Gua Ujian -- Ujian Bintang--
Tempat yang kami tuju kembali
adalah lingkaran sihir teleportasi yang sama tempat kami masuki.
"Patung batu itu
bersinar."
Tepat seperti yang dikatakan
Shion-san, patung batu di belakang kami diselimuti cahaya putih pucat. Cahaya
itu perlahan mendekati kami dan diserap ke dalam tubuh kami seperti energi
magis. Cahaya itu perlahan mengecil, dan akhirnya menghilang sepenuhnya ke
dalam diri kami.
Dalam beberapa detik lingkaran
sihir untuk Trial Star
mulai bersinar redup.
"Sepertinya kamu telah
memperoleh suatu Skill."
Nanami bergumam. Skill yang kau
dapatkan di sini bervariasi tergantung karakternya. Kau
mendapatkan skill yang berkaitan dengan kecepatan, tingkat penghindaran, dan
kemampuan stealth
sendiri, tetapi apa pun yang kau
dapatkan kemungkinan besar akan berguna. Sepertinya aku
mendapatkan skill yang meningkatkan kecepatanku.
"Aku
ingin mengujinya, tapi bagaimana dengan tes berikutnya? Haruskah kita langsung
saja melakukannya?"
"Aku tidak lelah sama
sekali, jadi ayo pergi saja."
Kata Fran fuku-kaichou. Shion-san
tampaknya setuju.
"Dalam beberapa hal, aku
sedikit lelah tertawa."
Meskipun dia
bilang begitu, kurasa dia sama
sekali tidak lelah. Dalam banyak hal, mungkin hanya aku yang lelah. Senpai
menatapku, bertanya-tanya apakah itu yang menggangguku.
"Tidak apa-apa, ayo
pergi. Tapi hati-hati karena aksi sesungguhnya baru dimulai."
Kataku, dan Nanami mengangguk.
"Star Trial punya trik
yang berbeda untuk setiap orang, dan kamu harus membuka trik tersebut untuk
memenangkannya."
Benar. Kurasa itu tidak akan
menjadi cobaan yang berat bagi Nanami atau aku. Cobaan yang berat bagi karakter
yang punya trauma atau kekhawatiran.
Ku
pikir Shion-san
mungkin mengalami masa yang paling sulit di antara kita semua.
"Begitu kita
menginjak lingkaran sihir, kita semua
akan terpisah. Ini tidak mengancam nyawa,
tapi akan sangat menyakitkan, jadi berusahalah sebaik mungkin."
Sambil berkata demikian, aku
mengalihkan pandangan ke patung batu yang memegang tongkat bintang. Di
sebelahnya, sebuah lingkaran sihir memancarkan cahaya redup.
"Jika kalian sudah siap dan siaga, ayo berangkat."
─Perspektif
Shion─
Tempat di mana kami
terlempar di lingkaran sihir itu tampaknya adalah rumah besar Wakuni.
("Lihatlah kelemahanmu
dan ikuti jalan yang benar. Maka jalan itu akan terbuka.")
Kata-kata itu terngiang di
kepalaku. Itu cuma tebakan, tapi kurasa itu syarat untuk lolos tahap ini.
Aku
membuka pintu geser terdekat untuk memeriksa situasi terkini dan menghela napas
panjang.
"Sepertinya hal paling
tidak menyenangkan yang dapat ku
bayangkan telah datang."
Aku
duduk tegak di ruangan bergaya Jepang yang sangat familiar, menarik napas
dalam-dalam dan melihat sekeliling sambil mencoba menenangkan diri.
Tiba-tiba, sebuah kilas balik
muncul di benak ku tentang
sebuah kejadian di masa kecil. Saat itu ia
menatap ku
seolah-olah aku hanyalah sebuah
alat...
"Apakah ini berarti aku harus menghadapi ini?."
Semua masa-masa mengerikan
yang kuhabiskan di rumah terkutuk ini.
"Jika begitu, ini sungguh tidak meng enakan."
Aku berdiri, membuka pintu
geser, dan berjalan menyusuri lorong. Aku melewati halaman yang familiar,
membuka pintu geser, dan menuju pintu masuk. Namun, yang terbentang di
hadapanku ketika aku membuka pintu adalah ruangan bergaya Jepang tempatku
berada. Ada juga lingkaran sihir di sana yang membantuku kembali.
("Lihatlah kelemahanmu
dan ikuti jalan yang benar. Maka jalan itu akan terbuka.")
Kata-kata itu terngiang lagi
di kepalaku. Meskipun aku melewati ruangan lain, aku akhirnya kembali ke
ruangan bergaya Jepang ini lagi.
Rasanya aku terjebak di rumah ini.
"Kurasa aku tidak punya
pilihan selain pergi ke suatu tempat yang belum pernah kukunjungi
sebelumnya."
Tidak. Daripada mengatakan aku
tidak pergi, aku akan
mengatakan aku
sengaja menghindarinya.
Sambil menarik napas
dalam-dalam, aku berjalan menuju ruangan itu tanpa ragu. Sesampainya di sana,
aku mendengar suara seseorang menggedor meja.
"Kenapa kau
tidak bisa? Teruslah mencoba sampai kau
bisa. Apakah kau masih
putriku?"
Tubuhku menegang sesaat. Itu
suara ayahku, dari ingatanku. Suara ayah yang kubenci. Aku bisa mendengar suara
sesuatu yang digedor dan sihir yang dilepaskan dari ruangan itu, tetapi tubuhku
begitu kaku hingga aku tak bisa masuk.
Tak lama setelah suara itu
berhenti, aku
akhirnya membuka pintu geser di depan ku
dan masuk ke dalam.
"Ini membawa kembali
kenangan. Ini kamarku, yang tak ingin kuingat."
Aku mencari ke seluruh
ruangan, barangkali aku butuh sesuatu untuk melarikan diri, tetapi aku tidak
menemukan apa pun.
Saat aku hendak meninggalkan
ruangan, aku kebetulan melihat ke cermin dan tidak dapat menahan tawa melihat
wajahku.
"Satu-satunya hal yang melegakan adalah bahwa satu-satunya kesamaan di antara kami
hanyalah warna rambut dan mata."
Kalau saja kami benar-benar
mirip, aku mungkin benci bercermin. Ah, kurasa bakat sihirku diwarisi darinya.
