NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Tokidoki Bosotto Russia-go de Dereru Tonari no Alya-sa Volume 2 Epilog

Epilog: Alasan


Mengikuti petunjuk Touya dan Masachika, para murid keluar dari aula dengan membentuk barisan. Mengawasi pemandangan tersebut dari tempat yang satu tingkat lebih tinggi, terdapat dua sosok manusia.

 

"Fuh, Nii-sama juga masih sangat lembek."

 

Di ruang kendali pencahayaan yang terletak di atas kursi penonton, Yuki tertawa santai sambil memegang cangkir teh. Sambil menatap

Masachika yang berdiri di mimbar mengawasi kepulangan para murid, dia menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi lalu menyilangkan kakinya dengan sangat rileks.

 

"Padahal kalau Nii-sama mau, adegan lelucon seperti ini bisa diselesaikan dengan cepat... Apakah dia memberikan kesempatan berkembang untuk pasangannya, ataukah dia memberi kelonggaran karena lawannya adalah orang yang dikenalnya..."

 

Sambil memutar teh hitam di dalam cangkirnya, Yuki menatap Masachika dengan mata dingin.

 

"Yah, tidak apa-apa... Kalau hanya sejauh itu, pada akhirnya dia bukan lawanku. Kelembekan itu, dalam waktu dekat bakal menghancurkan dirinya sendiri... Bukankah kamu juga berpikir begitu?"

 

Saat Yuki bertanya tanpa menoleh ke belakang, Ayano yang bersiap di belakang miringnya memiringkan kepalanya sedikit.

"Apakah demikian? Saya rasa Masachika-sama maupun Alisa-sama, sudah bertindak dengan sangat luar biasa."

 

Mendengar suara Ayano yang terkesan heran, Yuki meletakkan cangkirnya seolah suasana hatinya terganggu, lalu menoleh sambil mengerutkan pangkal alisnya.

 

"Ayano..."

 

"Ya, ada apa."

 

"Kamu tidak paham... sama sekali tidak paham ya. Setelah satu pertarungan selesai, memasang wajah nekat, penuh kelonggaran, kalau bisa ditambah bayangan di sekitar mata! Lalu menilai dengan sudut pandang dari atas secara tidak berguna! Ini juga merupakan elemen krusial untuk menampilkan impresi karakter yang kuat, tahu!?"

 

Kepada Yuki yang memberikan penjelasan secara berapi-api sambil menghentakkan tinjunya ke sandaran tangan kursi, Ayano membungkuk memberi hormat secara patuh.

 

"Mohon maaf. Kurangnya pengetahuan saya."

 

"Beneran deh, peka sedikit dong... Kamu pikir untuk apa aku mengambil tugas penanggung jawab tata suara dan pencahayaan yang panasnya luar biasa ini coba."

 

Di dalam ruangan yang terasa pengap oleh hawa panas yang dipancarkan peralatan pencahayaan, Yuki mengibas-ngibaskan tangannya ke arah wajah untuk mengipasi diri dengan risi. Tanpa membuang waktu Ayano mengeluarkan kipas lipat dari sakunya lalu mengipasi sang Tuan, sambil membuka mulut secara agak ragu.

 

"Lancang dari saya... bisakah saya menyampaikan satu hal?"

 

"Apa?"

 

"Impresi karakter yang kuat yang Anda maksud... bukankah itu hal yang biasa dilakukan oleh pihak yang pada akhirnya bakal kalah?"

 

"..."

 

"Lalu, seperti yang disampaikan tadi... di dalam ruang kendali pencahayaan dilarang keras makan dan minum."

 

"..."

 

Mengikuti arah pandangan Ayano, Yuki menatap cangkir teh yang ditaruh di atas panel kendali pencahayaan... lalu dengan sigap membetulkan posisi kakinya, kemudian mengambil cangkir teh tersebut secara berhati-hati.

 

"...Ayano."

 

"Ya."

 

"...Mari kita bereskan ya."

 

"Saya paham."

 

 

Pembersihan pun selesai tanpa kendala, di dalam aula yang sudah sepi dari keberadaan orang. Masachika dan Alisa duduk berdampingan di kursi penonton, menatap panggung yang tidak ada siapa-siapa.

