NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Saijaku Hakugai Made Sareta Kedo - Chou Nankan Meikyuu de 10 Mannen Shuugyoushita Kekka Volume 10 Chapter 2

Chapter 2

Strategi Pemusnahan Iblis Kecil


Awalnya kupikir ini hanyalah ulah pihak SMA Kazatsuki, tapi sepertinya aku telah terseret ke dalam insiden yang cukup merepotkan.

Fakta ini terungkap tiga hari setelah sesi latihan praktik itu, saat aku dipanggil ke ruang kepala sekolah dan Kepala Sekolah SMA Kazatsuki, Ashika Kureto, menjelaskan garis besar situasinya kepadaku.

Instruktur penanggung jawab Kelas A-1 kami, Shishido, ditangkap karena diduga terlibat dalam insiden kali ini.

Faktor pencemaran mental yang kuat terdeteksi di dalam diri Shishido.

Setelah pengaruh itu dihilangkan, Shishido kembali sadar dan mengakui segalanya.

Hasilnya, terungkap bahwa Wakil Kepala Sekolah Suguro telah menyewa seorang Criminal bawahannya untuk melenyapkan beberapa siswa akademi.

Pemicu utama dari insiden ini adalah Akizuki Tatsuya.

Dia dijatuhi hukuman skorsing sekaligus diasingkan secara permanen dari keluarganya.

Suguro selaku dalang di balik insiden ini sempat menghilang tanpa jejak.

Namun, dia baru saja ditemukan dalam keadaan cacat mental, dan otoritas Hunter mencurigai adanya keterlibatan para vampir. Begitulah inti dari penjelasannya.

Semuanya bermula dari insiden di Sweets Wood. Tatsuya menyimpan dendam karena merasa kupermalukan, lalu dia meminta

Wakil Kepala Sekolah Suguro untuk memberiku hukuman. Suguro memanfaatkan hal ini semaksimal mungkin dengan merancang rencana untuk melenyapkanku sekaligus memegang kelemahan Tatsuya.

Dia lalu mengirim seorang Criminal bernama 'Kugutsushi', dan terjadilah insiden kali ini.

Astaga. Pada akhirnya, ternyata akulah penyebabnya. Terlebih lagi, pembunuh bayaran yang dikirim untuk menghabisiku hanyalah kroco yang bahkan kalah melawan siswa sepertiku.

Tidak, jika menilik perubahannya menjadi monster di saat-saat terakhir, seharusnya dia tidak lagi berada dalam kekuatan aslinya saat itu.

Mungkin aku harus menyimpulkan bahwa tubuhnya telah dimodifikasi oleh Suguro agar bisa dikendalikan sesuka hati.

Yah, aku benar-benar penasaran bagaimana dia bisa menanamkan formula sihir semacam itu pada orang yang lebih kuat darinya.

Hal yang paling mengejutkan di sini adalah keputusan Keluarga Akizuki untuk secara praktis memutuskan hubungan dengan Tatsuya.

Sekalipun perbuatannya sudah kelewatan, aku tidak pernah bermimpi bahwa para petinggi Keluarga Akizuki akan membuang cucu dan putra kandung mereka sendiri.

Terutama berdasarkan penjelasan dari akademi, Tatsuya tampaknya hanya berniat untuk menghajarku saja.

Sepertinya tidak ada bukti nyata terkait rumor bahwa dia pernah menyerang perempuan atau memukuli seseorang hingga tak sadarkan diri sebelumnya.

Dalam insiden Sweets Wood itu, dia dan Makoto memiliki hubungan layaknya teman masa kecil. Tampaknya masalah itu bukan tentang asmara pria dan wanita, melainkan perselisihan kekuasaan di dalam sekolah.

Hukuman Tatsuya kali ini adalah hasil dari penilaian berat bahwa tindakannya benar-benar berisiko merenggut nyawa orang lain. Kurasa Keluarga Akizuki juga mengambil keputusan pahit ini dengan berat hati.

Dengan demikian, kesimpulannya adalah aku hanyalah korban yang terseret sepihak, sehingga aku tidak akan menerima hukuman apa pun. Seharusnya begitulah penjelasannya. Namun...

"Gimana pun cara mikirnya, ini jelas-jelas kelas buangan, kan."

Pihak sekolah tiba-tiba mengumumkan bahwa mereka akan menghapus sementara pembagian kelas berdasarkan departemen khusus, seperti Departemen Komando Strategis, Departemen Taktik Pertempuran, dan Departemen Dukungan Pertempuran.

Mereka akan menyusun ulang kelas menjadi 'Regu' berdasarkan nilai akademis. Lebih lanjut, mereka juga memberitahu bahwa hasilnya akan dipublikasikan secara serentak di situs internal akademi. Karena itulah saat ini aku sedang mengeceknya di ponselku.

Pertama-tama, murid-murid paling berprestasi dari seluruh departemen dikumpulkan ke dalam Regu S. Setelah itu, murid-murid lainnya didistribusikan ke Regu A, B, C, D, E, dan F berdasarkan urutan nilai mereka.

Singkatnya, ini adalah pembagian regu format pertempuran nyata seperti regu latihan praktik sebelumnya. Meski begitu, belum tentu pembagian ini efisien.

Siswa kelas atas memang harus terbiasa dengan format pertempuran nyata, jadi pembagian regu semacam ini wajar dan sangat diperlukan.

Namun, menurutku pribadi, menghapus sistem spesialisasi sejak kelas bawah justru akan memperburuk tingkat penyerapan keterampilan dan memberikan efek sebaliknya.

Omong-omong soal itu...

"Kenapa aku masuk Regu F, ya..."

Hal yang tidak masuk akal adalah, saat regu lain terbagi lagi—Regu S dari satu hingga tiga, dan Regu A hingga E dari satu hingga delapan—hanya Regu F yang berdiri sendiri tanpa pembagian.

"Kain, Makoto, kita mending protes aja soal ini! Aku sama sekali nggak terima!"

Takeshi bangkit dari tempat duduknya dengan penuh semangat, wajahnya menyiratkan kemarahan.

"Tolong hentikan. Lagipula, tidak akan ada yang berubah."

"Bener tuh, percuma, percuma, percuma banget deh."

Takeshi langsung cemberut mendengar penolakan instan dariku dan Makoto.

"Yah, kalian berdua enak karena ada di regu yang sama. Tapi, gimana nasibku? Aku harus sendirian ngadepin orang-orang sok elite yang menyebalkan itu, tahu!"

Dia memuntahkan semua kekesalan yang selama ini terpendam di hatinya.

Sepertinya Takeshi tanpa sadar telah menyuarakan isi hatinya yang terdalam.

Namun, bukankah normalnya seseorang akan melompat kegirangan jika masuk ke Regu S-1 yang paling prestisius?

Setidaknya, ide untuk melayangkan protes biasanya tidak akan pernah terlintas.

"Wah wah, kalau kamu neriakin kesuksesanmu sekencang itu, seisi kelas bakal benci sama kamu, lho."

Sambil menunjuk bagian tengah ruang kelas di belakangnya dengan ibu jari, Makoto mengedipkan sebelah mata dan tersenyum pada Takeshi.

Biasanya, Takeshi akan membalas lidah tajam Makoto dengan candaan yang cerdas, tetapi kali ini...

"Jangan bercanda, kesuksesan apanya! Aku cuma mau tetap ada di kelas ini!"

Amarahnya benar-benar memuncak dengan serius.

"Kami juga merasakan hal yang sama. Tapi, menurutmu apa para petinggi sekolah yang sudah mengambil tindakan ekstrem sejauh ini mau mendengarkan protes dari siswa biasa seperti kita?"

Aku berbicara perlahan kepada Takeshi, berusaha untuk menenangkannya.

"Nggak, sih..."

Aku tersenyum masam menanggapi jawaban ketus Takeshi.

"Belum tentu keadaan ini akan bertahan selamanya, kan. Kurasa cepat atau lambat semuanya akan kembali seperti semula."

Aku menegaskan hal itu layaknya sedang memberinya nasihat.

Aku tidak sekadar mengatakan hal itu demi memperbaiki suasana sesaat, aku benar-benar memikirkannya.

Lagipula, aku tidak percaya pihak akademi akan membuang begitu saja semua keuntungan dari departemen khusus.

Daripada memikirkan itu, yang lebih mengganjal justru adalah para anggota Regu F ini.

Ada Mashiro sang kartu as departemen khusus, serta Kuonji Karina yang merupakan murid terbaik di Departemen Komando Strategis.

Ada juga Ashika Ran yang merupakan salah satu petarung kelas atas di Departemen Taktik Pertempuran, lalu ada aku, Makoto, dan bahkan Akizuki Tatsuya.

Begitu banyak orang yang terlibat dalam insiden itu berkumpul di sini. Hampir bisa dipastikan bahwa para siswa yang terseret dalam insiden tersebut sengaja dipilih menjadi anggota Regu F.

Satu-satunya pengecualian adalah Makoto, yang tidak memiliki kaitan langsung dengan rentetan insiden itu, namun aku bisa menebak alasannya.

Kemungkinan besar, banyak siswi yang melayangkan protes akibat ucapan pelecehan seksualnya sehari-hari, sehingga dia dibuang ke regu kami.

Kesimpulannya begini. Regu F dibentuk sebagai hukuman praktis karena telah mempermalukan Keluarga Akizuki dalam insiden tempo hari, sehingga kemungkinan besar ini adalah regu pembuangan.

Kurasa itulah alasan kenapa Tatsuya yang telah diasingkan dari keluarganya dimasukkan ke regu ini.

"Semoga saja, semuanya bisa berjalan tanpa masalah."

Aku menggumamkan harapan tulus untuk sebuah kedamaian dengan suara pelan.

Tatapanku tertuju pada Makoto yang sedang melontarkan obrolan mesum sambil menatap tajam teman sekelas perempuannya, serta Takeshi yang amarahnya masih belum mereda.

◇◆◇

Beberapa Hunter sedang menghadiri sebuah rapat meja bundar yang diselenggarakan di lantai paling atas Asosiasi Hunter Cabang Shinjuku, Jepang.

"Seorang pemuda yang mungkin bisa mengalahkan vampir... Apakah dia itu Familiar milik Susanoo?"

Atom, seorang pria tua berambut abu-abu yang duduk di meja bundar dengan kedua siku bertumpu, bertanya sambil menautkan kedua tangannya.

"Tidak, identitasnya sangat jelas. Kami yakin bahwa dia murni seorang manusia, bukan Familiar dari Tuan Susanoo."

Akizuki Eisei, seorang pria botak bertubuh besar dengan luka di sekujur tubuhnya, menjawab dengan terus terang.

"Manusia mengalahkan... vampir, ya... Sayangnya, dalam bahasa kalian, vampir itu sama dengan dewa. Selama manusia tidak mampu menaklukkan dewa, maka upaya untuk mengalahkan vampir mungkin termasuk dalam ranah keajaiban. Kau mengerti hal itu, kan?"

Atom melontarkan pernyataan itu dengan raut wajah seolah baru saja menelan serangga pahit.

"Benar. Ini hanyalah evaluasi semata bahwa pemuda itu cukup kuat hingga mungkin bisa mengalahkan vampir. Namun, dia tetaplah harapan, sebuah senjata pertama yang berhasil digenggam oleh umat manusia."

Eisei mengangguk tegas dengan ekspresi muram, lalu menyatakan hal tersebut secara perlahan.

"Benar juga. Dia mungkin bisa menjadi batu pijakan bagi si Susanoo itu untuk kembali ke tanah ini. Setidaknya, jika dia memiliki kekuatan sebesar itu, dia bisa membawa permainan ini ke arah yang menguntungkan."

Atom berdiri dari kursinya dan membelakangi Eisei dan yang lainnya.

"Aku akan beristirahat sebentar di kamarku. Panggil aku kalau terjadi sesuatu."

Dengan kalimat itu sebagai penutup, sosoknya menghilang layaknya asap.

Eisei menggerakkan bola matanya, melirik salah satu bawahannya.

"Bagaimana dengan situasi di SMA Kazatsuki?"

Dia mendesak bawahannya untuk memberikan laporan dengan nada bicara yang tegas.

"Sesuai rencana, kami telah memasukkannya ke Regu F."

"F—Final Weapon umat manusia, ya... Sebutan yang cukup tepat."

Saat Eisei menggumamkan hal itu dengan pandangan menerawang...

"Tepat sekali! Regu F dipenuhi oleh orang-orang yang bisa mencapai tingkat kelas kita. Yah, kecuali satu orang, sih!"

Ashika Okibi menyunggingkan senyum sarkastis di sudut bibirnya saat mengucapkan kalimat ironi tersebut.

"Jangan berkata begitu. Menempatkan Tatsuya di regu yang sama dengan Tsukishiro Kanon. Itu adalah satu-satunya syarat yang diajukan oleh Tuan Ayah untuk mengeluarkan Tatsuya dari Keluarga Akizuki."

"Aku nggak ngerti apa yang direncanakan kakek tua itu, tapi tolong jangan tambah beban kami lagi, dong."

Okibi menghapus senyumannya dan memberikan peringatan dengan nada tajam.

"Aku paham. Aku tak punya niat untuk membawa Tatsuya kembali ke Keluarga Akizuki sekarang. Terlebih lagi, ini juga demi kebaikan Tatsuya sendiri."

Eisei memejamkan matanya erat-erat dan menggelengkan kepalanya perlahan, menepis sepenuhnya kekhawatiran Okibi.

"Baguslah kalau begitu. Tapi, waktu aku ketemu Narumi tadi, dia kelihatan marah banget, tuh? Dia nanya, kenapa dia nggak dimasukkin ke Regu F?"

"Kalau semuanya pergi ke Regu F, nggak akan ada yang memimpin Regu S. Karena itulah, aku menempatkan Narumi di Regu S untuk memimpin para siswa lainnya."

"Tapi, kau yakin dengan hal ini? Bukannya rencananya Narumi dan Tsukishiro Kanon bakal dinikahkan supaya mereka bisa jadi penerus?"

"Ah, itu cuma kiasan. Kalau aku tidak mengatakannya saat itu, mereka bisa saja menggunakan cara-cara paksa untuk mengurung Tsukishiro Kanon."

"Begitu, ya. Tapi, sepertinya Narumi sendiri nggak berpikir begitu, lho."

Okibi tertawa terbahak-bahak, seolah-olah hal itu sangat menghibur baginya.

"Tentu saja, aku tidak keberatan jika itu memang keinginan Narumi. Ini hanya masalah tentang diriku sendiri yang tidak akan ikut campur."

Okibi menatap lekat-lekat ke arah Eisei.

"Menurutku, kau itu ayah yang baik."

Dia menyampaikan kesan tersebut dengan sudut bibir yang terangkat.

"Terima kasih. Jadi, bagaimana kelanjutan urusan latihan praktik berformat pertempuran nyata di SMA Kazatsuki?"

"Siap! Pembagian Hunter Tingkat B ke atas ke setiap regu di SMA Kazatsuki telah rampung."

"Hunter mana yang ditugaskan ke Regu F?"

"Pihak akademi sepenuhnya menyerahkan keputusan kepada Yoshizato Gaku, Komandan Pangkalan Shugayama yang menjadi lokasi praktik. Namun, hampir bisa dipastikan bahwa beberapa Hunter Tingkat A ke atas akan ditugaskan ke sana."

"Terus kabari aku nama-namanya! Aku ingin mendengar kemampuan pasti dari Tsukishiro Kanon melalui Hunter yang bertugas nanti."

"Dimengerti. Selain itu, baru saja ada laporan dari Kepala Sekolah bahwa akan ada satu orang dari Regu S-1 yang dipindahkan ke Regu F."

"Satu orang lagi?"

"Ya, sepertinya karena anak itu bersikeras ingin masuk ke Regu F, dan dia juga telah membangkitkan suatu Skill khusus."

"Skill khusus... Kalau Kureto sampai memaksakan hal itu di situasi seperti ini, pasti kemampuannya sangat luar biasa. Baiklah. Aku sudah menyerahkan seluruh operasional akademi kepada Kureto."

"Jadi, siapa nama anak yang bakal dipindahin ke Regu F itu?"

Okibi bertanya pada pemuda sekretaris itu dengan mata yang berbinar tajam.

"Nama siswa itu adalah—"

◇◆◇

Desain interior ruangan itu dipenuhi ornamen mencolok yang sekilas langsung meneriakkan kesan orang kaya, ditambah dengan pajangan hewan awetan yang menghiasi seluruh sudut dinding.

Ada awetan binatang buas, awetan yang jelas-jelas terlihat seperti monster, bahkan ada monster wanita dengan wujud yang menyerupai manusia.

Bersandar di kursi yang terletak di tengah ruangan berselera buruk itu, seorang pria bertubuh besar dengan kepala plontos dan kumis melintang sedang menikmati anggur merah, menatap koleksi awetannya dengan tatapan memuja.

"Permisi, Guru Kagero."

Pintu di depan terbuka, memperlihatkan seorang pria tua berambut putih dan berjas yang melangkah masuk ke dalam ruangan.

Merasa kesenangannya terganggu, pria besar berkumis melintang bernama Kagero Hamuro itu terang-terangan menunjukkan wajah cemberut penuh kekesalan.

"Terkait urusan Hunter penanggung jawab Regu F SMA Kazatsuki, saya sudah mengatur semuanya sesuai instruksi Anda."

Pria berjas itu membungkuk dengan hormat dan menyerahkan beberapa lembar laporan kepada Hamuro sembari menyampaikan hal tersebut.

Begitu melihat isi laporan tersebut, Hamuro melebarkan senyum licik di wajahnya yang tembem dan berlemak.

"Ketidakhadiran Akizuki Narumi memang sedikit meleset dari perkiraanku, tapi keberadaan orang-orang ini saja sudah memberikan keuntungan yang lebih dari cukup."

Dokumen yang sedang dibaca oleh Hamuro memuat lampiran foto-foto anggota Regu F.

Dia menatap tajam ke arah beberapa perempuan di dalam foto itu hingga matanya seakan mau keluar, wajahnya berkerut menahan gairah yang menggebu.

"Kami telah menyiapkan bukti yang kuat bahwa Akizuki Tatsuya adalah dalang utama dalam insiden kali ini. Selanjutnya, kita hanya perlu menunggu pergerakan mereka sebelum mengambil tindakan."

Bagaikan mesin, pria berambut putih itu dengan datar menyampaikan fakta yang paling ingin didengar oleh Hamuro.

"Pfft! Fuhahaha! Tawaku tak bisa berhenti! Dengan ini, aku bisa menyingkirkan Keluarga Akizuki yang selama ini menjadi duri dalam daging! Terlebih lagi, aku juga bisa mendapatkan para wanita dari keluarga terhormat!"

Dia bangkit dari kursinya dan berteriak dengan penuh semangat.

Meskipun Hamuro memegang kekuasaan publik yang mutlak sebagai Sekretaris Jenderal partai penguasa, Keluarga Akizuki saat ini adalah eksistensi luar biasa yang tak akan pernah bisa dia tentang.

Namun, insiden yang ditimbulkan oleh Akizuki Tatsuya mulai memperlihatkan celah dalam kekuasaan itu.

Skandal belum pernah terjadi sebelumnya yang diawali dengan memanfaatkan Wakil Kepala Sekolah itu telah tersebar ke seluruh dunia melalui internet.

Berkat media asing yang mulai mengangkat kasus ini, lembaga-lembaga pers dalam negeri yang awalnya hanya mengamati dari jauh pun akhirnya ikut memberitakan insiden ini, seakan didorong oleh tekanan eksternal.

Hasilnya, opini publik berbalik menjadi hujan kecaman terhadap Keluarga Akizuki.

Apa jadinya jika Akizuki Tatsuya mengkhianati umat manusia dalam situasi seperti ini?

Dunia tak akan pernah memaafkan Keluarga Akizuki. Struktur kekuasaan Keluarga Akizuki atas negara ini akan hancur lebur, dan mereka akan kehilangan seluruh wewenangnya.

Jika itu terjadi, Keluarga Kuonji dan Keluarga Ashika yang memiliki ikatan erat dengan Keluarga Akizuki juga bisa disingkirkan.

Sebagai bonus tambahan, aku mungkin bisa mendapatkan putri-putri mereka, yaitu Kuonji bersaudara dan Ashika Ran. Dan yang lebih penting dari itu...

"Wanita ini!"

Seorang wanita bernama Mikage Mashiro. Kulit putih pucatnya yang nyaris tembus pandang, struktur wajahnya yang sempurna bak seorang dewi, pesona sensual yang kuat terpancar bahkan hanya melalui foto, semuanya adalah kualitas kelas satu.

Selain itu, wanita ini juga memancarkan keanggunan dan kemuliaan yang serupa dengan Akizuki Narumi.

Seorang Saint yang suci dan menjunjung tinggi harga diri.

Mempermainkan wanita-wanita bangsawan yang cantik dan penuh harga diri di atas ranjang sepuasnya, merusak kehormatan mereka sampai hancur berkeping-keping. Itulah alasan Hamuro untuk terus hidup.

Satu-satunya penyesalannya kali ini adalah ketidakhadiran Akizuki Narumi di Kelas F, yang membuatnya tidak bisa menangkap wanita angkuh itu.

"Yah, tidak apa-apa. Begitu Keluarga Akizuki kehilangan kekuatan, aku bisa langsung menculiknya. Ngomong-ngomong, bagaimana kelanjutan kontrak dengan para vampir itu?"

"Para vampir memiliki dua permintaan. Hak kendali atas Shugayama dan Yunimachi, serta penyerahan sementara pihak-pihak yang terlibat dalam insiden Akizuki Tatsuya tempo hari. Tentu saja, mereka berjanji akan mengembalikan siapa pun di luar target mereka kepada Anda, Guru Kagero. Apakah Anda bersedia menerimanya?"

Sangat bagus. Ini sungguh sempurna. Dengan rencana ini, aku bisa melenyapkan Keluarga Akizuki beserta seluruh musuh politikku, sekaligus memuaskan hasrat pribadiku.

"Tentu saja aku akan menerima semua tawaran mereka! Segera kabari mereka soal ini!"

Hak kendali atas wilayah Shugayama dan Yunimachi hanyalah urusan sepele jika dibandingkan dengan pengukuhan kekuasaan Hamuro di negara ini. Aku dengan senang hati akan memberikannya pada mereka.

"Dimengerti. Kalau begitu, saya permisi dulu."

Setelah sang sekretaris pergi...

"Mendidih... darahku mendidih!"

Sambil membayangkan masa depannya yang gemilang dan hari-hari yang penuh kenikmatan, Hamuro mengepalkan kedua tangannya lalu melontarkan raungan sarat akan hasrat.

◇◆◇

Dua minggu telah berlalu sejak penetapan regu.

Awalnya aku berpikir kami akan berkumpul di kelas yang sama dan mengikuti pelajaran biasa, tapi nyatanya kami langsung dikirim untuk menjalani latihan pertempuran nyata yang mewajibkan kami menginap.

Aku memeriksa kurikulumnya secara sekilas, dan isinya memang sangat pantas untuk disebut sebagai pelatihan praktis oleh pihak sekolah.

Sesi pertama mencakup dasar-dasar aktivitas sebagai Hunter profesional, yaitu berburu monster di dalam labirin yang berada di Pangkalan Shugayama.

Kami akan melaksanakannya secara ekstensif selama beberapa bulan dengan berkolaborasi bersama regu lainnya.

Di sinilah kami akan menguasai dasar pertempuran sungguhan layaknya seorang Hunter.

Setelah itu, kami akan menjalankan tugas Hunter di bawah bimbingan para profesional di Kota Yunimachi yang bersebelahan dengan Pangkalan Shugayama.

Yunimachi adalah satu-satunya wilayah yang berhasil direbut kembali oleh umat manusia setengah tahun lalu setelah berhasil mengalahkan gerombolan Familiar vampir.

Bisa dibilang tempat ini adalah simbol perlawanan umat manusia dalam perang melawan vampir. Para Hunter kelas atas berkumpul di tempat ini, dan kabarnya proses rekonstruksi sedang berjalan pesat.

Keduanya memungkinkan kami untuk menguasai keterampilan tempur esensial yang diperlukan untuk menjadi Hunter profesional.

Namun, di sisi lain, teknik-teknik semacam ini seharusnya diperoleh dengan mempertaruhkan nyawa setelah seseorang resmi menjadi Hunter.

Sekali lagi, saat masih berstatus siswa, fokus utamanya haruslah peningkatan stamina dasar, taktik pertarungan dasar, dan kemampuan masing-masing individu. Memprioritaskan latihan praktis hanya akan membuahkan hasil yang tidak efisien.

Hanya ada satu alasan mengapa pengurus akademi tiba-tiba menyusun kurikulum yang menyimpang seperti ini. Mereka pasti berniat untuk menerjunkan para siswa sebagai kartu as dalam perang melawan para vampir.

Upaya melempar para siswa ke pertempuran sungguhan di saat kita terus mengalami kekalahan ini, membuat kemampuan pengarahan Asosiasi Hunter dan pihak akademi patut dipertanyakan.

Tentu saja, dua organisasi raksasa itu tak mungkin memaksakan metode sembrono ini tanpa alasan yang kuat. Besar kemungkinan mereka telah menemukan seseorang di antara para siswa yang memiliki kemampuan untuk menumbangkan para vampir.

Begitulah seharusnya aku memahaminya. Jika dipikir begitu, masuk akal jika mereka mengadakan latihan praktik yang ugal-ugalan ini.

Kesimpulannya, umat manusia sedang bertaruh. Sepertinya aku harus berpikir seperti itu.

Yah, tujuan petinggi Asosiasi Hunter sama sekali tidak ada hubungannya denganku yang merupakan anggota Regu F si regu buangan ini.

Aku hanya perlu berpartisipasi sebatas tidak sampai membuat diriku mati.

Karena itulah, saat ini kami sedang menunggu di kelas untuk menerima arahan latihan pertempuran nyata.

Saat Mikage Mashiro melangkah masuk ke dalam kelas, dia mengerutkan kening begitu melihatku.

Entah kenapa, semenjak latihan praktik tempo hari, Mashiro memperlakukanku layaknya orang yang sangat berbahaya.

Karena kami berada di regu yang sama, aku tidak punya keberanian untuk mengabaikannya. Karena itu...

"...Terima kasih atas bantuanmu waktu itu."

Aku menundukkan kepala dengan ringan untuk menyapanya.

"Aku sudah pernah dengar sapaan itu sebelumnya."

Setelah menggumamkan kalimat itu dengan ketus, dia duduk di kursi paling belakang di dekat jendela yang berada di sisi berlawanan agar bisa menjauh dariku sejauh mungkin. Dia lalu menopang dagunya sambil menatap ke luar jendela.

"Hei, Kain, apa kamu lumayan dekat dengan Mikage Mashiro?"

Atas pertanyaan Makoto yang sangat tidak masuk akal itu...

"Di bagian mana dari percakapan barusan yang menunjukkan kalau kami dekat?"

Aku langsung balas bertanya padanya.

"Oh, jadi perasaanku aja. Baguslah kalau gitu."

Gaya bicaranya seolah ada yang tersangkut di giginya. Sangat jarang bagi Makoto untuk peduli pada orang selain kami.

Jangan-jangan, dia punya hubungan yang buruk dengan Mashiro?

 Tidak, tidak. Aku malah merasa gadis itu adalah target ketertarikan seksualnya...

Di tengah suasana itu...

"Yo! Kain, Makoto!"

Takeshi mengangkat tangan kanannya dengan gaya ceria seperti biasa lalu melangkah masuk ke dalam kelas dan menghampiri kami.

Seharusnya saat ini semua regu sedang mengikuti kegiatan orientasi.

Terlebih lagi, kelas Regu S-1 milik Takeshi yang merupakan regu teratas berada di gedung sebelah, jadi seharusnya dia tidak boleh ada di sini.

"Takeshi, memangnya kamu tidak harus kembali ke regumu?"

Aku menyuarakan rasa penasaran yang kami berdua pikirkan, dan dia pun menjawab...

"Ah, gara-gara aku terus memohon tanpa henti, guru kelasku ngebiarin aku masuk ke Regu F, lho."

Dia mengacungkan jempol dan mengedipkan sebelah matanya padaku.

Hmm, gaya noraknya masih sama seperti biasa. Dia tampak sangat bugar.

Sejujurnya, wujud Takeshi yang sempat jatuh dalam kegelapan itu pasti jauh lebih populer di kalangan gadis-gadis.

Berbeda denganku, secara fisik dia sebenarnya tidak buruk sama sekali, mirip dengan Makoto.

Kurasa memberitahukan fakta mengejutkan ini pada orang yang sedang melaju kencang di jalan yang salah itu adalah sebuah bentuk kebaikan dari seorang teman. Namun...

(Ini kelihatan menarik, jadi biarkan saja seperti ini.)

Yah, bagaimanapun juga, Takeshi yang konyol jauh lebih terlihat seperti Takeshi yang sesungguhnya.

"Hm? Tadi kamu bilang sesuatu?"

"Tidak, bukan apa-apa kok. Lagipula, ternyata hal semacam ini bisa diubah hanya dengan memohon, ya."

Aku benar-benar tidak menyangka kalau mereka akan mengizinkan kelakuan kekanakan seperti anak SD ini. Akademi ini lumayan asal-asalan juga.

"Takeshi itu emang orang aneh sejati, ya."

Entah karena dia merasa cukup terguncang, Makoto yang jarang-jarang mengerjap-ngerjapkan matanya menyampaikan pemikiran jujur dari lubuk hatinya.

"Nggak apa-apa, lah. Aku cuma mau satu regu bareng kalian!"

Takeshi duduk di kursi tepat di depanku.

Ya, pihak sekolah sendiri sudah memberikan persetujuan. Aku tidak punya alasan untuk menolaknya. Justru sebaliknya...

"Kita satu regu lagi, ya."

Saat aku menyodorkan tinju kananku...

"Tentu saja!"

Takeshi menyambutnya dengan tinju kanannya. Di saat yang sama, seorang anak laki-laki gemuk melangkah masuk ke dalam kelas.

Akizuki Tatsuya. Masa skorsingnya telah berakhir dalam seminggu, dan kini dia telah kembali menjalani kehidupan akademi yang normal.

"..."

Tatsuya hanya melirik ke arah kami sekilas sebelum duduk di kursi pojok belakang kelas dan membenamkan wajahnya di meja tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

Hukuman pengasingan dari Keluarga Akizuki pasti memberinya pukulan yang sangat telak. Sejak masa skorsingnya berakhir, Tatsuya dikucilkan hingga aku sendiri merasa kasihan saat melihatnya.

Bahkan orang-orang yang dulu menjadi pesuruhnya kini mengabaikannya saat dia mencoba mengajak mereka bicara.

Hal ini sepertinya telah melukai hatinya, hingga dia duduk menyendiri di kafetaria dengan murung, menatap dunia seolah telah kiamat.

Yah, walau bagaimanapun juga dia telah memanfaatkan orang lain untuk menghajarku, jadi aku sama sekali tidak bersimpati padanya.

Kuonji Karina, gadis cantik berambut merah sebahu, dan Ashika Ran, gadis penyihir berambut kuncir dua, memasuki kelas sembari saling melemparkan hinaan.

Begitu melihatku, mata mereka berbinar gembira dan mereka langsung menghampiriku. Lalu...

"Kain, syukurlah kita berada di regu yang sama!"

Kuonji Karina mendorong Makoto yang notabenenya adalah kakaknya, menggenggam kedua tanganku, dan mengucapkan kalimat klise itu dengan ekspresi penuh gairah.

Tepat saat Makoto yang terdorong itu hendak melontarkan kalimat cercaan dengan pipi berkedut kesal...

"Tsukishiro Kanon! Aku bakal terus ada di sampingmu selama praktik ini berlangsung, tahu!"

Ashika Ran tiba-tiba mendeklarasikan hal itu secara sepihak dengan nada yang merendahkan.

Sambil memandang bolak-balik antara aku dan kedua gadis yang menerobos masuk itu, Takeshi berkata...

"Kain, kelihatannya musim semimu akhirnya tiba juga, ya."

Dia memasang wajah sombong sambil melakukan pose konyol.

Hei, Takeshi, jujur saja tingkahmu sekarang bener-bener menyebalkan, tahu! Aku memuntahkan kata-kata berbisa itu di dalam hati, lalu berkata...

"Jangan mengucapkan hal-hal konyol, deh. Kelihatannya Hunter penanggung jawab sesi praktik kita sudah datang, tuh."

Aku mengalihkan perhatian mereka pada seorang instruktur pria dengan janggut tak terurus yang untungnya muncul di saat yang tepat.

"Paman Amaki!"

Mashiro tiba-tiba melompat dari tempat duduknya dan berseru kaget. Sepertinya dia sudah mengenal instruktur itu.

Instruktur pria yang memiliki janggut berantakan dan disinyalir sebagai penanggung jawab kami itu tak melirik Mashiro sedikit pun.

Dia naik ke mimbar pengajar, menyapu pandangannya mengelilingi kami, lalu berkata...

"Namaku Amaki Tokisada. Aku akan memandu kalian mulai sekarang, jadi cepat ikuti aku."

Setelah menyampaikan kalimat yang cepat dan sepihak itu, dia pun berjalan dengan langkah lebar ke luar kelas.

Ada belasan bus yang terparkir di tempat parkir akademi yang luas.

Sepertinya kami harus menaiki bus itu untuk pergi ke tempat praktik kami, Pangkalan Shugayama.

Kami naik ke bus yang ditempeli stiker bertuliskan Regu F.

Setelah memastikan seluruh anggota masuk ke dalam bus, bus pun berangkat.

Sekitar tiga jam kemudian, kami tiba di tempat tujuan kami. Tempat itu merupakan sebuah pangkalan raksasa yang terletak di tengah-tengah pegunungan berhutan.

Tempat ini merupakan lokasi labirin tertua sekaligus yang terbesar di Jepang, 【Shuga】, dan juga berperan sebagai pangkalan utama dalam pertarungan melawan vampir.

Sebelum para vampir menampakkan diri, tempat ini merupakan kota yang diakui dunia karena kemakmurannya yang menjadi surganya para Hunter.

Namun saat ini, kota ini telah direbut oleh Asosiasi Hunter demi dimanfaatkan untuk pengumpulan material melawan vampir dan wadah pencarian pengalaman tempur sungguhan.

"Akhirnya sampai jugaaa!"

Makoto berputar-putar dengan riang lalu menarik napas panjang.

Terlepas dari hal itu, aku merasakan perasaan familier yang aneh di sini.

Padahal aku yang belum pernah melangkah keluar dari kampung halamanku tidak mungkin memiliki ingatan semacam ini.

Akhir-akhir ini, hal-hal seperti ini cukup sering terjadi padaku. Mungkin saja ingatanku menjadi kabur akibat kelelahan.

"...Tempat ini..."

Sambil memegang dadanya dengan tangan kanan, Mashiro memandang daerah itu dengan ekspresi campur aduk.

Aku cukup familier dengan kilatan emosi yang tersirat di dalam matanya itu.

Yaitu perasaan duka. Sebelum para vampir muncul, tempat ini merupakan kota metropolitan yang dikelola oleh Asosiasi Hunter.

Jika orang tua Mashiro adalah seorang Hunter, tidak aneh jika dia pernah tinggal di sini.

"Jadwal kita padat, tahu. Jangan cuma melongo, cepet ikuti aku."

Didorong oleh desakan dari Instruktur Amaki, kami pun mulai melangkah.

Instruktur Amaki membimbing kami ke sebuah ruangan di dalam gedung berbentuk kubah yang terletak tepat di tengah pangkalan itu.

Di dalam ruangan yang dipenuhi tumpukan dokumen itu, seorang pria bertubuh besar dengan rambut pirang cepak yang merokok sedang bergelut dengan setumpuk berkas.

"Komandan! Saya bawa murid-muridnya!"

Instruktur Amaki memberi hormat pada pria jangkung berambut pirang cepak itu.

Pria jangkung berambut cepak itu akhirnya mengalihkan pandangannya dari setumpukan kertas itu dan menatap kami.

"Yo, aku Yoshizato Gaku, Komandan Pangkalan Shugayama. Selama berada di sini, aku sendiri yang akan mendidik dan mengawasi kalian. Nah, waktu itu terbatas. Kita akan segera memulai latihannya. Kalian harus bergabung dengan Regu S-1 dan menjelajahi labirin."