"Apa-apaan ini Kou? Kamu bilang ini ujian berat, tapi ini malah sangat-sangat berat."
Sambil memikirkan apa yang
akan terjadi di hadapanku, aku mendesah panjang.
Saat aku meninggalkan ruangan
sambil memikirkan apa yang harus kulakukan, aku mendengar sebuah suara datang
dari halaman.
"...Mungkinkah itu?"
Aku berlari kecil menuju
halaman di mana seperti dugaanku, ada dua gadis disana.
"Diriku saat masih kecil?"
Diriku dan wanita lain dari masa kecilku.
"Hana nee-sama..."
Saat aku
sedang melihat mereka bersenang-senang, aku
tiba-tiba mendengar suara datang dari sisi lain pintu geser.
"Jika
keluarga kujou setuju untuk mengabdi
dibawah
keluarga Himemiya, mungkin aku akan mempertimbangkan. Kukku."
Itu suara ayahku. Bukan hanya
nada suaranya, tapi juga cara bicaranya yang sarkastis, merendahkan, dan cara
tertawanya yang mengejek, jelas-jelas suara ayahku.
"Mana mungkin kami akan!"
Itu suara ayah Hana Nee-sama yang sedang marah. Aku tak kuasa menahan diri
untuk menatap Hana Nee-sama. Ia
tampak begitu sedih dan melihatnya membuatku sedih seperti anak kecil...
"Ayo, Shion. Kali ini mari kita bermain dengan sihir."
Ucapnya seraya memintaku untuk berpindah tempat..
"Ini semua pasti
rencanamu!"
Ayah Hana Nee-sama masih berteriak marah dari balik pintu geser. Sedangkan Ayahku.
"Rumah atau harga diri?
Bukankah seharusnya kau memikirkan itu?"
Dia menjawab sambil tertawa.
"Aku tahu tanpa kau
katakan padaku."
Saat mereka berbicara, sesuatu seperti kabut hitam muncul di atas diriku dan Hana Nee-sama yang
masih kecil itu. Kabut itu perlahan-lahan semakin tebal,
akhirnya menyelimuti mereka berdua. Dalam beberapa detik, kabut itu menghilang,
tetapi mereka berdua telah menghilang.
"Kau ingin aku terus maju
meski mengalami trauma seperti itu? Ini
ujian yang sangat
berat."
Aku
mendesah dalam-dalam, lalu berjalan ke tengah halaman dan menatap langit.
Berdasarkan tren masa lalu,
entah bagaimana aku tahu
ke mana aku harus
pergi. Jika Aku pergi
ke tempat lain, aku
mungkin hanya akan terjebak dalam lingkaran setan.
"Hana Nee-sama itu luar biasa. Dia memperlakukan ku
dengan sangat baik, meskipun aku
adalah anak dari keluargan yang
sudah seperti musuh baginya."
Ditengah keluarga bangasawan Wakuni keluarha Himemiya yang tak pernah lepas
dari desas-desus buruk-- Ia adalah orang yang menyapa diriku yang terasing,
apalagi mengingat status ku sebagai seorang anak dari yang di sembunyikan.
Berkat itu, aku tidak merasa
kesepian dan itu melegakan.
"Tapi meski begitu, aku
tidak bisa berbuat apa-apa untuk Hana Nee-sama."
Dia bisa saja mengatakan ini bukan salahku.
Aku yakin Hana Nee-sama pasti akan bilang begitu. Tetapi kenyataan bahwa aku tidak melakukan apapun adalah kesalahan ku.
"...Apakah sudah waktunya untuk pergi?"
Aku tahu ke mana aku harus
pergi. Namun, itu adalah tempat yang paling kubenci. Aku tak ingin melangkah
lebih jauh lagi. Tapi aku tak punya pilihan selain terus maju. Sayangnya, tidak
ada lingkaran sihir teleportasi untuk kembali, jadi tak ada tempat untuk
kembali.
"Tidak
ada tempat untuk kembali, ya? Persis seperti keadaanku saat ini."
Langkahku berat, namun aku
melangkah satu demi satu dan menuju ke kamar ayahku.
"Shion, apakah kau
mendengarkan?"
Seperti yang kuduga, aku
mendengar suara datang dari dalam kamar ayahku.
"Tapi Ayah..."
"Tidak perlu 'Tetapi'. Akhirnya kita sampai pada titik di mana kita
bisa mencabut Pasal 9."
Ah, aku ingat kata-kata itu.
Waktu itu aku sedang berkonsultasi dengannya tentang Hana Nee-sama dan keluarga Kujo.
"Jangan terlalu dekat dan
terbawa perasaan. Lakukan saja apa yang kuinginkan. Kalau kau tidak
mendengarkanku, aku tidak akan ragu mencabut hak
warismu."
"……"
"Kita bisa saja mengadopsi anak lain.
Lagipula, apa menyerahkan urusan ini pada si bodoh
itu adalah sebuah kesalahan kah?"
"Apakah Ayah
berbicara buruk tentangku?"
Diriku membuka pintu geser. Di sana aku
mendapati ayahku dan diriku yang muda itu. Mereka tampaknya tidak menyadari kehadiranku.
"Ya, kurasa itu tidak salah bukan?."
Dia terus berbicara tanpa
memperhatikan diriku.
Tak lama kemudian, mereka
berdua diselimuti kabut hitam yang sama seperti yang ku
lihat sebelumnya. Saat kabut menghilang, mereka berdua pun menghilang, dan
sebuah lingkaran sihir teleportasi muncul menggantikan mereka.
"Memaksaku melewati
trauma yang tak ingin kuingat dan mencari jalan keluar, ya? Ini
ujian yang berat."
Kou
mengatakan itu adalah cobaan yang cukup berat.
"Apanya yang cukup? Ini seperti cobaan yang sangat berat bagiku."
◇
─Perspektif
Fran─
Tempat yang ku
tuju adalah tempat yang sangat familiar.
"Sekolah...malah hari?"
Aku bergumam dalam hati sambil
melihat sekeliling. Tak ada orang lain di sini selainku.
Seperti yang dikatakan Takioto-san, rasanya aku telah dipindahkan ke tempat
yang berbeda dari yang lain.
