NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Tokidoki Bosotto Russia-go de Dereru Tonari no Alya-sa Volume 3 Chapter 5

Bab 5: Aku Terpesona Dalam Berbagai Arti


"Aduh, tidak nyangka kalau semuanya bakal berkumpul di sini..."

 

Chisaki berucap sambil tersenyum kecut saat mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruang OSIS. Di meja panjang ruang OSIS, terhitung dari arah pintu masuk, berdiri Touya sang ketua di sisi paling dalam. Di sisi kanan dari arah dalam berderet Maria, Alisa, dan Masachika. Di sisi kiri dari arah dalam berderet Chisaki, Yuki, dan Ayano. Seluruh anggota OSIS saat ini telah berkumpul lengkap di posisi masing-masing.

 

Mengenai apa yang mereka lakukan di ruang OSIS sepulang sekolah, tentu saja kegiatan OSIS... bukan, melainkan menunggu giliran wawancara tiga pihak. Setelah pengembalian lembar ujian di pagi hari selesai, sekarang mereka sedang menunggu dimulainya wawancara tiga pihak yang dilaksanakan di ruang kelas masing-masing.

 

Wawancara dilakukan di tiap kelas dengan durasi tiga puluh menit per murid, jadi tergantung nomor absen tentu saja ada yang mendapat giliran tepat setelah istirahat makan siang, atau malah baru sore hari.

 

Karena itulah, banyak murid yang memanfaatkan ruang klub atau perpustakaan untuk menghabiskan waktu sampai giliran mereka tiba.

 

Tapi... para pengurus OSIS periode ini secara mengejutkan berkumpul semua di ruang OSIS tanpa ada janji sebelumnya sama sekali.

"Tapi kalau dipikir-pikir, OSIS tahun ini secara kebetulan huruf depan nama belakangnya berdekatan semua, ya... Diawali dari 'Ki'mishima, 'Ku'jou, 'Ku'ze, 'Ke'nzaki, 'Sa'rashina, 'Su'ou... siapa sangka tujuh suku kata dari 'Ki' sampai 'Su' bisa mengumpulkan semua orang."

 

"Benar, ya. Ini sungguh kebetulan yang luar biasa."

 

Touya mengatakannya sambil tersenyum kecut sama seperti Chisaki, lalu Yuki ikut menanggapi.

 

"Yah... kalau Ayano sih dari kemarin sudah selesai wawancaranya, sih."

 

Lalu, saat Yuki mengatakannya sambil melihat ke arah Ayano yang duduk di sebelahnya, Chisaki mengedipkan matanya terkejut.

 

"Eh? Benarkah? Kalau begitu Ayano-chan hari ini harusnya bisa langsung pulang setengah hari, dong."

 

"Saya sudah bilang kalau dia boleh pulang, lho? Tapi yah, namanya juga Ayano..."

 

"Tempat di mana Yuki-sama berada adalah tempat di mana saya harus berada."

 

Melihat Ayano yang mengatakannya seolah itu hal yang sangat wajar, Yuki mengukir senyum pahit lalu mengangkat bahunya seakan berkata "Dia memang seperti ini". Di saat pengurus lainnya ikut mengukir senyum pahit yang sama, Maria merapatkan kedua tangannya lalu bersuara.

"Kalau begitu, mumpung lagi begini bagaimana kalau aku seduhkan teh hitam?"

 

"Iya, tolong ya~"

 

Kepada Maria yang berdiri, Chisaki meminta dengan nada manja yang ceria. Sambil memamerkan senyuman pada Chisaki, Maria berbicara tanpa melihat ke arah Ayano.

 

"Ah, Ayano-chan duduk saja tidak apa-apa, lho?"

 

"!?"

 

Mendengar kata-kata itu, Ayano yang tadinya hendak berdiri tanpa suara maupun hawa keberadaan langsung membelalakkan matanya. Dengan posisi masih setengah berdiri, ia menatap lekat-lekat ke arah Maria seolah berkata, "Apa, katamu...!?" Yuki yang duduk di sebelahnya pun menarik lengannya pelan agar ia kembali duduk.

 

"Ayano, di sini mari kita manfaatkan kebaikan Masha-senpai."

 

"Yuki-sama... baik, saya mengerti."

 

Setelah memastikan Ayano duduk kembali dengan tenang di kursinya, Maria melangkah menuju lemari piring.

 

"Kuze-kun? Ada apa?"

 

"...Enggak, bukan apa-apa."

Melihat Masachika yang menatap lekat-lekat ke arah punggung Maria, Alisa yang duduk di sebelahnya memiringkan kepalanya sedikit. Namun, Masachika menggelengkan kepalanya lalu kembali menghadap ke depan, kemudian mengajukan pertanyaan pada Touya seolah baru teringat sesuatu.

 

"Ngomong-ngomong Ketua, kemarin aku sempat mengobrol sedikit dengan Alya, bagaimana kelanjutan pembahasan soal perubahan seragam musim panas? Apakah ada kemungkinan terwujud sekitar tahun ajaran depan?"

 

Masachika menanyakannya secara santai, tetapi reaksi Touya yang mendengarnya justru di luar dugaan. Sambil memamerkan senyuman tak gentar, ia membuka suara dengan raut wajah seakan berkata "Bagus sekali kamu menanyakannya".

 

"Ooh, soal itu ya... Ini rahasia di antara kita saja, ya, paling cepat setelah libur musim panas nanti kita sudah bisa menerapkan seragam baru, lho."

 

"Eh! Seriusan, nih!?"

 

"Iya, tadinya aku berniat mengumumkannya sebagai kejutan saat upacara penutupan... tapi ini pada dasarnya sudah resmi diputuskan."

 

"Wah, itu luar biasa sekali, ya. Saya juga menyukai seragam yang sekarang ini, tetapi di musim seperti ini memang bagaimanapun tetap terasa panas."

Mendengar kata-kata Touya, Yuki merapatkan kedua tangannya dengan gembira. Setelah tertawa gembira melihat reaksi adik kelasnya, Touya merendahkan alisnya dengan raut agak merasa bersalah.

 

"Tapi yah, ada beberapa hal yang masih cukup sibuk... jadi mungkin selama libur musim panas nanti aku bakal minta sedikit bantuan dari kalian semua."

 

"Ah, kalau cuma sejauh itu sih tidak masalah, kok. Bagian terpentingnya kan sudah dijalankan oleh Ketua, sisanya kami juga bakal membantu sebisa mungkin."

 

"Terima kasih... Yah, keberhasilan proyek ini sebenarnya berkat dorongan besar dari Chisaki juga, sih?"

 

Kata-kata Touya membuat perhatian semua orang tertuju pada Chisaki.

 

Namun, Chisaki melihat ke arah Touya sambil tersenyum kecut.

 

"Mana ada begitu. Ini kan hasil dari negosiasimu yang pantang menyerah, Touya."

 

"Itu juga karena kamu terus mendukungku dari belakang. Aku benar-benar merasa bersyukur karena pasanganku adalah kamu."

 

"Touya..."

 

"Chisaki..."

"Bisa-bisanya orang-orang ini menciptakan dunia mereka berdua secara alami begini."

 

Masachika menatap sepasang kekasih yang mulai saling bertatapan itu dengan mata hangat-hangat kuku. Lalu, ia menoleh ke arah Yuki sambil mengangkat bahu seakan berkata "Bikin repot saja, ya"... tetapi entah memikirkan apa, Yuki perlahan menoleh ke arah Ayano, lalu mulai menatap Ayano dengan pandangan mata yang hangat.

 

"Ayano..."

 

"Yuki, sama..."

 

"Eh, apa-apaan alur begini."

 

Mendadak atmosfer yuri yang kental tercipta hingga membangun dunia mereka berdua, membuat Masachika mengedipkan matanya berkali-kali. Namun, gara-gara menerima isyarat mata yang dilancarkan Yuki berkali-kali, ia memutuskan untuk ikut-ikutan saja.

 

Sambil menggaruk-garuk kepalanya, ia menghela napas panjang untuk menata perasaannya, lalu memancarkan situasi manis maksimal yang bisa dikeluarkannya saat ini sambil berbalik ke arah Alisa.

 

"Alya..."

 

"Kenapa, sih. Aku tidak mau melakukan hal semacam itu."

 

"Dingin banget!!"

Tepat saat ia menoleh ke arah Alisa dengan raut wajah merana, ia langsung dipangkas habis-habisan hingga Masachika ambruk sambil berteriak "Guhah!". Melihat hal itu, Yuki memamerkan senyuman yang agak memprovokasi ke arah Alisa.

