NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Saijaku Hakugai Made Sareta Kedo - Chou Nankan Meikyuu de 10 Mannen Shuugyoushita Kekka Volume 10 Epilog

Epilog


Pada pagi-pagi sekali, aku sudah berada di depan pintu gerbang akademi.

Karena baru jam empat pagi, tidak ada seorang pun di sekitar.

Atas perintahku, Girimehkala dan yang lainnya telah melakukan pembersihan vampir, hingga tak ada satu pun vampir yang tersisa di bumi ini.

Kenyataan itu membuat masyarakat gempar bukan main.

Khususnya fakta bahwa hunter rank S, 【Glorious】, dan sekretaris jenderal partai berkuasa di Jepang telah mengkhianati kemanusiaan, yang pada awalnya memicu kecaman dari seluruh dunia.

Namun, saat asosiasi hunter mengumumkan bahwa hampir seluruh menteri dan perdana menteri bersama keluarga Akizuki telah bekerja sama membongkar kasus tersebut, kecaman itu langsung lenyap seketika.

Sebagai gantinya, para murid SMA Kazatsuki yang telah melindungi kemanusiaan dan memusnahkan vampir kini dielu-elukan sebagai pahlawan.

Sepertinya Girimehkala dan yang lainnya bekerja sama dengan keluarga Akizuki serta pemerintah negara ini untuk menyiarkan rekaman aksi mereka ke seluruh dunia.

Terutama para murid yang benar-benar mengakhiri perang melawan vampir, seperti Mashiro, Tatsuwa, Karina, Ran, Sakuraba, Arima, dan Akira, mereka tampak tak henti-hentinya menerima undangan tampil di TV.

Dengan demikian, meski masih menyisakan beberapa masalah seperti perawatan bagi mereka yang sempat ditawan oleh vampir, dunia ini telah kembali menjadi dunia yang tenang seperti sedia kala.

Omong-omong, Makoto sepertinya sempat bertarung sengit serba habis-habisan dengan para petinggi aliansi dewi, tetapi sekarang dia sudah cukup beradaptasi.

Shirou, sejak hasil imbangnya melawan Asura, menjadi sangat akrab dengannya dan saban hari pergi minum-minum bersama.

Lagipula, si Asura itu bagaimanapun juga adalah seorang murid di dunia ini, jadi aku ingin dia lebih tahu diri sedikit.

Dan akhirnya, hari untuk meninggalkan tempat ini pun tiba.

Bukan hanya Mashiro, Arisa, Takeshi, dan Makoto, bahkan kepada Karina, Ran, serta Tatsuwa pun aku tidak memberi tahu bahwa aku akan pergi meninggalkan tempat ini hari ini.

Burung yang hendak terbang tidak menyisalkan jejak keruh. Kami berdua sama-sama tidak ingin tenggelam dalam sentimentalitas yang aneh.

Aku membungkuk dalam-dalam ke arah gedung sekolah SMA Kazatsuki.

Boleh dikatakan, walau hanya dalam waktu singkat, aku telah melewati waktu yang sangat bermakna di sini.

Saat menyusuri jalan menurun yang panjang di depan pintu gerbang akademi, Tatsuwa tampak berdiri terdiam di pinggir jalan.

Tatsuwa telah benar-benar tumbuh dewasa. Dia sudah sepenuhnya menjadi kakak bagi Akito dan Mikan, serta saban hari terus tekun menjalani pelatihan sebagai seorang hunter.

Tatsuwa memilih untuk terus hidup bersama sebagai saudara dengan Akito dan Mikan mulai sekarang.

Katanya, setelah lulus SMA, dia berencana tinggal bersama bertiga, ditambah Karina jadi berempat.

"Ada apa pagi-pagi begini?"

"Guru mau pulang ke dunia asal, kan? Saya mendengarnya dari Asta-sama."

Bocah itu, benar-benar melakukan hal yang tidak perlu...

"Benar. Mulai sekarang aku akan kembali ke dunia asal. Tatsuwa, kau juga jaga dirimu baik-baik."

Aku mengangkat tangan kanan dan berjalan melewati samping Tatsuwa.

"Guru, Anda adalah pahlawanku! Aku pasti akan menjadi hunter terkuat di dunia ini! Jadi, terima kasih banyak atas semuanya selama ini!"

Suara tangis Tatsuwa terdengar dari balik punggungku. Astaga, sampai kapan pun, mentalnya tetap saja masih kanak-kanak.

Namun, ini memang ucapan perpisahan terakhirku untuk sang murid.

