NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Tenkou-saki no Seiso Karen na Bishoujo Volume 11 Chapter 10

Chapter 10

Pengantin di Bulan Juni


Masing-masing dari mereka telah menetapkan jalan hidup sendiri dan mulai berlari, hingga hari-hari yang sibuk pun berlalu.

Haruki, yang telah kembali dengan gemilang ke dunia hiburan lewat konser gerilya Twinkle, dengan cepat meraih popularitas tinggi, terbantu oleh perilisan film Senjin.

Tidak hanya pekerjaan sebagai idola, tetapi tawaran berakting dan menjadi model juga mengalir tanpa henti, membuatnya sangat sibuk.

Dan Haruki bukanlah satu-satunya yang popularitasnya melonjak tajam.

Saki juga dengan cepat meraih popularitas berkat daya ekspresi dan kehadirannya yang luar biasa.

Sebagai seorang penari di berbagai kesempatan, ekspresi seluruh tubuhnya tidak tertandingi, dan dia juga diakui sebagai seorang seniman.

Lebih dari itu, bakatnya mekar sebagai koreografer dan penasihat.

Mari, yang kemampuan menyanyinya telah diakui sejak Early Summer Live, melakukan debut solonya sebagai penyanyi secara terpisah dari Twinkle, menelusuri jalan itu dengan sungguh-sungguh.

Selain itu, berkat kelakuan klub penggemar tidak resmi Twinkle yang mengusung tagar "#KesalahanMari", dia sering diundang ke acara-acara variety show, di mana dia memperlihatkan sisi kecerobohannya dan membuat orang-orang tertawa.

Meskipun gadis itu tampak tidak puas, popularitasnya justru makin melonjak.

Kebetulan, Momoka juga merambah ke acara variety show, dan karakternya yang santai diterima dengan sangat baik oleh publik.

Karena dia dan Mari adalah senior dan junior di agensi yang sama, mereka sering tampil bersama.

Omong-omong, aksi cross-dressing Kazuki saat konser gerilya tampaknya diterima dengan sangat baik oleh berbagai pihak, dan dia kabarnya mulai sering mendapatkan tawaran untuk menjadi model busana wanita.

Meskipun Kazuki sendiri cukup bergulat batin, dia akhirnya memutuskan untuk menerimanya sebagai kelebihan yang hanya dimiliki oleh dirinya—dan Himeko lah yang mendesaknya untuk melakukan hal itu. Bagi Haruki, hal tersebut terasa sangat mencerminkan dirinya.

Sebagai bagian dari Twinkle maupun sebagai individu, Haruki sibuk merampungkan pekerjaan-pekerjaannya.

Waktu berlalu dalam sekejap mata, dan dengan bertransisinya mereka ke jenjang perguruan tinggi, dia menjadi terpisah dari teman-teman SMA-nya.

Haruki masuk ke universitas yang sama dengan Himeko, yang melanjutkannya melalui jalur internal.

Dan secara mengejutkan, Kazuki pun berada di universitas yang sama.

Meskipun Kazuki melanjutkan pekerjaan modelnya dan karena nilai-nilainya dulu sempat berantakan, dia tertinggal satu tahun di belakang.

Himeko, yang akhirnya menjadi teman sekelasnya, berkata rasanya aneh bisa berada di kelas mata kuliah wajib yang sama.

Terkadang gadis itu berbagi ruang kuliah besar dengan Haruki untuk mata kuliah umum, tetapi rasanya tetap berbeda.

Di sisi lain, Saki pergi ke universitas wanita yang sama dengan jalur internal Mari—sebuah sekolah tinggi ternama yang terkenal untuk para gadis muda terpandang. Yuzu dan Airi juga berkuliah di sana. Lebih dari itu, Momoka juga ada di sana, tetapi sama seperti Kazuki, dia mendaftar satu tahun terlambat.

Airi, yang mendaftar di tahun yang sama, sering kali berakhir harus mengurus Momoka dan merasa jengkel soal itu—Haruki sering mendengar hal ini sebagai cerita lucu dari Saki.

