Chapter 4
Kebenaran Masa Lalu dan Pertarungan Sengit
Pada awal mula kami dikirim untuk latihan praktik,
misi kami kebanyakan adalah berburu binatang buas pengembara. Namun, sejak
suatu saat, monster-monster mulai menyerang kami.
Terlebih lagi, mereka datang terus-menerus tanpa
henti. Pada akhirnya, kami terpaksa harus terus membasmi monster-monster yang
berdatangan secara berkerumun itu bersama instruktur yang bertugas, Akudou.
Karena pembasmian monster sudah sedikit mereda,
sekarang kami sedang beristirahat sejenak di kabin kayu yang menjadi markas
kami.
"Lemahnya monster-monster di luar sana
sungguh membuatku muak."
Setelah kami menyapu bersih puluhan kawanan burung
berwajah manusia yang menyerang tadi, mereka langsung lari kocar-kacir.
Kalau ujung-ujungnya akan melarikan diri, lebih
baik dari awal tidak usah menyerang. Walaupun mereka ini monster, membantai
sepihak makhluk yang tidak punya niat bertarung sama sekali bukanlah hal yang
menyenangkan.
Apalagi jika lawannya terlalu lemah.
"Yah, bagimu, mau itu monster atau bawahan
vampir, tidak ada bedanya, kan."
"Haa...."
Kenapa tiba-tiba bawahan vampir dibawa-bawa ke
dalam obrolan ini? Apa ini semacam tuntutan tak masuk akal yang mengisyaratkan
kalau bagiku melawan bawahan vampir pun akan terasa sama saja?
Meskipun itu aku, kalau lawannya adalah bawahan
vampir, setidaknya aku harus sedikit serius... seharusnya.
Lagipula, bukankah misi kami ini bukan untuk
membasmi monster, melainkan menekan organisasi kriminal? Meski begitu, kami
malah harus menghadapi pasukan monster kroco dan bukannya sebuah organisasi
kejahatan.
Tentu saja, pertarungan melawan monster-monster
kroco semacam ini takkan membuat kami terluka. Ini murni hanya menjadi tugas
pembasmian yang sangat membosankan.
"Ngomong-ngomong, apa kamu tidak merasa ada
yang aneh?"
"Iya, tidak ada organisasi
kriminal di sini, kan?"
Sekalipun monster-monster itu
lemah, aku rasa organisasi kriminal tidak sebodoh itu sampai mendirikan markas
di tempat yang dikerumuni gerombolan monster.
"Master, Kain-san,
gawat!"
Seorang pria berkacamata hitam
dengan penampilan berandalan, Kazu, masuk ke dalam kabin kayu dengan wajah
pucat pasi.
Omong-omong, selain Akudou,
seluruh anggota Akkigura tanpa terkecuali kini memanggilku dengan sebutan
"san".
"Ada apa?"
Saat aku menanyakan tujuannya
melihat Kazu yang panik tak seperti biasanya, Kazu langsung menyalakan
televisi.
Di layar televisi, seorang pembawa
acara berita sedang mengoceh dengan sangat mengganggu. Ia membawa topik tentang
pengkhianat umat manusia, Akizuki Tatsuya, dan sang Orang Suci yang dicurigai
menghilang, Mikage Mashiro.
"Bagian utama Kota Yunicho
sepertinya telah diduduki oleh para vampir beserta para penduduknya. Kuharap
para komandan markas juga berhasil melarikan diri dengan selamat...."
Mendengar laporan dari Kazu yang
merupakan anggota Akkigura itu,
"Kalau saja Akizuki Tatsuya
tidak menghancurkan dinding hitam itu...."
Salah satu anggota Akkigura mengucapkan kata-kata
itu dengan ekspresi pahit.
"Tatsuya bukanlah pria yang akan melakukan
hal seperti itu tanpa alasan."
Yah, jika itu Tatsuya yang sekarang, aku sudah
bisa menebak alasannya dengan cukup jelas. Di saat yang sama, aku juga tahu
alasan kenapa Mashiro ikut membantunya.
Bagian yang menyebalkan adalah aku masih belum
punya bukti pastinya.
Namun, jika tebakanku benar bahwa para vampir
memaksa Tatsuya menghancurkan dinding itu dan melemparkan peran penjahat pada
mereka, maka mereka telah membangunkan harimau tidur.
Aku takkan pernah memaafkan mereka.
"...Kain, aku juga tidak berpikir kalau
Tatsuya yang sekarang telah berkhianat. Karena itu, tolong tahan sedikit energi
sihirmu yang mengerikan itu."
Akudou memohon kepadaku sambil meneteskan keringat
dingin.
"Energi sihir yang
mengerikan?"
Begitu ya, sepertinya aku tanpa
sadar telah melepaskannya. Aku
berkata, 'Maaf soal itu,' lalu menarik kembali energi sihirku.
"Lagipula, dua keparat dari Glorious itu
secara terang-terangan terus menyudutkan Tatsuya. Itu sama saja dengan
menegaskan kalau Tatsuya tidak bersalah."
Akudou membuang ludah dengan penuh kebencian.
"Jadi, apa Kain-san punya dugaan alasan
kenapa Akizuki Tatsuya melakukan hal itu?"
"Iya, itu karena—"
Tepat ketika aku hendak menyebutkan alasannya,
pintu kabin kayu terbuka dengan kasar. Salah satu anggota Akkigura terguling
masuk sambil menunjuk ke arah yang tak beraturan.
"Sekelompok vampir sepertinya sedang menuju
ke arah sini!"
Laporan yang sangat menguntungkan itu pun
disampaikan.
Kemungkinan besar Mashiro dan Arisa juga sedang
disekap oleh para vampir saat ini. Begitu pula dengan Akito dan Mikan.
Sejujurnya, kesabaranku sudah mencapai batasnya.
Di saat seperti ini, kebetulan sekali datang sasaran empuk untuk melampiaskan
amarahku.
Bagiku, ini ibarat pucuk dicinta ulam pun tiba.
Akan kutangkap mereka dan kuperas semua informasi yang kubutuhkan.
◇◆◇
Di bawah pimpinan Karina-san dan yang lainnya dari
depan Alun-alun Gerbang Hitam, Mizoguchi Kazuha dan kawan-kawannya berlari
sekuat tenaga menuju ke luar.
"Kyahahaha! Luar biasa! Tubuh ini!"
Tak lama kemudian, mereka diserang oleh Misumi
Chika yang telah berubah menjadi monster.
"Kami akan menahannya. Kalian larilah!"
Arima-kun berhenti dan memunggungi Kazuha beserta
yang lainnya. Ia lalu memunculkan sebuah papan berwarna ungu yang melayang di
udara.
"Kumohon, siapa saja boleh. Beri tahu
Kain-kun—Tsukishiro Kain tentang apa yang terjadi di sini dan mintalah bantuan!
Dia ada di dalam Kantor Distrik Barat!"
Karina-san juga meneriakkan hal itu kepada kami
sebelum menerjang ke arah Misumi Chika.
Setelah itu, mereka diserang oleh monster
kalajengking dan laba-laba yang tak terhitung jumlahnya. Ran-san dan
Sakuraba-kun yang sudah terbangun pun ikut menahan para monster, memercayakan
harapan pada Kazuha.
Hasilnya, aku sendirian dan masih terus berlari
sampai sekarang. Alasan Kazuha bisa terus lolos sepertinya adalah berkat Skill
Stealth miliknya.
Di dalam Kantor Distrik Barat yang dikelilingi
dinding putih dan hitam di barat Kota Yunicho merupakan titik strategis di
wilayah barat. Tempat itu juga merupakan daerah di mana binatang buas
pengembara relatif sedikit.
Kantor Distrik Barat berjarak
sekitar 15 km secara garis lurus dari Gerbang Hitam.
Itu hanya jarak garis lurus,
sehingga dengan adanya berbagai rintangan, jarak tempuhnya menjadi jauh lebih
panjang. Jika bukan karena Stealth, aku pasti sudah tertangkap dan
terbunuh dalam sekejap.
"Bertahanlah... sedikit
lagi!"
Aku terus berlari sambil
mengucapkan kata-kata itu pada diriku sendiri layaknya sebuah mantra.
Aku sudah berlari seharian penuh,
dan batas ketahananku sudah terlampaui sejak lama. Masih bisa bergerak seperti
ini saja sudah bisa dibilang sebuah keajaiban.
Meski begitu, aku tidak ingin
menyia-nyiakan perasaan semua orang yang telah mengirim Kazuha pergi. Dengan
tekad bulat itu, aku terus menggerakkan kakiku ke depan.
Alasan kenapa Tatsuya dan Mashiro
tidak bisa bertarung lagi. Hal
itu sudah jelas terlihat jika menonton video itu.
Kemungkinan besar, anak-anak itu
telah dijadikan sandera.
Bisa dibayangkan betapa berat
perasaan mereka berdua saat harus tetap tinggal di sana. Begitu pula dengan
yang lainnya.
Sudah menjadi rahasia umum perlakuan seperti apa
yang akan diterima jika tertangkap oleh para vampir. Meskipun begitu, mereka
semua lebih mengutamakan untuk memberi tahu Tsukishiro Kain daripada
keselamatan diri mereka sendiri.
Hasilnya, Kazuha menerima tongkat estafet dari
semua orang dan kini berada di sini. Padahal Kazuha sedang berlari membawa
perasaan mereka semua—tapi kelelahan membuat Stealth-ku terputus.
Aku melakukan kesalahan fatal hingga terdeteksi
oleh vampir.
"Hei, hei, ada apa? Sudah menyerah, ya?"
Sebuah suara ejekan terdengar dari seorang pemuda
berambut pirang berpakaian merah yang mengejar Kazuha dengan mobil jip dari
belakang. Di saat yang sama, sebuah bola api menghantam tanah tempat Kazuha
berlari dan meledak.
Akibat ledakan itu, tubuh Kazuha
terpental dan berguling-guling seperti bola.
Mobil jip itu berhenti tepat di
sebelah Kazuha.
"Nah, tangkap dia. Kita akan
bangun tenda di sini dan bersantap! Makan setelah berburu manusia itu rasanya
sungguh luar biasa!"
Dia menjilat bibirnya, lalu
memerintahkan para pria berseragam militer merah yang sepertinya adalah
bawahannya. Para pria berseragam militer itu mendekati Kazuha dan menjulurkan
tangan kanan mereka.
Dalam sekejap—.
Tubuh para pria itu terpotong-potong lalu
berjatuhan ke tanah.
"Hah!?"
Pemuda berambut pirang panjang yang menjadi
pemimpin para vampir pengejar Kazuha itu mencoba melompat mundur. Namun,
keempat anggota tubuhnya remuk dan ia terhempas keras ke tanah.
Di tengah jeritan yang memekakkan telinga,
"Satu ekor saja sepertinya sudah cukup untuk
dimintai keterangan."
Suara yang terdengar seperti
ludahan itu menggetarkan gendang telinga Kazuha. Kazuha mengenali suara lembut
yang memberikan rasa aman yang kuat ini.
Tentu saja, karena dia adalah
orang yang selalu Kazuha perhatikan selama ini.
"K-Kau ini, sebenarnya
siapa—bukh!"
Dia menendang mulut vampir
berambut pirang itu hingga terlempar ke atas, memotong ucapannya.
"Dengar, aku sedang sangat
muak. Jangan berani-berani bicara omong kosong lagi. Mengerti?"
Mendengar peringatannya yang
diucapkan sambil tersenyum, vampir itu hanya bisa mengangguk berkali-kali
dengan mata berkaca-kaca.
"Kamu Mizoguchi-san dari Kelas A-1, kan. Apa
yang sebenarnya terjadi?"
Dia berjongkok di hadapan Kazuha lalu bertanya
dengan nada suara yang tenang.
"Mashiro-san dan Akizuki-kun diancam oleh
mereka. Kami mencoba kabur bersama, tapi para pengejar menyerang kami, dan
semuanya membiarkanku kabur sendirian—"
Aku berusaha menyampaikannya sekuat tenaga, tapi
tak bisa menjelaskannya dengan baik.
"Tolong beri tahu aku satu hal. Bagaimana
cara mereka mengancam Mashiro dan Tatsuya?"
"Melihat anak-anak yang diikat di kursi,
Mashiro-san memanggil, 'Arisa', dan Tatsuya-kun juga menyebut, 'Akito',
'Mikan'—"
Dia hanya terdiam menunduk tanpa
bergerak sedikit pun.
"Begitu ya...."
Dia bergumam pelan, dan wajahnya
diwarnai dengan amarah yang meledak-ledak. Saat aku merasa kewalahan melihat
luapan emosi pertamanya itu, dia memeluk Kazuha dan menepuk punggungku dengan
lembut.
"Pesan dari semuanya sudah
kuterima dengan baik. Tenanglah. Selanjutnya, aku yang akan mengambil tanggung
jawab penuh untuk mengurus semuanya."
Dia menyatakannya dengan penuh keyakinan.
Bersamaan dengan sentuhannya yang dapat diandalkan itu, kesadaran Kazuha mulai
diselimuti oleh kabut yang tebal.
◇◆◇
Di dalam ruang bawah tanah yang
remang-remang.
"Tunggu sebentar...
maaf."
Kazu menutupi mulutnya dan berlari
ke luar. Bukan cuma dia, bahkan Akudou yang sepertinya punya nyali baja
pun berwajah pucat pasi.
Sementara itu, anggota Akkigura
lainnya menggemeretakkan gigi dengan mata berkaca-kaca. Dalang utamanya ada
pada pria berbaju hitam dan bertopi yang berdiri di depan vampir berambut
pirang panjang itu.
"Ini adalah belas
kashiiiiihan yang sangat berharga dari Dewa agung kita. Kau harus mengutarakan
semuanya dengan penuh rasa syukur."
Pria berbaju hitam dan bertopi
yang menyebut dirinya 'Ekiki' itu mendekatkan wajah bulatnya yang tak wajar ke
vampir berambut pirang panjang yang sudah tak berbentuk lagi. Sambil
menyunggingkan senyum bengis, dia berbisik layaknya iblis di telinga vampir
itu.
"Apapun... tidak akan...
kubilang... jadi, bunuhlah aku...."
Mendengar suara yang samar-samar
itu,
"Permintaan ditolaaaaak! Kenapa aku harus
menuruti permintaan serangga rendahan sepertimu? Pilihan yang tersisa untukmu
hanyalah satu!"
"Kau hanya perlu menjawab sambil terus
menerima tombak amarah dari Dewa agung kita!"
Sudut bibir 'Ekiki' terangkat membentuk bulan
sabit, lalu dia menjentikkan jarinya. Bersamaan dengan suara gushu, tubuh
vampir itu membusuk, dan makhluk-makhluk kecil mulai merayap di atasnya.
Sambil mengeluarkan suara yang entah merupakan
jeritan atau tawa, vampir berambut pirang itu pun mulai berbicara.
Setelah interogasi terhadap vampir berambut pirang
itu dimulai, Akudou dan yang lainnya tak sanggup lagi menahan diri.
Mereka lalu menyerahkan interogasi itu pada Tsukishiro Kain dan 'Ekiki', lalu
kembali ke ruang tamu di lantai pertama kabin kayu.
"Fuhhh!"
Dimulai dari desahan seseorang,
semua orang pun duduk bersandar di lantai.
Dengan langkah gontai, Akudou
pun ikut menjatuhkan diri ke sofa di dekatnya.
Orang-orang yang baru saja
dievakuasi dari ruang bawah tanah adalah mereka yang menempati posisi petinggi
di Akkigura. Mereka punya cukup keberanian untuk menatap langsung perbuatan
'Ekiki'.
Sebaliknya, anggota biasa tak
sanggup menahan perbuatan iblis semacam itu. Mereka ada yang kesulitan
bernapas, terus-menerus muntah di ember terdekat, hingga jatuh pingsan karena
terlalu takut.
Di tengah situasi yang benar-benar
mirip gambaran neraka ini,
"Sepertinya, kita banyak
salah sangka."
Ucap Akudou dengan tatapan
kosong sambil menutupi wajahnya dengan telapak tangan kanan.
"Aku setuju. Vampir berdarah
murni yang takkan pernah bisa dikalahkan oleh umat manusia, dia bahkan
mempermainkan nyawanya, pria itu...."
Kazu berbicara dengan datar sambil
mengerutkan kening, lalu tak sanggup melanjutkan kata-katanya.
"'Ekiki'... apa dia itu peliharaan milik
Kain...."
Mendengar gumaman samar Akudou
itu,
"Tidak mungkin! Itu mustahil! Mana mungkin
itu monster!? Keberadaan yang memperlakukan nyawa vampir layaknya serangga!?
Dia itu pasti sesosok Dewa! Sosok yang terus dicari oleh para penyihir
sepertiku dengan mempertaruhkan seluruh hidup kami!"
Seorang anggota perempuan yang mengenakan jubah
hitam dan topi kerucut membantah keras dengan mata memerah.
"Aku tahu itu. Kalau memang begitu... kalau
memang begitu kenyataannya, Tsukishiro Kain, yang begitu dipuja oleh si 'Ekiki'
itu, pria itu adalah...."
Kata-kata lanjutan dari ucapan Akudou sudah
bisa dibayangkan oleh semua orang di tempat ini.
"Dari awal aku sudah merasa ada yang aneh!
Lagipula, 'Belalang Chrono' itu saja kekuatannya tidak seperti monster
biasa."
"Daripada itu, dengan kemampuan kita, kita
bahkan tidak tahu seberapa kuat dia sebenarnya."
"Tapi dengan begini, fakta bahwa umat manusia
telah melihat seberkas harapan juga adalah sebuah kebenaran. Iya, kan?"
Mungkin karena sudah mulai tenang, Kazu meneguk
air dingin dan menanyakan konfirmasi penuh makna kepada Akudou. Seperti
dugaan, Kazu sudah melihat inti dari masalah ini.
"Benar sekali. Atau lebih tepatnya, kejadian
kali ini adalah vonis hukuman mati bagi mereka. Para vampir telah menginjak ekor dari monster
yang paling buruk dan mengerikan."
Kain punya obsesi yang sangat kuat
terhadap Mashiro dan Tatsuya. Kenyataannya, dia bahkan tinggal satu atap dengan
Mashiro yang pastinya merepotkan, dan secara terbuka mengumumkan Tatsuya
sebagai muridnya.
Mashiro, yang dia anggap begitu
berharga layaknya harta karun, kini diculik oleh para vampir, sementara Tatsuya
dicap sebagai pengkhianat umat manusia. Terlebih lagi, semua itu terjadi karena kelicikan tipu daya mereka.
Amarah Kain pasti sudah melampaui batas sejak
awal. Buktinya—.
"Iya, kau benar. Kain sama sekali tidak
menegur perbuatan itu, dan hanya diam memperhatikannya saja."
Mendengar kesan Kazu yang mendalam, semua orang
yang ada di ruang bawah tanah pun mengangguk tanpa suara.
"Akudou-san, karena kejadian ini, Kain-san
tidak akan berubah menjadi musuh umat manusia, kan?"
Kepada salah satu petinggi yang bertanya setengah
memohon itu,
"Tidak akan. Kain bukanlah orang seperti
itu."
Akudou menjawabnya dengan nada tegas.
Garis besar situasi ini sudah dipahami oleh Akudou
dan yang lainnya berkat cerita Mizoguchi Kazuha dan pengakuan vampir berambut
pirang barusan.
Para idiot dari Glorious yang termakan hasutan
vampir, serta para petinggi Asosiasi Hunter bodoh dan politikus yang bertindak
semena-mena mencoba menjatuhkan keluarga Akizuki. Itulah kebenaran dari insiden
ini.
Jika masalah ini tidak semakin rumit, para vampir
dan pengkhianat umat manusia pasti akan dihancurkan oleh Tsukishiro Kain.
Saat mereka mencapai kesimpulan tersebut, ponsel Akudou
berdering dan ia pun mengangkatnya.
"Master, cepat nyalakan TV!"
"TV? Woi, nyalakan TV-nya!"
"B-Baik!"
Kazu mengambil remote control dan menyalakan
televisi layar datar besar di ruang tamu kabin kayu. Di layar, tampak seorang
pria dengan lingkar hitam di bawah matanya dan tato bergambar sekop serta
pedang di pipinya sedang berpidato.
"Di sini, aku akan memperkenalkan saudara
baru kiiitaaa!"
Saat dia mengangkat tangan kanannya, seorang
wanita menampakkan diri dan berjalan maju secara perlahan.
"Oi, oi, yang benar
saja...."
"Bohong, kan...."
Di layar itu, tampak sosok Mikage
Mashiro dari Kelas F mengenakan pakaian merah yang sama dengan para vampir.
◇◆◇
Di suatu pedalaman pegunungan di wilayah Kanto. Di
ruang tamu sebuah rumah besar yang dikelilingi kabut tebal, beberapa pria dan
wanita baru saja melangkah masuk.
"Ini adalah vila milik keluarga Otome, jadi
kalian tidak perlu khawatir dengan mata-mata media yang mengganggu. Silakan
beristirahat dengan tenang."
Seorang siswi berambut putih, Otome Utako,
tersenyum dan membungkuk hormat sebelum keluar dari ruangan.
"Sekarang opini publik telah terbentuk dan
menganggap keluarga Akizuki sebagai musuh umat manusia. Penyebabnya adalah
Akizuki Tatsuya dan Mikage Mashiro itu, ya...."
Ashihana Okibi bergumam pelan. Nada suaranya saat
menyebut nama Tatsuya tak lagi menyiratkan hinaan seperti sebelumnya.
Malahan....
"Alasan Tatsuya menghancurkan dinding hitam.
Tidak perlu dipikirkan lagi, mereka pasti telah menyandera anak laki-laki dan
perempuan itu lalu mengancamnya!"
Pria botak bertubuh besar penuh luka, Akizuki
Eisei, menumpukan sikunya pada meja hingga membuat meja itu retak saking
marahnya.
"Media massa yang dipelopori oleh Glorious
telah menyimpulkan bahwa Mashiro dan Tatsuya berkhianat. Mereka memberitakan
Kelas F sebagai pengkhianat umat manusia."
"Yang merekrut Mashiro dan yang sangat
terlibat dalam seleksi anggota Kelas F adalah keluarga Akizuki. Kemungkinan
besar, tak lama lagi Asosiasi Hunter dan lembaga penyelidik akan melakukan
penggeledahan serentak terhadap keluarga Akizuki. Ini jelas alur yang sangat
buruk, tahu?"
Okibi mengedarkan pandangannya ke semua orang dan
menunjukkan situasi yang bisa dibilang sangat buruk ini.
"Kau benar. Akibat laporan dari Glorious,
seluruh jajaran staf operasional SMA Hanatsuki, termasuk Kureto, telah dicopot
dari jabatan mereka atas tuduhan makar. Sebagian surat perintah penangkapan
juga sudah dikeluarkan, dan cukup banyak orang yang telah ditangkap. Kita juga
harus segera menentukan arah kebijakan."
Eisei mengatupkan kedua tangannya sambil
memaksakan kata-kata itu keluar.
"Kalau kalian keluarga Akizuki tertangkap
oleh pusat, apa yang akan terjadi?"
"Entahlah. Walaupun surat penangkapan sudah
keluar, setidaknya keselamatan nyawa kami terjamin sampai sidang pengadilan
dimulai. Namun, setidaknya aku, Ayahanda, dan Narumi sudah pasti akan dipanggil
ke markas pusat. Kalau itu terjadi...."
Eisei terdiam dengan ekspresi pahit.
"Ketiga mantan, kepala keluarga saat ini, dan
penerus keluarga Akizuki meninggalkan tanah ini... itu artinya melanggar
kontrak dengan dewa bernama Atom, kan?"
"Benar sekali. Selama kami bertiga dipanggil
ke pusat, dinding pelindung umat manusia akan menghilang, dan dunia akan
dikuasai oleh para vampir."
"Beraninya mereka menari di
atas informasi yang dangkal! Menurut mereka siapa yang telah melindungi tanah ini selama ini! Siapa
sebenarnya yang pengkhianat! Dasar sampah oportunis!"
Okibi meludah penuh kebencian.
"Okibi, percuma saja kau marah-marah
sekarang. Aku malah ingin memuji Tatsuya! Dia telah berjuang keras demi
melindungi keluarganya sendiri!"
Akizuki Kouzen mencoba menenangkan Okibi, tetapi,
"Dengar ya, gara-gara dia melindungi
keluarganya itu, umat manusia sekarang sedang berada di ambang
kehancuran!"
Okibi membentak balik dengan
amarah yang meluap-luap dari dasar hatinya.
"Maafkan aku, Tuan Okibi,
tapi aku sependapat dengan Ayah Mertua. Aku bangga dengan pilihan anak itu.
Terlebih lagi, anak itu tidak mengambil keputusan dengan sembrono. Dia pasti punya cara untuk membalikkan
keadaan. Itulah yang kupikirkan. Benar begitu, Tuan Kidou?"
Ibunda Tatsuya, Akizuki Akane, bertanya kepada Akudou
yang sudah duduk di sofa ruangan tersebut.
"Secara garis besar, YA. Dalam situasi
ekstrem itu, Tatsuya dan Mashiro memercayakan seluruh masalah invasi vampir
yang disebabkan oleh hancurnya dinding hitam kepada orang yang paling mereka
percayai."
"Orang yang dipercayainya, itu adalah Tuan
Tsukishiro Kain, kan?"
Menanggapi pertanyaan Akane, Akudou
mengangguk pelan.
"Murid kesayangannya direbut dengan cara yang
licik oleh para vampir, dan kehormatannya dicoreng. Ditambah lagi, wanita
berharga yang tinggal bersamanya juga dicuci otaknya, merendahkan harga
dirinya. Amarahnya sudah mencapai puncaknya. Tidak akan ada yang bisa
menghentikannya lagi. Dia akan terus bertarung sampai salah satu pihak hancur
tak tersisa."
Mendengar ucapan Akudou, raut kelegaan yang
kuat terpancar dari wajah para anggota keluarga Akizuki.
"Hm? Jangan-jangan kalian sudah menyadari
identitas asli Kain?"
"Dari Tuan Atom, katanya beliau itu sosok
yang memiliki kekuatan tingkat atas bahkan di antara para dewa."
Mendengar jawaban jujur nan polos dari Kouzen,
"Tuan Eisei, kenapa ya? Soal itu aku sama
sekali belum pernah mendengarnya loh?"
Okibi yang berada di sebelahnya
menyilangkan tangan dan tersenyum lebar. Kontras dengan senyumannya, beberapa
urat nadi biru menonjol di dahinya.
"Bukan begitu, itu adalah
keputusan yang dibuat dalam rapat internal keluarga Akizuki, jadi aku tidak
bisa membocorkannya ke pihak luar! Tapi aku juga sudah berusaha keras,
lho!"
Eisei mencoba beralasan dengan
panik.
"Lalu? Apa Tsukishiro Kain benar-benar cukup
kuat untuk mengalahkan para vampir?"
Okibi bertanya dengan ekspresi
serius.
"Menurut Tuan Atom,
vampir-vampir yang ada di sini sekarang sama halnya dengan semut yang merayap
di tanah di matanya."
"Begitu ya... Jadi untuk apa
kekhawatiranku sampai bikin lubang di lambungku ini...."
"Tidak, faktanya krisis ini
belum berlalu. Kabarnya tujuan para vampir itu adalah untuk menguasai dewa
terkuat bernama Behemoth. Kalau
hal itu sampai terjadi, bahkan Tuan Tsukishiro Kain pun kemungkinan bisa
kalah."
Dengan wajah tercengang, Okibi hanya bisa membuka
dan menutup mulutnya selama beberapa saat.
"Keadaan terus berubah terlalu cepat satu per
satu, aku sudah tidak bisa mengikutinya lagi."
Dia memegangi kepalanya dan mengeluh, sebuah
pemandangan rengekan yang langka baginya.
"Lalu? Pada akhirnya apa yang akan kalian
lakukan? Sekalipun Kain berhasil menghancurkan para vampir, kalau begini terus,
Tatsuya dan Mashiro akan tetap menjadi pengkhianat umat manusia, kan?"
Akudou mengembalikan topik pembicaraan ke jalur yang
semestinya.
"Tentu saja kami hanya akan menghancurkan
musuh kami. Demi hari ini, kami telah mengumpulkan informasi dari berbagai
pihak. Kami juga sudah mengidentifikasi dalang di balik kejadian ini. Mereka
dengan seenaknya menyebarkan fitnah tentang putraku. Aku akan menghajarnya
habis-habisan sampai dia tak bisa lagi tinggal di Jepang, tidak, di muka bumi
ini!"
Saat Eisei meraung dengan ekspresi buas layaknya
binatang buas yang sedang marah,
"Benar sekali! Kita akan membuat anjing
Asosiasi dan para politikus rendahan itu menyadari sampai ke tulang sumsum
mereka karena berani mencari masalah dengan keluarga Akizuki!"
"Aku takkan membiarkan satu pun orang yang
terlibat dalam masalah ini lolos! Pasti akan kumusnahkan!"
"Apalagi Hunter sampah yang namanya Glorious
itu! Apanya yang Malaikat dan Penyelamat! Hinaan terang-terangan terhadap
anggota keluarga kami akan dibalas seribu kali lipat!"
Anggota keluarga Akizuki yang hadir juga ikut
menyuarakan amarah mereka satu demi satu.
"Sebagai ibu mereka, aku juga sangat marah.
Terutama pada orang yang namanya Kagero Hamuro itu. Aku tak bisa mentolerirnya.
Berani-beraninya dia merencanakan serangan terhadap putri yang lebih berharga
dari nyawaku sendiri. Semuanya, apa kalian bisa membiarkan hal itu?"
Perkataan Akane menyulut ledakan amarah di dalam
ruangan.
"Ah, ada satu hal yang ingin kuminta maaf
pada kalian. Maafkan
aku. Tapi aku juga tidak bisa menentang perintah orang-orang itu."
Saat Akudou mengucapkan
kata-kata yang penuh arti itu seolah-olah memotong pembicaraan, pintu ruangan
terbuka.
"Permisi. Saya membawa tamu untuk
kalian."
Otome Utako masuk dengan membawa para tamunya.
Tamu tersebut adalah pria raksasa berambut cepak pirang yang merupakan komandan
Markas Akigayama, Yoshizato Gaku, dan seorang pria bermata satu yang mengenakan
setelan jas putih.
"Gaku! Kalian masih hidup!?"
Mengabaikan sepenuhnya seruan gembira Eisei dan
berjalan ke tengah ruangan, Yoshizato Gaku menarik napas panjang.
"Saudara-saudara! Kalian sungguh luar biasa
bisa mencapai kebenaran yang kami cariiiiiii!"
Yoshizato Gaku berseru lantang dengan suara yang
seakan menggetarkan udara.
"Tunggu, berisik sekali! Aku pikir gendang
telingaku mau pecah, tahu!"
Otome Utako mengeluh sambil menutup telinganya.
"Karena beliau adalah Girimekhala-sama, jadi
mau bagaimana lagi."
Pria bermata satu bersetelan jas putih itu
mengangkat bahunya.
"H-Hei?"
Eisei kembali memanggil dengan ragu, tapi,
"Akulah Girimekhala! Sampah yang merayap di
tanah dan berjalan di jalan kejahatan demi ayah kami yang agung!"
Yoshizato Gaku berteriak sekencang-kencangnya.
"Sudah kubilang ini berisik,
kan!? Lagipula, kata-kata kalian terlalu tidak masuk akal sampai-sampai
anak-anak ini hanya bisa melongo mendengarnya, tahu!"
Menanggapi teguran Otome Utako,
"Begitu ya. Dengan wujud ini
kalian mungkin takkan mengerti. Kalau begitu—"
Tubuh Yoshizato Gaku dengan cepat
membengkak dan membesar. Begitu
melihat sosok itu,
"Gihi!"
Jeritan spontan keluar dari mulutnya. Namun, Eisei
sama sekali tak merasa dirinya pengecut saat itu. Sebab, Yoshizato Gaku telah
bertransformasi menjadi monster raksasa berhidung panjang dan bermata tiga.
Saat mereka menyadarinya, Otome Utako juga telah
berubah menjadi wanita tinggi cantik berbaju merah yang banyak mengekspos
kulitnya.
"Biar aku perkenalkan diriku
sekali lagi! Akulah Girimekhala, makhluk yang berjalan di jalan kejahatan yang
dicari oleh ayah kami yang aguuung!"
Semua orang yang ada di sini
adalah Hunter dan penyihir kelas satu. Itulah sebabnya naluri mereka bisa
memahaminya.
Tidak, mereka langsung
menyadarinya. Betapa mengerikannya monster gajah di depan mereka ini yang
berada di luar akal sehat!
—Gishiri!
Udara berderit kencang saat tiga
monster baru muncul.
"Lalu, apa kami harus melatih
orang-orang ini sekarang?"
Monster bermata delapan yang duduk
bersila di atas meja bertanya kepada monster gajah, Girimekhala.
"Benar sekali! Karena mereka terlalu lemah!
Setidaknya mereka harus bisa dengan mudah mengalahkan sampah-sampah hasil
modifikasi vampir itu, agar tidak memalukan!"
"Aku setuju dengan hal itu. Pertama-tama, pola pikir yang merasa
takkan bisa menang melawan serangga vampir seperti itu sangatlah mustahil. Aku
muak dengan mentalitas pecundang itu."
Sesuatu berwarna putih berbentuk manusia yang
melayang itu berbicara dengan nada jengkel.
"Sekalipun hanya sekadar sebagai perintis
jalan bagi Yang Mulia, kalau mereka tidak bisa melakukannya, kita juga yang
akan kehilangan muka!"
Pria bertopeng yang berdiri di
langit-langit sambil membawa senjata cakram merah berseru.
"Kita tidak punya banyak
waktu. Seperti biasa, berpencarlah dan latih mereka habis-habisan."
Begitu Girimekhala mengedarkan
pandangan ke sekeliling dan meneriakkan hal itu,
"Uaa...."
Suara erangan keputusasaan dan
ketakutan lolos dari mulut semua orang. Wajar saja.
Sosok-sosok aneh dan menakutkan
yang muncul satu per satu di dalam ruangan itu memancarkan tekanan luar biasa
hanya dengan melihatnya sekilas.
"Kalau begitu, demi ayah kami, mari kita
mulai latihannyaaa!"
Suara seperti binatang buas
bergema, dan kamp pelatihan neraka pun dimulai.
◇◆◇
Tempat ini adalah sebuah markas
berskala kecil di kaki Gunung Akigayama. Ini adalah wilayah kekuasaan umat
manusia yang nyaris tak masuk dalam area jajahan para vampir.
Namun, karena seluruh area
Akigayama telah diduduki oleh para vampir, tempat ini menjadi zona berbahaya. Sangat jelas bahwa bawahan mereka akan
segera menyerbu tempat ini.
Di ruang konferensi bangunan yang paling menonjol
di depan markas ini, para petinggi SMA Hanatsuki, termasuk Kureto, telah
berkumpul.
"Direktur Akizuki, kami
kehilangan kontak dengan Hunter Kelas S, Flame King dan Akudou."
Pemuda tampan yang merupakan salah
satu petinggi cabang Hunter melapor dengan wajah meringis kesal.
"Mulai dari kelompok Eisei,
Okibi, hingga Akudou... kita benar-benar tertinggal langkah ya."
Kepala Sekolah Kureto memberikan
tanggapannya dengan penuh kebencian.
"Jadi, apa kalian bersedia
bekerja sama dengan rencanaku?"
