NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Saijaku Hakugai Made Sareta Kedo - Chou Nankan Meikyuu de 10 Mannen Shuugyoushita Kekka Volume 10 Chapter 1

Chapter 1

Insiden Serangan Puppet Dead


Sudah sekitar satu bulan berlalu sejak aku jatuh pingsan akibat sengatan panas.

Saat aku memasuki ruang kelas tahun pertama Jurusan Dukungan Tempur dan duduk di kursi barisan paling belakang di tengah, dua siswa laki-laki yang menyadari kehadiranku berjalan mendekat.

"Kain, pagi! Kamu kelihatan ngantuk lagi, ya! Semalam habis begadang gara-gara asyik 'main solo', kan!"

Salah satu dari mereka berdua sengaja menyisir rambut pirangnya dengan gaya yang dibuat-buat, lalu melontarkan candaan vulgar yang sangat tidak pantas didengar itu.




"Katakanlah, Takeshi, tolong jangan samakan aku denganmu."

Seperti biasa aku menepisnya, namun para siswi malah memandang kami berdua dengan tatapan seolah melihat kotoran dan mulai berbisik-bisik.

"Pfft! Jelas beda, lah!"

Entah apa yang lucu, tapi dia kembali menyisir rambutnya dan tertawa terbahak-bahak sambil melirik ke arah para siswi.

Kalian pasti sudah paham. Takeshi Kijima benar-benar berpikir bahwa percakapan vulgar semacam ini akan membuatnya populer di kalangan perempuan. Benar-benar pemuda yang memalukan. Padahal kenyataannya, dia hanyalah seorang perjaka suci yang belum pernah pacaran sama sekali.

Di sisi lain—

"Pasti Kain sedang membayangkan malam yang panas dengan gadis cantik berambut hitam yang pernah mendekatinya di loker sepatu dulu! Hah hah, semalaman dengan gadis secantik itu... rasanya hidungku mau mimisan beneran!"

Yang satu ini, pasti serius.

Siswa bertubuh mungil berkacamata yang sedang meremas-remas kedua tangannya ini bernama Makoto Kuonji.

Berbeda dengan Takeshi yang hanya sok mesum agar terlihat keren, anak ini benar-benar mesum sejati. Gara-gara tingkah laku aneh mereka berdua, kami bertiga diperlakukan seperti penyakit menular di kelas.

Ngomong-ngomong, dari tadi punggungku terasa sangat dingin. Apa aku masuk angin?

"Ada apa?"

Melihatku memeluk tubuhku sendiri sambil menggigil, Takeshi mengernyitkan dahi dan bertanya.

"Tidak, aku hanya merasa sedikit kedinginan."

"Wajahmu memang kelihatan agak pucat. Lagipula, fisikmu kan tidak kuat. Bukankah lebih baik kamu pergi ke ruang UKS?"

Mendengar saran yang diucapkan Takeshi dengan wajah serius itu—

"U-UKS!? Kain berduaan di ranjang dengan gadis super cantik itu... Mufufu!"

Oi oi, Tuan Mesum. Hentikan omong kosongmu. Kalau kamu terus-terusan begini, kamu bisa benar-benar dilaporkan ke polisi.

Meski begitu, aku merasa rasa dinginku malah bertambah tiga puluh persen. Namun, kalau aku pergi ke UKS di saat seperti ini, rumor yang beredar tentang kami pasti akan semakin aneh. Aku harus mencari alasan.

"Apakah kalian tahu pengumuman dari Organisasi Hunter mengenai Distrik Katsushika yang baru saja direbut oleh mereka?"

Topik pembicaraan yang tiba-tiba kuubah ini membuat mereka berdua terdiam sejenak.

Setelah keheningan yang sedikit canggung berlalu—

"Ya, aku melihatnya di berita."

"Aku juga..."

Keduanya mengangguk dengan wajah seolah baru saja menelan pil pahit. Wajar saja jika calon hunter seperti mereka tidak bercanda ketika membicarakan topik semacam ini.

"Tapi, kalau kita berhasil merebutnya kembali—"

"Itu akan sangat sulit."

Aku langsung membantah pendapat optimis Takeshi.

"Kenapa kamu berpikir begitu, Kain?"

Makoto menanyakan hal yang tak perlu dipikirkan lagi itu dengan wajah yang tak biasa seriusnya.

"Coba pikirkan. Markas di Distrik Katsushika yang melakukan perlawanan sengit itu adalah kota benteng. Mereka terpaksa harus meninggalkan pertahanan kota itu. Jika pihak vampir tidak bodoh, saat ini mereka pasti sudah merombak markas tersebut menjadi dipenuhi dengan jebakan. Apalagi, menyerang sebuah benteng itu jauh lebih sulit berkali-kali lipat daripada mempertahankannya. Merebutnya kembali akan sangat mustahil."

"Itu artinya, batas waktunya juga..."

"Ya, setengah tahun itu akan berlalu dalam sekejap. Jika batas waktu yang ditentukan telah lewat, pasukan vampir akan masuk. Jika itu terjadi, maka distrik yang baru saja direbut ini akan tamat."

Di dunia ini, terdapat aturan yang bisa dikatakan sebagai garis hidup bagi pihak umat manusia.

Pertama, vampir dan pelayannya sama sekali tidak bisa menginjakkan kaki di wilayah yang dikuasai oleh umat manusia yang dikelilingi oleh dinding putih.

Kedua, setiap tiga bulan sekali, umat manusia bisa menyerang tanah di luar dinding putih dan area yang dikelilingi oleh dinding hitam melalui sebuah gerbang (Gate) dengan batas waktu lima hari, dengan jumlah personel tidak lebih dari seratus orang.

Namun, para vampir sendiri tidak bisa bergabung dengan pasukan yang menyerang.

Ketiga, jika tanah yang berada di antara dinding putih dan hitam ini berhasil diduduki oleh pihak vampir, penghalang akan dipertahankan hanya selama setengah tahun, dan pasukan baru pihak vampir tidak bisa masuk.

Keempat, selama masa setengah tahun setelah dikuasai oleh pihak vampir, jika umat manusia berhasil merebut kembali tanah yang diduduki, penghalang dinding hitam akan dipertahankan.

Sebaliknya, jika umat manusia gagal merebutnya kembali, penghalang dinding hitam akan runtuh dan menghilang.

Kelima, setelah dinding hitam menghilang, dinding putih yang bersebelahan dengannya akan berubah menjadi dinding hitam, dan dinding putih baru akan muncul di dalam wilayah kekuasaan umat manusia.

Kelima aturan ini mutlak. Karena itulah, para vampir tidak bisa menyerang wilayah kekuasaan umat manusia dengan paksa.

Dalam aturan ini, serangan dari pihak vampir ke pihak manusia sangat dibatasi, namun sebaliknya, serangan dari pihak manusia ke wilayah vampir sama sekali tidak dibatasi.

Meskipun aturannya sangat merugikan pihak vampir, ruang lingkup aktivitas umat manusia terus-menerus dirampas secara perlahan.

Hal ini semata-mata karena perbedaan kekuatan tempur yang luar biasa dengan kubu vampir.

Jika kita terus kalah dengan ritme seperti ini, maka tak lama lagi bumi akan menjadi milik para vampir itu.

"Yah, umat manusia tidak selemah itu! Daripada memikirkan itu, mau mampir ke suatu tempat sepulang sekolah nanti untuk menyegarkan pikiran? Kita kan sebentar lagi akan sibuk dengan ujian praktik."

Takeshi menepuk punggungku berulang kali lalu mengajukan tawaran itu.

"Boleh juga! Aku ingin makan sepuasnya atau sesuatu yang bisa membuat perut kenyang. Bagaimana menurutmu, Makoto?"

Aku juga mengangguk setuju dan bertanya pada Makoto.

"Maaf, sepulang sekolah hari ini aku ada urusan, jadi sepertinya aku tidak bisa ikut."

Dengan nada menyesal, Makoto menolaknya. Makoto memang banyak mengikuti les dari keluarganya dan biasanya sangat sibuk, tapi dia cukup mudah diajak bergaul.

Jadi, hari ini dia pasti punya urusan yang benar-benar tidak bisa ditinggalkan.

"Ya sudah, mau bagaimana lagi. Hari ini kita berdua saja makan ramen ringan!"

"Ayo! Makan bersama-sama semuanya nanti saja di lain waktu!"

Saat aku mengatakan itu, wali kelas masuk ke ruang kelas. Sepertinya homeroom pagi akan segera dimulai.

Pelajaran sore hari adalah latihan gabungan di lapangan latihan untuk menentukan anggota tim dalam simulasi pertarungan nyata nanti.

Aku baru saja menyentuh bola kristal raksasa yang berfungsi untuk mengukur Mana dengan telapak tangan kananku, lalu menyalurkan Mana-ku ke dalamnya. Namun, bola raksasa itu sama sekali tidak bereaksi.

"Mana di bawah 1."

Gunjingan para siswa dari Jurusan Taktik Pertempuran yang sedari tadi mengawasi hasil dari jauh pun terdengar di telingaku.

"Hei, kudengar Mana anak Jurusan Dukungan itu di bawah 1, loh. Baru pertama kali ini aku melihat hasil pengukuran seperti itu!"

"Kamu nggak tahu, ya? Dia itu si pengangkut barang paling lemah, Kain Tsukishiro."

"Aku mana peduli sama pecundang kayak dia, makanya aku nggak tahu! Tapi, pengangkut barang paling lemah, ya. Julukannya keren juga. Apa dia punya kemampuan manipulasi ruang?"

"Sepertinya begitu. Tapi karena Mana-nya di bawah 1, kurasa dia cuma bisa menyimpan sedikit barang."

"Terus kenapa dia nggak dikeluarkan aja!? Cuma jadi beban doang, kan!"

"Kemampuan manipulasi ruang itu sangat langka, makanya. Kalau nggak, orang nggak berguna kayak dia nggak mungkin bisa masuk ke sekolah ini."

Secara garis besar, mereka sudah menjelaskannya.

Benar. Kemampuan yang kupublikasikan di sekolah ini adalah 'Item Box'.

Alasan aku diberikan status sebagai siswa di sekolah ini hanyalah karena kemampuanku ini sangat berharga dan berguna untuk urusan logistik.

Tentu saja kemampuanku ini sama sekali tidak berguna dalam pertarungan, makanya aku sering diejek dengan julukan "Pengangkut Barang Terlemah" di sekolah ini.

"Kain, jangan dipikirkan. Biarkan saja mereka bicara apa yang mereka mau."

Sambil memelototi para siswa dari Jurusan Taktik Pertempuran yang sedang membicarakanku, Takeshi mendekatiku dan berkata dengan nada marah.

"Benar sekali! Kemampuan Kain itu sangat berguna! Kita bisa melihat koleksi majalah dewasa simpanannya kapan pun kita mau!"

Makoto, tolong jangan mengatakan keinginan yang penuh dengan nafsu duniawi seperti itu tanpa rasa malu.

Coba lihat tatapan para gadis di sekitar kita, mereka menatapku seperti melihat kotoran. Mereka pasti mengira aku selalu melakukan hal seperti itu setiap hari.

Ah! Rasa dingin misterius itu muncul lagi!

"Terima kasih, kalian berdua. Tapi aku tidak apa-apa, kok. Lagipula, aku sama sekali tidak peduli."

Lebih tepatnya, aku malah merasa sedikit bangga karena dianggap tidak berguna.

"..."

Keduanya menatapku dengan mata seolah sedang melihat hal yang tak bisa dipercaya.

"Ada apa?"

"Kain, apa kamu masokis?"

Mereka berdua lalu melontarkan kata-kata yang tidak enak didengar itu.

Sepulang sekolah, ketika aku dan Takeshi keluar dari gerbang sekolah untuk pergi ke kedai ramen terdekat—

"Tunggu sebentar, kalian berdua!"

Kami dihentikan oleh panggilan Makoto.

Setelah berlari menghampiri kami, Makoto bertanya, "Ada apa?"

"Jadwalku kebetulan kosong, jadi kalau kalian mau, ayo kita pergi ke 'Sweets Wood' sekarang!"

Dia memberikan tawaran itu.

"Boleh saja, tapi di mana itu 'Sweets Wood'?"

"Itu adalah toko spesialis makanan manis yang sangat populer di kalangan perempuan."

Aku menjelaskannya kepada Takeshi, yang sepertinya sama sekali tidak tahu. Toko semacam itu sepertinya memang bukan tempat yang biasa dikunjungi oleh Takeshi.

"Hmm, makanan manis ya..."

Dia memang orang yang jujur. Ketidaktertarikannya terlihat jelas.

Yah, bagi Takeshi yang pada dasarnya mengutamakan nafsu makan, restoran yakiniku makan sepuasnya pasti jauh lebih menggugah seleranya daripada aku.

"Di kalangan sebagian siswa laki-laki di Kazatsuki, 'Sweets Wood' juga populer, loh. Tahu kenapa?"

"Karena rasanya enak, kan?"

Makoto menggerakkan jari telunjuknya ke kiri dan ke kanan dengan bunyi 'ck ck ck', lalu berkata.

"Konon katanya, seragam pelayannya sangat imut. Gimana? Nggak penasaran pengin lihat?"

Sambil tersenyum jahat, Makoto mendekati Takeshi dan menunjukkan foto dari 'Sweets Wood'. Hmm, Makoto yang sekarang ini benar-benar terlihat seperti pejabat korup atau pemimpin organisasi kejahatan.

"Seragam imut..."

Mendengar Takeshi menelan ludah, aku pun menghela napas pelan. Sepertinya dia berhasil terbujuk.

"Kain, kalau kamu—"

"Aku suka makanan manis, jadi aku tidak keberatan."

Aku memotong perkataan Makoto dan menyetujuinya.

"Kalau begitu, sudah diputuskan. Ayo kita pergi ke tempat bernama 'Sweets Wood' itu!"

Takeshi berteriak dengan napas memburu, dan kami pun mulai berjalan menuju stasiun tempat 'Sweets Wood' berada.

'Sweets Wood' adalah bangunan yang sangat imut dan bernuansa dongeng, tipe tempat yang pasti disukai oleh para perempuan. Bagian dalamnya bahkan didesain jauh lebih girly daripada penampilannya di luar.

Tentu saja, mayoritas pengunjung toko ini adalah perempuan, sehingga bagi kami yang laki-laki, tempat ini terasa sangat mengasingkan.

Tentu saja, bukan berarti tidak ada laki-laki sama sekali. Ada beberapa pelanggan menyebalkan yang datang dengan niat mesum karena seragam toko ini imut, dan para pelanggan perempuan lainnya selalu menatap mereka dengan tatapan bermusuhan.

Ya, persis seperti tatapan yang kami terima sekarang.

Saat kami duduk dan melihat menu, Takeshi terus-menerus menarik lengan bajuku.

(Hei, Kain, Makoto, gadis itu imut banget kan!?)

Dia meminta persetujuan dengan suara melengking.

(Yah, secara umum memang imut, sih.)

(Setuju.)

Di arah pandangan Takeshi, seorang wanita cantik dengan rambut merah panjang yang diikat dengan pita kuning di belakang sedang melayani pelanggan.

Saat melihat kami, wanita itu—

"..."

Dia membelalakkan matanya sesaat dan tubuhnya menegang, tetapi—

"Selamat datang!"

Dia segera menghampiri kami dengan senyuman segar, lalu meletakkan gelas kaca berisi air es di meja kami.

"T-T-Terima kasih!"

Karena sangat panik, Takeshi menjawab dengan suara yang parau. Dia terlihat sangat gugup.

Dalam situasi seperti ini, Makoto yang biasanya selalu melontarkan komentar pelecehan seksual, entah kenapa hanya diam dan mengamati kejadian itu dengan raut wajah seolah sedang melihat sesuatu yang menarik.

"Silakan panggil saya jika Anda sudah memutuskan pesanan."

Setelah membungkuk dengan anggun, dia pergi melayani pelanggan baru lainnya.

"Mako-chan ya... Dia benar-benar imut..."

Dia pasti melihat papan nama di dada kanan wanita itu. Sambil bertopang dagu, Takeshi terus bergumam linglung sambil memandangi Mako, gadis berambut merah yang sedang melayani pelanggan lain.

Bukan cuma Takeshi. Semua pengunjung laki-laki yang datang ke toko ini juga menatapnya dengan pipi merona, tanpa terkecuali.

(Hei, Makoto, kamu kenal dengan gadis itu?)

Aku berbisik pada Makoto yang duduk di sebelahku.

Tadi aku merasa gadis berambut merah itu sempat mematung sesaat saat melihat kami.

Karena aku dan Takeshi sama sekali tidak mengenalnya, satu-satunya kemungkinan adalah Makoto.

"Uho! Gadis berdada besar itu benar-benar luar biasa! Gadis berpantat besar di sebelah sana juga bikin gairahku naik!"

Tanpa menjawab pertanyaanku sama sekali, Makoto malah meneriakkan suara aneh yang menjijikkan sambil menatap para pelayan lain dengan tatapan mesum bagaikan sedang mengincar mangsa.

Hmm, entah kenapa Makoto hari ini terlihat lebih agresif dari biasanya. Padahal biasanya dia tidak pernah melontarkan komentar cabul seterus terang ini kepada perempuan.

"..."

Mendengar Makoto meneriakkan komentar cabul dengan lantang, tatapan penuh kecaman dari para pelanggan di sekitar kami pun langsung tertuju padanya.

"Makoto, kumohon hentikan..."

Untuk menghentikan komentar cabulnya, aku mengguncang bahu Makoto yang duduk di sebelahku agar dia menghentikan kelakuannya.

Tatapan dari para pelayan itu bahkan lebih menusuk daripada tatapan para pelanggan. Sekarang tatapan mereka sama persis dengan tatapan gadis-gadis di kelas kami.

Tentu saja, sekeras apa pun aku menegurnya, si mesum ini tidak akan berhenti—

"Cukup!"

Terdengar teriakan marah dari seorang wanita.

"Maafkan saya! Saya akan segera mengurus si mesum ini!"

Aku buru-buru memiting Makoto yang ada di sebelahku dari belakang, lalu menutup mulutnya dengan tangan kananku sambil mengucapkan permintaan maaf, tetapi—

"Bukan. Bukan Makoto..."

Mendengar suara tegang Takeshi yang seperti dipaksakan keluar itu, aku pun mengalihkan pandanganku dan melihat Mako yang sedang menatap tajam empat orang siswa berseragam 'Kazatsuki' di kursi dekat jendela.

"Hei, barusan anak ini main tangan padaku, kan?"

Salah satu siswa laki-laki bertubuh agak gemuk di antara keempat orang itu menyeringai, membuat pipinya yang tembem tampak semakin mengembang, seraya meminta persetujuan dari siswa-siswa lain yang sepertinya adalah pengikutnya.

"Ya, benar kata Tatsuya-san!"

"Dia tadi memukul tangan Tatsuya-san!"

Mereka berdiri dan mulai memaki serta menyudutkan Mako satu per satu.

"Takeshi, apa yang sebenarnya terjadi?"

Saat aku bertanya pada Takeshi yang sedang menatap mereka dengan ekspresi marah—

"Orang itu memegang pergelangan tangan kanan Mako-chan, dan Mako-chan marah lalu..."

"Lalu Mako menepisnya?"

"Ya."

"Dan jadilah keributan ini. Benar-benar konyol."

