NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Saijaku Hakugai Made Sareta Kedo - Chou Nankan Meikyuu de 10 Mannen Shuugyoushita Kekka Volume 4 Chapter 2

Chapter 2

Arc Dewa Api Surtr


Penguasa Akinashi, Oliver, dan Linlin dari Keluarga Tao berkata ingin segera bertemu untuk membicarakan urusan manajemen Akinashi. Karena itu, aku menyambut mereka di rumahku yang berada di Liberty Town.

"Silakan dinikmati!"

Kebetulan ada kue buah spesial yang baru saja dipanggang oleh Ash. Aku pun menyajikannya kepada mereka.

Keduanya mengambil sepotong kue buah dengan garpu sambil terlihat penasaran, lalu memasukkannya ke dalam mulut. Seketika mata mereka berbinar, dan mereka mulai makan dengan sangat lahap.

Setelah selesai makan, mereka bereaksi.

"Kue apa ini!?"

"Kue apa ini sebenarnya!?"

Mereka berdua mencondongkan tubuh ke depan dan bertanya bersahutan. Mereka berdua ini benar-benar mirip satu sama lain.

Aku sudah menduga reaksi Linlin yang lebih menyukai uang daripada makan tiga kali sehari. Namun, aku benar-benar tidak menyangka Oliver juga memiliki bakat bisnis sehebat ini.

Sejujurnya, ini adalah sebuah kejutan yang menyenangkan.

"Ash."

Sebaiknya biarkan orang yang membuatnya sendiri yang menjelaskan.

"Ini adalah kue yang menggunakan buah Papra!"

Beberapa hari yang lalu, para manusia hewan Papra datang untuk menyapa dan meninggalkan banyak buah Papra. Hari ini, Ash membuat kue dari buah tersebut karena diminta oleh Faf dan anak-anak lainnya.

"Buah Papra! Tidak, tapi buah itu saja tidak mungkin bisa menghasilkan rasa sehebat ini!"

"Apakah ada metode memasak khusus! Tolong ajari saya cara memasaknya!"

Oliver menundukkan kepalanya dalam-dalam kepada Ash dengan ekspresi putus asa.

"Aku sih tidak keberatan! Kai juga tidak masalah, kan?"

Ash mengangguk dengan suara riang, sepertinya senang karena diandalkan. Dia lalu menatapku untuk meminta persetujuan.

"Ya, tentu saja boleh."

Saat aku memberikan persetujuan, Oliver bereaksi.

"Bagus! Bagus! Baguuus! Ini pasti bisa dimanfaatkan! Benar kan, Linlin!"

Oliver melompat berdiri dari kursinya dan mengepalkan kedua tangannya erat-erat. Dia berseru dengan suara keras untuk meminta persetujuan Linlin.

"Benar sekali! Dengan rasa seperti ini, orang-orang dari Kerajaan Amelia, tidak, dari seluruh dunia akan berbondong-bondong datang ke Akinashi untuk mencarinya!"

"Jika kita bisa memanfaatkannya dengan baik, Akinashi bisa diubah menjadi tempat wisata besar! Kalau begitu—"

"Bibit industri baru akan lebih mudah tumbuh! Seperti yang kamu bilang, mengandalkan tambang batu bara saja tidak cukup!"

"Pada akhirnya, harga barang kita hanya akan ditekan semurah mungkin oleh pembeli. Seperti katamu, kita perlu mendirikan departemen khusus penempaan, mulai dari produksi hingga pengembangan!"

Dengan wajah memerah karena kegirangan, Oliver berbicara dengan nada yang menggebu-gebu. Dia kemudian berjalan ke hadapanku dan berlutut di lantai.

Linlin juga ikut mengikuti tindakannya.

"Kumohon, pinjamkan kekuatanmu untuk merekrut pandai besi!"

"Tolong perkenalkan pandai besi yang hebat pada kami!"

Mereka berdua menundukkan kepala hingga dahi mereka hampir menyentuh lantai. Mereka lalu mengutarakan permintaan tersebut kepadaku.

Aku kembali mendengarkan situasi mereka berdua. Sepertinya Oliver dan yang lainnya berencana mengubah Akinashi menjadi kota industri besar.

Rencana itu muncul dengan memanfaatkan produksi Rare Metal sebagai titik tolak. Singkatnya, mereka ingin membangun kota logam.

Mereka ingin memproduksi Rare Metal, mengolahnya sendiri, dan menjualnya. Semua itu akan dilakukan secara eksklusif hanya di wilayah Akinashi.

Memang benar, membuat dan menjual senjata atau Item secara mandiri akan memberikan keuntungan yang lebih besar daripada sekadar menjual bahan mentahnya. Selain itu, peluang bisnis di masa depan juga akan semakin luas.

Namun, semua itu hanya bisa terwujud jika Akinashi memiliki banyak pandai besi yang kompeten.

"Mengamankan pandai besi kelas atas, ya. Itu masalah yang cukup sulit."

Sebenarnya, ada spesialis pandai besi di Buku Panduan Penaklukan. Jika aku meminta bantuannya, dia mungkin akan enggan, tapi setidaknya dia bersedia untuk mengajar.

Akan tetapi, orang yang sejak awal tidak tertarik pada bidang ini tidak akan bisa menghasilkan karya yang bagus. Aku mengerti hal itu karena aku juga punya sedikit minat pada pekerjaan pandai besi.

Sama seperti seni bela diri, menempa logam membutuhkan usaha yang pantang menyerah. Daripada bakat, hal ini lebih membutuhkan dedikasi dan kesungguhan hati untuk mempertaruhkan nyawa pada pekerjaan tersebut.

Sayangnya, tidak ada warga Akinashi yang memiliki kriteria tersebut. Di Liberty Town pun, hanya ada satu orang yang tampaknya memiliki tekad seperti itu.

"Apakah itu mustahil?"

"Tidak, meskipun sulit, aku tidak bisa bilang itu mustahil. Lagipula, aku tahu satu orang yang mungkin cocok."

"Be, benarkah!?"

"Benar begitu!?"

Aku menatap mereka berdua yang sedang memandangku dengan mata penuh harap.

"Ya, tapi aku tidak punya bukti pasti. Jangan terlalu banyak berharap, ya."

Aku pun melontarkan kalimat basa-basi tersebut.

Saat ini, aku sedang berkunjung ke sebuah rumah berlantai dua di sudut timur Liberty Town.

"Dodd, apa kamu di dalam?"

Aku membunyikan bel di pintu masuk dan memanggilnya. Tak lama kemudian, terdengar suara kepanikan dari dalam.

"I, ini Yang Mulia yang agung! Hamba sungguh merasa terhormat Anda berkenan mengunjungi gubuk sederhana ini!"

Pintu masuk terbuka dengan kasar, lalu dia berlutut dan menundukkan kepalanya dengan hormat kepadaku. Dia adalah Dwarf bernama Dodd.

Dodd tadinya merupakan salah satu petinggi Erdim. Namun, dia menjadi seperti ini karena tindakan sembrono Girimehkala.

"Ada yang ingin aku diskusikan, tapi... hm? Apa kamu sedang ada tamu? Kalau begitu, aku akan kembali lagi nanti."

Rumah Dodd adalah tipe rumah yang mengharuskan tamunya melepas sepatu saat masuk. Beberapa pasang sepatu pria dan wanita tampak diletakkan di area pintu masuk.

"Ti, tidak sama sekali! Silakan lewat sini!"

"Jangan sungkan. Ini salahku karena datang tanpa membuat janji."

Tepat ketika aku berbalik untuk pergi, dia menghentikanku.

"Kebetulan, ada hal yang ingin hamba sampaikan kepada Yang Mulia!"

Dodd meletakkan tangannya di lantai dan berseru dengan lantang.

Ketika Dodd mengantarku ke ruang tamu, ada dua tamu tak terduga dan seorang gadis yang belum pernah kulihat sebelumnya.

"Kai-sama!"

Tiny tersenyum sambil mencubit ujung rok panjangnya. Dia membungkuk anggun untuk memberikan salam.

"Kai-sama! Terima kasih atas kerja keras Anda!"

Harry menundukkan kepalanya sedikit dengan tubuh kaku layaknya batu.

Entah penjelasan macam apa yang diberikan oleh Tiny padanya. Namun, mantan Raja Kerajaan Amelia itu kini bersikap seperti ini kepadaku.

Sama seperti Rose dan yang lainnya, dia tidak mau mendengarkan meski aku sudah memintanya untuk bersikap biasa saja. Dia terus-menerus bertingkah seperti ini.

Tatapan mata Rose dan Ferris mulai terasa menyakitkan, jadi aku benar-benar ingin dia menghentikan sikap berlebihan ini.

"Y, ya. Kalian berdua juga ada di sini rupanya. Jadi, apa yang ingin kamu bicarakan denganku?"

Untuk menutupi suasana canggung, aku duduk di kursi yang ditawarkan dan mengubah topik pembicaraan.

"Sebenarnya..."

Dodd pun ikut duduk di kursinya. Dia mulai menjelaskan sambil menatap seorang gadis seukuran anak-anak yang duduk di sudut meja.

Gadis itu mengenakan celana pendek dan atasan berkerah tinggi yang ukurannya terlampau pendek.

"Jadi, di masa lalu pernah terjadi konflik politik besar di Dvelb, negara Dwarf. Dan pemimpin dari pihak yang kalah itu adalah kamu, Dodd?"

Ini bukanlah hal yang aneh. Erdim adalah tempat berkumpulnya orang-orang dari berbagai ras yang kehilangan tempat tinggal mereka.

Hal semacam itu tentu saja bisa terjadi.

"K-kenapa kamu bersikap begitu sombong kepada Dodd-sama dan Tiny-sama!?"

Gadis bertubuh pendek dengan rambut cokelat yang diikat separuh dan memakai kacamata pelindung itu bangkit dari kursinya. Dia menunjuk ke arahku dengan jari telunjuk kanan sambil berteriak marah.

"Edda! Berani-beraninya kamu berbicara seperti itu kepada Kai-sama!"

Dodd membentak dengan urat biru tebal yang menonjol di dahinya. Di saat yang sama, Tiny membungkuk meminta maaf kepadaku dengan raut wajah bersalah.

Sementara itu, Harry tampak panik dan kebingungan dengan wajah pucat pasi. Dengar ya, aku memang mudah marah.

Namun, aku tidak akan mempermasalahkan setiap ucapan dan tindakan gadis yang masih sekecil ini.

"Ta, tapi..."

Dibentak dengan amarah yang luar biasa oleh Dodd, seluruh tubuh Edda tersentak kaget. Dia mulai menangis setelah menyadari bahwa Dodd benar-benar murka kepadanya.

Astaga, aku benar-benar tidak pandai menghadapi anak kecil yang menangis.

"Dodd, jangan berteriak pada anak kecil."

Aku menegur Dodd dengan nada tegas.

"Baik! Hamba mohon maaf!"

Dodd berdiri tegak dan memperbaiki postur tubuhnya. Dia lalu menundukkan kepalanya dalam-dalam.

"Uh! Dodd-sama ini sebenarnya kenapa, sih!?"

Edda menghentakkan kakinya dan merengek kesal.

"Lalu, apa yang kamu inginkan dari kami?"

