Epilog
Seiring
berjalannya waktu, berbagai hal pun ikut berubah.
Urusan di dunia
ini terus-menerus mengalami perubahan dengan satu atau lain cara.
Hubungan antara
Hayato dan Haruki juga telah berubah total selama bertahun-tahun sejak mereka
pertama kali bertemu.
Meskipun
demikian, Tsukinose tetap tidak praktis seperti biasanya jika menyangkut
masalah transportasi.
Dulu maupun
sekarang, perjalanan pulang ke rumah selalu menjadi sebuah perjuangan.
Namun tidak
seperti dulu, dengan adanya pilihan menggunakan mobil sekarang, mereka terbebas
dari kerepotan membawa barang bawaan yang berat.
Musim panas ini
pun, keluarga tersebut kembali ke Tsukinose.
Melalui jendela
mobil yang dikendarai Hayato, satu-satunya yang terlihat hanyalah pegunungan
yang mengelilingi mereka sejauh mata memandang.
Awan
putih berenang mengarungi langit biru cerah yang tinggi.
Sawah dan
ladang membentang di atas tanah datar yang langka, rumah-rumah tersebar di
sana-sini, dan truk-truk kecil melintas di jalanan perkebunan.
Seperti
biasa, alam terasa sangat melimpah hingga ke tahap yang memukau di desa
terpencil ini.
Bagi
seseorang yang sudah terbiasa dengan kemudahan kota besar, tempat ini tidak
lebih dari sekadar lokasi yang membosankan.
Namun
bagi anak-anak kecil, tempat ini terlihat seperti peti harta karun.
"Wah,
keren sekali! Sama seperti yang dibilang Bibi, di sini benar-benar tidak ada
apa-apa!"
"Tapi di
sana ada sungai! Oh, ada domba!"
"Aku ingin
menangkap kumbang miyama di gunung! Kumbang supit miyama!"
"Aku ingin
mencoba moti herbal yang direkomendasikan Bibi!"
Yang membuat
keributan di kursi belakang adalah anak kembar—seorang laki-laki dan perempuan,
Masaki dan Rio—yang sangat mirip dengan Hayato dan Haruki.
Tinggi badan
mereka mirip seperti Hayato dan Haruki saat pertama kali bertemu dulu.
Haruki, yang
duduk di kursi penumpang, memperhatikan anak-anaknya yang begitu menantikan
Tsukinose dan bergumam terhibur.
"Astaga,
merasa bersemangat cuma karena bermain di desa—aku penasaran mereka berdua
mirip siapa ya."
"Dua-duanya,
kan? Mereka itu anak-anak kita. Dan Bibi juga terus-terusan memuji
Tsukinose."
"Dia selalu
bilang betapa hebatnya Tsukinose, jadi itu mungkin ikut mempengaruhi mereka
juga."
Hayato dan Haruki
terkekeh hangat.
Omong-omong,
"Bibi" yang dimaksud merujuk pada Mari.
Sejak si
kembar lahir, Mari mulai sering datang berkunjung. Sejak masa bayi Masaki dan
Rio, dia selalu menggoda dengan ucapan "Ini Bibi!" dan benar-benar
terpesona oleh mereka. Secara
alami, Masaki dan Rio juga sangat menempel pada Mari.
Mari sendiri
ingin memiliki anak, tetapi masih belum memiliki pasangan, dan usianya setara
dengan rekor tidak pernah punya pacar yang masih berlanjut. Belakangan ini, dia
mulai memelihara seekor kucing sebagai pengganti—sebuah pertanda klasik dari
melewatkan kesempatan menikah.
Hayato berkata
kepada Haruki dengan sedikit rasa menyesal.
"Aku
berharap Mari bisa ikut bersama kita. Tapi dia ada pekerjaan, kan?"
"Iya, dia
dipanggil ke sebuah acara. Oh, tapi dia bilang bakal datang belakangan bersama
orang tuamu untuk festival musim panas."
