NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Tenkou-saki no Seiso Karen na Bishoujo Volume 11 Prolog

Prolog


Di sekeliling, hanya ada gunung-gunung yang tertutup pepohonan rindang, serta awan yang berenang malas di langit.

Di atas tanah datar yang langka, ladang dan sawah terhampar luas. Di jalanan desa, sesekali terlihat truk kecil lewat atau domba yang sedang berjalan-jalan.

Tsukinose, sebuah desa terpencil di pegunungan yang jauh dari pusat kota.

Hayato kecil selalu bermain seorang diri.

Bukan karena dia sangat suka menyendiri.

Hanya saja, desa ini sangat terpencil sampai-sampai tidak ada anak seusianya untuk diajak bermain.

Paling banyak, hanya ada adik perempuannya dan teman sekelas adiknya.

Tentu saja, mereka tidak suka masuk ke hutan untuk menangkap serangga, memasang jebakan di sungai untuk menangkap kepiting air tawar, atau membangun markas rahasia di bangunan kuil tua yang sudah tidak terpakai.

Meskipun begitu, Hayato tidak terlalu mengeluhkan keadaannya yang menyendiri.

Lagi pula, orang-orang dewasa sering memperhatikannya dan mengajarinya trik menangkap serangga, cara membuat jebakan sungai, hingga cara bermain siulan rumput.

Bahkan tanpa teman pun, alam Tsukinose itu sendiri adalah teman bermainnya.

Suatu hari di musim panas, saat Hayato sedang asyik bermain sendirian seperti biasa,

Dia melihat sosok yang asing di depan kotak pos yang terletak di pusat desa Tsukinose.

Dengan rambut pendek berantakan, anak itu mengenakan kaus dan celana pendek yang mirip dengannya.

Anak yang seumuran dengannya itu sedang berjongkok sambil memeluk lutut karena suatu alasan.

Dia sama sekali tidak tahu siapa anak itu, dari mana asalnya, atau apa yang sedang terjadi.

Namun, yang terpenting bagi Hayato saat itu adalah anak tersebut tampaknya seumuran dan bisa diajak bermain.

Hati Hayato membuncah oleh rasa gembira dan antusias. Tanpa sadar, dia langsung berlari dan menggenggam tangan anak itu.

"Hei, kamu sendirian? Kalau sendirian, ayo main bareng!"

"Bising. Pergi sana, jangan ganggu."

Namun, mungkin karena terlalu mendadak, anak itu menghempaskan tangannya.

Hayato yang tidak menyangka bakal mendapat reaksi seperti itu pun melongo dengan wajah cemberut.

"Apa-apaan..."

Tapi itu cuma bertahan sesaat.

Keinginan Hayato untuk bermain bersama jauh lebih kuat, hingga dia langsung menarik tangan anak itu lagi.

"Udah, ayo ikut aja! Kita main bareng! Ayo!"

"............Eh?"

Dengan penuh semangat, Hayato menyeret anak itu ke berbagai tempat.

Menangkap serangga yang biasanya dia lakukan sendiri, kini berubah menjadi kompetisi ukuran dan jumlah saat dilakukan berdua.

 Mereka berpikir bersama tentang cara menangkap lebih banyak kepiting air tawar dengan jebakan.

Membangun markas rahasia pun bisa dilakukan dalam skala lebih besar kalau berdua, dan berbagai ide baru terus bermunculan.

Dia tidak pernah tahu hal-hal seperti ini sebelumnya. Ini benar-benar menakjubkan. Rasanya seolah dunianya sedang meluas.

Dia merasa kalau berdua, mereka bisa melakukan apa saja.

Dan rasanya jauh lebih menyenangkan dari apa pun yang pernah ada.

Mereka tertawa bersama seperti orang bodoh.

Dia tidak pernah membayangkan kalau bermain berdua, alih-alih sendirian, bisa membuat hatinya berdebar sekencang ini. Mungkin, di hari inilah Hayato tertawa lepas dari lubuk hatinya untuk pertama kali.

Dia mempelajari indahnya berbagi kebahagiaan dengan orang lain.

Sejak hari itu, sensasi mendebarkan di momen tersebut telah terpatri di dalam hatinya.

Anak yang awalnya memasang wajah masam itu, lambat laun menunjukkan senyuman yang mekar dengan begitu cerah.

Karena senyuman itu sangat murni, menyalurkan rasa senang, kebahagiaan, dan keinginan untuk terus bersama—maka bagi Hayato, senyuman Haruki, temannya itu, menjadi sesuatu yang sangat spesial.



Illustrasi | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close