NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

[LN] Magical Explorer Volume 12 Chapter 5

 Gua Ujian -- Ujian Bintang--



Tempat yang kami tuju kembali adalah lingkaran sihir teleportasi yang sama tempat kami masuki.

 

"Patung batu itu bersinar."

 

Tepat seperti yang dikatakan Shion-san, patung batu di belakang kami diselimuti cahaya putih pucat. Cahaya itu perlahan mendekati kami dan diserap ke dalam tubuh kami seperti energi magis. Cahaya itu perlahan mengecil, dan akhirnya menghilang sepenuhnya ke dalam diri kami.

 

Dalam beberapa detik lingkaran sihir untuk Trial Star mulai bersinar redup.

 

"Sepertinya kamu telah memperoleh suatu Skill."

 

Nanami bergumam. Skill yang kau dapatkan di sini bervariasi tergantung karakternya. Kau mendapatkan skill yang berkaitan dengan kecepatan, tingkat penghindaran, dan kemampuan stealth sendiri, tetapi apa pun yang kau dapatkan kemungkinan besar akan berguna. Sepertinya aku mendapatkan skill yang meningkatkan kecepatanku.

 

"Aku ingin mengujinya, tapi bagaimana dengan tes berikutnya? Haruskah kita langsung saja melakukannya?"

 

"Aku tidak lelah sama sekali, jadi ayo pergi saja."

 

Kata Fran fuku-kaichou. Shion-san tampaknya setuju.

 

"Dalam beberapa hal, aku sedikit lelah tertawa."

 

Meskipun dia bilang begitu, kurasa dia sama sekali tidak lelah. Dalam banyak hal, mungkin hanya aku yang lelah. Senpai menatapku, bertanya-tanya apakah itu yang menggangguku.

 

"Tidak apa-apa, ayo pergi. Tapi hati-hati karena aksi sesungguhnya baru dimulai."

 

Kataku, dan Nanami mengangguk.

 

"Star Trial punya trik yang berbeda untuk setiap orang, dan kamu harus membuka trik tersebut untuk memenangkannya."

 

Benar. Kurasa itu tidak akan menjadi cobaan yang berat bagi Nanami atau aku. Cobaan yang berat bagi karakter yang punya trauma atau kekhawatiran.

 

Ku pikir Shion-san mungkin mengalami masa yang paling sulit di antara kita semua.

 

"Begitu kita menginjak lingkaran sihir, kita semua akan terpisah. Ini tidak mengancam nyawa, tapi akan sangat menyakitkan, jadi berusahalah sebaik mungkin."

 

Sambil berkata demikian, aku mengalihkan pandangan ke patung batu yang memegang tongkat bintang. Di sebelahnya, sebuah lingkaran sihir memancarkan cahaya redup.

 

"Jika kalian sudah siap dan siaga, ayo berangkat."

 

─Perspektif Shion─

 

 

Tempat di mana kami terlempar di lingkaran sihir itu tampaknya adalah rumah besar Wakuni.

 

("Lihatlah kelemahanmu dan ikuti jalan yang benar. Maka jalan itu akan terbuka.")

 

Kata-kata itu terngiang di kepalaku. Itu cuma tebakan, tapi kurasa itu syarat untuk lolos tahap ini.

 

Aku membuka pintu geser terdekat untuk memeriksa situasi terkini dan menghela napas panjang.

 

"Sepertinya hal paling tidak menyenangkan yang dapat ku bayangkan telah datang."

 

Aku duduk tegak di ruangan bergaya Jepang yang sangat familiar, menarik napas dalam-dalam dan melihat sekeliling sambil mencoba menenangkan diri.

 

Tiba-tiba, sebuah kilas balik muncul di benak ku tentang sebuah kejadian di masa kecil. Saat itu ia menatap ku seolah-olah aku hanyalah sebuah alat...

 

"Apakah ini berarti aku harus menghadapi ini?."

 

Semua masa-masa mengerikan yang kuhabiskan di rumah terkutuk ini.

 

"Jika begitu, ini sungguh tidak meng enakan."

 

Aku berdiri, membuka pintu geser, dan berjalan menyusuri lorong. Aku melewati halaman yang familiar, membuka pintu geser, dan menuju pintu masuk. Namun, yang terbentang di hadapanku ketika aku membuka pintu adalah ruangan bergaya Jepang tempatku berada. Ada juga lingkaran sihir di sana yang membantuku kembali.

 

("Lihatlah kelemahanmu dan ikuti jalan yang benar. Maka jalan itu akan terbuka.")

 

Kata-kata itu terngiang lagi di kepalaku. Meskipun aku melewati ruangan lain, aku akhirnya kembali ke ruangan bergaya Jepang ini lagi. Rasanya aku terjebak di rumah ini.

 

"Kurasa aku tidak punya pilihan selain pergi ke suatu tempat yang belum pernah kukunjungi sebelumnya."

 

Tidak. Daripada mengatakan aku tidak pergi, aku akan mengatakan aku sengaja menghindarinya.

 

Sambil menarik napas dalam-dalam, aku berjalan menuju ruangan itu tanpa ragu. Sesampainya di sana, aku mendengar suara seseorang menggedor meja.

 

"Kenapa kau tidak bisa? Teruslah mencoba sampai kau bisa. Apakah kau masih putriku?"

 

Tubuhku menegang sesaat. Itu suara ayahku, dari ingatanku. Suara ayah yang kubenci. Aku bisa mendengar suara sesuatu yang digedor dan sihir yang dilepaskan dari ruangan itu, tetapi tubuhku begitu kaku hingga aku tak bisa masuk.

 

Tak lama setelah suara itu berhenti, aku akhirnya membuka pintu geser di depan ku dan masuk ke dalam.

 

"Ini membawa kembali kenangan. Ini kamarku, yang tak ingin kuingat."

 

Aku mencari ke seluruh ruangan, barangkali aku butuh sesuatu untuk melarikan diri, tetapi aku tidak menemukan apa pun.

 

Saat aku hendak meninggalkan ruangan, aku kebetulan melihat ke cermin dan tidak dapat menahan tawa melihat wajahku.

 

"Satu-satunya hal yang melegakan adalah bahwa satu-satunya kesamaan di antara kami hanyalah warna rambut dan mata."

 

Kalau saja kami benar-benar mirip, aku mungkin benci bercermin. Ah, kurasa bakat sihirku diwarisi darinya.