"Ayah dan
Ibu? Benarkah? Mereka benar-benar menyukai Tsukinose ya."
"Hime-chan
dan yang lainnya tidak bisa datang kali ini—dia sebentar lagi akan melahirkan
anak keduanya."
Omong-omong,
Himeko, yang menikah dengan Kazuki pada waktu yang hampir bersamaan dengan
Hayato dan Haruki, ternyata cukup tidak berpengalaman dalam urusan asmara di
kedua sisi. Mereka menikah, tetapi membutuhkan waktu yang cukup lama sebelum
akhirnya memiliki anak—sebuah kontras yang tajam dengan pasangan ini, yang
memiliki anak kembar di tahun setelah pernikahan mereka.
Tetap saja,
hubungan Himeko dan Kazuki sangat baik, dan perusahaannya berkembang dengan
stabil.
Kazuki juga
terlibat aktif dalam mengasuh anak dan mulai menjadi simbol ayah muda di dunia
hiburan.
Menyambung
topik tentang anak, Hayato mengingat sesuatu dan bergumam dengan nada jengkel.
"Bicara
soal anak, kudengar tempatnya Iori baru saja memiliki anak kelima."
"Ema-chan
memberitahuku—aku sampai dibuat syok."
"Serius,
aku ingin bertanya apa mereka benar-benar merencanakan ini."
"Dan
mereka juga sedang di tengah-tengah mengelola cabang kedua dari Wagashi-ya
Shiro."
"Ah,
benar—mereka mencoba beralih ke pasar kelas atas untuk mengurangi beban kerja
karena bisnis terlalu ramai, tapi hal itu justru membuat mereka makin
populer."
"Yah,
kue-kuenya memang enak bagaimana pun juga."
"Benar."
Hayato
dan Haruki tertawa terbahak-bahak.
Kemudian suara
penasaran terdengar dari kursi belakang.
"Hei, apa
kita melewatinya?"
"Kita mau
pergi ke mana?"
Haruki menjawab
dengan sedikit nada bernostalgia.
"Kita mau
mengunjungi Nenek terlebih dahulu."
"Nenek?"
"Rumah Nenek
bukannya ada di sini?"
Kepada si
kembar yang bingung, Haruki tersenyum.
"Nenek
adalah ibunya Ayah. Nenek adalah ibunya Ibu."
Mereka
mengunjungi sebuah pemakaman di pinggiran Tsukinose.
Mungkin karena
tempat ini jarang tersentuh, rumput di sekitarnya tumbuh liar.
Hayato dan Haruki
merapatkan kedua tangan mereka di depan batu nisan yang relatif baru
bertuliskan "Nikaidou."
Masaki dan Rio,
yang tidak terlalu mengerti, menirukan orang tua mereka, dan Hayato terkekeh
melihat pemandangan tersebut.
Yang
berbaring di sini adalah mantan aktris hebat Takura Mao, ibu dari Haruki.
Ekspresi
Haruki tampak serius.
Mungkin
dia sedang berpikir untuk memperkenalkan anak-anaknya kepada ibunya seandainya
beliau masih hidup.
Pada
akhirnya, Haruki mendongak dan berkata dengan ekspresi yang segar.
"Baiklah,
ayo kita pergi."
Mereka
kembali ke dalam mobil dan bergerak menuju rumah keluarga Kirishima.
Di tengah
jalan, sebuah truk kecil yang datang dari arah depan membunyikan klakson ke
arah mereka.
Paman Gen
memunculkan kepalanya dari jendela dan melambaikan tangan, membuat Hayato
memperlambat laju mobil dan berhenti di dekatnya.
"Yo,
bocah Kirishima."
"Tolong
jangan panggil aku 'bocah,' Paman Gen."
"Haha,
maaf. Kurasa istilah 'bocah laki-laki' dan 'bocah perempuan' sekarang berpindah
ke anak-anak kecil itu ya!"
