NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Tenkou-saki no Seiso Karen na Bishoujo Volume 11 Chapter 9

Chapter 9

Sumpah


Terkuak oleh gunung-gunung di setiap sisinya, langit tampak seperti dunia sempit yang terbingkai dalam pigura.

Begitulah Tsukinose, sebuah desa terpencil yang mengalami penurunan jumlah penduduk.

Hari itu, saat senja di penghujung musim panas.

Hayato muda pernah hancur oleh rasa ketidakberdayaan di hadapan perpisahan yang tak terelakkan.

Kala itu, dia hanyalah seorang anak kecil yang hanya bisa tersapu oleh keadaan.

Namun jika ditanya apakah hal itu berbeda sekarang, dia tidak bisa dengan mudah menjawab ya.

Seiring tumbuhnya dia menjadi dewasa, menghadapi berbagai hal di kota, dan mulai melihat lebih banyak hal, dia mulai memahami apa yang bisa dan tidak bisa dilakukannya.

Di tengah-tengah hal tersebut, dia akan menentukan apa yang sanggup dilakukannya dan memutuskan jalan hidupnya.

Hayato dan yang lainnya kini berdiri di persimpangan jalan semacam itu.

Beruntung, apa yang hendak dilakukan Hayato telah mendapatkan stempel persetujuan dari Seiji, seorang produser berpandangan tajam yang telah menciptakan popularitas Twinkle dan MOMO.

Pria itu telah menetapkan jalan yang harus ditempuhnya.

Hal yang tersisa hanyalah terus berlari ke depan.

Tak ada lagi keraguan.

Namun sebelum itu, ada sesuatu yang harus dilakukannya.

Dan itu adalah sesuatu yang sangat amat sulit.

Belakangan ini, Hayato secara akut merasakan batas dari kemampuannya sendiri.

Kekuatannya seorang diri sangatlah terbatas.

Kalau begitu, dia hanya perlu meminjam dari orang lain apa yang tidak miliki.

Kini, dia memiliki banyak teman yang bisa diandalkan.

Hingga akhirnya, beberapa hari setelah Hayato menghubungi semua orang dan merancang rencana tertentu—

Saat istirahat makan siang di hari ketika sisa-sisa hawa panas musim panas masih terasa menyengat, di markas rahasia.

Mereka sedang menyantap makan siang bersama seperti biasanya, tetapi Haruki menggembungkan pipinya dengan raut wajah yang agak tidak puas.

"Kalian semua belakangan ini meninggalkanku—apa kalian sedang merencanakan sesuatu di belakangku?"

Tebakannya tidak meleset jauh.

Hayato bertukar pandang dengan semua orang, lalu menjawab dengan senyuman ambigu.

"Tidak mungkin."

"Tidak, aku baru saja melihat kalian semua saling bertukar pandangan."

"Omong-omong, Haruki, apa kamu ada waktu luang setelah sekolah hari ini? Ada sesuatu yang ingin kubuat kamu ikut bersamaku."

"Wah, pengalihan topiknya kelihatan jelas sekali."

"Hahaha."

"Tidak, bukannya 'hahaha'! Tapi ya, aku luang kok."

"Kalau begitu sudah diputuskan ya."

Secara paksa memotong pembicaraan di sana, Haruki mengembuskan napas panjang yang dibuat-buat.

Setelah sekolah, Hayato berkata kepada Kazuki, Iori, dan Minamo, "Aku serahkan sisanya pada kalian," dan setelah menerima balasan "Serahkan padaku," "Sampai nanti," serta "Siap!" dari masing-masing dari mereka, dia pun melangkah menuju ruang kelas Haruki.

Haruki berada di kursinya, dikelilingi oleh teman-teman sekelasnya yang sepertinya sedang mengajak bincang-bincang.

Dari luar, itu terlihat seperti pemandangan biasa dari kehidupan sehari-hari gadis SMA.