Saat aku berkata demikian—

"Aku akan memanggil polisi sekarang juga—"

Takeshi merogoh sakunya, mengeluarkan ponsel pintarnya, dan bersiap untuk menelepon.

Melihat hal itu—

"Tidak perlu. Biar aku yang urus."

Aku menghentikannya dengan tangan kananku dan menyatakan hal itu dengan nada tegas.

"Kamu yang urus!? Mana mungkin kamu bisa melakukannya! Lawannya itu keluarga Akizuki, lho!?"

"Keluarga Akizuki? Jadi dia itu si 'Tatsuya Akizuki' yang terkenal buruk reputasinya itu, ya."

Bahkan aku yang tidak terlalu peduli dengan urusan sekolah pun tahu nama itu.

Tatsuya Akizuki adalah orang yang cukup terkenal di 'Kazatsuki'.

Tentu saja bukan dalam artian yang baik, melainkan karena dia adalah bajingan busuk yang sama sekali tidak boleh diajak berurusan.

Kakeknya adalah direktur perusahaan Akizuki, ibunya adalah seorang pimpinan perusahaan, kerabatnya pernah menjabat sebagai menteri di parlemen, dan ayahnya adalah orang penting di dunia hunter.

Singkatnya, keluarga Akizuki adalah 'raja' yang secara praktis menguasai Jepang saat ini. Jika kamu berani menentangnya, kamu tidak akan bisa hidup di negara ini.

Karena itulah, staf sekolah 'Kazatsuki' maupun polisi berada dalam posisi yang tidak bisa berbuat apa-apa terhadap keluarga Akizuki secara terang-terangan.

Beredar rumor gelap bahwa Tatsuya Akizuki memanfaatkan posisinya untuk berbuat sesuka hati.

Mengingat situasi saat ini, sepertinya rumor itu memang benar adanya.

"Benar, makanya—"

"Tidak apa-apa. Aku tidak akan terluka, dan aku juga tidak akan membiarkan kalian terluka."

Untuk menghilangkan kekhawatiran Takeshi, aku bersumpah seperti itu.

Keluargaku mengelola dojo seni bela diri kuno yang memiliki tradisi panjang, dan sejak dulu aku telah menjalani latihan keras hingga berdarah-darah.

Kakekku, yang merupakan asisten instruktur, telah mengakui bahwa kemampuan taijutsu dan kenjutsu-ku saja sudah setara dengan kemampuan pro hunter yang masih aktif.

Memang, secara umum dikatakan bahwa akan sulit untuk memberikan damage dalam pertarungan melawan bawahan vampir jika bukan menggunakan sihir pertempuran atau Skill.

Karena itu, aku sepertinya tidak akan banyak berguna dalam pertarungan melawan monster, namun untuk pertarungan antarmanusia, kemampuanku lebih dari cukup. Apalagi lawan kali ini hanyalah sesama siswa.

Dalam hal ini, jika mereka menggunakan sihir pertempuran atau Skill dalam perkelahian antarsiswa, bahkan jika dia adalah bagian dari keluarga Akizuki, urusannya tidak akan selesai begitu saja.

Kalau sampai salah langkah, dia bisa mendekam di penjara dan makan nasi basi untuk waktu yang lama.

Mereka tidak mungkin sebodoh itu. Dengan kata lain, kemungkinannya adalah sembilan puluh persen kami akan bertarung dengan tangan kosong. Jika begitu, aku pasti bisa mengatasi situasi ini dengan baik.

"T-Tunggu, Kain, bukan itu maksudku—!"

Aku mengabaikan Takeshi yang berusaha keras menghentikanku, mengambil gelas dari atas meja, lalu berjalan mendekati mereka.

Terlebih lagi, mengingat sifat Takeshi yang polos, jika aku tidak bertindak sekarang, dia pasti akan ikut campur dalam masalah ini. Dan itu adalah tindakan terburuk yang bisa terjadi.

"Kalau sampai ketahuan kamu bekerja di tempat seperti ini, pasti bakal jadi masalah besar buatmu, kan?"

Mendengar ancaman dari Tatsuya yang pipinya mengembang sambil menyeringai licik itu—

"..."

Mako membelalakkan matanya, tetapi dia hanya bisa menggigit bibir bawahnya dengan frustrasi.

"Pokoknya, ikut aku! Kita bicarakan baik-baik soal ini nanti!"

Tatsuya Akizuki yang hendak menarik pergelangan tangan Mako tiba-tiba kulempar dengan segelas air tepat di kepalanya.

"..."

Dia memandangi dirinya sendiri yang basah kuyup dengan wajah tercengang selama beberapa saat, kemudian menoleh ke belakang dan saat melihatku, wajahnya langsung memerah seperti gurita rebus.

"Keparat!"

Dia mengamuk dan mencoba memukulku sambil berteriak. Aku dengan mudah menghindari pukulannya yang lambat layaknya lelucon itu.

Saat aku terus-menerus menghindari pukulan Tatsuya yang bodoh, Tatsuya mulai terengah-engah sambil menyeka keringatnya yang bercucuran.

"Kalian ngapain diam aja!? Cepat bantu aku!"

Dia memberi perintah kepada para anteknya.

"B-Baik!"

Para siswa laki-laki yang menjadi anteknya langsung melompat dan mencoba menyerangku.

Aku terus menghindari mereka semua.

Setelah aku terus-menerus menghindar, akhirnya antek terakhirnya pun kehabisan tenaga dan terduduk di lantai sambil terengah-engah.

Benar-benar tidak bisa dipahami. Mengesampingkan anak manja yang sepertinya masuk lewat jalur belakang karena koneksi orang tuanya itu, bukankah para siswanya juga berasal dari Jurusan Taktik Pertempuran?

Dengan teknik bertarung yang belum matang seperti ini, apa mereka bisa bertahan dalam pertarungan melawan pelayan vampir?

"Cuma bisa lari-lari aja! Dasar pengecut!"

"Pengecut? Bukankah kalian yang main keroyok itu jauh lebih pengecut?"

"Berisik! Berisik! Jangan berani-beraninya menasihatiku! Kalau kamu menghindar lagi, aku bakal laporin kamu ke polisi!"

Dia meneriakkan omong kosong semacam itu.

"Baiklah. Aku tidak akan menghindar."

Sebenarnya aku berniat untuk menyelesaikannya secara damai ketika dia sudah mulai kelelahan dan darah yang naik ke kepalanya sudah turun.

Tapi karena dia sendiri yang memintanya, mau bagaimana lagi. Akan kugunakan sedikit kekerasan.

"Bagus! Diam saja dan biarkan aku memukulmu!"

Aku menahan tangan kanannya yang melambai lebar dengan tangan kiriku, lalu memelintir tubuhnya beberapa kali sebelum membantingnya ke lantai.

Setelah itu, aku menahan tubuhnya yang telentang ke lantai dengan telapak kakiku.

"Lepaskan! Lepaskan! Dasar sampah! Lepaskan, kubilang!"

Aku memindahkan kakiku ke leher Tatsuya yang sedang meronta-ronta sambil berteriak, lalu menekannya pelan hingga dia tercekik.

"Gah!"

Dia mengerang kesakitan.

"Sialan!"

Salah satu anteknya mengambil garpu dari meja dan menusukkannya dari belakang ke arah bahuku. Tanpa menoleh sedikit pun, aku menepisnya dengan tangan kananku dan mengarahkannya ke dekat wajah Tatsuya. Garpu itu meleset beberapa sentimeter dari kepala Tatsuya dan menancap di lantai.

"Hii!"

Akhirnya, Tatsuya yang mulutnya berbusa pun pingsan. Tanpa memberi jeda sedetik pun, aku menyapu kaki siswa laki-laki yang tadi menusukkan garpu itu.

Siswa itu terpelanting beberapa kali, lalu jatuh telentang ke lantai tanpa sempat menahan tubuhnya dan menjerit kesakitan.

Aku menoleh ke arah antek-antek Tatsuya yang membeku tercengang, lalu berkata dengan nada tegas—

"Kalian mengganggu kenyamanan restoran, jadi cepat bawa mereka dan pergi dari sini."

Tepat saat aku memberikan instruksi tersebut—

"Angkat tangan!"

Sekelompok polisi menerobos masuk ke dalam toko dan mengacungkan moncong pistol mereka kepadaku.

"Waduh."

Sesuai perintah, aku mengangkat kedua tanganku.

Mungkin pemilik toko atau semacamnya yang melapor. Gawat juga. Kalau perkelahian besar ini sampai ketahuan sekolah, aku bisa dikeluarkan.

Apalagi aku sudah membuat si anak manja dari keluarga Akizuki ini pingsan di depan umum, dan yang kulakukan barusan juga bisa dianggap sebagai tindakan kekerasan.

Terlebih lagi, aku sama sekali tidak berpikir kalau polisi akan menganggap tindakanku sebagai pembelaan diri dalam situasi seperti ini.

Yah, apa boleh buat. Mengingat nilaiku yang bisa membuatku dikeluarkan kapan saja, kurasa sekarang sudah terlambat untuk menyesal.

Polisi itu mendekatiku, memborgol kedua tanganku, dan berkata—

"Kamu ditahan atas tuduhan penganiayaan terhadap putra keluarga Akizuki."

Dia menyatakan hal itu seolah-olah mengabaikan pemuda antek Tatsuya yang masih mengerang kesakitan di lantai—tepat pada saat itu—

"Tidak perlu menahannya!"

Seorang siswi berambut hitam model bob dengan seragam Kazatsuki berteriak lantang sambil menerobos barisan polisi.

"Siapa kau?"

Seorang pria kekar berjenggot yang sepertinya adalah polisi berpakaian preman menanyakan hal itu dengan tenang, lalu—

"Aku kakak dari orang yang pingsan di situ."

Sambil mengacungkan jempolnya ke arah Tatsuya, dia melontarkan kata-kata itu.

"Kakak... Kami mohon maaf!"

Polisi berpakaian preman yang berjenggot itu segera membetulkan postur tubuhnya dan berseru lantang.

"Adik bodohku itu ketahuan menyerang pelayan di toko ini, lalu dia ditolong oleh anak laki-laki itu. Kalau mau menangkap seseorang, tangkap saja adikku itu."

"..."

Para anggota kepolisian tampak mengerutkan dahi seolah memakan sesuatu yang sangat pahit.

Sepertinya mereka enggan membawa Tatsuya ke kantor polisi dan menanggung kebenciannya.

"Anak itu memang harus dimasukkan ke penjara biar bisa introspeksi diri. Aku akan berbicara pada ayahku nanti. Aku tidak akan menyusahkan kalian."

Polisi preman berjenggot itu terdiam sejenak sebelum kembali bersikap tegap dan memberi hormat, lalu membawa pergi Tatsuya yang pingsan.

"Kalau begitu, aku juga—"

Karena borgolku sudah dilepas, aku bermaksud memanfaatkan keributan ini untuk kabur, namun—

"Kami juga perlu mendengar keterangan darimu. Silakan ikut kami ke kantor polisi."

Polisi preman itu memberikan instruksi dengan nada yang tidak menerima penolakan.

◇◆◇

Aku dibawa ke kantor polisi untuk dimintai keterangan, jadi aku menceritakan kejadiannya secara singkat.

"Begitu rupanya! Kau hebat, Nak!"

Polisi berpakaian preman yang berjenggot tebal tadi menepuk pundakku berulang kali seraya melontarkan pujian.

Meskipun keluarga Akizuki sudah setuju untuk tidak mempermasalahkannya, tetap saja aku telah membuat anggota keluarga mereka pingsan di depan umum.

Kukira aku akan dimarahi habis-habisan dan dituduh kurang ajar karena menentang keluarga Akizuki, tapi ternyata setelah mendengar penjelasanku, aku malah berterima kasih.

"Saya terkejut. Kukira Anda akan menyalahkan saya atas insiden ini."

Mendengar pertanyaan polosku itu—

"Mana mungkin! Soalnya ini adalah kejadian langka di mana keluarga Akizuki memberi pelajaran pada bocah brengsek itu!

Malahan, cuma dengan ngebayangin muka jeleknya bocah brengsek itu pingsan, rasanya lega banget di dada!"

Begitu ya. Sepertinya dia benar-benar menyimpan dendam yang cukup besar. Kalau begitu, mereka mungkin—

"Anda, meskipun kakak perempuan si bodoh itu tidak muncul, Anda pasti akan membebaskan saya, kan."

Polisi yang menangani kasus ini, seorang pria berambut hitam yang disisir belah pinggir tujuh tiga, menyeringai sambil menaikkan sudut mulutnya, dan—

"Yah, begitulah. Ini cuma pertengkaran kecil antarpelajar. Asalkan kami cuma nanya-nanya dikit sama ngasih ceramah sebentar, keluarga Akizuki nggak bakal ngomong apa-apa."

Dia menjawab seperti yang kuduga.

Kurasa alasan dia menangkapku dengan begitu paksa tadi adalah untuk melindungiku. Posisi mereka yang serba salah benar-benar terlihat jelas.

"Begitu, ya. Saya sudah lelah, bolehkah saya pulang sekarang?"

Aku merasa sangat lelah setelah mengetahui kebenarannya.

Jika polisi sudah punya sikap seperti itu, dan mengingat mereka juga sudah tiba di lokasi pada waktu yang tepat, masalah ini pasti sudah selesai jika aku memanggil polisi seperti yang dikatakan Takeshi.

Dengan kata lain, tindakanku kali ini benar-benar sia-sia dan hanya membuang-buang tenaga saja.

"Tentu saja. Tapi Nak, jangan terlalu memaksakan diri. Nggak semua polisi punya pendirian kayak kami. Banyak juga yang rela jadi budaknya keluarga Akizuki."

"Terima kasih atas sarannya."

Aku berdiri dari kursi, memberi salam pada polisi berpakaian preman berambut belah pinggir, lalu keluar dari ruang interogasi.

Saat aku turun ke lantai satu, di area tangga aku berpapasan dengan Mako, wanita berambut merah panjang yang diikat ekor kuda.

"..."

Karena kami tidak saling kenal, aku melewatinya tanpa mengucapkan sepatah kata pun atau bertatapan mata dengannya.

"Permisi!"

Aku dipanggil dari belakang dengan nada sedikit marah.

"Ada perlu apa?"

Aku berhenti, menoleh ke belakang bahuku, dan bertanya singkat.

"Terima kasih sudah menolongku!"

Dia menundukkan kepalanya padaku.

Sejujurnya, aku tidak terlalu pandai menghadapi orang-orang mencolok seperti dia.

Kalau saja Takeshi tidak tertarik padanya, aku mungkin tidak akan bertindak sejauh itu.

Oleh karena itu, aku merasa tidak pantas menerima ucapan terima kasihnya.

"..."

Aku tidak membalasnya dan mulai berjalan pergi.

Tepat saat aku keluar dari kantor polisi—

"Kain!"

Di depan pintu masuk utama, Takeshi dan Makoto sedang menungguku.

"Kalian berdua menungguku?"

Ini sudah lewat jam sepuluh malam. Jam malam asrama sudah lama berlalu.

Pasti setelah ini akan ada hukuman dari ibu asrama yang menyeramkan, dan hukuman dilarang keluar untuk sementara waktu sudah menanti.

"Ya iyalah! Kami kan khawatir!"

Takeshi menepuk punggungku berulang kali dengan air mata menggenang di sudut matanya. Bagaimanapun juga, Takeshi adalah orang yang paling berakal sehat di antara kami berdua.

Sebaliknya, anak ini—

"Hahaha, pertarungan Kain tadi bener-bener seru, eh, maksudku, lumayan keren, deh!"

Makoto mengacungkan jempolnya sambil tersenyum polos seperti anak nakal.

"Keren apanya, kamu pikir ini tontonan bela diri apa..."

Makoto sama sekali tidak terlihat khawatir sedikit pun.

Sebaliknya, dia sepertinya sangat menikmati situasi ini dari lubuk hatinya.

"Ya pertunjukanlah. Lagian kekuatan kalian kan beda jauh. Tapi, gara-gara itu, kita jadi tahu kelemahan mereka. Jadi kita nggak perlu nerima tawaran merepotkan dari mereka lagi, saking senengnya sampai nggak tahu harus berterima kasih pake apa!"

Melihat dari ucapan dan senyuman jahatnya, sepertinya si Makoto berniat memanfaatkan insiden ini untuk rencana liciknya.

"Makoto, masalah ini sudah diselesaikan baik-baik. Jangan ada lagi—"

"Aku tahu. Aku nggak berniat ngelakuin apa-apa dari pihakku kok."

Dengan nada ceria, Makoto berputar-putar, menutupi mulutnya sambil tersenyum licik, dan—

(Lagipula, melihat wajah senang kakak saat itu, semuanya sudah jelas. Dengan begini, aku sudah memegang kelemahan kakak.)

Dia bergumam pelan dengan nada mengancam. Makoto, bukannya barusan kamu bilang sesuatu tentang kelemahan?

"Makoto?"

"Ah, nggak ada apa-apa kok! Ngomong-ngomong, Kain kuat banget ya?"

Seolah mencoba mengalihkan pembicaraan, Makoto tiba-tiba mengubah topik.

"Benar! Kekuatan itu curang banget!"

Takeshi, yang terlihat sangat bersemangat, menambahkan.

"Begini, kalian berdua, aku kan sudah bilang kalau aku selama ini berlatih di dojo milik keluargaku."

Aku menjawabnya dengan nada jengkel.

Takeshi menyipitkan matanya dan menatap wajahku lekat-lekat, namun tak lama kemudian dia berseru seolah teringat sesuatu.

"Ah, iya juga! Penampilanmu yang begini bikin aku mikir kamu lemah, sih. Ya kan, Makoto?"

Takeshi meminta persetujuan Makoto dengan alasan yang sangat tidak masuk akal dan sangat tidak sopan.

"U-Uh, iya."

Berbeda dengan sikapnya yang tenang tadi, Makoto kini mengiyakan sambil tergagap-gagap.

Mengesampingkan Takeshi yang memang selalu aneh, Makoto hari ini terlihat agak aneh.

Biasanya dia hanya bersikap seperti cowok yang suka membicarakan hal-hal berbau mesum, tapi hari ini dia lebih mirip anak yang suka dengan konspirasi.

Yah, sudahlah, aku lelah... Ayo pulang ke asrama.

"Ayo pulang."

"Sip!"

"Hehe! Go home!"

Aku, Takeshi, dan Makoto pun berjalan pulang bersama.

◇◆◇

—Di Ruang Tamu Kedua SMA Kazatsuki.

"Kurang ajar! Si Narumi berengsek itu, berani-beraninya dia mengurungku seharian di tempat seperti itu!"

Tatsuya Akizuki yang berseru marah menendang kursi di depannya hingga kursi tersebut menghantam dinding dan hancur berkeping-keping.

"Apakah pria yang bersikap tidak sopan pada Tuan Tatsuya ini, benar-benar orang yang bernama Kain Tsukishiro dari Jurusan Dukungan?"

Seorang pria paruh baya bertubuh kurus tinggi memastikan sambil menunjukkan sebuah foto pada Tatsuya.

"Ya! Orang ini! Orang ini yang dengan pengecutnya menggunakan seorang wanita sebagai tameng dan memukulku!"

Tatsuya menudingkan jari telunjuk tangan kanannya ke arah foto tersebut sambil menyemburkan ludahnya ke mana-mana.

"Saya memahami perasaan Anda."

"Kalau begitu, cepat hukum dia! Suguro, sebagai wakil kepala sekolah, kau bisa melakukannya, kan!?"

