Bab 8: Ideal dan Kenyataan
Hari saat debat tiba. Saat Masachika dan
Alisa menuju halaman belakang yang terhubung ke samping panggung tempat acara,
yaitu aula, mereka berpapasan dengan lawan debat mereka.
"Ah, halo halo~"
Sayaka hanya mengangguk dingin lalu
segera masuk ke dalam aula, namun satu murid lain yang berada di belakangnya
menyapa dengan nada santai.
"Kuzechii, lama tidak ketemu~ Hari
ini mohon bantuannya ya~ ...tapi, rasanya aneh ya bilang begitu."
"Kamu, bukannya terlalu tidak ada
rasa tegang?"
"Yah, aku kan tidak ada bagian maju
pas debatnya~? Santai banget lah."
Sesuai kata-katanya yang santai, yang
melambaikan tangannya dengan santai adalah seorang murid perempuan rambut
pirang ikal halus yang diikat one side up. Riasan tipis yang menembus batas
maksimal yang tidak ditegur guru, serta seragam yang dirombak secara pas.
Penampilan berani yang langka di Akademi Seirei ini, adalah kategori dari apa
yang dipanggil gyaru. Alisa yang membeku di hadapan tipe manusia yang belum
pernah berhubungan dengannya sampai sekarang, murid perempuan itu mengarahkan
pandangannya.
"Ini pertama kali kita bicara
langsung ya? Halo, aku Miyamae Nonoa. Untuk saat ini aku pasangannya
Sayacchi~"
"Begitu... Aku Kujou Alisa. Mari
buat debat yang bagus."
"Ahhaha, serius banget ya~ Anehnya
rasanya kamu bakal cocok sama Sayacchi."
Tertawa dengan nada santai, Nonoa
memberitahukan "Kalau begitu, mohon bantuannya ya~" lalu masuk ke
dalam aula.
"Yang tadi itu, temannya
Taniyama-san? Gimana ya... terasa tidak cocok ya."
"Yah, terasa tidak cocok kan. Kalau
cuma dari penampilan luar sih murid teladan yang kaku sama gyaru yang santai.
Maksudku, tidak berlawanan sama penampilannya dia memang gyaru yang santai sih.
Memanfaatkan penampilannya yang mencolok itu katanya dia juga jadi model
lho."
"Model? Itu... bukannya melanggar
aturan sekolah?"
"Nmm~ Bentuknya sih katanya jadi
maskot iklan merek yang dikelola orang tuanya, jadi pas-pasan aman?"
"Maksudku, dari dulu aku sering
melihatnya dan penasaran, rambut itu..."
"Ah, kalau itu rambut asli lho?
Katanya neneknya orang Amerika."
"...Begitu."
Meski paham tetapi rasanya masih belum
begitu pas bagi Alisa,
Masachika berkata sambil tersenyum kecut.
"Katanya mereka berdua itu teman
masa kecil lho. Sifat dan suasananya beda jauh sih, tapi biarpun begitu mereka
akrab tahu."
"Ah, begitu..."
"Kuberitahu ya, kalau kamu pikir
mereka berpasangan gara-gara koneksi orang dalam kamu salah besar lho? Miyamae
itu tanpa ada hubungannya sama OSIS berada di puncak kasta sekolah, dan kalau
soal luasnya jaringan pertemanan tidak diragukan lagi tingkat teratas di
sekolah."
"Kalau itu... memang benar, di
pemilihan bakal jadi ancaman ya."
"Yah, untuk hari ini tidak usah
terlalu dipikirkan sampai sejauh itu tidak apa-apa kok. Kamu tinggal fokus sama
Taniyama saja."
"Benar ya, aku paham."
Kepada Alisa yang memasang raut
menyampingkan soal Nonoa dari kepalanya untuk sementara, Masachika
menghembuskan napas "Fuu" sekali lalu bertanya.
"Kalau begitu, mari kita
pergi."
"Ya."
Lalu, mereka berdua melangkah masuk ke
aula yang menjadi medan pertempuran penentuan.
◇
"Uwaa, lumayan banyak orang yang
kumpul ya. Murid yang tidak ada kegiatan klub lebih dari separuh ikut hadir
kan?"
"Yah, debat pertama di tahun ajaran
ini. Ditambah lagi, yang menantang itu Taniyama-san dan yang menerima
Kujou-san... tingkat perhatiannya pasti tinggi kan."
Takeshi dan Hikaru yang datang ke aula,
biarpun timing-nya agak tanggung karena sebelum masa ujian, melihat ke
sekeliling secara agak heran dengan jumlah orang yang berkumpul hingga hampir
penuh. Kalau sepuluh menit sebelum dimulai saja sudah begini, pada akhirnya
mungkin ada murid yang sampai berdiri menonton.
"Taniyama-san itu, anak yang
bertarung memperebutkan kursi Ketua lawan Tuan Putri sampai akhir kan?"
"Iya iya, waktu kelas satu dulu dia
dianggap sebagai kandidat utama Ketua berikutnya sih, tapi pada akhirnya kalah
dari Suou-san ya~"
"Taniyama-san itu di debat tidak
pernah kalah kan? Kalau menurutku kalau mereka berdua bertabrakan di debat
sebelum masa pemilihan, tidak tahu hasilnya bakal bagaimana lho."
"Aku juga berpikir begitu. Tapi di
sana daripada bertarung di bidang keahliannya sendiri, memutuskan hasil secara
adil di pemilihan itu menurutku sangat sportif sih."
"Nggak nggak, kamu kan memilih
Suou-san."
"Itu hal yang berbeda. Yang itu
namanya memuji lawan biarpun musuh."
Sambil berjalan di dalam aula mencari dua
kursi kosong yang berdampingan, pembicaraan murid-murid di sekeliling masuk ke
telinga mereka. Dari kelas satu sampai kelas tiga, orang-orang dengan berbagai
posisi menyampaikan perkiraan debat dan kesan para peserta.
"Bagaimana menurutmu? Topik
ini."
"Hmm, karena sebagian besar murid
tidak ada hubungannya jadi tidak tahu ya... yah, kalau dia pasti sudah
menyiapkannya secara rapi kan."
"Kalau murid pindahan bagaimana? Aku
tidak begitu tahu soal anak itu..."
"Aku juga cuma tahu kalau nilainya
bagus saja... dari awal apa dia bisa berpidato?"
"Murid bernama Kuze ini, bukannya
pernah dengar namanya di suatu tempat?"
"Kalau tidak salah, Wakil Ketua
waktu Suou-san jadi Ketua bukannya nama begitu ya? Tidak begitu tahu sih."
"Aa~ ada juga ya yang begitu? Loh?
Kalau begitu kenapa dia bersama murid pindahan itu?"
Pembicaraan yang terdengar sebagian besar
mengenai Sayaka, dan manusia yang membicarakan Alisa hanya minoritas. Mengenai
Masachika tidak perlu dibilang lagi.
"...Bagaimana ya, bukannya sudah
terasa away duluan?"
"Yah, kalau soal debat, perbedaan
popularitasnya terlalu jauh ya... Ah, di sana kosong."
"Ooh, beneran."
Menemukan kursi kosong di tengah barisan,
Takeshi dan Hikaru duduk di sana. Lalu saat mengarahkan pandangannya ke
panggung depan kembali, menyeberangi mimbar tengah di sebelah kanan duduk
Sayaka dan Nonoa. Di sebelah kiri terlihat Alisa dan Masachika yang duduk.