Namun topik yang diangkat oleh teman-teman sekelasnya jauh dari kata biasa—pakaian dari merek yang pernah dikenakannya saat pemotretan, rasa iri terhadap rekan kerjanya yang merupakan idola favorit mereka. Dan dengan keberadaan anggota Klub Penelitian Idola di koridor, suasana itu terasa makin kentara.

Hayato tersenyum getir menatap Haruki yang memberikan balasan ambigu kepada mereka, lalu mengangkat tangannya memanggil namanya.

"Haruki."

Menyadarinya, Haruki meminta izin dari yang lain dan berjalan mendekat.

"Maaf membuatmu menunggu. Oh, cuma kamu sendiri, Hayato?"

"Iya."

"Hmm."

Haruki mengeluarkan suara penasaran tetapi tidak mendesak lebih jauh.

Setelah memastikan gadis itu berjalan di sampingnya, Hayato bertanya secara kasual.

"Apa orang-orang sering mengajakmu bicara soal hal-hal di dunia hiburan seperti itu?"

"Iya, begitulah. Itu kan dunia yang langka, jadi banyak orang yang penasaran."

"Aku bisa mengerti. Seperti cerita soal Kazuki yang panik karena kostum yang disiapkan tidak pas, atau saat dia menjadi pemeran pengganti di lokasi syuting dan tidak tahu seluk-beluknya, hingga tak sengaja berdiri di posisi aktor utama dan keluar keringat dingin—kamu menceritakan kisah-kisah itu dengan cara yang lucu."

Haruki berkedip, lalu membalas dengan suara yang sedikit terkejut.

"Lho, Kaidou menceritakan hal-hal itu kepadamu?"

"Iya, lumayan sering—meskipun setengahnya cuma keluhan sih. Apa kamu tidak punya cerita seperti itu juga, Haruki?"

"Hmm, bagaimana ya…"

Tidak ingin menjawab, Haruki mengelak persis seperti yang dilakukannya pada teman-teman sekelasnya tadi.

Hayato tidak mengatakan apa-apa lagi.

Mereka berjalan dalam keheningan melewati gedung sekolah yang masih ramai.

Merek tiba di sebuah ruang kelas tahun pertama.

Saat pandangan mata penasaran tertuju pada pengunjung yang tidak biasa ini, Haruki bergumam heran.

"Ini… ruang kelas kita tahun lalu?"

"Iya, aku tadi berpikir bahwa di sinilah tempatku bersatu kembali denganmu. Meskipun aku tidak langsung menyadarinya saat itu. Kalau kamu punya gaya rambut seperti ini waktu itu, apa aku bakal mengenali dirimu lebih cepat ya?"

"Waktu itu, kesanku benar-benar berbeda dari saat aku masih di Tsukinose. Tapi aku langsung mengenali dirimu, karena aura milikmu sama persis seperti dulu. Omong-omong, kapan kamu menyadari kalau itu aku?"

"Waktu kita sedang berduaan dan kamu terus-terusan memukul punggungku, aku mencurigai sesuatu, lalu saat kamu menyeretku dengan memegang tanganku setelah sekolah dan kita kejar-kejaran sampai ke rumahmu, aku baru yakin. Seluruh sikapmu sama persis seperti dulu."

Mengatakan hal itu, Hayato dan Haruki bergoyang karena tawa nostalgia.

"Jadi, tempat yang kamu inginkan untuk kudatangi adalah di sini?"

"Tidak, kurasa aku datang untuk memastikan sesuatu."

"Memastikan?"

Saat Haruki memiringkan kepalanya, Hayato memberikan senyuman mengelak dan mendorongnya untuk lanjut.

"Pokoknya, ikutlah bersamaku."

Mereka meninggalkan sekolah, naik kereta, dan tiba di sebuah toko smartphone di area pusat kota.

Itu adalah toko tempat Hayato membeli ponselnya.

Mengingat saat-saat itu, Hayato bergumam dengan nada yang agak terhibur.

"Kalau dipikir-pikir lagi, di sinilah tempatku membeli smartphone pertamaku."

