NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Tokidoki Bosotto Russia-go de Dereru Tonari no Alya-sa Volume 3 Chapter 8

Bab 8: Salam


Sepulang sekolah keesokan harinya, para anggota OSIS masing-masing sedang melakukan berbagai persiapan untuk upacara penutupan serta berdiskusi dengan pihak-pihak terkait. Sambil memegang lembar alur acara upacara penutupan, mereka berlarian ke berbagai sudut gedung sekolah dalam kelompok dua hingga tiga orang.

 

Di tengah kesibukan itu, Masachika dan Alisa yang telah menyelesaikan tugas bagian mereka, sedang melakukan gladi bersih untuk acara besok di atas panggung ruang olahraga.

 

"Terima kasih atas perhatiannya."

 

Kepada Alisa yang telah selesai bicara tanpa menggunakan mikrofon, Masachika yang mendengarkan dari bawah panggung memberikan tepuk tangan.

 

"Oke, kalau di acara aslinya kamu bisa bicara seperti ini juga rasanya tidak bakal ada masalah."

 

Sambil berbicara ia menaiki tangga menuju ke atas panggung, sementara ekspresi Alisa agak muram lantaran merasa cemas.

 

"Benar ya... kalau di acara aslinya juga..."

 

"Kamu cemas? Waktu debat kemarin kamu bisa bicara dengan lancar, kan?"

"Waktu itu... aku bisa bicara cuma gara-gara berkonsentrasi pada diriku sendiri. Lagipula, besok jumlah orangnya jauh lebih banyak dari waktu itu, kan?"

 

"Memang sih, bagaimanapun besok kan seluruh murid berkumpul. Ruang olahraga ini bakal penuh, lho?"

 

Gara-gara tidak ada gunanya jika menutupi kenyataan, Masachika mengangkat bahunya dan mengatakannya secara jujur, sebelum akhirnya berbalik bicara secara santai.

 

"Tapi, hal yang perlu dilakukan kan tidak berubah? Mau jumlah orangnya bertambah pun, asal kamu berkonsentrasi pada caramu menyampaikan──"

 

"Menurutku, kalau cuma begitu tidak bakal cukup."

 

"?"

 

"Saat debat kemarin... melihat caramu berbicara, aku jadi paham betul. Berbicara sesuka hati tanpa memedulikan pendengar dan berbicara sambil benar-benar berhadapan dengan mereka itu benar-benar berbeda. Apalagi kalau dibilang 'sapaan', bagaimanapun juga kita harus berbicara sambil menatap mata dan wajah orang yang mendengarkan, kan."

 

Sambil menatap ke arah bawah panggung dengan ekspresi serius Alisa berucap begitu, lalu mengarahkan pandangannya yang kuat pada Masachika.

"Nee, bagaimana caranya agar bisa berbicara seolah sedang mengobrol dengan penonton seperti yang kamu lakukan, ya?"

 

Mendapat pertanyaan Alisa, Masachika menggaruk kepalanya sambil membatin kagum di dalam hati, Semangat untuk berkembangnya beneran kuat banget, ya.

 

"Ditanya bagaimana caranya pun... kalau urusan yang satu ini, porsi kebiasaan itu pengaruhnya besar banget, sih. Untuk sementara pokoknya buat dirimu bisa bicara secara sempurna tanpa melihat naskah, sisanya tinggal mengubah nada suara dan pengambilan jeda sambil melihat reaksi penonton, lalu sesekali menyelipkan lelucon agar konsentrasi mereka tidak terputus... kurang lebih rasanya begitu, sih."

 

"..."

 

Mendapat saran Masachika, Alisa membisu dengan raut wajah yang rumit. Masachika sendiri sadar kalau ia menuntut hal dengan tingkat kesulitan yang cukup tinggi, sehingga ia menambahkan sambil tersenyum kecut.

 

"Yah, memang mustahil kalau mau langsung melakukannya secara sempurna dari awal. Seperti yang kukatakan tadi, kebiasaan itu penting... Untuk kali ini, asal kamu bisa menatap ke depan dan berbicara secara anggun, itu sudah lebih dari cukup, kok."

 

"...Cuma begitu saja, sudah cukup?"

 

"Iya, untuk kali ini anggap saja sebagai latihan menuju pertarungan pemilihan ke depannya. Kemarin kan aku sudah bilang, kan? Kalau membakar semangat persaingan pada Yuki secara aneh, yang ada iramamu justru bakal makin terkacaukan."

 

"!"

 

Atas perkataan Masachika, Alisa membelalakkan matanya merespons kesadaran bahwa dirinya tanpa sadar sedang terburu-buru agar tidak kalah dari Yuki. Demi menenangkan Alisa, Masachika menepuk bahunya pelan lalu memelankan suaranya sedikit.

 

"Kalau begitu, mau kuberitahu satu jurus rahasia yang bisa mencuri perhatian penonton sekaligus meredakan rasa tegang?"

 

"? Jurus rahasia?"

 

"Iya."

 

Melihat Alisa yang menaikkan alisnya, Masachika membocorkan isinya secara pelan. Atas isi yang di luar dugaan tersebut, ekspresi Alisa sempat terkejut sejenak, sebelum akhirnya merapatkan alisnya dan memperlihatkan gestur merenung.

 

"Itu adalah..."

 

"Bagaimana? Mudah, kan? Padahal begitu tapi sangat efektif, lho."

 

"...Benar juga. Bakal kucoba."

Kepada Alisa yang mengangguk dengan wajah yang sangat serius, Masachika membalas dengan senyuman menyeringai. Tepat saat itu, sebuah suara terdengar dari samping panggung.

 

"Apakah sedang gladi bersih untuk besok?"

 

Saat mereka berdua berbalik secara bersamaan merespons suara itu, di sana berdiri sosok Yuki yang memamerkan senyuman archaic seperti biasanya. Di belakangnya ada Ayano juga, yang membungkuk pelan tanpa ekspresi ke arah Masachika dan Alisa.

 

"Ooh, pekerjaan kalian di sebelah sana sudah selesai?"

 

"Iya, semuanya berjalan lancar."

 

Meskipun mereka berdua saling bertukar kata dengan akrab, di sana ada

ketegangan yang tidak seperti biasanya. Sambil melangkah perlahan mendekati Masachika, Yuki menempelkan tangan di mulutnya lalu memiringkan kepalanya sedikit.

 

"Fufu, ada apa, Masachika-kun? Wajahmu kelihatan agak menyeramkan, lho?"

 

"Bisa-bisanya kamu mengatakan hal itu tanpa beban, ya... Kamu sendiri bukannya topeng wanita anggunmu sudah terlepas, tuh?"

 

"Ara ara, fufufu."

 

Sambil memamerkan senyuman wanita anggun yang sempurna, Yuki membuka matanya sedikit. Di balik matanya yang melengkung, tatapan mata itu memancarkan cahaya dingin tanpa menyisakan kepingan senyuman sedikit pun.

 

Di hadapan tatapan mata yang dipastikan bakal membuat orang biasa ciut ketakutan itu, Masachika justru mengedikkan bahunya lalu berbalik menatap Alisa di belakangnya.

 

"Kan? Inilah sifat aslinya anak ini. Seperti yang kubilang sebelumnya, jangan tertipu sama wajah sok wanita anggunnya, ya?"

 

"E, iya..."

 

"Ara, Alya-san. Fufu, apakah Anda jadi kecewa pada saya?"

 

Melihat Yuki yang memiringkan kepalanya, Alisa justru menggelengkan kepalanya ke kiri dan ke kanan perlahan.

 

"Tidak, aku memang agak kaget, tapi sama sekali tidak kecewa, kok."

 

"Ara..."

 

"Kita kan belum seberapa lama saling mengenal. Jika situasinya berubah, wajar saja kalau ada sisi yang belum kuketahui yang muncul."

 

"..."

 

"Lagipula... keinginanmu untuk tetap berteman denganku itu adalah hal yang sejujurnya, kan?"

 

"...Iya, kalau hal itu tentu saja."

 

"Kalau begitu, tidak masalah."

 

Melihat Alisa mengangguk secara santai, Yuki membelalakkan matanya terperangah dari lubuk hatinya.

 

"Lagipula... berkat Yuki-san, aku juga jadi bisa menata ulang diriku sendiri."

 

"...Maksudnya?"

 

Menatap lurus balik ke arah Yuki yang menarik senyuman buatannya lalu memiringkan kepala, Alisa mendeklarasikan.

 

"Yuki-san, pertanyaan yang dikatakan padaku waktu itu soal kenapa aku mengincar posisi ketua OSIS... jawaban untuk hal itu berniat kuperlihatkan besok. Di atas hal itu, aku bakal memperlihatkan kalau aku bisa mendapatkan dukungan yang jauh lebih banyak ketimbang dirimu."

 

Atas deklarasi Alisa yang begitu anggun, Yuki mengedipkan matanya dengan wajah datar sebelum akhirnya terkekeh pelan.

 

"Fufu, Alya-san benar-benar sosok yang lurus dan... luar biasa, ya."

 

"A, apa-apaan... itu."

 

Pujian yang tiba-tiba itu membuat Alisa mengedarkan pandangan dengan bingung. Namun, Yuki justru melanjutkan ucapannya tanpa sedikit pun merasa malu.

 

"Itu benar-benar pendapat saya yang tulus, lho? Saya berpikir benar-benar sangat bagus bisa menjadi teman dengan Alya-san."

 

"Ugh..."

 

Melihat Alisa yang langsung memalingkan wajahnya lantaran sudah tidak tahan lagi, Yuki makin memeperdalam senyumannya sambil berucap.

 

"Untuk Alya-san yang begitu luar biasa... ada satu hal yang ingin saya sampaikan."

 

"...Apa?"

 

Kepada Alisa yang berbalik dengan wajah cengong, Yuki tersenyum jahil.

 

"Soal cerita kalau kakak laki-laki saya sudah tidak ada lagi... hal itu bukannya berarti dia sudah meninggal, lho?"

 

"Eh?"

