NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Ochibure Tensai Reijou no Gohoushi de Bonjin no Ore wa Saikyou ni Naru V1 Interlude 2

 Penerjemah: Kaori Translation

Proffreader: Kaori Translation


Interlude 2

Familiar yang Baik Hati

"Uu... uuuh...! Kenapa aku bisa melakukan hal sememalukan itu...!"


Di lantai paling atas asrama putri Akademi Sihir Aurora, di dalam kamar tidur yang hanya diterangi cahaya bulan, aku—Alphiria Glastonbury—membenamkan wajahku sekuat tenaga ke dalam selimut bulu angsa terbaik, sambil menggerak-gerakkan kedua kakiku tanpa henti dan mengeluarkan jeritan tanpa suara.


Padahal aku sudah mandi dengan air dingin untuk meredakan panas di tubuhku sebelum masuk ke tempat tidur, tetapi rasa kantuk sama sekali tidak datang. Justru setiap kali memejamkan mata, kenangan hari ini yang begitu padat dan memalukan muncul kembali dengan begitu jelas, membuat tubuhku kembali memanas.


Duel antara Talon Muramore dan Shinya yang terjadi di luar dugaan.


Demi tugas menghasilkan kekuatan sihir, aku membawanya ke ruang tunggu. Aku sendiri yang melepaskan blusku, memeluknya hanya dengan pakaian dalam, lalu kami saling berciuman begitu lama.


"Sampai di situ sebenarnya masih tidak apa-apa... Masalahnya dimulai saat kami hampir ketahuan oleh Cyril dan bersembunyi di dalam loker yang sempit...!"


Dalam situasi menegangkan yang bisa menghancurkan segalanya hanya karena satu kesalahan, agar suaraku tidak keluar, aku malah memasukkan jarinya ke dalam mulutku dan mengisapnya tanpa sadar.


"Di... di dalam loker... aku... melakukan hal seperti itu pada jari Shinya...!"


Dan bukan hanya itu. Aku bahkan melepaskan kait pakaian dalamku sendiri, lalu membimbing tangannya ke dadaku yang telah terbuka.


Sensasi hangat dari telapak tangannya, dan perasaan yang menjalar ke seluruh tubuh saat ia menyentuhku, bahkan hanya dengan mengingatnya saja sudah membuat kepalaku kacau.


"Aah... hnng... haa..."


Saat mengingat wajahnya yang kebingungan namun tetap berusaha menahan diri, bagian dalam tubuhku terasa berdenyut pelan, dan tanpa sadar napas lembap keluar dari bibirku.


Namun, yang membuatku paling gelisah justru kenangan beberapa jam lalu di kamar mandi.


"Aku juga benar-benar aneh saat di kamar mandi... Kenapa aku melakukan hal seperti wanita yang sedang dimabuk cinta begitu...!"


Alasannya memang untuk menghibur Shinya yang lelah setelah bertarung. Tetapi itu hanyalah dalih.


Karena hasutan para pelayan, aku mengenakan pakaian renang hitam yang sangat tipis, lalu demi menghapus aroma Cyril yang masih menempel pada dirinya, aku berusaha menutupi aroma itu dengan aromaku sendiri.


Setiap kali tubuh kami bergerak, sensasi yang terasa melalui kain tipis itu kembali teringat.


—"Lenganmu kuat sekali, Shinya... Rasanya hangat sekali..."


—"Lengan yang ini juga tegang sekali... Aku harus mengendurkannya dengan baik..."


Kalimat-kalimat yang begitu memalukan.


Karena cemburu mengetahui tubuh Shinya masih menyimpan aroma wanita lain, aku mati-matian berusaha menggantinya dengan aromaku sendiri.


Sungguh, rasa ingin memilikinya itu sudah kelewat berlebihan.


Bahkan pada akhirnya aku sampai duduk di atas pahanya, terus berusaha "membersihkan" lengannya, sementara tanpa kusadari aku sendiri mulai menikmati semua itu.


