NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Tokidoki Bosotto Russia-go de Dereru Tonari no Alya-sa Volume 2 Chapter 3

Bab 3: Bolehkan Aku Minta Tambahan…?


"Anu... maaf ya? Soalnya suara cowoknya kedengaran tidak asing, aku pikir anak-anak klub bisbol sama klub sepak bola datang lagi... makanya, ya?"

 

Yang berkata demikian sambil memasang senyum merasa bersalah adalah sukeban-sama (bos cewek) kita... bukan, melainkan Wakil Ketua OSIS SMA, Sarashina Chisaki.

 

Menarik kembali hawa membunuh sampai beberapa saat lalu, dia meminta maaf sambil memejamkan sebelah matanya dan menegakkan tangan di depan wajahnya, membuat Masachika yang duduk di depannya juga sedikit mengendurkan ketegangan di bahunya.

 

"Haah... anu, apa mereka melakukan sesuatu?"

 

"Nng? Kalau itu bukannya kamu yang lebih tahu?"

 

"Eh?"

 

Saat Masachika memiringkan kepalanya, Chisaki mengarahkan pandangan matanya ke arah Alisa yang duduk di sebelah Masachika lalu berkata.

 

"Padahal juniorku yang imut ini sudah pergi menengahi, tapi mereka sama sekali tidak mendengarkan dan malah lanjut bertengkar dengan tidak enak dipandang, kan. Yang begitu mah, menurutku sama saja dengan cari gara-gara sama kita OSIS, kan? Makanya yah, cuma kuhajar sedikit... Nnn-ng! Kuberikan peringatan, ya?"

 

Tadi, dia hampir bilang "hajar", kan?

 

Mengesampingkan keraguan yang melintas, Masachika mengarahkan pandangan matanya ke arah pedang bambu yang disandarkan di sebelah Chisaki lalu berkata.

 

"...Begitu ya. Nggak, tapi... bukannya membawa pedang bambu itu agak berlebihan?"

 

"Eh? Ah nggak... Ahaha"

 

Lantas, Chisaki juga melirik ke arah sana dengan wajah merasa canggung, lalu berkata dengan nada yang dipaksakan cerah.

 

"T-tidak apa-apa! Orang bisa mati kalau kena tinjuku, tapi kalau pakai pedang bambu, orang tidak bakal mati kok!"

 

"...Begitukah"

 

"Yup. Sebelum orangnya hancur, pedang bambunya yang bakal hancur duluan kok!"

 

"Hahaha..."

 

"Hahaha... aah~, yup"

Atas tawa kering Masachika, Chisaki yang sepertinya sadar kalau leluconnya garing, membiarkan pandangan matanya melayang dengan senyum kedutan.

 

Yah gimana ya, kalau hal ini dikatakan oleh orang sekelas Yuki, Masachika juga bakal melayangkan protes "Nggak, bagian mananya yang tidak apa-apa coba~", tapi... dalam situasi ini kalau yang mengatakannya adalah Chisaki, jujur saja dia tidak bisa tertawa. Atau lebih tepatnya, itu tidak menjadi lelucon.

 

Sarashina Chisaki. Salah satu dari dua gadis cantik yang dibanggakan oleh angkatan kelas dua SMA, dan di saat dia ditakuti oleh sebagian murid laki-laki, dia adalah murid yang membanggakan popularitas luar biasa di kalangan murid perempuan sebagai gadis paling ganteng di sekolah.

 

Julukannya adalah Donna Sekolah (征母). Awalnya tampaknya ditulis memakai kanji "Bos Perempuan" lalu dibaca Donna, tapi gara-gara tahun lalu Maria yang merupakan Madona Sekolah (聖母) masuk sekolah, kanji ini diberikan padanya. Sebagai mantan Ketua Komite Kedisiplinan SMP, dan sekarang menjadi Wakil Ketua OSIS, dia terutama bertindak sebagai koordinator asosiasi klub yang terdiri dari para ketua dan wakil ketua masing-masing klub.

 

(Di saat dipanggil 'Onee-sama' oleh sebagian murid perempuan, katanya dia juga dipanggil 'Ane-san' oleh sebagian murid laki-laki... tapi begitu ya.)

Mengingat kembali keadaan klub bisbol dan klub sepak bola tadi serta sosok Chisaki yang dipenuhi hawa membunuh, Masachika diyakinkan bahwa "Dia memang benar-benar Ane-san".

 

Di masa lalu, dia pernah menyelesaikan masalah perundungan di kelas dengan kekuatan fisik, pernah menumbangkan belasan anggota kelompok anak nakal yang menerobos masuk ke festival sekolah sendirian, pernah menghentikan sapi mengamuk yang menyerang murid di Hokkaido saat karyawisata memakai tangan kosong.

 

Dia punya segudang kisah legendaris yang beredar tentang dirinya, tapi cerita keberanian paling terkenalnya adalah episode di mana Chisaki menyelamatkan seorang murid perempuan Akademi Seirei yang hampir diculik saat pulang sekolah.

(TL/N: Sedikit penyesuaian istilah: mulai volume ini sampai seterusnya, 聖霊学園 (Seirei Gakuen) akan disebut "Akademi Seirei". Di volume 1 sebelumnya digunakan istilah "SMA Seirei", jadi jangan bingung kalau menemukan perbedaan penyebutan. Ini sekolah yang sama.)

 

Cerita legenda lainnya agak mencurigakan sejauh mana kebenarannya, tapi khusus yang satu ini adalah fakta yang tidak diragukan lagi.

 

Alasannya karena dia mendapatkan surat penghargaan dari kepolisian.

 

Malah berita itu sempat masuk surat kabar pada saat itu.

 

Jika dilihat dari cerita di sekitar itu dan keadaannya tadi, dia mengira orang ini adalah sosok... Ane-san dari dunia hitam yang menjadikan kekerasan sebagai mata pencaharian, tapi melihat dirinya yang gelisah menerima pandangan mata yang rumit dari kedua juniornya, tampaknya tidak sepenuhnya begitu.

 

"U, uuu~~... Touya"

Lantas, di sana apakah karena tidak sanggup menahan atmosfer yang sulit dijelaskan ini, Chisaki meminta bantuan kepada kekasihnya (Touya) dengan suara lelah.

