Bab 2: Bola Adalah Musuh. Aku Tak Menerima Bantahan
"Selamat pagi~"
"Yo"
"Drama kemarin itu lho~"
"Aah~ yang itu seru banget ya"
Di dalam ruang kelas, di tengah riuh
suara teman-teman sekelas, Alisa seperti biasa membuka buku pelajarannya dan
fokus mempersiapkan materi pelajaran.
Namun, pandangan matanya sejak tadi
bolak-balik di tempat yang sama beberapa kali, sehingga jika diperhatikan
secara seksama, jelas-jelas terlihat kalau dia tidak bisa berkonsentrasi.
Alasan kenapa Alisa, sang siswi teladan
yang rajin, tidak bisa berkonsentrasi hanya ada satu. Dan hal itu pun, kalau
diperhatikan baik-baik, bakal langsung ketahuan.
Gagaga!
"っ!"
Setiap kali pintu kelas terbuka,
pandangan matanya langsung mengarah ke sana dengan cepat. Lalu pandangan mata
itu pasti menyempatkan mampir ke kursi sebelahnya sekali, sebelum akhirnya
dikembalikan ke tangannya sendiri. Ya, begitulah maksudnya.
(Apa sih yang kupikirkan... toh paling
dia cuma bakal datang dengan wajah mengantuk seperti biasanya. Tidak ada hal
yang perlu kupikirkan sama sekali.)
Sambil mengusap-usap rambut di bahunya
dengan canggung, Alisa menasihati dirinya sendiri. Alur seperti ini sudah
diulanginya terus-menerus sejak dia tiba di sekolah.
Alisa yang sangat sadar akan hal itu pada
dirinya sendiri, menghembuskan napas panjang sekali "Fuu~", lalu
mengubah suasana hatinya.
(Bersikap seperti biasa saja sudah cukup
kok... Ya, seperti biasanya.)
Tepat saat Alisa mantap di dalam hati
untuk tidak memikirkannya lagi dan kembali menghadapi buku pelajarannya...
terdengar lagi suara pintu kelas yang terbuka.
Namun, Alisa tidak melihat ke arah sana
lagi. Karena Alisa yang sekarang sudah berkonsentrasi penuh pada buku pelajaran
di depannya.
Sekali dia mengubah kesadarannya secara
penuh, Alisa hampir tidak pernah goyah oleh pikiran-pikiran pengganggu.
"Ah, Masachika. Yo"
"Ooh, selamat pagi"
"っ!?"
Ternyata tidak juga. Dia langsung goyah
dengan sangat dahsyat dalam sekejap.
Tubuhnya terlonjak kaget secara jelas,
namun dia berpura-pura seolah tidak terjadi apa-apa lalu membalik halaman buku
pelajarannya.
...Padahal halaman itu bukanlah jangkauan
materi pelajaran untuk hari
ini.
"Selamat pagi, Alya."
"Ara, selamat pagi. Kuze-kun."
Lalu, disapa oleh Masachika dari sisinya,
dia mendongakkan wajah seolah baru menyadarinya saat itu.
Dia berpura-pura tenang, merapikan
ekspresi tenangnya yang seolah ingin bilang "Soal kemarin? Ara, memangnya
ada apa?".
Lantas, wajah Masachika yang
didongakkannya adalah...
"Itu, lagi persiapan materi
ya?"
"E-eh, ya..."
...Entah kenapa, senyum samar yang entah
kenapa terasa rapuh.
(Eh? Eh? Kenapa dengan wajah itu?)
Melihat Masachika yang memancarkan
atmosfer yang entah kenapa terkesan rapuh dan belum pernah dilihatnya hingga
saat ini, Alisa menjadi bingung.
"? Ada apa?"
"Eh... tidak ada apa-apa kok."
"Begitu ya?"
Saat dia mengelak secara refleks,
Masachika tidak mengejarnya lebih jauh dan mulai mengobrol dengan Hikaru yang
duduk di kursi depannya.
Melihat keadaan itu, sambil berpura-pura
mempersiapkan materi, Alisa melirik-lirik secara diam-diam dari sudut matanya.
(Kuze-kun... entah kenapa, kelihatan
kurang bersemangat?)
Melihat sosok Masachika yang mengobrol
dengan Hikaru, Alisa mendapatkan kesan seperti itu.
Isi
pembicaraannya memang hal yang tidak penting seperti biasanya, tapi atmosfernya
entah kenapa terasa rapuh. Bagaimanapun juga bikin penasaran, atau lebih
tepatnya rasanya agak sedikit keren juga sih──
(T-tunggu, apa-apaan yang kupikirkan!)
