NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

[LN] Magical Explorer Volume 12 Chapter 4

                                                    Gua Ujian - Ujian Bulan –

─Perspektif Yukine─

 

Aku menghela napas dan duduk di kursi. Di depanku Shion yang tampak begitu santai hingga hampir menyatu dengan sofa sedang menyesap teh dan bergumam, "Fran, dia lama sekali datang."

 

"Aku diberitahu bahwa dia sudah dalam perjalanan, jadi dia akan segera tiba."

 

Dia pergi mengantar murid-murid Akademi Bela Diri Susanoo bersama Kosuke, Nanami, dan Monica-kaichou. Dan sepertinya mereka sudah selesai sekitar sepuluh menit yang lalu. Jadi, tak heran kalau dia akan datang dalam waktu dekat.

 

"Hei Yukine."

 

"Ada apa?"

 

Shion membuka senjatanya, kipas lipat, menyekanya dengan kain dan membuka bibirnya.

 

"Seperti apa kehidupan sehari-hari Kou?"

 

Aku tidak tahu apa niatnya membicarakan hal itu.

 

"Dia tidur normal, bangun, latihan pagi, makan, pergi ke dungeon, pulang, latihan, makan, lalu tidur. Itu saja."

 

"Setelah melihat insiden dengan Beast King, aku jadi berpikir. Dia tumbuh terlalu cepat. Yah, Iori juga begitu."

 

Shion pasti penasaran seberapa cepat dia tumbuh.

 

"Benar sekali, aku merasa dia telah tumbuh pesat hanya dalam beberapa hari terakhir."

 

Bukan hanya dia saja, tetapi mereka yang pergi ke masa lalu bersamanya juga kembali, lebih kuat dari sebelumnya.

 

"Mungkinkah dia benar-benar menjalani hidupnya seperti di film?"

 

Seperti film kah. Setelah Shion menyebutkannya, mungkin itu benar. Aku langsung bisa membayangkan diriku menjelajahi Dungeon, berpetualang, dan melawan musuh-musuh tangguh yang semuanya bisa membunuhku kapan saja.

 

"Yah, tidak setiap hari, tapi sekitar seminggu sekali."

 

Shion tampak terkejut.

 

"Dia bodoh kah, tidak dia sangat bodoh kah?"

 

"Aku juga berpikir begitu."

 

"Mengapa dia terus mengulangi hal seperti itu?"

 

Kata-kata Shion membuatku bertanya-tanya. Aku juga tidak mengerti.

 

"Pasti ada tujuannya."

 

Shion menghela napas panjang sekali.

 

"Sebanyak apa pun nyawa yang kau miliki, takkan cukup untuk menjalani hari-harimu seperti itu. Tidak bisakah kamu mengatakan sesuatu padanya?"

 

"Dia bukan tipe orang yang tidak akan berhenti melakukan apa pun."

 

Terbersit dalam benak ku bahwa jika dia memaksakan diri terlalu keras, kemungkinan besar dia memaksakan diri demi orang lain dan bahkan jika dia ingin berhenti dia sering kali tidak bisa.

 

...Tetapi meski begitu.

 

"Tidak biasanya Shion begitu mengkhawatirkan seseorang."

 

Setelah aku mengatakan itu, Shion tampak linglung sejenak lalu menyembunyikan mulutnya dengan kipasnya, tampak malu.

 

"Hanya karena kita berada di Shikibukai, orang-orang cenderung berpikir seperti itu. Tapi meskipun diabaikan, ada sesuatu yang selalu membahayakan Kou dan itu membuatku sangat khawatir. Entah kenapa, aku ingin membantunya."

 

"Aku tahu perasaanmu. Melihat Kosuke membuatku merasa seperti berjalan di atas tali di ketinggian... Sepertinya Fran sudah tiba."

 

Saat kami sedang mengobrol, aku mendengar pintu terbuka dan seperti dugaan ku itu Fran.

 

"Apakah kau sudah selesai mengantar mereka?"

 

"Ya. Hanya saja sudah dipastikan Beast King sudah kembali."

 

Fran mendesah. Mereka bahkan sampai latihan tarung jadi sepertinya banyak sekali kerjaannya.

 

"Tidak masalah apakah Beast King ada di sana atau tidak."

 

"Benar," desah Fran pelan.

 

"Aku ingin bertanya pada kalian berdua, apa pendapat kalian tentang pertarungan antara Beast King dan Iori?"

 

"Aku baru saja berbicara dengan Yukine beberapa saat yang lalu."

 

Fran mendesah pelan, "Begitu."

 

"Aku sudah tahu ini, tetapi hal ini membuat ku sadar bahwa aku masih harus banyak belajar."

 

"Apakah itu karena kau melihat Beast King? Atau... karena kau melihat Iori?" Shion bertanya.

 

Kami semua tahu Beast King itu kuat sejak awal dan kami juga tahu dia akan semakin kuat. Tapi Iori yang bertarung hingga menbuat Beast King berubah menjadi binatang buas memiliki kekuatan yang sulit dipercaya bahwa dia masih kelas satu. Rata-rata siswa kelas dua atau tiga di sekolah ini tidak akan sebanding dengannya.

 

"Hal yang sama juga berlaku untuk Beast King, tapi kali ini giliran Iori. Kalau boleh kutambahkan, bukan cuma Iori, tapi juga Takitakioto-san. Mereka sudah sampai pada titik di mana kita tidak tahu kapan mereka akan menyusul atau kapan kita akan disalip."

 

Shion mendesah, bertanya-tanya apa maksud semua ini.

 

"Aku merasakan hal yang sama." (Shion)

 

Fran mengangguk setuju.

 

"Sejujurnya, kupikir itu belum akan terjadi padaku, tapi... ternyata tidak. Kupikir ada kemungkinan itu bisa terjadi saat aku masih siswa tahun kedua."

 

Sambil berkata demikian, dia tersenyum kecut dan menundukkan pandangannya ke tehnya.

 

"Kousuke menghalangi serangan Beast King yang seperti binatang buas."

 

Dan itu terjadi berulang kali. Kurasa wajar saja kalau melihat adegan itu membangkitkan beragam emosi. Shion pasti juga melihat pertarungan itu, itulah sebabnya dia membicarakannya tadi.

 

"Aku agak optimis. Ku pikir mereka akan menyusul saat aku menginjak tahun ketiga."

 

"Begitu ya, jadi kau sedang memikirkan sesuatu dengan santai?" (Shion)

 

"Santai, ya.... memang terkesan santai. Ini mungkin kedengarannya agak aneh, tapi ... kau tahu kan, aku orangnya agak tidak mau kalah"

 

"Sedikit?"

 

Kata-kata itu terucap begitu saja dari mulutku tanpa kupikirkan. Fran menekankan, "Sedikit." Kurasa tidak ada salahnya menjadi kompetitif.