 

Atas permintaan bantuan kekasihnya, di bagian dalam ruang OSIS.

 

Touya yang duduk di kursi Ketua dengan membelakangi jendela, membuka mulutnya sambil mengulas senyum kecut.

 

"Yah jangan terlalu kaku begitu, Kuze. Chisaki tidak melakukan kekerasan pada mereka kok. Dia cuma mengancam dengan latar belakang kekerasan saja."

 

"Tunggu, Touya!?"

 

"Bercanda kok."

 

Terhadap Chisaki yang membelalakkan matanya terkejut, Touya tertawa jahil. Sadar kalau dirinya sedang dijahili, Chisaki mengerutkan pangkal alisnya lalu berdiri, bergerak cepat mengitari meja dan mulai menepuk-nepuk bahu Touya dengan keras.

 

"Beneran deh! Beneran deh!"

 

"Hahaha, maaf maaf"

 

Atas pertengkaran kecil yang menggemaskan dari sepasang kekasih ini, Masachika juga tertawa tipis.

 

"Beneran deh, ah!"

 

"Hahaha, Chisaki? Bahuku bisa lepas. Bahuku bisa lepas tahu."

 

Menggemas...kan? Nggak, ada suara yang agak gawat kedengaran.

 

Bukan sekadar tepukan, bunyinya sudah seperti dug! duk! gedebuk!

Suaranya benar-benar seperti menghantam tepat di sasaran.

 

Dan setiap kali itu terjadi, tubuh Touya yang kekar bergoyang-goyang hebat. Meskipun begitu, melihat sosok Touya yang menegur kekasihnya sambil tersenyum, Masachika melihat sesosok pria sejati.

 

"Maaf ya~. Apa aku agak terlambat sedikit?"

 

Di sana, Maria masuk. Begitu membuka pintu, dia melihat Touya dan Chisaki di depannya lalu mengedipkan matanya beberapa kali, kemudian memajang senyum kecut yang lembut.

 

"Ara ara, Chisaki-chan, Ketua. Bercanda di ruang OSIS juga secukupnya saja ya?"

 

Kepada Maria yang menganggap pemandangan yang cukup kekerasan ini sebatas "bercanda", Masachika melihat sesosok kepolosan murni.

 

Namun bagi Chisaki hal itu tampaknya mempan, sambil berkata "B-bukan begitu kok!" dia menjauhkan tubuhnya dari Touya, lalu memasang raut sedih pada alisnya menatap Touya yang mengelus bahunya seolah baru kembali sadar.

"M-maaf ya? Sakit ya?"

 

"Nng? Ah, tidak apa-apa kok. Bahuku lagi pegal jadi pas banget."

 

Sambil mengulas senyum kedutan yang terkesan agak sakit, Touya memutar-mutar bahunya sambil tertawa. Atas ketampanan yang luar biasa itu, Masachika hampir saja merasa jatuh cinta padanya.

 

"Beneran maaf ya... aku tidak bisa mengatur tenaga dengan baik."

 

"(Memangnya dari suku petarung mana coba.)"

 

"Tidak apa-apa kok. Soalnya aku melatih tubuh memang buat hal ini. Datanglah sebanyak apa pun."

 

"(Arti dari melatih tubuh demi kekasih.)"

 

"Touya..."

 

"(Eh? Ada unsur yang bisa bikin atmosfer manis di sini?)"

 

Di dekat siku Masachika yang memprotes dengan suara pelan, Alisa menariknya secara halus. Saat menoleh, Alisa yang sudut mulutnya sedikit kedutan, menggelengkan kepalanya pelan dengan mata sipit.

 

Menatap pandangan mata yang menuduh itu Masachika tertawa tipis, lalu sambil mengarahkan pandangan matanya ke arah Chisaki dari balik bahunya dia berkata.

"(Nee, Sarashina-senpai itu kan dipanggil Ane-san, apa dia beneran memakai sarashi [stagen] ya?)"

 

"(Kenapa jadi begitu coba.)"

 

"(Nggak, soalnya kalau dia pakai sarashi, nanti jadi Sarashina-senpai kan.)"

 

"Khuf! ~~~~!!"

 

Tanpa sadar Alisa menyemburkan tawa ringan, lalu tepat setelahnya sambil memerahkan pipinya oleh rasa malu dia menepuk lengan Masachika dengan keras.

 

"Ara ara, akrab banget ya~"

 

"B, bagian mananya coba."

 

"Fuh, tidak bisa disembunyikan dari Kakak lho? Keakraban kita☆"

 

"Menyebalkan."

 

Saat Masachika mengutarakannya sambil melakukan wink yang sangat payah, Alisa memotongnya secara tajam, lalu suara ketukan berbunyi di ruang OSIS dan kali ini Yuki yang masuk.

 

"Permisi. Mohon maaf. Saya agak terlambat sedikit."

 

"Nng, ah. Jangan dipikirkan, Suou."

Sambil berkata demikian Touya juga berdiri, lalu berpindah dari meja khusus Ketua ke meja yang sama dengan Masachika dan yang lainnya.

 

Touya duduk di ujung meja yang berseberangan dengan pintu, yang biasa disebut kursi kepala meja. Dari sana di sebelah kanan ada Maria, Alisa, Masachika. Di sebelah kiri ada Chisaki, Yuki yang duduk berjejer.

 

Setelah semua orang memposisikan diri, Touya membuka pembicaraan.

 

"Kalau begitu, kita mulai rapat OSIS."

 

""""""Mohon bantuannya.""""""

 

"Kalau begitu, Kuze. Bisakah kamu memperkenalkan diri secara resmi sekali lagi?"

 

"Ya."

 

Atas dorongan Touya, Masachika berdiri.

 

"Kali ini, saya diperkenankan bergabung dengan OSIS sebagai bagian urusan umum. Nama saya Kuze Masachika. Hobi saya adalah hobi otaku secara umum. Kalau anime atau manga yang populer, rasanya saya paham sebagian besar. Lalu..."

 

Di sana, dia melayangkan pandangan mata ke arah Alisa yang duduk di sebelahnya lalu merencanakannya.