Mendadak satu adegan dalam perjalanan
pulang kemarin malam terbayang secara flashback di benaknya, membuat Alisa
berburu-buru menghempaskannya.
(Nggak kok...B, benar. Toh paling dia
cuma kurang tidur lagi.)
Kurang tidur, jadi agak kurang
bersemangat saja. Dia meyakinkan dirinya sendiri seperti itu, namun begitu
pelajaran dimulai...
(Tidak tidur...)
Jangankan tertidur, Masachika bahkan
tidak menguap sekali pun, dan mengikuti pelajaran dengan serius yang tidak
biasanya. Dia tidak lupa membawa barang, ataupun berburu-buru menyelesaikan
tugas di jam istirahat.
Melihat Masachika yang seperti itu,
justru Alisa yang ritmenya jadi berantakan sepenuhnya.
Dia mengira setelah berganti hari
Masachika pasti bakal kembali menjadi sosok yang tidak bersemangat seperti
biasanya. Namun kalau diperlihatkan sikap serius seperti itu, mau bagaimana
lagi dia jadi teringat kejadian kemarin.
『Aku
tidak akan membiarkanmu sendirian lagi. Mulai sekarang, aku yang akan
menopangmu di sisimu』
Kata-kata Masachika dan ekspresinya saat
itu kembali terlintas di benak Alisa, membuat pipinya seketika memerah.
(Jangan-jangan dia beneran... demi aku,
mencoba memperbaiki sikapnya dari biasanya...?)
Pemikiran seperti itu mendadak melintas,
dan atas rasa malu yang membuncah dia menggelengkan kepalanya ke kiri dan ke
kanan.
"Kujou-san? Ada apa?"
"Eh? Ah, maaf. Tidak ada apa-apa
kok."
Saat itu adalah jam pelajaran olahraga
pada jam keempat.
Kepada Alisa yang mendadak menggelengkan
kepalanya di tengah pertandingan voli, teman sekelasnya melayangkan ekspresi
heran.
Seolah menepis pandangan mata itu, Alisa
membalas bola yang terbang melengkung dengan serangan tajam ke area lawan.
Bagi Alisa yang memiliki kemampuan
olahraga luar biasa dan bertubuh tinggi, pertandingan voli adalah panggung
utamanya.
Di tim lawan ada anggota klub voli juga,
tapi dia sama sekali tidak kalah.
Malah justru mendesak lawan.
Namun, meski memperlihatkan aksi yang
dahsyat di lini serang maupun bertahan, pikiran Alisa sebenarnya sedang
melayang di tempat lain. Saat tersadar, dia tanpa sengaja mengarahkan
pandangannya ke arah Masachika yang sedang bertanding di seberang gymnasium.
(Kuze-kun... tidak apa-apa ya.)
Alisa yang mengkhawatirkan Masachika yang
tampak kurang bersemangat sejak pagi.
Pelajaran olahraga dipisah antara pria
dan wanita, dan saat ini di tengah gymnasium terpasang net yang digantung di
langit-langit, membagi area pertandingan masing-masing. Seberapa bagus pun
penglihatan Alisa yang bernilai 1.5 tanpa kacamata, pada jarak sejauh ini
menembus jaring net yang rapat, tidak mungkin bisa membedakan siapa adalah
siapa.
Seharusnya begitu, namun entah kenapa
Alisa bisa mengenali Masachika dengan jelas. ...Entah kenapa atau alasannya
terasa sudah jelas, tapi setidaknya Alisa tidak menyadari hal tersebut pada
dirinya sendiri.
"Ah..."
Pada saat itu, servis yang dipukul oleh
teman satu timnya secara tak terduga menghantam bagian belakang kepala
Masachika.
Masachika terhuyung lalu jatuh, dan murid
laki-laki yang melakukan servis berburu-buru berlari menghampiri.
"Kujou-san!"
"Ah!"
Pada saat itu, saat kesadarannya ditarik
kembali oleh panggilan dari belakang, pas sekali toss dari teman satu
timnya sedang melayang naik.
Tanpa sadar dia menyusup ke titik
jatuhnya bola, lalu berniat menancapkan bola ke area lawan... dan di saat yang
sama dia menyadari anggota klub voli tim lawan melompat untuk melakukan block,
sehingga Alisa mengubah rencananya. Dia mendorong pelan bola yang jatuh ke
atas.
Bola yang melukiskan lengkungan kecil
melompati block lawan dengan ringan lalu jatuh di area lawan. Di saat yang sama
sorak-sorai membumbung dari sekeliling, dan peluit guru yang bertindak sebagai
wasit pun berbunyi.
"Game set! Tim B menang!"
