setelah itu, tangan dan kakinya
kehilangan tenaga, membuat Miu jatuh tertelungkup ke lantai.
(Kenapa!?)
Dia berusaha
mati-matian untuk bangun, tapi dia tidak bisa menggerakkan satu jari pun.
"Tikus dari
mana kau ini?"
Pemilik suara itu
mendekat, lalu mencengkeram kerah baju Miu dan mengangkatnya. Seorang pria
bertubuh kecil dengan rambut keriting rapat yang mengenakan pakaian serba
kuning, serta memiliki tato lambang monyet di pipi kanannya, menatap Miu sambil
menguap.
"Bos, mau
diapakan anak ini?"
Pria yang
mencengkeram Miu di tangan kanannya itu menoleh ke arah seorang pria berkepala
plontos dengan bibir tebal.
Pria yang
ditanyanya itu sedang duduk bersandar dengan angkuh di tengah kursi mewah
dengan mengenakan pakaian kuning yang senada.
"Itu adalah
salah satu hewan peliharaan milik target kita kali ini. Bagaimana? Daripada
disia-siakan, kenapa tidak kita masukkan saja dia ke acara berikutnya bersama
ibu dan anak kelinci itu?"
Yang menjawab
pertanyaan itu dengan suara seraknya bukanlah sang Bos, melainkan pria berjubah
merah yang duduk di sudut kursi mewah. Pria itu... dialah orang yang telah
menculik Miu dan yang lainnya.
"Marquis
Oobuts, kami akan sedikit mengubah rencananya, apakah Anda tidak
keberatan?"
Pria berbibir
tebal yang dipanggil Bos itu melirik pria berjubah merah sejenak, lalu bertanya
kepada pria berwajah sangat besar di sebelahnya.
"Aku tidak
keberatan! Kalau ini membuatnya menjadi lebih menarik, itu menguntungkan bagi
kami juga! Benar kan, anakku!"
"Tentu saja,
Ayah!"
Ditanya oleh
Marquis Oobuts, pemuda dengan gaya rambut ikal spiral yang aneh di sebelahnya
pun mengangguk setuju.
"Kalau
begitu, mari kita mulaaaai! Ketakutan dan kenikmatan! Pengorbanan dan
pengkhianatan! Acara yang menyenangkan dan mendebarkaaan!"
Sambil
menyibakkan rambut belakangnya yang dikepang panjang dengan tangan kanan, pria
berjubah merah itu berdiri dari kursinya. Dia lalu merentangkan kedua lengannya
dan membuat deklarasi yang sangat tidak menyenangkan, dan seketika Miu
kehilangan kesadarannya.
Pita cahaya
menembus kegelapan yang pekat. Cahaya itu perlahan-lahan bertambah banyak.
Ketika aku
membuka kelopak mataku di bawah cahaya itu, aku berada di arena gladiator yang
sama seperti tadi. Dan aku baru menyadari bahwa tubuhku telah diikat ke sebuah
tiang besi.
Terlebih lagi,
aku mengenali sosok wanita berambut hitam panjang yang terbaring telentang di
atas alas yang diletakkan di tengah arena,
"Kak
Ash!"
Aku meneriakkan
namanya. Aku segera berusaha meronta dari tiang besi itu, mencoba merobek
rantai yang melilit tubuhku, tapi rantai itu sama sekali tidak bergeming.
(K-Kenapa!?)
Padahal aku bisa
membengkokkan jeruji besi tadi. Seharusnya, merobek rantai kecil seperti ini
adalah hal yang mudah.
"Bodoh,
rantai itu tidak akan bisa kau putuskan bagaimanapun caranya. Kudengar, pria
menjijikkan itu merajut rantainya menggunakan kristal jiwa milik roh tingkat
menengah."
Pria
bertubuh kecil itu mendekati Miu. Dengan nada mengejek, dia melontarkan fakta terburuk yang bisa
didengar.
"J-Jiwa
roh..."
Roh
adalah entitas yang berada di posisi lebih tinggi daripada umat manusia.
Bagi Ras
Manusia Hewan yang hidup selaras dengan alam, roh adalah eksistensi yang setara
dengan dewa pelindung.
Menggunakan
jiwa mereka untuk membuat rantai sungguh di luar akal sehat.
"Roh itu
sangat praktis, kau tahu. Jika kami menyerap jiwa mereka, itu akan memberikan
kekuatan yang luar biasa bagi kami para penyihir. Bahkan Ras Manusia yang lemah
pun bisa mendapatkan Mana dalam jumlah besar. Lihat saja, seperti orang
itu."
Pria kecil dengan
tato monyet di pipinya itu menunjuk dengan dagunya ke arah ruang VIP.
Di sana, Marquis
Oobuts sedang mengiris sesuatu yang menyerupai kristal biru muda di atas piring
menggunakan pisau, lalu memasukkannya ke dalam mulut.
"I-Itu...
apa?"
"Inti Roh.
Itu adalah sumber jiwa dari para roh. Kalau dimakan, kau akan mendapatkan
kemampuan fisik dan Mana melampaui batas manusia."
"Lalu,
bagaimana dengan roh itu sendiri?"
Tanya Miu
dengan suara bergetar.
"Ah,
itu sudah kusingkirkan dengan rapi sebelum aku mengambilnya. Ini memang tidak
terlalu berguna bagi rakyat biasa yang tidak bisa menggunakan sihir, tapi
setidaknya kemampuan fisik mereka akan melonjak drastis, dan usia mereka juga
akan sedikit lebih panjang."
Pria
kecil bertato monyet itu berbicara dengan sangat bangga tentang komoditas
berharga para bangsawan itu.
Miu sama
sekali tidak bisa merasakan kenyataan karena perbedaan yang begitu mencolok
antara isi percakapan yang sangat kejam dengan nada bicara pria itu yang begitu
santai.
Hanya ada satu
hal yang dia pahami sekarang—.
"Kalian
semua bukan manusia!"
Miu berteriak
dari lubuk hatinya yang terdalam.
Pria itu tertawa
mengejek Miu yang meninggikan suaranya,
"Tentu saja.
Apa kau tahu Gift milikku? Aku adalah seorang Summoner.
Singkatnya, aku dicintai oleh Dewa Perang Suci Ares, bisa dibilang aku ini
adalah Anak Dewa. Dalam artian tertentu, aku memang sudah melampaui
manusia."
Dia melontarkan
omong kosong yang benar-benar gila itu.
Tidak
bisa. Orang-orang dewasa ini benar-benar tidak waras. Bagi Miu, orang-orang ini
hanya terlihat seperti iblis yang muncul dalam cerita pengantar tidur sewaktu
dia masih kecil.
"Kalian
semua—pasti akan dikalahkan!"
Meskipun
baru sebentar tinggal bersama, dia bisa memahaminya. Miu tidak yakin kalau Kak
Kai akan membiarkan orang-orang serakah seperti mereka bertindak sesuka hati.
"Ya, ya.
Sepertinya semua persiapannya sudah selesai sekarang."
Entah karena
menganggap kata-kata tulus Miu sebagai ocehan pecundang atau bukan, pria
bertato monyet itu mengalihkan pandangannya ke tengah arena gladiator sambil
memamerkan senyum buruk rupanya.
Di depan alas
tempat Kak Ash dibaringkan, Kak Emi yang mengenakan celemek putih berdiri
dengan wajah pucat pasi.
"Nah, para
hadirin sekalian! Permainan yang tadi sempat tertunda karena campur tangan
hewan buas, kini akan kami ubah rencananya sesuai dengan usulan dari pihak
penyelenggara!"
Ketika pria
berpakaian hitam putih yang bertindak sebagai pembawa acara itu membuat
deklarasi, sorak-sorai yang riuh kembali menggema dari kursi penonton.
Kemudian, sebuah
sangkar besi dibawa dari belakang. Di dalamnya, ibu dan anak kelinci itu
dikurung dengan keadaan kedua tangan dan kaki mereka terikat.
"Seperti
yang Anda semua ketahui, ini adalah roh tingkat menengah yang dikendalikan oleh
Summoner kita! Dan mari kita perkenalkan tamu kita! Pertama-tama, Emi
yang akan berperan sebagai Koki dalam acara kali ini!"
Dia mengarahkan
tangan kanannya ke arah Kak Emi dan mengeraskan suaranya. Mendengar sorakan
yang kembali membahana, Kak Emi menggigit bibir bawahnya dengan penuh rasa
frustrasi.
Miu sama sekali
tidak percaya kalau Kak Emi mau mengotori tangannya untuk melakukan tindakan
sekejam ini. Dia mungkin dipanggil ke tempat ini dengan Marco sebagai
sanderanya.
"Selanjutnya
adalah wanita milik anak nakal yang telah bersikap tidak sopan kepada Yang
Mulia Marquis Oobuts! Setelah kita menyuruh wanita ini mengeksekusi ibu dan
anak roh tingkat menengah itu serta hewan buas yang menerobos masuk tadi, kita
akan menjadikannya budak Marquis Oobuts sampai dia mati!"
Tidak mungkin Kak
Ash yang begitu baik hati mau melakukan hal seperti itu. Seharusnya begitu,
tapi pada saat itu, insting bahaya Miu membunyikan alarm peringatan dengan
sangat keras.
Dan benar saja,
firasat Miu menjadi kenyataan dalam bentuk yang paling buruk.
"Uggh!"
Sambil mengerang
seperti binatang buas, Kak Ash melompat dari atas altar layaknya ditarik oleh
pegas, lalu mendarat di tanah.
Benang-benang
tipis melilit seluruh tubuh Kak Ash, dan ada monster bertopeng yang melayang di
atas kepalanya sambil mengendalikan benang tersebut dengan kedua tangannya.
(Itu... apa?)
Sayap putih yang
tumbuh di punggung monster bertopeng itu. Penampilannya itu benar-benar
terlihat seperti—.
"Nah,
permainan akan segeraaa dimulaai!"
Saat pembawa
acara mengangkat tangan kanannya, orang-orang berpakaian hitam di sekitarnya
membuka kunci pintu sangkar tempat ibu dan anak roh kelinci itu dikurung.
"Pertama-tama,
kita mulai dengan perburuan ibu dan anak kelinci iniiii!"
"Gugagaga...."
Dengan mata yang
memutih, Kak Ash mencabut pedang panjang yang tertancap di tanah dengan tangan
kanannya, lalu mulai mendekati roh tersebut.
Sang ibu
roh kelinci memeluk anaknya erat-erat sambil mengerang. Tiba-tiba, Kak Ash
menghentikan langkahnya.
"La...
ri... lah...."
Kata-kata
itu terucap dari mulutnya yang meneteskan air liur. Roh kelinci itu sempat melebarkan matanya karena
terkejut melihat sosok Kak Ash.
Tapi tak lama
kemudian, dia menghilangkan permusuhannya dan menutup kelopak matanya dengan
ekspresi meminta maaf.
"Waah! Aku
tidak menyangka dia akan melawan benang keajaiban dari Utusan yang dipanggil
dari surga oleh Pendeta kita. Benar-benar wanita yang penuh dosa! Seperti yang
diharapkan dari wanita sampah yang telah bersikap tidak sopan kepada anak dewa
kita, Marquis Oobuts!"
Di tengah seruan
antusias sang pembawa acara, Kak Ash terus diseret hingga mendekati ibu dan
anak roh kelinci itu. Akhirnya dia masuk ke dalam jangkauan tebasannya, dan
mengangkat pedang panjangnya dengan kedua tangannya.
Kak Ash gemetar
hebat berusaha menahannya, tubuhnya menjadi kaku. Ruangan kembali bergejolak
dan dengan cepat berubah menjadi hiruk-pikuk.
"Cepat bunuh
mereka!"
Marquis Oobuts
berteriak mendesak dengan urat tebal yang menonjol di dahinya, namun Kak Ash
tetap tidak bergerak.
"Woi,
Dokubachi!"
Pria botak
berbibir tebal yang tampaknya adalah sang bos memberikan instruksi kepada pria
kecil bertato lambang monyet di pipi kanannya, Dokubachi.
"Ya,
ya. Mengerti, Bos."
Dia
mengangkat bahunya dan menjentikkan jari. Seketika, kawanan lebah yang tak
terhitung jumlahnya muncul dari tubuh Dokubachi dan mengerumuni Kak Ash.
"Gu...."
Dia
mengeluarkan erangan tertahan karena disengat lebah, dan pedang panjangnya
perlahan mulai diayunkan ke bawah.
"Jangaaaan!"
Tepat
ketika Miu berteriak secara spontan—garis-garis merah menyala melintasi
lebah-lebah yang mengerumuni Kak Ash, serta pada benang yang menempel di
sekujur tubuhnya.
Lebah-lebah
itu meledak, dan benang yang mengendalikan Kakak pun terputus. Kak Ash yang
kehilangan kesadaran dan hampir tumbang itu kemudian ditopang oleh seorang
pemuda berambut hitam yang tampak liar, yang membaringkannya perlahan ke tanah.
Dengan
wajah bengis bagaikan iblis jahat, pemuda itu mengarahkan ujung pedang
panjangnya ke arah monster bersayap putih yang melayang di udara.
—Kisah
antara Miu dan pemuda yang berasal dari Kekaisaran, kini dengan jelas
bersinggungan di sini.
◇◆◇
—Waktu
mundur ke beberapa minggu yang lalu.
Segera
setelah Jignir tiba di Barse, dia mencoba menghubungi pedagang budak untuk
mencari tahu identitas orang yang telah menebus Miu, putri Gaus. Sayangnya,
mereka sudah memindahkan basis operasinya dari Barse ke sebuah kota baru.
Oleh karena itu,
dia mengunjungi kota baru [Cartel], tapi....
"Apa-apaan
ini..."
Jignir bergumam
sendiri dengan pipi berkedut melihat pemandangan yang terlalu tidak masuk akal
itu.
Taman yang asri
dan terawat dengan bunga-bunga indah yang ditanam di sekelilingnya, serta
sebuah air mancur yang terletak di tengahnya. Lalu, ada sebuah bangunan raksasa
yang sangat mewah sehingga sulit dipercaya kalau itu dibuat oleh manusia.
Dia nyaris tidak
bisa mengenalinya sebagai kenyataan, andai saja tidak ada bangunan-bangunan
biasa dari bata bergaya rakyat jelata yang sedang dibangun di sekitarnya.
"Sepertinya
inilah kota baru yang belum lama ini dibangun."
Seorang pria
paruh baya berambut putih mengelus jenggotnya yang terbentuk rapi, sambil
mengucapkan fakta yang sebenarnya tidak perlu dijelaskan lagi.
Pria paruh baya
ini memperkenalkan dirinya sebagai Ruth. Menilai dari sikapnya, seperti cara
berjalannya dan caranya menghilangkan hawa keberadaannya dengan sangat alami,
pria bernama Ruth ini jelas bukanlah pedagang biasa.
Kemungkinan
besar, sama seperti Jignir, dia adalah tipe orang yang telah menjalani
kehidupan di mana pertempuran menjadi makanan sehari-hari selama
bertahun-tahun.
"Jadi? Apa
kau tahu di mana markas pedagang budak itu?"
"Ya,
kira-kira..."
Tumben sekali
Ruth berbicara dengan kata-kata yang ambigu seperti ini. Saat Jignir
memiringkan kepalanya dengan heran, alasannya segera terungkap.
"Perusahaan
Penyalur Tenaga Kerja Giri?"
Nama yang
tertulis di papan reklame yang rapi itu sangatlah wajar dan sama sekali tidak
ada hubungannya dengan pedagang budak.
"Tempat
ini benar-benar pedagang budak kan?"
"Seharusnya
begitu...."
"Sama sekali
tidak terlihat seperti itu...."
"Bagaimanapun
juga, diam di sini saja tidak akan menyelesaikan masalah. Mari kita masuk dan
bertanya di dalam."
"Kau
benar."
Mereka masuk ke
dalam bangunan itu. Di
dalamnya dipenuhi dengan kerumunan orang.
Saat
mereka mengantre dan menunggu giliran di meja resepsionis, obrolan seorang
wanita yang mengantre tepat di depan Jignir terdengar di telinga mereka.
"Apa
aku benar-benar bisa dipekerjakan!?"
Seorang
wanita yang mengenakan pakaian yang sangat terbuka, mencondongkan tubuhnya ke
depan dan bertanya kepada pria berpakaian rapi di meja resepsionis.
"Tentu. Saat
ini ada lowongan pelayan untuk restoran yang baru saja buka. Gaji bulanannya
12.000 Oru, bagaimana dengan tawaran ini?"
"12.000 Oru?
Gajinya sebesar itu!? Aku
mau! Aku ambil!"
"Kalau
begitu, silakan tanda tangani dokumen ini. Mulai sekarang, kami akan memberikan
dukungan penuh sampai Anda resmi dipekerjakan."
