Bab 5: Aku Terpesona Dalam Berbagai Arti
"Aduh, tidak nyangka kalau semuanya
bakal berkumpul di sini..."
Chisaki berucap sambil tersenyum kecut
saat mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruang OSIS. Di meja panjang ruang
OSIS, terhitung dari arah pintu masuk, berdiri Touya sang ketua di sisi paling
dalam. Di sisi kanan dari arah dalam berderet Maria, Alisa, dan Masachika. Di
sisi kiri dari arah dalam berderet Chisaki, Yuki, dan Ayano. Seluruh anggota
OSIS saat ini telah berkumpul lengkap di posisi masing-masing.
Mengenai apa yang mereka lakukan di ruang
OSIS sepulang sekolah, tentu saja kegiatan OSIS... bukan, melainkan menunggu
giliran wawancara tiga pihak. Setelah pengembalian lembar ujian di pagi hari
selesai, sekarang mereka sedang menunggu dimulainya wawancara tiga pihak yang
dilaksanakan di ruang kelas masing-masing.
Wawancara dilakukan di tiap kelas dengan
durasi tiga puluh menit per murid, jadi tergantung nomor absen tentu saja ada
yang mendapat giliran tepat setelah istirahat makan siang, atau malah baru sore
hari.
Karena itulah, banyak murid yang
memanfaatkan ruang klub atau perpustakaan untuk menghabiskan waktu sampai
giliran mereka tiba.
Tapi... para pengurus OSIS periode ini
secara mengejutkan berkumpul semua di ruang OSIS tanpa ada janji sebelumnya
sama sekali.
"Tapi kalau dipikir-pikir, OSIS
tahun ini secara kebetulan huruf depan nama belakangnya berdekatan semua, ya...
Diawali dari 'Ki'mishima, 'Ku'jou, 'Ku'ze, 'Ke'nzaki, 'Sa'rashina, 'Su'ou...
siapa sangka tujuh suku kata dari 'Ki' sampai 'Su' bisa mengumpulkan semua
orang."
"Benar, ya. Ini sungguh kebetulan
yang luar biasa."
Touya mengatakannya sambil tersenyum
kecut sama seperti Chisaki, lalu Yuki ikut menanggapi.
"Yah... kalau Ayano sih dari kemarin
sudah selesai wawancaranya, sih."
Lalu, saat Yuki mengatakannya sambil
melihat ke arah Ayano yang duduk di sebelahnya, Chisaki mengedipkan matanya
terkejut.
"Eh? Benarkah? Kalau begitu
Ayano-chan hari ini harusnya bisa langsung pulang setengah hari, dong."
"Saya sudah bilang kalau dia boleh
pulang, lho? Tapi yah, namanya juga Ayano..."
"Tempat di mana Yuki-sama berada
adalah tempat di mana saya harus berada."
Melihat Ayano yang mengatakannya seolah
itu hal yang sangat wajar, Yuki mengukir senyum pahit lalu mengangkat bahunya
seakan berkata "Dia memang seperti ini". Di saat pengurus lainnya
ikut mengukir senyum pahit yang sama, Maria merapatkan kedua tangannya lalu
bersuara.
"Kalau begitu, mumpung lagi begini
bagaimana kalau aku seduhkan teh hitam?"
"Iya, tolong ya~"
Kepada Maria yang berdiri, Chisaki
meminta dengan nada manja yang ceria. Sambil memamerkan senyuman pada Chisaki,
Maria berbicara tanpa melihat ke arah Ayano.
"Ah, Ayano-chan duduk saja tidak
apa-apa, lho?"
"!?"
Mendengar kata-kata itu, Ayano yang
tadinya hendak berdiri tanpa suara maupun hawa keberadaan langsung
membelalakkan matanya. Dengan posisi masih setengah berdiri, ia menatap
lekat-lekat ke arah Maria seolah berkata, "Apa, katamu...!?" Yuki yang
duduk di sebelahnya pun menarik lengannya pelan agar ia kembali duduk.
"Ayano, di sini mari kita manfaatkan
kebaikan Masha-senpai."
"Yuki-sama... baik, saya
mengerti."
Setelah memastikan Ayano duduk kembali
dengan tenang di kursinya, Maria melangkah menuju lemari piring.
"Kuze-kun? Ada apa?"
"...Enggak, bukan apa-apa."
Melihat Masachika yang menatap
lekat-lekat ke arah punggung Maria, Alisa yang duduk di sebelahnya memiringkan
kepalanya sedikit. Namun, Masachika menggelengkan kepalanya lalu kembali
menghadap ke depan, kemudian mengajukan pertanyaan pada Touya seolah baru
teringat sesuatu.
"Ngomong-ngomong Ketua, kemarin aku
sempat mengobrol sedikit dengan Alya, bagaimana kelanjutan pembahasan soal
perubahan seragam musim panas? Apakah ada kemungkinan terwujud sekitar tahun
ajaran depan?"
Masachika menanyakannya secara santai,
tetapi reaksi Touya yang mendengarnya justru di luar dugaan. Sambil memamerkan
senyuman tak gentar, ia membuka suara dengan raut wajah seakan berkata
"Bagus sekali kamu menanyakannya".
"Ooh, soal itu ya... Ini rahasia di
antara kita saja, ya, paling cepat setelah libur musim panas nanti kita sudah
bisa menerapkan seragam baru, lho."
"Eh! Seriusan, nih!?"
"Iya, tadinya aku berniat
mengumumkannya sebagai kejutan saat upacara penutupan... tapi ini pada dasarnya
sudah resmi diputuskan."
"Wah, itu luar biasa sekali, ya.
Saya juga menyukai seragam yang sekarang ini, tetapi di musim seperti ini
memang bagaimanapun tetap terasa panas."
Mendengar kata-kata Touya, Yuki
merapatkan kedua tangannya dengan gembira. Setelah tertawa gembira melihat
reaksi adik kelasnya, Touya merendahkan alisnya dengan raut agak merasa
bersalah.
"Tapi yah, ada beberapa hal yang
masih cukup sibuk... jadi mungkin selama libur musim panas nanti aku bakal
minta sedikit bantuan dari kalian semua."
"Ah, kalau cuma sejauh itu sih tidak
masalah, kok. Bagian terpentingnya kan sudah dijalankan oleh Ketua, sisanya
kami juga bakal membantu sebisa mungkin."
"Terima kasih... Yah, keberhasilan
proyek ini sebenarnya berkat dorongan besar dari Chisaki juga, sih?"
Kata-kata Touya membuat perhatian semua
orang tertuju pada Chisaki.
Namun, Chisaki melihat ke arah Touya
sambil tersenyum kecut.
"Mana ada begitu. Ini kan hasil dari
negosiasimu yang pantang menyerah, Touya."
"Itu juga karena kamu terus
mendukungku dari belakang. Aku benar-benar merasa bersyukur karena pasanganku
adalah kamu."
"Touya..."
"Chisaki..."
"Bisa-bisanya orang-orang ini
menciptakan dunia mereka berdua secara alami begini."
Masachika menatap sepasang kekasih yang
mulai saling bertatapan itu dengan mata hangat-hangat kuku. Lalu, ia menoleh ke
arah Yuki sambil mengangkat bahu seakan berkata "Bikin repot saja,
ya"... tetapi entah memikirkan apa, Yuki perlahan menoleh ke arah Ayano,
lalu mulai menatap Ayano dengan pandangan mata yang hangat.
"Ayano..."
"Yuki, sama..."
"Eh, apa-apaan alur begini."
Mendadak atmosfer yuri yang kental
tercipta hingga membangun dunia mereka berdua, membuat Masachika mengedipkan
matanya berkali-kali. Namun, gara-gara menerima isyarat mata yang dilancarkan
Yuki berkali-kali, ia memutuskan untuk ikut-ikutan saja.
Sambil menggaruk-garuk kepalanya, ia
menghela napas panjang untuk menata perasaannya, lalu memancarkan situasi manis
maksimal yang bisa dikeluarkannya saat ini sambil berbalik ke arah Alisa.
"Alya..."
"Kenapa, sih. Aku tidak mau
melakukan hal semacam itu."
"Dingin banget!!"
Tepat saat ia menoleh ke arah Alisa
dengan raut wajah merana, ia langsung dipangkas habis-habisan hingga Masachika
ambruk sambil berteriak "Guhah!". Melihat hal itu, Yuki memamerkan
senyuman yang agak memprovokasi ke arah Alisa.
