NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Tokidoki Bosotto Russia-go de Dereru Tonari no Alya-sa Volume 2 Chapter 5

Bab 5: Yang Besar Itu Bagus


"Ash, jam istirahat siang nih. Masachika, Hikaru, kalian mau bagaimana? Aku sih hari ini sudah beli."

 

"Hee, jarang-jarang ya."

 

"Habisnya kalau makan di kantin terus kan bosan~"

 

"Aku hari ini bawa bekal sih."

 

"Ah, begitu? Kalau begitu aku juga mau beli sesuatu di koperasi deh."

 

"Aah~ aku juga cuma mau beli minuman saja ah."

 

Begitu keluar dari kelas dia berpisah dengan Hikaru, dan Masachika mulai melangkah menuju mesin penjual otomatis yang berada di lantai satu gedung sekolah.

 

Namun, saat dirinya hampir sampai di tangga, mendadak ada suara yang memanggilnya dari belakang.

 

"Masachika-sama."

 

Meskipun sempat terkejut sesaat oleh suara yang terdengar dari tepat di belakangnya itu, Masachika yang langsung menyadari siapa pemilik suara tersebut berpura-pura tenang lalu menoleh.

 

"Ayano... ada urusan apa?"

 

Yang berada di belakangnya adalah Kimishima Ayano yang baru bergabung dengan OSIS kemarin. Dia adalah pelayan Yuki, sekaligus keberadaan yang bisa dipanggil sebagai teman masa kecil Masachika yang sebenarnya dalam artian tertentu.

 

"Maaf mendadak. Bisakah saya meminta waktu Anda sebentar?"

 

Ayano membungkuk memberi hormat secara anggun untuk meminta maaf atas ketidaksopanannya, lalu dari balik poninya yang panjang, matanya yang tidak bisa dibaca emosinya menatap Masachika secara lekat-lekat.

 

"...Paham. Lebih baik di tempat yang tidak ada orang, kan?"

 

"Terima kasih banyak. Mari lewat sini."

 

Tampaknya dia sudah menentukan tempatnya, Ayano melangkah dengan cepat ke depan Masachika lalu mulai memandu jalan.

 

(Seperti biasa, orang ini bagaikan ninja ya.)

 

Sambil menatap punggung yang tegap itu, Masachika bergumam di dalam hati. Hal itu dikarenakan... biarpun jika dilihat secara umum penampilan Ayano sudah sangat cukup untuk dipanggil sebagai gadis cantik, keberadaannya benar-benar tidak terasa secara mengejutkan.

 

Sampai-sampai dia sama sekali tidak menyadari kedatangannya sebelum Ayano berada cukup dekat untuk membuat suaranya yang tidak bisa dibilang keras itu terdengar jelas..

...Nggak, mari hentikan cara penyampaian samar berupa tidak terasa keberadaannya. Cuma saja, karena dia melakukan segala gerakan hampir tanpa menimbulkan suara, ditambah lagi dilakukan pada saat pandangan mata orang-orang di sekitarnya teralih, jika tidak memperhatikan maka gerakannya tidak bakal disadari. Saat tersadar dia sudah tidak ada, dan saat tersadar lagi dia sudah ada di dekat.

 

(Yah, berhubung yang bersangkutan juga tidak bermaksud buruk jadi aku tidak bisa bilang apa-apa sih...)

 

Bukannya Ayano melakukan gerak-gerik seperti ini karena ingin mengejutkan seseorang. Dalam kondisi alaminya, dia memang pendiam, tanpa suara, dan tanpa ekspresi. Lagipula dari awalnya Ayano hampir tidak pernah mengajak orang lain berbicara dari dirinya sendiri, jadi jangankan mengejutkan atau apa. Bagi Masachika yang merupakan teman lamanya pun, diajak bicara secara spontan oleh Ayano adalah pengalaman yang langka.

 

"Silakan."

 

Begitu berhenti di depan sebuah ruang kelas kosong, Ayano membuka pintu tanpa suara secara halus (kenapa pada pintu geser dia bisa melakukan hal seperti itu tidak diketahui alasannya), lalu mengajak Masachika masuk ke dalam.

 

Diajak masuk ke dalam kelas, Ayano kembali menutup pintu tanpa suara lalu menyalakan lampu. Lalu, begitu tiba di depan Masachika dia kembali membungkuk memberi hormat.

 

"Atas waktu berharga Masachika-sama kali ini──"

 

"Ah, sudah tidak apa-apa. Topik utamanya?"

 

"Permisi. Kalau begitu──"

 

Mendongakkan wajahnya, Ayano menatap Masachika secara lurus.

 

Walau dengan tanpa ekspresi seperti biasa, pada matanya ada sedikit ketajaman.

 

"Saya mendengarnya dari Yuki-sama. Bahwa Masachika-sama akan mencalonkan diri dalam masa pemilihan bersama Kujou-sama. Apakah hal tersebut tidak salah?"

 

"...Ya."

 

Saat Masachika mengangguk, Ayano memejamkan matanya sesaat... dan saat kembali mengangkat pandangan matanya, di mata itu bersemayam kilatan dingin.

 

"Mengenai kejadian kali ini, Tuan Kepala Keluarga merasa sangat tidak berkenan."

 

"!"

 

Memdengar informasi yang diberitahukan Ayano, Masachika menahan napas.

 

Kepala keluarga yang dikatakan Ayano tepatnya adalah kakek dari pihak ibu bagi Masachika dan Yuki, yakni Kepala Keluarga Suou saat ini.

 

"Beliau sangat marah dan mempertanyakan apa maksud Masachika-sama yang telah membuang keluarga Suou, justru datang mengganggu Yuki-sama."

 

"..."

 

Hal itu bukanlah hal yang mengejutkan bagi Masachika. Bagi kakeknya yang menjunjung tinggi nama baik keluarga Suou di atas siapa pun, tentu saja hal yang wajar jika beliau tidak menyukai keputusan Masachika kali ini.

 

Bahwa jalan elit Yuki sebagai penerus keluarga Suou diganggu oleh Masachika yang telah membuang keluarga Suou, bagi kakeknya itu adalah hal yang tidak boleh diampuni.

 

Hal yang sudah sangat jelas. Padahal dia harusnya bisa mengantisipasi kalau bakal jadi begini... kenapa otaknya tidak sampai memikirkannya ke sana?

 

(Kakek tua sialan...)

 

Kepada kakek di dalam ingatannya, Masachika mengumpat di dalam hati.

 

Dari awal, kenyataan bahwa Masachika dan Yuki mempertahankan

setting sebagai teman masa kecil di hadapan publik pun, merupakan keinginan dari kakeknya. Bagi Masachika hal itu cuma bisa dibilang "konyol banget", tapi kalau menurut kakeknya, fakta bahwa Masachika yang merupakan penerus sebenarnya telah membuang keluarga adalah sebuah skandal bagi keluarga Suou. Karena itulah sebagai syarat saat keluar dari rumah, Masachika dipaksa berjanji untuk tidak

membeberkan bahwa dirinya adalah kerabat keluarga Suou sama sekali.

 

Bukannya Masachika punya kewajiban buat menepati janji ini sih, tapi jika membuat kakeknya marah besar, sasaran dari ketidakpuasannya bakal diarahkan kepada adiknya yang tersisa di keluarga Suou.

