Chapter
2
Penjara
Kenangan
1
Pagi seorang Aritsuki Shun selalu dimulai lebih awal.
Saat langit mulai memutih, dia sudah terbiasa bangun setiap pagi tepat
pukul lima.
Agar tidak membangunkan istrinya, dia menyelinap keluar dari tempat
tidur lalu melangkah menuju dapur di lantai bawah.
Dia meminum kopi hitam panas untuk menyegarkan diri, mengusir rasa
kantuk yang tersisa dengan rasa pahit.
"Haaah."
Baik musim panas maupun musim dingin, dia sudah menetapkan aturan bahwa
minuman pertama yang masuk ke mulutnya saat bangun adalah kopi hitam panas.
Tanpa gula, tanpa susu. Menurut pendiriannya, inilah rasa kopi yang
sesungguhnya.
Meneguk minuman yang sama setiap pagi juga bertujuan untuk memeriksa
kondisi lidahnya pada hari itu.
Bagi seorang pemilik yang memimpin 〈Moon Night Terrace〉, kopi adalah jalan hidupnya sendiri.
"...Enak."
Hati Shun terasa tenang karena lidahnya tampaknya tidak tumpul hari
ini. Setelah membersihkan area sekitar dapur, dia kembali ke kamar.
Istrinya ternyata masih tertidur lelap. Dia
melangkah perlahan-lahan mendekati lemari pakaian.
Sejak
memiliki kedai, dia selalu mengulang rutinitas yang sama setiap pagi, tetapi
istrinya tidak pernah terbangun sekali pun.
Setelah selesai bersiap-siap, dia melangkah ke luar. Hujan
sempat turun semalam, tetapi tanah hanya sedikit basah. Kondisi yang sangat
bagus.
Dengan
berlari-lari kecil, dia menuju area parkir di seberang jalan.
Dia
membuka garasi di bagian dalam, naik ke dalam Supra putih kesayangannya, lalu
menyalakan mesin.
Sambil merasakan getaran yang merambat dari kursi, jemarinya
menggenggam lingkar kemudi. Rasa gembira bagaikan kembali ke masa kanak-kanak
berdesir ke seluruh tubuhnya.
Meski sudah menunggangi mobil yang sama selama hampir tiga puluh tahun,
setiap pagi dia merasa heran pada dirinya sendiri karena masih bisa selugu ini.
"Mari kita berangkat."
Rutinitas pagi Shun baru benar-benar dimulai dari sini.
Sebagai orang yang sering terikat sepanjang hari di tempat kerja yang
sekaligus rumahnya, hanya pada waktu pagi inilah dia bisa bebas mengendarai
mobil.
Hari
ini mari pergi ke Gunung Fuji.
Dia
mengarah ke utara menembus pusat kota, melewati jalan pintas, lalu memasuki
jalur pendakian.
Gunung
Fuji yang menjadi tujuannya muncul sebagai bayangan raksasa di tengah kegelapan
pagi yang samar.
Di
tengah jalan, dia membeli kopi kaleng di mesin penjual otomatis.
Shun
adalah orang yang sangat selektif soal kopi, sehingga kopi kaleng dengan rasa
manis buatan tidak cocok dengan lidahnya.
Namun
anehnya, khusus saat mengemudi, pendirian ketat itu bisa berubah drastis.
"Ooh."
Kopi
kaleng yang diminum di dalam kabin mobil yang sempit anehnya terasa sangat
nikmat.
Setelah
beristirahat sejenak, dia kembali memacu mobilnya.
Diiringi
raungan twin turbo dan deru angin sebagai musik latar, dia memacu
kendaraan menembus Gunung Fuji di pagi hari.
Ingatannya
melayang kembali ke masa-masa saat dirinya dijuluki 'Serigala Putih Fuji'.
Pohon-pohon
hijau membentang di sisi kiri dan kanan.
Begitu
menanjak di jalanan yang berbelok-belok, mobilnya memasuki area lingkar Fuji
Skyline. Sebuah jalanan yang nyaman dilalui dengan deretan tikungan yang
relatif landai.
Tidak
lama kemudian, sang Serigala Putih yang melintasi lereng gunung tiba di
persimpangan bekas gerbang tol.
Jika
berbelok ke kiri, itu adalah jalur utama Fuji Skyline, yaitu area pendakian
menuju stasiun kelima.
Dia
ingin terus menanjak sampai ke stasiun kelima, tetapi sayangnya pekerjaan pagi
ini cukup menumpuk.