Saat aku tengah memikirkan apa
yang harus kulakukan, tiba-tiba aku mendengar sebuah suara di kepalaku.
"Mn!"
("Lihatlah kelemahanmu
dan ikuti jalan yang benar. Maka jalan itu akan terbuka.")
Aku
berbalik dengan cepat dan melihat patung yang sama sedang memegang tongkat
berbentuk bintang yang pernah ku lihat
sebelum datang ke lantai ini.
Ada juga lingkaran sihir
teleportasi yang mungkin baru saja dimasuki.
Dilihat dari situasinya, suara
tadi mungkin merupakan syarat untuk melewati rintangan ini.
"Mari maju
sekarang."
Setelah berjalan sedikit
menyusuri lorong, aku segera
menyadari di mana aku
berada: ini adalah sekolah tempat ku
bersekolah di sekolah dasar.
"...Mengapa di
sini?"
Aku menyusuri lorong itu, tapi
entah kenapa lorong itu seakan tak berujung. Kurasa aku berada di lorong yang
berputar-putar, tempat aku terpaksa berjalan di tempat yang sama
berulang-ulang.
Karena rasanya tak ada gunanya
berjalan ke arah yang sama, aku memutuskan untuk berjalan ke arah yang
berlawanan. Lalu aku bisa menemukan lingkaran sihir teleportasi dan patung yang
pasti telah kulewati.
"Begitu ya,
jadi ini gimik nya."
Ada dungeon di mana kau
tidak bisa melanjutkan kecuali kau
memecahkan misteri atau memenuhi persyaratan tertentu. Kurasa aku harus
melakukan sesuatu di sini untuk bisa melanjutkan. Jadi...
"Mungkin aku
harus pergi ke ruang kelas di suatu tempat."
Hanya ada beberapa tempat
terbatas yang bisa ku tuju
dari sini, jadi ruang kelas mana yang harus ku
masuki?
Pada saat itu, aku
tiba-tiba teringat suara itu.
"Lihatlah kelemahanmu
sendiri, ya? Apakah aku harus
pergi ke suatu tempat yang relevan dengan diriku
itu?"
Itu menjelaskan mengapa aku berada di almamaterku. Aku
memutuskan untuk mengandalkan ingatanku dan mencoba mencari kelas tempatku sekolah. Aku langsung menemukannya.
Aku mengintip ke dalam kelas
melalui jendela dan melihat pemandangan yang familier. Lukisan-lukisan,
rak-rak, dan deretan meja semuanya persis seperti yang kuingat.
Ada dua orang yang kukenal di
kelas. Salah satunya adalah aku saat kecil, dan orang di depannya adalah temanku.
("Fran menakjubkan.")
Kata-kata yang diucapkannya
kepadaku dengan nada suara yang dapat kuingat dikatakan padaku dan kata-kata itu menghantamku sama kerasnya
sekarang seperti ketika itu.
"Jadi begitu..."
Saat aku menggumamkan ini,
partikel-partikel hitam mulai mengepul dari para gadis di kelas.
Partikel-partikel itu perlahan menyelimuti sosok mereka, lalu menghilang.
Seharusnya sudah hilang. Tapi
kata-kata itu masih membekas di benakku. Teman itu dan kata-kata itu adalah
trauma yang memicu kebencianku pada diriku sendiri.
Mungkinkah ini ujian yang akan
mengingatkanku pada traumaku? Pikiran terburuk terlintas di benakku. Itulah
mengapa Takioto-san bilang ini ujian yang sulit, meskipun setiap orang
berbeda-beda. Tentu saja setiap orang berbeda-beda. Dari semua orang yang
datang hari ini, aku yakin hanya aku yang tahu sekolah ini.
Aku menuju pintu masuk,
mengandalkan ingatan lamaku. Aku bertanya-tanya apakah aku bisa keluar dari
gedung sekolah, tetapi sayangnya aku tidak bisa. Aku menyadari bahwa aku telah
dengan mudah mencapai lokasi semula. Atau mungkin lebih tepatnya, aku dibawa
kembali ke sini. Inilah yang terjadi.
"Fufu, Apakah 'menghadapi
kelemahanmu sendiri', berarti kau harus
maju dengan kakimu sendiri melewati traumamu sendiri? Tapi
kau bebas melarikan diri dan malah berakhir
kembali."
Ujian yang kejam sekali. Yah,
mungkin wajar saja kalau berat
karena ini ujian. Tapi karena Yukine dan yang lainnya juga menjalani ujian, aku
tidak bisa kabur.
Jadi, selanjutnya aku
memutuskan untuk pergi ke suatu tempat yang ku
duga aku mungkin berada. Itu adalah
pusat kebugaran. Tidak seperti ku,
dia suka olahraga dan bermain dengan berbagai macam orang. Aku
mendapat kesan bahwa dia hampir tidak belajar sama sekali dan hanya
bermain-main. Aku ingat
terkadang pergi bersamanya.
Aku dengan mudah sampai di
pusat kebugaran, tapi tidak ada siapa-siapa di sana. Sesaat aku senang karena
tak perlu melihat
traumaku, tapi sayangnya aku mendengar suara dari gudang pusat kebugaran di
sebelahnya. Di sanalah dia, bersama diriku di masa lalu. Diriku di masa lalu
berbicara padanya.
("Kamu selalu bermain,
tetapi tidakkah kamu belajar atau berlatih sihir?")
("Belajar itu tidak
seru, dan berlatih sihir itu
membosankan karena terus itu-itu saja, kan?
Ada yang lebih seru dari itu, ayo main.") katanya
sambil tertawa, memegang raket bulu tangkis.
Sebenarnya, yang dia lakukan
hanyalah bermain. Tapi meskipun dia selalu bermain, nilainya selalu yang
terbaik kedua setelah nilaiku. Dan yang terpenting, dia populer di kelas. Para
guru juga menyukainya.
("Kurasa aku baik-baik saja")
Diriku di masa lalu menolak.
("Ya, aku akan nongkrong dengan semua orang untuk sementara waktu, jadi ikutlah
jika kau mau, Fran!")
Dia berjalan melewatiku
seolah-olah aku tidak ada di sana dan berlari ke pusat kebugaran. Aku
tertinggal, menatapnya dengan raut wajah yang rumit. Lalu aku bergumam.
("Dia sangat berkilau.")
