NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

10-nen-buri Ni Saikai Shita Kusogaki Wa Seijun Bishoujo Jk Volume 2 Chapter 2

Chapter 2

Penjara Kenangan


1

Pagi seorang Aritsuki Shun selalu dimulai lebih awal.

Saat langit mulai memutih, dia sudah terbiasa bangun setiap pagi tepat pukul lima.

Agar tidak membangunkan istrinya, dia menyelinap keluar dari tempat tidur lalu melangkah menuju dapur di lantai bawah.

Dia meminum kopi hitam panas untuk menyegarkan diri, mengusir rasa kantuk yang tersisa dengan rasa pahit.

"Haaah."

Baik musim panas maupun musim dingin, dia sudah menetapkan aturan bahwa minuman pertama yang masuk ke mulutnya saat bangun adalah kopi hitam panas.

Tanpa gula, tanpa susu. Menurut pendiriannya, inilah rasa kopi yang sesungguhnya.

Meneguk minuman yang sama setiap pagi juga bertujuan untuk memeriksa kondisi lidahnya pada hari itu.

Bagi seorang pemilik yang memimpin 〈Moon Night Terrace〉, kopi adalah jalan hidupnya sendiri.

"...Enak."

Hati Shun terasa tenang karena lidahnya tampaknya tidak tumpul hari ini. Setelah membersihkan area sekitar dapur, dia kembali ke kamar.

Istrinya ternyata masih tertidur lelap. Dia melangkah perlahan-lahan mendekati lemari pakaian.

Sejak memiliki kedai, dia selalu mengulang rutinitas yang sama setiap pagi, tetapi istrinya tidak pernah terbangun sekali pun.

Setelah selesai bersiap-siap, dia melangkah ke luar. Hujan sempat turun semalam, tetapi tanah hanya sedikit basah. Kondisi yang sangat bagus.

Dengan berlari-lari kecil, dia menuju area parkir di seberang jalan.

Dia membuka garasi di bagian dalam, naik ke dalam Supra putih kesayangannya, lalu menyalakan mesin.

Sambil merasakan getaran yang merambat dari kursi, jemarinya menggenggam lingkar kemudi. Rasa gembira bagaikan kembali ke masa kanak-kanak berdesir ke seluruh tubuhnya.

Meski sudah menunggangi mobil yang sama selama hampir tiga puluh tahun, setiap pagi dia merasa heran pada dirinya sendiri karena masih bisa selugu ini.

"Mari kita berangkat."

Rutinitas pagi Shun baru benar-benar dimulai dari sini.

Sebagai orang yang sering terikat sepanjang hari di tempat kerja yang sekaligus rumahnya, hanya pada waktu pagi inilah dia bisa bebas mengendarai mobil.

Hari ini mari pergi ke Gunung Fuji.

Dia mengarah ke utara menembus pusat kota, melewati jalan pintas, lalu memasuki jalur pendakian.

Gunung Fuji yang menjadi tujuannya muncul sebagai bayangan raksasa di tengah kegelapan pagi yang samar.

Di tengah jalan, dia membeli kopi kaleng di mesin penjual otomatis.

Shun adalah orang yang sangat selektif soal kopi, sehingga kopi kaleng dengan rasa manis buatan tidak cocok dengan lidahnya.

Namun anehnya, khusus saat mengemudi, pendirian ketat itu bisa berubah drastis.

"Ooh."

Kopi kaleng yang diminum di dalam kabin mobil yang sempit anehnya terasa sangat nikmat.

Setelah beristirahat sejenak, dia kembali memacu mobilnya.

Diiringi raungan twin turbo dan deru angin sebagai musik latar, dia memacu kendaraan menembus Gunung Fuji di pagi hari.

Ingatannya melayang kembali ke masa-masa saat dirinya dijuluki 'Serigala Putih Fuji'.

Pohon-pohon hijau membentang di sisi kiri dan kanan.

Begitu menanjak di jalanan yang berbelok-belok, mobilnya memasuki area lingkar Fuji Skyline. Sebuah jalanan yang nyaman dilalui dengan deretan tikungan yang relatif landai.

Tidak lama kemudian, sang Serigala Putih yang melintasi lereng gunung tiba di persimpangan bekas gerbang tol.

Jika berbelok ke kiri, itu adalah jalur utama Fuji Skyline, yaitu area pendakian menuju stasiun kelima.