Saat Gen
tertawa terbahak-bahak, Masaki dan Rio berteriak dengan gembira.
"Ah,
itu Kakek Domba!"
"Kakek
Domba, halo!"
"Haha,
halo anak-anak kecil—kalian sudah tumbuh besar ya! Oh, benar juga, aku punya bagian untuk
kalian."
Gen menurunkan
pandangannya ke arah si kembar, lalu turun dari truk dan mengambil beberapa
sayuran musim panas dari bak belakang.
Hayato
menerimanya lewat jendela, menyerahkannya kepada Haruki, lalu mengucapkan
terima kasih.
"Terima
kasih, Paman Gen."
"Tidak perlu
sungkan. Dan kita akan berkumpul di balai warga hari ini."
"Kami akan
mampir bersama keluarga nanti."
"Baguslah!"
Keempatnya
melambaikan tangan kepada Gen lalu pergi.
Gen sudah cukup
tua, tetapi dia tetap sehat dan bugar, masih menggarap ladang dan mengurus
domba. Sangat menyenangkan melihatnya begitu berenergi.
Segera saja,
rumah keluarga Kirishima mulai terlihat. Rumah tempat Hayato tumbuh besar.
Meskipun sudah cukup dimakan usia, melihatnya tetap memunculkan senyuman
nostalgia di wajahnya.
Di sebelahnya
berdiri sebuah rumah berlantai satu yang baru dibangun.
Saat mereka
memarkir kendaraan di depan rumah Kirishima, sebuah wajah yang tak asing muncul
dari rumah sebelah, menyadari kedatangan mereka.
"Selamat
datang kembali. Kalian datang lebih cepat dari yang diperkirakan."
Haruki
menyadarinya, turun dari mobil, dan berlari menghampiri.
"Sudah
lama tidak bertemu, Minamo-chan! Aku terkadang menonton videomu lho~"
"Oh,
mendengar hal itu secara langsung rasanya memalu-malukan."
"Shinta-kun,
yang sering membantu, juga sudah tumbuh besar ya. Dia sudah berkuliah sekarang,
kan?"
"Iya,
dia selalu membantu dengan setia."
Minamo
tersenyum lembut, dan ekspresi Haruki pun ikut melunak.
Hayato,
yang menuntun si kembar, turut tersenyum.
Setelah
lulus dari universitas, Minamo telah pindah ke Tsukinose bersama dengan kakek
dan ayahnya.
Dia
sekarang menanam hasil bumi di ladang sewaan dan juga menerapkan berbagai
reformasi pada logistik di dalam Tsukinose.
Omong-omong,
atas permintaan Iori, dia menanam kacang-kacangan dan kentang pilihan khusus
untuk cabang kedua Wagashi-ya Shiro dan menyuplainya secara langsung.
Dia juga
mengunggah video kegiatan bertaninya dan perawatan domba, serta menjadi cukup
terkenal di komunitas tersebut.
Bahkan,
sejak Minamo pindah ke sini, pendapatan dan standar hidup Tsukinose kabarnya
telah meningkat.
Mendadak teringat
sesuatu, Minamo menyerahkan sesuatu kepada Haruki.
"Ah, ini
kuncinya."
"Terima
kasih. Maaf ya sudah mempercayakan pengelolaan rumah padamu."
"Hehe,
lagipula aku dibayar untuk hal itu kok. Dan Shinta-kun juga ikut
membantu."
"Begitu
ya."
Mereka berkata
akan bertemu lagi di balai warga, lalu Haruki membuka kunci pintu untuk masuk
ke dalam rumah keluarga Kirishima.
Masaki dan Rio
menerobos masuk ke dalam dengan teriak gembira dan mulai menjelajah.
Hayato berseru
"Jangan sampai tersandung!" lalu mulai menurunkan barang bawaan dari
mobil.
Melihat
ke sekeliling interior rumah, dia mengerutkan dahi.