Dia pandai dalam segala hal
yang dilakukannya, memiliki kemampuan atletik yang baik, dan punya banyak
teman, jadi aku iri.
"...Aku
berharap aku
memiliki bakat seperti dia."
Dia tampak seperti Magical Girl dari anime anak-anak.
Magical Girl dalam anime yang sering ku
tonton dia sangat ahli dalam menggunakan
sihir dan mengalahkan penjahat berkali-kali. Dia juga punya banyak teman,
pintar, dan selalu mencoba hal baru... misalnya, jika dia tiba-tiba mulai
memasak, dia jenius dan serba bisa sehingga bisa melakukannya dengan mudah.
Itulah mengapa aku
mengaguminya, aku
sangat mengaguminya. Dia merasa puas baik dalam kehidupan pribadi maupun
publiknya, jadi aku
memanggilnya "Kira Kira"
dan ingin menjadi "Kira
kira/Sparkle/Berkilau" juga.
Jadi, aku ingin jadi Magical Girl, jadi aku berlatih sihir dan belajar dengan
giat. Aku bekerja keras... Aku selalu bekerja keras. Saat itu, kupikir aku
punya bakat sihir. Aku bisa menggunakan sihir lebih baik daripada anak-anak
lain, dan hal yang sama berlaku untuk kemampuan akademisku. Dan karena aku
orang yang kompetitif, aku ingat pernah menjadi yang terbaik di kelasku dalam
hal sihir.
Namun terkadang memang begitu.
Seperti teman ku
tadi, ada orang jenius yang kuat tanpa perlu berusaha. Ada juga gadis
yang bersinar seperti Para Magical Girl di
anime itu.
Diriku yang masih kecil di hadapanku menghilang seolah perannya telah selesai. Aku
memunggunginya dan meninggalkan tempat itu.
Aku bertanya-tanya apakah aku
harus melangkah lebih jauh. Kata-kata yang tak ingin kukatakan dan emosi
negatifku sendiri mulai membuncah dalam diriku.
Aku ingin pulang. Ada jalan
kembali. Tapi aku belum mendengar apa pun tentang apa yang akan terjadi pada
orang lain jika aku gagal. Jadi, aku tidak punya pilihan selain terus maju.
Aku
berkeliling mencari tempat berikutnya yang bisa ku
kunjungi. Kali ini, tempat yang bisa ku
kunjungi lagi adalah ruang kelas. Namun, ruang kelasnya satu tingkat lebih
tinggi dari yang ku
kunjungi sebelumnya.
Di sana aku
masa kecil membandingkan nilai-nilaiku
dengan nilai-nilainya.
("Ini tidak menakjubkan...")
("Apa yang kamu
bicarakan? Kamu lebih baik dariku. Fran luar biasa.")
Dia memujiku. Itu membuat
hatiku sakit. Bagiku, baik dulu maupun sekarang, kata-katanya terdengar
sarkastis.
Aku
berlatih, meninjau, dan memikirkannya berulang-ulang, menghabiskan berjam-jam bahkan puluhan jam untuk mencapai level itu, Namun dia dengan santai mencapainya dalamnya dalam waktu yang
lebih singkat daripada diriku. Dia
hanya mempermainkanku. Dan kemudian dia berkata berpikir, "Fran memang luar biasa,
seperti yang kuduga."
Dia mungkin memujiku. Tidak,
kurasa begitu. Dia gadis yang polos dan terus terang. Tapi bagiku kedengarannya
dia tidak menyukaiku atau bahkan membenciku.
Aku sangat membencinya. Yang
paling kubenci adalah diriku sendiri, karena kata-katanya terdengar sarkastis.
Sejak saat itu, aku membenci diriku sendiri. Perasaan itu masih ada. Jauh di
lubuk hatiku, perasaan jahat masih terpendam.
Kejadian ini membuatku tak
bisa menganggapnya sebagai teman. Itu bukan salahnya. Itu karena aku merasa tak
pantas menjadi temannya.
Keduanya berubah menjadi
partikel hitam dan menghilang. Aku mendesah sambil memperhatikan mereka.
"Tidak akan ada
lagi..."
Aku tak sanggup menahan rasa
sakit yang lebih dari ini. Aku harus mencari jalan keluar. Dengan pikiran itu,
aku mencari tempat untuk pergi. Aku langsung menemukannya.
Itu pintu masuk sekolah, lift.
Aku melangkah keluar dan benar-benar takjub dengan pemandangannya.
"Mengapa"
Yang terbentang dihadapan ku adalah Istana Bulan. Dan itu adalah... adalah sarang para jenius.
"Seberapa jauh kau
harus menstimulasi kompleks ku
sebelum kau
merasa puas?"
Aku
tidak sejenius Monica-kaichou. Aku
hanya bisa meluangkan waktu dan bekerja dengan saksama. Dan berkat kerja keras
dan dedikasi, aku
akhirnya mencapai posisi wakil ketua OSIS sekolah ini.
Namun, di lubuk hatiku
aku masih merasa putus asa karena
aku hanyalah orang biasa tanpa
bakat. Perasaan ini semakin kuat setelah aku bergabung
dengan OSIS.
Sekarang Yukine dan Shion yang
usianya hampir sama denganku saat aku pertama kali masuk sekolah telah tumbuh
dengan cepat, dan aku tertinggal.
Bukan berarti aku
tidak berusaha keras, tetapi kesenjangannya justru semakin melebar. Bahkan, ada
anak-anak yang satu tahun di bawah ku
yang sedang meningkatkan keterampilan mereka.
Dengan pemikiran itu, aku
memasuki ruang dewan siswa.
Ada beberapa jenius muda di
sana: Hijiri Iori, Hijiri Yuika, Gabriella, Ludivine, Nanami, dan Takioto
Kosuke. Mereka semua berusaha dengan mudah melampaui ku.
Mereka mengobrol riang seolah
tak menyadari kehadiranku. Mereka membicarakan tentang dungeon, permen, apa
yang dilakukan guru, dan obrolan biasa saja.
"Aku
merasa mereka mengejek ku dan
mengatakan mereka bahkan tidak peduli pada ku."
Mereka adalah mereka, dan aku
adalah aku. Aku mengerti itu. Aku tahu aku harus melakukan apa yang kubisa.
