Bab 3: Bolehkan Aku Minta Tambahan…?
"Anu... maaf ya? Soalnya suara
cowoknya kedengaran tidak asing, aku pikir anak-anak klub bisbol sama klub
sepak bola datang lagi... makanya, ya?"
Yang berkata demikian sambil memasang
senyum merasa bersalah adalah sukeban-sama (bos cewek) kita... bukan, melainkan
Wakil Ketua OSIS SMA, Sarashina Chisaki.
Menarik kembali hawa membunuh sampai
beberapa saat lalu, dia meminta maaf sambil memejamkan sebelah matanya dan
menegakkan tangan di depan wajahnya, membuat Masachika yang duduk di depannya
juga sedikit mengendurkan ketegangan di bahunya.
"Haah... anu, apa mereka melakukan
sesuatu?"
"Nng? Kalau itu bukannya kamu yang
lebih tahu?"
"Eh?"
Saat Masachika memiringkan kepalanya,
Chisaki mengarahkan pandangan matanya ke arah Alisa yang duduk di sebelah
Masachika lalu berkata.
"Padahal juniorku yang imut ini
sudah pergi menengahi, tapi mereka sama sekali tidak mendengarkan dan malah
lanjut bertengkar dengan tidak enak dipandang, kan. Yang begitu mah, menurutku
sama saja dengan cari gara-gara sama kita OSIS, kan? Makanya yah, cuma kuhajar
sedikit... Nnn-ng! Kuberikan peringatan, ya?"
Tadi, dia hampir bilang
"hajar", kan?
Mengesampingkan keraguan yang melintas,
Masachika mengarahkan pandangan matanya ke arah pedang bambu yang disandarkan
di sebelah Chisaki lalu berkata.
"...Begitu ya. Nggak, tapi...
bukannya membawa pedang bambu itu agak berlebihan?"
"Eh? Ah nggak... Ahaha"
Lantas, Chisaki juga melirik ke arah sana
dengan wajah merasa canggung, lalu berkata dengan nada yang dipaksakan cerah.
"T-tidak apa-apa! Orang bisa mati
kalau kena tinjuku, tapi kalau pakai pedang bambu, orang tidak bakal mati
kok!"
"...Begitukah"
"Yup. Sebelum orangnya hancur,
pedang bambunya yang bakal hancur duluan kok!"
"Hahaha..."
"Hahaha... aah~, yup"
Atas tawa kering Masachika, Chisaki yang
sepertinya sadar kalau leluconnya garing, membiarkan pandangan matanya melayang
dengan senyum kedutan.
Yah gimana ya, kalau hal ini dikatakan
oleh orang sekelas Yuki, Masachika juga bakal melayangkan protes "Nggak,
bagian mananya yang tidak apa-apa coba~", tapi... dalam situasi ini kalau
yang mengatakannya adalah Chisaki, jujur saja dia tidak bisa tertawa. Atau
lebih tepatnya, itu tidak menjadi lelucon.
Sarashina Chisaki. Salah satu dari dua
gadis cantik yang dibanggakan oleh angkatan kelas dua SMA, dan di saat dia
ditakuti oleh sebagian murid laki-laki, dia adalah murid yang membanggakan
popularitas luar biasa di kalangan murid perempuan sebagai gadis paling ganteng
di sekolah.
Julukannya
adalah Donna Sekolah (征母). Awalnya tampaknya ditulis memakai kanji
"Bos Perempuan" lalu dibaca Donna, tapi gara-gara tahun lalu Maria
yang merupakan Madona Sekolah (聖母) masuk sekolah, kanji ini diberikan padanya.
Sebagai mantan Ketua Komite Kedisiplinan SMP, dan sekarang menjadi Wakil Ketua
OSIS, dia terutama bertindak sebagai koordinator asosiasi klub yang terdiri
dari para ketua dan wakil ketua masing-masing klub.
(Di saat dipanggil 'Onee-sama' oleh
sebagian murid perempuan, katanya dia juga dipanggil 'Ane-san' oleh sebagian
murid laki-laki... tapi begitu ya.)
Mengingat kembali keadaan klub bisbol dan
klub sepak bola tadi serta sosok Chisaki yang dipenuhi hawa membunuh, Masachika
diyakinkan bahwa "Dia memang benar-benar Ane-san".
Di masa lalu, dia pernah menyelesaikan
masalah perundungan di kelas dengan kekuatan fisik, pernah menumbangkan belasan
anggota kelompok anak nakal yang menerobos masuk ke festival sekolah sendirian,
pernah menghentikan sapi mengamuk yang menyerang murid di Hokkaido saat
karyawisata memakai tangan kosong.
Dia punya segudang kisah legendaris yang
beredar tentang dirinya, tapi cerita keberanian paling terkenalnya adalah
episode di mana Chisaki menyelamatkan seorang murid perempuan Akademi Seirei
yang hampir diculik saat pulang sekolah.
(TL/N: Sedikit penyesuaian istilah: mulai volume ini sampai
seterusnya, 聖霊学園 (Seirei Gakuen) akan disebut "Akademi Seirei". Di
volume 1 sebelumnya digunakan istilah "SMA Seirei", jadi jangan
bingung kalau menemukan perbedaan penyebutan. Ini sekolah yang sama.)
Cerita legenda lainnya agak mencurigakan
sejauh mana kebenarannya, tapi khusus yang satu ini adalah fakta yang tidak
diragukan lagi.
Alasannya karena dia mendapatkan surat
penghargaan dari kepolisian.
Malah berita itu sempat masuk surat kabar
pada saat itu.
Jika dilihat dari cerita di sekitar itu
dan keadaannya tadi, dia mengira orang ini adalah sosok... Ane-san dari dunia
hitam yang menjadikan kekerasan sebagai mata pencaharian, tapi melihat dirinya
yang gelisah menerima pandangan mata yang rumit dari kedua juniornya, tampaknya
tidak sepenuhnya begitu.
"U, uuu~~... Touya"
Lantas, di sana apakah karena tidak
sanggup menahan atmosfer yang sulit dijelaskan ini, Chisaki meminta bantuan
kepada kekasihnya (Touya) dengan suara lelah.