 

"Aku tidak ingin kalah."

 

"...Yah, aku jadi sering ketemu Kou di Shikibu. Aku juga merasa begitu. Hoho. Ternyata masih ada cara untuk melakukannya."

 

Shion menempelkan kipas ke mulutnya dan tertawa. Namun, tawanya perlahan mereda. Kemudian ia tampak serius.

 

"Santai, ya? Terkadang sudah terlambat."

 

Shion mengatakan sesuatu yang berarti lalu menundukkan wajahnya.

 

"Shion?"

 

Ketika aku bertanya pada Shion, dia tertawa dan menggelengkan kepalanya.

 

"Maaf, ini cuma mengingatkanku pada rumah. Jangan khawatir."

 

Aku sudah mendengar sedikit tentangnya darinya tapi sepertinya menjadi keluarga bangsawan itu sulit dalam banyak hal. Yah, mungkin sulit bagi banyak bangsawan. Ngomong-ngomong, begini yang bisa kukatakan.

 

"Ini tidak ada hubungannya dengan latar belakang keluargamu. Melihat ekspresimu seperti itu saja sudah menggangguku. Lagipula, kalau aku bisa membantu, aku akan meminjamkanmu kekuatanku, meskipun hanya sedikit."

 

Begitu aku mengatakan itu, Fran mengangguk.

 

"Benar sekali, rahasia tidak cocok untuk kita."

 

"Kalian berdua benar-benar temanku..."

 

"Aku juga berpikir begitu. Ayo, ceritakan padaku."

 

Ketika aku mengatakannya dengan agak memaksa, Shion tertawa canggung.

 

"Itu urusan keluarga Himemiya sendiri, jadi kalian tidak bisa berbuat apa-apa. Lagipula, aku berencana meninggalkan rumah dan menjadi petualang. Itu akan menyelesaikan masalah ini."

 

Aku belum menyelidikinya secara mendalam, tetapi tampaknya ini merupakan masalah yang cukup mengakar.

 

"Jadi, aku berharap bisa menjadi cukup kuat untuk menjadi petualang selagi masih sekolah. Namun, kalah dari mahasiswa baru akan merugikan harga diriku, jadi aku tidak berniat kalah. Tapi, aku sedang disalip."

 

Sambil berkata demikian, dia mengusap rambutnya, lalu memikirkan sesuatu.

 

"Sekarang setelah kupikir-pikir, aku mungkin punya kekhawatiran yang sama dengan Fran... Tapi yang lebih penting, bagaimana dengan Yukine?"

 

"Aku?"

 

"Ya. Kamu pasti juga khawatir, kan?"

 

"Itu, ya pastinya."

 

Wajah Takioto Kosuke muncul di benak ku. Dia jelas menyembunyikan sesuatu, itulah sebabnya dia melakukan kesalahan sembrono, dan akibatnya dia menjadi semakin kuat. Dia menjalani hidup dengan terburu-buru, dan meskipun aku bertanya-tanya apakah dia harus menghentikannya, dia tidak berhenti. Jadi apa yang bisa ku lakukan? Apakah aku baik-baik saja dengan diri ku yang sekarang? Apakah kondisi ku saat ini baik-baik saja?

 

"Yah, aku memang khawatir. Pikiranku jadi kacau."

 

"Aku mengerti. Kalau begitu, ceritakan padaku." (Shion)

 

"Bahkan jika kau memintaku bicara, itulah yang kau khawatirkan. Aku sedang membicarakan Kosuke. Dia menjalani hidup terlalu cepat. Aku penasaran kenapa dia begitu, tapi setiap kali aku bertanya, aku merasa dia hanya menghindari pertanyaan itu."

 

"Jadi begitu" Kata Fran.  Shion mengangguk.

 

"Yah, aku yakin itu akan ada jalan keluar nantinya. Tapi yang lebih penting adalah masalah kalian berdua."

 

"Masalah Kami?"

 

"Sebenarnya aku punya ide bagus, tapi..."

 

"Ide bagus?"

 

Fran mengulang.

 

"Mungkin itu seperti menaruh kereta di depan kuda, tapi menurutku yang terbaik adalah bergantung pada orang yang bersangkutan."

 

Fran dan Shion mengangguk sambil tersenyum kecut.

 

"Itu benar." (Shion)

 

"Aku juga berpikir hal yang sama."

 

"Kalau begitu, mari kita bicara sebentar."

 

─Perspektif Takioto─

 

Ada beberapa hal yang kita butuhkan untuk memenangkan pertempuran melawan Beast King. Kekuatannya saat ini hanya kalah dari Monica-kaichou, dan seharusnya setara dengan Benito-Kyo dan Hanzou-san dari Dewan Siswa.

 

Kurasa aku sedikit diuntungkan karena aku punya pengetahuan dan bisa memanfaatkan kelemahannya. Tapi pada dasarnya, aku kurang terampil. Aku tidak bisa memastikannya jadi ini hanya tebakan ku, tapi ku rasa level ku sangat rendah.

 

Aku bisa memikirkan beberapa cara untuk mengatasinya. Salah satunya adalah perlengkapan. Kalau senjata dan aksesori yang kau pakai kuat, kau bisa menutupi sedikit perbedaan level. Sayangnya, penggunaan item dilarang selama pertandingan, jadi kau tidak bisa menggunakan magic stone.

 

Yang kedua adalah keterampilan. Jika kau menguasai keterampilan yang sangat berguna seperti Mind Eye, atau keterampilan yang memberikan penguatan fisik secara konstan, kau akan dapat meningkatkan kemampuanmu mendekati Beast King tanpa perlu naik level.

 

Aku juga berpikir penting untuk meningkatkan kemampuan bertarung ku. Jika Aku bisa menggunakan Stola atau pedang dengan lebih efektif, aku seharusnya bisa bertarung meskipun kemampuan ku agak lemah.

 

Sekarang, semua keinginan itu dapat terpenuhi di satu dungeon, tetapi ada satu masalah.

 

Ini berarti hampir mustahil untuk melakukannya sendirian.

 

Tingkat kesulitannya cukup tinggi. Bahkan dengan rekan satu tim yang biasa, musuhnya terlalu kuat dan membuat mu merasa tidak nyaman.

 

Lagipula sepertinya Yuika  dan Ludi diajak Iori dan Katrina ke dungeon lain. Aku juga diundang, tapi aku menolak. Iincho dan Orange juga termasuk kandidat undangan, jadi jumlah anggotanya terlalu banyak dan dungeon yang mereka rencanakan kurang menarik bagiku.

 

Namun, Iori, Ludi, dan yang lainnya seharusnya bisa memperoleh beberapa keterampilan yang sangat berguna, jadi aku harap mereka berusaha semaksimal mungkin untuk menyelesaikan tahapan ini.