Dia ingin terus menanjak sampai ke stasiun kelima, tetapi sayangnya pekerjaan pagi ini cukup menumpuk.

Dia melakukan putar balik, dan kali ini menelusuri jalanan menurun.

Sambil membiarkan suara decit ban bergema di Gunung Fuji yang tenang pada pagi hari, dia meluncur turun sekaligus.

Sesampainya di rumah, anaknya, Yuu, sedang membersihkan area sekitar kedai.

"Ah, Ayah. Pas sekali sudah pulang."

"Ada apa?"

"Anu, aku ingin beli mobil, tapi Ayah paham soal mobil, kan?"

◇

Di dalam kedai 〈Moon Night Terrace〉.

Setelah memperhitungkan waktu Ayah kembali dari sesi mengemudi pagi, aku berkonsultasi mengenai rencana pembelian mobil.

Ayah sejak dulu memang sangat menyukai mobil, dan waktu aku masih kecil dulu dia sering mengajakku jalan-jalan naik mobil.

Saat hari libur, kegiatannya kalau tidak mengemudi ya mengulik mobil, sampai-sampai saat masih kecil aku pernah berpikir apa dia tidak punya hobi lain.

Aku mendengarkan pendapatnya sambil melakukan persiapan pagi dan membersihkan kedai.

"Berapa anggaran yang kamu punya?"

"Yah, tabunganku ada sekitar enam juta yen, sih."

"Punya uang sebanyak itu?!"

Ayah yang biasanya pendiam mendadak bersuara keras karena terkejut.

"Ya, begitulah."

Selama di Tokyo aku hanya menggunakan uang untuk kebutuhan hidup—atau lebih tepatnya tidak punya waktu untuk menghabiskan uang demi hobi—sehingga selama sepuluh tahun ini tabunganku terkumpul cukup pesat.

"Kalau punya uang sebanyak itu sih sudah lebih dari cukup. Lalu, mobil seperti apa yang kamu inginkan?"

"Hmm, untuk saat ini aku cuma butuh untuk transportasi sehari-hari, jadi tidak punya keinginan yang muluk-muluk, sih."

Sambil merapikan persiapan sebelum kedai dibuka, kami melanjutkan pembicaraan.

"Tapi ya, mumpung beli mobil sendiri, sepertinya yang kelihatan keren boleh juga."

"...Kalau memilih berdasarkan penampilan nanti bisa menyesal, tapi ya sudahlah. Yuu, kamu bisa mengendarai mobil persneling?"

Mobil persneling yang dimaksud pasti mobil manual.

Ngomong-ngomong, kenapa ya generasi orang tua selalu menyebutnya persneling?

"Aku malah cuma pernah menyetir mobil manual. Soalnya mobil kantor semuanya manual."

Saat aku berkata begitu, mata Ayah berbinar-binar gembira.

"Kalau begitu mumpung ada kesempatan, bagaimana kalau pilih mobil sport saja?"

"Mobil sport, ya... Tapi rasanya kelihatan sulit dioperasikan."

"Mobil pertama kan ujung-ujungnya bakal mentok juga, pakai mobil kecil bekas saja kan sudah cukup."

Ibu yang sedang memasak sarapan di dapur datang membawa nampan. Roti panggang, telur mata sapi, dan salad ditata di atas meja terdekat.

"Tidak kok, aku kan bukan pengemudi pemula atau pengemudi yang jarang menyetir."

Aku ini sudah sepuluh tahun menjalankan tugas sales pengiriman sambil dikejar tenggat waktu dan komplain pelanggan, lho. Jangan meremehkanku, dong.

"Aturan makin tahun makin ketat, jadi bisa membeli mobil sport manual dalam kondisi baru mungkin ini kesempatan terakhir kita, Yuu. Syukurlah Toyota masih berusaha keras, tapi di zaman sekarang, tidak heran kalau mobil sport bisa menghilang kapan saja dari jajaran mobil baru. Lagipula—"

Ayah yang biasanya hemat bicara mendadak menjadi sangat cerewet. Di sampingnya, Ibu menghela napas panjang.

"Karena itu uangmu, terserah kamu mau menggunakannya bagaimana. Tapi karena ini pembelian besar, pertimbangkanlah baik-baik. Masukan dari si gila mobil di sebelahmu itu dengarkan setengahnya saja."

"Benar juga."

"Rekomendasi pribadiku sih GR Yari—"

"Ayah! Itu kan cuma mobil yang kamu inginkan sendiri!"