"Ara, ara, sepertinya ikatan
pasangan di sebelah sana kurang begitu erat, ya."
"Mmm."
"Dalam pertarungan pemilihan, kerja
sama tim antar pasangan adalah yang paling utama... Dengan kondisi seperti itu,
apakah kalian beneran bisa menang dari kami? Iya kan, Ayano?"
Begitu mengatakannya, Yuki memamerkan
senyuman memikat lalu membelai pipi Ayano menggunakan jarinya. Mungkin karena
terasa geli, Ayano memejamkan satu matanya sambil menggetarkan tubuhnya
sedikit. Bunga-bunga yuri bermekaran hebat di belakang mereka berdua, hingga
tanpa sadar Masachika merasa agak antusias.
"Kuze-kun..."
"Bukan, ketahananmu terhadap
provokasi terlalu rendah tahu, tidak."
Sama sekali tidak ada situasi manis
sedikit pun, Alisa justru menatap kemari dengan mata seolah hendak bertarung,
membuat Masachika memamerkan ekspresi heran. Namun, karena Alisa tidak mencoba
memalingkan pandangannya, mereka pun bertatapan begitu saja.
Sambil menatap wajah Alisa dari dekat di
tempat yang terang... Masachika sekali lagi dibuat terkagum-kagum oleh
keindahan bentuk wajahnya.
(Kalau dilihat begini... dia beneran di
luar nalar manusia, ya. Rasanya tidak seperti berasal dari spesies yang sama...
maksudku, bulu matanya panjang banget! Matanya beneran seperti mau menyedot
orang... kulitnya juga bersih banget, ini yang dinamakan kulit bening tanpa
satu pun noda, ya. Maksudku, pori-porinya ada di sebelah mana, coba. Apa
beneran tanpa riasan begini? ...Ngh? Entah kenapa kulitnya jadi agak memerah...
tunggu, bukannya wajahnya makin mendekat?)
Tepat di saat otaknya yang terbius
melacak rasa ganjil itu secara samar, suara Maria dengan cepat menariknya
kembali ke realitas.
"Nah, maaf ya membuat kalian
menunggu~... Eh, apa ini? Lomba saling tatap?"
Mendengar suara Maria yang menanyakan hal
tidak tepat sasaran sambil memiringkan kepala, Alisa menoleh ke arah sana
seolah tersentak. Di saat yang sama, Masachika juga mengedipkan matanya
berkali-kali lalu ikut menoleh ke arah Maria. Saat itu, senyuman Maria sempat
mematung seolah kaget menerima pandangan Masachika sejenak, sebelum akhirnya
kembali membagikan teh hitam ke semua orang seolah tidak terjadi apa-apa.
"Soalnya camilan tehnya sudah habis
kemarin, jadi hari ini cuma teh hitam saja, ya~"
"Eh, begitu ya?"
"Iya. Soalnya sebentar lagi libur
musim panas, jadi kemarin sudah dihabiskan~"
"Aah, begitu ya... Soalnya selama
libur musim panas kan tidak bisa ditinggal terus-terusan di sini, ya. Tapi
tenang saja, teh hitam buatan Masha rasanya enak, jadi begini saja sudah lebih
dari cukup, kok."
"Fufu, terima kasih ya~"
Sambil menambah kehangatan senyumannya
atas kata-kata Chisaki, Maria juga meletakkan teh hitam di hadapan Alisa dan
Masachika.
"Ini, silakan."
"Terima kasih."
"A, terima kasih banyak."
Namun, pada momen itu pun, Maria
memperlihatkan gelagat yang sedikit menghindari pandangan Masachika. Sambil
memperhatikan Maria yang lanjut membagikan teh hitam ke Yuki dan Ayano,
Masachika makin yakin kalau ini bukan sekadar perasaannya saja.
(Ternyata benar, aku dipundungi sedikit,
ya... Apa kejadian hipnosis waktu itu masih berbekas sampai sekarang?)
Setelah insiden hipnosis dua minggu lalu,
Masachika sebenarnya sudah meminta maaf lagi kepada Alisa pada keesokan harinya
dan telah dimaafkan. Dari sisi Alisa sendiri tampaknya ada banyak hal yang
ingin diutarakan, tetapi mengingat penyebab utamanya adalah kakaknya sendiri,
ia tidak bisa mengucapkannya dengan keras. Sebagai gantinya, Masachika diminta
untuk segera menghapus apa yang dilihatnya saat itu dari memorinya. Tentu saja,
mana mungkin hal se-menantang itu bisa dilupakan begitu saja dengan mudah, tapi
yah, itu beda urusan.
Di saat ia sudah mendapat ampunan dari
Alisa pada keesokan harinya, bagi Masachika ini adalah pertama kalinya ia
berhadapan langsung dengan Maria sejak kejadian itu. Dan sepertinya, Maria
masih kepikiran soal kejadian waktu itu.
(Yah... sepertinya lebih baik aku minta
maaf dengan benar sekali lagi, deh.)
Memasuki libur musim panas dalam kondisi
seperti ini terasa mengganjal bagi Masachika, sehingga ia memantapkan diri
untuk mengobrol berdua dengan Maria di suatu tempat.
Tepat saat Masachika memantapkan niatnya
diam-diam, Touya yang memperhitungkan Maria telah kembali ke kursinya pun
perlahan membuka suara.
"Aah~ anu, ngomong-ngomong bagaimana
jadwal libur musim panas kalian semua? Kalau tidak keberatan, aku berpikir
untuk mengadakan semacam pemusatan latihan agar hubungan antar pengurus bisa
makin erat."
"Pemusatan latihan... kah..."
Jika untuk kegiatan klub sih wajar,
tetapi pemusatan latihan untuk OSIS adalah hal yang agak jarang terdengar, dan
mereka juga tidak pernah mengalaminya sewaktu di SMP. Seolah menangkap suasana
anak-anak kelas satu yang belum begitu paham, Touya menambahkan sambil tertawa
seolah menyuruh mereka tidak usah khawatir.
"Walau dibilang pemusatan latihan,
sebenarnya ini murni seperti liburan biasa, kok. Seperti yang kubilang tadi,
selama libur musim panas nanti ada kemungkinan kalian bakal kupanggil untuk
urusan OSIS. Anggap saja ini sekalian sebagai acara syukuran, ya."
"Bagus tuh! Kelihatannya seru!"
"Bener banget~ Aku juga pikir itu
ide bagus, lho?"
Melihat Chisaki dan Maria menunjukkan
sikap bersemangat, anak-anak kelas satu pun mulai berpikir positif.
"Benar juga, ya... Saya juga, kalau
jadwalnya diputuskan lebih awal rasanya bisa meluangkan waktu. Fufu, ini
pertama kalinya mengadakan pemusatan latihan dengan sesama anggota OSIS, jadi
saya sangat sabar."
"Jika Yuki-sama berucap demikian,
saya tidak memiliki keberatan."
"Kalau begitu aku juga..."
"Aku juga yah, tidak ada acara
khusus jadi tidak masalah. Paling lama sekitar tiga hari dua malam, kan?
Lokasinya di mana?"
"Soal tanggal nanti kita diskusikan
sambil mencocokkan jadwal
semuanya. Soal lokasi, aku berpikir
bagaimana kalau di vila keluargaku...?"
"Eh? Vila?"
Kata yang tidak terduga itu membuat
sebagian besar anggota di sana termasuk Masachika mengedipkan mata, sementara
Touya memamerkan senyuman menyeringai.
"Lokasinya agak dekat kawasan wisata
pesisir pantai... Lengkap dengan pantai pribadi, lho? Apalagi, setiap tahun di
dekat sana juga diadakan festival."
"Seriusan!? Ehm, loh? Rumah Ketua
bukannya... kaya banget, ya? Mohon maaf, tapi sebelumnya tidak begitu terbayang
hal semacam itu..."
"Aah... yah memang benar sih, orang
tuaku bukan direktur perusahaan atau sejenisnya, tapi katanya kakekku dulu
seorang investor yang sangat handal... Jadi di rumah cuma ada banyak aset
saja."
"O-oh begitu, ya..."
"Yah, ini murni sebagai salah satu
pilihan saja. Kalau ada yang punya tempat lain yang ingin dikunjungi, tidak
masalah untuk disampaikan, kok?"
Saat Touya mengedarkan pandangannya ke
semua orang setelah berkata begitu, Chisaki membuka suara sambil berpikir
sejenak.