 

Jadi apa yang harus ku lakukan?

 

Haruskah aku mengundang seseorang yang berbakat? Kalau begitu, siapa yang harus aku undang? Saat aku sedang memikirkan hal ini, Tsukuyomi Traveler menerima pesan. Pesan itu dari Senpai.

 

("Aku ingin meminta sesuatu padamu, jadi jika kau bisa datang, silakan datang ke Istana Bulan.")

 

Tentu saja, kalau yang memanggil itu Senpai, aku tidak punya pilihan selain memohon ("Aku akan kesana dengan segala cara, kumohon.") Aku langsung mengirim balasan dan bersiap pergi saat Nanami melihatku dari samping seolah berkata dia sudah selesai bersiap.

 

"Apakah Nanami juga mendapat pesan?"

 

Ketika ditanya hal ini, Nanami menggelengkan kepalanya.

 

"Tidak, itu belum datang. Goshujin-sama sedang bersiap-siap, jadi saya juga bersiap-siap."

 

"Tahukah kau apa yang sedang kucoba lakukan?"

 

"Kurasa Yukine-sama, Ludi-sama, atau Yuika-sama. Kalau begitu, keahlian saya sebagai Maid mungkin dibutuhkan."

 

Kok dia tahu itu dari Senpai? Dan apa-apaan kekuatan Maid itu? Aku tidak percaya.

 

"Kau tidak mengirim virus dan mengekstrak informasi dari perangkat ku, bukan?"

 

"Tidak, saya hanya memasang penyadapan, tidak seperti itu."

 

"Kau menjebakku!"

 

"Yah, saya cuma bercanda. Dengana hanya melihat Goshujin-sama saja saya mengerti semuanya."

 

"Bukankah itu lebih menakutkan?"

 

Aku merasa seperti akan berkeringat dingin.

 

"Lihat, Goshujin-sama, sepertinya Anda sudah menerima balasan?"

 

Nanami menyuruhku memeriksa Tsukuyomi Traveler.

 

Balasan yang kudapat dari Senpai adalah, "Kenapa kau memohom padaku?", yang merupakan pendapat yang sangat masuk akal. Aku pun pergi ke Istana Bulan bersama Nanami. Bisa dibilang Sekolah tak jauh dari rumahku.

 

Senpai dan lainnya sudah berada di Istana Bulan. Shion dan Wakil ketua Fran juga ada di sana, duduk dan membicarakan sesuatu dengan serius tetapi ketika mereka melihat kami, mereka tersenyum.

 

"Maaf memintamu datang tiba-tiba."

 

"Aku merasa terhormat kamu memanggilku. Kalau Senpai memanggilku, aku akan datang bahkan jika aku mati dan menjadi hantu, jadi jangan khawatir."

 

"Baiklah, kalau begitu, kau tidak perlu datang ke sini, jadi beristirahatlah dengan tenang."

 

Wakil ketua Fran dengan tenang membalas,

 

"Hmm, Nanami juga datang. Aku tidak bermaksud mengganggumu. Aku cuma bilang kamu mungkin akan datang." Kata Shion.

Kalau dia ngomong gitu, kayaknya dia baik-baik aja di sana.

 

Nanami dan aku disuruh duduk. Nanami mencoba membuat teh, tetapi Senpai menghentikannya dan menyuruhnya duduk. Senpai kemudian pergi membuat teh lagi, sementara Wakil ketua Fran mengeluarkan beberapa permen dari tas penyimpanan dimensionalnya.

 

"Goshujin-sama, sepertinya kita mendapatkan perlakuan VIP."

 

"Aku memanggilmu karena aku ingin meminta bantuanmu."

 

Kata Wakil ketua Fran. Kalau Wakil ketua Fran minta tolong yang terpikir cuma kejadian aneh.

 

"Bantuan?"

 

"Yah," pikirku, mencoba mengingat sebuah peristiwa di benakku. Tapi, adakah peristiwa di mana ketiga orang ini hadir dan sang tokoh utama datang meminta nasihat? Ah, tidak, ada satu.

 

"...Apakah ini ada hubungannya dengan cosplay?"

 

Shion mendesah.

 

"Mana ada. Apa yang sedang kau bicarakan?"

 

Yukine-senpai membawakan teh dan menaruhnya di hadapan semua orang, lalu berdeham.

 

"Langsung saja ke intinya... Bisakah kau memberi kami beberapa ide untuk membantu kami menjadi lebih kuat?"

 

"Untuk menjadi lebih kuat? Bukankah kalian semua sudah kuat sejak awal?"

 

Ketika aku bertanya lagi, Shion menjelaskan secara rinci.

 

"Ya. Aku tahu aku agak malu mengatakan ini, tapi dibandingkan dengan Kou dan yang lainnya aku merasa kita stagnan."

 

Begitu. Itu masalah yang cuma ada di dunia nyata, pikirku. Di game, meskipun lemah, kita tidak akan meminta nasihat dari protagonis atau orang lain.

 

"Kalau kau tahu, aku ingin kau memberitahu kami ke dungeon yang akan membantu kami menjadi lebih kuat. Akan lebih baik lagi jika kami bisa berlatih tidak hanya secara fisik tetapi juga mental."

 

Aku mengulang-ulang kata-kata Wakil ketua Fran dalam benak ku.

 

Ya. Itu akan membuat mereka lebih kuat kan. Ini sangat disambut baik.

 

Mempertimbangkan kejadian di masa depan, aku ingin semua orang menjadi lebih kuat, atau lebih tepatnya akan jadi masalah jika mereka tidak menjadi lebih kuat. Dalam Magiex ada hal-hal yang harus kau lakukan untuk menaklukkan sang pahlawan wanita. Ini adalah pilihan dan kejadian.

 

Namun, kemampuan tokoh utama wanita yang terlibat juga penting untuk menyelesaikan acara tersebut. Sama seperti insiden Ludi, jika Ludi sendiri tidak memiliki kemampuan tersebut mustahil untuk menyelesaikan event tersebut.

 

Dalam game, kau dapat naik level saat suatu event berlangsung atau melewatinya dan melakukannya lagi di lain waktu, tetapi hal itu tidak mungkin dilakukan sekarang.

 

Seperti biasa, kemampuan dibutuhkan untuk memajukan event bagi para wakil ketua anggota dari Sankai.

 

Faktanya, baik Shion maupun Fran fuku-kaichou harus sangat terampil untuk mencapai akhir yang bahagia. Khususnya, Fran fuku-kaichou perlu berhati-hati, karena ada kemungkinan kejadian ini akan berkembang menjadi pengkhianatan.

 

Lalu, ketika membandingkan tujuan mereka dengan tujuan ku, aku tiba-tiba mendapat ide.

 

"Ya itu pas sekali."

 

"Pas sekali?"