Semuanya sama-sama cuma duduk di kursi
saja, tetapi secara ajaib pandangannya terserap ke arah Sayaka. Sosoknya yang
menegakkan punggung secara tegap, menutup mata dengan sangat tenang,
memancarkan aura keanggunan tersendiri.
"Sudah sangat terbiasa ya... rasanya
tidak merasa bakal bisa menang kan. Maksudku, tidak bisa membayangkan sosoknya
kalah tahu."
"Kalau Masachika sih tenang seperti
biasa... tapi Kujou-san tidak apa-apa ya? Maksudku yang utama bicara kan
Kujou-san kan?"
"Yah, yang begini kan biasanya
kandidat Ketua yang utama bicara, lalu kandidat Wakil Ketua yang mendukung.
Kalau kandidat Wakil Ketua terus yang bicara, kandidat Ketuanya bakal kelihatan
seperti hiasan kan. Biarpun menang kalau kesan di pemilihan Ketua jadi minus
kan tidak ada artinya."
"Benar ya... tidak apa-apa ya.
Kujou-san kesannya tidak begitu pandai bicara lho... terutama di hadapan orang
sebanyak ini."
"Benar kan... paling tidak kalau
tidak bisa bicara secara tegap tanpa keseleo, tidak bakal jadi pertarungan
lho?"
Kedua orang itu menatap Alisa di atas
panggung dengan cemas. Tanpa
memperlihatkan gestur menyadari pandangan mata tersebut, Alisa hanya
duduk di kursi sambil menatap lurus ke depan. Mata birunya yang menatap mimbar kosong
secara lekat-lekat, terlihat tidak ada keraguan maupun kecemasan sama sekali...
(Orang... sebanyak ini... te, tenggorokan
terasa lengket... suara, bisa keluar tidak ya?)
Isi hatinya, mengalami ketegangan yang
tidak ada tandingannya.
Tekanan bahwa masa depan mereka
bergantung pada debat ini tentu saja ada. Namun sebelum itu, berbicara
mengutarakan pendapat sendiri dari mulutnya sendiri di hadapan orang sebanyak
ini, bagi Alisa adalah pengalaman pertama.
Pada dasarnya, Alisa memang berpendirian
teguh tetapi tidak kuat dalam menyuarakan pendapat. Karena tidak berharap apa
pun pada orang lain, sampai sekarang tidak ada kebutuhan buat menyuarakan
pendapat secara khusus. Sebagai ganti tidak berniat menggerakkan orang lain
memakai pendapatnya, dirinya sendiri juga tidak bakal digerakkan oleh pendapat
orang lain. Itulah posisi dasar Alisa.
Namun yang dituntut sekarang adalah
kekuatan buat menggerakkan orang lain tersebut. Kekuatan buat membuat orang
lain menjadi pihak kita memakai kata-kata sendiri. Hal yang selama ini dibuang
oleh Alisa karena dianggap tidak diperlukan.
(Bisa tidak? Aku... jangan-jangan bakal
ditolak lagi seperti waktu itu...)
Mengingat kembali badai penolakan tanpa
ampun yang dihantamkan padanya saat diskusi klub sepak bola dan klub bisbol
beberapa hari lalu, darah serasa surut dari ujung jarinya. Mual. Kakinya tidak
terasa seperti lumpuh. Langkah kaki yang memijak panggung yang keras, serasa
sedang memijak karet.
"Alya."
Mendengar suara yang dipanggilkan dari
sebelah, Alisa menoleh ke arah sana dengan perasaan seolah bersandar. Kenyataan
bahwa dirinya bisa memalingkan mata dari para hadirin di depan, dirasakannya
sangat disyukuri.
"...Apa?"
Apakah suara yang ditampilkannya dengan
berpura-pura tenang tadi tidak gemetaran? Alisa sendiri tidak percaya diri. Di
ujung pandangan matanya ada wajah pemuda yang menatap ke arah sini dengan
ekspresi serius. Biasanya dia pasti bakal menganggapnya bisa diandalkan, namun
bagi Alisa yang sekarang hal itu justru terasa sebagai tekanan.
(Kuze-kun tenang banget... Aku harus
lebih mandiri. Soalnya aku sendiri yang bilang mau melakukan hal ini. Aku tidak
ingin dibikin kecewa oleh Kuze-kun. Harus lebih tenang. Tenang. C, coba napas
dalam-dalam. Kalau napas dalam-dalam pasti...)
Dia mencoba meresapi napasnya perlahan,
tetapi tenggorokannya dan paru-parunya tidak mau menuruti perintahnya. Bernapas
secara gemetaran dan gemetar sendiri, makin lama darah serasa makin surut dari
tangan dan kakinya.
"Alya..."
"Kuze, kun..."
Dia
sudah tidak bisa berpura-pura tangguh lagi. Suara yang diperasnya seolah
bersandar padanya gemetaran secara memalu-malukan. Padahal rasanya mau menangis
tetapi entah kenapa serasa mau tertawa sampai-sampai kepalanya jadi
berantakan──
"Kamu, E-cup beneran?"
"...Ha?"
Mendengar pertanyaan yang tiba-tiba
melenceng sejauh itu, Alisa sempat tertegun karena tidak mengerti maksudnya.
Namun, saat pandangan Masachika sekilas mengarah ke bagian dadanya, barulah dia
menyadari apa yang sedang terjadi.
Refleks dia berniat menutupi bagian
dadanya memakai kedua tangannya, tetapi teringat kalau di sini adalah atas
panggung sehingga dia menahannya tepat di detik-detik terakhir.
"Me, mesum...! Di situasi seperti
ini, kamu bicara apa sih!"
Sambil menahan volume suaranya sebisa
mungkin, dia menyuarakan kecaman. Lantas, Masachika mengarahkan pandangan
matanya ke arah hadirin dengan ekspresi yang sangat serius.
"Aa, aku juga memikirkannya kok...
Di situasi yang diawasi oleh orang banyak begini, tidak bisa melakukan hal
aneh-aneh ya. ...Tapi tahu? Di saat yang sama aku menyadarinya. Kalau tidak
bisa melakukan hal aneh-aneh, berarti tidak bisa ditampar dan tidak bisa kabur
juga kan."
Lalu sambil memajang senyuman
"Fuh", dia menoleh ke arah Alisa
dengan ekspresi yang entah kenapa terasa
sangat tenang.
"Aku baru saja menyadarinya... Loh?
Bukannya ini berarti bisa bebas sexual harassment sepuasnya ya? Pikirku."
"Mati saja sana."
"Kukuku, mereka juga pasti tidak
bermimpi kalau kita di atas panggung sedang melakukan percakapan mesum begini
kan..."
"Aku juga tidak berniat
memikirkannya tahu."
"Guhehe, Nona manis... Hari ini kamu
pakai celana dalam warna apa?"
"! ...Haah."
Sambil mempertahankan ekspresi serius
namun melontarkan suara jahat dari pasangannya, Alisa menahan diri mati-matian
agar tidak refleks melayangkan tamparan, lalu menghembuskan napas panjang yang
sangat lelah. Apakah beneran tidak apa-apa menjadikan orang seperti ini sebagai
partner, dia jadi cemas atas keputusannya sendiri.
"Tolonglah, pasang rasa tegang
sedikit dong..."