"Rumah
ini juga sudah banyak berubah ya. Udara di dalamnya tidak lagi terasa seperti
dihuni—lebih mirip seperti hotel."
"Kita
menyewakannya untuk jangka pendek karena bakal sia-sia kalau dibiarkan kosong
begitu saja."
"Kita harus
berterima kasih pada Minamo karena telah mengelolanya. Apa ada rumah lain yang
seperti ini?"
"Kelihatannya
begitu, dan kabarnya itu cukup populer. Omong-omong, apa kita akan berjalan
kaki ke balai warga?"
"Iya. Pergi
lebih awal untuk menyiapkan barbekyu sambil minum-minum punya pesonanya
sendiri."
Mendengar
kata "barbekyu," Masaki dan Rio berlari menghampiri dengan penuh
semangat.
"Barbekyu!?
Aku mau makan daging yang banyak!"
"Aku mau
makan babi hutan yang diceritakan Bibi!"
Melihat wajah
penuh harapan dari si kembar, Hayato dan Haruki membalas dengan senyuman.
Saat itu masih
pertengahan sore, masih terlalu awal untuk makan malam—waktu untuk camilan.
Hayato dan Haruki
melangkah menuju balai warga, memperhatikan anak-anak mereka berlarian dengan
gembira, menemukan hal-hal menarik di sana-sini.
Haruki berseru,
"Jangan sampai jatuh ke selokan irigasi ya!", tetapi hanya
mendapatkan balasan berupa "Monster udang!" dan "Ikan!"
dari Masaki dan Rio.
Hayato
bertanya-tanya apakah mereka berdua dulunya juga seperti itu, sembari tersenyum
getir.
Segera saja,
balai warga yang tak asing mulai terlihat di dekat pintu masuk kuil.
Di sebelahnya
berdiri sebuah bangunan baru bergaya Jepang. Di bagian pintu masuk terdapat
sebuah poster dari Saki.
Itu adalah toko
keluarga Murao yang baru saja dibangun kembali. Mereka menjual merchandise Twinkle dan
Saki secara maksimal.
Melihatnya,
Haruki bergumam kagum.
"Kelihatannya
bisnisnya berjalan lancar ya. Sebuah kuil dengan kagura dari gadis kuil
yang cantik."
"Tempat
ini jadi cukup terkenal."
Saki, yang
telah memantapkan dirinya sebagai seniman tari dalam grup idola populer secara
nasional Twinkle, merupakan seorang gadis kuil di kuil ini.
Terlepas dari
semua kesibukannya, dia masih menarikan kagura di kuil Tsukinose ini
setiap tahunnya.
Ketika hal itu
diketahui oleh publik, banyak orang mulai mengunjungi kuil ini sebagai tempat
ziarah.
Omong-omong,
pemicunya adalah sebuah foto yang diambil oleh Hayato.
Pada saat itu,
foto tersebut menimbulkan kehebohan sebagai sosok gadis kuil yang fantastis dan
cantik.
Tsukinose sendiri
juga telah memperluas area pemandian air panas yang sedikit lebih jauh,
membangun fasilitas penginapan, mengembangkan area perkemahan, dan menawarkan
pengalaman seperti memetik teh, menumbuk moti, serta membuat konjac,
bakpao, dan miso—sehingga pengunjung luar mulai berdatangan. Desa ini
benar-benar telah berubah.
Haruki berkata
dengan mata yang menyipit.
"Aku
menantikan kagura Saki-chan tahun ini juga."
"Pada hari
festival, tempat ini kemungkinan besar akan sangat ramai… dan aku mungkin akan
ditarik untuk membantu di kedai makanan."
Di balai
warga, Gen dan beberapa orang lainnya sudah mulai minum-minum.
Hayato
dan Haruki langsung ditawari minuman dan diminta untuk menyiapkan beberapa
camilan juga.
Pola yang
seperti biasanya, tidak berubah dari masa lalu.