 

"Aku sendiri juga punya hal yang ingin ku tanyakan pada kalian yang cakap-cakap. Mungkin kita bisa mencapai tujuan kita bersama."

 

"Ada yang ingin kamu tanyakan?"

 

"Aku ingin menaklukkan dungeon tertentu. Musuh-musuhnya agak tinggi levelnya, jadi aku bingung harus berbuat apa. Lagipula, Yuika dan yang lainnya sudah berjanji untuk pergi ke dungeon itu bersama Iori, jadi jumlah orangnya tidak cukup."

 

Dengan bantuan senpai, aku yakin aku akan mampu mencapai bos terakhir tanpa masalah.

 

"Meskipun musuhnya kuat, sebagai imbalannya kau bisa mendapatkan banyak kekuatan sihir dan keterampilan yang bagus. Bagaimana kalau kita semua pergi? Ini dungeon dengan sistem yang agak unik, jadi mungkin akan cukup sulit."

 

"Dungeon dengan sistem unik, katamu?" (Shion)

 

"Ya, nanti akan kujelaskan lebih detail. Tapi, ada sesuatu yang perlu kalian persiapkan..."

 

"Sesuatu yang kamu ingin kami persiapkan?"

 

Aku mengangguk setuju pada kata-kata Fran fuku-kaichou.

 

"Ini adalah dungeon yang agak unik... mungkin cukup sulit dalam banyak hal. Selain itu, tergantung orangnya bisa sangat sulit dan membuat mereka hampir putus asa."

 

"Apakah kau akan didorong hingga batas kemampuanmu?"

 

"Ya, tak diragukan lagi kamu akan jadi lebih kuat. Jika itu tidak masalah bagi kalian, mau ikut denganku?"

 

Para senpai saling berpandangan dan mengangguk tanpa berkata apa-apa.

 

◇

 

"Suasananya seperti dungeon biasa." Shion bergumam.

 

Sekilas, bagian dalam dungeon itu tampak seperti dinding batu bergerigi dengan banyak batu berserakan di mana-mana. Sepertinya gua-gua yang terbentuk oleh erosi gelombang terlihat seperti ini. Kurasa bisa dibilang dungeon ini seperti gua pada umumnya.

 

"Seperti yang Takioto-san katakan, tidak ada monster di sini."

 

Sambil mengatakan hal ini Fran fuku-kaichou menaiki anak tangga kecil dan menghindari bebatuan di bawah kakinya.

 

Beberapa informasi tentang dungeon sudah diberikan. Ku rasa tidak ada yang kurang.

 

"Kamu bilang itu dungeon dengan banyak lantai khusus. Yah, itu dungeon yang direkomendasikan Kou jadi aku tidak terlalu khawatir."

 

"Haha, kurasa ini akan sangat sulit. Kurasa ini mustahil tanpa bantuan para senpai, dan yang terpenting, ini melelahkan secara mental... jadi aku sebenarnya agak khawatir."

 

Sambil kami berbincang, kami masuk semakin dalam ke dalam gua.

 

Setelah berjalan sekitar lima menit, kami tiba di sana. Ruangan itu berdinding melingkar. Di kedua sisi kami, terdapat patung-patung batu dan lingkaran sihir teleportasi.

 

"Ada tiga patung batu dan lingkaran sihir teleportasi di samping masing-masing patung. Persis seperti yang kudengar sebelumnya."

 

kata Senpai sambil menatap patung batu di depannya.

 

"Ada patung batu dengan tongkat berbentuk bintang ("Trial of the Stars"), patung batu dengan sabit berbentuk bulan sabit ("Trial of the Moon"), dan patung yang memakai mahkota berbentuk matahari ("Trial of the Sun")."

 

Kami berhenti di dekat pusat dan mengamati setiap patung batu. Satu-satunya lingkaran sihir teleportasi yang saat ini bersinar adalah Moon Trial.

 

"Kita harus pergi ke Moon, bukan?"

 

Aku mengangguk ketika dia mengatakan itu.

 

"Ya. Seperti yang kalian lihat, kau hanya bisa mengikuti Ujian Bulan. Namun, ini adalah ujian yang paling mudah dan paling aman, dan ini seperti tahap bonus, jadi tidak perlu khawatir."

 

Namun, Skill yang kau dapatkan setelah menyelesaikannya cukup berguna. Kau juga harus menyelesaikannya agar bisa mengikuti Trial of the Sun, yang merupakan alasan utama mu datang ke sini.

 

"Hal yang sebenarnya baru dimulai setelah itu. Mengerti."

 

"Seperti yang sudah diberitahukan kepada kalian sebelum datang ke dungeon, ini seharusnya misi pelacakan. Kalian akan dipaksa untuk bertindak secara rahasia dan mencapai tujuan... Namun, karena ini adalah ujian pertama yang bisa kalian ikuti di sini, mereka membuatnya mudah, jadi kalian seharusnya bisa menyelesaikannya dengan cukup mudah."

 

Apa ini benar-benar bisa disebut "tes lelucon"? Sulit. Saat mengejar, kita bersentuhan dengan para tokoh utama wanita dan terjadilah kejadian seperti "Jangan dorong aku!", jadi ini tempat yang agak erotis untuk menikmati percakapan, atau setidaknya begitulah. Aku penasaran tes macam apa itu.

 

Kenyataannya, aku tidak yakin akan ada kontak dan ku pikir mereka hanya akan melacaknya dan selesailah sudah.

 

"Itu melegakan. Ayo pergi."

 

Kami mengangguk mendengar suara Senpai  itu dan memasuki lingkaran sihir.

 

◇

 

Ketika kami menggunakan lingkaran sihir teleportasi untuk datang ke Ujian Bulan, kami dibawa ke suatu tempat yang tampak seperti ruang ganti mewah. Saat aku masuk, ada lemari di sebelah kiri, sofa, dan meja di sebelah kanan. Di belakang, ada tempat yang tampak seperti lemari pakaian dan cermin besar.

 

"Ini adalah ujian bulan... Hmm, begitulah katanya." Sambil mengatakan ini, Senpai menatap huruf-huruf yang melayang di dekatnya.

 

Ketika ia menyentuh huruf-huruf itu, kalimat berikutnya muncul. Fran fuku-kaichou menghampiri Senpai dan menatap huruf-huruf itu persis seperti yang dilakukan Senpai. Sepertinya ini semacam ruang persiapan.

 

Shion-san bergumam sendiri sambil duduk di sofa antik di dekatnya. Suaranya terdengar seperti wanita tua.

 

"Seperti yang Kosuke katakan, kita harus melacak mereka. Rupanya, target itu menyembunyikan harta karun yang luar biasa, dan jika kita bisa masuk ke ruang rahasia itu tanpa terdeteksi, kita akan menyelesaikan misi. Namun, jika kita terdeteksi, kita harus mengulang dari titik ini."