"Bukan vila sih... tapi kerabatku
punya kawasan pegunungan, jadi kalau lebih banyak yang suka gunung ketimbang
laut, pihak keluargaku juga bisa membantu, lho?"
"Punya kawasan pegunungan! Itu sih
hebat banget dengan cara yang berbeda!"
Pengakuan mengejutkan yang meluncur
selanjutnya membuat Masachika membatin dalam hati, Sekolah ini beneran
gila!... Namun kata-kata Chisaki selanjutnya langsung membuat wajahnya
mendadak datar.
"Yah, bangunannya sendiri bukan vila
sih... tapi murni tempat pemusatan latihan? Atau lebih tepatnya aula latihan?
Memang tidak ada pantai, tapi di dekat sana ada kompleks pemakaman jadi bisa
dipakai buat uji nyali, lalu festival juga diadakan setiap tahun, lho? Walau
bentuknya festival bela diri, sih."
"Perbandingan yang memancarkan kesan
surga dan neraka. Tidak ada pantai tapi ada pe-ma-kam-an. Eh? Maksudnya
kompleks pemakaman itu... jangan-jangan makam orang-orang yang tewas di
festival bela diri tadi?"
"Ahaha, mana mungki~n."
"K-, kan, ya."
"Mungkin
sebagian ada yang seperti itu, tapi sebagian besar tewas di tengah-tengah
latihan──"
"Ketua! Saya lebih pilih vila di
rumah Ketua saja!"
"Saya juga, kalau boleh memilih
lebih suka ke laut."
"Jika Yuki-sama berucap demikian
saya juga."
Masachika langsung mengacungkan tangan
dengan senyum lebar, disusul Yuki dan Ayano yang ikut menyatakan keinginan
untuk pergi ke laut. Alisa dan Maria pun memandang Touya tanpa menyatakan
keberatan. Mendapati tatapan penuh persetujuan dari semua orang, Touya
mengangguk sambil tersenyum kecut, lalu menoleh ke arah Chisaki.
"Yah, aku sendiri sebenarnya agak
tertarik dengan aula latihan yang dibilang Chisaki... tapi rasanya kurang cocok
untuk keakraban OSIS, jadi kali ini kita lewati saja, ya."
"Masa? Kalau gitu... mau pergi tanpa
hubungan dengan OSIS? Maksudnya, berduaan saja."
"Eh."
Mendengar Chisaki yang mengatakannya
dengan agak malu-malu, ekspresi Touya membeku. Namun, melihat kekasihnya yang
melirik-lirik sambil tersipu malu, ia memaksakan otot wajahnya bergerak untuk
membentuk senyuman.
"Aah~... be-, benar juga, ya. Iya...
kalau Chisaki mau pergi, aku juga...
mau pergi, sih?"
"Hore! Nanti di sana kukenalkan ke
Guru juga, ya!"
"Guru..."
Kata-kata yang disampaikan dengan polos itu membuat
otak Touya membayangkan alur selanjutnya secara alami. "Dikenalkan pada
Guru yang melatih Chisaki" → "Sehebat apa pria yang merayu murid
kesayanganku ini, biarkan aku memastikannya secara langsung!" →
"Tewas".
Mendapati masa depan yang sangat mudah
dibayangkan itu membuat mata Touya menjadi agak hampa. Namun, Chisaki
melanjutkan dengan gembira tanpa menyadari hal tersebut.
"Benar juga, mumpung di sana
sekalian coba ikut festival bela dirinya saja?"
"Eeh~"
"Ikut bertanding di festival bela diri" →
"Tewas". Menancapkan bendera kematian secara bertubi-tubi tanpa niat
buruk sedikit pun dari sang kekasih membuat cahaya di mata Touya sirna total.
"Tenang saja! Ada kategori khusus
amatir juga, kok! Lagipula... aku agak ingin melihat sisi keren Touya,
lho?"
"Uuh..."
Namun, melihat sosok imut yang
diperlihatkan Chisaki membuat Touya...
"Serahkan padaku. Aku bakal berusaha
sebisa yang kukeduanya!"
"Seriusan!? Senangnya! Uwa~ tidak
sabar banget!"
"Haha, ha..."
Mengangguk dengan kuat diselingi tawa
kering. Melihat sosok Touya yang seperti itu membuat Masachika membatin dalam
hati, Beneran laki banget nih orang.... Sambil mengaguminya, ia merapatkan
kedua tangannya. Untuk sementara, Masachika memantapkan diri bahwa jika setelah
libur musim panas nanti Touya berubah ke wujud kedua, ia tidak bakal kabur dan
bakal menerimanya.
Setelah itu, obrolan santai berlanjut
untuk beberapa saat. Sambil menikmati teh hitam buatan Maria, mereka
membicarakan soal OSIS, sekolah, hingga libur musim panas sesuai keinginan
masing-masing. Tepat saat sekitar tiga puluh menit berlalu, Touya mendadak
mengeluarkan ponselnya, lalu berdiri setelah memeriksa layarnya.
"Ngh... lumayan cepat, ya. Aah,
sepertinya orang tuaku sudah sampai
jadi aku pergi dulu, ya."
"Ah, selamat jalan~"
"Semangat ya~... walau dibilang
begitu terasa aneh juga, sih."
Sambil tersenyum kecut menanggapi sorakan
Chisaki, Touya melangkah keluar dari ruang OSIS. Tidak lama kemudian, kali ini
Maria yang berdiri dan mulai merapikan cangkir serta tatakan milik semua orang.
"Kalau begitu, aku juga sebentar
lagi giliranku, jadi aku rapikan dulu
untuk sementara, ya~"
"Ah, aku bantu."
Nah, ini dia! Begitu berpikir demikian,
Masachika langsung berdiri dan mengambil cangkir milik Ayano di hadapannya
serta Alisa di sebelahnya. Sambil memberi isyarat kepada Ayano dan Yuki agar
tetap duduk, Masachika menumpuk peralatan makan itu di tangannya. Lalu, saat ia
menoleh ke arah Maria sambil membawa tumpukan peralatan makan tersebut, Maria
yang memegang nampan sempat mengalihkan pandangannya sejenak sebelum akhirnya
memamerkan senyuman manis.
"Begitu? Kalau begitu tolong,
ya?"
"Baik."
Meletakkan peralatan makan ke atas nampan
milik Maria, ia menerima nampan itu beserta isinya. Lalu, mereka berdua pun
melangkah keluar dari ruang OSIS.
Di ruang OSIS terdapat teko listrik dan
kulkas kecil, tetapi sayangnya tidak ada bak cuci piring. Karena itu, walau
agak merepotkan, mereka harus meminjam bak cuci piring dari ruang klub lain
untuk mencuci peralatan makan. Kebanyakan mereka meminjam sudut ruang tata
boga, tetapi tergantung situasi terkadang mereka juga meminjam bak cuci piring
di ruang laboratorium. Meskipun demi kebersihan hal itu kurang menyenangkan,
jadi itu adalah pilihan terakhir. Beruntung, hari ini ruang tata boga sedang
kosong, jadi mereka bisa meminjam bak cuci piring ruang tata boga secara biasa.
Sambil mencuci peralatan makan
berdampingan, Masachika diam-diam mengamati gelagat Maria. Sekilas Maria
bersikap seperti biasanya, tetapi bagaimanapun tetap terasa agak kaku.
(Ternyata... memang begitu, ya.)
Menghela napas pelan dalam hati, tepat di
saat ia memalingkan pandangannya, tangannya tersenggol pelan dengan tangan
Maria.
"!"
Maria spontan menarik tangannya seolah
tersentak, hingga tatakan yang dipegangnya berbenturan dan mengeluarkan suara klang.
"A, maaf."
"E, enggak? Tidak apa-apa, kok. Maaf
ya? Cuma... mungkin listrik statis?"
Mana mungkin ada listrik statis saat
mencuci di musim panas... tapi Masachika tidak menyelanya dan hanya mengangguk,
"Oh begitu". Lalu, saat ia kembali mengintip gelagat Maria
diam-diam... telinga Maria agak merona merah, sambil memasang senyum kaku
seolah berusaha menutupi sesuatu.
"...Masha-san."
"Emm? Ada apa?"
"...Cangkir itu, bukannya tadi sudah
dicuci?"
"Ara? Masa sih?"
