Epilog
—Ruang Rapat
Utama Kerajaan Amelia
"Hah?
Mujina, coba jelaskan sekali lagi!"
Raja
Amelia—Edward Lotho Amelia—meminta penegasan dari agen intelijen utama Kerajaan
Amelia, Mujina, yang baru saja memberikan laporannya. Mujina hanya mengangkat
bahunya.
"Guild
Empat Orang Suci, Dice, telah menghasut Duke Estarque dan para bangsawan
tingkat tinggi faksi Gilbert untuk menyerang Eldim."
Ia kembali
mengulangi laporannya.
"Itu aku
juga sudah memberi izin. Bukan bagian itu yang kumaksud!"
Sebuah kota di
dalam kerajaan bernama Sauro Peaks telah lenyap tak berbekas beserta seluruh
penduduknya. Terlebih lagi, tim investigasi dari pihak ketiga, Babel, menemukan
pakaian dengan lambang negara Eldim di lokasi eksekusi.
Dalam situasi
seperti itu, Kerajaan Amelia tidak mungkin bisa menutup mata. Mengirim pasukan
ke sana dalam artian tertentu tidak bisa dihindari.
Meskipun pada
akhirnya, setelah semuanya usai, penduduk Sauro Peaks dan pasukan garnisun
ditemukan dengan selamat dan dilindungi di hutan terdekat.
"Anjing Gila
Hound Dog dan Uskup Preto dari Gereja Pusat menyerang Eldim, namun berhasil
dipukul mundur. Selanjutnya, pasukan rakyat Eldim berhasil mengalahkan pasukan
aliansi bangsawan, dan pemimpin Dice, Sir Colin, juga gugur dalam pertempuran."
"Di
saat yang sama, monster misterius tak dikenal datang menyerang dan pasukan
aliansi bangsawan nyaris hancur total. Namun, mereka diselamatkan oleh seorang
gadis dari ras iblis dan saat ini sedang berada di bawah perlindungan
Eldim."
Mujina
merangkai kalimat dengan isi yang persis sama seperti sebelumnya.
"Bagaimana
bisa jadi begitu? Pasukan aliansi bangsawan kalah? Monster yang tiba-tiba
menyerang? Dan mereka diselamatkan oleh gadis ras iblis? Sejak awal, bukankah
Eldim itu negara tanpa kekuatan militer?"
"Benar,
Eldim adalah negara tak berdaya yang bertahan hidup hanya dengan mengandalkan
bantuan negara lain. Namun Yang Mulia, Kai Heineman terlibat dalam serangkaian
insiden kali ini."
Pria
berambut hitam dan bertubuh besar yang berdiri tegak tak bergerak di samping
raja—Perdana Menteri Kerajaan Amelia, Johannes Roosevelt—memberikan tanggapan.
"Kai
Heineman. Kukira dia cuma pria yang bermodal kuat saja, apa aku salah?"
"Ya.
Kemungkinan besar semua akhir dari rentetan peristiwa ini berjalan persis
seperti yang direncanakan oleh Kai Heineman."
"Berjalan
seperti yang dia rencanakan? Akhir yang konyol ini, kau bilang?"
"Benar.
Kemungkinan besar niatnya hanyalah menyingkirkan pengganggu dalam perang
suksesi takhta Yang Mulia Rosemary, dan membuat peraturannya menjadi lebih adil
dan transparan. Niatnya hanya sebatas itu saja, dan hasil lainnya hanyalah
sekadar efek samping."
"Namun,
efek samping kali ini terlalu besar."
Dengan
tangan kanannya, Johannes mengeluarkan beberapa pucuk surat dari balik
pakaiannya dan menyerahkannya kepada Edward.
Senyum
yang sangat licik dan jahat menempel di wajah pria yang biasanya sedatar topeng
itu. Hal ini sampai membuat sang Perdana Menteri monster bermental baja ini
dilanda kegembiraan yang luar biasa.
