NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Saijaku Hakugai Made Sareta Kedo - Chou Nankan Meikyuu de 10 Mannen Shuugyoushita Kekka Volume 10 Chapter 4

Chapter 4

Kebenaran Masa Lalu dan Pertarungan Sengit


Pada awal mula kami dikirim untuk latihan praktik, misi kami kebanyakan adalah berburu binatang buas pengembara. Namun, sejak suatu saat, monster-monster mulai menyerang kami.

Terlebih lagi, mereka datang terus-menerus tanpa henti. Pada akhirnya, kami terpaksa harus terus membasmi monster-monster yang berdatangan secara berkerumun itu bersama instruktur yang bertugas, Akudou.

Karena pembasmian monster sudah sedikit mereda, sekarang kami sedang beristirahat sejenak di kabin kayu yang menjadi markas kami.

"Lemahnya monster-monster di luar sana sungguh membuatku muak."

Setelah kami menyapu bersih puluhan kawanan burung berwajah manusia yang menyerang tadi, mereka langsung lari kocar-kacir.

Kalau ujung-ujungnya akan melarikan diri, lebih baik dari awal tidak usah menyerang. Walaupun mereka ini monster, membantai sepihak makhluk yang tidak punya niat bertarung sama sekali bukanlah hal yang menyenangkan.

Apalagi jika lawannya terlalu lemah.

"Yah, bagimu, mau itu monster atau bawahan vampir, tidak ada bedanya, kan."

"Haa...."

Kenapa tiba-tiba bawahan vampir dibawa-bawa ke dalam obrolan ini? Apa ini semacam tuntutan tak masuk akal yang mengisyaratkan kalau bagiku melawan bawahan vampir pun akan terasa sama saja?

Meskipun itu aku, kalau lawannya adalah bawahan vampir, setidaknya aku harus sedikit serius... seharusnya.

Lagipula, bukankah misi kami ini bukan untuk membasmi monster, melainkan menekan organisasi kriminal? Meski begitu, kami malah harus menghadapi pasukan monster kroco dan bukannya sebuah organisasi kejahatan.

Tentu saja, pertarungan melawan monster-monster kroco semacam ini takkan membuat kami terluka. Ini murni hanya menjadi tugas pembasmian yang sangat membosankan.

"Ngomong-ngomong, apa kamu tidak merasa ada yang aneh?"

"Iya, tidak ada organisasi kriminal di sini, kan?"

Sekalipun monster-monster itu lemah, aku rasa organisasi kriminal tidak sebodoh itu sampai mendirikan markas di tempat yang dikerumuni gerombolan monster.

"Master, Kain-san, gawat!"

Seorang pria berkacamata hitam dengan penampilan berandalan, Kazu, masuk ke dalam kabin kayu dengan wajah pucat pasi.

Omong-omong, selain Akudou, seluruh anggota Akkigura tanpa terkecuali kini memanggilku dengan sebutan "san".

"Ada apa?"

Saat aku menanyakan tujuannya melihat Kazu yang panik tak seperti biasanya, Kazu langsung menyalakan televisi.

Di layar televisi, seorang pembawa acara berita sedang mengoceh dengan sangat mengganggu. Ia membawa topik tentang pengkhianat umat manusia, Akizuki Tatsuya, dan sang Orang Suci yang dicurigai menghilang, Mikage Mashiro.

"Bagian utama Kota Yunicho sepertinya telah diduduki oleh para vampir beserta para penduduknya. Kuharap para komandan markas juga berhasil melarikan diri dengan selamat...."

Mendengar laporan dari Kazu yang merupakan anggota Akkigura itu,

"Kalau saja Akizuki Tatsuya tidak menghancurkan dinding hitam itu...."

Salah satu anggota Akkigura mengucapkan kata-kata itu dengan ekspresi pahit.

"Tatsuya bukanlah pria yang akan melakukan hal seperti itu tanpa alasan."

Yah, jika itu Tatsuya yang sekarang, aku sudah bisa menebak alasannya dengan cukup jelas. Di saat yang sama, aku juga tahu alasan kenapa Mashiro ikut membantunya.

Bagian yang menyebalkan adalah aku masih belum punya bukti pastinya.

Namun, jika tebakanku benar bahwa para vampir memaksa Tatsuya menghancurkan dinding itu dan melemparkan peran penjahat pada mereka, maka mereka telah membangunkan harimau tidur.

Aku takkan pernah memaafkan mereka.

"...Kain, aku juga tidak berpikir kalau Tatsuya yang sekarang telah berkhianat. Karena itu, tolong tahan sedikit energi sihirmu yang mengerikan itu."

Akudou memohon kepadaku sambil meneteskan keringat dingin.

"Energi sihir yang mengerikan?"

Begitu ya, sepertinya aku tanpa sadar telah melepaskannya. Aku berkata, 'Maaf soal itu,' lalu menarik kembali energi sihirku.

"Lagipula, dua keparat dari Glorious itu secara terang-terangan terus menyudutkan Tatsuya. Itu sama saja dengan menegaskan kalau Tatsuya tidak bersalah."

Akudou membuang ludah dengan penuh kebencian.

"Jadi, apa Kain-san punya dugaan alasan kenapa Akizuki Tatsuya melakukan hal itu?"

"Iya, itu karena—"

Tepat ketika aku hendak menyebutkan alasannya, pintu kabin kayu terbuka dengan kasar. Salah satu anggota Akkigura terguling masuk sambil menunjuk ke arah yang tak beraturan.

"Sekelompok vampir sepertinya sedang menuju ke arah sini!"

Laporan yang sangat menguntungkan itu pun disampaikan.

Kemungkinan besar Mashiro dan Arisa juga sedang disekap oleh para vampir saat ini. Begitu pula dengan Akito dan Mikan.

Sejujurnya, kesabaranku sudah mencapai batasnya. Di saat seperti ini, kebetulan sekali datang sasaran empuk untuk melampiaskan amarahku.

Bagiku, ini ibarat pucuk dicinta ulam pun tiba. Akan kutangkap mereka dan kuperas semua informasi yang kubutuhkan.

◇◆◇

Di bawah pimpinan Karina-san dan yang lainnya dari depan Alun-alun Gerbang Hitam, Mizoguchi Kazuha dan kawan-kawannya berlari sekuat tenaga menuju ke luar.

"Kyahahaha! Luar biasa! Tubuh ini!"

Tak lama kemudian, mereka diserang oleh Misumi Chika yang telah berubah menjadi monster.

"Kami akan menahannya. Kalian larilah!"

Arima-kun berhenti dan memunggungi Kazuha beserta yang lainnya. Ia lalu memunculkan sebuah papan berwarna ungu yang melayang di udara.

"Kumohon, siapa saja boleh. Beri tahu Kain-kun—Tsukishiro Kain tentang apa yang terjadi di sini dan mintalah bantuan! Dia ada di dalam Kantor Distrik Barat!"

Karina-san juga meneriakkan hal itu kepada kami sebelum menerjang ke arah Misumi Chika.

Setelah itu, mereka diserang oleh monster kalajengking dan laba-laba yang tak terhitung jumlahnya. Ran-san dan Sakuraba-kun yang sudah terbangun pun ikut menahan para monster, memercayakan harapan pada Kazuha.

Hasilnya, aku sendirian dan masih terus berlari sampai sekarang. Alasan Kazuha bisa terus lolos sepertinya adalah berkat Skill Stealth miliknya.

Di dalam Kantor Distrik Barat yang dikelilingi dinding putih dan hitam di barat Kota Yunicho merupakan titik strategis di wilayah barat. Tempat itu juga merupakan daerah di mana binatang buas pengembara relatif sedikit.

Kantor Distrik Barat berjarak sekitar 15 km secara garis lurus dari Gerbang Hitam.

Itu hanya jarak garis lurus, sehingga dengan adanya berbagai rintangan, jarak tempuhnya menjadi jauh lebih panjang. Jika bukan karena Stealth, aku pasti sudah tertangkap dan terbunuh dalam sekejap.

"Bertahanlah... sedikit lagi!"

Aku terus berlari sambil mengucapkan kata-kata itu pada diriku sendiri layaknya sebuah mantra.

Aku sudah berlari seharian penuh, dan batas ketahananku sudah terlampaui sejak lama. Masih bisa bergerak seperti ini saja sudah bisa dibilang sebuah keajaiban.

Meski begitu, aku tidak ingin menyia-nyiakan perasaan semua orang yang telah mengirim Kazuha pergi. Dengan tekad bulat itu, aku terus menggerakkan kakiku ke depan.

Alasan kenapa Tatsuya dan Mashiro tidak bisa bertarung lagi. Hal itu sudah jelas terlihat jika menonton video itu.

Kemungkinan besar, anak-anak itu telah dijadikan sandera.

Bisa dibayangkan betapa berat perasaan mereka berdua saat harus tetap tinggal di sana. Begitu pula dengan yang lainnya.

Sudah menjadi rahasia umum perlakuan seperti apa yang akan diterima jika tertangkap oleh para vampir. Meskipun begitu, mereka semua lebih mengutamakan untuk memberi tahu Tsukishiro Kain daripada keselamatan diri mereka sendiri.

Hasilnya, Kazuha menerima tongkat estafet dari semua orang dan kini berada di sini. Padahal Kazuha sedang berlari membawa perasaan mereka semua—tapi kelelahan membuat Stealth-ku terputus.

Aku melakukan kesalahan fatal hingga terdeteksi oleh vampir.

"Hei, hei, ada apa? Sudah menyerah, ya?"

Sebuah suara ejekan terdengar dari seorang pemuda berambut pirang berpakaian merah yang mengejar Kazuha dengan mobil jip dari belakang. Di saat yang sama, sebuah bola api menghantam tanah tempat Kazuha berlari dan meledak.

Akibat ledakan itu, tubuh Kazuha terpental dan berguling-guling seperti bola.

Mobil jip itu berhenti tepat di sebelah Kazuha.

"Nah, tangkap dia. Kita akan bangun tenda di sini dan bersantap! Makan setelah berburu manusia itu rasanya sungguh luar biasa!"

Dia menjilat bibirnya, lalu memerintahkan para pria berseragam militer merah yang sepertinya adalah bawahannya. Para pria berseragam militer itu mendekati Kazuha dan menjulurkan tangan kanan mereka.

Dalam sekejap—.

Tubuh para pria itu terpotong-potong lalu berjatuhan ke tanah.

"Hah!?"

Pemuda berambut pirang panjang yang menjadi pemimpin para vampir pengejar Kazuha itu mencoba melompat mundur. Namun, keempat anggota tubuhnya remuk dan ia terhempas keras ke tanah.

Di tengah jeritan yang memekakkan telinga,

"Satu ekor saja sepertinya sudah cukup untuk dimintai keterangan."

Suara yang terdengar seperti ludahan itu menggetarkan gendang telinga Kazuha. Kazuha mengenali suara lembut yang memberikan rasa aman yang kuat ini.

Tentu saja, karena dia adalah orang yang selalu Kazuha perhatikan selama ini.

"K-Kau ini, sebenarnya siapa—bukh!"

Dia menendang mulut vampir berambut pirang itu hingga terlempar ke atas, memotong ucapannya.

"Dengar, aku sedang sangat muak. Jangan berani-berani bicara omong kosong lagi. Mengerti?"

Mendengar peringatannya yang diucapkan sambil tersenyum, vampir itu hanya bisa mengangguk berkali-kali dengan mata berkaca-kaca.

"Kamu Mizoguchi-san dari Kelas A-1, kan. Apa yang sebenarnya terjadi?"

Dia berjongkok di hadapan Kazuha lalu bertanya dengan nada suara yang tenang.

"Mashiro-san dan Akizuki-kun diancam oleh mereka. Kami mencoba kabur bersama, tapi para pengejar menyerang kami, dan semuanya membiarkanku kabur sendirian—"

Aku berusaha menyampaikannya sekuat tenaga, tapi tak bisa menjelaskannya dengan baik.

"Tolong beri tahu aku satu hal. Bagaimana cara mereka mengancam Mashiro dan Tatsuya?"

"Melihat anak-anak yang diikat di kursi, Mashiro-san memanggil, 'Arisa', dan Tatsuya-kun juga menyebut, 'Akito', 'Mikan'—"

Dia hanya terdiam menunduk tanpa bergerak sedikit pun.

"Begitu ya...."

Dia bergumam pelan, dan wajahnya diwarnai dengan amarah yang meledak-ledak. Saat aku merasa kewalahan melihat luapan emosi pertamanya itu, dia memeluk Kazuha dan menepuk punggungku dengan lembut.

"Pesan dari semuanya sudah kuterima dengan baik. Tenanglah. Selanjutnya, aku yang akan mengambil tanggung jawab penuh untuk mengurus semuanya."

Dia menyatakannya dengan penuh keyakinan. Bersamaan dengan sentuhannya yang dapat diandalkan itu, kesadaran Kazuha mulai diselimuti oleh kabut yang tebal.

◇◆◇

Di dalam ruang bawah tanah yang remang-remang.

"Tunggu sebentar... maaf."

Kazu menutupi mulutnya dan berlari ke luar. Bukan cuma dia, bahkan Akudou yang sepertinya punya nyali baja pun berwajah pucat pasi.

Sementara itu, anggota Akkigura lainnya menggemeretakkan gigi dengan mata berkaca-kaca. Dalang utamanya ada pada pria berbaju hitam dan bertopi yang berdiri di depan vampir berambut pirang panjang itu.

"Ini adalah belas kashiiiiihan yang sangat berharga dari Dewa agung kita. Kau harus mengutarakan semuanya dengan penuh rasa syukur."

Pria berbaju hitam dan bertopi yang menyebut dirinya 'Ekiki' itu mendekatkan wajah bulatnya yang tak wajar ke vampir berambut pirang panjang yang sudah tak berbentuk lagi. Sambil menyunggingkan senyum bengis, dia berbisik layaknya iblis di telinga vampir itu.

"Apapun... tidak akan... kubilang... jadi, bunuhlah aku...."

Mendengar suara yang samar-samar itu,

"Permintaan ditolaaaaak! Kenapa aku harus menuruti permintaan serangga rendahan sepertimu? Pilihan yang tersisa untukmu hanyalah satu!"

"Kau hanya perlu menjawab sambil terus menerima tombak amarah dari Dewa agung kita!"

Sudut bibir 'Ekiki' terangkat membentuk bulan sabit, lalu dia menjentikkan jarinya. Bersamaan dengan suara gushu, tubuh vampir itu membusuk, dan makhluk-makhluk kecil mulai merayap di atasnya.

Sambil mengeluarkan suara yang entah merupakan jeritan atau tawa, vampir berambut pirang itu pun mulai berbicara.

Setelah interogasi terhadap vampir berambut pirang itu dimulai, Akudou dan yang lainnya tak sanggup lagi menahan diri. Mereka lalu menyerahkan interogasi itu pada Tsukishiro Kain dan 'Ekiki', lalu kembali ke ruang tamu di lantai pertama kabin kayu.

"Fuhhh!"

Dimulai dari desahan seseorang, semua orang pun duduk bersandar di lantai.

Dengan langkah gontai, Akudou pun ikut menjatuhkan diri ke sofa di dekatnya.

Orang-orang yang baru saja dievakuasi dari ruang bawah tanah adalah mereka yang menempati posisi petinggi di Akkigura. Mereka punya cukup keberanian untuk menatap langsung perbuatan 'Ekiki'.

Sebaliknya, anggota biasa tak sanggup menahan perbuatan iblis semacam itu. Mereka ada yang kesulitan bernapas, terus-menerus muntah di ember terdekat, hingga jatuh pingsan karena terlalu takut.

Di tengah situasi yang benar-benar mirip gambaran neraka ini,

"Sepertinya, kita banyak salah sangka."

Ucap Akudou dengan tatapan kosong sambil menutupi wajahnya dengan telapak tangan kanan.

"Aku setuju. Vampir berdarah murni yang takkan pernah bisa dikalahkan oleh umat manusia, dia bahkan mempermainkan nyawanya, pria itu...."

Kazu berbicara dengan datar sambil mengerutkan kening, lalu tak sanggup melanjutkan kata-katanya.

"'Ekiki'... apa dia itu peliharaan milik Kain...."

Mendengar gumaman samar Akudou itu,

"Tidak mungkin! Itu mustahil! Mana mungkin itu monster!? Keberadaan yang memperlakukan nyawa vampir layaknya serangga!? Dia itu pasti sesosok Dewa! Sosok yang terus dicari oleh para penyihir sepertiku dengan mempertaruhkan seluruh hidup kami!"

Seorang anggota perempuan yang mengenakan jubah hitam dan topi kerucut membantah keras dengan mata memerah.

"Aku tahu itu. Kalau memang begitu... kalau memang begitu kenyataannya, Tsukishiro Kain, yang begitu dipuja oleh si 'Ekiki' itu, pria itu adalah...."

Kata-kata lanjutan dari ucapan Akudou sudah bisa dibayangkan oleh semua orang di tempat ini.

"Dari awal aku sudah merasa ada yang aneh! Lagipula, 'Belalang Chrono' itu saja kekuatannya tidak seperti monster biasa."

"Daripada itu, dengan kemampuan kita, kita bahkan tidak tahu seberapa kuat dia sebenarnya."

"Tapi dengan begini, fakta bahwa umat manusia telah melihat seberkas harapan juga adalah sebuah kebenaran. Iya, kan?"

Mungkin karena sudah mulai tenang, Kazu meneguk air dingin dan menanyakan konfirmasi penuh makna kepada Akudou. Seperti dugaan, Kazu sudah melihat inti dari masalah ini.

"Benar sekali. Atau lebih tepatnya, kejadian kali ini adalah vonis hukuman mati bagi mereka. Para vampir telah menginjak ekor dari monster yang paling buruk dan mengerikan."

Kain punya obsesi yang sangat kuat terhadap Mashiro dan Tatsuya. Kenyataannya, dia bahkan tinggal satu atap dengan Mashiro yang pastinya merepotkan, dan secara terbuka mengumumkan Tatsuya sebagai muridnya.

Mashiro, yang dia anggap begitu berharga layaknya harta karun, kini diculik oleh para vampir, sementara Tatsuya dicap sebagai pengkhianat umat manusia. Terlebih lagi, semua itu terjadi karena kelicikan tipu daya mereka.

Amarah Kain pasti sudah melampaui batas sejak awal. Buktinya—.

"Iya, kau benar. Kain sama sekali tidak menegur perbuatan itu, dan hanya diam memperhatikannya saja."

Mendengar kesan Kazu yang mendalam, semua orang yang ada di ruang bawah tanah pun mengangguk tanpa suara.

"Akudou-san, karena kejadian ini, Kain-san tidak akan berubah menjadi musuh umat manusia, kan?"

Kepada salah satu petinggi yang bertanya setengah memohon itu,

"Tidak akan. Kain bukanlah orang seperti itu."

Akudou menjawabnya dengan nada tegas.

Garis besar situasi ini sudah dipahami oleh Akudou dan yang lainnya berkat cerita Mizoguchi Kazuha dan pengakuan vampir berambut pirang barusan.

Para idiot dari Glorious yang termakan hasutan vampir, serta para petinggi Asosiasi Hunter bodoh dan politikus yang bertindak semena-mena mencoba menjatuhkan keluarga Akizuki. Itulah kebenaran dari insiden ini.

Jika masalah ini tidak semakin rumit, para vampir dan pengkhianat umat manusia pasti akan dihancurkan oleh Tsukishiro Kain.

Saat mereka mencapai kesimpulan tersebut, ponsel Akudou berdering dan ia pun mengangkatnya.

"Master, cepat nyalakan TV!"

"TV? Woi, nyalakan TV-nya!"

"B-Baik!"

Kazu mengambil remote control dan menyalakan televisi layar datar besar di ruang tamu kabin kayu. Di layar, tampak seorang pria dengan lingkar hitam di bawah matanya dan tato bergambar sekop serta pedang di pipinya sedang berpidato.

"Di sini, aku akan memperkenalkan saudara baru kiiitaaa!"

Saat dia mengangkat tangan kanannya, seorang wanita menampakkan diri dan berjalan maju secara perlahan.

"Oi, oi, yang benar saja...."

"Bohong, kan...."

Di layar itu, tampak sosok Mikage Mashiro dari Kelas F mengenakan pakaian merah yang sama dengan para vampir.

◇◆◇

Di suatu pedalaman pegunungan di wilayah Kanto. Di ruang tamu sebuah rumah besar yang dikelilingi kabut tebal, beberapa pria dan wanita baru saja melangkah masuk.

"Ini adalah vila milik keluarga Otome, jadi kalian tidak perlu khawatir dengan mata-mata media yang mengganggu. Silakan beristirahat dengan tenang."

Seorang siswi berambut putih, Otome Utako, tersenyum dan membungkuk hormat sebelum keluar dari ruangan.

"Sekarang opini publik telah terbentuk dan menganggap keluarga Akizuki sebagai musuh umat manusia. Penyebabnya adalah Akizuki Tatsuya dan Mikage Mashiro itu, ya...."

Ashihana Okibi bergumam pelan. Nada suaranya saat menyebut nama Tatsuya tak lagi menyiratkan hinaan seperti sebelumnya. Malahan....

"Alasan Tatsuya menghancurkan dinding hitam. Tidak perlu dipikirkan lagi, mereka pasti telah menyandera anak laki-laki dan perempuan itu lalu mengancamnya!"

Pria botak bertubuh besar penuh luka, Akizuki Eisei, menumpukan sikunya pada meja hingga membuat meja itu retak saking marahnya.

"Media massa yang dipelopori oleh Glorious telah menyimpulkan bahwa Mashiro dan Tatsuya berkhianat. Mereka memberitakan Kelas F sebagai pengkhianat umat manusia."

"Yang merekrut Mashiro dan yang sangat terlibat dalam seleksi anggota Kelas F adalah keluarga Akizuki. Kemungkinan besar, tak lama lagi Asosiasi Hunter dan lembaga penyelidik akan melakukan penggeledahan serentak terhadap keluarga Akizuki. Ini jelas alur yang sangat buruk, tahu?"

Okibi mengedarkan pandangannya ke semua orang dan menunjukkan situasi yang bisa dibilang sangat buruk ini.

"Kau benar. Akibat laporan dari Glorious, seluruh jajaran staf operasional SMA Hanatsuki, termasuk Kureto, telah dicopot dari jabatan mereka atas tuduhan makar. Sebagian surat perintah penangkapan juga sudah dikeluarkan, dan cukup banyak orang yang telah ditangkap. Kita juga harus segera menentukan arah kebijakan."

Eisei mengatupkan kedua tangannya sambil memaksakan kata-kata itu keluar.

"Kalau kalian keluarga Akizuki tertangkap oleh pusat, apa yang akan terjadi?"

"Entahlah. Walaupun surat penangkapan sudah keluar, setidaknya keselamatan nyawa kami terjamin sampai sidang pengadilan dimulai. Namun, setidaknya aku, Ayahanda, dan Narumi sudah pasti akan dipanggil ke markas pusat. Kalau itu terjadi...."

Eisei terdiam dengan ekspresi pahit.

"Ketiga mantan, kepala keluarga saat ini, dan penerus keluarga Akizuki meninggalkan tanah ini... itu artinya melanggar kontrak dengan dewa bernama Atom, kan?"

"Benar sekali. Selama kami bertiga dipanggil ke pusat, dinding pelindung umat manusia akan menghilang, dan dunia akan dikuasai oleh para vampir."

"Beraninya mereka menari di atas informasi yang dangkal! Menurut mereka siapa yang telah melindungi tanah ini selama ini! Siapa sebenarnya yang pengkhianat! Dasar sampah oportunis!"

Okibi meludah penuh kebencian.

"Okibi, percuma saja kau marah-marah sekarang. Aku malah ingin memuji Tatsuya! Dia telah berjuang keras demi melindungi keluarganya sendiri!"

Akizuki Kouzen mencoba menenangkan Okibi, tetapi,

"Dengar ya, gara-gara dia melindungi keluarganya itu, umat manusia sekarang sedang berada di ambang kehancuran!"

Okibi membentak balik dengan amarah yang meluap-luap dari dasar hatinya.

"Maafkan aku, Tuan Okibi, tapi aku sependapat dengan Ayah Mertua. Aku bangga dengan pilihan anak itu. Terlebih lagi, anak itu tidak mengambil keputusan dengan sembrono. Dia pasti punya cara untuk membalikkan keadaan. Itulah yang kupikirkan. Benar begitu, Tuan Kidou?"

Ibunda Tatsuya, Akizuki Akane, bertanya kepada Akudou yang sudah duduk di sofa ruangan tersebut.

"Secara garis besar, YA. Dalam situasi ekstrem itu, Tatsuya dan Mashiro memercayakan seluruh masalah invasi vampir yang disebabkan oleh hancurnya dinding hitam kepada orang yang paling mereka percayai."

"Orang yang dipercayainya, itu adalah Tuan Tsukishiro Kain, kan?"

Menanggapi pertanyaan Akane, Akudou mengangguk pelan.

"Murid kesayangannya direbut dengan cara yang licik oleh para vampir, dan kehormatannya dicoreng. Ditambah lagi, wanita berharga yang tinggal bersamanya juga dicuci otaknya, merendahkan harga dirinya. Amarahnya sudah mencapai puncaknya. Tidak akan ada yang bisa menghentikannya lagi. Dia akan terus bertarung sampai salah satu pihak hancur tak tersisa."

Mendengar ucapan Akudou, raut kelegaan yang kuat terpancar dari wajah para anggota keluarga Akizuki.

"Hm? Jangan-jangan kalian sudah menyadari identitas asli Kain?"

"Dari Tuan Atom, katanya beliau itu sosok yang memiliki kekuatan tingkat atas bahkan di antara para dewa."

Mendengar jawaban jujur nan polos dari Kouzen,

"Tuan Eisei, kenapa ya? Soal itu aku sama sekali belum pernah mendengarnya loh?"

Okibi yang berada di sebelahnya menyilangkan tangan dan tersenyum lebar. Kontras dengan senyumannya, beberapa urat nadi biru menonjol di dahinya.

"Bukan begitu, itu adalah keputusan yang dibuat dalam rapat internal keluarga Akizuki, jadi aku tidak bisa membocorkannya ke pihak luar! Tapi aku juga sudah berusaha keras, lho!"

Eisei mencoba beralasan dengan panik.

"Lalu? Apa Tsukishiro Kain benar-benar cukup kuat untuk mengalahkan para vampir?"

Okibi bertanya dengan ekspresi serius.

"Menurut Tuan Atom, vampir-vampir yang ada di sini sekarang sama halnya dengan semut yang merayap di tanah di matanya."

"Begitu ya... Jadi untuk apa kekhawatiranku sampai bikin lubang di lambungku ini...."

"Tidak, faktanya krisis ini belum berlalu. Kabarnya tujuan para vampir itu adalah untuk menguasai dewa terkuat bernama Behemoth. Kalau hal itu sampai terjadi, bahkan Tuan Tsukishiro Kain pun kemungkinan bisa kalah."

Dengan wajah tercengang, Okibi hanya bisa membuka dan menutup mulutnya selama beberapa saat.

"Keadaan terus berubah terlalu cepat satu per satu, aku sudah tidak bisa mengikutinya lagi."

Dia memegangi kepalanya dan mengeluh, sebuah pemandangan rengekan yang langka baginya.

"Lalu? Pada akhirnya apa yang akan kalian lakukan? Sekalipun Kain berhasil menghancurkan para vampir, kalau begini terus, Tatsuya dan Mashiro akan tetap menjadi pengkhianat umat manusia, kan?"

Akudou mengembalikan topik pembicaraan ke jalur yang semestinya.

"Tentu saja kami hanya akan menghancurkan musuh kami. Demi hari ini, kami telah mengumpulkan informasi dari berbagai pihak. Kami juga sudah mengidentifikasi dalang di balik kejadian ini. Mereka dengan seenaknya menyebarkan fitnah tentang putraku. Aku akan menghajarnya habis-habisan sampai dia tak bisa lagi tinggal di Jepang, tidak, di muka bumi ini!"

Saat Eisei meraung dengan ekspresi buas layaknya binatang buas yang sedang marah,

"Benar sekali! Kita akan membuat anjing Asosiasi dan para politikus rendahan itu menyadari sampai ke tulang sumsum mereka karena berani mencari masalah dengan keluarga Akizuki!"

"Aku takkan membiarkan satu pun orang yang terlibat dalam masalah ini lolos! Pasti akan kumusnahkan!"

"Apalagi Hunter sampah yang namanya Glorious itu! Apanya yang Malaikat dan Penyelamat! Hinaan terang-terangan terhadap anggota keluarga kami akan dibalas seribu kali lipat!"

Anggota keluarga Akizuki yang hadir juga ikut menyuarakan amarah mereka satu demi satu.

"Sebagai ibu mereka, aku juga sangat marah. Terutama pada orang yang namanya Kagero Hamuro itu. Aku tak bisa mentolerirnya. Berani-beraninya dia merencanakan serangan terhadap putri yang lebih berharga dari nyawaku sendiri. Semuanya, apa kalian bisa membiarkan hal itu?"

Perkataan Akane menyulut ledakan amarah di dalam ruangan.

"Ah, ada satu hal yang ingin kuminta maaf pada kalian. Maafkan aku. Tapi aku juga tidak bisa menentang perintah orang-orang itu."

Saat Akudou mengucapkan kata-kata yang penuh arti itu seolah-olah memotong pembicaraan, pintu ruangan terbuka.

"Permisi. Saya membawa tamu untuk kalian."

Otome Utako masuk dengan membawa para tamunya. Tamu tersebut adalah pria raksasa berambut cepak pirang yang merupakan komandan Markas Akigayama, Yoshizato Gaku, dan seorang pria bermata satu yang mengenakan setelan jas putih.

"Gaku! Kalian masih hidup!?"

Mengabaikan sepenuhnya seruan gembira Eisei dan berjalan ke tengah ruangan, Yoshizato Gaku menarik napas panjang.

"Saudara-saudara! Kalian sungguh luar biasa bisa mencapai kebenaran yang kami cariiiiiii!"

Yoshizato Gaku berseru lantang dengan suara yang seakan menggetarkan udara.

"Tunggu, berisik sekali! Aku pikir gendang telingaku mau pecah, tahu!"

Otome Utako mengeluh sambil menutup telinganya.

"Karena beliau adalah Girimekhala-sama, jadi mau bagaimana lagi."

Pria bermata satu bersetelan jas putih itu mengangkat bahunya.

"H-Hei?"

Eisei kembali memanggil dengan ragu, tapi,

"Akulah Girimekhala! Sampah yang merayap di tanah dan berjalan di jalan kejahatan demi ayah kami yang agung!"

Yoshizato Gaku berteriak sekencang-kencangnya.

"Sudah kubilang ini berisik, kan!? Lagipula, kata-kata kalian terlalu tidak masuk akal sampai-sampai anak-anak ini hanya bisa melongo mendengarnya, tahu!"

Menanggapi teguran Otome Utako,

"Begitu ya. Dengan wujud ini kalian mungkin takkan mengerti. Kalau begitu—"

Tubuh Yoshizato Gaku dengan cepat membengkak dan membesar. Begitu melihat sosok itu,

"Gihi!"

Jeritan spontan keluar dari mulutnya. Namun, Eisei sama sekali tak merasa dirinya pengecut saat itu. Sebab, Yoshizato Gaku telah bertransformasi menjadi monster raksasa berhidung panjang dan bermata tiga.

Saat mereka menyadarinya, Otome Utako juga telah berubah menjadi wanita tinggi cantik berbaju merah yang banyak mengekspos kulitnya.

"Biar aku perkenalkan diriku sekali lagi! Akulah Girimekhala, makhluk yang berjalan di jalan kejahatan yang dicari oleh ayah kami yang aguuung!"

Semua orang yang ada di sini adalah Hunter dan penyihir kelas satu. Itulah sebabnya naluri mereka bisa memahaminya.

Tidak, mereka langsung menyadarinya. Betapa mengerikannya monster gajah di depan mereka ini yang berada di luar akal sehat!

—Gishiri!

Udara berderit kencang saat tiga monster baru muncul.

"Lalu, apa kami harus melatih orang-orang ini sekarang?"

Monster bermata delapan yang duduk bersila di atas meja bertanya kepada monster gajah, Girimekhala.

"Benar sekali! Karena mereka terlalu lemah! Setidaknya mereka harus bisa dengan mudah mengalahkan sampah-sampah hasil modifikasi vampir itu, agar tidak memalukan!"

"Aku setuju dengan hal itu. Pertama-tama, pola pikir yang merasa takkan bisa menang melawan serangga vampir seperti itu sangatlah mustahil. Aku muak dengan mentalitas pecundang itu."

Sesuatu berwarna putih berbentuk manusia yang melayang itu berbicara dengan nada jengkel.

"Sekalipun hanya sekadar sebagai perintis jalan bagi Yang Mulia, kalau mereka tidak bisa melakukannya, kita juga yang akan kehilangan muka!"

Pria bertopeng yang berdiri di langit-langit sambil membawa senjata cakram merah berseru.

"Kita tidak punya banyak waktu. Seperti biasa, berpencarlah dan latih mereka habis-habisan."

Begitu Girimekhala mengedarkan pandangan ke sekeliling dan meneriakkan hal itu,

"Uaa...."

Suara erangan keputusasaan dan ketakutan lolos dari mulut semua orang. Wajar saja.

Sosok-sosok aneh dan menakutkan yang muncul satu per satu di dalam ruangan itu memancarkan tekanan luar biasa hanya dengan melihatnya sekilas.

"Kalau begitu, demi ayah kami, mari kita mulai latihannyaaa!"

Suara seperti binatang buas bergema, dan kamp pelatihan neraka pun dimulai.

◇◆◇

Tempat ini adalah sebuah markas berskala kecil di kaki Gunung Akigayama. Ini adalah wilayah kekuasaan umat manusia yang nyaris tak masuk dalam area jajahan para vampir.

Namun, karena seluruh area Akigayama telah diduduki oleh para vampir, tempat ini menjadi zona berbahaya. Sangat jelas bahwa bawahan mereka akan segera menyerbu tempat ini.

Di ruang konferensi bangunan yang paling menonjol di depan markas ini, para petinggi SMA Hanatsuki, termasuk Kureto, telah berkumpul.

"Direktur Akizuki, kami kehilangan kontak dengan Hunter Kelas S, Flame King dan Akudou."

Pemuda tampan yang merupakan salah satu petinggi cabang Hunter melapor dengan wajah meringis kesal.

"Mulai dari kelompok Eisei, Okibi, hingga Akudou... kita benar-benar tertinggal langkah ya."

Kepala Sekolah Kureto memberikan tanggapannya dengan penuh kebencian.