Dia
melakukan putar balik, dan kali ini menelusuri jalanan menurun.
Sambil
membiarkan suara decit ban bergema di Gunung Fuji yang tenang pada pagi hari,
dia meluncur turun sekaligus.
Sesampainya
di rumah, anaknya, Yuu, sedang membersihkan area sekitar kedai.
"Ah,
Ayah. Pas sekali sudah pulang."
"Ada apa?"
"Anu, aku ingin beli mobil, tapi Ayah paham soal mobil, kan?"
◇
Di dalam kedai 〈Moon
Night Terrace〉.
Setelah memperhitungkan waktu Ayah kembali dari sesi mengemudi pagi, aku
berkonsultasi mengenai rencana pembelian mobil.
Ayah sejak dulu memang sangat menyukai mobil, dan waktu aku masih kecil
dulu dia sering mengajakku jalan-jalan naik mobil.
Saat hari libur, kegiatannya kalau tidak mengemudi ya mengulik mobil,
sampai-sampai saat masih kecil aku pernah berpikir apa dia tidak punya hobi
lain.
Aku mendengarkan pendapatnya sambil melakukan persiapan pagi dan
membersihkan kedai.
"Berapa anggaran yang kamu punya?"
"Yah, tabunganku ada sekitar enam juta yen, sih."
"Punya uang sebanyak itu?!"
Ayah yang biasanya pendiam mendadak bersuara keras karena terkejut.
"Ya, begitulah."
Selama di Tokyo aku hanya menggunakan uang untuk kebutuhan hidup—atau
lebih tepatnya tidak punya waktu untuk menghabiskan uang demi hobi—sehingga
selama sepuluh tahun ini tabunganku terkumpul cukup pesat.
"Kalau punya uang sebanyak itu sih sudah lebih dari cukup. Lalu,
mobil seperti apa yang kamu inginkan?"
"Hmm, untuk saat ini aku cuma butuh untuk transportasi
sehari-hari, jadi tidak punya keinginan yang muluk-muluk, sih."
Sambil
merapikan persiapan sebelum kedai dibuka, kami melanjutkan pembicaraan.
"Tapi ya, mumpung beli mobil sendiri, sepertinya yang kelihatan
keren boleh juga."
"...Kalau
memilih berdasarkan penampilan nanti bisa menyesal, tapi ya sudahlah. Yuu, kamu bisa mengendarai mobil persneling?"
Mobil persneling yang dimaksud pasti mobil manual.
Ngomong-ngomong, kenapa ya generasi orang tua selalu menyebutnya
persneling?
"Aku malah cuma pernah menyetir mobil manual. Soalnya mobil kantor
semuanya manual."
Saat aku berkata begitu, mata Ayah berbinar-binar gembira.
"Kalau
begitu mumpung ada kesempatan, bagaimana kalau pilih mobil sport
saja?"
"Mobil
sport, ya... Tapi rasanya kelihatan sulit dioperasikan."
"Mobil pertama kan ujung-ujungnya bakal mentok juga, pakai mobil
kecil bekas saja kan sudah cukup."
Ibu yang sedang memasak sarapan di dapur datang membawa nampan. Roti
panggang, telur mata sapi, dan salad ditata di atas meja terdekat.
"Tidak kok, aku kan bukan pengemudi pemula atau pengemudi yang
jarang menyetir."
Aku ini sudah sepuluh tahun menjalankan tugas sales pengiriman sambil
dikejar tenggat waktu dan komplain pelanggan, lho. Jangan meremehkanku, dong.
"Aturan makin tahun makin ketat, jadi bisa membeli mobil sport
manual dalam kondisi baru mungkin ini kesempatan terakhir kita, Yuu. Syukurlah
Toyota masih berusaha keras, tapi di zaman sekarang, tidak heran kalau mobil sport
bisa menghilang kapan saja dari jajaran mobil baru. Lagipula—"
Ayah yang biasanya hemat bicara mendadak menjadi sangat cerewet. Di
sampingnya, Ibu menghela napas panjang.
"Karena itu uangmu, terserah kamu mau menggunakannya bagaimana.
Tapi karena ini pembelian besar, pertimbangkanlah baik-baik. Masukan dari si
gila mobil di sebelahmu itu dengarkan setengahnya saja."
"Benar juga."
"Rekomendasi pribadiku sih GR Yari—"
"Ayah! Itu kan cuma mobil yang kamu inginkan sendiri!"
