Chapter Tambahan
Pengantin Lainnya
Twinkle kini
telah menjadi grup idola yang populer secara nasional.
Para anggotanya
aktif di berbagai bidang—drama, panggung teater, seni, hingga acara variety
show—dan tidak ada satu hari pun berlalu tanpa melihat wajah mereka.
Salah satu dari
mereka, Nikaidou Haruki, mengumumkan pernihakannya bersamaan dengan perilisan photo
book pertamanya.
Tentu
saja, publik dibuat geger.
Bagi
seorang idola, terungkapnya hubungan asmara biasanya akan menjadi skandal
besar-besaran.
Namun
keadaan berbalik ketika terungkap bahwa pasangannya adalah teman masa kecil
sekaligus cinta pertamanya, seorang kenalan sejak kecil yang dikenalnya sejak
masa kanak-kanak, serta seorang fotografer naik daun yang telah memenangkan
berbagai penghargaan setelah menelusuri jalan yang sama dengannya—seseorang
yang mendesaknya untuk bangkit kembali saat dia terpuruk setelah kehilangan
ibunya. Terlebih lagi, mereka menikah dengan durasi pacaran nol hari tepat
setelah bersatu kembali.
Kisah itu
begitu menyerupai manga atau drama hingga para penggemar pun ikut memberikan
restu mereka.
Dan
begitu, pada tanggal 22 November—hari yang baik untuk para pasangan—upacara
pernikahan Haruki dan Hayato pun digelar.
Lokasinya
berada di sebuah gedung pernikahan di Tokyo.
Acara itu
merupakan perkumpulan sederhana yang hanya dihadiri oleh keluarga dan
teman-teman dekat saja.
Upacara
berlangsung secara khidmat dan tanpa kendala, lalu dilanjutkan dengan acara
resepsi.
Himeko,
sembari memberi selamat kepada kakaknya dan Haruki yang tampak bahagia, tak
sanggup menahan diri untuk tidak mengeluh.
"Maksudku,
tentu saja, aku memang pernah bilang kalau Kakak tidak boleh pulang ke rumah
kecuali bersama Haru-chan! Tapi siapa yang menyangka kalau dia bakal menikah
dan membawanya pulang ke rumah pada hari yang sama saat mereka bersatu
kembali!? Dan menikah bahkan sebelum sempat berpacaran—sebenarnya apa-apaan
ini!"
Kazuki,
yang duduk di meja yang sama, menyetujui hal itu dengan senyum getir.
"Aku
juga mendengarnya dari Hayato-kun belakangan. Dia bilang kalau orangnya adalah
Nikaidou-san, ini cuma masalah apakah mereka akan mendaftar cepat atau lambat,
jadi tempa besi selagi masih panas. Aku sampai dibuat syok."
"Aku
selalu berpikir Kakak dan Haru-chan pada akhirnya bakal bersatu suatu hari
nanti, tapi ini benar-benar terlalu cepat."
"Yah,
ketegasan seperti itu sangat mencerminkan seorang Hayato-kun."
Kazuki dan Himeko
saling bertukar pandang penuh rasa jengkel.
Kemudian Mari,
yang berada di meja yang sama, mengeluarkan suara yang terdengar hampir seperti
bermimpi.
"Tapi
bukankah itu sangat romantis!? Mereka berjanji untuk pergi ke tempat yang sama,
dan mereka benar-benar mewujudkannya! Ah, aku juga ingin dicintai sekuat
itu!"
Namun Himeko
memberikan senyuman sinis dan berkata kepada Mari.
"Dengar ya.
Saat seseorang di keluargamu sendiri melakukan hal seperti ini, itu akan
menaikkan standar romantisme. Kamu juga bakal melakukan hal yang sama, kan, Mari-chan?"
"Hah,
kamu benar! …Tunggu, bagaimana bisa aku punya kehidupan asmara seperti
bibiku!?"
Saat Mari
kelihatan cemas, Himeko memberinya tatapan yang mendekati rasa kasihan.
Kemudian Saki,
yang duduk di sampingnya, bergumam dengan raut wajah pasrah.