"Jadi, apa kalian bersedia bekerja sama dengan rencanaku?"

Di tengah atmosfer yang suram itu, Kain bertanya kepada Kureto dengan nada datar tanpa intonasi. Kureto menatap lurus ke arahnya,

"Aku sudah melihat rencanamu. Pada intinya, kamu akan memusnahkan sendiri para vampir yang menduduki Akigayama dan Yunicho. Apa hal itu benar-benar mungkin dilakukan?"

Dia menanyakan keraguan yang penuh dengan harapan.

"Entahlah?"

"Apa maksudmu dengan 'Entahlah?' itu sangat tidak bertanggung jawab—"

Petinggi tampan dari cabang Hunter itu hendak meninggikan suaranya. Namun ia dihentikan oleh Kazu, bawahan Akudou yang berada di sebelahnya.

"Apa pun keputusan kalian, besok pagi-pagi sekali aku akan menyerbu mereka. Jika kalian tak mau bekerja sama, setelah menghabisi para vampir, aku akan mengurus sendiri Glorious dan para petinggi Asosiasi serta politikus rendahan yang terlibat dalam kejadian ini."

Mendengar ancaman sepihak dan penuh tekanan itu, wajah para petinggi Asosiasi Hunter dipenuhi dengan amarah.

Sebaliknya, semua anggota Akkigura tampak berwajah pucat. Mereka mungkin teringat akan perbuatan Kain di masa lalu.

"Kepala Sekolah, aku mendukung pendapat Kain. Satu-satunya orang yang bisa menang melawan vampir adalah Kain, yang memang pernah mengalahkan mereka."

Mendengar saran kuat Kazu,

"Mengalahkan vampir, ya, itulah yang tidak bisa kupercaya! Lawannya adalah monster yang bahkan tidak bisa dikalahkan oleh Hunter Kelas S loh!"

Mendengar sanggahan logis dari petinggi Asosiasi yang tampan itu,

"Aku juga sudah menyelidikinya, jadi ini pasti benar. Anak itu tanpa ragu telah memenangkan pertarungan melawan vampir."

Wanita cantik tiada tara berambut merah yang mengenakan kimono, Kuonji Kyouka, memperkuat kredibilitas perkataan Kazu.

"Intinya, pilihan kita hanyalah memercayakannya pada Kain atau tidak, ya...."

Kureto terdiam memikirkannya sejenak, lalu menatap penuh arti pada Kuonji Kyouka. Kyouka mengerutkan wajahnya dipenuhi amarah seperti iblis,

"Sampah-sampah dari Glorious itu telah jatuh ke pihak vampir. Karena kita tak bisa mengalahkan vampir, hanya ada dua pilihan tersisa. Percaya bahwa keadaan akan membaik dan menonton saja dalam diam, atau menyerahkan semuanya kepadanya."

"Tidak ada pilihan lain lagi, kan? Apa kamu setuju?"

"Kamu benar. Dan lagi, para gadis itu telah menghilang gara-gara Glorious. Itu artinya mereka telah menantang kita secara terang-terangan, kan...."

"Begitulah. Sekalipun anak itu sudah mati, aku takkan sudi berdiam diri saja melihat situasinya semakin memburuk hanya karena menyayangi nyawaku sendiri. Kalau aku melakukan hal semacam itu, anak itu pasti akan benar-benar membenciku nanti."

Kyouka mematahkan kipas lipatnya dengan kuat menggunakan tangan kanannya. Saat semua orang menahan napas melihat wajahnya yang semarah Hannya,

"Benar juga ya, akhir-akhir ini aku juga merasa diriku terlalu melunak! Terlebih lagi, bajingan Glorious itu!"

"Kalau kalian berani menggores sedikit saja tubuh Ran-chan kesayanganku! Aku takkan membiarkan kalian mati dengan tenang! Akan kujadikan kalian semua makanan babi hidup-hidup!"

Dari wajah yang tenang, ekspresinya berubah menjadi bagaikan iblis dalam sekejap mata, dan Kureto meneriakkan kutukan.

"Jadi, apa kalian akan menyerahkannya padaku?"

Mendengar permintaan Kain di situasi yang sedang memanas seperti itu, para petinggi Hunter menatapnya dengan pandangan tak percaya.

"Tentu saja! Kami akan mengurus masalah merepotkan seperti pembersihan sampah! Karena itu—musnahkan para kelelawar itu sampai ke akar-akarnya!"

Kureto bangkit dari kursinya, lalu menunjuk ke arah Kain dengan tongkatnya dan memintanya dengan tegas.

"Tetapi, lawannya adalah monster dengan kekuatan layaknya Dewa! Mana mungkin dia bisa menang sendirian—"

Para petinggi cabang Hunter mencoba membantahnya dengan putus asa.

"Dewa kami yang aguuuuung! Kami telah menyelesaikan peninjauan kekuatan para vampir kelelawar dan menemukan lokasi Nona Mashiro serta Tuan Tatsuya!"

Seorang pria bertopi dan berpakaian hitam tiba-tiba muncul dan berlutut sembari berseru gembira. Kemunculannya itu membuat hampir semua orang di ruangan tersentak kejang.

"Hah?"

"Eh?"

Diiringi suara konyol, wajah Kureto menegang, sementara Kyouka melebarkan matanya dan keringat sebesar biji jagung mulai mengalir.

"Kerja bagus, 'Ekiki', nanti tolong ceritakan secara detail kepadaku."

"I-I-I-Ini adalah sebuah kehormatan yang luar biasaaaa!"

Pria bertopi dan berpakaian hitam itu, 'Ekiki', menyatukan kedua tangannya dan menangis tersedu-sedu sebelum menghilang.

"Kalau begitu, besok pagi aku mohon kerja samanya."

Setelah memberikan salam perpisahan singkat dengan nada suara datar tanpa intonasi, Kain langsung berjalan keluar dari ruangan itu.

Setelah Kain pergi, kepada Kureto yang duduk lemas di kursi dengan wajah pucat pasi,

"A-A-Apa-apaan makhluk tadi itu!?"

Pemuda tampan yang menjadi petinggi Asosiasi itu melontarkan pertanyaannya dengan nada suara bergetar.

Namun, yang menjawabnya bukanlah Kureto.

"Beliau itu sepertinya adalah semacam pelayan yang dipanggil oleh Kain-san melalui Skill miliknya."

Dia adalah orang kepercayaan Akudou, yaitu Kazu.

"Apa maksudnya itu? Bukannya dia cuma bisa memanggil monster belalang saja?"

Kemunculan monster yang tiba-tiba itu mungkin telah membuat kepalanya kembali dingin.

Kureto mendesak Kazu, yang tampaknya tahu tentang situasinya, dengan nada sopan seperti semula.

"Menurut penjelasan Kain-san, Skill-nya telah berevolusi sehingga akhir-akhir ini dia bisa memanggil beberapa monster lain selain Tuan 'Battaman'."

"I-Itu tadi monster! Itu... Itu adalah—!"

Kepada petinggi Asosiasi Hunter yang tampan itu, yang berteriak histeris dengan mata memerah karena ketakutan,

"Begitulah. Itu adalah eksistensi yang seharusnya kita panggil sebagai Dewa."

Kyouka menegaskan hal itu seolah mengucapkan kata demi kata pada dirinya sendiri.

"Sekarang aku mengerti kenapa kalian tidak begitu terguncang meskipun master kalian, Akudou, menghilang. Jadi makhluk itu alasannya, ya?"

"Benar sekali. Sebagai persiapan untuk kemungkinan terburuk, Tuan 'Ekiki' telah menugaskan pengawalnya untuk melindungi Akudou-san. Memangnya manusia yang hanya dimodifikasi menjadi vampir bisa melakukan apa-apa pada kelompok sekelas dewa curang semacam itu?"

"Artinya, Eisei dan yang lainnya menghilang itu karena urusan pihak Kain-kun?"

"Kemungkinan besar begitu. Dan hal itu sudah jelas, akan membawa keuntungan bagi kita umat manusia."

Mendengar penegasan Kazu dengan nada suara yang kuat itu,

"Selain dewa bernama Atom, muncul pula eksistensi supernatural tak dikenal bernama Tsukishiro Kain. Entah itu baik atau buruk, pertarungan antara vampir dan umat manusia akan segera berakhir. Begitukah maksudnya...."

Kureto bergumam seolah sedang bertanya pada dirinya sendiri.

"Ya, kita tidak tahu seberapa kuat para vampir itu, dan memang benar bahwa Kain-san juga sangat waspada terhadap mereka."

"Bagaimanapun juga, aku sudah memutuskan untuk bertaruh padanya. Sisanya, kita hanya perlu percaya dan terus maju. Kyouka, keluarga Kuonji juga setuju dengan hal ini, kan?"

"Tentu saja. Yah, aku pastinya berniat untuk memasukkan gen miliknya ke dalam keluarga Kuonji kita, sih."

Kepada Kyouka yang menjilat bibirnya dengan ekspresi penuh ekstasi itu,

"Keluarga Ashihana kami juga sama. Bagaimanapun caranya, kami akan memastikan Ran berjuang keras untuk itu."

Kureto juga mengangkat sudut bibirnya, dan melontarkan lelucon ringan semacam itu.

"Apa kalian menyadarinya! Target yang sedang kalian bicarakan itu adalah eksistensi supernatural yang bisa mengendalikan dewa, tahu!"

Mendengar ucapan penuh kepanikan dari petinggi tampan Asosiasi itu,

""Sudah pasti!""

Jawaban Kureto dan Kyouka tumpang tindih dengan sempurna.

"Kalian semua ini, benar-benar sudah gila...."

Petinggi tampan Asosiasi itu menatap mereka berdua dengan pandangan seolah sedang melihat makhluk aneh.

Ia menggumamkan hal itu kepada Kureto dan Kyouka yang terus bertatapan sambil melempar senyum tak kenal takut.

◇◆◇

Seluruh Kota Yunicho telah diduduki oleh para vampir. Akibatnya, kami tidak bisa lagi kembali ke apartemen tempat kami tinggal.

Gadis bertanduk yang dilihat oleh Mizoguchi Kazuha itu pastilah Arisa. Tidak ada alasan bagi mereka untuk membiarkan Asu dan Min tetap hidup.

Hal yang sama juga berlaku bagi manusia seperti Karina dan Ran. Kesempatan mereka untuk bertahan hidup mungkin sudah sangat putus asa.

"Tidak—aku tidak boleh bersikap lemah!"

Aku menepuk kedua pipiku dengan kedua tangan untuk menyadarkan perasaanku. Peluang bahwa Asu, Min, beserta Karina dan Ran masih hidup masih cukup besar.

Jika aku menyerah, semuanya akan berakhir. Aku juga memiliki monster slime penyembuh, jadi selama mereka masih hidup, dengan kekuatanku yang sekarang, aku pasti bisa mengembalikan mereka seperti semula.

Sebuah perumahan sementara telah didirikan untuk para korban bencana. Tempat ini juga disediakan untuk kami para siswa, dan setiap harinya kami melakukan kegiatan sukarela seperti melindungi para korban, mengangkut barang, serta menyiapkan makanan.

Saat aku kembali ke kamarku sendiri, seorang gadis berambut pendek yang mengenakan gaun terusan berwarna biru muda sedang berdiri di depan pintu.

"Maaf mengganggumu di saat seperti ini, tapi ada yang ingin kubicarakan."

Dia menyampaikannya kepadaku dengan ekspresi murung yang sama sekali tidak terlihat seperti Makoto biasanya. Aku sudah tahu kalau dia pasti ingin membicarakan tentang adiknya yang masih hilang.

"Silakan masuk."

Aku membuka pintu dan mempersilakan Makoto masuk ke dalam kamarku.

Makoto duduk di tepi ranjang dan terus menunduk tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

Di tengah suasana yang canggung itu, aku menunggunya untuk mulai berbicara.

"Aku baru-baru ini mendapatkan Skill Stealth yang baru! Kalau itu aku, aku pasti bisa membawa Karina dan yang lainnya kembali dengan selamat! Karena itu, Kain tunggu sajalah di sini dengan tenang!"

Dia memohon kepadaku dengan ekspresi penuh tekad.

"Aku tidak bisa melakukan itu."

Aku menggelengkan kepala dan menolak permintaannya.

"Kenapa!?"

"Itu karena mereka sudah bertindak terlalu jauh."

Perhatiannya memang membuatku senang, tetapi para vampir itu sudah terlalu banyak melanggar pantanganku. Aku tidak akan berhenti lagi.

Pilihannya hanya ada dua, memusnahkan mereka, atau aku yang mati.

"Mereka itu vampir! Meskipun itu dirimu, kamu juga bisa saja mati, tahu?"

"Aku sudah menyadarinya, kok."

Setidaknya mereka cukup kuat untuk menundukkan Hunter Kelas S, yang berarti para vampir itu sangatlah kuat.

Jika lawannya hanya vampir biasa seperti yang pernah kukalahkan sebelumnya mungkin masih ada harapan. Namun, jika lawannya adalah petinggi tertinggi mereka, bahkan bagiku sekalipun, kemenangan akan sulit diraih.

"Kalau begitu, berjanjilah padaku. Setelah kamu mengalahkan para vampir itu, kamu harus terus berada bersamaku!"

Mendengar pertanyaan Makoto itu, tanpa sadar aku memalingkan pandanganku darinya.

Setelah mengalahkan para vampir, aku akan kembali menjalani kehidupan sekolah bersama Makoto, Takeshi, dan yang lainnya. Kami bisa bertemu kapan saja jika kami mau, tapi seharusnya begitu—.

"...."

Aku tidak bisa menjawab pertanyaan Makoto tersebut.

"Kamu tidak mau bilang kalau kamu akan terus berada di sisiku, ya?"

Di tengah waktu yang berlalu dengan canggung, Makoto bertanya dengan nada kesepian.

"Maafkan aku."

Aku tidak tahu apa alasannya. Namun, aku takkan menjalani kehidupan sekolah bersama Makoto dan yang lainnya untuk selamanya, dan aku sangat yakin akan hal itu.

Makoto menatap wajahku tanpa ekspresi selama beberapa saat, lalu menghela napas panjang.

"Sudah kuduga... kamu akan kembali ke tempat asalmu, kan?"

Dia melontarkan pertanyaan yang sama sekali tak terduga kepadaku. Seharusnya aku langsung menyangkalnya, tetapi—

"...."

Aku tidak bisa membenarkan maupun menyangkalnya.

Makoto menghela napas panjang, lalu tersenyum dan bangkit berdiri. Setelah itu, dia berjalan perlahan ke arahku.

"Pasti aku ini hanyalah orang luar. Kamu datang ke sini demi Mikage Mashiro, dan aku sudah memahaminya dengan jelas sekarang. Jadi, kalau cuma segini, boleh kan?"

Makoto berpegangan erat padaku dan mencium bibirku.

"Ma-Makoto?"

Aku buru-buru mencoba melepaskannya, namun—

"Kumohon. Biarkan seperti ini untuk sekarang...."

Makoto mengucapkan hal itu dengan suara bergetar, lalu kembali membungkam mulutku dengan mulutnya sendiri.

Setelah ciuman yang panjang itu berakhir,

"Terima kasih, ya."

Makoto melepaskan diri dariku, lalu tersenyum sekuat tenaga dengan air mata yang menggenang di sudut matanya.

"Selamat tinggal."

Dia mengucapkan kata perpisahan dengan suara yang hampir menghilang, lalu berlari kecil keluar dari kamarku.

"...."

Ekspresi wajahnya yang berkerut penuh kepedihan saat keluar dari kamar benar-benar menusuk hatiku.

Keesokan harinya di pagi buta, saat aku keluar dari perumahan sementara, sesosok orang tak terduga sedang berdiri di sana. Orang itu adalah—.

"Yo!"

Dia adalah teman nakalku, Akutsu Arata.

"Arata, kenapa kamu ada di sini?"

"Sudah jelas karena aku juga akan ikut bersamamu, kan!"

Seharusnya aku menolaknya, namun—

"Kamu pasti akan mati, lho?"

Entah kenapa aku malah merasa dia bisa diandalkan.

"Hal itu juga berlaku untukmu, kan?"

"Mungkin saja, ya."

Aku mulai berjalan sambil tersenyum masam, sebab tidak ada alasan bagiku untuk menolaknya juga.

Bahkan jika kemungkinan kalah sangat besar, aku akan memastikan untuk menyelamatkan semua anggota Kelas F yang telah tertangkap.

Selain itu, tadi malam Kazu-san dari Akkigura mengabariku bahwa Takeshi telah menghilang di situasi seperti ini. Dia mungkin pergi untuk menyelamatkan Mashiro dan yang lainnya.

Ini seharusnya menjadi situasi yang sangat buruk. Namun entah kenapa, aku sama sekali tak bisa membayangkan Takeshi tertangkap, atau kalah dan bersimbah darah, malahan—.

(Tidak, mana mungkin hal konyol semacam itu terjadi....)

Sebuah pemandangan mustahil tiba-tiba terlintas di kepalaku. Saat aku menggelengkan kepala dan bergumam seolah mencoba meyakinkan diriku sendiri,

"Hm? Kamu tadi bilang sesuatu?"

Arata yang berada di sebelahku mengerutkan kening dan memastikannya.

"Bukan, bukan apa-apa. Kalau begitu, saatnya kita maju ke medan perang."

Dengan deklarasiku yang ala kadarnya dan klise itu, peperangan pun dimulai.

◇◆◇

Aku, Kuonji Makoto, telah mengagumi Ikushima Takeshi sejak kami pertama kali bertemu saat SMP.

Namun, ini bukanlah kekaguman karena cinta pertama seperti yang dialami banyak gadis.

Kurasa perasaan ini lebih mirip rasa iri dan damba terhadap seorang pahlawan, seperti atlet olahraga yang sangat terkenal.

Karena pada dasarnya aku memiliki tekad kuat dalam bertindak, aku menggunakan seluruh kekuasaan keluarga Kuonji untuk pindah ke SMP yang sama dengan satu tujuan, yaitu mendekati Takeshi.

Hal yang kuinginkan bukanlah menjadi kekasih Takeshi, melainkan menjadi teman yang bisa berdiri sejajar dengannya.

Karena itulah, aku menyamar menjadi laki-laki dan bertingkah laku semirip mungkin dengan Takeshi.

Tentu saja, ibuku dan adikku Karina sepertinya benar-benar kehabisan kata-kata melihat kelakuanku itu.

Takeshi masuk ke SMA Hanatsuki demi meraih mimpinya menjadi seorang Hunter, dan tentu saja aku juga mengikutinya.

Di sanalah, sebuah elemen asing bernama Tsukishiro Kain bergabung bersama kami.

Pria yang tidak memiliki ciri khas yang menonjol itu dengan cepat menjadi teman Takeshi, dan kami bertiga pun mulai sering bermain bersama.

Hubungan kami mulai mengalami perubahan pada suatu pagi buta di musim panas yang gerah.

Karena tidak bisa tidur nyenyak, aku terbangun lebih awal dari biasanya dan memutuskan untuk berjalan-jalan di kota demi mencari udara segar.

Pada saat itulah, di sebuah taman yang kusinggahi, aku menemukan dirinya.

Di taman itu, seorang remaja laki-laki berambut abu-abu sedang berlatih kuda-kuda bela diri. Dia adalah Tsukishiro Kain, temanku di SMA Hanatsuki.

Meskipun kami selalu bertemu di sekolah, entah kenapa hanya dengan melihatnya sekilas, dadaku terasa sesak karena kesedihan yang mendalam.

"Loh, aku?"

Saat menyentuh pipiku, aku baru menyadari kalau air mata telah mengalir. Meski hatiku terguncang oleh perasaan yang sulit dijelaskan ini, aku tetap menonton latihan kuda-kudanya yang begitu indah layaknya sebuah tarian.

Saking indahnya pertunjukan bela diri itu, aku sampai tak sadar memujinya, "Hebat, ya." Namun, karena aku tidak sedang menyamar sebagai laki-laki, dia tidak mengenaliku sebagai Makoto, dan hanya memberikan balasan formal layaknya orang asing.

Meskipun dalam hati aku merasa sedikit kesal mendengarnya berkata, "Terima kasih banyak," aku tetap terus menonton latihannya sampai selesai.

Semenjak hari itulah, aku mulai sering mengalami mimpi aneh itu. Di dalam mimpi itu, atas perintah majikanku, aku mengawal seorang remaja laki-laki bernama Umi secara diam-diam.

Pada awalnya, aku membenci sang majikan yang memberikan perintah merepotkan ini, tapi itu hanya di awal saja. Setelah terus mengawasinya selama bertahun-tahun, aku mulai mengetahui kebaikan hatinya, kemurniannya, serta kekuatan tekadnya, hingga aku pun mulai sangat tertarik padanya. Lalu pada suatu hari—.

"Terima kasih karena selalu melindungiku."

Dia menyatukan kedua tangannya menghadap ke arah yang salah, lalu menggumamkan hal itu.

Skill Stealth milikku tidaklah selemah itu sampai-sampai bisa dibongkar oleh seorang anak kecil. Buktinya, dia bahkan berdoa ke arah yang sama sekali salah.

Meski begitu, pada saat itu aku benar-benar merasakan bahwa semua tindakanku selama ini tidaklah sia-sia.

Namun pada akhirnya, aku malah mengkhianatinya. Pada hari di mana para vampir menyerang, aku menelantarkannya demi menyelamatkan nyawa majikanku yang sedang dalam bahaya.

Mimpiku berakhir dengan perasaan sedih dan penyesalan yang luar biasa kuat.

Aku bisa memastikan bahwa remaja laki-laki yang kukawal dalam mimpi waktu itu adalah Tsukishiro Kain. Wajah mereka memang mirip.

Namun, warna rambutnya bukanlah hitam melainkan abu-abu, dan ia juga terlihat jauh lebih dewasa seolah-olah ia adalah orang yang berbeda. Walau begitu, kebaikan hati yang tak berujung dan kekuatan tekad yang takkan goyah oleh apa pun itu, aku tak bisa membayangkan siapa pun selain dirinya.

Berawal dari insiden di Sweets Wood saat ia melindungiku dari Tatsuya, perasaan yang baru pertama kali kualami seumur hidup ini semakin menguat. Lalu, setelah kejadian di kamar mandi waktu itu, aku dengan jelas menyadari perasaan cintaku padanya.

Sejak saat itu, aku perlahan-lahan mulai kehilangan kendali atas diriku sendiri. Ironisnya, alasannya adalah karena temanku sendiri dari Kelas F, Mikage Mashiro.

Bukan karena Karina, bukan pula karena Ran. Bukan karena Otome Utako, maupun Akizuki Narumi. Hanya satu hal, aku tidak bisa memaafkan fakta bahwa Mashiro selalu bersama dengannya, karena aku takkan pernah mau kalah dari gadis itu.

Tepat ketika perasaan tak teridentifikasi itu terus bergejolak dan aku sudah tak bisa mengendalikannya lagi, insiden latihan praktik Glorious pun terjadi.

Aku yang berada di kelompok yang sama dengan Takeshi, digiring masuk ke dalam sebuah toserba yang setengah hancur di bawah pimpinan para anggota Glorious.

Saat kami kebingungan karena dikepung oleh para anggota Glorious, sang pemimpin mereka, seorang pemuda tampan berambut pirang bernama Ukon, melangkah maju ke depan.

"Sebentar lagi, tempat ini akan menjadi wilayah kekuasaan Spade-sama yang agung. Aku akan memberikan pilihan kepada kalian. Apakah kalian mau mengabdi pada Spade-sama dan mendedikasikan seumur hidup kalian sebagai budak, atau kalian ingin mati di sini."

Dia melontarkan omong kosong semacam itu dengan penuh kesombongan.

"T-Tunggu sebentar, apa ini semacam ujian?"

Seorang siswa laki-laki berambut hitam pendek bertanya mewakili keraguan semua orang.

"Pembersihan!"

Bersamaan dengan teriakan kerasnya, seberkas sinar melesat keluar dari tangan kanan Ukon dan melubangi dada siswa berambut hitam pendek itu.

Setelah keheningan sesaat, keterkejutan dan ketakutan pun meledak. Ukon menembak mati beberapa siswa yang berlarian kabur dalam kepanikan.

"Dengar, sebentar lagi tempat ini akan menjadi milik Spade-sama dan ras vampir lainnya."

"—!?"

Ras vampir? Tadi dia bilang ras vampir?

"Kalian, apa kalian telah mengkhianati umat manusia!?"

Takeshi melontarkan kecaman dengan suara penuh kepanikan.

"Berkhianat? Sepertinya ada beberapa kesalahpahaman di sini, kami ini bukan lagi monyet manusia rendahan. Kami adalah manusia super yang telah berevolusi setelah menerima kekuatan baru dari Spade-sama!"

Begitu ya. Mereka ini adalah antek-antek dari para kelelawar itu. Kaki tangan dari vampir-vampir keparat yang telah merebut Umi dariku saat itu....

Kakiku perlahan melangkah maju ke arah mereka.

"Ma-Makoto, jangan! Sekarang bukan waktunya—"

Takeshi mencengkeram bahu kananku dan mencoba mencegahku dengan suaranya, tetapi aku menepisnya dan terus berjalan perlahan menuju Ukon.

Aku tidak bisa memaafkan—diriku di masa lalu yang terlalu lemah dan kalah cepat dari para vampir itu hingga gagal menyelamatkan Umi!

Aku juga tidak bisa memaafkan—diriku yang sekarang yang masih menganggap vampir semacam itu sebagai eksistensi kuat yang tak bisa dikalahkan!

"Kau ini—"

Ukon mencoba mengatakan sesuatu, tetapi hawa dingin yang meluap dari tubuhku layaknya aliran arus deras langsung membekukan mereka semua dalam sekejap mata.

"Apa aku terlambat...."

Saat aku tersadar, di hadapanku telah berdiri patung-patung es dari para anggota Glorious, beserta seorang Hunter Kelas A, Amagi Tokisada.

Kami yang telah dilindungi oleh tim Amagi Tokisada segera dipindahkan dari Kota Yunicho ke zona aman. Aku dipanggil pulang ke kediaman keluargaku dan dijadikan tahanan rumah di kamarku sendiri.

Dari TV di kamarku, aku mengetahui bahwa Tatsuya telah menghancurkan dinding hitam. Sang Orang Suci, Mikage Mashiro, juga telah mengkhianati umat manusia, dan Kota Akigayama beserta Kota Yunicho telah diduduki oleh para vampir.

Di tengah kekacauan itu, adikku Karina dan juga Ran sepertinya telah menghilang tanpa jejak.

Tentu saja aku merasa khawatir dengan teman-temanku yang diculik, dan Karina adalah adikku yang berharga. Perasaan ingin segera terbang ke sana dan menyelamatkan mereka sudah pasti ada di benakku.

Namun, aku sama sekali tak bisa mengambil langkah maju, dan aku juga bisa menebak apa alasannya. Aku pasti merasa takut akan kehilangan sesuatu lagi, karena situasi saat ini benar-benar merupakan reka ulang dari mimpi itu.

Di saat aku masih belum bisa mengambil keputusan, aku menerima sebuah pesan singkat dari Otome Utako. Pesan itu berbunyi—.

"Besok, Kain-kun akan berangkat menuju medan perang melawan vampir. Ini alamatnya, kalau kamu mau bicara dengannya, ini kesempatan terakhirmu."

Itulah yang tertulis di sana.

Aku tak bisa lagi menahan diri, segera memakai sepatu yang kusembunyikan di dalam lemari pakaian, lalu berlari keluar rumah menuju alamat yang diberikan.

Aku bisa menemui Kain dengan mudah.

Hanya dengan menatap Kain, rasa sedih membanjiri dadaku, bersamaan dengan perasaan kuat bahwa aku tidak ingin kehilangannya. Karena itulah, aku berusaha keras meyakinkannya agar mengurungkan niatnya menyerang para vampir besok.

Namun, hal itu tidaklah mungkin. Setelah berbicara dengannya, aku menyadari hal itu hingga rasanya begitu menyakitkan.

Jika aku menyerah, dia akan mati. Karena itulah, aku tak boleh mundur sama sekali, padahal seharusnya begitu, namun—.

"Kalau begitu, berjanjilah padaku. Setelah kamu mengalahkan para vampir itu, kamu harus terus berada bersamaku!"

Kata-kata yang keluar dari mulutku adalah sesuatu yang sama sekali tidak kuinginkan. Pada saat yang sama, aku menyadari bahwa aku yakin dia pasti akan berhasil mengalahkan para vampir itu besok.

Benar sekali. Hal yang sebenarnya sangat kutakutkan adalah—.

Pada detik berikutnya, ingatan palsu di kepalaku hancur berkeping-keping layaknya pecahan kaca, dan aku mulai memahami perasaanku sendiri dengan akurat.

"Kamu tidak mau bilang kalau kamu akan terus berada di sisiku, ya?"

"Maafkan aku."

"Sudah kuduga... kamu akan kembali ke tempat asalmu, kan?"

"...."

Berbeda dengan dirinya yang selalu menatap wajahku saat berbicara, hanya dengan melihatnya menunduk dengan wajah penuh penyesalan, aku tak perlu lagi mendengar jawabannya.

Tujuannya datang ke tanah ini pasti demi menyelamatkan Mashiro. Begitu tujuannya selesai, dia akan menghilang dari dunia ini.

Aku sangat membenci fakta itu. Karena itulah, aku tidak ingin dia pergi besok.

Bagaimanapun juga, karena ingatan dan kekuatanku sudah hampir kembali, sebentar lagi aku akan menjadi diriku yang benar-benar berbeda. Meskipun tak ada bukti apa pun, aku bisa memastikannya, karena itulah—aku mencium Kain.

Ciumanku yang mungkin akan menjadi yang terakhir ini, masih terasa sama menyedihkannya, dan membuat dadaku dipenuhi oleh kebahagiaan.

"Selamat tinggal."

Setelah mengucapkan selamat tinggal untuk terakhir kalinya kepada Kain, aku kembali ke kediaman keluarga Kuonji dan membereskan barang-barangku.

Sejak awal, aku bukanlah anggota keluarga Kuonji. Tak lama lagi, keadaan yang tidak wajar ini akan segera terselesaikan.

Meskipun begitu, bagi diriku yang sekarang, Karina adalah adikku, dan Kuonji Kyouka adalah ibuku. Karena itulah, aku sama sekali tak ingin ibuku menatapku dengan pandangan layaknya orang asing.

Karena itulah, agar tidak menimbulkan suara berisik, tepat saat aku melompat dari jendela ke taman,

"Makoto, kembali ke kamarmu!"

Sebuah suara tegas terdengar dari belakangku. Saat aku menoleh, ibuku, Kyouka, sedang berdiri di sana dengan ekspresi panik.

Wajahnya terlihat hampir menangis dan penuh keputusasaan. Tak kusangka ibuku juga bisa membuat ekspresi seperti ini, dan di tengah situasi yang tidak pantas ini, sambil memikirkan hal itu,

"Ibu, terima kasih untuk selama—"

"Hentikaaan!"

Kata-kataku dipotong oleh jeritan melengking yang sama sekali tak terduga dari ibuku yang biasanya selalu bersikap tenang.

"Semuanya akan baik-baik saja. Aku pasti akan menyelamatkan Karina."

Setidaknya, hal itu akan kuselesaikan dengan mempertaruhkan nyawaku.

"Kumohon padamu. Kembalilah ke kamarmu."

Meskipun aku merasa kewalahan melihat ibuku memohon sambil menangis tersedu-sedu, aku sekali lagi membungkuk hormat dalam-dalam, lalu berlari meninggalkan kediaman itu.

◇◆◇

Saat berjalan di jalanan malam, seorang pria berjenggot yang tak terawat berdiri tepat di hadapanku, dia adalah Amagi Tokisada.

"Shirou...."

Nama pria tak dikenal keluar dari mulutku.

"Sudah kuduga, sepertinya ingatanmu juga sudah mulai kembali, ya."

"Iya."

"Tidak ada lagi yang bisa kita lakukan. Kita hanya bisa menyerahkan tubuh ini pada takdir. Hanya saja, aku berharap—semoga rekan-rekan kita akan terus tersenyum mulai dari sekarang."

Jadi, itukah yang diinginkan Shirou. Seperti dugaan, Shirou adalah orang yang hebat.

Tapi kau tahu, aku ini berbeda. Keinginanku jauh lebih egois dari yang bisa kubayangkan.

Benar sekali. Keinginanku adalah—.

◇◆◇

Aku, Ikushima Takeshi, bersembunyi di balik bayang-bayang sebuah gedung terbengkalai sembari mengintai daerah sekitarku, dan targetku pun langsung terlihat.

(Mashiro-chan! Syukurlah kau selamat....)

Melihat sosok Mashiro yang mengenakan pakaian merah itu baik-baik saja, aku menghela napas panjang dipenuhi rasa lega yang luar biasa.

Naluri melindungiku yang begitu kuat ini, mungkin berbeda dengan perasaanku terhadap wanita lain. Ini adalah sesuatu yang lebih intim dan tak tertahankan.

Seperti, perasaan yang ditujukan pada seseorang yang sedarah, layaknya kakak beradik....

(Tidak mungkin hal konyol semacam itu nyata....)

Aku ini anak tunggal, dan tidak pernah dengar kalau aku punya adik perempuan. Seharusnya begitu, tapi entah kenapa ya?

Hanya dengan memastikan keselamatannya, aku dipenuhi rasa aman seolah-olah seluruh dunia telah diselamatkan.

(Aku harus menyelamatkannya....)

Aku bergumam pelan. Aku tidak percaya Mashiro bersedia menjadi kaki tangan para vampir atas kemauannya sendiri, dia pasti sedang dikendalikan.

(Kain, maafkan aku!)

Aku telah datang ke tempat ini tanpa berdiskusi sedikit pun dengannya. Mengingat dia tinggal satu atap dengan Mashiro, dia pasti lebih khawatir daripada aku.

Jika itu Kain yang pintar, dia pasti akan menyarankan metode paling brilian untuk menyelamatkan Mashiro. Namun di saat yang sama, hal itu sama saja dengan menyeret Kain ke dalam pertarungan melawan para vampir ini.

Kain adalah salah satu teman yang kumiliki. Aku takkan pernah membiarkan diriku kehilangannya.

"Mulai sekarang, kita akan memulai eksekusi terhadap Akizuki Tatsuya dan tiga ekor bocah ini!"

Akizuki Tatsuya diikat di sebuah tiang besi berbentuk salib, di sebelahnya Akito dan Mikan juga diikat. Kemudian, di ujungnya, gadis bernama Arisa yang tinggal bersama Mashiro juga ikut diikat.

"Oi! Kalau kau mau membunuh, bunuh saja aku! Mereka sama sekali tak ada hubungannya, kan!"

