NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Ochibure Tensai Reijou no Gohoushi de Bonjin no Ore wa Saikyou ni Naru V1 Chapter 7

 Penerjemah: Kaori Translation

Proffreader: Kaori Translation


Chapter 7

Labirin Bawah Tanah Aurora

Beberapa hari telah berlalu sejak duel melawan Talon. Sesuai dengan rencana Kepala Akademi Orthea, tatapan iri yang ditujukan kepadaku yang hanya memiliki 5 poin kekuatan sihir telah menghilang.


Sebaliknya, aku malah semakin sering didekati para siswi yang berusaha mengorek-ngorek hubunganku dengan Alphiria. Dan akibatnya, aku juga harus menghadapi kecemburuan serta niat membunuh dari para siswa laki-laki. Jadi, situasinya tetap saja tidak menjadi lebih mudah.


Namun, semua itu tidak ada artinya dibandingkan dengan tingkah Alphiria yang belakangan ini terasa aneh. Sejak pagi setelah duel, dia mulai memasang wajah seolah-olah sedang menyembunyikan sesuatu yang besar, sekaligus terlihat sangat memikirkannya. Bahkan ketika aku bertanya, "Ada apa?" dia hanya menjawab "Aku nggak apa-apa" sambil tersenyum palsu dengan tatapan kosong. Bahkan Cyril sampai kebingungan melihatnya.


"Tuan Pelayan, jangan-jangan kamu bertengkar dengan Aria?"


Sampai-sampai dia menanyakannya dengan wajah serius. Tepat ketika aku mulai berpikir, jangan-jangan Alphiria sedang menyesali apa yang kami lakukan di dalam loker sebelum duel atau berbagai hal yang terlalu berlebihan saat kami mandi bersama—


"Hei, Shinya. Ada satu permintaan yang ingin kusampaikan kepadamu. Boleh?"


Setelah selesai makan malam dan sedang beristirahat sejenak, Alphiria tiba-tiba membuka pembicaraan. Wajahnya terlihat lebih serius dari biasanya, tetapi matanya yang menatap lurus kepadaku sedikit bergetar, seolah-olah dia sedang ragu-ragu.


"Sebenarnya, beberapa waktu lalu aku pergi menemui Kepala Akademi untuk berkonsultasi mengenai kekuatan sihirku. Aku bertanya apakah ada cara untuk mendapatkannya kembali."


Sambil meletakkan cangkir dengan bunyi tok, Alphiria berbicara dengan suara berat. Suatu hari dia tiba-tiba kehilangan sebagian besar kekuatan sihir yang sangat penting bagi seorang penyihir. Meskipun hal itu bisa diatasi melalui kontak denganku, pada dasarnya itu hanya solusi sementara dan bukan penyelesaian yang sebenarnya.


"Lalu apa kata Kepala Akademi?"


"Belum pasti, tetapi sepertinya ada Relik yang bisa mengembalikan kekuatan sihirku. Hanya saja, Relik hanya bisa ditemukan di dungeon, dan kita harus masuk cukup dalam untuk mendapatkannya."


Begitu mendengarnya, aku mengerti. Rupanya inilah yang membuat Alphiria terus memikirkannya belakangan ini. Kalau harus masuk jauh ke dalam dungeon, monster yang akan ditemui tentu semakin kuat, dan risiko kehilangan nyawa sudah menjadi hal yang tak terhindarkan.


"Jangan-jangan, Aria mengkhawatirkanku?"


Aku sengaja tersenyum ceria dan bercanda. Ragu yang membawaku ke tempat berbahaya sekarang justru tidak seperti Alphiria. Kalau dia yang dulu, dia pasti akan berkata, "Ikuti aku!" lalu memerintah tanpa memberiku kesempatan untuk menolak.


"Seharusnya kamu malah lebih senang. Ada kemungkinan kamu bisa mendapatkan kembali kekuatanmu, kan?"


"A-aku tahu! Justru aku terlalu senang karena akhirnya menemukan petunjuk sampai bingung harus bagaimana! Jadi bukan berarti aku mengkhawatirkanmu atau apa!"


Alphiria menggembungkan pipinya sambil ngambek, mengucapkan kalimat tsundere klasik, lalu memalingkan wajah. Nah, begitulah seharusnya tuanku.


"Meski begitu, langsung pergi ke bagian terdalam untuk mencari Relik jelas sama saja dengan bunuh diri. Kita akan membiasakan diri secara perlahan."


"Demi Aria, kan? Aku juga akan berusaha."


"Tentu saja! Kamu adalah familiar-ku, jadi aku akan membuatmu bekerja seperti kuda penarik kereta. O-oh, dan aku juga akan memberimu banyak pasokan kekuatan sihir, jadi bersiaplah!"


Sambil membuat telinganya sampai merah padam, Alphiria menunjukku dengan tegas sembari berbicara cepat seperti sedang menutupi rasa malunya.


"Dimengerti. Aku akan melakukan apa pun, jadi katakan saja."


Mendapatkan kembali kekuatan sihir berarti tidak lain adalah mendapatkan kembali harga diri dan masa depan Alphiria Glastonbury. Sebagai hasilnya, mungkin aku yang merupakan familiar-nya tidak akan dibutuhkan lagi. Namun, itu adalah masalah lain.


"...Terima kasih, Shinya."


Suara terima kasih kecil itu terdengar sedikit sedih. Mungkin itu hanya perasaanku saja. Bagaimanapun juga, kalau kami akan pergi ke dungeon, ada satu hal yang membuatku penasaran.


"Hei, Aria. Apakah kita berdua saja yang akan mencari Relik?"


"Maksudmu apa?"


Alphiria memasang wajah tidak senang mendengar pertanyaanku.


"Maksudku seperti yang kukatakan. Dungeon yang kukenal biasanya ditaklukkan dengan membentuk sebuah party. Apakah dunia ini berbeda?"


"...Tidak berbeda kok. Memang tidak berbeda, tapi... jangan-jangan kamu bermaksud mengajak orang lain selain kita?"


"Bukankah kita berdua sama-sama punya keadaan khusus? Menurutku akan lebih baik kalau setidaknya ada satu rekan yang bisa diandalkan..."


Kalau sampai kehabisan kekuatan sihir saat bertarung, semuanya akan menjadi sangat buruk. Aku memang merasa jumlah kekuatan sihirku telah meningkat dari angka 5, tetapi tidak bisa dibilang stabil. Kalau ada satu anggota tambahan, kami bisa membagi beban pertempuran dan menghemat penggunaan kekuatan sihir. Keuntungannya banyak.


"Aku mengerti maksudmu, Shinya. Tapi aku tidak mau. Aku tidak ingin mengambil risiko orang lain mengetahui bahwa aku telah kehilangan sebagian besar kekuatan sihirku."


"Meski begitu, bukankah keselamatan nyawa lebih penting? Bagaimana kalau Cyril?"


Kalau Cyril, rasanya dia akan tetap diam bahkan jika mengetahui kondisi Alphiria. Walaupun begitu, kalau sampai terjadi, aku juga harus memberitahunya bahwa aku bukan sekadar pelayan biasa, melainkan familiar yang dipanggil dari dunia lain.


"Tidak boleh. Cyril sama sekali tidak boleh! Dari segi kekuatan tempur memang tidak ada masalah, tetapi dari segi kepercayaan, aku tidak bisa mempercayainya."


"Jangan begitu. Omong-omong, bagian mana yang membuatmu tidak bisa mempercayainya?"


"...Caranya menggoda kamu."


"Apa katamu?"


Sambil mengatakan itu, Alphiria mengalihkan pandangannya dan menggembungkan pipinya. Yang dia maksud dengan menggoda mungkin seperti kejadian ketika kami pergi membeli pakaian dalam? Walaupun menurutku saat itu dia lebih seperti sekadar menggodaku untuk bersenang-senang.


"Di dungeon saja kita sudah harus selalu waspada. Aku tidak mungkin memasukkan kucing betina yang seperti sedang birahi sepanjang tahun itu ke dalam kelompok kita!"


"Kucing betina...?"


Alphiria memukul meja dengan keras sambil bersikeras. Aku sampai tercengang melihat alasan yang ternyata penuh kecemburuan. Kalau Cyril sendiri mendengarnya, mungkin dia akan marah sambil tetap tersenyum lalu menghantamkan iron claw kepadanya. Aku tidak bisa menahan tawa pahit mendengarnya.


"Tenang saja. Bahkan Cyril pun setidaknya masih tahu TPO—waktu, tempat, dan situasi—saat menggoda orang. Lagi pula, aku—"


"...Kamu, kenapa?"


Alphiria menatapku dengan tatapan menyipit yang entah kenapa mengandung sedikit harapan ketika aku berhenti di tengah kalimat.


"Aku ini familiar Aria. Jadi aku tidak akan dengan mudah bersikap mesum kepadanya!"


"...Benarkah? Kalau kamu sampai sedikit saja bersikap mesum, akan kubakar sampai gosong bersama monster-monster itu, mengerti?"


Ya, yang satu ini benar-benar akan membakarku.


"A-aku tahu! Percayalah sedikit pada familiar-mu sendiri!"


"Haa... mau bagaimana lagi. Aku akan menghubungi Cyril sendiri. Sekarang tidak ada lagi yang bisa kamu protes, kan?"


Alphiria mengangkat bahu dan menghela napas seolah sudah menyerah. Namun, ketika melihat wajahnya dari samping yang tampak pasrah, aku kembali merasa ada kesedihan yang terselip di dalamnya. Mungkin itu juga hanya perasaanku saja.


*****


Keesokan paginya. Aku dan Alphiria segera datang ke depan lingkaran teleportasi yang berada jauh di bawah akademi untuk menantang Labirin Bawah Tanah Aurora. Namun, bukan berarti kami langsung menuju bagian terdalam demi mencari Relik. Untuk saat ini, kami akan terlebih dahulu menaklukkan lantai keempat, yang berada di luar wilayah pengawasan Kepala Akademi.