"M-Mohon
bantuannya ya!"
Sambil menangis,
wanita itu meraih tangan pria resepsionis itu dan menundukkan kepalanya
berkali-kali.
"Hei,
tempat ini benar-benar mantan pedagang budak kan?"
"Iya. Yah,
saya juga jadi kurang yakin sekarang."
Sambil mengangkat
bahu, Ruth menyampaikan keperluannya kepada pria resepsionis itu. Tatapan pria
itu seketika berubah sebelum dia menghilang ke ruangan belakang.
Setelah itu,
mereka diantar ke tempat yang tampak seperti ruang tamu.
Seseorang yang
duduk berseberangan di sofa itu adalah pria berambut hitam yang memakai riasan.
Di belakangnya, para penjaga berseragam hitam toko ini berdiri tegak tanpa
bergerak, pria berias inilah yang kemungkinan besar adalah manajer perusahaan
ini.
"Aku sudah
menunggumu, kupikir kalian pasti akan segera datang."
"Menunggu
kami? Padahal saya sama sekali belum mengatakan kalau akan berkunjung
lagi."
Ruth mengerutkan
alisnya dan bertanya kepada pria berias itu. Namun pria itu sama sekali tidak
menjawab, dan malah meletakkan gulungan perkamen yang disegel di atas meja.
"Apa
ini?"
"Entahlah,
aku juga tidak tahu detailnya, tapi ini pasti benda yang kalian cari."
"Apa ini
berisi informasi tempat gadis bernama Miu itu berada!?"
Saat Jignir
meninggikan suaranya, sang manajer menyipitkan matanya.
"Keterikatanmu
pada gadis itu. Pada akhirnya, hidup kalian juga akan diubah oleh gadis itu,
sama sepertiku."
Manajer itu
melontarkan kata-kata penuh makna sambil tertawa geli.
"Hidup kami
akan diubah?"
"Iya. Tapi,
aku hanya disuruh memberikan ini tanpa mengatakan apa-apa. Itu adalah instruksi
dari Beliau. Jadi, aku tidak bisa menceritakan lebih jauh tentang masalah
ini."
Dia menggelengkan
kepalanya dari sisi ke sisi, menolak untuk memberikan detail lebih lanjut.
"Kalau
begitu, setidaknya jawab saja apakah gadis bernama Miu itu selamat atau
tidak!"
"Oh, kalau
soal itu sudah terjamin. Karena ini berkaitan dengan Beliau, anak itu pasti
dirawat dan sangat disayangi layaknya anak sendiri."
"Begitu
ya...."
Tidak ada
keuntungan bagi pria di depanku ini untuk berbohong. Dia mungkin benar-benar
bersungguh-sungguh dengan ucapannya. Setidaknya, situasi kritis saat ini
sepertinya telah berlalu.
"Yah, kurasa
satu nasihat saja masih bisa dimaafkan untuk kuberikan."
"Nasihat?"
"Ya, mulai
dari sini kalian akan dihadapkan pada sebuah pilihan."
"Pilihan apa
itu?"
Menanggapi
pertanyaan Ruth, pria manajer itu menyesap cangkirnya di atas meja sejenak.
"Memilih
keselamatan diri sendiri dan menjalani kehidupan seperti biasa, atau memilih
jalan penderitaan dan melangkah masuk ke dalam kisah Beliau. Mengingat ini
adalah ujian dari Beliau, itu pasti akan menjadi tantangan yang sangat
mustahil."
"Namun, jika
kalian tidak lari dan terus menghadapinya, aku yakin masa depan yang penuh
senyuman telah menanti kalian di ujung sana."
Dengan ekspresi
yang sangat misterius, dia mengucapkan sesuatu yang sama sekali tidak bisa
dipahami maknanya.
"..."
Tanpa
mempedulikan Jignir dan yang lainnya yang tampak kebingungan, pria itu kembali
bicara.
"Ah,
aku baru saja mengatakan sesuatu yang tidak sesuai dengan karakterku. Kalau
sudah menyangkut Beliau, entah kenapa aku jadi kehilangan kendali. Baiklah,
karena aku sibuk, aku pamit dulu ya."
Dia
tersenyum kecut dan dengan langkah gagah segera meninggalkan ruangan tersebut.
Di tempat
itu, Ruth membuka segel perkamen dan memeriksa isinya. Di sana tertera sebuah
lokasi yang ditunjuk di Ibukota Raja.
"Ruth,
bagaimana menurutmu?"
"Ya,
kemungkinan besar informasi tentang Nona Miu ada di sini."
Tentu saja, bukan
itu maksud dari pertanyaan Jignir.
Dia menanyakan
tentang sebutan 'Beliau' yang terus muncul di setiap perkataannya. Juga tentang
makna dari kalimat penuh teka-teki yang diucapkan manajer itu di akhir.
"Kau benar.
Kita tidak punya pilihan selain pergi ke sana."
Jignir tidak tahu
apa niat dari sosok yang disebut 'Beliau' itu. Namun, Jignir telah bersumpah
untuk mengantarkan gadis bernama Miu kembali kepada ayahnya, Gauss.
Dia pasti akan
menyelesaikannya. Lagipula, hanya itulah satu-satunya tujuan Jignir yang saat
ini sedang kehilangan arah.
Segera setelah
itu, Jignir dan Ruth memacu kereta kuda mereka menuju Ibukota Raja. Saat ini,
mereka telah tiba di sebuah rumah bata tunggal yang merupakan alamat dari
perkamen tersebut.
"Ya ampun,
kalian datang juga. Halo, mantan Kaisar Pedang Kekaisaran, Tuan Jignir, dan
mantan Komandan Ordo Ksatria Penyihir Raja Suci dari Kerajaan Amelia, Tuan
Lucas. Namaku Mujina sang informan, salam kenal."
Seorang gadis
berbalut jubah hitam dengan pakaian yang sangat terbuka menyapa mereka dengan
kalimat yang sangat mengejutkan.
Ia mengembuskan
asap dari pipa rokoknya sambil menatap mereka dengan tatapan terhibur.
Jignir pernah
mendengar nama itu dari kakeknya. Lucas sang Ular Api, mantan anggota Ordo
Ksatria Penyihir Raja Suci.
Kalau tidak
salah, dia adalah komandan yang menyandang gelar sebagai yang terkuat sepanjang
sejarah Ordo Ksatria tersebut.
Memang benar,
jika pria ini adalah Lucas yang legendaris itu, maka semua gerak-geriknya yang
luar biasa menjadi sangat masuk akal.
"Kami ingin
tahu keberadaan Nona Miu. Kamu bersedia memberitahukannya, kan?"
Berbanding
terbalik dengan Jignir, Lucas langsung membahas inti permasalahan tanpa
menunjukkan sedikit pun rasa goyah.
"Aku cuma
bisa menyampaikan apa yang diminta oleh Tuanku. Sisanya, kalian berdua yang
harus memutuskannya sendiri."
Gadis bernama
Mujina itu membuka mulutnya tanpa mengiyakan maupun menyangkal pertanyaan
Lucas.
"Dasar aib
Kerajaan!"
Lucas memuntahkan
kata-kata penuh amarah. Mendengar informasi yang dilontarkan Mujina, Lucas yang
biasanya sangat tenang kini menunjukkan ekspresi kemarahan yang luar biasa.
Jignir
tidak menganggap reaksi Lucas itu aneh.
Jika Kekaisaran
yang melakukan hal tersebut, Jignir pasti akan menunjukkan reaksi yang sama.
Seburuk dan
senista itulah isi cerita yang baru saja mereka dengar.
Namun,
ada hal yang mengganjal.
Jika
dipikir dari sudut pandang terburuk, cara ini seolah menggunakan anak bernama Miu
sebagai sandera agar Jignir dan Lucas mau membersihkan 'sampah' untuk mereka. Oleh karena itu, dia tidak bisa menahan
diri untuk bertanya.
"Dengan
memberitahu kami, apakah 'Tuan'-mu itu berniat menyuruh kami memperbaiki dunia
ini?"
"Memperbaiki
dunia? Tuan itu!? Kuhyahyahyahya!"
Keraguan Jignir
yang wajar itu sepertinya adalah sebuah kesalahan besar. Mujina berteriak
dengan suara melengking, lalu tertawa terbahak-bahak sambil memegangi perutnya.
"Apa
pertanyaan dia barusan sebegitu lucunya?"
Lucas bertanya
pada Mujina dengan dahi berkerut.
"Maaf saja,
tapi Tuan bukanlah orang baik seperti itu. Kalau bicara manisnya, dia itu orang yang
bebas. Tapi buruknya, dia itu sangat egois dan egosentris. Dia tidak akan
pernah memikirkan hal-hal seperti memperbaiki dunia seperti yang kalian
bayangkan."
Sambil mengisap
pipanya, dia menegaskan hal itu seolah menekankan setiap kata. Mendengar ucapan
Mujina, kewaspadaan yang kuat langsung tergambar di wajah Lucas.
"Seberapa
jauh yang kamu tahu?"
"Ceritaku
cukup sampai di sini. Sisanya, kalian sendiri yang putuskan."
"Tunggu
dulu! Bagaimana dengan keberadaan anak ras Beastkin bernama Miu itu?"
Dia melontarkan
pertanyaan dengan nada jengkel kepada Mujina yang berbicara setengah-setengah.
"Itu di luar
bayaran kali ini. Tentu saja, aku akan memberitahumu kalau ada bayaran
tambahan, tapi apa kalian punya waktu untuk itu?"
"Apa
maksudmu?"
"Pelelangan
yang kusebutkan tadi, akan diadakan malam ini."
Matahari sudah
mulai terbenam. Itu artinya―.
"Sial!
Kenapa kau tidak mengatakannya lebih awal! Jignir, maafkan aku. Ada sesuatu
yang harus aku selesaikan."
Lucas bereaksi
sangat keras terhadap beberapa orang yang disebutkan dalam cerita Mujina.
Mungkin ada dendam masa lalu di antara mereka.
Terlebih lagi,
selama perjalanan, Lucas telah membasmi bandit dan goblin yang menyerang desa
tanpa meminta bayaran. Pada dasarnya, dia memang bukan tipe orang yang bisa
menoleransi perbuatan keji seperti ini.
"Sudah
kuduga. Aku juga akan membantu."
Tujuan Jignir
adalah melindungi gadis bernama Miu. Melakukan tindakan yang bertentangan
dengan tujuan itu tidak akan memberinya keuntungan apa-apa.
Namun, secara
alami, kata-kata untuk meminjamkan kekuatan terlontar dari mulutnya.
"Kupikir
Kaisar Pedang Kekaisaran adalah pria yang jauh lebih dingin."
"Aku juga
berpikir begitu."
Lucas tertawa
terbahak-bahak sejenak, namun ekspresinya segera kembali serius.
"Terima
kasih. Itu sangat membantu. Kalau begitu, mari kita pergi!"
Dia
bergegas berlari ke luar ruangan. Jignir pun ikut berlari menyusul Lucas.
Biar
bagaimanapun, Jignir adalah mantan Kaisar Pedang.
Ditambah
lagi, ada Lucas sang Ular Api terkuat sepanjang sejarah di sisinya.
Mereka
bisa menyusup masuk dengan sangat mudah.
Kemudian,
mereka tiba di sebuah tempat yang menyerupai arena pertarungan raksasa
berbentuk oval.
Udara
panas dan sorak-sorai membahana di dalam sana.
Mereka
seolah sedang mendukung aksi dari sosok bersayap putih bersih yang
mengendalikan seorang gadis berambut hitam untuk membunuh sepasang makhluk
berwajah kelinci.
"Keparat
kalian semua!"
Begitu
matanya menangkap pemandangan itu, tubuh Jignir bergerak dengan sendirinya.
Dia
menjejak tanah beberapa kali dan mencapai gadis berambut hitam yang hendak
mengayunkan pedang panjangnya.
Jignir
menghunuskan pedang panjang dari pinggangnya dan langsung memotong benang
tersebut.
Dia
menangkap gadis berambut hitam yang rubuh bagaikan boneka putus benang itu,
lalu membaringkannya di tanah. Setelah itu, dia mengarahkan ujung pedangnya
pada makhluk aneh yang mengendalikan sang gadis.
Di sela
waktu itu, Lucas mendekati gadis ras Beastkin tersebut.
Saat
tangan kanannya menyentuh rantai yang mengikat gadis itu dan merapalkan semacam
mantra, sebuah lingkaran sihir muncul namun langsung menghilang dengan bunyi
pashun.
"Sepertinya
ini adalah sihir pengikat yang sangat merepotkan. Nampaknya sulit untuk
melepaskannya di sini. Tapi sebelum itu―"
Dia
menatap tajam ke arah seorang pria dengan wajah raksasa dan jarak hidung ke
bibir yang panjang, yang sedang duduk santai di kursi penonton.
"Mari kita
bersihkan sedikit sampah di negara ini."
Lucas mencabut
pedang panjang dengan bilah melengkung dari sarung di pinggangnya, lalu
memasang kuda-kuda.
"B-brengsek
kau, Lucas!"
Pria berwajah
raksasa dengan bentuk hidung yang aneh itu bangkit dari kursinya dan berteriak
penuh kepanikan. Ketakutan yang pekat terpancar jelas di wajahnya.
"Lama tidak
berjumpa. Obutz, aku tidak menyangka kau masih melakukan hal semacam ini tanpa
merasa kapok."
"B-berisik!
Dasar pengkhianat penjual negara!"
"Ayahmu
benar-benar pria yang terhormat. Karena itu, aku sempat berharap sifat busukmu
itu bisa diperbaiki di bawah bimbingan Yang Mulia Marquess. Tapi sepertinya aku
salah."
"Sampah akan
tetap menjadi sampah di mana pun berada. Seharusnya aku membersihkanmu saat itu
juga. Namun, sekarang pun belum terlambat. Aku akan memperbaiki kesalahanku di
masa lalu di sini."
"B-bunuh
dia! Orang itu adalah teroris! Cepat bunuh dia!!"
Saat dia
berteriak histeris, sekawanan pria berbaju kuning dengan sulaman monyet di
punggung mereka mulai mengepung Jignir dan Lucas.
"Bodoh!
Apa kalian pikir bisa menang hanya dengan berdua?"
Pria
botak berbibir tebal yang bersikap angkuh—tampaknya bos dari kelompok berbaju
kuning itu—mengarahkan pedang besarnya ke arah Jignir dan Lucas.
"Tentu
saja."
Benar,
Jignir hanyalah pendekar pedang kelas tiga.
Namun,
kemampuannya belum jatuh sampai ke titik di mana dia akan kalah dari amatiran
yang bahkan tidak tahu cara berpedang. Buktinya―.
Hanya
dengan melangkah beberapa kali, dia sudah masuk ke dalam jangkauan serangannya.
"Hah?"
Preman
berbaju kuning itu sama sekali tidak bisa mengikuti pergerakan Jignir dan
mengeluarkan suara bingung.
Detik
berikutnya, pedang panjang Jignir menebas lehernya.
Di tengah
cipratan darah, dia menendang tubuh preman yang jatuh ke tanah itu sambil
bergerak menuju target selanjutnya.
"Hiii!?"
Dia
menusukkan pedangnya ke leher pria berambut pendek yang menjerit ketakutan
hingga tewas.
Saat
menarik pedangnya, dia membelah kepala pria berkepala plontos di sebelahnya
dengan satu tebasan.
Tanpa
membuang waktu, dia menendang tanah dan berlari kencang. Ia menebas leher pria
berambut mohawk saat berpapasan dengannya.
"Uwa?"
Dia terus
menerjang dan menusukkan pedangnya ke tengah alis pria di depannya.
Di saat
yang sama, dia melesat maju dan memenggal dua pria yang berada di jalur
lurusnya.
Hanya
dalam beberapa tarikan napas, sekumpulan mayat berbaju kuning telah
bergelimpangan.
"M-Monster!"
Seiring
dengan jeritan itu, orang-orang berbaju kuning mulai menjauh dari Jignir.
"Kau
kuat juga, ya! Bagaimana, mau bergabung dengan kami? Meskipun kami ilegal, kami
berada di bawah perlindungan Pahlawan Mashiro. Pemerintah Kerajaan Amelia ini pun pada praktiknya
menutup mata terhadap kami. Sungguh, kau tidak akan pernah kekurangan harta,
wanita, maupun makanan enak!"
Pria botak
berbibir tebal yang merupakan bos mereka itu, memberikan tawaran yang bahkan
tidak layak untuk dipertimbangkan.
"Mati
kau!"
Dengan penuh niat
membunuh, Jignir berlari ke arah sang bos dan menebas lehernya dengan pedang
panjang. Terdengar suara seperti logam bergesekan, namun pedang Jignir tertahan
di kulit leher pria itu.
