Bab 3: Bukan Berarti Aku Jadi Ingin Bersih-Bersih, Terutama Bersih-Bersih, Kan?
Keheningan. Saat ini, ruang tamu di
sebuah apartemen dipenuhi oleh keheningan yang menyenangkan, hingga takkan ada
yang menyangka bahwa di sana ada tiga murid SMA laki-laki yang sedang berada di
puncak usia ingin bermain.
Hanya suara rintik hujan dan hembusan
angin dari pendingin ruangan yang terdengar. Ditambah bunyi gesekan pelan dari
pena yang menari di atas kertas. Hanya itu saja.
Suasana
tenang yang memenuhi ruangan berpadu dengan kelembapan dan suhu nyaman yang
diatur pendingin ruangan, hingga rasanya membuat orang ingin terkantuk-kantuk──
"Aku kurang penyegeran nih!!"
...Udara
yang ada sebenarnya seperti itu. Namun, seorang pemuda yang mendadak
berdiri──Takeshi──meraung, hingga merusak suasana tersebut dalam sekejap.
"Kenapa kamu mendadak begitu?"
"Menurutku, kurang sopan kalau
menggebrak meja rumah orang sekuat tenaga, lho?"
Masachika dan Hikaru yang duduk di
hadapannya mendongak menatap Takeshi sambil tersenyum kecut.
"Kenapa? Kamu tidak suka mode
pengering udara? Mau kuganti ke pendingin biasa?"
"Ini bukan soal setelan pendingin
ruangan! Bukan kesegaran yang itu maksudku!"
"Kalau begitu, kesegaran yang
mana?"
"Yah, rasanya aku bisa menebaknya,
sih..."
Meski mendapat pandangan hangat-hangat
kuku dari dua sahabatnya, Takeshi sama sekali tidak gentar dan tetap meraung.
"Sedih banget gak sih, mumpung hari
libur malah harus belajar bertiga sesama cowok! Kalapun mau bikin kelompok
belajar, biasanya kan sekalian mengundang anak cewek juga!!"
"Ohoi, jangan bicara seperti aku,
dong."
"Bukan, ini bukan pemikiran otaku!
Ini murni hal umum secara general!"
"General yang kamu maksud itu cuma
hal umum bagi segelintir riajuu yang menang banyak, kan? Jelas salah kalau
menerapkan hal itu pada kita yang biasanya tidak nongkrong bareng cewek."
"Hoho~ kamu yakin mau ngomong
begitu? Seseorang yang akrab dengan dua putri cantik di angkatan kita bilang
kalau dirinya tidak nongkrong bareng cewek?!"
"Yah, bagaimana ya...?"
Dua putri cantik di akademi yang dimaksud
Takeshi adalah sang "Putri Menyendiri" Alisa, dan sang "Putri
Pingitan" Yuki.
Dari sudut pandang Takeshi, Alisa duduk
di sebelah Masachika di kelas, dan mereka adalah pasangan yang berjanji untuk
maju bersama dalam pemilihan ketua OSIS tahun depan. Yuki adalah sesama anggota
OSIS yang akrab dengan Masachika sebagai teman masa kecil.
Murni kenyataannya Yuki adalah adik
kandung Masachika, tetapi bagi Takeshi yang tidak mengetahui hal tersebut,
posisi Masachika jelas terlihat sangat diberkahi.
"Kamu yang punya hubungan sangat
akrab dengan Suou-san, ditambah lagi menjadi satu-satunya murid laki-laki yang
punya interaksi dengan Putri Alya, bilang tidak nongkrong bareng cewek~? Minta
maaf sana ke seluruh cowok non-riajuu di sekolah!!"
"Ya maaf deh kalau aku akrab sama
gadis-gadis cantik. Iri, ya? Kamu iri, kan?"
"Kurang ajar kamu!!"
Sambil memelototi Masachika yang
menyeringai memprovokasi seolah melihat musuh bebuyutan orang tuanya, Takeshi
menggebrakkan kedua tangannya ke meja dengan keras.
"Aku iri banget! Makanya tolong
panggil mereka berdua ke sini!!"
"Jujur banget, sih."
Melihat Takeshi yang menundukkan
kepalanya sekuat tenaga memanfaatkan dorongan dari gebrakan tangannya,
Masachika mengukir senyum kecut.
"Asal tahu saja, ya. Aku pun tidak
bisa memanggil mereka berdua dengan santai di hari libur, tahu? Yuki pasti
sibuk dengan les atau semacamnya, dan aku hampir tidak pernah bertukar pesan
secara pribadi dengan Alya. Lagipula kalau memanggil mereka berdua, kamu pasti
bakal gugup sampai tidak bisa fokus belajar, kan?"
"Yah, memang benar, sih..."
Sepertinya ia sadar diri, hingga Takeshi
terduduk kembali di kursinya.
Sambil bertopang dagu di meja, ia menatap
buku pelajaran di tangannya dengan tatapan kesal, lalu mendadak mendongak
seolah menyadari sesuatu.
"Kalau begitu, bagaimana dengan
gadis yang itu?"
"Gadis yang itu?"
"Itu lho, gadis yang kerja bareng
Suou-san saat debat kemarin."
"Aah..."
Mendengar kata-kata Takeshi, Masachika
menyadari bahwa ia sedang membicarakan Ayano yang merupakan pelayan Yuki
sekaligus pasangannya di pemilihan ketua OSIS, lalu mengeluarkan suara tidak
bersemangat.
"Sekilas kelihatannya tidak begitu
mencolok, tapi kalau dilihat baik-baik dia imut banget, lho. Aku belum pernah
melihatnya, apa dia murid pindahan saat SMA?"
"Tidak, tuh? Dia murni lulusan SMP
sini, kok."