 

"Ara, ara, sepertinya ikatan pasangan di sebelah sana kurang begitu erat, ya."

 

"Mmm."

 

"Dalam pertarungan pemilihan, kerja sama tim antar pasangan adalah yang paling utama... Dengan kondisi seperti itu, apakah kalian beneran bisa menang dari kami? Iya kan, Ayano?"

 

Begitu mengatakannya, Yuki memamerkan senyuman memikat lalu membelai pipi Ayano menggunakan jarinya. Mungkin karena terasa geli, Ayano memejamkan satu matanya sambil menggetarkan tubuhnya sedikit. Bunga-bunga yuri bermekaran hebat di belakang mereka berdua, hingga tanpa sadar Masachika merasa agak antusias.

 

"Kuze-kun..."

 

"Bukan, ketahananmu terhadap provokasi terlalu rendah tahu, tidak."

 

Sama sekali tidak ada situasi manis sedikit pun, Alisa justru menatap kemari dengan mata seolah hendak bertarung, membuat Masachika memamerkan ekspresi heran. Namun, karena Alisa tidak mencoba memalingkan pandangannya, mereka pun bertatapan begitu saja.

Sambil menatap wajah Alisa dari dekat di tempat yang terang... Masachika sekali lagi dibuat terkagum-kagum oleh keindahan bentuk wajahnya.

 

(Kalau dilihat begini... dia beneran di luar nalar manusia, ya. Rasanya tidak seperti berasal dari spesies yang sama... maksudku, bulu matanya panjang banget! Matanya beneran seperti mau menyedot orang... kulitnya juga bersih banget, ini yang dinamakan kulit bening tanpa satu pun noda, ya. Maksudku, pori-porinya ada di sebelah mana, coba. Apa beneran tanpa riasan begini? ...Ngh? Entah kenapa kulitnya jadi agak memerah... tunggu, bukannya wajahnya makin mendekat?)

 

Tepat di saat otaknya yang terbius melacak rasa ganjil itu secara samar, suara Maria dengan cepat menariknya kembali ke realitas.

 

"Nah, maaf ya membuat kalian menunggu~... Eh, apa ini? Lomba saling tatap?"

 

Mendengar suara Maria yang menanyakan hal tidak tepat sasaran sambil memiringkan kepala, Alisa menoleh ke arah sana seolah tersentak. Di saat yang sama, Masachika juga mengedipkan matanya berkali-kali lalu ikut menoleh ke arah Maria. Saat itu, senyuman Maria sempat mematung seolah kaget menerima pandangan Masachika sejenak, sebelum akhirnya kembali membagikan teh hitam ke semua orang seolah tidak terjadi apa-apa.

 

"Soalnya camilan tehnya sudah habis kemarin, jadi hari ini cuma teh hitam saja, ya~"

"Eh, begitu ya?"

 

"Iya. Soalnya sebentar lagi libur musim panas, jadi kemarin sudah dihabiskan~"

 

"Aah, begitu ya... Soalnya selama libur musim panas kan tidak bisa ditinggal terus-terusan di sini, ya. Tapi tenang saja, teh hitam buatan Masha rasanya enak, jadi begini saja sudah lebih dari cukup, kok."

 

"Fufu, terima kasih ya~"

 

Sambil menambah kehangatan senyumannya atas kata-kata Chisaki, Maria juga meletakkan teh hitam di hadapan Alisa dan Masachika.

 

"Ini, silakan."

 

"Terima kasih."

 

"A, terima kasih banyak."

 

Namun, pada momen itu pun, Maria memperlihatkan gelagat yang sedikit menghindari pandangan Masachika. Sambil memperhatikan Maria yang lanjut membagikan teh hitam ke Yuki dan Ayano, Masachika makin yakin kalau ini bukan sekadar perasaannya saja.

 

(Ternyata benar, aku dipundungi sedikit, ya... Apa kejadian hipnosis waktu itu masih berbekas sampai sekarang?)

 

Setelah insiden hipnosis dua minggu lalu, Masachika sebenarnya sudah meminta maaf lagi kepada Alisa pada keesokan harinya dan telah dimaafkan. Dari sisi Alisa sendiri tampaknya ada banyak hal yang ingin diutarakan, tetapi mengingat penyebab utamanya adalah kakaknya sendiri, ia tidak bisa mengucapkannya dengan keras. Sebagai gantinya, Masachika diminta untuk segera menghapus apa yang dilihatnya saat itu dari memorinya. Tentu saja, mana mungkin hal se-menantang itu bisa dilupakan begitu saja dengan mudah, tapi yah, itu beda urusan.

 

Di saat ia sudah mendapat ampunan dari Alisa pada keesokan harinya, bagi Masachika ini adalah pertama kalinya ia berhadapan langsung dengan Maria sejak kejadian itu. Dan sepertinya, Maria masih kepikiran soal kejadian waktu itu.

 

(Yah... sepertinya lebih baik aku minta maaf dengan benar sekali lagi, deh.)

 

Memasuki libur musim panas dalam kondisi seperti ini terasa mengganjal bagi Masachika, sehingga ia memantapkan diri untuk mengobrol berdua dengan Maria di suatu tempat.

 

Tepat saat Masachika memantapkan niatnya diam-diam, Touya yang memperhitungkan Maria telah kembali ke kursinya pun perlahan membuka suara.

 

"Aah~ anu, ngomong-ngomong bagaimana jadwal libur musim panas kalian semua? Kalau tidak keberatan, aku berpikir untuk mengadakan semacam pemusatan latihan agar hubungan antar pengurus bisa makin erat."

"Pemusatan latihan... kah..."

 

Jika untuk kegiatan klub sih wajar, tetapi pemusatan latihan untuk OSIS adalah hal yang agak jarang terdengar, dan mereka juga tidak pernah mengalaminya sewaktu di SMP. Seolah menangkap suasana anak-anak kelas satu yang belum begitu paham, Touya menambahkan sambil tertawa seolah menyuruh mereka tidak usah khawatir.

 

"Walau dibilang pemusatan latihan, sebenarnya ini murni seperti liburan biasa, kok. Seperti yang kubilang tadi, selama libur musim panas nanti ada kemungkinan kalian bakal kupanggil untuk urusan OSIS. Anggap saja ini sekalian sebagai acara syukuran, ya."

 

"Bagus tuh! Kelihatannya seru!"

 

"Bener banget~ Aku juga pikir itu ide bagus, lho?"

 

Melihat Chisaki dan Maria menunjukkan sikap bersemangat, anak-anak kelas satu pun mulai berpikir positif.

 

"Benar juga, ya... Saya juga, kalau jadwalnya diputuskan lebih awal rasanya bisa meluangkan waktu. Fufu, ini pertama kalinya mengadakan pemusatan latihan dengan sesama anggota OSIS, jadi saya sangat sabar."

 

"Jika Yuki-sama berucap demikian, saya tidak memiliki keberatan."

 

"Kalau begitu aku juga..."

"Aku juga yah, tidak ada acara khusus jadi tidak masalah. Paling lama sekitar tiga hari dua malam, kan? Lokasinya di mana?"

 

"Soal tanggal nanti kita diskusikan sambil mencocokkan jadwal

semuanya. Soal lokasi, aku berpikir bagaimana kalau di vila keluargaku...?"

 

"Eh? Vila?"

 

Kata yang tidak terduga itu membuat sebagian besar anggota di sana termasuk Masachika mengedipkan mata, sementara Touya memamerkan senyuman menyeringai.

 

"Lokasinya agak dekat kawasan wisata pesisir pantai... Lengkap dengan pantai pribadi, lho? Apalagi, setiap tahun di dekat sana juga diadakan festival."

 

"Seriusan!? Ehm, loh? Rumah Ketua bukannya... kaya banget, ya? Mohon maaf, tapi sebelumnya tidak begitu terbayang hal semacam itu..."

 

"Aah... yah memang benar sih, orang tuaku bukan direktur perusahaan atau sejenisnya, tapi katanya kakekku dulu seorang investor yang sangat handal... Jadi di rumah cuma ada banyak aset saja."

 

"O-oh begitu, ya..."

 

"Yah, ini murni sebagai salah satu pilihan saja. Kalau ada yang punya tempat lain yang ingin dikunjungi, tidak masalah untuk disampaikan, kok?"