 

"Apa-apaan ini Kou? Kamu bilang ini ujian berat, tapi ini malah sangat-sangat berat."

 

Sambil memikirkan apa yang akan terjadi di hadapanku, aku mendesah panjang.

 

Saat aku meninggalkan ruangan sambil memikirkan apa yang harus kulakukan, aku mendengar sebuah suara datang dari halaman.

 

"...Mungkinkah itu?"

 

Aku berlari kecil menuju halaman di mana seperti dugaanku, ada dua gadis disana.

 

"Diriku saat masih kecil?"

 

Diriku dan wanita lain dari masa kecilku.

 

"Hana nee-sama..."

 

Saat aku sedang melihat mereka bersenang-senang, aku tiba-tiba mendengar suara datang dari sisi lain pintu geser.

 

"Jika keluarga kujou setuju untuk mengabdi dibawah keluarga Himemiya, mungkin aku akan mempertimbangkan. Kukku."

 

Itu suara ayahku. Bukan hanya nada suaranya, tapi juga cara bicaranya yang sarkastis, merendahkan, dan cara tertawanya yang mengejek, jelas-jelas suara ayahku.

 

"Mana mungkin kami akan!"

 

Itu suara ayah Hana Nee-sama yang sedang marah. Aku tak kuasa menahan diri untuk menatap Hana Nee-sama. Ia tampak begitu sedih dan melihatnya membuatku sedih seperti anak kecil...

 

"Ayo, Shion. Kali ini mari kita bermain dengan sihir."

 

Ucapnya seraya memintaku untuk berpindah tempat..

 

"Ini semua pasti rencanamu!"

 

Ayah Hana Nee-sama masih berteriak marah dari balik pintu geser. Sedangkan Ayahku.

 

"Rumah atau harga diri? Bukankah seharusnya kau memikirkan itu?"

 

Dia menjawab sambil tertawa.

 

"Aku tahu tanpa kau katakan padaku."

 

Saat mereka berbicara, sesuatu seperti kabut hitam muncul di atas diriku dan Hana Nee-sama yang masih kecil itu. Kabut itu perlahan-lahan semakin tebal, akhirnya menyelimuti mereka berdua. Dalam beberapa detik, kabut itu menghilang, tetapi mereka berdua telah menghilang.

 

"Kau ingin aku terus maju meski mengalami trauma seperti itu? Ini ujian yang sangat berat."

 

Aku mendesah dalam-dalam, lalu berjalan ke tengah halaman dan menatap langit.

 

Berdasarkan tren masa lalu, entah bagaimana aku tahu ke mana aku harus pergi. Jika Aku pergi ke tempat lain, aku mungkin hanya akan terjebak dalam lingkaran setan.

 

"Hana Nee-sama itu luar biasa. Dia memperlakukan ku dengan sangat baik, meskipun aku adalah anak dari keluargan yang sudah seperti musuh baginya."

 

Ditengah keluarga bangasawan Wakuni keluarha Himemiya yang tak pernah lepas dari desas-desus buruk-- Ia adalah orang yang menyapa diriku yang terasing, apalagi mengingat status ku sebagai seorang anak dari yang di sembunyikan.

Berkat itu, aku tidak merasa kesepian dan itu melegakan.

 

"Tapi meski begitu, aku tidak bisa berbuat apa-apa untuk Hana Nee-sama."

 

Dia bisa saja mengatakan ini bukan salahku. Aku yakin Hana Nee-sama pasti akan bilang begitu. Tetapi kenyataan bahwa aku tidak melakukan apapun adalah kesalahan ku.

 

"...Apakah sudah waktunya untuk pergi?"

 

Aku tahu ke mana aku harus pergi. Namun, itu adalah tempat yang paling kubenci. Aku tak ingin melangkah lebih jauh lagi. Tapi aku tak punya pilihan selain terus maju. Sayangnya, tidak ada lingkaran sihir teleportasi untuk kembali, jadi tak ada tempat untuk kembali.

 

"Tidak ada tempat untuk kembali, ya? Persis seperti keadaanku saat ini."

 

Langkahku berat, namun aku melangkah satu demi satu dan menuju ke kamar ayahku.

 

"Shion, apakah kau mendengarkan?"

 

Seperti yang kuduga, aku mendengar suara datang dari dalam kamar ayahku.

 

"Tapi Ayah..."

 

"Tidak perlu 'Tetapi'. Akhirnya kita sampai pada titik di mana kita bisa mencabut Pasal 9."

 

Ah, aku ingat kata-kata itu. Waktu itu aku sedang berkonsultasi dengannya tentang Hana Nee-sama dan keluarga Kujo.

 

"Jangan terlalu dekat dan terbawa perasaan. Lakukan saja apa yang kuinginkan. Kalau kau tidak mendengarkanku, aku tidak akan ragu mencabut hak warismu."

 

"……"

 

"Kita bisa saja mengadopsi anak lain. Lagipula, apa menyerahkan urusan ini pada si bodoh itu adalah sebuah kesalahan kah?"

 

"Apakah Ayah berbicara buruk tentangku?"

 

Diriku membuka pintu geser. Di sana aku mendapati ayahku dan diriku yang muda itu. Mereka tampaknya tidak menyadari kehadiranku.

 

"Ya, kurasa itu tidak salah bukan?."

 

Dia terus berbicara tanpa memperhatikan diriku.

 

Tak lama kemudian, mereka berdua diselimuti kabut hitam yang sama seperti yang ku lihat sebelumnya. Saat kabut menghilang, mereka berdua pun menghilang, dan sebuah lingkaran sihir teleportasi muncul menggantikan mereka.

 

"Memaksaku melewati trauma yang tak ingin kuingat dan mencari jalan keluar, ya? Ini ujian yang berat."

 

Kou mengatakan itu adalah cobaan yang cukup berat.

 

"Apanya yang cukup? Ini seperti cobaan yang sangat berat bagiku."

 

◇

 

─Perspektif Fran─

 

Tempat yang ku tuju adalah tempat yang sangat familiar.

 

"Sekolah...malah hari?"

 

Aku bergumam dalam hati sambil melihat sekeliling. Tak ada orang lain di sini selainku. Seperti yang dikatakan Takioto-san, rasanya aku telah dipindahkan ke tempat yang berbeda dari yang lain.