"Oi oi, aku juga agak tegang tahu?
Ah, ketemu Takeshi sama Hikaru. O~i."
"Bagian mananya coba. Ah, tu,
tunggu!"
Menyambar pergelangan tangan Masachika
yang melambaikan tangan dengan santai kepada temannya, Alisa memaksanya menaruh
tangan di atas pangkuannya. Lalu, dia melotot ke arah wajah tanpa rasa tegang
tersebut.
"Nee, beneran bisa hentikan tidak?
Malu tahu."
"Tenang saja. Dibanding kamu, aku
pasti jauh lebih malu kok."
"Kalau begitu pasang raut malu
sedikit dong."
"A, betapa gagahnya tangan ini...
Tidak mau, jangan menatapku memakai mata membara seperti itu. A, aku,
malu...!"
"..."
"Oups, pandangan mata seperti
melihat sampah ya?"
Melihat Masachika yang sama sekali tidak
ada niat buat serius, Alisa melepaskan tangannya secara kasar lalu memalingkan
wajah tanpa suara.
"Oi, Alya-san"
"..."
"Kenapa sih, berhubung kamu
kelihatan sangat tegang, aku cuma berniat melemaskannya sedikit saja
tahu."
"...Aku sama sekali tidak tegang
kok."
"Beneran~? Wajahmu masih agak kaku
lho?"
Menatap wajah samping Alisa yang
membalasnya secara dingin secara lekat-lekat, Masachika menyuarakan nada
curiga. Kesehatannya memang sudah lumayan kembali ke pipinya sih, tetapi masih
terasa seperti dipaksakan. Masachika menghembuskan napas pelan, lalu menyapanya
dengan lembut menggunakan nada serius.
"Tidak usah menyembunyikan rasa
tegangmu kok. Pertama kali ikut Dewan Siswa, wajar saja kalau tegang. Justru,
'Saya memang tegang, tetapi karena saya bakal berusaha bersungguh-sungguh mohon
bantuannya ya', bilang begitu sendiri justru pas kok."
"...Mana mau aku bicara
begitu."
"Yah, benar juga ya."
Memasang benteng terlebih dahulu lalu
memanjakan dirinya sendiri, hal semacam itu pasti tidak bakal dilakukan oleh
Alisa.
Sebagai seorang perfeksionis, Alisa pasti
berpikir untuk menuntaskannya secara sempurna dari awal sampai akhir.
"Alya, hadap ke sini."
"...?"
Melihat mata Alisa yang menoleh secara
heran, Masachika bertanya.
"Alya, musuhmu itu siapa?"
"...Taniyama-san kan?"
"Bukan. Musuhmu itu adalah dirimu
sendiri yang sempurna yang kamu jadikan idealisme. Benar kan?"
Memdengar kata-kata Masachika, mata Alisa
berguncang sedikit, lalu mengangguk perlahan.
"...Benar ya. Aku mungkin yang
paling takut kalau tidak bisa melakukan hal yang sama seperti
idealismeku."
"Kan? Singkatnya, standar penilaian
adalah dirimu sendiri. Dan yang berbicara di mimbar juga cuma kamu seorang.
Penonton murni penonton. Berhubung tidak ada tanya jawab juga, sebanyak apa pun
jumlah mereka tidak ada hubungannya. Benar kan?"
"Apakah, begitu ya?"
"Memang begitu kok."
Kepada Alisa yang membiarkan pandangannya
melayang cemas, Masachika sengaja menegaskannya secara jelas. Makin berada
dalam kondisi mental yang tidak stabil, kata-kata yang penuh rasa percaya diri
dan bersifat ketetapan bakal makin meresap, Masachika paham soal itu.
"Kamu tinggal memikirkan buat
memerankan dirimu yang paling keren menurutmu sendiri saja. Tenang saja, kalau
ada apa-apa aku bakal membereskannya secara total kok."
"..."
Alisa berkedip perlahan seolah meresapi
kata-kata Masachika, lalu kembali menghadap ke depan dengan keadaan yang agak
lebih tenang.
Tepat di saat itu, Touya yang bertindak
sebagai ketua majelis mendekat dari samping panggung.
"Kuze, Kujou. Waktunya sudah hampir
tiba, tidak apa-apa?"
"Tidak apa-apa kok."
Setelah membalas secara jelas begitu, dia
mengarahkan pandangan matanya ke arah Alisa di sebelahnya. Lantas, Alisa juga
membalas menatap Touya secara tenang lalu mengangguk.
"Saya juga tidak apa-apa."
"Yup, baguslah."
Setelah mengangguk mantap, Touya kali ini
menuju ke arah Sayaka.
Setelah mengonfirmasinya di sana juga,
Touya berdiri di meja pembawa acara yang dipasang di ujung kiri panggung, lalu
mengangkat suaranya ke arah mikrofon.
"Berhubung sudah waktunya, dengan
ini Dewan Siswa resmi dibuka."
Dengan deklarasi pembukaan dari Touya,
para hadirin yang tadinya ramai perlahan-lahan menjadi tenang. Sambil menunggu
hal tersebut, Touya berpindah ke perkenalan peserta.
"Ketua majelis adalah saya, Ketua
OSIS Kenzaki Touya. Pengaju draf adalah Taniyama Sayaka dari kelas 1-F, beserta
Miyamae Nonoa dari kelas 1-D."
Menerima pandangan mata Touya, Sayaka dan
Nonoa berdiri dari kursi lalu membungkuk memberi hormat. Dari kursi penonton
terdengar tepuk tangan jarang-jarang, serta sorakan penyemangat dari para
pendukung melayang.
"Sanggahan adalah Bendahara OSIS
Kujou Alisa, beserta Urusan Umum OSIS Kuze Masachika."
Melanjutkannya, Alisa membungkuk memberi
hormat secara anggun, dan Masachika membungkuk memberi hormat secara agak
dramatis.
Kali ini pun tepuk tangan jarang-jarang
terdengar, namun jumlahnya lebih sedikit ketimbang tadi dan tidak ada sorakan
penyemangat.
"Topik bahasannya adalah 'Penerapan
Evaluasi Guru dalam Perekrutan Pengurus OSIS'. Kalau begitu kepada pengaju
draf, dipersilakan menyampaikan argumennya."
"Baik."
Membalas secara jelas memakai suara yang
bergema baik meskipun tanpa mikrofon, Sayaka berdiri. Tanpa memperlihatkan
gestur tegang dia melangkah di panggung, lalu di tengah jalan mengangguk sekali
ke arah Touya sebelum naik ke mimbar secara tegap. Bersamaan dengan hal
tersebut, sosok Sayaka terpampang besar di layar belakang panggung.
"Semuanya. Terima kasih telah
berkumpul di tengah kesibukan kalian. Kali ini hal yang saya ajukan adalah
'Penerapan Evaluasi Guru dalam Perekrutan Pengurus OSIS'. Singkatnya, ini
adalah pengajuan agar rekomendasi guru menjadi syarat saat bergabung dengan
OSIS."
Melihat ke arah penonton lalu memberi
salam, Sayaka menyampaikan teorinya tanpa tersendat.