 

Karena paham soal itulah, demi adik perempuan yang dicintainya, Masachika sampai sekarang menepati janjinya pada sang kakek.

 

Selama ini, dia dengan patuh menuruti keinginan kakeknya.

 

"Lalu? Kamu diutus buat menanyakan niat yang sebenarnya begitu?"

 

"...Bukan, ini adalah keinginan saya sendiri."

 

"Hee?"

 

Mengira kalau ini adalah perintah dari kakeknya, Masachika menaikkan alisnya atas kata-kata Ayano. Melihat Masachika yang memasang ekspresi penuh rasa terkejut, Ayano melanjutkannya secara sangat serius dengan mata dingin.

"Membuka jalan bagi tuannya juga merupakan tugas seorang pelayan. Saya sebagai pelayan Yuki-sama, jika ada orang yang memusuhi Tuan saya maka saya harus mengukur niat yang sebenarnya."

 

"Setia banget ya. Seperti samurai saja."

 

Meski mengutarakannya dengan nada seperti mengejek, pada suara Masachika tidak ada warna penghinaan maupun cemoohan. Walau kata-katanya terkesan muluk-muluk, karena dia tahu bahwa tekad yang terkandung dalam kata-kata itu benar-benar tulus, Masachika pun ikut menegakkan punggungnya.

 

(Kenapa, ya...)

 

Lalu, dia sekali lagi merenungkan tindakannya sendiri. Pencalonan diri bersama Alisa sebagai kandidat lawan Yuki. Kalau dipikir secara biasa, ini adalah keputusan yang tidak mungkin diambil oleh Kuze Masachika.

 

Sampai memancing kemarahan kakeknya dan bertolak belakang dengan adik perempuan yang dicintainya, sebenarnya apa yang ingin didapatkannya?

 

Kehormatan sebagai Wakil Ketua? Dia tidak ada ketertarikan pada hal semacam itu. Masachika cuma... tidak bisa membiarkan Alisa begitu saja. Pada akhirnya, cuma sebatas itu saja.

 

"Saya... tadinya percaya."

 

Kepada Masachika yang merenung dalam, Ayano mengarahkan mata yang seolah menyalahkan.

 

"Bahwa Masachika-sama... tidak akan pernah melakukan hal yang membuat Yuki-sama bersedih. Apakah hal itu... merupakan sebuah kesalahan?"

 

"..."

 

Mendengar suara Ayano yang dipenuhi rasa pahit, Masachika menjadi sedih. Dia merasa sedih melihat gadis di depannya yang rela mengambil peran sebagai orang jahat demi Tuan yang dihormatinya.

 

Gadis yang sekilas tampak tidak beremosi ini, sebenarnya adalah orang yang punya kasih sayang sedalam Yuki dan berhati lembut, Masachika sangat paham soal itu. Sebenarnya dia adalah anak yang tidak bisa menyalahkan atau mengecam orang lain. Makin dia menyerang seseorang, dirinya sendiri juga bakal ikut terluka. Dia adalah anak yang sangat lembut seperti itu.

 

Gadis seperti itu sekarang menahan rasa sakit dan memperlihatkan rasa permusuhan secara terang-terangan. Fakta itu rasanya sangat sedih tanpa bisa diapa-apakan lagi. Dan kenyataan bahwa penyebabnya ada pada dirinya sendiri rasanya sangat tidak berdaya.

 

(Harusnya lebih cepat... kuberi pengertian ya.)

 

Sambil meresapi penyesalannya, Masachika membetulkan ekspresinya lalu menghadapi Ayano dengan kesungguhan hati penuh. Menatap lurus mata itu, dia menyampaikan pilihannya dengan isi hati yang jujur tanpa kepalsuan.

 

"Aku membuat keputusan mencalonkan diri bukan untuk melawan Yuki. Aku memutuskan mencalonkan diri bersama Alya... lalu hasilnya, cuma jadi bertolak belakang dengan Yuki saja."

 

"Hal itu..."

 

Atas kata-kata lurus Masachika, mata Ayano berguncang. Namun, dia segera mempertajam pandangan matanya kembali, lalu kembali mendesaknya.

 

"Bagaimana pun urutannya, fakta bahwa Masachika-sama bertolak belakang dengan Yuki-sama tidak berubah. Bagi Masachika-sama, apakah mencalonkan diri bersama Kujou-sama merupakan hal yang sejauh itu pentingnya? Apakah hal itu merupakan hal yang harus dilakukan bahkan sampai mengkhianati dan melukai Yuki-sama?"

 

"...Ya."

 

Sengaja menggunakan kata-kata yang kuat dalam mengejar, namun diangguki tanpa ragu... kali ini Ayano benar-bear goyah. Kepada Ayano yang matanya bersemayam kebingungan dan rasa duka, Masachika terus berbicara secara tulus.

 

"Kenapanya... aku juga tidak tahu. Namun aku tetap melakukannya. Aku, dengan seluruh tenagaku akan menjadikan Alya sebagai Ketua OSIS. Aku, sudah berjanji begitu."

"Apakah itu karena…. ada perasaan yang khusus? Masachika-sama, mengenai Kujou-sama──"

 

"Bukan."

 

Khusus bagian itu, dia bisa menegaskannya. Dirinya menolong Alisa, sama sekali bukan karena perasaan cinta. Lantas jika ditanya karena apa... dirinya sendiri juga tidak begitu paham. Tanpa paham alasannya, cuma tekad saja yang ada.

 

"Aku, dengan kehendakku sendiri memutuskan buat melakukan hal itu. Yuki tidak ada hubungannya. Soal keluarga Suou atau apa pun, aku bahkan tidak memikirkannya."

 

"..."

 

"Makanya... sampaikan pada Kakek. Jangan menyalahkan Yuki atas

kejadian kali ini. Kalau ada yang mau dipermasalahkan, suruh bilang langsung padaku."

 

"...Saya paham."

 

Mendengar kata-kata Masachika, Ayano sedikit membelakkan matanya dan tubuhnya gemetaran, lalu membungkuk memberi hormat secara dalam. Lalu, sambil tetap menundukkan kepala dia bertanya.

 

"Terakhir satu hal, izinkan saya mendengarnya. Mengenai perasaan yang Masachika-sama kepada Yuki-sama... apakah sampai sekarang pun, tidak ada perubahan? Masachika-sama, menganggap Yuki-sama sebagai apa?"

 

"Yuki itu, bagiku adalah manusia yang paling penting di dunia ini. Perasaan itu tidak berubah."

 

Menegaskannya tanpa ragu, Masachika memasang raut sedih pada alisnya lalu meminta tolong pada Ayano.

 

"Makanya, tolong ya. Aku paham kalau ini bukan hal yang pantas diucapkan oleh diriku yang sekarang sih... tapi tolong tetap dukung dia."

 

"...Saya paham. Saya merasa gembira, bisa mendengar isi hati Masachika-sama."

 

Sambil mengutarakannya dengan ekspresi yang tersembunyi di balik poninya yang panjang, Ayano berbalik lalu berjalan menuju pintu di belakangnya.

 

"Terima kasih banyak, telah memberikan waktu berharga Anda. Kalau begitu saya permisi."

