Penerjemah: Kaori Translation
Proffreader: Kaori Translation
Prologue
Jenius, yang tertinggi, sosok luar biasa yang hanya lahir sekali dalam seratus tahun, kemuliaan yang telah dijanjikan, seseorang yang kelak akan mengukir namanya dalam sejarah, dan sebagainya. Begitulah penilaian masyarakat terhadapku—Alphiria Glastonbury.
Jangan salah paham, ini bukanlah kesombongan ataupun kebanggaan diri. Semua itu murni adalah kenyataan.
Tentu saja, bukan berarti aku hanya mengandalkan bakat bawaan. Batu permata yang paling indah sekalipun tetaplah sekadar batu tak berharga jika tidak diasah.
Aku mendisiplinkan diri dan terus berlatih sejak kecil, sementara teman-teman sebayaku bermain dengan riang di hadapanku. Penilaian yang kuterima sekarang adalah hasil yang pantas dari kerja keras itu.
Namun, tidak ada habisnya orang-orang yang berkata bahwa penilaian terhadap Alphiria Glastonbury terlalu berlebihan, bahwa aku masih jauh dari tingkat tertinggi, atau bahwa bakatku akan layu karena terlena oleh kesombongan sesaat.
Bersamaan dengan kata-kata yang sama sekali tidak kuinginkan itu, tantangan duel untuk membongkar "kedok"-ku juga terus berdatangan, semuanya didorong oleh rasa iri.
"Baik...! Lingkaran sihirnya sempurna. Dengan ini aku bisa memanggil familiar terkuat...!"
Di ruang bawah tanah yang gelap dan berbau lembap, aku memeriksa dengan seksama apakah pola geometris dan huruf-huruf sihir kuno yang tergambar di lantai memiliki sedikit saja cacat. Lingkaran sihir ini adalah mahakarya yang kuselesaikan setelah meneliti sedikit sekali dokumen yang berhasil kukumpulkan.
Yang akan kulakukan sekarang adalah sihir agung untuk memanggil seorang pahlawan dari dunia dan garis waktu yang berbeda, lalu mengikatnya dalam kontrak sebagai familiarku. Namun, sihir ini dianggap sebagai sihir terlarang oleh dunia.
Alasan pastinya memang tidak diketahui, tetapi menurutku kemungkinan besar karena para penggunanya tidak mampu menyediakan mana yang dibutuhkan. Mereka akhirnya mengorbankan kekuatan hidup mereka sendiri, namun tetap gagal melakukan pemanggilan dan berakhir dengan kematian.
"Aku tidak akan melakukan kesalahan bodoh seperti itu."
Seumur hidupku, belum pernah sekalipun aku kehabisan mana saat menggunakan sihir. Namun, demi berjaga-jaga, aku juga telah menyiapkan batu sihir yang menyimpan cadangan manaku sendiri. Jika sewaktu-waktu kekurangan, batu itu akan menutupi sisanya.
"Huu... baiklah. Sudah waktunya dimulai."
Aku menepuk kedua pipiku dengan keras untuk membangkitkan semangat. Sedikit pun aku tidak berniat gagal. Namun, yang akan kulakukan adalah sihir terlarang. Aku tak boleh lengah sedikit pun.
Setelah menarik napas dalam dua, tiga kali untuk menenangkan jantung yang berdebar, aku pun mulai melafalkan mantranya dengan tenang.
"───Aku nyatakan."
Suara mantra bergema di ruang bawah tanah yang sunyi. Inilah titik penentu dalam hidupku sebagai seorang penyihir. Jika gagal, aku akan kehilangan nyawaku dan dikenang dalam sejarah sebagai seorang bodoh. Aku merasakan tekanan itu dengan begitu nyata, tetapi aku tidak berhenti. Aku tidak boleh berhenti.
"Nyalakan api, persembahkan air, lilit angin, anyam tanah. Aku adalah wadah, aku adalah gerbang, aku adalah dia yang mengintip ke dalam jurang."
Lingkaran sihir perlahan mulai bersinar. Mana mengalir ke seluruh tubuhku seperti benda asing, pembuluh darahku berdenyut hebat, dan rasa sakit luar biasa menjalar ke sekujur tubuh. Sambil menggertakkan gigi menahan penderitaan itu, aku terus melanjutkan mantra.
"Robeklah batas yang tertutup, lampauilah bintang-bintang yang tak terhitung, dan hubungkan hukum dunia di tempat ini."
Penglihatanku berubah menjadi merah tua. Aku menaburkan batu-batu sihir di atas lingkaran untuk membantu pengaktifan mantra. Jantungku mulai mengamuk seolah tak lagi berada dalam kendaliku.
Aku bahkan tak lagi tahu bagaimana cara bernapas. Entah aku sedang berdiri atau duduk pun aku tak tahu. Dari kelima indraku, hanya rasa sakit yang masih bertahan, dan seolah terdengar jeritan dari dalam tubuhku sendiri.