"Kamu tidak bisa memilih karena ada begitu banyak model, jadi kamu tidak punya satu pun. Pada akhirnya, kamu membeli model yang sama denganku."

"Aku berpikir aku bisa menanyakan cara menggunakannya padamu. Sekarang aku tidak bisa membayangkan bagaimana aku hidup tanpa smartphone."

"Bener, kan? Jadi, kamu butuh apa di sini? Servis HP?"

"Tidak, cuma mampir saja."

Tujuan mereka berikutnya adalah toko 100 yen.

Dengan lima lantai di atas tanah dan satu lantai di bawah tanah, dengan total luas lantai lebih dari 1.000 tsubo, tempat itu merupakan salah satu yang terbesar di negara ini.

Di depan toko, Haruki bertanya dengan gestur gelisah.

"Apa ada sesuatu yang ingin kamu beli di sini?"

"Tidak, tidak ada yang spesifik. Tapi mereka menjual berbagai macam barang di sini, jadi melihat-lihat saja sudah membuatmu bersemangat. Ayo kita lihat sebentar."

"Ide bagus."

Mengikuti keinginan mereka, mereka mencari hal-hal yang menarik.

Di bagian tanaman dalam ruangan, di antara tanaman udara, pohon beringin, dan palem meja, Hayato menemukan sesuatu yang tidak bisa dilewatkannya dan berseru.

"Tunggu, tanaman kopi!? Kopi yang menumbuhkan biji kopi!?"

"Oh, kelihatannya memang seperti kopi yang itu!"

Dia segera mencari di ponselnya dan menemukan bahwa tanaman itu populer sebagai dekorasi interior hijau.

Dia mempelajari bahwa tanaman itu benar-benar bisa berbuah dan digunakan untuk kopi, bahwa secara mengejutkan tanaman itu bisa tumbuh lebih dari 10 meter di alam liar, dan bahwa di daerah penghasil kopi tanaman itu dipangkas menjadi 2-3 meter untuk pembudidayaan dan panen. Selain itu, meskipun sensitif terhadap dingin, tanaman itu katanya mudah ditanam oleh pemula.

Hayato dan Haruki secara antusias mendiskusikan bagaimana mereka berdua tertarik, mungkin mereka ingin mencoba menanamnya, dan apakah kontrol suhunya akan merepotkan.

Di bagian barang-barang unik, Haruki menemukan sesuatu dan mengeluarkan suara penasaran.

"Oh, ini sedotan kacamata!"

"Ugh, jiwa anak SD-ku sangat amat menginginkan satu!"

Seperti namanya, sedotan kacamata adalah sedotan yang berbentuk seperti kacamata.

Benda itu membuatmu bisa minum dengan jus yang berputar-putar di sekitar matamu.

Bahkan dari luar pun, itu adalah barang yang konyol dan bikin tertawa.

Bakal sulit menemukan tempat menyimpannya, dan mencucinya bakal merepotkan.

Tapi harganya cuma 100 yen, jadi mereka memutuskan untuk memperlakukannya sebagai barang sekali pakai dan membelinya satu.

Mereka juga berbicara tentang bagaimana kantong berpembatas terlihat praktis, bagaimana melihat peralatan diorama membuat mereka ingin merakit lagi setelah sekian lama, dan bagaimana kotak penyimpanan berpenutup dalam ukuran ini tampaknya berguna, sebelum akhirnya meninggalkan toko.

Berikutnya, mereka menuju ke Karaoke Celery.

Hayato mengingat masa lalu dan meringis.

"Aku pernah makan roti madu di sini seperti orang yang kalap makan."

"Ah, itu pernah terjadi. Sebenarnya, tempat-tempat yang kita kunjungi hari ini—bukankah kita mengikuti rute yang sama seperti saat kita datang untuk membeli ponselmu?"

Haruki ternyata menyadarinya juga.

Hayato terlihat seperti anak kecil yang tertangkap basah melakukan jahil dan mengangguk.

