Chapter 6
Tidak Seperti Dirimu yang Biasanya
Di
mana-mana di TV dan internet─dan tentu saja di kelas Hayato─topik pembicaraan
utama adalah Senjin, atau lebih tepatnya, Haruki yang tampil di dalamnya.
Haruki
tidak hanya memiliki penampilan yang manis sebagai seorang idola, tetapi juga
telah menunjukkan kemampuan akting dan pesona panggung yang tidak kalah dari
ibunya, sang aktris hebat.
Sementara
dia dibentuk oleh publik sebagai sosok pahlawan wanita tragis yang kini hidup
sebatang kara, atmosfer yang mengharapkan dirinya untuk bangkit dari duka atas
kematian sang ibu dan berkembang tidak hanya sebagai idola, tetapi juga sebagai
aktris ke depannya mulai terbentuk.
Di kelas,
orang-orang mengajaknya bicara, mengatakan hal-hal seperti "Aku sudah
menontonnya, keren banget!", dan "Kamu ternyata tidak cuma jago
menyanyi, tapi akting juga ya."
Ada
begitu banyak orang yang berharap Haruki akan kembali ke atas panggung.
Namun
meski begitu, Haruki hanya memberikan balasan yang terkesan tidak berbahaya,
bersikap biasa saja seperti yang sudah-sudah.
Mereka bertemu di
pagi hari dan berjalan ke sekolah bersama, mengobrol saat jam istirahat, lalu
makan siang bersama di markas rahasia. Setelah sekolah, gadis itu membantu
merawat tanaman di klub berkebun atau menyertai Hayato ke tempat kerja paruh
waktunya, mencari sudut yang tidak mencolok untuk mengerjakan PR, lalu kembali
ke rumah keluarga Kirishima untuk makan malam.
Semua itu terasa
hampir konyol karena terlalu sama seperti biasanya.
Bahkan meski tahu
akan hal itu, dia merasa tersapu oleh kehidupan sehari-hari tempat sesuatu
terasa tidak pas.
Betapa konyolnya.
Suatu hari yang
terasa kabur dan samar saat jam makan siang di markas rahasia.
Seperti biasa,
mereka mengobrol tentang hal-hal sepele─tentang betapa teriknya panas di siang
hari, kue-kue manis dan jajanan pasar Jepang yang baru, serta kenakalan
Tsukushi belakangan ini.
Di tengah-tengah
obrolan itu, tepat saat Hayato menghabiskan bekalnya, Kazuki berbicara
kepadanya.
"Hayato-kun,
apa kamu punya waktu sebentar? Ada sesuatu yang ingin kubicarakan
denganmu─hanya kita berdua."
Fakta bahwa dia
secara khusus ingin berbicara secara pribadi, bahkan saat semua orang hadir di
sana, menarik tatapan penasaran dari rombongan ke arah Kazuki, yang hanya
tersenyum penuh arti.
Ada apa gerangan?
Tetap saja,
Hayato tidak punya alasan untuk menolak, dan meski bingung, dia menyetujuinya.
"Tentu saja,
tapi... sekarang?"
"Iya, aku
akan sangat berterima kasih. Tidak akan lama kok."
Sembari berkata
begitu, Kazuki berdiri, dan Hayato pun mengikutinya.
Mereka berjalan
bersama menyusuri koridor, memanjat tumpukan meja yang menggunung di tangga
gedung sekolah lama, lalu dituntun menuju area atap di sebaliknya.
Itu
adalah tempat yang tandus dan terasa agak sepi.
Hayato
bergumam terkejut.
"Aku
tidak tahu tempat seperti ini ada di sini."
"Tempat
ini sempurna untuk percakapan yang tidak boleh terdengar orang lain, kan? Minamo-san yang memberitahuku soal
tempat ini."
"Minamo
yang memberitahumu?"
"Ah, aku
sudah minta izin duluan kok pada Minamo-san."
Mendengar nama
yang tak terduga membuat mata Hayato membelalak, dan Kazuki mengedipkan matanya
dengan jahil.
Waktu istirahat
makan siang tidak tersisa banyak lagi.
Menenangkan
dirinya, Hayato mendesaknya untuk langsung ke inti permasalahan.
"Jadi, ada
apa sebenarnya sampai kamu membawaku jauh-jauh ke sini?"
Setelah ragu-ragu
sejenak, Kazuki berdeham dan membetulkan posisi berdirinya.
Kemudian dia
berbicara, dengan raut yang sedikit malu.