"Sayang
sekali. Senjata tidak mempan padaku!"
Dia
menyeringai lebar dan melontarkan tinju sebesar batang kayu.
"Cih!"
Jignir
seharusnya bisa menghindarinya dengan mudah menggunakan langkah mundur, tetapi
pakaian atasnya malah robek menjadi dua.
"Kami telah
meminum Batu Roh dan mendapatkan kekuatan dari dimensi lain! Sudah terlambat
kalau kau mau memohon ampun! Akan kucincang kau dan kujadikan makanan
monster!"
"Menyedihkan
sekali..."
Lucas menyuarakan
sentimen yang sama persis dengan apa yang Jignir rasakan saat ini. Benar
sekali. Apa dia benar-benar berpikir Kekaisaran belum mencampuri hal tabu
semacam itu?
Peningkatan
kekuatan murahan seperti itu tidak akan cukup untuk membuat seseorang meraih
posisi tinggi di Kekaisaran. Dengan kata lain, hasil pertarungan ini sudah
jelas.
Daripada sampah
semacam ini, makhluk aneh bersayap putih yang entah sejak kapan telah
menghilang itulah yang jauh lebih mengkhawatirkan.
"Omong
kosongmu sudah cukup. Akan kubunuh kau, jadi cepatlah maju."
Jignir
memprovokasi dengan mengarahkan telapak tangan kirinya ke bawah dan menekuk
jari-jarinya. Seketika itu juga, urat tebal menonjol di dahi sang bos.
"Hei,
Dokubachi, kau urus kakek tua itu! Biar aku yang membereskan pecundang yang tidak tahu posisi dan situasi
ini!"
"Tentu!
Dimengerti, Bos!"
Mendengar
Dokubachi yang mengangguk, Lucas bergumam.
"Aku
sungguh diremehkan oleh bocah amatir. Kemarilah. Akan kuajarkan pada kalian bagaimana cara orang dewasa
bertarung."
Dengan kalimat
terakhir itu, aura Lucas yang biasanya santai berubah menjadi sesuatu yang
berbahaya, bagaikan hewan buas pemakan daging.
"Hei,
lebah-lebahku, bunuh dia!"
Ribuan lebah
muncul dari sekeliling Dokubachi. Mereka semua menerjang Lucas secara serempak
dengan kecepatan tinggi.
Lucas
mengayunkan pedang melengkungnya sambil bersenandung.
Beberapa
pusaran api muncul di udara, menelan habis kawanan lebah tersebut.
Hanya
dengan satu serangan, kawanan lebah yang begitu banyak itu lenyap tak bersisa
terbakar menjadi abu.
"Apa!?"
Saat
Dokubachi berseru kaget, Lucas sudah berada di dalam jangkauan serangnya.
"Kuhi!?"
Jeritan
kecil Dokubachi terdengar bersamaan dengan pedang Lucas yang membelah tubuhnya.
Tubuh pria itu terbelah menjadi dua dan terbakar habis saat jatuh ke tanah.
"Hah?"
Sang bos
membuka mulutnya lebar-lebar dan mengeluarkan suara konyol karena kematian
bawahannya yang begitu mudah.
Jignir
mengalirkan kekuatan sihir ke pedangnya, lalu mendekati sang bos dan menebas
lengan kanannya yang memegang pedang besar.
Pedang
Jignir memotong lengan kanan pria itu dengan mudahnya bagaikan memotong tahu,
lalu dengan putaran pedangnya, ia menebas putus kedua kaki musuhnya.
"Gi?"
Dia
terdiam kebingungan sejenak saat menyadari tubuhnya terpotong.
Setelah
akhirnya memahami situasinya, dia menjerit histeris dengan suara yang
memekakkan telinga.
"Sakit!
Sakit sekali!"
Dia
berguling-guling menyedihkan di lantai.
"Tentu
saja sakit, kan habis ditebas."
Jignir
mendekatinya perlahan dan mengangkat pedangnya tinggi-tinggi.
"Kenapa,
kenapa dengan tubuh tak terkalahkanku!?"
"Tubuh tak
terkalahkan? Itu sama sekali bukan sesuatu yang tak terkalahkan. Itu hanyalah
kekuatan pinjaman yang membosankan."
Pria ini
sepertinya telah menyerap Inti Roh yang memiliki dua kemampuan berbeda, yaitu
pengerasan dan pemotongan. Namun, aturan mutlak saat menyerap kemampuan khusus
adalah fokus pada satu efek saja.
Batas maksimal
jumlah mana yang bisa digunakan sudah ditentukan, bahkan orang bodoh pun tahu
bahwa memusatkan kekuatan jauh lebih efisien daripada menyebarkannya. Dengan
kata lain, mereka justru melemahkan kekuatan itu sendiri. Terlebih lagi, inti
sebenarnya dari kekuatan itu tidak terletak pada hal semacam itu―.
"Kekuatan...
pinjaman?"
"Hanya
dengan menyerap Inti Roh, apa kau pikir kau sudah melampaui Roh itu sendiri?
Kekuatan itu sama sekali belum menjadi milikmu."
Mereka telah
mengabaikan latihan yang paling penting bagi pengguna kemampuan khusus.
Kemampuan itu sama sekali belum menyatu dengan mereka.
Eksperimen Inti
Roh adalah hal yang biasa di Kekaisaran. Pengguna kemampuan yang lahir dari
eksperimen itu jarang sekali melakukannya atas kehendak sendiri seperti mereka.
Sebagian besar
dari mereka dipaksa melakukannya. Selain itu, melalui pelatihan yang sangat
brutal, sembilan puluh persen dari mereka hancur, dan hanya sepuluh persen
sisanya yang bertahan menjadi pasukan resmi Kekaisaran sebagai prajurit khusus.
Jignir telah
menundukkan monster-monster semacam itu dengan kekuatannya hingga menjadi salah
satu dari Enam Jenderal Ksatria Kekaisaran.
Itulah sebabnya
ia sempat salah paham bahwa dirinya kuat, tapi dia belum jatuh sampai ke titik
kalah dari orang yang bahkan bukan seorang prajurit.
"Tidak
mungkin... Aku... seharusnya menjadi... yang terkuat..."
"Gelar
terkuat tidak semudah yang kau bayangkan."
Bayangan
pendekar pedang berambut abu-abu yang terkuat itu melintas di benaknya saat ia
menebas putus kepala sang bos.
Melihat
'Monyet Liar'—salah satu kelompok penjahat ternama di kerajaan—kalah dengan
begitu mudah, suara kekecewaan dan kepanikan terdengar dari berbagai penjuru
kursi penonton.
"L-lari!"
Teriakan itu
memicu sebagian penonton untuk bergegas lari menuju pintu keluar arena
pertarungan.
"Jangan
dorong!"
"Brengsek!
Kau yang minggir!"
Mereka
berkerumun di depan pintu dengan memalukan, saling berebut untuk membukanya
lebih dulu. Kemudian, pintu ganda itu perlahan terbuka.
"Terbuka!"
Tepat
ketika mereka bersorak kegirangan, bagian atas tubuh penonton itu terkoyak dan
lenyap seketika. Seekor makhluk raksasa berwujud setengah badan bagian atas
yang mirip oni melayang perlahan dari luar pintu.
"Hiiiiiihhhh!"
Makhluk
itu menangkap salah satu penonton yang menjerit dengan kedua tangannya, lalu
mulai memakannya dari bagian kepala dengan suara kunyahan yang keras.
Jeritan kematian
itu disusul oleh teriakan ketakutan yang menggema hingga hampir menghancurkan
seluruh arena. Di tengah kekacauan itu,
"Tuan Tamu,
apa maksud Anda membiarkan penonton dimakan!?"
Seorang pria
berjas hitam yang tampaknya adalah sang pembawa acara berteriak bertanya sambil
menatap tajam pria berjubah merah, yang masih dengan santai meminum anggur di
kursi VIP meski keributan terjadi. Saat mata Jignir mengenali sosok yang
menjijikkan itu―.
"Third!"
Jignir berteriak
sekeras-kerasnya. Dia tidak akan melupakannya. Dia sama sekali tidak akan
pernah melupakan sosok itu. Salah satu dari mantan Enam Jenderal Ksatria
Kekaisaran―Third.
Seorang pemanggil
yang diberi gelar 'Number', gelar yang diberikan oleh Kaisar Kekaisaran Amnes
kepada mereka yang telah memberikan kontribusi besar pada kekaisaran di masa
lalu.
Dia juga
merupakan guru dari mendiang Enz. Orang ini adalah bajingan paling busuk dan
terburuk, yang pernah membantai habis suku asing di perbatasan melalui
eksperimen manusia hanya demi memanggil seorang Transcender.
"Maaf, ya.
Aku sudah bilang pada anak-anak manjaku kalau mereka boleh langsung memakan
siapa saja yang keluar dari gedung ini tanpa izin. Jadi, tolong jangan terlalu
menyalahkan anak-anakku."
Pembawa acara itu
melirik sekilas ke arah Marquess Obutz.
"I-itu
tidak penting sekarang! Cepat bunuh para pengganggu kurang ajar itu!"
Marquess
Obutz berdiri, menunjuk Lucas dengan jari telunjuknya, dan memberikan perintah.
"Yang Mulia
Marquess kami menginginkan pemusnahan para penyusup. Tuan Tamu, bisakah kami
meminta Anda membereskan penyusup-penyusup ini?"
Mendengar
perkataan pembawa acara yang seolah tak menerima penolakan, Third mengangkat
bahunya.
"Kita adalah
kawan yang bekerja sama untuk sebuah tujuan. Tentu saja boleh."
Dengan wajah yang
dipenuhi senyum kepuasan, dia berdiri lalu memetikkan jarinya.
Lebah berwajah
orang tua muncul dan terbang mengelilingi Jignir, sementara iblis setengah
badan yang baru saja memakan penonton turun mendarat di hadapan Lucas.
"Third,
kenapa kau bisa ada di tempat seperti ini!?"
Sebenarnya,
Jignir sudah bisa menebak alasannya. Terlebih lagi, ini adalah wilayah
kekuasaan Pahlawan Mashiro. Apalagi di negara ini juga ada adik dari Raja saat
ini.
Rumor mengatakan
bahwa sosok itu sudah bukan lagi manusia, dan telah mencapai ranah Transcender
sama seperti Four.
Hanya ada satu
alasan mengapa pengecut yang sangat berhati-hati ini berani menginjakkan
kakinya di wilayah berbahaya seperti ini.
"Kupikir
siapa, soalnya penampilanmu sudah banyak berubah. Ternyata kau si Kaisar Pedang
yang terlalu percaya diri itu, ya~"
Mendengar kata
Kaisar Pedang, keributan kecil terdengar dari arah kursi penonton.
"Mantan
Kaisar. Sekarang aku bahkan bukan lagi prajurit Kekaisaran. Lalu? Kenapa kau
ada di sini?"
"Hmm,
sebenarnya ceritanya panjang, tapi kurasa tak ada gunanya diceritakan pada
orang yang akan segera mati di sini. Tentu saja, kau tidak akan mati dengan
mudah, lho. Bukankah begitu, Kaisar Lebah Raksasa?"
Dia berbicara
kepada lebah berwajah manusia itu sambil mengukir senyum licik.
"Kau
memanggilku hanya untuk membunuh kurcaci ini? Walaupun dia lemah, aku akan
tetap menagih bayaranku, tahu?"
"Tentu saja.
Kalau sudah selesai, akan kuberikan koleksiku padamu. Ditambah lagi, kau bebas
melakukan apapun pada anak ras Beastkin itu."
Lebah berwajah
manusia itu mengarahkan pandangannya pada gadis ras Beastkin yang dirantai.
"Hmph,
kelihatannya cukup lembut dan lezat. Omong-omong, belakangan ini aku memang belum pernah memakan daging anak
perempuan. Kalau aku membuat bakso dari tubuhnya dengan cairan pelarut
rahasiaku, pasti akan jadi hidangan yang lezat. Baiklah, aku terima
tawaranmu."
Lebah
berwajah manusia itu terbang melayang di hadapan Jignir.
"Lalu
kau... sepertinya dagingmu tidak enak. Mungkin aku akan menjadikan tubuhmu
sebagai sarang inkubasi untuk lebah-lebahku saja."
"Coba
saja kalau bisa!"
Jignir
memasang kuda-kuda dengan pedangnya dan merendahkan titik berat tubuhnya.
"B-bagaimana
denganku!? Apa hadiahku!?"
Makhluk iblis
setengah badan itu memohon kepada Third.
"Iblis Mulut
Hantu, kau kan sudah makan cukup banyak tadi?"
"Iya, aku
sudah makan..."
Saat Iblis Mulut
Hantu bergumam sedih penuh kekecewaan, Third kembali bicara.
"Iya deh.
Aku mengerti. Kalau kau berhasil menyingkirkan kakek itu... ya, di sini
sepertinya ada banyak sekali stok makanan, bolehkah aku memberikannya
padanya?"
Dia menoleh untuk
meminta persetujuan pembawa acara.
"Tentu saja!
Jika kau membunuh bajingan itu, aku akan mengabulkan apapun permintaanmu!"
Marquess Obutz
menjawab menggantikan sang pembawa acara.
"Begitulah
katanya. Berusahalah yang keras. Paham?"
"Aku akan
berjuang!"
Melihat Iblis
Mulut Hantu yang meneteskan air liur, Lucas menghela napas panjang.
"Aku sangat
diremehkan oleh boneka kayu ini. Jignir, aku serahkan serangga itu padamu. Biar
aku yang memusnahkan boneka kayu ini."
Sambil memegang
pedang melengkungnya di tangan kanan, Lucas perlahan melangkah maju mendekati
iblis setengah badan bernama Iblis Mulut Hantu.
Dengan begitu,
ronde kedua dari pertarungan Jignir dan kawanannya pun dimulai.
Pertarungan
antara Jignir dan Kaisar Lebah Raksasa berjalan seimbang. Namun itu hanya di
awal saja, lama-kelamaan situasinya mulai berbalik arah.
Lebah itu terbang
dengan kecepatan tinggi mengelilingi Jignir, lalu memuntahkan cairan pelarut
dari arah belakang. Jignir memelintir tubuhnya untuk menghindar sambil
berteriak.
"Flying
Slash!"
Dia melepaskan
tebasan yang dilapisi dengan sihir. Teknik yang membutuhkan jeda pengumpulan
energi ini biasanya malah akan menjadi celah fatal saat melawan sesama pendekar
pedang setingkatnya, namun sangat efektif melawan lebah berwajah manusia itu.
"Uwoh!?"
Tebasan itu
membelah salah satu sayap sang lebah dan terus melesat maju, menusuk
dalam-dalam ke tubuh Iblis Mulut Hantu yang berada tepat di garis lurusnya.
"Gagh!?"
Saat Iblis Mulut
Hantu terbungkuk menahan sakit, pedang berlapis api milik Lucas membelah lengan
kanannya.
Menatap Iblis
Mulut Hantu yang menjerit kesakitan memegangi lukanya yang terbakar, Lucas
menatapnya dengan pandangan dingin.
"Pada
akhirnya, kau tak lebih dari sekadar monster pemakan manusia yang kurang
akal..."
Bersamaan dengan
kata-kata hinaan itu, dia mengayunkan pedang melengkungnya tepat ke tengah
kepala monster tersebut. Seluruh tubuh Iblis Mulut Hantu terbakar dan dalam
sekejap berubah menjadi abu.
Melihat hal itu,
Kaisar Lebah Raksasa menggertakkan giginya dengan keras lalu menyembuhkan
sayapnya yang terluka.
"Nah,
sekarang tinggal kau sendirian, ya kan?"
"Third!
Pinjamkan tanganmu!"
"Ya
ampun, aku sudah bertindak lho."
Tepat
saat suara ceria itu terdengar, sekujur tubuh Jignir tiba-benar kaku dan tak
bisa digerakkan sama sekali. Hal yang sama juga terjadi pada Lucas.
Sosok
aneh bertopeng dan bersayap putih bersih tadi melayang di atas udara, benang
yang menjulur dari kedua tangannya kini menempel ke sekujur tubuh Jignir dan
Lucas.
"Maaf
ya, dari awal aku tidak pernah berniat untuk benar-benar bertarung. Lagi pula,
kalau dia sudah muncul, semuanya pasti selesai."
Melihat
Jignir dan Lucas yang berusaha melepaskan diri dari ikatan benang itu, sosok
bertopeng itu bersuara.
"Percuma
saja. Benang Surgawi milikku bukanlah sesuatu yang bisa dilepaskan oleh manusia
biasa."
Makhluk
aneh bertopeng itu menyangkal usaha mereka dengan nada suara yang benar-benar
hampa tanpa emosi.
