NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Tenkou-saki no Seiso Karen na Bishoujo Volume 11 Epilog

Epilog


Seiring berjalannya waktu, berbagai hal pun ikut berubah.

Urusan di dunia ini terus-menerus mengalami perubahan dengan satu atau lain cara.

Hubungan antara Hayato dan Haruki juga telah berubah total selama bertahun-tahun sejak mereka pertama kali bertemu.

Meskipun demikian, Tsukinose tetap tidak praktis seperti biasanya jika menyangkut masalah transportasi.

Dulu maupun sekarang, perjalanan pulang ke rumah selalu menjadi sebuah perjuangan.

Namun tidak seperti dulu, dengan adanya pilihan menggunakan mobil sekarang, mereka terbebas dari kerepotan membawa barang bawaan yang berat.

Musim panas ini pun, keluarga tersebut kembali ke Tsukinose.

Melalui jendela mobil yang dikendarai Hayato, satu-satunya yang terlihat hanyalah pegunungan yang mengelilingi mereka sejauh mata memandang.

Awan putih berenang mengarungi langit biru cerah yang tinggi.

Sawah dan ladang membentang di atas tanah datar yang langka, rumah-rumah tersebar di sana-sini, dan truk-truk kecil melintas di jalanan perkebunan.

Seperti biasa, alam terasa sangat melimpah hingga ke tahap yang memukau di desa terpencil ini.

Bagi seseorang yang sudah terbiasa dengan kemudahan kota besar, tempat ini tidak lebih dari sekadar lokasi yang membosankan.

Namun bagi anak-anak kecil, tempat ini terlihat seperti peti harta karun.

"Wah, keren sekali! Sama seperti yang dibilang Bibi, di sini benar-benar tidak ada apa-apa!"

"Tapi di sana ada sungai! Oh, ada domba!"

"Aku ingin menangkap kumbang miyama di gunung! Kumbang supit miyama!"

"Aku ingin mencoba moti herbal yang direkomendasikan Bibi!"

Yang membuat keributan di kursi belakang adalah anak kembar—seorang laki-laki dan perempuan, Masaki dan Rio—yang sangat mirip dengan Hayato dan Haruki.

Tinggi badan mereka mirip seperti Hayato dan Haruki saat pertama kali bertemu dulu.

Haruki, yang duduk di kursi penumpang, memperhatikan anak-anaknya yang begitu menantikan Tsukinose dan bergumam terhibur.

"Astaga, merasa bersemangat cuma karena bermain di desa—aku penasaran mereka berdua mirip siapa ya."

"Dua-duanya, kan? Mereka itu anak-anak kita. Dan Bibi juga terus-terusan memuji Tsukinose."

"Dia selalu bilang betapa hebatnya Tsukinose, jadi itu mungkin ikut mempengaruhi mereka juga."

Hayato dan Haruki terkekeh hangat.

Omong-omong, "Bibi" yang dimaksud merujuk pada Mari.

Sejak si kembar lahir, Mari mulai sering datang berkunjung. Sejak masa bayi Masaki dan Rio, dia selalu menggoda dengan ucapan "Ini Bibi!" dan benar-benar terpesona oleh mereka. Secara alami, Masaki dan Rio juga sangat menempel pada Mari.

Mari sendiri ingin memiliki anak, tetapi masih belum memiliki pasangan, dan usianya setara dengan rekor tidak pernah punya pacar yang masih berlanjut. Belakangan ini, dia mulai memelihara seekor kucing sebagai pengganti—sebuah pertanda klasik dari melewatkan kesempatan menikah.

Hayato berkata kepada Haruki dengan sedikit rasa menyesal.

"Aku berharap Mari bisa ikut bersama kita. Tapi dia ada pekerjaan, kan?"

"Iya, dia dipanggil ke sebuah acara. Oh, tapi dia bilang bakal datang belakangan bersama orang tuamu untuk festival musim panas."

"Ayah dan Ibu? Benarkah? Mereka benar-benar menyukai Tsukinose ya."

"Hime-chan dan yang lainnya tidak bisa datang kali ini—dia sebentar lagi akan melahirkan anak keduanya."

Omong-omong, Himeko, yang menikah dengan Kazuki pada waktu yang hampir bersamaan dengan Hayato dan Haruki, ternyata cukup tidak berpengalaman dalam urusan asmara di kedua sisi. Mereka menikah, tetapi membutuhkan waktu yang cukup lama sebelum akhirnya memiliki anak—sebuah kontras yang tajam dengan pasangan ini, yang memiliki anak kembar di tahun setelah pernikahan mereka.

