Bab 4: Cuma Rasa Krim yang Terasa, Kan? Beneran, Lho?
"Baik, hari ini sampai di sini saja
kali ya. Anak kelas satu boleh pulang duluan lho."
"Eh, boleh nih?"
"Ya, kami yang kelas dua setelah ini
ada sedikit urusan dengan guru. Karena ada kemungkinan bakal lama, tidak usah
sungkan, pulang duluan saja. Kerja bagus!"
"Kalau begitu... permisi."
Menuruti kata-kata Touya, Masachika dan
Alisa keluar dari ruang OSIS.
Karena Yuki bilang akan menunggu di ruang
OSIS sampai mobil jemputan datang, perjalanan pulang hanya mereka berdua.
(Nah... bagaimana ya.)
Sambil berjalan berdampingan dengan
Alisa, Masachika memikirkan cara membicarakannya. Bukan percakapan yang
spesial. Dia hanya berpikir untuk membicarakan langkah ke depan menuju
pemilihan Ketua tahun depan selagi ada waktu sekarang.
Namun, gara-gara kejadian tadi pagi,
suasana masih terasa sedikit canggung. Ditambah lagi, sejak pergi berdiskusi
dengan klub seni rupa bersama Yuki, sikap Alisa agak sedikit aneh. Kalau
ditanya bagian mananya yang aneh dia bakal bingung menjawabnya sih...
(Pasti sudah melakukan sesuatu kan... tuh
anak Yuki.)
Melihat keadaannya pada hari libur
kemarin, Alisa tampaknya disukai
oleh Yuki dalam artian yang tidak begitu
bagus. Alisa yang serius dan pantang menyerah, tampaknya sudah teridentifikasi
sebagai teman (mainan) yang sangat seru untuk dijahili oleh Yuki.
Pemandangan di mana Yuki menyembunyikan
senyuman iblisnya di balik senyuman anggun bak wanita terhormat, lalu
mempermainkan Alisa dengan kata-kata manisnya, bisa terbayang dengan sangat
mudah.
(Haah... yah, dipikirkan juga tidak ada
gunanya ya.)
Sambil menghela napas di dalam hati
melihat Alisa yang berjalan berdampingan tanpa suara dengan ekspresi agak
rumit, Masachika memantapkan tekadnya saat kedai famires (family restaurant)
yang tidak asing mulai terlihat.
"Aah~ Alya?"
"? Apa?"
"Kalau tidak keberatan, mau mampir
sebentar?"
"Eh...?"
Atas kata-kata Masachika yang menunjuk ke
arah famires, mata Alisa membelalak lebar.
"Ah nggak, sebagai sesama yang ke
depannya bakal mengincar pemilihan Ketua, aku berpikir ada banyak hal yang mau
kubicarakan~"
"...Ah, begitu."
Namun, mendengar kata-kata susulan
Masachika, Alisa langsung menyipitkan matanya lalu mengangguk tanpa minat.
"Yah, boleh saja."
"Begitu ya, kalau begitu mari
mampir."
Sambil merasa lega karena untuk sementara
tidak ditolak, Masachika berburu-buru menuju ke arah famires lalu menaruh
tangannya di gagang pintu.
【デートじゃないのね】(Bukan kencan ya)
Di sana, dia ditusuk dari belakang.
(Nguuh! Ba-merekam dari belakang, sungguh
licik!)
Sambil menjerit di dalam hati bagaikan
samurai yang diserang pembunuh gelap, Masachika menahan lututnya yang hampir
lemas dengan berpegangan pada gagang pintu, lalu masuk ke dalam kedai. Setelah
diantar oleh pelayan dan duduk berhadapan di kursi meja, untuk sementara mereka
hanya memesan minuman saja.
"Anu... cafe au lait satu."
"Aku, melon soda sama chocolate
parfait."
"!?"
"...Apa?"
"Nggak, bukan apa-apa..."
Atas pesanan yang terkesan agak
keterlaluan, yakni memadukan chocolate parfait yang dari sananya sudah manis
dengan melon soda yang juga manisnya kelewat pekat, Masachika tidak bisa
menyembunyikan rasa terkejutnya.
Menyadari dirinya diherani, Alisa yang
memasang wajah agak canggung
memberikan alasan.
"Sedikit... otakku lagi capek tahu.
Kalau tidak makan yang manis-manis otak tidak bisa berputar, kan?"
"Ah begitu... ah, pemesanannya itu
saja."
Dibandingkan masalah hal yang manis atau
bukan, ini mah masalah perpaduan makanan yang dimakan bersamaan sih. Tanpa
mengusiknya lebih jauh Masachika mengantar pelayan pergi, lalu mencoba
melenyapkan keraguannya selagi menunggu barang pesanan tiba, dia membuka
mulutnya secara ragu-ragu.
"Anu... sama Yuki, ada sesuatu
ya?"
"...Tidak ada."
Jawabannya dingin, tapi kenyataan bahwa
ada sesuatu terlihat jelas dari
pandangan matanya yang menghindar dengan
cepat.
(Yukiiiiiーー!!
Kamu, sudah melakukan apaーー!?)
Sambil menjerit di dalam hati dengan pipi
kedutan, Alisa yang melirik tipis ke arah Masachika kembali memalingkan
pandangannya sambil berbisik-bisik.
"Tidak ada... cuma, aku cuma
menyampaikan kalau aku bakal mencalonkan diri bersamamu."
"Ah, begitu..."
Sambil berpikir tidak mungkin cuma itu
saja, Masachika bingung apakah boleh mengusiknya lebih jauh. Di sana, Alisa
yang sejak tadi melirik-lirik ke arah Masachika, melayangkan pertanyaan dengan
ekspresi seolah telah memantapkan tekad.
"Nee."
"Nng?"
"Kamu... pacaran sama
Yuki-san?"
"Mana mungkin."
Mendengar pertanyaan Alisa yang salah
sasaran itu, Masachika refleks membalasnya dengan wajah datar. Tentu saja. Bagi
Alisa yang tidak tahu kalau Masachika dan Yuki adalah saudara kandung
pertanyaan itu mungkin biasa saja, tapi bagi Masachika itu adalah pertanyaan
saklek yang membuatnya ingin berteriak "Game galge mana ini!!".
"...Bukan?"
"Bukan. Beneran bukan."
Atas penegasan wajah datar Masachika,
mata Alisa berguncang dalam kebingungan. Melihat ekspresi itu, Masachika
melanjutkannya diselingi hela napas.
"Aku tidak tahu apa yang dikatakan
Yuki... tapi kami itu sudah bagaikan keluarga. Satu sama lain sama sekali tidak
ada perasaan cinta."
"Tapi, Yuki-san..."
"Haah... mumpung lagi begini
kuberitahu ya, jangan terlalu menelan mentah-mentah kata-kata Yuki tahu? Anak
itu bukannya wanita terhormat seperti penampilannya. Dia cuma menjahilimu,
membuatmu goyah lalu menikmatinya."
"..."
Dengan wajah yang agak tidak puas, Alisa
menatap Masachika dengan raut agak merajuk. Namun di sana minuman dan parfait
telah tiba, jadi Masachika mengakhiri pembicaraan ini lalu masuk ke topik
utama.
"Nah... kalau begitu, soal pemilihan
Ketua ya."
Setelah meminum cafe au lait-nya satu
tegukan, Masachika berkata sambil menatap mata Alisa yang ada di depannya yang
sedang meminum melon soda.
"Kuberitahu dari awal. Kalau begini
terus, mustahil buat menang lawan Yuki."
"!"