Kemungkinan
besar, surat itu berisi sesuatu yang akan membuat mata terbelalak karena
terkejut.
Edward
membaca dokumen itu dengan penuh kehati-hatian, dan ia nyaris menyemburkan
napas saking tak wajarnya fakta yang tertulis di sana.
"Hah?
T-tunggu sebentar, apakah ini kenyataan!?"
Sekalipun begitu,
ini sudah keterlaluan. Hanya
hal ini yang sangat tidak mungkin. Mana mungkin hal semacam ini bisa terjadi.
"Ya, itu
adalah kenyataan. Seluruh penduduk negara Eldim telah bersumpah untuk menjadi
rakyat di wilayah East End yang dipimpin oleh Yang Mulia Rosemary."
"Akibatnya,
mereka menyatakan akan meninggalkan wilayah Eldim yang sekarang. Secara hukum
internasional, wilayah itu kini telah menjadi bagian dari teritorial negara
kita."
Di bawah tanah
wilayah negara itu, terdapat urat nadi bijih logam telepati legendaris,
Orichalcum. Orichalcum adalah bijih mentah yang bisa digunakan sebagai bahan
baku senjata sihir.
Negara merdeka
itu bisa terus eksis berkat bertemunya kepentingan Babel yang ingin memonopoli,
negara besar di timur, Butou, dan Eldim sendiri.
Jika wilayah East
End yang dipimpin Rose dijadikan sebagai kompensasi atas Orichalcum itu, maka
itu adalah hal yang sangat sepele. Mau tak mau mereka harus mengakuinya.
"Tetapi, apa
orang-orang Eldim setuju dengan hal itu? Bukankah mereka yang memenangkan
peperangan kali ini?"
"Benar.
Namun, rakyat Eldim kini merasa tidak perlu lagi menerima perlindungan dari
siapa pun. Kurang lebih seperti itu maksudnya."
"Merasa
tidak perlu lagi menerima perlindungan?"
"Menurut
Anda, apakah ada orang bodoh yang mau seenaknya menyatakan perang terhadap
negara yang mampu menaklukkan pasukan bangsawan tingkat tinggi dari faksi
Gilbert?"
"Kalau
begitu, aku makin tidak mengerti! Kenapa mereka mau membuang negara mereka
sendiri dan mengabdi di bawah Rose!? Terlebih lagi ke tanah yang sama sekali
tidak punya sumber daya seperti itu?"
"Kemungkinan
besar, Kai Heineman juga yang menjadi penyebabnya. Mohon maaf atas kelancangan
saya, namun Yang Mulia Rosemary belum memiliki daya tarik yang cukup kuat
sampai membuat mereka rela membuang negara demi mengabdi padanya."
"Tentu
saja begitu! Lalu, bagaimana dengan usulan perdamaian dengan ras iblis dari
Duke Estarque ini? Dia itu bagian dari faksi Gilbert. Bukankah dia pengikut
setia Pahlawan Mashiro!?"
"Duke
Estarque telah menyatakan keluar dari faksi Gilbert. Kemungkinan besar, dia telah menyaksikan sesuatu
di medan perang itu."
"Apa itu
juga karena ulah Kai Heineman?"
"Benar.
Omong-omong, kabarnya dia juga ikut andil dalam pembongkaran kelompok bodoh
bernama 'Piala Dewa' itu."
"Maksudmu
Marquis Oubutsu juga memancing keributan dengannya dan akhirnya
dihancurkan?"
"Kemungkinan
besar seperti itu."
Meski jawabannya
terdengar kabur, dari gelagatnya ini, Johannes sangat yakin akan keterlibatan
Kai Heineman.
Rumor bahwa
'Piala Dewa' telah menculik roh agung yang setara dengan roh pelindung Kerajaan
Amelia demi merencanakan sesuatu yang buruk sudah terdengar sejak lama.
Namun, karena hal
itu terlalu tidak masuk akal dan tidak ada buktinya, pihak kerajaan tidak bisa
bertindak apa-apa selama ini.