 

Senpai mengatakan ini sambil mengikuti teks yang ditampilkan dengan matanya.

 

"Apa yang kamu lakukan itu seperti polisi, atau lebih seperti detektif."

 

Aku mengangguk setuju dengan apa yang dikatakan Senpai sekaligus Fran fuku-kaichou.

 

"Begitu ya, itu sebabnya kita punya kostum detektif."

 

Nanami mengatakan ini sambil melihat sesuatu yang tampak seperti lemari. Apa memang ada lemari seperti itu? Tapi sepertinya semua orang berjalan-jalan dengan pakaian biasa mereka? Itu artinya kita harus berganti pakaian, kan? Ini sepertinya ruang ganti.

 

"Orang seperti apa yang menjadi targetnya?"

 

Fran fuku-kaichou bertanya. Dalam game, Iori adalah karakter yang persis seperti Iori, tapi apa jadinya kalau dia tidak ada? Apakah memang Iori?

 

"Itu... entahlah. Apa itu orang jahat yang menyembunyikan harta karun? Kurasa targetnya bisa diidentifikasi."

 

Nanami mendesah pelan setelah membaca aturan yang terperinci.

 

"Tertulis disini kamu akan mengerti begitu melihatnya. Meski begitu, sepertinya ini ujian yang menarik. Tapi, bukan kah Goshujin-sama sangat ahli dalam mengikat--Atau jangan-jangan yang sebenarnya... Goshujin-sama sangat suka diikat !?."

 

"Di ikat?"

 

Fran fuku-kaichou menatapku dengan heran.

 

"Apa yang kau katakan di depan Fran fuku-kaichou dan Shion-aan? Aku tidak pandai dalam keduanya."

 

Kenapa Senpai tersenyum kecut? Aku pernah melihatnya diikat sebelumnya... Ya, dia pernah. Dia melihatku disiksa dan dilecehkan oleh Elf kerajaan.

 

"Tapi apa yang akan kita lakukan? Tidak seperti Ivy, aku tidak bisa menyelinap. Kecuali kita mengejar mereka seperti biasa."

 

"Pada dasarnya, kamu bisa mengatasinya tanpa itu."

 

Di dalam game, kita hanya membaca teksnya saja, jadi aku tidak tahu apakah itu benar-benar terjadi. Tapi, aku tidak tahu kenapa.  Aku punya firasat buruk. Yah, untuk berjaga-jaga kalau terjadi sesuatu.

 

"Kalaupun terjadi sesuatu, kita punya Nanami yang punya keterampilan, jadi kita pasti bisa mengatasinya."

 

Bahkan jika gagal, kau bisa mencoba lagi. Sepertinya kau bisa mencoba lagi tanpa penalti, jadi jika kau menyerang zombi berulang kali pada akhirnya akan berakhir.

 

"Itu benar. Sekarang saya sudah sepenuhnya memahami aturannya, jadi silakan serahkan saja kepada saya jika terjadi keadaan darurat. Namun, ada beberapa hal yang perlu kita putuskan."

 

"Ada sesuatu yang harus kita putuskan? Apa itu?"

 

Aku bertanya lagi. Lalu aku teringat kejadian itu lagi. Apakah ada yang seperti itu? Sepertinya tidak ada hal khusus yang perlu dilakukan. Seperti urutannya?

 

Saat aku menanyakan hal itu padanya, Nanami membusungkan dadanya.

 

"Itu nama sandi. Tak berlebihan jika dikatakan itu penting jika terjadi sesuatu."

 

"Itu tidak dibutuhkan!, lagian apa gunanya itu sih?"

 

Begitu mereka menemukanmu, semuanya berakhir. Kau akan dikirim kembali ke ruangan ini dan harus mulai melacak mereka lagi.

 

"Ini ntuk jaga-jaga. Anggap saja saat ini nama sandi sudah pasti ('Maid')."

 

"Itu benar sekali." Shion juga ikut menimpali.

 

Ya, aku sudah memikirkannya lagi. Dan kita tidak perlu nama sandi, kan? Kalau kau memperkenalkan diri sebagai Meid, kau pasti langsung disuruh pulang.

 

"Yukine-sama adalah ('Anjing')"

 

Senpia yang menggonggong. KAWAII.

 

Hmm, mungkin dia sudah melampaui level dewi? Kenapa dia terlihat agak malu? Dia bahkan lebih imut. Aku tak sabar untuk memanjakannya dengan sepenuh hati dan jiwaku. Aku ingin memberinya daging sapi Wagyu A5 setiap hari. Bahkan, akulah daging sapi Wagyu A5 itu.

 

"Shion-sama adalah ('Rubah')"

 

"Kon"


Shion tersenyum menggoda sambil menatap Nanami. Rasanya benar-benar cocok dengan gambarannya. Kenapa dia begitu bersemangat?

 

"Fran-sama adalah ('Kelinci')"

 

"Apakah aku harus mengakhiri dengan kata Pyon juga? Itu terdengar lumyan imut. Tapi itu akan terasa seperti Ivy-san, sepertinya aku agak sungkan."

 

Ivy orangnya baik, cuma suka bikin onar.

 

"Dan akhirnya, Goshujin-sama ('pantat'). Oh, betapa hebatnya. Saya sangat iri."

 

"Tunggu, tunggu. Kenapa aku satu-satunya yang diberi nama sandi aneh. Bukankah nama-nama itu tentang makhluk hidup?"

 

Apa yang istimewa darinya? Kalau kau iri, aku ingin berukar!

 

"Mungkin akan lebih baik kalau 'bokong'?"

 

"Itu tidak berubah sama sekali."


 "Deeeeenbu♫"

 

"Bukan, bukan soal cara mengatakannya. Tapi maknanya. Sial, aku merasa kalah cuma gara-gara dia agak imut."

 

"Apa kami juga, tapi kriteria apa yang digunakan untuk memilih kode nama kami?"

 

Fran fuku-kaichou bertanya.

 

"Saya hanya memilih hal-hal yang menurut saya akan disukai kalian, tapi...?"

 

Hmm, itu rumit. Dia tidak sepenuhnya salah.

 

"Tapi bagaimanpun! 'Pantat' Aku tidak menginginkannya!"

 

Kami membicarakan hal-hal remeh sambil bersiap-siap dan kemudian meninggalkan ruang tunggu.

 

◇

 

Tempatnya seperti kota batu yang mungkin kau temukan di Eropa. Ada banyak rumah bata yang jarang terlihat di Jepang, dan tidak ada bangunan besar.

 

"Agak menyeramkan..."

 

Kata Senpapi sambil melihat sekeliling.

