NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Tenkou-saki no Seiso Karen na Bishoujo Volume 11 Chapter 8

Chapter 8

Mulai Sekarang, Kita Akan Selalu Menjadi Teman!


“…………”

Setelah memperhatikan keberangkatan Hayato, Saki tetap berdiri mematung di sana untuk waktu yang lama.

Sudah berapa lama dia berada dalam kondisi seperti itu?

Malam mulai menyelimuti langit.

Pikirannya kosong hampa.

Sesuatu yang penting di dalam dirinya telah gugur, meninggalkan rasa kehilangan yang teramat sangat.

Angin sesekali berembus menembus kehampaan di dadanya.

Selama ini, dia selalu memikirkan Hayato.

Namun saat masih berada di Tsukinose dulu, dia tak sanggup berbuat apa-apa.

Ketika mendengar kabar kepindahan yang mendadak itu, dia sangat terguncang, panik, dan bingung harus berbuat apa.

Hingga akhirnya dia memetik pelajaran pahit bahwa jika dia tak berbuat apa-apa, tak ada yang akan berubah.

Karena itulah, pada musim panas saat Hayato dan yang lainnya pulang kampung, dia bertekad untuk mengubah dirinya.

Dia memaksakan diri untuk hidup mandiri di kota.

Dia berusaha keras membantu pekerjaan rumah tangga, dan karena tak begitu paham soal busana, dia belajar banyak hal.

Dengan bantuan banyak orang, dia berlari kencang tanpa memedulikan sekitar demi bisa berada di sisi Hayato.

Dia merasa telah banyak berubah.

Dirinya yang dulu tak akan pernah percaya bahwa dia bisa berteman dengan idola dan model.

Namun inilah hasilnya.

Hayato memang menyukainya.

Hal itu adalah sesuatu yang berhasil diraih Saki lewat tindakannya.

Pencapaian itu bisa dibilang sebagai sebuah kemenangan besar.

Namun Hayato memprioritaskan hal lain dan tidak bisa menerima perasaannya.

Tepat saat itu, ponselnya berdering memberitahukan panggilan masuk.

Dengan gerakan lamban, Saki mengeluarkan ponselnya—layar menunjukkan nama Himeko.

Dia menyentuh tombol jawab, dan suara terkejut Himeko terdengar dari seberang telepon.

‘Hei, Saki-chan, apa yang terjadi!? Onii-chan pulang ke rumah dan mendadak bilang mau tinggal sendiri!?’

“…………”

‘Dia juga bilang ingin segera pindah sekolah ke tempat yang jauh—ini mendadak sekali sampai aku tidak paham! Hei, sebenarnya apa yang terjadi!?‘

Mendengar suara panik sahabatnya yang belakangan ini cenderung pendiam, Saki terkekeh kecil lalu menceritakan apa yang baru saja terjadi.

“Yah, aku baru saja ditolak oleh Onii-san.”

‘……………………………..Ha?’

Suara bingung dari sahabatnya itu terasa lucu bagi Saki, dan dia pun menjawab dengan nada yang sengaja dibuat riang.

“Aku selalu menyukai Onii-san. Sejak kita masih kecil, selalu begitu. Pemicunya adalah hal yang sangat sepele—saat dia memuji tarian kagura milikku. Dia bilang tarian itu tidak cuma indah, tapi juga keren. Dia mengatakannya dengan mata yang berbinar-binar… Sebelum itu, aku cuma dipaksa menari kagura karena tuntutan keluarga. Jadi itu pertama kalinya aku dipuji seperti itu. Tapi kata-kata itu mewarnai seluruh duniaku.”

‘Um, Saki-chan…?’

“Alasan aku berteman dengan Hime-chan sebenarnya juga karena Onii-san. Waktu ibumu pingsan untuk pertama kalinya dulu, kamu sangat mengurung diri, kan? Saat itu, Onii-san datang ke kuil dan kebetulan berkata kepadaku yang sedang menyapu: ‘Buat adikku tersenyum!’ Dia memohon padaku untuk membantu karena dia tidak bisa membuatmu tersenyum bagaimanapun caranya. Jadi aku mencoba berbicara padamu.”