 

"Tahun depan, saya berniat mencalonkan diri dalam pemilihan Ketua bersama Kujou Alisa di sebelah sini. Mohon bantuannya."

 

"Ooh, mohon bantuannya ya."

 

"Mohon bantuannya~"

 

"Mohon bantuannya ya~?"

 

Para senior melayangkan senyuman masing-masing sambil memberikan tepuk tangan yang hangat. Lalu, Yuki yang juga memberikan tepuk tangan sambil memajang archaic smile yang tidak bisa dibaca emosinya, serta Alisa yang menatap Yuki secara lekat-lekat.

 

"Kalau begitu, buat jaga-jaga anggota yang lain juga memperkenalkan diri secara ringan saja ya. Mumpung lagi begini juga."

 

Touya berkata demikian sambil mengedarkan pandangan matanya ke seluruh wajah mereka, dan setelah menilai kalau tidak ada keberatan khusus, dia menghadap kembali ke arah Masachika.

 

"Aku Ketua OSIS, Kenzaki Touya. Hobi belakangan ini latihan otot. Mohon bantuannya."

 

"Wakil Ketua, Sarashina Chisaki. Hobinya... kendo kali ya. Mohon bantuannya."

 

"Sekretaris, Kujou Maria. Hobinya mengumpulkan barang-barang imut, kali ya. Ah, kalau manga yang komik remaja aku cukup paham lho? Mohon bantuannya ya."

 

"Humas, Suou Yuki. Hobinya adalah piano dan merangkai bunga. Sekali lagi mohon bantuannya ya? Masachika-kun."

 

"...Bendahara, Kujou Alisa. Hobinya membaca. Mohon bantuannya."

 

Setelah semuanya selesai memperkenalkan diri sekali lagi, Masachika juga membungkukkan kepalanya ringan.

 

(Tapi ya, kalau melihat mereka berkumpul begini terasa megah banget ya.)

 

Sampai-sampai rasa kagum refleks muncul karena sangat luar biasa.

 

Apanya, tingkat kecantikan para anggota perempuannya. Bahkan sepanjang sejarah Akademi Seirei, rasanya belum pernah ada jajaran secantik ini.

 

Ditambah lagi semuanya memiliki tipe yang berbeda secara mengagumkan. Kalau foto mereka diambil lalu dikirim ke stasiun TV, rasanya bakal ada liputan sebagai "OSIS yang Terlalu Cantik".

 

"Kalau begitu Kuze. Untuk hari ini kamu menempel dan bekerja bersama Kujou kakak ya."

 

"Baik."

"Maaf ya. Yah kalau kamu yang mantan Wakil Ketua OSIS SMP sih kurasa bakal langsung terbiasa, tapi untuk sementara waktu tolong tempel anggota lain lalu pelajari pekerjaannya ya."

 

"Apakah kalau tidak salah menebak, jumlah tenaga kerja memang kurang?"

 

"Ya, jujur saja sangat tidak cukup. Berkat hal itu kenyataannya pembagian kerja secara sempurna sesuai jabatan tidak bisa dilakukan."

 

"Yah, biasanya sekretaris atau bendahara kan dijabat oleh beberapa orang... tidak masalah kok. Urusan umum itu singkatnya kan tukang serba bisa. Waktu kelas satu SMP saya juga urusan umum jadi sudah terbiasa."

 

"Ooh, itu sangat membesarkan hati ya."

 

Kepada Touya yang tertawa dalam suasana hati bagus, Yuki mengangkat suara.

 

"Maaf memotong pembicaraan Ketua, saya berniat pergi berdiskusi dengan klub seni rupa mengenai pameran yang waktu itu."

 

"Nng? Ooh, kuserahkan padamu."

 

"Baik. Berhubung ada hal mengenai anggaran dan lainnya... saya ingin

Alya-san ikut pergi bersama saya juga."

 

"Eh?"

Mendadak topik dialihkan padanya, Alisa mengedipkan matanya.

 

Namun apakah dia merasakan sesuatu dari ekspresi Yuki, dia langsung memasang wajah serius lalu mengangguk.

 

"...Paham. Ketua, kami pergi sebentar."

 

Lalu, mereka berdua keluar dari ruang OSIS.

 

(...Ini sih, kayaknya ada sesuatu ya.)

 

Di dalam dada Masachika yang mengantar punggung mereka berdua, bersemayam sedikit rasa cemas. Namun, hal itu segera diterbangkan oleh suara super lembut yang rasanya tidak punya rasa cemas sama sekali.

 

"Iya, kalau begitu Kuze-kun ke sebelah sini ya Sila~kan"

 

Sambil menepuk-nepuk kursi tempat Alisa duduk hingga tadi, Maria memajang senyum dengan aura penenang yang terbuka penuh. Atas suara panggilan yang rasanya tanpa sadar membuat tenaga terkuras habis itu, Masachika menegakkan tubuhnya sambil mengulas senyum kecut.

 

 

Di koridor seusai jam pelajaran, Alisa berjalan mengikuti Yuki dari belakang.

Meski Alisa dibawa keluar oleh Yuki dengan dalih ingin Alisa mendampingi diskusi, Alisa tidak cukup tumpul untuk menerima hal itu mentah-mentah.

 

Ada alasan lain kenapa Yuki membawanya keluar. Alisa pun samar-samar menyadari alasan tersebut. Namun, dari punggung Yuki tidak terasa adanya niat untuk memulai pembicaraan dari dirinya sendiri.

 

(Benar... Ini adalah hal yang harus kumulai pembicaraannya dari diriku sendiri kan.)

 

Memejamkan mata sejenak untuk meyakinkan diri, Alisa mengangkat suaranya kepada Yuki yang berjalan di depan.

 

"Yuki-san, bisakah kita bicara sebentar?"

 

Seperti yang diduga, tidak ada ekspresi terkejut pada wajah Yuki saat menoleh. Sambil memajang senyum tenang dia mengangguk atas kata-kata Alisa, lalu tanpa mengutarakan pertanyaan apa pun dia menghadap ke samping, menunjukkan ruang kelas kosong di dekat sana menggunakan pandangan matanya.