 

Lalu, setelah membungkuk memberi hormat di depan pintu, dia keluar dari ruang kelas. ...Padahal biasanya, dia bakal menunggu sampai Masachika keluar duluan.

 

"Jangan-jangan aku sudah membuatnya kecewa..."

 

Pintu yang dibiarkan terbuka lebar rasanya mewakili isi hati Ayano, membuat Masachika bergumam sendiri dengan ekspresi getir.

 

(Yah, kalau cuma melihat situasinya saja, cuma kelihatan seperti pria

bajingan paling parah yang berselingkuh sambil bilang 'Anak itu kalau tidak ada aku tidak bisa. Kamu mah sudah tidak apa-apa walau tanpa aku kan?' sih... Yah walau kenyataan kalau aku ini sampah itu fakta sih.)

 

Mengejek dirinya sendiri di dalam hati, Masachika mengacak-acak poninya.

 

"Aku sudah tahu bakal begini, tapi tetap saja sakit."

 

Rasa permusuhan yang diarahkan dari gadis teman masa kecilnya, merobek hati Masachika lebih dari dugaannya.

 

Kenyataan bahwa tindakannya telah melukai dua gadis yang paling dekat dengannya membuat hati Masachika terus terasa perih.

 

Meskipun begitu, secara ajaib tidak ada rasa penyesalan. Tekad untuk berjalan bersama Alisa, tidak berguncang. Tidak berguncang, tapi... tetap saja hatinya tenggelam.

 

"Haah..."

 

Menundukkan kepala diselingi helaan napas, Masachika melupakan tujuannya buat membeli minuman, lalu kembali ke ruang kelas dengan langkah lesu.

"Ah, sudah kembali. Maksudku... mana minumannya?"

 

"Eh? Aa..."

 

Ditunjuk oleh Takeshi, di sana dia akhirnya teringat tujuan keluar kelasnya tadi, tapi Masachika sudah tidak berminat buat pergi membeli minuman lagi. Atau lebih tepatnya, nafsu makannya sendiri sudah hilang sepenuhnya.

 

"Yah, ada air kok jadi tidak apa-apa."

 

"? Begitukah?"

 

Saat memperlihatkan botol minum yang dibawanya dari rumah sambil mengocoknya, Takeshi yang merasakan sesuatu juga tidak mengejarnya lebih jauh. Di sana Hikaru yang membawa roti olahan kembali, lalu membalikkan mejanya sendiri agar bisa ditempelkan ke meja Masachika.

 

"...Orangnya tidak ada, pakai saja kursi Alya secara biasa?"

 

Saat mengutarakannya kepada Takeshi yang repot-repot membawa kursinya sendiri dari jauh, Takeshi melihat ke arah kursi paling belakang di dekat jendela yang kosong lalu tersenyum kecut.

 

"Jujur saja ada perasaan ingin coba duduk di kursi Putri Alya sih, tapi

entah kenapa aku merasa bakal dibunuh jadi mending tidak usah deh."

 

"Berlebihan banget ah."

"Nggak, bukannya sama Putri Alya... tapi sama anak-anak sekelas, tahu?"

 

"...Begitu toh?"

 

Tentu saja, bukannya dibunuh tapi mungkin saja bakal dikerjai secara akrab oleh anak-anak cowok. Terutama di sekolah ini, di sudut kanan masing-masing meja tertempel nameplate, jadi langsung tahu meja mana milik siapa.

 

Dengan membuat meja yang sama digunakan sepanjang tahun, para murid dengan sendirinya bakal merawat fasilitas sekolah dengan baik... tampaknya ada tujuan seperti itu, tapi gara-gara hal ini, ada juga sisi di mana jadi agak segan menggunakan meja murid lain secara santai.

 

(Yah, kalau di ujung jangkauan penglihatan selalu melintas nama cewek kan jadi tidak tenang ya.)

 

Sambil merasa yakin atas alasan Takeshi, Masachika membuka kotak bentonya.

 

"...Apaan tuh?"

 

"The ☆Sisa Semalam."

 

"Kulihat juga paham."

 

Pada bento dua tingkat milik Masachika, di tingkat atas hamburg dimasukkan berjejer secara asal, dan di tingkat bawah nasi putih dijejalkan secara padat. Atas warna cokelat, bawah warna putih. Brokoli yang diselipkan di antara hamburg, adalah warna-warni yang diusahakan. ...Walaupun agak sedikit layu sih.

 

"Yah, kelihatannya enak sih ya?"

 

"Kesan masakan cowoknya kuat banget tapi."

 

"Nggak, kenyataannya memang masakan cowok kok."

 

Kepada dua teman baiknya yang tersenyum kecut, Masachika mengedikkan bahu. Karena kedua orang ini tahu kalau Masachika adalah keluarga ayah dan anak, Masachika juga tanpa terlalu memikirkannya merapatkan kedua tangannya.

 

"Selamat makan."

 

"Selamat makan."

 

"Selamat maka~n."

 

Masing-masing mengatakannya lalu mulai makan, tapi... Masachika yang masih membawa-bawa kejadian tadi, tidak begitu bersemangat.

 

Dia makan dengan datar, seolah hanya sedang menjalankan kewajiban

 

Melihat Masachika yang seperti itu dan merasakan sesuatu, Takeshi

mendadak mengeluarkan majalah manga dari kantong plastik tempat bento convenience store-nya.

"Nee nee, lihat ini dong. Gravure edisi minggu ini, seluruh anggota

"Blue♡ming" berkumpul lho."

 

Yang ditunjukkan Takeshi dengan bersemangat adalah idol group

beranggotakan dua belas orang yang popularitasnya sedang naik daun saat ini. Hikaru yang biasanya tidak menanggapi topik seperti ini, apakah menyadari sesuatu dari sikap Masachika, tidak biasanya dia ikut naik ke dalam alur.

 

"Kupikir mereka punya citra yang kalem dan anggun, ternyata juga melakukan gravure pakaian renang?"

 

"Melakukannya dengan seluruh anggota berkumpul kelihatannya baru pertama kali ini sih. Ooh, seriusan. Anak ini ternyata tipe yang kelihatan kurus kalau pakai baju ya..."

 

Takeshi memasang wajah mesum saat melihat foto gadis yang mengenakan bikini

 

"Nee, Masachika dukung siapa?"

 

"Nggak, jujur saja aku sama sekali tidak paham idol. Kalau nama grupnya tahu sih, tapi nama anggotanya sama sekali tidak tahu lho."

 

"Jangan bicara seperti bapak-bapak dong... Kalau begitu, artis yang

disukai siapa? Mau aktris atau idol atau apa saja boleh kok."

 

"Nggak ah... aku, sama artis tidak pernah sampai jadi fans atau apa sih. Kalau pelawak yang disukai ada sih."

"Eee~? ...Kalau begitu, kalau pengisi suara bagaimana? Pengisi suara wanita tidak ada yang disukai atau apa begitu?"

 

"Aku, tidak begitu ada ketertarikan sama pengisi suara..."

 

"Apaan sih, kalau begitu Hikaru bagaimana?"

 

"Kamu kira aku bakal menyukai gadis yang begitu mencolok dan penuh ambisi seperti para artis?"

 

Atas pertanyaan Takeshi, Hikaru memajang senyum gelap.