Atas permintaan bantuan kekasihnya, di
bagian dalam ruang OSIS.
Touya yang duduk di kursi Ketua dengan
membelakangi jendela, membuka mulutnya sambil mengulas senyum kecut.
"Yah jangan terlalu kaku begitu,
Kuze. Chisaki tidak melakukan kekerasan pada mereka kok. Dia cuma mengancam
dengan latar belakang kekerasan saja."
"Tunggu, Touya!?"
"Bercanda kok."
Terhadap Chisaki yang membelalakkan
matanya terkejut, Touya tertawa jahil. Sadar kalau dirinya sedang dijahili,
Chisaki mengerutkan pangkal alisnya lalu berdiri, bergerak cepat mengitari meja
dan mulai menepuk-nepuk bahu Touya dengan keras.
"Beneran deh! Beneran deh!"
"Hahaha, maaf maaf"
Atas pertengkaran kecil yang menggemaskan
dari sepasang kekasih ini, Masachika juga tertawa tipis.
"Beneran deh, ah!"
"Hahaha, Chisaki? Bahuku bisa lepas.
Bahuku bisa lepas tahu."
Menggemas...kan? Nggak, ada suara yang
agak gawat kedengaran.
Bukan sekadar tepukan, bunyinya sudah
seperti dug! duk! gedebuk!
Suaranya benar-benar seperti menghantam
tepat di sasaran.
Dan setiap kali itu terjadi, tubuh Touya
yang kekar bergoyang-goyang hebat. Meskipun begitu, melihat sosok Touya yang
menegur kekasihnya sambil tersenyum, Masachika melihat sesosok pria sejati.
"Maaf ya~. Apa aku agak terlambat
sedikit?"
Di sana, Maria masuk. Begitu membuka
pintu, dia melihat Touya dan Chisaki di depannya lalu mengedipkan matanya
beberapa kali, kemudian memajang senyum kecut yang lembut.
"Ara ara, Chisaki-chan, Ketua.
Bercanda di ruang OSIS juga secukupnya saja ya?"
Kepada Maria yang menganggap pemandangan
yang cukup kekerasan ini sebatas "bercanda", Masachika melihat
sesosok kepolosan murni.
Namun bagi Chisaki hal itu tampaknya
mempan, sambil berkata "B-bukan begitu kok!" dia menjauhkan tubuhnya
dari Touya, lalu memasang raut sedih pada alisnya menatap Touya yang mengelus
bahunya seolah baru kembali sadar.
"M-maaf ya? Sakit ya?"
"Nng? Ah, tidak apa-apa kok. Bahuku
lagi pegal jadi pas banget."
Sambil mengulas senyum kedutan yang
terkesan agak sakit, Touya memutar-mutar bahunya sambil tertawa. Atas
ketampanan yang luar biasa itu, Masachika hampir saja merasa jatuh cinta
padanya.
"Beneran maaf ya... aku tidak bisa
mengatur tenaga dengan baik."
"(Memangnya dari suku petarung mana
coba.)"
"Tidak apa-apa kok. Soalnya aku
melatih tubuh memang buat hal ini. Datanglah sebanyak apa pun."
"(Arti dari melatih tubuh demi
kekasih.)"
"Touya..."
"(Eh? Ada unsur yang bisa bikin
atmosfer manis di sini?)"
Di dekat siku Masachika yang memprotes
dengan suara pelan, Alisa menariknya secara halus. Saat menoleh, Alisa yang
sudut mulutnya sedikit kedutan, menggelengkan kepalanya pelan dengan mata
sipit.
Menatap pandangan mata yang menuduh itu
Masachika tertawa tipis, lalu sambil mengarahkan pandangan matanya ke arah
Chisaki dari balik bahunya dia berkata.
"(Nee, Sarashina-senpai itu kan
dipanggil Ane-san, apa dia beneran memakai sarashi [stagen] ya?)"
"(Kenapa jadi begitu coba.)"
"(Nggak, soalnya kalau dia pakai
sarashi, nanti jadi Sarashina-senpai kan.)"
"Khuf!
~~~~っ!!"
Tanpa sadar Alisa menyemburkan tawa
ringan, lalu tepat setelahnya sambil memerahkan pipinya oleh rasa malu dia
menepuk lengan Masachika dengan keras.
"Ara ara, akrab banget ya~"
"B, bagian mananya coba."
"Fuh, tidak bisa disembunyikan dari Kakak lho?
Keakraban kita☆"
"Menyebalkan."
Saat Masachika mengutarakannya sambil
melakukan wink yang sangat payah, Alisa memotongnya secara tajam, lalu suara
ketukan berbunyi di ruang OSIS dan kali ini Yuki yang masuk.
"Permisi. Mohon maaf. Saya agak
terlambat sedikit."
"Nng, ah. Jangan dipikirkan,
Suou."
Sambil berkata demikian Touya juga
berdiri, lalu berpindah dari meja khusus Ketua ke meja yang sama dengan
Masachika dan yang lainnya.
Touya duduk di ujung meja yang
berseberangan dengan pintu, yang biasa disebut kursi kepala meja. Dari sana di
sebelah kanan ada Maria, Alisa, Masachika. Di sebelah kiri ada Chisaki, Yuki
yang duduk berjejer.
Setelah semua orang memposisikan diri,
Touya membuka pembicaraan.
"Kalau begitu, kita mulai rapat
OSIS."
""""""Mohon
bantuannya.""""""
"Kalau begitu, Kuze. Bisakah kamu
memperkenalkan diri secara resmi sekali lagi?"
"Ya."
Atas dorongan Touya, Masachika berdiri.
"Kali ini, saya diperkenankan
bergabung dengan OSIS sebagai bagian urusan umum. Nama saya Kuze Masachika.
Hobi saya adalah hobi otaku secara umum. Kalau anime atau manga yang populer,
rasanya saya paham sebagian besar. Lalu..."
Di sana, dia melayangkan pandangan mata
ke arah Alisa yang duduk di sebelahnya lalu merencanakannya.