Anggota OSIS lainnya juga sudah pulang duluan, membuat aula terasa melompong. Setelah hening sesaat melintas, Alisa bergumam pelan.

 

"Aku rasa, dia sangat menghormatimu."

 

"...?"

 

Mendengar kata-kata mendadak tersebut di dalam hati Masachika memiringkan kepalanya, namun dia menunggu kata-kata berikutnya tanpa suara. Lantas, Alisa mengutarakannya sambil tetap menghadap ke depan seolah mengonfirmasi.

 

"Taniyama-san, mengatakannya lho. Bahwa kamu dan Yuki-san, adalah pasangan tak terpisahkan... dan dia sangat mengaguminya. Karena itulah, dia menyerah."

 

"Aa..."

 

Mendengar kata-kata tersebut, ada hal yang terasa pas dan masuk akal di dalam diri Masachika.

 

Selama ini, dia selalu merasakan kejanggalan pada sikap Sayaka.

Sikap yang seolah terkuasai oleh amarah dan kebencian, yang sangat tidak mencerminkan dirinya yang rasional. Namun, kalau dikatakan begitu hal tersebut adalah sesuatu yang pernah dirasakannya sendiri...

 

Karena itulah, Masachika sangat memahami perasaan Sayaka.

 

(Begitu toh, kamu... merasa dikhianati ya.)

 

Selama ini dia merasa heran. Kenapa Sayaka tidak masuk OSIS.

 

Kalau mengincar posisi Ketua OSIS, bergabung dengan OSIS pada tahap kelas satu adalah teori dasarnya. Faktanya waktu SMP dulu dia juga melakukan hal tersebut. Kebalikannya kalau tidak melakukan hal itu, wajar saja jika dianggap kalau dia sudah menyerah untuk membalas dendam kepada Yuki.

 

Namun... kenyataannya memang benar begitu. Sayaka mengakui kalau dirinya tidak sanggup menandingi Yuki, lalu mengundurkan diri atas kehendaknya sendiri. Kemungkinan juga setelah mengakui prestasi Masachika. Tanpa meragukan kalau Masachika bakal mencalonkan diri kembali bersama Yuki.

 

Namun kenyataannya, Masachika justru memilih untuk mencalonkan diri bersama Alisa yang merupakan kandidat lawan Yuki.

 

(Kalau begitu... tentu saja tidak bisa diterima ya.)

 

Di matanya, bagaimana sosok diriku terlihat? Dengan perasaan seperti apa dia mengakui kekalahannya, lalu dengan perasaan seperti apa saat melihat keputusannya diinjak-injak?

 

Rasa sakit di hati yang dirasakan saat harapan dan kepercayaan dikhianati, Masachika juga sangat memahaminya. Saat berpikir bahwa dirinyalah yang telah memberikan rasa sakit tersebut, Masachika merasa seolah bakal hancur oleh rasa bersalah.

 

"Aku, bakal berusaha keras."

 

"...?"

 

Mendengar pernyataan Alya, Masachika yang tadinya menunduk sambil menggertakkan gigi kini mendongakkan wajahnya.

 

"Bahwa keputusanmu memilih mencalonkan diri bersamaku... bukanlah sebuah kesalahan. Agar suatu saat nanti, Taniyama-san juga mau mengakuinya."

 

Mendengar perkataan yang lurus dan pola pikir yang positif itu, Masachika merasakan rasa iri yang amat sangat. Berbeda dengan dirinya yang hanya bisa menunduk dalam rasa bersalah, sosok Alya yang dengan tegap menegakkan kepala dan mencoba melangkah ke depan terasa begitu menyilaukan hingga membuat dada Masachika terasa sesak.

 

Meskipun begitu, untuk saat ini dia merasa bersyukur dengan pemikiran Alisa yang menghadap ke depan tersebut. Tidak ada gunanya terus menunduk. Karena dia tersadar, kalau ada waktu untuk itu lebih baik digunakannya untuk menghadap ke depan.

