Epilog
1
"Ya ampun, akhirnya Isamu-nii sadar juga ya. Dasar
cowok tidak peka."
Mahiru yang sedang duduk di tepi tempat tidurku berkata
dengan nada pasrah.
Dia mengenakan kemeja polo yang tampak sejuk dengan
kancing terbuka penuh, serta gelang kain hitam yang biasa melingkar di
pergelangan tangan kirinya yang ramping.
"Benar-benar deh, coba bayangkan betapa malunya
perasaanku selama dua bulan ini."
Miya menyandarkan tubuh bagian atasnya ke meja sambil
menghela napas.
"Berisik! Lagipula Mahiru, Ibu, dan yang lainnya
juga bersikap seolah kalian orang lain, jadi wajar saja kalau aku tidak
sadar!"
Ini adalah hari setelah aku menyadari bahwa gadis cantik
misterius itu adalah Miya.
Hari ini, Miya dan Mahiru datang ke rumahku bersama-sama.
Meski ini adalah pemandangan yang sudah tidak asing,
melihat mereka berdua lagi setelah mengetahui identitas aslinya terasa
menyegarkan. Tidak, lebih tepatnya ini memberikan perasaan yang penuh dengan
nostalgia.
"Soal itu, aku juga merasa bersalah, kok."
"Maaf ya, kami sampai harus melibatkan banyak
orang."
"Tapi aku benar-benar tidak menyangka kalau kamu
bakalan tidak sadar sampai sejauh ini."
"Sepertinya salahku juga karena berasumsi kalau kamu
bakal berubah jadi gyaru atau anak berandalan. Tapi kalau soal itu, Mahiru sama
sekali tidak berubah sejak masih jadi bocah nakal dulu, makanya aku langsung
sadar, ya ampun."
Aku menganalisis situasi ini dengan tenang.
"Perasaanku jadi agak campur aduk mendengarnya.
Yah, kalau dari penampilannya saja, Miya memang terlihat seperti tipe gadis
suci nan polos, sih."
Ketika Mahiru mengatakan hal itu, Miya mengerutkan
keningnya.
"Hanya penampilannya saja?"
"Benar juga, aku bisa sadar karena sifatnya masih
sama seperti bocah nakal yang dulu."
"Tunggu dulu, kenapa Isamu-nii juga
ikut-ikutan."
"Kalau kamu bisa tahu itu Miya hanya dari
kebiasaannya saat mengusap air mata, seharusnya kamu bisa sadar lebih cepat,
lho."
"Kalau dipikir-pikir lagi, memang ada banyak
petunjuk, ya. Ngomong-ngomong, Miya, memakai jepit rambut anak-anak padahal
sudah SMA itu lumayan memalukan."
"Jangan ungkit-ungkit bagian itu, dong!"
Suara tawa yang cukup riuh bergema di seluruh penjuru
kamar.
Ah, momen ini benar-benar membuatku bernostalgia.
Adegan dari sepuluh tahun yang lalu terlintas kembali
di benakku secara alami. Dulu aku menghabiskan hari-hari yang kacau balau
bersama ketiga bocah nakal ini.
Jika dibandingkan dengan masa lalu, memang ada
beberapa hal yang berubah dari mereka berdua. Namun,
hal-hal yang paling penting masih tetap sama seperti saat itu.
"Apakah Asaka akan pulang saat liburan musim panas
nanti?"
"Biasanya sih dia selalu mudik kalau ada libur
panjang. Mengingat dia ada di Kanagawa, kadang dia juga mampir pulang pergi
dalam sehari."
"Tentu saja berbeda dengan seseorang yang tidak
pernah pulang sekalipun selama sepuluh tahun."
Mahiru menatapku dengan pandangan usil.
"Ukh, telingaku panas mendengarnya."
"Tapi saat libur Golden Week tahun ini dia tidak
pulang, ya."
Miya mengatakannya dengan raut wajah khawatir.
"Ya, itu memang tidak biasa. Apa mungkin dia
sedang sibuk?"
"Tapi dia pasti akan pulang saat libur musim
panas nanti, kan."
Setelah mengatakan itu, Mahiru meregangkan tubuhnya
lebar-lebar.
Pada saat bersamaan, kain kemeja polonya ikut tertarik ke
atas, memperlihatkan perutnya yang putih dan ramping.
"Tunggu sebentar, Mahiru! Kenapa kamu tidak memakai
baju dalam?"
Miya buru-buru menutupi perut Mahiru dengan panik.
"Apa masalahnya, sih."
"Hahaha."
"Isamu-nii, kamu tidak boleh lihat! Tunggu, kalau
kamu mencondongkan tubuh ke belakang begitu, bagian dalam rokmu bakalan—"
Mereka ini memang tidak pernah bisa tenang seperti
biasanya.
Akan tetapi, keributan ini terasa begitu nyaman bagiku.
Sekarang sudah ada dua dari tiga orang.
Hanya tinggal satu orang lagi yang kurang.
Sisanya, kami tinggal menunggu kepulangan Asaka.
2
Rambut hitam berkilau yang tergerai hingga ke
punggung dan kulit putih yang lembut. Sepasang mata bagaikan permata yang
mengintip dari balik kacamata.
Dada bervolume yang menonjol tegas serta sepasang
kaki dan pinggul yang ramping nan kencang.
Kecantikannya begitu luar biasa hingga mampu menarik
perhatian siapa saja, baik pria maupun wanita. Bahkan, pesonanya itu sampai
membuat beberapa orang merasa iri dan enggan mendekat.
Gadis itu kembali ke kamar asramanya lalu menjatuhkan
diri di atas tempat tidur.
Ada sebuah bingkai yang didirikan di meja samping
tempat tidur. Bingkai itu memajang foto yang menampilkan seorang remaja
laki-laki dan tiga anak perempuan.
Itu adalah sebuah potret dari masa-masa yang tidak
akan pernah bisa kembali lagi.
"Isamu-nii."
Sambil memimpikan kenangan masa lalu itu,
dia—Gendouji Asaka, kembali tertidur hari ini.



Post a Comment