Tatsuya berteriak dengan ekspresi yang sangat panik.

Tatsuya benar-benar telah berubah setelah dekat dengan Kain. Padahal sebelumnya, dia bukanlah tipe orang yang peduli pada orang lain di saat nyawanya sendiri sedang terancam.

"Kak Tatsuya...."

"Kakak...."

Kepada Akito dan Mikan yang berwajah nyaris menangis itu,

"Jangan khawatir! Kakak pasti akan menolong kalian semua!"

Tatsuya tersenyum dan mendeklarasikan hal itu dengan penuh semangat.

Sosok Tatsuya yang telah tumbuh ini juga merupakan harapan dari sahabatku, Kain. Aku sama sekali tak berniat membiarkan orang-orang rendahan dan vulgar ini merebut nyawanya.

Akan kuberikan nyawaku demi menyelamatkan mereka semua. Terutama—.

"Orang Suci Mashiro, kaulah yang akan mengeksekusi mereka!"

Vampir pria dengan lingkar hitam di bawah matanya mengangkat lengan kanannya dan memberikan instruksi dengan nada gembira.

"Siap, laksanakaaaan. Aku mengerti. Tunggu ya, aku akan membunuh mereka dengan cepat."

Mashiro melangkah naik ke atas panggung tempat keempat orang itu diikat sambil membawa sebuah pedang panjang berbilah hitam di satu tangannya. Aku tadinya mengira Arisa akan ketakutan, namun—.

"Kembalikan Kak Mashiro, dasar iblis keparaaat!"

Orang yang tinggal bersamanya kini tengah berusaha membunuhnya. Meskipun begitu, amarah luar biasa yang terpancar dari kedalaman matanya sama sekali tidak ditujukan pada Mashiro, melainkan hanya pada sang vampir.

"Jaga bicaramu di hadapan Spade-sama!"

Seorang pria vampir berbaju merah yang sepertinya seorang prajurit memukulnya dengan wajah penuh amarah.

Meskipun memuntahkan darah segar, Arisa terus memelototi vampir tersebut.

"Orang Suci Mashiro, ini adalah sebuah ritual sekaligus sebagai umpan. Kau harus mengeksekusinya secara perlahan-lahan agar para manusia bisa menontonnya dengan saksama. Apa kau paham dengan hal itu?"

Saat Spade melirik dan menanyakan hal itu pada vampir berambut pendek yang tampaknya adalah ajudannya,

"Siap! Kami telah menyiarkan video ini kepada orang-orang di Asosiasi Hunter!"

Dia menjawabnya dengan sigap sambil menepuk dadanya dengan kepalan tangan kanan.

"Bagus sekali. Kalau begitu, Orang Suci Mashiro, mulailah dengan mencincang anak gadis iblis itu terlebih dahulu."

"Nah, mau mulai dari mana? Jari-jari kaki, hidung, atau telingamu dulu?"

Kepada Mashiro yang mendekati Arisa dengan wajah tersenyum menyeringai,

"Cepat keluar dari tubuh Kak Mashiro! Dasar monster jelek!"

Arisa meneriakkan caci maki.

"...."

Mashiro menatap Arisa seolah-olah sedang melihat sesuatu yang tak dapat dipercaya, tetapi,

"Dasar bocah keparaaaat!"

Urat nadi biru tebal menonjol di dahi Mashiro. Ia mengangkat pedang panjang berwarna hitam itu dengan wajah berkerut jelek yang sama sekali tak terlihat seperti Mashiro yang cantik.

"Tidak akan kubiarkan!"

Bersamaan dengan kata-kata penolakanku, tubuhku bergerak dengan sendirinya.

Aku melompat turun dari atas gedung dengan kecepatan tinggi dan menahan ujung bilah pedang panjang hitam milik Mashiro yang diayunkan ke bawah dengan tangan kananku.

"Hah!?"

Aku menempelkan telapak tangan kiriku ke dahi Mashiro yang matanya membelalak kaget, lalu,

"Faint dan Status Immunity!"

Aku merapalnya dengan cepat.

"Kukah!"

Mashiro mengejang sejenak, memutihkan matanya, lalu ambruk ke tanah.

"Unbind!"

Tanpa jeda sedetik pun, aku merapalkan mantera pembebas untuk melepaskan ikatan mereka semua.

Sesaat kemudian, logam yang mengikat keempat orang itu menguap dan berubah menjadi partikel kecil yang menghilang di udara.

Inilah kemampuanku yang baru saja bangkit, Power Word. Lebih tepatnya, aku baru menyadari kemampuan asliku akhir-akhir ini.

Awalnya aku salah mengira bahwa kemampuanku ini hanyalah kemampuan tipe dukungan seperti memberikan buff dan debuff.

Namun, aku segera mengerti bahwa ini adalah kemampuan untuk mewujudkan apa pun yang kubayangkan menjadi kenyataan melalui kata-kata.

Yah, meskipun penggunaannya cukup praktis, ada batas hal-hal yang bisa kulakukan dengan kemampuan ini.

"T-Tangkap mereka semua sekaligus!"

Suara Spade yang panik menggema, lalu dari segala arah, rantai-rantai berwarna merah menjalar ke arahku.

Aku mencoba menghindar dan mengambil jarak, tetapi rantai merah itu mengepungku dengan sangat cepat lalu mengikat seluruh tubuhku hingga aku tak bisa berkutik.

"Sial! Unbind!"

Rantai merah yang mengikat tubuhku hancur berhamburan. Namun, masih ada lebih banyak rantai merah lagi yang telah mengepungku dan membentuk kubah.

(Sialan!)

Jumlahnya benar-benar terlalu banyak. Efek Power Word milikku hanya terbatas pada jangkauan penglihatanku.

Terlebih lagi, aku harus mengucapkan kata-katanya. Jika mata atau mulutku ditutupi, aku tak bisa mengharapkan kemampuanku ini akan berfungsi.

Tadi, hanya karena disentuh saja, aku merasa kekuatanku terkuras.

Rantai merah ini pastinya juga memiliki efek pelemahan dan kelumpuhan, jika begini terus, semua kekuatanku bisa tersegel sepenuhnya.

Aku mengarahkan dan menunjuk tangan kananku pada Mashiro, Tatsuya, Akito, Mikan, serta Arisa.

"Cepat, ikat dia!"

Bersamaan dengan instruksi Spade yang menggema,

"Barrier dan Teleport!"

Aku meneriakkan mantera Power Word-ku. Tepat setelah itu, sekumpulan rantai merah itu menerjang lalu membungkam mulutku, hingga aku tak bisa menggerakkan satu jari pun.

Di saat yang sama, Mashiro dan yang lainnya terbungkus oleh selaput emas berbentuk bola dan melayang di udara.

"G-Gawat!"

Spade berteriak dengan mata memerah karena panik dan mencoba merapal sihir pada mereka.

Namun, kelompok Mashiro melesat terbang dengan kecepatan tinggi menjauh dari sana.

"Daa Iyaa! Kejar mereka! Kalau sampai satu saja yang lolos, kita semua akan dihukum mati oleh Vlad-sama!"

Instruksi tajam pun kembali diserukan,

"Aku tahu walau kau tak mengatakannya!"

Seorang vampir berambut pendek bernama Daa Iyaa yang memakai pakaian mewah namun berlebihan layaknya bangsawan abad pertengahan, berlari mengejar ke arah kelompok Mashiro yang terbang menjauh.

"Karena ada Hato di sana, kuharap semuanya akan baik-baik saja."

Sambil menyeka keringat dingin di dahinya, Spade menghela napas panjang dan memelototiku dengan tatapan dingin.

"Manusia monyet yang menggunakan sihir aneh. Sepertinya kau masih sadar meski sudah terkena sihir penyegelan ini... entah karena instingmu lebih lambat dari dugaanku, atau mungkin—"

Di saat Spade menyilangkan lengannya dan bergumam pada dirinya sendiri,

"Kerja bagus! Bocah itulah Behemoth-nya! Cepat bawa dia kemari!"

Sebuah suara pria yang dipenuhi kegembiraan terdengar dari atas kepalaku.

"—!?"

Wajah Spade menegang dan ia langsung melompat menjauh dariku.

"B-Bocah ini adalah... sang Behemoth...."

Dia menatapku dengan pandangan seolah-olah sedang melihat sesosok monster.

Dari balik sorot matanya, terpancar perasaan takut yang sama sekali tak terbayangkan dari ras vampir yang mengklaim diri mereka sebagai ras terkuat.

"K-Kalau begitu, segeralah antar Sang Leluhur ini ke hadapan Vlad-sama!"

Sangat berlawanan dengan sikap dominannya tadi, Spade kini berdiri tegap sambil gemetaran, lalu memberi perintah kepada ajudan vampir berambut pendeknya.

"T-Tuan Spade, s-saya yang harus melakukannya!?"

Ajudan berambut pendek itu menunjukkan raut wajah seolah dunia akan kiamat saat meminta agar dibebaskan dari tugas tersebut. Namun,

"Aku harus memimpin operasi penaklukan para manusia di sini. Jadi, sisanya aku serahkan padamu."

"Ba...iklah."

Vampir berambut pendek itu memerosotkan bahunya pasrah. Dengan tangan yang gemetaran dan takut-takut, ia mengangkatku dan menaruhku di bahunya, kemudian ia membawaku terbang dengan menaiki makhluk yang mirip seperti kelelawar.

◇◆◇

Setelah terbang selama kurang lebih 15 menit menggunakan makhluk mirip kelelawar itu, aku diturunkan di sebuah taman penuh bunga-bunga merah cerah yang bermekaran di pusat Distrik Adachi.

Di taman itu, seorang vampir tampan berambut merah sedang menungguku.

Di kedua sisinya, tampak vampir berambut pirang dengan penampilan seperti DJ, dan seorang remaja berpotongan rambut hitam asimetris berdiri mendampinginya.

Di bagian tengah taman, kristal-kristal tajam tersusun rapi membentuk lingkaran.

Di tengah-tengahnya, terdapat sebuah mimbar dengan gambaran lingkaran sihir di atasnya, serta sebuah benda yang tertutup kain hitam diletakkan di sana.

"Nero, cepat mulai ritualnya!"

Vampir tampan berambut merah itu memberikan instruksi dengan nada seakan bernyanyi kepada remaja berambut asimetris bernama Nero.

"Sesuai perintah Anda."

Nero membungkuk dengan sangat hormat pada vampir tampan berambut merah itu, lalu menggendongku dengan mudahnya dan membaringkanku di atas mimbar tempat benda berbalut kain hitam itu berada.

"Apa... yang... akan...."

Aku berusaha sekuat tenaga untuk berbicara, tetapi tidak berhasil.

Benda yang ditutupi oleh kain hitam ini, terus memancarkan sihir berwarna biru yang sangat pekat, secara tidak berlebihan benda ini sangatlah tidak wajar.

Entah kenapa, aku benar-benar tak habis pikir bagaimana bisa para vampir berambut merah ini tidak menyadari energi sihir mengerikan tersebut.

"Kalau begitu, mari kita mulai ritualnya."

Nero mengangkat kedua tangannya dan mulai merapalkan sesuatu semacam mantera.

Energi sihir berwarna biru itu menjadi semakin pekat, dan mulai melilit seluruh tubuhku.

"Gugiii!"

Rasa sakit luar biasa seakan-akan ada pasak yang ditancapkan langsung ke saraf tulang belakangku menjalar ke seluruh tubuh.

Kemudian, benda berbalut kain hitam itu berubah menjadi gumpalan lendir kental berwarna biru yang menyerupai slime, menempel di tubuh bagian bawahku dan mulai menyatu denganku.

"Gah! Giii!"

Di saat aku menjerit dan berguling-guling menahan rasa sakit, entah kenapa aku juga merasakan sensasi nostalgia yang aneh.

Itu adalah perasaan unik di mana jati diriku seolah-olah ditimpa dan diubah menjadi sesuatu yang jauh lebih besar.

(Hee, kau masih bisa mempertahankan kesadaranmu rupanya. Seperti dugaan dari sang Behemoth, dewa super yang dianggap Ayah sebagai saingannya.)

Nero melontarkan pendapat yang sama sekali tidak bisa kupahami itu dengan senyuman menyeringai yang ditarik hingga ke dekat telinganya.

"Aku... adalah... Ikushima... Takeshi...."

Aku memaksakan suaraku untuk keluar sembari berjuang mati-matian menahan rasa kantuk damai yang sangat kuat dan tak tertahankan.

Jika aku menyerahkan tubuh ini pada tidur yang nyaman itu, aku takkan pernah bisa kembali menjadi diriku yang sekarang, karena aku tahu betul akan hal itu.

"Akan kubantu ritualmu ini! Hei, Club! Bawa wanita itu kemari!"

"Siap YO! Aku sudah membawanya ZE!"

Vampir berpenampilan seperti DJ yang dipanggil Club itu menjentikkan jarinya, lalu seorang wanita di atas kursi roda dibawa keluar dari gedung belakang.

Begitu aku menatap wajah wanita itu—.

"Sakuya?"

Nama wanita yang seharusnya tidak kukenal malah keluar dari mulutku. Sesaat kemudian—.

"Gaaaaa!"

Rasa sakit yang luar biasa seakan kepalaku baru saja dihantam palu mendadak muncul.

Saat aku menyadari bahwa rasa sakit itu berasal dari jumlah ingatan yang sangat besar, kesadaranku perlahan ditutupi oleh kabut putih yang tebal sebelum mulai memudar.

—Kain, aku—!

Tepat ketika aku menggumamkan kata-kata terakhir pada sahabatku itu, kesadaranku pun hilang sepenuhnya.

◇◆◇

Energi sihir perak dari Sang Leluhur memancar dan memenuhi seluruh area sekitar.

Untuk beberapa saat, tidak ada satu hal pun yang terlihat, sebelum akhirnya angin kencang meniupnya terbang ke atas langit dan pandangan kembali menjadi cerah.

Di hadapan Vlad dan yang lainnya, terlihat sesuatu yang menyerupai kepompong berwarna putih keperakan.

"Hei, Nero! Apa Behemoth ada di dalam sana!?"

Tanpa mengalihkan pandangannya dari kepompong perak itu, Vlad bertanya pada Nero, namun tidak ada jawaban yang terdengar.

Dia hanya menggerakkan bola matanya, menyadari bahwa sosok Nero beserta manusia yang menjadi pasangan Sang Leluhur itu telah menghilang tanpa jejak.

(Dasar bodoh! Kau terlalu dekat sampai ikut terserap, ya!)

Sihir dalam jumlah sebesar itu baru saja dilepaskan. Wajar saja jika bawahan yang bukan vampir menguap dalam sekejap, apalagi manusia biasa.

Namun, tugas wanita manusia itu dan Nero sudah selesai.

Vlad telah memerintahkan Nero untuk menanamkan Permata Penakluk ke dalam gumpalan daging yang ada di dalam kepompong perak tersebut.

Gumpalan daging itu merupakan pemusatan dari energi sihir tingkat tinggi yang dikumpulkan dari 10.000 jiwa manusia, 100 vampir bergelar bangsawan, serta 1.000 jiwa vampir kelas rendahan.

Namun, mereka tak lebih dari sekadar manusia serta vampir tingkat rendah hingga menengah yang dijadikan tumbal. Andaikan menetas pun, kekuatannya saat ini seharusnya tidak akan mampu menandingi Vlad.

Inti dari kehebatan Sang Leluhur bukanlah kemampuan fisik maupun tingginya energi sihir, melainkan kemampuan istimewa yang disebut Phantasm. Jika Vlad merasuki dan mengambil alih raga Sang Leluhur yang sedang melemah, ia pasti bisa menggunakan Phantasm dengan tetap mempertahankan kekuatannya yang sekarang.

Bila hal itu terwujud, ia akan mampu bertakhta di dunia ini sebagai Dewa Agung yang mutlak.

"Dengan begini, aku tak perlu lagi mencemaskan pandangan para bajingan dari pihak jahat maupun kubu surgawi!"

"Selamat untuk Anda ZE! Tuan Vlad!"

Mendengar tepuk tangan dari Club, pipinya merekah membentuk seringai puas tanpa bisa dicegah. Begitu kepompong ini menetas dan ia merebut kekuatan Sang Leluhur Behemoth, Vlad akan menjadi penguasa dunia ini, baik secara nama maupun kenyataan.

Tepat saat ia tengah membayangkan masa depan yang gilang-gemilang itu—.

—Tuan Vlad, pasukan manusia telah menyerbu kemari!

Laporan dari Spade seketika menghancurkan segalanya.

"Pasukan monyet manusia katamu!? Tangkap saja kroco-kroco itu dan jadikan makanan bagi para bawahan! Jangan repot-repot melapor padaku untuk hal sepele!"

—Tsukishiro Kain telah terkonfirmasi berada di antara mereka. Anda memerintahkan saya untuk segera melapor jika berhasil melacaknya, karena itulah saya menyampaikannya!

"Tsukishiro Kain... ya...."

Pria itu telah membantai beberapa rekan sesama kaum vampir. Fakta bahwa ia mampu mengalahkan kaum vampir sudah cukup membuktikan bahwa ia adalah sesosok dewa.

Terlebih lagi, tak diragukan lagi kalau kekuatannya teramat dahsyat. Pria itu juga tampaknya menaruh perhatian khusus pada putri Behemoth yang bernama Mikage Mashiro.

Kemungkinan besar, ia adalah dewa yang memiliki ikatan mendalam dengan Behemoth di masa lalu.

"Kalau begitu, mari kita buat pukulan penentu di sini!"

Sosok yang akan dirasuki adalah Sang Leluhur Behemoth, jadi wajar bila ada sedikit rasa cemas. Namun, jika ia menggelar ritual penaklukan dengan mengorbankan dewa pelindung tanah ini, merasuki Behemoth yang telah melemah semestinya menjadi perkara yang amat mudah.

Pihaknya saat ini menyandera Mikage Mashiro. Selama menjadikan gadis itu sebagai tameng untuk mengancamnya, kemenangan mereka takkan pernah goyah.

"Aku mengerti. Aku akan segera ke sana. Jangan sekali-kali membunuh Tsukishiro Kain sampai aku tiba! Tangkap saja dia hidup-hidup!"

—Sesuai kehendak Anda!

Mendengar sahutan Spade yang bersemangat, sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman—.

"Segalanya berjalan persis seperti yang kuinginkan! Rasanya sungguh luar biaaasaaa!"

Sambil berseru girang, Vlad pun melesat menuju neraka duniawi demi meringkus Tsukishiro Kain.

◇◆◇

Akizuki Tatsuya adalah seorang berengsek tulen yang diakui oleh dirinya sendiri maupun orang lain. Menindas yang lemah dan menjilat yang kuat, begitulah jalan hidup yang ia jalani belakangan ini.

Namun, saat masih belia dulu, Tatsuya pun pernah bercita-cita menjadi pahlawan yang menolong kaum tertindas dan menumpas kejahatan besar. Keyakinan itu perlahan terlupakan seiring dirinya menyadari betapa minimnya bakat yang ia miliki.

Tetapi, Tatsuya kemudian mencari masalah dengan pria itu, kalah secara mutlak tanpa perlawanan, hingga akhirnya diusir dari keluarga Akizuki.

Ironisnya, berkat kejadian itulah ia bisa menjadi murid pria itu dan kembali menyadari tujuan asalnya, sosok pahlawan yang dulu pernah ia impikan.

"Kalian tidak apa-apa!? Masih sanggup lari!?"

Sambil menggendong Mashiro di punggungnya, ia menggenggam tangan Akito dan Mikan, lalu berseru kepada Arisa yang berlari di sisinya.

"Iya!"

"Aku tidak apa-apa!"

"Serahkan padaku!"

Akito, Mikan, dan Arisa menjawab dengan senyuman meski napas mereka terengah-engah. Pasti terasa sangat berat bagi mereka, namun anak-anak ini berusaha mati-matian mengimbangi kecepatan langkah orang dewasa seperti Tatsuya.

Tepat saat mereka berempat nyaris dieksekusi tadi, berkat kemampuan Ikushima Takeshi, kekangan pada tubuh Tatsuya dan yang lainnya berhasil dilepaskan, lalu mereka terlempar melintasi jarak yang cukup jauh.

Skill bawaan Tatsuya awalnya dianggap sebagai Super Strength, kemampuan yang melipatgandakan kekuatan fisik beberapa kali lipat. Namun, kemampuan sejati yang ditunjukkan oleh sang Guru adalah Bestowal, kekuatan untuk menganugerahkan berbagai sifat pada bermacam objek.

Bahkan sang Guru sendiri sempat terkejut melihat kemampuan ini, jadi tampaknya kemampuan tersebut memang sangat langka.

Saat ini, berkat kemampuan Bestowal miliknya, kecepatan lari mereka semua meningkat berlipat-lipat. Di seberang jalan itu adalah wilayah kekuasaan pihak manusia.

Begitu berhasil menyeberang ke sana, para vampir takkan bisa lagi menyentuh mereka.

(Kami selamat!)

Namun, saat jarak tersisa tinggal puluhan meter, tubuh Tatsuya dan yang lainnya mendadak berhenti total. Kekakuan tubuh yang tak wajar ini kemungkinan besar berasal dari semacam mantra sihir.

"Benar-benar merepotkan, ya."

Dari balik punggungnya, terdengar suara Mashiro yang sarat akan kekesalan mendalam. Gawat sekali, rupanya ia sudah sadar kembali.

Dari nada bicaranya, Mashiro yang sekarang adalah orang yang sama sekali berbeda. Sudah hampir pasti tubuhnya telah dirasuki oleh vampir.

Karena itulah, Tatsuya mengira bahwa membawa tubuhnya keluar dari wilayah kekuasaan vampir akan mampu memisahkan si vampir secara paksa dari tubuh Mashiro.

Kini, pilihan yang tersisa bagi Tatsuya sudah sangat terbatas.

Ia menganugerahkan sifat Dispel kepada semua orang. Disertai suara gemerincing seperti kaca yang pecah berantakan, kebebasan gerak tubuh mereka pun kembali.

"O-Orang ini... menumpuk mantra untuk membatalkan sihirku!?"

Mengabaikan Mashiro yang memekik kaget,

"Akito, Mikan, Arisa, lari!"

Tatsuya meneriakkan instruksinya.

"T-Tapi..."

Melihat keraguan ketiga anak itu,

"Cepat lari, jangan banyak tanya!"

Begitu dibentak, mereka saling berpandangan lalu kembali berhamburan lari. Akan tetapi—.

"Aduh, aduh, untung saja aku tiba tepat pada waktunya."

Tepat di jalur lari ketiga anak itu, seorang vampir berambut pendek dengan pakaian megah bak bangsawan abad pertengahan, Daa Iyaa, telah berdiri angkuh sambil berkacak pinggang.

◇◆◇

Setelah digiring kembali ke tempat eksekusi tadi, Tatsuya dan yang lainnya diikat lalu diempaskan begitu saja ke lantai.

"Orang itu berhasil menetralkan efek mantra sihirku."

Vampir yang merasuki tubuh Mashiro memberikan laporan kepada Spade dan Daa Iyaa.

"Hah? Hato, mantra sihirmu berhasil ditangkal oleh monyet ini? Menggelikan sekali! Orang ini jelas-jelas cuma manusia kera biasa, tahu?"

Daa Iyaa memandang rendah ke arah Tatsuya dengan sorot mencemooh, lalu meludah jijik.

"Tapi itu kenyataannya. Yah, mungkin saja raga ini yang membatalkan mantranya secara sepihak, sih."

Hato bergumam kesal sembari memandangi sekujur tubuh Mashiro sekali lagi.

"Jadi tubuh putri Behemoth itu yang menolaknya, ya. Raga itu adalah kartu as untuk menyegel Behemoth serta dewa tanah, Tsukishiro Kain. Kita akan sangat kerepotan jika ia bertindak sesuka hatinya lebih dari ini!"

Spade menyindir Hato dengan tatapan mata menyipit separuh.

"Aku tahu, kok. Tapi tenang saja! Aku sudah sangat paham cara menghancurkan putri Behemoth. Pertama-tama, biarkan dia membunuh anak oni di sana—"

Pedang panjang hitam termanifestasi di tangan kanannya saat ia mulai melangkah mendekati Arisa.

"Jangan harap kubiarkan!"

Tatsuya menyematkan sifat Destruction pada seluruh belenggu yang mengikat mereka. Disertai bunyi patahan logam yang berdentang nyaring, belenggu-belenggu itu hancur berkeping-keping.

Tanpa membuang waktu sedetik pun, ia mengerahkan sisa energi sihirnya yang menipis untuk menyematkan efek Barrier pada semua orang. Seketika itu pula, dinding tak kasat mata muncul melindungi sekeliling mereka.

"Oho, pelindung sihir, ya."

Daa Iyaa memanifestasikan sebuah tombak di tangan kanannya lalu menghunjamkannya ke depan. Permukaan pelindung itu seketika retak menyerupai jaring laba-laba.

"Tapi Hato, ini bukan sesuatu yang perlu kaukhawatirkan sampai segitunya. Benda seringkih ini bisa kuhancurkan dalam sekejap."

Sembari menyunggingkan seringai meremehkan, Daa Iyaa memutar-mutar tombak di tangannya dengan santai.

"A-Aku cuma memastikan saja! Biar bagaimanapun, wanita ini memang biang masalahnya!"

Wajah Hato memerah padam sembari memanyunkan bibirnya saat membela diri.

"Seharusnya mereka sudah tiba sebentar lagi..."

Tepat ketika Spade menggumamkan hal itu pada dirinya sendiri—.

—Target paling penting, Tsukishiro Kain beserta beberapa manusia lainnya telah terdeteksi. Segera memulai penyerangan!

Suara seorang pemuda terdengar menggema dari arah langit.

(Guru!?)

Hanya dengan mendengar nama itu disebutkan, hati Tatsuya seketika terasa bagai diterangi lentera di tengah pekatnya malam. Sosok itu adalah sang Guru sekaligus pahlawan sejati yang menjadi panutan hidupnya!

"Rupanya mangsa kita akhirnya menampakkan diri."

Sembari menjilat bibirnya, Daa Iyaa menggenggam tombaknya dan menyunggingkan seringai yang menyeramkan.

"Baguslah kalau begitu. Sekalian saja kubunuh anak oni ini tepat di depan mata kekasih tercintanya. Cara itu pasti jauh lebih ampuh untuk menghancurkan jiwanya."

Raut wajah Hato terdistorsi oleh kenikmatan yang keji. Paras itu sejatinya seelok dewi, namun di mata Tatsuya saat ini, penampakannya terlihat begitu menjijikkan.

"Kalau begitu, aku akan menyampaikan hal ini kepada Tuan Vlad sesuai rencana!"

"Menaklukkan seekor dewa tanah dan kawanan manusia itu sih perkara mudah. Sembari membunuh waktu, bagaimana kalau kita bertaruh seperti biasa?"

Daa Iyaa menatap ke arah Tatsuya dan anak-anak, lalu meminta persetujuan dari para vampir di sekitarnya.

"Ide bagus. Menyingkirkan satu ekor saja takkan mengacaukan rencana, justru bisa menjadi pertunjukan hiburan yang menarik saat Tuan Vlad tiba nanti."

"Benar juga... Baik, kita tentukan taruhannya!"

Spade menjentikkan jarinya, lalu dari balik bayang-bayang gedung terdengar suara gemuruh langkah kaki seekor monster ular bermata satu dan berwajah manusia yang merayap mendekat.

"Menyantap bocah monster hidup-hidup! Bagaimana menurut kalian!?"

"Astaga, kau ini selalu saja punya ide sekeji itu."

Menanggapi komentar Hato yang terdengar agak jengah,

"Tentu saja! Taring Ular Iblis Bermata Satu milikku ini memiliki efek bius dan kelumpuhan tingkat tinggi. Artinya, mangsanya takkan bisa mati dengan cepat! Jadi, ia bisa menikmati sensasi disantap hidup-hidup sampai detik-detik menjelang ajal! Seberapa lama monyet ini mampu bertahan? Ayo, pasang taruhan kalian!"

Dengan nada suara riang, ia membeberkan penjelasan yang mengerikan itu hingga mengundang sorak-sorai dari kawanan vampir di sekeliling mereka.

"Sepuluh menit, seratus ribu Gold!"

"Dua puluh menit, lima ratus ribu Gold!"

"Lima menit, tiga ratus ribu Gold!"

Melihat para vampir yang bersuka cita ikut serta dalam taruhan yang begitu biadab dan tak berperikemanusiaan ini, Tatsuya benar-benar tak habis pikir.

"Jangan bercanda, keparat! Kenapa kalian tega melakukan hal sekeji ini!?"

Tatsuya memekik sekuat tenaga dengan penuh amarah.

"Tentu saja karena ini menyenangkan. Bagi makhluk spiritual murni seperti kami, rasa bosan adalah musuh terbesar kami, tahu."

Hato membalas kemarahan Tatsuya dengan nada enteng yang menusuk hati.

"Ayo, bertahanlah sekuat tenaga dan terus pasang pelindungmu itu. Jangan sampai permainan ini selesai terlalu cepat, ya?"

Seakan digiring oleh seringai mengejek Daa Iyaa, ular berwajah manusia itu mulai merayap perlahan mendekati Akito dan Mikan.

"Sialan kau...!"

Ia takkan menyerah. Tatsuya bersumpah akan melindungi anak-anak ini dengan segenap jiwanya sampai sang Guru tiba.

Dengan sisa tenaga yang nyaris habis, ia terus mengalirkan energi sihirnya ke dalam Barrier yang melindungi mereka.

◇◆◇

Saat aku, Tsukishiro Kain, tengah berjalan bersama Akutsu Arata dari perbatasan wilayah manusia menuju area kekuasaan vampir, sebuah lingkaran sihir raksasa tiba-tiba muncul di hadapan kami. Sosok yang melangkah keluar dari sana adalah—.

"Ahahaha... Kalian semua selamat, ya!"

"Kain-kun!"

"Kain! Akhirnya kita bisa bertemu!"

Karina dan Ran langsung berlari mendekat ke arahku.

Selain mereka, tampak pula Sakuraba Tatsuki, Arima Hayato, Kuroki Akira, dan seluruh rombongan yang sebelumnya mengikuti sesi latihan di Gerbang Hitam.

"Kalian sebenarnya dari mana dan habis melakukan apa?"

Mendengar pertanyaan polos yang kulontarkan,

"Dari mana, katamu..."

Karina memegangi kepalanya dengan tatapan kosong sembari mengerang pilu.

"Apa yang... apa yang... apa yang kami lakukan..."

Wajah Ran memucat pasi sembari memeluk tubuhnya sendiri layaknya merapalkan sebuah mantra.

Jika dibandingkan dengan saat di labirin dulu, gestur tubuh setiap orang kini tampak jauh lebih terlatih dan terasah. Namun di sisi lain, sebagian besar dari mereka mendadak bersikap sangat murung dan pendiam, menggumam sendirian, atau tertawa cekikikan tanpa sebab, seolah kewarasan mereka sebagai manusia telah remuk di suatu tempat.

Sebenarnya apa yang baru saja mereka alami di sana?

"Jadi, kalian semua berniat untuk ikut bertempur bersamaku?"

"""Tentu saja!"""

Mereka serempak meraung layaknya kawanan binatang buas. Jelas ada yang tidak beres dengan mereka.

"Jalan di depan ini adalah medan kematian, apa kalian benar-benar yakin?"

Mendengar peringatanku,

"Tentu saja yakin! Meski disebut medan kematian, ini pasti jauh lebih mendingan daripada latihan spartan dari Haku-san dan Byakko-san! (Dipukuli, ditendang, dibekukan, kami sudah berkali-kali nyaris mati di sana...)"

Ran awalnya berbicara dengan nada riang dan tersenyum, namun sedetik kemudian ia langsung memegangi kepalanya sembari meneteskan air mata.

"Aku sendiri ditendang sampai sekarat oleh Dewa Kelinci. Benar-benar secara harfiah sampai mau mati... Ah, aku juga sempat dipanggang sampai jadi ayam bakar oleh Kaisar Naga Merah..."

Karina menimpali dengan tawa kecil yang terdengar begitu hampa.

"Kalian masih mending! Aku ini setiap hari dipaksa sparing melawan Raja Iblis Kerbau itu, tahu! Orang itu sama sekali tidak bisa menahan diri, jadi aku berkali-kali nyaris tewas! Kalian tahu tidak, disentuh sedikit saja lenganku bisa langsung copot! Itu benar-benar mimpi buruk!"

Dengan mata memerah, Arima menggerak-gerakkan jemarinya dengan gusar.

"Ah, kalau aku digerogoti oleh Dewa Kerakusan. Gara-gara itu, aku jadi luar biasa mahir dalam sihir pemulihan diri sendiri, lho."

Seorang siswa bermata sipit berucap dengan senyuman santai, yang seketika disahuti oleh yang lain,

"""Itu sih kelewat kejam!"""

Komentar mereka bertumpuk dengan sangat kompak.

Entah mengapa, meski nama-nama yang mereka sebutkan sama sekali tidak kukenal, aku bisa membayangkan garis besar latihan berat yang mereka jalani. Entah bagaimana cara mereka bisa berkembang sedahsyat ini dalam waktu yang sesingkat itu, namun yang terpenting adalah mereka tampaknya telah bertemu dengan sosok guru yang hebat.

Bagaimanapun juga, ada satu hal yang ingin kupastikan saat ini.

"Demi apa kalian bersedia mempertaruhkan nyawa kali ini?"

Mendengar pertanyaanku, mereka semua serempak menyunggingkan senyuman.

"Sudah jelas, kan! Demi menyelamatkan rekan-rekan kita!"

Kuroki Akira berseru lantang.

"Benar, aku sendiri yang akan menyelamatkan orang itu dengan tanganku ini!"

Karina turut mendeklarasikannya dengan pipi yang merona tipis.

"Aku juga, rasanya hidup jadi hambar kalau Mashiro sampai tidak ada."

Ran menarik topinya ke bawah sembari memalingkan muka.

"Barusan di dalam hatimu kau menganggap Mashiro sebagai rival, kan? Mengaku saja!"

Karina langsung memeluk leher Ran sembari terus menggodanya tanpa henti.

"B-Berisik! Lepaskan aku!"

Melihat mereka berdua yang asyik bercanda, Arima pun menyeletuk.

"Aku punya utang budi pada mereka berdua. Dan aku bukan tipe orang yang suka membiarkan utang menumpuk. Aku harus segera melunasinya. Lagipula, sifatku ini memang agak busuk, sih. Melihat kelelawar-kelelawar sialan itu diperdaya oleh manusia yang mereka anggap lemah adalah tontonan yang paling memuaskan! Anggap saja ini sekaligus menyalurkan hobiku!"