"Sekarang
aku tidak bisa menahan diri untuk membandingkan calon pasangan mana pun dengan
Kak Hayato… dan kalau hal itu terjadi, yah…"
"Tunggu, apa
bibiku dan Hayato baru saja meroketkan standar romantisme kita!?"
Mari menyadari
kebenarannya dan gemetar.
Himeko memberikan
senyum getir seolah ingin mengatakan "turut berduka cita".
Gadis itu murni
merasa bahagia karena Haruki dan kakaknya bisa bersatu.
Bagaimanapun
juga, itu telah menjadi harapannya juga.
Namun memang
benar bahwa kisah cinta mereka terlalu mirip dengan dongeng.
Ketika
orang-orang terdekat di sekitarmu memiliki kehidupan asmara seperti itu, kamu
tidak bisa menahan diri untuk berpikir bahwa begitulah seharusnya sebuah
percintaan.
Tentu saja, dia
tahu bahwa sebagian besar kisah cinta tidaklah seperti itu.
Tetap saja, dia
tidak bisa menahan diri untuk terpikat oleh kisah cinta seperti milik mereka.
Himeko
mengembuskan napas pasrah lalu menggerutu.
"Kalau kita
tidak bisa menikah, ini bakal jadi kesalahan Kakak dan Haru-chan. Orang-orang
yang bisa tetap jatuh cinta secara teguh selama lebih dari lima tahun dan terus
bekerja keras demi pasangan mereka—mereka itu hampir mustahil untuk ditemukan."
"Itu
tidak benar!"
Kazuki
mendadak membantah.
Wajahnya
tampak tegang—bukan bercanda, bukan menghibur, benar-benar serius.
"Um,
Kazuki-san…?"
Mendengar
letupan yang tidak pada tempatnya itu, Himeko memanggil namanya dengan bingung.
Kazuki,
yang kelihatan gugup tidak seperti biasanya, memaksakan kata-katanya keluar.
"A-Ada satu
orang di sini! Seseorang yang telah mencintai Himeko-chan selama lima—tidak,
sebenarnya lebih dari enam tahun…!"
"…………Eh?"
Tidak
sanggup memproses situasi yang ada, Himeko mengeluarkan suara tercengang.
Melihat
gadis itu bersikap sangat biasa saja, Kazuki dengan nekat mencurahkan
perasaannya seolah-olah tidak ada lagi yang perlu dipertaruhkan.
"Aku
telah mencintaimu sepanjang waktu ini, Himeko-chan! Bahkan alasanku mulai menjadi model adalah
karenamu. Aku ingin mengubah diriku agar layak bagimu. Aku masuk ke universitas
yang sama karena aku ingin bersamamu sebanyak mungkin! Saat kamu mendirikan
perusahaanmu, dan saat aku menerima pekerjaan model busana wanita itu karena
aku bisa kelihatan imut meskipun sebagai seorang pria—itu semua demi kamu!
Karena aku ingin menjadi seseorang yang berguna bagi orang yang kucintai!"
"Eh, tidak
mungkin…!?"
Hal itu sangat
sulit untuk dipercaya.
Saat Himeko
menatap dengan mata membelalak, bahkan sang pengantin wanita yang seharusnya
menjadi bintang utama hari ini—Haruki—ikut menimpali.
"…Itu benar.
Hime-chan mungkin tidak menyadarinya, tapi Kaidou telah diselamatkan olehmu.
Dia melakukan segala hal dengan memikirkan dirimu."
Kemudian adik
Kazuki, Momoka, menambahkan.
"Itu benar.
Dan sejujurnya, aku ingin kamu bersatu dengannya agar Airi akhirnya bisa move
on secara total."
"Hei, Kak
Momocchi!?"
Tampaknya hal itu
benar adanya.
Yuzu juga
terlihat mengedikkan bahunya.
Mungkin gadis itu
juga tidak tahu, tetapi bahkan kakaknya sendiri tampak terkejut—yang mana entah
bagaimana terasa menggelikan.
Kemudian Kazuki
memohon kepada Himeko.
