NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Kao no Yosugiru Osananajimi to Kidzuitara Asa Chun Shiteta Ken Volume 2 Chapter 5

Chapter 5

Impian Cinta


“──Kalau begitu, aku berangkat duluan, ya.”


“Ya, sampai ketemu nanti.”


Lalu, hari perjalanan wisata sekolah pun akhirnya tiba.


Sambil mengantar Mizuki yang telah selesai bersiap-siap dan meninggalkan rumah, aku menghela napas.


(Akhirnya tiba juga, ya.)


Antara merasa tidak sabar dan cemas.


Mizuki dan Kashiwagi-san. Pergi berwisata sekolah dalam 1 kelompok yang sama dengan mereka berdua, jika diriku yang 1 tahun lalu mendengarnya, pasti akan meragukan akal sehatnya. Dalam berbagai arti.


(......Dipikirkan pun tidak ada gunanya, kan.)


Jika tidak tahu apa yang bakal terjadi, setidaknya aku harus berusaha sekuat tenaga agar bisa menikmatinya.


Aku pun memilih untuk bersikap acuh tak acuh dan menetapkan hati, lalu melangkah keluar rumah.


“──Ah! Lambat banget kamu, Iori!”


Tiba di tempat berkumpul di Stasiun Tokyo, sebagian besar teman sekelas ternyata sudah berkumpul.


Kepada Renji dan Kashiwagi-san yang berada di sampingnya, aku mengangkat tangan ringan.


“Selamat pagi.”


Lho, ini bukannya masih sebelum waktu berkumpul, ya?


Melihat Renji yang marah tanpa alasan jelas, aku sempat panik berpikir apakah aku salah melihat jam. Namun saat melihat jam tangan, memang benar belum masuk waktu berkumpul.


Saat aku memiringkan kepala bingung, Kashiwagi-san tersenyum canggung.


“Tidak apa-apa, kok. Masih ada 10 menit lagi. Masih ada juga orang yang belum datang.”


Mendengar perkataan Kashiwagi-san tersebut, aku menatap tajam Renji seolah bertanya 'apa-apaan sih kamu'. Namun, Renji malah menaikkan alisnya.


“Bodoh! Aku ini sudah bersiap di sini sejak 1 jam yang lalu, tahu!”


“Anak SD, kah?”


Seberapa tidak sabarnya sih dia. Padahal saat tujuan perjalanan wisata sekolah ditetapkan ke Kyoto, dia sempat menggerutu bilang lebih baik ke Hokkaido atau Las Vegas saja. 


Apalah Las Vegas. Kamu itu sama sekali tidak cocok dengan hal-hal berbau judi, loh.


Aku mengalihkan pandangan dari Renji lalu melihat ke sekeliling.


Mizuki seperti biasanya sedang dikelilingi oleh teman-teman sekelas.


Padahal situasi sempat mereda, tapi tampaknya mereka masih belum bisa menyerah. "Setidaknya di hari terakhir saja!", Mizuki memasang raut wajah yang agak serba salah saat didesak oleh teman-teman sekelas.


“Ahaha...... Seperti yang diduga, Yukimura-san memang hebat, ya.”


“......Sejak kelompok ini terbentuk, perlakuan anak-anak laki-laki padaku jadi makin tajam dari biasanya, tahu. Coba lihat tuh, sekarang pun mereka terus-terusan menatapku tajam.”


Kashiwagi-san tersenyum canggung, sedangkan Renji menarik lenganku dengan raut wajah merana.


Di ujung arah pandangannya, terlihat rombongan anak laki-laki yang menatap ke arah sini dengan mata bagaikan roh jahat.


Mizuki dan Kashiwagi-san. Berada di kelompok yang sama dengan 2 gadis cantik kebanggaan sekolah kami. Respons anak-anak laki-laki tentu saja tidak perlu dipertanyakan lagi. Tatapan mata yang seolah-olah mengutarakan 'Harus segera dieksekusi saat ini juga!', membuat Renji gemetar bagaikan anak anjing...... 


Ya, maaf ya sudah melibatkannya.


“......Yang mengajak Yukimura-san kan aku, menurutku kamu boleh saja memberikan penjelasan ke mereka.”


“Eh? T-tidak, yah kalau aku sih hal seperti ini sudah biasa jadi tidak masalah...... Tapi kamu, kelihatannya tenang sekali, ya?”


“Nn......”


Jika dikatakan demikian, mungkin memang benar.


Jujur saja, aku tidak punya celah untuk memikirkan hal lain...... karena aku terlalu mencemaskan Mizuki dan Kashiwagi-san, jadi tidak sempat memikirkan hal semacam itu.


Sekarang pun terlihat sosok Mizuki yang dikelilingi teman-teman sekelas, serta sosok Kashiwagi-san yang memperhatikan hal itu dengan raut wajah yang tampak rumit.


Meski begitu, aku pun sudah bersiap menanggung hal itu.


“Yah, lagipula kelompoknya tidak bisa diubah lagi sekarang. Tidak ada pilihan lain selain bersikap acuh tak acuh dan menikmatinya saja, menurutku.”


“......Benar juga, sih.”


Renji pun mengangguk sambil tersenyum canggung. Sementara kami melakukan percakapan tersebut, waktu berkumpul pun akhirnya tiba.



“──Baik! Semuanya sudah berkumpul, kan?”


Aku menoleh ke arah suara Gotou-kun sang ketua murid.


Setelah selesai memanggil nama seluruh murid di kelas dan melaporkannya kepada guru wali kelas, Mizuki akhirnya terbebas dari teman-teman sekelasnya, lalu kami pun naik ke gerbong kereta sesuai kelas masing-masing.


Meski tempat duduk sebenarnya sudah ditentukan, tentu saja sepertinya tidak ada yang berniat mematuhinya.


“Tempat duduknya bagaimana, nih? Kereta Shinkansen agak merepotkan, ya. Ada yang 3 kursi dan 2 kursi.”


“Ah, yang ini bukannya bisa diputar?”


Sambil berkata demikian, Kashiwagi-san menunjuk pedal kursi 2 penumpang dengan jarinya.


Oh, jadi bisa dibuat saling berhadapan, ya. 


Sejak orang tuaku pergi ke luar negeri, aku tidak pernah punya kesempatan untuk naik kereta Shinkansen lagi, jadi mekanisme seperti ini agak kabur di ingatanku.


“Ooh. Kalau begitu, Iori.”


“Nn.”


Bersama Renji, kami memutar kursi 2 penumpang secara bersamaan dengan ketukan "1-2-3 ".


Dengan begini jadilah area 4 kursi. Saat melihat sekeliling, kelompok lain pun melakukan hal yang serupa dengan membuat tempat duduk per kelompok.


“Sip! Kalau begitu untuk 2 orang gadis, silakan duduk di dekat jendela.”


Renji membungkukkan badannya dengan hormat sambil menawarkan kursi. Namun mendengar hal itu, Mizuki menggelengkan kepalanya.


“Aku tidak masalah jika tidak duduk di dekat jendela, kok.”


“Jangan, jangan, sungguh tidak pantas! ......Atau lebih tepatnya tolonglah duduk di sana, mohon dengan sangat. Kalau sampai membiarkan Yukimura-san duduk di sisi lorong, kami berdua bisa dibunuh oleh mereka!”


Sambil berkata demikian, Renji menatap ke salah satu sudut gerbong kereta dengan raut wajah yang tampak ketakutan setengah mati.


Di sana tentu saja ada para anggota 'Pengawal Royal'. Pandangan mereka begitu tajam menatap ke arah sini hingga rasanya seorang Yakuza pun bakal ciut melihatnya. 


Apa-apaan itu, bukankah terlalu menakutkan?


“......Duduklah. Lagipula kalau Yukimura-san duduk di sisi lorong, sepertinya tidak bakal ada orang yang merasa bahagia.”


“? Benarkah?”


Saat aku membujuknya, Mizuki duduk di kursi dekat jendela dengan gerak-gerik yang anggun. Lalu di belakangnya, Kashiwagi-san menyusul mengekor pelan bagaikan hewan kecil.


“Ka-kalau begitu aku duduk di samping Yukimura-san, ya. Boleh kan?”


“Ya.”


Mizuki mengangguk, dan Kashiwagi-san pun duduk di sampingnya dengan raut wajah lega. Lalu aku duduk di kursi dekat jendela yang berhadapan langsung dengan Mizuki, sedangkan Renji duduk di sampingku.


“Wah. Tapi beneran deh, ini pemandangan yang sangat indah, ya.”


“Hah? Pemandangan apa.”


Keretanya saja belum jalan, lho. 


Aku menatap Renji di sampingku dengan pandangan curiga.


