Prolog
Di
sekeliling, hanya ada gunung-gunung yang tertutup pepohonan rindang, serta awan
yang berenang malas di langit.
Di atas
tanah datar yang langka, ladang dan sawah terhampar luas. Di jalanan desa,
sesekali terlihat truk kecil lewat atau domba yang sedang berjalan-jalan.
Tsukinose,
sebuah desa terpencil di pegunungan yang jauh dari pusat kota.
Hayato kecil
selalu bermain seorang diri.
Bukan karena dia
sangat suka menyendiri.
Hanya saja, desa
ini sangat terpencil sampai-sampai tidak ada anak seusianya untuk diajak
bermain.
Paling
banyak, hanya ada adik perempuannya dan teman sekelas adiknya.
Tentu
saja, mereka tidak suka masuk ke hutan untuk menangkap serangga, memasang
jebakan di sungai untuk menangkap kepiting air tawar, atau membangun markas
rahasia di bangunan kuil tua yang sudah tidak terpakai.
Meskipun
begitu, Hayato tidak terlalu mengeluhkan keadaannya yang menyendiri.
Lagi
pula, orang-orang dewasa sering memperhatikannya dan mengajarinya trik
menangkap serangga, cara membuat jebakan sungai, hingga cara bermain siulan
rumput.
Bahkan tanpa
teman pun, alam Tsukinose itu sendiri adalah teman bermainnya.
Suatu hari di
musim panas, saat Hayato sedang asyik bermain sendirian seperti biasa,
Dia
melihat sosok yang asing di depan kotak pos yang terletak di pusat desa
Tsukinose.
Dengan
rambut pendek berantakan, anak itu mengenakan kaus dan celana pendek yang mirip
dengannya.
Anak yang
seumuran dengannya itu sedang berjongkok sambil memeluk lutut karena suatu
alasan.
Dia sama sekali
tidak tahu siapa anak itu, dari mana asalnya, atau apa yang sedang terjadi.
Namun, yang
terpenting bagi Hayato saat itu adalah anak tersebut tampaknya seumuran dan
bisa diajak bermain.
Hati Hayato
membuncah oleh rasa gembira dan antusias. Tanpa sadar, dia langsung berlari dan
menggenggam tangan anak itu.
"Hei, kamu
sendirian? Kalau sendirian, ayo main bareng!"
"Bising.
Pergi sana, jangan ganggu."
Namun, mungkin
karena terlalu mendadak, anak itu menghempaskan tangannya.
Hayato yang tidak
menyangka bakal mendapat reaksi seperti itu pun melongo dengan wajah cemberut.
"Apa-apaan..."
Tapi itu cuma
bertahan sesaat.
Keinginan Hayato
untuk bermain bersama jauh lebih kuat, hingga dia langsung menarik tangan anak
itu lagi.
"Udah, ayo
ikut aja! Kita main bareng! Ayo!"
"............Eh?"
Dengan penuh
semangat, Hayato menyeret anak itu ke berbagai tempat.
Menangkap
serangga yang biasanya dia lakukan sendiri, kini berubah menjadi kompetisi
ukuran dan jumlah saat dilakukan berdua.
Mereka berpikir bersama tentang cara menangkap
lebih banyak kepiting air tawar dengan jebakan.
Membangun markas
rahasia pun bisa dilakukan dalam skala lebih besar kalau berdua, dan berbagai
ide baru terus bermunculan.
Dia tidak pernah
tahu hal-hal seperti ini sebelumnya. Ini benar-benar menakjubkan. Rasanya
seolah dunianya sedang meluas.
Dia merasa kalau
berdua, mereka bisa melakukan apa saja.
Dan rasanya jauh
lebih menyenangkan dari apa pun yang pernah ada.
Mereka
tertawa bersama seperti orang bodoh.
Dia tidak
pernah membayangkan kalau bermain berdua, alih-alih sendirian, bisa membuat
hatinya berdebar sekencang ini. Mungkin, di hari inilah Hayato tertawa lepas
dari lubuk hatinya untuk pertama kali.
Dia
mempelajari indahnya berbagi kebahagiaan dengan orang lain.
Sejak
hari itu, sensasi mendebarkan di momen tersebut telah terpatri di dalam
hatinya.
Anak yang
awalnya memasang wajah masam itu, lambat laun menunjukkan senyuman yang mekar
dengan begitu cerah.
Karena senyuman itu sangat murni, menyalurkan rasa senang, kebahagiaan, dan keinginan untuk terus bersama—maka bagi Hayato, senyuman Haruki, temannya itu, menjadi sesuatu yang sangat spesial.



Post a Comment