"Kalau memungkinkan, sebenarnya aku ingin segera turun sampai lantai sepuluh."


Alphiria berkata sambil tersenyum pahit.


Menurutnya, Relik mulai dapat ditemukan sejak lantai sepuluh. Semakin dalam lantainya, semakin tinggi pula kemungkinan menemukan Relik yang bernilai langka. Namun, sebanding dengan itu, tingkat bahaya monster yang muncul juga meningkat. Bagian ini benar-benar seperti game yang pernah kumainkan.


"Ngomong-ngomong, Cyril itu lama sekali. Waktu pertemuan kita sudah lewat, tahu?"


"Masih ada lima menit sebelum waktu yang dijanjikan. Lagi pula, aku baru tiba-tiba mengajaknya tadi malam. Tidak ada salahnya memberinya sedikit kelonggaran, kan?"


"Hmm... Kamu ini familiar-ku, tapi malah membela Cyril? Jangan-jangan kamu sudah dipikat oleh kucing betina itu—"


"───Siapa yang kamu sebut kucing betina?"


Tepat ketika Alphiria mendekatiku dengan sedikit aura membunuh, sebuah suara jernih seperti dentingan lonceng terdengar di telingaku. Aku berbalik dan melihat seorang wanita cantik berambut perak dengan seragam yang sudah tidak asing lagi berdiri di sana. Dia memasang senyum lembut—meskipun sama sekali tidak ada senyum di matanya.


"Geh, Cyril... Sejak kapan kamu ada di sana?"


"Hehe. Selamat pagi, Tuan Pelayan."


Mengabaikan Alphiria yang terlihat panik, Cyril berjalan menghampiriku dengan langkah mantap. Kemudian, dia dengan sengaja menempelkan kelembutan tubuhnya yang berisi ke lenganku tanpa ragu, lalu tersenyum kepadaku dengan tatapan menggoda dari bawah.


"Terima kasih sudah mengajakku hari ini. Ngomong-ngomong, Tuan Pelayan. Bagaimana kalau kita tinggalkan saja gadis liar itu dan pergi ke tempat yang jauh lebih menyenangkan berdua denganku?"


"Tu-tunggu, Cyril! Baru datang sudah mulai menggoda Shinya, ya!?"


Wajah Alphiria memerah seperti mendidih. Seolah hendak merebut kembali boneka kesayangannya, dia mencengkeram lenganku yang berada di sisi berlawanan dari Cyril, lalu menariknya dengan paksa.


"Sudah kuduga, menambahkanmu ke dalam party adalah sebuah kesalahan! Sekarang juga putar balik dan pulang!"


"Wah, kejam sekali. Aku bahkan membatalkan rencanaku dan datang karena Aria memohon-mohon kepadaku, tapi sekarang malah disuruh pulang. Tuan Pelayan, menurutmu bagaimana?"


"Aria, menurutku kamu agak keterlaluan deh."


"Gnuu...! Kamu lagi-lagi membela Cyril...! Dasar bodoh, Shinya!"


Seolah hendak melampiaskan amarah yang tidak tersalurkan, Alphiria menghentak-hentakkan kakinya berkali-kali, lalu berjalan menuju lingkaran teleportasi dengan langkah lebar sambil ngambek. Sambil memandangi punggungnya, aku diam-diam berbicara kepada Cyril yang masih menggandeng lenganku.


"Terima kasih, Cyril. Aku sangat terbantu karena kamu mau datang meskipun aku mengajakmu secara mendadak."


Begitu aku mengucapkan terima kasih dengan tulus, Cyril segera melepaskan lenganku. Ekspresinya yang sebelumnya terlihat suka menggoda berubah menjadi serius.


"Aku sudah merasa ada yang aneh ketika Aria yang sangat menjunjung tinggi harga dirinya tiba-tiba mengajakku masuk ke party... Jadi benar kamu yang mengusulkannya, ya, Tuan Pelayan?"


"Kamu juga menyadari kalau tingkah Aria aneh, kan, Cyril?"


"Tentu saja. Kami sudah saling mengenal selama lebih dari sepuluh tahun. Kalau ada sesuatu yang aneh pada salah satu dari kami, tentu kami bisa menyadarinya."


Cyril mengatakannya dengan penuh keyakinan, seolah itu sudah sewajarnya.


"Gadis itu terlihat seperti sedang memikul sesuatu yang sangat berat sendirian. Kalau kita lengah sedikit saja, aku khawatir dia akan melakukan sesuatu yang benar-benar nekat."


"Itulah sebabnya aku meminta Cyril datang. Kalau terjadi sesuatu, aku mengandalkanmu. Aku sendiri tidak yakin bisa menghentikannya."


"Serahkan padaku. Oh, dan satu hal lagi. Ini sebenarnya sesuatu yang sudah lama ingin kutanyakan kepada Tuan Pelayan... Shinya, apa kau benar-benar hanya pelayan Aria?"


Aku bisa merasakan tekanan tak terucapkan dari tatapannya yang seolah berkata bahwa dia tidak akan menerima kebohongan.


Dia benar-benar orang yang baik dan sangat memedulikan temannya. Aku tanpa sadar tersenyum pahit, berpikir bahwa seharusnya dia bersikap sedikit lebih jujur terhadap perasaannya.


"...Tentu saja. Aku hanya seorang pelayan biasa."


Aku merasa malu untuk mengatakan bahwa aku sangat menyayanginya sampai-sampai aku ingin melindunginya bahkan dengan mempertaruhkan nyawaku, jadi kalimat itu kusimpan saja di dalam hati.


"...Begitu rupanya. Maaf sudah menanyakan hal yang aneh."


"Hei, kalian berdua! Sampai kapan kalian mau terus mengobrol tanpa tujuan!? Cepat, kita pergi ke dungeon!"


"Sepertinya tuan putri kita sedang marah besar. Sebaiknya kita berangkat."


"Benar."


Kami saling mengangguk kecil, lalu segera berlari menghampiri Alphiria yang masih menunggu di depan lingkaran teleportasi sambil merajuk dan marah-marah.


*****


Diselimuti cahaya yang menyilaukan, aku kembali tiba di Labirin Bawah Tanah Aurora. Begitu cahaya yang menutupi pandanganku menghilang, hawa dingin yang menusuk kulit seperti serpihan es menyelimuti seluruh tubuhku. 


Bau darah yang kental seperti karat besi, bercampur dengan udara busuk yang sangat lembap dan berjamur seolah-olah tidak pernah mengalami sirkulasi selama ratusan tahun, memenuhi paru-paruku hingga aku tanpa sadar mengernyitkan wajah.


Bahkan seorang amatir sepertiku bisa menyadarinya. Udara yang menyelimuti tempat ini benar-benar berbeda dari ketika aku datang untuk latihan praktik sebelumnya. Kalau sebelumnya tempat ini bisa diibaratkan sebagai kebun binatang yang keselamatannya sudah dijamin, kali ini tempat ini lebih seperti sabana tempat para predator berkeliaran bebas di mana-mana.


"Lantai keempat, di luar penghalang Kepala Akademi Orthea. Dalam arti tertentu, di sinilah titik awal Labirin Bawah Tanah Aurora yang sebenarnya."


"Jadi ini benar-benar penaklukan dungeon yang sesungguhnya..."


Mendengar perkataan Alphiria, aku tanpa sadar bergumam dengan napas penuh kekaguman.


Ruang di sekelilingku terasa berat seperti lumpur. Dari segala arah, aku bisa merasakan aura mengerikan, seolah-olah seluruh labirin sedang bersuka cita menyambut kedatangan mangsa baru.


Labirin Bawah Tanah Aurora, lantai keempat.


Mulai dari sini, kami sama sekali tidak lagi mendapatkan perlindungan dari penghalang kuat yang dipasang kepala akademi. Kematian tanpa belas kasihan benar-benar sedang membuka mulutnya di hadapan kami. Tempat ini adalah tanah kematian yang sesungguhnya.


Namun, meskipun begitu, hatiku justru lebih dipenuhi kegembiraan daripada ketakutan.


"Hehehe. Tuan Pelayan ternyata tetap saja seorang anak laki-laki."


"Kenapa ya, kalau sudah soal menaklukkan dungeon, mata para pria langsung berubah seperti itu?"


Aku bisa mendengar gumaman dua gadis yang bercampur dengan rasa jengkel, tetapi aku tidak memedulikannya. Kalau mengatakan hal seperti ini, mungkin Alphiria akan marah, tetapi sejujurnya aku tidak bisa menghentikan rasa antusiasku. Seperti yang dikatakan Cyril, "anak laki-laki" di dalam diriku sedang bersorak kegirangan.


"Yah, lebih baik daripada ketakutan sampai gemetar. Tapi jangan sampai lengah. Mengerti, Shinya?"


"Aku tahu. Hati tetap panas, kepala tetap dingin."


"Bagus. Kalau begitu, kita lanjut."


Alphiria berjalan paling depan, diikuti oleh aku dan Cyril di belakangnya. Kami terus menyusuri koridor batu yang remang-remang sambil tetap waspada. Hembusan napas kami terlihat putih, dan hanya suara langkah kaki kami bertiga yang terdengar menggema keras.


"Ngomong-ngomong, Cyril, sihirmu seperti apa?"


Aku bertanya tanpa maksud tertentu. Bukan berarti aku tidak tahan dengan keheningan. Kalau terlalu tegang, tubuh justru bisa menjadi kaku saat keadaan genting sehingga kita tidak dapat menunjukkan kemampuan terbaik. Intinya, obrolan ringan untuk mencairkan suasana juga penting.


"Oh, iya juga. Aku memang belum pernah menunjukkan sihirku kepada Tuan Pelayan. Penasaran? Sihir seperti apa yang bisa kugunakan?"


"Iya, kita kan datang ke dungeon bersama-sama seperti ini. Untuk bisa bekerja sama dengan baik, kita harus tahu kemampuan rekan kita, kan?"