“Bodoh! Ini kan foto bersama 2 gadis paling cantik di sekolah kita, tahu! Jelas pemandangan indah, kan!”


“......”


Anak ini, berani-beraninya bicara begitu padahal orangnya ada tepat di depan mata. Lagipula bukannya sebelumnya di restoran keluarga kamu juga sudah pernah melihatnya?


Mizuki tidak mengubah ekspresi wajahnya sedikit pun menanggapi aku yang begitu heran. Kashiwagi-san tersenyum canggung seolah mengutarakan bahwa dia memang seperti biasanya. Namun sepertinya, yang beranggapan demikian bukan hanya Renji seorang.


“Hei, hei, coba lihat yang di sana.”


“Uwoh, tempat duduk macam apa itu......”


“Yu-Yukimura-san dan Kashiwagi-san. Ka-kamera! Hei, siapa saja minta izin buat ambil foto!”


Suasana di dalam gerbong kereta menjadi bising. Namun terkalahkan oleh tekanan hawa keberadaan rombongan perempuan yang mendadak berdiri, pada akhirnya tidak ada satu pun yang berani mengajak bicara.


Di tengah keriuhan semacam itu, kereta Shinkansen pun perlahan mulai bergerak.


(Lalu, apa yang sebaiknya dibicarakan, ya......)


Aku berpikir di tengah suasana gerbong kereta yang mulai dipenuhi obrolan santai.


Mizuki dan Kashiwagi-san. Jika di hadapan mereka berdua, melontarkan satu kata pun harus sangat berhati-hati. Itu dalam berbagai macam arti. Namun hal seputar itu, Mizuki pun seharusnya sudah paham.


......Ya, aku berpikir demikian, tetapi.


“Amano-kun. Mau Pocky?”


“......Hah?”


Mizuki yang duduk di depanku menyapaku seolah-olah itu adalah hal yang wajar.


“Kamu suka makanan manis, kan?”


Sambil tersenyum begitu, dia mengeluarkan stik cokelat dari kemasannya lalu mendekatkannya ke mulutku.


Melihat hal itu, wajahku seketika menegang sepenuhnya.


(......Anu, Mizuki-san?)


Kamu sedang melakukan apa? Di sini bukan rumah, lho? Mataku memohon padanya.


Namun, Mizuki hanya memiringkan kepalanya pelan.


“T-tunggu, haaa?!”


“Yu-Yukimura-san?!”


Dari tempat duduk yang agak jauh, beberapa anak laki-laki dan perempuan berdiri secara mendadak, gatak! Renji dan Kashiwagi-san juga tampak melongo kebingungan.


Hawa membunuh yang dahsyat terasa dari segala arah. Namun tanpa memedulikannya, Mizuki tetap menyodorkan Pocky tersebut.


......Ah begitu, ya. Dia sama sekali tidak berniat untuk menahan diri secara berlebihan.


Secara samar-samar bisa merasakan sikap Mizuki yang seperti itu, aku hanya bisa menyerah dan menyandarkan bahuku dengan lesu.


“......Aku terima, ya.”


Mau tidak mau, aku mengambil stik cokelat yang disodorkannya. Mengunyahnya perlahan, kriuk-kriuk. Manis.


Di sisi lain, hawa membunuh dari sekeliling benar-benar tidak main-main.


“A-anu. Yukimura-san? Apakah kamu dan Amano-kun akrab, ya?”


Seperti yang sudah diduga, Kashiwagi-san bertanya dengan suara pelan dan raut wajah yang agak menegang.


Menanggapi pertanyaan itu, 'Pertanyaan yang bagus!' sorakan tanpa suara terlontar dari orang-orang di sekeliling.


Namun, Mizuki tetap menatap wajahku.


“Entahlah. Tapi karena Amano-kun imut, sih.”


Sambil berkata demikian, dia menyodorkan satu stik Pocky lagi sambil tersenyum.


Melihat pemandangan itu, suara jeritan semakin membumbung tinggi di dalam gerbong kereta.


“T-tidak mungkin. Yukimura-san......”


“Hei, hei, sebenarnya apa maksudnya ini, Iori-kun?”


Di depanku ada Kashiwagi-san yang memasang wajah putus asa. Di sampingku ada Renji yang berwajah datar.


“......Aaa.”


Rasanya sungguh...... apa ya ini.


Di tengah rasa cemas yang menyelimuti sejak awal perjalanan, kereta pun perlahan-lahan melaju.


◇


Setelahnya pun, sambil merasa sakit perut akibat sikap Mizuki yang sama sekali tidak menahan diri, kami akhirnya tiba di Kyoto.


Setelah turun dari kereta Shinkansen, seperti yang sudah diduga aku ditatap tajam oleh anak-anak laki-laki di kelas, sedangkan Mizuki......


『Yu-Yukimura-san. Bukankah kamu terlalu dekat dengan Amano-kun?』

『Masa, sih?』

『Iya, tahu! Amano-kun itu biar penampilannya begitu dia tetap seorang anak laki-laki, tahu?! Bahaya, lho!』 

begitu kiranya anak-anak perempuan di kelas menasihati Mizuki. 


Apa lah dibilang bahaya. Lagipula jangan mengatai penampilanku 'begitu', lah.


“──Nah, Iori-kun. Bisakah kamu menjelaskan situasinya secara terperinci padaku?”


“Eh?”


“Habisnya aneh, kan! Jarak Yukimura-san padamu itu terlalu dekat, tahu!”


Renji menunjuk tegas ke arah Mizuki sambil melayangkan protes. Menanggapi hal itu, aku hanya bisa bergumam, "Aa-".


“Ya, benar. Amano-kun dan Yukimura-san tidak begitu punya hubungan erat, kan?”


Dan Kashiwagi-san menengadah menatapku seolah meminta kepastian.


“......Karena perjalanan wisata sekolah, perasaannya jadi agak bersemangat, kali. Yukimura-san juga.”


Aku mengucapkan hal itu untuk mengelabui mereka berdua. 


......Alasan yang sangat menyedihkan bahkan menurut diriku sendiri. Namun tak lama kemudian guru wali kelas memanggil, sehingga dengan enggan mereka berdua menyerah untuk menginterogasiku.


Merasa lega akan hal itu, aku mengalihkan pandangan ke arah Mizuki. Wajah sampingnya yang dikelilingi oleh teman-teman sekelas sama sekali tidak berbeda dari biasanya. Namun...... mengenai situasi yang menyembunyikan hubungan kami ini, apa yang dipikirkan oleh Mizuki, ya?


Entah mengapa, hal semacam itu terlintas di dalam benakku.



──Setelah itu, kami menuju tempat penginapan menggunakan bus, dan rencananya setelah menitipkan barang-barang jika diperlukan, kami akan berpindah ke acara wisata per kelompok. Namun tepat pada saat tiba di penginapan, aku sempat membeku kaku sejenak.


Tempat penginapan perjalanan wisata sekolah seharusnya penginapan umum yang murah untuk diinapi...... tapi dilihat dari sudut mana pun, penginapan mewah ini sama sekali bukan berada di kelas tersebut.


Meskipun aku sudah mengetahuinya terlebih dahulu, apakah kami benar-benar boleh menginap di penginapan seperti ini untuk perjalanan wisata sekolah? Biaya yang kami tanggung seharusnya tidak setinggi itu.


“......Sekolah kita benar-benar tidak segan-segan mengeluarkan uang, ya.”


“Iya, benar! Kamarnya juga kelihatan bersih, jadi sudah tidak sabar!”


Hoeー, Renji mendongak menatap penginapan dengan mulut ternganga. Kashiwagi-san bersikap gembira sambil memeluk sesuatu yang tampak seperti brosur penginapan.


“......Tempatnya lumayan bagus, ya.”


Aku mengajak Mizuki yang melamun di sampingku bicara dengan suara pelan.


“Ya.”


Mizuki tersenyum kecil menanggapi perkataanku.


Perjalanan wisata keluarga sewaktu kecil dulu. Tentu saja orang tuaku juga mengajak Mizuki...... namun Mizuki kala itu sama sekali tidak terlihat terkesan dengan penginapan berkelas yang telah diusahakan oleh orang tuaku.


Ayah dan ibu yang merasa lemas melihat hal itu. Mengingat raut wajah mereka membuatku tertawa geli.


“Kalau begitu maaf, ya. Aku mau menitipkan barang-barang sebentar.”


“Nn, mengerti.”


“Hati-hati di jalanー”


Menanggapi perkataan Kashiwagi-san, aku dan Renji mengangguk.


Meskipun koper-koper besar sudah dikirimkan terlebih dahulu, jika kita akan melakukan perjalanan wisata dalam waktu yang lama, membawa sedikit barang bawaan tentu akan jauh lebih baik.