Terkena bentakan keras dari Ibu, punggung Ayah langsung ditegakkan,
lalu dia berjalan lesu menuju meja untuk menyantap sarapannya.
Kemudian, setelah melihat Ibu kembali ke dapur, dia melirik sedikit ke
arahku.
"Kalau mau konsultasi soal mobil, coba tanya ke Taichi juga."
"Ah, Ta-chan juga paham banyak hal, ya."
Ta-chan, alias Haruyama Taichi, adalah ayahnya Miya. Dia adalah teman
Ayah yang sering mengajakku bermain sejak aku masih kecil.
Karena hubungan itulah aku memanggilnya 'Ta-chan'.
Dia juga sangat menyukai mobil, jadi nanti saat bertemu aku akan
mencoba berkonsultasi dengannya.
Untuk membeli mobil, memang pertama-tama harus datang ke dealer,
lalu mencoba test drive. Tapi sebelum itu, aku harus menentukan arah dan
kriteria mobil seperti apa yang ingin kubeli terlebih dahulu.
Meskipun begitu, begitu memantapkan hati untuk membeli mobil, rasanya
dadaku mendadak berdebar penuh antusias.
Rasanya persis seperti sensasi gembira yang bergejolak di seluruh tubuh
saat seorang anak kecil membawa pulang mainan baru yang baru saja dibelikan.
Aku merasa bahwa mencoba tantangan baru itu adalah hal yang penting,
tidak peduli berapa pun usiamu.
Hari itu, pikiran mengenai mobil terus membayangi sudut benakku sampai
aku tertidur.
2
G-Gawat.
Aku harus segera menyelinap keluar.
Sesuatu yang hangat dan empuk sedang memeluk wajahku.
Sambil mengembuskan napas halus saat tidur, Mahiru tertidur lelap
sambil memeluk kepalaku di dadanya.
Tidur berdampingan dengan siswi SMA aktif adalah tindakan yang sangat
terlarang secara hukum sosial.
Tidak, posisi ini bahkan sudah jauh melampaui level sekadar tidur
berdampingan.
Kalau ada orang yang melihatnya, tidak heran kalau aku bakal dilaporkan
ke polisi.
Bagaimana
bisa situasinya berubah menjadi seperti ini?
Kalau
tidak salah ingat, aku ingat Mahiru datang bermain karena kegiatan klubnya
sedang libur, tapi...
◇
Waktu
mundur sedikit ke belakang, tepat saat Aritsuki terbangun sesudah pukul delapan
pagi.
"Uuuh..."
Rasa
sakit yang tumpul menyebar di bagian dalam kepalaku, dan rasa haus di
tenggorokan tidak kunjung hilang. Begitu bergerak sedikit saja, isi perutku
rasanya ingin keluar kembali.
"Uek."
Ini
adalah apa yang disebut dengan hangover.
Mungkin
karena mewarisi gen Ayah, aku tidak begitu kuat minum alkohol. Aku adalah pria
hemat yang sudah bisa mabuk berat hanya dengan satu kaleng bir ukuran 350 ml.
Karena
tahu batas kemampuanku sendiri, aku hampir tidak pernah minum sampai berakibat
buruk pada keesokan harinya. Namun semalam, lawanku adalah orang yang salah.
Ibuku,
Aritsuki Sayaka, adalah seorang peminum berat.
Ibu
biasa minum-minum sebelum hari libur, dan inilah hasilnya setelah aku
menemaninya.
Aku
sudah tahu sejak kecil kalau Ibu suka minum, tetapi karena sepuluh tahun berada
di Tokyo, baru semalam kami benar-benar minum bersama secara serius.
Dimulai
dari bir, mizuwari, hingga sake Jepang, ritme minumnya sangat cepat.
Namun Ibu tetap santai seolah-olah hanya sedang meminum air putih biasa.
Melihat
Ibu yang seperti itu, aku jadi ikut-ikutan menaikkan tempo minum karena
berpikir besok adalah hari libur.
"G-Gawat
ini..."
Sambil
berusaha keras untuk bangun dari tempat tidur, aku melangkah menuju dapur di
lantai bawah untuk mencari air minum.
Meskipun
sudah meneguk tiga gelas air dingin ke dalam perut, rasa mual sama sekali tidak
mereda.
Malah
tubuhku terasa makin dingin dan membuat kondisi badanku makin memburuk.
Benar
juga, aku pernah mendengar dari seseorang bahwa dalam kondisi seperti ini
disiram air hangat saat mandi akan terasa bagus. Aku pun bergegas menuju kamar
mandi.
