Chapter 2
Strategi Pemusnahan Iblis Kecil
Awalnya kupikir ini hanyalah ulah pihak SMA
Kazatsuki, tapi sepertinya aku telah terseret ke dalam insiden yang cukup
merepotkan.
Fakta ini terungkap tiga hari setelah sesi latihan
praktik itu, saat aku dipanggil ke ruang kepala sekolah dan Kepala Sekolah SMA
Kazatsuki, Ashika Kureto, menjelaskan garis besar situasinya kepadaku.
Instruktur penanggung jawab Kelas A-1 kami,
Shishido, ditangkap karena diduga terlibat dalam insiden kali ini.
Faktor pencemaran mental yang kuat
terdeteksi di dalam diri Shishido.
Setelah pengaruh itu dihilangkan,
Shishido kembali sadar dan mengakui segalanya.
Hasilnya, terungkap bahwa Wakil
Kepala Sekolah Suguro telah menyewa seorang Criminal bawahannya untuk
melenyapkan beberapa siswa akademi.
Pemicu utama dari insiden ini adalah Akizuki
Tatsuya.
Dia dijatuhi hukuman skorsing sekaligus diasingkan
secara permanen dari keluarganya.
Suguro selaku dalang di balik
insiden ini sempat menghilang tanpa jejak.
Namun, dia baru saja ditemukan
dalam keadaan cacat mental, dan otoritas Hunter mencurigai adanya keterlibatan
para vampir. Begitulah inti dari penjelasannya.
Semuanya bermula dari insiden di
Sweets Wood. Tatsuya menyimpan dendam karena merasa kupermalukan, lalu dia
meminta
Wakil Kepala Sekolah Suguro untuk
memberiku hukuman. Suguro memanfaatkan hal ini semaksimal mungkin dengan
merancang rencana untuk melenyapkanku sekaligus memegang kelemahan Tatsuya.
Dia lalu mengirim seorang Criminal bernama
'Kugutsushi', dan terjadilah insiden kali ini.
Astaga. Pada akhirnya, ternyata akulah
penyebabnya. Terlebih lagi, pembunuh bayaran yang dikirim untuk menghabisiku
hanyalah kroco yang bahkan kalah melawan siswa sepertiku.
Tidak, jika menilik perubahannya menjadi monster
di saat-saat terakhir, seharusnya dia tidak lagi berada dalam kekuatan aslinya
saat itu.
Mungkin aku harus menyimpulkan bahwa tubuhnya
telah dimodifikasi oleh Suguro agar bisa dikendalikan sesuka hati.
Yah, aku benar-benar penasaran bagaimana dia bisa
menanamkan formula sihir semacam itu pada orang yang lebih kuat darinya.
Hal yang paling mengejutkan di sini adalah
keputusan Keluarga Akizuki untuk secara praktis memutuskan hubungan dengan
Tatsuya.
Sekalipun perbuatannya sudah kelewatan, aku tidak
pernah bermimpi bahwa para petinggi Keluarga Akizuki akan membuang cucu dan
putra kandung mereka sendiri.
Terutama berdasarkan penjelasan dari akademi,
Tatsuya tampaknya hanya berniat untuk menghajarku saja.
Sepertinya tidak ada bukti nyata terkait rumor
bahwa dia pernah menyerang perempuan atau memukuli seseorang hingga tak
sadarkan diri sebelumnya.
Dalam insiden Sweets Wood itu, dia dan Makoto
memiliki hubungan layaknya teman masa kecil. Tampaknya masalah itu bukan
tentang asmara pria dan wanita, melainkan perselisihan kekuasaan di dalam
sekolah.
Hukuman Tatsuya kali ini adalah hasil dari
penilaian berat bahwa tindakannya benar-benar berisiko merenggut nyawa orang
lain. Kurasa Keluarga Akizuki juga mengambil keputusan pahit ini dengan berat
hati.
Dengan demikian, kesimpulannya adalah aku hanyalah
korban yang terseret sepihak, sehingga aku tidak akan menerima hukuman apa pun.
Seharusnya begitulah penjelasannya. Namun...
"Gimana pun cara mikirnya, ini jelas-jelas
kelas buangan, kan."
Pihak sekolah tiba-tiba mengumumkan bahwa mereka
akan menghapus sementara pembagian kelas berdasarkan departemen khusus, seperti
Departemen Komando Strategis, Departemen Taktik Pertempuran, dan Departemen
Dukungan Pertempuran.
Mereka akan menyusun ulang kelas menjadi 'Regu'
berdasarkan nilai akademis. Lebih lanjut, mereka juga memberitahu bahwa
hasilnya akan dipublikasikan secara serentak di situs internal akademi. Karena
itulah saat ini aku sedang mengeceknya di ponselku.
Pertama-tama, murid-murid paling berprestasi dari
seluruh departemen dikumpulkan ke dalam Regu S. Setelah itu, murid-murid
lainnya didistribusikan ke Regu A, B, C, D, E, dan F berdasarkan urutan nilai
mereka.
Singkatnya, ini adalah pembagian regu format
pertempuran nyata seperti regu latihan praktik sebelumnya. Meski begitu, belum
tentu pembagian ini efisien.
Siswa kelas atas memang harus terbiasa dengan
format pertempuran nyata, jadi pembagian regu semacam ini wajar dan sangat
diperlukan.
Namun, menurutku pribadi, menghapus sistem
spesialisasi sejak kelas bawah justru akan memperburuk tingkat penyerapan
keterampilan dan memberikan efek sebaliknya.
Omong-omong soal itu...
"Kenapa aku masuk Regu F, ya..."
Hal yang tidak masuk akal adalah, saat regu lain
terbagi lagi—Regu S dari satu hingga tiga, dan Regu A hingga E dari satu hingga
delapan—hanya Regu F yang berdiri sendiri tanpa pembagian.
"Kain, Makoto, kita mending protes aja soal
ini! Aku sama sekali nggak terima!"
Takeshi bangkit dari tempat duduknya dengan penuh
semangat, wajahnya menyiratkan kemarahan.
"Tolong hentikan. Lagipula,
tidak akan ada yang berubah."
"Bener tuh, percuma, percuma,
percuma banget deh."
Takeshi langsung cemberut
mendengar penolakan instan dariku dan Makoto.
"Yah, kalian berdua enak
karena ada di regu yang sama. Tapi, gimana nasibku? Aku harus sendirian
ngadepin orang-orang sok elite yang menyebalkan itu, tahu!"
Dia memuntahkan semua kekesalan yang selama ini
terpendam di hatinya.
Sepertinya Takeshi tanpa sadar telah menyuarakan
isi hatinya yang terdalam.
Namun, bukankah normalnya seseorang akan melompat
kegirangan jika masuk ke Regu S-1 yang paling prestisius?
Setidaknya, ide untuk melayangkan protes biasanya
tidak akan pernah terlintas.
"Wah wah, kalau kamu neriakin kesuksesanmu
sekencang itu, seisi kelas bakal benci sama kamu, lho."
Sambil menunjuk bagian tengah ruang kelas di
belakangnya dengan ibu jari, Makoto mengedipkan sebelah mata dan tersenyum pada
Takeshi.
Biasanya, Takeshi akan membalas lidah tajam Makoto
dengan candaan yang cerdas, tetapi kali ini...
"Jangan bercanda, kesuksesan apanya! Aku cuma
mau tetap ada di kelas ini!"
Amarahnya benar-benar memuncak
dengan serius.
"Kami juga merasakan hal yang sama. Tapi,
menurutmu apa para petinggi sekolah yang sudah mengambil tindakan ekstrem
sejauh ini mau mendengarkan protes dari siswa biasa seperti kita?"
Aku berbicara perlahan kepada Takeshi, berusaha
untuk menenangkannya.
"Nggak, sih..."
Aku tersenyum masam menanggapi jawaban ketus
Takeshi.
"Belum tentu keadaan ini akan bertahan
selamanya, kan. Kurasa cepat atau lambat semuanya akan kembali seperti
semula."
Aku menegaskan hal itu layaknya sedang memberinya
nasihat.
Aku tidak sekadar mengatakan hal itu demi
memperbaiki suasana sesaat, aku benar-benar memikirkannya.
Lagipula, aku tidak percaya pihak akademi akan
membuang begitu saja semua keuntungan dari departemen khusus.
Daripada memikirkan itu, yang lebih mengganjal
justru adalah para anggota Regu F ini.
Ada Mashiro sang kartu as
departemen khusus, serta Kuonji Karina yang merupakan murid terbaik di
Departemen Komando Strategis.
Ada juga Ashika Ran yang merupakan
salah satu petarung kelas atas di Departemen Taktik Pertempuran, lalu ada aku,
Makoto, dan bahkan Akizuki Tatsuya.
Begitu banyak orang yang terlibat
dalam insiden itu berkumpul di sini. Hampir bisa dipastikan bahwa para siswa
yang terseret dalam insiden tersebut sengaja dipilih menjadi anggota Regu F.
Satu-satunya pengecualian adalah
Makoto, yang tidak memiliki kaitan langsung dengan rentetan insiden itu, namun
aku bisa menebak alasannya.
Kemungkinan besar, banyak siswi
yang melayangkan protes akibat ucapan pelecehan seksualnya sehari-hari,
sehingga dia dibuang ke regu kami.
Kesimpulannya begini. Regu F
dibentuk sebagai hukuman praktis karena telah mempermalukan Keluarga Akizuki
dalam insiden tempo hari, sehingga kemungkinan besar ini adalah regu
pembuangan.
Kurasa itulah alasan kenapa
Tatsuya yang telah diasingkan dari keluarganya dimasukkan ke regu ini.
"Semoga saja, semuanya bisa berjalan tanpa
masalah."
Aku menggumamkan harapan tulus untuk sebuah
kedamaian dengan suara pelan.
Tatapanku tertuju pada Makoto yang sedang
melontarkan obrolan mesum sambil menatap tajam teman sekelas perempuannya,
serta Takeshi yang amarahnya masih belum mereda.
◇◆◇
Beberapa Hunter sedang menghadiri sebuah rapat
meja bundar yang diselenggarakan di lantai paling atas Asosiasi Hunter Cabang
Shinjuku, Jepang.
"Seorang pemuda yang mungkin
bisa mengalahkan vampir... Apakah dia itu Familiar milik Susanoo?"