Mizuki dan Kashiwagi-san pergi menuju meja depan untuk menitipkan barang bawaan, sementara kami bertiga dari kelompok laki-laki yang sejak awal membawa barang bawaan sedikit hanya berdiri tertegun di tempat.


“──Oi, Amano. Sebentar.”


Mendengar suara itu, aku menoleh dan mendapati dua orang anak laki-laki berdiri di sana.


(......Sugiuchi dan, Tanaka ya?)


Anak laki-laki dari kelas kami. 


Ngomong-ngomong, mereka berdua juga merupakan teman sekamar di kamar berempat yang akan kami tinggali nanti malam.


Aku, Renji, dan 2 orang sisanya adalah Sugiuchi dan Tanaka ini. Hubunganku dengan mereka berdua ya...... sebatas mengobrol sesekali saja.


Saat aku hendak membalas "Ada apa?",


“Penangkapan paksa.”


“Kami akan meminta penjelasan darimu.”


Tiba-tiba kedua lenganku dikunci dan diseret pergi.


“Ha? Hei, tunggu sebentar—”


Kami terseret menuju sudut lobi. 


Saat aku melirik ke arah Renji, dia malah mengekor di belakang sambil memasang raut wajah seolah berpikir, 'Wah, sepertinya seru'. Dasar anak ini.


Lalu, saat aku dihadapkan langsung dengan mereka berdua:


“Jadi, ada apa?”


“Ada apa? Bukan begitu! Kenapa kamu bisa begitu disukai oleh Yukimura-san, hah?!”


Sugiuchi──anggota klub lari jarak pendek berambut hitam pendek dengan penampilan yang bersemangat, melontarkan protes dengan suara keras.


Anak ini adalah penggemar garis keras Mizuki di kelas, dan saat penentuan kelompok tadi, dialah orang yang sempat meneriaki Mizuki dan menjadi sasaran empuk tembakan meriam amarah dari para 'Pengawal Royal'.


Di hadapan anak seperti dia, interaksi di dalam kereta Shinkansen tadi rupanya memang hal yang buruk, ya.


Sugiuchi membelalakkan matanya dengan urat kemerahan. 


Menanggapi hal itu, aku sempat merasa kebingungan harus merespons bagaimana.


“......Karena kami berada di kelompok yang sama, wajar kan kalau kami mengobrol.”


“Logika itu sama sekali tidak masuk akal. Terlebih lagi, saat penentuan kelompok tadi, fakta bahwa kamu langsung mengiyakan ajakan Amano-kun terasa sangat mencurigakan, tahu.”


Tanaka yang mengklaim dirinya sebagai 'otak nomor 1 di kalangan siswa laki-laki' membantah sambil membenarkan kacamatanya yang berkilau tajam.


Seorang murid jenius yang membanggakan peringkat kedua di tingkat angkatan setelah Mizuki. Gaya rambutnya ditata rapi belah samping, benar-benar gambaran seorang anak kutu buku sejati.


Bukan tipe genius seperti Mizuki atau Renji, melainkan tipe jenius yang mendongkrak prestasinya lewat kerja keras. Oleh karena itu, aku pun terkadang sering mengobrol dengannya seputar pertukaran informasi mengenai pelajaran. Namun,


“Lebih dari itu, Yukimura-san biasanya selalu menbatasi percakapan dengan anak laki-laki seminimal mungkin. Sebenarnya aku pun pernah mencoba mengajaknya bicara, tetapi dibalas satu patah kata saja sudah termasuk bagus. Bahkan terkadang sama sekali tidak ada balasan. Namun, khusus terhadap Amano-kun seorang, kedekatan jarak semacam itu terasa semakin tidak masuk akal.”


Kacamata itu semakin mendekat...... Tanaka-kun.


“B-betul, betul! Kenapa cuma kamu seorang...... Eh, tunggu, Tanaka? Kamu pernah mengajaknya bicara? Kapan?!”


“T-tentang itu tidak usah dibahas sekarang! Aku sebagai peringkat kedua angkatan hanya berniat memberikan salam kepada gadis yang berada di peringkat pertama......!”


“Hei, awas ya kau si kutu buku. Berani-beraninya mencoba merayu Yukimura-san di saat aku tidak melihat, kubunuh kau!”


“Ini kesalahpahaman!”


Meninggalkan mereka berdua yang mulai tampak bersitegang, aku mengalihkan pandangan kepada satu orang lagi yang menatapku sambil tersenyum-senyum menyebalkan.


“......Kelihatannya menyenangkan sekali, ya, Renji.”


“Mana ada, sih? Lagipula aku juga penasaran. Sejak kapan kamu bisa menjadi begitu akrab dengan Yukimura-san, hah?”


Mendengar pertanyaan itu, aku bingung harus membalas apa.


Meski begitu, bagaimana pun juga kenyataannya sikap Mizuki memang terlihat aneh.


“......Entahlah. Mungkin cuma kebetulan lagi ingin begitu saja, kali.”


Aku hanya bisa berkelit dengan alasan samar-samar seperti itu.


Pada akhirnya setelah itu pun aku terus-menerus diberondong dengan berbagai pertanyaan.


Hingga tak lama kemudian, saat Mizuki dan Kashiwagi-san berjalan mendekat ke arah sini, Sugiuchi dan Tanaka langsung kabur terbirit-birit.


“? Sugiuchi-kun dan Tanaka-kun, tadi ada keperluan apa?”


“Bukan apa-apa, kok.”


Menanggapi Kashiwagi-san yang memiringkan kepalanya kebingungan, aku menjawabnya sambil mengangkat bahu.


◇


Kyoto pada bulan Desember.


Memiliki hawa dingin yang berbeda dari Tokyo. Dingin menusuk tulang yang khas dari cekungan basin. Namun langitnya cerah, sangat pantas jika disebut sebagai cuaca yang ideal untuk berwisata.


Kami berempat menaiki Tanjakan Kiyomizu yang dipadati orang. Di kedua sisi jalan, toko-toko suvenir dan kedai jajanan berjejer rapat, dipadati oleh para murid wisata sekolah dan wisatawan lain yang berdesak-desakan.


“Wah, Yatsuhashi edisi terbatas...... Lihat nih, Iori! Beneran ada Yatsuhashi di setiap sudut jalan, ya.”


“Iya, iya, tadi kan kamu sudah makan juga. Makanya, ayo jalan.”


Aku menarik tengkuk leher Renji untuk menariknya kembali. Anak ini kalau tidak diawasi langsung melenceng ke mana-mana.


Kashiwagi-san menaiki tanjakan dengan riang sambil terus-menerus mengambil foto.......Dengan kecepatan seperti itu, apakah kapasitas memori ponselnya tidak akan penuh selama di Kyoto?


Apakah foto-foto yang diambil oleh perempuan itu benar-benar akan dilihat kembali nantinya ya...... Sambil memikirkan hal semacam itu, kami terus menaiki tanjakan hingga akhirnya sebuah gerbang besar berwarna merah mulai terlihat. Gerbang Nioumon.


Gerbang lantai dua bertuliskan warna merah terang yang sangat megah. Aku memang pernah melihatnya di dalam foto, tetapi melihat bentuk aslinya tentu memberikan kesan yang berbeda.


“Kalau melihat pemandangan seperti ini, rasanya jadi benar-benar merasa kalau kita sudah datang ke Kyoto, ya.”


“Iya, sedikit merasa tersentuh.”


Renji dan Kashiwagi-san melontarkan kagum dengan jujur.


Mendengar percakapan itu, aku mengalihkan pandangan kepada gadis berwajah tanpa ekspresi yang berdiri di sampingku.


(......Menurutku, dia seharusnya bisa menunjukkan rasa takjub sedikit lebih banyak lagi, sih.)


Mizuki yang menyadari tatapanku menoleh ke arahku sambil memiringkan kepalanya. Aku menggelengkan kepala mengisyaratkan tidak ada apa-apa, lalu melangkah melewati Gerbang Nioumon.


Kami menaiki tangga batu. Tangga ini menyusul tanjakan sebelumnya, rasanya mungkin akan cukup melelahkan bagi seorang gadis.


“Yukimura-san. Kakinya, masih baik-baik saja?”


Aku bertanya secara terselubung. Mizuki bukan tipe orang yang tidak punya stamina, tapi dia tetaplah seorang gadis. Namun Mizuki menganggukkan kepala dengan tenang tanpa mengeluarkan keringat sedikit pun.


“Ya. Untung saja aku memutuskan memakai sepatu kets tadi.”


Saat kulihat, sepatunya memang benar-benar sudah diganti dari sepatu pantofel kulit menjadi sepatu kets. Bisa dibilang persiapannya memang sangat matang.