Setelah
mengguyur kepala dengan air hangat, aku mencoba meminum teh hangat.
Kondisinya
memang terasa lebih mendingan dibanding tadi, tapi itu hanya sebatas sedikit
lebih baik. Rasa sakit yang menusuk di kepala sama sekali tidak berubah.
"Uwaaah."
Pada
saat itulah, bel pintu rumah berbunyi.
Dengan
langkah sempoyongan aku berjalan menuju pintu masuk.
"...Iya."
"Yo!"
"Ooh,
Mahiru, ya."
Mahiru
mengenakan kaus putih dan rok mini hitam yang memberikan kesan sejuk.
Di
tangan kirinya terpasang gelang yang biasa, sementara kakinya dibungkus sepatu
kets putih. Secara keseluruhan penampilannya dipadukan dengan gaya monokrom.
Aku
menyuruh Mahiru masuk ke dalam kamar. Saat ditanya, ternyata kegiatan klubnya
sedang libur.
"Wah,
akhirnya dapat libur setelah sekian lama! Selama ini latihan terus sampai aku
capek banget."
"Kamu
sudah berjuang keras, ya, Mahiru."
"Kemarin
juga digembleng sampai jam delapan malam... Lho, Yuu-nii, wajahmu kelihatan
pucat banget?"
"Ini, aku lagi hangover..."
"Kamu tidak apa-apa?"
Dengan wajah cemas Mahiru mengintip ke arahku.
"Jujur saja, rasanya agak gawat."
Aku merebahkan diri di atas tempat tidur.
"Ueegh."
"Yuu-nii
suka minum alkohol, ya?"
"Kalau
dibilang suka sih suka, tapi aku tidak kuat minum... Uuuh."
"...Kamu
benar-benar tidak apa-apa? Mau kuambilkan air minum?"
"T-Tidak
usah, kalau air putih aku sudah tidak sanggup lagi."
"Begitu
ya."
Mahiru
berlutut di tepi tempat tidur lalu mengelus perutku. Usapan lembut tangan
Mahiru memang terasa nyaman, tetapi rasanya agak memaluikan.
"Benar
juga, kata Mama minuman isotonis bagus kalau lagi hangover, jadi aku
belikan dulu, ya."
"Tidak
usah, jadi merepotkanmu."
"Sudah
tidak apa-apa, tunggu sebentar ya!"
Sambil
berkata begitu, Mahiru berlari keluar dari kamar.
Benar,
aku ingat sampai di bagian itu.
Mahiru
pergi membelikan minuman isotonis... Tapi aku tidak ingat momen saat dia
kembali, jadi sepertinya aku ketiduran di tengah-tengah rentang waktu itu.
Tapi,
kenapa Mahiru ikut-ikutan tidur di sini?
Ah, tadi dia bilang kegiatan klubnya sibuk, ya. Pasti
Mahiru juga merasa sangat lelah.
Meskipun begitu, apa wajar seorang gadis ikut tidur di tempat tidur
pria yang sedang tertidur?
Bagaimana
sih kesadaran menjaga diri anak ini?!
Pakaiannya
juga terkadang terlalu banyak memperlihatkan kulit, bikin aku sebagai figur
kakak jadi merasa cemas saja!
Yah,
terlepas dari itu, berkat tidur untuk kedua kalinya badanku terasa jauh lebih
mendingan, jadi aku harus segera menyelinap keluar.
"..."
Tidak
bisa bergerak.
Kepalaku
dipeluk oleh lengan kirinya, sementara lengan kanannya memeluk area di bawah
bahuku.
Lengan
kananku berada di bawah pinggang Mahiru, dan kaki kami saling melilit hingga
tidak bisa dilepaskan.
"Mmph..."
Lagipula
anak ini punya tenaga yang sangat kuat.
Dikunci seerat ini, aku bahkan merasa seperti sedang terkena teknik
kuncian gulat.
Kalau aku memaksa keluar, aku takut bakal tidak sengaja menyentuh
bagian sensitif dari tubuh Mahiru.
Bahkan saat ini saja, wajahku sudah terbenam di dadanya Mahiru.
"Ugh..."
Merasakan suhu tubuh dan aroma Mahiru dengan seluruh tubuhku, instingku menjerit bahwa situasi ini sangat berbahaya dalam berbagai arti.
Ditambah lagi, sensasi kenyal dan empuk menyelimuti seluruh tubuhku.
Aku juga seorang pria.