Iori, Ema, dan Minamo semuanya berhasil masuk ke fakultas dan jurusan impian mereka tepat setelah lulus SMA.

Merek berkata rasanya berat karena tenggelam dalam studi demi apa yang ingin mereka lakukan di masa depan, tetapi itu sangat menyenangkan.

Kehidupan universitas mereka benar-benar berbeda dari Haruki, yang hanya mengambil kredit semester secara efisien demi mendapatkan gelar diploma.

Meskipun dia telah terpisah dari semua orang, dia tetap terhubung melalui ponselnya. Grup obrolan mereka selalu aktif setiap hari. Jadi dia tidak pernah merasa kesepian.

Semua orang sedang bergerak menuju tujuan masing-masing.

Setelah masuk universitas, hal itu menjadi makin terlihat jelas.

Haruki juga terinspirasi oleh mereka dan menelusuri jalan hidupnya sendiri.

Musim demi musim kembali berganti, dan sekali lagi musim panas pun tiba.

Bulan Juni, tahun keempat universitas.

Ini adalah musim panas terakhirnya sebagai seorang mahasiswa.

Matahari bersinar dengan teriknya, seolah-olah sedang memanaskan suasana menyambut musim panas yang akan datang.

Bagi Haruki, musim panas adalah musim yang spesial.

Setiap tahun, dia tidak bisa menahan diri untuk mengharapkan sesuatu akan terjadi.

Haruki duduk dengan gelisah di ruang tunggu studio foto milik agensinya yang sudah tidak asing lagi, tak sanggup untuk tenang.

Dia memeriksa jam di dinding berkali-kali, berulang kali membuka dan menutup ponselnya.

Ekspresinya tampak tegang, dengan nada gugup yang terlihat jelas di wajahnya.

Dia mengambil sebuah kue tradisional Jepang—kin-gyoku-kan yang dibentuk menyerupai bunga ortensia dan ditata seperti bunga temari—memasukkannya ke dalam mulutnya, lalu mengembuskan napas panjang.

Kemudian Seiji, yang berada di sudut ruangan, tak sanggup menahan tawa dan akhirnya meledak.

"Hehe."

"…Apa?"

Sadar akan perilakunya sendiri yang mencurigakan dan berpikir sedang diejek, Haruki memberikan tatapan tajam dan datar ke arah Seiji.

Seiji mengangkat kedua tangannya ringan seolah meminta maaf lalu berkata.

"Maaf, aku cuma berpikir—sekarang kamu adalah idola yang sangat populer dan aktris terkenal yang dikenali semua orang, tapi di sini kamu justru lebih gugup daripada seorang pemula yang baru debut hari ini. Jadi, apa mengambil foto untuk photo book pertamamu benar-benar memicu rasa gugup sehebat itu?"

Hari ini, Haruki berada di sini untuk melakukan pemotretan photo book pertamanya yang akhirnya terwujud.

Pada akhirnya, permintaannya untuk membuat photo book telah disetujui.

Riasan wajah dan busananya sudah siap, dan dia sedang menunggu studionya siap digunakan.

Haruki sudah sering melakukan pekerjaan sebagai model sebelumnya.

Seperti yang dikatakan Seiji, ini bukanlah sesuatu yang perlu dibikin gugup lagi.

Namun bagi Haruki, pemotretan hari ini terasa sangat spesial.

Tetap saja, dia tidak menyangka akan kehilangan kendali atas emosinya sejauh ini.

Haruki memasang raut wajah canggung dan membalas dengan agak bersungut-sungut.

"Yah, maaf ya."

Seiji mengedikkan bahu dan berkata.

"Tidak, aku cuma terkejut karena kupikir kamu bakal merasa lebih bersemangat atau senang."

"Aku sendiri juga terkejut, sejujurnya."

"Omong-omong, apa kue-kue itu berasal dari lini produk baru toko wagashi itu?"

Mendengar perubahan topik mendadak dari Seiji, Haruki memanyunkan bibirnya.

