Chapter 2
Arc Dewa Api Surtr
Penguasa
Akinashi, Oliver, dan Linlin dari Keluarga Tao berkata ingin segera bertemu
untuk membicarakan urusan manajemen Akinashi. Karena itu, aku menyambut mereka
di rumahku yang berada di Liberty Town.
"Silakan
dinikmati!"
Kebetulan
ada kue buah spesial yang baru saja dipanggang oleh Ash. Aku pun menyajikannya
kepada mereka.
Keduanya
mengambil sepotong kue buah dengan garpu sambil terlihat penasaran, lalu
memasukkannya ke dalam mulut. Seketika mata mereka berbinar, dan mereka mulai makan dengan sangat lahap.
Setelah selesai
makan, mereka bereaksi.
"Kue apa
ini!?"
"Kue apa ini
sebenarnya!?"
Mereka berdua
mencondongkan tubuh ke depan dan bertanya bersahutan. Mereka berdua ini
benar-benar mirip satu sama lain.
Aku sudah menduga
reaksi Linlin yang lebih menyukai uang daripada makan tiga kali sehari. Namun,
aku benar-benar tidak menyangka Oliver juga memiliki bakat bisnis sehebat ini.
Sejujurnya, ini
adalah sebuah kejutan yang menyenangkan.
"Ash."
Sebaiknya biarkan
orang yang membuatnya sendiri yang menjelaskan.
"Ini adalah
kue yang menggunakan buah Papra!"
Beberapa hari
yang lalu, para manusia hewan Papra datang untuk menyapa dan meninggalkan
banyak buah Papra. Hari ini, Ash membuat kue dari buah tersebut karena diminta
oleh Faf dan anak-anak lainnya.
"Buah Papra!
Tidak, tapi buah itu saja tidak mungkin bisa menghasilkan rasa sehebat
ini!"
"Apakah ada
metode memasak khusus! Tolong ajari saya cara memasaknya!"
Oliver
menundukkan kepalanya dalam-dalam kepada Ash dengan ekspresi putus asa.
"Aku sih
tidak keberatan! Kai juga tidak masalah, kan?"
Ash
mengangguk dengan suara riang, sepertinya senang karena diandalkan. Dia lalu menatapku untuk meminta
persetujuan.
"Ya, tentu
saja boleh."
Saat aku
memberikan persetujuan, Oliver bereaksi.
"Bagus!
Bagus! Baguuus! Ini pasti
bisa dimanfaatkan! Benar
kan, Linlin!"
Oliver
melompat berdiri dari kursinya dan mengepalkan kedua tangannya erat-erat. Dia berseru dengan suara keras untuk
meminta persetujuan Linlin.
"Benar
sekali! Dengan rasa seperti ini, orang-orang dari Kerajaan Amelia, tidak, dari
seluruh dunia akan berbondong-bondong datang ke Akinashi untuk
mencarinya!"
"Jika kita
bisa memanfaatkannya dengan baik, Akinashi bisa diubah menjadi tempat wisata
besar! Kalau begitu—"
"Bibit
industri baru akan lebih mudah tumbuh! Seperti yang kamu bilang, mengandalkan
tambang batu bara saja tidak cukup!"
"Pada
akhirnya, harga barang kita hanya akan ditekan semurah mungkin oleh pembeli.
Seperti katamu, kita perlu mendirikan departemen khusus penempaan, mulai dari
produksi hingga pengembangan!"
Dengan wajah
memerah karena kegirangan, Oliver berbicara dengan nada yang menggebu-gebu. Dia
kemudian berjalan ke hadapanku dan berlutut di lantai.
Linlin juga ikut
mengikuti tindakannya.
"Kumohon,
pinjamkan kekuatanmu untuk merekrut pandai besi!"
"Tolong
perkenalkan pandai besi yang hebat pada kami!"
Mereka berdua
menundukkan kepala hingga dahi mereka hampir menyentuh lantai. Mereka lalu
mengutarakan permintaan tersebut kepadaku.
Aku kembali
mendengarkan situasi mereka berdua. Sepertinya Oliver dan yang lainnya
berencana mengubah Akinashi menjadi kota industri besar.
Rencana itu
muncul dengan memanfaatkan produksi Rare Metal sebagai titik tolak.
Singkatnya, mereka ingin membangun kota logam.
Mereka ingin
memproduksi Rare Metal, mengolahnya sendiri, dan menjualnya. Semua itu
akan dilakukan secara eksklusif hanya di wilayah Akinashi.
Memang benar,
membuat dan menjual senjata atau Item secara mandiri akan memberikan
keuntungan yang lebih besar daripada sekadar menjual bahan mentahnya. Selain
itu, peluang bisnis di masa depan juga akan semakin luas.
Namun, semua itu
hanya bisa terwujud jika Akinashi memiliki banyak pandai besi yang kompeten.
"Mengamankan
pandai besi kelas atas, ya. Itu masalah yang cukup sulit."
Sebenarnya, ada
spesialis pandai besi di Buku Panduan Penaklukan. Jika aku meminta bantuannya,
dia mungkin akan enggan, tapi setidaknya dia bersedia untuk mengajar.
Akan tetapi,
orang yang sejak awal tidak tertarik pada bidang ini tidak akan bisa
menghasilkan karya yang bagus. Aku mengerti hal itu karena aku juga punya
sedikit minat pada pekerjaan pandai besi.
Sama seperti seni
bela diri, menempa logam membutuhkan usaha yang pantang menyerah. Daripada
bakat, hal ini lebih membutuhkan dedikasi dan kesungguhan hati untuk
mempertaruhkan nyawa pada pekerjaan tersebut.
Sayangnya, tidak
ada warga Akinashi yang memiliki kriteria tersebut. Di Liberty Town pun, hanya
ada satu orang yang tampaknya memiliki tekad seperti itu.
"Apakah itu
mustahil?"
"Tidak,
meskipun sulit, aku tidak bisa bilang itu mustahil. Lagipula, aku tahu satu
orang yang mungkin cocok."
"Be,
benarkah!?"
"Benar
begitu!?"
Aku menatap
mereka berdua yang sedang memandangku dengan mata penuh harap.
"Ya, tapi
aku tidak punya bukti pasti. Jangan terlalu banyak berharap, ya."
Aku pun
melontarkan kalimat basa-basi tersebut.
Saat ini, aku
sedang berkunjung ke sebuah rumah berlantai dua di sudut timur Liberty Town.
"Dodd,
apa kamu di dalam?"
Aku
membunyikan bel di pintu masuk dan memanggilnya. Tak lama kemudian, terdengar suara kepanikan dari
dalam.
"I,
ini Yang Mulia yang agung! Hamba sungguh merasa terhormat Anda berkenan
mengunjungi gubuk sederhana ini!"
Pintu
masuk terbuka dengan kasar, lalu dia berlutut dan menundukkan kepalanya dengan
hormat kepadaku. Dia adalah Dwarf bernama Dodd.
Dodd
tadinya merupakan salah satu petinggi Erdim. Namun, dia menjadi seperti ini karena tindakan
sembrono Girimehkala.
"Ada yang
ingin aku diskusikan, tapi... hm? Apa kamu sedang ada tamu? Kalau begitu, aku
akan kembali lagi nanti."
Rumah Dodd adalah
tipe rumah yang mengharuskan tamunya melepas sepatu saat masuk. Beberapa pasang
sepatu pria dan wanita tampak diletakkan di area pintu masuk.
"Ti, tidak
sama sekali! Silakan lewat sini!"
"Jangan
sungkan. Ini salahku karena datang tanpa membuat janji."
Tepat ketika aku
berbalik untuk pergi, dia menghentikanku.
"Kebetulan,
ada hal yang ingin hamba sampaikan kepada Yang Mulia!"
Dodd
meletakkan tangannya di lantai dan berseru dengan lantang.
Ketika
Dodd mengantarku ke ruang tamu, ada dua tamu tak terduga dan seorang gadis yang
belum pernah kulihat sebelumnya.
"Kai-sama!"
Tiny
tersenyum sambil mencubit ujung rok panjangnya. Dia membungkuk anggun untuk memberikan salam.
"Kai-sama!
Terima kasih atas kerja keras Anda!"
Harry menundukkan
kepalanya sedikit dengan tubuh kaku layaknya batu.
Entah penjelasan
macam apa yang diberikan oleh Tiny padanya. Namun, mantan Raja Kerajaan Amelia
itu kini bersikap seperti ini kepadaku.
Sama seperti Rose
dan yang lainnya, dia tidak mau mendengarkan meski aku sudah memintanya untuk
bersikap biasa saja. Dia terus-menerus bertingkah seperti ini.
Tatapan mata Rose
dan Ferris mulai terasa menyakitkan, jadi aku benar-benar ingin dia
menghentikan sikap berlebihan ini.
"Y, ya.
Kalian berdua juga ada di sini rupanya. Jadi, apa yang ingin kamu bicarakan
denganku?"
Untuk menutupi
suasana canggung, aku duduk di kursi yang ditawarkan dan mengubah topik
pembicaraan.
"Sebenarnya..."
Dodd pun ikut
duduk di kursinya. Dia mulai menjelaskan sambil menatap seorang gadis seukuran
anak-anak yang duduk di sudut meja.
Gadis itu
mengenakan celana pendek dan atasan berkerah tinggi yang ukurannya terlampau
pendek.
"Jadi,
di masa lalu pernah terjadi konflik politik besar di Dvelb, negara Dwarf. Dan pemimpin dari pihak yang kalah itu
adalah kamu, Dodd?"
Ini
bukanlah hal yang aneh. Erdim adalah tempat berkumpulnya orang-orang dari
berbagai ras yang kehilangan tempat tinggal mereka.
Hal semacam itu
tentu saja bisa terjadi.
"K-kenapa
kamu bersikap begitu sombong kepada Dodd-sama dan Tiny-sama!?"
Gadis bertubuh
pendek dengan rambut cokelat yang diikat separuh dan memakai kacamata pelindung
itu bangkit dari kursinya. Dia menunjuk ke arahku dengan jari telunjuk kanan
sambil berteriak marah.
"Edda!
Berani-beraninya kamu berbicara seperti itu kepada Kai-sama!"
Dodd membentak
dengan urat biru tebal yang menonjol di dahinya. Di saat yang sama, Tiny
membungkuk meminta maaf kepadaku dengan raut wajah bersalah.
Sementara itu,
Harry tampak panik dan kebingungan dengan wajah pucat pasi. Dengar ya, aku
memang mudah marah.
Namun, aku tidak
akan mempermasalahkan setiap ucapan dan tindakan gadis yang masih sekecil ini.
"Ta,
tapi..."
Dibentak dengan
amarah yang luar biasa oleh Dodd, seluruh tubuh Edda tersentak kaget. Dia mulai
menangis setelah menyadari bahwa Dodd benar-benar murka kepadanya.
Astaga, aku
benar-benar tidak pandai menghadapi anak kecil yang menangis.
"Dodd,
jangan berteriak pada anak kecil."
Aku
menegur Dodd dengan nada tegas.
"Baik!
Hamba mohon maaf!"
Dodd
berdiri tegak dan memperbaiki postur tubuhnya. Dia lalu menundukkan kepalanya dalam-dalam.
"Uh! Dodd-sama
ini sebenarnya kenapa, sih!?"
Edda
menghentakkan kakinya dan merengek kesal.
"Lalu, apa
yang kamu inginkan dari kami?"
Aku menanyakan
inti permasalahan ini padanya. Jika permintaan gadis ini sesuai dugaanku, maka
ini ibarat sekali dayung dua tiga pulau terlampaui.
