Penerjemah: Amir
Proffreader: Amir
Chapter 3.3
Terima Kasih Selalu
Kicau burung terdengar dari balik tirai.
Suara cuit, cuit yang terdengar amat biasa seperti pagi-pagi sebelumnya, terasa begitu kontras dan salah tempat. Meskipun begitu, tak ada sedikit pun cahaya yang masuk ke dalam kamar. Ruangan yang terkurung oleh tirai tebal itu masih tenggelam di dasar kegelapan malam.
Udaranya terasa berat.
Hawa hangat dan lembap dari malam yang panjang berbaur dengan napas manusia yang lelah menangis serta aroma sisa air mata yang mengering.
"Shino... Jangan, aku tak mau..."
Di sebelahku, Reine bermimpi buruk.
Suaranya terdengar serak. Bahkan di dalam mimpinya pun ia masih menangis. Dari balik bulu matanya yang terpejam, setitik air mata kembali meluncur jatuh.
Aku menyapu bulir air mata itu dengan ujung jari, lalu perlahan mengelus kepala Reine. Rambut perak yang biasanya tertata rapi itu kini berantakan tanpa sisa.
Karena ia terus memutar otak dan menggosokkan kepalanya ke bajuku berkali-kali, ujung-ujung rambutnya saling melilit dan mencuat ke berbagai arah.
Meskipun begitu, raut tidur Reine terlihat bagaikan seorang dewi. Tampak begitu jelita, begitu memilukan, hingga hanya dengan memandangnya saja dadaku serasa ingin hancur.
Aku hampir tak memiliki ingatan tentang apa yang terjadi setelah kecelakaan kemarin.
Kenyataan terasa samar dan semu bagaikan mimpi yang mudah pecah. Bahkan hingga kini, setiap kali memejamkan mata, aku masih berharap bahwa semua ini hanyalah sebuah mimpi buruk.
Ironisnya, fakta bahwa Reine yang hancur berada di sisiku justru menjadi penopang yang menahanku tetap berpijak pada kenyataan.
Orang bilang, melihat orang lain yang lepas kendali bisa membuat kita menjadi lebih tenang, dan tampaknya aku pun tidak terkecuali.
Kupeluk dan kuberikan ketenangan pada Reine yang tak berhenti menangis sepanjang malam. Namun sejujurnya, aku pun ingin pasrah dan ikut hancur saat itu juga.
Klek.
Terdengar suara pintu depan terbuka.
Apakah Shino sudah pulang?
Untuk sekejap saja, sebuah harapan konyol sempat terlintas di dadaku.
──Padahal hal itu sama sekali tidak mungkin.
"...Bagaimana?"
Aku bertanya tanpa berbalik.
Suara langkah kaki mendekat dari arah koridor. Itu bukanlah langkah kaki yang ringan seperti biasanya, melainkan suara langkah menyeret lantai yang seolah bisa terhenti kapan saja.
"...Sama sekali tidak bisa dihubungi."
Itu suara Satsuki.
Saat mendengar suaranya, sisa-sisa harapan kecil di lubuk dadaku hancur tanpa bersuara.
"Begitu, ya..."
Hanya balasan itu yang sanggup kuucapkan.
Satsuki duduk di sisiku yang lain, di sebelah kananku. Sofa merendah, dan pada detik berikutnya, Satsuki menyandarkan kepalanya di bahuku.
Jika ini Satsuki yang biasanya, ia pasti akan bermanja-manja tanpa ragu, melingkarkan tangannya di lenganku, dan menikmati reaksimu. Namun Satsuki yang sekarang berbeda. Bahunya, ujung jarinya, bahkan embusan napasnya──semuanya gemetar.
Satsuki menggenggam tangan kananku yang bebas.
Terasa dingin.
Padahal ini musim panas, tetapi tangannya dingin tanpa hawa kehidupan seperti mayat.
"Di saat seperti ini... Di saat seperti ini, apa yang sedang kau lakukan, Shuna...!"
Suara Satsuki bergetar. Terdengar seperti orang yang sedang marah, sekaligus seperti orang yang sedang menangis. Ia tampak bagaikan anak kecil yang tersesat dan tak tahu harus meluapkan kebingungannya ke mana.