Kalau saja Shinya tidak menyiramku dengan shower saat itu, aku yakin kami pasti sudah melangkah terlalu jauh.


"Uuu... Malunya sampai rasanya ingin mati...!"


Sebagai pewaris keluarga bangsawan Glastonbury, aku seharusnya selalu menjaga harga diriku.


Namun hanya karena seorang anak laki-laki yang menjadi familiar-ku, aku bisa kehilangan kendali sampai sejauh itu.


Aku memegang kedua pipiku yang masih panas dengan kedua tangan, mengembuskan napas panjang, lalu berbaring menatap langit-langit kamar.


Deg! Jantungku kembali berdetak keras.


Sihir pemanggilan dari dunia lain adalah sihir terlarang. Sebagai akibatnya, sebagian besar kekuatan sihir yang selama ini kubanggakan telah hilang.


Gelar "jenius" yang selama ini kusandang kini hanyalah bayangan kosong. Namun...


"Shinya..."


Hanya dengan menyebut namanya, kehangatan perlahan menyebar dari dalam tubuhku.


Setiap kali kami bersentuhan, saling merasakan kehadiran satu sama lain, atau saat bibir kami bertemu, kekuatan sihir yang hangat dan menenangkan selalu mengalir darinya kepadaku.


Saat pertarungan hidup dan mati melawan Goblin Lord yang bermutasi. 


Saat aku gemetar ketakutan. Ia memelukku. Dan melalui ciuman itu, kekuatan sihir yang mengalir darinya jauh melebihi apa yang telah hilang dariku.


Yang terpenting kekuatan itu begitu hangat. Selama aku memiliki kehangatan yang ia berikan, rasanya aku tidak akan kalah dari siapa pun.


Dibandingkan masa laluku yang hidup sendirian sebagai seorang jenius yang tak tersentuh, kehidupanku sekarang, saat terhubung dengannya, terasa jauh lebih memuaskan. Selama Shinya berada di sisiku, aku merasa bisa menjadi yang terkuat.


Aku perlahan turun dari tempat tidur, membuka pintu tanpa suara, lalu menuju kamar tempat Shinya tidur.


Di atas tempat tidurnya yang diterangi cahaya bulan, Shinya tertidur dengan wajah yang begitu damai.


"............"


Saat menatap wajah tidurnya yang polos dan menggemaskan, dadaku yang tadi dipenuhi kehangatan justru terasa sesak.


Dia hanyalah anak laki-laki biasa. Lembut. Baik hati. Dan ketika diperlukan, sangat pemberani.


Di dunia damai bernama Jepang, dunia tanpa monster maupun dungeon, seharusnya ia bisa tertawa bersama teman-temannya, jatuh cinta, dan menjalani masa depan yang biasa namun bahagia.


Orang yang merenggut semua itu tidak lain adalah aku sendiri.


Saat Goblin Lord yang bermutasi mengayunkan gada mautnya. Pada detik yang benar-benar putus asa itu. Tanpa memiliki sedikit pun kekuatan sihir dan hanya dengan tangan kosong, ia melompat ke depan untuk melindungiku.


—"Mana mungkin ada familiar yang meninggalkan tuannya untuk kabur? Kalau harus mati... aku juga akan mati bersamamu."




Senyumnya yang berusaha menenangkanku kembali terbayang di benakku, membuat pandanganku mulai kabur.


Setiap kali ia bersikap baik kepadaku. Setiap kali ia terluka demi melindungiku. Setiap kali ia memberiku kehangatan yang membuatku luluh. Aku semakin menyadari betapa besar dosa yang telah kulakukan.


"...Maaf ya, Shinya. Maafkan aku... sungguh."


Dengan lembut aku mengibaskan rambut yang menutupi dahinya menggunakan ujung jariku, sambil mati-matian menahan air mata yang hampir jatuh.


Aku tidak boleh lagi membiarkannya berada dalam bahaya. Aku sama sekali tidak boleh membiarkan dia kehilangan nyawanya demi melindungiku.


