Chapter 8
Mulai Sekarang, Kita Akan Selalu Menjadi Teman!
“…………”
Setelah
memperhatikan keberangkatan Hayato, Saki tetap berdiri mematung di sana untuk
waktu yang lama.
Sudah berapa lama
dia berada dalam kondisi seperti itu?
Malam mulai
menyelimuti langit.
Pikirannya kosong
hampa.
Sesuatu yang
penting di dalam dirinya telah gugur, meninggalkan rasa kehilangan yang teramat
sangat.
Angin sesekali
berembus menembus kehampaan di dadanya.
Selama ini, dia
selalu memikirkan Hayato.
Namun saat masih
berada di Tsukinose dulu, dia tak sanggup berbuat apa-apa.
Ketika mendengar
kabar kepindahan yang mendadak itu, dia sangat terguncang, panik, dan bingung
harus berbuat apa.
Hingga akhirnya
dia memetik pelajaran pahit bahwa jika dia tak berbuat apa-apa, tak ada yang
akan berubah.
Karena itulah,
pada musim panas saat Hayato dan yang lainnya pulang kampung, dia bertekad
untuk mengubah dirinya.
Dia memaksakan
diri untuk hidup mandiri di kota.
Dia berusaha
keras membantu pekerjaan rumah tangga, dan karena tak begitu paham soal busana,
dia belajar banyak hal.
Dengan bantuan
banyak orang, dia berlari kencang tanpa memedulikan sekitar demi bisa berada di
sisi Hayato.
Dia merasa telah
banyak berubah.
Dirinya yang dulu
tak akan pernah percaya bahwa dia bisa berteman dengan idola dan model.
Namun inilah
hasilnya.
Hayato memang
menyukainya.
Hal itu adalah
sesuatu yang berhasil diraih Saki lewat tindakannya.
Pencapaian itu
bisa dibilang sebagai sebuah kemenangan besar.
Namun Hayato
memprioritaskan hal lain dan tidak bisa menerima perasaannya.
Tepat saat itu,
ponselnya berdering memberitahukan panggilan masuk.
Dengan gerakan
lamban, Saki mengeluarkan ponselnya—layar menunjukkan nama Himeko.
Dia menyentuh
tombol jawab, dan suara terkejut Himeko terdengar dari seberang telepon.
‘Hei, Saki-chan,
apa yang terjadi!? Onii-chan
pulang ke rumah dan mendadak bilang mau tinggal sendiri!?’
“…………”
‘Dia juga
bilang ingin segera pindah sekolah ke tempat yang jauh—ini mendadak sekali
sampai aku tidak paham! Hei, sebenarnya apa yang terjadi!?‘
Mendengar
suara panik sahabatnya yang belakangan ini cenderung pendiam, Saki terkekeh
kecil lalu menceritakan apa yang baru saja terjadi.
“Yah, aku
baru saja ditolak oleh Onii-san.”
‘……………………………..Ha?’
Suara
bingung dari sahabatnya itu terasa lucu bagi Saki, dan dia pun menjawab dengan
nada yang sengaja dibuat riang.
“Aku selalu
menyukai Onii-san. Sejak kita masih kecil, selalu begitu. Pemicunya adalah hal
yang sangat sepele—saat dia memuji tarian kagura milikku. Dia bilang tarian itu
tidak cuma indah, tapi juga keren. Dia mengatakannya dengan mata yang
berbinar-binar… Sebelum itu, aku cuma dipaksa menari kagura karena tuntutan
keluarga. Jadi itu pertama kalinya aku dipuji seperti itu. Tapi kata-kata itu
mewarnai seluruh duniaku.”
‘Um, Saki-chan…?’
“Alasan aku
berteman dengan Hime-chan sebenarnya juga karena Onii-san. Waktu ibumu pingsan
untuk pertama kalinya dulu, kamu sangat mengurung diri, kan? Saat itu, Onii-san
datang ke kuil dan kebetulan berkata kepadaku yang sedang menyapu: ‘Buat adikku
tersenyum!’ Dia memohon
padaku untuk membantu karena dia tidak bisa membuatmu tersenyum bagaimanapun
caranya. Jadi aku mencoba berbicara padamu.”