Aku menanyakan inti permasalahan ini padanya. Jika permintaan gadis ini sesuai dugaanku, maka ini ibarat sekali dayung dua tiga pulau terlampaui.

Hal ini mungkin bisa mewujudkan tujuanku datang ke rumah Dodd hari ini dengan sempurna.

"Tolong selamatkan saudara-saudaraku yang dipaksa bekerja di tambang!"

Harapan yang keluar dari mulut Edda benar-benar persis seperti apa yang kuinginkan.

Setelah mendengar penjelasan dari Dodd dan Edda, aku kurang lebih bisa memahami situasinya. Itu benar-benar situasi yang teramat putus asa.

Di masa lalu, Dvelb diperintah oleh Raja Kakak. Dia adalah sosok yang cerdas, gagah berani, dan penuh kasih sayang.

Bisa dibilang, dia adalah gambaran raja yang ideal. Dodd melayani raja tersebut sebagai kepala pandai besi di Kelompok Penempa.

Pada masa itu, seluruh Dvelb sangat makmur, dan semua orang hidup dengan bahagia. Titik baliknya terjadi ketika Raja Kakak meninggal dunia.

Saat sedang melakukan inspeksi ke wilayah perbatasan, dia dengan mudahnya tewas akibat serangan bandit. Takhta kemudian diwariskan kepada Raja Adik.

Berbeda dengan kakaknya, Raja Adik adalah penguasa yang mengutamakan kekuatan militer. Dia licik, kejam, sangat pencuriga, dan sangat serakah.

Namun di sisi lain, dia kuat dan memiliki otak yang sangat cerdas. Segera setelah kematian Raja Kakak, Raja Adik membersihkan seluruh faksi kakaknya dari Dvelb.

Kelompok Penempa yang dipimpin Dodd dan Kelompok Bunsei yang menangani riset dianggap sebagai elemen berbahaya. Mereka yang memiliki hubungan kuat dengan Raja Kakak ditindas secara brutal.

Selain itu, Raja Adik menggandakan pajak dengan dalih memperkaya negara dan memperkuat militer. Kebijakan wajib militernya juga membuat rakyat sangat menderita.

Menghadapi tentangan dari kelompok Dodd, Raja Adik menggunakan taktik yang berbahaya dan setara dengan aksi bunuh diri yang konyol. Dia mengirim Kelompok Penempa dan Kelompok Bunsei ke zona pertempuran sengit agar mereka mati sia-sia.

Meyakini bahwa negara Dvelb akan runtuh jika dibiarkan begini, Dodd dan kawan-kawannya mengibarkan bendera pemberontakan. Namun, tepat pada malam sebelum aksi dimulai, entah kenapa penangkapan massal dilancarkan.

Dalang di balik kebocoran itu adalah orang nomor dua di Kelompok Penempa yang paling dipercayai Dodd. Akibat pengkhianatan bawahan kepercayaannya, Dodd dan pasukannya ditangkap.

Setelah itu, mimpi buruk Dodd menjadi semakin parah. Mereka yang tertangkap melimpahkan semua kesalahan pada Dodd, istri, dan anaknya demi menyelamatkan diri sendiri.

Tragisnya lagi, istri dan anak Dodd tewas dilempari batu oleh rakyat yang berusaha mereka selamatkan. Dalam keputusasaan yang mendalam, Dodd dikawal menuju ibu kota untuk dieksekusi.

Di tengah perjalanan, rombongan mereka diserang oleh monster tingkat bencana yang sangat kuat. Memanfaatkan kekacauan itu, Dodd berhasil melarikan diri dari tempat tersebut.

Dia terus berjalan tanpa henti hari demi hari hingga akhirnya tiba di Erdim. Begitulah kurang lebih jalan ceritanya.

Setelah itu, orang tua Edda dan para anggota Kelompok Penempa serta Bunsei dihukum kerja paksa di tambang batu bara atas tuduhan pemberontakan. Kondisi di sana sangatlah brutal, mereka diperlakukan layaknya budak tambang hingga memakan korban jiwa.

Terlebih lagi, sebuah reruntuhan ditemukan di dekat tambang tersebut. Terdengar rumor bahwa penguasa tambang berniat menjadikan Edda dan yang lainnya sebagai tumbal.

Tumbal itu rencananya akan digunakan untuk mematahkan segel makhluk transenden yang tertidur di sana.

Di tengah situasi terburuk itu, datanglah sebuah titik terang. Titik terang itu dibawa oleh seorang pendatang manusia yang ditangkap karena masuk secara ilegal dan dipaksa bekerja di tambang.

Dia adalah seorang penyair keliling yang membawa kabar luar biasa. Dia memberi tahu mereka bahwa negara kota netral Erdim telah berubah wujud dan kini berada di bawah perlindungan eksistensi agung.

Kota itu telah mengalami perkembangan pesat. Dia juga mengabarkan bahwa Raja Roh Tiny dan Dodd berada di sana.

Setelah berdiskusi, Edda terpilih dan berhasil melarikan diri dari tambang berkat kecerdikan pendatang tersebut. Gadis itu memulai perjalanannya menuju utopia yang diceritakan sang pendatang.

Edda terus berjalan hingga akhirnya dia kehabisan tenaga dan jatuh pingsan. Tiny lalu menemukannya, menyelamatkannya, dan membawanya ke rumah Dodd.

Tepat di saat itulah, aku kebetulan datang mengunjungi tempat ini.

Yah, hal-hal yang terlalu kebetulan seperti ini tidak mungkin terjadi begitu saja. Manusia pendatang itu pasti... tidak, lupakan saja untuk saat ini.

Ada hal lain yang jauh lebih penting.

"Singkatnya, karena sekarang mereka sedang menderita, mereka meminta bantuan kepada orang yang pernah mereka khianati? Itu benar-benar tindakan yang tidak tertolong."

Sepertinya dia tidak diberi tahu kebenaran yang sesungguhnya. Aku melontarkan perasaanku dengan jujur sambil menatap Edda yang menangis tersedu-sedu sembari mencengkeram celananya dengan tangan gemetar.

Namun, jika memang begitu ceritanya, situasinya jadi berbeda. Aku tidak sudi menerima Dwarf-Dwarf pengecut itu sampai harus membengkokkan keinginan Dodd.

Jika Dodd masih menyimpan dendam pada mantan rekan senegaranya... tidak, aku tak perlu memikirkannya lagi. Meski begitu, batasan tetap harus diperjelas.

"Dodd, satu dirimu jauh lebih berharga bagiku daripada Dwarf-Dwarf antah berantah itu. Karena itu, pilihlah."

"Apakah kamu ingin menyelamatkan mereka, atau mengabaikan mereka? Kamu punya hak untuk menentukannya."

Mendengar pertanyaanku, Dodd tersenyum lelah. Dia menatapku dengan wajah serius.

"Yang Mulia, hamba dengan tulus berterima kasih atas kata-kata yang begitu berharga ini. Hamba mohon, tolong selamatkan saudara-saudara hamba."

Dia memberikan jawaban yang persis seperti dugaanku, sangat mencerminkan sifat Dodd.

"Begitu, ya. Aku mengerti."

Saat aku mengangguk pelan...

"Saudara apanya! Mereka sudah mengkhianati Dodd-sama!"

"Tapi mereka tanpa malu menyuruhku untuk meminta bantuan Dodd-sama! Kita tidak perlu menyelamatkan orang-orang tak tahu malu seperti mereka!"

"Orang-orang seperti itu pantas mati!"

Sebuah pendapat tak terduga muncul dari arah yang mengejutkan.

"Edda! Jaga ucapanmu!"

Dodd mencengkeram kedua bahu Edda dan berseru keras dengan wajah tegang.

"Ta, tapi, mereka sudah mengkhianati Dodd-sama! Meskipun begitu—"

"Apa kamu tahu kenapa mereka melakukan itu? Itu semua demi melindungi keluarga kalian!"

"Sekarang aku baru mengerti! Demi melindungi orang yang disayangi, terkadang seseorang bisa berubah menjadi iblis!"

"Lagi pula, Edda, apakah kamu benar-benar tidak peduli jika aku menelantarkan mereka?"

Dodd bertanya dengan lembut layaknya sedang menasihati, mengonfirmasi sesuatu yang sudah jelas jawabannya. Edda menutup mulutnya rapat-rapat dan mulai menangis tersedu-sedu.

"Jawabannya sudah jelas. Kalau begitu, aku akan segera menyiapkan kereta kuda."

"Bersiaplah. Kita akan berangkat begitu semuanya beres."

Setelah menyampaikan hal itu secara sepihak, aku berjalan keluar dari ruangan Dodd.

◇◆◇

Tempat ini adalah reruntuhan di dekat tambang batu bara di selatan Dvelb. Di sebuah tempat yang menyerupai kuil bobrok, terdapat dua orang pria.

Salah satu dari mereka memiliki tubuh seperti tong, mengenakan jubah hitam, topi kerucut, berkumis tipis, dan berkepala plontos. Pria satunya lagi berhidung mancung, berkumis melengkung, dan berpakaian mewah dengan tatapan mata yang licik.

"Hei, Penyihir, apa benar kita bisa mengendalikan dewa iblis yang tertidur di sini? Aku tidak masalah membuka segelnya, tapi aku tidak mau dia mengamuk dan membakar seluruh wilayah ini, ya."

Pria berkumis lengkung itu menyipitkan salah satu matanya. Dia memperingatkan pria berjubah hitam dengan kumis tipis tersebut dengan nada angkuh.

"Tuan Penguasa, Anda tidak perlu khawatir tentang itu! Saya memiliki rencana jitu untuk mengendalikan dewa iblis!"

Penyihir berjubah hitam itu sama sekali tidak gentar menghadapi tekanan dari sang penguasa. Sebaliknya, dia menjawab dengan suara yang bersemangat.

"Baguslah kalau begitu."

Melihat sikap penuh percaya diri itu, sang penguasa mengangguk puas.

"Kalau begitu, Tuan Penguasa, untuk membuka segel di tempat ini, kita membutuhkan banyak tumbal. Bagaimana dengan persiapannya?"

"Ada banyak sekali sampah sekali pakai yang bisa dijadikan tumbal. Soal itu tidak ada masalah."

(Sampah, ya... sungguh konyol...)

Sudut bibir penyihir yang bergumam sambil menunduk itu tertarik hingga ke telinga. Matanya terbuka lebar, bulat sempurna seperti lubang menganga.

Penampilannya benar-benar berubah menjadi wujud iblis yang seolah tidak berasal dari dunia ini. Sang penguasa lalu menanggapi penyihir tersebut.

"Hm? Kamu mengatakan sesuatu?"

Sang penguasa bertanya sambil mengerutkan kening.

Penyihir berjubah hitam itu mengangkat wajahnya yang kini telah kembali tersenyum ramah.

"Saya baru saja memuji Tuan Penguasa karena berhasil mengumpulkan begitu banyak tumbal."

Dia melontarkan kata-kata yang tidak menyinggung sama sekali.

"Benar! Tentu saja begitu! Bagaimana pun juga, ini adalah dewa iblis legendaris yang pernah mengubah dunia menjadi lautan api!"