Di tengah atmosfer yang suram itu,
Kain bertanya kepada Kureto dengan nada datar tanpa intonasi. Kureto menatap
lurus ke arahnya,
"Aku sudah melihat rencanamu.
Pada intinya, kamu akan memusnahkan sendiri para vampir yang menduduki
Akigayama dan Yunicho. Apa hal itu benar-benar mungkin dilakukan?"
Dia menanyakan keraguan yang penuh
dengan harapan.
"Entahlah?"
"Apa maksudmu dengan
'Entahlah?' itu sangat tidak bertanggung jawab—"
Petinggi tampan dari cabang Hunter
itu hendak meninggikan suaranya. Namun ia dihentikan oleh Kazu, bawahan Akudou
yang berada di sebelahnya.
"Apa pun keputusan kalian, besok pagi-pagi
sekali aku akan menyerbu mereka. Jika kalian tak mau bekerja sama, setelah
menghabisi para vampir, aku akan mengurus sendiri Glorious dan para petinggi
Asosiasi serta politikus rendahan yang terlibat dalam kejadian ini."
Mendengar ancaman sepihak dan penuh tekanan itu,
wajah para petinggi Asosiasi Hunter dipenuhi dengan amarah.
Sebaliknya, semua anggota Akkigura tampak berwajah
pucat. Mereka mungkin teringat akan perbuatan Kain di masa lalu.
"Kepala Sekolah, aku mendukung pendapat Kain.
Satu-satunya orang yang bisa menang melawan vampir adalah Kain, yang memang
pernah mengalahkan mereka."
Mendengar saran kuat Kazu,
"Mengalahkan vampir, ya, itulah yang tidak
bisa kupercaya! Lawannya adalah monster yang bahkan tidak bisa dikalahkan oleh
Hunter Kelas S loh!"
Mendengar sanggahan logis dari petinggi Asosiasi
yang tampan itu,
"Aku juga sudah menyelidikinya, jadi ini
pasti benar. Anak itu tanpa ragu telah memenangkan pertarungan melawan
vampir."
Wanita cantik tiada tara berambut merah yang
mengenakan kimono, Kuonji Kyouka, memperkuat kredibilitas perkataan Kazu.
"Intinya, pilihan kita hanyalah
memercayakannya pada Kain atau tidak, ya...."
Kureto terdiam memikirkannya sejenak, lalu menatap
penuh arti pada Kuonji Kyouka. Kyouka mengerutkan wajahnya dipenuhi amarah
seperti iblis,
"Sampah-sampah dari Glorious itu telah jatuh
ke pihak vampir. Karena kita tak bisa mengalahkan vampir, hanya ada dua pilihan
tersisa. Percaya bahwa keadaan akan membaik dan menonton saja dalam diam, atau
menyerahkan semuanya kepadanya."
"Tidak ada pilihan lain lagi, kan? Apa kamu
setuju?"
"Kamu benar. Dan lagi, para
gadis itu telah menghilang gara-gara Glorious. Itu artinya mereka telah
menantang kita secara terang-terangan, kan...."
"Begitulah. Sekalipun anak
itu sudah mati, aku takkan sudi berdiam diri saja melihat situasinya semakin
memburuk hanya karena menyayangi nyawaku sendiri. Kalau aku melakukan hal
semacam itu, anak itu pasti akan benar-benar membenciku nanti."
Kyouka mematahkan kipas lipatnya dengan kuat
menggunakan tangan kanannya. Saat semua orang menahan napas melihat wajahnya
yang semarah Hannya,
"Benar juga ya, akhir-akhir ini aku juga
merasa diriku terlalu melunak! Terlebih lagi, bajingan Glorious itu!"
"Kalau kalian berani menggores sedikit saja
tubuh Ran-chan kesayanganku! Aku takkan membiarkan kalian mati dengan tenang!
Akan kujadikan kalian semua makanan babi hidup-hidup!"
Dari wajah yang tenang, ekspresinya berubah
menjadi bagaikan iblis dalam sekejap mata, dan Kureto meneriakkan kutukan.
"Jadi, apa kalian akan menyerahkannya
padaku?"
Mendengar permintaan Kain di situasi yang sedang
memanas seperti itu, para petinggi Hunter menatapnya dengan pandangan tak
percaya.
"Tentu saja! Kami akan mengurus masalah
merepotkan seperti pembersihan sampah! Karena itu—musnahkan para kelelawar itu
sampai ke akar-akarnya!"
Kureto bangkit dari kursinya, lalu menunjuk ke
arah Kain dengan tongkatnya dan memintanya dengan tegas.
"Tetapi, lawannya adalah monster dengan
kekuatan layaknya Dewa! Mana mungkin dia bisa menang sendirian—"
Para petinggi cabang Hunter mencoba membantahnya
dengan putus asa.
"Dewa kami yang aguuuuung! Kami telah
menyelesaikan peninjauan kekuatan para vampir kelelawar dan menemukan lokasi
Nona Mashiro serta Tuan Tatsuya!"
Seorang pria bertopi dan berpakaian hitam
tiba-tiba muncul dan berlutut sembari berseru gembira. Kemunculannya itu
membuat hampir semua orang di ruangan tersentak kejang.
"Hah?"
"Eh?"
Diiringi suara konyol, wajah Kureto menegang,
sementara Kyouka melebarkan matanya dan keringat sebesar biji jagung mulai
mengalir.
"Kerja bagus, 'Ekiki', nanti tolong ceritakan
secara detail kepadaku."
"I-I-I-Ini adalah sebuah kehormatan yang luar
biasaaaa!"
Pria bertopi dan berpakaian hitam itu, 'Ekiki',
menyatukan kedua tangannya dan menangis tersedu-sedu sebelum menghilang.
"Kalau begitu, besok pagi aku mohon kerja
samanya."
Setelah memberikan salam perpisahan singkat dengan
nada suara datar tanpa intonasi, Kain langsung berjalan keluar dari ruangan
itu.
Setelah Kain pergi, kepada Kureto yang duduk lemas
di kursi dengan wajah pucat pasi,
"A-A-Apa-apaan makhluk tadi itu!?"
Pemuda tampan yang menjadi petinggi Asosiasi itu
melontarkan pertanyaannya dengan nada suara bergetar.
Namun, yang menjawabnya bukanlah Kureto.
"Beliau itu sepertinya adalah semacam pelayan
yang dipanggil oleh Kain-san melalui Skill miliknya."
Dia adalah orang kepercayaan Akudou, yaitu
Kazu.
"Apa maksudnya itu? Bukannya dia cuma bisa
memanggil monster belalang saja?"
Kemunculan monster yang tiba-tiba itu mungkin
telah membuat kepalanya kembali dingin.
Kureto mendesak Kazu, yang tampaknya tahu tentang
situasinya, dengan nada sopan seperti semula.
"Menurut penjelasan Kain-san, Skill-nya
telah berevolusi sehingga akhir-akhir ini dia bisa memanggil beberapa monster
lain selain Tuan 'Battaman'."
"I-Itu tadi monster! Itu... Itu
adalah—!"
Kepada petinggi Asosiasi Hunter yang tampan itu,
yang berteriak histeris dengan mata memerah karena ketakutan,
"Begitulah. Itu adalah eksistensi yang
seharusnya kita panggil sebagai Dewa."
Kyouka menegaskan hal itu seolah mengucapkan kata
demi kata pada dirinya sendiri.
"Sekarang aku mengerti kenapa
kalian tidak begitu terguncang meskipun master kalian, Akudou,
menghilang. Jadi makhluk itu alasannya, ya?"
"Benar sekali. Sebagai
persiapan untuk kemungkinan terburuk, Tuan 'Ekiki' telah menugaskan pengawalnya
untuk melindungi Akudou-san. Memangnya manusia yang hanya dimodifikasi
menjadi vampir bisa melakukan apa-apa pada kelompok sekelas dewa curang semacam
itu?"
"Artinya, Eisei dan yang lainnya menghilang
itu karena urusan pihak Kain-kun?"
"Kemungkinan besar begitu. Dan hal itu sudah
jelas, akan membawa keuntungan bagi kita umat manusia."
Mendengar penegasan Kazu dengan
nada suara yang kuat itu,
"Selain dewa bernama Atom,
muncul pula eksistensi supernatural tak dikenal bernama Tsukishiro Kain. Entah
itu baik atau buruk, pertarungan antara vampir dan umat manusia akan segera
berakhir. Begitukah maksudnya...."
Kureto bergumam seolah sedang
bertanya pada dirinya sendiri.
"Ya, kita tidak tahu seberapa
kuat para vampir itu, dan memang benar bahwa Kain-san juga sangat waspada
terhadap mereka."
"Bagaimanapun juga, aku sudah memutuskan
untuk bertaruh padanya. Sisanya, kita hanya perlu percaya dan terus maju.
Kyouka, keluarga Kuonji juga setuju dengan hal ini, kan?"
"Tentu saja. Yah, aku pastinya berniat untuk
memasukkan gen miliknya ke dalam keluarga Kuonji kita, sih."
Kepada Kyouka yang menjilat bibirnya dengan
ekspresi penuh ekstasi itu,
"Keluarga Ashihana kami juga sama.
Bagaimanapun caranya, kami akan memastikan Ran berjuang keras untuk itu."
Kureto juga mengangkat sudut bibirnya, dan
melontarkan lelucon ringan semacam itu.
"Apa kalian menyadarinya! Target yang sedang
kalian bicarakan itu adalah eksistensi supernatural yang bisa mengendalikan
dewa, tahu!"
Mendengar ucapan penuh kepanikan dari petinggi
tampan Asosiasi itu,
""Sudah pasti!""
Jawaban Kureto dan Kyouka tumpang tindih dengan
sempurna.
"Kalian semua ini, benar-benar sudah
gila...."
Petinggi tampan Asosiasi itu menatap mereka berdua
dengan pandangan seolah sedang melihat makhluk aneh.
Ia menggumamkan hal itu kepada Kureto dan Kyouka
yang terus bertatapan sambil melempar senyum tak kenal takut.
◇◆◇
Seluruh Kota Yunicho telah diduduki oleh para
vampir. Akibatnya, kami tidak bisa lagi kembali ke apartemen tempat kami
tinggal.
Gadis bertanduk yang dilihat oleh Mizoguchi Kazuha
itu pastilah Arisa. Tidak ada alasan bagi mereka untuk membiarkan Asu dan Min
tetap hidup.
Hal yang sama juga berlaku bagi manusia seperti
Karina dan Ran. Kesempatan mereka untuk bertahan hidup mungkin sudah sangat
putus asa.
"Tidak—aku tidak boleh
bersikap lemah!"
Aku menepuk kedua pipiku dengan kedua tangan untuk
menyadarkan perasaanku. Peluang bahwa Asu, Min, beserta Karina dan Ran masih
hidup masih cukup besar.
Jika aku menyerah, semuanya akan berakhir. Aku
juga memiliki monster slime penyembuh, jadi selama mereka masih hidup, dengan
kekuatanku yang sekarang, aku pasti bisa mengembalikan mereka seperti semula.
Sebuah perumahan sementara telah didirikan untuk
para korban bencana. Tempat ini juga disediakan untuk kami para siswa, dan
setiap harinya kami melakukan kegiatan sukarela seperti melindungi para korban,
mengangkut barang, serta menyiapkan makanan.
Saat aku kembali ke kamarku sendiri, seorang gadis
berambut pendek yang mengenakan gaun terusan berwarna biru muda sedang berdiri
di depan pintu.
"Maaf mengganggumu di saat seperti ini, tapi
ada yang ingin kubicarakan."
Dia menyampaikannya kepadaku dengan ekspresi
murung yang sama sekali tidak terlihat seperti Makoto biasanya. Aku sudah tahu
kalau dia pasti ingin membicarakan tentang adiknya yang masih hilang.
"Silakan masuk."
Aku membuka pintu dan mempersilakan Makoto masuk
ke dalam kamarku.
Makoto duduk di tepi ranjang dan terus menunduk
tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
Di tengah suasana yang canggung itu, aku
menunggunya untuk mulai berbicara.
"Aku baru-baru ini
mendapatkan Skill Stealth yang baru! Kalau itu aku, aku pasti
bisa membawa Karina dan yang lainnya kembali dengan selamat! Karena itu, Kain
tunggu sajalah di sini dengan tenang!"
Dia memohon kepadaku dengan
ekspresi penuh tekad.
"Aku tidak bisa melakukan itu."
Aku menggelengkan kepala dan menolak
permintaannya.
"Kenapa!?"
"Itu karena mereka sudah bertindak terlalu
jauh."
Perhatiannya memang membuatku senang, tetapi para
vampir itu sudah terlalu banyak melanggar pantanganku. Aku tidak akan berhenti
lagi.
Pilihannya hanya ada dua, memusnahkan mereka, atau
aku yang mati.
"Mereka itu vampir! Meskipun itu dirimu, kamu
juga bisa saja mati, tahu?"
"Aku sudah menyadarinya, kok."
Setidaknya mereka cukup kuat untuk menundukkan
Hunter Kelas S, yang berarti para vampir itu sangatlah kuat.
Jika lawannya hanya vampir biasa seperti yang
pernah kukalahkan sebelumnya mungkin masih ada harapan. Namun, jika lawannya
adalah petinggi tertinggi mereka, bahkan bagiku sekalipun, kemenangan akan
sulit diraih.
"Kalau begitu, berjanjilah padaku. Setelah
kamu mengalahkan para vampir itu, kamu harus terus berada bersamaku!"
Mendengar pertanyaan Makoto itu, tanpa sadar aku
memalingkan pandanganku darinya.
Setelah mengalahkan para vampir, aku akan kembali
menjalani kehidupan sekolah bersama Makoto, Takeshi, dan yang lainnya. Kami
bisa bertemu kapan saja jika kami mau, tapi seharusnya begitu—.
"...."
Aku tidak bisa menjawab pertanyaan Makoto
tersebut.
"Kamu tidak mau bilang kalau kamu akan terus
berada di sisiku, ya?"
Di tengah waktu yang berlalu dengan canggung,
Makoto bertanya dengan nada kesepian.
"Maafkan aku."
Aku tidak tahu apa alasannya. Namun, aku takkan
menjalani kehidupan sekolah bersama Makoto dan yang lainnya untuk selamanya,
dan aku sangat yakin akan hal itu.
Makoto menatap wajahku tanpa ekspresi selama
beberapa saat, lalu menghela napas panjang.
"Sudah kuduga... kamu akan kembali ke tempat
asalmu, kan?"
Dia melontarkan pertanyaan yang sama sekali tak
terduga kepadaku. Seharusnya aku langsung menyangkalnya, tetapi—
"...."
Aku tidak bisa membenarkan maupun menyangkalnya.
Makoto menghela napas panjang, lalu tersenyum dan
bangkit berdiri. Setelah itu, dia berjalan perlahan ke arahku.
"Pasti aku ini hanyalah orang luar. Kamu
datang ke sini demi Mikage Mashiro, dan aku sudah memahaminya dengan jelas
sekarang. Jadi, kalau cuma segini, boleh kan?"
Makoto berpegangan erat padaku dan mencium
bibirku.
"Ma-Makoto?"
Aku buru-buru mencoba melepaskannya, namun—
"Kumohon. Biarkan seperti ini untuk
sekarang...."
Makoto mengucapkan hal itu dengan suara bergetar,
lalu kembali membungkam mulutku dengan mulutnya sendiri.
Setelah ciuman yang panjang itu
berakhir,
"Terima kasih, ya."
Makoto melepaskan diri dariku,
lalu tersenyum sekuat tenaga dengan air mata yang menggenang di sudut matanya.
"Selamat tinggal."
Dia mengucapkan kata perpisahan
dengan suara yang hampir menghilang, lalu berlari kecil keluar dari kamarku.
"...."
Ekspresi wajahnya yang berkerut
penuh kepedihan saat keluar dari kamar benar-benar menusuk hatiku.
Keesokan harinya di pagi buta,
saat aku keluar dari perumahan sementara, sesosok orang tak terduga sedang
berdiri di sana. Orang itu
adalah—.
"Yo!"
Dia adalah teman nakalku, Akutsu Arata.
"Arata, kenapa kamu ada di sini?"
"Sudah jelas karena aku juga akan ikut
bersamamu, kan!"
Seharusnya aku menolaknya, namun—
"Kamu pasti akan mati, lho?"
Entah kenapa aku malah merasa dia bisa diandalkan.
"Hal itu juga berlaku untukmu, kan?"
"Mungkin saja, ya."
Aku mulai berjalan sambil tersenyum masam, sebab
tidak ada alasan bagiku untuk menolaknya juga.
Bahkan jika kemungkinan kalah sangat besar, aku
akan memastikan untuk menyelamatkan semua anggota Kelas F yang telah
tertangkap.
Selain itu, tadi malam Kazu-san dari Akkigura
mengabariku bahwa Takeshi telah menghilang di situasi seperti ini. Dia mungkin
pergi untuk menyelamatkan Mashiro dan yang lainnya.
Ini seharusnya menjadi situasi yang sangat buruk.
Namun entah kenapa, aku sama sekali tak bisa membayangkan Takeshi tertangkap,
atau kalah dan bersimbah darah, malahan—.
(Tidak, mana mungkin hal konyol semacam itu
terjadi....)
Sebuah pemandangan mustahil tiba-tiba terlintas di
kepalaku. Saat aku menggelengkan kepala dan bergumam seolah mencoba meyakinkan
diriku sendiri,
"Hm? Kamu tadi bilang
sesuatu?"
Arata yang berada di sebelahku
mengerutkan kening dan memastikannya.
"Bukan, bukan apa-apa. Kalau
begitu, saatnya kita maju ke medan perang."
Dengan deklarasiku yang ala
kadarnya dan klise itu, peperangan pun dimulai.
◇◆◇
Aku, Kuonji Makoto, telah mengagumi Ikushima
Takeshi sejak kami pertama kali bertemu saat SMP.
Namun, ini bukanlah kekaguman karena cinta pertama
seperti yang dialami banyak gadis.
Kurasa perasaan ini lebih mirip rasa iri dan damba
terhadap seorang pahlawan, seperti atlet olahraga yang sangat terkenal.
Karena pada dasarnya aku memiliki tekad kuat dalam
bertindak, aku menggunakan seluruh kekuasaan keluarga Kuonji untuk pindah ke
SMP yang sama dengan satu tujuan, yaitu mendekati Takeshi.
Hal yang kuinginkan bukanlah menjadi kekasih
Takeshi, melainkan menjadi teman yang bisa berdiri sejajar dengannya.
Karena itulah, aku menyamar menjadi laki-laki dan
bertingkah laku semirip mungkin dengan Takeshi.
Tentu saja, ibuku dan adikku Karina sepertinya
benar-benar kehabisan kata-kata melihat kelakuanku itu.
Takeshi masuk ke SMA Hanatsuki demi meraih
mimpinya menjadi seorang Hunter, dan tentu saja aku juga mengikutinya.
Di sanalah, sebuah elemen asing bernama Tsukishiro
Kain bergabung bersama kami.
Pria yang tidak memiliki ciri khas yang menonjol
itu dengan cepat menjadi teman Takeshi, dan kami bertiga pun mulai sering
bermain bersama.
Hubungan kami mulai mengalami perubahan pada suatu
pagi buta di musim panas yang gerah.
Karena tidak bisa tidur nyenyak, aku terbangun
lebih awal dari biasanya dan memutuskan untuk berjalan-jalan di kota demi
mencari udara segar.
Pada saat itulah, di sebuah taman yang kusinggahi,
aku menemukan dirinya.
Di taman itu, seorang remaja laki-laki berambut
abu-abu sedang berlatih kuda-kuda bela diri. Dia adalah Tsukishiro Kain,
temanku di SMA Hanatsuki.
Meskipun kami selalu bertemu di sekolah, entah
kenapa hanya dengan melihatnya sekilas, dadaku terasa sesak karena kesedihan
yang mendalam.
"Loh, aku?"
Saat menyentuh pipiku, aku baru menyadari kalau
air mata telah mengalir. Meski hatiku terguncang oleh perasaan yang sulit
dijelaskan ini, aku tetap menonton latihan kuda-kudanya yang begitu indah
layaknya sebuah tarian.
Saking indahnya pertunjukan bela diri itu, aku
sampai tak sadar memujinya, "Hebat, ya." Namun, karena aku tidak
sedang menyamar sebagai laki-laki, dia tidak mengenaliku sebagai Makoto, dan
hanya memberikan balasan formal layaknya orang asing.
Meskipun dalam hati aku merasa sedikit kesal
mendengarnya berkata, "Terima kasih banyak," aku tetap terus menonton
latihannya sampai selesai.
Semenjak hari itulah, aku mulai sering mengalami
mimpi aneh itu. Di dalam mimpi itu, atas perintah majikanku, aku mengawal
seorang remaja laki-laki bernama Umi secara diam-diam.
Pada awalnya, aku membenci sang majikan yang
memberikan perintah merepotkan ini, tapi itu hanya di awal saja. Setelah terus
mengawasinya selama bertahun-tahun, aku mulai mengetahui kebaikan hatinya,
kemurniannya, serta kekuatan tekadnya, hingga aku pun mulai sangat tertarik
padanya. Lalu pada suatu hari—.
"Terima kasih karena selalu
melindungiku."
Dia menyatukan kedua tangannya menghadap ke arah
yang salah, lalu menggumamkan hal itu.
Skill Stealth milikku tidaklah selemah itu
sampai-sampai bisa dibongkar oleh seorang anak kecil. Buktinya, dia bahkan
berdoa ke arah yang sama sekali salah.
Meski begitu, pada saat itu aku benar-benar
merasakan bahwa semua tindakanku selama ini tidaklah sia-sia.
Namun pada akhirnya, aku malah mengkhianatinya.
Pada hari di mana para vampir menyerang, aku menelantarkannya demi
menyelamatkan nyawa majikanku yang sedang dalam bahaya.
Mimpiku berakhir dengan perasaan sedih dan
penyesalan yang luar biasa kuat.
Aku bisa memastikan bahwa remaja laki-laki yang
kukawal dalam mimpi waktu itu adalah Tsukishiro Kain. Wajah mereka memang
mirip.
Namun, warna rambutnya bukanlah hitam melainkan
abu-abu, dan ia juga terlihat jauh lebih dewasa seolah-olah ia adalah orang
yang berbeda. Walau begitu, kebaikan hati yang tak berujung dan kekuatan tekad
yang takkan goyah oleh apa pun itu, aku tak bisa membayangkan siapa pun selain
dirinya.
Berawal dari insiden di Sweets Wood saat ia
melindungiku dari Tatsuya, perasaan yang baru pertama kali kualami seumur hidup
ini semakin menguat. Lalu, setelah kejadian di kamar mandi waktu itu, aku
dengan jelas menyadari perasaan cintaku padanya.
Sejak saat itu, aku perlahan-lahan mulai
kehilangan kendali atas diriku sendiri. Ironisnya, alasannya adalah karena
temanku sendiri dari Kelas F, Mikage Mashiro.
Bukan karena Karina, bukan pula karena Ran. Bukan
karena Otome Utako, maupun Akizuki Narumi. Hanya satu hal, aku tidak bisa
memaafkan fakta bahwa Mashiro selalu bersama dengannya, karena aku takkan
pernah mau kalah dari gadis itu.
Tepat ketika perasaan tak teridentifikasi itu
terus bergejolak dan aku sudah tak bisa mengendalikannya lagi, insiden latihan
praktik Glorious pun terjadi.
Aku yang berada di kelompok yang sama dengan
Takeshi, digiring masuk ke dalam sebuah toserba yang setengah hancur di bawah
pimpinan para anggota Glorious.
Saat kami kebingungan karena dikepung oleh para
anggota Glorious, sang pemimpin mereka, seorang pemuda tampan berambut pirang
bernama Ukon, melangkah maju ke depan.
"Sebentar lagi, tempat ini akan menjadi
wilayah kekuasaan Spade-sama yang agung. Aku akan memberikan pilihan kepada
kalian. Apakah kalian mau mengabdi pada Spade-sama dan mendedikasikan seumur
hidup kalian sebagai budak, atau kalian ingin mati di sini."
Dia melontarkan omong kosong semacam itu dengan
penuh kesombongan.
"T-Tunggu sebentar, apa ini semacam
ujian?"
Seorang siswa laki-laki berambut hitam pendek
bertanya mewakili keraguan semua orang.
"Pembersihan!"
Bersamaan dengan teriakan kerasnya, seberkas sinar
melesat keluar dari tangan kanan Ukon dan melubangi dada siswa berambut hitam
pendek itu.
Setelah keheningan sesaat, keterkejutan dan
ketakutan pun meledak. Ukon
menembak mati beberapa siswa yang berlarian kabur dalam kepanikan.
"Dengar, sebentar lagi tempat
ini akan menjadi milik Spade-sama dan ras vampir lainnya."
"—!?"
Ras vampir? Tadi dia bilang ras
vampir?
"Kalian, apa kalian telah mengkhianati umat
manusia!?"
Takeshi melontarkan kecaman dengan suara penuh
kepanikan.
"Berkhianat? Sepertinya ada beberapa
kesalahpahaman di sini, kami ini bukan lagi monyet manusia rendahan. Kami
adalah manusia super yang telah berevolusi setelah menerima kekuatan baru dari Spade-sama!"
Begitu ya. Mereka ini adalah antek-antek dari para
kelelawar itu. Kaki tangan dari vampir-vampir keparat yang telah merebut Umi
dariku saat itu....
Kakiku perlahan melangkah maju ke arah mereka.
"Ma-Makoto, jangan! Sekarang bukan
waktunya—"
Takeshi mencengkeram bahu kananku dan mencoba
mencegahku dengan suaranya, tetapi aku menepisnya dan terus berjalan perlahan
menuju Ukon.
Aku tidak bisa memaafkan—diriku di masa lalu yang
terlalu lemah dan kalah cepat dari para vampir itu hingga gagal menyelamatkan
Umi!
Aku juga tidak bisa memaafkan—diriku yang sekarang
yang masih menganggap vampir semacam itu sebagai eksistensi kuat yang tak bisa
dikalahkan!
"Kau ini—"
Ukon mencoba mengatakan sesuatu, tetapi hawa
dingin yang meluap dari tubuhku layaknya aliran arus deras langsung membekukan
mereka semua dalam sekejap mata.
"Apa aku terlambat...."
Saat aku tersadar, di hadapanku telah berdiri
patung-patung es dari para anggota Glorious, beserta seorang Hunter Kelas A,
Amagi Tokisada.
Kami yang telah dilindungi oleh tim Amagi Tokisada
segera dipindahkan dari Kota Yunicho ke zona aman. Aku dipanggil pulang ke
kediaman keluargaku dan dijadikan tahanan rumah di kamarku sendiri.
Dari TV di kamarku, aku mengetahui bahwa Tatsuya
telah menghancurkan dinding hitam. Sang Orang Suci, Mikage Mashiro, juga telah
mengkhianati umat manusia, dan Kota Akigayama beserta Kota Yunicho telah
diduduki oleh para vampir.
Di tengah kekacauan itu, adikku Karina dan juga
Ran sepertinya telah menghilang tanpa jejak.
Tentu saja aku merasa khawatir dengan
teman-temanku yang diculik, dan Karina adalah adikku yang berharga. Perasaan
ingin segera terbang ke sana dan menyelamatkan mereka sudah pasti ada di
benakku.
Namun, aku sama sekali tak bisa mengambil langkah
maju, dan aku juga bisa menebak apa alasannya. Aku pasti merasa takut akan
kehilangan sesuatu lagi, karena situasi saat ini benar-benar merupakan reka
ulang dari mimpi itu.
Di saat aku masih belum bisa mengambil keputusan,
aku menerima sebuah pesan singkat dari Otome Utako. Pesan itu berbunyi—.
"Besok, Kain-kun akan berangkat menuju medan
perang melawan vampir. Ini alamatnya, kalau kamu mau bicara dengannya, ini
kesempatan terakhirmu."
Itulah yang tertulis di sana.
Aku tak bisa lagi menahan diri, segera memakai
sepatu yang kusembunyikan di dalam lemari pakaian, lalu berlari keluar rumah
menuju alamat yang diberikan.
Aku bisa menemui Kain dengan mudah.
Hanya dengan menatap Kain, rasa sedih membanjiri
dadaku, bersamaan dengan perasaan kuat bahwa aku tidak ingin kehilangannya.
Karena itulah, aku berusaha keras meyakinkannya agar mengurungkan niatnya
menyerang para vampir besok.
Namun, hal itu tidaklah mungkin. Setelah berbicara
dengannya, aku menyadari hal itu hingga rasanya begitu menyakitkan.
Jika aku menyerah, dia akan mati. Karena itulah,
aku tak boleh mundur sama sekali, padahal seharusnya begitu, namun—.
"Kalau begitu, berjanjilah padaku. Setelah
kamu mengalahkan para vampir itu, kamu harus terus berada bersamaku!"
Kata-kata yang keluar dari mulutku adalah sesuatu
yang sama sekali tidak kuinginkan. Pada saat yang sama, aku menyadari bahwa aku
yakin dia pasti akan berhasil mengalahkan para vampir itu besok.
Benar sekali. Hal yang sebenarnya sangat
kutakutkan adalah—.
Pada detik berikutnya, ingatan palsu di kepalaku
hancur berkeping-keping layaknya pecahan kaca, dan aku mulai memahami
perasaanku sendiri dengan akurat.
"Kamu tidak mau bilang kalau kamu akan terus
berada di sisiku, ya?"
"Maafkan aku."
"Sudah kuduga... kamu akan kembali ke tempat
asalmu, kan?"
"...."
Berbeda dengan dirinya yang selalu menatap wajahku
saat berbicara, hanya dengan melihatnya menunduk dengan wajah penuh penyesalan,
aku tak perlu lagi mendengar jawabannya.
Tujuannya datang ke tanah ini pasti demi
menyelamatkan Mashiro. Begitu tujuannya selesai, dia akan menghilang dari dunia
ini.
Aku sangat membenci fakta itu. Karena itulah, aku
tidak ingin dia pergi besok.
Bagaimanapun juga, karena ingatan dan kekuatanku
sudah hampir kembali, sebentar lagi aku akan menjadi diriku yang benar-benar
berbeda. Meskipun tak ada bukti apa pun, aku bisa memastikannya, karena
itulah—aku mencium Kain.
Ciumanku yang mungkin akan menjadi yang terakhir
ini, masih terasa sama menyedihkannya, dan membuat dadaku dipenuhi oleh
kebahagiaan.
"Selamat tinggal."
Setelah mengucapkan selamat tinggal untuk terakhir
kalinya kepada Kain, aku kembali ke kediaman keluarga Kuonji dan membereskan
barang-barangku.
Sejak awal, aku bukanlah anggota keluarga Kuonji.
Tak lama lagi, keadaan yang tidak wajar ini akan segera terselesaikan.
Meskipun begitu, bagi diriku yang sekarang, Karina
adalah adikku, dan Kuonji Kyouka adalah ibuku. Karena itulah, aku sama sekali
tak ingin ibuku menatapku dengan pandangan layaknya orang asing.
Karena itulah, agar tidak menimbulkan suara
berisik, tepat saat aku melompat dari jendela ke taman,
"Makoto, kembali ke kamarmu!"
Sebuah suara tegas terdengar dari belakangku. Saat
aku menoleh, ibuku, Kyouka, sedang berdiri di sana dengan ekspresi panik.
Wajahnya terlihat hampir menangis dan penuh
keputusasaan. Tak kusangka ibuku juga bisa membuat ekspresi seperti ini, dan di
tengah situasi yang tidak pantas ini, sambil memikirkan hal itu,
"Ibu, terima kasih untuk selama—"
"Hentikaaan!"
Kata-kataku dipotong oleh jeritan melengking yang
sama sekali tak terduga dari ibuku yang biasanya selalu bersikap tenang.
"Semuanya akan baik-baik saja. Aku pasti akan
menyelamatkan Karina."
Setidaknya, hal itu akan kuselesaikan dengan
mempertaruhkan nyawaku.
"Kumohon padamu. Kembalilah ke kamarmu."
Meskipun aku merasa kewalahan melihat ibuku
memohon sambil menangis tersedu-sedu, aku sekali lagi membungkuk hormat
dalam-dalam, lalu berlari meninggalkan kediaman itu.
◇◆◇
Saat berjalan di jalanan malam, seorang pria
berjenggot yang tak terawat berdiri tepat di hadapanku, dia adalah Amagi
Tokisada.
"Shirou...."
Nama pria tak dikenal keluar dari mulutku.
"Sudah kuduga, sepertinya ingatanmu juga
sudah mulai kembali, ya."
"Iya."
"Tidak ada lagi yang bisa kita lakukan. Kita
hanya bisa menyerahkan tubuh ini pada takdir. Hanya saja, aku berharap—semoga
rekan-rekan kita akan terus tersenyum mulai dari sekarang."
Jadi, itukah yang diinginkan Shirou. Seperti dugaan, Shirou adalah orang
yang hebat.
Tapi kau tahu, aku ini berbeda.
Keinginanku jauh lebih egois dari yang bisa kubayangkan.
Benar sekali. Keinginanku adalah—.
◇◆◇
Aku, Ikushima Takeshi, bersembunyi
di balik bayang-bayang sebuah gedung terbengkalai sembari mengintai daerah
sekitarku, dan targetku pun langsung terlihat.
(Mashiro-chan! Syukurlah kau selamat....)
Melihat sosok Mashiro yang mengenakan pakaian
merah itu baik-baik saja, aku menghela napas panjang dipenuhi rasa lega yang
luar biasa.
Naluri melindungiku yang begitu kuat ini, mungkin
berbeda dengan perasaanku terhadap wanita lain. Ini adalah sesuatu yang lebih
intim dan tak tertahankan.
Seperti, perasaan yang ditujukan pada seseorang
yang sedarah, layaknya kakak beradik....
(Tidak mungkin hal konyol semacam itu nyata....)
Aku ini anak tunggal, dan tidak pernah dengar
kalau aku punya adik perempuan. Seharusnya begitu, tapi entah kenapa ya?
Hanya dengan memastikan keselamatannya, aku
dipenuhi rasa aman seolah-olah seluruh dunia telah diselamatkan.
(Aku harus menyelamatkannya....)
Aku bergumam pelan. Aku tidak percaya Mashiro
bersedia menjadi kaki tangan para vampir atas kemauannya sendiri, dia pasti
sedang dikendalikan.
(Kain, maafkan aku!)
Aku telah datang ke tempat ini tanpa berdiskusi
sedikit pun dengannya. Mengingat dia tinggal satu atap dengan Mashiro, dia
pasti lebih khawatir daripada aku.
Jika itu Kain yang pintar, dia pasti akan
menyarankan metode paling brilian untuk menyelamatkan Mashiro. Namun di saat
yang sama, hal itu sama saja dengan menyeret Kain ke dalam pertarungan melawan
para vampir ini.
Kain adalah salah satu teman yang kumiliki. Aku
takkan pernah membiarkan diriku kehilangannya.
"Mulai sekarang, kita akan memulai eksekusi
terhadap Akizuki Tatsuya dan tiga ekor bocah ini!"
Akizuki Tatsuya diikat di sebuah tiang besi
berbentuk salib, di sebelahnya Akito dan Mikan juga diikat. Kemudian, di
ujungnya, gadis bernama Arisa yang tinggal bersama Mashiro juga ikut diikat.
"Oi! Kalau kau mau membunuh, bunuh saja aku!
Mereka sama sekali tak ada hubungannya, kan!"
Tatsuya berteriak dengan ekspresi
yang sangat panik.