Mana yang seharusnya kulepaskan terasa seperti sedang "dimakan" oleh sesuatu, disertai sensasi hisapan yang begitu mengerikan. Namun, aku mengabaikan semuanya dan memusatkan seluruh kesadaranku pada pelafalan mantra.
"Berputarlah. Penuhilah. Hubungkan empat penjuru, tancapkan pasaknya. Datanglah dari celah antar dunia, wahai pahlawan yang tertidur di negeri keabadian───!"
Sambil menyelesaikan doa pemanggilan itu, aku menuangkan seluruh sisa manaku ke dalam lingkaran sihir.
Angin berputar liar dan kilatan petir menyambar. Krak! Prang! Batu-batu sihir pecah satu demi satu. Bahkan membuka mata pun hampir mustahil. Akhirnya, cahaya lingkaran sihir mencapai puncaknya dan mulai berkedip-kedip.
Lingkaran sihir itu terhubung dengan dunia lain. Dari balik cahaya menyilaukan yang bersinar laksana matahari, perlahan terbentuk sosok manusia.
Aku menang. Aku yakin akan hal itu. Sihir yang dianggap terlarang telah berhasil. Aku berhasil memanggil pahlawan terkuat yang akan menjadi pedang dan perisaiku───setidaknya seharusnya begitu.
Cahaya putih yang seakan membakar penglihatanku perlahan mereda. Sisa-sisa mana memenuhi ruang bawah tanah yang sempit, bercampur aroma udara yang hangus. Hampir delapan puluh persen batu sihir yang telah kusiapkan hancur menjadi serpihan.
Aku mengembuskan napas panjang untuk menenangkan diri, lalu menatap tajam ke pusat lingkaran sihir. Di sanalah seharusnya berdiri rekan terbaik yang akan menemaniku menaklukkan dunia.
"...Hah?"
Hal pertama yang kudengar bukanlah sapaan yang tenang, bukan pula perkenalan penuh wibawa atau raungan yang menggetarkan bumi.
Melainkan suara seorang anak laki-laki yang terdengar santai dan agak linglung.
Asap tebal yang mengepul akhirnya benar-benar menghilang. Yang berdiri sendirian di tengah lingkaran sihir bukanlah seorang ksatria berzirah emas, bukan pula penyihir agung yang memancarkan kebijaksanaan.
Melainkan seorang remaja biasa yang mengenakan pakaian hitam mirip seragam sekolah. Dari penampilannya, dia tampak seperti anak laki-laki yang bisa ditemui di mana saja. Yang menarik perhatianku hanyalah benda pipih bercahaya redup yang dipegangnya.
"Ini... di mana!? Kenapa ruang bawah tanah!? Bukannya tadi aku masih ada di kamarku!?"
Anak laki-laki itu menoleh ke sana kemari dengan wajah kebingungan. Sulit membayangkan seseorang yang begitu panik hanya karena hal seperti ini sebagai pahlawan dari dunia lain. Jangan-jangan ritual ini memang gagal?
Saat kepanikan mulai muncul di dalam hatiku, aku menyadari bahwa anak laki-laki itu sedang menatapku lekat-lekat.
"Eh... apa... Kamu sedang pemotretan cosplay atau semacamnya?"
"............Hah?"
Terhadap anak laki-laki yang bertanya dengan ragu-ragu itu, yang keluar dari mulutku hanyalah suara bodoh yang bahkan membuatku sendiri merasa malu. Aku tidak tahu apa itu cosplay, tetapi dari ucapan itu aku menjadi yakin.
Anak yang berdiri di hadapanku ini, bagaimanapun juga, hanyalah manusia yang benar-benar biasa. Sangat biasa, sampai-sampai tak ada harapan sama sekali.
"Tidak mungkin...! Seharusnya tidak begini...! Teoriku benar, lingkaran sihirnya sempurna! Aku benar-benar merasakan bahwa ritualnya berhasil! Kupikir aku telah memanggil pahlawan terkuat dari dunia lain...!"
Sambil berteriak, aku menghentakkan kaki di tempat. Keinginan untuk mengacak-acak rambutku kutahan sekuat tenaga. Setelah menarik napas dalam dua atau tiga kali untuk menenangkan pikiranku yang kacau, aku berjalan tertatih mendekati anak laki-laki itu.
"Siapa namamu? Dari mana asalmu? Prestasi hebat apa yang pernah kaucapai? Coba tunjukkan pedang legendaris atau sihir luar biasamu."
"E-eh... namaku Nanatsuma Shinya, asalnya dari Tokyo, Jepang. Soal pedang atau sihir... maksudku, sebenarnya ini tempat apa? Dan siapa sebenarnya kamu!?"
Tiba-tiba anak laki-laki bernama Nanatsuma Shinya itu mencengkeram kedua bahuku dan bertanya dengan nada tinggi. Sentuhan mendadak itu membuat jantungku berdegup kencang.
Tidak, tidak. Sebagai seorang wanita bangsawan dari keluarga Glastonbury, aku tidak boleh panik hanya karena hal sekecil ini.