Hal ini mungkin
bisa mewujudkan tujuanku datang ke rumah Dodd hari ini dengan sempurna.
"Tolong
selamatkan saudara-saudaraku yang dipaksa bekerja di tambang!"
Harapan yang
keluar dari mulut Edda benar-benar persis seperti apa yang kuinginkan.
Setelah mendengar
penjelasan dari Dodd dan Edda, aku kurang lebih bisa memahami situasinya. Itu
benar-benar situasi yang teramat putus asa.
Di masa lalu,
Dvelb diperintah oleh Raja Kakak. Dia adalah sosok yang cerdas, gagah berani,
dan penuh kasih sayang.
Bisa dibilang,
dia adalah gambaran raja yang ideal. Dodd melayani raja tersebut sebagai kepala
pandai besi di Kelompok Penempa.
Pada masa itu,
seluruh Dvelb sangat makmur, dan semua orang hidup dengan bahagia. Titik
baliknya terjadi ketika Raja Kakak meninggal dunia.
Saat sedang
melakukan inspeksi ke wilayah perbatasan, dia dengan mudahnya tewas akibat
serangan bandit. Takhta kemudian diwariskan kepada Raja Adik.
Berbeda dengan
kakaknya, Raja Adik adalah penguasa yang mengutamakan kekuatan militer. Dia
licik, kejam, sangat pencuriga, dan sangat serakah.
Namun di sisi
lain, dia kuat dan memiliki otak yang sangat cerdas. Segera setelah kematian
Raja Kakak, Raja Adik membersihkan seluruh faksi kakaknya dari Dvelb.
Kelompok Penempa
yang dipimpin Dodd dan Kelompok Bunsei yang menangani riset dianggap sebagai
elemen berbahaya. Mereka yang memiliki hubungan kuat dengan Raja Kakak ditindas
secara brutal.
Selain itu, Raja
Adik menggandakan pajak dengan dalih memperkaya negara dan memperkuat militer.
Kebijakan wajib militernya juga membuat rakyat sangat menderita.
Menghadapi
tentangan dari kelompok Dodd, Raja Adik menggunakan taktik yang berbahaya dan
setara dengan aksi bunuh diri yang konyol. Dia mengirim Kelompok Penempa dan
Kelompok Bunsei ke zona pertempuran sengit agar mereka mati sia-sia.
Meyakini bahwa
negara Dvelb akan runtuh jika dibiarkan begini, Dodd dan kawan-kawannya
mengibarkan bendera pemberontakan. Namun, tepat pada malam sebelum aksi
dimulai, entah kenapa penangkapan massal dilancarkan.
Dalang di balik
kebocoran itu adalah orang nomor dua di Kelompok Penempa yang paling dipercayai
Dodd. Akibat pengkhianatan bawahan kepercayaannya, Dodd dan pasukannya
ditangkap.
Setelah itu,
mimpi buruk Dodd menjadi semakin parah. Mereka yang tertangkap melimpahkan
semua kesalahan pada Dodd, istri, dan anaknya demi menyelamatkan diri sendiri.
Tragisnya lagi,
istri dan anak Dodd tewas dilempari batu oleh rakyat yang berusaha mereka
selamatkan. Dalam keputusasaan yang mendalam, Dodd dikawal menuju ibu kota
untuk dieksekusi.
Di tengah
perjalanan, rombongan mereka diserang oleh monster tingkat bencana yang sangat
kuat. Memanfaatkan kekacauan itu, Dodd berhasil melarikan diri dari tempat
tersebut.
Dia terus
berjalan tanpa henti hari demi hari hingga akhirnya tiba di Erdim. Begitulah
kurang lebih jalan ceritanya.
Setelah itu,
orang tua Edda dan para anggota Kelompok Penempa serta Bunsei dihukum kerja
paksa di tambang batu bara atas tuduhan pemberontakan. Kondisi di sana
sangatlah brutal, mereka diperlakukan layaknya budak tambang hingga memakan
korban jiwa.
Terlebih
lagi, sebuah reruntuhan ditemukan di dekat tambang tersebut. Terdengar rumor
bahwa penguasa tambang berniat menjadikan Edda dan yang lainnya sebagai tumbal.
Tumbal
itu rencananya akan digunakan untuk mematahkan segel makhluk transenden yang
tertidur di sana.
Di tengah
situasi terburuk itu, datanglah sebuah titik terang. Titik terang itu dibawa
oleh seorang pendatang manusia yang ditangkap karena masuk secara ilegal dan
dipaksa bekerja di tambang.
Dia
adalah seorang penyair keliling yang membawa kabar luar biasa. Dia memberi tahu
mereka bahwa negara kota netral Erdim telah berubah wujud dan kini berada di
bawah perlindungan eksistensi agung.
Kota itu telah
mengalami perkembangan pesat. Dia juga mengabarkan bahwa Raja Roh Tiny dan Dodd
berada di sana.
Setelah
berdiskusi, Edda terpilih dan berhasil melarikan diri dari tambang berkat
kecerdikan pendatang tersebut. Gadis itu memulai perjalanannya menuju utopia
yang diceritakan sang pendatang.
Edda terus
berjalan hingga akhirnya dia kehabisan tenaga dan jatuh pingsan. Tiny lalu
menemukannya, menyelamatkannya, dan membawanya ke rumah Dodd.
Tepat di saat
itulah, aku kebetulan datang mengunjungi tempat ini.
Yah, hal-hal yang
terlalu kebetulan seperti ini tidak mungkin terjadi begitu saja. Manusia
pendatang itu pasti... tidak, lupakan saja untuk saat ini.
Ada hal lain yang
jauh lebih penting.
"Singkatnya,
karena sekarang mereka sedang menderita, mereka meminta bantuan kepada orang
yang pernah mereka khianati? Itu benar-benar tindakan yang tidak
tertolong."
Sepertinya dia
tidak diberi tahu kebenaran yang sesungguhnya. Aku melontarkan perasaanku
dengan jujur sambil menatap Edda yang menangis tersedu-sedu sembari
mencengkeram celananya dengan tangan gemetar.
Namun, jika
memang begitu ceritanya, situasinya jadi berbeda. Aku tidak sudi menerima Dwarf-Dwarf
pengecut itu sampai harus membengkokkan keinginan Dodd.
Jika Dodd masih
menyimpan dendam pada mantan rekan senegaranya... tidak, aku tak perlu
memikirkannya lagi. Meski begitu, batasan tetap harus diperjelas.
"Dodd, satu
dirimu jauh lebih berharga bagiku daripada Dwarf-Dwarf antah berantah itu.
Karena itu, pilihlah."
"Apakah kamu
ingin menyelamatkan mereka, atau mengabaikan mereka? Kamu punya hak untuk
menentukannya."
Mendengar
pertanyaanku, Dodd tersenyum lelah. Dia menatapku dengan wajah serius.
"Yang Mulia,
hamba dengan tulus berterima kasih atas kata-kata yang begitu berharga ini.
Hamba mohon, tolong selamatkan saudara-saudara hamba."
Dia memberikan
jawaban yang persis seperti dugaanku, sangat mencerminkan sifat Dodd.
"Begitu,
ya. Aku mengerti."
Saat aku
mengangguk pelan...
"Saudara
apanya! Mereka sudah mengkhianati Dodd-sama!"
"Tapi mereka
tanpa malu menyuruhku untuk meminta bantuan Dodd-sama! Kita tidak perlu
menyelamatkan orang-orang tak tahu malu seperti mereka!"
"Orang-orang
seperti itu pantas mati!"
Sebuah
pendapat tak terduga muncul dari arah yang mengejutkan.
"Edda!
Jaga ucapanmu!"
Dodd
mencengkeram kedua bahu Edda dan berseru keras dengan wajah tegang.
"Ta, tapi,
mereka sudah mengkhianati Dodd-sama! Meskipun begitu—"
"Apa kamu
tahu kenapa mereka melakukan itu? Itu semua demi melindungi keluarga
kalian!"
"Sekarang
aku baru mengerti! Demi melindungi orang yang disayangi, terkadang seseorang
bisa berubah menjadi iblis!"
"Lagi pula,
Edda, apakah kamu benar-benar tidak peduli jika aku menelantarkan mereka?"
Dodd bertanya
dengan lembut layaknya sedang menasihati, mengonfirmasi sesuatu yang sudah
jelas jawabannya. Edda menutup mulutnya rapat-rapat dan mulai menangis
tersedu-sedu.
"Jawabannya
sudah jelas. Kalau begitu, aku akan segera menyiapkan kereta kuda."
"Bersiaplah.
Kita akan berangkat
begitu semuanya beres."
Setelah
menyampaikan hal itu secara sepihak, aku berjalan keluar dari ruangan Dodd.
◇◆◇
Tempat
ini adalah reruntuhan di dekat tambang batu bara di selatan Dvelb. Di sebuah
tempat yang menyerupai kuil bobrok, terdapat dua orang pria.
Salah
satu dari mereka memiliki tubuh seperti tong, mengenakan jubah hitam, topi
kerucut, berkumis tipis, dan berkepala plontos. Pria satunya lagi berhidung
mancung, berkumis melengkung, dan berpakaian mewah dengan tatapan mata yang
licik.
"Hei,
Penyihir, apa benar kita bisa mengendalikan dewa iblis yang tertidur di sini?
Aku tidak masalah membuka segelnya, tapi aku tidak mau dia mengamuk dan
membakar seluruh wilayah ini, ya."
Pria berkumis
lengkung itu menyipitkan salah satu matanya. Dia memperingatkan pria berjubah
hitam dengan kumis tipis tersebut dengan nada angkuh.
"Tuan
Penguasa, Anda tidak perlu khawatir tentang itu! Saya memiliki rencana jitu
untuk mengendalikan dewa iblis!"
Penyihir berjubah
hitam itu sama sekali tidak gentar menghadapi tekanan dari sang penguasa.
Sebaliknya, dia menjawab dengan suara yang bersemangat.
"Baguslah
kalau begitu."
Melihat sikap
penuh percaya diri itu, sang penguasa mengangguk puas.
"Kalau
begitu, Tuan Penguasa, untuk membuka segel di tempat ini, kita membutuhkan
banyak tumbal. Bagaimana dengan persiapannya?"
"Ada banyak
sekali sampah sekali pakai yang bisa dijadikan tumbal. Soal itu tidak ada
masalah."
(Sampah, ya...
sungguh konyol...)
Sudut bibir
penyihir yang bergumam sambil menunduk itu tertarik hingga ke telinga. Matanya
terbuka lebar, bulat sempurna seperti lubang menganga.
Penampilannya
benar-benar berubah menjadi wujud iblis yang seolah tidak berasal dari dunia
ini. Sang penguasa lalu menanggapi penyihir tersebut.
"Hm? Kamu
mengatakan sesuatu?"
Sang
penguasa bertanya sambil mengerutkan kening.
Penyihir
berjubah hitam itu mengangkat wajahnya yang kini telah kembali tersenyum ramah.
"Saya
baru saja memuji Tuan Penguasa karena berhasil mengumpulkan begitu banyak
tumbal."
Dia melontarkan
kata-kata yang tidak menyinggung sama sekali.
"Benar!
Tentu saja begitu! Bagaimana pun juga, ini adalah dewa iblis legendaris yang
pernah mengubah dunia menjadi lautan api!"
"Jika aku
bisa menjinakkan dewa iblis api itu, aku akan mendapatkan kekuatan yang
melampaui raja yang menyebalkan itu!"