Tatsuya benar-benar telah berubah
setelah dekat dengan Kain. Padahal sebelumnya, dia bukanlah tipe orang yang
peduli pada orang lain di saat nyawanya sendiri sedang terancam.
"Kak Tatsuya...."
"Kakak...."
Kepada Akito dan Mikan yang
berwajah nyaris menangis itu,
"Jangan khawatir! Kakak pasti
akan menolong kalian semua!"
Tatsuya tersenyum dan
mendeklarasikan hal itu dengan penuh semangat.
Sosok Tatsuya yang telah tumbuh
ini juga merupakan harapan dari sahabatku, Kain. Aku sama sekali tak berniat
membiarkan orang-orang rendahan dan vulgar ini merebut nyawanya.
Akan kuberikan nyawaku demi menyelamatkan mereka
semua. Terutama—.
"Orang Suci Mashiro, kaulah yang akan
mengeksekusi mereka!"
Vampir pria dengan lingkar hitam di bawah matanya
mengangkat lengan kanannya dan memberikan instruksi dengan nada gembira.
"Siap, laksanakaaaan. Aku mengerti. Tunggu
ya, aku akan membunuh mereka dengan cepat."
Mashiro melangkah naik ke atas panggung tempat
keempat orang itu diikat sambil membawa sebuah pedang panjang berbilah hitam di
satu tangannya. Aku tadinya mengira Arisa akan ketakutan, namun—.
"Kembalikan Kak Mashiro, dasar iblis
keparaaat!"
Orang yang tinggal bersamanya kini tengah berusaha
membunuhnya. Meskipun begitu, amarah luar biasa yang terpancar dari kedalaman
matanya sama sekali tidak ditujukan pada Mashiro, melainkan hanya pada sang
vampir.
"Jaga bicaramu di hadapan Spade-sama!"
Seorang pria vampir berbaju merah yang sepertinya
seorang prajurit memukulnya dengan wajah penuh amarah.
Meskipun memuntahkan darah segar, Arisa terus
memelototi vampir tersebut.
"Orang Suci Mashiro, ini adalah sebuah ritual
sekaligus sebagai umpan. Kau harus mengeksekusinya secara perlahan-lahan agar
para manusia bisa menontonnya dengan saksama. Apa kau paham dengan hal
itu?"
Saat Spade melirik dan menanyakan hal itu pada
vampir berambut pendek yang tampaknya adalah ajudannya,
"Siap! Kami telah menyiarkan video ini kepada
orang-orang di Asosiasi Hunter!"
Dia menjawabnya dengan sigap sambil menepuk
dadanya dengan kepalan tangan kanan.
"Bagus sekali. Kalau begitu, Orang Suci
Mashiro, mulailah dengan mencincang anak gadis iblis itu terlebih dahulu."
"Nah, mau mulai dari mana? Jari-jari kaki,
hidung, atau telingamu dulu?"
Kepada Mashiro yang mendekati Arisa dengan wajah
tersenyum menyeringai,
"Cepat keluar dari tubuh Kak Mashiro! Dasar monster jelek!"
Arisa meneriakkan caci maki.
"...."
Mashiro menatap Arisa seolah-olah
sedang melihat sesuatu yang tak dapat dipercaya, tetapi,
"Dasar bocah
keparaaaat!"
Urat nadi biru tebal menonjol di
dahi Mashiro. Ia mengangkat pedang panjang berwarna hitam itu dengan wajah
berkerut jelek yang sama sekali tak terlihat seperti Mashiro yang cantik.
"Tidak akan kubiarkan!"
Bersamaan dengan kata-kata
penolakanku, tubuhku bergerak dengan sendirinya.
Aku melompat turun dari atas
gedung dengan kecepatan tinggi dan menahan ujung bilah pedang panjang hitam
milik Mashiro yang diayunkan ke bawah dengan tangan kananku.
"Hah!?"
Aku menempelkan telapak tangan
kiriku ke dahi Mashiro yang matanya membelalak kaget, lalu,
"Faint dan Status
Immunity!"
Aku merapalnya dengan cepat.
"Kukah!"
Mashiro mengejang sejenak,
memutihkan matanya, lalu ambruk ke tanah.
"Unbind!"
Tanpa jeda sedetik pun, aku merapalkan mantera
pembebas untuk melepaskan ikatan mereka semua.
Sesaat kemudian, logam yang mengikat keempat orang
itu menguap dan berubah menjadi partikel kecil yang menghilang di udara.
Inilah kemampuanku yang baru saja
bangkit, Power Word. Lebih tepatnya, aku baru menyadari kemampuan asliku
akhir-akhir ini.
Awalnya aku salah mengira bahwa
kemampuanku ini hanyalah kemampuan tipe dukungan seperti memberikan buff dan
debuff.
Namun, aku segera mengerti bahwa ini
adalah kemampuan untuk mewujudkan apa pun yang kubayangkan menjadi kenyataan
melalui kata-kata.
Yah, meskipun penggunaannya cukup
praktis, ada batas hal-hal yang bisa kulakukan dengan kemampuan ini.
"T-Tangkap mereka semua
sekaligus!"
Suara Spade yang panik menggema,
lalu dari segala arah, rantai-rantai berwarna merah menjalar ke arahku.
Aku mencoba menghindar dan mengambil
jarak, tetapi rantai merah itu mengepungku dengan sangat cepat lalu mengikat
seluruh tubuhku hingga aku tak bisa berkutik.
"Sial! Unbind!"
Rantai merah yang mengikat tubuhku
hancur berhamburan. Namun, masih ada lebih banyak rantai merah lagi yang telah
mengepungku dan membentuk kubah.
(Sialan!)
Jumlahnya benar-benar terlalu
banyak. Efek Power Word milikku hanya terbatas pada jangkauan
penglihatanku.
Terlebih lagi, aku harus
mengucapkan kata-katanya. Jika mata atau mulutku ditutupi, aku tak bisa
mengharapkan kemampuanku ini akan berfungsi.
Tadi, hanya karena disentuh saja, aku merasa
kekuatanku terkuras.
Rantai merah ini pastinya juga memiliki efek
pelemahan dan kelumpuhan, jika begini terus, semua kekuatanku bisa tersegel
sepenuhnya.
Aku mengarahkan dan menunjuk tangan kananku pada
Mashiro, Tatsuya, Akito, Mikan, serta Arisa.
"Cepat, ikat dia!"
Bersamaan dengan instruksi Spade
yang menggema,
"Barrier dan Teleport!"
Aku meneriakkan mantera Power
Word-ku. Tepat setelah itu, sekumpulan rantai merah itu menerjang lalu
membungkam mulutku, hingga aku tak bisa menggerakkan satu jari pun.
Di saat yang sama, Mashiro dan
yang lainnya terbungkus oleh selaput emas berbentuk bola dan melayang di udara.
"G-Gawat!"
Spade berteriak dengan mata
memerah karena panik dan mencoba merapal sihir pada mereka.
Namun, kelompok Mashiro melesat
terbang dengan kecepatan tinggi menjauh dari sana.
"Daa Iyaa! Kejar mereka! Kalau sampai satu
saja yang lolos, kita semua akan dihukum mati oleh Vlad-sama!"
Instruksi tajam pun kembali diserukan,
"Aku tahu walau kau tak mengatakannya!"
Seorang vampir berambut pendek bernama Daa Iyaa
yang memakai pakaian mewah namun berlebihan layaknya bangsawan abad
pertengahan, berlari mengejar ke arah kelompok Mashiro yang terbang menjauh.
"Karena ada Hato di sana, kuharap semuanya
akan baik-baik saja."
Sambil menyeka keringat dingin di dahinya, Spade
menghela napas panjang dan memelototiku dengan tatapan dingin.
"Manusia monyet yang
menggunakan sihir aneh. Sepertinya kau masih sadar meski sudah terkena sihir
penyegelan ini... entah karena instingmu lebih lambat dari dugaanku, atau
mungkin—"
Di saat Spade menyilangkan
lengannya dan bergumam pada dirinya sendiri,
"Kerja bagus! Bocah itulah
Behemoth-nya! Cepat bawa dia kemari!"
Sebuah suara pria yang dipenuhi
kegembiraan terdengar dari atas kepalaku.
"—!?"
Wajah Spade menegang dan ia
langsung melompat menjauh dariku.
"B-Bocah ini adalah... sang
Behemoth...."
Dia menatapku dengan pandangan
seolah-olah sedang melihat sesosok monster.
Dari balik sorot matanya, terpancar
perasaan takut yang sama sekali tak terbayangkan dari ras vampir yang mengklaim
diri mereka sebagai ras terkuat.
"K-Kalau begitu, segeralah
antar Sang Leluhur ini ke hadapan Vlad-sama!"
Sangat berlawanan dengan sikap
dominannya tadi, Spade kini berdiri tegap sambil gemetaran, lalu memberi
perintah kepada ajudan vampir berambut pendeknya.
"T-Tuan Spade, s-saya yang
harus melakukannya!?"
Ajudan berambut pendek itu
menunjukkan raut wajah seolah dunia akan kiamat saat meminta agar dibebaskan
dari tugas tersebut. Namun,
"Aku harus memimpin operasi penaklukan para
manusia di sini. Jadi, sisanya aku serahkan padamu."
"Ba...iklah."
Vampir berambut pendek itu memerosotkan bahunya
pasrah. Dengan tangan yang gemetaran dan takut-takut, ia mengangkatku dan
menaruhku di bahunya, kemudian ia membawaku terbang dengan menaiki makhluk yang
mirip seperti kelelawar.
◇◆◇
Setelah terbang selama kurang lebih 15 menit
menggunakan makhluk mirip kelelawar itu, aku diturunkan di sebuah taman penuh
bunga-bunga merah cerah yang bermekaran di pusat Distrik Adachi.
Di taman itu, seorang vampir tampan berambut merah
sedang menungguku.
Di kedua sisinya, tampak vampir berambut pirang
dengan penampilan seperti DJ, dan seorang remaja berpotongan rambut hitam
asimetris berdiri mendampinginya.
Di bagian tengah taman, kristal-kristal tajam
tersusun rapi membentuk lingkaran.
Di tengah-tengahnya, terdapat sebuah mimbar dengan
gambaran lingkaran sihir di atasnya, serta sebuah benda yang tertutup kain
hitam diletakkan di sana.
"Nero, cepat mulai ritualnya!"
Vampir tampan berambut merah itu memberikan
instruksi dengan nada seakan bernyanyi kepada remaja berambut asimetris bernama
Nero.
"Sesuai perintah Anda."
Nero membungkuk dengan sangat hormat pada vampir
tampan berambut merah itu, lalu menggendongku dengan mudahnya dan
membaringkanku di atas mimbar tempat benda berbalut kain hitam itu berada.
"Apa... yang... akan...."
Aku berusaha sekuat tenaga untuk berbicara, tetapi
tidak berhasil.
Benda yang ditutupi oleh kain hitam ini, terus
memancarkan sihir berwarna biru yang sangat pekat, secara tidak berlebihan
benda ini sangatlah tidak wajar.
Entah kenapa, aku benar-benar tak habis pikir
bagaimana bisa para vampir berambut merah ini tidak menyadari energi sihir
mengerikan tersebut.
"Kalau begitu, mari kita mulai
ritualnya."
Nero mengangkat kedua tangannya dan mulai
merapalkan sesuatu semacam mantera.
Energi sihir berwarna biru itu menjadi semakin
pekat, dan mulai melilit seluruh tubuhku.
"Gugiii!"
Rasa sakit luar biasa seakan-akan ada pasak yang
ditancapkan langsung ke saraf tulang belakangku menjalar ke seluruh tubuh.
Kemudian, benda berbalut kain hitam itu berubah
menjadi gumpalan lendir kental berwarna biru yang menyerupai slime, menempel di
tubuh bagian bawahku dan mulai menyatu denganku.
"Gah! Giii!"
Di saat aku menjerit dan berguling-guling menahan
rasa sakit, entah kenapa aku juga merasakan sensasi nostalgia yang aneh.
Itu adalah perasaan unik di mana jati diriku
seolah-olah ditimpa dan diubah menjadi sesuatu yang jauh lebih besar.
(Hee, kau masih bisa mempertahankan kesadaranmu
rupanya. Seperti dugaan dari sang Behemoth, dewa super yang dianggap Ayah
sebagai saingannya.)
Nero melontarkan pendapat yang sama sekali tidak
bisa kupahami itu dengan senyuman menyeringai yang ditarik hingga ke dekat
telinganya.
"Aku... adalah... Ikushima...
Takeshi...."
Aku memaksakan suaraku untuk keluar sembari
berjuang mati-matian menahan rasa kantuk damai yang sangat kuat dan tak
tertahankan.
Jika aku menyerahkan tubuh ini pada tidur yang
nyaman itu, aku takkan pernah bisa kembali menjadi diriku yang sekarang, karena
aku tahu betul akan hal itu.
"Akan kubantu ritualmu ini! Hei, Club! Bawa
wanita itu kemari!"
"Siap YO! Aku sudah membawanya ZE!"
Vampir berpenampilan seperti DJ yang dipanggil
Club itu menjentikkan jarinya, lalu seorang wanita di atas kursi roda dibawa
keluar dari gedung belakang.
Begitu aku menatap wajah wanita itu—.
"Sakuya?"
Nama wanita yang seharusnya tidak kukenal malah
keluar dari mulutku. Sesaat kemudian—.
"Gaaaaa!"
Rasa sakit yang luar biasa seakan kepalaku baru
saja dihantam palu mendadak muncul.
Saat aku menyadari bahwa rasa sakit itu berasal
dari jumlah ingatan yang sangat besar, kesadaranku perlahan ditutupi oleh kabut
putih yang tebal sebelum mulai memudar.
—Kain, aku—!
Tepat ketika aku menggumamkan kata-kata terakhir
pada sahabatku itu, kesadaranku pun hilang sepenuhnya.
◇◆◇
Energi sihir perak dari Sang Leluhur memancar dan
memenuhi seluruh area sekitar.
Untuk beberapa saat, tidak ada satu hal pun yang
terlihat, sebelum akhirnya angin kencang meniupnya terbang ke atas langit dan
pandangan kembali menjadi cerah.
Di hadapan Vlad dan yang lainnya, terlihat sesuatu
yang menyerupai kepompong berwarna putih keperakan.
"Hei, Nero! Apa Behemoth ada di
dalam sana!?"
Tanpa mengalihkan pandangannya dari
kepompong perak itu, Vlad bertanya pada Nero, namun tidak ada jawaban yang
terdengar.
Dia hanya menggerakkan bola matanya,
menyadari bahwa sosok Nero beserta manusia yang menjadi pasangan Sang Leluhur
itu telah menghilang tanpa jejak.
(Dasar bodoh! Kau terlalu dekat
sampai ikut terserap, ya!)
Sihir dalam jumlah sebesar itu baru
saja dilepaskan. Wajar saja jika bawahan yang bukan vampir menguap dalam
sekejap, apalagi manusia biasa.
Namun, tugas wanita manusia itu dan Nero sudah
selesai.
Vlad telah memerintahkan Nero untuk menanamkan
Permata Penakluk ke dalam gumpalan daging yang ada di dalam kepompong perak
tersebut.
Gumpalan daging itu merupakan pemusatan dari
energi sihir tingkat tinggi yang dikumpulkan dari 10.000 jiwa manusia, 100
vampir bergelar bangsawan, serta 1.000 jiwa vampir kelas rendahan.
Namun, mereka tak lebih dari sekadar manusia serta
vampir tingkat rendah hingga menengah yang dijadikan tumbal. Andaikan menetas
pun, kekuatannya saat ini seharusnya tidak akan mampu menandingi Vlad.
Inti dari kehebatan Sang Leluhur bukanlah
kemampuan fisik maupun tingginya energi sihir, melainkan kemampuan istimewa
yang disebut Phantasm. Jika Vlad merasuki dan mengambil alih raga Sang
Leluhur yang sedang melemah, ia pasti bisa menggunakan Phantasm dengan
tetap mempertahankan kekuatannya yang sekarang.
Bila hal itu terwujud, ia akan mampu bertakhta di
dunia ini sebagai Dewa Agung yang mutlak.
"Dengan begini, aku tak perlu lagi
mencemaskan pandangan para bajingan dari pihak jahat maupun kubu surgawi!"
"Selamat untuk Anda ZE! Tuan Vlad!"
Mendengar tepuk tangan dari Club, pipinya merekah
membentuk seringai puas tanpa bisa dicegah. Begitu kepompong ini menetas dan ia
merebut kekuatan Sang Leluhur Behemoth, Vlad akan menjadi penguasa dunia ini,
baik secara nama maupun kenyataan.
Tepat saat ia tengah membayangkan masa depan yang
gilang-gemilang itu—.
—Tuan Vlad, pasukan manusia telah menyerbu kemari!
Laporan dari Spade seketika menghancurkan
segalanya.
"Pasukan monyet manusia katamu!? Tangkap saja
kroco-kroco itu dan jadikan makanan bagi para bawahan! Jangan repot-repot
melapor padaku untuk hal sepele!"
—Tsukishiro Kain telah terkonfirmasi berada di
antara mereka. Anda memerintahkan saya untuk segera melapor jika berhasil
melacaknya, karena itulah saya menyampaikannya!
"Tsukishiro Kain... ya...."
Pria itu telah membantai beberapa rekan sesama
kaum vampir. Fakta bahwa ia mampu mengalahkan kaum vampir sudah cukup
membuktikan bahwa ia adalah sesosok dewa.
Terlebih lagi, tak diragukan lagi kalau
kekuatannya teramat dahsyat. Pria itu juga tampaknya menaruh perhatian khusus
pada putri Behemoth yang bernama Mikage Mashiro.
Kemungkinan besar, ia adalah dewa yang memiliki
ikatan mendalam dengan Behemoth di masa lalu.
"Kalau begitu, mari kita buat pukulan penentu
di sini!"
Sosok yang akan dirasuki adalah Sang Leluhur
Behemoth, jadi wajar bila ada sedikit rasa cemas. Namun, jika ia menggelar
ritual penaklukan dengan mengorbankan dewa pelindung tanah ini, merasuki
Behemoth yang telah melemah semestinya menjadi perkara yang amat mudah.
Pihaknya saat ini menyandera Mikage Mashiro.
Selama menjadikan gadis itu sebagai tameng untuk mengancamnya, kemenangan
mereka takkan pernah goyah.
"Aku mengerti. Aku akan segera ke sana.
Jangan sekali-kali membunuh Tsukishiro Kain sampai aku tiba! Tangkap saja dia
hidup-hidup!"
—Sesuai kehendak Anda!
Mendengar sahutan Spade yang bersemangat, sudut
bibirnya terangkat membentuk senyuman—.
"Segalanya berjalan persis seperti yang
kuinginkan! Rasanya sungguh luar biaaasaaa!"
Sambil berseru girang, Vlad pun melesat menuju
neraka duniawi demi meringkus Tsukishiro Kain.
◇◆◇
Akizuki Tatsuya adalah seorang berengsek tulen
yang diakui oleh dirinya sendiri maupun orang lain. Menindas yang lemah dan
menjilat yang kuat, begitulah jalan hidup yang ia jalani belakangan ini.
Namun, saat masih belia dulu, Tatsuya pun pernah
bercita-cita menjadi pahlawan yang menolong kaum tertindas dan menumpas
kejahatan besar. Keyakinan itu perlahan terlupakan seiring dirinya menyadari
betapa minimnya bakat yang ia miliki.
Tetapi, Tatsuya kemudian mencari masalah dengan
pria itu, kalah secara mutlak tanpa perlawanan, hingga akhirnya diusir dari
keluarga Akizuki.
Ironisnya, berkat kejadian itulah ia bisa menjadi
murid pria itu dan kembali menyadari tujuan asalnya, sosok pahlawan yang dulu
pernah ia impikan.
"Kalian tidak apa-apa!? Masih sanggup
lari!?"
Sambil menggendong Mashiro di punggungnya, ia
menggenggam tangan Akito dan Mikan, lalu berseru kepada Arisa yang berlari di
sisinya.
"Iya!"
"Aku tidak apa-apa!"
"Serahkan padaku!"
Akito, Mikan, dan Arisa menjawab dengan senyuman
meski napas mereka terengah-engah. Pasti terasa sangat berat bagi mereka, namun
anak-anak ini berusaha mati-matian mengimbangi kecepatan langkah orang dewasa
seperti Tatsuya.
Tepat saat mereka berempat nyaris dieksekusi tadi,
berkat kemampuan Ikushima Takeshi, kekangan pada tubuh Tatsuya dan yang lainnya
berhasil dilepaskan, lalu mereka terlempar melintasi jarak yang cukup jauh.
Skill bawaan Tatsuya awalnya dianggap sebagai Super
Strength, kemampuan yang melipatgandakan kekuatan fisik beberapa kali
lipat. Namun, kemampuan sejati yang ditunjukkan oleh sang Guru adalah Bestowal,
kekuatan untuk menganugerahkan berbagai sifat pada bermacam objek.
Bahkan sang Guru sendiri sempat terkejut melihat
kemampuan ini, jadi tampaknya kemampuan tersebut memang sangat langka.
Saat ini, berkat kemampuan Bestowal
miliknya, kecepatan lari mereka semua meningkat berlipat-lipat. Di seberang
jalan itu adalah wilayah kekuasaan pihak manusia.
Begitu berhasil menyeberang ke sana, para vampir
takkan bisa lagi menyentuh mereka.
(Kami selamat!)
Namun, saat jarak tersisa tinggal puluhan meter,
tubuh Tatsuya dan yang lainnya mendadak berhenti total. Kekakuan tubuh yang tak
wajar ini kemungkinan besar berasal dari semacam mantra sihir.
"Benar-benar merepotkan, ya."
Dari balik punggungnya, terdengar suara Mashiro
yang sarat akan kekesalan mendalam. Gawat sekali, rupanya ia sudah sadar
kembali.
Dari nada bicaranya, Mashiro yang sekarang adalah
orang yang sama sekali berbeda. Sudah hampir pasti tubuhnya telah dirasuki oleh
vampir.
Karena itulah, Tatsuya mengira bahwa membawa
tubuhnya keluar dari wilayah kekuasaan vampir akan mampu memisahkan si vampir
secara paksa dari tubuh Mashiro.
Kini, pilihan yang tersisa bagi Tatsuya sudah
sangat terbatas.
Ia menganugerahkan sifat Dispel
kepada semua orang. Disertai suara gemerincing seperti kaca yang pecah
berantakan, kebebasan gerak tubuh mereka pun kembali.
"O-Orang ini... menumpuk
mantra untuk membatalkan sihirku!?"
Mengabaikan Mashiro yang memekik
kaget,
"Akito, Mikan, Arisa, lari!"
Tatsuya meneriakkan instruksinya.
"T-Tapi..."
Melihat keraguan ketiga anak itu,
"Cepat lari, jangan banyak tanya!"
Begitu dibentak, mereka saling berpandangan lalu
kembali berhamburan lari. Akan tetapi—.
"Aduh, aduh, untung saja aku tiba tepat pada
waktunya."
Tepat di jalur lari ketiga anak itu, seorang
vampir berambut pendek dengan pakaian megah bak bangsawan abad pertengahan, Daa
Iyaa, telah berdiri angkuh sambil berkacak pinggang.
◇◆◇
Setelah digiring kembali ke tempat eksekusi tadi,
Tatsuya dan yang lainnya diikat lalu diempaskan begitu saja ke lantai.
"Orang itu berhasil
menetralkan efek mantra sihirku."
Vampir yang merasuki tubuh Mashiro
memberikan laporan kepada Spade dan Daa Iyaa.
"Hah? Hato, mantra sihirmu
berhasil ditangkal oleh monyet ini? Menggelikan sekali! Orang ini jelas-jelas cuma manusia kera biasa,
tahu?"
Daa Iyaa memandang rendah ke arah Tatsuya dengan
sorot mencemooh, lalu meludah jijik.
"Tapi itu kenyataannya. Yah, mungkin saja
raga ini yang membatalkan mantranya secara sepihak, sih."
Hato bergumam kesal sembari memandangi sekujur
tubuh Mashiro sekali lagi.
"Jadi tubuh putri Behemoth itu yang
menolaknya, ya. Raga itu adalah kartu as untuk menyegel Behemoth serta dewa
tanah, Tsukishiro Kain. Kita akan sangat kerepotan jika ia bertindak sesuka
hatinya lebih dari ini!"
Spade menyindir Hato dengan tatapan mata menyipit
separuh.
"Aku tahu, kok. Tapi tenang saja! Aku sudah
sangat paham cara menghancurkan putri Behemoth. Pertama-tama, biarkan dia
membunuh anak oni di sana—"
Pedang panjang hitam termanifestasi di tangan
kanannya saat ia mulai melangkah mendekati Arisa.
"Jangan harap kubiarkan!"
Tatsuya menyematkan sifat Destruction pada
seluruh belenggu yang mengikat mereka. Disertai bunyi patahan logam yang berdentang
nyaring, belenggu-belenggu itu hancur berkeping-keping.
Tanpa membuang waktu sedetik pun,
ia mengerahkan sisa energi sihirnya yang menipis untuk menyematkan efek Barrier
pada semua orang. Seketika itu pula, dinding tak kasat mata muncul melindungi
sekeliling mereka.
"Oho, pelindung sihir,
ya."
Daa Iyaa memanifestasikan sebuah
tombak di tangan kanannya lalu menghunjamkannya ke depan. Permukaan pelindung
itu seketika retak menyerupai jaring laba-laba.
"Tapi Hato, ini bukan sesuatu
yang perlu kaukhawatirkan sampai segitunya. Benda seringkih ini bisa
kuhancurkan dalam sekejap."
Sembari menyunggingkan seringai
meremehkan, Daa Iyaa memutar-mutar tombak di tangannya dengan santai.
"A-Aku cuma memastikan saja! Biar
bagaimanapun, wanita ini memang biang masalahnya!"
Wajah Hato memerah padam sembari memanyunkan
bibirnya saat membela diri.
"Seharusnya mereka sudah tiba
sebentar lagi..."
Tepat ketika Spade menggumamkan hal
itu pada dirinya sendiri—.
—Target paling penting, Tsukishiro
Kain beserta beberapa manusia lainnya telah terdeteksi. Segera memulai
penyerangan!
Suara seorang pemuda terdengar
menggema dari arah langit.
(Guru!?)
Hanya dengan mendengar nama itu
disebutkan, hati Tatsuya seketika terasa bagai diterangi lentera di tengah
pekatnya malam. Sosok itu adalah sang Guru sekaligus pahlawan sejati yang
menjadi panutan hidupnya!
"Rupanya mangsa kita akhirnya menampakkan
diri."
Sembari menjilat bibirnya, Daa Iyaa menggenggam
tombaknya dan menyunggingkan seringai yang menyeramkan.
"Baguslah kalau begitu. Sekalian saja kubunuh
anak oni ini tepat di depan mata kekasih tercintanya. Cara itu pasti jauh lebih
ampuh untuk menghancurkan jiwanya."
Raut wajah Hato terdistorsi oleh kenikmatan yang
keji. Paras itu sejatinya seelok dewi, namun di mata Tatsuya saat ini,
penampakannya terlihat begitu menjijikkan.
"Kalau begitu, aku akan menyampaikan hal ini
kepada Tuan Vlad sesuai rencana!"
"Menaklukkan seekor dewa tanah dan kawanan
manusia itu sih perkara mudah. Sembari membunuh waktu, bagaimana kalau kita
bertaruh seperti biasa?"
Daa Iyaa menatap ke arah Tatsuya dan anak-anak,
lalu meminta persetujuan dari para vampir di sekitarnya.
"Ide bagus. Menyingkirkan satu ekor saja
takkan mengacaukan rencana, justru bisa menjadi pertunjukan hiburan yang
menarik saat Tuan Vlad tiba nanti."
"Benar juga... Baik, kita
tentukan taruhannya!"
Spade menjentikkan jarinya, lalu
dari balik bayang-bayang gedung terdengar suara gemuruh langkah kaki seekor
monster ular bermata satu dan berwajah manusia yang merayap mendekat.
"Menyantap bocah monster
hidup-hidup! Bagaimana
menurut kalian!?"
"Astaga, kau ini selalu saja punya ide sekeji
itu."
Menanggapi komentar Hato yang
terdengar agak jengah,
"Tentu saja! Taring Ular
Iblis Bermata Satu milikku ini memiliki efek bius dan kelumpuhan tingkat
tinggi. Artinya, mangsanya takkan bisa mati dengan cepat! Jadi, ia bisa
menikmati sensasi disantap hidup-hidup sampai detik-detik menjelang ajal! Seberapa lama monyet ini mampu bertahan?
Ayo, pasang taruhan kalian!"
Dengan nada suara riang, ia membeberkan penjelasan
yang mengerikan itu hingga mengundang sorak-sorai dari kawanan vampir di
sekeliling mereka.
"Sepuluh menit, seratus ribu
Gold!"
"Dua puluh menit, lima ratus
ribu Gold!"
"Lima menit, tiga ratus ribu
Gold!"
Melihat para vampir yang bersuka
cita ikut serta dalam taruhan yang begitu biadab dan tak berperikemanusiaan
ini, Tatsuya benar-benar tak habis pikir.
"Jangan bercanda, keparat! Kenapa kalian tega
melakukan hal sekeji ini!?"
Tatsuya memekik sekuat tenaga
dengan penuh amarah.
"Tentu saja karena ini menyenangkan. Bagi
makhluk spiritual murni seperti kami, rasa bosan adalah musuh terbesar kami,
tahu."
Hato membalas kemarahan Tatsuya
dengan nada enteng yang menusuk hati.
"Ayo, bertahanlah sekuat tenaga dan terus
pasang pelindungmu itu. Jangan sampai permainan ini selesai terlalu cepat,
ya?"
Seakan digiring oleh seringai mengejek Daa Iyaa,
ular berwajah manusia itu mulai merayap perlahan mendekati Akito dan Mikan.
"Sialan kau...!"
Ia takkan menyerah. Tatsuya bersumpah akan
melindungi anak-anak ini dengan segenap jiwanya sampai sang Guru tiba.
Dengan sisa tenaga yang nyaris habis, ia terus
mengalirkan energi sihirnya ke dalam Barrier yang melindungi mereka.
◇◆◇
Saat aku, Tsukishiro Kain, tengah berjalan bersama
Akutsu Arata dari perbatasan wilayah manusia menuju area kekuasaan vampir,
sebuah lingkaran sihir raksasa tiba-tiba muncul di hadapan kami. Sosok yang melangkah keluar dari
sana adalah—.
"Ahahaha... Kalian semua
selamat, ya!"
"Kain-kun!"
"Kain! Akhirnya kita bisa bertemu!"
Karina dan Ran langsung berlari mendekat ke
arahku.
Selain mereka, tampak pula Sakuraba Tatsuki, Arima
Hayato, Kuroki Akira, dan seluruh rombongan yang sebelumnya mengikuti sesi
latihan di Gerbang Hitam.
"Kalian sebenarnya dari mana dan habis
melakukan apa?"
Mendengar pertanyaan polos yang kulontarkan,
"Dari mana, katamu..."
Karina memegangi kepalanya dengan tatapan kosong
sembari mengerang pilu.
"Apa yang... apa yang... apa yang kami
lakukan..."
Wajah Ran memucat pasi sembari memeluk tubuhnya
sendiri layaknya merapalkan sebuah mantra.
Jika dibandingkan dengan saat di labirin dulu,
gestur tubuh setiap orang kini tampak jauh lebih terlatih dan terasah. Namun di
sisi lain, sebagian besar dari mereka mendadak bersikap sangat murung dan
pendiam, menggumam sendirian, atau tertawa cekikikan tanpa sebab, seolah
kewarasan mereka sebagai manusia telah remuk di suatu tempat.
Sebenarnya apa yang baru saja mereka alami di
sana?
"Jadi, kalian semua berniat untuk ikut
bertempur bersamaku?"
"""Tentu saja!"""
Mereka serempak meraung layaknya kawanan binatang
buas. Jelas ada yang
tidak beres dengan mereka.
"Jalan di depan ini adalah medan kematian,
apa kalian benar-benar yakin?"
Mendengar peringatanku,
"Tentu saja yakin! Meski disebut medan
kematian, ini pasti jauh lebih mendingan daripada latihan spartan dari Haku-san
dan Byakko-san! (Dipukuli, ditendang, dibekukan, kami sudah berkali-kali nyaris
mati di sana...)"
Ran awalnya berbicara dengan nada riang dan
tersenyum, namun sedetik kemudian ia langsung memegangi kepalanya sembari
meneteskan air mata.
"Aku sendiri ditendang sampai sekarat oleh
Dewa Kelinci. Benar-benar secara harfiah sampai mau mati... Ah, aku juga sempat
dipanggang sampai jadi ayam bakar oleh Kaisar Naga Merah..."
Karina menimpali dengan tawa kecil
yang terdengar begitu hampa.
"Kalian masih mending! Aku
ini setiap hari dipaksa sparing melawan Raja Iblis Kerbau itu, tahu! Orang itu sama sekali tidak bisa menahan
diri, jadi aku berkali-kali nyaris tewas! Kalian tahu tidak, disentuh sedikit
saja lenganku bisa langsung copot! Itu benar-benar mimpi buruk!"
Dengan mata memerah, Arima menggerak-gerakkan
jemarinya dengan gusar.
"Ah, kalau aku digerogoti oleh Dewa
Kerakusan. Gara-gara itu, aku jadi luar biasa mahir dalam sihir pemulihan diri
sendiri, lho."
Seorang siswa bermata sipit berucap dengan
senyuman santai, yang seketika disahuti oleh yang lain,
"""Itu sih kelewat
kejam!"""
Komentar mereka bertumpuk dengan sangat kompak.
Entah mengapa, meski nama-nama yang mereka
sebutkan sama sekali tidak kukenal, aku bisa membayangkan garis besar latihan
berat yang mereka jalani. Entah bagaimana cara mereka bisa berkembang sedahsyat
ini dalam waktu yang sesingkat itu, namun yang terpenting adalah mereka
tampaknya telah bertemu dengan sosok guru yang hebat.
Bagaimanapun juga, ada satu hal yang ingin
kupastikan saat ini.
"Demi apa kalian bersedia mempertaruhkan
nyawa kali ini?"
Mendengar pertanyaanku, mereka semua serempak
menyunggingkan senyuman.
"Sudah jelas, kan! Demi menyelamatkan
rekan-rekan kita!"
Kuroki Akira berseru lantang.
"Benar, aku sendiri yang akan
menyelamatkan orang itu dengan tanganku ini!"
Karina turut mendeklarasikannya dengan pipi yang
merona tipis.
"Aku juga, rasanya hidup jadi hambar kalau
Mashiro sampai tidak ada."
Ran menarik topinya ke bawah sembari memalingkan
muka.
"Barusan di dalam hatimu kau menganggap
Mashiro sebagai rival, kan? Mengaku saja!"
Karina langsung memeluk leher Ran sembari terus
menggodanya tanpa henti.
"B-Berisik! Lepaskan aku!"
Melihat mereka berdua yang asyik bercanda, Arima
pun menyeletuk.
"Aku punya utang budi pada
mereka berdua. Dan aku bukan tipe orang yang suka membiarkan utang menumpuk.
Aku harus segera melunasinya. Lagipula, sifatku ini memang agak busuk, sih.
Melihat kelelawar-kelelawar sialan itu diperdaya oleh manusia yang mereka
anggap lemah adalah tontonan yang paling memuaskan! Anggap saja ini sekaligus
menyalurkan hobiku!"
Arima mengutarakannya dengan raut
wajah yang tampak sangat menikmati suasana.