Terkena bentakan keras dari Ibu, punggung Ayah langsung ditegakkan, lalu dia berjalan lesu menuju meja untuk menyantap sarapannya.

Kemudian, setelah melihat Ibu kembali ke dapur, dia melirik sedikit ke arahku.

"Kalau mau konsultasi soal mobil, coba tanya ke Taichi juga."

"Ah, Ta-chan juga paham banyak hal, ya."

Ta-chan, alias Haruyama Taichi, adalah ayahnya Miya. Dia adalah teman Ayah yang sering mengajakku bermain sejak aku masih kecil.

Karena hubungan itulah aku memanggilnya 'Ta-chan'.

Dia juga sangat menyukai mobil, jadi nanti saat bertemu aku akan mencoba berkonsultasi dengannya.

Untuk membeli mobil, memang pertama-tama harus datang ke dealer, lalu mencoba test drive. Tapi sebelum itu, aku harus menentukan arah dan kriteria mobil seperti apa yang ingin kubeli terlebih dahulu.

Meskipun begitu, begitu memantapkan hati untuk membeli mobil, rasanya dadaku mendadak berdebar penuh antusias.

Rasanya persis seperti sensasi gembira yang bergejolak di seluruh tubuh saat seorang anak kecil membawa pulang mainan baru yang baru saja dibelikan.

Aku merasa bahwa mencoba tantangan baru itu adalah hal yang penting, tidak peduli berapa pun usiamu.

Hari itu, pikiran mengenai mobil terus membayangi sudut benakku sampai aku tertidur.

 

2

G-Gawat.

Aku harus segera menyelinap keluar.

Sesuatu yang hangat dan empuk sedang memeluk wajahku.

Sambil mengembuskan napas halus saat tidur, Mahiru tertidur lelap sambil memeluk kepalaku di dadanya.

Tidur berdampingan dengan siswi SMA aktif adalah tindakan yang sangat terlarang secara hukum sosial.

Tidak, posisi ini bahkan sudah jauh melampaui level sekadar tidur berdampingan.

Kalau ada orang yang melihatnya, tidak heran kalau aku bakal dilaporkan ke polisi.

Bagaimana bisa situasinya berubah menjadi seperti ini?

Kalau tidak salah ingat, aku ingat Mahiru datang bermain karena kegiatan klubnya sedang libur, tapi...

◇

Waktu mundur sedikit ke belakang, tepat saat Aritsuki terbangun sesudah pukul delapan pagi.

 

"Uuuh..."

Rasa sakit yang tumpul menyebar di bagian dalam kepalaku, dan rasa haus di tenggorokan tidak kunjung hilang. Begitu bergerak sedikit saja, isi perutku rasanya ingin keluar kembali.

"Uek."

Ini adalah apa yang disebut dengan hangover.

Mungkin karena mewarisi gen Ayah, aku tidak begitu kuat minum alkohol. Aku adalah pria hemat yang sudah bisa mabuk berat hanya dengan satu kaleng bir ukuran 350 ml.

Karena tahu batas kemampuanku sendiri, aku hampir tidak pernah minum sampai berakibat buruk pada keesokan harinya. Namun semalam, lawanku adalah orang yang salah.

Ibuku, Aritsuki Sayaka, adalah seorang peminum berat.

Ibu biasa minum-minum sebelum hari libur, dan inilah hasilnya setelah aku menemaninya.

Aku sudah tahu sejak kecil kalau Ibu suka minum, tetapi karena sepuluh tahun berada di Tokyo, baru semalam kami benar-benar minum bersama secara serius.

Dimulai dari bir, mizuwari, hingga sake Jepang, ritme minumnya sangat cepat. Namun Ibu tetap santai seolah-olah hanya sedang meminum air putih biasa.

Melihat Ibu yang seperti itu, aku jadi ikut-ikutan menaikkan tempo minum karena berpikir besok adalah hari libur.

"G-Gawat ini..."

Sambil berusaha keras untuk bangun dari tempat tidur, aku melangkah menuju dapur di lantai bawah untuk mencari air minum.

Meskipun sudah meneguk tiga gelas air dingin ke dalam perut, rasa mual sama sekali tidak mereda.

Malah tubuhku terasa makin dingin dan membuat kondisi badanku makin memburuk.