"Aduh... kalau kau menatapku dengan tatapan sepanas itu, aku jadi malu. Kalau ingin tahu, akan kuberitahu semuanya. Ukuran tubuhku atau bahkan warna pakaian dalamku hari ini juga boleh."


Cyril mengatakan itu sambil memasang senyum menggoda. Kalau tempat ini bukan dungeon, mungkin aku sudah menyerah pada godaan berlebihan tersebut. Bahkan, kalau orangnya bukan aku, mungkin dia sudah melotot dengan mata berapi-api dan napas memburu.


"Bukan itu yang ingin kutanyakan sekarang──"


"Elemen es. Sihir yang paling dikuasai Cyril adalah elemen es. Sebagai tambahan, elemen es merupakan atribut turunan dari elemen air."


Jawaban tiba-tiba datang dari Alphiria yang berjalan di depan, sementara aku masih kebingungan. Namun, nada suaranya terasa sedingin es.


"Hei, Aria. Bisa tidak kau jangan mengambil dialogku?"


"Cyril, kau terlalu lengah. Aku tidak peduli dengan ukuran tubuhmu atau warna pakaian dalammu."


"Oh, tidak apa-apa, kan? Tuan Pelayan juga anak laki-laki yang sehat. Bukankah informasi seperti ini justru bisa mempererat kerja sama kita? Ngomong-ngomong... aku tidak akan bilang apa, tapi ukuranku lebih besar daripada Aria, lho?"


Sambil berkata demikian, Cyril menyilangkan kedua tangannya di bawah dada, lalu membuatnya bergoyang lembut, sengaja menonjolkan bentuk tubuhnya yang berisi.


"...Apa!?"


"Waktu terakhir kali pergi membeli pakaian dalam dan diukur, ternyata ukuranku bertambah. Kalau terus bertambah, bahuku hanya akan semakin pegal, dan pakaian dalam yang lucu juga akan semakin sulit ditemukan. Aku jadi bingung."


Cyril mengeluh sambil menghembuskan napas lesu. Sementara itu, dia sengaja terus menggoyangkan kedua dadanya sedemikian rupa hingga seolah-olah suara "boing, boing" bisa terdengar. Mau tak mau, pandanganku ikut tertarik ke sana.


"...Hei, Shinya. Kau sedang melihat ke mana?"


Alphiria menatapku tajam dengan sorot mata yang mengandung niat membunuh. Tidak adil. Apa yang sebenarnya kulakukan?


"Itu di luar kendaliku. Kalau digoyangkan seperti itu, laki-laki mana pun pasti akan melihat!"


"Hehehe. Kalau Tuan Pelayan ingin melihat, aku bisa memperlihatkannya lebih banyak, lho?"


"Sudah cukup, dasar kucing birahi yang tidak pernah berhenti!"


Sambil mendesis mengancam seperti kucing, Alphiria menepuk kepalaku dengan keras. Cyril melihat reaksi temannya yang panik itu, lalu tertawa geli sebelum akhirnya menjawab pertanyaanku.


"Aku memang tidak memiliki kecocokan dengan semua elemen seperti Aria, tetapi khusus untuk sihir elemen es, kemampuanku bahkan lebih tinggi daripada Aria, lho?"


"Ngomong-ngomong, julukannya adalah ‘Putri Mawar Es’."


"Julukan sehebat itu justru membuatku bingung. Aku sama sekali tidak cocok disebut seorang putri."


Bahkan Cyril sedikit memerah dan mengangkat bahu mendengar julukan itu. Sepertinya dipanggil dengan julukan tersebut bukanlah sesuatu yang benar-benar dia inginkan. Dibandingkan dengan dirinya yang berbakat, cantik, dan dewasa, reaksinya kali ini justru terlihat menggemaskan. Aku yang masih menutupi mataku nyaris saja tertawa.


"‘Putri Mawar Es’, ya. Menurutku julukan itu sangat cocok untuk Cyril."


"...Apa maksudmu dengan itu, Tuan Pelayan?"


"Bukan apa-apa. Cyril itu cantik dan anggun, jadi menurutku kesan ‘Putri Mawar’ memang cocok untukmu."


Begitu aku mengatakannya, suara dari seluruh dunia seolah menghilang.


Alphiria membuka-tutup mulut seperti ikan yang terdampar di daratan, memasang ekspresi bodoh. Sementara itu, Cyril tampak benar-benar tercengang.


"B, begitu... Yah, kalau Tuan Pelayan berkata begitu, kurasa tidak masalah. Tapi daripada membicarakan hal seperti itu───mereka datang."


『───Grrrrrrrrr...』


Tiba-tiba, dari ujung koridor batu—dari dalam kegelapan pekat—terdengar suara geraman rendah dan berat seekor binatang.


Suasana yang sebelumnya sudah mencair seketika berubah tegang. Alphiria melepaskan tangannya dari wajahku dan menatap lurus ke depan dengan ekspresi serius.


"Akhirnya mereka muncul juga. Jumlahnya... sekitar lima ekor, ya?"


Dari dalam kegelapan, sesuatu perlahan menyeret tubuhnya keluar. Mereka adalah sekelompok monster yang bentuknya menyerupai anjing yang berjalan dengan dua kaki—monster yang sudah menjadi pemandangan umum di lapisan dangkal dungeon: kobold.


Namun, berbeda dari game, yang berdiri di depan kami sekarang adalah makhluk nyata. Mata mereka yang lapar bersinar terang, tanpa sedikit pun kecerdasan. Tatapan mereka hanya dipenuhi niat membunuh dan nafsu makan yang murni.


"Aria, biar aku yang menangani ini."


Bahkan sebelum aku dan Alphiria sempat mencabut tongkat-pedang dari pinggang, Cyril sudah melangkah maju.


Dia sedikit mengangkat ujung rok seragamnya, lalu mengulurkan tangan ke pahanya yang jenjang dan lentur. Di sana melilit sebuah holster paha dari kulit hitam. Cyril menarik keluar belati pendek yang terselip di dalamnya dengan gerakan mulus.


Aku tanpa sadar terpaku melihat gerakan mencabut senjatanya yang begitu memikat.


"Itu tongkat-pedang milikmu?"


"Ya, benar. Aku lemah secara fisik, jadi aku tidak bisa mengayunkan pedang besar ke sana kemari."


"Kalau mau berkelahi, akan kulayani, Cyril."


"Oh, ya ampun. Aku tidak pernah bilang Aria itu gorila yang sangat kuat, kok?"


Cyril terkikik sambil mengatakan itu.


Padahal ada monster tepat di depan kami, tetapi tidak ada sedikit pun ketegangan di antara mereka. Bahkan, mereka malah saling bertengkar.


Saat aku mulai merasa sedikit khawatir apakah kami akan baik-baik saja dengan keadaan seperti ini—


"Baiklah. Cukup menggodamu, Aria. Sekarang akan kutunjukkan dari tempat terbaik kepada Tuan Pelayan. Alasan mengapa aku dipanggil ‘Putri Mawar Es’."


Klik. Dengan suara ringan dan menyenangkan, Cyril mengangkat belatinya dalam posisi siap bertarung. Pipinya sedikit memerah ketika dia melirik ke arahku dan mengatakan itu.


『Gaaaaaaahhhhh!!』


Seolah perkataan Cyril menjadi aba-aba, para kobold menerjang ke arah kami sambil mengeluarkan raungan yang seakan-akan mampu memecahkan gendang telinga.


Angin berbau amis khas binatang berembus kencang menerpa kami. Namun, Cyril sama sekali tidak panik.


Dia dengan tenang mengangkat belatinya ke depan, lalu mengalirkan kekuatan sihir yang hening dan menenangkan ke dalam bilah tersebut. Dengan suara tegas dan anggun, dia merangkai mantranya.


"Wahai bunga merah menyala, mekarlah dalam kebekuan───『Blossom of the Frozen Coffin』."


Cyril menjentikkan jarinya dengan suara ringan, "pak,".


Pada saat berikutnya, hawa dingin bersuhu nol mutlak menyembur dari tongkat-pedangnya, seketika mengubah koridor menjadi neraka yang membeku. Mawar-mayang bening secara harfiah bermekaran seperti kesetanan dari bawah kaki para kobold. Sulur-sulur es dengan duri-duri tajam melilit seluruh tubuh mereka dalam sekejap, bahkan tidak memberi mereka kesempatan untuk melarikan diri.


『Gi, gah...!?』


Para kobold yang ditelan hawa dingin dahsyat itu membelalakkan mata karena terkejut, sebelum akhirnya berubah menjadi patung-patung es yang indah.


"Sudah, selesai."


Bersamaan dengan pernyataan dingin, cantik, dan tanpa ampun dari sang putri es, monster-monster yang terperangkap di dalam mawar es raksasa seketika hancur berkeping-keping seolah-olah terbuat dari kaca yang sangat halus. Mereka berubah menjadi debu berlian yang berkilauan sebelum menemui ajal.


"M-mengagumkan..."


Sihir luar biasa itu berbeda dari kobaran api dahsyat milik Alphiria. Melihat pemandangan fantastis yang dihasilkannya secara langsung, tanpa sadar aku mengeluarkan suara kagum. Hanya dalam hitungan detik, aura kematian yang pekat dan bau amis busuk telah dimurnikan oleh mawar-mawar es tersebut.


"Hehe. Bagaimana menurutmu?"


Di tengah serpihan-serpihan es yang beterbangan, Cyril berbalik dengan anggun. Wajahnya dihiasi senyum bangga seperti seorang anak yang ingin dipuji karena mendapatkan nilai seratus dalam ujian.


"Hei, Cyril. Jangan menggunakan sihir sebesar itu hanya untuk menghadapi monster kelas rendahan. Sayang sekali mana-mu terbuang."


"Tenang saja. Sihir sebesar ini tidak akan membuat manaku habis. Anggap saja sebagai pelayanan khusus untuk Tuan Pelayan. Nah, ayo kita lanjutkan perjalanan?"


Sambil menanggapi teguran Alphiria dengan santai, Cyril kembali berjalan seolah tidak terjadi apa-apa.