Begitulah perintah yang dia lontarkan.

Labirin 【Shuga】 adalah labirin pertama yang muncul di Jepang lima puluh lima tahun lalu. Bisa dibilang, ini adalah tempat yang sarat makna bagi para Hunter Jepang.

Lorong hingga ke lantai sepuluh bawah tanah dibangun dari bebatuan berwarna hitam legam.

Selain itu, mayoritas monster yang menghuni tempat ini adalah monster tingkat rendah seperti Slime, Goblin, Orc, dan Kobold.

Itu adalah tingkat kesulitan monster yang pas bagi murid-murid minim pengalaman bertarung seperti kami. Setidaknya, seharusnya memang begitu...

"Hah!"

Murid dari Regu S-1, Sakuraba, membelah Goblin yang berlari ke arahnya dengan gada dari kepala hingga terbelah dua.

"Flame Bullet!"

Peluru api yang dilontarkan oleh Otome Utako, penyihir Regu S-1, sukses mengenai sasaran dengan telak, membuat sekawanan Goblin itu terbakar hebat.

Dalam sekejap, tim gabungan Regu F dan S-1 berhasil meraih kemenangan.

Situasi ini, di mana para murid menghabisi monster yang terus menyerang tanpa henti dalam kedipan mata, telah berlangsung sejak awal.

Sambil menjauh sedikit dari mereka yang berada di belakang, aku berkata...

"Aku sama sekali nggak paham."

Aku akhirnya melontarkan kebingungan mendalam yang selama ini terus berkecamuk dalam diriku.

Apa-apaan monster yang super lemah ini? Slime dan Goblin yang kukenal tak pernah secemen ini. Padahal dengan anggota tim yang levelnya setara dengan amatiran ini, normalnya kami sudah tewas semua.

"Hm? Maksudnya?"

Arata mengerutkan kening begitu mendengar perkataanku.

"Monster-monster ini. Menurutmu tingkah mereka nggak kelihatan aneh?"

Mendengar celetukanku, Arata terdiam seraya menautkan kedua tangannya, lalu berkata...

"Iya juga, sih, pas kau singgung hal ini kelihatannya memang sedikit janggal. Aku bakal coba omongin ke instruktur."

Arata berjalan menjauh dengan setengah berlari sebelum mulai berbincang dengan Instruktur Amaki si Hunter yang mengawasi kami.

Tak berselang lama, Arata kembali menghampiriku sambil membalas...

"Rupanya, hal semacam ini wajar terjadi."

Dia memberiku jawaban yang agak aneh.

Hal semacam ini wajar, ya... Jika melihat gaya bertarung mereka, hal itu sangat jelas.

Selain Arata dan diriku sendiri, sisa anggota lainnya masih belum terampil dalam pertarungan sesungguhnya.

Jika monster level biasa saja dilepas, seluruh tim ini sudah pasti tumbang tak bersisa. Kebanyakan monster di sini sudah ditekan sedemikian rupa oleh pihak akademi secara signifikan.

Namun, jika mereka mengurangi level musuh sampai separah ini, bukankah ini akan memengaruhi pemikiran mereka dalam memandang sebuah pertempuran?

Tidak, ini bukan urusanku, lagipula buat apa aku repot-repot memikirkan dampaknya.

"Takeshi, tolonglah!"

Mashiro menghunus Pedang Sucinya seraya menyerukan perintah, saat gerombolan Orc yang berjumlah belasan ekor menerjang sembari mengguncangkan permukaan tanah.

"Oh!"

Takeshi mengacungkan tangan kanannya. Dalam sekejap, sekujur tubuh Mashiro diliputi cahaya keperakan.

Tak berselang lama, laju Mashiro meningkat pesat hingga memungkinkannya meliuk-liuk di tengah gerombolan Orc itu secara zig-zag seraya menebas kepala mereka.

Makhluk-makhluk raksasa yang kepalanya menggelinding itu sontak berjatuhan layaknya daun tertiup angin.

Walaupun ini adalah kerja sama pertama antara Mashiro dan Takeshi, kemampuan sinkronisasi mereka dapat dikatakan tanpa cela. Sepertinya kemampuan bertarung mereka saling melengkapi.

Atau lebih tepatnya, bukankah efektivitas Buff milik Takeshi kelewat batas?

Orang yang senjatanya telah menerima mantra peningkat, hanya dengan menggoreskan senjata pada kulit monster saja, monsternya akan langsung musnah menjadi butiran pasir.

Padahal setahuku Takeshi tidak pernah memiliki Skill penambah atribut sehebat itu. Biarlah, aku akan bertanya padanya nanti saja.

Nah, sekarang giliran kami yang beraksi. Ngomong-ngomong, menambang Batu Sihir dari monster-monster juga tercantum dalam silabus pembelajaran kami saat ini.

Batu Sihir merupakan sebutan kolektif untuk merujuk pada batu berharga atau kristal yang dipanen dari dalam tubuh monster yang bersemayam dalam labirin. Benda ini utamanya dimanfaatkan sebagai bahan mentah dalam memproduksi senjata sihir maupun Magic Item.

Akademi akan memberikan instruksi soal siapa anggota tim mana saja yang kebagian giliran menambang batu di hari yang sudah ditetapkan. Anggota yang kebagian tugas harian untuk menambang Batu Sihir hari ini adalah aku, Makoto, Kuonji Karina, dan Ashika Ran.

"Batu Sihirnya harus dipanen!"

Sembari menyerukan dorongan pada teman-temanku, aku segera mendekati mayat Orc yang tergeletak untuk segera memulai operasi penambangan.

Memanen batu dari Orc dan Goblin lumayan gampang; kita cuma perlu mengorek batu yang tertanam di dada monster tersebut menggunakan sebilah pisau. Yang paling rewel untuk dipanen adalah si Slime.

Batu kristalnya ada di bagian paling dalam tubuh kental bertekstur selainya itu, yang artinya tak peduli trik macam apa pun yang kau kerahkan, kedua lenganmu akan berakhir diselimuti sisa-sisa sekresi lengket miliknya.

Parahnya lagi, aroma cairan Slime itu amat memuakkan. Apabila aku harus mendeskripsikan aromanya, anggaplah baunya bagai lap kain basah penuh noda susu yang tidak dicuci berhari-hari.

"Ih, bauuu! Sumpah, ini tuh yang paling kubenci!"

Meratapi nasib buruknya, Ran mengeluh sambil memasang tampang merengut.

"Bener-bener. Bantai Slime sih gampang, tapi tangan kita malah dilumuri lendir lengket super bau, ini sih sial namanya."

Karina menyampaikan simpatinya dengan anggukan penuh kepahaman.

"Kain, kamu bener-bener handal banget nanganin yang beginian, ya."

Menyadari konsentrasiku yang difokuskan pada tugas panen tanpa sebersit omelan pun, Makoto mencecarku.

"Masa sih? Perasaanku biasa-biasa aja kok."

Nyatanya, ketiga gadis tadi kelihatan benar-benar kesusahan tiap kali mereka menancapkan ujung pisaunya guna memisahkan batu dari dada monster itu.

"Gimana kau bisa bilang ini biasa-biasa aja! Apanya yang biasa coba, mana mungkin kau cabut Batu Sihir kayak metik buah dari pohon seenteng itu!"

Perkataanku kontan menuai tentangan keras dari Karina.

"Ah, tapi aku ini bener-bener masih polos tak punya pengalaman apa pun."

Dilihat dari kelihatannya, Makoto dan gadis-gadis itu mengalami kewalahan dalam upaya panen ini. Mereka menanyakan tips demi kelancaran panen dari waktu ke waktu.

Padahal secara harfiah, aku juga baru pertama kali melangkahkan kaki di labirin. Yah, wajar saja kalau dibilang pengalaman perdanaku nambang Batu Sihir.

Jika kau menanyakan dari sisi perbedaannya denganku, barangkali itu di sisi kemahiranku mengayunkan pisaunya yang ketimbang ketiga gadis itu, aku sedikit unggul.

"Dan itulah alasan logis kenapa hal ini kedengaran mustahil buatku."

Terpesona akan keterampilanku, Makoto melempar celotehannya tanpa sadar.

"Heh, yang di sana, jangan terus mulut yang kerja, tangannya juga gerakin!"

Instruktur Amaki berteriak tajam pada gerombolan kami, yang disambut balasan gelagapan dari para gadis di sampingku sembari mereka dengan terburu kembali mencurahkan fokusnya pada pekerjaannya.

Begitu tirai langit mengisyaratkan kedatangan malam, berakhir pulalah babak petualangan menjelajahi labirin hari ini.

"Petualangan usai hari ini. Kita bakal rehat tiga puluh menit sekarang. Kalian bisa menunggu di ruang istirahat yang terletak di Gedung A, habis itu beranjak ke barisan bus yang dijadwalkan membawa kalian menuju barak tidur. Telat satu detik aja kalian semua langsung kutinggal."

Tepat di gerbang akses, gema titah dan instruksi rehat mengiringi langkah pengakhiran praktik sesi harian dari Instruktur Amaki.

"Kalian dari tim pemanen Batu Sihir saat ini benar-benar bau busuk! Pergilah mandi di ruang mandi Gedung B di sebelah! Kalau masih bau, kalian tidak boleh masuk ke ruang istirahat apalagi bus!"

Sebuah instruksi konyol dan memojokkan terlontar sepihak dari mulut Instruktur Amaki.

"Super busuk kau bilang, jahat banget ih!"

"Itu adalah aib yang nggak boleh sembarangan kau ucapkan pada seorang perempuan, ngerti nggak sih!"

Kalimat memojokkan Karina dan Ran menyasar telak demi balas mencecar celetukan yang terlontar dari belah mulut sang Instruktur.

"Sebenarnya badan kami semua juga sama aja kotor penuh noda lumpur hasil menjelajahi labirin. Bukannya hal itu menjustifikasi kalau kami juga patut diizinkan membersihkan diri?"

Otome Utako menyampaikan permohonan yang ada di benak semua orang sembari menyingkap helaian panjang rambut cokelatnya yang dibasahi kucuran keringat.

"Konyol! Fasilitas di Gedung B itu hanya untuk Hunter Profesional, jadi warga sipil dan murid biasanya dilarang masuk ke sana! Menurut aturan khusus yang sudah menjadi tradisi sejak lama, hanya murid yang ditugaskan memanen Batu Sihir yang diberi keistimewaan menggunakan Gedung B! Murid lainnya baru boleh mandi setelah kembali ke asrama!"

Cibiran protes yang luar biasa keras dari pihak murid berkumandang menyambut omelan sang instruktur, namun dia mengabaikan hal itu dan berjalan pergi begitu saja.

Terkaanku, tindakan ini mungkin bertujuan untuk menghilangkan rasa jijik para murid terhadap tugas memanen Batu Sihir. Bagaimanapun juga, memanen Batu Sihir adalah salah satu tugas terpenting seorang Hunter, jadi kurasa mereka berniat menanamkan kesan positif secara psikologis dengan memberikan semacam hadiah. Yah, entah itu bakal berguna atau tidak, itu urusan lain.

"Kalau begitu, mari kita terima saja keistimewaan ini. Aku ingin cepat-cepat membersihkan diri."

Saat aku tersenyum pada mereka, ketiga orang itu mengangguk kuat-kuat, seolah kekesalan mereka beberapa saat yang lalu hanyalah kebohongan.

Di sebelah dungeon terdapat sebuah bangunan raksasa. Ada Gedung A yang bisa dimasuki orang biasa dan Gedung B yang hanya boleh dimasuki oleh Hunter profesional.

Gedung A memiliki kafetaria sederhana, toko suvenir, dan memberikan kesan layaknya fasilitas di area peristirahatan. Tentu saja, semuanya berbayar.

Sebaliknya, Gedung B adalah fasilitas khusus untuk Hunter profesional. Kemewahan, skala, dan kelengkapan fasilitasnya benar-benar jauh berbeda dari Gedung A.

Terlebih lagi, semuanya gratis.

Pintu masuk Gedung B terlihat seperti lobi hotel mewah. Kami berjalan menuju ruang ganti sekaligus ruang mandi yang berada di bagian terdalam lantai satu.

Ngomong-ngomong, sepertinya ada pemandian air panas juga di sebelah ruangan ini. Benar-benar pelayanan yang sangat sempurna.

Kami mencuci tangan yang kotor di wastafel depan pintu masuk ruang ganti.

Setelah itu, kami memasukkan barang bawaan ke dalam loker elektronik dan melangkah masuk ke ruang ganti sekaligus ruang mandi di bagian dalam.

Aku menitipkan barang-barang selain pakaian ganti di loker. Kemudian, aku berjalan lebih jauh ke dalam.

Tentu saja, pintu masuk ruang ganti dan ruang mandi dipisahkan untuk pria dan wanita.

Namun, Ran dan Karina malah saling melontarkan sindiran sambil berlomba masuk lebih dulu ke pintu wanita.

"Ka-kalau begitu, Kain, sampai jumpa nanti!"

Makoto mengangkat tangan kanannya dengan sigap. Ia bermaksud mengikuti kedua gadis itu masuk ke ruang ganti wanita, tetapi aku langsung mencengkeram kerah belakangnya.

"Apa yang sedang kamu lakukan, mencoba menyusup ke ruang ganti wanita di tengah keributan begini? Tempatmu di sebelah sini, Makoto."

Aku memberikan teguran yang sudah semestinya. Sejauh yang kulihat, pengunjung masih sedikit di jam yang terbilang tanggung ini.

Mungkin tidak masalah jika hanya ada Ran dan Karina yang kami kenal. Namun, jika ada satu saja pengunjung wanita lain di dalam, itu akan memicu keributan besar.

Aku tidak ingin terlibat dalam masalah yang lebih merepotkan dari ini.

Kalau dipikir-pikir, saat kami berganti pakaian kerja tadi pagi, Makoto tiba-tiba saja menghilang. Jangan-jangan, dia benar-benar berganti pakaian di ruang ganti wanita?

"Ti-tidak, habisnya ...."

Makoto terlihat salah tingkah sambil mengalihkan pandangannya ke sana kemari. Kedua tangannya bertaut dan bergerak dengan gelisah.

Tingkah lakunya benar-benar mencurigakan. Jangan-jangan, Makoto memang punya niat buruk untuk mengintip ruang mandi wanita.

"Kita tidak punya banyak waktu, ayo pergi."

Aku menarik tangan kanan Makoto yang enggan beranjak. Kemudian, aku menyeretnya masuk ke pintu masuk pria.

"Tunggu, kumohon tunggu!"

Aku mengabaikan Makoto yang menjerit panik dengan suara yang baru pertama kali kudengar. Aku terus menariknya secara paksa dan membawanya ke dalam ruang ganti.

Seperti yang diharapkan dari fasilitas khusus Hunter profesional di dungeon tertua di Jepang. Kemewahan dan skalanya benar-benar luar biasa.

Lagipula, ukuran ruang ganti dan ruang mandi ini beberapa kali lipat lebih besar daripada yang ada di akademi. Di sebelahnya juga terdapat ruang istirahat yang dilengkapi mesin penjual otomatis.

Aku melepas pakaianku yang berbau busuk, mengambil handuk, lalu bersiap menuju ruang mandi. Namun, pandanganku tertuju pada Makoto yang wajahnya memerah seperti tomat, menunduk sambil mendekap erat tasnya.

"Hm? Ada apa?"

Aku bertanya karena merasa heran melihat tingkahnya yang sangat tidak biasa.

"Bukan ... apa-apa."

Dia menjawab dengan suara parau. Wajahnya merah padam, pandangannya berkeliaran, dan matanya tidak fokus.

Ini adalah dungeon pertama bagi Makoto, jadi mungkin saja dia mengalami ketegangan yang luar biasa. Stres berat yang mengacaukan kondisi tubuh adalah hal yang wajar.

Apalagi sekarang sedang musim panas. Bagian dalam dungeon memang terasa sejuk, tetapi area di dekat pintu keluar cukup panas hingga membuat keringat bercucuran.

Sangat masuk akal jika dia terkena serangan panas akibat kurangnya asupan cairan.

Aku mendekatinya dan menempelkan tangan kananku ke dahi Makoto.

"Sepertinya kamu tidak demam."

Dahinya tidak terasa begitu panas. Aku sempat merasa sedikit panik, tetapi sepertinya dia tidak terkena serangan panas.

"A-aku ba-baik-baik saja, sungguh!"

Makoto menepis tanganku. Kenapa dia terlihat panik sekali seperti ini?

"Kamu benar-benar tidak apa-apa?"

"Iya!"

Makoto menganggukkan kepalanya berkali-kali.

"Kalau begitu, aku akan mandi duluan. Jika kamu merasa tidak enak badan, segera panggil saja dan aku akan langsung datang."

"I-iya, te-terima kasih ...."

Dia mengucapkan rasa terima kasih yang tidak biasa itu dengan suara yang hampir menghilang. Apa yang sebenarnya terjadi pada Makoto?

Cara bicaranya juga terasa sedikit aneh.

Lagipula, sikap aneh Makoto bukan hal yang baru terjadi hari ini. Mungkin memikirkannya hanya akan membuang-buang waktu saja.

Aku mengembalikan fokusku dan melangkah menuju ruang mandi.

Setelah mandi dan menyegarkan diri, aku berganti pakaian di ruang ganti.

"Sudah kuduga, setelah mandi memang harus minum itu, kan."

Aku sudah memastikan ketersediaan minuman itu di mesin penjual otomatis yang berada di ruang istirahat. Aku masuk ke ruangan tersebut dan membeli sebotol susu kopi.

"Benar-benar luar biasa ...."

Keseimbangan sempurna antara rasa pahit dan manis yang unik ini benar-benar yang terbaik. Minum susu kopi usai bermandi peluh dari latihan pagi terasa sangat istimewa.

Hal ini perlahan telah menjadi rutinitas rahasia yang sangat kugemari.

Saat aku sedang meminumnya perlahan, Makoto muncul dan duduk di sebelahku. Tubuhnya yang sebelumnya merah padam kini telah kembali menjadi kulit pucat seperti sedia kala.

"Sepertinya demammu sudah mereda."

"Padahal aku memang tidak demam sejak awal ...."

Makoto terlihat aneh karena terlalu pendiam, membuat suasana terasa sangat canggung. Biasanya, Makoto selalu menatap mataku saat berbicara.

Namun sekarang, dia enggan melakukan kontak mata dan malah memandangi susu kopi di tanganku. Apa mungkin dia ingin meminumnya?

Bagaimanapun juga, asupan cairan memang sangat dibutuhkan saat ini.

"Kamu mau ini? Kamu boleh meminum semuanya, kok."

Aku menyodorkan susu kopi yang baru kuminum setengahnya kepada Makoto.

"..."

Makoto hanya terdiam memandangi susu kopi yang kuberikan tanpa bergerak sedikit pun.

"Kamu tidak mau meminumnya? Kalau begitu, biar aku—"

Tepat saat aku hendak mengambil kembali susu kopi itu,

"Aku mau!"

Makoto menutup matanya dan langsung menenggak habis minuman itu. Padahal, dia tidak perlu bersemangat sampai seperti itu hanya untuk meminumnya.

Jangan-jangan minuman rakyat jelata tidak cocok dengan seleranya? Aku kadang hampir lupa kalau Makoto adalah putra pewaris Grup Kuon.

Jika memang begitu, rasanya aku sudah berbuat buruk karena memaksanya.

"Bagaimana? Apa sesuai dengan seleramu?"

"I-iya, rasanya enak, kok."

Dia menjawab sambil memalingkan wajahnya. Entah kenapa Makoto hari ini benar-benar aneh.

Mungkin dia kelelahan karena melakukan pekerjaan yang tidak biasa. Ran dan Karina juga pasti merasakan hal yang sama.

"Kalau begitu, ayo kita kembali."

"..."

Makoto terlihat melamun seolah pikirannya melayang entah ke mana. Dia tampak berpikir keras sambil menyentuh bibir kecilnya dengan jari telunjuk dan jari tengah kanannya.

"Makoto!"

"I-iya! Ayo pergi!"

Dia melompat kaget bagaikan pegas yang terlepas. Makoto segera menyambar barang bawaannya dan berlari meninggalkan ruang istirahat, seakan-akan sedang melarikan diri.

"Dia malah pergi duluan."

Aku menghela napas panjang lalu menyusulnya ke halte bus.

Saat aku tiba di depan bus, semua orang ternyata sudah berkumpul.

"..."

"..."

Entah kenapa suasana hati Ran dan Karina terlihat sangat buruk. Mereka berdua bahkan menatap tajam Makoto, seolah ingin membunuhnya dengan pandangan itu.

Lebih parahnya lagi, Mashiro juga menghampiriku.

"Jangan bilang kalau kamu masuk ke ruang mandi yang sama dengan Kuonji?"

Mashiro menanyakan hal yang sudah jelas itu dengan tatapan mengintimidasi dan suara rendah yang mengancam. Sepertinya dia ingin memastikan apakah aku benar-benar mengawasi Makoto.

Kalau begitu, tidak ada yang perlu dikhawatirkan! Aku sudah berhasil mencegah aksi mengintip si mesum itu sebelum terjadi.

"Tentu saja, kami terus bersama."

Aku mengangguk yakin sambil tersenyum lebar. Mashiro terbelalak mendengar jawabanku, lalu menatap Makoto yang menciut ketakutan sebelum akhirnya memelototiku.

"—?!"

Tiba-tiba saja wajahnya memerah padam, seolah dia baru saja menyadari sesuatu.

"Da-dasar binatang!"

Dia memaki lalu memalingkan badan dan beranjak pergi meninggalkanku. Hmm, anak itu benar-benar tidak bisa dipahami seperti biasanya.

"Hei, Kain! Apa kamu bertengkar lagi dengan Mashiro?!"

Takeshi yang sejak tadi mengamati interaksi kami tiba-tiba menanyakan hal yang tidak bisa kujawab.

"Kami bahkan tidak berbicara sebanyak itu sampai bisa disebut bertengkar."

Aku memberikan jawaban itu, lalu melangkah naik ke dalam bus.

Di dalam bus, Makoto duduk diapit oleh Ran dan Karina. Tubuhnya yang sudah kecil kini terlihat semakin menciut tak berdaya.

Begitu bus tiba di asrama, Karina yang merupakan adik perempuannya langsung mencengkeram kerah belakang Makoto dan menyeretnya menghilang ke dalam gedung. Sepertinya niat Makoto yang ingin mengintip mereka mandi sudah ketahuan.

"Semoga tenang di alam sana."

Aku merapatkan kedua telapak tangan untuk mendoakannya, lalu kembali ke kamarku. Tetap saja, aku masih tidak menyangka harus berbagi kamar dengan mereka berdua ....

"Hei, Kain! Utako yang ikut eksplorasi hari ini benar-benar imut, kan!"

Takeshi berseru dengan penuh semangat sambil menautkan kedua tangannya, wajahnya merona merah seperti seorang gadis remaja. Takeshi, dilihat dari sudut pandang mana pun, tingkahmu saat ini benar-benar menjijikkan.

Jika para gadis melihatmu seperti ini, mereka pasti akan langsung merasa jijik dan menjauh.

"Begitulah. Menurutku dia memang imut."

Lagipula Otome Utako adalah seorang idola yang masih aktif, jadi wajar saja dia bersikap seperti itu.

"Dia bukan cuma imut! Dia bahkan bilang 'terima kasih' waktu aku memberikan Enchant kepadanya!"

Tentu saja seseorang akan mengucapkan terima kasih sebagai bentuk kesopanan jika senjatanya diberikan efek sihir Enchant. Tapi Takeshi memang tipe orang yang akan langsung besar kepala hanya karena hal sesepele itu.

Ngomong-ngomong, ada satu hal yang terus mengusik pikiranku.

"Takeshi, apa pendapatmu tentang Mashiro?"

Hal ini sudah lama menjadi pertanyaanku. Jujur saja, kecantikan Mashiro bisa dibilang sebanding dengan Otome Utako.

Selain kemampuannya sebagai Hunter, dia juga sangat perhatian dan pada dasarnya berhati lembut. Mashiro benar-benar tipe gadis idaman Takeshi yang paling sempurna.

Namun, nama Mashiro sama sekali tidak pernah keluar dari mulut Takeshi. Padahal, Takeshi yang mudah jatuh cinta seharusnya sudah dimabuk kepayang oleh pesona gadis itu.

"Biasa saja. Memangnya kenapa?"

Takeshi malah balik bertanya kepadaku dengan wajah kebingungan. Dari reaksinya, terlihat jelas bahwa dia tidak melihat Mashiro sebagai lawan jenis.

Tunggu dulu, apa iya Takeshi yang lebih gila wanita daripada kucing jantan musim kawin ini bisa bersikap setenang itu?

"Takeshi, apa kamu dema—"

Tanpa sadar, aku menempelkan tangan kananku ke dahinya.

"Sepertinya tidak ada."

Mulai dari Makoto, dan sekarang Takeshi. Kenapa semua orang bertingkah aneh sejak kami datang ke sini?

"Apaan sih? Aku sama sekali tidak paham maksudmu!"

Takeshi menepis tangan kananku dan berseru memprotes.

"Habisnya, orang yang otaknya selalu dipenuhi wanita sepertimu tiba-tiba tidak tertarik pada Mashiro. Aku jadi curiga jangan-jangan kamu terkena serangan panas yang parah."

"Ejekanmu itu diam-diam menyakitkan, tahu! Lagipula tebakanmu terlalu spesifik, woi!"

"Tadi Makoto menunjukkan gejala serangan panas, makanya aku sedikit khawatir. Bukankah orang sering bilang kalau demam bisa menyebabkan kebingungan mental?"

"Makoto?! Memangnya dia baik-baik saja?!"

Takeshi mencengkeram kedua bahuku dan bertanya dengan ekspresi tegang.

"Ya, dia baik-baik saja."

Walaupun saat ini dia mungkin sedang menerima hukuman berat karena mencoba mengintip Ran dan Karina. Aku kembali menyatukan tangan di dalam hati untuk mendoakan Makoto, yang tadi diseret pergi layaknya anak kecil yang akan dimarahi ibunya.

"Begitu, syukurlah. Tunggu, apa kamu benar-benar mengira kepalaku bermasalah karena aku tidak tertarik pada Mashiro?"

Takeshi menatapku dengan mata setengah tertutup saat menanyakan hal itu.

"Tentu saja, aku cuma bercanda."

Aku langsung menjawabnya sambil tersenyum lebar. Sebenarnya aku bertingkah aneh karena terlalu terkejut, tapi ada kalanya kebohongan itu lebih baik daripada kejujuran.

"Haa! Tapi, aneh juga ya. Dia memang gadis paling manis yang tak tertandingi ... tapi entah kenapa, aku tidak bisa melihatnya sebagai perempuan ...."

Kalau sudah begini, Takeshi sendiri pun sepertinya bingung dengan perasaannya. Lagipula, selera setiap orang itu berbeda-beda, jadi hal seperti ini wajar saja terjadi.

Kalau dipikir-pikir, ada satu hal lagi yang ingin kutanyakan padanya.

"Takeshi, jangan-jangan kamu baru membangkitkan kekuatan Buff itu akhir-akhir ini?"

Buff yang dia berikan pada Mashiro dan yang lainnya benar-benar luar biasa. Terutama energi sihir berwarna perak cerah itu, aku juga baru pertama kali melihatnya.

Monster langsung hancur hanya dengan tebasan senjata yang telah diberi Enchant. Mungkin itu adalah kekuatan penangkal kejahatan atau semacamnya.

"Kamu sadar, ya?! Begitu rupanya, kamu bisa menyadarinya! Belakangan ini aku baru sadar kalau ada efek khusus di dalam sihir Buff milikku!"

"Berbekal hal itu, aku memohon langsung ke pihak sekolah dan berhasil pindah ke Kelas F!"

Ini semakin tidak masuk akal. Kenapa pihak akademi membuang orang yang begitu berharga ke kelas buangan seperti Kelas F?

Jika dipikir secara logika, sangat wajar jika Takeshi juga masuk dalam radar pengawasan pihak akademi ....

"Begitu rupanya ... kamu pasti juga mengalami masa-masa sulit, Takeshi."

Aku menepuk bahu kanannya sambil mengucapkan kata-kata penghiburan dengan ekspresi iba.

"O-oh!"

Ketika Takeshi mengangguk dengan ragu, tiba-tiba terdengar suara pengumuman dari pengeras suara gedung.

"Perhatian kepada seluruh peserta magang, makan malam sudah siap. Silakan menuju ke ruang makan."

"Nah, ayo kita pergi makan malam."

Aku bangkit berdiri dari sofa dan mengajak Takeshi.

"Ayo!"

Takeshi langsung berdiri dengan penuh semangat.

Aku menghampiri Akizuki Tatsuya yang sedang merajuk di tempat tidur sudut sambil menutupi dirinya dengan selimut tebal.

"Kita akan pergi makan. Bersiaplah."

Aku menyentak selimutnya dan memberikan perintah dengan nada tegas.

"..."

Tatsuya masih berbaring di kasur sambil menatapku dengan mata terbelalak, seolah sedang melihat sesuatu yang mustahil.

"Ke-kembalikan!"

Tatsuya mencoba merebut kembali selimut itu dariku, tetapi aku langsung menahan dan menekannya ke atas kasur.

"Aku bilang sekali lagi. Kita akan pergi makan malam, jadi bersiaplah."

Aku melepaskan Tatsuya dan kembali ke meja. Takeshi yang berdiri di sana mengacungkan jempolnya sambil tersenyum lebar.

Sepertinya dia juga tidak keberatan dengan tindakanku tadi.

"Kita juga harus bersiap."

Aku mengambil sabuk perlengkapan berisi dompet dan barang-barang lainnya dari atas meja. Aku memakainya di pinggang sembari mengajak Takeshi.

"Ya!"

Takeshi merespons dengan penuh semangat sambil mengepalkan tangan kanannya.

Aku mengira akan ada pertengkaran kecil, tetapi di luar dugaan, Tatsuya menurut dan berjalan mengikuti kami dari belakang.

Tentu saja, dari raut wajahnya yang menatapku layaknya pembunuh orang tuanya, jelas sekali bahwa dia masih belum bisa menerima hal ini.

Setibanya di ruang makan, tempat itu sudah penuh sesak oleh para siswa. Tampaknya seluruh peserta magang dari SMA Kagetsu ada di sini.

Tatapan penuh rasa ingin tahu langsung tertuju pada kami begitu kami melangkah masuk. Lebih tepatnya, semua tatapan itu mengarah pada Tatsuya yang berada di belakangku.

Tatsuya kini telah menjadi sosok terkenal yang menghebohkan seluruh masyarakat Jepang, jadi wajar saja hal ini terjadi.

Namun, tentu saja ada pengecualian. Mashiro yang sedang makan bersama kelompok Sakuraba menatapku seolah sedang melihat kotoran, lalu terang-terangan membuang muka.

Hmm, entah kenapa dia sepertinya sangat membenciku sekarang. Namun, Mashiro bukanlah tipe orang yang membawa urusan pribadi ke dalam pertempuran, jadi hal ini tidak akan terlalu menjadi masalah.

Saat kami bertiga sedang mengamati daftar menu di mesin penjual otomatis, sekelompok siswa berjalan menghampiri kami. Aku mengenali beberapa orang di antara mereka.

Mereka adalah mantan pengikut Tatsuya dan—.

(Hei, bukankah dia ...)

Takeshi berbisik pelan kepadaku sambil melirik sosok yang berdiri di belakang gerombolan mantan pengikut itu.

(Benar, dia Arima Hayato.)

Pemuda berambut panjang sebahu yang memasukkan tangannya ke dalam saku dan memiliki tatapan tajam itu adalah sosok yang sangat terkenal di SMA Kagetsu.

Dia adalah pewaris utama keluarga Arima, sang penguasa dunia Hunter wilayah Barat yang bersanding dengan keluarga Akizuki dari Timur.

Kekuatannya setara dengan Akizuki Narumi maupun sahabat karibku, Akutsu Arata. Dia dirumorkan tidak bisa masuk ke Kelas S-1 karena perilakunya yang sangat buruk.

"Wah, wah, lihat siapa ini. Rupanya Tatsuya. Tidak kusangka kamu punya muka untuk menampakkan diri di sini tanpa rasa malu sedikit pun."

"Benar sekali! Aib Jepang yang sangat terkenal di televisi dan internet, kan!"

Dua pengikut asli Arima melontarkan hinaan itu sambil menyeringai remeh. Mantan pengikut Tatsuya hanya diam menyaksikannya dengan wajah datar.

"Benar-benar sampah sejati yang berani mencoba menyerang wanita!"

Di saat para pengikut Arima tertawa terbahak-bahak mengejek Tatsuya,

"Hei, Tatsuya! Apa kamu tidak punya sesuatu untuk dikatakan kepada kami?!"

Seorang siswa berkacamata yang dulunya berada di faksi Tatsuya berseru dengan nada kesal.

"..."

Tatsuya mengabaikan pertanyaan itu dan menundukkan pandangannya saat menerobos melewati kami. Dia memasukkan uang ke mesin, menekan tombol, lalu mengambil tiket makan dan kembaliannya.

Namun, saat dia berbalik untuk pergi, salah satu pengikut Arima menyandung kakinya hingga ia terjatuh.

"Ups, Tuan Babi tersandung, ya? Dasar payah, makanya kamu harus memperhatikan langkahmu."

Siswa pengikut Arima itu berjalan mendekati Tatsuya. Dia menatap Tatsuya dengan rendah sambil melontarkan kalimat menjengkelkan itu.

"Astaga, ternyata ada orang-orang bodoh semacam ini di belahan dunia mana pun, ya."

Kata-kata dingin itu tiba-tiba saja meluncur dari mulutku.

(Eh?)

Saat itu, aku merasakan kejanggalan yang luar biasa. Aku merasa aneh dengan nada bicaraku yang terdengar sangat dewasa, juga pada kalimat yang baru saja kuucapkan.

"Kain?"

Takeshi yang berdiri di sampingku mengerutkan kening dan mengulurkan tangannya ke arahku. Aku mengabaikannya dan melangkah maju, lalu menyapu kaki siswa yang sedang merendahkan Tatsuya tadi.

"Uwoh?!"

Tubuh siswa itu terlempar dan berputar di udara, lalu terhempas dengan wajah mengarah ke bawah.

"Hiiggh!"

Aku mencengkeram kerah belakangnya sesaat sebelum ia menjerit panik di depan lantai yang mendekat, mencegah kepalanya terbentur keras.

"Lantai ini sangat licin. Apa kalian terlalu banyak memakai lilin pembersih lantai?"

Aku bertanya pada seorang wanita paruh baya bertubuh gempal yang mengenakan celemek di kafetaria.

"Benar juga, aku akan menegur petugas kebersihan nanti! Hei, hei, kami ini sedang sibuk tahu!"

"Dasar bocah-bocah, jangan cuma berdiri bengong di sana, cepat habiskan makanan kalian dan kembali ke kamar!"

Dia mengangkat sudut bibirnya dan mengikuti sandiwaraku.

Aku tidak mungkin melakukan kesalahan bodoh yang bisa ketahuan oleh para amatir ini. Semua orang, bahkan korbannya sendiri pasti berpikir bahwa dia terpeleset karena lantai licin.

Kenyataannya, orang-orang di sekitar juga benar-benar mengira lantainya licin. Mereka pun mulai menyantap makanan karena didesak oleh bibi kantin tadi.

Hanya Arima Hayato—yang sedari tadi menonton dengan tatapan geli—yang kini tiba-tiba memelototiku dengan tatapan menusuk.

"Siapa namamu?"

Dia bertanya dengan singkat dan tegas.

"Aku Tsukishiro Kain. Aku cuma salah satu sampah dari Kelas F."

"Hei Kain, memangnya Kelas F itu tempat pembuangan sampah, ya?!"

Aku mengabaikan sepenuhnya kepolosan Takeshi dan balas menatap Arima Hayato dengan sorot mata dingin.

"... Kita pergi."

Arima Hayato memberi isyarat kepada para pengikutnya, lalu beranjak pergi.

"Kamu tidak terluka?"

Aku memegang lengan kanan Tatsuya untuk membantunya berdiri.

"Jangan sentuh aku!"

Tatsuya menepis tanganku dan berdiri dengan kasar, lalu berteriak tanpa mau menatap mataku. Setelah itu, dia segera berlari kecil ke arah loket pemesanan, menjauh dari kami.

