NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Tenkou-saki no Seiso Karen na Bishoujo Volume 11 Chapter 6

Chapter 6

Tidak Seperti Dirimu yang Biasanya


Di mana-mana di TV dan internet─dan tentu saja di kelas Hayato─topik pembicaraan utama adalah Senjin, atau lebih tepatnya, Haruki yang tampil di dalamnya.

Haruki tidak hanya memiliki penampilan yang manis sebagai seorang idola, tetapi juga telah menunjukkan kemampuan akting dan pesona panggung yang tidak kalah dari ibunya, sang aktris hebat.

Sementara dia dibentuk oleh publik sebagai sosok pahlawan wanita tragis yang kini hidup sebatang kara, atmosfer yang mengharapkan dirinya untuk bangkit dari duka atas kematian sang ibu dan berkembang tidak hanya sebagai idola, tetapi juga sebagai aktris ke depannya mulai terbentuk.

Di kelas, orang-orang mengajaknya bicara, mengatakan hal-hal seperti "Aku sudah menontonnya, keren banget!", dan "Kamu ternyata tidak cuma jago menyanyi, tapi akting juga ya."

Ada begitu banyak orang yang berharap Haruki akan kembali ke atas panggung.

Namun meski begitu, Haruki hanya memberikan balasan yang terkesan tidak berbahaya, bersikap biasa saja seperti yang sudah-sudah.

Mereka bertemu di pagi hari dan berjalan ke sekolah bersama, mengobrol saat jam istirahat, lalu makan siang bersama di markas rahasia. Setelah sekolah, gadis itu membantu merawat tanaman di klub berkebun atau menyertai Hayato ke tempat kerja paruh waktunya, mencari sudut yang tidak mencolok untuk mengerjakan PR, lalu kembali ke rumah keluarga Kirishima untuk makan malam.

Semua itu terasa hampir konyol karena terlalu sama seperti biasanya.

Bahkan meski tahu akan hal itu, dia merasa tersapu oleh kehidupan sehari-hari tempat sesuatu terasa tidak pas.

Betapa konyolnya.

Suatu hari yang terasa kabur dan samar saat jam makan siang di markas rahasia.

Seperti biasa, mereka mengobrol tentang hal-hal sepele─tentang betapa teriknya panas di siang hari, kue-kue manis dan jajanan pasar Jepang yang baru, serta kenakalan Tsukushi belakangan ini.

Di tengah-tengah obrolan itu, tepat saat Hayato menghabiskan bekalnya, Kazuki berbicara kepadanya.

"Hayato-kun, apa kamu punya waktu sebentar? Ada sesuatu yang ingin kubicarakan denganmu─hanya kita berdua."

Fakta bahwa dia secara khusus ingin berbicara secara pribadi, bahkan saat semua orang hadir di sana, menarik tatapan penasaran dari rombongan ke arah Kazuki, yang hanya tersenyum penuh arti.

Ada apa gerangan?

Tetap saja, Hayato tidak punya alasan untuk menolak, dan meski bingung, dia menyetujuinya.

"Tentu saja, tapi... sekarang?"

"Iya, aku akan sangat berterima kasih. Tidak akan lama kok."

Sembari berkata begitu, Kazuki berdiri, dan Hayato pun mengikutinya.

Mereka berjalan bersama menyusuri koridor, memanjat tumpukan meja yang menggunung di tangga gedung sekolah lama, lalu dituntun menuju area atap di sebaliknya.

Itu adalah tempat yang tandus dan terasa agak sepi.

Hayato bergumam terkejut.

"Aku tidak tahu tempat seperti ini ada di sini."

"Tempat ini sempurna untuk percakapan yang tidak boleh terdengar orang lain, kan? Minamo-san yang memberitahuku soal tempat ini."

"Minamo yang memberitahumu?"

"Ah, aku sudah minta izin duluan kok pada Minamo-san."

Mendengar nama yang tak terduga membuat mata Hayato membelalak, dan Kazuki mengedipkan matanya dengan jahil.

Waktu istirahat makan siang tidak tersisa banyak lagi.

Menenangkan dirinya, Hayato mendesaknya untuk langsung ke inti permasalahan.

"Jadi, ada apa sebenarnya sampai kamu membawaku jauh-jauh ke sini?"

Setelah ragu-ragu sejenak, Kazuki berdeham dan membetulkan posisi berdirinya.