"──"
Kulepas perlahan tanganku yang mengusap Reine.
Kuambil ponselku lalu kunyalakan layarnya.
Pendar cahayanya membuat mataku terasa perih.
Tidak ada notifikasi, dan tentu saja tidak ada balasan dari Shuna. Pesan-pesan yang kukirim sejak kemarin masih belum dibaca.
Hal sesederhana itu saja kini terasa teramat menakutkan.
Mendadak aku teringat percakapan terakhirku dengan Shino kemarin.
──Shuna-san telah menghilang.
"Kh!?"
Tanpa sadar aku melempar ponselku.
Dengan suara benturan tumpul, ponsel itu berguling di atas lantai. Suara benturan itu membuat bahu Satsuki terlonjak. Reine yang masih tertidur pun bergumam pelan.
Kata-kata Shino belum memiliki kepastian. Shuna mungkin hanya sedang tersesat di suatu tempat, atau mungkin ia hanya kesiangan. Karena itu, aku tidak boleh menyampaikan hal semacam itu kepada mereka berdua saat ini.
Tidak ada gunanya menambah kecemasan yang tak perlu.
Pada saat itulah.
"Ngg..., ah, Satoshi. Satsuki juga..."
Reine terbangun. Ia membuka kelopak matanya perlahan, mengusap pelupuk mata yang basah oleh air mata, lalu meregangkan tubuhnya sedikit.
"Maaf, aku membuatmu terbangun, ya..."
"Tidak apa-apa," Reine tersenyum.
"Shino mana?"
Tengkukku seketika terasa dingin.
"Hari ini aku sudah berjanji dengannya untuk pergi mencari buku bekas bersama."
Ia tersenyum. Sudut bibirnya terangkat dengan pas, dan suaranya pun terdengar sangat dekat dengan suara Reine yang biasanya. Namun, binar cahaya di dalam manik matanya telah lenyap sepenuhnya.
"Reine..."
"Benar-benar ya Shino itu, ternyata dia tukang tidur yang tak disangka-sangka. Ya tapi, karena dia kelihatan sibuk dengan urusan rumahnya, mau bagaimana lagi. Harus aku sendiri yang membangunkannya."
"Reine..."
"Satsuki, tolong siapkan sarapan ya. Aku akan memanggil mereka berdua──"
"Reine!"
Aku sudah tidak sanggup menahannya lagi.
Aku merengkuh Reine ke dalam pelukanku. Tubuh rampingnya terlonjak pelan di dalam dekapan lenganku.
Pada detik itu juga, aku merasa sesuatu yang dipertahankan Reine mati-matian akhirnya hancur berantakan tanpa tersisa.
"Habisnya... habisnya, Shino... Shino ituu..."
Suara Reine hancur memilu. Suara yang terperas dari kedalaman tenggorokannya itu terasa begitu menyayat hati hanya dengan mendengarkannya.
"Tidak apa-apa kok. Semuanya akan baik-baik saja... Jadi jangan menangis ya, Reine."
Satsuki ikut berjalan mendekat lalu memeluk Reine dari samping. Namun, suara Satsuki yang mengucapkan hal itu pun ikut bergetar hebat.
Tidak ada seorang pun yang baik-baik saja di antara kami. Meskipun begitu, kami tidak punya pilihan selain saling menguatkan bahwa semuanya akan baik-baik saja.
Aku merengkuh Reine bersama dengan Satsuki sekalian ke dalam pelukanku. Rasanya jika ada satu orang saja yang terlepas dari rengkuhan lengan ini, ia tidak akan pernah kembali lagi untuk selamanya.
Setelah lelah menangis, kami sedikit terdiam.
Di dalam keheningan itu, badai emosi kembali bergejolak naik. Tenggorokan bergetar, berubah menjadi tetesan air mata, hingga tenaga kembali terkuras habis.
Siklus itu terus berulang.
Kami saling bersentuhan satu sama lain.
Saling menautkan jemari, menyandarkan bahu, dan memastikan kehangatan suhu tubuh masing-masing. Agar tak ada lagi yang sirna, dan agar kami tahu bahwa kami saling berdampingan di sini. Kami mendambakan kehangatan kulit manusia, memohon agar tetap berada di sisi satu sama lain.