"Hah, iya. Merek mengirimkan sampel dari produk baru mereka."

"Luar biasa, kudengar selalu ada antrean panjang di sana."

"Hei, aku tidak akan tertipu oleh pengalihan topik yang jelas sekali itu."

Seiji mengangkat kedua tangannya secara apologetis dan memberikan senyum getir.

Tetap saja, tidak ada suasana permusuhan di antara mereka—itu hanyalah percakapan santai.

Dia telah menjadi cukup dekat dengan kakak tirinya itu.

Meskipun pria itu adalah kakaknya secara hubungan darah, bagi Haruki, Seiji adalah sosok dewasa terdekat di luar ibunya, dan juga seseorang yang mengajarkannya bahwa orang dewasa bisa menjadi sangat kekanak-kanakan secara mengejutkan.

Dia ingat betul bagaimana Seiji pernah mengarahkan perasaan obsesif kepadanya saat pertama kali mereka bertemu.

Suatu kali, setelah acara pesta perayaan usainya sebuah pekerjaan, Seiji mabuk berat tidak seperti biasanya dan menceritakan tentang masa-masa itu.

Ternyata, Seiji pada awalnya mengagumi aktor-aktor seperti ayahnya.

Namun dia tidak memiliki bakat dan harus menyerah.

Meskipun begitu, dia tidak bisa melepaskannya begitu saja dan tetap melekat pada industri ini.

Jadi saat melihat bakat Haruki, dia tidak tahan melihat seseorang mencoba menguburnya, dan dia meminta maaf karena telah meluapkan kekecewaan kekanak-kanakannya kepada gadis itu.

Haruki sempat kehilangan kata-kata saat itu.

Itu hanyalah igauan orang mabuk.

Dan bahkan ketika diberitahu bahwa dia memiliki "bakat"—Haruki tidak begitu memahaminya.

Namun Haruki mengenal seseorang yang menderita justru karena mereka tidak memiliki bakat dan tidak bisa berdiri di atas panggung.

Dia menyejajarkan kakaknya ini, yang terus mengulurkan tangan tanpa menyerah, dengan orang tersebut, dan kata-kata yang keluar dari mulutnya secara spontan di saat-saat mendesak adalah—

"Yah, kamu punya bakat sebagai seorang produser, kan?"

Dia telah mengatakan hal seperti itu, dan hal itu membuat Seiji tertawa terbahak-bahak—momen yang meninggalkan kesan mendalam. Setelah itu, sikap pria itu melunak.

Mungkin saat itulah, secara canggung, Haruki dan Seiji benar-benar menjadi saudara.

Setelah beberapa saat, mereka bertukar senyuman yang seolah mengatakan "mau bagaimana lagi".

Kemudian Seiji berdeham untuk menyegarkan percakapan dan mengangkat topik lain.

"Semua pakaian hari ini berasal dari Princess Mist?"

"Iya. Saat mereka mendengar aku bakal membuat photo book pertamaku, mereka memaksakan diri untuk merancang semuanya."

"Merek baru dari CEO mahasiswi yang popularitasnya sedang meroket—teman masa kecilmu itu, kan?"

"Iya, dan aku masih terkejut Hime-chan memulai sebuah bisnis."

Haruki mengembuskan napas panjang.

Princess Mist adalah merek pakaian dan kosmetik yang didirikan Himeko tepat setelah masuk universitas.

Ketika mendengar dari Himeko bahwa dia ingin memulai bisnis tak lama setelah masuk universitas, Haruki berpikir itu hanyalah impian atau cita-cita masa depan belakangan—tetapi gadis itu mendirikan perusahaannya dalam kurun waktu tahun itu juga, membuat Haruki benar-benar syok. Dan Himeko tidak hanya melibatkan Haruki—dia dengan cepat menyeret teman-temannya yang lain untuk ikut serta, melesat maju ke depan.

Untuk manajemen bisnis, dia memiliki Ema yang belajar administrasi bisnis di universitas untuk membantunya, dan untuk hubungan eksternal, dia mendapatkan bantuan dari Yuzu juga.