"Jika aku bisa menjinakkan dewa iblis api itu, aku akan mendapatkan kekuatan yang melampaui raja yang menyebalkan itu!"

"Aku akan berbaris ke ibu kota, merebut takhta dari raja, dan Dvelb ini juga akan menjadi milikku!"

Penguasa itu menengadah ke langit dan tubuhnya gemetar membayangkan masa depan cerah yang belum terwujud.

(Benar-benar serangga yang konyol dan bodoh...)

Penyihir itu bergumam pelan. Dia lalu berbalik dan berjalan menjauh dari sang penguasa yang masih gemetar karena kegirangan.

Ketika penyihir berjubah hitam itu memasuki hutan, seorang pria bermata satu yang mengenakan setelan putih tampak bersandar di sebuah pohon besar dengan kedua tangan bersilang.

"Bagaimana hasilnya?"

Penyihir itu bertanya dengan senyuman yang masih tersungging di bibirnya. Pria bermata satu berjas putih itu membungkuk sedikit dan menjawab.

"Gadis itu telah dikirim ke hadapan Kai-sama. Selanjutnya, Kai-sama akan menuntun semuanya ke jalan yang benar."

Pria itu melontarkan kalimat yang penuh dengan makna mendalam.

"Bagus, bagus, sangat bagus! Beliau bagaikan matahari yang menyinari kita yang hina ini di bumi."

"Terkadang beliau menjadi panas terik yang membakar segalanya, dan terkadang menjadi cahaya hangat yang memelihara tunas-tunas baru! Ke mana arahnya berlabuh, semuanya bergantung pada pilihan makhluk-makhluk hina itu!"

Penyihir itu berseru dengan pose yang aneh.

"Yah, ini soal Kai-sama. Pada akhirnya, masa depan yang dipenuhi senyumanlah yang akan menanti kita."

Pria bermata satu bersetel putih itu mengangkat sudut bibirnya dan menegaskan hal tersebut dengan penuh keyakinan. Setelah itu, dia menghilang seperti asap.

"Nah, nah, naaaaah! Mari kita buka tirai panggung untuk dewa kita dan oleh dewa kita!"

Penyihir itu mengangkat kedua telapak tangannya ke atas dan berteriak. Sekelompok orang berjubah putih bersih yang seluruh tubuhnya ditutupi perban putih muncul satu demi satu.

—Dengan demikian, tirai Insiden Dewa Api Surtr di Dvelb perlahan-lahan mulai terbuka.

◇◆◇

Dvelb adalah salah satu negara berkembang yang terletak di perbatasan antara Kerajaan Amelia dan negara besar di timur, Butou.

Jarak Dvelb dari wilayah East End yang berada di dalam Kerajaan Amelia bisa dibilang cukup dekat. Meski begitu, itu bukanlah jarak yang bisa ditempuh dengan berjalan kaki oleh seorang gadis sendirian.

Buktinya, kami menghabiskan waktu tiga hari penuh menggunakan kereta kuda. Ini sesuai dengan dugaanku—.

"Kenapa perjalanan ke Dvelb memakan waktu selama ini!?"

Di dalam kereta kuda, Edda bertanya tanpa sedikit pun menyembunyikan rasa curiganya.

"Edda! Kamu mau tidak sopan lagi pada Yang Mulia—"

Aku menghentikan Dodd yang berniat menegurnya dengan ekspresi marah menggunakan tangan kananku.

"Sejujurnya, aku justru bingung bagaimana kamu bisa berjalan kaki sampai ke tempat kami. Benar begitu, Dodd?"

Tentu saja, aku menunjukkan poin masalah yang terlihat janggal.

"Begitulah. Dari tambang di Dvelb tempat semua orang ditawan sampai ke mari, butuh setidaknya tiga hari dengan kereta kuda, atau sepuluh hari jika berjalan kaki."

"Tidak mungkin Edda bisa sampai di tempat kita hanya dengan berjalan kaki semalaman."

Dodd menggumam kosong sembari memegang jenggot di dagunya. Dia pasti punya kecurigaan soal dalang yang sengaja memicu fenomena konyol ini.

Tidak ada kegelisahan berarti yang terlihat dari ekspresi Dodd.

"Kalau begitu, sepertinya urusan kita setelah ini akan sangat merepotkan."

Jika mereka ikut campur, masalah ini tidak akan berakhir sebagai keributan penyelamatan biasa. Terlebih lagi, mereka punya kebiasaan menganggapku sebagai orang yang gila bertarung.

Sangat mudah membayangkan mereka akan melemparkan sesuatu yang luar biasa konyol. Semua itu semata-mata demi memberikan hiburan untuk memuaskanku.

"Ya. Hamba sudah siap mental menghadapinya."

Dodd mengangguk dengan ekspresi sangat serius, seolah dia sedang bersiap menghadapi takdirnya.

"Ugh! Cuma Dodd-sama dan yang lain saja yang paham!"

Edda kembali menghentakkan kakinya ke lantai.

"Kita akan segera tiba di tujuan. Dari sana, kita akan berjalan kaki sekitar setengah hari untuk mencapai tambang tempat rekan-rekanmu ditawan."

Aku mengatakan hal tersebut secara sepihak. Aku lalu mulai merapikan barang-barang bawaan yang telah kugunakan selama tiga hari hidup di dalam kereta kuda.

Setelah berjalan melintasi hutan selama beberapa jam, kabut hitam pekat mulai menyelimuti sekeliling kami.

"Ah, sudah kuduga..."

Situasi ini berjalan sesuai dugaanku.

"Sepertinya begitu. Jika demikian, bagaimana selanjutnya?"

"Itu artinya tempat ini sudah menjadi bagian dari kotak mainan mereka."

Sebelumnya, aku terpaksa menyetujui keterlibatan Girimehkala di Akinashi karena dia terus-menerus memintanya dengan gigih. Aku memang merasa ide-idenya agak terlalu asing untuk ukuran dunia ini.

Oliver dan Linlin pastilah menerima semacam saran dari Girimehkala. Hal itulah yang menuntun mereka pada ide tentang kota industri logam Akinashi.

"Penguasa tambang yang bernama Suge itu adalah bajingan kejam dan licik yang tidak bisa diselamatkan. Tapi untuk pertama kalinya, hamba merasa benar-benar bersimpati padanya."

Dodd mengangguk dengan ekspresi yang tampak muak.

"Sekalipun Girimehkala dan kelompoknya yang mengatur semua ini, yang menentukan pilihan tetaplah mereka, bukan kita."

"Aku tidak butuh orang bodoh. Aku sama sekali tidak berniat memberikan keringanan, paham?"

Aku menegaskan hal itu dengan nada yang bisa dibilang tanpa belas kasihan.

Sekalipun ini hanyalah lelucon konyol yang sudah diatur, para aktor yang bermain di panggung ini adalah para Dwarf dari mantan Kelompok Penempa dan Kelompok Bunsei.

Jika mereka tidak bisa memberikan jawaban yang memuaskanku, maka biarkan saja mereka hancur begitu saja.

"Tentu saja! Jika mereka hanyalah sampah yang membuat Yang Mulia yang agung ini kecewa dengan pilihan mereka, hamba pun akan menolak untuk berurusan dengan mereka!"

"Jika saat itu tiba, hamba sendiri yang akan mengakhiri penderitaan mereka!"

Mendengar ucapan Dodd yang dipenuhi tekad, aku mengira Edda akan menunjukkan sikap protes yang keras. Namun, dia hanya menunduk sambil menggertakkan giginya tanpa menyuarakan bantahan sedikit pun.

Setelah berjalan sekitar dua jam, pepohonan tinggi mulai menghilang. Kami tiba di sebuah jalan setapak di tepi jurang yang sekiranya masih bisa dilewati oleh kereta kuda.

Menurut Dodd, jalan tebing ini adalah rute yang wajib dilewati untuk mencapai tambang tujuan kami. Tentu saja, hal ini justru sangat menguntungkan bagi kami.

"H-hei, Kai. Apa tidak apa-apa kita berjalan terang-terangan begini?"

Edda bertanya dengan nada ragu-ragu kepadaku.

"Tidak ada tempat untuk bersembunyi di area seterbuka ini."

Aku memberikan jawaban yang sangat logis padanya.

"Tapi, bagaimana jika kita diincar dengan busur panah dari sini..."

Edda mengutarakan pendapat yang masuk akal dengan ekspresi panik. Tiba-tiba, Dodd meletakkan tangan kanannya di atas bahu kanan gadis itu.

"Perhatikan baik-baik. Kamu pasti akan mengerti sedikit tentang apa yang ingin aku sampaikan."

Dodd menasihatinya dengan nada yang tegas.

Setelah berjalan sedikit lebih jauh, sebuah gerbang dan semacam menara pengawas terlihat di ujung jalan tebing. Bangunan itu pastilah pos penjagaan.

"G-gawat!"

Tepat saat suara isak tangis Edda terdengar, puluhan anak panah ditembakkan ke arah kami. Aku melangkah maju, menghunuskan pedang Raikiri di pinggangku, dan menangkis seluruh anak panah tersebut.

Anak-anak panah itu berbalik arah seolah waktu telah diputar mundur, lalu menancap pada para Dwarf yang menembakkannya. Jeritan dan teriakan ketakutan pun pecah seketika.

Di tengah situasi yang seperti neraka dunia tersebut, aku berjalan perlahan mendekati mereka.

"Penyusup itu menggunakan jurus serangan balik yang aneh! Biar aku yang mengurusnya!"

Gerbang terbuka, lalu seorang pria raksasa berambut merah gaya mohawk muncul sambil menggenggam kapak raksasa di tangan kanannya. Dilihat dari proporsi tubuhnya yang berlengan panjang dan berkaki pendek khas Dwarf, dia mungkin juga dari ras tersebut.

"D-Dorzarm!"

Edda menjerit kaget melihat pria itu.

"Oh. Apa orang ini terkenal?"

Aku balik bertanya kepadanya dengan jujur. Pria itu tidak terlihat kuat sama sekali.

Tapi sayang sekali, aku tidak terlalu paham standar kekuatan untuk setiap ras.

"Ya, Iblis Kapak Dorzarm adalah salah satu tentara bayaran paling terkenal di Dvelb!"

"Aku rasa pos penjagaan ini dijaga oleh pasukan bayaran yang dipimpin olehnya!"

Iblis Kapak, ya. Julukannya terdengar sangat hebat, tapi bagaimana dengan kekuatan aslinya—.

"Tubuhmu terlihat kurus seperti tauge. Kapakku ini pasti bisa menghancurkanmu menjadi kepingan hanya dengan satu serangan."

Dia mengusap jenggot panjangnya dengan tangan kiri. Dia menatapku tajam sambil melontarkan komentar meremehkan itu.

"Hmm, kau menganggapku lemah? Jika kau benar-benar berpikir begitu, pertarungan ini mungkin akan cukup menyenangkan."

Saat aku mengeratkan kembali genggaman keduatanganku pada gagang Raikiri, urat biru tebal menonjol di dahi Dorzarm.

"Orang kurus kerempeng sepertimu merasa bisa menikmati pertarungan denganku, hah!?"

Teriakannya bergema di seluruh area tersebut. Di saat Edda gemetar ketakutan dengan wajah pucat pasi, aku pun membalas.