 

"Boleh kok. Karena di sini agak kurang pas, mari kita pinjam ruang kelas kosong di sebelah sana."

 

"Ya."

 

Yuki masuk lebih dulu ke ruang kelas kosong, dan Alisa yang menyusul di belakang menutup pintu. Di ruang kelas yang disinari senja, keduanya saling berhadapan. Yang membuka pembicaraan lebih dulu, tetaplah Alisa.

 

"Aku, memutuskan untuk mencalonkan diri dalam pemilihan Ketua bersama Kuze-kun."

 

Alisa mendeklarasikannya secara jelas dengan ekspresi seolah menantang. Atas hal itu, Yuki mengangguk sambil tetap memajang senyumannya.

 

"Ya, saya sudah tahu. Karena kemarin saya sudah mendengarnya langsung dari mulut Masachika-kun."

 

"...Begitu."

 

Alis Alisa bergerak sesaat atas kata-kata Yuki, namun dia mengangguk dengan kata-kata yang sedikit. Kepada Alisa yang mengatupkan mulutnya setelah itu, Yuki memiringkan kepalanya sedikit.

 

"Um, apakah hanya itu saja?"

 

"...Ya. Lagipula aku tidak melakukan hal yang membuat merasa bersalah, jadi tidak ada niat untuk meminta maaf. Cuma, aku ingin mengatakannya secara jelas dari mulutku sendiri."

 

"Fufu, begitu rupanya."

Terhadap kata-kata Alisa yang tergantung cara mendengarnya bisa terdengar seperti mencari gara-gara itu, Yuki justru melayangkan senyum secara geli.

 

"Ya, tidak ada hal yang perlu dimaafkan sama sekali kok? Karena semuanya adalah hal yang dipilih oleh Masachika-kun sendiri. Saya tidak berniat melayangkan komplain ke sana, dan tidak berniat

meluapkan ketidakpuasan kepada Alya-san juga."

 

Setelah menegaskannya secara jelas begitu, Yuki tertawa agak jahil

"Meski fakta bahwa saya tidak dipilih olehnya adalah hal yang sangat disayangkan sih?". Atas senyuman yang terkesan bijak itu, Alisa tanpa sadar bertanya sebelum menyadarinya.

 

"Yuki-san... mengenai Kuze-kun..."

 

"?"

 

"...Nggak, bukan apa-apa."

 

Begitu mengatakannya dia langsung merasa kalau dirinya sudah melangkah terlalu jauh lalu menarik kembali kata-katanya. Tapi...

 

"Saya mencintainya. Lebih dari siapa pun di dunia ini."

 

"!?"

 

Dibalas dengan ekspresi lurus tanpa keraguan sedikit pun, Alisa membelalakkan matanya terkejut.

"...Le, lebih dari siapa pun?"

 

"Ya. Lebih dari Ibu, lebih dari Ayah, lebih dari siapa pun di dunia ini. Saya, mencintai Masachika-kun."

 

Tanpa keraguan maupun rasa malu, Yuki menyuarakan cintanya kepada Masachika secara percaya diri. Pengakuan cinta yang sangat tulus itu, Alisa tanpa sadar melangkah mundur selangkah. Seolah memanfaatkan keguncangan Alisa tersebut, Yuki melancarkan serangan

balasan seketika.

 

"Alya-san sendiri, bagaimana?"

 

"Eh?"

 

"Alya-san sendiri, menganggap Masachika-kun sebagai apa?"

 

"A, aku..."

 

Secara refleks dia hendak menjawab cuma teman biasa, namun dia memalingkan pandangan matanya di hadapan mata lurus milik Yuki.

 

Setelah pengakuan Yuki yang begitu lurus dan jujur, timbul keraguan apakah jawaban aman seperti itu boleh diberikan.

 

"Kuze-kun itu... teman kok. ...Sa, sangat, penting."

 

Hasilnya, sambil memalingkan mata dan memerahkan pipinya, Alisa memeras kata-kata itu. Tepat setelahnya, meski merasa punggungnya memerah panas dan menggoyangkan tubuhnya dengan canggung... Yuki bukanlah orang yang bakal puas hanya dengan memancing kata-kata sekelas itu.

 

"Apakah kamu menyukainya?"

 

"Ue!?"

 

Dengan perkataan yang sangat lurus itu, Alisa melontarkan suara aneh lalu menghadap ke depan. Sambil menatap wajah itu secara lurus, Yuki memangkas jarak secara terus-menerus.

 

Alisa refleks melangkah mundur, namun Yuki memangkas jarak tanpa memedulikannya.

 

Saat tersadar, dia sudah sepenuhnya terdesak dengan posisi membelakangi pintu kelas.

 

Yuki yang berpostur mungil dan Alisa yang bertubuh tinggi memiliki perbedaan tinggi badan sejauh dua puluh sentimeter, sehingga pada jarak sejauh ini Yuki sepenuhnya berada dalam posisi mendongak menatap Alisa. Namun, berlawanan dengan posisi tersebut, yang sebenarnya merasa tertekan justru Alisa.

 

"Bagaimana? Apakah kamu menyukainya?"

 

"Suka... atau semacamnya, itu..."

 

"Saya sudah menyampaikan bahwa saya mencintainya! Alya-san juga tolong katakan dengan jelas!"

 

"U, uuu..."

 

Desakan tanpa ampun dari Yuki, otak Alisa yang sangat tidak terbiasa dengan pembicaraan seputar percintaan mengalami overheat.

 

Hasilnya, sebelum pikirannya tertata dengan matang, dia terdorong oleh rasa persaingan dan sifat pantang menyerahnya terhadap Yuki hingga membuka mulut.

 

"Suka... atau semacamnya aku tidak tahu... tapi! Kuze-kun, ti, tidak akan

kuserahkan pada siapa pun!!"

 

Atas jeritan Alisa yang terkesan refleks itu, Yuki mengedipkan matanya perlahan, lalu menjauhkan tubuhnya.

 

"...Begitu ya. Fufu, untuk sementara hari ini, anggap saja cukup setelah mendengar kata-kata itu."

 

Sambil terkekeh-kekeh pelan, Yuki memajang senyum anggun seperti biasanya lalu mengajak Alisa.