Pria paruh baya kurus itu menyeringai pada Tatsuya yang berbicara dengan cepat sambil menyemburkan air liurnya, lalu—

"Tentu saja. Tapi, kalau saya sebagai pendidik menghukum murid dari sekolah kita sendiri, tentu saja itu membawa risiko besar. Apakah Anda mengerti soal itu?"

Dia memastikan pada Tatsuya dengan nada yang terdengar seperti sedang bernyanyi.

"Uang!? Kalau uang di dompetku nggak cukup, aku bakal minta Kakek ngasih berapapun jumlah yang kau mau!"

Mendengar jawaban Tatsuya ini, staf pengajar yang juga ada di sana pun menelan ludah.

"Tentu saja, kita perlu menyiapkan bayaran untuk mereka yang terlibat dalam masalah ini, jadi kita butuh dana yang cukup. Dan, ada satu hal lagi yang saya ingin Anda setujui."

"Apa itu!?"

Kepada Tatsuya yang terlihat kesal dan terus-menerus menggoyangkan kakinya, pria itu—

"Saya ingin Anda meminta kakek Anda untuk merekomendasikan saya sebagai kepala sekolah Kazatsuki untuk periode berikutnya."

Suguro, sang wakil kepala sekolah, memberikan jawaban yang sarat akan keserakahan.

"Baiklah. Aku akan memintanya pada Kakek!"

"Kalau begitu, sepakat."

Suguro berdiri dan membungkuk, lalu—

"Aku mengandalkanmu! Pastikan kau membuat orang itu benar-benar menyesali perbuatannya padaku kali ini!"

Tatsuya berseru dengan lantang.

"Tentu. Saya pasti akan membuatnya merasakan penghinaan yang Tuan Tatsuya rasakan sampai ke sumsum tulang!"

Suguro menyeringai dengan senyum licik dan melontarkan sumpah tersebut.

Setelah Tatsuya pergi—

"Bocah manja yang bodoh dan bodoh sampai tidak tertolong! Tapi, justru karena itulah dia bisa berguna untukku!"

Suguro, sang wakil kepala sekolah, berseru gembira.

"Namun, Guru Suguro, insiden kali ini kabarnya juga melibatkan Tuan Narumi. Bukankah itu berbahaya?"

Seorang guru berambut pendek dengan tubuh besar yang merupakan pion Suguro, bertanya dengan ragu-ragu kepadanya.

"Dilihat dari situasinya, wanita sok suci yang menjijikkan itu mungkin hanya kebetulan melihat perbuatan si tuan muda dan ikut campur. Setidaknya, wanita itu tidak punya banyak waktu luang untuk mengurusinya."

"Tetapi..."

Melihat pion tangan kanannya yang berambut pendek itu masih tidak yakin, Suguro menjawab dengan nada riang.

"Tidak apa-apa! Semuanya akan baik-baik saja."

"Kita bisa mendapatkan dana yang sangat dari cukup dari si tuan muda. Dengan begitu, kita bisa menyewa Puppeteer of Death untuk mengurus si Tsukishiro itu."

"P-Puppeteer of Death!? Maksud Anda Kriminal Kelas A itu!?"

Guru itu meninggikan suaranya yang penuh dengan kepanikan.

"Ya, dengan kemampuannya, kita pasti bisa membereskannya dengan membuatnya terlihat seperti kecelakaan."

"T-Tapi bagaimana jika ketahuan—!"

"Ah, tutup mulutmu! Apa kau pikir aku tidak menyiapkan rencana untuk mengatasi kekhawatiranmu itu?"

Suguro mengangkat telapak tangan kanannya untuk memotong perkataan guru tersebut.

"Apa yang... akan Anda lakukan?"

"Kita akan membuatnya seolah-olah tuan muda itu yang bekerja sama dengan faksi Kepala Sekolah untuk menyewa pembunuh tersebut."

"Kita akan meninggalkan semua buktinya juga. Jadi tidak perlu khawatir."

"Kalaupun pembunuh itu tertangkap dan masalah ini terbongkar, kita tidak akan meninggalkan bukti apa pun yang mengarah pada kita."

Sejenak, guru kaki tangannya itu menatap wajah Suguro dengan ekspresi tercengang.

"Guru Suguro... Anda benar-benar orang yang menakutkan..."

Dia memaksakan kata-kata itu keluar dengan suara pelan.

"Aku akan menganggapnya sebagai pujian!"

Bagi Suguro, para siswa SMA Kazuki tidak lebih berharga dari semut di pinggir jalan. Kebahagiaan terbesar bagi rakyat jelata seperti mereka adalah dimanfaatkan dengan baik dan mati sebagai pion dari manusia genius dan mulia seperti dirinya.

Itulah yang dia yakini.

"Hehehe, ini sangat bagus!"

Jika rencana ini berhasil, dia bisa membuat Tatsuya berutang budi besar padanya. Sebagai hasil dari berbagi rahasia ini, Tatsuya pasti akan sangat memercayainya.

Jika dia membantunya melakukan kejahatan serupa beberapa kali lagi, dan memanipulasinya sampai dia tidak bisa mundur lagi, seorang budak yang berguna pun akan tercipta.

Jika rencananya gagal, dia tinggal menyuruh salah satu budaknya dari dunia bawah untuk membunuh Tatsuya. Di saat yang sama, dia akan melimpahkan semua tanggung jawab ke faksi Kepala Sekolah untuk menjatuhkan mereka.

Bagaimanapun juga, masa depan akan mengalir sesuai keinginan Suguro. Ini bukanlah rasa percaya diri yang berlebihan ataupun delusi, melainkan kenyataan.

Lagipula, Suguro dilindungi oleh Tuhan!

"K-Kalau begitu, saya permisi dulu."

Guru berambut pendek yang merupakan pion Suguro itu tersenyum kaku, membungkuk, dan berbalik untuk meninggalkan ruangan.

—Suguro, orang di depanmu itu berencana untuk mengkhianatimu.

Suara serak seorang lelaki tua bergema di dalam kepalanya. Menanggapi suara yang tidak memiliki ketegangan itu, Suguro tersenyum.

(Tuhanku. Terima kasih atas wahyu-Mu.)

Dia mencengkeram bagian belakang kepala guru itu dengan tangan kanannya, menyalurkan kekuatan yang diberikan oleh sosok tersebut.

"Gue?"

Mengeluarkan suara aneh yang tidak terdengar seperti manusia, tubuh guru itu mengejang hebat dan mulutnya berbusa.

"Gugi! Gukekekekikiki!"

Dia menjerit aneh sambil memutar matanya ke segala arah. Namun tak lama kemudian, dia menggoyangkan tubuhnya seperti hewan moluska dan berpose menjijikkan di depan Suguro.

Lalu—

"Tuanku! Berikan saya perintah!"

Dia menundukkan kepalanya dalam-dalam dengan postur yang mustahil dilakukan oleh manusia biasa.

"Pilihlah tim yang menaungi anak bernama Tsukishiro itu!"

Ini adalah kesempatan bagus. Dia akan mengumpulkan para siswa yang kebal terhadap kemampuannya dan menyingkirkan mereka.

Tentu saja, perbudakan dengan kekuatan Tuhan adalah jalan terakhir yang akan mengakhiri segalanya jika ketahuan. Sebisa mungkin, lebih baik tidak menggunakannya sama sekali.

Meski begitu, kekuatan ini mampu membalikkan keadaan di atas papan catur. Hal yang paling baik dilakukan adalah menyingkirkan lawan yang kebal terhadap kekuatan ini sejak awal.

"Siaaaap."

Berpose konyol, guru itu melompat-lompat kecil keluar dari ruangan.

(Apa tidak ada yang bisa dilakukan tentang gerakan aneh budak-budak itu...)

Dia tidak memiliki keluhan terhadap Tuhannya. Tidak ada sama sekali.

Namun jujur saja, tingkah laku para budaknya yang sangat mencolok itu benar-benar mengganggunya.

(Tidak, itu adalah pemikiran yang tidak sopan.)

Dia menggelengkan kepalanya dari sisi ke sisi untuk menepis ketidakpuasan kecil yang muncul di benaknya.

"Nah, dengan ini, kekuasaanku di akademi ini akan menjadi semakin kokoh!"

Kegembiraan menerpanya seperti ombak besar, membuatnya memeluk tubuhnya sendiri dengan kedua tangan.

"Aku benar-benar harus berterima kasih kepada siswa bernama Tsukishiro itu!"

Suguro meninggikan suaranya yang dipenuhi dengan hasrat yang mendalam.

◇◆◇

Sesuai pernyataan wanita berpotongan rambut bob hitam itu, tidak ada hukuman apa pun untukku setelah insiden tersebut.

Atau lebih tepatnya, mungkin lebih benar jika dikatakan seolah-olah insiden itu tidak pernah terjadi.

Berkat itu, aku bisa menjalani rutinitasku seperti biasa.

Hari ini pun aku pergi ke taman terdekat di pagi hari untuk melakukan peregangan demi rutinitas latihanku. Namun, sudah ada seseorang yang duduk di bangku.

Seorang gadis dengan gaun terusan berwarna biru muda. Akhir-akhir ini, dia selalu mengamati latihanku dalam diam tanpa pernah absen.

Kukira dia hanya akan melihatku lagi hari ini, tetapi dia tiba-tiba mendekat.

"Hei, latihanmu sudah mau selesai, kan? Ayo sarapan bareng!"

Dia tiba-tiba memberikan tawaran seperti itu.

"Aku menolaknya dengan sopan."

Memang benar latihanku akan segera selesai. Namun, jika gadis cantik ini dan diriku yang hanya karakter figuran masuk ke sebuah toko bersama, kami pasti akan menarik perhatian.

Kemarin saja aku sudah bertindak terlalu jauh. Kalau sampai muncul rumor aneh dan pihak akademi mencari masalah dengan alasan pergaulan bebas, itu akan sangat merepotkan.

Lagipula, tidak ada alasan bagiku untuk makan bersama orang asing sepertinya.

"Sudahlah, ayo cepat."

Seolah sudah menebak jawabanku, dia tidak goyah sedikit pun. Dia meraih tangan kananku dan menarikku kuat-kuat ke arah bangku.

Setelah memaksaku duduk, dia duduk di sebelahku dan membuka keranjang yang dibawanya. Di dalamnya terdapat roti lapis yang bentuknya agak berantakan.

"Maaf, tapi aku tidak punya alasan untuk menerimanya."

"Tidak apa-apa, aku punya alasannya."

Gadis bergaun terusan itu menjawab sambil tersenyum.

"Apa maksudmu—"

Rasa penasaranku terpotong saat dia menjejalkan roti lapis itu ke dalam mulutku.

Rasa buah dan krim segar meleleh serta berpadu di dalam mulutku. Ini yang biasanya disebut fruit sandwich.

"Anu..."

"Ya, ini satu lagi."

Gadis itu menyodorkan roti lapis kedua.

Melihat sikapnya yang memaksa ini, menolaknya pasti akan percuma. Demi menghindari masalah, mungkin lebih baik aku memakannya saja.

Aku menghela napas pelan dan mulai makan.

"Terima kasih atas makanannya."

Setelah selesai makan, gadis itu berdiri dan membungkuk padaku.

"Tidak, rasanya sangat enak."

Itu perasaanku yang sebenarnya. Awalnya aku ragu makan makanan manis di pagi hari, tetapi ternyata rasanya cukup lumayan.

Rasanya sangat lezat dan cukup mengenyangkan. Sarapan seperti ini sesekali mungkin tidak buruk juga.

"Benarkah!?"

"Ya, tanpa kebohongan sedikit pun, ini luar biasa."

"Syukurlah kalau begitu!"

Dia mengangguk berkali-kali dengan wajah bahagia.

"Apa alasanmu membuatkan makanan untukku?"

Aku menanyakan maksud dari tindakannya itu.

"Nah, kira-kira kenapa, ya!"

Setelah berseru seperti itu, dia pergi meninggalkan taman sambil bersenandung.

"Orang yang aneh."

Aku mengangkat bahu, menggumamkan kesan tersebut, dan mulai berjalan kembali ke kamarku.

Setibanya di akademi, aku memeriksa pembagian kelompok praktik yang ditempel di depan tangga lantai satu bersama Takeshi dan Makoto.

"Kelompokku A-1, ya..."

Kelompok praktik biasanya dibagi menjadi A hingga D berdasarkan nilai dan kemampuan. Nilainya berurutan dari D, C, B, hingga A, lalu dibagi lagi menjadi 1 sampai 5.

Semakin kecil angkanya dari 5 ke 1, semakin baik nilainya. Namun, aku justru masuk kelompok A-1.

Melihat nilaiku, ini adalah sesuatu yang sama sekali tidak mungkin terjadi. Terlebih lagi komposisi anggotanya, alasan apa yang membuat akademi menempatkanku di kelompok ini?

Mungkinkah pertengkaranku di 'Sweets Wood' dijadikan masalah oleh akademi, dan aku ditempatkan di kelompok ini sebagai hukuman?

Memang benar aku tidak bisa melakukan apa pun di kelompok elite A-1.

Nilaiku nanti pasti akan sangat buruk. Mengingat aku telah menghajar putra berandalan dari keluarga Akizuki, apakah ini tindakan untuk mencari alasan agar aku dikeluarkan?

"Cain, kau hebat sekali!"

Tanpa menyadari perasaanku, Takeshi menepuk punggungku berulang kali dengan wajah gembira.

"Benar! Aku juga ingin sekali masuk A-1!"

Makoto menggumamkan hasrat sejujurnya sambil melihat kolom nama anggota yang satu kelompok denganku. Dilihat dari ekspresinya yang penuh penyesalan dan menyedihkan itu, dia pasti serius.

Tujuan Makoto tidak diragukan lagi adalah gadis itu. Sang primadona dari kelompok A-1, Mikage Mashiro.

Rumor tentang dirinya bahkan telah sampai ke telinga kami di Departemen Dukungan Tempur. Dia adalah satu-satunya gadis yang diakui oleh pedang suci pembasmi iblis, serta harapan dari Departemen Khusus yang bisa menggunakan berbagai Skill sihir tingkat tinggi.

Karena praktik ini mengutamakan pertempuran nyata, beberapa orang dipilih berdasarkan nilai mereka dari setiap departemen.

Departemen Komando Strategi yang memimpin tim, Departemen Taktik Tempur yang menjadi ujung tombak, Departemen Dukungan Tempur yang memberikan bantuan, dan Departemen Khusus yang merupakan ahli tempur.

A-1 adalah yang terbaik dari yang terbaik. Siswa-siswa berprestasi yang namanya pernah kudengar setidaknya sekali terpilih dari masing-masing departemen.

Terlebih lagi ada Mikage Mashiro di sana, menjadikannya kelompok yang benar-benar super elite. Dan aku, yang nilai praktiknya berada di urutan terbawah, masuk ke kelompok ini.

Keanehan sebesar ini sangat jarang terjadi. Mungkin lebih tepat jika kuanggap ada suatu alasan di baliknya.

Omong-omong, Takeshi dan Makoto berada di kelompok A-2. Mengesampingkan kepribadian mereka, kemampuan Buff dan Debuff mereka sangatlah kuat dan berdampak langsung pada pertempuran.

Jadi, dalam hal ini, wajar saja mereka masuk ke sana.

Bagaimanapun juga, petinggi akademilah yang menentukan pembagian kelompok ini. Meskipun bawahan sepertiku merasa ragu dan mengajukan keberatan, keputusan itu tidak akan berubah.

Lagipula, tidak ada gunanya melakukan itu. Kalau tujuanku adalah agar tidak mencolok, bertindak protes justru akan menjadi bumerang. Aku hanya perlu melakukan apa yang bisa kulakukan.

"Kalau begitu, mari kita berjuang bersama!"

Setelah menyemangati mereka berdua, aku mulai berjalan menuju kelas.

Setelah meletakkan tas di kelas, aku menyiapkan peralatanku di ruang ganti dan keluar ke lapangan sekolah.

Lapangan sekolah sudah dipenuhi oleh para siswa yang akan mengikuti praktik.

"Cain!"

Mendengar suara dari belakang, aku menoleh dari balik bahuku. Aku melihat Akutsu Arata, pemuda berambut merah dengan potongan two-block dan tatapan tajam, mengangkat tangan kanannya sambil mendekat.

Arata ditempatkan di kelompok A-2. Bisa dibilang, evaluasinya termasuk tingkat atas di akademi ini.

"Hai, Arata. Sudah lama tidak bertemu."

"Ya, akhir-akhir ini kita sama-sama sibuk sampai tidak punya waktu luang untuk makan."

Kalau dipikir-pikir, aku memang sudah berjanji untuk pergi makan bersama Arata, tetapi masih belum terlaksana karena kami sibuk.

"Bukan kita sama-sama sibuk, tapi cuma kau yang sibuk."

"Jangan menyindir begitu. Dengan kekuatanmu, bukankah kau seharusnya masuk Departemen Khusus atau Kelas A sama seperti kami?"

"Siapa yang sengaja memilih Departemen Dukungan karena tidak ingin mencolok, ya?" tambah Arata.

"Itu... mungkin kau benar."

Kata-katanya itu tepat mengenai titik lemahku. Teknik bertarungku cukup tinggi hingga kakekku menganggapku berada di tingkat pemburu profesional yang aktif.

Jika teknik bertarungku dinilai sebagaimana mestinya, kemungkinan besar aku akan ditempatkan di Departemen Khusus atau Departemen Taktik Kelas A. Namun, itu bukanlah keinginanku.

Aku muak dengan perebutan ahli waris yang konyol di keluargaku, sehingga aku masuk ke akademi ini hanya untuk keluar dari rumah. Di keluargaku, hanya kakekku yang mengetahui teknik bertarungku.

Aku tidak pernah menunjukkannya kepada siapa pun selain kakekku.

Meskipun pertempuran saat ini berpusat pada sihir dan Skill, jika aku memiliki kemampuan yang diakui kakekku, mungkin akan ada orang bodoh yang mencalonkanku sebagai kepala keluarga berikutnya.

Karena itulah, tujuanku adalah lulus dari akademi pelatihan pemburu ini dan menjadi staf administrasi.

Lagipula, di dunia yang berpusat pada sihir dan Skill ini, kemampuan tempurku secara keseluruhan paling banter hanya setara dengan pemburu tingkat D.

Kemampuan ini mungkin tidak akan banyak berguna dalam pertempuran nyata melawan monster.

Bayangkan saja jika akademi mengetahui kalau aku memiliki kemampuan bertarung antar-manusia dalam kondisi seperti itu.

Masa depanku pasti akan dipindahkan ke departemen khusus antipersonel dan dimanfaatkan sebagai pion di balik layar Asosiasi Pemburu.

Tujuan utamaku yang seorang penganut pasifisme ini hanyalah kehidupan yang damai.

Aku sangat menolak kehidupan keras seperti tokoh utama dalam komik entah berantah.

"Kau kelihatan pucat akhir-akhir ini. Apa kau kelelahan?"

"Mungkin saja."

Memang benar akhir-akhir ini ingatanku sering kali kacau. Ini pasti karena kelelahan mental.

"Belajarnya jangan terlalu dipaksakan."

Karena tujuanku adalah menjadi staf administrasi Asosiasi Pemburu dan bekerja di belakang layar setelah lulus, aku saat ini sedang belajar mati-matian, dan mungkin itu yang dimaksud Arata.

"Akan kulakukan."

