NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Tokidoki Bosotto Russia-go de Dereru Tonari no Alya-sa Volume 2 Chapter 8

Bab 8: Ideal dan Kenyataan


Hari saat debat tiba. Saat Masachika dan Alisa menuju halaman belakang yang terhubung ke samping panggung tempat acara, yaitu aula, mereka berpapasan dengan lawan debat mereka.

 

"Ah, halo halo~"

 

Sayaka hanya mengangguk dingin lalu segera masuk ke dalam aula, namun satu murid lain yang berada di belakangnya menyapa dengan nada santai.

 

"Kuzechii, lama tidak ketemu~ Hari ini mohon bantuannya ya~ ...tapi, rasanya aneh ya bilang begitu."

 

"Kamu, bukannya terlalu tidak ada rasa tegang?"

 

"Yah, aku kan tidak ada bagian maju pas debatnya~? Santai banget lah."

 

Sesuai kata-katanya yang santai, yang melambaikan tangannya dengan santai adalah seorang murid perempuan rambut pirang ikal halus yang diikat one side up. Riasan tipis yang menembus batas maksimal yang tidak ditegur guru, serta seragam yang dirombak secara pas. Penampilan berani yang langka di Akademi Seirei ini, adalah kategori dari apa yang dipanggil gyaru. Alisa yang membeku di hadapan tipe manusia yang belum pernah berhubungan dengannya sampai sekarang, murid perempuan itu mengarahkan pandangannya.

"Ini pertama kali kita bicara langsung ya? Halo, aku Miyamae Nonoa. Untuk saat ini aku pasangannya Sayacchi~"

 

"Begitu... Aku Kujou Alisa. Mari buat debat yang bagus."

 

"Ahhaha, serius banget ya~ Anehnya rasanya kamu bakal cocok sama Sayacchi."

 

Tertawa dengan nada santai, Nonoa memberitahukan "Kalau begitu, mohon bantuannya ya~" lalu masuk ke dalam aula.

 

"Yang tadi itu, temannya Taniyama-san? Gimana ya... terasa tidak cocok ya."

 

"Yah, terasa tidak cocok kan. Kalau cuma dari penampilan luar sih murid teladan yang kaku sama gyaru yang santai. Maksudku, tidak berlawanan sama penampilannya dia memang gyaru yang santai sih. Memanfaatkan penampilannya yang mencolok itu katanya dia juga jadi model lho."

 

"Model? Itu... bukannya melanggar aturan sekolah?"

 

"Nmm~ Bentuknya sih katanya jadi maskot iklan merek yang dikelola orang tuanya, jadi pas-pasan aman?"

 

"Maksudku, dari dulu aku sering melihatnya dan penasaran, rambut itu..."

 

"Ah, kalau itu rambut asli lho? Katanya neneknya orang Amerika."

"...Begitu."

 

Meski paham tetapi rasanya masih belum begitu pas bagi Alisa,

Masachika berkata sambil tersenyum kecut.

 

"Katanya mereka berdua itu teman masa kecil lho. Sifat dan suasananya beda jauh sih, tapi biarpun begitu mereka akrab tahu."

 

"Ah, begitu..."

 

"Kuberitahu ya, kalau kamu pikir mereka berpasangan gara-gara koneksi orang dalam kamu salah besar lho? Miyamae itu tanpa ada hubungannya sama OSIS berada di puncak kasta sekolah, dan kalau soal luasnya jaringan pertemanan tidak diragukan lagi tingkat teratas di sekolah."

 

"Kalau itu... memang benar, di pemilihan bakal jadi ancaman ya."

 

"Yah, untuk hari ini tidak usah terlalu dipikirkan sampai sejauh itu tidak apa-apa kok. Kamu tinggal fokus sama Taniyama saja."

 

"Benar ya, aku paham."

 

Kepada Alisa yang memasang raut menyampingkan soal Nonoa dari kepalanya untuk sementara, Masachika menghembuskan napas "Fuu" sekali lalu bertanya.

 

"Kalau begitu, mari kita pergi."

 

"Ya."

 

Lalu, mereka berdua melangkah masuk ke aula yang menjadi medan pertempuran penentuan.

 

 

"Uwaa, lumayan banyak orang yang kumpul ya. Murid yang tidak ada kegiatan klub lebih dari separuh ikut hadir kan?"

 

"Yah, debat pertama di tahun ajaran ini. Ditambah lagi, yang menantang itu Taniyama-san dan yang menerima Kujou-san... tingkat perhatiannya pasti tinggi kan."

 

Takeshi dan Hikaru yang datang ke aula, biarpun timing-nya agak tanggung karena sebelum masa ujian, melihat ke sekeliling secara agak heran dengan jumlah orang yang berkumpul hingga hampir penuh. Kalau sepuluh menit sebelum dimulai saja sudah begini, pada akhirnya mungkin ada murid yang sampai berdiri menonton.

 

"Taniyama-san itu, anak yang bertarung memperebutkan kursi Ketua lawan Tuan Putri sampai akhir kan?"

 

"Iya iya, waktu kelas satu dulu dia dianggap sebagai kandidat utama Ketua berikutnya sih, tapi pada akhirnya kalah dari Suou-san ya~"

 

"Taniyama-san itu di debat tidak pernah kalah kan? Kalau menurutku kalau mereka berdua bertabrakan di debat sebelum masa pemilihan, tidak tahu hasilnya bakal bagaimana lho."

"Aku juga berpikir begitu. Tapi di sana daripada bertarung di bidang keahliannya sendiri, memutuskan hasil secara adil di pemilihan itu menurutku sangat sportif sih."

 

"Nggak nggak, kamu kan memilih Suou-san."

 

"Itu hal yang berbeda. Yang itu namanya memuji lawan biarpun musuh."

 

Sambil berjalan di dalam aula mencari dua kursi kosong yang berdampingan, pembicaraan murid-murid di sekeliling masuk ke telinga mereka. Dari kelas satu sampai kelas tiga, orang-orang dengan berbagai posisi menyampaikan perkiraan debat dan kesan para peserta.

 

"Bagaimana menurutmu? Topik ini."

 

"Hmm, karena sebagian besar murid tidak ada hubungannya jadi tidak tahu ya... yah, kalau dia pasti sudah menyiapkannya secara rapi kan."

 

"Kalau murid pindahan bagaimana? Aku tidak begitu tahu soal anak itu..."

 

"Aku juga cuma tahu kalau nilainya bagus saja... dari awal apa dia bisa berpidato?"

 

"Murid bernama Kuze ini, bukannya pernah dengar namanya di suatu tempat?"

 

"Kalau tidak salah, Wakil Ketua waktu Suou-san jadi Ketua bukannya nama begitu ya? Tidak begitu tahu sih."

"Aa~ ada juga ya yang begitu? Loh? Kalau begitu kenapa dia bersama murid pindahan itu?"

 

Pembicaraan yang terdengar sebagian besar mengenai Sayaka, dan manusia yang membicarakan Alisa hanya minoritas. Mengenai Masachika tidak perlu dibilang lagi.

 

"...Bagaimana ya, bukannya sudah terasa away duluan?"

 

"Yah, kalau soal debat, perbedaan popularitasnya terlalu jauh ya... Ah, di sana kosong."

 

"Ooh, beneran."

