Penerjemah: Kaori Translation
Proffreader: Kaori Translation
Epilogue
Silau. Ketika perlahan membuka mata untuk menghindari cahaya hangat yang seolah membakar putih bagian belakang kelopak mataku, langit-langit putih bersih yang tidak kukenal langsung masuk ke dalam pandangan.
Aroma obat yang samar, bercampur dengan aroma bunga yang pekat dan manis seperti madu yang direbus hingga mengental, menggelitik hidungku.
"───Akhirnya kau bangun juga."
Bersamaan dengan suara buku tebal yang ditutup, terdengar suara yang bertentangan dengan perkataannya, seolah menyimpan sedikit rasa lega.
Saat kugerakkan pandangan beratku untuk mencari sumber suara itu, aku melihat seorang wanita cantik berusia matang yang duduk di kursi pipa sederhana yang tampak tidak cocok di samping tempat tidur, sambil tersenyum.
Dialah kepala Akademi Sihir Aurora sekaligus penyihir terkuat di zaman ini, Orthea Welt.
"Rupanya ada familiar pemalas yang suka tidur. Aku sampai mengira hari ini aku bisa menyelesaikan satu buku lagi."
"M-maaf……"
Ketika mencoba bangun, rasa sakit luar biasa seperti seluruh tubuhku—terutama jantungku—berderit hebat. Tanpa sadar aku mencengkeram seprai dan meringkuk. Dari inti tulang hingga serat ototku semuanya menjerit kesakitan. Bahkan bernapas dengan normal pun sulit.
"Jangan memaksakan diri, Shinya. Jangan pedulikan aku, kau boleh tetap berbaring, tahu?"
"Ti-tidak…… aku baik-baik saja. Aku tidur selama berapa lama?"
Sambil menjawab dengan pura-pura kuat kepada Kepala Akademi Orthea yang menopang bahuku, aku menarik napas dalam-dalam dua atau tiga kali. Oksigen mulai memenuhi kepalaku yang masih mengantuk, dan kesadaranku yang tadinya samar perlahan terbangun dengan cepat.
"Kurang lebih tiga hari penuh. Sepertinya itu akibat dari efek samping karena bukan hanya kekuatan sihirmu, tetapi bahkan kekuatan hidupmu terkuras habis. Bisa tetap hidup saja sudah merupakan keajaiban."
"Selama itu aku tidur…… Tunggu, benar juga! Bagaimana dengan Heimdall……!? Apakah Aria dan Cyril baik-baik saja!?"
"Haaah…… Tenanglah, bodoh. Jangan lupa bahwa kau baru saja pulih dari sakit."
Dahi kepalaku dijentik dengan jarinya.
"Aduh……"
"Keduanya baik-baik saja. Oh, dan kalau kau bertemu Cyril, jangan lupa berterima kasih kepadanya. Karena anak itu datang kepadaku untuk memberitahukan tentang kejadian abnormal yang terjadi di dungeon, aku bisa pergi untuk menjemputmu dan Alphiria."
"Syukurlah…… Aria dan Cyril juga baik-baik saja. Sungguh…… syukurlah……"
Tenagaku seketika lemas dari seluruh tubuh dan aku kembali tenggelam ke tempat tidur. Kepala Akademi Orthea kemudian menepuk kepalaku dan dengan lembut mengelus rambutku seperti menyisirnya.
"Kau sudah berusaha keras, Shinya."
"......Terima kasih, Kepala Akademi."
"Fufufu. Murid yang sudah berusaha keras tentu harus diberi hadiah."
Begitu mengatakan itu, tangan Kepala Akademi Orthea yang tadinya mengelus kepalaku perlahan meluncur turun melewati leher dan menyusup ke dalam kerah piyamaku.
"T-tunggu, Kepala Akademi……!?"
"Aku akan melakukan apa pun yang ingin kau lakukan, tahu? Haruskah aku memasakkan makanan untukmu? Atau seperti sebelumnya, aku bisa membiarkanmu berbaring di pangkuanku sambil menyanyikan lagu pengantar tidur. Atau, sebagai anak laki-laki sehat, mungkin kau akan lebih senang dengan hadiah yang lebih langsung?"
"Se-sebenarnya, tidak perlu ada hadiah segala……."
"Kau tidak perlu sungkan ataupun menahan diri. Atau, apakah aku tidak cukup menarik sampai-sampai kau tidak bisa bergairah?"
Sambil tersenyum menggoda, Kepala Akademi menggerakkan jarinya menyusuri dada dan perutku. Aroma madu yang pekat dari jarak sedekat itu, ditambah pesona anggun khas wanita dewasa, benar-benar membuatku kewalahan. Aku pun tak tahan lagi dan buru-buru mengalihkan pandangan.