"Saat
ini pengurus OSIS dipilih oleh Ketua dan Wakil Ketua. Namun keadaan sebenarnya,
tidak berlebihan jika dikatakan bahwa kita menerima murid yang mencalonkan diri
secara tanpa seleksi. Faktanya, saat kami melakukan survei kuesioner kepada
seluruh murid SMP dan SMA yang pernah menjadi pengurus OSIS biarpun
sementara──"
(...Seriusan. Dia sampai menyiapkan data
seperti itu segala ya.)
Dalam waktu sesingkat ini, persiapan
hingga menyediakan data angka seperti itu menunjukkan kecermatan yang membuat
Masachika berdecak kagum.
(Nggak, ini bukan Taniyama tapi Miyamae
kali ya...)
Saat dia mengarahkan pandangan matanya ke
arah Nonoa dengan setengah kagum dan setengah getir, sang empu justru tampak
tidak peduli dan menatap kuku tangannya sendiri dengan tatapan kosong.
Tampaknya, dia benar-benar berniat
menjadi penonton penuh selama jalannya majelis ini.
"Dari hal ini, saya rasa Anda
sekalian dapat memahami situasi saat ini di mana siapa pun bisa menjadi
pengurus OSIS asal mencalonkan diri. Namun, bagaimana menurut Anda sekalian
tentang hal ini? Akademi Seirei yang memiliki tradisi dan keanggunan ini.
Apakah OSIS yang merupakan perwakilan murid, boleh menjadi organisasi yang bisa
dimasuki oleh siapa saja yang menginginkannya, bahkan jika murid tersebut
memiliki masalah pada perilakunya?"
Setelah menunjukkan fakta objektif,
Sayaka menaikkan nada suaranya dan berbicara kepada para hadirin.
"Saya berpikir bahwa OSIS seharusnya
menjadi tempat yang hanya bisa dimasuki oleh murid-murid terpilih yang
benar-benar unggul. Bukankah Anda sekalian juga berpikir demikian? Sebagai
perwakilan Anda, atau bagi mereka yang mengikuti kegiatan klub, sebagai pihak
atasan yang terkadang bertindak di atas Anda, bukankah Anda ingin pengurus OSIS
yang bertahta satu tingkat di atas memiliki kualifikasi yang pantas? Coba
bayangkan. Murid yang biasanya bernilai buruk dan perilakunya tidak baik,
tiba-tiba menjadi atasan Anda begitu menjadi pengurus OSIS, lho? Mereka berada
di posisi yang memberi instruksi dan memberikan izin kepada Anda, kan? Bukankah
itu menyebalkan?"
Mendengar pertanyaan Sayaka, Masachika
merasakan suasana yang menyebar di antara kursi penonton berupa, "Kalau
dikatakan begitu, memang benar juga sih..."
(Seperti yang diharapkan, dia hebat juga
ya...)
Murid-murid yang tadinya menganggap hal
ini sebagai masalah orang lain seperti "Aku kan tidak berniat masuk OSIS,
jadi mau yang mana saja boleh", diubah sudut pandangnya hingga merasa
menjadi pihak yang bersangkutan.
Saat ini, pendapat para murid condong ke
arah "Mau yang mana saja boleh sih, tapi kalau bisa memilih, aku ingin
orang yang unggul yang menjabat". Perkembangan ini sepenuhnya berjalan
sesuai dengan yang dibayangkan oleh Sayaka.
"Oleh karena itu, kita perlu
menerapkan evaluasi guru. Secara spesifik, kita membuat format di mana lembar
pendaftaran OSIS harus mendapatkan cap stempel dari wali kelas, kepala tingkat,
ditambah guru bimbingan konseling dan Kepala Sekolah. Dengan begini, OSIS yang
terdiri dari murid-murid yang benar-benar unggul dan telah mendapat jaminan
dari para guru akan terwujud."
Mengedarkan pandangannya ke arah kursi
penonton, Sayaka mengatakannya secara tegas sebagai penyelesaian akhir.
"Demi mewujudkan OSIS yang lebih
terintegrasi, serta memiliki martabat dan wewenang yang tinggi! Mohon dukungan
dari Anda sekalian!! ...Terima kasih banyak atas perhatian Anda."
Begitu Sayaka membungkuk memberi hormat,
tepuk tangan riuh dan sorakan dari para pendukung membumbung tinggi dari kursi
penonton.
Setelah merespons hal tersebut dengan
mengangkat tangannya, Sayaka mengarahkan pandangan matanya ke arah Touya.
Menangkap maksud tersebut, Touya mengambil mikrofon.
"Kalau begitu, kita beralih ke sesi
tanya jawab. Apakah dari pihak sanggahan ada pertanyaan?"
Touya mengarahkan pandangan matanya
kepada Alisa dan Masachika, dan pandangan mata para hadirin pun terkumpul ke
arah sana.
Terhadap argumen Sayaka yang luar biasa,
bagaimana murid pindahan yang menjadi rumor itu bakal menerobosnya. Di tengah
pandangan mata yang dipenuhi rasa penasaran dan harapan, Alisa menatap balik
Touya secara tenang... lalu menggelengkan kepalanya tanpa suara.
"Emm, tidak ada pertanyaan?"
Kepada Touya yang mengonfirmasinya dengan
wajah terperanjat, Masachika memberi isyarat tangan agar melanjutkan ke tahap
berikutnya. Perkembangan yang di luar dugaan ini, di antara para murid berembus
situasi kecewa seperti "Apa-apaan, tidak ada perlawanan toh".
Namun, hal ini sejak awal sudah
didiskusikan dan diputuskan oleh Masachika bersama Alisa.
Sayaka yang berpengalaman tidak bakal
memperlihatkan celah dalam sesi tanya jawab. Jika mengajukan pertanyaan secara
asal-asalan, hal itu hanya akan dibalas secara sempurna dan justru memberi poin
pada lawan. Kalau pertanyaannya sulit, lebih baik tidak usah bertanya.
Dibanding hal itu, keputusannya adalah lebih baik memperlihatkan kelonggaran
dengan membeberkan argumen sendiri secara lancar setelah mendengarkan argumen
lawan.
(Sampai di sini, sesuai rencana.)
Argumen Sayaka juga secara garis besar
sesuai dengan perkiraannya.
Tidak ada masalah. Sisanya tergantung
Alisa.
"Nah, apa kamu sudah siap?"
"...Ya."
Begitu Alisa menjawab secara tenang,
suara Touya bergema melintasi ruangan.
"...Kalau begitu, selanjutnya
dipersilakan argumen dari pihak sanggahan."
"Baik."
Menjawab memakai suara yang bergema baik
secara ajaib meskipun tidak memaksakan volume suaranya, Alisa berdiri.
"Sip, pergilah!"
Menerima dorongan semangat dari Masachika
di punggungnya, Alisa melangkah perlahan menuju mimbar. Kepada Alisa tersebut,
pandangan mata para hadirin yang dipenuhi rasa penasaran... atau lebih tepatnya
agak jahil, terkumpul padanya.
"(Nah, dari sini bagaimana dia
berniat membalikkan keadaan ya?)"
"(Nggak nggak, pas sesi tanya jawab
saja tidak bisa berkutik begitu bukannya sudah selesai? Yang begini mah
Taniyama-san yang menang kan)"
"(Makanya kan sudah kubilang? Kalau
Suou-san tidak maju mana ada peluang menang)"
"(Yah yah, coba kita dengar saja
dulu pidato seperti apa yang bakal dibawakan sama 'Putri Menyendiri' itu)"
"(Lagian apa dia bisa bicara dengan
benar ya? Tolong jangan sampai
menangis lho ya~?)"