"Tatsuwa, kau sekarang sudah tidak apa-apa. Percayalah pada jalanmu sendiri dan terjanglah maju!"

Aku mengangkat tangan kanan dan berteriak dengan suara keras.

"Kain-kun!"

Saat berjalan di tengah kota, aku dipanggil oleh dua orang yang tak terduga.

"Kalian berdua juga mendengarnya dari Asta?"

"Ka-kami dari Nemesis-sama..."

Mereka berdua benar-benar melakukan hal yang sangat tidak perlu.

"Ayo, Ran, ini yang terakhir!"

Punggung Ran didorong oleh Karina hingga dia berjalan ke hadapanku.

"Kamu mau pulang sekarang?"

Tanyanya dengan wajah menunduk.

"Benar. Walau singkat, ini sangat menyenangkan. Kalian berdua juga jaga diri baik-baik."

Tepat ketika aku menyampaikan kata-kata perpisahan dan hendak memunggungi mereka berdua—

"Hilang begitu saja, tidak bakal kumaafkan!"

Tiba-tiba, Ran mencengkeram kerah bajuku dengan tangan kanannya dan menarikku mendekat. Lalu, dia memelukku dan menciumku.

"..."

Saat aku masih terpana oleh kejadian yang sangat mendadak itu, Ran melepaskan dirinya dariku. Dia menaruh tangan kirinya di pinggang, menunjukku dengan jari telunjuk kanannya, lalu—

"Kamu harus pasti kembali! Ini janji!"

Setelah berteriak begitu, dia membalikkan badan dan berlari kecil pergi.

"Begitulah jalannya. Pastikan kamu kembali, ya."

Karina melambaikan tangan kanannya lalu berlari menyusul Ran.

Aku sampai di taman tempat pertama kali aku menapakkan kaki di dunia ini.

Di tengah lapangan olahraga taman terdapat lingkaran sihir yang dibentangkan oleh Asta, dan Asta sendiri berdiri di sampingnya.

"Kau sudah melakukan banyak hal yang tidak perlu, ya?"

"Apa maksudmu?"

Dia memalingkan wajahnya dan bersiul. Ya sudahlah. Berkat Asta dan Nemesis, aku jadi bisa menyampaikan salam terakhir kepada Tatsuwa, Ran, dan Karina.

"Meninggalkan rumah selama setahun, apakah Faf baik-baik saja?"

Aku menanyakan fakta yang paling penting bagiku saat ini, yang terasa menakutkan hingga aku tidak berani menyentuhnya.

Karena terjadi berbagai hal yang melibatkan asosiasi pusat, aku tiba di tempat ini tepat setelah aku berniat untuk terus berada di samping Faf. Jujur saja, aku sangat cemas.

"Satu tahun di sini sama dengan beberapa jam di Lemuria, begitulah formulasi sihirnya. Jadi, kamu tidak perlu khawatir."

Mendengar kata-kata Asta, aku seperti mendapatkan secercah cahaya di tengah malam yang gelap dan mengembuskan napas lega yang panjang.

"Kalau begitu, syukurlah. Mari kita pergi."

Aku menoleh menatap pemandangan kota Tokyo lalu melangkah menuju lingkaran sihir.

Kudengar pasangan Mikage Takeshi dan Mikage Sakuya berniat untuk tetap tinggal di bumi ini dan melanjutkan pekerjaan sebagai hunter. Tentu saja Makoto, Shirou, dan Pahlawan Mashiro juga sama.

Kenangan tentang Tsukishiro Kain dan Mikage Umi tampaknya telah tumbuh menjadi jauh lebih besar bagiku daripada yang kubayangkan.

Terbukti, perpisahan dengan Takeshi, Makoto, dan terutama pahlawan itu terasa sangat berat bagi diriku.

Begitu memasuki lingkaran sihir, aku—

"Mashiro-chan, daa-dah."

Melambaikan tangan kanan dan merangkai kata perpisahan. Sangat memalu-malukan, dan sama sekali bukan diriku.

Namun, setidaknya untuk terakhir kali, aku memutuskan untuk menuruti perasaanku sebagai Mikage Umi.

Pemandangan di sekelilingku terdistorsi, dan aku pun tiba di gua terdalam 【Dead City of Flowers】. Orang-orang yang tampaknya adalah staf Guild Hunter sedang merawat para anggota tim pahlawan yang terkapar. Kalau dipikir-pikir, memang baru beberapa jam berlalu sejak kami menghilang.

Nah, seperti yang diduga aku merasa lelah, dan Faf juga sudah menunggu. Mengenai masalah Pahlawan Mashiro juga membutuhkan penjelasan kepada Guild Hunter.