"……Lihat aku, Shinya."
Kepala Akademi Orthea berbisik dengan suara manis yang terdengar sedikit merajuk, tetapi sekaligus benar-benar menikmati reaksiku karena menghindari tatapannya.
Aku tidak mampu melawan dan dengan takut-takut mengembalikan pandanganku. Saat itu, Kepala Akademi Orthea telah meletakkan tangannya pada kancing di bagian dadanya.
"……Ah."
Di depan mataku, Kepala Akademi membuka pakaiannya. Dari celah kecil itu, belahan dadanya yang berisi dan kulit putih bersihnya terlihat jelas tanpa ampun.
"Ayo, tidak perlu sungkan. Kau boleh bermanja-manja denganku sepuasnya───"
Sambil membisikkan kata-kata itu seolah sedang bernyanyi, wajah Kepala Akademi Orthea semakin mendekat hingga jarak hidung kami hampir bersentuhan.
Tepat pada saat itulah—pintu kamar rumah sakit terbuka dengan suara keras.
"……Eh?"
"……Ah."
"Oh……"
Tiga reaksi bodoh yang berbeda.
Waktu seakan berhenti, dan keheningan canggung memenuhi ruangan.
Orang yang paling cepat sadar dari situasi itu adalah sosok yang baru saja datang ke ruangan—Alphiria.
"A-a-a, apa yang sedang Anda lakukan, Kepala Akademi!?!? Kenapa Anda menindih Shinya!?"
Dengan wajah memerah sambil berteriak, dia maju dengan ganas ke sisi tempat tidur, memegang keranjang berisi buah-buahan untuk menjengukku seperti senjata.
"Kenapa? Bukankah sudah jelas? Shinya baru saja bangun, jadi aku sedang memeriksa apakah ada sesuatu yang tidak beres dengan tubuhnya."
"Sekalipun begitu, jaraknya terlalu dekat! Sekarang juga, secepat mungkin, menjauhlah dari Shinya!"
Kedua wanita itu saling berhadapan seolah percikan api beterbangan di antara mereka.
Entah hanya perasaanku saja, tetapi aku merasa situasi sekarang jauh lebih mengancam nyawaku dibandingkan ketika bertarung melawan Heimdall.
"Aku juga dokter yang bertanggung jawab atas perawatannya, sih…… tapi baiklah. Aku akan mengalah demi tuan yang baik hati yang setiap hari menemaninya dari pagi hingga malam dan menunggu sampai dia sadar."
"B-b-bagaimana Anda bisa tahu soal itu───!?"
Melihat Alphiria yang jelas-jelas panik, Kepala Akademi Orthea terkekeh pelan. Dia menjauhkan wajahnya dariku dan berjalan menuju pintu.
"Kalau begitu, aku permisi. Jangan sampai melakukan sesuatu yang kelewatan, Alphiria. Shinya baru saja pulih, ingat itu."
"B-baiklah!? Anda menganggap saya ini apa!?"
Alphiria menyangkal dengan suara melengking.
Sambil tertawa terbahak-bahak seperti seorang penjahat wanita bangsawan, Kepala Akademi Orthea meninggalkan ruangan.
Badai telah berlalu, dan keheningan kembali datang.
Lalu, apa yang harus kulakukan?
Aku tidak tahu harus mengatakan apa dalam situasi seperti ini.
"……Semuanya bohong."
Alphiria duduk di kursi yang beberapa saat lalu ditempati Kepala Akademi Orthea dan bergumam pelan.
Wajahnya bahkan sampai telinganya memerah. Aku pura-pura tidak menyadarinya dan bertanya dengan hati-hati.
"B-bohong…… tentang apa?"
"Hmmph……! Tentang aku yang terus menemanimu sejak kau kehilangan kesadaran! Aku bukan orang yang tidak punya kesibukan sebanyak itu, jadi jangan salah paham!"
Alphiria mengalihkan wajahnya ke arah lain sambil berbicara dengan ketus.
Sikap tsundere-nya begitu ekstrem sampai-sampai mungkin bisa dikategorikan sebagai spesies yang terancam punah, sehingga tanpa sadar aku terkekeh kecil.
"Apa?"
Sang tuan menatapku dengan tatapan menyipit penuh rasa tidak senang. Kepadanya, aku berkata,
"Terima kasih, Aria. Aku senang kau tetap berada di sisiku."
"……Dasar Shinya bodoh. Kau membuatku menunggu terlalu lama."
Bertentangan dengan kata-katanya, wajah Alphiria dihiasi senyum yang merekah seperti bunga yang sedang mekar penuh, sementara air mata mengalir dari matanya.
