NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Shibou End wo Kaihi shita Galge no Heroine-tachi ga Ore no [Nikki-chou] o Yonde Himitsu o Shitta Rashii Volume 3 Chapter 9

 Penerjemah: Amir

Proffreader: Amir


Chapter 9

【Konferensi Empat Arah】 with Hibise

"──Maafkan aku."


Suatu malam seusai perjalanan itu.

Aku dipersilakan masuk ke dalam kamar Satsuki-senpai, dan hal pertama yang terlepas dari mulutku saat aku baru saja membukanya adalah sebuah permohonan maaf.


Tangan yang kukepalkan di atas pangkuanku bergetar hebat.

Padahal ujung kuku sampai menancap ke kulit jari, tetapi rasa sakitnya hampir tak terasa sama sekali.

Hanya saja, bagian dalam tenggorokanku terasa panas, dan ada rasa janggal seolah-olah ada lubang yang menganga tepat di tengah-tengah dadaku.


"Maafkan akuh... Kalau saja, kalau saja aku bisa bersikap lebih benar lagi..."


Kata-kataku terputus di tengah jalan.

Suaraku bergetar hingga terasa teramat menyedihkan.

Aku sama sekali tidak berniat untuk menangis.

Aku tak punya niat untuk melakukan hal licik seperti menangis agar dimaafkan.

Meskipun begitu, air mata menetes berhamburan dengan sendirinya.


Dua kata bernama 'penyesalan' menusuk masuk ke dalam dada.

Dengan cara apa pun──aku akan menyelamatkan semuanya.

Padahal aku sudah memutuskan hal itu, tetapi pada akhirnya──aku tidak bisa berbuat apa-apa.


Shino-senpai yang seakan-akan sudah bisa membaca hatiku yang lemah ini tampak begitu terheran-heran.

Hal bahwa aku bakal memuntahkan segalanya di sini, mungkin sudah dengan sangat mudah ia bayangkan sejak titik waktu perjalanan itu.


"──Jika kita merunut balik ke pangkalnya, ini adalah tanggung jawab kita kan. Lagipula kitalah yang telah membunuh orang itu."


Shino-senpai memuntahkan fakta itu secara datar dan tenang.


"Sama sekali tidak seperti itu! Para Senpai tidak salah apa-apa! Begitu mengetahui kebenarannya, adalah hal yang sangat wajar jika kalian berniat membunuh orang itu... Makanya, kalau saja aku bisa lebih..."


Sambil mengucapkannya, aku merasa mual oleh ketidaktegasan diriku sendiri.


"Padahal aku ini seorang penulis skenario... Padahal aku mengenali kalian semua melebihi siapa pun, tetapi aku tidak bisa berbuat apa-apa! Sungguh menyedihkan. Benar-benar sangat menyedihkan..."


Air mata menetes, pota-pota, jatuh ke atas pangkuan.

Sosok diriku yang sekarang seharusnya sama sekali tidak memiliki hak untuk menatap wajah mereka berempat.


"Jangan menangis dong~"


Pada detik suara manis bergema di telingaku, sensasi lembut merengkuh seluruh tubuhku.

Tanpa kusadari, Shuna-senpai yang sudah berada di sampingku merengkuh dan mendekap kepalaku.


"Kalau tidak ada Hibise-chan, Satoshi-kun juga ditakdirkan bakal tewas kan~?"


"...Hal itu karena aku mengetahui batas akhir dari dunia ini."


Jika berada di rute ending kemusnahan total, semuanya akan bisa tetap hidup.

Justru karena aku mengetahui kontradiksi semacam itulah, aku mendesak orang itu untuk menulis ending ini.


Namun pada akhirnya, hal itu hanya sebatas memperpanjang masa penangguhan kematian belaka.

Jikalau aku bisa bergerak lebih cepat lagi.

Jikalau aku mampu membuat pria itu melupakan mereka berempat.

Mungkin saja 5th ROUTE tidak akan pernah ditulis, dan semuanya bisa menghabiskan waktu sambil tertawa bersama.


"Jangan keperasaan begitu."


Sebuah suara dingin terhempas jatuh.


"Apa pun yang kamu lakukan, tidak mungkin kami tidak membunuh pria itu."


"Sama sekali tidak seperti itu!"


Aku membantahnya dengan sangat keras.


"Kalau saja aku tahu bahwa 【Buku Harian】 itu masih tersisa... aku tidak akan pernah memperlihatkan barang semacam itu kepada kalian semua..."


Jikalau barang itu tidak ada, mungkin saja masa depan semacam ini tidak akan pernah terjadi.

Sosok diriku yang menyerah atas Satoshi-senpai dan hanya bisa berdiri terpaku berulang kali terlintas di dalam benakku.