Dari berbagai penjuru aula, suara-suara
yang bercampur hinaan dan ejekan membumbung tinggi. Situasi ruangan bukan lagi
menunggu bagaimana Alisa bakal membalas, melainkan sudah memunculkan
kecenderungan yang menantikan kekalahan seperti apa yang bakal dialami oleh si
"Putri Menyendiri" tersebut.
Merasakan udara tidak menyenangkan itu,
Chisaki yang berada di samping panggung menaikkan alisnya dan hendak maju ke
depan, namun tangannya ditahan oleh Maria. Maria yang mengawasi Alisa yang
berjalan menuju mimbar, memiliki mata seorang kakak yang tegas namun lembut
yang mempercayai adiknya. Dan Alisa yang bersangkutan... tanpa menyadari
hal-hal di sekelilingnya sama sekali, dia memfokuskan kesadarannya ke dalam
dirinya sendiri.
(Diriku yang ideal menurutku... diriku
yang paling keren...)
Meresapi hal yang dikatakan Masachika
padanya, dia membayangkan sosok yang dijadikan idealismenya. Kalau bicara sosok
yang keren, Sayaka yang tadi pun tampak tegap dan keren. Namun, melebihi hal
itu...
(Benar, pada saat itu... bagaimana dia
bertindak ya?)
Dia mengingatnya. Sosok pemuda pada saat
itu yang terlihat lebih keren ketimbang siapa pun. Pada saat itu, dia...
(Ah, begitu rupanya.)
Bayangannya telah ditetapkan. Sisanya
tinggal melakukan sesuai dengan gambaran yang diukirnya di dalam kepala.
Berdiri di mimbar, dia mengedarkan
pandangan matanya ke arah kursi penonton secara perlahan. Lalu... Alisa,
tersenyum.
◇
Saat Alisa berdiri di mimbar sambil
tersenyum, kegaduhan kecil segera pecah di antara para penonton. Ada yang
terperanjat, ada yang benar-benar terkejut, dan ada pula yang... melihat sosok
seorang pemuda dalam senyuman itu hingga matanya terbelalak.
"Selamat siang, semuanya. Saya Kujou
dari Bendahara OSIS. Mengenai pengajuan draf kali ini, izinkan saya
menyampaikan sanggahan sebagai perwakilan OSIS. Mohon bantuannya."
Lalu, dia membungkuk memberi hormat
dengan sikap yang terkesan agak dramatis. Penuh dengan kelonggaran, seolah-olah
tersenyum serius untuk menghargai perjuangan lawan.
Dalam sekejap semua orang di tempat itu
secara insting menyadari, bahwa kenyataan dirinya memilih bungkam pada sesi
tanya jawab tadi bukannya "tidak bisa" bertanya, melainkan
"tidak perlu" dilakukan.
Atas salam yang terkesan provokatif dan
tidak sesuai dengan gambaran si "Putri Menyendiri" tersebut,
pandangan mata para hadirin pun berubah.
"Nah, tadi Taniyama-san mengatakan
bahwa dengan memasukkan evaluasi para guru ke dalam prosedur perekrutan
pengurus OSIS, martabat OSIS bakal makin meningkat. Namun, pendapat saya justru
sebaliknya. Saya berpikir bahwa jika evaluasi guru dimasukkan, martabat OSIS
justru bakal menurun. Alasan utamanya adalah karena hal tersebut mencabut hak
prerogatif pengangkatan pengurus OSIS yang dimiliki oleh Ketua OSIS dan Wakil
Ketua OSIS yang merupakan inti dari OSIS."
Terhadap argumen Sayaka yang terkesan
sangat logis, kenyataan bahwa Alisa membalasnya secara langsung dari depan
membuat para murid di kursi penonton mau tidak mau menjadi tertarik.
"Pada dasarnya, yang paling
mendapatkan rasa iri dan rasa hormat dari para murid di OSIS adalah Ketua OSIS
dan Wakil Ketua OSIS yang dipilih lewat pemilihan umum. Justru karena mereka
berdualah yang berhasil memenangkan persaingan ketat dalam masa pemilihan dan
menyambar posisi tersebut, sekolah memberikan banyak wewenang kepada mereka.
Hak pengangkatan pengurus OSIS dapat dikatakan sebagai wewenang yang paling
utama. Bagaimana rasanya jika wewenang tersebut, biarpun sebagian, diserahkan
kepada guru? Bukankah itu sama saja dengan mengatakan bahwa OSIS yang sekarang
tidak bisa menjaga wibawanya sendiri jika tidak meminjam tangan dari
guru?"
Di dalam aula, argumen Alisa bergema.
Sosoknya yang anggun dan cantik ada yang melontarkan hela napas kagum, dan
dengan sikapnya yang tegap ada yang berdecak kagum. Hanya dalam waktu beberapa
menit Alisa berhasil mengubah udara di lokasi secara drastis, namun yang
bersangkutan membeberkan pemikirannya secara lancar tanpa menyadari hal
tersebut.
"Sekolah ini menjunjung tinggi
otonomi murid. Karena itulah wewenang besar diberikan kepada OSIS. Justru
karena berada di posisi yang bisa menentukan anggota OSIS secara bebas, Ketua
OSIS dan Wakil Ketua OSIS menjadi sosok yang spesial. Apa yang akan terjadi
jika evaluasi guru ditambahkan dalam pemilihan pengurus OSIS? Ketua dan Wakil
Ketua tidak akan bisa lagi memasukkan murid yang mereka percaya ke dalam OSIS
secara bebas. Mereka juga tidak akan bisa menolak pengurus yang telah mendapat
jaminan dari para guru. Secara praktis, hak pengangkatan pengurus OSIS bakal
diserahkan kepada guru. Pengurus yang dipilih guru bakal menjalankan sebagian
besar tugas praktis OSIS. Bukankah hal tersebut menyimpang dari bentuk OSIS
Akademi Seirei yang seharusnya?"
Mendengar kegigihan penjelasan Alisa,
Masachika merasakan para hadirin yang tadinya condong ke pendapat Sayaka mulai
berguncang.
(Sip, dia bisa bicara dengan tenang.
Sempurna.)
Melihat gaya bicara Alisa yang tegap,
Masachika mengelus dada merasa lega. Jujur saja, ini di luar dugaannya. Melihat
tingkat ketegangannya sampai detik-detik terakhir, dia mengira gayanya bakal
sedikit lebih kaku... tapi kalau begini sudah sangat cukup buat bertarung.
(Argumen Sayaka yang menyebutkan bahwa
dengan mengumpulkan elit yang telah melewati evaluasi guru maka kelas OSIS
bakal naik. Argumen Alya yang menyebutkan bahwa justru karena Ketua dan Wakil
Ketua yang dipilih lewat pemungutan suara murid memegang seluruh hak
pengangkatan, maka kelas OSIS dapat terjaga. Dua-duanya punya alasan... Untuk
saat ini, kalau dilihat sekilas posisinya seimbang lima puluh banding lima
puluh kali ya...?)
Masachika yang mengawasi sosok belakang
Alisa dengan puas, merasakan pandangan mata tajam dari arah kiri lalu menoleh
ke sana.
Di sana ada sosok Sayaka yang melotot ke
arah sini dengan kilatan mata tajam dari balik kacamatanya. Mata itu
menyuarakan secara jelas,
"Apakah ini akal-akalanmu?".