Sambil merespons ringan teman satu timnya
yang mendekat sambil bersorak, mereka mengosongkan tempat untuk pertandingan
berikutnya. Lalu saat berpindah ke pinggir dinding, Alisa menyadari bahwa sosok
Masachika telah menghilang. Tampaknya, dia keluar dari gymnasium.
"Apa persiapan sudah selesai? Baik,
pertandingan dimulai!"
Bersamaan dengan peluit guru pertandingan
berikutnya dimulai, dan pandangan sekeliling terpusat ke sana.
"..."
Di tengah hal itu, Alisa sempat ragu-ragu
untuk beberapa saat... sebelum akhirnya secara diam-diam, dia menyusup keluar
dari gymnasium.
◇
"Ma~kanya kubilang 'bola adalah
teman' itu cuma ilusi tahu."
Duduk di tangga luar gymnasium, Masachika
mengusap bagian belakang kepalanya sambil menggerutu.
Meskipun kemampuan olahraganya terbilang
sangat bagus, tapi khusus untuk olahraga bola, Masachika sejak dulu sangat
payah.
Pokoknya, keterikatanku dengan bola
benar-benar buruk. Jangankan jadi teman, rasanya bola membenciku sampai tingkat
musuh bebuyutan orang tua.
Kalau main bisbol, sudah pasti kena dead
ball.
Kalau main basket, bola pasti datang buat
bikin jariku terkilir. Malah waktu SD saat main bola gebok, aku sampai
menciptakan legenda kena safe di wajah lima kali berturut-turut gara-gara bola
berbelok yang bikin mikir "Ini ada fungsi pemandu (homing) atau bagaimana
sih?", sampai-sampai dikirim ke UKS (doctor stop).
Gara-gara bola terlalu menyedot ke
arahku, aku memang sempat beraksi hebat sebagai kiper saat main sepak bola sih.
Tapi bagi Masachika yang harus merasakan sakit setiap kali tim lawan melakukan
shoot, hal itu sama sekali tidak membuat senang.
"Haa~ah"
Bahuku terkulai lemas, lalu menghembuskan
napas panjang. Di saat yang sama, perut Masachika berbunyi nyaring dan
menyedihkan.
"Lapar banget..."
Ya, sebenarnya alasan Masachika kurang
bersemangat sejak pagi terutama gara-gara hal itu.
Alisa khawatir memikirkan ada apa
dengannya, padahal tidak ada apa-apa. Sejak pagi tenaga dan fisiknya terkuras
habis gara-gara berurusan dengan Yuki, ditambah lagi dia melewatkan sarapan
sehingga perutnya cuma merasa lapar saja.
Sekadar menambahkan, alasannya tidak
tidur di kelas karena semalam dia tidak mengadakan sesi bertukar kesan anime
dan tidur cepat, lalu alasannya tidak lupa membawa barang karena pelayan yang
datang menjemput Yuki (entah kenapa paham jadwal pelajaran kelas Masachika)
sudah menyiapkannya dengan rapi.
Singkat cerita, semuanya cuma pikiran
berlebihan Alisa saja... tapi situasi seperti itu tidak diketahui oleh Alisa.
"Kuze-kun, tidak apa-apa?"
"Nng-ah?"
Atas suara perhatian yang mendadak
dilayangkan padanya, Masachika mendongakkan wajahnya dengan cepat. Lalu,
menemukan sosok Alisa yang menatap ke arahnya dengan cemas di sana, dia
buru-buru membetulkan posisi duduknya.
"A, Alya? Kenapa kamu ada di tempat
seperti ini..."
"Aku berpikir, jangan-jangan kamu
terluka..."
"Ah, seriusan kelihatan toh...
Nggak, bukan berarti terluka atau apa sih..."
Sadar betul kalau itu adalah adegan yang
cukup tidak keren, Masachika menciutkan lehernya karena merasa malu. Sambil
duduk di sebelah Masachika, Alisa tetap memanjakan Masachika dengan raut cemas.
"Beneran tidak apa-apa? Mau ke
UKS?"
"Nggak, beneran tidak apa-apa kok.
Cuma karena di dalam gymnasium panas makanya aku keluar. Kalau sudah istirahat
sebentar aku bakal kembali kok."
"...Begitu. Sebentar ya."
"Eh, o...?"
Mendadak tangan terulur ke arah wajahnya,
membuat Masachika menarik diri secara refleks. Pada detik berikutnya poni
rambutnya diusap ke atas, dan tangan yang terasa dingin ditempelkan ke dahinya.
Pada tubuh yang memancar rasa panas,
sensasi dingin terasa sangat nyaman. Di hadapan Masachika yang tanpa sadar
menyipitkan matanya, Alisa yang menempelkan tangannya ke dahinya sendiri untuk
mengukur perbedaan suhu tubuh, melepaskan tangannya setelah beberapa detik
sambil mengerutkan pangkal alisnya.