 

Menemukan kursi kosong di tengah barisan, Takeshi dan Hikaru duduk di sana. Lalu saat mengarahkan pandangannya ke panggung depan kembali, menyeberangi mimbar tengah di sebelah kanan duduk Sayaka dan Nonoa. Di sebelah kiri terlihat Alisa dan Masachika yang duduk.

 

Semuanya sama-sama cuma duduk di kursi saja, tetapi secara ajaib pandangannya terserap ke arah Sayaka. Sosoknya yang menegakkan punggung secara tegap, menutup mata dengan sangat tenang, memancarkan aura keanggunan tersendiri.

 

"Sudah sangat terbiasa ya... rasanya tidak merasa bakal bisa menang kan. Maksudku, tidak bisa membayangkan sosoknya kalah tahu."

 

"Kalau Masachika sih tenang seperti biasa... tapi Kujou-san tidak apa-apa ya? Maksudku yang utama bicara kan Kujou-san kan?"

"Yah, yang begini kan biasanya kandidat Ketua yang utama bicara, lalu kandidat Wakil Ketua yang mendukung. Kalau kandidat Wakil Ketua terus yang bicara, kandidat Ketuanya bakal kelihatan seperti hiasan kan. Biarpun menang kalau kesan di pemilihan Ketua jadi minus kan tidak ada artinya."

 

"Benar ya... tidak apa-apa ya. Kujou-san kesannya tidak begitu pandai bicara lho... terutama di hadapan orang sebanyak ini."

 

"Benar kan... paling tidak kalau tidak bisa bicara secara tegap tanpa keseleo, tidak bakal jadi pertarungan lho?"

 

Kedua orang itu menatap Alisa di atas panggung dengan cemas. Tanpa  memperlihatkan gestur menyadari pandangan mata tersebut, Alisa hanya duduk di kursi sambil menatap lurus ke depan. Mata birunya yang menatap mimbar kosong secara lekat-lekat, terlihat tidak ada keraguan maupun kecemasan sama sekali...

 

(Orang... sebanyak ini... te, tenggorokan terasa lengket... suara, bisa keluar tidak ya?)

 

Isi hatinya, mengalami ketegangan yang tidak ada tandingannya.

 

Tekanan bahwa masa depan mereka bergantung pada debat ini tentu saja ada. Namun sebelum itu, berbicara mengutarakan pendapat sendiri dari mulutnya sendiri di hadapan orang sebanyak ini, bagi Alisa adalah pengalaman pertama.

 

Pada dasarnya, Alisa memang berpendirian teguh tetapi tidak kuat dalam menyuarakan pendapat. Karena tidak berharap apa pun pada orang lain, sampai sekarang tidak ada kebutuhan buat menyuarakan pendapat secara khusus. Sebagai ganti tidak berniat menggerakkan orang lain memakai pendapatnya, dirinya sendiri juga tidak bakal digerakkan oleh pendapat orang lain. Itulah posisi dasar Alisa.

 

Namun yang dituntut sekarang adalah kekuatan buat menggerakkan orang lain tersebut. Kekuatan buat membuat orang lain menjadi pihak kita memakai kata-kata sendiri. Hal yang selama ini dibuang oleh Alisa karena dianggap tidak diperlukan.

 

(Bisa tidak? Aku... jangan-jangan bakal ditolak lagi seperti waktu itu...)

 

Mengingat kembali badai penolakan tanpa ampun yang dihantamkan padanya saat diskusi klub sepak bola dan klub bisbol beberapa hari lalu, darah serasa surut dari ujung jarinya. Mual. Kakinya tidak terasa seperti lumpuh. Langkah kaki yang memijak panggung yang keras, serasa sedang memijak karet.

 

"Alya."

 

Mendengar suara yang dipanggilkan dari sebelah, Alisa menoleh ke arah sana dengan perasaan seolah bersandar. Kenyataan bahwa dirinya bisa memalingkan mata dari para hadirin di depan, dirasakannya sangat disyukuri.

 

"...Apa?"

Apakah suara yang ditampilkannya dengan berpura-pura tenang tadi tidak gemetaran? Alisa sendiri tidak percaya diri. Di ujung pandangan matanya ada wajah pemuda yang menatap ke arah sini dengan ekspresi serius. Biasanya dia pasti bakal menganggapnya bisa diandalkan, namun bagi Alisa yang sekarang hal itu justru terasa sebagai tekanan.

 

(Kuze-kun tenang banget... Aku harus lebih mandiri. Soalnya aku sendiri yang bilang mau melakukan hal ini. Aku tidak ingin dibikin kecewa oleh Kuze-kun. Harus lebih tenang. Tenang. C, coba napas dalam-dalam. Kalau napas dalam-dalam pasti...)

 

Dia mencoba meresapi napasnya perlahan, tetapi tenggorokannya dan paru-parunya tidak mau menuruti perintahnya. Bernapas secara gemetaran dan gemetar sendiri, makin lama darah serasa makin surut dari tangan dan kakinya.

 

"Alya..."

 

"Kuze, kun..."

 

Dia sudah tidak bisa berpura-pura tangguh lagi. Suara yang diperasnya seolah bersandar padanya gemetaran secara memalu-malukan. Padahal rasanya mau menangis tetapi entah kenapa serasa mau tertawa sampai-sampai kepalanya jadi berantakan──

 

"Kamu, E-cup beneran?"

 

"...Ha?"

Mendengar pertanyaan yang tiba-tiba melenceng sejauh itu, Alisa sempat tertegun karena tidak mengerti maksudnya. Namun, saat pandangan Masachika sekilas mengarah ke bagian dadanya, barulah dia menyadari apa yang sedang terjadi.

 

Refleks dia berniat menutupi bagian dadanya memakai kedua tangannya, tetapi teringat kalau di sini adalah atas panggung sehingga dia menahannya tepat di detik-detik terakhir.

 

"Me, mesum...! Di situasi seperti ini, kamu bicara apa sih!"

 

Sambil menahan volume suaranya sebisa mungkin, dia menyuarakan kecaman. Lantas, Masachika mengarahkan pandangan matanya ke arah hadirin dengan ekspresi yang sangat serius.

 

"Aa, aku juga memikirkannya kok... Di situasi yang diawasi oleh orang banyak begini, tidak bisa melakukan hal aneh-aneh ya. ...Tapi tahu? Di saat yang sama aku menyadarinya. Kalau tidak bisa melakukan hal aneh-aneh, berarti tidak bisa ditampar dan tidak bisa kabur juga kan."

 

Lalu sambil memajang senyuman "Fuh", dia menoleh ke arah Alisa

dengan ekspresi yang entah kenapa terasa sangat tenang.

 

"Aku baru saja menyadarinya... Loh? Bukannya ini berarti bisa bebas sexual harassment sepuasnya ya? Pikirku."

 

"Mati saja sana."

 

"Kukuku, mereka juga pasti tidak bermimpi kalau kita di atas panggung sedang melakukan percakapan mesum begini kan..."

 

"Aku juga tidak berniat memikirkannya tahu."

 

"Guhehe, Nona manis... Hari ini kamu pakai celana dalam warna apa?"

 

"! ...Haah."

 

Sambil mempertahankan ekspresi serius namun melontarkan suara jahat dari pasangannya, Alisa menahan diri mati-matian agar tidak refleks melayangkan tamparan, lalu menghembuskan napas panjang yang sangat lelah. Apakah beneran tidak apa-apa menjadikan orang seperti ini sebagai partner, dia jadi cemas atas keputusannya sendiri.