 

Saat aku tengah memikirkan apa yang harus kulakukan, tiba-tiba aku mendengar sebuah suara di kepalaku.

 

"Mn!"

 

("Lihatlah kelemahanmu dan ikuti jalan yang benar. Maka jalan itu akan terbuka.")

 

Aku berbalik dengan cepat dan melihat patung yang sama sedang memegang tongkat berbentuk bintang yang pernah ku lihat sebelum datang ke lantai ini.

 

Ada juga lingkaran sihir teleportasi yang mungkin baru saja dimasuki.

 

Dilihat dari situasinya, suara tadi mungkin merupakan syarat untuk melewati rintangan ini.

 

"Mari maju sekarang."

 

Setelah berjalan sedikit menyusuri lorong, aku segera menyadari di mana aku berada: ini adalah sekolah tempat ku bersekolah di sekolah dasar.

 

"...Mengapa di sini?"

 

Aku menyusuri lorong itu, tapi entah kenapa lorong itu seakan tak berujung. Kurasa aku berada di lorong yang berputar-putar, tempat aku terpaksa berjalan di tempat yang sama berulang-ulang.

 

Karena rasanya tak ada gunanya berjalan ke arah yang sama, aku memutuskan untuk berjalan ke arah yang berlawanan. Lalu aku bisa menemukan lingkaran sihir teleportasi dan patung yang pasti telah kulewati.

 

"Begitu ya, jadi ini gimik nya."

 

Ada dungeon di mana kau tidak bisa melanjutkan kecuali kau memecahkan misteri atau memenuhi persyaratan tertentu. Kurasa aku harus melakukan sesuatu di sini untuk bisa melanjutkan. Jadi...

 

"Mungkin aku harus pergi ke ruang kelas di suatu tempat."

 

Hanya ada beberapa tempat terbatas yang bisa ku tuju dari sini, jadi ruang kelas mana yang harus ku masuki?

 

Pada saat itu, aku tiba-tiba teringat suara itu.

 

"Lihatlah kelemahanmu sendiri, ya? Apakah aku harus pergi ke suatu tempat yang relevan dengan diriku itu?"

 

Itu menjelaskan mengapa aku berada di almamaterku. Aku memutuskan untuk mengandalkan ingatanku dan mencoba mencari kelas tempatku sekolah. Aku langsung menemukannya.

 

Aku mengintip ke dalam kelas melalui jendela dan melihat pemandangan yang familier. Lukisan-lukisan, rak-rak, dan deretan meja semuanya persis seperti yang kuingat.

 

Ada dua orang yang kukenal di kelas. Salah satunya adalah aku saat kecil, dan orang di depannya adalah temanku.

 

("Fran menakjubkan.")

 

Kata-kata yang diucapkannya kepadaku dengan nada suara yang dapat kuingat dikatakan padaku dan kata-kata itu menghantamku sama kerasnya sekarang seperti ketika itu.

 

"Jadi begitu..."

 

Saat aku menggumamkan ini, partikel-partikel hitam mulai mengepul dari para gadis di kelas. Partikel-partikel itu perlahan menyelimuti sosok mereka, lalu menghilang.

 

Seharusnya sudah hilang. Tapi kata-kata itu masih membekas di benakku. Teman itu dan kata-kata itu adalah trauma yang memicu kebencianku pada diriku sendiri.

 

Mungkinkah ini ujian yang akan mengingatkanku pada traumaku? Pikiran terburuk terlintas di benakku. Itulah mengapa Takioto-san bilang ini ujian yang sulit, meskipun setiap orang berbeda-beda. Tentu saja setiap orang berbeda-beda. Dari semua orang yang datang hari ini, aku yakin hanya aku yang tahu sekolah ini.

 

Aku menuju pintu masuk, mengandalkan ingatan lamaku. Aku bertanya-tanya apakah aku bisa keluar dari gedung sekolah, tetapi sayangnya aku tidak bisa. Aku menyadari bahwa aku telah dengan mudah mencapai lokasi semula. Atau mungkin lebih tepatnya, aku dibawa kembali ke sini. Inilah yang terjadi.

 

"Fufu, Apakah 'menghadapi kelemahanmu sendiri', berarti kau harus maju dengan kakimu sendiri melewati traumamu sendiri? Tapi kau bebas melarikan diri dan malah berakhir kembali."

 

Ujian yang kejam sekali. Yah, mungkin wajar saja kalau berat karena ini ujian. Tapi karena Yukine dan yang lainnya juga menjalani ujian, aku tidak bisa kabur.

 

Jadi, selanjutnya aku memutuskan untuk pergi ke suatu tempat yang ku duga aku mungkin berada. Itu adalah pusat kebugaran. Tidak seperti ku, dia suka olahraga dan bermain dengan berbagai macam orang. Aku mendapat kesan bahwa dia hampir tidak belajar sama sekali dan hanya bermain-main. Aku ingat terkadang pergi bersamanya.

 

Aku dengan mudah sampai di pusat kebugaran, tapi tidak ada siapa-siapa di sana. Sesaat aku senang karena tak perlu melihat traumaku, tapi sayangnya aku mendengar suara dari gudang pusat kebugaran di sebelahnya. Di sanalah dia, bersama diriku di masa lalu. Diriku di masa lalu berbicara padanya.

 

("Kamu selalu bermain, tetapi tidakkah kamu belajar atau berlatih sihir?")

 

("Belajar itu tidak seru, dan berlatih sihir itu membosankan karena terus itu-itu saja, kan? Ada yang lebih seru dari itu, ayo main.") katanya sambil tertawa, memegang raket bulu tangkis.

Sebenarnya, yang dia lakukan hanyalah bermain. Tapi meskipun dia selalu bermain, nilainya selalu yang terbaik kedua setelah nilaiku. Dan yang terpenting, dia populer di kelas. Para guru juga menyukainya.

 

("Kurasa aku baik-baik saja")

 

Diriku di masa lalu menolak.

 

("Ya, aku akan nongkrong dengan semua orang untuk sementara waktu, jadi ikutlah jika kau mau, Fran!")

 

Dia berjalan melewatiku seolah-olah aku tidak ada di sana dan berlari ke pusat kebugaran. Aku tertinggal, menatapnya dengan raut wajah yang rumit. Lalu aku bergumam.

 

("Dia sangat berkilau.")