Tetap saja, hubungan Himeko dan Kazuki sangat baik, dan perusahaannya berkembang dengan stabil.

Kazuki juga terlibat aktif dalam mengasuh anak dan mulai menjadi simbol ayah muda di dunia hiburan.

Menyambung topik tentang anak, Hayato mengingat sesuatu dan bergumam dengan nada jengkel.

"Bicara soal anak, kudengar tempatnya Iori baru saja memiliki anak kelima."

"Ema-chan memberitahuku—aku sampai dibuat syok."

"Serius, aku ingin bertanya apa mereka benar-benar merencanakan ini."

"Dan mereka juga sedang di tengah-tengah mengelola cabang kedua dari Wagashi-ya Shiro."

"Ah, benar—mereka mencoba beralih ke pasar kelas atas untuk mengurangi beban kerja karena bisnis terlalu ramai, tapi hal itu justru membuat mereka makin populer."

"Yah, kue-kuenya memang enak bagaimana pun juga."

"Benar."

Hayato dan Haruki tertawa terbahak-bahak.

Kemudian suara penasaran terdengar dari kursi belakang.

"Hei, apa kita melewatinya?"

"Kita mau pergi ke mana?"

Haruki menjawab dengan sedikit nada bernostalgia.

"Kita mau mengunjungi Nenek terlebih dahulu."

"Nenek?"

"Rumah Nenek bukannya ada di sini?"

Kepada si kembar yang bingung, Haruki tersenyum.

"Nenek adalah ibunya Ayah. Nenek adalah ibunya Ibu."

Mereka mengunjungi sebuah pemakaman di pinggiran Tsukinose.

Mungkin karena tempat ini jarang tersentuh, rumput di sekitarnya tumbuh liar.

Hayato dan Haruki merapatkan kedua tangan mereka di depan batu nisan yang relatif baru bertuliskan "Nikaidou."

Masaki dan Rio, yang tidak terlalu mengerti, menirukan orang tua mereka, dan Hayato terkekeh melihat pemandangan tersebut.

Yang berbaring di sini adalah mantan aktris hebat Takura Mao, ibu dari Haruki.

Ekspresi Haruki tampak serius.

Mungkin dia sedang berpikir untuk memperkenalkan anak-anaknya kepada ibunya seandainya beliau masih hidup.

Pada akhirnya, Haruki mendongak dan berkata dengan ekspresi yang segar.

"Baiklah, ayo kita pergi."

Mereka kembali ke dalam mobil dan bergerak menuju rumah keluarga Kirishima.

Di tengah jalan, sebuah truk kecil yang datang dari arah depan membunyikan klakson ke arah mereka.

Paman Gen memunculkan kepalanya dari jendela dan melambaikan tangan, membuat Hayato memperlambat laju mobil dan berhenti di dekatnya.

"Yo, bocah Kirishima."

"Tolong jangan panggil aku 'bocah,' Paman Gen."

"Haha, maaf. Kurasa istilah 'bocah laki-laki' dan 'bocah perempuan' sekarang berpindah ke anak-anak kecil itu ya!"

Saat Gen tertawa terbahak-bahak, Masaki dan Rio berteriak dengan gembira.

"Ah, itu Kakek Domba!"

"Kakek Domba, halo!"

"Haha, halo anak-anak kecil—kalian sudah tumbuh besar ya! Oh, benar juga, aku punya bagian untuk kalian."

Gen menurunkan pandangannya ke arah si kembar, lalu turun dari truk dan mengambil beberapa sayuran musim panas dari bak belakang.

Hayato menerimanya lewat jendela, menyerahkannya kepada Haruki, lalu mengucapkan terima kasih.

"Terima kasih, Paman Gen."

"Tidak perlu sungkan. Dan kita akan berkumpul di balai warga hari ini."

"Kami akan mampir bersama keluarga nanti."

"Baguslah!"

Keempatnya melambaikan tangan kepada Gen lalu pergi.

Gen sudah cukup tua, tetapi dia tetap sehat dan bugar, masih menggarap ladang dan mengurus domba. Sangat menyenangkan melihatnya begitu berenergi.

Segera saja, rumah keluarga Kirishima mulai terlihat. Rumah tempat Hayato tumbuh besar. Meskipun sudah cukup dimakan usia, melihatnya tetap memunculkan senyuman nostalgia di wajahnya.

Di sebelahnya berdiri sebuah rumah berlantai satu yang baru dibangun.