"Kurang lebih begitu."

"Aku masih tidak terlalu paham apa yang ingin kamu lakukan hari ini."

"Mengecewakan hal itu, kamu bersenang-senang, kan?"

"Kurasa begitu."

Merek bertukar pandang dan tersenyum lebar.

Kemudian Hayato sedikit mengerutkan dahi, berdeham, dan berbicara dengan sedikit keraguan.

"Ini juga merupakan bagian dari konfirmasi itu."

"Ada kata 'konfirmasi' itu lagi."

"Belakangan ini, aku banyak memikirkan apa yang kamu katakan hari itu: 'Sebenarnya kita ini apa?'"

"…Kita adalah diri kita sendiri."

Haruki berkata dengan raut wajah yang serba salah.

Hayato bergumam, menatap ke suatu tempat yang jauh.

"Sejak kita bersatu kembali, banyak hal telah berubah saat kita berpisah. Aku mempelajari hal-hal yang tidak kuketahui, tapi aku juga menyadari ada hal-hal yang tidak berubah. Kamu tetaplah kamu."

"Iya, kamu juga mengejutkanku dalam banyak hal, tapi kamu tetaplah kamu."

"Aku berpikir inti dari siapa diri kita tidak akan berubah. Tapi keadaan dan posisi kita mau tidak mau akan berubah. Itu tidak bisa dihindari."

"Hal itu—"

"Hei, Haruki. Agar kita tetap menjadi diri kita sendiri mulai sekarang, aku berpikir kita perlu tetap jujur pada siapa diri kita."

"…………Maksudmu apa?"

Kepada Haruki yang mengerutkan dahinya, Hayato memeriksa waktu di ponselnya dan berkata dengan sedikit rasa kesepian.

"Pemberhentian berikutnya adalah tempat yang sangat ingin kudatangi hari ini. Ikutlah bersamaku."

Saat mereka berbalik ke arah alun-alun stasiun, area sekitar makin lama makin bising.

Alasannya sangat jelas.

Sebuah truk besar telah berhenti di alun-alun stasiun, bagian sampingnya terbuka.

Di dalamnya ada pengeras suara, lampu, dan peralatan lainnya—sebuah panggung itu sendiri.

Di atasnya terdapat kata "Twinkle" dan logo mereka.

Dari kerumunan, suara-suara antisipasi bisa terdengar: "Konser gerilya!?" "Reboot!?" "Apa yang terjadi!?"

Namun orang-orang di sekitar mereka belum menyadari keberadaan Haruki.

Menemukan hal itu entah bagaimana terasa menggelikan, Hayato pun tertawa.

Haruki, yang tampak tidak yakin bagaimana harus bereaksi, bergumam dengan wajah serba salah.

"Ini tempat yang kamu inginkan agar kudatangi? Hmm… Apa dia melakukannya sendirian?"

"Aku yang meminta untuk mengadakan konser gerilya ini."

"Eh?"

Sebuah suara terperanjat lolos dari mulut Haruki. Hayato tersenyum getir, berhenti di tempat dia bisa melihat panggung dengan jelas, dan mengirimkan pesan di ponselnya.

Sementara itu, makin banyak orang yang berkumpul.

Jalanan telah diblokir, dan orang-orang berjaket seragam mengarahkan kerumunan—di antara mereka, dia melihat wajah-wajah yang familier. Saat Hayato memberikan lambaian ringan kepada staf tersebut, Haruki menyadari dan berkata dengan suara bingung.

"Kenapa Shiraizumi-senpai ada di sini…!?"

"Merek butuh bantuan ekstra, jadi aku meminta Iori, Minamo, Isami-san, dan Takakura-senpai untuk membantu juga. Dan beberapa anggota dewan murid serta anggota Klub Penelitian Idola."

"Kenapa…"

"Itu sudah jelas."

Hayato mengatakan hal itu lalu mengalihkan pandangannya ke panggung.