Mendengar penegasan yang jelas itu, alis
Alisa bergerak seketika. Lalu setelah meletakkan melon soda-nya, dia membalas
tatapan Masachika dengan pandangan mata tajam.
"...Kamu mengatakannya dengan sangat
jelas ya."
"Karena itu fakta. Sejauh itulah
Yuki sudah mengukuhkan posisinya sebagai Ketua berikutnya."
Terhadap pandangan mata Alisa pun,
Masachika mengedikkan bahunya tanpa rasa takut.
"Dari awal, kenyataan bahwa anggota
kelas satu OSIS kurang saja sudah aneh tahu. Kalau tahun-tahun biasanya, paling
tidak ada tiga pasang kandidat Ketua dan Wakil Ketua. Faktanya, waktu semester
pertama kelas satu SMP dulu, termasuk aku dan Yuki ada enam pasang. Total ada
dua belas anggota."
"Dua belas orang!? Banyak
sekali..."
"Yah walau begitu, gara-gara
setengahnya gugur saat diskusi sebelum masa pemilihan, yang beneran maju ke
masa pemilihan cuma tiga pasang sih."
"Diskusi?"
"Ah, soal Dewan Siswa. Begitu ya,
kan baru satu tahun sejak kamu pindah sekolah... Haruskah kujelaskan soal itu
juga."
Dewan Siswa.
Saat terjadi suatu masalah di antara para
murid, jika diskusi di antara pihak bersangkutan tidak menemukan titik temu.
Atau saat murid umum memiliki topik bahasan yang ingin diangkat ke OSIS, itu
adalah acara semacam debat yang diadakan di aula.
Di sana masing-masing perwakilan
menyampaikan pendapat mereka, lalu mengambil keputusan berdasarkan pemungutan
suara dari para hadirin.
Keputusan yang diambil melalui Dewan
Siswa ini memiliki daya paksa dan kekuatan pelaksanaan yang luar biasa, karena
seluruh siswa yang hadir menjadi saksi atas keputusan tersebut.
"Misalnya, diskusi antara klub sepak
bola dan klub bisbol kemarin pun, kalau bagaimanapun tidak menemukan titik temu
pasti bakal diselesaikan di Dewan Siswa. Yah, kalau sampai bikin heboh begitu
bakal meninggalkan ganjalan juga sih... makanya pada dasarnya, mencari titik
kompromi lewat diskusi antar pihak bersangkutan. Mengadakan Dewan Siswa itu
adalah jalan terakhir."
"Begitu ya... Aku tahu kalau
sesekali ada acara di aula, tapi ternyata hal semacam itu ya."
"Dewan Siswa itu, sebenarnya
diselenggarakan oleh OSIS lho? Yah, yang berhubungan langsung cuma Ketua dan
Wakil Ketua yang bertindak sebagai pimpinan sidang saja, jadi kita tidak
terlalu berhubungan sih. Paling kalau ada permohonan masuk tinggal memproses
dokumennya saja?"
"Begitu... Lalu, apa hubungannya hal
itu dengan pemilihan Ketua?"
"Nng? Ah... kalau sesama kandidat
masa pemilihan yang mengadakan Dewan Siswa, situasinya agak sedikit
berbeda."
Dalam banyak kasus, Dewan Siswa antar
kandidat diadakan karena adanya perbedaan pendapat mengenai urusan OSIS. Karena
sifatnya, forum semacam ini disebut debat.
Hal itu terjadi karena begitu para
kandidat saling beradu pendapat dan ada yang menang serta kalah, sebagian besar
murid akan menganggap tingkat atau kelas sosial mereka telah ditentukan di
sana.
"Kalau soal popularitas, daya bujuk,
dan sejenisnya sudah diberi penilaian lewat debat, hampir tidak mungkin untuk
memutarbalikkan evaluasi itu. Secara praktis, itu sama saja gugur sebelum masa
pemilihan dimulai. Yah, terus bekerja bersama orang yang sudah mengalahkanmu
dalam berdebat pun pasti berat secara mental, jadi sebagian besar pihak yang
kalah akan keluar dari OSIS."
"Jadi begitu..."
"Biasanya mereka saling menjatuhkan
seperti itu, dan sudah menjadi tradisi kalau akhirnya bakal tersaring sampai
tiga atau empat pasang saja. Yah, biarpun tidak semua murid yang menantang
pemilihan Ketua masuk ke OSIS sih... tetap saja, tahun ini jelas-jelas
aneh."
Sebelum Masachika bergabung, murid kelas
satu hanya ada Yuki dan Alisa. Sempat ada anggota lain yang bergabung untuk
sementara, tetapi pada akhirnya mereka langsung mengundurkan diri. Itu
artinya...
"Semua orang sudah menyerah. Mereka
berpikir tidak akan bisa menang dalam pemilihan Ketua kalau lawannya Yuki.
Sejauh itulah Yuki dianggap sudah pasti menjadi Ketua berikutnya."
"..."
"Manfaat
menjadi Ketua OSIS di sekolah ini tidak perlu dijelaskan lagi, kan? Malah,
nilai dari jabatan Ketua OSIS itu terlalu tinggi, sampai-sampai ada cerita
kalau beberapa tahun lalu sempat marak cara-cara kotor di balik layar demi masa
pemilihan──"
Masachika menceritakan soal masa
pemilihan dengan sangat serius, tidak seperti biasanya. Alisa menatap sosok itu
dengan perasaan yang agak rumit.
Alisa biasanya selalu menegur sikap tidak
serius Masachika, tetapi jika Masachika terus-menerus mempertahankan sikap
serius seperti ini setelah pekerjaan di OSIS, rasanya seperti bikin ritmenya
berantakan, atau lebih tepatnya bikin denyut nadinya berantakan.
Ditambah lagi, Alisa juga tidak suka
karena Masachika sama sekali tidak tampak terganggu dengan situasi di mana
mereka hanya berduaan di famires.
(Apa-apaan sih... sok bersikap tenang
begitu.)
Alisa
yang awalnya memang punya sedikit tem──perlindungan yang ketat, sebenarnya baru
pertama kali ini masuk ke tempat makan berduaan saja dengan lawan jenis.
Bahasa Rusia yang dibisikkannya sebelum
masuk ke kedai pun, disadarinya khusus untuk kali ini keluar dari dasar
hatinya. Hal itu terutama gara-gara pengetahuan komik remaja yang dicekoki oleh
Maria, tetapi di dalam persepsi Alisa, "diajak cowok ke famires seusai
sekolah" sama saja dengan "ajakan kencan".
Karena itulah, dia sempat memikirkan
apakah harus duduk di depan atau di sebelah, atau bagaimana kalau dilihat murid
lain, atau bukannya duduk di dekat jendela bisa kelihatan dari luar, hingga di
dalam hati merasa gelisah karena memikirkannya secara berlebihan. Namun begitu
membuka penutupnya, ternyata hanya dirinya sendiri yang memikirkannya.
(Ada apa sih? Maksudmu kamu sudah
terbiasa ke famires sama cewek? Yah, bukannya cuma sama Yuki-san saja, tapi
sepertinya ada cewek lain juga yang akrab denganmu kan?)
Mengingat kata-kata yang diucapkan
Masachika saat berjabat tangan di perjalanan pulang kemarin, amarah pada saat
itu pun bangkit kembali di saat yang sama.
Sambil meminum melon soda untuk
mengalihkan pikiran, ganjalan di dalam dadanya tidak kunjung mereda. Merasakan
sensasi kasar menyentuh lidahnya dia berburu-buru menjauhkan mulutnya, dan di
sana tanpa disadari ada sedotan yang sudah digigit-gigit hingga menjadi gepeng.