Atom, seorang pria tua berambut
abu-abu yang duduk di meja bundar dengan kedua siku bertumpu, bertanya sambil
menautkan kedua tangannya.
"Tidak, identitasnya sangat jelas. Kami yakin
bahwa dia murni seorang manusia, bukan Familiar dari Tuan Susanoo."
Akizuki Eisei, seorang pria botak bertubuh besar
dengan luka di sekujur tubuhnya, menjawab dengan terus terang.
"Manusia mengalahkan... vampir,
ya... Sayangnya, dalam bahasa kalian, vampir itu sama dengan dewa. Selama
manusia tidak mampu menaklukkan dewa, maka upaya untuk mengalahkan vampir
mungkin termasuk dalam ranah keajaiban. Kau mengerti hal itu, kan?"
Atom melontarkan pernyataan itu
dengan raut wajah seolah baru saja menelan serangga pahit.
"Benar. Ini hanyalah evaluasi
semata bahwa pemuda itu cukup kuat hingga mungkin bisa mengalahkan vampir.
Namun, dia tetaplah harapan, sebuah senjata pertama yang berhasil digenggam
oleh umat manusia."
Eisei mengangguk tegas dengan
ekspresi muram, lalu menyatakan hal tersebut secara perlahan.
"Benar juga. Dia mungkin bisa
menjadi batu pijakan bagi si Susanoo itu untuk kembali ke tanah ini.
Setidaknya, jika dia memiliki kekuatan sebesar itu, dia bisa membawa permainan
ini ke arah yang menguntungkan."
Atom berdiri dari kursinya dan
membelakangi Eisei dan yang lainnya.
"Aku akan beristirahat sebentar di kamarku.
Panggil aku kalau terjadi sesuatu."
Dengan kalimat itu sebagai penutup, sosoknya
menghilang layaknya asap.
Eisei menggerakkan bola matanya, melirik salah
satu bawahannya.
"Bagaimana dengan situasi di SMA
Kazatsuki?"
Dia mendesak bawahannya untuk memberikan laporan
dengan nada bicara yang tegas.
"Sesuai rencana, kami telah memasukkannya ke
Regu F."
"F—Final Weapon umat manusia,
ya... Sebutan yang cukup tepat."
Saat Eisei menggumamkan hal itu
dengan pandangan menerawang...
"Tepat sekali! Regu F dipenuhi
oleh orang-orang yang bisa mencapai tingkat kelas kita. Yah, kecuali satu
orang, sih!"
Ashika Okibi menyunggingkan senyum
sarkastis di sudut bibirnya saat mengucapkan kalimat ironi tersebut.
"Jangan berkata begitu.
Menempatkan Tatsuya di regu yang sama dengan Tsukishiro Kanon. Itu adalah
satu-satunya syarat yang diajukan oleh Tuan Ayah untuk mengeluarkan Tatsuya
dari Keluarga Akizuki."
"Aku nggak ngerti apa yang
direncanakan kakek tua itu, tapi tolong jangan tambah beban kami lagi,
dong."
Okibi menghapus senyumannya dan
memberikan peringatan dengan nada tajam.
"Aku paham. Aku tak punya niat
untuk membawa Tatsuya kembali ke Keluarga Akizuki sekarang. Terlebih lagi, ini
juga demi kebaikan Tatsuya sendiri."
Eisei memejamkan matanya erat-erat
dan menggelengkan kepalanya perlahan, menepis sepenuhnya kekhawatiran Okibi.
"Baguslah kalau begitu. Tapi,
waktu aku ketemu Narumi tadi, dia kelihatan marah banget, tuh? Dia nanya,
kenapa dia nggak dimasukkin ke Regu F?"
"Kalau semuanya pergi ke Regu
F, nggak akan ada yang memimpin Regu S. Karena itulah, aku menempatkan Narumi
di Regu S untuk memimpin para siswa lainnya."
"Tapi, kau yakin dengan hal
ini? Bukannya rencananya Narumi dan Tsukishiro Kanon bakal dinikahkan supaya
mereka bisa jadi penerus?"
"Ah, itu cuma kiasan. Kalau aku
tidak mengatakannya saat itu, mereka bisa saja menggunakan cara-cara paksa
untuk mengurung Tsukishiro Kanon."
"Begitu, ya. Tapi, sepertinya
Narumi sendiri nggak berpikir begitu, lho."
Okibi tertawa terbahak-bahak,
seolah-olah hal itu sangat menghibur baginya.
"Tentu saja, aku tidak keberatan jika itu
memang keinginan Narumi. Ini hanya masalah tentang diriku sendiri yang tidak
akan ikut campur."
Okibi menatap lekat-lekat ke arah Eisei.
"Menurutku, kau itu ayah yang baik."
Dia menyampaikan kesan tersebut
dengan sudut bibir yang terangkat.
"Terima kasih. Jadi, bagaimana kelanjutan
urusan latihan praktik berformat pertempuran nyata di SMA Kazatsuki?"
"Siap! Pembagian Hunter Tingkat B ke atas ke
setiap regu di SMA Kazatsuki telah rampung."
"Hunter mana yang ditugaskan
ke Regu F?"
"Pihak akademi sepenuhnya
menyerahkan keputusan kepada Yoshizato Gaku, Komandan Pangkalan Shugayama yang
menjadi lokasi praktik. Namun, hampir bisa dipastikan bahwa beberapa Hunter
Tingkat A ke atas akan ditugaskan ke sana."
"Terus kabari aku nama-namanya! Aku ingin
mendengar kemampuan pasti dari Tsukishiro Kanon melalui Hunter yang bertugas
nanti."
"Dimengerti. Selain itu, baru saja ada
laporan dari Kepala Sekolah bahwa akan ada satu orang dari Regu S-1 yang
dipindahkan ke Regu F."
"Satu orang lagi?"
"Ya, sepertinya karena anak itu bersikeras
ingin masuk ke Regu F, dan dia juga telah membangkitkan suatu Skill
khusus."
"Skill khusus... Kalau Kureto
sampai memaksakan hal itu di situasi seperti ini, pasti kemampuannya sangat
luar biasa. Baiklah. Aku sudah menyerahkan seluruh operasional akademi kepada
Kureto."
"Jadi, siapa nama anak yang
bakal dipindahin ke Regu F itu?"
Okibi bertanya pada pemuda
sekretaris itu dengan mata yang berbinar tajam.
"Nama siswa itu adalah—"
◇◆◇
Desain interior ruangan itu dipenuhi
ornamen mencolok yang sekilas langsung meneriakkan kesan orang kaya, ditambah
dengan pajangan hewan awetan yang menghiasi seluruh sudut dinding.
Ada awetan binatang buas, awetan
yang jelas-jelas terlihat seperti monster, bahkan ada monster wanita dengan
wujud yang menyerupai manusia.
Bersandar di kursi yang terletak di
tengah ruangan berselera buruk itu, seorang pria bertubuh besar dengan kepala
plontos dan kumis melintang sedang menikmati anggur merah, menatap koleksi
awetannya dengan tatapan memuja.
"Permisi, Guru Kagero."
Pintu di depan terbuka,
memperlihatkan seorang pria tua berambut putih dan berjas yang melangkah masuk
ke dalam ruangan.
Merasa kesenangannya terganggu, pria
besar berkumis melintang bernama Kagero Hamuro itu terang-terangan menunjukkan
wajah cemberut penuh kekesalan.
"Terkait urusan Hunter
penanggung jawab Regu F SMA Kazatsuki, saya sudah mengatur semuanya sesuai
instruksi Anda."
Pria berjas itu membungkuk dengan
hormat dan menyerahkan beberapa lembar laporan kepada Hamuro sembari
menyampaikan hal tersebut.
Begitu melihat isi laporan tersebut,
Hamuro melebarkan senyum licik di wajahnya yang tembem dan berlemak.
"Ketidakhadiran Akizuki Narumi
memang sedikit meleset dari perkiraanku, tapi keberadaan orang-orang ini saja
sudah memberikan keuntungan yang lebih dari cukup."
Dokumen yang sedang dibaca oleh
Hamuro memuat lampiran foto-foto anggota Regu F.
Dia menatap tajam ke arah beberapa
perempuan di dalam foto itu hingga matanya seakan mau keluar, wajahnya berkerut
menahan gairah yang menggebu.
"Kami telah menyiapkan bukti
yang kuat bahwa Akizuki Tatsuya adalah dalang utama dalam insiden kali ini.
Selanjutnya, kita hanya perlu menunggu pergerakan mereka sebelum mengambil
tindakan."
Bagaikan mesin, pria berambut putih
itu dengan datar menyampaikan fakta yang paling ingin didengar oleh Hamuro.
"Pfft! Fuhahaha! Tawaku tak bisa berhenti!
Dengan ini, aku bisa menyingkirkan Keluarga Akizuki yang selama ini menjadi
duri dalam daging! Terlebih lagi, aku juga bisa mendapatkan para wanita dari
keluarga terhormat!"
Dia bangkit dari kursinya dan
berteriak dengan penuh semangat.
Meskipun Hamuro memegang kekuasaan
publik yang mutlak sebagai Sekretaris Jenderal partai penguasa, Keluarga
Akizuki saat ini adalah eksistensi luar biasa yang tak akan pernah bisa dia
tentang.
Namun, insiden yang ditimbulkan
oleh Akizuki Tatsuya mulai memperlihatkan celah dalam kekuasaan itu.
Skandal belum pernah terjadi
sebelumnya yang diawali dengan memanfaatkan Wakil Kepala Sekolah itu telah
tersebar ke seluruh dunia melalui internet.
Berkat media asing yang mulai
mengangkat kasus ini, lembaga-lembaga pers dalam negeri yang awalnya hanya
mengamati dari jauh pun akhirnya ikut memberitakan insiden ini, seakan didorong
oleh tekanan eksternal.
Hasilnya, opini publik berbalik
menjadi hujan kecaman terhadap Keluarga Akizuki.
Apa jadinya jika Akizuki Tatsuya mengkhianati umat
manusia dalam situasi seperti ini?
Dunia tak akan pernah memaafkan Keluarga Akizuki.
Struktur kekuasaan Keluarga Akizuki atas negara ini akan hancur lebur, dan
mereka akan kehilangan seluruh wewenangnya.
