NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

10-nen-buri Ni Saikai Shita Kusogaki Wa Seijun Bishoujo Jk Volume 1 Epilog

Epilog


1

"Ya ampun, akhirnya Isamu-nii sadar juga ya. Dasar cowok tidak peka."

Mahiru yang sedang duduk di tepi tempat tidurku berkata dengan nada pasrah.

Dia mengenakan kemeja polo yang tampak sejuk dengan kancing terbuka penuh, serta gelang kain hitam yang biasa melingkar di pergelangan tangan kirinya yang ramping.

"Benar-benar deh, coba bayangkan betapa malunya perasaanku selama dua bulan ini."

Miya menyandarkan tubuh bagian atasnya ke meja sambil menghela napas.

"Berisik! Lagipula Mahiru, Ibu, dan yang lainnya juga bersikap seolah kalian orang lain, jadi wajar saja kalau aku tidak sadar!"

Ini adalah hari setelah aku menyadari bahwa gadis cantik misterius itu adalah Miya.

Hari ini, Miya dan Mahiru datang ke rumahku bersama-sama.

Meski ini adalah pemandangan yang sudah tidak asing, melihat mereka berdua lagi setelah mengetahui identitas aslinya terasa menyegarkan. Tidak, lebih tepatnya ini memberikan perasaan yang penuh dengan nostalgia.

"Soal itu, aku juga merasa bersalah, kok."

"Maaf ya, kami sampai harus melibatkan banyak orang."

"Tapi aku benar-benar tidak menyangka kalau kamu bakalan tidak sadar sampai sejauh ini."

"Sepertinya salahku juga karena berasumsi kalau kamu bakal berubah jadi gyaru atau anak berandalan. Tapi kalau soal itu, Mahiru sama sekali tidak berubah sejak masih jadi bocah nakal dulu, makanya aku langsung sadar, ya ampun."

Aku menganalisis situasi ini dengan tenang.

"Perasaanku jadi agak campur aduk mendengarnya. Yah, kalau dari penampilannya saja, Miya memang terlihat seperti tipe gadis suci nan polos, sih."

Ketika Mahiru mengatakan hal itu, Miya mengerutkan keningnya.

"Hanya penampilannya saja?"

"Benar juga, aku bisa sadar karena sifatnya masih sama seperti bocah nakal yang dulu."

"Tunggu dulu, kenapa Isamu-nii juga ikut-ikutan."

"Kalau kamu bisa tahu itu Miya hanya dari kebiasaannya saat mengusap air mata, seharusnya kamu bisa sadar lebih cepat, lho."

"Kalau dipikir-pikir lagi, memang ada banyak petunjuk, ya. Ngomong-ngomong, Miya, memakai jepit rambut anak-anak padahal sudah SMA itu lumayan memalukan."

"Jangan ungkit-ungkit bagian itu, dong!"

Suara tawa yang cukup riuh bergema di seluruh penjuru kamar.

Ah, momen ini benar-benar membuatku bernostalgia.

Adegan dari sepuluh tahun yang lalu terlintas kembali di benakku secara alami. Dulu aku menghabiskan hari-hari yang kacau balau bersama ketiga bocah nakal ini.

Jika dibandingkan dengan masa lalu, memang ada beberapa hal yang berubah dari mereka berdua. Namun, hal-hal yang paling penting masih tetap sama seperti saat itu.

"Apakah Asaka akan pulang saat liburan musim panas nanti?"

"Biasanya sih dia selalu mudik kalau ada libur panjang. Mengingat dia ada di Kanagawa, kadang dia juga mampir pulang pergi dalam sehari."

"Tentu saja berbeda dengan seseorang yang tidak pernah pulang sekalipun selama sepuluh tahun."

Mahiru menatapku dengan pandangan usil.

"Ukh, telingaku panas mendengarnya."

"Tapi saat libur Golden Week tahun ini dia tidak pulang, ya."

Miya mengatakannya dengan raut wajah khawatir.

"Ya, itu memang tidak biasa. Apa mungkin dia sedang sibuk?"

"Tapi dia pasti akan pulang saat libur musim panas nanti, kan."

Setelah mengatakan itu, Mahiru meregangkan tubuhnya lebar-lebar.

Pada saat bersamaan, kain kemeja polonya ikut tertarik ke atas, memperlihatkan perutnya yang putih dan ramping.

"Tunggu sebentar, Mahiru! Kenapa kamu tidak memakai baju dalam?"

Miya buru-buru menutupi perut Mahiru dengan panik.

"Apa masalahnya, sih."

"Hahaha."

"Isamu-nii, kamu tidak boleh lihat! Tunggu, kalau kamu mencondongkan tubuh ke belakang begitu, bagian dalam rokmu bakalan—"

Mereka ini memang tidak pernah bisa tenang seperti biasanya.

Akan tetapi, keributan ini terasa begitu nyaman bagiku.

Sekarang sudah ada dua dari tiga orang.

Hanya tinggal satu orang lagi yang kurang.

Sisanya, kami tinggal menunggu kepulangan Asaka.

 

2

Rambut hitam berkilau yang tergerai hingga ke punggung dan kulit putih yang lembut. Sepasang mata bagaikan permata yang mengintip dari balik kacamata.

Dada bervolume yang menonjol tegas serta sepasang kaki dan pinggul yang ramping nan kencang.

Kecantikannya begitu luar biasa hingga mampu menarik perhatian siapa saja, baik pria maupun wanita. Bahkan, pesonanya itu sampai membuat beberapa orang merasa iri dan enggan mendekat.

Gadis itu kembali ke kamar asramanya lalu menjatuhkan diri di atas tempat tidur.

Ada sebuah bingkai yang didirikan di meja samping tempat tidur. Bingkai itu memajang foto yang menampilkan seorang remaja laki-laki dan tiga anak perempuan.

Itu adalah sebuah potret dari masa-masa yang tidak akan pernah bisa kembali lagi.

"Isamu-nii."

Sambil memimpikan kenangan masa lalu itu, dia—Gendouji Asaka, kembali tertidur hari ini.



Final Chapter | ToC | Afterword

Post a Comment

Post a Comment

close