Arima mengutarakannya dengan raut wajah yang tampak sangat menikmati suasana.

"Hobi yang benar-benar merepotkan orang lain, ya."

Menanggapi celetukan Arata yang menghela napas,

(Yah, lagipula aku juga ingin menguji ilmu bela diri warisan Tuan Ladon serta berkat perlindungan yang kudapat dari Raja Iblis Kerbau, sih.)

Arima bergumam pelan sembari memutar sepasang golok naga dengan lihai lalu menyandarkannya di pundak.

"Aku juga pasti akan menyelamatkan Mashiro-san!"

Sakuraba mengepalkan tinju kanannya kuat-kuat dengan tatapan mata yang siap menyongsong takdir.

Intinya, mereka hanya ingin menyelamatkan rekan mereka, Mashiro dan Tatsuya, dengan tangan mereka sendiri. Karena aku pun merasakan hal yang serupa, aku sangat memahami jalan pikiran mereka.

Jika demikian, kami adalah kawan seperjuangan yang berbagi tujuan yang sama. Menanyakan tekad bertarung mereka lebih jauh lagi rasanya hanya akan membuang waktu.

"Kalau begitu, mari kita bergerak!"

Kami pun melangkah melewati garis perbatasan.

Di seberang sana, barisan pria dan wanita berseragam militer merah tengah menatap kami dengan seringai mengejek.

Di sekeliling mereka berkerumun kawanan monster mengerikan: Cockatrice berkepala ayam dengan sayap kelelawar dan ekor ular, monster Naga bertubuh manusia dengan bagian bawah berwujud ular, Gargoyle berwujud patung batu, Cyclops raksasa bermata satu, serta pasukan kadal raksasa bersisik biru menyerupai naga yang tampaknya merupakan kartu as mereka.

Semua makhluk ini adalah bawahan vampir, gerombolan monster kuat yang konon kerap menyulitkan para Hunter... seharusnya begitu.

Namun entah mengapa, di mataku mereka sama sekali tidak tampak berbahaya.

"Kain, serahkan para vampir itu pada kalian. Kami yang akan membereskan monster-monster bawahan mereka."

Setelah melirik sejenak ke arah Arata, Arima maju ke garis depan, merendahkan kuda-kudanya, dan bersiap dengan sepasang golok naganya.

"Baiklah."

Aku menarik dua bilah pisau dari pinggangku lalu mengangguk pelan.

"Ayo kita mulai, Akira!"

Arima berseru kepada Akira yang berdiri di sampingnya.

"Beres!"

Akira turut menyahut dengan raungan garang, mencabut belati dari pinggangnya, lalu membungkukkan badan bersiap menerjang.

"Bantai semua manusia itu!"

Seorang vampir paruh baya berseragam militer merah mendorong bingkai kacamatanya ke atas sembari memberikan perintah kepada pasukan di bawahnya.

Kawanan monster itu pun mulai bergerak maju merangsek ke arah kami.

"Manusia-manusia ini, boleh kami mangsa, kan?"

Seekor Gargoyle berwujud patung batu iblis yang berada di barisan terdepan meminta izin kepada vampir berkacamata yang memimpin pasukan.

"Terserah kalian! Tapi bocah kecil bernama Tsukishiro Kain itu harus dibawa hidup-hidup tanpa luka mematikan!"

Sorak-sorai seketika membahana dari kawanan monster tersebut.

"Aku mau wanita montok yang itu!"

"Kalau begitu, bocah pendek di barisan depan itu punyaku!"

Tepat saat dua ekor Gargoyle yang melayang di depan menatap ke arah Karina dan Ran sembari berucap demikian, sosok Arima sudah berpindah ke belakang kedua monster itu. Detik berikutnya, sepasang golok naga milik Arima terayun melesat dengan kecepatan tinggi.

"Lho? Apa ini?"

"Kok tubuhku bergeser?"

Garis-garis tebasan seketika merayapi sekujur tubuh kedua Gargoyle itu sebelum akhirnya hancur terpotong-potong menjadi serpihan batu.

"Keparat kau!"

Seekor monster Naga berusaha menusuk leher Arima menggunakan tombaknya, namun Akira melesat melewatinya dalam sekejap mata sembari menebas putus kepalanya.

Kepala Naga yang terlempar ke udara jatuh terhempas ke tanah, sementara tubuhnya tumbang menyemburkan darah segar layaknya boneka yang putus talinya.

"O-Orang-orang ini bukan lawan sembarangan!"

Monster-monster yang berkerumun mengeroyok Arima dan Akira seketika terbelah menjadi dua bagian.

"Hahaha! Mantap, tebasannya tidak ada habisnya!"

Arima tertawa terkekeh-kekeh.

"Mati kau!"

Akira pun melesat gesit di atas tanah, memenggal kepala Gargoyle dan Naga satu demi satu tanpa henti.

"Jangan sombong kalian, manusia rendahan!"

Seekor Cockatrice raksasa membuka paruhnya lebar-lebar dan bersiap menyemburkan napas beracun. Tepat pada saat itu—.

"White Lightning!"

Bersamaan dengan teriakan tanpa rapalan dari Ran, sambaran petir putih melesat turun dari langit menembus tubuh Cockatrice itu, menghanguskannya menjadi abu dalam sekejap.

"White Ice."

Dengan sihir tanpa rapalan lainnya dari Ran, seekor Cockatrice lainnya seketika membeku menjadi balok es, lalu hancur berkeping-keping di detik berikutnya.

"M-Makhluk apa sebenarnya mereka ini—"

Di tengah seruan panik sang raksasa bermata satu, Karina melesat masuk ke dalam jangkauannya lalu melayangkan tendangan telak ke ulu hatinya.

Tubuh raksasa itu meledak hancur sembari terpental dengan kecepatan dahsyat, menimpa kawanan Gargoyle di belakangnya hingga remuk.

Rekan-rekan yang lain pun bertarung dengan sangat perkasa laksana singa yang mengamuk.

"Biar bagaimanapun, bukankah kekuatan mereka sudah terlalu melompat jauh dibanding sebelumnya?"

"Begitulah kelihatannya..."

Aku mengiyakan gumaman Arata yang terdengar agak lelah itu.

Bukan sekadar masalah peningkatan kekuatan, namun sikap mental mereka terhadap pertempuran sudah sepenuhnya berubah. Rasa takut terhadap pertarungan yang dulu menyelimuti mereka kini telah lenyap, berganti dengan semacam euforia liar yang misterius.

Sosok yang melatih mereka pastilah seseorang yang sangat haus bertempur.

"Arata, ayo kita maju."

"Ayo."

Aku dan Arata mulai melangkah perlahan mendekati barisan para vampir.

"Pasukan Naga Biru, lepaskan napas serangan serentak!"

Dengan suara yang menyiratkan kepanikan, sang vampir paruh baya berkacamata memberi instruksi kepada kawanan kadal raksasa biru di belakangnya.

Naga Biru? Makhluk selemah ini mana mungkin termasuk bangsa naga sejati. Mereka mungkin hanya spesies kadal yang menyerupai naga, tapi baiklah, akan kuanggap saja begitu untuk saat ini.

"Siap!"

Moncong sekumpulan Naga Biru itu terbuka serentak, lalu kabut putih pekat disemburkan ke arah kami.

Aku melesat maju beberapa langkah, berdiri tepat di hadapan mereka, lalu menggunakan pisau di tangan kananku untuk memilin dan mengendalikan kabut putih yang mengalir deras itu.

"Kukembalikan pada kalian."

Dengan suara pelan dan rendah, aku mengayunkan pisauku ke depan. Kabut putih yang terlilit di bilah pisauku seketika membesar berlipat-lipat ganda, lalu berbalik menerjang ke arah para vampir dan monster bawahan mereka.

"M-Mana mungkin hal seperti ini terjadi!?"

Gelombang kabut itu seketika menggulung kawanan Naga Biru layaknya tsunami, membekukan mereka menjadi patung es dalam sekejap mata.

Serangan itu terus melaju membekukan segenap monster bawahan hingga akhirnya merangsek ke arah barisan vampir.

"S-Seluruh pasukan, mundur!"

Jeritan panik sang vampir paruh baya terdengar saat mereka mencoba melompat terbang ke udara untuk menghindar.

"Dunia tidak berjalan semudah itu, tahu!"

Bersamaan dengan seruan lantang Arata, garis-garis merah menyala melintas di udara, menebas tubuh para vampir itu hingga terbelah dua dan berjatuhan ke tanah.

Kilatan merah itu mendarat di tanah, memperlihatkan Arata yang menyandang pedang besarnya dengan seringai percaya diri sembari menatap tajam para vampir yang tersisa.

"Benar sekali. Kalian semua ini terlalu meremehkan bahaya."

Ternyata hanya dengan kekuatan sekadar ini saja mereka sudah bisa bersikap begitu sombong. Kalau lawannya cuma seperti ini, mungkin Karina dan yang lainnya pun sanggup membereskannya sendirian.

Konyol sekali, sebaiknya kuselesaikan ini secepatnya.

Aku merentangkan benang-benang energi sihir menyerupai jaring laba-laba, memetakan seluruh persendian dan titik vital para vampir tersebut.

"Tsukishiro Dagger Arts, Tingkat Menengah—Arachne's Web: Modified."

Seiring terucapnya kata-kata itu, aku mengayunkan pisauku dengan kecepatan tinggi. Segalanya telah usai.

"K-Komandan! Orang-orang ini terlalu berbahaya! Sebaiknya kita mundur dahu... lu?"

Salah satu bawahan vampir paruh baya itu mencoba memberi saran, namun sebelum sempat menyelesaikan kalimatnya, tubuhnya sudah hancur berkeping-keping ke segala penjuru.

"Hah?"

Sang komandan vampir menatap bergantian antara diriku yang tengah menyarungkan pisau dan potongan jasad bawahannya yang mengenaskan. Wajahnya seketika memucat ketakutan.

"M-Monsteeer...!"

Sambil menjeritkan kata-kata yang sama sekali tak pantas diucapkan oleh seorang vampir, ia berusaha terbang setinggi mungkin untuk menjauh dariku. Namun—.

"Eh?"

Garis-garis tebasan seketika merayapi sekujur tubuhnya, meledakkan serpihan daging ke udara.

"Hiii!"

Jeritan demi jeritan melengking dari sisa pasukan vampir.

Tepat setelahnya, tubuh mereka meledak secara berantai. Dalam sekejap mata, seluruh divisi pasukan vampir itu telah musnah tak bersisa.

"Kain, bagaimana caramu melakukan serangan barusan?"

Menanggapi pertanyaan Arata,

"Aku hanya menghubungkan ruang di sekitar mereka, lalu memotong seluruh titik vital dan sambungan tubuh mereka sekaligus."

Aku memberikan penjelasan secara singkat.

"Kau mengatakannya seolah itu hal gampang, tapi bukankah teknik itu luar biasa rumit?"

Melihat ekspresi lelah Arata,

"Kalau sudah terbiasa, tidak sesulit itu, kok."

Mendengar jawabanku,

"Menghubungkan ruang... kurasa itu bukan masalah sudah terbiasa atau belum, deh. Tapi yah, karena ini Kain-kun, hal gila seperti itu jadi terasa wajar."

"Iya, kalau itu Kain, keanehan semacam ini pun masih masuk akal."

Karina dan Ran melontarkan penilaian yang rasanya agak berlebihan bagiku.

"Ngomong-ngomong Arata, kau juga ikut diseret ke dalam pelatihan Tuan Ladon dan yang lainnya, kan?"

Mendengar pertanyaan Arima,

"Ladon? Aku tidak kenal orang itu. Tapi anehnya, kenapa ya... Gerakan barusan seharusnya mustahil bisa kulakukan... tapi tubuhku bergerak begitu alami tanpa canggung sama sekali..."

Arata menyilangkan tangan di dada dan mulai berpikir keras dengan ekspresi bingung.

"Sudahlah, abaikan hal sepele itu, ayo kita maju lebih cepat. Aku mengkhawatirkan Tatsuya!"

Akira memotong kebingungan Arata dan mendesak kami untuk terus maju.

"Benar. Mari kita lanjutkan perjalanan."

Kami semua mengangguk sepakat, lalu kembali berlari menerobos medan pertempuran.

Para vampir ini ternyata jauh lebih lemah dari yang kubayangkan. Inikah yang mereka sebut sebagai medan kematian? Benar-benar di luar dugaan.

Level musuh seperti ini semestinya bisa ditangani dengan mudah oleh Karina dan teman-temannya yang sekarang. Terlebih lagi, mereka hanyalah gerombolan pengecut yang lari tunggang-langgang menelantarkan rekan-rekan mereka yang tumbang.

"A-Ampuni ak—"

Aku menebas tanpa ragu vampir yang tengah mengemis ampunan tersebut.

"Sialan..."

Makhluk-makhluk ini bukanlah petarung sejati. Mereka hanyalah binatang buas tanpa hati manusia yang kebetulan memiliki sedikit keunggulan fisik.

Kemampuan fisik yang menjadi andalan mereka itu pun cuma sedikit lebih unggul dari manusia biasa. Dengan tingkat kekuatan serendah ini, berani-beraninya mereka mengaku sebagai makhluk terkuat!

Mereka tak lebih dari sekelompok kroco tak bernyali! Menurut mereka, sebesar apa tekad yang kupersiapkan untuk menyongsong pertempuran ini!?

"Lho?"

Aku menggelengkan kepala kuat-kuat untuk mengusir pikiran haus darah yang tiba-tiba muncul dan terasa asing bagi diriku ini.

Aku datang menyerbu tanah ini semata-mata demi menyelamatkan Mashiro dan kawan-kawan, bukan karena ingin mencari lawan tanding yang kuat. Justru jika musuh di hadapanku ini lemah, bukankah itu malah sesuatu yang patut disyukuri?

—Halo-halooo! Sudah lama tidak bertemu, atau mungkin sebaiknya kuucapkan salam kenal untuk sekarang, ya? Pacar kecilnya Mashiro, namamu saat ini adalah Tsukishiro Kain, kan?

Sebuah suara wanita yang terdengar begitu bening mendadak bergema di dalam kepalaku.

"Siapa di sana?"

Sambil menutupi telinga kananku, aku berseru memecah keheningan sembari mengamati area sekitar. Arata dan yang lainnya spontan menoleh menatapku dengan tatapan bingung.

—Ssst, jangan berteriak tiba-tiba begitu, nanti kau dianggap orang aneh, lho? Ah, tapi kau kan memang sudah dicap sebagai orang aneh sejak awal, jadi mungkin sudah terlambat, ya.

Suara wanita macam apa ini? Mengapa kata-katanya terdengar begitu menjengkelkan? Apakah ia sebangsa roh jahat?

—Kejam sekali menyebutku roh jahat. Tapi karena aku belum benar-benar mati, bisa dibilang aku ini semacam arwah gentayangan.

Rupanya isi pikiranku bisa terbaca sepenuhnya oleh pemilik suara wanita ini. Walau begitu, intinya dia tetaplah sebangsa makhluk halus.

(Sekali lagi kutanyakan. Siapa sebenarnya dirimu?)

Saat aku bertanya di dalam hati, terdengar suara batuk kecil seolah tengah berdeham,

—Namaku Mikage Sakuya, ibunda dari Mashiro.

Ia melontarkannya dengan nada mendayu bak seorang penyair keliling, membuatku bingung harus merespons seperti apa.

(Katakanlah kau memang benar ibu kandung Mashiro, lalu untuk apa kau mendatangiku? Bukankah seharusnya kau berada di sisi Mashiro untuk menemaninya?)

—Dari dulu aku memang selalu bersamanya, tahu! Tapi aku baru saja diusir keluar oleh rubah betina vampir sialan bernama Hato itu!

(Diakali dan diusir... begitu, ya...)

Aku memang sudah menduga bahwa tubuh Mashiro tengah dikendalikan oleh para vampir. Hal yang paling kukhawatirkan adalah—

—Benar sekali, Mashiro saat ini pasti sedang terlelap tidur sambil bermimpi tentang masa kecilnya.

Mendengar suara ibunda Mashiro yang bergumam dengan nada agak sendu,

(Kalau sedang terlelap, artinya kondisi Mashiro baik-baik saja, begitu?)

Didorong oleh dorongan emosi yang meluap dari dalam dada, aku menanyakannya dengan penuh harap.

—Iya, meski sudah terusir keluar, jiwaku masih terhubung dengan raga Mashiro. Kesuciannya pun masih aman terjaga, kok.

(Begitu... syukurlah...)

Kami masih belum terlambat. Mengetahui fakta itu saja sudah cukup membuatku menghela napas panjang, diselimuti rasa lega yang begitu luar biasa hingga pandanganku terasa berkunang-kunang.

—Oho, tumben sekali kau bisa merasa lega dan bersukacita secara terang-terangan begini.

(Nada bicaramu terdengar janggal sekali. Bukankah ini pertemuan pertama kita?)

Sebenarnya karena hanya berupa kontak suara, menyebutnya sebagai pertemuan pertama pun terasa kurang tepat.

—Tidak juga, kok. Aku selalu mengawasimu dari dalam diri Mashiro selama ini. Kau ini pemuda pengecut yang bahkan tidak berani menyelinap ke ranjangnya padahal tinggal di bawah atap yang sama, kan?

(Menyelinap ke ranjang gadis!? Hal semacam itu justru sangat tabu untuk dilakukan, kan!)

—Kenapa memangnya? Menyatukan raga dan jiwa itu rasanya sangat membahagiakan, lho?

(Kau ini ibunya Mashiro, kan! Bercanda pun ada batasnya, ada hal yang pantas diucapkan dan ada yang tidak!)

—Di zaman mana pun, seorang ibu pasti selalu menginginkan kebahagiaan bagi anak gadisnya.

Mendengar tawa renyah sang ibu, kepalaku mendadak terasa berdenyut pening.

(Tolong berhenti bersikap sok tahu! Pertama-tama, Mashiro itu sangat membenciku. Kalau aku sampai berani melakukan hal lancang seperti itu, leherku pasti sudah ditebas putus oleh pedang sucinya!)

Kenyataannya, ia memang pernah mengancam, 'Kalau kau berani menyerangku, akan kutebas lehermu sampai mati', dan ia selalu menunjukkan penolakan keras bahkan saat hanya terjadi kontak fisik ringan.

Yah, karena reaksinya yang menggemaskan itulah aku jadi sering menggodanya, sih.

—Kau... benar-benar serius mengatakannya barusan?

Untuk pertama kalinya, nada bicara sang ibu berubah. Di dalamnya tersirat rasa iba sekaligus kejengkelan yang mendalam.

(Tentu saja aku serius.)

Sejak awal pertemuan kami, Mashiro memang selalu bersikap canggung dan kaku terhadapku. Istilah kasarnya, kepribadian kami memang kurang cocok.

Namun bagiku, dinamika hubungan kami yang seperti itu justru terasa sangat menenangkan.

—Astaga, bahkan setelah kehilangan ingatan pun kau masih sedungu ini... Aku benar-benar bersimpati pada gadis-gadis yang menaruh hati padamu. Tapi bagaimanapun juga, aku ini ibunya Mashiro. Sekalipun putriku menginginkannya, aku tidak bisa membiarkan hubungan setengah matang begini terus berlanjut. Benar, mungkin meluruskan hal ini sudah menjadi tugasku sebagai seorang ibu.

(Sejak tadi kau terus bicara melantur, apa sebenarnya maksudmu?)

—Sebentar lagi, kau harus mengambil sebuah keputusan besar.

(Keputusan? Keputusan tentang apa?)

—Keputusan untuk membuang perasaan itu demi mewujudkan pertarungan hidup dan mati melawan suamiku tercinta.

(Perasaan? Membuangnya? Tolong hentikan teka-teki tak jelas ini! Sejak tadi kata-katamu sama sekali tidak masuk akal dan membingungkan!)

—Kau akan segera memahaminya, suka atau tidak suka. Aku hanya berharap kau bisa mengambil keputusan tanpa meninggalkan penyesalan.

Usai melontarkan kalimat tersebut, sosok yang mengaku sebagai ibunda Mashiro itu menutup mulutnya rapat-rapat dan tak lagi menanggapi topik tersebut.

Sembari membabat habis para vampir yang menghadang di sepanjang jalan, kami mendadak mendapati diri kami telah dikepung rapat dari segala arah.

Di tengah barisan vampir yang memberi hormat serentak, sesosok vampir berambut pendek dengan busana mewah layaknya bangsawan abad pertengahan melangkah maju menampakkan diri.

"Hei, Dewa Tanah, kehebatanmu lumayan juga, ya!"

Dewa Tanah? Lagi-lagi sekelompok orang delusional yang mengoceh tanpa dasar. Biasanya, makhluk-makhluk congkak semacam ini selalu berakhir jauh di bawah ekspektasi. Karena itulah—.

"Iya, saking membosankannya lawan-lawanku barusan, aku sampai merasa mual dibuatnya."

Aku menyahut dengan suara yang sengaja kutinggikan. Entah mengapa, sejak tadi aku kesulitan mengendalikan gejolak emosiku sendiri.

Sikap ini persis seperti bocah ingusan yang tengah puber... Yah, mengingat fisikku saat ini memang berada di usia tersebut, mungkin tidak sepenuhnya salah juga, sih...

"Bicara besar sekali kau! Atau jangan-jangan kau cuma orang dungu yang tak mampu membaca peta kekuatan lawan!? Mau yang mana pun alasannya, pasukan di sekelilingmu ini semuanya adalah prajurit tingkat tinggi. Kekuatan mereka berada di tingkatan yang sama sekali berbeda dibanding pasukan rendahan tadi! Benar begitu, kan, Spade!?"

Vampir berambut pendek itu menoleh meminta persetujuan kepada vampir bernama Spade yang berdiri di dekatnya.

"Tentu saja benar sekali! Pasukan kita ini bahkan sanggup mengimbangi satu kompi penuh dari Korps Iblis yang legendaris itu, inilah pasukan terhebat yang tiada duanya!"

"Korps Iblis, ya..."

Entah mengapa, nama itu sama sekali tidak terdengar menakutkan di telingaku. Justru saat mendengar kekuatan mereka disetarakan dengan 'Korps Iblis', ekspektasiku malah semakin merosot tajam ke titik terendah.

(Ekspektasi, ya...)

Lagi-lagi perasaan ini muncul... Mengapa di alam bawah sadarku, aku begitu mendambakan pertarungan melawan musuh yang tangguh?

—Itu karena itulah keinginan terpendammu yang sesungguhnya. Kau ini mirip sekali dengan suamiku. Singkat kata, kewarasan kalian berdua sebenarnya sudah rusak total. Tapi karena kau terus memaksakan diri berpura-pura menjadi manusia normal berakal sehat, jiwamu jadi tertekan. Lebih baik jujur saja pada dirimu sendiri.

Aku seakan bisa melihat wajah angkuh Sakuya, ibunda Mashiro, yang tengah tersenyum congkak di dalam kepalaku, dan hal itu benar-benar membuatku jengkel. Lagipula—.

(Aku sama sekali bukan maniak bertarung gila seperti itu. Kalau boleh memilih, aku justru lebih mendambakan kehidupan yang santai dan tenang.)

—...Kau ini keras kepala sekali sampai ke akar-akarnya, ya. Sekeras apa pun kau menyangkalnya, jati dirimu yang sebenarnya takkan pernah bisa kausembunyikan. Tapi baiklah, untuk saat ini kuanggap saja kau memang berpikir begitu.

Kata-katanya sungguh menyebalkan, namun situasi saat ini memang tengah berada di medan pertempuran. Sereceh apa pun musuh di hadapanku, itu bukan alasan untuk lengah dan meremehkan mereka.

"Tampaknya tujuan utama mereka adalah diriku, jadi biar aku saja yang maju membereskannya."

Aku mencabut dua bilah pisau dari sarung kulit di pinggangku, lalu mulai melangkah maju mendekati mereka.

"Baiklah, kami serahkan padamu."

Arima mengangguk dengan raut wajah yang tampak tegang, sementara rekan-rekan yang lain pun tidak ada yang membantah.

Hanya saja—.

『Semangaaat, semangaaat, calon mantuku tersayaang! Berjuanglah, berjuanglah, wahai menantukuuu.』

Ibunda yang terlalu bersemangat tanpa alasan yang jelas. Maksudku, sebentar lagi aku akan membantai orang-orang ini sampai habis, tapi apa dia benar-benar mengerti situasinya...?

(Begini ya, Ibu, suasananya jadi canggung dan sangat mengganggu konsentrasiku, jadi bisakah Ibu berhenti?)

—Aduh, "Ibu", panggilan yang terdengar sangat merdu! Coba panggil begitu lagi!

Suara riang itu terus bergema di dalam kepalaku. Sudahlah, sekarang aku harus fokus pada pertempuran.

Meremehkan musuh sama sekali tidak akan mendatangkan keuntungan apa pun bagi kami. Terlebih lagi, sejujurnya kesabaranku memang sudah mencapai batasnya.

Gara-gara mereka, muridku Tatsuya terpaksa mengambil keputusan pahit hingga dicap sebagai musuh umat manusia. Mereka juga kembali membuat Arisa dan yang lainnya ketakutan.

Yang paling tak termaafkan, mereka telah menginjak-injak harga diri Mashiro.

"Dewa Tanah! Hanya kau yang akan kami biarkan hidup untuk dibawa pulang! Kami akan memaksa putri Behemoth membantai anak oni itu tepat di depan matamu! Dengan begitu, jiwa sang putri Behemoth akan hancur lebur seutuhnya! Yah, meski ada kemungkinan bocah itu sudah ludes dimakan oleh mainan milik Spade, sih!"

Seorang vampir berambut pendek dengan pakaian bangsawan tertawa terbahak-bahak secara vulgar.

"Memang sudah ada perintah tegas agar tidak menyentuh monster bernama Arisa itu, tapi peliharaan lucuku ini memiliki nafsu makan yang sangat besar! Jadi, mungkin saja dia sudah tidak tahan lagi lalu melahapnya sampai habis!"

Spade pun menyunggingkan seringai mengejek yang begitu memuakkan.

"Semua itu tergantung seberapa lama bocah bernama Tatsuya itu sanggup mempertahankan dinding pelindungnya!"

"Dari tampangnya dia kelihatan tidak punya nyali, jadi kurasa harapannya sangat tipis... eh? Hihi!?"

Mendengar ocehan Spade yang penuh kesombongan itu, tawa mendadak lolos begitu saja dari bibirku.

"Kuhaha! Kalian ini benar-benar luar biasa!"

Pikiranku sampai sulit berkonsentrasi karena amarah yang meluap. Jarang sekali ada yang bisa membuatku semurka ini.

Atau lebih tepatnya, sejauh ingatan yang kumiliki, ini adalah pengalaman pertama bagiku.

"..."

Vampir berambut pendek dengan pakaian bangsawan abad pertengahan itu menatapku lekat-lekat dalam keheningan, wajahnya berkedut tegang.

"Daa Iyaa, kenapa kau malah bengong juga!? Orang ini sangat berbahaya! Cepat lumpuhkan dia!"

Spade mendesak Daa Iyaa dengan suara melengking yang pecah karena panik.

"A-Aku tahu! Seluruh pasukan, segera lancarkan serangan penuh!"

Daa Iyaa memberi komando kepada seluruh prajurit dengan suara yang sarat akan ketegangan.

Melihat kepanikan yang terpancar jelas dari Spade dan Daa Iyaa, para prajurit tingkat tinggi itu saling berpandangan sejenak sebelum akhirnya menghunus senjata, menerjang ke arahku sembari melepaskan aneka serangan beruntun dari udara.

"Kalian benar-benar telah membuatku murka!"

Seraya meneriakkan kalimat itu, aku pun larut sepenuhnya dalam pembantaian mereka.

Kobaran api hitam, badai angin, sambaran petir, dan tombak-tombak es yang ditembakkan kawanan vampir itu kubelokkan seluruhnya menggunakan pisauku.

Serangan-serangan itu memantul kembali menelusuri lintasan asalnya, membakar hangus, mencabik-cabik, serta membekukan tubuh mereka sendiri.

"Serangan jarak jauh tidak mempan! Habisi dia dengan keunggulan jumlah dalam pertarungan jarak dekat!"

Di tengah jeritan dan raungan putus asa yang saling bersahutan, Daa Iyaa melolongkan perintah baru, membuat para prajurit vampir seketika mengepungku dalam formasi melingkar.

"Kieeee!"

Dua vampir menerjang maju bersisian. Tanpa mengurangi kecepatan, aku menebas putus kepala salah satu prajurit paruh baya saat kami berpapasan, lalu menyusup ke celah pertahanan prajurit lainnya untuk menusuk jantungnya dalam satu gerakan mulus.

Keduanya pun seketika tewas dan roboh tak bernyawa ke tanah.

Katanya mereka ini prajurit tingkat tinggi kaum vampir, kukira daya tahan hidup mereka akan sangat luar biasa, namun ternyata mereka bisa kuhabisi dengan mudah hanya dengan memenggal leher dan menghancurkan jantungnya. Kemampuan bertarung maupun kekuatan fisik mereka sama sekali tak ada bedanya dengan para prajurit rendahan.

"Dia menggunakan kekuatan aneh! Semuanya waspada!"

Seorang vampir paruh baya yang tampaknya merupakan kapten prajurit tingkat tinggi meneriakkan peringatan konyol semacam itu.

Rupanya gerakanku tadi hanya tampak seperti trik sihir di mata mereka. Benar-benar di luar ekspektasi.

"Kalian ini berkerumun seperti kecoak, menjijikkan sekali..."

Aku mengumpat pelan sembari merendahkan titik tumpu tubuhku, mencengkeram erat gagang pisau di kedua tanganku.

"Sesuatu akan datang! Semuanya pasang kuda-kuda!"

Sia-sia saja. Teknik seranganku bukanlah sesuatu yang cukup ramah untuk bisa kalian tangkal.

"Lightning Speed."

Bersamaan dengan terucapnya kata saktiku, lintasan-lintasan cahaya menyambar cepat melintasi udara. Kawanan prajurit tingkat tinggi vampir itu seketika terhenti mendadak secara tak wajar.

"Apa yang sedang kalian lakukan!? Cepat tangkap orang itu!"

Wajah Spade terdistorsi oleh kengerian saat ia memekik histeris, namun kawanan vampir itu tetap bergeming. Mereka tidak gemetar ketakutan, melainkan mematung kaku tanpa gerakan sedikit pun, masih memasang ekspresi bengis saat berniat menerjangku tadi.

"Benar kata Spade! Cepat serang dia bersamaan!"

Daa Iyaa turut berteriak panik, tetapi mereka tetap tak bergerak sedikit pun. Tentu saja begitu, mereka mustahil bisa bergerak lagi.

Sebab—.

"Kalian belum menyadarinya juga?"

Melihat mereka yang begitu dungu dan menggelikan, amarahku seketika surut berganti rasa iba.

"A-Apa maksudmu!?"

Menanggapi pertanyaan histeris dari Spade,

"Alasan mereka tidak bisa bergerak adalah karena mereka semua sudah mati."

Aku memberikan jawaban penjelas dengan sangat ramah dan runtut.

"M-Mati!? Omong kosong macam apa itu—!"

Di tengah teriakan bising Spade yang tak percaya, aku menghentakkan kaki kananku, meremukkan tanah di bawah pijakanku.

Ratusan prajurit vampir yang mengepung kami—kecuali Spade dan Daa Iyaa—seketika terpenggal lehernya secara serentak, lalu kepala mereka berjatuhan menghantam tanah.

Bagaikan mekarnya mawar merah pekat yang menutupi permukaan bumi, daratan seketika bersimbah darah segar kawanan vampir tersebut.

"..."

"..."

Kedua vampir itu menatap jasad para bawahannya yang mengenaskan tanpa sanggup berkedip sedikit pun. Riwayat mereka berdua sebenarnya sudah tamat, tetapi kondisiku yang sekarang tidak cukup murah hati untuk melepaskan mereka begitu saja.

"Ekiki!"

—Hamba hadir di sisi Paduka!

Begitu melihat sesosok monster berpakaian hitam dan bertopi bundar yang berlutut di hadapanku,

"Dewa Agung dari Pasukan Kegelapan...!"

Spade memekik putus asa dengan wajah yang pucat pasi karena ketakutan yang luar biasa. Mendengar sebutan itu, seluruh aliran darah di tubuh Daa Iyaa seakan membeku seketika.

Dan kemudian—.

Sembari melolong histeris, keduanya berusaha sekuat tenaga untuk kabur. Akan tetapi—.

Tepat saat Spade dan Daa Iyaa mengambil satu langkah, garis-garis tebasan tak kasat mata merayapi kedua lengan dan kaki mereka. Detik berikutnya, anggota badan itu meledak hancur menjadi serpihan daging yang berhamburan, menyisakan tubuh bagian atas mereka yang terhempas tak berdaya ke tanah.

Tanpa sudi melirik kedua makhluk yang tengah melolong kesakitan itu,

"Kumpulkan seluruh informasi yang mereka miliki."

Aku menjatuhkan perintah yang menjadi vonis kehancuran mutlak bagi mereka.

—Oh, wahai Dewa junjungan kami, titah Paduka akan terlaksana!

Ekiki menanggapi perintahku dengan reaksi berlebihan, menangkupkan kedua tangan seraya meneteskan air mata haru.

"A-Ampuni kami!"

"Aku tidak ada hubungannya dengan semua ini! Aku hanya menuruti perintah Vlad-sama!"

Rengekan minta ampun dari mereka berdua kini hanya terdengar layaknya dengungan bising yang mengganggu telingaku.

"Kalian sangat gemar bermain-main dengan menjadikan orang lain santapan monster, kan? Kalau begitu, sekarang giliran kalian yang menikmatinya sepuas mungkin. Bersenang-senanglah!"

Aku tersenyum ramah ke arah mereka sembari mengacungkan ibu jari.

Tepat saat lolongan keputusasaan meledak dari mulut mereka, kabut hitam pekat yang merembes keluar dari raga Ekiki menyelimuti Spade dan Daa Iyaa, melenyapkan keberadaan mereka tanpa jejak.

"Baiklah, ayo kita lanjutkan perjalanan."

Aku mengajak yang lain untuk kembali bergerak, namun tak seorang pun bersuara ataupun beranjak dari tempatnya.

Samar-samar aku bisa memahaminya. Mereka pasti merasa ngeri melihat diriku yang baru saja membantai kawanan vampir tanpa belas kasihan sedikit pun.

Awalnya kukira begitu, namun—.

"Kain-kun, tolong jangan terlalu memaksakan diri."

Karina meletakkan tangannya di pundak kananku, melontarkan kalimat yang sama sekali tak kusangka.

"Aku memaksakan diri?"