Setiap kali lelah menangis, emosi kembali mencuat, menjelma air mata, dan menguras sisa-sisa tenaga hingga habis.
Kami saling menggenggam tangan satu sama lain, mendambakan sentuhan fisik agar tak ada lagi yang lenyap dan memohon untuk tetap berada di dekat kami. Namun, aku tahu betul bahwa kondisi seperti ini sama sekali tidak baik.
Aku tidak memiliki gairah untuk melakukan apa pun. Bahkan bernapas pun terasa begitu menyulitkan.
Hanya dengan membuka mata saja, hatiku rasanya terus tergerus habis.
Meskipun begitu, jika tidak melakukan apa pun, pikiranku akan langsung terisi oleh bayangan tentang Shino. Jika kami terus terduduk seperti ini, kuikir kami bertiga hanya akan tenggelam perlahan secara bersama-sama.
"──Mari kita cari Shuna."
Aku melepaskan genggaman tangan mereka berdua secara perlahan lalu bangkit berdiri.
Kakiku terasa sedikit limbung.
Aku membuka lemari pakaian.
Kutarik pakaian apa saja yang tertangkap mata lalu kulemparkan ke atas lantai. Aku sama sekali tidak peduli bahwa lantai di sekitar kakiku menjadi berantakan. Yang kubutuhkan hanyalah pakaian paling minimal untuk keluar rumah.
"Ke mana...?"
Reine bertanya dengan suara serak.
"Aku tidak tahu..."
Tangan yang menggenggam baju terasa tidak berdaya.
"Tapi, saat ini aku ingin Shuna juga berada di sisi kita..."
Mencari Shuna.
Hanya itulah satu-satunya hal yang tersisa untuk kami lakukan saat ini.
"Aku mengerti... Aku akan berganti pakaian dulu."
Reine bangkit berdiri, lalu berjalan perlahan kembali ke kamarnya.
"Aku juga."
Satsuki memberikan remasan kuat di tanganku untuk yang terakhir kalinya, lalu berjalan menyusul Reine dengan langkah yang terhuyung-huyung.
"Kalau begitu, mari kita berangkat 30 menit lagi..."
Tidak ada balasan. Hanya suara engsel pintu yang tertutup rapat yang terdengar.
Aku ditinggalkan sendirian di dalam kamar. Ponselku tertangkap oleh pandangan mata, lalu kupungut kembali. Ponsel penuh kenangan yang kami beli bersama di hari aku keluar dari rumah sakit itu kini telah memiliki retakan di layarnya.
"──"
Aku langsung menyimpannya ke dalam saku agar tidak memikirkan apa pun.
30 menit kemudian.
"Maaf membuatmu menunggu..."
Yang pertama kali memunculkan diri adalah Reine. Rambut peraknya dibiarkan terurai tanpa diikat, mengalir dari bahu hingga ke punggungnya. Pakaian yang dikenakannya pun teramat sederhana, sesuatu yang tak terbayangkan dari sosok Reine yang biasanya.
"Maaf ya."
Tak lama kemudian, Satsuki juga keluar dari kamarnya.
Satsuki mengikat rambutnya menjadi kuncir kuda secara asal-asalan. Rambut yang biasanya mengayun bergairah itu, kini hanya tampak disatukan secara kasar. Ikatan rambutnya pun sedikit miring, dengan helaian anak rambut yang menempel di pipinya. Pakaiannya pun tampaknya hanya mengambil apa saja yang berada paling dekat dengannya.
Reine yang selalu menegaskan bahwa seseorang membutuhkan penampilan bermartabat minimal jika ingin tampil di depan umum.
Satsuki yang tertawa ceria mengatakan bahwa ia tidak boleh malas berdandan karena ingin terlihat imut di mataku. Namun besi ironi berbicara, betapa pun berantakannya pakaian yang mereka kenakan, barang-barang itu tetap terlihat sangat cocok di tubuh mereka berdua.
"Tidak apa-apa. Mari kita bicara sambil berjalan."
Hawa panas musim panas langsung menyelimuti tubuh kami. Suasana di luar terasa teramat terang benderang, menyambut kami seolah-olah tidak pernah terjadi sesuatu apa pun.