 

Penilaian berupa "berkilauan" (silau berlebihan) bukannya "bersinar", menceritakan kesan yang dipendam Hikaru terhadap artis. Atas respons kedua orang ini yang sama sekali tidak bersemangat, Takeshi mengangkat suaranya dengan tidak puas.

 

"Muu~ apaan sih kalian ini! Kalau cowok kan pasti ada kan! Satu dua orang terkenal yang disukai!"

 

"Nggak ah, lagian biarpun disukai bukan berarti bisa pacaran kan..."

 

"Kalau bicara begitu karakter dua dimensi juga sama saja kan."

 

"Ya jelas sama sih, tapi kalau sama karakter dua dimensi kan bisa

melakukan cinta semu lewat protagonis."

 

"Kalau kasus sub-heroine yang tidak bersatu sama protagonis bagaimana?"

"Takeshi... di dunia ini, ada barang praktis yang dipanggil komik tipis tahu..."

 

"Woi 16 tahun."

 

"Tidak ada yang bilang kalau itu 18+ kok?"

 

Atas protes Takeshi, Masachika membalas dengan wajah berpura-pura tidak tahu. Di sana, Hikaru yang mengulas senyum gelap ikut menyetujui.

 

"Benar juga ya... kalau karakter dua dimensi, tidak bakal mengkhianati kan...?"

 

"Woi Hikaru kamu juga kenapa? Hikaru-mode-gelap ya? Hikaru-mode-gelapnya keluar ya?"

 

"Hikaru... sayang sekali, tapi belakangan ini di dunia dua dimensi pun yang bertema ditikung cukup banyak lho?"

 

"Hentikaan!"

 

"Sudah kuduga... cewek memang sumber penyakit...!"

 

"Kok malah mulai membeberkan hal seperti pembalas dendam begitu sih."

 

"Gara-gara siapa coba, gara-gara siapa."

Ditatap dengan mata sipit oleh Takeshi, Masachika yang merasa kalau dirinya memang terlalu berlebihan dalam bercanda, secara sadar menaikkan tensi suaranya.

 

"Tapi yah, itu kan impian cowok ya. Pacaran sembunyi-sembunyi sama idol populer begitu."

 

"O, ooh, memang benar begitu kan!"

 

"Idol milik semua orang, tapi sebenarnya cuma milikku seorang itu rasanya bagus ya."

 

"Paham! Rasa superioritas itu yang bikin bagus ya."

 

Makin bersemangat atas khayalan yang sama sekali tidak ada. Takeshi yang merasa senang karena Masachika mulai ikut dalam alur, sekali lagi membuka majalah manganya lalu menyodorkannya kepada Masachika.

 

"Terus, kamu sukanya yang mana? Murni dari penampilan luar saja tidak apa-apa kok."

 

"Nmm~ siapa ya."

 

Sambil membalik-balik halaman, entah karena takdir seorang pria atau naluri alien pecinta dada, kalau gravure baju renang memang pandangannya tanpa sadar mengarah ke bagian tubuh tertentu dari si gadis. Menyadari hal tersebut, Takeshi juga mengulas senyum nakal.

"Tentu saja, sukanya grup senior yang berpenampilan berisi kan? Kalau aku sih grup junior seangkatan juga boleh sih, tapi kalau baju renang memang beda ya."

 

"Tentu saja kan. Mana ada cowok yang bisa menahan daya tarik begini?"

 

"Benar kan. Yah, di dada cewek kan tertanam impian dan roman seorang cowok lho!"

 

"Cuma lemak tahu?"

 

"Hikaru-mode-gelap tolong diam ya~"

 

Sambil memasang senyum kecut atas interaksi mereka berdua, Masachika mengarahkan majalah manga ke arah Takeshi.

 

"Yah, kalau ditanya di antara mereka siapa yang kusukai, anak ini──"

 

Sambil menunjuk satu gadis dia mendongakkan pandangan matanya... dan menyadari Takeshi beserta Hikaru sedang melihat ke arah belakang tubuhnya dengan ekspresi "Ah". Tepat setelahnya, hawa dingin yang merinding berhembus menembus punggungnya.

 

Masachika yang menyadari situasinya secara instan dari hal-hal tersebut... sambil tetap menghadap ke depan, berusaha mengambil hati dengan sekuat tenaga.

 

"...Sih, tapi tetap saja ya~! Karena di kursi sebelah biasanya ada gadis super cantik luar biasa, jujur saja yang lain jadi kelihatan buram ya~!!"

"Sita."

 

"Kenapa!?"

 

Disambar oleh tangan yang terulur dari belakang hingga majalahnya diambil, Masachika menjerit. Saat mengikutinya dengan pandangan mata, di sana ada sosok Alisa yang menatap Masachika dengan mata bagaikan tundra. Mata itu mengarah ke majalah di tangannya, lalu gumaman penuh penghinaan dilontarkan.

 

【不潔】(Jorok)

 

"O, ooh... aku tidak paham bahasa Rusia sih, tapi entah kenapa aku tahu kalau baru saja dihina habis-habisan."

 

"Kebetulan sekali Takeshi. Aku juga."

 

"Hahaha..."

 

Takeshi dan Masachika tersenyum kaku, sementara Hikaru hanya tertawa getir seolah kejadian itu bukan urusannya.

 

Namun saat Alisa melotot ke arah mereka secara tajam, gara-gara tekanannya yang terlalu luar biasa, Takeshi dan Hikaru dengan cepat memalingkan pandangan mata mereka lalu menciutkan leher.

 

"Kuze-kun... biarpun begitu kamu kan sudah jadi bagian OSIS, kamu pikir boleh membawa barang seperti ini ke sekolah?"

"Nggak, anu... secara ketatnya sih, yang membawa masuk itu Takeshi, lho..."

 

"Kalau begitu berikan peringatan."

 

"Iya."

 

Mendengar suara Alisa yang menusuk dingin, Masachika ikut menciutkan lehernya sama seperti Takeshi dan Hikaru.

 

Menatap tiga cowok yang menciut menyedihkan dengan penuh penghinaan, Alisa meletakkan majalah manga ke atas meja diselingi hela napas panjang.

 

"Anu... boleh dikembalikan ke kami?"

 

"Jangan salah paham. Aku cuma tidak ingin memegang barang seperti ini saja."

 

"Nggak, memang sih sampul sama halaman gravure-nya begitu, tapi isi selain itu majalah yang sangat sehat lho?"

 

"Mulut mana yang bicara padahal tadi heboh gara-gara bagian yang tidak sehat itu."

 

"Ngg, u... benar juga ya."

 

Mendengar balasan yang sangat masuk akal yang dilontarkan seperti meludah itu, Masachika yang mengerang pun merasa yakin. Kepada Masachika yang seperti itu Alisa berkata "Dasar bo~doh" dengan wajah heran, lalu duduk di kursinya sendiri.

 

"(Nih, mumpung suasana hati Alya belum berubah cepat simpan sana)"

 

"(Ya... tapi, sejak kapan kamu jadi pengurus OSIS?)"

 

"(A~h... kemarin)"

 

"(Aku tidak dengar lho? Ada apa?)"

 

"(Yah, macam-macam...)"

 

Entah kenapa dengan suara pelan, ketiga cowok itu mulai bergerak grusa-grusu. Melirik tipis ke arah sana, Alisa bertopang dagu dengan raut heran lalu menghadapkan wajahnya ke arah jendela.