Aku hanya bisa mengangkat bahu pasrah melihatnya.

"Ayo kita makan juga."

Takeshi memberikan usul yang sangat membangun.

Karena Tatsuya sedang menyantap makanannya sendirian di sudut ruang makan, kami pun duduk di meja yang sama dan mulai makan. Tiba-tiba terdengar suara ribut, dan saat aku menoleh, aku melihat tiga siswa melangkah masuk ke dalam kafetaria.

"Kalau kamu mencoba mengambil start dan curi-curi kesempatan lagi, aku akan benar-benar membongkar semuanya padanya!"

Karina berseru dengan lantang.

"Sudah kubilang aku tidak mencuri kesempatan ... aku sama sekali tidak berniat begitu ...."

Makoto merespons dengan lemas, terlihat murung dengan kedua tangannya saling bertaut. Hmm, karakter iblis kecil mesum yang biasa ia perankan tampaknya sudah hancur tak tersisa.

"Biar kami yang bernegosiasi dengan Kain. Jadi kamu diam saja, Makoto!"

Ran ikut berteriak dengan nada memerintah, rambut kuncir duanya berayun-ayun saat dia menolak bantahan.

"B-baiklah ...?!"

Makoto tak sengaja bertatapan dengan kami, dan wajahnya langsung memerah padam. Reaksinya yang menyerupai gadis remaja itu membuat Ran dan Karina terang-terangan berkerut jijik.

Mereka bertiga mendatangi meja kami.

"Atas instruksi dari akademi, Makoto akan menggunakan ruang ganti dan ruang mandi khusus."

"Jadi, jangan biarkan dia masuk ke fasilitas laki-laki lagi."

Karina menyatakannya dengan nada mengancam sambil memasang senyum palsu yang terlihat sangat jelas.

"Ru-ruang khusus? Makoto, apa yang sebenarnya sudah kamu perbuat, hah?!"

Takeshi yang sejak tadi menguping berteriak ngeri, terlihat sedikit menjaga jarak darinya. Sudah kuduga.

Mungkin pihak akademi mulai mengambil tindakan karena khawatir Makoto akan mengintip Hunter wanita lainnya saat berganti pakaian. Apalagi mereka sampai repot-repot memindahkan Makoto ke Kelas F hanya demi tujuan itu.

"Aku mengerti."

Ketegangan di wajah mereka langsung memudar saat mendengar persetujuanku.

Di sisi lain, Makoto membuang muka dengan cemberut, lalu bergumam mengeluh seolah merasa tak puas.

Sangat jarang melihat Makoto menunjukkan emosinya secara blak-blakan seperti ini. Padahal biasanya, ia adalah sosok yang sanggup melontarkan racun mematikan sambil tersenyum manis.

"Ayo, kalian bertiga duduk dan makan bersama kami."

Aku mengajak mereka bertiga untuk bergabung. Ran dan Karina rupanya tidak mempermasalahkan keberadaan Tatsuya di meja kami.

Namun, entah karena ada perselisihan di masa lalu atau apa, mereka bertiga terlihat jelas tidak nyaman harus duduk satu meja bersamanya.

◇◆◇

Sudah sebulan berlalu sejak dimulainya kegiatan eksplorasi labirin. Penggabungan dua kelas hanya berlangsung pada beberapa hari pertama, setelah itu setiap kelas diinstruksikan untuk menjelajahi dungeon masing-masing.

Di saat yang sama, kebijakan pihak akademi juga sudah mulai terlihat jelas.

Anggota kelas khusus dialokasikan secara merata, seperti Akizuki Narumi di Kelas S-2 dan Arima Hayato di Kelas S-3.

Sepertinya penempatan kali ini tidak murni berdasarkan prestasi, melainkan menempatkan sosok pemimpin di setiap kelas.

Kupikir mereka berniat membuat setiap tim saling bersaing dalam pertumbuhan dan nilai, dengan berpusat pada pemimpin tersebut.

Faktanya, setiap minggu pihak akademi akan mengumumkan rekor kedalaman dungeon yang dicapai tiap kelas, lalu memberikan hadiah seperti peralatan tempur atau hak khusus kepada tim peringkat pertama.

Saat ini, kelas dengan rekor terbaik adalah Kelas S-2 pimpinan Akizuki Narumi, yang telah berhasil menembus hingga lantai 25 bawah tanah.

Disusul oleh Kelas S-1 milik Arata di lantai 24, dan Kelas S-3 milik Arima Hayato di lantai 23.

Di luar dugaan, kelompok Kelas F kami mampu mencapai lantai 22.

Alasan kelompok kami bisa bertarung sebaik ini adalah karena kombinasi curang antara Mashiro dan Takeshi. Bagaimana tidak, bahkan pertarungan melawan Boss pun bisa diselesaikan dalam sekejap.

Itu sudah pasti akan membuat rekor lantai kami terus bertambah.

Hari ini adalah giliran Mashiro dan Makoto yang bertugas mengumpulkan Batu Sihir.

Sementara itu, aku memberikan dukungan tempur dengan menyerang monster menggunakan panah dari barisan tengah.

"Kain, ternyata kamu juga bisa memakai panah, ya ...."

Tumben sekali Mashiro memulai percakapan denganku. Sebelumnya, dia bahkan enggan berbicara sama sekali, tetapi syukurlah hubungan kami akhir-akhir ini mulai membaik, setidaknya sampai kami bisa saling mengobrol santai.

"Hanya sekadar bisa."

"Itu sama sekali bukan level orang biasa ...."

Mashiro menggumamkan kalimat itu dengan nada frustrasi.

"Kemampuanku cuma rata-rata, kok. Dalam arti tertentu, sebutan master itu setara dengan orang mesum yang tak masuk akal."

"Mereka sudah terbiasa melepaskan tembakan dari sudut mustahil sambil membengkokkan ruang itu sendiri."

Aku langsung mengoreksi kesalahpahaman itu.

"Asal tahu saja, hal semacam itu cuma ada di dalam dongeng!"

"Itu karena kamu belum pernah melihat sosok master yang sesungguhnya."

"Kalau bisa, aku berharap tidak akan pernah bertemu orang tidak waras seperti itu seumur hidupku."

Mashiro menanggapi ucapanku dengan nada bersungguh-sungguh.

"Kuharap kamu tidak mengatakan itu sambil memelototi wajahku begini."

Aku menyampaikan permintaan itu dengan penuh harap.

"Kain dan Mashiro terlihat sangat dekat, ya? Jangan-jangan, kalian berdua berpacaran?"

Makoto tiba-tiba melontarkan omong kosong yang sama sekali tidak masuk akal. Mashiro tertegun dan menatapnya lekat-lekat, sebelum akhirnya wajahnya memerah hingga ke telinga.

"Tentu saja tidak! Siapa juga yang mau berpacaran dengan si mesum ini!"

Mashiro membantahnya dengan wajah pucat pasi seraya menunjuk ke arahku.

"Dengar ya, sebutan mesum itu rasanya terlalu berlebihan ...."

Tepat saat aku memprotes ucapan Mashiro,

"Kau, berhentilah main-main!"

Aku menoleh ke arah suara bentakan itu, dan melihat Ran sedang memelototi Tatsuya dengan gigi gemeretak. Tatsuya sama sekali tidak ikut bertarung dan tidak berguna dalam pengumpulan Batu Sihir.

Sebenarnya kami terus bersabar karena mengerti kondisi Tatsuya, namun kemarahan Ran sepertinya sudah mencapai puncaknya.

"Benar sekali! Tatsuya, karena kau yang jadi beban, semua kerja keras Mashiro dan Takeshi jadi terbuang sia-sia!"

Secara mengejutkan, Karina pun ikut menaikkan nada suaranya.

"Kalau kamu memang tidak niat, sebaiknya kamu segera keluar dari sekolah ini! Jangan menyusahkan kami dengan membebankan masalahmu!"

Ada benarnya juga, dan itu bisa sekaligus menjadi sebuah jawaban. Jika Tatsuya memang berniat menyerah, dia pasti sudah melarikan diri dari lingkungan yang penuh tekanan dan menyiksa ini sejak lama.

Fakta bahwa dia masih bertahan di sini adalah bukti kalau dia belum siap merelakan impiannya.

"Guru Akudou! Katakanlah sesuatu padanya!"

Karina menoleh dengan panik, meminta arahan dari instruktur pembimbing kami, Akudou. Pria botak berotot kekar yang mengenakan kaus tanpa lengan itu adalah guru kami.

"Aku menolak. Selesaikan sendiri urusan kalian."

Sambil mengisap rokoknya, Akudou menolak mentah-mentah permintaan Karina, persis seperti yang kubayangkan.

Pria berpenampilan bak preman ini adalah Kidou Akuto, Hunter Kelas S yang jumlahnya hanya empat orang di seluruh Jepang, dan ia lebih dikenal dengan julukan Akudou.

Meski rumor buruk selalu menyelimutinya, dia merupakan salah satu dari sedikit petarung yang mampu membantai kerabat Vampir seorang diri, sekaligus senjata kelas strategis kebanggaan umat manusia.

Sejak diangkat sebagai penanggung jawab Kelas F, Akudou tidak pernah ikut campur urusan tim kami.

Karena dia begitu konsisten melakukannya, kurasa dia bukannya ingin menumbuhkan kemandirian, melainkan memang tidak peduli sama sekali dengan pendidikan para siswanya.

Aku tidak punya niat ikut campur, tetapi apa boleh buat. Mengulurkan tangan kepada jiwa muda yang tersesat adalah bagian dari kewajiban seorang veteran.

... Lagi. Pemikiran ini muncul lagi. Kenapa aku selalu menganggap diriku sebagai prajurit veteran tua?

Apapun itu, Tatsuya tidak akan berkembang jika dibiarkan begini terus, jadi sudah waktunya aku bertindak.

"Akizuki, kali ini kamu juga harus ikut maju ke barisan depan."

Mendengar perintahku yang bisa dibilang sepihak itu,

"Siapa yang mau—!"

Tatsuya bersiap melontarkan tolakan, tetapi aku segera mencengkeram kerah bajunya dan mengangkatnya.

"Berhentilah banyak alasan dan lakukan saja!"

Aku menatapnya dari bawah dan memaksanya.

"..."

Tatsuya menatapku dalam diam sambil berkedip, tetapi kemudian ia mengangguk ragu. Aku segera melepaskannya hingga ia terjatuh ke tanah.

"Mashiro, tolong maju ke baris depan bersamaku."

Aku meminta persetujuan Mashiro.

"Aku sih tidak keberatan. Tapi kalau aku ikut bertarung, orang yang mengumpulkan Batu Sihir tinggal Kuonji sendirian, loh?"

"Maaf, Karina. Bisakah kamu menggantikan tugas Mashiro untuk memungut Batu Sihir hari ini?"

"Dimengerti. Lain kali traktir aku makan, ya."

Karina mengangkat tangan kanannya, menyetujui permintaanku dengan senang hati.

"Takeshi, tolong berikan Buff pada kami bertiga."

"Serahkan padaku!"

Takeshi yang dari tadi hanya diam menonton langsung mengangguk mantap. Dengan ini, persiapan sudah selesai.

"Kalau begitu, mari kita mulai."

Aku menarik kedua pisau belati dari sarung di pinggangku lalu mulai melangkah maju.

"Itu mengarah ke sana!"

Aku dan Mashiro menggiring sekumpulan monster itu ke arah Tatsuya.

"Uwaaa!"

Dia menebaskan pedang panjangnya ke arah monster ular raksasa sambil menangis tersedu-sedu. Meski hanya terserempet sedikit, efek sihir Enchant Takeshi langsung menghancurkan tubuh ular itu seketika, mengubahnya menjadi partikel-partikel kecil yang berjatuhan.

Tatsuya merosot jatuh dan duduk di tanah dengan napas tersengal-sengal.

"Bersantailah kalau kita sudah berada di area aman atau Safety Point."

Aku segera menyuruh Tatsuya untuk berdiri kembali.

"..."

Dia pasti sadar bahwa keluhannya tidak akan mengubah apapun. Tatsuya perlahan bangkit meskipun ia menatapku dengan penuh rasa dendam.

Eksplorasi kembali dilanjutkan.

Saat Tatsuya terserang monster hingga menabrak dinding, dinding tersebut runtuh dan memperlihatkan sebuah ruangan tersembunyi.

"Tampaknya ini adalah ruangan rahasia."

Menemukan tempat seperti ini pasti kejadian yang sangat langka, buktinya Akudou sampai bersiul meresponsnya.

"Biar aku yang periksa!"

Mashiro memeriksa keadaan sekitar, lalu masuk ke ruang tersembunyi itu untuk menyelidikinya.

Tepat ketika Mashiro berdiri di depan peti harta karun yang terletak di tengah ruangan, lempengan batu di bawah kakinya amblas ke dalam.

"Ga-gawat—"

Sesaat kemudian, formasi sihir muncul dan sosok Mashiro menghilang tanpa jejak.

Sialan! Itu jebakan teleportasi!

Akudou dengan cepat menyadari situasi tersebut. Dia mendecakkan lidah dan bersiap bergerak, tetapi aku langsung menahannya.

"Biar aku yang pergi! Akudou, aku serahkan mereka semua padamu!"

Setelah meneriakkan hal itu, aku melompat dan melesat maju dengan sekuat tenaga. Aku menyelinap tepat saat formasi sihir di tanah hampir memudar.

Sejurus kemudian, aku telah berdiri di tengah ruang asing di mana bunga-bunga merah cerah bermekaran dengan indahnya.

Di langit senja yang berhias perpaduan warna merah dan emas, pemandangan tiang listrik dan bangunan pertokoan terpantul bagaikan fatamorgana.

Aku mengedarkan pandanganku ke sekeliling untuk mencari keberadaan Mashiro.

"Mashiro ...?"

Mataku menangkap sosok Mashiro yang terbaring lemas di atas bunga-bunga merah, beserta monster Slime raksasa berwarna kemerahan yang berada di belakangnya.

Tubuhku bergerak tanpa sadar begitu otakku memproses kejadian tersebut.

Aku melesat ke arah Slime raksasa itu, lalu mengayunkan dua pisau untuk mengiris-iris monster tersebut di titik mematikannya.

Slime kemerahan raksasa itu langsung meledak hancur seketika, menyemburkan cipratan cairan kental ke segala penjuru.

Tanpa jeda, sekawanan monster buaya raksasa datang menyergap kami.

"Enyahlah."

Aku hanya melirik ke arah monster itu, sekadar memberikan peringatan. Monster buaya itu tersentak sejenak, berbalik, dan lari tunggang langgang.

"Mashiro!"

Aku menggendong Mashiro sambil berteriak memastikan keadaannya.

Dia benar-benar dalam keadaan sekarat. Setengah tubuhnya hampir meleleh, kulitnya terkelupas hingga tulangnya terlihat, dan organ dalamnya pun sesekali tampak.

Sebentar lagi Mashiro akan mati. Menyadari kenyataan yang akan segera tiba itu, aku berteriak—.

"Jangan bercanda!"

Emosi yang dahsyat menyembur dari dalam tubuhku bagaikan magma, membuatku berteriak hingga tenggorokanku rasanya mau pecah.

'Anak ini saja, bagaimanapun caranya harus kuselamatkan!'

Dengan tekad yang kuat, saat aku mencoba mengeluarkan Potion dari Item Box—.

—Bloop!

Tiba-tiba, seekor slime biru muncul di depan mataku dan menyelimuti Mashiro. Lalu, seolah-olah waktu diputar kembali, luka-lukanya sembuh seketika.

Memastikan dadanya perlahan bergerak naik turun pada tubuhnya yang kini tak terluka sedikit pun, aku bergumam.

"Syukurlah..."

Karena rasa lega yang luar biasa, seluruh tenaga di tubuhku terkuras dan aku jatuh terduduk di tanah.

Slime yang telah menyembuhkan Mashiro itu berputar mengelilingiku beberapa kali.

"Terima kasih. Aku sangat tertolong."

Mendengar ucapan terima kasihku, slime itu tampak senang dan menggetarkan seluruh tubuhnya sebelum akhirnya menghilang perlahan.

"Uu... ng..."

Mashiro perlahan membuka matanya.

"Syukurlah! Kamu sudah sadar!"

Rasa hangat menyala di dalam hatiku, dan tanpa sadar aku memeluknya erat-erat.

"U, mi?"

Dengan wajah bingung, dia menatapku dan bergumam pelan.

"Kain?"

Begitu dia menyebut namaku.

"—ッ!?"

Matanya terbelalak lebar. Kemudian, seolah tersentak, dia menatap tubuhnya sendiri dan diriku bergantian.

"..."

Seketika, seluruh tubuh Mashiro merona merah pekat, dan bibirnya bergetar tanpa suara. Dan kemudian—.

"Apa yang kamu lakukan!"

Mashiro mendorongku menjauh, lalu berjongkok untuk menyembunyikan dadanya yang besar dan terekspos.

Kalau dipikir-pikir, pakaiannya juga ikut meleleh gara-gara slime merah tadi, membuatnya nyaris telanjang.

"Kamu tadi hampir dilelehkan oleh monster yang berserakan di sana. Apa kamu bisa mengingatnya?"

Aku mengeluarkan jaket dan celanaku dari Item Box, memberikannya kepada Mashiro, lalu memalingkan wajah dan bertanya dengan ragu.

Jujur saja, aku sangat berharap dia mengingatnya. Kalau tidak, anak ini pasti akan mulai berdelusi yang tidak-tidak lagi.

"Ya, aku selamat."

Syukurlah! Aku tidak perlu diperlakukan seperti binatang buas lagi.

Sebelumnya, karena alasan yang tidak jelas, aku dianggap sebagai makhluk buas dan diabaikan sepenuhnya oleh Mashiro. Butuh waktu yang cukup lama sampai dia mau berbicara normal lagi denganku, dan itu sangat merepotkan.

...Ng... merepotkan? Tunggu sebentar. Kenapa aku harus merasa repot?

Aku tidak terlalu mengenal gadis ini. Seharusnya, aku tidak peduli apa yang dia pikirkan tentangku. Tapi anehnya, aku merasa cukup kesal saat diabaikan olehnya.

Akhir-akhir ini, aku sering mengalami ingatan yang tidak kukenali atau pemikiran yang rasanya bukan milikku. Apa sebaiknya aku periksa ke rumah sakit saja?

"Kita ada di mana?"

Aku menoleh saat mendengar suara dari belakang, dan melihat Mashiro yang sudah selesai berganti pakaian sedang mengamati sekeliling.

"Kurasa kita dipindahkan secara paksa ke lantai bawah Dungeon karena jebakan di ruang rahasia."

"Ini gawat. Tapi kenapa kamu bisa setenang itu?"

"Karena aku sudah berhasil bertemu denganmu dengan selamat, Mashiro. Sisanya pasti bisa kita atasi."

Skenario terburuknya adalah aku kesulitan menemukan Mashiro dan terus merasa cemas, jadi bisa melindunginya sejak awal adalah hal yang besar. Sekarang, kami hanya perlu menjelajahi tempat ini sambil mencari jalan ke permukaan.

Lagi pula, aku punya banyak persediaan makanan dan minuman di Item Box, cukup untuk bertahan beberapa bulan dengan santai.

"B-begitu ya..."

Entah kenapa, Mashiro memalingkan wajahnya dariku.

"Apa kamu bisa bertarung?"

"Kamu pikir kamu sedang bicara dengan siapa!"

Dia mengeluarkan pedang sucinya dan mengayunkannya di depanku. Syukurlah, sepertinya tidak ada efek samping dari luka parahnya tadi.

"Kalau begitu, ayo kita pergi."

Aku menghunus pisauku, mengajak Mashiro, dan mulai berjalan.

Setelah menjelajahi area sekitar, kami mulai memahami detail tempat ini. Ruangan yang dipenuhi bunga merah ini luasnya kira-kira setara dengan satu lantai, tidak terlalu besar.

Strukturnya seperti ditutupi oleh selaput berbentuk kubah. Mungkin butuh waktu sekitar setengah hari lagi untuk menjelajahinya sampai ke setiap sudut.

Saat aku menebas inti slime raksasa berwarna merah yang menyerang dengan pisauku, wujudnya mencair menjadi cairan lengket. Ketika aku sedang mengambil Magic Stone dari sisa monster itu.

"Kenapa kamu bisa sekuat itu?"

Mashiro bertanya dengan wajah yang tampak tidak puas.

"Yah, karena aku berlatih."

"Apa kekuatanmu itu sesuatu yang bisa dicapai hanya dengan berlatih?"

"Kamu bilang 'hanya dengan berlatih', ya. Justru lebih jarang ada kekuatan yang tidak bisa diraih melalui latihan, tahu."

"Hmph! Perkataan seorang jenius memang berbeda, ya!"

Mendengar sindiran Mashiro itu, aku langsung merespons.

"Aku jenius? Lelucon yang lucu sekali."

Aku tanpa sadar tertawa mendengarnya.

"Apa kamu mau bilang kalau kamu bukan jenius!?"

Mungkin karena merasa diremehkan, dia mendesakku dengan raut wajah kesal.

"Ya, kamu salah besar. Aku ini tidak kompeten."

"Aku tidak bisa menggunakan sihir, dan bakat bertarungku juga nol. Justru karena ketidakmampuanku itulah, aku terus mengasah diriku setiap hari hingga mendapatkan kekuatanku yang sekarang."

Karena itulah, aku bisa dibilang masih jauh dari kata sempurna.

"Kamu tidak kompeten? Kamu, yang bisa mengalahkan monster buas ini dalam sekejap?"

"Iya."

Untuk sesaat, Mashiro melebarkan matanya yang besar itu.

"Begitu... ya..."

Dia bergumam pelan lalu terdiam, dan tidak pernah lagi membahas topik ini.

"Hei."

Tumben sekali Mashiro datang mendekatiku, memanggil sambil membuang muka.

"Ada apa? Kalau kamu mau ke toilet—"

"Jangan bilang apa-apa lagi! Itu pun kalau kamu masih mau hidup!"

Aku benar-benar berharap dia berhenti menodongkan pedang sucinya padaku dengan tatapan tajam seperti itu.

"Lalu, ada apa?"

"B-bukan berarti aku penasaran, ya. Habisnya, aku ditanya tentang hubungan antara kamu dan aku..."

Sambil memainkan jari-jarinya yang bertautan, dia mengalihkan pandangan dan bergumam pelan.

"Hm? Maaf, aku tidak dengar. Bisa tolong ulangi lagi?"

"Apa pendapatmu tentang Kuonji!?"

Mashiro bertanya dengan wajah merah padam, terdengar seperti sedang marah. Kirain ada apa, ternyata malah bahas soal cinta, dan topik semacam itu terlalu tinggi levelnya untukku.

"Kalau maksudmu sebagai lawan jenis, kurasa Karina sama sekali tidak menganggapku seperti itu. Dia mungkin hanya menginginkanku sebagai tenaga tempur."

"Lihat saja juga sudah jelas! Yang aku bicarakan itu tentang Makoto!"

"Makotooo? Dengar ya, aku menghormati minoritas seksual, tapi aku ini heteroseksual."

"Lagipula, Makoto itu sahabatku. Meskipun kami akrab, tolong jangan memaksakan dunia Boys Love ke dalam hubungan kami."

Tidak mungkin aku dan Makoto memiliki hubungan mesra seperti itu. Tapi sekarang aku paham kenapa aku diperlakukan seperti binatang buas waktu itu.

Dia pasti salah paham mengira aku dan Makoto punya hubungan seperti itu. Kebiasaan berdelusinya ini benar-benar merepotkan.

"..."

Selama beberapa saat, Mashiro menatapku dengan mulut ternganga, tampak kebingungan seperti baru saja ditipu rubah.

"Kamu, ngomong begitu serius!?"

Dia bertanya dengan wajah pucat pasi.

"Iya, memangnya kenapa?"

"..."

Dia memejamkan mata, meletakkan jari telunjuk dan jari tengah kanannya di pelipis, lalu terdiam dengan wajah meringis seperti menelan pil pahit.

"Mashiro?"

"Dasar batu."

Mashiro bergumam sambil menatapku dengan pandangan kasihan, lalu kembali berjalan.

Entah angin apa yang merasukinya, sikapnya berubah drastis dari yang tadinya kesal kini jadi lebih aktif mengajakku bicara.

"Bagaimana cara kamu melakukan teknik itu?"

"Meskipun kamu tanya bagaimana... bagiku itu sama alaminya seperti bernapas."

"Tolong beritahu aku secara spesifik bagaimana kamu melakukannya! Kumohon!"

Dia menyatukan kedua tangannya dan memohon. Jarang sekali Mashiro bersikap seperti ini padaku.

Ini pasti keinginan yang sangat mendalam baginya.

"Yah, toh pengetahuanku tidak akan berkurang, jadi boleh saja..."

Bagaimana cara aku melakukan seni bela diriku, ya... Tentu saja, sebagian besar mengandalkan insting, dan nyaris mustahil baginya untuk menguasai teknik itu sendiri.

Tapi sejak awal, yang ingin diketahui Mashiro pastilah cara untuk menjadi lebih kuat. Kalau begitu, manipulasi kekuatan sihir yang merupakan dasar dari semua seni bela diri mungkin adalah jawaban terbaik.

Bahkan dalam Seni Bela Diri Kuno Tsukishiro, memvisualisasikan dan memanipulasi sihir adalah teknik paling dasar dan penting yang diajarkan pertama kali.

"Menurutmu ini warna apa?"

Aku mengalirkan kekuatan sihir ke ujung jari telunjukku dan mengubah-ubah warnanya.

"Warna? Aku tidak melihat apa-apa."

Dia menjawab dengan wajah bingung. Sudah kuduga. Kalau begitu—.

"Permisi sebentar, ya."

Aku menggenggam kedua tangan Mashiro.

"T-tunggu sebentar?"

Melihat Mashiro yang menjadi merah padam dan panik, aku menginstruksikannya.

"Tolong tutup matamu."

"Y-ya."

Tumben sekali dia tidak menolak dan langsung memejamkan matanya. Dari tubuhnya yang menegang, sepertinya dia sangat gugup.

Padahal aku tidak akan memakannya hidup-hidup.

"Sekarang aku akan mengalirkan kekuatan sihir. Cobalah rasakan alirannya."

Saat aku perlahan mengalirkan kekuatan sihir berwarna putih, dia bereaksi.

"Ah..."

Mashiro mengembuskan napas pelan.

"Apa kamu bisa melihatnya?"

"A-aku bisa melihatnya!"

Mendengar jawaban antusias Mashiro, aku menyadari wajahku tersenyum. Aku tidak pernah bermimpi dia bisa mengenalinya secepat ini.

Gadis ini pasti yang namanya jenius. Melihat bakat yang dianugerahkan langsung oleh surga selalu membuat hatiku berdebar kagum.

"Kalau begitu, selanjutnya—"

Kesimpulannya, dia berhasil memvisualisasikan kekuatan sihir dengan sangat mudah. Terlebih lagi—.

"Haah!"

Dia mengayunkan pedang sucinya ke arah slime raksasa merah itu dengan santai.

Kekuatan sihir perak-putih yang menyelimuti pedang suci itu berubah menjadi bilah yang membelah slime raksasa secara vertikal, sekaligus menghancurkannya hingga ke partikel terkecil.

"Bagus!"

Dengan wajah gembira, Mashiro mengepalkan tinjunya dan mendekat ke arahku.

"Padahal bahkan tidak mengenai intinya, tapi dampaknya luar biasa. Seperti yang diharapkan dari kekuatan sihir perak-putih."

Siapa sangka warna kekuatan sihirnya sama dengan milik Takeshi... Orang yang memiliki sihir perak-putih dan bisa mengendalikannya secara bebas adalah rasio astronomis.

Lalu dua orang seperti itu kebetulan berada di kelompok yang sama. Aku tidak cukup bodoh untuk menganggap ini hanya kebetulan belaka.

Faktor penentu warna kekuatan sihir sangat dipengaruhi oleh genetik. Pasti ada hubungan yang jelas antara Takeshi dan Mashiro. Kurasa aku harus menanyakannya.

"Apa kamu ini kerabat Takeshi atau semacamnya?"

"Mana mungkin! Aku baru kenal dia di praktikum kali ini!"

"Begitu ya..."

Takeshi dan Mashiro sama-sama menyangkalnya. Apa ini benar-benar kebetulan? Tapi, apakah hal seperti itu mungkin terjadi?

Di saat aku sedang asyik berpikir, dia melontarkan pertanyaan.

"Kamu ini benar-benar manusia bumi, kan?"

Mashiro tiba-tiba menanyakan hal yang tidak masuk akal.

"Aku tidak mengerti maksud pertanyaanmu?"

"...Melihat jawaban itu, sepertinya kamu benar-benar manusia bumi... Begitu ya..."

Dia bergumam pelan dengan nada yang sedikit sedih.

"Mashiro?"

"Panggil aku Mashiro saja!"

"Eh?"

"Makanya, aku bilang panggil Mashiro saja sudah cukup!"

Dia melipat tangannya dan membuang muka sambil berseru.

"Memang lebih mudah dipanggil begitu, tapi aku tidak keberatan dengan panggilanku yang sekarang, kok."

Kalau tiba-tiba aku memanggilnya tanpa sapaan formal, itu bisa memicu kesalahpahaman yang tidak perlu dari orang-orang sekitar.

"Kamu mau memanggilku begitu, kan?"

Sambil tersenyum, Mashiro mengarahkan ujung pedang sucinya padaku dan meminta hal itu. Bukankah ini namanya ancaman? Benar, kan?

Apalagi dia menggunakan spesifikasi penuh lengkap dengan kekuatan sihir perak-putihnya. Gadis ini benar-benar serius.

"Baiklah, aku mengerti."

Aku menundukkan bahu dan menyetujuinya. Saat itu, aku merasakan deja vu yang aneh terhadap sikapnya ini.

Kami tiba di sebuah pohon besar yang dikelilingi hamparan bunga merah.

Seolah sedang melindungi pohon besar itu, slime raksasa merah dan monster buaya tampak berkerumun.

"Biar aku saja yang mengurusnya!"

"Silakan saja."

Lagi pula, kalau dia sudah memutuskan, dia tidak akan mau mendengarkan. Kalau mulai berbahaya, aku tinggal menyelamatkannya.

Mashiro memanggul pedang sucinya dan berlari kencang ke arah mereka.

Dengan menyelimuti seluruh tubuhnya menggunakan sihir perak-putih, dia mendapatkan Buff kemampuan fisik yang luar biasa sekaligus memberikan efek Status Effect Immunity.

Berkat itu, dia berhasil menetralkan cairan peleleh dari slime raksasa merah dan napas pembatu dari monster buaya. Serangan utama para monster itu telah dinetralkan.

Dalam sekejap, Mashiro menghabisi semua slime raksasa dan monster buaya, hingga hanya menyisakan monster pohon besar di akhir.

"Inikah yang dinamakan bakat bawaan."

Aku tanpa sadar mendesah kagum. Tidak kusangka dalam waktu sesingkat ini, dia sudah bisa mengendalikan sihir perak-putih dengan begitu bebas.

Meskipun begitu—.

"Mashiro, biarkan aku yang mengurus makhluk yang satu itu."

Tentu saja monster pohon besar itu terlalu mustahil baginya. Dengan kemampuannya yang belum matang saat ini, dia akan hancur menjadi daging cincang dalam sekejap.

"...Aku mengerti."

Kukira dia akan meledak marah, tapi ternyata dia mundur dengan mudahnya.

Sebagai gantinya, aku melangkah maju sambil menghunuskan dua pisauku, lalu sebuah wajah manusia muncul di monster pohon besar tersebut. Kemudian buah-buah berjatuhan dari pohon besar itu ke tanah, berubah menjadi monster kadal raksasa kayu yang muncul dalam jumlah tak terhitung dan mengepungku sepenuhnya.

"—ッ!"

Aku bisa mendengar Mashiro menahan napasnya dari belakang.

Aku merendahkan pusat gravitasi tubuhku dan merentangkan benang sihir ke arah mereka semua, mengunci kerumunan kadal kayu raksasa yang memenuhi tanah serta monster pohon tersebut.

Mengincar monster-monster yang mendekat dengan suara gemuruh itu, aku merapal.

"Tsukishiro Short Sword Technique, Intermediate — Arachne."

Aku mengayunkan pisauku dalam satu tebasan.

Seketika, monster pohon besar dan kawanan kadal kayu raksasa itu terkoyak membentuk pola salib. Dalam sekejap mata, yang tersisa hanyalah mayat-mayat monster tersebut.

"Luar biasa..."

Suara Mashiro terdengar gemetar.

Setelah mengalahkan monster pohon besar itu, sebuah peti harta karun muncul, dan di belakangnya terdapat sebuah Magic Circle. Kemungkinan besar, lingkaran sihir itu adalah lingkaran sihir teleportasi untuk kembali ke tempat semula.

Saat aku membuka peti harta karun merah yang megah itu, di dalamnya terdapat sebuah cincin dengan hiasan mawar.

Pasti ini Magic Item. Aku pun mencoba memakainya.

"Apa ini efek Buff..."

Hanya sedikit, tapi aku merasakan kemampuan fisikku meningkat. Sepertinya cincin ini juga memiliki beberapa fungsi lainnya.

Ini pasti yang disebut sebagai perlengkapan sihir tempur. Kejadian kali ini benar-benar membuatku ketakutan setengah mati.

Mashiro selalu saja menempatkan dirinya dalam bahaya. Tidak peduli seberapa banyak peningkatan yang dia terima, itu tidak akan pernah berlebihan.

Dalam hal itu, cincin ini sangat cocok untuknya.

"Mashiro, tolong kamu saja yang menyimpan ini."

Aku melepaskan cincin itu dan menyodorkannya pada Mashiro.

"I-itu cincin? A-aku tidak mau hal semacam itu—"

Sudah kuduga, wajahnya memerah dan dia menolaknya.

Aku meraih tangan kirinya dengan santai dan memasangkan cincin itu di jarinya.

Mashiro adalah tipe orang yang mementingkan efisiensi. Kalau dia sudah merasakan efek Buff-nya, dia pasti akan terus menggunakannya.

Lagipula, mengenakan perlengkapan sihir tempur bukanlah sesuatu yang bisa dipaksakan. Kalau dia tidak suka, dia bisa melepasnya nanti.

"..."

Melihat Mashiro yang menatap tajam cincin itu, aku berkata.

"Ayo kita kembali."

Saat aku mengulurkan tanganku, dia menjawab.

"Y-ya."

Mashiro buru-buru mengalihkan pandangannya dari cincin itu, mengangguk kecil dengan wajah tertunduk, lalu meraih tanganku.

Kami melangkah masuk ke dalam Magic Circle.

Saat tersadar, kami sudah berteleportasi ke Safety Point lantai 22 di Shuuga.

"Kain, Mashiro!"

Takeshi berteriak dengan suara melengking.

Perhatian semua orang langsung tertuju pada kami.

"—ッ!?"

Dengan panik Mashiro melepaskan tanganku dan melompat mundur.

"Mashiro! Syukurlah, kamu selamat!"

Dengan mata berkaca-kaca, Sakuraba berlari menghampiri Mashiro, menggenggam kedua tangannya, dan berseru kegirangan.

"Y-ya. Terima kasih, Sakuraba-kun."

Sambil tersenyum canggung, Mashiro melepaskan genggaman tangannya. Murid-murid lain pun ikut berkumpul untuk mensyukuri keselamatannya.

Seperti yang diduga, Mashiro memang sangat populer.

"Aku tahu kamu pasti selamat."

Arata mengulurkan kepalan tangan kanannya padaku.

"Tentu saja."

Aku membalasnya dengan kepalan tangan kananku.

"Syukurlah! Kain!"

Takeshi memelukku dengan mata berkaca-kaca.

"Maaf karena sudah membuat kalian khawatir."

Setelah menyampaikan permintaan maaf pada Takeshi dan yang lainnya, aku berjalan menghampiri Akudou yang sedang bersandar di dinding dengan tangan bersedekap.

"Terima kasih, dan maaf karena telah merepotkan Anda."

Aku menundukkan kepala pada instruktur kami. Dilihat dari situasinya, Akudou sepertinya mendengarkan permintaanku untuk membujuk semuanya agar tetap berlindung di sini.

Kalau dibiarkan begitu saja, Takeshi pasti sudah melompat ke dalam lingkaran sihir teleportasi itu, dan aku yakin dia pasti sudah kehilangan nyawanya.