 

"Kalau begitu, mari kita menuju ke tempat klub seni rupa. Kita tidak boleh membuat mereka menunggu terlalu lama."

 

"E, eh, ya..."

Meski sedikit bingung atas perubahan sikapnya yang sangat cepat itu, Alisa keluar dari ruang kelas bersama Yuki. Sambil berjalan menuju klub seni rupa, hal yang terlintas di kepalanya adalah kejadian baru saja.

 

(A, aku... tadi bilang apa? Rasanya tadi aku melontarkan hal yang luar

biasa gawat... Nggak, lagian, cinta? Eh, cinta??)

 

Sambil melirik Alisa yang matanya berputar-putar karena tidak sanggup memproses informasi, Yuki memalingkan wajah dari Alisa dengan gerakan santai, lalu memajang senyuman yang benar-benar nakal.

 

('Sangat penting' dan 'tidak akan kuserahkan', ya... Funn? Onii-chan boleh juga ya♪)

 

Langkah kakinya terasa ringan, dan berlawanan dengan Alisa, dia tampak begitu bersuka ria hingga rasanya ingin menari.

 

 

"Masha-san, untuk bagian yang ini..."

 

"Nng? Ah, ada salah tulis ya."

 

"Ah, ternyata benar ya. Biar saya perbaiki di sini ya?"

 

"Yup. Tolong ya~"

 

Di sisi lain pada saat yang sama, Masachika yang bekerja mengurus tugas OSIS bersama Masha, dibuat terkejut di dalam hati menghadapi situasi yang tak terduga. Hal itu dikarenakan...

 

(Nggak, orang ini... bukannya hebat banget cara kerjanya!?)

 

Cara terkejut Masachika agak, bukan, sangat tidak sopan.

 

Namun kenyataannya, cara kerja Maria jauh melampaui perkiraan Masachika. Suasana yang dipancarkannya tetap tenang seperti biasa, tetapi kecepatan pemrosesan kerjanya sangat cepat secara mengerikan.

 

Masachika yang mengira Maria diajak masuk OSIS bukan karena kemampuan praktisnya melainkan mengandalkan popularitasnya, cukup tercengang melihat sosok wanita karier yang tak terduga ini.

 

(Lalu, yang di sisi sebelah sana...)

 

Secara diam-diam, Masachika mengalihkan pandangan matanya ke senior lain yang duduk di depannya.

 

"Loh...? Ini tadi di mana ya... Loh? Di mana tadi?"

 

"Chisaki-chan. Bukannya file warna biru yang tadi disimpan di sebelah sana?"

 

"Eh? Ah, begitu ya. Yang itu toh."

 

Diberitahu oleh Maria, Chisaki melangkah menuju rak di tepi dinding tempat file-file berjejer. Namun sambil berkata "Yang itu toh", dia tampak tidak begitu paham yang mana, lalu menarik file-file yang berjejer sambil memiringkan kepala.

 

(Gaya kerjanya lebih payah dari dugaanku! Minta maaf kalau tidak

sopan! Tapi tidak sopan!)

 

Tampaknya, Chisaki sangat payah dalam pekerjaan meja (desk work).

 

Atau lebih tepatnya, menurut pengamatan Masachika, dia tampak payah dalam hal rapi-merapikan.

 

"..., ~...!? ~~~~"

 

Lalu, yah... singkatnya dia tidak bisa tenang. Baru sekitar dua puluh menit memulai pekerjaan dokumen, dia sudah mulai gelisah.

 

(Anak cowok SD yang lagi pubertas banget mau main kah...)

 

Masih mau lanjut tidak ya? Sudah bosan nih? Sambil melirik-lirik ke sekeliling dengan gestur seperti itu, Masachika berusaha berpura-pura tidak tahu meski pandangannya tanpa sadar menjadi agak hangat.

 

Sekilas tampak seperti gadis santai nan lembut yang bertugas menyebarkan suasana menenangkan tanpa pusing pekerjaan, dan sekilas tampak seperti wanita karier keren yang bakal menuntaskan semua pekerjaan dengan cekatan.

Namun, cara kerja mereka benar-benar berbalik 180 derajat dari kesan luar yang dipancarkan.

 

(Memang tidak boleh menilai orang dari penampilannya ya...)

 

Saat Masachika meresapi hal itu dalam-dalam, Touya yang tampaknya tidak tega melihatnya mengangkat suara kepada Chisaki.

 

"Aa~... Chisaki. Ngomong-ngomong hari ini di perpustakaan, katanya ada penataan ulang buku dalam skala besar, lho."

 

"! Apa? Mereka kekurangan tenaga!?"

 

"Ya, rasanya rasio murid perempuan di komite perpustakaan kan tinggi. Penataan ulang buku itu pekerjaan yang cukup berat. Bisakah kamu pergi melihat keadaannya sebentar?"

 

"Serahkan padaku!"

 

Begitu dikatakan oleh Touya, dengan ekspresi berseri-seri bagaikan ikan yang mendapatkan air, Chisaki melesat keluar dari ruang OSIS dalam sekejap mata. Tampaknya pekerjaan meja benar-benar menjadi siksaan baginya. Dia tidak akan kembali untuk sementara waktu.

 

"Maaf ya, Kuze. Yah, Chisaki memang selalu seperti itu. Biarpun begitu, dia sangat berguna saat berdiskusi dengan komite atau asosiasi klub. Toleransi sedikit ya."

 

"Nggak, yah... ini yang dinamakan orang yang tepat di tempat yang tepat, kan. Haha."

 

Kepada Touya yang memasang senyum kecut sambil memasang badan

buat Chisaki, Masachika membalasnya dengan senyum kecut pula.

 

Kenyataannya, tidak diragukan lagi kalau dia adalah senior keren yang sangat bisa diandalkan.

 

Dari kenyataan bahwa dia marah demi Alisa pun, hal itu terpancar jelas.

 

Tapi... kalau diperlihatkan sisi kekanak-kanakan seperti itu, rasanya jadi bingung harus merespons bagaimana.

 

"Tapi, sisi seperti itu juga imut, kan?"

 

"Nggak, jangan memasang wajah 'Hehe imut banget kan dia' dong. Jangan pamer kemesraan secara alami begitu."