"Eh? Benarkah? Berarti dia baru
melakukan debut saat masuk SMA?"
"...Tidak, anak itu sejak SMP memang
selalu seperti itu, kok."
"Hee~... Tunggu, cara bicaramu itu!
Jangan-jangan kamu sudah berinteraksi dengan gadis itu sejak SMP!?"
"Bukan sejak SMP, sih... soalnya dia
teman masa kecilku."
"Haaah~~!?"
Mendengar pengakuan Masachika, Takeshi
mencondongkan tubuhnya ke depan dengan suara yang agak melengking, lalu
memelototi Masachika dari jarak dekat.
"Kamu beneran keterlaluan, ya!?
Seberapa banyak sih relasimu dengan gadis-gadis cantik!!?"
"Iri, ya?"
"Iri bangeeeet!"
Takeshi menepuk-nepuk meja dengan heboh
dengan ekspresi seperti hendak menggigit saputangan, lalu mendongak tajam.
"Kalau begitu, kenalkan ke aku,
dong?"
"Gak mau."
"Kenapa!"
"Mana ada orang yang mau mengenalkan
teman masa kecilnya yang berharga ke monyet mesum?"
"Siapa yang kamu sebut monyet
mesum!"
"Kamu, lah. Lagipula kalau kamu
penasaran, datangi saja sendiri."
"Eh... tidak ah, bicara dengan cewek
yang baru pertama kali ditemui... kan bikin gugup."
"Polos amat."
Masachika menancapkan pandangan mata
menyipit tajam pada Takeshi yang memalingkan pandangannya dengan raut malu.
"Padahal kamu bisa bicara santai
dengan cewek-cewek di kelas, kenapa untuk hal begini malah gugup?"
"Bukan begitu... Bicara dengan teman
sekelas dan bicara dengan cewek tidak dikenal dari kelas lain itu kan beda
banget. Lagipula..."
"Lagipula?"
"...Aku kan biasanya cuma mengajak
bicara kelompok cewek, tidak pernah mengobrol secara pribadi..."
"...Begitu, ya? Jadi kalau ke
kelompok cewek bilang 'Kalian~' itu tidak masalah, tapi kalau ke perorangan
panggil 'Si A-san' begitu tidak bisa, ya."
"Kan bikin gugup."
"Makanya, polos amat."
Melihat sikap Takeshi yang tidak seperti
biasanya—yang biasanya selalu agresif mendekati cewek—Masachika dan Hikaru
menunjukkan ekspresi yang separuh heran dan separuh merasa gemas.
"Aduh, kalau tidak ada sifat pemalu
yang aneh itu, menurutku kamu bisa saja punya satu atau dua pacar secara
normal, lho."
"Iya, kan~"
"O, ohoi, ada apa nih
mendadak..."
Mendengar kata-kata dari kedua sahabatnya
yang diucapkan dengan penuh penghayatan, Takeshi tersipu malu dengan raut agak
bingung.
"Habisnya, kepribadianmu itu ceria,
komunikatif, dan bukan tipe yang dibenci orang. Wajahmu juga tidak jelek...
walau agak kurang bisa membaca situasi, sih. Ditambah lagi kamu punya keinginan
kuat untuk punya pacar, jadi kalau kamu menghilangkan sifat pemalu di saat
penting itu dan jadi tipe cowok yang agresif soal urusan cinta, punya pacar mah
gampang banget buatmu."
"Benar banget. Menurutku kepribadian
yang jujur dan tanpa pura-pura itu punya nilai plus yang tinggi, lho. ...Walau
agak kurang bisa membaca situasi, sih."
"Rasanya aku tidak sedang dipuji,
nih! Apa-apaan, kalau mau membuatku senang sekalian dong! Kenapa harus pakai
tambahan kalimat yang tidak perlu, sih!"
"Ya habisnya..."
"Iya, kan..."
Melihat mereka berdua bertukar pandangan
sambil tersenyum kecut, Takeshi duduk kembali dengan ekspresi bersungut-sungut.
Setelah bergumam "Terserah deh, toh aku memang tidak bisa membaca
situasi~" sebentar, ia mengarahkan matanya yang tajam ke arah Masachika.
"...Kalau Masachika sendiri
bagaimana? Kamu juga sebenarnya punya spesifikasi yang tinggi, kalau mau
bukannya kamu juga bisa punya pacar?"
"Ahn? Aku?"
"Hikaru sih... kudengar dulu pernah
ada kejadian macam-macam, jadi bisa dimaklumi kalau dia tidak mau punya
pacar... Tapi kalau kamu sendiri bagaimana? Memangnya kamu tidak ada pikiran
ingin punya pacar?"
"Huum..."
Mendengar pertanyaan Takeshi, Masachika
melipat tangannya dan memikirkannya sejenak.
"...Aku sih tidak ada niat khusus
buat bikin pacar."
"Kenapa? Jangan-jangan, kamu beneran
cuma tertarik sama dunia dua dimensi?"
"Bukan, bukan berarti begitu juga,
sih... Tapi kalau aku punya pacar, rasanya di luar kenyataan banget."
"Kenapa, coba. Rasanya agak malu
kalau aku yang mengatakan ini, tapi bukannya kamu itu, kalau bukan karena sikap
tak seriusmu, sebenarnya termasuk cowok yang nyaris sempurna? Penampilanmu
juga, yah walau tidak sehebat Hikaru, tapi lumayan oke, lho."
"Bukan, ah, kalau soal wajah mah aku
biasa-biasa saja..."
"Masa, sih? Menurutku juga,
Masachika termasuk ke dalam kategori cowok ganteng, kok."