Kemudian dia berbicara, dengan raut yang sedikit malu.

"Hayato-kun, kamu pernah menyelamatkanku. Kamu selalu begitu lugas, jujur, dan menghadapi segala sesuatu secara langsung dengan perasaanmu yang sebenarnya─hal itulah yang kukagumi darimu. Dan kamu selalu siap berlari untuk menolong seseorang yang membutuhkan, tanpa perhitungan atau niat terselubung... Karena itulah aku juga ingin menjadi seperti itu. Aku merasa jauh lebih berterima kasih dan terpengaruh olehmu daripada yang kamu bayangkan."

"Oh, uh..."

Mendapatkan kata-kata jujur yang membuat malu dilemparkan kepadanya secara langsung, Hayato menggaruk kepalanya, merasa canggung.

Namun Kazuki kemungkinan besar tidak membawanya ke sini hanya untuk mengatakan hal tersebut.

Dan kemudian, dengan pandangan mata yang serius, Kazuki masuk ke inti permasalahan yang sebenarnya.

"Tapi belakangan ini, kamu─bagaimana ya bilangnya─tidak seperti dirimu sendiri."

Jantungnya melonjak sekejap.

─Tidak seperti dirimu sendiri.

Hal itu memang benar adanya.

Namun karena tidak ingin mengakuinya, Hayato berpura-pura bodoh.

"Tidak seperti diriku sendiri? Apa maksudmu? Kurasa aku masih sama saja seperti biasanya kok."

Tetapi Kazuki menggelengkan kepalanya dengan raut serba salah lalu berkata.

"Kalau begitu biar kutanya dengan cara berbeda. Menurutmu, apa Nikaidou-san harus kembali ke dunia hiburan?"

"Itu sih─"

Hayato kehilangan kata-kata.

Ini sama saja seperti mengakui perkataan Kazuki tadi.

Namun Hayato memalingkan pandangannya dan menjawab dengan mengelak.

"─Hal itu adalah sesuatu yang harus diputuskan oleh Haruki sendiri. Bukan hakku untuk mengaturnya."

"Tapi jauh di dalam hatimu, kamu berpikir dia harus kembali ke dunia hiburan. Bukankah begitu?"

"──────!"

Mendengar nada bicara Kazuki yang tegas, Hayato menggeletukkan giginya.

Kazuki menatap balik tatapan tajam Hayato secara langsung dan melanjutkan seolah-olah sedang menegurnya.

"Kamu juga mengetahuinya. Nikaidou-san memang tempatnya ada di dunia yang bersinar itu."

"...Iya, mungkin saja. Aku sudah diperlihatkan hal itu berkali-kali."

"Harusnya, kamu adalah orang yang bakal mendesaknya untuk kembali ke dunia hiburan."

"Jadi itu maksudmu dengan tidak seperti diriku sendiri?"

Hayato menjawab dengan nada menyindir diri sendiri, dan Kazuki terus memprovokasinya.

"Iya, tidak seperti dirimu sendiri. Kamu benar-benar sudah kehilangan keberanianmu."

"Aku kehilangan keberanianku?"

"Benar. Kamu takut Nikaidou-san bakal kembali─takut dia pergi ke suatu tempat yang jauh. Kamu sudah terintimidasi hingga menjadi seorang penakut."

"Kazuki!"

Dipanggil secara lugas dengan kata-kata yang begitu menohok, pandangan Hayato mendadak berkilat merah.

Tanpa disadarinya, dia telah mencengkeram kerah baju Kazuki.

Namun Kazuki sama sekali tidak gentar, dan justru makin mendesaknya.

"Lebih tepatnya, kamu takut mengakui bahwa kamu hanya akan menghambat langkah Nikaidou-san."

"Itu─"

Kali ini, rasanya seperti ada air dingin yang disiramkan ke atas kepalanya.

Kata-kata Kazuki menembus dadanya dan mulai terasa menyakitkan.

Itu adalah sesuatu yang secara tidak sadar selalu dihindarinya untuk dipikirkan.

Mengapa Haruki memisahkan dirinya dari dunia hiburan? ─Dia pernah berkata bahwa itu semua demi kembali ke kehidupan sehari-hari ini.

Berjalan ke sekolah bersama, menghadiri kelas, makan siang, melakukan kegiatan klub dan kerja paruh waktu, menyantap makanan di meja yang sama.