‘Jadi begitu cerita sebenarnya…’

“Lagipula aku memang sudah ingin berteman dengan Hime-chan, tahu? Karena di desa seperti Tsukinose, kamu adalah satu-satunya gadis seusiaku. Aku ingin kita jadi sahabat. Tapi aku penakut dan tidak sanggup mengajakmu bicara. Jadi aku membujuk diriku sendiri bahwa aku melakukannya karena diminta oleh Onii-san, lalu memberanikan diri menyapamu. Itulah motivasiku. Kalau dipikir-pikir, saat pertama kali aku mengajakmu bicara, itu pas kamu sedang berjalan linglung ke suatu tempat, seperti hendak pergi jauh.”

‘…Itu memang pernah terjadi. Aku mengejar awan yang mirip ibuku, mencoba naik bus, lalu kamu melarangku hingga akhirnya aku berbalik arah.’

“Saat itulah aku makin jatuh hati pada Onii-san. Aku berpikir betapa hebatnya dia yang rela melakukan apa saja demi senyuman adiknya, demi senyuman orang lain. Hal yang sama juga terjadi setelah aku datang ke kota ini.”

‘Iya, Onii-chan memang selalu membuat berbagai macam masalah.’

“Waktu Kazuki-san diganggu oleh seseorang dari SMP saat festival musim gugur, Onii-san langsung melompat ke tengah perkelahian. Saat festival sekolah, dia naik Shinkansen dan pergi jauh bersama Minamo-san agar gadis itu bisa berbicara dengan ayahnya. Lalu Mari-san juga—waktu itu, aku sampai terkejut dia bahkan bisa berteman dengan seorang idola.”

‘Ahaha, iya. Onii-chan selalu melakukan hal-hal gila. Aku bahkan kaget setengah mati waktu dia mendadak pergi ke Hokuriku bersama Haru-chan.’

“Hehe, aku tahu. Tapi melihat semua itu justru membuatku makin jatuh cinta padanya.”

‘Saki-chan…’

Merek merinci semua hal yang telah dilakukan Hayato dan tertawa bersama.

Kemudian, sembari memaksakan ukiran senyum, Saki menyampaikan apa yang baru saja terjadi.

“Alasan aku ditolak juga terdengar kocak. Dia bilang harus pergi dan merebut kembali senyuman tulus dari teman pertamanya, jadi dia tidak bisa berpacaran denganku. Padahal itu adalah ungkapan cinta seumur hidupku.”

‘……………………’

“Tapi kalau dia bilang begitu, aku tidak punya pilihan selain menerimanya. Karena sosok yang membuatku jatuh cinta memang orang yang seperti itu—seseorang yang berlari demi senyuman orang lain. Kurasa jauh di dalam hatiku, aku sudah tahu akhirnya akan jadi seperti ini saat melihat Haruki-san tidak tersenyum dengan benar. Mencoba memanfaatkan celah di hatinya saat dia sedang cemas ternyata tidak berhasil. Pada akhirnya, dia tetap menjadi Onii-san yang kucintai—itu sih curang namanya. Tentu saja aku bakal ditolak. Pada akhirnya, yang kulakukan cuma menyuruhnya kembali menjadi sosok yang kucintai—betapa bodohnya aku!”

Saki berteriak meluapkan perasaannya.

Tanpa disadari, tetesan air mata yang jatuh dari matanya telah membuat bercak-bercak basah di atas tanah.

Dari ponselnya, dia bisa mendengar suara Himeko yang panik dan kebingungan.

‘Tunggu, tunggu dulu, Saki-chan, aku sama sekali tidak tahu!’

Namun Saki terus mencurahkan segala hal yang selama ini terpendam di dadanya kepada sang sahabat.

“Sakit, rasanya sakit sekali, hatiku sakit. Harus bagaimana, apa yang harus kulakukan? Aku tidak tahu, aku menyukainya, aku selalu menyukainya, tapi tidak ada yang bisa kubuat. Tidak, tidak, kenapa bisa jadi seperti ini? Aku sudah berusaha keras, kan? Dan Onii-san yang menolakku juga tetaplah Onii-san. Pada akhirnya dia tetap menjadi Onii-san yang kucintai dan bahkan tidak membiarkanku membencinya!”

Setelah itu, Saki hanya bisa terisak dan tak sanggup lagi berkata-kata dengan jelas.

Dan Himeko-lah yang mencapai batas emosionalnya terlebih dahulu.