"Ini, aku tidak begitu paham
ya."
"Be-begitukah...?"
Alisa mengangkat bahunya sedikit, lalu
duduk sambil memeluk lutut.
Melihat perhatian Alisa yang seperti itu,
Masachika…
(E-cup... seriusan?)
Sedang memikirkan hal yang sangat-sangat
mesum. Dan menatapnya secara lekat-lekat. Pada dua bukit yang terhimpit oleh
kaki putih dan panjang milik Alisa.
Yang terlintas di benaknya adalah
kata-kata Yuki semalam. Sejak awal, dia memang sudah menganggap Alisa cukup
besar dibandingkan siswi seangkatannya. Namun, informasi soal ukuran cup yang
diperolehnya dari adiknya sendiri terasa terlalu nyata bagi seorang remaja yang
sedang berada di masa pubertas.
(Nggak, tunggu... Perkiraan berarti,
jangan-jangan ada kemungkinan lebih dari itu!?)
Masachika memutar pikirannya yang sangat
penuh dengan masa pubertas tidak seperti biasanya. Menurut satu teori, nafsu
makan dan nafsu seksual itu saling terhubung, jadi mungkin ini adalah efek dari
hal tersebut.
Tanpa menyadari pemikiran Masachika yang
penuh dengan niat mesum itu, Alisa merapikan poni yang diusapnya tadi, lalu
merapikan rambut yang diikat di belakang lehernya, kemudian menggigit ikat
rambut di mulutnya dan mulai mengikat ulang rambutnya.
Seketika itu juga, tengkuk tanpa
pertahanan yang terekspos di hadapan mata Masachika, serta ketiak putih bersih
yang mengintip dari lengan baju olahraga.
(A-apaaaーーーー!?
Ketiak kelihatan!? Kamu, sengaja ya! Sengaja ya!?)
Mana mungkin. Dari awal, Alisa
kemungkinan besar tidak tahu konsep "ketiak kelihatan". Masachika
juga paham soal itu.
Tapi, justru karena dia paham. Justru
karena yang bersangkutan melakukannya secara murni tanpa sadar... daya
hancurnya luar biasa.
Masachika tanpa sadar menelan air
liurnya. Mengikuti gerakan Alisa yang mengikat ulang rambutnya, ujung lengan
bajunya bergoyang-goyang. Batas antara ketiak dan dadanya terlihat mengintip.
(Yuki... yang begini ini lho!!)
Masachika makin yakin bahwa chilarism
memanglah keadilan. Lantas, Alisa selesai mengikat rambutnya memakai ikat
rambut, lalu menurunkan armadanya dan menggelengkan kepalanya pelan.
"...Apa?"
"Ah, nggak..."
Di sana dia akhirnya menyadari pandangan
mata Masachika, dan Alisa sedikit menarik dirinya. Masachika yang tidak bisa
mengeluarkan kata-kata seketika, membiarkan pandangan matanya melayang.
Kepada Masachika yang seperti itu Alisa
sempat memajang ekspresi agak heran, namun tanpa menanyakan lebih jauh, dia
berdiri dengan ekspresi seolah mendadak teringat sesuatu.
"Untuk sementara, lebih baik kamu
minum air."
"Eh, a, ya..."
Sambil di dalam hati berpikir (Nggak,
padahal aku tidak ada gejala kena serangan panas atau dehidrasi sih), namun
di hadapan Alisa yang perhatian tidak seperti biasanya, Masachika merasa agak
bersalah dan menurut mengikutinya dari belakang.
Melingkari bagian luar gymnasium, mereka
menuju ke tempat cuci tangan yang terpasang di antara lapangan sekolah dan
gymnasium, lalu memutar keran air ke atas hingga air mengalir naik.
Menerima air yang memancar melengkung
menggunakan mulutnya, rasa dingin itu membuat Masachika mendadak merasa
tenggorokannya sangat haus, hingga dia minum air dengan rakus secara refleks.
Tampaknya, cairan dari tubuhnya memang
sudah berkurang lebih dari dugaannya.
(Ini sih, keputusan Alya ternyata benar
juga ya)
Sambil di dalam hati berpikir begitu dia
mematikan airnya, lalu mengusap mulutnya memakai lengan baju sambil melihat ke
sebelah secara santai...
(Oh...)
Melihat sosok Alisa yang sedang minum air
dengan cara yang sama di sebelahnya, Masachika refleks bungkam tanpa kata.