Memang benar akhir-akhir ini aku sering kali lupa pada hal-hal sederhana. Kelelahan yang berlebihan mungkin menjadi penyebabnya.

Setelah praktik ini selesai, mungkin ada baiknya aku bersantai dan tidur siang tanpa melakukan apa pun selama beberapa hari.

"Kalau begitu, aku duluan!"

"Ya, mari kita berjuang bersama!"

Kami meninju pelan tinju kanan satu sama lain, lalu aku beranjak menuju titik kumpul kelompok A-1.

Sesampainya di titik kumpul, anggota kelompok A-1 memasang wajah tidak senang. Terutama—.

"—ッ!"

Gadis berambut hitam panjang bernama Mikage Mashiro melebarkan matanya sejenak saat berpapasan denganku, lalu dengan jelas mengerutkan kening karena muak.

Kalau sudah dibenci sampai sejauh ini, aku hanya bisa tertawa. Namun, aku bukan anak kecil yang akan mengabaikannya tanpa memberi salam.

Meskipun berpikir begitu, saat aku mencoba menyapanya tiba-tiba, kata-kataku tidak langsung keluar. Hasilnya—.

"Terima kasih atas bantuan Anda waktu itu."

Aku memberikan sapaan yang sangat canggung.

"E-Eh, iya."

Mashiro menarik diri sambil memaksakan senyum kaku, seolah-olah ingin melarikan diri dariku.

Sebagai ganti Mashiro, seorang siswa laki-laki berambut cokelat pendek yang mengawasi interaksi kami dari kejauhan, berjalan mendekat dengan ekspresi campur aduk antara penghinaan dan kebencian.

Aku sangat mengenalnya karena dia adalah orang terkenal di akademi ini.

Sakuraba Tatsuki, calon kepala keluarga berikutnya dari keluarga penyihir tradisional, keluarga Sakuraba, sekaligus jagoan di Departemen Taktik.

Dia adalah orang yang akan menjadi pilar utama para pemburu di masa depan. Singkatnya, dia adalah salah satu petarung terbaik di kelompok ini, atau bahkan di seluruh akademi.

"Hei, orang tidak berguna, kecurangan macam apa yang kau lakukan sampai bisa berada di kelompok ini!?"

Orang tidak berguna, ya. Entah kenapa. Aku merasa ada keakraban yang aneh dengan panggilan itu.

"Entahlah, sebaliknya aku malah ingin kau yang memberitahuku."

Saat aku mengangkat bahu dan memejamkan sebelah mata, Sakuraba mendekat dan mencengkeram kerah bajuku. Lalu—.

(Apa yang kau lakukan pada Mashiro!?)

Dia menarikku dan berbisik dengan suara berat di telingaku.

Ah, begitu ya. Rupanya dia naksir pada Mashiro.

—Aku tidak akan mengganggu usahamu untuk mendekatinya.

Sesaat, bayangan diriku yang mengatakan hal itu dan sosok seorang pemuda tampan berambut hitam yang membuka tutup mulutnya dengan wajah memerah di depan seorang wanita berambut merah muda, terlintas di benakku.

Hmm, sepertinya itu cuma perasaanku saja. Aku sama sekali tidak ingat pernah melakukan percakapan seperti itu.

(Aku tidak melakukan apa-apa padanya.)

(Jangan berbohong!)

Seolah tidak puas dengan jawabanku, urat tebal muncul di dahi Sakuraba, dan cengkeraman tangan kanannya di kerahku semakin menguat.

"Ini akan memengaruhi nilai kita juga, jadi kalau mau bertengkar, lakukan saja setelah praktik ini selesai."

Orang yang melerai kami tanpa berusaha menyembunyikan ketidaksukaannya adalah seorang gadis cantik berambut merah sebahu.

Dia juga cukup terkenal. Kuonji Karina, lulusan terbaik dari Departemen Komando Strategi, yang dijuluki sebagai "Ratu Kelicikan". Dia adalah sosok yang ditakuti para siswa dalam artian yang berbeda.

Dan seperti yang ditunjukkan oleh nama keluarganya, dia adalah adik kembar dari temanku, Makoto.

"..."

Sakuraba menatapku dengan ekspresi penuh kebencian, lalu berdecak lidah dan melepaskan kerah bajuku.

Aku berbisik ke telinga Sakuraba agar hanya dia yang bisa mendengarnya.

(Aku baru pertama kali bertemu dengan Mashiro. Mungkin dia teringat pada seseorang yang mirip denganku.)

Aku langsung melontarkan kalimat yang ingin dia dengar.

(B-Benarkah itu!?)

(Ya, aku bersumpah.)

Melihat ekspresi lega di wajahnya setelah mendengar jawabanku, dia pergi karena merasa urusannya sudah selesai.

Dia kemudian mulai mengobrol dengan rekan-rekan satu kelompok kami.

Omong-omong, siswa laki-laki dari Departemen Dukungan di kelas sebelah itu. Aku memang pernah dengar kalau dia itu pintar, tapi apa dia selalu pendiam seperti ini?

Yah, aku belum pernah berbicara dengannya, jadi itu cuma asumsi sepihakku saja.

Akhirnya, instruktur pembimbing kami sepertinya sudah tiba.

"A-1, berkumpul!"

Seorang guru bertubuh besar dengan rambut pendek berteriak, dan kami pun segera berkumpul di bawah arahannya.

"Aku instruktur pembimbing kalian, Shido. Sekarang aku akan menjelaskan tentang praktik kalian hari ini."

Instruktur Shido mulai menjelaskan garis besar dari praktik kali ini.

Setelah penjelasan selesai, kami tiba di sebuah blok terbengkalai yang menjadi tempat praktik kami.

Praktik untuk A-1 menggabungkan Subjugation Quest dan Gathering Quest.

Isi praktiknya sendiri sangat sederhana.

Monster-monster yang dipanggil dengan sihir pemanggilan dilepaskan ke dalam blok tak berpenghuni yang dikelola oleh akademi.

Syarat keberhasilan praktik ini adalah mengambil kartu yang disembunyikan akademi di dalam blok tersebut.

Tentu saja, jumlah monster yang berhasil dikalahkan akan dihitung sebagai nilai individu.

Kemungkinan besar, poin evaluasi individu dari membunuh monster ini hanyalah tipuan akademi untuk melihat apakah ada siswa yang bertindak seenaknya. Jika dipikirkan dengan kepala dingin, hal itu sudah sangat jelas, tetapi—.

Seekor monster berkepala babi berlari ke arah kami sambil membawa pentungan raksasa di satu tangan, membuat tanah bergetar.

"Biar aku yang mengurusnya! Minggir!"

"Jangan bercanda! Biar aku yang membunuhnya!"

Orang-orang dari Departemen Taktik Tempur berlomba-lomba menyerang monster berkepala babi itu dengan senjata masing-masing.

Di tengah keributan itu, seorang gadis kecil berjubah biru tua dengan topi kerucut mengarahkan ujung tongkatnya ke monster tersebut.

Hei, hei, jangan bilang—!

"Flame Bullet!"

Firasat burukku menjadi kenyataan. Gadis itu melepaskan salah satu Basic Magic berbasis api tanpa mantra. Peluru api itu melesat lurus ke arah monster babi, lalu bertabrakan dan meledak dalam kobaran api.

"Hei, itu hampir saja mengenalku!"

"Benar! Apa kau berniat membunuh kami!?"

Para siswa di kelompok praktik melontarkan kecaman pada penyihir perempuan dari Departemen Taktik Tempur yang melepaskan sihir tersebut.

"Ini benar-benar parah..."

Masih ada hawa keberadaan monster di sekitar sini. Singkatnya, ini adalah medan perang. Memperebutkan buruan di tempat seperti ini sama saja dengan bunuh diri.

Mereka mungkin bisa menggunakan sihir dan Skill dengan bebas. Namun, mereka sama sekali tidak memiliki pengalaman pertempuran nyata yang merupakan hal paling penting.

Jika lawan mereka hanyalah monster tak berakal, mereka mungkin masih bisa menang. Namun, jika berhadapan dengan vampir yang memiliki kecerdasan tinggi atau para pengikutnya, mereka akan mati dalam sekejap.

—Apakah menuntun anak-anak muda juga merupakan tugas seorang prajurit tua?

Tiba-tiba pemikiran konyol dan arogan muncul di kepalaku.

Prajurit tua apanya, umurku baru tujuh belas tahun. Terlebih lagi, aku tidak punya kemampuan atau kualifikasi untuk menuntun mereka.

Namun, jika aku hanya diam dan menonton, bisa-bisa ada yang tewas.

Buktinya, saat ini ada beberapa monster kera besar yang menyembunyikan wujud mereka dan mendekati tim kami.

Tentu saja, hawa keberadaan mereka tidak sepenuhnya hilang, sehingga orang yang memiliki sedikit kemampuan seni bela diri bisa menyadarinya dengan mudah.

Sayangnya, tak satu pun dari sekumpulan amatir ini yang tampaknya menyadari hal itu. Jika kita tidak mengambil tindakan apa pun sekarang, skenario terburuknya adalah seluruh tim akan musnah.

(Nah, apa yang harus kulakukan sekarang...)

Saat aku bergumam pelan,

"Mulai sekarang aku yang akan mengambil alih komando!"

Teriakan tajam itu menusuk telingaku bersamaan dengan suara tanah yang tercongkel.

"—ッ!?"

Saat semua orang menoleh ke arah sumber suara, Mashiro berdiri tegak dengan kedua tangannya memegang pedang suci yang ditancapkan ke tanah.

"Biarpun kau dari Departemen Khusus, kau tidak bisa bertindak seenaknya—"

Seorang siswi dalam tim mencoba memprotes, tetapi Mashiro mencabut pedang sucinya dari tanah dan mengayunkannya ke arah perempuan itu.

Sesaat kemudian, kepala seekor monster kera besar bipedal yang hendak menyerang dari belakang siswi itu jatuh ke tanah. Tubuhnya pun terjerembap dengan suara berdebum layaknya boneka putus tali.

Saat cipratan darah turun seperti hujan merah di atas kepala kami, siswi yang hendak melontarkan kata-kata kecaman pada Mashiro itu berlutut dan menjerit histeris.

Oh, ternyata dia sadar, ya. Gadis bernama Mashiro ini sepertinya memiliki pengalaman tempur yang lumayan.

Ngomong-ngomong, bukankah monster-monster itu terlalu lemah? Berdasarkan instingku, monster-monster ini jauh lebih lemah daripada Slime atau Goblin yang merupakan monster paling lemah.

Apakah mereka benar-benar siswa terbaik di akademi ini jika sampai kesulitan menghadapi monster semacam itu? Kalau berhadapan dengan pengikut vampir, mereka pasti akan langsung menjadi daging cincang.

Bagaimanapun juga, monster di sini sangat lemah. Jika kita menyerahkan semuanya pada Mashiro, keselamatan tim setidaknya bisa terjamin. Tidak ada perlunya aku ikut campur.

Ironisnya, serangan Mashiro pada kera tadi berhasil menyatukan kelompok A-1. Tidak ada lagi yang berani protes terhadap perintahnya.

Sejak saat itu, kera-kera transparan, iblis berkulit merah seperti ogre, dan monster kadal raksasa terus menyerang, namun kami berhasil memukul mundur mereka di bawah komando Mashiro.

Satu-satunya yang tidak ikut bertarung dan hanya mengawasi keadaan sekitar adalah Kuonji Karina dari Departemen Komando Strategi. Dia menarik lengan bajuku, lalu berbisik.

(Hei, bagaimana pendapatmu tentang monster-monster ini?)

Sambil mengamati sekeliling dengan waspada, dia melontarkan pertanyaan yang sulit dijawab.

Yah, tidak ada gunanya berbohong.

"Ini di luar dugaanku."

Mereka benar-benar lemah di luar dugaanku.

Semua monster yang muncul sejauh ini penampilannya sangat menipu. Jujur saja, ini pertama kalinya aku melihat monster selemah ini.

Bahkan seorang amatir yang punya sedikit pengetahuan bela diri pasti bisa mengalahkan mereka.

"Aku juga sependapat. Praktik ini terasa sangat aneh."

Praktik yang aneh, ya... Memang benar, monster selemah ini tidak bisa dijadikan patokan nilai. Hampir bisa dipastikan ini adalah kecurangan.

Anggota A-1 sepertinya memiliki Skill dan sihir tingkat tinggi, jadi mereka pasti berbakat. Masalahnya, mereka terlalu minim pengalaman tempur.

Buktinya, mereka baru bisa mengalahkan monster kroco ini dengan susah payah. Kemungkinan besar, mereka menggunakan uang dan koneksi untuk membeli nilai praktik ini. Benar-benar menyedihkan. Aku memikirkan hal itu dari lubuk hatiku yang terdalam.

"Meskipun begitu, tidak ada yang bisa kita lakukan. Untuk saat ini, kita hanya bisa mengamati situasinya."

"Kau bersikap sangat acuh tak acuh, ya. Seolah-olah ini sama sekali bukan urusanmu."

"Yah, separuhnya memang bukan urusanku."

Walaupun akademi melakukan kecurangan, tidak ada bahaya yang mengancam nyawa. Bagiku ini justru menguntungkan dan sama sekali tidak merugikan.

Lagipula, rasa keadilanku tidak sebesar itu untuk meluruskan kecurangan akademi. Lebih tepatnya, aku tidak peduli.

Namun, kenapa aku dimasukkan ke dalam kelompok ini? Semuanya terasa sangat tidak masuk akal.

Pasti ada alasannya, tapi memikirkannya di sini hanya akan menumpuk asumsi di atas asumsi. Tidak ada gunanya.

"Tentu saja begitu, kalau kau sekuat itu."

Dengan bibir mengerucut, Karina melontarkan kalimat yang penuh makna.

Hah? Kenapa dia berpikir aku kuat? Seharusnya hanya Takeshi, Makoto, dan Arata yang tahu kalau aku belajar bela diri di akademi ini.

Apa Makoto yang memberitahunya? Padahal aku sudah menyuruhnya tutup mulut. Aku tidak merasa dia akan mengingkari janjinya padaku, tapi...

"Kita istirahat dulu di sini."

Di taman dengan pemandangan yang bagus, Mashiro mengumumkan waktu istirahat. Semua orang duduk di bangku.

Nah, sekarang giliranku beraksi.

Aku mengeluarkan makanan ringan dan minuman untuk semua orang dari Item Box, lalu membagikannya.

Ada yang merebutnya begitu saja, ada yang menerimanya dengan wajah cemberut, ada juga yang melontarkan makian seperti, "Enak ya cuma nonton doang," sambil menerimanya.

Hampir semuanya memiliki satu kesamaan: tak satu pun dari mereka yang mengucapkan terima kasih.

Sambil berpikir Mashiro pun pasti akan bersikap sama,

"Ini, roti lapis dan minumannya."

Aku menyerahkan makanan dan minuman padanya.

"..."

Mashiro hanya menatapku dengan wajah tanpa emosi tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Melihat dia tidak mau menerimanya, aku pun bertanya.

"Anu, ada apa?"

Aku mengernyitkan dahi dan langsung menanyakan alasannya.

"E-Eh, anu, tidak, maafkan aku!"

Dia menerima makanan dan minuman itu dengan sedikit panik.

"Terima kasih."

Dia lalu tersenyum padaku.

"..."

Begitu melihat senyum tulusnya itu, aku merasakan nostalgia yang aneh. Saat aku masih tercengang sejenak,

"Minggir! Mashiro, ayo makan bersama kami!"

Sakuraba mendorongku yang sedang berdiri di depan Mashiro, lalu duduk di bangku sebelah. Pengikut Sakuraba pun duduk di bangku sekitar Mashiro dan mulai mengobrol dengan akrab.

Aku mengangkat bahu dan duduk di bangku yang agak jauh. Karina lalu duduk di sebelahku.

Dia adalah salah satu dari sedikit orang yang berterima kasih saat aku memberikannya makanan dan air minum.

"Ada perlu denganku?"

"Apa aku tidak boleh makan bersamamu kalau tidak ada perlu?"

Dengan wajah datar yang tidak bisa ditebak, dia melontarkan sindiran seperti itu.

"Hmm, bukan begitu, sih. Kalau begitu, mari kita makan bersama."

"Ya!"

Walaupun dalam hati aku merasa heran dengan Karina yang mengangguk sambil tersenyum, aku mengeluarkan kotak makanku dari Item Box dan mulai makan.

Eksplorasi dilanjutkan kembali, dan tim kami yang dipimpin oleh Mashiro tiba di depan sebuah gedung pencakar langit yang tampaknya menjadi titik akhir.

"Pasti kartunya ada di dalam gedung ini!"

Salah satu pengikut Sakuraba mendengus kegirangan dan masuk ke dalam gedung.

"Padahal aku belum memberikan perintah untuk masuk!"

Mendengar decakan lidah Mashiro, Sakuraba meminta maaf.

"Mashiro, aku minta maaf. Nanti aku akan menegurnya dengan keras."

Meskipun Sakuraba telah meminta maaf dengan nada menyesal, Mashiro tetap menahannya.

"Tidak apa-apa. Tapi kita juga tidak bisa membiarkannya sendirian. Kita akan bagi tim menjadi dua, seperti rencana awal kita."

Mashiro menghentikannya dengan telapak tangan kanannya, lalu menatap semua orang dan menyatakan hal itu.

Dalam situasi di mana kita tidak tahu apa yang ada di dalam gedung ini, menyusup masuk bersama-sama hanyalah sebuah risiko.

Jika ada yang celaka di dalam, orang yang berada di luar bisa memanggil bantuan. Membagi tim menjadi dua adalah hal yang masuk akal.

Ini adalah salah satu metode dasar yang diajarkan di SMA Kazuki untuk menaklukkan markas musuh dalam perang melawan bawahan vampir. Itulah mengapa tidak ada yang menentangnya.

Masalahnya adalah siapa yang akan ditempatkan sebagai penjaga di luar—.

"Kalau begitu, kau saja yang tinggal, Tsukishiro si anak Departemen Dukungan! Meskipun kau sendirian, kau setidaknya bisa memanggil bantuan, kan!"

Sakuraba memberikan perintah sepihak kepadaku.

Sudah kuduga dia akan berkata begitu. Tapi jujur saja, itu justru sangat membantuku.

Mengingat tingginya kemungkinan kalau praktik ini hanyalah sandiwara belaka, aku tidak punya kewajiban untuk terus melayani mereka.

Lagipula, untuk monster tingkat rendahan seperti ini, kemampuan mereka sudah lebih dari cukup.

Tepat saat aku hendak setuju—.

"Aku mau satu tim dengan Cain."

Karina memberikan jawaban yang tidak terduga.

"Tidak, itu tidak perlu. Anggota yang akan dibagi sudah ditentukan oleh Instruktur Shido yang bertanggung jawab atas praktik kita. Kita tidak punya hak untuk memutuskannya."

Mashiro memberitahu kami, lalu mengeluarkan amplop dan mulai membacanya.

Komposisi anggota tim penyusup gedung yang ditentukan oleh Instruktur Shido berada di luar dugaanku.

Mashiro, Sakuraba, satu siswi dari Departemen Taktik Tempur, Karina, siswa laki-laki yang sangat pendiam dari Departemen Dukungan bernama Akagi Yusuke, dan aku.

Ah, begitu. Apakah aku dimasukkan ke dalam tim ini untuk memastikan para siswa mendapat perbekalan yang cukup? Benar-benar pelayanan yang luar biasa.