Sambil di dalam hati meyakini
"Pantas saja rasanya susah diminum", dia merasa agak malu karena
tanpa sadar telah melakukan hal seperti anak kecil.
"...Yah, berkat hal itu, katanya
sekarang kita bisa mengadakan pemilihan yang bersih sih."
Di kursi depannya Masachika masih lanjut
berbicara dengan serius seperti biasa, tetapi isinya tidak begitu masuk ke
dalam kepalanya.
Padahal Masachika sudah repot-repot
berbicara makanya dia berpikir harus berkonsentrasi, namun bagaimanapun juga
dia tidak bisa benar-benar fokus.
"Huu~n, begitu ya."
"Ya,
lalu sebagai gantinya persaingan antar kandidat lewat debat itu──"
Sambil mengangguk-angguk samar, Alisa
kali ini menyuap parfait ke dalam mulutnya. Setelah rasa manis cokelat dan es
krim vanila meluas di dalam mulutnya, sensasi keras menyentuh giginya... Kali
ini dia menyadari kalau dirinya telah menggigit sendok, hingga dia berburu-buru
menariknya keluar dari mulut.
"Alya? Kamu mendengarkan?"
"っ!"
Ditatap dengan mata heran oleh Masachika,
pipi Alisa memerah merona. Karena dirinya yang biasa menegur justru malah
ditegur balik, rasa harga diri yang terluka dan rasa malu pun meledak.
"Dengar kok. Cuma agak terdistraksi
sama parfait saja."
"...Haah, yah memang kelihatannya
enak sih..."
Sambil mengangguk setengah hati,
Masachika menatapnya dengan mata yang seolah ingin bilang "Sampai menyita
perhatianmu segitunya?", membuat pipi Alisa makin memerah.
(Apa-apaan sih! Lagian dari awal
karena kamu memasang sikap seperti itu, makanya ritmeku jadi berantakan kan!)
Sambil meluapkan amarah tidak masuk akal
yang penuh kekesalan di dalam kepalanya, Alisa memalingkan pandangan dari mata
heran Masachika... lalu melihat parfait yang masuk ke dalam jangkauan
penglihatannya, sebuah ide bagus (?) mendadak terlintas di kepalanya.
(F-fufu, benar... Kalau kamu tidak
menyadarinya, tinggal kubikin sadar saja!)
Menyalakan rasa persaingan yang
misterius, Alisa memajang senyum
penuh keyakinan di sudut mulutnya, lalu
mengutarakannya dengan ekspresi jahil.
"...Mau makan, satu suap?"
"Eh, nggak..."
"Katanya kelihatan enak. Tidak usah
sungkan tahu."
Sambil mengutarakannya dengan nada
santai, Alisa menyendok krim kental yang tersiram saus cokelat memakai sendok,
lalu
menyodorkannya begitu saja ke arah
Masachika. Menghadapi hal ini, Masachika pun akhirnya membeku.
"Nih, silakan."
Sendok yang disodorkan. Tingginya
jelas-jelas bukan posisi untuk menyerahkan sendok, dan meski tidak ada kata
kunci keputusan (a~nn), tujuannya sudah sangat jelas.
(Eh? Apa-apaan event a~nn ini? Eh, nggak,
bukannya tadi situasinya tidak seperti ini ya? Kapan flag-nya tancap??)
Sesuai dugaan Alisa, Masachika tidak bisa
menyembunyikan keguncangannya. ...Meskipun cara berguncangnya terasa jauh lebih
kasihan dari perkiraan Alisa sih.
"Anu, nggak, aku biasa minta sendok
baru saja?"
"Tidak enak juga kan kalau sengaja
memanggil pelayan. Bikin cucian piring bertambah juga."
"Nggak, tapi..."
Event penyiksaan rasa malu macam apa ini?
Masachika yang refleks bersandar mundur, makin didesak oleh Alisa yang
menyodorkan sendoknya lebih dalam.
"Ayo cepat... Yang begini, di Rusia
sudah biasa tahu."
"Eh, seriusan?"
Pengetahuan Masachika soal Rusia terutama
didapat dari film dan buku, bukan didapat dari praktik langsung di lapangan.
Karena itulah, pemikiran bahwa mungkin saja Rusia adalah negara yang sama
sekali tidak memedulikan ciuman tidak langsung atau semacamnya melintas di
kepala Masachika...
(Ah, ini mah murni bohong.)
Memindahkan pandangannya dari sendok ke
arah Alisa, dia langsung menilai demikian. Alasannya karena biarpun Alisa
memoles wajahnya dengan ekspresi jahil... kalau dilihat baik-baik, ujung
telinga dan ujung jarinya perlahan-lahan memerah merona. Justru karena kulitnya
putih makanya kelihatan sangat mencolok.
(Beneran kenapa coba...? Jangan
dipaksakan dong kalau malu.)
Kalau sudah begini dia justru jadi tenang
secara berbalik, dan rasa khawatir lebih unggul ketimbang rasa malu. Hal itu
tersampaikan secara jelas dari ekspresi Masachika, membuat Alisa juga mendadak
jadi tenang secara berbalik.
(Aku sedang melakukan apa sih...)
Sekali menjadi tenang, rasa malu yang
luar biasa atas tindakannya
sendiri meledak naik. Seluruh tubuhnya
memanas, dan dia diserang oleh sensasi seolah semua orang yang ada di dalam
kedai sedang melihat ke arahnya, hingga dia tidak tahan lagi.
Namun, dia sendiri paham kalau menarik
kembali sendoknya di sini bakal makin membuat tidak tahan, jadi dia sebisa
mungkin mempertahankan ekspresinya dan tetap menyodorkan sendoknya.
"Tuh kan... krimnya nanti meleleh
tahu?"
"Ah, ya..."
Masachika juga samar-samar sadar kalau
Alisa sudah berada dalam posisi serba salah untuk mundur, jadi dia menyerah
untuk membujuk Alisa.
(Mana kuperkirakan bakal terjadi event
ciuman tidak langsung di sini... Tapi tidak ada masalah. Waktu sama Masha-san,
aku sudah bersiap dan melakukan simulasi!)
Waktu itu memang cuma salah paham saja,
tapi secara situasi tidak jauh berbeda. Yang begini siapa yang merasa malu maka
dialah yang kalah.
Harus diselesaikan secara tenang dan
stylish!
(Benar, cuma cangkir kertas yang berubah
jadi sendok saja... Berubah jadi... Bukan kan! Ini sendok tahu? Sendok yang
sudah masuk ke dalam mulut Alya dan menyentuh lidahnya tahu? Memasukkan hal itu
ke dalam mulut bukannya sudah melompati ciuman tidak langsung dan
boleh dipanggil ciuman deep tidak
langsung!?)
Hasil dari menganalisis situasi secara
tenang, justru membuat Masachika tidak bisa tenang sama sekali. Tanpa sadar
pandangan matanya mengarah ke bibir Alisa, dan pada timing itu Alisa membuka
mulutnya.
"Ayo, a~nn."
Akhirnya, Alisa mengutarakan satu kata
itu (a~nn). Secara alami masuk ke dalam jangkauan penglihatan Masachika, gigi
putih cantik dan lidah merah milik Alisa.
(Uwoooーー!?
Jangan memperlihatkan lidahmu dong! Bikin kerasa nyata banget kan! Kerasa nyata
banget kan guwaaaーー!? Gadis cantik mah bagian dalam mulutnya juga
cantik ya terima kasih banyak!)