"Aku akan
berbaris ke ibu kota, merebut takhta dari raja, dan Dvelb ini juga akan menjadi
milikku!"
Penguasa itu
menengadah ke langit dan tubuhnya gemetar membayangkan masa depan cerah yang
belum terwujud.
(Benar-benar
serangga yang konyol dan bodoh...)
Penyihir
itu bergumam pelan. Dia lalu berbalik dan berjalan menjauh dari sang penguasa
yang masih gemetar karena kegirangan.
Ketika
penyihir berjubah hitam itu memasuki hutan, seorang pria bermata satu yang
mengenakan setelan putih tampak bersandar di sebuah pohon besar dengan kedua
tangan bersilang.
"Bagaimana
hasilnya?"
Penyihir
itu bertanya dengan senyuman yang masih tersungging di bibirnya. Pria bermata
satu berjas putih itu membungkuk sedikit dan menjawab.
"Gadis itu
telah dikirim ke hadapan Kai-sama. Selanjutnya, Kai-sama akan menuntun semuanya
ke jalan yang benar."
Pria itu
melontarkan kalimat yang penuh dengan makna mendalam.
"Bagus,
bagus, sangat bagus! Beliau bagaikan matahari yang menyinari kita yang hina ini
di bumi."
"Terkadang
beliau menjadi panas terik yang membakar segalanya, dan terkadang menjadi
cahaya hangat yang memelihara tunas-tunas baru! Ke mana arahnya berlabuh,
semuanya bergantung pada pilihan makhluk-makhluk hina itu!"
Penyihir
itu berseru dengan pose yang aneh.
"Yah,
ini soal Kai-sama. Pada
akhirnya, masa depan yang dipenuhi senyumanlah yang akan menanti kita."
Pria bermata satu
bersetel putih itu mengangkat sudut bibirnya dan menegaskan hal tersebut dengan
penuh keyakinan. Setelah itu, dia menghilang seperti asap.
"Nah, nah,
naaaaah! Mari kita buka tirai panggung untuk dewa kita dan oleh dewa
kita!"
Penyihir
itu mengangkat kedua telapak tangannya ke atas dan berteriak. Sekelompok orang
berjubah putih bersih yang seluruh tubuhnya ditutupi perban putih muncul satu
demi satu.
—Dengan
demikian, tirai Insiden Dewa Api Surtr di Dvelb perlahan-lahan mulai terbuka.
◇◆◇
Dvelb
adalah salah satu negara berkembang yang terletak di perbatasan antara Kerajaan
Amelia dan negara besar di timur, Butou.
Jarak
Dvelb dari wilayah East End yang berada di dalam Kerajaan Amelia bisa dibilang
cukup dekat. Meski begitu, itu bukanlah jarak yang bisa ditempuh dengan
berjalan kaki oleh seorang gadis sendirian.
Buktinya,
kami menghabiskan waktu tiga hari penuh menggunakan kereta kuda. Ini sesuai
dengan dugaanku—.
"Kenapa
perjalanan ke Dvelb memakan waktu selama ini!?"
Di dalam
kereta kuda, Edda bertanya tanpa sedikit pun menyembunyikan rasa curiganya.
"Edda! Kamu
mau tidak sopan lagi pada Yang Mulia—"
Aku
menghentikan Dodd yang berniat menegurnya dengan ekspresi marah menggunakan
tangan kananku.
"Sejujurnya,
aku justru bingung bagaimana kamu bisa berjalan kaki sampai ke tempat kami.
Benar begitu, Dodd?"
Tentu
saja, aku menunjukkan poin masalah yang terlihat janggal.
"Begitulah.
Dari tambang di Dvelb tempat semua orang ditawan sampai ke mari, butuh
setidaknya tiga hari dengan kereta kuda, atau sepuluh hari jika berjalan
kaki."
"Tidak
mungkin Edda bisa sampai di tempat kita hanya dengan berjalan kaki
semalaman."
Dodd
menggumam kosong sembari memegang jenggot di dagunya. Dia pasti punya
kecurigaan soal dalang yang sengaja memicu fenomena konyol ini.
Tidak ada
kegelisahan berarti yang terlihat dari ekspresi Dodd.
"Kalau
begitu, sepertinya urusan kita setelah ini akan sangat merepotkan."
Jika mereka ikut
campur, masalah ini tidak akan berakhir sebagai keributan penyelamatan biasa.
Terlebih lagi, mereka punya kebiasaan menganggapku sebagai orang yang gila
bertarung.
Sangat mudah
membayangkan mereka akan melemparkan sesuatu yang luar biasa konyol. Semua itu
semata-mata demi memberikan hiburan untuk memuaskanku.
"Ya. Hamba
sudah siap mental menghadapinya."
Dodd
mengangguk dengan ekspresi sangat serius, seolah dia sedang bersiap menghadapi
takdirnya.
"Ugh!
Cuma Dodd-sama dan yang lain saja yang paham!"
Edda kembali
menghentakkan kakinya ke lantai.
"Kita akan
segera tiba di tujuan. Dari sana, kita akan berjalan kaki sekitar setengah hari
untuk mencapai tambang tempat rekan-rekanmu ditawan."
Aku mengatakan
hal tersebut secara sepihak. Aku lalu mulai merapikan barang-barang bawaan yang
telah kugunakan selama tiga hari hidup di dalam kereta kuda.
Setelah berjalan
melintasi hutan selama beberapa jam, kabut hitam pekat mulai menyelimuti
sekeliling kami.
"Ah, sudah
kuduga..."
Situasi ini
berjalan sesuai dugaanku.
"Sepertinya
begitu. Jika demikian, bagaimana selanjutnya?"
"Itu artinya
tempat ini sudah menjadi bagian dari kotak mainan mereka."
Sebelumnya, aku
terpaksa menyetujui keterlibatan Girimehkala di Akinashi karena dia
terus-menerus memintanya dengan gigih. Aku memang merasa ide-idenya agak
terlalu asing untuk ukuran dunia ini.
Oliver dan Linlin
pastilah menerima semacam saran dari Girimehkala. Hal itulah yang menuntun
mereka pada ide tentang kota industri logam Akinashi.
"Penguasa
tambang yang bernama Suge itu adalah bajingan kejam dan licik yang tidak bisa
diselamatkan. Tapi untuk pertama kalinya, hamba merasa benar-benar bersimpati
padanya."
Dodd
mengangguk dengan ekspresi yang tampak muak.
"Sekalipun
Girimehkala dan kelompoknya yang mengatur semua ini, yang menentukan pilihan
tetaplah mereka, bukan kita."
"Aku
tidak butuh orang bodoh. Aku
sama sekali tidak berniat memberikan keringanan, paham?"
Aku menegaskan
hal itu dengan nada yang bisa dibilang tanpa belas kasihan.
Sekalipun ini
hanyalah lelucon konyol yang sudah diatur, para aktor yang bermain di panggung
ini adalah para Dwarf dari mantan Kelompok Penempa dan Kelompok Bunsei.
Jika mereka tidak
bisa memberikan jawaban yang memuaskanku, maka biarkan saja mereka hancur
begitu saja.
"Tentu saja!
Jika mereka hanyalah sampah yang membuat Yang Mulia yang agung ini kecewa
dengan pilihan mereka, hamba pun akan menolak untuk berurusan dengan
mereka!"
"Jika saat
itu tiba, hamba sendiri yang akan mengakhiri penderitaan mereka!"
Mendengar ucapan
Dodd yang dipenuhi tekad, aku mengira Edda akan menunjukkan sikap protes yang
keras. Namun, dia hanya menunduk sambil menggertakkan giginya tanpa menyuarakan
bantahan sedikit pun.
Setelah berjalan
sekitar dua jam, pepohonan tinggi mulai menghilang. Kami tiba di sebuah jalan
setapak di tepi jurang yang sekiranya masih bisa dilewati oleh kereta kuda.
Menurut Dodd,
jalan tebing ini adalah rute yang wajib dilewati untuk mencapai tambang tujuan
kami. Tentu saja, hal ini justru sangat menguntungkan bagi kami.
"H-hei, Kai.
Apa tidak apa-apa kita berjalan terang-terangan begini?"
Edda bertanya
dengan nada ragu-ragu kepadaku.
"Tidak ada
tempat untuk bersembunyi di area seterbuka ini."
Aku memberikan
jawaban yang sangat logis padanya.
"Tapi,
bagaimana jika kita diincar dengan busur panah dari sini..."
Edda
mengutarakan pendapat yang masuk akal dengan ekspresi panik. Tiba-tiba, Dodd
meletakkan tangan kanannya di atas bahu kanan gadis itu.
"Perhatikan
baik-baik. Kamu pasti akan mengerti sedikit tentang apa yang ingin aku
sampaikan."
Dodd
menasihatinya dengan nada yang tegas.
Setelah
berjalan sedikit lebih jauh, sebuah gerbang dan semacam menara pengawas
terlihat di ujung jalan tebing. Bangunan itu pastilah pos penjagaan.
"G-gawat!"
Tepat
saat suara isak tangis Edda terdengar, puluhan anak panah ditembakkan ke arah
kami. Aku melangkah maju, menghunuskan pedang Raikiri di pinggangku, dan
menangkis seluruh anak panah tersebut.
Anak-anak
panah itu berbalik arah seolah waktu telah diputar mundur, lalu menancap pada
para Dwarf yang menembakkannya. Jeritan dan teriakan ketakutan pun pecah
seketika.
Di tengah
situasi yang seperti neraka dunia tersebut, aku berjalan perlahan mendekati
mereka.
"Penyusup
itu menggunakan jurus serangan balik yang aneh! Biar aku yang
mengurusnya!"
Gerbang
terbuka, lalu seorang pria raksasa berambut merah gaya mohawk muncul
sambil menggenggam kapak raksasa di tangan kanannya. Dilihat dari proporsi
tubuhnya yang berlengan panjang dan berkaki pendek khas Dwarf, dia mungkin juga
dari ras tersebut.
"D-Dorzarm!"
Edda
menjerit kaget melihat pria itu.
"Oh.
Apa orang ini terkenal?"
Aku balik
bertanya kepadanya dengan jujur. Pria itu tidak terlihat kuat sama sekali.
Tapi sayang
sekali, aku tidak terlalu paham standar kekuatan untuk setiap ras.
"Ya, Iblis
Kapak Dorzarm adalah salah satu tentara bayaran paling terkenal di Dvelb!"
"Aku rasa
pos penjagaan ini dijaga oleh pasukan bayaran yang dipimpin olehnya!"
Iblis Kapak, ya.
Julukannya terdengar sangat hebat, tapi bagaimana dengan kekuatan aslinya—.
"Tubuhmu
terlihat kurus seperti tauge. Kapakku ini pasti bisa menghancurkanmu menjadi
kepingan hanya dengan satu serangan."
Dia mengusap
jenggot panjangnya dengan tangan kiri. Dia menatapku tajam sambil melontarkan
komentar meremehkan itu.
"Hmm, kau
menganggapku lemah? Jika kau benar-benar berpikir begitu, pertarungan ini
mungkin akan cukup menyenangkan."
Saat aku
mengeratkan kembali genggaman keduatanganku pada gagang Raikiri, urat biru
tebal menonjol di dahi Dorzarm.
"Orang
kurus kerempeng sepertimu merasa bisa menikmati pertarungan denganku,
hah!?"
Teriakannya
bergema di seluruh area tersebut. Di saat Edda gemetar ketakutan dengan wajah
pucat pasi, aku pun membalas.
"Ya,
aku sudah sangat lama tidak bertarung melawan musuh yang layak. Aku mulai
merasa bosan."