Yang membuatku terkejut adalah pengikut Sakuraba dari Departemen Taktik yang sudah memiliki kerja sama yang baik dengan Sakuraba, tidak dimasukkan ke dalam tim penyerang.

Mengingat kelemahan monster yang tidak wajar ini, pihak akademi sepertinya ingin A-1 menyelesaikan praktik ini dengan nilai terbaik.

Hal yang paling dibutuhkan dalam penaklukan markas bukanlah daya tembak atau kekuatan murni, melainkan kerja sama tim yang solid. Pihak akademi, yang selalu mengajarkan hal ini, seharusnya sangat memahaminya.

Meskipun begitu, mereka malah sengaja memisahkan Sakuraba dan para pengikutnya.

Yah, itu juga berarti pihak akademi sangat yakin tim ini bisa menyelesaikan penaklukan tersebut.

"Kalau begitu, ayo masuk."

Setelah mengatakan itu, Mashiro membelah pintu utama gedung dengan pedang sucinya, lalu melangkah masuk, dan kami pun mengikutinya.

Di dalam gedung, banyak bagian yang hancur. Puing-puing seperti atap yang runtuh dan pecahan kaca berserakan di lantai.

"Toru tidak ada di sini!"

Sakuraba meninggikan suaranya yang penuh kepanikan sambil mencari ke seluruh lantai satu. Memang benar, hawa keberadaan Toru yang masuk ke gedung ini lebih dulu, tidak terasa sama sekali di lantai satu ini.

Kami sudah mencari ke mana-mana, tapi tidak ada seorang pun di lantai satu.

"Dia mungkin ada di atas. Kita akan naik lewat eskalator. Semuanya maju sambil tetap waspada."

Atas perintah Mashiro, kami naik menggunakan eskalator yang sudah mati.

Hmm, ada belasan monster yang menunggu di depan sana. Sama seperti monster di luar, mereka sangat lemah, jadi mungkin bisa dihabisi dalam sekejap.

(...)

Hanya saja, tim ini sempat panik menghadapi monster-monster kroco tadi, jadi wajar jika aku merasa khawatir dengan semuanya kecuali Mashiro yang masih bisa bergerak gesit.

"Ada monster yang menunggu di ujung eskalator itu."

Aku menunjukkannya dengan nada santai.

"Hei, dasar tidak berguna, jangan bicara sembarangan!"

Sakuraba menjadi marah. Benar-benar merepotkan.

"Oh, maaf, lupakan saja. Aku cuma bermaksud bilang agar kita lebih berhati-hati."

Aku memberikan alasan asal-asalan untuk mengelak.

"Cain, kenapa kau berpikir begitu?"

Mengabaikan Sakuraba, Mashiro menanyakannya dengan ekspresi serius.

Jangan-jangan, Mashiro si jagoan Departemen Khusus ini tidak menyadari niat membunuh yang begitu jelas ini? Atau dia sedang mengujiku?

"Cuma firasat saja."

Untuk saat ini, lebih baik aku melihat situasinya dulu. Setidaknya begitu perasaanku.

"..."

Mashiro menatap wajahku sejenak, lalu berkata singkat.

"Kita maju. Tapi bersiaplah agar tidak terjadi masalah kalau kita harus bertarung di ujung eskalator ini."

Setelah memberikan arahan singkat, dia mulai berjalan.

"Mashiro, apa kau benar-benar mau mempercayai omongan orang tidak berguna ini!?"

Mendengar suara Sakuraba yang berteriak menyalahkan, teman sekelasnya, Ashika Ran, seorang siswi yang berpakaian seperti penyihir dengan jubah biru tua dan topi kerucut, mengernyit.

(Berisik. Siapa juga yang tidak berguna.)

Dia bergumam pelan dengan raut wajah tidak senang.

"Sakuraba, meskipun ini latihan, selama ada monster, tempat ini adalah medan tempur. Tolong bertindaklah sewajarnya."

Saat Mashiro menasihatinya, dia akhirnya menyadari arti dari tatapan kami.

"..."

Wajahnya memerah dan dia pun terdiam.

Saat eskalator tiba di atas, sesuai dugaanku, belasan monster yang mirip dengan beruang bertanduk raksasa sudah menanti kami.

"Menyebar!"

Seolah sudah menduganya, Mashiro menyiapkan Pedang Sucinya dan memberikan instruksi pada kami.

Yang benar-benar bergerak dan menyiapkan senjata hanyalah aku dan Karina. Sementara itu, Sakuraba dan Ashika Ran hanya bisa membelalakkan mata, tidak bisa bergerak sama sekali.

Di sisi lain, siswa laki-laki dari Departemen Dukungan, Akagi Yuusuke, melemparkan Support Magic kepada kami semua tanpa mengubah ekspresi wajahnya sedikit pun.

"Itsuki, Ran! Jangan cuma bengong! Apa kalian mau mati!?"

Mashiro berseru lantang.

"A-Ah, maaf!"

Sakuraba dengan panik menghunuskan pedangnya, lalu melangkah ke depan dan bersiap.

"Jangan memerintahku!"

Wajah Ran memerah karena merasa terhina. Ia mengarahkan ujung tongkat sihirnya ke arah monster beruang itu dari belakang Mashiro dan barisan depan lainnya.

"Ayo maju!"

Bersamaan dengan seruan Mashiro, pertarungan pun dimulai.

Kemenangan segera diraih. Sayangnya, monster-monster itu terlalu lemah.

Kawanan monster beruang yang tadinya begitu banyak, kini semuanya telah menjadi mayat bisu. Meskipun begitu—

"Tohru benar-benar tidak ada!"

Setelah pertarungan usai, kami mencari di lantai dua. Namun, kami tidak bisa menemukan sosok Tohru yang bertindak sembarangan dengan menyusup ke dalam gedung.

"Dipikir-pikir lagi, monster-monster ini tidak normal. Perasaanku tidak enak, sebaiknya kita laporkan dulu hal ini kepada Shishido-sensei."

Sambil menyentuh dagunya yang indah dengan tangan kanan, Mashiro mengajukan usulan yang sesuai dengan teori ketika muncul elemen tak terduga.

"Maksudmu kita akan meninggalkan Tohru!? Tidak! Itu sama sekali tidak boleh!"

Sakuraba meninggikan suaranya, melontarkan kata-kata bantahan dengan emosi.

Cukup mengejutkan. Kupikir dia akan bersikeras untuk kabur jika melihat jumlah monster sebanyak ini, meskipun mereka cuma kroco. Aku tidak menyangka dia akan seputus asa ini demi menyelamatkan temannya.

"Tentu saja kita akan melanjutkan pencarian. Aku hanya ingin memberitahu mereka yang bersiaga di luar agar segera melapor ke pihak akademi."

Setelah memberikan jawaban yang logis itu, ia mulai berjalan menuju pintu masuk utama gedung.

"Apakah ini pelindung magis...?"

Mashiro melontarkan pertanyaan itu dengan ekspresi pahit.

Pintu masuk utama gedung pencakar langit tempat kami masuk tadi kini telah tertutup oleh kegelapan hitam. Kami benar-benar terisolasi dari dunia luar.

"Sepertinya begitu. Ponsel pintar kita juga tidak bisa digunakan, kelihatannya kita benar-benar terkurung."

Dilihat dari bentuknya, ini adalah jenis pelindung magis yang memblokir semua interaksi dan komunikasi antara dalam dan luar area.

Namun, struktur pelindung magis ini sangat amatir dan kekuatannya juga lemah.

Bahkan aku pun sepertinya bisa memotongnya dengan mudah menggunakan pisau.

Hunter profesional yang masih aktif pasti bisa menghancurkannya tanpa kesulitan.

Apa alasan mereka memasang pelindung magis yang sekilas terlihat tidak masuk akal ini? Kemungkinan besar, ini adalah semacam kejutan dari pihak akademi.

Sepertinya mereka ingin menguji kemampuan adaptasi kita dengan melemparkan monster-monster kroco agar kita lengah, lalu menjerumuskan kita ke dalam situasi darurat yang tiba-tiba.

Kenyataannya, semua orang menjadi panik melihat pelindung magis ini tanpa menyelidikinya terlebih dahulu.

Jika memang begitu, aku akan terlalu mencolok kalau bergerak sekarang. Sebaiknya aku mengamati situasinya saja dulu.

Walaupun sebelumnya aku sempat curiga ada kecurangan, sepertinya pihak akademi tidak sebusuk itu.

Ya, aku harusnya bersyukur kalau tempat pelatihan organisasi Hunter, yang akan menjadi tempatku bekerja di masa depan, masih bisa dipercaya.

"Mashiro, ada sesuatu yang datang!"

Karina menunjuk ke arah depan.

Di lantai satu yang sebelumnya tidak ada serangga satu ekor pun, kini muncul hawa kehadiran dalam jumlah yang tak terhitung banyaknya.

"Hii!"

Begitu Sakuraba mengarahkan pandangannya ke sana, sebuah jeritan kecil terlontar dari mulutnya.

Di ujung pandangannya, tampak para raksasa berbaju zirah setinggi tiga meter memegang gada besi di satu tangannya. Jika digambarkan, mereka tampak seperti Goblin raksasa bersenjata lengkap.

Melihat mereka muncul secara tiba-tiba, ini mungkin semacam sihir pemanggilan.

"Kita harus melawan mereka di sini! Semuanya, bersiaplah!"

"..."

Mendengar seruan Mashiro, murid-murid lain bahkan tidak menjawab. Mereka hanya bisa mengatupkan gigi dengan wajah pucat pasi.

"Gugooooooo!"

Para Goblin raksasa bersenjata lengkap itu berteriak dengan suara memekakkan telinga. Mereka berjalan perlahan ke arah kami, seolah-olah sedang menikmati ketakutan kami.

"..."

Mashiro mendecakkan lidah pelan melihat Sakuraba dan yang lainnya gemetar tak bisa bergerak.

Ia kemudian melangkah maju sambil menyiapkan Pedang Sucinya.

Semua orang menjadi blank karena krisis yang tiba-tiba ini. Yah, setidaknya mereka masih mendingan karena tidak sampai panik dan berteriak histeris.

Penampilan monster-monster itu memang terlihat sangar, tapi sebenarnya mereka jauh lebih lemah daripada Goblin biasa.

Ini hanyalah monster tingkat rendah yang bisa dengan mudah diatasi jika teman-temanku menggunakan kekuatan asli mereka.

Kalau begini ceritanya, pihak pengurus akademi pasti merasa menang. Saat ini, mereka pasti sedang menertawakan kebodohan kami dari kejauhan.

"Mashiro, apa kamu bisa mengatasi mereka sendirian?"

Aku melangkah ke belakangnya dan bertanya dengan singkat.

Mashiro memasang ekspresi sedikit terkejut, namun ia menjawab.

"Jumlah mereka sangat banyak, mungkin akan sedikit sulit. Aku tidak yakin bisa melindungi mereka semua dalam situasi seperti ini."

Jawabannya sudah kuduga.

Mashiro memang memiliki Pedang Suci, tetapi kemampuan berpedangnya hanya sedikit lebih baik daripada orang amatir.

Meski begitu, dia jauh lebih baik daripada murid lain yang sepertinya meremehkan ilmu bela diri.

Selain itu, dia berasal dari Departemen Khusus. Dia pasti memiliki sihir atau Skill unik.

Jika dia bertarung serius, tidak mungkin dia akan kalah dari monster jadi-jadian seperti Goblin raksasa itu.

"Aku mengerti. Biar aku yang mengurus perlindungan mereka. Kamu silakan mengamuk sesukamu tanpa perlu khawatir."

"..."

Ia sempat terkejut sesaat, lalu menatap wajahku seolah mencoba memahami maksudku.

"Aku serahkan padamu."

Tak lama, ia mengangguk mantap seolah telah membuat keputusan dan berlari ke arah musuh. Ia melompat ringan lalu menebas leher Goblin jadi-jadian yang berada di barisan paling depan, menerbangkan kepalanya.

Sesaat kemudian, darah muncrat ke udara. Tubuh monster itu ambruk ke tanah dengan suara bergemuruh, bagaikan boneka yang talinya diputus.

Saat sekumpulan Goblin raksasa jadi-jadian itu mengerumuni Mashiro, dua di antaranya berlari menyerbu ke arah kami. Aku melangkah ke depan Sakuraba dan yang lainnya, yang saat ini masih belum bisa bergerak.

"Uaahh..."

"Tidaak..."

Sakuraba, Ashika Ran, dan yang lainnya menjerit pelan dengan wajah tegang saat Goblin raksasa jadi-jadian itu mendekat dengan langkah bergemuruh.

Dua Goblin raksasa itu mengayunkan gada besinya ke arah kepalaku dengan sekuat tenaga.

Aku menarik dua pisau berburu dari sarung di pinggangku, lalu mengalihkan kekuatan serangan kedua monster itu agar saling berbenturan.

Gada besi yang membelah angin ke arahku tiba-tiba mengubah arahnya menuju satu sama lain.

Detik berikutnya, kedua gada besi itu saling menghantam wajah para monster dengan keras, membuat isi kepala mereka berceceran.

"Eh?"

Ran, yang tampaknya kehilangan tenaga di kakinya, jatuh terduduk di tanah. Ia memegang kepalanya dengan kedua tangan sambil mengeluarkan suara keheranan yang konyol.

Dari arah serong kiri depan, seekor Goblin raksasa jadi-jadian lain mengayunkan gada besinya ke arahku secara horizontal. Aku membelokkan kekuatannya ke arah wajah monster itu sendiri.

Gada besi itu menghantam wajahnya dengan telak hingga kepalanya hancur berantakan. Monster itu pun ambruk ke tanah dengan suara berdebum keras.

"Gugi?"

Melihat wujud rekan-rekan mereka yang kini telah menjadi mayat tak bernyawa, raut wajah para Goblin jadi-jadian itu menunjukkan keterkejutan dan mereka mundur sesaat.

Detik berikutnya, kepala mereka terpenggal halus dan jatuh ke tanah.

Di belakang mereka berdiri Mashiro yang memegang Pedang Sucinya.

Sepertinya semuanya sudah hampir selesai.

Saat aku hendak memasukkan pisau berburuku kembali ke sarungnya, Ran mendekatiku.

"Apa-apaan Skill Counter super kuat yang tidak masuk akal barusan!?"

Ran berjalan sempoyongan lalu mencengkeram kerah bajuku dan mulai memberondongku dengan pertanyaan.

"Rahasia perusahaan."

Sebenarnya itu hanya teknik bela diri biasa, tapi aku tak punya kewajiban untuk menjelaskannya dengan ramah.

Di sisi lain, jika aku berbohong, hal itu hanya akan menjadi masalah di kemudian hari. Jawaban barusan adalah yang terbaik.

Mashiro menghampiriku. Dengan ekspresi seolah sedang menantang takdir, ia berkata,

"Kain..."

Ia sepertinya ingin mengatakan sesuatu, namun kata-katanya terhenti dan ia tidak menyelesaikannya.

"Ada apa denganku?"

"Tidak... lupakan saja."

Setelah mengatakan hal tersebut, ekspresinya yang tadinya terlihat memelas menghilang. Ia kembali menjadi Mashiro yang tenang dan rasional seperti biasa.

"Aku khawatir dengan Edano. Ayo kita jalan."

"..."

Mashiro mencoba melangkah maju, tetapi Sakuraba, yang sebelumnya begitu bersemangat ingin menyelamatkan temannya, hanya tertunduk dan tidak bergerak.

Dia sudah tidak bisa diandalkan. Cahaya semangat bertarung telah lenyap dari matanya.

"Maaf saja, tapi aku tidak mau ikut. Kalau kamu bersikeras ingin menyelamatkannya, pergilah sendiri."

Ran memalingkan wajahnya dan menolak dengan tegas.

"Kalau lawannya monster setingkat itu, tindakan gegabah malah akan menimbulkan korban jiwa tambahan.

Kalau kita semua tetap di sini, setidaknya kita bisa mengulur waktu agar tidak mati. Aku juga setuju kalau lebih baik kita menunggu bantuan di sini."

Sambil melirik ke arahku, Karina menyetujui pendapat Ran.

"Aku juga setuju."

Untuk pertama kalinya Akagi Yuusuke ikut angkat bicara dan menyatakan persetujuannya.

Mashiro menatap mereka dalam diam, lalu tersenyum lembut.

"Aku mengerti. Aku sendiri yang akan pergi menyelamatkannya. Jadi, kalian tunggulah di sini sebentar. Kain, bisakah aku minta tolong padamu untuk melindungi mereka?"

Ia mengajukan permintaan yang sama sekali tidak kuduga. Entah kenapa, kupikir gadis bernama Mashiro ini tidak akan pernah meminta tolong padaku seperti ini.

Tentu saja, aku tidak punya dasar pemikiran yang jelas. Hanya saja, saat itu aku benar-benar merasa tidak bisa memaafkan pilihannya yang terdengar seperti sebuah kepasrahan. Karena itulah—

"Aku tidak mau. Aku ini hanyalah siswa Departemen Dukungan Pertarungan. Kalau kamu ingin melindungi mereka, lakukanlah sendiri."

Saat aku baru saja mau melangkah maju, terdengar sebuah suara.

"Jangan seenaknya membuat keputusan sendiri."

Bersamaan dengan kata-kata itu, ruang di sekitar kami berdistorsi. Detik berikutnya, kami sudah berdiri di sebuah ruangan batu yang luas berbentuk silinder.

Melihat makhluk dalam jumlah tak terhitung yang mengepung kami, Sakuraba berteriak histeris.

"Hii!"

Tiga ekor monster—Goblin raksasa berotot kekar, Ogre bersenjata sihir lengkap, dan Orc bertubuh besar dengan kulit merah berkilauan yang mengenakan zirah emas—berada di barisan paling depan.

Di belakang mereka, berdiri pasukan besar yang terdiri dari Goblin, Ogre, dan Orc.

Lalu, di atas sofa yang berada di bagian paling dalam ruangan, tampak seorang pria dengan pakaian serba hitam sedang berbaring, matanya tertutup sehelai kain.

Wah, wah. Jumlah pasukan mereka sungguh berlebihan jika dibandingkan dengan jumlah kami. Tapi sayangnya, mereka juga luar biasa lemah.

Meskipun digabungkan, tingkat ancaman mereka lebih rendah dibandingkan dengan Goblin yang biasa memangsa ternak.

Astaga, kenapa hari ini aku terus dihadapkan pada hal-hal seperti ini? Lama-lama ini bikin frustrasi tahu! —Eh...?

Aku tiba-tiba dikejutkan oleh pikiranku sendiri yang tidak masuk akal ini.

Aku menggelengkan kepalaku untuk menyingkirkan bayangan tersebut.

Bukannya bagus kalau lawannya lemah?

Aku frustrasi karena tidak bisa bertarung melawan musuh yang kuat?

Apakah itu yang baru saja kupikirkan?

Orang gila pertarungan macam apa aku ini!

"Apa kamu yang menculik Edano!?"

Mashiro, dengan ekspresi penuh amarah, berteriak pada pria yang matanya tertutup kain hitam, memutus lamunanku.

"Edano? Oh, maksudmu ini?"

Pria itu menjentikkan jarinya. Seekor Ogre berzirah sihir yang tampaknya merupakan pemimpin dari para monster, melangkah maju, membuka penutup sebuah kotak besi, dan mengeluarkan isinya dengan tangan kanannya.

"Ghh...!?"