Aku mengutuk sosok diriku pada hari kelulusan itu berulang kali.


"──Apakah hal itu berarti kamu berniat merebut Satoshi-san dari kami?"


"Eh?"


Raut wajah yang selalu tampak tenang seperti biasanya.

Namun, di dasar manik mata rubi itu terpancar amarah yang teramat jelas.

Tanpa sadar tenggorokanku meneguk ludah.


"Jika kita tidak membaca 【Buku Harian】 itu, kita tidak akan pernah bisa bertemu dengan Satoshi-san."


"Eh... ah."


Suara yang tak berwujud kata-kata terlepas dari mulutku.

Bagian dalam kepalaku menjadi putih bersih dalam sekejap mata.


"Benar juga ya~"


Shuna-senpai tersenyum tampak serba salah.


"Mungkin saja, kita bakal terus dipeluk olehnya tanpa mengetahui apa-apa seperti itu ya~"


Napasku terhenti seketika.


Bukan berarti jika tidak tahu maka bakal terselamatkan.

Jika tidak tahu, hanya neraka jenis lain yang bakal terus berlanjut.

Premis yang sudah teramat lumrah itu justru sempat terlepas dari pikiranku.


"Bagaimana pun juga."


Reine-senpai menyisir rambut peraknya yang menjuntai di telinga.


"Kita ini sudah jalan buntu tahu."


"Maafkan... aku..."


"Makanya, kenapa sih kamu harus minta maaf..."


Tampak terheran-heran.

Tampak serba salah.

Dengan sedikit rasa simpati yang terselip.

Seolah-olah mereka tidak tahu bagaimana cara menenangkan anak kecil yang sedang menangis.

Kebaikan hati itu terasa teramat menyakitkan.


"──Aku benar-benar tidak suka ya."


Sebuah suara rendah membelah udara.

Satsuki-senpai yang sejak tadi terus bungkam sedang mendelik menatap ke arahku.


"Bagian di mana kamu berpikir kalau mengorbankan diri sendiri maka segalanya bakal beres. Aku benar-benar tidak suka. Sangat benci."


"Tunggu dulu, Satsuki..."


Reine-senpai memanggil namanya seolah berusaha menenangkan.


"Habisnya dia mirip sekali dengan Satoshi-kun kan."


"Eh?"


Tanpa sadar aku melamun terpaku mendengar kata-kata Satsuki-senpai.


"Lagipula hanya kita saja yang selalu dilindungi tanpa mengetahui apa-apa."


Suara Satsuki-senpai bergetar.


"Mengetahui seluruh kenyataan itu belakangan, lalu melihat orang yang terluka akibat hal itu..."


Satsuki-senpai membenamkan wajahnya di antara kedua lututnya sambil duduk menekuk kaki.

Punggungnya yang meringkuk kecil tampak bergetar hebat.


"Aku benar-benar jadi benci pada diriku sendiri tahu."


Suara itu sudah hampir sepenuhnya berubah menjadi suara tangisan.


Pada detik itu juga, suara tepukan tangan terdengar meletup, prok, lalu aku berbalik.


"Mari kita rapikan dulu situasinya ya."


Bagaikan memotong atmosfer yang tegang, ia berdiri di tengah-tengah ruangan dengan pembawaan yang seperti biasanya.


"Jika terus seperti ini kita akan terseret ke dalam 5th ROUTE, lalu kita semua akan dibunuh."


Ia memaparkan murni hanya faktanya secara datar.

Sama sekali tidak ada rasa takut yang terpancar dari sana walau cuma sebutir pasir.


"Lalu, kita akan kembali lagi ke 【LoD】."


Tiga orang lainnya mengangguk mendengar kata-kata Shino-senpai, lalu mengalirkan pandangan mata mereka lurus-lurus ke arahku.


"Saya ingin mengonfirmasinya kepada Hibise-san. Bagaimana nasib 'Satoshi Iriya' di dunia tempat kita kembali nanti?"


"...Seharusnya akan ada 'Satoshi Iriya' asli yang sudah kita persiapkan."


Satoshi-senpai adalah seorang yang bereinkarnasi.

Hal semacam itu sama sekali tidak berada dalam asumsi kita.

Setelah skenario diacak-acak sejauh ini, tidak mungkin 【LoD】 akan mengizinkan keberadaan Satoshi-senpai yang sekarang.


Bahkan jikalau mereka berempat kembali ke 【LoD】, yang berada di sana hanyalah 'Satoshi Iriya' asli yang telah kami persiapkan.


"Bagus kalau begitu."


Shino-senpai mengangguk tampak puas.


Mereka berempat sudah berdiskusi sejak lama.

Apakah akan membunuh Satoshi-senpai yang sekarang lalu membawanya ke dunia berikutnya.