Sambil berkata begitu, Maria
memperhatikan cangkir di tangannya lekat-lekat. Melihat tingkahnya, Masachika
membatin, Percuma dilihat juga tidak bakal kelihatan… sambil memiringkan
kepalanya bingung apakah ini memang sifat polosnya atau karena ia sedang merasa
goyah.
Namun terlepas dari itu semua, dipastikan
bahwa ia memang masih terbawa oleh insiden waktu itu. Tepat pada timing di mana
mereka berdua selesai mencuci peralatan makan dan mengeringkan tangan,
Masachika memantapkan tekadnya lalu menyapa Maria.
"Emm, Masha-san."
"Emm?"
"Itu... sekali lagi, saya minta
maaf, ya. Soal, insiden hipnosis waktu itu..."
"A, tidak. Tidak apa-apa, kok? Hal
itu kan diawali dari aku sendiri..."
Melihat Masachika yang menundukkan
kepala, Maria buru-buru menyuruhnya mengangkat kepala. Namun, tepat di saat
Masachika mengangkat kepalanya sesuai permintaan dan mata mereka bertemu, pipi
Maria merona merah tipis lalu ia memalingkan pandangannya.
"A, itu... ehm, waktu itu aku tidak
sempat menanyakannya, tapi... saat
aku terhipnosis, apa yang... kulakukan
pada Kuze-kun, ya?"
Lalu, ia bertanya sambil melirik-lirik
wajah Masachika dengan malu-malu. Sikap itu sama sekali tidak mencerminkan
Maria yang biasanya memancarkan aura kedewasaan sebagai seorang senior, tanpa
disadari membuat Masachika merasa tersentuh. Ia spontan menelan ludah lalu
buru-buru mengalihkan pikirannya. Kemudian mengingat kembali kejadian saat
itu... sambil menahan rasa malu yang meluap hingga rasanya ingin
berguling-guling, ia menahannya dan
berterus terang secara jujur.
"Emm, Masha-san memeluk saya bersama
Alya... lalu mengelus-elus kepala kami."
Mengatakannya langsung membuat Masachika
merasa semakin malu, sampai-sampai ia mengatupkan gerahamnya erat-erat.
Namun, Maria mengedipkan matanya
perlahan, lalu bertanya dengan ekspresi yang agak lega.
"Eh... cuma itu?"
"Iya, yah begitulah."
Sebenarnya, wajah Masachika sempat
terbenam separuh di dada Maria yang berlimpah. Tapi itu kan masih masuk ke
dalam cakupan dipeluk.
Kalau bicara lebih teliti lagi, tangannya
sempat menyentuh paha dari atas gaun... maksudnya, kalau diingat-ingat kembali
sepertinya jarinya sempat menyentuh area yang cukup sensitif, tapi itu kan
murni "hal yang dilakukan Masachika pada Maria" dan bukan "hal
yang dilakukan Maria pada Masachika". Jadi, tidak perlu repot-repot
diucapkan di sini.
Ksatria? Maaf, saya tidak kenal dengan
kata itu?
"Begitu... kalau begitu
syukurlah."
Tanpa menyadari jalan pikiran licik
Masachika sedikit pun, Maria menghela napas lega dengan ekspresi tenang.
Ekspresi polos itu justru menusuk-nusuk rasa bersalah Masachika.
"Emm, apakah beneran tidak
apa-apa?"
"Iya, kalau cuma sejauh itu sih
tidak masalah sama sekali. Yah, tapi..."
Tepat saat itu, Maria yang teringat
sesuatu mendadak melingkarkan tangannya ke tubuhnya sendiri.
"Emm, itu... kamu melihatnya?"
"E, emm..."
Menatap kemari dari bawah, melihat
ekspresi Maria yang sedikit marah dan terkesan menyalahkan membuat Masachika
spontan memalingkan pandangannya.
Kalau ditanya melihat atau tidak, ia
melihatnya. Tidak, saat Maria mulai melepas bajunya ia sempat memalingkan
pandangan, tetapi gara-gara tindakan Chisaki terlalu mengejutkan, ia spontan
mengawasinya lewat mata.
Hasilnya... yah, sosok itu masuk ke dalam
jangkauan pandangannya.
Sosok Maria yang sangat seksi saat Maria
melepas roknya dan membuka kancing hingga kancing kedua. Lagipula, Alisa yang
di sebelahnya kancingnya terlepas hampir seluruhnya, jadi kalau dibilang mana
yang terkesan lebih kuat, kesan dari Alisa yang lebih kuat... tapi yah, fakta
bahwa pakaian dalam Maria juga berwarna putih terekam jelas di memorinya.
Masachika memutar otak memikirkan cara
mengelak atas fakta tersebut, tetapi kegagalan untuk menolak secara instan
sudah lebih dari cukup untuk membuat Maria paham. Maria mengerutkan bibirnya
dengan raut agak kesal, lalu menatap Masachika dengan mata yang terkesan agak
menyipit tajam.
"Kuze-kun mesum."
"A, iya... maafkan saya. Tanpa sadar
saya melihatnya."
Meskipun dalam hati ia agak terkejut
sambil membatin, Masha-san ternyata bisa marah secara wajar untuk hal seperti
ini..., Masachika menundukkan kepalanya secara jujur. Tidak, sebenarnya ada
sedikit pemikiran kalau Maria mungkin bakal memaafkannya sambil tertawa lembut
seolah berkata "Tidak apa-apa, kok~ cuma sejauh itu~". Karena itulah,
mendapat respons wajar layaknya gadis biasa di sini terasa agak di luar dugaan,
dan di saat yang sama ada sedikit kenikmatan terlarang karena telah membuat sang
Santa Bunda (Madona) akademi menjadi marah...
"Ku-ze-ku-n?"
"Eh, a, iya?"
"Duh, apakah kamu beneran sedang
merenungkan kesalahanmu?"
"Merenung kok. Beneran
merenung."
Maria merapatkan alisnya sambil menatap
kemari dari bawah. Namun, ditatap dengan wajah seperti itu oleh Maria yang
berwajah imut sama sekali tidak menakutkan. Maksudnya, justru...
(Terima kasih banyak atas ekspresi
langkanya, sungguh sangat menggemaskan. Sosok kekanak-kanakan dari Masha-san
yang biasanya memancarkan aura senior yang luar biasa, jujur saja kesenjangan
ini bikin gemas setengah mati, imut banget parah. Kalau dengan ekspresi itu dia
menegakkan jari telunjuknya lalu bilang "Nggak boleh", saya percaya
diri bisa jumping dogeza sambil berteriak "Terima kasih banyak!!".)
"Duh! Kamu kan beneran tidak sedang
merenung!"
Melihat Masachika yang terus memikirkan hal-hal konyol, Maria menggembungkan pipinya, lalu perlahan merangkul dan menangkup kedua pipi Masachika dengan kedua tangannya secara mendadak.
Lalu, Maria mencubit kedua pipi Masachika
dengan jarinya dan mulai menariknya ke samping sambil menggumam, “Mwiih~.”
"Apha yang kamhu lakukhan,
sih."
"Hukuman!"
Sambil mengernyitkan alis, Maria
mendongak dan menatap tajam Masachika, lalu menarik-narik pipinya ke berbagai
arah. Namun, itu tidak terlalu sakit. Dibandingkan dengan tamparan tanpa ampun
dari Alisa, dalam berbagai arti ini mah sangat imut. Malahan bukannya ini
sebuah hadiah?
Setelah puas, Maria melepaskan jarinya
dari pipi Masachika, lalu kembali menangkup kedua pipinya dengan kedua tangan.
Sambil mengarahkan wajah Masachika ke arahnya dengan kuat, Maria menasihatinya
dari jarak dekat dengan wajah serius.
"Paham? Tidak boleh membuat anak
perempuan merasa malu, ya? Lalu, saat orang lain sedang marah kamu harus
merenung dengan benar."
Meskipun ia bilang begitu, rasanya agak
kurang meyakinkan kalau dia beneran sedang marah, sih. Maksudnya, kalau salah
langkah sedikit saja posisi ini benar-benar cuma kelihatan seperti lima detik
sebelum ciuman sungguhan, lho. Wajah senior di depannya ini terlalu cantik
hingga sebagai remaja laki-laki di masa pubertas ia tidak bisa tenang, tapi
apakah yang bersangkutan sadar akan hal itu?
(Kalau aku menyela di sini, apa dia bakal
menceremahi aku sebentar dalam posisi begini, ya?)