’Aku tidak tahu. Aku tidak tahu kalau Saki-chan menyukai Onii-chan, jadi aku malah mendukung Haru-chan dan Onii-chan! Kalau saja aku tahu, aku pasti bakal mendukungmu, Saki-chan! Tapi, tapi, aku terlalu sibuk dengan urusanku sendiri sampai tidak menyadarinya—waaaah! Maafkan aku, aku sungguh minta maaf!’

“Kamu tidak salah, Hime-chan. Ini salahku karena tidak bisa mengatakannya padamu.”

‘Tapi, tapi…’

“Tapi aku tetap ditolak. Aku sudah ditolak…”

Itulah batas kemampuan Saki.

Saki terisak seolah berusaha meyakinkan dirinya sendiri atas apa yang telah menimpanya.

Dia menangis meluapkan perasaan yang telah dipupuk di dalam hatinya selama ini—perasaan yang tak pernah terbalaskan—bersama sahabatnya di seberang telepon.

Ratapan Saki tersedot ke dalam langit yang masih menyisakan jejak-jejak musim panas.

◇◇◇

Himeko segera berlari menghampiri Saki saat itu juga.

Di dalam remang senja, Saki menangis seperti seorang anak kecil.

Terlihat jelas dalam satu kerlingan betapa terlukanya Saki, betapa dia meratap, dan betapa hancur perasaannya.

Himeko pun tak sanggup menahan air matanya.

Dia tahu benar rasa sakit dari cinta yang tak terbalas.

Namun dalam kasusnya, itu hanyalah cinta monyet masa kecil yang belakangan baru disadarinya sebagai cinta pertama.

Lagipula dia sempat salah sangka mengira orang itu adalah seorang laki-laki.

Jadi saat dia menyadari perasaannya, dia juga paham bahwa cinta itu tak akan pernah terwujud dan tak ada pilihan lain selain menyerah.

Karena itulah, Himeko sanggup menerima patah hatinya sendiri.

Namun Saki berbeda.

Gadis itu telah memupuk cintanya bertahun-tahun sejak mereka masih kecil.

Mengingatnya kembali sekarang, Himeko paham betul seberapa besar usaha yang telah dikerahkan Saki.

Dulu dia dengan lugunya berpikir Saki datang ke kota karena merasa kesepian ditinggalkan di desa.

Dia berpikir ketertarikan Saki yang makin besar pada busana adalah reaksi terhadap kehidupan kota, dan sikap proaktifnya dalam memasak serta mengurus rumah tangga adalah karena dia mulai hidup mandiri.

Semua itu ternyata keliru.

Semuanya dilakukan demi bisa makin dekat dengan Hayato.

Betapa fokusnya gadis itu mencintai Hayato dan mengambil tindakan?

Kenyataan bahwa perasaan sahabatnya tak akan pernah terbalaskan membuat hati Himeko terasa amat pedih.

Himeko sempat berharap kakaknya akan bersanding dengan Haruki.

Dia berpikir jika Haruki menjadi kakak iparnya, dia bisa terhubung secara tidak langsung dengannya.

Dan melihat Haruki menjadi idola, dia bahkan mengubah jalur pendidikannya sendiri agar bisa lebih dekat dengan dunia itu.

Lagipula, Haruki dan kakaknya selalu dekat, dan melihat mereka bersatu kembali serta menghabiskan waktu bersama seperti dulu, dia merasa mereka adalah pasangan yang serasi.

Sedemikian serasinya hingga dia berpikir tidak ada celah untuk dirinya sendiri.

Dan jika kakaknya berakhir bersama Haruki, dia bisa menerima keputusan untuk menyerah.

Karena itulah dia menggembleng kakaknya untuk mengembalikan senyuman Haruki.

Bisa dibilang dia telah memanfaatkan kakaknya.

Himeko memiliki jalan keluar seperti itu.

Betapa egoisnya.

Namun Saki tidak memiliki hal semacam itu.

Dia harus menghadapi perihnya luka ini secara langsung.

Jika saja Himeko mengetahui perasaan sahabatnya sejak awal, dia pasti akan mendukung Saki sepenuhnya.

Karena dia adalah temannya sejak kecil.

Paling tidak, dia akan membantu dengan berbagai cara di setiap kesempatan.