"Iya, Kain-kun yang sekarang terlihat seperti sedang berusaha keras melawan sesuatu. Tentu saja, aku sama sekali tidak paham apa yang sedang kauhadapi..."

"Aku sedang berusaha melawan sesuatu... ya."

Ucapan Karina memang benar adanya. Sensasi ganjil itu sudah kurasakan sejak beberapa waktu yang lalu.

Terutama setiap kali aku bertarung di tempat ini, selalu timbul ilusi aneh seolah-olah eksistensi manusia bernama Tsukishiro Kain ini perlahan terkikis dan berubah menjadi sosok yang sama sekali berbeda.

"Aku juga merasa Kain yang barusan sama sekali tidak seperti biasanya."

Ran ikut melangkah mendekat, mencengkeram ujung bajuku sembari mendongak menatap wajahku.

"Mungkin... memang begitu, ya."

Demi mengalihkan suasana, aku membelai pelan kepala Ran.

"Aku mengkhawatirkan keadaan Mashiro dan Tatsuya. Ayo kita bergegas."

Tepat saat aku hendak mengajak mereka melangkah maju,

(Terima kasih karena sudah ikut marah demi anak itu, ya.)

Akira yang berada di belakangku menggumamkan kalimat itu dengan suara pelan.

—Teman-teman yang sangat baik, ya.

Mendengar celetukan ibunda Mashiro di kepalaku,

(Ya, aku benar-benar sependapat denganmu.)

Aku pun mengangguk setuju di dalam hati.

◇◆◇

Di ruang tengah sebuah rumah terapung kecil yang melayang di langit Kota Yunicho, Vlad tengah menyaksikan rekaman siaran langsung pertempuran di daratan dengan segelas anggur di tangannya.

"Mana mungkin hal konyol semacam ini bisa terjadi!"

Melihat pemandangan yang terlampau jauh dari nalar itu, Vlad membanting gelas anggur berisi darah manusia yang tengah diteguknya ke lantai hingga pecah berantakan.

Rencana awalnya adalah menilai kekuatan sang Dewa Tanah, Tsukishiro Kain, lalu menyerap kekuatannya sebelum beralih ke hidangan utama, yaitu menaklukkan Behemoth.

Namun kenyataannya, bukan hanya kawanan monster bawahan, bahkan prajurit elit di bawah komando langsungnya pun dibantai habis dengan begitu mudahnya. Bahkan sosok tangan kanannya seperti Spade dan Daa Iyaa pun dibuat lumpuh total oleh kekuatan misterius, lalu diseret pergi oleh pria bertopi bundar dan berbusana hitam pekat.

"I-Itu tadi adalah salah satu pilar Dewa Agung dari Pasukan Kegelapan! Terlebih lagi tingkatannya sangat tinggi!"

Hawa sihir pria berbusana hitam itu begitu pekat dan mengerikan hingga bisa dilihat dengan mata telanjang. Perkiraan kasarnya, kekuatannya setara dengan perwira tingkat kolonel dari Pasukan Kegelapan.

Dan sosok sehebat itu justru menunjukkan sikap tunduk yang sedemikian rendah di hadapan Tsukishiro Kain. Kemungkinan besar pria bernama Tsukishiro Kain itu adalah jenderal berbintang dua ke atas dari Pasukan Kegelapan.

Bisa-bisanya di saat kritis seperti ini, Vlad justru secara tak sengaja mencari gara-gara dengan Pasukan Kegelapan yang tiba-tiba turun ke dunia fana.

Meski di hadapan para bawahannya Vlad selalu bersikap arogan, ia sangat paham betapa dahsyat dan mengerikannya Pasukan Kegelapan serta Pasukan Surgawi yang membelah alam semesta menjadi dua kubu. Makhluk-makhluk itu sama sekali tidak mengenal kata kompromi atau negosiasi.

Sekali saja dijadikan musuh, mereka akan mempertaruhkan harga diri mereka untuk memusnahkan Vlad dan kawanannya hingga ke akar-akarnya. Tingkat kekuatan Vlad saat ini, ditaksir setinggi apa pun, paling mentok hanya setara dengan perwira tingkat mayor dari Pasukan Kegelapan.

Bila harus berhadapan dengan segenap Pasukan Kegelapan, kekalahan mutlak sudah pasti menantinya.

Namun, mengapa mereka mendadak turun ke tanah ini? Seharusnya pakta perjanjian melarang keras para dewa dari kedua kubu untuk turun ke dunia fana di luar kompetisi resmi antara Surga dan Neraka.

Tentu saja Vlad tidak sebodoh itu untuk percaya bahwa kedua pihak akan mematuhi perjanjian tersebut secara jujur, namun tetap saja mereka telah mengambil risiko besar menghadapi sanksi berat hanya untuk menginjakkan kaki di tanah ini.

"Tujuan mereka... pasti Behemoth!"

Sama seperti dirinya, mereka pasti berniat meraup kekuatan Behemoth. Tidak ada alasan lain yang lebih masuk akal dari itu.

Behemoth adalah jembatan emas yang akhirnya berhasil ditemukan Vlad untuk melangkah menjadi Dewa Agung. Ia tak boleh membiarkan kekuatan itu dirampas oleh orang lain.

Haruskah ia bertaruh dan melancarkan serangan mendadak?

"T-Tidak mungkin! Rencana itu takkan pernah berhasil!"

Vlad bahkan sama sekali tak sanggup menangkap lintasan gerakan Tsukishiro Kain. Serangan macam apa pun yang ia lancarkan sudah pasti akan dihindari dengan mudah.

Terlebih lagi di sisi bocah itu ada salah satu pilar Dewa Kegelapan. Peluang kemenangan bagi Vlad benar-benar nol persen.

Malahan jika sampai tertangkap, nasib mengerikan yang berada di luar bayangan sudah pasti akan menimpanya.

"Takkan kuserahkan! Takkan pernah kuberikan pada siapa pun! Kekuatan itu adalah milikku seorang!"

Seraya meraung murka, sepasang sayap terbentang dari punggungnya saat ia melesat keluar dari rumah terapung itu, terbang membubung tinggi menuju Istana Vlad tempat kepompong Behemoth disemayamkan.

Dalam sekejap mata ia telah tiba di angkasa Istana Vlad. Mendarat tergesa di area taman, ia langsung menerobos ke hadapan kepompong Behemoth.

"Bagaimana keadaan Behemoth!?"

Ia menuntut laporan situasi dari Club.

"Baru saja cangkang kepompong Sang Leluhur mulai retak ZE! Sebentar lagi ritualnya sudah bisa dimulai SYO!"

"Sebentar lagi katamu!? Brengsek, mana sempat aku menunggu selama itu!"

Usai memuntahkan makian kasar, ia mendekati kepompong itu dan menghujamkan cakar-cakar tajamnya untuk mencabik kulit kepompong tersebut.

Ketajaman cakar Vlad sanggup mengiris logam mithril semudah memotong kue bolu. Namun anehnya, meski telah dihantam puluhan kali, tidak ada satu goresan pun yang membekas di permukaannya.

"Cepatlah menetas, sialan!"

Mengingat senyuman dingin sedingin es milik Tsukishiro Kain seketika membuat hawa dingin merayapi tulang punggungnya, memicu tangannya untuk mencakar lebih kalap lagi. Tepat pada saat itu—.

—Krek! Kriet!

Disertai suara derak retakan yang memecah kesunyian, cangkang kepompong itu runtuh berguguran, menampakkan sosok pria tegap nan rupawan dengan rambut sewarna pekatnya malam yang berkibar ditiup angin.

"Dia sudah menetas YO!"

Suara Club yang meninggi melengking di gendang telinga.

"Bagus! Bagus sekali!"

Dengan begini, Vlad bisa menyerap kekuatan Dewa Super Behemoth lebih cepat mendahului monster berambut abu-abu itu.

Sembari menahan gejolak gairah yang membuncah di dalam dadanya, ia mendekati raga Sang Leluhur Behemoth yang masih mematung diam, lalu menghunjamkan taringnya tepat ke urat leher makhluk itu.

(Dengan begini aku akan menguasai raga Behemoth, lalu menjadi penguasa tunggal di dunia yang baru!)

Meski batinnya telah bersorak penuh kemenangan, taringnya mendadak tak sanggup menembus kulit sasaran.

"A-Apa-apaan ini, kenapa kulitnya bisa sekeras ini!?"

Tepat saat ia menjeritkan kebingungannya, kepalanya mendadak dicengkeram dengan sangat kuat dari atas.

Saat bola matanya bergerak mendongak menatap wajah Sang Leluhur—.

"Hii!?"

Jeritan lirih lolos dari tenggorokan Vlad. Wajar saja ia ketakutan, sebab yang terpampang di hadapannya adalah seringai buas layaknya monster liar yang mengerikan.

Wajah itu sama sekali tidak tampak seperti sosok yang jiwanya tengah dikendalikan.

Dikuasai oleh rasa ngeri yang membekukan segenap darah di sekujur tubuhnya, ia meronta berusaha melompat menjauh dari Behemoth, namun cengkeraman berkekuatan laksana catut besi di kepalanya menahan tubuhnya tanpa memberi ruang untuk meloloskan diri sedikit pun.

"Dingin sekali sikapmu. Jangan kabur dulu, dong. Bukankah kau sangat ingin melahap diriku? Kalau begitu, akan kubuat kau kenyang sampai puas."

Tepat saat Sang Leluhur melontarkan kalimat bernada santai itu,

"Nbaaabababababababaaaaa!"

Kekuatan asing yang teramat dahsyat seketika mengalir deras dari telapak tangan yang mencengkeram kepalanya, membuat seluruh tubuh Vlad kejang-kejang hebat laksana dialiri tegangan listrik raksasa.

Di saat yang bersamaan, kulit di sekujur tubuhnya mulai menggelembung melepuh tak beraturan.

"Sakit! Sakiitt! Tidak, rasanya gatal? Hentikaaan!"

Diiringi rasa tidak nyaman yang tak bisa dibedakan antara perih luar biasa atau gatal yang menyiksa, Vlad melolongkan jeritan histeris.

"T-Tuan Vlad diserang!? Apa yang harus kulakukan—!?"

Club yang panik dan berniat kabur ke udara mendadak mendapati tubuhnya terkunci kaku secara tak wajar.

"T-Tubuhku tidak bisa digerakkan ZE!?"

Tepat saat Club menjeritkan kepanikannya, di belakang punggungnya telah berdiri tegak seorang Hunter Tingkat A berwajah brewok tak terurus, Amagi Tokisada, yang langsung mencengkeram bagian belakang kepalanya dengan kedua tangan.

"Gigugagagaaaagaaaahhh!"

Sembari melolongkan jeritan terakhirnya, tubuh Club meleleh menjadi cairan merah pekat yang terserap seutuhnya ke dalam tubuh Amagi Tokisada.

"Kau juga sudah memangsa banyak korban, kan? Kalau begitu, jadilah pengganjal perut untuk bawahanku saja sana~"

Diiringi nada suara santai tanpa beban sedikit pun, ia melemparkan tubuh Vlad begitu saja layaknya membuang seonggok sampah tak berguna.

Sosok yang menangkap tubuh Vlad dengan tangan kanannya adalah seorang gadis mungil berambut merah pendek dengan gaun terusan biru muda yang manis, Kuonji Makoto.

"M-Monster..."

Di tengah rasa teror yang memuncak dan penyesalan mendalam karena telah menyentuh entitas yang mutlak tabu, tubuh Vlad meleleh layaknya es krim yang terpapar panas terik, lalu terserap seutuhnya ke dalam tubuh Kuonji Makoto.

Di hadapan Sang Leluhur Behemoth, tampak seorang pemuda brewok berbusana hakama merah tua berlapis jubah brokat emas, serta seorang wanita jelita berambut merah dengan kimono putih bersih tengah berlutut dengan khidmat.

"Takemikazuchi-sama, sudah sekian lama hamba tidak menghadap."

Pemuda brewok berbusana hakama itu menundukkan kepalanya dalam-dalam.

"Oh, Shirou, lama tidak berjumpa! Kau juga, Mafuyu! Lagipula Shirou, namaku saat ini adalah Behemoth. Panggil saja aku begitu mulai sekarang!"

Sembari berkacak pinggang, ia tertawa terbahak-bahak secara jantan sembari melontarkan perkataan tersebut.

"Hamba mengerti, Behemoth-sama. Kalau begitu, langkah apa yang akan kita ambil selanjutnya?"

"Mari kita lihat... Bagaimana kalau kita sekalian mencari perkara dengan menantang Thor atau Beelzebub saja, ya! Entah kenapa, rasanya kalau sekarang aku bisa menghajar mereka dengan sangat mudah!"

Saat ia menghantamkan tinju kanannya ke telapak tangan kiri, gelombang kejut laksana badai topan seketika menerpa sekeliling mereka membentuk lingkaran konsentris.

Ketertarikan Behemoth murni hanya tertuju pada mereka yang kuat. Ia sama sekali tidak menaruh minat sedikit pun pada kaum lemah di dunia fana semacam ini.

Tentu saja bila ada yang berani menantangnya ia akan meremukkannya tanpa ragu, namun jika musuh tidak memiliki tekad bertarung, ia takkan bernafsu memaksakan duel. Begitulah watak sejati seorang Behemoth.

Tepat pada detik itu, gumpalan kabut hitam pekat membubung tinggi di udara, menjelma menjadi sesosok monster berkaki dua dengan kepala lalat yang tengah mengulum dot bayi serta memegang sebatang tongkat pusaka.

""Beelzebub!""

Shirou dan Mafuyu seketika melompat maju pasang badan melindungi Behemoth, memasang kuda-kuda penuh kewaspadaan tinggi.

"Oho, sudah lama sekali ya, Beelzebub."

Sembari membunyikan persendian jemarinya, Behemoth menyunggingkan seringai buas berusaha menebarkan intimidasi, namun—.

—Lawanmu kali ini bukanlah Bub-chan, tahu. Di tanah ini ada sosok teramat agung yang sanggup meremukkan dirimu seutuhnya dalam wujud dewa sekalipun.

Sembari menggerakkan mulutnya dengan gesit dan berisik, Beelzebub melontarkan maklumat yang benar-benar di luar dugaan Behemoth dengan nada yang sangat bersemangat.

"Apakah orang itu jauh lebih kuat daripada dirimu yang sekarang?"

—Bagi Yang Mulia, keberadaan Bub-chan ini tak lebih dari seekor lalat kecil yang terbang berdengung di sekelilingnya saja!

"Kuha! Seseorang yang lebih kuat daripada dirimu yang sekarang, ya! Menarik sekali! Memang seharusnya duniaku dipenuhi hal-hal seperti itu! Lalu, siapa nama orang itu!?"

—Namanya adalah Kai Heinemann-sama. Saat ini beliau menyematkan nama fana Tsukishiro Kain.

Mendengar penuturan Beelzebub, kening Behemoth seketika berkerut dalam.

"Tsukishiro Kain... Tsukishiro Kain... Nama yang sama sekali belum pernah kudengar... seharusnya begitu, tapi entah mengapa nama itu terasa sangat tidak asing di telingaku."

Ia bergumam linglung dengan tatapan kosong.

Tampak puas melihat reaksi tersebut, Beelzebub kembali menggerak-gerakkan mulutnya dengan lincah, lalu melenyapkan eksistensinya dalam sekejap mata seolah-olah ia memang tak pernah ada di sana sejak awal.

Di hadapan Behemoth yang tengah tenggelam dalam kebingungan, Mafuyu berlutut dan berucap,

"Behemoth-sama, jika kita berhasil memenangkan pertarungan akbar ini nanti, sudilah kiranya Anda menyerahkan Tsukishiro Kain kepada hamba?"

Ia menyampaikan permohonan yang teramat kuat itu. Menatap wajah Mafuyu yang tampak siap mempertaruhkan segenap takdir hidupnya,

"Tentu saja boleh! Aku sendiri tidak membenci orang-orang yang tangguh, kok. Nanti akan kujadikan dia bagian dari garis keturunan kita, setelah itu terserah kau mau memperlakukannya seperti apa, Mafuyu!"

Melihat Behemoth yang tersenyum lugu sembari mengacungkan jempol ke arahnya,

"Kemurahan hati dan anugerah Paduka benar-benar membuat hamba terharu tiada tara!"

Wajah Mafuyu berbinar cerah penuh kebahagiaan saat ia menghaturkan sembah terima kasih yang teramat tulus kepada sang majikan.

"Kalau begitu, mari kita berangkat!"

""Siap!""

Menanggapi seruan lantang Behemoth yang berkobar penuh semangat, Shirou dan Mafuyu turut mengaum menyahut dengan suara membahana.

Kini, sang Dewa Super terkuat dari generasi terdahulu, Behemoth, resmi melangkah ke medan laga. Sosok yang akan menyambut tantangan tersebut adalah entitas monster terkuat dari generasi baru, Kai Heinemann.

Dengan demikian, peperangan antara umat manusia melawan kaum vampir telah bermutasi wujud, bergeser menjadi benturan terdahsyat antara entitas terkuat dari dua generasi yang berbeda.

◇◆◇

Suasana di dalam studio sebuah stasiun televisi nasional terkemuka tampak begitu tegang.

Program berita investigasi berating tinggi yang dipandu oleh presenter karismatik, 'News Eight', tengah menayangkan siaran langsung liputan khusus berskala masif terkait skandal konspirasi keluarga Akizuki.

Guna mengupas tuntas laporan sensasional tersebut, pihak perwakilan dunia Hunter menghadirkan sang simbol keadilan—Ketua Klan Glorious yang menyandang julukan Saber, Yoshimine Masayoshi, didampingi oleh sang wakil ketua, Misumi Chika.

Sementara dari panggung politik, hadir Sekretaris Jenderal Partai Penguasa yang tersohor sebagai pegiat hak asasi, Hamuro Gakuro.

"Mengenai dugaan pengkhianatan yang menyeret nama besar keluarga Akizuki, sudilah kiranya para narasumber membagikan informasi krusial yang Anda miliki kepada seluruh pemirsa di rumah?"

Sakuraba Takuma, sang presenter pria matang berkarisma dengan janggut tipis yang khas, membuka diskusi dengan topik paling hangat yang kini tengah mengguncang seisi jagat raya.

"Bicara tanpa berbelit-belit, hasil investigasi mendalam dari pihak Keamanan Publik telah membuktikan secara gamblang bahwa keluarga Akizuki memang menjalin persekongkolan gelap dengan kawanan vampir. Melalui kesempatan emas inilah kami ingin membeberkannya secara resmi."

Hamuro Gakuro menyampaikan laporannya sembari mengelus kumis model kaisar yang menjadi kebanggaannya dengan tangan kanan.

"Yoshimine-san selaku Ketua Klan Glorious, apakah pernyataan barusan memang benar adanya?"

"Segala hal yang dipaparkan oleh Tuan Hamuro sepenuhnya adalah fakta tak terbantahkan. Anda sekalian tentu telah menyaksikan sendiri rekaman saat Akizuki Tatsuya menghancurkan dinding pelindung hitam tempo hari, bukan?"

"Namun di luar sana, sebagian kalangan sempat menduga bahwa tindakan tersebut murni merupakan inisiatif sepihak dari saudara Akizuki Tatsuya seorang?"

Sembari menautkan kedua jemarinya di atas meja, presenter Sakuraba Takuma melontarkan pertanyaan lanjutan dengan senyuman tenang nan bersahabat.

"Penyelidikan kami membuktikan bahwa Akizuki Tatsuya sengaja menyembunyikan potensi kekuatannya yang sebenarnya selama menempuh pendidikan di SMA Hanatsuki, lho."

Sang Saber, Yoshimine Masayoshi, menyahut tanpa ragu sedikit pun.

"Keterlibatan para petinggi keluarga Akizuki lainnya pun telah terbukti secara sah!"

Dengan seringai lebar yang mengembang di wajahnya, Hamuro turut menimpali dengan penuh percaya diri.

"Artinya, bukti-bukti yang terkumpul sudah lebih dari cukup untuk membuktikannya, begitu?"

"Di saat yang bersamaan, publik tentu sudah tahu betul bahwa Mikage Mashiro, sang gadis yang direkrut secara khusus oleh keluarga Akizuki, turut membelot mengkhianati umat manusia!"

Melihat kubu Yoshimine Masayoshi yang tersenyum pongah merasa telah berada di atas angin,

"Maksud Anda adalah gadis muda yang rekamannya sempat menggemparkan seisi ruang keluarga tempo hari, ya. Rekaman itu memang teramat mengejutkan."

Sakuraba Takuma mengangguk tanda memahami alur pembicaraan.

"Melalui sidang paripurna darurat mendatang, kami akan menuntut pertanggungjawaban keluarga Akizuki secara tegas, sementara pihak Asosiasi Hunter pun telah menetapkan keputusan untuk memanggil keluarga Akizuki guna menjalani pemeriksaan intensif di Markas Besar New York."

"Saya juga mendengar kabar bahwa sejumlah besar petinggi Asosiasi Hunter Cabang Jepang, termasuk Akizuki Eisei-shi, dilaporkan menghilang tanpa jejak?"

"Tindakan melarikan diri itu sendiri sudah menjadi bukti otentik bahwa mereka menyembunyikan borok kesalahan. Benar begitu, bukan, Tuan Hamuro?"

"Tepat sekali! Saat ini kami tengah mengerahkan seluruh personel penyelidik di penjuru negeri untuk memburu keberadaan mereka, jadi kami mohon masyarakat bersabar sejenak! Kami pasti akan segera membawa kabar baik ke hadapan Anda sekalian!"

Saat Yoshimine Masayoshi melempar seringai ke arah Hamuro Gakuro guna meminta penguatan, Hamuro pun mengepalkan tinju kanannya kuat-kuat sembari berseru lantang, memamerkan senyuman manis profesional yang kentara sekali kepalsuannya.

"Demikianlah pemaparan argumen yang disampaikan secara langsung oleh pihak Glorious serta Sekretaris Jenderal Hamuro Gakuro-shi. Nah, selanjutnya, guna memperdalam perdebatan ini, kami telah mengundang pihak yang secara tegas membantah seluruh tuduhan tersebut ke dalam studio."

Takuma bangkit berdiri lalu mengarahkan tangan kanannya ke arah pintu masuk studio. Dan kemudian—.

"Inilah sosok yang baru saja kita perbincangkan, Akizuki Eisei-shi dari Asosiasi Hunter, serta Hunter Tingkat S, Ashihana Okibi-shi!"

Pintu studio seketika terbuka lebar, menampakkan sesosok pria kekar berambut cepak dengan sekujur tubuh penuh guratan luka, bersama seorang pria berambut pirang dengan aneka tindik di bibirnya yang mengenakan kupluk rajut hitam.

Keduanya melangkah masuk dengan tenang, lalu mengambil tempat duduk tepat berhadapan langsung dengan ketiga narasumber sebelumnya.

"A-Apa-apaan ini!? Apa maksud dari semua lelucon konyol ini!?"

Hamuro Gakuro seketika bangkit berdiri dengan wajah pucat pasi seraya membentak murka.

"..."

Yoshimine Masayoshi hanya memicingkan matanya dalam keheningan, mengamati lekat-lekat sosok Akizuki Eisei, Ashihana Okibi, serta Sakuraba Takuma dan seluruh kru studio yang bertugas.

"Oho..."

Di sisi lain, Misumi Chika justru menautkan kedua tangannya di belakang tengkuk sembari bersiul santai.

"Prinsip utama dari program kami adalah menghindari keberpihakan pada argumen sepihak sebisa mungkin. Oleh karena itu, kami secara khusus mengundang jajaran petinggi tertinggi dari Kantor Cabang Jepang yang merupakan pihak terkait untuk hadir secara mendadak di sini."

Mendengar penjelasan tenang dari Sakuraba Takuma yang sama sekali tak merasa bersalah,

"Orang-orang ini adalah buronan kelas kakap yang tengah diburu oleh aparat penegak hukum, tahu! Mereka sedang memikul status tersangka sebagai mata-mata kaum vampir!"

"Ya, dugaan Anda memang tepat. Namun Anda tidak perlu merasa cemas sedikit pun. Pasukan kepolisian serta staf penegak hukum dari Asosiasi Hunter telah bersiaga penuh di lobi gedung stasiun televisi kami. Begitu sesi wawancara ini usai, kedua narasumber terhormat ini telah sepakat untuk mengikuti prosedur pemeriksaan polisi secara kooperatif."

Mendengar penuturan datar dari sang pembawa acara,

"Mana mungkin aku bisa mempercayai omong kosong macam itu! Brengsek, kaupikir tindakan lancangmu ini bisa lolos begitu saja tanpa konsekuensi berat!?"

Hamuro menggebrak meja dengan keras dan bersiap meninggalkan tempat duduknya, namun—.

"Tuan Hamuro! Sudahlah, biarkan saja. Bagaimanapun juga status kita di sini adalah tamu undangan. Sebaiknya kita serahkan saja tata tertib ini kepada presenter Sakuraba."

Yoshimine Masayoshi menengahi dan membujuk Hamuro dengan nada suara yang terkontrol dingin.

"Baiklah kalau begitu!"

Hamuro Gakuro kembali menghempaskan tubuhnya ke kursi sembari melipat kedua tangan di dada dengan gusar.

"Sebagai permulaan, mari kita saksikan bersama sebuah tayangan rekaman video yang telah diserahkan secara resmi oleh kedua narasumber kita, sebelum kemudian memberikan ruang bagi mereka untuk menyampaikan sanggahan."

Sakuraba Takuma menjentikkan jarinya, lalu layar monitor studio seketika beralih menayangkan rekaman video rahasia tersebut. Rekaman itu memuat—.

Kecuali beberapa gelintir orang yang memang telah diberi tahu sebelumnya, segenap kru stasiun televisi yang berada di dalam ruangan seketika menghujamkan tatapan penuh rasa muak, ketidakpercayaan, dan amarah mendalam ke arah kedua pentolan Glorious serta Hamuro Gakuro.

Reaksi tersebut teramat sangat wajar.

Sebab melalui rekaman video yang baru saja diputar itu, segenap kejanggalan fakta yang selama ini tak pernah masuk akal akhirnya saling terhubung satu per satu, menelanjangi kebusukan yang sesungguhnya di hadapan mereka semua.

Itu adalah rekaman pertemuan rahasia antara Hamuro Gakuro, Yoshimine Masayoshi, dan Misumi Chika yang membahas pengkhianatan terhadap umat manusia.

Rekaman itu juga memperlihatkan para anggota Glorious yang bermutasi menjadi monster lalu menyerang para siswa, lengkap dengan perkataan serta perilaku pemujaan mereka terhadap para vampir.

Selain itu, tampak pula adegan saat vampir melayangkan ancaman kepada Akizuki Tatsuya melalui mulut sang Saber.

Terlihat pula bagaimana para vampir merapal sihir terlarang pada Mikage Mashiro di dalam Istana Vlad, hingga rincian eksperimen manusia keji yang dilakukan Misumi Chika serta koleksi menjijikkan milik Hamuro Gakuro.

"I-Ini semua omong kosong! Dengan kemampuan khusus atau teknologi AI, video rekayasa semacam ini bisa dibuat sesuka hati!"

Hamuro Gakuro memuntahkan kalimat sanggahan itu dengan wajah yang memerah padam laksana kepiting rebus.

"Tampaknya kita sudah terhubung dengan lokasi kejadian. Saudara Tadokoro di lapangan, silakan laporkan situasinya."

Tayangan video seketika beralih, memperlihatkan kamera yang menuruni anak tangga batu yang remang-remang.

"J-Jangan-jangan...! Hentikan! Hentikan siaran itu!"

Di tengah jeritan panik Hamuro Gakuro yang nyaris menangis,

"Saat ini saya berada di ruang bawah tanah kediaman pribadi milik Sekretaris Jenderal Hamuro Gakuro. Saya sedang mendampingi tim penyelidik kepolisian yang tengah melakukan penggeledahan. T-Tidak mungkin, ini bohong, kan!?"

Tadokoro memekik tak percaya.

Tepat setelahnya, kamera menyorot sosok wanita-wanita berparas rupawan yang dikurung di balik jeruji besi. Tubuh mereka dipenuhi luka di sekujur badan, dengan tatapan mata yang kosong tanpa nyawa.

"A-Apakah ini kasus penculikan dan penyekapan monster berakal budi yang belakangan ini ramai diperbincangkan? Tidak, di sini bahkan ada manusia juga..."

Sembari mengedarkan pandangan, Tadokoro menjelaskan pemandangan tragis itu dengan suara bergetar hebat.

"Terlebih lagi, tampaknya dia sangat menikmati perbuatan bejat ini! Benar-benar membuatku mual sampai ke ubun-ubun!"

Salah seorang petugas penyelidik melontarkan makian penuh murka dan rasa jijik yang mendalam.

"Demikianlah laporan langsung dari lokasi penggeledahan kediaman Anggota Parlemen Hamuro. Selanjutnya adalah penyelidikan di kediaman yang disewa oleh Wakil Ketua Klan Glorious, Misumi Chika-shi."

"Mengingat Misumi-shi berstatus sebagai Hunter aktif dan diduga kuat memiliki keterkaitan erat dengan kaum vampir, operasi ini turut dibantu oleh Kidou Akuto-shi alias Akudou, serta Kepala Eto Sasuke alias The Undertaker. Rekan Hunter Eto?"

"Yo. Kotak harta karun terkutuk milik Misumi sudah diamankan sepenuhnya oleh bocah Akudou itu."

"Apakah rekaman di lokasi bisa ditayangkan ke layar kaca?"

"Pemandangan di sini bisa bikin para penyelidik muntah darah. Menayangkan semuanya jelas mustahil, jadi izinkan kami hanya menyiarkan bagian yang masih layak tayang saja."

"Tentu, silakan."

"Kalau begitu, mereka inilah para warga Kota Yunicho yang sempat disekap oleh Misumi."

Sorot kamera beralih memperlihatkan pemuda dan pemudi yang tengah dievakuasi oleh regu penolong.

"Kalian benar-benar bernyali besar, ya..."

Di dalam studio siaran, Misumi Chika menggumamkan kutukan penuh dendam dengan senyuman yang tetap tersungging di bibirnya.

"Begitu rupanya. Jadi kehadiran kami di studio hari ini sengaja diatur sebagai bagian dari skenario kalian?"

Menanggapi pertanyaan dingin Yoshimine Masayoshi,

"Tepat sekali. Pihak parlemen dan markas pusat Asosiasi Hunter sudah sepenuhnya berada di pihak kami. Takkan ada lagi tempat bagi pengkhianat seperti kalian di negeri ini, tidak, di dunia ini."

Akizuki Eisei mengangguk tenang seraya mengumumkan maklumat tersebut.

Ia bangkit berdiri, lalu memanifestasikan pedang raksasa di tangan kanannya dan menghunuskan ujung bilah pedang itu tepat ke arah Yoshimine Masayoshi dan kawan-kawannya.

"Kalau kalian masih menganggap diri kalian sebagai seorang Hunter, setidaknya tunjukkan taring kalian sampai akhir!"

Ia meraung dengan nada suara yang membahana penuh ketegasan.

"Hanya... manusia rendahan berani-beraninya...!"

Misumi Chika bangkit seraya memekik murka.

Seketika itu pula, ujung bibirnya robek melebar, sementara tubuh bagian bawahnya bermutasi menjadi monster mengerikan dengan tubuh laba-laba yang dilengkapi ekor sengat serta sepasang capit kalajengking.

"Itulah sebabnya aku benci manusia... Selalu saja mengekang hasrat sejati mereka demi mematuhi norma moralitas yang dangkal."

Yoshimine Masayoshi pun bangkit, menjelma menjadi sosok monster bertanduk dengan empat lengan yang kekar.

Di tengah jeritan histeris seisi studio yang pecah berkeping-keping,

"Ayah, biar aku saja yang membereskan mereka, boleh?"

Sebuah suara wanita yang penuh wibawa terdengar meluncur turun dari atas langit-langit studio.

"Terserah kau saja."

Eisei menghela napas panjang, lalu melenyapkan pedang raksasanya dan kembali duduk santai di kursinya.

"Ya ampun~ jadi kalian menyerah, ya? Tapi jangan harap ada ampunan untuk—"

Tiba-tiba, seekor harimau petir biru melesat secepat kilat, mencabik-cabik raga monster Misumi Chika serta tubuh bagian bawah Yoshimine Masayoshi hingga hangus terbakar tanpa sisa.

Tepat di hadapan mereka berdua, berdiri seorang gadis berambut bob dengan sepasang sarung tinju di tangannya, Akizuki Narumi, yang menatap dingin ke bawah.

Seketika itu pula, jeritan melengking memecah udara saat Misumi Chika dan Yoshimine Masayoshi berguling-guling di lantai, meraung kesakitan akibat siksaan luka bakar yang teramat dahsyat.

"Cuma kehilangan separuh badan bagian bawah saja jangan cengeng berteriak begitu! Dasar pecundang tak bernyali!"

Narumi membentak galak seraya menginjak tubuh Yoshimine Masayoshi tanpa ampun.

"K-Kau... bajingan...!"

"Kalian yang sudah mengkhianati ras manusia dan membuang kemanusiaan sama sekali tak berhak menuntut perlakuan manusiawi. Baguslah kalau begitu, bukankah tadi kau bilang sendiri kalau kau muak dengan moralitas manusia?"

Kilatan petir biru yang berpendar di tangan kanan Narumi perlahan menjalar turun ke kakinya, menyengat dan meremukkan tubuh Yoshimine Masayoshi berkeping-keping.

"Abubababababiwiiiii!"

Yoshimine Masayoshi kejang-kejang hebat seraya menyemburkan darah segar dari mata, hidung, mulut, hingga pori-pori kulitnya.

"T-Toloong..."

Sementara itu, Misumi Chika yang mengepakkan sayap kelelawarnya berusaha mati-matian melayang kabur ke udara.

"Jangan harap bisa lolos!"

Disertai raungan Narumi, sayap kelelawar Misumi Chika tersambar petir biru hingga menguap menjadi abu dalam sekejap mata.

Tubuhnya terjatuh berdebum ke lantai, lalu saat Misumi menangis melolong-lolong, Narumi menendangnya tanpa ragu.

"Sudah kubilang jangan berisik! Mengganggu telinga saja!"

Dengan raut wajah yang menyeramkan laksana iblis penuntut balas, Narumi melepaskan amukan badai harimau halilintar biru yang menelan dan memanggang sisa raga Yoshimine Masayoshi serta Misumi Chika hingga hangus terbakar.

"Narumi, Ayah paham kemarahanmu, tapi sudahi sampai di situ."

Mendengar teguran ayahnya, Narumi akhirnya menghentikan serangannya. Di hadapan kakinya, kedua monster itu kini terkapar sekarat dengan tubuh yang berkedut-kedut lemah.