"Ya, aku sudah sangat lama tidak bertarung melawan musuh yang layak. Aku mulai merasa bosan."

Kalimat yang mengalir begitu saja dari mulutku terasa sangat agresif, bahkan terasa tidak seperti ucapanku sendiri.

"...Sialan!"

Pola pikir ini lagi... Tidak ada keuntungan bagiku berada dalam pertarungan mempertaruhkan nyawa.

Aku seharusnya tidak punya pola pikir pecandu pertarungan yang tak tertolong seperti itu.

Ketika sedikit kebisingan mulai mengacaukan pikiranku, urat biru menonjol layaknya bekas cambukan di dahi Dorzarm. Dia mengayunkan kapaknya beberapa kali, lalu mengarahkannya kepadaku.

"Sudah kaum manusia itu lemah, lalu kau ini cuma kroco murahan! Berani-beraninya kau bicara sombong begitu!"

Dia mengaum dengan suara buas layaknya seekor binatang liar. Namun, melihat cara memegang kapaknya yang sangat amatir...

—Sepertinya kali ini pun akan berakhir dengan pola yang sama, ya.

Hembusan napas penuh kepasrahan meluncur keluar dari mulutku. Tentu saja begitu.

Kesenjangan kekuatan di dunia ini sangatlah ekstrem. Terlebih lagi, jumlah orang yang benar-benar kuat sepertinya sangat terbatas.

Tidak mungkin ada orang yang benar-benar kuat di antara tentara bayaran yang disewa oleh penguasa yang berlagak menjadi sipir untuk menindas sesamanya ini. Paling banter, dia cuma bocah tengil yang hanya besar mulut.

"..."

"Apa sekarang kau tak bisa bicara saking takutnya?! Tapi... sudah terlambat untuk menyesal! Haruskah ku... hancurkan kau sampai berkeping-keping lalu kujadikan pakan ternak?"

Saat Dorzam menggonggong penuh semangat, sebuah retakan lurus muncul dari puncak kepalanya turun ke tengah tubuhnya.

"U-Ukh, tubuhku mau runtuh?!"

Dorzam membuang kapaknya dan mati-matian berusaha menahan tubuhnya yang terbelah dua dengan kedua tangannya. Namun sedetik kemudian, celah demi celah lain bermunculan di sekujur tubuhnya.

Aku mulai berjalan pelan.

"Bocah, kau terlalu tidak tahu apa-apa tentang dunia ini."

Aku melontarkan vonis itu saat berpapasan dengannya.

"Giyaaaaaarrgghhh—!"

Dorzam hancur lebur diiringi jeritan kematiannya.

"Bos... kalah?"

Di tengah kesunyian yang menyelimuti, seorang Dwarf menggumamkan kalimat itu. Kemudian salah seorang Dwarf berteriak.

"M-Monster!"

Berawal dari kalimat yang entah sudah berapa kali kudengar itu, medan perang berubah menjadi sangat kacau. Aku berdecak kesal lalu menyarungkan Raikiri kembali.

"Kalian mencoba membunuh kami tanpa pandang bulu. Karena itulah, aku juga akan memastikan kalian semua mati."

Setelah melontarkan kata-kata pengantar kematian tersebut, tangan kananku menyentuh gagang Raikiri yang tersarung. Detik berikutnya.

"Shinkai-Ryu Kenjutsu Itto-RyuForm 1, Deadline."

Sayatan tak terhitung jumlahnya menebas seluruh pos pemeriksaan. Semuanya terpotong menjadi kepingan-kepingan kecil, termasuk para Dwarf bayaran yang menjaganya.

"..."

Tubuh Edda pucat pasi bagai lilin. Mulutnya membuka tutup, namun dia memutar wajahnya ke arahku dengan gerakan kaku bak boneka timah.

Begitu tatapan kami bertemu, dia langsung gemetar hebat sembari mengucurkan air mata dan ingus.

"Kau sudah saaaangat paham dengan perkataanku, kan? Di dunia ini tidak ada satu pun yang bisa mengalahkan Yang Mulia."

Edda menganggukkan kepalanya berulang kali menanggapi teguran Dodd.

"Nah, mari kita mulai bagian utamanya. Pakai ini."

Aku menyerahkan cincin dengan bentuk unik kepada Dodd dan Edda yang gemetar layaknya anak anjing.

"Itu adalah cincin yang bisa memanipulasi penampilan. Gunakan ini untuk menguji apakah mereka pantas menjadi saudara kita."

Aku melontarkan deklarasi kejam tersebut kepada mereka dengan nada yang tidak menerima penolakan.

◇◆◇

Ini adalah tambang batu bara di Dverv.

Sebuah fasilitas kerja paksa untuk menahan para Dwarf yang dianggap berpihak pada Dodd—sang dalang pemberontakan dalam insiden perang saudara sebelumnya.

Di bagian terdalam gua tersebut, di dalam sebuah ruangan batu alami yang sempit dan dingin, tampak beberapa Dwarf berkumpul.

"Wordle, ada anak yang mati lagi... Kali ini dari keluarga Lassaem..."

Seorang Dwarf berwajah kurus dan berkacamata melapor dengan suara lirih yang hampir menghilang.

Di tengah isak tangis yang terdengar dari sana-sini, terdengar suara parau.

"Begitu, ya... Kita para orang dewasa yang berdosa ini memang tak bisa berbuat apa-apa. Tapi, sungguh pedih rasanya melihat anak-anak tak berdosa itu harus mati..."

Wordle, seorang Dwarf brewokan dengan tubuh paling besar dan tato bergambar buku serta lambang bintang di lehernya, memaksakan suaranya yang gemetar keluar dari tenggorokannya.

"Sebenarnya, mengkhianati Kepala Pandai Besi Dodd adalah sebuah kesalahan mutlak sejak awal!"

Seorang Dwarf yang relatif lebih muda dari mereka yang hadir berdiri dengan penuh semangat. Mereka semua mengutuk dosa yang terpendam di lubuk hati masing-masing.

"Ini bukan perkara yang sesederhana itu. Waktu itu keluarga kita dijadikan sandera oleh faksi Raja yang sekarang. Kalau kita berpihak pada Dodd, keluarga kita pasti sudah dibantai habis."

Seorang Dwarf lanjut usia berbicara kepada si Dwarf muda sembari mengelus janggutnya yang putih bersih.

"Tentu tidak, menjadikan istri dan anak sebagai sandera memang terdengar masuk akal. Namun sehebat apa pun kita menutupinya, kita tetap saja lebih menyayangi diri sendiri. Saat itu, pilihan kita memang salah..."

Merespons gumaman Wordle yang terdengar agak pilu itu, seseorang berteriak.

"Wordle, jangan ungkit hal itu lagi! Bos malah kehilangan istri dan anaknya karena perbuatan kita!"

Seorang Dwarf berotot kekar melontarkan teriakan marah.

"Kau juga setuju demi mementingkan keselamatanmu sendiri, kan!"

"Makanya kubilang aku tidak mau dengar penyesalan macam itu di situasi seperti sekarang ini!"

Satu per satu Dwarf mulai saling beradu mulut. Di tengah perdebatan itu, seseorang angkat bicara.

"Bagaimana nasib Edda? Kita cuma bisa mengandalkan anak itu sekarang!"

Seorang Dwarf memojokkan pemuda berambut hitam—manusia pendatang baru yang merencanakan rencana kali ini.

"Mana kutahu. Tapi, kalau gadis bernama Edda itu bergerak sesuai instruksiku, dia pasti sudah sampai di tempat tujuan dengan selamat."

Pria ini adalah Zig, seorang manusia yang baru saja ditahan di sini. Jika berhadapan dengan raja kejam itu, manusia biasanya hanya akan punya satu pilihan, yakni dieksekusi.

Namun nyatanya dia dibiarkan hidup seperti ini. Alasannya mungkin karena Zig adalah mata-mata dari kekaisaran besar umat manusia, Kekaisaran Gritnil.

Dia mungkin dianggap masih berguna untuk negosiasi atau sejenisnya, sehingga dia disuruh kerja paksa di tempat ini sebagai bentuk koreksi pemikiran.

"Jadi kita cuma bisa menunggu, ya..."

"Santai sekali kau ini!"

Sebagai respons atas ucapan Dwarf kekar yang melontarkan sarkasme tersebut, seseorang menimpali.

"Sebelum itu, bahkan kalau dia berhasil sampai dengan selamat, apa Kepala Pandai Besi Dodd bersedia memaafkan pengkhianatan kita?"

Seorang Dwarf lanjut usia menyuarakan inti permasalahannya.

"Kalau Dodd tidak memaafkan kita, maka kita akan mati. Begitu saja."

"Jangan bercanda! Seenaknya saja bicara sok bijak begitu! Kalian para pengkhianat sih tidak apa-apa! Tapi, bagaimana dengan mereka yang tak tahu apa-apa—bagaimana dengan anak-anak! Mereka mati tanpa tahu dosa apa yang telah kita perbuat!"

Saat Dwarf muda itu berdiri dan melontarkan caci maki, Wordle menutup kedua matanya dengan wajah memelas.

"Ya, kau benar. Semua ini adalah kesalahan kita."

Dia dengan tenang mengakui dosa-dosanya.

"Sudah kubilang, jangan bicara hal sok suci seperti itu—"

Di saat Dwarf muda itu mulai meninggikan suaranya, seorang Dwarf lain berguling masuk ke dalam ruangan.

"G-Gawat! Tuan tanah sialan itu datang, dia berteriak meminta agar anak-anak diserahkan! Pokoknya cepat ikut aku!"

Sambil menunjuk ke arah pintu masuk tambang batu bara, ia berteriak histeris.

Saat Wordle dan kawan-kawannya bergegas menuju pintu masuk tambang batu bara, pasukan Tuan Tanah sudah mengepung para Dwarf yang ditahan sembari menodongkan senjata.

Di hadapan mereka, seorang pria jangkung berambut panjang dengan pupil mata yang sangat kecil menjulurkan lidahnya yang panjang, menampakkan senyum jahat yang teramat keji. Pria ini adalah Racne, seorang penyihir manusia yang baru saja disewa oleh tuan tanah.

Akhir-akhir ini, Tuan Tanah Suge mempekerjakan banyak penyihir dan ahli pedang dari umat manusia yang tangguh seperti dirinya.

"Tuan Racne, a-apa maksudnya semua ini?"

"Ini untuk ritual. Selamat! Anak-anak kalian terpilih sebagai tumbal kebangkitan Surtr, Dewa Iblis Api legendaris yang tertidur di tanah ini!"

"Hah? Dewa Iblis Api Surtr?"

Wordle tanpa sadar mengeluarkan suara melengking menanggapi omong kosong yang kelewat bodoh itu.

Tentu saja dia bereaksi begitu. Jika berbicara tentang Dewa Iblis Api Surtr, dia adalah perwujudan api yang mengamuk di zaman kuno.

Konon, dia adalah Dewa Iblis legendaris yang mengubah dunia menjadi lautan api dan membumihanguskan peradaban kuno hingga ke akar-akarnya.