Maaf saja, tetapi biarlah kuserahkan hal ini pada staf guild lalu aku pulang. Tepat ketika aku membalikkan badan dan hendak keluar dari gua—

"Tunggu dulu, Umi, kamu mau pulang tanpa membantu sedikit pun!?"

Suara yang tak asing terdengar di telingaku. Itu adalah suara dari seseorang yang seharusnya baru saja kuucapkan salam perpisahan dengannya.

Saat aku refleks menoleh, Pahlawan Mashiro sedang bertolak pinggang dengan kedua tangannya sambil mendelik menatapku.

"Ha? Mashiro-chan!? Kenapa kamu ada di sini!?"

Aku pasti sangat panik. Tanpa sadar aku malah menjawab dengan gaya bahasa Mikage Umi.

"Kenapa katamu? Mana mungkin aku bisa tinggal di bumi yang sudah aman sendirian dengan meninggalkan Hijiri dan Satoru!"

"Tidak, tapi jalan antara tempat ini dan bumi itu cuma satu arah! Kamu mungkin tidak akan pernah bisa kembali lagi, tahu!?"

"Sepertinya begitu! Tapi walau begitu, apa kamu menganggapku sebagai orang tega yang bakal menelantarkan temanku sendiri!?"

Gawat. Dia sudah berubah ke mode sangat tidak menyenangkan.

"Bukan, aku tidak bilang begitu! Aku tidak bilang begitu, tapi bagaimana dengan Arisa!?"

"Aah, Arisa, ya. Arisa!"

Saat Mashiro mengangkat tangan kanan dan mengeraskan suaranya—

"Kain-oniichan!"

Anak iblis itu, Arisa, berlari kecil menghampiriku dengan raut wajah gembira lalu memelukku erat. Asu dan Min, dua pelayan yang tadinya sedang bekerja, juga membungkukkan badan padaku.

"Arisa juga ikut datang..."

Kepalaku agak kacau. Yah, tentu saja. Kurpikir dia juga berada di bumi.

"Arisa akan tinggal bersamaku. Boleh, kan?"

"Maaf. Aku sedang sangat bingung dengan berbagai hal."

Di saat aku berusaha merapikan situasi aneh ini sambil mengelus kepala Arisa—

"Omong-omong, Kazuha, adik perempuan Satoru, juga diputuskan untuk ikut kurawat."

Mashiro menyampaikan laporan susulan dengan senyuman jahil seperti anak nakal.

"Kazuha? Maksudmu Mizoguchi Kazuha!?"

"Benar. Karena dia tidak punya kerabat di bumi, dia berharap untuk datang ke Lemuria tempat kakaknya, Satoru, berada. Sekarang dia juga sedang membantu di luar."

"Semuanya benar-benar tidak masuk akal. Lagipula, bagaimana aku harus menjelaskan hal ini pada Takeshi dan Tante Sakuya!? Tidak, justru karena tidak bisa dijelaskan makanya ini jadi masalah!"

Saat aku memegangi kepala karena situasi yang terlampau keterlaluan—

"Ayah juga jangan malas-malasan, bergerak yang sigap!"

Mashiro menegur seorang pria tampan berambut hitam yang sedang mengangkut ember untuk pertolongan pertama.

"Ha? Takeshi!?"

Itu adalah sahabatku yang seharusnya menjalankan profesi hunter di bumi.

"Tidak, anu..."

Kepada Takeshi yang tampak canggung—

"Halo-halo, Umi-chaaann. Kalau tanganmu sedang luang, tolong bantu angkut mereka yaa."

Dari luar gua, seorang wanita mengenakan kimono, Tante Sakuya, masuk lalu mengedipkan sebelah matanya meminta bantuan dariku.

"Asta, apa maksudnya ini?"

"Ini semua karena gara-gara buku petunjuk yang tidak bermutu itu."

Mendengar jawaban Asta yang tidak menyenangkan, aku segera memeriksa 【Compendium】 milikku.

Di halaman terakhir tertulis Behemoth (Takemikazuchi), dan pada nama bawahannya tercantum nama Tante Sakuya, Mafuyu, dan Shirou.

"Haha... begitu ya."

Sepertinya aku dikerjai lagi oleh buku petunjuk itu.

Mashiro berjalan ke hadapanku lalu menggenggam tangan kananku—

"Nah, ayo cepat kita angkut orang-orang yang terluka!"

Berteriak dengan senyuman polos yang sangat cerah.




Chapter 4 | ToC | Afterword

Post a Comment

Post a Comment

close