Kali ini, dengan
tidak beruntung mereka telah menarik perhatian Kai Heineman. Alhasil, mulai
dari Oubutsu sang dalang hingga para bangsawan tingkat tinggi lainnya, dijatuhi
hukuman mati atas serangkaian insiden tersebut.
Keluarga mereka
dilucuti, dan organisasi bernama 'Piala Dewa' pun musnah dari dunia ini tanpa
meninggalkan jejak.
"Kai
Heineman, sebenarnya siapa dia itu?"
"Untuk
jawaban itu, saya ingin Yang Mulia sendiri yang memastikannya."
Johannes menutup
mulutnya rapat-rapat. Suasananya memperjelas segalanya. Bertanya lebih jauh pun
takkan menghasilkan informasi yang ingin diketahui.
"Kai
Heineman, ya. Sepertinya dia benar-benar pusat dari badai."
Edward masih
belum menyadari sedikit pun, badai kekacauan seperti apa yang akan dibawa oleh
monster sejati bernama Kai Heineman ini ke dunia di masa depan.
Namun, pada saat
inilah dunia mulai secara jelas menyadari keberadaan monster bernama Kai
Heineman tersebut.
◇◆◇
—Istana Langit
Kekaisaran Gritnil
"Beraninya
kau bilang gagal!?"
Kaisar
melontarkan cacian kepada pria berpotongan rambut mangkuk, Ramnera.
"Ya. Third
dan si buas telah tewas. Kemungkinan besar mereka dibunuh oleh Kai
Heineman."
"Kemungkinan
besar, katamu!? Padahal aku sudah memerintahkanmu untuk terus
mengawasinya!"
"Benar, saya
memang mengawasinya setiap saat. Tapi, mungkin saja, itu..."
Melihat Ramnera
yang terbata-bata, urat biru yang tebal menonjol di dahi Kaisar.
"Bicaralah
yang jelas! Sekali lagi kau melontarkan pernyataan ambigu, aku akan langsung
menghukummu!"
"Baik!
Terlihat banyak bagian yang tidak wajar di mana-mana. Saya rasa itu adalah
ilusi atau semacamnya yang memperlihatkan pemandangan palsu."
"Kemampuan
penglihatan jarak jauhmu itu harusnya bisa menjangkau hingga beberapa
kilometer, kan? Apa mungkin untuk mengelabuinya begitu saja?"
"Karena
itulah saya sempat tak percaya. Tapi, kalau dia bisa melakukan hal semacam itu
dengan santai, maka Kai Heineman itu—"
Saat Ramnera
hendak mengatakan hal itu, sebuah lingkaran sihir muncul di lantai Istana
Langit Kekaisaran Gritnil.
Four langsung
bergerak untuk melindungi Kaisar, dan Enam Jenderal Kavaleri lainnya juga lekas
mengambil jarak.
Sesuatu yang
muncul dari lingkaran sihir di lantai itu adalah sebuah kepala manusia. Pemilik
kepala itu adalah mantan guru Ends, Third.
"Salam
kenal, orang-orang Kekaisaran. Aku Kai Heineman. Terima kasih atas berbagai hal
yang sudah kalian lakukan di balik layar."
"Sejak
awal aku tidak berniat ikut campur. Tapi karena terus-terusan diikuti itu sangat menyebalkan, aku memutuskan
untuk memberi peringatan."
Third
menghentikan kata-katanya sejenak, lalu menatap tajam ke arah Kaisar, dan
berkata,
"Jangan
lagi mengendus-endus di sekitarku. Jangan bermusuhan denganku. Jangan membuatku
merasa tidak nyaman. Ini
bukan saran, melainkan perintah."
"Jika kalian
melanggarnya, aku akan menghancurkan kalian berkeping-keping. Aku akan
memastikannya dengan sangat teliti hingga tak ada satu serpihan pun yang
tersisa. Kalau begitu, aku berdoa agar kalian membuat pilihan yang bijak."