Jika itu terjadi, Keluarga Kuonji dan Keluarga
Ashika yang memiliki ikatan erat dengan Keluarga Akizuki juga bisa
disingkirkan.
Sebagai bonus tambahan, aku mungkin bisa
mendapatkan putri-putri mereka, yaitu Kuonji bersaudara dan Ashika Ran. Dan
yang lebih penting dari itu...
"Wanita ini!"
Seorang wanita bernama Mikage Mashiro. Kulit putih
pucatnya yang nyaris tembus pandang, struktur wajahnya yang sempurna bak
seorang dewi, pesona sensual yang kuat terpancar bahkan hanya melalui foto,
semuanya adalah kualitas kelas satu.
Selain itu, wanita ini juga memancarkan keanggunan
dan kemuliaan yang serupa dengan Akizuki Narumi.
Seorang Saint yang suci dan
menjunjung tinggi harga diri.
Mempermainkan wanita-wanita
bangsawan yang cantik dan penuh harga diri di atas ranjang sepuasnya, merusak
kehormatan mereka sampai hancur berkeping-keping. Itulah alasan Hamuro untuk
terus hidup.
Satu-satunya penyesalannya kali
ini adalah ketidakhadiran Akizuki Narumi di Kelas F, yang membuatnya tidak bisa
menangkap wanita angkuh itu.
"Yah, tidak apa-apa. Begitu
Keluarga Akizuki kehilangan kekuatan, aku bisa langsung menculiknya.
Ngomong-ngomong, bagaimana kelanjutan kontrak dengan para vampir itu?"
"Para vampir memiliki dua
permintaan. Hak kendali atas Shugayama dan Yunimachi, serta penyerahan
sementara pihak-pihak yang terlibat dalam insiden Akizuki Tatsuya tempo hari.
Tentu saja, mereka berjanji akan mengembalikan siapa pun di luar target mereka
kepada Anda, Guru Kagero. Apakah Anda bersedia menerimanya?"
Sangat bagus. Ini sungguh
sempurna. Dengan rencana ini, aku bisa melenyapkan Keluarga Akizuki beserta
seluruh musuh politikku, sekaligus memuaskan hasrat pribadiku.
"Tentu saja aku akan menerima semua tawaran
mereka! Segera kabari mereka soal ini!"
Hak kendali atas wilayah Shugayama dan Yunimachi
hanyalah urusan sepele jika dibandingkan dengan pengukuhan kekuasaan Hamuro di
negara ini. Aku dengan senang hati akan memberikannya pada mereka.
"Dimengerti. Kalau begitu, saya permisi
dulu."
Setelah sang sekretaris pergi...
"Mendidih... darahku
mendidih!"
Sambil membayangkan masa depannya
yang gemilang dan hari-hari yang penuh kenikmatan, Hamuro mengepalkan kedua
tangannya lalu melontarkan raungan sarat akan hasrat.
◇◆◇
Dua minggu telah berlalu sejak
penetapan regu.
Awalnya aku berpikir kami akan
berkumpul di kelas yang sama dan mengikuti pelajaran biasa, tapi nyatanya kami
langsung dikirim untuk menjalani latihan pertempuran nyata yang mewajibkan kami
menginap.
Aku memeriksa kurikulumnya secara
sekilas, dan isinya memang sangat pantas untuk disebut sebagai pelatihan
praktis oleh pihak sekolah.
Sesi pertama mencakup dasar-dasar
aktivitas sebagai Hunter profesional, yaitu berburu monster di dalam labirin
yang berada di Pangkalan Shugayama.
Kami akan melaksanakannya secara
ekstensif selama beberapa bulan dengan berkolaborasi bersama regu lainnya.
Di sinilah kami akan menguasai
dasar pertempuran sungguhan layaknya seorang Hunter.
Setelah itu, kami akan menjalankan
tugas Hunter di bawah bimbingan para profesional di Kota Yunimachi yang
bersebelahan dengan Pangkalan Shugayama.
Yunimachi adalah satu-satunya
wilayah yang berhasil direbut kembali oleh umat manusia setengah tahun lalu
setelah berhasil mengalahkan gerombolan Familiar vampir.
Bisa dibilang tempat ini adalah
simbol perlawanan umat manusia dalam perang melawan vampir. Para Hunter kelas
atas berkumpul di tempat ini, dan kabarnya proses rekonstruksi sedang berjalan
pesat.
Keduanya memungkinkan kami untuk
menguasai keterampilan tempur esensial yang diperlukan untuk menjadi Hunter
profesional.
Namun, di sisi lain, teknik-teknik
semacam ini seharusnya diperoleh dengan mempertaruhkan nyawa setelah seseorang
resmi menjadi Hunter.
Sekali lagi, saat masih berstatus
siswa, fokus utamanya haruslah peningkatan stamina dasar, taktik pertarungan
dasar, dan kemampuan masing-masing individu. Memprioritaskan latihan praktis
hanya akan membuahkan hasil yang tidak efisien.
Hanya ada satu alasan mengapa
pengurus akademi tiba-tiba menyusun kurikulum yang menyimpang seperti ini. Mereka pasti berniat untuk menerjunkan
para siswa sebagai kartu as dalam perang melawan para vampir.
Upaya melempar para siswa ke pertempuran sungguhan
di saat kita terus mengalami kekalahan ini, membuat kemampuan pengarahan
Asosiasi Hunter dan pihak akademi patut dipertanyakan.
Tentu saja, dua organisasi raksasa itu tak mungkin
memaksakan metode sembrono ini tanpa alasan yang kuat. Besar kemungkinan mereka
telah menemukan seseorang di antara para siswa yang memiliki kemampuan untuk
menumbangkan para vampir.
Begitulah seharusnya aku memahaminya. Jika dipikir
begitu, masuk akal jika mereka mengadakan latihan praktik yang ugal-ugalan ini.
Kesimpulannya, umat manusia sedang bertaruh.
Sepertinya aku harus berpikir seperti itu.
Yah, tujuan petinggi Asosiasi Hunter sama sekali
tidak ada hubungannya denganku yang merupakan anggota Regu F si regu buangan
ini.
Aku hanya perlu berpartisipasi
sebatas tidak sampai membuat diriku mati.
Karena itulah, saat ini kami sedang menunggu di
kelas untuk menerima arahan latihan pertempuran nyata.
Saat Mikage Mashiro melangkah masuk ke dalam
kelas, dia mengerutkan kening begitu melihatku.
Entah kenapa, semenjak latihan praktik tempo hari,
Mashiro memperlakukanku layaknya orang yang sangat berbahaya.
Karena kami berada di regu yang sama, aku tidak
punya keberanian untuk mengabaikannya. Karena itu...
"...Terima kasih atas bantuanmu waktu
itu."
Aku menundukkan kepala dengan ringan untuk
menyapanya.
"Aku sudah pernah dengar sapaan itu
sebelumnya."
Setelah menggumamkan kalimat itu dengan ketus, dia
duduk di kursi paling belakang di dekat jendela yang berada di sisi berlawanan
agar bisa menjauh dariku sejauh mungkin. Dia lalu menopang dagunya sambil
menatap ke luar jendela.
"Hei, Kain, apa kamu lumayan dekat dengan
Mikage Mashiro?"
Atas pertanyaan Makoto yang sangat tidak masuk
akal itu...
"Di bagian mana dari percakapan barusan yang
menunjukkan kalau kami dekat?"
Aku langsung balas bertanya padanya.
"Oh, jadi perasaanku aja. Baguslah kalau
gitu."
Gaya bicaranya seolah ada yang tersangkut di
giginya. Sangat jarang bagi Makoto untuk peduli pada orang selain kami.
Jangan-jangan, dia punya hubungan
yang buruk dengan Mashiro?
Tidak, tidak. Aku malah merasa gadis itu
adalah target ketertarikan seksualnya...
Di tengah suasana itu...
"Yo! Kain, Makoto!"
Takeshi mengangkat tangan kanannya dengan gaya
ceria seperti biasa lalu melangkah masuk ke dalam kelas dan menghampiri kami.
Seharusnya saat ini semua regu sedang mengikuti
kegiatan orientasi.
Terlebih lagi, kelas Regu S-1 milik Takeshi yang
merupakan regu teratas berada di gedung sebelah, jadi seharusnya dia tidak
boleh ada di sini.
"Takeshi, memangnya kamu tidak harus kembali
ke regumu?"
Aku menyuarakan rasa penasaran yang kami berdua
pikirkan, dan dia pun menjawab...
"Ah, gara-gara aku terus memohon tanpa henti,
guru kelasku ngebiarin aku masuk ke Regu F, lho."
Dia mengacungkan jempol dan mengedipkan sebelah
matanya padaku.
Hmm, gaya noraknya masih sama seperti biasa. Dia
tampak sangat bugar.
Sejujurnya, wujud Takeshi yang sempat jatuh dalam
kegelapan itu pasti jauh lebih populer di kalangan gadis-gadis.
Berbeda denganku, secara fisik dia sebenarnya
tidak buruk sama sekali, mirip dengan Makoto.
Kurasa memberitahukan fakta mengejutkan ini pada
orang yang sedang melaju kencang di jalan yang salah itu adalah sebuah bentuk
kebaikan dari seorang teman. Namun...
(Ini kelihatan menarik, jadi biarkan saja seperti
ini.)
Yah, bagaimanapun juga, Takeshi yang konyol jauh
lebih terlihat seperti Takeshi yang sesungguhnya.
"Hm? Tadi kamu bilang
sesuatu?"
"Tidak, bukan apa-apa kok. Lagipula, ternyata
hal semacam ini bisa diubah hanya dengan memohon, ya."
Aku benar-benar tidak menyangka kalau mereka akan
mengizinkan kelakuan kekanakan seperti anak SD ini. Akademi ini lumayan
asal-asalan juga.
"Takeshi itu emang orang aneh sejati,
ya."
Entah karena dia merasa cukup terguncang, Makoto
yang jarang-jarang mengerjap-ngerjapkan matanya menyampaikan pemikiran jujur
dari lubuk hatinya.
"Nggak apa-apa, lah. Aku cuma mau satu regu
bareng kalian!"
Takeshi duduk di kursi tepat di
depanku.