"Hayato-kun,
kamu pernah menyelamatkanku. Kamu selalu begitu lugas, jujur, dan menghadapi
segala sesuatu secara langsung dengan perasaanmu yang sebenarnya─hal itulah
yang kukagumi darimu. Dan kamu selalu siap berlari untuk menolong seseorang
yang membutuhkan, tanpa perhitungan atau niat terselubung... Karena itulah aku
juga ingin menjadi seperti itu. Aku merasa jauh lebih berterima kasih dan
terpengaruh olehmu daripada yang kamu bayangkan."
"Oh,
uh..."
Mendapatkan
kata-kata jujur yang membuat malu dilemparkan kepadanya secara langsung, Hayato
menggaruk kepalanya, merasa canggung.
Namun Kazuki
kemungkinan besar tidak membawanya ke sini hanya untuk mengatakan hal tersebut.
Dan kemudian,
dengan pandangan mata yang serius, Kazuki masuk ke inti permasalahan yang
sebenarnya.
"Tapi
belakangan ini, kamu─bagaimana ya bilangnya─tidak seperti dirimu sendiri."
Jantungnya
melonjak sekejap.
─Tidak
seperti dirimu sendiri.
Hal itu
memang benar adanya.
Namun
karena tidak ingin mengakuinya, Hayato berpura-pura bodoh.
"Tidak
seperti diriku sendiri? Apa maksudmu? Kurasa aku masih sama saja seperti
biasanya kok."
Tetapi Kazuki
menggelengkan kepalanya dengan raut serba salah lalu berkata.
"Kalau
begitu biar kutanya dengan cara berbeda. Menurutmu, apa Nikaidou-san harus kembali ke dunia hiburan?"
"Itu
sih─"
Hayato kehilangan
kata-kata.
Ini sama saja
seperti mengakui perkataan Kazuki tadi.
Namun Hayato
memalingkan pandangannya dan menjawab dengan mengelak.
"─Hal itu
adalah sesuatu yang harus diputuskan oleh Haruki sendiri. Bukan hakku untuk
mengaturnya."
"Tapi jauh
di dalam hatimu, kamu berpikir dia harus kembali ke dunia hiburan. Bukankah
begitu?"
"──────!"
Mendengar nada
bicara Kazuki yang tegas, Hayato menggeletukkan giginya.
Kazuki menatap
balik tatapan tajam Hayato secara langsung dan melanjutkan seolah-olah sedang
menegurnya.
"Kamu juga
mengetahuinya. Nikaidou-san memang tempatnya ada di dunia yang bersinar
itu."
"...Iya,
mungkin saja. Aku sudah diperlihatkan hal itu berkali-kali."
"Harusnya,
kamu adalah orang yang bakal mendesaknya untuk kembali ke dunia hiburan."
"Jadi
itu maksudmu dengan tidak seperti diriku sendiri?"
Hayato
menjawab dengan nada menyindir diri sendiri, dan Kazuki terus memprovokasinya.
"Iya,
tidak seperti dirimu sendiri. Kamu benar-benar sudah kehilangan
keberanianmu."
"Aku
kehilangan keberanianku?"
"Benar.
Kamu takut Nikaidou-san bakal kembali─takut dia pergi ke suatu tempat yang
jauh. Kamu sudah terintimidasi hingga menjadi seorang penakut."
"Kazuki!"
Dipanggil
secara lugas dengan kata-kata yang begitu menohok, pandangan Hayato mendadak
berkilat merah.
Tanpa
disadarinya, dia telah mencengkeram kerah baju Kazuki.
Namun
Kazuki sama sekali tidak gentar, dan justru makin mendesaknya.
"Lebih
tepatnya, kamu takut mengakui bahwa kamu hanya akan menghambat langkah
Nikaidou-san."
"Itu─"
Kali ini,
rasanya seperti ada air dingin yang disiramkan ke atas kepalanya.
Kata-kata Kazuki
menembus dadanya dan mulai terasa menyakitkan.
Itu adalah
sesuatu yang secara tidak sadar selalu dihindarinya untuk dipikirkan.
Mengapa Haruki
memisahkan dirinya dari dunia hiburan? ─Dia pernah berkata bahwa itu semua demi
kembali ke kehidupan sehari-hari ini.
Berjalan ke
sekolah bersama, menghadiri kelas, makan siang, melakukan kegiatan klub dan
kerja paruh waktu, menyantap makanan di meja yang sama.