Setelah itu, kami beberapa kali bertemu dengan kelompok kobold di sepanjang perjalanan, tetapi kami sama sekali tidak kesulitan menghadapinya. Begitu bertemu musuh, Cyril membekukan mereka dengan sihir es, atau Alphiria membakar habis mereka dengan sihir api seolah sedang melampiaskan stres.


Setelah mengulangi pembantaian sepihak layaknya invasi yang dilakukan para penjajah barbar beberapa kali, kami akhirnya tiba di bagian terdalam lantai keempat dalam waktu singkat.


"Jadi ini ruang bosnya... Entah kenapa terasa terlalu mudah."


"Perketat kewaspadaanmu, Shinya. Sampai sejauh ini hanya pemanasan."


Di hadapan kami berdiri sebuah pintu batu raksasa yang kokoh dan berat, begitu besar hingga kami harus mendongak untuk melihatnya. Pada permukaannya terukir relief monster yang menyeramkan. Udara yang merembes dari celah pintu terasa jauh lebih pekat dan berat dibandingkan kobold yang kami temui sepanjang perjalanan.


"Jangan lengah, Tuan Pelayan. Sampai sejauh ini memang mudah, tetapi kalau sudah menyangkut bos, ceritanya berbeda."


Cyril yang sejak tadi terlihat begitu santai pun menggenggam belatinya lebih erat. Ekspresinya juga berubah menjadi serius.


Aku menghembuskan napas panjang, kemudian berdiri sejajar dengan mereka berdua. Sambil tetap menggenggam tongkat-pedang, aku memegang pintu dan mendorongnya sekuat tenaga.


Dengan suara berat, "Giiiiigigigi...", pintu besar itu mulai bergerak perlahan.


Sambil bersiap menghadapi tekanan dari bos yang mungkin sedang menunggu di dalam, kami bertiga melangkah serempak memasuki ruangan besar tersebut.


"...Eh?"


Suara Alphiria yang kehilangan ketegangan bergema di dalam ruang bos.


Tidak ada raungan kemarahan terhadap para penyusup, tidak ada niat membunuh yang menusuk kulit, bahkan tidak ada bau binatang sedikit pun. Hanya keheningan total.


Kami kebingungan menghadapi situasi tidak normal ini: makhluk yang seharusnya berada di sini ternyata tidak ada.


"Ini... apa maksudnya?"


Tatapan Cyril yang tercengang tertuju ke depan.


Yang terlihat oleh matanya adalah mayat hangus milik monster bos yang menguasai lantai keempat sekaligus menjadi penguasa ruangan ini—"Kobold Lord".


"Tidak mungkin..."


Tubuh raksasanya yang begitu besar hingga harus didongakkan untuk melihatnya telah terbakar hangus seperti gumpalan arang, dan jelas bahwa ia sudah tewas.


Bahkan lantai batu di sekitarnya tampak meleleh, menunjukkan bahwa monster itu telah dibakar dengan kekuatan api yang luar biasa besar.


"Bosnya... sudah dikalahkan!? Sebenarnya apa yang terjadi? Siapa yang melakukan ini!?"


Alphiria melihat sekeliling dengan panik sambil tetap waspada.


Kalau dipikir secara sederhana, kesimpulannya adalah seseorang telah memasuki dungeon lebih dulu daripada kami, menantang bos, lalu mengalahkannya.


Namun, kalau memang begitu, tidak mungkin kami sama sekali tidak bertemu dengan kobold sepanjang perjalanan. Tetapi tidak ada mayat kobold, bahkan tidak terdengar sedikit pun suara pertempuran.


Dengan kata lain, pelaku yang melakukan semua ini berjalan melewati dungeon seperti manusia tak kasatmata, lalu mengalahkan bos.


Tidak mungkin hal seperti itu───


『Gogogogogooo!!』


"A-apa itu!?"


Ini bukan gempa bumi. Dari kedalaman tanah yang tak terukur, terdengar suara gemuruh mengerikan yang seolah mengguncang dunia itu sendiri.


"Kyaaa!?"


"Aria!"


Pada saat berikutnya, lantai batu tebal di bawah kaki kami retak seperti jaring laba-laba. Dari lapisan yang jauh lebih dalam, cahaya fajar yang menyilaukan dan dahsyat menyembur ke atas seolah hendak menembus langit.


"Aria! Cyril!!"


Bersamaan dengan suara gemuruh, lantai batu ambles dan pijakan kami seketika runtuh.


Gravitasi seolah menghilang, sementara sebuah lubang raksasa berbentuk corong menganga lebar, hendak menelan kami bertiga.


Sebelum sempat berpikir, naluriku sudah menggerakkan tubuhku.


Aku menendang kuat lantai batu yang sedang runtuh. Begitu melihat Alphiria dan Cyril melayang di udara, aku meraih keduanya dengan kedua tangan, lalu dengan sekuat tenaga melempar mereka ke arah koridor di pintu masuk yang masih aman.


"Eh... Shinya?"


Alphiria yang terlempar ke lantai batu keras di koridor membelalakkan matanya.


Namun, akibat dorongan saat menyelamatkan mereka berdua, tubuhku justru terlempar sepenuhnya ke udara dan jatuh lurus ke dasar jurang yang memuntahkan cahaya menyilaukan itu.


"Shinyaaaaa!!!"


Suara pilu Alphiria menggema ketika dia menjulurkan tubuh dari tepi lubang yang runtuh dan meneriakkan namaku.


Wajahnya yang berusaha mengulurkan tangan kepadaku semakin menjauh dengan cepat, menghilang di balik cahaya dan kegelapan.


(Syukurlah... Aria selamat...)


Sambil merasakan benturan dahsyat yang menghantam seluruh tubuhku dan sensasi melayang yang membuatku mual, aku terus jatuh ke dalam kegelapan labirin yang dalam.


*****


"Gah, ahkk...!"


Aku merasakan rasa sakit yang luar biasa di seluruh tubuh, seolah-olah tulang-tulangku berderit. Dengan susah payah aku bangkit.


Sesaat aku mengira ini adalah dunia setelah kematian, tetapi tangan dan kakiku masih ada, dan aku masih bisa mendengar detak jantungku. Luka-luka robek di berbagai bagian tubuhku, serta rasa seperti besi berkarat yang memenuhi mulutku, semuanya terasa terlalu nyata untuk disangkal.


"Entah ini keberuntungan atau kesialan..."


Aku bergumam sendiri sambil melihat sekeliling. Namun, yang terlihat hanyalah kegelapan samar di segala penjuru, tanpa bisa melihat apa pun dengan jelas. Bahkan ketika aku mendongak ke lubang raksasa yang menelanku, yang terlihat hanyalah kegelapan tanpa dasar.


"Aria...! Cyril!"


Aku berteriak memanggil nama mereka berdua sekuat tenaga hingga rasanya tenggorokanku akan hancur, tetapi tidak ada jawaban. Bahkan gema suaraku pun lenyap terserap ke dalam kegelapan yang hampa.


Celakanya, sepertinya aku benar-benar terisolasi. Dan sebagai tambahan yang lebih buruk lagi, aku bahkan tidak tahu di mana tepatnya aku berada sekarang.


Aturan utama dalam situasi seperti ini adalah jangan bergerak sembarangan dari tempatmu berada. Pastikan keselamatan, hemat tenaga, lalu percaya bahwa Alphiria dan Cyril sedang pergi mencari bantuan sambil menunggu mereka kembali.


Aku tahu secara logika bahwa itulah tindakan terbaik. Aku tahu. Namun, naluriku justru terus berteriak, "Maju lebih jauh."


"‘Jangan lakukan itu. Mulai dari sini adalah neraka,’ begitu maksudnya?"


Aku bergumam dengan nada mencela diri sendiri sambil menatap kegelapan yang hanya berjarak beberapa langkah di depanku.


Dari bagian terdalam kegelapan itu, aku merasakan tekanan yang sama sekali berbeda tingkatannya dari kobold maupun varian Kobold Lord. Rasanya seperti ada tangan iblis yang menjulur dari kedalaman sana dan mencengkeram jantungku.


"Melarikan diri adalah pilihan yang benar, kan...?"


Meskipun akal sehatku berusaha sekuat tenaga menghentikanku, kakiku secara alami melangkah menuju kegelapan.


Sambil menyeret tubuhku yang terasa berat, aku berjalan perlahan, tetapi pasti, menuju sesuatu yang entah apa yang seolah melambaikan tangan kepadaku dari kedalaman kegelapan.


Dan di tempat yang akhirnya kutuju, berdiri sebuah pintu besar yang kokoh tanpa hiasan ataupun ukiran mewah.


Pintu itu sederhana dan kuat. Dipandu oleh naluri, aku mendorongnya dengan kedua tangan yang terasa sakit, lalu masuk ke dalam ruangan.


Di tengah kegelapan sunyi yang tak terukur, yang berada di sana bukanlah monster mengerikan, melainkan seorang pria.


"──Maaf karena memperlakukanmu dengan kasar, anak dari dunia lain."


Yang mengejutkan, kata-kata pertamanya justru terdengar begitu lembut hingga membuatku kehilangan ketegangan.


Namun, pada saat yang sama, suaranya mengandung tekanan seorang makhluk yang benar-benar berada di tingkat kekuatan absolut.


Dalam sekejap, aku mengerti. Entah dengan cara apa dia melakukannya, dialah orang yang membakar Kobold Lord sampai mati dan menciptakan lubang besar dengan cahaya fajar itu.


"...Siapa kau?"


Aku bertanya dengan hati-hati sambil meraih tongkat-pedang.


Jika pria di depanku ini adalah seekor singa, maka aku hanyalah seekor semut yang merayap di tanah.


Bahkan tanpa bertarung dan hanya berdiri saling berhadapan seperti ini, aku sudah bisa merasakan perbedaan antara kami sejauh langit dan bumi.


"Dulu aku pernah diberi tahu bahwa jika ingin menanyakan nama seseorang, sebaiknya kita memperkenalkan diri terlebih dahulu. Tapi... kurasa tidak masalah. Namaku Heimdall. Kau tidak perlu repot-repot mengingatnya."