"Tahun depan, saya berniat
mencalonkan diri dalam pemilihan Ketua bersama Kujou Alisa di sebelah sini.
Mohon bantuannya."
"Ooh, mohon bantuannya ya."
"Mohon bantuannya~"
"Mohon bantuannya ya~?"
Para senior melayangkan senyuman
masing-masing sambil memberikan tepuk tangan yang hangat. Lalu, Yuki yang juga
memberikan tepuk tangan sambil memajang archaic smile yang tidak bisa dibaca
emosinya, serta Alisa yang menatap Yuki secara lekat-lekat.
"Kalau begitu, buat jaga-jaga
anggota yang lain juga memperkenalkan diri secara ringan saja ya. Mumpung lagi
begini juga."
Touya berkata demikian sambil mengedarkan
pandangan matanya ke seluruh wajah mereka, dan setelah menilai kalau tidak ada
keberatan khusus, dia menghadap kembali ke arah Masachika.
"Aku Ketua OSIS, Kenzaki Touya. Hobi
belakangan ini latihan otot. Mohon bantuannya."
"Wakil Ketua, Sarashina Chisaki.
Hobinya... kendo kali ya. Mohon bantuannya."
"Sekretaris, Kujou Maria. Hobinya
mengumpulkan barang-barang imut, kali ya. Ah, kalau manga yang komik remaja aku
cukup paham lho? Mohon bantuannya ya."
"Humas, Suou Yuki. Hobinya adalah
piano dan merangkai bunga. Sekali lagi mohon bantuannya ya?
Masachika-kun."
"...Bendahara, Kujou Alisa. Hobinya
membaca. Mohon bantuannya."
Setelah semuanya selesai memperkenalkan
diri sekali lagi, Masachika juga membungkukkan kepalanya ringan.
(Tapi ya, kalau melihat mereka berkumpul
begini terasa megah banget ya.)
Sampai-sampai rasa kagum refleks muncul
karena sangat luar biasa.
Apanya, tingkat kecantikan para anggota
perempuannya. Bahkan sepanjang sejarah Akademi Seirei, rasanya belum pernah ada
jajaran secantik ini.
Ditambah lagi semuanya memiliki tipe yang
berbeda secara mengagumkan. Kalau foto mereka diambil lalu dikirim ke stasiun
TV, rasanya bakal ada liputan sebagai "OSIS yang Terlalu Cantik".
"Kalau begitu Kuze. Untuk hari ini
kamu menempel dan bekerja bersama Kujou kakak ya."
"Baik."
"Maaf ya. Yah kalau kamu yang mantan
Wakil Ketua OSIS SMP sih kurasa bakal langsung terbiasa, tapi untuk sementara
waktu tolong tempel anggota lain lalu pelajari pekerjaannya ya."
"Apakah kalau tidak salah menebak,
jumlah tenaga kerja memang kurang?"
"Ya, jujur saja sangat tidak cukup.
Berkat hal itu kenyataannya pembagian kerja secara sempurna sesuai jabatan
tidak bisa dilakukan."
"Yah, biasanya sekretaris atau
bendahara kan dijabat oleh beberapa orang... tidak masalah kok. Urusan umum itu
singkatnya kan tukang serba bisa. Waktu kelas satu SMP saya juga urusan umum
jadi sudah terbiasa."
"Ooh, itu sangat membesarkan hati
ya."
Kepada Touya yang tertawa dalam suasana
hati bagus, Yuki mengangkat suara.
"Maaf memotong pembicaraan Ketua,
saya berniat pergi berdiskusi dengan klub seni rupa mengenai pameran yang waktu
itu."
"Nng? Ooh, kuserahkan padamu."
"Baik. Berhubung ada hal mengenai
anggaran dan lainnya... saya ingin
Alya-san ikut pergi bersama saya
juga."
"Eh?"
Mendadak topik dialihkan padanya, Alisa
mengedipkan matanya.
Namun apakah dia merasakan sesuatu dari
ekspresi Yuki, dia langsung memasang wajah serius lalu mengangguk.
"...Paham. Ketua, kami pergi
sebentar."
Lalu, mereka berdua keluar dari ruang
OSIS.
(...Ini sih, kayaknya ada sesuatu ya.)
Di dalam dada Masachika yang mengantar
punggung mereka berdua, bersemayam sedikit rasa cemas. Namun, hal itu segera
diterbangkan oleh suara super lembut yang rasanya tidak punya rasa cemas sama
sekali.
"Iya, kalau begitu Kuze-kun ke
sebelah sini ya Sila~kan"
Sambil menepuk-nepuk kursi tempat Alisa
duduk hingga tadi, Maria memajang senyum dengan aura penenang yang terbuka
penuh. Atas suara panggilan yang rasanya tanpa sadar membuat tenaga terkuras
habis itu, Masachika menegakkan tubuhnya sambil mengulas senyum kecut.
◇
Di koridor seusai jam pelajaran, Alisa
berjalan mengikuti Yuki dari belakang.
Meski Alisa dibawa keluar oleh Yuki
dengan dalih ingin Alisa mendampingi diskusi, Alisa tidak cukup tumpul untuk
menerima hal itu mentah-mentah.
Ada alasan lain kenapa Yuki membawanya
keluar. Alisa pun samar-samar menyadari alasan tersebut. Namun, dari punggung
Yuki tidak terasa adanya niat untuk memulai pembicaraan dari dirinya sendiri.
(Benar... Ini adalah hal yang harus
kumulai pembicaraannya dari diriku sendiri kan.)
Memejamkan mata sejenak untuk meyakinkan
diri, Alisa mengangkat suaranya kepada Yuki yang berjalan di depan.
"Yuki-san, bisakah kita bicara
sebentar?"
Seperti yang diduga, tidak ada ekspresi
terkejut pada wajah Yuki saat menoleh. Sambil memajang senyum tenang dia
mengangguk atas kata-kata Alisa, lalu tanpa mengutarakan pertanyaan apa pun dia
menghadap ke samping, menunjukkan ruang kelas kosong di dekat sana menggunakan
pandangan matanya.