"Bisa dimaklumi sih, lagipula Narumi sama sekali ditinggalkan dari panggung utama kali ini."

Ashihana Okibi sempat melontarkan komentar sarkastis, namun begitu tatapan mata Narumi menghujam tajam ke arahnya, ia buru-buru menutup mulutnya rapat-rapat.

Tak lama kemudian, aparat kepolisian menyerbu masuk ke dalam studio, memborgol Hamuro Gakuro bersama Yoshimine Masayoshi dan Misumi Chika yang sudah babak belur, lalu menggiring mereka keluar.

"Kalau begitu, bolehkah kita melanjutkan tayangan siarannya?"

Atas permintaan bernada ramah dari Sakuraba Takuma, kubu Eisei mengangguk tanpa sepatah kata pun, dan video rahasia itu pun kembali diputar.

Kini layar menampilkan rekaman pertarungan antara Tsukishiro Kain melawan kawanan vampir—atau lebih tepatnya, sebuah pembantaian satu arah yang mutlak.

"Kain..."

Melihat sosok pemuda berambut abu-abu yang kini terpampang di layar kaca seantero negeri, pipi Narumi merona merah seraya menautkan kedua tangannya di depan dada.

Menyaksikan tingkahnya yang persis seperti gadis yang tengah mabuk asmara, Ashihana Okibi hanya bisa mengedikkan bahu, sementara sang ayah, Eisei, menghela napas pasrah.

◇◆◇

Setelah menyapu bersih gerombolan vampir, kami segera menyelamatkan para warga sipil yang ditawan oleh mereka.

Bertempur sembari melindungi warga sipil membawa risiko yang teramat besar. Oleh karena itu, kami memutuskan untuk membagi regu menjadi dua: satu kelompok bertugas mengamankan warga dan mengawal mereka kembali ke perbatasan wilayah manusia, sedangkan sisanya tetap melanjutkan operasi penyerbuan.

Berdasarkan kesepakatan bersama, rombongan elit yang akan bergerak maju bersamaku kini disaring menjadi kelompok kecil yang terdiri dari diriku, Arata, Arima, Akira, dan Karina.

Jumlah warga sipil yang diselamatkan terlampau banyak, sehingga sebagian besar personel harus dialokasikan untuk mengawal mereka.

Pemilihan anggota selain diriku dan Arata ditentukan melalui undian. Yah, meskipun Sakuraba dan Ran tampaknya masih merasa berat hati hingga detik-detik terakhir.

"Kuserahkan keselamatan Mashiro-san di tanganmu, ya."

Dengan sorot mata enggan berpisah, Sakuraba menitipkan harapan itu kepadaku.

"Kau harus pulang dengan selamat! Terus, kalau sudah berhasil menyelamatkannya, jangan berani-berani bermesraan berlebihan di depanku!"

Ran turut mencengkeram ujung jaketku seraya melontarkan gerutuan yang tak jelas maksudnya, sebelum akhirnya memimpin barisan warga melangkah mundur menyusuri jalan semula.

"Ayo, kita berangkat."

Kami pun kembali melesat maju menembus medan laga.

Kami akhirnya tiba di puing-puing bekas Stasiun Kereta Yunicho. Tepat di hadapan kami, tampak sosok Tatsuya yang bersimbah darah dari mata, hidung, dan mulutnya, namun tetap berdiri kokoh melindungi ketiga anak di belakangnya dari terkaman siluman ular berwajah manusia.

"Ayo, kenapa diam saja♪ Bakal kulahap kalian sampai ludes!"

Siluman ular itu menyeringai buas bersiap menelan Akito, namun Tatsuya memaksakan sisa energi sihirnya untuk terus membentangkan pelindung demi menahan laju serangannya.

"Kak Tatsuya! Sudah cukup! Kalau begini terus Kakak bisa mati!"

Mendengar tangisan Akito yang memohonnya untuk berhenti, Tatsuya hanya tersenyum tipis.

"Tenang saja. Kakak pasti akan melindungi kalian."

Jawabannya sama sekali tidak nyambung dengan situasi. Kemungkinan besar pendengarannya sudah rusak dan fungsi inderanya telah mati rasa.

Dan kemudian—.

"Tatsuya!"

Jeritan histeris Karina membahana di udara, bersamaan dengan diriku yang melesat secepat kilat menerjang sang siluman ular, mencengkeram ekor panjangnya lalu menghempaskannya ke udara.

"Gihiiii!"

Dengan suara lolongan aneh, siluman ular itu kuhantamkan sekuat tenaga ke permukaan tanah. Terasa sensasi remuk yang khas, persis seperti kodok sawah yang terinjak roda pedati.

Bola mata ular itu mencelat keluar, tubuhnya terkapar mengejang kaku.

"Kenapa kalian bisa ada di sini!? Di mana Spade dan Daa Iyaa!?"

Melihat kedatangan kami yang tiba-tiba, raut wajah Mashiro membelalak kaget seraya mengarahkan pedang panjang berbilah hitam ke arah kami, melontarkan pertanyaan yang mustahil diucapkan oleh Mashiro yang asli.

Sosok ini pastilah Hato, vampir wanita yang merasuki tubuh Mashiro sebagaimana dilaporkan oleh Ekiki tadi. Kawanan vampir di sekitarnya pun serentak mengarahkan senjata mereka ke arah kami.

"Kalian diamlah di situ sebentar. Aku akan segera membalaskan perbuatan kalian."

Aku menghunjamkan tatapan dingin seraya melontarkan titah bernada beku. Hanya dengan kalimat itu saja, tubuh mereka seketika terkunci kaku laksana terkena sihir pelumpuh total.

Mengabaikan mereka, aku melangkah menghampiri Tatsuya.

"Tatsuya, kau sudah berjuang dengan sangat hebat."

Sembari memberikan apresiasi hangat, aku menopang punggungnya agar tubuhnya tidak ambruk.

"Guru...?"

Mendengar suara parau Tatsuya yang lemah,

"Berkat kegigihanmu, anak-anak ini selamat. Sekarang, istirahatlah."

Setelah mengakui jasanya, aku mengaktifkan Skill Summon untuk memanggil monster slime dan memerintahkannya menyembuhkan luka-luka Tatsuya.

Slime itu berguncang kenyal penuh kegirangan, menyelimuti sekujur tubuh Tatsuya lalu memulihkan seluruh lukanya dalam sekejap mata. Di saat yang sama, deru napas Tatsuya mulai terdengar tenang dan teratur.

"Tatsuya! Syukurlah!"

Karina berhambur memeluk Tatsuya seraya menangis haru. Akira pun menghela napas lega setelah memastikan keselamatan sahabatnya itu.

"Luka parah separah itu bisa sembuh dalam sekejap mata..."

Arima bergumam takjub bercampur ngeri.

"Kak Tatsuya!"

"Kakak!"

Akito dan Mikan langsung berlari mendekati Tatsuya yang kini terlelap damai. Melihat kondisi mereka berdua, kurasa anak-anak ini baik-baik saja.

Tinggal satu lagi—.

"Arisa, kau juga baik-baik saja, kan?"

Aku mendekati Arisa untuk memastikan keadaannya, namun—

"I... ya."

Ia hanya mengangguk lemah dengan wajah yang pucat pasi, tampak begitu kelelahan. Tidak terlihat adanya luka fisik, dan mengingat situasi mencekam yang baru saja ia lalui, reaksi traumatis semacam ini tentu sangat wajar...

"Karina, bisakah kautitipkan Arisa dan yang lainnya padamu?"

"Iya! Serahkan padaku!"

Menanggapi permintaanku, Karina bergegas menghampiri Arisa, mengeluarkan selimut dari ranselnya untuk menghangatkan tubuhnya, lalu menyodorkan minuman hangat.

Urusan anak-anak sudah aman di bawah pengawasan Karina. Sekarang tinggal yang ini—.

"Guge..."

Ular berwajah manusia itu masih terkapar meregang nyawa di atas tanah. Aku sama sekali tak berniat memberikan kematian yang cepat dan mudah bagi bajingan yang telah menyiksa muridku ini.

Jika menuruti kata hati, rasanya aku ingin mengutuknya dengan penderitaan abadi. Namun saat ini Ekiki pasti tengah sibuk menginterogasi Spade dan Daa Iyaa, jadi terasa kurang pantas bagi seorang tuan bila harus merepotkannya hanya demi seekor monster kroco seperti ini.

Membiarkannya sekarat di situ adalah pilihan terbaik untuk saat ini.

"Kau benar-benar bukan manusia biasa, ya. Sekali lagi kutanyakan padamu. Di mana Spade dan Daa Iyaa?"

Mungkin setelah berhasil menenangkan diri, vampir wanita bernama Hato yang mengendalikan tubuh Mashiro melontarkan pertanyaan itu dengan nada tenang sembari menjaga jarak.

"Entahlah, kalau mereka beruntung, mungkin sekarang mereka sudah mati."

Mengingat betapa bersemangatnya Ekiki tadi, mustahil rasanya membayangkan mereka berdua bisa meregang nyawa dengan tenang semudah itu.

"Begitu rupanya... Ternyata kami benar-benar telah salah menilai kekuatanmu. Tapi mungkin ini justru sebuah keberuntungan bagiku. Sebab kalau aku berhasil menangkapmu, posisi sebagai bawahan nomor satu Vlad-sama akan jatuh ke tanganku."

"Kaupikir sampah sepertimu sanggup melakukannya?"

Mereka ini hanyalah gerombolan monster imitasi yang berlagak menjadi vampir sejati. Bagaimanapun aku membayangkannya, aku sama sekali tak melihat adanya kemungkinan bagiku untuk kalah dari mereka.

"Tentu saja bisa! Pertarungan itu tidak melulu ditentukan oleh adu kekuatan otot semata, tahu♪"

Hato berkacak pinggang seraya melayangkan ciuman jauh.

Tepat pada detik berikutnya, Arisa mendadak membanting tubuh Mikan ke tanah, menghunuskan sebilah belati tepat di atas urat leher gadis kecil itu.

"Lihat kaaan, keadaan sekarang berbalik~~!"

"Kak Arisa...?"

Mikan bertanya dengan suara gemetar penuh ketakutan,

"Apa yang terjadi padamu!?"

Akito pun menjerit panik, namun paras Arisa seketika terdistorsi oleh rasa jijik yang amat pekat.

"Tutup mulut kalian, dasar serangga parasit rendahan! Jangan berani-berani bicara sok akrab denganku!"

Ia meludah mencaci Akito dan Mikan tanpa belas kasihan.

"Sama seperti Mashiro, tubuh Arisa pun tengah dikendalikan musuh. Tenanglah, Mikan, Kakak berjanji akan menyelamatkanmu dan juga Arisa."

Aku berbicara dengan nada lembut agar tidak membuat Mikan semakin histeris.

"I-Iya..."

Mikan mengangguk pasrah.

Rupanya reaksi lamban Arisa tadi hanyalah akting belaka demi mencari celah untuk menyandera Mikan. Sudah hampir bisa dipastikan bahwa parasit vampir imitasi telah bersarang di dalam raganya, persis seperti yang menimpa Mashiro.

Membantai Mashiro dan Arisa dalam kondisi seperti ini sejatinya semudah meminum segelas air putih. Akan tetapi, tindakan keji semacam itu mustahil sanggup kulakukan.

"Baguslah kalau kau cepat tanggap, jadi pembicaraan ini lebih mudah. Gadis pemilik raga ini dirasuki olehku, sedangkan bocah oni itu dikendalikan penuh oleh bawahanku. Bisa dibilang jiwa dan raga kami telah menyatu seutuhnya. Kematian kami berdua adalah kematian bagi kedua raga ini. Artinya, kau yang begitu terobsesi pada gadis-gadis ini takkan pernah berani melukai kami sedikit pun."

Hato membusungkan dada dengan pongah, sementara Arisa menempel-nempelkan mata pisaunya ke leher Mikan seraya menyunggingkan seringai yang menjijikkan.

Situasi yang sangat pelik. Jauh lebih menjengkelkan dibanding kebodohan Spade ataupun Daa Iyaa tadi.

Aku harus mengulur waktu sampai bisa merumuskan rencana penanggulangan yang tepat.

"Apa maumu?"

"Bukan cuma kuat, kau ternyata pintar juga, ya. Jika aku bisa bersatu dengan ragamu, posisiku di antara para pengikut Vlad-sama akan melesat jauh melampaui yang lain."

Sembari meraba tubuhnya sendiri, ia menatapku dengan pandangan penuh gairah yang memabukkan lalu menjilat bibirnya.

Intinya, ia berniat meninggalkan raga Mashiro demi merasuki tubuhku.

Tepat pada detik itu—.

"—!?"

Hawa dingin yang menusuk membuat keningku berkerut dalam. Sensasi ganjil apa ini? Rasanya persis seperti ada ribuan jarum tajam yang menghujam sekujur tubuhku secara bersamaan.

Sembari menahan getaran aneh itu, aku kembali bertanya.

"Kalau kau merasukiku, bagaimana nasib Mashiro dan Arisa?"

Sebuah pertanyaan basa-basi yang sebenarnya sama sekali tak bisa kupegang kebenarannya.

"Tentu saja akan kulepaskan. Minatku sepenuhnya hanya tertuju padamu, gadis-gadis ingusan semacam ini sudah tidak ada gunanya lagi bagiku."

Sudah kuduga ia akan memberikan jawaban manis seperti itu.

Sekarang, bagaimana cara mengatasi situasi genting ini? Mereka sama sekali tidak peduli pada keselamatan nyawa Mikan.

Jika kami bergerak gegabah sedikit saja, nyawa Mikan akan langsung melayang. Di sisi lain, melukai raga Mashiro maupun Arisa adalah opsi yang mutlak terlarang.

Aku harus mengusir entitas parasit itu keluar dari tubuh mereka masing-masing tanpa meninggalkan satu goresan pun pada raga Mashiro dan Arisa.

Seandainya kami bisa memanfaatkan energi sihir perak milik Mashiro hal itu mungkin saja dilakukan, namun bagaimana bisa jika pemilik sihir itu sendiri raganya tengah dibajak oleh musuh? Kami benar-benar berada di jalan buntu.

—Wahai calon menantuku, bagaimana kalau Ibu tawarkan sebuah siasat jitu?

Mendengar tawaran tak terduga dari ibunda Mashiro di kepalaku,

(Tentu saja boleh! Siasat seperti apa itu!?)

Tanpa sadar aku langsung menyambar tawarannya. Gawat, reaksiku barusan mungkin terkesan terlalu putus asa.

Orang dengan watak seperti wanita ini biasanya akan menguras habis keuntungan bila kita menunjukkan titik lemah di hadapannya.

—Menguras sampai ke tulang katamu? Tega sekali bicaramu begitu. Tenang saja, Ibu tidak berniat berbuat macam-macam pada calon suami putriku sendiri, kok. Bagiku, suamiku tercinta adalah satu-satunya di hatiku.

Wanita ini pasti sedang bersenang-senang di atas penderitaanku.

(Iya, iya, terserah Ibu saja. Tolong segera beritahukan siasat yang Ibu maksud tadi.)

—Kondisi pembajakan raga saat ini bisa terjadi karena jiwa putriku tengah terlelap tidur di dalam sana. Jika kita bisa membangunkannya secara paksa untuk sesaat saja, Ibu bisa menyelinap masuk kembali ke dalam raganya dan merebut kendali tubuh itu secara utuh.

Merebut kendali raga, ya.

Jika kesadaran Mashiro berhasil dipulihkan, energi sihir perak miliknya semestinya mampu melenyapkan kutukan yang membelenggu Arisa juga. Taruhan ini patut dicoba...

(Baiklah, aku setuju bekerja sama. Lalu, apa yang harus kulakukan?)

—Ibu akan memancing isi hati terdalam putriku keluar. Yang perlu kaulakukan hanyalah menyampaikan perasaanmu yang sejujur-jujurnya kepada putriku tanpa ada kebohongan sedikit pun.

(Perasaan yang jujur... tanpa kebohongan?)

Perasaan seperti apa memangnya? Rasanya selama ini aku tidak pernah berniat membohongi perasaanku sendiri, sih.

—Kan sudah Ibu bilang tadi. Dirimu yang sekarang ini sama sekali tidak mau menatap isi hatimu sendiri secara jujur. Tanyakanlah pada lubuk hatimu yang terdalam, perasaan seperti apa yang sebenarnya kaurasakan terhadap putriku, lalu sampaikan jawaban itu langsung ke hadapannya.

Perasaanku terhadap Mashiro, ya.

Sejujurnya aku tidak pernah memikirkan hal itu secara mendalam. Di mataku, Mashiro selalu menjadi sosok yang anehnya terus menyita perhatianku.

Awalnya ia salah mengiraku sebagai orang lain dan langsung memusuhiku. Ia bahkan sempat menuduhku sebagai wadah reinkarnasi vampir.

Namun entah mengapa, sampai detik terakhir pun aku sama sekali tak mampu menaruh rasa dendam ataupun benci kepadanya.

Satu hal yang bisa kupastikan dengan tegas saat ini adalah bahwa aku merasakan obsesi keterikatan yang teramat kuat terhadap Mashiro, lebih dari siapa pun di dunia ini.

(Akan kucoba semampuku.)

—Jawaban yang payah sekali, tapi yah, untuk ukuran pemuda sepertimu mungkin itu sudah pencapaian yang lumayanlah.

Tepat saat ibunda Mashiro menggumamkan hal itu di benakku, tubuhku mendadak bergerak sendiri di luar kendali, melangkah maju mendekati Mashiro.

"Jangan mendekat! Kau mau bocah ini kehilangan nyawanya!?"

Arisa menepuk-nepuk leher Mikan menggunakan sisi tumpul belatinya seraya melayangkan peringatan keras.

"Tenanglah, aku tidak akan bertindak bodoh. Kalian berdua tentu tahu betul bahwa kami mustahil tega melukai kedua gadis itu, bukan?"

Menggunakan tubuhku, ibunda Mashiro mengedikkan bahu lalu menghentikan langkah kakinya.

"Lalu, apa maumu sebenarnya?"

"Jika ragaku kuserahkan padamu, kesadaranku pasti akan lenyap terenggut, kan? Kalau begitu, sebelum saat itu tiba, aku ingin mengetahui isi hati Mashiro yang sesungguhnya. Sebenarnya, bagaimana pandangan Mashiro terhadap diriku selama ini?"

Bisa-bisanya ibunda Mashiro melontarkan pertanyaan yang sama sekali tak masuk akal di situasi seperti ini!

(Hei, Bibi! Meskipun statusmu itu ibunya, ini sudah keterlaluan melanggar privasi orang lain, tahu!)

—Jangan berisik dan banyak mengeluh begitu. Bukankah menurutmu selama ini Mashiro sangat membencimu? Kalau begitu kita tinggal memastikannya sekali lagi secara langsung, tidak ada ruginya bagimu, kan? Atau jangan-jangan, ada alasan tertentu kenapa kau takut mendengarnya?

(Selalu saja pintar membalikkan kata-kata. Apa cara konyol seperti ini benar-benar bisa membangkitkan kesadaran Mashiro?)

Aku memprotes di dalam hati dengan nada gusar, namun—

—Semua itu tergantung pada dirimu sendiri.

Terdengar tawa renyah sang ibunda yang menggema santai.

Astaga, apa sebenarnya yang direncanakan wanita ini? Aku sama sekali tak sanggup membaca jalan pikirannya, namun fakta bahwa kami tengah terjepit di jalan buntu adalah kenyataan yang tak terbantahkan.

Mau tidak mau aku harus mengikuti arus permainannya untuk saat ini...

"Jika rasa keterikatanmu pada gadis ini semakin dalam, kau pasti akan semakin tak berdaya melawanku nanti... begitu, ya? Baiklah, akan kuberi tahu jawabannya."

Selama beberapa saat, jemari lentik Hato mengelus bibir ranum Mashiro, sebelum akhirnya sebuah seringai vulgar yang sama sekali tak pantas disandang wajah ayu itu mengembang lebar.

"Penyesalan yang teramat mendalam karena telah memperlakukanmu dengan buruk dan melukai perasaanmu. Namun di saat yang sama, ia sangat takut dibenci olehmu. Ia ingin terus berada di sisimu selamanya. Karena itulah, ia merasakan luapan kecemburuan dan kepanikan yang teramat dahsyat terhadap gadis bernama Makoto yang berpotensi merebutmu dari sisinya."

"Hah? Cemburu pada Makoto? Apa kau serius mengatakannya?"

Kukira yang akan meluncur dari mulutnya hanyalah rentetan makian kasar, sehingga mendengar pernyataan yang teramat tak terduga itu membuatku spontan memotong ucapannya.

"Kau pernah kepergok mandi bersama dengan gadis bernama Makoto itu, kan? Sejak saat itulah gadis ini yakin bahwa kau dan gadis Makoto itu saling jatuh cinta secara sungguh-sungguh."

"Itulah sebabnya ia merasa sangat tersiksa, muak, dan tak sudi melihatmu berdekatan dengan Makoto. Kira-kira begitulah gejolak batinnya."

Melihat seringai licik Hato yang mengembang semakin lebar,

"Lalu, apa lagi?"

(Ibu! Cukup, jangan diteruskan lagi—!)

Aku berusaha mencegahnya, namun—

—Wahai menantuku, serahkan urusan ini pada Ibu. Bukankah tadi kita sudah sepakat?

Dengan nada suara yang teramat tenang dan tegas, ibunda Mashiro mengingatkanku kembali.

Sikapnya yang mutlak tanpa kompromi itu memaksaku untuk kembali mengunci mulut rapat-rapat.

"Saking terbakar api cemburu, ia melampiaskannya dengan bersikap dingin dan ketus padamu, lalu setelahnya ia menangis tersiksa dirundung penyesalan diri sendiri. Namun anehnya, setiap kali malam tiba, ia selalu mengkhayalkan kehangatan dekapanmu."

"Ia ingin menggenggam tanganmu! Ingin dipeluk erat olehmu! Ingin mengecup bibirmu! Dan mendambakan raganya menyatu seutuhnya denganmu lahir dan batin! Benar-benar menggelikan sekali! Padahal kalau perasaan ini dimanfaatkan untuk merayumu, pria polos nan dungu sepertimu pasti langsung bertekuk lutut dalam sekali serang, kan!"

Sembari tertawa mengejek, kedua tangan Hato meremas payudara ranum Mashiro dengan kasar.

—Calon menantuku, itulah isi hati putriku yang sesungguhnya.

(T-Tunggu dulu, maaf, aku benar-benar tidak bisa mencerna semua ini! Mashiro jelas-jelas sangat membenciku, kan!)

—Ia hanya memaksakan diri bersikap seperti itu. Fakta tentang putriku yang baru saja dibeberkan oleh vampir itu baru separuh dari kebenaran yang sesungguhnya. Kau tentu tahu betul bahwa hampir setiap malam anak itu selalu tersiksa oleh mimpi buruk, kan?

(Iya, aku tahu soal itu.)

—Bisakah kauraba apa penyebab yang membuatnya begitu menderita?

(Rasa bersalah... karena pernah membantai monster berakal budi tak berdosa di masa lalu... bukan begitu?)

—Tebakanmu itu separuh benar, tapi separuhnya lagi keliru. Menaruh hati pada dirimu sama saja artinya dengan menyangkal seluruh jalan hidup yang telah ia lalui selama ini.

—Sebab perasaan cinta itu meruntuhkan dasar pembenaran atas segenap pembantaian yang pernah ia lakukan di masa lampau. Itulah sebabnya setiap malam ia melewati hari-harinya dalam kubangan rasa sesal dan ratapan tobat yang tiada akhir.

(Penjelasan itu rasanya terlalu melompat jauh! Bagaimana mungkin rasa sukanya padaku bisa meruntuhkan pembenaran atas dosa-dosanya di masa lalu!?)

Kemungkinan besar keluarga kandung Mashiro tewas dibantai oleh kawanan monster di masa lalu. Wajar bila ia menaruh dendam kesumat yang melampaui batas terhadap segenap bangsa monster.

Namun bila memang demikian, dendam itu semestinya memiliki dasar pembenaran yang sangat kokoh di dalam benaknya.

Andaikan pertemuannya dengan Arisa berhasil mengikis prasangkanya terhadap monster berakal budi hingga memicu rasa bersalah sekalipun, fakta bahwa keluarganya tewas dibunuh oleh monster tetaplah kenyataan yang tak terbantahkan.

Lalu mengapa—.

—Alasan utama anak itu begitu membenci monster bukanlah semata-mata karena kehilangan kami selaku orang tuanya, bukan pula didorong oleh rasa keadilan semu akibat besarnya korban jiwa yang menimpa umat manusia.

(Maksudmu... akar kebencian Mashiro terhadap monster lahir semata-mata karena ia kehilangan sosok bernama Umi, begitu?)

Umi, nama itulah yang kerap diracaukan Mashiro dalam tidurnya saat tersiksa mimpi buruk.

Namun mengapa menaruh hati padaku bisa melenyapkan pembenaran atas kebenciannya itu?

—Tepat sekali. Karena anak itu memiliki intuisi yang sangat tajam. Seiring dirinya mulai terpikat oleh pesonamu, naluriahnya perlahan menyadari kebenaran tersebut. Sebab betapa pun ingatanmu dimanipulasi, esensi jiwamu yang sejati takkan pernah bisa berubah.

—Oleh karena itulah, kau mutlak harus mengetahui kebenarannya. Mengapa anak itu pada akhirnya memilih jalan hidup sebagai sosok monster penumpas darah.

Nada bicaranya kini tak lagi diwarnai candaan jenaka seperti tadi, melainkan berganti menjadi getaran suara yang teramat berat dan sarat akan ketegangan mendalam.

(Apa sebenarnya maksud perkataanmu itu?)

Tepat saat aku membuka mulut hendak menuntut kejelasan makna dari ucapannya,

—Eksistensimu yang sekarang ini direkonstruksi berdasarkan kondisimu saat kehilangan ingatan masa lalu pada peristiwa lima tahun silam. Karena itu, jika hanya sekadar ingatan pada masa-masa itu, Ibu masih sanggup merekonstruksikannya kembali untukmu.

Bersamaan dengan kata-kata penuh belas kasih yang terucap dari ibunda Mashiro, seluruh pandangan mataku seketika berputar dan terdistorsi hebat.

◇◆◇

Saat itu aku tengah berada di sebuah kota berbenteng bernama Ramour.

Menjalani hari-hari yang bersahaja namun berlimpah kebahagiaan, hingga pada suatu hari, saat aku dan sahabat masa kecilku, Lena Grote, menjelajahi hutan di dekat perbatasan, kami berdua menemukan sebuah kuil pemujaan kuno yang telah lapuk dimakan usia.

Bila kupikirkan kembali sekarang, bangunan itu kemungkinan besar adalah sebuah kuil kecil khas Jepang.

Terdorong oleh rasa penasaran khas anak-anak, tanganku menyentuh sebongkah batu misterius yang tersemat di kuil tersebut.

Detik berikutnya, aku mendapati diriku telah berdiri terdampar di sebuah gang sempit di sudut Kota Tokyo, di planet Bumi ini.

Dunia itu adalah Bumi pada era di mana kaum vampir belum menampakkan diri, tepat saat festival perayaan akbar peringatan 50 tahun berdirinya profesi Hunter tengah diselenggarakan dengan sangat meriah.

Di tengah lautan manusia yang memadati jalanan dalam jumlah yang belum pernah kulihat seumur hidupku, aku melangkah terlunta-lunta sembari menangis tersedu-sedu.

Dan pada saat itulah—.

"Kau ini anak laki-laki, kan! Jangan menangis cengeng seperti itu!"

Di sanalah aku pertama kali bersua dengan Mikage Mashiro.

Mashiro kecil menarik tanganku yang basah oleh air mata, lalu membawaku menghadap kedua orang tuanya yang merupakan Hunter Tingkat A.

Akibat guncangan hebat saat berpindah ke dunia ini, sebagian ingatanku terenggut hilang, termasuk namaku sendiri. Menyerahkan anak terlantar sepertiku ke kantor polisi semestinya adalah pilihan yang paling tepat dan masuk akal.

Namun anehnya, kedua orang tua Mashiro mendengarkan segenap kisahku yang terdengar mustahil itu tanpa sedikit pun menganggapnya sebagai lelucon konyol.

Kupikir, seandainya saat itu mereka memutuskan untuk menyerahkanku ke pihak kepolisian, mungkin takdir masa depan yang teramat berbeda akan terbentang di hadapanku.

Akan tetapi, orang tua Mashiro justru memilih untuk mengadopsiku ke dalam keluarga mereka.

Mengingat satu-satunya kata yang masih melekat di ingatanku hanyalah sebutan Kai, orang tua Mashiro kemudian menyematkan nama kanji pengganti, yaitu 'Umi', seraya berjanji akan membantuku mencari jalan untuk kembali ke dunia asalku.

Semenjak hari itu, selama tiga tahun berturut-turut, aku menjalani hari-hariku berdampingan sebagai adik laki-laki bagi Mashiro.

Mashiro adalah gadis yang berwatak keras kepala, manja, selalu sok kuat di luar, namun sejatinya sangat rapuh dan takut akan kesepian.

Hari-hariku saat itu benar-benar diwarnai oleh kepatuhan tanpa daya menghadapi segenap tingkah lakunya yang selalu menyeretku ke sana kemari.

Padahal, tubuh fisikku sama sekali tidak tumbuh sejak diselamatkan waktu itu. Di sekolah, hampir setiap hari aku diejek karena alasan itu, tetapi setiap kali hal itu terjadi, Mashiro selalu membelaku dan marah seolah-olah dirinyalah yang diejek.

Melihat kebaikannya itu, perlahan-lahan aku pun mulai sangat tertarik padanya.

Dan di hari yang menentukan itu, kebahagiaan kami seketika hancur berkeping-keping oleh kedatangan para penyusup dari dunia lain.

Kedua orang tua Mashiro memercayakan keselamatan dirinya kepadaku, lalu aku menarik tangannya yang gemetaran dan nyaris menangis sembari terus berlari. Namun pada akhirnya, kawanan monster berhasil memojokkan kami berdua.

Di saat seperti itu—.

"Umi, tidak apa-apa, biar aku yang melindungimu!"

Padahal ia pasti sangat ketakutan. Terpisah dari ayah dan ibunya pasti membuatnya begitu cemas.

Meski begitu, ia tetap berusaha melindungiku. Hatiku bergetar hebat karenanya, dan pada saat itulah, dari lubuk hati yang terdalam, aku sangat ingin menyelamatkannya.

Hasilnya, rencana pengalihan perhatian itu berhasil dan kawanan monster mengerubungi diriku. Di tengah kelegaan yang luar biasa karena telah berhasil melindungi gadis yang sangat kucintai, kesadaranku pun lenyap.

Saat terbangun, wajah Lena yang tengah menatapku dengan cemas langsung tertangkap oleh pandanganku. Aku tertidur tepat di depan kuil kecil itu.

Anehnya, padahal aku tinggal bersama Mashiro dan keluarganya selama tiga tahun, waktu yang berlalu sejak aku menyentuh batu misterius itu ternyata baru tiga jam. Terlebih lagi, warna rambut hitamku tampaknya telah berubah menjadi abu-abu sejak saat itu.

Aku ingin bertemu kembali dengannya, jadi aku menyentuh batu di kuil itu sekali lagi.

Di detik berikutnya, seluruh ingatanku tentang Bumi lenyap tanpa sisa.

◇◆◇

Kini situasi ganjil ini akhirnya masuk akal bagiku. Sepertinya aku bukan penduduk dunia ini, melainkan penduduk dunia tempat Kota Benteng Ramour berada.

Jika demikian, ada beberapa hal ganjil yang masih mengganjal.

Pertama, ingatan di dalam kepalaku sebagai seorang pemuda Bumi bernama Tsukishiro Kain. Aku bahkan mengingat secara sangat terperinci mulai dari orang tua di kampung halamanku di Bumi hingga teman-temanku.

Bagaimana cara ingatan semacam ini ditanamkan, serta siapa dan demi tujuan apa ingatan itu dimasukkan ke kepalaku?

Hal aneh lainnya adalah aku sama sekali tidak memiliki ingatan tentang dunia asalku, dan apa yang kulakukan di sana pun masih menjadi misteri.

—Wahai menantuku?

Menanggapi suara Bibi Sakuya yang terdengar menyelidik di benakku,

(Tenang saja. Aku akan segera membebaskan Mashiro-chan sekarang.)

Aku memberikan jawaban dengan nada tegas.

"Arata!"

Bagi Arata yang tanggap situasi, panggilan itu sudah lebih dari cukup. Aku melompat ke hadapan Mashiro lalu mencengkeram pergelangan tangan kanannya.

"J-Jangan bergerak! Kalau kau bergerak sedikit saja, gadis oni itu akan—"

Didorong oleh rasa panik, Hato mencoba mengirimkan instruksi kepada vampir yang mengendalikan Arisa, namun vampir itu sudah dilumpuhkan begitu mudahnya oleh Arata hingga pingsan tak sadarkan diri.

Hebat juga si Arata... Tunggu sebentar, sebenarnya apa hubunganku dengan Arata yang sesungguhnya? Kalau dipikirkan secara dingin, bisa melumpuhkan vampir semudah itu sudah membuktikan bahwa dia jelas bukan orang biasa.

Tidak, daripada memikirkan hal itu, saat ini—.

"Mashiro-chan, akhirnya aku mengingatmu. Maafkan aku karena sudah melupakanmu selama ini, ya."

Aku menatap lurus ke arah Mashiro seraya tersenyum, melontarkan permintaan maaf seperti yang biasa kulakukan dulu.

"Kau ini bicara omong kosong apa, sih!"

Hato meronta berusaha melepaskan diri dariku, namun aku mendekap tubuh Mashiro erat-erat seraya menatap wajahnya ke bawah—.

"Mashiro-chan, sejak dulu aku selalu mencintaimu."

Aku mengungkapkan isi hati sejatiku yang tak sempat kusampaikan pada hari itu, lalu mengecup bibir Mashiro.

Kedua matanya terbelalak lebar saat kami berciuman, dan wajahnya seketika merona merah padam laksana buah apel matang.

Kemudian, ia mengibaskan tanganku dan melompat mundur selangkah,

"D-Dasar mesum! Apa-apaan yang kaulakukan, hah!?"

Sembari berteriak berang, ia melayangkan tamparan keras tepat ke pipiku. Tak tanggung-tanggung, ia bahkan melancarkan serangan susulan berupa tendangan memutar ke arahku.

Sembari mengatur napasnya yang terengah-engah, Mashiro menatap ke arahku yang terlempar ke belakang,

"Cepat enyah dari tubuhku sekarang juga!"

Ia memekik lantang dengan wajah penuh amarah.