 

"Ooh, boleh juga, Kuze. Di OSIS yang sekarang, peran para protes itu sangat berharga. Mulai sekarang tolong teruskan protes kerasmu seperti itu ya."

 

"Malah, OSIS macam apa yang isinya cuma tukang lelucon semua."

 

"Bagus! Keputusanku merekrutmu ternyata memang tidak salah!"

 

"Bagian mananya yang bikin sadar coba~"

 

Komedi singkat mendadak dimulai. Di tengah situasi itu, Maria memajang senyum dengan kesan "Kelihatannya seru ya~", lalu dengan gestur yang sudah sangat terbiasa dia menarik dokumen yang ditinggalkan begitu saja oleh Chisaki ke tangannya, lalu melanjutkan pekerjaan seolah tidak terjadi apa-apa.

 

(Super berkompeten banget orang ini...)

 

Terhadap Maria yang seperti itu, Masachika mengubah sudut

pandangnya secara drastis.

 

 

Setelah itu pekerjaan berlanjut selama sekitar empat puluh menit.

 

Pekerjaan akhirnya selesai sampai pada satu tahapan, dan diputuskan untuk mengambil istirahat sejenak. Ngomong-ngomong, selama kurun waktu itu Chisaki tetap tidak kunjung kembali.

 

"Kalau begitu, mari kubuatkan teh ya~"

 

"Ah, biar saya bantu sesuatu."

 

"Tidak usah, tidak usah~ Duduk saja dan tunggulah ya? Soalnya aku suka menyeduh teh."

 

Kalau sudah dikatakan begitu, rasanya jadi serba salah kalau mau mengganggu. Ditambah lagi, melihat caranya menghangatkan poci dan cangkir, kelihatannya cukup teoretis dan niat. Atmosfernya bukan sesuatu yang bisa dicampuri oleh orang awam.

 

"Kuze-kun kalau teh suka yang pakai susu? Atau yang pakai gula? Ah, ada selai juga lho?"

 

"Selai... maksudnya, jangan-jangan Russian tea?"

 

"Di Jepang dipanggilnya begitu ya. Walaupun sayang sekali ini bukan lemon tea sih."

 

"...Kalau begitu mumpung ada, boleh pakai selai saja."

 

"I~ya. Ah, Ketua pakai protein saja tidak apa-apa?"

 

"Apanya yang tidak apa-apa coba?"

 

"Bfuh"

 

Atas lelucon (?) Maria yang mendadak diselipkan secara santai, Masachika refleks menyemburkan tawa. Teguran dengan wajah datar dari Touya setelahnya juga terasa lucu, sampai-sampai Masachika dibuat tertawa terpingkal-pingkal.

 

(Seriusan, orang ini juga melontarkan lelucon semacam ini toh! Nggak, jangan-jangan polos...? Tidak tahu sih, tapi mau yang mana pun tetap saja gawat banget... Pukukuk)

 

Sambil tetap duduk di kursi, Masachika meronta-ronta pelan.

 

"Oi, tertawamu berlebihan tahu, Kuze."

 

"Ma-maaf... tapi... Kukuk"

 

Sambil agak diherani oleh Touya, setelah tertawa sampai air matanya tipis-tipis keluar, tawanya akhirnya mereda.

 

"Aah~... gawat tadi. ...Eh, loh? Di Rusia bukannya teh itu minuman musim dingin ya?"

 

Saat mengajukan pertanyaan seperti itu untuk menutupi rasa malunya karena meledak tertawa di hadapan senior, Maria memiringkan kepalanya sambil menyiramkan air panas secara penuh ke dalam cangkir yang berisi daun teh.

 

"Nng~? Bukannya tergantung masing-masing rumah ya? Setidaknya kalau di rumahku, saat musim panas pun tetap minum teh kok? Yah, walau ada faktor karena Ibu suka teh juga sih..."

 

"Ah, Ibunya orang Jepang kan ya. Begitu toh..."

 

Jika sang ibu yang memberikan pengaruh besar pada pola makan anak adalah orang Jepang, walau anaknya lahir di Rusia pun, budaya makanannya bisa saja berbaur dengan Jepang. Kepada Masachika yang merasa yakin begitu, Maria membalikkan punggungnya lalu melayangkan pertanyaan dengan nada santai.

 

"Kuze-kun paham banyak soal Rusia?"

 

"Nggak, tidak juga kok... Cuma, saya pernah menonton beberapa film Rusia saja."

 

"Huu~n begitu ya."

 

Kenyataannya bukan cuma sekadar beberapa film sih. Sambil menemani kakek dari pihak ayah yang suka Rusia, setidaknya dia sudah menonton dua puluh film. Hasilnya, hal itu sangat berguna meningkatkan kemampuan listening bahasa Rusianya. Berkat hal itu bahkan sampai menjadi anak SMA sekarang, dia bisa mendengarkan dere seseorang dengan sangat jelas! Hore!

 

"? Ada apa Kuze. Matamu menerawang begitu."

 

"Nggak, tidak ada apa-apa kok..."

 

Saat sedang memikirkan hal-hal seperti tidak ada yang tahu apa yang bakal menjadi keberuntungan atau kemalangan di dunia ini, Maria menyodorkan teh beserta piring kecil berisi selai di hadapan Masachika.

 

"I~ya, maaf membuat menunggu."

 

"A, terima kasih banyak."

 

"Ketua juga silakan."

 

"Ya, terima kasih."

 

Tampaknya Touya memakai gula, sementara Maria memakai selai.

 

(Humm, ini harus diapa-apakan ya...)

 

Sempat berpikir sebentar di hadapan piring kecil berisi selai, untuk sementara dia mencoba menyesap tehnya tanpa campuran apa pun terlebih dahulu.

 

"! Enak..."

 

"Begitu? Terima kasih ya."

 

Dari aromanya saja sudah beda jauh dari teh kemasan yang biasa diminumnya. Aroma tajam yang menembus dari mulut ke hidung. Rasa yang mendalam. Dan... rasanya juga membangkitkan kenangan yang dirindukan di suatu tempat.

 

(Ah, benar juga...)