"Boleh kok. Karena di sini agak
kurang pas, mari kita pinjam ruang kelas kosong di sebelah sana."
"Ya."
Yuki masuk lebih dulu ke ruang kelas
kosong, dan Alisa yang menyusul di belakang menutup pintu. Di ruang kelas yang
disinari senja, keduanya saling berhadapan. Yang membuka pembicaraan lebih
dulu, tetaplah Alisa.
"Aku, memutuskan untuk mencalonkan
diri dalam pemilihan Ketua bersama Kuze-kun."
Alisa mendeklarasikannya secara jelas
dengan ekspresi seolah menantang. Atas hal itu, Yuki mengangguk sambil tetap
memajang senyumannya.
"Ya, saya sudah tahu. Karena kemarin
saya sudah mendengarnya langsung dari mulut Masachika-kun."
"...Begitu."
Alis Alisa bergerak sesaat atas kata-kata
Yuki, namun dia mengangguk dengan kata-kata yang sedikit. Kepada Alisa yang
mengatupkan mulutnya setelah itu, Yuki memiringkan kepalanya sedikit.
"Um, apakah hanya itu saja?"
"...Ya. Lagipula aku tidak melakukan
hal yang membuat merasa bersalah, jadi tidak ada niat untuk meminta maaf. Cuma,
aku ingin mengatakannya secara jelas dari mulutku sendiri."
"Fufu, begitu rupanya."
Terhadap kata-kata Alisa yang tergantung
cara mendengarnya bisa terdengar seperti mencari gara-gara itu, Yuki justru
melayangkan senyum secara geli.
"Ya, tidak ada hal yang perlu
dimaafkan sama sekali kok? Karena semuanya adalah hal yang dipilih oleh
Masachika-kun sendiri. Saya tidak berniat melayangkan komplain ke sana, dan
tidak berniat
meluapkan ketidakpuasan kepada Alya-san
juga."
Setelah menegaskannya secara jelas
begitu, Yuki tertawa agak jahil
"Meski fakta bahwa saya tidak
dipilih olehnya adalah hal yang sangat disayangkan sih?". Atas senyuman
yang terkesan bijak itu, Alisa tanpa sadar bertanya sebelum menyadarinya.
"Yuki-san... mengenai
Kuze-kun..."
"?"
"...Nggak, bukan apa-apa."
Begitu mengatakannya dia langsung merasa
kalau dirinya sudah melangkah terlalu jauh lalu menarik kembali kata-katanya.
Tapi...
"Saya mencintainya. Lebih dari siapa
pun di dunia ini."
"っ!?"
Dibalas dengan ekspresi lurus tanpa
keraguan sedikit pun, Alisa membelalakkan matanya terkejut.
"...Le, lebih dari siapa pun?"
"Ya. Lebih dari Ibu, lebih dari
Ayah, lebih dari siapa pun di dunia ini. Saya, mencintai Masachika-kun."
Tanpa keraguan maupun rasa malu, Yuki
menyuarakan cintanya kepada Masachika secara percaya diri. Pengakuan cinta yang
sangat tulus itu, Alisa tanpa sadar melangkah mundur selangkah. Seolah
memanfaatkan keguncangan Alisa tersebut, Yuki melancarkan serangan
balasan seketika.
"Alya-san sendiri, bagaimana?"
"Eh?"
"Alya-san sendiri, menganggap
Masachika-kun sebagai apa?"
"A, aku..."
Secara refleks dia hendak menjawab cuma
teman biasa, namun dia memalingkan pandangan matanya di hadapan mata lurus
milik Yuki.
Setelah pengakuan Yuki yang begitu lurus
dan jujur, timbul keraguan apakah jawaban aman seperti itu boleh diberikan.
"Kuze-kun itu... teman kok. ...Sa,
sangat, penting."
Hasilnya, sambil memalingkan mata dan
memerahkan pipinya, Alisa memeras kata-kata itu. Tepat setelahnya, meski merasa
punggungnya memerah panas dan menggoyangkan tubuhnya dengan canggung... Yuki
bukanlah orang yang bakal puas hanya dengan memancing kata-kata sekelas itu.
"Apakah kamu menyukainya?"
"Ue!?"
Dengan perkataan yang sangat lurus itu,
Alisa melontarkan suara aneh lalu menghadap ke depan. Sambil menatap wajah itu
secara lurus, Yuki memangkas jarak secara terus-menerus.
Alisa refleks melangkah mundur, namun
Yuki memangkas jarak tanpa memedulikannya.
Saat tersadar, dia sudah sepenuhnya
terdesak dengan posisi membelakangi pintu kelas.
Yuki yang berpostur mungil dan Alisa yang
bertubuh tinggi memiliki perbedaan tinggi badan sejauh dua puluh sentimeter,
sehingga pada jarak sejauh ini Yuki sepenuhnya berada dalam posisi mendongak
menatap Alisa. Namun, berlawanan dengan posisi tersebut, yang sebenarnya merasa
tertekan justru Alisa.
"Bagaimana? Apakah kamu
menyukainya?"
"Suka... atau semacamnya,
itu..."
"Saya sudah menyampaikan bahwa saya
mencintainya! Alya-san juga tolong katakan dengan jelas!"
"U, uuu..."
Desakan tanpa ampun dari Yuki, otak Alisa
yang sangat tidak terbiasa dengan pembicaraan seputar percintaan mengalami
overheat.
Hasilnya, sebelum pikirannya tertata
dengan matang, dia terdorong oleh rasa persaingan dan sifat pantang menyerahnya
terhadap Yuki hingga membuka mulut.
"Suka... atau semacamnya aku tidak
tahu... tapi! Kuze-kun, ti, tidak akan
kuserahkan pada siapa pun!!"
Atas jeritan Alisa yang terkesan refleks
itu, Yuki mengedipkan matanya perlahan, lalu menjauhkan tubuhnya.
"...Begitu ya. Fufu, untuk sementara
hari ini, anggap saja cukup setelah mendengar kata-kata itu."
Sambil terkekeh-kekeh pelan, Yuki
memajang senyum anggun seperti biasanya lalu mengajak Alisa.