“Begitu, ya. Kalau begitu baguslah. Kalau nanti terasa melelahkan, bilang lebih awal, ya.”


“Ya, terima kasih.”


Tampaknya dia memang tidak sedang memaksakan diri secara berlebihan.


Merasa lega akan hal itu, aku mengalihkan pandangan kepada satu gadis lainnya.


“Kashiwagi-san?”


“Ah, aku juga tidak apa-apa, kok.”


Suara ceria terdengar membalas. 


Begitu ya, aku mengangguk, sembari berpikir mungkin setelah ini kami harus menyempatkan diri untuk beristirahat sejenak.


“......Amano-kun, memperhatikan kami dengan baik, ya.”


Kashiwagi-san tersenyum dengan raut wajah malu-malu. Menanggapi hal itu, aku seketika membeku.


Begitu ditunjukkan secara langsung seperti itu, rasanya selain merasa malu, aku juga jadi agak kebingungan.


“......Yah, kita kan satu kelompok.”


“Iya. Benar, ya.”


Kashiwagi-san menundukkan kepalanya dengan senyum yang menyiratkan kepedihan diri.


◇


Lalu tempat yang akhirnya kami tuju adalah Panggung Kiyomizu yang sangat terkenal itu.


Dari panggung kayu yang menjorok keluar di atas tebing, hamparan lanskap kota Kyoto dapat terlihat secara menyeluruh.


“W-woh? Hebat banget, ya?!”


Renji berlari menghampiri pagar pembatas dengan mata yang berbinar-binar.


“Ternyata seluas ini...... Benar-benar berbeda dari yang kulihat di foto.”


Kashiwagi-san juga melontarkan kata-kata kekaguman.


Aku turut berdiri di ujung panggung, memandangi pemandangan yang terbentang di bawah sana.


Di balik pepohonan yang meranggas karena musim dingin, terbentang lanskap kota Kyoto. Di kejauhan, jajaran pegunungan tampak terselimuti kabut tipis.


Sambil memandangi pemandangan itu secara melamun, tiba-tiba aku merasakan ada kehadiran orang di sampingku.


Saat menoleh ke samping, terlihat sosok teman masa kecilku yang sedang memandangi pemandangan serupa. Rambut hitam yang tergerai tertiup angin. Profil wajahnya tampak dihiasi oleh keindahan lanskap Kyoto.


“......Cantik sekali, ya.”


Tanpa sadar aku bergumam.


“Ya.”


Mizuki mengangguk singkat, lalu mengalihkan pandangannya menatapku.


“Bisa melihatnya bersama-sama, aku merasa senang.”


Bisiknya dengan suara yang nyaris tak terdengar.


Saat aku terpaku menatap senyuman tipis yang menawan itu,


“Hei, bagaimana kalau kita berfoto?”


Kashiwagi-san mengusulkan hal itu dengan suara ceria.


“Ooh! Nah, Iori, Yukimura-san juga!”


Renji menyetujuinya dan memberi gestur tangan memanggil kami berdua.


Kashiwagi-san mengeluarkan ponselnya lalu mengubahnya ke mode selfie.


“Um, apakah semua bisa masuk ke dalam frame ya...... Miyama-kun, lebih mendekat sedikit. Yukimura-san juga.”


“Siap!”


“Ya.”


Kami berempat merapatkan bahu bersama-sama. 


Di dalam layar ponsel, Panggung Kiyomizu dan lanskap kota Kyoto ikut terekam sebagai latar belakang. Renji memasang ekspresi tegas tanpa alasan, sementara Kashiwagi-san tersenyum manis. Mizuki pun menunjukkan senyuman tipis di wajahnya. Sedangkan aku...... sepertinya aku memasang senyuman yang agak kaku.


“Baik, bersiaplah, cheese!”


Krik. 


Suara bunyi elektronik yang ringan.


“Wah, hasilnya bagus! Coba lihat, coba lihat!”


Kashiwagi-san memperlihatkan layar ponselnya dengan antusias.


Foto kami berempat. Dengan latar belakang pemandangan indah Kyoto.


Senyumanku memang masih terlihat agak menegang...... namun.


“Amano-kun?”


“Nn...... Ah, bagus, kok.”


“Syukurlah. Kalau begitu nanti akan kukirimkan ke kalian bertiga juga ya.”


Aku merasa itu adalah foto yang sangat bagus.




Foto yang kami ambil berempat.

 

Setelah dikirimkan ke ponselku, aku mengunduh dan menyimpannya baik-baik.

 

──Foto ini pasti akan menjadi kenangan yang sangat berharga.

 

Sambil memikirkan hal itu.

 

◇

 

Setelah itu kami sempat mampir ke Kuil Yasaka, lalu melanjutkan perjalanan menuju Gion.

 

Meskipun kami sudah berjalan cukup jauh, Renji seperti biasanya masih terlihat bersemangat tanpa alasan, dan Mizuki pun tetap melangkah dengan santai tanpa ekspresi.

 

Hanya saja, ada satu orang.

 

“......Kashiwagi-san, kamu tidak apa-apa?”

 

“Eh? Ah, ya. Aku tidak apa-apa, kok.”

 

Kashiwagi-san berusaha tersenyum, tetapi langkah kakinya jelas terlihat sangat berat.

 

Sejak dari Tanjakan Kiyomizu kami terus berjalan tanpa henti. Aku dan Renji secara fisik masih memiliki banyak tenaga tersisa, dan Mizuki pun secara ajaib tampak biasa saja. Namun, kedua pipi Kashiwagi-san agak sedikit memerah dan napasnya terdengar sedikit terengah-engah.

 

Kalau begini terus, sebentar lagi bisa berbahaya.

 

“Renji. Istirahat sebentar.”

 

Saat aku mengusulkan hal tersebut, Renji memasang raut wajah heran.

 

“Ooh? Padahal tinggal sedikit lagi sampai ke Gion, lho?”

 

“Sudah tidak kuat. Kakiku sakit.”

 

Jika boleh jujur, staminaku sebenarnya masih cukup tersisa. Namun mengutarakannya seperti ini pasti akan membuat kami bisa beristirahat dengan lebih mudah.

 

“Kamu, bukannya biasanya punya stamina lebih dari ini?”

 

“Tidak punya. Aku kan anak indoor.”

 

Aku mengucapkan alasan seadanya untuk membungkam Renji.

 

Mendengar hal itu, Kashiwagi-san menatapku dengan raut wajah penuh penyesalan.

 

“Ma-maaf, ya. Aku juga sepertinya ingin duduk sebentar......”

 

“Aah, begitu ya. Kalau begitu ayo kita masuk ke suatu tempat. Sekalian makan juga.”

 

Renji menengok ke kanan dan ke kiri melihat ke sekeliling.

 

Melewati Kuil Yasaka dan keluar menuju jalanan Gion, toko-toko yang sarat akan nuansa budaya tampak berjejer rapat.

 

Di antaranya, sebuah kedai restoran kafe menarik perhatian kami.

 

Eksteriornya bergaya Barat, tetapi entah mengapa tetap memiliki sentuhan nuansa tradisional Jepang. Tirai penutup (noren) terpasang pada jendela berjeruji, dan di depan kedai terdapat taman buatan (tsuboniwa) berukuran kecil. Sebuah perpaduan harmoni yang unik.

 

“Ah, bagaimana kalau di sini?”

 

Kashiwagi-san menunjuknya. Baik aku maupun Renji tidak memiliki keberatan, dan Mizuki pun tidak mengatakan hal tertentu.

 

Saat memutar gagang pintu, alunan musik jazz yang lembut langsung terdengar mengalun. Interior di dalam kedai menggunakan pencahayaan yang menenangkan dengan dekorasi yang memancarkan kehangatan kayu. Terdapat beberapa meja makan, dan di bagian dalam terdapat area meja konter.

 

Mungkin karena saat ini masih tengah hari, jumlah pengunjung terasa agak senggang.

 

“Untuk 4 orang, silakan duduk di kursi mana pun yang disukai.”

 

Diantar oleh pelayan kedai, kami duduk di meja dekat jendela.

 

Tepat saat Kashiwagi-san mendaratkan dirinya di kursi, fuu, dia menghela napas pelan.

 

Ternyata memang rasanya cukup melelahkan baginya, ya. Seharusnya aku mengusulkan istirahat lebih awal tadi.

 

“Wah, bagus juga tempatnya.”

 

Sambil melihat ke sekeliling interior kedai, Renji berucap. Dia bahkan bilang tempat ini cocok untuk dipakai kencan.

 

Anak ini, apa dia berniat pergi jauh-jauh ke Kyoto cuma demi kencan?