Semuanya menelan ludah, menahan rasa kaget dan jeritan ngeri mereka. Tentu saja hal itu wajar bagi mereka yang tidak memiliki pengalaman tempur sesungguhnya.

Sebab, apa yang dikeluarkan oleh monster itu adalah penggalan kepala Edano, yang hilang setelah nekat masuk ke dalam gedung.

Wajah Sakuraba, Ran, dan Karina menegang penuh ketakutan dengan raut yang sangat pucat.

Bahkan Akagi Yuusuke, yang sebelumnya selalu datar dan tanpa emosi, kini pipinya berkedut tegang.

Satu-satunya pengecualian adalah—

"Bedebah kau!"

Mashiro sangat murka, ia meluapkan perasaan kebencian yang luar biasa pada pria bermata tertutup kain hitam itu.

Hmm, jadi dia sampai begitu histeris dan kehilangan akal sehatnya, ya? Kutarik ucapanku.

Mereka semua hanyalah amatir yang kurang pengalaman dalam pertempuran nyata.

Lagipula, aku sama sekali tidak merasakan energi sihir dari kepala itu. Bahkan setelah mati pun, akan ada sedikit energi sihir yang tersisa pada mayat selama beberapa hari.

Itu artinya, kemungkinan besar kepala itu hanyalah properti palsu belaka. Kemungkinan, ini semua juga adalah sandiwara konyol yang direncanakan oleh pihak akademi.

Namun—

"Mashiro, biarlah amarahmu menyala di dalam hati, tapi pikiranmu harus tetap jernih."

Aku memegang bahunya dan menasihatinya, membagikan moto hidupku padanya.

"Kain—!"

Aku mendorong Mashiro ke arah Sakuraba tepat saat ia berbalik dan mencoba berbicara padaku.

Setelah memastikan Sakuraba menangkapnya, aku berkata.

"Sakuraba, kalau gadis itu penting bagimu, lindungilah dia baik-baik. Biar aku yang membereskan ini."

Jujur saja, aku sudah mulai muak dengan taktik rendahan yang mereka gunakan terhadap orang-orang awam yang tak punya pengalaman tempur.

Sudahlah, aku tidak akan pura-pura pasrah atau bertindak mencolok lagi. Aku akan berhenti berpura-pura kalem.

"Oi, apa kau paham dengan situasi saat ini, huh?"

"Ya, sangat memuakkan malah."

"Kalau begitu ceritanya bakal singkat. Di mana orang yang bernama Tsukishiro Kain?"

"Itu aku."

Entah kenapa ya. Aku sangat ingin memberi pelajaran keras kepada para idiot yang merancang sandiwara berselera buruk ini. Begitulah yang terlintas di pikiranku.

"Aku sama sekali tidak merasakan energi sihir dari tubuhmu! Untuk apa Tuan Kugutsushi yang agung ini dipanggil hanya demi melenyapkan bocah lemah sepertimu, hah!?"

Melenyapkanku? Itu pasti juga bagian dari pengaturan skenario pihak akademi. Apa kalian masih mau terus berakting di saat seperti ini? Baiklah, aku akan ikuti sandiwara ini sebentar lagi.

"Lalu, kenapa Tuan Kugutsushi yang agung menargetkan murid payah sepertiku?"

"Entahlah. Paling-paling kau sudah membuat petinggi di suatu tempat naik pitam."

Naik pitam, ya. Kebetulan sekali aku baru saja berseteru dengan putra keluarga Akizuki. Fakta bahwa aku punya dugaan yang cocok malah membuat situasi ini semakin mengganggu.

Apakah ini juga salah satu bentuk intimidasi pihak akademi yang memicu keributan itu? Ini benar-benar membuatku semakin tidak nyaman.

"Lalu, apa perlunya kau menyerang mereka juga? Bukankah targetmu cuma aku?"

"Sepertinya mereka memiliki ketahanan unik terhadap Charm milik majikanku. Karena itulah mereka juga harus disingkirkan."

Skenario yang benar-benar dirancang dengan niat. Alur ceritanya yang agak masuk akal ini juga membuatku kesal.

Namun—

"Jadi, kau berniat menggunakan mereka untuk melenyapkanku?"

—Jujur saja, ikut-ikutan meladeni sandiwara ini sudah mulai terasa melelahkan. Rasanya bahkan untuk sekadar bertukar kata pun aku sudah malas.

"Benar! Mereka ini adalah mahakarya yang dipanggil langsung oleh Tuan Kugutsushi yang agung ini! Lihatlah, betapa luar biasanya kekuatan tempur yang ada di hadapanmu ini!"

Jadi, orang ini adalah seorang Summoner, ya.

"Sihir pemanggilan, ya. Kebetulan sekali. Aku juga punya kekuatan yang mirip dengan itu."

Tentu saja, aku merasa sangat malu kalau harus menyebut kekuatanku yang lemah ini sebagai sihir pemanggilan.

"Hoo, menarik juga. Baiklah, aku akan membiarkan mereka bertarung dengan pasukanku! Panggillah mereka! Ya, itu pun kalau kau bisa, sih! Kuhih! Kuhahaha!"

Kugutsushi tertawa keras, seolah meremehkanku.

"Kalau begitu, aku tidak akan sungkan."

Aku membayangkan sebuah buku, membuka lembaran halamannya di dalam pikiranku, lalu—

"Panggil—Battaman."

Aku menyerukan kata-kata tersebut.

Di hadapanku, muncul sesosok pria belalang berjalan dengan dua kaki, mengenakan setelan jas hitam dengan cangkang berkilau hitam pekat.

"Gagagigigugu (Tuanku yang agung! Apa perintah Anda!)"

Ia berlutut dengan takzim dan menundukkan kepalanya. Dia adalah serangga yang bisa kupanggil melalui Pemanggilan, yaitu Chrono Grasshopper.

Hmm, kalau memakai kostum begini, Chrono Grasshopper benar-benar terlihat seperti pahlawan tokusatsu kesukaan anak-anak.

"Tolong basmi monster-monster kroco yang mengepung kita ini. Ah, ya. Untuk yang satu itu, tolong biarkan dia hidup. Walaupun bikin kesal, sepertinya dia adalah orang akademi, jadi biar aku saja yang mengurusnya nanti."

"Gagii! (Sesuai perintah Anda!)"

Bersamaan dengan jawabannya, ia berdiri dan menatap sekeliling ke arah para monster kroco yang mengepung kami.

"Kuha! Monster macam apa itu yang kelihatannya lemah banget! Seekor belalang, heh!?"

Berawal dari ucapan Kugutsushi yang mengejek itu, Chrono Grasshopper mulai melancarkan pembantaiannya.

Garis cahaya hitam bergerak cepat ke segala arah, menebas para monster hingga menjadi potongan daging bahkan tanpa memberi mereka waktu untuk berteriak.

Hanya dalam sekejap mata, monster yang tersisa di ruangan itu hanyalah ketiga monster bos: sang Ogre, Goblin, dan Orc.

"He? Pa-Pa-Pa-Pasukan iblisku yang agung...!?"

Chrono Grasshopper dengan santai mengabaikan teriakan panik Kugutsushi dan mengibaskan kedua tangannya untuk membersihkan noda darah. Lalu, sambil menatap rendah ketiga monster bos tersebut, ia membalikkan telapak tangan kirinya ke atas, memberikan isyarat untuk maju.

"Gigagagagugigi (Maju sini dengan tekad mati). Gugigigigugaga (Aku akan memberikan pengecualian dan memperlakukan kalian sebagai seorang pejuang.)"

Ia berteriak dengan bunyi decakan yang khas.

Meskipun gemetar, ketiga bos monster itu mengambil senjata mereka, merendahkan titik berat tubuh, dan bersiap.

Dengan suara raungan seperti binatang buas, mereka menerjang ke arah Chrono Grasshopper.

Namun, sosok Chrono Grasshopper tiba-tiba mengabur dan ia sudah berada di belakang ketiga bos monster itu. Di kedua tangannya, terdapat tiga buah jantung.

Ketika Chrono Grasshopper meremas jantung-jantung itu hingga hancur, ketiga bos monster itu pun ambruk dan tumbang.

"Ti-Tidak mungkin! Mereka itu Tiga Raja Iblis, tahu! Monster-monster yang kekuatannya setara dengan Hunter Peringkat S!"

Aku bergerak ke belakang Kugutsushi yang masih melontarkan omong kosong itu, lalu menendang kakinya.

"Guhee?"

Pria itu mengeluarkan suara konyol sambil berputar beberapa kali di udara sebelum akhirnya wajahnya menghantam tanah. Dengan posisi pantat di atas, ia kejang-kejang.

"Ah, aku malah melakukannya..."

Masalahnya adalah apa sebenarnya tujuan pihak akademi.

Kalau penangkapan pria ini termasuk dalam cerita yang disusun pihak akademi sih tidak masalah, tapi kalau tujuannya sekadar untuk melihat kemampuan kami para siswa dalam merespons krisis darurat, aku malah meninju dan membuat pingsan staf yang disewa akademi.

Mungkin akan ada hukuman karena hal ini.

"Yah, apa mau dikata..."

Saat aku membuang napas pelan sambil menurunkan bahu, Mashiro yang tingkat kewaspadaannya sedang maksimal, mengarahkan Pedang Sucinya padaku dan bertanya.

"Kain, monster... itu?"

Aku tersenyum kecut melihat Mashiro bertanya sambil menodongkan Pedang Sucinya dengan kewaspadaan maksimal.

"Ini adalah monster tipe serangga yang kupanggil menggunakan Skill milikku."

Aku menjawabnya dengan singkat.

"Jangan bohong! Kekuatanmu itu Item Box! Itu sudah pasti! Terlebih lagi, kamu juga punya Skill Counter! Tidak mungkin kamu juga bisa menggunakan sihir pemanggilan!"

Apa yang dikatakan Mashiro sangatlah masuk akal. Bagaimanapun juga, manusia hanya bisa memiliki maksimal dua Skill. Jika ada yang bisa memiliki lebih dari itu, mereka hanyalah makhluk bukan manusia. Karena itulah wajar jika Mashiro sangat tidak memercayaiku.

Sebenarnya teknik counter tadi murni hanya sebuah jurus bela diri, sama sekali bukan hal hebat seperti Skill.

Nah, apa yang harus kujawab sekarang?

Kalau aku bilang itu adalah jurus bela diri, mungkin mereka akan percaya. Namun, sebagai gantinya, ada kemungkinan aku akan dipaksa pindah ke Departemen Taktik Pertarungan.

Aku sangat menyukai kehidupan sehari-hariku bersama Takeshi dan Makoto. Sebisa mungkin, aku ingin tetap berada di Departemen Dukungan.

"Aku punya kondisi tubuh unik yang memungkinkanku memiliki tiga Skill."

Aku langsung menjawab secara refleks, meski jawabanku terdengar sangat tidak meyakinkan.

Kenyataannya, Mashiro juga sepertinya tidak percaya sama sekali. Ia masih menatapku tajam sambil terus menodongkan Pedang Sucinya padaku. Aku mengangkat bahu dan mengalihkan pandanganku.

"Chrono Grasshopper, seharusnya ada seorang anak bernama Edano Tohru yang ditawan di suatu tempat di sini. Temukan dia dan antarkan dia ke ruang kesehatan akademi."

Aku memberikan perintah pada Chrono Grasshopper.

"Gugigi (Baiklah.)"

Sesuai perintahku, sosok Chrono Grasshopper menghilang layaknya asap.

"Apa Tohru masih hidup!?"

Sakuraba bertanya dengan nada suara penuh harapan.

"Potongan kepala tadi itu palsu. Kemungkinan besar dia masih hidup."

Aku menjawabnya dengan tegas untuk menenangkannya.

Sekarang tinggal membereskan sisanya. Saat aku mengeluarkan tali dari Item Box dan mengikat kedua tangan serta pergelangan kaki Kugutsushi—

"Dasar tidak berguna, kau kalah ya."

Suara pria yang bernada lengket tiba-tiba bergema.

"Gugoh!?"

Tiba-tiba, Kugutsushi yang seharusnya pingsan, mencakar tenggorokannya dengan kasar dan mulutnya mengeluarkan busa.

Bersamaan dengan itu, sekujur tubuhnya mendidih berbuih, otot-ototnya membengkak, dan bulu-bulu kaku bermunculan. Kepalanya meleleh lalu berubah menjadi tengkorak.

Begitu rupanya. Ternyata orang ini juga adalah seekor monster. Dia mungkin diperintah oleh pihak akademi dan dijadikan bidak sekali pakai.

"Benar-benar memuakkan..."

Sekalipun lawanmu itu monster, ada hal-hal yang pantas dan tidak pantas dilakukan. Dan kali ini, pihak akademi dengan mudahnya melanggar batasan tersebut.

Seketika, Mashiro dan Sakuraba mengambil jarak dari makhluk yang dulunya adalah Kugutsushi, lalu bersiap dengan senjata mereka.

Karina dan Ran mulai merapal mantra sihir, sementara Akagi Yuusuke memberikan buff kepada kami.

Ironisnya, baru di situasi ini kami akhirnya bisa membentuk kerja sama tim dasar. Apakah ini juga sesuai dengan rencana akademi? Akan tetapi—

"Biar aku yang maju."

Aku menarik kedua pisau berburuku dari sarung kulitnya, menyatakan keputusanku dengan nada yang tak terbantahkan.

Bagaimanapun juga, monster ini sepertinya tidak memiliki akal sehat. Aku ini bukan seorang yang terlalu mengasihi segalanya.

Aku sama sekali tidak berniat membiarkan monster yang jelas-jelas membahayakan umat manusia tetap hidup.

"Kain, tapi kita harus menghadapinya bersama—"

Sambil memasang ekspresi tegang, Mashiro mencoba memprotes kata-kataku. Aku pun mengarahkan pisau berburu di tangan kananku padanya.

"Aku yang akan melakukannya."

Aku mengulangi perkataanku sekali lagi agar semuanya mengerti. Sambil memutar pisaunya untuk mengubah pegangan, aku mencengkeram gagangnya dengan erat dan menurunkan pusat gravitasi tubuhku.

Jika lawan yang ada di hadapanku ini adalah monster malang yang dipermainkan oleh akademi, aku tidak berniat membuatnya menderita. Aku akan mengakhiri hidupnya dengan satu serangan telak.

Tengkorak itu menembakkan sinar merah dari mata dan mulutnya ke arahku. Bersamaan dengan itu, ia melompat ke dinding di sekitarnya bagaikan binatang buas.

Jujur saja, kemampuannya sangat lemah sampai tidak patut diperhitungkan. Bagiku, monster ini tidak ada bedanya dengan para kroco tadi. Karena itu, teknik yang akan kugunakan ini sebenarnya tidak perlu.

Sambil menghindari sinar merah tersebut, aku menyadari makhluk yang dulunya adalah Kugutsushi melancarkan serangan cakar tajam dari belakangku.

"[Ilmu Belati Tsukishiro], Jurus Dasar—Garis Kematian."

Tepat saat cakar tajam sebelah kanannya hampir menyentuhku, tubuh monster itu hancur menjadi serpihan-serpihan daging yang bertebaran.

"..."

Tidak ada yang berbicara, keheningan menyelimuti sekeliling. Tepat saat aku mengibaskan darah dari pisauku dan memasukkannya ke dalam sarung kulit—

"Ba-Barusan itu apa!? Skill!? Tapi, kamu kan bilang kamu punya tiga Skill!?"

Ran mendekatiku dengan wajah memerah karena antusias, lalu melemparkan rentetan pertanyaan.

Kini, sulit bagiku untuk terus menyembunyikannya, dan rasanya tidak ada gunanya juga. Jika aku berbohong dengan mengatakan itu adalah Skill, kali ini aku bisa benar-benar dicurigai sebagai kaki tangan vampir.

"Maaf, aku tadi berbohong. Sebenarnya, gerakan counter tadi dan yang barusan, semuanya adalah jurus bela diri. Bukan Skill atau semacamnya."

"Jurus... bela diri? Fenomena yang seperti sihir tingkat tinggi itu?"

"Yah, itu adalah teknik rahasia tingkat tinggi dari dojo keluargaku."

Mendengar penjelasanku, Karina menyela pembicaraan kami.

"Punya Item Box, punya Skill Pemanggilan Kelas Menengah Atas, ditambah kemampuan ilmu bela diri super, seberapa curangnya lagi dirimu!?"

Ia melontarkan komentar konyol seperti itu.

"Dengar ya, 'Pemanggilan' tadi itu hanya bisa memanggil monster tingkat rendah seperti Battaman. Kenyataannya, kemampuan tempur Battaman yang tadi juga hanya setara dengan Hunter Peringkat D. Terlebih lagi, aku sama sekali tidak memiliki sihir atau Skill tipe petarung. Secara keseluruhan, kemampuanku hanya setara dengan Hunter Peringkat D yang masih aktif."

Karina menatap wajahku dengan bingung selama beberapa saat.

"Kamu serius?"

Ia mencengkeram kedua bahuku lalu menatapku dengan mata memerah.

"Haa, tentu saja."

"Gitu... kamu serius ya... kalau begitu..."

Karina berjalan gontai, bersandar pada dinding di dekatnya, dan mulai menggumamkan sesuatu pada dirinya sendiri.

Maaf saja, tapi dia sangat menakutkan. Lebih baik aku tidak usah ikut campur. Lagipula udaranya masih cukup panas, mungkin dia sedang demam.

"Kalau begitu, mari kita keluar dari sini."

Aku menarik pisau berburu dari pinggangku lalu menebaskan pisau itu ke pelindung magis.

Terdengar suara dentingan yang memecah keheningan, dan pelindung magis itu menghilang dengan mudahnya. Kami kembali berada di depan pintu masuk utama gedung pencakar langit.

"Ti-Tidak mungkin... pelindung magis yang sekuat itu hancur hanya dengan satu sayatan pisau?"

Sementara Mashiro bersuara dengan gemetar, Ran memeluk lenganku erat-erat.

"Kau bekerja saja di keluarga Ashika! Aku jamin kau akan mendapatkan perlakuan istimewa!"

Ia melontarkan kata-kata omong kosong yang mengejutkan itu.

"Jangan sembarangan bicara! Kain itu milikku!"

Karina langsung membalasnya dengan ucapan ngawur yang tidak masuk akal.

Seolah menyela dua gadis yang sedang saling memelototi itu, Akagi Yuusuke maju melerai lalu mengangkat ponsel pintarnya.

"Kalian berdua salah. Dialah yang akan jadi milik keluarga Akizuki kami."

Seorang siswi berambut hitam bob yang pernah kutemui di restoran keluarga sebelumnya sedang berdiri, memamerkan senyuman polos bagaikan orang yang baru saja sukses menjahili orang lain.

◇◆◇

—Di atap sebuah gedung.

"Seperti apa sebenarnya pandangan Master mengenai kekuatan?"

Kalimat pertama yang terucap dari mulut Asta setelah melihat tingkah laku Kain di dalam gedung melalui layar proyektor di depannya adalah hal tersebut.

"Bagi Master, itu hanyalah Hunter Kelas D Lemuria."

Girimekara menjawab dengan wajah berkerut, menunjukkan luapan rasa bahagia yang tak tertahankan.

"Menurut Tuan, seberapa kuat Hunter Peringkat D itu?"

Dewi Nemesis yang mengenakan pakaian merah terbuka bertanya dengan polos.

"Itu semua tergantung seberapa besar kamu menghargai Hunter Peringkat D, kan."