Haruki, yang sepertinya masih memiliki sesuatu untuk dikatakan, ikut melakukan hal yang sama.

Setelah beberapa saat, Mari muncul dengan kostum panggung.

Karena hanya ada Mari, gumaman kebingungan berdesir di antara kerumunan.

Dalam suasana yang agak membingungkan itu, Mari dengan megah mengangkat mikrofon dengan satu tangan.

Keheningan menyebar di sekitarnya.

Mari, yang telah mendapatkan kehadiran sejak Early Summer Live, mendeklarasikan dengan lantang.

"Hari ini, kita mengadakan konser gerilya untuk merayakan dimulainya kembali kegiatan Twinkle! Dan untuk itu, beberapa orang hebat telah datang untuk mendukung kita!"

Kemudian, saat orang-orang tambahan muncul di panggung, sorak-sorai meledak dari kerumunan.

Bahkan Haruki, yang tidak bisa mempercayai matanya sendiri, mengeluarkan jeritan terkejut.

"Eh, tidak mungkin!?"

Yang muncul adalah MOMO, Airi, dan Ouchia Ui dengan kostum bergaya penari latar—berbeda dari milik Mari. Bahkan itu saja sudah merupakan susunan pemain yang spektakuler, dan ada juga seorang gadis jangkung yang cantik.

Kecantikan misterius itu, yang penampilannya menyaingi ketiga model populer tersebut, memancing bisikan terkejut dan antusias: "Eh, siapa!?" "Tinggi banget, perawakannya luar biasa!" "Teman model!?" menyebar seperti api liar.

Merasakan hal itu secara langsung, Mari berteriak untuk membakar semangat kerumunan.

"Kalian ingin tahu siapa dia!? Kalian bakalan kaget—dia adalah adik laki-laki dari model kharismatik yang ultra-populer MOMO—dia adalah KAZU! Bahkan aku sendiri tidak bisa mempercayainya!"

"Senang bertemu kalian, mohon bantuannya ya."

Saat Mari dengan cepat mengarahkan mik ke arah Kazuki yang berpakaian silang, suara pria yang tak diragukan lagi keluar dari mulutnya membuat kerumunan mematung sejenak, lalu meledak dalam jeritan antusias dan sorak-sorai yang bercampur dengan kebingungan.

Hayato juga mengeluarkan tawa terhibur.

"Haha, tidak mungkin! Kazuki benar-benar melakukannya!"

"Serius deh, apa yang sedang dilakukan Kaidou!?"

"Luar biasa betapa alaminya dia terlihat cuma dari penampilannya saja."

"…Aku merasa dia mencuri perhatian."

Hayato tertawa mendengar gumaman Haruki yang agak frustrasi.

Di atas panggung, Mari berteriak, "Kazu-san kelihatan luar biasa dengan pakaian itu!?" dan Momoka menjawab, "Aku dulu sering memakaikan bajuku padanya waktu dia masih kecil. Pakaian itu cocok sekali dengannya," sementara Airi ikut menimpali, "Tunggu, kamu punya fotonya!? Aku ingin sekali melihatnya!" menjaga kerumunan tetap terhibur.

Saat antisipasi makin meningkat, Mari melanjutkan dengan pengumuman besar.

"Berikutnya, memperkenalkan anggota baru kita—secara resmi bergabung setelah penampilannya di Early Summer Live!"

"Aku Saki!"

Muncul dengan kostum panggung yang mirip dengan milik Mari dan melambaikan tangan, Saki memancing sorak-sorai sengit dari beberapa penggemar setia, sementara mereka yang tidak familiar dengan Twinkle bertanya-tanya siapa dia.

Bahkan Haruki mengeluarkan suara panik.

"Saki-chan, kenapa…?"

Hayato tidak memberikan jawaban, hanya senyum getir.

Tanpa jeda, musik pun dimulai.

Lagu debut Twinkle.

Mari bernyanyi.

"────♪"

Begitu pertunjukan dimulai, dengan para model populer sebagai penari latar, keributan pun dibungkam.