"Kalian seriusan omong begitu? Yah,
kalau soal postur tubuh sih aku merasa tidak buruk-buruk amat..."
Kalau soal wajah, ia merasa dirinya
benar-benar seperti orang pada umumnya. Maksudnya, kalau dibandingkan dengan
orang seperti Hikaru, ada banyak hal yang ingin ia komentari tentang wajahnya
sendiri... tapi karena ia berpikir hampir semua orang pasti merasakan hal yang
sama, ia sengaja tidak mengatakan apa-apa.
"Meski begitu, kamu tidak
menampilkan bagian 'manusia sempurna', ya."
"...Yah, kalau soal refleks olahraga
dan kemampuan berpikirku memang jauh di atas rata-rata."
Mendapat teguran dari pandangan menyipit
tajam Takeshi, Masachika mengangkat bahunya. Masachika sama sekali bukannya
tidak menyadari bakatnya sendiri. Di hadapan teman-temannya ia membatasinya
dengan ungkapan "lumayan", tetapi sebenarnya ia sadar betul bahwa
bakat yang miliki berada di tingkat yang jauh dari sekadar "lumayan".
Oleh adiknya yang otaku (Yuki), ia memang
dipanggil pemilik cheat "Pengalaman Didapat 10 Kali Lipat (Kecuali
Olahraga Bola)" sambil bercanda, tetapi hal itu pun tidak bisa sepenuhnya
ditampik karena Masachika memang memamerkan bakat luar biasa di berbagai
bidang.
Berkat hal itu, dulu ia sampai dipanggil
si anak ajaib oleh para pelayan di kediaman Suou.
Namun, hal itu...
"Pada dasarnya itu cuma bakat bawaan
sejak lahir. Bukan sesuatu yang perlu dibanggakan juga."
"Bukan, kalau soal itu mah
boleh-boleh saja dibanggakan..."
"Takeshi... kuberi tahu satu hal
bagus, ya. Tidak ada karakter utama yang lebih dibenci pembaca daripada tipe
cowok yang tidak berjuang keras tapi melancarkan aksi Ore-Tueee mengandalkan
bakat (cheat) pemberian orang tua (orang lain). Lalu, para heroine yang bisa
dengan mudahnya jatuh cinta pada cowok cheat-harem busuk macam itu bakal dicap
sebagai Choroin lalu dihujat habis-habisan."
"Yah, kalau soal itu sih rasanya aku
bisa paham... tapi kan kamu tidak sedang melancarkan aksi Ore-Tueee."
"Soalnya aku tahu kalau sok hebat
nanti bakal dihujat, makanya aku hidup dengan rendah hati~"
Mengatakannya dengan nada tidak
bersemangat, Masachika menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi secara lemas.
(Meski begitu, memang benar kalau aku
sedang meremehkan hidup memanfaatkan bakat pemberian orang tua, sih.)
Memanfaatkan kecerdasan bawaan dan
kelincahan berpikirnya yang di atas rata-rata, ia bisa masuk ke sekolah ternama
nomor satu di Jepang tanpa perlu bersusah payah. Ia juga sudah mengumpulkan
cukup banyak pencapaian di kegiatan OSIS, hingga pijakan untuk masa depannya
sudah lebih dari cukup.
Ini benar-benar bentuk meremehkan hidup.
Menganggap remeh
orang-orang yang berjuang keras dan hidup
dengan sungguh-sungguh.
Kalau dalam kondisi begini ia bisa
mendapatkan pacar yang luar biasa seperti para pahlawan wanita di dunia dua
dimensi dengan mudah, itu sih benar-benar bakal memicu kecaman keras.
"'Dewi cinta hanya tersenyum pada
mereka yang bergerak sendiri', lho..."
"Apaan tuh?"
"Kutipan dari komik, kah?"
"Bukan, tahu. Itu kalimat bijak
kakekku? Atau mungkin kebiasaan bicaranya? Maksudnya, dalam urusan asmara,
orang yang bergerak agresif sendirilah yang bakal sukses."
Ngomong-ngomong, yang dimaksud dengan
"Kakek" di sini adalah kakek dari pihak ayah Masachika. Kakeknya
sangat menyukai Rusia, dan merupakan tokoh utama yang menjejali Masachika kecil
dengan sastra Rusia serta film-film Rusia. Di usianya yang sudah melewati tujuh
puluh tahun saat ini pun, sang kakek adalah sosok yang eksentrik karena masih
mengutarakan impiannya untuk minum vodka sambil diapit gadis-gadis cantik Rusia
di kedua sisinya.
Hanya saja, cerita ini ditutup dengan
fakta bahwa sang kakek adalah seorang penolak alkohol yang bakal langsung
terkena keracunan alkohol akut jika nekat minum vodka.
"Huum, yah, itu bisa dibilang
kebenaran juga, sih. ...Ngh? Tunggu. Kalau begitu Hikaru bagaimana?"
"Orang yang terlahir sudah dicintai
oleh dewi cinta sejak lahir itu kan pengecualian."
"Sama sekali tidak membuatku senang,
tuh."
Mendengar Hikaru yang menjawab secara
instan dengan wajah tanpa ekspresi, sudut mulut Takeshi kedutan saat tertawa.
"Tidak, yah... Kalau untuk kasus
Hikaru, entah kenapa rasanya dia dicintai oleh si dewi cinta itu dengan gaya
yandere, ya, betul."
"Katanya dewi itu sering kali sangat
cemburuan, kan... Jangan-jangan, di tahap saat Hikaru sudah sepenuhnya tidak
percaya pada perempuan, si dewi bakal turun ke dunia sambil berkata 'Sekarang
kamu cuma punya aku seorang, lho'?"
"Bukankah itu mah iblis?"
"Benar juga."