Pemikiran seperti itu sempat melintas di
dalam kepalanya, tetapi jika ia melakukannya sampai sejauh itu, ia merasa bakal
membuat senior yang baik hati ini marah sungguhan, jadi Masachika memutuskan
untuk mengangguk secara jujur.
"...Iya."
"Sip, bagus."
Maria mengangguk mendengar jawaban
Masachika, lalu melepaskan kedua tangannya dari pipinya dan mengelus kepalanya
pelan, seolah berkata, “Nah, sekarang sudah mengerti.”
Namun, saat Maria mengulurkan tangan
hendak mengelap peralatan makan yang selesai dicuci menggunakan kain lap, suara
bzzz-bzzz pelan bergema dari saku Maria.
"Ah... sepertinya ibuku sudah
sampai."
"Ah, tidak apa-apa. Sisanya biar
saya yang merapikan."
"Uuum... maaf ya? Kalau begitu boleh
minta tolong?"
"Iya, selamat jalan."
Melihat Maria keluar dari ruang tata boga
dengan raut agak merasa bersalah, Masachika mulai mengelap peralatan makan.
Setelah mengelapnya secara sigap, ia menumpuknya di atas nampan lalu kembali ke
ruang OSIS.
Setelah itu mereka berlima yang tersisa
kembali mengobrol santai selama sekitar tiga puluh menit, hingga kali ini
Chisaki keluar dari ruang OSIS untuk menyambut ibunya. Karena giliran wawancara
Alisa kebetulan bertepatan dengan selesainya wawancara Maria, ia langsung
berdiri dari kursinya tidak lama setelah Chisaki keluar.
"Kalau begitu, aku pergi dulu,
ya."
"Ooh, selamat jalan~"
"Selamat jalan."
"Selamat jalan."
Ketiganya mengantar kepergian Alisa, dan
beberapa detik setelah pintu ruang OSIS tertutup. Yuki yang tadinya memamerkan
senyuman archaic mendadak menarik senyumannya, lalu berbalik cepat ke arah
Masachika dan berbicara dengan suara ijol yang dibuat-buat agak berat.
"Akhirnya kita cuma berdua saja,
ya."
"Sip, kalau begitu aku juga mau
menjemput Kakek, ah."
"Tunggu, dong~! Kenapa malah
diabaikan, sih~!"
"Bukan, kamu sendiri juga santai
banget mengabaikan keberadaan Ayano, tuh!"
Sambil merebahkan tubuhnya ke atas meja
dan mengulurkan tangannya, Yuki memegang lengan Masachika dengan erat. Melihat
sosoknya yang sama sekali tidak mencerminkan murid teladan yang dijuluki
panutan wanita anggun itu, Masachika spontan menatap belakang kepala adiknya
dengan pandangan seperti melihat sesuatu yang tidak menyenangkan.
"Kenapa menatapku dengan mata
seperti itu, sih~! Gara-gara sama-sama sibuk, ini kan sudah lama banget kita
tidak menikmati waktu sebagai kakak adik~!"
"Aah... kalau dipikir-pikir benar
juga, ya?"
Masachika mengedarkan pandangannya
mendengar kata-kata Yuki, lalu
menyadari bahwa hal itu memang benar. Dan
jika dipikir-pikir kembali, tidak punya waktu bersama sebagai kakak adik selama
lebih dari sepuluh hari adalah hal yang cukup langka.
"Yah, mungkin Onii-chan tidak begitu
memikirkannya gara-gara menikmati waktu bersenang-senang dengan Alya-san,
sih~?"
"Tidak... tidak begitu, kok?"
Mendapat tatapan menyipit tajam dari
bawah, Masachika mengalihkan
pandangannya gara-gara canggung. Saat
itu, Yuki berguling miring di atas meja, lalu menempelkan kedua tangannya di
bawah mata untuk berpura-pura menangis secara jelas.
"Hiks, hiks, kesepian
bangeeet."
"Iya, iya, ternyata kesepian, ya.
Aku paham, jadi untuk sementara turun dulu dari meja, ya? Ya?"
Saat Masachika menasihatinya begitu, Yuki
merosot turun dari meja secara perlahan. Rambut hitam panjangnya yang terurai
di atas meja terseret menghilang di ujung meja, lalu dikibaskan begitu saja
seperti sepasang sayap. Setelah mengibaskan rambutnya yang berantakan ke
belakang, Yuki duduk bersandar di kursi dengan santai. Ia bahkan menyilangkan
kaki sambil bersandar dengan dada membusung, lalu mengangkat dagunya dengan
angkuh.
"Jadi sekarang, manjakan aku."
"Bukan, emosimu ini gimana,
sih...?"
Masachika merasa heran pada perubahan
karakter adiknya yang begitu drastis, tetapi Yuki sama sekali tidak
memedulikannya dan menaikkan alisnya dengan gaya bersandiwara.
"Ada apa? Cepat lakukan, dong."
Sikapnya benar-benar seperti atasan jahat
yang menyodorkan permintaan tidak masuk akal pada bawahannya, hingga Masachika
mau tidak mau memilih untuk ikut-ikutan saja. Perasaannya saat ini seperti
pegawai bank yang dituntut untuk meminta maaf di hadapan publik.
Menempelkan kedua tangannya di meja lalu
mengatupkan bibirnya rapat-rapat, ia bertanya dengan suara berguncang penuh
kebingungan dan keputusasaan.
"Di sini, kah...?"
"Benar. Di sini, aku bilang cepat
manjakan aku sekarang juga, Masachika-kun."
"Tapi, di sini kan...!"
"Di sini? Kenapa, tidak bisa,
kah?"
"Uh...!"
Mendengar perkataan Yuki, Masachika
menundukkan kepala dalam-dalam sambil kedua tangannya gemetar, lalu memaksakan
suara penuh penderitaan keluar dari tenggorokannya.
"Saya, paham...!"
Lalu, setelah duduk di kursi secara
perlahan, ia mendadak
mendongakkan wajahnya dan menaruh
tangannya di sandaran kursi di sebelahnya. Kemudian, dengan gaya wajah dan
suara ijol keren maksimal, ia membocorkan satu kalimat.
"Kemarilah."
"Pfft-hahah!"
"Sip, mari kita sudahi."
"Aahn, bohong, bohong. Onii-chan
keren bangeeet~"
Tepat saat Masachika berdiri dari
kursinya, Yuki secara bertingkah manja mendatangi Masachika dengan suara manis.
Lalu setelah duduk di kursi sebelah Masachika, Yuki menikmati waktu memanjakan
diri pada kakaknya sepuasnya setelah sekian lama. Masachika pun memanjakan Yuki
sambil tersenyum kecut pada adiknya. Ayano menjadi angin lalu.
Begitu Masachika membujuk suasana hati
Yuki selama sekitar lima belas menit, ponsel Masachika bergetar, memberi tahu
kedatangan sang kakek.
"Ngh, Kakek sudah sampai, nih."
"Ooh, selamat jalaaan."
"Iya, aku pergi dulu, ya... eh,
ngomong-ngomong Ayano pergi ke mana?"
Mencari keberadaan teman masa kecilnya
yang menghilang entah sejak kapan, Masachika mengedarkan pandangannya ke
sekeliling ruang OSIS. Namun, sosok Ayano tidak ada di mana pun.
"Eh? Bukannya dia peka situasi lalu
jadi angin lalu dan berjaga di luar?"
"Kamu ini... enggak, aku yang tidak
menyadarinya juga tidak punya hak untuk berkomentar, sih..."
Menggelengkan kepalanya ke kiri dan ke
kanan, begitu ia membuka pintu ruang OSIS secara perlahan, di sana berdiri
Ayano seperti kata Yuki, sedang bersiap bak seorang pengawal atau semacamnya.
Tidak, kenyataannya ia memang sedang berjaga demi melindungi topeng wanita
anggun milik tuannya (Yuki), jadi kalau dianggap sebagai pengawal secara
persepsi memang sudah benar, sih.
"...Maaf, ya."
"? Soal apa?"
Padahal ia sempat memarahi Yuki dengan
kalimat "Jangan mengabaikan keberadaan Ayano!", tapi dirinya sendiri
justru melupakan keberadaannya secara biasa, membuat rasa bersalah Masachika
mencapai puncaknya. Namun, Ayano sama sekali tidak memahami perasaan Masachika
itu dan hanya memiringkan kepalanya dengan wajah tanpa ekspresi.