 

Tak lama kemudian setelah menyampaikan pesanan kepada pelayan kedai dan menarik napas lega:

 

“Ah......”

 

Kashiwagi-san tiba-tiba mengalihkan pandangannya ke bagian dalam kedai.

 

Saat aku mengikuti arah pandangannya, di sudut paling dalam dari kedai. Di bawah pencahayaan yang remang-remang, terlihat sebuah siluet hitam berukuran besar.

 

“Di kedai ini ada pianonya, ya.”

 

Kashiwagi-san mengucapkan hal itu lalu melirik ke arahku.

 

Sepasang mata yang memancarkan rasa penuh harapan, seolah menginginkan sesuatu.

 

“......”

 

“......Tidak, aku tidak mau memainkannya, ya?”

 

“Padahal aku belum bilang apa-apa, lho?!”

 

“Wajahmu yang bilang begitu.”

 

Aku menggelengkan kepala.

 

Tolong ampuni aku. Beberapa waktu lalu sewaktu di pusat perbelanjaan pun aku baru saja dipaksa memainkannya. Aku tidak mau melakukan hal nekat sesering itu. Namun anak merepotkan yang berada di sampingku malah tersenyum jahil.

 

“Permisi~!”

 

“Hei, tunggu dulu!”

 

“Anak ini bisa main piano, apakah piano di sudut sana boleh dimainkan?”

 

Bahkan sebelum sempat kuhentikan, pelayan kedai sudah membalas dengan nada gembira, “Ah, tidak masalah, kok! Silakan, silakan!”.

 

“......Renji.”

 

“Tidak apa-apa, kan? Padahal ini kan panggung yang bagus buat dipamerkan? Nah, Kashiwagi-chan juga ingin mendengarkannya, kan?”

 

“I-iya! Aku juga ingin mendengarkan permainan piano Amano-kun sekali lagi...... Ah, tapi kalau kamu tidak mau tidak apa-apa, kok?”

 

Kashiwagi-san mengucapkannya dengan segan.

 

Sialan. Jika dikatakan demikian, tentu saja rasanya menjadi sangat sulit untuk menolaknya.

 

Mau bagaimana lagi. Aku pun beranjak berdiri dari kursi.

 

“......Cuma satu lagu saja, ya.”

 

“Siiiiip!”

 

Renji bersorak merayakannya secara asal-asalan. Wajah Kashiwagi-san seketika berbinar-binar penuh kegembiraan.

 

Aku melirik ke arah Mizuki sejenak. Namun Mizuki sama sekali tidak menghentikanku, dia hanya menatapku dalam diam.

 

『──Permainan piano Iori, bakal terus kudengarkan selamanya.』

 

Kata-kata itu entah mengapa melintas di dalam benakku.

 

Sekarang pun Mizuki mendengarkannya. Jadi, memang sesuai dengan kata-katanya waktu itu. Sambil memikirkan hal itu, aku mengibaskan bayangan tersebut dari kepalaku.

 

Aku duduk di depan piano. Meskipun terkesan tua, instrumen ini tampak dirawat dengan sangat baik.

 

Aku meletakkan jari-jemariku di atas tuts. Sensasi dingin yang meresap terasa sangat nyaman.

 

(......Lalu, lagu apa yang harus kumatikan?)

 

Saat di pusat perbelanjaan waktu itu adalah lagu 『Moonlight』. Namun untuk saat ini, lagu tersebut terasa tidak cocok. Harus lagu yang lebih menenangkan dan sesuai dengan atmosfer kedai ini.

 

(Kalau begitu, lagu ini saja kali ya.)

 

Tak lama kemudian, sebuah lagu terlintas di dalam kepalaku.

 

Franz Liszt, 『Liebesträume No. 3 (Impian Cinta)』.

 

Sebuah melodi yang terasa manis, memilukan, dan entah mengapa menyimpan rasa sedih.

 

Untuk kedai ini dan atmosfer jalanan Kyoto saat ini, kurasa lagu inilah yang paling cocok.

 

Aku menghela napas pelan, lalu menjatuhkan jari-jemariku pada nada pertama.

 

Melodi yang lembut pun mulai bergema di seluruh ruangan kedai.

 

“......Hoo.”

 

Mendengar suara gumaman kagum terdengar entah dari mana. Kontras dengan kekerasan lagu 『Moonlight』, ini adalah sebuah melodi yang tenang.

 

Di balik alunan tersebut, terasa sebuah kisah yang begitu nyata.

 

『──Selagi kamu bisa mencintai, cintailah. Karena saatnya pasti akan tiba.』

 

Lirik dari lagu asli yang menjadi dasar karya piano solo ini.

 

Jika ada orang yang kamu cintai, hargailah saat-saat ini. Sebelum hari penyesalan itu datang.

 

Bait lirik tersebut sangat kuingat dengan baik. Sekarang, dibandingkan masa lalu, kata-kata itu terasa semakin memiliki bobot yang berat.

 

Tak lama kemudian, nada terakhir pun melenyap ke dalam ruangan kedai. Saat gema nada menghilang, aku melepaskan tanganku dari tuts piano secara perlahan.

 

──Prok, prok, prok.

 

Suara tepuk tangan terdengar.

 

Saat mengangkat kepala, beberapa pengunjung di dalam kedai bertepuk tangan untukku sambil tersenyum. Pelayan kedai pun ikut bertepuk tangan.

 

......Meskipun merasa senang, tetap saja rasanya agak malu.

 

Aku menundukkan kepala ringan, lalu bergegas kembali ke tempat duduk.

 

“Hebat. Seperti yang kuduga, kamu benar-benar keren, ya, Amano-kun.”

 

Kashiwagi-san berucap dengan kedua pipi yang agak memerah.

 

Menanggapi kata-katanya, aku menundukkan kepala pelan.

 

“Terima kasih.”

 

Hanya kata-kata itu yang sanggup kubalaskan. Lalu saat melihat ke arah Mizuki, dia pun ikut bertepuk tangan pelan untukku. Dia tidak mengutarakan apa pun. Namun fakta bahwa dia memberikan senyuman tipisnya membuatku merasa sedikit lega.

 

Namun melihat diriku yang seperti itu, Renji menatapku sambil menopang dagu dan tersenyum jahil.

 

“Berterima kasihlah padaku, tahu? Karena aku sudah membuatkan panggung untuk pamer di depan 2 gadis cantik.”

 

“Minta dibuatkan juga tidak, kok.”

 

Kami saling bersahut-sahutan seperti biasanya. Melihat kami yang seperti itu, Kashiwagi-san tertawa.

 

──Waktu yang terasa tenang dan menyenangkan.

 

Aku menyesap kopi yang mulai dingin.

 

Waktu seperti ini pasti tidak akan bisa bertahan selamanya, sih.

 

Meskipun demikian, aku berharap agar waktu ini bisa bertahan selamanya semampu mungkin.

 

◇

 

Setelah keluar dari kafe di Gion, kami berkeliling menyusuri kota selama beberapa saat, lalu kembali ke penginapan di sore hari.

 

Kashiwagi-san sepertinya sudah lumayan pulih, di jalan pulang dia berjalan sambil mengambil foto dengan gembira. Hubungan antara Mizuki dan Kashiwagi-san pun tidak secanggung yang kubayangkan. Jika begini, sepertinya akan baik-baik saja.

 

Saat sedang menarik napas lega sambil bersantai di kamar penginapan:

 

“──Nah, Amano. Jujur saja, kamu tim yang mana?”

 

Sugiuchi mencondongkan tubuhnya ke arahku sambil bersedekap tangan.

 

“Tim apa?”

 

“Sudah pasti, kan? Antara Yukimura-san dan Kashiwagi-san. Maksudku kamu itu tim yang mana, sih.”

 

“Aah......”

 

Pembicaraan soal itu, ya. Sambil berpikir bagaimana harus meresponsnya, aku menjawab seadanya.

 

“Entahlah.......Dua-duanya kan cantik.”

 

“Uwah, jawaban yang sangat membosankan. Kalau laki-laki, katakan dengan tegas!”

 

Sugiuchi bergumam dengan raut wajah tidak puas.

 

“Kalau aku tentu saja tim Yukimura-san. Kecerdasan dan keanggunannya itu, tidak ada kata lain selain menyebutnya sangat ideal.”

 

“Hei, Tanaka~! Kamu ini ternyata beneran, ya?!”

 

“T-tidak, kan sudah kubilang berkali-kali, aku ini murni menghormati kecerdasannya──”

 

“Bohong! Mana ada kecerdasan, kamu cuma punya niat terselubung saja, kan!”

 

“Ini kesalahpahaman!”