Ada bekas memar karena pukulan di wajah Akudou. Itu pasti bekas pukulan dari Takeshi.

"Kamu tidak perlu meminta maaf. Kejadian kali ini sepenuhnya karena kelalaian pengawasanku."

Seorang pemuda tampan dengan rambut hitam panjang yang diikat satu di belakang menegur Akudou dengan tatapan tajam.

Di Jepang, pria ini sama terkenalnya dengan selebritas. Dia adalah salah satu dari empat S-Rank Hunter yang ada di Jepang, Saber, Yoshimine Masayoshi.

Dia juga dikenal sebagai sosok hati nurani yang hidup di dunia Hunter.

"Aku tidak menyangkalnya. Aku siap menerima hukuman dari Kepala Pangkalan."

"Aku tidak akan melupakan kata-katamu itu."

Setelah melontarkan kata-kata tersebut, dia berbalik menghadap murid-murid Kelas S-1.

"Semuanya, kita sudah memastikan keselamatan murid-murid yang sempat hilang. Mari kita lanjutkan perjalanan."

Sambil menepuk tangannya dua kali, dia memberikan instruksi dengan nada suara yang tenang.

"B-baik!"

Para siswi Kelas S-1 mengangguk dan mengambil senjata mereka dengan pipi yang sedikit merona merah.

Sakuraba juga berlari kecil menghampiri Saber dengan raut wajah enggan berpisah.

"Sampai jumpa nanti, ceritakan semuanya padaku saat kita kembali!"

Arata mengangkat tangan kanannya sebelum meninggalkan Safety Point bersama anggota kelompoknya.

Aku memberikan penjelasan singkat kepada seluruh anggota Kelompok F mengenai kronologi kejadian setelah kami dipindahkan secara paksa ke ruangan ladang bunga merah tersebut.

Karena ini jelas merupakan situasi darurat, Akudou memutuskan bahwa penjelajahan hari ini resmi diakhiri.

Hari ini secara khusus, Akudou mengizinkan kami untuk bersantai di pemandian air panas dalam fasilitas Gedung B. Waktu keberangkatan bus juga masih cukup lama, jadi kurasa kami bisa beristirahat sejenak.

"Takeshi, apa kamu benar-benar tidak mau ke pemandian air panas?"

"Ah, maaf. Entah kenapa aku merasa sangat mengantuk. Kain, tolong bangunkan aku sebelum waktu keberangkatan, ya."

Setelah mengatakan itu, Takeshi menyilangkan lengannya dan tertidur sambil bersandar di kursi lobi.

Tatsuya—begitu melihatku, dia langsung memalingkan wajahnya. Sepertinya kejadian hari ini membuatku dianggap sebagai sosok yang menakutkan baginya.

Aku berniat mengajak Makoto, tapi dia tidak ada di mana-mana. Mungkin dia sedang mandi di ruang khusus karena insiden percobaan mengintip sebelumnya.

Padahal untuk hari ini saja seharusnya tidak masalah, kan.

"Haaah, pada akhirnya cuma aku sendirian..."

Mulai dari sekarang, sepertinya pemandian air panas ini disewa eksklusif untuk kami berdua. Pantas saja Akudou menelepon saat kami tiba di permukaan.

Mungkin ini adalah bentuk permintaan maaf Akudou atas insiden teleportasi kali ini. Ternyata dia adalah pria yang jauh lebih peduli pada kewajibannya daripada yang kubayangkan.

"Mandi sendirian di pemandian air panas yang luas mungkin bisa jadi pengalaman yang menyenangkan."

Sambil mencoba menutupi sedikit rasa kesepian, aku berjalan menuju pemandian air panas.

Pemandian air panas itu terletak di bagian kiri belakang Gedung B.

"Tempat ini jauh lebih luas dari dugaanku."

Setidaknya sepuluh kali lipat dari tempat pemandian umum biasa. Mandi sendirian di tempat sebesar ini, entah kenapa aku merasa sedikit canggung.

Saat aku sedang berendam santai sambil merentangkan kedua lengan di kolam air panas yang sepi, aku merasakan kehadiran seseorang yang masuk.

Dilihat dari situasinya, tidak mungkin itu Tatsuya. Pilihannya antara si pria plin-plan Takeshi yang berubah pikiran, atau Makoto yang akhirnya diizinkan masuk ke pemandian air panas hari ini.

Aku tidak bisa melihat siapa itu karena terhalang uap tebal, tapi aku bisa mendengar suara seseorang sedang menggosok tubuh dan rambutnya. Dan kehadiran itu perlahan mendekat ke arahku.

"Kain..."

Suara ini milik Makoto. Namun, suaranya sangat pelan dan nyaris menghilang, sama sekali berbeda dari Makoto yang biasanya ceria.

"Makoto, ada ap—"

Perkataanku tidak selesai. Memang benar ada Makoto di sana, tapi penampilannya sama sekali bukan seperti yang kubayangkan—.

"Makoto, apa kamu... seorang perempuan?"

"..."

Menjawab pertanyaanku dengan anggukan kecil tanpa suara, Makoto duduk di sebelahku.

Bahkan dari balik handuk mandi yang melilitnya, terlihat jelas bukit kembar yang penuh, pinggang ramping, serta pinggul besar yang jelas berbeda dari pria.

Dilihat dari sudut manapun, dia adalah sosok perempuan tulen.

Memang, kalau dipikir-pikir lagi, ada hal-hal ganjil dari dirinya. Dibandingkan siswa laki-laki lain, dia terlihat mungil dan rapuh, belum lagi dia selalu memakai baju bebas yang menutupi kulitnya serapat mungkin di cuaca panas ini.

Meskipun SMA Kazuki memperbolehkan penggunaan seragam atau baju bebas, dari yang kuingat, hanya Makoto yang selalu ngotot mengenakan baju bebas sepanjang waktu.

Kemungkinan besar, dia menggunakan perban di dada saat jam olahraga. Untuk ganti baju atau ke toilet, kurasa dia berhasil mengatasinya menggunakan sihir atau Magic Item untuk menyembunyikan wujud aslinya.

"Lalu, kenapa kamu berpakaian seperti laki-laki?"

Aku menanyakan hal yang paling membuatku penasaran saat ini.

"Mungkin karena aku ingin mendekati orang yang sudah lama aku kagumi..."

"Orang yang kamu kagumi... Jangan bilang, itu Takeshi?"

Makoto menatapku dengan mata terbelalak lebar.

"Kenapa kamu bisa tahu?"

Dia bertanya dengan suara melengking.

"Hanya firasat saja."

"Kamu tidak mau bertanya lebih lanjut?"

"Ya, lagipula aku bisa menebak alasannya."

Kalau dipikir-pikir lagi, semua perkataan dan tindakan Makoto selama ini selalu tertuju pada Takeshi. Kemungkinan besar, alasannya masuk ke Departemen Dukungan dan semua obrolan mesum yang ekstrem itu dilakukannya hanya untuk mendekati Takeshi.

"Benar. Sejak dulu aku sangat mengagumi Takeshi. Makanya, aku merombak penampilanku saat masuk sekolah ini agar bisa lebih dekat dengannya."

"Kelihatan menakutkan seperti penguntit parah, kan?"

Mendengar ucapan Makoto sambil mengarahkan kedua ibu jarinya pada dirinya sendiri, aku menjawab.

"Soal penguntit biarkan saja dulu, tapi aku benar-benar kagum pada tekadmu itu. Meskipun berdandan seperti pria agak berbeda dengan konsep 'merombak penampilan', sih."

Aku mengangkat bahuku dan mengucapkan sindiran itu.

"Mungkin juga."

Makoto tertawa renyah seolah-olah itu hal yang lucu.

"Lalu, kamu mengungkapkan identitas aslimu padaku karena ingin aku menjadi mak comblang antara kamu dan Takeshi?"

Kalau kedua sahabatku bisa bahagia bersama, aku tentu akan ikut senang. Aku tidak keberatan membantu menyatukan mereka berdua.

Dari segi penampilan luar, Makoto yang sekarang benar-benar tipe idaman Takeshi. Masalahnya ada pada sifat merepotkan si pengecut itu...

"Tentu saja bukan. Kain, kamu yang paling tahu kalau cara itu tidak akan berhasil, kan?"

"Mungkin saja..."

Walaupun aku belum lama berteman dengan Takeshi, aku berani memastikan kalau dia tidak akan mengubah sikapnya meskipun tahu Makoto adalah perempuan. Setidaknya, sangat mudah dibayangkan kalau dia akan benci jika aku ikut campur mencampuri urusan mereka.

"Lagipula, Takeshi sudah punya orang yang dia sukai sejak lama."

Dari raut wajah Makoto yang tampak lega dan pasrah, terlihat jelas bahwa dia tidak sekadar berpura-pura tegar, melainkan benar-benar memercayai hal itu.

Aku pribadi tidak merasa si kaku itu punya sosok yang disukai, tapi Makoto—yang memiliki insting observasi jauh lebih tajam dariku—yang mengatakannya. Jadi mungkin itu benar.

Meskipun begitu, apa pun alasannya, tidak mudah menyerah begitu saja pada seseorang yang pernah kau sukai. Entah kenapa, aku sangat yakin akan hal itu.

"Guh!?"

Tiba-tiba, rasa sakit kepala yang hebat menyerangku. Bersamaan dengan itu, bayangan seorang wanita cantik yang sedang menyibakkan rambut hijau willow-nya yang tertiup angin melintas di benakku.

"Kain?"

Makoto bertanya dengan wajah bingung, tapi aku menahannya dengan tangan kananku.

"Tidak, bukan apa-apa. Lebih dari itu, kamu benar-benar akan menyerah pada Takeshi? Apa kamu sungguh tidak menyesal?"

"Iya. Karena sekarang aku tahu, perasaan yang kumiliki ini bukanlah cinta, melainkan kekaguman."

"Kekaguman?"

"Benar. Kekaguman, rasa iriku pada pahlawanku."

"Pahlawan? Takeshi yang mengidap sindrom kelas delapan itu?"

"Iya benar, Takeshi yang itu!"

Melihat Makoto tertawa renyah, aku bertanya lagi tentang hal yang sempat terlupa.

"Tapi, lalu kenapa kamu memberi tahu aku kalau kamu itu perempuan?"

"Karena aku menyadarinya."

"Menyadari apa?"

"Sejak saat itu, aku terus mengawasimu setiap pagi. Awalnya kupikir itu hanya ketertarikan biasa, dan kurasa memang begitu."

"Tapi karena kejadian itu, aku jadi menyadari perasaanku sendiri."

"Syukurlah kalau begitu."

Ternyata Makoto juga sudah menemukan sosok yang benar-benar dia sukai.

"Ya, terus terang, aku merasa tidak adil kalau hanya aku yang terus diperlakukan seperti laki-laki dan tidak diberi kesempatan untuk bersaing. Apalagi saat muncul rival yang kuat, aku jadi merasa cemas."

"Hah..."

Aku benar-benar tidak mengerti apa hubungannya antara munculnya saingan cinta Makoto dengan fakta bahwa dia mengaku sebagai perempuan kepadaku.

"Kamu tidak mengerti?"

Dengan meletakkan kedua tangannya di dadanya yang montok dari balik handuk, dia menatapku dengan mata yang berbinar.

"Maaf."

"Sudah kuduga. Kain ini memang tipe orang yang kaku layaknya batu."

"Ya, hari ini aku juga baru dibilang begitu oleh Mashiro."

"Mashiro ya... Benar, dialah alasan kenapa aku mengumpulkan keberanianku hari ini. Kain, kamu satu-satunya yang tidak akan pernah aku serahkan pada siapa pun!"

Sensasi lembut khas wanita dan aroma wangi sampo tiba-tiba menyergapku.

Saat dipeluk oleh Makoto, otakku akhirnya mulai mencerna situasi ini.

"Makoto—"

Wajah Makoto mendekat, dan saat aku hendak membuka mulut, dia menutup bibirku.

Melalui air pemandian ini, aku merasakan kelembutan bibir Makoto dan kehangatan tubuhnya yang mendekapku, namun aku tidak bisa menggerakkan satu jari pun.

"..."

Makoto yang seluruh tubuhnya kini semerah tomat segera bangkit dan berlari keluar layaknya orang yang melarikan diri.

Aku hanya bisa mematung tak berdaya, tenggelam di dalam bak pemandian tanpa bisa bergerak.

Setelah keluar dari ruang ganti dan pergi ke ruang istirahat, aku melihat Makoto mengenakan gaun panjang berwarna biru muda.

Tentu saja, ini adalah jenis gaun yang biasa dipakai oleh para gadis muda.

Meski begitu, entah kenapa aku merasa pernah melihat gaya pakaiannya ini sebelumnya...

"..."

Di tengah suasana canggung, tanpa saling bertukar kata, kami duduk di bangku sambil minum susu kopi seperti biasa.

"Hei, Kain?"

"Hm? Ada apa?"

Makoto merapalkan sihir pendek. Seketika, rambut merahnya memanjang, dan wujudnya berubah menjadi seorang gadis dengan gaya rambut diikat setengah.

"Pertanyaan untuk Kain! Coba tebak siapa aku!?"

Melihat gadis berambut merah yang tersenyum jahil itu, otakku perlahan mulai mengenali keberadaannya.

"Jadi itu... kamu?"

Dengan pipi merona, Makoto mengangguk pelan.

Dia adalah gadis yang selalu mengawasi latihanku setiap pagi. Kalau begitu, orang yang terus ditatapnya setiap pagi itu adalah aku?

Tidak, tidak mungkin! Karena ini aku dan Makoto, tahu? Kalau dipikir-pikir, sangat berlebihan jika dia menganggap dirinya menyukaiku.

Lebih dari itu, aku sama sekali tidak bisa memikirkan momen apa pun dalam obrolan kami yang bisa membuat perasaannya berubah drastis padaku.

Tindakannya di pemandian air panas tadi rasanya lebih masuk akal jika dianggap sebagai candaan mesum khas Makoto.

"Kain, aku serius!"

Seolah bisa membaca isi hatiku, dia berseru. Makoto lalu berdiri dan menatapku yang masih duduk di bangku.

Dia mencondongkan tubuhnya ke depan dan tersenyum nakal.

"Semuanya sudah menunggu. Ayo!"

Seakan mencoba menutupi rasa malunya, dia tersenyum malu-malu, lalu meraih tanganku yang ragu-ragu dan menarikku keluar.

"Eh?"

Seseorang melontarkan suara keheranan saat melihat kami keluar dari pintu pemandian pria, dan itu tak lain adalah Mashiro.

Sama seperti sebelumnya, matanya terbelalak lebar menatap kami berdua.

"..."

Dalam situasi di mana aku membeku tak tahu harus berkata apa, Makoto melangkah maju ke depanku.

"Pemandiannya sangat nyaman, ya."

Sambil sedikit berjinjit, dia mencium pipiku.

"Kain, aku duluan, ya."

Dengan pipi merona, dia mengucapkan kata-kata itu dengan cepat lalu berlari kecil menjauh.

Mashiro berjalan ke arahku dan menampar pipi kananku dengan keras.

"Pria berengsek!"

Setelah meneriaki itu, dia berlari menjauh.

Melihat genangan air mata di sudut mata Mashiro saat dia pergi, kali ini aku benar-benar hanya bisa mematung tak berdaya.

◇◆◇

Di tengah kegelapan hutan, seorang pria yang mengenakan jubah hitam menutupi kepalanya mengirimkan pesan melalui aplikasi Rain di ponsel pintarnya.

'Pengawasan di dalam labirin terlalu ketat, kontak dengan target sangat sulit dilakukan. Dimohon untuk segera memindahkan lokasi praktikum.'

Pesan tersebut segera dibaca, dan balasannya pun masuk.

―Selesai. Mengenai perubahan lokasi pelatihan, akan segera kami tangani.

Merespons satu kalimat pendek itu,

"Pria yang berhasil kembali dengan selamat dari penalti kematian di lantai terbawah ya... tampaknya dia lawan yang cukup menyebalkan."

Ucapnya seorang diri diselingi desahan.

"Tapi ya, bukannya mereka berdua berhasil selamat dan lolos?"

Wanita yang mengenakan topeng menutupi mata dan hidungnya, mendadak muncul dari kegelapan, bertanya dengan suara manja kepada pria berkerudung itu.

"Begitulah, sejujurnya darahku terasa membeku."

"Begitu ya, perintah dari dewa kita adalah menyerahkan seluruh anggota Kelas F, kan?"

"Ah, di situlah masalahnya! Bagian itulah yang menyulitkan!"

"Menculik seluruh anggota Kelas F dengan menyamar sebagai kecelakaan tentu saja membutuhkan banyak tenaga."

"Terlebih lagi, insiden kali ini membuktikan kalau Tsukishiro Kain pasti memiliki kekuatan di atas Kelas A."

"Tingkat kesulitan untuk menculiknya, termasuk dirinya, akan meningkat drastis."

"Jika tujuannya memusnahkan semuanya, itu akan sangat mudah, kan?"

"Tetap saja, menggunakan mayat tidak bisa, bukan?"

"Perintahnya adalah bawa mereka kembali dalam keadaan hidup."

"Begitu ya. Jadi, pada akhirnya, apa yang akan kita lakukan dari sekarang?"

"Tentu saja memprioritaskan perintah dari dewa kita."

"Ah, wajah jahat itu lagi. Apa kamu sedang merencanakan keburukan lagi?"

Wanita bertopeng itu tertawa cekikikan tanpa rasa tegang.

"Tampaknya celah pada diri mereka terlihat dengan mudah."

"Kita akan memanfaatkan celah itu."

"Pahlawan Pedang Suci itu, ya? Kasihan sekali, anak selucu itu pada akhirnya akan dihabisi sampai ke tulang-tulang olehmu dan dihancurkan, begitu ya?"

"Sayangnya, aku tidak diperintahkan untuk menghancurkan mentalnya."

"Kalau begitu, jika berhasil menangkapnya dengan baik, biarkan aku mencicipinya juga, ya?"

"Anak itu benar-benar tipeku ♪"

Wanita bertopeng itu menjilat bibirnya dengan lidah berukir lambang sekop, memperlihatkan ekspresi penuh ekstasi.

"Silakan sesuka hatimu asalkan tidak mengganggu rencana."

"Akan kulakukan. Jadi, secara spesifik apa yang akan kita lakukan?"

"Kebetulan ada organisasi ilegal terkait politisi busuk yang bisa kita manfaatkan."

"Jika kita menggunakan mereka dengan baik, kita pasti bisa menangkap seluruh berandal Kelas F itu."

"Baguslah jika persiapannya sudah matang."

"Kalau begitu, beri tahu aku kalau detail rencananya sudah diputuskan."

Mengucapkan kalimat itu dengan suara riang, wanita bertopeng tersebut menghilang ke dalam kegelapan malam.

"Cih! Rubah betina sialan!"

Pria berjas hitam itu meludah, lalu,

"Dewa kita yang agung, Yang Mulia Spade! Aku pasti akan menunaikan perintahmu!"

Sambil menyatukan kedua tangannya, ia meneriakkan suara doa ke dalam kegelapan malam.

Beginilah situasi seputar Pangkalan Akiyayama dan kota tetangga Yuni mulai bergerak dalam bentuk paling kejam.

Skenario terburuk ini digambarkan oleh dewa agung yang sesat, pengikut yang mengaku saleh dari monster terkuat.

Sosok itu sama sekali tidak memiliki kompromi maupun belas kasihan.

Berdasarkan iman dan keyakinannya sendiri, ia menyajikan kemalangan serta keputusasaan luar biasa kepada orang-orang bodoh.

Kini, para vampir dan pengikut malang mereka mulai menaiki tangga kehancuran yang tujuannya telah ditentukan, sambil melompat-lompat kecil.

◇◆◇

Sejak menyaksikan pemandangan mengejutkan itu, aku, Mikage Mashiro, terus melamun.

Pemandangan mengejutkan yang kumaksud adalah saat Kain dan Makoto keluar dari pemandian air panas yang sama, lalu Makoto mencium Kain tepat di depan mataku.

Aku bukan lagi anak kecil yang polos. Aku paham betul apa yang mereka lakukan di dalam sana. Ditambah lagi dengan ciuman penegas itu. Tidak perlu dipikirkan lagi hubungan seperti apa yang mereka miliki.

Kain sangat buruk dalam berakting. Karena itulah aku bisa memastikan satu hal.

Setidaknya sampai saat kami berada di ruang teleportasi akibat jebakan itu, Kain masih menganggap Makoto sebagai seorang laki-laki.

Mungkin hubungan mereka makin dekat saat berada di pemandian air panas itu. Situasi seperti itu tidak akan terjadi kecuali jika Makoto yang bergerak aktif.

Lagipula, melihat senyum bahagia Makoto yang belum pernah kulihat sebelumnya, mustahil Kain memaksa atau mendesaknya.

"Aku ini... sedang melakukan apa, sih...?"

Aku memegang kepalaku dan merintih, diliputi rasa malu dan penyesalan yang mendalam.

Jika mereka berdua saling menyukai, tidak ada hak bagiku untuk ikut campur.

Namun, dari sekian banyak hal yang bisa kulakukan, aku malah menampar pipi Kain dan mengucapkan kata-kata menghina seperti itu.

Sebagai manusia, aku harus minta maaf. Namun ketika berada di depan Kain, aku bahkan tidak sanggup menatap wajahnya dan malah mengabaikannya.

"Tunggu, Mashiro, Kamu tidak apa-apa!?"

Ketika menyadari bahuku digoyangkan, aku menengadah dan melihat Otome Utako, teman yang kudapat selama pelatihan ini, menatap wajahku dengan cemas.

"E-eh, iya, tidak apa-apa kok."

Aku terburu-buru menutupi kekagetahanku. Utako duduk di kursi tepat di depanku dan memperhatikanku dengan lekat.

"Mashiro, apa terjadi sesuatu antara Kamu dan Kain-kun?"

Dia mengucapkan nama yang sama sekali tidak kuduga.

Hanya dengan mendengar namanya saja, aku bisa merasakan jantungku berdetak kencang.

"T-tidak ada apa-apa kok... K-kenapa memangnya?"

"Dengar ya, Kamu kelihatan aneh banget kalau di depannya. Padahal dulunya kelihatan dekat, tapi sekarang kalau dia mengajak bicara malah Kamu abaikan total."

"S-sungguh tidak ada apa-apa kok..."

Aku berhasil mengucapkannya dengan bersusah payah.

Utako menatap tangan kiriku, lalu menghela napas panjang.

"Diucapkan dengan wajah seolah dunia mau kiamat begitu membuat katamu tidak ada buktinya sama sekali. Kalau ada kesalahpahaman, biarlah aku yang memberitahu Kain-kun untuk membicarakannya baik-baik."

"T-tidak, tidak usah!"

Aku menggelengkan kepala dengan panik. Utako menatap wajahku sejenak, lalu...

"Baiklah kalau begitu. Aku menyerahkannya padamu, Mashiro. Tapi kalau butuh bantuan, kapan saja bisa cerita padaku, ya."

Dia mengedipkan sebelah matanya. Di dalam dadaku yang dingin, terasa ada kehangatan yang perlahan menyala.

"Terima kasih."

Aku mengucapkan rasa terima kasih yang mendalam pada teman yang mau memahami perasaanku tanpa mengintrogasiku lebih jauh.

Pelatihan praktis untuk menyelesaikan Quest Misi akhirnya dimulai.

Ini adalah pelatihan tempat kami mengatasi berbagai masalah di Kota Yuni bersama para Hunter profesional. Pelatihan ini dilakukan bergantian bersama para Ranker tingkat atas untuk menyelesaikan Quest Misi secara langsung.

Pertama-tama adalah Quest Misi menyembuhkan orang-orang terluka di rumah sakit lapangan di bawah bimbingan "Angels", Misumi Chika—Anggota No. 2 dari Clan Rank S 【Glorious】 yang dipimpin oleh Yoshimine Masayoshi alias "Saviour".

"Pria dengan luka robek di kepala itu cuma luka ringan. Pakai Heal!"

Instruksi tegas terdengar dari seorang wanita yang mengenakan jas laboratorium putih di atas gaun terusan hitam bertali rendah.

"Baik!"

Ran mengangguk patuh lalu merapal Heal pada pria yang mengalami luka di kepala akibat kejatuhan batu. Karina dan Makoto yang juga bisa menggunakan Heal terus merapal sihir tanpa henti.

Beruntung bagiku, Tatsuya dan Kain yang tidak bisa menggunakan Heal berada di ruangan lain, bertugas memindahkan pasien dan mengangkat barang-barang.

Ngomong-ngomong, menyadari perlawanannya sia-sia, Tatsuya mulai bergerak mengikuti instruksi Kain.

Mungkin Kain dasarnya suka mengasuh, dia mengajarkan sihir penguat fisik tanpa rapalan kepada Tatsuya. Tadi para staf medis sampai melotot tak percaya saat melihat Tatsuya membawa peralatan medis yang ukurannya beberapa kali lipat dari tubuhnya.

Dan aku pun...

Ketika aku menyalurkan mana berwarna perak keputihan dan merapal Heal, luka bakar yang parah langsung sembuh seketika.

"Wah~ Heal milik Mashiro-chan daya pemulihannya luar biasa banget, ya."

Takeshi yang ada di sampingku bersuara dengan nada santai. Dia juga salah satu orang yang mencemaskan hubunganku dengan Kain.

"Benar, itu sih sudah bukan di tingkat Heal biasa lagi."

Karina ikut bergumam terhenyak.

"Tidak kok, aku pikir ini berkat Takeshi. Mungkin kecocokan mana milikku dengannya sangat baik."

Takeshi memberikan buff peningkatan efek mana pada kami, sehingga menghasilkan peningkatan daya pemulihan Heal yang amat signifikan.

Terlebih lagi warna mana milik Takeshi adalah perak keputihan. Warna yang sama dengan manaku, jadi efek sinerginya semakin mendongkrak efek dari Heal milikku.

"B-begitu ya..."

Takeshi menggaruk-garuk rambutnya dengan canggung karena merasa malu.

"Hei, kalian di sana, jangan melamun! Gerakkan tangan kalian, bukan mulut kalian!"

Suara teguran datang dari sang "Angels", dan kami kembali berkonsentrasi pada pengobatan.

Setelah pengobatan selesai, sang "Angels" mendekati kami yang sudah kelelahan.

"Ya~i! Dengan ini pelatihan pertolongan medis dua minggu telah selesai~ Beristirahatlah yang cukup di asrama, ya~"

Berbeda dari ketegasannya tadi, dia memberikan instruksi kepada kami berlima dengan suara yang amat santai dan terseret.

"Terima kasih banyak!"

Kami berlima membungkuk pada instruktur wanita tersebut.

Misumi Chika yang berjuluk "Angels" adalah Hunter tipe medis terkemuka di Jepang dan orang yang sangat terkenal karena sering muncul di media.

Banyak orang menjadi Hunter karena mengaguminya, dan karismanya jauh melebihi idola biasa. Awalnya kami semua merasa tegang saat berinteraksi dengannya, namun karena dia perhatian dan dasarnya baik hati, semua orang akhirnya menjadi akrab. Aku sendiri juga merasakan kekaguman yang kuat padanya.

(Seandainya aku punya pesona seperti itu...)

Saat aku buru-buru menggelengkan kepala untuk mengusir pemikiran yang tiba-tiba muncul itu...

"Mashiro-chan~ Sebagai perwakilan Kelas F, ada masukan dari Master kami nih. Bisakah kamu datang ke lantai dua setelah ini~?"

Sang "Angels" memegang bahuku sembari tersenyum dan mengedipkan sebelah matanya. Lalu...

"Kalau begitu, selamat berjuang ya~"

Sambil mengucapkan kata-kata itu dengan suara jernih, dia berjalan menuju ruangan berdinding kaca di mana Kain dan Tatsuya berada.

"Enak banget ya, aku juga mau dipanggil."

Ran mengerucutkan bibirnya dan mengeluh, tapi...

"Mau bagaimana lagi. Menurutku memang kelompok ini berpusat pada Mashiro dan Kain-kun. Lagipula lihat tuh, Kain-kun sekarang kelihatan sibuk, kan?"

Karina menimpali dengan nada riang entah kenapa.

"..."

Tatapan tanpa kata dari kami semua langsung tertuju pada Karina.

"A-apaan sih?"

"Karina, apa Kamu suka Tatsuya?"

Mendengar teguran Makoto, wajah Karina seketika berubah merah padam.

"Mana mungkin lah! Si bertubuh gemuk yang tidak punya perasaan begitu adalah kebalikan total dari tipe idealku!"

Dia berteriak penuh emosi dan membantahnya dengan galak.

Akhir-akhir ini Karina sering membicarakan Tatsuya, dan aku sendiri sempat berpikir jangan-jangan memang begitu. Melihat reaksinya yang berlebihan, sepertinya dia memang tidak sepenuhnya membencinya.

"Hmm~ Begitu ya. Karina toh~"

Ran menyunggingkan senyum jahat dan menyeringai sambil menutup mulutnya.

"Kan sudah kubilang bukan!"

Sambil tersenyum kecut melihat Takeshi yang mencoba melerai mereka berdua yang akhirnya bertengkar fisik, aku berjalan menuju lantai dua yang ditentukan oleh sang "Angels".

"Eh?"

Pernyataan dari pemimpin 【Glorious】, Yoshimine Masayoshi alias "Saviour", adalah sesuatu yang benar-benar tidak bisa kupercaya.

"Wajar jika Kamu tidak percaya. Dia bukan penghuni dunia ini. Tsukishiro Kanon pasti adalah kerabat dari para Vampir. Terlebih lagi, tingkatannya cukup tinggi."

Dokumen yang diserahkan oleh "Saviour" adalah laporan penyelidikan mengenai Kain, yang berisi tiga poin utama.

Pertama, hasil pemeriksaan panah yang dilepaskan Kain menunjukkan bahwa bahannya terdiri dari zat yang berbeda dari dunia ini.

Kedua, DNA dari air liur yang diambil setelah Kain makan menunjukkan adanya wilayah tak tertandingi yang berbeda dari manusia biasa.

Ketiga, penelitian Asosiasi menyimpulkan bahwa perubahan DNA ini mirip dengan reaksi yang terjadi saat kerabat Vampir merasuki manusia.

"K-seberapa besar tingkat kepercayaan dari fakta ini!?"

Meskipun merasa shock seolah-olah kepalaku dipukul langsung dengan palu, aku tetap bertanya pada "Saviour".

"Ini adalah kesimpulan yang diambil oleh Departemen Penelitian berdasarkan sampel yang diambil oleh Departemen Penyelidikan Asosiasi Hunter. Kami berpikir kemungkinan besar dia adalah tubuh yang dirasuki oleh kerabat Vampir."

"Kain... kerabat Vampir?"

Aku merenungkannya berkali-kali, tapi aku tidak bisa benar-benar merasakannya.

Tidak, bukan begitu. Aku pasti cuma tidak ingin percaya. Bahwa dia adalah musuh yang membunuh adik laki-lakiku.

"Kami juga telah melakukan penyelidikan rahasia, dan Tsukishiro Kanon beserta 【Akudou】 dan anggota 【Akuki Guraku】 lainnya kemungkinan besar bersalah. Mereka ada hubungannya dengan para Vampir. Mungkin berpindahnya kamu ke lantai bawah Dungeon juga bukan suatu kebetulan."

"Tapi, dia sudah menyelamatkanku!"

"Benar! Karena itulah kami awalnya mengira dia berada di pihak kemanusiaan. Namun, dari penyelidikan nyata Departemen Penyelidikan, dia berada di area abu-abu yang sangat mendekati bersalah."

"Ini baru dugaan kami, tapi kami berpikir apakah dia bukan pembunuh bayaran yang dikirim oleh para Vampir."

"Pembunuh bayaran... dari Vampir?"

"Benar. Kamu juga tahu soal kasus pembunuhan yang menargetkan anggota Asosiasi baru-baru ini, kan?"

"I-iya."

Kalau dipikir-pikir, siaran berita nasional di TV memang sering melaporkan bahwa kediaman para petinggi Asosiasi di sekitar Kota Yuni diserang secara beruntun.

"Di antara korbannya, ada juga Hunter Rank S, 【Meido Gaeshi】. Menurutmu, apa ada orang lain yang bisa melakukan hal seperti ini selain dia?"

Aku tidak berpikir ada orang lain. Hunter Rank S adalah keberadaan di luar nalar manusia. Mereka tidak akan bisa diinsafkan atau dibunuh dengan mudah, dan kalaupun diserang, penyerangnya pasti akan dihabisi balik.

Seandainya terjadi pertarungan, daerah sekitarnya pasti akan mengalami kerusakan parah.

Benar. Kecuali jika penyerangnya adalah Kain. Dengan teknik bertarung Kain, membunuh lawan tanpa memberi kesempatan untuk melawan sedikit pun adalah hal yang sangat mungkin. Namun...

"Jika dia adalah tubuh yang dirasuki oleh kerabat Vampir, mengapa dia bisa bergerak bebas di dalam Tembok Putih?"

Jika seorang yang dirasuki bisa bergerak bebas di dalam dan di luar tembok, kemanusiaan pasti sudah punah sejak lama. Perbedaan kekuatan antara manusia dan pihak Vampir memang sebesar itu.

"Pengamatan yang sangat bagus! Ini adalah informasi yang disembunyikan oleh Asosiasi, tapi tubuh yang dirasuki kerabat Vampir yang menyusup ke dalam tembok bukanlah yang pertama kalinya."

"Bukan yang pertama kalinya!?"

"Benar. Sampai saat ini sudah ada tiga kasus penyusupan ke dalam tembok oleh tubuh yang dirasuki. Semuanya hanya memiliki kekuatan yang tidak berbeda jauh dengan manusia biasa."

"Pasti ada batasan yang membuat kekuatan Vampir tidak bisa digunakan sama sekali di dalam tembok. Di bawah batasan itulah dia bergerak sesuai perintah para Vampir. Kasus pembunuhan petinggi Asosiasi adalah contohnya. Dan tujuan akhir mereka, sembilan puluh sembilan persen adalah penghancuran tembok."

"Penghancuran tembok!? Apa hal seperti itu mungkin!?"

"Ya, mungkin saja. Ini adalah masalah dengan tingkat kerahasiaan tertinggi, tapi tidak apa-apa jika kuberitahukan padamu yang akan memikul masa depan dunia Hunter."

"Tembok itu bisa dikatakan sebagai kotak hitam. Diperlakukan sebagai informasi rahasia tingkat tertinggi yang hanya dikuasai oleh jajaran atas Asosiasi. Kasus penyerangan petinggi Asosiasi kali ini juga dilakukan untuk menggali informasi demi menghancurkan tembok."

Perbedaan kekuatan antara Vampir dan manusia sudah sangat jelas. Jika tembok itu lenyap, dalam hitungan hari umat manusia akan punah.

Untuk memecahkan situasi jalan buntu ini, mereka mengirimkan monster bernama Kain ke pihak manusia. Memang benar, jika dipikir-pikir seperti itu, semuanya jadi masuk akal. Tidak, segalanya justru terlalu pas.

"T-tapi, apa ada buktinya!? Apa ada bukti bahwa dialah yang menyergap mereka!?"

Aku bertanya dengan suara gemetar. Itu wajar. Karena aku sama sekali tidak ingin percaya bahwa pria selembut dia adalah kerabat Vampir.

"Ada. Sidik jarinya ditemukan di tempat kejadian pembunuhan 【Meido Gaeshi】."

"Maafkan saya. Saya sungguh tidak bisa mempercayainya. Tolong beri saya waktu sebentar lagi."

Aku sama sekali tidak mau membenarkannya. Yang ada di kepalaku saat itu hanyalah bagaimana cara membuktikan bahwa dia tidak bersalah.

"Baiklah. Dua minggu setelah pelatihan Dungeon nanti, kalian bersama 【Akuki Guraku】 akan berpartisipasi dalam misi pemusnahan organisasi perdagangan manusia, 'Gremlin'. Sebelum saat itu tiba, aku ingin jawaban."

"Karena itu, ada sesuatu yang ingin kuminta padamu. Bagaimana?"

"Bagaimana jika aku menolaknya?"

"Kamu sudah mengetahui banyak hal, jadi aku berencana melaksanakan pelatihan ini tanpamu. Tapi tidak perlu khawatir. Kalaupun begitu, aku akan berusaha meminimalkan korban dari anggota Kelas F sedapat mungkin."