 

"...Benar ya. Agar bisa membuat Taniyama puas... aku juga bakal berusaha keras. Sampai tingkat di mana tahun depan, dia merasa ingin memilih kita, ya."

 

"Benar ya."

 

Saling mengangguk satu sama lain, Masachika dan Alisa kembali memantapkan tekad mereka.

 

Ini bukan lagi pertarungan milik mereka berdua saja. Karena telah melukai dan menjadikan Sayaka sebagai batu loncatan, mereka tidak diizinkan untuk memperlihatkan pertarungan yang menyedihkan.

 

(Pada akhirnya, aku kembali digerakkan oleh air matanya ya.)

 

Mengingat kembali wajah menangis Sayaka yang dilihatnya dua tahun lalu, Masachika memajang senyum kecut.

 

Kepada Masachika yang seperti itu, Alisa membuka mulutnya secara agak ragu.

 

"...Nee, bolehkah aku bertanya?"

 

"Nng?"

Menghentikan pemikirannya lalu menoleh ke arah Alisa, tetapi Alisa yang tetap menghadap ke depan hanya memasang ekspresi rumit tanpa segera melanjutkan kata-katanya.

 

Namun setelah menghening sesaat, dia akhirnya menoleh ke arah Masachika lalu bertanya.

 

"...Kenapa, bukannya bersama Yuki-san tapi kamu justru memilih mencalonkan diri bersamaku?"

 

"..."

 

Menanggapi pertanyaan itu, Masachika mengedipkan mata perlahan, lalu mengalihkan pandangannya ke atas. Kali ini, Alya yang diam-diam menunggu kata-kata dari Masachika.

 

"...Aku, masuk OSIS bersama Yuki itu... gara-gara tidak bisa menolak permintaannya."

 

Yang perlahan terlontar kemudian adalah kata-kata yang menyerupai monolog, yang bukan merupakan jawaban dari pertanyaan tersebut.

 

Namun, Alisa menyimaknya tanpa suara. Masachika juga terus menumpuk kata-katanya tanpa memedulikan reaksi Alisa.

 

​"Aku ingin mendukung cita-citanya... perasaan seperti itu memang ada. Tapi yang paling utama... sepertinya tetaplah rasa bersalah.”

 

"Rasa bersalah...?"

"..."

 

Alisa refleks bertanya balik karena penasaran dengan kata kunci tersebut, tetapi Masachika yang tetap menatap ke depan tidak mengatakan apa-apa lagi.

 

Melihat sosok tersebut, Alisa yang paham kalau Masachika sekarang sedang berhadapan dengan bagian dalam dirinya sendiri, menelan keraguannya lalu kembali menghadap ke depan.

 

"Mungkin karena itu kali ya... Kenapa rasanya selalu sesak. Dibanding orang-orang di sekitarku yang bersungguh-sungguh mengejar mimpi dan tujuan, penggerak diriku ini sama sekali tidak ada harganya, sampai-sampai aku selalu memikirkan hal-hal yang mengejek diri sendiri."

 

Menjadi Ketua OSIS Akademi Seirei. Hal itu sebenarnya merupakan tugas yang harus ditanggung oleh Masachika.

 

Namun, dia melimpahkannya kepada sang adik. Justru karena ada rasa bersalah itulah, Masachika tidak bisa menolak permintaan Yuki. Justru karena ada rasa canggung itulah, apa pun yang dilakukannya tidak

pernah memunculkan rasa puas.

 

Melimpahkan seluruh alasan dan tanggung jawab kepada adiknya, lalu bertindak lihai secara sembunyi-sembunyi di balik layar, terasa sangat licik sampai-sampai dia tidak bisa menahannya.

 

"Wakil Ketua di balik layar, kalau diucapkan terdengar keren sih... tapi pada akhirnya, aku cuma tidak ingin berdiri di panggung utama saja. Karena tidak punya kesiapan buat menjadi Wakil Ketua dengan membusungkan dada secara tegap, aku cuma mendedikasikan diri di

balik panggung saja."

 

Mendengar pernyataan Masachika yang merendahkan dirinya sendiri tersebut, dada Alisa terasa sangat sesak.