Kalimat
yang mengalir begitu saja dari mulutku terasa sangat agresif, bahkan terasa
tidak seperti ucapanku sendiri.
"...Sialan!"
Pola pikir ini
lagi... Tidak ada keuntungan bagiku berada dalam pertarungan mempertaruhkan
nyawa.
Aku seharusnya
tidak punya pola pikir pecandu pertarungan yang tak tertolong seperti itu.
Ketika sedikit
kebisingan mulai mengacaukan pikiranku, urat biru menonjol layaknya bekas
cambukan di dahi Dorzarm. Dia mengayunkan kapaknya beberapa kali, lalu
mengarahkannya kepadaku.
"Sudah kaum
manusia itu lemah, lalu kau ini cuma kroco murahan! Berani-beraninya kau bicara sombong
begitu!"
Dia
mengaum dengan suara buas layaknya seekor binatang liar. Namun, melihat cara
memegang kapaknya yang sangat amatir...
—Sepertinya
kali ini pun akan berakhir dengan pola yang sama, ya.
Hembusan
napas penuh kepasrahan meluncur keluar dari mulutku. Tentu saja begitu.
Kesenjangan
kekuatan di dunia ini sangatlah ekstrem. Terlebih lagi, jumlah orang yang benar-benar
kuat sepertinya sangat terbatas.
Tidak
mungkin ada orang yang benar-benar kuat di antara tentara bayaran yang disewa
oleh penguasa yang berlagak menjadi sipir untuk menindas sesamanya ini. Paling
banter, dia cuma bocah tengil yang hanya besar mulut.
"..."
"Apa
sekarang kau tak bisa bicara saking takutnya?! Tapi... sudah terlambat untuk
menyesal! Haruskah ku... hancurkan kau sampai berkeping-keping lalu kujadikan
pakan ternak?"
Saat
Dorzam menggonggong penuh semangat, sebuah retakan lurus muncul dari puncak
kepalanya turun ke tengah tubuhnya.
"U-Ukh,
tubuhku mau runtuh?!"
Dorzam membuang
kapaknya dan mati-matian berusaha menahan tubuhnya yang terbelah dua dengan
kedua tangannya. Namun sedetik kemudian, celah demi celah lain bermunculan di
sekujur tubuhnya.
Aku mulai
berjalan pelan.
"Bocah, kau
terlalu tidak tahu apa-apa tentang dunia ini."
Aku melontarkan
vonis itu saat berpapasan dengannya.
"Giyaaaaaarrgghhh—!"
Dorzam
hancur lebur diiringi jeritan kematiannya.
"Bos...
kalah?"
Di tengah
kesunyian yang menyelimuti, seorang Dwarf menggumamkan kalimat itu.
Kemudian salah seorang Dwarf berteriak.
"M-Monster!"
Berawal
dari kalimat yang entah sudah berapa kali kudengar itu, medan perang berubah
menjadi sangat kacau. Aku berdecak kesal lalu menyarungkan Raikiri kembali.
"Kalian
mencoba membunuh kami tanpa pandang bulu. Karena itulah, aku juga akan
memastikan kalian semua mati."
Setelah
melontarkan kata-kata pengantar kematian tersebut, tangan kananku menyentuh
gagang Raikiri yang tersarung. Detik berikutnya.
"Shinkai-Ryu
Kenjutsu Itto-Ryu — Form 1, Deadline."
Sayatan tak
terhitung jumlahnya menebas seluruh pos pemeriksaan. Semuanya terpotong menjadi
kepingan-kepingan kecil, termasuk para Dwarf bayaran yang menjaganya.
"..."
Tubuh Edda
pucat pasi bagai lilin. Mulutnya membuka tutup, namun dia memutar wajahnya ke
arahku dengan gerakan kaku bak boneka timah.
Begitu
tatapan kami bertemu, dia langsung gemetar hebat sembari mengucurkan air mata
dan ingus.
"Kau
sudah saaaangat paham dengan perkataanku, kan? Di dunia ini tidak ada satu pun
yang bisa mengalahkan Yang Mulia."
Edda
menganggukkan kepalanya berulang kali menanggapi teguran Dodd.
"Nah,
mari kita mulai bagian utamanya. Pakai ini."
Aku
menyerahkan cincin dengan bentuk unik kepada Dodd dan Edda yang gemetar
layaknya anak anjing.
"Itu
adalah cincin yang bisa memanipulasi penampilan. Gunakan ini untuk menguji
apakah mereka pantas menjadi saudara kita."
Aku
melontarkan deklarasi kejam tersebut kepada mereka dengan nada yang tidak
menerima penolakan.
◇◆◇
Ini adalah
tambang batu bara di Dverv.
Sebuah
fasilitas kerja paksa untuk menahan para Dwarf yang dianggap berpihak
pada Dodd—sang dalang pemberontakan dalam insiden perang saudara sebelumnya.
Di bagian
terdalam gua tersebut, di dalam sebuah ruangan batu alami yang sempit dan
dingin, tampak beberapa Dwarf berkumpul.
"Wordle,
ada anak yang mati lagi... Kali ini dari keluarga Lassaem..."
Seorang Dwarf
berwajah kurus dan berkacamata melapor dengan suara lirih yang hampir
menghilang.
Di tengah
isak tangis yang terdengar dari sana-sini, terdengar suara parau.
"Begitu,
ya... Kita para orang dewasa yang berdosa ini memang tak bisa berbuat apa-apa.
Tapi, sungguh pedih rasanya melihat anak-anak tak berdosa itu harus
mati..."
Wordle,
seorang Dwarf brewokan dengan tubuh paling besar dan tato bergambar buku
serta lambang bintang di lehernya, memaksakan suaranya yang gemetar keluar dari
tenggorokannya.
"Sebenarnya,
mengkhianati Kepala Pandai Besi Dodd adalah sebuah kesalahan mutlak sejak
awal!"
Seorang Dwarf
yang relatif lebih muda dari mereka yang hadir berdiri dengan penuh semangat.
Mereka semua mengutuk dosa yang terpendam di lubuk hati masing-masing.
"Ini
bukan perkara yang sesederhana itu. Waktu itu keluarga kita dijadikan sandera
oleh faksi Raja yang sekarang. Kalau kita berpihak pada Dodd, keluarga kita
pasti sudah dibantai habis."
Seorang Dwarf
lanjut usia berbicara kepada si Dwarf muda sembari mengelus janggutnya
yang putih bersih.
"Tentu
tidak, menjadikan istri dan anak sebagai sandera memang terdengar masuk akal.
Namun sehebat apa pun kita menutupinya, kita tetap saja lebih menyayangi diri
sendiri. Saat itu, pilihan kita memang salah..."
Merespons
gumaman Wordle yang terdengar agak pilu itu, seseorang berteriak.
"Wordle,
jangan ungkit hal itu lagi! Bos malah kehilangan istri dan anaknya karena
perbuatan kita!"
Seorang Dwarf
berotot kekar melontarkan teriakan marah.
"Kau
juga setuju demi mementingkan keselamatanmu sendiri, kan!"
"Makanya
kubilang aku tidak mau dengar penyesalan macam itu di situasi seperti sekarang
ini!"
Satu per
satu Dwarf mulai saling beradu mulut. Di tengah perdebatan itu,
seseorang angkat bicara.
"Bagaimana
nasib Edda? Kita cuma bisa mengandalkan anak itu sekarang!"
Seorang Dwarf
memojokkan pemuda berambut hitam—manusia pendatang baru yang merencanakan
rencana kali ini.
"Mana
kutahu. Tapi, kalau gadis bernama Edda itu bergerak sesuai instruksiku, dia
pasti sudah sampai di tempat tujuan dengan selamat."
Pria ini
adalah Zig, seorang manusia yang baru saja ditahan di sini. Jika berhadapan
dengan raja kejam itu, manusia biasanya hanya akan punya satu pilihan, yakni
dieksekusi.
Namun
nyatanya dia dibiarkan hidup seperti ini. Alasannya mungkin karena Zig adalah
mata-mata dari kekaisaran besar umat manusia, Kekaisaran Gritnil.
Dia mungkin
dianggap masih berguna untuk negosiasi atau sejenisnya, sehingga dia disuruh
kerja paksa di tempat ini sebagai bentuk koreksi pemikiran.
"Jadi
kita cuma bisa menunggu, ya..."
"Santai
sekali kau ini!"
Sebagai
respons atas ucapan Dwarf kekar yang melontarkan sarkasme tersebut,
seseorang menimpali.
"Sebelum
itu, bahkan kalau dia berhasil sampai dengan selamat, apa Kepala Pandai Besi
Dodd bersedia memaafkan pengkhianatan kita?"
Seorang Dwarf
lanjut usia menyuarakan inti permasalahannya.
"Kalau
Dodd tidak memaafkan kita, maka kita akan mati. Begitu saja."
"Jangan
bercanda! Seenaknya saja bicara sok bijak begitu! Kalian para pengkhianat sih
tidak apa-apa! Tapi, bagaimana dengan mereka yang tak tahu apa-apa—bagaimana
dengan anak-anak! Mereka mati tanpa tahu dosa apa yang telah kita
perbuat!"
Saat Dwarf
muda itu berdiri dan melontarkan caci maki, Wordle menutup kedua matanya dengan
wajah memelas.
"Ya,
kau benar. Semua ini adalah kesalahan kita."
Dia dengan
tenang mengakui dosa-dosanya.
"Sudah
kubilang, jangan bicara hal sok suci seperti itu—"
Di saat Dwarf
muda itu mulai meninggikan suaranya, seorang Dwarf lain berguling masuk
ke dalam ruangan.
"G-Gawat!
Tuan tanah sialan itu datang, dia berteriak meminta agar anak-anak diserahkan!
Pokoknya cepat ikut aku!"
Sambil
menunjuk ke arah pintu masuk tambang batu bara, ia berteriak histeris.
Saat Wordle
dan kawan-kawannya bergegas menuju pintu masuk tambang batu bara, pasukan Tuan
Tanah sudah mengepung para Dwarf yang ditahan sembari menodongkan
senjata.
Di hadapan
mereka, seorang pria jangkung berambut panjang dengan pupil mata yang sangat
kecil menjulurkan lidahnya yang panjang, menampakkan senyum jahat yang teramat
keji. Pria ini adalah Racne, seorang penyihir manusia yang baru saja disewa
oleh tuan tanah.
Akhir-akhir
ini, Tuan Tanah Suge mempekerjakan banyak penyihir dan ahli pedang dari umat
manusia yang tangguh seperti dirinya.
"Tuan
Racne, a-apa maksudnya semua ini?"
"Ini
untuk ritual. Selamat! Anak-anak kalian terpilih sebagai tumbal kebangkitan
Surtr, Dewa Iblis Api legendaris yang tertidur di tanah ini!"
"Hah?
Dewa Iblis Api Surtr?"
Wordle
tanpa sadar mengeluarkan suara melengking menanggapi omong kosong yang kelewat
bodoh itu.
Tentu saja
dia bereaksi begitu. Jika berbicara tentang Dewa Iblis Api Surtr, dia adalah
perwujudan api yang mengamuk di zaman kuno.
Konon, dia
adalah Dewa Iblis legendaris yang mengubah dunia menjadi lautan api dan
membumihanguskan peradaban kuno hingga ke akar-akarnya.
Dia adalah
karakter dari cerita dongeng yang konon telah dihancurkan oleh Dewa Perang Suci
Ares. Tidak mungkin mereka bisa mempercayai hal semacam itu disegel di tempat
terpencil ini.