Dan setiap ketidakpuasan atau kebingungan tentang Saki dengan cepat digantikan oleh pujian dan sorak-sorai.

Nyanyian Mari yang luar biasa dan tarian Saki yang ekspresif.

Merek memikat semua orang di sana dalam sekejap mata.

Tertarik oleh kegembiraan tersebut, kerumunan makin membesar.

Di atas panggung, Mari dan Saki mengeluarkan potensi terbaik satu sama lain secara sinergis—itu sangat memukau.

Keempat penari latar juga melengkapi Mari dan Saki dengan sempurna.

Bukan hanya penggemar yang sudah ada, tetapi mereka yang belum familiar sebelumnya pun mengatakan hal-hal seperti, "Aku tahu lagunya, tapi ini luar biasa kalau dilihat langsung," "Tarian itu gila banget!?" dan "Aku benar-benar bisa mendukung mereka!"—mendapatkan penggemar-penggemar baru. Betapa kuatnya pertunjukan itu.

Suasana terus memanas.

Namun ada perasaan ketidakpuasan atau ketidaklengkapan yang mendasarinya.

Alasannya sangat jelas.

Bahkan bagi mata awam Hayato, pertunjukan oleh Mari dan Saki kehilangan sesuatu yang jelas.

Tarian Saki memiliki bagian-bagian di mana penumpukan emosi seharusnya diteruskan kepada orang lain, yang justru ditutupi oleh para penari latar; dan Mari memiliki bagian-bagian yang secara mencolok membisu.

Jelas sekali bahwa ada seseorang yang seharusnya mengisi kekosongan tersebut.

Sebuah ekspektasi tertentu tumbuh di antara para penonton.

Apa yang dipanggil oleh panggung ini sangatlah jelas.

—Ayo, Haruki!

Hanya dengan Haruki panggung ini akan menjadi lengkap.

Hal itu jelas bagi semua orang.

Jadi, untuk mengakhiri situasi yang membingungkan ini, Hayato berkata kepadanya.

"Haruki, kamu benar-benar ingin berada di atas sana, kan?"

"——Tidak, aku tidak, itu tidak—"

"Bohong. Barusan saja, kamu menjaga ritme dengan tubuhmu, bergerak gelisah."

"Itu… itu hal lain. Kamu pasti salah lihat."

Namun Haruki tidak mau mengakuinya.

Gadis itu sangat keras kepala.

Hayato tahu alasannya.

Dengan senyum getir, dia berkata seolah menegurnya.

"Jujurlah. Kamu tadi memikirkan intro seperti apa untuk membuat mereka bersemangat, bagaimana cara menggoda Kazuki saat dia muncul di panggung, dan bahkan sekarang, bagaimana cara membalas Mari dan Saki dengan nyanyian dan tarianmu sendiri, kan?"

"Hal itu—"

Gadis itu membisu dan menunduk. Ekspresinya memperjelas bahwa tebakan Hayato tepat sasaran.

Hayato melanjutkan, dengan nada yang sedikit sedih.

"Kamu menyukainya, kan? Aku sudah menyaksikan pertunjukanmu beberapa kali—kamu selalu kelihatan sangat bahagia. Bahkan sekarang. Perasaanmu yang sebenarnya adalah kamu ingin kembali ke dunia itu."

Kemudian Haruki menekan satu tangan ke dadanya dan berbicara seolah sedang menahan rasa sakit.

"Lalu kenapa? Tak peduli seberapa besar keinginanku untuk kembali—kamu tidak ada di sana."

"Iya, aku tidak ada di sana. Aku tidak bisa pergi."

Hayato juga merasakan rasa sakit pada kenyataan itu dan membalas dengan ekspresi penuh kesakitan.

Suara Haruki gemetar seolah memohon.