 

Dia pandai dalam segala hal yang dilakukannya, memiliki kemampuan atletik yang baik, dan punya banyak teman, jadi aku iri.

 

"...Aku berharap aku memiliki bakat seperti dia."

 

Dia tampak seperti Magical Girl dari anime anak-anak.

 

Magical Girl dalam anime yang sering ku tonton dia sangat ahli dalam menggunakan sihir dan mengalahkan penjahat berkali-kali. Dia juga punya banyak teman, pintar, dan selalu mencoba hal baru... misalnya, jika dia tiba-tiba mulai memasak, dia jenius dan serba bisa sehingga bisa melakukannya dengan mudah. ​​Itulah mengapa aku mengaguminya, aku sangat mengaguminya. Dia merasa puas baik dalam kehidupan pribadi maupun publiknya, jadi aku memanggilnya "Kira Kira" dan ingin menjadi "Kira kira/Sparkle/Berkilau" juga.

 

Jadi, aku ingin jadi Magical Girl, jadi aku berlatih sihir dan belajar dengan giat. Aku bekerja keras... Aku selalu bekerja keras. Saat itu, kupikir aku punya bakat sihir. Aku bisa menggunakan sihir lebih baik daripada anak-anak lain, dan hal yang sama berlaku untuk kemampuan akademisku. Dan karena aku orang yang kompetitif, aku ingat pernah menjadi yang terbaik di kelasku dalam hal sihir.

 

Namun terkadang memang begitu.

 

Seperti teman ku tadi, ada orang jenius yang kuat tanpa perlu berusaha. Ada juga gadis yang bersinar seperti Para Magical Girl di anime itu.

 

Diriku yang masih kecil di hadapanku menghilang seolah perannya telah selesai. Aku memunggunginya dan meninggalkan tempat itu.

 

Aku bertanya-tanya apakah aku harus melangkah lebih jauh. Kata-kata yang tak ingin kukatakan dan emosi negatifku sendiri mulai membuncah dalam diriku.

 

Aku ingin pulang. Ada jalan kembali. Tapi aku belum mendengar apa pun tentang apa yang akan terjadi pada orang lain jika aku gagal. Jadi, aku tidak punya pilihan selain terus maju.

 

Aku berkeliling mencari tempat berikutnya yang bisa ku kunjungi. Kali ini, tempat yang bisa ku kunjungi lagi adalah ruang kelas. Namun, ruang kelasnya satu tingkat lebih tinggi dari yang ku kunjungi sebelumnya.

 

Di sana aku masa kecil membandingkan nilai-nilaiku dengan nilai-nilainya.

 

("Ini tidak menakjubkan...")

 

("Apa yang kamu bicarakan? Kamu lebih baik dariku. Fran luar biasa.")

 

Dia memujiku. Itu membuat hatiku sakit. Bagiku, baik dulu maupun sekarang, kata-katanya terdengar sarkastis.

 

Aku berlatih, meninjau, dan memikirkannya berulang-ulang, menghabiskan berjam-jam bahkan puluhan jam untuk mencapai level itu, Namun dia dengan santai mencapainya dalamnya dalam waktu yang lebih singkat daripada diriku. Dia hanya mempermainkanku. Dan kemudian dia berkata berpikir, "Fran memang luar biasa, seperti yang kuduga."

 

Dia mungkin memujiku. Tidak, kurasa begitu. Dia gadis yang polos dan terus terang. Tapi bagiku kedengarannya dia tidak menyukaiku atau bahkan membenciku.

 

Aku sangat membencinya. Yang paling kubenci adalah diriku sendiri, karena kata-katanya terdengar sarkastis. Sejak saat itu, aku membenci diriku sendiri. Perasaan itu masih ada. Jauh di lubuk hatiku, perasaan jahat masih terpendam.

 

Kejadian ini membuatku tak bisa menganggapnya sebagai teman. Itu bukan salahnya. Itu karena aku merasa tak pantas menjadi temannya.

 

Keduanya berubah menjadi partikel hitam dan menghilang. Aku mendesah sambil memperhatikan mereka.

 

"Tidak akan ada lagi..."

 

Aku tak sanggup menahan rasa sakit yang lebih dari ini. Aku harus mencari jalan keluar. Dengan pikiran itu, aku mencari tempat untuk pergi. Aku langsung menemukannya.

 

Itu pintu masuk sekolah, lift. Aku melangkah keluar dan benar-benar takjub dengan pemandangannya.

 

"Mengapa"

 

Yang terbentang dihadapan ku adalah Istana Bulan. Dan itu adalah... adalah sarang para jenius.

 

"Seberapa jauh kau harus menstimulasi kompleks ku sebelum kau merasa puas?"

 

Aku tidak sejenius Monica-kaichou. Aku hanya bisa meluangkan waktu dan bekerja dengan saksama. Dan berkat kerja keras dan dedikasi, aku akhirnya mencapai posisi wakil ketua OSIS sekolah ini.

 

Namun, di lubuk hatiku aku masih merasa putus asa karena aku hanyalah orang biasa tanpa bakat. Perasaan ini semakin kuat setelah aku bergabung dengan OSIS.

 

Sekarang Yukine dan Shion yang usianya hampir sama denganku saat aku pertama kali masuk sekolah telah tumbuh dengan cepat, dan aku tertinggal.

 

Bukan berarti aku tidak berusaha keras, tetapi kesenjangannya justru semakin melebar. Bahkan, ada anak-anak yang satu tahun di bawah ku yang sedang meningkatkan keterampilan mereka.

 

Dengan pemikiran itu, aku memasuki ruang dewan siswa.

 

Ada beberapa jenius muda di sana: Hijiri Iori, Hijiri Yuika, Gabriella, Ludivine, Nanami, dan Takioto Kosuke. Mereka semua berusaha dengan mudah melampaui ku.

 

Mereka mengobrol riang seolah tak menyadari kehadiranku. Mereka membicarakan tentang dungeon, permen, apa yang dilakukan guru, dan obrolan biasa saja.

 

"Aku merasa mereka mengejek ku dan mengatakan mereka bahkan tidak peduli pada ku."

 

Mereka adalah mereka, dan aku adalah aku. Aku mengerti itu. Aku tahu aku harus melakukan apa yang kubisa. Tapi terkadang aku merasa ingin menyerah.