Reine dan Satsuki berjalan di kedua sisiku sambil merangkul lenganku. Jari-jari Reine melilit di lengan kiriku, sementara tangan Satsuki menggenggam erat lengan baju di tangan kananku.
Aku sama sekali tidak menolak.
Aku hanya merasa takut jika tidak saling bersentuhan seperti ini. Demi memastikan bahwa kami semua masih berada di sini saat ini. Agar tidak ada lagi seorang pun yang mendadak lenyap begitu saja.
"...Aku sudah menanyakan keberadaan Shuna kepada orang tuanya."
Sambil berjalan, aku berucap pelan secara tiba-tiba. Aku sama sekali tidak mengharapkan adanya balasan dari mereka.
Secara datar dan apa adanya bagaikan membacakan urusan administrasi, aku hanya menyampaikan fakta.
"Setelah menyelesaikan urusannya, sepertinya dia langsung menuju ke rumah kita tanpa menginap."
Tubuh mereka berdua menyentak kecil secara bersamaan.
"Katanya dia ingin membeli kue dulu untuk memberi kita kejutan..."
Begitu kata-kata itu diucapkan, wajah tersenyum Shuna langsung terbayang di benakku, membuat tenggorokanku tersumbat.
"Bodohnya... Ya, tapi kalau dipikir-pikir, itu memang sangat khas Shuna sih," Reine melontarkan gurauan kecil.
Suaranya memang terdengar serak, tetapi rasanya ia sedikit demi sedikit mulai kembali normal dibanding sebelumnya.
Satsuki menarik-narik ujung lengan bajuku dengan lembut.
"Kalau begitu, bagaimana kalau kita mulai bertanya dari toko kue yang ada di dekat rumah kita sampai ke toko kue di sekitar rumah orang tua Shuna...?"
"...Mari kita lakukan itu."
Toh kami memang tidak memiliki petunjuk apa pun.
Kami bahkan tidak tahu mana langkah yang benar. Meskipun begitu, jika tidak terus bergerak, pikiran kami hanya akan hancur berantakan.
Hanya waktu saja yang kami miliki tanpa batas. Namun, setelah berhasil menemukan Shuna nanti──apa yang harus kami lakukan?
Pada akhirnya, kami tidak mendapatkan satu pun informasi mengenai keberadaan Shuna. Baik di toko kue kecil di depan stasiun maupun di toko kue yang berada di pelosok kawasan pertokoan, tidak ada informasi yang terhubung dengan Shuna.
Kami naik kereta dan berpindah hingga ke stasiun terdekat dari rumah orang tua Shuna.
"Panas sekali ya..."
Reine bergumam pelan sambil menutupi dahinya dari silau terik matahari.
Musim panas di siang hari benar-benar tidak kenal ampun. Langit tampak begitu cerah hingga terlalu biru, dengan awan-awan putih yang mengambang jauh di sana. Matahari memancar tepat dari atas kepala, membakar dan menyengat kami.
Hawa panas membubung tinggi dari permukaan aspal. Rasa panas menerobos masuk menembus sol sepatu, menguras tenaga dari telapak kaki di setiap langkah yang kami ambil.
Seharusnya kami membawa topi.
"Shuna pergi ke mana, ya?" gumam Satsuki.
Di dalam suara itu tidak hanya tersirat rasa lelah, tetapi juga ketakutan yang mendalam.
Sambil terus berjalan, sebuah jembatan terlihat di depan kami. Di seberang jembatan inilah rumah Shuna berada.
"Jarak dari stasiun terdekat ternyata lumayan jauh ya..."
"Iya. Bisa-bisa kelelahan duluan kalau jalan setiap kali berangkat kuliah."
"Memang benar..."
Kami melangkah mendaki jalan tanjakan yang landai.
Kemiringan tanjakannya tidak seberapa. Jika di hari biasa kami tidak akan merasakan apa-apa, tetapi bagi tubuh yang hampir tidak tidur ini, rasa lelahnya begitu menyiksa.
Napas kami mulai terengah-engah sedikit demi sedikit. Tenggorokan mengering, keringat mengalir menelusuri punggung, dan pakaian menempel lengket di kulit.
Langkah kaki Reine sedikit goyah. Cengkeraman tangan Satsuki di lengan bajuku pun mulai sedikit melemah. 3 orang mahasiswa yang sedang berjalan menaiki trotoar.