"Aku pasti akan mengembalikanmu ke duniamu. Jadi... temani aku sedikit lagi..."


Aku menelan sisa kalimat itu, lalu mengangkat wajahku.


Apa pun yang telah kuambil darinya akan kukembalikan, meskipun harus membayar harga yang sangat mahal.


Itulah setidaknya penebusan yang bisa kulakukan.


"Kalau Kepala Akademi Orthea... pasti beliau mengetahui sesuatu."


Memang Kepala Akademi pernah mengatakan bahwa tidak ada cara untuk mengembalikannya. Namun mustahil seseorang seperti Orthea Welt benar-benar tidak mengetahui apa pun.


Apa pun harga yang harus kubayar, aku akan memaksanya untuk memberitahuku.


"Hari ini kamu sudah bekerja keras. Tidurlah yang nyenyak... familiar kesayanganku."


Aku perlahan membungkukkan badan. Lalu mengecup lembut dahinya, mencurahkan penyesalan, tekad, dan kasih sayangku ke dalam ciuman itu.


Besok aku akan menemui Kepala Akademi. Demi mengembalikan kebebasan Shinya.


*****


Kantor kepala sekolah Akademi Sihir Aurora dipenuhi aroma kayu mahoni dan wangi dupa manis. Aku sudah beberapa kali masuk ke ruangan ini, tetapi setiap kali datang, aku tetap tidak bisa terbiasa dengan suasananya yang khas.


"Cara mengembalikan Shinya ke dunia asalnya, ya..."


Sehari setelah duel antara Shinya dan Talon, pagi-pagi sekali aku langsung mendatangi kantor Kepala Akademi. Tentu saja tujuanku adalah mencari tahu bagaimana cara mengembalikan Shinya—pelayan, pengawal, sekaligus familiar-ku—ke dunia asalnya.


"Bukankah aku sudah mengatakannya sejak awal? Tidak ada sihir yang dapat mengembalikan seseorang yang dipanggil melalui pemanggilan dari dunia lain ke dunia asalnya. Sebagai nona muda keluarga Glastonbury, mustahil kau sudah melupakannya, bukan?"


Seolah hendak menghancurkan harapan kecilku tanpa ampun, Kepala Akademi Orthea berkata dengan dingin sambil tetap menatap buku sihir kuno yang terbuka di tangannya dan dengan anggun menyilangkan kembali kakinya.


Legenda yang masih hidup. Satu-satunya murid Albion Aurora, sang pendiri sihir, sekaligus penyihir tertua dan terkuat di dunia, telah memberikan jawaban yang tegas. Dalam keadaan normal, aku seharusnya menyerah dan mundur. Namun sayangnya, aku datang ke sini dengan tekad yang sudah bulat.


"Benarkah tidak ada cara untuk mengembalikannya? Sihir terlarang yang mempertaruhkan nyawa atau apa pun tidak masalah. Kalau Anda mengetahui sesuatu, tolong beri tahu aku. Aku mohon, Kepala Akademi Orthea!"


Sambil berbicara seolah-olah sedang memuntahkan darah, aku menundukkan kepala. Aku sadar bahwa ini benar-benar egois, mengingat semua ini adalah akibat dari tindakan gegabah dan sombongku sendiri. Namun, satu-satunya orang yang bisa kujadikan tempat bergantung hanyalah orang ini.


"Ada apa, Alphiria? Wajahmu terlihat begitu muram. Perubahan sikapmu begitu drastis sampai-sampai sulit dipercaya bahwa kaulah yang memprovokasi duel itu."


"...Aku hanya benar-benar menyadarinya. Bahwa aku tidak boleh terus seperti ini."


"Oh?"


"Seberapa besar bahaya yang sudah kutimpakan kepadanya hanya demi harga diriku... Bahkan kemarin, aku tidak tahu apa yang akan terjadi jika dia tidak mampu menahan sihir Talon. Dia pasti memiliki kehidupan yang damai dan aman yang seharusnya dia jalani sendiri. Tidak seharusnya orang sepertiku merampasnya."