Tapi terkadang aku merasa ingin menyerah.
Iori dan yang lainnya
mengobrol riang sambil perlahan-lahan berubah menjadi partikel hitam dan
akhirnya menghilang. Tepat saat mereka hampir menghilang, aku melihat Takioto
Kousuke sejenak. Ia menatapku, tersenyum kecil, lalu kembali berubah menjadi
partikel hitam sebelum menghilang.
"Apa itu yang
terakhir...?"
Mungkin dia hanya kebetulan
sedang melihat ke arahku, tetapi ada sesuatu tentangnya yang menarik
perhatianku.
Saat aku tengah memikirkan hal
ini, sebuah lingkaran sihir teleportasi
muncul di tengah ruangan.
Kalau aku naik ini, mungkin
aku bisa pulang. Aku bisa pulang kan.
"Aku tidak ingin semua
orang melihat wajahku yang jelek dan cemburu saat ini."
Setelah beberapa saat, aku
memasuki lingkaran sihir.
◇
─Perspektif
Yukine─
Hal pertama yang ku
perhatikan adalah bau tanah.
Bukan bau lantai tempatku
berdiri tadi, melainkan bau suatu tempat yang penuh dengan alam.
"Dimana ini?"
Sebagai contoh, kondisinya
mirip dengan hutan di rumah keluarga Hanamura tempat ku
dan Kosuke selalu berlatih. Area itu rimbun dengan bunga dan pepohonan, dan
jalan setapak yang sering dilalui pun terus berlanjut.
"...Kurasa aku tidak
punya pilihan selain terus maju."
Setelah memastikan ada
lingkaran sihir teleportasi
di belakangku, aku melanjutkan perjalanan. Setelah berjalan beberapa detik, aku
melihat jejak kaki di tanah.
"Apakah ada orang lain
selain aku?"
Jejak kaki itu milik seorang
pria dewasa. Aku
melihat sekeliling, tetapi tidak ada tanda-tanda siapa pun dan sepertinya tidak
akan terjadi apa-apa. Setelah berpikir sejenak, aku
memutuskan untuk mengikuti jejak kaki itu.
Aku
terus berjalan sekitar sepuluh menit hingga jalan bercabang. Jejak kaki
mengarah ke kanan jadi aku terus
berjalan ke arah yang sama.
Tiba-tiba, aku
merasakan tanda-tanda pertempuran di depan, lalu
aku berlari ke arahnya dengan
waspada tinggi.
"Eh?"
Di sana berdiri
("Aku"), memegang naginata. Di seberangku, Kakaku, mengarahkan ujung pedangnya ke arah ("Aku").
"Kakakku dan aku sedang bertarung?"
Namun, mereka tidak menyadari
bahwa diriku yang sebenarnya ada di sini. Mereka terus berjuang tanpa
mempedulikan kehadiranku.
Orang yang bertarung
("Aku") menggunakan teknik dan gerakan yang sama seperti yang
kulakukan sekarang, melawan Kakakku.
Namun, kekuatan kami sangat seimbang.
Dan kemudian tiba-tiba
semuanya berakhir. Aku menebas Kakakku. Ia berubah menjadi partikel hitam bercahaya dan lenyap
seperti pasir yang tertiup angin.
Yang terjadi selanjutnya
adalah sesosok bayangan hitam berbentuk manusia mendekati ku.
Aku bertanya-tanya kapan ia
muncul. Aku sama
sekali tidak merasakan kehadirannya.
Bayangan itu dan aku mengobrol
riang dan mulai berjalan menyusuri jalan bersama. Namun, setelah berjalan
beberapa langkah, aku berubah menjadi partikel dan menghilang, persis seperti
yang dilakukan Kakakku.
Namun, bayangan hitam itu terus berjalan seolah-olah tidak terjadi apa-apa.
Melihatnya berjalan pergi, aku
tiba-tiba menjadi curiga dan melihat sekeliling.
"Tidak ada jejak kaki dua
orang, tidak ada tanda-tanda pertempuran. Yang ku
lihat hanyalah jejak kaki satu
orang dewasa."
Aku
segera mengalihkan pandanganku ke
arah bayangan yang kulihat
sebelumnya, tetapi bayangan itu telah hilang.
Ludi yang
sekarang menjadi High Elf dan
bangsawan menggunakan sihir untuk melawan Magical Beast besar.
Lalu tiba-tiba aku menyadari
tak ada suara pertempuran di sini. Tak ada pula suara-suara. Malahan aku bisa
mendengar suara-suara alam seperti desiran angin dan gemerisik pepohonan.
Setelah Ludi mengalahkan
musuh, ia tersenyum pada sosok seperti bayangan hitam di sampingnya. Ia lalu
pergi bersama sosok seperti bayangan itu. Namun, sosok itu hanya menghilang
beberapa langkah seperti yang dilakukan ("aku") dan Kakakku sebelumnya. Namun, hanya Ludi yang menghilang.
"Dia menghilang lagi? Dan
hanya Ludi."
Bayangan hitam itu terus
berjalan semakin jauh ke area itu, dan aku
memperhatikan bahwa setiap kali ia berjalan, ia meninggalkan jejak kaki.
Saat aku
mencoba mengikutinya,
Nanami dan Ivy muncul di tempat Ludi bertarung sebelumnya.
Mereka tampak sedang
membicarakan sesuatu, lalu keduanya mengangguk serempak. Lalu mereka berdua
melompat ke arah yang berbeda, bukan ke arah jalan, melainkan ke arah hutan
lebat. Mereka lalu bergerak seperti ninja memanfaatkan dahan-dahan pohon untuk
bergerak.
Aku memandang ke depan, dan
yang ada di hadapanku hanyalah jejak kaki.
"Aku
tidak tahu apa maksudnya itu."
Akhirnya aku mengikuti jejak
kaki itu. Saat berjalan, aku melihat bayangan hitam di depanku yang sedari tadi
berbicara dengan Ludi. Bayangan hitam itu sedang melawan musuh dan sepertinya
sedang kesulitan.
Melihat cara bertarungnya, aku
langsung tahu siapa bayangan itu. Bahkan, aku bisa bilang aku sudah hampir tahu
sejak melihat senyum Ludi.
"Kosuke!"
Kosuke tidak menanggapi suaraku.