 

"Dia murni cuma keluar dari rumah saja. Walau sudah memutus hubungan dengan keluarga Suou, sampai sekarang dia tetap sehat-sehat saja, kok?"

 

"A, a...!"

 

Menyadari kalau dirinya telah dibikin salah paham, wajah Alisa memerah membara lalu memelototi Yuki. Di hadapan Alisa yang ditepis oleh senyuman santai Yuki, Masachika berdiri sambil memamerkan senyuman ramah.

 

"Aduh syukurlah ya, persahabatanmu dengan Alya tidak jadi hancur."

 

Atas senyuman ceria yang tidak alami tersebut, tingkat kewaspadaan Yuki melonjak drastis, lalu ia kembali memamerkan senyuman archaic.

 

"Ara ara, kalau mendengarkan cara bicaramu itu... rasanya seolah-olah persahabatan dengan Masachika-kun justru sudah retak, ya?"

 

"Enggak, tidak juga, tuh? Aku cuma berpikir kalau kamu beneran tega banget melancarkannya, sih?"

 

Sambil tetap memamerkan senyuman ramah dan nada bicara yang cerah, Masachika melangkah mendekati Yuki dan Ayano. Punggungnya ditatap dengan agak cemas oleh Alisa, tetapi Yuki sendiri tidak merusak senyumannya meski dihadapkan pada kakaknya yang mendekat tepat di depan matanya.

 

"Ara ara, jangan-jangan... kamu marah gara-gara disasar saat kondisi badanmu sedang buruk?"

 

"Tidak juga, kok. Menyerang saat lawan sedang lemah itu sudah sewajarnya dalam taktik. Malahan, bisa memberikan obat tanpa membuatku sadar sama sekali itu benar-benar hal yang luar biasa, lho."

 

"Sebuah kehormatan untuk saya, ya."

 

Meski berkata begitu, Yuki merasakan merinding di kulitnya melihat senyuman kakaknya di depan mata. Hal yang sama juga dirasakan oleh Ayano yang dilirik sekejap oleh Masachika. Menghadapi tekanan aura aneh yang dipancarkan Masachika, keringat dingin mengalir di punggung mereka berdua secara bersamaan.

 

Namun, meski memancarkan aura yang membuat siapa pun bergidik, Masachika tetap melanjutkan dengan nada bicara yang ceria.

 

"Aduh, ini emosi macam apa ya? Aku sendiri tidak begitu paham, sih... Tapi kalau boleh dibilang, rasanya separuh ingin membelai-belai kepala anjing peliharaan imut yang mencoba menggigit, dan separuhnya lagi ingin mendidiknya agar tidak bisa menggigit untuk kedua kalinya, mungkin?"

 

Meskipun dikatakan hal yang cukup mengerikan, Yuki tidak melemparkan candaan balik. Menghadapi aura kesungguhan kakaknya yang sudah lama tidak dilihatnya, Yuki melepas topengnya sebagai wanita anggun.

Yang ada di dalam diri Yuki saat ini adalah sedikit rasa gentar dan rasa gembira yang jauh lebih besar dari itu. Hal itu terpancar ke luar dalam bentuk mata yang berbinar-binar dan senyuman yang sangat ganas.

 

Melihat ekspresi yang diperlihatkan adiknya, senyuman Masachika pun berubah menjadi sangat kejam.

 

"Hanya saja, yah, kalau boleh memberi tahu satu hal..."

 

Lalu... dengan mata yang tidak tersenyum sedikit pun, ia menatap Yuki dari atas sambil berkata.

 

"Kalau sudah menggigit, siap-siap kertakkan gigimu, ya?"

 

Di mata itu, terpancar kewibawaan yang sama sekali tidak memperlihatkan kesan tersudut sedikit pun. Yuki dan Ayano menyadari bahwa mereka telah membangunkan singa yang sedang tertidur.

 

(Ahaha... aku pikir sudah bisa membuatnya agak panik... tapi ternyata aku terlalu meremehkannya, ya.)

 

Deklarasi perang yang sangat jelas dari sang kakak. Namun, hal itu justru menguntungkan bagi Yuki. Jika harus adu jotos secara frontal, Yuki pun sangat menyambutnya. Merespons niat bertarung yang diarahkan padanya serta rasa sensasi membara yang membuncah, Yuki merasakan sensasi gemetar bertarung, dan Ayano pun ikut gemetar.

 

...Bukan hal yang perlu diperjelas bagian mananya yang gemetar.

Di atas panggung, ketegangan luar biasa yang tidak mencerminkan H-1 acara asli berpusar hebat. Namun, atmosfer tersebut mendadak sirna oleh suara yang bersuara dengan sungkan dari samping panggung.

 

"Anu, boleh minta waktunya sebentar~? Kami ingin melakukan konfirmasi terakhir untuk besok..."

 

Saat mereka berbalik secara bersamaan merespons suara itu, di sana berdiri tiga orang murid kelas dua pengurus OSIS. Kepada Touya yang mengumpulkan mereka dengan wajah agak kedutan, Masachika dan Yuki menarik kembali niat bertarung mereka lalu melangkah ke arah sana. Alisa dan Ayano pun mengendurkan ketegangan mereka lalu menyusul dari belakang.

 

Meskipun memperlihatkan sikap agak kurang tenang menghadapi empat murid kelas satu yang memancarkan ketegangan tidak biasa, Touya melanjutkan konfirmasi terakhir menuju acara asli upacara penutupan besok.

 

Lalu, topik pembicaraan akhirnya sampai pada sapaan pengurus OSIS.

 

"Kalau begitu, soal sapaan pengurus OSIS yang menjadi inti acara... urutannya dimulai dari aku selaku ketua, wakil ketua Chisaki, lalu Kujou senior, dan setelah itu disusul oleh kelompok kelas satu. Berhubung tahun ini jumlah orangnya sedikit jadi tidak ada batasan waktu khusus, tapi usahakan selesai dalam waktu sekitar tiga menit. Ada pertanyaan?"

 

Karena sebelumnya sudah pernah diberikan penjelasan ringan, tidak ada yang mengangkat tangan. Memastikan semua orang mengangguk pelan, Touya menatap keempat murid kelas satu dengan agak sungkan.

 

"Nah, kalau begitu soal urutan sapaan kelompok kelas satu... bagaimana bagusnya? Tahun lalu ditentukan lewat suit oleh para kandidat ketua."

 

Mendengar kata-kata Touya, Yuki dan Alisa saling melempar pandangan, lalu Yuki memiringkan kepalanya sedikit sambil memamerkan senyuman tipis.

 

"Saya tidak keberatan jika menentukan lewat suit, lho?"

 

Atas kata-kata Yuki, Alisa hendak menyetujuinya... namun sebelum itu, Masachika bersuara terlebih dahulu.

 

"Jangan, dong. Suit itu bagaimanapun cuma permainan adu refleks."

 

"Yah, benar juga, ya."

 

Melihat Masachika yang mengangkat bahunya, Alisa dan Touya mengangkat alis bingung, Chisaki mengangguk paham, dan Maria tertawa kebingungan, "Eeeh~?" Sedangkan Ayano... tidak dianggap.

 

Namun pasangan kakak adik ini sama sekali tidak berniat bercanda.

Sebagai sesama otaku yang selalu bersiap jika sewaktu-waktu terlibat dalam permainan otak yang mempertaruhkan jalan hidup, bagi mereka berdua menguasai suir adalah hal yang sangat wajar dari awal.

 

Sekali lagi ditegaskan, mereka tidak sedang bercanda.

 

"Kalau begitu, bagaimana jika menggunakan lempar koin?"

 

"Benar juga, kalau begitu adil, ya."

 

"Saya paham. Kalau begitu Ayano yang melakukan lempar koin, lalu Alya-san yang menebak angka atau gambar, apakah format seperti itu tidak apa-apa?"

 

"Jangan, lempar koin harus dilakukan oleh orang lain."

 

"Fufu, Anda sangat curigaan, ya."

 

Alasan Masachika dan Yuki tidak melakukan lempar koin tentu saja karena ada potensi kecurangan, tetapi khusus untuk Ayano harusnya ia tidak menguasai teknik semacam itu.

 

Namun meski begitu, berhubung Ayano punya rekam jejak memberikan obat tanpa beban, bagi Masachika tidak ada alasan untuk tidak waspada.

 

Tentu saja alasan Masachika atau Yuki tidak menjadi pihak yang menebak angka atau gambar koin juga karena pada akhirnya itu cuma permainan adu refleks sebatas itu, dan seterusnya.

 

"Emm, bagaimana kalau aku saja yang melakukan~?"

 

Saat Masachika menatap kelompok kelas dua, Maria membicarakan hal itu sambil mengeluarkan koin seratus yen. Tepat saat Masachika menatap Yuki demi mengonfirmasi, Yuki mengangkat bahunya.

 

Menganggap telah mendapat persetujuan, Masachika mengangguk ke arah Maria.

 

"Tolong, ya. Masha-san yang melakukan lempar koin, lalu Alya yang menebak. Kalau tebakannya benar Alya bebas memilih mau tampil pertama atau belakangan, tapi kalau tebakannya salah Yuki yang memilih."

 

"Aku paham. Kalau begitu sisi yang ada gambarnya ini bagian depan, lalu yang ada tulisan seratusnya ini bagian belakang, ya~"

 

Sambil berkata begitu Maria meletakkan koin seratus yen di atas kukunya, tetapi Alisa yang mengawasi gerak-gerik itu membuka suara dengan mata penuh rasa curiga.

 

"Masha... kamu bisa melakukannya dengan benar?"

 

"Aah~ kamu meremehkan Kakak, ya~ Bisa, kok, perhatikan baik-baik, ya~? Hap!"

 

Sambil menggembungkan pipinya merespons pandangan Alisa, entah kenapa Maria memantulkan koin seratus yen sambil melompat bersama tubuhnya.

 

Di tengah-tengah semua orang yang mengawasi dengan pandangan hangat, Maria yang entah kenapa menggoyangkan tubuhnya ke sana kemari sambil mengikuti arah koin dengan matanya, menangkap koin seratus yen tersebut dengan kedua tangannya seperti sedang menepuk nyamuk.