 

Sambil memandangi mereka berdua yang kembali bersitegang, aku duduk bersila di atas kasur futon.

 

Sentuhan yang agak keras, berbeda dengan tempat tidur. Namun entah mengapa terasa menenangkan.

 

“Yah, soal Tanaka nanti akan kubahas secara mendalam bersamanya. Tapi Amano,”

 

Nada suara Sugiuchi mendadak berubah.

 

Saat aku menegakkan tubuh, wajahnya tampak serius, tidak seperti biasanya.

 

“Aku...... berniat untuk menyatakan perasaan kepada Yukimura-san di perjalanan wisata sekolah ini.”

 

“......Guh.”

 

Seketika, bagian dalam dadaku berdegup kencang. Namun aku berusaha mati-matian agar tidak menunjukkannya di raut wajahku.

 

“......Begitu, ya.”

 

“Jangan tertawa, ya? Aku beneran serius. Sejak kelas 1 aku sudah menyukainya...... Kalau di perjalanan wisata sekolah, pasti bakal ada lebih banyak kesempatan untuk mengobrol dibandingkan biasanya, kan.”

 

Pandangan mata Sugiuchi terlihat sangat serius.

 

Aku sama sekali tidak berniat menganggapnya remeh. Menyampaikan perasaan kepada orang yang disukai. Kerumitan dan kesulitannya sangat kupahami dengan baik saat ini. Namun,

 

(......Ternyata rasanya cukup menyebalkan juga, ya.)

 

Mizuki ditembak oleh orang lain bukanlah hal yang baru. Jika harus memikirkannya satu per satu, tentu tidak akan ada habisnya. Padahal aku berpikir demikian, tetapi......

 

“......Tidak ada gunanya juga kamu menyatakan hal itu padaku, kan.”

 

Sambil berkata demikian, aku berbaring di atas kasur futon yang telah tergelar lalu menatap ke arah langit-langit.

 

Aku tidak memiliki hak untuk menghentikan niat penembakannya. Lagipula, aku pun belum bisa mengungkapkan hubunganku dengan Mizuki kepada siapa pun.

 

Langit-langit yang tidak familier. Suaraku sendiri terdengar seperti urusan orang lain.

 

“Ya-yah memang begitu, sih...... Tapi kalau nanti aku ditolak, hibur aku, ya.”

 

“Tidak mau.”

 

Aku beranjak bangun dari kasur futon lalu meraih jaket.

 

“Nn? Mau ke mana, Amano?”

 

“Jalan-jalan sebentar.”

 

Sambil melambaikan tangan ringan menanggapi suara Sugiuchi, aku keluar dari kamar.

 

......Tepat sebelum keluar, rasanya mataku sempat berpapasan dengan Renji yang menatapku dengan pandangan heran.

 

 

──Seketika itu pula, lorong yang kumasuki terasa begitu sunyi sengyap.

 

Setelah selesai makan malam, ini adalah waktu bebas sejenak. Meski begitu, keadaan di luar sudah gelap gulita.

 

Pada jam segini, keluar rumah sebenarnya sudah tidak diperbolehkan lagi, tetapi...... entah mengapa saat ini aku sangat ingin menghirup udara luar yang dingin.

 

Melewati lobi, melintasi pintu kaca, lalu melangkah ke luar.

 

──Seketika itu pula, hawa dingin yang menusuk mengelus pipiku.

 

Kyoto di bulan Desember. Dingin menusuk tulang khas daerah cekungan sama sekali tidak bisa dibandingkan dengan Tokyo. Memakai mantel adalah keputusan yang sangat tepat.

 

Taman penginapan tampak diterangi oleh temaram lampu yang samar. Lentera batu yang ditumbuhi lumut. Pepohonan yang meranggas karena musim dingin. Permukaan air kolam kecil memantulkan langit malam dan bergelombang pelan.

 

Sambil mengembunkan napas putih, aku melangkah tanpa tujuan menelusuri taman tersebut.

 

Hingga kemudian.

 

“......Guh.”

 

Di tepi kolam. Di dalam kegelapan yang tak terjangkau oleh cahaya lampu. Seorang gadis tampak berdiri sendirian di sana. Rambut hitamnya yang panjang terurai bergoyang pelan tertiup angin malam. Punggungnya yang ramping terbalut mantel berwarna putih.

 

Melihat sosoknya──entah mengapa rasa cemas mendadak menyelimutiku. Seolah-olah dia akan melebur ke dalam kegelapan malam dan lenyap saat ini juga. Sebuah ilusi yang terasa seperti itu.

 

(......Entah mengapa, terasa sangat familier, ya.)

 

Tiba-tiba aku berpikir. Perasaan ini adalah hal yang sering kurasakan di masa lalu.

 

Tengah malam──saat aku sadar Mizuki sudah tidak ada, diriku yang masih kecil akan berupaya mati-matian mencari ke sekeliling jalanan malam yang gelap.

 

Aku harus menemukannya dengan cepat. Sebelum semuanya terlambat. Terdorong oleh rasa panik semacam itu.

 

Sekarang hal itu sudah tidak pernah terjadi lagi. Namun apa yang dilakukan Mizuki kala itu, aku masih tidak mengetahuinya.

 

Kaki melangkah secara alami. Meskipun aku mendekat, Mizuki tetap berdiri di sana.

 

“──Mizuki.”

 

Aku sengaja memanggil namanya, bukan nama keluarganya. Seketika itu pula, Mizuki membalikkan badannya secara perlahan. Kecantikan parasnya yang tampak putih transparan diterangi oleh temaram cahaya lampu.

 

“......Iori?”

 

Tanpa tampak terkejut sedikit pun. Persis seperti percakapan yang biasa kami lakukan di rumah.

 

Setelah membalikkan badan, Mizuki menatapku sambil mengedipkan matanya.

 

“......Sedang apa kamu di sini? Di tempat seperti ini lagi.”

 

“Kalimat itu seharusnya jadi milikku, tahu.”

 

Mizuki terkekeh pelan.

 

“Ada apa? Bagaimana dengan Iori sendiri?”

 

“......Aku cuma mau menghirup udara luar, jadi jalan-jalan sebentar.”

 

Padahal pasti dingin. Tanpa mengenakan sarung tangan maupun syal, dia hanya berdiri begitu saja di taman malam.

 

Melihat sosoknya yang seperti itu, alis mataku menekuk.

 

“Nanti tubuhmu bisa kedinginan, lho.”

 

Saat aku berkata demikian, entah mengapa Mizuki merentangkan kedua tangannya.

 

“Bisa tolong hangatkan aku?”

 

“......Jangan bicara sembarangan, ah.”

 

Padahal tidak tahu siapa yang sedang melihat. Tanpa merasa keberatan atau mengulur waktu, Mizuki langsung menurunkan kedua tangannya kembali dengan santai.

 

“Entah kenapa, rasanya sangat familier, ya.”

 

“Nn?”

 

“Dulu, kamu sering datang mencariku, kan.”

 

Mendengar kata-katanya, pikiranku seketika terhenti sejenak. Rupanya Mizuki pun teringat akan hal yang sama.

 

“......Soalnya kamu suka menghilang seenaknya sendiri, sih.”

 

Aku membalasnya dengan nada ketus. Menanggapi hal itu, Mizuki tidak mengatakan apa-apa. Lalu kami berdua memandangi taman yang gelap.

 

Di kejauhan, suara laju mobil terdengar secara samar-samar.

 

“Mizuki.”

 

Sambil mendengarkannya, tiba-tiba aku berpikir. Jika sekarang, mungkin dia mau memberitahukanku.

 

“Apa?”

 

“Waktu itu...... setiap tengah malam, kamu biasanya melakukan apa?”

 

Alasan mengapa Mizuki kala itu selalu menghilang ke dalam kegelapan malam. Meskipun sudah berkali-kali menanyakannya, hal itu tidak pernah diberitahukan kepadaku.

 

“Tidak ada apa-apa, kok.”

 

Mizuki bergumam pelan.

 

Jadi pada akhirnya tetap tidak mau diberitahukan, ya.

 

Tepat saat bahuku hendak terkulai lesu:

 

“Hanya saja, waktu itu...... aku berpikir bahwa aku tidak masalah jika harus mati kapan saja.”

 

“......Guh!”

 

Rasanya jantungku seperti dicengkeram oleh tangan yang sangat dingin. Dengan ekspresi yang tidak berbeda dari biasanya, dia mengutarakannya seolah bukan hal yang berarti.

 

Di hadapanku yang kehilangan kata-kata...... Mizuki tersenyum dengan raut wajah serba salah.

 

“Kalau sekarang, aku sudah tidak berpikir seperti itu lagi, kok.”

 

Sambil berkata demikian, dia menyentuh pipiku secara perlahan.