Ya, pihak sekolah sendiri sudah memberikan
persetujuan. Aku tidak punya alasan untuk menolaknya. Justru sebaliknya...
"Kita satu regu lagi, ya."
Saat aku menyodorkan tinju kananku...
"Tentu saja!"
Takeshi menyambutnya dengan tinju kanannya. Di
saat yang sama, seorang anak laki-laki gemuk melangkah masuk ke dalam kelas.
Akizuki Tatsuya. Masa skorsingnya telah berakhir
dalam seminggu, dan kini dia telah kembali menjalani kehidupan akademi yang
normal.
"..."
Tatsuya hanya melirik ke arah kami sekilas sebelum
duduk di kursi pojok belakang kelas dan membenamkan wajahnya di meja tanpa
mengucapkan sepatah kata pun.
Hukuman pengasingan dari Keluarga Akizuki pasti
memberinya pukulan yang sangat telak. Sejak masa skorsingnya berakhir, Tatsuya
dikucilkan hingga aku sendiri merasa kasihan saat melihatnya.
Bahkan orang-orang yang dulu menjadi pesuruhnya
kini mengabaikannya saat dia mencoba mengajak mereka bicara.
Hal ini sepertinya telah melukai hatinya, hingga
dia duduk menyendiri di kafetaria dengan murung, menatap dunia seolah telah
kiamat.
Yah, walau bagaimanapun juga dia telah
memanfaatkan orang lain untuk menghajarku, jadi aku sama sekali tidak
bersimpati padanya.
Kuonji Karina, gadis cantik berambut merah sebahu,
dan Ashika Ran, gadis penyihir berambut kuncir dua, memasuki kelas sembari
saling melemparkan hinaan.
Begitu melihatku, mata mereka berbinar gembira dan
mereka langsung menghampiriku. Lalu...
"Kain, syukurlah kita berada di regu yang
sama!"
Kuonji Karina mendorong Makoto yang notabenenya
adalah kakaknya, menggenggam kedua tanganku, dan mengucapkan kalimat klise itu
dengan ekspresi penuh gairah.
Tepat saat Makoto yang terdorong itu hendak
melontarkan kalimat cercaan dengan pipi berkedut kesal...
"Tsukishiro Kanon! Aku bakal terus ada di
sampingmu selama praktik ini berlangsung, tahu!"
Ashika Ran tiba-tiba mendeklarasikan hal itu
secara sepihak dengan nada yang merendahkan.
Sambil memandang bolak-balik
antara aku dan kedua gadis yang menerobos masuk itu, Takeshi berkata...
"Kain, kelihatannya musim semimu akhirnya
tiba juga, ya."
Dia memasang wajah sombong sambil
melakukan pose konyol.
Hei, Takeshi, jujur saja tingkahmu
sekarang bener-bener menyebalkan, tahu! Aku memuntahkan kata-kata berbisa itu
di dalam hati, lalu berkata...
"Jangan mengucapkan hal-hal
konyol, deh. Kelihatannya Hunter penanggung jawab sesi praktik kita sudah
datang, tuh."
Aku mengalihkan perhatian mereka
pada seorang instruktur pria dengan janggut tak terurus yang untungnya muncul
di saat yang tepat.
"Paman Amaki!"
Mashiro tiba-tiba melompat dari
tempat duduknya dan berseru kaget. Sepertinya dia sudah mengenal instruktur
itu.
Instruktur pria yang memiliki
janggut berantakan dan disinyalir sebagai penanggung jawab kami itu tak melirik
Mashiro sedikit pun.
Dia naik ke mimbar pengajar,
menyapu pandangannya mengelilingi kami, lalu berkata...
"Namaku Amaki Tokisada. Aku akan memandu
kalian mulai sekarang, jadi cepat ikuti aku."
Setelah menyampaikan kalimat yang cepat dan
sepihak itu, dia pun berjalan dengan langkah lebar ke luar kelas.
Ada belasan bus yang terparkir di
tempat parkir akademi yang luas.
Sepertinya kami harus menaiki bus
itu untuk pergi ke tempat praktik kami, Pangkalan Shugayama.
Kami naik ke bus yang ditempeli
stiker bertuliskan Regu F.
Setelah memastikan seluruh anggota
masuk ke dalam bus, bus pun berangkat.
Sekitar tiga jam kemudian, kami tiba di tempat
tujuan kami. Tempat itu merupakan sebuah pangkalan raksasa yang terletak di
tengah-tengah pegunungan berhutan.
Tempat ini merupakan lokasi labirin tertua
sekaligus yang terbesar di Jepang, 【Shuga】, dan juga berperan sebagai pangkalan
utama dalam pertarungan melawan vampir.
Sebelum para vampir menampakkan diri, tempat ini
merupakan kota yang diakui dunia karena kemakmurannya yang menjadi surganya
para Hunter.
Namun saat ini, kota ini telah direbut oleh
Asosiasi Hunter demi dimanfaatkan untuk pengumpulan material melawan vampir dan
wadah pencarian pengalaman tempur sungguhan.
"Akhirnya sampai jugaaa!"
Makoto berputar-putar dengan riang lalu menarik
napas panjang.
Terlepas dari hal itu, aku merasakan perasaan
familier yang aneh di sini.
Padahal aku yang belum pernah melangkah keluar
dari kampung halamanku tidak mungkin memiliki ingatan semacam ini.
Akhir-akhir ini, hal-hal seperti
ini cukup sering terjadi padaku. Mungkin saja ingatanku menjadi kabur akibat
kelelahan.
"...Tempat ini..."
Sambil memegang dadanya dengan
tangan kanan, Mashiro memandang daerah itu dengan ekspresi campur aduk.
Aku cukup familier dengan kilatan
emosi yang tersirat di dalam matanya itu.
Yaitu perasaan duka. Sebelum para vampir muncul,
tempat ini merupakan kota metropolitan yang dikelola oleh Asosiasi Hunter.
Jika orang tua Mashiro adalah seorang Hunter,
tidak aneh jika dia pernah tinggal di sini.
"Jadwal kita padat, tahu. Jangan cuma
melongo, cepet ikuti aku."
Didorong oleh desakan dari Instruktur Amaki, kami
pun mulai melangkah.
Instruktur Amaki membimbing kami ke sebuah ruangan
di dalam gedung berbentuk kubah yang terletak tepat di tengah pangkalan itu.
Di dalam ruangan yang dipenuhi tumpukan dokumen
itu, seorang pria bertubuh besar dengan rambut pirang cepak yang merokok sedang
bergelut dengan setumpuk berkas.
"Komandan! Saya bawa murid-muridnya!"
Instruktur Amaki memberi hormat pada pria jangkung
berambut pirang cepak itu.
Pria jangkung berambut cepak itu akhirnya
mengalihkan pandangannya dari setumpukan kertas itu dan menatap kami.
"Yo, aku Yoshizato Gaku, Komandan Pangkalan
Shugayama. Selama berada di sini, aku sendiri yang akan mendidik dan mengawasi
kalian. Nah, waktu itu terbatas. Kita akan segera memulai latihannya. Kalian
harus bergabung dengan Regu S-1 dan menjelajahi labirin."
Begitulah perintah yang dia lontarkan.
Labirin 【Shuga】 adalah labirin pertama yang muncul di
Jepang lima puluh lima tahun lalu. Bisa dibilang, ini adalah tempat yang sarat
makna bagi para Hunter Jepang.
Lorong hingga ke lantai sepuluh bawah tanah
dibangun dari bebatuan berwarna hitam legam.
Selain itu, mayoritas monster yang menghuni tempat
ini adalah monster tingkat rendah seperti Slime, Goblin, Orc, dan Kobold.
Itu adalah tingkat kesulitan
monster yang pas bagi murid-murid minim pengalaman bertarung seperti kami.
Setidaknya, seharusnya memang begitu...
"Hah!"
Murid dari Regu S-1, Sakuraba,
membelah Goblin yang berlari ke arahnya dengan gada dari kepala hingga terbelah
dua.
"Flame Bullet!"
Peluru api yang dilontarkan oleh
Otome Utako, penyihir Regu S-1, sukses mengenai sasaran dengan telak, membuat
sekawanan Goblin itu terbakar hebat.
Dalam sekejap, tim gabungan Regu F
dan S-1 berhasil meraih kemenangan.
Situasi ini, di mana para murid
menghabisi monster yang terus menyerang tanpa henti dalam kedipan mata, telah
berlangsung sejak awal.
Sambil menjauh sedikit dari mereka
yang berada di belakang, aku berkata...
"Aku sama sekali nggak paham."
Aku akhirnya melontarkan kebingungan mendalam yang
selama ini terus berkecamuk dalam diriku.
Apa-apaan monster yang super lemah
ini? Slime dan Goblin yang kukenal tak pernah secemen ini. Padahal dengan
anggota tim yang levelnya setara dengan amatiran ini, normalnya kami sudah
tewas semua.
"Hm? Maksudnya?"
Arata mengerutkan kening begitu
mendengar perkataanku.
"Monster-monster ini.
Menurutmu tingkah mereka nggak kelihatan aneh?"
Mendengar celetukanku, Arata
terdiam seraya menautkan kedua tangannya, lalu berkata...
"Iya juga, sih, pas kau
singgung hal ini kelihatannya memang sedikit janggal. Aku bakal coba omongin ke
instruktur."
Arata berjalan menjauh dengan
setengah berlari sebelum mulai berbincang dengan Instruktur Amaki si Hunter
yang mengawasi kami.
Tak berselang lama, Arata kembali
menghampiriku sambil membalas...
"Rupanya, hal semacam ini
wajar terjadi."
Dia memberiku jawaban yang agak
aneh.
Hal semacam ini wajar, ya... Jika
melihat gaya bertarung mereka, hal itu sangat jelas.
Selain Arata dan diriku sendiri,
sisa anggota lainnya masih belum terampil dalam pertarungan sesungguhnya.
Jika monster level biasa saja
dilepas, seluruh tim ini sudah pasti tumbang tak bersisa. Kebanyakan monster di
sini sudah ditekan sedemikian rupa oleh pihak akademi secara signifikan.
Namun, jika mereka mengurangi level
musuh sampai separah ini, bukankah ini akan memengaruhi pemikiran mereka dalam
memandang sebuah pertempuran?