"Benar
sekali. Kalian bisa membantu membangkitkan Dewa Iblis itu. Kalian sungguh
sangat beruntung!"
Racne
melontarkan kata-kata yang sama sekali tidak ada untungnya bagi mereka itu.
"Kembalikan
anakku!"
"Benar!
Kembalikan!"
"Dasar
tidak punya hati!"
Para ibu Dwarf
memaki dan membentak Racne dengan penuh kemarahan.
"T-Tidak
mungkin!"
"Di
mana anak-anak itu?!"
Aku
menyadari suaraku bergetar tanpa sadar.
Tentu saja,
Orang-orang bodoh tak tahu malu ini malah menggunakan anak-anak tak berdosa
sebagai eksperimen kebangkitan Dewa Iblis yang bahkan keberadaannya masih
dipertanyakan.
"Ehh,
apa-apaan ini? Berani-beraninya hama rendahan sekelas kalian bicara begitu pada
diriku ini? Terlebih lagi—"
Sosok Racne
menghilang dan tahu-tahu sudah berada di depan mata Wordle. Sesaat kemudian,
lutut Racne bersarang di ulu hati Wordle. Wordle berjongkok, tak mampu bernapas
sesaat.
Racne
menjambak rambutnya lalu berbisik di telinganya.
"Apa
kau pikir kau berhak menyalahkanku? Kudengar demi keselamatanmu sendiri, kau
rela menjual sahabatmu ke musuh dan akhirnya ditahan di tempat ini, kan?"
Dia
berbicara seolah-olah hal itu sangat menyenangkan.
"Begitulah...
seperti katamu..."
Benar.
Kami, Wordle dan kawan-kawan, ah tidak, sebaiknya hentikan saja kebohongan ini.
Wordle memiliki niat yang jelas saat menjual sahabatnya Dodd kepada raja sampah
itu di masa lalu.
Tentu saja,
alasannya adalah untuk menyelamatkan istri dan anak Wordle dan yang lainnya
yang ditawan. Dodd pasti akan mengerti. Dia terus menjejalkan delusi egois itu
pada dirinya sendiri selama delapan tahun terakhir.
Namun,
Wordle sudah lama menyadari hal ini. Delusi semacam itu hanyalah ilusi belaka.
Dodd tidak akan memaafkan Wordle. Sejak pengkhianatan menjijikkan Wordle
menyebabkan Dodd kehilangan istri dan anaknya, tidak mungkin ia akan
memaafkannya.
"Seandainya
saat itu..."
Ah, benar
juga. Seandainya saja saat itu kami tidak menyerah dan terus melawan, mungkin
situasinya tidak akan seperti ini. Ini memang cuma sekadar pengandaian, tetapi
kemungkinan itu pasti ada.
"Dulu
aku telah salah mengambil keputusan. Karena aku sudah mengkhianati sahabatku
sendiri, hanya masa depan terburuklah yang menantiku."
Hanya
neraka yang menanti Wordle setelah ia melepaskan masa depan ideal dengan
tangannya sendiri. Karena itulah—.
"Wordle,
dalam situasi seperti ini kau masih memikirkan hal itu—"
"Walau
begitu—aku masih belum menjual jiwaku pada iblis!"
Seakan
menepis suara teguran sang Dwarf muda, Wordle mengerahkan seluruh
tenaganya untuk berteriak. Ia mengepalkan tangan kanannya kuat-kuat, lalu
mendaratkan pukulan telak ke wajah Racne yang posisinya sangat pas itu.
"Hah?"
Racne yang
dipukul terhuyung mundur beberapa langkah. Dengan ekspresi terperangah, dia
mengusap hidungnya beberapa kali. Tiba-tiba wajahnya memerah karena marah.
"P-Patah
hidungku patah! Brengsek kau! Beraninya kroco sepertimu!"
Dengan
ekspresi bak iblis, Racne menendang Wordle hingga melayang dan membentur
dinding berbatu tambang dengan keras. Sambil menahan rasa sakit seakan tubuhnya
mau remuk, Wordle berdiri, meraih palu penghancur batu di dekatnya dan
memanggulnya di bahu. Lalu—.
"Semuanya!
Jika kita harus mengorbankan anak-anak kita, maka tak ada lagi yang tersisa
untuk dilindungi! Kita tak perlu bersabar lagi! Mari kita balas perbuatan
orang-orang tak tahu malu ini!"
Setelah
seruan Wordle itu, keheningan menyelimuti sejenak, lalu disusul oleh raungan
yang menggelegar bak binatang buas.
Satu per
satu, para Dwarf yang ditahan mengambil beliung maupun palu lalu berhadapan
dengan pasukan Tuan Tanah.
"Hei,
orang-orang ini berani melukaiku! Kalian semua, bunuh mereka!"
Racne yang
masih memegangi hidungnya yang berdarah itu memerintahkan para Dwarf
dari pasukan Tuan Tanah, tetapi mereka hanya diam tak bergeming sambil
menodongkan senjata dengan ekspresi muram.
"Hah,
padahal sudah sejauh ini, kalian masih mau main kawan-kawanan, ya. Kalau
kuberitahu Tuan Tanah, apa kalian yakin tidak akan menyesal?"
Ancaman
Racne itu menjadi penentu segalanya.
"Aku
sudah muak dengan ini!"
Salah satu Dwarf
dari pasukan Tuan Tanah membanting Battle Axe miliknya ke tanah.
"Benar
sekali. Kalau monster bernama Surtr itu berhasil dilepaskan segelnya dan tak
terkendali, area ini akan menjadi lautan api. Keluarga kita pun takkan
selamat."
Seakan
setuju dengan ucapan itu, Komandan pasukan Tuan Tanah pun membuang senjatanya.
Menjadikan hal itu sebagai pemicu,
"Ya,
sejak awal aku memang sudah muak melakukan perlakuan semacam ini pada saudara
kita sendiri!"
"Benar!
Aku tak tahan lagi dengan cara Tuan Tanah Suge akhir-akhir ini!"
Secara
beruntun, Dwarf lain dari pasukan Tuan Tanah juga mulai membuang Battle
Axe dan palu mereka satu per satu.
"Apa
kalian berniat membelot?"
Racne
memastikan hal itu dengan suara yang mengerikan.
"Kami
sudah muak. Sejak awal, kami mengabdi pada Raja sebelumnya. Kami adalah
tentara. Jika Raja berganti, kami akan mematuhinya, tetapi kesabaran pun ada
batasnya."
Racne
menatap tajam sang Komandan pasukan yang meludah dengan tatapan sinis selama
beberapa saat, lalu berkata.
"Yah,
mau bagaimana lagi. Kalau begitu, terpaksa kugunakan kekerasan."
Racne
membuat gestur seperti mencengkeram dadanya dengan kuat menggunakan tangan
kanan. Sesaat kemudian, permukaan tubuh Racne menggelembung dan membentuk
sebuah makhluk raksasa.
Makhluk itu
adalah laba-laba raksasa setinggi delapan mel dengan kepala Racne. Di tengah
kebingungan semua orang,
"Bagaimana?
Kalau sudah begini, kekuatanku jadi super luarrrr biasaaaa, lho!"
Benang
putih bersih meluncur dengan kecepatan tinggi dari mulut Racne, menelan dua
orang Dwarf pasukan Tuan Tanah yang berada di dekatnya lalu membungkus
mereka berbentuk bola.
"Akan
kulelehkan kalian di dalam kepompong itu, lalu nanti akan kuhisap darah kalian
sampai habiiiss~ Nah sekarang,"
Racne yang
telah berubah wujud menjadi laba-laba raksasa itu melihat sekeliling sembari
mencari mangsa berikutnya dengan suara riang.
Perasaan
Wordle saat ini benar-benar ibarat katak yang diincar ular. Oleh karena itu—.
"Hiek!"
Ketakutan
mendasar meluncur keluar dari mulutnya, tetapi...
"Kalau
begini terus, jadinya sama saja dengan waktu itu!"
Ia
menggelengkan kepala lalu menyemangati dirinya sendiri. Ia sudah kenyang
merasakan akhir menyedihkan akibat tunduk dan menyerahkan diri pada kekuatan
besar.
"Ambil
senjata kalian! Ini adalah pertarungan untuk merebut kembali harga diri kita!
Kita tidak perlu takut pada apa pun. Lawannya cuma sekadar monster biasa!
Bukankah begitu?!"
Saat Wordle
bertanya dengan suara lantang kepada semuanya,
"Benar
sekali! Aku merasa menyedihkan saat memikirkan kalau selama ini kita patuh pada
monster!"
Komandan
pasukan Tuan Tanah membuang senjatanya, merendahkan postur tubuh, lalu
menyiapkan senjatanya.
"Ya,
aku juga sudah muak hidup penuh ketakutan!"
Seorang Dwarf
berotot kekar mengayunkan beliung raksasanya.
"Berani-beraninya
Demi-Human rendahan seperti kalian menyebutku monster! Kalian semua
pantas mati!"
Suara Racne
bergetar karena marah, dan benang tak terhitung jumlahnya meluncur dari
mulutnya ke arah Wordle dan kawan-kawannya.
Saat benang
itu hampir mengenai wajah Wordle, semuanya hancur menjadi debu kecil-kecil.
"Apa?!"
Saat Racne
menjerit kaget, dua kepompong yang melilit Dwarf pasukan Tuan Tanah
meledak, lalu menampakkan dua pria dari dalamnya.
Salah
satunya adalah seorang pemuda berambut abu-abu. Namun ketika Wordle melihat
pria yang satunya lagi,
"Dodd?!"
Wordle
menjerit kaget. Wajar saja. Dwarf berambut merah itu adalah sahabat
karib yang dulunya dikhianati oleh Wordle.
◇◆◇
Setelah
melewati pos pemeriksaan, kami segera tiba di kota pertambangan. Kami
melumpuhkan tiga Dwarf yang berjaga di sana, lalu menggunakan cincin
efek manipulasi penampilan untuk menyamar menjadi para prajurit tersebut.
Kemudian
saat kami memasuki tambang, seorang Dwarf sok berkuasa dengan kumis melingkar
baru saja akan membawa pergi anak-anak Dwarf.
Meskipun
para ibu Dwarf mati-matian melawan, lawannya adalah tentara. Tujuh anak
pun dibawa pergi. Tentu saja, aku tidak bisa membiarkan anak-anak berada dalam
bahaya, jadi aku berencana segera menolong mereka.
Namun, saat
aku melihat sudut mulut anak-anak yang dibawa pergi sobek hingga ke telinga,
aku menyadari segalanya dan memutuskan untuk memantau situasi terlebih dahulu.
Tuan tanah
menyerahkan pengelolaan tambang batu bara ini kepada pria manusia bernama Racne
lalu pergi menghilang. Tidak lama kemudian, Dwarf dewasa pun bergegas
datang.
Melihat
alur pembicaraan mereka, sepertinya tuan tanah itu berencana melepaskan segel
monster bernama Dewa Iblis Surtr lalu mengendalikannya.
Meskipun
aku belum pernah mendengar nama Dewa Iblis Surtr, jika panggung ini disiapkan
oleh Girimehkala, dia pasti sudah menyiapkan lawan yang sepadan.
Yah,
berdasarkan kecenderungan sampai sekarang, mungkin dia mengira lawannya kuat,
tapi nyatanya lemah.
Alur
setelahnya agak meleset dari dugaanku. Mereka mempertaruhkan nyawa untuk
melindungi anak-anak itu.