‘Jadi
begitu cerita sebenarnya…’
“Lagipula
aku memang sudah ingin berteman dengan Hime-chan, tahu? Karena di desa seperti Tsukinose, kamu adalah
satu-satunya gadis seusiaku. Aku ingin kita jadi sahabat. Tapi aku penakut dan
tidak sanggup mengajakmu bicara. Jadi aku membujuk diriku sendiri bahwa aku
melakukannya karena diminta oleh Onii-san, lalu memberanikan diri menyapamu.
Itulah motivasiku. Kalau dipikir-pikir, saat pertama kali aku mengajakmu
bicara, itu pas kamu sedang berjalan linglung ke suatu tempat, seperti hendak
pergi jauh.”
‘…Itu memang
pernah terjadi. Aku mengejar awan yang mirip ibuku, mencoba naik bus, lalu kamu
melarangku hingga akhirnya aku berbalik arah.’
“Saat itulah aku
makin jatuh hati pada Onii-san. Aku berpikir betapa hebatnya dia yang rela
melakukan apa saja demi senyuman adiknya, demi senyuman orang lain. Hal yang
sama juga terjadi setelah aku datang ke kota ini.”
‘Iya, Onii-chan
memang selalu membuat berbagai macam masalah.’
“Waktu Kazuki-san
diganggu oleh seseorang dari SMP saat festival musim gugur, Onii-san langsung
melompat ke tengah perkelahian. Saat festival sekolah, dia naik Shinkansen dan
pergi jauh bersama Minamo-san agar gadis itu bisa berbicara dengan ayahnya. Lalu
Mari-san juga—waktu itu, aku sampai terkejut dia bahkan bisa berteman dengan
seorang idola.”
‘Ahaha, iya.
Onii-chan selalu melakukan hal-hal gila. Aku bahkan kaget setengah mati waktu
dia mendadak pergi ke Hokuriku bersama Haru-chan.’
“Hehe, aku tahu.
Tapi melihat semua itu justru membuatku makin jatuh cinta padanya.”
‘Saki-chan…’
Merek merinci
semua hal yang telah dilakukan Hayato dan tertawa bersama.
Kemudian, sembari
memaksakan ukiran senyum, Saki menyampaikan apa yang baru saja terjadi.
“Alasan aku
ditolak juga terdengar kocak. Dia bilang harus pergi dan merebut kembali
senyuman tulus dari teman pertamanya, jadi dia tidak bisa berpacaran denganku.
Padahal itu adalah ungkapan cinta seumur hidupku.”
‘……………………’
“Tapi kalau dia
bilang begitu, aku tidak punya pilihan selain menerimanya. Karena sosok yang
membuatku jatuh cinta memang orang yang seperti itu—seseorang yang berlari demi
senyuman orang lain. Kurasa jauh di dalam hatiku, aku sudah tahu akhirnya akan
jadi seperti ini saat melihat Haruki-san tidak tersenyum dengan benar. Mencoba
memanfaatkan celah di hatinya saat dia sedang cemas ternyata tidak berhasil.
Pada akhirnya, dia tetap menjadi Onii-san yang kucintai—itu sih curang namanya.
Tentu saja aku bakal ditolak. Pada akhirnya, yang kulakukan cuma menyuruhnya
kembali menjadi sosok yang kucintai—betapa bodohnya aku!”
Saki berteriak
meluapkan perasaannya.
Tanpa disadari,
tetesan air mata yang jatuh dari matanya telah membuat bercak-bercak basah di
atas tanah.
Dari ponselnya,
dia bisa mendengar suara Himeko yang panik dan kebingungan.
‘Tunggu, tunggu
dulu, Saki-chan, aku sama sekali tidak tahu!’
Namun Saki terus
mencurahkan segala hal yang selama ini terpendam di dadanya kepada sang
sahabat.
“Sakit, rasanya
sakit sekali, hatiku sakit. Harus bagaimana, apa yang harus kulakukan? Aku
tidak tahu, aku menyukainya, aku selalu menyukainya, tapi tidak ada yang bisa
kubuat. Tidak, tidak, kenapa bisa jadi seperti ini? Aku sudah berusaha keras,
kan? Dan Onii-san yang menolakku juga tetaplah Onii-san. Pada akhirnya dia
tetap menjadi Onii-san yang kucintai dan bahkan tidak membiarkanku
membencinya!”
Setelah itu, Saki
hanya bisa terisak dan tak sanggup lagi berkata-kata dengan jelas.
Dan Himeko-lah
yang mencapai batas emosionalnya terlebih dahulu.
’Aku tidak tahu.