"Kalau begitu, mari kita menuju ke
tempat klub seni rupa. Kita tidak boleh membuat mereka menunggu terlalu
lama."
"E, eh, ya..."
Meski sedikit bingung atas perubahan
sikapnya yang sangat cepat itu, Alisa keluar dari ruang kelas bersama Yuki.
Sambil berjalan menuju klub seni rupa, hal yang terlintas di kepalanya adalah
kejadian baru saja.
(A, aku... tadi bilang apa? Rasanya tadi
aku melontarkan hal yang luar
biasa gawat... Nggak, lagian, cinta? Eh,
cinta??)
Sambil melirik Alisa yang matanya
berputar-putar karena tidak sanggup memproses informasi, Yuki memalingkan wajah
dari Alisa dengan gerakan santai, lalu memajang senyuman yang benar-benar
nakal.
('Sangat penting' dan 'tidak akan kuserahkan',
ya... Funn? Onii-chan boleh juga ya♪)
Langkah kakinya terasa ringan, dan
berlawanan dengan Alisa, dia tampak begitu bersuka ria hingga rasanya ingin
menari.
◇
"Masha-san, untuk bagian yang
ini..."
"Nng? Ah, ada salah tulis ya."
"Ah, ternyata benar ya. Biar saya
perbaiki di sini ya?"
"Yup. Tolong ya~"
Di sisi lain pada saat yang sama,
Masachika yang bekerja mengurus tugas OSIS bersama Masha, dibuat terkejut di
dalam hati menghadapi situasi yang tak terduga. Hal itu dikarenakan...
(Nggak, orang ini... bukannya hebat
banget cara kerjanya!?)
Cara terkejut Masachika agak, bukan,
sangat tidak sopan.
Namun kenyataannya, cara kerja Maria jauh
melampaui perkiraan Masachika. Suasana yang dipancarkannya tetap tenang seperti
biasa, tetapi kecepatan pemrosesan kerjanya sangat cepat secara mengerikan.
Masachika yang mengira Maria diajak masuk
OSIS bukan karena kemampuan praktisnya melainkan mengandalkan popularitasnya,
cukup tercengang melihat sosok wanita karier yang tak terduga ini.
(Lalu, yang di sisi sebelah sana...)
Secara diam-diam, Masachika mengalihkan
pandangan matanya ke senior lain yang duduk di depannya.
"Loh...? Ini tadi di mana ya... Loh?
Di mana tadi?"
"Chisaki-chan. Bukannya file warna
biru yang tadi disimpan di sebelah sana?"
"Eh? Ah, begitu ya. Yang itu
toh."
Diberitahu oleh Maria, Chisaki melangkah
menuju rak di tepi dinding tempat file-file berjejer. Namun sambil berkata
"Yang itu toh", dia tampak tidak begitu paham yang mana, lalu menarik
file-file yang berjejer sambil memiringkan kepala.
(Gaya kerjanya lebih payah dari dugaanku!
Minta maaf kalau tidak
sopan! Tapi tidak sopan!)
Tampaknya, Chisaki sangat payah dalam
pekerjaan meja (desk work).
Atau lebih tepatnya, menurut pengamatan
Masachika, dia tampak payah dalam hal rapi-merapikan.
"..., ~...!? ~~~~"
Lalu, yah... singkatnya dia tidak bisa
tenang. Baru sekitar dua puluh menit memulai pekerjaan dokumen, dia sudah mulai
gelisah.
(Anak cowok SD yang lagi pubertas banget
mau main kah...)
Masih mau lanjut tidak ya? Sudah bosan
nih? Sambil melirik-lirik ke sekeliling dengan gestur seperti itu, Masachika
berusaha berpura-pura tidak tahu meski pandangannya tanpa sadar menjadi agak
hangat.
Sekilas tampak seperti gadis santai nan
lembut yang bertugas menyebarkan suasana menenangkan tanpa pusing pekerjaan,
dan sekilas tampak seperti wanita karier keren yang bakal menuntaskan semua
pekerjaan dengan cekatan.
Namun, cara kerja mereka benar-benar
berbalik 180 derajat dari kesan luar yang dipancarkan.
(Memang tidak boleh menilai orang dari
penampilannya ya...)
Saat Masachika meresapi hal itu
dalam-dalam, Touya yang tampaknya tidak tega melihatnya mengangkat suara kepada
Chisaki.
"Aa~... Chisaki. Ngomong-ngomong
hari ini di perpustakaan, katanya ada penataan ulang buku dalam skala besar,
lho."
"! Apa? Mereka kekurangan
tenaga!?"
"Ya, rasanya rasio murid perempuan
di komite perpustakaan kan tinggi. Penataan ulang buku itu pekerjaan yang cukup
berat. Bisakah kamu pergi melihat keadaannya sebentar?"
"Serahkan padaku!"
Begitu dikatakan oleh Touya, dengan
ekspresi berseri-seri bagaikan ikan yang mendapatkan air, Chisaki melesat
keluar dari ruang OSIS dalam sekejap mata. Tampaknya pekerjaan meja benar-benar
menjadi siksaan baginya. Dia tidak akan kembali untuk sementara waktu.
"Maaf ya, Kuze. Yah, Chisaki memang
selalu seperti itu. Biarpun begitu, dia sangat berguna saat berdiskusi dengan
komite atau asosiasi klub. Toleransi sedikit ya."
"Nggak, yah... ini yang dinamakan
orang yang tepat di tempat yang tepat, kan. Haha."
Kepada Touya yang memasang senyum kecut
sambil memasang badan
buat Chisaki, Masachika membalasnya
dengan senyum kecut pula.
Kenyataannya, tidak diragukan lagi kalau
dia adalah senior keren yang sangat bisa diandalkan.
Dari kenyataan bahwa dia marah demi Alisa
pun, hal itu terpancar jelas.
Tapi... kalau diperlihatkan sisi
kekanak-kanakan seperti itu, rasanya jadi bingung harus merespons bagaimana.
"Tapi, sisi seperti itu juga imut,
kan?"
"Nggak, jangan memasang wajah 'Hehe
imut banget kan dia' dong. Jangan pamer kemesraan secara alami begitu."