"Terlepas dari dewi yandere atau
iblis, bagiku sih sama sekali tidak masalah, tahu! Maksudku! Sekali saja aku
ingin didesak oleh cewek!!"
Melihat Takeshi yang membeberkan
keinginannya tanpa goyah, Masachika dan Hikaru memamerkan senyum kecut.
"Yah, tapi menurutku berbahaya kalau
cuma pasif berharap didesak... Katanya kakekku, sikap menyerang itu penting,
lho?"
"Sikap menyerang, ya... Paham! Aku
bakal mencoba jadi cowok pemangsa sungguhan! Lalu gencar melancarkan serangan
ke cewek-cewek!"
"Ooh, berjuanglah~"
"Secukupnya saja, ya..."
Karena pada dasarnya ini adalah urusan
orang lain, Masachika memberikan dukungan pada Takeshi secara asal-asalan.
...Tanpa mengetahui bahwa di kemudian hari, pernyataan tidak bertanggung jawab
itu bakal kembali menimpa dirinya sendiri dalam bentuk tanggung jawab.
◇
"...Fuh."
Setelah Takeshi dan Hikaru pulang,
Masachika melanjutkan belajar di kamarnya sendiri untuk persiapan ujian besok.
Namun...
"Motivasiku tidak naik-naik,
nih..."
Bahkan ia sendiri bisa merasakan dengan
jelas bahwa konsentrasinya tidak bertahan lama. Ia memang sedang belajar.
Namun, tidak ada yang masuk ke dalam kepalanya sama sekali. Ia bisa merasakan
matanya hanya berselancar di atas buku pelajaran, dan meski ia berusaha
menjejalinya karena sadar hal ini tidak benar, ia tidak bisa mempertahankannya
di dalam kepala hingga pengetahuan itu menguap begitu saja setelah dimasukkan.
Ini adalah kondisi di mana efisiensinya turun secara jelas.
"Aah... sudah jam sebelas,
ya..."
Setelah selesai mandi ia sudah belajar
sekitar dua jam, tetapi hanya membuang-buang waktu saja tanpa ada kemajuan
belajar sama sekali.
"Burehaza sebentar lagi mulai,
nih..."
Waktu penayangan anime larut malam yang
ditunggu-tunggu setiap minggu makin mendekat, membuat hati Masachika bergoyang.
(Belajar dalam kondisi efisiensi yang
sudah turun sejauh ini cuma buang-buang waktu saja, bukannya lebih baik
istirahat sebentar lalu belajar lagi dari awal?)
Pemikiran seperti itu muncul, tetapi
Masachika sendiri tahu betul bahwa jika ia melarikan diri ke anime di sini, ia
pasti tidak bakal kembali belajar lagi.
(Tapi ya... bukan berarti kalau
menghabiskan waktu lama itu hebat, kan. Materi ujian secara garis besar sudah
kupelajari semua, sisanya tinggal mengulang lagi besok pagi... Maksudku, saat
memikirkan hal begini saja sudah jelas kalau aku tidak konsentrasi.)
Sambil menyandarkan tubuhnya secara lemas
di sandaran kursi, di saat ia sedang memutar-mutar berbagai alasan di dalam
kepalanya, waktu penayangan anime pun tiba.
"Sudah mulai, ya..."
...Namun pada akhirnya, Masachika tidak
menyalakan televisi. Setelah menunggu sekitar lima menit, ia berbalik menghadap
meja belajarnya seolah sudah menyerah.
"Haaa... Tekadku sudah berkurang
sejauh ini, ya..."
Masachika menghela napas pada dirinya
sendiri yang baru bisa mengambil keputusan setelah menunggu animenya dimulai.
Padahal dulu, demi ibunya dan demi gadis itu, berjuang keras sama sekali tidak
terasa menyiksa baginya. Selama beberapa tahun menjadi orang tidak berguna,
sepertinya ia telah melupakan cara untuk berjuang keras.
Ia punya perasaan ingin membalas harapan
Alisa dan... Sayaka. Demi mereka berdua, ia punya rasa tanggung jawab bahwa ia
harus menjadi kandidat wakil ketua yang tidak memalukan bagi siapa pun. ...Ia
punya rasa itu. Setidaknya sampai satu minggu yang lalu.
(Tapi... walau nilaiku naik sedikit pun
bakal dibilang 'lalu kenapa?'. Lagipula target menaikkan nilai ini kan cuma aku
sendiri yang menentukan, bukan janji dengan siapa-siapa juga.)
Namun saat ini, perasaan itu sudah
memudar hingga pemikiran seperti ini bisa muncul. Pada dasarnya, semangat
Masachika saat ini memang hanya sejauh itu.
(Pada akhirnya ini cuma kepuasan diri
sendiri, kan... Yah, berjuang keras itu sebagian besar memang murni gengsi dan
kepuasan diri sendiri, sih. Musuh terbesar adalah diri sendiri... yang seperti
itulah. Bisa melakukan hal ini secara terus-menerus, memang Alya itu hebat
banget, ya.)
Menuju target yang ditetapkan sendiri,
demi menjadi sosok diri yang diimpikan, melakukan perjuangan tanpa akhir itu
bukanlah hal yang bisa dilakukan secara biasa. Jika diekspresikan dalam satu
kata mungkin adalah ambisi untuk maju, tetapi Alisa memiliki kilau menyilaukan
yang tidak bisa dibereskan hanya dengan kata semacam itu.
"Yah, kalau aku sih tidak punya
keinginan untuk berkembang sedikit pun... Maksudku, aku memang tidak punya
ambisi begitu."