Tidak, ini bukan urusanku, lagipula
buat apa aku repot-repot memikirkan dampaknya.
"Takeshi, tolonglah!"
Mashiro menghunus Pedang Sucinya
seraya menyerukan perintah, saat gerombolan Orc yang berjumlah belasan ekor
menerjang sembari mengguncangkan permukaan tanah.
"Oh!"
Takeshi mengacungkan tangan
kanannya. Dalam sekejap, sekujur tubuh Mashiro diliputi cahaya keperakan.
Tak berselang lama, laju Mashiro
meningkat pesat hingga memungkinkannya meliuk-liuk di tengah gerombolan Orc itu
secara zig-zag seraya menebas kepala mereka.
Makhluk-makhluk raksasa yang
kepalanya menggelinding itu sontak berjatuhan layaknya daun tertiup angin.
Walaupun ini adalah kerja sama pertama antara
Mashiro dan Takeshi, kemampuan sinkronisasi mereka dapat dikatakan tanpa cela.
Sepertinya kemampuan bertarung mereka saling melengkapi.
Atau lebih tepatnya, bukankah efektivitas Buff
milik Takeshi kelewat batas?
Orang yang senjatanya telah menerima mantra
peningkat, hanya dengan menggoreskan senjata pada kulit monster saja,
monsternya akan langsung musnah menjadi butiran pasir.
Padahal setahuku Takeshi tidak pernah memiliki
Skill penambah atribut sehebat itu. Biarlah, aku akan bertanya padanya nanti
saja.
Nah, sekarang giliran kami yang beraksi.
Ngomong-ngomong, menambang Batu Sihir dari monster-monster juga tercantum dalam
silabus pembelajaran kami saat ini.
Batu Sihir merupakan sebutan kolektif untuk
merujuk pada batu berharga atau kristal yang dipanen dari dalam tubuh monster
yang bersemayam dalam labirin. Benda ini utamanya dimanfaatkan sebagai bahan
mentah dalam memproduksi senjata sihir maupun Magic Item.
Akademi akan memberikan instruksi soal siapa
anggota tim mana saja yang kebagian giliran menambang batu di hari yang sudah
ditetapkan. Anggota yang kebagian tugas harian untuk menambang Batu Sihir hari
ini adalah aku, Makoto, Kuonji Karina, dan Ashika Ran.
"Batu Sihirnya harus dipanen!"
Sembari menyerukan dorongan pada teman-temanku,
aku segera mendekati mayat Orc yang tergeletak untuk segera memulai operasi
penambangan.
Memanen batu dari Orc dan Goblin lumayan gampang;
kita cuma perlu mengorek batu yang tertanam di dada monster tersebut
menggunakan sebilah pisau. Yang paling rewel untuk dipanen adalah si Slime.
Batu kristalnya ada di bagian paling dalam tubuh
kental bertekstur selainya itu, yang artinya tak peduli trik macam apa pun yang
kau kerahkan, kedua lenganmu akan berakhir diselimuti sisa-sisa sekresi lengket
miliknya.
Parahnya lagi, aroma cairan Slime itu amat
memuakkan. Apabila aku harus mendeskripsikan aromanya, anggaplah baunya bagai
lap kain basah penuh noda susu yang tidak dicuci berhari-hari.
"Ih, bauuu! Sumpah, ini tuh yang paling
kubenci!"
Meratapi nasib buruknya, Ran
mengeluh sambil memasang tampang merengut.
"Bener-bener. Bantai Slime
sih gampang, tapi tangan kita malah dilumuri lendir lengket super bau, ini sih
sial namanya."
Karina menyampaikan simpatinya dengan anggukan
penuh kepahaman.
"Kain, kamu bener-bener
handal banget nanganin yang beginian, ya."
Menyadari konsentrasiku yang difokuskan pada tugas
panen tanpa sebersit omelan pun, Makoto mencecarku.
"Masa sih? Perasaanku biasa-biasa aja
kok."
Nyatanya, ketiga gadis tadi kelihatan benar-benar
kesusahan tiap kali mereka menancapkan ujung pisaunya guna memisahkan batu dari
dada monster itu.
"Gimana kau bisa bilang ini biasa-biasa aja!
Apanya yang biasa coba, mana mungkin kau cabut Batu Sihir kayak metik buah dari
pohon seenteng itu!"
Perkataanku kontan menuai tentangan keras dari
Karina.
"Ah, tapi aku ini bener-bener masih polos tak
punya pengalaman apa pun."
Dilihat dari kelihatannya, Makoto dan gadis-gadis
itu mengalami kewalahan dalam upaya panen ini. Mereka menanyakan tips demi
kelancaran panen dari waktu ke waktu.
Padahal secara harfiah, aku juga baru pertama kali
melangkahkan kaki di labirin. Yah, wajar saja kalau dibilang pengalaman
perdanaku nambang Batu Sihir.
Jika kau menanyakan dari sisi perbedaannya
denganku, barangkali itu di sisi kemahiranku mengayunkan pisaunya yang
ketimbang ketiga gadis itu, aku sedikit unggul.
"Dan itulah alasan logis kenapa hal ini
kedengaran mustahil buatku."
Terpesona akan keterampilanku, Makoto melempar
celotehannya tanpa sadar.
"Heh, yang di sana, jangan terus mulut yang
kerja, tangannya juga gerakin!"
Instruktur Amaki berteriak tajam pada gerombolan
kami, yang disambut balasan gelagapan dari para gadis di sampingku sembari
mereka dengan terburu kembali mencurahkan fokusnya pada pekerjaannya.
Begitu tirai langit mengisyaratkan kedatangan
malam, berakhir pulalah babak petualangan menjelajahi labirin hari ini.
"Petualangan usai hari ini. Kita bakal rehat
tiga puluh menit sekarang. Kalian bisa menunggu di ruang istirahat yang
terletak di Gedung A, habis itu beranjak ke barisan bus yang dijadwalkan
membawa kalian menuju barak tidur. Telat satu detik aja kalian semua langsung
kutinggal."
Tepat di gerbang akses, gema titah dan instruksi
rehat mengiringi langkah pengakhiran praktik sesi harian dari Instruktur Amaki.
"Kalian dari tim pemanen Batu Sihir saat ini
benar-benar bau busuk! Pergilah mandi di ruang mandi Gedung B di sebelah! Kalau
masih bau, kalian tidak boleh masuk ke ruang istirahat apalagi bus!"
Sebuah instruksi konyol dan memojokkan terlontar
sepihak dari mulut Instruktur Amaki.
"Super busuk kau bilang,
jahat banget ih!"
"Itu adalah aib yang nggak
boleh sembarangan kau ucapkan pada seorang perempuan, ngerti nggak sih!"
Kalimat memojokkan Karina dan Ran
menyasar telak demi balas mencecar celetukan yang terlontar dari belah mulut
sang Instruktur.
"Sebenarnya badan kami semua
juga sama aja kotor penuh noda lumpur hasil menjelajahi labirin. Bukannya hal
itu menjustifikasi kalau kami juga patut diizinkan membersihkan diri?"
Otome Utako menyampaikan
permohonan yang ada di benak semua orang sembari menyingkap helaian panjang
rambut cokelatnya yang dibasahi kucuran keringat.
"Konyol! Fasilitas di Gedung
B itu hanya untuk Hunter Profesional, jadi warga sipil dan murid biasanya
dilarang masuk ke sana! Menurut aturan khusus yang sudah menjadi tradisi sejak
lama, hanya murid yang ditugaskan memanen Batu Sihir yang diberi keistimewaan
menggunakan Gedung B! Murid lainnya baru boleh mandi setelah kembali ke
asrama!"
Cibiran protes yang luar biasa
keras dari pihak murid berkumandang menyambut omelan sang instruktur, namun dia
mengabaikan hal itu dan berjalan pergi begitu saja.
Terkaanku, tindakan ini mungkin
bertujuan untuk menghilangkan rasa jijik para murid terhadap tugas memanen Batu
Sihir. Bagaimanapun juga, memanen Batu Sihir adalah salah satu tugas terpenting
seorang Hunter, jadi kurasa mereka berniat menanamkan kesan positif secara
psikologis dengan memberikan semacam hadiah. Yah, entah itu bakal berguna atau
tidak, itu urusan lain.
"Kalau begitu, mari kita terima saja
keistimewaan ini. Aku
ingin cepat-cepat membersihkan diri."
Saat aku tersenyum pada mereka,
ketiga orang itu mengangguk kuat-kuat, seolah kekesalan mereka beberapa saat
yang lalu hanyalah kebohongan.
Di sebelah dungeon terdapat sebuah
bangunan raksasa. Ada Gedung A yang bisa dimasuki orang biasa dan Gedung B yang
hanya boleh dimasuki oleh Hunter profesional.
Gedung A memiliki kafetaria
sederhana, toko suvenir, dan memberikan kesan layaknya fasilitas di area
peristirahatan. Tentu saja, semuanya berbayar.
Sebaliknya, Gedung B adalah
fasilitas khusus untuk Hunter profesional. Kemewahan, skala, dan kelengkapan
fasilitasnya benar-benar jauh berbeda dari Gedung A.
Terlebih lagi, semuanya gratis.
Pintu masuk Gedung B terlihat
seperti lobi hotel mewah. Kami berjalan menuju ruang ganti sekaligus ruang
mandi yang berada di bagian terdalam lantai satu.
Ngomong-ngomong, sepertinya ada
pemandian air panas juga di sebelah ruangan ini. Benar-benar pelayanan yang
sangat sempurna.
Kami mencuci tangan yang kotor di
wastafel depan pintu masuk ruang ganti.
Setelah itu, kami memasukkan barang
bawaan ke dalam loker elektronik dan melangkah masuk ke ruang ganti sekaligus
ruang mandi di bagian dalam.
Aku menitipkan barang-barang
selain pakaian ganti di loker. Kemudian, aku berjalan lebih jauh ke dalam.
Tentu saja, pintu masuk ruang ganti dan ruang
mandi dipisahkan untuk pria dan wanita.
Namun, Ran dan Karina malah saling melontarkan
sindiran sambil berlomba masuk lebih dulu ke pintu wanita.
"Ka-kalau begitu, Kain, sampai jumpa
nanti!"