Itulah wujud kami saat ini.
Dari arah belakang, bel sepeda berdentang, kring, kring.
Dengan aku di posisi paling depan, kami berbaris lurus ke belakang untuk memberi jalan pada sepeda tersebut. Seorang pria paruh baya yang mengendarai sepeda lewat di samping kami tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
Aku menatap punggungnya dengan pandangan kosong.
Kami mulai melangkahi jembatan.
Saat mengintip ke balik pagar pembatas, sebuah sungai mengalir di bawah sana. Sungai itu sulit untuk dikatakan indah walau hanya demi basa-basi.
Airnya keruh dan alirannya lambat.
Ketika mempertajam pandangan, bayangan-bayangan tampak bergoyang di dalam air yang keruh itu. Ikan-ikan yang ukurannya lebih besar dari perkiraan berenang perlahan di bawah naungan bayangan jembatan. Di tepi sungai, semak belukar tumbuh lebat, dengan kantong plastik serta kaleng bekas yang tersangkut di antaranya.
"Satoshi."
"Ngg?"
Aku mengangkat wajah saat mendengar suara Reine.
Tiba-tiba ketika menatap ke depan, ada sebuah bayangan hitam di ujung jembatan.
Pada awalnya aku tidak mengira bahwa itu adalah seorang manusia.
Di tengah teriknya musim panas ini, hanya pria itu seorang diri yang terduduk meringkuk di atas jembatan, seolah-olah dipisahkan dari dunia.
Pria itu meletakkan sebelah tangannya di pembatas jembatan, sementara tangan yang satunya lagi memegang dahi. Punggungnya membungkuk bulat, dan bahunya berguncang pelan secara berulang.
"Maafkan aku maafkan aku maafkan aku maafkan aku maafkan aku maafkan aku."
──Mari pura-pura tidak melihatnya.
Lebih baik tidak usah ikut campur. Akan sangat menyulitkan jika orang itu ternyata benar-benar berbahaya, lagi pula kami sendiri sedang tidak punya kelonggaran emosi.
Jika dalam keadaan normal, pasti begitu.
"Permisi, apakah Anda baik-baik saja?"
"──Eh?"
Pria itu mengangkat wajahnya dengan cekatan seolah-olah terperanjat. Usianya mungkin sedikit lebih tua dari kami, terlihat seperti berusia pertengahan dua puluh tahunan. Kemeja hitamnya menempel basah oleh keringat, dan rambutnya menempel pekat di dahi. Bibirnya pucat pasi, dan lingkaran hitam pekat terpampang jelas di bawah matanya. Namun, itu bukanlah raut wajah seseorang yang sekadar tumbang akibat sengatan cuaca panas.
Meskipun ia menatap ke arah kami, ia sama sekali tidak melihat kami. Fokus matanya seharusnya tertuju pada kami, tetapi kedalaman iris matanya tampak berlubang hampa.
"Satoshi-kun..."
"Satoshi."
Mereka berdua menahan napas seolah-olah terkejut dengan tindakan yang kuambil.
──Maaf ya.
Aku meminta maaf kepada mereka berdua di dalam hati. Dalam situasi seperti ini, mengabaikannya adalah satu-satunya pilihan terbaik. Tetapi, jika itu Shuna, dia pasti tidak akan bisa membiarkan orang yang sedang kesusahan begitu saja. Dia akan tetap mencampuri urusan yang menyulitkan meski tahu dirinya sendiri yang akan dirugikan.
Aku tidak ingin menyia-nyiakan nilai kebaikan Shuna yang seperti itu.
Pria itu terus menengadah menatapku, mematung selama beberapa detik. Namun, sedikit demi sedikit, pendar cahaya mulai kembali ke matanya.
"Terima kasih, maafkan saya. Tadi cuma sedikit, ya..."
Ia tertawa tanpa tenaga. Namun, raut wajah itu tak terlihat seperti hal lain selain wajah seseorang yang sedang menangis.
"Begitu, ya."
Karena jawabannya sengaja disamarkan, aku tak bisa melangkah lebih jauh.