Heimdall. Itu nama yang sama dengan nama dewa dalam mitologi Nordik.


Seorang penjaga yang memiliki mata yang mampu melihat hingga ke tempat yang sangat jauh dan telinga yang bahkan dapat mendengar suara rumput tumbuh. Kalau tidak salah, pada akhirnya dia bertarung melawan dewa pengkhianat yang memicu perang akhir zaman dan keduanya saling membunuh.


"Kalau kau seorang dewa, apa yang kau lakukan di ruang bawah tanah yang gelap seperti ini? Menghabiskan waktu karena bosan?"


"Hehehe. Benar-benar anak dari dunia lain. Kau langsung menyadari bahwa aku seorang dewa."


"...Bukankah sebaiknya kau kembali bekerja? Kalau kau bermalas-malasan, bukankah nanti kau akan dimarahi?"


"Kau sudah tahu aku seorang dewa, tetapi masih berani bercanda denganku? Kufufu. Kau menarik juga."


Heimdall tertawa sambil mengeluarkan suara rendah dari tenggorokannya.


Hanya karena dia tertawa, udara di sekitarku bergetar hebat sampai rasanya aku bisa menjadi gila.


Aku mengatupkan gigi geraham sekuat tenaga, berusaha menahan tekanan yang terasa seperti jantungku sedang diremas dengan tangan raksasa.


"Jangan terlalu waspada. Kurasa kau sudah menyadarinya, tetapi aku bukan penguasa lantai ini. Lagi pula, aku sama sekali tidak berniat menyakitimu. Justru sebaliknya, aku membawa kabar baik untukmu."


"...Kabar baik?"


"Ya. Bagimu yang datang dari dunia lain, ini seharusnya menjadi kabar terbaik yang bisa kau terima."


Heimdall mengabaikan kewaspadaanku. Perlahan dia merentangkan kedua tangannya seperti seorang pendeta, lalu berbicara dengan suara hangat seperti sinar matahari musim semi yang menembus celah dedaunan.


"──Bagaimana kalau kukatakan bahwa aku bisa mengirimmu kembali ke dunia asalmu?"


"...Apa?"


Jantungku berdegup kencang mendengar tawaran yang sama sekali tidak pernah kuduga, terlebih datang begitu tiba-tiba.


Aku bisa kembali? Kembali ke dunia yang damai, biasa, dan membosankan, tempat aku menjalani kehidupan sehari-hari?


"Apa yang kau katakan...? Bukankah seharusnya tidak ada sihir yang bisa mengirimku kembali ke dunia asalku...!?"


"Itu hanya berlaku untuk sihir yang dapat digunakan manusia, bukan? Kalau aku yang merupakan seorang dewa, hal semacam itu bukanlah sesuatu yang sulit."


Aku kehilangan kata-kata mendengar Heimdall mengatakannya dengan begitu tenang.


Alasan "karena aku seorang dewa" memang terdengar sangat mencurigakan, tetapi lebih dari itu, kata-katanya justru memiliki daya meyakinkan yang luar biasa.


"Kehidupan sehari-hari yang damai dan sederhana justru merupakan kebahagiaan terbesar bagi makhluk hidup. Dunia yang damai tanpa peperangan, jika dibandingkan dengan tempat ini, benar-benar merupakan sebuah utopia."


"Utopia, ya... Memang benar juga."


Racun dari kata-kata manis itu meresap hingga ke dalam jiwaku.


Suatu hari aku tiba-tiba dipanggil ke dunia ini dan dijadikan familiar. Kemudian aku dipaksa bertarung karena dianggap harus bertanggung jawab atas mana yang telah kuambil.


Aku benar-benar merasa bahwa aku mungkin akan mati. Kalau bisa kembali ke dunia asal, tentu itu akan menjadi pilihan terbaik.


"Bagimu yang datang dari dunia yang sepenuhnya berbeda, dunia ini pasti sangat sulit untuk dijalani. Sedikit saja salah langkah, kematian sudah menunggumu. Jadi, ayo. Raihlah tanganku. Dengan begitu, kau bisa kembali."


"Biasanya, kabar baik selalu datang sepaket dengan kabar buruk. Aku boleh bertanya satu hal?"


"...Apa itu?"


"Kalau aku kembali, apa yang akan terjadi pada Aria?"


Ketika mendengar bahwa aku bisa pulang, hal pertama yang muncul di benakku bukanlah pemandangan dunia asalku. Bukan pula wajah keluarga atau teman-temanku.


Melainkan wajah seorang gadis berambut pirang yang begitu cantik dan manis hingga kata "cantik" saja terasa tidak cukup untuk menggambarkannya.


Wajahnya yang selalu penuh percaya diri dan bertindak tanpa berpikir panjang, tetapi akan memerah hingga ke telinga dan marah setiap kali sedikit saja kugoda.


Senyumnya yang tampak seolah hendak menangis ketika dia, dengan sifatnya yang kikuk dan tidak mampu berbohong kepada dirinya sendiri, berusaha melindungiku.


"Alphiria Glastonbury... ‘Pendosa Besar’ yang memanggilmu, benda asing dari dunia lain, ke dunia ini, ya?"


"Kalau aku pergi, bagaimana dengan kekuatan Aria...? Apakah mana yang telah hilang itu akan kembali?"


Mendengar pertanyaan itu, Heimdall menundukkan pandangannya dengan ekspresi yang benar-benar tampak iba, lalu menggelengkan kepala dengan perlahan. Dia kemudian memberikan sebuah keputusan yang sangat kejam.


"Dengan kekuatannya, itu tidak akan pernah kembali. Dosa harus dibayar dengan hukuman yang setimpal."


Pernyataan itu menggema sia-sia di dalam aula, lalu menghilang. Namun, pembicaraan Heimdall belum berakhir.


"Omong-omong, mengenai ‘artefak untuk mendapatkan kembali mana’ yang diceritakannya kepadamu... benda seperti itu sebenarnya tidak pernah ada sejak awal."


"...Apa?"


"Tidak ada artefak yang semudah itu, bukan hanya di dungeon, tetapi di mana pun di dunia ini. Lalu, mengapa Alphiria Glastonbury datang ke dungeon? Tidak lain adalah untuk mengirimmu kembali ke dunia asalmu."


Aku tidak mampu mengikuti fakta-fakta yang satu demi satu diungkapkan Heimdall.


Tidak, belum tentu semua yang dikatakannya adalah kebenaran. Bisa saja semua ini merupakan kebohongan yang sengaja dibuat untuk membingungkanku.


"Aku tidak punya alasan untuk menipumu. Dia bahkan berniat membuang impiannya sendiri demi mengembalikanmu ke dunia asalmu. Itulah alasan dia datang ke sini."


"Kalau begitu, ada artefak yang bisa mengembalikanku ke dunia asal, kan?"


"Tepatnya, artefak yang dapat membatalkan kontrak tuan-pelayan yang terjalin antara Alphiria Glastonbury dan dirimu. Memang ada artefak yang dapat memaksa segala jenis kontrak menjadi tidak berlaku. Bahkan jika kontrak tersebut melampaui batas dunia, kekuatan artefak itu seharusnya tetap berlaku."


"...Begitu rupanya. Jadi itu yang terjadi."


Aku bergumam dengan nada mencela diri sendiri.


Aku benar-benar telah ditipu mentah-mentah. Untuk mendapatkan artefak yang dapat mengembalikanku ke dunia asal, kami harus masuk ke dungeon berbahaya.


Alphiria sendirian memikirkan dilema tersebut. Benar-benar... kalau begini, aku bahkan tidak pantas disebut familiar.


"...Sialan."


Yang muncul dalam diriku bukanlah kegembiraan ataupun kesedihan, melainkan kemarahan.


Bodoh. Aku tidak pernah menginginkan pengorbanan diri seperti itu. Aku tidak pernah sekalipun mengatakan ataupun berpikir bahwa dia harus mengorbankan seluruh hidupnya demi mengembalikanku ke dunia asal.


"...Apa maksudmu?"


Sambil mengeluarkan suara sring, aku menarik tongkat-pedang dari sarungnya.


──"Berikan hidupmu kepadaku. Sebagai gantinya, aku juga akan memberikan hidupku kepadamu."


"Ini yang namanya saling menanggung nasib. Kalau memanggilku ke dunia ini adalah dosa Aria, maka aku juga akan menerima hukumannya. Kita akan menebusnya bersama-sama."


Mendengar perkataanku yang kuucapkan sambil menatapnya lurus, Heimdall membelalakkan mata karena terkejut.


Namun, sesaat kemudian dia mengangkat bahunya dengan ekspresi seolah merasa sangat heran.


"Apakah itu rasa iba? Atau rasa cinta? Hanya karena perasaan yang begitu samar dan tidak jelas, kau akan melepaskan kesempatan untuk kembali ke dunia asalmu dan menjalani kehidupan yang damai? Padahal dia sendiri menginginkanmu kembali."


"Aku melakukannya karena memang itu yang kuinginkan. Tidak peduli apa pun yang dikatakan Aria."


Aku tersenyum dan mengatakannya dengan tegas kepada sang dewa yang menghela napas seolah sedang mengasihani orang bodoh.


Tidak peduli apakah Alphiria akan memarahiku ataupun menangis. Jika dia berniat memikul dosa itu sendirian, maka aku akan menggunakan keegoisanku sendiri untuk tetap berada di sisi Alphiria.


"Di luar dugaan, kau ternyata anak yang sangat keras kepala."


Heimdall tertawa dengan ekspresi seolah merasa heran, tetapi di suatu sisi tampak senang karena mendengar jawaban yang mungkin memang dia harapkan.


"Sayangnya, sejak kecil aku dibesarkan dengan nasihat bahwa anak laki-laki memang sebaiknya sedikit keras kepala."


Sudut bibir Heimdall terangkat membentuk senyum seperti bulan sabit.