Justru karena itulah, situasi seperti ini sungguh sangat gawat!
"H-Hei, Mahiru, bangun."
Aku mencoba memanggilnya, tetapi respons Mahiru sangat tipis.
"Emmgh..."
"M-Mahiru, bangun. Bangunlah, tolong!"
Sial. Anak ini tertidur sangat lelap.
Apakah
aku tidak punya pilihan lain selain menunggu Mahiru terbangun secara alami?
Aroma
harum bak bunga merusak akal sehatku, dan bagian tubuhku yang bersentuhan
dengan Mahiru terasa panas membara seperti terbakar. Kepalaku rasanya hampir
mendidih.
Situasi
seperti ini... situasi seperti ini...
"Yuu-nii?"
Pada
saat itulah, suara Miya terdengar.
Dengan
takut-takut aku menggeser wajahku dan mengarahkan pandangan ke arah pintu. Di
sana berdiri Miya dengan tatapan mata yang sangat dingin.
Timing
bermain yang sungguh sangat buruk!
"Ini
salah paham!"
"A-A..."
"Sama
sekali bukan seperti yang kamu bayangkan!"
"A-A-A..."
"Aku cuma..."
"...A-A-A-Apa-apaan
yang sedang kalian lakukan?!"
"M-Miya,
ini tidak seperti yang kamu lihat!"
"Apaan
sih, bising banget..."
Mahiru
terbangun.
"Oh,
Miya."
"Mahiru,
apa-apaan maksudnya ini?!"
"Aah,
belakangan ini aku capek banget jadi tidak sengaja ketiduran. Ah, Yuu-nii,
Pocari-nya sudah diminum?"
"Mana
bisa aku minum dengan posisi begini!"
"P-P-Pokoknya
cepat lepas!"
Setelah
dipaksa lepas secara paksa oleh Miya, perasaanku menjadi sangat rumit—antara
lega sekaligus merasa sangat disayangkan.
3
Aku
sedang berpikir.
Sebentar
lagi adalah hari ulang tahun sahabatku, Miya-chan.
Miya-chan, Mahiru-chan, dan aku.
Ikatan kami bertiga bahkan sudah lebih pantas disebut sebagai saudara
kandung daripada sekadar sahabat. Bergaul sejak kelas TK besar, kami bertiga
selalu bermain bersama. Sebelum bertemu dengan Yuu-nii, dan bahkan setelah
berpisah dengannya, kami bertiga selalu bersama.
Untuk ulang tahun sosok yang begitu penting bagiku, aku sedang bingung
apakah harus pulang ke Shizuoka atau tidak.
Hingga tahun lalu, setiap kali hari ulang tahun Miya-chan dan
Mahiru-chan tiba, aku selalu pulang ke Fujinomiya untuk menyerahkan hadiah
secara langsung.
Namun tahun ini kondisinya sedikit berbeda. Jika aku pulang, orang itu
ada di sana. Aku akan bertemu dengan orang itu. Tapi...
"..."
Aku bingung harus bagaimana.
Aku ingin merayakan ulang tahun Miya-chan, dan aku juga ingin bertemu
dengan Miya-chan dan yang lainnya.
Karena saat Golden Week tahun ini aku tidak bisa pulang, keinginan untuk
bertemu rasa-rasanya menjadi makin kuat.
Namun,
kalau aku pulang sekarang, di sana ada orang itu—Yuu-nii.
Sambil berbaring di atas tempat tidur, aku mengambil pemutar musik
portabel milikku. Aku memutuskan untuk mendengarkan lagu tema anime yang
sering kutonton saat masih kecil.
Ketika
sedang memiliki masalah atau memikirkan hal-hal yang rumit, menyelami kenangan
adalah pilihan yang paling tepat.
Tidak
lama kemudian, melodi yang merindukan mulai mengalun, membawaku kembali ke
dalam dunia kenangan. Ke masa kanak-kanak itu, saat segalanya terasa begitu
menyenangkan.
Belakangan
ini, aku hampir tidak pernah berminat pada penyanyi baru maupun lagu-lagu baru.
Aku
hanya mendengarkan lagu-lagu yang membangkitkan kenangan. Aku tidak membutuhkan hal-hal yang baru.
Kemajuan
teknologi maupun perkembangan zaman sama sekali tidak kuperlukan. Dunia di
dalam kenangan adalah segalanya yang kucari.
Karena
lagu sudah mendekati akhir, aku menekan tombol kembali.
Intro lagu kembali mengalun, mengulang lagu dari awal.