Di pusat kehidupan sehari-hari Haruki, ada Hayato di sana.

Hayatolah orang yang mengikat Haruki saat ini.

Dipaksa untuk menyadari hal itu, Hayato mengeluarkan keluhan lemah kepada Kazuki, yang wajahnya tampak agak tertekan.

"...Tapi aku tidak punya bakat untuk berada di tempat Haruki berada."

"Aku juga tidak punya. Berada di industri yang sama, aku merasakannya dengan sangat tajam."

"Tapi kamu berada di panggung yang sama, kan?"

"Itu semua berkat kakakku dan yang lainnya."

"Aku tidak punya koneksi seperti yang kamu punya. Aku cuma seorang anak SMA biasa... Apa yang harus kulakukan?"

Hayato menundukkan kepalanya, meluapkan rasa frustrasinya.

Kemudian Kazuki memegang kedua bahunya, memaksanya untuk mendongak, dan menatap matanya secara langsung.

"Kalau begitu bicaralah padaku! Kita ini teman, kan!?"

"Kazuki..."

"Aku juga tidak tahu harus melakukan apa. Tapi kita bisa memikirkannya bersama-sama."

Pada akhirnya, Hayato melepaskan ketegangan di bahunya dan melembutkan ekspresi wajahnya.

"Iya, kamu benar. Maaf ya. Aku tidak pernah punya teman seumuran sebelumnya, jadi opsi untuk berkonsultasi dengan seseorang tidak pernah terlintas di pikiranku."

"Karena itulah kamu selalu menerjang maju sendirian."

"Diamlah."

"Impulsif─tapi kemampuanmu untuk bertindak tanpa berpikir terlalu banyak menurutku adalah salah satu kekuatanmu."

"Siapa yang impulsif!"

"Haha."

Dan begitulah Hayato dan Kazuki sama-sama mengembuskan napas tertawa.

Setelah menarik napas sejenak, Hayato mengangkat topik tersebut kembali.

"Jadi, menurutmu apa yang harus kulakukan?"

Setelah berpikir sejenak, Kazuki berbicara dengan raut wajah yang serius.

"...Kurasa tidak apa-apa kalau Nikaidou-san kembali menjadi warga biasa."

"Hei, itu bertolak belakang dengan apa yang kamu katakan tadi."

"Haha, iya sih. Secara pribadi, aku berpikir Nikaidou-san terlihat lebih hidup saat dia menjadi seorang idola atau pengisi suara. Tapi aku juga berpikir keinginannya untuk kembali ke sisimu adalah hal yang jujur. Namun..."

"Namun?"

Hayato mengernyitkan dahi melihat jeda dramatis yang dibuat Kazuki.

Dengan ekspresi yang sangat amat serius, Kazuki bertanya dengan tegas.

"Apa kamu punya tekad untuk menerima Nikaidou-san?"

"Menerimanya? Apa maksudmu...?"

"Bagi Nikaidou-san yang telah kehilangan ibunya dan kini sebatang kara, kamu dan Himeko-chan yang berbagi kenangan sejak masa kecil adalah sosok yang spesial. Apa kamu paham bahwa kamu itu lebih dari sekadar teman baginya?"

"Itu..."

Dia tidak bisa mengabaikannya sebagai sebuah berlebihan. Seperti yang ditunjukkan oleh Kazuki, baru sekarang, setelah mendengarnya secara objektif, dia memahami betapa spesial dirinya bagi Haruki─lebih dari sekadar seorang partner.

Kazuki berkata, seolah sedang menasihatinya.

"Kalau kamu ingin Nikaidou-san kembali ke kehidupan sehari-hari ini, kembali menjadi warga biasa, kamu harus menerima perasaannya. Apa kamu punya tekad untuk melakukan itu?"

"............"

Dia membiarkan kata-kata Kazuki meresap ke dalam dirinya.

Haruki, yang telah kehilangan orang tuanya, tidak lagi memiliki siapa pun untuk bersandar.

Bisakah dia menjadi orang tersebut?

Menyebut dirinya sebagai partnernya hanyalah sebuah janji picis yang naif dan belum dewasa.

Dia masih hanyalah seorang anak SMA biasa.

Dia baru saja diingatkan akan hal itu.

Pada akhirnya, bel tanda masuk berbunyi, dan Kazuki menutup pembicaraan, seolah enggan untuk mengatakannya.