Saat mereka memarkir kendaraan di depan rumah Kirishima, sebuah wajah yang tak asing muncul dari rumah sebelah, menyadari kedatangan mereka.

"Selamat datang kembali. Kalian datang lebih cepat dari yang diperkirakan."

Haruki menyadarinya, turun dari mobil, dan berlari menghampiri.

"Sudah lama tidak bertemu, Minamo-chan! Aku terkadang menonton videomu lho~"

"Oh, mendengar hal itu secara langsung rasanya memalu-malukan."

"Shinta-kun, yang sering membantu, juga sudah tumbuh besar ya. Dia sudah berkuliah sekarang, kan?"

"Iya, dia selalu membantu dengan setia."

Minamo tersenyum lembut, dan ekspresi Haruki pun ikut melunak.

Hayato, yang menuntun si kembar, turut tersenyum.

Setelah lulus dari universitas, Minamo telah pindah ke Tsukinose bersama dengan kakek dan ayahnya.

Dia sekarang menanam hasil bumi di ladang sewaan dan juga menerapkan berbagai reformasi pada logistik di dalam Tsukinose.

Omong-omong, atas permintaan Iori, dia menanam kacang-kacangan dan kentang pilihan khusus untuk cabang kedua Wagashi-ya Shiro dan menyuplainya secara langsung.

Dia juga mengunggah video kegiatan bertaninya dan perawatan domba, serta menjadi cukup terkenal di komunitas tersebut.

Bahkan, sejak Minamo pindah ke sini, pendapatan dan standar hidup Tsukinose kabarnya telah meningkat.

Mendadak teringat sesuatu, Minamo menyerahkan sesuatu kepada Haruki.

"Ah, ini kuncinya."

"Terima kasih. Maaf ya sudah mempercayakan pengelolaan rumah padamu."

"Hehe, lagipula aku dibayar untuk hal itu kok. Dan Shinta-kun juga ikut membantu."

"Begitu ya."

Mereka berkata akan bertemu lagi di balai warga, lalu Haruki membuka kunci pintu untuk masuk ke dalam rumah keluarga Kirishima.

Masaki dan Rio menerobos masuk ke dalam dengan teriak gembira dan mulai menjelajah.

Hayato berseru "Jangan sampai tersandung!" lalu mulai menurunkan barang bawaan dari mobil.

Melihat ke sekeliling interior rumah, dia mengerutkan dahi.

"Rumah ini juga sudah banyak berubah ya. Udara di dalamnya tidak lagi terasa seperti dihuni—lebih mirip seperti hotel."

"Kita menyewakannya untuk jangka pendek karena bakal sia-sia kalau dibiarkan kosong begitu saja."

"Kita harus berterima kasih pada Minamo karena telah mengelolanya. Apa ada rumah lain yang seperti ini?"

"Kelihatannya begitu, dan kabarnya itu cukup populer. Omong-omong, apa kita akan berjalan kaki ke balai warga?"

"Iya. Pergi lebih awal untuk menyiapkan barbekyu sambil minum-minum punya pesonanya sendiri."

Mendengar kata "barbekyu," Masaki dan Rio berlari menghampiri dengan penuh semangat.

"Barbekyu!? Aku mau makan daging yang banyak!"

"Aku mau makan babi hutan yang diceritakan Bibi!"

Melihat wajah penuh harapan dari si kembar, Hayato dan Haruki membalas dengan senyuman.

Saat itu masih pertengahan sore, masih terlalu awal untuk makan malam—waktu untuk camilan.

Hayato dan Haruki melangkah menuju balai warga, memperhatikan anak-anak mereka berlarian dengan gembira, menemukan hal-hal menarik di sana-sini.

Haruki berseru, "Jangan sampai jatuh ke selokan irigasi ya!", tetapi hanya mendapatkan balasan berupa "Monster udang!" dan "Ikan!" dari Masaki dan Rio.

Hayato bertanya-tanya apakah mereka berdua dulunya juga seperti itu, sembari tersenyum getir.

Segera saja, balai warga yang tak asing mulai terlihat di dekat pintu masuk kuil.

Di sebelahnya berdiri sebuah bangunan baru bergaya Jepang. Di bagian pintu masuk terdapat sebuah poster dari Saki.

Itu adalah toko keluarga Murao yang baru saja dibangun kembali. Mereka menjual merchandise Twinkle dan Saki secara maksimal.

Melihatnya, Haruki bergumam kagum.

"Kelihatannya bisnisnya berjalan lancar ya. Sebuah kuil dengan kagura dari gadis kuil yang cantik."

"Tempat ini jadi cukup terkenal."