Dia adalah karakter dari cerita dongeng yang konon telah dihancurkan oleh Dewa Perang Suci Ares. Tidak mungkin mereka bisa mempercayai hal semacam itu disegel di tempat terpencil ini.

"Benar sekali. Kalian bisa membantu membangkitkan Dewa Iblis itu. Kalian sungguh sangat beruntung!"

Racne melontarkan kata-kata yang sama sekali tidak ada untungnya bagi mereka itu.

"Kembalikan anakku!"

"Benar! Kembalikan!"

"Dasar tidak punya hati!"

Para ibu Dwarf memaki dan membentak Racne dengan penuh kemarahan.

"T-Tidak mungkin!"

"Di mana anak-anak itu?!"

Aku menyadari suaraku bergetar tanpa sadar.

Tentu saja, Orang-orang bodoh tak tahu malu ini malah menggunakan anak-anak tak berdosa sebagai eksperimen kebangkitan Dewa Iblis yang bahkan keberadaannya masih dipertanyakan.

"Ehh, apa-apaan ini? Berani-beraninya hama rendahan sekelas kalian bicara begitu pada diriku ini? Terlebih lagi—"

Sosok Racne menghilang dan tahu-tahu sudah berada di depan mata Wordle. Sesaat kemudian, lutut Racne bersarang di ulu hati Wordle. Wordle berjongkok, tak mampu bernapas sesaat.

Racne menjambak rambutnya lalu berbisik di telinganya.

"Apa kau pikir kau berhak menyalahkanku? Kudengar demi keselamatanmu sendiri, kau rela menjual sahabatmu ke musuh dan akhirnya ditahan di tempat ini, kan?"

Dia berbicara seolah-olah hal itu sangat menyenangkan.

"Begitulah... seperti katamu..."

Benar. Kami, Wordle dan kawan-kawan, ah tidak, sebaiknya hentikan saja kebohongan ini. Wordle memiliki niat yang jelas saat menjual sahabatnya Dodd kepada raja sampah itu di masa lalu.

Tentu saja, alasannya adalah untuk menyelamatkan istri dan anak Wordle dan yang lainnya yang ditawan. Dodd pasti akan mengerti. Dia terus menjejalkan delusi egois itu pada dirinya sendiri selama delapan tahun terakhir.

Namun, Wordle sudah lama menyadari hal ini. Delusi semacam itu hanyalah ilusi belaka. Dodd tidak akan memaafkan Wordle. Sejak pengkhianatan menjijikkan Wordle menyebabkan Dodd kehilangan istri dan anaknya, tidak mungkin ia akan memaafkannya.

"Seandainya saat itu..."

Ah, benar juga. Seandainya saja saat itu kami tidak menyerah dan terus melawan, mungkin situasinya tidak akan seperti ini. Ini memang cuma sekadar pengandaian, tetapi kemungkinan itu pasti ada.

"Dulu aku telah salah mengambil keputusan. Karena aku sudah mengkhianati sahabatku sendiri, hanya masa depan terburuklah yang menantiku."

Hanya neraka yang menanti Wordle setelah ia melepaskan masa depan ideal dengan tangannya sendiri. Karena itulah—.

"Wordle, dalam situasi seperti ini kau masih memikirkan hal itu—"

"Walau begitu—aku masih belum menjual jiwaku pada iblis!"

Seakan menepis suara teguran sang Dwarf muda, Wordle mengerahkan seluruh tenaganya untuk berteriak. Ia mengepalkan tangan kanannya kuat-kuat, lalu mendaratkan pukulan telak ke wajah Racne yang posisinya sangat pas itu.

"Hah?"

Racne yang dipukul terhuyung mundur beberapa langkah. Dengan ekspresi terperangah, dia mengusap hidungnya beberapa kali. Tiba-tiba wajahnya memerah karena marah.

"P-Patah hidungku patah! Brengsek kau! Beraninya kroco sepertimu!"

Dengan ekspresi bak iblis, Racne menendang Wordle hingga melayang dan membentur dinding berbatu tambang dengan keras. Sambil menahan rasa sakit seakan tubuhnya mau remuk, Wordle berdiri, meraih palu penghancur batu di dekatnya dan memanggulnya di bahu. Lalu—.

"Semuanya! Jika kita harus mengorbankan anak-anak kita, maka tak ada lagi yang tersisa untuk dilindungi! Kita tak perlu bersabar lagi! Mari kita balas perbuatan orang-orang tak tahu malu ini!"

Setelah seruan Wordle itu, keheningan menyelimuti sejenak, lalu disusul oleh raungan yang menggelegar bak binatang buas.

Satu per satu, para Dwarf yang ditahan mengambil beliung maupun palu lalu berhadapan dengan pasukan Tuan Tanah.

"Hei, orang-orang ini berani melukaiku! Kalian semua, bunuh mereka!"

Racne yang masih memegangi hidungnya yang berdarah itu memerintahkan para Dwarf dari pasukan Tuan Tanah, tetapi mereka hanya diam tak bergeming sambil menodongkan senjata dengan ekspresi muram.

"Hah, padahal sudah sejauh ini, kalian masih mau main kawan-kawanan, ya. Kalau kuberitahu Tuan Tanah, apa kalian yakin tidak akan menyesal?"

Ancaman Racne itu menjadi penentu segalanya.

"Aku sudah muak dengan ini!"

Salah satu Dwarf dari pasukan Tuan Tanah membanting Battle Axe miliknya ke tanah.

"Benar sekali. Kalau monster bernama Surtr itu berhasil dilepaskan segelnya dan tak terkendali, area ini akan menjadi lautan api. Keluarga kita pun takkan selamat."

Seakan setuju dengan ucapan itu, Komandan pasukan Tuan Tanah pun membuang senjatanya. Menjadikan hal itu sebagai pemicu,

"Ya, sejak awal aku memang sudah muak melakukan perlakuan semacam ini pada saudara kita sendiri!"

"Benar! Aku tak tahan lagi dengan cara Tuan Tanah Suge akhir-akhir ini!"

Secara beruntun, Dwarf lain dari pasukan Tuan Tanah juga mulai membuang Battle Axe dan palu mereka satu per satu.

"Apa kalian berniat membelot?"

Racne memastikan hal itu dengan suara yang mengerikan.

"Kami sudah muak. Sejak awal, kami mengabdi pada Raja sebelumnya. Kami adalah tentara. Jika Raja berganti, kami akan mematuhinya, tetapi kesabaran pun ada batasnya."

Racne menatap tajam sang Komandan pasukan yang meludah dengan tatapan sinis selama beberapa saat, lalu berkata.

"Yah, mau bagaimana lagi. Kalau begitu, terpaksa kugunakan kekerasan."

Racne membuat gestur seperti mencengkeram dadanya dengan kuat menggunakan tangan kanan. Sesaat kemudian, permukaan tubuh Racne menggelembung dan membentuk sebuah makhluk raksasa.

Makhluk itu adalah laba-laba raksasa setinggi delapan mel dengan kepala Racne. Di tengah kebingungan semua orang,

"Bagaimana? Kalau sudah begini, kekuatanku jadi super luarrrr biasaaaa, lho!"

Benang putih bersih meluncur dengan kecepatan tinggi dari mulut Racne, menelan dua orang Dwarf pasukan Tuan Tanah yang berada di dekatnya lalu membungkus mereka berbentuk bola.

"Akan kulelehkan kalian di dalam kepompong itu, lalu nanti akan kuhisap darah kalian sampai habiiiss~ Nah sekarang,"

Racne yang telah berubah wujud menjadi laba-laba raksasa itu melihat sekeliling sembari mencari mangsa berikutnya dengan suara riang.

Perasaan Wordle saat ini benar-benar ibarat katak yang diincar ular. Oleh karena itu—.

"Hiek!"

Ketakutan mendasar meluncur keluar dari mulutnya, tetapi...

"Kalau begini terus, jadinya sama saja dengan waktu itu!"

Ia menggelengkan kepala lalu menyemangati dirinya sendiri. Ia sudah kenyang merasakan akhir menyedihkan akibat tunduk dan menyerahkan diri pada kekuatan besar.

"Ambil senjata kalian! Ini adalah pertarungan untuk merebut kembali harga diri kita! Kita tidak perlu takut pada apa pun. Lawannya cuma sekadar monster biasa! Bukankah begitu?!"

Saat Wordle bertanya dengan suara lantang kepada semuanya,

"Benar sekali! Aku merasa menyedihkan saat memikirkan kalau selama ini kita patuh pada monster!"

Komandan pasukan Tuan Tanah membuang senjatanya, merendahkan postur tubuh, lalu menyiapkan senjatanya.

"Ya, aku juga sudah muak hidup penuh ketakutan!"

Seorang Dwarf berotot kekar mengayunkan beliung raksasanya.

"Berani-beraninya Demi-Human rendahan seperti kalian menyebutku monster! Kalian semua pantas mati!"

Suara Racne bergetar karena marah, dan benang tak terhitung jumlahnya meluncur dari mulutnya ke arah Wordle dan kawan-kawannya.

Saat benang itu hampir mengenai wajah Wordle, semuanya hancur menjadi debu kecil-kecil.

"Apa?!"

Saat Racne menjerit kaget, dua kepompong yang melilit Dwarf pasukan Tuan Tanah meledak, lalu menampakkan dua pria dari dalamnya.

Salah satunya adalah seorang pemuda berambut abu-abu. Namun ketika Wordle melihat pria yang satunya lagi,

"Dodd?!"

Wordle menjerit kaget. Wajar saja. Dwarf berambut merah itu adalah sahabat karib yang dulunya dikhianati oleh Wordle.

◇◆◇

Setelah melewati pos pemeriksaan, kami segera tiba di kota pertambangan. Kami melumpuhkan tiga Dwarf yang berjaga di sana, lalu menggunakan cincin efek manipulasi penampilan untuk menyamar menjadi para prajurit tersebut.

Kemudian saat kami memasuki tambang, seorang Dwarf sok berkuasa dengan kumis melingkar baru saja akan membawa pergi anak-anak Dwarf.

Meskipun para ibu Dwarf mati-matian melawan, lawannya adalah tentara. Tujuh anak pun dibawa pergi. Tentu saja, aku tidak bisa membiarkan anak-anak berada dalam bahaya, jadi aku berencana segera menolong mereka.

Namun, saat aku melihat sudut mulut anak-anak yang dibawa pergi sobek hingga ke telinga, aku menyadari segalanya dan memutuskan untuk memantau situasi terlebih dahulu.

Tuan tanah menyerahkan pengelolaan tambang batu bara ini kepada pria manusia bernama Racne lalu pergi menghilang. Tidak lama kemudian, Dwarf dewasa pun bergegas datang.

Melihat alur pembicaraan mereka, sepertinya tuan tanah itu berencana melepaskan segel monster bernama Dewa Iblis Surtr lalu mengendalikannya.

Meskipun aku belum pernah mendengar nama Dewa Iblis Surtr, jika panggung ini disiapkan oleh Girimehkala, dia pasti sudah menyiapkan lawan yang sepadan.

Yah, berdasarkan kecenderungan sampai sekarang, mungkin dia mengira lawannya kuat, tapi nyatanya lemah.

Alur setelahnya agak meleset dari dugaanku. Mereka mempertaruhkan nyawa untuk melindungi anak-anak itu.