"Ooh, boleh juga, Kuze. Di OSIS yang
sekarang, peran para protes itu sangat berharga. Mulai sekarang tolong teruskan
protes kerasmu seperti itu ya."
"Malah, OSIS macam apa yang isinya
cuma tukang lelucon semua."
"Bagus! Keputusanku merekrutmu
ternyata memang tidak salah!"
"Bagian mananya yang bikin sadar
coba~"
Komedi singkat mendadak dimulai. Di
tengah situasi itu, Maria memajang senyum dengan kesan "Kelihatannya seru
ya~", lalu dengan gestur yang sudah sangat terbiasa dia menarik dokumen
yang ditinggalkan begitu saja oleh Chisaki ke tangannya, lalu melanjutkan
pekerjaan seolah tidak terjadi apa-apa.
(Super berkompeten banget orang ini...)
Terhadap Maria yang seperti itu,
Masachika mengubah sudut
pandangnya secara drastis.
◇
Setelah itu pekerjaan berlanjut selama
sekitar empat puluh menit.
Pekerjaan akhirnya selesai sampai pada
satu tahapan, dan diputuskan untuk mengambil istirahat sejenak.
Ngomong-ngomong, selama kurun waktu itu Chisaki tetap tidak kunjung kembali.
"Kalau begitu, mari kubuatkan teh
ya~"
"Ah, biar saya bantu sesuatu."
"Tidak usah, tidak usah~ Duduk saja
dan tunggulah ya? Soalnya aku suka menyeduh teh."
Kalau sudah dikatakan begitu, rasanya
jadi serba salah kalau mau mengganggu. Ditambah lagi, melihat caranya
menghangatkan poci dan cangkir, kelihatannya cukup teoretis dan niat.
Atmosfernya bukan sesuatu yang bisa dicampuri oleh orang awam.
"Kuze-kun kalau teh suka yang pakai
susu? Atau yang pakai gula? Ah, ada selai juga lho?"
"Selai... maksudnya, jangan-jangan
Russian tea?"
"Di Jepang dipanggilnya begitu ya.
Walaupun sayang sekali ini bukan lemon tea sih."
"...Kalau begitu mumpung ada, boleh
pakai selai saja."
"I~ya. Ah, Ketua pakai protein saja
tidak apa-apa?"
"Apanya yang tidak apa-apa
coba?"
"Bfuh"
Atas lelucon (?) Maria yang mendadak
diselipkan secara santai, Masachika refleks menyemburkan tawa. Teguran dengan
wajah datar dari Touya setelahnya juga terasa lucu, sampai-sampai Masachika
dibuat tertawa terpingkal-pingkal.
(Seriusan, orang ini juga melontarkan
lelucon semacam ini toh! Nggak, jangan-jangan polos...? Tidak tahu sih, tapi
mau yang mana pun tetap saja gawat banget... Pukukuk)
Sambil tetap duduk di kursi, Masachika
meronta-ronta pelan.
"Oi, tertawamu berlebihan tahu,
Kuze."
"Ma-maaf... tapi... Kukuk"
Sambil agak diherani oleh Touya, setelah
tertawa sampai air matanya tipis-tipis keluar, tawanya akhirnya mereda.
"Aah~... gawat tadi. ...Eh, loh? Di
Rusia bukannya teh itu minuman musim dingin ya?"
Saat mengajukan pertanyaan seperti itu
untuk menutupi rasa malunya karena meledak tertawa di hadapan senior, Maria
memiringkan kepalanya sambil menyiramkan air panas secara penuh ke dalam
cangkir yang berisi daun teh.
"Nng~? Bukannya tergantung
masing-masing rumah ya? Setidaknya kalau di rumahku, saat musim panas pun tetap
minum teh kok? Yah, walau ada faktor karena Ibu suka teh juga sih..."
"Ah, Ibunya orang Jepang kan ya.
Begitu toh..."
Jika sang ibu yang memberikan pengaruh
besar pada pola makan anak adalah orang Jepang, walau anaknya lahir di Rusia
pun, budaya makanannya bisa saja berbaur dengan Jepang. Kepada Masachika yang
merasa yakin begitu, Maria membalikkan punggungnya lalu melayangkan pertanyaan
dengan nada santai.
"Kuze-kun paham banyak soal
Rusia?"
"Nggak, tidak juga kok... Cuma, saya
pernah menonton beberapa film Rusia saja."
"Huu~n begitu ya."
Kenyataannya bukan cuma sekadar beberapa
film sih. Sambil menemani kakek dari pihak ayah yang suka Rusia, setidaknya dia
sudah menonton dua puluh film. Hasilnya, hal itu sangat berguna meningkatkan
kemampuan listening bahasa Rusianya. Berkat hal itu bahkan sampai menjadi anak
SMA sekarang, dia bisa mendengarkan dere seseorang dengan sangat jelas! Hore!
"? Ada apa Kuze. Matamu menerawang
begitu."
"Nggak, tidak ada apa-apa
kok..."
Saat sedang memikirkan hal-hal seperti
tidak ada yang tahu apa yang bakal menjadi keberuntungan atau kemalangan di
dunia ini, Maria menyodorkan teh beserta piring kecil berisi selai di hadapan
Masachika.
"I~ya, maaf membuat menunggu."
"A, terima kasih banyak."
"Ketua juga silakan."
"Ya, terima kasih."
Tampaknya Touya memakai gula, sementara
Maria memakai selai.
(Humm, ini harus diapa-apakan ya...)
Sempat berpikir sebentar di hadapan
piring kecil berisi selai, untuk sementara dia mencoba menyesap tehnya tanpa
campuran apa pun terlebih dahulu.
"っ!
Enak..."
"Begitu? Terima kasih ya."
Dari aromanya saja sudah beda jauh dari
teh kemasan yang biasa diminumnya. Aroma tajam yang menembus dari mulut ke
hidung. Rasa yang mendalam. Dan... rasanya juga membangkitkan kenangan yang
dirindukan di suatu tempat.
(Ah, benar juga...)