 

Jari-jemari yang terasa dingin. Sudah berapa lama dia berada di sini? Tanpa sadar, aku menggenggam tangan itu.

 

“Soalnya kalau aku sampai tidak ada, Iori pasti bakal menangis, kan.”

 

Seolah-olah terpaksa, tetapi terlihat sedikit gembira, Mizuki mengucapkannya.

 

Melihat raut wajahnya itu, kepalaku mendadak terasa sakit secara berdenyut.

 

“......Guh.”

 

Aku memegang kepalaku. Seketika itu pula, Mizuki menempelkan tangannya di kepalaku dengan lembut.

 

“Masih sakit?”

 

Mendengar suara itu, aku menggelengkan kepala.

 

“......Tidak apa-apa, kok. Sudah tidak terasa apa-apa.”

 

Luka yang didapatkan dari kecelakaan di masa kecil dulu. Luka itu hanya sesekali terasa nyeri sampai sekarang.

 

“Maafkan aku, ya.”

 

“Kenapa Mizuki yang harus minta maaf...... Kamu sama sekali tidak salah, kok.”

 

Aku melepaskan tangan yang menempel di kepalaku itu secara perlahan dan lembut. Rasa sakitnya sudah mereda. Makin lama berada di sini pun sepertinya bakal berbahaya.

 

“Ayo kita kembali. Nanti bisa masuk angin.”

 

“Ya.”

 

Saat aku mengucapkannya untuk mengalihkan perhatian, Mizuki mengangguk dengan patuh. Tangannya perlahan terlepas dariku.

 

Tepat saat kehangatan itu menghilang, dinginnya hawa malam mendadak terasa menusuk ke dalam tubuh. Lalu, tepat sebelum kami masuk ke dalam penginapan:

 

“Iori.”

 

“Nn? A──”

 

Secara perlahan, bibir kami saling bertaut.

 

Mizuki tersenyum lembut pada diriku yang membeku kaku.

 

“Selamat tidur.”

 

Hanya menyisakan satu kata itu, Mizuki pun berjalan kembali ke dalam penginapan.

 

◇

 

SIDE: Kotoha

 

──Dewa itu benar-benar tidak adil.

 

Aku, Kashiwagi Kotoha, sekali lagi memikirkan hal tersebut.

 

“Kyaa~! Proporsi tubuh Yukimura-san parah banget indahnya! Kakinya jenjang! Pinggangnya ramping!”

 

“U-uwaa. Kulitnya juga halus banget...... Pakai skincare apa, sih?!”

 

“Tidak pakai apa-apa, kok.”

 

“Bohong! Pasti bohong, deh!!”

 

Pemandian umum.

 

Di balik uap air hangat, sebuah pemandangan yang mengagumkan terhampar luas.

 

Yukimura Mizuki-san. Bahkan tanpa riasan pun kecantikannya sudah membuat selebritas kalah saing, dan begitu dia berada dalam kondisi tanpa sehelai benang pun, rasanya dia sudah tidak bisa dianggap sebagai manusia yang sama lagi.

 

Tangan dan kakinya teruji ramping dan jenjang. Lekuk tubuh yang proporsional tanpa lemak berlebih, tetapi tetap memancarkan kesan kewanitaan. Kulitnya yang putih dan halus bagaikan porselen.

 

Anak-anak perempuan di kelas mengerubunginya sambil bersorak riang. Di pusat kerumunan itu, Yukimura-san memasang raut wajah yang agak serba salah.

 

“......”

 

Di sisi lain, aku menenggelamkan tubuhku diam-diam di sudut bak pemandian.

 

Padahal seharusnya aku tidak perlu melihatnya, tetapi mataku tanpa sadar terus memperhatikannya. Dan setiap kali melihatnya, bagian dalam dadaku mendadak terasa begitu berat.

 

(......Seperti yang diduga, dia memang luar biasa, ya.)

 

Wajah, proporsi tubuh, segalanya. Tidak ada satu hal pun di mana aku bisa menang darinya.

 

Aku sudah tahu. Aku sudah tahu hal itu, tetapi...... begitu melihatnya secara langsung dengan mata kepala sendiri seperti ini, rasa minder tetap saja muncul tanpa bisa ditahan.

 

Aku melirik sedikit ke arah tubuhku sendiri.

 

Setidaknya aku selalu menjaga bentuk tubuh, dan kurasa penampilanku cukup rapi dan terawat. Tapi ini tetap tidak bisa keluar dari batasan standar orang Jepang pada umumnya. Tinggiku rata-rata, tangan dan kakiku pun tidak tergolong panjang.

 

Hanya saja, yah kalau boleh dipaksakan mencari kelebihan......

 

(......M-mungkin cuma ukuran dadaku saja yang menang, kali ya?)

 

Memikirkan hal itu membuatku seketika merasa sangat menyedihkan.

 

Bersaing menggunakan ukuran dada yang selama ini hanya menjadi kompulsi dan rasa minder bagiku, seberapa menyedihkannya sih aku ini.

 

Sudah ah, aku tidak mau memikirkannya lagi. Sambil menenggelamkan mulutku ke dalam air hangat, aku menghembuskan gelembung-gelembung udara, buk-buk.

 

“......Kashiwagi-san?”

 

Tiba-tiba terdengar suara memanggilku dari samping.

 

Saat mendongakkan kepala...... Yukimura-san yang entah sejak kapan sudah terbebas dari kerumunan, kini berdiri tepat di sampingku.

 

“Guh?! Yu-Yukimura-san?!”

 

Aku terburu-buru membetulkan posisi dudukku. Meskipun sudah tertutupi oleh handuk, dari jarak yang sangat dekat ini kecantikan nomor satu di sekolah terpancar jelas. Jantungku seketika berdegup kencang, deg-deg.

 

“Boleh aku duduk di sampingmu?”

 

“Eh, a, u-uhn.”

 

Melihat Yukimura-san yang memiringkan kepalanya bingung, aku mengangguk dengan gugup dan terbata-bata.

 

Yukimura-san masuk ke dalam bak pemandian secara perlahan, lalu duduk di sampingku.

 

......Dekat sekali. Profil wajahnya yang terlihat di balik uap air hangat benar-benar luar biasa cantik hingga sulit dipercaya.

 

Bisa masuk ke pemandian air hangat berdampingan dengan orang ini, seandainya dikatakan kepada diriku 1 tahun yang lalu pun, aku pasti tidak bakal memercayainya.

 

“......”

“......”

 

Hening pun tercipta.

 

Aku harus membicarakan sesuatu.

 

Padahal berpikir demikian, tetapi tidak ada hal apa pun yang terlintas di kepalaku. Selama ini pun kami hampir tidak pernah berinteraksi. Meskipun berada di kelas yang sama, jumlah percakapan kami bisa dihitung dengan jari.

 

Hal itu tentu saja karena aku......

 

“......Kashiwagi-san.”

 

Orang yang pertama kali membuka suara adalah Yukimura-san.

 

“U-uhn?”

 

“Apakah kamu benci padaku?”

 

Huk, aku menahan napas secara mendadak.

 

“......Guh, k-kenapa bertanya begitu?”

 

“Entahlah. Aku cuma merasa sepertinya kamu sedang menghindariku.”

 

Napas terhenti.

 

Terhadap diriku yang tidak bisa membantahnya secara refleks pada saat itu juga, aku mengutuk diriku sendiri, dasar bodoh! Jika diam di saat seperti ini, rasanya bakal dianggap mengiyakan.

 

Namun...... fakta bahwa aku memang menghindarinya adalah sebuah kenyataan. Bahkan jika aku bersikap berpura-pura pun, hal itu pasti bakal tersampaikan padanya. Tatapan matanya yang seolah-olah bisa melihat menembus segalanya membuatku menciutkan tubuhku.

 

“M-mengenai hal itu...... maafkan aku. Tapi, bukannya aku membencimu, kok.”

 

“Ya.”




“Um......”

 

Bagaimana ini? Aku harus bilang apa?

 

Melihatku yang dilanda kebingungan seperti itu, Yukimura-san......

 

“Maaf, ya. Aku bukannya berniat menyalahkanmu, kok.”

 

“Eh......?”

 

“Soalnya kalau bisa, aku ingin bisa akrab dengan Kashiwagi-san.”

 

Seperti biasanya, diutarakannya dengan suara yang tanpa intonasi. Namun mendengarkan kata-katanya itu, mataku seketika terbelalak lebar.

 

Selama ini aku selalu memendam rasa enggan secara sepihak. Menanggung rasa minder secara sekehendak hati.

 

Yukimura-san pasti...... sama sekali tidak memandangku. Padahal aku mengira demikian.