 

"Tolonglah, pasang rasa tegang sedikit dong..."

 

"Oi oi, aku juga agak tegang tahu? Ah, ketemu Takeshi sama Hikaru. O~i."

 

"Bagian mananya coba. Ah, tu, tunggu!"

 

Menyambar pergelangan tangan Masachika yang melambaikan tangan dengan santai kepada temannya, Alisa memaksanya menaruh tangan di atas pangkuannya. Lalu, dia melotot ke arah wajah tanpa rasa tegang tersebut.

 

"Nee, beneran bisa hentikan tidak? Malu tahu."

 

"Tenang saja. Dibanding kamu, aku pasti jauh lebih malu kok."

 

"Kalau begitu pasang raut malu sedikit dong."

 

"A, betapa gagahnya tangan ini... Tidak mau, jangan menatapku memakai mata membara seperti itu. A, aku, malu...!"

 

"..."

 

"Oups, pandangan mata seperti melihat sampah ya?"

 

Melihat Masachika yang sama sekali tidak ada niat buat serius, Alisa melepaskan tangannya secara kasar lalu memalingkan wajah tanpa suara.

 

"Oi, Alya-san"

 

"..."

 

"Kenapa sih, berhubung kamu kelihatan sangat tegang, aku cuma berniat melemaskannya sedikit saja tahu."

 

"...Aku sama sekali tidak tegang kok."

 

"Beneran~? Wajahmu masih agak kaku lho?"

 

Menatap wajah samping Alisa yang membalasnya secara dingin secara lekat-lekat, Masachika menyuarakan nada curiga. Kesehatannya memang sudah lumayan kembali ke pipinya sih, tetapi masih terasa seperti dipaksakan. Masachika menghembuskan napas pelan, lalu menyapanya dengan lembut menggunakan nada serius.

 

"Tidak usah menyembunyikan rasa tegangmu kok. Pertama kali ikut Dewan Siswa, wajar saja kalau tegang. Justru, 'Saya memang tegang, tetapi karena saya bakal berusaha bersungguh-sungguh mohon bantuannya ya', bilang begitu sendiri justru pas kok."

 

"...Mana mau aku bicara begitu."

 

"Yah, benar juga ya."

 

Memasang benteng terlebih dahulu lalu memanjakan dirinya sendiri, hal semacam itu pasti tidak bakal dilakukan oleh Alisa.

 

Sebagai seorang perfeksionis, Alisa pasti berpikir untuk menuntaskannya secara sempurna dari awal sampai akhir.

 

"Alya, hadap ke sini."

 

"...?"

 

Melihat mata Alisa yang menoleh secara heran, Masachika bertanya.

 

"Alya, musuhmu itu siapa?"

 

"...Taniyama-san kan?"

 

"Bukan. Musuhmu itu adalah dirimu sendiri yang sempurna yang kamu jadikan idealisme. Benar kan?"

 

Memdengar kata-kata Masachika, mata Alisa berguncang sedikit, lalu mengangguk perlahan.

 

"...Benar ya. Aku mungkin yang paling takut kalau tidak bisa melakukan hal yang sama seperti idealismeku."

 

"Kan? Singkatnya, standar penilaian adalah dirimu sendiri. Dan yang berbicara di mimbar juga cuma kamu seorang. Penonton murni penonton. Berhubung tidak ada tanya jawab juga, sebanyak apa pun jumlah mereka tidak ada hubungannya. Benar kan?"

 

"Apakah, begitu ya?"

 

"Memang begitu kok."

 

Kepada Alisa yang membiarkan pandangannya melayang cemas, Masachika sengaja menegaskannya secara jelas. Makin berada dalam kondisi mental yang tidak stabil, kata-kata yang penuh rasa percaya diri dan bersifat ketetapan bakal makin meresap, Masachika paham soal itu.

 

"Kamu tinggal memikirkan buat memerankan dirimu yang paling keren menurutmu sendiri saja. Tenang saja, kalau ada apa-apa aku bakal membereskannya secara total kok."

 

"..."

Alisa berkedip perlahan seolah meresapi kata-kata Masachika, lalu kembali menghadap ke depan dengan keadaan yang agak lebih tenang.

 

Tepat di saat itu, Touya yang bertindak sebagai ketua majelis mendekat dari samping panggung.

 

"Kuze, Kujou. Waktunya sudah hampir tiba, tidak apa-apa?"

 

"Tidak apa-apa kok."

 

Setelah membalas secara jelas begitu, dia mengarahkan pandangan matanya ke arah Alisa di sebelahnya. Lantas, Alisa juga membalas menatap Touya secara tenang lalu mengangguk.

 

"Saya juga tidak apa-apa."

 

"Yup, baguslah."

 

Setelah mengangguk mantap, Touya kali ini menuju ke arah Sayaka.

 

Setelah mengonfirmasinya di sana juga, Touya berdiri di meja pembawa acara yang dipasang di ujung kiri panggung, lalu mengangkat suaranya ke arah mikrofon.

 

"Berhubung sudah waktunya, dengan ini Dewan Siswa resmi dibuka."

 

Dengan deklarasi pembukaan dari Touya, para hadirin yang tadinya ramai perlahan-lahan menjadi tenang. Sambil menunggu hal tersebut, Touya berpindah ke perkenalan peserta.

"Ketua majelis adalah saya, Ketua OSIS Kenzaki Touya. Pengaju draf adalah Taniyama Sayaka dari kelas 1-F, beserta Miyamae Nonoa dari kelas 1-D."

 

Menerima pandangan mata Touya, Sayaka dan Nonoa berdiri dari kursi lalu membungkuk memberi hormat. Dari kursi penonton terdengar tepuk tangan jarang-jarang, serta sorakan penyemangat dari para pendukung melayang.

 

"Sanggahan adalah Bendahara OSIS Kujou Alisa, beserta Urusan Umum OSIS Kuze Masachika."

 

Melanjutkannya, Alisa membungkuk memberi hormat secara anggun, dan Masachika membungkuk memberi hormat secara agak dramatis.

 

Kali ini pun tepuk tangan jarang-jarang terdengar, namun jumlahnya lebih sedikit ketimbang tadi dan tidak ada sorakan penyemangat.

 

"Topik bahasannya adalah 'Penerapan Evaluasi Guru dalam Perekrutan Pengurus OSIS'. Kalau begitu kepada pengaju draf, dipersilakan menyampaikan argumennya."

 

"Baik."

 

Membalas secara jelas memakai suara yang bergema baik meskipun tanpa mikrofon, Sayaka berdiri. Tanpa memperlihatkan gestur tegang dia melangkah di panggung, lalu di tengah jalan mengangguk sekali ke arah Touya sebelum naik ke mimbar secara tegap. Bersamaan dengan hal tersebut, sosok Sayaka terpampang besar di layar belakang panggung.

 

"Semuanya. Terima kasih telah berkumpul di tengah kesibukan kalian. Kali ini hal yang saya ajukan adalah 'Penerapan Evaluasi Guru dalam Perekrutan Pengurus OSIS'. Singkatnya, ini adalah pengajuan agar rekomendasi guru menjadi syarat saat bergabung dengan OSIS."

 

Melihat ke arah penonton lalu memberi salam, Sayaka menyampaikan teorinya tanpa tersendat.