Makoto mengangkat tangan kanannya
dengan sigap. Ia bermaksud mengikuti kedua gadis itu masuk ke ruang ganti
wanita, tetapi aku langsung mencengkeram kerah belakangnya.
"Apa yang sedang kamu
lakukan, mencoba menyusup ke ruang ganti wanita di tengah keributan begini?
Tempatmu di sebelah sini, Makoto."
Aku memberikan teguran yang sudah
semestinya. Sejauh yang kulihat, pengunjung masih sedikit di jam yang terbilang
tanggung ini.
Mungkin tidak masalah jika hanya ada Ran dan
Karina yang kami kenal. Namun, jika ada satu saja pengunjung wanita lain di
dalam, itu akan memicu keributan besar.
Aku tidak ingin terlibat dalam masalah yang lebih
merepotkan dari ini.
Kalau dipikir-pikir, saat kami berganti pakaian
kerja tadi pagi, Makoto tiba-tiba saja menghilang. Jangan-jangan, dia benar-benar berganti
pakaian di ruang ganti wanita?
"Ti-tidak, habisnya ...."
Makoto terlihat salah tingkah sambil mengalihkan
pandangannya ke sana kemari. Kedua tangannya bertaut dan bergerak dengan
gelisah.
Tingkah lakunya benar-benar mencurigakan.
Jangan-jangan, Makoto memang punya niat buruk untuk mengintip ruang mandi
wanita.
"Kita tidak punya banyak waktu, ayo
pergi."
Aku menarik tangan kanan Makoto yang enggan
beranjak. Kemudian, aku menyeretnya masuk ke pintu masuk pria.
"Tunggu, kumohon tunggu!"
Aku mengabaikan Makoto yang menjerit panik dengan
suara yang baru pertama kali kudengar. Aku terus menariknya secara paksa dan
membawanya ke dalam ruang ganti.
Seperti yang diharapkan dari
fasilitas khusus Hunter profesional di dungeon tertua di Jepang. Kemewahan dan
skalanya benar-benar luar biasa.
Lagipula, ukuran ruang ganti dan
ruang mandi ini beberapa kali lipat lebih besar daripada yang ada di akademi.
Di sebelahnya juga terdapat ruang istirahat yang dilengkapi mesin penjual
otomatis.
Aku melepas pakaianku yang berbau
busuk, mengambil handuk, lalu bersiap menuju ruang mandi. Namun, pandanganku
tertuju pada Makoto yang wajahnya memerah seperti tomat, menunduk sambil
mendekap erat tasnya.
"Hm? Ada apa?"
Aku bertanya karena merasa heran melihat
tingkahnya yang sangat tidak biasa.
"Bukan ... apa-apa."
Dia menjawab dengan suara parau. Wajahnya merah
padam, pandangannya berkeliaran, dan matanya tidak fokus.
Ini adalah dungeon pertama bagi Makoto, jadi
mungkin saja dia mengalami ketegangan yang luar biasa. Stres berat yang
mengacaukan kondisi tubuh adalah hal yang wajar.
Apalagi sekarang sedang musim
panas. Bagian dalam dungeon memang terasa sejuk, tetapi area di dekat pintu
keluar cukup panas hingga membuat keringat bercucuran.
Sangat masuk akal jika dia terkena serangan panas
akibat kurangnya asupan cairan.
Aku mendekatinya dan menempelkan tangan kananku ke
dahi Makoto.
"Sepertinya kamu tidak demam."
Dahinya tidak terasa begitu panas. Aku sempat
merasa sedikit panik, tetapi sepertinya dia tidak terkena serangan panas.
"A-aku ba-baik-baik saja,
sungguh!"
Makoto menepis tanganku. Kenapa dia terlihat panik
sekali seperti ini?
"Kamu benar-benar tidak
apa-apa?"
"Iya!"
Makoto menganggukkan kepalanya berkali-kali.
"Kalau begitu, aku akan mandi duluan. Jika kamu merasa tidak enak badan,
segera panggil saja dan aku akan langsung datang."
"I-iya, te-terima kasih ...."
Dia mengucapkan rasa terima kasih yang tidak biasa
itu dengan suara yang hampir menghilang. Apa yang sebenarnya terjadi pada
Makoto?
Cara bicaranya juga terasa sedikit aneh.
Lagipula, sikap aneh Makoto bukan hal yang baru
terjadi hari ini. Mungkin memikirkannya hanya akan membuang-buang waktu saja.
Aku mengembalikan fokusku dan melangkah menuju
ruang mandi.
Setelah mandi dan menyegarkan
diri, aku berganti pakaian di ruang ganti.
"Sudah kuduga, setelah mandi
memang harus minum itu, kan."
Aku sudah memastikan ketersediaan minuman itu di
mesin penjual otomatis yang berada di ruang istirahat. Aku masuk ke ruangan
tersebut dan membeli sebotol susu kopi.
"Benar-benar luar biasa ...."
Keseimbangan sempurna antara rasa pahit dan manis
yang unik ini benar-benar yang terbaik. Minum susu kopi usai bermandi peluh
dari latihan pagi terasa sangat istimewa.
Hal ini perlahan telah menjadi rutinitas rahasia
yang sangat kugemari.
Saat aku sedang meminumnya perlahan, Makoto muncul
dan duduk di sebelahku. Tubuhnya yang sebelumnya merah padam kini telah kembali
menjadi kulit pucat seperti sedia kala.
"Sepertinya demammu sudah mereda."
"Padahal aku memang tidak demam sejak awal
...."
Makoto terlihat aneh karena terlalu pendiam,
membuat suasana terasa sangat canggung. Biasanya, Makoto selalu menatap mataku
saat berbicara.
Namun sekarang, dia enggan melakukan kontak mata
dan malah memandangi susu kopi di tanganku. Apa mungkin dia ingin meminumnya?
Bagaimanapun juga, asupan cairan memang sangat
dibutuhkan saat ini.
"Kamu mau ini? Kamu boleh meminum semuanya,
kok."
Aku menyodorkan susu kopi yang baru kuminum
setengahnya kepada Makoto.
"..."
Makoto hanya terdiam memandangi susu kopi yang
kuberikan tanpa bergerak sedikit pun.
"Kamu tidak mau meminumnya? Kalau begitu,
biar aku—"
Tepat saat aku hendak mengambil kembali susu kopi
itu,
"Aku mau!"
Makoto menutup matanya dan langsung menenggak
habis minuman itu. Padahal, dia tidak perlu bersemangat sampai seperti itu
hanya untuk meminumnya.
Jangan-jangan minuman rakyat jelata tidak cocok
dengan seleranya? Aku kadang hampir lupa kalau Makoto adalah putra pewaris Grup
Kuon.
Jika memang begitu, rasanya aku sudah berbuat
buruk karena memaksanya.
"Bagaimana? Apa sesuai dengan seleramu?"
"I-iya, rasanya enak,
kok."
Dia menjawab sambil memalingkan
wajahnya. Entah kenapa Makoto hari ini benar-benar aneh.
Mungkin dia kelelahan karena melakukan pekerjaan
yang tidak biasa. Ran dan Karina juga pasti merasakan hal yang sama.
"Kalau begitu, ayo kita kembali."
"..."
Makoto terlihat melamun seolah pikirannya melayang
entah ke mana. Dia tampak berpikir keras sambil menyentuh bibir kecilnya dengan
jari telunjuk dan jari tengah kanannya.
"Makoto!"
"I-iya! Ayo pergi!"
Dia melompat kaget bagaikan pegas
yang terlepas. Makoto segera menyambar barang bawaannya dan berlari
meninggalkan ruang istirahat, seakan-akan sedang melarikan diri.
"Dia malah pergi duluan."
Aku menghela napas panjang lalu menyusulnya ke
halte bus.
Saat aku tiba di depan bus, semua orang ternyata
sudah berkumpul.
"..."
"..."
Entah kenapa suasana hati Ran dan Karina terlihat
sangat buruk. Mereka berdua bahkan menatap tajam Makoto, seolah ingin
membunuhnya dengan pandangan itu.
Lebih parahnya lagi, Mashiro juga menghampiriku.
"Jangan bilang kalau kamu
masuk ke ruang mandi yang sama dengan Kuonji?"
Mashiro menanyakan hal yang sudah
jelas itu dengan tatapan mengintimidasi dan suara rendah yang mengancam. Sepertinya dia ingin memastikan apakah aku
benar-benar mengawasi Makoto.
Kalau begitu, tidak ada yang perlu dikhawatirkan!
Aku sudah berhasil mencegah aksi mengintip si mesum itu sebelum terjadi.
"Tentu saja, kami terus bersama."
Aku mengangguk yakin sambil
tersenyum lebar. Mashiro terbelalak mendengar jawabanku, lalu menatap Makoto
yang menciut ketakutan sebelum akhirnya memelototiku.
"—?!"
Tiba-tiba saja wajahnya memerah
padam, seolah dia baru saja menyadari sesuatu.
"Da-dasar binatang!"
Dia memaki lalu memalingkan badan
dan beranjak pergi meninggalkanku. Hmm, anak itu benar-benar tidak bisa
dipahami seperti biasanya.
"Hei, Kain! Apa kamu
bertengkar lagi dengan Mashiro?!"
Takeshi yang sejak tadi mengamati
interaksi kami tiba-tiba menanyakan hal yang tidak bisa kujawab.
"Kami bahkan tidak berbicara
sebanyak itu sampai bisa disebut bertengkar."
Aku memberikan jawaban itu, lalu
melangkah naik ke dalam bus.
Di dalam bus, Makoto duduk diapit oleh Ran dan
Karina. Tubuhnya yang sudah kecil kini terlihat semakin menciut tak berdaya.
Begitu bus tiba di asrama, Karina yang merupakan
adik perempuannya langsung mencengkeram kerah belakang Makoto dan menyeretnya
menghilang ke dalam gedung. Sepertinya niat Makoto yang ingin mengintip mereka
mandi sudah ketahuan.
"Semoga tenang di alam
sana."
Aku merapatkan kedua telapak tangan untuk
mendoakannya, lalu kembali ke kamarku. Tetap saja, aku masih tidak menyangka
harus berbagi kamar dengan mereka berdua ....
"Hei, Kain! Utako yang ikut
eksplorasi hari ini benar-benar imut, kan!"