Saat Touya mengedarkan pandangannya ke semua orang setelah berkata begitu, Chisaki membuka suara sambil berpikir sejenak.

 

"Bukan vila sih... tapi kerabatku punya kawasan pegunungan, jadi kalau lebih banyak yang suka gunung ketimbang laut, pihak keluargaku juga bisa membantu, lho?"

 

"Punya kawasan pegunungan! Itu sih hebat banget dengan cara yang berbeda!"

 

Pengakuan mengejutkan yang meluncur selanjutnya membuat Masachika membatin dalam hati, Sekolah ini beneran gila!... Namun kata-kata Chisaki selanjutnya langsung membuat wajahnya mendadak datar.

 

"Yah, bangunannya sendiri bukan vila sih... tapi murni tempat pemusatan latihan? Atau lebih tepatnya aula latihan? Memang tidak ada pantai, tapi di dekat sana ada kompleks pemakaman jadi bisa dipakai buat uji nyali, lalu festival juga diadakan setiap tahun, lho? Walau bentuknya festival bela diri, sih."

 

"Perbandingan yang memancarkan kesan surga dan neraka. Tidak ada pantai tapi ada pe-ma-kam-an. Eh? Maksudnya kompleks pemakaman itu... jangan-jangan makam orang-orang yang tewas di festival bela diri tadi?"

 

"Ahaha, mana mungki~n."

 

"K-, kan, ya."

"Mungkin sebagian ada yang seperti itu, tapi sebagian besar tewas di tengah-tengah latihan──"

 

"Ketua! Saya lebih pilih vila di rumah Ketua saja!"

 

"Saya juga, kalau boleh memilih lebih suka ke laut."

 

"Jika Yuki-sama berucap demikian saya juga."

 

Masachika langsung mengacungkan tangan dengan senyum lebar, disusul Yuki dan Ayano yang ikut menyatakan keinginan untuk pergi ke laut. Alisa dan Maria pun memandang Touya tanpa menyatakan keberatan. Mendapati tatapan penuh persetujuan dari semua orang, Touya mengangguk sambil tersenyum kecut, lalu menoleh ke arah Chisaki.

 

"Yah, aku sendiri sebenarnya agak tertarik dengan aula latihan yang dibilang Chisaki... tapi rasanya kurang cocok untuk keakraban OSIS, jadi kali ini kita lewati saja, ya."

 

"Masa? Kalau gitu... mau pergi tanpa hubungan dengan OSIS? Maksudnya, berduaan saja."

 

"Eh."

 

Mendengar Chisaki yang mengatakannya dengan agak malu-malu, ekspresi Touya membeku. Namun, melihat kekasihnya yang melirik-lirik sambil tersipu malu, ia memaksakan otot wajahnya bergerak untuk membentuk senyuman.

"Aah~... be-, benar juga, ya. Iya... kalau Chisaki mau pergi, aku juga...

mau pergi, sih?"

 

"Hore! Nanti di sana kukenalkan ke Guru juga, ya!"

 

"Guru..."

 

Kata-kata yang disampaikan dengan polos itu membuat otak Touya membayangkan alur selanjutnya secara alami. "Dikenalkan pada Guru yang melatih Chisaki" → "Sehebat apa pria yang merayu murid kesayanganku ini, biarkan aku memastikannya secara langsung!" → "Tewas".

 

Mendapati masa depan yang sangat mudah dibayangkan itu membuat mata Touya menjadi agak hampa. Namun, Chisaki melanjutkan dengan gembira tanpa menyadari hal tersebut.

 

"Benar juga, mumpung di sana sekalian coba ikut festival bela dirinya saja?"

 

"Eeh~"

 

"Ikut bertanding di festival bela diri" → "Tewas". Menancapkan bendera kematian secara bertubi-tubi tanpa niat buruk sedikit pun dari sang kekasih membuat cahaya di mata Touya sirna total.

 

"Tenang saja! Ada kategori khusus amatir juga, kok! Lagipula... aku agak ingin melihat sisi keren Touya, lho?"

 

"Uuh..."

 

Namun, melihat sosok imut yang diperlihatkan Chisaki membuat Touya...

 

"Serahkan padaku. Aku bakal berusaha sebisa yang kukeduanya!"

 

"Seriusan!? Senangnya! Uwa~ tidak sabar banget!"

 

"Haha, ha..."

 

Mengangguk dengan kuat diselingi tawa kering. Melihat sosok Touya yang seperti itu membuat Masachika membatin dalam hati, Beneran laki banget nih orang.... Sambil mengaguminya, ia merapatkan kedua tangannya. Untuk sementara, Masachika memantapkan diri bahwa jika setelah libur musim panas nanti Touya berubah ke wujud kedua, ia tidak bakal kabur dan bakal menerimanya.

 

Setelah itu, obrolan santai berlanjut untuk beberapa saat. Sambil menikmati teh hitam buatan Maria, mereka membicarakan soal OSIS, sekolah, hingga libur musim panas sesuai keinginan masing-masing. Tepat saat sekitar tiga puluh menit berlalu, Touya mendadak mengeluarkan ponselnya, lalu berdiri setelah memeriksa layarnya.

 

"Ngh... lumayan cepat, ya. Aah, sepertinya orang tuaku sudah sampai

jadi aku pergi dulu, ya."

 

"Ah, selamat jalan~"

 

"Semangat ya~... walau dibilang begitu terasa aneh juga, sih."

 

Sambil tersenyum kecut menanggapi sorakan Chisaki, Touya melangkah keluar dari ruang OSIS. Tidak lama kemudian, kali ini Maria yang berdiri dan mulai merapikan cangkir serta tatakan milik semua orang.

 

"Kalau begitu, aku juga sebentar lagi giliranku, jadi aku rapikan dulu

untuk sementara, ya~"

 

"Ah, aku bantu."

 

Nah, ini dia! Begitu berpikir demikian, Masachika langsung berdiri dan mengambil cangkir milik Ayano di hadapannya serta Alisa di sebelahnya. Sambil memberi isyarat kepada Ayano dan Yuki agar tetap duduk, Masachika menumpuk peralatan makan itu di tangannya. Lalu, saat ia menoleh ke arah Maria sambil membawa tumpukan peralatan makan tersebut, Maria yang memegang nampan sempat mengalihkan pandangannya sejenak sebelum akhirnya memamerkan senyuman manis.

 

"Begitu? Kalau begitu tolong, ya?"

 

"Baik."

 

Meletakkan peralatan makan ke atas nampan milik Maria, ia menerima nampan itu beserta isinya. Lalu, mereka berdua pun melangkah keluar dari ruang OSIS.

 

Di ruang OSIS terdapat teko listrik dan kulkas kecil, tetapi sayangnya tidak ada bak cuci piring. Karena itu, walau agak merepotkan, mereka harus meminjam bak cuci piring dari ruang klub lain untuk mencuci peralatan makan. Kebanyakan mereka meminjam sudut ruang tata boga, tetapi tergantung situasi terkadang mereka juga meminjam bak cuci piring di ruang laboratorium. Meskipun demi kebersihan hal itu kurang menyenangkan, jadi itu adalah pilihan terakhir. Beruntung, hari ini ruang tata boga sedang kosong, jadi mereka bisa meminjam bak cuci piring ruang tata boga secara biasa.

 

Sambil mencuci peralatan makan berdampingan, Masachika diam-diam mengamati gelagat Maria. Sekilas Maria bersikap seperti biasanya, tetapi bagaimanapun tetap terasa agak kaku.

 

(Ternyata... memang begitu, ya.)

 

Menghela napas pelan dalam hati, tepat di saat ia memalingkan pandangannya, tangannya tersenggol pelan dengan tangan Maria.

 

"!"

 

Maria spontan menarik tangannya seolah tersentak, hingga tatakan yang dipegangnya berbenturan dan mengeluarkan suara klang.

 

"A, maaf."

 

"E, enggak? Tidak apa-apa, kok. Maaf ya? Cuma... mungkin listrik statis?"

Mana mungkin ada listrik statis saat mencuci di musim panas... tapi Masachika tidak menyelanya dan hanya mengangguk, "Oh begitu". Lalu, saat ia kembali mengintip gelagat Maria diam-diam... telinga Maria agak merona merah, sambil memasang senyum kaku seolah berusaha menutupi sesuatu.

 

"...Masha-san."

 

"Emm? Ada apa?"

 

"...Cangkir itu, bukannya tadi sudah dicuci?"

 

"Ara? Masa sih?"