Sebagai bentuk apresiasi dan permintaan
maaf pada Ayano, Masachika mengelus-elus kepalanya pelan, membuat Ayano
memejamkan satu matanya karena merasa geli.
"Kalau begitu... aku pergi dulu,
ya."
"Selamat jalaaan~"
"Selamat jalan."
Mengucapkan perpisahan pada mereka berdua
dengan perasaan yang
tak terlukiskan, Masachika mengambil
barang bawaannya lalu melangkah menuju gerbang utama tempat kakeknya menunggu.
Setelah berjalan melewati gedung sekolah
dan mengganti sepatu di rak sepatu, Masachika melanjutkan langkah menuju
gerbang utama... dan mendadak ingin berbalik arah sekuat tenaga. Namun, sebelum
sempat melakukannya, seseorang dari arah sana lebih dulu menyapanya, membuatnya
tak bisa lagi kabur.
"Ooh, Masachika, kamu datang
juga!"
"Kakek..."
Di sana berdiri seorang lansia periang
dengan kepala botak plontos yang mengilap. Beliau adalah kakek dari pihak ayah
Masachika, sekaligus orang yang sejak kecil menjejali Masachika dengan sastra
dan film Rusia. Namanya Kuze Tomohisa. Berbeda dengan kakek dari pihak ibunya,
Suou Gensei, hubungan Tomohisa dengan Masachika sangatlah dekat. Buktinya,
beliau bahkan bersedia datang menggantikan ayah Masachika yang sibuk bekerja
sebagai wali dalam wawancara tiga pihak.
Berdiri tegak dengan gagah, beliau
sedikit mengangkat topi soft hat putihnya sambil tersenyum gembira melihat
kedatangan cucunya. Penampilannya benar-benar memancarkan aura seorang kakek
tua yang baik hati... tapi masalahnya adalah pakaiannya.
"Kenapa Kakek pakai setelan jas
putih!?"
"Eh? Keren, kan?"
"Setelan kayak begitu cuma dipakai
sama narsis tingkat akut atau mafia asing, tahu!!"
"Hmm... Oh begitu, mungkin karena
kurang ini, ya."
Tomohisa menanggapi teriakan Masachika
yang penuh prasangka itu dengan santai. Seolah tidak begitu paham, beliau
membetulkan posisi topinya, lalu merogoh saku dalam jasnya, mengeluarkan
kacamata hitam, lalu memakainya dengan sigap.
"Nah, keren, kan?"
"Malah makin mirip mafia, Kakek!
Bener-bener kayak bos mafia yang sudah pensiun! Tinggal pakai jubah atau
mengalungkan syal misterius yang mirip syal itu di leher, Kakek bakal jadi
sempurna!"
"Syal? Kakek punya, kok."
"Kenapa Kakek punya juga!"
Kali ini, Tomohisa mengeluarkan selembar
kain putih yang terlipat dari saku dalam jas di sisi lainnya. Menahan
tindakannya, Masachika segera menyeret Tomohisa masuk ke dalam gedung sekolah
sebelum beliau makin menarik perhatian.
"Duh, kenapa Kakek harus datang
dengan pakaian memalukan begitu, sih...!"
"Kakek pikir ini modis..."
"Pasti gara-gara terpengaruh film
lagi, kan? Lagipula, dari mana Kakek dapat pakaian seperti ini."
"Kakek beli pakai uang pensiun yang
tidak seberapa demi hari ini, lho?"
"Kakek bakal dimarahi Nenek,
kan."
Sambil melontarkan sapaan dengan suara
yang seolah menahan amarah dan rasa malu, Masachika berjalan cepat menuju
gedung sekolah. Jujur saja, ia tidak ingin terlihat berjalan bersama kakeknya
ini oleh orang lain.
Mengganti sepatu di rak sepatu dengan
sepatu dalam sekolah, lalu memakaikan sandal tamu untuk kakeknya, Masachika
berjalan lurus menuju ruang kelas.
"Hei Masachika, sepertinya masih ada
waktu, Kakek ingin berkeliling melihat-lihat sekolah..."
"Ditolak mentah-mentah."
"Kenapa? Apa sebegitu memalukannya
berjalan bersama Kakek?"
"Memalukan."
"Mmm... kalau begitu Kakek pergi
sendiri..."
"Jangan, Kakek pasti bakal
tertangkap karena dikira orang mencurigakan."
Begitulah, Masachika harus merayu dan
membujuk kakeknya yang luar biasa tidak bisa diam untuk usia tujuh puluh satu
tahun, dan entah bagaimana berhasil membuatnya duduk di kursi yang disediakan
di luar ruang kelas. Kemudian, topik pembicaraan beralih ke ayah Masachika.
"Hmm... tapi, apakah Kyoutarou masih
sibuk?"
"Yah, sepertinya mulai tahun ini dia
bertugas di kedutaan besar Inggris... jadi mungkin banyak hal yang merepotkan,
kan?"
Ayah Masachika, Kyoutarou, adalah seorang
diplomat. Sampai tahun lalu beliau bertugas di kantor pusat Kementerian Luar
Negeri, tetapi mulai tahun ajaran ini beliau bertugas di kantor perwakilan luar
negeri.
Ayah memang tipe yang jarang di rumah,
tetapi karena tempat kerjanya sekarang di luar negeri, beliau hampir tidak
pernah pulang ke rumah.
Bahkan untuk wawancara tiga pihak, beliau
harus meminta bantuan Tomohisa. Hal itu membuat Tomohisa sedikit merapatkan
alisnya.
"Begitu ya... tapi, setidaknya untuk
wawancara tiga pihak, ya?"
"Mau bagaimana lagi. Perjalanannya
saja gampang makan waktu separuh hari lebih, lho."
"Begitu ya? Masachika memang anak
yang baik, ya."
"Hentikan, Kek."
Masachika menepis tangan Tomohisa yang
hendak mengelus kepalanya dengan malu-malu. Dalam kondisi seperti itu, mereka
berdua akhirnya memperlihatkan hubungan kakek dan cucu yang hangat dan
menggemaskan yang sering terlihat di masyarakat umum... namun, di
saat pintu ruang kelas terbuka, hal itu
sirna dalam sekejap.
"Permisi."
"Terima kasih banyak, Pak
Guru."
Alisa dan seorang wanita yang tampaknya
adalah ibunya keluar dari ruang kelas. Tomohisa membelalakkan matanya
lebar-lebar melihat mereka berdua... atau lebih tepatnya melihat Alisa.
(Gawat! Gara-gara terlalu banyak
kejadian, aku jadi lupa memperingatinya!)
Masachika menyesal karena harusnya ia
memberi tahu Tomohisa terlebih dahulu, tetapi penyesalan itu sudah terlambat.
"Eh,
Kuze-ku──"
"Keajaiban Eropa Timur!!"
"Kakek, tolong hentikan
seriusan!"
Tomohisa berdiri secara mendadak, lalu
merentangkan kedua tangannya seolah sedang bersyukur kepada Tuhan, sementara
Masachika berusaha setengah mati untuk membuatnya duduk kembali di kursi.
Lalu, ia terburu-buru memberikan
penjelasan kepada Alisa yang mundur secara tersentak gara-gara kaget.
"Bukan, maaf ya, Alya. Ini kakekku,
tapi sepertinya kekagumannya pada Rusia agak terlalu kuat..."
"Eh, a, begitu ya..."
"Nona manis, namamu siapa?"
"Makanya tolong hentikan
seriusan!?"
Tomohisa berusaha mendekati Alisa dengan
ekspresi dan kalimat yang benar-benar terkesan seperti penggoda jalanan,
sementara Masachika menahannya sambil terus-menerus meminta maaf dengan tulus.
"Maaf, beneran maaf banget. Seriusan
tidak usah diladeni tidak apa-apa."
"A, Kakek yang... periang, ya?"
Kata-kata Alisa yang penuh perhatian
justru menusuk dada Masachika.
Sebelum anggota keluarganya ini makin
mempermalukan diri sendiri, Masachika berniat menyuruhnya pulang secepatnya.
Sambil mencengkeram leher baju Tomohisa dengan tangan kiri, ia mengarahkan
tangan kanannya ke pihak lawan dan mendorong mereka seolah berkata
"Silakan kalian pulang dulu". Namun, saat itu sosok yang tampaknya
adalah ibu Alisa melangkah maju lalu menyapa Masachika.