 

"Dapat! Nah, aku bisa kan, Alya-chan!"

 

Sambil merapatkan kedua tangannya, Maria memamerkan rasa gembira dengan bangga, tetapi mata Alisa tetap dingin.

 

"Lalu? Sisi mana yang di atas?"

 

"Eh...?"

 

Ditegur oleh Alisa, Maria menunduk menatap tangannya sendiri, dan sepertinya baru menyadari kalau posisi begini tidak bisa membedakan mana depan dan belakang.

 

"Emm, kalau begitu... yang ini yang di atas?"

 

Saat Maria menjadikan tangan kirinya di bawah dan tangan kanannya di atas sambil berkata begitu, Alisa membalas dengan datar.

 

"Bagian depan."

 

"Eeeh~ padahal mikir sebentar dulu..."

 

"Tidak usah pakai begitu-begitu, ah."

"Mmm... kalau begitu, nih."

 

Di atas telapak tangan Maria yang terbuka... terukir angka seratus. Alisa merapatkan alisnya sejenak, dan ekspresi Alisa itu diawasi lekat-lekat oleh Yuki.

 

"Ara, tebakannya salah, ya. Kalau begitu... Yuki-chan, kamu mau memilih tampil pertama atau belakangan?"

 

"Benar juga, ya..."

 

Dipanggil oleh Maria, Yuki menaruh tangannya di dagu sambil merenung. Masachika menatap Yuki yang seperti itu secara lekat.

 

(Bagus kalau bisa menang di lempar koin tadi... Tapi nah, seberapa jauh kamu bisa menebak jalan pikiranku?)

 

Di tengah tatapan sang kakak, Yuki berkonsentrasi pada jalan pikirannya sendiri.

 

(Kalau berpikir secara biasa, tampil belakangan yang bakal berbekas di ingatan itu lebih menguntungkan... Tapi kalau tampil pertama lalu bisa menciptakan kesan 'Suou-san tadi luar biasa banget, jadi kita tidak usah bertepuk tangan buat Kujou-san saja', kemenangan mutlak juga sangat memungkinkan. Sebaliknya, tampil pertama yang dijadikan tolok ukur setidaknya bakal mendapat tepuk tangan minimal, jadi kalau membuat Alya-san tampil pertama bakal sulit mendapat kemenangan mutlak... Lagipula dia jadi punya alasan 'Mau bagaimana lagi kan tampil pertama'... Haruskah aku memilih tampil pertama? Sejak awal aku memang berniat begitu, sih...)

 

Namun... Yuki kembali berpikir.

 

(Hal itu berlaku kalau mengincar kemenangan mutlak, berhubung Onii-chan sudah mengeluarkan kesungguhannya, di sini harusnya aku mengincar kemenangan aman saja... Berarti tampil belakangan memang lebih menguntungkan? Bertarung setelah melihat pergerakan Onii-chan, justru...)

 

Tepat saat itu, Yuki merasakan ada hal yang ganjil. Sikap kakaknya tadi.

 

Gertakan yang sangat terang-terangan itu.

 

(Kalau dipikir-pikir... kenapa dia menggertak secara terang-terangan begitu, ya? Sangat tidak mencerminkan Onii-chan yang biasanya bermain di belakang layar............ Jangan-jangan, akting?)

 

Begitu pemikiran itu muncul, Yuki merasa secara intuisi bahwa hal itu benar. Sambil mengarahkan pandangannya secara cepat ke arah Masachika, otak Yuki berputar hebat.

 

(Seandainya itu akting... apa sasarannya? Demi membuatku berpikir kalau dia kesal gara-gara dikerjai lalu berniat adu jotos secara frontal...? Padahal sebenarnya dia sama sekali tidak berniat adu jotos secara frontal? Ditambah lagi... ugh! Demi mengalihkan perhatian dari Alya-san, kah!)

Bersamaan dengan kilatan ilham bagaikan pencerahan, Yuki menatap mata Masachika lekat-lekat. Murni tidak ada yang bisa dibaca dari ekspresi poker face sang kakak, tetapi Yuki merasa yakin bahwa dirinya sudah makin mendekati jawaban yang benar.

 

(Benar juga... Tanpa sadar aku malah terdistraksi oleh Onii-chan, padahal incaran awalku sejak awal adalah Alya-san... Lagipula kalau kulihat, mental Alya-san tidak sekuat perkiraanku. Ditambah lagi, saat ini dia punya trauma gara-gara tidak bisa bicara dengan lancar di siaran dalam sekolah kemarin. Sejak awal aku memang berniat memanfaatkan hal itu dengan memaksakan posisi tampil belakangan yang penuh tekanan padanya.)

 

Mengingat kembali strategi awalnya, Yuki menyadari bahwa jalan pikirannya sempat hampir dipola oleh kakaknya. Namun, ia sudah bisa menembusnya sekarang.

 

(Incaran Onii-chan yang sebenarnya adalah mengamankan posisi tampil pertama yang bebas tekanan dan setidaknya mendapat tepuk tangan minimal, demi mengincar hasil seri! Kalau begitu, aku tinggal mengincar kemenangan mutlak sesuai rencana awal!)

 

Seluruh proses berpikir ini hanya memakan waktu sekitar lima detik.

 

Yuki yang menarik kesimpulan lewat kecepatan berpikir melampaui manusia biasa, mengukir senyuman di bibirnya lalu memberi tahu Touya.

 

"Kalau begitu, saya minta posisi tampil pertama, ya."

"Ngh, baiklah. Kalau begitu yang tampil pertama adalah pasangan Suou dan Kimishima. Yang tampil belakangan adalah pasangan Kujou adik dan Kuze."

 

Mendengar kata-kata itu, Alisa mengangguk dalam diam. Sementara Masachika, memamerkan senyuman penuh makna.

 

 

Lalu, keesokan harinya. Berkat persiapan matang pada hari sebelumnya, acara upacara penutupan berlangsung dengan lancar tanpa ada kendala berarti. Sambutan dari para guru hingga pengumuman dari komite kedisiplinan menyelesaikan agenda secara tertib. Para pengurus OSIS memantau jalannya acara dengan terbagi menjadi dua kelompok: Touya, Maria, Alisa, dan Masachika di panggung sebelah kiri, serta Chisaki, Yuki, dan Ayano di panggung sebelah kanan.

 

"Acara selanjutnya, mari kita dengarkan sapaan dari para pengurus OSIS untuk tahun ajaran ini."

 

Akhirnya, momen yang ditunggu-tunggu pun tiba. Merespons panggilan nama dari anggota klub penyiaran yang bertindak sebagai pembawa acara, kelompok murid kelas dua menyampaikan sapaan secara berurutan. Touya yang menyampaikan sapaan penuh karisma lewat sikap yang anggun, mendapat sorakan meriah saat membawakan kejutan berupa keputusan perubahan seragam musim panas.

 

Chisaki membawakan sapaan yang agak santai sambil sesekali memancing gelak tawa lewat suasana yang cerah. Maria menyampaikan sapaan yang teratur di balik atmosfer dan nada bicaranya yang lembut seperti biasa.

 

Meskipun ketiganya punya gaya yang berbeda, murid-masing-masing kelas dua berhasil menyampaikan sapaan yang memikat perhatian orang-orang. Di tengah-tengah siuasi para murid yang heboh seperti sedang melihat idola, giliran kelompok kelas satu akhirnya tiba.

 

"Selanjutnya, sapaan dari seksi publikasi OSIS, Suou Yuki-san."

 

Kemunculan kandidat ketua berikutnya membuat suasana ruangan berubah seketika. Ada yang menantikan pertarungan diam antara para kandidat, ada yang memperhatikan dengan antusias, dan ada pula yang mencoba menilai secara dingin. Di tengah gulungan berbagai pasang mata tersebut, Yuki berdiri di atas podium. Sosok Yuki terpampang besar di layar panggung, membuat penonton bersorak ringan.

 

"Terima kasih atas kesempatan yang diberikan. Saya Suou Yuki dari seksi publikasi OSIS, sekaligus mantan ketua OSIS SMP. Pada tahun ajaran mendatang, saya berencana untuk mencalonkan diri dalam pertarungan pemilihan ketua OSIS. Mohon bimbingan dan dukungannya."

 

Saat Yuki menundukkan kepalanya pelan sambil memamerkan senyuman archaic, sorakan dukungan sudah bergemuruh dari berbagai sudut ruang olahraga. Sambil membalas sorakan itu lewat anggukan pelan, Yuki mencerahkan nada bicaranya sedikit.

 

"Nah, sehubungan dengan hal tersebut, izinkan saya menyampaikan sedikit visi milik saya. Hal yang ingin saya capai saat kelak menjadi ketua OSIS adalah... sekolah yang lebih mencerminkan pendapat dari para murid. Ara? Apakah barusan Anda berpikir bahwa visi ini terlalu biasa?"

 

Tindakan Yuki yang mendadak melontarkan pertanyaan agak jahil itu berhasil memancing gelak tawa ringan dari penonton dan melunakkan suasana. Setelah itu, Yuki mengeluarkan sebuah kotak besar dari bawah podium lalu memperlihatkannya pada penonton.

 

"Secara spesifik... ini adalah kotak saran. Kotak ini sudah dipasang di

sekolah sejak bertahun-tahun lalu... tapi saya rasa, murid yang pernah memanfaatkannya walau sekali saja justru lebih sedikit, bukan? Kenyataannya, saya sendiri sudah berulang kali mengangkat topik ini di laporan siaran siang, tetapi saya rasa sangat jarang ada keluhan atau aspirasi yang beneran masuk. Hal itu terjadi karena kalian berpikiran bahwa 'Menyampaikan saran pun tidak bakal terwujud jadi percuma saja', bukan?"

 

Atas pertanyaan konkret dari Yuki, para murid merefleksikan diri mereka sendiri lalu mengangguk paham. Setelah mendapatkan persetujuan dari para murid, Yuki mengungkit alasannya.