Khususnya,
saat Dwarf berwajah brewok dengan tato buku dan bintang di lehernya yang
dipanggil Wordle memukul pria manusia bernama Racne untuk menunjukkan tekadnya.
Para Dwarf bawahan tuan tanah pun ikut memberontak dan mencampakkan Racne.
Karena hal
itu, Racne marah dan berubah menjadi monster mirip laba-laba.
Ho. Berbeda
dari monster murni, makhluk itu masih memancarkan bau manusia. Jadi, itu bukan
monster melainkan manusia yang berubah bentuk?
Aku tidak
tahu kenapa seorang penyihir dari umat manusia dipekerjakan oleh tuan tanah Dwarf,
tetapi sekarang aku sudah cukup paham situasinya.
Meski
terlihat menakutkan, Wordle memberanikan diri untuk menyemangati Dwarf
lain meski tubuhnya gemetar. Berkat seruan itu, Dwarf lain yang sudah mulai
kehilangan semangat juang pun akhirnya kembali sadar.
Berhasil.
Mereka telah memenuhi semua persyaratanku dengan sempurna. Mereka pantas
disambut sebagai saudara.
Semua
benang yang ditembakkan oleh Racne hancur menjadi debu akibat tebasanku yang
diselimuti mana. Aku meniup kepompong yang sudah rusak akibat tebasan berisikan
manaku dengan tekanan pedang. Lalu kutanya Dodd yang keluar dari kepompong
lainnya.
"Sudah
cukup. Kau juga setuju kan, Dodd?"
Aku
mengonfirmasi hal yang tidak perlu ditanyakan lagi.
"Ya.
Ini sudah lebih dari cukup."
Seperti
dugaanku, Dodd menangis dengan ekspresi penuh haru, lalu mengangguk penuh
semangat.
"Dodd?
Benarkah itu kau, Dodd?"
"Tentu
saja! Memangnya terlihat seperti orang lain?"
Merespons
ucapan Dodd yang sembarangan itu, Wordle berseru.
"Aku
yang akan menahan orang ini! Dodd, cepat bawa wanita dan pemuda lainnya lari
dari sini!"
Wordle
mengangkat palu raksasanya dengan ekspresi siap mati sembari berteriak nyaring.
"Jangan
khawatir. Kami datang untuk menolong, jadi kalian sudah aman."
Dodd
tersenyum memandang para Dwarf sambil menyatakannya dengan lantang. Detik
berikutnya, prajurit Dwarf bertubuh mungil di sebelahnya pun berubah menjadi
sosok gadis muda, Edda.
"Benar
sekali! Semuanya, orang ini sangat kuat, jadi tenang saja!"
Edda
berteriak dengan bangga. Setelah kejadian di pos pemeriksaan itu, sepertinya
Dodd memberitahu Edda sesuatu tentangku. Sejak saat itu, rasa takutnya padaku
hilang sepenuhnya, dan malah bersikap layaknya orang-orang di Erdim.
"Bahkan
Edda juga?! Aku benar-benar tidak paham apa yang sedang terjadi..."
Mungkin dia
terjebak di tengah kebingungan. Sambil menatap bergantian antara aku dan
rombongan Dodd, Wordle memiringkan kepalanya dengan bingung.
"Oi,
jangan abaikan aku!"
Racne
menggonggong tak sedap dipandang, namun dengan cuek aku mengabaikannya.
"Zig,
kau juga terseret kemari, ya. Kerja bagus."
Aku
memberikan kata-kata penyemangat kepada Zig yang berlutut padaku.
"Tidak,
saya merasa terhormat bisa membantu Anda."
Dengan
ekspresi penuh suka cita, ia memberikan balasan seperti itu.
"Sudah
kubilang jangan abaikan aku dan teruslah mengobrol!"
Ia kembali
menembakkan benang dari mulutnya, jadi aku memantulkan dan mengembalikannya
dengan Raikiri di tangan kananku. Benang-benang itu melilit tubuh bagian atas
laba-laba itu dengan kecepatan super tinggi. Sambil memelototinya,
"Diam
sebentar. Setelah pembicaraannya selesai, aku akan bermain denganmu
sepuasnya."
Aku
mengintimidasinya. Hanya dengan begitu saja, Racne memekik kecil lalu melompat
jauh ke belakang.
Wajah Racne
sekarang tampak sangat kaku dan keringat mengucur deras dari sekujur tubuhnya
bagai air terjun.
Hmph, sama
sekali bukan ancaman.
"Zig,
inikah tentara super kekaisaran yang kau bicarakan?"
"Seperti
dugaan Anda. Orang ini adalah Chimera yang dibuat oleh orang-orang mesum
di departemen teknologi dengan menggabungkan laba-laba dan manusia. Kemungkinan
besar dia adalah prajurit pembelot dari kekaisaran."
Mendengar
penjelasan santai Zig, mata Racne terbelalak kaget.
"B-Bagaimana
kau tahu hal itu?"
Tanyanya.
"Karena
aku juga pembelot dari Kekaisaran."
Zig
mengambil sesuatu seperti lencana dari sakunya lalu menunjukkannya.
"I-I-Itu
kan Lambang Kaisar Pedang?! T-Tunggu dulu... Rambut hitam dengan mata setajam
elang itu, jangan-jangan kau adalah penyandang gelar Kaisar Pedang termuda, Zig
Gastrea!"
Racne
berteriak penuh keputusasaan.
"Wah-wah,
jangan bilang kau kehilangan semangat bertarung cuma karena aku? Orang yang
sejak tadi kau bicarakan itu, kekuatannya tidak bisa dibandingkan denganku. Dia
sangat kuat, kejam, dan juga menakutkan lho."
Zig
mengangkat bahu dengan ekspresi tak percaya, lalu melontarkan lelucon dengan
reputasi yang sangat buruk itu.
"Hmm,
pembicaraannya sudah selesai. Kalau begitu, seperti yang kau inginkan, mari
kita bermain sepuasnya."
Saat aku
mengarahkan ujung Raikiri ke arah Racne,
"T-Tunggu
sebentar! Aku akan mundur dari urusan ini!"
Ia
mengangkat kedua tangan tanda menyerah.
"Kau
baru saja akan membunuh mereka tanpa pandang bulu, kan? Orang sepertimu memohon
ampun?"
"Maafkan
aku! Aku tidak akan mengulanginya lagi! Karena itu lepaskan aku!"
Aku merasa
sangat marah melihat Racne yang memohon ampun dengan ekspresi putus asa itu.
"Kalau
mereka yang memohon ampun padamu seperti ini, apa kau akan melepaskan mereka?
Tentu tidak, kan?"
Aku
menggelengkan kepala beberapa kali lalu menatapnya tajam bagai ingin
membunuhnya.
"Hiek!"
Racne
membelakangiku dan lari tunggang langgang.
"Orang
yang sangat tidak berguna dari lubuk hatinya."
Aku
meludahkan kata-kata itu lalu mengubah Racne menjadi serpihan-serpihan kecil
menggunakan Deadline.
Dengan
begini, setidaknya masalah di sini sudah selesai.
Selanjutnya
tinggal mengurus Dewa Iblis Surtr yang dimaksud itu—.
Tiba-tiba,
suara ledakan menggelegar. Sepertinya, ini adalah tahap akhir.
"Zig,
evakuasi mereka dari tempat ini!"
"Dimengerti.
Lalu bagaimana dengan Kai-sama?"
"Tentu
saja membasmi hama."
Dengan
Raikiri di satu tangan, aku mulai melangkah ke luar gua.
◇◆◇
Di sana
terdapat sebuah kuil yang telah berubah menjadi reruntuhan.
Di
depannya, tujuh anak Dwarf berlutut dalam satu barisan dengan mata
tertutup rapat.
Tepat di
belakang mereka, seorang pria dengan tubuh bak tong sedang merapalkan sesuatu
mirip mantra.
Tuan Tanah
Suge yang berkumis keriting melipat kedua tangan sembari mengamati jalannya
ritual aneh tersebut.
Wajahnya
berubah buruk rupa karena nafsu yang mendalam.
Tak ada
setitik pun rasa kasihan maupun penyesalan terhadap anak-anak tersebut.
Pria
bertubuh bak tong itu tiba-tiba menghentikan rapalan mantranya lalu berdiri
tegak.
"Hei,
Penyihir, kenapa kau berhenti merapal di tengah-tengah! Dewa Iblis Surtr masih
belum bangkit!"
Suge
mencengkeram bahu kanan penyihir itu dari belakang dengan kesal.
Tepat di
saat itu, wajah penyihir itu tiba-tiba terpelintir ke belakang hingga seratus
delapan puluh derajat.
"Bukan,
bukan begitu—rapalan mantraku sudah selesai dari tadi!"
Ia
berteriak dengan nada suara yang tak mampu menahan kegembiraan. Sambil menatap
lurus ke arah wajah penyihir itu,
"Hiiiiihh!"
Suge
memekik dengan suara melengking. Tentu saja, ia terkejut karena kepalanya
terpelintir dengan cara yang mustahil. Lebih dari itu, penampilan penyihir itu
sudah tidak bisa dibilang manusia lagi.
Mulut
penyihir itu membesar berbentuk bulan sabit, memperlihatkan taring raksasa yang
tajam. Bola matanya melotot tajam, dan di dalamnya tampak sesuatu seperti
serangga yang menggeliat-geliat menjijikkan.
"Sama
seperti biasanya, makhluk rendahan yang tak tahu tempat ibarat serangga ini
sama sekali tak punya sopan santun. Berani-beraninya berteriak saat melihat
wajahku yang sangaaaat menawan ini..."
Penyihir
itu mengangkat bahu lalu memutar lehernya ke kiri dan ke kanan sembari
mengeluh.
"K-Kau...
bukan manusia?"
"Sudah
sampai tahap ini kau masih belum mengerti situasinya juga, ya. Sepertinya, kau
ini bodoh sekali sampai-sampai tidak bisa menilai keadaan. Yah, terserahlah.
Lagipula, kecerdasan tidak dibutuhkan untuk menjadi tumbal."
Dia
tersenyum menyeringai. Melihat wujudnya yang teramat kejam dan buruk rupa itu,
rasa dingin serta kengerian yang luar biasa menembus sekujur tubuh Suge hingga
ia mundur selangkah.
"—?!"
Tiba-tiba,
kedua bahunya dicengkeram dari belakang.
Dengan
perasaan takut-takut, aku menoleh ke belakang dan melihat seorang wanita
berambut pirang dengan pakaian terbuka sedang mencengkeram kedua bahu Suge.
Lalu...
"Percuma
saja, lho. Kami yang sekarang tidak sebodoh itu untuk membiarkan kroco
sepertimu melarikan diri!"
Wanita itu
berbisik di telinga Suge dengan nada suara yang membuat tulang punggungnya
terasa dingin.
"K-Kau
ini siapa?"
"Tidak
perlu memberitahukannya pada orang yang sebentar lagi akan menjadi tumbal.
Benar begitu, 'kan, Ekki-sama?"
Wanita itu
meminta persetujuan dari sosok yang sebelumnya adalah seorang penyihir.
"Sebentar
lagi, panggung utama ini akan mencapai klimaksnya! Vinegar, bawa tumbal itu ke
altar!"
Eki
merentangkan kedua tangannya dan memberikan instruksi dengan suara lantang.
"Siap
laksanakan."
Wanita
berambut pirang yang dipanggil Vinegar itu membungkuk hormat, lalu mendorong
Suge dari belakang menuju altar.
Di saat
yang bersamaan, tujuh anak yang berada di altar tiba-tiba berdiri layaknya
pegas yang dilepaskan. Dengan suara retakan yang mengerikan, mereka mulai
berubah wujud.