 

Yang teringat adalah jeritan Masachika tadi. Padahal dia tahu kalau itu cuma sanjungan yang diucapkan demi menutupi pelanggaran membawa majalah, tapi dia merasakan punggungnya perlahan memanas.

 

【ホンット、バカ】(Bener-Bener, Bodoh)

 

Seolah menutupi rasa panas itu, Alisa berbisik pelan. Berlawanan dengan kata-kata tersebut, Masachika merasa atmosfer Alisa melunak, hingga di dalam hati dia mengelus dada merasa lega. Namun,

 

"Nng? Hikaru ada apa?"

Mendongakkan pandangan mata atas kata-kata Takeshi, Hikaru sedang menatap sampul majalah yang hendak disimpan Takeshi secara lekat-lekat.

 

Melihat sikap yang tidak seperti Hikaru yang membenci cewek, Masachika dan Takeshi memiringkan kepala mereka. Lantas, Hikaru menunjuk salah satu gadis yang ada di sampul lalu berkata.

 

"Nggak... anak yang dipilih Masachika tadi. Siapa ya namanya? Yah tidak penting sih, tapi kalau dilihat baik-like mirip Kujou-senpai ya."

 

Pada saat itu, Masachika merasakan pandangan mata menusuk di pipi kirinya. Suasana tetangganya yang sempat melunak untuk sementara, dirasakannya seketika berubah menjadi keras, tajam, dan dingin bagaikan es gantung.

 

(Wooooi!! Bicara apa sih kamu Hikaruuu!!)

 

Saat melirik tipis, dia tahu kalau Alisa sedang membelakangi sambil melotot ke arah sini lewat kaca jendela. Sambil meneteskan keringat dingin atas pandangan mata itu, Masachika menjerit di dalam hati.

 

Sambil memajang senyum kedutan dia mencoba mengalihkannya

"N-nggak, mana ada hal seperti itu ya?", tapi Takeshi yang melihat kembali sampul majalah atas arahan Hikaru, melancarkan serangan susulan sambil mengangguk.

 

"Beneran, kalau dikatakan begitu memang mirip ya."

 

(Ooooi!! Paham situasi dong Takeshi!!)

 

Masachika memprotes di dalam hati, namun karena tidak ada badai salju yang mengamuk seperti tadi dan es gantung terfokus menusuk ke satu titik pada Masachika, kedua orang itu sama sekali tidak menyadari gejalanya dan mulai heboh.

 

"Kan. Gaya rambut sama atmosfernya... bagian rambut cokelat dan mata cokelatnya juga mirip banget kan."

 

"Ditambah lagi lebih tua. Apa-apaan Masachika, kamu ternyata tipenya yang seperti Kujou-senpai ya?"

 

Makin mereka berdua heboh, es gantung makin menusuk-nusuk pipi Masachika secara bertubi-tubi. Tentu saja, cuma sebatas bayangan saja sih.

 

(Ga, gawat... kalau sampai salah memberikan jawaban di sini, rasanya aku bakal kena masalah besar.)

 

Di tengah insting bertahan hidup sebagai makhluk hidup yang membunyikan alarm keras-keras, Masachika membalas dengan terbata-bata.

 

"Nggak, bukannya tipe atau apa... lagipula Maria-san kan sudah punya pacar."

 

"Maksudnya, kalau tidak punya pacar bakal kamu incar?"

"Lagian, Maria-san? Sejak kapan panggil pakai nama panggilan ditambah -san... jaraknya sudah memendek banget kan."

 

(Kenapa cuma di saat seperti ini kombinasi kalian pas banget sih!!)

 

Jika ditanya kenapa, itu karena Masachika biasanya tidak begitu memperlihatkan ketertarikan pada cewek di dunia nyata.

 

Terhadap Masachika yang berhubungan dengan Alisa dan Yuki yang merupakan gadis cantik papan atas di sekolah murni sebagai teman biasa, secara diam-diam dicemaskan oleh teman-temannya (Tuh orang beneran cuma tertarik sama dunia dua dimensi saja ya?).

 

Pembicaraan cinta Masachika yang seperti itu... walau belum sampai ke sana, terhadap topik hubungan cewek di dunia nyata (dunia tiga dimensi), kedua orang ini merasa lega sekaligus tensinya sedikit naik.

 

Bagi Masachika, itu adalah hal yang tidak perlu campur tangan dan sangat mengganggu sih.

 

"Nggak nggak, beneran cuma kebetulan kok. Menganggap Mariya-san dengan mata seperti itu..."

 

Masachika yang refleks mengutarakannya sampai di sana, tapi kalau mau ditegaskan "tidak pernah", sangat disayangkan ada terlalu banyak hal yang terlintas.

 

Sampai-sampai bagian jujur dari Masachika refleks menghentikannya

(Nggak nggak jangan bohong besar begitu dong).

"...Yah, mmm, ya. Kalau ingin pacaran atau apa, tidak pernah kupikirkan sekali pun kok."

 

Atas Masachika yang kabur secara jelas, Takeshi dan Hikaru memajang mata yang agak lelah.

 

Ditambah lagi pada pandangan mata Alisa bercampur rasa penghinaan.

 

Yah, kalau ada cowok yang mengarahkan mata mesum kepada kakaknya sendiri, siapa pun pasti bakal jadi begitu sih.

 

【ケダモノ】(Dasar Mesum)

 

Makian dalam bahasa Rusia menusuk hati Masachika. Karena tidak bisa merespons jadinya tidak bisa membalas juga, benar-benar menyusahkan.

 

"Kalau begitu, yang itu deh. Sama Suou-san tidak ada pikiran ingin pacaran? Sering dikatakan sih, tapi ternyata teman masa kecil memang tidak bisa jadi sasaran cinta ya?"

 

Saat Takeshi menyebut nama Yuki dengan mata yang masih agak lelah, suasana hati Alisa terlihat berubah secara jelas.

 

Sambil merasakan pandangan mata yang menusuk pipinya dalam artian yang berbeda dari tadi, Masachika menjawab sambil teringat Ayano bukannya Yuki.

"Tidak bisa, atau lebih tepatnya... dari awal tidak ada pemikiran buat melihatnya sebagai sasaran seperti itu sih. Ah, kuberitahu ya, aku sama Yuki pacaran itu hal yang tidak mungkin terjadi lho?"

 

"Aku pernah dengar hal seperti itu sebelumnya sih, tapi kenapa?"

 

Karena mereka adalah saudara kandung murni yang tidak diragukan lagi, yang memiliki orang tua yang sama.

 

Hanya itu alasan semuanya, tetapi situasi di balik layar tersebut tidak bisa dibeberkan. Kepada Masachika yang hanya bisa tersenyum samar,

Takeshi menggelengkan kepalanya seolah tidak habis pikir.

 

"Nggak paham aku... padahal gadis cantik sekelas dia, lho. Apalagi sopan, sifatnya baik, dan untuk ukuran zaman sekarang dia itu tipe nona muda anggun yang sempurna yang sangat langka."

 

"A, ya..."

 

Refleks hampir terlontar "Siapa tuh", tetapi Masachika menahan

kata-katanya.