 

"Namun, hal itu sangatlah maklum. Bagaimanapun bagi sebagian besar pengurus, pekerjaan OSIS adalah hal yang serba pertama kali. Orang dewasa di dunia kerja saja menghabiskan tahun pertamanya untuk mempelajari pekerjaan, sedangkan pengurus OSIS masa jabatannya sudah habis dalam waktu satu tahun kerja. Di atas hal itu, mendengarkan aspirasi murid lalu mewujudkannya jelas merupakan hal yang sulit. Apalagi tahun ini entah kenapa... ya, entah kenapa! Pengurus OSIS kelas satu sangat sedikit sehingga kami kekurangan tenaga kerja, kan?"

 

Cara bicara Yuki yang sengaja dibuat-buat membuat para murid tertawa sambil membatin, Bukan, itu kan gara-gara siapa. Sambil pasrah menopang para senior pengurus OSIS, Yuki yang berhasil memancing tawa secara mantap langsung memotong ke inti pembicaraan.

 

"Namun, saat saya menjadi ketua OSIS kelak, saya bakal mewujudkan aspirasi yang dimasukkan ke dalam kotak saran ini."

 

Mendeklarasikannya secara tegas seperti itu, Yuki melanjutkannya lebih jauh.

 

"Secara lebih spesifik, minimal satu bulan sekali saya bakal mewujudkan satu aspirasi dari murid. Lalu lewat pencapaian tersebut, saya berniat mulai mewujudkan aspirasi yang lebih besar lagi. Contohnya, perubahan cabang olahraga di hari olahraga. Perluasan acara dan durasi pelaksanaan festival sekolah. Penambahan waktu bebas saat darmawisata. Lalu, membuat acara baru terkait Halloween atau Natal juga sepertinya bakal menarik, bukan?"

 

Bagi sebagian besar murid, isi pembicaraan yang mau tidak mau menaikkan antusiasme itu memicu kehebohan diiringi rasa ragu

"Apakah beneran bisa dilakukan?".

Namun, Yuki adalah orang yang sanggup menjawab keraguan tersebut secara mantap. Sambil memamerkan senyuman penuh percaya diri dan menatap sekeliling penonton, Yuki mendeklarasikan.

 

"Saya yakin bahwa hal ini hanya bisa dilakukan oleh saya, yang memiliki rekam jejak dan pengalaman mengurus pekerjaan OSIS selama dua tahun di SMP, serta saat ini juga bekerja sebagai bagian dari OSIS SMA. Dan saya berniat membuktikan hal tersebut lewat kinerja saya ke depannya. Terima kasih atas perhatiannya."

 

Saat Yuki menundukkan kepalanya setelah menyampaikan hal itu, tepuk tangan dan sorakan meriah bergema di seluruh ruang olahraga. Sambil mengangkat tangannya merespons sorakan tersebut, Yuki melangkah anggun kembali ke panggung sebelah kanan. Pemandangan itu ditatap Masachika dengan senyum kecut.

 

"Curang banget, deh. Dia cuma mengumbar janji besar-besaran tanpa menyebutkan secara spesifik apa yang bakal dilakukan tahun ini.

Malahan, dia mengatakan 'Tahun ini pengurus OSIS sedikit jadi isi kotak saran tidak bisa terwujud, ya?' yang kelihatannya seperti menopang senior padahal murni bikin alasan... Tapi yang paling curang, hal itu tetap terdengar sangat meyakinkan."

 

Atas perkataan Masachika, Touya pun mengangguk sambil mengukir senyum kecut yang bercampur rasa kagum.

 

"Suou benar-benar pandai berbicara menggunakan gertakan, ya. Rasanya dia jauh lebih hebat ketimbang aku, lho?"

"Ahahaha, kalau itu sih murni pengalaman dan... Yuki saja yang agak pembohong, mungkin?"

 

"Kamu ini, tidak ada ampunnya banget, ya."

 

Di seberang sana saat mereka sedang tertawa bersama, Maria sedang menyapa Alisa.

 

"Alya-chan, kamu tidak apa-apa? Kamu tegang?"

 

"Aku tidak apa-apa... untuk saat ini biarkan aku sendiri dulu."

 

"Duh, Alya-chan ini."

 

Maria menggembungkan pipinya merespons adiknya yang seperti biasa bersikap dingin pada sang kakak. Melihat hal itu kembali membuat Masachika tersenyum kecut, hingga pembawa acara memanggil nama Ayano untuk berdiri di atas podium.

 

Melihat sosok yang terpampang di layar membuat kehebohan ringan terjadi. Namun, hal itu sangatlah maklum. Sebab Ayano yang berdiri di atas podium... meskipun pakaiannya adalah seragam sekolah, gaya rambutnya adalah mode maid di mana rambutnya diikat rapi!

 

Poni yang biasanya terurai diikat rapi memperlihatkan dahinya yang cantik, dan wajah tanpa ekspresinya seperti biasa terlihat seolah-olah memancarkan semangat dari suatu tempat. ...Tidak, mungkin itu cuma perasaan saja.

Terlepas dari itu semua, Ayano yang biasanya berusaha tidak tampil mencolok kini berdiri di atas podium dengan poni terkuak, membuat banyak murid laki-laki berseru heboh "Siapa gadis cantik itu!", dan sebagian murid perempuan berseru cerah "Kyaa! Ayano-chan imut banget~!". Kenyataan yang ada, meskipun kelihatannya begini, Ayano punya kepopuleran bagai maskot di kalangan murid perempuan tertentu yang mengenalnya.

 

"Terima kasih atas kesempatan yang diberikan, saya Kimishima Ayano dari seksi urusan umum OSIS. Secara personal, saya bertindak sebagai pelayan keluarga Suou dan mengabdi sebagai pengawal Yuki-sama."

 

Jika harus menggambarkan suasana ruang olahraga pada momen tersebut secara singkat, mungkin kata yang pas adalah "!?". Mendadak ada gadis cantik yang muncul, lalu mengaku sebagai pengawal dari Suou Yuki. Bagi sebagian besar orang, rasanya pasti "Eh, tunggu dulu, informasinya terlalu banyak".

 

Namun tanpa memedulikan kehebohan penonton tersebut, Ayano melanjutkannya.

 

"Pada tahun ajaran mendatang, saya berencana untuk mencalonkan diri dalam pertarungan pemilihan mendampingi Yuki-sama. Memanfaatkan pengalaman saya yang telah melayani Yuki-sama sejak kecil selaku pengawal, saya bertekad untuk menopang Yuki-sama. Yuki-sama adalah sosok luar biasa yang sangat pantas disebut sebagai wanita anggun nan rupawan dan berprestasi. Saya yakin beliau pasti bakal memimpin sekolah ini dengan luar biasa selaku ketua OSIS."

 

Seolah sedang membaca naskah, Ayano terus bercerita secara datar.

 

Namun, cara bicaranya yang sama sekali tidak memancarkan kesan akting atau berlebihan, serta matanya yang sangat lurus, memberikan rasa kebenaran yang aneh pada pernyataannya.

 

Entah kenapa, para penonton bisa menangkap bahwa ia cuma hanya menyampaikan fakta. Dan kenyataannya, Ayano murni hanya menceritakan fakta bagi dirinya sendiri.

 

"Nilai akademis Yuki-sama di sekolah selalu berada di jajaran atas, dan kemampuan bahasa Inggris beliau berada di tingkat penutur asli. Belakangan ini beliau juga mempelajari bahasa Mandarin, dan sudah mencapai tingkat di mana percakapan sehari-hari sangat memungkinkan. Selain itu beliau juga menunjukkan bakat luar biasa dalam piano, seni merangkai bunga, hingga karate, benar-benar mencerminkan sosok yang tangguh dalam akademis maupun nonakademis. Meskipun begitu beliau sama sekali tidak sombong, dan selalu memedulikan orang-orang di sekitarnya. Kepada pelayan seperti saya pun, setiap tahun di hari ulang tahun beliau pasti memberikan hadiah yang penuh dengan perasaan."

 

Sambil berkata begitu, Ayano memejamkan matanya, mendongakkan dagunya sedikit lalu merapatkan bibirnya. ...Sepertinya ia berniat memamerkan wajah bangga... padahal ekspresinya sama sekali tidak bergerak.

 

Melihat Ayano memamerkan wajah bangga (?) sepenuh hatinya, teriakan histeris memanggil nama Ayano menyeruak dari sebagian murid perempuan. Bagaikan terhipnotis oleh hal itu, gelak tawa bernada "Anak itu lumayan lucu juga, ya" mulai menyebar ke seluruh penjuru ruangan.

 

Meski sempat mengedipkan matanya beberapa kali merespons reaksi tak terduga itu, Ayano terus menceritakan perihal Yuki dengan penuh rasa bangga... atau lebih tepatnya merasa sangat bangga, secara berapi-api.

 

Para penonton pun sepertinya mulai ketagihan dengan atmosfer uniknya, lalu mendengarkan cerita Ayano dengan penuh perhatian.

 

"Yah, ujung-ujungnya memang bakal jadi begini, sih."

 

Mendengarkan pidato Ayano dari samping panggung, Masachika bergumam pelan.

 

"Presentasi meyakinkan dari Yuki yang diperkuat oleh rekam jejaknya semasa SMP. Lalu hal itu diperkokoh lagi oleh Ayano dari sudut pandang seorang pengawal yang telah melayaninya sejak kecil... begitu, ya."

 

Secara datar Masachika memberikan penilaian tinggi setelah melakukan analisis obyektif terhadap kedua rivalnya. Lalu, ia memutar tubuhnya menghadap Alisa dan berbicara.

 

"Pidato yang sama sekali tidak memiliki celah, ya. Mereka sengaja mengambil posisi tampil pertama untuk mengincar kemenangan mutlak, tuh."

Melihat Masachika yang mengakui situasi sulit ini secara dingin, Alisa justru bertanya balik dengan tatapan mata yang tidak memancarkan

keraguan sedikit pun.

 

"...Tapi, kita tetap bisa menang, kan?"

 

"Iya, berkat dirimu."