Ia sedang berjuang dan hampir kalah. Aku mencoba mendekatinya, tetapi aku tidak
bisa bergerak maju.
Dan ketika kupikir
hal itu tidak dapat terjadi lagi, hal itu terjadi.
"Nanami dan Ivy?"
Dengan dukungan Nanami dan
Ivy, Kosuke, yang bertindak sebagai bayangan mengalahkan musuh. Setelah
menyelesaikan misi mereka, Nanami dan Ivy menghilang seketika. Kosuke kemudian
mulai berjalan.
Aku
segera mengikutinya.
Setelah itu, ia mengalahkan
beberapa musuh. Mereka semua adalah musuh kuat dengan peringkat yang lebih
tinggi. Ia membantai musuh-musuh yang muncul setelah berjuang keras, dan terus
berjuang, hingga kelelahan.
Aku
tiba di tempat yang dikenalku—dalam
perjalanan menuju air terjun tempat kami berlatih—dan dia berbalik.
Dia menatapku seolah bisa melihatku,
lalu membuka mulutnya, tetapi tak sepatah kata pun keluar. Mungkin dia tak bisa
bicara di sini.
Tapi aku mengerti apa yang
ingin ia katakan. Perasaannya tersampaikan tanpa kata-kata.
Yaitu ('Sangat bersyukur')
dan ('Selamat Tinggal').
Wajahnya tampak seperti hendak
menangis, tetapi dia juga tampak begitu bahagia, dan senyumnya begitu
menghangatkan hati hingga membuatku menitikkan air mata.
Aku berlari keluar, dan aku
mengulurkan tanganku padanya... Aku sudah cukup dekat untuk menangkapnya dan
yang harus kulakukan hanyalah memegangnya, lalu dia pun lenyap.
Terakhir kali aku melihatnya,
senyum yang kontras yang memperlihatkan bahagia dan sedih masih
terpatri dalam ingatanku.
Dan kemudian aku
tiba-tiba menyadari.
"Apakah aku... melihat
masa depan Kousuke?"
Itu seolah mengisyaratkan
bahwa ia akhirnya akan mencapai keadaan tersenyum dan sedih itu.
Aku punya tekad untuk menjadi
lebih kuat karena dia tapi aku merasa dungeon ini mengajarkanku bahwa aku tidak
bisa terus seperti ini.
Tapi apa yang harus kulakukan?
Apa kekuranganku sekarang? Apa yang dia miliki yang tidak kumiliki? Atau apa
bedanya aku dan dia?
Tiba-tiba, aku teringat dia
hanya melawan mereka yang lebih unggul darinya. Kalau dipikir-pikir lagi,
memang selalu begitu. Dia selalu menantang mereka yang lebih unggul darinya,
meskipun itu tindakan yang berbahaya.
"Tekad,
ya?"
Aku penasaran, apakah tekad kami berbeda. Mengapa tekad kami berbeda?
Tidak, jika ia hanya ingin
menjadi yang terkuat, maka tindakannya hanya akan kontradiktif. Menjadi yang
terkuat jelas bukan tujuannya.
Aku ingin tahu, sebenarnya aku harus tahu, apa tujuannya.
Pada saat itu, lingkaran sihir teleportasi muncul bersama cahaya dan
Kousuke muncul dari sana.
"Aduh, itu menyakitkan."
Saat ia terlempar dari
lingkaran sihir teleportasi, ia tak mampu bertahan dan jatuh terduduk.
Sepertinya ada batu di bawah bokongnya, dan ia menggeliat kesakitan sambil
memegangi bokongnya.
"Kosuke"
Meskipun kemunculannya yang
tiba-tiba, aku yakin dialah Takioto Kousuke yang asli. Sebelumnya, dia mungkin
tampak agak tidak nyata. Hanya melihatnya saja kini menghangatkan hatiku dan
aku merasa aman. Jika kau bertanya apa maksudnya secara spesifik, mungkin itu
hanya firasatku.
"Suara itu...
Yukine-senpai? Hah?"
Katanya sambil berbalik.
"Ya, benar."
Mungkin karena aku menatapnya,
ekspresi wajahnya tampak aneh.
"Hei, ini Star Trial, kan? Kenapa begitu? Tentunya dua orang
tidak bisa masuk Star Trial di tempat yang sama...? Kenapa begitu?"
Dari apa yang kudengar, tampaknya
sesuatu yang tidak terduga telah terjadi.
"Jadi begitu."
Tapi entah bagaimana aku
merasa mengerti mengapa dia datang. Aku disuruh berbicara langsung dengannya di
dungeon ini. Untuk melangkah maju dengan berani dan mendengarkan. Itulah
ujianku.
"Ada apa?"
"Aa, aku sudah memikirkan sesuatu sejak
datang ke ujian ini... Apakah Kousuke
sudah melewati lantai ini?"
"Yah, aku tidak tahu apa
yang terjadi. Seharusnya aku diteleportasi bersama yang lain, tapi tiba-tiba
aku malah dikirim ke sini."
"Begitu," aku
mengangguk. Mungkin cobaanku ada hubungannya dengan cobaan Kosuke. Tapi aku
tidak tahu cobaan apa yang dialami Kosuke.
"Mengapa kita tidak
berjalan sebentar dan mengobrol?"
Sambil berkata demikian, aku
menatap ke depan. Jejak kaki yang selama ini menuntunku telah lenyap.
Kosuke tampak ingin bertanya
sesuatu, tetapi ia mengangguk dan kami pun membuat jejak kaki baru bersama.
Setelah berjalan sedikit, Kosuke sepertinya menyadari di mana kami berada.
"Apakah ini milik
keluarga Hanamura?"
"Ini pasti jalan menuju
air terjun... Ayo kita lanjutkan."
Dia mungkin langsung
menyadarinya karena itu adalah jalan yang hampir setiap hari dilaluinya. Suara
air perlahan-lahan semakin keras.
"Itu hanya
tebakanku."
Aku mulai berbicara.
"Kousuke dibutuhkan untuk
menyelesaikan ujian. Itulah mengapa kau dipanggil ke sini."
"...Kemungkinan besar
begitu."
"Aku bisa menemukan
solusinya, tapi aku ingin sedikit menenangkan diri. Maaf, Kousuke, tapi bisakah
kau membantuku?"