Aku tidak tahu kalau Saki-chan menyukai Onii-chan, jadi aku malah mendukung
Haru-chan dan Onii-chan! Kalau saja aku tahu, aku pasti bakal mendukungmu,
Saki-chan! Tapi, tapi, aku terlalu sibuk dengan urusanku sendiri sampai tidak
menyadarinya—waaaah! Maafkan aku, aku sungguh minta maaf!’
“Kamu tidak
salah, Hime-chan. Ini salahku karena tidak bisa mengatakannya padamu.”
‘Tapi, tapi…’
“Tapi aku tetap
ditolak. Aku sudah ditolak…”
Itulah batas
kemampuan Saki.
Saki terisak
seolah berusaha meyakinkan dirinya sendiri atas apa yang telah menimpanya.
Dia menangis
meluapkan perasaan yang telah dipupuk di dalam hatinya selama ini—perasaan yang
tak pernah terbalaskan—bersama sahabatnya di seberang telepon.
Ratapan Saki
tersedot ke dalam langit yang masih menyisakan jejak-jejak musim panas.
◇◇◇
Himeko segera
berlari menghampiri Saki saat itu juga.
Di dalam
remang senja, Saki menangis seperti seorang anak kecil.
Terlihat
jelas dalam satu kerlingan betapa terlukanya Saki, betapa dia meratap, dan
betapa hancur perasaannya.
Himeko pun tak
sanggup menahan air matanya.
Dia tahu benar
rasa sakit dari cinta yang tak terbalas.
Namun dalam
kasusnya, itu hanyalah cinta monyet masa kecil yang belakangan baru disadarinya
sebagai cinta pertama.
Lagipula dia
sempat salah sangka mengira orang itu adalah seorang laki-laki.
Jadi saat dia
menyadari perasaannya, dia juga paham bahwa cinta itu tak akan pernah terwujud
dan tak ada pilihan lain selain menyerah.
Karena itulah,
Himeko sanggup menerima patah hatinya sendiri.
Namun Saki
berbeda.
Gadis itu telah
memupuk cintanya bertahun-tahun sejak mereka masih kecil.
Mengingatnya
kembali sekarang, Himeko paham betul seberapa besar usaha yang telah dikerahkan
Saki.
Dulu dia dengan
lugunya berpikir Saki datang ke kota karena merasa kesepian ditinggalkan di
desa.
Dia berpikir
ketertarikan Saki yang makin besar pada busana adalah reaksi terhadap kehidupan
kota, dan sikap proaktifnya dalam memasak serta mengurus rumah tangga adalah
karena dia mulai hidup mandiri.
Semua itu
ternyata keliru.
Semuanya
dilakukan demi bisa makin dekat dengan Hayato.
Betapa fokusnya
gadis itu mencintai Hayato dan mengambil tindakan?
Kenyataan bahwa
perasaan sahabatnya tak akan pernah terbalaskan membuat hati Himeko terasa amat
pedih.
Himeko sempat
berharap kakaknya akan bersanding dengan Haruki.
Dia berpikir jika
Haruki menjadi kakak iparnya, dia bisa terhubung secara tidak langsung
dengannya.
Dan melihat
Haruki menjadi idola, dia bahkan mengubah jalur pendidikannya sendiri agar bisa
lebih dekat dengan dunia itu.
Lagipula, Haruki
dan kakaknya selalu dekat, dan melihat mereka bersatu kembali serta
menghabiskan waktu bersama seperti dulu, dia merasa mereka adalah pasangan yang
serasi.
Sedemikian
serasinya hingga dia berpikir tidak ada celah untuk dirinya sendiri.
Dan jika kakaknya
berakhir bersama Haruki, dia bisa menerima keputusan untuk menyerah.
Karena itulah dia
menggembleng kakaknya untuk mengembalikan senyuman Haruki.
Bisa dibilang dia
telah memanfaatkan kakaknya.
Himeko memiliki
jalan keluar seperti itu.
Betapa egoisnya.
Namun Saki tidak
memiliki hal semacam itu.
Dia harus
menghadapi perihnya luka ini secara langsung.
Jika saja Himeko
mengetahui perasaan sahabatnya sejak awal, dia pasti akan mendukung Saki
sepenuhnya.
Karena dia adalah
temannya sejak kecil.
Paling tidak, dia
akan membantu dengan berbagai cara di setiap kesempatan.
Mungkin hasil
hari ini akan menjadi berbeda.