 

Sambil berkata begitu, Maria memperhatikan cangkir di tangannya lekat-lekat. Melihat tingkahnya, Masachika membatin, Percuma dilihat juga tidak bakal kelihatan… sambil memiringkan kepalanya bingung apakah ini memang sifat polosnya atau karena ia sedang merasa goyah.

 

Namun terlepas dari itu semua, dipastikan bahwa ia memang masih terbawa oleh insiden waktu itu. Tepat pada timing di mana mereka berdua selesai mencuci peralatan makan dan mengeringkan tangan, Masachika memantapkan tekadnya lalu menyapa Maria.

 

"Emm, Masha-san."

 

"Emm?"

 

"Itu... sekali lagi, saya minta maaf, ya. Soal, insiden hipnosis waktu itu..."

"A, tidak. Tidak apa-apa, kok? Hal itu kan diawali dari aku sendiri..."

 

Melihat Masachika yang menundukkan kepala, Maria buru-buru menyuruhnya mengangkat kepala. Namun, tepat di saat Masachika mengangkat kepalanya sesuai permintaan dan mata mereka bertemu, pipi Maria merona merah tipis lalu ia memalingkan pandangannya.

 

"A, itu... ehm, waktu itu aku tidak sempat menanyakannya, tapi... saat

aku terhipnosis, apa yang... kulakukan pada Kuze-kun, ya?"

 

Lalu, ia bertanya sambil melirik-lirik wajah Masachika dengan malu-malu. Sikap itu sama sekali tidak mencerminkan Maria yang biasanya memancarkan aura kedewasaan sebagai seorang senior, tanpa disadari membuat Masachika merasa tersentuh. Ia spontan menelan ludah lalu buru-buru mengalihkan pikirannya. Kemudian mengingat kembali kejadian saat itu... sambil menahan rasa malu yang meluap hingga rasanya ingin berguling-guling, ia menahannya dan

berterus terang secara jujur.

 

"Emm, Masha-san memeluk saya bersama Alya... lalu mengelus-elus kepala kami."

 

Mengatakannya langsung membuat Masachika merasa semakin malu, sampai-sampai ia mengatupkan gerahamnya erat-erat.

 

Namun, Maria mengedipkan matanya perlahan, lalu bertanya dengan ekspresi yang agak lega.

 

"Eh... cuma itu?"

"Iya, yah begitulah."

 

 

Sebenarnya, wajah Masachika sempat terbenam separuh di dada Maria yang berlimpah. Tapi itu kan masih masuk ke dalam cakupan dipeluk.

 

Kalau bicara lebih teliti lagi, tangannya sempat menyentuh paha dari atas gaun... maksudnya, kalau diingat-ingat kembali sepertinya jarinya sempat menyentuh area yang cukup sensitif, tapi itu kan murni "hal yang dilakukan Masachika pada Maria" dan bukan "hal yang dilakukan Maria pada Masachika". Jadi, tidak perlu repot-repot diucapkan di sini.

Ksatria? Maaf, saya tidak kenal dengan kata itu?

 

"Begitu... kalau begitu syukurlah."

 

Tanpa menyadari jalan pikiran licik Masachika sedikit pun, Maria menghela napas lega dengan ekspresi tenang. Ekspresi polos itu justru menusuk-nusuk rasa bersalah Masachika.

 

"Emm, apakah beneran tidak apa-apa?"

 

"Iya, kalau cuma sejauh itu sih tidak masalah sama sekali. Yah, tapi..."

 

Tepat saat itu, Maria yang teringat sesuatu mendadak melingkarkan tangannya ke tubuhnya sendiri.

 

"Emm, itu... kamu melihatnya?"

 

"E, emm..."

Menatap kemari dari bawah, melihat ekspresi Maria yang sedikit marah dan terkesan menyalahkan membuat Masachika spontan memalingkan pandangannya.

 

Kalau ditanya melihat atau tidak, ia melihatnya. Tidak, saat Maria mulai melepas bajunya ia sempat memalingkan pandangan, tetapi gara-gara tindakan Chisaki terlalu mengejutkan, ia spontan mengawasinya lewat mata.

 

Hasilnya... yah, sosok itu masuk ke dalam jangkauan pandangannya.

 

Sosok Maria yang sangat seksi saat Maria melepas roknya dan membuka kancing hingga kancing kedua. Lagipula, Alisa yang di sebelahnya kancingnya terlepas hampir seluruhnya, jadi kalau dibilang mana yang terkesan lebih kuat, kesan dari Alisa yang lebih kuat... tapi yah, fakta bahwa pakaian dalam Maria juga berwarna putih terekam jelas di memorinya.

 

Masachika memutar otak memikirkan cara mengelak atas fakta tersebut, tetapi kegagalan untuk menolak secara instan sudah lebih dari cukup untuk membuat Maria paham. Maria mengerutkan bibirnya dengan raut agak kesal, lalu menatap Masachika dengan mata yang terkesan agak menyipit tajam.

 

"Kuze-kun mesum."

 

"A, iya... maafkan saya. Tanpa sadar saya melihatnya."

 

Meskipun dalam hati ia agak terkejut sambil membatin, Masha-san ternyata bisa marah secara wajar untuk hal seperti ini..., Masachika menundukkan kepalanya secara jujur. Tidak, sebenarnya ada sedikit pemikiran kalau Maria mungkin bakal memaafkannya sambil tertawa lembut seolah berkata "Tidak apa-apa, kok~ cuma sejauh itu~". Karena itulah, mendapat respons wajar layaknya gadis biasa di sini terasa agak di luar dugaan, dan di saat yang sama ada sedikit kenikmatan terlarang karena telah membuat sang Santa Bunda (Madona) akademi menjadi marah...

 

"Ku-ze-ku-n?"

 

"Eh, a, iya?"

 

"Duh, apakah kamu beneran sedang merenungkan kesalahanmu?"

 

"Merenung kok. Beneran merenung."

 

Maria merapatkan alisnya sambil menatap kemari dari bawah. Namun, ditatap dengan wajah seperti itu oleh Maria yang berwajah imut sama sekali tidak menakutkan. Maksudnya, justru...

 

(Terima kasih banyak atas ekspresi langkanya, sungguh sangat menggemaskan. Sosok kekanak-kanakan dari Masha-san yang biasanya memancarkan aura senior yang luar biasa, jujur saja kesenjangan ini bikin gemas setengah mati, imut banget parah. Kalau dengan ekspresi itu dia menegakkan jari telunjuknya lalu bilang "Nggak boleh", saya percaya diri bisa jumping dogeza sambil berteriak "Terima kasih banyak!!".)

"Duh! Kamu kan beneran tidak sedang merenung!"

 

Melihat Masachika yang terus memikirkan hal-hal konyol, Maria menggembungkan pipinya, lalu perlahan merangkul dan menangkup kedua pipi Masachika dengan kedua tangannya secara mendadak.




Lalu, Maria mencubit kedua pipi Masachika dengan jarinya dan mulai menariknya ke samping sambil menggumam, “Mwiih~.”

 

"Apha yang kamhu lakukhan, sih."

 

"Hukuman!"

 

Sambil mengernyitkan alis, Maria mendongak dan menatap tajam Masachika, lalu menarik-narik pipinya ke berbagai arah. Namun, itu tidak terlalu sakit. Dibandingkan dengan tamparan tanpa ampun dari Alisa, dalam berbagai arti ini mah sangat imut. Malahan bukannya ini sebuah hadiah?

 

Setelah puas, Maria melepaskan jarinya dari pipi Masachika, lalu kembali menangkup kedua pipinya dengan kedua tangan. Sambil mengarahkan wajah Masachika ke arahnya dengan kuat, Maria menasihatinya dari jarak dekat dengan wajah serius.

 

"Paham? Tidak boleh membuat anak perempuan merasa malu, ya? Lalu, saat orang lain sedang marah kamu harus merenung dengan benar."

 

Meskipun ia bilang begitu, rasanya agak kurang meyakinkan kalau dia beneran sedang marah, sih. Maksudnya, kalau salah langkah sedikit saja posisi ini benar-benar cuma kelihatan seperti lima detik sebelum ciuman sungguhan, lho. Wajah senior di depannya ini terlalu cantik hingga sebagai remaja laki-laki di masa pubertas ia tidak bisa tenang, tapi apakah yang bersangkutan sadar akan hal itu?

 

(Kalau aku menyela di sini, apa dia bakal menceremahi aku sebentar dalam posisi begini, ya?)