Seharusnya aku menolak permintaan seperti ini. Namun aku...

"Saya mengerti. Mohon bantuannya."

Aku justru menyetujuinya.

Selama dua minggu setelahnya, aku terus tidak ingin percaya. Aku sangat menginginkan bukti untuk membantahnya.

Hanya dengan pemikiran itu, aku menuruti instruksi "Saviour" untuk menggeledah barang-barang Kain.

"Maafkan aku, Kain!"

Sambil meminta maaf berkali-kali di dalam hati, aku memeriksa isi tasnya saat dia sedang mandi.

"Ini kan..."

Di dalam amplop cokelat di dasar tas Kain, terdapat kartu keanggotaan Hunter milik 【Meido Gaeshi】 yang berlumuran darah.

"Tidak mungkin! Ini pasti ada yang salah!"

Sambil berjuang keras memikirkan alasan bagus bahwa Kain bukanlah pelakunya, aku menggeledah lebih jauh, dan menemukan benda itu.

"Eh?"

Suara serak keluar dari mulutku. Benda itu terlipat rapi dan tersimpan di bagian paling dalam tas.

Sebuah saputangan lusuh berwarna putih dengan gambar kelinci. Aku sangat mengenal saputangan itu.

"Kenapa Kain bisa memiliki ini?"

Aku bertanya pada diriku sendiri, namun entah bagaimana aku bisa menebak alasannya.

Sebab, saputangan itu adalah hadiah yang kuberikan dulu kepada adik tiriku, Mikage Umi.

Memang dia agak mirip dengan Umi. Namun, tidak mungkin dia adalah Umi.

Pertama, warna rambutnya abu-abu, bukan hitam. Kain juga bukannya hilang ingatan. Dia punya kampung halaman di dunia ini, punya teman, dan punya keluarga.

Dan yang paling penting—Umi tewas tertimpa bangunan tepat di depan mataku. Aku mengingat momen terakhir itu dengan sangat jelas.

Dengan kata lain, saputangan ini dirampas dari Umi yang tewas di tengah kekacauan saat itu. Artinya—artinya itu—

"Kain adalah... musuh yang membunuh Umi?"

Aku pernah mendengar bahwa di antara kerabat Vampir, ada yang mengumpulkan barang-barang milik manusia yang sudah mati dan mengenakannya seolah-olah sebagai piala kemenangan.

Jika Kain adalah komandan dari monster-monster ular itu, dan dia mengambil saputangan itu dari jasad Umi...

"Tidak..."

Pertahananku yang terakhir hancur berantakan.

Mengetahui dengan pasti bahwa Kain adalah orang yang telah merebut sosok paling berharga bagiku, segala hal yang tidak kupahami selama ini tiba-tiba menjadi sangat masuk akal.

"Aku... konyol sekali..."

Air mata menetes membasahi pipiku. Lagipula, selama ini aku terus dibodohi.

"Tapi, ini sungguh menyakitkan..."

Di saat yang sama, aku menyadarinya dengan sangat jelas. Bahwa aku telah jatuh cinta pada Tsukishiro Kanon.

"Aku tidak akan memaafkanmu!"

Mengecap air mata dan berusaha membuang perasaanku, aku melepas cincin dari Kain yang terpasang di jari tangan kiriku lalu melemparkannya sekuat tenaga keluar jendela.

Cincin itu membentuk garis lengkung melayang dan jatuh terperosok ke sungai di dekat situ.

"Aku benar-benar tidak akan memaafkanmu! Aku tidak akan membiarkanmu melakukan sesukamu! Aku sendiri yang akan melindungi semuanya!"

Saat aku berteriak seperti itu, aku menyadari sesuatu yang sangat pekat dan gelap lahir di dalam diriku.

Sesuatu itu seolah membilas habis diriku yang sempat tertarik pada Kain, dan kurasa di saat yang sama aku merasakan kepedihan yang amat sangat beserta rasa rindu yang aneh.

◇◆◇

Setelah pelatihan pertolongan medis dan dua minggu pelatihan Dungeon, kami dari Kelas F bergabung dengan Clan Rank S 【Akuki Guraku】 untuk menjalankan misi pemusnahan organisasi perdagangan manusia yang konon berada di Kota Yuni, 'Gremlin'.

'Gremlin' adalah organisasi kriminal Rank A yang menangkap manusia lalu mengirim mereka ke luar Tembok Hitam demi mendapat imbalan dari para Vampir.

Sebuah organisasi sampah terburuk yang menjual sesama manusianya kepada para Vampir. Karena itulah, Clan yang paling keras dan kejam seperti 【Akuki Guraku】 yang dipilih.

Monster berwujud seperti belut lamprey yang mendekat sambil menggelegarkan tanah, Ruroujuu.

Mereka adalah binatang buas yang muncul di wilayah tak bertuan antara Tembok Putih dan Tembok Hitam, dan menyerang baik manusia maupun Vampir.

"Double Boost! ― Physical Boost! ― Magic Boost!"

Saat Takeshi menggoreskan sesuatu di udara dengan jari telunjuk kanannya, seluruh tubuh Mashiro bersinar terang.

"Hap!"

Dengan kecepatan tinggi, Mashiro memenggal leher empat monster berwajah belut lamprey menggunakan Pedang Suci sebelum mereka sempat bereaksi sedikit pun.

Di saat bersamaan, dia menebas monster yang menyerang dari belakang secara vertikal hingga terbelah dua dengan tebasan angin dari Pedang Suci.

"Hyuu~!"

Pria berkacamata hitam dengan penampilan berandalan yang merupakan Anggota No. 2 dari 【Akuki Guraku】 menyeringai lebar dan bersiul melihat pertarungan Mashiro.

Monster-monster memang terus bermunculan seperti ini, namun Mashiro selalu menghabisi mereka dalam satu pukulan.

Para anggota 【Akuki Guraku】, termasuk 【Akudou】, hanya diam mengamati dari jauh.

Kombinasi Mashiro dan Takeshi semakin lama semakin luar biasa bagaikan dewa.

"Kelihatannya makin bagus saja, ya."

Pria berkepala botak dan berotot kekar yang mengenakan kaos kutang, 【Akudou】, bersuara gembira sambil mengapit rokok di mulutnya.

"Master, tolong jangan main-main pakai bocah-bocah itu, ya. Soalnya kalau nanti diamuk Tuan Mekora, yang bakal kena omel kan kami juga."

Melihat hal itu, pria berkacamata hitam yang berada di sisinya menyampaikan permohonan yang teramat sangat kepada 【Akudou】.

"Bakal kuusahakan!"

Jawab 【Akudou】 lalu melangkah pergi sambil mengapit rokoknya.

"Mashiro, kamu terlalu maju sendirian. Jangan bertindak nekat."

Aku mendekati Mashiro dan memberinya peringatan sekadarnya dengan suara pelan.

Entah kenapa Mashiro belakangan ini agak aneh. Dia tidak mau bekerja sama dengan siapa pun selain Takeshi, dan berusaha mengalahkan semua monster sendirian.

Lebih tepatnya, dia kelihatan bertarung karena didorong oleh rasa benci terhadap monster.

"Jangan mendekatiku! Jangan bicara padaku!"

Dengan mata yang menatapku seolah aku ini musuh bebuyutan keluarganya, dia membentakku dengan keras lalu berjalan menjauh.

(Hei, apa terjadi sesuatu antara kamu dan Mashiro?)

Karina dan Ran mendekat dengan ekspresi tak tahan cemas lalu bertanya dengan suara bisik-bisik.

(Aku sendiri sama sekali tidak tahu. Sejak empat hari lalu dia terus-terusan begitu.)

Aku tidak merasa telah melakukan apa pun, tapi sejak empat hari lalu sikap Mashiro padaku berubah drastis dan selalu meluapkan kebencian padaku setiap ada kesempatan.

(Apa kamu tidak sengaja mengintip Mashiro saat ganti baju?)

(Atau waktu jatuh, kamu tidak sengaja meremas dada dahsyatnya itu?)

Karina dan Ran mulai berbicara asal-asalan sesuka hati mereka.

(Kalian berdua ini sebenarnya menganggap aku ini apa, sih?)

Aku bertanya pada mereka berdua dengan tatapan sipit.

(Si mesum beruntung tanpa sengaja.)

(Pria tidak peka dan tidak sadar diri yang suka salah paham.)

Jawaban yang sangat tidak menyenangkan datang dari mereka.

Mendengar itu, Takeshi menutupi mulutnya dan menahan tawa. Tatsuya juga memalingkan wajah dan gemetaran menahan tawa.

Si Tatsuya itu, padahal sejak ikut bertarung dia sudah makin terbiasa, tapi wajahnya masih cemberut sepanjang waktu... Kenapa cuma di saat seperti ini saja dia tertawa!

(Tapi, kalau dia bertindak gegabah sendiri terus begini bakal merepotkan. Paling parah, kita juga bisa kena bahaya.)

Mendengar teguran masuk akal Makoto...

(Kalau menurutku sih, Ane-sama juga punya andil atas penyebabnya.)

Karina menyela dengan mata menyipit seolah ingin menyalahkan.

(Maaf. Tapi sampai sekarang pun aku tidak menyesali pilihanku.)

Ucap Makoto dengan tegas dan wajah serius.

(Cukup bahas soal ini! Kan janjinya begitu!)

Ran menembakkan pandangan tajam pada mereka berdua sebagai peringatan.

(Pokoknya, yang dimusuhi Mashiro cuma Kain-kun. Kain-kun harus bertanggung jawab untuk meluruskan kesalahpahaman ini. Ane-sama juga setuju, kan?)

Karina memastikan dengan senyuman.

(Terserah kalian saja...)

Makoto melirikku sekilas, lalu memalingkan wajah saat bicara.

"Hei, bocah-bocah! Malah asyik mengobrol! Ini area musuh! Jangan lengah!"

Kami dimarahi oleh 【Akudou】.

"Benar juga. Ayo jalan!"

Saat aku mulai melangkah, yang lain pun mengikutiku berjalan maju.

(Takeshi, nanti aku akan bicara dengan Mashiro. Bisakah aku menyerahkannya padamu sampai saat itu?)

Aku mendekati Takeshi dan mengatakannya dengan suara pelan yang hanya bisa didengar olehnya.

(Sip, serahkan padaku.)

Dengan ekspresi serius, Takeshi mengacungkan jempolnya sambil berbisik, dan aku pun mengangguk pelan.

Saat kami memasuki area depan stasiun yang sudah hancur, serangan dari Ruroujuu mendadak berhenti.

Di saat yang sama, aku merasakan sensasi hambatan unik seolah-olah memasuki air.

Meski begitu, yang menyadarinya hanyalah 【Akudou】 yang sedikit mengernyitkan alis, aku, dan Takeshi yang terus-menerus memiringkan kepalanya bingung.

Mashiro dan murid-murid lainnya, tentu saja, bahkan para anggota 【Akuki Guraku】 pun tetap melanjutkan penyelidikan tanpa mengubah ekspresi mereka seolah tidak terjadi apa-apa.

Lagipula...

"Buruk sekali..."

Penghalang ini terlalu amatir. Levelnya bisa langsung kuhancurkan dengan pisauku dalam sekejap.

Mungkin efektivitasnya cuma sebatas menahan gerak orang yang masuk ke dalam penghalang.

"Ada apa, Kain?"

Tanya Takeshi sambil mengernyitkan alis.

"Tidak, bukan apa-apa kok."

Jawabku sambil tersenyum.

"Hei, dari tadi rasanya ada yang menempel licin di kulitku, ya?"

"Kalau kamu membicarakan hal mesum di situasi begini, nanti bisa kena omel lho."

Sambil memandang 【Akudou】 yang masih menyunggingkan senyum jahatnya, aku menggedikkan bahu prihatin.

"B-bukan begitu maksudku!"

Sambil merinding, Takeshi menggenggam erat tongkat senjatanya dan mulai celingukan memeriksa sekeliling.

Bahkan aku dan Takeshi saja menyadarinya. Walau berpura-pura tenang, anggota 【Akuki Guraku】 pun pasti menyadarinya. Kurasa mereka sudah cukup menyiapkan antisipasi terhadap penghalang ini.

"Ada yang datang!"

Mendengar suara tajam Mashiro, seluruh anggota Kelas F langsung pasang kuda-kuda. Dari dalam bangunan stasiun, muncul seorang bocah laki-laki berusia sekitar tujuh hingga delapan tahun yang berjalan pelan.

Pakaiannya rombeng dengan wajah terbalut lumpur dan jelaga. Ditambah lagi sebuah kerah yang terpasang di lehernya serta tali tak kasatmata yang membentang di belakangnya.

Meskipun dinamakan tak kasatmata, karena mana terus-menerus terpancar darinya, bagiku hal itu terlihat sangat jelas.

(Sampah-sampah ini...!)

Mengetahui dengan pasti apa yang coba dilakukan oleh mereka, aku berbisik pelan tanpa sadar.

"Orang yang butuh pertolongan!? Ayo segera selamatkan!"

"Dimengerti!"

Menghentikan langkah Makoto dan Karina yang bersiap berlari dengan lengan kananku...

"Itu jebakan."

Ucapku tegas dengan nada suara dingin yang bahkan membuat diriku sendiri merinding.

"T-tapi, Kain, anak itu cuma sendirian!"

Tanpa menjawab Makoto yang menyampaikan sanggahan wajar sambil kebingungan melihat perubahanku yang tiba-tiba...

"Bagian ini biar aku yang urus. Kalian semua harap tunggu di belakang."

Deklarasiku dengan nada bicara yang kuat.

"Jangan bercanda! Di saat nyawa seorang anak terancam begini, mana bisa kuserahkan padamu!"

Mashiro meninggikan suaranya dan mengucapkan kalimat penolakan, namun...

"Kamu harusnya sadar, kan? Itu jelas-jelas jebakan."

Ucapku perlahan seolah menasihatinya. Mana sejelas itu terpancar. Jika Mashiro punya intuisi yang tajam, dia pasti bisa melihat tali tak kasatmata itu.

"Masa bodoh! Akan kuhancurkan bersama jebakannya sekalian!"

Mashiro berteriak penuh emosi sambil menampakkan giginya. Benar-benar seperti anak kecil.

Begitu memberikan jawaban nekat seperti ini, sudah pasti dia sedang tidak tenang.

Jika Mashiro bertindak dalam kondisi begini, bisa saja terjadi hal yang tidak diinginkan. Lebih baik aku saja yang membereskannya.

"Itu namanya terlalu percaya diri. Apa Kamu jadi sombong hanya karena sudah bisa mengendalikan warna mana? Padahal, orang selevel Kamu itu ada banyak sekali bertebaran di dunia ini. Kamu yang lemah ini mau menghancurkan jebakan sekalian? Paling-paling Kamu cuma bakal mati bersama anak itu."

Setelah menyampaikan hal itu secara sepihak kepada Mashiro, aku berbalik menghadap 【Akudou】.

"【Akudou】-san, bolehkah saya yang menanganinya?"

Aku meminta izin padanya.

"Lakukan sesukamu."

Seperti yang sudah kuduga, 【Akudou】 mengangkat sudut bibirnya dan memberikan izin dengan mudah.

"【Akudou】-san, kalau itu sih terlalu..."

Pria berkacamata hitam mencoba membujuknya untuk mengubah pikiran secara terburu-buru, tapi...

"Hei, Kazu. Apa kamu tidak mendengar apa yang kukatakan tadi!?"

"T-tidak..."

Dengan satu gertakan, 【Akudou】 membungkam Kazu, pria berkacamata hitam itu.

Dengan ini, persiapannya sudah selesai.

Sambil menyunggingkan senyum lembut, aku berjalan pelan mendekati bocah itu.

Wajah bocah itu merengut kesal dan meneteskan air mata, namun jauh di dalam matanya, terlihat kemarahan yang amat sangat. Artinya, dia sama sekali belum menyerah sedikit pun.

Tekad hidup bocah ini yang begitu kuat mungkin bisa memberikan pengaruh bagus bagi Tatsuya. Lagipula, aku memang berencana melangkah ke tahap selanjutnya dalam mendidik Tatsuya. Mari kita serahkan bocah ini pada Tatsuya.

Aku mendekati bocah itu, memutus tali tak kasatmata yang membentang dari kerah lehernya, lalu menggenggam tali tak kasatmata itu dengan tangan kananku.

Di saat yang sama, aku merangkul bocah yang hendak roboh itu dengan lengan kiriku, mundur ke arah Tatsuya yang ada di belakang, lalu menyerahkannya padanya.

"Tatsuya, lindungi dia."

Ucapku memberikan instruksi seperti biasa pada Tatsuya yang menerima bocah itu dengan ekspresi terkejut.

"K-kenapa harus aku...!"

Kepada Tatsuya yang masih menolak instruksi di saat seperti ini...

"Lindungi dia. Mengerti?"

Aku hanya memalingkan wajah dan menakut-nakutinya seperti biasa sambil memberikan tekanan lewat senyuman lebar.

"Sir, yes sir!"

Dia membusungkan dada dan menganggukkan kepalanya berkali-kali. Padahal dia pasti tahu kalau tidak akan bisa menolaknya.

"Ngomong-ngomong, kalau bocah itu tergores luka sedikit saja, perlakukanmu di kelompok ini akan beralih ke Mode Hard."

"Jadi selama ini masih belum Mode Hard, toh..."

Mendengar tanggapan Tatsuya yang penuh keputusasaan...

"Ya. Masih Mode Tamu."

Pipi Tatsuya kedutan mendengar jawabanku. Dia lalu maju ke depan untuk melindungi bocah itu sambil mencabut pedang panjangnya dan mengambil posisi siap bertarung.

Sisa hal lainnya adalah...

"Gigagagagiiiiiii~!"

Mungkin karena marah. Suara pekikan yang menggetarkan udara membuat tali tak kasatmata yang kugenggam di tangan kanan ikut bergetar. Sepertinya monster itu sangat murka saat menyadari mangsanya telah lolos.

"Apa Kamu begitu ingin bertemu dengan kami sang mangsa? Kalau begitu akan kubuat Kamu bertemu!"

Aku menarik tali tak kasatmata yang kugenggam di tangan kanan sekuat tenaga.

"Gigigiiii~!"

Sambil mengeluarkan pekikan, sebuah gumpalan cokelat besar terangkat ke udara.

Aku mengendalikan tali tak kasatmata yang masih kugenggam, lalu menghempaskannya sekuat tenaga ke area tanah yang kosong.

Diiringi suara letupan sesuatu yang hancur berkeping-keping, gumpalan cokelat besar itu menyemprotkan darah hijau dan potongan daging ke segala arah.

Dari dalam stasiun, muncul tiga monster laba-laba raksasa secara bergerombol.

"Sampah-sampah ini...!"

Aku meludah gusar lalu mencabut dua pisau dari pinggangku. Sambil melintas cepat di antara mereka, aku mencincang semua laba-laba raksasa itu hingga hancur dan melesat masuk ke dalam stasiun.

Monster-monster laba-laba tampak menggeliat dan berkerumun di aula stasiun yang luas.

Di tengah-tengah perlindungan monster-monster itu, aku melihat seorang pria paruh baya berkepala botak mengenakan hoodie hitam yang mengenakan kupluk, dengan tato iblis di pipinya berdiri tegak.

"Apakah kamu yang menjadikan bocah itu sebagai umpan?"

Suara pertanyaan yang keluar dari mulutku terasa sangat dingin hingga membuat diriku sendiri merinding.

"Mana mungkin bocah seperti ini bisa membunuh Poison Spider milikku. Tidak salah lagi kalau hunter tingkat tinggi sedang menyerang. Haruskah aku segera kabur dari sini dan melapor pada Bos...?"

Pria paruh baya berkepala botak itu sama sekali tidak menjawab pertanyaanku. Dia melipat tangan dan bergumam sendiri, lalu naik ke atas kepala laba-laba raksasa di belakangnya.

Dengan teknik langkah kaki khas yang diwariskan dalam Seni Beladiri Kuno Tsukishiro, aku memangkas jarak.

Lalu memotong laba-laba raksasa yang ditungganginya menjadi serpihan halus menggunakan Seni Pisau Tsukishiro Tingkat Dasar―【Shisen】.

Seketika kemudian, garis tebasan muncul di tubuh laba-laba raksasa itu―

"Uwogh!?"

Laba-laba raksasa di bawah kakiku hancur menjadi serpihan daging. Pria paruh baya berkepala plontos itu kehilangan keseimbangan dan terlempar ke atas lantai yang keras.

"Aku tanya sekali lagi. Apakah kamu yang menjadikan anak laki-laki itu sebagai umpan?"

Aku memastikannya lagi dengan nada bicara yang tidak menerima bantahan.

"Mustahil! Keparat, apa yang baru saja kamu laku— Gugek!?"

Aku mendekati pria paruh baya berkepala plontos yang meracau dengan ekspresi terkejut itu. Aku menahan kekuatanku dan menendang ulu hatinya. Lalu....

"Jawab saja apa yang kutanyakan."

Aku mengintimidasinya sambil memamerkan senyum palsu.

"Gogek! Gohak!"

Ia memuntahkan seluruh isi perutnya. Dengan wajah putus asa, ia melompat ke belakang untuk menjaga jarak dariku.

"Pasukan Poison Spider, bunuh bocah itu!"

Ia memberikan perintah. Monster-monster laba-laba raksasa itu serentak menerjang ke arahku.

"Mengganggu saja."

Aku meludahkan kata-kata itu. Menggunakan garis kematian, aku memotong-motong dan membunuh semua laba-laba raksasa di dalam stasiun.

Dalam sekejap, cairan tubuh berwarna hijau berhamburan. Pemandangannya seperti ember raksasa yang baru saja ditumpahkan.

"Hihe?"

Pria itu celingukan menatap sekeliling. Wajahnya dengan cepat memucat, seolah ia akhirnya memahami situasi yang sedang menimpanya.

"Ini kesempatan terakhirmu. Apakah kamu yang menjadikan anak laki-laki itu sebagai umpan?"

"A-Ampuni aku! Aku akan melakukan apa pu— Aaah!?"

Aku memotong lengan kanannya. Ia pun meronta-ronta sambil berteriak histeris.

"Jika kamu tidak mau bicara, aku hanya perlu membuatmu ingin bicara."

Aku mendekat dan menendangnya melambung. Ia berteriak seperti katak yang terinjak, memantul di lantai berkali-kali, lalu kepalanya menabrak gerbang tiket.

"T-Tunggu! Aku akan bicara, aku akan bicara! Aku yang melakukannya!"

Pria paruh baya berkepala plontos itu berteriak kencang. Wajahnya sudah berantakan oleh air mata dan ingus.

"Begitu, ya...."

Aku berjalan pelan mendekatinya. Kutendang wajahnya ke atas hingga ia kehilangan kesadaran.

Mereka adalah bajingan yang menjual umat manusia kepada vampir. Apalagi pria ini, ia berniat mengumpankan anak itu beserta kami semua kepada laba-laba.

Orang dewasa kotor mencoba mengorbankan seorang anak kecil. Sampah semacam ini bahkan lebih hina dari monster.

Lebih tepatnya, orang-orang seperti ini lebih aman jika disingkirkan dari dunia ini secepatnya. Ya, kalau aku yang biasanya, aku pasti sudah langsung membereskannya.

Hm? Aku yang biasanya? Seingatku, aku tidak memiliki pola pikir untuk langsung membunuh meskipun berhadapan dengan orang jahat.

Yah, biarlah. Lagipula, membunuh pria ini sekarang adalah langkah yang buruk. Ada alasan yang sangat jelas untuk itu, yaitu—

"Kenapa kamu tidak membunuhnya!?"

Aku menolehkan wajah ke arah sumber suara tajam itu. Kulihat Mashiro sedang menatap pria plontos yang pingsan itu dengan kebencian layaknya binatang buas.

Di sampingnya, Akudou menatapku sambil melipat tangan dengan wajah serius.

Benar. Inilah alasanku tidak bisa membunuh sampah ini. Kebencian Mashiro terhadap vampir benar-benar tidak normal.

Lebih tepatnya, Mashiro membenci segala sesuatu yang berhubungan dengan vampir secara mendalam dan murni.

Bagi Mashiro, vampir dan para kerabatnya, monster yang menyerupai mereka, bahkan manusia yang bersekutu dengan mereka hanyalah target untuk dimusnahkan.

Hal itu sudah sangat bisa kutebak dari obrolanku dengannya selama ini.

Tentu saja, dari perkataan dan perbuatan sampah yang sedang pingsan itu, kelompok Little Devil Gremlin telah melakukan dosa yang setimpal. Kematian mereka pun sebenarnya menjadi hasil yang kuharapkan.

Namun, jika sampah ini ternyata tidak ada hubungannya dengan vampir, tindakan itu hanya akan menjadi pembunuhan biasa di mata Mashiro.

Fondasi kebenaran di dalam dirinya akan hancur berantakan. Jika ia membunuh para sampah ini dalam situasi seperti itu, jiwanya pasti akan terluka parah.

Selain itu, jika aku membunuh pria paruh baya ini sekarang, hal itu bisa memicu lepasnya kendali Mashiro. Ia bisa saja membantai semua orang yang kami tangkap dalam misi ini.

Ada bahaya semacam itu dalam dirinya saat ini. Karena itulah, aku harus menyatakan dengan tegas kebijakan untuk tidak membunuh dan membuatnya mengerti.

"Perintah kita bukanlah untuk membantai seluruh anggota Little Devil Gremlin, melainkan menghancurkan organisasinya. Orang ini adalah sumber informasi yang penting. Masih banyak yang harus kutanyakan padanya."

Mendengar pernyataanku yang penuh penekanan itu, ia merespons.

"Berarti kita boleh membunuhnya setelah menggali informasi, kan!?"

Mashiro memastikannya dengan suara rendah. Aku sudah menduga ia akan bereaksi seperti itu.

"Membunuh tawanan itu melanggar hukum internasional, lho."

Tidak salah lagi. Mashiro yang sekarang sedang dirasuki oleh monster merepotkan bernama kebencian.

"Begitu, ya. Apapun yang terjadi, kita tetap tidak boleh membunuhnya?"

"Iya."

"Kamu pasti berkomplot dengan para vampir itu! Kamu sedang melindungi sekutumu, kan!"

Ia menodongkan ujung pedang sucinya ke tenggorokanku. Ia menuntut jawaban dengan mata yang memerah.

"Kamu sangat salah paham. Sejujurnya, aku sama sekali tidak peduli dengan nyawa mereka."

Aku melontarkan kata-kata itu sambil terus menghalangi langkahnya.

"Kalau begitu, kenapa kamu menghentikanku!"

Mashiro berteriak secara emosional.

"Karena itu adalah aturan minimum di dunia ini sebagai seorang pejuang! Jika kita melanggarnya, kita tidak akan ada bedanya dengan mereka."

Yah, kedengarannya munafik keluar dari mulutku sendiri. Namun, nyawa tetaplah nyawa, meskipun itu milik bajingan tengik.

Seseorang tidak berhak membunuh orang lain tanpa kesiapan memikul semua beban itu. Melangkah maju meski tahu ujungnya adalah neraka.

Mashiro tidak memiliki kesiapan mental itu, dan ia memang tidak seharusnya memilikinya. Begitulah menurutku.

"Mashiro, kamu kalah. Mundurlah."

Akudou memberikan instruksi. Namun,

"T-Tapi—!"

Mashiro langsung mencoba membantah.

"Ini adalah keputusanku! Apa bocah ingusan sepertimu berniat menentangnya!?"

Mashiro menggigit bibir bawahnya saat dipelototi dengan ekspresi mengerikan. Dengan tubuh gemetar karena marah, ia pergi menuju bagian dalam stasiun.

Padahal ini di wilayah musuh, kumohon jangan membuang amarah seperti anak kecil. Benar-benar merepotkan!

"Akudou-san, tolong ikat orang itu!"

Aku mengumpat dalam hati sambil bersiap menyusulnya. Saat itu,

"Terlalu melindunginya juga tidak akan baik untuk bocah itu, tahu?"

Akudou menggumamkan hal itu dengan senyum jahat saat kami berpapasan.

Aku mengejar Mashiro dari belakang, namun,

"Jangan ikuti aku!"

Ia melontarkan kata-kata penolakan sesuai dugaanku. Ia mengintimidasiku dengan gigi menggeram. Aku benar-benar sudah dianggap sebagai musuh, ya.

"Aku menolak. Tempat ini berbahaya, mari kita kembali."

"Jangan bicara dengan nada menggurui!"

Amarah dan kebencian telah membutakannya. Mungkin berbahaya jika dibiarkan lebih dari ini.

Aku mendekati Mashiro, mencengkeram pergelangan tangan kanannya, dan menghentikan langkahnya.

"—!? Lepaskan! Lepaskan!"

Aku menghela napas panjang melihatnya meronta-ronta layaknya anak kecil. Aku tetap berdiri di tempat sambil terus menggenggam erat pergelangan tangannya.

"Sudah tenang?"

Latihanku tidak selunak itu sampai bisa dikalahkan oleh kekuatan fisik gadis remaja. Sehebat apa pun Mashiro meronta, cengkeramanku tidak akan terlepas.

Akhirnya menyadari usahanya sia-sia, ia berhenti memberontak. Ia memalingkan wajahnya dengan sikap merajuk.

Penampilannya adalah wanita suci yang dikagumi semua orang, tetapi isi hatinya tak ubahnya anak kecil.

Melihatnya kembali menjadi sosok yang penuh kontradiksi seperti biasa, aku tertawa kecil. Aku tanpa sadar kalah oleh emosi yang meluap.

"A-Apa yang lucu!?"

Ia segera menyadari hal itu. Dengan wajah memerah, ia langsung membentakku.

"Tidak, bukan apa-apa, kok. Kalau begitu, ayo kembali ke tempat yang lain."

Aku melepaskan tangan dari pergelangan tangannya. Aku lalu berbalik dan mulai berjalan.

"Aku... membencimu...."

Mendengar suaranya yang pelan dari balik punggungku,

"Aku tahu."

Aku hanya menjawab singkat seperti itu.

Sesampainya di sana, para anggota sudah berkumpul di dalam stasiun. Berdasarkan hasil penyelidikan kelompok Akkigura, mereka menyadari ada sebuah Barrier yang terpasang.

Sepertinya, itulah alasan yang akan mereka gunakan untuk menjelaskan situasi kepada kami para siswa.

"Barrier ini tampaknya memiliki efek Weaken sekaligus mengurung kita dari dalam."

Semua orang terdiam dengan wajah masam saat mendengar laporan dari anggota Akkigura yang memiliki Skill tipe Appraisal.

Efek Weaken, ya. Sayangnya, aku sama sekali tidak merasa terkena dampak pelemahan itu.

Namun, kurasa itu karena aku terlahir dengan fisik khusus yang memiliki Status Resistance sangat tinggi terhadap segala bentuk anomali.

Lagi pula, Barrier ini sendiri sangat lemah. Semua akan selesai jika kami menghancurkannya.

Sebenarnya, tidak perlu cemas berlebihan seperti ini. Kemungkinan besar, mereka hanya berpura-pura demi kelancaran praktik lapangan kami.

Lagipula, pria paruh baya berkepala plontos tadi sangatlah lemah. Tidak mungkin anggota organisasi perdagangan manusia kelas dunia, Little Devil Gremlin, hanyalah kroco sekelas itu.

Kemungkinan besar, organisasi kroco yang mirip telah dijadikan target latihan kali ini.

Kalau dipikir-pikir lagi, mustahil mereka membawa amatiran seperti kami untuk menumpas organisasi kriminal kelas A Little Devil Gremlin. Ini pasti cuma kelompok kroco kelas E.

Di tengah situasi tersebut—

"Mikan ditangkap oleh mereka! Tolong selamatkan dia!"

Anak laki-laki yang tengah dirawat oleh Karina dan Makoto bersaudara itu memohon. Wajahnya dipenuhi keputusasaan dan kedua matanya berlinang air mata.

"Apakah Mikan adalah adik perempuanmu?"

"Adikku! Kumohon! Aku akan melakukan apa saja! Jadi, tolong selamatkan Mikan!"

Menyelamatkan adiknya, ya....

"—!?"

Tiba-tiba, sebuah memori menyusup ke dalam benakku. Sebuah adegan saat aku menyerahkan kucing ukiran kayu kepada seorang gadis berambut pirang sebahu. Secara refleks, tangan kananku memegangi kepala.

Aku tidak ingat pernah memberikan kucing ukiran kayu kepada siapa pun. Terlebih lagi, aku sama sekali tidak memiliki ingatan tentang gadis berambut sebahu itu.

"Ada apa?"

Takeshi bertanya dengan wajah curiga.

"Bukan, bukan apa-apa."

Mari kita rapikan sedikit pemikiranku. Menilai dari kekuatan Barrier yang dipasang di area ini, musuh yang bersembunyi hanyalah organisasi kroco yang lemah. Mereka tidak sebanding dengan Little Devil Gremlin.

Namun, mereka tetaplah organisasi rendahan yang menculik dan menyekap anak di bawah umur. Aku harus memastikan mereka hancur berkeping-keping di sini.

Fakta bahwa mereka membiarkan Barrier lemah ini tetap aktif membuktikan bahwa situasi ini bukanlah kondisi tak terduga. Kemungkinan besar ini adalah bagian dari praktik lapangan yang dirancang pihak akademi.

Mashiro masih menatap tajam pria paruh baya berkepala plontos yang pingsan itu dengan ekspresi penuh kebencian.

Sebaliknya, Tatsuya yang mendengar bahwa kami terperangkap dalam Barrier terlihat pucat pasi di sebelah anak itu.

Mungkin ini adalah kesempatan emas.

Organisasi kroco ini bisa menjadi bahan yang tepat untuk memicu mereka berdua mengambil langkah maju.

Akan kumanfaatkan musuh-musuh ini semaksimal mungkin, dari ujung rambut hingga potongan daging terakhir.

"Cain, wajahmu benar-benar menyeramkan, tahu?"

Takeshi menegurku sambil sedikit menjauh.

"Terima kasih...."

Gawat, gawat. Ekspresi wajahku saat merencanakan hal jahat memang sering dibilang lebih mengerikan daripada raja iblis.

Aku berjongkok di hadapan bocah itu. Menyamakan pandangan dengannya, lalu berkata,

"Apakah kamu tahu di mana adikmu ditahan?"

"Ya! Aku tahu!"

Wajah anak itu seketika cerah dan ia menjawab dengan penuh semangat. Aku mengelus kepalanya, lalu berkata,

"Kelompok F yang akan menangani Little Devil Gremlin. Akudou-san, tidak masalah, kan?"

Aku meminta persetujuan Akudou yang memperhatikan kami dengan tatapan geli dari samping. Sesuai dugaanku, pilihan itulah yang memang direncanakan oleh Akudou.

"Tentu saja, boleh. Toh, karena Barrier sialan ini, anak buahku juga tidak bisa leluasa bergerak. Kamu tidak terpengaruh oleh efek Barrier ini, kan?"

"Iya, aku memiliki ketahanan fisik seperti itu sejak lahir."

Para anggota Akkigura mulai riuh berbisik-bisik.

"Mengingat ini adalah Cain, aku sudah menduga akan jadi begini."

Makoto bergumam dengan nada ringan.

"Aku setuju. Kalau Cain, ya wajar saja."

"Cain itu sekarang sudah benar-benar seperti monster!"

Karina dan Ran ikut menyetujui sambil melontarkan celetukan yang tidak sedap didengar.

"Kalau kalian berkata begitu, Akudou-san, Anda juga sama, kan?"

"Kenapa kamu berpikir begitu?"

Mendengar pancinganku, senyum Akudou semakin lebar. Ia balas bertanya dengan nada yang tidak menerima bantahan.

"Hanya firasat."

Sebenarnya itu lebih merupakan kesimpulan logis ketimbang firasat. Akudou adalah Hunter Rank-S, salah satu entitas terkuat di dunia ini.

Di sisi lain, Barrier ini sangat lemah. Mustahil efeknya bisa mempengaruhi Hunter Rank-S.

Pada saat yang sama, Mashiro dan Takeshi pasti juga tidak akan terpengaruh. Mana yang dimiliki Mashiro dan Takeshi berwarna perak keputihan.

Menurut dugaanku, Mana perak keputihan adalah tingkat evolusi yang lebih tinggi dari Mana putih. Ia memiliki kekuatan untuk menetralkan segala bentuk status abnormal.