Khususnya, saat Dwarf berwajah brewok dengan tato buku dan bintang di lehernya yang dipanggil Wordle memukul pria manusia bernama Racne untuk menunjukkan tekadnya. Para Dwarf bawahan tuan tanah pun ikut memberontak dan mencampakkan Racne.

Karena hal itu, Racne marah dan berubah menjadi monster mirip laba-laba.

Ho. Berbeda dari monster murni, makhluk itu masih memancarkan bau manusia. Jadi, itu bukan monster melainkan manusia yang berubah bentuk?

Aku tidak tahu kenapa seorang penyihir dari umat manusia dipekerjakan oleh tuan tanah Dwarf, tetapi sekarang aku sudah cukup paham situasinya.

Meski terlihat menakutkan, Wordle memberanikan diri untuk menyemangati Dwarf lain meski tubuhnya gemetar. Berkat seruan itu, Dwarf lain yang sudah mulai kehilangan semangat juang pun akhirnya kembali sadar.

Berhasil. Mereka telah memenuhi semua persyaratanku dengan sempurna. Mereka pantas disambut sebagai saudara.

Semua benang yang ditembakkan oleh Racne hancur menjadi debu akibat tebasanku yang diselimuti mana. Aku meniup kepompong yang sudah rusak akibat tebasan berisikan manaku dengan tekanan pedang. Lalu kutanya Dodd yang keluar dari kepompong lainnya.

"Sudah cukup. Kau juga setuju kan, Dodd?"

Aku mengonfirmasi hal yang tidak perlu ditanyakan lagi.

"Ya. Ini sudah lebih dari cukup."

Seperti dugaanku, Dodd menangis dengan ekspresi penuh haru, lalu mengangguk penuh semangat.

"Dodd? Benarkah itu kau, Dodd?"

"Tentu saja! Memangnya terlihat seperti orang lain?"

Merespons ucapan Dodd yang sembarangan itu, Wordle berseru.

"Aku yang akan menahan orang ini! Dodd, cepat bawa wanita dan pemuda lainnya lari dari sini!"

Wordle mengangkat palu raksasanya dengan ekspresi siap mati sembari berteriak nyaring.

"Jangan khawatir. Kami datang untuk menolong, jadi kalian sudah aman."

Dodd tersenyum memandang para Dwarf sambil menyatakannya dengan lantang. Detik berikutnya, prajurit Dwarf bertubuh mungil di sebelahnya pun berubah menjadi sosok gadis muda, Edda.

"Benar sekali! Semuanya, orang ini sangat kuat, jadi tenang saja!"

Edda berteriak dengan bangga. Setelah kejadian di pos pemeriksaan itu, sepertinya Dodd memberitahu Edda sesuatu tentangku. Sejak saat itu, rasa takutnya padaku hilang sepenuhnya, dan malah bersikap layaknya orang-orang di Erdim.

"Bahkan Edda juga?! Aku benar-benar tidak paham apa yang sedang terjadi..."

Mungkin dia terjebak di tengah kebingungan. Sambil menatap bergantian antara aku dan rombongan Dodd, Wordle memiringkan kepalanya dengan bingung.

"Oi, jangan abaikan aku!"

Racne menggonggong tak sedap dipandang, namun dengan cuek aku mengabaikannya.

"Zig, kau juga terseret kemari, ya. Kerja bagus."

Aku memberikan kata-kata penyemangat kepada Zig yang berlutut padaku.

"Tidak, saya merasa terhormat bisa membantu Anda."

Dengan ekspresi penuh suka cita, ia memberikan balasan seperti itu.

"Sudah kubilang jangan abaikan aku dan teruslah mengobrol!"

Ia kembali menembakkan benang dari mulutnya, jadi aku memantulkan dan mengembalikannya dengan Raikiri di tangan kananku. Benang-benang itu melilit tubuh bagian atas laba-laba itu dengan kecepatan super tinggi. Sambil memelototinya,

"Diam sebentar. Setelah pembicaraannya selesai, aku akan bermain denganmu sepuasnya."

Aku mengintimidasinya. Hanya dengan begitu saja, Racne memekik kecil lalu melompat jauh ke belakang.

Wajah Racne sekarang tampak sangat kaku dan keringat mengucur deras dari sekujur tubuhnya bagai air terjun.

Hmph, sama sekali bukan ancaman.

"Zig, inikah tentara super kekaisaran yang kau bicarakan?"

"Seperti dugaan Anda. Orang ini adalah Chimera yang dibuat oleh orang-orang mesum di departemen teknologi dengan menggabungkan laba-laba dan manusia. Kemungkinan besar dia adalah prajurit pembelot dari kekaisaran."

Mendengar penjelasan santai Zig, mata Racne terbelalak kaget.

"B-Bagaimana kau tahu hal itu?"

Tanyanya.

"Karena aku juga pembelot dari Kekaisaran."

Zig mengambil sesuatu seperti lencana dari sakunya lalu menunjukkannya.

"I-I-Itu kan Lambang Kaisar Pedang?! T-Tunggu dulu... Rambut hitam dengan mata setajam elang itu, jangan-jangan kau adalah penyandang gelar Kaisar Pedang termuda, Zig Gastrea!"

Racne berteriak penuh keputusasaan.

"Wah-wah, jangan bilang kau kehilangan semangat bertarung cuma karena aku? Orang yang sejak tadi kau bicarakan itu, kekuatannya tidak bisa dibandingkan denganku. Dia sangat kuat, kejam, dan juga menakutkan lho."

Zig mengangkat bahu dengan ekspresi tak percaya, lalu melontarkan lelucon dengan reputasi yang sangat buruk itu.

"Hmm, pembicaraannya sudah selesai. Kalau begitu, seperti yang kau inginkan, mari kita bermain sepuasnya."

Saat aku mengarahkan ujung Raikiri ke arah Racne,

"T-Tunggu sebentar! Aku akan mundur dari urusan ini!"

Ia mengangkat kedua tangan tanda menyerah.

"Kau baru saja akan membunuh mereka tanpa pandang bulu, kan? Orang sepertimu memohon ampun?"

"Maafkan aku! Aku tidak akan mengulanginya lagi! Karena itu lepaskan aku!"

Aku merasa sangat marah melihat Racne yang memohon ampun dengan ekspresi putus asa itu.

"Kalau mereka yang memohon ampun padamu seperti ini, apa kau akan melepaskan mereka? Tentu tidak, kan?"

Aku menggelengkan kepala beberapa kali lalu menatapnya tajam bagai ingin membunuhnya.

"Hiek!"

Racne membelakangiku dan lari tunggang langgang.

"Orang yang sangat tidak berguna dari lubuk hatinya."

Aku meludahkan kata-kata itu lalu mengubah Racne menjadi serpihan-serpihan kecil menggunakan Deadline.

Dengan begini, setidaknya masalah di sini sudah selesai.

Selanjutnya tinggal mengurus Dewa Iblis Surtr yang dimaksud itu—.

Tiba-tiba, suara ledakan menggelegar. Sepertinya, ini adalah tahap akhir.

"Zig, evakuasi mereka dari tempat ini!"

"Dimengerti. Lalu bagaimana dengan Kai-sama?"

"Tentu saja membasmi hama."

Dengan Raikiri di satu tangan, aku mulai melangkah ke luar gua.

◇◆◇

Di sana terdapat sebuah kuil yang telah berubah menjadi reruntuhan.

Di depannya, tujuh anak Dwarf berlutut dalam satu barisan dengan mata tertutup rapat.

Tepat di belakang mereka, seorang pria dengan tubuh bak tong sedang merapalkan sesuatu mirip mantra.

Tuan Tanah Suge yang berkumis keriting melipat kedua tangan sembari mengamati jalannya ritual aneh tersebut.

Wajahnya berubah buruk rupa karena nafsu yang mendalam.

Tak ada setitik pun rasa kasihan maupun penyesalan terhadap anak-anak tersebut.

Pria bertubuh bak tong itu tiba-tiba menghentikan rapalan mantranya lalu berdiri tegak.

"Hei, Penyihir, kenapa kau berhenti merapal di tengah-tengah! Dewa Iblis Surtr masih belum bangkit!"

Suge mencengkeram bahu kanan penyihir itu dari belakang dengan kesal.

Tepat di saat itu, wajah penyihir itu tiba-tiba terpelintir ke belakang hingga seratus delapan puluh derajat.

"Bukan, bukan begitu—rapalan mantraku sudah selesai dari tadi!"

Ia berteriak dengan nada suara yang tak mampu menahan kegembiraan. Sambil menatap lurus ke arah wajah penyihir itu,

"Hiiiiihh!"

Suge memekik dengan suara melengking. Tentu saja, ia terkejut karena kepalanya terpelintir dengan cara yang mustahil. Lebih dari itu, penampilan penyihir itu sudah tidak bisa dibilang manusia lagi.

Mulut penyihir itu membesar berbentuk bulan sabit, memperlihatkan taring raksasa yang tajam. Bola matanya melotot tajam, dan di dalamnya tampak sesuatu seperti serangga yang menggeliat-geliat menjijikkan.

"Sama seperti biasanya, makhluk rendahan yang tak tahu tempat ibarat serangga ini sama sekali tak punya sopan santun. Berani-beraninya berteriak saat melihat wajahku yang sangaaaat menawan ini..."

Penyihir itu mengangkat bahu lalu memutar lehernya ke kiri dan ke kanan sembari mengeluh.

"K-Kau... bukan manusia?"

"Sudah sampai tahap ini kau masih belum mengerti situasinya juga, ya. Sepertinya, kau ini bodoh sekali sampai-sampai tidak bisa menilai keadaan. Yah, terserahlah. Lagipula, kecerdasan tidak dibutuhkan untuk menjadi tumbal."

Dia tersenyum menyeringai. Melihat wujudnya yang teramat kejam dan buruk rupa itu, rasa dingin serta kengerian yang luar biasa menembus sekujur tubuh Suge hingga ia mundur selangkah.

"—?!"

Tiba-tiba, kedua bahunya dicengkeram dari belakang.

Dengan perasaan takut-takut, aku menoleh ke belakang dan melihat seorang wanita berambut pirang dengan pakaian terbuka sedang mencengkeram kedua bahu Suge. Lalu...

"Percuma saja, lho. Kami yang sekarang tidak sebodoh itu untuk membiarkan kroco sepertimu melarikan diri!"

Wanita itu berbisik di telinga Suge dengan nada suara yang membuat tulang punggungnya terasa dingin.

"K-Kau ini siapa?"

"Tidak perlu memberitahukannya pada orang yang sebentar lagi akan menjadi tumbal. Benar begitu, 'kan, Ekki-sama?"

Wanita itu meminta persetujuan dari sosok yang sebelumnya adalah seorang penyihir.

"Sebentar lagi, panggung utama ini akan mencapai klimaksnya! Vinegar, bawa tumbal itu ke altar!"

Eki merentangkan kedua tangannya dan memberikan instruksi dengan suara lantang.

"Siap laksanakan."

Wanita berambut pirang yang dipanggil Vinegar itu membungkuk hormat, lalu mendorong Suge dari belakang menuju altar.