 

Pemikiran seperti itu sempat melintas di dalam kepalanya, tetapi jika ia melakukannya sampai sejauh itu, ia merasa bakal membuat senior yang baik hati ini marah sungguhan, jadi Masachika memutuskan untuk mengangguk secara jujur.

 

"...Iya."

 

"Sip, bagus."

 

Maria mengangguk mendengar jawaban Masachika, lalu melepaskan kedua tangannya dari pipinya dan mengelus kepalanya pelan, seolah berkata, “Nah, sekarang sudah mengerti.”

 

Namun, saat Maria mengulurkan tangan hendak mengelap peralatan makan yang selesai dicuci menggunakan kain lap, suara bzzz-bzzz pelan bergema dari saku Maria.

 

"Ah... sepertinya ibuku sudah sampai."

 

"Ah, tidak apa-apa. Sisanya biar saya yang merapikan."

 

"Uuum... maaf ya? Kalau begitu boleh minta tolong?"

 

"Iya, selamat jalan."

 

Melihat Maria keluar dari ruang tata boga dengan raut agak merasa bersalah, Masachika mulai mengelap peralatan makan. Setelah mengelapnya secara sigap, ia menumpuknya di atas nampan lalu kembali ke ruang OSIS.

 

Setelah itu mereka berlima yang tersisa kembali mengobrol santai selama sekitar tiga puluh menit, hingga kali ini Chisaki keluar dari ruang OSIS untuk menyambut ibunya. Karena giliran wawancara Alisa kebetulan bertepatan dengan selesainya wawancara Maria, ia langsung berdiri dari kursinya tidak lama setelah Chisaki keluar.

 

"Kalau begitu, aku pergi dulu, ya."

 

"Ooh, selamat jalan~"

 

"Selamat jalan."

 

"Selamat jalan."

 

Ketiganya mengantar kepergian Alisa, dan beberapa detik setelah pintu ruang OSIS tertutup. Yuki yang tadinya memamerkan senyuman archaic mendadak menarik senyumannya, lalu berbalik cepat ke arah Masachika dan berbicara dengan suara ijol yang dibuat-buat agak berat.

 

"Akhirnya kita cuma berdua saja, ya."

 

"Sip, kalau begitu aku juga mau menjemput Kakek, ah."

 

"Tunggu, dong~! Kenapa malah diabaikan, sih~!"

"Bukan, kamu sendiri juga santai banget mengabaikan keberadaan Ayano, tuh!"

 

Sambil merebahkan tubuhnya ke atas meja dan mengulurkan tangannya, Yuki memegang lengan Masachika dengan erat. Melihat sosoknya yang sama sekali tidak mencerminkan murid teladan yang dijuluki panutan wanita anggun itu, Masachika spontan menatap belakang kepala adiknya dengan pandangan seperti melihat sesuatu yang tidak menyenangkan.

 

"Kenapa menatapku dengan mata seperti itu, sih~! Gara-gara sama-sama sibuk, ini kan sudah lama banget kita tidak menikmati waktu sebagai kakak adik~!"

 

"Aah... kalau dipikir-pikir benar juga, ya?"

 

Masachika mengedarkan pandangannya mendengar kata-kata Yuki, lalu

menyadari bahwa hal itu memang benar. Dan jika dipikir-pikir kembali, tidak punya waktu bersama sebagai kakak adik selama lebih dari sepuluh hari adalah hal yang cukup langka.

 

"Yah, mungkin Onii-chan tidak begitu memikirkannya gara-gara menikmati waktu bersenang-senang dengan Alya-san, sih~?"

 

"Tidak... tidak begitu, kok?"

 

Mendapat tatapan menyipit tajam dari bawah, Masachika mengalihkan

pandangannya gara-gara canggung. Saat itu, Yuki berguling miring di atas meja, lalu menempelkan kedua tangannya di bawah mata untuk berpura-pura menangis secara jelas.

 

"Hiks, hiks, kesepian bangeeet."

 

"Iya, iya, ternyata kesepian, ya. Aku paham, jadi untuk sementara turun dulu dari meja, ya? Ya?"

 

Saat Masachika menasihatinya begitu, Yuki merosot turun dari meja secara perlahan. Rambut hitam panjangnya yang terurai di atas meja terseret menghilang di ujung meja, lalu dikibaskan begitu saja seperti sepasang sayap. Setelah mengibaskan rambutnya yang berantakan ke belakang, Yuki duduk bersandar di kursi dengan santai. Ia bahkan menyilangkan kaki sambil bersandar dengan dada membusung, lalu mengangkat dagunya dengan angkuh.

 

"Jadi sekarang, manjakan aku."

 

"Bukan, emosimu ini gimana, sih...?"

 

Masachika merasa heran pada perubahan karakter adiknya yang begitu drastis, tetapi Yuki sama sekali tidak memedulikannya dan menaikkan alisnya dengan gaya bersandiwara.

 

"Ada apa? Cepat lakukan, dong."

 

Sikapnya benar-benar seperti atasan jahat yang menyodorkan permintaan tidak masuk akal pada bawahannya, hingga Masachika mau tidak mau memilih untuk ikut-ikutan saja. Perasaannya saat ini seperti pegawai bank yang dituntut untuk meminta maaf di hadapan publik.

 

Menempelkan kedua tangannya di meja lalu mengatupkan bibirnya rapat-rapat, ia bertanya dengan suara berguncang penuh kebingungan dan keputusasaan.

 

"Di sini, kah...?"

 

"Benar. Di sini, aku bilang cepat manjakan aku sekarang juga, Masachika-kun."

 

"Tapi, di sini kan...!"

 

"Di sini? Kenapa, tidak bisa, kah?"

 

"Uh...!"

 

Mendengar perkataan Yuki, Masachika menundukkan kepala dalam-dalam sambil kedua tangannya gemetar, lalu memaksakan suara penuh penderitaan keluar dari tenggorokannya.

 

"Saya, paham...!"

 

Lalu, setelah duduk di kursi secara perlahan, ia mendadak

mendongakkan wajahnya dan menaruh tangannya di sandaran kursi di sebelahnya. Kemudian, dengan gaya wajah dan suara ijol keren maksimal, ia membocorkan satu kalimat.

 

"Kemarilah."

 

"Pfft-hahah!"

 

"Sip, mari kita sudahi."

 

"Aahn, bohong, bohong. Onii-chan keren bangeeet~"

 

Tepat saat Masachika berdiri dari kursinya, Yuki secara bertingkah manja mendatangi Masachika dengan suara manis. Lalu setelah duduk di kursi sebelah Masachika, Yuki menikmati waktu memanjakan diri pada kakaknya sepuasnya setelah sekian lama. Masachika pun memanjakan Yuki sambil tersenyum kecut pada adiknya. Ayano menjadi angin lalu.

 

Begitu Masachika membujuk suasana hati Yuki selama sekitar lima belas menit, ponsel Masachika bergetar, memberi tahu kedatangan sang kakek.

 

"Ngh, Kakek sudah sampai, nih."

 

"Ooh, selamat jalaaan."

 

"Iya, aku pergi dulu, ya... eh, ngomong-ngomong Ayano pergi ke mana?"

 

Mencari keberadaan teman masa kecilnya yang menghilang entah sejak kapan, Masachika mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruang OSIS. Namun, sosok Ayano tidak ada di mana pun.

 

"Eh? Bukannya dia peka situasi lalu jadi angin lalu dan berjaga di luar?"

 

"Kamu ini... enggak, aku yang tidak menyadarinya juga tidak punya hak untuk berkomentar, sih..."

 

Menggelengkan kepalanya ke kiri dan ke kanan, begitu ia membuka pintu ruang OSIS secara perlahan, di sana berdiri Ayano seperti kata Yuki, sedang bersiap bak seorang pengawal atau semacamnya. Tidak, kenyataannya ia memang sedang berjaga demi melindungi topeng wanita anggun milik tuannya (Yuki), jadi kalau dianggap sebagai pengawal secara persepsi memang sudah benar, sih.

 

"...Maaf, ya."

 

"? Soal apa?"

 

Padahal ia sempat memarahi Yuki dengan kalimat "Jangan mengabaikan keberadaan Ayano!", tapi dirinya sendiri justru melupakan keberadaannya secara biasa, membuat rasa bersalah Masachika mencapai puncaknya. Namun, Ayano sama sekali tidak memahami perasaan Masachika itu dan hanya memiringkan kepalanya dengan wajah tanpa ekspresi.