 

"Saat ini pengurus OSIS dipilih oleh Ketua dan Wakil Ketua. Namun keadaan sebenarnya, tidak berlebihan jika dikatakan bahwa kita menerima murid yang mencalonkan diri secara tanpa seleksi. Faktanya, saat kami melakukan survei kuesioner kepada seluruh murid SMP dan SMA yang pernah menjadi pengurus OSIS biarpun sementara──"

 

(...Seriusan. Dia sampai menyiapkan data seperti itu segala ya.)

 

Dalam waktu sesingkat ini, persiapan hingga menyediakan data angka seperti itu menunjukkan kecermatan yang membuat Masachika berdecak kagum.

 

(Nggak, ini bukan Taniyama tapi Miyamae kali ya...)

 

Saat dia mengarahkan pandangan matanya ke arah Nonoa dengan setengah kagum dan setengah getir, sang empu justru tampak tidak peduli dan menatap kuku tangannya sendiri dengan tatapan kosong.

Tampaknya, dia benar-benar berniat menjadi penonton penuh selama jalannya majelis ini.

 

"Dari hal ini, saya rasa Anda sekalian dapat memahami situasi saat ini di mana siapa pun bisa menjadi pengurus OSIS asal mencalonkan diri. Namun, bagaimana menurut Anda sekalian tentang hal ini? Akademi Seirei yang memiliki tradisi dan keanggunan ini. Apakah OSIS yang merupakan perwakilan murid, boleh menjadi organisasi yang bisa dimasuki oleh siapa saja yang menginginkannya, bahkan jika murid tersebut memiliki masalah pada perilakunya?"

 

Setelah menunjukkan fakta objektif, Sayaka menaikkan nada suaranya dan berbicara kepada para hadirin.

 

"Saya berpikir bahwa OSIS seharusnya menjadi tempat yang hanya bisa dimasuki oleh murid-murid terpilih yang benar-benar unggul. Bukankah Anda sekalian juga berpikir demikian? Sebagai perwakilan Anda, atau bagi mereka yang mengikuti kegiatan klub, sebagai pihak atasan yang terkadang bertindak di atas Anda, bukankah Anda ingin pengurus OSIS yang bertahta satu tingkat di atas memiliki kualifikasi yang pantas? Coba bayangkan. Murid yang biasanya bernilai buruk dan perilakunya tidak baik, tiba-tiba menjadi atasan Anda begitu menjadi pengurus OSIS, lho? Mereka berada di posisi yang memberi instruksi dan memberikan izin kepada Anda, kan? Bukankah itu menyebalkan?"

 

Mendengar pertanyaan Sayaka, Masachika merasakan suasana yang menyebar di antara kursi penonton berupa, "Kalau dikatakan begitu, memang benar juga sih..."

 

(Seperti yang diharapkan, dia hebat juga ya...)

 

Murid-murid yang tadinya menganggap hal ini sebagai masalah orang lain seperti "Aku kan tidak berniat masuk OSIS, jadi mau yang mana saja boleh", diubah sudut pandangnya hingga merasa menjadi pihak yang bersangkutan.

 

Saat ini, pendapat para murid condong ke arah "Mau yang mana saja boleh sih, tapi kalau bisa memilih, aku ingin orang yang unggul yang menjabat". Perkembangan ini sepenuhnya berjalan sesuai dengan yang dibayangkan oleh Sayaka.

 

"Oleh karena itu, kita perlu menerapkan evaluasi guru. Secara spesifik, kita membuat format di mana lembar pendaftaran OSIS harus mendapatkan cap stempel dari wali kelas, kepala tingkat, ditambah guru bimbingan konseling dan Kepala Sekolah. Dengan begini, OSIS yang terdiri dari murid-murid yang benar-benar unggul dan telah mendapat jaminan dari para guru akan terwujud."

 

Mengedarkan pandangannya ke arah kursi penonton, Sayaka mengatakannya secara tegas sebagai penyelesaian akhir.

 

"Demi mewujudkan OSIS yang lebih terintegrasi, serta memiliki martabat dan wewenang yang tinggi! Mohon dukungan dari Anda sekalian!! ...Terima kasih banyak atas perhatian Anda."

 

Begitu Sayaka membungkuk memberi hormat, tepuk tangan riuh dan sorakan dari para pendukung membumbung tinggi dari kursi penonton.

Setelah merespons hal tersebut dengan mengangkat tangannya, Sayaka mengarahkan pandangan matanya ke arah Touya. Menangkap maksud tersebut, Touya mengambil mikrofon.

 

"Kalau begitu, kita beralih ke sesi tanya jawab. Apakah dari pihak sanggahan ada pertanyaan?"

 

Touya mengarahkan pandangan matanya kepada Alisa dan Masachika, dan pandangan mata para hadirin pun terkumpul ke arah sana.

 

Terhadap argumen Sayaka yang luar biasa, bagaimana murid pindahan yang menjadi rumor itu bakal menerobosnya. Di tengah pandangan mata yang dipenuhi rasa penasaran dan harapan, Alisa menatap balik Touya secara tenang... lalu menggelengkan kepalanya tanpa suara.

 

"Emm, tidak ada pertanyaan?"

 

Kepada Touya yang mengonfirmasinya dengan wajah terperanjat, Masachika memberi isyarat tangan agar melanjutkan ke tahap berikutnya. Perkembangan yang di luar dugaan ini, di antara para murid berembus situasi kecewa seperti "Apa-apaan, tidak ada perlawanan toh".

 

Namun, hal ini sejak awal sudah didiskusikan dan diputuskan oleh Masachika bersama Alisa.

 

Sayaka yang berpengalaman tidak bakal memperlihatkan celah dalam sesi tanya jawab. Jika mengajukan pertanyaan secara asal-asalan, hal itu hanya akan dibalas secara sempurna dan justru memberi poin pada lawan. Kalau pertanyaannya sulit, lebih baik tidak usah bertanya. Dibanding hal itu, keputusannya adalah lebih baik memperlihatkan kelonggaran dengan membeberkan argumen sendiri secara lancar setelah mendengarkan argumen lawan.

 

(Sampai di sini, sesuai rencana.)

 

Argumen Sayaka juga secara garis besar sesuai dengan perkiraannya.

 

Tidak ada masalah. Sisanya tergantung Alisa.

 

"Nah, apa kamu sudah siap?"

 

"...Ya."

 

Begitu Alisa menjawab secara tenang, suara Touya bergema melintasi ruangan.

 

"...Kalau begitu, selanjutnya dipersilakan argumen dari pihak sanggahan."

 

"Baik."

 

Menjawab memakai suara yang bergema baik secara ajaib meskipun tidak memaksakan volume suaranya, Alisa berdiri.

 

"Sip, pergilah!"

 

Menerima dorongan semangat dari Masachika di punggungnya, Alisa melangkah perlahan menuju mimbar. Kepada Alisa tersebut, pandangan mata para hadirin yang dipenuhi rasa penasaran... atau lebih tepatnya agak jahil, terkumpul padanya.

 

"(Nah, dari sini bagaimana dia berniat membalikkan keadaan ya?)"

 

"(Nggak nggak, pas sesi tanya jawab saja tidak bisa berkutik begitu bukannya sudah selesai? Yang begini mah Taniyama-san yang menang kan)"

 

"(Makanya kan sudah kubilang? Kalau Suou-san tidak maju mana ada peluang menang)"

 

"(Yah yah, coba kita dengar saja dulu pidato seperti apa yang bakal dibawakan sama 'Putri Menyendiri' itu)"

 

"(Lagian apa dia bisa bicara dengan benar ya? Tolong jangan sampai

menangis lho ya~?)"