Dengan bantuan semua orang, terlepas dari beberapa krisis yang terjadi, dia berhasil membawa bisnisnya ke jalur yang benar.

Hal itu sangat mencerminkan Himeko—atau lebih tepatnya, sangat mencerminkan adik dari Hayato—hingga terasa seperti faktor keturunan.

Tentu saja, Haruki juga ingin membantu lebih dari sekadar berinvestasi.

Dia telah memilih Princess Mist untuk pakaian photo book-nya dengan harapan bisa membantu mempromosikan merek tersebut.

Dan Seiji bergumam penuh perasaan.

"Haruki-kun, kamu benar-benar diberkahi dengan teman-teman yang hebat."

"Kenapa mendadak bilang begitu?"

"Tidak, pakaian-pakaian itu benar-benar cocok untukmu. Karena dibuat oleh seseorang yang mengenalmu luar dalam, pakaian itu memancarkan pesonamu dengan sempurna."

"Yah, Hime-chan yang membuatnya khusus untukku."

Merasa sedikit malu karena diberitahu hal itu lagi, Haruki membalas dengan lugas.

Tepat saat itu, ada ketukan di pintu ruang tunggu.

Seorang staf yang sudah tidak asing memunculkan kepalanya dan berkata, "Kami sudah siap."

Haruki berdiri dan menjawab.

"Baik."

Dengan tubuh tegang dan langkah kaki yang agak berat, dia berjalan menyusuri koridor.

Melihatnya begitu kaku, Seiji menggodanya untuk meredakan ketegangan.

"Kamu kelihatan seperti mau pergi ke tempat duel."

"…Iya, ini seperti pertarungan serius. Lawanku adalah seorang bintang baru yang telah menyapu bersih berbagai kompetisi satu demi satu. Aku sudah mensimulasikan bagaimana cara tampil memenuhi ekspektasi tersebut sepanjang waktu. …Bahkan sampai sekarang."

"Aku mengerti. Dia terkenal karena sanggup menangkap pesona dari hal-hal yang biasa dan sehari-hari lalu menemukan kembali kebaikannya, membuat orang-orang merasa bahagia—seorang fotografer yang sederhana namun ortodoks. Ah, kalau dipikir-pikir lagi, dia memang sudah seperti itu sejak dulu."

"Iya, lawan yang tidak bisa ditipu dengan trik-trik. Karena itulah aku merasa gugup."

"Kamu sudah lama tidak bertemu dengannya, kan?"

"Iya. Dia berlari lurus menuju tujuannya tanpa melirik ke arahku sedikit pun. Padahal, dia terus mengambil berbagai macam foto yang menarik dan memenangkan penghargaan."

"Jadi kamu merajuk karena merasa diabaikan."

"…………"

Tepat sasaran, Haruki membisu dan memberikan tatapan datar lainnya.

Seiji berkata kepadanya dengan senyuman terhibur.

"Dia tidak mengabaikanmu. Dia cuma sedang membidikmu tanpa adanya gangguan. Sama sepertiku, dia tidak memiliki bakat untuk berdiri di atas panggung."

"Hal itu… aku mengerti apa yang kamu katakan, tapi…"

Tetap saja, dia merasa agak terasingkan.

Segera saja, pintu masuk studio mulai terlihat.

Seiji memberikan tepukan ringan di punggung Haruki.

"Ayo, kalau kamu penasaran, tanyakan saja sendiri padanya."

"…Ah."

Dan Haruki melewati pintu itu lalu melangkah masuk.

Di dalam studio yang diatur dengan tema pemotretan hari ini—"Sebuah Pertemuan Musim Panas"—di antara para staf yang sudah tak asing, dia melihat sebuah sosok yang membangkitkan nostalgia.

Ini adalah reuni setelah sekitar lima tahun lamanya.

Sedikit lebih tinggi dan lebih tegap daripada yang ada di memorinya, dengan wajah dewasa bergaris tegas, tetapi masih menyisakan jejak-jejak dari dirinya saat masih kecil, teman masa kecilnya berdiri di sana dengan kamera di tangan—Hayato.