Saki, yang telah memantapkan dirinya sebagai seniman tari dalam grup idola populer secara nasional Twinkle, merupakan seorang gadis kuil di kuil ini.

Terlepas dari semua kesibukannya, dia masih menarikan kagura di kuil Tsukinose ini setiap tahunnya.

Ketika hal itu diketahui oleh publik, banyak orang mulai mengunjungi kuil ini sebagai tempat ziarah.

Omong-omong, pemicunya adalah sebuah foto yang diambil oleh Hayato.

Pada saat itu, foto tersebut menimbulkan kehebohan sebagai sosok gadis kuil yang fantastis dan cantik.

Tsukinose sendiri juga telah memperluas area pemandian air panas yang sedikit lebih jauh, membangun fasilitas penginapan, mengembangkan area perkemahan, dan menawarkan pengalaman seperti memetik teh, menumbuk moti, serta membuat konjac, bakpao, dan miso—sehingga pengunjung luar mulai berdatangan. Desa ini benar-benar telah berubah.

Haruki berkata dengan mata yang menyipit.

"Aku menantikan kagura Saki-chan tahun ini juga."

"Pada hari festival, tempat ini kemungkinan besar akan sangat ramai… dan aku mungkin akan ditarik untuk membantu di kedai makanan."

Di balai warga, Gen dan beberapa orang lainnya sudah mulai minum-minum.

Hayato dan Haruki langsung ditawari minuman dan diminta untuk menyiapkan beberapa camilan juga.

Pola yang seperti biasanya, tidak berubah dari masa lalu.

Sambil minum, Hayato dengan cepat membuat beberapa makanan ringan sederhana, lalu menyiapkan barbekyu sesuai permintaan Masaki dan Rio.

Omong-omong, warga lokal Tsukinose yang sangat memanjakan anak-anak, setelah mendengar seruan barbekyu dari si kembar, dengan antusias membagi peralatan dan bahan-bahan untuk membantu menyiapkan semuanya.

Pada akhirnya, Saki juga tiba—dengan pakaian gadis kuil yang tak asing.

Dia telah menjadi jauh lebih cantik dibandingkan saat mereka pertama kali bertemu sewaktu kecil dulu.

Bahkan, kecantikan Saki makin terpancar seiring bertambahnya usia, dan dia sering menjadi bahan pembicaraan di mata publik.

Saat Hayato secara jujur berkomentar, "Kamu jadi makin cantik ya," Saki membalasnya dengan sebuah senyuman, "Aku bekerja keras agar kamu berpikir bahwa ikan yang lepas adalah ikan yang besar," membuat Hayato tertawa canggung.

Segera saja Shinta dan Minamo juga tiba, dan pesta pun makin meriah.

Shinta tidak seperti biasanya sangat menempel pada Minamo.

Meskipun diejek oleh semua orang soal hal itu, Shinta benar-benar serius.

Minamo, di sisi lain, mengabaikannya dengan santai—hal itu terasa menggelikan sekaligus menggemaskan.

Haruki dan Saki juga ikut terbawa suasana, bernyanyi dan menari karaoke.

Kerumunan penonton merasa sangat terhibur oleh penampilan mendadak dari dua idola yang masih populer tersebut.

Di antara mereka, bintang terbesar adalah Masaki dan Rio.

Si kembar yang tidak memiliki rasa takut itu menyantap apa pun yang ditawarkan, mengobrol, dan dimanjakan oleh semua orang.

Memperhatikan hal ini, Haruki menggumamkan sesuatu yang mengerikan: "Seiji terus bertanya apa Masaki dan Rio ingin masuk ke dunia hiburan setiap kali dia melihat mereka." Hayato mengerutkan dahi dan hanya menjawab, "Terlalu cepat." Haruki tertawa mendengar jawabannya.

Pesta di balai warga berlanjut hingga larut malam.

Namun Masaki dan Rio mulai terkantuk-kantuk, jadi mereka pulang lebih awal.

Kembali ke rumah, mereka entah bagaimana berhasil memandikan si kembar dan menidurkan mereka.

Masaki dan Rio langsung menjelajah ke alam mimpi dalam sekejap.

Mereka kemungkinan besar akan tidur nyenyak sampai pagi.

Mengembuskan napas lega, Hayato melangkah keluar ke beranda dan menatap ke arah langit—bintang-bintang berkerlip dan bulan bersinar terang.

Langit malam Tsukinose jauh lebih hidup daripada di kota.

Saat Hayato menuangkan shochu yang dibawanya dari balai warga untuk putaran kedua, Haruki datang menghampiri di sisinya.