Bukan cara minum yang lahap seperti
Masachika, melainkan Alisa yang menerima air yang dikeluarkannya secara tipis
memakai mulutnya bagaikan mematuk. Betapa panjangnya bulu mata yang membingkai
mata birunya yang agak tertunduk itu. Betapa anggunnya gerakan jarinya yang
mengelus rambut perak bagaikan benang sutra itu ke belakang telinga.
Ditambah lagi kulit putih yang basah oleh
keringat tipis, serta bagian dada yang menonjolkan keberadaannya saat
menundukkan tubuh bagian atas, mengocok bagian pria di dalam diri Masachika
tanpa ampun, hingga Masachika merasa pusing dalam artian yang berbeda dari rasa
lapar atau panas.
"Fuu..."
Membasahi tenggorokannya, Alisa mematikan
air lalu menegakkan tubuhnya. Di sana, saat dia melihat ke sebelah secara
santai mendengar suara air...
"..."
"Eh, tu-tunggu, Kuze-kun!?"
Di sana terdapat sosok Masachika yang
membuka keran air secara penuh lalu menyiramkan air ke kepalanya.
Beberapa detik kemudian, dia menarik
kepalanya dari bawah keran secara lambat, lalu menyapu rambutnya dari belakang
kepala dan mengibaskan airnya.
"A-apa yang kamu lakukan?"
"Yah... mau mendinginkan kepala
(secara fisik)."
Sambil meneteskan air dari ujung rambut
dan dagunya, Masachika mengatakannya dengan ekspresi yang terkesan agak lelah.
Dengan suasana aneh itu, Alisa hanya bisa mengangguk "Be-begitu
ya...".
"Ara ara, Kuze-kun kenapa tuh~? Pria
tampan yang basah oleh air?"
Pada saat itu, mendadak terdengar suara
yang sangat dikenali, membuat Masachika terkejut lalu melihat ke arah sana...
kemudian menengadah menatap langit.
"Halo, Masha-san. Saya cuma sedang
mendinginkan kepala sedikit kok, jadi jangan khawatir."
Di sana berdiri Maria dengan pakaian
olahraga yang sepertinya baru saja selesai pelajaran olahraga di lapangan
sekolah. Sambil mengusap wajahnya memakai handuk putih yang dikalungkan di
leher, dia memiringkan kepalanya menatap Masachika yang memalingkan pandangan
mata beserta wajahnya.
"Ada apa? Ada sesuatu di
langit?"
"Ada awan ya."
"Benar ya."
"Bicara hal yang sudah jelas buat
apa coba..."
Alisa mengeluarkan suara heran, tapi
biarpun dibilang begitu Masachika tidak bisa menurunkan pandangan matanya.
Alasannya karena kakaknya kakak kelas benar-benar terasa sangat kakak kelas.
(Baju olahraga... ternyata bagus banget
ya)
Dia paham betul alasan kenapa pelajaran
olahraga dipisah antara pria
dan wanita. Soalnya kalau ada yang
seperti ini di dekat mereka, siswa SMA yang sehat tidak bakal bisa
berkonsentrasi pada pelajaran.
Sambil menatap langit dengan mata
menerawang, Masachika memikirkannya secara linglung.
"Basah kuyup begitu... apa ada
sesuatu buat mengelapnya?"
"Enggak, enggak ada lah. Ya, mending
dikeringkan alami aja..."
Jawab Masachika dengan pikiran kosong ala
kadarnya atas pertanyaan Maria. Karena dia linglung seperti itu... reaksinya
jadi terlambat.
"Naaak, menunduk sedikit~"
"Eh? Uwa, bufh!"
Tahu-tahu Maria sudah mendekat
sampai-sampai desah nafasnya terasa. Tepat setelah Masachika refleks
menundukkan wajahnya karena mendengar suara yang begitu dekat, sebuah handuk
ditaruh di atas kepalanya lalu digosok-gosok secara acak.
(A-Apa-apan ini! Kejadian seperti ini
tidak pernah ada di skenario, lho!?)
Menghadapi perkembangan di luar dugaan
berupa kepalanya yang dikeringkan oleh senior cantik, Masachika benar-benar
dibuat bingung.
Namun, biarpun pikirannya kacau,
nalurinya tetaplah jujur. Pandangan mata Masachika terpaku pada aura
"kakak perempuan" milik Maria yang begitu megah, terlihat dari
sela-sela handuk yang bergerak bergantian.
"Nah, se~lesai."
"Bufh, oh."
Entah menyadarinya atau tidak, Maria
menyapu wajah Masachika
dengan handuk yang digulung sebagai
sentuhan akhir, lalu mengangguk puas.
"Bagaimana? Sudah segar?"
"Ya begitulah... lagipula, rasanya
saya jadi seperti anjing."
"Araa~ Akita-inu?"