 

Kenyataannya, tanpa tahu sosok Yuki yang sebenarnya dengan mode otaku terbuka penuh, jika hanya melihat mode nona muda Yuki di sekolah saja, wajar saja kalau penilaiannya jadi seperti itu.

 

...Meskipun bagi Masachika yang tahu sosok Yuki sebenarnya, itu adalah penilaian yang membuatnya terpaksa memasang wajah datar sih.

Namun, berhubung tidak mungkin membeberkan sifat asli Yuki secara lancar meskipun pada teman sendiri, di sini dia mengelak seadanya.

 

"Anak nona muda yang kamu maksud itu... buat ukuran rakyat jelata sepertiku agak gimana gitu."

 

"Aa~... yah, sih."

 

"Tapi, kalau kamu bilang begitu cewek di sekolah ini lumayan berat semua dong? Pas dengar ceritanya ternyata anak orang kaya, hal seperti itu rasanya bukan hal yang langka di sini."

 

"Yah memang begitu sih... pokoknya kalau pacaran aku bakal memilih pasangan yang lebih sesuai dengan kelaskulah. Kalau pacaran, tapi ya."

 

"Percintaan sesama murid kan~? Apa perlu dipikirkan sampai sejauh itu?"

 

"Maksudmu yang sesuai dengan kelasmu itu... keluarga kelas menengah?"

 

"Yah, begitulah... keluarga kelas menengah, yang, gimana ya, akrab?

Yang bisa pacaran dengan sensasi seperti teman..."

 

Secara alami di dalam kepalanya dia mengingat kembali tentang "anak perempuan itu", Masachika menjawab tanpa berpikir terlalu dalam.

 

【つまり、わ、私みたいな?】(Jadi… m-maksudnya, seperti aku?)

 

(Bukan tahu?)

 

Terhadap bahasa Rusia yang mendadak menyerobot masuk ke dalam adegan kenangan, di dalam hati Masachika merespons bagaikan Hikaru-mode-gelap.

 

Saat dia memasang wajah datar dan melihat ke sebelah, di sana ada sosok belakang Alisa-san yang bertopang dagu dengan tenaga yang luar biasa.

 

Kalau dilihat baik-baik tubuhnya gemetaran tipis, dan kalau didengar baik-baik dia masih mengatakan sesuatu dalam bahasa Rusia seperti sedang menyanyikan lagu. Refleks mengasah pendengarannya... mata Masachika seketika menjadi berwarna redup.

 

('Aku kepatut bilang, aku kepatut bilang! Kyaa tidaaak!' bu, kan tahu. Muka mesam-mesemmu kelihatan jelas di kaca jendela tahu? Tolong eksibisionisnya jangan berlebihan dong. Apa itu? Katanya orang Rusia dibanding orang Jepang kalau bicara lebih blak-blakan sih, apa gara-gara itu? Kalau pakai bahasa Rusia hal yang terlintas di kepala langsung diucapkan begitu saja? ...Mana ada hal bodoh begitu.)

 

Alisa-san yang membiarkan jari tangan kanannya yang bertopang dagu menancap ke pipinya, sambil sudut mulutnya kedutan. Antara tidak menyadari pandangan mata Masachika, atau menyadarinya tetapi tidak bisa membalikkan badan karena ekspresinya tidak bisa kembali ke semula... mau yang mana pun, rasanya sangat kasihan.

 

"Masachika? Kenapa?"

"Ah nggak... benar juga ya, lalu..."

 

Saat Masachika melanjutkan kembali kenangannya atas suara Takeshi, yang terbayang adalah senyuman anak perempuan itu. Meski detail wajahnya samar-samar, tetap saja senyuman imut yang membuat dirinya sendiri secara alami ikut tersenyum itu, membuat pipi Masachika tanpa sadar melunak.

 

"Tetap saja, cewek yang senyumannya imut itu bagus ya."

 

Begitu mengatakannya, senyuman anak perempuan itu di dalam benak Masachika mendadak digantikan oleh senyuman Alisa yang dilihatnya kemarin.

 

(Nggak nggak, kenapa jadi gitu coba.)

 

Berburu-buru menghempaskannya, saat dia melirik keadaan Alisa dari sudut matanya...

 

"..."

 

Di sana terdapat sosok belakang Alisa yang membeku secara luar biasa.

 

Itu mah, sudah membeku dengan sangat rapi sampai-sampai suara krak serasa bisa terdengar. Begitu pula dengan ekspresi yang terpantul di jendela, tidak perlu dikatakan lagi.

 

"Hee~ cewek yang senyumannya imut ya~"

"Yah, memang sih senyuman itu penting ya. Mau cewek mau cowok. Orang yang matanya tidak tersenyum atau orang yang senyumnya tipis-tipis saja, tetap saja rasanya agak susah diakrabi."

 

"U, ng... yah."

 

Masachika juga paham pendapat Hikaru sih... tetapi melihat punggung

Alisa yang gemetaran deg-deg atas kata-kata Hikaru, dia rasanya sangat sulit untuk menyetujuinya.

 

(Hentikan dong. Peluru nyasar kena ke Alya-san tahu.)

 

Hikaru mungkin tidak bermaksud buruk sih... tetapi secara objektif "orang yang matanya tidak tersenyum", "orang yang senyumnya tipis-tipis saja", itu tepatnya adalah Alisa yang biasanya.

 

Nggak, kalau menurut Masachika Alisa itu terbilang tersenyum secara biasa kok, dan meskipun matanya tidak melukiskan lengkungan, bagian dalam matanya tersenyum dengan mantap sih... tetapi yang bersangkutan tampaknya tidak menyadari hal tersebut pada dirinya sendiri.

 

"Ta, tapi yah, orang yang biasanya jarang tersenyum begitu kalau tersenyum lebar, justru kelihatan sangat menarik lho. Seperti gap moe begitu."

 

Atas bantuan Masachika, Takeshi dan Hikaru juga mengangguk sambil berkata "Aa~ yah, memang sih". Punggung Alisa yang tadi agak bungkuk sedikit menegak.

"Tapi, jadi gampang diakrabi cuma pas momen itu saja kan, setelahnya langsung susah didekati lagi."

 

"Setuju banget. Tetap saja sikap sehari-hari itu penting ya."

 

Namun, atas kata-kata Hikaru dan Takeshi selanjutnya punggung itu kembali terkulai.

 

(Hentikaan! Jangan membalas bantuanku pakai blow dong! Terasa pelan-pelan lho, efeknya pelan-pelan merusak ke badan Alya lho!)

 

Tanpa sanggup menahannya Masachika memajangkan wajahnya ke arah mereka berdua, lalu berbisik sambil menunjukkan pandangan matanya ke arah Alisa.

 

"(Oi, kalian agak peka sedikit dong. Alya jadi terluka tahu)"

 

"(Eh? Kujou-san?)"

 

"(Nggak... Putri Alya mah tidak bakal memedulikan hal seperti itu kan?)"

 

Memedulikan tahu. Dia sangat memedulikannya. Malah dia sudah agak mau menangis lho. Soalnya, wajah yang terpantul di jendela bibirnya terkatup rapat dalam artian yang berbeda dari tadi. Ekspresinya berubah menjadi menahan hal lain bukannya tawa.

 

【いいもん……友達いるから、別にいいもん】(Nggak apa-apa… Aku Punya teman, jadi nggak masalah)

 

Ditambah lagi, dia mulai mengatakan hal yang agak tegar.