(Bukan tahu, Taniyama. Ini... semuanya
adalah kata-kata Alya sendiri.)
Pada argumen Alisa kali ini, Masachika
sama sekali tidak memberikan akal-akalan apa pun. Yang dilakukan Masachika
hanya sebatas memprediksi argumen Sayaka saja. Argumen Alisa ini disusun oleh
Alisa sendiri berdasarkan perkiraan Masachika, seratus persen milik Alisa.
(Lawanmu itu bukan aku. Tapi Alya.)
Saat dia menatap balik Sayaka dengan
memendam tekad tersebut, argumen Alisa berakhir dan sesi tanya jawab pun
dimulai. Tanpa membuang waktu Sayaka langsung mengangkat tangannya, lalu
menyerang Alisa.
"Anda mengatakan bahwa Ketua OSIS
dan Wakil Ketua OSIS memegang hak pengangkatan pengurus OSIS, tetapi seperti
yang saya sampaikan tadi, kenyataannya dalam beberapa tahun terakhir seluruh
murid yang mencalonkan diri bisa menjadi pengurus. Bagaimana pendapat Anda
mengenai hal tersebut?"
"Bukankah tidak masalah selama hal
itu tidak menimbulkan masalah? Jika memang timbul masalah dan ada suara
ketidakpuasan dari para murid, di saat itulah Ketua OSIS harus mengambil
tindakan tegas. Bukankah itu yang dinamakan tanggung jawab dari seorang
pemimpin?"
Jika Masachika memberinya akal-akalan,
dia berpikir bakal ada celah yang muncul dalam sesi tanya jawab. Namun, Alisa
tidak berguncang sama sekali.
"Dari pihak alumni sendiri, ada
suara-suara yang mengkhawatirkan penurunan kualitas OSIS belakangan ini. Justru
karena itulah, saya berpikir perlunya pengawasan dari para guru. Bagaimana
menurut Anda?"
"Hal yang memutuskan itu, bukankah
seharusnya adalah mereka berdua yaitu Ketua OSIS dan Wakil Ketua OSIS? Mengakui
kekurangan kemampuan sendiri dan meminta bantuan kepada guru juga merupakan
sebuah keputusan. Namun hal tersebut, bukanlah sesuatu yang ditentukan oleh
kita."
Justru, makin lama Sayaka yang mulai
kehilangan kelonggarannya.
Menghadapi ketangguhan lawan yang di luar
dugaan, argumennya perlahan-lahan mulai kehilangan kelogisan.
(Kegagalanmu adalah karena kamu salah
menilai lawan. Tanpa melihat Alya yang ada di sana, kamu malah mengejar
bayanganku yang sama sekali tidak ada. Padahal lawanmu sejak awal adalah Alya,
tapi kamu dari tadi hanya melihat ke arahku...)
Masachika sejak awal memang tidak berniat
menjadi lawan Sayaka.
Setelah mendengarkan argumen Alisa
sebelumnya, dia menilai bahwa Alisa sudah sangat sanggup menjadi lawan Sayaka,
sehingga dia menyerahkan segalanya secara penuh padanya.
Ya, lawan Masachika bukanlah Sayaka. Yang
harus dihadapi Masachika adalah...
(Nah, bagaimana kamu bakal bergerak?)
Di samping Sayaka yang sedang melemparkan
pertanyaan sulit kepada Alisa, dia mengarahkan pandangan matanya ke arah Nonoa.
Nonoa yang selama ini mempertahankan sikap tidak peduli, ikut menatap balik
Masachika secara tenang.
Lalu, seolah meminta maaf atas sesuatu,
dia memejamkan matanya sambil membungkuk memberi hormat tipis, kemudian
memasukkan tangannya ke dalam saku rok.
(...?)
...Perubahan itu, terjadi secara
bertahap.
Yang pertama kali terjadi adalah suara
bisik-bisik yang sangat kecil. Hal tersebut perlahan-lahan mulai menyebar ke
seluruh isi aula. Saat mengasah pendengaran, secara terpotong-potong kata
seperti "murid pindahan" atau "orang luar" bisa tertangkap.
Di saat yang sama, sorakan untuk Sayaka membumbung dari kursi penonton.
(Cih, dimainkan juga ya... orang suruhan,
kah?)
Giringan opini. Taktik di luar lapangan
yang hanya bisa dilakukan oleh Nonoa yang memiliki jaringan pertemanan sangat
luas di sekolah.
Di sekolah ini karena banyak anak dari
kalangan kelas atas, tidak sedikit murid yang memiliki pemikiran kebangsawanan.
Bagi murid-murid seperti itu, antara Sayaka yang merupakan putri presiden
perusahaan super kelas satu dengan Alisa yang merupakan murid pindahan kelas
menengah, terdapat perbedaan impresi yang sangat besar. Jika memprovokasi
bagian tersebut menggunakan orang suruhan yang diselipkan di antara hadirin,
kemungkinan besar mereka bakal memilih Sayaka berdasarkan emosi ketimbang
kelogisan argumen. Namun yang lebih menjadi masalah dari hal itu adalah...
"A..."
Alisa, menjadi sadar akan keberadaan para
hadirin. Ketenangan yang selama ini dijaganya dengan hanya memfokuskan
kesadaran pada dirinya sendiri, menjadi berguncang begitu dia menyadari para
hadirin.
Biarpun dilihat dari belakang, tubuhnya
terlihat mematung secara drastis.
"Ugh...!"
Melihat Alisa yang mendadak bungkam,
suara riuh para murid makin bertambah. Makin dia panik dan berusaha mengatakan
sesuatu, Alisa justru makin tidak bisa mengeluarkan kata-kata.
(Harus
cepat, katakan... Loh? Mau bicara apa... Pertanyaannya, tadi apa, cepat, apa
yang, tapi, sesuatu──)
Saat ketegangannya mencapai puncak dan
hampir jatuh ke dalam kondisi panik ringan, punggungnya ditepuk dengan lembut.
"Kamu sudah berjuang keras. Sisanya
serahkan padaku."
Saat Alisa menoleh ke arah suara seolah
terpental, di sana ada sosok pemuda yang paling bisa diandalkan melebihi siapa
pun.
Masachika berdiri berdampingan dengan
Alisa di atas mimbar, lalu mengambil mikrofon sambil tersenyum cengengesan.
"Permisi, ini masih di tengah-tengah
sesi tanya jawab sih, tapi dari sini izinkan saya yang mengambil alih ya.
Soalnya dia bicara lebih lama dari perkiraan kan, jadi tenggorokannya kena kali
ya? Beneran deh, gara-gara biasanya tidak banyak bicara jadinya begini
kan?"
Lalu, dia mengatakannya seperti mengejek
sambil mengarahkan pandangannya ke arah Alisa. Alisa yang mendadak diejek dan
langsung cemberut, tawa menyebar di kursi penonton.
Saat situasi sekitar melunak, Masachika
memutuskan untuk mengeluarkan kartu trufnya.
(Kalau bisa menang secara biasa lewat
kelogisan argumen sih tidak apa-apa... tapi berhubung pihak sana main perasaan,
pihak sini juga bakal memakai cara yang sama.)
Kalau bisa dia tidak ingin melakukannya,
tapi... dia sudah berjanji pada Alisa. "Kalau ada apa-apa aku bakal
membereskannya secara total."