Jabatan maupun kehormatan, uang maupun
wanita, sama sekali tidak ada yang terbersit ingin ia dapatkan. Esok hari tidak
berbeda dari hari ini, jika kehidupan sehari-hari yang terbilang cukup damai
dan cukup menyenangkan bisa terus berlanjut, baginya itu sudah lebih dari
cukup.
Bahkan, daripada kehilangan kedamaian
itu, ia tidak membutuhkan jabatan atau kehormatan, dan ia sama sekali tidak
berniat merusak kedamaiannya sendiri demi mengejar uang atau wanita.
Begitulah landasan dasar pemikiran
Masachika.
Alasan Masachika yang seperti itu pada
akhirnya memutuskan untuk maju dalam pencalonan bersama Alisa adalah... berkat
adanya rasa cemas yang samar-samar bahwa ia tidak boleh terus-terusan seperti
ini, serta murni karena ia tidak bisa membiarkan Alisa begitu saja.
"Tapi, demi bisa mencapai itu...
setidaknya aku harus berjuang setengahnya dari perjuangan Alya..."
Sambil merebahkan tubuhnya ke meja dan
menggosok-gosokkan dahinya ke buku pelajaran, Masachika bergumam.
"Semangatlah wahai diriku...
Setidaknya agar reputasiku tidak sampai menarik turun posisi Alya..."
Masachika saat ini hanyalah seorang murid
rendahan yang memiliki sikap belajar maupun nilai yang buruk, tetapi jika
nilainya naik... secara spesifik, jika ia berhasil masuk ke dalam peringkat 30
besar murid berprestasi yang namanya dipajang di koridor, penilaian orang-orang
dipastikan bakal berubah.
(Benar, targetku adalah posisi pahlawan
di komik shoujo yang kerjanya cuma tidur saat pelajaran tapi nilainya tinggi
bukan main! Tipe yang selalu dimusuhi oleh pemeran utama wanita yang merupakan
pekerja keras yang lurus!)
Manusia itu cenderung lebih mengagumi
bakat yang luar biasa ketimbang perjuangan yang luar biasa. Cukup menyedihkan
memang, sebagian besar orang di dunia ini lebih suka mengagung-agungkan orang
yang kelihatan tidak belajar sama sekali tetapi nilainya bagus dengan sebutan
luar biasa atau genius, ketimbang orang yang selalu belajar dan mendapat nilai
bagus.
Jika dilihat dari sudut pandang
Masachika, ia ingin sekali mengumandangkan, "Ha? Orang yang berjuang keras
itu jelas-jelas jauh lebih hebat dan patut dipuji, tahu?", tapi... mau
bagaimana lagi, itu adalah kenyataan. Ditambah lagi, melihat karakternya
sendiri, posisi seperti itulah yang paling cocok untuknya. Alasan ia belajar di
ruang OSIS yang tidak menarik perhatian orang-orang sebenarnya juga demi hal
tersebut.
"Karena itulah, berjuanglah...
sedikit lagi."
Menyemangati dirinya sendiri, tepat saat
ia menegakkan wajahnya secara mendadak, ponsel yang diletakkan di atas meja
bergetar.
"Ngh? Telepon?"
Mendengar getaran beruntun bzzt, bzzt,
Masachika terburu-buru mengambil ponselnya... dan langsung membeku saat melihat
nama yang tertera di layar.
"Eh... Alya!?"
Ia berpikir telepon itu paling-paling
dari ayahnya atau dari Yuki,
sehingga nama yang tertera ini membuatnya
sangat terkejut. Bagaimana tidak, jangankan menelepon, bertukar pesan saja ia
sangat jarang melakukannya dengan Alisa. Lagipula ini sudah larut malam. Bagi
Alisa yang merupakan murid teladan, ini adalah waktu yang terlalu larut untuk
menelepon.
"Ah, mati."
Namun, di saat ia dilanda kebingungan,
sambungan telepon terputus.
Mengingat sambungannya terputus hanya
dalam waktu sepuluh detik lebih sedikit, sepertinya Alisa sendiri yang
memutuskannya. Kalau begitu, mungkinkah ini bukan urusan yang sangat penting...
tapi untuk sementara waktu, Masachika memutuskan untuk menelepon balik.
Tepat setelah ia menelepon, sambungan
langsung terhubung bahkan sebelum nada panggil berbunyi dua kali.
"A, halo?"
『...Selamat malam, Kuze-kun.』
"Ooh, selamat malam... Ada apa? Ada
urusan?"
『Tidak juga, kalau dibilang ada urusan sih...』
Mendengar Alisa yang menggantungkan
kata-katanya, Masachika menyeringai lalu bermaksud untuk langsung menggodanya.
"Ada apa? Apa mendadak kamu ingin
mendengar suaraku?"
『...』
Saat
ia mengucapkannya dengan nada suara cowok ganteng yang sengaja dibikin agak
berat, yang kembali justru keheningan. Keheningan yang membuat Masachika bisa
membayangkan dengan jelas pandangan mata dingin milik Alisa itu membuat dirinya
tidak tahan, hingga ia bermaksud berdeham demi mengalihkan pembicaraan──
【...Memangnya tidak boleh?】
...Namun, mendengar bahasa Rusia yang
terdengar tepat sebelum ia sempat melakukannya, kepala Masachika membentur meja
hingga berbunyi Gonk!.
『...? Suara apa itu?』
"Tidak... Ngomong-ngomong barusan
kamu bilang apa?"
『Aku cuma bilang "Dasar bodoh", tahu.』
"O-oh gitu... Terus, ada urusan
apa?"
『...Itu, bukannya kamu bilang kalau sendirian
bakal bolos belajar? Aku cuma berpikir, apakah belajarmu baik-baik saja.』
"..."