Jujur saja melihat keadaan itu Masachika juga merasa tersentuh atau lebih tepatnya "Aah, ini yang dinamakan gap moe ya" bukannya tidak ada perasaan seperti itu, tetapi lebih dari itu hatinya sakit oleh rasa iba dan rasa bersalah.

 

"(Pokoknya, beri bantuan, beri bantuan. Apa kalian mau udara di pelajaran siang nanti membeku terus?)"

 

"(Ugh, kalau itu tidak mau sih...)"

 

"(Be, benar juga ya...)"

 

Mendapatkan persetujuan mereka berdua, saat Masachika membetulkan posisi duduknya lalu membuka mulut, Takeshi menahannya menggunakan pandangan mata.

 

Masachika, serahkan bagian ini padaku

 

Takeshi... kamu bisa?

 

Serahkan saja

 

...Paham

 

Berkomunikasi menggunakan kontak mata, mereka saling mengangguk pelan. Lantas, Takeshi tersenyum percaya diri "Fuh", lalu berteriak dengan suara keras.

 

"Tapi yah, kalau cewek cantik sekelas Putri Alya mah hal seperti itu tidak bakal dipedulikan kok!!"

 

""Payah banget!!""

 

Atas cara penyampaian yang secara mengejutkan sangat langsung dan berlebihan itu, protes Masachika dan Hikaru memadu harmoni. Namun, Takeshi hanya kedip-kedip mata dengan ekspresi "Eh? Kenapa?".

 

Melihat ekspresi yang bikin jengkel itu, Masachika hendak melayangkan teguran... tetapi lebih cepat dari itu, suara dingin menusuk bergema.

 

"Fuu~n, begitu... kamu melihatku dengan cara seperti itu ya."

 

"A, Alya..."

 

Saat Masachika menoleh ke arah suara diiringi bunyi kaku, ekspresi yang tadi agak mau menangis sudah hilang entah ke mana.

 

Alisa yang memasang ekspresi dingin yang mengerikan, menatap ke arah sini dengan mata yang sama sekali tidak terasa kehangatannya.

 

Tertembak oleh mata itu, Takeshi yang tampaknya akhirnya sadar kalau dirinya baru saja berbuat ulah, tubuhnya membeku kaget.

 

"Maaf ya? Karena aku cuma wanita tidak ramah dan tidak ada imut-imutnya yang cuma menang di wajah saja."

 

"A, nggak, tidak sampai sejauh itu..."

"Pikir-pikir, majalah yang tadi mending kusita saja kali ya."

 

"Eh!? Nggak, kalau itu..."

 

"Serahkan."

 

"...Iya."

 

Tunduk pada tekanan Alisa, Takeshi menyerahkan majalah manga secara patuh. Menerimanya seperti menyambar, Alisa duduk di kursinya dengan kasar. Di tengah udara kelas yang mendadak membeku tanpa disengaja, Masachika dan Hikaru menancapkan mata sipit ke arah Takeshi.

 

"Sampah."

 

"Makanya Takeshi tidak bisa punya pacar lho."

 

"Jahat banget!"

 

Di dalam ruang kelas yang diselimuti hawa dingin, jeritan menyedihkan dari pria yang terlalu menerima akibat dari perbuatannya sendiri

bergema.

 

 

Waktu mundur sedikit ke belakang...

 

Setelah selesai berbicara dengan Masachika, Ayano berjalan menyusuri koridor menuju ruang kelas kosong di lantai atas.

 

Agar tidak menimbulkan suara langkah kaki dan sebisa mungkin tidak masuk ke dalam pandangan orang lain, dia menyelinap di antara para murid yang berlalu-lalang di koridor.

 

Gerakannya begitu mulus, bagaikan daun yang hanyut di permukaan sungai sambil menghindari bebatuan. Tanpa menarik perhatian siapa pun, dia pun tiba di tempat tujuan dan mengetuk pintu kelas tiga kali.

 

"Silakan."

 

"Permisi."

 

Saat Ayano membuka pintu, Yuki sudah menunggunya di dalam ruang kelas yang remang-remang karena lampunya tidak dinyalakan.

 

"Pembicaraanmu dengan Onii-chan sudah selesai?"

 

"Ya."

 

"Begitu... lalu, apa kamu sudah merasa lega?"

 

Mendengar pertanyaan Yuki, Ayano mengingat kembali percakapannya dengan Masachika... lalu matanya memancarkan cahaya lembut.

 

"Ya... ternyata Masachika-sama tetaplah Masachika-sama yang saya hormati."

 

"Begitu ya. Syukurlah."

 

Melihat Ayano yang sebelumnya jarang sekali menunjukkan ketidakpercayaan dan ketidakpuasan terhadap Masachika kini kembali memiliki tatapan yang tenang setelah berbicara dengannya, Yuki pun merasa lega.

 

Ayano memang hampir tidak pernah menunjukkan ekspresi, tetapi wajah tanpa ekspresinya itu merupakan sesuatu yang terbentuk belakangan, bukan berarti emosinya sendiri tipis. Justru karena Yuki tahu bahwa Ayano menyimpan kasih sayang yang sangat kuat kepada mereka berdua sebagai kakak-beradik, dia merasa lega karena kesalahpahaman Ayano terhadap Masachika telah diluruskan.

 

"Gelap ya. Saya nyalakan lampunya──"

 

Ayano hendak menyalakan lampu melalui sakelar di samping pintu, tetapi Yuki segera menghentikannya.

 

"Ah, nggak usah dinyalakan."

 

"...Begitu rupanya?"

 

"Iya. Aku juga nggak mau terlalu menarik perhatian. Lagipula, yang paling penting..."

 

Yuki berhenti sejenak. Dia menunduk sedikit, menyibakkan poninya ke atas, lalu membelalakkan mata dengan ekspresi penuh gaya.

 

"Karena kalau gelap... lebih keren, kan?"

 

"...Mohon maaf. Saya masih kurang memahami 'keindahan' semacam itu."

 

"Nggak apa-apa. Kamu bisa mempelajarinya mulai sekarang."

 

"Terima kasih atas kebaikan Anda."

 

Ayano menanggapi ucapan chuunibyou Yuki dengan sangat serius. Setelah mengangguk anggun, Yuki kembali meminta Ayano melanjutkan ceritanya.

 

"Lalu... Onii-chan bilang apa?"

 

"Ya. Masachika-sama mengatakan bahwa tekad beliau untuk mencalonkan diri bersama Kujou-sama tidak berubah."

 

"Pasti begitu. Terus?"

 

"Beliau juga berpesan untuk menyampaikan kepada Tuan Kepala Keluarga, 'Yuki tidak ada hubungannya dengan kejadian kali ini. Kalau ada yang mau dipermasalahkan, suruh datang langsung kepadaku'."

 

"Hee, begitu..."

 

Yuki langsung memahami bahwa Masachika sedang mengkhawatirkan dirinya. Matanya sempat membelalak karena terkejut, tetapi sesaat kemudian dia menyeringai.

 

"Berani juga dia ngomong begitu... Onii-chan ternyata benar-benar serius."

 

Ayano mengangguk dengan sangat serius melihat Yuki yang tertawa riang, seolah hampir bersiul karena begitu senangnya.