"Semua orang tidak berubah ya."

"Iya, meskipun Tsukinose sendiri sudah cukup banyak berubah."

"Tapi aku yakin orang-orang juga sudah berubah—hanya saja lebih sulit untuk dilihat."

"…Iya, sama seperti hubungan kita."

Saat Hayato mengatakannya dengan lembut, Haruki memberikan senyum getir dan menuangkan shochu ke dalam gelasnya sendiri.

"Ingat tidak saat aku bilang ingin menjadi Hime-chan waktu aku masih kecil dulu?"

"Iya, karena kamu iri pada seseorang yang punya teman untuk pulang bersama."

"Iya. Tapi sekarang aku benar-benar berpikir bahwa beruntung aku tidak menjadi Hime-chan. Karena kalau aku adalah adiknya, kita tidak akan pernah bisa menjadi seperti sekarang ini."

"Kurasa begitu."

Hayato tersenyum dengan mata menyipit, dan Haruki menyandarkan kepalanya di bahu pria itu, bergumam dengan manis.

"Kalau diriku yang masih kecil di Tsukinose bisa melihatku sekarang, dia pasti akan terpesona melihat betapa bahagianya aku."

"Sama denganku."

"Tapi momen ini tidak akan bertahan selamanya. Momen ini pasti akan berubah."

"Iya, aku menantikan untuk melihat bagaimana hal ini berubah mulai dari sini."

Saat Hayato mengatakan hal itu, Haruki berkedip, lalu tertawa terhibur.

"Hehe, justru karena kamu bisa mengatakan hal itu dengan begitu mudahnya makanya aku jatuh cinta padamu, aku benar-benar berpikir begitu."

"Yah, karena tepat di sampingku ada kamu—mitraku. Apa pun yang terjadi, aku bakal baik-baik saja, dan masa depan terasa penuh dengan kegembiraan."

"Iya, kita bakal selalu bersama mulai sekarang, Hayato."

"Iya."

Dengan itu, Haruki memberinya kecupan di pipi dan tersenyum lebar.

Hayato merangkulnya mendekat dan mengelus kepalanya.

Manusia berubah.

Mereka terus berubah.

Seiring dengan waktu, hal-hal di sekitar mereka juga ikut berubah.

Kalau dipikir-pikir lagi, dia telah melihat begitu banyak sisi berbeda dari Haruki.

Teman, teman masa kecil, mitra, kekasih, istri, ibu… dia pasti akan menunjukkannya lebih banyak sisi lagi di masa depan.

Namun ikatan yang kuat antara Hayato dan Haruki tidak akan pernah berubah.

Mereka akan terus berjalan menuju masa depan bersama-sama.

Mereka adalah mitra seumur hidup. Sejauh itulah yang bisa dikatakannya dengan pasti.

Keesokan paginya, setelah menegaskan kembali hal tersebut—

Tepat sebelum jam 5 pagi, saat langit timur mulai bewarna.

Haruki secara sembunyi-sembunyi membangunkan Hayato.

"Ayo kita tangkap kumbang miyama, Hayato! Aku memasang jebakan kemarin!"

"…Eh? Tunggu, kapan?"

"Saat kamu sedang menyiapkan barbekyu!"

"Tunggu dulu, bagaimana dengan anak-anak?"

"Mereka selalu tidur pada jam segini, jadi tidak apa-apa! Ayo, miyama~! Sebagai seorang ibu, aku harus menangkap yang lebih bagus daripada milik anak-anak!"




"‘Sebagai seorang ibu’?

Apa yang sebenarnya kamu bicarakan? Ah, baiklah, baiklah, aku mengerti, aku mengerti."

Dia mengembuskan napas yang dibuat-buat ke arah Haruki, yang sudah bersemangat sejak pagi-pagi sekali.

Di luar, gadis itu adalah seorang idola dan aktris yang berbakat; di rumah, dia adalah seorang ibu yang mencurahkan dirinya untuk membesarkan anak-anak mereka; dan saat mereka keluar bersama, dia mendukung Hayato sebagai seorang istri.

Haruki telah menjadi wanita dewasa yang begitu luar biasa.

Namun terkadang, seperti saat ini, Haruki suka membuat usulan yang mendadak dan di luar nalar.

Jadi di saat-saat seperti ini, selalu ada sesuatu yang ingin diteriakkan Hayato di dalam hatinya.

—Aku mengerti kalau kamu hanya kembali ke dirimu yang dulu di depanku, tapi… hei, tunggu sebentar!



Previous Chapter | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close