"Anu, mohon maaf. Apakah kamu...
Kuze-kun?"
"Eh, a, iya benar. Salam kenal, nama
saya Kuze Masachika. Apakah Anda ibu dari Alisa-san?"
Disapa oleh wanita yang lebih tua,
Masachika seketika melepaskan
tangannya dari Tomohisa, lalu menyapa
berdasarkan tata krama yang telah ditanamkan ke dalam dirinya sejak kecil.
Sapaan yang begitu tenang dan sopan, sama
sekali tidak memperlihatkan kekacauan yang terjadi tepat sebelumnya, membuat
wanita di hadapannya menempelkan tangan di mulut karena kagum, dan Alisa juga
membelalakkan matanya terkejut.
"Ara, ara, sopan sekali... Salam
kenal. Saya ibu Alisa, Kujou Akemi. Saya sering mendengar cerita soal Kuze-kun
dari putri saya."
"Itu... haha, syukurlah kalau bukan
cerita yang buruk."
"Fufufu, dia menceritakannya dengan
sangat gembira, lho?"
"...Begitu ya."
Terlepas dari isinya, yang jelas dia
menceritakannya dengan gembira.
Hanya dengan hal itu, Masachika sudah
bisa menebak situasi secara garis besar.
Lalu, ia mengamati wanita di hadapannya
sekali lagi. Rambut hitam sebahu yang bergelombang lembut, serta penampilan
yang lembut dan tertata yang membuat orang mudah membayangkan kalau beliau
pasti sangat populer pada masa mudanya. Bentuk tubuh yang penuh keibuan dan
pesona, yang membuat orang paham kalau Alisa dan Maria terlahir dari ibu ini.
Wajahnya sendiri... sepertinya mirip Maria.
(Dari wajah Masha-san, kalau dihilangkan
kesan warga asingnya bakal jadi seperti ini... kah? Bukan, ketimbang wajah,
rasanya atmosfernya yang mirip.)
Penampilan yang memancarkan atmosfer yang
tenang, benar-benar tipe Santa Bunda (Madona) yang penuh keibuan dan kasih
sayang. Jika beliau adalah seorang selebritas, dipastikan beliau adalah wanita
paruh baya cantik yang bakal memiliki kepopuleran mutlak di kalangan orang tua.
Namun, di saat yang sama, tatapan matanya
menyiratkan kecerdasan yang tulus, membuat orang bisa menebak kalau beliau
bukan hanya wanita yang lembut semata.
(Apa? Apa aku sedang dinilai?
Bagaimanapun juga, sepertinya aku harus berhati-hati dalam memberikan
balasan...)
Sambil tetap memamerkan senyuman,
Masachika mengamati dan memikirkannya dalam waktu hanya dua detik, lalu menatap
Akemi dengan penuh kewaspadaan. Seolah menyadari kewaspadaan Masachika, Akemi
sedikit menambah kemanisan senyumannya.
Masachika
pun menyadari kalau kewaspadaannya telah ketahuan, hingga ia makin meningkatkan
level kewaspadaannya. Begitulah, di tengah ketegangan Akemi perlahan membuka
mulutnya, dan Masachika bersiap di balik senyumannya──
"Ngomong-ngomong, apakah Kuze-kun
pandai berdansa?"
Mendapat pertanyaan yang benar-benar di
luar dugaan membuat Masachika membeku selama beberapa saat. Sambil mengedipkan
matanya berkali-kali, ia spontan bertanya balik dengan nada biasa.
"Berdansa... kah?"
"Iya."
Dibenarkan dengan sikap yang terkesan
sangat wajar membuat Masachika kebingungan.
(Berdansa... eh, apa-apaan? Apa semacam
kiasan? Apa maksud dari pertanyaan itu? Aduh, tidak paham!)
Apakah ia harus menjawab jujur
"Lumayan lah, ya..."? Tapi, apakah boleh memberikan jawaban sekadar
biasa saja begitu. Di saat Masachika yang dilanda kebingungan belum memberikan
jawaban, Alisa menegur Akemi dengan raut wajah jera.
"Ibu, apa-apaan pertanyaan itu.
Kuze-kun kan jadi kebingungan."
"Eeh?"
"Kenapa malah berdansa?"
"Eeeh~? Soalnya bahunya agak
landai?"
Menempelkan tangan di pipi sambil menatap
ke arah atas serong, Akemi membocorkan hal yang tidak begitu dipahami.
Sebenarnya bukan apa-apa. Itu memang ucapan polos yang sangat ajaib. Seperti
dugaan, beliau memang ibunya Maria.
Masachika yang tadinya sangat waspada
mendadak menjadi lemas tanpa daya, tetapi di saat itu Tomohisa mendekati Alisa
dengan sigap, lalu merangkul kedua tangan Alisa dengan kedua tangannya lewat
gerakan yang luar biasa alami.
"Nona manis, maukah kamu jadi
cucuku?"
"Eh, eh?"
"Woi Kakek!"
Melihat kakeknya yang membocorkan hal
tidak masuk akal dalam posisi yang benar-benar seperti sedang melamar,
Masachika berteriak tanpa memedulikan tata krama lagi.
"Bagaimana?
Apa kamu ada niat jadi istrinya Masachika──"
"Beneran diam deh, Kakek!!"
Membungkam mulut kakeknya dari belakang
dengan tangan untuk memaksa Tomohisa diam, Masachika menariknya menjauh dari
Alisa dengan sekuat tenaga.
"Anu, kalau begitu berhubung
wawancaranya mau dimulai, kami permisi dulu, ya!"
"A, iya."
"Benar juga, ya. Kalau begitu,
sampai jumpa lagi."
Memotong pembicaraan secara paksa,
Masachika mengucapkan perpisahan pada Alisa dan Akemi. Melepas keberangkatan
mereka berdua yang membungkuk pelan lalu berlalu pergi, Masachika akhirnya
melepaskan tangannya dari Tomohisa.
"Lalu? Bagaimana Masachika, apa kamu
berniat menjadikannya istri?"
"Makanya diam deh, Kek."
"Lalu? Apa Alya-chan bakal jadi
istrinya Kuze-kun?"
"Ibu diam deh."
Sama persis di saat Masachika mengarahkan
pandangan mata menyipit tajam pada kakeknya yang tidak kapok-kapok, dari lokasi
yang agak jauh terdengar percakapan ibu dan anak tersebut, hingga Masachika
membatin "Sama-sama merepotkan ya..." sambil memberikan rasa
simpatinya pada Alisa.
Setelah berhasil menenangkan diri,
Masachika kembali mengarahkan pandangannya ke ruang kelas... Di sana, wali
kelasnya berdiri dengan senyum kaku yang tampak dipaksakan. Menyadari bahwa
semuanya ternyata terdengar jelas, Masachika hanya bisa mendongak ke langit
sambil membatin, "Ternyata kedengaran semuanya…”
◇
"Kalau begitu, kami permisi..."
"Kami permisi."
Setelah itu, entah bagaimana mereka
berhasil menyelesaikan wawancara tiga pihak, dan Masachika bersama Tomohisa
melangkah keluar dari ruang kelas. Mungkin karena jadwalnya agak senggang, di
luar ruang kelas belum ada pasangan orang tua dan anak selanjutnya yang datang,
sehingga Masachika dan Tomohisa langsung melangkah menuju tangga.
"Lalu, soal Alisa-san yang
tadi...?"
"Tidak usah memperpanjang pembahasan
itu, ah."
Sambil menepis pancingan dari Tomohisa,
Masachika merasa lega karena setidaknya berhasil menyelesaikan wawancara tiga
pihak... Dan pada akhirnya, hal itulah yang menjadi kesalahan. Harusnya,
Masachika lebih berhati-hati. Namun, gara-gara dibuat kerepotan setengah mati
oleh Tomohisa, hal itu menguap begitu saja dari kepalanya... Hasilnya, tepat
saat keluar menuju koridor di depan pintu masuk utama, mereka berpapasan secara
telak.
"!"
Begitu melihat sosok itu, Masachika
seketika merasa darahnya serasa terkuras dari seluruh tubuh. Orang di
hadapannya juga menyadari keberadaan Masachika dan sempat membelalakkan mata,
sebelum perlahan mengalihkan pandangannya.
"Ooh, Yumi-san. Sudah lama tidak
bertemu, ya."
"Sudah lama tidak bertemu... Ayah
Mertua."