"Bukan, saya tidak tahu jenis
anjingnya... tapi maaf ya, saya ini anjing nakal yang kurang terdidik."
"? Anjing yang nakal itu justru lucu
tahu?"
"Hahaha..."
Mendengar ucapan polos senior-nya yang
agak tidak nyambung itu, rasa
bersalah Masachika makin memuncak. Dia
merasa sangat berdosa karena telah mengarahkan pandangan mesum pada senior
seramah Bunda Maria ini.
Saat itulah, lengan Masachika ditarik
paksa ke belakang, bersamaan
dengan munculnya suara yang agak ketus.
"Ayo, kita balik Kuze-kun. Masha
juga, bukannya sebentar lagi harus balik ke kelas?"
"Eeeh~ padahal Onee-chan baru saja
sampai di sini tahu?"
"Ngh... ya sudahlah. Kami mau balik
dulu."
"Iya. Sampai ketemu setelah pulang
sekolah ya?"
"Ah, iya. Sampai ketemu. Terima
kasih handuknya."
Sambil membungkukkan badan pada Maria
yang melambaikan tangan dengan tersenyum lebar, Masachika ditarik lengannya
oleh Alisa menuju ke arah gymnasium.
(Aaaah~~ Ini dia nih. Yang bakal dibilang
"Jijik" atau "Mesum" itu.)
Sambil membiarkan lengannya ditarik
menuruti Alisa dari belakang, Masachika sudah bersiap mendapat tatapan hinaan.
Dia sendiri sadar betul telah menatap Maria dengan mata mesum, jadi dia sama
sekali tidak bisa mengelak.
Seolah membenarkan dugaan tersebut, Alisa
mendadak berhenti begitu mereka sampai di dekat gymnasium, lalu menoleh ke arah
Masachika.
"Lalu... kamu sudah tidak
apa-apa?"
"Eh?"
"Kepalamu yang kena bola. Sudah
dibilang tidak apa-apa kalau tidak dikompres dengan benar?"
"............Ah!"
Di sanalah Masachika baru sadar. Alisa
mengira dia sengaja menyiramkan air ke kepala untuk mengompres bagian yang
terkena bola.
(Yang bener aja? Malah salah paham di
bagian yang pas banget!!)
Melihat Alisa yang mengkhawatirkannya
meski dengan tatapan agak galak, Masachika merasa sangat bersalah dalam
berbagai arti. Dia tidak sanggup menatap langsung pandangan mata lurus itu,
lalu menjawab sambil memalingkan mata.
"Aaaah~ tidak, tidak apa-apa kok.
Lagian tidak sampai benjol juga."
"...Beneran?"
"Iya, beneran tidak apa-apa
kok!"
Entah bagaimana Alisa mengartikan jawaban
yang setengah-setengah itu, saat dia berusaha menyentuh langsung untuk
memastikannya, Masachika sekuat tenaga mengambil jarak.
(Ada apa ini? Kenapa dia jadi perhatian
banget!! Apakah ini dere-mode? Masa-masa dere-kah!?)
Sembari membatin heran atas sikap Alisa
yang tidak biasanya begitu perhatian, ingatan soal pengakuan cinta (?) dan
ciuman pipi (?) kemarin malam mendadak terlintas di benaknya, sehingga dia
buru-buru menepisnya.
(Enggak, tapi ini tuh... apa mending
kupastikan langsung saja ya?)
Sambil pelan-pelan menjauh dari Alisa,
Masachika akhirnya nekat mengambil risiko.
"Aaaah~ Alya-san? Kenapa hari ini
kamu rasanya agak terlalu baik padaku ya?"
Atas pertanyaan Masachika, alis Alisa
bergerak sedikit lalu gerakannya terhenti.
(Bagaimana!? Kalau begini, Alya pasti
bakal bilang "Cuma sedikit khawatir saja tahu" terus balik ke sikap
semulanya!! Tidak mungkin dia bakal bilang "Habisnya, aku kan
menyukaimu~~"! Harus begitu!)
Di depan Masachika yang menelan ludahnya,
Alisa mengerutkan alisnya dengan kesal, memalingkan pandangan, lalu berkata
sambil memainkan ujung rambutnya dengan jari.
"Habisnya, dari pagi kamu kelihatan
tidak bersemangat... Jadi aku sedikit khawatir saja, ada apa denganmu."
"Ngh? Ah, a~ah..."
Pada saat itu, Masachika memahami seluruh
situasinya. Begitu pula tindakan yang harus diambil selanjutnya.
"Begitu ya... Kelihatan ya..."
"Ada masalah?"
"Ya, sebenarnya begini..."