Mendapat teguran yang sangat tepat
sasaran itu membuat Masachika kehabisan kata-kata. Kemudian dari seberang
telepon, terdengar suara yang nadanya turun beberapa tingkat.
『...Jangan-jangan.』
"Tidak, aku tidak bolos, kok? Tadi
sempat tergoda oleh anime sejenak, tapi aku berhasil mengalahkannya. Beneran,
seriusan."
『...』
Setelah keheningan yang sangat meragukan
berlangsung beberapa detik, terdengar helaan napas kecil.
『Ujiannya kan besok, lho? Bukannya sekarang ini
saat-saat pentingnya?』
"Yah, memang begitu, sih... Maaf ya,
aku ini memang tidak punya tekad."
『Aku tidak bilang begitu, tapi...』
"Motivasiku tidak mau naik sama
sekali, nih... Malahan, kalau kamu sendiri di saat seperti ini bagaimana cara
mempertahankan motivasinya?"
『...Jangankan mempertahankan motivasi, aku tidak
pernah kehilangan motivasiku jadi aku tidak tahu.』
"...Seriusan? Luar biasa
sekali."
Mendengar pernyataan luar biasa yang
keluar begitu saja, pipi Masachika kedutan. Setelah memberikan jeda sejenak
untuk berpikir, Alisa mulai berbicara perlahan.
『Bagaimana ya... kalau aku sih malahan selalu
merasa dikejar oleh
waktu.
Kalau terus berpikir apakah masih ada hal yang terlewat, apakah masih ada
bagian yang bisa dioptimalkan, aku tidak punya waktu untuk memikirkan yang
namanya motivasi.』
"...Kamu beneran luar biasa,
ya."
Bisa dibilang dia memang seorang
perfeksionis sejati. Terhadap sikapnya yang secara penuh mengejar idealisme
dirinya sendiri, Masachika murni angkat topi. Di saat yang sama, ia menjadi
agak malu pada dirinya sendiri yang tadinya berpikiran "sisanya tinggal
diulang besok pagi saja~".
"Kalau begitu ya sudah, ketimbang
aku mengganggu... aku juga bakal meniru Alya untuk berjuang sedikit lagi.
Terima kasih banyak, ya."
『Eh, a...』
"Ngh?"
Tepat saat ia hendak mematikan telepon
terdengar suara yang agak panik, hingga Masachika menempelkan kembali ponselnya
ke telinga.
"Ada apa?"
『...』
"?"
Di tengah kebingungan Masachika
memikirkan apa yang terjadi, yang terdengar di telinganya adalah bahasa Rusia
yang memancarkan nada yang sangat emosional.
【Masih... belum boleh...】
Mendengar bisikan itu, Masachika
melengkungkan badannya ke belakang seolah-olah dahinya baru saja ditembak
peluru, lalu merosot jatuh ke atas kursi. Suara bisikan yang mendadak masuk di
saat ia sedang memasang telinganya tajam-tajam membuat telinga hingga otaknya
bergetar hebat.
(A, anak ini mendadak membisikkan hal
semacam apa di dekat telingaku!! Maksudku, 'masih belum boleh' itu maksudnya
apa!? Tidak, mungkin maksudnya 'masih belum boleh mematikan telepon', sih! Tapi
itu terlalu abstrak hingga memancing khayalan yang tidak-tidak,
tahu-tahuuu--!?)
Bisikan yang membuat telinganya merinding
gemetar membuat otak otaku Masachika lepas kendali! Di dalam otaknya,
terpampang ilustrasi Alisa yang memalingkan pandangan dengan ekspresi
malu-malu, lalu bisikan tadi terputar kembali di dalam kepalanya!
(【Masih...
belum boleh...】 itu bukannya bener-bener adegan ciuman~! Tipe
adegan yang saat wajah didekatkan lalu mulut ditahan pakai tangan, kan~!
Suasana saat berpisah di kencan ketiga setelah pacaran, kan~! ......Ah, setelah
ini mereka berdua bakal jadi agak canggung, lalu memanfaatkan momen itu
karakter baru bakal datang membawa prahara, nih.)
『...Kuze-kun?』
"Lagipula, karakter baru yang
seperti itu biasanya tahu rahasia masa lalu salah satu dari mereka berdua, lalu
memberikan petunjuk-petunjuk tersembunyi. Semakin cerah dan segar kesan pertama
seseorang, semakin tidak boleh dipercaya, tahu."
『...Kamu lagi omong apa, sih?』
"Eh? Bukannya murid pindahan di
komik shoujo itu punya niat jahat yang jauh lebih banyak ketimbang murid
pindahan di komik shounen? Itu lho pembahasannya?"
『...Aku paham baaaik-baik kalau kamu sama sekali
tidak bisa fokus belajar.』
"A, tidak... iya."
Masachika yang bungkam gara-gara canggung
setelah menyadari khayalan anehnya disikapi dengan helaan napas ringan oleh
Alisa, sebelum akhirnya berbicara dengan nada mengalihkan suasana hati.
『Begitu, ya... Kalau begitu, kalau motivasimu
tidak naik, bagaimana kalau kita bertaruh?』
"Bertaruh?"
『Ngomong-ngomong, targetmu kali ini apa?』
"Target? Ujian?"
『Iya.』
"...Rencananya sih masuk 30 besar di
angkatan."
『...Memasang target tinggi juga, ya. Yah tidak
apa-apa. Kalau kamu berhasil mencapai target itu, aku bakal mengabulkan satu
permintaanmu, apa pun itu.』
"Ngh? Barusan kamu bilang 'apa
pun'?"
『...Tentu saja, selama masih dalam batas wajar,
ya.』
"A, tidak, maaf. Sekadar respon
refleksif dari seorang otaku yang harus menanggapi kata 'apa pun' tadi."