 

Dari berbagai penjuru aula, suara-suara yang bercampur hinaan dan ejekan membumbung tinggi. Situasi ruangan bukan lagi menunggu bagaimana Alisa bakal membalas, melainkan sudah memunculkan kecenderungan yang menantikan kekalahan seperti apa yang bakal dialami oleh si "Putri Menyendiri" tersebut.

 

Merasakan udara tidak menyenangkan itu, Chisaki yang berada di samping panggung menaikkan alisnya dan hendak maju ke depan, namun tangannya ditahan oleh Maria. Maria yang mengawasi Alisa yang berjalan menuju mimbar, memiliki mata seorang kakak yang tegas namun lembut yang mempercayai adiknya. Dan Alisa yang bersangkutan... tanpa menyadari hal-hal di sekelilingnya sama sekali, dia memfokuskan kesadarannya ke dalam dirinya sendiri.

 

(Diriku yang ideal menurutku... diriku yang paling keren...)

 

Meresapi hal yang dikatakan Masachika padanya, dia membayangkan sosok yang dijadikan idealismenya. Kalau bicara sosok yang keren, Sayaka yang tadi pun tampak tegap dan keren. Namun, melebihi hal itu...

 

(Benar, pada saat itu... bagaimana dia bertindak ya?)

 

Dia mengingatnya. Sosok pemuda pada saat itu yang terlihat lebih keren ketimbang siapa pun. Pada saat itu, dia...

 

(Ah, begitu rupanya.)

 

Bayangannya telah ditetapkan. Sisanya tinggal melakukan sesuai dengan gambaran yang diukirnya di dalam kepala.

 

Berdiri di mimbar, dia mengedarkan pandangan matanya ke arah kursi penonton secara perlahan. Lalu... Alisa, tersenyum.

 

 

Saat Alisa berdiri di mimbar sambil tersenyum, kegaduhan kecil segera pecah di antara para penonton. Ada yang terperanjat, ada yang benar-benar terkejut, dan ada pula yang... melihat sosok seorang pemuda dalam senyuman itu hingga matanya terbelalak.

"Selamat siang, semuanya. Saya Kujou dari Bendahara OSIS. Mengenai pengajuan draf kali ini, izinkan saya menyampaikan sanggahan sebagai perwakilan OSIS. Mohon bantuannya."

 

Lalu, dia membungkuk memberi hormat dengan sikap yang terkesan agak dramatis. Penuh dengan kelonggaran, seolah-olah tersenyum serius untuk menghargai perjuangan lawan.

 

Dalam sekejap semua orang di tempat itu secara insting menyadari, bahwa kenyataan dirinya memilih bungkam pada sesi tanya jawab tadi bukannya "tidak bisa" bertanya, melainkan "tidak perlu" dilakukan.

Atas salam yang terkesan provokatif dan tidak sesuai dengan gambaran si "Putri Menyendiri" tersebut, pandangan mata para hadirin pun berubah.

 

"Nah, tadi Taniyama-san mengatakan bahwa dengan memasukkan evaluasi para guru ke dalam prosedur perekrutan pengurus OSIS, martabat OSIS bakal makin meningkat. Namun, pendapat saya justru sebaliknya. Saya berpikir bahwa jika evaluasi guru dimasukkan, martabat OSIS justru bakal menurun. Alasan utamanya adalah karena hal tersebut mencabut hak prerogatif pengangkatan pengurus OSIS yang dimiliki oleh Ketua OSIS dan Wakil Ketua OSIS yang merupakan inti dari OSIS."

 

Terhadap argumen Sayaka yang terkesan sangat logis, kenyataan bahwa Alisa membalasnya secara langsung dari depan membuat para murid di kursi penonton mau tidak mau menjadi tertarik.

 

"Pada dasarnya, yang paling mendapatkan rasa iri dan rasa hormat dari para murid di OSIS adalah Ketua OSIS dan Wakil Ketua OSIS yang dipilih lewat pemilihan umum. Justru karena mereka berdualah yang berhasil memenangkan persaingan ketat dalam masa pemilihan dan menyambar posisi tersebut, sekolah memberikan banyak wewenang kepada mereka. Hak pengangkatan pengurus OSIS dapat dikatakan sebagai wewenang yang paling utama. Bagaimana rasanya jika wewenang tersebut, biarpun sebagian, diserahkan kepada guru? Bukankah itu sama saja dengan mengatakan bahwa OSIS yang sekarang tidak bisa menjaga wibawanya sendiri jika tidak meminjam tangan dari guru?"

 

Di dalam aula, argumen Alisa bergema. Sosoknya yang anggun dan cantik ada yang melontarkan hela napas kagum, dan dengan sikapnya yang tegap ada yang berdecak kagum. Hanya dalam waktu beberapa menit Alisa berhasil mengubah udara di lokasi secara drastis, namun yang bersangkutan membeberkan pemikirannya secara lancar tanpa menyadari hal tersebut.

 

"Sekolah ini menjunjung tinggi otonomi murid. Karena itulah wewenang besar diberikan kepada OSIS. Justru karena berada di posisi yang bisa menentukan anggota OSIS secara bebas, Ketua OSIS dan Wakil Ketua OSIS menjadi sosok yang spesial. Apa yang akan terjadi jika evaluasi guru ditambahkan dalam pemilihan pengurus OSIS? Ketua dan Wakil Ketua tidak akan bisa lagi memasukkan murid yang mereka percaya ke dalam OSIS secara bebas. Mereka juga tidak akan bisa menolak pengurus yang telah mendapat jaminan dari para guru. Secara praktis, hak pengangkatan pengurus OSIS bakal diserahkan kepada guru. Pengurus yang dipilih guru bakal menjalankan sebagian besar tugas praktis OSIS. Bukankah hal tersebut menyimpang dari bentuk OSIS Akademi Seirei yang seharusnya?"

 

Mendengar kegigihan penjelasan Alisa, Masachika merasakan para hadirin yang tadinya condong ke pendapat Sayaka mulai berguncang.

 

(Sip, dia bisa bicara dengan tenang. Sempurna.)

 

Melihat gaya bicara Alisa yang tegap, Masachika mengelus dada merasa lega. Jujur saja, ini di luar dugaannya. Melihat tingkat ketegangannya sampai detik-detik terakhir, dia mengira gayanya bakal sedikit lebih kaku... tapi kalau begini sudah sangat cukup buat bertarung.

 

(Argumen Sayaka yang menyebutkan bahwa dengan mengumpulkan elit yang telah melewati evaluasi guru maka kelas OSIS bakal naik. Argumen Alya yang menyebutkan bahwa justru karena Ketua dan Wakil Ketua yang dipilih lewat pemungutan suara murid memegang seluruh hak pengangkatan, maka kelas OSIS dapat terjaga. Dua-duanya punya alasan... Untuk saat ini, kalau dilihat sekilas posisinya seimbang lima puluh banding lima puluh kali ya...?)

 

Masachika yang mengawasi sosok belakang Alisa dengan puas, merasakan pandangan mata tajam dari arah kiri lalu menoleh ke sana.

 

Di sana ada sosok Sayaka yang melotot ke arah sini dengan kilatan mata tajam dari balik kacamatanya. Mata itu menyuarakan secara jelas,

"Apakah ini akal-akalanmu?".