Berkat sejumlah kecil Mana yang dipancarkan secara konstan dari tubuh mereka, efek Weaken dari Barrier itu pasti langsung ternetralkan dalam sekejap.

"Anggap saja begitu. Lalu, bocah-bocah ingusan selain dirimu pasti terkena efek pelemahan dengan parah. Bagaimana kamu akan mengatasinya?"

"Ya, aku juga sudah punya rencana untuk itu. Takeshi, tolong berikan Support Magic berdurasi panjang kepada semua orang. Kurasa itu bisa menetralkan efek pelemahannya."

Jika menggunakan Support Magic dari Mana perak keputihan, menyelimuti tubuh dengan sihir itu saja sudah cukup untuk membatalkan semua status abnormal.

"B-Baik."

Takeshi mengangguk dengan ragu. Tiba-tiba,

"A- Akudou-san, apakah Anda yakin!? Biarpun mereka kuat, mereka masih siswa, lho! Kalau sampai Mezora-san mengetahui hal ini...."

Kazu, pria berkacamata hitam dengan penampilan berandalan, menggigil pucat pasi dan berusaha mengubah pikiran Akudou.

"Jangan khawatir. Kalau sampai terjadi kondisi darurat kali ini, biarkan para siswa melakukan apa pun yang mereka inginkan. Itu adalah instruksi langsung dari Tuan Mezora."

"Tetapi, situasinya sedang tidak mendukung! Kalau sampai terjadi sesuatu pada para siswa—"

Merespons saran Kazu yang tak biasanya begitu panik, Akudou merangkulkan lengan kanannya yang sebesar batang pohon ke bahu Kazu dan membisikkan sesuatu di telinganya. Wajah Kazu langsung berkerut.

"I-Itu mungkin memang benar, tetapi.... Tidak, itu pasti benar, ya."

Ia melirikku sekilas. Kemudian bergumam seolah berusaha meyakinkan dirinya sendiri.

Setelah itu, Kazu mengumpulkan para anggotanya, sedikit menjauh dari kami, lalu mulai berdiskusi.

Sejak saat itu, Kazu dan yang lainnya berhenti memprotes pendapat Akudou yang sama sekali tidak masuk akal tersebut.

Akudou berdeham pelan, lalu berkata,

"Baiklah, aku akan menyampaikan rencananya. Kelompok F dan aku akan menaklukkan Little Devil Gremlin.

Anggota lain akan mendirikan tenda di sini untuk menonaktifkan Barrier dan menjaga kontak dengan pihak luar.

Terus, Cain, tinggalkan pengikutmu untuk melindungi mereka. Itu adalah syarat agar aku menerima rencanamu."

Syarat, ya.... Kemungkinan besar musuh kami dari kelompok Little Devil Gremlin kali ini hanyalah kroco lemah. Sebenarnya, perlindungan Chrono-Grasshopper tidaklah dibutuhkan.

Niat Akudou mengajukan syarat itu pastilah sebagai belenggu untuk membatasi pergerakan kami. Jika Chrono-Grasshopper ikut dalam misi penaklukan, tingkat kesulitannya akan menjadi terlalu rendah. Ini pasti permintaan dari pihak akademi.

"Baiklah. Chrono-Grasshopper!"

Menanggapi panggilanku, sesosok monster belalang berkaki dua dengan cangkang berwarna hitam muncul dan berlutut.

"Gagigigugigugigi (Masterku yang agung), gigigugugigugigigi (perintahkan apa pun kepadaku!)"

Ia berteriak dengan lantang.

"Tolong jaga keamanan mereka di sekitar area ini."

"Gigigi (Siap laksanakan)!"

Anggota Akkigura menelan ludah dengan ekspresi tegang saat melihat Chrono-Grasshopper menundukkan kepalanya dalam-dalam mengikuti perintahku.

Sementara itu, hanya Akudou yang matanya berbinar-binar begitu melihat Chrono-Grasshopper.

"Luar biasa! Tsukishiro Cain, kamu benar-benar keberadaan yang spesial!"

Ia bersorak dengan suara penuh sukacita.

Kami menyerahkan keselamatan Akkigura kepada Chrono-Grasshopper, lalu memulai penyusupan ke dalam stasiun yang menjadi markas musuh.

Setelah maju sedikit, segerombolan monster ngengat raksasa yang sepertinya dipanggil oleh Mage dari organisasi kroco Gremlin datang menyerang kami.

"Double Boost! —Physical Reinforcement! —Mana Reinforcement!"

Berkat Support Magic milik Takeshi, tubuh seluruh anggota bersinar terang.

Ini adalah sihir andalan Takeshi saat ini, sihir yang dapat meningkatkan kemampuan fisik dan Mana secara drastis.

Mashiro berlari melesat ke segala arah dan membelah ngengat raksasa itu menjadi dua dengan pedang sucinya.

"Spider Thread Bind!"

Dengan mantra Makoto, benang-benang putih menutupi seluruh tubuh ngengat raksasa. Mereka jatuh berdebum dan mengejang di lantai. Pada ngengat raksasa itu—

"Flame Calamity Sphere!"

"Lightning Stray Bullet!"

Karina dan Ran menembakkan bola-bola api dan petir yang menembus para monster, membunuh mereka dalam satu serangan. Sejauh ini, semuanya berjalan sesuai prediksiku.

Yang sedikit di luar dugaan adalah Tatsuya.

Padahal ia begitu ketakutan pada monster musuh, tetapi ia menggunakan tubuhnya sendiri sebagai tameng untuk melindungi anak laki-laki itu dari serangan ngengat raksasa.

Terlebih lagi, ia melakukannya sambil menerima beberapa luka di tubuhnya.

"J-Jangan bergerak!"

Tatsuya menebas ngengat raksasa, menahan mereka agar tidak mendekat, sembari meneriakkan instruksi kepada anak di belakangnya.

"I-Iya!"

Bocah yang bernama Murayama Akito itu mengangguk di balik punggung Tatsuya.

Pada awalnya, Akito tampak segan dengan wajah cemberut Tatsuya. Ia tidak pernah mendekatinya dan memilih terus berada di dekat Makoto dan yang lainnya.

Namun, setelah melihat sosok Tatsuya yang mempertaruhkan nyawa untuk melindunginya meskipun lemah, Akito kini tidak mau beranjak dari sisi Tatsuya walau sedang waktu istirahat.

Aku melesatkan anak panah yang menembus tengkorak ngengat raksasa yang mencoba menyerang Tatsuya. Monster itu langsung mati seketika.

"Kerja bagus, Tatsuya."

Aku mengucapkan kata-kata pujian pada Tatsuya yang sedang terengah-engah.

"..."

Tanpa berkata apa-apa, Tatsuya memalingkan wajah dariku dan mengangguk pelan.

"Untuk ukuran dirimu, itu tadi hebat juga! Tatsuya!"

Karina mendekat dan menepuk punggung Tatsuya dengan keras.

"B-Berisik!"

Hmmm. Seluruh tubuhnya memerah. Ia pasti sedang malu.

Nah, sekarang saatnya aku menyelesaikan tugasku sendiri.

Aku melesat di atas lantai. Dalam sekejap, aku menutup jarak menuju hawa keberadaan di balik pilar.

"Hihe?"

Pria tampan berjaket hoodie hitam itu melontarkan suara konyol. Tanpa ampun, aku menghancurkan keempat anggota tubuhnya beserta persendiannya.

"Gyaaaaakkhhh!!!"

"Berisik!"

Aku memberondong seluruh tubuh pria yang menjerit itu dengan hujan pukulan. Kesadarannya pun langsung terenggut, dan mulutnya akhirnya tertutup rapat.

Aku menyeretnya dari kerah baju, lalu melemparkannya seperti sampah ke hadapan Akudou yang berada sedikit jauh dari anggota Kelompok F. Kemudian,

"Apa orang itu tidak akan mati gara-gara seranganmu tadi?"

Akudou bertanya padaku dengan ragu.

"Aku menahan kekuatanku dengan baik. Manusia tidak akan mati hanya karena luka tingkat ini."

"Begitu menurutmu menahan kekuatan, ya...."

Akudou tersentak kaku saat menatap lekat-lekat pria ber-hoodie hitam yang kini mengejang-ngejang kecil sambil mengeluarkan busa dari mulutnya.

Hmmm, melihat reaksinya, sepertinya ia cukup ketakutan melihat perbuatanku.

"Iya. Aku sudah memastikannya menghindari luka fatal, jadi nyawanya aman, kok."

"Begitu sadar, dia akan merasakan neraka dunia akibat rasa sakitnya. Jika bertemu dengan monster yang berkeliaran, dia pasti langsung mati. Dia harus terus menahan kengerian itu sambil menunggu bala bantuan Hunter setelah penaklukan selesai.... Kamu ini sungguh-sungguh iblis sejati."

Merespons kesan buruk yang diutarakan Akudou dengan penuh penghayatan itu, aku membalas,

"Benarkah begitu? Menyia-nyiakan tali untuk mengikat sampah seperti ini terasa tidak sepadan. Menyakiti mereka hingga tidak bisa pulih dengan mudah jauh lebih efisien. Bukankah ini metode yang cukup masuk akal?"

Aku mencoba memberikan argumen balik yang logis. Dengan menghancurkan tubuhnya hingga ke akar-akarnya, butuh waktu sangat lama baginya untuk sembuh.

Kalaupun dia mati dibunuh oleh monster yang dilepaskan rekan-rekannya, itu murni balasan atas perbuatannya sendiri. Aku bukanlah orang suci. Aku sama sekali tidak peduli dengan nyawa sampah-sampah ini.

"... Haa, menyebut metode ini masuk akal benar-benar membuktikan betapa tak kenal ampunnya dirimu. Mengerikan...."

Akudou menghela napas seraya mengangkat telapak tangan kanannya. Ia mengarahkannya pada pria ber-hoodie hitam yang masih mengejang dan berbusa.

Detik berikutnya, kabut hitam melilit dan menutupi seluruh tubuh pria tersebut.

Dengan ini, target sudah ditandai. Langkah selanjutnya adalah menanti para Hunter spesialis penaklukan untuk mengamankan lokasi ini.

"Terima kasih atas bantuan Anda mengurus mereka."

Aku berbalik ke arah Akudou dan menundukkan kepala.

Penangkapan kelompok gadungan Little Devil Gremlin hanya akan dilakukan olehku.

Aku memastikan Mashiro dan anggota Kelompok F lainnya tidak perlu turun tangan.

Selain itu, aku juga sebisa mungkin menyembunyikan proses eksekusi ini dari pandangan mereka.

Itulah permintaan yang kuajukan pada Akudou kali ini.

Akudou langsung mengiyakannya dan menggunakan Skill Silhouette miliknya untuk menyelesaikan prosedur ini.

"Bukan hal yang merepotkan. Daripada itu, ada yang ingin kutanyakan padamu."

Akudou mengangkat bahu lalu menatapku dengan lekat.

"Ada apa?"

"Kenapa kamu begitu terobsesi pada Mashiro?"

"Aku tidak bermaksud menganggapnya lebih dari sekadar anggota kelompok yang sama. Apakah terlihat seperti itu?"

"Ya, sangat terlihat. Bahkan dengan melihat sikapmu terhadap sampah-sampah ini, tidak pernah terlintas dalam benakku kamu mengkhawatirkan nyawa mereka. Alasanmu melakukan hal merepotkan ini murni demi Mashiro."

"Itu mungkin benar. Akan tetapi, perlakuanku pada anggota kelompok lainnya juga sama, kan?"

Memang benar aku tidak ingin melihat Mashiro semakin tenggelam dalam pusaran kebencian.

Namun, hal itu harusnya setara dengan perlakuanku terhadap Takeshi, Makoto, dan anggota kelompok lainnya.

"Apa kamu tidak menyadarinya? Atau kamu sedang menutupi hal itu? Kamu memberikan perhatian yang tidak wajar khusus pada Mashiro. Kamu melindunginya secara berlebihan seolah dia adalah harta karun yang berharga."

Tuduhan Akudou itu seharusnya salah alamat, tetapi entah mengapa aku tidak bisa membantahnya. Karena itulah—

"Harta karun, ya.... Kata-katamu terdengar seperti puisi murahan. Itu sama sekali tidak mirip dengan gaya bicara Anda, Akudou-san."

Aku mencoba mengalihkan pembicaraan sekuat tenaga.

"...Yah, baiklah. Aku tidak peduli dengan urusan kalian berdua. Namun, biarkan aku memberimu satu nasihat sebagai orang tua. Kamu bahkan tidak akan bisa bertengkar dengannya kalau dia sudah menghilang. Cobalah untuk lebih jujur."

Tampaknya, Akudou salah paham dan mengira aku memiliki perasaan khusus pada Mashiro.

Sayangnya, aku belum cukup mengenalnya untuk memiliki rasa tertarik sebagai lawan jenis.

Meskipun itu sebuah kesalahpahaman, dia sudah berbaik hati peduli dan memberiku nasihat. Membantahnya mentah-mentah juga bukan respons yang tepat.

"Akan kuingat itu."

Oleh karena itu, aku hanya membalasnya dengan singkat.

"Nah, sudah waktunya?"

Akudou menghapus seluruh senyum dari wajahnya. Rupanya ini adalah pembicaraan utamanya.

"Ya. Menurut informasi dari Akito, ini adalah lokasi target. Akudou-san, terkait masalah itu—"

Berkat interogasi terhadap para kroco tolol itu, aku sudah mengetahui apa yang sebenarnya mereka rencanakan.

"Aku mengerti. Penyelidikan di lokasi target hanya akan dilakukan oleh aku dan dirimu, Cain. Tidak masalah, kan?"

Benar-benar luar biasa untuk sekelas Hunter Rank-S. Dia cepat tanggap sehingga sangat membantuku.

Di depan sana, ada sesuatu yang mutlak tidak boleh dilihat oleh anggota Kelompok F, terutama Mashiro.

"Tentu, aku sangat menghargai pengertian Anda."

Aku memperbaiki postur tubuhku, lalu menundukkan kepala sedikit.

Kami berjalan masuk menuju hotel mewah yang terhubung dengan stasiun.

"Di sini! Mikan ada di tempat ini!"

"Tidak boleh! Jangan pergi sendirian!"

Dengan panik, Tatsuya memeluk dan menghentikan Akito yang hampir berlari dalam keadaan bersemangat.

"Memangnya kenapa!"

Akito memanyunkan bibirnya tanda tidak puas. Lalu,

"Akito, tempat ini adalah markas musuh. Jika kamu menolak mendengarkan instruksi kami, kamu harus menunggu di pintu masuk stasiun, lho."

Aku menamparnya dengan kenyataan melalui senyuman dan nada bicara yang tak menerima bantahan.

"Aku mengerti...."

Ia terus mengerucutkan bibir sambil menggenggam erat tangan kanan Tatsuya. Aku mengelus kepalanya, lalu berkata,

"Tidak apa-apa. Kamu pasti akan segera bertemu dengannya."

Demi menenangkan perasaannya, aku mengucapkan hal yang lebih pantas disebut harapan hampa.

"Kalau begitu, mari kita jalan!"

Berbanding terbalik dengan sikapnya yang selalu mengikuti kami dari belakang, Akudou kini berjalan memimpin barisan.

Sambil saling bertukar pandang penuh keheranan melihat perubahan drastis pria itu, anggota Kelompok F menyusul di belakangnya.

Lantai delapan hotel mewah ini tampaknya merupakan area hiburan yang terdiri dari teater dan ruang pesta.

"Mulai sekarang, aku dan Cain yang akan menyelidiki lantai ini. Sisanya harus bersiaga di lobi! Mashiro, kamu bertugas menjadi pemimpin untuk melindungi semuanya!"

Menghadapi lawan setingkat ini, kerja sama Mashiro dan Takeshi sudah lebih dari cukup untuk menang mudah. Itulah opini yang kami berdua sepakati.

"Tindakan semena-mena seperti itu—"

Seperti dugaanku, Mashiro langsung mencoba melayangkan protes. Namun,

"Ini adalah perintahku!"

Akudou segera mengangkat tangan kanannya untuk menahan protes Mashiro. Gadis itu pun akhirnya menuruti perintahnya dengan enggan.

Syukurlah. Karena Mashiro saat ini menatapku sebagai musuh, aku mengira dia akan menolak usulanku dan memicu keributan besar. Kurasa tantangan pertama berhasil kami lewati.

"Tatsuya, aku percayakan Akito padamu!"

"Ya...."

Tatsuya merespons sambil membuang muka.

Kami menelusuri koridor sebelah kiri di lantai delapan dan menemukan sebuah teater di bagian dalam.

Jika informasi yang kami dapatkan benar, permainan selera rendahan sedang berlangsung di tempat ini.

Begitu kami memasuki teater, bau darah dan aroma kematian pekat langsung menusuk hidungku.

Jeritan melengking seorang gadis remaja menggema dan menggetarkan gendang telingaku.

Di atas panggung teater, terdapat beberapa meja di mana para wanita terluka yang memiliki tanduk di kepala mereka diikat dengan kejam.

Di atas meja paling tengah, seorang gadis dengan tanduk kecil di dahi terikat dalam posisi terlentang.

Ia dikelilingi oleh pria-pria bertopeng yang menyembunyikan wajah sambil memegang senjata tajam. Di kursi penonton, sekelompok pria dan wanita dengan pakaian rapi bersorak kegirangan.

Sepertinya kroco-kroco yang kami tangkap tadi memang mengatakan kebenaran.

"Akudou-san, kecuali beberapa orang yang memiliki koneksi langsung, aku akan mengeksekusi semua orang yang ada di sini. Tidak keberatan, kan?"

Semenjak awal, Akudou dan aku sudah bersepakat. Jika kasus itu ternyata benar, kami tidak akan menjadikan mereka tahanan, melainkan mengeksekusi mereka semua sebagai teroris yang berafiliasi dengan vampir.

"Ya, silakan. Lagi pula instruksinya memang begitu."

Aku menggemeretakkan jemari lalu berjalan pelan mendekati panggung.

Seorang pria tegap berjaket hoodie hitam, seragam organisasi mereka, menghalangi jalanku. Kemungkinan ia bertugas sebagai petugas keamanan.

"Tamu yang terhormat, pementasan masih belum selesai. Tolong segera kembali ke kursi Anda."

Pria itu memberiku peringatan dengan nada tegas.

"Matilah."

Aku berpindah ke belakang pria itu, lalu memutar dan mematahkan lehernya dengan tangan kananku.

Terdengar suara patahan tulang, dan ia langsung kehilangan nyawa sebelum jatuh tersungkur layaknya boneka putus benang.

"Tidaaaak! Tolong hentikaaaan!"

Jeritan pilu gadis itu bergema di penjuru ruangan, memicu sorak-sorai penonton yang kian bergemuruh.

Bermandikan sorak penonton, seorang pria bertubuh besar dengan setelan jas mengangkat pisau besarnya tinggi-tinggi, membidik tubuh gadis yang sedang menangis tersedu-sedu.

Aku melesat melewati koridor teater, melompat naik ke atas panggung, lalu menangkap dan menghancurkan mata pisau sang pria raksasa yang sedang diayunkan.

"A-Apa!?"

Pria raksasa itu melebarkan matanya dengan terkejut. Aku langsung mendaratkan tendangan ke atas yang menerbangkannya.

Menggunakan pisau belati, aku memotong ikatan sang gadis, memeluknya erat, dan melesat ke arah pintu keluar.

"P-Penyusup! Bunuh dia!"

Pria berjenggot lebat yang sepertinya menjabat sebagai pengelola teater itu segera memberikan komando.

Ketika para petugas keamanan baru mulai bergerak untuk membereskan kami, aku sudah sampai di depan Akudou dan menyerahkan gadis itu kepadanya.

"Cain, kuserahkan sisanya padamu!"

Sambil menggendong sang gadis, Akudou mendorong pintu sekuat tenaga dan melesat keluar.

"Jangan biarkan mereka kabur! Jika mereka berhasil keluar dari sini, kita semua akan dihabisi oleh bos!"

Mendengar prediksi pria berjenggot, si pengelola teater, yang sangat konyol dan terlalu naif itu, aku merespons,

"Kabur? Tidak mungkin aku kabur. Tempat tujuan kalian sudah diputuskan dari awal."

Sepertinya, aku jauh lebih membenci orang-orang ini ketimbang yang aku perkirakan.

Aku mencabut dua pisau belatiku. Dengan mengincar garis kematian musuh, aku mencincang halus tiga petugas keamanan yang sedang menyerangku.

"..."

Keheningan sejenak, lalu detik berikutnya, kengerian meledak di seluruh ruangan. Para penonton menjerit histeris dan mencoba melarikan diri melalui pintu darurat samping.

Aku menjulurkan benang Mana dan menjerat mereka yang bergegas menuju pintu keluar. Kemudian—

"Tsukishiro Dagger Art, Chuden—Arachne!"

Aku membacakan mantra sihir dan mengayunkan kedua pisauku hingga ke titik terjauh.

Anggota tubuh para pria dan wanita bertopeng yang berdesakan di pintu keluar terpotong. Kaki, lengan, beserta tubuh mereka jatuh berdebum ke lantai.

"Kalian telah mencampuri hal yang tidak seharusnya kalian sentuh. Tidak ada celah untuk belas kasihan. Teruslah menyesali perbuatan kalian dan membusuklah menuju kematian."

Sambil tersenyum, aku melontarkan kalimat yang setara dengan vonis mati itu. Penaklukan sepihak pun dimulai.

"T-Tunggu! Aku akan bicara pada bos untuk— Kueh!?"

Pria berjenggot yang merupakan satu-satunya anggota pengelola teater tersisa mengemis nyawa padaku. Karena suaranya berisik dan menjengkelkan, aku membelah wajahnya menjadi dua dan membungkamnya.

Tepat ketika aku menyarungkan pisauku—

"Ugaaaaaaahhhhh!!!!"

Teriakan buas bergema dari arah luar. Suara ini, mungkinkah Mashiro!?

Aku telah meremehkan situasi karena mengira Akudou akan segera kembali mengawasi Kelompok F.

Aku bergegas meninggalkan teater dan berlari kembali ke rute semula. Tepat di persimpangan lorong, aku berpapasan dengan Akudou.

"Mashiro lepas kendali. Sepertinya dia pergi menuju ruang pesta di depan sana!"

"Ini skenario terburuk."

Di ruang pesta yang berada di ujung lorong sebelah kanan, kemungkinan besar di sanalah bos dari kelompok yang mengaku sebagai Little Devil Gremlin berada.

Awalnya, kami memilih untuk menyerang teater di lorong kiri lebih dulu agar dapat membasmi mereka hingga akar-akarnya, tetapi rencana itu justru menjadi bumerang.

"Aku tidak ingin ada lebih banyak kerusakan dari ini. Aku akan pergi sendiri mulai dari titik ini. Akudou-san, tolong jaga keselamatan seluruh anggota Kelompok F!"

"Dimengerti!"

Segera setelah mendengar jawabannya, aku langsung melesat menuju lorong sebelah kanan.

Ketika aku tiba di depan ruang pesta, kulihat Takeshi sedang berdiri di sana—

"Cain, Mashiro! Mashiro ada di dalam! Tidak peduli apapun yang kulakukan, aku tidak bisa masuk ke dalam!"

Takeshi sedang dilanda kepanikan yang luar biasa. Begitu rupanya, ini adalah sebuah Barrier.

Kalau begitu, aku sudah bisa menebak apa yang sedang terjadi di dalam sana tanpa perlu diberitahu.

"Serahkan urusan Mashiro padaku! Takeshi, kamu harus bergabung dengan Akudou-san dan berikan dukungan! Ini adalah momen krusial untuk kita!"

"T-Tapi bagaimana caranya!? Pintu ini tidak bisa terbuka, lho!"

"Jangan cemas!"

Aku membalas pertanyaannya dengan suara lantang, lalu mengayunkan pisauku dengan satu tebasan kilat untuk membelah pintu tersebut. Aku melangkah masuk ke dalam ruang pesta.

Sama seperti dugaanku, pria dan wanita yang mengenakan setelan jas serta gaun rapi sedang bersantai dan menenggak minuman keras.

"Tidak tahu malu! Aku tidak akan pernah memaafkan perbuatan kalian!"

Pandanganku menangkap sosok Mashiro yang sedang dipiting jatuh ke lantai oleh pria bertubuh besar dengan tato iblis.

Dia menangis terisak. Mantel yang ia kenakan terkoyak di berbagai sisi dan mengekspos kulit putihnya.

Ironisnya, putihnya kulit gadis itu semakin menonjolkan kengerian dari luka dan memar yang tersebar di tubuhnya.

Meski terisak keras, ia terus berusaha meronta, menggerakkan kaki dan tangannya sekuat tenaga demi membebaskan diri.

Fakta ini menjadi saksi bisu bahwa ia bergegas kemari tanpa sempat memanggil pedang sucinya, dan hanya mengandalkan tangan kosong.

Kondisinya yang begitu kacau dan putus asa itu pastilah disebabkan oleh hal itu.

"Para bajingan tengik...."

Di tengah ruangan, para wanita berbentuk tidak wajar disalib dalam kondisi menyedihkan. Fakta inilah yang menghancurkan dan meremukkan hati Mashiro.

Aku bisa memprediksi alasannya. Mashiro membenci vampir dan entitas non-manusia lainnya sebagai simbol kejahatan absolut.

Baginya, makhluk bukan manusia adalah pendosa yang menginjak-injak kehidupan damai umat manusia.

Ia percaya sepenuhnya bahwa memusnahkan mereka semua adalah satu-satunya cara untuk menyelamatkan umat manusia.

Itulah sebabnya, ia bisa bersikap begitu kejam tanpa kenal ampun pada monster.

Namun, para korban dalam kejadian ini adalah wanita-wanita non-manusia yang tidak memiliki kekuatan sedikit pun.

Sedangkan pelakunya adalah sekumpulan manusia biasa yang dilumuri nafsu dan keserakahan.

Kebingungan dalam benak Mashiro pasti sulit dibayangkan.

"Ara araaaa, hari ini kita kedatangan banyak tamu, ya. Setelah nona muda yang tak tahu dunia, apakah tamu selanjutnya adalah pacarnya?"

Seorang pria gagah berjaket hitam duduk menyandar pongah di atas sofa di bagian belakang ruangan. Pria itu menanyakan hal tersebut padaku.

Ia memiliki wajah kasar yang dipenuhi riasan tebal, rambut tipis di puncak kepala, dan separuh wajah kirinya ditutupi tato iblis. Deskripsi fisiknya sangat cocok dengan informasi yang kuperoleh saat interogasi.

Pria itu pasti adalah bos dari organisasi Little Devil Gremlin ini, yaitu MacBeth.

"Apa yang sudah kamu bicarakan dengan Mashiro?"

Jika itu adalah Mashiro yang sekarang, yang sangat membenci makhluk non-manusia, dia pasti akan langsung menyimpulkan bahwa orang-orang ini adalah kaki tangan para vampir, penguasa makhluk non-manusia, dan mengurung diri dalam cangkangnya sendiri.

Tapi lihatlah dia yang begitu kebingungan sekarang. Jelas sekali kalau gerombolan ini telah menjejali pikirannya dengan hal-hal yang tidak berguna.

"Bukan apa-apaaa. Setelah aku menunjukkan permainan agung kami kepada nona muda di sana, dia tiba-tiba menangis dan mengamuk, lalu menyebut kami sebagai kaki tangan para vampir, lho! Sungguh tidak sopan, ya!"

"Ho, begitu bukan?"

"Tentu saja tidak! Mana mungkin vampir kelelawar sepertinya bisa memikirkan permainan yang begitu menyenangkan!"

"Permainan yang menyenangkan, ya..."

Memotong-motong orang tak berdosa dan tanpa perlawanan seperti ini disebut sebagai permainan yang menyenangkan. Perutku benar-benar mual mendengarnya.

"Hei, kan begitu? Tuan Sponsor?"

MacBeth menunjuk ke arah seorang pria paruh baya berpenampilan mengenakan kemeja bergaya kantoran berlumuran darah sambil memegang gergaji, lalu meninggikan suaranya.

"Sponsor, ya. Begitu ya, wajahnya memang sering kulihat di TV."

Kalau tidak salah, dia adalah ketua fraksi partai berkuasa, adik kandung dari komentator super populer beraliran hak asasi manusia, Nagirou Hamamuro, bukan?

Mashiro pernah diwawancarai secara eksklusif di televisi terestrial sebagai sosok yang akan memikul masa depan dunia pemburu yang mampu menggunakan Pedang Suci. Dia pasti berkenalan dengan bajingan ini saat itu.

Sungguh, ketepatan waktu yang sangat buruk. Rasanya benar-benar tidak menyenangkan, seolah-olah semuanya sudah diincar secara presisi.

"Aduh aduh, padahal kau adalah senjata yang bertarung melawan para vampir kelelawar demi kami, kaum kelas atas. Sayang sekali, tapi karena kau tidak bisa berempati dengan permainan ini... Sayang sekali, kau harus tersingkir. Tentu saja, kamu tidak perlu khawatir. Kami akan menikmati keberadaanmu semaksimal mungkin."

Nagirou Hamamuro mendekati Mashiro dan menatapnya rendah dengan wajah penuh ekstasi.

"Keparat kauuuuu!"

Saat dia menendang wajah Mashiro yang sedang meneteskan air mata penyesuaian,

"Wajah yang indah dan tidak ternoda itu menjadi kejang karena rasa sakit dan penghinaan. Itu benar-benar sangat, sangat luar biasa nikmatnya!"

Nagirou Hamamuro berseru dengan suara yang melompat-lompat gembira.

"Mashiro, inilah kenyataannya. Di antara para sampah, tidak ada bedanya manusia atau monster. Ada orang baik, ada juga orang jahat. Orang-orang yang menyikramu di masa lalu kebetulan saja adalah makhluk non-manusia seperti vampir."

Aku mendeklarasikan kata-kata itu seolah-olah mengunyahnya di dalam mulut, lalu berjalan ke arah Mashiro sambil membunyikan persendian kedua tangg Kanan dan kiriku.

"Hmm―Kau berencana melawan, yaaa? Rupanya kamu ini mirip seperti monyet yang baut di kepalanya sudah longgar, yaaa."

Lebih dari seratus orang bersenjata mengenakan hoodie hitam masing-masing mulai memasang senjata mereka.

"Menjijikkan. Benar-benar menjijikkan..."

Aku sama sekali tidak merasakan kekuatan apa pun dari gerombolan ini. Mereka bahkan berada di bawah level Goblin.

Apakah aku benar-benar sempat berada di posisi bertahan melawan bajingan level rendah seperti ini?

"Fufuuun, kalau menjijikkan memangnya kenapa, hah?"

"Kalian ini, berniat menyentuh Mashiro sampai kapan, hah!"

Didorong oleh amarah yang membara, aku berlari kencang hingga tiba di sisi Mashiro, lalu menendang kepala pria ber-hoodie hitam yang sedang mencekal tubuhnya.

―Bokyu!

Bersamaan dengan suara tumpul yang terdengar seperti buah yang dihancurkan berkeping-keping, bagian wajah pria itu meledak ke segala arah.

Di tengah percikan darah yang turun seperti hujan, aku memelintir dan menghancurkan kedua tangan serta kedua kaki Nagirou Hamamuro.

"Kehe? Gyaaaaaaー!"

Nagirou Hamamuro terjatuh terduduk sambil melengkingkan jeritan yang membelah udara, lalu aku mencabut pisau dari pinggangku dan mengarahkan ujungnya tepat ke tenggorokannya.

"Diamlah sedikit. Aku tidak suka situasi yang berisik sekarang. Apakah kau mengerti?"

Saat aku memberikan perintah tegas dengan nada yang tidak membantah,

"..."

Nagirou Hamamuro menutup mulutnya dan mengangguk berulang kali dengan mata berlinang air mata.

Begitu aku berjalan ke sisi para gadis yang tergantung, aku melepaskan ikatan mereka menggunakan pisau dan membaringkan mereka ke lantai.

Dada mereka nyawa-nyawa hidup.

Napas mereka masih ada.

Tapi, luka-luka ini jelas merupakan luka fatal. Sihir atau Skill pemulihan biasa sama sekali tidak akan mampu menyelamatkan mereka.

Aku harus melakukan sesuatu untuk menyelamatkan mereka. Ini hanya firasatku, tapi jika aku tidak bisa menyelamatkan mereka, Mashiro pasti akan hancur. Aku punya perasaan seperti itu.

Tiba-tiba, area di bawah kaki bersinar terang, dan seekor slime yang pernah kulihat sebelumnya muncul lalu menyelimuti para gadis tersebut. Itu terjadi hanya dalam sekejap.

Para gadis itu kini berbaring dalam kondisi tanpa luka sedikit pun.

Slime ini adalah monster yang muncul saat aku menyelamatkan Mashiro sebelumnya.

Aku sudah mencoba memanggilnya beberapa kali sejak saat itu, tetapi tidak pernah berhasil, namun kali ini pemanggilan itu sukses dengan mudah. Pasti ada kondisi tertentu agar pemanggilan itu berhasil.

Slime itu berputar-putar di sekelilingku, lalu melompat ke arahku dan menggosokkan pipinya sebelum akhirnya menghilang.

"Kain..."

Mashiro mendongak menatapku dengan wajah yang berantakan karena air mata.

Ekspresi kekanak-kanakan yang rapuh dan tidak seperti dirinya itu entah bagaimana membuat hatiku bergemuruh hebat.

"Mashiro, lindungi mereka!"

Begitu aku memberikan instruksi tersebut, dia menghapus air matanya, bangkit berdiri meskipun sedikit terhuyung-huyung, dan berjalan menuju ke arah para gadis-gadis itu.

"Dilihat dari gerakan itu, dan slime yang kau panggil tadi... Sebenarnya siapa kamu, hah?"

Bos iblis kecil Gremlin, MacBeth, melontarkan pertanyaan klise yang sama sekali tidak penting itu dengan ekspresi tanpa emosi.

"Aku tidak melihat arti penting untuk menjawab orang-orang yang toh akan segera mati."

Setelah memberikan jawaban acuh tak acuh sambil mengganti posisi dua bilah pisaunya, aku memulai pembantaian.

Waktu berputar mundur ke saat tepat setelah Kain memasuki teater bersama [The Bad Boy].

Kain dan [The Bad Boy] langsung berlari pergi setelah menyuruhku, Mashiro, untuk tetap tinggal di lobi ini dan memimpin para anggota Kelas F. Seolah-olah hal itu memang sudah direncanakan sebelumnya.

(Tidak bisa dipercaya! Begitu ya! Aku tidak boleh percaya!)

Aku memperingatkan diriku sendiri dengan kuat.

Berdasarkan bukti yang kutemukan, Asosiasi Pemburu menyimpulkan bahwa Kazune Tsukishiro adalah manusia yang dirasuki oleh pelayan vampir.

Alasan dia tidak langsung ditangkap adalah untuk memancing keluar pengkhianat lain yang diprediksi masih ada.

Khususnya Kain dan [The Bad Boy] yang tampaknya memiliki kecurigaan terhubung dengan Little Demon Gremlin untuk menculik manusia dan menyerahkannya kepada para vampir.

Alasan aku berpartisipasi dalam misi kali ini adalah untuk melindungi anggota Kelas F dari bajingan-bajingan itu.

(Dia benar-benar wadah rasukan musuh, tidak mungkin salah lagi!)

Ada bukti konkret bahwa dia adalah wadah rasukan pelayan vampir. Lebih dari itu, aku memiliki alasan yang memaksa diriku untuk mempercayai fakta tersebut.

Informasi tentang Kai Heinemann yang dikumpulkan di dunia paralel Lemuria adalah bahwa dia adalah pendekar pedang terkuat di dunia yang menjadikan beberapa monster tingkat tinggi sebagai pelayannya.

Aku memang belum pernah melihat ilmu pedang Kai Heinemann, tapi aku melihat dengan mata kepalaku sendiri saat dia merobek monster ular musuh bebuyutanku―Naga, yang tidak bisa kupermalukan sama sekali, hanya dengan tangan kosong. Itu bukanlah kekuatan fisik manusia.

Lebih dari itu, penampilan Kazune Tsukishiro sangat mirip dengan Kai Heinemann.

Paling tidak, jauh lebih natural untuk menganggap bahwa ada hubungan tertentu antara Kai Heinemann dan Kazune Tsukishiro.