Masachika meronta-ronta sambil merengkuh
kepalanya di dalam hati. Namun entah apakah ini naluri seorang pria atau apa,
bagaikan anak burung yang disodori paruh oleh induknya, saat tersadar Masachika
sudah membuka mulutnya.
"A, a~nn..."
Di sana sendok disodorkan tanpa ampun.
Secara refleks menutup mulutnya,
Masachika menyendok krim kental memakai bibir atasnya.
Padahal tepat sampai sebelum ini dia
sempat berpikir untuk mengeruknya memakai gigi depan sebisa mungkin agar tidak
menyentuh sendok, namun hal semacam itu sudah lenyap sepenuhnya dari kepalanya.
(Ugyaaaaaoooーー!?
Ciuman deep tidak langsung! Aku sudah melakukan ciuman deep tidak langsungーー!?
Bukannya urutannya salah? Bukannya urutannya dalam berbagai hal salah, lagian
urutan macam apa coba dasar bodohーー!?)
Di dalam hati, Masachika meronta-ronta
sambil membenturkan kepalanya ke tanah.
Di sana, Yuki yang memasang wajah mesum
menepuk bahunya sambil berkata dengan suara jahat "Hehe, bagaimana?
Bagaimana rasa Alisa-san?", jadi untuk sementara sambil bangun Masachika
menghantamkan uraken (pukulan punggung tangan) ke wajah itu.
Adiknya ini bahkan di dalam bayangan
kepala pun sangat bising.
"...Manis ya."
"...Begitu."
Gara-gara terlalu berguncang, Masachika
yang menelan krim kental melontarkan kesan yang terlalu sederhana. Namun, Alisa
pun tidak melayangkan protes ke sana dan menarik kembali sendoknya dengan
tenang.
(Nggak, justru suasananya yang manis!
...Tunggu, beneran harus diapa-apakan situasi yang begini coba.)
Padahal sampai tadi sedang membicarakan
hal yang serius, kenapa bisa jadi begini? Atau lebih tepatnya, beneran tidak
ada yang melihat situasi begini kan.
Baru tersadar sekarang, Masachika
mengedarkan pandangan matanya ke sekeliling... dan saat melihat ke luar
jendela, matanya berkedip melihat sosok punggung yang tidak asing.
(Itu kan... Taniyama?)
Di dalam hati dia memiringkan kepalanya,
namun kesadarannya ditarik kembali oleh Alisa yang berdeham.
Saat Masachika menghadap kembali ke
depan, Alisa yang menundukkan wajahnya mendongak, lalu menatap lurus ke arah
Masachika dengan ekspresi bermartabat.
"Lalu, dengan mempertimbangkan hal
itu... bagaimana menurutmu kita bisa menang lawan Yuki-san?"
Sadar akan kenyataan yang keras, mata
yang kuat itu tetap berusaha menatap ke depan. Binar jiwa yang menyilaukan dan
justru bersinar di tengah kesulitan, membuat Masachika tanpa sadar
membelalakkan matanya...
(Nggaaaaーー-Mustahil-mustahil!
Bukan 'Bagaimana menurutmu kita bisa menang? "Kiri-tt"' tahu! Di
dalam atmosfer seperti ini mode serius itu terlalu dipaksakan tahu Alya-san!?)
Di dalam hati dia melayangkan protes
secara luar biasa. Namun, keinginan untuk melakukan sesuatu atas atmosfer aneh
ini juga dirasakan oleh Masachika, jadi tanpa menyuarakan dari mulutnya dia
ikut naik ke dalam alur.
"Nnn-ng... Itu sih tentu saja, tidak
ada pilihan selain lewat jalur lain kan."
"Jalur lain?"
"Ya, kalau bertarung secara frontal
dari depan tidak ada peluang menang. Kalau begitu ubah cara serangnya, lalu
memikat para murid lewat arah yang berbeda dari Yuki."
"...Spesifiknya?"
Atas pertanyaan Alisa, Masachika
menyatukan pikirannya sambil membiarkan pandangan matanya melayang
"Bagaimana ya...".
"Sama seperti pemungutan suara
popularitas idola... Buat mengalahkan ace mutlak, tidak ada pilihan selain
mengincar keberadaan yang didukung oleh semua orang."
"...Maksudnya bagaimana? Didukung
atau apa... dari awal, orang-orang memberikan suara kan karena ingin
mendukung?"
"Nggak? Tidak selalu begitu.
Pemilihan Ketua itu pada dasarnya pemungutan suara popularitas sih, tapi beda
sama idola yang para penggemarnya pergi sendiri mengambil hak suara, hak suara
diberikan secara paksa kepada seluruh murid sekolah kan... Kalau begitu, hal
yang dipilih oleh para murid yang tidak begitu tertarik sama pemilihan Ketua
sebagian besar adalah satu pilihan, yakni 'aman'. Maksudnya, mantan Ketua OSIS
SMP yang aman, tepercaya, dan berprestasi. Faktanya, aku juga waktu pemilihan
Ketua kemarin memilih mantan Ketua secara biasa kok. ...Aku kaget sewaktu yang
menang orang lain."
"Benar ya... Kalau dikatakan begitu,
Kenzaki-presiden di SMP dulu bukannya bukan pengurus OSIS ya."
"Ya, kalau mantan Ketua OSIS SMP dan
Wakil Ketuanya maju dalam pemilihan sebagai pasangan yang sama di SMA, tingkat
kemenangannya katanya sekitar tujuh puluh persen lho. Bisa menang dari sana,
Kenzaki-presiden bagaimanapun juga memang hebat... Nah, yang dilakukan Ketua
waktu itu, tepatnya adalah membuat story untuk didukung."
Memuji Touya secara jujur, Masachika
menarik keluar tumpukan kertas dari dalam tasnya.
Itu adalah salinan koran sekolah tahun
lalu yang diterbitkan oleh klub koran sekolah. Mengambil salah satu kertas di
antaranya, Masachika menunjuk ke satu titik.
"Di sini, ada fitur kecil kan?"
"...Apa ini? 'Kenzaki Touya, Jalan
Menuju Ketua OSIS Episode 5'?"
"Yup, salah satu anggota klub koran
saat itu menganggap menarik kenyataan Kenzaki-presiden yang seorang murid
inferior menantang pemilihan Ketua, lalu melakukan liputan. Katanya Ketua
sendiri, demi menjaga motivasinya, menyetujui pembuatan fitur memakai nama
asli."
"Fuu, nng... Yah, kalau berpikir
sedang dilihat orang lain rasa manja jadi hilang ya."
"Ya. Mungkin awalnya anggota klub
koran yang meliput juga setengah mengejek sih... Tapi makin ke sini, penampilan
luar berubah secara drastis, nilai naik, sampai akhirnya jadi terasa seperti
real success story. Para pembaca makin banyak yang berpihak padanya, dan
katanya sampai menang pemilihan."
"Itu yang dimaksud membuat story
untuk didukung...? Maksudnya, memperlihatkan usaha dan perjuangan keras kepada
para murid di sekitar?"
"Cepat banget pahamnya seperti yang
diharapkan. Maksudnya begitu."
Sambil tersenyum puas atas kecepatan otak
pasangannya, Masachika menyesap cafe au lait ke mulutnya... namun kesadarannya
sejak tadi terus mengarah ke tempat lain.
(Terus, sendok itu mau diapa-apakan?)
Tepatnya, sendok yang tadi dipakai buat
"a~nn".
Sekarang diletakkan di atas tisu kertas
di tangan Alisa, tapi chocolate parfait-nya masih menyisa lebih dari separuh,
dan kalau tidak segera dimakan es krimnya sudah hampir meleleh dan rubuh.