Benar juga, aku pernah mendengar dari seseorang bahwa dalam kondisi seperti ini disiram air hangat saat mandi akan terasa bagus. Aku pun bergegas menuju kamar mandi.

Setelah mengguyur kepala dengan air hangat, aku mencoba meminum teh hangat.

Kondisinya memang terasa lebih mendingan dibanding tadi, tapi itu hanya sebatas sedikit lebih baik. Rasa sakit yang menusuk di kepala sama sekali tidak berubah.

"Uwaaah."

Pada saat itulah, bel pintu rumah berbunyi.

Dengan langkah sempoyongan aku berjalan menuju pintu masuk.

"...Iya."

"Yo!"

"Ooh, Mahiru, ya."

Mahiru mengenakan kaus putih dan rok mini hitam yang memberikan kesan sejuk.

Di tangan kirinya terpasang gelang yang biasa, sementara kakinya dibungkus sepatu kets putih. Secara keseluruhan penampilannya dipadukan dengan gaya monokrom.

Aku menyuruh Mahiru masuk ke dalam kamar. Saat ditanya, ternyata kegiatan klubnya sedang libur.

"Wah, akhirnya dapat libur setelah sekian lama! Selama ini latihan terus sampai aku capek banget."

"Kamu sudah berjuang keras, ya, Mahiru."

"Kemarin juga digembleng sampai jam delapan malam... Lho, Yuu-nii, wajahmu kelihatan pucat banget?"

"Ini, aku lagi hangover..."

"Kamu tidak apa-apa?"

Dengan wajah cemas Mahiru mengintip ke arahku.

"Jujur saja, rasanya agak gawat."

Aku merebahkan diri di atas tempat tidur.

"Ueegh."

"Yuu-nii suka minum alkohol, ya?"

"Kalau dibilang suka sih suka, tapi aku tidak kuat minum... Uuuh."

"...Kamu benar-benar tidak apa-apa? Mau kuambilkan air minum?"

"T-Tidak usah, kalau air putih aku sudah tidak sanggup lagi."

"Begitu ya."

Mahiru berlutut di tepi tempat tidur lalu mengelus perutku. Usapan lembut tangan Mahiru memang terasa nyaman, tetapi rasanya agak memaluikan.

"Benar juga, kata Mama minuman isotonis bagus kalau lagi hangover, jadi aku belikan dulu, ya."

"Tidak usah, jadi merepotkanmu."

"Sudah tidak apa-apa, tunggu sebentar ya!"

Sambil berkata begitu, Mahiru berlari keluar dari kamar.

Benar, aku ingat sampai di bagian itu.

Mahiru pergi membelikan minuman isotonis... Tapi aku tidak ingat momen saat dia kembali, jadi sepertinya aku ketiduran di tengah-tengah rentang waktu itu.

Tapi, kenapa Mahiru ikut-ikutan tidur di sini?

Ah, tadi dia bilang kegiatan klubnya sibuk, ya. Pasti Mahiru juga merasa sangat lelah.

Meskipun begitu, apa wajar seorang gadis ikut tidur di tempat tidur pria yang sedang tertidur?

Bagaimana sih kesadaran menjaga diri anak ini?!

Pakaiannya juga terkadang terlalu banyak memperlihatkan kulit, bikin aku sebagai figur kakak jadi merasa cemas saja!

Yah, terlepas dari itu, berkat tidur untuk kedua kalinya badanku terasa jauh lebih mendingan, jadi aku harus segera menyelinap keluar.

"..."

Tidak bisa bergerak.

Kepalaku dipeluk oleh lengan kirinya, sementara lengan kanannya memeluk area di bawah bahuku.

Lengan kananku berada di bawah pinggang Mahiru, dan kaki kami saling melilit hingga tidak bisa dilepaskan.

"Mmph..."

Lagipula anak ini punya tenaga yang sangat kuat.

Dikunci seerat ini, aku bahkan merasa seperti sedang terkena teknik kuncian gulat.

Kalau aku memaksa keluar, aku takut bakal tidak sengaja menyentuh bagian sensitif dari tubuh Mahiru.

Bahkan saat ini saja, wajahku sudah terbenam di dadanya Mahiru.

"Ugh..."

Merasakan suhu tubuh dan aroma Mahiru dengan seluruh tubuhku, instingku menjerit bahwa situasi ini sangat berbahaya dalam berbagai arti.




Ditambah lagi, sensasi kenyal dan empuk menyelimuti seluruh tubuhku.