Atau justru.


"Kalau begitu, sesuai rencana, kita akan membiarkan Satoshi-san tetap berada di dunia ini."


Membiarkannya kehilangan seluruh ingatan tentang 【LoD】, lalu membiarkannya hidup bahagia begitu saja.

Itulah jawaban yang telah dipilih oleh mereka berempat.


"Mau bagaimana lagi ya~ Kita tidak boleh melukainya lebih jauh dari ini lagi kan~"


"Benar ya... Sebenarnya aku ingin dia ikut bersama kita sih..."


"Tidak boleh, Reine. Kalau soal itu, sungguh..."


"...Aku paham kok."


Tidak seluruh dari mereka benar-benar merasa menerima hal itu.

Itu adalah produk kompromi yang ditentukan usai berdiskusi hampir setiap malam.

Padahal aku hanya mendengarkan kesimpulan mereka saja, tetapi dadaku serasa mau hancur berantakan.

Aku tidak sanggup memaafkan diriku sendiri yang telah memaksa mereka mengambil pilihan yang teramat menyakitkan ini.


"Yah~ lagipula akibat 『Daya Paksa Dunia』, segalanya yang kita diskusikan sekarang bakal dilupakan sepenuhnya juga kan~"


"Benar ya... Lagipula setelah mengetahui seluruh isi 5th ROUTE dan cara kita mati, rasanya tidak mungkin aku bakal bertingkah sesuai skenario kan."


Di tengah helaan napas Shuna-senpai dan Reine-senpai, Shino-senpai justru tertawa tampak bersenang-senang.


"Saya akan mencoba melawan 『Daya Paksa Dunia』 tahu. Soalnya saya ingin merasakan momen-momen terakhir hidup saya sendiri."


"Bagaimana caranya~?"


"Bukankah Reine-san tadi sudah mengatakannya. Hati maupun tubuh saya akan bertingkah sepenuhnya sesuai skenario. Asalkan tidak melakukan hal yang aneh-aneh, seharusnya tidak ada alasan bagi 『Daya Paksa Dunia』 untuk mengacak-acak ingatan saya kan."


Demi melawan, ia tidak akan menentang.

Demi tidak direbut ingatannya, ia secara sukarela menaiki alur cerita menuju kematiannya sendiri.


Reine-senpai yang menyalakan kembali kesadarannya selangkah lebih awal memegang dahi kepalanya.


"...Aku sampai heran. Kamu memang benar-benar jenius ya."


"Fufu, benar sekali."


"Shino-chan itu kan baik hati ya~ Jangan-jangan kalau aku mati nanti kamu bakal menangis meraung-raung kan~?"


"Hal itu benar-benar sangat saya nantikan."


Ketiaganya saling melontarkan candaan tipis seperti biasanya.


"──Hibise."


Saat namaku dipanggil dan aku berbalik, Satsuki-senpai sedang menatapku lurus-lurus.

Ia sudah tidak menangis lagi.

Namun, ia memasang raut wajah yang tampak jauh lebih menyakitkan daripada menangis.


"Ini benar-benar bikin kesal sih."


Satsuki-senpai memiringkan bibirnya tampak penuh rasa penyesalan.


"Satoshi-kun──tolong jagakan ya?"


Napasku tersumbat seketika.


"...Tentu saja."


Aku sudah kapok jika harus mengkhianati seseorang lagi.


"Aku──pasti akan membuatnya bahagia."



Ngomong-ngomong──sampai kapan aku harus melakoni lelucon konyol ini?


Padahal seharusnya 5th ROUTE adalah kisah di mana usai membalas dendam pada kami, 『Sano Yuuto』 bersatu dengan Harusora Hibise.


Jika demikian, walau sang tokoh utama telah terbunuh, mengapa kisahnya tetap berlanjut?


Jawabannya hanya satu.


Entah metode apa yang digunakan, tetapi 【LoD】 menganggap Sano Yuuto dan Iriya Satoshi sebagai sosok individu yang sama.


Aku tak bisa mengingat bagaimana wujud wajahnya──tetapi aku bisa menerima bahwa mungkin memang begitulah jalannya. Namun, hal yang tak bisa kuterima bukanlah hal itu.


Situasi ini terlampau menguntungkan bagi Harusora Hibise.


Hanya ada Iriya Satoshi dan Harusora Hibise, sementara penghalang yang bernama diri kami tidaklah ada.


Seolah-olah rutenya telah terkunci, segala sesuatunya berjalan dengan begitu mulus. Bertingkah bagaikan para heroine yang terseret dalam tragedi, saat ini pun ia sedang menangis di sana.


Jangan bercanda.

Jangan bercanda.



──Bagaimana mungkin aku bisa menerima akhir seperti ini.



Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close