Sesaat kemudian, energi sihir perak membuncah dahsyat dari dalam dirinya,

"Gugiiii!"

Diiringi jeritan melengking, sesosok wanita berpakaian putih dengan tato berbentuk hati dan burung di lengan kanannya terlempar keluar dari raga Mashiro ke lantai.

"Ekiki, tangkap dia!"

"T-Tunggu dulu—"

Sebelum Hato sempat menyelesaikan kata-katanya dalam kepanikan, seluruh tubuhnya telah ditelan seutuhnya oleh kabut hitam pekat.

"Kau tidak terluka, kan? Kalau begitu, tolong urus Arisa juga. Dia sedang tertidur sekarang, tetapi di dalam dirinya masih ada vampir yang bersarang."

"Tidak usah kauberitahu pun aku sudah tahu!"

Sembari memalingkan wajahnya yang memerah, ia berlari menghampiri Arisa lalu memancarkan energi sihir perak dari tangan kanannya.

Hasilnya, vampir yang merasuki tubuh Arisa pun berhasil diringkus dengan selamat. Sekarang, yang tersisa tinggal bos besar mereka saja.

"K-Kau... benar-benar Umi?"

"Iya, diriku yang sekarang adalah Mikage Umi."

"B-Begitu..."

Sembari menautkan kedua jemarinya dengan canggung dan malu-malu, Mashiro membuang muka ke arah lain dengan wajah yang semerah kepiting rebus.

"Ada apa? Kau mau ke toilet?"

Aku melontarkan pertanyaan yang sangat polos padanya.

"K-Kenapa kau selalu saja tidak punya perasaan seperti itu, sih!?"

Melihat Mashiro yang berteriak sembari menatapku tajam dengan mata melotot, aku meletakkan telapak tangan kananku di atas kepalanya.

"Akhirnya kita bisa bertemu lagi, ya, Mashiro-chan."

Aku menyampaikan kalimat pertemuan kembali itu kepadanya.

Entah mengapa, Mashiro tampaknya tidak menyukai salam pertemuanku tadi, dan kini ia beralih ke mode merajuk. Anak ini benar-benar tidak berubah sejak dulu, selalu saja aneh.

(Hei, Kain-kun, sebenarnya apa hubunganmu dengan Mashiro?)

Karina yang sedari tadi melirik ke arah Mashiro berbisik pelan di samping telingaku.

(Hubungan kami persis seperti yang kaubayangkan, kok.)

Aku membalas bisikannya seraya tersenyum.

Karina menatap bergantian antara diriku dan Mashiro, menangkupkan kedua tangan ke pipinya, lalu seketika sekujur tubuhnya memerah padam persis seperti buah apel.

Sebenarnya apa yang baru saja dia bayangkan di dalam kepalanya?

"Lalu, apa rencana kita selanjutnya? Mashiro, Tatsuya, dan bocah-bocah ini sudah berhasil kita selamatkan, bagaimana kalau kita mundur dulu untuk mengatur ulang siasat?"

Mendengar usul penarikan mundur yang tidak biasa dari Arata yang biasanya suka bertarung,

"Benar juga, ada Tatsuya dan Arisa yang sedang tidur pulas, ditambah anak-anak ini juga, jadi sebaiknya kita menghindari pertempuran sebisa mungkin."

Mashiro mengangguk setuju, dan yang lainnya pun memberikan anggukan sepakat tanpa suara.

"Pada dasarnya aku juga setuju, tetapi Takeshi masih belum ditemukan. Kita akan kembali setelah berhasil menemukan Takeshi. Arata, tolong bawa Tatsuya dan yang lainnya ke tempat yang aman."

"Serahkan padaku!"

Melihat Arata yang mengangguk mantap,

"Kuserahkan pengawalan mereka kepadamu."

Aku memanggil Chrono Grasshopper dan memberinya perintah.

"Gigaga (Sesuai perintah)!"

Dengan begini, jaminan keselamatan mereka sudah terpasang. Sekarang tinggal mencari keberadaan Takeshi.

"Aku juga ikut."

Mendengar Mashiro yang berbicara dengan nada ketus, aku menghela napas panjang.

"Tentu saja tidak boleh! Kau baru saja diselamatkan dari tawanan mereka beberapa saat yang lalu, tahu! Kau hanya akan menjadi beban!"

Aku menolak keras keinginannya itu.

"Dengar ya, bagaimana kalau ternyata Takeshi juga dirasuki musuh? Tanpa kehadiranku, kalian tidak akan bisa berbuat apa-apa, kan!? Benar tidak!?"

"Yah, itu memang benar, sih..."

Membawa Mashiro dalam situasi seperti ini terasa seperti langkah yang sangat buruk bagiku.

(Bagaimana menurut Bibi Sakuya?)

Aku mencoba bertanya, tetapi tidak ada sahutan sama sekali dari dalam kepalaku. Apakah karena parasitnya sudah terusir, beliau langsung kembali bersemayam di dalam jiwa Mashiro?

Bagaimanapun juga, terus berdebat di sini tidak akan menyelesaikan masalah. Sejak dulu anak ini memang sangat keras kepala.

Sekali ia memutuskan sesuatu, ia tidak akan pernah mau mengalah. Bagaimanapun caranya, ia pasti akan tetap memaksa ikut.

"Baiklah kalau begitu. Aku dan Mashiro-chan yang akan pergi menyelamatkan Takeshi. Mashiro-chan, tolong jangan bertindak ceroboh, ya?"

"Kalimat itu tidak pantas diucapkan oleh orang sepertimu!"

"Ada benarnya juga. Nah, karena kami yang akan bertanggung jawab membawa Takeshi pulang, kalian semua tunggu saja sambil menyiapkan pesta bersama Makoto dan yang lainnya, ya!"

Mendengar perkataanku itu, Karina memasang ekspresi bengong kebingungan,

"Sebenarnya dari tadi aku penasaran, Takeshi dan Makoto itu siapa? Kenalan kalian di SMA Hanatsuki?"

Ia melontarkan lelucon mustahil semacam itu.

"Tolong jangan bercanda di saat genting begini! Mereka berdua itu sahabat karibku di sekolah, tahu! Lagipula, Makoto itu kan kakak perempuanmu sendiri!"

"Kain-kun, aku ini anak tunggal, lho."

"Anak... tunggal? Bicara apa kau ini? Kalau begitu bagaimana dengan Takeshi!? Takeshi juga anggota Kelas F yang sama dengan kita!"

Mendengar suaraku yang mulai menyiratkan kekesalan,

"A-Aku tidak tahu. Arima, apa kau tahu?"

Karina yang kebingungan meminta kepastian dari Arima Hayato di sebelahnya, namun—

"Dengar ya, kaupikir sudah berapa kali kita digabungkan dengan Kelas F? Anggota Kelas F itu cuma berlima: kau Kain, Mashiro, Ran, Tatsuya, dan Karina."

"A-Arata, bagaimana denganmu!?"

"Ah, kalau aku sih kenal mereka berdua."

Arata menjawab dengan nada yang tampak agak gamang. Saat aku menoleh menatap Mashiro,

"Aku juga kenal Takeshi dan Makoto, kok. (Apalagi gadis itu, mustahil bisa kulupakan begitu saja.)"

Mashiro pun mengangguk membenarkan.

Tidak salah lagi. Ingatan tentang Makoto dan Takeshi telah terhapus lenyap dari memori semua orang selain diriku, Arata, dan Mashiro.

Rasa tidak nyaman yang khas seketika merayapi hatiku, seakan-akan ada sesuatu yang tak kasat mata tengah mengikis kenyataan ini. Demi menghindari hal tersebut,

"Firasatku benar-benar buruk soal ini! Sebaiknya kita telusuri ulang situasi ini terlebih da—"

Tepat saat aku berniat mengambil tindakan mundur darurat,

"Sayang sekali, hal itu mustahil bisa kalian lakukan."

Sebuah suara pria bernada santai yang sama sekali tidak cocok dengan ketegangan tempat ini terdengar menggema.

Saat aku mengarahkan pandanganku ke sumber suara, seorang pria rupawan bertubuh tegap dengan rambut sewarna pekatnya malam dan mengenakan pakaian hakama tampak tengah berdiri di sana.

Dari kepalanya menjulang sepasang tanduk panjang, ekor berotot menyembul dari balik hakamanya, serta sesuatu yang tampak seperti tulang belulang atau bilah pedang mencuat dari punggungnya.

Namun, aku sangat mengenali wajah pria yang memancarkan aura liar tersebut. Sosok itu adalah—.

"Ayah!"

"Paman Takeru!"

Sosok itu tak lain adalah ayah kandung Mashiro, mantan Hunter Tingkat A, Mikage Takeru.




◇◆◇

"Behemoth-sama, apakah Anda mengenalnya?"

Pria berjanggut tipis dengan tatapan mata luar biasa tajam yang mengenakan hakama merah tua dan jubah bersulam emas di belakangnya mengerutkan kening, meminta konfirmasi pada Paman Takeru. Apakah dia Hunter Kelas A, Amagi Tokisada?

Namun, apa maksud dari ucapannya yang seolah-olah baru pertama kali bertemu ini?

"Tidak kenal."

Sembari menyunggingkan seringai buas, Paman Takeru langsung membantahnya. Wujudnya yang bukan lagi manusia saat ini sudah cukup aneh, tetapi melihat dari perkataannya barusan, dia jelas bukan Paman Takeru yang biasa.

"Ayah, Ayah selamat!? Kenapa selama ini tidak memberi kabar!? Kenapa wujud Ayah jadi seperti itu!?"

Mashiro melontarkan rentetan pertanyaan tanpa henti, tetapi—.

"..."

Paman Takeru bahkan sama sekali tidak sudi meliriknya.

"Paman Amagi, apa maksud semua ini?"

"..."

Mashiro bertanya pada Hunter Amagi dengan nada bingung. Pria itu sempat meliriknya sekilas, namun segera kehilangan minat dan beralih mengamati diriku serta Arata dengan saksama.

Sudah kuduga. Sikap mereka berdua memperlakukan kami layaknya orang asing yang tak dikenal.

Mereka yang sekarang sama sekali tidak mengingat kami.

"Mari kita lihat..."

Paman Takeru mengedarkan pandangan ke arah kami seakan sedang memeriksa barang dagangan. Setelah memegangi dagunya dan menatapku lekat-lekat selama beberapa saat,

"Tadi kurasa ada sensasi aneh, tapi apa cuma perasaanku saja, ya..."

Ia menggelengkan kepalanya perlahan ke kiri dan ke kanan. Dan kemudian—.

"Belalang dan dua bocah di sana bernilai 30 poin, sisanya semua 0 poin. Omong kosong macam apa soal orang yang bisa menghabisiku sebagai dewa! Semuanya cuma makhluk lemah belaka, kan! Sialan kau Beelzebub, berani-beraninya memberiku informasi palsu! Aku sudah kehilangan minat. Shirou, Mafuyu, lakukan sesuka kalian!"

Sembari mendecakkan lidahnya pelan, Paman Takeru memunggungi kami, mengambil jarak, lalu duduk santai di atas tumpukan puing. Ia mengeluarkan rokok serta pemantik dari saku bajunya, menyalakan api, dan mulai mengisap rokoknya perlahan.

"Tsukishiro Kain akan kuambil! Siapa pun yang berani menyentuhnya akan kubunuh!"

Dengan tekad yang membara, Mafuyu, wanita jelita berambut merah dengan kimono putih bersih, melangkah maju mendeklarasikan keinginannya.

"Hah, aku juga malas kalau harus bertarung sungguhan denganmu cuma demi merebutnya. Kalau begitu, biar aku saja yang membereskan sisanya, ya?"

Shirou, pria yang sangat mirip dengan Hunter Amagi itu, mencabut pedang panjang dari pinggangnya. Gawat, mereka berdua jelas pendekar tingkat tinggi.

Atau lebih tepatnya—.

"Kamu... Makoto, kan?"

Karena penampilannya berubah drastis—rambutnya memanjang dan mengenakan kimono putih bersih—aku sempat tidak menyadarinya, tetapi lekuk wajah itu sempurna milik Makoto.

"Kain, kamu adalah milikku. Aku tidak akan menyerahkanmu pada wanita itu! Karena itu, wanita itu akan kubunuh di sini!"

Makoto mendeklarasikannya dengan tatapan mata yang membara, lalu memelototi Mashiro dengan ekspresi penuh permusuhan.

"J-Jangan bercanda! Kenapa Umi bisa jadi milikmu, hah!?"

Mashiro memanifestasikan pedang sucinya seraya membalas bentakan Makoto. Mashiro, bukan bagian itu yang seharusnya kamu permasalahkan...

"Aku yang akan melawan orang ini! Maaf, aku tidak bisa membantumu!"

Sembari menyiapkan pedang besarnya, Arata menentukan lawannya dengan suara yang terdengar kaku.

"Aku juga tidak bisa membiarkan Makoto terluka, jadi tanpa kauberitahu pun aku akan menghadapinya! Chrono Grasshopper! Segera evakuasi semuanya ke tempat yang aman selain Mashiro-chan!"

"Gigagugigi (Dimengerti, Tuanku)."

Bersamaan dengan bunyi aneh khasnya, Chrono Grasshopper membungkuk hormat ke arahku, mendekap Karina dan yang lainnya, lalu melesat pergi membawa mereka menjauh.

Sejujurnya, aku pun ingin melarikan Mashiro dari sini. Namun, jika target Makoto adalah Mashiro, kabur bersama Chrono Grasshopper justru berisiko membuat mereka diserang.

Kalau sampai itu terjadi, akibat terburuknya adalah kehancuran bagi kami semua.

Tujuan Paman Takeru dan Makoto memang masih menjadi misteri, namun mereka berdua bersungguh-sungguh. Hanya hal itu yang bisa kupastikan.

Jika Mashiro diincar oleh Makoto yang sekarang, ia takkan mampu melawan dan pasti akan terbunuh. Menghadapinya di sini adalah keputusan terbaik yang bisa kuambil.

"Kain! Kamu mengkhawatirkanku, ya!? Aku senang sekali!"

Dengan wajah berbinar penuh kegembiraan, Makoto mengarahkan ujung sepasang rapier miliknya ke arah Mashiro, lalu melesat menerjang dengan kecepatan yang berada di luar batas kewajaran.

"Sial! Kamu benar-benar tidak mau mendengarkanku, ya!?"

Aku menghunus pisauku, lalu menangkis tusukan rapier yang mengarah ke Mashiro.

"K-Kenapa tidak kena!?"

Sembari mendekap Mashiro dengan lengan kananku, aku menghindari seluruh pilar es yang ditembakkan oleh Makoto dengan selisih jarak setipis helai rambut.

Sejak awal, Makoto secara konsisten terus mengincar nyawa Mashiro. Dan aku terus menghindarinya sembari mendekap erat tubuh Mashiro.

"Hei, aku cuma jadi bebanmu, kan!? Lepaskan! Cepat lepaskan aku!"

"Mashiro-chan, jadilah anak baik, jangan memberontak!"

"Tapi kalau begini terus, kamu juga akan—!"

Sembari membelah pilar es yang membidik kepala Mashiro dengan pisauku, aku membenamkan wajahnya ke dadaku, lalu—

"Tidak apa-apa! Percayalah padaku!"

Aku berteriak meyakinkannya dengan segenap perasaanku.

"I-Iya..."

Saat Mashiro mengangguk patuh, aku mencincang seluruh pilar es yang datang menghujam hingga hancur berkeping-keping menjadi serpihan debu.

"Jangan bermesraan di depanku!"

Didorong oleh rasa cemburu yang meledak-ledak dengan mata berkaca-kaca, Makoto menciptakan bilah-bilah es tipis dalam jumlah tak terhitung di udara.

Kalau dibiarkan seperti ini, kami jelas akan terdesak kalah perlahan. Aku merentangkan benang energi sihir ke seluruh bilah es yang melayang di udara dan menguncinya sebagai target, lalu—

"Tsukishiro Dagger Arts, Tingkat Menengah—Arachne's Web!"

Aku melancarkan tebasan beruntun. Seluruh bilah es itu seketika terkoyak menyerupai jaring laba-laba lalu pecah berantakan.

"Kh!"

Setelah membaringkan tubuh Mashiro dengan lembut ke tanah, aku melesat mendekati Makoto yang hendak melancarkan serangan berikutnya, lalu mencengkeram pergelangan tangan kanannya.

"Sudahi ini, Makoto."

Aku berbicara selembut mungkin kepada Makoto yang wajahnya telah basah kuyup oleh linangan air mata.

Makoto yang sekarang sangatlah kuat. Kekuatan aslinya jauh melampaui kami berdua.

Kemungkinan besar, jika ia bertarung secara sungguh-sungguh, kami berdua pasti sudah membeku menjadi es dalam sekejap mata. Hal itu tidak terjadi semata-mata karena di dalam hatinya ia tidak berniat membunuh kami.

"Tidak mau! Tidak mau! Tidaaak mau!"

Gumpalan es dalam jumlah yang konyol mulai bermunculan di udara. Tak kusangka aku terpaksa menggunakan kartu as milikku di tempat ini.

Aku memasukkan obat yang kudapat dari Yoshizato Gaku ke dalam mulutku, lalu mengalirkan energi sihir untuk melipatgandakan efeknya.

Karena aku memiliki fisik istimewa yang kebal terhadap segala bentuk status abnormal, aku bisa mengambil taruhan hidup dan mati semacam ini.

Aku mendekap erat tubuh Makoto yang meronta-ronta, lalu menyalurkan cairan berefek Sleep dan Paralysis itu secara langsung lewat bibir ke bibirnya.

Mata Makoto terbelalak lebar dengan ekspresi luar biasa terkejut, sebelum akhirnya seluruh kekuatannya terkuras habis dan tubuhnya terkulai lemas.

Di saat yang bersamaan, gumpalan es raksasa yang melayang di udara pun lenyap menguap menjadi kabut.

Menurut penuturan Yoshizato, itu adalah item sihir yang bahkan sanggup melumpuhkan naga legendaris hanya dengan setetes saja. Aku telah memperkuat khasiatnya berkali-kali lipat menggunakan energi sihirku, lalu menuangkannya langsung ke dalam mulut Makoto.

Kemampuan fisik Makoto yang sekarang sudah sepenuhnya berada di ranah monster. Mengoleskan atau menyiramkan obat ini dari luar tubuhnya kemungkinan besar tidak akan mempan.

Oleh karena itu, memasukkannya langsung ke dalam organ tubuhnya adalah sebuah pertaruhan besar, dan tampaknya aku berhasil memenangkannya.

Tepat saat aku membaringkan Makoto secara perlahan ke tanah, Mashiro berjalan mendekatiku, lalu menendang tulang kering kakiku sekuat tenaga dengan senyuman masam di wajahnya. Setelah itu, ia memanyunkan bibirnya dan membuang muka ke arah lain.

Di tengah keheningan sesaat itu—.

"Kuat sekali kau..."

Aku mengalihkan pandanganku ke arah sumber suara, di mana Arata dan Shirou tampak saling memelototi satu sama lain.

"Itu dialogku, tahu. Tak kusangka kau sanggup mengimbangiku sejauh ini, benar-benar di luar perkiraan."

Sembari memanggul pedang panjangnya di pundak, Shirou melirik Makoto yang terbaring di tanah lalu mendecakkan lidahnya pelan.

"Behemoth-sama, hamba memohon izin untuk melepaskan pembatas kekuatan, apakah diperbolehkan?"

"Lakukan sesukamu."

Sembari mengembuskan asap rokoknya, Paman Takeru memberikan izin.

"Ayah, hentikan semua ini!"

Tepat saat Mashiro berteriak mengecamnya, energi sihir hitam pekat mengalir deras laksana luapan air bah dari sekujur tubuh Shirou.

"Kekuatannya melonjak gila-gilaan..."

Arata memaksakan suaranya keluar dari balik tenggorokannya yang tercekat.

Gawat sekali. Tingkatan eksistensi orang itu jelas berada di dimensi yang berbeda.

Bawahannya saja memiliki kekuatan yang sedemikian tidak masuk akal. Sekarang aku paham mengapa Paman Takeru menganggap kami hanya bernilai 30 poin.

Tampaknya sampai di sinilah batas kami.

"Sisanya serahkan padaku. Arata, bawa Mashiro-chan dan segera mundur dari sini."

Jika hanya sendirian, bila lawanku cuma Shirou, mungkin aku masih bisa mencari celah... seharusnya.

"Tapi—"

"Cepat! Ini bukan saran, melainkan perintah!"

Setelah memotong perkataannya secara sepihak, aku mengubah pegangan pisauku, merendahkan titik tumpu tubuhku, dan mengalihkan seluruh fokusku murni untuk bertempur.

"Oho..."

Paman Takeru yang sedari tadi menonton tanpa minat, untuk pertama kalinya menegakkan tubuhnya dan menatapku dengan mata membelalak takjub.

"Umi, jangan bicara seenaknya sendiri di situasi seperti ini!"

Mendengar suara Mashiro yang sarat akan kepanikan,

"Mashiro-chan, aku pasti akan kembali. Jadi tolong, pergilah mengungsi lebih dulu!"

Aku berteriak tanpa mengalihkan pandanganku sedikit pun dari Shirou dan Paman Takeru.

"Tidak mau! Aku tidak akan pernah meninggalkanmu sendirian lagi untuk kedua kalinya!"

Aku sudah tahu Mashiro pasti akan berkata demikian. Karena itulah—.

"Arata, kubilang sekali lagi! Bawa Mashiro-chan dan segera mundur! Ini adalah perintah mutlak!"

Tepat pada detik saat aku meneriakkan perintah itu,

"Sayang sekali, itu mustahil."

Suara Paman Takeru yang dingin dan tanpa belas kasihan bergema, diikuti hantaman benturan luar biasa dahsyat yang menghunjam ulu hatiku.

Seketika itu pula, pemandangan langit dan daratan berputar cepat di depan mataku, lalu tubuhku terhempas menghantam dinding dengan keras.

"Sialan..."

Sembari memaksakan tubuhku yang serasa remuk berkeping-keping untuk bangkit berdiri, Paman Takeru mencengkeram kerah bajuku dan mengangkat tubuhku ke udara.

"Kutarik kembali kata-kataku tadi. Hanya kau seorang yang berada di pihakku. Kekuatanmu tidak cuma segini, kan? Cepat keluarkan kekuatanmu yang sesungguhnya!"

Ia mengintimidasiku dengan kebuasan layaknya monster buas.

"Sejak awal... aku sudah bertarung... dengan kekuatan penuh, tahu."

Bicara seenaknya saja dia. Pukulannya barusan jelas-jelas ditahan, tapi tubuhku sudah babak belur dibuatnya.

Bagaimanapun aku memaksakannya, aku tidak bisa mengeluarkan kekuatan lebih dari ini.

"Begitu ya... Jadi dalam situasi begini pun kau masih menyembunyikan kekuatanmu. Hei, Shirou, bunuh wanita itu!"

Sembari melirik sekilas ke arah Mashiro, ia menjatuhkan perintah kepada Shirou.

"Apa Anda sudah gila!? Mashiro-chan adalah putri kandung Anda sendiri!"

Aku benar-benar tidak percaya. Paman Takeru yang begitu lembut dan sangat menyayangi putrinya dulu, kini berniat membunuh darah dagingnya sendiri!

"Putri? Aku tidak pernah punya anak perempuan, tuh."

Begitu Paman Takeru memuntahkan kalimat kejam itu, Shirou mulai melangkah perlahan mendekati Mashiro dengan pedang panjang di tangannya.

"Hentikan!"

Aku meronta sekuat tenaga, tetapi—

"Orang lemah tidak akan pernah bisa melindungi apa pun."

Disertai ucapan dingin itu, Paman Takeru membanting wajahku menghantam tanah dengan keras.

Bunga api berhamburan di depan mataku, namun hal semacam itu sama sekali tidak kupedulikan saat ini. Aku hanya ingin melepaskan diri dari kuncian Paman Takeru dengan segala cara.

Tepat setelahnya, warna di sekelilingku mendadak sirna, dan di hadapanku telah berdiri seorang wanita jelita berambut hitam dengan balutan kimono hitam pekat.

Aku sangat mengenali sosoknya.

(Bibi Sakuya? Tolong aku! Hentikan perbuatan Paman Takeru!)

—Maafkan aku. Apa pun yang kukatakan saat ini takkan pernah sampai ke telinga Takeru yang sekarang. Umi, hanya ada satu cara bagimu untuk menyelamatkan anak itu.

Sembari mengerutkan wajahnya yang tampak hampir menangis, Bibi Sakuya menyampaikan hal itu kepadaku.

(Berarti ada cara untuk menyelamatkan Mashiro-chan, kan!? Kalau begitu cepat beritahu aku!)

—Ya, benar sekali. Kau pasti akan berkata begitu. Apa pun yang kulakukan, hasilnya takkan pernah berubah. Sekalipun eksistensi dirimu harus lenyap tanpa sisa, demi menyelamatkan anak itu, kau pasti akan mengingatnya kembali.

(Diriku... akan lenyap tanpa sisa?)

—Tepat sekali. Sebentar lagi kau akan kembali menjadi dirimu yang sesungguhnya.

(Diriku yang sesungguhnya... ya. Maksudmu, sosok yang berasal dari Kota Benteng Ramour itu?)

—...

Melihat Bibi Sakuya yang mengangguk dengan raut wajah seolah dunia akan kiamat, aku akhirnya memahami seluruh rangkaian takdir ini.

Di saat yang sama, aku mengerti mengapa Bibi Sakuya memperlihatkan rekaman masa lalu itu kepadaku. Beliau ingin aku menghindari tragedi perpisahan ini.

Sosok asliku bukanlah penduduk Bumi, melainkan penghuni dunia tempat kuil pemujaan itu berada.

Entah melalui proses seperti apa aku bisa terdampar di Bumi dengan ingatan yang telah dimanipulasi seperti ini.

Namun sekeras apa pun aku menolaknya, cepat atau lambat, seluruh eksistensiku akan ditarik kembali menuju wujud asliku.

Benar. Ikatan persahabatan dengan Takeshi dan Makoto yang kupupuk di dunia ini, hari-hari pelatihan bersama muridku Tatsuya, kehidupan penuh perjuangan bersama para Hunter demi menumpas kaum vampir, keseharian tinggal di bawah satu atap bersama Mashiro dan Arisa, hingga kenangan manis selama tiga tahun bersama Mashiro beserta rasa cinta mendalam yang kupendam untuknya, semuanya akan kulupakan tanpa sisa saat aku kembali menjadi sosok asing yang berasal dari Kota Benteng Ramour.

Dan sosok itulah yang nantinya sanggup menghentikan Paman Takeru yang sekarang.

(Bibi Sakuya, terima kasih banyak.)

Tepat saat aku membisikkan kata terima kasih itu di dalam hatiku, kesadaranku ditarik kembali ke alam nyata.

Tidak apa-apa. Jangan menangis, Mashiro. Aku akan mengakhiri seluruh tragedi memilukan ini sekarang juga.

Tapi, setidaknya untuk yang terakhir kali, izinkan aku mengucapkannya.

"Mashiro-chan, aku, Mikage Umi, sangat mencintaimu."

Bersamaan dengan ungkapan cinta pertama dan terakhir yang terucap seumur hidupku, kepribadianku sebagai Tsukishiro Kain sekaligus Mikage Umi, lenyap tak berbekas.

◇◆◇

Fumu, situasinya memang belum jelas bagiku, namun tampaknya tubuh ini baru saja dihajar habis-habisan hingga wajahnya terbenam ke tanah.

Terlebih lagi, sudah lama sekali aku tidak merasakan sensasi bernostalgia seperti ini. Rasa sakit, ya. Dan lagi, luka ini termasuk kategori luka parah yang nyaris merenggut nyawa.

Menarik. Sangat menarik, namun tentu saja aku belum berniat untuk mati di sini.

Aku segera merapalkan sihir pemulihan tingkat tinggi, Panacea, dan dalam sekejap mata rasa sakit itu lenyap tanpa sisa.

"Hm?"

Sang monster buas mengerutkan keningnya melihat pemulihan supercepat milikku.

"Kau terlalu meremehkan apa yang dinamakan pertarungan."

Usai melontarkan deklarasi itu, aku memilin tubuhku lalu melayangkan tendangan kaki kanan tepat ke arah kepala monster yang tengah menindihku.

"Guooh!"

Monster berambut hitam pekat itu terlempar berputar-putar dengan kecepatan tinggi di udara, lalu menghantam dinding bangunan yang menjulang hingga retak berkeping-keping.

"A-Apa!?"

Tepat saat pria berjanggut tipis dengan tatapan tajam itu berbalik kaget, aku sudah berpindah ke hadapannya, mencengkeram rambutnya dengan tangan kanan, lalu—

"Hai, selamat siang."

Aku menyapanya sembari tersenyum ramah.

Menghadapi mata pria berjanggut itu yang membelalak syok, aku menghantamkan serangan lutut telak ke tubuhnya. Saat tubuhnya terangkat melengkung membentuk huruf V, aku menghunjamkan tinju kanan tepat ke pipinya.

"Kuoooohhh!"

Sembari mengeluarkan suara lolongan aneh, tubuhnya melesat meremukkan bangunan-bangunan di sekitarnya sebelum akhirnya berhenti terhempas.

Pria berjanggut itu bangkit berdiri menggunakan pedang panjangnya sebagai tumpuan, dengan memar biru besar di pipi kanan serta darah segar yang mengalir membasahi kepalanya.

"Oho, kau masih sanggup hidup setelah menerima serangan barusan? Daya tahanmu lumayan juga."

Bila lawanku adalah gerombolan kroco dari Pasukan Kegelapan, serangan tadi sudah pasti membuat mereka tewas seketika. Anak buah monster buas itu ternyata memiliki ketahanan tubuh yang luar biasa.

Pertarungan kali ini tampaknya benar-benar akan sangat menghibur.

Aku memasukkan Sarung Tangan Penyegel Dewa yang sebelumnya tak kasat mata ke dalam Item Box.

Selanjutnya, aku menyimpan pakaian yang kukenakan saat ini, lalu mengeluarkan perlengkapan bertarung favoritku dari Item Box: Pakaian Dewa Naga, Mantel Dewa Naga, dan Sepatu Bot Dewa Naga, lalu mengenakannya seketika itu pula.

Menghadapi musuh kaliber ini menggunakan pakaian biasa hanya akan membuat busanaku terbakar menjadi abu dalam sekejap mata.

Terakhir, aku mengeluarkan Murasame dari sarungnya demi memusatkan segenap tekad dan hawa bertarungku.

Sudah sekian lama aku tidak bertarung melawan pendekar tangguh. Akan kunikmati pertempuran ini sepuas hatiku.

Di saat yang sama, aku mengedarkan pandangan ke sekeliling untuk membaca situasi pertempuran. Manusia yang tak kukenal dan sang Pahlawan Mashiro, ya.

"Kalian semua, sandiwara konyol ini sudah selesai. Bawa orang-orang itu dan segera menyingkir dari sini!"

Aku meninggikan suaraku memberi komando.

Tepat saat perintah itu bergema, di atas permukaan tanah, di udara, hingga di atap-atap gedung di sekeliling kami, seketika bermunculan kawanan kawan menyenangkan yang tak terhitung jumlahnya dari Ensiklopedia Penaklukan Monster milikku.

"Mulai sekarang aku akan bertarung dengan cukup serius. Evakuasi seluruh makhluk hidup di area sekitar ini, lalu bentangkan dinding pelindung dengan kekuatan penuh!"

Mendengar instruksiku, mereka semua membungkuk hormat lalu menghilang satu demi satu dalam sekejap mata.

Entah mengapa ya? Pandanganku terus-menerus tertarik ke arah sang Pahlawan Mashiro.

Pandanganku beradu dengan tatapan Mashiro yang tengah digiring pergi oleh Nemesis untuk dievakuasi.

"Kamu... Umi, kan?"

Gadis itu menanyakan hal yang sama sekali tidak kumengerti. Umi, ya. Seingatku, identitas samaranku di tanah ini seharusnya disetel dengan nama Tsukishiro Kain, kan?

"Sayang sekali, namaku adalah Kai Heinemann."

Saat aku menggelengkan kepala perlahan dan menyangkalnya, paras sang Pahlawan Mashiro terdistorsi oleh amarah, menepis tangan Nemesis, lalu berlari menerjang ke arahku. Ia mendekap tubuhku erat-erat sembari menempelkan dahinya ke dahiku.

"Kumohon padamu, ingatlah kembali! Kamu adalah Mikage Umi!"

"Maaf saja, tapi—"

Kalimat penolakanku terpotong oleh energi sihir perak milik Mashiro yang mengalir deras menembus dahiku.

"Kh!?"

Apakah ini rasa sakit? Bukan, ini berbeda.

Ini adalah kumpulan informasi. Berbagai kepingan data dalam bentuk gambaran visual dipaksakan masuk dan dijejalkan ke dalam kepalaku.

"Begitu... rupanya..."

Aku akhirnya memahami seluruh situasi rumit yang kini tengah menimpaku. Pantas saja sejak awal perjumpaan kami, aku tidak pernah merasa asing saat berhadapan dengan Mashiro.

Lagipula, mengingat kepribadianku yang pada dasarnya tidak sabaran, membiarkan seorang Pahlawan yang membantai bangsa iblis dan monster berkeliaran bebas tanpa kuhabisi sejak dulu adalah hal yang sangat janggal jika dipikirkan kembali.

"Astaga, merepotkan sekali..."

Situasinya kini telah berubah secara mutlak. Merepotkan. Benar-benar sangat merepotkan.

Fakta bahwa Tsukishiro Kain maupun Mikage Umi seluruhnya adalah manifestasi diriku sendiri membuat segalanya menjadi rumit dan memusingkan.

Terlebih lagi, kekejaman sang Pahlawan Mashiro terhadap bangsa iblis dan monster kemungkinan besar berakar dari diriku sendiri. Aku tidak memiliki muka tebal untuk berpura-pura tidak tahu dan mencuci tangan di saat seperti ini.

Sembari menghela napas panjang meratapi kebodohan diriku yang konyol ini, aku menyimpan kembali Murasame ke dalam Item Box.

Kemudian, aku mencengkeram kedua bahu Mashiro, menatap tepat ke manik matanya, lalu—

"Sisanya serahkan semuanya padaku! Aku bersumpah akan menyadarkan si bodoh itu sampai dia terbangun!"

Aku mendeklarasikannya dengan segenap ketegasan.

Monster buas yang menamai dirinya Behemoth itu tak lain adalah Mikage Takeru yang pernah merawatku di masa lalu, sekaligus Takeshi, sahabat karib dari eksistensiku di dunia ini sebagai Tsukishiro Kain.