Jantungnya berdegup sangat kencang.

Dalam sekejap, pipi dan tubuhnya terasa hangat, dan rasa bahagia menyebar ke seluruh tubuhnya.

Pria itu kelihatan jauh lebih dewasa.

Dia tidak bisa lagi disebut sebagai seorang anak kecil.

Namun auranya sama sekali tidak berubah sejak masa kecil dulu.

Ujung jarinya gemetar, dan dia menelan ludah.

Dia telah menunggu sepanjang waktu ini.

Ini adalah momen nyata yang selama ini diimpikannya.

Sudah berapa lama dia merindukan hari ini?

Dia selalu percaya pria itu akan datang sesuai janji, tetapi memang benar bahwa dia juga sempat merasa cemas.

Dia harus mengatakan sesuatu.

Namun kata-kata tidak bisa keluar sekaligus.

Hayato, yang menyadari keberadaannya, berkedip.

Sama seperti Haruki, dia tampak terlalu terkejut untuk tahu harus mengatakan apa.

Namun Hayato—dengan senyuman agak jahil yang terukir mendalam di pikiran Haruki dan sangat dicintainya—mengangkat satu tangannya dan berkata secara kasual.

"Yo, Haruki. Sudah lama tidak bertemu ya."

Kalimat itu terlalu ringan untuk sebuah reuni setelah lima tahun.

Seolah-olah mereka baru saja berpisah kemarin.

Dia telah menunggu dan cemas begitu lama tentang apakah hari ini akan pernah datang.

Haruki berkata dengan nada yang sedikit merajuk.

"Kamu membuatku menunggu terlalu lama."

Hayato memasang raut wajah canggung, lalu tertawa dan menjawab.

"Haha, maaf. Ini sih lebih karena kamu yang melangkah terlalu jauh di depan—kamu jauh lebih populer dari yang kubayangkan, berada begitu jauh. Berempatilah sedikit pada orang yang sedang mengejarmu."

"Kamu sendiri terus memenangkan penghargaan tanpa henti dan membuat kehebohan selama dua atau tiga tahun belakangan ini juga."

"Masa sih? Aku cuma ingat mendaftar, tapi aku tidak terlalu memedulikan hasilnya."

"Justru itu masalahnya!"

"Haha, aku cuma menikmati momen mengambil foto kok."

Mengatakan hal itu, Hayato menggaruk kepalanya dengan malu-malu.

Hal itu sama persis seperti saat dia masih kecil dan datang terlambat beberapa menit ke tempat janji temu.

Dia benar-benar tidak berubah sama sekali.

Semua kecemasannya tentang apakah mereka bisa berbicara dengan benar terasa sangat konyol.

Rasanya hampir anti-klimaks.

Haruki mengembuskan napas panjang yang dibuat-buat seolah ingin mengatakan "mau bagaimana lagi".

Dulu dia berpikir akan memiliki begitu banyak hal untuk dikatakan saat mereka bersatu kembali.

Lagipula, begitu banyak hal telah terjadi selama mereka berpisah.

Namun kata-kata yang meluncur secara alami dari mulutnya adalah ini.

"Selamat datang kembali, Hayato."

Mendengar hal itu, mata Hayato membelalak dan membulat, lalu dia kelihatan bernostalgia dan malu-malu saat membalasnya.

"Aku pulang, Haruki."

Mereka menatap satu sama lain untuk beberapa saat, lalu sama-sama menemukan hal itu lucu dan terkekeh pelan.

Ah, memang begini seharusnya. Suasana yang seperti biasanya.

Pada akhirnya, Haruki bertanya, seolah ingin memastikan, dengan perasaan yang mendalam.

"Jadi kita benar-benar bisa bekerja sama mulai sekarang, kan?"

"Iya, aku akhirnya berhasil mengumpulkan cukup pengalaman untuk bisa sampai di sini."