"Hobi yang benar-benar
merepotkan orang lain, ya."
Menanggapi celetukan Arata yang menghela napas,
(Yah, lagipula aku juga ingin menguji ilmu bela
diri warisan Tuan Ladon serta berkat perlindungan yang kudapat dari Raja Iblis
Kerbau, sih.)
Arima bergumam pelan sembari memutar sepasang
golok naga dengan lihai lalu menyandarkannya di pundak.
"Aku juga pasti akan menyelamatkan
Mashiro-san!"
Sakuraba mengepalkan tinju kanannya kuat-kuat
dengan tatapan mata yang siap menyongsong takdir.
Intinya, mereka hanya ingin menyelamatkan rekan
mereka, Mashiro dan Tatsuya, dengan tangan mereka sendiri. Karena aku pun
merasakan hal yang serupa, aku sangat memahami jalan pikiran mereka.
Jika demikian, kami adalah kawan seperjuangan yang
berbagi tujuan yang sama. Menanyakan tekad bertarung mereka lebih jauh lagi
rasanya hanya akan membuang waktu.
"Kalau begitu, mari kita bergerak!"
Kami pun melangkah melewati garis perbatasan.
Di seberang sana, barisan pria dan wanita
berseragam militer merah tengah menatap kami dengan seringai mengejek.
Di sekeliling mereka berkerumun kawanan monster
mengerikan: Cockatrice berkepala ayam dengan sayap kelelawar dan ekor ular,
monster Naga bertubuh manusia dengan bagian bawah berwujud ular, Gargoyle
berwujud patung batu, Cyclops raksasa bermata satu, serta pasukan kadal raksasa
bersisik biru menyerupai naga yang tampaknya merupakan kartu as mereka.
Semua makhluk ini adalah bawahan vampir,
gerombolan monster kuat yang konon kerap menyulitkan para Hunter... seharusnya
begitu.
Namun entah mengapa, di mataku mereka sama sekali
tidak tampak berbahaya.
"Kain, serahkan para vampir itu pada kalian. Kami yang akan membereskan
monster-monster bawahan mereka."
Setelah melirik sejenak ke arah
Arata, Arima maju ke garis depan, merendahkan kuda-kudanya, dan bersiap dengan
sepasang golok naganya.
"Baiklah."
Aku menarik dua bilah pisau dari
pinggangku lalu mengangguk pelan.
"Ayo kita mulai, Akira!"
Arima berseru kepada Akira yang
berdiri di sampingnya.
"Beres!"
Akira turut menyahut dengan
raungan garang, mencabut belati dari pinggangnya, lalu membungkukkan badan
bersiap menerjang.
"Bantai semua manusia
itu!"
Seorang vampir paruh baya
berseragam militer merah mendorong bingkai kacamatanya ke atas sembari
memberikan perintah kepada pasukan di bawahnya.
Kawanan monster itu pun mulai
bergerak maju merangsek ke arah kami.
"Manusia-manusia ini, boleh kami mangsa,
kan?"
Seekor Gargoyle berwujud patung batu iblis yang
berada di barisan terdepan meminta izin kepada vampir berkacamata yang memimpin
pasukan.
"Terserah kalian! Tapi bocah kecil bernama
Tsukishiro Kain itu harus dibawa hidup-hidup tanpa luka mematikan!"
Sorak-sorai seketika membahana dari kawanan
monster tersebut.
"Aku mau wanita montok yang itu!"
"Kalau begitu, bocah pendek di barisan depan
itu punyaku!"
Tepat saat dua ekor Gargoyle yang melayang di
depan menatap ke arah Karina dan Ran sembari berucap demikian, sosok Arima
sudah berpindah ke belakang kedua monster itu. Detik berikutnya, sepasang golok
naga milik Arima terayun melesat dengan kecepatan tinggi.
"Lho? Apa ini?"
"Kok tubuhku bergeser?"
Garis-garis tebasan seketika merayapi sekujur
tubuh kedua Gargoyle itu sebelum akhirnya hancur terpotong-potong menjadi
serpihan batu.
"Keparat kau!"
Seekor monster Naga berusaha menusuk leher Arima
menggunakan tombaknya, namun Akira melesat melewatinya dalam sekejap mata
sembari menebas putus kepalanya.
Kepala Naga yang terlempar ke udara jatuh
terhempas ke tanah, sementara tubuhnya tumbang menyemburkan darah segar
layaknya boneka yang putus talinya.
"O-Orang-orang ini bukan
lawan sembarangan!"
Monster-monster yang berkerumun
mengeroyok Arima dan Akira seketika terbelah menjadi dua bagian.
"Hahaha! Mantap, tebasannya tidak ada
habisnya!"
Arima tertawa terkekeh-kekeh.
"Mati kau!"
Akira pun melesat gesit di atas tanah, memenggal
kepala Gargoyle dan Naga satu demi satu tanpa henti.
"Jangan sombong kalian, manusia
rendahan!"
Seekor Cockatrice raksasa membuka paruhnya
lebar-lebar dan bersiap menyemburkan napas beracun. Tepat pada saat itu—.
"White Lightning!"
Bersamaan dengan teriakan tanpa rapalan dari Ran,
sambaran petir putih melesat turun dari langit menembus tubuh Cockatrice itu,
menghanguskannya menjadi abu dalam sekejap.
"White Ice."
Dengan sihir tanpa rapalan lainnya dari Ran,
seekor Cockatrice lainnya seketika membeku menjadi balok es, lalu hancur
berkeping-keping di detik berikutnya.
"M-Makhluk apa sebenarnya mereka ini—"
Di tengah seruan panik sang raksasa bermata satu,
Karina melesat masuk ke dalam jangkauannya lalu melayangkan tendangan telak ke
ulu hatinya.
Tubuh raksasa itu meledak hancur sembari terpental
dengan kecepatan dahsyat, menimpa kawanan Gargoyle di belakangnya hingga remuk.
Rekan-rekan yang lain pun bertarung dengan sangat
perkasa laksana singa yang mengamuk.
"Biar bagaimanapun, bukankah kekuatan mereka
sudah terlalu melompat jauh dibanding sebelumnya?"
"Begitulah kelihatannya..."
Aku mengiyakan gumaman Arata yang terdengar agak
lelah itu.
Bukan sekadar masalah peningkatan kekuatan, namun
sikap mental mereka terhadap pertempuran sudah sepenuhnya berubah. Rasa takut
terhadap pertarungan yang dulu menyelimuti mereka kini telah lenyap, berganti
dengan semacam euforia liar yang misterius.
Sosok yang melatih mereka pastilah
seseorang yang sangat haus bertempur.
"Arata, ayo kita maju."
"Ayo."
Aku dan Arata mulai melangkah perlahan mendekati
barisan para vampir.
"Pasukan Naga Biru, lepaskan napas serangan
serentak!"
Dengan suara yang menyiratkan kepanikan, sang
vampir paruh baya berkacamata memberi instruksi kepada kawanan kadal raksasa
biru di belakangnya.
Naga Biru? Makhluk selemah ini mana mungkin
termasuk bangsa naga sejati. Mereka mungkin hanya spesies kadal yang menyerupai
naga, tapi baiklah, akan kuanggap saja begitu untuk saat ini.
"Siap!"
Moncong sekumpulan Naga Biru itu terbuka serentak,
lalu kabut putih pekat disemburkan ke arah kami.
Aku melesat maju beberapa langkah, berdiri tepat
di hadapan mereka, lalu menggunakan pisau di tangan kananku untuk memilin dan
mengendalikan kabut putih yang mengalir deras itu.
"Kukembalikan pada kalian."
Dengan suara pelan dan rendah, aku mengayunkan
pisauku ke depan. Kabut putih yang terlilit di bilah pisauku seketika membesar
berlipat-lipat ganda, lalu berbalik menerjang ke arah para vampir dan monster
bawahan mereka.
"M-Mana mungkin hal seperti ini
terjadi!?"
Gelombang kabut itu seketika menggulung kawanan
Naga Biru layaknya tsunami, membekukan mereka menjadi patung es dalam sekejap
mata.
Serangan itu terus melaju membekukan segenap
monster bawahan hingga akhirnya merangsek ke arah barisan vampir.
"S-Seluruh pasukan, mundur!"
Jeritan panik sang vampir paruh baya terdengar
saat mereka mencoba melompat terbang ke udara untuk menghindar.
"Dunia tidak berjalan semudah itu,
tahu!"
Bersamaan dengan seruan lantang Arata, garis-garis
merah menyala melintas di udara, menebas tubuh para vampir itu hingga terbelah
dua dan berjatuhan ke tanah.
Kilatan merah itu mendarat di tanah,
memperlihatkan Arata yang menyandang pedang besarnya dengan seringai percaya
diri sembari menatap tajam para vampir yang tersisa.
"Benar sekali. Kalian semua ini terlalu
meremehkan bahaya."
Ternyata hanya dengan kekuatan sekadar ini saja
mereka sudah bisa bersikap begitu sombong. Kalau lawannya cuma seperti ini,
mungkin Karina dan yang lainnya pun sanggup membereskannya sendirian.
Konyol sekali, sebaiknya kuselesaikan ini
secepatnya.
Aku merentangkan benang-benang
energi sihir menyerupai jaring laba-laba, memetakan seluruh persendian dan
titik vital para vampir tersebut.
"Tsukishiro Dagger Arts,
Tingkat Menengah—Arachne's Web: Modified."
Seiring terucapnya kata-kata itu, aku mengayunkan
pisauku dengan kecepatan tinggi. Segalanya telah usai.
"K-Komandan! Orang-orang ini
terlalu berbahaya! Sebaiknya
kita mundur dahu... lu?"
Salah satu bawahan vampir paruh baya itu mencoba
memberi saran, namun sebelum sempat menyelesaikan kalimatnya, tubuhnya sudah
hancur berkeping-keping ke segala penjuru.
"Hah?"
Sang komandan vampir menatap bergantian antara
diriku yang tengah menyarungkan pisau dan potongan jasad bawahannya yang
mengenaskan. Wajahnya seketika memucat ketakutan.
"M-Monsteeer...!"
Sambil menjeritkan kata-kata yang sama sekali tak
pantas diucapkan oleh seorang vampir, ia berusaha terbang setinggi mungkin
untuk menjauh dariku. Namun—.
"Eh?"
Garis-garis tebasan seketika merayapi sekujur
tubuhnya, meledakkan serpihan daging ke udara.
"Hiii!"
Jeritan demi jeritan melengking dari sisa pasukan
vampir.
Tepat setelahnya, tubuh mereka meledak secara
berantai. Dalam sekejap mata, seluruh divisi pasukan vampir itu telah musnah
tak bersisa.
"Kain, bagaimana caramu melakukan serangan
barusan?"
Menanggapi pertanyaan Arata,
"Aku hanya menghubungkan ruang di sekitar
mereka, lalu memotong seluruh titik vital dan sambungan tubuh mereka
sekaligus."
Aku memberikan penjelasan secara singkat.
"Kau mengatakannya seolah itu hal gampang,
tapi bukankah teknik itu luar biasa rumit?"
Melihat ekspresi lelah Arata,
"Kalau sudah terbiasa, tidak sesulit itu,
kok."
Mendengar jawabanku,
"Menghubungkan ruang... kurasa itu bukan
masalah sudah terbiasa atau belum, deh. Tapi yah, karena ini Kain-kun, hal gila
seperti itu jadi terasa wajar."
"Iya, kalau itu Kain, keanehan semacam ini
pun masih masuk akal."
Karina dan Ran melontarkan penilaian yang rasanya
agak berlebihan bagiku.
"Ngomong-ngomong Arata, kau juga ikut diseret
ke dalam pelatihan Tuan Ladon dan yang lainnya, kan?"
Mendengar pertanyaan Arima,
"Ladon? Aku tidak kenal orang itu. Tapi
anehnya, kenapa ya... Gerakan barusan seharusnya mustahil bisa kulakukan...
tapi tubuhku bergerak begitu alami tanpa canggung sama sekali..."
Arata menyilangkan tangan di dada
dan mulai berpikir keras dengan ekspresi bingung.
"Sudahlah, abaikan hal sepele itu, ayo kita
maju lebih cepat. Aku mengkhawatirkan Tatsuya!"
Akira memotong kebingungan Arata dan mendesak kami
untuk terus maju.
"Benar. Mari kita lanjutkan perjalanan."
Kami semua mengangguk sepakat, lalu kembali
berlari menerobos medan pertempuran.
Para vampir ini ternyata jauh lebih lemah dari
yang kubayangkan. Inikah yang mereka sebut sebagai medan kematian? Benar-benar
di luar dugaan.
Level musuh seperti ini semestinya bisa ditangani
dengan mudah oleh Karina dan teman-temannya yang sekarang. Terlebih lagi,
mereka hanyalah gerombolan pengecut yang lari tunggang-langgang menelantarkan
rekan-rekan mereka yang tumbang.
"A-Ampuni ak—"
Aku menebas tanpa ragu vampir yang tengah mengemis
ampunan tersebut.
"Sialan..."
Makhluk-makhluk ini bukanlah petarung sejati.
Mereka hanyalah binatang buas tanpa hati manusia yang kebetulan memiliki
sedikit keunggulan fisik.
Kemampuan fisik yang menjadi andalan mereka itu
pun cuma sedikit lebih unggul dari manusia biasa. Dengan tingkat kekuatan
serendah ini, berani-beraninya mereka mengaku sebagai makhluk terkuat!
Mereka tak lebih dari sekelompok kroco tak
bernyali! Menurut mereka, sebesar apa tekad yang kupersiapkan untuk menyongsong
pertempuran ini!?
"Lho?"
Aku menggelengkan kepala kuat-kuat untuk mengusir
pikiran haus darah yang tiba-tiba muncul dan terasa asing bagi diriku ini.
Aku datang menyerbu tanah ini semata-mata demi
menyelamatkan Mashiro dan kawan-kawan, bukan karena ingin mencari lawan tanding
yang kuat. Justru jika musuh di hadapanku ini lemah, bukankah itu malah sesuatu
yang patut disyukuri?
—Halo-halooo! Sudah lama tidak bertemu, atau
mungkin sebaiknya kuucapkan salam kenal untuk sekarang, ya? Pacar kecilnya
Mashiro, namamu saat ini adalah Tsukishiro Kain, kan?
Sebuah suara wanita yang terdengar begitu bening
mendadak bergema di dalam kepalaku.
"Siapa di sana?"
Sambil menutupi telinga kananku, aku berseru
memecah keheningan sembari mengamati area sekitar. Arata dan yang lainnya
spontan menoleh menatapku dengan tatapan bingung.
—Ssst, jangan berteriak tiba-tiba
begitu, nanti kau dianggap orang aneh, lho? Ah, tapi kau kan memang sudah dicap
sebagai orang aneh sejak awal, jadi mungkin sudah terlambat, ya.
Suara wanita macam apa ini? Mengapa kata-katanya
terdengar begitu menjengkelkan? Apakah ia sebangsa roh jahat?
—Kejam sekali menyebutku roh jahat. Tapi karena
aku belum benar-benar mati, bisa dibilang aku ini semacam arwah gentayangan.
Rupanya isi pikiranku bisa terbaca sepenuhnya oleh
pemilik suara wanita ini. Walau begitu, intinya dia tetaplah sebangsa makhluk
halus.
(Sekali lagi kutanyakan. Siapa sebenarnya dirimu?)
Saat aku bertanya di dalam hati, terdengar suara
batuk kecil seolah tengah berdeham,
—Namaku Mikage Sakuya, ibunda dari Mashiro.
Ia melontarkannya dengan nada mendayu bak seorang
penyair keliling, membuatku bingung harus merespons seperti apa.
(Katakanlah kau memang benar ibu kandung Mashiro,
lalu untuk apa kau mendatangiku? Bukankah seharusnya kau berada di sisi Mashiro
untuk menemaninya?)
—Dari dulu aku memang selalu bersamanya, tahu!
Tapi aku baru saja diusir keluar oleh rubah betina vampir sialan bernama Hato
itu!
(Diakali dan diusir... begitu,
ya...)
Aku memang sudah menduga bahwa
tubuh Mashiro tengah dikendalikan oleh para vampir. Hal yang paling
kukhawatirkan adalah—
—Benar sekali, Mashiro saat ini
pasti sedang terlelap tidur sambil bermimpi tentang masa kecilnya.
Mendengar suara ibunda Mashiro
yang bergumam dengan nada agak sendu,
(Kalau sedang terlelap, artinya
kondisi Mashiro baik-baik saja, begitu?)
Didorong oleh dorongan emosi yang
meluap dari dalam dada, aku menanyakannya dengan penuh harap.
—Iya, meski sudah terusir keluar,
jiwaku masih terhubung dengan raga Mashiro. Kesuciannya pun masih aman terjaga,
kok.
(Begitu... syukurlah...)
Kami masih belum terlambat.
Mengetahui fakta itu saja sudah cukup membuatku menghela napas panjang,
diselimuti rasa lega yang begitu luar biasa hingga pandanganku terasa
berkunang-kunang.
—Oho, tumben sekali kau bisa
merasa lega dan bersukacita secara terang-terangan begini.
(Nada bicaramu terdengar janggal
sekali. Bukankah ini
pertemuan pertama kita?)
Sebenarnya karena hanya berupa kontak suara,
menyebutnya sebagai pertemuan pertama pun terasa kurang tepat.
—Tidak juga, kok. Aku selalu mengawasimu dari
dalam diri Mashiro selama ini. Kau ini pemuda pengecut yang bahkan tidak berani
menyelinap ke ranjangnya padahal tinggal di bawah atap yang sama, kan?
(Menyelinap ke ranjang gadis!? Hal semacam itu
justru sangat tabu untuk dilakukan, kan!)
—Kenapa memangnya? Menyatukan raga dan jiwa itu
rasanya sangat membahagiakan, lho?
(Kau ini ibunya Mashiro, kan! Bercanda pun ada
batasnya, ada hal yang pantas diucapkan dan ada yang tidak!)
—Di zaman mana pun, seorang ibu pasti selalu
menginginkan kebahagiaan bagi anak gadisnya.
Mendengar tawa renyah sang ibu,
kepalaku mendadak terasa berdenyut pening.
(Tolong berhenti bersikap sok
tahu! Pertama-tama, Mashiro
itu sangat membenciku. Kalau aku sampai berani melakukan hal lancang seperti
itu, leherku pasti sudah ditebas putus oleh pedang sucinya!)
Kenyataannya, ia memang pernah mengancam, 'Kalau
kau berani menyerangku, akan kutebas lehermu sampai mati', dan ia selalu
menunjukkan penolakan keras bahkan saat hanya terjadi kontak fisik ringan.
Yah, karena reaksinya yang menggemaskan itulah aku
jadi sering menggodanya, sih.
—Kau... benar-benar serius mengatakannya barusan?
Untuk pertama kalinya, nada bicara sang ibu
berubah. Di dalamnya tersirat rasa iba sekaligus kejengkelan yang mendalam.
(Tentu saja aku serius.)
Sejak awal pertemuan kami, Mashiro memang selalu
bersikap canggung dan kaku terhadapku. Istilah kasarnya, kepribadian kami
memang kurang cocok.
Namun bagiku, dinamika hubungan kami yang seperti
itu justru terasa sangat menenangkan.
—Astaga, bahkan setelah kehilangan ingatan pun kau
masih sedungu ini... Aku benar-benar bersimpati pada gadis-gadis yang menaruh
hati padamu. Tapi bagaimanapun juga, aku ini ibunya Mashiro. Sekalipun putriku
menginginkannya, aku tidak bisa membiarkan hubungan setengah matang begini
terus berlanjut. Benar, mungkin meluruskan hal ini sudah menjadi tugasku
sebagai seorang ibu.
(Sejak tadi kau terus bicara melantur, apa
sebenarnya maksudmu?)
—Sebentar lagi, kau harus
mengambil sebuah keputusan besar.
(Keputusan? Keputusan tentang
apa?)
—Keputusan untuk membuang perasaan
itu demi mewujudkan pertarungan hidup dan mati melawan suamiku tercinta.
(Perasaan? Membuangnya? Tolong hentikan teka-teki
tak jelas ini! Sejak tadi kata-katamu sama sekali tidak masuk akal dan
membingungkan!)
—Kau akan segera memahaminya, suka atau tidak
suka. Aku hanya berharap kau bisa mengambil keputusan tanpa meninggalkan
penyesalan.
Usai melontarkan kalimat tersebut, sosok yang
mengaku sebagai ibunda Mashiro itu menutup mulutnya rapat-rapat dan tak lagi
menanggapi topik tersebut.
Sembari membabat habis para vampir yang menghadang
di sepanjang jalan, kami mendadak mendapati diri kami telah dikepung rapat dari
segala arah.
Di tengah barisan vampir yang memberi hormat
serentak, sesosok vampir berambut pendek dengan busana mewah layaknya bangsawan
abad pertengahan melangkah maju menampakkan diri.
"Hei, Dewa Tanah, kehebatanmu lumayan juga,
ya!"
Dewa Tanah? Lagi-lagi sekelompok orang delusional
yang mengoceh tanpa dasar. Biasanya, makhluk-makhluk congkak semacam ini selalu
berakhir jauh di bawah ekspektasi. Karena itulah—.
"Iya, saking membosankannya lawan-lawanku
barusan, aku sampai merasa mual dibuatnya."
Aku menyahut dengan suara yang
sengaja kutinggikan. Entah mengapa, sejak tadi aku kesulitan mengendalikan
gejolak emosiku sendiri.
Sikap ini persis seperti bocah
ingusan yang tengah puber... Yah, mengingat fisikku saat ini memang berada di
usia tersebut, mungkin tidak sepenuhnya salah juga, sih...
"Bicara besar sekali kau!
Atau jangan-jangan kau cuma orang dungu yang tak mampu membaca peta kekuatan
lawan!? Mau yang mana pun alasannya, pasukan di sekelilingmu ini semuanya
adalah prajurit tingkat tinggi. Kekuatan mereka berada di tingkatan yang sama
sekali berbeda dibanding pasukan rendahan tadi! Benar begitu, kan, Spade!?"
Vampir berambut pendek itu menoleh
meminta persetujuan kepada vampir bernama Spade yang berdiri di dekatnya.
"Tentu saja benar sekali!
Pasukan kita ini bahkan sanggup mengimbangi satu kompi penuh dari Korps Iblis
yang legendaris itu, inilah pasukan terhebat yang tiada duanya!"
"Korps Iblis, ya..."
Entah mengapa, nama itu sama
sekali tidak terdengar menakutkan di telingaku. Justru saat mendengar kekuatan
mereka disetarakan dengan 'Korps Iblis', ekspektasiku malah semakin merosot
tajam ke titik terendah.
(Ekspektasi, ya...)
Lagi-lagi perasaan ini muncul...
Mengapa di alam bawah sadarku, aku begitu mendambakan pertarungan melawan musuh
yang tangguh?
—Itu karena itulah keinginan terpendammu yang
sesungguhnya. Kau ini mirip sekali dengan suamiku. Singkat kata, kewarasan
kalian berdua sebenarnya sudah rusak total. Tapi karena kau terus memaksakan
diri berpura-pura menjadi manusia normal berakal sehat, jiwamu jadi tertekan.
Lebih baik jujur saja pada dirimu sendiri.
Aku seakan bisa melihat wajah angkuh Sakuya,
ibunda Mashiro, yang tengah tersenyum congkak di dalam kepalaku, dan hal itu
benar-benar membuatku jengkel. Lagipula—.
(Aku sama sekali bukan maniak bertarung gila
seperti itu. Kalau boleh memilih, aku justru lebih mendambakan kehidupan yang
santai dan tenang.)
—...Kau ini keras kepala sekali sampai ke
akar-akarnya, ya. Sekeras apa pun kau menyangkalnya, jati dirimu yang
sebenarnya takkan pernah bisa kausembunyikan. Tapi baiklah, untuk saat ini
kuanggap saja kau memang berpikir begitu.
Kata-katanya sungguh menyebalkan, namun situasi
saat ini memang tengah berada di medan pertempuran. Sereceh apa pun musuh di
hadapanku, itu bukan alasan untuk lengah dan meremehkan mereka.
"Tampaknya tujuan utama mereka adalah diriku,
jadi biar aku saja yang maju membereskannya."
Aku mencabut dua bilah pisau dari sarung kulit di
pinggangku, lalu mulai melangkah maju mendekati mereka.
"Baiklah, kami serahkan padamu."
Arima mengangguk dengan raut wajah yang tampak
tegang, sementara rekan-rekan yang lain pun tidak ada yang membantah.
Hanya saja—.
『Semangaaat,
semangaaat, calon mantuku tersayaang! Berjuanglah, berjuanglah, wahai
menantukuuu.』
Ibunda yang terlalu bersemangat tanpa alasan yang
jelas. Maksudku, sebentar lagi aku akan membantai orang-orang ini sampai habis,
tapi apa dia benar-benar mengerti situasinya...?
(Begini ya, Ibu, suasananya jadi canggung dan
sangat mengganggu konsentrasiku, jadi bisakah Ibu berhenti?)
—Aduh, "Ibu", panggilan
yang terdengar sangat merdu! Coba panggil begitu lagi!
Suara riang itu terus bergema di
dalam kepalaku. Sudahlah,
sekarang aku harus fokus pada pertempuran.
Meremehkan musuh sama sekali tidak akan
mendatangkan keuntungan apa pun bagi kami. Terlebih lagi, sejujurnya
kesabaranku memang sudah mencapai batasnya.
Gara-gara mereka, muridku Tatsuya terpaksa
mengambil keputusan pahit hingga dicap sebagai musuh umat manusia. Mereka juga
kembali membuat Arisa dan yang lainnya ketakutan.
Yang paling tak termaafkan, mereka telah
menginjak-injak harga diri Mashiro.
"Dewa Tanah! Hanya kau yang akan kami biarkan
hidup untuk dibawa pulang! Kami akan memaksa putri Behemoth membantai anak oni
itu tepat di depan matamu! Dengan begitu, jiwa sang putri Behemoth akan hancur
lebur seutuhnya! Yah, meski ada kemungkinan bocah itu sudah ludes dimakan oleh
mainan milik Spade, sih!"
Seorang vampir berambut pendek dengan pakaian
bangsawan tertawa terbahak-bahak secara vulgar.
"Memang sudah ada perintah tegas agar tidak
menyentuh monster bernama Arisa itu, tapi peliharaan lucuku ini memiliki nafsu
makan yang sangat besar! Jadi, mungkin saja dia sudah tidak tahan lagi lalu
melahapnya sampai habis!"
Spade pun menyunggingkan seringai
mengejek yang begitu memuakkan.
"Semua itu tergantung
seberapa lama bocah bernama Tatsuya itu sanggup mempertahankan dinding
pelindungnya!"
"Dari tampangnya dia kelihatan tidak punya
nyali, jadi kurasa harapannya sangat tipis... eh? Hihi!?"
Mendengar ocehan Spade yang penuh kesombongan itu,
tawa mendadak lolos begitu saja dari bibirku.
"Kuhaha! Kalian ini benar-benar luar
biasa!"
Pikiranku sampai sulit berkonsentrasi karena
amarah yang meluap. Jarang sekali ada yang bisa membuatku semurka ini.
Atau lebih tepatnya, sejauh ingatan yang kumiliki,
ini adalah pengalaman pertama bagiku.
"..."
Vampir berambut pendek dengan pakaian bangsawan
abad pertengahan itu menatapku lekat-lekat dalam keheningan, wajahnya berkedut
tegang.
"Daa Iyaa, kenapa kau malah bengong juga!?
Orang ini sangat berbahaya! Cepat lumpuhkan dia!"
Spade mendesak Daa Iyaa dengan suara melengking
yang pecah karena panik.
"A-Aku tahu! Seluruh pasukan, segera
lancarkan serangan penuh!"
Daa Iyaa memberi komando kepada seluruh prajurit
dengan suara yang sarat akan ketegangan.
Melihat kepanikan yang terpancar jelas dari Spade
dan Daa Iyaa, para prajurit tingkat tinggi itu saling berpandangan sejenak
sebelum akhirnya menghunus senjata, menerjang ke arahku sembari melepaskan
aneka serangan beruntun dari udara.
"Kalian benar-benar telah
membuatku murka!"
Seraya meneriakkan kalimat itu, aku pun larut
sepenuhnya dalam pembantaian mereka.
Kobaran api hitam, badai angin, sambaran petir,
dan tombak-tombak es yang ditembakkan kawanan vampir itu kubelokkan seluruhnya
menggunakan pisauku.
Serangan-serangan itu memantul kembali menelusuri
lintasan asalnya, membakar hangus, mencabik-cabik, serta membekukan tubuh
mereka sendiri.
"Serangan jarak jauh tidak mempan! Habisi dia
dengan keunggulan jumlah dalam pertarungan jarak dekat!"
Di tengah jeritan dan raungan putus asa yang
saling bersahutan, Daa Iyaa melolongkan perintah baru, membuat para prajurit
vampir seketika mengepungku dalam formasi melingkar.
"Kieeee!"
Dua vampir menerjang maju bersisian. Tanpa
mengurangi kecepatan, aku menebas putus kepala salah satu prajurit paruh baya
saat kami berpapasan, lalu menyusup ke celah pertahanan prajurit lainnya untuk
menusuk jantungnya dalam satu gerakan mulus.
Keduanya pun seketika tewas dan roboh tak bernyawa
ke tanah.
Katanya mereka ini prajurit tingkat tinggi kaum
vampir, kukira daya tahan hidup mereka akan sangat luar biasa, namun ternyata
mereka bisa kuhabisi dengan mudah hanya dengan memenggal leher dan
menghancurkan jantungnya. Kemampuan bertarung maupun kekuatan fisik mereka sama
sekali tak ada bedanya dengan para prajurit rendahan.
"Dia menggunakan kekuatan aneh! Semuanya
waspada!"
Seorang vampir paruh baya yang tampaknya merupakan
kapten prajurit tingkat tinggi meneriakkan peringatan konyol semacam itu.
Rupanya gerakanku tadi hanya tampak seperti trik
sihir di mata mereka. Benar-benar
di luar ekspektasi.
"Kalian ini berkerumun
seperti kecoak, menjijikkan sekali..."
Aku mengumpat pelan sembari
merendahkan titik tumpu tubuhku, mencengkeram erat gagang pisau di kedua
tanganku.
"Sesuatu akan datang!
Semuanya pasang kuda-kuda!"
Sia-sia saja. Teknik seranganku
bukanlah sesuatu yang cukup ramah untuk bisa kalian tangkal.
"Lightning Speed."
Bersamaan dengan terucapnya kata
saktiku, lintasan-lintasan cahaya menyambar cepat melintasi udara. Kawanan
prajurit tingkat tinggi vampir itu seketika terhenti mendadak secara tak wajar.
"Apa yang sedang kalian
lakukan!? Cepat tangkap orang itu!"
Wajah Spade terdistorsi oleh
kengerian saat ia memekik histeris, namun kawanan vampir itu tetap bergeming.
Mereka tidak gemetar ketakutan, melainkan mematung kaku tanpa gerakan sedikit
pun, masih memasang ekspresi bengis saat berniat menerjangku tadi.
"Benar kata Spade! Cepat
serang dia bersamaan!"
Daa Iyaa turut berteriak panik,
tetapi mereka tetap tak bergerak sedikit pun. Tentu saja begitu, mereka
mustahil bisa bergerak lagi.
Sebab—.
"Kalian belum menyadarinya
juga?"
Melihat mereka yang begitu dungu
dan menggelikan, amarahku seketika surut berganti rasa iba.
"A-Apa maksudmu!?"
Menanggapi pertanyaan histeris dari Spade,
"Alasan mereka tidak bisa bergerak adalah
karena mereka semua sudah mati."
Aku memberikan jawaban penjelas dengan sangat
ramah dan runtut.
"M-Mati!? Omong kosong macam apa itu—!"
Di tengah teriakan bising Spade yang tak percaya,
aku menghentakkan kaki kananku, meremukkan tanah di bawah pijakanku.
Ratusan prajurit vampir yang mengepung
kami—kecuali Spade dan Daa Iyaa—seketika terpenggal lehernya secara serentak,
lalu kepala mereka berjatuhan menghantam tanah.
Bagaikan mekarnya mawar merah pekat yang menutupi
permukaan bumi, daratan seketika bersimbah darah segar kawanan vampir tersebut.
"..."
"..."
Kedua vampir itu menatap jasad para bawahannya
yang mengenaskan tanpa sanggup berkedip sedikit pun. Riwayat mereka berdua
sebenarnya sudah tamat, tetapi kondisiku yang sekarang tidak cukup murah hati
untuk melepaskan mereka begitu saja.
"Ekiki!"
—Hamba hadir di sisi Paduka!
Begitu melihat sesosok monster
berpakaian hitam dan bertopi bundar yang berlutut di hadapanku,
"Dewa Agung dari Pasukan Kegelapan...!"
Spade memekik putus asa dengan wajah yang pucat
pasi karena ketakutan yang luar biasa. Mendengar sebutan itu, seluruh aliran
darah di tubuh Daa Iyaa seakan membeku seketika.
Dan kemudian—.
Sembari melolong histeris, keduanya berusaha
sekuat tenaga untuk kabur. Akan tetapi—.
Tepat saat Spade dan Daa Iyaa mengambil satu
langkah, garis-garis tebasan tak kasat mata merayapi kedua lengan dan kaki
mereka. Detik berikutnya, anggota badan itu meledak hancur menjadi serpihan
daging yang berhamburan, menyisakan tubuh bagian atas mereka yang terhempas tak
berdaya ke tanah.
Tanpa sudi melirik kedua makhluk yang tengah
melolong kesakitan itu,
"Kumpulkan seluruh informasi yang mereka
miliki."
Aku menjatuhkan perintah yang menjadi vonis
kehancuran mutlak bagi mereka.
—Oh, wahai Dewa junjungan kami, titah Paduka akan
terlaksana!
Ekiki menanggapi perintahku dengan reaksi
berlebihan, menangkupkan kedua tangan seraya meneteskan air mata haru.
"A-Ampuni kami!"
"Aku tidak ada hubungannya dengan semua ini!
Aku hanya menuruti perintah Vlad-sama!"
Rengekan minta ampun dari mereka berdua kini hanya
terdengar layaknya dengungan bising yang mengganggu telingaku.
"Kalian sangat gemar
bermain-main dengan menjadikan orang lain santapan monster, kan? Kalau begitu,
sekarang giliran kalian yang menikmatinya sepuas mungkin.
Bersenang-senanglah!"
Aku tersenyum ramah ke arah mereka
sembari mengacungkan ibu jari.
Tepat saat lolongan keputusasaan
meledak dari mulut mereka, kabut hitam pekat yang merembes keluar dari raga
Ekiki menyelimuti Spade dan Daa Iyaa, melenyapkan keberadaan mereka tanpa
jejak.
"Baiklah, ayo kita lanjutkan
perjalanan."
Aku mengajak yang lain untuk kembali bergerak,
namun tak seorang pun bersuara ataupun beranjak dari tempatnya.
Samar-samar aku bisa memahaminya. Mereka pasti
merasa ngeri melihat diriku yang baru saja membantai kawanan vampir tanpa belas
kasihan sedikit pun.
Awalnya kukira begitu, namun—.
"Kain-kun, tolong jangan terlalu memaksakan
diri."
Karina meletakkan tangannya di pundak kananku,
melontarkan kalimat yang sama sekali tak kusangka.
"Aku memaksakan diri?"