 

Kurasa mungkin karena hanya ada sedikit orang yang membuatnya agak misterius. Padahal ini malam hari. Ada rumah-rumah yang lampunya menyala tapi tidak ada tanda-tanda ada orang di dalamnya. Kurasa aku harus memaksa diri untuk menerima kenyataan ini karena ini tantangan dungeon. Yang lebih menggangguku adalah pakaian semua orang.

 

"Kou, ada apa?"

 

"Yah, menurutku kalian terlihat cocok, terutama dengan suasana kota ini."

 

Kami berganti pakaian di tempat yang tampak seperti ruang ganti, berpakaian seperti detektif Inggris yang sangat cocok dengan pemandangan kota.

 

"Goshujin-sama, lebih baik kita nikmati saja nanti. Saya merasakan ada kehadiran seseorang dari rumah itu. Tidak ada tanda-tanda orang lain, jadi kurasa orang itu targetnya."

 

Aku segera berganti haluan dan menunggu seseorang yang mirip target muncul. Lalu pintu kayu itu terbuka dan seorang pria muncul. Ketika semua orang melihatnya, mereka semua menatapku. Lalu mereka menatapnya lagi, lalu mereka menatapku lagi.

 

"...Goshujin-sama, silakan serahkan diri Anda."

 

"Tidak, tidak, itu bukan aku."

 

Baiklah, aku mengerti mengapa mereka ingin mengatakan itu.

 

"Meskipun begitu, dia terlihat seperti Kosuke."

 

Senpai mengatakan ini sambil membandingkan wajahku dengan target palsu itu. Ya. Dari sudut pandang mana pun, itu aku. Tidak seperti di game, Iori tidak ada di sana, jadi mungkin itu sebabnya dia mirip denganku.

 

"Aku cuma bisa lihat Takioto-san. Sepertinya dia mau bertindak."

 

Aku juga tidak mengenali tempat ini, jadi kurasa aku harus berimprovisasi saja mulai sekarang. Yah, ini kan uji coba tanpa pertarungan, jadi seharusnya aku baik-baik saja.

 

Jadi kami mulai mengikuti pria itu, dan tiba-tiba aku mengatakan sesuatu yang ada dalam pikiran saya.

 

"Apakah kita akan ketahuan dengan kelompok sebesar itu?"

 

Saat aku mengatakan itu, Nanami menggelengkan kepalanya.

 

"Sepertinya baik-baik saja untuk saat ini, tapi mereka tampaknya cukup berhati-hati. Mungkin lebih aman jika satu atau dua orang mengawasi mereka dan anggota kelompok lainnya tetap bersembunyi di balik bayangan."

 

Aku mengangguk dan menatap Nanami dan Fran fuku-kaichou di sebelahnya.

 

"Benar juga... tapi kenapa kau pakai kaca pembesar? Dari mana Fran fuku-kaichou mendapatkan pipa itu?"

 

Lalu aku terus bertanya, Kenapa kau pakai pipa? kau tidak merokok, kan?"

 

"Goshujin-sama, kalau Anda menggunakan kaca pembesar, Anda bisa melihat benda-benda kecil dengan lebih baik, bukan?"

 

"Aku tahu, ku tidak bisa melihat sejauh itu jadi itu tidak perlu," kataku sambil menatap Fran fuku-kaichou.

 

"...Sebenarnya, aku selalu memiliki sedikit keinginan untuk sesuatu seperti ini."

 

Dia memegang pipanya erat-erat dengan kedua tangan dan tampak agak malu. Aku akan memaafkannya karena dia imut.

 

"Aku mengerti perasaanmu."

 

Aku juga mengagumi Detektif Cilik dan G-Men Pencuri Toko waktu SD dulu. Hei, Nanami. Ini bukan drama detektif. Jangan serahkan roti kacang dan susu, Fran fuku-kaichou pasti tidak akan menerimanya dengan senang hati.

 

Pandangan dunianya mulai tampak agak aneh, tetapi apakah ini normal bagi seorang detektif MagiEx?

 

"Kelihatannya mereka bergerak." kata Senpai, dengan mata terpejam.

Begitu ya, sepertinya dia menggunakan mata batinnya. Kalau aku berkonsentrasi, aku bisa merasakannya, tapi karena aku agak terlalu jauh agak sulit untuk merasakannya.

 

Senpai sungguh mengesankan, dia sangat terampil.

 

"Hmm, coba aku lihat." kata Shion-san.

 

Lalu ia menjulurkan kepalanya dari balik dinding dan memberi isyarat tangan bahwa sudah waktunya pergi. Lalu kami bergantian mengawasi Kousuke palsu dan mengejarnya.

 

Dia masuk semakin dalam ke dalam kota, lalu langsung keluar.

 

"Dia mau pergi ke mana?"

 

"Ada sesuatu seperti gua di sana."

 

"Takioto-san palsu, ke sana! Hmm."

 

Yukine-senpai menarik Fran fuku-kaichou ke arahnya dan menutup mulutnya.

 

Sepertinya Kousuke palsu itu menoleh ke arah kami. Nyaris saja.

 

"Dia benar-benar mirip Kosuke. Gerakannya mirip dan dia sangat berhati-hati."

 

"Benar sekali, cara berjalannya mirip sekali dengan Kou."

 

Kurasa dungeon ini telah menyalin banyak hal tentangku tanpa kusadari. Tapi aku tidak tahu kenapa bisa begitu.

 

"Semuanya, harap diam. Sesuatu yang mencurigakan mulai terjadi."

 

Fran fuku-kaichou menghentikan kami. Melihat dengan skill Clairvoyance ku, aku bisa melihat bahwa dia memang sedang melihat sekeliling dengan gelisah. Mungkinkah...

 

"Apakah ini pintu masuk ke ruang Rahasia?"

 

Senpai bergumam sendiri. Aku menoleh ke arah Nanami.

 

"Nanami, pergilah."

 

"Serahkan pada saya."

 

Lalu sosoka Nanami menghilang.

 

"Jika kita bisa melangkah lebih jauh ke depan dan di balik bebatuan, kita mungkin bisa melihat apa yang sedang dia lakukan." Kata Shion-san.

 

Itu memang benar. Mungkin rute normalnya adalah bergegas kesana jika tidak ada orang yang menguasai skill sembunyi. Tapi kali ini, Nanami ada di sana untuk membantu kita.

 

"Dia masih waspada."

 

"Benar sekali... Hmm? apa itu?"

 

Tepat saat kupikir ia menyentuh dinding dengan tangannya, tiba-tiba sebagian dinding batu itu perlahan berubah menjadi partikel cahaya dan menghilang, memperlihatkan sebuah lubang yang cukup besar untuk dilewati satu orang. Diriku yang palsu itu memeriksa sekelilingnya sekali lagi, lalu melangkah masuk. Tak lama kemudian, fenomena sebaliknya terjadi dan lubang itu tertutup.

 

"Apa yang telah dia lakukan?"