Kemudian, dengan suara tajam yang membelah udara, dia mencabut pedang panjang yang tersarung di pinggangnya. Pada saat itu, suasana di dalam aula berubah total.


Tekanan yang menusuk kulit kini memiliki bobot fisik dan menekan seluruh tubuhku, sampai-sampai aku bahkan kesulitan bernapas. Namun, aku tidak boleh menyerah.


"Anak dari dunia lain, akan kuberikan sebuah ujian kepadamu."


Heimdall mengangkat pedang panjangnya dalam posisi siap di depan tubuh, lalu memberikan pernyataan dengan suara yang dipenuhi wibawa seorang dewa.


"Coba kalahkan aku."


"──Tak perlu disuruh!"


Lawan yang kuhadapi adalah seorang dewa. Saling mengukur kemampuan dengan gerakan-gerakan kecil tidak ada gunanya. Lagi pula, sebagai orang yang benar-benar awam dalam pertarungan, mustahil bagiku melakukan strategi atau permainan taktik yang cerdik.


Kalau begitu, hanya ada satu hal yang harus kulakukan.


Aku hanya perlu mengerahkan seluruh kekuatanku tanpa menyisakan sedikit pun, lalu menghantamkannya kepada dia.


"Wahai purgatorium, mekarlah dengan liar──"


Aku mengangkat tongkat-pedangku dengan kuat ke arah langit.


Sesaat kemudian, jantungku berdegup keras dan rasa sakit luar biasa menjalar ke seluruh tubuh. Aku mengabaikannya dan menuangkan seluruh mana yang kumiliki, termasuk mana yang masih bisa kuciptakan, ke dalam bilah pedang.


Aula yang sebelumnya remang-remang seketika menjadi putih terang, seolah-olah kami dilempar tepat di bawah terik matahari.


"Pedang Api" yang muncul dari kehampaan memancarkan cahaya panas berwarna putih kebiruan, melampaui warna merah. Jumlahnya bukan hanya ratusan, bahkan melebihi seribu, memenuhi kubah raksasa di atas kami.


"Oh..."


Heimdall mempersempit matanya sambil menatap gerombolan api biru-putih yang memenuhi langit-langit.


Panas luar biasa yang dibawa bilah-bilah kehancuran berwarna biru-putih itu membakar udara, dan melalui tekanan apinya, bahkan mendorong mundur aura ilahi yang dipancarkan Heimdall.


"Dengan tubuh manusia, kau mampu menciptakan pedang api sebanyak ini..."


"──『Infernal Blade Bloom』!!"


Bersamaan dengan teriakan penuh semangat, aku mengayunkan tongkat-pedang ke bawah.


Sebagai respons terhadap lintasan pedangku, ribuan pedang api biru meluncur turun sekaligus seperti hujan meteor.


Boooommm!! Bersamaan dengan suara gemuruh yang seolah mampu memecahkan gendang telinga, bilah-bilah biru-putih menghantam Heimdall satu demi satu, memicu ledakan besar secara berturut-turut.


Ledakan angin dan gelombang panas yang dahsyat tercipta. Lantai batu yang kokoh dengan mudah terkikis, sementara kobaran api yang menyerupai matahari menelan sang dewa.


"Haa... haa... haa..."


Seluruh pandanganku dipenuhi api. Ledakan api yang berkobar-kobar menyelimuti seluruh aula.


Panas yang mampu membakar kulit menerpa pipiku, sementara aku tetap memegang tongkat-pedang dalam posisi siap dan mengembuskan napas kasar.


"──Itu sihir yang luar biasa, anak dari dunia lain."


Dengan satu ayunan pedang panjang, Heimdall menyingkirkan kobaran api yang membara.


Kemudian, dia muncul dengan tenang dari balik asap, sama sekali tidak terluka. Tidak ada luka bakar, bahkan sedikit pun bekas hangus tidak terlihat di tubuhnya.


"Tetapi bagaimanapun juga, kau tetaplah seorang manusia. Panas sebesar ini masih belum cukup untuk menghancurkan tubuhku."


"Hahaha... Kau bercanda, kan?"


Kenyataan yang bahkan terlalu kejam untuk disebut keputusasaan.


Meskipun telah terkena serangan langsung dari lebih dari seribu pedang api biru yang mengerahkan seluruh mana milikku, dewa di hadapanku bahkan tidak menunjukkan tanda-tanda kelelahan.


Sementara aku masih terpaku, Heimdall perlahan mengangkat pedang panjangnya ke atas, lalu mengayunkannya dengan kejam.


Itu bukan sihir. Bukan pula teknik pedang. Hanya ayunan biasa yang tidak istimewa.


Namun, ketika dilakukan oleh seorang dewa, satu ayunan sederhana itu menciptakan gelombang kejut seperti air terjun yang langsung menerjangku.


"Gah...!?"


Benturannya seperti ditabrak truk dengan kecepatan tinggi. Tubuhku terlempar ke udara seperti kain lap yang tak berdaya, lalu punggungku menghantam dinding batu aula.


Seluruh tulangku menjerit kesakitan. Udara di dalam paru-paruku dipaksa keluar, dan aku memuntahkan darah.


"Kuakui. Sihirmu memang luar biasa. Tetapi dari sudut pandangku, itu masih sekadar permainan anak-anak."


Heimdall tidak sedang mengejek. Bukan pula menghina. 


Dia hanya menyampaikan fakta dengan tenang sambil memandang rendah diriku yang tergeletak di tanah. Namun, aku sendiri sudah memahami hal itu bahkan tanpa perlu diberitahu oleh seorang dewa.


"Terus kenapa...!?"


Aku menyeka darah di sekitar mulut, lalu menggunakan tongkat-pedang sebagai penopang untuk perlahan berdiri.


Kepalaku terasa seperti akan pecah. Jantungku seakan-akan akan meledak kapan saja. Pandangan mataku berkedip-kedip dalam warna merah, sementara kedua tangan dan kakiku sudah tidak memiliki tenaga.


Meski begitu, aku tidak menyerah. Aku terus menggunakan sihir dua penyihir yang kukenal dengan menirukan apa yang pernah kulihat dari mereka.


"Wahai es, tembuslah──! Wahai api, tembuslah──!"


Dengan sedikit mana yang dihasilkan oleh panas jantungku yang hampir padam, aku mengaktifkan tombak es milik Cyril dan bola api milik Aria, lalu melontarkannya bertubi-tubi ke arah Heimdall.


"Memprihatinkan. Itu bahkan tidak bisa disebut sebagai perlawanan sia-sia, anak dari dunia lain."


Heimdall melangkah maju sambil mengayunkan pedang panjangnya dengan santai. Hanya dengan melakukan itu, ruang itu sendiri seolah terbelah. Tombak es dan bola api sekaligus terpotong dan menghilang menjadi serpihan-serpihan kecil.


"...Tahukah kau, apa yang diperlukan untuk mewujudkan keinginanmu sendiri?"


Heimdall bertanya dengan suara tenang sambil perlahan mendekatiku yang bahkan hampir tidak mampu berdiri.


"...Apa maksudmu?"


"Kekuatan."


Dia berhenti sejenak.


"Dan bukan sembarang kekuatan. Kekuatan luar biasa yang mampu menundukkan orang lain. Keinginan tanpa kekuatan bahkan lebih buruk daripada rengekan seorang anak kecil. Mengenai dirimu sekarang... kurasa tidak perlu dijelaskan lagi, bukan?"


Bersamaan dengan kata-kata itu, sebuah tendangan secepat kilat menghantam perutku. Tubuhku kembali dibanting ke dinding batu. 


Kali ini, seluruh kekuatan untuk berdiri benar-benar lenyap dan aku terjatuh ke lantai batu. Sensasi pada tangan dan kakiku menghilang. Kesadaranku perlahan menjauh.


"Kalau memikirkan apa yang akan terjadi setelah ini, mungkin membiarkanmu mati di sini adalah bentuk belas kasihan terbaik yang bisa kuberikan."


"...Apa yang kau... katakan...?"


Aku menjawab dengan suara serak.


Heimdall menatapku dari atas dengan tatapan penuh belas kasihan, lalu mengangkat pedang panjangnya tinggi-tinggi ke atas kepala.


"Akan kukirim kau ke hadapan Tuhan tanpa rasa sakit."


Sebuah vonis eksekusi yang tanpa ampun.


Aku ingin melawan, tetapi bahkan satu jari pun tidak mampu kugerakkan. Bilah raksasa itu hendak diayunkan untuk memenggal kepalaku. Saat itulah—


(Maaf, Aria...)


Aku perlahan memejamkan mata dan membayangkan wajah tuanku yang selalu tersenyum tanpa beban.


"Shinyaaaa!!"


Bersamaan dengan teriakan penuh kepedihan yang mengguncang gendang telinga, sihir api berukuran luar biasa besar menghantam Heimdall. Ledakan dahsyat terjadi.


Heimdall yang lengah secara tiba-tiba segera menjauh dariku.


Dari balik asap tebal yang mengepul, seorang wanita cantik dengan rambut keemasan yang berantakan menerobos masuk sambil terengah-engah.


"Shinya, kau masih hidup!? Kalau masih hidup, panggil namaku!"


"A-Aria...? Kenapa kau ada di sini...?"


"Jelas aku datang untuk menyelamatkanmu! Lebih penting lagi, kau masih bisa berdiri?"


Dengan mata berkaca-kaca, Alphiria menatapku tajam sambil menarik lenganku dengan paksa hingga membuatku berdiri.


Sentuhan ini bukan ilusi. Saat aku berdiri sempoyongan dengan meminjam bahunya sebagai penopang—


"Kau datang untuk menyelamatkan familiar-mu, ya. Wanita bodoh, Alphiria Glastonbury."


Heimdall berbicara dengan dingin sambil menyingkirkan asap.


"Sayang sekali. Aku bukan tuan yang begitu kejam sampai tega membiarkan familiar-ku mati begitu saja."


Alphiria melangkah maju sambil berdiri di depanku, melindungiku dengan senyum penuh keberanian.