"Oh
ya, beliau adalah Tuan Puppet, Utusan Dewa. Utusan yang diturunkan ke bumi ini
oleh Dewa Perang Suci Ares, dewa yang kita para manusia sembah. Kalian pasti
tak akan bisa melepaskannya."
Utusan Dewa
adalah eksistensi yang bahkan Jignir, yang awam soal sihir pemanggilan, pun
mengetahuinya.
Mereka
dipercaya sebagai perantara yang diutus Dewa dari surga, eksistensi yang
sesekali membimbing umat manusia ke jalan yang benar.
Mereka
berbeda kasta dari makhluk dunia ini seperti spesies naga ataupun roh, tak
diragukan lagi mereka adalah Transcender yang sesungguhnya!
"Third,
kenapa kau bisa membuat kontrak dengan seorang Utusan Dewa!"
Utusan
Dewa adalah eksistensi yang benar-benar menghancurkan keseimbangan kekuatan di
dunia ini.
Jika
Kekaisaran bisa dengan mudah mengontrak keberadaan supernatural semacam itu,
kaisar pasti sudah memulai penaklukan dunia saat ini. Karena tidak ada
desas-desus semacam itu, berarti sang kaisar sendiri tidak mengetahui fakta
ini.
"Ya,
ya, aku mengerti kok. Aku sendiri tidak pernah bermimpi bisa membuat kontrak
dengan Tuan Utusan Dewa. Kaisar memang benar-benar bodoh karena berniat
berperang melawan negara Dewa ini."
"Boleh kau
bicara seperti itu? Kalau Yang Mulia Kaisar mendengarnya, kau bisa dibunuh,
tahu?"
"Bagaimana
caranya? Tidak ada eksistensi di dalam Kekaisaran yang bisa mengalahkanku
sekarang setelah aku mendapatkan Utusan Dewa."
Jika makhluk itu
benar-benar seorang Utusan Dewa, maka apa yang diucapkan Third bukanlah bualan
belaka melainkan sebuah fakta mutlak.
Dalam mitologi,
semenjak manusia membangun peradaban, tidak pernah ada satupun sosok yang
memalingkan diri dari dewa namun masih dibiarkan hidup hingga saat ini.
"Apa
mereka berdua benar-benar tidak bisa bergerak?"
Menanggapi
pertanyaan cemas dari Marquess Obutz, Third menjawab.
"Tentu saja,
meskipun kau melakukan apapun, jari mereka tidak akan bisa bergerak
sedikitpuuun! Kau boleh memukul, boleh menusuk! Bebas melakukan apa
saajaaa!"
Third menaikkan
nada suaranya yang lengket dan membuat tidak nyaman sambil menari
berputar-putar.
"B-benarkah
itu? Aku takkan memaafkanmu jika kau berbohong!"
"Tentu saja!
Aku tidak akan membohongi orang dari Negara Dewa. Begitu, kan, Tuan
Puppet?"
"Ya, Dewa
yang kami sembah telah memberikan wahyu kepada kami untuk membimbing Pahlawan
Mashiro. Semua ini adalah kehendak dari Dewa kami."
Puppet memberikan
balasan yang sama sekali tidak menjawab pertanyaan itu.
Marquess Obutz
berlari turun menuju arena. Ia berdiri di hadapan Lucas yang masih tidak bisa
bergerak, mengangkat siku kanannya, dan mendaratkan pukulan keras.
"Ini balasan
karena kau mencoba membunuhku, dasar teroris rendahan!"
Dengan senyum
sombong kemenangan di wajahnya, pria itu memukul Lucas berkali-kali. Walau
begitu, tak ada seutas alis pun di wajah Lucas yang bergeser.
Kemarahan
Marquess Obutz mulai membara, tetapi sang pembawa acara segera mendekat dan
membisikkan sesuatu padanya, membuatnya seketika kembali riang.
"Benar juga.
Akan kugunakan kau untuk menangkap teroris mantan tuan putri itu."
"..."
Untuk pertama
kalinya, mata Lucas diwarnai oleh amarah yang menggelegak.
"Hii!"
Ditakut-takuti
oleh tatapan mengintimidasi Lucas yang bahkan tak bisa bergerak, Marquess Obutz
melengkingkan jeritan kecil.
"Kau
meremehkanku ya!"
Menyadari fakta
tersebut, wajahnya memerah karena malu. Dia menghunuskan belati dari tangannya
lalu menusukkannya ke paha kanan Lucas.
"Ferris
telah membuatku menderita berkali-kali. Kalau aku berhasil menangkapnya, aku
akan bersenang-senang dengannya sepuas hati, lalu menjualnya sebagai budak ke
rumah bordil!"
"Bangsat!
Kata-katamu barusan sudah cukup untuk membuatmu dihukum gantung jika Yang Mulia
Raja mendengarnya!"
Kata-katanya
sempat tercekat dan ia tersentak kaget akibat intimidasi Lucas. Namun,
"H-Hmph!
J-jangan salah paham! B-bocah itu bukan lagi anggota keluarga kerajaan, dia itu
teroris! Kalau dia tertangkap, Ferris-lah yang akan dihukum gantung! Ini adalah
bentuk belas kasih dariku!"
Meski terus
tergagap, ia mati-matian berusaha membenarkan ucapannya. Saat itu, pembawa
acara kembali membisikkan sesuatu padanya, dan seketika itu juga suasana
hatinya membaik. Dia benar-benar seperti orang yang tumbuh dewasa tapi masih
memiliki pemikiran seperti balita.
"Baiklah,
karena 'Monyet Liar' yang mengawal 'Piala Suci' telah dibunuh dengan kejam oleh
pencuri yang menyusup secara tiba-tiba, pihak penyelenggara ingin menawarkan
acara hiburan baru!"
Pembawa acara
berjalan mendekati gadis ras Beastkin yang diikat dengan rantai di dalam arena
yang riuh. Dia menempelkan tongkat di tangan kanannya ke leher gadis itu.
"Utusan
Surgawi kami telah bersabda. Gunakan putri ras buas yang penuh dosa ini untuk
menyucikan dan menghilangkan noda kejahatan."
Dia meneriakkan
perbuatan laknat itu tanpa rasa malu. Setelah keheningan sesaat, sorak-sorai
yang luar biasa menggema di seluruh ruangan.
(Orang-orang
ini, mereka benar-benar sudah gila...)
Tidak ada
hal apa pun di dunia ini yang pantas dilindungi dengan mengorbankan gadis
seperti dia. Namun, orang-orang ini malah mengorbankan gadis itu demi delusi
konyol untuk membersihkan diri dari noda kejahatan yang sebenarnya tidak ada.
Dan pada
akhirnya, yang mereka lindungi tak lain adalah kekayaan dan kehidupan nyaman
mereka sendiri. Jarang sekali ada hal yang sebodoh dan seburuk ini.
"Tuan
Pemanggil, kalau begitu kami mohon bantuan Anda!"
Pembawa
acara menjauh dari gadis Beastkin, meletakkan tangan di dada, dan membungkuk.
Third kemudian melompat dari ruang VIP menuju arena.
Dia
menatap sekeliling ke arah para penonton, mengangkat lengan kanannya
tinggi-tinggi, dan berseru.
"Nah,
ayo kita mulaaaiii! Mulai sekarang, Kaisar Lebah Raksasa panggilanku akan
mencairkan gadis ini secara perlaaahaaan dalam keadaan hiduuup. Dengan begitu,
barulah ia akan terbebas dari kenajisan dan memperoleh keselamataaannn!"
Tanggapan
atas tindakan tak bermoral ini bukanlah kecaman ataupun rasa jijik, melainkan
badai pujian.
"Sucikan!
Sucikan! Sucikan! Sucikan! Sucikan!"
Wajah mereka
memerah panas, dan mata mereka memancarkan antusiasme yang membara.
Mereka
meneriakkan kata-kata yang membenarkan kekerasan terhadap gadis kecil itu. Ini
tak lagi sebatas persoalan iman maupun doktrin agama. Benar, orang-orang ini
hanya murni gila.
"Hentikan!"
Dia meronta
mati-matian untuk menghentikan kebodohan ini, tetapi tubuhnya sama sekali tidak
bisa digerakkan.
Seakan ingin
memastikan ketakutan korbannya, Kaisar Lebah Raksasa perlahan mendekati gadis Beastkin
tersebut.
(Bergeraklah!
Kumohon bergeraklah!)
Alasan Jignir
terus berlatih selama ini adalah demi mencapai puncak tertinggi di ujung Jalan
Pedang. Itu adalah kebanggaan dan tujuan akhir bagi seorang pendekar pedang.
Dia selalu
meyakini hal itu dan terus mengayunkan pedangnya hingga sekarang. Bahkan saat
ia kehilangan arah di jalannya, keyakinan itu tak berubah, dan pastinya akan
selalu begitu di sisa hidupnya.
Akan tetapi,
apabila di masa depan dia berhasil mencapai puncak itu sementara saat ini ia
bahkan tak mampu menyelamatkan satu gadis kecil di hadapannya, akankah Jignir
mampu tersenyum puas?
(Tidak!
Tentu saja tidak!)
Sesuatu
yang panas meledak di dalam diri Jignir.
Dewa
Pedang! Aku tahu aku bersikap egois! Tapi, pinjamkan aku kekuatan untuk melindungi
orang lain sekali ini saja!
Dalam sekejap,
pandangannya berubah menjadi merah pekat, dan sesuatu yang terasa panas
mendidih dari dalam tubuhnya.
Walau harus
merasakan sensasi menjijikkan dari serat-serat otot di sekujur tubuhnya yang
putus satu per satu, dia mencengkeram erat pedang panjang yang telah menjadi
rekannya sejak kecil.
"Nnu?
I-itu tidak mungkin."
Suara
Puppet yang menyiratkan kepanikan terdengar. Pedang panjang Jignir mulai
bergerak dengan bunyi decitan yang keras. Di tengah rasa sakit luar biasa
seakan tubuhnya dicabik-cabik,
"Uwoooooooooooooohhhhhh!"
Sambil
mengeluarkan erangan layaknya binatang buas, dia memutus benang yang mengikat
seluruh tubuhnya. Bersamaan dengan itu, lebah berwajah manusia menembakkan
cairan racun dari ekornya ke arah gadis itu.
Dia
menendang tanah dengan segenap kekuatannya. Pemandangan itu terasa aneh karena berjalan sangat
lambat.
Bahkan setiap
butir pasir dari tanah yang hancur di bawah kakinya dan pemandangan yang
mengalir di sekitarnya bisa dirasakan dengan sangat jelas.
Tepat sebelum
cairan pelarut berwarna ungu yang berbisa itu mencapainya, dia memeluk gadis
dari ras manusia hewan tersebut. Sesaat kemudian, rasa sakit yang luar biasa
seolah-olah lahar panas mengalir di punggungnya mulai bermunculan.
Sambil merasakan
kehangatan gadis di pelukannya dan kelegaan yang luar biasa, kesadarannya
perlahan-lahan mulai memudar.
"Pertarungan
yang bagus."
Terasa
sentuhan yang menopang seluruh tubuhnya. Bersamaan dengan suara yang entah
mengapa terdengar sangat bisa diandalkan itu, pandangan Jignir pun berubah
menjadi putih bersih.
◇◆◇
Dalam
beberapa hari, aku mendapatkan banyak informasi dari seorang informan bernama
Mujina.
Tidak
diragukan lagi bahwa 'Kera Liar' adalah dalang di balik penyelundupan narkoba
dan perdagangan manusia.
Namun,
pihak yang memberikan berbagai kemudahan resmi kepada 'Kera Liar' itu adalah
kelompok politik bernama 'Piala Dewa' yang berpusat pada Marquis Oobuts.
Mereka
terdiri dari bangsawan tingkat tinggi yang memiliki rasa hak istimewa dan
diskriminasi yang kuat, bahkan di antara mereka yang tergabung dalam aliansi
sedarah yang memiliki kekuasaan terbesar di Kerajaan Amelia.
Mereka
adalah sekelompok orang dengan pemikiran gila yang percaya bahwa hanya mereka
yang diberkati oleh Tuhan yang berharga di dunia ini, sementara yang lain ada
hanya untuk menjadi batu pijakan mereka.
Biasanya,
sekelompok orang dengan delusi gila seperti ini sudah seharusnya disingkirkan,
tapi sebagian besar dari mereka adalah bangsawan tingkat tinggi.
Mereka
telah tertanam kuat di dalam perpolitikan negara, sehingga tidak ada sistem
pembersihan internal yang baik, dan mereka pun berubah menjadi penjahat yang
bertindak sesuka hati.
Terlebih
lagi, 'Lelang' yang merupakan perjamuan malam yang diselenggarakan oleh 'Piala
Dewa' benar-benar memiliki konten yang membuat mual dari lubuk hati terdalam.
Mereka
menculik roh dari seluruh penjuru negeri, membunuhnya untuk bersenang-senang,
lalu mengambil kristal yang merupakan jiwa roh tersebut, yaitu Inti Roh.
Setelah
dilelang, pemenangnya akan memakan kristal itu untuk mendapatkan sedikit
kekuatan dan tenggelam dalam kepuasan.
Dan
puncaknya adalah fakta bahwa Pahlawan Mashiro mendukung organisasi mencurigakan
bernama 'Piala Dewa' ini.
Setelah
mendukung organisasi bodoh bernama Coin dan Card, kali ini dia meminjamkan
kekuatannya kepada organisasi semacam ini hanya karena memiliki ideologi yang
sejalan.
Dia
benar-benar pahlawan yang tidak bisa diselamatkan lagi. Mungkin aku harus
benar-benar memikirkan skenario untuk membasmi pahlawan itu.
Bagaimanapun
juga, aku sudah tidak punya niat sedikit pun untuk membiarkan organisasi
semacam ini terus ada. Aku memutuskan untuk menyusun rencana demi memberikan
kehancuran yang luar biasa kepada mereka.
Untuk itu, aku
mendapatkan lebih banyak informasi dari Mujina.
Titik baliknya
ada pada orang tua Miu yang juga sedang kuselidiki secara bersamaan. Rupanya,
orang tua Miu masih hidup, dan atas permintaan mereka, sang Kaisar Pedang Jignir
Gastrea mulai melakukan pencarian terhadap Miu.
Terlebih lagi,
orang yang menemaninya sebagai rekannya adalah Lucas Gizidor, ajudan dekat bibi
Rose, Ferris Roto Amelia. Dia adalah ayah kandung dari Hunter terkuat
itu, Isaac Gizidor.
Putri Ferris
berada di negara penuh sejarah kelam, Erdim, dan melakukan gerakan pembebasan
di dalam Kerajaan Amelia dengan berpusat di sana. Aku pernah mendengar nama
Ferris dari Rose sekali.
Dia lebih seperti
sosok kakak perempuan daripada seorang bibi, dan sejak menghilang lima tahun
lalu, tidak ada kabar sama sekali darinya. Ditambah lagi, menurut informasi
dari Mujina, tampaknya ada pergerakan meresahkan di Kerajaan Amelia ini terkait
dengan Erdim.
Putri Ferris
memimpin gerakan pembebasan di Erdim, dan mantan Kaisar Pedang dari Kekaisaran
bergerak bersama ajudan Ferris untuk mencari Miu yang sedang kulindungi. Selain
itu, ada pergerakan Kerajaan Amelia dan Kekaisaran Gritnil di sekitar Erdim.
Lalu, Summoner
terbaik Kekaisaran kali ini bekerja sama dengan 'Piala Dewa' di Kerajaan. Dan
juga, keberadaan Utusan Dewa yang bergerak diam-diam di Kerajaan Amelia.
Semuanya tampak
terhubung, tapi ada sedikit ketidakcocokan. Rasanya sungguh aneh, seperti ada
sesuatu yang mengganjal di gigi geraham.
Mengesampingkan
Lucas, Kaisar Pedang itu mungkin bisa dimanfaatkan untuk rencanaku kali ini. Dia memang masih sangat amatir,
tapi bakat berpedangnya benar-benar luar biasa.
Mungkin saja,
sama seperti kakeknya Ashburn, dia memiliki potensi terpendam untuk
menginjakkan kaki di puncak jalan pedang. Tentu saja, hal itu tidak mungkin
dicapai hanya dengan bakat berpedang saja.
Lagipula,
dirinya yang sekarang kekurangan hal yang paling penting bagi seorang pendekar
pedang. Jika dia bisa
menyadari hal itu, dia mungkin akan berubah secara drastis.
Karena itulah,
aku memutuskan untuk melibatkan kelompok Kaisar Pedang itu ke dalam rencanaku.