 

Shion-san menggelengkan kepalanya mendengar kata Fran fuku-kaichou.

 

"Aku tidak tahu. Bagaimana Kou?"

 

Shion-san bertanya padaku. Namun.

 

"Terlalu jauh untuk dilihat... Di mana Yukine-senpai?"

 

Sepertinya dia sudah menyentuh batu itu beberapa kali, jadi pasti ada sesuatu di sana. Kalau saja lebih awal, mungkin aku bisa melihat semuanya.

 

 melihat ke arah sebuah batu besar yang terletak agak jauh di depan, cukup besar untuk beberapa orang bersembunyi.

 

"Jangan khawatir, semuanya. Aku sudah memastikan semuanya diperiksa dengan teliti. Ayo kita ke tembok itu."

 

Kemudian Nanami muncul dari persembunyiannya dan membawa kami menuju bebatuan. Kami menyentuh tempat si palsu itu lewat, tetapi yang ada hanyalah dinding batu yang dingin dan tidak ada lubang.

 

"Ini seperti pintu yang terbuka ketika Anda mengirimkan energi magis ke tempat tertentu dalam urutan tertentu."

 

Nanami menyentuh dinding beberapa kali untuk mengirimkan kekuatan sihir ke dalamnya, dan sebuah lingkaran sihir kecil pun muncul. Sama seperti dinding palsu, sebuah lubang yang cukup besar untuk dilewati seseorang pun terbuka.

 

"Kurasa dia masih dalam perjalanan. Mari kita lanjutkan dengan hati-hati."

 

Nanami mendesak kami. Aku sangat senang Nanami ada di sini kalau tidak kau terkadang harus memulai dari awal lagi.

 

Setelah itu, kami mulai bergerak sedikit lebih cepat dan berhasil menyusul Kousuke palsu. Dari sana, kami mengikutinya perlahan.

 

"Tunggu."

 

Shion-san menghentikan kami. Awalnya dia tidak terlalu antusias tapi seiring kami melanjutkan rasanya jadi lebih seru, dan sekarang dia berinisiatif mengawasi diriku yang palsu.

 

Aku menatap Kousuke palsu itu dengan seksama. Aku bertanya-tanya apa yang sedang dia lakukan, dan di sana kulihat dia berdiri dengan tangannya di ikat pinggangnya mengutak-atik celananya... Tunggu, jangan-jangan!?

 

Apakah dia akan kencing?! Ooiiii Apa yang kau lakukan dengan tampilan tubuhku?!

 

"Hei, tunggu.....Mugh."

 

Aku hendak maju dan meninju Kousuke palsu itu, tetapi Nanami menangkapku dari belakang dan menghentikanku.

 

"Goshujin-sama, tenanglah. Nanti ketahuan!"

 

Aku mencoba melepaskan diri dari Nanami tetapi Fran fuku-kaichou segera datang membantunya.

 

"Aku mengerti perasaanmu, tapi kita sedang menjalankan misi. Kita harus menjaga perasaan pribadi kita."

 

Meski begitu, si palsu itu, kau tahu?

 

Kalau begini terus, Desert Eagle-ku, Excalibur-ku, atau apa pun itu, akan dalam arti tertentu menang atau lebih tepatnya akan mulai menyemburkan isinya! Tentu saja aku harus menghentikannya!!

 

"Tenanglah Goshujin-sama, mungkin dia menyembunyikan sesuatu di celana dalamnya seperti Luija-sama."

 

Hei, tunggu sebentar apa yang Luija-sensei sembunyikan?

 

"Mn~, wah wah mau bagaimana lagi, dia bahkan sampai-samapai memelorotkan celananya lho fufu~."

 

"Hei, apa yang kaulihat, Shion-san? Dan tolong jangan melirik Fran fuku-kaichou, aku bisa melihat gerakan matamu bahkan dengan kacamata hitammu!"

 

"Kousuke, tenanglah. Wah suara kencingnya keras sekali."

 

Apa yang istimewa dari itu? Itu suaranya kan?  suaranya. Tapi mungkin alasan itu memberi semangat (ero) mungkin berarti hatiku kotor.

 

"Benar, Goshujin-sama. Mungkin dia belum buang air kecil. Lihat, kancing bajunya terbuka."

 

"Ada apa dengan orang ini? Dia mesum. Kenapa dia buka baju di tempat seperti ini? Oh, apa mungkin dia tida bisa melanjutkannya kecuali dia juga melepas bajunya?"

 

Mustahil aku melakukannya di tempat seperti ini. Kalau pikiran si palsu itu sama denganku, aku tidak akan melakukannya. Jadi, tolong, tolong buat tempat ini jadi tempat di mana aku tidak bisa pergi tanpa melepas bajuku! Kumohon!!

 

Aku bisa mendengar suara Kousuke palsu dari belakang. Kedengarannya persis seperti dua suara yang berbeda bagiku.

 

("Oh, kencing di tempat terbuka dengan pakaian terbuka adalah yang terbaik.")

 

Baiklah, ayo kita hajar dia.

 

"Tenanglah, Goshujin-sama. Saya mengerti perasaan anda... Saya yakin waktu yang tepat akan tiba suatu hari nanti, jadi ketika saatnya tiba, anda bisa melepas celana anda yang ketat dan merasa segar..."

 

"Tidak. Aku tidak punya keinginan untuk buang air kecil di muka umum. Jangan samakan aku dengannya. Lepaskan aku akan meninju orang itu."

 

"Takioto-san, tarik napas dalam-dalam, tarik napas dalam-dalam."

 

Fran fuku-kaichou menahan ku dari depan.

 

"Tidak apa-apa, Kosuke. Kurasa kau tidak akan melakukan hal seperti itu. Kan??."

 

Senpai dia memejamkan matanya dan tampak berkonsentrasi di suatu tempat.

 

"Tapi kenapa dia masih setengah telanjang padahal sudah selesai? Dia bahkan mengekspos semuanya ya?." Shion-san mengintip ke dalam.

 

"Dengan pakaian itu... Aku penasaran apa yang akan dia lakukan?"

 

Fran fuku-kaichou mengatakan itu sambil menahan ku. Wajahnya agak merah.

 

"Apa dia mulai merasa rileks saat itu juga."

 

(Seperti kata Senpai matanya masih terpejam. Bersantai? itu bohong, kan?) pikirku sambil melirik si palsu itu.

 

Ya ampun, itu benar. Dia duduk di sana dan merasa seperti di rumah sendiri.

 

"Apa dia mau berjemur? Ini bukan salon berjemur, ini gua. Kau tidak berjemur disini. Berhenti mempermalukan diri sendiri!."