"Akan kulakukan walau selama sisa hidupku." dia tertawa.
Dan saat aku terus menyusuri
jalan setapak yang familiar, sebuah air terjun yang familiar muncul di
ujungnya. Di sanalah Kosuke dan aku pertama kali bertemu. Kupikir di sanalah
satu-satunya tempat aku bisa mendengar perasaannya yang sebenarnya.
"Mengapa kita
tidak berlatih sedikit?"
Kosuke mungkin terkejut. Benar
juga. Ini dungeon. Tapi aku ingin menghabiskan waktuku di sini seperti biasa.
Ia sepertinya menyadari
sesuatu, lalu mengangguk dengan ekspresi serius. Lalu, tanpa berkata apa-apa, kami
berdua melanjutkan latihan kami
seperti biasa, tetapi dengan intensitas yang lebih ringan.
Setelah selesai, aku
serahkan handuk kepadanya dan kami duduk di atas batu.
"Naa,
Kosuke, aku ingin kau memberitahuku."
"... Tiba-tiba sekali ada apa?"
"Apa tujuanmu
sebenarnya?"
Itu pasti terlalu tiba-tiba,
dan aku dapat melihat di wajahnya bahwa dia tengah memikirkan apa yang sedang
kubicarakan.
"Kamu bilang kamu akan
menjadi yang terkuat. Aku yakin itu benar. Tapi aku selalu menganggapnya aneh."
"Benar sekali. Aku juga
berpikir begitu."
Kosuke mengangguk sambil
mengatakan itu.
"Tapi di saat yang sama,
kurasa ada lebih dari itu. Ada rahasia yang tak kau ceritakan
pada kami."
"Soal itu... yah,
begitulah. Aku bilang aku akan menceritakannya suatu hari nanti."
Dia tampak malu. Dia pasti
merasa kasihan pada dirinya sendiri.
"Akulah yang bilang akan
menunggu. Tapi aku ingin mendengarnya agar aku bisa menjadi diriku sendiri.
Keegoisankulah yang—"
"Harap tunggu."
Kosuke menghentikanku
mengatakan itu.
"Ini salahku, jadi jangan
pernah minta maaf, senpai. Dan jangan salahkan dirimu sendiri."
Sambil berkata demikian, dia
menyeka keringat di wajahnya dengan handuk dan meneruskan bicaranya.
"...Aku yakin Senpai ingin mendengar tentang saat aku
menyelamatkan Ludi dan Sakura-san, kan?"
"Ah"
Kosuke menarik napas
dalam-dalam, tampak sangat khawatir. Setelah sekitar sepuluh detik, ia
tersenyum kecut. Kata-kata pertama yang keluar dari mulutnya adalah:
"Maaf. Aku diam begitu
lama."
Itu adalah permintaan maaf
kepadaku.
"Jadi masalahnya adalah kamu
memaksakan dirimu untuk
bertanya..."
Sambil berkata demikian,
Kosuke tersenyum lemah.
"Itu tipikal
Yukine-senpai. Tapi kamu sama sekali tidak bersalah. Jadi, jangan minta maaf."
"Kosuke..."
Dia menarik napas dalam-dalam.
"Tentu saja aku ingin
bicara, tapi apa yang harus kulakukan?"
"Apa maksudmu?"
"Sulit untuk menjelaskan
banyak hal, jadi bisakah aku
menjelaskannya lebih ringkas?"
"Tentu saja."
Dia menunduk seolah tengah
memikirkan sesuatu, lalu sesaat kemudian dia mendongak.
"Senpai Kamu tidak begitu menikmati bermain game, kan?"
Aku
mengangguk sedikit.
Mendengar ini, Kosuke mulai
berpikir lagi mungkin memikirkan bagaimana menjelaskannya.
"Hmm ya benar. Sederhananya... aku tahu beberapa kemungkinan
kejadian di masa depan."
"...Kau tahu sebagian
tentang masa depan, kah?"
Aku mengulang kata-kata itu,
menikmatinya.
"Ya, misalnya ketika Ludi diculik sebelum dia mendaftar di
akademi dan Senpai membantunya, itu juga terjadi. Aku tahu tentang dungeon itu.
Ada juga kemungkinan Ludi akan diculik di masa depan. Namun, waktunya lebih
awal dari yang kukira."
Aku sendiri punya pertanyaan tentang itu. Itu pertama kalinya Kosuke melihat dungeon itu, tapi dia tahu segalanya dan bisa
membantu Ludi. Jadi aku bertanya langsung padanya, tapi dia berjanji akan
memberitahuku suatu hari nanti dan begitulah akhirnya.
Dan bukan hanya Ludi yang
memiliki pemahaman ini. Demi menyelamatkan Sakura, ia sudah sepenuhnya siap,
menyiapkan semua perlengkapan yang diperlukan sebelumnya, bisa
dengan tenang menelusuri jalan tersembunyi, tahu di mana harta karun itu
berada, dan tahu di mana jebakannya.
Aku yakin bukan cuma aku; Ludi
dan Yuka juga punya gambaran samar. Jelas ada yang salah.
"Entah bagaimana aku sudah menduga itu."
Jika tidak, itu tidak masuk
akal.
"Namun, aku tahu terlalu
banyak dan aku takut orang-orang akan curiga padaku, jadi aku berpura-pura tahu
tentang dari dokumen keluarga Hanamura dan meminta
Nanami untuk membantuku."
"Jadi itu berarti Nanami
tahu?"
Saat aku mengatakan itu, dia
mengalihkan pandangannya, bingung.
"Yah, kurasa dia
tahu, tapi aku belum menjelaskannya secara rinci."
Aku penasaran apa itu...? Aku
yakin dia bahkan lebih bingung daripada
aku.
"Kosuke, kamu harus
bicarakan itu. Nanami cukup terlibat, kan?"
"Kau benar. Aku malah mengandalkan hati nurani Nanami."
Itulah yang dikatakan Kosuke.
Namun,
"Yah... kurasa kau
memang sudah berniat membicarakannya sejak
awal. Kau tahu ini sesuatu yang perlu kau lakukan segera,
kan?"
"Tentu saja."
"Baiklah kalau begitu. Langsung
saja ke intinya."
"Ya. Intinya adalah…..."