Di saat yang bersamaan, tujuh anak yang berada di altar tiba-tiba berdiri layaknya pegas yang dilepaskan. Dengan suara retakan yang mengerikan, mereka mulai berubah wujud.

Dalam sekejap mata, mereka telah berubah menjadi monster yang seluruh tubuhnya terbalut perban putih bersih. Setelah itu, mereka turun dari altar.

"H-Hentikan! Lepaskan aku!"

Suge meronta-ronta dengan sekuat tenaga untuk melepaskan diri. Namun, wanita itu menahannya dari belakang dengan kekuatan layaknya sebuah ragum, membuatnya tak bisa bergerak sedikit pun.

Tujuh monster berbalut perban putih itu berdiri di posisi masing-masing mengelilingi Suge, lalu mulai merapalkan sesuatu yang terdengar seperti mantra.

"Kalau begitu, selamat menikmati mimpi burukmu "

Wanita itu kembali berbisik di telinga Suge, lalu melompat mundur menjauhinya.

"Uaa..."

Sebuah lingkaran sihir raksasa muncul di atas tanah.

Hanya dengan melihat sekali pada pola geometris mengerikan yang berputar itu, Suge sudah bisa menebak dengan jelas ke mana dia akan pergi sebentar lagi.

"Guah!"

Rasa takut yang luar biasa membuat giginya bergemeretak bising. Keringat mengucur deras bak air terjun, seolah-olah kelenjar keringatnya telah rusak.

"Tidaaaaaak!"

Tepat saat dia memeras seluruh tenaganya untuk meneriakkan kata-kata penolakan dari lubuk hatinya, kesadaran Suge seketika terputus.

Sosok Eki telah berubah menjadi seorang pria kecil yang mengenakan setelan jas hitam lengkap dengan topi hitam. Di belakangnya, Vinegar dan tujuh monster berbalut perban putih tampak berlutut.

Eki menatap bola api yang melayang di atas altar dengan ekspresi penuh suka cita. Inti dari bola api itu adalah Suge, sang penguasa wilayah pertambangan.

Suge tidak hanya menjadi tumbal untuk menciptakan dan memperkuat tubuh Dewa Api Surtr, tetapi dia juga menjadi bidak di panggung ini untuk memamerkan kekuatan Sang Yang Tertinggi kepada rakyat jelata.

"Nah, nah, naah, ini adalah alat yang sangat tepat untuk menunjukkan betapa agung dan mulianya dewa satu-satunya yang kita sembah kepada calon rakyat jelata kita!"

Bagi Eki, semua makhluk hidup di dunia ini, termasuk ras manusia, tak lebih dari makhluk rendahan yang tak bernilai. Tentu saja, ada pengecualian untuk hal itu.

Pengecualian itu adalah rakyat dewa yang telah dipilih secara langsung oleh dewa satu-satunya dan mutlak yang ia percayai, Kai Heineman.

Bisa dibilang, ras apa pun mereka, mereka adalah saudara bagi Eki dan kawan-kawannya. Di hadapan dewa yang mereka sembah, seluruh rakyat dewa adalah setara.

Tidak ada yang namanya atasan maupun bawahan.

Melalui serangga pengikutnya, Eki telah menerima laporan bahwa para dwarf itu berhasil melewati ujian pemilihan dari dewa mereka dengan gemilang.

Sekarang, yang perlu dilakukan hanyalah menunjukkan keagungan dan kengerian Sang Yang Tertinggi hingga ke tulang sumsum kepada saudara-saudara tercinta mereka, lalu menanamkan keyakinan yang kuat dan tak terbantahkan.

"Apakah evakuasi para dwarf sudah selesai?"

"Sudah beres tanpa cela."

Vinegar menjawab dengan sigap.

"Bagus, bagus, bagus sekaliii! Panggung ini akhirnya mencapai klimaksnya! Ayo, pujalah ayah yang sangat kuhormati!"

"Hidup Sang Yang Tertinggi kita!"

Vinegar berseru dengan penuh semangat.

"Kejayaan bagi Sang Yang Tertinggi kita!"

Monster-monster berbalut perban putih itu pun ikut berseru serempak.

"Kalau begituuu, mari kita buka panggung pertunjukan terakhir ini!"

Bersamaan dengan seruan Eki yang dipenuhi kegilaan itu, lingkaran sihir mulai berputar dengan kecepatan tinggi, dan bola api merah itu melayang jauh ke angkasa.

Pada detik berikutnya, bola api itu melesat menuju arah pertambangan dengan kecepatan super sambil terus membentuk wujud manusia.

◇◆◇

Saat aku keluar dari dalam gua, sebuah sosok manusia api melayang di angkasa dan perlahan-lahan membentuk wujud raksasa api.

Mungkin itu adalah monster buas yang telah disiapkan oleh kelompok Girimehkala untuk pertunjukan terakhir kali ini.

Meski begitu, apa ini yang disebut Surtr, Dewa Iblis Api yang telah menghancurkan peradaban kuno? Ini sih penilaian yang terlalu berlebihan.

Itu hanyalah sebuah boneka kayu raksasa yang tidak berguna. Kalau dibandingkan dengan kadal kroco bernama Azi Dahaka atau apalah itu, kekuatannya memang setara dengan Agito yang dikalahkan oleh kelompok Ferris.

Namun, dia sama sekali tidak akan bisa menjadi lawanku.

Raksasa api itu mendarat di tanah lapang depan area pertambangan.

Dia menatap tubuhnya sendiri sejenak, lalu memunculkan bola api di tangan kanannya, mengayunkannya, dan melemparnya.

Bola api itu meluncur lurus menghantam pertambangan dan meledak. Panas yang dihasilkannya seketika mengubah bebatuan di sekitarnya menjadi magma yang meleleh.

Bagi kami, tingkat panas seperti ini sama sekali bukan ancaman. Namun, bagi para dwarf yang merupakan amatir dalam bertarung, ceritanya berbeda.

Jika aku tidak memerintahkan Jignir untuk mengevakuasi mereka, mungkin mereka sudah musnah.

Yah, mengingat Girimehkala ikut campur, kekhawatiran itu mungkin saja tidak beralasan.

"Luar biasa! Inikah kekuatan seorang dewa!? Aku akhirnya menjadi dewa! Tidak ada satu pun makhluk di dunia ini yang bisa mengalahkanku!"

Saat raksasa api itu mengaum penuh suka cita, angin panas menyebar ke segala arah dan menghancurkan segala sesuatu di sekitar area pertambangan menjadi debu dalam sekejap mata.

Benar-benar deh, ternyata dia cuma jago bikin onar saja, ya. Sepertinya dia memang monster buas yang tidak bisa diselamatkan.

"Dasar berengsek Eki dan jalang sialan yang sudah menjebakku ini! Aku pasti akan menemukan kalian dan membuat kalian menyesal telah melakukan ini pada Suge-sama yang hebat ini!"

Raksasa api itu menghentakkan kakinya ke tanah dan kembali mengaum marah. Angin yang membakar bertiup kencang, membakar tanah dan mengubahnya menjadi magma merah menyala.

Jika dibiarkan begini terus, area ini bisa berubah menjadi lautan api.

Ngomong-ngomong, Suge, ya? Bukankah itu nama penguasa wilayah kota pertambangan ini?

Sepertinya si Eki yang ahli dalam memodifikasi itu telah menggabungkan monster buas bernama Surtr dengan Suge untuk menciptakan monster jenis baru.

Dilihat dari fakta bahwa dia menyebut dirinya Suge, sembilan dari sepuluh tebakan, kesadarannya pasti dikendalikan oleh penguasa wilayah keparat itu.

Yah, mari kita kesampingkan dulu masalah itu. Jika aku membiarkannya berbuat sesuka hati, area di sekitar sini bisa berubah menjadi padang hangus.

"Hei, kau. Hentikan tindakanmu. Kau itu sangat mengganggu."

Setelah berteriak seperti itu, aku menggunakan teknik gerakanku sendiri untuk mendekatinya dan menendangnya dengan santai.

Sisi kiri perutnya yang kutendang langsung hancur berkeping-keping.

"Gunuooooooohh!"

Raksasa api itu mengeluarkan suara yang lucu sambil terpental berkali-kali. Dia melesat dengan kecepatan super tinggi sambil membakar apa pun yang disentuhnya.

"Malah jadi tambah parah, ya..."

Tanah tempat raksasa api itu terbaring telentang sekarang telah meleleh dan berubah menjadi genangan magma. Apakah lebih baik aku membelahnya dengan Raikiri tadi?

Tidak, dia hancur berkeping-keping hanya dengan tendangan ringan. Jika aku memotongnya menjadi beberapa bagian dengan Raikiri, monster buas bernama Surtr yang telah menyatu dengannya juga akan ikut terbunuh.

Mengingat legenda tentang Surtr yang menghancurkan peradaban kuno itu terdengar mencurigakan, ada kemungkinan dia sebenarnya tidak bersalah. Jika benar begitu, membunuhnya tanpa bertanya terlebih dahulu sangat bertentangan dengan harga diriku.

"Yah, apa boleh buat. Aku harus menghajarnya habis-habisan."

Sambil menghela napas, aku menyarungkan Raikiri kembali dan menendang raksasa api itu ke udara.

Raksasa api itu berputar ke atas dengan kecepatan tinggi.

Aku menghentakkan kaki ke tanah, melesat menyusul dan melampauinya dalam sekejap, berputar di udara, lalu menarik siku kananku.

"T-Tunggu seban—"

Sebelum raksasa api itu sempat menyelesaikan kalimatnya, aku mendaratkan pukulan ringan dengan tangan kananku.

Raksasa api itu pun terlempar melayang ke samping.

Aku kembali menjejakkan kaki kiri di udara. Gelombang kejut yang dihasilkan dari tendangan itu membuat tubuhku berpindah tepat di depan wajah raksasa api tersebut.

"Hiiik!"

Raksasa yang menjerit itu langsung kutinju dengan tangan kananku, dan kali ini dia terhempas lurus bagai peluru ke arah serong kiri atas.

Setelah itu, sambil bergerak dengan kecepatan tinggi di udara, aku terus memukuli raksasa api itu tanpa membiarkannya jatuh ke tanah sama sekali.

"Gugagagagagagagigagigigigiii!"

Diiringi jeritan panjang, raksasa api itu terlempar ke atas, ke bawah, ke kanan, dan ke kiri membentuk garis lurus, meninggalkan banyak garis merah yang melintang di langit.

Setelah memukulinya berkali-kali hingga wujud aslinya sudah tidak terlihat lagi, aku menendang raksasa api itu ke atas.

Sesaat kemudian, aku menyusulnya dalam sekejap, lalu memutar tubuhku dan mendaratkan tendangan memutar dengan kaki kanan yang penuh dengan gaya sentrifugal.

Raksasa api itu menghujam bumi dan memicu ledakan dahsyat.

Angin panas yang melahap segalanya berembus kencang berkali-kali.

Ketika debu dan uap panas mulai menghilang sehingga pandangan kembali jelas, tampak seorang gadis berambut merah dalam balutan gaun merah sedang terbaring telentang di dasar kawah yang meleleh.

◇◆◇

Ketika Dewa Api Surtr membuka matanya, dia berada di dasar sebuah kawah raksasa. Saat dia melihat sekeliling, genangan magma terlihat di mana-mana.