"Rasanya aneh ya."

"Sama denganku. Dan aku sedikit merasa gugup."

"Gugup?"

Haruki mengeluarkan suara terkejut mendengar kata yang tidak terduga tersebut.

Saat dia menatapnya dengan curiga—pria itu sama sekali tidak kelihatan gugup sebelumnya—Hayato menjawab dengan malu-malu.

"Yah, kamu tahu sendiri, belakangan ini aku sering mengambil foto pemandangan dan hewan, jadi aku tidak terlalu percaya diri dengan manusia."

"Ah, kalau dipikir-pikir lagi, karya-karyamu yang memenangkan penghargaan memang seperti itu. Tapi kamu dulu sering sekali mengambil foto hal-hal seperti '#KesalahanMari', jadi kamu pasti bakal baik-baik saja."

"Haha, itu membawa kembali kenangan lama. Yah, aku sudah jarang berlatih, jadi itu membuatku tetap waspada. Lagipula, kamu jadi jauh lebih cantik daripada dulu."

"Gyah!?"

Haruki mengeluarkan suara kaget yang tidak disengaja.

Jauh lebih cantik?

Apa yang mendadak dikatakan oleh teman masa kecilnya ini?

Ah, benar—pria itu memang selalu tipe orang yang melontarkan apa pun yang terlintas di pikirannya.

Jadi apa pria itu benar-benar berpikir bahwa dirinya cantik?

Pikiran-pikiran semacam itu berputar-putar tanpa guna di kepalanya.

Namun kemudian dia berpikir, betapa murahannya diriku ini, merasa senang hanya karena diberitahu hal seperti itu—dan tepat saat itulah, suara jepretan kamera terdengar.

Dan Hayato mengeluarkan suara gembira.

"Oh, dapat yang bagus nih."

Melihat kegembiraan kasual dari Hayato, mata Haruki membelalak dan dia berteriak.

"Hei, jangan mengambil foto aneh secara mendadak begitu dong!"

"Momennya pas sekali, aku tidak bisa menahannya. Bagaimana kalau kita pakai ini sebagai bonus behind-the-scenes?"

"Aku tidak bisa berkata apa-apa karena aku tahu itu memang mungkin bakalan berhasil! Ugh!"

Saat Haruki menggerutu kesal, gelak tawa berdesir di antara para staf.

Dan Seiji menggumam menggodanya.

"Hehe, itu reaksi yang sama persis seperti Mari-kun."

"Ugh."

Merasa seperti disebut kekanak-kanakan, gadis itu menatapnya tajam, tetapi Seiji hanya mengedikkan bahu santai, membuat Haruki mengembuskan napas pasrah.

Kemudian Hayato tersenyum jahil.

"Baiklah, ayo kita mulai pemotretannya."

"Oke."

Haruki melangkah ke tempat yang ditentukan dengan langkah yang sedikit lemas.

Tetap saja, berkat interaksi ini, ketegangannya telah mereda dalam jumlah yang pas.

Apakah ini juga merupakan bagian dari kalkulasi Hayato sebagai seorang fotografer?

…Tidak, itu pasti cuma murni sifat aslinya saja, simpulnya.

Namun hal itu membawanya ke dalam kondisi pikiran yang baik untuk pemotretan.

Dan saat Hayato mengangkat kameranya di depan gadis itu, udara di sekitarnya berubah secara total.

"——"

Haruki menahan napas dan meneguhkan hatinya.

Seperti tali busur yang teregang kencang, atau seekor pemangsa yang sedang mengintai mangsanya.

Pria itu adalah seorang pemburu, memperhatikan setiap gerak-geriknya, siap mengabadikan momen terbaiknya.

Gadis itu memahaminya sangat baik.

Selama waktu perpisahan mereka, Hayato telah berkembang menjadi seorang fotografer kelas wahid.

Tidak heran jika pria itu berhasil memenangkan begitu banyak penghargaan.

Semangat Haruki membumbung tinggi tidak seperti biasanya.

Bibirnya terangkat secara alami membentuk ukiran senyum.