Seolah ingin menghindari kekhawatiran kami, pria itu berdiri dengan sempoyongan. Langkahnya tampak tidak pasti, dan seolah tidak ada tenaga yang tersisa di lututnya, tubuhnya miring ke samping sejak langkah pertama. Dengan menyangkutkan jemarinya ke pagar pembatas, ia berjuang keras menahan tubuhnya agar tidak tumbang.
Setelah itu, pria itu mulai berjalan ke arah yang berlawanan dengan tujuan kami.
Kami memberi jalan untuknya.
Cengkeraman tangan mereka berdua di lenganku makin mengerat.
Pria itu berjalan melewati samping kami.
"Aah, kenapa, kenapa hal seperti ini harus terjadi..."
Saat kami berpapasan, suara bisikan meluncur keluar dari mulut pria itu. Suara yang terdengar bagaikan sebuah mesin yang rusak.
"Kenapa saat itu tubuhku bergerak sendiri. Aku... sama sekali tidak bersalah... tidak bersalah."
Perasaan seolah disiram air es mendadak menjalar melintasi tulang belakangku. Entah mengapa suara itu terus menempel di telingaku.
"Kenapa, padahal aku tidak bermaksud seperti itu..."
Ia tampak seolah-olah sedang diseret oleh sesuatu.
Pada saat itu, Satsuki dan Reine menatap wajahku dengan penuh rasa curiga.
"Satoshi-kun...?"
"Ada apa denganku?"
Aku tak sanggup mengalihkan pandanganku dari pria itu.
Cara berjalannya. Mata yang hampa tanpa hawa kehidupan itu. Dan kata-katanya yang seolah-olah tidak menganggap tubuhnya sendiri sebagai miliknya.
"Aku tahu..."
"Eh? Tunggu, Satoshi!"
Menepis teguran Reine, aku langsung berlari kencang.
Sebelum sempat berpikir, tubuhku sudah bergerak duluan mengejar pria itu.
Pria itu masih bergumam menyeracau.
Bagaikan menderaskan mantra, ia terus-menerus mengulang penyesalan yang sama berulang kali dari mulutnya.
"Permisi!"
Pria itu berbalik perlahan.
"...Masih ada hal lain?"
"Anu, maaf kalau saya menanyakan hal yang agak janggal."
Aku membuka mulutku secara perlahan.
"──Apakah akhir-akhir ini Anda pernah melakukan suatu tindakan yang bertentangan dengan keinginan Anda sendiri, lalu meratapinya?"
"Kh!"
Mata pria itu mendelik terbuka lebar. Hanya dari reaksi itu saja, jawabannya sudah lebih dari cukup.
"Bukan begitu!"
Pria itu berteriak.
Suaranya bergaung di atas jembatan.
Untungnya tidak ada orang lain di sekitar sini, jadi tidak akan ada yang melihat kami.
"A, aku benar-benar sama sekali tidak berniat melakukan hal seperti itu!"
Pada detik berikutnya, kedua tangan pria itu mencengkeram bahuku. Jari-jarinya menancap dalam, dan dengan raut wajah yang tampak nekat, pria itu mengguncang-guncang tubuhku. Matanya yang memerah berdarah menatapku tajam seolah-olah sedang memohon pertolongan.
Aku ingin mundur dan melarikan diri. Namun, ketakutan pria itu teramat sangat tidak wajar, melebihi rasa takut biasa.
Rasa penyesalan di masa lalu.
Lebih dari itu, itu adalah raut wajah dari seorang manusia yang sudah tidak sanggup lagi memercayai dirinya sendiri.
"Satoshi-kun!"
"Satoshi!"
Satsuki dan Reine meninggikan suara mereka, tetapi aku memberi isyarat tangan agar mereka berdua tidak mendekat tanpa berbalik menatap mereka.
"Aku tidak tahu. Aku benar-benar tidak mengerti..."
Tenaga di tangan pria itu lenyap, lalu tubuhnya merosot ambruk bertekuk lutut.
"Kepada gadis yang baru pertama kali kutemu pun, aku tega melakukan..."
"──"
"Kenapa... Kenapa aku... kh!"
Sambil menyeret tubuhnya yang sudah tumbang, pria itu menyandarkan punggungnya ke pagar pembatas jembatan.