Bahkan dengan kekuatanku yang sekarang sekalipun, aku jelas takkan tega membunuhnya.

"..."

Mashiro sempat membenamkan dahinya ke dadaku seraya mendekapku erat, sebelum akhirnya melepaskan diri dan melangkah kembali ke sisi Nemesis.

"Aku percaya padamu!"

Usai menyampaikan kalimat itu kepadaku, sosoknya pun menghilang diteleportasikan.

"Guhi! Guhahahahaaaaa!"

Puing-puing bebatuan meledak berhamburan saat monster buas, sang Behemoth, kembali menampakkan diri seraya tertawa terbahak-bahak secara liar.

"Terima kasih banyak, Beelzebub! Rasa sakit bernostalgia yang sudah lama tak kurasakan, dipadukan dengan sensasi mencekam dari hawa kematian yang membakar kulit ini! Tepat seperti katamu, orang ini adalah musuh sejati yang sanggup mengakhiri riwayatku!"

Sembari merentangkan kedua lengannya menatap ke arah langit, ia melolongkan seruan kegembiraan.

"Behemoth-sama, izinkan hamba ikut memban—"

Sebelum Shirou sempat melangkah maju, Akutsu Arata telah mengadang di hadapannya sembari menghunuskan pedang besar bercabang dua,

"Lawanmu adalah aku!"

Ia berteriak lantang melancarkan intimidasi.

"Menyingkir kau! Aku tidak punya urusan dengan kroco sepertimu!"

Mendengar bentakan Shirou yang rambutnya berdiri tegak seraya menyemburkan pilar api dari mulutnya,

"Ya, kau benar. Kalau aku terus menggunakan raga manusia yang rapuh ini..."

Tubuh Arata seketika bermutasi menjelma menjadi Asura, iblis perang berwajah tiga.

Begitu rupanya, jadi wujud sejati Arata adalah Asura. Berdasarkan informasi saat aku masih menjadi Kain, pergerakan Chrono Grasshopper tempo hari memang tidak berada dalam kondisi prima, kemungkinan besar ia memasang semacam pembatas kekuatan pada dirinya.

"Babak kedua resmi dimulai!"

"Mati kau, sampah!"

Pedang panjang Shirou beradu keras dengan pedang besar bercabang dua milik Asura, dentingan senjata mereka saling menghantam seraya membubung tinggi melesat ke angkasa.

"Mari kita buat pertarungan ini menjadi sangat, sangat menyenangkan."

Kedua bola mata sang monster buas Behemoth berubah sewarna pekatnya malam, sementara energi sihir perak membuncah deras laksana luapan air bah dari sekujur tubuhnya.

"Ya, aku pun sangat berharap demikian."

Aku merendahkan kuda-kudaku sembari membunyikan persendian jemariku dengan suara berderak keras.

Dalam pertempuran kali ini, aku harus menundukkan monster buas ini dengan menyegel segenap teknik berpedangku.

Ditinjau dari sudut pandang mana pun, Behemoth tak diragukan lagi sangatlah kuat. Lebih kuat dari entitas mana pun yang pernah kuhadapi sepanjang hidupku.

Dalam pertarungan hidup dan mati semacam ini, menyegel teknik berpedang pada dasarnya sama saja dengan tindakan bunuh diri. Namun justru karena itulah—

—Rasanya benar-benar sangat mengasyikkan dari lubuk hatiku yang terdalam!

Pada detik berikutnya, aku dan Behemoth melesat berbenturan satu sama lain.

◇◆◇

Pita cahaya merah kehitaman dan kilatan perak saling membelit dan berbenturan dahsyat di angkasa.

Setiap kali kedua kekuatan itu bertabrakan, daratan di bawahnya meledak hancur berhamburan, meratakan puing-puing gedung bertingkat hingga lumat menjadi abu.

Di tengah pemandangan neraka tersebut—.

"Kuhahahaha!"

Monster berambut abu-abu itu tertawa begitu lepas seolah sangat menikmati pertempuran, melesat mendekati Behemoth lalu melancarkan tendangan memutar dengan kaki kirinya.

Behemoth memilin tubuhnya guna menghindari serangan itu dengan selisih jarak setipis helai rambut, lalu menghunjamkan pukulan tinju kiri telak ke arahnya. Namun—.

"A-Apa!?"

Serangan itu ditepis dengan begitu mudahnya menggunakan tangan kiri sang musuh, yang langsung membalas dengan ayunan tinju kanan ke arah wajahnya.

Sembari mendecakkan lidah kesal, Behemoth berusaha menahannya dengan telapak tangan kiri, namun—.

"Gugoh!"

Lengan kirinya remuk patah dengan sangat mudah.

Kendati kemampuan pemulihan dirinya bekerja seketika untuk menyembuhkan luka tersebut, sang monster abu-abu telah berdiri tepat di depan matanya.

Secara refleks Behemoth merajut susunan formula sihir lalu menyemburkan kobaran api dari mulutnya.

Pilar api melesat meluas membentuk kipas raksasa, melelehkan gedung-gedung dan daratan di sekitarnya hingga lumer layaknya cokelat panas.

Akan tetapi, sang musuh rupanya telah berpindah ke belakang punggung Behemoth, menarik siku kanannya ke belakang bersiap meluncurkan serangan.

Mengerahkan segenap kekuatannya, Behemoth berputar balik seraya menghantamkan tinju kanannya sekuat tenaga.

Kedua tinju mereka berbenturan telak di udara.

Sekeliling mereka seketika dibutakan oleh pendaran cahaya putih menyilaukan, disusul dentuman ledakan mahadahsyat yang memekakkan gendang telinga.

(Monster macam apa sebenarnya makhluk ini!?)

Behemoth kembali melontarkan pertanyaan yang sama di dalam benaknya tanpa pernah menemukan jawabannya.

Kondisi seimbang di antara mereka berdua hanya berlangsung pada detik-detik awal pertempuran saja. Ia segera menyadari betapa mengerikannya eksistensi lawan di hadapannya ini.

Setiap pukulan yang dilancarkan oleh musuh adalah serangan mematikan berkekuatan mutlak.

Jika terkena hantaman telak secara langsung, entitas sekelas Behemoth sekalipun dipastikan akan tewas seketika. Bahkan saat ia berusaha menangkisnya dengan tangan kiri seperti tadi, pergelangan tangannya tetap remuk patah tak bersisa.

Padahal Behemoth memiliki kemampuan bawaan yang mampu meniadakan serangan fisik maupun energi sihir tingkat tinggi.

Namun di hadapan monster ini, serangannya tetap mampu menembus dan melukai tubuhnya dengan begitu mudahnya.

Serangan makhluk ini jelas bukan sekadar pukulan yang dilapisi kekuatan fisik biasa atau gelontoran energi sihir semata.

Akan tetapi, pada awal pertarungan tadi mereka sebenarnya masih bisa bertukar pukulan secara seimbang.

Artinya, kemampuan serang sekali bunuh yang dimiliki lawannya ini berhasil ia kuasai dan adaptasikan hanya dalam kurun waktu yang sangat singkat di tengah duel ini.

(Mustahil! Omong kosong macam ini mana mungkin nyata!)

Padahal ini adalah pertahanan baja milik Behemoth, entitas yang menyandang gelar petarung terkuat dari generasi terdahulu.

Ia memiliki rasa percaya diri penuh bahwa serangan dari entitas sekelas Deus maupun Thor sekalipun takkan sanggup menembus pertahanannya.

Namun kini, pertahanan mutlak itu berhasil ditembus hanya melalui adu pukulan dalam waktu sesingkat ini.

Jika ia terus memperlihatkan pola serangannya kepada monster ini, kekalahan sudah pasti menantinya. Makhluk itu akan mengadaptasi dan menetralisirnya dengan sangat mudah.

Dengan kata lain, satu-satunya cara untuk menang adalah dengan membinasakannya dalam satu kali serangan pamungkas.

"Bagus sekali! Penguasaan bela diri tangan kosongmu telah mencapai ranah tertinggi! Belakangan ini, hanya kau seorang yang sanggup menahan serangan berkekuatan penuh milikku berkali-kali!"

"Cih, tutup mulutmu!"

Bahkan kalimat pujian dari monster berambut abu-abu itu kini hanya terdengar layaknya sarkasme kosong di telinga Behemoth.

Namun ia tahu persis bahwa monster ini mengucapkannya dengan tulus dari lubuk hatinya. Makhluk itu benar-benar menikmati pertempuran gila ini dari lubuk jiwanya yang terdalam.

Orang ini adalah seorang pecandu pertarungan yang jauh lebih parah dan tak tertolong dibanding dirinya sendiri.

"Tetapi, esensi sejatimu bukanlah kemampuan bela diri tangan kosong semata, kan? Perlihatkanlah padaku."

Sembari tersenyum santai, monster berambut abu-abu itu menuntut Behemoth untuk mengeluarkan kartu as miliknya.

"Kau ini memang gila. Benar-benar tidak waras."

"Benarkah begitu? Yah, karena sudah sangat lama aku tidak bertarung seimbang melawan seseorang, perasaanku saat ini mungkin sedang agak terlalu bersemangat."

"Tentu saja begitu. Mana mungkin ada orang waras yang sanggup mengimbangi monster gila sepertimu dengan begitu mudahnya."

Usai memuntahkan makian tersebut, Behemoth mengaktifkan formula sihir terlarang yang terukir di mata kirinya.

Untuk bisa menumbangkan orang ini, ia harus melenyapkannya dalam satu helaan napas menggunakan serangan tak terduga sebelum lawannya sempat membaca polanya.

Atau jika tidak, ia terpaksa harus merebut kemampuan adaptasi curang yang setara dengan milik lawannya tersebut.

"Monster Pemungkas!"

Mengaum dahsyat dari dalam rekahan tanah, seekor binatang raksasa berkepala tiga—gabungan antara harimau, beruang, dan singa—menerjang buas ke arah monster berambut abu-abu itu.

"Membosankan sekali."

Monster berambut abu-abu itu melompat ke hadapan sang Monster Pemungkas, lalu menghantamkan tinju kanannya tepat ke titik pusat tubuh makhluk tersebut.

Dihantam oleh gelombang kejut yang dahsyat, Monster Pemungkas itu terlempar lurus dengan kecepatan supersonik, menabrak dinding pelindung di kejauhan, lalu jatuh berdebum menggetarkan permukaan bumi.

"Maaf saja ya. Berkat binatang itu, aku berhasil mengulur cukup banyak waktu."

Sembari menyampaikan rasa terima kasih di dalam hati kepada monster bawahan yang telah menemaninya mengulur waktu, Behemoth merapatkan kedua tangannya secara horizontal.

Kemampuan yang akan diaktifkannya saat ini adalah kartu as pamungkas, kekuatan sejati yang membuatnya dijuluki sebagai makhluk terkuat dari generasi terdahulu.

"Heavenly Phantasm—Full Copy!"

Bersamaan dengan terucapnya kata sakti tersebut, sekujur raga Behemoth mulai bermutasi, bahkan jiwanya pun ikut berubah.

Ia bertransformasi menjadi sosok monster terkuat yang berdiri tepat di hadapannya.

"Bagus sekali! Kau memang yang terbaik!"

Sorak sorai penuh kegembiraan dari monster berambut abu-abu itu membahana di udara, saat Behemoth resmi menjelma menjadi Kai Heinemann.

◇◆◇

Pita cahaya perak dan hitam kemerahan melukis langit malam dengan warna-warna kehancuran.

Setiap kali kepalan tinju Kai Heinemann dan Behemoth saling bertabrakan, badai gelombang kejut seketika berhembus liar.

Masing-masing hantaman membawa benturan kekuatan yang sanggup meremukkan seisi dunia menjadi berkeping-keping.

Tebasan tangan Behemoth berhasil memotong putus lengan kanan Kai Heinemann.

Berniat melancarkan serangan beruntun, Behemoth melesat mendekat untuk menghunjamkan tendangan tumit ke ubun-ubunnya, namun Kai Heinemann memilin tubuhnya guna menghindari serangan itu sembari melepaskan tendangan memutar dengan kaki kanannya.

Terhempas berputar-putar akibat hantaman tersebut, Behemoth mendadak berhenti di udara lalu menyemburkan kobaran api neraka dari mulutnya.

Gelombang lautan api menerjang ke arah Kai Heinemann, namun pemuda itu menepisnya semudah mengibaskan lalat, lalu melesat kencang melayangkan tendangan telak ke ulu hati Behemoth.

Di saat yang bersamaan, tinju kiri Behemoth pun menghunjam telak ke sisi kanan wajah Kai Heinemann. Keduanya terlempar mundur, namun kemampuan pemulihan diri mereka seketika menyembuhkan luka-luka tersebut dalam sekejap mata.

Behemoth membentuk segel mantra dengan tangan kirinya, memanggil petir-petir putih yang menyambar jatuh dari langit, lalu memanfaatkan sambaran kilat itu untuk berpindah tempat secara instan.

Muncullah ia di belakang punggung Kai Heinemann, melayangkan tendangan kaki kanan ke arah kepalanya yang tak terlindungi, namun serangannya hanya menebas angin hampa.

Kai Heinemann rupanya telah melengkungkan tubuhnya ke belakang membentuk jembatan kayang, memutar badannya laksana gasing, lalu melancarkan tendangan balasan ke arah Behemoth.

Menerima hantaman itu, Behemoth terlempar jauh ke belakang.

Sembari tertawa lepas, Kai Heinemann melesat mengejarnya lalu melayangkan tendangan susulan ke udara.

Saat Behemoth berguling-guling laksana bola, Kai Heinemann menyusulnya dengan sangat mudah, mencengkeram kakinya lalu bersiap mengayun dan membantingnya.

Meski kakinya patah akibat cengkeraman tersebut, Behemoth mengerahkan seluruh sisa tenaganya untuk menendang wajah Kai Heinemann dengan kaki kanannya.

Bagian kiri tubuh Kai Heinemann seketika remuk hancur saat ia terlempar ke udara, namun lagi-lagi luka mengerikan itu pulih dalam sekejap mata.

Di tempat yang agak jauh, tampak sekelompok orang tengah menyaksikan jalannya pertempuran akbar tersebut.

Mereka adalah para petinggi tertinggi dari berbagai faksi di Ensiklopedia Penaklukan Monster, prajurit-prajurit veteran yang sarat pengalaman bertempur.

Semuanya menatap lurus ke arah medan pertempuran tanpa sanggup berkedip sedikit pun.

"Pertarungan macam apa itu... Kalau dibandingkan dengan mereka, pertarungan kita tadi tak lebih dari sekadar gelembung sabun belaka, ya."

Sembari duduk meneguk araknya, Asura bergumam mencela dirinya sendiri sembari mengamati pertarungan Kai Heinemann, sang junjungannya.

"Aku setuju. Tak kusangka Umi yang dulu bisa tumbuh sampai sanggup adu jotos melawan bos besar kita sehebat itu. Benar-benar di luar mimpiku sekalipun."

Shirou menimpali sembari tersenyum kecut.

Asura dan Shirou sebelumnya telah bertarung sengit selama sekitar tujuh jam penuh, hingga akhirnya duel mereka berakhir imbang setelah keduanya sama-sama jatuh pingsan.

Saat Shirou kehilangan kesadarannya, Satori, pemilik kemampuan manipulasi mental terkuat di Ensiklopedia Penaklukan Monster, telah membangkitkan kembali seluruh ingatan Shirou yang sempat tersegel.

"Nanti minta maaflah pada Mashiro. Anak itu sebenarnya sangat rapuh dan gampang terluka, tahu."

"Tanpa kauberi tahu pun aku sudah paham. Lagipula, kenapa seorang jenderal besar Pasukan Kegelapan sepertimu bisa berada di tempat seperti ini, hah?"

"Aku cari masalah dengan Kai-sama, dihajar habis-habisan sampai babak belur, lalu berakhir menjadi bawahannya. Yah, kurasa anak buah yang lain pun nasibnya mirip-mirip denganku, sih."

Mendengar celetukan santai Asura,

"Hah!? Apa katamu!? Jangan samakan kami dengan orang rendahan sepertimu! Kami mengabdi dan menjadi bawahan beliau murni karena rasa cinta dan kekaguman kami yang tulus kepada Paduka!"

Nemesis membentak murka dengan nada suara yang begitu menggelegar.

"Benar sekali! Paduka bahkan mendekapku erat-erat sembari berjanji akan terus bersamaku selamanya, tahu!"

Athena menimpali dengan penekanan kalimat yang terdengar sangat ganjil.

"Tunggu dulu, apa maksud perkataanmu barusan!?"

Mafuyu yang sedari tadi mendengarkan dalam diam, kini melangkah maju seraya membunyikan persendian jemarinya dengan senyuman yang mengerikan.

Melihat tatapan membunuh itu, Athena sempat menahan napas gentar, namun—

"Aku tidak punya urusan untuk meladeni omongan orang luar yang baru bergabung!"

Ia memalingkan wajahnya seraya membalas ketus.

"Lalu, pada akhirnya bagaimana dengan kesadaran ingatan Paduka?"

Di tengah suasana yang kian memanas, Shuten Douji melontarkan pertanyaan kepada Satori, gadis berambut hijau berpotongan bob yang tengah menatap pertarungan sang majikan dengan mata berbinar-binar penuh pemujaan.

"Kepribadian Mikage Umi telah lenyap seutuhnya. Karena itulah, sosok Paduka yang sekarang adalah Paduka yang kita kenal selama ini."

"M-Mana mungkin hal seperti itu—"

Tepat saat Mafuyu hendak melayangkan protes dengan raut wajah nyaris menangis,

"Seharusnya memang begitu, tapi entah mengapa terasa agak aneh. Jadi aku sendiri pun tidak bisa memastikannya dengan jelas."

Sangat jarang bagi Satori untuk memberikan jawaban yang begitu ambigu jika menyangkut masalah mental dan jiwa.

Hal itu menandakan betapa luar biasa abnormalnya situasi yang tengah terjadi saat ini.

"Aku tahu siapa dalang di balik situasi yang ganjil ini. Benar begitu, kan, Atom?"

Astaroth yang sedari tadi berdiri memperhatikan, mengalihkan pandangannya ke sudut barisan kelompok itu. Di sana, seorang pria paruh baya berbusana kimono dengan rambut abu-abu panjang yang diikat ke belakang tampak tengah menyaksikan jalannya pertarungan.

"Atom!? Maksudmu Atom yang berasal dari generasi terdahulu itu!?"

Di tengah seruan keterkejutan yang membahana dari segenap anggota Ensiklopedia Penaklukan Monster,

"Sudah lama tidak berjumpa, Astaroth."

"Ya, lama tidak bertemu. Aku akan bertanya langsung tanpa basa-basi. Kau yang mengatur agar Tuanku bisa melintasi perbatasan antara dunia ini dan Lemuria di masa lalu, kan?"

"..."

"Tidak perlu cemas, percakapan ini hanya bisa didengar oleh kita berdua. Di telinga yang lain, kita hanya terlihat seperti sedang mengobrol santai biasa."

Melihat Atom yang membisu, Astaroth berujar seraya menyunggingkan senyuman lembut.

Menyadari bahwa suara di sekelilingnya telah lenyap teredam, Atom menatap Astaroth dengan tatapan heran selama beberapa saat, lalu—

"Begitu rupanya. Kau juga menaruh hati pada anak itu, ya."

Untuk pertama kalinya Atom tersenyum tipis sembari menggumamkan hal itu pada dirinya sendiri.

"Mana mungkin aku... yah, bukan berarti sepenuhnya tidak mungkin juga, sih."

Astaroth merona merah sembari meremas jemarinya dengan canggung dan malu-malu.

"Tak kusangka kau bisa membuat ekspresi seperti itu..."

"Sudahlah, cepat ceritakan yang sebenarnya!"

"Baiklah. Dugaanmu garis besarnya memang tepat. Anak itu tidak sengaja menyentuh sebuah titik portal di Lemuria, lalu terlempar ke Bumi ini."

"Sialnya, saat itu terjadi invasi dari kawanan vampir tersebut. Tepat ketika ia diserang dan nyaris tewas dibantai oleh para bawahan vampir, aku menggunakan kekuatanku untuk mengirimnya kembali ke dunia asalnya. Kira-kira begitulah kronologinya."

"Sesuai dengan perkiraanku. Kalau begitu, kau pasti memaksakan diri melanggar batas saat memindahkannya kembali ke Lemuria, kan?"

"Ya, seperti yang kauketahui, kekuatanku terikat oleh kontrak dengan dunia ini. Sangat terbatas. Bahkan aku sekalipun tidak bisa menggunakannya secara bebas tanpa bayaran setimpal."

"Lalu kompensasi apa yang kauambil secara paksa dari Tuanku?"

"Hal yang paling berharga bagi dirinya pada saat itu. Yaitu seluruh kenangan dan pengalaman yang telah ia lalui di Bumi ini."

"Kenangan dan pengalaman... kau mengucapkannya seolah itu hal yang sepele, padahal itulah nyawa sejati yang membentuk eksistensi kami. Apa kau menyadari betapa fatalnya dampak dari merampas hal tersebut darinya?"

Astaroth melontarkan pertanyaan itu dengan raut wajah yang campur aduk.

"Tentu saja aku sangat menyadarinya. Aku tahu persis bahwa anak itu sama sekali tidak menginginkannya. Namun bagaimanapun juga, Astaroth, aku hanya ingin dia tetap hidup."

Atom menjawab dengan nada suara yang sarat akan kepedihan mendalam.

"Jangan salah paham dulu. Dalam urusan ini, aku sebenarnya sangat berterima kasih kepadamu. Berkat tindakanmu itulah aku bisa bertemu dengan Tuanku."

"Lagipula aku ini bukan dewa berhati suci yang munafik sepertimu. Jadi menurutku, kenangan-kenangan semacam itu memang jauh lebih baik jika musnah bersih tanpa sisa. Namun mengapa ingatan Tuanku tentang tempat ini mendadak bangkit kembali tadi? Bagaimana bisa hal seperti itu terjadi?"

Astaroth menghunjamkan tatapan penuh selidik ke arah Atom.

"Fakta bahwa ia bisa kembali ke Bumi ini, ditambah keberhasilannya memulihkan seluruh ingatan Mikage Umi secara sempurna, benar-benar merupakan sebuah keajaiban mutlak. Seharusnya hal itu mustahil terjadi. Namun kali ini ia berhasil mewujudkannya. Hal itu saja sudah teramat menakjubkan. Namun kau pun tahu betul bahwa kontrak dengan tatanan dunia tidaklah selonggar itu, kan?"

"K-Kalau begitu, bagaimana dengan ingatan Tuanku yang sekarang?"

Dengan tatapan memohon kepastian, Astaroth menuntut jawaban dari Atom.

"Sosok kepribadian Mikage Umi, serta Tsukishiro Kain yang dibentuk berdasarkan ingatan tersebut, telah musnah seutuhnya."

Atom menegaskan fakta tersebut dengan nada bicara yang teramat lugas.

Mendengar hal itu, Astaroth sempat menghela napas lega sesaat, namun—

"Kalau memang begitu kenyataannya, kenapa wajahmu justru terlihat senang begitu, hah?"

Astaroth memicingkan matanya penuh kecurigaan.

"Tentu saja aku senang. Walaupun hanya tersisa dalam bentuk data kepingan informasi, ingatan itu telah tersampaikan dengan baik ke dalam benaknya. Terlebih lagi—ah, sebaiknya kusimpan sendiri saja lanjutannya."

"Lagi-lagi pola seperti ini, ya. Sifat penggoda alami milik Tuan kami itu benar-benar harus segera diperbaiki, tahu."

Melihat Astaroth yang memerosotkan pundaknya pasrah,

"Aku sangat memahami perasaanmu."

Atom justru membalasnya dengan sindiran ringan.

"Berisik sekali kau!"

"Kalau begitu, aku permisi undur diri dulu."

"Tunggu, izinkan aku menanyakan satu hal terakhir padamu. Mengapa kau rela menentang aturan dunia hanya demi menyelamatkan Tuanku? Tindakan itu jelas-jelas hanya akan mendatangkan kerugian murni bagimu, kan?"

"Awalnya ini murni bentuk penebusan dosaku karena telah membuatnya terlempar ke tanah ini di luar kehendaknya. Karena merasa cemas, aku mengamatinya setiap hari. Hari demi hari, aku hanya mengawasinya dalam diam."

"Melihat kerja kerasnya, kebaikan hatinya, kekuatannya, hingga kerapuhannya, semuanya kuamati tanpa terlewat. Hingga tanpa kusadari, sosok anak itu telah tumbuh menjadi eksistensi yang teramat besar dan berharga di dalam hatiku. Itulah satu-satunya alasanku."

"Begitu... rupanya. Maaf karena telah menahanmu."

Astaroth menjentikkan jarinya, dan suara kebisingan di sekitar mereka seketika kembali normal.

"Aku senang bisa berbincang denganmu. Terima kasih atas segalanya, Astaroth. Tolong sampaikan permohonan maafku yang sebesar-besarnya kepada dirinya, ya."

"Sampaikan saja sendiri secara langsung pada Tuanku. Berpindah ke Lemuria semestinya hal yang sangat mudah bagimu, kan?"

"Benar juga. Akan kulakukan seperti itu nanti."

Atom tersenyum ramah ke arah Astaroth sebelum akhirnya melenyapkan keberadaannya dari tempat itu.

Tepat di hadapannya, Mafuyu dan Athena kini tengah terlibat perkelahian fisik saling menjambak satu sama lain.

"Lagi-lagi aku ditinggalkan dari panggung utama kali ini... Berikutnya, aku bersumpah harus menjadi tokoh utamanya."

Astaroth menggumamkan harapan terpendamnya itu sembari menghela napas panjang.

◇◆◇

Mereka saling bertukar pukulan tanpa henti. Tiga hari tiga malam penuh mereka terus bertempur sekuat tenaga tanpa memejamkan mata sedetik pun.

Bagi Behemoth yang pada dasarnya tak memiliki tandingan, pertarungan biasanya hanyalah formalitas singkat yang selesai dalam sekejap mata. Bertukar tinju hingga mengerahkan seluruh batas kemampuannya seperti ini mungkin adalah pengalaman pertamanya sejak masa-masa saat ia masih lemah dan belum matang dulu.

Sebuah pertempuran yang teramat memuaskan melawan rival sejati. Ia mengerahkan segenap ilmu bela diri, sihir, hingga Skill miliknya demi merebut kemenangan.

Rasanya seumur hidup ia belum pernah mendambakan sebuah kemenangan sebesar ini. Akan tetapi—.

Sang monster berambut abu-abu—Kai Heinemann—kini tengah menatap ke bawah ke arah Behemoth tanpa ada satu pun goresan luka di tubuhnya.

"Luka yang kubuat dengan mengorbankan sisa umurku melalui sihir tadi... sekarang sudah sembuh total tanpa berbekas, ya... Benar-benar lawan yang tidak masuk akal!"

Menanggapi gerutuan Behemoth,

"Adu jotos yang sangat serius denganmu tadi benar-benar sanggup membuat jiwaku bergejolak hebat, tahu."

Kai Heinemann membalasnya dengan nada bicara yang terdengar angkuh.

"Tapi wajahmu kelihatan bosan sekali, tuh."

Sangat kontras dengan sikapnya yang girang layaknya anak kecil yang baru menemukan mainan baru tadi, kini ia justru menatap Behemoth dengan kening berkerut masam.

"Tentu saja. Di dunia mana ada orang waras yang merasa gembira setelah memukuli sahabatnya sendiri dengan kekuatan penuh?"

"Pelakunya ada tepat di depanku, kan? Siapa yang tadi menghajarku habis-habisan sampai babak belur dengan tampang bahagia, hah!?"

Mendengar kalimat melantur yang meluncur dari mulut Kai Heinemann, kata-kata yang sebenarnya tak berniat diucapkan oleh Behemoth mendadak terlontar begitu saja.

"Takeshi, ternyata ingatanmu memang sudah kembali, ya?"

Kai Heinemann mengangkat sudut bibirnya sembari meminta penegasan. Rupanya ucapannya tadi hanyalah jebakan pancingan belaka.

"Ya, semuanya kembali tepat saat aku menyalin seluruh kekuatanmu tadi. Maafkan aku, Kain."

"Kalimat itu seharusnya tidak kauucapkan padaku, melainkan pada Mashiro-chan dan Bibi Sakuya."

"Sakuya!? Bagaimana keadaan Sakuya sekarang!?"

Sembari mengangkat tubuh bagian atasnya dengan sisa-sisa tenaga yang ada, ia berteriak panik menuntut kepastian.

"Tentu saja dia baik-baik saja. Bawahanku sudah menyelamatkannya dan mengobati seluruh lukanya sejak lama. Sekarang mungkin dia sedang duduk santai menikmati secangkir teh sembari menunggumu pulang. Ngomong-ngomong pria bernama Shirou itu juga sempat menonton pertarungan kita setelah duelnya melawan Asura berakhir imbang dan lukanya diobati, lho."

"Syukurlah... dia selamat..."

Rasa lega yang begitu luar biasa membuatnya menghembuskan napas panjang.

"Ada beberapa hal yang ingin kutanyakan padamu. Memiliki kekuatan sedahsyat ini, mengapa kau bisa sampai terdesak kalah oleh kawanan vampir imitasi rendahan semacam itu?"

"Itu karena kutukan karmaku."

"Kutukan karma, ya. Aku sudah bisa menebak garis besarnya, sih. Darah manusia, kan?"

"Tepat sekali. Bagiku, darah manusia adalah sumber energi mutlak yang kubutuhkan untuk bertahan hidup. Namun semenjak mengenal Sakuya seribu tahun yang lalu, aku tidak pernah meminum setetes pun darah manusia. Akibatnya, kekuatanku menyusut drastis. Karena itulah aku bisa sampai kalah memalukan di tangan produk gagal seperti mereka."

"Tunggu sebentar, bukankah ucapanmu barusan kelewat mencengangkan!? Apa maksudmu mengenal Bibi Sakuya seribu tahun yang lalu!?"

"Sakuya adalah manusia terakhir yang kuhisap darahnya. Karena berbagai peristiwa rumit, dia akhirnya berubah menjadi makhluk abadi."

"Jangan-jangan Mashiro-chan juga abadi!?"

Untuk pertama kalinya, gurat kepanikan tipis melintas di wajah Kai Heinemann.

"Tidak, meskipun dia bisa menggunakan sebagian kekuatanku, Mashiro murni hanyalah manusia biasa."

"Begitu rupanya..."

Melihat Kai Heinemann yang menghela napas lega,

"Dirimu yang sekarang ini... apakah kamu Umi?"

Behemoth melontarkan pertanyaan yang paling mengganjal di benaknya saat ini.

"Entahlah, siapa yang tahu."

Ia berkelit dengan lihai mengaburkan topik pembicaraan.

"Lalu saat Bibi Sakuya ditawan oleh para bajingan itu, kenapa kau tetap tidak meminum darah manusia?"

"Saat membangkitkan kembali Sakuya yang sempat tewas dulu, aku telah mengikat kontrak mutlak dengan tatanan dunia."

"Lagi-lagi kontrak dunia... pasti isinya tidak jauh-jauh dari hal yang menyebalkan, kan?"

"Benar sekali. Begitu aku meminum darah manusia, seluruh ingatanku tentang Sakuya akan terhapus lenyap seketika."

Melupakan Sakuya adalah hal yang paling pantang ia lakukan seumur hidupnya, bahkan sampai mati sekalipun.

Sekalipun dunia ini harus hancur lebur, ia takkan pernah sudi meminum darah manusia lagi.

"Lalu setelah menelan kekalahan, mengapa kau malah memilih menjalani kehidupan sekolah biasa?"

"Itu karena Sakuya diculik oleh mereka. Setelah menata situasi menggunakan Heavenly Phantasm, aku menyusup ke akademi pelatihan Hunter demi memulihkan kekuatanku secara perlahan. Lagipula menyamar sebagai pelajar terasa jauh lebih leluasa untuk bergerak, dan risiko dicurigai oleh mereka pun jauh lebih kecil."

"Lalu kenapa kau menempatkan Makoto di dekatmu? Untuk tujuan penyelidikan? Bukankah menyusupkannya langsung ke dalam jajaran Hunter jauh lebih efisien?"

"Akibat perintah yang kujatuhkan padanya dulu, dendam Makoto terhadap kaum vampir sudah terlampau membara. Jika kubiarkan ia bertindak sebagai Hunter, ia pasti akan mengamuk kehilangan kendali. Karena itulah aku menyegel ingatannya dan menempatkannya di sisiku sebagai sesama pelajar."

Kai Heinemann menghembuskan napasnya perlahan, lalu—

"Semuanya sudah masuk akal bagiku sekarang. Kalau begitu, saatnya kita menyelesaikan perhitungan di antara kita. Bagaimanapun juga, dosamu karena telah berniat melukai Mashiro-chan masih belum terhapuskan, lho."

Sembari mencengkeram kerah baju Behemoth, seringai buas mengembang di wajah Kai Heinemann.

"..."

"Begitu kau terbangun nanti, segeralah minta maaf kepada Bibi Sakuya dan Mashiro-chan yang sudah kaubuat sangat cemas!"

Tepat setelah tinju pemuda itu mendarat telak di wajahnya, kesadaran Behemoth pun terputus seketika.

Saat tersadar kembali, ia mendapati dirinya tengah berbaring di atas ranjang sebuah rumah sakit. Dari samping ranjangnya, terdengar suara gesekan pisau yang mengupas buah dengan irama yang begitu menenangkan.

Saat ia menolehkan kepalanya ke arah sumber suara, seorang wanita berparas jelita dengan rambut hitam panjang berkilau dan berbalut kimono anggun tengah mengupas buah apel.

"Akhirnya kau bangun juga. Mau makan apel?"

Setelah meletakkan pisau buahnya ke samping, ia menusuk sepotong apel dengan garpu lalu menyodorkannya ke arah Behemoth.

"Sakuya... benarkah ini kau?"

"Astaga, kau bahkan tidak bisa mengenali wajah istrimu sendiri? Apa sekarang pandangan matamu juga sudah mulai rabun, ya?"

Mendengar candaan ringan dari bibir Sakuya, Behemoth seketika merengkuh tubuh wanita itu ke dalam pelukannya. Mendekapnya erat-erat segenap jiwa, sebab akhirnya, mereka bisa dipersatukan kembali.

"Selamat datang kembali ke rumah."

Sakuya membalas pelukan Behemoth dengan penuh kelembutan sembari membelai pelan bagian belakang kepalanya.

Pada saat itulah, Behemoth akhirnya benar-benar tersadar bahwa mimpi buruk yang panjang itu telah resmi berakhir.



Chapter 3 | ToC | Epilog

0

Post a Comment

close