Makanya... Masachika memutuskan untuk
menghancurkan segalanya sambil tersenyum.
"Emm, kalau begitu demi pasanganku
yang tenggorokannya kena ini aku
ingin cepat-cepat menyelesaikannya sih...
tapi dari awal, apakah diskusi lebih lanjut dari ini diperlukan ya?"
Mendengar pertanyaan yang mendadak
dihantamkan dari sikapnya yang bercanda, para hadirin menjadi geger. Di sana,
Masachika langsung melancarkan serangan susulan.
"Diskusi seperti ini, bukannya sudah
mendapatkan hasilnya sejak satu bulan yang lalu?"
Melihat ke sekeliling hadirin yang
memiringkan kepala tidak paham maksudnya, Masachika menaikkan lengan kanannya
secara halus, lalu menunjukkan tangannya ke arah Touya yang berdiri di meja
pembawa acara.
"Pada saat kalian memilih
Kenzaki-president itu sebagai Ketua...
bukankah perasaan kalian semua sudah
mantap?"
Penunjukan mendadak tersebut Touya
melotot terperanjat, dan pandangan mata para murid pun terkumpul padanya.
"Seperti yang kalian ketahui,
Kenzaki-president sampai satu tahun lalu adalah murid tidak berprestasi yang
tidak mencolok di kelas. Nggak, berhubung yang bersangkutan sendiri
mengatakannya jadi sekalian kutegaskan saja ya, dia itu introvert! Dia itu
introvert tidak berguna yang pasti tidak bakal mendapatkan rekomendasi dari
para guru!!"
"Wooi!?"
Refleks Touya berteriak sambil tertawa
setengah heran, dan tawa keras meledak di dalam aula. Di sana, Masachika
langsung mencecar tanpa memberi jeda.
"Namun, Kenzaki-president berusaha
keras. Setelah masuk OSIS dia berusaha mati-matian, menaikkan nilainya,
mengasah diri sebagai pria, hingga akhirnya berhasil menaklukkan Donna dari
Akademi Seirei ini! Bukankah kalian juga merasa tersentuh melihat sosok
Kenzaki-president yang seperti itu? Bukankah kalian merasa ingin mendukungnya
yang bertransformasi dari murid introvert tidak berprestasi menjadi Ketua OSIS
karismatik!?"
Sambil menyertakan gerakan tangan dan
tubuh hingga membeberkannya sekaligus dalam satu helaan napas, Masachika
menghentikan mulutnya sejenak lalu melihat ke sekeliling hadirin. Lalu pada
timing saat pandangan mata para murid terkumpul, dia mengatakannya secara
tenang dengan berbalik drastis.
"Kenzaki-president bisa menjadi
Ketua OSIS adalah karena ada sistem
di mana murid mana pun asal punya
semangat bisa menjadi pengurus OSIS. Aku tanya sekali lagi. Apakah diskusi
lebih lanjut dari ini masih diperlukan?"
Mendengar pertanyaan Masachika tersebut,
tidak ada jawaban yang kembali. Siapa pun... bahkan Sayaka dan Nonoa sekali
pun, bungkam secara total.
"Aa~... Hmm, entah kenapa mendadak
diejek sama junior bikin kaget sih... tapi kalau sudah tidak ada pertanyaan
lagi dari sini kita bakal berpindah ke argumen penutup, kepada pengaju draf,
apakah tidak apa-apa?"
"..."
Melihat Sayaka yang berdiri tanpa suara,
Masachika mendorong
punggung Alisa mengarahkan agar kembali
ke kursi.
Lalu di saat baru saja turun dari
mimbar... mendadak suara terkejut Nonoa membumbung tinggi.
"Eh, tunggu, Sayacchi!?"
Saat menoleh atas suara tersebut, secara
mengejutkan Sayaka sedang berlari keluar menuju samping panggung. Situasi yang
sepenuhnya di luar dugaan. Ditambah lagi atas ekspresi Sayaka yang terlihat
sepintas...
Masachika jadi tidak bisa bergerak dari
tempatnya. Menggantikan Masachika yang berdiri mematung, yang bergerak adalah
Alisa.
Langsung berlari secara cepat, dia
mengejar Sayaka lalu menghilang ke samping panggung.
Merasa situasi tak pernah terjadi
sebelumnya di mana masing-masing perwakilan dari pengaju draf dan sanggahan
keluar di tengah jalan, bagian dalam aula menjadi geger hebat. Di tengah siapa
pun yang bingung dan murni panik, Nonoa berdiri sambil mengarahkan tangannya
menggaruk kepala, lalu melangkah tegap menuju tengah panggung.
"Maaf ya, sudah bikin repot."
Lalu di tengah jalan dia
memberitahukannya begitu kepada Masachika, kemudian berdiri di mimbar dan
mengangkat kedua tangannya.
"Okei, aku menyerah"
Mendengar deklarasi menyerah yang juga
belum pernah terjadi sebelumnya ini, setelah hening sesaat, bisik-bisik penuh
kebingungan menyebar di dalam aula. Di sana, Touya yang paling cepat bangkit
kembali menyapanya walau dengan bingung.
"Eh, aa~ draf pengaju, berarti
ditolak... apakah tidak apa-apa begitu?"
"Ah, boleh kok boleh kok. Ya ampun,
Sayaka kami sudah bikin geger ya."
Melihat Nonoa yang membungkuk memberi
hormat pelan sambil mengatakannya begitu, Touya berdeham lalu berdeklarasi.
"Kalau begitu, draf pengajuan
ditolak... dengan ini, Dewan Siswa resmi ditutup."
Lalu, Dewan Siswa pun menutup tirainya di
tengah kebingungan.
◇
"Kalau begitu, tolong ya.
Masachika-kun."
"Ya, serahkan padaku. Yuki."
Saat melihat mereka berdua, aku berpikir
bahwa mereka adalah pasangan yang ideal.
Daya tarik personal yang memikat siapa
pun, karisma yang luar biasa.
Ditambah sosok berjasa di balik layar
yang menopangnya.
Sebuah hubungan di mana mereka saling
mempercayakan punggung dengan rasa percaya penuh, serta menopang dari belakang
dengan pengabdian tanpa batas.
Aah, mereka berdua terikat oleh hubungan
saling percaya yang lebih kuat dan ikatan yang lebih dalam ketimbang siapa pun.
Sungguh tidak bisa dihindari jika aku tidak sanggup menang dari hal tersebut.
Bersama rasa pujian, rasa kagum... serta sedikit rasa iri, aku bisa menyerah.
Karena itulah, saat melihat mereka berdua
pada waktu itu, aku merasa dikhianati.
Mengapa kamu berada di sana. Ikatan yang
sangat kukagumi dan kurasa paling mulia melebihi apa pun itu, apakah cuma
bohong belaka. Rasa kagum dan rasa hormat berubah menjadi rasa benci, hingga
aku berpikir untuk memisahkan mereka berdua dan menghancurkan hubungan tersebut
memakai cara apa pun.
Padahal begitu... saat melihat mereka
berdua yang berdiri berdampingan, mengapa hatiku sampai berguncang.
Dia yang dulunya berada satu langkah di
belakang, kini berdiri di sebelahnya. Dengan ekspresi yang lebih cerah dan jauh
lebih hidup ketimbang dulu.