Namun Himeko
terlalu sibuk dengan kehidupannya sendiri hingga tidak menyadari perasaan Saki,
bahkan tidak mencoba untuk mengetahuinya.
Himeko, yang
ingin berbagi sedikit saja dari rasa sakit sahabatnya, memeluk Saki erat-erat
sembari terisak.
Saki merangkulnya
erat dan membalas pelukan itu.
Saling mendekap,
mereka menangis sejadi-jadinya hingga air mata yang mengalir di pipi mereka
mengering.
Bergandengan
tangan, mereka berjalan menyusuri area pemukiman yang telah sepenuhnya gelap.
Lampu-lampu jalan
yang temaram menyinari mereka berdua secara samar.
Mata mereka
berdua memerah.
Tujuan mereka
adalah apartemen Saki.
Himeko sudah
mengabari keluarganya bahwa dia akan menginap di tempat Saki malam ini.
Pada akhirnya,
Saki bergumam malu-malu.
“Entah kenapa,
waktu pertama kali aku bicara padamu dulu, aku juga pulang ke rumah sambil
menangis bersamamu.”
“Itu benar. Waktu
itu, aku tidak bisa menerima kenyataan Ibu pingsan, aku tidak ingin memikirkan
apa pun, dan mengurung diri. Tapi saat kamu menangis bersamaku, aku jadi bisa
menangis juga. Aku mendapatkan diriku kembali.”
“Kali ini malah
kebalikannya. Karena kamu menangis bersamaku, aku jadi bisa meluapkan rasa
sedihku dengan benar.”
“…Begitu ya.”
“…Iya.”
Mereka berdua
menggenggam erat tangan mereka yang saling bertautan.
Kemudian, sembari
menatap wajah sembap satu sama lain, mereka terkekeh pelan.
Setelah tertawa
sejenak, Himeko bergumam dengan suara ceria yang bernada menggerutu.
“Tetap saja,
Onii-chan itu benar-benar bodoh. Padahal dia punya kesempatan mendapatkan pacar
seimut ini. Tidak bakal ada lagi orang yang mencintainya sebesar ini.”
“Aku tahu ini
aneh kalau dikatakan sendiri, tapi aku merasa aku ini pasangan yang lumayan oke
buat Onii-san. Aku bisa memasak dan membereskan rumah, aku tahu kesukaannya,
dan aku akrab dengan keluarganya.”
“Tepat sekali.
Aku tidak tahu Onii-chan mau pergi ke mana, tapi karena dia sudah menolakmu,
dia harus kembali bersama Haru-chan yang sudah bisa tersenyum dengan benar,
atau aku tidak akan membiarkannya menginjakkan kaki di rumah!”
Himeko
memanyunkan bibirnya seolah menegaskan bahwa kakaknya setidaknya harus
melakukan setingkat itu, dan Saki mendadak menghentikan langkahnya.
Himeko
menatapnya, dan Saki mendeklarasikan sesuatu dengan sorot mata penuh tekad.
"Aku sudah
memutuskan. Aku akan menjadi idola. Aku akan menjadi idola dan mengalahkan
Haruki-san!"
"…Eh?"
"Dan aku
akan menjadi wanita yang jauh lebih baik lalu membalas Onii-san yang sudah
menolakku!"
Mendengar hal
itu, Himeko berkedip beberapa kali, lalu meledak dalam tawa seolah tak sanggup
menahannya lagi.
"Ahaha, aku
suka itu! Balas dendam!"
"Hime-chan,
kamu mau membantuku, kan? Berikan aku banyak saran ya!"
"Tentu saja!
Ceritakan apa saja padaku, ayo kita pikirkan bersama-sama?"
Dengan tujuan
yang baru, Saki dan Himeko kembali membakar semangat mereka.
Mereka berdua
tahu bahwa hal itu masih sebatas gertakan belaka.
Dan mereka sadar
bahwa mereka baru saja akan melakukan sesuatu yang konyol.
Namun hal itu
jauh lebih baik daripada sekadar meratap dan bersedih.
Saki memaksakan
ukiran senyum tanpa rasa takut lalu berkata.
"Mulai
sekarang dan seterusnya juga, aku mengandalkanmu ya, Hime-chan."
Himeko
membalasnya dengan senyuman lebar yang merekah penuh.
"Tentu saja. Kita—mulai sekarang kita akan selalu menjadi sahabat!"



Post a Comment