 

Sebagai bentuk apresiasi dan permintaan maaf pada Ayano, Masachika mengelus-elus kepalanya pelan, membuat Ayano memejamkan satu matanya karena merasa geli.

 

"Kalau begitu... aku pergi dulu, ya."

 

"Selamat jalaaan~"

 

"Selamat jalan."

 

Mengucapkan perpisahan pada mereka berdua dengan perasaan yang

tak terlukiskan, Masachika mengambil barang bawaannya lalu melangkah menuju gerbang utama tempat kakeknya menunggu.

 

Setelah berjalan melewati gedung sekolah dan mengganti sepatu di rak sepatu, Masachika melanjutkan langkah menuju gerbang utama... dan mendadak ingin berbalik arah sekuat tenaga. Namun, sebelum sempat melakukannya, seseorang dari arah sana lebih dulu menyapanya, membuatnya tak bisa lagi kabur.

 

"Ooh, Masachika, kamu datang juga!"

 

"Kakek..."

 

Di sana berdiri seorang lansia periang dengan kepala botak plontos yang mengilap. Beliau adalah kakek dari pihak ayah Masachika, sekaligus orang yang sejak kecil menjejali Masachika dengan sastra dan film Rusia. Namanya Kuze Tomohisa. Berbeda dengan kakek dari pihak ibunya, Suou Gensei, hubungan Tomohisa dengan Masachika sangatlah dekat. Buktinya, beliau bahkan bersedia datang menggantikan ayah Masachika yang sibuk bekerja sebagai wali dalam wawancara tiga pihak.

 

Berdiri tegak dengan gagah, beliau sedikit mengangkat topi soft hat putihnya sambil tersenyum gembira melihat kedatangan cucunya. Penampilannya benar-benar memancarkan aura seorang kakek tua yang baik hati... tapi masalahnya adalah pakaiannya.

 

"Kenapa Kakek pakai setelan jas putih!?"

 

"Eh? Keren, kan?"

 

"Setelan kayak begitu cuma dipakai sama narsis tingkat akut atau mafia asing, tahu!!"

 

"Hmm... Oh begitu, mungkin karena kurang ini, ya."

 

Tomohisa menanggapi teriakan Masachika yang penuh prasangka itu dengan santai. Seolah tidak begitu paham, beliau membetulkan posisi topinya, lalu merogoh saku dalam jasnya, mengeluarkan kacamata hitam, lalu memakainya dengan sigap.

 

"Nah, keren, kan?"

 

"Malah makin mirip mafia, Kakek! Bener-bener kayak bos mafia yang sudah pensiun! Tinggal pakai jubah atau mengalungkan syal misterius yang mirip syal itu di leher, Kakek bakal jadi sempurna!"

 

"Syal? Kakek punya, kok."

 

"Kenapa Kakek punya juga!"

 

Kali ini, Tomohisa mengeluarkan selembar kain putih yang terlipat dari saku dalam jas di sisi lainnya. Menahan tindakannya, Masachika segera menyeret Tomohisa masuk ke dalam gedung sekolah sebelum beliau makin menarik perhatian.

 

"Duh, kenapa Kakek harus datang dengan pakaian memalukan begitu, sih...!"

 

"Kakek pikir ini modis..."

 

"Pasti gara-gara terpengaruh film lagi, kan? Lagipula, dari mana Kakek dapat pakaian seperti ini."

 

"Kakek beli pakai uang pensiun yang tidak seberapa demi hari ini, lho?"

 

"Kakek bakal dimarahi Nenek, kan."

 

Sambil melontarkan sapaan dengan suara yang seolah menahan amarah dan rasa malu, Masachika berjalan cepat menuju gedung sekolah. Jujur saja, ia tidak ingin terlihat berjalan bersama kakeknya ini oleh orang lain.

 

Mengganti sepatu di rak sepatu dengan sepatu dalam sekolah, lalu memakaikan sandal tamu untuk kakeknya, Masachika berjalan lurus menuju ruang kelas.

 

"Hei Masachika, sepertinya masih ada waktu, Kakek ingin berkeliling melihat-lihat sekolah..."

 

"Ditolak mentah-mentah."

 

"Kenapa? Apa sebegitu memalukannya berjalan bersama Kakek?"

 

"Memalukan."

 

"Mmm... kalau begitu Kakek pergi sendiri..."

 

"Jangan, Kakek pasti bakal tertangkap karena dikira orang mencurigakan."

 

Begitulah, Masachika harus merayu dan membujuk kakeknya yang luar biasa tidak bisa diam untuk usia tujuh puluh satu tahun, dan entah bagaimana berhasil membuatnya duduk di kursi yang disediakan di luar ruang kelas. Kemudian, topik pembicaraan beralih ke ayah Masachika.

 

"Hmm... tapi, apakah Kyoutarou masih sibuk?"

 

"Yah, sepertinya mulai tahun ini dia bertugas di kedutaan besar Inggris... jadi mungkin banyak hal yang merepotkan, kan?"

 

Ayah Masachika, Kyoutarou, adalah seorang diplomat. Sampai tahun lalu beliau bertugas di kantor pusat Kementerian Luar Negeri, tetapi mulai tahun ajaran ini beliau bertugas di kantor perwakilan luar negeri.

 

Ayah memang tipe yang jarang di rumah, tetapi karena tempat kerjanya sekarang di luar negeri, beliau hampir tidak pernah pulang ke rumah.

 

Bahkan untuk wawancara tiga pihak, beliau harus meminta bantuan Tomohisa. Hal itu membuat Tomohisa sedikit merapatkan alisnya.

 

"Begitu ya... tapi, setidaknya untuk wawancara tiga pihak, ya?"

"Mau bagaimana lagi. Perjalanannya saja gampang makan waktu separuh hari lebih, lho."

 

"Begitu ya? Masachika memang anak yang baik, ya."

 

"Hentikan, Kek."

 

Masachika menepis tangan Tomohisa yang hendak mengelus kepalanya dengan malu-malu. Dalam kondisi seperti itu, mereka berdua akhirnya memperlihatkan hubungan kakek dan cucu yang hangat dan menggemaskan yang sering terlihat di masyarakat umum... namun, di

saat pintu ruang kelas terbuka, hal itu sirna dalam sekejap.

 

"Permisi."

 

"Terima kasih banyak, Pak Guru."

 

Alisa dan seorang wanita yang tampaknya adalah ibunya keluar dari ruang kelas. Tomohisa membelalakkan matanya lebar-lebar melihat mereka berdua... atau lebih tepatnya melihat Alisa.

 

(Gawat! Gara-gara terlalu banyak kejadian, aku jadi lupa memperingatinya!)

 

Masachika menyesal karena harusnya ia memberi tahu Tomohisa terlebih dahulu, tetapi penyesalan itu sudah terlambat.

 

"Eh, Kuze-ku──"

"Keajaiban Eropa Timur!!"

 

"Kakek, tolong hentikan seriusan!"

 

Tomohisa berdiri secara mendadak, lalu merentangkan kedua tangannya seolah sedang bersyukur kepada Tuhan, sementara Masachika berusaha setengah mati untuk membuatnya duduk kembali di kursi.

 

Lalu, ia terburu-buru memberikan penjelasan kepada Alisa yang mundur secara tersentak gara-gara kaget.

 

"Bukan, maaf ya, Alya. Ini kakekku, tapi sepertinya kekagumannya pada Rusia agak terlalu kuat..."

 

"Eh, a, begitu ya..."

 

"Nona manis, namamu siapa?"

 

"Makanya tolong hentikan seriusan!?"

 

Tomohisa berusaha mendekati Alisa dengan ekspresi dan kalimat yang benar-benar terkesan seperti penggoda jalanan, sementara Masachika menahannya sambil terus-menerus meminta maaf dengan tulus.

 

"Maaf, beneran maaf banget. Seriusan tidak usah diladeni tidak apa-apa."

 

"A, Kakek yang... periang, ya?"

 

Kata-kata Alisa yang penuh perhatian justru menusuk dada Masachika.

 

Sebelum anggota keluarganya ini makin mempermalukan diri sendiri, Masachika berniat menyuruhnya pulang secepatnya. Sambil mencengkeram leher baju Tomohisa dengan tangan kiri, ia mengarahkan tangan kanannya ke pihak lawan dan mendorong mereka seolah berkata "Silakan kalian pulang dulu". Namun, saat itu sosok yang tampaknya adalah ibu Alisa melangkah maju lalu menyapa Masachika.