Mungkin hasil hari ini akan menjadi berbeda.

Namun Himeko terlalu sibuk dengan kehidupannya sendiri hingga tidak menyadari perasaan Saki, bahkan tidak mencoba untuk mengetahuinya.

Himeko, yang ingin berbagi sedikit saja dari rasa sakit sahabatnya, memeluk Saki erat-erat sembari terisak.

Saki merangkulnya erat dan membalas pelukan itu.

Saling mendekap, mereka menangis sejadi-jadinya hingga air mata yang mengalir di pipi mereka mengering.

Bergandengan tangan, mereka berjalan menyusuri area pemukiman yang telah sepenuhnya gelap.

Lampu-lampu jalan yang temaram menyinari mereka berdua secara samar.

Mata mereka berdua memerah.

Tujuan mereka adalah apartemen Saki.

Himeko sudah mengabari keluarganya bahwa dia akan menginap di tempat Saki malam ini.

Pada akhirnya, Saki bergumam malu-malu.

“Entah kenapa, waktu pertama kali aku bicara padamu dulu, aku juga pulang ke rumah sambil menangis bersamamu.”

“Itu benar. Waktu itu, aku tidak bisa menerima kenyataan Ibu pingsan, aku tidak ingin memikirkan apa pun, dan mengurung diri. Tapi saat kamu menangis bersamaku, aku jadi bisa menangis juga. Aku mendapatkan diriku kembali.”

“Kali ini malah kebalikannya. Karena kamu menangis bersamaku, aku jadi bisa meluapkan rasa sedihku dengan benar.”

“…Begitu ya.”

“…Iya.”

Mereka berdua menggenggam erat tangan mereka yang saling bertautan.

Kemudian, sembari menatap wajah sembap satu sama lain, mereka terkekeh pelan.

Setelah tertawa sejenak, Himeko bergumam dengan suara ceria yang bernada menggerutu.

“Tetap saja, Onii-chan itu benar-benar bodoh. Padahal dia punya kesempatan mendapatkan pacar seimut ini. Tidak bakal ada lagi orang yang mencintainya sebesar ini.”

“Aku tahu ini aneh kalau dikatakan sendiri, tapi aku merasa aku ini pasangan yang lumayan oke buat Onii-san. Aku bisa memasak dan membereskan rumah, aku tahu kesukaannya, dan aku akrab dengan keluarganya.”

“Tepat sekali. Aku tidak tahu Onii-chan mau pergi ke mana, tapi karena dia sudah menolakmu, dia harus kembali bersama Haru-chan yang sudah bisa tersenyum dengan benar, atau aku tidak akan membiarkannya menginjakkan kaki di rumah!”

Himeko memanyunkan bibirnya seolah menegaskan bahwa kakaknya setidaknya harus melakukan setingkat itu, dan Saki mendadak menghentikan langkahnya.

Himeko menatapnya, dan Saki mendeklarasikan sesuatu dengan sorot mata penuh tekad.

"Aku sudah memutuskan. Aku akan menjadi idola. Aku akan menjadi idola dan mengalahkan Haruki-san!"

"…Eh?"

"Dan aku akan menjadi wanita yang jauh lebih baik lalu membalas Onii-san yang sudah menolakku!"

Mendengar hal itu, Himeko berkedip beberapa kali, lalu meledak dalam tawa seolah tak sanggup menahannya lagi.

"Ahaha, aku suka itu! Balas dendam!"




"Hime-chan, kamu mau membantuku, kan? Berikan aku banyak saran ya!"

"Tentu saja! Ceritakan apa saja padaku, ayo kita pikirkan bersama-sama?"

Dengan tujuan yang baru, Saki dan Himeko kembali membakar semangat mereka.

Mereka berdua tahu bahwa hal itu masih sebatas gertakan belaka.

Dan mereka sadar bahwa mereka baru saja akan melakukan sesuatu yang konyol.

Namun hal itu jauh lebih baik daripada sekadar meratap dan bersedih.

Saki memaksakan ukiran senyum tanpa rasa takut lalu berkata.

"Mulai sekarang dan seterusnya juga, aku mengandalkanmu ya, Hime-chan."

Himeko membalasnya dengan senyuman lebar yang merekah penuh.

"Tentu saja. Kita—mulai sekarang kita akan selalu menjadi sahabat!"



Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close