Apakah Alisa beneran tidak sadar, atau
pura-pura tidak sadar...
Di sisi lain Alisa yang antusias membaca
salinan koran sekolah yang disiapkan Masachika... sambil pura-pura membaca,
mengarahkan kesadarannya ke tempat lain.
(Bagaimana dong, sendok ini.)
...Keduanya memikirkan hal yang sama.
Entah kenapa Alisa melakukan
"ann" gara-gara rasa persaingan yang bahkan tidak dipahaminya
sendiri, tapi setelah menjadi tenang sekarang, di dalam hati dia serasa mau
mati karena rasa malu yang luar biasa.
Kalau dipikir-pikir, harusnya setelah
"ann" tinggal makan parfait-nya begitu saja sesuai alur. Memakai
sendoknya dengan gestur santai, lalu menjahili Masachika yang serba salah
harusnya sudah selesai. Gara-gara sengaja meletakkan sendoknya sekali, makin ke
sini jadi makin susah buat menyentuhnya.
(Soalnya... Kuze-kun melahapnya penuh ke
dalam mulut begitu sih... Agak lebih segan sedikit dong dasar mesum!)
Sambil melempar tanggung jawab dengan
kecepatan luar biasa, Alisa melirik tipis ke arah sendok... dan melihat bekas
krim yang tersisa jelas dalam bentuk garis-garis di sana, dia memalingkan
pandangan matanya dengan cepat.
(Be, bekas bibir Kuze-kun yang lewat,
aaaaa bekas bekas bekaaaas~~~???)
Di dalam hati Alisa panik sampai matanya
berputar-putar. Di sana,
Masachika mengangkat suaranya dengan
ragu-ragu.
"Aa~~... anu, maaf. Boleh aku pesan
sesuatu?"
"Eh?"
Kepada Alisa yang mengedipkan matanya,
Masachika mengarahkan pandangan matanya ke sekeliling lalu memajang senyum malu
dan senyum kecut secara berimbang.
"Gara-gara mencium aroma makanan,
entah kenapa perutku jadi lapar...
Ternyata kalau melewatkan sarapan memang
tidak bagus ya."
"Ah... Boleh saja sih."
Mendapatkan persetujuan Alisa, Masachika
membuka menu. Setelah membalik-balik halaman dan menentukan sasaran, dia
menekan tombol pemanggil pelayan. Lantas, tidak lama kemudian seorang pelayan
wanita datang.
"Maaf membuat menunggu~"
"Ah, boleh pesan?"
"Ya, silakan."
"Anu... sauté bakon dan bayam, Mapo
Tahu Sichuan autentik, sama nasi dan air dinginnya... dua."
"I~ya. Sauté bakon dan bayam, Mapo
Tahu Sichuan autentik, nasi dan air dinginnya dua ya?"
"Ah, ngomong-ngomong... Mapo Tahu
ini bisa tambah kepedasan tidak ya?"
"Bisa lho?"
"Eh, bisa?"
Refleks memprotesnya, Alisa yang
menciutkan lehernya karena malu membuat pelayan wanita tersenyum lalu
mengembalikan pandangan matanya ke Masachika.
"Ada dua kali, tiga kali, lima kali,
sampai sepuluh kali, mau yang mana?"
"Sepuluh kali itu, seberapa pedas
ya?"
"Begitu, ya..."
Di sana pelayan wanita melirik tipis ke
sekeliling, lalu menurunkan suaranya sedikit dan berkata.
"Jujur saja, pedas sekali. Saya juga
pernah mencicipinya, tapi satu suap sudah batas maksimal. Yang itu pasti bikin
sakit perut."
"Sakit perut ya... Bagus dong."
"Bagian mananya?"
Alisa melayangkan protes dengan wajah
datar, tapi Masachika mengabaikannya secara biasa.
"Kalau begitu, yang sepuluh kali
lipat."
"Baik, sepuluh kali lipat ya. Ada
tambahan lainnya?"
"Nggak, lalu... tolong minta ganti
sendok."
Saat Masachika berkata demikian sambil
mengarahkan pandangan matanya ke sendok di tangan Alisa, pelayan wanita itu pun
mengangguk tanpa mencari tahu lebih jauh.
"Baik. Kalau begitu, mohon tunggu
sebentar."
Setelah melihat pelayan wanita itu
kembali ke dapur, Alisa berkata dengan nada tidak puas kepada Masachika yang
menaruh menu kembali.
"Padahal, tidak usah juga tidak
apa-apa."
"Soal sendok? Akunya yang malu tahu.
Di Rusia mungkin hal biasa sih, tapi buat siswa SMA Jepang dosisnya terlalu
kuat."
"Ah, begitu..."
Setelah mengangguk dengan gestur agak
tidak rela, Alisa mendadak tersenyum provokatif "Fuhun".
"Masa cuma gara-gara begini saja
berguncang, Kuze-kun ternyata anehnya polos ya. Padahal aku mengira kamu sudah
terbiasa sama cewek."
Sudah berusaha mengkhawatirkannya, malah
dibalas dengan ucapan seperti itu
"Kalau dari sudut pandangku, aku
justru tidak bisa percaya ada orang yang melakukan hal semacam ini secara biasa
saja lho. Apakah di Rusia ciuman tidak langsung itu marak terjadi ya?"
Saat Masachika mengutarakannya sambil
mengulas senyum kedutan, Alisa mengerutkan pangkal alisnya dengan jengkel lalu
bungkam.
Setelah menghening sejenak, dengan wajah
tidak puas dia berbisik pelan.
【あなた以外にはしないわよ。バカ】(Aku tidak akan
melakukannya kepada siapa pun selain kamu. Bodoh)
Selamat ya Masachika-kun. Kamu
mendapatkan ciuman tidak langsung pertama Alya-san, lho, hore!
(Terima kasih... Apakah aku bakal mati
hari ini ya?)
Atas pengumuman di dalam kepala yang
mendadak bergema, Masachika menatap ke luar jendela dengan mata menerawang. Di
sana, pelayan wanita yang tadi datang membawakan sendok baru.
"Maaf membuat menunggu~ Kalau
begitu, yang ini saya ambil ya?"
"Ah, ya... terima kasih
banyak."
Kepada Alisa yang menerima sendok baru,
Masachika yang matanya masih menerawang menyuruhnya makan parfait.
"Nah... cepat makan sana. Nanti
meleleh lho?"
"...Benar ya."
Mengangguk patuh, Alya menghancurkan
parfait yang agak miring itu dalam satu gerakan, lalu mengaduk krim kental di
atas sampai corn flakes di bawah secara merata dan memasukkannya ke dalam
mulut. Makan secara teratur dan menghabiskannya dalam beberapa menit, dia
merapatkan kedua tangannya "Terima kasih atas makanannya" lalu
mengelap bibirnya memakai tisu kertas.
"Meskipun begitu... kamu makannya
cukup banyak ya."
"Nng? ...Ah."
Memiringkan kepalanya sejenak, Masachika yang menyadari kalau masakan yang dipesannya dikira sebagai camilan, meluruskan kesalahpahaman Alisa.
"Aah nggak, hari ini aku pikir mau
sekalian makan malam di sini saja."
"...Tadi juga sempat kupikirkan sih,
tapi tidak apa-apa kalau tidak memberi kabar ke rumah? Orang tuamu bukannya
menyiapkan makanan?"
"Nggak, sekarang di rumah lagi tidak
ada orang tua."
"Ah, begitu..."
Kenyataannya, masakan untuk keluarga Kuze
yang merupakan keluarga ayah dan anak, pada dasarnya dibuat oleh Masachika.