 

Mendapat kepercayaan yang tak tergoyahkan itu, Masachika mengangguk tanpa merasa terbebani. Sambil memamerkan senyuman puas melihat Alisa yang tidak terseret oleh pidato rivalnya, Masachika mendaratkan tangannya di bahu Alisa secara perlahan.

 

"Karena itulah, kamu tidak perlu membakar semangat persaingan secara aneh lalu memaksakan diri berpidato demi menyaingi mereka."

 

Sejak awal Masachika tahu kalau Alisa bertarung di arena yang sama, peluang menang melawan Yuki itu sangat tipis. Pihak sana pun menyadari hal itu, sehingga sengaja memicu semangat persaingan Alisa agar Alisa mau naik ke arena yang sama dengan mereka.

 

"Aku paham, kok... Berkat perkataanmu tadi, kepalaku sudah dingin sekarang."

 

Namun berkat perkataan Masachika, Alisa yang sudah kembali dingin saat ini sudah tidak lagi memiliki semangat persaingan pada Yuki.

 

"Ngh, kalau begitu baguslah. Kamu masih ingat betul kan nama dari acara ini?"

Atas pertanyaan Masachika, Alisa membalas sambil mengukir senyuman tipis di bibirnya.

 

"Ingat, kok. Sapaan pengurus OSIS, kan?"

 

"Yup, sapaan. Memang sih menyampaikan pidato penyampaian visi sudah seperti jadi tradisi, tapi pada mulanya kan bukan begitu.

Pertama-tama..."

 

Masachika mengarahkan pandangannya ke arah para murid yang berkumpul di ruang olahraga.

 

"Mari kita mulai dari membuat orang-orang mengenali dirimu dulu."

 

Di sana, Ayano yang sangat teliti menyelesaikan sapaannya tepat di

durasi tiga menit, lalu membungkuk hormat dan turun dari podium.

 

Kemudian saat ia kembali bergabung dengan Yuki di panggung sebelah kanan, mereka berdua membungkuk bersama ke arah penonton.

 

Seketika itu juga, tepuk tangan dan sorakan riuh bergema hingga rasanya sanggup mengguncang ruang olahraga.

 

Badai tepuk tangan dan sorakan yang sampai membuat pembawa acara ragu untuk melanjutkan acara itu berlangsung selama belasan detik, dan baru mulai mereda setelah Yuki dan Ayano turun ke samping panggung.

 

"Emm~ kalau begitu, selanjutnya sapaan dari bendahara OSIS, Kujou Alisa-san."

Di hadapan para murid yang euforianya belum mereda, Alisa menaiki podium. Melihat gadis berambut perak yang terpampang di layar, para murid akhirnya mulai mengarahkan perhatian mereka ke sana.

 

Suasana di dalam ruangan saat ini berada di kisaran lima puluh persen rasa penasaran, tiga puluh persen tidak peduli, dan dua puluh persen rasa kasihan. Sebagian besar murid sudah tercuri hatinya oleh pidato pasangan Yuki dan Ayano, sehingga hampir tidak ada murid yang mengarahkan perasaan dukungan atau harapan pada Alisa. Di tengah suasana tandus di mana pandangan mata mulai berkumpul secara sporadis, Alisa membuka suaranya secara tenang──

 

"Спасибо za predstavleniye. Ya kaznachey uchenicheskogo soveta Kudzyo Alisa. Na budushchiy god ya planiruyu vydvinut'sya kandidatom na vyborakh predsedatelya soveta. Proshu vas podderzhat' menya."

(Tl/N: Artinya ‘Terima kasih atas perkenalannya. Saya Kujou Alisa, bendahara OSIS. Tahun depan saya berencana mencalonkan diri dalam pemilihan ketua OSIS. Mohon dukungannya.’)

 

Ia mulai berbicara menggunakan bahasa Rusia dengan tempo yang luar biasa cepat. Hal ini membuat sebagian besar murid ternganga terperangah. Tepat saat para murid yang tadinya heboh oleh sapaan Yuki dan Ayano semuanya mengarahkan perhatian pada Alisa, Alisa mendadak bungkam lalu mengedipkan matanya perlahan.

 

"...Mohon maaf, gara-gara terlalu tegang bahasa Rusia saya sampai spontan keluar."

Dikatakan secara pelan lewat ekspresi serius, gelak tawa menyeruak di antara para murid. Atas fakta bahwa Putri Alya yang anggun itu membocorkan hal yang cuma terasa seperti candaan lewat ekspresi wajah yang sama sekali tidak terlihat sedang bercanda, para penonton kembali heboh memikirkan apakah itu candaan atau bukan, lewat celetukan "Enggak lah, mana mungkin begitu", "Eh? Barusan itu candaan?".

 

Mendapat reaksi yang sesuai perkiraannya, Alisa menghela napas lega di dalam hati. Alur kejutan pertama inilah jurus rahasia yang dibocorkan Masachika pada Alisa kemarin.

 

Dengar ya, pada awalnya bicaralah menggunakan bahasa Rusia. Mengingat Yuki dan Ayano mendapat giliran tampil pertama, pada saat giliranmu tiba suasana ruangan pasti sudah terkuasai oleh mereka. Di sana, mendinginkan suasana dengan bahasa Rusia tingkat penutur asli. Hal ini juga bakal berguna untuk meredakan rasa tegangmu. Saat acara asli kamu pasti sangat tegang, dan tanpa disadari mungkin trauma gara-gara tidak bisa bicara dengan lancar di siaran dalam sekolah masih tersisa. Karena itulah, bicaralah menggunakan bahasa Rusia sampai perasaanmu tenang. Tenang saja, kalau pakai bahasa Rusia mah mau agak belepotan atau salah sedikit pun tidak bakal ada yang sadar, kok.

 

Sesuai dengan perkataan Masachika, Alisa mengumbar senyuman diam-diam. Lalu setelah menarik napas dalam-dalam sekali, ia kembali menghadap mikrofon.

 

"Sekali lagi, saya Kujou Alisa dari bendahara OSIS. Pada tahun ajaran

mendatang, saya berencana untuk mencalonkan diri dalam pertarungan pemilihan ketua OSIS."

 

Namun meskipun sudah menarik napas dalam-dalam, dibutuhkan keberanian yang sangat besar untuk menyambungkannya ke kata-kata selanjutnya. Keraguan itu ada. Ia masih merasa bingung apakah beneran boleh membocorkan hal semacam ini. Tapi... ini adalah sebuah sapaan.

 

Sebuah sapaan demi membuat semua orang mengenali sosok manusia bernama Alisa Mikhailovna Kujou ini.

 

Kalau begitu... ia hanya perlu menceritakannya secara jujur. Ia tidak bakal bisa menguasai hal-hal seperti kepalsuan atau gertakan secara cerdik. Ia hanya perlu menceritakan dirinya sendiri secara lurus!

 

Menyemangati dirinya sendiri, Alisa menatap ke depan dan mulai berbicara.

 

"Saya baru saja pindah ke sekolah ini tahun lalu, jadi saya belum

memiliki rekam jejak yang bisa dibanggakan kepada kalian semua. Pekerjaan saya sebagai pengurus OSIS pun baru saja dimulai, jadi saya belum bisa bilang bahwa saya telah memahami sepenuhnya betapa berat dan sulitnya tanggung jawab seorang ketua OSIS. Saya yakin saat ini ada banyak hal yang masih kurang pada diri saya untuk menjadi ketua OSIS di sekolah ini."

 

Reaksi orang-orang terasa menakutkan. Memperlihatkan dirinya yang masih belum sempurna terasa sangat mengerikan.

Namun, ia sudah diakui. Pasangan yang paling bisa diandalkan telah melihat dirinya yang seperti ini, lalu memberi tahu bahwa ia ingin mendukungnya. Mempercayai kata-kata itu, ia memeras kata-katanya setengah mati.

 

"Namun, jika ada satu hal yang bisa dibanggakan dari diri saya yang seperti ini..."

 

Di sana, Alisa menempelkan tangannya di dada, lalu menatap sekeliling penonton dan mendeklarasikan secara tegas.

 

"Hal itu adalah kenyataan kalau  saya adalah seorang manusia yang mampu berusaha lebih keras ketimbang siapa pun."

 

Benar, hanya hal ini yang bisa ia katakan. Hanya hal ini yang bisa ia tegaskan tanpa ada kebohongan sedikit pun.

 

"Saya selalu berusaha sekuat tenaga demi mencapai hasil yang saya idealiskan. Saya rasa hal tersebut bisa kalian pahami dari sejak masuk ke sekolah ini, saya selalu mempertahankan posisi peringkat pertama di angkatan dalam setiap ujian."

 

Di sana, mendadak Alisa merasakan sesak di dadanya. Saat itulah ia baru menyadari bahwa napasnya menjadi sangat dangkal. Namun saat ini ia tidak punya waktu untuk memedulikan hal itu. Ia harus menyampaikan kata-katanya secara lurus tanpa terputus... ugh!

 

"Selain itu pada hari olahraga tahun lalu, saya terpilih sebagai atlet MVP perempuan, dan pada festival sekolah stan kelas kami meraih penghargaan terbaik. Ugh, tentu saja hal ini bukan murni berkat kekuatan saya seorang diri, tapi..."

 

Napasnya... terasa sangat sesak...!

 

Kakinya... gemetar.

 

Telinganya pun tidak bisa mendengar dengan jelas.

 

Tidak, apakah dirinya sendiri yang menolak untuk mendengarkan?

 

"Memang benar, pada diri saya yang sekarang sebagai ketua OSIS, ada hal yang kurang..."

 

Kata-kata yang diarahkan penonton saat debat, serta dirinya saat siaran dalam sekolah kembali teringat di dalam benaknya. Makin ia berpikir harus berbicara secara lancar agar tidak menjadi seperti itu, tenggorokannya makin terasa tertarik.

 

Aah, ternyata memang tidak bisa, ya. Berbicara secara tegas sambil menatap mata para penonton. Bagi dirinya yang selama ini berlari sendirian tanpa pernah berhadapan dengan siapa pun.