Dalam
sekejap mata, mereka telah berubah menjadi monster yang seluruh tubuhnya
terbalut perban putih bersih. Setelah itu, mereka turun dari altar.
"H-Hentikan!
Lepaskan aku!"
Suge
meronta-ronta dengan sekuat tenaga untuk melepaskan diri. Namun, wanita itu
menahannya dari belakang dengan kekuatan layaknya sebuah ragum, membuatnya tak
bisa bergerak sedikit pun.
Tujuh
monster berbalut perban putih itu berdiri di posisi masing-masing mengelilingi
Suge, lalu mulai merapalkan sesuatu yang terdengar seperti mantra.
"Kalau
begitu, selamat menikmati mimpi burukmu ♬"
Wanita itu
kembali berbisik di telinga Suge, lalu melompat mundur menjauhinya.
"Uaa..."
Sebuah
lingkaran sihir raksasa muncul di atas tanah.
Hanya
dengan melihat sekali pada pola geometris mengerikan yang berputar itu, Suge
sudah bisa menebak dengan jelas ke mana dia akan pergi sebentar lagi.
"Guah!"
Rasa takut
yang luar biasa membuat giginya bergemeretak bising. Keringat mengucur deras
bak air terjun, seolah-olah kelenjar keringatnya telah rusak.
"Tidaaaaaak!"
Tepat saat
dia memeras seluruh tenaganya untuk meneriakkan kata-kata penolakan dari lubuk
hatinya, kesadaran Suge seketika terputus.
Sosok Eki
telah berubah menjadi seorang pria kecil yang mengenakan setelan jas hitam
lengkap dengan topi hitam. Di belakangnya, Vinegar dan tujuh monster berbalut
perban putih tampak berlutut.
Eki menatap
bola api yang melayang di atas altar dengan ekspresi penuh suka cita. Inti dari
bola api itu adalah Suge, sang penguasa wilayah pertambangan.
Suge tidak
hanya menjadi tumbal untuk menciptakan dan memperkuat tubuh Dewa Api Surtr,
tetapi dia juga menjadi bidak di panggung ini untuk memamerkan kekuatan Sang
Yang Tertinggi kepada rakyat jelata.
"Nah,
nah, naah, ini adalah alat yang sangat tepat untuk menunjukkan betapa agung dan
mulianya dewa satu-satunya yang kita sembah kepada calon rakyat jelata
kita!"
Bagi Eki,
semua makhluk hidup di dunia ini, termasuk ras manusia, tak lebih dari makhluk
rendahan yang tak bernilai. Tentu saja, ada pengecualian untuk hal itu.
Pengecualian
itu adalah rakyat dewa yang telah dipilih secara langsung oleh dewa
satu-satunya dan mutlak yang ia percayai, Kai Heineman.
Bisa
dibilang, ras apa pun mereka, mereka adalah saudara bagi Eki dan
kawan-kawannya. Di hadapan dewa yang mereka sembah, seluruh rakyat dewa adalah
setara.
Tidak ada
yang namanya atasan maupun bawahan.
Melalui
serangga pengikutnya, Eki telah menerima laporan bahwa para dwarf itu
berhasil melewati ujian pemilihan dari dewa mereka dengan gemilang.
Sekarang,
yang perlu dilakukan hanyalah menunjukkan keagungan dan kengerian Sang Yang
Tertinggi hingga ke tulang sumsum kepada saudara-saudara tercinta mereka, lalu
menanamkan keyakinan yang kuat dan tak terbantahkan.
"Apakah
evakuasi para dwarf sudah selesai?"
"Sudah
beres tanpa cela."
Vinegar
menjawab dengan sigap.
"Bagus,
bagus, bagus sekaliii! Panggung ini akhirnya mencapai klimaksnya! Ayo, pujalah
ayah yang sangat kuhormati!"
"Hidup
Sang Yang Tertinggi kita!"
Vinegar
berseru dengan penuh semangat.
"Kejayaan
bagi Sang Yang Tertinggi kita!"
Monster-monster
berbalut perban putih itu pun ikut berseru serempak.
"Kalau
begituuu, mari kita buka panggung pertunjukan terakhir ini!"
Bersamaan
dengan seruan Eki yang dipenuhi kegilaan itu, lingkaran sihir mulai berputar
dengan kecepatan tinggi, dan bola api merah itu melayang jauh ke angkasa.
Pada detik
berikutnya, bola api itu melesat menuju arah pertambangan dengan kecepatan
super sambil terus membentuk wujud manusia.
◇◆◇
Saat aku
keluar dari dalam gua, sebuah sosok manusia api melayang di angkasa dan
perlahan-lahan membentuk wujud raksasa api.
Mungkin itu
adalah monster buas yang telah disiapkan oleh kelompok Girimehkala untuk
pertunjukan terakhir kali ini.
Meski
begitu, apa ini yang disebut Surtr, Dewa Iblis Api yang telah menghancurkan
peradaban kuno? Ini sih penilaian yang terlalu berlebihan.
Itu
hanyalah sebuah boneka kayu raksasa yang tidak berguna. Kalau dibandingkan
dengan kadal kroco bernama Azi Dahaka atau apalah itu, kekuatannya memang
setara dengan Agito yang dikalahkan oleh kelompok Ferris.
Namun, dia
sama sekali tidak akan bisa menjadi lawanku.
Raksasa api
itu mendarat di tanah lapang depan area pertambangan.
Dia menatap
tubuhnya sendiri sejenak, lalu memunculkan bola api di tangan kanannya,
mengayunkannya, dan melemparnya.
Bola api
itu meluncur lurus menghantam pertambangan dan meledak. Panas yang
dihasilkannya seketika mengubah bebatuan di sekitarnya menjadi magma yang
meleleh.
Bagi kami,
tingkat panas seperti ini sama sekali bukan ancaman. Namun, bagi para dwarf
yang merupakan amatir dalam bertarung, ceritanya berbeda.
Jika aku
tidak memerintahkan Jignir untuk mengevakuasi mereka, mungkin mereka sudah
musnah.
Yah,
mengingat Girimehkala ikut campur, kekhawatiran itu mungkin saja tidak
beralasan.
"Luar
biasa! Inikah kekuatan seorang dewa!? Aku akhirnya menjadi dewa! Tidak ada satu
pun makhluk di dunia ini yang bisa mengalahkanku!"
Saat
raksasa api itu mengaum penuh suka cita, angin panas menyebar ke segala arah
dan menghancurkan segala sesuatu di sekitar area pertambangan menjadi debu
dalam sekejap mata.
Benar-benar
deh, ternyata dia cuma jago bikin onar saja, ya. Sepertinya dia memang monster
buas yang tidak bisa diselamatkan.
"Dasar
berengsek Eki dan jalang sialan yang sudah menjebakku ini! Aku pasti akan
menemukan kalian dan membuat kalian menyesal telah melakukan ini pada Suge-sama
yang hebat ini!"
Raksasa api
itu menghentakkan kakinya ke tanah dan kembali mengaum marah. Angin yang
membakar bertiup kencang, membakar tanah dan mengubahnya menjadi magma merah
menyala.
Jika
dibiarkan begini terus, area ini bisa berubah menjadi lautan api.
Ngomong-ngomong,
Suge, ya? Bukankah itu nama penguasa wilayah kota pertambangan ini?
Sepertinya
si Eki yang ahli dalam memodifikasi itu telah menggabungkan monster buas
bernama Surtr dengan Suge untuk menciptakan monster jenis baru.
Dilihat
dari fakta bahwa dia menyebut dirinya Suge, sembilan dari sepuluh tebakan,
kesadarannya pasti dikendalikan oleh penguasa wilayah keparat itu.
Yah, mari
kita kesampingkan dulu masalah itu. Jika aku membiarkannya berbuat sesuka hati,
area di sekitar sini bisa berubah menjadi padang hangus.
"Hei,
kau. Hentikan tindakanmu. Kau itu sangat mengganggu."
Setelah
berteriak seperti itu, aku menggunakan teknik gerakanku sendiri untuk
mendekatinya dan menendangnya dengan santai.
Sisi kiri
perutnya yang kutendang langsung hancur berkeping-keping.
"Gunuooooooohh!"
Raksasa api
itu mengeluarkan suara yang lucu sambil terpental berkali-kali. Dia melesat
dengan kecepatan super tinggi sambil membakar apa pun yang disentuhnya.
"Malah
jadi tambah parah, ya..."
Tanah
tempat raksasa api itu terbaring telentang sekarang telah meleleh dan berubah
menjadi genangan magma. Apakah lebih baik aku membelahnya dengan Raikiri tadi?
Tidak, dia
hancur berkeping-keping hanya dengan tendangan ringan. Jika aku memotongnya
menjadi beberapa bagian dengan Raikiri, monster buas bernama Surtr yang telah
menyatu dengannya juga akan ikut terbunuh.
Mengingat
legenda tentang Surtr yang menghancurkan peradaban kuno itu terdengar
mencurigakan, ada kemungkinan dia sebenarnya tidak bersalah. Jika benar begitu,
membunuhnya tanpa bertanya terlebih dahulu sangat bertentangan dengan harga
diriku.
"Yah,
apa boleh buat. Aku harus menghajarnya habis-habisan."
Sambil
menghela napas, aku menyarungkan Raikiri kembali dan menendang raksasa api itu
ke udara.
Raksasa api
itu berputar ke atas dengan kecepatan tinggi.
Aku
menghentakkan kaki ke tanah, melesat menyusul dan melampauinya dalam sekejap,
berputar di udara, lalu menarik siku kananku.
"T-Tunggu
seban—"
Sebelum
raksasa api itu sempat menyelesaikan kalimatnya, aku mendaratkan pukulan ringan
dengan tangan kananku.
Raksasa api
itu pun terlempar melayang ke samping.
Aku kembali
menjejakkan kaki kiri di udara. Gelombang kejut yang dihasilkan dari tendangan
itu membuat tubuhku berpindah tepat di depan wajah raksasa api tersebut.
"Hiiik!"
Raksasa
yang menjerit itu langsung kutinju dengan tangan kananku, dan kali ini dia
terhempas lurus bagai peluru ke arah serong kiri atas.
Setelah
itu, sambil bergerak dengan kecepatan tinggi di udara, aku terus memukuli
raksasa api itu tanpa membiarkannya jatuh ke tanah sama sekali.
"Gugagagagagagagigagigigigiii!"
Diiringi
jeritan panjang, raksasa api itu terlempar ke atas, ke bawah, ke kanan, dan ke
kiri membentuk garis lurus, meninggalkan banyak garis merah yang melintang di
langit.
Setelah
memukulinya berkali-kali hingga wujud aslinya sudah tidak terlihat lagi, aku
menendang raksasa api itu ke atas.
Sesaat
kemudian, aku menyusulnya dalam sekejap, lalu memutar tubuhku dan mendaratkan
tendangan memutar dengan kaki kanan yang penuh dengan gaya sentrifugal.
Raksasa api
itu menghujam bumi dan memicu ledakan dahsyat.
Angin panas
yang melahap segalanya berembus kencang berkali-kali.
Ketika debu
dan uap panas mulai menghilang sehingga pandangan kembali jelas, tampak seorang
gadis berambut merah dalam balutan gaun merah sedang terbaring telentang di
dasar kawah yang meleleh.
◇◆◇
Ketika Dewa
Api Surtr membuka matanya, dia berada di dasar sebuah kawah raksasa. Saat dia
melihat sekeliling, genangan magma terlihat di mana-mana.