Begitu Masachika mencoba menggigit kata
"apa pun", balasan dingin langsung terdengar, membuatnya memalingkan
pandangan sambil memberikan pembelaan.
『...Aku tidak paham apa yang kamu bicarakan, tapi
terserah deh. Bagaimana tawaran tadi?』
"Emm, tentu saja kalau aku gagal
mencapai target..."
『Tentu saja, kamu harus mendengarkan permintaanku.』
"...Kalau yang itu justru bikin aku
sedikit penasaran, sih."
『Kuze-kun?』
"A, tidak! Yang tadi itu bukan
pemikiran masokis yang ingin diperintah atau semacamnya, lho!? Murni karena aku
cuma penasaran kira-kira kamu bakal minta apa ke aku!?"
Saat ia terburu-buru meluruskan
kesalahpahaman, Alisa kembali bungkam dengan penuh rasa curiga sejenak, lalu
bergumam pelan dalam bahasa Rusia.
【...Nama.】
"Eh?"
『Itu petunjuk.』
"...Tidak, tahu. Diberi petunjuk
pakai bahasa Rusia pun aku tidak paham."
『Aku tahu, kok.』
Masachika disahuti dengan suara yang
menyelipkan tawa, "Heheh", sampai-sampai Masachika membatin, Tidak,
aku mengerti bahasa Rusia-nya, tahu?. Namun, meski paham bahasa Rusia-nya,
ia tetap tidak mengerti apa maksud petunjuk tersebut, hingga Masachika
memiringkan kepalanya.
『Kalau begitu, sepakat dengan syarat tadi, kan?』
"A, iya, yah... kalau berhasil masuk
30 besar kamu bakal mendengarkan permintaanku. Kalau gagal, aku yang bakal
mendengarkan permintaanmu. Begitu, kan?"
『Ya, benar.』
"Boleh juga. Guehehe, bakal kubuat
kamu menyesal sudah memberikan penawaran ini ke aku..."
『Yah, berjuanglah sekuat tenaga.』
"...Alya, skill mengabaikanmu makin
meningkat, ya. Aku sebagai kakak jadi merasa sedikit kesepian..."
『Sejak kapan kamu jadi kakakku. Kita kan seumuran.』
Mendengar kata-kata Alisa yang terkesan
heran, Masachika memiringkan kepalanya.
"Tidak... memang benar kita
seangkatan, tapi usiaku kan lebih tua dari kamu."
『Eh?』
"Eh?"
Dari seberang telepon, terdengar suara
cengangan yang agak janggal
hingga membuat raut terkejutnya terbayang
di ruang hampa. Setelah membalas dengan tanda tanya yang sama, Masachika
bertanya untuk memastikan.
"...Ulang tahunmu tanggal 7
November, kan?"
『Benar, tapi... kenapa kamu bisa tahu?』
"Bukannya waktu baru pindah kemari
kamu pernah membicarakannya di kelas? Seingatku aku mendengarnya di sana...
yah, terlepas dari itu. Hari ulang tahunku itu tanggal 9 April, tahu."
『...』
"Usiaku sekarang sudah 16 tahun,
lho...?"
『...』
Keheningan yang tak terlukiskan
menyelimuti mereka, hingga Masachika berdeham demi menyamarkan rasa canggungnya
dan berniat mengakhiri telepon secepatnya.
"A~ ehem, kalau begitu sudah dulu,
ya..."
『...Benar juga.』
"Terima kasih banyak ya, Alya."
『Sama-sama... tidak apa-apa, kok.』
"Sip, kalau begitu sampai
besok."
『Ya, sampai besok.』
Lalu, tanpa ada yang memulai, sambungan
telepon pun terputus, dan Masachika merenggangkan tubuhnya sekuat tenaga.
"Emm... sip, mantap!"
Membawa semangat baru, ia kembali
menghadap ke buku pelajaran.
Motivasi yang beberapa menit lalu merosot
hingga ke dasar bumi, kini telah pulih sepenuhnya setelah mengobrol lewat
telepon dengan Alisa.
Ia sama sekali tidak terpancing oleh
taruhan Alisa. Ia murni merasa senang akan keberadaan sang pasangan yang rela
memotong waktu belajarnya sendiri di larut malam begini hanya demi menelepon
dan mengkhawatirkannya. Mau tidak mau, ia merasa ingin membalas perhatian
tersebut.
(Tapi ya, siapa sangka kalau motivasiku
yang lagi merosot ini bisa ketahuan sampai sejauh itu...)
Kenyataan bahwa hal itu sampai ketahuan
membuat dirinya merasa malu, tetapi di saat yang sama juga merasa senang. Kata
kontak batin mendadak melintas di dalam benaknya secara alami, membuat dada
Masachika terasa hangat dan menggelitik.
"Terima kasih ya, Alya."
Sambil memamerkan senyum malu-malu, ia
menyampaikan rasa terima kasih kepada pasangannya secara perlahan. Lalu,
Masachika pun memasuki tahap perjuangan terakhirnya.
◇
Di saat yang bersamaan, Alisa sang
pasangan...
"Tidak apa-apa... tidak
apa-apa..."
Saat membuka pintu kamarnya, ia
membisikkan kata-kata itu pada dirinya sendiri secara pelan.
Jika ditanya sedang melakukan apa,
sebenarnya bukan hal besar. Ia hanya ingin pergi ke ruang keluarga untuk minum
air.
Mengenai kenapa ia harus se-senang dan
setegang ini hanya demi minum air... penyebabnya berasal dari beberapa jam
lalu, tepatnya saat makan malam.