Ibu itu juga suka teh. Sambil sedikit
mengernyitkan pipinya atas teh yang rasa pahitnya agak bertambah, dia melirik
ke arah Maria dari sudut matanya.
Lantas, Maria menyendok selai ke dalam
mulutnya memakai sendok, lalu minum teh setelahnya.
"? Ada apa?"
"Ah nggak... Selai itu, bukannya
dimasukkan ke dalam teh ya."
"Kalau itu sih tergantung orangnya
lho? Dze... Kakek dulu memasukkan selai ke dalam tehnya ya~. Tapi kalau aku,
lebih ke dijadikan camilan teman minum teh? Aku makannya dengan kesan seperti
itu sih."
"Hee~..."
Merasa yakin bahwa itu mirip seperti
makan kue youkan sambil minum teh hijau, Masachika untuk sementara mencoba
meniru Maria dan makan selai satu sendok.
"Ma~nis banget..."
Sambil mengernyitkan mulutnya atas rasa
manis yang di luar dugaannya, dia berburu-buru memasukkan teh ke dalam
mulutnya.
Lantas, rasa manis dari selai terkeruk
dengan pas, dan rasanya menjadi agak sedikit berbeda lagi.
"Begitu toh..."
Aroma teh yang bagaikan bunga ditambah
dengan rasa manis asam dari selai, membuat rasanya menjadi bertambah kompleks.
Tapi...
(Nng~ beda sama biskuit atau kue yang
meleleh penuh di dalam mulut, gara-gara ini rasa tehnya jadi berubah
sepenuhnya, rasanya jadi seperti minuman yang berbeda ya...)
Ini sih enak-enak saja, tapi kalau dari
awal tehnya sudah seenak ini, rasanya lebih baik dinikmati begitu saja tanpa
campuran apa pun. Tapi, mengingat sudah disiapkan secara khusus, tidak enak
juga kalau menyisakannya.
(Lain kali aku minta gula saja deh.)
Sambil memantapkan tekad secara
diam-diam, Masachika memasukkan selai dan teh ke dalam mulutnya secara
bergantian sedikit demi sedikit.
(Tapi, kalau dipikir kembali secara
tenang...)
Senior satu ini, sangat cantik dan
proporsi tubuhnya luar biasa.
Sifatnya juga lembut dan pandai
bersosialisasi, dicintai oleh banyak orang tanpa memandang pria maupun wanita.
Ditambah lagi sebagai orang yang nilainya
berada di peringkat atas yang ditempel di koridor, setiap kali ujian dia selalu
masuk ke dalam peringkat tiga puluh besar angkatan, jadi otaknya juga encer.
Olahraga tidak tahu seperti apa, tapi
dengan sifat seperti ini kalaupun dia agak payah dalam olahraga justru rasanya
bakal menjadi daya tarik tersendiri. Ditambah lagi, dia bisa bekerja dan pandai
menyeduh teh.
(Loh? Jangan-jangan orang ini adalah tipe
yang tidak punya celah sama sekali?)
Di dekatnya ada Alisa yang terkenal
sebagai manusia sempurna, dan karena atmosfer harian Maria adalah atmosfer
seperti itu dia sama sekali tidak menyadarinya begitu, tapi kalau dipikir-pikir
kembali dia juga sudah sangat manusia sempurna.
Sekali menyadarinya begitu, Masachika
entah kenapa merasa tidak tenang secara aneh.
Sambil memajang senyum tenang, gestur
santai Maria yang membawa cangkir teh ke bibirnya perlahan pun, terasa
memancarkan atmosfer sosok kakak perempuan dewasa yang menarik secara kuat.
(Begitu toh, ini mah beneran Madona.
Rasanya bisa bikin semua cowok jadi shota tanpa syarat...)
Sambil memikirkan hal bodoh dia mencoba
mengalihkan pikirannya ke arah otaku, namun menyadari pandangan matanya, Maria
tersenyum sambil memiringkan kepalanya sedikit, membuat kesadarannya ditarik
kembali secara paksa.
Padahal dia cuma tersenyum lembut dengan
kesan "Ada apa?", tapi dadanya terasa sangat berdebar-debar.
Sensasi yang aneh. Rasa tenang yang
justru bikin tidak tenang.
Kalau tidak hati-hati, dia merasa bakal
mengekspos dirinya yang polos tanpa pertahanan bagaikan sedang menghadapi
keluarga yang sudah terbiasa, sehingga dia tidak bisa mengendurkan kewaspadaan.
Padahal dia berpikir tidak boleh
mengendurkan kewaspadaan... namun melihat senyuman lembut Maria, rasa waspada
dan pengendalian dirinya rasanya bisa terurai begitu saja dengan mudah. Seolah
ingin memasrahkan tubuhnya pada udara tenang dan nyaman yang dipancarkannya...
"Kami kembali."
"...Kembali."
"Aa~h Alya-chan, Yuki-chan, selamat
datang kembali~"
Pada saat itu, Yuki dan Alisa yang pergi
berdiskusi telah kembali, dan seketika itu juga ekspresi Maria melunak
berantakan.
Atmosfer sosok kakak perempuan lembut nan
penuh kasih sayang yang dipancarkannya hingga saat itu langsung menguap dalam
sekejap... dan yang ada di sana hanyalah seorang kakak perempuan santai yang
sangat menyayangi adiknya.
(Nggak, apaan perbedaannya drastis
begitu!?)
Atas perubahan sikap yang sangat mendadak
itu, Masachika refleks hampir tersungkur.
Tanpa memedulikan Masachika yang seperti
itu, Maria memajang senyum santai lalu melangkah menuju rak tempat peralatan
makan dan teh disimpan.
"Kalian berdua mau minum teh
juga?"
"Ah, saya mau."
"...Minum."
"I~ya, tunggu sebentar ya~?"
Sambil bergumam lagu dengan suara yang
sangat cerah, Maria menyiapkan teh. Menatap punggung itu dengan pandangan mata
yang sulit dijelaskan, Alisa yang duduk di sebelah memindahkan badannya beserta
kursinya ke dekat Masachika.