"Iya, Kain-kun yang sekarang terlihat seperti
sedang berusaha keras melawan sesuatu. Tentu saja, aku sama sekali tidak paham
apa yang sedang kauhadapi..."
"Aku sedang berusaha melawan sesuatu...
ya."
Ucapan Karina memang benar adanya. Sensasi ganjil
itu sudah kurasakan sejak beberapa waktu yang lalu.
Terutama setiap kali aku bertarung di tempat ini,
selalu timbul ilusi aneh seolah-olah eksistensi manusia bernama Tsukishiro Kain
ini perlahan terkikis dan berubah menjadi sosok yang sama sekali berbeda.
"Aku juga merasa Kain yang barusan sama
sekali tidak seperti biasanya."
Ran ikut melangkah mendekat, mencengkeram ujung
bajuku sembari mendongak menatap wajahku.
"Mungkin... memang begitu, ya."
Demi mengalihkan suasana, aku membelai pelan
kepala Ran.
"Aku mengkhawatirkan keadaan Mashiro dan
Tatsuya. Ayo kita bergegas."
Tepat saat aku hendak mengajak mereka melangkah
maju,
(Terima kasih karena sudah ikut marah demi anak
itu, ya.)
Akira yang berada di belakangku menggumamkan
kalimat itu dengan suara pelan.
—Teman-teman yang sangat baik, ya.
Mendengar celetukan ibunda Mashiro
di kepalaku,
(Ya, aku benar-benar sependapat
denganmu.)
Aku pun mengangguk setuju di dalam
hati.
◇◆◇
Di ruang tengah sebuah rumah
terapung kecil yang melayang di langit Kota Yunicho, Vlad tengah menyaksikan
rekaman siaran langsung pertempuran di daratan dengan segelas anggur di
tangannya.
"Mana mungkin hal konyol semacam ini bisa
terjadi!"
Melihat pemandangan yang terlampau jauh dari nalar
itu, Vlad membanting gelas anggur berisi darah manusia yang tengah diteguknya
ke lantai hingga pecah berantakan.
Rencana awalnya adalah menilai kekuatan sang Dewa
Tanah, Tsukishiro Kain, lalu menyerap kekuatannya sebelum beralih ke hidangan
utama, yaitu menaklukkan Behemoth.
Namun kenyataannya, bukan hanya kawanan monster
bawahan, bahkan prajurit elit di bawah komando langsungnya pun dibantai habis
dengan begitu mudahnya. Bahkan sosok tangan kanannya seperti Spade dan Daa Iyaa
pun dibuat lumpuh total oleh kekuatan misterius, lalu diseret pergi oleh pria
bertopi bundar dan berbusana hitam pekat.
"I-Itu tadi adalah salah satu pilar Dewa
Agung dari Pasukan Kegelapan! Terlebih lagi tingkatannya sangat tinggi!"
Hawa sihir pria berbusana hitam itu begitu pekat
dan mengerikan hingga bisa dilihat dengan mata telanjang. Perkiraan kasarnya,
kekuatannya setara dengan perwira tingkat kolonel dari Pasukan Kegelapan.
Dan sosok sehebat itu justru menunjukkan sikap
tunduk yang sedemikian rendah di hadapan Tsukishiro Kain. Kemungkinan besar
pria bernama Tsukishiro Kain itu adalah jenderal berbintang dua ke atas dari
Pasukan Kegelapan.
Bisa-bisanya di saat kritis seperti ini, Vlad
justru secara tak sengaja mencari gara-gara dengan Pasukan Kegelapan yang
tiba-tiba turun ke dunia fana.
Meski di hadapan para bawahannya Vlad selalu
bersikap arogan, ia sangat paham betapa dahsyat dan mengerikannya Pasukan
Kegelapan serta Pasukan Surgawi yang membelah alam semesta menjadi dua kubu.
Makhluk-makhluk itu sama sekali tidak mengenal kata kompromi atau negosiasi.
Sekali saja dijadikan musuh, mereka akan
mempertaruhkan harga diri mereka untuk memusnahkan Vlad dan kawanannya hingga
ke akar-akarnya. Tingkat kekuatan Vlad saat ini, ditaksir setinggi apa pun,
paling mentok hanya setara dengan perwira tingkat mayor dari Pasukan Kegelapan.
Bila harus berhadapan dengan segenap Pasukan
Kegelapan, kekalahan mutlak sudah pasti menantinya.
Namun, mengapa mereka mendadak turun ke tanah ini?
Seharusnya pakta perjanjian melarang keras para dewa dari kedua kubu untuk
turun ke dunia fana di luar kompetisi resmi antara Surga dan Neraka.
Tentu saja Vlad tidak sebodoh itu untuk percaya
bahwa kedua pihak akan mematuhi perjanjian tersebut secara jujur, namun tetap
saja mereka telah mengambil risiko besar menghadapi sanksi berat hanya untuk
menginjakkan kaki di tanah ini.
"Tujuan mereka... pasti Behemoth!"
Sama seperti dirinya, mereka pasti berniat meraup
kekuatan Behemoth. Tidak ada alasan lain yang lebih masuk akal dari itu.
Behemoth adalah jembatan emas yang akhirnya
berhasil ditemukan Vlad untuk melangkah menjadi Dewa Agung. Ia tak boleh
membiarkan kekuatan itu dirampas oleh orang lain.
Haruskah ia bertaruh dan melancarkan serangan
mendadak?
"T-Tidak mungkin! Rencana itu takkan pernah
berhasil!"
Vlad bahkan sama sekali tak sanggup menangkap
lintasan gerakan Tsukishiro Kain. Serangan macam apa pun yang ia lancarkan
sudah pasti akan dihindari dengan mudah.
Terlebih lagi di sisi bocah itu ada salah satu
pilar Dewa Kegelapan. Peluang kemenangan bagi Vlad benar-benar nol persen.
Malahan jika sampai tertangkap, nasib mengerikan
yang berada di luar bayangan sudah pasti akan menimpanya.
"Takkan kuserahkan! Takkan pernah kuberikan
pada siapa pun! Kekuatan itu adalah milikku seorang!"
Seraya meraung murka, sepasang sayap terbentang
dari punggungnya saat ia melesat keluar dari rumah terapung itu, terbang
membubung tinggi menuju Istana Vlad tempat kepompong Behemoth disemayamkan.
Dalam sekejap mata ia telah tiba di angkasa Istana
Vlad. Mendarat tergesa di area taman, ia langsung menerobos ke hadapan
kepompong Behemoth.
"Bagaimana keadaan Behemoth!?"
Ia menuntut laporan situasi dari Club.
"Baru saja cangkang kepompong Sang Leluhur
mulai retak ZE! Sebentar
lagi ritualnya sudah bisa dimulai SYO!"
"Sebentar lagi katamu!?
Brengsek, mana sempat aku menunggu selama itu!"
Usai memuntahkan makian kasar, ia
mendekati kepompong itu dan menghujamkan cakar-cakar tajamnya untuk mencabik
kulit kepompong tersebut.
Ketajaman cakar Vlad sanggup
mengiris logam mithril semudah memotong kue bolu. Namun anehnya, meski telah
dihantam puluhan kali, tidak ada satu goresan pun yang membekas di
permukaannya.
"Cepatlah menetas,
sialan!"
Mengingat senyuman dingin sedingin
es milik Tsukishiro Kain seketika membuat hawa dingin merayapi tulang
punggungnya, memicu tangannya untuk mencakar lebih kalap lagi. Tepat pada saat
itu—.
—Krek! Kriet!
Disertai suara derak retakan yang
memecah kesunyian, cangkang kepompong itu runtuh berguguran, menampakkan sosok
pria tegap nan rupawan dengan rambut sewarna pekatnya malam yang berkibar
ditiup angin.
"Dia sudah menetas YO!"
Suara Club yang meninggi melengking
di gendang telinga.
"Bagus! Bagus sekali!"
Dengan begini, Vlad bisa menyerap
kekuatan Dewa Super Behemoth lebih cepat mendahului monster berambut abu-abu
itu.
Sembari menahan gejolak gairah yang
membuncah di dalam dadanya, ia mendekati raga Sang Leluhur Behemoth yang masih
mematung diam, lalu menghunjamkan taringnya tepat ke urat leher makhluk itu.
(Dengan begini aku akan menguasai
raga Behemoth, lalu menjadi penguasa tunggal di dunia yang baru!)
Meski batinnya telah bersorak penuh
kemenangan, taringnya mendadak tak sanggup menembus kulit sasaran.
"A-Apa-apaan ini, kenapa kulitnya bisa
sekeras ini!?"
Tepat saat ia menjeritkan kebingungannya,
kepalanya mendadak dicengkeram dengan sangat kuat dari atas.
Saat bola matanya bergerak
mendongak menatap wajah Sang Leluhur—.
"Hii!?"
Jeritan lirih lolos dari
tenggorokan Vlad. Wajar saja ia ketakutan, sebab yang terpampang di hadapannya
adalah seringai buas layaknya monster liar yang mengerikan.
Wajah itu sama sekali tidak tampak
seperti sosok yang jiwanya tengah dikendalikan.
Dikuasai oleh rasa ngeri yang
membekukan segenap darah di sekujur tubuhnya, ia meronta berusaha melompat
menjauh dari Behemoth, namun cengkeraman berkekuatan laksana catut besi di
kepalanya menahan tubuhnya tanpa memberi ruang untuk meloloskan diri sedikit
pun.
"Dingin sekali sikapmu. Jangan kabur dulu,
dong. Bukankah kau sangat ingin melahap diriku? Kalau begitu, akan kubuat kau
kenyang sampai puas."
Tepat saat Sang Leluhur melontarkan kalimat
bernada santai itu,
"Nbaaabababababababaaaaa!"
Kekuatan asing yang teramat dahsyat seketika
mengalir deras dari telapak tangan yang mencengkeram kepalanya, membuat seluruh
tubuh Vlad kejang-kejang hebat laksana dialiri tegangan listrik raksasa.
Di saat yang bersamaan, kulit di sekujur tubuhnya
mulai menggelembung melepuh tak beraturan.
"Sakit! Sakiitt! Tidak, rasanya gatal?
Hentikaaan!"
Diiringi rasa tidak nyaman yang tak bisa dibedakan
antara perih luar biasa atau gatal yang menyiksa, Vlad melolongkan jeritan
histeris.
"T-Tuan Vlad diserang!? Apa
yang harus kulakukan—!?"
Club yang panik dan berniat kabur
ke udara mendadak mendapati tubuhnya terkunci kaku secara tak wajar.
"T-Tubuhku tidak bisa
digerakkan ZE!?"
Tepat saat Club menjeritkan
kepanikannya, di belakang punggungnya telah berdiri tegak seorang Hunter
Tingkat A berwajah brewok tak terurus, Amagi Tokisada, yang langsung
mencengkeram bagian belakang kepalanya dengan kedua tangan.
"Gigugagagaaaagaaaahhh!"
Sembari melolongkan jeritan
terakhirnya, tubuh Club meleleh menjadi cairan merah pekat yang terserap
seutuhnya ke dalam tubuh Amagi Tokisada.
"Kau juga sudah memangsa
banyak korban, kan? Kalau
begitu, jadilah pengganjal perut untuk bawahanku saja sana~"
Diiringi nada suara santai tanpa beban sedikit
pun, ia melemparkan tubuh Vlad begitu saja layaknya membuang seonggok sampah
tak berguna.
Sosok yang menangkap tubuh Vlad dengan tangan
kanannya adalah seorang gadis mungil berambut merah pendek dengan gaun terusan
biru muda yang manis, Kuonji Makoto.
"M-Monster..."
Di tengah rasa teror yang memuncak dan penyesalan
mendalam karena telah menyentuh entitas yang mutlak tabu, tubuh Vlad meleleh
layaknya es krim yang terpapar panas terik, lalu terserap seutuhnya ke dalam
tubuh Kuonji Makoto.
Di hadapan Sang Leluhur Behemoth, tampak seorang
pemuda brewok berbusana hakama merah tua berlapis jubah brokat emas, serta
seorang wanita jelita berambut merah dengan kimono putih bersih tengah berlutut
dengan khidmat.
"Takemikazuchi-sama, sudah sekian lama hamba
tidak menghadap."
Pemuda brewok berbusana hakama itu menundukkan
kepalanya dalam-dalam.
"Oh, Shirou, lama tidak berjumpa! Kau juga,
Mafuyu! Lagipula Shirou, namaku saat ini adalah Behemoth. Panggil saja aku
begitu mulai sekarang!"
Sembari berkacak pinggang, ia tertawa
terbahak-bahak secara jantan sembari melontarkan perkataan tersebut.
"Hamba mengerti, Behemoth-sama. Kalau begitu,
langkah apa yang akan kita ambil selanjutnya?"
"Mari kita lihat... Bagaimana
kalau kita sekalian mencari perkara dengan menantang Thor atau Beelzebub saja,
ya! Entah kenapa, rasanya
kalau sekarang aku bisa menghajar mereka dengan sangat mudah!"
Saat ia menghantamkan tinju kanannya ke telapak
tangan kiri, gelombang kejut laksana badai topan seketika menerpa sekeliling
mereka membentuk lingkaran konsentris.
Ketertarikan Behemoth murni hanya tertuju pada
mereka yang kuat. Ia sama sekali tidak menaruh minat sedikit pun pada kaum
lemah di dunia fana semacam ini.
Tentu saja bila ada yang berani menantangnya ia
akan meremukkannya tanpa ragu, namun jika musuh tidak memiliki tekad bertarung,
ia takkan bernafsu memaksakan duel. Begitulah watak sejati seorang Behemoth.
Tepat pada detik itu, gumpalan kabut hitam pekat
membubung tinggi di udara, menjelma menjadi sesosok monster berkaki dua dengan
kepala lalat yang tengah mengulum dot bayi serta memegang sebatang tongkat
pusaka.
""Beelzebub!""
Shirou dan Mafuyu seketika melompat maju pasang
badan melindungi Behemoth, memasang kuda-kuda penuh kewaspadaan tinggi.
"Oho, sudah lama sekali ya, Beelzebub."
Sembari membunyikan persendian jemarinya, Behemoth
menyunggingkan seringai buas berusaha menebarkan intimidasi, namun—.
—Lawanmu kali ini bukanlah Bub-chan, tahu. Di
tanah ini ada sosok teramat agung yang sanggup meremukkan dirimu seutuhnya
dalam wujud dewa sekalipun.
Sembari menggerakkan mulutnya dengan gesit dan
berisik, Beelzebub melontarkan maklumat yang benar-benar di luar dugaan
Behemoth dengan nada yang sangat bersemangat.
"Apakah orang itu jauh lebih kuat daripada
dirimu yang sekarang?"
—Bagi Yang Mulia, keberadaan Bub-chan ini tak
lebih dari seekor lalat kecil yang terbang berdengung di sekelilingnya saja!
"Kuha! Seseorang yang lebih
kuat daripada dirimu yang sekarang, ya! Menarik sekali! Memang seharusnya
duniaku dipenuhi hal-hal seperti itu! Lalu, siapa nama orang itu!?"
—Namanya adalah Kai Heinemann-sama. Saat ini
beliau menyematkan nama fana Tsukishiro Kain.
Mendengar penuturan Beelzebub,
kening Behemoth seketika berkerut dalam.
"Tsukishiro Kain... Tsukishiro
Kain... Nama yang sama sekali belum pernah kudengar... seharusnya begitu, tapi
entah mengapa nama itu terasa sangat tidak asing di telingaku."
Ia bergumam linglung dengan
tatapan kosong.
Tampak puas melihat reaksi
tersebut, Beelzebub kembali menggerak-gerakkan mulutnya dengan lincah, lalu
melenyapkan eksistensinya dalam sekejap mata seolah-olah ia memang tak pernah
ada di sana sejak awal.
Di hadapan Behemoth yang tengah
tenggelam dalam kebingungan, Mafuyu berlutut dan berucap,
"Behemoth-sama, jika kita
berhasil memenangkan pertarungan akbar ini nanti, sudilah kiranya Anda
menyerahkan Tsukishiro Kain kepada hamba?"
Ia menyampaikan permohonan yang teramat kuat itu.
Menatap wajah Mafuyu yang tampak siap mempertaruhkan segenap takdir hidupnya,
"Tentu saja boleh! Aku sendiri tidak membenci
orang-orang yang tangguh, kok. Nanti akan kujadikan dia bagian dari garis
keturunan kita, setelah itu terserah kau mau memperlakukannya seperti apa,
Mafuyu!"
Melihat Behemoth yang tersenyum lugu sembari
mengacungkan jempol ke arahnya,
"Kemurahan hati dan anugerah Paduka
benar-benar membuat hamba terharu tiada tara!"
Wajah Mafuyu berbinar cerah penuh kebahagiaan saat
ia menghaturkan sembah terima kasih yang teramat tulus kepada sang majikan.
"Kalau begitu, mari kita berangkat!"
""Siap!""
Menanggapi seruan lantang Behemoth yang berkobar
penuh semangat, Shirou dan Mafuyu turut mengaum menyahut dengan suara
membahana.
Kini, sang Dewa Super terkuat dari generasi
terdahulu, Behemoth, resmi melangkah ke medan laga. Sosok yang akan menyambut tantangan tersebut
adalah entitas monster terkuat dari generasi baru, Kai Heinemann.
Dengan demikian, peperangan antara
umat manusia melawan kaum vampir telah bermutasi wujud, bergeser menjadi
benturan terdahsyat antara entitas terkuat dari dua generasi yang berbeda.
◇◆◇
Suasana di dalam studio sebuah
stasiun televisi nasional terkemuka tampak begitu tegang.
Program berita investigasi
berating tinggi yang dipandu oleh presenter karismatik, 'News Eight', tengah
menayangkan siaran langsung liputan khusus berskala masif terkait skandal
konspirasi keluarga Akizuki.
Guna mengupas tuntas laporan
sensasional tersebut, pihak perwakilan dunia Hunter menghadirkan sang simbol
keadilan—Ketua Klan Glorious yang menyandang julukan Saber,
Yoshimine Masayoshi, didampingi oleh sang wakil ketua, Misumi Chika.
Sementara dari panggung politik,
hadir Sekretaris Jenderal Partai Penguasa yang tersohor sebagai pegiat hak
asasi, Hamuro Gakuro.
"Mengenai dugaan
pengkhianatan yang menyeret nama besar keluarga Akizuki, sudilah kiranya para
narasumber membagikan informasi krusial yang Anda miliki kepada seluruh pemirsa
di rumah?"
Sakuraba Takuma, sang presenter
pria matang berkarisma dengan janggut tipis yang khas, membuka diskusi dengan
topik paling hangat yang kini tengah mengguncang seisi jagat raya.
"Bicara tanpa berbelit-belit,
hasil investigasi mendalam dari pihak Keamanan Publik telah membuktikan secara
gamblang bahwa keluarga Akizuki memang menjalin persekongkolan gelap dengan
kawanan vampir. Melalui kesempatan emas inilah kami ingin membeberkannya secara
resmi."
Hamuro Gakuro menyampaikan
laporannya sembari mengelus kumis model kaisar yang menjadi kebanggaannya
dengan tangan kanan.
"Yoshimine-san selaku Ketua
Klan Glorious, apakah pernyataan barusan memang benar adanya?"
"Segala hal yang dipaparkan
oleh Tuan Hamuro sepenuhnya adalah fakta tak terbantahkan. Anda sekalian tentu
telah menyaksikan sendiri rekaman saat Akizuki Tatsuya menghancurkan dinding
pelindung hitam tempo hari, bukan?"
"Namun di luar sana, sebagian
kalangan sempat menduga bahwa tindakan tersebut murni merupakan inisiatif
sepihak dari saudara Akizuki Tatsuya seorang?"
Sembari menautkan kedua jemarinya
di atas meja, presenter Sakuraba Takuma melontarkan pertanyaan lanjutan dengan
senyuman tenang nan bersahabat.
"Penyelidikan kami
membuktikan bahwa Akizuki Tatsuya sengaja menyembunyikan potensi kekuatannya
yang sebenarnya selama menempuh pendidikan di SMA Hanatsuki, lho."
Sang Saber, Yoshimine
Masayoshi, menyahut tanpa ragu sedikit pun.
"Keterlibatan para petinggi
keluarga Akizuki lainnya pun telah terbukti secara sah!"
Dengan seringai lebar yang
mengembang di wajahnya, Hamuro turut menimpali dengan penuh percaya diri.
"Artinya, bukti-bukti yang
terkumpul sudah lebih dari cukup untuk membuktikannya, begitu?"
"Di saat yang bersamaan,
publik tentu sudah tahu betul bahwa Mikage Mashiro, sang gadis yang direkrut
secara khusus oleh keluarga Akizuki, turut membelot mengkhianati umat
manusia!"
Melihat kubu Yoshimine Masayoshi
yang tersenyum pongah merasa telah berada di atas angin,
"Maksud Anda adalah gadis
muda yang rekamannya sempat menggemparkan seisi ruang keluarga tempo hari, ya.
Rekaman itu memang teramat mengejutkan."
Sakuraba Takuma mengangguk tanda
memahami alur pembicaraan.
"Melalui sidang paripurna
darurat mendatang, kami akan menuntut pertanggungjawaban keluarga Akizuki
secara tegas, sementara pihak Asosiasi Hunter pun telah menetapkan keputusan
untuk memanggil keluarga Akizuki guna menjalani pemeriksaan intensif di Markas
Besar New York."
"Saya juga mendengar kabar
bahwa sejumlah besar petinggi Asosiasi Hunter Cabang Jepang, termasuk Akizuki
Eisei-shi, dilaporkan menghilang tanpa jejak?"
"Tindakan melarikan diri itu
sendiri sudah menjadi bukti otentik bahwa mereka menyembunyikan borok
kesalahan. Benar begitu, bukan, Tuan Hamuro?"
"Tepat sekali! Saat ini kami
tengah mengerahkan seluruh personel penyelidik di penjuru negeri untuk memburu
keberadaan mereka, jadi kami mohon masyarakat bersabar sejenak! Kami pasti akan
segera membawa kabar baik ke hadapan Anda sekalian!"
Saat Yoshimine Masayoshi melempar
seringai ke arah Hamuro Gakuro guna meminta penguatan, Hamuro pun mengepalkan
tinju kanannya kuat-kuat sembari berseru lantang, memamerkan senyuman manis
profesional yang kentara sekali kepalsuannya.
"Demikianlah pemaparan
argumen yang disampaikan secara langsung oleh pihak Glorious serta
Sekretaris Jenderal Hamuro Gakuro-shi. Nah, selanjutnya, guna memperdalam
perdebatan ini, kami telah mengundang pihak yang secara tegas membantah seluruh
tuduhan tersebut ke dalam studio."
Takuma bangkit berdiri lalu
mengarahkan tangan kanannya ke arah pintu masuk studio. Dan kemudian—.
"Inilah sosok yang baru saja
kita perbincangkan, Akizuki Eisei-shi dari Asosiasi Hunter, serta Hunter
Tingkat S, Ashihana Okibi-shi!"
Pintu studio seketika terbuka
lebar, menampakkan sesosok pria kekar berambut cepak dengan sekujur tubuh penuh
guratan luka, bersama seorang pria berambut pirang dengan aneka tindik di
bibirnya yang mengenakan kupluk rajut hitam.
Keduanya melangkah masuk dengan
tenang, lalu mengambil tempat duduk tepat berhadapan langsung dengan ketiga
narasumber sebelumnya.
"A-Apa-apaan ini!? Apa maksud dari semua
lelucon konyol ini!?"
Hamuro Gakuro seketika bangkit berdiri dengan
wajah pucat pasi seraya membentak murka.
"..."
Yoshimine Masayoshi hanya memicingkan matanya
dalam keheningan, mengamati lekat-lekat sosok Akizuki Eisei, Ashihana Okibi,
serta Sakuraba Takuma dan seluruh kru studio yang bertugas.
"Oho..."
Di sisi lain, Misumi Chika justru menautkan kedua
tangannya di belakang tengkuk sembari bersiul santai.
"Prinsip utama dari program kami adalah
menghindari keberpihakan pada argumen sepihak sebisa mungkin. Oleh karena itu,
kami secara khusus mengundang jajaran petinggi tertinggi dari Kantor Cabang
Jepang yang merupakan pihak terkait untuk hadir secara mendadak di sini."
Mendengar penjelasan tenang dari Sakuraba Takuma
yang sama sekali tak merasa bersalah,
"Orang-orang ini adalah buronan kelas kakap
yang tengah diburu oleh aparat penegak hukum, tahu! Mereka sedang memikul
status tersangka sebagai mata-mata kaum vampir!"
"Ya, dugaan Anda memang
tepat. Namun Anda tidak perlu
merasa cemas sedikit pun. Pasukan kepolisian serta staf penegak hukum dari
Asosiasi Hunter telah bersiaga penuh di lobi gedung stasiun televisi kami.
Begitu sesi wawancara ini usai, kedua narasumber terhormat ini telah sepakat
untuk mengikuti prosedur pemeriksaan polisi secara kooperatif."
Mendengar penuturan datar dari
sang pembawa acara,
"Mana mungkin aku bisa
mempercayai omong kosong macam itu! Brengsek, kaupikir tindakan lancangmu ini
bisa lolos begitu saja tanpa konsekuensi berat!?"
Hamuro menggebrak meja dengan
keras dan bersiap meninggalkan tempat duduknya, namun—.
"Tuan Hamuro! Sudahlah, biarkan saja.
Bagaimanapun juga status kita di sini adalah tamu undangan. Sebaiknya kita
serahkan saja tata tertib ini kepada presenter Sakuraba."
Yoshimine Masayoshi menengahi dan membujuk Hamuro
dengan nada suara yang terkontrol dingin.
"Baiklah kalau begitu!"
Hamuro Gakuro kembali menghempaskan tubuhnya ke
kursi sembari melipat kedua tangan di dada dengan gusar.
"Sebagai permulaan, mari kita saksikan
bersama sebuah tayangan rekaman video yang telah diserahkan secara resmi oleh
kedua narasumber kita, sebelum kemudian memberikan ruang bagi mereka untuk
menyampaikan sanggahan."
Sakuraba Takuma menjentikkan jarinya, lalu layar
monitor studio seketika beralih menayangkan rekaman video rahasia tersebut.
Rekaman itu memuat—.
Kecuali beberapa gelintir orang yang memang telah
diberi tahu sebelumnya, segenap kru stasiun televisi yang berada di dalam
ruangan seketika menghujamkan tatapan penuh rasa muak, ketidakpercayaan, dan
amarah mendalam ke arah kedua pentolan Glorious serta Hamuro Gakuro.
Reaksi tersebut teramat sangat wajar.
Sebab melalui rekaman video yang baru saja diputar
itu, segenap kejanggalan fakta yang selama ini tak pernah masuk akal akhirnya
saling terhubung satu per satu, menelanjangi kebusukan yang sesungguhnya di
hadapan mereka semua.
Itu adalah rekaman pertemuan rahasia antara Hamuro
Gakuro, Yoshimine Masayoshi, dan Misumi Chika yang membahas pengkhianatan
terhadap umat manusia.
Rekaman itu juga memperlihatkan para anggota Glorious
yang bermutasi menjadi monster lalu menyerang para siswa, lengkap dengan
perkataan serta perilaku pemujaan mereka terhadap para vampir.
Selain itu, tampak pula adegan saat vampir
melayangkan ancaman kepada Akizuki Tatsuya melalui mulut sang Saber.
Terlihat pula bagaimana para vampir merapal sihir
terlarang pada Mikage Mashiro di dalam Istana Vlad, hingga rincian eksperimen
manusia keji yang dilakukan Misumi Chika serta koleksi menjijikkan milik Hamuro
Gakuro.
"I-Ini semua omong kosong!
Dengan kemampuan khusus atau teknologi AI, video rekayasa semacam ini bisa
dibuat sesuka hati!"
Hamuro Gakuro memuntahkan kalimat
sanggahan itu dengan wajah yang memerah padam laksana kepiting rebus.
"Tampaknya kita sudah terhubung dengan lokasi
kejadian. Saudara Tadokoro di lapangan, silakan laporkan situasinya."
Tayangan video seketika beralih, memperlihatkan
kamera yang menuruni anak tangga batu yang remang-remang.
"J-Jangan-jangan...! Hentikan! Hentikan
siaran itu!"
Di tengah jeritan panik Hamuro
Gakuro yang nyaris menangis,
"Saat ini saya berada di
ruang bawah tanah kediaman pribadi milik Sekretaris Jenderal Hamuro Gakuro.
Saya sedang mendampingi tim penyelidik kepolisian yang tengah melakukan
penggeledahan. T-Tidak mungkin, ini bohong, kan!?"
Tadokoro memekik tak percaya.
Tepat setelahnya, kamera menyorot
sosok wanita-wanita berparas rupawan yang dikurung di balik jeruji besi. Tubuh
mereka dipenuhi luka di sekujur badan, dengan tatapan mata yang kosong tanpa
nyawa.
"A-Apakah ini kasus
penculikan dan penyekapan monster berakal budi yang belakangan ini ramai
diperbincangkan? Tidak, di sini bahkan ada manusia juga..."
Sembari mengedarkan pandangan,
Tadokoro menjelaskan pemandangan tragis itu dengan suara bergetar hebat.
"Terlebih lagi, tampaknya dia
sangat menikmati perbuatan bejat ini! Benar-benar membuatku mual sampai ke
ubun-ubun!"
Salah seorang petugas penyelidik
melontarkan makian penuh murka dan rasa jijik yang mendalam.
"Demikianlah laporan langsung dari lokasi
penggeledahan kediaman Anggota Parlemen Hamuro. Selanjutnya adalah penyelidikan
di kediaman yang disewa oleh Wakil Ketua Klan Glorious, Misumi
Chika-shi."
"Mengingat Misumi-shi berstatus sebagai
Hunter aktif dan diduga kuat memiliki keterkaitan erat dengan kaum vampir,
operasi ini turut dibantu oleh Kidou Akuto-shi alias Akudou, serta
Kepala Eto Sasuke alias The Undertaker. Rekan Hunter Eto?"
"Yo. Kotak harta karun terkutuk milik Misumi
sudah diamankan sepenuhnya oleh bocah Akudou itu."
"Apakah rekaman di lokasi bisa ditayangkan ke
layar kaca?"
"Pemandangan di sini bisa bikin para
penyelidik muntah darah. Menayangkan semuanya jelas mustahil, jadi izinkan kami
hanya menyiarkan bagian yang masih layak tayang saja."
"Tentu, silakan."
"Kalau begitu, mereka inilah para warga Kota
Yunicho yang sempat disekap oleh Misumi."
Sorot kamera beralih memperlihatkan pemuda dan
pemudi yang tengah dievakuasi oleh regu penolong.
"Kalian benar-benar bernyali
besar, ya..."
Di dalam studio siaran, Misumi
Chika menggumamkan kutukan penuh dendam dengan senyuman yang tetap tersungging
di bibirnya.
"Begitu rupanya. Jadi
kehadiran kami di studio hari ini sengaja diatur sebagai bagian dari skenario
kalian?"
Menanggapi pertanyaan dingin Yoshimine Masayoshi,
"Tepat sekali. Pihak parlemen dan markas
pusat Asosiasi Hunter sudah sepenuhnya berada di pihak kami. Takkan ada lagi
tempat bagi pengkhianat seperti kalian di negeri ini, tidak, di dunia
ini."
Akizuki Eisei mengangguk tenang seraya mengumumkan
maklumat tersebut.
Ia bangkit berdiri, lalu memanifestasikan pedang
raksasa di tangan kanannya dan menghunuskan ujung bilah pedang itu tepat ke
arah Yoshimine Masayoshi dan kawan-kawannya.
"Kalau kalian masih menganggap diri kalian
sebagai seorang Hunter, setidaknya tunjukkan taring kalian sampai akhir!"
Ia meraung dengan nada suara yang membahana penuh
ketegasan.
"Hanya... manusia rendahan
berani-beraninya...!"
Misumi Chika bangkit seraya memekik murka.
Seketika itu pula, ujung bibirnya robek melebar,
sementara tubuh bagian bawahnya bermutasi menjadi monster mengerikan dengan
tubuh laba-laba yang dilengkapi ekor sengat serta sepasang capit kalajengking.
"Itulah sebabnya aku benci manusia... Selalu
saja mengekang hasrat sejati mereka demi mematuhi norma moralitas yang
dangkal."
Yoshimine Masayoshi pun bangkit, menjelma menjadi
sosok monster bertanduk dengan empat lengan yang kekar.
Di tengah jeritan histeris seisi studio yang pecah
berkeping-keping,
"Ayah, biar aku saja yang membereskan mereka,
boleh?"
Sebuah suara wanita yang penuh wibawa terdengar
meluncur turun dari atas langit-langit studio.
"Terserah kau saja."
Eisei menghela napas panjang, lalu melenyapkan
pedang raksasanya dan kembali duduk santai di kursinya.
"Ya ampun~ jadi kalian menyerah, ya? Tapi
jangan harap ada ampunan untuk—"
Tiba-tiba, seekor harimau petir biru melesat
secepat kilat, mencabik-cabik raga monster Misumi Chika serta tubuh bagian
bawah Yoshimine Masayoshi hingga hangus terbakar tanpa sisa.
Tepat di hadapan mereka berdua, berdiri seorang
gadis berambut bob dengan sepasang sarung tinju di tangannya, Akizuki Narumi,
yang menatap dingin ke bawah.
Seketika itu pula, jeritan melengking memecah
udara saat Misumi Chika dan Yoshimine Masayoshi berguling-guling di lantai,
meraung kesakitan akibat siksaan luka bakar yang teramat dahsyat.
"Cuma kehilangan separuh badan bagian bawah
saja jangan cengeng berteriak begitu! Dasar pecundang tak bernyali!"
Narumi membentak galak seraya menginjak tubuh
Yoshimine Masayoshi tanpa ampun.
"K-Kau... bajingan...!"
"Kalian yang sudah mengkhianati ras manusia
dan membuang kemanusiaan sama sekali tak berhak menuntut perlakuan manusiawi.
Baguslah kalau begitu, bukankah tadi kau bilang sendiri kalau kau muak dengan
moralitas manusia?"
Kilatan petir biru yang berpendar di tangan kanan
Narumi perlahan menjalar turun ke kakinya, menyengat dan meremukkan tubuh
Yoshimine Masayoshi berkeping-keping.
"Abubababababiwiiiii!"
Yoshimine Masayoshi kejang-kejang hebat seraya
menyemburkan darah segar dari mata, hidung, mulut, hingga pori-pori kulitnya.
"T-Toloong..."
Sementara itu, Misumi Chika yang mengepakkan sayap
kelelawarnya berusaha mati-matian melayang kabur ke udara.
"Jangan harap bisa lolos!"
Disertai raungan Narumi, sayap kelelawar Misumi
Chika tersambar petir biru hingga menguap menjadi abu dalam sekejap mata.
Tubuhnya terjatuh berdebum ke lantai, lalu saat
Misumi menangis melolong-lolong, Narumi menendangnya tanpa ragu.
"Sudah kubilang jangan
berisik! Mengganggu telinga saja!"
Dengan raut wajah yang menyeramkan
laksana iblis penuntut balas, Narumi melepaskan amukan badai harimau halilintar
biru yang menelan dan memanggang sisa raga Yoshimine Masayoshi serta Misumi
Chika hingga hangus terbakar.
"Narumi, Ayah paham kemarahanmu, tapi sudahi
sampai di situ."
Mendengar teguran ayahnya, Narumi
akhirnya menghentikan serangannya. Di hadapan kakinya, kedua monster itu kini
terkapar sekarat dengan tubuh yang berkedut-kedut lemah.