Jeda sesaat itu mungkin karena ia merasa
ragu memanggilnya 'Ayah Mertua' meskipun mereka sudah bercerai, atau karena
memikirkan hubungan mereka yang secara lahiriah kini dianggap sebagai orang
asing, atau mungkin keduanya.
Bagaimanapun juga, Tomohisa yang sama
sekali tidak memedulikannya tersenyum lebar, lalu menyapa Yumi dengan akrab.
"Syukurlah kamu kelihatan
sehat-sehat saja. Yuki juga sehat?"
"Iya, Kakek. Kakek sendiri...
sepertinya mengenakan pakaian yang cukup luar biasa, ya?"
"Ngh? Keren, kan?"
"Fufu, benar, ya."
"Kan! Masachika malah bilang
penampilanku jelek, tahu."
Mendengar penilaian tinggi dari cucu
perempuannya membuat Tomohisa tertawa gembira, lalu beliau bergantian menatap
Yuki dan Yumi sambil berbicara.
"Bagaimana, apa kamu akrab dengan
ibumu?"
"Iya, tentu saja. Iya kan,
Ibu?"
"Begitu... ya..."
Menanggapi putrinya yang mengarahkan
senyuman anggun namun polos, Yumi membiarkan senyuman tipis meluncur dengan
sungkan.
Masachika menatap sosok itu dengan
pandangan mata dingin total.
(Bohong banget, memamerkan senyuman palsu
buatan begitu. Kalau beneran akrab, Yuki pasti sudah memperlihatkan sifat
aslinya.)
Bahkan tidak mampu memancing ekspresi
asli putrinya sendiri, apa-apanya yang seorang ibu. Demi orang seperti ini,
kenapa Yuki harus...
"Uh...!"
Mengatupkan giginya rapat-rapat,
Masachika berusaha setengah mati menahan rasa benci yang merayap membakar
paru-parunya bagai api.
Namun, hanya dengan melihat ibu ini saja,
kenangan masa lalu yang tersegel di lubuk ingatannya kembali bangkit mau tidak
mau, membuat gelombang emosi pekat yang memuakkan kembali menyembur dari dasar
dirinya. Setiap kali ia menarik napas demi menenangkan diri, cairan dingin
menjalar hingga ke ujung-ujung jemarinya, sebaliknya di permukaan kulit terasa
hawa panas berkeringat merembes pelan.
Meskipun begitu, seolah menganggap
memalingkan pandangan berarti kekalahan, Masachika sama sekali tidak
memalingkan matanya dari Yumi. Namun, Yumi kukuh tidak mau melihat ke arah
Masachika.
Kepada putra yang baru ditemuinya kembali
setelah sekian lama, tak ada sepatah kata, tak ada saling pandang, tak ada satu
pun yang diarahkan padanya.
(...Apa-apaan, ternyata begitu lagi, ya.)
Seketika itu juga, api yang membara di
dalam diri Masachika, maupun hawa panas yang mengelus permukaan kulitnya, sirna
total dalam sekejap. Yang menyelimuti tubuhnya apakah rasa kecewa, atau
kepasrahan... bagaimanapun juga, bagi Masachika hal itu sudah tidak ada
hubungannya lagi. Hal itu sudah menjadi sesuatu yang tidak penting lagi
baginya.
"Kakek, ayo pergi sekarang. Di sini
menarik perhatian orang-orang."
Saat Masachika menyapa dengan suara datar
tanpa emosi, Tomohisa memperlihatkan sikap agak memedulikan sekeliling lalu
mengangguk pelan.
"Ooh, begitu ya... Kalau begitu
sampai jumpa lagi, kalian berdua."
"Iya, di libur musim panas nanti
saya bakal main lagi, ya?"
"...Uh, ...permisi."
Satu momen Yumi sempat membuka mulutnya
hendak mengatakan sesuatu, tetapi pada akhirnya tidak menjadi kata-kata. Yumi
menundukkan kepalanya sedikit, lalu berjalan menuju tangga didampingi oleh
Yuki. Tanpa melepas keberangkatan punggung mereka, Masachika bergegas mengganti
sepatunya. Tomohisa juga tanpa mengutarakan hal yang tidak perlu, mengganti
sandalnya dengan sepatu.
"Aah~ begitu keluar lagi rasanya
panas banget, ya."
Keluar dari pintu masuk utama, melihat
Tomohisa yang menyipitkan wajahnya disiram sinar matahari yang menyilaukan,
Masachika mengarahkan wajah heran pada beliau.
"Itu gara-gara Kakek pakai pakaian
seperti itu, tahu."
"Tapi ya, mana mungkin Kakek datang
pakai kaos polo biasa, kan."
"Malahan masih jauh mendingan pakai
itu, tahu..."
"Masa sih, Yuki tadi bilang
penampilanku keren, lho?"
"Itu sih jelas-jelas cuma
basa-basi."
Melihat Masachika yang membalas sambil
tersenyum setengah keheranan, Tomohisa memasang raut tidak puas, lalu mendongak
menatap langit dan berucap.
"Tapi ya, Yuki itu makin lama makin
mirip Yumi-san, ya... walau tingginya masih kurang, sih."
"...Iya."
Mendapat balasan yang seketika menjadi
tidak bersemangat dari Masachika, Tomohisa bertanya diselingi senyum kecut.
"Kenapa, kamu masih benci
Yumi-san?"
"..."
Mendapat pertanyaan tajam dari Tomohisa,
Masachika membalas dengan keheningan. Melihat cucunya yang memperlihatkan
reaksi yang begitu mudah dipahami, Tomohisa mengelus dagunya dengan pandangan
penuh makna.
"Ajaib juga, ya. Kakek pikir
Yumi-san itu sangat mirip dengamu, lho."
"Mirip? Hah."
Masachika tertawa pelan seolah
menganggapnya candaan yang tidak lucu, tetapi Tomohisa mengangguk tanpa merasa
gentar.
"Mirip, kok. Kalau penampilan luar
kamu itu memang persis seperti Kyoutarou waktu muda, tapi sifat dalam dirimu
sangat mirip dengan Yumi-san. Sebaliknya, Yuki itu penampilan luarnya persis
Yumi-san, tapi sifat dalam dirinya lumayan mirip Kyoutarou, lho."
"..."
"Yah, mau kamu ataupun Yuki, kalau
cuma bagian mata sih memang
tidak mirip dengan salah satu dari kedua
orang tua kalian... tapi mata itu diturunkan dari siapa, ya?"
"Entahlah."
Sambil menyentuh matanya yang menjadi
satu-satunya bagian yang persis sama dan menandakan bahwa Masachika dan Yuki
adalah saudara kandung, Masachika menggidikkan bahunya.
Melihat reaksi keras kepala Masachika
yang tidak kunjung luntur, Tomohisa juga mengangkat bahunya pelan, lalu
bersuara seolah mengalihkan suasana hati.
"Aah~ lagipula panas banget ya~...
Bagaimana? Mau pergi makan es serut ke suatu tempat?"
"Es serut... mana bisa ketemu
tempatnya secepat itu."
"Masa sih? Kalau dicari
sebentar..."
Melihat Tomohisa yang mengeluarkan
ponselnya dan benar-benar mulai mencoba mencarinya, Masachika merasa separuh
kagum dan separuh heran sambil membatin, Dalam berbagai arti gaul banget ya,
lalu berkata dengan nada lelah.
"Gak ah, tidak usah pergi makan...
aku mau langsung pulang saja."
"Kenapa? Kamu lelah? Kalau
dipikir-pikir raut wajahmu kelihatan agak pucat..."
Mengambil jarak dari Tomohisa yang
mengintip ke arahnya dengan
cemas, Masachika mengarahkan wajahnya ke
depan.
"Itu cuma kelihatan begitu gara-gara
terik sinar matahari, kan? Bukan itu, aku murni cuma ingin cepat-cepat pulang
terus mandi shower."
"Aduh, cucu yang tidak seru banget
sih."
"Kalau Kakek dandanannya agak lebih
wajar sedikit mungkin aku bakal ada niat buat menemani, lho."
Masachika mengarahkan pandangan mata
menyipit tajam pada Tomohisa yang mengibaskan kipas lipat entah dari mana ke
wajahnya.
Sosoknya sekilas tampak seperti Masachika yang biasanya... namun entah kenapa, ia juga terlihat rapuh bagaikan anak kecil yang lelah menangis.



Post a Comment