 

"Anu, mohon maaf. Apakah kamu... Kuze-kun?"

 

"Eh, a, iya benar. Salam kenal, nama saya Kuze Masachika. Apakah Anda ibu dari Alisa-san?"

 

Disapa oleh wanita yang lebih tua, Masachika seketika melepaskan

tangannya dari Tomohisa, lalu menyapa berdasarkan tata krama yang telah ditanamkan ke dalam dirinya sejak kecil.

 

Sapaan yang begitu tenang dan sopan, sama sekali tidak memperlihatkan kekacauan yang terjadi tepat sebelumnya, membuat wanita di hadapannya menempelkan tangan di mulut karena kagum, dan Alisa juga membelalakkan matanya terkejut.

 

"Ara, ara, sopan sekali... Salam kenal. Saya ibu Alisa, Kujou Akemi. Saya sering mendengar cerita soal Kuze-kun dari putri saya."

 

"Itu... haha, syukurlah kalau bukan cerita yang buruk."

 

"Fufufu, dia menceritakannya dengan sangat gembira, lho?"

"...Begitu ya."

 

Terlepas dari isinya, yang jelas dia menceritakannya dengan gembira.

 

Hanya dengan hal itu, Masachika sudah bisa menebak situasi secara garis besar.

 

Lalu, ia mengamati wanita di hadapannya sekali lagi. Rambut hitam sebahu yang bergelombang lembut, serta penampilan yang lembut dan tertata yang membuat orang mudah membayangkan kalau beliau pasti sangat populer pada masa mudanya. Bentuk tubuh yang penuh keibuan dan pesona, yang membuat orang paham kalau Alisa dan Maria terlahir dari ibu ini. Wajahnya sendiri... sepertinya mirip Maria.

 

(Dari wajah Masha-san, kalau dihilangkan kesan warga asingnya bakal jadi seperti ini... kah? Bukan, ketimbang wajah, rasanya atmosfernya yang mirip.)

 

Penampilan yang memancarkan atmosfer yang tenang, benar-benar tipe Santa Bunda (Madona) yang penuh keibuan dan kasih sayang. Jika beliau adalah seorang selebritas, dipastikan beliau adalah wanita paruh baya cantik yang bakal memiliki kepopuleran mutlak di kalangan orang tua.

 

Namun, di saat yang sama, tatapan matanya menyiratkan kecerdasan yang tulus, membuat orang bisa menebak kalau beliau bukan hanya wanita yang lembut semata.

 

(Apa? Apa aku sedang dinilai? Bagaimanapun juga, sepertinya aku harus berhati-hati dalam memberikan balasan...)

 

Sambil tetap memamerkan senyuman, Masachika mengamati dan memikirkannya dalam waktu hanya dua detik, lalu menatap Akemi dengan penuh kewaspadaan. Seolah menyadari kewaspadaan Masachika, Akemi sedikit menambah kemanisan senyumannya.

 

Masachika pun menyadari kalau kewaspadaannya telah ketahuan, hingga ia makin meningkatkan level kewaspadaannya. Begitulah, di tengah ketegangan Akemi perlahan membuka mulutnya, dan Masachika bersiap di balik senyumannya──

 

"Ngomong-ngomong, apakah Kuze-kun pandai berdansa?"

 

Mendapat pertanyaan yang benar-benar di luar dugaan membuat Masachika membeku selama beberapa saat. Sambil mengedipkan matanya berkali-kali, ia spontan bertanya balik dengan nada biasa.

 

"Berdansa... kah?"

 

"Iya."

 

Dibenarkan dengan sikap yang terkesan sangat wajar membuat Masachika kebingungan.

 

(Berdansa... eh, apa-apaan? Apa semacam kiasan? Apa maksud dari pertanyaan itu? Aduh, tidak paham!)

Apakah ia harus menjawab jujur "Lumayan lah, ya..."? Tapi, apakah boleh memberikan jawaban sekadar biasa saja begitu. Di saat Masachika yang dilanda kebingungan belum memberikan jawaban, Alisa menegur Akemi dengan raut wajah jera.

 

"Ibu, apa-apaan pertanyaan itu. Kuze-kun kan jadi kebingungan."

 

"Eeh?"

 

"Kenapa malah berdansa?"

 

"Eeeh~? Soalnya bahunya agak landai?"

 

Menempelkan tangan di pipi sambil menatap ke arah atas serong, Akemi membocorkan hal yang tidak begitu dipahami. Sebenarnya bukan apa-apa. Itu memang ucapan polos yang sangat ajaib. Seperti dugaan, beliau memang ibunya Maria.

 

Masachika yang tadinya sangat waspada mendadak menjadi lemas tanpa daya, tetapi di saat itu Tomohisa mendekati Alisa dengan sigap, lalu merangkul kedua tangan Alisa dengan kedua tangannya lewat gerakan yang luar biasa alami.

 

"Nona manis, maukah kamu jadi cucuku?"

 

"Eh, eh?"

 

"Woi Kakek!"

Melihat kakeknya yang membocorkan hal tidak masuk akal dalam posisi yang benar-benar seperti sedang melamar, Masachika berteriak tanpa memedulikan tata krama lagi.

 

"Bagaimana? Apa kamu ada niat jadi istrinya Masachika──"

 

"Beneran diam deh, Kakek!!"

 

Membungkam mulut kakeknya dari belakang dengan tangan untuk memaksa Tomohisa diam, Masachika menariknya menjauh dari Alisa dengan sekuat tenaga.

 

"Anu, kalau begitu berhubung wawancaranya mau dimulai, kami permisi dulu, ya!"

 

"A, iya."

 

"Benar juga, ya. Kalau begitu, sampai jumpa lagi."

 

Memotong pembicaraan secara paksa, Masachika mengucapkan perpisahan pada Alisa dan Akemi. Melepas keberangkatan mereka berdua yang membungkuk pelan lalu berlalu pergi, Masachika akhirnya melepaskan tangannya dari Tomohisa.

 

"Lalu? Bagaimana Masachika, apa kamu berniat menjadikannya istri?"

 

"Makanya diam deh, Kek."

 

"Lalu? Apa Alya-chan bakal jadi istrinya Kuze-kun?"

"Ibu diam deh."

 

Sama persis di saat Masachika mengarahkan pandangan mata menyipit tajam pada kakeknya yang tidak kapok-kapok, dari lokasi yang agak jauh terdengar percakapan ibu dan anak tersebut, hingga Masachika membatin "Sama-sama merepotkan ya..." sambil memberikan rasa simpatinya pada Alisa.

 

Setelah berhasil menenangkan diri, Masachika kembali mengarahkan pandangannya ke ruang kelas... Di sana, wali kelasnya berdiri dengan senyum kaku yang tampak dipaksakan. Menyadari bahwa semuanya ternyata terdengar jelas, Masachika hanya bisa mendongak ke langit sambil membatin, "Ternyata kedengaran semuanya…”

 

"Kalau begitu, kami permisi..."

 

"Kami permisi."

 

Setelah itu, entah bagaimana mereka berhasil menyelesaikan wawancara tiga pihak, dan Masachika bersama Tomohisa melangkah keluar dari ruang kelas. Mungkin karena jadwalnya agak senggang, di luar ruang kelas belum ada pasangan orang tua dan anak selanjutnya yang datang, sehingga Masachika dan Tomohisa langsung melangkah menuju tangga.

 

"Lalu, soal Alisa-san yang tadi...?"

 

"Tidak usah memperpanjang pembahasan itu, ah."

Sambil menepis pancingan dari Tomohisa, Masachika merasa lega karena setidaknya berhasil menyelesaikan wawancara tiga pihak... Dan pada akhirnya, hal itulah yang menjadi kesalahan. Harusnya, Masachika lebih berhati-hati. Namun, gara-gara dibuat kerepotan setengah mati oleh Tomohisa, hal itu menguap begitu saja dari kepalanya... Hasilnya, tepat saat keluar menuju koridor di depan pintu masuk utama, mereka berpapasan secara telak.

 

"!"

 

Begitu melihat sosok itu, Masachika seketika merasa darahnya serasa terkuras dari seluruh tubuh. Orang di hadapannya juga menyadari keberadaan Masachika dan sempat membelalakkan mata, sebelum perlahan mengalihkan pandangannya.

 

"Ooh, Yumi-san. Sudah lama tidak bertemu, ya."

 

"Sudah lama tidak bertemu... Ayah Mertua."