 

(Bukan tahu, Taniyama. Ini... semuanya adalah kata-kata Alya sendiri.)

 

Pada argumen Alisa kali ini, Masachika sama sekali tidak memberikan akal-akalan apa pun. Yang dilakukan Masachika hanya sebatas memprediksi argumen Sayaka saja. Argumen Alisa ini disusun oleh Alisa sendiri berdasarkan perkiraan Masachika, seratus persen milik Alisa.

 

(Lawanmu itu bukan aku. Tapi Alya.)

 

Saat dia menatap balik Sayaka dengan memendam tekad tersebut, argumen Alisa berakhir dan sesi tanya jawab pun dimulai. Tanpa membuang waktu Sayaka langsung mengangkat tangannya, lalu menyerang Alisa.

 

"Anda mengatakan bahwa Ketua OSIS dan Wakil Ketua OSIS memegang hak pengangkatan pengurus OSIS, tetapi seperti yang saya sampaikan tadi, kenyataannya dalam beberapa tahun terakhir seluruh murid yang mencalonkan diri bisa menjadi pengurus. Bagaimana pendapat Anda mengenai hal tersebut?"

 

"Bukankah tidak masalah selama hal itu tidak menimbulkan masalah? Jika memang timbul masalah dan ada suara ketidakpuasan dari para murid, di saat itulah Ketua OSIS harus mengambil tindakan tegas. Bukankah itu yang dinamakan tanggung jawab dari seorang pemimpin?"

 

Jika Masachika memberinya akal-akalan, dia berpikir bakal ada celah yang muncul dalam sesi tanya jawab. Namun, Alisa tidak berguncang sama sekali.

"Dari pihak alumni sendiri, ada suara-suara yang mengkhawatirkan penurunan kualitas OSIS belakangan ini. Justru karena itulah, saya berpikir perlunya pengawasan dari para guru. Bagaimana menurut Anda?"

 

"Hal yang memutuskan itu, bukankah seharusnya adalah mereka berdua yaitu Ketua OSIS dan Wakil Ketua OSIS? Mengakui kekurangan kemampuan sendiri dan meminta bantuan kepada guru juga merupakan sebuah keputusan. Namun hal tersebut, bukanlah sesuatu yang ditentukan oleh kita."

 

Justru, makin lama Sayaka yang mulai kehilangan kelonggarannya.

 

Menghadapi ketangguhan lawan yang di luar dugaan, argumennya perlahan-lahan mulai kehilangan kelogisan.

 

(Kegagalanmu adalah karena kamu salah menilai lawan. Tanpa melihat Alya yang ada di sana, kamu malah mengejar bayanganku yang sama sekali tidak ada. Padahal lawanmu sejak awal adalah Alya, tapi kamu dari tadi hanya melihat ke arahku...)

 

Masachika sejak awal memang tidak berniat menjadi lawan Sayaka.

 

Setelah mendengarkan argumen Alisa sebelumnya, dia menilai bahwa Alisa sudah sangat sanggup menjadi lawan Sayaka, sehingga dia menyerahkan segalanya secara penuh padanya.

 

Ya, lawan Masachika bukanlah Sayaka. Yang harus dihadapi Masachika adalah...

(Nah, bagaimana kamu bakal bergerak?)

 

Di samping Sayaka yang sedang melemparkan pertanyaan sulit kepada Alisa, dia mengarahkan pandangan matanya ke arah Nonoa. Nonoa yang selama ini mempertahankan sikap tidak peduli, ikut menatap balik Masachika secara tenang.

 

Lalu, seolah meminta maaf atas sesuatu, dia memejamkan matanya sambil membungkuk memberi hormat tipis, kemudian memasukkan tangannya ke dalam saku rok.

 

(...?)

 

...Perubahan itu, terjadi secara bertahap.

 

Yang pertama kali terjadi adalah suara bisik-bisik yang sangat kecil. Hal tersebut perlahan-lahan mulai menyebar ke seluruh isi aula. Saat mengasah pendengaran, secara terpotong-potong kata seperti "murid pindahan" atau "orang luar" bisa tertangkap. Di saat yang sama, sorakan untuk Sayaka membumbung dari kursi penonton.

 

(Cih, dimainkan juga ya... orang suruhan, kah?)

 

Giringan opini. Taktik di luar lapangan yang hanya bisa dilakukan oleh Nonoa yang memiliki jaringan pertemanan sangat luas di sekolah.

 

Di sekolah ini karena banyak anak dari kalangan kelas atas, tidak sedikit murid yang memiliki pemikiran kebangsawanan. Bagi murid-murid seperti itu, antara Sayaka yang merupakan putri presiden perusahaan super kelas satu dengan Alisa yang merupakan murid pindahan kelas menengah, terdapat perbedaan impresi yang sangat besar. Jika memprovokasi bagian tersebut menggunakan orang suruhan yang diselipkan di antara hadirin, kemungkinan besar mereka bakal memilih Sayaka berdasarkan emosi ketimbang kelogisan argumen. Namun yang lebih menjadi masalah dari hal itu adalah...

 

"A..."

 

Alisa, menjadi sadar akan keberadaan para hadirin. Ketenangan yang selama ini dijaganya dengan hanya memfokuskan kesadaran pada dirinya sendiri, menjadi berguncang begitu dia menyadari para hadirin.

 

Biarpun dilihat dari belakang, tubuhnya terlihat mematung secara drastis.

 

"Ugh...!"

 

Melihat Alisa yang mendadak bungkam, suara riuh para murid makin bertambah. Makin dia panik dan berusaha mengatakan sesuatu, Alisa justru makin tidak bisa mengeluarkan kata-kata.

 

(Harus cepat, katakan... Loh? Mau bicara apa... Pertanyaannya, tadi apa, cepat, apa yang, tapi, sesuatu──)

 

Saat ketegangannya mencapai puncak dan hampir jatuh ke dalam kondisi panik ringan, punggungnya ditepuk dengan lembut.

 

"Kamu sudah berjuang keras. Sisanya serahkan padaku."

Saat Alisa menoleh ke arah suara seolah terpental, di sana ada sosok pemuda yang paling bisa diandalkan melebihi siapa pun.

 

Masachika berdiri berdampingan dengan Alisa di atas mimbar, lalu mengambil mikrofon sambil tersenyum cengengesan.

 

"Permisi, ini masih di tengah-tengah sesi tanya jawab sih, tapi dari sini izinkan saya yang mengambil alih ya. Soalnya dia bicara lebih lama dari perkiraan kan, jadi tenggorokannya kena kali ya? Beneran deh, gara-gara biasanya tidak banyak bicara jadinya begini kan?"

 

Lalu, dia mengatakannya seperti mengejek sambil mengarahkan pandangannya ke arah Alisa. Alisa yang mendadak diejek dan langsung cemberut, tawa menyebar di kursi penonton.

 

Saat situasi sekitar melunak, Masachika memutuskan untuk mengeluarkan kartu trufnya.

 

(Kalau bisa menang secara biasa lewat kelogisan argumen sih tidak apa-apa... tapi berhubung pihak sana main perasaan, pihak sini juga bakal memakai cara yang sama.)

 

Kalau bisa dia tidak ingin melakukannya, tapi... dia sudah berjanji pada Alisa. "Kalau ada apa-apa aku bakal membereskannya secara total."