 

Tidak seperti itu. Kamu tidak perlu merendahkan dirimu sampai sejauh itu. Biarpun ingin mengutarakannya begitu, bagi dirinya yang bahkan tidak tahu sosok Masachika pada masa itu, kata-katanya pasti bakal terdengar dangkal.

 

Padahal kalau Yuki, dia pasti bisa menenangkan hatinya.

 

Padahal kalau Maria, dia pasti bisa merengkuh hatinya dengan lembut.

Kalau Touya, kalau Chisaki, kalau Ayano............ Pemikiran seperti itu bermunculan satu demi satu, membuat dadanya menjerit oleh rasa tidak berdaya.

 

Kenapa aku seperti ini ya.

 

Kenapa aku tidak bisa berada di sisi hati orang lain ya.

 

Padahal jika bisa meringankan hati pemuda di depannya ini biarpun sedikit, aku ingin melakukan apa saja. Namun tubuhku tidak bergerak.

 

Kata-kata tidak keluar.

Aku cuma bisa mendengarkan ceritanya tanpa suara.

 

Entah menyadari penderitaan Alisa tersebut atau tidak, Masachika yang tadinya memajang ekspresi menatap jauh, berbalik drastis memajang ekspresi yang agak malu-malu.

 

"Tapi... kali ini berbeda."

 

"...?"

 

"Kali ini aku, memutuskan buat mengincar posisi Wakil Ketua atas kehendakku sendiri. ...Bersama, dirimu."

 

Di sana Alisa akhirnya teringat akan pertanyaan yang dilontarkannya sendiri. Kenapa bukannya Yuki melainkan dirinya yang dipilih. Dia menyadari bahwa jawaban dari pertanyaan tersebut, baru saja diutarakan sekarang.

 

"Makanya, yah... bukannya membandingkan dengan Yuki atau semacamnya, lho. Aku, memutuskan buat mencalonkan diri bersamamu dengan kehendakku sendiri... gimana ya, memutuskan hal seperti ini dengan kehendak sendiri itu baru pertama kali bagiku, jadi kalau dibilang membandingkan atau apa... yah, anu, begitulah. ...Kira-kira begitu."

 

Memalingkan pandangannya sambil menggaruk-garuk kepalanya lalu mendadak menjadi canggung, Masachika membuat Alisa refleks tertawa pelan.

Di saat yang sama, menyadari bahwa keberadaan dirinya telah menjadi bantuan yang membuat hati Masachika menghadap ke depan, di dalam dadanya menyebar rasa gembira, rasa lega... serta rasa geli yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata.

 

"Di bagian itu aku ingin kamu mengatakannya dengan sedikit lebih jelas sih?"

 

Sambil mengulas senyum atas sensasi bahagia yang membuat bagian dalam tubuhnya terasa gatal, Alisa berbicara secara agak jahil. Lantas,

Masachika membalas secara dingin sambil menolehkan wajahnya secara blak-blakan.

 

"Bising ah, malu tahu. Lagian kamu kan secara garis besar sudah paham."

 

"Maaf ya. Aku tidak begitu paham. Bisakah kamu mengatakannya dengan lebih gampang dipahami?"

 

"Malah tertawa kan. Mana mau kubilang. Maksudku, kalau kamu sendiri bagaimana."

 

"Apanya?"

 

Kepada Alisa yang makin mendekat sambil memajang senyum jahil secara blak-blakan, Masachika langsung membalasnya.

 

"Kamu sendiri, kenapa menerima buat mencalonkan diri bersamaku? Kamu bakal memberitahuku secara gampang dipahami kan?"

"Ara, kalau itu sih mudah kok."

 

Kepada Masachika yang membalas balik untuk mengelak dari rasa terdesak, Alisa tersenyum dengan sangat santai, lalu melontarkannya seolah-olah hal yang wajar.




(Tl/N: Artinya ‘Karena itu kamu’.)

 

Mendengar jawaban yang sungguh singkat dan mudah dipahami itu, Masachika berusaha setengah mati menahan pipinya agar tidak kedutan.

 

"Kh... apa-apaan jawaban kayak gitu."