 

Iori dan yang lainnya mengobrol riang sambil perlahan-lahan berubah menjadi partikel hitam dan akhirnya menghilang. Tepat saat mereka hampir menghilang, aku melihat Takioto Kousuke sejenak. Ia menatapku, tersenyum kecil, lalu kembali berubah menjadi partikel hitam sebelum menghilang.

 

"Apa itu yang terakhir...?"

 

Mungkin dia hanya kebetulan sedang melihat ke arahku, tetapi ada sesuatu tentangnya yang menarik perhatianku.

 

Saat aku tengah memikirkan hal ini, sebuah lingkaran sihir teleportasi muncul di tengah ruangan.

 

Kalau aku naik ini, mungkin aku bisa pulang. Aku bisa pulang kan.

 

"Aku tidak ingin semua orang melihat wajahku yang jelek dan cemburu saat ini."

 

Setelah beberapa saat, aku memasuki lingkaran sihir.

 

◇

 

─Perspektif Yukine─

 

Hal pertama yang ku perhatikan adalah bau tanah.

 

Bukan bau lantai tempatku berdiri tadi, melainkan bau suatu tempat yang penuh dengan alam.

 

"Dimana ini?"

 

Sebagai contoh, kondisinya mirip dengan hutan di rumah keluarga Hanamura tempat ku dan Kosuke selalu berlatih. Area itu rimbun dengan bunga dan pepohonan, dan jalan setapak yang sering dilalui pun terus berlanjut.

 

"...Kurasa aku tidak punya pilihan selain terus maju."

 

Setelah memastikan ada lingkaran sihir teleportasi di belakangku, aku melanjutkan perjalanan. Setelah berjalan beberapa detik, aku melihat jejak kaki di tanah.

 

"Apakah ada orang lain selain aku?"

 

Jejak kaki itu milik seorang pria dewasa. Aku melihat sekeliling, tetapi tidak ada tanda-tanda siapa pun dan sepertinya tidak akan terjadi apa-apa. Setelah berpikir sejenak, aku memutuskan untuk mengikuti jejak kaki itu.

 

Aku terus berjalan sekitar sepuluh menit hingga jalan bercabang. Jejak kaki mengarah ke kanan jadi aku terus berjalan ke arah yang sama.

 

Tiba-tiba, aku merasakan tanda-tanda pertempuran di depan, lalu aku berlari ke arahnya dengan waspada tinggi.

 

"Eh?"

 

Di sana berdiri ("Aku"), memegang naginata. Di seberangku, Kakaku, mengarahkan ujung pedangnya ke arah ("Aku").

 

"Kakakku dan aku sedang bertarung?"

 

Namun, mereka tidak menyadari bahwa diriku yang sebenarnya ada di sini. Mereka terus berjuang tanpa mempedulikan kehadiranku.

 

Orang yang bertarung ("Aku") menggunakan teknik dan gerakan yang sama seperti yang kulakukan sekarang, melawan Kakakku. Namun, kekuatan kami sangat seimbang.

 

Dan kemudian tiba-tiba semuanya berakhir. Aku menebas Kakakku. Ia berubah menjadi partikel hitam bercahaya dan lenyap seperti pasir yang tertiup angin.

 

Yang terjadi selanjutnya adalah sesosok bayangan hitam berbentuk manusia mendekati ku. Aku bertanya-tanya kapan ia muncul. Aku sama sekali tidak merasakan kehadirannya.

 

Bayangan itu dan aku mengobrol riang dan mulai berjalan menyusuri jalan bersama. Namun, setelah berjalan beberapa langkah, aku berubah menjadi partikel dan menghilang, persis seperti yang dilakukan Kakakku. Namun, bayangan hitam itu terus berjalan seolah-olah tidak terjadi apa-apa.

 

Melihatnya berjalan pergi, aku tiba-tiba menjadi curiga dan melihat sekeliling.

 

"Tidak ada jejak kaki dua orang, tidak ada tanda-tanda pertempuran. Yang ku lihat hanyalah jejak kaki satu orang dewasa."

 

Aku segera mengalihkan pandanganku ke arah bayangan yang kulihat sebelumnya, tetapi bayangan itu telah hilang.

 

Ludi yang sekarang menjadi High Elf dan bangsawan menggunakan sihir untuk melawan Magical Beast besar.

 

Lalu tiba-tiba aku menyadari tak ada suara pertempuran di sini. Tak ada pula suara-suara. Malahan aku bisa mendengar suara-suara alam seperti desiran angin dan gemerisik pepohonan.

 

Setelah Ludi mengalahkan musuh, ia tersenyum pada sosok seperti bayangan hitam di sampingnya. Ia lalu pergi bersama sosok seperti bayangan itu. Namun, sosok itu hanya menghilang beberapa langkah seperti yang dilakukan ("aku") dan Kakakku sebelumnya. Namun, hanya Ludi yang menghilang.

 

"Dia menghilang lagi? Dan hanya Ludi."

 

Bayangan hitam itu terus berjalan semakin jauh ke area itu, dan aku memperhatikan bahwa setiap kali ia berjalan, ia meninggalkan jejak kaki.

 

Saat aku mencoba mengikutinya, Nanami dan Ivy muncul di tempat Ludi bertarung sebelumnya.

 

Mereka tampak sedang membicarakan sesuatu, lalu keduanya mengangguk serempak. Lalu mereka berdua melompat ke arah yang berbeda, bukan ke arah jalan, melainkan ke arah hutan lebat. Mereka lalu bergerak seperti ninja memanfaatkan dahan-dahan pohon untuk bergerak.

 

Aku memandang ke depan, dan yang ada di hadapanku hanyalah jejak kaki.

 

"Aku tidak tahu apa maksudnya itu."

 

Akhirnya aku mengikuti jejak kaki itu. Saat berjalan, aku melihat bayangan hitam di depanku yang sedari tadi berbicara dengan Ludi. Bayangan hitam itu sedang melawan musuh dan sepertinya sedang kesulitan.

 

Melihat cara bertarungnya, aku langsung tahu siapa bayangan itu. Bahkan, aku bisa bilang aku sudah hampir tahu sejak melihat senyum Ludi.

 

"Kosuke!"

 

Kosuke tidak menanggapi suaraku. Ia sedang berjuang dan hampir kalah. Aku mencoba mendekatinya, tetapi aku tidak bisa bergerak maju.