Wajah Third
membengkak, lalu meledak dengan suara nyaring.
"..."
Tak ada seorang
pun yang mengeluarkan sepatah kata. Tidak, lebih tepatnya, mereka tidak bisa.
Bahkan
Kaisar Amnes, yang dijuluki Kaisar Penakluk dan selama ini tak pernah mengenal
rasa takut, kini wajahnya dipenuhi keringat dingin yang mengucur deras.
"Kai
Heineman. Begitu rupanya, ini bukan lagi soal kuat atau lemah. Dilihat dari
cara berpikirnya, orang ini bukanlah manusia. Kemungkinan besar, dia adalah
seorang Transcender."
Four
membuka suaranya. Fakta bahwa dia masih bisa bersikap tenang setelah melihat
pemandangan sekejam ini, membuktikan bahwa Four juga bukanlah orang yang
normal.
"Transcender?"
"Ya,
itu adalah eksistensi yang kita sebut sebagai Dewa. Dan lagi, dia bukanlah
entitas yang baik, melainkan sesuatu yang sangat berlawanan."
"Four,
apa kau bisa menang melawannya?"
Menanggapi
pertanyaan Amnes yang terdengar seperti memohon itu,
"Tentu saja.
Karena aku juga—"
Seluruh tubuhnya
ditutupi oleh pakaian hitam sehingga ekspresinya tak terlihat, namun
kemungkinan besar Four saat ini sedang tersenyum.
Sudah kuduga.
Four memang berbeda. Kekuatannya yang tak terukur itu sudah tidak normal, dan
ketenangannya setelah melihat hal tadi juga tidak normal.
Segala
hal tentangnya benar-benar berada di tingkat yang berbeda dari Ramnera dan yang
lainnya.
"Four, kalau
begitu aku memerintahkanmu. Tidak, aku memohon padamu! Tarik dia, Kai Heineman,
ke pihak kita! Tidak peduli apa pun caranya! Aku bersedia memberikan wilayah
atau harta kekayaan apa pun yang kumiliki sebanyak yang kau mau!"
"Dimengerti.
Kalau prasyaratnya adalah tidak bermusuhan, maka urusannya akan cepat. Aku
terima tugas ini. Ramnera, kau harus terus bergerak juga, ya."
Ternyata
ujung-ujungnya begini, ya. Ramnera sebenarnya ingin menolak, tapi rasanya hal
itu mustahil dilakukan.
"Baiklah,
aku mengerti. Aku akan melakukannya. Aku cuma perlu melakukannya, kan?"
Ia menyetujuinya
dengan nada agak putus asa.
◇◆◇
—East End
Dua minggu telah
berlalu sejak saat itu.
"Semuanya,
apa kalian benar-benar yakin ingin menjadi rakyat di wilayahku?"
Rose
bertanya dengan ragu-ragu, namun,
"Hah!
Merupakan suatu kehormatan bagi kami untuk bisa mengabdi di sisi Junjungan
Agung kami!"
Silaus
membalasnya dengan suara lantang. Bukankah sifatnya berubah seratus delapan
puluh derajat?
Aku
menoleh dan menatap tajam ke arah Girimekhala yang berjaga di belakangku dengan
raut penuh penyesalan, namun dia hanya mengangguk puas kepada Silaus dan
kawan-kawannya.
Benar.
Tujuan pribadiku sebenarnya adalah memberi Eldim kekuatan agar mereka bisa
bertahan hidup sendiri.
Namun,
pendidikan dari Girimekhala terlalu mendalam, sehingga entah kenapa situasinya
malah berakhir dengan mereka mengabdi padaku.
Tentu
saja, awalnya aku menolak, tapi karena mereka sangat bersikeras, aku terpaksa
mengalah hingga akhirnya menjadi seperti sekarang.