"Jangan katakan itu. Ibu sudah tidak ada, aku sekarang sendirian. Cuma kamu satu-satunya, Hayato—cuma satu-satunya yang mengenal diriku dari masa kecil, yang bisa diajak bicara tentang apa saja tanpa menahan diri, yang bisa kuperlihatkan diriku yang sebenarnya."

"Tapi saat ini, kamu tidak benar-benar tersenyum."

"—"

"Aku benci itu. Aku benci melihatmu memakai topeng, terus memainkan peran sebagai seseorang yang menyatu dengan kehidupan sehari-hari yang biasa."

"…………"

Haruki menatapnya dengan wajah yang seperti akan menangis.

Gadis itu tampak ingin mengatakan sesuatu tetapi tidak bisa menemukan kata-kata yang tepat.

Hayato, yang juga tampak seperti menahan air mata, berbicara tentang hari itu.

"Tempo hari, saat Saki menyatakan cintanya padaku, aku menyadari sesuatu."

"…Eh."

Dalam sekejap itu, wajah Haruki mengeras. Namun Hayato melanjutkan.

"Aku berpikir gadis pertama yang pernah membuatku jatuh cinta adalah Saki. Aku sudah mengenalnya sebagai teman adikku sejak kita masih kecil, dan sejak dia datang ke kota ini, dia berubah dan tumbuh begitu banyak—aku menghormatinya sebagai seorang pribadi juga. Memiliki seseorang seperti itu menyukaiku dan mendesak masuk—tentu saja aku bakal sadar akan keberadaannya."

"Benar… Saki-chan sudah mencintaimu secara tulus selama ini. Dan dia adalah gadis yang sangat cantik—wajar saja kalau tertarik padanya."

"Aku juga memikirkan bagaimana rasanya kalau kita berpacaran. Kita cocok, dia imut, aku tidak perlu cemas di dekatnya. Dia akrab dengan adik dan orang tuaku. Semuanya mungkin bakal berjalan lancar. Tapi kemudian, wajahmu terlintas di pikiranku. Wajah Haruki yang kutemu saat masih kecil."

"Hayato…?"

Hayato jeda di sana, menatap tangannya sendiri, dan melanjutkan.

"Tidak peduli apakah kamu seorang laki-laki atau perempuan, aku menyukai senyumanmu, Haruki. Jadi aku harus merebutnya kembali, kan? Karena itulah aku menolak ungkapan cinta Saki."

"Tapi bahkan jika aku kembali ke sana, aku tidak bisa tersenyum dengan benar tanpamu. Aku sudah memutuskan untuk pergi ke tempatmu berada!"

Kepada Haruki, yang matanya berkaca-kaca, Hayato menatap lurus ke dalam matanya dan mendeklarasikan.

"Karena itulah aku pindah sekolah. Untuk pergi ke tempatmu berada."

"Eh, apa maksudmu…"

"Aku ingin berpikir bersamamu tentang bagaimana cara tampil sesuai harapan di atas panggung sembari sedikit mendobrak pola untuk mengejutkan dan menghibur penonton. Tapi saat ini, aku tidak bisa. Aku tidak punya kemampuannya. Jadi aku akan belajar. Aku akan pergi ke suatu tempat yang jauh, belajar secara profesional, dan menyusul suatu hari nanti. Aku akan datang ke sisimu, Haruki."

"Tapi—"

Kepada Haruki yang masih ragu-ragu, dia mengatakan apa yang tidak bisa dikompromikannya.

"Bagimu, akting adalah hal yang menghubungkanmu dengan ibumu, kan? Tempat di mana kamu bisa benar-benar tersenyum adalah juga tempat di mana kamu membuat orang lain tersenyum lewat pertunjukanmu. Aku pasti akan pergi ke sana. Itu janji."

Mengatakan hal itu, Hayato mengambil jari kelingking Haruki dan menautkan jari kelingkingnya sendiri dengannya.

Sebuah deklarasi yang tidak memedulikan keadaan orang lain.

Kemudian Haruki, dengan air mata mengalir di wajahnya, berkata dengan bersungut-sungut.