 

Makanya... Masachika memutuskan untuk menghancurkan segalanya sambil tersenyum.

 

"Emm, kalau begitu demi pasanganku yang tenggorokannya kena ini aku

ingin cepat-cepat menyelesaikannya sih... tapi dari awal, apakah diskusi lebih lanjut dari ini diperlukan ya?"

 

Mendengar pertanyaan yang mendadak dihantamkan dari sikapnya yang bercanda, para hadirin menjadi geger. Di sana, Masachika langsung melancarkan serangan susulan.

 

"Diskusi seperti ini, bukannya sudah mendapatkan hasilnya sejak satu bulan yang lalu?"

 

Melihat ke sekeliling hadirin yang memiringkan kepala tidak paham maksudnya, Masachika menaikkan lengan kanannya secara halus, lalu menunjukkan tangannya ke arah Touya yang berdiri di meja pembawa acara.

 

"Pada saat kalian memilih Kenzaki-president itu sebagai Ketua...

bukankah perasaan kalian semua sudah mantap?"

 

Penunjukan mendadak tersebut Touya melotot terperanjat, dan pandangan mata para murid pun terkumpul padanya.

 

"Seperti yang kalian ketahui, Kenzaki-president sampai satu tahun lalu adalah murid tidak berprestasi yang tidak mencolok di kelas. Nggak, berhubung yang bersangkutan sendiri mengatakannya jadi sekalian kutegaskan saja ya, dia itu introvert! Dia itu introvert tidak berguna yang pasti tidak bakal mendapatkan rekomendasi dari para guru!!"

 

"Wooi!?"

Refleks Touya berteriak sambil tertawa setengah heran, dan tawa keras meledak di dalam aula. Di sana, Masachika langsung mencecar tanpa memberi jeda.

 

"Namun, Kenzaki-president berusaha keras. Setelah masuk OSIS dia berusaha mati-matian, menaikkan nilainya, mengasah diri sebagai pria, hingga akhirnya berhasil menaklukkan Donna dari Akademi Seirei ini! Bukankah kalian juga merasa tersentuh melihat sosok Kenzaki-president yang seperti itu? Bukankah kalian merasa ingin mendukungnya yang bertransformasi dari murid introvert tidak berprestasi menjadi Ketua OSIS karismatik!?"

 

Sambil menyertakan gerakan tangan dan tubuh hingga membeberkannya sekaligus dalam satu helaan napas, Masachika menghentikan mulutnya sejenak lalu melihat ke sekeliling hadirin. Lalu pada timing saat pandangan mata para murid terkumpul, dia mengatakannya secara tenang dengan berbalik drastis.

 

"Kenzaki-president bisa menjadi Ketua OSIS adalah karena ada sistem

di mana murid mana pun asal punya semangat bisa menjadi pengurus OSIS. Aku tanya sekali lagi. Apakah diskusi lebih lanjut dari ini masih diperlukan?"

 

Mendengar pertanyaan Masachika tersebut, tidak ada jawaban yang kembali. Siapa pun... bahkan Sayaka dan Nonoa sekali pun, bungkam secara total.

 

"Aa~... Hmm, entah kenapa mendadak diejek sama junior bikin kaget sih... tapi kalau sudah tidak ada pertanyaan lagi dari sini kita bakal berpindah ke argumen penutup, kepada pengaju draf, apakah tidak apa-apa?"

 

"..."

 

Melihat Sayaka yang berdiri tanpa suara, Masachika mendorong

punggung Alisa mengarahkan agar kembali ke kursi.

 

Lalu di saat baru saja turun dari mimbar... mendadak suara terkejut Nonoa membumbung tinggi.

 

"Eh, tunggu, Sayacchi!?"

 

Saat menoleh atas suara tersebut, secara mengejutkan Sayaka sedang berlari keluar menuju samping panggung. Situasi yang sepenuhnya di luar dugaan. Ditambah lagi atas ekspresi Sayaka yang terlihat sepintas...

 

Masachika jadi tidak bisa bergerak dari tempatnya. Menggantikan Masachika yang berdiri mematung, yang bergerak adalah Alisa.

 

Langsung berlari secara cepat, dia mengejar Sayaka lalu menghilang ke samping panggung.

 

Merasa situasi tak pernah terjadi sebelumnya di mana masing-masing perwakilan dari pengaju draf dan sanggahan keluar di tengah jalan, bagian dalam aula menjadi geger hebat. Di tengah siapa pun yang bingung dan murni panik, Nonoa berdiri sambil mengarahkan tangannya menggaruk kepala, lalu melangkah tegap menuju tengah panggung.

"Maaf ya, sudah bikin repot."

 

Lalu di tengah jalan dia memberitahukannya begitu kepada Masachika, kemudian berdiri di mimbar dan mengangkat kedua tangannya.

 

"Okei, aku menyerah"

 

Mendengar deklarasi menyerah yang juga belum pernah terjadi sebelumnya ini, setelah hening sesaat, bisik-bisik penuh kebingungan menyebar di dalam aula. Di sana, Touya yang paling cepat bangkit kembali menyapanya walau dengan bingung.

 

"Eh, aa~ draf pengaju, berarti ditolak... apakah tidak apa-apa begitu?"

 

"Ah, boleh kok boleh kok. Ya ampun, Sayaka kami sudah bikin geger ya."

 

Melihat Nonoa yang membungkuk memberi hormat pelan sambil mengatakannya begitu, Touya berdeham lalu berdeklarasi.

 

"Kalau begitu, draf pengajuan ditolak... dengan ini, Dewan Siswa resmi ditutup."

 

Lalu, Dewan Siswa pun menutup tirainya di tengah kebingungan.

 

 

"Kalau begitu, tolong ya. Masachika-kun."

 

"Ya, serahkan padaku. Yuki."

Saat melihat mereka berdua, aku berpikir bahwa mereka adalah pasangan yang ideal.

 

Daya tarik personal yang memikat siapa pun, karisma yang luar biasa.

 

Ditambah sosok berjasa di balik layar yang menopangnya.

 

Sebuah hubungan di mana mereka saling mempercayakan punggung dengan rasa percaya penuh, serta menopang dari belakang dengan pengabdian tanpa batas.

 

Aah, mereka berdua terikat oleh hubungan saling percaya yang lebih kuat dan ikatan yang lebih dalam ketimbang siapa pun. Sungguh tidak bisa dihindari jika aku tidak sanggup menang dari hal tersebut. Bersama rasa pujian, rasa kagum... serta sedikit rasa iri, aku bisa menyerah.

Karena itulah, saat melihat mereka berdua pada waktu itu, aku merasa dikhianati.

 

Mengapa kamu berada di sana. Ikatan yang sangat kukagumi dan kurasa paling mulia melebihi apa pun itu, apakah cuma bohong belaka. Rasa kagum dan rasa hormat berubah menjadi rasa benci, hingga aku berpikir untuk memisahkan mereka berdua dan menghancurkan hubungan tersebut memakai cara apa pun.

 

Padahal begitu... saat melihat mereka berdua yang berdiri berdampingan, mengapa hatiku sampai berguncang.

 

Dia yang dulunya berada satu langkah di belakang, kini berdiri di sebelahnya. Dengan ekspresi yang lebih cerah dan jauh lebih hidup ketimbang dulu.

 

Mengapa kamu memasang wajah seperti itu. Padahal yang ada di sebelahmu, bukanlah dia. Mengapa, kenapa............ kenapa dada ini rasanya sangat sakit.