 

Dan ketika kupikir hal itu tidak dapat terjadi lagi, hal itu terjadi.

 

"Nanami dan Ivy?"

 

Dengan dukungan Nanami dan Ivy, Kosuke, yang bertindak sebagai bayangan mengalahkan musuh. Setelah menyelesaikan misi mereka, Nanami dan Ivy menghilang seketika. Kosuke kemudian mulai berjalan.

 

Aku segera mengikutinya.

 

Setelah itu, ia mengalahkan beberapa musuh. Mereka semua adalah musuh kuat dengan peringkat yang lebih tinggi. Ia membantai musuh-musuh yang muncul setelah berjuang keras, dan terus berjuang, hingga kelelahan.

 

Aku tiba di tempat yang dikenalku—dalam perjalanan menuju air terjun tempat kami berlatih—dan dia berbalik.

 

Dia menatapku seolah bisa melihatku, lalu membuka mulutnya, tetapi tak sepatah kata pun keluar. Mungkin dia tak bisa bicara di sini.

 

Tapi aku mengerti apa yang ingin ia katakan. Perasaannya tersampaikan tanpa kata-kata.

 

Yaitu ('Sangat bersyukur') dan ('Selamat Tinggal').

 

Wajahnya tampak seperti hendak menangis, tetapi dia juga tampak begitu bahagia, dan senyumnya begitu menghangatkan hati hingga membuatku menitikkan air mata.

 

Aku berlari keluar, dan aku mengulurkan tanganku padanya... Aku sudah cukup dekat untuk menangkapnya dan yang harus kulakukan hanyalah memegangnya, lalu dia pun lenyap.

 

Terakhir kali aku melihatnya, senyum yang kontras yang memperlihatkan bahagia dan sedih masih terpatri dalam ingatanku.

 

Dan kemudian aku tiba-tiba menyadari.

 

"Apakah aku... melihat masa depan Kousuke?"

 

Itu seolah mengisyaratkan bahwa ia akhirnya akan mencapai keadaan tersenyum dan sedih itu.

 

Aku punya tekad untuk menjadi lebih kuat karena dia tapi aku merasa dungeon ini mengajarkanku bahwa aku tidak bisa terus seperti ini.

 

Tapi apa yang harus kulakukan? Apa kekuranganku sekarang? Apa yang dia miliki yang tidak kumiliki? Atau apa bedanya aku dan dia?

 

Tiba-tiba, aku teringat dia hanya melawan mereka yang lebih unggul darinya. Kalau dipikir-pikir lagi, memang selalu begitu. Dia selalu menantang mereka yang lebih unggul darinya, meskipun itu tindakan yang berbahaya.

 

"Tekad, ya?"

 

Aku penasaran, apakah tekad kami berbeda. Mengapa tekad kami berbeda?

 

Tidak, jika ia hanya ingin menjadi yang terkuat, maka tindakannya hanya akan kontradiktif. Menjadi yang terkuat jelas bukan tujuannya.

 

Aku ingin tahu, sebenarnya aku harus tahu, apa tujuannya.

 

Pada saat itu, lingkaran sihir teleportasi muncul bersama cahaya dan Kousuke muncul dari sana.

 

"Aduh, itu menyakitkan."

 

Saat ia terlempar dari lingkaran sihir teleportasi, ia tak mampu bertahan dan jatuh terduduk. Sepertinya ada batu di bawah bokongnya, dan ia menggeliat kesakitan sambil memegangi bokongnya.

 

"Kosuke"

 

Meskipun kemunculannya yang tiba-tiba, aku yakin dialah Takioto Kousuke yang asli. Sebelumnya, dia mungkin tampak agak tidak nyata. Hanya melihatnya saja kini menghangatkan hatiku dan aku merasa aman. Jika kau bertanya apa maksudnya secara spesifik, mungkin itu hanya firasatku.

 

"Suara itu... Yukine-senpai? Hah?"

 

Katanya sambil berbalik.

 

"Ya, benar."

 

Mungkin karena aku menatapnya, ekspresi wajahnya tampak aneh.

 

"Hei, ini Star Trial, kan? Kenapa begitu? Tentunya dua orang tidak bisa masuk Star Trial di tempat yang sama...? Kenapa begitu?"

 

Dari apa yang kudengar, tampaknya sesuatu yang tidak terduga telah terjadi.

 

"Jadi begitu."

 

Tapi entah bagaimana aku merasa mengerti mengapa dia datang. Aku disuruh berbicara langsung dengannya di dungeon ini. Untuk melangkah maju dengan berani dan mendengarkan. Itulah ujianku.

 

"Ada apa?"

 

"Aa, aku sudah memikirkan sesuatu sejak datang ke ujian ini... Apakah Kousuke sudah melewati lantai ini?"

 

"Yah, aku tidak tahu apa yang terjadi. Seharusnya aku diteleportasi bersama yang lain, tapi tiba-tiba aku malah dikirim ke sini."

 

"Begitu," aku mengangguk. Mungkin cobaanku ada hubungannya dengan cobaan Kosuke. Tapi aku tidak tahu cobaan apa yang dialami Kosuke.

 

"Mengapa kita tidak berjalan sebentar dan mengobrol?"

 

Sambil berkata demikian, aku menatap ke depan. Jejak kaki yang selama ini menuntunku telah lenyap.

 

Kosuke tampak ingin bertanya sesuatu, tetapi ia mengangguk dan kami pun membuat jejak kaki baru bersama. Setelah berjalan sedikit, Kosuke sepertinya menyadari di mana kami berada.

 

"Apakah ini milik keluarga Hanamura?"

 

"Ini pasti jalan menuju air terjun... Ayo kita lanjutkan."

 

Dia mungkin langsung menyadarinya karena itu adalah jalan yang hampir setiap hari dilaluinya. Suara air perlahan-lahan semakin keras.

 

"Itu hanya tebakanku."

 

Aku mulai berbicara.

 

"Kousuke dibutuhkan untuk menyelesaikan ujian. Itulah mengapa kau dipanggil ke sini."

 

"...Kemungkinan besar begitu."

 

"Aku bisa menemukan solusinya, tapi aku ingin sedikit menenangkan diri. Maaf, Kousuke, tapi bisakah kau membantuku?"

 

"Akan kulakukan walau selama sisa hidupku." dia tertawa.