『Keberadaan tak kasat mata yang bersembunyi di
dunia ini. Fenomena supranatural mengerikan yang mereka timbulkan... Malam ini,
kami akan mengundang Anda ke dunia horor...』
Bersamaan dengan musik latar yang
mencekam, tayangan video meresahkan yang diselingi suara noise terputar di
televisi.
Di meja makan saat itu televisi kebetulan
sedang menyala, dan bertepatan dengan musim panas, acara spesial fenomena
supranatural pun dimulai.
Maria yang tidak suka horor langsung
merapikan makan malamnya sejak tahap awal lalu kembali ke kamar... tetapi Alisa
yang memiliki sifat pantang menyerah justru menunjukkan wajah seolah berkata,
"Dasar, Masha ini penakut banget, sih... Aku? Aku sih tidak masalah sama
sekali?", lalu menikmati makan malamnya dengan santai, dan kembali ke
kamar dengan sikap tenang seolah berkata, "Yah, tidak ada yang spesial,
sih." Lalu, seperti pola yang sudah-sudah, saat larut malam tiba dia
menjadi ketakutan. Ketakutan hingga sampai pada tahap mematung di hadapan
koridor yang gelap gulita.
(J, jangan-jangan di suatu tempat ada
wajah putih yang melayang...)
Video supranatural yang ditontonnya di
televisi tadi terbayang kembali di dalam kepalanya, membuat Alisa tidak bisa
melangkah keluar kamarnya sama sekali.
Namun, dalam keadaan seperti ini, Alisa
jelas tidak mungkin meminta bantuan keluarganya. Setelah sempat kebingungan, ia
akhirnya menelepon Masachika untuk meredakan rasa takutnya, meski sadar bahwa
meneleponnya selarut ini jelas tidak wajar. Soal belajar untuk ujian dan
sebagainya hanyalah alasan asal-asalan yang spontan terpikir olehnya saat itu.
Seseorang di seberang sana sempat
memamerkan senyum malu-malu karena mengira ada kontak batin, padahal
kenyataannya sama sekali tidak seperti itu. Pada dasarnya, dunia memang
berjalan seperti itu.
"Tidak apa-apa... sip, mantap!"
Menyemangati dirinya sendiri, ia memeluk
ponsel yang baru saja dipakainya untuk menelepon Masachika bak sebuah jimat di
dadanya, lalu Alisa berlari kecil berjinjit menuju koridor yang gelap.
Agar matanya tidak melihat ke arah
kegelapan di sekitarnya, ia hanya menatap lurus ke depan dan berlari melintasi
ruang keluarga, lalu meneguk segelas air di bak cuci piring, kemudian berlari
kembali ke kamarnya dengan cepat.
"Fuuuu~~..."
Kembali ke kamarnya yang terang, Alisa
menghela napas panjang karena merasa lega.
Lalu begitu rasa takutnya mulai memudar,
yang meluap justru rasa tidak puas. Mengenai rasa tidak puas apa, yaitu rasa
tidak puas karena Masachika tidak memberi tahu hari ulang tahunnya.
"Apa-apaan... kalau memberi tahu kan
setidaknya aku bisa ikut merayakannya."
Jika Masachika ada di tempat ini, ia
pasti bakal membalas, "Bukan, kalau mendadak memberi tahu hari ulang tahun
sendiri kan terkesan seperti menuntut 'rayakan dong, kasih hadiah
dong'..." Namun, hal ini mau bagaimana lagi. Sebab, ini murni merupakan
perbedaan budaya.
Di Jepang, merayakan hari ulang tahun
secara umum dilakukan oleh teman atau keluarga yang merayakannya untuk yang
berulang tahun, tetapi berbeda dengan Rusia tempat Alisa lahir. Di Rusia, orang
yang menyambut hari ulang tahun secara umum bakal mengadakan pesta ulang tahun
sendiri, lalu mengundang keluarga dan teman-teman untuk merayakannya bersama.
Benar-benar dilakukan dengan gaya seperti, "Hari ini ulang tahunku! Makan
dan minumlah sepuasnya, lalu rayakan hari ulang tahunku!".
Dengan kata lain, dalam pikiran Alisa
terbentuk sebuah pola: ‘Tidak diberi tahu hari ulang tahun’ = ‘Tidak diundang
ke pesta ulang tahun’ = ‘Aku cuma dianggap sejauh itu olehnya’.
"Padahal katanya teman."
Kalau mau membicarakan hal itu, Alisa
sendiri juga tidak mengundang Masachika di hari ulang tahunnya tahun lalu.
Tapi, itu kan beda cerita.
Tidak, jujur saja bukannya ia tidak punya
keinginan untuk mengundangnya... tetapi jika ia hanya mengundang Masachika
seorang, sudah jelas ia bakal diejek oleh keluarganya, sementara ia tidak punya
teman lain yang bisa diundang, jadi ia membatalkannya.
...Bukan berarti ia sampai menangis, kok.
Dia sama sekali tidak merasa sedih saat membandingkan dirinya dengan pesta
ulang tahun Maria yang meriah. Sama sekali tidak. Mau bagaimana lagi kalau
ulang tahun
Maria bertepatan dengan malam Natal.
Perbedaan kemeriahan itu muncul gara-gara hal tersebut, ia sama sekali tidak
sedang menghibur dirinya sendiri, lho! Sama sekali tidak!
"...Hmph, terserah deh."
Menggumamkan hal itu dengan rasa tidak
puas, Alisa melemparkan tubuhnya ke tempat tidur seolah hendak meluapkan
kekesalannya. Ia memeluk bantalnya erat-erat di dada, membenamkan bibirnya di
sana.
Lalu, begitu ia melemaskan tubuhnya, ia
mengerutkan bibirnya dan bergumam pelan.
"...Kuze-kun bodoh."



Post a Comment