Melihat Alisa yang menurunkan alisnya
karena khawatir, Masachika menempelkan tangan di dahi sambil membuat raut wajah
yang sok serius tanpa alasan, lalu berbicara dengan nada seolah hendak membuat
pengakuan penting.
"Aku lapar... sampai tidak ada
bertenaga."
"...Hah?"
"Aku lapar... sampai tidak
bertenaga... nih!"
Tepat setelah itu, perut Masachika yang
baru saja diguyur air dalam jumlah banyak berbunyi sangat nyaring.
Mendengar suara itu, ekspresi Alisa yang
tadinya terperangah mulai berkedut, lalu alisnya terangkat tajam. Segala hal
yang terjadi sejak semalam hingga detik ini berputar di benaknya, wajahnya
memerah padam campuran antara rasa marah dan malu.
"Begitu ya... Pantas saja kamu
kelihatan begitu serius memperhatikan pelajaran... Ternyata kamu bukannya
sampai tidak bisa tidur gara-gara kelaparan, ya...?"
Mengingat dirinya yang sempat berpikir
"Mungkinkah dia serius demi aku!?" walau cuma sesaat, Alisa merasa
malu pada dirinya sendiri dan bertanya dengan suara yang sangat dingin,
sementara Masachika malah memiringkan kepala dengan ekspresi lugu yang
benar-benar memancing emosi.
"Bukan, kalau itu sih murni karena
aku tidurnya nyenyak."
"...Fuuun, heee."
Begitu ya, tidur nyenyak.
Padahal di sini ada yang tidak bisa tidur
nyenyak gara-gara memikirkan
kejadian di jalan pulang kemarin. Tapi
laki-laki santai dan tidak serius ini malah tidur ngorok tanpa memikirkan hal
itu sama sekali. Begitu ya, begitu...
Melihat Alisa yang urat lehernya menegang
dan seluruh tubuhnya gemetaran, Masachika mengulas senyum tipis lalu berkata
seperti sedang menasihati.
"Coba dengarkan dulu wahai Alya.
Tuhan telah berfirman."
"Apa? Jangan bilang kamu mau bilang
'Cintailah sesamamu'?"
"Bukan? Tuhan telah berfirman...
'Barangsiapa menampar pipi kananmu, berikanlah juga kepadanya pipi
kirimu'."
Sambil mengulas senyum polos yang jernih,
Masachika menyodorkan
pipi kirinya tanpa kata. Tanpa buang
waktu, Alisa mengayunkan tangan kanannya ke belakang.
"Berani juga kamu, ya!!"
"Terima kasih banyak!"
Tamparan keras tanpa ampun mendarat di
pipi kiri yang disodorkan itu.
Entah kenapa Masachika terlempar sambil
mengucapkan terima kasih.
"Haaah, menyebalkan! Cepat balik ke
kelas sana!"
Setelah mengembuskan napas dengan kesal,
Alisa meninggalkan Masachika yang terkapar begitu saja dan membalikkan badan.
(Menyebalkan! Benar-benar menyebalkan!!
Mana mungkin aku bisa menyukai orang yang sekonyol itu!)
Makin yakin kalau kejadian kemarin cuma
kekhilafan semata, Alisa pun berjalan kembali ke gimnasium. Sambil menatap
punggungnya yang menjauh, Masachika bangkit pelan-pelan,
(Syukurlah. Alya kembali seperti
biasanya.)
Lalu dia mengelus dadanya secara
sembunyi-sembunyi karena merasa lega.
◇
"Alya-san? Mau ke ruang OSIS bareng
tidak?"
Saat sepulang sekolah, Alisa menatap
tajam ke arah Masachika yang menyapanya dengan agak sungkan, lalu mengangguk.
Alisa yang tampaknya masih jengkel gara-gara kejadian di jam pelajaran keempat
tadi, mengangkat tasnya tanpa bersuara dan berdiri, lalu langsung melangkah
lebar-lebar keluar dari kelas.
Sambil mengikutinya dari belakang
layaknya seorang pelayan, Masachika dalam hati berpikir, “Apa aku agak
keterlaluan, ya?” Saat ruang OSIS mulai kelihatan, bertepatan dengan itu
beberapa siswa laki-laki keluar dari dalam ruangan.
"""Permisi!!"""
Mereka menundukkan kepala ke arah dalam
ruangan secara bersamaan dengan suara yang agak gemetar, lalu bergegas berjalan
ke arah sini.
"Lho...?"
Saat dilihat lebih jelas, ternyata mereka
adalah jajaran pengurus klub bisbol dan klub sepak bola yang kemarin sempat
berselisih hebat. Alisa yang menyadarinya langsung menghentikan langkah dan
Masachika berdiri sejajar di sampingnya. Namun, melihat ekspresi mereka semua
yang entah kenapa tampak ketakutan, mereka berdua pun sama-sama
memiringkan kepala heran.