Di pusat
kehidupan sehari-hari Haruki, ada Hayato di sana.
Hayatolah orang
yang mengikat Haruki saat ini.
Dipaksa untuk
menyadari hal itu, Hayato mengeluarkan keluhan lemah kepada Kazuki, yang
wajahnya tampak agak tertekan.
"...Tapi
aku tidak punya bakat untuk berada di tempat Haruki berada."
"Aku
juga tidak punya. Berada di industri yang sama, aku merasakannya dengan sangat
tajam."
"Tapi
kamu berada di panggung yang sama, kan?"
"Itu
semua berkat kakakku dan yang lainnya."
"Aku
tidak punya koneksi seperti yang kamu punya. Aku cuma seorang anak SMA biasa...
Apa yang harus
kulakukan?"
Hayato
menundukkan kepalanya, meluapkan rasa frustrasinya.
Kemudian Kazuki
memegang kedua bahunya, memaksanya untuk mendongak, dan menatap matanya secara
langsung.
"Kalau
begitu bicaralah padaku! Kita ini teman, kan!?"
"Kazuki..."
"Aku juga
tidak tahu harus melakukan apa. Tapi kita bisa memikirkannya
bersama-sama."
Pada akhirnya,
Hayato melepaskan ketegangan di bahunya dan melembutkan ekspresi wajahnya.
"Iya, kamu
benar. Maaf ya. Aku tidak pernah punya teman seumuran sebelumnya, jadi opsi
untuk berkonsultasi dengan seseorang tidak pernah terlintas di pikiranku."
"Karena
itulah kamu selalu menerjang maju sendirian."
"Diamlah."
"Impulsif─tapi
kemampuanmu untuk bertindak tanpa berpikir terlalu banyak menurutku adalah
salah satu kekuatanmu."
"Siapa yang
impulsif!"
"Haha."
Dan begitulah
Hayato dan Kazuki sama-sama mengembuskan napas tertawa.
Setelah menarik
napas sejenak, Hayato mengangkat topik tersebut kembali.
"Jadi,
menurutmu apa yang harus kulakukan?"
Setelah berpikir
sejenak, Kazuki berbicara dengan raut wajah yang serius.
"...Kurasa
tidak apa-apa kalau Nikaidou-san kembali menjadi warga biasa."
"Hei, itu
bertolak belakang dengan apa yang kamu katakan tadi."
"Haha, iya
sih. Secara pribadi, aku berpikir Nikaidou-san terlihat lebih hidup saat dia
menjadi seorang idola atau pengisi suara. Tapi aku juga berpikir keinginannya
untuk kembali ke sisimu adalah hal yang jujur. Namun..."
"Namun?"
Hayato
mengernyitkan dahi melihat jeda dramatis yang dibuat Kazuki.
Dengan
ekspresi yang sangat amat serius, Kazuki bertanya dengan tegas.
"Apa kamu
punya tekad untuk menerima Nikaidou-san?"
"Menerimanya?
Apa maksudmu...?"
"Bagi
Nikaidou-san yang telah kehilangan ibunya dan kini sebatang kara, kamu dan
Himeko-chan yang berbagi kenangan sejak masa kecil adalah sosok yang spesial.
Apa kamu paham bahwa kamu itu lebih dari sekadar teman baginya?"
"Itu..."
Dia tidak bisa
mengabaikannya sebagai sebuah berlebihan. Seperti yang ditunjukkan oleh Kazuki,
baru sekarang, setelah mendengarnya secara objektif, dia memahami betapa
spesial dirinya bagi Haruki─lebih dari sekadar seorang partner.
Kazuki berkata,
seolah sedang menasihatinya.
"Kalau kamu
ingin Nikaidou-san kembali ke kehidupan sehari-hari ini, kembali menjadi warga
biasa, kamu harus menerima perasaannya. Apa kamu punya tekad untuk melakukan
itu?"
"............"
Dia membiarkan
kata-kata Kazuki meresap ke dalam dirinya.
Haruki, yang
telah kehilangan orang tuanya, tidak lagi memiliki siapa pun untuk bersandar.
Bisakah
dia menjadi orang tersebut?
Menyebut
dirinya sebagai partnernya hanyalah sebuah janji picis yang naif dan belum
dewasa.
Dia masih
hanyalah seorang anak SMA biasa.
Dia baru
saja diingatkan akan hal itu.
Pada
akhirnya, bel tanda masuk berbunyi, dan Kazuki menutup pembicaraan, seolah
enggan untuk mengatakannya.
