NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

10-nen-buri Ni Saikai Shita Kusogaki Wa Seijun Bishoujo Jk Volume 1 Prolog

Prolog


Sesak.

Ada apa ini? Rasanya seperti ada tekanan berat yang menindih tubuhku.

Sesuatu yang hangat menempel di atas perutku...

Apalagi, benda itu mendadak bergoyang—

"Fuhahaha!"

Saat kubuka mata, hal pertama yang tertangkap oleh pandanganku adalah sebuah punggung kecil. Punggung mungil dengan rambut cokelat kemerahan sepanjang bahu yang terurai. 

Dia mengenakan kaos bergambar anime anak perempuan dan celana pendek bahan denim—pakaian khas musim panas.

Gadis—maksudku, Bocah Nakal yang tinggal di sebelah rumah, Haruyama Miya, sedang duduk di atas perutku sambil menonton televisi.

"Gak usah sok 'fuhahaha'. Kamu sejak kapan masuk ke kamar orang?"

Begitu menoleh ke arah jam dinding, ternyata usianya baru menunjukkan jam sembilan pagi.

"Yuu-nii, ini kan hari Minggu! Kenapa masih tidur terus, sih?"

"Enak aja."

Aku menyelipkan tangan ke ketiak Miya lalu mengulitinya tanpa ampun.

"Owa! Tante yang bukain pintu buatku! Uhyahya!"

"Si Ibu memang ya, pagi-pagi begini malah memasukkan makhluk jahil."

"Ahyahya! Stop, stop!"

Miya adalah anak kelas satu SD yang tinggal di sebelah rumahku.

Berawal dari hubungan antar tetangga, aku sudah sering mengurus dan mengagaknya bermain sejak dia masih bayi. Dulu dia kelihatan imut, tapi sekarang perilakunya sudah benar-benar bikin gemas sekaligus jengkel.

"Hari ini klubku lagi libur karena gak ada latihan. Biarkan aku istirahat sebentar."

Aku menghentikan gelitikanku dan menjatuhkan tubuh kembali ke kasur.

Ini bukan soal anak perempuan yang tumbuh lebih cepat atau terlalu dewasa sebelum waktunya.

"Ahahaha! Katanya gara-gara kalah di babak pertama, makanya hari ini libur, kan?"

Miya tertawa terbahak-bahak.

"Dasar bocah ini."

Aku bangkit lagi dan mengulurkan tangan untuk meraih Miya.

"Uhyauhyauhyahya!"

Ya, bocah satu ini...

"Ber-Berhenti! Ampun, ampun!"

"Fuh, capek juga. Malah makin berkeringat gara-gara kekenyangan mengilitikimu."

"Kenapa? Kena lemas musim panas, ya? Lemah amat."

Dia benar-benar meremehkanku.



Illustrasi | ToC | Chapter 1

Post a Comment

Post a Comment

close