Pria itu memeluk kepalanya, menancapkan kuku-kukunya untuk meremas rambutnya sendiri, lalu merintih dari kedalaman tenggorokannya.
Sambil menatap ke bawah ke arah sosok itu, sesuatu di dalam diriku mendadak membeku dengan sangat cepat.
"──Apakah berada di bawah jembatan?"
Itu adalah suara tanpa nada yang membuat diriku sendiri terkejut saat mendengarnya.
Seolah-olah ada orang asing yang menggunakan mulutku untuk berbicara. Pria itu tidak mengangkat wajahnya, hanya menundukkan kepalanya dalam-dalam lalu mengangguk kecil.
Begitu mengonfirmasi hal itu, warna dan suara seketika lenyap dari dalam diriku. Aku mengalihkan pandanganku dari pria itu, lalu berbalik menghadap ke arah mereka berdua yang berada di depanku.
"Satoshi-kun...?"
Satsuki memanggil namaku dengan raut cemas.
Reine pun tampak hendak mengatakan sesuatu.
Aku tidak mengucapkan sepatah kata pun dan melangkah menerobos di antara mereka berdua.
"Satoshi, tunggu sebentar!"
"Kamu mau ke mana...?"
Suara mereka berdua menusuk punggungku, tetapi aku hanya menatap lurus ke depan.
Setelah menyeberangi jembatan hingga ke sisi seberang, aku mencari akses jalan yang bisa membawaku ke bawah jembatan. Karena tidak ada tangga yang tertata rapi, hanya ada sebuah jalan lereng sempit yang tersamar di antara semak-semak untuk turun ke tepi sungai yang samar-samar bisa terlihat.
Aku memaksakan diriku untuk menerobos turun ke sana.
"Kh..."
Tubuhku terdorong ke depan, tetapi aku berhasil menahan rasa ingin jatuh dengan menancapkan kedua tangan ke atas tanah. Batang-batang rumput menancap di telapak tanganku, dan tanah yang lembap menyusup ke sela-sela kuku.
Aku bisa merasakan Reine dan Satsuki mengikutiku dari belakang.
Saat kami melangkah tepat ke bawah jembatan, teriknya sinar matahari musim panas seketika terputus.
Udaranya berubah secara mendadak.
Hawa panas yang tadinya membakar kulit kini lenyap, berganti dengan hawa dingin yang lembap dan menyelimuti tubuh.
Secara kasatmata, rasanya suhu udara merosot turun sekitar lima derajat. Aroma tanah lembap, bau keruh sungai, serta aroma getah dari semak belukar yang tumbuh liar. Semua aroma itu berbaur menjadi satu, meresap dan menempel di kedalaman hidungku.
Aku berjalan lurus menuju ke titik yang tadi ditatap oleh pria itu dari atas jembatan.
Tempat ini benar-benar bukanlah lokasi yang akan dimasuki seseorang secara sukarela. Rumput-rumput yang tingginya setara dengan tinggi badanku menghalangi pandangan, dan aku tidak bisa melihat ada apa di balik pijakan kaki. Dengung kepakan sayap serangga dan suara kecipak air terdengar dari suatu tempat.
Saat kumenyingkap rimbunnya rumput dengan kedua tangan, helai-helainya menggores kulitku secara halus.
Tidak sampai terasa sakit. Namun, itu adalah sensasi tak menyenangkan seolah-olah tempat yang sama diusap secara berulang-ulang.
Aku benar-benar menyesal telah datang memakai sandal. Lumpur masuk ke sela-sela jari kaki, dan sensasi lengketnya yang menempel di telapak kaki terasa sangat menjijikkan.
Sambil menimbulkan suara kresek-kresek, aku terus melangkah ke depan. Jika aku merobohkan rumput-rumput ini, mereka berdua pasti bisa berjalan dengan sedikit lebih mudah.
Pada saat itulah, berembus angin sepoi-sepoi yang menyapu kulit, membuatku mampu melupakan teriknya musim panas untuk sekejap saja.
──Tenaga mendadak surut lenyap dari dalam tubuhku yang tadinya tegang.
"──Apa, ternyata kamu ada di sini ya, Shuna."
Aku merengkuh Shuna yang baru berhasil kutemukan setelah beberapa hari ini.
Syukurlah. Akhirnya aku berhasil menemukanmu.