Saat ini, aku
sedang melakukan penyesuaian terakhir pada rencana dengan melibatkan Girimekara
dan Spy yang berpartisipasi kali ini. Namun, usulan dari mereka berdua sama
sekali tidak bisa kuterima.
"Melibatkan
anak kecil seperti Miu dan Ash yang amatir dalam pertarungan itu
rasanya...."
Usulan Girimekara
dan Spy adalah untuk memaksakan peran tuan putri yang akan membangkitkan
semangat sang Pahlawan kali ini kepada Miu dan Ash. Jika lawannya lemah,
mungkin tidak apa-apa, tapi dengan adanya Summoner terbaik dari
Kekaisaran, ini seharusnya menjadi kasus yang kutangani sendiri.
Tingkat bahayanya
jauh berbeda dengan misi-misi mudah yang ada selama ini.
"Ash memang
amatir soal pertarungan, tapi tekadnya sangat kuat. Terlebih lagi, penculikan
Ash oleh mereka adalah hal yang mutlak diperlukan untuk rencana kali ini. Kamu
sudah tahu itu, kan?"
Aku sudah
memahami hal itu bahkan tanpa perlu diperingatkan lagi oleh Spy. Aku sudah
menyelidiki dan tahu kalau mereka sedang mengintai Ash yang saat itu duduk
semeja denganku.
Kemungkinan
besar, Ash memang akan diincar oleh mereka.
"Kalau
menggunakan orang lain selain Ash... tidak, itu juga sama saja membebankan
bahaya kepada orang lain...."
Spy mengangguk
tegas.
"Jika anak
itu mengetahuinya, dia pasti akan sangat terluka. Dia adalah anak yang baik hati seperti
itu."
Spy juga
sangat jeli padahal baru beberapa kali bertemu dengan Ash. Dia benar.
Jika itu Ash, dia
pasti akan terus dihantui rasa bersalah soal masalah itu. Kalau ingin mencegah
hal itu, aku harus meninjau ulang rencana pemasangan jebakan ini.
Namun, hal itu
berisiko membuat sampah-sampah itu lolos dari genggamanku.
"Soal Ash,
aku mengerti. Tapi, bagaimanapun juga Miu masih terlalu kecil. Dia jelas tidak
cocok untuk rencana ini, kan?"
Penilaianku
tentang Miu ini disangkal oleh orang yang tak terduga.
"Miu
tidak secengeng yang Guru pikirkan. Memang dia belum matang, tapi dia adalah
petarung hebat yang bisa berpikir jernih dengan kemampuannya sendiri."
Zack yang
sedari tadi mendengarkan dalam diam ikut menimpali.
"Petarung
yang hebat, ya... Justru hal itulah yang paling kukhawatirkan."
Kali ini, aku
telah memberikan kekuatan ilmu bela diri dan sihir kepada Miu. Kekuatan tanpa
pengalaman tempur yang nyata itu sama saja dengan tidak ada.
Sebaliknya, itu
hanya akan membawa petaka karena dapat mendorong tindakannya yang sembrono.
Jika kali ini aku membiarkan Miu bertindak sesukanya, nyawanya sudah pasti akan
berada dalam bahaya.
"Kalau
begitu, jika Miu dalam bahaya, Guru tinggal langsung menyelamatkannya. Kejadian
kali ini akan membuat Miu tumbuh dengan pesat. Aku mendukung usulan Spy."
Membuatnya
tumbuh, ya. Tentu saja, bagi seseorang yang baru saja melangkah ke dunia bela
diri, sikap sembrono terasa seperti madu yang manis.
Sekalipun aku
menjauhkan Miu dari bahaya secara berlebihan di sini, dia pasti akan menghadapi
bahaya yang sama dalam waktu dekat dan menerima balasan yang sangat
menyakitkan. Kalau saat itu terjadi dia berada dalam jangkauanku, itu tidak
masalah, tapi kalau tidak, Miu akan mati.
Jika sampai
seperti itu, itu adalah tanggung jawabku yang telah memberikan kekuatan kepada
Miu. Kurasa sedikit bahaya tidak bisa dihindari.
"Baiklah.
Spy, aku akan menggunakan rencanamu. Tapi, segera setelah aku menilainya
benar-benar berbahaya, aku akan langsung ikut campur. Kalian tidak masalah
dengan itu, kan?"
"Tentu
saja!"
Sambil tersenyum
gembira, Spy menganggukkan kepalanya dengan mantap.
Sambil menepuk
kedua lututku, aku berdiri dari kursi.
"Kalau
begitu, mari kita segera mulai rencananya. Dengar! Kita akan membasmi semua
sampah yang terlibat dalam masalah ini tanpa sisa. Jangan biarkan satu pun dari
mereka pulang hidup-hidup! Tunjukkan neraka dunia kepada mereka!"
Aku
memberikan perintah tegas.
"Baik!
Sesuai dengan kehendak Anda!"
"Baik!
Sesuai dengan kehendak Anda!"
Suara
Girimekara dan Spy berpadu dengan harmonis, dan rencana kami pun dimulai.
Semuanya berjalan
sesuai dengan rencana kami. Semuanya benar-benar sesuai rencana hingga terasa
mengerikan.
Meskipun begitu,
alasan kenapa aku merasa sangat tidak bisa memaafkan mereka adalah karena
tindakan biadab dari keparat 'Piala Dewa' itu jauh melampaui imajinasiku.
Aku hanya terus
memperhatikan dalam diam betapa kuatnya perasaan Ash, keberanian yang
dikerahkan oleh Miu, tekad Lucas Gizidor, dan perjuangan mati-matian Kaisar
Pedang Jignir. Bagiku yang pada dasarnya egois dan tidak sabaran, menahan diri
sejauh ini terhadap perbuatan para cecunguk tingkat rendahan itu mungkin adalah
pengalaman pertamaku dalam puluhan ribu tahun ini.
Jignir
menghancurkan kekangan monster bersayap putih itu dengan kekuatannya sendiri,
lalu dia melindungi dan menyelamatkan Miu dari cairan racun yang disemburkan
oleh lebah berwajah manusia ke arahnya.
"Pertarungan
yang bagus."
Sambil menopang
tubuh Jignir yang pingsan dan hampir terjatuh, kata-kata pujian keluar dari
mulutku.
Jignir
benar-benar masih amatir. Secara umum, dia masih jauh dari kata kelas atas
sebagai seorang pendekar pedang.
Fakta bahwa dia
awalnya tidak bisa mematahkan kekangan dari monster kroco bersayap putih itu
adalah buktinya. Itulah batas kemampuannya saat ini.
Namun, Jignir
menghancurkan kekangan monster kroco bersayap putih itu, menembus cangkang
batas kemampuannya sendiri dengan tangannya, dan pada akhirnya menyelamatkan
Miu, memenuhi perannya sebagai pahlawan. Mungkin, inilah esensi sejati dari Jignir.
Dia bukanlah
seorang pahlawan dengan misi menyelamatkan dunia, atau seorang raja yang
berjalan di jalur penaklukan. Dia hanyalah seorang pahlawan kecil yang menolong
orang lemah yang sedang menderita.
Sosok itu adalah
pahlawan ideal yang dulu kuagumi sebelum tertelan oleh Dungeon.
Sekarang, mari kita berikan tepuk tangan meriah kepada pahlawan yang telah
menyelesaikan perannya ini.
Dan selanjutnya
adalah giliranku.
"Nah,
giliran pahlawan sudah selesai. Mulai dari sini adalah waktu untuk para
penjahat."
Kalian sudah
membuatku sangat tidak nyaman sampai sejauh ini. Aku tidak akan melepaskan
kalian begitu saja.
Aku akan
menunjukkan neraka dunia kepada kalian semua sekaligus. Tentu saja, tidak akan
ada kompromi.
Lagipula, aku
yang sekarang ini adalah seorang penjahat.
"Siapa orang
ini?"
Yang menjawab
pertanyaan lebah berwajah manusia itu adalah,
"Ah, Ayah,
itu dia! Orang itu adalah pria rendahan yang telah bersikap tidak sopan
kepadaku!"
Ficies
dengan gaya rambut ikal spiralnya.
"Kebetulan
sekali. Orang itu adalah pengkhianat yang telah meludahi keluarga Marquis
Oobuts! Terlebih lagi, sepertinya dia adalah pemegang Gift 'Orang Paling
Tidak Berguna di Dunia', dan ditambah lagi dia adalah Royal Guard dari
Putri Rose yang menyebalkan itu!"
Mengangguk
puas berulang kali pada cemoohan yang bermunculan, Marquis Oobuts berkata,
"Semuanya,
apa yang harus kita lakukan pada orang tidak berguna ini!?"
Dia
bertanya dengan suara lantang.
"Bunuh
dia!"
"Benar!
Cepat bunuh dia!"
Sesuai
dugaan, seruan untuk membunuhnya bergema di seluruh arena.
"Bukan,
pengkhianat tidak berguna ini telah bersikap tidak sopan kepada putra Marquis
Oobuts yang telah menerima berkat Tuhan! Kematian terlalu ringan untuknya!
Bukankah sebaiknya kita membuatnya menyesal dari lubuk jiwanya karena telah
dilahirkan ke dunia!?"
Ketika
pembawa acara menyatakan hal itu dengan mengangkat kedua tangannya, raungan
persetujuan layaknya binatang buas terdengar dari mana-mana.
"Kalau
begitu, Tuan Summoner, kami serahkan kepada Anda."
"Baiklah!
Dengan senang hati! Kaisar Lebah Raksasa! Hajar dia! Amnes sepertinya cukup
terobsesi padanya, jadi tetaplah waspada!"
Atas instruksi
dari Summoner kroco bernama Third itu, lebah berwajah manusia mulai
terbang mengelilingiku.
"Kau pikir
aku ini siapa! Mana mungkin aku kalah dari kroco seperti ini! Daripada itu,
pastikan kau memberiku imbalan yang setimpal!"
"Tentu saja!
Aku akan memberimu anak kecil yang terlihat empuk dan sesuai dengan seleramu!
Sebagai layanan tambahan, kau juga boleh melakukan apa saja pada anak roh di
sana itu!"
Third mengarahkan
tangan kanannya ke arah anak roh berwajah kelinci itu, lalu meneriakkan omong
kosongnya dengan penuh semangat.
"Kata-katamu
itu, tidak ada yang salah kan!? Aku tidak akan memaafkanmu kalau kau
berbohong!"
"Tentu saja,
Anda tidak keberatan kan, Marquis Oobuts?"
"Ah, lakukan
sesukamu! Kami punya
banyak stok pengganti! Kau boleh menggunakan semua barang dagangan yang ada di
sini! Karena itu, buatlah
orang tidak berguna itu merasakan neraka dunia!!"
"Begitu,
katanya! Bocah, kau sungguh tidak beruntung ya!"
Kepada lebah
berwajah manusia yang berbicara dengan wajah sombong itu, aku berkata,
"Aku
benar-benar muak dengan omong kosong kalian para kroco. Cepat maju ke sini. Aku akan memberimu perlakuan
khusus sebagai hama."
Aku
memprovokasinya dengan jari tangan kiriku.
"K-Kau
menyebutku kroco! Kau menyebutku hama! Apa orang sepertimu bisa mengimbangi
kecepatanku!"
Lebah berwajah
manusia itu terbang mengelilingiku dengan sangat menyebalkan.
"Apa-apan
ini, sedari tadi kau terbang berdengung-dengung karena ingin pamer kecepatan,
ya."
Aku bisa dengan
mudah menangkap makhluk lamban seperti ini meskipun sambil menutup mata.
Berani-beraninya dia begitu percaya diri dengan kemampuan level ini.
Aku bergerak ke
belakang lebah berwajah manusia itu, lalu memotong semua sayapnya dengan
Raikiri.
"Hah?"
Saat aku
mengarahkan ujung pedang Raikiri ke arah lebah berwajah manusia yang jatuh
berdebum ke tanah,
"Jadi? Apa
cuma segitu saja?"
Tanyaku dengan
singkat.
"M-Mustahil!
Kenapa kau bisa mengimbangi kecepatanku!?"
"Jangan
salah paham. Bukan aku yang cepat. Kau saja yang terlalu lambat."
Makhluk selambat
ini bahkan tidak ada di dalam Easy Dungeon itu.
"Sejauh mana
kau mau mengejekku—"
"Berisik."
Aku menendang
lebah berwajah manusia yang berteriak sambil menyemburkan air liurnya itu
hingga jatuh ke samping. Lalu aku mengambil pedang panjang yang tergeletak
begitu saja di tanah, menusukkannya ke pipinya untuk memaku tubuhnya ke tanah,
dan membungkamnya.
"Gogaah!?"
Aku menginjak
lebah berwajah manusia yang meronta-ronta sambil berteriak itu,
"Dengar ya,
kau tadi mau menjadikan Miu sebagai bakso daging untuk kau makan. Singkatnya,
kau mencoba merebut keluargaku dariku. Aku sama sekali tidak akan
memaafkanmu."
"Kalau aku
meminjam kata-kata basi kalian, aku akan membuatmu menyesal dari lubuk jiwamu
karena masih hidup sekarang."
Sambil
membungkukkan punggungku dan menatap tajam ke arahnya, aku memuntahkan rasa
frustrasi yang menumpuk di dadaku.
"Gubih!"
Lebah berwajah
manusia itu akhirnya pingsan dengan mulut berbusa.
"Makhluk
yang sangat menyebalkan sampai akhir...."
Sama sekali tidak
ada perlawanan. Hal itu entah mengapa membuatku merasa kesal.
Yah, sudahlah.
Urusan pembersihan bisa dilakukan nanti.
"Kalian juga
sama, tahu?"
Aku hanya
memiringkan kepalaku, melihat ke sekeliling, dan berbicara kepada mereka.
"O-Oi,
Tuan Summoner, makhluk-makhluk ini benar-benar tidak masalah,
kan!?"
Marquis
Oobuts berteriak dengan nada suara yang penuh dengan rasa frustrasi dan
kecemasan,
"Tentu saja,
kemenangan yang sangat mudah! Memang sedikit mengejutkan dia bisa mengalahkan
Kaisar Lebah Raksasa, tapi aku yang sekarang telah dianugerahi kekuatan Tuhan,
jadi kekuatanku telah meningkat pesat!"
Summoner Kekaisaran, Third, menyiapkan tongkatnya
dan mulai merapal mantra. Sesaat kemudian, seekor makhluk mirip naga
bercangkang dan seekor burung raksasa berwajah manusia merangkak keluar dari
dua lingkaran sihir.
"Naga
Bumi, Harpy! Hajar dia. Selama dia masih hidup, kau boleh melakukan hal yang
sedikit berlebihan. Aku sudah
menyiapkan Mana kehidupan yang cukup untuk kalian."
Apa-apan para
kroco ini? Aku sama sekali tidak merasakan kekuatan apa pun.
Atau lebih
tepatnya, apa bedanya mereka dengan lebah berwajah manusia tadi? Sepertinya Summoner
dari Kekaisaran ini benar-benar meremehkanku.
"Hoo, kau
dermawan juga! Kau—"
"Aku sudah
bosan dengan omong kosong semacam itu."
Makhluk
bercangkang mirip naga, yaitu Naga Bumi, memuntahkan api kecil dari mulutnya
sambil menatap rendah ke arahku dan melontarkan omongan kosong penuh kemenangan
layaknya lebah berwajah manusia tadi. Aku pun secara paksa menghentikannya
dengan menjadikannya serpihan daging yang berserakan menggunakan Death Line.
"Hah?"
Mengabaikan Third
yang mengeluarkan suara aneh karena terkejut, aku berbalik ke arah Harpy. Hanya
dengan hal itu saja, Harpy melompat jauh ke belakang untuk menghindar.
"A-Apa-apaan
kau—kueh!?"
Aku
bergerak ke kepala Harpy yang berteriak dengan ekspresi putus asa itu. Lalu, aku menusukkan Raikiri ke kepalanya
yang kebesaran secara percuma itu dan mengalirkan kekuatan sihirku.
Petir menyambar
dari Raikiri, dan dalam sekejap kepala makhluk itu pun hancur berkeping-keping.
Di tengah bau
daging terbakar, aku mengayunkan Raikiri untuk menghilangkan noda darahnya,
lalu mengarahkan ujung pedangku kepada Third dan berkata,
"Monster
kelas teri seperti ini sama sekali tidak ada artinya. Kau ini Summoner
terbaik di Kekaisaran saat ini, kan? Cepat keluarkan kartu as milikmu."
Aku memberikan
ultimatum terakhir kepada mereka dengan sedikit kesal. Tentu saja, aku
melakukan ini bukan karena peduli padanya.
Bagaimanapun
juga, dia adalah Summoner nomor satu di Kekaisaran. Terlebih lagi, dia
telah membuat pernyataan yang menyiratkan kalau dia telah memperoleh sebuah
kekuatan.