"Untuk
saat ini, yang bisa kukatakan padamu adalah ini: apakah Nikaidou-san bakal
kembali ke dunia hiburan atau kembali sebagai warga biasa─perasaanmu akan
memegang peranan penting."
"...Tanggung
jawab yang berat ya."
"Haha, kalau
ada apa-apa, andalkan saja aku."
"Iya, aku
akan melakukannya."
Dan mereka berdua
pun tertawa getir.
─Keputusan
mengenai masa depan Haruki ada di tangannya.
Diberitahu hal
seperti itu oleh Kazuki membuat Hayato kian makin bingung.
Pada mulanya, dia
bahkan belum memutuskan apa yang diingingkannya untuk Haruki.
Namun sekadar
hanyut mengikuti arus saja jelas tidak boleh.
Teguran keras
dari Kazuki telah membangunkan dirinya.
Dia merasa
bersyukur memiliki seorang teman yang mau menyuarakan isi pikirannya seperti
itu.
Dia mendapati
dirinya menatap Haruki kapan pun ada kesempatan, sembari berpikir.
Apa yang terbaik
untuk Haruki?
Apa yang bisa
dilakukannya?
Dia terus
menanyakan pertanyaan-pertanyaan itu pada dirinya sendiri─dan kemudian, saat
makan malam hari itu,
orang yang sedang
dipikirkannya justru mengeluarkan suara yang tampak terganggu.
"Anu,
Hayato, rasanya kamu terus menatapku sepanjang sore tadi. Apa ada sesuatu di
wajahku?"
"Ah,
yah..."
Dia begitu sibuk
memikirkan tentang Haruki hingga terus-terusan menatapnya.
Saat Hayato
terbata-bata memilih kata, Haruki bertanya dengan ragu.
"Apa Kaidou
mengatakan sesuatu tentangku saat makan siang tadi?"
"Hmm, jadi
Onii-san ada urusan dengan Kazuki-san ya?"
Himeko menyahut
dengan santai tentang kejadian makan siang itu, tetapi Hayato tidak bisa
menjawabnya.
Dia kebingungan
sejenak, tetapi dia tidak mungkin menceritakan semuanya secara jujur kepada
mereka.
Hayato
mengembuskan napas pasrah yang pelan, lalu menyuarakan sesuatu yang telah
dipikirkannya.
"Sekarang
setelah kamu memotong pendek rambutmu, kamu kelihatan seperti dirimu yang dulu.
Aku cuma berpikir bahwa kalau kamu terus tinggal di Tsukinose selama ini,
mungkin seperti inilah jadinya dirimu."
Mendengar hal
itu, Himeko mengangguk setuju, tampak agak teryakinkan.
"Ah, mungkin
saja. Melihat dirimu yang sekarang, aku juga berpikir begitu. Entah kenapa,
rasanya memang seperti inilah jadinya kalau kita berempat selalu bersama sejak
kecil."
"Kan? Aku
yakin kehidupan sehari-hari alternatif itu juga pasti bakal menyenangkan. Tapi
kenyataannya berbeda. Hal itu sudah tidak mungkin terjadi lagi..."
"Onii-chan..."
"Hayato..."
Saat Hayato
mencurahkan perasaannya, suasana yang agak muram pun melingkupi mereka.
Pasti semua orang
juga merasakan hal yang sama.
Namun kemudian,
secara mendadak, Saki berbicara dengan kata-kata yang tak terduga.
"Onii-san,
pada hari liburmu berikutnya, ayo kita pergi berkencan!"
"B-berkencan!?"
Tidak hanya
Hayato, tetapi Himeko dan Haruki juga menatap Saki dengan pandangan terkejut.
Saki,
dengan sikap yang mantap, berkata dengan jelas.
"Iya,
berkencan!"
"Anu, apa
ada tempat yang ingin kamu kunjungi?"
"Ada, dalam
satu arti. Tapi maksudku adalah, aku ingin pergi ke suatu tempat bersamamu
sebagai laki-laki dan perempuan seumuran kita."
"Eh? Itu
artinya..."
"Secara
harfiah, kencan antara laki-laki dan perempuan seumuran kita. Aku berniat
membuat jantungmu berdebar, Onii-san. Apa itu tidak boleh?"
Meskipun
terperanjat oleh perkembangan yang mendadak ini, Hayato yang terdesak oleh
dorongan semangat Saki akhirnya menganggukkan kepala.
"O-oke,
aku paham."



Post a Comment