Dari arah belakang, terdengar suara napas yang tertahan.
"Kamu ini selalu saja membuat kami kerepotan..."
"──"
"Tolong renungkan sedikit dong kesalahanmu."
"──"
"Reine dan Satsuki juga, lho. Mereka berdua cemas setengah mati tahu?"
"──"
"Alasan kenapa Shino tidak ada di sini? Ya tentu saja karena dia sedang pergi mencarimu."
"──"
"Hei, balasan dong kata-kataku."
"──"
"Kamu merajuk ya karena aku baru datang mencarimu sekarang? Aku minta maaf..."
"──"
"Makanya, tataplah kami dengan wajah tersenyum tanpa rasa bersalah sama sekali seperti biasanya."
"──"
"Hei, aku mohon padamu."
"──"
"Hei... tolonglah."
"──"
"Jawab aku... Shunaa."
Tanpa kusadari, air mata menetes keluar.
Mengalir menelusuri pipi, lalu jatuh meluncur dari dagu.
Satu tetes, dua tetes, jatuh ke atas permukaan tanah dan langsung lenyap tak berbekas.
Iris mata berona oranye itu kini sudah tidak lagi menatap apa pun. Rambut cokelatnya yang indah ditempeli dedaunan rumput, kotor dan kusut berantakan. Pakaiannya pun penuh berlumur lumpur dan terkoyak di berbagai tempat.
Darah yang mengalir dari kepalanya telah mongering sepenuhnya, menghitam dan mengeras. Lalat-lalat tampak menggerogoti kulit Shuna.
"Tidak, tidakk, tidakkkkkkkkkkkkkkkk!"
Dari belakang, jeritan histeris Reine memecah keheningan di bawah jembatan.
"A... a, a"
Satsuki merosot ambruk bertekuk lutut.
Dengan mulut yang tetap terbuka lebar, ia menghembuskan napas yang tak lagi sanggup membentuk suara.
Aku berlutut di sisi Shuna.
Tepat di sampingnya, terdapat sebuah kotak kue yang sudah hancur. Kotak berwarna putih itu kini ternoda lumpur, sudut-sudutnya penyok meremuk, dan pitanya pun telah terlepas. Bagian sisinya robek hingga isinya mencuat keluar. Kue tart stroberi itu telah bercampur aduk dengan tanah, menjelma menjadi gumpalan kental yang mengerikan.
Lalu, di atas gumpalan itu, tertancap sebuah papan nama kecil.
『Terima kasih untuk semuanya』
"──Kh!"
Delapan karakter.
Hanya ada delapan karakter di sana.
Bagian dalam tenggorokanku rasanya hancur, dan raut senyum Shuna terbayang di benakku.
"Terima kasih kembali ya, Shuna."
Aku mengulurkan tangan ke arah kue yang sudah hancur berantakan itu.
Saat jari-jariku menyedok krim yang berlumur lumpur, bulir-bulir tanah terasa di sentuhan jariku. Ketika kumasukkan ke dalam mulut, terdengar suara kertakan tanah.
Tidak manis sama sekali.
Sensasi kasar dari butiran tanah tersangkut di antara celah-celah gigiku. Krim kocok yang telah meleleh sepenuhnya itu terasa asam, hangat, dan memicu rasa mual yang luar biasa.
Meskipun begitu.
"Kuenya lezat sekali. Terima kasih atas makanannya."
Apakah saat ini aku sedang tersenyum?
Tetapi pipiku basah oleh air mata, tenggorokanku bergetar hebat, dan bagian dalam mulutku hancur berantakan oleh tanah dan krim.
"Shuna..."
Maafkan aku. Karena terlambat menemukanmu.
"Shunaa..."
Terima kasih karena selalu memberi ketenangan untukku.
"Shuna... Shuna..."
Aku tidak pernah berpikir bahwa kamu menyusahkan. Karena aku selalu diselamatkan oleh keberadaanmu.
"Shunaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa!"
Aku berteriak.
Sambil merengkuh tubuh Shuna yang tidak akan pernah terbangun lagi untuk selamanya, aku berteriak hingga tenggorokanku serasa robek.
──Kenapa... kenapa semuanya jadi seperti ini?



Post a Comment