Aku menyimpulkan
bahwa akan berbahaya jika aku menangkapnya tanpa memaksanya mengeluarkan semua
kartu as miliknya. Yah, kalau hanya membunuhnya memang lebih cepat, tapi
sekarang aku sama sekali tidak berniat melakukan hal itu.
"Bagaimana
caramu melakukannya tadi? Meskipun naga bumi itu kelas bawah, tapi dia adalah
spesies naga. Tidak mungkin dia bisa dikalahkan dengan semudah itu!"
Bertolak belakang
dengan ekspresi santainya tadi, Third berteriak dengan wajah tegas penuh
kepanikan.
"Aku tidak
peduli."
"Hah?"
Kepada Third yang
bertanya dengan alis berkerut itu, aku berkata,
"Hal semacam
itu tidak penting, begitulah maksudku! Cepat tunjukkan kartu as milikmu
padaku!"
Sambil
mengarahkan ujung pedang Raikiri, aku memberikan perintah dengan nada suara
yang tegas. Seketika, urat nadinya bermunculan di dahi Third.
Seolah ingin
menenangkan kemarahannya, Third menarik napas dalam-dalam, lalu memegang erat
tongkat dengan kedua tangannya.
"Begitu ya,
rupanya kau memiliki kekuatan minimal yang membuat Four dan Amnes begitu gigih
mempertahankanmu. Kalau begitu, waktu bermain sudah habis."
Setelah
menggumamkan hal itu, Third mulai merapalkan mantra. Berkat rapalannya yang
panjang, bermunculan beberapa lingkaran sihir di atas tanah.
Lalu, berbagai
macam monster dari ukuran kecil hingga besar menyembul keluar dari dalam
lingkaran sihir itu. Dalam sekejap, arena gladiator itu dipenuhi oleh kawanan
monster.
"Mustahil...
tekanan yang mengerikan ini, mana mungkin kita bisa menang melawan monster
sebanyak ini!"
Pria paruh baya
berambut putih itu menatap tajam ke arah monster-monster yang dipanggil, lalu
memaksa suaranya keluar.
"Benar! Ini
adalah kekuatan tempur tertinggiku saat ini! Pasukan makhluk mitologis terbaik
di dunia!"
Saat Third dengan
bangga menyatakan kata-katanya dan mengarahkan tongkatnya kepadaku, kawanan
monster itu pun serempak menatap rendah ke arahku.
"Kekuatan
tempur tertinggi? Apa benar ini kesungguhanmu?"
Aku menyadari
suaraku sedikit bergetar.
"Kau banyak
bicara tadi, tapi sekarang kau ngompol karena ketakutan ya? Benar. Inilah
kesungguhanku! Aku mengerti! Aku paham sekali! Bahkan ada spesies naga dan
adipati binatang buas mitos di sini! Ini jelas merupakan kekuatan tempur yang
setara dengan pasukan militer sebuah negara! Sekarang ini hatimu pasti dipenuhi
oleh rasa takut dan penyesalan kan!?"
"Tapi, itu
tidak akan terjadi! Tidak boleh! Kau telah meludahi harga diriku! Itu adalah
dosa besar yang pantas dihukum mati puluhan ribu kali! Aku akan langsung
memotong keempat anggota tubuhmu dan—"
Benar-benar
di luar ekspektasi....
"Aku
sudah paham semuanya. Cukup, jadi diamlah sebentar."
Ini
benar-benar sangat mengecewakan.
"Kau
ini benar-benar sombong sampai akhir ya! Hajar dia!"
Menghadapi
kawanan monster yang menyerbu ke arahku dengan guncangan bumi, aku
mengembalikan Raikiri ke sarungnya.
"Sepertinya,
kau sudah menyerah ya. Tapi aku tidak akan membunuhmu dengan mudah—"
Saat aku
menyentuh gagang Raikiri,
"Ilmu
Pedang Aliran Shinkai, Gaya Satu Pedang, Bentuk Keempat—Arachne's Web."
Aku
menyambut mereka dengan teknik pembasmi monster kroco. Monster-monster itu
terpotong berbentuk salib tepat sebelum mencapai diriku, lalu jatuh
bergelimpangan ke atas tanah arena gladiator.
"Hihe?"
Mata
Third terbelalak lebar dan dia mulai gemetar ketakutan,
"N-Naga dan
adipati binatang buas mitos juga ada di sana, tahu!? B-Bagaimana caramu
melakukannya!?"
Dia berteriak
histeris.
Apa ini adalah
kasus langka di mana informasi dari Mujina meleset hanya pada orang bodoh
bernama Third ini? Rasanya aku tidak bisa berhenti menganggapnya sebagai
monster kroco yang hanya punya nama kosong sebagai Summoner terbaik di
Kekaisaran.
Tidak, dia masih
punya kartu as dan semacamnya. Sepertinya tidak ada salahnya untuk tetap
waspada.
Yah, meskipun aku
sama sekali tidak bisa berharap banyak.
"T-Tuan
Puppet, kumohon! Tolong berikan hukuman Tuhan pada pengkhianat jahat dan keji
ini!"
Saat Third
menyatukan kedua tangannya dan memohon dengan putus asa,
"Baiklah.
Dia sepertinya memiliki kekuatan misterius untuk ukuran makhluk dari dunia
bawah, tapi aku tidak merasakan kekuatan yang besar darinya. Kalau aku
berhati-hati pada teknik aneh tadi, seharusnya membunuhnya adalah hal yang
sangat mungkin dilakukan."
Puppet mengangguk
setuju.
"Jangan
bilang, kau benar-benar menganggap kalau itu adalah kartu as milikmu?"
Sudah kuduga,
ternyata begini akhirnya.
"Bicaramu
itu terlalu lancang ya. Jangan besar kepala cuma karena bisa mengalahkan
makhluk dunia bawah—"
Karena mulai
merasa repot, aku menggunakan teknik berjalan unik milikku untuk pindah ke
belakangnya, dan menusukkan Raikiri di tangan kananku dalam-dalam ke perutnya.
"Lihat, kau
sama sekali tidak bisa bereaksi kan."
"B-Bagaimana
caramu?"
Kepada orang yang
mencoba memutar tubuhnya untuk bergerak itu, aku berkata,
"Ups,
akan lebih pintar kalau kau tidak bergerak. Lagipula, aku menusukkannya di sela-sela organ
dalammu. Kalau kau bergerak sedikit saja, itu akan menjadi luka fatal."
Aku memberikannya
nasihat yang sangat berharga.
"H-Hiyyyy!"
Mengabaikan pria
yang menjerit dengan suara yang nyaris pecah itu,
"Sampai di
situ saja, dasar monster! Menjauhlah dari Tuan Puppet! Kalau tidak, aku akan
membunuh gadis ini!"
Pria yang menjadi
pembawa acara itu menekan pedangnya ke leher Miu sambil berteriak. Rupanya dia
memilih pilihan yang paling bodoh ya.
"Hah! Mau
direbus atau dibakar, lakukan saja sesukamu."
"Apa!? A-Aku
serius, tahu!"
Mungkin karena
dia tidak pernah bermimpi akan mendapat balasan seperti ini, dia pun panik dan
menempelkan pedangnya ke leher Miu sambil memukulnya pelan.
"Makanya
aku bilang tidak peduli. Kau
boleh melakukan apa saja sesukamu. Tapi, itu juga kalau kau bisa melakukannya.
Hei, begitu kan?"
Tidak mungkin aku
membiarkan Miu yang masih kecil itu dalam keadaan seperti itu. Aku sudah lama
mengamankannya dan memindahkannya ke tempat lain.
"Sesuai
dengan kehendak Anda!"
Kedua mata Miu
menjadi hitam legam, dan tumbuh taring yang runcing dan tajam darinya. Lalu
otot-ototnya membesar, dan dalam sekejap wujudnya berubah menjadi monster
berhidung panjang yang sangat besar.
"Hyaaaah!"
Dengan wajah yang
berkerut ketakutan, pembawa acara itu jatuh terduduk dan menjerit dengan suara
yang memekakkan telinga. Bukan hanya pembawa acara saja.
"T-T-Tekanan
ini, pilar dewa kejahatan!? D-D-Dia menundukkan makhluk itu! Kalau begitu,
jangan-jangan, mungkinkah—itu!?"
Puppet juga
mengeluarkan suara aneh, seluruh tubuhnya mulai gemetar ketakutan, dan dia
mulai bergumam sendiri.
"Nah,
sekarang aku sudah melihat batas kemampuan kalian. Jujur saja, aku tidak perlu
terlalu waspada sejauh ini...."
Bagaimanapun
juga, pria bernama Third ini hanya sekuat ini saat bertarung serius.
Kemungkinan besar kabar soal dia sebagai Summoner terbaik di Kekaisaran
itu hanyalah kebohongan semata.
Yah, mana mungkin
juga Kaisar Amnes yang terkenal hebat mau menghargai orang bodoh yang dengan
mudah membelot ke negara musuh.
"A-Apa yang
akan kau lakukan padaku?"
Menanggapi
pertanyaan yang bahkan tidak perlu dipertimbangkan dari orang yang mengaku
sebagai Utusan Dewa, Puppet, aku menjawab,
"Aku sudah
bilang. Ini adalah jalan lurus menuju neraka. Lagipula, ini bukanlah kiasan
seperti yang kalian ucapkan, melainkan eksekusi yang memiliki tingkat kenyataan
sangat tinggi. Benar
kan, Beelze?"
Aku
kurang berpengalaman dalam menangani hal semacam ini. Untuk hal ini, sebaiknya serahkan pada ahlinya.
Tidak ada yang
lebih cocok untuk menyiksa selain Beelze.
Tiba-tiba muncul
atas panggilanku, seekor lalat raksasa yang berjalan dengan dua kaki dan
memakai mahkota.
"Tidak
kumaafkan... dechu...."
"Hm?"
Biasanya, dia
akan mengatakan, "Sesuai kehendak Anda, dechu," lalu tertawa geli
dengan cara yang menjijikkan.
"Rasa tidak
hormat mereka yang bertubi-tubi kepada Tuan Babu! Aku sama sekali tidak akan
memaafkannya, dechu! Menjadikan mereka sarang belatung!? Tidak boleh, dechu!
Membiarkan mereka membusuk hidup-hidup!? Itu sama sekali belum cukup, dechu!?
Sambil mempertahankan indera dan kesadaran mereka, aku harus menghancurkannya
jadi berkeping-keping dan terus-menerus meremukkan mereka, dechu!"
Sambil menunduk
dengan mata majemuknya yang merah dan kedua tangan yang gemetaran, dia terus
menggumamkan kutukan.
"Ada apa,
Beelze?"
"Tuan, yang
ini dan yang itu, bolehkah aku mengambil semua hama yang ada di sini,
dechu?"
Seolah-olah
tersadar oleh pertanyaanku, Beelze menundukkan kepalanya dalam-dalam, menunjuk
ke arah lebah berwajah manusia dan Puppet untuk meminta persetujuan.
"Ah, aku
memang berniat begitu sejak awal, jadi tidak masalah. Girimekara, kalian juga
tidak masalah dengan itu, kan?"
"Sejak awal,
memang sudah ada kesepakatan seperti itu."
Operasi ini
adalah gabungan antara faksi Girimekara dan tim Beelzebub. Segera setelah
dinilai berbahaya, Beelzebub yang merupakan bawahanku yang terkuat, telah
disiapkan untuk turun tangan.
"Ampuni
kami...."
Kepada Puppet
yang semangat bertarungnya telah hilang sepenuhnya dan memohon pengampunan
dengan menyatukan kedua tangannya meski tubuhnya masih tertusuk Raikiri, aku
berkata,
"Aku sudah
menyebut diriku sebagai penjahat sejak awal kan. Apa penjahat sepertiku akan
memaafkan kalian yang telah membuatku tidak nyaman? Itu adalah pilihan yang
sama sekali tidak mungkin."
"Singkatnya,
jawabannya sudah jelas."
Saat aku memotong
kata-kataku, seolah-olah mewujudkan perasaan Beelze saat ini, kabut hitam pekat
keluar dari seluruh tubuh makhluk itu dan menelan Puppet.
Di dalam ruangan
yang menjadi sunyi senyap itu,
"Tuan Utusan
Dewa kalah...."
"Dia itu
monster!"
"Cepat
lari!"
Suara itu menjadi
pertanda. Para penonton
pun berbondong-bondong menuju ke pintu keluar.
"Jangan
dorong! Aku buka pintunya sekarang!"
"Pintunya
terbuka!"
Begitu membuka
pintu dan menyorakkan suara kegembiraan, seluruh tubuhnya membengkak lalu
meledak. Kemudian, dari pintu masuk, muncul seorang pria berkacamata hitam
dengan pakaian serba hitam yang kebesaran, serta lambang lalat tergambar di
punggungnya.
"Tuan kami
yang agung, kami telah menyelesaikan seluruh penyelamatan di rumah ini."
Pria itu berlutut
di hadapanku sambil melaporkan satu-satunya hal yang dikhawatirkan.
Penampilannya sudah banyak berubah, tapi dia adalah Jilma, pelaku utama Insiden
Papra.
Sepertinya
kali ini dia bertindak sebagai bawahan Beelzebub. Yah, karena dia mantan
manusia, dia adalah bawahan Beelzebub yang paling punya akal sehat. Dia pasti sangat cocok untuk misi semacam
ini.
"Kerja
bagus."
"Itu pujian
yang terlalu berlebihan..."
Sambil mengangkat
bahu melihat Jilma yang suaranya gemetar, aku mengedarkan pandangan ke arah
mereka.
"Kalian
pasti sudah paham, tapi kalian tidak bisa kabur. Boleh saja mencoba, tapi itu
percuma."
Menanggapi
deklarasiku, Marquess Obutz bertepuk tangan sambil memamerkan senyum palsu yang
sangat jelas.
"Kekuatan
yang luar biasa! Aku sangat kagum dengan kekuatanmu! Kami hanya dihasut oleh
pemanggil dari Kekaisaran di sana itu!"
"A-apa yang
kau bualkan sekarang!?"
Third berseru
dengan suara keras, namun Marquess Obutz segera menyela.
"Diam kau!
Dasar anjing Kekaisaran! Kamulah yang benar-benar utusan Tuhan! Izinkan kami
mengundangmu ke organisasi kami! Benar begitu, kan!?"
Marquess Obutz
melemparkan pertanyaannya kepada sang pembawa acara.
"T-tentu
saja! Anda adalah utusan yang dikirim oleh Dewa Perang Suci untuk mewujudkan
firman Tuhan di dunia ini! Kami akan memberikan pelayanan terbaik untuk
Anda!"
Mereka
melontarkan omong kosong. Kemudian, para penonton yang tersisa di arena mulai
mengucapkan kata-kata persetujuan akan hal itu.
Seolah merespons
hal tersebut, Beelzebub mulai mengeluarkan suara aneh yang melengking.
"Beraninya
kalian menyebut Dewa kami sebagai utusan Tuhan rendahan!"
Girimehkala juga
mencengkeram lantai tempatnya berlutut dengan ekspresi iblis yang mengerikan.
Kemarahan itu perlahan menular kepada bawahanku yang masih bersembunyi.
"Kalian ini
benar-benar sampah yang luar biasa. Bahkan aku tidak bisa menjadi serendah kalian."
Jujur
saja, mereka adalah sampah yang bahkan tidak pantas untuk dimarahi. Ini pertama
kalinya aku bertemu dengan orang-orang yang tidak bernilai sama sekali.
Hanya
untuk berurusan dengan mereka saja rasanya sudah merepotkan. Lagi pula, mereka
sudah tamat.
Aku
mengangkat tangan kanan untuk memberikan isyarat kepada Asta yang entah sejak
kapan sudah berada di belakangku. Asta pun menjentikkan jarinya.
"Gugh!"
Marquess
Obutz dan para bangsawan tingkat tinggi yang berada di ruang VIP tiba-tiba
mulai mengerang kesakitan.
"Ayah!?
Keparat kau! Dasar tidak berguna, apa yang kamu lakukan pada ayahku!?"
Feesis
bergegas menghampiri Marquess Obutz yang kesakitan, lalu berteriak marah
kepadaku.
"Entahlah,
mungkin keracunan makanan?"
Benda
yang mereka sebut Inti Roh dan mereka makan itu adalah bijih yang mengandung
kutukan khusus buatan Asta. Aku sebelumnya telah memerintahkan Asta untuk
menukarnya.
"Gugagagagigigigigigigigigi----!"
Kulit di
sekujur tubuhnya bergelombang, menonjol di sana-sini, lalu mulai meleleh
menjadi cairan kental.
"Ayahhh!"