Meskipun tubuhku masih terasa sakit, aku memaksakan diri mengangkat tangan kananku dan dengan lembut menyeka air mata yang mengalir di pipinya.
"Tidak kusangka kau ternyata mudah menangis juga, Aria."
"Itu karena kau terus membuatku khawatir, Shinya."
Dia menumpangkan tangannya di atas tanganku dan menggenggamnya dengan lembut, seolah sedang memegang sesuatu yang rapuh. Aroma mawar perlahan memenuhi udara kamar rumah sakit dengan lembut.
"……Jangan lupakan janji kita, ya."
Janji yang diucapkan Alphiria dengan senyum jernih itu, tentu saja, adalah kata-kata sumpah yang kami ucapkan ketika kematian sudah berada di depan mata. Mustahil bagiku untuk melupakannya. Aku masih mengingat semuanya—sentuhan bibirnya, kehangatannya, semuanya.
"Tentu saja. Mana mungkin aku melupakannya."
"Fufufu. Bagus. Lain kali aku juga akan berusaha agar bisa tetap berada di sisimu sampai akhir, jadi mulai sekarang kita tetap bersama, ya, Shinya."
"Ya, aku juga berharap begitu. Aria."
Begitu aku menjawab, dia tersenyum puas, tetapi sedikit malu-malu.
"……Shinya."
Alphiria perlahan mendekatkan wajahnya kepadaku. Air matanya sudah berhenti mengalir. Sebagai gantinya, ada kehangatan manis yang memenuhi udara di antara kami.
"A-Aria……"
Tidak ada apa pun yang menghalangi kami. Bahkan suara palu pembangunan kembali yang terdengar dari luar jendela terasa seperti sesuatu yang terjadi di dunia yang jauh bagi kami sekarang.
Wajahnya semakin dekat. Pandanganku dipenuhi bulu mata panjangnya yang berwarna seperti bintang───
"Aria, jangan pergi duluan."
""Haaah!?""
Bersamaan dengan suara pintu yang terbuka lebar dengan bunyi keras, suara Cyril yang terdengar jengkel menggema di ruangan. Aku dan Aria langsung menjauh seolah terpental.
Nyaris saja. Kami hampir tertangkap sedang melakukan sesuatu yang sangat menentukan.
"B-bagaimana sih! Kamu tidak punya sopan santun, Cyril! Kalau mau masuk, setidaknya ketuk pintunya!"
"Wah, kasar sekali. Aku sudah mengetuk, kok? Lagi pula, Aria. Wajahmu kelihatan merah. Sebenarnya kalian berdua sedang melakukan apa sampai aku datang?"
"Ti-tidak melakukan apa-apa kok! Aku hanya sedang memeriksa kondisi Shinya dari dekat!"
"Ohh…… memeriksa kondisi, ya……."
Sambil tertawa dengan senyum menggoda, Cyril mendekati tempat tidur dan mencondongkan wajahnya untuk mengintip wajahku.
"Aku benar-benar senang kamu sudah sadar, Shinya. Kalau ada sesuatu yang merepotkan, jangan sungkan untuk mengatakannya kepadaku, ya? Kalau itu sesuatu yang bisa kulakukan, aku akan melakukan apa pun untukmu."
Cyril mendekatkan wajahnya ke telingaku, membisikkan kata-kata penuh makna itu, lalu menghembuskan napas hangat dan manis ke telingaku.
"Hei, Cyril!? Jangan gunakan setiap kesempatan untuk menggoda Shinya!"
"Wah, maaf. Padahal aku hanya mengatakannya karena niat baik. Ternyata Aria sangat posesif, ya. Kasihan sekali Shinya. Kalau nanti kau sudah muak dengannya, kau boleh datang kepadaku kapan saja, ya."
"Ahahaha……"
"Hei, Shinya! Jangan cuma tersipu-sipu begitu! Tolak dia dengan tegas!"
Sambil berpikir bahwa ternyata perempuan tidak perlu berjumlah tiga orang pun sudah cukup untuk membuat suasana menjadi riuh, aku hanya memandangi Alphiria dan Cyril yang terus saling berdebat.
"Kalian berdua, ini kamar rumah sakit. Tolong jangan berisik……"
Aku mengeluh sambil menghela napas pasrah, tetapi entah mengapa sudut bibirku justru terangkat membentuk senyum.
Aroma mawar manis yang menggelitik hidungku, suara riuh yang tidak kunjung berhenti, serta sinar matahari hangat yang masuk melalui jendela.
Sambil merasa nyaman diselimuti semua itu, aku memandangi interaksi menggemaskan antara Alphiria dan Cyril, lalu tersenyum.




Post a Comment