Takeshi berseru dengan penuh
semangat sambil menautkan kedua tangannya, wajahnya merona merah seperti
seorang gadis remaja. Takeshi,
dilihat dari sudut pandang mana pun, tingkahmu saat ini benar-benar
menjijikkan.
Jika para gadis melihatmu seperti ini, mereka
pasti akan langsung merasa jijik dan menjauh.
"Begitulah. Menurutku dia memang imut."
Lagipula Otome Utako adalah seorang idola yang
masih aktif, jadi wajar saja dia bersikap seperti itu.
"Dia bukan cuma imut! Dia bahkan bilang
'terima kasih' waktu aku memberikan Enchant kepadanya!"
Tentu saja seseorang akan mengucapkan terima kasih
sebagai bentuk kesopanan jika senjatanya diberikan efek sihir Enchant. Tapi Takeshi memang tipe orang
yang akan langsung besar kepala hanya karena hal sesepele itu.
Ngomong-ngomong, ada satu hal yang
terus mengusik pikiranku.
"Takeshi, apa pendapatmu
tentang Mashiro?"
Hal ini sudah lama menjadi pertanyaanku. Jujur
saja, kecantikan Mashiro bisa dibilang sebanding dengan Otome Utako.
Selain kemampuannya sebagai Hunter, dia juga
sangat perhatian dan pada dasarnya berhati lembut. Mashiro benar-benar tipe
gadis idaman Takeshi yang paling sempurna.
Namun, nama Mashiro sama sekali tidak pernah
keluar dari mulut Takeshi. Padahal, Takeshi yang mudah jatuh cinta seharusnya
sudah dimabuk kepayang oleh pesona gadis itu.
"Biasa saja. Memangnya kenapa?"
Takeshi malah balik bertanya kepadaku dengan wajah
kebingungan. Dari reaksinya, terlihat jelas bahwa dia tidak melihat Mashiro
sebagai lawan jenis.
Tunggu dulu, apa iya Takeshi yang lebih gila
wanita daripada kucing jantan musim kawin ini bisa bersikap setenang itu?
"Takeshi, apa kamu dema—"
Tanpa sadar, aku menempelkan tangan kananku ke
dahinya.
"Sepertinya tidak ada."
Mulai dari Makoto, dan sekarang Takeshi. Kenapa
semua orang bertingkah aneh sejak kami datang ke sini?
"Apaan sih? Aku sama sekali tidak paham
maksudmu!"
Takeshi menepis tangan kananku dan
berseru memprotes.
"Habisnya, orang yang otaknya
selalu dipenuhi wanita sepertimu tiba-tiba tidak tertarik pada Mashiro. Aku jadi curiga jangan-jangan kamu terkena
serangan panas yang parah."
"Ejekanmu itu diam-diam menyakitkan, tahu!
Lagipula tebakanmu terlalu spesifik, woi!"
"Tadi Makoto menunjukkan gejala serangan
panas, makanya aku sedikit khawatir. Bukankah orang sering bilang kalau demam bisa menyebabkan kebingungan
mental?"
"Makoto?! Memangnya dia
baik-baik saja?!"
Takeshi mencengkeram kedua bahuku
dan bertanya dengan ekspresi tegang.
"Ya, dia baik-baik saja."
Walaupun saat ini dia mungkin sedang menerima
hukuman berat karena mencoba mengintip Ran dan Karina. Aku kembali menyatukan
tangan di dalam hati untuk mendoakan Makoto, yang tadi diseret pergi layaknya
anak kecil yang akan dimarahi ibunya.
"Begitu, syukurlah. Tunggu, apa kamu
benar-benar mengira kepalaku bermasalah karena aku tidak tertarik pada
Mashiro?"
Takeshi menatapku dengan mata setengah tertutup
saat menanyakan hal itu.
"Tentu saja, aku cuma bercanda."
Aku langsung menjawabnya sambil tersenyum lebar.
Sebenarnya aku bertingkah aneh karena terlalu terkejut, tapi ada kalanya
kebohongan itu lebih baik daripada kejujuran.
"Haa! Tapi, aneh juga ya. Dia memang gadis
paling manis yang tak tertandingi ... tapi entah kenapa, aku tidak bisa
melihatnya sebagai perempuan ...."
Kalau sudah begini, Takeshi sendiri pun sepertinya
bingung dengan perasaannya. Lagipula, selera setiap orang itu berbeda-beda,
jadi hal seperti ini wajar saja terjadi.
Kalau dipikir-pikir, ada satu hal lagi yang ingin
kutanyakan padanya.
"Takeshi, jangan-jangan kamu baru
membangkitkan kekuatan Buff itu akhir-akhir ini?"
Buff yang dia berikan pada Mashiro dan yang
lainnya benar-benar luar biasa. Terutama energi sihir berwarna perak cerah itu,
aku juga baru pertama kali melihatnya.
Monster langsung hancur hanya
dengan tebasan senjata yang telah diberi Enchant. Mungkin itu adalah
kekuatan penangkal kejahatan atau semacamnya.
"Kamu sadar, ya?! Begitu
rupanya, kamu bisa menyadarinya! Belakangan ini aku baru sadar kalau ada efek
khusus di dalam sihir Buff milikku!"
"Berbekal hal itu, aku
memohon langsung ke pihak sekolah dan berhasil pindah ke Kelas F!"
Ini semakin tidak masuk akal.
Kenapa pihak akademi membuang orang yang begitu berharga ke kelas buangan
seperti Kelas F?
Jika dipikir secara logika, sangat
wajar jika Takeshi juga masuk dalam radar pengawasan pihak akademi ....
"Begitu rupanya ... kamu pasti juga mengalami
masa-masa sulit, Takeshi."
Aku menepuk bahu kanannya sambil mengucapkan
kata-kata penghiburan dengan ekspresi iba.
"O-oh!"
Ketika Takeshi mengangguk dengan ragu, tiba-tiba
terdengar suara pengumuman dari pengeras suara gedung.
"Perhatian kepada seluruh peserta magang,
makan malam sudah siap. Silakan menuju ke ruang makan."
"Nah, ayo kita pergi makan malam."
Aku bangkit berdiri dari sofa dan
mengajak Takeshi.
"Ayo!"
Takeshi langsung berdiri dengan
penuh semangat.
Aku menghampiri Akizuki Tatsuya
yang sedang merajuk di tempat tidur sudut sambil menutupi dirinya dengan
selimut tebal.
"Kita akan pergi makan. Bersiaplah."
Aku menyentak selimutnya dan
memberikan perintah dengan nada tegas.
"..."
Tatsuya masih berbaring di kasur
sambil menatapku dengan mata terbelalak, seolah sedang melihat sesuatu yang
mustahil.
"Ke-kembalikan!"
Tatsuya mencoba merebut kembali
selimut itu dariku, tetapi aku langsung menahan dan menekannya ke atas kasur.
"Aku bilang sekali lagi. Kita akan pergi
makan malam, jadi bersiaplah."
Aku melepaskan Tatsuya dan kembali ke meja. Takeshi yang berdiri di sana
mengacungkan jempolnya sambil tersenyum lebar.
Sepertinya dia juga tidak
keberatan dengan tindakanku tadi.
"Kita juga harus
bersiap."
Aku mengambil sabuk perlengkapan
berisi dompet dan barang-barang lainnya dari atas meja. Aku memakainya di
pinggang sembari mengajak Takeshi.
"Ya!"
Takeshi merespons dengan penuh
semangat sambil mengepalkan tangan kanannya.
Aku mengira akan ada pertengkaran
kecil, tetapi di luar dugaan, Tatsuya menurut dan berjalan mengikuti kami dari
belakang.
Tentu saja, dari raut wajahnya
yang menatapku layaknya pembunuh orang tuanya, jelas sekali bahwa dia masih
belum bisa menerima hal ini.
Setibanya di ruang makan, tempat
itu sudah penuh sesak oleh para siswa. Tampaknya seluruh peserta magang dari
SMA Kagetsu ada di sini.
Tatapan penuh rasa ingin tahu
langsung tertuju pada kami begitu kami melangkah masuk. Lebih tepatnya, semua
tatapan itu mengarah pada Tatsuya yang berada di belakangku.
Tatsuya kini telah menjadi sosok
terkenal yang menghebohkan seluruh masyarakat Jepang, jadi wajar saja hal ini
terjadi.
Namun, tentu saja ada pengecualian. Mashiro yang
sedang makan bersama kelompok Sakuraba menatapku seolah sedang melihat kotoran,
lalu terang-terangan membuang muka.
Hmm, entah kenapa dia sepertinya sangat membenciku
sekarang. Namun, Mashiro bukanlah tipe orang yang membawa urusan pribadi ke
dalam pertempuran, jadi hal ini tidak akan terlalu menjadi masalah.
Saat kami bertiga sedang mengamati daftar menu di
mesin penjual otomatis, sekelompok siswa berjalan menghampiri kami. Aku
mengenali beberapa orang di antara mereka.
Mereka adalah mantan pengikut Tatsuya dan—.
(Hei, bukankah dia ...)
Takeshi berbisik pelan kepadaku sambil melirik
sosok yang berdiri di belakang gerombolan mantan pengikut itu.
(Benar, dia Arima Hayato.)
Pemuda berambut panjang sebahu yang memasukkan
tangannya ke dalam saku dan memiliki tatapan tajam itu adalah sosok yang sangat
terkenal di SMA Kagetsu.
Dia adalah pewaris utama keluarga Arima, sang
penguasa dunia Hunter wilayah Barat yang bersanding dengan keluarga Akizuki
dari Timur.
Kekuatannya setara dengan Akizuki Narumi maupun
sahabat karibku, Akutsu Arata. Dia dirumorkan tidak bisa masuk ke Kelas S-1
karena perilakunya yang sangat buruk.
"Wah, wah, lihat siapa ini. Rupanya Tatsuya.
Tidak kusangka kamu punya muka untuk menampakkan diri di sini tanpa rasa malu
sedikit pun."
"Benar sekali! Aib Jepang
yang sangat terkenal di televisi dan internet, kan!"
Dua pengikut asli Arima melontarkan hinaan itu
sambil menyeringai remeh. Mantan pengikut Tatsuya hanya diam menyaksikannya
dengan wajah datar.