 

"Ya. Tekad beliau begitu luar biasa sampai-sampai rahim saya bergetar."

 

"O-oh... begitu. Sampai bergetar, ya."

 

"Ya."

 

Ayano mengangguk dengan tenang, seolah tidak ada yang aneh dari ucapannya. Senyum Yuki pun langsung berubah kaku.

 

"Eh... buat memastikan saja, Ayano itu sebenarnya nggak suka sama Onii-chan... kan?"

 

"Jika yang dimaksud adalah perasaan cinta, benar seperti yang Yuki-sama katakan. Saya menghormati dan menyayangi Masachika-sama sama besarnya dengan Yuki-sama, tetapi saya tidak memiliki perasaan cinta kepada beliau."

 

"Ah, begitu..."

 

"Saya sama sekali tidak pernah memikirkan hal lancang seperti menjadi kekasih beliau... Jika beliau berkenan menggunakan saya sebagai alat, itu saja sudah cukup bagi saya."

 

"Kamu cuma seorang do-M, ya."

 

Mendengar pernyataan Ayano yang kelewat ekstrem itu, Yuki refleks menimpalinya dengan tatapan sinis.

 

Penilaian Masachika terhadap Ayano sebenarnya tidak salah. Ayano memang seorang gadis yang penuh kasih sayang dan berhati lembut. Itu tidak perlu diragukan lagi.

 

Hanya saja... rasa hormatnya yang kelewat besar kepada kedua Tuannya berpadu dengan kecenderungan pribadinya, membuat keinginannya untuk "diberi pelajaran" sudah kelewat batas.

 

Dia memang punya sisi yang sedikit merasa senang ketika diperintah oleh Masachika atau Yuki.

 

Karena Ayano sendiri menganggapnya sebagai bentuk kesetiaan murni, dia bahkan cenderung merasa bangga akan hal tersebut.

 

Buktinya sekarang pun, Ayano tampak kebingungan karena tidak mengerti alasan Yuki menatapnya dengan tatapan sinis, lalu memiringkan kepalanya.

 

"Maafkan saya. Pengetahuan saya masih dangkal... apakah do-M itu?"

 

"Eh? Ah, Maid Super Dokyu. Diambil dari huruf depannya jadi do-M."

 

"Terima kasih banyak. Ini merupakan sebuah kehormatan. Mulai sekarang saya akan berusaha menjadi do-M yang hebat."

 

"Hei, aku malah ngajarin hal yang gawat."

 

Yuki mengucapkannya dengan nada datar. Ayano berkedip perlahan, lalu tiba-tiba berkata,

 

"Benar juga... ada satu hal lagi yang lupa saya sampaikan."

 

"Hm? Apa?"

 

"Masachika-sama mengatakan bahwa tidak ada perubahan dalam hal bahwa Yuki-sama adalah orang yang paling penting di dunia ini bagi beliau."

 

"O-oh..."

 

Mendengar ucapan Ayano, Yuki tiba-tiba memasang wajah datar, lalu berlari menuju jendela yang menghadap ke lapangan sekolah.

 

Dia membuka jendela dengan suara galarar, menarik napas dalam-dalam──lalu menahannya.

 

"Yuki-sama? Ada apa?"

 

"..."

 

Yuki tidak menjawab. Sambil tetap memegang bingkai jendela, dia terdiam sejenak sebelum akhirnya mengembuskan napas panjang.

 

"Bahaya banget... hampir saja aku meneriakkan rasa cintaku kepada Onii-chan di tengah-tengah gedung sekolah."

 

Sambil mengusap bibirnya, dia menutup jendela lalu menggelengkan kepala seolah pasrah.

 

"Huu... benar-benar deh. Onii-chan-ku yang imut ini."

 

Yuki menyeringai lebar sambil mengucapkannya, lalu menyandarkan tubuhnya ke dinding dengan kuat seolah ingin mengusir rasa geli yang menjalar ke seluruh tubuhnya.

 

Sambil menyilangkan tangan dan menekan bagian belakang kepalanya ke dinding, dia menatap langit-langit lalu bergumam seolah sedang menikmati kata-katanya sendiri.

 

"Tapi... begitu ya. Dia sama sekali nggak goyah meskipun didesak Ayano."

 

"Ya. Beliau memang mengkhawatirkan keadaan Yuki-sama, tetapi mengenai pencalonan dirinya, beliau sama sekali tidak goyah."

 

"Begitu ya... dia benar-benar serius, ya. Fufu, jadi kamu benar-benar mau melawanku dengan serius?"

 

Meskipun kakak yang dicintainya memilih untuk berdiri di pihak yang berseberangan dengannya, suara Yuki justru terdengar sangat gembira.

 

"Bagus dong~ jadi makin seru, kan? Jujur saja, kalau cuma Alya-san, dia belum cukup jadi lawanku."

 

Mendengar Yuki berbicara dengan sombong seperti itu, Ayano tetap mengangguk setuju.

 

"Benar. Meskipun saya baru melakukan penyelidikan secara ringan, tampaknya sebagian besar siswa kelas satu sudah memprediksi Yuki-sama akan menang. Sedangkan mengenai Kujou-san... sejujurnya, kesannya adalah 'seorang murid pindahan yang tidak tahu seperti apa Suou Ketua OSIS semasa SMP sedang melakukan sesuatu yang nekat'."

 

"Ahahaha, nggak ada ampun, ya. Yah, memang begitu sih~. Kenyataannya, basis pendukungku memang sangat kuat... Nah, kira-kira Onii-chan bakal membalikkan keadaan ini seperti apa, ya?"

 

Dengan mata yang berbinar dan sudut bibir terangkat, Yuki tertawa. Senyumannya begitu kuat hingga bisa dibilang nyaris ganas.

 

"Kelihatannya seru."

 

"Seru banget. Soalnya aku bisa benar-benar bertarung melawan si jenius itu... sang anak ajaib keluarga Suou. Mana mungkin nggak seru?"

 

Yuki menjauhkan punggungnya dari dinding lalu merentangkan kedua tangan seolah sedang menari.

 

"Onii-chan yang sampai sekarang nggak pernah bisa kukalahkan, apa pun yang kulakukan, sekarang datang menantangku dengan serius bersama partner kuat bernama Alya-san. Rasanya sampai bikin hatiku menari. Justru karena itu, pertarungan ini jadi layak diperjuangkan. Boleh saja. Akan kuhancurkan kalian dengan seluruh kemampuanku!"

 

Setelah mengepalkan kedua tangannya erat-erat dan menyatakan tekadnya, Yuki menatap Ayano.

 

"Bantu aku, Ayano. Demi membuat Onii-chan mengeluarkan kemampuan terbaiknya."

 

"Baik. Meskipun kemampuan saya terbatas, saya akan membantu Anda."

 

Atas permintaan Tuannya, Ayano pun menjawab dengan tatapan penuh tekad.

 

Yuki tersenyum puas, lalu membelakangi Ayano dan menghadap jendela sambil mengembuskan napas.

 

"Oh iya, Ayano."

 

"Ada apa, Yuki-sama?"

 

Ayano memiringkan kepala. Yuki menoleh dari balik bahunya, lalu bertanya dengan ekspresi penuh gaya,

 

"Menurutmu, aku yang sekarang kelihatan kayak last boss banget nggak?”




Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close