 

Pandangannya kabur. Paru-parunya gemetar, hingga ia tidak bisa menarik napas dengan baik──

 

"Ne vesshay nos! (Angkat mukamu!)"

(Tl/N: Gila sih emang kok momennya ya pas bet…)

Mendadak, bahasa Rusia meluncur masuk ke telinganya. Alisa merasakan kelima indranya mendadak tajam seketika. Lalu, ia menyadari bahwa tanpa disadari pandangan matanya tadi sempat turun ke bawah.

 

(Kenapa... bahasa Rusia... Jangan-jangan, kamu berlatih demi momen ini?)

 

Bersamaan dengan munculnya pemikiran itu, Alisa merasakan secara jelas tatapan mata yang kuat dari samping panggung yang sedang mengawasinya. Seketika itu juga, Alisa merasa rasanya agak lucu. Sikap pasangannya yang terlalu protektif itu sampai membuat senyuman spontan meluncur dari bibirnya.

 

Saat mendongakkan wajahnya, wajah para murid yang agak heboh karena bingung terekam di matanya. Suara mereka... kedengaran. Di saat yang sama, Alisa teringat akan targetnya kali ini, lalu menatap ke depan dan membusungkan dadanya secara anggun.

 

"Mohon maaf. Memang benar pada diri saya yang sekarang ada banyak hal yang kurang sebagai ketua OSIS. Begitu pula dengan pengalaman berbicara di depan orang ramai seperti ini. Mengalami sedikit kegagalan saat siaran dalam sekolah dua hari lalu membuat saya menyadari hal itu secara mendalam."

 

Kenyataannya, saat ini pun. Saat ini pun, jika tidak ada bantuan dari pasangannya, ia mungkin bakal gagal lagi. Tapi...

 

"Namun, saat ini saya bisa berbicara seperti ini. Lewat mulut saya sendiri, lewat kata-kata saya sendiri. Dan ke depannya pun, saya berniat untuk mengisi hal-hal yang kurang pada diri saya satu per satu seperti ini."

 

Sambil berbicara seperti itu, Alisa merasakan kata-kata itu akhirnya mengendap tepat di dalam dadanya.




(Tl/N: Artinya ‘Angkat kepalamu.’)

 

(Aah, begitu ya... Aku ini ternyata sama sekali tidak sempurna, ya...)

 

Betapa sombongnya dirinya selama ini. Hanya berdasarkan nilai miliknya sendiri, ia meyakini bahwa dirinya lebih unggul dari siapa pun, dan memandang rendah orang-orang di sekitarnya.

 

Namun kenyataannya, ada banyak hal yang tidak bisa ia lakukan tetapi

bisa dilakukan oleh orang lain. Hal itu bukan hanya berlaku bagi Yuki yang merupakan rival pertama yang diakuinya di angkatan yang sama, atau Masachika yang pertama kali dihormatinya. Sayaka, Nonoa, Ayano... dan pastinya masih ada banyak orang lain yang memiliki sisi lebih unggul ketimbang dirinya.

 

Selama ini, ia tidak memahami hal itu. Meski mulutnya mengakui, hatinya tidak mau mengakui. Namun, sekarang... ia akhirnya paham.

 

(Setelah tersudut sampai sejauh ini, aku baru bisa menyadarinya...)

 

Di dalam hati ia tersenyum kecut pada dirinya sendiri, tetapi ia berpikir bahwa itu juga merupakan bagian dari dirinya. Tidak pandai berinteraksi dengan orang lain, dan gara-gara harga dirinya yang tinggi ia tidak kunjung mau mengakui kekurangan dirinya tersebut. Namun, justru karena harga dirinya yang tinggi itulah ia berusaha setengah mati untuk mengatasinya. Itu juga merupakan sosok manusia bernama Kujou Alisa..

 

Tanpa disadari, rasa takut untuk memperlihatkan dirinya yang tidak sempurna sudah sirna. Tanpa perlu memedulikan naskah lagi, Alisa dengan raut wajah yang terkesan lega menatap lurus dan berbicara pada para penonton.

 

"Hal yang bisa saya janjikan kepada kalian semua adalah fakta bahwa saya bakal terus berusaha demi menjadi ketua OSIS yang diidealkan. Jika sampai pada pertarungan pemilihan tahun depan saya tidak bisa meyakini bahwa diri saya pantas menjadi ketua OSIS... pada saat itulah, saya berniat mengundurkan diri dari pertarungan pemilihan atas kemauan sendiri."

 

Lalu, Alisa menundukkan kepalanya perlahan.

 

"Karena itulah, tolong perhatikan diri saya mulai sekarang. Dan jika ada hal yang kurang pada diri saya sebagai ketua OSIS, jangan ragu untuk menyampaikannya. Menjadikan itu semua sebagai fondasi, saya bakal membuktikan bahwa saya bisa menjadi ketua OSIS yang diharapkan oleh kalian semua. Terima kasih atas perhatiannya."

 

Saat Alisa turun dari podium, tepuk tangan terdengar secara sporadis.

 

Itu bukanlah tepuk tangan yang luar biasa meriah... melainkan tepuk

tangan hangat yang seolah mengapresiasi perjuangannya. Menundukkan kepalanya dalam-dalam merespons hal itu, Alisa meninggalkan panggung.

 

Memastikan situasi tersebut dari samping panggung, Masachika menghela napas lega di dalam hati.

(Secara garis besar mendapat penilaian tinggi, mungkin ya... Mengingat suasana tadi sudah tercuri habis ke pihak sana, ini sudah pencapaian yang sangat bagus. Rasanya menyampaikan sapaan ke arah yang berbeda total dari Yuki membawa hasil yang bagus.)

 

Di saat ia sedang melakukan analisis secara dingin seperti itu, Alisa kembali ke samping panggung.

 

"Ooh, selamat ya. Aduh, tadi itu bagus banget, lho."

 

"...Benarkah?"

 

"Iya, kamu sudah berjuang keras. Keren banget, lho."

 

Menepuk bahunya pelan demi mengapresiasi Alisa, Masachika mengintip mata Alisa dengan bingung.

 

"...Matamu kelihatan lega banget, ya?"

 

"Iya... keraguanku sudah agak sirna."

 

"? Begitu ya... ah."

 

Masachika tidak bisa langsung memahami makna di balik kata-kata

Alisa secara instan. Namun pada timing tersebut pembawa acara memanggil nama Masachika, hingga Masachika mendongakkan wajahnya.

 

"Giliranku, ya... Kalau begitu, aku berangkat dulu."

"Iya... berjuanglah."

 

"Serahkan padaku. Kalau begitu..."

 

Sambil melangkah menuju podium, Masachika memamerkan senyuman menyeringai ke arah Alisa... dan dua orang di belakangnya.

 

"Aku mau pergi menang sebentar."

 

Saat Masachika melangkah keluar ke panggung, pandangan mata para murid berkumpul pada pengurus OSIS terakhir ini. Melangkah secara santai di antara pandangan tersebut, tepat setelah berdiri di atas podium Masachika memamerkan senyuman menyeringai lalu menatap sekeliling penonton.

 

"Halo, saya Kuze Masachika dari seksi urusan umum OSIS. Pada tahun ajaran mendatang, saya berencana untuk mencalonkan diri dalam pertarungan pemilihan ketua OSIS bersama Kujou Alisa alias Alya. Lalu..."

 

Menahan ucapannya di sana, Masachika mengibaskan tangannya secara heboh tanpa alasan, lalu memasang pose secara sigap. Lengan kirinya bertengger di bawah dada, tangan kirinya menopang siku lengan kanan, dan tangan kanannya yang terangkat lurus menutupi wajahnya yang memejamkan mata dengan gaya dramatis. Pose bergaya narsis yang seolah-olah bakal memancarkan kilatan di matanya. Kenyataan yang ada, Masachika memamerkan senyuman datar yang terkesan dingin, lalu menatap para penonton lewat pandangan lirikan.

"Dahulu, sosok wakil ketua bayangan yang menopang Ketua OSIS Suou Yuki adalah aku..."

 

Pengakuan yang dilakukan menggunakan jeda yang sangat panjang dan eksekusi yang berlebihan itu disambut penonton dengan...

 

"Pfft."

 

"..."

 

"Hmm."

 

Sebagian tertawa tertahan, sebagian membatin "Sedang apa anak itu", dan sebagian besar merespons "Hoo~ ternyata begitu". Merespons reaksi dingin yang sesuai perkiraannya itu, Masachika mengedipkan matanya berkali-kali, lalu memiringkan kepalanya bingung dan berucap.

 

"...Lho? Ternyata lebih garing dari perkiraanku?"

 

Kesan Masachika yang kelewat jujur itu membuat persentase murid yang tertawa tertahan makin bertambah. Di tengah-tengah hal itu, Masachika berdeham, lalu berbicara seolah mengalihkan suasana hati.

 

"Yah begitu, saat SMP dulu saya menjabat sebagai wakil ketua OSIS di balik bayangan Suou Yuki. Di sana, saya rasa kalian pasti bermunculan keraguan. 'Eh? Kalau begitu kenapa kamu tidak mencalonkan diri bersama Suou-san? Selingkuh? Apakah ini perselingkuhan!?' begitu kan."

Cara bicara yang secara aneh dibuat komikal itu membuat gelak tawa menyebar bagaikan gelombang ringan.

 

"Di sini, saya ingin menegaskan!"

 

Sambil berteriak begitu Masachika menepuk kedua tangannya ke atas podium secara keras, membuat suara tawa mendadak hening seketika.

 

Menatap sekeliling penonton yang membelalakkan mata tanpa mengeluarkan suara lewat pandangan matanya yang tajam, Masachika mendeklarasikan dengan wajah sangat serius.

 

"Yuki sudah kutolak dengan tegas! Karena itulah, ini bukan perselingkuhan!"

 

Kata-kata yang dilontarkan di tengah situasitegang itu memicu gelak tawa yang pecah seketika setelah jeda satu momen, dan dari sebagian murid laki-laki sorakan ringan bercampur candaan melayang, seperti "Dasar cowok sampah kamu!" "Cepat banget berpindah hati~". Merespons hal itu lewat angkat tangan pelan, Masachika berbalik mulai berbicara dengan suara yang tenang.