Meyakinkan diri sendiri demikian, aku berdeham sekali sebelum menjawab pertanyaannya.
"Maaf, aku belum memperkenalkan diri. Namaku Alphiria Glastonbury. Akulah penyihir yang memanggilmu ke dunia ini."
"...Begitu ya. Jadi, bisa dibilang aku dipanggil ke dunia lain?"
Aku terkejut. Hanya dari sedikit informasi, dia langsung memahami situasinya. Tadi memang sempat kebingungan, tetapi sekarang dia sudah benar-benar tenang.
"Syukurlah kau cepat mengerti. Kalau begitu, izinkan aku bertanya lagi. Shinya, kekuatan apa yang kau miliki? Bisakah kau menunjukkannya sekarang?"
"...Tadi kamu bilang namamu Alphiria, ya? Justru aku ingin kamu yang memberitahuku apakah aku punya kekuatan atau tidak."
"...Hah?"
Tanpa sadar, suara paling bodoh yang pernah keluar sepanjang hidupku kembali terlontar. Mungkin ekspresi wajahku juga sama bodohnya.
"Di dunia asalku, kalau seseorang dipanggil ke dunia lain, biasanya langkah pertama adalah memeriksa kemampuan atau kekuatan yang dimilikinya."
"Biasanya? Memang begitu cara kerja pemanggilan ke dunia lain?"
Shinya mengangguk pelan.
Aku benar-benar tidak tahu. Berdasarkan semua penelitian yang kulakukan, setiap orang yang dipanggil selalu memiliki kekuatan luar biasa dan dapat langsung menggunakannya sejak tiba di dunia ini. Rupanya memang selalu ada pengecualian.
"Baiklah. Kalau begitu, pertama-tama kita akan mengukur kemampuanmu—"
Aku hendak melanjutkan kalimatku, tetapi saat itu juga aku menyadari ada sesuatu yang aneh.
"Alphiria?"
Kakiku kehilangan tenaga. Rasa sakit yang menusuk menghantam kepalaku, pandanganku berputar hebat hingga aku nyaris tak bisa berdiri. Rasanya seolah seluruh pembuluh darahku telah dikuras dari segala sesuatu selain darah, meninggalkan kehampaan yang begitu mengerikan.
Dengan secercah harapan bahwa firasatku salah, aku memeriksa kondisi tubuhku sendiri...
"Ti... tidak mungkin...! Mana-ku...!!"
Ini berbeda dengan kehabisan mana karena menggunakan sihir. Mana itu benar-benar hilang dari dalam diriku.
Mana yang selama ini memenuhi tubuhku seluas samudra kini lenyap tanpa tersisa, seolah diserap habis oleh gurun pasir.
Yang lebih sulit dipercaya lagi, entah bagaimana seluruh mana yang hilang itu mengalir ke Shinya yang berdiri di depanku. Dari tubuhnya memancar gelombang aura berwarna pelangi yang sudah sangat kukenal.
Bakat terpenting yang membuat Alphiria Glastonbury disebut sebagai seorang jenius... telah dirampas.
"...Kau... pencuri...! Kembalikan mana-ku...!!"
Aku mencoba berteriak, tetapi yang keluar dari tenggorokanku hanyalah suara napas yang serak.
Tubuhku kehilangan kekuatan dan hampir roboh ke lantai. Shinya segera berlari menghampiriku, dan tanpa sengaja aku malah berpegangan pada lengannya.
"A-ada apa!? Kamu nggak apa-apa!?"
"Ja-jangan sembarangan menyentuhku...!"
Dengan sisa tenaga yang kumiliki, aku mencengkeram erat bagian depan bajunya.
Saat itulah...Duk. Dari telapak tanganku yang menyentuh tubuhnya, sesuatu yang panas mengalir masuk ke dalam tubuhku.
(Apa... ini...!?)
Sesuatu yang terasa seolah membakar seluruh pembuluh darahku, namun pada saat yang sama juga begitu nyaman hingga membuat tubuhku serasa meleleh, mengalir ke seluruh tubuhku dan mulai mengamuk tanpa terkendali.
"Kya... hyaaahh!?"
PRAANG!
Pakaian yang kukenakan, bahkan pakaian dalamku sekalipun, tak mampu menahan tekanan dari dalam tubuh dan langsung robek berkeping-keping.
"...Hah?"
"Kyaaaahhh!?"
Suara Shinya yang terpaku dan jeritanku bergema memenuhi ruang bawah tanah.
Hari ini seharusnya menjadi hari ketika aku mengukir namaku dalam sejarah dengan memanggil familiar terkuat dari dunia lain.
Namun, siapa sangka yang hilang bukan hanya masa depanku sebagai seorang penyihir, tetapi juga kehormatanku sebagai seorang wanita.
"Hidupku... sudah berakhir."
Sambil menggumamkan kata-kata putus asa ketika kesadaranku perlahan memudar, aku pun roboh di atas lantai batu yang dingin.




Post a Comment