Dewa monster berwajah singa, Nemea, menjawab samar sambil melipat kedua lengannya.

"Kupikir itu sama sekali bukan jawaban."

"Maaf. Jujur saja, aku juga tidak begitu paham dengan standar kekuatan Tuan. Di masa lalu, dia menganggap Dewa Tingkat Atas Lemuria seperti Raja Kebusukan setara dengan Goblin yang suka menyerang ternak. Di sisi lain, Tuan juga salah mengira Badress—salah satu petarung dari Pasukan Kejahatan—sebagai Goblin jenis baru. Tuan mungkin menyebut Badress sebagai Goblin jenis baru hanya karena wujudnya yang mirip manusia tapi kekuatannya terlalu lemah. Ya, hanya sebatas itu saja."

Mendengar spekulasi Nemea ini, Asta memegang kepalanya pusing.

"Mengesampingkan soal Raja Kebusukan, bagaimana ceritanya Tuan bisa menganggap Badress sebagai Goblin!?"

Ia meninggikan suara mempertanyakan kewarasan argumen tersebut dengan nada jengkel.

"Bagi Tuan, pasukan Pasukan Langit, Pasukan Kejahatan, dan bahkan kita semua tidak lebih dari sekumpulan semut yang merayap di jalan. Bisakah kamu membedakan seberapa kuat masing-masing semut tersebut?"

"..."

Tentu saja tidak mungkin. Itulah pemikiran jujur dari semua orang yang ada di tempat itu.

Jika mereka memiliki warna, ukuran, atau bentuk yang berbeda, mungkin dari sana masih bisa membedakan mereka.

Namun, jika penampilan mereka hampir sama, itu akan jadi hal yang mustahil. Tidak, lebih tepatnya, sangat mustahil.

Namun, Kai Heineman tidak hanya gagal merasakan kekuatan makhluk-makhluk di dunia bawah seperti umat manusia dan monster.

Ia juga berlaku sama pada para Dewa dari Pasukan Langit dan Pasukan Kejahatan—dua faksi utama yang menguasai dunia ini. Lantas, seberapa besar kekuatan yang dibutuhkan agar dapat merasakan perbedaan di antara mereka semua?

Merasakan kekuatan tuannya yang jauh melampaui batas kewajaran, mereka semua terdiam. Di tengah situasi tersebut—

"Sepertinya aku selama ini sudah salah sangka. Bagi Master yang bahkan tidak bisa membedakan antara Goblin dan Kolonel Pasukan Kejahatan, mana mungkin dia bisa membedakan kekuatan kelas perwira dari Pasukan Langit dan Pasukan Kejahatan. Padahal, dia masih bisa membedakan tingkat kekuatan selain manusia. Bukankah justru hal itulah yang tidak normal?"

Memecah keheningan, Asta memasang wajah serius dan meminta konfirmasi pada Girimekara.

"Benar sekali! Sebagai hasil dari pertarungan terus-menerus dengan kita di Dungeon itu, Tuan telah memperoleh semacam indra super untuk mengetahui kekuatan kita, para dewa dan monster mitologi, dengan sangat akurat. Berkat itulah beliau dapat merasakan adanya tingkat kekuatan yang kuat dan lemah pada hama seperti kita. Namun, akibat hubungannya dengan umat manusia di Lemuria dan pertarungan sia-sia melawan pasukan langit dan kejahatan, indra tersebut perlahan memudar. Kalian mengerti apa artinya ini!?"

Girimekara memandangi semua orang yang hadir dan melontarkan pertanyaannya.

"Standar Hunter Peringkat D milik Tuan itu kini sudah tidak ada artinya lagi, ya..."

Nemesis meletakkan tangan di pinggangnya dan bergumam samar.

"Ya, mungkin kelasnya setara dengan dewa kelas atas seperti Raja Kebusukan, atau mungkin juga sekelas Enam Dewa Langit dan Enam Jenderal Besar. Bagaimanapun juga, itu hanyalah sekadar [Intensitas Eksistensi]. Jika ini adalah pertarungan sesungguhnya, ceritanya akan sangat berbeda."

"Ngomong-ngomong, Zak bilang, meskipun Master hanya memiliki kekuatan yang sama seperti seekor Goblin, ia merasa sama sekali tidak memiliki peluang menang melawannya."

Mendengar Asta mengomentari hal tersebut dengan serius—

"Ucapan yang benar-benar pas."

Nemesis langsung setuju dengan ucapan Zak di masa lalu tersebut, dan yang lainnya mengangguk, menyetujuinya.

"Saat ini, Tuan sangat haus akan keinginan untuk melawan yang kuat. Sama persis seperti saat pertama kali kita bertemu dengannya, saat ia masih belum menyerah untuk bertemu dengan lawan yang sepadan. Kalau bisa, aku benar-benar ingin memenuhi keinginannya itu."

Nemea menyipitkan mata saat mengatakan hal tersebut. Asta pun menggigit bibir bawahnya.

"Jangan khawatir! Semuanya berjalan sangat lancar!"

Mendengar seruan Girimekara—

"Girimekara, jangan lupakan masalah tentang ingatan Tuan itu, oke?"

Nemesis menegur Girimekara.

"Tentu saja!"

Melihat Girimekara mengangguk mantap, Asta bertanya pada Girimekara dan Nemesis sambil tersenyum.

"Ingatan Master? Girimekara, Nemesis, jangan bilang kalian berdua merencanakan hal konyol lagi terhadap Master?"

Bertolak belakang dengan ekspresinya, aura merah berbahaya yang memancar dari seluruh tubuh Asta membuat keringat dingin menetes di pipi Nemesis.

"Tentu saja ini masalah tentang mengembalikan ingatan Tuan. Benar kan, Girimekara?"

Sambil terlihat sedikit panik, Nemesis meminta persetujuan.

"Umu, benar sekali!"

Tanpa menunjukkan kegelisahan sedikit pun, Girimekara mengangguk sambil membalas dengan nada yang sama seperti biasanya.

Asta menatap tajam ke arah Nemesis dan Girimekara dengan senyuman selama beberapa saat.

"Kalau begitu, baguslah."

Ia menganggukkan kepala dan menarik kembali aura berbahayanya. Meskipun begitu, ia sama sekali tidak terlihat yakin akan hal tersebut.

"Asta, seperti yang direncanakan, aku ingin meminta bantuanmu untuk membereskan kekacauan kali ini."

"Baiklah."

"Mengesampingkan kelelawar bodoh itu, dia hanyalah manusia biasa. Jangan sampai kau bertindak terlalu jauh."

Kata-kata penuh belas kasihan yang sungguh tak disangka-sangka keluar dari mulut Girimekara ini sama sekali bukan demi memikirkan keselamatan manusia bernama Suguro.

Sebaliknya, kata-kata itu diucapkan karena ia mengkhawatirkan Asta sendiri yang cenderung bertindak di luar kendali lantaran terlalu memikirkan Tuannya, Kai Heineman.

"Akan kucoba."

Tanpa menoleh, Asta mengangkat tangan kanannya lalu melangkah pergi.

"..."

Melihat raut wajah Asta, Girimekara menghela napas panjang. Dari gerak-geriknya, Asta sama sekali tidak terlihat berniat menahan diri.

◇◆◇

Di SMA Kazatsuki, para staf pengajar setingkat kepala tingkatan kelas atau di atasnya diberikan ruangan tersendiri.

Sebagai wakil kepala sekolah, Suguro juga tidak terkecuali. Ia diberikan sebuah ruangan yang besarnya setara dengan ruang kelas.

Bagian dalam ruangan itu dipenuhi dengan ornamen mewah dan megah. Jika diucapkan dengan sopan, gayanya sangat elegan, namun kasarnya, ruangan itu mencerminkan selera norak khas orang kaya baru.

Sambil bersandar di punggung kursi yang terletak di dekat jendela kamarnya...

"Death Puppeteer yang sudah mekar, kalah?"

Suguro bergumam pelan dengan tatapan kosong.

Sang Summoner, 'Death Puppeteer', adalah perapal panggilan kelas atas. Seandainya tangannya tidak berlumuran darah, kekuatannya sudah cukup untuk membuatnya menjadi Hunter Rank S.

Ia telah membuat Benih Dewa yang ditanamkan ke dalam tubuh 'Death Puppeteer' itu mekar. Manusia kuat yang dijadikan persemaian bagi Benih Dewa akan bangkit menjadi Rasul Dewa.

Seharusnya tidak ada yang bisa mengalahkan mereka, tak peduli sekuat apa pun lawannya. Namun, sinyal dari 'Death Puppeteer' yang telah menjadi Rasul itu tiba-tiba terputus.

Sebagai gantinya, ia malah menerima laporan bahwa para siswa telah diselamatkan tanpa luka sedikit pun. Bersamaan dengan itu, departemen investigasi kabarnya mulai menyelidiki insiden ini.

Ia dengar Shishido juga telah ditangkap. Jika efek kontaminasi dari Charm yang ditanamkan pada Shishido dihilangkan, pria itu pasti akan membongkar semuanya.

Cepat atau lambat, jejaknya akan mengarah pada Suguro.

Tentu saja, tidak ada yang bisa mengalahkan Suguro yang kini memiliki kekuatan dewa. Jika kedoknya terbongkar, ia bahkan sudah berencana untuk menaklukkan Jepang saat itu juga.

Sekalipun lawannya adalah ras vampir, dewa yang menaungi Suguro tidak akan kalah. Ia sangat yakin akan hal itu.

Akan tetapi, fakta bahwa 'Death Puppeteer' dikalahkan dengan begitu mudah menandakan sesuatu. Itu berarti Rasul Dewa lain atau para vampir telah ikut campur dalam masalah ini.

Jika lawannya adalah sesama Rasul Dewa, Suguro harus mempertaruhkan nyawanya. Mengetahui identitas pelaku adalah hal yang sangat krusial.

"Bisa dipastikan pelakunya adalah salah satu dari anggota kelompok praktik itu. Jika benar, apakah pelakunya Tsukishiro Kanon yang identitasnya tidak jelas itu?"

Ia sebenarnya telah menyelidiki latar belakang Tsukishiro Kanon. Namun, hasil yang didapatkannya terlalu sempurna dan detail, tanpa celah sedikit pun.

Saat melihat laporan itu, Suguro merasakan kengerian di dalam hatinya. Jika diselidiki, seharusnya ada satu atau dua hal yang buram dari masa lalu seseorang.

Namun, segala hal tentang Tsukishiro Kanon—mulai dari tempat kelahirannya, hobi, hingga sifatnya—semuanya terlalu sempurna tanpa cela. Ya, seolah-olah semua itu hanyalah buatan belaka.

"Benar-benar Unknown ya... Sepertinya dia harus dieliminasi secepatnya."

Perasaan apa ini? Kenapa ada rasa dingin yang merayap di tulang belakang layaknya serangga?

Suguro merasa seakan-olah ia telah melewatkan suatu detail yang sangat krusial.

"Aku punya firasat yang sangat buruk. Wahai Dewaku, kumohon berikanlah wahyu-Mu mengenai Tsukishiro Kanon."

Ia menyatukan kedua tangannya dan memanjatkan doa kepada dewanya. Namun, wahyu yang biasanya selalu ia terima tak kunjung datang.

"Ya Dewa! Pinjamkanlah kekuatan-Mu kepada hamba-Mu yang hina ini!"

Ia memohon sekali lagi, namun tetap tidak ada balasan.

"Dewa?"

"Percuma saja."

Mendengar suara yang tiba-tiba itu, ia langsung menoleh ke belakang. Di sana, seorang wanita yang mengenakan jas berekor, sarung tangan putih, dan topi fedora berdiri dengan tangan berkacak pinggang.

"Siapa Kamu?!"

Hanya dengan ditatap oleh monokel wanita itu, hawa dingin yang mengerikan menjalari tubuhnya, seakan-akan dililit oleh ular. Karena itulah ia berteriak sekuat tenaga dari tenggorokannya.

"Aku? Aku tidak punya nama untuk disebutkan kepada monyet sepertimu."

"Kamu memanggilku monyet?! Dasar manusia rendahan!"

"Itu adalah penghinaan terbesar bagiku yang telah menjadi Rasul Dewa yang agung!"

Mendengar kata-kata yang begitu arogan, Suguro memaksakan amarah keluar dari lubuk hatinya. Ia mencoba menepis kecemasan yang tak berwujud itu dengan meninggikan suaranya.

Namun, di sisi lain, kecemasannya justru semakin menjadi-jadi. Suguro sangat menyadari bahwa semua itu hanyalah gertakan sambal belaka.

"Hah! Dewa yang agung, katamu? Apa benda ini yang kamu maksud?"

Petik! Wanita bermonokel itu menjentikkan jarinya, membuat sebuah benda melayang di udara. Saat Suguro melihat wujud benda tersebut...

"Hiii!"

Pemandangan itu terlalu mengerikan hingga membuatnya menjerit tanpa sadar.

"Bu... nuh... aku..."

Benda yang melayang itu adalah penggalan kepala seorang pria tua bertelinga panjang. Darah segar mengalir dari mata, hidung, dan mulutnya.

Kepala itu memohon ampun kepada sang wanita dengan suara yang sangat familiar.

"Tentu saja tidak. Kelelawar rendahan, kamu sudah terlalu sombong."

"Aku tidak pernah bermimpi kalau kamu berani mengincar Master-ku! Memang benar, Master tidak akan terluka sedikit pun oleh kelelawar sepertimu, tak peduli seberapa banyak kekuatannya yang dibatasi."

"Tapi... Tapi! Kalian mencoba melukai Master-ku yang berharga dengan cara yang licik! Aku sama sekali tidak bisa memaafkan hal itu!"

Wanita itu kembali menjentikkan jarinya. Seketika, telinga kepala itu meleleh menjadi gumpalan kental.

"GYAAAA!"

Jeritan melengking membelah keheningan.

(S-Suara ini?!)

Suara jeritan yang menyedihkan itu... Suguro tidak mungkin salah mendengarnya. Sebab, itu adalah suara dewa junjungannya, sosok yang seharusnya menjadi entitas tertinggi dan absolut.

"Mulai sekarang, kamu akan melihat mimpi buruk yang abadi bersama dengan kelelawar rendahan ini."

"Mimpi buruk... abadi?"

Hanya dengan mendengar kata-kata yang teramat sial itu, hati Suguro langsung terselimuti kegelapan tanpa secercah cahaya pun.

"Sebuah perjalanan menuju penderitaan dan keputusasaan di mana kamu bahkan tidak diizinkan untuk hancur."

Sudut bibir wanita bermonokel yang melontarkan kalimat itu melengkung membentuk bulan sabit. Sosoknya benar-benar menyerupai iblis yang sering muncul di buku-buku dongeng masa kecil.

"Tidak..."

Suguro memuntahkan kata-kata penolakan sambil melangkah mundur.

"Aku akan mengirimmu ke sana tanpa kompromi sedikit pun."

Melihat wanita itu perlahan mengangkat telapak tangan kanannya, rasa dingin yang luar biasa menjalar dari ujung kaki Suguro.

"TIDAAAAAK!"

Ia meninggalkan dewa yang selama ini ia percayai dan berusaha melarikan diri sekuat tenaga dari monster di hadapannya.

"Curse Song."

Suara wanita tanpa belas kasih itu bergema dari belakang. Dalam sekejap, ruangan tersebut berubah menjadi tempat yang paling kejam bagi Suguro.

"Aaaaaaaa~♪"

Wajah-wajah tak terhitung jumlahnya bermunculan dari dinding ruangan dan mulai menyanyikan sebuah lagu.

Pemandangan yang terlampau menyeramkan itu membuat ketakutan menggeliat hebat di dasar dada Suguro.

"H-Hentikaaaaan!"

Nyanyian yang memekakkan telinga itu terasa seperti pisau tajam yang menyayat jiwanya secara langsung. Suguro menutup rapat telinganya.

Namun, usahanya sia-sia. Suara itu malah semakin mengeras dan bergema langsung di dalam kepalanya.

"—Ghh?!"

Lalu, ia menyadari sebuah fakta. Kedua lengannya bengkok dengan bentuk yang sangat tidak wajar, dan di ujung lengannya terdapat wajah manusia yang sedang bernyanyi dengan semangat.

"Hiiiii!"

Pemandangan absurd nan menjijikkan itu membuatnya meronta mati-matian. Ia berusaha kabur dari wajah yang menempel di lengannya, namun ia tersandung dan jatuh telungkup dengan menyedihkan.

Di lantai itulah Suguro melihatnya—

"Gihya?!"

Kedua kakinya juga menari-nari layaknya karet, sementara wajah di ujung jari kakinya ikut bernyanyi. Sebuah pemandangan yang benar-benar wujud nyata dari mimpi buruk.

Monster-monster berwajah itu menyanyi sembari merangkak mendekat, seakan-akan menikmati ketakutan Suguro.

"Jangan mendekat! JANGAN MENDEKAAAT!"

Ia berteriak putus asa. Menolak kenyataan di depan matanya.

Namun, monster-monster itu terus merayap mendekat dan mulai menggerogoti sekujur tubuhnya tanpa ampun.

Di tengah jeritan tangis, rasa sakit, dan ketakutan luar biasa karena dimakan oleh tubuhnya sendiri, kesadaran Suguro perlahan tenggelam ke dalam tidur abadi bernama mimpi buruk.

◇◆◇

Di ruang kepala sekolah SMA Kagetsu, berkumpul orang-orang penting yang biasanya tidak pernah duduk dalam satu ruangan yang sama.

Orang pertama adalah seorang pria berjas dengan kumis tipis. Dia adalah Kepala Sekolah SMA Kagetsu saat ini, Ashihana Kureto.

Ia juga merupakan kepala Keluarga Ashihana saat ini, keluarga bangsawan keturunan Onmyouji sejak zaman Heian yang memadukan ilmu sihir Barat pada zaman Meiji.

Orang kedua adalah pria bertubuh besar dengan kepala plontos dan bekas luka di sekujur tubuhnya.

Dia adalah anggota Keluarga Akizuki yang saat ini menguasai politik dan ekonomi Jepang.

Selain itu, pria bernama Akizuki Eisei ini adalah pimpinan tertinggi, Direktur Asosiasi Hunter Cabang Jepang yang menjadi pelindung umat manusia.

Orang ketiga adalah wanita berambut merah yang sangat cantik, mengenakan kimono. Namanya adalah Kuonji Kyouka.

Dia adalah Ketua Quon Group saat ini, sebuah konglomerat raksasa dari keluarga penyihir ternama yang setara dengan Keluarga Ashihana.

Mereka bertiga adalah penguasa tertinggi yang memegang kendali atas Jepang. Biasanya mereka saling mengawasi dan menekan, sehingga sangat jarang bisa berkumpul bersama seperti ini.

Para petinggi dari masing-masing keluarga juga berdiri mengelilingi ketiga tokoh sentral tersebut.

Namun, ekspresi yang ditunjukkan oleh setiap faksi sangatlah kontras.

Sang Ratu dari Keluarga Kuonji, Kyouka dan kawan-kawannya, tampak tersenyum puas dan penuh percaya diri.

Di sisi lain, para pengikut Keluarga Akizuki—yang membanggakan kekuasaan mutlak di Jepang saat ini—menunjukkan wajah serius.

Mereka menahan napas, menanti laporan dari Kureto selaku perwakilan pengurus sekolah, seolah-olah sedang menghadapi takdir.

"Aku akan menyampaikan laporan insiden kali ini dari pihak manajemen sekolah."