Mengapa kamu memasang wajah seperti itu.
Padahal yang ada di sebelahmu, bukanlah dia. Mengapa, kenapa............ kenapa
dada ini rasanya sangat sakit.
◇
"Tung, gulah!"
Berlari keluar dari aula, Alisa berhasil
menyusul Sayaka saat tiba di
bagian belakang gedung olahraga.
Menyambar armadanya dari belakang, dia menghentikan langkah kakinya.
"Kembalilah ke aula. Aku tidak
mengizinkanmu kabur di tengah jalan
begitu!"
Kepada Sayaka yang menghentikan
langkahnya namun sama sekali tidak menoleh maupun membalas, Alisa menaikkan
alisnya dengan tajam.
"Tolong
katakan sesua──"
Lalu saat memaksakan diri mengitari depan
dan melihat wajahnya, Alisa
menahan napas.
"Kamu──"
Kepada Alisa yang suaranya berguncang
oleh kebingungan, Sayaka melotot tajam dengan mata yang basah oleh air mata,
lalu menghempaskan tangan Alisa secara kasar.
"Kenapa...! Kenapa, kamu!"
Mendengar kata-kata yang dilontarkan
bersama amarah yang meluap, Alisa mematung.
"Padahal Kuze-san dan Suou-san,
adalah dua orang yang tak terpisahkan! Justru karena mereka berdualah, aku!
Aku...! Padahal sudah menyerah! Kenapa…!!"
Sambil meneteskan air mata yang
berjatuhan dari matanya yang terangkat tajam, Sayaka memperas suaranya seolah
memuntahkan darah. Menerima jeritan dari jarak dekat yang hampir jenuh oleh
perpaduan amarah, kesedihan, serta berbagai emosi lainnya, Alisa secara samar
menyadari isi hati Sayaka yang sebenarnya.
"Kamu,
kamu itu──"
Lebih dari itu, kata-kata tidak kunjung
keluar. Gerak-gerik gadis ini yang selama ini dikiranya berasal dari niat
jahat, ternyata adalah kebalikannya. Begitu paham kalau hal tersebut justru ada
gara-gara rasa suka, Alisa kini jadi tidak bisa mengatakan apa-apa lagi.
Selalu saja begini. Di saat seperti ini,
dia selalu tidak bisa mengatakan hal yang peka. Tidak bisa, menggerakkan hati
orang lain. Makanya... Alisa memutuskan untuk menerima segalanya saja. Paling
tidak, menerima amarah meluap gadis ini sebagai pengganti dirinya. Karena dia
berpikir bahwa itulah satu-satunya peran yang bisa dilakukannya.
"Kalau kamu... punya hal yang ingin
dikatakan kepadaku. Katakan saja semuanya."
"!"
Terhadap Alisa yang mengutarakannya
secara lurus, Sayaka menatapnya dengan penuh rasa benci... mendadak dia
menundukkan wajahnya, menghembuskan napas panjang, lalu berkata dengan suara
gemetaran.
"Sama sekali tidak ada hak bagiku,
untuk mengatakan sesuatu."
Lalu saat mendongakkan wajahnya kembali,
pada wajah Sayaka terpampang ekspresi tangis dan tawa yang terkesan hampa.
"Sungguh, seperti orang bodoh...
Percaya sendiri, mengagumi sendiri, merasa dikhianati sendiri, lalu
melampiaskannya... Padahal semuanya, cuma keegoisanku sendiri. Fu, fu...
uuh...!"
Perasaan Sayaka, tidak dipahami oleh
Alisa. Namun, fakta bahwa dia yang sebenarnya adalah orang yang sangat
rasional, terasa tersampaikan secara samar.
Sampai-sampai gadis seperti dirinya lupa
diri gara-gara amarah, bagi dirinya hal itu pasti sangat mengejutkan. Kenyataan
bahwa Masachika berpasangan dengan Alisa, bukannya Yuki.
"Ah, ketemu."
Saat mengarahkan pandangan mata atas
suara yang terdengar mendadak, Nonoa datang mengitari sudut gedung olahraga.
"Aa menangisnya heboh banget ya...
Maaf ya Kujou-san. Bagian sini biar diserahkan padaku saja tidak apa-apa kok.
Bisakah kamu pergi ke tempat Kuzechii?"
"Emm, anu..."
"Tidak apa-apa, kok? Tolong
ya."
Mendengar kata-kata Nonoa, Alisa mulai
melangkah menuju ke arah aula sambil tetap mengkhawatirkan keadaan Sayaka.
Namun setelah melangkah beberapa langkah dia menoleh kembali, lalu mengangkat
suaranya ke arah Sayaka yang bahunya sedang dirangkul oleh Nonoa.
"Taniyama-san."
Sayaka, tidak menoleh. Meskipun begitu,
Alisa tetap melanjutkannya tanpa memedulikannya.
"Mengapa Kuze-kun memilihku... hal
itu, aku sendiri juga tidak paham. Tapi, aku ingin menjawab tekad tersebut.
Makanya..."
Tidak menjadi kata-kata dengan baik. Dia
juga tidak tahu apakah ini merupakan kata-kata yang benar untuk disampaikan
padanya. Meskipun begitu, Alisa menyampaikan kata-kata terbaiknya kepada
Sayaka.
"Makanya... aku bakal berusaha
keras. Agar suatu saat nanti, kamu juga mau mengakuiku. ...Cuma itu saja."
Lalu, dia bergegas pergi meninggalkan
tempat tersebut. Mengantar pergi sosok belakang tersebut, Nonoa bergumam secara
mendalam.
"Ya ampun... anak yang baik ya,
Kujou-san. Kukira dia anak yang lebih dingin lho, tapi ternyata
lumayan..."
"...Pasti begitu. Soalnya dia adalah
orang yang dipilih oleh Kuze-san."
Sambil berkata seperti itu memakai suara
yang basah oleh air mata, Sayaka sedikit mendongakkan wajahnya lalu bertanya.
"...Debatnya bagaimana?"
"Nng? Ah, kubuat jadi keputusan kita
menyerah kok. Yah lumayan geger sih, tapi rasanya Kuzechii sama Ketua berhasil
membereskannya secara baik."
"Begitu... Maaf ya. Sudah bikin
kamu, ketambahan repot juga..."
"Boleh kok, boleh kok, kan kita
sahabat."
Saat tertawa sambil mengutarakannya
secara ringan, Nonoa melepas kacamata Sayaka, lalu memeluknya erat dari depan.
"Lagipula, sudah terlambat kan kalau
baru sekarang. Beneran deh, Sayacchi kan dari dulu kalau mendadak menangis dan
berteriak memang tidak bisa ditangani lagi..."
"Mana ada..."
"Ngg~ak, ada kok. Kamu pikir sudah
berapa kali aku menemani
tantrummu coba."
Berlawanan dengan kata-katanya, memakai
gerakan tangan yang lembut Nonoa mengelus punggung Sayaka, lalu mengutarakannya
seolah memberi pengertian.
"Kalau sudah tenang... mari pergi
minta maaf ke Kuzechii sama Kujou-san ya. Aku juga, bakal menemanimu kok."
"..."
Mendengar kata-kata sahabatnya, Sayaka
mengangguk pelan tanpa suara.
Punggung Sayaka yang seperti itu, terus dielus oleh Nonoa seolah sedang menenangkannya.



Post a Comment