"Apakah
ini berarti segelku sudah dilepaskan?"
Dia
bertanya pada dirinya sendiri, tapi sekelilingnya hanyalah lautan api. Tidak
ada kemungkinan lain selain itu.
"Apa
yang terjadi padaku?"
Sambil
menggelengkan kepalanya yang masih pusing, dia pun berdiri. Perlahan-lahan, dia
mulai mengingat kembali bagaimana dirinya bisa disegel selama bertahun-tahun.
Rasa amarah
terhadap dalang di balik semua ini mulai mendidih di dalam dirinya.
"Aku
tidak akan pernah memaafkan Ares!"
Benar! Saat
itu, Surtr kalah dalam pertarungan melawan Ares yang menyebut dirinya sebagai
pengelola dunia ini, lalu dia pun disegel.
Sejak awal,
alasan Ares menyatakan perang terhadap Surtr adalah karena dia telah
menghancurkan seluruh negara milik manusia yang menyebalkan itu.
Perlu
diperjelas, Surtr sama sekali tidak memiliki kelainan aneh yang membuatnya
merasa senang saat memusnahkan manusia, dan dia juga tidak memiliki dendam
kesumat pada mereka.
Bahkan
sampai saat itu, manusia di mata Surtr hanyalah sekumpulan kera lemah dan
menyedihkan yang merayap di atas tanah.
Hal yang
mengubah Surtr adalah pertemuannya dengan seorang pemuda.
Manusia itu
benar-benar orang yang aneh sejak awal mereka bertemu. Walaupun dia hanyalah
manusia yang lemah, dia memperlakukan Surtr seperti anak kecil dan selalu
mengurusnya.
Terkadang
dia memang memarahi Surtr, tapi setelah itu dia selalu bersikap sangat lembut
kepadanya. Bagi Surtr yang selama ini hidup dalam kesepian, kehidupan bersama
pemuda itu terasa sangat baru dan menarik.
Mungkin
saat itulah, untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Surtr merasakan yang namanya
kebahagiaan.
Namun,
waktu berharga layaknya permata itu tidak berlangsung lama.
Mengetahui
keberadaan Surtr, manusia-manusia pada masa itu menyandera pemuda tersebut
untuk mengendalikan Surtr. Karena tidak ingin kehilangannya, Surtr menurut dan
mematuhi perintah manusia-manusia itu untuk sementara waktu.
Namun suatu
hari, dia mengetahui bahwa pemuda itu sudah mati.
Pemuda itu
khawatir dirinya akan menjadi beban bagi Surtr, sehingga dia memutuskan untuk
mengakhiri hidupnya sendiri.
Kenyataan
itu membuat Surtr jatuh dalam keputusasaan yang begitu dalam, dan dia menjadi
sangat marah hingga hampir gila.
Mengikuti
luapan emosinya, dia memusnahkan peradaban manusia hingga ke akar-akarnya.
Menjadikan
tindakan Surtr itu sebagai alasan, Ares yang merupakan dewa pengelola Lemuria
ini turun ke dunia, dan perang pun tak terelakkan.
Pertarungan
melawan Ares berlangsung sangat sengit, dan pada akhirnya, Surtr kalah lalu
disegel oleh Ares.
Sebenarnya,
Surtr tidak memiliki dendam yang berarti terhadap ras manusia itu sendiri.
Dia sudah
menghancurkan peradaban yang membunuh pemuda itu hingga ke akarnya, jadi dia
menganggap urusannya dengan manusia sudah selesai.
Oleh karena
itu, dia sama sekali tidak tertarik pada manusia lagi.
Namun, Ares
berbeda. Dewa itu telah mengurungnya selama kurun waktu yang sangat lama hingga
membuatnya muak.
Mana
mungkin dia bisa memaafkannya! Sebagai bentuk balas dendam pada Ares,
pertama-tama dia akan membakar habis semua fasilitas yang berhubungan dengan
Ares di dunia ini.
Bagi dewa
sombong semacam itu, wajah yang tercoreng pasti menjadi hal yang paling
menyakitkan baginya.
Tepat saat
Surtr membulatkan tekadnya, seorang manusia berambut abu-abu tiba-tiba muncul
di hadapannya.
"--!?"
Melihat
sosok nostalgik dan warna jiwa yang sangat kuat namun lembut yang tak mungkin
dia lupakan itu, sebuah kejutan seolah menghantam otaknya.
Anak
manusia berambut abu-abu itu menatap Surtr.
"Saat
aku tahu bahwa rumor tentang betapa berbahayanya dirimu itu hanyalah
kebohongan, aku sudah berpikir bahwa kau tidak mungkin bisa menjadi musuhku.
Tapi aku sama sekali tidak menyangka bahwa kau ternyata hanyalah seorang gadis
kecil. Benar-benar di luar dugaan. Pertarungan ini sama sekali tidak masuk
akal."
Dia
menggelengkan kepalanya pelan ke kiri dan ke kanan, lalu menyunggingkan senyum
yang terlihat sedikit kesepian.
"Auuu...
akhirnya kita bertemu lagi."
Benar.
Senyum lembut itu, maupun ekspresinya yang selalu terlihat sedikit kebingungan,
mana mungkin Surtr bisa melupakannya! Pria ini adalah—
"Sekarang,
apa yang harus kulakukan, ya?"
Surtr
berlari sekuat tenaga ke arah pria yang sedang menggaruk-garuk kepalanya itu,
lalu memeluk perutnya dan membenamkan wajahnya di sana.
Dengan
begini, dia akhirnya bisa menyampaikan hal yang belum sempat dia katakan
padanya.
"Hmm?
Ada apa ini?"
Di tengah
pandangannya yang mengabur karena air mata, dia mendongak menatap pria yang
balas menatapnya dengan ekspresi bingung.
"Terima
kasih karena selalu bersamaku!"
Dalam
kehangatan nostalgik itu, Surtr menyerukan isi hatinya dengan suara yang
bergetar.
◇◆◇
Tidak lama
kemudian, Wardle dan para dwarf lainnya dipindahkan ke sebuah ruang
misterius oleh kekuatan pria bermata satu berpakaian putih yang merupakan rekan
Jig.
Di sana,
mereka hanya bisa berdiri mematung menatap pemandangan yang diproyeksikan
memenuhi seluruh langit.
Tanpa
terkecuali, wajah semua orang menunjukkan ekspresi yang sulit dijelaskan.
Ada
campuran rumit antara rasa terkejut, kagum, iri, bingung, dan berbagai emosi
kuat lainnya.
Yah,
setelah melihat hal semacam itu, reaksi tersebut memang sangat wajar. Malahan,
akan aneh jika mereka bisa tetap tenang.
Hanya
dengan satu aumannya, area di sekitarnya berubah menjadi abu, dan saat dia
melempar bola api, sebuah gunung menguap dan berubah menjadi danau magma
raksasa.
Raksasa api
itu tidak diragukan lagi adalah Dewa Iblis Api yang telah menghancurkan dunia.
Bagi umat
manusia, tidak, bagi makhluk hidup biasa di dunia ini, dia adalah seorang Transcender
yang tak mungkin bisa dilawan.
Bahkan
Empat Raja Iblis Besar yang terkenal jahat atau Pahlawan Legendaris terkuat
umat manusia sekalipun mungkin hanyalah semut yang merayap di tanah bagi
raksasa api itu.
Mereka
sudah berada di dimensi yang sama sekali berbeda. Karena itulah, sekuat apa pun
bocah berambut abu-abu yang bisa mengalahkan Rakne dalam sekejap itu, dia
tetaplah manusia, sehingga kekalahan sudah pasti menjadi hal yang tak
terelakkan.
Namun,
perkiraan itu dipatahkan dengan sangat mudah.
Raksasa api
itu dibasmi layaknya seekor naga yang sedang menginjak serangga di tanah.
Bagaimana tidak, bocah berambut abu-abu itu sama sekali tidak menggunakan
senjata apa pun, dia hanya meninju dan menendang raksasa api itu.
Hanya
dengan kekerasan murni yang bahkan tidak bisa disebut sebagai seni bela diri,
Dewa Iblis Api yang mampu mengubah dunia menjadi abu itu dihajar hingga babak
belur layaknya kain pel rusak, lalu musnah dari dunia ini.
Setelah
itu, seluruh tubuh raksasa api itu meleleh, dan dari bagian tengahnya muncullah
seorang gadis berambut merah berusia sekitar dua belas atau tiga belas tahun
yang mengenakan gaun merah.
Setelah
itu, gadis tersebut memeluk bocah berambut abu-abu itu hingga saat ini.
"Sepertinya
sudah selesai."
Seorang
wanita yang mengenakan setelan pakaian atas dan bawah berwarna ungu serta
memakai topi mengumumkan akhir pertunjukan dengan nada santai, lalu tiba-tiba
menghilang.
Detik
berikutnya, proyeksi gambar itu pun seketika lenyap.
"Bagaimana,
kalian sudah paham, 'kan? Itulah Sang Yang Tertinggi yang kami percayai!"
Dodd
berseru dengan bangga.
"Sosok
itu adalah eksistensi yang sama sekali tidak bisa dipahami oleh orang
sepertiku. Setidaknya aku sudah memahaminya sampai ke tulang-tulangku."
Wardle
melontarkan kalimat yang benar-benar dia rasakan dari lubuk hatinya.
"Tentu
saja. Mungkin tidak ada seorang pun di dunia ini yang bisa memahami orang
itu."
Jig yang
berada di dekat mereka ikut menimpali pembicaraan Wardle dan yang lainnya.
"Omong-omong,
apakah kau ini Kaisar Pedang dari Kekaisaran? Kenapa kau bisa mengabdi pada
Beliau?"
"Yah,
ada banyak hal yang terjadi."
Jig
menggaruk kepalanya dengan canggung.
"Yah,
aku juga mengalami banyak hal, sih."
Dodd ikut
menimpali sambil tertawa renyah.
Menghadapi
Dodd yang seperti itu, senyum di wajah Wardle memudar. Dia berbalik menatapnya.
"Dodd,
aku benar-benar minta maaf."
Wardle
membungkuk dalam-dalam. Setiap tindakan membawa tanggung jawab.
Di
antaranya, kesalahan yang pernah dilakukan Wardle di masa lalu sama sekali
bukan hal yang bisa dimaafkan begitu saja. Meskipun begitu, Wardle tetap harus
meminta maaf.
Benar.
Kepada sahabat yang pernah dikhianatinya.
Di tengah
keheningan yang menyelimuti, terdengar suara helaan napas panjang dari Dodd.
Lalu—
"Memang
benar aku menyimpan dendam saat insiden itu terjadi. Tapi setelah menenangkan
diri, aku bisa menduga bahwa kalian pasti punya alasan kuat yang memaksa kalian
melakukan hal itu."
"Justru
kalian yang ditinggalkan pasti mengalami masa-masa yang jauh lebih berat dan
menyakitkan. Karena itulah, aku ingin mengatakan hal ini, sahabatku Wardle.
Terima kasih karena telah melindungi semuanya selama ini."
Dodd
meletakkan tangan kanannya di bahu Wardle dan mengucapkan terima kasih.
"Dodd...
maafkan aku..."
"Sudah
kubilang tidak perlu minta maaf, 'kan."
Mendengar
ucapan hangat Dodd yang terdengar seolah sudah pasrah itu...
"Terima...
kasih."
Wardle pun mengucapkan kata-kata yang selama bertahun-tahun ini tak pernah bisa ia katakan.



Post a Comment