Sambil
minum, Hayato dengan cepat membuat beberapa makanan ringan sederhana, lalu
menyiapkan barbekyu sesuai permintaan Masaki dan Rio.
Omong-omong,
warga lokal Tsukinose yang sangat memanjakan anak-anak, setelah mendengar
seruan barbekyu dari si kembar, dengan antusias membagi peralatan dan
bahan-bahan untuk membantu menyiapkan semuanya.
Pada
akhirnya, Saki juga tiba—dengan pakaian gadis kuil yang tak asing.
Dia telah
menjadi jauh lebih cantik dibandingkan saat mereka pertama kali bertemu sewaktu
kecil dulu.
Bahkan,
kecantikan Saki makin terpancar seiring bertambahnya usia, dan dia sering
menjadi bahan pembicaraan di mata publik.
Saat
Hayato secara jujur berkomentar, "Kamu jadi makin cantik ya," Saki
membalasnya dengan sebuah senyuman, "Aku bekerja keras agar kamu berpikir
bahwa ikan yang lepas adalah ikan yang besar," membuat Hayato tertawa
canggung.
Segera saja
Shinta dan Minamo juga tiba, dan pesta pun makin meriah.
Shinta tidak
seperti biasanya sangat menempel pada Minamo.
Meskipun diejek
oleh semua orang soal hal itu, Shinta benar-benar serius.
Minamo, di sisi
lain, mengabaikannya dengan santai—hal itu terasa menggelikan sekaligus
menggemaskan.
Haruki dan Saki
juga ikut terbawa suasana, bernyanyi dan menari karaoke.
Kerumunan
penonton merasa sangat terhibur oleh penampilan mendadak dari dua idola yang
masih populer tersebut.
Di antara
mereka, bintang terbesar adalah Masaki dan Rio.
Si kembar
yang tidak memiliki rasa takut itu menyantap apa pun yang ditawarkan,
mengobrol, dan dimanjakan oleh semua orang.
Memperhatikan
hal ini, Haruki menggumamkan sesuatu yang mengerikan: "Seiji terus
bertanya apa Masaki dan Rio ingin masuk ke dunia hiburan setiap kali dia
melihat mereka." Hayato mengerutkan dahi dan hanya menjawab, "Terlalu
cepat." Haruki tertawa mendengar jawabannya.
Pesta di
balai warga berlanjut hingga larut malam.
Namun
Masaki dan Rio mulai terkantuk-kantuk, jadi mereka pulang lebih awal.
Kembali
ke rumah, mereka entah bagaimana berhasil memandikan si kembar dan menidurkan
mereka.
Masaki
dan Rio langsung menjelajah ke alam mimpi dalam sekejap.
Mereka
kemungkinan besar akan tidur nyenyak sampai pagi.
Mengembuskan
napas lega, Hayato melangkah keluar ke beranda dan menatap ke arah
langit—bintang-bintang berkerlip dan bulan bersinar terang.
Langit malam
Tsukinose jauh lebih hidup daripada di kota.
Saat Hayato
menuangkan shochu yang dibawanya dari balai warga untuk putaran kedua,
Haruki datang menghampiri di sisinya.
"Semua
orang tidak berubah ya."
"Iya,
meskipun Tsukinose sendiri sudah cukup banyak berubah."
"Tapi
aku yakin orang-orang juga sudah berubah—hanya saja lebih sulit untuk
dilihat."
"…Iya, sama
seperti hubungan kita."
Saat Hayato
mengatakannya dengan lembut, Haruki memberikan senyum getir dan menuangkan shochu
ke dalam gelasnya sendiri.
"Ingat tidak
saat aku bilang ingin menjadi Hime-chan waktu aku masih kecil dulu?"
"Iya, karena
kamu iri pada seseorang yang punya teman untuk pulang bersama."
"Iya. Tapi
sekarang aku benar-benar berpikir bahwa beruntung aku tidak menjadi Hime-chan.