"Aku tidak
memintamu untuk menerima perasaanku. Aku hanya ingin kamu tahu bahwa aku telah
jatuh cinta kepadamu sepanjang waktu ini, bahwa aku telah bekerja keras demi
kamu. Meskipun aku mungkin tidak mencapai sebanyak yang didapatkan Hayato-kun."
"Tidak,
tidak, tidak, kamu tidak bisa bilang begitu, Kazuki-san! Kamu adalah model
papan atas yang melakukan pemotretan busana pria maupun wanita sekarang, kan!?
Dan lagipula, aku tidak cukup baik untukmu—apa kamu yakin tidak sedang
menggodaku saja?"
"Itu
tidak benar—aku benar-benar serius! Aku berpikir bahwa pekerjaan model itu
singkat, jadi untuk bersiap menghadapi situasi apa pun, aku telah mengambil
berbagai kualifikasi sertifikasi agar setidaknya bisa menafkahi satu
orang—yaitu kamu—sebagai seorang pria!"
"Ah,
kamu memang pernah menyebutkan dalam wawancara kalau hobimu adalah mengambil
kualifikasi sertifikasi! Dan kamu memilih universitas serta jurusanmu dengan
memikirkan hal itu juga!"
"…Mungkin
Himeko-chan cuma tidak menganggapku sebagai lawan jenis."
"Eh,
aku benar-benar melihatmu sebagai pria yang keren, tahu? Lebih dari itu, kamu bisa diandalkan—kamu sudah
menolongku berkali-kali. Aku berpikir kamu tidak punya pacar karena standartmu
terlalu tinggi. Dan aku berpikir siapa pun yang menjadi pacarmu bakal sangat
beruntung."
"Orang yang
kuinginkan sebagai pacarku! Orang yang ingin kubuat bahagia—hanya kamu,
Himeko-chan!"
Teriakannya
memenuhi seluruh ruang resepsi, mengheningkan kebisingan yang ada.
Semua
orang sedang memperhatikan Himeko dan Kazuki.
Gadis itu
tidak mengerti apa yang sedang terjadi.
Dulu dia
berpikir Kazuki memperhatikannya karena dia adalah adik perempuan dari
sahabatnya.
Dia tidak
pernah membayangkan pria itu merasakan hal seperti ini—bagaimana dia seharusnya
memproses hal ini?
Namun
pria itu kemungkinan besar memang serius.
Gadis itu
tahu betul bahwa Kazuki bukanlah tipe orang yang bakal bercanda tentang hal
seperti ini di saat-saat seperti sekarang.
Himeko meletakkan
sebelah tangannya di dada dan merangkai perasaannya untuk Kazuki ke dalam
kata-kata.
"…Um,
bagiku, Kazuki-san adalah sahabat Kakak, sosok yang bisa diandalkan, dan
seseorang yang kuhormati sebagai pribadi. Aku bisa membicarakan apa saja
dengannya dengan mudah, aku menikmati berada bersamanya, aku mempercayainya
tanpa syarat—dia adalah kehadiran yang sangat besar dalam hidupku… Tunggu,
sebenarnya, apa aku sudah mencintai Kazuki-san?"
"Hah,
Himeko-chan, kalau begitu itu artinya—!"
Saat Himeko
gemetar karena terkejut atas kesadarannya sendiri, Kazuki menatapnya dengan
mata penuh harapan dan keputusasaan.
Setelah menerima
perasaan Kazuki secara penuh, Himeko memberikan balasan jujurnya sendiri.
"Aku
mengerti. Kalau kamu serius, kalau begitu ayo kita juga menikah."
"Ah, terima
ka—tunggu, menikah!?"
"Iya, kalau
itu kamu, Kazuki-san, ini cuma masalah cepat atau lambat, kan?"
Setelah Himeko
memberikan jawaban yang sama persis seperti kakaknya dan membuat semua orang
terpana, sorak-sorai yang sangat besar pun meledak.
Dan dengan
begitu, pernikahan dengan durasi pacaran nol hari dari mahasiswi CEO terkenal
dan model populer itu pun turut menjadi bahan pembicaraan di seluruh penjuru
kota.



Post a Comment