 

 

"Tung, gulah!"

 

Berlari keluar dari aula, Alisa berhasil menyusul Sayaka saat tiba di

bagian belakang gedung olahraga. Menyambar armadanya dari belakang, dia menghentikan langkah kakinya.

 

"Kembalilah ke aula. Aku tidak mengizinkanmu kabur di tengah jalan

begitu!"

 

Kepada Sayaka yang menghentikan langkahnya namun sama sekali tidak menoleh maupun membalas, Alisa menaikkan alisnya dengan tajam.

 

"Tolong katakan sesua──"

 

Lalu saat memaksakan diri mengitari depan dan melihat wajahnya, Alisa

menahan napas.

 

"Kamu──"

Kepada Alisa yang suaranya berguncang oleh kebingungan, Sayaka melotot tajam dengan mata yang basah oleh air mata, lalu menghempaskan tangan Alisa secara kasar.

 

"Kenapa...! Kenapa, kamu!"

 

Mendengar kata-kata yang dilontarkan bersama amarah yang meluap, Alisa mematung.

 

"Padahal Kuze-san dan Suou-san, adalah dua orang yang tak terpisahkan! Justru karena mereka berdualah, aku! Aku...! Padahal sudah menyerah! Kenapa…!!"

 

Sambil meneteskan air mata yang berjatuhan dari matanya yang terangkat tajam, Sayaka memperas suaranya seolah memuntahkan darah. Menerima jeritan dari jarak dekat yang hampir jenuh oleh perpaduan amarah, kesedihan, serta berbagai emosi lainnya, Alisa secara samar menyadari isi hati Sayaka yang sebenarnya.

 

"Kamu, kamu itu──"

 

Lebih dari itu, kata-kata tidak kunjung keluar. Gerak-gerik gadis ini yang selama ini dikiranya berasal dari niat jahat, ternyata adalah kebalikannya. Begitu paham kalau hal tersebut justru ada gara-gara rasa suka, Alisa kini jadi tidak bisa mengatakan apa-apa lagi.

 

Selalu saja begini. Di saat seperti ini, dia selalu tidak bisa mengatakan hal yang peka. Tidak bisa, menggerakkan hati orang lain. Makanya... Alisa memutuskan untuk menerima segalanya saja. Paling tidak, menerima amarah meluap gadis ini sebagai pengganti dirinya. Karena dia berpikir bahwa itulah satu-satunya peran yang bisa dilakukannya.

 

"Kalau kamu... punya hal yang ingin dikatakan kepadaku. Katakan saja semuanya."

 

"!"

 

Terhadap Alisa yang mengutarakannya secara lurus, Sayaka menatapnya dengan penuh rasa benci... mendadak dia menundukkan wajahnya, menghembuskan napas panjang, lalu berkata dengan suara gemetaran.

 

"Sama sekali tidak ada hak bagiku, untuk mengatakan sesuatu."

 

Lalu saat mendongakkan wajahnya kembali, pada wajah Sayaka terpampang ekspresi tangis dan tawa yang terkesan hampa.

 

"Sungguh, seperti orang bodoh... Percaya sendiri, mengagumi sendiri, merasa dikhianati sendiri, lalu melampiaskannya... Padahal semuanya, cuma keegoisanku sendiri. Fu, fu... uuh...!"

 

Perasaan Sayaka, tidak dipahami oleh Alisa. Namun, fakta bahwa dia yang sebenarnya adalah orang yang sangat rasional, terasa tersampaikan secara samar.

 

Sampai-sampai gadis seperti dirinya lupa diri gara-gara amarah, bagi dirinya hal itu pasti sangat mengejutkan. Kenyataan bahwa Masachika berpasangan dengan Alisa, bukannya Yuki.

 

"Ah, ketemu."

 

Saat mengarahkan pandangan mata atas suara yang terdengar mendadak, Nonoa datang mengitari sudut gedung olahraga.

 

"Aa menangisnya heboh banget ya... Maaf ya Kujou-san. Bagian sini biar diserahkan padaku saja tidak apa-apa kok. Bisakah kamu pergi ke tempat Kuzechii?"

 

"Emm, anu..."

 

"Tidak apa-apa, kok? Tolong ya."

 

Mendengar kata-kata Nonoa, Alisa mulai melangkah menuju ke arah aula sambil tetap mengkhawatirkan keadaan Sayaka. Namun setelah melangkah beberapa langkah dia menoleh kembali, lalu mengangkat suaranya ke arah Sayaka yang bahunya sedang dirangkul oleh Nonoa.

 

"Taniyama-san."

 

Sayaka, tidak menoleh. Meskipun begitu, Alisa tetap melanjutkannya tanpa memedulikannya.

 

"Mengapa Kuze-kun memilihku... hal itu, aku sendiri juga tidak paham. Tapi, aku ingin menjawab tekad tersebut. Makanya..."

 

Tidak menjadi kata-kata dengan baik. Dia juga tidak tahu apakah ini merupakan kata-kata yang benar untuk disampaikan padanya. Meskipun begitu, Alisa menyampaikan kata-kata terbaiknya kepada Sayaka.

 

"Makanya... aku bakal berusaha keras. Agar suatu saat nanti, kamu juga mau mengakuiku. ...Cuma itu saja."

 

Lalu, dia bergegas pergi meninggalkan tempat tersebut. Mengantar pergi sosok belakang tersebut, Nonoa bergumam secara mendalam.

 

"Ya ampun... anak yang baik ya, Kujou-san. Kukira dia anak yang lebih dingin lho, tapi ternyata lumayan..."

 

"...Pasti begitu. Soalnya dia adalah orang yang dipilih oleh Kuze-san."

 

Sambil berkata seperti itu memakai suara yang basah oleh air mata, Sayaka sedikit mendongakkan wajahnya lalu bertanya.

 

"...Debatnya bagaimana?"

 

"Nng? Ah, kubuat jadi keputusan kita menyerah kok. Yah lumayan geger sih, tapi rasanya Kuzechii sama Ketua berhasil membereskannya secara baik."

 

"Begitu... Maaf ya. Sudah bikin kamu, ketambahan repot juga..."

 

"Boleh kok, boleh kok, kan kita sahabat."

 

Saat tertawa sambil mengutarakannya secara ringan, Nonoa melepas kacamata Sayaka, lalu memeluknya erat dari depan.

"Lagipula, sudah terlambat kan kalau baru sekarang. Beneran deh, Sayacchi kan dari dulu kalau mendadak menangis dan berteriak memang tidak bisa ditangani lagi..."

 

"Mana ada..."

 

"Ngg~ak, ada kok. Kamu pikir sudah berapa kali aku menemani

tantrummu coba."

 

Berlawanan dengan kata-katanya, memakai gerakan tangan yang lembut Nonoa mengelus punggung Sayaka, lalu mengutarakannya seolah memberi pengertian.

 

"Kalau sudah tenang... mari pergi minta maaf ke Kuzechii sama Kujou-san ya. Aku juga, bakal menemanimu kok."

 

"..."

 

Mendengar kata-kata sahabatnya, Sayaka mengangguk pelan tanpa suara.

 

Punggung Sayaka yang seperti itu, terus dielus oleh Nonoa seolah sedang menenangkannya.



Previous Chapter | ToC | Next Chapter 

Post a Comment

Post a Comment

close