Aku juga seorang pria.

Justru karena itulah, situasi seperti ini sungguh sangat gawat!

"H-Hei, Mahiru, bangun."

Aku mencoba memanggilnya, tetapi respons Mahiru sangat tipis.

"Emmgh..."

"M-Mahiru, bangun. Bangunlah, tolong!"

Sial. Anak ini tertidur sangat lelap.

Apakah aku tidak punya pilihan lain selain menunggu Mahiru terbangun secara alami?

Aroma harum bak bunga merusak akal sehatku, dan bagian tubuhku yang bersentuhan dengan Mahiru terasa panas membara seperti terbakar. Kepalaku rasanya hampir mendidih.

Situasi seperti ini... situasi seperti ini...

"Yuu-nii?"

Pada saat itulah, suara Miya terdengar.

Dengan takut-takut aku menggeser wajahku dan mengarahkan pandangan ke arah pintu. Di sana berdiri Miya dengan tatapan mata yang sangat dingin.

Timing bermain yang sungguh sangat buruk!

"Ini salah paham!"

"A-A..."

"Sama sekali bukan seperti yang kamu bayangkan!"

"A-A-A..."

"Aku cuma..."

"...A-A-A-Apa-apaan yang sedang kalian lakukan?!"

"M-Miya, ini tidak seperti yang kamu lihat!"

"Apaan sih, bising banget..."

Mahiru terbangun.

"Oh, Miya."

"Mahiru, apa-apaan maksudnya ini?!"

"Aah, belakangan ini aku capek banget jadi tidak sengaja ketiduran. Ah, Yuu-nii, Pocari-nya sudah diminum?"

"Mana bisa aku minum dengan posisi begini!"

"P-P-Pokoknya cepat lepas!"

Setelah dipaksa lepas secara paksa oleh Miya, perasaanku menjadi sangat rumit—antara lega sekaligus merasa sangat disayangkan.

 

3

Aku sedang berpikir.

Sebentar lagi adalah hari ulang tahun sahabatku, Miya-chan.

Miya-chan, Mahiru-chan, dan aku.

Ikatan kami bertiga bahkan sudah lebih pantas disebut sebagai saudara kandung daripada sekadar sahabat. Bergaul sejak kelas TK besar, kami bertiga selalu bermain bersama. Sebelum bertemu dengan Yuu-nii, dan bahkan setelah berpisah dengannya, kami bertiga selalu bersama.

Untuk ulang tahun sosok yang begitu penting bagiku, aku sedang bingung apakah harus pulang ke Shizuoka atau tidak.

Hingga tahun lalu, setiap kali hari ulang tahun Miya-chan dan Mahiru-chan tiba, aku selalu pulang ke Fujinomiya untuk menyerahkan hadiah secara langsung.

Namun tahun ini kondisinya sedikit berbeda. Jika aku pulang, orang itu ada di sana. Aku akan bertemu dengan orang itu. Tapi...

"..."

Aku bingung harus bagaimana.

Aku ingin merayakan ulang tahun Miya-chan, dan aku juga ingin bertemu dengan Miya-chan dan yang lainnya.

Karena saat Golden Week tahun ini aku tidak bisa pulang, keinginan untuk bertemu rasa-rasanya menjadi makin kuat.

Namun, kalau aku pulang sekarang, di sana ada orang itu—Yuu-nii.

Sambil berbaring di atas tempat tidur, aku mengambil pemutar musik portabel milikku. Aku memutuskan untuk mendengarkan lagu tema anime yang sering kutonton saat masih kecil.

Ketika sedang memiliki masalah atau memikirkan hal-hal yang rumit, menyelami kenangan adalah pilihan yang paling tepat.

Tidak lama kemudian, melodi yang merindukan mulai mengalun, membawaku kembali ke dalam dunia kenangan. Ke masa kanak-kanak itu, saat segalanya terasa begitu menyenangkan.

Belakangan ini, aku hampir tidak pernah berminat pada penyanyi baru maupun lagu-lagu baru.

Aku hanya mendengarkan lagu-lagu yang membangkitkan kenangan. Aku tidak membutuhkan hal-hal yang baru.

Kemajuan teknologi maupun perkembangan zaman sama sekali tidak kuperlukan. Dunia di dalam kenangan adalah segalanya yang kucari.

Karena lagu sudah mendekati akhir, aku menekan tombol kembali.

Intro lagu kembali mengalun, mengulang lagu dari awal.