"Bisa dimaklumi sih, lagipula Narumi sama
sekali ditinggalkan dari panggung utama kali ini."
Ashihana Okibi sempat melontarkan komentar
sarkastis, namun begitu tatapan mata Narumi menghujam tajam ke arahnya, ia
buru-buru menutup mulutnya rapat-rapat.
Tak lama kemudian, aparat kepolisian menyerbu
masuk ke dalam studio, memborgol Hamuro Gakuro bersama Yoshimine Masayoshi dan
Misumi Chika yang sudah babak belur, lalu menggiring mereka keluar.
"Kalau begitu, bolehkah kita melanjutkan
tayangan siarannya?"
Atas permintaan bernada ramah dari Sakuraba
Takuma, kubu Eisei mengangguk tanpa sepatah kata pun, dan video rahasia itu pun
kembali diputar.
Kini layar menampilkan rekaman pertarungan antara
Tsukishiro Kain melawan kawanan vampir—atau lebih tepatnya, sebuah pembantaian
satu arah yang mutlak.
"Kain..."
Melihat sosok pemuda berambut abu-abu yang kini
terpampang di layar kaca seantero negeri, pipi Narumi merona merah seraya
menautkan kedua tangannya di depan dada.
Menyaksikan tingkahnya yang persis seperti gadis
yang tengah mabuk asmara, Ashihana Okibi hanya bisa mengedikkan bahu, sementara
sang ayah, Eisei, menghela napas pasrah.
◇◆◇
Setelah menyapu bersih gerombolan vampir, kami
segera menyelamatkan para warga sipil yang ditawan oleh mereka.
Bertempur sembari melindungi warga
sipil membawa risiko yang teramat besar. Oleh karena itu, kami memutuskan untuk
membagi regu menjadi dua: satu kelompok bertugas mengamankan warga dan mengawal
mereka kembali ke perbatasan wilayah manusia, sedangkan sisanya tetap
melanjutkan operasi penyerbuan.
Berdasarkan kesepakatan bersama,
rombongan elit yang akan bergerak maju bersamaku kini disaring menjadi kelompok
kecil yang terdiri dari diriku, Arata, Arima, Akira, dan Karina.
Jumlah warga sipil yang
diselamatkan terlampau banyak, sehingga sebagian besar personel harus
dialokasikan untuk mengawal mereka.
Pemilihan anggota selain diriku dan Arata
ditentukan melalui undian. Yah, meskipun Sakuraba dan Ran tampaknya masih
merasa berat hati hingga detik-detik terakhir.
"Kuserahkan keselamatan Mashiro-san di
tanganmu, ya."
Dengan sorot mata enggan berpisah, Sakuraba
menitipkan harapan itu kepadaku.
"Kau harus pulang dengan
selamat! Terus, kalau sudah berhasil menyelamatkannya, jangan berani-berani
bermesraan berlebihan di depanku!"
Ran turut mencengkeram ujung
jaketku seraya melontarkan gerutuan yang tak jelas maksudnya, sebelum akhirnya
memimpin barisan warga melangkah mundur menyusuri jalan semula.
"Ayo, kita berangkat."
Kami pun kembali melesat maju menembus medan laga.
Kami akhirnya tiba di puing-puing bekas Stasiun
Kereta Yunicho. Tepat di hadapan kami, tampak sosok Tatsuya yang bersimbah
darah dari mata, hidung, dan mulutnya, namun tetap berdiri kokoh melindungi
ketiga anak di belakangnya dari terkaman siluman ular berwajah manusia.
"Ayo, kenapa diam saja♪ Bakal kulahap kalian
sampai ludes!"
Siluman ular itu menyeringai buas bersiap menelan
Akito, namun Tatsuya memaksakan sisa energi sihirnya untuk terus membentangkan
pelindung demi menahan laju serangannya.
"Kak Tatsuya! Sudah cukup! Kalau begini terus
Kakak bisa mati!"
Mendengar tangisan Akito yang memohonnya untuk
berhenti, Tatsuya hanya tersenyum tipis.
"Tenang saja. Kakak pasti akan melindungi
kalian."
Jawabannya sama sekali tidak nyambung dengan
situasi. Kemungkinan besar pendengarannya sudah rusak dan fungsi inderanya
telah mati rasa.
Dan kemudian—.
"Tatsuya!"
Jeritan histeris Karina membahana di udara,
bersamaan dengan diriku yang melesat secepat kilat menerjang sang siluman ular,
mencengkeram ekor panjangnya lalu menghempaskannya ke udara.
"Gihiiii!"
Dengan suara lolongan aneh, siluman ular itu
kuhantamkan sekuat tenaga ke permukaan tanah. Terasa sensasi remuk yang khas,
persis seperti kodok sawah yang terinjak roda pedati.
Bola mata ular itu mencelat keluar, tubuhnya
terkapar mengejang kaku.
"Kenapa kalian bisa ada di sini!? Di mana Spade dan Daa Iyaa!?"
Melihat kedatangan kami yang
tiba-tiba, raut wajah Mashiro membelalak kaget seraya mengarahkan pedang
panjang berbilah hitam ke arah kami, melontarkan pertanyaan yang mustahil
diucapkan oleh Mashiro yang asli.
Sosok ini pastilah Hato, vampir
wanita yang merasuki tubuh Mashiro sebagaimana dilaporkan oleh Ekiki tadi. Kawanan vampir di sekitarnya pun serentak
mengarahkan senjata mereka ke arah kami.
"Kalian diamlah di situ sebentar. Aku akan
segera membalaskan perbuatan kalian."
Aku menghunjamkan tatapan dingin seraya
melontarkan titah bernada beku. Hanya dengan kalimat itu saja, tubuh mereka
seketika terkunci kaku laksana terkena sihir pelumpuh total.
Mengabaikan mereka, aku melangkah menghampiri
Tatsuya.
"Tatsuya, kau sudah berjuang dengan sangat
hebat."
Sembari memberikan apresiasi hangat, aku menopang
punggungnya agar tubuhnya tidak ambruk.
"Guru...?"
Mendengar suara parau Tatsuya yang lemah,
"Berkat kegigihanmu, anak-anak ini selamat.
Sekarang, istirahatlah."
Setelah mengakui jasanya, aku mengaktifkan Skill
Summon untuk memanggil monster slime dan memerintahkannya menyembuhkan
luka-luka Tatsuya.
Slime itu berguncang kenyal penuh kegirangan,
menyelimuti sekujur tubuh Tatsuya lalu memulihkan seluruh lukanya dalam sekejap
mata. Di saat yang
sama, deru napas Tatsuya mulai terdengar tenang dan teratur.
"Tatsuya! Syukurlah!"
Karina berhambur memeluk Tatsuya
seraya menangis haru. Akira
pun menghela napas lega setelah memastikan keselamatan sahabatnya itu.
"Luka parah separah itu bisa sembuh dalam
sekejap mata..."
Arima bergumam takjub bercampur ngeri.
"Kak Tatsuya!"
"Kakak!"
Akito dan Mikan langsung berlari
mendekati Tatsuya yang kini terlelap damai. Melihat kondisi mereka berdua,
kurasa anak-anak ini baik-baik saja.
Tinggal satu lagi—.
"Arisa, kau juga baik-baik saja, kan?"
Aku mendekati Arisa untuk memastikan keadaannya,
namun—
"I... ya."
Ia hanya mengangguk lemah dengan
wajah yang pucat pasi, tampak begitu kelelahan. Tidak terlihat adanya luka
fisik, dan mengingat situasi mencekam yang baru saja ia lalui, reaksi traumatis
semacam ini tentu sangat wajar...
"Karina, bisakah kautitipkan Arisa dan yang
lainnya padamu?"
"Iya! Serahkan padaku!"
Menanggapi permintaanku, Karina bergegas
menghampiri Arisa, mengeluarkan selimut dari ranselnya untuk menghangatkan
tubuhnya, lalu menyodorkan minuman hangat.
Urusan anak-anak sudah aman di bawah pengawasan
Karina. Sekarang
tinggal yang ini—.
"Guge..."
Ular berwajah manusia itu masih
terkapar meregang nyawa di atas tanah. Aku sama sekali tak berniat memberikan
kematian yang cepat dan mudah bagi bajingan yang telah menyiksa muridku ini.
Jika menuruti kata hati, rasanya aku ingin
mengutuknya dengan penderitaan abadi. Namun saat ini Ekiki pasti tengah sibuk
menginterogasi Spade dan Daa Iyaa, jadi terasa kurang pantas bagi seorang tuan
bila harus merepotkannya hanya demi seekor monster kroco seperti ini.
Membiarkannya sekarat di situ adalah pilihan
terbaik untuk saat ini.
"Kau benar-benar bukan manusia biasa, ya.
Sekali lagi kutanyakan padamu. Di mana Spade dan Daa Iyaa?"
Mungkin setelah berhasil menenangkan diri, vampir
wanita bernama Hato yang mengendalikan tubuh Mashiro melontarkan pertanyaan itu
dengan nada tenang sembari menjaga jarak.
"Entahlah, kalau mereka beruntung, mungkin
sekarang mereka sudah mati."
Mengingat betapa bersemangatnya Ekiki tadi,
mustahil rasanya membayangkan mereka berdua bisa meregang nyawa dengan tenang
semudah itu.
"Begitu rupanya... Ternyata
kami benar-benar telah salah menilai kekuatanmu. Tapi mungkin ini justru sebuah
keberuntungan bagiku. Sebab kalau aku berhasil menangkapmu, posisi sebagai
bawahan nomor satu Vlad-sama akan jatuh ke tanganku."
"Kaupikir sampah sepertimu sanggup
melakukannya?"
Mereka ini hanyalah gerombolan
monster imitasi yang berlagak menjadi vampir sejati. Bagaimanapun aku
membayangkannya, aku sama sekali tak melihat adanya kemungkinan bagiku untuk
kalah dari mereka.
"Tentu saja bisa! Pertarungan itu tidak
melulu ditentukan oleh adu kekuatan otot semata, tahu♪"
Hato berkacak pinggang seraya melayangkan ciuman
jauh.
Tepat pada detik berikutnya, Arisa mendadak
membanting tubuh Mikan ke tanah, menghunuskan sebilah belati tepat di atas urat
leher gadis kecil itu.
"Lihat kaaan, keadaan sekarang
berbalik~~!"
"Kak Arisa...?"
Mikan bertanya dengan suara gemetar penuh
ketakutan,
"Apa yang terjadi padamu!?"
Akito pun menjerit panik, namun paras Arisa
seketika terdistorsi oleh rasa jijik yang amat pekat.
"Tutup mulut kalian, dasar serangga parasit
rendahan! Jangan berani-berani bicara sok akrab denganku!"
Ia meludah mencaci Akito dan Mikan tanpa belas
kasihan.
"Sama seperti Mashiro, tubuh Arisa pun tengah
dikendalikan musuh. Tenanglah, Mikan, Kakak berjanji akan menyelamatkanmu dan
juga Arisa."
Aku berbicara dengan nada lembut agar tidak
membuat Mikan semakin histeris.
"I-Iya..."
Mikan mengangguk pasrah.
Rupanya reaksi lamban Arisa tadi
hanyalah akting belaka demi mencari celah untuk menyandera Mikan. Sudah hampir
bisa dipastikan bahwa parasit vampir imitasi telah bersarang di dalam raganya,
persis seperti yang menimpa Mashiro.
Membantai Mashiro dan Arisa dalam
kondisi seperti ini sejatinya semudah meminum segelas air putih. Akan tetapi,
tindakan keji semacam itu mustahil sanggup kulakukan.
"Baguslah kalau kau cepat
tanggap, jadi pembicaraan ini lebih mudah. Gadis pemilik raga ini dirasuki
olehku, sedangkan bocah oni itu dikendalikan penuh oleh bawahanku. Bisa
dibilang jiwa dan raga kami telah menyatu seutuhnya. Kematian kami berdua adalah
kematian bagi kedua raga ini. Artinya, kau yang begitu terobsesi pada gadis-gadis ini takkan pernah
berani melukai kami sedikit pun."
Hato membusungkan dada dengan pongah, sementara
Arisa menempel-nempelkan mata pisaunya ke leher Mikan seraya menyunggingkan
seringai yang menjijikkan.
Situasi yang sangat pelik. Jauh lebih
menjengkelkan dibanding kebodohan Spade ataupun Daa Iyaa tadi.
Aku harus mengulur waktu sampai bisa merumuskan
rencana penanggulangan yang tepat.
"Apa maumu?"
"Bukan cuma kuat, kau ternyata pintar juga,
ya. Jika aku bisa bersatu dengan ragamu, posisiku di antara para pengikut
Vlad-sama akan melesat jauh melampaui yang lain."
Sembari meraba tubuhnya sendiri, ia menatapku
dengan pandangan penuh gairah yang memabukkan lalu menjilat bibirnya.
Intinya, ia berniat meninggalkan raga Mashiro demi
merasuki tubuhku.
Tepat pada detik itu—.
"—!?"
Hawa dingin yang menusuk membuat keningku berkerut
dalam. Sensasi ganjil apa ini? Rasanya persis seperti ada ribuan jarum tajam
yang menghujam sekujur tubuhku secara bersamaan.
Sembari menahan getaran aneh itu, aku kembali
bertanya.
"Kalau kau merasukiku, bagaimana nasib
Mashiro dan Arisa?"
Sebuah pertanyaan basa-basi yang sebenarnya sama
sekali tak bisa kupegang kebenarannya.
"Tentu saja akan kulepaskan. Minatku
sepenuhnya hanya tertuju padamu, gadis-gadis ingusan semacam ini sudah tidak
ada gunanya lagi bagiku."
Sudah kuduga ia akan memberikan jawaban manis
seperti itu.
Sekarang, bagaimana cara mengatasi
situasi genting ini? Mereka
sama sekali tidak peduli pada keselamatan nyawa Mikan.
Jika kami bergerak gegabah sedikit saja, nyawa
Mikan akan langsung melayang. Di sisi lain, melukai raga Mashiro maupun Arisa
adalah opsi yang mutlak terlarang.
Aku harus mengusir entitas parasit itu keluar dari
tubuh mereka masing-masing tanpa meninggalkan satu goresan pun pada raga
Mashiro dan Arisa.
Seandainya kami bisa memanfaatkan energi sihir
perak milik Mashiro hal itu mungkin saja dilakukan, namun bagaimana bisa jika
pemilik sihir itu sendiri raganya tengah dibajak oleh musuh? Kami benar-benar
berada di jalan buntu.
—Wahai calon menantuku, bagaimana kalau Ibu
tawarkan sebuah siasat jitu?
Mendengar tawaran tak terduga dari ibunda Mashiro
di kepalaku,
(Tentu saja boleh! Siasat seperti apa itu!?)
Tanpa sadar aku langsung menyambar
tawarannya. Gawat, reaksiku
barusan mungkin terkesan terlalu putus asa.
Orang dengan watak seperti wanita ini biasanya
akan menguras habis keuntungan bila kita menunjukkan titik lemah di hadapannya.
—Menguras sampai ke tulang katamu? Tega sekali
bicaramu begitu. Tenang saja, Ibu tidak berniat berbuat macam-macam pada calon
suami putriku sendiri, kok. Bagiku, suamiku tercinta adalah satu-satunya di
hatiku.
Wanita ini pasti sedang bersenang-senang di atas
penderitaanku.
(Iya, iya, terserah Ibu saja. Tolong segera
beritahukan siasat yang Ibu maksud tadi.)
—Kondisi pembajakan raga saat ini bisa terjadi
karena jiwa putriku tengah terlelap tidur di dalam sana. Jika kita bisa
membangunkannya secara paksa untuk sesaat saja, Ibu bisa menyelinap masuk
kembali ke dalam raganya dan merebut kendali tubuh itu secara utuh.
Merebut kendali raga, ya.
Jika kesadaran Mashiro berhasil dipulihkan, energi
sihir perak miliknya semestinya mampu melenyapkan kutukan yang membelenggu
Arisa juga. Taruhan ini patut dicoba...
(Baiklah, aku setuju bekerja sama. Lalu, apa yang
harus kulakukan?)
—Ibu akan memancing isi hati terdalam putriku
keluar. Yang perlu kaulakukan hanyalah menyampaikan perasaanmu yang
sejujur-jujurnya kepada putriku tanpa ada kebohongan sedikit pun.
(Perasaan yang jujur... tanpa kebohongan?)
Perasaan seperti apa memangnya? Rasanya selama ini
aku tidak pernah berniat membohongi perasaanku sendiri, sih.
—Kan sudah Ibu bilang tadi. Dirimu yang sekarang ini sama sekali tidak
mau menatap isi hatimu sendiri secara jujur. Tanyakanlah pada lubuk hatimu yang
terdalam, perasaan seperti apa yang sebenarnya kaurasakan terhadap putriku,
lalu sampaikan jawaban itu langsung ke hadapannya.
Perasaanku terhadap Mashiro, ya.
Sejujurnya aku tidak pernah memikirkan hal itu
secara mendalam. Di mataku, Mashiro selalu menjadi sosok yang anehnya terus
menyita perhatianku.
Awalnya ia salah mengiraku sebagai orang lain dan
langsung memusuhiku. Ia bahkan sempat menuduhku sebagai wadah reinkarnasi
vampir.
Namun entah mengapa, sampai detik terakhir pun aku
sama sekali tak mampu menaruh rasa dendam ataupun benci kepadanya.
Satu hal yang bisa kupastikan dengan tegas saat
ini adalah bahwa aku merasakan obsesi keterikatan yang teramat kuat terhadap
Mashiro, lebih dari siapa pun di dunia ini.
(Akan kucoba semampuku.)
—Jawaban yang payah sekali, tapi yah, untuk ukuran
pemuda sepertimu mungkin itu sudah pencapaian yang lumayanlah.
Tepat saat ibunda Mashiro menggumamkan hal itu di
benakku, tubuhku mendadak bergerak sendiri di luar kendali, melangkah maju
mendekati Mashiro.
"Jangan mendekat! Kau mau bocah ini
kehilangan nyawanya!?"
Arisa menepuk-nepuk leher Mikan menggunakan sisi
tumpul belatinya seraya melayangkan peringatan keras.
"Tenanglah, aku tidak akan
bertindak bodoh. Kalian berdua tentu tahu betul bahwa kami mustahil tega
melukai kedua gadis itu, bukan?"
Menggunakan tubuhku, ibunda
Mashiro mengedikkan bahu lalu menghentikan langkah kakinya.
"Lalu, apa maumu sebenarnya?"
"Jika ragaku kuserahkan padamu, kesadaranku
pasti akan lenyap terenggut, kan? Kalau begitu, sebelum saat itu tiba, aku
ingin mengetahui isi hati Mashiro yang sesungguhnya. Sebenarnya, bagaimana
pandangan Mashiro terhadap diriku selama ini?"
Bisa-bisanya ibunda Mashiro melontarkan pertanyaan
yang sama sekali tak masuk akal di situasi seperti ini!
(Hei, Bibi! Meskipun statusmu itu ibunya, ini
sudah keterlaluan melanggar privasi orang lain, tahu!)
—Jangan berisik dan banyak
mengeluh begitu. Bukankah
menurutmu selama ini Mashiro sangat membencimu? Kalau begitu kita tinggal
memastikannya sekali lagi secara langsung, tidak ada ruginya bagimu, kan? Atau
jangan-jangan, ada alasan tertentu kenapa kau takut mendengarnya?
(Selalu saja pintar membalikkan kata-kata. Apa
cara konyol seperti ini benar-benar bisa membangkitkan kesadaran Mashiro?)
Aku memprotes di dalam hati dengan
nada gusar, namun—
—Semua itu tergantung pada dirimu
sendiri.
Terdengar tawa renyah sang ibunda
yang menggema santai.
Astaga, apa sebenarnya yang
direncanakan wanita ini? Aku sama sekali tak sanggup membaca jalan pikirannya,
namun fakta bahwa kami tengah terjepit di jalan buntu adalah kenyataan yang tak
terbantahkan.
Mau tidak mau aku harus mengikuti arus
permainannya untuk saat ini...
"Jika rasa keterikatanmu pada gadis ini
semakin dalam, kau pasti akan semakin tak berdaya melawanku nanti... begitu,
ya? Baiklah, akan kuberi tahu jawabannya."
Selama beberapa saat, jemari lentik Hato mengelus
bibir ranum Mashiro, sebelum akhirnya sebuah seringai vulgar yang sama sekali
tak pantas disandang wajah ayu itu mengembang lebar.
"Penyesalan yang teramat mendalam karena
telah memperlakukanmu dengan buruk dan melukai perasaanmu. Namun di saat yang
sama, ia sangat takut dibenci olehmu. Ia ingin terus berada di sisimu
selamanya. Karena itulah, ia merasakan luapan kecemburuan dan kepanikan yang
teramat dahsyat terhadap gadis bernama Makoto yang berpotensi merebutmu dari
sisinya."
"Hah? Cemburu pada Makoto? Apa kau serius
mengatakannya?"
Kukira yang akan meluncur dari mulutnya hanyalah
rentetan makian kasar, sehingga mendengar pernyataan yang teramat tak terduga
itu membuatku spontan memotong ucapannya.
"Kau pernah kepergok mandi
bersama dengan gadis bernama Makoto itu, kan? Sejak saat itulah gadis ini yakin
bahwa kau dan gadis Makoto itu saling jatuh cinta secara sungguh-sungguh."
"Itulah sebabnya ia merasa
sangat tersiksa, muak, dan tak sudi melihatmu berdekatan dengan Makoto.
Kira-kira begitulah gejolak batinnya."
Melihat seringai licik Hato yang
mengembang semakin lebar,
"Lalu, apa lagi?"
(Ibu! Cukup, jangan diteruskan
lagi—!)
Aku berusaha mencegahnya, namun—
—Wahai menantuku, serahkan urusan ini pada Ibu.
Bukankah tadi kita sudah sepakat?
Dengan nada suara yang teramat tenang dan tegas,
ibunda Mashiro mengingatkanku kembali.
Sikapnya yang mutlak tanpa kompromi itu memaksaku
untuk kembali mengunci mulut rapat-rapat.
"Saking terbakar api cemburu, ia
melampiaskannya dengan bersikap dingin dan ketus padamu, lalu setelahnya ia
menangis tersiksa dirundung penyesalan diri sendiri. Namun anehnya, setiap kali
malam tiba, ia selalu mengkhayalkan kehangatan dekapanmu."
"Ia ingin menggenggam tanganmu! Ingin dipeluk
erat olehmu! Ingin mengecup bibirmu! Dan mendambakan raganya menyatu seutuhnya
denganmu lahir dan batin! Benar-benar menggelikan sekali! Padahal kalau
perasaan ini dimanfaatkan untuk merayumu, pria polos nan dungu sepertimu pasti
langsung bertekuk lutut dalam sekali serang, kan!"
Sembari tertawa mengejek, kedua tangan Hato
meremas payudara ranum Mashiro dengan kasar.
—Calon menantuku, itulah isi hati putriku yang
sesungguhnya.
(T-Tunggu dulu, maaf, aku benar-benar tidak bisa
mencerna semua ini! Mashiro jelas-jelas sangat membenciku, kan!)
—Ia hanya memaksakan diri bersikap seperti itu.
Fakta tentang putriku yang baru saja dibeberkan oleh vampir itu baru separuh
dari kebenaran yang sesungguhnya. Kau tentu tahu betul bahwa hampir setiap
malam anak itu selalu tersiksa oleh mimpi buruk, kan?
(Iya, aku tahu soal itu.)
—Bisakah kauraba apa penyebab yang membuatnya
begitu menderita?
(Rasa bersalah... karena pernah membantai monster
berakal budi tak berdosa di masa lalu... bukan begitu?)
—Tebakanmu itu separuh benar, tapi separuhnya lagi
keliru. Menaruh hati pada dirimu sama saja artinya dengan menyangkal seluruh
jalan hidup yang telah ia lalui selama ini.
—Sebab perasaan cinta itu meruntuhkan dasar
pembenaran atas segenap pembantaian yang pernah ia lakukan di masa lampau.
Itulah sebabnya setiap malam ia melewati hari-harinya dalam kubangan rasa sesal
dan ratapan tobat yang tiada akhir.
(Penjelasan itu rasanya terlalu melompat jauh!
Bagaimana mungkin rasa sukanya padaku bisa meruntuhkan pembenaran atas
dosa-dosanya di masa lalu!?)
Kemungkinan besar keluarga kandung Mashiro tewas
dibantai oleh kawanan monster di masa lalu. Wajar bila ia menaruh dendam
kesumat yang melampaui batas terhadap segenap bangsa monster.
Namun bila memang demikian, dendam itu semestinya
memiliki dasar pembenaran yang sangat kokoh di dalam benaknya.
Andaikan pertemuannya dengan Arisa berhasil
mengikis prasangkanya terhadap monster berakal budi hingga memicu rasa bersalah
sekalipun, fakta bahwa keluarganya tewas dibunuh oleh monster tetaplah
kenyataan yang tak terbantahkan.
Lalu mengapa—.
—Alasan utama anak itu begitu membenci monster
bukanlah semata-mata karena kehilangan kami selaku orang tuanya, bukan pula
didorong oleh rasa keadilan semu akibat besarnya korban jiwa yang menimpa umat
manusia.
(Maksudmu... akar kebencian Mashiro terhadap
monster lahir semata-mata karena ia kehilangan sosok bernama Umi, begitu?)
Umi, nama itulah yang kerap diracaukan Mashiro
dalam tidurnya saat tersiksa mimpi buruk.
Namun mengapa menaruh hati padaku bisa melenyapkan
pembenaran atas kebenciannya itu?
—Tepat sekali. Karena anak itu memiliki intuisi
yang sangat tajam. Seiring dirinya mulai terpikat oleh pesonamu, naluriahnya
perlahan menyadari kebenaran tersebut. Sebab betapa pun ingatanmu dimanipulasi,
esensi jiwamu yang sejati takkan pernah bisa berubah.
—Oleh karena itulah, kau mutlak harus mengetahui
kebenarannya. Mengapa anak itu pada akhirnya memilih jalan hidup sebagai sosok
monster penumpas darah.
Nada bicaranya kini tak lagi diwarnai candaan
jenaka seperti tadi, melainkan berganti menjadi getaran suara yang teramat
berat dan sarat akan ketegangan mendalam.
(Apa sebenarnya maksud perkataanmu itu?)
Tepat saat aku membuka mulut hendak menuntut
kejelasan makna dari ucapannya,
—Eksistensimu yang sekarang ini direkonstruksi
berdasarkan kondisimu saat kehilangan ingatan masa lalu pada peristiwa lima
tahun silam. Karena itu, jika hanya sekadar ingatan pada masa-masa itu, Ibu
masih sanggup merekonstruksikannya kembali untukmu.
Bersamaan dengan kata-kata penuh belas kasih yang
terucap dari ibunda Mashiro, seluruh pandangan mataku seketika berputar dan
terdistorsi hebat.
◇◆◇
Saat itu aku tengah berada di sebuah kota
berbenteng bernama Ramour.
Menjalani hari-hari yang bersahaja namun berlimpah
kebahagiaan, hingga pada suatu hari, saat aku dan sahabat masa kecilku, Lena
Grote, menjelajahi hutan di dekat perbatasan, kami berdua menemukan sebuah kuil
pemujaan kuno yang telah lapuk dimakan usia.
Bila kupikirkan kembali sekarang, bangunan itu
kemungkinan besar adalah sebuah kuil kecil khas Jepang.
Terdorong oleh rasa penasaran khas anak-anak,
tanganku menyentuh sebongkah batu misterius yang tersemat di kuil tersebut.
Detik berikutnya, aku mendapati diriku telah
berdiri terdampar di sebuah gang sempit di sudut Kota Tokyo, di planet Bumi
ini.
Dunia itu adalah Bumi pada era di mana kaum vampir
belum menampakkan diri, tepat saat festival perayaan akbar peringatan 50 tahun
berdirinya profesi Hunter tengah diselenggarakan dengan sangat meriah.
Di tengah lautan manusia yang memadati jalanan
dalam jumlah yang belum pernah kulihat seumur hidupku, aku melangkah
terlunta-lunta sembari menangis tersedu-sedu.
Dan pada saat itulah—.
"Kau ini anak laki-laki, kan! Jangan menangis cengeng seperti
itu!"
Di sanalah aku pertama kali bersua dengan Mikage
Mashiro.
Mashiro kecil menarik tanganku yang basah oleh air
mata, lalu membawaku menghadap kedua orang tuanya yang merupakan Hunter Tingkat
A.
Akibat guncangan hebat saat berpindah ke dunia
ini, sebagian ingatanku terenggut hilang, termasuk namaku sendiri. Menyerahkan anak terlantar
sepertiku ke kantor polisi semestinya adalah pilihan yang paling tepat dan
masuk akal.
Namun anehnya, kedua orang tua
Mashiro mendengarkan segenap kisahku yang terdengar mustahil itu tanpa sedikit
pun menganggapnya sebagai lelucon konyol.
Kupikir, seandainya saat itu
mereka memutuskan untuk menyerahkanku ke pihak kepolisian, mungkin takdir masa
depan yang teramat berbeda akan terbentang di hadapanku.
Akan tetapi, orang tua Mashiro
justru memilih untuk mengadopsiku ke dalam keluarga mereka.
Mengingat satu-satunya kata yang
masih melekat di ingatanku hanyalah sebutan Kai, orang tua Mashiro kemudian
menyematkan nama kanji pengganti, yaitu 'Umi', seraya berjanji akan membantuku
mencari jalan untuk kembali ke dunia asalku.
Semenjak hari itu, selama tiga
tahun berturut-turut, aku menjalani hari-hariku berdampingan sebagai adik
laki-laki bagi Mashiro.
Mashiro adalah gadis yang berwatak
keras kepala, manja, selalu sok kuat di luar, namun sejatinya sangat rapuh dan
takut akan kesepian.
Hari-hariku saat itu benar-benar
diwarnai oleh kepatuhan tanpa daya menghadapi segenap tingkah lakunya yang
selalu menyeretku ke sana kemari.
Padahal, tubuh fisikku sama sekali tidak tumbuh
sejak diselamatkan waktu itu. Di sekolah, hampir setiap hari aku diejek karena
alasan itu, tetapi setiap kali hal itu terjadi, Mashiro selalu membelaku dan
marah seolah-olah dirinyalah yang diejek.
Melihat kebaikannya itu, perlahan-lahan aku pun
mulai sangat tertarik padanya.
Dan di hari yang menentukan itu, kebahagiaan kami
seketika hancur berkeping-keping oleh kedatangan para penyusup dari dunia lain.
Kedua orang tua Mashiro memercayakan keselamatan
dirinya kepadaku, lalu aku menarik tangannya yang gemetaran dan nyaris menangis
sembari terus berlari. Namun pada akhirnya, kawanan monster berhasil memojokkan
kami berdua.
Di saat seperti itu—.
"Umi, tidak apa-apa, biar aku
yang melindungimu!"
Padahal ia pasti sangat ketakutan. Terpisah dari
ayah dan ibunya pasti membuatnya begitu cemas.
Meski begitu, ia tetap berusaha melindungiku.
Hatiku bergetar hebat karenanya, dan pada saat itulah, dari lubuk hati yang
terdalam, aku sangat ingin menyelamatkannya.
Hasilnya, rencana pengalihan perhatian itu
berhasil dan kawanan monster mengerubungi diriku. Di tengah kelegaan yang luar
biasa karena telah berhasil melindungi gadis yang sangat kucintai, kesadaranku
pun lenyap.
Saat terbangun, wajah Lena yang tengah menatapku
dengan cemas langsung tertangkap oleh pandanganku. Aku tertidur tepat di depan
kuil kecil itu.
Anehnya, padahal aku tinggal bersama Mashiro dan
keluarganya selama tiga tahun, waktu yang berlalu sejak aku menyentuh batu
misterius itu ternyata baru tiga jam. Terlebih lagi, warna rambut hitamku
tampaknya telah berubah menjadi abu-abu sejak saat itu.
Aku ingin bertemu kembali dengannya, jadi aku
menyentuh batu di kuil itu sekali lagi.
Di detik berikutnya, seluruh ingatanku tentang
Bumi lenyap tanpa sisa.
◇◆◇
Kini situasi ganjil ini akhirnya masuk akal
bagiku. Sepertinya aku bukan penduduk dunia ini, melainkan penduduk dunia
tempat Kota Benteng Ramour berada.
Jika demikian, ada beberapa hal ganjil yang masih
mengganjal.
Pertama, ingatan di dalam kepalaku sebagai seorang
pemuda Bumi bernama Tsukishiro Kain. Aku bahkan mengingat secara sangat
terperinci mulai dari orang tua di kampung halamanku di Bumi hingga
teman-temanku.
Bagaimana cara ingatan semacam ini ditanamkan,
serta siapa dan demi tujuan apa ingatan itu dimasukkan ke kepalaku?
Hal aneh lainnya adalah aku sama sekali tidak
memiliki ingatan tentang dunia asalku, dan apa yang kulakukan di sana pun masih
menjadi misteri.
—Wahai menantuku?
Menanggapi suara Bibi Sakuya yang terdengar
menyelidik di benakku,
(Tenang saja. Aku akan segera membebaskan
Mashiro-chan sekarang.)
Aku memberikan jawaban dengan nada tegas.
"Arata!"
Bagi Arata yang tanggap situasi, panggilan itu
sudah lebih dari cukup. Aku melompat ke hadapan Mashiro lalu mencengkeram
pergelangan tangan kanannya.
"J-Jangan bergerak! Kalau kau bergerak
sedikit saja, gadis oni itu akan—"
Didorong oleh rasa panik, Hato mencoba mengirimkan
instruksi kepada vampir yang mengendalikan Arisa, namun vampir itu sudah
dilumpuhkan begitu mudahnya oleh Arata hingga pingsan tak sadarkan diri.
Hebat juga si Arata... Tunggu
sebentar, sebenarnya apa hubunganku dengan Arata yang sesungguhnya? Kalau
dipikirkan secara dingin, bisa melumpuhkan vampir semudah itu sudah membuktikan
bahwa dia jelas bukan orang biasa.
Tidak, daripada memikirkan hal itu, saat ini—.
"Mashiro-chan, akhirnya aku mengingatmu.
Maafkan aku karena sudah melupakanmu selama ini, ya."
Aku menatap lurus ke arah Mashiro seraya
tersenyum, melontarkan permintaan maaf seperti yang biasa kulakukan dulu.
"Kau ini bicara omong kosong apa, sih!"
Hato meronta berusaha melepaskan diri dariku,
namun aku mendekap tubuh Mashiro erat-erat seraya menatap wajahnya ke bawah—.
"Mashiro-chan, sejak dulu aku selalu
mencintaimu."
Aku mengungkapkan isi hati sejatiku yang tak
sempat kusampaikan pada hari itu, lalu mengecup bibir Mashiro.
Kedua matanya terbelalak lebar saat kami
berciuman, dan wajahnya seketika merona merah padam laksana buah apel matang.
Kemudian, ia mengibaskan tanganku
dan melompat mundur selangkah,
"D-Dasar mesum! Apa-apaan yang kaulakukan, hah!?"
Sembari berteriak berang, ia melayangkan tamparan
keras tepat ke pipiku. Tak tanggung-tanggung, ia bahkan melancarkan serangan
susulan berupa tendangan memutar ke arahku.
Sembari mengatur napasnya yang terengah-engah,
Mashiro menatap ke arahku yang terlempar ke belakang,
"Cepat enyah dari tubuhku sekarang
juga!"