Haruki juga mengubah udara di sekitarnya—dan menghadapi pemotretan ini dengan serius.

Tema hari ini adalah "Sebuah Pertemuan Musim Panas"—kisah seperti apa yang akan dirajutnya?

Tidak, lawannya adalah Hayato.

Jika begitu, hanya ada satu cara.

Gadis itu jeda sejenak dan mengembuskan napas kecil.

Haruki menundukkan kepalanya, menatap ke bawah, memancarkan aura negatif seolah-olah dia tidak menyetujui segala hal.

Namun dia melemparkan pandangan memohon ke sekelilingnya.

Itu adalah ekspresi yang sangat tidak cocok untuk photo book seorang idola.

Seiji dan para staf lainnya merasa bingung.

Namun hanya Hayato, sembari menekan tombol jepretan, yang tersenyum kemenangan.

Pria itu pasti langsung menyadari bahwa ini adalah situasi yang sama persis saat Haruki pertama kali bertemu dengannya dulu.

—Nah, sekarang apa yang akan kamu lakukan?

Saat Haruki memberinya tatapan menantang, Hayato memberikan sebuah arahan.

"Oh, ada angin. Rokmu bisa terangkat lho."

"——!?"

Suara itu terdengar sangat alami, seolah-olah angin benar-benar telah berembus.

Tergertak, Haruki langsung menekan roknya dan melemparkan tatapan kesal kepadanya.

Hayato menangkap momen itu dengan sebuah tawa.

Para staf dan Seiji tertegun sejenak, lalu tersenyum hangat dan rileks.

—Dia kena tipu!

Pada saat Haruki memikirkan hal itu, Hayato sudah mengambil langkah berikutnya.

"Oh, angin menerbangkan topi jeramimu ke dahan pohon—"

Pria itu secara santai mengandaikan keberadaan properti yang sebenarnya tidak ada di sana.

Hayato kelihatan terhibur.

Tidak ingin ikut dalam permainannya, Haruki menemukan properti asli di dekatnya—bukan topi jerami, melainkan buah dari pohon—lalu berpura-pura memetik dan memakannya. Hayato kelihatan tercengang, lalu meledak dalam tawa.

Dan begitu saja, sebuah pemotretan yang penuh dengan ad-lib pun dimulai.

Mereka yang seharusnya berdiri di tepi sungai, justru berakhir dengan saling tembak pistol air; saat berjalan-jalan di taman, mereka menemukan sebuah kedai dan makan es krim kerucut begitu cepat hingga membuat kepala mereka pening—semuanya terasa kacau balau.

Hal itu benar-benar persis seperti kejahilan bersama Hayato dulu.

Namun pemotretan itu terasa sangat menyenangkan.

Dan foto-foto yang dihasilkan mungkin akan sangat jauh dari citra murni dan anggun yang dimilikinya sebagai idola dan aktris.

Namun foto-foto itu pasti akan menyampaikan pesona baru dari seorang Haruki.

Hal-hal ini adalah sesuatu yang hanya bisa dikeluarkan oleh seorang Hayato.

Setelah beberapa kali berganti kostum, pemotretan yang dijadwalkan berakhir tanpa kendala, dan suara-suara apresiasi memenuhi studio.

Haruki langsung berlari ke arah Hayato dan mengeluh.

"Ugh, apa-apaan semua aksi barusan itu!"

"Cuma, kamu tahu kan, hal yang itu."

"Kalau maksudmu 'hal yang itu', beritahu aku terlebih dahulu!"

"Haha, maaf. Tapi menyenangkan, kan?"

"Tentu saja!"

Mereka menatap satu sama lain dan tertawa seolah kejahilan mereka telah berhasil.

Kemudian Hayato, dengan senyuman cerah dan polos—senyuman favorit Haruki—berkata.

"Ini benar-benar yang terbaik—melakukan berbagai hal bersamamu. Melakukan pemotretan ini membuatku menyadarinya sekali lagi. Aku ingin melakukan lebih banyak hal menyenangkan bersamamu mulai sekarang."