East End
hanyalah wilayah yang berisi hutan lebat dan padang gurun. Karena itu, kami
menebang sebagian hutan dan memindahkan bangunan-bangunan Eldim menggunakan
kemampuan teleportasi milik Asta.
Setelah
berbagai fasilitas disiapkan, mereka bisa menjalani kehidupan yang tak jauh
berbeda dengan di Eldim.
Meskipun
masih banyak masalah yang menumpuk seperti mencari sumber pendapatan luar
negeri dan mengamankan sumber daya manusia, setidaknya kami telah mendapatkan
sesuatu yang bisa disebut sebagai wilayah kekuasaan.
"Ngomong-ngomong,
tentang keluarnya Duke Estarque dari faksi Gilbert, beserta janji kerja sama
perdagangan dan lain-lain ke depannya. Bagaimana caramu membujuk pria keras kepala itu?"
"Bukan
apa-apa. Aku cuma menghancurkan berkeping-keping apa yang selama ini dia yakini
sebagai kebenaran."
Pasukan aliansi
bangsawan, termasuk Duke Estarque yang berniat menyerang Eldim, semuanya telah
menyerah.
Pada dasarnya,
sepertinya pasukan rakyat Eldim tidak sampai membunuh pasukan aliansi
bangsawan.
Jadi, selain para
prajurit dan tentara bayaran bermutu rendah yang berniat melakukan perampokan
yang rencananya kubaca menggunakan kemampuan Satori, sisanya kusembuhkan dengan
Potion milikku dan kubebaskan.
Potion semacam itu bisa dibuat dengan
bahan-bahan yang ada di East End ini. Sama sekali bukan kerugian yang besar.
Sejak saat
itu, orang-orang dari pasukan aliansi bangsawan menjadi sangat jinak layaknya
kucing yang ketakutan. Penyelamatan oleh gadis ras iblis, Ash, sepertinya
memberikan dampak kejut yang luar biasa bagi mereka.
Mereka
mulai berinteraksi secara aktif dengan rakyat Eldim yang terdiri dari banyak
ras berbeda, dan pada akhirnya, semuanya saling minum bersama sebelum kembali
ke wilayah masing-masing.
"Itu karena
anak itu, ya?"
"Ya,
begitulah. Ngomong-ngomong, sikapmu tidak banyak berubah meski tahu kalau Ash
itu dari ras iblis, ya?"
"Tentu saja,
kalau terus bersama Kai, ras iblis itu malah terlihat menggemaskan."
"Benar juga,
ya."
Lagi pula,
bawahanku ini dipenuhi dengan berbagai macam makhluk tak biasa seperti naga dan
manusia hiu.
Kalau sekarang
baru diberi tahu "Sebenarnya dia itu ras iblis lho", perasaan yang
muncul paling cuma sebatas, "Oh, begitu ya."
"Lagi pula,
aku juga ingin mencari masa depan di mana kita bisa bergandengan tangan dengan
ras iblis. Aku sudah lama memikirkan hal itu."
Sangat khas Rose,
ya. Karena itulah aku mau repot-repot menemaninya mengurus masalah ini.
"Omong-omong,
bagaimana kabar Miu dan yang lainnya?"
Ayah Miu, Gauss,
yang sebelumnya telah diamankan oleh kelompok Girimekhala, sepertinya ikut
serta dalam kamp pelatihan Girimekhala melalui jalur yang berbeda, dan lumayan
menunjukkan taringnya di medan perang itu.
"Tentu saja,
mereka akur-akur saja."
Sejujurnya, aku
ingin mengembalikan ayah Miu dan Miiya kepada mereka dalam keadaan yang sama
seperti semula.
Namun, hasil yang
didapat malah berbanding terbalik dengan harapan itu.
Yah, di depan
anak-anaknya dia sepertinya tidak terlihat banyak berubah dari sebelumnya, dan
untuk saat ini sepertinya tidak ada masalah besar.
"Girimekhala,
bagaimana kabar bayi itu?"
"Siap!