"Untuk saat ini, yang bisa kukatakan padamu adalah ini: apakah Nikaidou-san bakal kembali ke dunia hiburan atau kembali sebagai warga biasa─perasaanmu akan memegang peranan penting."

"...Tanggung jawab yang berat ya."

"Haha, kalau ada apa-apa, andalkan saja aku."

"Iya, aku akan melakukannya."

Dan mereka berdua pun tertawa getir.

─Keputusan mengenai masa depan Haruki ada di tangannya.

Diberitahu hal seperti itu oleh Kazuki membuat Hayato kian makin bingung.

Pada mulanya, dia bahkan belum memutuskan apa yang diingingkannya untuk Haruki.

Namun sekadar hanyut mengikuti arus saja jelas tidak boleh.

Teguran keras dari Kazuki telah membangunkan dirinya.

Dia merasa bersyukur memiliki seorang teman yang mau menyuarakan isi pikirannya seperti itu.

Dia mendapati dirinya menatap Haruki kapan pun ada kesempatan, sembari berpikir.

Apa yang terbaik untuk Haruki?

Apa yang bisa dilakukannya?

Dia terus menanyakan pertanyaan-pertanyaan itu pada dirinya sendiri─dan kemudian, saat makan malam hari itu,

orang yang sedang dipikirkannya justru mengeluarkan suara yang tampak terganggu.

"Anu, Hayato, rasanya kamu terus menatapku sepanjang sore tadi. Apa ada sesuatu di wajahku?"

"Ah, yah..."

Dia begitu sibuk memikirkan tentang Haruki hingga terus-terusan menatapnya.

Saat Hayato terbata-bata memilih kata, Haruki bertanya dengan ragu.

"Apa Kaidou mengatakan sesuatu tentangku saat makan siang tadi?"

"Hmm, jadi Onii-san ada urusan dengan Kazuki-san ya?"

Himeko menyahut dengan santai tentang kejadian makan siang itu, tetapi Hayato tidak bisa menjawabnya.

Dia kebingungan sejenak, tetapi dia tidak mungkin menceritakan semuanya secara jujur kepada mereka.

Hayato mengembuskan napas pasrah yang pelan, lalu menyuarakan sesuatu yang telah dipikirkannya.

"Sekarang setelah kamu memotong pendek rambutmu, kamu kelihatan seperti dirimu yang dulu. Aku cuma berpikir bahwa kalau kamu terus tinggal di Tsukinose selama ini, mungkin seperti inilah jadinya dirimu."

Mendengar hal itu, Himeko mengangguk setuju, tampak agak teryakinkan.

"Ah, mungkin saja. Melihat dirimu yang sekarang, aku juga berpikir begitu. Entah kenapa, rasanya memang seperti inilah jadinya kalau kita berempat selalu bersama sejak kecil."

"Kan? Aku yakin kehidupan sehari-hari alternatif itu juga pasti bakal menyenangkan. Tapi kenyataannya berbeda. Hal itu sudah tidak mungkin terjadi lagi..."

"Onii-chan..."

"Hayato..."

Saat Hayato mencurahkan perasaannya, suasana yang agak muram pun melingkupi mereka.

Pasti semua orang juga merasakan hal yang sama.

Namun kemudian, secara mendadak, Saki berbicara dengan kata-kata yang tak terduga.

"Onii-san, pada hari liburmu berikutnya, ayo kita pergi berkencan!"

"B-berkencan!?"

Tidak hanya Hayato, tetapi Himeko dan Haruki juga menatap Saki dengan pandangan terkejut.

Saki, dengan sikap yang mantap, berkata dengan jelas.

"Iya, berkencan!"

"Anu, apa ada tempat yang ingin kamu kunjungi?"

"Ada, dalam satu arti. Tapi maksudku adalah, aku ingin pergi ke suatu tempat bersamamu sebagai laki-laki dan perempuan seumuran kita."

"Eh? Itu artinya..."

"Secara harfiah, kencan antara laki-laki dan perempuan seumuran kita. Aku berniat membuat jantungmu berdebar, Onii-san. Apa itu tidak boleh?"

Meskipun terperanjat oleh perkembangan yang mendadak ini, Hayato yang terdesak oleh dorongan semangat Saki akhirnya menganggukkan kepala.

"O-oke, aku paham."



Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close