Saat menoleh, Alisa yang duduk di posisi
yang entah kenapa terasa sangat dekat, menatap ke arah sini dengan mata yang
seolah ingin bilang, "Ada komplain?".
"...Apa?"
"Nggak... rasanya, agak dekat
tidak?"
Saat Masachika bertanya secara lurus,
Alisa berkata sambil melirik tipis ke arah sisi sebaliknya.
"...Di Rusia, wanita muda yang duduk
di kursi sudut itu nasibnya buruk tahu."
"Eh? Begitukah?"
"Benar."
Setelah berkata demikian, dia kembali
menggeser kursinya dengan keras, lalu duduk di jarak di mana sikunya hampir
bersentuhan dengan siku Masachika. Lalu, dia menatap Yuki dengan mata yang
terkesan menyergap.
(Nggak, tapi tetap saja dekat! Terus
apa-apaan mata itu! Eh, situasi gawat? Apakah situasi gawat nih?)
Alisa yang menatap Yuki dengan raut agak
waspada. Yuki yang membalas tatapan Alisa itu dengan *archaic smile* yang tidak
bisa dibaca emosinya.
Merasakan kilatan percikan api melintas
di antara mereka berdua untuk sesaat, Masachika berniat menjauhkan kursinya
karena merasa tidak nyaman... dan menyadari gerakan tersebut, Alisa menggaet
ujung lengan baju kiri Masachika yang terulur di atas meja memakai tangan
kirinya.
Di bawah meja, ujung lengan bajunya
digaet oleh gadis di sebelah seolah ingin bilang "Jangan pergi".
Kalau cuma mendengarkan bagian ini saja, bisa dibilang situasi yang sangat moe.
Namun, perasaan Masachika yang sebenarnya
dihadapkan pada situasi tersebut adalah...
(Tidaaakー!
Lepaskanー!! Situasi seperti ini, aku tidak sanggup
menahannyaaー!!)
Serasa menjadi pria berselingkuh yang dua
wanitanya mendadak berpapasan di tempat yang sama. Dia berniat melarikan diri
dari tempat itu dengan sekuat tenaga.
(Kenapa! Kenapa jadi begini!? Tolong aku
Masha-sa~n!)
Tanpa sanggup menahannya lagi dia menoleh
ke belakang, lalu Masachika mengajak Maria yang sedang menyeduh teh mengobrol.
"...Begitu kata Alya sih, tapi apa
beneran ada mitos semacam itu ya?"
"Ada lho~? Lebih tepatnya, bukannya
nasib buruk, tapi katanya pernikahan bakal terlambat sih."
Setelah berkata demikian, Maria menoleh
dengan wajah yang entah kenapa terlihat gembira, lalu menatap Alisa dengan mata
berbinar-binar.
"Meski begitu, tidak disangka
Alya-chan memikirkan hal seperti itu... jangan-jangan, sudah menemukan orang
yang ingin dinikahi!?"
"...Mana mungkin. Cuma suasana hati
saja kok."
"Eee~? Beneran~?"
"Ngotot banget."
"Beneran deh, Alya-chan ini."
Maria menggembungkan pipinya, lalu
memalingkan wajahnya kembali.
Setelah melirik ke arah sana sejenak,
Alisa menjatuhkan pandangan matanya ke tangannya yang menggaet lengan baju
Masachika, lalu berbisik dengan suara yang sangat pelan.
【結婚は、まだ早いわ】(Menikah itu,
masih terlalu cepat)
Suara yang sangat pelan. Namun bagi
Masachika yang berada pada jarak sejauh ini, dia bisa mendengarkannya secara
jelas.
(Benar juga ya~ kan masih lima belas
tahun ya~? Cara mengatakannya agak bikin penasaran sih, tapi kalau dipikir
secara norma umum pernikahan memang masih terlalu dini kan~? Nggak, padahal ada
kakakmu tapi kamu tetap melancarkan serangan juga!!)
Di situasi di mana ada kakaknya yang
paham bahasa Rusia di belakangnya pun, Alisa tetap tidak mengendurkan posisi
menyerangnya (?), membuat Masachika merinding ketakutan.
Lantas, di sana terdengar suara Maria
meletakkan cangkir teh ke atas baki, dan Alisa melepaskan tangannya dengan
cepat. Tidak lama kemudian, Maria membawakan teh untuk porsi Alisa dan Yuki.
"I~ya Alya-chan. Silakan ini lebih
dulu."
Lalu, dia meletakkan piring kecil di
hadapan Alisa terlebih dahulu. ...Piring kecil yang ditumpuki selai begitu
menggunung, hingga rasanya hampir satu botol penuh digunakan di sana.
"...Apa sih."
"Nggak, bukan apa-apa..."
Memalingkan pandangan matanya dengan
cepat, Masachika memasukkan sisa selai yang tinggal sedikit ke dalam tehnya
dengan wajah pura-pura tidak tahu.
Mengaduknya hingga berbunyi klak-klik
memakai sendok, lalu meminumnya sampai habis dalam satu tegukan.
(……Yup, ternyata beneran minuman yang
berbeda ya.)
Tampaknya takaran selainya terlalu
banyak, sehingga rasa manis tersisa di dalam mulut dan membuat Masachika
mengernyitkan bibir. Di saat itu, mendadak Yuki mengangkat suara.
"Anu…… Sarashina-senpai pergi ke
mana ya?"
"Eh? A…… kalau dipikir-pikir kapan
senior yang satu itu bakal kembali?"
Saat memiringkan kepala setelah
mengonfirmasi jam dinding, Touya yang meletakkan cangkir tehnya berkata sambil
mengedikkan bahu.
"Chisaki sedang membantu komite
perpustakaan. Yah…… kalau lapar nanti juga bakal kembali kok."
"Nggak, kanak-kanak banget."
Tepat di saat Masachika refleks
melayangkan protes tersebut, pintu ruang OSIS terbuka lebar diiringi suara
gemuruh keras.
"Wangi banget!"
"Beneran kanak-kanak dong."
Terhadap Chisaki yang menerobos masuk
dengan mata berbinar-binar, Masachika pun refleks melayangkan protes.



Post a Comment