Kata-kata jujur dari Hayato meresap ke dalam hati Haruki.

"Iya, aku juga. Aku selalu menantikan kepulanganmu sepanjang waktu ini."

"Begitu ya. Dengan adanya kamu di sini, aku merasa bisa melakukan apa saja."

"Itu berlebihan."

"Tidak kok. Karena kamu menungguku, aku bisa melangkah sejauh ini. Ah, jadi aku berpikir, um…"

"Hayato?"

Mendengar keraguan mendadak dari Hayato, Haruki memiringkan kepalanya bingung.

Setelah berpikir sejenak, mencari kata-kata yang tepat, pria itu berkata.

"Jadilah partnerku seumur hidup."

"Eh? Kenapa dengan nada formal begitu? Aku sudah menganggap diriku sebagai partnermu sejak dulu."

Haruki memberinya tatapan agak tidak puas, dan Hayato tersenyum getir.

"Bukan, bukan itu maksudku—"

Hayato berhenti di sana, menarik napas dalam-dalam.

Menatap lurus ke dalam matanya, dengan nada kasual yang sama seperti biasanya, tetapi dengan wajah yang memerah, serta dengan mata dan suara yang serius, pria itu berkata.

"—Aku ingin menjadi keluarga bersamamu. Ayo kita menikah."

Haruki, yang tergertak oleh lamaran mendadak itu, menerimanya secara langsung.

Pada awalnya, rasa syok membuat pikirannya kosong sejenak.

Siapa yang bisa membayangkan akan diberitahu hal seperti itu pada hari di mana mereka bersatu kembali?

Ah, tapi hal itu sangat mencerminkan seorang Hayato.

Pria itu selalu muncul dengan hal-hal mendadak, menyapunya, dan pada akhirnya membuatnya tersenyum—itulah pria yang telah membuatnya jatuh cinta.

Dan jauh di dalam hati Haruki, ada sebuah harapan yang selalu digenggamnya.

—Dia menginginkan sebuah keluarga.

Dia telah menyembunyikannya, bahkan berpura-pura melupakannya.

Setelah dijauhi oleh ibunya, dan kemudian kehilangan ibunya setelah mereka berdamai, itu adalah harapan kecil yang telah ditinggalkannya.

Jadi kata-kata Hayato adalah kalimat paling telak yang pernah didengarnya.

Air mata bahagia menetes dari matanya, dan Haruki mekar dengan senyuman lebar yang mewujudkan kebahagiaan itu sendiri.

"Ya!"

Suara jepretan kamera terdengar, disusul sorak-sorai besar yang meledak dari orang-orang di sekitar.

Hayato menangkapnya saat gadis itu melompat ke dadanya, menguncinya dengan sebuah kecupan.

Foto yang diambil Hayato secara refleks pada momen itu menjadi sampul dari photo book ini.

◇◇◇

Sebuah desa terpencil di mana jumlah domba dan ayam lebih banyak daripada manusianya.

Di sana, dulu sekali, dia pernah membuat teman berharga pertamanya.

Namun dia telah terpisah dari Haruki.

Kemudian, lewat sebuah keajaiban, mereka bersatu kembali—dan Haruki telah menjadi Nikaidou Haruki yang murni dan anggun.

Karena pada masa lalu dia mengira gadis itu adalah seorang laki-laki dan bermain bersamanya, dia sempat merasa bingung.

Dan mempelajari hal-hal yang tidak diketahuinya dulu, dia merasa tidak berdaya.

Namun dia tetap mencintai senyuman yang tidak pernah berubah itu.

Jadi dia berlari tanpa berpaling demi merebut kembali senyuman tersebut.

Dan sekarang, akhirnya, jalan mereka saling bertautan dengan musim panas.

Bersama dengan teman yang ditemuinya pada hari musim panas itu, dia akan menelusuri jalan kehidupan.

Dan dengan begitu, partner baginya—Nikaidou Haruki—resmi menjadi Kirishima Haruki.




Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close