Selain itu, saputangan tersebut. Itu adalah benda yang kuberikan sebagai hadiah untuk Umi Mikage.

Mengingat dia bukanlah Umi, asumsi yang paling masuk akal adalah dia merebutnya dari Umi yang sudah mati lalu menyimpannya sebagai koleksi. Setelah itu, dia berpindah ke Lemuria dengan suatu cara.

Mengingat aku bisa berpindah antara Lemuria dan Bumi dua kali, secara teori hal itu sama sekali bukan hal yang mustahil.

Dan dia kembali ke Bumi bersamaku dengan mengorbankan Naga tersebut.

Alasan dia menyelamatkanku kemungkinan besar ada dua.

Pertama, agar bisa berbaur dengan baik di tengah manusia.

Kedua, kupikir itu karena darahku. Kudengar para vampir sangat menyukai darah manusia favorit sebagai makanan mereka.

(Dia adalah musuh terkutuk yang merenggut segalanya dariku!)

Aku tidak bisa memaafkannya―Aku tidak bisa memaafkan kenyataan bahwa Ayah telah direnggut dariku!

Aku tidak bisa memaafkannya―Aku tidak bisa memaafkan kenyataan bahwa Ibu telah direnggut dariku!

Tidak mungkin aku bisa memaafkannya―Merenggut Umi dariku adalah hal yang mutlak tidak bisa dimaafkan!

Itulah sebabnya aku harus membenci mereka!

Para vampir yang telah menghancurkan kebahagiaanku!

Manusia-manusia bodoh yang tunduk kepada para vampir!

Monster non-manusia yang pada dasarnya jahat dan hanya melahirkan tragedi!

Dan Kazune Tsukishiro yang bahkan telah mempermainkan hatiku!

(Ini adalah saatnya kamu bertahan, Mashiro Mikage! Bukankah [Savior] juga mengatakan hal itu pada dirimu?)

Aku menampar kedua pipiku sendiri dengan tangan, memberikan semangat pada diriku yang nyaris terlihat menyedihkan karena mencoba mempercayai Kain.

Jika aku tidak menghentikan konspirasi Kain di sini, orang-orang yang merasakan hal yang sama sepertiku mungkin akan bermunculan mulai sekarang.

Sambil mengerahkan tenaga pada genggaman gagang Pedang Suci,

"Aku akan maju sendirian ke depan,"

Aku mendeklarasikan hal itu kepada semua anggota Kelas F.

"T-Tunggu sebentar! Mashiro, apa kamu sadar apa yang kamu katakan!? Instruktur [The Bad Boy] telah memerintahkan kita dengan tegas untuk menunggu di sini!"

Kana Rina menyuarakan pertentangannya dengan nada penuh kecemasan.

Semua orang mempercayai Kain.

Sekalipun aku tiba-tiba mengatakan bahwa dia mencurigakan sekarang, mereka tidak akan mempercayaiku.

Di sisi lain, bahkan jika aku mencoba keluar dari sini dengan berbohong, Makoto, yang bisa menggunakan sihir untuk mendeteksi kebenaran atau kepalsuan, pasti akan mengetahuinya. Itulah sebabnya aku harus menipu mereka dengan baik.

"Aku diperintahkan oleh Hunter Kelas S, [Savior], untuk mengawasi Instruktur [The Bad Boy]!"

[Savior] menduga bahwa [The Bad Boy] bersekongkol dengan Kain, dan menginstruksikannya agar tidak melepaskan pandangan darinya selama latihan praktis berlangsung. Oleh karena itu, tidak ada kepalsuan dalam poin ini.

"Kakak?"

Kana Rina mengarahkan tatapan penuh makna ke arah Makoto, dan

"Dia tidak sedang berbohong,"

Makoto menjawab dengan wajah serius.

"..."

Mengetahui bahwa [Savior] menaruh kecurigaan terhadap [The Bad Boy], sementara semua orang terdiam membisu,

"Kalau begitu, aku juga ikut,"

Takeshi melontarkan klaim yang sama sekali tidak kuduga.

"I-Itu―!"

"Latihan praktis secara mandiri itu dilarang keras! Aku akan ikut denganmu. Itulah syarat jika Mashiro-chan ingin meninggalkan tempat ini!"

Takeshi, sama seperti Makoto, adalah teman akrab Kain, namun dia juga merupakan figur yang dinilai bersih dalam laporan divisi investigasi.

Di atas segalanya, aku yakin bahwa dalam latihan praktis ini, dia adalah orang baik sejati dan tidak memiliki kejanggalan seperti Kain.

Dia pasti tidak terhubung dengan para vampir.

Kurasa tujuannya menawarkan diri untuk ikut semata-mata karena mengkhawatirkanku.

"Aku mengerti. Takeshi, tolong temani aku!"

"Baiklah!"

Nama [Savior] memberikan efek yang jauh melebihi bayangannya, dan anggota Kelas F lainnya tidak lagi melontarkan sanggahan setelah itu. Hanya satu orang―.

(Tidak kusangka, Mashiro, kamu benar-benar mempercayai perkataan pria berengsek dangkal itu dibandingkan orang tersebut... Kupikir kamu adalah orang yang memiliki sedikit lebih banyak daya nilai...)

Hanya Tatsuya yang bergumam mengucapkan sindiran kecil di belakangku. Mendengar kata-kata yang bernada meremehkan itu,

"―!?`"

Aku langsung menoleh ke arah Tatsuya, namun dia saat itu sedang menerima makanan darurat dari tas punggung Akito.

Tatsuya telah berubah secara drastis sejak Kain menawarkan diri sebagai instruktur.

Dari sorot mata seperti orang mati di awal, matanya berubah menjadi penuh percaya diri dan tekad, serta mulai menjalin interaksi minimal dengan anggota Kelas F lainnya.

Kata-kata Tatsuya itu meninggalkan kesan yang aneh di benakku.

Saat aku berjalan menyusuri lorong bersama Takeshi, jalan itu terbelah menjadi dua. [The Bad Boy] dan Kain pasti menuju ke salah satu arah ini.

Aku sendiri tidak tahu jalur mana yang mereka ambil. Aku hanya bisa memilih berdasarkan firasat.

Pada akhirnya, ketika aku melangkah maju melalui lorong sebelah kanan, aku tiba di depan pintu aula pesta yang besar. Suara sorak-sorai terdengar dari dalam. Dan seolah berpadu dengan sorak-sorai itu―.

"Ini suara jeritan?!"

Itu sudah pasti jeritan seorang wanita. Kain adalah wadah rasukan pelayan vampir.

Jika demikian, kemungkinan besar jeritan ini berasal dari sesama manusia. Mengingat kekejaman para vampir, apa yang sedang dilakukan di tempat ini―.

"Mashiro-chan, apa yang harus kita lakukan!?"

"Takeshi, tolong beritahu yang lain tentang hal ini! Tolong minta bantuan bala bantuan ke luar juga!"

"Mashiro-chan, bagaimana denganmu!?"

"Aku akan memeriksa situasi di dalam!"

"Tapi..."

"Cepatlah! Jika ada korban yang butuh diselamatkan, kita bisa terlambat!"

Jika kedua orang itu berada di pihak musuh, seluruh anggota Kelas F harus segera meninggalkan tempat ini.

Jika Takeshi sampai ikut masuk ke dalam sini dan tertangkap, evakuasi akan menjadi lambat dan dalam skenario terburuk mereka semua bisa musnah.

Jika setidaknya ada satu orang yang berhasil keluar, para anggota [Glorious] termasuk [Savior] yang bersiaga di luar seharusnya bisa menyelamatkan Mashiro dan yang lainnya.

"Aku mengerti! Jangan melakukan hal yang ceroboh, ya!"

Aku membuka pintu dengan kencang lalu masuk ke dalam.

Bau besi yang merangsang indra penciuman. Itu adalah bau yang sudah terlalu sering kukenal hingga membuatku muak.

Yaitu―bau darah dalam jumlah besar.

Didorong oleh rasa cemas yang kuat, aku memeriksa sekeliling.

"Eh?"

Pemandangan yang mustahil itu membuat kata-kata pertanyaan bodoh meluncur keluar dari mulutku.

Di sana ada monster dan manusia.

Lebih tepatnya, seorang wanita yang sekujur tubuhnya ditumbuhi bulu halus yang diikatkan ke meja, seorang gadis bertanduk yang diikat pada tiang logam, dan seorang wanita bersisik berlumuran darah yang diikat pada cincin logam.

Dan di hadapan para wanita non-manusia itu, pria dan wanita yang mengenakan jubah biru tua sedang menusukkan pedang ke tubuh para wanita tersebut.

"..."

Mereka tampaknya sudah sekarat. Wanita bersisik itu hanya berkedut kejang tanpa mengeluarkan suara rintihan sama sekali.

"A-ah, apa sudah berakhir? Membosankan sekali ya. Karena mereka itu monster, kalian harusnya berusaha sedikit lebih keras."

Mendengar suara yang tidak asing lagi,

(Tidak mungkin!)

Ketika aku secara refleks mengarahkan pandangan ke sumber suara tersebut, aku melihat seorang pria paruh baya bertubuh jangkung dengan kumis tipis yang mencabut pedang panjang berlumuran darah dari tubuh wanita bersisik itu.

Aku mengenal pria ini. Baru minggu lalu, komentator yang mewawanku atas rekomendasi kuat dari para eksekutif Asosiasi Pemburu, komentator beraliran hak asasi manusia yang mewakili negara ini, Nagirou Hamamuro.

Dia mengajarkan kepadaku tentang kejahatan bawaan yang dimiliki oleh makhluk non-manusia dan menegaskan dengan kuat bahwa mereka harus dimusnahkan.

Argumen itu persis seperti apa yang telah kulaksanakan di dunia paralel Lemuria, dan aku merasakan empati yang kuat padanya.

Apa yang sebenarnya sedang dilakukan oleh manusia yang diakui sebagai sosok adil oleh dirinya sendiri maupun orang lain ini? Keadaan ini terlihat persis seperti... persis seperti―!

"Nona muda di sana, rekomendasi dari siapa kamu masuk ke sini?"

Pria berbadan tegap dengan rambut hanya di bagian atas kepala yang mengenakan hoodie hitam, yang duduk di sofa mewah di bagian dalam aula, bertanya kepada pria dan wanita berbusana formal di dalam ruangan.

"..."

Melihat pria dan wanita berbusana formal saling bertukar pandang, pria berambut di puncak kepala itu menampakkan banyak urat timbul di wajahnya,

"Kalian ini, apa kalian lupa memasang penghalang penghalang, hah? Kalian benar-benar sudah kendur!"

Dia melontarkan bentakan amarah. Mengabaikan para pria berbusana hitam yang menciut ketakutan,

"Yah, yah, memang benar aku tidak memberikannya rekomendasi, tapi dia adalah kenalanku. Sama seperti kita, dia adalah gadis yang membenci makhluk non-manusia."

Nagirou Hamamuro tersenyum menyeringai lalu memperkenalkanku kepada semua orang. Kewaspadaan orang-orang berbusana formal di sekitarnya terhadap diriku pun mereda,

"Nah, kamu juga boleh melakukannya."

Wanita berambut pirang yang baru saja menusukkan pedang ke tubuh gadis bertanduk itu menyerahkan pedang panjang kepadaku.

"Semuanya, dia adalah Mashiro Mikage, ace dari SMA Kazuki, seorang wanita yang akan memikul masa depan para pemburu!"

Berkat perkenalan dari Nagirou Hamamuro, sorak-sorai yang memekakkan telinga pun bergema.

Pikiranku tidak bisa memproses situasi ini dengan baik.

Apakah memutilasi wanita dan anak-anak tanpa perlawanan adalah keadilan?

Memang benar aku tidak pernah mengakui hak asasi para monster dan mengharapkan kepunahan mereka.

Meskipun begitu, menyiksa makhluk tak berdaya seperti ini demi kesenangan adalah tindakan yang tidak jauh berbeda dari makhluk-makhluk berbentuk aneh itu. Mana mungkin hal semacam ini bisa diterima!

"Kenapa...?"

"Hah? Apa maksudmu?"

"Kenapa melakukan hal kejam seperti ini?"

"Kejam? Bukankah mereka ini monster non-manusia? Bagi kita, monster itu setara dengan hama. Bukankah tidak masalah cara pembunuhan apa pun yang digunakan untuk menyingkirkan hama tersebut?"

Dia benar-benar berpikir begitu dari lubuk hatinya yang paling dalam. Nagirou Hamamuro bertanya kepadaku dengan wajah polos tanpa dosa.

Seorang pemuda mengenakan topeng berkata,

"Betul sekali! Induk monster beserta anaknya yang kita singkirkan tadi benar-benar mahakarya, tahu! Saking menyebalkannya, 'Hanya anak ini saja! Tolong selamatkan anak ini saja!' katanya! Tentu saaaaja, aku langsung membantai anak monster itu duluan. Ekspresi keputusasaan sang ibu saat itu, nah, apa kamu ingin melihatnya?"

Dia tertawa polos seperti anak kecil yang mendapatkan nilai bagus dengan nada sombong, lalu menunjukkan benda bulat di tangan kanannya kepadaku.

Wajah wanita yang berlumuran darah dan air mata, yang dipelintir oleh amarah dan kebencian itu, terhubung secara jelas dengan wajahku sendiri di masa lalu saat aku kehilangan segalanya.

Ini pastinya adalah suara kehancuran. Keyakinan dan harga diri paling suci yang selama ini aku yakini runtuh berantakan dengan suara berderak.

"Begitu ya... Kalian ini adalah kaki tangan para vampir, kan!?"

Didorong oleh sisa-sisa rasionalitas yang tersisa, aku meninggikan suaraku dengan nada memohon.

Jika mereka adalah musuh yang mengkhianati umat manusia, maka tindakan biadab seperti ini masuk akal untuk dilakukan.

"Hah? Kami ini kaki tangan para vampiriii? Mana mungkin begitu. Acara pertunjukan terhebat seperti ini tidak mungkin dipikirkan oleh para kelelawar!"

Pria berbadan tegap dengan rambut hanya di bagian atas kepala yang mengenakan hoodie hitam memutar wajahnya karena tidak suka dan meludahkannya.

"Bohong..."

Mana mungkin manusia bisa memikirkan perbuatan keji seperti ini!

"Tidak bohong. Tapi, yah, aku sangat-sangat berterima kasih karena kalian telah membawa mainan luar biasa seperti ini ke dunia ini."

Tidak ada alasan bagi mereka untuk berbohong dalam situasi seperti ini. Dengan kata lain―dengan kata lain, mereka adalah manusia, dan mereka melakukan perbuatan ini sebagai manusia.

"Ughaaaaaaaahhhhhhh―!"

Aku mengeluarkan suara seperti binatang buas yang bahkan tidak terdengar seperti suaraku sendiri.

Benteng bernama keyakinan yang selama ini berhasil kupertahankan dengan susah payah berubah menjadi pasir dan runtuh begitu saja pada saat itu.

Aku menangis seperti anak kecil sambil mencoba melancarkan serangan kepada mereka. Namun, Pedang Suci tidak bisa dipanggil, dan kekuatan sihir berwarna perak yang tadinya bisa aku gunakan seolah-olah aku sedang bernapas pun tidak dapat digunakan.

Itu wajar saja. Pedang Suci adalah bentuk dari hatiku. Begitu pula dengan sihir berwarna perak itu. Kekuatan itu tidak akan meminjamkan kekuatannya kepada seseorang yang bahkan tidak percaya pada dirinya sendiri barang sedikit pun.

Hal ini sama saja dengan menyegel semua senjata yang menjadi andalanku.

Aku mencoba menyerang mereka dengan tangan kosong, namun jumlah musuh jauh lebih banyak.

Sebaliknya, aku dipukuli, ditendang, dan disayat dengan pisau.

Akhirnya aku dibanting oleh mereka, sambil menangis dan mengeluarkan suara penuh dendam.

Rasa sakit dari luka sayatan pisau itu tidak ada apa-apanya; yang kurasakan adalah penyesalan, kepedihan, dan ketidakmampuan yang luar biasa karena tidak bisa berbuat apa-apa, dan aku benar-benar tidak bisa memaafkan keadaan ini.

Di tengah dasar keputusasaan itulah, dia muncul.

Dia mendekatiku yang ditahan oleh mereka tanpa memiliki cara untuk melawan dan hanya bisa menangis meraung-raung dengan menyedihkan,

"Mashiro, inilah kenyataannya. Di antara para sampah, tidak ada bedanya manusia atau monster. Ada orang baik, ada juga orang jahat. Orang-orang yang menyikramu di masa lalu kebetulan saja adalah makhluk non-manusia seperti vampir."

Dia berucap dengan tenang untuk menasihatiku sambil mendekat.

Di tengah gelombang niat membunuh yang dilemparkan oleh banyak anggota Little Demon Gremlin,

"Menjijikkan. Benar-benar menjijikkan..."

Dia bergumam pelan seperti itu,

"Kalian ini, berniat menyentuh Mashiro sampai kapan, hah!"

Dia berteriak marah dengan volume suara yang bahkan membuat bangunan bergetar.

Sesaat kemudian, kepala pria ber-hoodie hitam yang memitingku meledak hancur, sementara kedua tangan dan kaki Nagirou Hamamuro tertekuk ke arah yang tidak wajar lalu jatuh ke lantai sambil menjerit histeris.

Dia mengancam Nagirou Hamamuro yang seperti itu dengan pisau dan memerintahkannya untuk diam.

Selanjutnya, dia menggunakan pisau di tangan kanannya untuk melepaskan ikatan para gadis non-manusia dan membaringkan mereka ke lantai, lalu memanggil seekor slime dengan Skill pemanggilan untuk menyembuhkan para gadis non-manusia tersebut.

Sambil menunjuk para gadis non-manusia yang terbaring tanpa luka sedikit pun, dia memerintahkan,

"Mashiro, lindungi mereka!"

Begitu perintah itu meluncur darinya.

Aku sudah kehilangan akal sehat. Sesuai dengan instruksinya, aku berjalan ke sisi para gadis non-manusia dan berlutut. Setelah itu, aku terus mengawasi pertarungannya.

"Luar biasa..."

Itulah kesan jujur yang kurasakan.

Itu pastinya bukanlah masalah kecepatan atau kekuatan fisik. Karena gerakan dia yang sekarang pun masih bisa kulihat dengan jelas oleh mataku.

"B-Bunuh dia!"

Pembacaan mantra sihir dari para Little Demon Gremlin telah selesai, dan pita cahaya berwarna-warni meluncur dengan kecepatan tinggi menyerang ke arahnya.

Dia mengibaskan dua bilah pisaunya seolah-olah sedang menepis lalat. Setibanya di sana, seolah-olah waktu telah diputar balik, berbagai pita cahaya tersebut berbalik dengan kekuatan beberapa kali lipat lebih besar ke arah orang yang melepaskannya, lalu menghantam dan merenggut nyawa mereka.

"Hiii!"

Kepala pria dan wanita berbusana formal yang berlarian ketakutan berterbangan di udara, sementara tubuh para anggota Little Demon Gremlin yang berniat melarikan diri dari medan pertempuran ini juga dicabik-cabik menjadi bentuk salib.

Di tengah situasi yang penuh jeritan keputusasaan semacam ini,

"Gorgo!"

Bos mereka, pria dengan rambut hanya di bagian atas kepala, telah menyelesaikan mantranya, dan sesosok monster berupa kepala tua yang menyerupai hantu gentayangan muncul dari lantai.

"Jadikan dia batu! Imbalannya adalah semua jiwa di aula ini selain dirikuuu!"

Bos itu memberikan perintah kepada monster kepala melayang Gorgo dengan suara emosional sementara wajahnya berkedut ketakutan.

"B-Boss, apa yang kamu katakan?!"

"Apa kamu berniat menjadikan kami sebagai kurban?!"

Di tengah rentetan suara kecaman bernada jeritan dari para Little Demon Gremlin,

"Fuhii, kelihatannya tidak enak sekali, ya."

Gorgo berputar mengedarkan pandangan lalu melontarkan kesan tersebut sambil mengerutkan kening.

Kemudian, begitu melihat kami berdua, wajahnya terpuntir dalam kenikmatan,

"Mereka itu kelihatan enak, apa boleh kumakan?"

Dia meminta konfirmasi kepada bos Little Demon Gremlin.

"Tentu saja! Makanya bunuh dia!"

"Kontrak disetujui!"

Kedua mata Gorgo bersinar merah secara misterius, dan semua pria serta wanita berbusana formal yang lemas di lantai, maupun anggota Little Demon Gremlin yang terlambat melarikan diri, semuanya berubah menjadi batu.

Pada saat yang sama, sinar cahaya merah melesat ke arahnya.

Dengan ekspresi seolah-olah itu adalah hal yang merepotkan, dia menjerat cahaya merah tersebut dengan pisaunya lalu menjawab dengan ketus,

"Kukembalikan."

Cahaya merah itu berbalik kembali ke arah Gorgo dan mengubah separuh wajahnya menjadi batu.

"T-Tubuhku―"

Mendengar Gorgo yang mengeluarkan suara keheranan,

"Bahkan tidak bisa menetralkan anomali status dari kemampuan diri sendiri... Seberapa sampah sebenarnya kamu ini?"

Dia meninggikan suaranya dengan nada tidak senang. Detik berikutnya, wujudnya telah berada di belakang Gorgo.

"Hike? Jyureru?"

Sejumlah garis melintas di kepala Gorgo yang melayang di udara, dan pada saat berikutnya, kepala itu tersebar di lantai dalam bentuk potongan daging yang hancur berkeping-keping.

"B-B-B-Bagaimana bisaaa―!"

Saat sang bos melengkingkan jeritan,

"Bubebebebebebette!"

Rentetan kepalan tinju menghantam sekujur tubuh bos tersebut dengan kecepatan luar biasa hingga dia terlempar menabrak dinding dan membentur dengan keras.

"Sudah berakhir...?"

Kekuatan di pinggangku lenyap, dan aku jatuh terduduk lemas di lantai.

"Kamu sudah berjuang dengan baik."

Begitu dia datang ke sisiku, dia berjongkok, lalu melontarkan kalimat tersebut sambil tersenyum—kenapa harus tersenyum di saat seperti ini—sambil mengelus kepalaku.

Entah kenapa, sentuhan tangan yang menenangkan itu membuatku,

"―!?"

Perasaan lega, penyesalan, keraguan, serta berbagai emosi dan pikiran bermunculan di kepalaku, bercampur aduk menjadi satu, hingga aku akhirnya memeluknya erat-erat sambil menangis tersedu-sedu.

◇◆◇

Saat aku memberikan kata-kata pujian kepada Mashiro, dia malah memelukku erat-erat dan menangis.




Baru saja aku mengira dia sudah mulai tenang, dia malah buru-buru menjauh dariku. Dia kemudian menatapku dengan sorot mata penuh dendam.

Jujur saja, kuharap dia berhenti menatapku tajam dengan air mata di sudut matanya sambil menutupi dadanya.

Akibat pertarungan tadi, jaket Mashiro robek di mana-mana. Pemandangan menakjubkan dari dua bukit kembarnya pun mengintip dari balik kain.

Penampilan Mashiro saat ini pasti akan menimbulkan kesalahpahaman yang tidak-tidak bagi siapa pun yang melihatnya.

"Da—sar mesum!"

Dan sebagai tambahannya, dia malah melontarkan kata-kata itu.

"Asal kamu tahu saja, yang tiba-tiba memelukku itu kamu, loh?"

"Kamu kegirangan kan, menempel padaku tanpa busana begitu! Dasar mesum!"

"Itu benar-benar tuduhan yang tak berdasar."

"Lagi pula, yang pertama kali mengelus kepalaku kan kamu!"

Berdasarkan pengalamanku, saat seorang wanita menjadi sekeras kepala ini, alasan yang konyol malah akan berakibat fatal. Hal itu sudah sangat jelas dari pengalamanku di kampung halaman.

Kampung halaman? Tunggu dulu, seingatku aku sama sekali tidak punya teman masa kecil perempuan. Apakah ini perasaan dejavu lagi?

"Maafkan aku soal itu."

Sambil menghela napas, aku menundukkan kepalaku. Mashiro lalu memalingkan wajahnya dengan pipi yang merona merah.

(Terima kasih.)

Kemudian, dia menggumamkan kata itu pelan dengan bibir yang mengerucut.

"Hah? Kamu bilang sesuatu?"

"Aku tidak bilang apa-apa!"

Dia menatapku tajam sambil meninggikan suaranya. Sepertinya dia menyuruhku untuk tidak bertanya lebih jauh lagi.

Mungkin ini hanya perasaanku saja, tapi sikap Mashiro sepertinya sudah berubah. Dia kembali menjadi gadis bermulut tajam seperti sebelumnya, bukan lagi gadis kegelapan yang penuh kebencian seperti tadi.

Yah, meski kata-katanya masih saja pedas, tapi setidaknya sekarang dia pasti bisa mendengarkan ucapanku dengan tenang.

Aku mengeluarkan sebuah mantel besar dari dalam Item Box dan memakaikannya ke bahunya.

"Mashiro, ada yang ingin aku bicarakan."

Aku menyampaikan keinginanku yang sungguh-sungguh kepadanya.

"Aku juga punya sesuatu yang sangat ingin kutanyakan padamu."

Dia membalas permintaanku dengan nada suara yang tegas.

"Kalau begitu, silakan kamu duluan. Aku akan menjawab apa pun yang kubisa."

"Aku akan bertanya langsung ke intinya. Apa kamu ini adalah wadah kerasukan dari bawahan vampir?"

"Hah? Aku ini wadah kerasukan bawahan vampir? Tentu saja tidak. Bagaimana bisa kamu berpikir begitu?"

Yah, sebenarnya aku sudah merasa sedikit curiga kalau aku dianggap punya hubungan dengan para vampir itu.

"Habisnya, hasil penyelidikan Asosiasi Hunter bilang ada sidik jarimu di lokasi terbunuhnya Underworld Returner!"

Tepat saat dia meninggikan suaranya, ponsel di sakuku berdering nyaring. Aneh sekali. Padahal aku yakin sudah mematikannya sesaat sebelum penyusupan.

Begitu aku mengeluarkan ponsel dari saku, terdengar sebuah suara dari sana.

"Ini aku, Akatsuki Eisei dari Asosiasi Hunter Cabang Jepang. Sepertinya pemusnahan Little Devil Gremlin sudah selesai, ya?"

Terdengar suara berat seorang pria dari ponselku. Padahal aku belum menyentuh layar ponselnya sama sekali.

Ponsel ini pasti dikendalikan dari jarak jauh. Dengan waktu dering yang terlalu pas ini, kurasa semua percakapan kami sejak tadi sudah disadap.

"Biar kujawab pertanyaan kalian berdua. Insiden kali ini adalah ulah salah satu petinggi Asosiasi Hunter yang bermusuhan dengan Keluarga Akatsuki."

"Dia bersekongkol dengan Departemen Penyelidikan untuk membunuh para Ranker tingkat tinggi dari faksi kami, termasuk Underworld Returner."

"Mereka berencana melimpahkan semua kesalahannya pada kalian berdua, Tsukishiro Kain dan si Bad Boy yang punya hubungan dekat dengan kami. Namun tentu saja, kami sudah menggagalkan semua rencana pembunuhan itu sebelum terjadi."

Gawat juga. Semua ini benar-benar baru pertama kali kudengar. Aku hanya diberitahu oleh Bad Boy bahwa Kepala Basis Yoshizato memerintahkan kami untuk menghancurkan Little Devil Gremlin.

Lagi pula, mengesampingkan soal Bad Boy, aku sendiri hampir tidak punya hubungan apa pun dengan Keluarga Akatsuki.

"Pem... pembunuhannya gagal...?"

Mashiro melontarkan pertanyaan itu dengan suara gemetar.

"Orang-orang bodoh itu menyewa S-Class Criminal dari luar negeri untuk menyerang kami. Tapi Yoshizato sudah menyadari situasinya lebih dulu dan memasang jaring peringatan."

"Faksiku itu sangat kompeten, kau tahu. Mengalahkan mereka bukanlah hal yang sulit jika kami sudah tahu akan ada serangan."

"Kami menangkap mereka semua dalam satu sapuan bersih. Jadi, meski ada yang terluka, tidak ada satupun dari mereka yang mati, termasuk Underworld Returner."

"Ta-tapi, kami diberitahu oleh sang Savior kalau Kain dan Instruktur Bad Boy itu punya hubungan dengan Little Devil Gremlin!"

"Kami menyebarkan berbagai informasi yang belum jelas kebenarannya demi mengungkap serentak para pembuat onar di dalam negeri."

"Sang Savior mungkin bertindak berdasarkan salah satu informasi tersebut. Padahal kenyataannya, kamilah yang memerintahkan Bad Boy untuk bekerja sama dengan Tsukishiro Kain demi menghancurkan Little Devil Gremlin."

"Artinya, kalian sengaja menyebarkan informasi palsu untuk melihat siapa yang akan mengambil tindakan mencurigakan dengan memanfaatkan insiden ini?"

"Tepat sekali. Tsukishiro Kain, kekuatanmu itu sangat tidak normal."

"Tidak heran jika orang-orang dari Glorious seperti Savior memercayai rumor tersebut. Tapi yang pasti, mereka sudah benar-benar bergerak kali ini."

"Kami berniat untuk menyelidiki mereka secara menyeluruh mulai dari sekarang."

Yah, sebelumnya aku memang mendapat perintah dari Bad Boy untuk memusnahkan semua orang selain beberapa pihak yang terlibat dalam insiden ini. Tapi ternyata itu adalah keinginan kuat dari para petinggi Asosiasi Hunter.

"Singkatnya, bukan Kain, melainkan akulah yang dicurigai dalam kasus ini, kan?"

Mashiro mencondongkan tubuhnya ke arah ponsel dan bertanya.

"Benar. Orang-orang Glorious seperti Savior itu sudah sering bertingkah mencurigakan sejak lama. Saat kami melakukan penyelidikan internal, kami mendeteksi bahwa kau, Mikage Mashiro, telah melakukan kontak dengan Savior."

"Itulah sebabnya kami memutuskan untuk bersandiwara sedikit kali ini. Aku minta maaf karena telah mencurigaimu."

"Aku sudah mendengar semua kejadian di lokasi insiden dengan telingaku sendiri. Kamu tidak bersalah."

"Lalu, soal Kain dan Instruktur Bad Boy yang pergi hanya berdua saja itu...?"

Tanpa jeda sedetik pun, dia kembali bertanya. Aku kira dia akan marah atau tertekan karena tahu dirinya telah dicurigai.

Namun sebaliknya, kehidupan kembali terpancar di wajah Mashiro setiap kali kami berbincang.

"Kami tidak ingin memperlihatkan pemandangan mengerikan pada anak-anak. Anggap saja itu rasa sayang orang tua."

"Lagi pula, melihat sifatnya itu, dia pasti akan mengamuk habis-habisan kalau melihat langsung perbuatan Little Devil Gremlin, kan?"

Sambil tertawa terbahak-bahak, dia malah melontarkan kata-kata yang sangat terang-terangan.

"Tunggu dulu. Aku ini juga salah satu dari anak-anak itu, loh?"

"Maaf saja, tapi tidak ada satupun petinggi di Asosiasi Hunter yang menganggapmu cuma sekadar anak kecil."

"Itu pujian yang tidak kuinginkan."

"Yah, bagaimanapun juga, kerja bagus untuk misinya. Aku akan memberimu imbalan yang besar segera setelah kau kembali, jadi nantikan saja."

Setelah menyampaikan hal itu secara sepihak, sambungan telepon pun terputus.

"Aku sudah mengerti situasinya. Tapi, ada satu hal terakhir yang ingin kutanyakan padamu."

Mashiro bertanya dengan ekspresi wajah yang tampak memohon.

"Ada apa?"

"Sapu tangan kelinci yang kamu pegang tadi, itu benda apa?"

Jangan-jangan, dia melihatnya? Tapi bagaimana bisa? Padahal aku sudah menyimpannya dalam-dalam di dasar tasku.

"Mashiro, kamu menggeledah tasku, ya?"

"Aku minta maaf karena sudah melihatnya sembarangan! Makanya, kumohon jawablah!"

Dengan raut wajah putus asa, dia berpegangan erat padaku dan memohon dengan suara keras.

Melihatnya seperti itu, aku menghela napas panjang.

"Sapu tangan itu pemberian dari teman masa kecilku."

Aku menjawab pertanyaannya dengan singkat.

"Teman masa kecil?"

"Ya, itu pemberian dari anak yang tinggal di sebelah rumahku dulu."

"Aku sudah tidak ingat wajah maupun namanya, tapi aku selalu menyimpannya dengan baik sejak dulu."

"Itu sungguhan, kan?"

Mashiro menanyakannya dengan ekspresi serius, seolah-olah dia sedang mempertaruhkan takdirnya.

"Tentu saja. Aku bersumpah demi jiwaku."

Aku meletakkan telapak tangan kananku di dada dan menjawabnya dengan mantap.

"Begitu... ya..."

"Meski begitu, kamu jahat sekali, ya. Kamu benar-benar mengira kalau aku ini komplotan vampir?"

Tentu saja aku sama sekali tidak merasa terluka karena kebenarannya sudah sangat jelas, tapi aku mencoba berpura-pura depresi.

"M-mau bagaimana lagi, kan! Habisnya tingkah lakumu itu terlalu mencurigakan!"

Dia mengibas-ngibaskan kedua tangannya dengan panik dan melimpahkan kesalahannya padaku.

"Kalau kamu bilang mencurigakan seterus terang itu sih, ya..."

Orang lain mungkin akan sakit hati mendengarnya. Tapi sayang sekali, hatiku terbuat dari baja, jadi kata-kata semacam itu tak mempengaruhiku.

"B-bukan! M-maksudku bukan begitu! Sapu tangan kelinci itu sangat mirip dengan sapu tangan yang kuberikan pada adik laki-lakiku!"

Mashiro memberikan pembelaan dengan wajah yang hampir menangis. Aku memang tidak akan pernah bosan melihatnya begini, tapi kurasa sudah waktunya untuk berhenti menggodanya.

"Syukurlah kalau kamu memercayaiku."

Aku menyampaikan perasaanku yang tulus sambil tersenyum kepadanya.

"Ah..."

Wajahnya memerah dan dia pun memalingkan pandangannya. Tepat saat aku membelai kepalanya dengan tangan kananku, terdengar sebuah seruan.

"Permisi..."

Seorang gadis kecil bertanduk berjalan memimpin di depan dua wanita monster lainnya, lalu menghampiri Mashiro.

"Ada apa?"

Mashiro menanyakan niat mereka dengan wajah yang menegang.

"Terima kasih banyak karena sudah menyelamatkan kami semua."

Ketiga wanita itu menundukkan kepala dalam-dalam dan menyampaikan rasa terima kasih mereka.

Begitu kami keluar dari tempat pesta, Takeshi langsung menghujani aku dan Mashiro dengan pertanyaan tentang keselamatan kami dengan wajah yang hampir menangis. Takeshi benar-benar orang yang sangat memedulikan temannya.

Setelah kami menunggu selama beberapa jam, sejumlah besar Hunter datang berbondong-bondong dan menangkap para penjahat yang masih hidup. Dengan begitu, Quest kami pun telah berakhir.

Saat ini, kami sedang menuju ke fasilitas berbentuk kubah sesuai dengan instruksi yang diberikan.

"Kalian semua sudah bekerja keras dalam memusnahkan Little Devil Gremlin. Silakan beristirahat dengan tenang sampai Quest selanjutnya yang lebih spesifik diberikan."

"Oh ya, hadiah untuk Quest kali ini juga sudah ditransfer ke rekening kalian masing-masing."

Kata-kata tak terduga itu meluncur dari mulut Kepala Basis Akigayama, Yoshizato Megaku.

"Serius!? Ini semacam bonus gaji dadakan, kan!?"

"Kebetulan aku punya baju yang ingin kubeli. Uang sakuku rasanya tidak akan cukup!"

"Bagus! Mantap!"

Karina, Ran, dan Makoto mengekspresikan kegembiraan mereka dengan cara masing-masing. Namun, mereka langsung memperbaiki postur tubuh dengan panik setelah mendengar dehaman dari Amagi Tokisada.

"Pihak akademi punya dua instruksi tambahan untuk kalian. Pertama, Akatsuki Tatsuya, kau harus mengurus Murayama Akito dan Murayama Mikan!"