Ia memekik lantang dengan wajah penuh amarah.
Sesaat kemudian, energi sihir perak membuncah
dahsyat dari dalam dirinya,
"Gugiiii!"
Diiringi jeritan melengking, sesosok wanita
berpakaian putih dengan tato berbentuk hati dan burung di lengan kanannya
terlempar keluar dari raga Mashiro ke lantai.
"Ekiki, tangkap dia!"
"T-Tunggu dulu—"
Sebelum Hato sempat menyelesaikan kata-katanya
dalam kepanikan, seluruh tubuhnya telah ditelan seutuhnya oleh kabut hitam
pekat.
"Kau tidak terluka, kan? Kalau begitu, tolong
urus Arisa juga. Dia sedang tertidur sekarang, tetapi di dalam dirinya masih
ada vampir yang bersarang."
"Tidak usah kauberitahu pun aku sudah
tahu!"
Sembari memalingkan wajahnya yang memerah, ia
berlari menghampiri Arisa lalu memancarkan energi sihir perak dari tangan
kanannya.
Hasilnya, vampir yang merasuki tubuh Arisa pun
berhasil diringkus dengan selamat. Sekarang, yang tersisa tinggal bos besar mereka saja.
"K-Kau... benar-benar
Umi?"
"Iya, diriku yang sekarang
adalah Mikage Umi."
"B-Begitu..."
Sembari menautkan kedua jemarinya
dengan canggung dan malu-malu, Mashiro membuang muka ke arah lain dengan wajah
yang semerah kepiting rebus.
"Ada apa? Kau mau ke toilet?"
Aku melontarkan pertanyaan yang sangat polos
padanya.
"K-Kenapa kau selalu saja tidak punya
perasaan seperti itu, sih!?"
Melihat Mashiro yang berteriak sembari menatapku
tajam dengan mata melotot, aku meletakkan telapak tangan kananku di atas
kepalanya.
"Akhirnya kita bisa bertemu lagi, ya,
Mashiro-chan."
Aku menyampaikan kalimat pertemuan kembali itu
kepadanya.
Entah mengapa, Mashiro tampaknya tidak menyukai
salam pertemuanku tadi, dan kini ia beralih ke mode merajuk. Anak ini
benar-benar tidak berubah sejak dulu, selalu saja aneh.
(Hei, Kain-kun, sebenarnya apa hubunganmu dengan
Mashiro?)
Karina yang sedari tadi melirik ke arah Mashiro
berbisik pelan di samping telingaku.
(Hubungan kami persis seperti yang
kaubayangkan, kok.)
Aku membalas bisikannya seraya
tersenyum.
Karina menatap bergantian antara
diriku dan Mashiro, menangkupkan kedua tangan ke pipinya, lalu seketika sekujur
tubuhnya memerah padam persis seperti buah apel.
Sebenarnya apa yang baru saja dia
bayangkan di dalam kepalanya?
"Lalu, apa rencana kita selanjutnya? Mashiro,
Tatsuya, dan bocah-bocah ini sudah berhasil kita selamatkan, bagaimana kalau
kita mundur dulu untuk mengatur ulang siasat?"
Mendengar usul penarikan mundur yang tidak biasa
dari Arata yang biasanya suka bertarung,
"Benar juga, ada Tatsuya dan Arisa yang
sedang tidur pulas, ditambah anak-anak ini juga, jadi sebaiknya kita
menghindari pertempuran sebisa mungkin."
Mashiro mengangguk setuju, dan yang lainnya pun
memberikan anggukan sepakat tanpa suara.
"Pada dasarnya aku juga setuju, tetapi
Takeshi masih belum ditemukan. Kita akan kembali setelah berhasil menemukan
Takeshi. Arata, tolong bawa Tatsuya dan yang lainnya ke tempat yang aman."
"Serahkan padaku!"
Melihat Arata yang mengangguk mantap,
"Kuserahkan pengawalan mereka kepadamu."
Aku memanggil Chrono Grasshopper
dan memberinya perintah.
"Gigaga (Sesuai perintah)!"
Dengan begini, jaminan keselamatan mereka sudah
terpasang. Sekarang tinggal mencari keberadaan Takeshi.
"Aku juga ikut."
Mendengar Mashiro yang berbicara dengan nada
ketus, aku menghela napas panjang.
"Tentu saja tidak boleh! Kau baru saja
diselamatkan dari tawanan mereka beberapa saat yang lalu, tahu! Kau hanya akan
menjadi beban!"
Aku menolak keras keinginannya itu.
"Dengar ya, bagaimana kalau ternyata Takeshi
juga dirasuki musuh? Tanpa kehadiranku, kalian tidak akan bisa berbuat apa-apa,
kan!? Benar tidak!?"
"Yah, itu memang benar, sih..."
Membawa Mashiro dalam situasi seperti ini terasa
seperti langkah yang sangat buruk bagiku.
(Bagaimana menurut Bibi Sakuya?)
Aku mencoba bertanya, tetapi tidak ada sahutan
sama sekali dari dalam kepalaku. Apakah karena parasitnya sudah terusir, beliau
langsung kembali bersemayam di dalam jiwa Mashiro?
Bagaimanapun juga, terus berdebat di sini tidak
akan menyelesaikan masalah. Sejak dulu anak ini memang sangat keras kepala.
Sekali ia memutuskan sesuatu, ia tidak akan pernah
mau mengalah. Bagaimanapun caranya, ia pasti akan tetap memaksa ikut.
"Baiklah kalau begitu. Aku dan Mashiro-chan
yang akan pergi menyelamatkan Takeshi. Mashiro-chan, tolong jangan bertindak
ceroboh, ya?"
"Kalimat itu tidak pantas diucapkan oleh
orang sepertimu!"
"Ada benarnya juga. Nah, karena kami yang
akan bertanggung jawab membawa Takeshi pulang, kalian semua tunggu saja sambil
menyiapkan pesta bersama Makoto dan yang lainnya, ya!"
Mendengar perkataanku itu, Karina memasang
ekspresi bengong kebingungan,
"Sebenarnya dari tadi aku penasaran, Takeshi
dan Makoto itu siapa? Kenalan kalian di SMA Hanatsuki?"
Ia melontarkan lelucon mustahil semacam itu.
"Tolong jangan bercanda di saat genting
begini! Mereka berdua itu sahabat karibku di sekolah, tahu! Lagipula, Makoto
itu kan kakak perempuanmu sendiri!"
"Kain-kun, aku ini anak tunggal, lho."
"Anak... tunggal? Bicara apa kau ini? Kalau
begitu bagaimana dengan Takeshi!? Takeshi juga anggota Kelas F yang sama dengan
kita!"
Mendengar suaraku yang mulai menyiratkan
kekesalan,
"A-Aku tidak tahu. Arima, apa kau tahu?"
Karina yang kebingungan meminta kepastian dari
Arima Hayato di sebelahnya, namun—
"Dengar ya, kaupikir sudah berapa kali kita
digabungkan dengan Kelas F? Anggota Kelas F itu cuma berlima: kau Kain,
Mashiro, Ran, Tatsuya, dan Karina."
"A-Arata, bagaimana denganmu!?"
"Ah, kalau aku sih kenal mereka berdua."
Arata menjawab dengan nada yang tampak agak
gamang. Saat aku menoleh menatap Mashiro,
"Aku juga kenal Takeshi dan Makoto, kok.
(Apalagi gadis itu, mustahil bisa kulupakan begitu saja.)"
Mashiro pun mengangguk
membenarkan.
Tidak salah lagi. Ingatan tentang Makoto dan Takeshi telah
terhapus lenyap dari memori semua orang selain diriku, Arata, dan Mashiro.
Rasa tidak nyaman yang khas seketika merayapi
hatiku, seakan-akan ada sesuatu yang tak kasat mata tengah mengikis kenyataan
ini. Demi menghindari
hal tersebut,
"Firasatku benar-benar buruk
soal ini! Sebaiknya kita telusuri ulang situasi ini terlebih da—"
Tepat saat aku berniat mengambil
tindakan mundur darurat,
"Sayang sekali, hal itu mustahil bisa kalian
lakukan."
Sebuah suara pria bernada santai yang sama sekali
tidak cocok dengan ketegangan tempat ini terdengar menggema.
Saat aku mengarahkan pandanganku ke sumber suara,
seorang pria rupawan bertubuh tegap dengan rambut sewarna pekatnya malam dan
mengenakan pakaian hakama tampak tengah berdiri di sana.
Dari kepalanya menjulang sepasang tanduk panjang,
ekor berotot menyembul dari balik hakamanya, serta sesuatu yang tampak seperti
tulang belulang atau bilah pedang mencuat dari punggungnya.
Namun, aku sangat mengenali wajah pria yang
memancarkan aura liar tersebut. Sosok itu adalah—.
"Ayah!"
"Paman Takeru!"
Sosok itu tak lain adalah ayah kandung Mashiro,
mantan Hunter Tingkat A, Mikage Takeru.
◇◆◇
"Behemoth-sama, apakah Anda
mengenalnya?"
Pria berjanggut tipis dengan tatapan mata luar
biasa tajam yang mengenakan hakama merah tua dan jubah bersulam emas di
belakangnya mengerutkan kening, meminta konfirmasi pada Paman Takeru. Apakah
dia Hunter Kelas A, Amagi Tokisada?
Namun, apa maksud dari ucapannya yang seolah-olah
baru pertama kali bertemu ini?
"Tidak kenal."
Sembari menyunggingkan seringai buas, Paman Takeru
langsung membantahnya. Wujudnya yang bukan lagi manusia saat ini sudah cukup
aneh, tetapi melihat dari perkataannya barusan, dia jelas bukan Paman Takeru
yang biasa.
"Ayah, Ayah selamat!? Kenapa selama ini tidak
memberi kabar!? Kenapa wujud Ayah jadi seperti itu!?"
Mashiro melontarkan rentetan pertanyaan tanpa
henti, tetapi—.
"..."
Paman Takeru bahkan sama sekali tidak sudi
meliriknya.
"Paman Amagi, apa maksud semua ini?"
"..."
Mashiro bertanya pada Hunter Amagi dengan nada
bingung. Pria itu sempat meliriknya sekilas, namun segera kehilangan minat dan
beralih mengamati diriku serta Arata dengan saksama.
Sudah kuduga. Sikap mereka berdua memperlakukan
kami layaknya orang asing yang tak dikenal.
Mereka yang sekarang sama sekali tidak mengingat
kami.
"Mari kita lihat..."
Paman Takeru mengedarkan pandangan ke arah kami
seakan sedang memeriksa barang dagangan. Setelah memegangi dagunya dan
menatapku lekat-lekat selama beberapa saat,
"Tadi kurasa ada sensasi aneh, tapi apa cuma
perasaanku saja, ya..."
Ia menggelengkan kepalanya perlahan ke kiri dan ke
kanan. Dan kemudian—.
"Belalang dan dua bocah di sana bernilai 30
poin, sisanya semua 0 poin. Omong kosong macam apa soal orang yang bisa
menghabisiku sebagai dewa! Semuanya cuma makhluk lemah belaka, kan! Sialan kau
Beelzebub, berani-beraninya memberiku informasi palsu! Aku sudah kehilangan
minat. Shirou, Mafuyu, lakukan sesuka kalian!"
Sembari mendecakkan lidahnya pelan, Paman Takeru
memunggungi kami, mengambil jarak, lalu duduk santai di atas tumpukan puing. Ia
mengeluarkan rokok serta pemantik dari saku bajunya, menyalakan api, dan mulai
mengisap rokoknya perlahan.
"Tsukishiro Kain akan kuambil! Siapa pun yang
berani menyentuhnya akan kubunuh!"
Dengan tekad yang membara, Mafuyu, wanita jelita
berambut merah dengan kimono putih bersih, melangkah maju mendeklarasikan
keinginannya.
"Hah, aku juga malas kalau harus bertarung
sungguhan denganmu cuma demi merebutnya. Kalau begitu, biar aku saja yang
membereskan sisanya, ya?"
Shirou, pria yang sangat mirip dengan Hunter Amagi
itu, mencabut pedang panjang dari pinggangnya. Gawat, mereka berdua jelas
pendekar tingkat tinggi.
Atau lebih tepatnya—.
"Kamu... Makoto, kan?"
Karena penampilannya berubah
drastis—rambutnya memanjang dan mengenakan kimono putih bersih—aku sempat tidak
menyadarinya, tetapi lekuk wajah itu sempurna milik Makoto.
"Kain, kamu adalah milikku. Aku tidak akan
menyerahkanmu pada wanita itu! Karena itu, wanita itu akan kubunuh di
sini!"
Makoto mendeklarasikannya dengan tatapan mata yang
membara, lalu memelototi Mashiro dengan ekspresi penuh permusuhan.
"J-Jangan bercanda! Kenapa Umi bisa jadi
milikmu, hah!?"
Mashiro memanifestasikan pedang sucinya seraya
membalas bentakan Makoto. Mashiro, bukan bagian itu yang seharusnya kamu
permasalahkan...
"Aku yang akan melawan orang
ini! Maaf, aku tidak bisa
membantumu!"
Sembari menyiapkan pedang besarnya, Arata
menentukan lawannya dengan suara yang terdengar kaku.
"Aku juga tidak bisa membiarkan Makoto
terluka, jadi tanpa kauberitahu pun aku akan menghadapinya! Chrono Grasshopper!
Segera evakuasi semuanya ke tempat yang aman selain Mashiro-chan!"
"Gigagugigi (Dimengerti, Tuanku)."
Bersamaan dengan bunyi aneh khasnya, Chrono
Grasshopper membungkuk hormat ke arahku, mendekap Karina dan yang lainnya, lalu
melesat pergi membawa mereka menjauh.
Sejujurnya, aku pun ingin melarikan Mashiro dari
sini. Namun, jika target Makoto adalah Mashiro, kabur bersama Chrono
Grasshopper justru berisiko membuat mereka diserang.
Kalau sampai itu terjadi, akibat terburuknya
adalah kehancuran bagi kami semua.
Tujuan Paman Takeru dan Makoto memang masih
menjadi misteri, namun mereka berdua bersungguh-sungguh. Hanya hal itu yang
bisa kupastikan.
Jika Mashiro diincar oleh Makoto yang sekarang, ia
takkan mampu melawan dan pasti akan terbunuh. Menghadapinya di sini adalah
keputusan terbaik yang bisa kuambil.
"Kain! Kamu mengkhawatirkanku, ya!? Aku
senang sekali!"
Dengan wajah berbinar penuh kegembiraan, Makoto
mengarahkan ujung sepasang rapier miliknya ke arah Mashiro, lalu melesat
menerjang dengan kecepatan yang berada di luar batas kewajaran.
"Sial! Kamu benar-benar tidak
mau mendengarkanku, ya!?"
Aku menghunus pisauku, lalu
menangkis tusukan rapier yang mengarah ke Mashiro.
"K-Kenapa tidak kena!?"
Sembari mendekap Mashiro dengan
lengan kananku, aku menghindari seluruh pilar es yang ditembakkan oleh Makoto
dengan selisih jarak setipis helai rambut.
Sejak awal, Makoto secara konsisten terus
mengincar nyawa Mashiro. Dan aku terus menghindarinya sembari mendekap erat
tubuh Mashiro.
"Hei, aku cuma jadi bebanmu, kan!? Lepaskan!
Cepat lepaskan aku!"
"Mashiro-chan, jadilah anak baik, jangan
memberontak!"
"Tapi kalau begini terus, kamu juga
akan—!"
Sembari membelah pilar es yang membidik kepala
Mashiro dengan pisauku, aku membenamkan wajahnya ke dadaku, lalu—
"Tidak apa-apa! Percayalah padaku!"
Aku berteriak meyakinkannya dengan
segenap perasaanku.
"I-Iya..."
Saat Mashiro mengangguk patuh, aku
mencincang seluruh pilar es yang datang menghujam hingga hancur
berkeping-keping menjadi serpihan debu.
"Jangan bermesraan di
depanku!"
Didorong oleh rasa cemburu yang
meledak-ledak dengan mata berkaca-kaca, Makoto menciptakan bilah-bilah es tipis
dalam jumlah tak terhitung di udara.
Kalau dibiarkan seperti ini, kami jelas akan
terdesak kalah perlahan. Aku merentangkan benang energi sihir ke seluruh bilah
es yang melayang di udara dan menguncinya sebagai target, lalu—
"Tsukishiro Dagger Arts, Tingkat
Menengah—Arachne's Web!"
Aku melancarkan tebasan beruntun. Seluruh bilah es
itu seketika terkoyak menyerupai jaring laba-laba lalu pecah berantakan.
"Kh!"
Setelah membaringkan tubuh Mashiro dengan lembut
ke tanah, aku melesat mendekati Makoto yang hendak melancarkan serangan
berikutnya, lalu mencengkeram pergelangan tangan kanannya.
"Sudahi ini, Makoto."
Aku berbicara selembut mungkin kepada Makoto yang
wajahnya telah basah kuyup oleh linangan air mata.
Makoto yang sekarang sangatlah kuat. Kekuatan
aslinya jauh melampaui kami berdua.
Kemungkinan besar, jika ia bertarung secara
sungguh-sungguh, kami berdua pasti sudah membeku menjadi es dalam sekejap mata.
Hal itu tidak terjadi semata-mata karena di dalam hatinya ia tidak berniat
membunuh kami.
"Tidak mau! Tidak mau!
Tidaaak mau!"
Gumpalan es dalam jumlah yang
konyol mulai bermunculan di udara. Tak kusangka aku terpaksa menggunakan kartu as milikku di tempat ini.
Aku memasukkan obat yang kudapat dari Yoshizato
Gaku ke dalam mulutku, lalu mengalirkan energi sihir untuk melipatgandakan
efeknya.
Karena aku memiliki fisik istimewa yang kebal
terhadap segala bentuk status abnormal, aku bisa mengambil taruhan hidup dan
mati semacam ini.
Aku mendekap erat tubuh Makoto yang meronta-ronta,
lalu menyalurkan cairan berefek Sleep dan Paralysis itu secara
langsung lewat bibir ke bibirnya.
Mata Makoto terbelalak lebar dengan ekspresi luar
biasa terkejut, sebelum akhirnya seluruh kekuatannya terkuras habis dan
tubuhnya terkulai lemas.
Di saat yang bersamaan, gumpalan es raksasa yang
melayang di udara pun lenyap menguap menjadi kabut.
Menurut penuturan Yoshizato, itu adalah item sihir
yang bahkan sanggup melumpuhkan naga legendaris hanya dengan setetes saja. Aku
telah memperkuat khasiatnya berkali-kali lipat menggunakan energi sihirku, lalu
menuangkannya langsung ke dalam mulut Makoto.
Kemampuan fisik Makoto yang sekarang sudah
sepenuhnya berada di ranah monster. Mengoleskan atau menyiramkan obat ini dari
luar tubuhnya kemungkinan besar tidak akan mempan.
Oleh karena itu, memasukkannya langsung ke dalam
organ tubuhnya adalah sebuah pertaruhan besar, dan tampaknya aku berhasil
memenangkannya.
Tepat saat aku membaringkan Makoto secara perlahan
ke tanah, Mashiro berjalan mendekatiku, lalu menendang tulang kering kakiku
sekuat tenaga dengan senyuman masam di wajahnya. Setelah itu, ia memanyunkan
bibirnya dan membuang muka ke arah lain.
Di tengah keheningan sesaat itu—.
"Kuat sekali kau..."
Aku mengalihkan pandanganku ke arah sumber suara,
di mana Arata dan Shirou tampak saling memelototi satu sama lain.
"Itu dialogku, tahu. Tak kusangka kau sanggup
mengimbangiku sejauh ini, benar-benar di luar perkiraan."
Sembari memanggul pedang panjangnya di pundak,
Shirou melirik Makoto yang terbaring di tanah lalu mendecakkan lidahnya pelan.
"Behemoth-sama, hamba memohon izin untuk
melepaskan pembatas kekuatan, apakah diperbolehkan?"
"Lakukan sesukamu."
Sembari mengembuskan asap rokoknya, Paman Takeru
memberikan izin.
"Ayah, hentikan semua ini!"
Tepat saat Mashiro berteriak mengecamnya, energi
sihir hitam pekat mengalir deras laksana luapan air bah dari sekujur tubuh
Shirou.
"Kekuatannya melonjak gila-gilaan..."
Arata memaksakan suaranya keluar dari balik
tenggorokannya yang tercekat.
Gawat sekali. Tingkatan eksistensi
orang itu jelas berada di dimensi yang berbeda.
Bawahannya saja memiliki kekuatan
yang sedemikian tidak masuk akal. Sekarang aku paham mengapa Paman Takeru
menganggap kami hanya bernilai 30 poin.
Tampaknya sampai di sinilah batas
kami.
"Sisanya serahkan padaku.
Arata, bawa Mashiro-chan dan segera mundur dari sini."
Jika hanya sendirian, bila lawanku
cuma Shirou, mungkin aku masih bisa mencari celah... seharusnya.
"Tapi—"
"Cepat! Ini bukan saran, melainkan
perintah!"
Setelah memotong perkataannya secara sepihak, aku
mengubah pegangan pisauku, merendahkan titik tumpu tubuhku, dan mengalihkan
seluruh fokusku murni untuk bertempur.
"Oho..."
Paman Takeru yang sedari tadi menonton tanpa
minat, untuk pertama kalinya menegakkan tubuhnya dan menatapku dengan mata
membelalak takjub.
"Umi, jangan bicara seenaknya
sendiri di situasi seperti ini!"
Mendengar suara Mashiro yang sarat
akan kepanikan,
"Mashiro-chan, aku pasti akan kembali. Jadi
tolong, pergilah mengungsi lebih dulu!"
Aku berteriak tanpa mengalihkan pandanganku
sedikit pun dari Shirou dan Paman Takeru.
"Tidak mau! Aku tidak akan pernah
meninggalkanmu sendirian lagi untuk kedua kalinya!"
Aku sudah tahu Mashiro pasti akan berkata
demikian. Karena itulah—.
"Arata, kubilang sekali lagi! Bawa Mashiro-chan dan segera mundur!
Ini adalah perintah
mutlak!"
Tepat pada detik saat aku meneriakkan perintah
itu,
"Sayang sekali, itu mustahil."
Suara Paman Takeru yang dingin dan tanpa belas
kasihan bergema, diikuti hantaman benturan luar biasa dahsyat yang menghunjam
ulu hatiku.
Seketika itu pula, pemandangan langit dan daratan
berputar cepat di depan mataku, lalu tubuhku terhempas menghantam dinding
dengan keras.
"Sialan..."
Sembari memaksakan tubuhku yang serasa remuk
berkeping-keping untuk bangkit berdiri, Paman Takeru mencengkeram kerah bajuku
dan mengangkat tubuhku ke udara.
"Kutarik kembali kata-kataku tadi. Hanya kau
seorang yang berada di pihakku. Kekuatanmu tidak cuma segini, kan? Cepat
keluarkan kekuatanmu yang sesungguhnya!"
Ia mengintimidasiku dengan kebuasan layaknya
monster buas.
"Sejak awal... aku sudah bertarung... dengan
kekuatan penuh, tahu."
Bicara seenaknya saja dia.
Pukulannya barusan jelas-jelas ditahan, tapi tubuhku sudah babak belur
dibuatnya.
Bagaimanapun aku memaksakannya, aku tidak bisa
mengeluarkan kekuatan lebih dari ini.
"Begitu ya... Jadi dalam
situasi begini pun kau masih menyembunyikan kekuatanmu. Hei, Shirou, bunuh
wanita itu!"
Sembari melirik sekilas ke arah
Mashiro, ia menjatuhkan perintah kepada Shirou.
"Apa Anda sudah gila!?
Mashiro-chan adalah putri kandung Anda sendiri!"
Aku benar-benar tidak percaya.
Paman Takeru yang begitu lembut dan sangat menyayangi putrinya dulu, kini
berniat membunuh darah dagingnya sendiri!
"Putri? Aku tidak pernah
punya anak perempuan, tuh."
Begitu Paman Takeru memuntahkan
kalimat kejam itu, Shirou mulai melangkah perlahan mendekati Mashiro dengan
pedang panjang di tangannya.
"Hentikan!"
Aku meronta sekuat tenaga, tetapi—
"Orang lemah tidak akan pernah bisa
melindungi apa pun."
Disertai ucapan dingin itu, Paman Takeru
membanting wajahku menghantam tanah dengan keras.
Bunga api berhamburan di depan mataku, namun hal
semacam itu sama sekali tidak kupedulikan saat ini. Aku hanya ingin melepaskan
diri dari kuncian Paman Takeru dengan segala cara.
Tepat setelahnya, warna di sekelilingku mendadak
sirna, dan di hadapanku telah berdiri seorang wanita jelita berambut hitam
dengan balutan kimono hitam pekat.
Aku sangat mengenali sosoknya.
(Bibi Sakuya? Tolong aku! Hentikan perbuatan Paman Takeru!)
—Maafkan aku. Apa pun yang kukatakan saat ini
takkan pernah sampai ke telinga Takeru yang sekarang. Umi, hanya ada satu cara
bagimu untuk menyelamatkan anak itu.
Sembari mengerutkan wajahnya yang tampak hampir
menangis, Bibi Sakuya menyampaikan hal itu kepadaku.
(Berarti ada cara untuk menyelamatkan
Mashiro-chan, kan!? Kalau begitu cepat beritahu aku!)
—Ya, benar sekali. Kau pasti akan berkata begitu.
Apa pun yang kulakukan, hasilnya takkan pernah berubah. Sekalipun eksistensi
dirimu harus lenyap tanpa sisa, demi menyelamatkan anak itu, kau pasti akan
mengingatnya kembali.
(Diriku... akan lenyap tanpa sisa?)
—Tepat sekali. Sebentar lagi kau akan kembali
menjadi dirimu yang sesungguhnya.
(Diriku yang sesungguhnya... ya. Maksudmu, sosok
yang berasal dari Kota Benteng Ramour itu?)
—...
Melihat Bibi Sakuya yang mengangguk dengan raut
wajah seolah dunia akan kiamat, aku akhirnya memahami seluruh rangkaian takdir
ini.
Di saat yang sama, aku mengerti mengapa Bibi
Sakuya memperlihatkan rekaman masa lalu itu kepadaku. Beliau ingin aku
menghindari tragedi perpisahan ini.
Sosok asliku bukanlah penduduk Bumi, melainkan
penghuni dunia tempat kuil pemujaan itu berada.
Entah melalui proses seperti apa aku bisa
terdampar di Bumi dengan ingatan yang telah dimanipulasi seperti ini.
Namun sekeras apa pun aku menolaknya, cepat atau
lambat, seluruh eksistensiku akan ditarik kembali menuju wujud asliku.
Benar. Ikatan persahabatan dengan Takeshi dan
Makoto yang kupupuk di dunia ini, hari-hari pelatihan bersama muridku Tatsuya,
kehidupan penuh perjuangan bersama para Hunter demi menumpas kaum vampir,
keseharian tinggal di bawah satu atap bersama Mashiro dan Arisa, hingga
kenangan manis selama tiga tahun bersama Mashiro beserta rasa cinta mendalam
yang kupendam untuknya, semuanya akan kulupakan tanpa sisa saat aku kembali
menjadi sosok asing yang berasal dari Kota Benteng Ramour.
Dan sosok itulah yang nantinya sanggup
menghentikan Paman Takeru yang sekarang.
(Bibi Sakuya, terima kasih banyak.)
Tepat saat aku membisikkan kata terima kasih itu
di dalam hatiku, kesadaranku ditarik kembali ke alam nyata.
Tidak apa-apa. Jangan menangis, Mashiro. Aku akan
mengakhiri seluruh tragedi memilukan ini sekarang juga.
Tapi, setidaknya untuk yang terakhir kali, izinkan
aku mengucapkannya.
"Mashiro-chan, aku, Mikage Umi, sangat
mencintaimu."
Bersamaan dengan ungkapan cinta pertama dan
terakhir yang terucap seumur hidupku, kepribadianku sebagai Tsukishiro Kain
sekaligus Mikage Umi, lenyap tak berbekas.
◇◆◇
Fumu, situasinya memang belum jelas bagiku, namun
tampaknya tubuh ini baru saja dihajar habis-habisan hingga wajahnya terbenam ke
tanah.
Terlebih lagi, sudah lama sekali aku tidak
merasakan sensasi bernostalgia seperti ini. Rasa sakit, ya. Dan lagi, luka ini
termasuk kategori luka parah yang nyaris merenggut nyawa.
Menarik. Sangat menarik, namun tentu saja aku
belum berniat untuk mati di sini.
Aku segera merapalkan sihir pemulihan tingkat
tinggi, Panacea, dan dalam sekejap mata rasa sakit itu lenyap tanpa
sisa.
"Hm?"
Sang monster buas mengerutkan keningnya melihat
pemulihan supercepat milikku.
"Kau terlalu meremehkan apa yang dinamakan
pertarungan."
Usai melontarkan deklarasi itu, aku memilin
tubuhku lalu melayangkan tendangan kaki kanan tepat ke arah kepala monster yang
tengah menindihku.
"Guooh!"
Monster berambut hitam pekat itu terlempar
berputar-putar dengan kecepatan tinggi di udara, lalu menghantam dinding
bangunan yang menjulang hingga retak berkeping-keping.
"A-Apa!?"
Tepat saat pria berjanggut tipis dengan tatapan
tajam itu berbalik kaget, aku sudah berpindah ke hadapannya, mencengkeram
rambutnya dengan tangan kanan, lalu—
"Hai, selamat siang."
Aku menyapanya sembari tersenyum ramah.
Menghadapi mata pria berjanggut itu yang
membelalak syok, aku menghantamkan serangan lutut telak ke tubuhnya. Saat
tubuhnya terangkat melengkung membentuk huruf V, aku menghunjamkan tinju kanan
tepat ke pipinya.
"Kuoooohhh!"
Sembari mengeluarkan suara lolongan aneh, tubuhnya
melesat meremukkan bangunan-bangunan di sekitarnya sebelum akhirnya berhenti
terhempas.
Pria berjanggut itu bangkit berdiri menggunakan
pedang panjangnya sebagai tumpuan, dengan memar biru besar di pipi kanan serta
darah segar yang mengalir membasahi kepalanya.
"Oho, kau masih sanggup hidup setelah
menerima serangan barusan? Daya tahanmu lumayan juga."
Bila lawanku adalah gerombolan kroco dari Pasukan
Kegelapan, serangan tadi sudah pasti membuat mereka tewas seketika. Anak buah
monster buas itu ternyata memiliki ketahanan tubuh yang luar biasa.
Pertarungan kali ini tampaknya benar-benar akan
sangat menghibur.
Aku memasukkan Sarung Tangan Penyegel Dewa yang
sebelumnya tak kasat mata ke dalam Item Box.
Selanjutnya, aku menyimpan pakaian yang kukenakan
saat ini, lalu mengeluarkan perlengkapan bertarung favoritku dari Item Box:
Pakaian Dewa Naga, Mantel Dewa Naga, dan Sepatu Bot Dewa Naga, lalu
mengenakannya seketika itu pula.
Menghadapi musuh kaliber ini menggunakan pakaian
biasa hanya akan membuat busanaku terbakar menjadi abu dalam sekejap mata.
Terakhir, aku mengeluarkan Murasame dari sarungnya
demi memusatkan segenap tekad dan hawa bertarungku.
Sudah sekian lama aku tidak bertarung melawan
pendekar tangguh. Akan kunikmati pertempuran ini sepuas hatiku.
Di saat yang sama, aku mengedarkan pandangan ke
sekeliling untuk membaca situasi pertempuran. Manusia yang tak kukenal dan sang
Pahlawan Mashiro, ya.
"Kalian semua, sandiwara konyol ini sudah
selesai. Bawa
orang-orang itu dan segera menyingkir dari sini!"
Aku meninggikan suaraku memberi komando.
Tepat saat perintah itu bergema, di atas permukaan
tanah, di udara, hingga di atap-atap gedung di sekeliling kami, seketika
bermunculan kawanan kawan menyenangkan yang tak terhitung jumlahnya dari
Ensiklopedia Penaklukan Monster milikku.
"Mulai sekarang aku akan
bertarung dengan cukup serius. Evakuasi seluruh makhluk hidup di area sekitar
ini, lalu bentangkan dinding pelindung dengan kekuatan penuh!"
Mendengar instruksiku, mereka
semua membungkuk hormat lalu menghilang satu demi satu dalam sekejap mata.
Entah mengapa ya? Pandanganku
terus-menerus tertarik ke arah sang Pahlawan Mashiro.
Pandanganku beradu dengan tatapan
Mashiro yang tengah digiring pergi oleh Nemesis untuk dievakuasi.
"Kamu... Umi, kan?"
Gadis itu menanyakan hal yang sama
sekali tidak kumengerti. Umi,
ya. Seingatku, identitas samaranku di tanah ini seharusnya disetel dengan nama
Tsukishiro Kain, kan?
"Sayang sekali, namaku adalah Kai
Heinemann."
Saat aku menggelengkan kepala perlahan dan
menyangkalnya, paras sang Pahlawan Mashiro terdistorsi oleh amarah, menepis
tangan Nemesis, lalu berlari menerjang ke arahku. Ia mendekap tubuhku erat-erat
sembari menempelkan dahinya ke dahiku.
"Kumohon padamu, ingatlah kembali! Kamu
adalah Mikage Umi!"
"Maaf saja, tapi—"
Kalimat penolakanku terpotong oleh energi sihir
perak milik Mashiro yang mengalir deras menembus dahiku.
"Kh!?"
Apakah ini rasa sakit? Bukan, ini berbeda.
Ini adalah kumpulan informasi.
Berbagai kepingan data dalam bentuk gambaran visual dipaksakan masuk dan
dijejalkan ke dalam kepalaku.
"Begitu... rupanya..."
Aku akhirnya memahami seluruh
situasi rumit yang kini tengah menimpaku. Pantas saja sejak awal perjumpaan
kami, aku tidak pernah merasa asing saat berhadapan dengan Mashiro.
Lagipula, mengingat kepribadianku
yang pada dasarnya tidak sabaran, membiarkan seorang Pahlawan yang membantai
bangsa iblis dan monster berkeliaran bebas tanpa kuhabisi sejak dulu adalah hal
yang sangat janggal jika dipikirkan kembali.
"Astaga, merepotkan sekali..."
Situasinya kini telah berubah secara mutlak.
Merepotkan. Benar-benar sangat merepotkan.
Fakta bahwa Tsukishiro Kain maupun Mikage Umi
seluruhnya adalah manifestasi diriku sendiri membuat segalanya menjadi rumit
dan memusingkan.
Terlebih lagi, kekejaman sang Pahlawan Mashiro
terhadap bangsa iblis dan monster kemungkinan besar berakar dari diriku
sendiri. Aku tidak memiliki muka tebal untuk berpura-pura tidak tahu dan
mencuci tangan di saat seperti ini.
Sembari menghela napas panjang meratapi kebodohan
diriku yang konyol ini, aku menyimpan kembali Murasame ke dalam Item Box.
Kemudian, aku mencengkeram kedua bahu Mashiro,
menatap tepat ke manik matanya, lalu—
"Sisanya serahkan semuanya padaku! Aku
bersumpah akan menyadarkan si bodoh itu sampai dia terbangun!"
Aku mendeklarasikannya dengan
segenap ketegasan.
Monster buas yang menamai dirinya
Behemoth itu tak lain adalah Mikage Takeru yang pernah merawatku di masa lalu,
sekaligus Takeshi, sahabat karib dari eksistensiku di dunia ini sebagai
Tsukishiro Kain.