 

Jeda sesaat itu mungkin karena ia merasa ragu memanggilnya 'Ayah Mertua' meskipun mereka sudah bercerai, atau karena memikirkan hubungan mereka yang secara lahiriah kini dianggap sebagai orang asing, atau mungkin keduanya.

 

Bagaimanapun juga, Tomohisa yang sama sekali tidak memedulikannya tersenyum lebar, lalu menyapa Yumi dengan akrab.

 

"Syukurlah kamu kelihatan sehat-sehat saja. Yuki juga sehat?"

"Iya, Kakek. Kakek sendiri... sepertinya mengenakan pakaian yang cukup luar biasa, ya?"

 

"Ngh? Keren, kan?"

 

"Fufu, benar, ya."

 

"Kan! Masachika malah bilang penampilanku jelek, tahu."

 

Mendengar penilaian tinggi dari cucu perempuannya membuat Tomohisa tertawa gembira, lalu beliau bergantian menatap Yuki dan Yumi sambil berbicara.

 

"Bagaimana, apa kamu akrab dengan ibumu?"

 

"Iya, tentu saja. Iya kan, Ibu?"

 

"Begitu... ya..."

 

Menanggapi putrinya yang mengarahkan senyuman anggun namun polos, Yumi membiarkan senyuman tipis meluncur dengan sungkan.

 

Masachika menatap sosok itu dengan pandangan mata dingin total.

 

(Bohong banget, memamerkan senyuman palsu buatan begitu. Kalau beneran akrab, Yuki pasti sudah memperlihatkan sifat aslinya.)

 

Bahkan tidak mampu memancing ekspresi asli putrinya sendiri, apa-apanya yang seorang ibu. Demi orang seperti ini, kenapa Yuki harus...

 

"Uh...!"

 

Mengatupkan giginya rapat-rapat, Masachika berusaha setengah mati menahan rasa benci yang merayap membakar paru-parunya bagai api.

 

Namun, hanya dengan melihat ibu ini saja, kenangan masa lalu yang tersegel di lubuk ingatannya kembali bangkit mau tidak mau, membuat gelombang emosi pekat yang memuakkan kembali menyembur dari dasar dirinya. Setiap kali ia menarik napas demi menenangkan diri, cairan dingin menjalar hingga ke ujung-ujung jemarinya, sebaliknya di permukaan kulit terasa hawa panas berkeringat merembes pelan.

 

Meskipun begitu, seolah menganggap memalingkan pandangan berarti kekalahan, Masachika sama sekali tidak memalingkan matanya dari Yumi. Namun, Yumi kukuh tidak mau melihat ke arah Masachika.

 

Kepada putra yang baru ditemuinya kembali setelah sekian lama, tak ada sepatah kata, tak ada saling pandang, tak ada satu pun yang diarahkan padanya.

 

(...Apa-apaan, ternyata begitu lagi, ya.)

 

Seketika itu juga, api yang membara di dalam diri Masachika, maupun hawa panas yang mengelus permukaan kulitnya, sirna total dalam sekejap. Yang menyelimuti tubuhnya apakah rasa kecewa, atau kepasrahan... bagaimanapun juga, bagi Masachika hal itu sudah tidak ada hubungannya lagi. Hal itu sudah menjadi sesuatu yang tidak penting lagi baginya.

 

"Kakek, ayo pergi sekarang. Di sini menarik perhatian orang-orang."

 

Saat Masachika menyapa dengan suara datar tanpa emosi, Tomohisa memperlihatkan sikap agak memedulikan sekeliling lalu mengangguk pelan.

 

"Ooh, begitu ya... Kalau begitu sampai jumpa lagi, kalian berdua."

 

"Iya, di libur musim panas nanti saya bakal main lagi, ya?"

 

"...Uh, ...permisi."

 

Satu momen Yumi sempat membuka mulutnya hendak mengatakan sesuatu, tetapi pada akhirnya tidak menjadi kata-kata. Yumi menundukkan kepalanya sedikit, lalu berjalan menuju tangga didampingi oleh Yuki. Tanpa melepas keberangkatan punggung mereka, Masachika bergegas mengganti sepatunya. Tomohisa juga tanpa mengutarakan hal yang tidak perlu, mengganti sandalnya dengan sepatu.

 

"Aah~ begitu keluar lagi rasanya panas banget, ya."

 

Keluar dari pintu masuk utama, melihat Tomohisa yang menyipitkan wajahnya disiram sinar matahari yang menyilaukan, Masachika mengarahkan wajah heran pada beliau.

"Itu gara-gara Kakek pakai pakaian seperti itu, tahu."

 

"Tapi ya, mana mungkin Kakek datang pakai kaos polo biasa, kan."

 

"Malahan masih jauh mendingan pakai itu, tahu..."

 

"Masa sih, Yuki tadi bilang penampilanku keren, lho?"

 

"Itu sih jelas-jelas cuma basa-basi."

 

Melihat Masachika yang membalas sambil tersenyum setengah keheranan, Tomohisa memasang raut tidak puas, lalu mendongak menatap langit dan berucap.

 

"Tapi ya, Yuki itu makin lama makin mirip Yumi-san, ya... walau tingginya masih kurang, sih."

 

"...Iya."

 

Mendapat balasan yang seketika menjadi tidak bersemangat dari Masachika, Tomohisa bertanya diselingi senyum kecut.

 

"Kenapa, kamu masih benci Yumi-san?"

 

"..."

 

Mendapat pertanyaan tajam dari Tomohisa, Masachika membalas dengan keheningan. Melihat cucunya yang memperlihatkan reaksi yang begitu mudah dipahami, Tomohisa mengelus dagunya dengan pandangan penuh makna.

 

"Ajaib juga, ya. Kakek pikir Yumi-san itu sangat mirip dengamu, lho."

 

"Mirip? Hah."

 

Masachika tertawa pelan seolah menganggapnya candaan yang tidak lucu, tetapi Tomohisa mengangguk tanpa merasa gentar.

 

"Mirip, kok. Kalau penampilan luar kamu itu memang persis seperti Kyoutarou waktu muda, tapi sifat dalam dirimu sangat mirip dengan Yumi-san. Sebaliknya, Yuki itu penampilan luarnya persis Yumi-san, tapi sifat dalam dirinya lumayan mirip Kyoutarou, lho."

 

"..."

 

"Yah, mau kamu ataupun Yuki, kalau cuma bagian mata sih memang

tidak mirip dengan salah satu dari kedua orang tua kalian... tapi mata itu diturunkan dari siapa, ya?"

 

"Entahlah."

 

Sambil menyentuh matanya yang menjadi satu-satunya bagian yang persis sama dan menandakan bahwa Masachika dan Yuki adalah saudara kandung, Masachika menggidikkan bahunya.

 

Melihat reaksi keras kepala Masachika yang tidak kunjung luntur, Tomohisa juga mengangkat bahunya pelan, lalu bersuara seolah mengalihkan suasana hati.

 

"Aah~ lagipula panas banget ya~... Bagaimana? Mau pergi makan es serut ke suatu tempat?"

 

"Es serut... mana bisa ketemu tempatnya secepat itu."

 

"Masa sih? Kalau dicari sebentar..."

 

Melihat Tomohisa yang mengeluarkan ponselnya dan benar-benar mulai mencoba mencarinya, Masachika merasa separuh kagum dan separuh heran sambil membatin, Dalam berbagai arti gaul banget ya, lalu berkata dengan nada lelah.

 

"Gak ah, tidak usah pergi makan... aku mau langsung pulang saja."

 

"Kenapa? Kamu lelah? Kalau dipikir-pikir raut wajahmu kelihatan agak pucat..."

 

Mengambil jarak dari Tomohisa yang mengintip ke arahnya dengan

cemas, Masachika mengarahkan wajahnya ke depan.

 

"Itu cuma kelihatan begitu gara-gara terik sinar matahari, kan? Bukan itu, aku murni cuma ingin cepat-cepat pulang terus mandi shower."

 

"Aduh, cucu yang tidak seru banget sih."

 

"Kalau Kakek dandanannya agak lebih wajar sedikit mungkin aku bakal ada niat buat menemani, lho."

 

Masachika mengarahkan pandangan mata menyipit tajam pada Tomohisa yang mengibaskan kipas lipat entah dari mana ke wajahnya.

 

Sosoknya sekilas tampak seperti Masachika yang biasanya... namun entah kenapa, ia juga terlihat rapuh bagaikan anak kecil yang lelah menangis.



Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close