"Insiden bermula karena Akizuki Tatsuya dipermalukan oleh Tsukishiro Kanon di toko kue 'Sweets Wood'. Ia kemudian meminta Wakil Kepala Sekolah Suguro untuk menghukum anak itu."

"Suguro memanfaatkan kesempatan ini untuk mencari kelemahan Akizuki Tatsuya. Ia menyewa buronan Kelas A, 'Death Puppeteer', untuk membunuh Tsukishiro Kanon dan murid-murid lain yang mengganggunya."

"Semua orang memang sempat diculik, tetapi Tsukishiro Kanon berhasil membalikkan keadaan. Itulah ringkasan insiden kali ini."

Mendengar laporan dari Kepala Sekolah Ashihana Kureto, sebuah permintaan maaf pun terlontar.

"Putraku yang bodoh benar-benar telah membuat kekacauan. Aku tidak berniat mencari-cari alasan atas perbuatannya. Mewakili keluarga, aku minta maaf yang sebesar-besarnya."

Akizuki Eisei menundukkan kepalanya dalam-dalam.

Semua anggota Keluarga Akizuki yang hadir juga ikut menunduk, kecuali Akizuki Narumi, seorang gadis berambut hitam pendek bergaya bob.

Melihat kejadian itu, anggota dari dua faksi lainnya menahan napas terkejut.

Di bawah kekuasaan absolut Keluarga Akizuki saat ini, sangat mustahil membayangkan Eisei, sang perwakilan keluarga, meminta maaf kepada dua kekuatan besar lainnya.

Oleh karena itu, semua orang sadar betul bahwa hasil akhir dari insiden ini membawa dampak yang teramat besar.

"Ara~, permintaan maaf dari Orang Nomor Dua sepertimu tidak ada artinya. Apa yang dikatakan Kakek Monster itu?"

Kuonji Kyouka melemparkan pertanyaan dengan suara yang manis dan senyuman yang menyebalkan.

Kakek Monster yang dimaksud adalah Akizuki Kouzen, penguasa sebenarnya dari Keluarga Akizuki, tokoh dengan pengaruh absolut di Jepang.

Ia juga seorang lelaki tua yang dirumorkan sebagai penyihir terkuat sepanjang masa.

Orang yang menjawab pertanyaan tersebut adalah—

"Kakek buyut telah memutuskan untuk mengusir Tatsuya. Mulai sekarang, Tatsuya bukan lagi bagian dari Keluarga Akizuki sampai batas waktu yang tak ditentukan."

Ya, yang berbicara adalah Akizuki Narumi.

Kegaduhan langsung meledak di dalam ruangan. Keterkejutan mereka sangat beralasan.

Kasih sayang Kouzen kepada cucunya sangatlah terkenal. Tidak ada satu pun yang menduga ia akan memilih opsi pengusiran.

Di saat yang sama, mereka juga sadar bahwa keputusan ini menunjukkan bahwa Keluarga Akizuki sama sekali tidak berniat mundur dari persoalan ini.

"A~ra, kasihan sekali. Tuan muda itu sepertinya sudah dibuang, ya."

Kyouka merubah ekspresi puasnya dan melontarkan sindiran tajam.

"Perbuatan Tatsuya memang sefatal itu. Memalukan sekali, kami terlalu memanjakannya."

"Untuk saat ini, kami akan membiarkannya mendinginkan kepala," jawab Eisei dengan nada dingin.

Mendengar jawaban itu, tak ada satu pun pengikut Keluarga Akizuki yang melayangkan protes atau mengubah ekspresi mereka.

Mungkin saja selama ini mereka semua juga sudah memendam amarah terhadap tingkah laku Tatsuya.

(Dasar pengecut!)

Kyouka mendecakkan lidah dan menggumam pelan.

"Ada apa, Kyouka? Apa Kamu tidak puas dengan keputusan Yang Mulia Kouzen terkait masalah ini?" tanya Eisei tanpa ekspresi.

"Tidak juga~"

Meski menjawab demikian, Kyouka memalingkan wajah dengan senyum palsunya. Terlihat jelas bahwa suasana hatinya sedang sangat buruk.

"Mari kita langsung ke intinya. Kita semua berkumpul di sini bukan untuk membahas hukuman si idiot Tatsuya itu, 'kan?"

Pria berambut pirang dengan beanie hitam dan tindik di bibirnya, yang sedari tadi melipat tangan tanpa ikut campur, membuka sebelah mata. Ia memecah keheningan di tengah situasi yang mulai memanas ini.

Dia adalah Ashihana Okibi, pria yang menyandang julukan 'Raja Api', salah satu dari empat Hunter Rank S di Jepang.

Ia merupakan mantan kekuatan tempur terkuat Keluarga Ashihana yang kini menjadi orang kepercayaan Eisei, sang Direktur Asosiasi Hunter Cabang Jepang.

"Kamu benar. Narumi, tolong jelaskan tentang dia."

Eisei menoleh dan memberikan perintah. Narumi mengangguk mantap.

"Tsukishiro Kanon. Kelas Satu Jurusan Dukungan Tempur SMA Kagetsu. Masuk sekolah dengan Skill Item Box."

"Ia juga memiliki Hidden Skill berupa kemampuan memanggil Monster Belalang yang dapat membantai monster peringkat S dalam sekejap."

"Kanon sendiri memiliki ilmu bela diri yang luar biasa, setara dengan Monster Belalang tersebut. Hanya itu yang kami ketahui."

Penjelasan datar dari Narumi itu membuat seisi ruangan berdengung riuh layaknya sangkar burung.

"Pemilik Item Box saja sudah sangat langka, apalagi dia adalah seorang Double Skill Holder yang juga punya kemampuan memanggil monster. Terlebih lagi, kemampuan bela dirinya juga sangat luar biasa..."

"Aku sudah mendengarnya dari Ran, tapi apa itu benar-benar nyata?"

Ashihana Kureto tersenyum sambil melontarkan pertanyaan kepada Narumi yang pipinya memerah karena kegirangan.

"Ya, aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri melalui Yusuke! Kekuatannya benar-benar berada di luar nalar!"

"Bisa jadi, kekuatannya bahkan mampu menandingi para vampir itu!"

Jawaban Narumi memancing gumaman tak percaya dari para veteran berbagai faksi yang hadir. Sebagian besar dari mereka diliputi rasa ragu, merasa bahwa hal itu mustahil terjadi.

"Mampu menandingi vampir, ya. Jika dipikir secara logika, itu adalah cerita yang sulit dipercaya."

"Ara ara, Kureto~ Kamu tidak percaya, ya~ Kalau begitu, kalian dari Keluarga Ashihana bersedia mundur dari perebutan anak ini, 'kan?"

Kuonji Kyouka bangkit dari sofa, berjalan mendekati Kureto, dan duduk di atas meja. Ia menunduk menatap Kureto sembari bertanya dengan nada manja.

"Tidak, aku baru saja bilang jika dipikir secara logika, bukan? Narumi sendiri yang mengatakannya, jadi tentu saja aku percaya."

"Lagi pula, dia adalah murid di sekolah ini. Hak asuh dan pengawasannya ada di tangan kami, pihak manajemen sekolah."

Kureto menjawab seraya melipat tangan dengan senyuman di wajahnya. Namun, sorot matanya sama sekali tidak menyiratkan keramahan.

"Kak Kureto, bukankah yang paling penting adalah Tsukishiro Kanon sendiri tampaknya memiliki rasa tidak percaya yang sangat kuat terhadap kalian, pihak manajemen sekolah?"

Ashihana Okibi bertanya sambil bersandar di sofa, menatap merendahkan dengan mata setengah tertutup.

Meski biasanya terlihat lembut, Kureto sejatinya adalah seorang petarung garis keras. Ia adalah orang yang paling agresif di ruangan ini.

Karena itu, ia tidak akan membiarkan tindakan provokasi yang tidak sopan, meskipun itu berasal dari adiknya sendiri, Okibi. Semua orang memprediksi Kureto akan bereaksi keras terhadap sikap Okibi yang telah mengkhianati Keluarga Ashihana dan berpihak pada Eisei.

Namun—

"Benar! Itu dia! Bagian itulah yang sangat tidak masuk akal!"

Kureto justru meninggikan suaranya dengan nada antusias.

"Tidak masuk akal? Apa maksudmu?"

Kyouka yang untuk pertama kalinya menghilangkan senyumnya, mengerutkan kening, meminta penjelasan lebih lanjut.

"Sepertinya, Kain curiga bahwa pihak sekolah sengaja ikut campur. Pasalnya, monster-monster yang ia hadapi dalam ujian praktik kali ini menurutnya terlalu lemah."

"Hah? Aku sudah mendengar detail pertarungannya dari Karina. Bukankah semua monster yang dilawan oleh Kelompok A-1 setidaknya setingkat Rank C?"

"Bahkan, kabarnya ada monster Rank B di dalam gedung itu, 'kan?"

Orang yang menjawab keraguan Kyouka adalah—

"Aku sendiri yang memastikannya, jadi tidak mungkin salah. Terutama monster-monster yang dipanggil oleh 'Death Puppeteer' itu, mereka benar-benar sangat berbahaya."

Itu adalah Narumi.

"Nona Narumi, saat Anda berkata sangat berbahaya... Apakah itu berarti ada beberapa monster Rank A?"

Hunter muda kepercayaan Eisei membenarkan letak kacamatanya saat ia memastikan hal itu pada Narumi.

"Ini hanya berdasarkan intuisiku, tapi mayoritas dari mereka adalah Rank A."

"Apalagi ketiga bos monster itu; Goblin, Orc, dan Ogre yang mengenakan senjata sihir. Kekuatan mereka bahkan terlalu besar untuk bisa aku ukur."

Semua orang terdiam mendengar penuturan Narumi. Mereka sepertinya kebingungan dan tidak tahu bagaimana harus mencerna situasi ini.

"Mungkinkah Tsukishiro Kanon hanya sok kuat?"

"Apa kamu bodoh? Intinya, alasan Tsukishiro Kanon curiga adalah karena ia merasa monster yang muncul terlalu lemah untuk diurus oleh anak-anak."

"Oleh sebab itu, ia salah paham dan mengira sekolah yang mendalanginya. Menurutmu apa makna dari semua itu?"

Menanggapi pertanyaan penuh ejekan dari Ashihana Okibi, Hunter muda itu memasang wajah kesal menahan amarah.

"Itu berarti, bagi Tsukishiro Kanon, monster-monster tersebut hanyalah makhluk yang tidak ada artinya!" balasnya dengan suara lantang kepada atasannya, Okibi.

"Benar, itulah yang membuatku bingung. Mungkinkah ada manusia di dunia ini yang beranggapan bahwa monster di atas Rank A itu terlalu lemah?"

Pertanyaan retoris dari Kepala Sekolah Kureto membungkam seluruh ruangan. Padahal, jawabannya sudah sangat jelas tanpa perlu dipikirkan lagi.

—Hal itu sama sekali tidak mungkin.

"Begitu rupanya, jadi Tsukishiro Kanon adalah orang yang memiliki hubungan dengan Dewa Susanoo, seperti yang dikatakan oleh Tuan Atom!"

Eisei berdiri dengan penuh semangat sembari melempar senyuman, memaparkan teorinya.

"Itu sangat tidak mungkin. Karena itulah aku bilang, aku tidak mengerti."

Kureto langsung membantah dengan ekspresi tidak percaya.

"Mengapa Kamu bisa bilang begitu?!"

"Kami telah memastikan bahwa ia adalah putra kedua dari keluarga praktisi bela diri kuno, 'Bela Diri Kuno Tsukishiro' yang berada di Chiba."

"Adakah kemungkinan informasi itu salah?"

"Staf kami sudah turun langsung ke lokasi untuk memastikannya, jadi informasi itu valid. Sebelum masuk ke SMA ini, tampaknya ia telah menjalani latihan yang teramat keras sejak kecil di dojo terpencil di atas gunung."

"Pemikirannya yang tidak masuk akal itu sebenarnya bisa dijelaskan dengan latar belakangnya, tapi..."

"Meskipun dia kurang pengetahuan tentang dunia luar, pemikirannya itu memang sudah sangat kelewatan, ya..."

Eisei melipat tangannya dan berpikir keras.

"Bodoh sekali! Pemikirannya saat ini sama sekali tidak penting. Yang paling utama adalah fakta bahwa dia itu kuat. Oleh karena itu, dia akan menjadi milikku seutuhnya."

Wajah cantik Kyouka sedikit memerah, dan ia menjilat bibirnya sendiri.

"Cih, dasar wanita gila gairah! Tante-tante yang usianya hampir empat puluh tahun tidak usah menggoda pria yang jauh lebih muda darinya!"

Mendengar penolakan keras yang tak biasa dari Narumi, Kyouka tersenyum licik dan menyeringai.

"A~ra, Narumi, wajar 'kan jika seorang wanita ingin memiliki anak dengan gen yang unggul?"

"Atau jangan-jangan... Kamu sendiri yang ingin melahirkan anak darinya, ya?"

Kyouka mendekati Narumi, merangkul bahunya dengan lengan kanan, lalu mengintip wajah gadis itu.

"M-Mana mungkin!"

Narumi yang wajahnya memerah langsung membuang muka dan membantahnya mentah-mentah.

"Jangan terlalu mengganggu putriku, Kyouka. Narumi tidak tahan dengan lelucon semacam itu. Lagi pula, bukankah Kamu sangat setia pada mendiang suamimu?"

Mendengar perkataan Eisei, Narumi baru menyadari bahwa dirinya sedang dipermainkan. Ia gemetar menahan amarah, seluruh tubuhnya bergetar hebat.

"Pembicaraan kita sudah selesai! Ayah, Pak Okibi, kuserahkan sisanya pada kalian berdua!"

Setelah berteriak kesal, Narumi langsung melenggang keluar dari ruangan tersebut.

"Tapi, niatku untuk menjadikannya milikku itu tidak main-main. Yah, lebih tepatnya untuk putri-putriku, sih."

Kyouka berdiri dan membuka kipas lipatnya, menyampaikan sebuah deklarasi yang terdengar seperti pernyataan perang.

"Keluarga Ashihana juga memiliki niat yang sama. Berkat orang bodoh yang minggat dari keluarga kami, penurunan kekuatan tempur menjadi masalah yang mendesak bagi Keluarga Ashihana saat ini."

"Jika ia menikah dengan Ran dan membantu memajukan sekolah ini, semuanya akan aman terkendali," sahut Kureto sambil memelototi Okibi.

"Kami, Keluarga Akizuki, juga punya pendapat yang sama. Kalian pasti sudah mengerti dari reaksi Narumi tadi, 'kan?"

"Tumben sekali Narumi terlihat sangat antusias. Tsukishiro Kanon sangat pantas menjadi penerus Keluarga Akizuki. Jika ia bersama Narumi, mereka pasti bisa membasmi para vampir itu dan mengembalikan dunia ini ke tangan umat manusia!" ujar Eisei dengan nada yang membara.

"..."

Ketiga perwakilan faksi tersebut saling menatap satu sama lain dengan senyuman di wajah mereka.

"Sepertinya ini tidak akan ada ujungnya," ujar Kureto sambil mengangkat bahu.

"Benar. Aku punya usul, bolehkah?"

"Apa itu? —Ah, kurasa aku tidak perlu bertanya lagi."

"Tentu saja. Mengingat situasinya seperti ini, wajar jika hal itu akan terjadi, 'kan?"

Mereka bertiga pun tertawa, sementara para petinggi dari masing-masing keluarga menelan ludah dengan gugup.

Dan dengan demikian, jaring pengepungan untuk mendapatkan Tsukishiro Kanon mulai terajut secara perlahan.

◇◆◇

Di salah satu ruangan bergaya Barat di dalam Vlad Palace yang berlokasi di distrik Adachi, Tokyo, terdapat dua orang vampir.

Salah satunya adalah pria vampir dengan kantung mata bernama Spade.

Vampir lainnya berambut pendek dan mengenakan pakaian mewah berlapis-lapis khas bangsawan abad pertengahan yang sering muncul di buku dongeng. Namanya adalah Dar Ear.

"Sepertinya bawahan kesayanganku, Rugedo, telah kehilangan kontak."

Mendengar ucapan Spade tersebut...

"Hah? Meski Rugedo hanyalah agen mata-mata dan kekuatannya tidak seberapa, dia tetaplah saudara kita."

"Tidak mungkin ada seorang pun di dunia ini yang bisa mengalahkannya, 'kan?" sanggah Dar Ear dengan nada tinggi sambil mengerutkan alisnya.

"Itu adalah sebuah fakta. Apakah Kamu mengerti apa arti dari semua ini?"

"Faksi Pilar Dewa selain milik kita! Kelompok Dewa Susanoo, ya?!"

"Tebakanmu sepertinya keliru. Menurutku, lawan kita kali ini adalah sang True Ancestor."

Dar Ear sempat menatap tajam ke arah Spade yang merangkai kata-katanya dengan penuh penekanan.

"Kenapa Kamu bisa berpikir begitu?" tanyanya kembali dengan ekspresi serius.

"Sebelumnya, Rugedo tampak bersenang-senang memanfaatkan seorang manusia bernama Suguro."

"Ia melapor dengan penuh semangat, 'Akhirnya aku menemukan sang True Ancestor'. Setelah itu, panggilannya terputus."

"Bukankah Rugedo pernah bertemu dengan sang True Ancestor lima tahun yang lalu?"

"Tapi, True Ancestor itu bisa berubah wujud, 'kan? Bukankah mustahil membedakannya hanya dari penampilannya saja?"

"Benar. Aku tidak tahu alasannya, namun di tengah permainannya kali ini, Rugedo sangat yakin bahwa orang yang ia temukan itu adalah sang True Ancestor."

"Sekarang setelah dia mati, kita tidak tahu apa alasannya dan siapa sosok sebenarnya..."

"Walaupun begitu, kita bisa mempersempit daftar tersangka. Selain itu, Rugedo juga tidak bisa masuk ke wilayah yang dikuasai manusia."

"Jika Rugedo terbunuh di sana, itu berarti—"

"True Ancestor sengaja keluar dari zona amannya dan membunuh Rugedo?"

"Hanya itu satu-satunya kesimpulan yang masuk akal."

"Apa Kamu sudah melaporkan hal ini pada Tuan Vlad?"

Bulir keringat yang besar menempel di dahi Dar Ear. Ia bertanya dengan sedikit gugup.

"Jika aku sudah melaporkannya, aku tidak mungkin berdiri di sini sekarang."

"Sudah kuduga..."

Dar Ear mengusap keringatnya dan menghela napas lega.

"Aku punya rencana untuk menemukan dan menangkap True Ancestor, apa Kamu ingin ikut ambil bagian?"

Spade menyampaikan tawaran terbaik yang bisa ia pikirkan saat ini.

"Tergantung isi rencananya."

"Aku hanya akan menjelaskannya jika Kamu setuju untuk bergabung dalam rencanaku."

Dar Ear menatap tajam ke arah Spade dan terdiam sejenak.

"Baiklah. Aku ikut. Jadi? Apa yang akan kita lakukan?"

Ia lalu mengangguk mantap sambil menghela napas berat.

"Kita akan memanfaatkan hasrat para manusia bodoh itu."

Spade melengkungkan ujung bibirnya ke atas, melontarkan ucapan tersebut dengan nada seperti orang yang tengah bernyanyi.



Prolog | ToC | Chapter 2

Post a Comment

Post a Comment

close