Bahkan dengan kekuatanku yang
sekarang sekalipun, aku jelas takkan tega membunuhnya.
"..."
Mashiro sempat membenamkan dahinya
ke dadaku seraya mendekapku erat, sebelum akhirnya melepaskan diri dan
melangkah kembali ke sisi Nemesis.
"Aku percaya padamu!"
Usai menyampaikan kalimat itu
kepadaku, sosoknya pun menghilang diteleportasikan.
"Guhi! Guhahahahaaaaa!"
Puing-puing bebatuan meledak
berhamburan saat monster buas, sang Behemoth, kembali menampakkan diri seraya
tertawa terbahak-bahak secara liar.
"Terima kasih banyak,
Beelzebub! Rasa sakit bernostalgia yang sudah lama tak kurasakan, dipadukan
dengan sensasi mencekam dari hawa kematian yang membakar kulit ini! Tepat
seperti katamu, orang ini adalah musuh sejati yang sanggup mengakhiri riwayatku!"
Sembari merentangkan kedua
lengannya menatap ke arah langit, ia melolongkan seruan kegembiraan.
"Behemoth-sama, izinkan hamba
ikut memban—"
Sebelum Shirou sempat melangkah
maju, Akutsu Arata telah mengadang di hadapannya sembari menghunuskan pedang
besar bercabang dua,
"Lawanmu adalah aku!"
Ia berteriak lantang melancarkan
intimidasi.
"Menyingkir kau! Aku tidak
punya urusan dengan kroco sepertimu!"
Mendengar bentakan Shirou yang
rambutnya berdiri tegak seraya menyemburkan pilar api dari mulutnya,
"Ya, kau benar. Kalau aku
terus menggunakan raga manusia yang rapuh ini..."
Tubuh Arata seketika bermutasi
menjelma menjadi Asura, iblis perang berwajah tiga.
Begitu rupanya, jadi wujud sejati
Arata adalah Asura. Berdasarkan informasi saat aku masih menjadi Kain,
pergerakan Chrono Grasshopper tempo hari memang tidak berada dalam kondisi
prima, kemungkinan besar ia memasang semacam pembatas kekuatan pada dirinya.
"Babak kedua resmi
dimulai!"
"Mati kau, sampah!"
Pedang panjang Shirou beradu keras
dengan pedang besar bercabang dua milik Asura, dentingan senjata mereka saling
menghantam seraya membubung tinggi melesat ke angkasa.
"Mari kita buat pertarungan ini menjadi
sangat, sangat menyenangkan."
Kedua bola mata sang monster buas Behemoth berubah
sewarna pekatnya malam, sementara energi sihir perak membuncah deras laksana
luapan air bah dari sekujur tubuhnya.
"Ya, aku pun sangat berharap demikian."
Aku merendahkan kuda-kudaku sembari membunyikan
persendian jemariku dengan suara berderak keras.
Dalam pertempuran kali ini, aku
harus menundukkan monster buas ini dengan menyegel segenap teknik berpedangku.
Ditinjau dari sudut pandang mana
pun, Behemoth tak diragukan lagi sangatlah kuat. Lebih kuat dari entitas mana pun yang pernah
kuhadapi sepanjang hidupku.
Dalam pertarungan hidup dan mati semacam ini,
menyegel teknik berpedang pada dasarnya sama saja dengan tindakan bunuh diri.
Namun justru karena itulah—
—Rasanya benar-benar sangat mengasyikkan dari
lubuk hatiku yang terdalam!
Pada detik berikutnya, aku dan Behemoth melesat
berbenturan satu sama lain.
◇◆◇
Pita cahaya merah kehitaman dan kilatan perak
saling membelit dan berbenturan dahsyat di angkasa.
Setiap kali kedua kekuatan itu bertabrakan,
daratan di bawahnya meledak hancur berhamburan, meratakan puing-puing gedung
bertingkat hingga lumat menjadi abu.
Di tengah pemandangan neraka tersebut—.
"Kuhahahaha!"
Monster berambut abu-abu itu tertawa begitu lepas
seolah sangat menikmati pertempuran, melesat mendekati Behemoth lalu
melancarkan tendangan memutar dengan kaki kirinya.
Behemoth memilin tubuhnya guna menghindari
serangan itu dengan selisih jarak setipis helai rambut, lalu menghunjamkan
pukulan tinju kiri telak ke arahnya. Namun—.
"A-Apa!?"
Serangan itu ditepis dengan begitu mudahnya
menggunakan tangan kiri sang musuh, yang langsung membalas dengan ayunan tinju
kanan ke arah wajahnya.
Sembari mendecakkan lidah kesal, Behemoth berusaha
menahannya dengan telapak tangan kiri, namun—.
"Gugoh!"
Lengan kirinya remuk patah dengan sangat mudah.
Kendati kemampuan pemulihan dirinya bekerja
seketika untuk menyembuhkan luka tersebut, sang monster abu-abu telah berdiri
tepat di depan matanya.
Secara refleks Behemoth merajut susunan formula
sihir lalu menyemburkan kobaran api dari mulutnya.
Pilar api melesat meluas membentuk kipas raksasa,
melelehkan gedung-gedung dan daratan di sekitarnya hingga lumer layaknya
cokelat panas.
Akan tetapi, sang musuh rupanya telah berpindah ke
belakang punggung Behemoth, menarik siku kanannya ke belakang bersiap
meluncurkan serangan.
Mengerahkan segenap kekuatannya, Behemoth berputar
balik seraya menghantamkan tinju kanannya sekuat tenaga.
Kedua tinju mereka berbenturan telak di udara.
Sekeliling mereka seketika dibutakan oleh pendaran
cahaya putih menyilaukan, disusul dentuman ledakan mahadahsyat yang memekakkan
gendang telinga.
(Monster macam apa sebenarnya makhluk ini!?)
Behemoth kembali melontarkan pertanyaan yang sama
di dalam benaknya tanpa pernah menemukan jawabannya.
Kondisi seimbang di antara mereka
berdua hanya berlangsung pada detik-detik awal pertempuran saja. Ia segera
menyadari betapa mengerikannya eksistensi lawan di hadapannya ini.
Setiap pukulan yang dilancarkan
oleh musuh adalah serangan mematikan berkekuatan mutlak.
Jika terkena hantaman telak secara langsung,
entitas sekelas Behemoth sekalipun dipastikan akan tewas seketika. Bahkan saat
ia berusaha menangkisnya dengan tangan kiri seperti tadi, pergelangan tangannya
tetap remuk patah tak bersisa.
Padahal Behemoth memiliki kemampuan bawaan yang
mampu meniadakan serangan fisik maupun energi sihir tingkat tinggi.
Namun di hadapan monster ini, serangannya tetap
mampu menembus dan melukai tubuhnya dengan begitu mudahnya.
Serangan makhluk ini jelas bukan sekadar pukulan
yang dilapisi kekuatan fisik biasa atau gelontoran energi sihir semata.
Akan tetapi, pada awal pertarungan tadi mereka
sebenarnya masih bisa bertukar pukulan secara seimbang.
Artinya, kemampuan serang sekali bunuh yang
dimiliki lawannya ini berhasil ia kuasai dan adaptasikan hanya dalam kurun
waktu yang sangat singkat di tengah duel ini.
(Mustahil! Omong kosong macam ini mana mungkin
nyata!)
Padahal ini adalah pertahanan baja milik Behemoth,
entitas yang menyandang gelar petarung terkuat dari generasi terdahulu.
Ia memiliki rasa percaya diri penuh bahwa serangan
dari entitas sekelas Deus maupun Thor sekalipun takkan sanggup menembus
pertahanannya.
Namun kini, pertahanan mutlak itu berhasil
ditembus hanya melalui adu pukulan dalam waktu sesingkat ini.
Jika ia terus memperlihatkan pola serangannya
kepada monster ini, kekalahan sudah pasti menantinya. Makhluk itu akan
mengadaptasi dan menetralisirnya dengan sangat mudah.
Dengan kata lain, satu-satunya cara untuk menang
adalah dengan membinasakannya dalam satu kali serangan pamungkas.
"Bagus sekali! Penguasaan bela diri tangan
kosongmu telah mencapai ranah tertinggi! Belakangan ini, hanya kau seorang yang
sanggup menahan serangan berkekuatan penuh milikku berkali-kali!"
"Cih, tutup mulutmu!"
Bahkan kalimat pujian dari monster berambut
abu-abu itu kini hanya terdengar layaknya sarkasme kosong di telinga Behemoth.
Namun ia tahu persis bahwa monster ini
mengucapkannya dengan tulus dari lubuk hatinya. Makhluk itu benar-benar
menikmati pertempuran gila ini dari lubuk jiwanya yang terdalam.
Orang ini adalah seorang pecandu pertarungan yang
jauh lebih parah dan tak tertolong dibanding dirinya sendiri.
"Tetapi, esensi sejatimu bukanlah kemampuan
bela diri tangan kosong semata, kan? Perlihatkanlah padaku."
Sembari tersenyum santai, monster berambut abu-abu
itu menuntut Behemoth untuk mengeluarkan kartu as miliknya.
"Kau ini memang gila.
Benar-benar tidak waras."
"Benarkah begitu? Yah, karena
sudah sangat lama aku tidak bertarung seimbang melawan seseorang, perasaanku
saat ini mungkin sedang agak terlalu bersemangat."
"Tentu saja begitu. Mana
mungkin ada orang waras yang sanggup mengimbangi monster gila sepertimu dengan
begitu mudahnya."
Usai memuntahkan makian tersebut,
Behemoth mengaktifkan formula sihir terlarang yang terukir di mata kirinya.
Untuk bisa menumbangkan orang ini,
ia harus melenyapkannya dalam satu helaan napas menggunakan serangan tak
terduga sebelum lawannya sempat membaca polanya.
Atau jika tidak, ia terpaksa harus
merebut kemampuan adaptasi curang yang setara dengan milik lawannya tersebut.
"Monster Pemungkas!"
Mengaum dahsyat dari dalam rekahan
tanah, seekor binatang raksasa berkepala tiga—gabungan antara harimau, beruang,
dan singa—menerjang buas ke arah monster berambut abu-abu itu.
"Membosankan sekali."
Monster berambut abu-abu itu
melompat ke hadapan sang Monster Pemungkas, lalu menghantamkan tinju kanannya
tepat ke titik pusat tubuh makhluk tersebut.
Dihantam oleh gelombang kejut yang
dahsyat, Monster Pemungkas itu terlempar lurus dengan kecepatan supersonik,
menabrak dinding pelindung di kejauhan, lalu jatuh berdebum menggetarkan
permukaan bumi.
"Maaf saja ya. Berkat
binatang itu, aku berhasil mengulur cukup banyak waktu."
Sembari menyampaikan rasa terima
kasih di dalam hati kepada monster bawahan yang telah menemaninya mengulur
waktu, Behemoth merapatkan kedua tangannya secara horizontal.
Kemampuan yang akan diaktifkannya
saat ini adalah kartu as pamungkas, kekuatan sejati yang membuatnya dijuluki
sebagai makhluk terkuat dari generasi terdahulu.
"Heavenly Phantasm—Full
Copy!"
Bersamaan dengan terucapnya kata
sakti tersebut, sekujur raga Behemoth mulai bermutasi, bahkan jiwanya pun ikut
berubah.
Ia bertransformasi menjadi sosok
monster terkuat yang berdiri tepat di hadapannya.
"Bagus sekali! Kau memang
yang terbaik!"
Sorak sorai penuh kegembiraan dari
monster berambut abu-abu itu membahana di udara, saat Behemoth resmi menjelma
menjadi Kai Heinemann.
◇◆◇
Pita cahaya perak dan hitam
kemerahan melukis langit malam dengan warna-warna kehancuran.
Setiap kali kepalan tinju Kai
Heinemann dan Behemoth saling bertabrakan, badai gelombang kejut seketika
berhembus liar.
Masing-masing hantaman membawa
benturan kekuatan yang sanggup meremukkan seisi dunia menjadi berkeping-keping.
Tebasan tangan Behemoth berhasil
memotong putus lengan kanan Kai Heinemann.
Berniat melancarkan serangan
beruntun, Behemoth melesat mendekat untuk menghunjamkan tendangan tumit ke
ubun-ubunnya, namun Kai Heinemann memilin tubuhnya guna menghindari serangan
itu sembari melepaskan tendangan memutar dengan kaki kanannya.
Terhempas berputar-putar akibat
hantaman tersebut, Behemoth mendadak berhenti di udara lalu menyemburkan
kobaran api neraka dari mulutnya.
Gelombang lautan api menerjang ke
arah Kai Heinemann, namun pemuda itu menepisnya semudah mengibaskan lalat, lalu
melesat kencang melayangkan tendangan telak ke ulu hati Behemoth.
Di saat yang bersamaan, tinju kiri
Behemoth pun menghunjam telak ke sisi kanan wajah Kai Heinemann. Keduanya
terlempar mundur, namun kemampuan pemulihan diri mereka seketika menyembuhkan
luka-luka tersebut dalam sekejap mata.
Behemoth membentuk segel mantra
dengan tangan kirinya, memanggil petir-petir putih yang menyambar jatuh dari
langit, lalu memanfaatkan sambaran kilat itu untuk berpindah tempat secara
instan.
Muncullah ia di belakang punggung
Kai Heinemann, melayangkan tendangan kaki kanan ke arah kepalanya yang tak
terlindungi, namun serangannya hanya menebas angin hampa.
Kai Heinemann rupanya telah
melengkungkan tubuhnya ke belakang membentuk jembatan kayang, memutar badannya
laksana gasing, lalu melancarkan tendangan balasan ke arah Behemoth.
Menerima hantaman itu, Behemoth terlempar jauh ke
belakang.
Sembari tertawa lepas, Kai Heinemann melesat
mengejarnya lalu melayangkan tendangan susulan ke udara.
Saat Behemoth berguling-guling laksana bola, Kai
Heinemann menyusulnya dengan sangat mudah, mencengkeram kakinya lalu bersiap
mengayun dan membantingnya.
Meski kakinya patah akibat cengkeraman tersebut,
Behemoth mengerahkan seluruh sisa tenaganya untuk menendang wajah Kai Heinemann
dengan kaki kanannya.
Bagian kiri tubuh Kai Heinemann seketika remuk
hancur saat ia terlempar ke udara, namun lagi-lagi luka mengerikan itu pulih
dalam sekejap mata.
Di tempat yang agak jauh, tampak sekelompok orang
tengah menyaksikan jalannya pertempuran akbar tersebut.
Mereka adalah para petinggi tertinggi dari
berbagai faksi di Ensiklopedia Penaklukan Monster, prajurit-prajurit veteran
yang sarat pengalaman bertempur.
Semuanya menatap lurus ke arah medan pertempuran
tanpa sanggup berkedip sedikit pun.
"Pertarungan macam apa itu... Kalau
dibandingkan dengan mereka, pertarungan kita tadi tak lebih dari sekadar
gelembung sabun belaka, ya."
Sembari duduk meneguk araknya, Asura bergumam
mencela dirinya sendiri sembari mengamati pertarungan Kai Heinemann, sang
junjungannya.
"Aku setuju. Tak kusangka Umi yang dulu bisa
tumbuh sampai sanggup adu jotos melawan bos besar kita sehebat itu. Benar-benar
di luar mimpiku sekalipun."
Shirou menimpali sembari tersenyum kecut.
Asura dan Shirou sebelumnya telah bertarung sengit
selama sekitar tujuh jam penuh, hingga akhirnya duel mereka berakhir imbang
setelah keduanya sama-sama jatuh pingsan.
Saat Shirou kehilangan kesadarannya, Satori,
pemilik kemampuan manipulasi mental terkuat di Ensiklopedia Penaklukan Monster,
telah membangkitkan kembali seluruh ingatan Shirou yang sempat tersegel.
"Nanti minta maaflah pada Mashiro. Anak itu
sebenarnya sangat rapuh dan gampang terluka, tahu."
"Tanpa kauberi tahu pun aku sudah paham.
Lagipula, kenapa seorang jenderal besar Pasukan Kegelapan sepertimu bisa berada
di tempat seperti ini, hah?"
"Aku cari masalah dengan Kai-sama, dihajar
habis-habisan sampai babak belur, lalu berakhir menjadi bawahannya. Yah, kurasa
anak buah yang lain pun nasibnya mirip-mirip denganku, sih."
Mendengar celetukan santai Asura,
"Hah!? Apa katamu!? Jangan samakan kami dengan orang rendahan
sepertimu! Kami mengabdi dan menjadi bawahan beliau murni karena rasa cinta dan
kekaguman kami yang tulus kepada Paduka!"
Nemesis membentak murka dengan
nada suara yang begitu menggelegar.
"Benar sekali! Paduka bahkan
mendekapku erat-erat sembari berjanji akan terus bersamaku selamanya,
tahu!"
Athena menimpali dengan penekanan
kalimat yang terdengar sangat ganjil.
"Tunggu dulu, apa maksud perkataanmu
barusan!?"
Mafuyu yang sedari tadi mendengarkan dalam diam,
kini melangkah maju seraya membunyikan persendian jemarinya dengan senyuman
yang mengerikan.
Melihat tatapan membunuh itu, Athena sempat
menahan napas gentar, namun—
"Aku tidak punya urusan untuk meladeni
omongan orang luar yang baru bergabung!"
Ia memalingkan wajahnya seraya
membalas ketus.
"Lalu, pada akhirnya bagaimana dengan
kesadaran ingatan Paduka?"
Di tengah suasana yang kian memanas, Shuten Douji
melontarkan pertanyaan kepada Satori, gadis berambut hijau berpotongan bob yang
tengah menatap pertarungan sang majikan dengan mata berbinar-binar penuh
pemujaan.
"Kepribadian Mikage Umi telah lenyap
seutuhnya. Karena itulah, sosok Paduka yang sekarang adalah Paduka yang kita
kenal selama ini."
"M-Mana mungkin hal seperti itu—"
Tepat saat Mafuyu hendak
melayangkan protes dengan raut wajah nyaris menangis,
"Seharusnya memang begitu,
tapi entah mengapa terasa agak aneh. Jadi aku sendiri pun tidak bisa
memastikannya dengan jelas."
Sangat jarang bagi Satori untuk
memberikan jawaban yang begitu ambigu jika menyangkut masalah mental dan jiwa.
Hal itu menandakan betapa luar
biasa abnormalnya situasi yang tengah terjadi saat ini.
"Aku tahu siapa dalang di
balik situasi yang ganjil ini. Benar begitu, kan, Atom?"
Astaroth yang sedari tadi berdiri
memperhatikan, mengalihkan pandangannya ke sudut barisan kelompok itu. Di sana,
seorang pria paruh baya berbusana kimono dengan rambut abu-abu panjang yang
diikat ke belakang tampak tengah menyaksikan jalannya pertarungan.
"Atom!? Maksudmu Atom yang
berasal dari generasi terdahulu itu!?"
Di tengah seruan keterkejutan yang
membahana dari segenap anggota Ensiklopedia Penaklukan Monster,
"Sudah lama tidak berjumpa, Astaroth."
"Ya, lama tidak bertemu. Aku akan bertanya
langsung tanpa basa-basi. Kau yang mengatur agar Tuanku bisa melintasi
perbatasan antara dunia ini dan Lemuria di masa lalu, kan?"
"..."
"Tidak perlu cemas, percakapan ini hanya bisa
didengar oleh kita berdua. Di telinga yang lain, kita hanya terlihat seperti
sedang mengobrol santai biasa."
Melihat Atom yang membisu, Astaroth berujar seraya
menyunggingkan senyuman lembut.
Menyadari bahwa suara di sekelilingnya telah
lenyap teredam, Atom menatap Astaroth dengan tatapan heran selama beberapa
saat, lalu—
"Begitu rupanya. Kau juga menaruh hati pada
anak itu, ya."
Untuk pertama kalinya Atom tersenyum tipis sembari
menggumamkan hal itu pada dirinya sendiri.
"Mana mungkin aku... yah, bukan berarti
sepenuhnya tidak mungkin juga, sih."
Astaroth merona merah sembari meremas jemarinya
dengan canggung dan malu-malu.
"Tak kusangka kau bisa membuat ekspresi
seperti itu..."
"Sudahlah, cepat ceritakan yang
sebenarnya!"
"Baiklah. Dugaanmu garis
besarnya memang tepat. Anak itu tidak sengaja menyentuh sebuah titik portal di
Lemuria, lalu terlempar ke Bumi ini."
"Sialnya, saat itu terjadi invasi dari
kawanan vampir tersebut. Tepat ketika ia diserang dan nyaris tewas dibantai
oleh para bawahan vampir, aku menggunakan kekuatanku untuk mengirimnya kembali
ke dunia asalnya. Kira-kira begitulah kronologinya."
"Sesuai dengan perkiraanku. Kalau begitu, kau
pasti memaksakan diri melanggar batas saat memindahkannya kembali ke Lemuria,
kan?"
"Ya, seperti yang kauketahui, kekuatanku
terikat oleh kontrak dengan dunia ini. Sangat terbatas. Bahkan aku sekalipun
tidak bisa menggunakannya secara bebas tanpa bayaran setimpal."
"Lalu kompensasi apa yang kauambil secara
paksa dari Tuanku?"
"Hal yang paling berharga bagi dirinya pada
saat itu. Yaitu seluruh kenangan dan pengalaman yang telah ia lalui di Bumi
ini."
"Kenangan dan pengalaman... kau
mengucapkannya seolah itu hal yang sepele, padahal itulah nyawa sejati yang
membentuk eksistensi kami. Apa kau menyadari betapa fatalnya dampak dari
merampas hal tersebut darinya?"
Astaroth melontarkan pertanyaan itu dengan raut
wajah yang campur aduk.
"Tentu saja aku sangat menyadarinya. Aku tahu
persis bahwa anak itu sama sekali tidak menginginkannya. Namun bagaimanapun
juga, Astaroth, aku hanya ingin dia tetap hidup."
Atom menjawab dengan nada suara yang sarat akan
kepedihan mendalam.
"Jangan salah paham dulu. Dalam urusan ini,
aku sebenarnya sangat berterima kasih kepadamu. Berkat tindakanmu itulah aku
bisa bertemu dengan Tuanku."
"Lagipula aku ini bukan dewa berhati suci
yang munafik sepertimu. Jadi menurutku, kenangan-kenangan semacam itu memang
jauh lebih baik jika musnah bersih tanpa sisa. Namun mengapa ingatan Tuanku
tentang tempat ini mendadak bangkit kembali tadi? Bagaimana bisa hal seperti
itu terjadi?"
Astaroth menghunjamkan tatapan penuh selidik ke
arah Atom.
"Fakta bahwa ia bisa kembali ke Bumi ini,
ditambah keberhasilannya memulihkan seluruh ingatan Mikage Umi secara sempurna,
benar-benar merupakan sebuah keajaiban mutlak. Seharusnya hal itu mustahil
terjadi. Namun kali ini ia berhasil mewujudkannya. Hal itu saja sudah teramat
menakjubkan. Namun kau pun tahu betul bahwa kontrak dengan tatanan dunia
tidaklah selonggar itu, kan?"
"K-Kalau begitu, bagaimana dengan ingatan
Tuanku yang sekarang?"
Dengan tatapan memohon kepastian, Astaroth
menuntut jawaban dari Atom.
"Sosok kepribadian Mikage Umi, serta
Tsukishiro Kain yang dibentuk berdasarkan ingatan tersebut, telah musnah
seutuhnya."
Atom menegaskan fakta tersebut
dengan nada bicara yang teramat lugas.
Mendengar hal itu, Astaroth sempat
menghela napas lega sesaat, namun—
"Kalau memang begitu
kenyataannya, kenapa wajahmu justru terlihat senang begitu, hah?"
Astaroth memicingkan matanya penuh
kecurigaan.
"Tentu saja aku senang.
Walaupun hanya tersisa dalam bentuk data kepingan informasi, ingatan itu telah
tersampaikan dengan baik ke dalam benaknya. Terlebih lagi—ah, sebaiknya
kusimpan sendiri saja lanjutannya."
"Lagi-lagi pola seperti ini,
ya. Sifat penggoda alami
milik Tuan kami itu benar-benar harus segera diperbaiki, tahu."
Melihat Astaroth yang memerosotkan pundaknya
pasrah,
"Aku sangat memahami perasaanmu."
Atom justru membalasnya dengan sindiran ringan.
"Berisik sekali kau!"
"Kalau begitu, aku permisi undur diri
dulu."
"Tunggu, izinkan aku menanyakan satu hal
terakhir padamu. Mengapa kau rela menentang aturan dunia hanya demi
menyelamatkan Tuanku? Tindakan itu jelas-jelas hanya akan mendatangkan kerugian
murni bagimu, kan?"
"Awalnya ini murni bentuk penebusan dosaku
karena telah membuatnya terlempar ke tanah ini di luar kehendaknya. Karena
merasa cemas, aku mengamatinya setiap hari. Hari demi hari, aku hanya
mengawasinya dalam diam."
"Melihat kerja kerasnya, kebaikan hatinya,
kekuatannya, hingga kerapuhannya, semuanya kuamati tanpa terlewat. Hingga tanpa
kusadari, sosok anak itu telah tumbuh menjadi eksistensi yang teramat besar dan
berharga di dalam hatiku. Itulah satu-satunya alasanku."
"Begitu... rupanya. Maaf karena telah
menahanmu."
Astaroth menjentikkan jarinya, dan suara
kebisingan di sekitar mereka seketika kembali normal.
"Aku senang bisa berbincang
denganmu. Terima kasih atas
segalanya, Astaroth. Tolong sampaikan permohonan maafku yang sebesar-besarnya
kepada dirinya, ya."
"Sampaikan saja sendiri secara langsung pada
Tuanku. Berpindah ke Lemuria semestinya hal yang sangat mudah bagimu,
kan?"
"Benar juga. Akan kulakukan seperti itu
nanti."
Atom tersenyum ramah ke arah Astaroth sebelum
akhirnya melenyapkan keberadaannya dari tempat itu.
Tepat di hadapannya, Mafuyu dan Athena kini tengah
terlibat perkelahian fisik saling menjambak satu sama lain.
"Lagi-lagi aku ditinggalkan
dari panggung utama kali ini... Berikutnya, aku bersumpah harus menjadi tokoh
utamanya."
Astaroth menggumamkan harapan terpendamnya itu
sembari menghela napas panjang.
◇◆◇
Mereka saling bertukar pukulan tanpa henti. Tiga
hari tiga malam penuh mereka terus bertempur sekuat tenaga tanpa memejamkan
mata sedetik pun.
Bagi Behemoth yang pada dasarnya tak memiliki
tandingan, pertarungan biasanya hanyalah formalitas singkat yang selesai dalam
sekejap mata. Bertukar tinju hingga mengerahkan seluruh batas kemampuannya
seperti ini mungkin adalah pengalaman pertamanya sejak masa-masa saat ia masih
lemah dan belum matang dulu.
Sebuah pertempuran yang teramat memuaskan melawan
rival sejati. Ia mengerahkan segenap ilmu bela diri, sihir, hingga Skill
miliknya demi merebut kemenangan.
Rasanya seumur hidup ia belum pernah mendambakan
sebuah kemenangan sebesar ini. Akan tetapi—.
Sang monster berambut abu-abu—Kai Heinemann—kini
tengah menatap ke bawah ke arah Behemoth tanpa ada satu pun goresan luka di
tubuhnya.
"Luka yang kubuat dengan mengorbankan sisa
umurku melalui sihir tadi... sekarang sudah sembuh total tanpa berbekas, ya...
Benar-benar lawan yang tidak masuk akal!"
Menanggapi gerutuan Behemoth,
"Adu jotos yang sangat serius denganmu tadi
benar-benar sanggup membuat jiwaku bergejolak hebat, tahu."
Kai Heinemann membalasnya dengan nada bicara yang
terdengar angkuh.
"Tapi wajahmu kelihatan bosan sekali,
tuh."
Sangat kontras dengan sikapnya yang girang
layaknya anak kecil yang baru menemukan mainan baru tadi, kini ia justru
menatap Behemoth dengan kening berkerut masam.
"Tentu saja. Di dunia mana ada orang waras
yang merasa gembira setelah memukuli sahabatnya sendiri dengan kekuatan
penuh?"
"Pelakunya ada tepat di
depanku, kan? Siapa yang tadi menghajarku habis-habisan sampai babak belur
dengan tampang bahagia, hah!?"
Mendengar kalimat melantur yang
meluncur dari mulut Kai Heinemann, kata-kata yang sebenarnya tak berniat
diucapkan oleh Behemoth mendadak terlontar begitu saja.
"Takeshi, ternyata ingatanmu memang sudah
kembali, ya?"
Kai Heinemann mengangkat sudut bibirnya sembari
meminta penegasan. Rupanya ucapannya tadi hanyalah jebakan pancingan belaka.
"Ya, semuanya kembali tepat saat aku menyalin
seluruh kekuatanmu tadi. Maafkan aku, Kain."
"Kalimat itu seharusnya tidak kauucapkan
padaku, melainkan pada Mashiro-chan dan Bibi Sakuya."
"Sakuya!? Bagaimana keadaan Sakuya
sekarang!?"
Sembari mengangkat tubuh bagian atasnya dengan
sisa-sisa tenaga yang ada, ia berteriak panik menuntut kepastian.
"Tentu saja dia baik-baik saja. Bawahanku
sudah menyelamatkannya dan mengobati seluruh lukanya sejak lama. Sekarang
mungkin dia sedang duduk santai menikmati secangkir teh sembari menunggumu
pulang. Ngomong-ngomong pria bernama Shirou itu juga sempat menonton
pertarungan kita setelah duelnya melawan Asura berakhir imbang dan lukanya
diobati, lho."
"Syukurlah... dia selamat..."
Rasa lega yang begitu luar biasa membuatnya
menghembuskan napas panjang.
"Ada beberapa hal yang ingin kutanyakan
padamu. Memiliki kekuatan sedahsyat ini, mengapa kau bisa sampai terdesak kalah
oleh kawanan vampir imitasi rendahan semacam itu?"
"Itu karena kutukan karmaku."
"Kutukan karma, ya. Aku sudah bisa menebak garis besarnya, sih. Darah manusia, kan?"
"Tepat sekali. Bagiku, darah manusia adalah
sumber energi mutlak yang kubutuhkan untuk bertahan hidup. Namun semenjak
mengenal Sakuya seribu tahun yang lalu, aku tidak pernah meminum setetes pun
darah manusia. Akibatnya, kekuatanku menyusut drastis. Karena itulah aku bisa
sampai kalah memalukan di tangan produk gagal seperti mereka."
"Tunggu sebentar, bukankah ucapanmu barusan
kelewat mencengangkan!? Apa maksudmu mengenal Bibi Sakuya seribu tahun yang
lalu!?"
"Sakuya adalah manusia terakhir yang kuhisap
darahnya. Karena berbagai peristiwa rumit, dia akhirnya berubah menjadi makhluk
abadi."
"Jangan-jangan Mashiro-chan juga
abadi!?"
Untuk pertama kalinya, gurat kepanikan tipis
melintas di wajah Kai Heinemann.
"Tidak, meskipun dia bisa menggunakan
sebagian kekuatanku, Mashiro murni hanyalah manusia biasa."
"Begitu rupanya..."
Melihat Kai Heinemann yang menghela napas lega,
"Dirimu yang sekarang ini... apakah kamu
Umi?"
Behemoth melontarkan pertanyaan yang paling
mengganjal di benaknya saat ini.
"Entahlah, siapa yang tahu."
Ia berkelit dengan lihai mengaburkan topik
pembicaraan.
"Lalu saat Bibi Sakuya ditawan oleh para
bajingan itu, kenapa kau tetap tidak meminum darah manusia?"
"Saat membangkitkan kembali Sakuya yang
sempat tewas dulu, aku telah mengikat kontrak mutlak dengan tatanan
dunia."
"Lagi-lagi kontrak dunia... pasti isinya
tidak jauh-jauh dari hal yang menyebalkan, kan?"
"Benar sekali. Begitu aku meminum darah
manusia, seluruh ingatanku tentang Sakuya akan terhapus lenyap seketika."
Melupakan Sakuya adalah hal yang paling pantang ia
lakukan seumur hidupnya, bahkan sampai mati sekalipun.
Sekalipun dunia ini harus hancur lebur, ia takkan
pernah sudi meminum darah manusia lagi.
"Lalu setelah menelan kekalahan, mengapa kau
malah memilih menjalani kehidupan sekolah biasa?"
"Itu karena Sakuya diculik oleh mereka.
Setelah menata situasi menggunakan Heavenly Phantasm, aku menyusup ke
akademi pelatihan Hunter demi memulihkan kekuatanku secara perlahan. Lagipula
menyamar sebagai pelajar terasa jauh lebih leluasa untuk bergerak, dan risiko
dicurigai oleh mereka pun jauh lebih kecil."
"Lalu kenapa kau menempatkan Makoto di
dekatmu? Untuk tujuan penyelidikan? Bukankah menyusupkannya langsung ke dalam
jajaran Hunter jauh lebih efisien?"
"Akibat perintah yang kujatuhkan padanya
dulu, dendam Makoto terhadap kaum vampir sudah terlampau membara. Jika
kubiarkan ia bertindak sebagai Hunter, ia pasti akan mengamuk kehilangan
kendali. Karena itulah aku menyegel ingatannya dan menempatkannya di sisiku
sebagai sesama pelajar."
Kai Heinemann menghembuskan napasnya perlahan,
lalu—
"Semuanya sudah masuk akal bagiku sekarang.
Kalau begitu, saatnya kita menyelesaikan perhitungan di antara kita.
Bagaimanapun juga, dosamu karena telah berniat melukai Mashiro-chan masih belum
terhapuskan, lho."
Sembari mencengkeram kerah baju Behemoth, seringai
buas mengembang di wajah Kai Heinemann.
"..."
"Begitu kau terbangun nanti, segeralah minta
maaf kepada Bibi Sakuya dan Mashiro-chan yang sudah kaubuat sangat cemas!"
Tepat setelah tinju pemuda itu mendarat telak di
wajahnya, kesadaran Behemoth pun terputus seketika.
Saat tersadar kembali, ia mendapati dirinya tengah
berbaring di atas ranjang sebuah rumah sakit. Dari samping ranjangnya,
terdengar suara gesekan pisau yang mengupas buah dengan irama yang begitu
menenangkan.
Saat ia menolehkan kepalanya ke arah sumber suara,
seorang wanita berparas jelita dengan rambut hitam panjang berkilau dan
berbalut kimono anggun tengah mengupas buah apel.
"Akhirnya kau bangun juga. Mau makan
apel?"
Setelah meletakkan pisau buahnya ke samping, ia
menusuk sepotong apel dengan garpu lalu menyodorkannya ke arah Behemoth.
"Sakuya... benarkah ini kau?"
"Astaga, kau bahkan tidak bisa mengenali
wajah istrimu sendiri? Apa sekarang pandangan matamu juga sudah mulai rabun,
ya?"
Mendengar candaan ringan dari bibir Sakuya,
Behemoth seketika merengkuh tubuh wanita itu ke dalam pelukannya. Mendekapnya
erat-erat segenap jiwa, sebab akhirnya, mereka bisa dipersatukan kembali.
"Selamat datang kembali ke rumah."
Sakuya membalas pelukan Behemoth dengan penuh
kelembutan sembari membelai pelan bagian belakang kepalanya.
Pada saat itulah, Behemoth akhirnya benar-benar
tersadar bahwa mimpi buruk yang panjang itu telah resmi berakhir.



Post a Comment