"Yang lebih penting, kaulah yang menyakiti familiar kesayanganku, bukan?"


"Aku tidak menyakitinya. Aku hanya memberinya sebuah ujian."


Heimdall menjawab dengan suara datar. Namun, di balik suara itu terdapat tekanan yang seolah mampu menghancurkan seluruh ruang, serta niat membunuh yang sebelumnya tidak ada.


".......!"


"Aria, lari. Dia... tidak mungkin bisa kita kalahkan...!"


Berlawanan dengan sikapnya yang kuat, punggung ramping Alphiria yang melindungiku sedikit gemetar karena ketakutan akibat tekanan yang dipancarkan Heimdall.


"Kalau aku harus lari, kau juga ikut. Kalau kau mati, aku juga akan mati bersamamu."


Namun, dia sama sekali tidak menunjukkan ketakutannya dan menjawab dengan tegar.


"Lagi pula, kau lupa? Kau sendiri yang mengatakannya lebih dulu. Kalau mati, kita akan mati bersama."


Sambil berkata demikian, Alphiria berbalik dan memeluk tubuhku yang babak belur dengan lembut, tetapi penuh kekuatan.


Aroma bunga manis dan hangat tubuhnya yang nyata terasa begitu kontras dengan labirin bawah tanah yang dingin ini.


"Aku akan melindungimu kali ini. Kau istirahatlah di sini sebentar."


Pelukan itu segera dilepaskan. Alphiria kembali membelakangiku dan berdiri menghadapi Heimdall.


"──Ayo kita mulai."


Alphiria mengembangkan sihir tanpa mengeluarkan suara sedikit pun. Sebuah kobaran api mematikan yang pertama kali kulihat, yang bahkan mampu melenyapkan monster dari lantai-lantai awal hanya dengan satu serangan, tak peduli apakah monster itu bos sekalipun.


"Kembalikanlah semuanya menjadi abu──『Hellfire Fury』"


Nama sihir itu terucap dengan tenang. Badai api dahsyat yang cukup untuk memenuhi seluruh aula mengaum dan menerjang Heimdall. Namun Heimdall hanya menyunggingkan senyum sinis tipis.


"Percuma saja."


Sama seperti saat menghadapiku, ia mengayunkan pedang panjangnya secara horizontal dan meniadakan serangan tersebut. Namun Alphiria sama sekali tidak terguncang, seolah-olah ia sudah sepenuhnya memahami hal itu. Ia terus menghantamkan sihir demi sihir secara bertubi-tubi.


"Menyebalkan sekali...!"


Heimdall membentak seolah sedang mengusir serangga terbang yang mengganggu. Tepat ketika celah itu muncul, Alphiria seakan memang telah menunggunya, lalu mengembangkan enam lingkaran sihir raksasa.


Warnanya merah, biru, hijau, cokelat, putih, dan hitam. Dengan kata lain, ia secara bersamaan mengembangkan lingkaran sihir dari enam atribut dasar—api, air, angin, tanah, cahaya, dan kegelapan—kemudian memusatkan semuanya menjadi satu. Ini adalah sihir di luar batas kewajaran yang hanya mungkin dilakukan berkat bakat Alphiria terhadap seluruh atribut serta kendali mana yang sangat presisi.


"Wahai enam hukum, berkumpullah di tanganku dan tembuslah segala sesuatu──"


Keenam lingkaran sihir yang memiliki enam warna berbeda menyatu menjadi satu, lalu berubah menjadi pancaran cahaya pelangi yang sangat indah dan suci. Kemudian dilepaskanlah serangan pamungkas Alphiria. Nama sihir itu adalah—


"──Rainbow Meteor Radiance!"


Laser pelangi yang sangat tebal, cukup untuk menelan seluruh aula, ditembakkan dari lingkaran sihir menuju Heimdall. Karena cahayanya yang terlalu menyilaukan, tanpa sadar aku menyipitkan mata. Arus kehancuran yang begitu dahsyat hingga seluruh labirin bawah tanah bergetar menghantam sang dewa secara langsung, disertai suara gemuruh yang begitu keras hingga terasa seperti dapat memecahkan gendang telinga.


"...Berhasilkah kita?"


Tepat ketika aku bergumam demikian—


"Tak kusangka hari ketika aku kembali menerima sihir itu dengan tubuhku sendiri akan datang lagi."


Suara yang terdengar seperti mengenang masa lalu dengan penuh kerinduan terdengar dari dalam pilar cahaya pelangi. Di tengah gelombang cahaya tersebut, Heimdall menyeringai sambil mengangkat pedang panjangnya tinggi-tinggi di atas kepala, kemudian menebaskannya dengan seluruh kekuatannya.


"......!?"


Sihir Alphiria terbelah seperti kerajinan kaca, lalu pecahan-pecahan cahaya pelangi beterbangan dengan suara prang! dan menghiasi udara.


"Sekarang giliranku."


Heimdall melakukan serangan balik untuk pertama kalinya. Ia mempersempit jarak secepat teknik berpindah tempat, lalu mengayunkan pedang panjangnya ke samping dengan tujuan menebas leher ramping Alphiria.


"...Cih!"


Namun Alphiria tidak mundur selangkah pun. Ia dengan seketika menarik kembali sisa cahaya pelangi yang bertebaran di udara ke dalam tubuhnya sendiri, lalu mengenakannya kembali sebagai jubah berwarna-warni.


Klanggg!! Suara benturan logam yang dahsyat menggema di seluruh aula. Dengan tubuhnya yang diperkuat hingga batas maksimal menggunakan mana berwarna pelangi, Alphiria menahan tebasan secepat kilat milik Heimdall secara langsung menggunakan lengannya yang ramping dan pedang tongkatnya.


"Dasar... tenaga monster!"


Alphiria mengumpat sambil tersenyum pahit. Lantai batu di bawah kakinya tidak mampu menahan benturan tersebut dan hancur membentuk kawah.


"...Oh!"


Sambil tetap mengadu pedang, Heimdall mengeluarkan seruan kagum yang bercampur antara keterkejutan dan kegembiraan. Entah untuk keberapa kalinya hari ini ia menunjukkan rasa takjub.


"Kau menggunakan sisa cahaya dari sihirmu yang telah dihancurkan dan mengalihkannya seketika menjadi penguatan tubuh? Sungguh luar biasa kecerdikanmu, Alphiria Glastonbury!"


"Hah... hah...! Aku tidak boleh tumbang sebelum mengalahkanmu...!"


Sambil mengatupkan giginya, Alphiria berusaha mati-matian mendorong balik pedang tersebut. Yang membara dalam tatapannya adalah api tekad yang begitu kuat untuk melindungiku. Hanya itulah yang terus berkobar di sana.


"Meskipun masih merupakan kuncup yang begitu muda, kau telah menempa dirimu dengan baik. Akan kupuji dirimu."


"Apa kau kira aku akan berkata, 'Saya merasa terhormat mendapat pujian Anda'? Kalau mengatakannya dalam situasi seperti ini, kedengarannya hanya seperti sindiran."


"Meskipun kau adalah penjahat besar, sebagai penghormatan terhadap kuatnya tekadmu yang membara seperti api serta latihanmu yang tak pernah berhenti, aku akan mengerahkan sedikit keseriusanku."


Setelah mengatakannya dengan suara tenang, Heimdall melompat mundur dengan sendirinya. Setelah keheningan sesaat, pedang panjang yang digenggamnya berdenyut seperti memiliki kehidupan.


Naluri dalam diriku membunyikan alarm yang memekakkan telinga.


"Aria, lari───!"


"Lenyaplah."


Dari pedang panjang yang diayunkan ke atas, sebuah tebasan yang membawa kekuatan ilahi dilepaskan dan dengan kejam membelah tubuh Alphiria, bahkan bersama jubah pelanginya.


"...Eh?"


Darah segar berhamburan ke udara. Tubuh Alphiria yang telah kehilangan cahaya pelanginya kehilangan seluruh kekuatan seperti boneka yang talinya diputus, lalu jatuh telentang ke lantai batu yang dingin dengan suara bruk. Genangan merah perlahan menyebar.


"Kah... ghkk..."


"Kau telah bertarung dengan baik meskipun hanya seorang manusia, tetapi sampai di sinilah, Alphiria Glastonbury. Tebuslah dosamu dengan kematian."


Vonis mati itu disampaikan dengan suara penuh belas kasih. Pedang panjang perlahan diangkat.


"Ariaaaaaaa!!"


Pandanganku berubah menjadi merah seluruhnya. Aku mengabaikan rasa sakit seolah-olah seluruh tulang tubuhku berderit maupun penderitaan seakan paru-paruku akan hancur. Tanpa berpikir apa pun, aku berlari menuju tuanku yang tergeletak dalam genangan darah.


"Lihat aku! Heimdall!"


Sambil berteriak, aku tidak hanya mengorbankan sisa mana yang kumiliki, tetapi bahkan detak jantungku. Aku membakar hidupku sendiri untuk mengaktifkan sihir es.


"Wahai teratai merah, mekarlah dalam kebekuan───『Blossom of the Frozen Coffin』!!"


Udara dingin bersuhu nol mutlak yang dilepaskan dengan melahap kekuatan hidupku menyelimuti Heimdall dan mengurungnya dalam sebuah patung mawar es raksasa.


Namun, mawar es yang begitu tebal itu hancur berkeping-keping dengan mudah seperti kerajinan kaca hanya karena Heimdall sedikit menggerakkan tubuhnya.


"Gahak...!"


Itulah harga yang harus kubayar karena menarik keluar mana melampaui batas. Darah hitam pekat mengalir deras dari mulutku. Kekuatan yang muncul akibat kemarahan pun lenyap, dan aku roboh di tempat.


"Shinya...!"


Alphiria memaksakan suaranya keluar dari tenggorokan, kemudian bangkit dan mendatangiku sambil mengotori lantai batu dengan darah segarnya. Ia memelukku erat.