Saat ayahnya meninggalkan rumah karena pekerjaan pun, sebagian besar dia
memasak sendiri.
"Toh aku sendirian ini, lagipula
malas kalau harus memasak setelah pulang ke rumah."
Secara ketatnya sih, ada adik perempuan
yang mendadak menyerang tanpa pemberitahuan lalu minta makan. Tapi berhubung
baru kemarin terjadi, harusnya hari ini tidak bakal datang... makanya, dia
memutuskan untuk tidak memikirkannya.
"Memasak... eh, Kuze-kun bisa
memasak?"
Melihat ekspresi terkejut Alisa yang
tampak benar-benar dari dasar hatinya, Masachika mengedikkan bahu.
"Kalau cuma yang simpel-simpel saja
sih. Soalnya yang kubuat cuma sebatas hal yang dipanggil masakan hemat waktu
atau masakan gampang, jadi tidak bisa membuat yang heboh-heboh lho?"
"Tapi tetap saja terkejut. Padahal
Kuze-kun kelihatannya tidak bakal
mau melakukan hal seperti memasak karena
bilang malas."
"Yah, tidak kubantah sih."
Kenyataannya, bukannya Masachika suka
memasak. Dia melakukannya murni cuma karena berbagai hal jadi terasa lebih
praktis saja.
Saat awal-awal kelas satu SMP dulu, pagi
makan roti olahan yang dibeli kemarinnya, siang makan di kantin sekolah, malam
makan bento convenience store, tapi baru berjalan sebulan dia sudah bosan
dengan roti olahan. Setiap hari harus pergi belanja juga jujur saja malas.
Pada suatu hari, saat dia secara iseng
mencoba hal yang dipanggil masakan hemat waktu yang ada di TV, dia menyadari
kalau waktu yang dihabiskan untuk pergi belanja dan waktu untuk memasak sendiri
serta mencuci piring, tidak beda jauh.
Ditambah lagi pada hari saat ayahnya
meninggalkan rumah, Masachika diberi uang makan sebesar dua ribu yen per hari.
Karena sisanya bisa menjadi uang saku sendiri, kalau memasak sendiri uangnya
jadi lebih terkumpul. Berdasarkan keuntungan dan kerugian tersebut, dia murni
memilih untuk memasak sendiri saja.
"Kalau Alya sendiri bagaimana? Bisa
memasak?"
Berpikir bahwa jika manusia sempurna ini
yang ditanya, dia pasti bisa memasak sampai batas tertentu, Masachika pun
bertanya secara santai...
"..."
Alisa memalingkan pandangan matanya tanpa
suara. Masachika pun paham.
"Ya yah, anak kelas satu SMA yang
bisa memasak memang minoritas sih
ya."
"Bukannya tidak bisa... cuma butuh
waktu saja."
"Ah... jangan-jangan, tipe yang saat
memotong sayur dipotong dengan sangat-sangat teliti supaya ukurannya dan
tipisnya sama persis?"
"Yah, begitulah. Lalu, aku
bagaimanapun juga kepikiran apakah bahan-bahannya sudah matang secara merata,
atau apakah bumbunya sudah meresap dengan takaran dan konsentrasi yang
tepat..."
"Itu mah, yang bikin gosong
dong."
"..."
Tepat kena di titik telak, Alisa membawa
melon soda ke mulutnya dengan wajah canggung.
Sangat khas Alisa yang perfeksionis,
pikir Masachika sambil tersenyum kecut dan mengerti. Dalam memasak ketepatan
itu penting, tapi yang lebih penting dari itu adalah kelincahan. Kalau menurut
Masachika kuncinya adalah melakukan dengan agak kasaran sambil tetap memegang
poin-poin pentingnya, tapi bagi Alisa yang perfeksionis hal yang dipanggil
"kasaran" itu tidak bisa dilakukannya.
"...Mau bagaimana lagi, soalnya aku
kepikiran. Kalau melihat Masha mengerjakan dengan asal-asalan secara waah
begitu, rasanya jadi gatal..."
"A~h kalau itu sih bisa terbayang
banget ya."
Sambil memajang senyum lembut seperti
biasanya, sosok Maria yang memasukkan bahan makanan dan bumbu ke atas
penggorengan secara asal-asalan terbayang di dalam benak, membuat Masachika
tertawa berpikir dia memang sangat mungkin melakukan hal itu. Berbeda dari
adiknya, apakah kakaknya yang terlalu kasaran sampai tidak bisa memasak,
pikirnya.
"Tapi, entah kenapa masakan yang
jadi malah enak sih..."
"Itu mah simpelnya orang yang jago
memasak~"
Maria-san, ternyata secara tak terduga
jago memasak.
(Seriusan. Orang itu beneran tidak punya
cela sama sekali ya.)
Sampai di tahap ini 'Teori Maria-san
sebenarnya punya spesifikasi lebih tinggi dari adiknya' pun mencuat, membuat
Masachika memegang dahinya. Melihat gestur Masachika tersebut, Alisa
mengibaskan tangannya pelan karena merasa canggung lalu mengembalikan pembicaraan.
"Yah mumpung lagi begitu, biarkan
saja. Lalu, secara spesifik story seperti apa yang kamu pikirkan?"
"Eh, ah... benar juga. Sampai mana
tadi kita bicara?"
"Sampai bagian membuat story supaya
didukung para murid seperti yang dilakukan Kenzaki-presiden."
"Ah, benar juga..."
Alisa yang mengembalikan pembicaraan
seolah menata kembali suasana hatinya, Masachika juga membetulkan ekspresinya
lalu mengubah pemikirannya.
"Yah, seperti yang dikatakan Alya
juga, pertama-tama kita harus
memperlihatkan sosok yang sedang
berusaha. Secara spesifiknya... pada upacara penutupan semester satu."
"Upacara penutupan semester satu?
Jangan-jangan, sambutan pengurus OSIS?"
Melihat Alisa yang tampak sudah paham,
Masachika juga mengangguk.
"Benar. Secara formalitasnya, itu
adalah wadah perkenalan OSIS
'Semester ini kita bakal berjalan dengan
pengurus ini ya~'."
"Kalau tidak salah ingat setelah
itu, pada dasarnya pengurus baru tidak bakal bertambah lagi kan?"
"Ya. Biasanya selama semester satu
keluar masuk pengurus sangat
intens, tapi setelah sambutan ini biarpun
ada yang keluar tidak bakal ada yang masuk lagi. Dan... sambutan ini bagi kita
pengurus kelas satu, adalah wadah deklarasi pencalonan diri dalam pemilihan
Ketua."
"Kalau dikatakan begitu, tahun lalu
juga terasa seperti itu ya..."
Mengingat kembali saat kelas tiga SMP
dulu lalu mengangguk, Masachika memberitahunya dengan ekspresi serius.
"Ini adalah pidato deklarasi
pandangan pertama yang dilakukan di hadapan seluruh murid sekolah. Tidak perlu
dikatakan lagi seberapa pentingnya hal ini, kan?"
"Benar, ya..."
Alisa juga memasang ekspresi serius lalu
berpikir dalam. Sempat menunduk memikirkan sesuatu untuk sejenak, namun
mendadak dengan ekspresi yang agak cemas, dia melirik tipis ke arah Masachika.
"...Sambutan seperti apa yang
sebaiknya kubawakan ya?"
Meskipun dengan suara kecil namun Alisa
bersandar padanya, tetapi Masachika mengatakannya secara santai.