Berulang-ulang kali, berulang-ulang kali...

—Aku ingin kembali menjadi anak-anak.

Seorang aktor ditangkap karena terlibat kasus penganiayaan. Dulu sewaktu kecil, dia pernah tampil di acara edukasi yang sering kutonton.

Setiap kali aku mengingat acara tersebut demi mengenang masa kecil, di saat yang sama aku juga akan teringat pada kejahatan yang dilakukannya.

Sosoknya yang tersenyum di dalam layar kaca menjadi saling tumpang tindih dengan dirinya yang kini menjadi seorang kriminal di dunia nyata.

Rasanya seolah-olah kenangan manisku telah dikotori oleh lumpur.

Kenanganku telah dinodai.

Pengisi suara utama dari anime yang kusemporti sewaktu kecil mengaku telah menjadi korban pelecehan seksual oleh sang produser.

 Karya itu sendiri memang tidak bersalah, tetapi aku tidak bisa lagi mengenang anime tersebut dengan perasaan yang murni.

Pusat perbelanjaan yang sering kukunjungi bersama keluarga dan teman-teman sewaktu kecil.

Renovasi dan pergantian penyewa toko terus diulang, merubah tempat itu sedikit demi sedikit.

Sebuah rumah kosong tua di dekat rumah orang tuaku telah dirobohkan. Rumah kosong yang selalu tertangkap oleh mataku setiap kali aku keluar maupun pulang ke rumah.

Pada akhirnya memang tidak ada orang yang tinggal di sana, tetapi rumah itu selalu menjadi bagian dari pemandangan sehari-hariku.

Wahana permainan di taman yang sering kumainkan waktu kecil telah dibongkar. Dengan alasan yang sederhana dan masuk akal—karena berbahaya.

Penampilannya memang menjadi lebih rapi, tetapi setiap kali melewati tempat itu, hatiku terasa dingin dan hampa.

Ketidakcocokan antara pemandangan di dalam kenangan dengan pemandangan di dunia nyata. Aku memang bisa mengingatnya kembali di dalam kepala, tetapi dunia pada masa itu sudah tidak ada lagi di mana pun di bumi ini.

Aku tidak bisa kembali ke masa itu.

Perasaan seperti ini, pasti hanya aku saja yang bisa memahaminya.

Aku tahu betul bahwa ini adalah keinginan yang abnormal.

Tidak akan ada seorang pun yang mampu menghentikan perubahan.

Padahal biarkan saja semuanya tetap sama selamanya.

Kalau diubah, semuanya tidak akan pernah bisa kembali seperti semula, tahu?

Setiap kali terus melanjutkan hidup, tempat-tempat yang menyimpan kenangan akan menghilang satu per satu.

Ketika aku bilang bahwa hidup ini hanya berisi kehilangan, pasti selalu ada orang yang menyanggah dan berkata bahwa hal itu tidak benar.

Cobalah hal-hal baru, bersyukurlah atas pertemuan-pertemuan baru... kata mereka.

Bukan itu maksudku.

Yang ingin kukatakan adalah, ada hal-hal yang sekali hilang, tidak akan pernah bisa kudapatkan kembali untuk kedua kalinya.

Jangan kotori kenanganku.

Jangan rebut kenanganku.

Masa kanak-kanak, masa-masa yang paling menyenangkan dalam hidupku.

Dan Yuu-nii adalah simbol dari masa-masa itu.

Jika sampai dia pun berubah ke arah yang buruk, kenangan paling membahagiakan di masa kecilku pun akan ikut ternodai.

Jika hal seperti itu sampai terjadi, aku pasti tidak akan sanggup untuk terus hidup.

Maka dari itu, aku tidak ingin bertemu dengannya.

Karena aku menyukai Yuu-nii.

Karena Yuu-nii sangat berharga bagiku.

Karena aku ingin Yuu-nii tetap menjadi sosok yang indah seperti yang ada di dalam kenanganku.

Di masa depan, sepanjang hidup yang harus kujalani nanti, seberapa banyak kenangan yang akan hilang dariku?

Di tengah jalan hidup yang terus berlanjut dengan hal-hal yang menyakitkan, aku bisa bertahan berkat kenangan-kenangan berharga di masa kecil.

Tetapi, daripada harus kehilangan Yuu-nii juga, sekalian saja...



Interlude I | ToC | Interlude II

Post a Comment

Post a Comment

close