Dia tumbuh dengan sehat, baik fisik maupun mentalnya!"
"Di mana dia
minggu ini?"
"Minggu ini
dia berada di bawah asuhan Aliansi Dewi, Tuan!"
Girimekhala
menjawab dengan nada kesal.
Mara telah
sepenuhnya berubah menjadi bayi, bahkan hingga ke hatinya. Namun, karena dia
sangat akrab dengan Girimekhala dan Haju, sepertinya dia masih memiliki semacam
alam bawah sadar.
Bagaimanapun
juga, mustahil bagi kelompok Girimekhala untuk bisa mengasuh anak dengan benar.
Dalam pertumbuhan
anak, pendidikan adalah hal yang paling penting.
Saat aku
menginstruksikan Aliansi Dewi untuk membantu, sepertinya hal itu malah
merangsang naluri keibuan mereka.
Alhasil, kelompok
Girimekhala dan Aliansi Dewi malah memperebutkan bayi itu.
Karena tidak ada
pilihan lain, aku turun tangan untuk menengahi dan menyepakati bahwa kelompok
Girimekhala dan Aliansi Dewi akan mengasuhnya secara bergantian masing-masing
selama seminggu.
"Begitu, ya.
Nanti aku juga akan menengoknya."
"Itu adalah
sebuah kebahagiaan yang tak terhingga! Saya yakin Mari juga akan sangat
senang."
Girimekhala
memperbaiki postur tubuhnya dan menundukkan kepalanya dalam-dalam.
Sebagai
informasi, karena menggunakan nama Mara akan memunculkan berbagai masalah, aku
memberinya nama Mari.
"Kalau
begitu, aku pergi dulu. Faf sudah kelaparan menungguku."
"Baik.
Terima kasih atas kerja kerasmu."
Saat aku
mengangkat tangan kanan dan hendak keluar dari pintu,
"Kai."
"Hm?"
Ketika aku
menoleh dari balik bahu, Rose menundukkan kepalanya,
"Terima
kasih untuk semuanya."
Ia melontarkan
kata-kata ucapan terima kasih.
"Itu tidak
seperti dirimu dan rasanya sedikit menjijikkan, tapi akan kuterima dengan
senang hati."
Setelah
melontarkan kata-kata menyebalkan itu, aku pun meninggalkan tempat tersebut.
Saat aku keluar
dari bangunan, cahaya matahari yang condong ke barat membuat permukaan gunung
di kejauhan tampak berwarna jingga.
Di pintu masuk
sana, tampak seorang gadis berambut hitam sedang berdiri mematung.
"Oh,
Ash, ada apa?"
"Aku
mau pulang bareng kamu!"
Dia
memeluk lenganku erat-erat dan menempelkan wajahnya. Astaga, kalau begini
kelakuannya tidak ada bedanya dengan Faf.
Pada
akhirnya, Ash juga tinggal di bangunan yang sama dengan kami di East End. Yah, Faf, Asta, Anna, dan Rose juga
tinggal di sana.
"Apa kau
bergaul dengan baik dengan kelompok Shirou Bear?"
"Un! Mereka
semua orang yang baik!"
Aku meletakkan
tangan kananku dengan lembut di atas kepala Ash yang menjawab sambil tersenyum
lebar.
Setelah
mendaftarkan kelompok Shirou Bear ke dalam buku penaklukan, mereka menjadi
bawahan Ash.
Yah, belakangan
ini mereka menjuluki diri sebagai pasukan pengawal pribadi Ash, jadi sepertinya
mereka tidak bisa lagi disebut sebagai bawahan murni.
"Begitu, ya.
Baguslah kalau begitu. Omong-omong, makan malam hari ini mau masak apa?"
"Hari ini
aku mau daging panggang jahe!"
"Boleh juga.
Faf juga suka daging."
Sembari
bermandikan cahaya matahari terbenam, kami melangkah pulang sambil
berbincang-bincang seru soal makanan.



Post a Comment