 

Mendengar ucapan yang berhasil dia keluarkan demi menutupi kegugupannya, Alisa tampaknya mengira tanggapan itu diberikan karena dirinya menjawab menggunakan bahasa Rusia.

 

Sambil mengulas senyum bangga dan mengibas rambut yang jatuh di bahunya, dia pun bangkit berdiri dari kursinya.

 

"Kalau begitu, mari kita pulang."

 

"...Iya, iya."

 

Masachika ikut berdiri, lalu meregangkan otot-otot tubuhnya berpura-pura santai agar kegugupannya tidak terbongkar oleh Alisa.

 

(Gawat... ini sih efeknya jauh lebih ampuh daripada air matanya Taniyama.)

 

Sambil berpikir bahwa kali ini dia benar-benar harus bersungguh-sungguh, Masachika tersenyum kecut meratapi kepolosannya sendiri.

 

(Yah, tapi... tidak buruk juga, kan?)

 

Setidaknya, ini jauh lebih baik daripada bergerak dengan rasa bersalah sebagai satu-satunya pendorong seperti dulu.

 

Sambil membatin demikian, Masachika menyusul Alisa yang melangkah menuju pintu keluar dengan perasaan yang terasa agak lega.

 

"Omong-omong..."

 

"Hmm?"

 

Mendadak, Alisa yang berjalan di depan menghentikan langkahnya, lalu menoleh ke belakang dengan ekspresi dingin.

 

"Kuze-kun... apa maksudnya yang waktu itu?"

 

"Yang waktu itu?"

 

Melihat Masachika yang memiringkan kepala tidak mengerti, Alya mempertajam pandangannya meski kedua pipinya sedikit merona.

 

"Itu loh... soal ukuran dadaku, atau apalah..."

 

"Ugh! A-Oh, yang itu, ya..."

 

Mendengar ucapan Alya, Masachika teringat akan perbuatannya sebelum debat dimulai, membuat pandangannya serta-merta beredar liar.

"Aah~ Nggak, itu, anu... kenalan cewekku dulu pernah bilang begitu... Tenang aja. Aku nggak pernah bilang ke siapa-siapa, dan dia juga cuma asal tebak, kok."

 

"..."

 

"Nggak, beneran, itu cuma obrolan biasa yang tiba-tiba muncul! Itu... di anime kan ada karakter yang dadanya ukuran E-cup, terus waktu aku bilang 'E-cup di dunia nyata harusnya nggak sebesar ini, kan?', dia bilang kalau E-cup di dunia nyata itu ukurannya mirip-mirip Alya..."

 

Suara Masachika perlahan mengecil saat memberikan alasan yang terkesan dipaksakan. Alisa terus menatapnya dengan pandangan dingin bersuhu nol mutlak... hingga akhirnya, dia mengembuskan napas dari hidungnya dan kembali menghadap ke depan.

 

Tepat saat Masachika mengelus dada lega karena merasa sudah dimaafkan, sebuah gumaman pelan terdengar di telinganya.

 

【ギリ正解】(Nyaris benar)

 

Sempat tidak paham sejenak, tetapi begitu menyadari bahwa itu adalah jawaban atas pertanyaannya sebelum debat tadi, pikiran Masachika seketika berada di puncak kekacauan.

 

(Nyaris!? Nyaris ke mana maksudnya!? Atas!? Bawah!? E yang mendekati F!? Atau E yang mendekati D!? Woiiii, yang mana sebenarnya!? )

 

Mendapatkan informasi mengejutkan yang tidak bisa diabaikan begitu saja, jiwa pubertas Masachika langsung meledak. Tanpa memedulikan

Masachika yang sedang panik, Alya dengan ujung telinga yang memerah bergegas keluar dari aula seolah hendak menyembunyikan ekspresi wajahnya. Pintu masuk tertutup dengan bunyi berdentum, menyisakan keheningan yang menyelimuti aula.

 

Dan kemudian──

 

"YANG MANA SEBENARNYAAAーーーーー!!"

 

Di dalam aula yang lengang, teriakan seorang pemuda yang sedang dimabuk masa pubertas bergema dengan kerasnya.



Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close