Di saat yang sama, pihak sana juga
menyadari keberadaan mereka berdua. Dengan ekspresi terkejut, mereka mendadak
berlari menghampiri. Masachika refleks maju ke depan demi pasang badan
melindungi Alisa, tapi kejadian di detik berikutnya benar-benar di luar dugaan.
"""Kami
benar-benar minta maafーーー!!"""
Tak disangka, begitu sampai di depan
mereka berdua, orang-orang itu membungkukkan kepala secara bersamaan ke arah
Alisa. Punggung mereka tertekuk sempurna membentuk sudut sembilan puluh
derajat, sebuah permintaan maaf yang luar biasa. Rasanya ingin memuji kesiapan
mereka khas anak klub olahraga, tapi kalau didatangi dengan antusiasme seperti
ini tetap saja menakutkan.
"Anu... Senpai? Ini maksudnya
bagaimana ya?"
Untuk sementara Masachika bertanya pada
ketua klub bisbol yang memang sudah kenal, dan orang itu pun perlahan mendongak
lalu berbicara.
"Soal itu... Maafkan kami,
Kujou-san. Kemarin kami terlalu terbawa emosi sampai mengujarkan banyak hal
yang keterlaluan. Kami sudah merenung kalau seharusnya kami berdiskusi dengan
lebih tenang. Kami benar-benar minta maaf!"
"Kami juga seharusnya lebih
mendengarkan perkataanmu. Maaf ya."
Selanjutnya ketua klub sepak bola juga
ikut meminta maaf seperti itu,
lalu mereka kembali menundukkan kepala
secara bersamaan. Sambil sedikit mundur karena tekanan mereka, Alisa mengangguk ragu-ragu.
"Sudah, tidak apa-apa kok. Tolong
tegakkan kepala kalian."
"""Oos!
Permisi!!"""
Setelah memberikan salam yang begitu
mantap, lalu mereka pergi dengan gerakan serempak layaknya pasukan militer.
"Ada apa sebenarnya...?"
Saat Masachika menatap punggung mereka
dengan cengong, Alisa yang masih kelihatan agak jengkel berbicara dengan suara
pelan.
"Anu... terima kasih ya. Karena
sudah mencoba melindungiku tadi."
"Ngh? Ah... jangan dipikirkan."
Sambil menepisnya ringan dan
menganggapnya angin lalu, Masachika merasa lega karena suasana hati Alisa
tampak sedikit melunak.
【...Keren banget.】
Serangan mendadak di saat ini! Karena
kewaspadaannya sedang turun, efek serangannya jadi berlipat ganda!
(A, iya... se-seperti biasa, ya...)
Sambil membayangkan darah menetes dari
sudut mulutnya, Masachika buru-buru menuju ruang OSIS agar ekspresinya tidak
terlihat.
"Permisi."
Lalu,
dia membuka pintu ruang OSISーー
"Oh?"
Di sana, dia menemukan seorang sukeban
yang memancarkan aura membunuh luar biasa, dan seketika membeku.. Rambut hitam
berpotongan pendek, dengan paras tampan yang tegas namun anggun.
(Tl/N: Sukeban adalah istilah Jepang
untuk menyebut siswi berandalan atau gadis nakal, biasanya dengan citra khas
geng pelajar perempuan.
Perawakannya tinggi langsing bagaikan
seorang model. Meski dari luar terlihat seperti gadis cantik yang pantas
menjadi model profesional, penampilannya saat ini benar-benar hanya bisa
dideskripsikan sebagai... seorang sukeban.
Tatapannya yang mengarah tajam kepada
Masachika berkilat liar seperti mata binatang buas yang haus darah. Berdirinya
begitu kokoh tanpa sedikit pun celah, memancarkan aura mengerikan yang seolah
membuat ruang di sekitarnya ikut terdistorsi. Dan yang paling parah... entah
kenapa, dia memanggul pedang bambu di bahunya.
(Gawat, aku bisa dibunuh.)
(Tl/N:
Artinya “.....Keren banget♡”)
Secara naluriah, dia langsung berpikir
begitu. Dalam sekejap, Masachika memilih tindakan terbaik untuk menyelamatkan
dirinya.
Dengan wajah tegang, dia memaksakan
senyum untuk menunjukkan bahwa dirinya tidak bermaksud buruk. Kemudian, agar
tidak memprovokasi lawannya, dia berkata dengan suara selembut mungkin.
"Maaf, saya salah ruangan."
Setelah itu, Masachika menutup pintu dengan sangat perlahan.



Post a Comment