Tatsuya membelalakkan matanya lebar-lebar untuk beberapa saat, seolah tak pernah menduga hal ini. Namun, dia pun merespons.

"Aku mengerti."

Dia memalingkan wajahnya dan mengangguk tegas.

"Kemudian, Mikage Mashiro, aku perintahkan kau untuk tinggal bersama Arisa, gadis monster yang kau selamatkan kali ini!"

"Hah!? Kenapa harus aku!?"

Bahkan Bad Boy pun merasa ngeri melihat Yoshizato Megaku. Namun Mashiro membantahnya dengan ekspresi wajah yang sangat marah.

Di saat Amagi Tokisada pun ikut menegang, Yoshizato melanjutkan penjelasannya.

"Insiden kali ini adalah skandal yang benar-benar bisa menjungkirbalikkan dunia. Kita tidak bisa membiarkannya bocor ke publik."

"Di saat yang sama, muncul juga situasi di mana kita harus segera memastikan hak asasi para monster cerdas yang dipanggil ke dunia ini. Lagi pula, kini kita tahu kalau tidak semuanya adalah bawahan vampir."

Gadis-gadis monster yang kami lindungi kali ini berasal dari dua latar belakang. Kelompok pertama adalah para monster yang dipanggil oleh penyihir manusia menggunakan sihir pemanggilan khusus.

Monster-monster itu lalu diperjualbelikan di pasar gelap dan digunakan untuk permainan yang diselenggarakan oleh Little Devil Gremlin.

Kelompok lainnya adalah mereka yang dibawa paksa ke dunia ini sebagai budak oleh para vampir. Berdasarkan informasi dari Bad Boy, kali ini terungkap bahwa para vampir melepaskan banyak monster berkelas non-petarung ke dalam masyarakat manusia sebagai pengintai.

Mereka menyusup tanpa perlu mengikat kontrak sebagai bawahan. Selama mereka bukan bawahan vampir, tidak ada batasan ruang gerak meskipun berada di dalam perlindungan dinding putih.

Para vampir sepertinya telah memanfaatkan titik buta ini dengan sangat baik. Sejak lama, keberadaan anak ras campuran dengan monster yang disebut youkai asli Jepang seperti Akito memang sudah diketahui secara luas.

Jadi kehadiran mereka di Jepang sebenarnya bukanlah hal yang terlalu aneh, dan para vampir kemungkinan besar telah memanfaatkan celah tersebut. Tentu saja, berbeda dengan kelompok asli Akito, gadis-gadis itu tidak memiliki catatan keluarga maupun tempat tinggal.

Kebanyakan dari mereka ditangkap oleh manusia saat sedang berkeliaran sebagai gelandangan. Pada akhirnya, mereka pun terbawa arus dan berakhir di tangan Little Devil Gremlin.

Kesamaan dari kedua kelompok itu adalah mereka sama-sama korban yang murni tak bersalah. Fakta ini menjadi jelas setelah mendengarkan keterangan dari mereka kali ini.

"Meski begitu, kenapa harus aku!?"

"Menurut dua pengikutnya, Nona Arisa sepertinya adalah seorang putri dari negara monster di dunianya yang dulu. Para atasan memutuskan bahwa dia harus disambut dengan sopan demi kemungkinan menjalin hubungan diplomatik di masa depan."

"Apalagi, Nona Arisa hanya memercayai dua manusia di dunia ini, yaitu dirimu dan Tsukishiro Kain."

"..."

Pasti ada ketidakpuasan di hatinya, terlebih lagi Arisa adalah sesosok monster. Mashiro belum bisa sepenuhnya menerima kenyataan itu.

Namun, dia tidak setega itu untuk menolak saat seorang gadis kecil mengatakan langsung bahwa ia memercayainya. Hal ini memang terasa seperti obat perangsang yang kuat, tapi kurasa keputusan ini bisa jadi hal yang baik baginya.

"Jangan khawatir. Tentu saja tidak realistis kalau hanya kau dan Arisa yang tinggal berdua. Oleh karena itu—"

Yoshizato Megaku menoleh ke arahku.

"Tsukishiro Kain, aku perintahkan kau untuk bekerja sama dengan Mikage Mashiro dalam mengurus gadis monster Arisa!"

Ia baru saja menjatuhkan perintah yang sudah pasti akan menimbulkan keributan itu.

Anggota Tim F, terutama para gadis seperti Makoto, langsung menentang keras gagasan tinggal bersama lawan jenis. Namun, Takeshi justru menyetujuinya, dan Tatsuya pun menunjukkan persetujuannya dalam diam.

Meski begitu, keputusan ini sudah ditetapkan oleh akademi dan Asosiasi Hunter. Kami yang hanya seorang siswa tak punya hak untuk menolak, jadi kami pun dipaksa untuk hidup bersama.

Hal yang paling mengejutkan adalah reaksi dari Mashiro. Kupikir dia akan menolak mentah-mentah tinggal bersamaku, bahkan sampai berniat keluar dari Akademi Kagetsu. Namun—

"Kalau kamu berani menyerangku, aku akan langsung menebasmu sampai mati."

Ujung pedang suci Mashiro diarahkan padaku, disertai ancaman pembunuhan tanpa belas kasihan sama sekali. Tapi mengejutkannya, ia tak menolak ide hidup bersama ini.

Yah, karena ini adalah perintah langsung dari Yoshizato Megaku, mungkin ia memang tak punya pilihan selain menyerah.

Begitulah kisahnya, saat ini kami sudah kembali ke kamar asrama untuk mengemas barang-barang. Rencananya kami akan segera pindah ke apartemen yang telah disiapkan oleh Asosiasi Hunter.

Takeshi sedang pulang ke kampung halamannya hari ini karena punya urusan mendadak. Jadi yang tersisa di kamar ini hanyalah Tatsuya.

Sepertinya, Tatsuya juga akan tinggal bersama Akito dan Mikan di apartemen yang sama seperti kami. Apartemen itu memang terlihat biasa saja dari luar, tapi sepertinya para Hunter tingkat tinggi juga menetap di sana.

Jadi sebenarnya itu bukanlah tempat yang pantas ditinggali oleh seorang siswa. Melihat pemaksaan ini, kurasa apartemen itu adalah bangunan bermasalah milik kakek Tatsuya.

Saat aku baru saja akan melangkah keluar kamar, terdengar sebuah seruan.

"Tsukishiro Kain, ah, bukan, Tuan Kain!"

Sebuah suara memanggilku dari arah belakang. Saat aku menoleh, kulihat Tatsuya sedang berjongkok dengan kedua tangan menempel ke lantai.

"Tatsuya, ada apa?"

Melihat tingkah Tatsuya yang aneh, aku mengernyitkan dahi seraya menanyakan maksudnya.

"Aku akan membayar dengan apa pun yang kubisa! Latihlah aku! Kumohon!"

Tatsuya menggesekkan dahinya ke lantai, lalu memohon kepadaku.

Memintaku melatihnya, ya. Dia sampai rela merendahkan dirinya seperti ini. Pasti tekadnya sudah sangat bulat.

"Apa alasanmu ingin menjadi kuat? Apa demi Akito dan Mikan?"

"...Bukan."

"Lalu, untuk apa kamu ingin jadi lebih kuat?"

"Demi diriku sendiri."

"Apa untuk balas dendam pada orang-orang yang sudah meremehkanmu?"

"Bukan! Selama ini aku hanyalah bajingan yang paling rendah! Aku sama sekali tak menaruh dendam atas perlakuan yang kuterima saat ini!"

"Hanya saja, jika aku tetap lemah seperti ini, semuanya akan terlepas dari tanganku. Itulah yang kusadari dari Quest sebelumnya!"

Betapa bodohnya. Pada akhirnya, itu sama saja artinya dengan berjuang demi Akito dan Mikan, kan?

Tapi rasanya kurang pantas kalau aku harus repot-repot menyindirnya.

"Jawaban yang tidak buruk. Baiklah, aku akan melatihmu. Tapi latihanku ini cukup berat."

"Ini jauh berbeda dengan permainan yang biasa kau lakukan. Apa kau tetap bersedia?"

Setelah menelan ludah dengan susah payah, Tatsuya pun menganggukkan kepalanya kuat-kuat.

"Tentu saja! Aku sangat berutang budi padamu!"

Ia meluapkan rasa syukurnya dengan suara yang lantang.

"Kalau begitu, latihan akan dimulai besok pagi. Bersiaplah di depan asrama ini pada jam lima pagi."

Setelah menyampaikan pesanku sepihak, kali ini aku benar-benar beranjak meninggalkan kamar.

◇◆◇

Di sebuah ruangan luas bergaya Jepang milik keluarga utama Akatsuki. Di sana, para anggota klan tengah menyaksikan sebuah rekaman video.

Video itu memperlihatkan pergerakan Akatsuki Tatsuya dalam Quest penghancuran Little Devil Gremlin. Tampak adegan di mana Tatsuya bersujud memohon untuk menjadi murid Tsukishiro Kain.

Terlihat juga kehidupan sehari-harinya saat tinggal bersama Akito dan Mikan. Semua orang dari Keluarga Akatsuki yang hadir di ruangan itu hanya bisa melongo menatap pemandangan tersebut.

Ya, hanya beberapa orang saja yang tidak menunjukkan reaksi keterkejutan semacam itu!

"Ohh! Tatsuya! Syukurlah! Syukurlah kau baik-baik saja!"

Pria tua bertubuh besar dengan rambut putih yang bersorak kegirangan sambil menitikkan air mata itu adalah Akatsuki Kouzen. Ia adalah penyihir terkuat di Jepang sekaligus kepala Keluarga Akatsuki saat ini.

"Ayah, apakah Ayah sudah tahu kalau memasukkan Tatsuya ke Tim F akan berakhir seperti ini?"

Eisei bertanya pada Kouzen dengan raut wajah serius.

"Tentu saja! Aku percaya kalau Beliau pasti akan menuntun Tatsuya ke jalan yang benar!"

Selain sebagai penyihir terkuat di Jepang, Kouzen juga merupakan penguasa mutlak di Keluarga Akatsuki. Tak heran jika ia memiliki harga diri yang sangat tinggi, sehingga pada dasarnya ia bukanlah tipe orang yang suka menggunakan bahasa sopan kepada orang lain.

Bahkan, tidak berlebihan rasanya jika menyebut ini adalah pemandangan langka yang baru pertama kali terjadi seumur hidup.

"Meski begitu, aku tak menyangka Tuan Tatsuya akan berubah sejauh ini..."

Tak ada satupun orang yang hadir di ruangan itu melayangkan protes atas kata-kata yang meluncur begitu saja dari mulut ajudan tersebut. Bahkan sebaliknya—

"Tatsuya memang terlahir dengan bakat, dia juga anak yang baik. Ini bukanlah hal yang mengejutkan, dia hanya sedikit tersesat saja."

Ibu kandung Tatsuya, seorang wanita berambut merah panjang dengan setelan jas merah bernama Akatsuki Akane menyeka rambutnya seraya menyatakan hal itu dengan gembira.

"Namun, faktanya, Tuan Tatsuya juga yang telah membahayakan posisi Keluarga Akatsuki kita. Meski sekarang ia sudah bertobat, kita tak bisa serta merta menerimanya kembali, kan."

Pemimpin cabang Keluarga Akatsuki kembali menegaskan hal itu, tetapi—

"Sejak awal, aku sama sekali tak berniat menarik Tatsuya kembali ke Keluarga Akatsuki! Lagipula, potensinya itu tak akan puas hanya dengan hal semacam ini!"

"Terlebih lagi kali ini, dia telah menjadi murid dari Beliau!"

Mendengar ucapan Kouzen yang penuh rasa percaya diri itu, Akane pun merespons.

"Ayah, sebenarnya kau menganggap dia itu sebagai apa?"

Akatsuki Akane mencondongkan tubuhnya ke depan dan menanyakannya pada Kouzen.

"Beliau adalah eksistensi tingkat atas. Apalagi posisinya lumayan tinggi."

"Ayah, apa itu benar!?"

"Ada apa ini, apa kalian semua tak menyadarinya!? Hanya dengan melihat sekilas saja sudah jelas! Aura yang terpancar darinya sangat berbeda dari manusia biasa!"

"Tentu saja kami tak punya mata dewa sepertimu, Ayah. Tapi kalau itu yang keluar dari mulutmu, berarti sudah pasti Tsukishiro Kain punya kekuatan yang setara dengan dewa..."

"Kalau begitu, ceritanya akan berubah, kan? Tatsuya sudah resmi menjadi murid dari eksistensi tingkat atas, bukan?"

Ruangan itu mendadak riuh akibat saran dari salah satu anggota keluarga utama Akatsuki.

"Memang benar. Jika kelak Tuan Tatsuya semakin menguasai kekuatannya, kekuatan itu akan jadi milik Keluarga Akatsuki..."

Diawali oleh kata-kata pemimpin cabang keluarga yang sebelumnya telah menolaknya tadi, ruangan pun semakin dipenuhi berbagai tanggapan.

"Belum pernah ada satu orang pun yang menjadi murid dewa! Itu juga merupakan impian pamungkas kita sebagai penyihir!"

"Sebagai seorang penyihir, tujuan tertinggi dan puncaknya adalah bisa bertatap muka dengan dewa dan diberkahi kekuatannya. Setidaknya satu dari impian itu kini telah terkabul, kan?"

Suara yang menuntut Tatsuya kembali ke Keluarga Akatsuki menggema riuh dari penjuru ruangan. Namun—

"Sudah kubilang aku takkan mengembalikannya, kan!"

"Ya, aku juga setuju dengan pendapat Ayah. Apalagi melihat situasinya, dia tak akan mau kembali walaupun kita memintanya."

Eisei mengangkat sudut bibirnya dan memastikannya dengan tegas.

"Eisei, jangan bilang kalau Asosiasi Hunter yang akan mengambilnya lagi!"

"Jangan bercanda! Kita baru saja berhasil mencapai tahap kebenaran ini!"

Di saat hujan kritikan terus berdatangan, Eisei menanggapinya.

"Dasar bodoh! Saat ini kita sedang berada di tengah pertempuran antara vampir dan kelangsungan hidup umat manusia! Masa bodoh dengan impian konyol penyihir itu!"

Eisei bangkit berdiri dan meluapkan kemarahannya.

"Tenang saja. Kalaupun Tatsuya tidak kembali ke Keluarga Akatsuki, kita masih punya Narumi, kan?"

"Biarkan saja Narumi dan dia memiliki anak, lalu jadikan anak itu sebagai penerus Keluarga Akatsuki. Bukankah begitu Keluarga Akatsuki akan jadi lebih aman?"

Kesunyian melanda ruangan sesaat usai Akane melontarkan usulan itu. Namun di detik berikutnya, sorak sorai kegembiraan langsung meledak.

"Bila itu terwujud, itu benar-benar impian yang jadi nyata untuk kita semua. Tapi apakah itu mungkin terjadi?"

Kepala cabang keluarga berkumis tipis itu melontarkan keraguannya.

"Setidaknya Narumi kelihatannya memendam perasaan yang cukup kuat padanya. Meskipun aku sama sekali tak tahu apa alasannya."

Akane membalasnya dengan mengangkat bahu acuh.

"Kalau memang Nona Narumi yang turun tangan, kurasa takkan ada masalah."

"Benar juga. Apalagi dengan kecantikan Nona Narumi yang luar biasa itu!"

Di saat wajah semua orang tersorot oleh cahaya harapan, Akane kembali angkat bicara.

"Sekarang tinggal soal pembasmian para vampir saja. Ayah yakin kalau Tsukishiro Kain mampu mengalahkan para vampir, kan? Habisnya kau kelihatan santai sekali."

Akane bertanya untuk memastikan hal itu pada Kouzen sembari tersenyum penuh arti.

"Untuk saat ini, jawabanku adalah ya."

Ruangan langsung bergemuruh riuh saat Kouzen mengiakan pertanyaannya.

"Bisakah kau memberitahu kami alasannya?"

Salah satu pengikutnya bertanya tentang dasar keyakinan Kouzen. Namun, Kouzen malah mengarahkan pandangannya ke sudut ruangan, bangkit berdiri, lalu bersujud.

"Tuan Atom, bisakah Anda menjelaskannya?"

Dia menanyakan hal itu dengan penuh hormat pada seorang pria paruh baya berambut abu-abu panjang yang diikat ke belakang, yang tengah meneguk minuman keras di sudut ruangan.

"Tu-Tuan Atom!"

Begitu Eisei berlutut dan menundukkan kepalanya, orang-orang yang hanya bisa tertegun melihatnya pun ikut-ikutan berlutut dan menundukkan kepala dengan panik.

"Dia itu kuat. Hanya dengan melihatnya sekilas, aku tahu kalau dia punya kekuatan yang cukup untuk berhadapan dengan monster dari generasi lama."

"Baginya, vampir-vampir di sini hanyalah seperti semut yang merayap di tanah."

"Ka-kalau begitu... Umat manusia akan selamat!"

Cahaya harapan bersinar di wajah semua orang, sebelum akhirnya Tuan Atom kembali angkat bicara.

"Sayangnya, tak semudah itu. Kelihatannya, bos mereka si Vlad itu tengah mencoba untuk mendapatkan kekuatan monster yang sangat merepotkan."

"Jika kekuatan itu berhasil jatuh ke tangan mereka, dia pun harus bertaruh nyawa untuk melawannya."

Eisei tanpa ragu langsung menanyakan kelanjutan kalimat Atom yang diucapkannya seolah sedang merenungi sesuatu itu.

"Kekuatan apa yang Anda maksud?"

"Super God Behemoth. Makhluk itu sudah masuk dalam kategori bencana di mana kekalahan adalah hal yang pasti jika kau berani melawannya. Bahkan kekuatanku tak mempan padanya."

Mendengar pernyataan tegas dari Atom, Eisei kembali bersuara.

"Jika saja Tuan Susanoo—"

Seolah sedang mencari jalan keluar, Eisei menyebutkan nama yang menjadi secercah harapan.

"Percuma saja. Makhluk itu benar-benar berbeda dimensi. Bahkan seorang Susanoo sekalipun akan terpaksa menjalani pertempuran yang pasti berujung pada kekalahan."

"Sialan! Padahal kupikir kita sudah punya cara untuk mengusir mereka dari bumi ini, tapi malah muncul ancaman baru yang lebih mengerikan dari itu!"

Di saat Eisei meninju tikar tatami dengan tangan kanannya, suara lain menimpali.

"Kalau begitu, bagaimana jika kita memohon pada Tsukishiro Kain agar segera membasmi para vampir itu?"

"Itu mustahil."

"Mengapa mustahil!?"

"Karena saat ini sepertinya dia kehilangan ingatan aslinya. Anggap saja itu adalah syarat baginya untuk bisa bertahan di dunia ini."

"Di dalam pikirannya saat ini, dia percaya kalau dirinya itu lemah, dan vampir adalah makhluk kuat yang tidak bisa dia menangkan. Sepanjang apa pun kita mencoba menjelaskannya, dia takkan pernah menerimanya."

"Kenapa dia harus berada dalam situasi serumit itu!?"

Pertanyaan yang sangat wajar dari Eisei itu langsung ditanggapi oleh Atom dengan senyum percaya diri.

"Karena mungkin ada hal yang takkan bisa dilakukannya jika dia tidak menjelma sebagai manusia biasa yang lemah, kan? Singkatnya begini. Tsukishiro Kain datang ke dunia ini demi mewujudkan suatu tujuan tertentu. Demi mencapai tujuan itu, dia harus menjadi manusia biasa yang lemah. Ketika dia berhasil mencapai tujuannya sebagai manusia, barulah dia akan mendapatkan kekuatannya kembali dan mau membasmi para vampir demi kita. Sebaliknya, jika kita memprovokasinya dengan ceroboh sehingga tujuannya tak pernah tercapai, maka dia takkan pernah bisa mendapatkan kekuatannya kembali dan akan langsung pergi meninggalkan tempat ini."

Kepala keluarga cabang yang memiliki kumis melintang itu merangkum seluruh pembicaraan sejauh ini, lalu mengonfirmasikannya kepada Atom.

"Memang benar seperti itu."

"Tuan Atom! Mohon beri tahu kami, apa sebenarnya tujuan Anda melakukan semua ini?!"

Mendengar teriakan putus asa dari Eisei, Atom hanya menggelengkan kepalanya ke kiri dan ke kanan.

"Aku sudah bisa menduganya. Betapa besarnya tekad itu, dan betapa sebuah keajaiban hal ini bisa terjadi. Namun, hanya ini yang tidak bisa kuungkapkan demi prinsipku sendiri. Jika aku membocorkannya, aku benar-benar akan menjadi sampah paling hina. Maafkan aku."

Atom menundukkan kepalanya dalam-dalam.

"Tidak apa-apa. Anda pasti memiliki posisi yang sulit, justru kami yang memohon maaf."

Eisei pun ikut menundukkan kepalanya saat itu juga.

"Lagipula, syarat-syarat yang kutentukan dengan kekuatanku sendiri kini sudah tidak berarti lagi. Mulai dari sini, pertarungan yang sesungguhnya baru saja dimulai. Dari lubuk hati yang paling dalam, aku mendoakan kemenangan kalian."

Setelah menyampaikan hal tersebut, sosok Atom perlahan menghilang tanpa bekas.

"Apakah kalian sudah memahami situasinya? Menurutku, diterimanya Tatsuya sebagai murid juga merupakan salah satu dari syarat tersebut. Karena itulah, saat ini yang harus kita lakukan hanyalah mengawasi. Apakah kalian setuju?"

Kousen berdiri, lalu mengedarkan pandangannya ke seluruh orang yang hadir untuk mengonfirmasi niat mereka.

Seluruh pihak yang berhubungan dengan keluarga Akitsuki pun berdiri, lalu menundukkan kepala mereka secara bersamaan.

◇◆◇

Di kediaman keluarga Hamuro yang megah namun terasa sia-sia, seorang pria berbadan besar dengan kumis kaisar bernama Kagerou Hamuro sedang murka hingga rambutnya seolah berdiri.

"Adikku tertangkap! Ini berbeda dari rencana awal! Seharusnya kalian menjadi instruktur penanggung jawab dan menggiring bocah-bocah Kelas F itu dengan rapi untuk ditangkap. Itu kesepakatan kita, kan? Tapi kenapa sekarang jangankan menangkap, tak ada satu pun dari mereka yang berhasil kalian bekuk?!"

Ia membentak sambil menyemburkan ludah ke arah pria yang mengenakan tudung hitam pekat.

"Itu karena seseorang bergerak terlalu gegabah, sehingga membuat Yoshizato menaruh kecurigaan. Akibatnya, posisi instruktur penanggung jawab Kelas F malah jatuh ke tangan 'Si Bocah Nakal' yang merupakan anteknya. Kami juga sangat dirugikan oleh hal ini."

Pria bertudung hitam pekat itu merengut jijik, lalu membalas dengan nada datar. Sebuah masker hitam tampak menutupi wajahnya.

"Aku tidak mau mendengar alasanmu! Lalu, bagaimana dengan urusan adikku? Masalah ini tidak akan tercium oleh publik, kan?!"

Jika sampai terbongkar, reputasi Hamuro sebagai politikus pembela hak asasi manusia akan hancur lebur. Jika dampaknya sangat buruk, gara-gara adik bodohnya itu, Hamuro bisa saja dipaksa pensiun dari dunia politik.

"Anda tidak perlu khawatir. Asosiasi Hunter telah memutuskan skenario resmi bahwa Jiyou Hamuro dirawat di rumah sakit karena kondisi kesehatan yang memburuk, lalu meninggal secara mendadak akibat penyakit akut."

"Kau bilang tidak perlu khawatir, hah?! Sudah pasti pengawasan Asosiasi Hunter terhadapku akan makin diperketat! Rencana ini harus segera dibatalkan! Sampaikan juga hal ini kepada para vampir itu!"

"Sudah terlambat untuk mundur. Rencana ini sudah mulai berjalan."

"Jangan bercanda!"

Hamuro berteriak murka, tetapi kedua tangan pria bertudung hitam itu mendadak mencengkeram wajahnya dengan erat.

"Jika Anda berniat menolak rencana ini, Anda benar-benar akan hancur. Tentu saja, ini bukan sekadar kiasan. Anda akan dipaksa drop out dari jalan hidup Anda."

Pria bertudung hitam itu mengumbar senyum licik sembari menatap Hamuro dengan sepasang mata hitam pekatnya, menyuarakan ancaman tersebut.

Hanya dengan menatap mata tanpa kehangatan yang mengintip dari balik topeng itu saja, Hamuro merasakan ketakutan yang luar biasa.

Seolah tanah di bawah kakinya melenyap dan melemparnya ke dalam jurang tanpa dasar.

"...Ba-baiklah. Aku akan menurut..."

Saat Hamuro akhirnya berhasil menjawab, pria bertopeng dan bertudung hitam itu melepaskan cengkeramannya.

"Tetapkan tekad Anda mulai dari sekarang. Tidak ada jalan lain bagi Anda selain hidup berdampingan bersama Tuan Spade dan para vampir lainnya."

Ia melontarkan vonis yang tidak ubahnya seperti mimpi buruk. Tentu saja demikian.

Hal itu menandakan seluruh usaha Hamuro yang telah merangkak naik hingga ke posisi Sekretaris Jenderal partai penguasa akan berakhir sia-sia.

"Anda tidak perlu berkecil hati. Saya telah menyarankan kepada Tuan Spade agar menjadikan Anda sebagai ikatan klan beliau. Jika hal itu terwujud, Anda bisa menjadi raja di negara ini."

"Apakah... para vampir itu benar-benar mau menerimaku?"

"Tentu saja. Dengan syarat rencana kali ini berhasil, kami akan mengatur agar Anda tetap terlibat di jajaran inti pemerintahan negara ini. Begitu negara ini jatuh ke dalam genggaman vampir, Tuan Spade berjanji akan mengizinkan Anda menguasai seluruh negeri ini secara de facto sebagai ikatan klan beliau. Beliau sendiri yang menyampaikannya."

Selama bisa menguasai negara ini secara de facto, Hamuro tidak peduli dengan formalitas semacam itu. Justru ia sudah muak karena selama ini harus selalu menjaga perasaan para rakyat jelata.

Jika negara ini jatuh ke tangan vampir, ia bisa melakukan apa saja terhadap wanita yang menyukainya. Bagi Hamuro, situasi ini malah terlalu menguntungkan.

"Baiklah! Aku akan tunduk pada vampir!"

Dengan demikian, Hamuro resmi menjual seluruh umat manusia kepada para vampir, baik secara nama maupun tindakan.

"Kalau begitu, dari lubuk hati yang paling dalam, saya mendoakan keberhasilan rencana ini."

Pria bertudung hitam itu bangkit dari sofa, memberi hormat secara singkat, lalu melangkah pergi meninggalkan kediaman megah tersebut.

Di bawah paparan cahaya bulan,

"Bodoh sekali! Mana mungkin sosok seperti Tuan Spade mau memanfaatkan sampah seperti dirimu. Tapi yah, tidak bisa dimungkiri kalau untuk sementara waktu kau memang pion yang berguna. Setelah rencana ini selesai, aku akan memberimu sedikit kemudahan."

Sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman miring.

"Tapi, Tsukishiro Kanon, ya... Sebenarnya siapa dia sebenarnya...? Mungkinkah dia adalah utusan dewa lain yang mewujud di dunia ini...? Tidak, tidak mungkin..."

Pria bertudung hitam itu menggelengkan kepalanya ke kiri dan ke kanan.

"Bagaimanapun juga, dia jelas menjadi penghalang terbesar untuk rencana kali ini. Aku harus segera mengambil tindakan."

Ia bersedekap, lalu bergumam seorang diri.

◇◆◇

Di malam hari, aku sedang masuk ke dalam sungai yang terletak di belakang Gedung B untuk mencari sesuatu. Benda itu adalah cincin pemberian darinya yang sempat kulempar begitu saja.

Aku baru menyadarinya setelah ditunjuk oleh Utako, tetapi sepertinya aku sering mengelus cincin itu di jari tanganku dengan penuh kasih sayang. Ketika hal itu diungkit, tentu saja aku merasa malu.

Namun lebih dari itu, aku menyadari bahwa keberadaan cincin tersebut terasa makin membesar di dalam hatiku setiap harinya.

Sebab itulah, bagiku, membuang cincin tersebut merupakan sebuah keputusan sekali seumur hidup untuk memutuskan hubungan dengan Cain.

Meskipun begitu, pada akhirnya aku tahu bahwa kabar mengenai dirinya yang mengkhianati umat manusia maupun tuduhan bahwa ia adalah wadah kesurupan klan vampir, semuanya hanyalah omong kosong belaka.

Padahal aku sudah melakukan kesalahpahaman yang sangat memalukan, tetapi cowok itu sama sekali tidak menyalahkanku.

Ia malah menyelamatkanku dari bahaya seperti biasa, dan setelah itu tetap memperlakukanku seperti biasa seolah tidak terjadi apa-apa.

Hal itu membuatku merasa sangat bahagia hingga ingin menangis. Di saat yang sama, cincin itu adalah hadiah pertama sekaligus bukti ikatan dengannya.

Hasrat yang kuat untuk mendapatkannya kembali mendadak bergejolak, dan di sinilah aku sekarang, sibuk mencari cincin itu.

Padahal aku sudah mencarinya selama tiga jam, tetapi sama sekali tidak ada tanda-tanda bakal ketemu.

Ini sudah bulan November, dan suhu di malam hari terasa sangat dingin. Saat aku menggigil dingin hingga gigiku bergelatuk—

"Mashiro, apa yang sedang Kamu lakukan?!"

Saat aku menoleh ke arah suara yang penuh kejengkelan itu, Cain sedang berdiri diam sambil memegang senter.

Wajahnya tampak menekuk gusar, sebuah pemandangan yang sangat langka.

"Tidak, aku cuma sedang mencari barang yang hilang!"

"Kenapa harus sengaja mencari di jam begini?! Mencari kan bisa dilanjutkan besok! Bagaimana kalau Kamu masuk angin?!"

Ia berjalan mendekat ke arahku, lalu menarik tanganku secara paksa untuk membawaku naik ke tepi sungai.

Pasti alasan dia marah karena aku melakukan hal yang nekat seperti ini.

Meskipun di dalam hatiku rasa bahagia meletup-letup, aku tetap berusaha bersikap tidak mau kalah.

"Jangan ikut campur! Ini barang yang sangat penting!"

Aku mengempaskan tangannya, berpura-pura tangguh sekuat tenaga.

"Kalau begitu aku ikut mencari. Barang apa yang sedang Kamu cari?"

"..."

Mana mungkin aku bisa mengatakannya. Mengaku kalau aku telah melemparkan cincin yang ia berikan ke sungai... Jika aku mengatakannya, kali ini ia benar-benar bisa membenciku.

Karena itulah, aku hanya bisa mengatupkan bibirku rapat-rapt dan memalingkan wajah.

Ia menggaruk kepalanya dengan wajah cemberut, tetapi kemudian angkat bicara.

"Baiklah. Kalau begitu, aku akan mengajarimu cara menemukannya. Tadahkan kedua telapak tanganmu ke atas dan pejamkan matamu."

Aku tidak paham apa maksudnya, tetapi Cain tidak pernah melakukan hal yang sia-sia selama ini. Jadi, aku memejamkan kedua mataku sesuai dengan yang ia perintahkan.

"Bayangkan benda yang ingin Kamu cari, lalu alirkan Magic Power milikmu secara perlahan dari bawah kaki hingga membentuk lingkaran konsentris. Dengan teknik kontrol Magic Power yang Kamu miliki, Kamu pasti bisa menemukannya."

"Y-ya."

Sesuai dengan petunjuknya, aku menyalurkan Magic Power berwarna perak dari pusat tubuhku menuju ke ujung kaki, lalu melepaskannya perlahan hingga membentuk pola lingkaran.

"Ugh?!"

Wajahku merengut saat sejumlah besar informasi mendadak melonjak masuk ke dalam kepalaku. Sensasi seolah-olah dipaksa dijejali informasi ini terasa mirip dengan rasa sakit.

"Kuncinya adalah menutup akses informasi selain objek yang Kamu bayangkan. Kalau Kamu mencoba memasukkan seluruh informasi itu ke dalam kepala sekaligus, otakmu bisa terbakar."

Cain mengucapkan hal yang mengerikan itu dengan santai.

(Makanya, kalau bisa dilakukan segampang itu, aku juga tidak bakal kesusahan!)

Meski menggerutu di dalam hati, aku tetap fokus membayangkan wujud cincin tersebut sesuai petunjuknya.

"Eh?"

Tepat di posisi sekitar lima puluh meter dariku, aku bisa merasakan keberadaan sebuah cincin kecil.

Seolah terlempar, aku langsung berlari menuju lokasi tersebut dan mencelupkan tanganku ke dalam air sungai.

"Ketemu!"

Aku bisa menyadarinya lewat sentuhan. Benda yang ada di dalam genggaman tangan kananku adalah cincin itu.

"Sepertinya sudah ketemu, ya. Kalau begitu, ayo kita pulang."

Ia membalikkan badannya, lalu melangkah berjalan menuju ke tepi sungai.

Setelah mengenakan cincin itu di jari manis tangan kiriku, aku menyusul ke tepi sungai. Di sana, Cain sudah menunggu sambil membawakan handuk mandi, pakaian, dan sepatu.

Setelah menegaskannya berulang kali agar tidak menoleh ke belakang, aku segera berganti pakaian dengan cepat, lalu kami berdua berjalan pulang.

Begitu Cain tahu aku belum makan malam, ia menghela napas panjang dengan raut wajah jengkel, lalu menyuruhku memesan makan malam di restoran keluarga. Hmm, hari ini sikap Cain agak sedikit memaksa, ya.

"Apakah Alisa tidak apa-apa sendirian?"

"Ya, aku sudah minta tolong pada As dan Min yang tinggal di sebelah. Aku juga sudah menyiagakan Battaman sebagai pengawal, jadi tidak ada masalah."

As dan Min adalah pelayan Alisa yang tinggal di kamar sebelah apartemen kami. Konon pada awalnya mereka berdua bersikeras ingin tinggal satu atap bersama Alisa, tetapi atas permintaan kuat dari Alisa sendiri, mereka akhirnya menyerah dan setuju untuk tinggal di kamar sebelah.

"Begitu, ya. Aku jadi merepotkan..."

"Kalau Kamu merasa begitu, tolong jangan buat kami khawatir lagi."

Sejak tadi Cain terus memasang wajah cemberut, sepertinya suasana hatinya sedang agak buruk. Mungki karena aku pergi tanpa memberi tahu apa pun, ia jadi sangat mengkhawatirkanku.

"Maaf ya..."

Saat aku memanyunkan bibir dan memalingkan wajah, Cain akhirnya kembali tersenyum manis seperti biasanya.

"Alisa juga sangat mengkhawatirkanmu. Jangan lupa minta maaf padanya begitu sampai di rumah, ya."

Di dalam hati, aku merasa lega. Namun tiba-tiba—

"Aku sudah lama ingin menanyakannya, Mashiro pernah mengira aku sebagai orang lain, kan? Apakah wajahnya mirip denganku?"

Ia menanyakan hal yang sama sekali tidak kuduga.

"Hanya penampilan luarnya saja. Kai Heinemann, pria itu adalah musuh umat manusia yang melindungi monster dan iblis di Remuria, dunia asalku..."

Penilaian mengenai musuh bebuyutanku itu mendadak terhenti di tengah jalan. Padahal jika itu beberapa waktu lalu, aku bisa mengucapkannya dengan penuh keyakinan atas prinsipku sendiri.

Namun, setelah menyentuh keburukan manusia dan kebaikan para monster seperti Alisa, aku yang sekarang tidak lagi bisa menampik keberadaan monster maupun klan iblis.

Dan aku bisa meramalkan dengan jelas bahwa hal ini akan menuntutku menuju ke dasar jurang yang dalam dan gelap, tempat di mana tidak ada secercah pun cahaya harapan.

"Mashiro, Kamu itu sangat murni. Tak seperti kami, Kamu masih bisa kembali. Jadi, jangan terlalu menyalahkan dirimu sendiri."

Perkataan Cain saat itu merasuk dengan sangat kuat dan berat di dalam hatiku.



Chapter 1 | ToC | Chapter 3

0

Post a Comment

close