 

Ibu itu juga suka teh. Sambil sedikit mengernyitkan pipinya atas teh yang rasa pahitnya agak bertambah, dia melirik ke arah Maria dari sudut matanya.

 

Lantas, Maria menyendok selai ke dalam mulutnya memakai sendok, lalu minum teh setelahnya.

 

"? Ada apa?"

 

"Ah nggak... Selai itu, bukannya dimasukkan ke dalam teh ya."

"Kalau itu sih tergantung orangnya lho? Dze... Kakek dulu memasukkan selai ke dalam tehnya ya~. Tapi kalau aku, lebih ke dijadikan camilan teman minum teh? Aku makannya dengan kesan seperti itu sih."

 

"Hee~..."

 

Merasa yakin bahwa itu mirip seperti makan kue youkan sambil minum teh hijau, Masachika untuk sementara mencoba meniru Maria dan makan selai satu sendok.

 

"Ma~nis banget..."

 

Sambil mengernyitkan mulutnya atas rasa manis yang di luar dugaannya, dia berburu-buru memasukkan teh ke dalam mulutnya.

 

Lantas, rasa manis dari selai terkeruk dengan pas, dan rasanya menjadi agak sedikit berbeda lagi.

 

"Begitu toh..."

 

Aroma teh yang bagaikan bunga ditambah dengan rasa manis asam dari selai, membuat rasanya menjadi bertambah kompleks. Tapi...

 

(Nng~ beda sama biskuit atau kue yang meleleh penuh di dalam mulut, gara-gara ini rasa tehnya jadi berubah sepenuhnya, rasanya jadi seperti minuman yang berbeda ya...)

 

Ini sih enak-enak saja, tapi kalau dari awal tehnya sudah seenak ini, rasanya lebih baik dinikmati begitu saja tanpa campuran apa pun. Tapi, mengingat sudah disiapkan secara khusus, tidak enak juga kalau menyisakannya.

 

(Lain kali aku minta gula saja deh.)

 

Sambil memantapkan tekad secara diam-diam, Masachika memasukkan selai dan teh ke dalam mulutnya secara bergantian sedikit demi sedikit.

 

(Tapi, kalau dipikir kembali secara tenang...)

 

Senior satu ini, sangat cantik dan proporsi tubuhnya luar biasa.

 

Sifatnya juga lembut dan pandai bersosialisasi, dicintai oleh banyak orang tanpa memandang pria maupun wanita.

 

Ditambah lagi sebagai orang yang nilainya berada di peringkat atas yang ditempel di koridor, setiap kali ujian dia selalu masuk ke dalam peringkat tiga puluh besar angkatan, jadi otaknya juga encer.

 

Olahraga tidak tahu seperti apa, tapi dengan sifat seperti ini kalaupun dia agak payah dalam olahraga justru rasanya bakal menjadi daya tarik tersendiri. Ditambah lagi, dia bisa bekerja dan pandai menyeduh teh.

 

(Loh? Jangan-jangan orang ini adalah tipe yang tidak punya celah sama sekali?)

 

Di dekatnya ada Alisa yang terkenal sebagai manusia sempurna, dan karena atmosfer harian Maria adalah atmosfer seperti itu dia sama sekali tidak menyadarinya begitu, tapi kalau dipikir-pikir kembali dia juga sudah sangat manusia sempurna.

 

Sekali menyadarinya begitu, Masachika entah kenapa merasa tidak tenang secara aneh.

 

Sambil memajang senyum tenang, gestur santai Maria yang membawa cangkir teh ke bibirnya perlahan pun, terasa memancarkan atmosfer sosok kakak perempuan dewasa yang menarik secara kuat.

 

(Begitu toh, ini mah beneran Madona. Rasanya bisa bikin semua cowok jadi shota tanpa syarat...)

 

Sambil memikirkan hal bodoh dia mencoba mengalihkan pikirannya ke arah otaku, namun menyadari pandangan matanya, Maria tersenyum sambil memiringkan kepalanya sedikit, membuat kesadarannya ditarik kembali secara paksa.

 

Padahal dia cuma tersenyum lembut dengan kesan "Ada apa?", tapi dadanya terasa sangat berdebar-debar.

 

Sensasi yang aneh. Rasa tenang yang justru bikin tidak tenang.

 

Kalau tidak hati-hati, dia merasa bakal mengekspos dirinya yang polos tanpa pertahanan bagaikan sedang menghadapi keluarga yang sudah terbiasa, sehingga dia tidak bisa mengendurkan kewaspadaan.

 

Padahal dia berpikir tidak boleh mengendurkan kewaspadaan... namun melihat senyuman lembut Maria, rasa waspada dan pengendalian dirinya rasanya bisa terurai begitu saja dengan mudah. Seolah ingin memasrahkan tubuhnya pada udara tenang dan nyaman yang dipancarkannya...

 

"Kami kembali."

 

"...Kembali."

 

"Aa~h Alya-chan, Yuki-chan, selamat datang kembali~"

 

Pada saat itu, Yuki dan Alisa yang pergi berdiskusi telah kembali, dan seketika itu juga ekspresi Maria melunak berantakan.

 

Atmosfer sosok kakak perempuan lembut nan penuh kasih sayang yang dipancarkannya hingga saat itu langsung menguap dalam sekejap... dan yang ada di sana hanyalah seorang kakak perempuan santai yang sangat menyayangi adiknya.

 

(Nggak, apaan perbedaannya drastis begitu!?)

 

Atas perubahan sikap yang sangat mendadak itu, Masachika refleks hampir tersungkur.

 

Tanpa memedulikan Masachika yang seperti itu, Maria memajang senyum santai lalu melangkah menuju rak tempat peralatan makan dan teh disimpan.

 

"Kalian berdua mau minum teh juga?"

 

"Ah, saya mau."

 

"...Minum."

 

"I~ya, tunggu sebentar ya~?"

 

Sambil bergumam lagu dengan suara yang sangat cerah, Maria menyiapkan teh. Menatap punggung itu dengan pandangan mata yang sulit dijelaskan, Alisa yang duduk di sebelah memindahkan badannya beserta kursinya ke dekat Masachika.