 

Dan saat aku terus menyusuri jalan setapak yang familiar, sebuah air terjun yang familiar muncul di ujungnya. Di sanalah Kosuke dan aku pertama kali bertemu. Kupikir di sanalah satu-satunya tempat aku bisa mendengar perasaannya yang sebenarnya.

 

"Mengapa kita tidak berlatih sedikit?"

 

Kosuke mungkin terkejut. Benar juga. Ini dungeon. Tapi aku ingin menghabiskan waktuku di sini seperti biasa.

 

Ia sepertinya menyadari sesuatu, lalu mengangguk dengan ekspresi serius. Lalu, tanpa berkata apa-apa, kami berdua melanjutkan latihan kami seperti biasa, tetapi dengan intensitas yang lebih ringan.

 

Setelah selesai, aku serahkan handuk kepadanya dan kami duduk di atas batu.

 

"Naa, Kosuke, aku ingin kau memberitahuku."

 

"... Tiba-tiba sekali ada apa?"

 

"Apa tujuanmu sebenarnya?"

 

Itu pasti terlalu tiba-tiba, dan aku dapat melihat di wajahnya bahwa dia tengah memikirkan apa yang sedang kubicarakan.

 

"Kamu bilang kamu akan menjadi yang terkuat. Aku yakin itu benar. Tapi aku selalu menganggapnya aneh."

 

"Benar sekali. Aku juga berpikir begitu."

 

Kosuke mengangguk sambil mengatakan itu.

 

"Tapi di saat yang sama, kurasa ada lebih dari itu. Ada rahasia yang tak kau ceritakan pada kami."

 

"Soal itu... yah, begitulah. Aku bilang aku akan menceritakannya suatu hari nanti."

 

Dia tampak malu. Dia pasti merasa kasihan pada dirinya sendiri.

 

"Akulah yang bilang akan menunggu. Tapi aku ingin mendengarnya agar aku bisa menjadi diriku sendiri. Keegoisankulah yang—"

 

"Harap tunggu."

 

Kosuke menghentikanku mengatakan itu.

 

"Ini salahku, jadi jangan pernah minta maaf, senpai. Dan jangan salahkan dirimu sendiri."

 

Sambil berkata demikian, dia menyeka keringat di wajahnya dengan handuk dan meneruskan bicaranya.

 

"...Aku yakin Senpai ingin mendengar tentang saat aku menyelamatkan Ludi dan Sakura-san, kan?"

 

"Ah"

 

Kosuke menarik napas dalam-dalam, tampak sangat khawatir. Setelah sekitar sepuluh detik, ia tersenyum kecut. Kata-kata pertama yang keluar dari mulutnya adalah:

 

"Maaf. Aku diam begitu lama."

 

Itu adalah permintaan maaf kepadaku.

 

"Jadi masalahnya adalah kamu memaksakan dirimu untuk bertanya..."

 

Sambil berkata demikian, Kosuke tersenyum lemah.

 

"Itu tipikal Yukine-senpai. Tapi kamu sama sekali tidak bersalah. Jadi, jangan minta maaf."

 

"Kosuke..."

 

Dia menarik napas dalam-dalam.

 

"Tentu saja aku ingin bicara, tapi apa yang harus kulakukan?"

 

"Apa maksudmu?"

 

"Sulit untuk menjelaskan banyak hal, jadi bisakah aku menjelaskannya lebih ringkas?"

 

"Tentu saja."

 

Dia menunduk seolah tengah memikirkan sesuatu, lalu sesaat kemudian dia mendongak.

 

"Senpai Kamu tidak begitu menikmati bermain game, kan?"

 

Aku mengangguk sedikit.

 

Mendengar ini, Kosuke mulai berpikir lagi mungkin memikirkan bagaimana menjelaskannya.

 

"Hmm ya benar. Sederhananya... aku tahu beberapa kemungkinan kejadian di masa depan."

 

"...Kau tahu sebagian tentang masa depan, kah?"

 

Aku mengulang kata-kata itu, menikmatinya.

 

"Ya, misalnya ketika Ludi diculik sebelum dia mendaftar di akademi dan Senpai membantunya, itu juga terjadi. Aku tahu tentang dungeon itu. Ada juga kemungkinan Ludi akan diculik di masa depan. Namun, waktunya lebih awal dari yang kukira."

 

Aku sendiri punya pertanyaan tentang itu. Itu pertama kalinya Kosuke melihat dungeon itu, tapi dia tahu segalanya dan bisa membantu Ludi. Jadi aku bertanya langsung padanya, tapi dia berjanji akan memberitahuku suatu hari nanti dan begitulah akhirnya.

 

Dan bukan hanya Ludi yang memiliki pemahaman ini. Demi menyelamatkan Sakura, ia sudah sepenuhnya siap, menyiapkan semua perlengkapan yang diperlukan sebelumnya, bisa dengan tenang menelusuri jalan tersembunyi, tahu di mana harta karun itu berada, dan tahu di mana jebakannya.

 

Aku yakin bukan cuma aku; Ludi dan Yuka juga punya gambaran samar. Jelas ada yang salah.

 

"Entah bagaimana aku sudah menduga itu."

 

Jika tidak, itu tidak masuk akal.

 

"Namun, aku tahu terlalu banyak dan aku takut orang-orang akan curiga padaku, jadi aku berpura-pura tahu tentang dari dokumen keluarga Hanamura dan meminta Nanami untuk membantuku."

 

"Jadi itu berarti Nanami tahu?"

 

Saat aku mengatakan itu, dia mengalihkan pandangannya, bingung.

 

"Yah, kurasa dia tahu, tapi aku belum menjelaskannya secara rinci."

 

Aku penasaran apa itu...? Aku yakin dia bahkan lebih bingung daripada aku.

 

"Kosuke, kamu harus bicarakan itu. Nanami cukup terlibat, kan?"

 

"Kau benar. Aku malah mengandalkan hati nurani Nanami."

 

Itulah yang dikatakan Kosuke. Namun,

 

"Yah... kurasa kau memang sudah berniat membicarakannya sejak awal. Kau tahu ini sesuatu yang perlu kau lakukan segera, kan?"



"Tentu saja."

 

"Baiklah kalau begitu. Langsung saja ke intinya."

 

"Ya. Intinya adalah…..."