Karena kalau aku adalah adiknya, kita tidak akan pernah bisa menjadi seperti
sekarang ini."
"Kurasa
begitu."
Hayato tersenyum
dengan mata menyipit, dan Haruki menyandarkan kepalanya di bahu pria itu,
bergumam dengan manis.
"Kalau
diriku yang masih kecil di Tsukinose bisa melihatku sekarang, dia pasti akan
terpesona melihat betapa bahagianya aku."
"Sama
denganku."
"Tapi momen
ini tidak akan bertahan selamanya. Momen ini pasti akan berubah."
"Iya, aku
menantikan untuk melihat bagaimana hal ini berubah mulai dari sini."
Saat Hayato
mengatakan hal itu, Haruki berkedip, lalu tertawa terhibur.
"Hehe,
justru karena kamu bisa mengatakan hal itu dengan begitu mudahnya makanya aku
jatuh cinta padamu, aku benar-benar berpikir begitu."
"Yah, karena
tepat di sampingku ada kamu—mitraku. Apa pun yang terjadi, aku bakal baik-baik
saja, dan masa depan terasa penuh dengan kegembiraan."
"Iya, kita
bakal selalu bersama mulai sekarang, Hayato."
"Iya."
Dengan itu,
Haruki memberinya kecupan di pipi dan tersenyum lebar.
Hayato
merangkulnya mendekat dan mengelus kepalanya.
Manusia berubah.
Mereka terus
berubah.
Seiring dengan
waktu, hal-hal di sekitar mereka juga ikut berubah.
Kalau
dipikir-pikir lagi, dia telah melihat begitu banyak sisi berbeda dari Haruki.
Teman, teman masa
kecil, mitra, kekasih, istri, ibu… dia pasti akan menunjukkannya lebih banyak
sisi lagi di masa depan.
Namun ikatan yang
kuat antara Hayato dan Haruki tidak akan pernah berubah.
Mereka akan terus
berjalan menuju masa depan bersama-sama.
Mereka adalah
mitra seumur hidup. Sejauh itulah yang bisa dikatakannya dengan pasti.
Keesokan paginya,
setelah menegaskan kembali hal tersebut—
Tepat sebelum jam
5 pagi, saat langit timur mulai bewarna.
Haruki secara
sembunyi-sembunyi membangunkan Hayato.
"Ayo kita
tangkap kumbang miyama, Hayato! Aku memasang jebakan kemarin!"
"…Eh?
Tunggu, kapan?"
"Saat kamu
sedang menyiapkan barbekyu!"
"Tunggu
dulu, bagaimana dengan anak-anak?"
"Mereka
selalu tidur pada jam segini, jadi tidak apa-apa! Ayo, miyama~! Sebagai
seorang ibu, aku harus menangkap yang lebih bagus daripada milik
anak-anak!"
"‘Sebagai
seorang ibu’?
Apa yang
sebenarnya kamu bicarakan? Ah, baiklah, baiklah, aku mengerti, aku mengerti."
Dia
mengembuskan napas yang dibuat-buat ke arah Haruki, yang sudah bersemangat
sejak pagi-pagi sekali.
Di luar,
gadis itu adalah seorang idola dan aktris yang berbakat; di rumah, dia adalah
seorang ibu yang mencurahkan dirinya untuk membesarkan anak-anak mereka; dan
saat mereka keluar bersama, dia mendukung Hayato sebagai seorang istri.
Haruki
telah menjadi wanita dewasa yang begitu luar biasa.
Namun
terkadang, seperti saat ini, Haruki suka membuat usulan yang mendadak dan di
luar nalar.
Jadi di
saat-saat seperti ini, selalu ada sesuatu yang ingin diteriakkan Hayato di
dalam hatinya.
—Aku mengerti kalau kamu hanya kembali ke dirimu yang dulu di depanku, tapi… hei, tunggu sebentar!



Post a Comment