Tidak ada lagi yang bisa dilakukan. Manaku benar-benar telah habis, dan sihir apa pun tidak mampu memberikan sedikit pun luka kepada dewa itu. Semua cara untuk melawan telah habis.


"Maaf, Aria..."


Aku menyandarkan kepala di bahunya yang ramping dan mengucapkan kata-kata permintaan maaf dengan lemas. Seandainya aku lebih kuat. Seandainya aku tidak mengambil mananya darinya, semua ini tidak akan terjadi.


"...Kalau kita seperti ini, aku jadi teringat hari ketika aku memberikan yang pertama kepadamu."


Sambil memelukku erat, Alphiria berbisik dengan suara lembut dan tenang yang terasa begitu tidak pada tempatnya, seolah-olah kematian sama sekali tidak sedang menanti di depan mata. Padahal baru terjadi beberapa waktu lalu, tetapi entah mengapa terasa seperti peristiwa dari masa lalu yang sangat jauh.


"Sama seperti saat itu, ya..."


"Benar..."


Meskipun ada perbedaan besar dalam tingkatan musuh yang kami hadapi, situasi putus asa ini, ketika kami telah mengerahkan segala yang kami miliki, hampir sama persis dengan ketika kami melawan varian Goblin Lord.


"Hei, Shinya. Untuk terakhir kalinya... maukah kau menciumnya sekali lagi?"


Ketika mengangkat wajah, tatapanku bertemu dengan Alphiria yang menatapku dengan mata yang panas dan basah. Dunia seolah diselimuti keheningan. 


Aku tidak merasakan tanda-tanda Heimdall mengayunkan pedangnya dengan tenang, bahkan tidak merasakan ketakutan akan kematian yang



semakin mendekat. Di dasar jurang gelap yang suram ini, otakku justru dipenuhi embusan napas manis dan aroma mawar yang harum, sesuatu yang sama sekali tidak cocok dengan tempat ini.


"...Ya."


Mungkin karena ingin memberikan belas kasihan terakhir kepada kami, Heimdall menghentikan gerakannya. Ternyata dewa ini memiliki sisi yang cukup manusiawi. Sambil menikmati sisa waktu yang sangat singkat, kami saling mendekatkan tubuh.


"Aku akan menyerahkan seluruh diriku kepadamu. Jadi, tetaplah di sisiku... sampai kita mati bersama."


"Sesuai perintahmu, Tuanku."


Kami perlahan mendekatkan wajah, lalu menyatukan bibir kami.


Sesaat kemudian, jantungku berdegup kencang.


Panas luar biasa yang belum pernah kurasakan sebelumnya mengalir ke seluruh tubuhku seperti meteor. Berbeda sepenuhnya dari pembentukan kekuatan sihir yang selama ini kukenal, sebuah ledakan supernova seolah terjadi di dalam tubuhku, seakan-akan sebuah bintang baru saja lahir.


Percikan api tujuh warna meledak di dalam otakku.


Itulah kekuatan yang pernah dimiliki oleh penyihir agung pertama sekaligus terakhir—Albion Aurora—yang pada zaman dahulu kala, di masa yang begitu jauh, mendefinisikan hukum-hukum sihir di dunia ini, meletakkan fondasinya, menuliskannya, dan mewariskannya kepada generasi-generasi berikutnya.


Kesadaranku kembali. Saat bibir kami terpisah, dunia telah berubah. Tidak, mungkin sebenarnya akulah yang berubah.


Tekanan kekuatan ilahi yang kurasakan dari Heimdall, yang sebelumnya terasa seperti air terjun, kini hanya terasa seperti hembusan angin sepoi-sepoi.


"S-Shinya... Kekuatan sihirmu...?"


Alphiria yang berada dalam pelukanku membelalakkan matanya lebar-lebar karena terkejut. Sambil tersenyum kepadanya, aku mengecup keningnya sebelum perlahan melepaskan tubuhnya.


Kekuatan sihir tujuh warna yang menjulang mengalir ke seluruh tubuhku, lalu mengalir pula ke tubuh Alphiria. Dalam sekejap, tubuh kami yang sebelumnya babak belur pulih sepenuhnya.


"Aku akan segera menyelesaikannya. Aria, tunggulah di sini."


"...Iya. Aku mengerti. Hati-hati, Shinya."


Setelah tersenyum kepada Alphiria yang mengangguk kecil, aku membelakanginya dan berdiri sambil mengambil pedang-tongkatku.


Begitu menyentuh kekuatan sihir tujuh warna, pedang-tongkat putih keperakan itu memancarkan cahaya menyilaukan dan berubah bentuk.


Bilah putih murni yang indah, dihiasi tepian berwarna bintang. Bilah dan gagangnya disatukan oleh lengkungan lembut yang membentuk lingkaran emas. Di bagian tengahnya tertanam permata biru langit yang seolah-olah merupakan potongan dari angkasa.


Seharusnya ini adalah pertama kalinya aku melihatnya. Namun entah mengapa, aku mengetahui nama benda ini.


Namanya adalah 【Pedang-Tongkat Bintang, Sephiroth】.


Pedang-tongkat pertama di dunia, yang dipercayakan kepada penyihir Albion Aurora oleh para peri.


"Kekuatan itu, cahaya itu..."


Seolah-olah pernah bertarung melawan seseorang yang memiliki kekuatan ini, wajah Heimdall menunjukkan keterkejutan sekaligus kesedihan.


"Maaf sudah membuatmu menunggu, Dewa. Mari kita selesaikan ini."


"...Fufu. Baiklah."


Ekspresi manusiawi menghilang dari wajah Heimdall. Sebagai gantinya, muncullah sosoknya sebagai Dewa Perang yang dahulu pernah berdiri di puncak dunia.


"Jika lawanku adalah cahaya aurora itu, maka aku pun akan mengerahkan seluruh kekuatanku untuk mengalahkan kalian."


Heimdall mengambil posisi dengan pedang panjangnya terangkat secara diagonal.


Kekuatan ilahi yang sangat besar terkumpul di sepanjang bilah pedangnya, memancarkan cahaya menyilaukan yang bahkan membuat seluruh ruangan berubah menjadi putih terang.


Itulah cahaya keputusasaan yang telah meruntuhkan ruangan bos lantai keempat dan menjatuhkanku ke jurang neraka ini.


"Lenyaplah di hadapan keagunganku, wahai anak dari dunia lain."


Tebasan cahaya fajar yang mewarnai dunia menjadi putih murni datang menerjang sebagai arus kehancuran yang mengubah segala sesuatu menjadi kehampaan.


Itu adalah bilah keputusasaan yang hendak membelah ruang itu sendiri, termasuk Alphiria yang berdiri di belakangku. Namun sekarang, aku sama sekali tidak merasa takut.


Dengan tenang, aku mengangkat Pedang-Tongkat Bintang Sephiroth dan menggambar lingkaran sihir di udara menggunakan tangan kiriku.


Yang kubayangkan adalah bintang-bintang tak berujung.


Yang kuharapkan terwujud adalah keheningan abadi.


Itulah sihir bintang yang telah hilang sejak zaman dahulu, sihir khusus yang hanya diizinkan untuk digunakan oleh sang penyihir tersebut.


"Bulan malam. Doa sang pendeta wanita. Pedang langit dan perisai bumi. Terbukanya dunia ideal───"


Tebasan cahaya fajar menghantam langsung lingkaran sihir yang telah kubentangkan, membuat seluruh labirin bawah tanah menjerit.


Dalam waktu yang terkondensasi sedemikian rupa sehingga jiwaku akan menguap hanya sesaat kemudian, aku melantunkan mantra sambil memasukkan kekuatan sihir ke dalam lingkaran sihir.


Warnanya bukan merah, juga bukan biru. Melainkan warna emas yang berkilauan seperti bintang-bintang yang mengambang di langit malam.


"『Utopia of the Starfall Night』!!"


Bersamaan dengan teriakan penuh semangat, aku mengayunkan Pedang-Tongkat Bintang Sephiroth lurus ke bawah.


Bilah berwarna bintang yang kulepaskan membelah arus cahaya fajar seolah-olah membelah lautan.


Tanpa berhenti di sana, bilah itu menghancurkan pedang panjang Heimdall dan menebas tubuh sucinya hingga dalam.


Dari jejak ayunan Pedang-Tongkat Bintang itu, tak terhitung banyaknya meteor berjatuhan, seolah-olah sedang menyingkirkan awan gelap bernama keputusasaan yang menyelimuti dasar jurang.


Bagi kami, itu adalah cahaya anugerah fantastis yang membawa harapan.


"... Indahnya."


Alphiria berbisik pelan.


Sambil membiarkan tubuhnya dibasahi oleh hujan cahaya berwarna bintang tersebut, Heimdall perlahan menurunkan bilah pedangnya yang telah patah. Di wajahnya terukir senyum tenang dan penuh kebanggaan sebagai seorang dewa.


"...Luar biasa."


Hanya satu kalimat. Setelah meninggalkan kata-kata itu, sang dewa berubah menjadi pasir hisap berwarna bintang, lalu perlahan larut ke dalam kegelapan dan menghilang.


Keheningan menyelimuti aula.


Setelah menyelesaikan tugasnya, Pedang-Tongkat Bintang Sephiroth kembali menjadi pedang-tongkat putih keperakan seperti semula.


Sambil memasukkannya ke dalam sarung, aku perlahan berbalik dan tersenyum kepada tuanku tercinta yang masih berdiri terpaku dalam kebingungan.


"...Sudah selesai, Aria."


Begitu aku mengucapkan kata-kata itu, kekuatan sihir dari tubuhku menghilang sekaligus, dan rasa lelah yang luar biasa segera menyerangku.


Pandangan di depanku perlahan berubah menjadi hitam, dan kurasakan tubuhku perlahan miring.


"Shinya...!"


Aroma mawar yang sudah kukenal dengan baik terbawa angin dan tercium olehku.


Sambil diselimuti kasih sayang yang lembut dan hangat, kesadaranku perlahan melebur ke dalam kedamaian yang mendalam.


Previous Chapter | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close