"Apakah ini berarti segelku sudah dilepaskan?"

Dia bertanya pada dirinya sendiri, tapi sekelilingnya hanyalah lautan api. Tidak ada kemungkinan lain selain itu.

"Apa yang terjadi padaku?"

Sambil menggelengkan kepalanya yang masih pusing, dia pun berdiri. Perlahan-lahan, dia mulai mengingat kembali bagaimana dirinya bisa disegel selama bertahun-tahun.

Rasa amarah terhadap dalang di balik semua ini mulai mendidih di dalam dirinya.

"Aku tidak akan pernah memaafkan Ares!"

Benar! Saat itu, Surtr kalah dalam pertarungan melawan Ares yang menyebut dirinya sebagai pengelola dunia ini, lalu dia pun disegel.

Sejak awal, alasan Ares menyatakan perang terhadap Surtr adalah karena dia telah menghancurkan seluruh negara milik manusia yang menyebalkan itu.

Perlu diperjelas, Surtr sama sekali tidak memiliki kelainan aneh yang membuatnya merasa senang saat memusnahkan manusia, dan dia juga tidak memiliki dendam kesumat pada mereka.

Bahkan sampai saat itu, manusia di mata Surtr hanyalah sekumpulan kera lemah dan menyedihkan yang merayap di atas tanah.

Hal yang mengubah Surtr adalah pertemuannya dengan seorang pemuda.

Manusia itu benar-benar orang yang aneh sejak awal mereka bertemu. Walaupun dia hanyalah manusia yang lemah, dia memperlakukan Surtr seperti anak kecil dan selalu mengurusnya.

Terkadang dia memang memarahi Surtr, tapi setelah itu dia selalu bersikap sangat lembut kepadanya. Bagi Surtr yang selama ini hidup dalam kesepian, kehidupan bersama pemuda itu terasa sangat baru dan menarik.

Mungkin saat itulah, untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Surtr merasakan yang namanya kebahagiaan.

Namun, waktu berharga layaknya permata itu tidak berlangsung lama.

Mengetahui keberadaan Surtr, manusia-manusia pada masa itu menyandera pemuda tersebut untuk mengendalikan Surtr. Karena tidak ingin kehilangannya, Surtr menurut dan mematuhi perintah manusia-manusia itu untuk sementara waktu.

Namun suatu hari, dia mengetahui bahwa pemuda itu sudah mati.

Pemuda itu khawatir dirinya akan menjadi beban bagi Surtr, sehingga dia memutuskan untuk mengakhiri hidupnya sendiri.

Kenyataan itu membuat Surtr jatuh dalam keputusasaan yang begitu dalam, dan dia menjadi sangat marah hingga hampir gila.

Mengikuti luapan emosinya, dia memusnahkan peradaban manusia hingga ke akar-akarnya.

Menjadikan tindakan Surtr itu sebagai alasan, Ares yang merupakan dewa pengelola Lemuria ini turun ke dunia, dan perang pun tak terelakkan.

Pertarungan melawan Ares berlangsung sangat sengit, dan pada akhirnya, Surtr kalah lalu disegel oleh Ares.

Sebenarnya, Surtr tidak memiliki dendam yang berarti terhadap ras manusia itu sendiri.

Dia sudah menghancurkan peradaban yang membunuh pemuda itu hingga ke akarnya, jadi dia menganggap urusannya dengan manusia sudah selesai.

Oleh karena itu, dia sama sekali tidak tertarik pada manusia lagi.

Namun, Ares berbeda. Dewa itu telah mengurungnya selama kurun waktu yang sangat lama hingga membuatnya muak.

Mana mungkin dia bisa memaafkannya! Sebagai bentuk balas dendam pada Ares, pertama-tama dia akan membakar habis semua fasilitas yang berhubungan dengan Ares di dunia ini.

Bagi dewa sombong semacam itu, wajah yang tercoreng pasti menjadi hal yang paling menyakitkan baginya.

Tepat saat Surtr membulatkan tekadnya, seorang manusia berambut abu-abu tiba-tiba muncul di hadapannya.

"--!?"

Melihat sosok nostalgik dan warna jiwa yang sangat kuat namun lembut yang tak mungkin dia lupakan itu, sebuah kejutan seolah menghantam otaknya.

Anak manusia berambut abu-abu itu menatap Surtr.

"Saat aku tahu bahwa rumor tentang betapa berbahayanya dirimu itu hanyalah kebohongan, aku sudah berpikir bahwa kau tidak mungkin bisa menjadi musuhku. Tapi aku sama sekali tidak menyangka bahwa kau ternyata hanyalah seorang gadis kecil. Benar-benar di luar dugaan. Pertarungan ini sama sekali tidak masuk akal."

Dia menggelengkan kepalanya pelan ke kiri dan ke kanan, lalu menyunggingkan senyum yang terlihat sedikit kesepian.

"Auuu... akhirnya kita bertemu lagi."

Benar. Senyum lembut itu, maupun ekspresinya yang selalu terlihat sedikit kebingungan, mana mungkin Surtr bisa melupakannya! Pria ini adalah—

"Sekarang, apa yang harus kulakukan, ya?"

Surtr berlari sekuat tenaga ke arah pria yang sedang menggaruk-garuk kepalanya itu, lalu memeluk perutnya dan membenamkan wajahnya di sana.

Dengan begini, dia akhirnya bisa menyampaikan hal yang belum sempat dia katakan padanya.

"Hmm? Ada apa ini?"

Di tengah pandangannya yang mengabur karena air mata, dia mendongak menatap pria yang balas menatapnya dengan ekspresi bingung.

"Terima kasih karena selalu bersamaku!"

Dalam kehangatan nostalgik itu, Surtr menyerukan isi hatinya dengan suara yang bergetar.

◇◆◇

Tidak lama kemudian, Wardle dan para dwarf lainnya dipindahkan ke sebuah ruang misterius oleh kekuatan pria bermata satu berpakaian putih yang merupakan rekan Jig.

Di sana, mereka hanya bisa berdiri mematung menatap pemandangan yang diproyeksikan memenuhi seluruh langit.

Tanpa terkecuali, wajah semua orang menunjukkan ekspresi yang sulit dijelaskan.

Ada campuran rumit antara rasa terkejut, kagum, iri, bingung, dan berbagai emosi kuat lainnya.

Yah, setelah melihat hal semacam itu, reaksi tersebut memang sangat wajar. Malahan, akan aneh jika mereka bisa tetap tenang.

Hanya dengan satu aumannya, area di sekitarnya berubah menjadi abu, dan saat dia melempar bola api, sebuah gunung menguap dan berubah menjadi danau magma raksasa.

Raksasa api itu tidak diragukan lagi adalah Dewa Iblis Api yang telah menghancurkan dunia.

Bagi umat manusia, tidak, bagi makhluk hidup biasa di dunia ini, dia adalah seorang Transcender yang tak mungkin bisa dilawan.

Bahkan Empat Raja Iblis Besar yang terkenal jahat atau Pahlawan Legendaris terkuat umat manusia sekalipun mungkin hanyalah semut yang merayap di tanah bagi raksasa api itu.

Mereka sudah berada di dimensi yang sama sekali berbeda. Karena itulah, sekuat apa pun bocah berambut abu-abu yang bisa mengalahkan Rakne dalam sekejap itu, dia tetaplah manusia, sehingga kekalahan sudah pasti menjadi hal yang tak terelakkan.

Namun, perkiraan itu dipatahkan dengan sangat mudah.

Raksasa api itu dibasmi layaknya seekor naga yang sedang menginjak serangga di tanah. Bagaimana tidak, bocah berambut abu-abu itu sama sekali tidak menggunakan senjata apa pun, dia hanya meninju dan menendang raksasa api itu.

Hanya dengan kekerasan murni yang bahkan tidak bisa disebut sebagai seni bela diri, Dewa Iblis Api yang mampu mengubah dunia menjadi abu itu dihajar hingga babak belur layaknya kain pel rusak, lalu musnah dari dunia ini.

Setelah itu, seluruh tubuh raksasa api itu meleleh, dan dari bagian tengahnya muncullah seorang gadis berambut merah berusia sekitar dua belas atau tiga belas tahun yang mengenakan gaun merah.

Setelah itu, gadis tersebut memeluk bocah berambut abu-abu itu hingga saat ini.

"Sepertinya sudah selesai."

Seorang wanita yang mengenakan setelan pakaian atas dan bawah berwarna ungu serta memakai topi mengumumkan akhir pertunjukan dengan nada santai, lalu tiba-tiba menghilang.

Detik berikutnya, proyeksi gambar itu pun seketika lenyap.

"Bagaimana, kalian sudah paham, 'kan? Itulah Sang Yang Tertinggi yang kami percayai!"

Dodd berseru dengan bangga.

"Sosok itu adalah eksistensi yang sama sekali tidak bisa dipahami oleh orang sepertiku. Setidaknya aku sudah memahaminya sampai ke tulang-tulangku."

Wardle melontarkan kalimat yang benar-benar dia rasakan dari lubuk hatinya.

"Tentu saja. Mungkin tidak ada seorang pun di dunia ini yang bisa memahami orang itu."

Jig yang berada di dekat mereka ikut menimpali pembicaraan Wardle dan yang lainnya.

"Omong-omong, apakah kau ini Kaisar Pedang dari Kekaisaran? Kenapa kau bisa mengabdi pada Beliau?"

"Yah, ada banyak hal yang terjadi."

Jig menggaruk kepalanya dengan canggung.

"Yah, aku juga mengalami banyak hal, sih."

Dodd ikut menimpali sambil tertawa renyah.

Menghadapi Dodd yang seperti itu, senyum di wajah Wardle memudar. Dia berbalik menatapnya.

"Dodd, aku benar-benar minta maaf."

Wardle membungkuk dalam-dalam. Setiap tindakan membawa tanggung jawab.

Di antaranya, kesalahan yang pernah dilakukan Wardle di masa lalu sama sekali bukan hal yang bisa dimaafkan begitu saja. Meskipun begitu, Wardle tetap harus meminta maaf.

Benar. Kepada sahabat yang pernah dikhianatinya.

Di tengah keheningan yang menyelimuti, terdengar suara helaan napas panjang dari Dodd. Lalu—

"Memang benar aku menyimpan dendam saat insiden itu terjadi. Tapi setelah menenangkan diri, aku bisa menduga bahwa kalian pasti punya alasan kuat yang memaksa kalian melakukan hal itu."

"Justru kalian yang ditinggalkan pasti mengalami masa-masa yang jauh lebih berat dan menyakitkan. Karena itulah, aku ingin mengatakan hal ini, sahabatku Wardle. Terima kasih karena telah melindungi semuanya selama ini."

Dodd meletakkan tangan kanannya di bahu Wardle dan mengucapkan terima kasih.

"Dodd... maafkan aku..."

"Sudah kubilang tidak perlu minta maaf, 'kan."

Mendengar ucapan hangat Dodd yang terdengar seolah sudah pasrah itu...

"Terima... kasih."

Wardle pun mengucapkan kata-kata yang selama bertahun-tahun ini tak pernah bisa ia katakan.



Previous Chapter | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close