 

Sembari berkata demikian, ia menatap ke arah cekungan air terjun dengan pandangan lembut, seakan-akan ia sedang memandangi seekor binatang atau anak kecil yang tengah bermain dengan gembira.

 

"Aku ingin melindungimu."

 

"Apakah kamu ingin melindungiku?"

 

Ketika aku mengatakan itu, dia mengangguk, matanya tertuju pada air terjun.


 

"Sejujurnya, aku mencintai dunia ini. Aku mencintai orang-orang di sini."

 

Katanya sambil tertawa pelan, tampak sedikit malu.

 

"Kita menghabiskan waktu bersama, mengobrol tentang hal-hal konyol, terkadang bertengkar, dan pergi ke dungeon bersama. Aku semakin menyukai mereka, dan aku mulai berpikir bahwa aku ingin semua orang bahagia apa pun yang terjadi."

 

Aku mengangguk. Aku juga berpikir begitu. Kalau semua orang tertawa dan bersenang-senang, itu lebih baik.

 

"Itulah sebabnya aku selalu bertindak dengan cara yang membuat semua orang senang."

 

Aku mengerti, aku mengangguk.

 

"Namun, aku tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Demi membawa kebahagiaan bagi semua orang, aku harus mengatasi banyak rintangan dan mengalahkan banyak musuh. Namun, musuh-musuh ini cukup kuat."

 

Itulah sebabnya dia begitu rakus akan kekuatan.

 

"Aku benar-benar butuh kekuatan. Untuk membuat bahagia. Itulah sebabnya aku datang ke dungeon ini."

 

Katanya sambil meremas tanganku.

 

"...Sejujurnya, aku tidak terlalu peduli untuk menjadi yang terkuat."

 

Dia terus berbicara.

 

"Aku cuma ingin jadi yang terkuat supaya semua orang bahagia, jadi aku bilang aku mau jadi yang terkuat. Itu saja."

 

Tiba-tiba aku teringat senyum palsunya yang memudar seiring tawa dan air mata.

 

"Aku mengerti alasan kekuatanmu."

 

Intuisiku mengatakan jika keadaan terus seperti ini, tidak akan ada hal baik yang terjadi.

 

"Naa, Kosuke."

 

"Ya?"

 

"Apa yang terjadi dalam skenario terburuk?"

 

Kosuke terdiam. Ekspresinya serius. Ia menatapku dan ketika mata kami bertemu, ia segera mengalihkan pandangannya.

 

Aku tahu semakin dia ragu untuk mengatakannya, semakin buruk jadinya. Aku hanya menatapnya, menunggu dia bicara.

 

"Kalau semuanya berantakan, teman-temanku dan teman-temanmu akan mati. Skenario terburuknya adalah... sekolah dan kota akan hancur dan banyak orang akan mati. Tapi, kurasa tidak akan seperti itu."

 

Aku sangat terkejut. Bukankah rasanya seperti berjuang sambil menanggung nyawa banyak orang? Apakah beban seberat itu yang harus ditanggung satu orang?

 

"Aku punya satu pertanyaan. Apakah aku termasuk orang yang kau inginkan untuk bahagia?"

 

"Tentu saja. Karena itulah aku ingin kamu bahagia atau aku akan mendapat masalah."

 

Saat mengatakan ini, ekspresi seriusnya sedikit melunak dan ia tersenyum. Namun, senyum itu tampak rumit.

 

"Jadi begitu."

 

Lalu aku tiba-tiba teringat Kosuke palsu tadi. Ada banyak orang di sekitarnya, termasuk aku. Tapi hanya ada satu jejak kaki.

 

"Naa, Kosuke. Kau sepertinya tidak sendirian sampai sekarang, tapi ternyata kau sendirian."

 

Tapi sekarang berbeda. Jejak kaki basah di jalan setapak menuju ke sini bukan hanya milik satu orang.

 

"Tapi sekarang tinggal kita berdua."

 

Ada dua set jejak kaki.

 

"Aku juga ingin mewujudkan keinginan itu. Aku tidak ingin kehilangan orang-orang yang kusayangi."

 

Tentu saja, itu termasuk kau.

 

Namun, aku tahu aku tidak bisa terus seperti ini. Dia pasti tahu apa yang terbaik untuk dilakukan.

 

"Kosuke, kau juga tahu masa depanku, bukan?"

 

"Aku tahu."

 

"Tahukah Kau bagaimana aku bisa tumbuh lebih kuat dari sekarang?"

 

Aku juga harus menjadi kuat. Jika aku ingin mencapai tujuannya, aku harus menjadi kuat dengan tekad yang sama dengannya.

 

"...Aku tahu, tapi itu sangat berbahaya."

 

"Aku tidak keberatan."

 

Lagipula, Aku tidak peduli dengan risikonya.

 

"Kau mau ambil risiko, kan? Lagipula, kita sudah pernah ke sana berkali-kali sebelumnya."

 

Kosuke tersenyum kecut, seolah dia kewalahan.

 

"Benar sekali. Serius, senpai bahkan tidak memikirkan dirinya sendiri kalau itu untuk orang lain."

 

"Apa yang kau bicarakan? Aku tidak ingin mendengar itu darimu."

 

"...Itu mungkin benar."

 

Haha, fufu, kami berdua tertawa terbahak-bahak. Tawa aneh yang menghangatkan hati kami.

 

"Sebenarnya, ada dungeon yang sangat penting di depan yang diperlukan untuk pertumbuhanku dan Senpai. Aku sempat ragu untuk melanjutkannya, tapi kita akan pergi. Bersiaplah."

 

"Bersiap?"

 

"Bukan hanya ujian ini yang sulit, tapi masa depan juga akan sulit."

 

"Itulah yang aku inginkan."

 

Tiba-tiba, lingkaran sihir teleportasi muncul di bawah kakiku.

 

"Eh, lingkaran sihir teleportasi? Aku belum melakukan ujian atau apa pun...? Mungkin ada sesuatu yang aneh terjadi karena aku datang ke sini?"

 

Kousuke bertanya dengan heran.

 

Tapi bagiku, itu ujian. Aku harus berani dan mengambil risiko, meskipun mungkin akan ditolak oleh seseorang yang kusayangi. Yah, menyebutnya ujian mungkin agak berlebihan.

 

Lingkaran sihir teleportasi muncul dan kami diteleportasi tanpa pilihan lain.


 









Post a Comment

Post a Comment

close