"Itu jahat, memutuskan sendiri. Aku cukup mengenalmu untuk tahu kamu bakal langsung menelusuri jalan itu."

"Maaf. Tapi aku tidak ingin membiarkanmu tetap sebagai burung dalam sangkar. Tidak, bukan itu… Aku ingin melihat pemandangan yang belum pernah terlihat di dunia yang luas ini bersama-sama denganmu. Karena hal itu jelas bakalan lebih menyenangkan. Dan kita adalah partner, kan?"

Saat Hayato mengatakan hal ini dengan nada yang sedikit bergurau, mata Haruki membelalak, lalu dia tertawa dengan sedikit rasa frustrasi.

"Itu main curang—kalau kamu bilang begitu, aku tidak bisa menolak."

"Dengar ya, aku suka melihatmu tertawa dari lubuk hatimu yang paling dalam. Dan aku ingin melihatnya dari tempat yang paling dekat. Jadi untuk saat ini, pergilah lebih dulu dan tunggu aku."

"Oke. Aku akan percaya bahwa kamu pasti akan datang. Tapi jangan buat aku menunggu terlalu lama—aku akan menjadi bintang besar sampai-sampai kamu tidak akan bisa menyusulku."

"Aku akan berlari dengan kecepatan penuh."

"Kalau butuh waktu sampai kita tua, aku bakal marah."

"Aku juga ingin banyak bermain bersamamu—aku tidak berencana membuatmu menunggu."

"…Begitu ya."

Mereka bertukar gurauan ringan dan berbagi senyuman tanpa rasa takut.

Tepat saat itu, musik di atas panggung berhenti.

Mari, dengan waktu yang sangat pas, berteriak ke arah mereka, membakar semangat kerumunan.

"Ayo, Haruki!"




Hayato melepaskan tautan jari kelingkingnya dan mengambil satu langkah ke belakang.

Haruki mengusap air matanya, mendongak, lalu mengangkat tangannya tinggi-tinggi untuk mengumumkan kehadirannya di sana, sebelum akhirnya berlari menuju panggung tanpa menoleh ke belakang sedikit pun.

Kerumunan penonton menyambut kemunculan Haruki dengan sorak-sorai riuh, membuka jalan lebar-lebar untuk dilaluinya.

Saat Hayato memperhatikannya dengan pandangan penuh rasa kagum, seseorang mendadak menarik lengan bajunya.

Dia menoleh dan mendapati Himeko yang ternyata sudah tiba di sana entah sejak kapan.

Himeko juga menyipitkan matanya dan bergumam pelan.

"Panggung itu terasa sangat jauh ya."

"Iya, benar-benar jauh."

"Tapi aku juga akan ke sana. Karena Saki-chan ada di sana."

"Begitu ya. Yah, itu pasti bakal sepadan."

Dan Kirishima bersaudara itu pun menyaksikan teman-teman mereka bersinar terang di atas panggung.

Kepanasan dan gelora panggung membakar begitu membara, seolah hendak mengakhiri masa-masa musim panas terakhir tahun ini.

Untuk saat ini, mereka masih jauh dari pencapaian level tersebut.

Namun mereka akan mengincar tempat yang sama, masing-masing melalui jalannya sendiri.

Menimpa janji yang pernah dibuat di masa kecil dengan sumpah reuni yang baru saja terikrar.

Mereka tidak tahu akan memakan waktu berapa lama.

Tapi mereka pasti bakal menyusul.

Dengan perasaan yang telah menyala di dalam hati mereka sebagai penunjuk arah, mereka akan berlari kencang menerjang masa depan.

Hayato mengambil beberapa foto, mengukir erat dalam memorinya wujud Haruki yang bersinar di atas panggung dengan kilau kejujuran yang sejati.

Angin yang sedikit sejuk berembus pelan, menandai berakhirnya musim panas dan menyambut datangnya musim berikutnya.

Dan dengan begitu, perjalanan tantangan Hayato yang panjang dan berat pun resmi dimulai.



Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close