 

Saat menoleh, Alisa yang duduk di posisi yang entah kenapa terasa sangat dekat, menatap ke arah sini dengan mata yang seolah ingin bilang, "Ada komplain?".

 

"...Apa?"

 

"Nggak... rasanya, agak dekat tidak?"

 

Saat Masachika bertanya secara lurus, Alisa berkata sambil melirik tipis ke arah sisi sebaliknya.

 

"...Di Rusia, wanita muda yang duduk di kursi sudut itu nasibnya buruk tahu."

 

"Eh? Begitukah?"

 

"Benar."

 

Setelah berkata demikian, dia kembali menggeser kursinya dengan keras, lalu duduk di jarak di mana sikunya hampir bersentuhan dengan siku Masachika. Lalu, dia menatap Yuki dengan mata yang terkesan menyergap.

 

(Nggak, tapi tetap saja dekat! Terus apa-apaan mata itu! Eh, situasi gawat? Apakah situasi gawat nih?)

 

Alisa yang menatap Yuki dengan raut agak waspada. Yuki yang membalas tatapan Alisa itu dengan *archaic smile* yang tidak bisa dibaca emosinya.

 

Merasakan kilatan percikan api melintas di antara mereka berdua untuk sesaat, Masachika berniat menjauhkan kursinya karena merasa tidak nyaman... dan menyadari gerakan tersebut, Alisa menggaet ujung lengan baju kiri Masachika yang terulur di atas meja memakai tangan kirinya.

 

Di bawah meja, ujung lengan bajunya digaet oleh gadis di sebelah seolah ingin bilang "Jangan pergi". Kalau cuma mendengarkan bagian ini saja, bisa dibilang situasi yang sangat moe.

 

Namun, perasaan Masachika yang sebenarnya dihadapkan pada situasi tersebut adalah...

 

(Tidaaak! Lepaskan!! Situasi seperti ini, aku tidak sanggup menahannyaa!!)

 

Serasa menjadi pria berselingkuh yang dua wanitanya mendadak berpapasan di tempat yang sama. Dia berniat melarikan diri dari tempat itu dengan sekuat tenaga.

 

(Kenapa! Kenapa jadi begini!? Tolong aku Masha-sa~n!)

 

Tanpa sanggup menahannya lagi dia menoleh ke belakang, lalu Masachika mengajak Maria yang sedang menyeduh teh mengobrol.

 

"...Begitu kata Alya sih, tapi apa beneran ada mitos semacam itu ya?"

 

"Ada lho~? Lebih tepatnya, bukannya nasib buruk, tapi katanya pernikahan bakal terlambat sih."

 

Setelah berkata demikian, Maria menoleh dengan wajah yang entah kenapa terlihat gembira, lalu menatap Alisa dengan mata berbinar-binar.

 

"Meski begitu, tidak disangka Alya-chan memikirkan hal seperti itu... jangan-jangan, sudah menemukan orang yang ingin dinikahi!?"

 

"...Mana mungkin. Cuma suasana hati saja kok."

 

"Eee~? Beneran~?"

 

"Ngotot banget."

 

"Beneran deh, Alya-chan ini."

 

Maria menggembungkan pipinya, lalu memalingkan wajahnya kembali.

 

Setelah melirik ke arah sana sejenak, Alisa menjatuhkan pandangan matanya ke tangannya yang menggaet lengan baju Masachika, lalu berbisik dengan suara yang sangat pelan.

 

【結婚は、まだ早いわ】(Menikah itu, masih terlalu cepat)

 

Suara yang sangat pelan. Namun bagi Masachika yang berada pada jarak sejauh ini, dia bisa mendengarkannya secara jelas.

 

(Benar juga ya~ kan masih lima belas tahun ya~? Cara mengatakannya agak bikin penasaran sih, tapi kalau dipikir secara norma umum pernikahan memang masih terlalu dini kan~? Nggak, padahal ada kakakmu tapi kamu tetap melancarkan serangan juga!!)

 

Di situasi di mana ada kakaknya yang paham bahasa Rusia di belakangnya pun, Alisa tetap tidak mengendurkan posisi menyerangnya (?), membuat Masachika merinding ketakutan.

 

Lantas, di sana terdengar suara Maria meletakkan cangkir teh ke atas baki, dan Alisa melepaskan tangannya dengan cepat. Tidak lama kemudian, Maria membawakan teh untuk porsi Alisa dan Yuki.

 

"I~ya Alya-chan. Silakan ini lebih dulu."

 

Lalu, dia meletakkan piring kecil di hadapan Alisa terlebih dahulu. ...Piring kecil yang ditumpuki selai begitu menggunung, hingga rasanya hampir satu botol penuh digunakan di sana.

"...Apa sih."

 

"Nggak, bukan apa-apa..."

 

Memalingkan pandangan matanya dengan cepat, Masachika memasukkan sisa selai yang tinggal sedikit ke dalam tehnya dengan wajah pura-pura tidak tahu.

 

Mengaduknya hingga berbunyi klak-klik memakai sendok, lalu meminumnya sampai habis dalam satu tegukan.



(……Yup, ternyata beneran minuman yang berbeda ya.)

 

Tampaknya takaran selainya terlalu banyak, sehingga rasa manis tersisa di dalam mulut dan membuat Masachika mengernyitkan bibir. Di saat itu, mendadak Yuki mengangkat suara.

 

"Anu…… Sarashina-senpai pergi ke mana ya?"

 

"Eh? A…… kalau dipikir-pikir kapan senior yang satu itu bakal kembali?"

 

Saat memiringkan kepala setelah mengonfirmasi jam dinding, Touya yang meletakkan cangkir tehnya berkata sambil mengedikkan bahu.

 

"Chisaki sedang membantu komite perpustakaan. Yah…… kalau lapar nanti juga bakal kembali kok."

 

"Nggak, kanak-kanak banget."

 

Tepat di saat Masachika refleks melayangkan protes tersebut, pintu ruang OSIS terbuka lebar diiringi suara gemuruh keras.

 

"Wangi banget!"

 

"Beneran kanak-kanak dong."

 

Terhadap Chisaki yang menerobos masuk dengan mata berbinar-binar, Masachika pun refleks melayangkan protes.



Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close