"Bicara sesukamu saja tidak apa-apa
kok. Kalau berbicara dengan perasaan jujur dan memakai kata-katamu sendiri, hal
itu bakal lebih tersampaikan ke pihak yang mendengarkan."
"Apa-apaan. Tidak ada nasehat
spesifik satu pun?"
Padahal sudah repot-repot bersandar tapi
dibalas secara asal-asalan, Alisa mengerutkan pangkal alisnya dengan tidak
puas. Terhadap hal itu, Masachika mengedikkan bahunya.
"Tanpa perlu melakukan hal yang
aneh-aneh pun, kamu itu dalam kondisi apa adanya saja sudah merupakan manusia
yang bikin ingin didukung kok. Bagian yang kata-katanya kurang atau apa bakal
kubantu dari sisiku, jadi kamu tinggal berbicara sesuai yang kamu pikirkan
saja."
Kata-kata yang diucapkan secara santai.
Atas kata-kata tersebut...
"Ah, begitu..."
Alisa, merona secara biasa. Berbalik
drastis dari ekspresi tidak puas menjadi ekspresi malu-malu, dia membiarkan
pandangannya melayang dengan gelisah. Lalu, sambil meremas-remas ujung
rambutnya memakai jari dia membuka mulut hendak mengatakan sesuatu, berpikir
sejenak lalu berbisik dalam bahasa Rusia.
【……どの辺りが?】(.....Bagian
mananya?)
Sambil gelisah dan melirik-lirik dia
meminta "Puji aku, puji aku" dalam bahasa Rusia, membuat mata
Masachika menerawang jauh.
(Bagian situnya tahu dasar sialan. Kan
imut banget kan.)
Saat Masachika menggerutu di dalam hati
secara agak pasrah, masakan yang dipesan pun tiba.
"Pesannya sudah semua ya~?"
"Ya."
"Baik. Kalau begitu silakan
dinikmati"
Mengantar pelayan pergi lalu melirik
tipis ke arah Alisa, Alisa yang paham maksudnya menyuruhnya
"Silakan".
"Kalau begitu permisi... selamat
makan."
Masachika merapatkan kedua tangannya
sejenak, lalu mulai menyantap tumis bacon dan bayam yang tersaji di atas piring
putih. Setelah menghabiskannya dengan cepat sebagai hidangan pembuka, ia
kemudian mengambil Mapo Tahu, hidangan utama yang masih mengepul di atas wajan
besi tipis.
Mencampur tahu putih yang hancur pas
dengan saus merah kehitaman yang bagaikan magma secara melimpah, dia
memasukkannya ke dalam mulut tanpa sempat mendinginkannya.
"Hee... buat ukuran famires ini sih
lumayan nekat ya."
Atas rasa pedas yang menusuk gusi
tersebut, Masachika mengangguk puas. Melihat keadaan tersebut, Alisa menatapnya
sambil mengerutkan pangkal alis.
"...Enak? Yang itu."
"Nng? Yah lumayan. Mau coba?"
Setelah mengutarakannya begitu, Masachika
berpikir "Ah, gawat".
Gara-gara merasa tidak enak karena hanya
dirinya sendiri yang makan, serta refleks yang keluar gara-gara tadi
di-"a~nn", tapi kalau dipikir-pikir ini bukanlah rasa pedas yang bisa
dimakan oleh Alisa.
Namun, menarik kembali penawaran yang
sudah dikeluarkan juga...
Saat Masachika ragu-ragu, Alisa di
depannya juga sedang ragu-ragu.
Jujur saja, dia tidak ingin makan barang
berbahaya yang terlihat jelas begini. Tapi, kalau di sini dia bilang tidak
butuh, bisa-bisa bakal ketahuan kalau sebenarnya dia bukan penyuka makanan
pedas.
(Ada air. Melon soda juga masih ada
sedikit. Tidak apa-apa, kalau cuma satu suap pasti tidak apa-apa.)
Memeriksa sisa jumlah minuman (item
pemulih) di tangannya, Alisa memantapkan tekad.
"Kalau begitu, satu suap saja."
"Aa~ ya... oke."
Sambil memprediksi jalan pikiran Alisa
secara sangat akurat, Masachika berpura-pura tidak sadar lalu mengulurkan
tangannya ke piring kecil.
Niatnya paling tidak menyendokkan tahu
dalam jumlah banyak, dia menancapkan sendok ke Mapo Tahu... dan berhasil
menggali barang tersebut. Sebuah bom, berwarna merah.
"Loh, hebat banget. Ada cabai utuh
satu biji di dalamnya."
"!?"
Menaruh senjata tajam berwarna merah
membara yang digalinya ke atas sendok, dia melirik tipis ke arah Alisa... dan
menemukan mata Alisa yang entah kenapa berubah seperti mata anak anjing. Mata
birunya yang basah tipis-tipis menyuarakan, "Tidak mau. Yang itu tidak
mau."
Melihat mata itu... malaikat dan iblis
muncul di dalam diri Masachika.
Malaikat yang entah kenapa berwujud Maria
kecil, berbicara memberi nasihat dengan lembut.
『Tidak boleh lho, melakukan hal seperti itu kepada
Alya-chan. Nggak boleh.』
Di sisi lain, iblis yang ini juga entah
kenapa berwujud Yuki kecil, memprovokasi dengan suara jahat.
『Gehehe, lakukan saja wahai Nii-sama. Aku paham
kok? Mata Alisa-san yang berkaca-kaca, jujur saja bikin merinding berdebar,
kan?』
Bujukan malaikat, dan godaan iblis.
Diterjang oleh dua perasaan yang bertolak belakang, Masachika menggertakkan
giginya.
(Kh,
aku... aku...っ!?)
Sambil menatap tangannya yang gemetaran
hebat, Masachika bergulat dengan batinnya apakah harus mengangkat atau
menurunkan senjata tajam di tangannya. ...Kalau cuma mengutip bagian ini saja,
rasanya seperti sedang bergulat di medan perang apakah harus menembakkan pistol
di tangan atau tidak, padahal kenyataannya cuma sebatas cabai biasa. Apa yang
sedang dilakukannya di famires coba.
『Membikin gadis menderita itu menurutku kurang
baik lho. Kuze-kun itu──』
『Mengganggu saja!!』
『Kyaa!』
Di dalam hati, body slam dari Yuki kecil
meledak, membuat Maria kecil terlempar "A~aah". Selesai dalam
hitungan detik. Perbedaan kekuatan tempur antara malaikat dan iblis terlalu
jauh.
(Maafkan aku, Alya.)
Sambil meminta maaf di dalam hati,
Masachika menjual jiwanya kepada iblis di dalam dirinya.
"Nih, bagian yang paling enak."
"...Terima kasih."
Aku, sekarang sedang melakukan hal yang
sangat kejam lho.
Sambil memikirkan hal itu seolah masalah
orang lain dengan senyum manis, Masachika menyerahkan piring kecil kepada
Alisa. Alisa mengambil sumpit dari kotak sumpit yang ditaruh di pinggir meja,
lalu dalam satu gerakan memasukkan tahu ke dalam mulutnya... meletakkan piring
lalu memejamkan mata.
"...Bagaimana?"
"...Lumayan kok."
Alisa menyuarakan tanpa mengubah
ekspresinya. Namun, Masachika menyadarinya. Bahwa kedua tangan yang saling
merapat di atas meja, gemetaran hebat. Tangan kiri yang serasa mau menyambar
minuman sekarang juga, ditahan mati-matian oleh tangan kanannya. Dia menyadarinya,
tapi...
(Maaf ya, Alya.)