Sembari berkata demikian, ia
menatap ke arah cekungan air terjun dengan pandangan lembut, seakan-akan ia
sedang memandangi seekor binatang atau anak kecil yang tengah bermain dengan
gembira.
"Aku ingin melindungimu."
"Apakah kamu ingin
melindungiku?"
Ketika aku mengatakan itu, dia
mengangguk, matanya tertuju pada air terjun.
"Sejujurnya, aku
mencintai dunia ini. Aku mencintai orang-orang di sini."
Katanya sambil tertawa pelan,
tampak sedikit malu.
"Kita
menghabiskan waktu bersama, mengobrol tentang hal-hal konyol, terkadang
bertengkar, dan pergi ke dungeon bersama. Aku semakin menyukai mereka, dan aku
mulai berpikir bahwa aku ingin semua orang bahagia apa pun yang terjadi."
Aku mengangguk. Aku juga
berpikir begitu. Kalau semua orang tertawa dan bersenang-senang, itu lebih
baik.
"Itulah sebabnya aku
selalu bertindak dengan cara yang membuat semua orang senang."
Aku mengerti, aku mengangguk.
"Namun, aku tahu apa yang
akan terjadi selanjutnya. Demi membawa kebahagiaan bagi semua orang, aku harus
mengatasi banyak rintangan dan mengalahkan banyak musuh. Namun, musuh-musuh ini
cukup kuat."
Itulah sebabnya dia begitu
rakus akan kekuatan.
"Aku benar-benar butuh
kekuatan. Untuk membuat bahagia. Itulah sebabnya aku datang ke dungeon
ini."
Katanya sambil meremas
tanganku.
"...Sejujurnya, aku tidak
terlalu peduli untuk menjadi yang terkuat."
Dia terus berbicara.
"Aku cuma ingin jadi yang
terkuat supaya semua orang bahagia, jadi aku bilang aku mau jadi yang terkuat.
Itu saja."
Tiba-tiba aku teringat senyum
palsunya yang memudar seiring tawa dan air mata.
"Aku
mengerti alasan kekuatanmu."
Intuisiku mengatakan jika keadaan
terus seperti ini, tidak akan ada hal baik yang terjadi.
"Naa,
Kosuke."
"Ya?"
"Apa yang terjadi dalam
skenario terburuk?"
Kosuke terdiam. Ekspresinya
serius. Ia menatapku dan ketika mata kami bertemu, ia segera mengalihkan
pandangannya.
Aku tahu semakin dia ragu
untuk mengatakannya, semakin buruk jadinya. Aku hanya menatapnya, menunggu dia
bicara.
"Kalau semuanya
berantakan, teman-temanku dan teman-temanmu akan mati. Skenario terburuknya
adalah... sekolah dan kota akan hancur dan banyak orang akan mati. Tapi, kurasa
tidak akan seperti itu."
Aku
sangat terkejut. Bukankah rasanya seperti berjuang sambil menanggung nyawa
banyak orang? Apakah beban seberat itu yang harus ditanggung satu orang?
"Aku
punya satu pertanyaan. Apakah aku
termasuk orang yang kau
inginkan untuk bahagia?"
"Tentu saja. Karena
itulah aku ingin kamu bahagia atau aku akan mendapat masalah."
Saat mengatakan ini, ekspresi
seriusnya sedikit melunak dan ia tersenyum. Namun, senyum itu tampak rumit.
"Jadi begitu."
Lalu aku tiba-tiba teringat
Kosuke palsu tadi. Ada banyak orang di sekitarnya, termasuk aku. Tapi hanya ada
satu jejak kaki.
"Naa,
Kosuke. Kau
sepertinya tidak sendirian sampai sekarang, tapi ternyata kau
sendirian."
Tapi sekarang berbeda. Jejak
kaki basah di jalan setapak menuju ke sini bukan hanya milik satu orang.
"Tapi sekarang tinggal
kita berdua."
Ada dua set jejak kaki.
"Aku juga ingin
mewujudkan keinginan itu. Aku tidak ingin kehilangan orang-orang yang
kusayangi."
Tentu saja, itu termasuk kau.
Namun, aku
tahu aku tidak bisa terus seperti ini.
Dia pasti tahu apa yang terbaik untuk dilakukan.
"Kosuke, kau juga tahu
masa depanku, bukan?"
"Aku tahu."
"Tahukah Kau
bagaimana aku bisa
tumbuh lebih kuat dari
sekarang?"
Aku juga harus menjadi kuat. Jika
aku ingin mencapai tujuannya, aku harus menjadi kuat dengan tekad yang sama
dengannya.
"...Aku tahu, tapi itu
sangat berbahaya."
"Aku
tidak keberatan."
Lagipula, Aku
tidak peduli dengan risikonya.
"Kau mau ambil risiko,
kan? Lagipula, kita sudah pernah ke sana berkali-kali sebelumnya."
Kosuke tersenyum kecut, seolah
dia kewalahan.
"Benar sekali. Serius,
senpai bahkan tidak memikirkan dirinya sendiri kalau itu untuk orang
lain."
"Apa yang kau bicarakan?
Aku tidak ingin mendengar itu darimu."
"...Itu mungkin
benar."
Haha, fufu, kami berdua
tertawa terbahak-bahak. Tawa aneh yang menghangatkan hati kami.
"Sebenarnya, ada dungeon
yang sangat penting di depan yang diperlukan untuk pertumbuhanku dan Senpai. Aku sempat ragu untuk melanjutkannya, tapi kita
akan pergi. Bersiaplah."
"Bersiap?"
"Bukan hanya ujian
ini yang sulit, tapi masa depan juga akan sulit."
"Itulah yang aku
inginkan."
Tiba-tiba, lingkaran sihir teleportasi muncul di bawah kakiku.
"Eh, lingkaran sihir
teleportasi? Aku belum melakukan ujian
atau apa pun...? Mungkin ada sesuatu yang aneh terjadi karena aku datang ke
sini?"
Kousuke bertanya dengan heran.
Tapi bagiku, itu ujian. Aku
harus berani dan mengambil risiko, meskipun mungkin akan ditolak oleh seseorang
yang kusayangi. Yah, menyebutnya ujian mungkin agak berlebihan.
Lingkaran sihir teleportasi muncul dan kami diteleportasi tanpa pilihan
lain.




Post a Comment