Sambil menahan rasa sakit di dada yang terasa seperti diremas, aku menggenggam erat ujung rok dan mencurahkan isi hatiku seolah sedang melakukan pengakuan dosa.


Mendengar perasaanku yang sungguh-sungguh itu, Kepala Akademi menutup buku sihirnya dengan bunyi pat, lalu mengeluarkan senyum yang dipenuhi kegembiraan yang terasa sangat tidak pada tempatnya.


"Kukuku... Begitu rupanya. Karena kau datang menerobos masuk sejak pagi dengan wajah yang begitu muram, aku sempat mengira kau bertengkar dengan Shinya."


"Kenapa bisa sampai berpikir begitu? Bertengkar dengan Shinya..."


Bukan berarti kami tidak pernah bertengkar, tetapi itu masalah yang berbeda.


"Benarkah? Kalau seorang pria dan wanita seusia kalian tinggal di bawah satu atap, bukankah satu atau dua kerumitan hubungan asmara bukan sesuatu yang aneh?"


"Ti-ti-tidak ada yang seperti itu! Hubunganku dengan Shinya sangat baik! Bahkan, saking baiknya sampai-sampai terasa menakutkan!"


Aku spontan meninggikan suara untuk membantah. Namun, ketika teringat bahwa hubungan kami yang sangat baik justru membuat kontak fisik kami di ruang loker dan kamar mandi menjadi semakin intens, wajahku otomatis terasa panas.


"Hehe. Tentu saja. Sebelum duel, sepertinya kalian cukup mesra di ruang tunggu—bukan, maksudku melakukan ‘pembentukan kekuatan sihir’. Kalau boleh tahu sebagai referensi, apa yang kalian lakukan?"


"Me-mesra apanya! Ka-kami cuma berpelukan sedikit, tidak melakukan apa-apa lagi...!"


Aku tidak mungkin mengatakan bahwa aku menjilati jarinya, melepaskan pakaian dalamku sendiri, lalu membiarkannya meremas dadaku. Bahkan sampai mulutku terbelah pun aku tidak akan sanggup mengatakannya. Aku menggelengkan kepala berulang kali, berusaha mati-matian menyembunyikan semuanya.


"Benarkah? Kalau ternyata kau berbohong, jangan salahkan aku, ya? Aku bisa saja membawa familiar-mu yang manis itu pergi untuk mengikuti pelajaran khusus malam hari bersamaku."


"──! Sama sekali tidak boleh! Sungguh, benar! Kami benar-benar hanya berpelukan!"


Aku memprotes dengan sekuat tenaga Kepala Akademi yang menyipitkan mata dan mengancamku dengan nada menggoda yang berlarut-larut. Harga diriku sebagai anak ajaib dari keluarga ternama benar-benar hancur berantakan, tetapi aku tidak mungkin menyerahkan Shinya kepada predator berbahaya ini.


"Kukuku... Baiklah. Melihat wajahmu yang sudah semerah gurita rebus itu, jawabannya sudah tersampaikan dengan sangat jelas. ...Sekarang, mari kembali ke pokok pembicaraan."


Seketika itu juga, senyum jahil menghilang dari wajah Kepala Akademi. Tekanan yang menegang menusuk kulitku, seolah-olah suhu ruangan tiba-tiba turun drastis.


"Untuk masalah kepulangannya, memang mustahil mengirimnya kembali ke dunia asalnya menggunakan sihir, tetapi bukan berarti tidak ada cara sama sekali. Jika kontraknya dibatalkan, maka menurut hukum dunia ini, familiar akan kembali ke dunia asalnya pada saat itu juga. Entah dia roh atau orang dari dunia lain, kemungkinan besar aturan itu tetap berlaku."


"Kalau semudah itu, kenapa Anda tidak memberitahuku sejak awal?!"