Sambil melontarkan kalimat bagaikan
karakter yang mengkhianati temannya gara-gara situasi yang tidak terhindarkan
di dalam hati, Masachika mengulas senyum tanpa cela.
"Alya... bagian utamanya, masih
menyisa lho."
"..."
Sesaat, Alisa memasang mata yang tidak
boleh dipasang oleh seorang gadis, tapi Masachika berpura-pura tidak
menyadarinya.
Didorong oleh senyuman itu, Alisa
memasukkan cabai yang menyisa di piring kecil ke dalam mulutnya dalam satu
lemparan. Lalu, dia menutupi bibirnya memakai tangan kanan dan menunduk
dalam-dalam.
"...Alya?"
【バカぁ】(Bodoh)
Atas panggilan Masachika, yang membalas
adalah bahasa Rusia yang lemas.
【バカぁ、バカぁ】(Bodoh, Bodoh)
Tanpa memperlihatkan ekspresinya, dia
mengulangi kata "bodoh" dengan suara menangis. Apakah itu ditujukan
kepada Masachika, ataukah kepada dirinya sendiri yang sok gengsi...
"Untuk sementara, bukannya lebih
baik minum air? Ya?"
【バカぁ……】(Bodoh…..)
Seperti dugaannya dia menyesali
kejahilannya lalu memperhatikannya, tapi Alisa cuma terus mengatai bodoh. Pada
akhirnya setelah itu tidak menjadi percakapan, Masachika bergegas menghabiskan
makanannya, lalu keluar dari famires setelah menunggu pemulihan Alisa.
"...Kamu, beneran banyak bicara
ya."
"...Begitulah."
Kepada Alisa yang mengutarakannya begitu
saat keluar ke jalanan yang sudah gelap, Masachika memalingkan pandangan
matanya bersama rasa bersalah sambil berpikir (Padahal kamu saja yang tewas
terus dari tadi).
Tapi, dia tidak menyesal. Sosok Alisa
yang biasanya selalu tangguh sampai bersuara menangis seperti itu, jujur saja
ada bagian yang benar-benar kena di hatinya. Panggillah dia bajingan kejam
kalau mau memanggilnya.
"Ngomong-ngomong... bagaimana dengan
Yuki-san ya?"
"Eh?"
Mendongakkan wajah atas nama tak terduga
yang mendadak keluar, Alisa melirik tipis ke arah Masachika dengan ekspresi
agak canggung.
"Itu... berhubung Kuze-kun
memutuskan buat mencalonkan diri bersamaku, bagi Yuki-san juga butuh pasa...
kandidat Wakil Ketua baru, kan?"
"...Ah."
Paham apa yang diperbaiki kata-katanya,
Masachika mengangguk sambil mengabaikannya. Setelah melotot ke arah Masachika,
Alisa melanjutkannya dengan raut agak tidak puas.
"Tadi kamu bilang kan, kalau pada
upacara penutupan semester satu pengurus OSIS bakal ditetapkan? Bukannya harus
menemukan kandidat Wakil Ketua selagi ada waktu sekarang?"
"Yah, kalau kasus dia sih gara-gara
popularitas dirinya sendiri luar biasa, rasanya tidak masalah siapa pun
pasangannya sih..."
Lagipula, pasangan yang hampir tidak
pernah muncul di depan umum seperti aku saja bisa menang, tambahnya sambil
mengedikkan bahu.
Namun, menerima pandangan mata yang ingin
mengatakan sesuatu dari sebelah, dia menggaruk kepalanya canggung.
"Benar juga ya, dia kan pergaulannya
luas, paling dia bakal mencari siapa saja secara acak kan?"
Setelah mengutarakannya, Masachika juga
mencoba memikirkan kembali siapa yang bakal menjadi pasangan Yuki.
"Kalau dipikir secara biasa sih
mantan pengurus OSIS ya... Nmm..."
Lantas, di dalam benaknya secara alami
terbayang sosok punggung gadis yang dilihatnya tadi.
"Benar juga... kalau sampai membawa
Taniyama atau siapa begitu, bakal cukup merepotkan ya..."
"Taniyama? Siapa?"
"Taniyama Sayaka. Orang yang
bertarung memperebutkan kursi Ketua OSIS lawan Yuki sampai akhir waktu SMP
dulu. ...Loh? Kamu tidak tahu?"
"Tidak tahu."
Kepada Alisa yang menggelengkan kepalanya
ke kiri dan ke kanan, Masachika mengerutkan pangkal alisnya sambil memiringkan
kepala.
Masachika mengira bahwa di antara
beberapa murid perempuan yang bergabung ke OSIS lalu langsung mengundurkan diri
dulu, dia juga berada di antaranya.
(Apakah dia... sudah menyerah buat jadi
Ketua ya? Tuh orang.)
Mengingat gadis yang dulu pernah bekerja
keras mengurus tugas OSIS bersama... lalu dikalahkan dalam pemilihan Ketua,
rasa pahit bangkit kembali di dalam dada Masachika.
"Kuze-kun?"
"Ah, nggak... yah paling dalam waktu
dekat bakal ketahuan kan? Tinggal
dipikirkan setelah tahu siapa orangnya
saja."
"Begitu, ya..."
Alisa mengangguk dengan ekspresi agak
curiga. Masachika juga mengubah pemikirannya, mengingat kembali mantan pengurus
OSIS SMP dulu untuk menebak siapa yang bakal dipilih Yuki sebagai pasangan.
Namun, jawaban pasti dari pertanyaan
tersebut ditunjukkan jauh lebih cepat dari perkiraan Masachika. Tepatnya pada
sepulang sekolah esok harinya. Dan, murid yang dibawa oleh Yuki adalah... bukan
mantan pengurus OSIS.
"Ayano."
"Baik, Yuki-sama."
Merespons panggilan Yuki yang berdiri di
depan pintu ruang OSIS, murid perempuan yang bersiap di belakang miringnya
melangkah maju
tanpa suara.
Lalu, setelah merapatkan kedua tangannya
di depan dan membungkuk memberi hormat secara anggun, dia menatap kelima
pengurus OSIS yang duduk di kursi satu per satu, lalu memperkenalkan diri
dengan suara tanpa intonasi.
"Salam kenal semuanya. Nama saya
Kimishima Ayano dari kelas 1-C. Kali ini, saya diperkenankan bekerja bersama
Anda sekalian sebagai bagian urusan umum OSIS. Mohon bantuannya."
Tanpa menggerakkan ekspresinya sedikit
pun dia berbicara secara lancar sampai di sana, lalu sekali lagi membungkuk
memberi hormat secara anggun.
Atas gerak-gerik yang bagaikan robot
tersebut, para pengurus OSIS membalas salamnya masing-masing sambil
memperlihatkan warna bingung dengan kadar berbeda.
"Kuze-kun?"
"..."
Di tengah situasi itu, Masachika memasang
ekspresi tajam atas kemunculan sosok yang sepenuhnya di luar dugaan... namun
tidak diragukan lagi menandakan kalau Yuki sedang serius. Tanpa ada kelonggaran
buat merespons suara Alisa, dia mengerutkan pangkal alisnya sambil menatap
lurus ke arah Ayano.
Pada saat itu, leher Ayano bergerak
pelan, menatap lurus mata
Masachika dari depan.
Lalu, di sana untuk pertama kalinya emosi
tipis-tipis bersemayam di matanya, lalu dia membuka mulutnya secara tenang.
"Sebagai sesama urusan umum, mohon
bantuannya... Masachika-sama."
Kimishima Ayano. Dia adalah pelayan yang melayani Yuki... sekaligus mantan pelayan milik Masachika.



Post a Comment