Jeritan
Feesis menjadi pemicu, jeritan dan teriakan ketakutan langsung saling
bersahutan. Saat aku mengibaskan tangan, kabut hitam yang melayang di atas
Beelzebub langsung menelan mereka semua.
Marquess
Obutz, sang pembawa acara, Feesis, Third, dan para penonton lainnya yang telah
berubah menjadi gumpalan daging tertelan habis.
"Kerja
bagus, kalian semua. Beelze, Girimehkala, aku serahkan urusan bersih-bersihnya
pada kalian."
"Sesuai
kehendak Anda!"
"Sesuai
kehendak Anda, chu!"
Setelah
memberikan kata-kata apresiasi itu, aku melangkah pergi meninggalkan arena
pertarungan.
Beberapa hari
kemudian, Rose memegangi kepalanya dengan kedua tangan di ruang keluarga lantai
satu rumah kami.
"Kak Ferris
adalah pemimpin pemberontak? Dan lagi, basis operasinya ada di Eldim yang
terkenal itu? Kalau sampai ketahuan, ini pasti akan jadi masalah
internasional!"
"Mungkin
saja."
Berdasarkan
informasi dari Mujina, para bangsawan bodoh dari faksi Gilbert sedang mencoba
ikut campur di negara itu. Namun, jika aku memberitahukannya, dia pasti akan
pingsan.
"Apa yang
akan kamu lakukan pada para pelaku utama kali ini?"
"Tentu saja,
aku akan mengurus mereka dengan semestinya."
"Kamu tidak
akan menyerahkan mereka ke sistem peradilan Kerajaan?"
"Tentu saja
tidak. Mereka telah membuatku sangat muak. Aku sama sekali tidak berniat
mengembalikan mereka ke tempat yang tidak punya kemampuan membersihkan diri
sendiri seperti itu."
Rose
mengelus dadanya lega.
"Begitu,
ya."
Dia
langsung menyetujuinya dengan mudah. Reaksi ini terasa sedikit janggal untuk ukuran Rose.
"Hoo, kukira
kamu akan menentangnya mati-matian?"
Rose itu adalah
orang yang terlalu jujur, entah itu hal baik atau buruk. Aku pikir dia pasti
tidak akan pernah memaafkan cara yang hanya dipilih oleh penjahat seperti ini.
"Segala
sesuatu itu ada batasnya. Membunuh Roh lalu mengambil dan memakan intinya
adalah perbuatan iblis. Aku benar-benar tidak bisa memaafkannya."
"Andai saja
Yang Mulia Raja tahu, beliau pasti akan sangat murka dan menghukum berat semua
pihak yang terlibat. Tidak peduli siapa pun pelakunya."
"Hmm, jadi
begitu, ya."
Wilayah ini
dulunya merupakan habitat monster buas yang ganas. Namun, dikatakan bahwa Raja
pertama Kerajaan Amelia meminjam kekuatan Raja dari Desa Roh, Yougenkyou, untuk
menaklukkan para monster dan mendirikan Kerajaan Amelia saat ini.
Dengan kata lain,
Roh memiliki posisi layaknya dewa pelindung bagi keluarga kerajaan Kerajaan
Amelia. Jika tahu bahwa mereka telah dihina, sang Raja pasti harus mengambil
sikap tegas.
Bahkan jika
pelakunya adalah bangsawan tinggi, putra kandungnya sendiri, ataupun seorang
pahlawan.
Jika masalah ini
terungkap ke publik, kemungkinan besar Kerajaan Amelia ini akan menjadi sangat
kacau. Kalau tidak
hati-hati, ada risiko hal ini bisa berkembang menjadi perang saudara.
Kukira itulah
yang dikhawatirkan oleh Rose.
"Selain itu,
aku benar-benar marah atas apa yang mereka lakukan pada Miu dan Ash."
Menyadari nyala
api kemarahan yang berkobar di kedalaman mata Rose, aku tanpa sadar tersenyum.
Intinya begitu.
Bagi Rose saat
ini, kurasa Miu dan Ash sudah seperti keluarganya sendiri.
"Jangan
khawatir. Setelah semuanya selesai, setidaknya aku berniat mengirim mereka ke
tiang gantungan."
Meski begitu, aku
yakin saat itu tiba, mereka pasti akan memohon untuk dibunuh saja.
"Setelah
semuanya selesai... kamu memang merencanakan sesuatu, kan?"
"Merencanakan
sesuatu itu terdengar agak kasar, tahu. Aku hanya meminta benda asing yang
tidak membawa keuntungan apa pun bagi kerajaan ini untuk segera
menyingkir."
"Aku cuma
ingin mengembalikan semuanya ke kondisi yang seharusnya."
Kesimpulanku
setelah menganalisis informasi dari Mujina adalah, serangkaian insiden ini
semuanya saling berkaitan erat. Sepertinya niat dari berbagai faksi saling bersilangan dan terjalin
dengan rumit.
Akan
sedikit merepotkan jika orang luar terus ikut campur, dan itu akan menghambat
kelancaran permainan pemilihan pewaris takhta ke depannya. Oleh karena itu, aku berpikir untuk
memusnahkan semua elemen pemberontak di kerajaan ini sekaligus.
Lagipula,
permainan tidak akan menyenangkan kalau tidak ada keadilan setidaknya sedikit
pun.
"Tuh
kan, kamu memang sedang merencanakan sesuatu yang gila."
"Jangankan
gila, ini adalah rencana yang hanya bisa dipikirkan oleh seseorang yang sekrup
di kepalanya sudah lepas sepenuhnya."
Asta yang
berada di sebelahku melontarkan sindiran dengan ekspresi yang sangat muak. Mendengar ucapan Asta itu, Rose mengerjap
beberapa saat.
"Kai, kamu
sebenarnya mau melakukan apa!?"
Dia menahan napas
sejenak, lalu menuntut jawaban dengan aura yang mengintimidasi.
"Asta,
jangan bicara sembarangan. Rose jadi menganggapnya serius, tahu."
"Aku sama
sekali tidak berniat melebih-lebihkannya."
Saat aku
memberitahukan keseluruhan rencananya, Asta awalnya memegangi kepalanya, tetapi
ujung-ujungnya dia malah mulai melontarkan komentar seperti itu.
"Kai,
tidak ada bahaya, kan?"
"Tentu
saja tidak."
Aku
segera menjawabnya dengan wajah bangga sambil mengacungkan jempol kepada Rose
yang bertanya dengan ekspresi serius.
"Aku
percaya padamu. Aku percaya, lho. Kamu bisa dipercaya, kan?"
Rose
mengulangnya berkali-kali dengan ekspresi putus asa.
"Ah,
iya, iya. Aku mengerti."
Menanggapi
aku yang menjawab sekenanya, Rose menatapku dengan mata setengah tertutup.
"Lalu, apa
rencanamu untuk Tuan Lucas dan Kaisar Pedang Kekaisaran?"
Dia akhirnya
membahas kelanjutan rencananya.
"Aku tidak
akan melakukan apa-apa. Aku hanya akan memberikan informasi yang diperlukan
kepada mereka."
Hanya dengan
begitu, mereka berdua pasti akan membuat pilihan seperti yang aku harapkan.
"Kai, sudah
kuduga--"
Rose mencoba
mengembalikan topik pembicaraan ke awal.
"Nona Rose,
Emi dan para Roh meminta untuk bertemu. Saya sudah meminta mereka menunggu di
ruang tamu."
Anna yang baru
saja memasuki ruangan, melaporkan hal tersebut. Sejak kejadian itu, ada risiko
mereka diincar oleh sisa-sisa kelompok 'Piala Suci' dan para bangsawan sekutu
mereka.
Oleh karena itu,
aku menginstruksikan orang tua Emi, anak-anak itu, serta para Roh yang kami
lindungi untuk menetap di kediaman ini.
"Begitulah.
Ayo kita pergi."
"Kamu selalu
saja mengalihkan pembicaraan seperti itu!"
Aku mendekati
Rose yang menggembungkan pipi dan membuang muka, lalu menepuk pelan puncak
kepalanya sebelum berjalan menuju ruang tamu.
◇◆◇
Orang-orang yang
terlibat dalam insiden penculikan kali ini telah berkumpul di kursi
masing-masing di meja panjang yang berada di ruang tamu. Pertama, Emi dan orang
tuanya duduk dengan ekspresi serius.
Lalu, ada para
makhluk non-manusia yang pernah ditawan oleh 'Piala Suci'. Mereka dipimpin oleh
Roh berwajah kelinci yang tubuhnya kaku dan gemetar karena tegang dengan
ekspresi tajam.
Saat aku memasuki
ruangan, para Roh serentak berlutut dan menunduk dalam-dalam sambil gemetar.
Reaksi ini lagi, ya.
Sepertinya di
mata para makhluk non-manusia ini, aku terlihat seperti Raja Iblis jahat atau
iblis pembantai dari suatu tempat.
"Sudah
kubilang hentikan itu. Bukankah aku sudah mengatakannya?"
"B-baik!"
Mereka semua
buru-buru berdiri dan memperbaiki postur tubuh. Astaga, mereka sama sekali
tidak paham. Kalau begini, kita tidak akan bisa bicara.
Sambil menghela
napas pasrah, aku mengangkat tangan kanan untuk menyerahkan urusan ini pada
Rose, lalu duduk di sofa sudut ruangan.
"Salam
kenal, semuanya. Namaku Rosemary Loto Amelia, Putri Pertama Kerajaan Amelia
ini. Pria ini adalah Kai Heineman, kesatriaku. Dia tidak akan memakan kalian,
jadi tenang saja, ya."
Rose biasanya
tidak pernah secara terang-terangan mendeklarasikan bahwa dirinya adalah
anggota keluarga kerajaan. Alasan dia sengaja menyebutkan gelarnya kali ini
mungkin untuk menghilangkan rasa takut mereka kepadaku, yang seperti biasa
dianggap sebagai Raja Iblis jahat.
Bagi para Roh,
seorang kesatria dari keluarga kerajaan manusia yang mereka benci sekalipun
masih sedikit lebih baik daripada Raja Iblis agung.
"Tuan Putri?
Apakah pria ini benar-benar kesatria Anda?"
Sudah kuduga,
wanita berwajah kelinci itu bertanya dengan ekspresi bingung dan ketakutan.
"Ya,
benar begitu, kan? Kai?"
Rose
mengangguk dengan senyum lebar dan meminta persetujuanku. Aku ingin menyangkalnya, tetapi jika aku
melakukannya, posisiku sebagai Raja Iblis jahat pasti akan semakin permanen.
Namun, sejujurnya
aku juga tidak ingin membenarkannya begitu saja.
"Ada sedikit
koreksi. Aku hanyalah kesatria sementara."
"Iya, iya,
aku tahu kok. Kamu cuma kesatria sementara sampai aku menemukan pengawal
kerajaan yang lebih pantas, kan?"
Sambil tersenyum,
Rose mengambil cangkir di atas meja lalu meminum isinya.
"Memang
benar, tapi entah kenapa aku merasa tidak terima."
Aku merasakan
hawa dingin dari cara bicara Rose.
"Kalau
begitu, mari kita langsung masuk ke inti pembicaraan."
Karena Rose
memberikan isyarat dalam diam agar aku yang memimpin, aku mengarahkan
pandanganku pada Emi dan orang tuanya terlebih dahulu.
"Sekarang
setelah Marquess Obutz disingkirkan, aku ingin kalian bergabung dengan faksi
Rose sesuai kesepakatan awal kita. Kalian tidak keberatan, kan?"
Orang tua
Emi saling berpandangan dengan ekspresi serius, lalu mengangguk mantap.
"Kami telah
diselamatkan oleh Anda. Kami memang hanya bisa memasak, tetapi kami akan
membantu sebisa kami."
"Terima
kasih banyak!"
Ekspresi Rose
yang sebelumnya tampak kaku kini berubah cerah dan dipenuhi kebahagiaan saat ia
menggenggam tangan mereka berdua.
Meski mendapatkan
tiga orang dewasa dan belasan anak-anak ini terasa seperti rezeki nomplok,
mereka adalah rakyat pertama yang dimiliki oleh Rose. Jelas saja dia merasa
senang.
Lagi pula,
kandidat lain sudah memiliki rakyat sejak awal. Jadi, tidak adil jika Rose
harus melakukan semuanya sendiri untuk mendapatkan rakyat.
Namun,
bergantung sepenuhnya padaku seperti ini akan berakhir pada insiden kali ini.
Setelah aku membasmi para pengganggu dan mengembalikan permainan ini menjadi
adil, aku berniat meminta Rose merancang strateginya sendiri untuk menarik
rakyat.
"Emi, kamu
juga setuju?"
"Tentu saja,
itu kan sudah janji. Daripada itu, aku ingin kamu mengajariku cara membuat
masakan yang dihidangkan tadi malam!"
Tadi malam?
Maksudnya hamburger steak? Semalam aku memang membuat makan malam karena
terus-terusan diminta oleh Faf, dan sepertinya masakan itu sangat membekas di
hatinya.
"Ah,
baiklah. Malam ini akan kuajari."
Lagi pula, Ash
juga memintaku mengajarinya cara membuat hamburger steak malam ini. Mengajari
satu orang maupun dua orang tidak ada bedanya.
"Kai. Kalau
kamu membuat para Roh menunggu lebih lama..."
Rose mendesakku
untuk melanjutkan pembicaraan yang mulai melenceng itu. Aku pun mengangkat
telapak tangan kanan sebagai tanda setuju.
Namun, ketika aku
menoleh ke arah para Roh berwajah kelinci, ekspresi mereka semua menegang
hingga terlihat menyedihkan.
"Jangan
ketakutan begitu. Kalau aku berniat menyakiti kalian, aku tidak akan
menyelamatkan kalian sejak awal."
Aku menasihati
mereka sambil menghela napas.
"K-kami
tidak ketakutan! Kami cuma merasa gugup!"
Ibu berwajah
kelinci itu melambaikan kedua tangannya dengan panik untuk menyangkal
tebakanku.
"Kalau
begitu, syukurlah. Mari masuk ke inti pembicaraan. Aku sudah melaporkan masalah
ini kepada Guild Hunter."
"Sebentar
lagi, perwakilan Guild Hunter yang tepat akan datang dan mengantar kalian
kembali ke kampung halaman."
Jika aku
melaporkannya kepada Kerajaan, masalah ini pasti akan ditutupi, dan
ujung-ujungnya mereka akan menuntut penyerahan anggota 'Piala Suci' yang
kutangkap. Terlebih lagi, akan sangat merepotkan jika Kerajaan salah langkah
dan membuat para badut yang sedang asyik menari sekarang jadi menunda
pergerakan mereka.
Oleh karena itu,
aku tidak memberi tahu Kerajaan dan hanya melapor secara diam-diam ke Guild
Hunter di Barse. Entah kenapa, para petinggi Guild Hunter di Barse bersikap
sangat ramah kepadaku hingga terasa tidak wajar, dan mereka menerima usulanku
dengan senang hati.
Sang ibu berwajah
kelinci menatap Roh lainnya, dan mereka semua mengangguk serempak. Kemudian, ia
berdeham dan menunduk dalam-dalam kepadaku.
"Ku mohon!
Bersediakah Anda menemui Raja kami!?"
Mereka memohon
dengan ekspresi yang luar biasa serius, seolah-olah sedang mempertaruhkan
nasib.
"Hmm, aku
akan menyampaikan pesan itu kepada para petinggi Guild Hunter."
Terutama para
penyihir di Guild Hunter yang marah besar saat mendengar seluruh kronologi
kejadiannya. Tidak diragukan lagi, mereka sangat memihak para Roh.
Selama para Roh
menginginkannya, pertemuan dengan Raja Roh pasti akan membawa keuntungan
tertentu bagi kedua belah pihak.
"Bukan, yang
kami ingin Raja kami temui adalah Anda!"
"Hah?
Memangnya kenapa aku harus menemui Raja kalian?"
"Tentu saja,
kami sangat sadar betapa tidak sopannya permintaan kami ini! Tapi, bagi kami
yang sedang berada di ambang kehancuran, hal ini sangatlah penting saat
ini!"
"Bukan,
maksudku bukan begitu..."
"Kami
mohon... tolong kabulkanlah!"
Akhirnya, semua
Roh bersujud di lantai dan menundukkan kepala sambil berseru keras.
Ini
benar-benar situasi di luar dugaan. Bertanya kepada Rose, yang kini terbelalak
dan terpaku melihat tingkah aneh para Roh, juga pasti akan sia-sia.
"Bagaimana
menurutmu?"
Saat aku
meminta pendapat Asta yang sedang meminum tehnya dengan anggun di sebelahku,
dia pun membalas.
"Mereka
tidak sadar diri dan memohon bantuan kepada Tuan. Kalau begitu, sikap mereka
itu sudah sangat sepantasnya."