 

Shion-san dan Fran fuku-kaichou menatap tubuhku terang-terangan. Seharusnya mereka meniru Senpai. Senpai memejamkan mata dan berkonsentrasi... tunggu, dia sudah menebak situasiku tadi, kan? Senpai tidak menggunakan Clairvoyance nya untuk melihat itu, kan?

 

"AH! Kousuke, tunggu. Si palsu itu mungkin menyadari keberadaan kita."

 

Kata Senpai dengan ekspresi serius. Bukan ide bagus untuk menjulurkan kepala dari balik dinding sekarang. Aku berkonsentrasi dan menatapnya dengan Clairvoyance, dan melihatnya buru-buru mengancingkan kemejanya. Pertama, pakai celanamu. Hei, baguslah kau sudah memakainya, tapi jangan lupakan risletingkan dulu!

 

"Apa yang harus kita lakukan? Apakah dia curiga pada kita?"

 

Fran fuku-kaichou berkata sambil membetulkan kacamata hitamnya.

 

"Baiklah, ayo kita buat suara-suara binatang saja. Ingat nama sandi kita untuk berjaga-jaga."

 

"Hah?" kami saling berpandangan. "Eh, Senpai yang cantik dan suci ini jadi anjing..." Mana mungkin ada hewan di tempat seperti ini!

 

"Kurasa aku tidak punya pilihan selain melakukannya... Wo, wof wof."

 

Huaaahh! Umu KAWAIII. Dan suaranya sungguh merdu. Ah, sungguh menenangkan. Andai saja dia jadi anjingku seumur hidupnya, atau lebih tepatnya, aku akan senang menjadi anjingnya.

 

Jangan pergi ke surga dengan suara senpai, kembalilah ke dunia nyata. Mustahil kau bisa membodohi seseorang dengan hal seperti itu.

 

("Oh, itu anjing. Tapi dia menggonggong seperti dewi.")

 

"Fiuh, sepertinya aku berhasil membodohimu."

 

"...Kau bercanda, kan?"

 

Kalau dia cuma memanfaatkan penampilanku, apa dia bisa melakukan sesuatu dengan kepalanya? Dia bahkan bukan anak SD.

 

Ngomong-ngomong, Shion-san, bisakah kau berhenti bersandar padaku dan tertawa begitu keras?

 

("Tetapi aku masih merasa ada sesuatu di sana.")

 

"Sial, seperti yang diharapkan dari Goshujin-sama palsu! Shion-sama, Fran-sama!"

 

Saat Nanami mengatakan hal ini, Fran fuku-kaichou mengangguk dengan ekspresi serius, dan Shion-san yang tertawa terbahak-bahak hingga memegang perutnya, juga mengangguk sambil mengeluarkan suara "Hii" yang aneh.

 

"Pyon pyon"

 

"Ekhem ekhem, Nnn, Kon Kon Kon"

 

Jangan bercanda denganku. Kau bukan Ivy loh. Kelinci tidak bersuara Pyon Pyon kau tahu. Itu hanya dipahami di manga dan anime. Kadang-kadang, itu hanya dipahami di Jepang! Shion-san, kau terlalu banyak tertawa!

 

("Oh, itu kelinci dan rubah.")

 

Dia aneh. Serius. Ada apa ini? Kenapa Fran fuku-kaichou bersikap begitu angkuh? Dari sudut pandangku ada banyak hal yang perlu digarisbawahi.

 

("Tapi aku merasa mungkin masih ada sesuatu di sana?")

 

Kau keras kepala juga. Seirus, aku akan meninjumu. Aku akan menghajarmu dan memaksamu memberitahuku jalan rahasianya, oke?

 

"Tidak ada cara lain, Goshujin-sama! Bersuaralah!"

 

Baiklah, kurasa tidak ada cara lain selain membuat suara yang ditentukan juga!

 

"Tunggu sebentar, aku pantat kan! Apa yang harus kulakukan? Apa kau menyuruhku untuk Kentut!"

 

"Saya tidak bisa membiarkan anda melakukan sesuatu yang kotor seperti kentut! Gimana kalau anda pakai peluit pantat saja?"

 

"Isinya tidak berubah, dan sekarang malah lebih kotor. Ini tidak masuk akal!"

 

"Kalau begitu, Saya akan mengurusnya."

 

Kata Nanami sambil menutup matanya dan memberi hormat sambil cemberut.

 

"Mai--Mai Maii!"

 

Hei, mana mungkin seorang Maid mengeluarkan suara seperti itu! Rasanya aku sudah pernah bilang ini sebelumnya!

 

("Oh, jadi itu hanya seorang gadis liar.")

 

"Kurasa tidak apa-apa untuk pergi dan memukulnya, kan? Kita suruh dia memberi tahu kita di mana itu berada. Fran fuku-kaichou, tolong jangan hentikan aku."

 

Sialan, kenapa dia pikir anjing, rubah, kelinci, dan Maid akan muncul di alam liar di gua seperti ini? Jangan lakukan hal-hal bodoh dengan wajah dan tubuhku. Aku tidak mungkin tidak menutup resleting celanaku!

 

"Hii-- Hiii"

 

Shion-san tertawa terbahak-bahak sampai air matanya keluar. Bolehkah aku melemparnya ke suatu tempat?

 

"Sepertinya dia akan maju. Tapi itu jalan buntu, bukan?..."

 

Dan ketika dia menempelkan tangannya di dinding, sebuah jalan akan muncul seperti sebelumnya.

 

"Sepertinya ada lingkaran sihir teleportasi di depan. Apakah itu tujuannya?"

 

"Fiuh, syukurlah ujiannya mudah, Goshujin-sama."

 

"Saking beratnya, ku pikir aku akan mati. Entah berapa kali ku pikir kepala ku akan pecah."

 

Maksudku, saat aku melakukan Moon Trial di game, kupikir 'melacak sebenarnya tidak terasa seperti ujian, kan?'  tapi nyatanya, itu memang sebuah ujian. Bukan rahasia atau pelacakan, tapi ujian untuk tetap tenang dan tidak menghentikan diriku sendir dari melakukan sesuatu yang memalukan!

 

"Goshujin-sama, muncul pesan yang mengatakan bahwa kita bisa bermain lagi dari awal sebagai bonus penuh."

 

"Aku tidak akan melakukannya lagi!"

 

Kalau saja si pahlawan wanita dan bukan aku, aku tidak masalah untuk lagi, tapi itu tidak etis.

 

"...Yah, kurasa kita harus bersyukur karena berhasil menyelesaikannya."

 

Kata senpai mengakhiri pembicaraan. Dan aku mengangguk enggan.

 

Syukurlah aku bisa melewatinya. Kalau ada satu hal yang kusesali, itu karena aku tidak bisa menghajar si palsu itu. Dan...

 

"Pada akhirnya, dia tidak menutupnya."

 

Ini tentang risletingnya yang terbuka lebar.



Post a Comment

Post a Comment

close