 

"Lalu, kenapa saya menolak Yuki dan memilih untuk mendukung Alya... Sebelum membicarakan hal itu, saya ingin menyampaikan hal yang agak serius sedikit... Menurut kalian semua, orang yang seperti apa yang pantas menjadi ketua OSIS? Apakah orang yang berprestasi? Saya rasa bukan. Orang yang pantas menjadi ketua OSIS adalah... orang yang sanggup memikat orang lain melampaui siapa pun. ...Aah iya, saya paham apa yang ingin kalian katakan. 'Bukannya yang seperti itu artinya Suou-san?' kan? Saya paham kok, jadi tolong dengarkan sampai akhir, ya."

 

Sambil kembali memancing tawa lewat cara bicara yang santai dan memangkas keraguan penonton terlebih dahulu, Masachika melanjutkan.

 

"Kalau begitu, secara spesifik orang yang seperti apa yang sanggup memikat orang lain... Tentu saja orang yang jujur. Orang yang bisa mendengarkan pendapat orang lain dengan benar. Lalu, dia haruslah seorang pekerja keras. Orang yang saat dilihat oleh orang-orang di sekitarnya bisa membuat mereka berpikir 'Gara-gara dia berjuang keras, aku juga harus berjuang keras!'. Dan yang paling utama... orang yang memiliki hati yang indah. Orang yang tidak membenarkan tindakan menyakiti orang lain demi kepentingan pribadi, dan sanggup menekan kepentingan pribadi demi mengulurkan tangan pada orang lain. Di sekitar orang seperti itulah orang-orang bakal berkumpul, dan orang yang sanggup menciptakan banyak sekutu lewat cara seperti itulah yang pantas menjadi ketua OSIS."

 

Menuturkannya secara terstruktur sampai di titik itu, Masachika mengubah nada bicaranya sedikit lalu bertanya.

 

"Berdasarkan hal tersebut... bagaimana menurut kalian semua setelah mendengarkan sapaan Alya tadi? Mengenai isi sapaan kali ini, saya hampir tidak ikut campur sedikit pun, lho... Ah, bahasa Rusia di awal tadi beda urusan, ya? Jujur saja, kalau yang itu cuma akal-akalan dari saya demi memancing tawa, sih."

Pengakuan tak terduga dari Masachika membuat suara terkejut bercampur tawa menyeruak dari berbagai sudut, seperti "Malah dibocorkan, dong!" "Ternyata gara-gara kamu, toh!". Merespons hal itu, Masachika mengibaskan tangannya seolah berkata "Tidak, tidak".

 

"Mana mungkin Alya mau melakukan hal seperti itu atas kemauan sendiri... Nah, kembali ke topik utama, jujur saja saya berpikir saat mendengarkan sapaan Alya dari samping panggung. Murni sangat kaku, ya."

 

Atas pendapat negatif yang mendadak disampaikan pada pidato pasangannya diiringi senyum kecut itu, para penonton dibuat agak heboh.

 

"Namun di saat yang sama, saya juga merasakan bahwa itu adalah pidato yang sangat lurus dan jujur. Bukankah kalian semua juga merasakan hal yang sama?"

 

Merespons pertanyaan Masachika, jumlah murid yang lumayan banyak menganggukkan kepala. Mengangguk balik secara puas atas hal itu, Masachika berbicara.

 

"Alya adalah sosok manusia yang jujur. Dia tidak memperbesar dirinya secara berlebihan, atau membeberkan hal-hal besar yang tidak bisa dilakukannya demi mencari popularitas. Kenyataannya dia seorang pekerja keras, seperti yang dikatakannya sendiri tadi. Ditambah lagi, dia adalah sosok manusia yang jujur sampai ke tingkat yang membuat kaget. Sampai-sampai mau memakai bahan kejutan konyol demi memancing tawa yang saya cetuskan begitu saja."

Sambil mengatakannya seperti bercanda, Masachika memasang wajah agak serius lalu melanjutkan.

 

"Saya terpikat oleh sisi Alya yang seperti itu, dan berpikir ingin mendukungnya. Itulah alasan kenapa saya memilih untuk mendukung Alya, bukannya Yuki. Dan saya ingin kalian semua juga ikut mendukung Alya."

 

Sambil berkata begitu, Masachika menatap sekeliling penonton. Lalu, ia segera bersuara "Tapi yah".

 

"Meskipun saya berkata begitu, tentu saja pendapat dari saya seorang diri tidak bisa dipercayai begitu saja, kan... Kalau kalian bilang 'Itu sih cuma masalah selera kamu saja, kan', selesai sudah kan?"

 

Mengangkat bahunya lalu mengangguk seolah berkata "Itu sangat maklum", Masachika mengacungkan jari telunjuknya.

 

"Kalau begitu, di sini saya ingin menyampaikan satu fakta."

 

Di sana ia sengaja mengulur waktu demi mengumpulkan perhatian penonton hingga ke batas maksimal... baru kemudian Masachika mengeluarkan kartu truf andalannya.

 

"Saat Alya menjadi ketua OSIS kelak... Taniyama Sayaka dan Miyamae Nonoa bakal bergabung sebagai pengurus OSIS."

 

Atas isi yang sangat sulit dipercayai tersebut. Setelah jeda satu momen, kehebohan yang sangat besar pecah seketika.

"Mengenai hal ini, kami sudah mendapatkan kepastian secara langsung dari yang bersangkutan. Kalian semua, apakah bisa memercayainya? Orang yang saling bertabrakan saat debat, menyatakan bakal bekerja sama di OSIS yang baru. Ini adalah hal yang bahkan tidak bisa dilakukan oleh aku dan Yuki pada masa lalu."

 

Di hadapan para murid yang dilanda kebingungan dan rasa ragu, Masachika melirik sekejap ke arah Yuki yang berada di samping panggung.

 

"Tadi Yuki bilang, bahwa sekolah ini tidak bisa diubah kecuali oleh orang yang memiliki pengalaman panjang sebagai pengurus OSIS. Apakah benar demikian? Selain Alya, ditambah aku yang memiliki pengalaman sama banyaknya dengan Yuki, serta Taniyama dan Miyamae yang dahulu merupakan kandidat terkuat ketua OSIS SMP. Setelah mendengar jajaran anggota ini, apakah kalian benar-benar berpikir demikian?"

 

Mendengar pertanyaan Masachika, kesan bernada "Memang benar sih, kalau anggotanya seperti itu..." mulai tercipta di antara para murid.

 

Di sana, Masachika memberikan serangan susulan secara bertubi-tubi.

 

"Ditambah lagi, Yuki juga bilang begini. Tahun ini pengurus kelas satu sedikit jadi hal yang bisa dilakukan juga sedikit. Kalau begitu, pada mulanya kenapa kalau pengurus kelas satu sedikit bakal jadi menyiksa? Jawabannya mudah, itu karena orang-orang kelas dua yang sanggup menjadi tenaga siap pakai di OSIS, semuanya angkat kaki dari OSIS gara-gara kalah dalam pertarungan pemilihan. Dan hal ini berlaku untuk seluruh OSIS dari generasi ke generasi. Sumber daya manusia yang unggul untuk mengincar posisi ketua OSIS cuma tersisa satu kelompok, dan murid kelas satu yang bakal memikul generasi berikutnya pun berguguran satu per satu setelah saling serang saat debat. Gara-gara hal itulah OSIS selalu kekurangan tenaga kerja."

 

Itu adalah fakta yang diketahui oleh siapa pun. Namun gara-gara sudah dianggap sebagai hal yang terlalu wajar, itu adalah realitas yang tidak pernah dipikirkan secara mendalam oleh orang-orang.

 

"Namun, kalau dibalik berpikirnya... Bukankah jika jajaran pengurus kelas dua sudah solid, kita bisa menjalankan roda organisasi OSIS secara stabil tanpa terpengaruh oleh elemen tidak pasti dari pengurus kelas satu? Dan hal yang sanggup melakukan itu, murni cuma OSIS yang berpusat pada Alya. Menjadikan Alya sebagai ketua OSIS, lalu membentengi sekelilingnya dengan tim impian yang berisi mantan kandidat ketua dan wakil ketua. Inilah OSIS terbaik yang ada di dalam gambaranku."

 

Gagasan yang diusung oleh Masachika membuat banyak murid memperlihatkan antusiasme yang membara. Mantan kandidat lawan yang saling berseberangan kini saling bergandengan tangan untuk mengelola OSIS bersama-sama. Konsep bagaikan mimpi yang belum pernah ada sebelumnya ini membuat mata banyak murid berbinar-binar. Di sana, Masachika kembali melancarkan serangan pemungkas.

 

"Tentu saja, hal ini tidak mengecualikan Yuki maupun Ayano. Saat Alya menjadi ketua OSIS kelak, aku sangat berharap mereka berdua juga mau bergabung ke OSIS. Yah~ bagaimanapun Yuki kan punya semangat yang begitu membara demi reformasi sekolah. Seandainya dia kalah saat pertarungan pemilihan pun, dia pasti bakal dengan senang hati meminjamkan kekuatannya demi sekolah!"

 

Sambil memancing tawa lewat cara bicara bergaya bercanda, Masachika meluncurkan deklarasi bahwa di masa depan ia juga bakal menjadikan Yuki sebagai sekutu, yang secara tak langsung merangkul basis pendukung milik Yuki. Kemudian, kepada para penonton yang menyuarakan gelak tawa, ia membungkuk hormat lewat gestur bergaya teatrikal.

 

"Pembicaraan ini sudah cukup panjang, tetapi sekian saja dari saya. Demi mewujudkan OSIS terbaik yang belum pernah ada sebelumnya, mohon bantuan dan dukungan dari kalian semua. Terima kasih atas perhatiannya."

 

Begitu Masachika turun dari podium, kejutan terakhir pun pecah.

 

Bersamaan dengan Masachika yang mulai bergerak menuju panggung sebelah kiri, Alisa melangkah keluar dari samping panggung. Dan dari belakang punggungnya... secara mengejutkan, Sayaka dan Nonoa menampakkan diri mereka.