Berulang-ulang kali, berulang-ulang kali...
—Aku
ingin kembali menjadi anak-anak.
Seorang aktor ditangkap karena terlibat kasus penganiayaan. Dulu
sewaktu kecil, dia pernah tampil di acara edukasi yang sering kutonton.
Setiap kali aku mengingat acara tersebut demi mengenang masa kecil, di
saat yang sama aku juga akan teringat pada kejahatan yang dilakukannya.
Sosoknya yang tersenyum di dalam layar kaca menjadi saling tumpang
tindih dengan dirinya yang kini menjadi seorang kriminal di dunia nyata.
Rasanya
seolah-olah kenangan manisku telah dikotori oleh lumpur.
Kenanganku
telah dinodai.
Pengisi
suara utama dari anime yang kusemporti sewaktu kecil mengaku telah menjadi
korban pelecehan seksual oleh sang produser.
Karya itu sendiri memang tidak bersalah,
tetapi aku tidak bisa lagi mengenang anime tersebut dengan perasaan yang murni.
Pusat
perbelanjaan yang sering kukunjungi bersama keluarga dan teman-teman sewaktu
kecil.
Renovasi
dan pergantian penyewa toko terus diulang, merubah tempat itu sedikit demi
sedikit.
Sebuah
rumah kosong tua di dekat rumah orang tuaku telah dirobohkan. Rumah kosong yang
selalu tertangkap oleh mataku setiap kali aku keluar maupun pulang ke rumah.
Pada
akhirnya memang tidak ada orang yang tinggal di sana, tetapi rumah itu selalu
menjadi bagian dari pemandangan sehari-hariku.
Wahana
permainan di taman yang sering kumainkan waktu kecil telah dibongkar. Dengan
alasan yang sederhana dan masuk akal—karena berbahaya.
Penampilannya
memang menjadi lebih rapi, tetapi setiap kali melewati tempat itu, hatiku
terasa dingin dan hampa.
Ketidakcocokan
antara pemandangan di dalam kenangan dengan pemandangan di dunia nyata. Aku
memang bisa mengingatnya kembali di dalam kepala, tetapi dunia pada masa itu
sudah tidak ada lagi di mana pun di bumi ini.
Aku
tidak bisa kembali ke masa itu.
Perasaan
seperti ini, pasti hanya aku saja yang bisa memahaminya.
Aku
tahu betul bahwa ini adalah keinginan yang abnormal.
Tidak
akan ada seorang pun yang mampu menghentikan perubahan.
Padahal
biarkan saja semuanya tetap sama selamanya.
Kalau
diubah, semuanya tidak akan pernah bisa kembali seperti semula, tahu?
Setiap
kali terus melanjutkan hidup, tempat-tempat yang menyimpan kenangan akan
menghilang satu per satu.
Ketika
aku bilang bahwa hidup ini hanya berisi kehilangan, pasti selalu ada orang yang
menyanggah dan berkata bahwa hal itu tidak benar.
Cobalah
hal-hal baru, bersyukurlah atas pertemuan-pertemuan baru... kata mereka.
Bukan
itu maksudku.
Yang
ingin kukatakan adalah, ada hal-hal yang sekali hilang, tidak akan pernah bisa
kudapatkan kembali untuk kedua kalinya.
Jangan
kotori kenanganku.
Jangan
rebut kenanganku.
Masa kanak-kanak, masa-masa yang paling menyenangkan dalam hidupku.
Dan
Yuu-nii adalah simbol dari masa-masa itu.
Jika
sampai dia pun berubah ke arah yang buruk, kenangan paling membahagiakan di
masa kecilku pun akan ikut ternodai.
Jika
hal seperti itu sampai terjadi, aku pasti tidak akan sanggup untuk terus hidup.
Maka
dari itu, aku tidak ingin bertemu dengannya.
Karena
aku menyukai Yuu-nii.
Karena
Yuu-nii sangat berharga bagiku.
Karena
aku ingin Yuu-nii tetap menjadi sosok yang indah seperti yang ada di dalam
kenanganku.
Di
masa depan, sepanjang hidup yang harus kujalani nanti, seberapa banyak kenangan
yang akan hilang dariku?
Di
tengah jalan hidup yang terus berlanjut dengan hal-hal yang menyakitkan, aku
bisa bertahan berkat kenangan-kenangan berharga di masa kecil.
Tetapi,
daripada harus kehilangan Yuu-nii juga, sekalian saja...




Post a Comment