Malah makin tidak
mengerti maksudnya. Ya sudahlah. Kalau cuma bertemu, itu tidak merugikanku sama
sekali.
"Baiklah.
Tapi, saat ini aku sedang sibuk. Apa tidak masalah kalau kita bertemu setelah
urusanku selesai?"
"Tentu
saja!"
Para Roh
saling berpelukan dan bersorak gembira. Melihat ada yang menangis terharu
hingga ada yang mulai menyembahku, aku merasa pipiku berkedut.
"Kalau
begitu, aku sendirilah yang harus mengantar mereka. Tapi sampai saat itu tiba, kalian harus tetap di
rumah ini. Rose, apa tidak masalah?"
Sejujurnya, aku
sangat meragukan apakah bertemu dengan seorang pendekar pedang biasa sepertiku
akan memberi keuntungan bagi Raja Roh. Tapi, karena mereka sendiri yang
menginginkannya, mau bagaimana lagi.
"Y-ya, tentu
saja, aku juga tidak keberatan..."
Mungkin karena
belum sepenuhnya memahami situasi, jawaban Rose terdengar aneh dan ragu-ragu.
Aku pun mengembuskan napas panjang.
"Begitulah.
Jadi, bersantailah sampai waktunya tiba."
Aku melontarkan
kata-kata sambutan yang lebih terdengar seperti nada kepasrahan.
◇◆◇
Di dalam ruangan
gelap di mana tata letaknya hampir tak terlihat, Colin Cortane, seorang pria
tampan yang menutupi mata dan hidungnya dengan topeng, mulai angkat bicara.
"Puppet
hilang, ya..."
Mendengar laporan
pria berjas putih dan bertopi serba putih yang berlutut di depannya, ia memijat
pangkal hidungnya lalu berdiri. Colin berjalan menuju jendela dan membukanya.
Cahaya bulan
menyinari ruangan tersebut, memperlihatkan siluet beberapa pria dan wanita yang
berdiri di dalamnya. Semua pria dan wanita itu memiliki sayap putih bersih di
punggung mereka.
"Bagaimana
pendapat kalian tentang hal ini?"
"Walaupun
lemah, Puppet tetaplah salah satu dari kita, Utusan Dewa. Makhluk-makhluk di
dunia ini tidak akan bisa melukainya sama sekali, tahu."
Bianca sang
Utusan Dewa, seorang wanita berambut bob yang mengenakan pakaian putih dan
topeng, menyilangkan tangan di belakang kepala lalu menjawab dengan malas.
"Aku setuju.
Kalau begitu, kemungkinannya cuma dua, kan? Dia mengkhianati kita, atau
dikalahkan oleh pasukan dari dewa lain?"
Luze sang Utusan
Dewa, seorang pria jangkung dengan wajah sangat panjang dan lonjong,
melontarkan pertanyaannya sambil menggaruk kepalanya yang berpotongan cepak.
"Kami adalah
pelayan setia yang menyampaikan kehendak Dewa Ares ke dunia fana. Pengkhianatan
adalah hal yang mustahil!"
Sambil memegang
kitab suci di tangan kirinya, Preto sang Utusan Dewa, pria berkepala plontos
dan berbentuk kotak, mengepalkan tangan kanannya dan berdebat dengan penuh
semangat.
"Kalau
begitu, apakah ini ulah kelompok Raja Busuk itu?"
"Di dunia
ini, hanya merekalah yang mampu menghancurkan Puppet!"
Preto
sang Utusan Dewa mengangguk dengan kuat.
"Tapi,
tidak mungkin segelnya sudah terbuka, tahu. Kalau memang begitu, manusia pasti sudah panik dan
heboh saat ini."
"Kau benar.
Paling-paling ini cuma ulah salah satu bawahannya yang sedang bergerak."
"Kita memang
tidak akan tertinggal jika berhadapan dengannya, namun tidak ada salahnya
berhati-hati..."
Seakan
mengingatkan dirinya sendiri, Colin Cortane mengelus dagunya dengan tangan
kanan.
"Lalu,
bagaimana dengan urusan desa ras monster itu?"
Ia mengarahkan
pertanyaannya kepada Bianca sang Utusan Dewa.
"Kelompok
tentara bayaran yang disewa oleh para bangsawan itu baru saja menculik anak
gadis ras monster yang menjadi target kita. Selanjutnya, kita tinggal
menggunakan gadis itu sebagai umpan untuk memancing amarah ayahnya."
"Berarti
semuanya berjalan lancar, ya. Aturan bahwa dewa kita—sang pengelola dunia
ini—tidak bisa menginjakkan kakinya di sini jika kita tidak memperbanyak
pengikut dari kalangan manusia, benar-benar sangat merepotkan."
Mendengar keluhan
Colin yang menghela napas panjang sambil duduk di kursi terdekat, para Utusan
Dewa lainnya pun ikut tersenyum kecut.
"Tapi, kita
hampir berhasil."
Merespons ucapan
Preto, mereka semua mengangguk setuju dengan ekspresi serius.
"Ngomong-ngomong,
Luze, bagaimana dengan penyelidikan reruntuhan di dekat kota tempat para
manusia yang akan kita manfaatkan itu berada?"
"Soal
itu..."
Pertanyaan
Colin membuat Luze terdiam sejenak.
"Itu semacam
kuil yang dibangun manusia di masa lalu. Hanya reruntuhan biasa yang tidak
menyimpan kekuatan apa pun."
Seperti biasa,
dia menjawab tanpa mengubah ekspresi wajahnya sedikit pun.
"Begitu, ya.
Ya sudahlah."
Colin mengangguk
puas.
Seandainya saat
itu Colin menyadari hasrat kelam yang bersembunyi di balik tatapan Luze lebih
awal, bencana terburuk yang akan datang selanjutnya mungkin bisa dicegah.
Namun, Colin
menepis firasat buruknya saat itu, dan roda nasib pun mulai bergerak menuju
kekacauan.
◇◆◇
—Sebuah kamar
penginapan di Ibukota Raja.
"Tuan Ash
menghilang!? Apa itu benar!?"
Nail, salah satu
petinggi tertinggi dari Pasukan Empat Raja Iblis—Ashmedia—bertanya dengan nada
meninggi.
"Informasinya
memang simpang siur, tetapi pesan ini datang dari Tuan Dolce, jadi
kemungkinannya sangat besar."
Dengan ekspresi
getir, iblis bawahan Nail itu melontarkan kalimat yang terdengar bagaikan mimpi
buruk bagi Nail.
"Dari sekian
banyak kemungkinan, kita malah membiarkan party Pahlawan Kekaisaran menyusup,
Elder dan Ega terbunuh, serta Tuan Ash diculik!? Mana mungkin aku percaya hal
seperti itu! Lagipula, kenapa pelindungnya tidak berfungsi!?"
Dengan pelindung
itu, bahkan party Pahlawan sekalipun seharusnya tidak bisa menerobos masuk
begitu saja.
"Sepertinya
ini akibat Magic Item milik orang yang dipanggil 'Kyou'! Konferensi
Darurat juga telah digelar, dan dengan suara mayoritas, kita telah memutuskan
untuk bersekutu dengan Procyon, sang Raja Iblis Kabut!"
"Hah!?
Kenapa dia yang maju!?"
Raja Iblis Kabut,
Procyon. Salah satu Raja Iblis yang menguasai kabut dan memiliki kemampuan
memanipulasi kabut putih yang sangat licik dan kuat.
Empat Raja Iblis
pada dasarnya berisi penjahat kejam yang menganggap makhluk lain lebih rendah
dari serangga. Raja Iblis berhati lembut yang memikirkan rakyatnya mungkin
hanyalah Tuan Ash seorang.
Itulah sebabnya,
hingga saat ini, para iblis tidak pernah bisa bersatu untuk menghadapi ancaman
yang disebut Pahlawan.
"Sepertinya
ini adalah langkah awal untuk mengalahkan manusia. Bersamaan dengan itu, ada
perintah baru yang turun!"
"Perintah
baru dalam situasi seperti ini!?"
Nail tanpa sadar
membentak keras. Itu wajar saja. Saat ini, menyelamatkan Tuan Ash seharusnya
menjadi prioritas utama mereka.
"Benar.
Perintahnya adalah untuk menghasut manusia agar membuka segel dari reruntuhan
yang telah ditentukan."
"Kalau
semudah itu, kita tidak akan sesusah ini! Memangnya kalian pikir seberapa besar
usaha yang telah kami kerahkan selama ini!"
Mereka telah
kehilangan banyak pasukan, harga diri mereka hancur, dan seluruh rencana mereka
selalu digagalkan oleh party Pahlawan. Bagi Nail, cara ini tidak lagi terasa
sebagai solusi yang tepat.
"Kita tetap
harus melakukannya! Kalau tidak, rakyat Negara Kegelapan kitalah yang akan
menjadi korbannya!"
"Apa
maksudmu!?"
"Sebuah
Upacara Panggilan Dewa Agung berskala besar akan dilaksanakan di ruang ritual
lantai atas Kastil Kegelapan. Kabarnya, mereka membutuhkan benda yang disegel
di reruntuhan tersebut untuk upacara itu."
"Jika kita
tidak membawanya sebelum batas waktu yang ditentukan, mereka mengancam akan
mengorbankan separuh dari rakyat kita."
"Itu sama
saja dengan pemerasan! Apa yang sebenarnya dipikirkan oleh orang-orang di
pusat, ah, maksudku Dolce!?"
"Perintah
ini sangat berbeda dari instruksi pusat selama ini. Walau belum ada bukti
pasti, ada dugaan bahwa Tuan Dolce telah berpindah pihak ke kubu Raja Iblis
Procyon."
"Ini
benar-benar yang terburuk..."
Tuan Ash
diculik, dan Dolce sang petinggi puncak berkhianat. Ditambah lagi, Negara
Kegelapan dikuasai oleh Procyon, dan rakyat mereka dijadikan sandera. Ini benar-benar situasi jalan buntu.
"Tuan Nail,
apa yang harus kita lakukan?"
Melihat ekspresi
kesedihan dan keputusasaan di wajah bawahannya, jawabannya sudah sangat jelas.
"Kita tidak
punya pilihan lain selain melakukannya. Jika kita membiarkan kekejaman seperti
itu terjadi, aku tidak akan punya muka lagi untuk menghadap Tuan Ash."
Namun, perintah
kali ini terasa berbeda. Ini bukanlah perintah ambigu seperti biasanya untuk
membangkitkan Dewa Kegelapan yang tersegel di reruntuhan, melainkan ada niat
yang lebih spesifik tersembunyi di baliknya.
"Jadi, di
mana reruntuhan yang ditentukan oleh Dolce?"
"Ada tujuh
lokasi, tapi yang paling dekat adalah Sauropeaks!"
"Sauropeaks?
Oh, bukankah itu tepat di tempat bangsawan tinggi Kerajaan Amelia
bermarkas..."
Tentu ada alasan
mengapa sekelompok orang yang sangat mencurigakan itu sengaja menetap di sana
dalam jangka waktu lama. Sudah pasti itu bukan sesuatu yang baik.
Di sisi lain,
jika mereka adalah orang-orang yang mudah dikuasai hasrat, mungkin akan mudah
bagi kita untuk menghasut mereka.
"Aku
mengerti. Kita akan segera berangkat ke Sauropeaks!"
Nail
segera berdiri dan mulai mempersiapkan keberangkatan.
◇◆◇
Di
kamarku di Kerajaan Amelia, pihak-pihak yang terlibat dalam rencana ini telah
berkumpul. Kelompok ini sebagian besar diisi oleh kawan-kawan lamaku yang
menyenangkan dari Pasukan Penakluk.
"Kamu
benar-benar berniat melakukannya?"
Asta melemparkan
pertanyaan itu dengan ekspresi muak.
"Tentu
saja."
Aku menjawabnya
sambil tersenyum lebar. Bagaimanapun juga, inilah inti dari rencana kali ini.
Aku sama sekali tidak berniat menahan diri.
"Aku sungguh
tidak mengerti alasan mengapa Tuan bersikeras menggunakan dua monyet tak
berdaya itu."
"Ya, wajar
saja. Aku menggunakan mereka berdua dalam rencana ini bukan karena kekuatan
mereka."
Alasan aku
memutuskan untuk menyerahkan peran pahlawan kepada Jignir kali ini adalah
karena kegigihan terakhir yang ia tunjukkan. Sebaliknya, Lucas adalah
kebalikannya.
Aku merasakan
sesuatu yang mirip dengan diriku di kedalaman matanya.
"Meski
begitu, menjadikan anak perempuan itu sebagai... sudahlah, lupakan saja."
Asta membuang
muka seakan sedang merajuk. Dia memang selalu bersikap aneh, tetapi hari ini
keanehannya benar-benar keterlaluan. Yah, suasana hati Asta bukanlah urusanku.
"Satori,
bagaimana persiapannya?"
Aku bertanya
kepada gadis berambut hijau model bob yang berdiri di belakangku.
"Sesuai
instruksi Anda, semua ingatan pihak yang terlibat telah ditulis ulang."
"Begitu, ya.
Girimehkala, Spy, persiapan kalian berdua juga tidak ada masalah, kan?"
"Siap!
Semuanya telah berjalan sesuai dengan kehendak Anda!"
"Persiapannya
sudah beres tanpa halangan!"
Girimehkala dan
Spy langsung merespons dengan cepat.
"Kerja
bagus. Kalau begitu, aku cuma tinggal berangkat saja."
Dengan ini,
permainan akan dimulai. Para bajingan yang mengatur rencana rendahan kali ini
benar-benar telah menyulut amarahku.
Oleh karena itu,
aku akan memanfaatkan mereka sepenuhnya sebagai batu pijakan untuk pertumbuhan
para pemuda itu.
"Itulah
bagian yang paling tidak bisa aku terima. Kenapa aku ditinggalkan!?"
Sama seperti
Asta, Rose mencibir dan melontarkan keluhannya.
"Sebenarnya,
kamu memang masuk dalam daftar kandidat personel untuk rencana ini. Tapi,
karena melibatkan terlalu banyak karakter hanya akan membuat situasi makin
rumit dan menghambat rencana, aku membatalkannya."
"Meski
begitu, kenapa harus Ash!?"
"Itu karena
sepertinya Ash memiliki ikatan yang kuat dengan Eldim. Kemungkinan besar, ini
juga berkaitan dengan ingatannya yang hilang."
Ash memiliki
obsesi yang kuat terhadap Eldim dan mengatakan sangat ingin mengunjunginya.
Aku memang sudah
meminta Satori untuk menyelidikinya, tetapi karena terhalang oleh beberapa
lapis perlindungan yang rumit, ia tak bisa mendapatkan informasi baru.
Kemungkinan
besar, hal ini berkaitan dengan masalah perpaduan jiwanya. Sepertinya perpaduan
jiwa yang awalnya tidak stabil itu, entah bagaimana, mencapai stabilitas
setengah matang.
Saat ini, tubuh
Ash berada dalam kondisi di mana dua jiwa hidup berdampingan.
Yah, mengingat
betapa terkejutnya Satori, kasus seperti ini pasti sangatlah langka.
"Aku
memahaminya. Aku sama sekali tidak melarangmu membawa Ash ke Eldim!"
"Hmm, lalu
apa yang kamu tidak suka?"
"I-itu
karena..."
Dia menggumamkan
sesuatu, namun...
"Sudahlah,
terserah."
Rose menghela
napas dan menutup mulutnya. Karena Rose sepertinya sudah mulai memahaminya, aku
memutuskan untuk segera memulai rencana ini.
Aku mengalirkan
mana ke cincin di jari tengah tangan kiriku.
Dalam sekejap,
penampilanku berubah menjadi pemuda berambut pirang dengan potongan two-block,
mengenakan jubah berkerudung dan sepatu bot layaknya seorang pedagang.
"Nah, mari
kita mulai permainan yang menyenangkan dan mendebarkan ini!"
Aku mengangkat
tangan kananku lalu berjalan menuju pintu.
—Ini
hanyalah keisengan dari seorang monster. Ini hanyalah sekadar permainan belaka.
Hanya
saja, monster ini sama sekali tidak pernah berkompromi maupun menahan diri
dalam permainannya. Demi mencapai tujuan dari permainannya itu, ia akan
memberikan berbagai ujian kepada para pahlawan.
Dengan
Kota Negara Netral Eldim sebagai panggungnya, tirai dari festival paling
mengganggu di dunia ini secara perlahan mulai terangkat.
Ya,
sebuah permainan yang akan menyeret umat manusia, ras Beastkin, ras elf, para
iblis, pasukan kejahatan, dan segala macam makhluk lainnya...
Prolog | ToC | Next Chapter



Post a Comment