"Karena hal itu juga tidak mungkin dilakukan dengan sihir. Mantra atau jenis sihir apa pun yang diciptakan manusia tidak mampu mengubah ikatan mutlak antara tuan dan pelayan yang terbentuk dengan melampaui batas antar-dunia."


"...Kalau begitu kita kembali ke titik awal lagi, dong!"


Ketika aku hampir putus asa, Kepala Akademi melanjutkan perkataannya dengan tenang.


"Tenanglah. Kalau dengan sihir memang mustahil, lain ceritanya jika menggunakan Relik. Aku sendiri belum pernah melihat benda aslinya, tetapi aku pernah mendengar bahwa di antara relik yang diciptakan oleh para dewa pada zaman para dewa, ada benda yang mampu memaksa membatalkan segala macam kontrak dan belenggu. Jika menggunakan benda itu..."


"Kontrakku dengan Shinya bisa dibatalkan...! Kalau kontraknya dibatalkan, kita bisa mengembalikannya ke dunia asalnya. Begitu maksud Anda, kan?!"


Aku berteriak sambil mendekati meja kerja Kepala Akademi. Rasanya seperti melihat cahaya harapan merangkak naik dari dasar lumpur. Bagian dalam dadaku bergetar hebat, dipenuhi kegembiraan sekaligus rasa sakit menyayat karena mengetahui bahwa aku akan kehilangan dirinya.


"Itu baru sebatas kemungkinan. Namun, mencari Relik bukanlah perkara mudah."


Dengan tatapan dingin dan tenang, Kepala Akademi mendinginkan kegembiraanku.


"Relik memang sesekali ditemukan, tetapi kalau yang kau cari adalah benda yang memiliki kekuatan untuk membatalkan kontrak yang melintasi dunia, setidaknya kau harus memasuki wilayah setelah lantai kesepuluh Labirin Bawah Tanah Aurora. Itu berarti kau harus menginjakkan kaki ke dunia kematian yang dipenuhi monster-monster yang begitu mengerikan sampai-sampai varian Goblin Lord akan terlihat seperti hewan peliharaan yang lucu."


Begitu mengucapkan hal itu, Kepala Akademi berdiri dari kursinya dan mencengkeram kerah bajuku dengan kuat. Kemudian, sambil menusukku dengan tatapan penuh niat membunuh, ia mengajukan pertanyaan.


"Apakah kau punya tekad untuk mempertaruhkan nyawa dan hidupmu demi seorang pria, Alphiria Glastonbury?"


Tekanan dari penyihir terkuat itu terasa begitu berat menindihku. Mempertaruhkan nyawa dan kehidupan. 


Mengucapkannya memang mudah, tetapi kenyataannya sama sekali tidak sesederhana itu. Menantang bagian terdalam dari dungeon yang hingga kini belum pernah ditaklukkan berarti menginjakkan kaki ke tempat kematian. Jika gagal, aku akan kembali ke tanah yang dingin tanpa pernah mewujudkan impianku. Meski begitu, tekadku tidak tergoyahkan.


"──Ada. Itulah setidaknya bentuk penebusan yang bisa kulakukan."


Mendengar jawabanku yang tanpa keraguan, Kepala Akademi sedikit membelalakkan matanya karena terkejut. Setelah itu, ia menarik kembali aura membunuhnya dan tersenyum lembut. Ia melepaskan tangannya dari kerahku, lalu kembali duduk di kursinya.


"Bagus. Begitulah seharusnya ‘Penyihir Api Pelangi’, Alphiria Glastonbury. Sebenarnya aku ingin memujimu seperti itu. Namun, bukankah kau melupakan sesuatu yang penting?"


"...Hah?"


"Untuk mengembalikan Shinya ke dunia asalnya, kau harus mendapatkan Relik. Namun, untuk melakukan itu, ada satu hal yang mutlak diperlukan—kekuatan Shinya sendiri."


Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close