 

Mendapat tatapan dari sepasang mata yang menatap ke arahku ini, setelah dilanda keraguan, aku pun akhirnya membuka suara.

 

“......Anu.”

 

Aku bergumam pelan. Tanpa memahami secara pasti apa yang sebenarnya hendak kuucapkan sendiri. Namun aku merasa jika tidak diucapkan sekarang, aku tidak akan pernah bisa mengutarakannya lagi untuk kedua kalinya.

 

“Aku tuh, ya...... selalu dibilang oleh semua orang sebagai 'gadis tercantik nomor 2', kan?”

 

Sebelum sempat dipikirkan oleh otakku, kata-kata itu terluncur begitu saja. Apakah karena aku terlalu lama berendam di pemandian air hangat ini? Otakku tidak bisa berputar dengan baik.

 

“......Nn.”

 

Menanggapi perkataan itu, Yukimura-san mengangguk. Melihat hal itu aku hanya bisa tersenyum canggung.

 

Tercantik nomor 2. Jika didengar secara biasa, hal itu terasa sangat percaya diri yang keterlaluan. Namun, itulah label yang selama ini ditempelkan padaku.

 

Jari-jemariku menelusuri permukaan air hangat. Riakan gelombang meluas, lalu menghilang.

 

“Awalnya, tahu? Aku sama sekali tidak memikirkannya. Aku merasa senang karena berpikir kalau itu adalah pujian. Tapi...... makin sering dipanggil seperti itu, rasanya makin menyakitkan. Aku jadi mulai berpikir bahwa aku ini hanyalah sekadar pengganti dari Yukimura-san saja.”

 

“......”

 

“Oleh karena itu tanpa disadari...... aku jadi tidak bisa menatap Yukimura-san secara wajar lagi. Aku malah berpikir, seandainya saja tidak ada orang yang nomor 1, aku tidak bakal dipanggil sebagai orang yang nomor 2.”

 

Sungguh buruk sekali. Bisa-bisanya melontarkan hal semacam ini langsung kepada yang bersangkutan. Namun, aku sudah tidak bisa menyembunyikannya lagi.

 

Seolah-olah menumpahkan segala hal yang selama ini kupendam, aku membeberkan semuanya.

 

“......Beneran, buruk banget kan aku ini. Bersikap cemburu sekehendak hati.”

 

Yukimura-san tidak mengatakan apa-apa.

 

Apakah dia marah? Tentu saja. Diucapkan hal semacam ini, tidak mungkin perasaannya bakal merasa senang. Rasa penyesalan datang berkecamuk. Seharusnya aku tidak mengatakannya tadi.

 

Melihatku yang menundukkan kepala seperti itu, Yukimura-san......

 

“......Aku ini, tidak sehebat yang dikatakan oleh orang-orang, kok.”

 

“......Guh?”

 

Mendengar kata-kata itu, aku meragukan pendengaranku sendiri.

 

Yukimura-san...... tidak sehebat itu?

 

Apa-apaan itu, kalimat itu hampir saja keluar dari mulutku. Dilihat oleh siapa pun dari sudut mana pun, orang ini sangat spesial. Bahkan untuk sebuah sikap rendah hati pun hal ini terasa berlebihan. Jika boleh jujur...... aku malah sempat berpikir apakah ini sebuah sindiran.

 

Saat hendak membuka mulut, aku merasa bakal mengucapkan sesuatu yang tidak baik. Aku pun membungkam mulutku rapat-rapt.

 

“Soalnya semua orang sepertinya menuntutku untuk selalu menjadi sosok yang sempurna.”

 

Namun Yukimura-san tetap melanjutkan bicaranya secara datar sambil menatap menembus uap air hangat.

 

“Aku merasa harus bersikap seperti itu. Agar mereka tidak merasa kecewa padaku.”

 

Mendengar kata-kata itu, aku membeku kaku. Habisnya, itu adalah kalimat yang sama sekali tidak kuduga.

 

Kata 'kecewa'. Orang seperti ini memikirkan hal semacam itu.

 

“Oleh karena itu, orang yang benar-benar akrab denganku sebenarnya tidak begitu ada.”

 

Mendengar kata-katanya yang terkesan mengejek diri sendiri itu, suaraku seketika tidak bisa keluar lagi.

 

Yukimura Mizuki-san. Baik kecantikan, kecerdasan, maupun popularitas, seorang gadis sempurna yang memiliki segalanya. Tentu saja semua orang berpikir demikian.

 

Namun, hal itu adalah......

 

(......Ah.)

 

Sampai di titik itu, aku akhirnya menyadarinya.

 

Gadis tercantik nomor 2. Padahal aku selalu membenci label semacam itu.

 

Gadis yang sempurna. Gadis yang nomor 1. Siapakah orang yang telah menempelkan label semacam itu padanya?

 

“......Begitu, ya. Aku juga sama saja.”

 

“......?”

 

Aku meraup air hangat dengan tangan. Wajahku sendiri yang terpantul di sana terlihat sangat menyedihkan.

 

“Selama ini, ya. Aku selalu menganggap kalau Yukimura-san adalah orang yang sempurna. Karena berpikir dia berbeda dari orang sepertiku, aku memendam rasa minder sekehendak hati dan menjadikannya sebagai sosok jahat di dalam hatiku.”

 

Sungguh cerita yang buruk. Padahal orang ini tidak salah apa-apa. Dia hanya terlahir lebih cantik dari orang lain, cerdas, hanya sebatas itu saja. Sedangkan aku memendam rasa minder secara sepihak, menghindar, dan memendam rasa cemburu.

 

“......Maafkan aku.”

 

Suaraku gemetar. Aku merasa malu dan menyedihkan terhadap diriku sendiri.

 

Sosok jahat. Ungkapan itu terasa sangat tepat.

 

Segala rasa minder dan penderitaanku, semuanya kulemparkan dan kutimpakan sebagai kesalahan orang ini.

 

Keheningan berlangsung sejenak. Tak lama kemudian, Yukimura-san menggelengkan kepalanya secara perlahan.

 

“Kashiwagi-san tidak melakukan kesalahan apa pun, kok.”

 

“......Tapi.”

 

Saat hendak mengutarakan sesuatu, aku membungkam mulutku kembali. Ekspresi wajah Yukimura-san terlihat begitu tenang. Amarah maupun rasa jijik, sama sekali tidak terasa sedikit pun.

 

“Pihakku yang dari dulu jauh lebih banyak menyusahkanmu, kok.”

 

Sambil bergumam demikian, dia menatap mataku.

 

“Maaf, ya. Tapi aku merasa senang karena kamu mau menceritakan semuanya padaku.”

 

“......Guh.”

 

──Ah.

 

Sekalipun dibenci mau bagaimana lagi. Dianggap rendah pun, aku berpikir bahwa itu memang wajar.

 

Padahal begitu...... orang ini sungguh curang. Jika dikatakan seperti itu, aku sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Rasanya aku bisa paham sedikit mengenai perasaan semua orang yang begitu mengagumi orang ini.

 

Di dalam kata-kata orang ini, terdapat sebuah kekuatan misterius. Ingin percaya. Ingin mengandalkan. Ingin dia melihat ke arahku. Ada sesuatu yang membuat pemikiran semacam itu timbul.

 

“......Terima kasih, ya, Yukimura-san.”

 

Saat aku sanggup mengucapkannya, dia memberikan anggukan kecil untukku.

 

Setelah itu, keheningan kembali tercipta. Namun tidak terasa canggung seperti sebelumnya. Uap pemandian air hangat membuat pandangan mata mengabur menjadi putih.

 

(......Mulai sekarang, apakah kami bisa menjadi lebih akrab lagi, ya?)

 

Tanpa disadari, pemikiran seperti itu terlintas di dalam benakku.

 

Bukan sebagai dewi yang sempurna. Melainkan sebagai seorang gadis biasa bernama Yukimura Mizuki.

 

Orang ini telah berusaha untuk menyambut dan berhadapan denganku. Kalau begitu, aku pun harus berhadapan dengannya secara benar.

 

“K-kita sebaiknya keluar sekarang, yuk. Nanti bisa pusing karena terlalu lama berendam.”

 

“Ya.”

 

Aku mengucapkannya untuk menutupi rasa malu, lalu beranjak berdiri dari dalam air pemandian.

 

Di perjalanan wisata sekolah ini, masih ada banyak kesempatan yang tersisa.

 

Aku ingin mengobrol dengan baik dan saling memahami dengan benar.

 

Ingin mengenal seseorang──perasaan yang timbul dari lubuk hati seperti ini, adalah yang pertama kali sejak anak laki-laki itu.



Chapter 4 | ToC | Chapter 6

Post a Comment

Post a Comment

close