 

"Ngh? Tiga orang... eh, eeh!?"

 

"Eh, bohong!?"

 

"Woi, lihat itu!"

"Uwoh, seriusan nih!?"

 

Pemandangan yang membuktikan kata-kata Masachika tersebut memicu kehebohan paling dahsyat sepanjang hari itu.

 

Lalu, saat keempat orang yang telah bergabung tersebut membungkuk bersama-sama, tepuk tangan dan sorakan riuh bagaikan ledakan pecah seketika. Para murid tidak tahu percakapan seperti apa yang telah terjadi di antara keempat orang tersebut. Namun, hal semacam itu sudah tidak penting lagi. Dua kelompok kandidat yang tadinya dikira tidak bakal pernah bersatu kini telah bergandengan tangan. Fakta itu saja sudah lebih dari cukup untuk membuat mereka bersorak riuh.

 

"Alya, inilah tepuk tangan yang berhasil kamu raih lewat kekuatanmu sendiri."

 

"...Ugh!"

 

Sambil tetap menundukkan kepala, saat Masachika membisikkan hal itu ke arah Alisa di sebelahnya, ia bisa merasakan Alisa menahan napasnya.

 

Meskipun ia tahu, Masachika sengaja tidak melihat ekspresi Alisa.

 

Kemudian, di tengah-tengah gulungan tepuk tangan yang besarnya sama sekali tidak kalah dari tepuk tangan untuk Yuki dan Ayano, keempat orang tersebut kembali ke samping panggung.

 

"Ooh~ selamat, ya~"

 

"...Terima kasih atas kerja kerasnya."

 

"Siaap~"

 

"..."

 

Mereka saling mengapresiasi satu sama lain, tetapi di antara mereka hanya Sayaka yang memalingkan pandangannya dengan ekspresi rumit.

 

Sambil menaikkan kacamatanya dalam diam, ia berbicara dengan suara datar.

 

"...Dengan begini utangku sudah kulunasi. Tidak masalah, kan?"

 

"...Iya, terima kasih. Aku sangat terbantu."

 

Mendapat ucapan terima kasih yang jujur diiringi anggukan kepala dari Alisa membuat Sayaka mengedarkan pandangan matanya karena merasa canggung.

 

"Seperti yang kukatakan kemarin... bukannya aku mendukung kalian berdua, lho. Janji untuk bergabung ke OSIS saat kalian terpilih kelak bakal kutepati, tapi bantuan untuk pertarungan pemilihan murni cuma sampai di sini saja."

 

"Aku paham. Agar kamu juga mau mendukungku... aku bakal berusaha."

 

"...Begitu, ya."

Mengatakannya secara dingin lalu berbalik membelakangi mereka, Sayaka melangkah menuju pintu keluar bagian dalam. Lalu, ia menghentikan langkahnya sejenak di sana dan mengatakan secara pelan dari balik bahunya.

 

"...Aku menaruh harapan padamu."

 

Meninggalkan kata-kata tersebut, Sayaka melangkah keluar dari pintu bagian dalam. Sambil mengumbar senyum kecut di bibirnya, Nonoa ikut menyusul dari belakang.

 

"Kalau begitu, berjuanglah ya~ Aku juga tidak bisa menegaskan bakal memilih kalian berdua sih, tapi kalau Alissa beneran jadi ketua OSIS, saat itulah aku bakal membantu~"

 

"Ooh, terima kasih ya."

 

"A, Alisa...?"

 

Setelah menatap punggung mereka dengan agak bingung, Alisa merapikan ekspresinya lalu berbalik menatap ke arah samping panggung di seberang sana. Ia menyapa Yuki yang berdiri di sana lewat pandangan mata yang kuat. Bahwa inilah, alasan kenapa dirinya mengincar posisi ketua OSIS.

 

(Awalnya, ini mungkin murni target milikku seorang diri... Tapi sekarang, aku memikul harapan Kuze-kun... serta Taniyama-san dan Miyamae-san juga. Karena itulah, aku tidak bakal kalah. Aku tidak bakal ciut lagi oleh ketetapan hatimu.)

Menerima pandangan mata yang kuat itu, Yuki tersenyum santai. Pihaknya juga tidak boleh kalah. Tekad yang bagus. Kalau begitu, kemarilah.

 

Interaksi antara tatapan keduanya yang beradu selama beberapa detik terputus saat Alisa disapa oleh Maria.

 

Memperhatikan Alisa yang mulai mengobrol dengan Maria, serta Masachika yang mengobrol dengan Touya, bibir Yuki terukir senyum kecut sambil bergumam.

 

"Aku kena jebak, ya."

 

Padahal ini adalah pertarungan yang bisa dimenangkan. Bukan, mengingat perbedaan rekam jejak dan popularitas di antara mereka berdua, ditambah kemenangan mutlak saat babak penyisihan di siaran dalam sekolah, ini adalah pertarungan yang sudah sewajarnya dimenangkan dengan selisih jauh.

 

Namun begitu melihat hasilnya, pertarungan berakhir seri. Bukan, meskipun volume tepuk tangannya hampir sama persis, dari sudut pandang nilai daya tarik topik pembicaraan, pihak sana mungkin justru lebih unggul. Walau hasilnya seri, jika memperhitungkan prosesnya ini adalah kekalahan mutlak.

 

"Wah~ siapa sangka mereka berdua bisa ditarik jadi sekutu, ya... Aku kaget banget, tahu."

 

Mendengar perkataan Chisaki yang terkesan kagum tersebut, Yuki mengangguk.

 

"...Iya, benar ya. Ini benar-benar di luar dugaan."

 

Benar, ini benar-benar di luar dugaan. Dan hal ini... kemungkinan besar

adalah situasi yang dipancing oleh Yuki sendiri.

 

Pertarungan di siaran dalam sekolah yang dilancarkannya demi mematahkan mental Alisa dan menarik alur pergerakan. Hal itulah yang justru menjadi pemicu bagi kedua orang tersebut untuk berpihak pada Alisa.

 

(Gara-gara terlalu banyak bermain trik... malah membuat kebersihan hati Alya-san makin menonjol, begitu kah.)

 

Parahnya lagi, ia sampai membuat Ani-sama mengeluarkan kesungguhannya. Apakah ini yang dinamakan senjata makan tuan, batin

Yuki sambil mengertakkan gigi di dalam hati, sementara Ayano

menundukkan kepalanya padanya.

 

"Saya memohon maaf yang sebesar-besarnya, Yuki-sama. Seandainya saya bisa berbicara dengan sedikit lebih baik lagi──"

 

"Ini bukan salah Ayano, kok. Ini murni kesalahan keputusanku yang terlalu banyak bermain trik hingga salah membaca taktik Masachika-kun."

 

Memotong kata-kata Ayano, Yuki menggelengkan kepalanya ke kiri dan ke kanan.

 

Benar. Seandainya ia tidak berpikir terlalu dalam dan memilih posisi tampil belakangan secara mantap, hal seperti ini tidak bakal terjadi. Ia membaca bahwa pihak lawan berniat mengincar hasil seri secara pasif... tidak, di salah satu sudut hatinya ia meremehkan dan berpikir cuma itu yang bisa dilakukan lawan. Bahwa jika bertarung secara frontal... bahkan jika lawannya adalah Ani-sama sekalipun, dirinya tidak bakal kalah.

 

Gara-gara berpikiran sombong seperti itulah, ia menganggap gertakan kakaknya sebagai gertakan kosong dan secara gegabah mengincar kemenangan mutlak.

 

(Hal itu pun semuanya pasti sudah masuk ke dalam tebakan Onii-chan, sih...)

 

Kakaknya itu dipastikan telah membaca secara penuh sejauh mana Yuki bakal berpikir dan bertindak, baru kemudian memperlihatkan gertakan yang berlebihan tersebut. Jika tidak ada hal itu, Yuki justru bakal waspada. Aneh, dia terlalu tenang. Jangan-jangan sedang merencanakan sesuatu? begitu.

 

(Artinya dalam segala hal Onii-chan berada satu tingkat di atas, ya... Ahaha, memang Onii-chan itu luar biasa banget, ya.)

 

Meskipun kalah... di dalam hati Yuki entah kenapa ada perasaan yang sangat lega.

Keinginan untuk menang dari sang kakak adalah hal yang jujur. Namun di saat yang sama... di dalam dirinya juga ada perasaan tidak ingin melihat sang kakak kalah. Bahwa kakak yang dulu diutamakannya dan dihormatinya itu memang benar-benar luar biasa. Ada perasaan ingin dibuktikan seperti itu juga di dalam dirinya.

 

(Aah, tidak boleh. Jalan pikiran ini tidak bagus...)

 

Keinginan untuk menang dari sang kakak maupun perasaan tidak ingin melihat sang kakak kalah, keduanya adalah hal yang jujur. Tapi jika merasa lega gara-gara dikalahkan, ke depannya ia tidak bakal pernah bisa menang.

 

Karena itulah, Yuki memaksakan diri menyegel emosi tersebut, lalu memamerkan senyuman penuh percaya diri.

 

"Yah, untuk kali ini mari kita akui kekalahan. Khusus untuk kali ini, ya..."

 

Atas senyuman ganas Yuki yang memancarkan ketetapan hati bahwa kali berikutnya ia pasti bakal menang, Chisaki mengedarkan pandangan matanya seolah baru saja melihat hal yang tidak boleh dilihat lalu perlahan menjauh.

 

Memperhatikan hal itu dari sudut matanya, Ayano berbisik pelan pada Yuki.

 

"Yuki-sama."

 

"Ngh?"

 

"...Aura karakter terkuat yang luar biasa."

 

Kepada Ayano yang merapatkan kedua tangannya di depan dada dengan mata berbinar-binar seolah ingin membocorkan "Saya sekarang sudah paham!"──

 

"Enggak, aku sama sekali tidak sengaja memamerkannya, tahu."

 

Yuki pun spontan menimpali dengan pandangan mata menyipit tajam.



Previous Chapter | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close