"Benar-benar sampah sejati yang berani
mencoba menyerang wanita!"
Di saat para pengikut Arima tertawa terbahak-bahak
mengejek Tatsuya,
"Hei, Tatsuya! Apa kamu tidak punya sesuatu
untuk dikatakan kepada kami?!"
Seorang siswa berkacamata yang dulunya berada di
faksi Tatsuya berseru dengan nada kesal.
"..."
Tatsuya mengabaikan pertanyaan itu dan menundukkan
pandangannya saat menerobos melewati kami. Dia memasukkan uang ke mesin,
menekan tombol, lalu mengambil tiket makan dan kembaliannya.
Namun, saat dia berbalik untuk pergi, salah satu
pengikut Arima menyandung kakinya hingga ia terjatuh.
"Ups, Tuan Babi tersandung, ya?
Dasar payah, makanya kamu
harus memperhatikan langkahmu."
Siswa pengikut Arima itu berjalan mendekati
Tatsuya. Dia menatap Tatsuya dengan rendah sambil melontarkan kalimat
menjengkelkan itu.
"Astaga, ternyata ada orang-orang bodoh
semacam ini di belahan dunia mana pun, ya."
Kata-kata dingin itu tiba-tiba saja meluncur dari
mulutku.
(Eh?)
Saat itu, aku merasakan kejanggalan yang luar
biasa. Aku merasa aneh dengan nada bicaraku yang terdengar sangat dewasa, juga
pada kalimat yang baru saja kuucapkan.
"Kain?"
Takeshi yang berdiri di sampingku mengerutkan
kening dan mengulurkan tangannya ke arahku. Aku mengabaikannya dan melangkah
maju, lalu menyapu kaki siswa yang sedang merendahkan Tatsuya tadi.
"Uwoh?!"
Tubuh siswa itu terlempar dan berputar di udara,
lalu terhempas dengan wajah mengarah ke bawah.
"Hiiggh!"
Aku mencengkeram kerah belakangnya sesaat sebelum
ia menjerit panik di depan lantai yang mendekat, mencegah kepalanya terbentur
keras.
"Lantai ini sangat licin. Apa kalian terlalu
banyak memakai lilin pembersih lantai?"
Aku bertanya pada seorang wanita paruh baya
bertubuh gempal yang mengenakan celemek di kafetaria.
"Benar juga, aku akan menegur petugas
kebersihan nanti! Hei, hei, kami ini sedang sibuk tahu!"
"Dasar bocah-bocah, jangan cuma berdiri
bengong di sana, cepat habiskan makanan kalian dan kembali ke kamar!"
Dia mengangkat sudut bibirnya dan
mengikuti sandiwaraku.
Aku tidak mungkin melakukan
kesalahan bodoh yang bisa ketahuan oleh para amatir ini. Semua orang, bahkan korbannya sendiri pasti
berpikir bahwa dia terpeleset karena lantai licin.
Kenyataannya, orang-orang di
sekitar juga benar-benar mengira lantainya licin. Mereka pun mulai menyantap makanan karena didesak
oleh bibi kantin tadi.
Hanya Arima Hayato—yang sedari tadi menonton
dengan tatapan geli—yang kini tiba-tiba memelototiku dengan tatapan menusuk.
"Siapa namamu?"
Dia bertanya dengan singkat dan
tegas.
"Aku Tsukishiro Kain. Aku cuma salah satu
sampah dari Kelas F."
"Hei Kain, memangnya Kelas F itu tempat
pembuangan sampah, ya?!"
Aku mengabaikan sepenuhnya kepolosan Takeshi dan
balas menatap Arima Hayato dengan sorot mata dingin.
"... Kita pergi."
Arima Hayato memberi isyarat kepada para
pengikutnya, lalu beranjak pergi.
"Kamu tidak terluka?"
Aku memegang lengan kanan Tatsuya untuk
membantunya berdiri.
"Jangan sentuh aku!"
Tatsuya menepis tanganku dan berdiri dengan kasar,
lalu berteriak tanpa mau menatap mataku. Setelah itu, dia segera berlari kecil
ke arah loket pemesanan, menjauh dari kami.
Aku hanya bisa mengangkat bahu
pasrah melihatnya.
"Ayo kita makan juga."
Takeshi memberikan usul yang sangat membangun.
Karena Tatsuya sedang menyantap makanannya
sendirian di sudut ruang makan, kami pun duduk di meja yang sama dan mulai
makan. Tiba-tiba terdengar suara ribut, dan saat aku menoleh, aku melihat tiga
siswa melangkah masuk ke dalam kafetaria.
"Kalau kamu mencoba mengambil start dan
curi-curi kesempatan lagi, aku akan benar-benar membongkar semuanya
padanya!"
Karina berseru dengan lantang.
"Sudah kubilang aku tidak mencuri kesempatan
... aku sama sekali tidak berniat begitu ...."
Makoto merespons dengan lemas, terlihat murung
dengan kedua tangannya saling bertaut. Hmm, karakter iblis kecil mesum yang
biasa ia perankan tampaknya sudah hancur tak tersisa.
"Biar kami yang bernegosiasi
dengan Kain. Jadi kamu diam
saja, Makoto!"
Ran ikut berteriak dengan nada memerintah, rambut
kuncir duanya berayun-ayun saat dia menolak bantahan.
"B-baiklah ...?!"
Makoto tak sengaja bertatapan dengan kami, dan
wajahnya langsung memerah padam. Reaksinya yang menyerupai gadis remaja itu
membuat Ran dan Karina terang-terangan berkerut jijik.
Mereka bertiga mendatangi meja kami.
"Atas instruksi dari akademi, Makoto akan
menggunakan ruang ganti dan ruang mandi khusus."
"Jadi, jangan biarkan dia masuk ke fasilitas
laki-laki lagi."
Karina menyatakannya dengan nada mengancam sambil
memasang senyum palsu yang terlihat sangat jelas.
"Ru-ruang khusus? Makoto, apa yang sebenarnya
sudah kamu perbuat, hah?!"
Takeshi yang sejak tadi menguping berteriak ngeri,
terlihat sedikit menjaga jarak darinya. Sudah kuduga.
Mungkin pihak akademi mulai mengambil tindakan
karena khawatir Makoto akan mengintip Hunter wanita lainnya saat berganti
pakaian. Apalagi mereka sampai repot-repot memindahkan Makoto ke Kelas F hanya
demi tujuan itu.
"Aku mengerti."
Ketegangan di wajah mereka
langsung memudar saat mendengar persetujuanku.
Di sisi lain, Makoto membuang muka
dengan cemberut, lalu bergumam mengeluh seolah merasa tak puas.
Sangat jarang melihat Makoto menunjukkan emosinya
secara blak-blakan seperti ini. Padahal biasanya, ia adalah sosok yang sanggup
melontarkan racun mematikan sambil tersenyum manis.
"Ayo, kalian bertiga duduk
dan makan bersama kami."
Aku mengajak mereka bertiga untuk
bergabung. Ran dan Karina
rupanya tidak mempermasalahkan keberadaan Tatsuya di meja kami.
Namun, entah karena ada perselisihan di masa lalu
atau apa, mereka bertiga terlihat jelas tidak nyaman harus duduk satu meja
bersamanya.
◇◆◇
Sudah sebulan berlalu sejak dimulainya kegiatan
eksplorasi labirin. Penggabungan dua kelas hanya berlangsung pada beberapa hari
pertama, setelah itu setiap kelas diinstruksikan untuk menjelajahi dungeon
masing-masing.
Di saat yang sama, kebijakan pihak akademi juga
sudah mulai terlihat jelas.
Anggota kelas khusus dialokasikan secara merata,
seperti Akizuki Narumi di Kelas S-2 dan Arima Hayato di Kelas S-3.
Sepertinya penempatan kali ini tidak murni
berdasarkan prestasi, melainkan menempatkan sosok pemimpin di setiap kelas.
Kupikir mereka berniat membuat setiap tim saling
bersaing dalam pertumbuhan dan nilai, dengan berpusat pada pemimpin tersebut.
Faktanya, setiap minggu pihak akademi akan
mengumumkan rekor kedalaman dungeon yang dicapai tiap kelas, lalu memberikan
hadiah seperti peralatan tempur atau hak khusus kepada tim peringkat pertama.
Saat ini, kelas dengan rekor terbaik adalah Kelas
S-2 pimpinan Akizuki Narumi, yang telah berhasil menembus hingga lantai 25
bawah tanah.
Disusul oleh Kelas S-1 milik Arata di lantai 24,
dan Kelas S-3 milik Arima Hayato di lantai 23.
Di luar dugaan, kelompok Kelas F kami mampu
mencapai lantai 22.
Alasan kelompok kami bisa bertarung sebaik ini
adalah karena kombinasi curang antara Mashiro dan Takeshi. Bagaimana tidak,
bahkan pertarungan melawan Boss pun bisa diselesaikan dalam sekejap.
Itu sudah pasti akan membuat rekor lantai kami
terus bertambah.
Hari ini adalah giliran Mashiro dan Makoto yang
bertugas mengumpulkan Batu Sihir.
Sementara itu, aku memberikan
dukungan tempur dengan menyerang monster menggunakan panah dari barisan tengah.
"Kain, ternyata kamu juga bisa memakai panah,
ya ...."
Tumben sekali Mashiro memulai percakapan denganku.
Sebelumnya, dia bahkan enggan berbicara sama sekali, tetapi syukurlah hubungan
kami akhir-akhir ini mulai membaik, setidaknya sampai kami bisa saling
mengobrol santai.
"Hanya sekadar bisa."
"Itu sama sekali bukan level orang biasa
...."
Mashiro menggumamkan kalimat itu
dengan nada frustrasi.
"Kemampuanku cuma rata-rata, kok. Dalam arti tertentu, sebutan
master itu setara dengan orang mesum yang tak masuk akal."
"Mereka sudah terbiasa
melepaskan tembakan dari sudut mustahil sambil membengkokkan ruang itu
sendiri."
Aku langsung mengoreksi
kesalahpahaman itu.
"Asal tahu saja, hal semacam
itu cuma ada di dalam dongeng!"
"Itu karena kamu belum pernah
melihat sosok master yang sesungguhnya."
"Kalau bisa, aku berharap
tidak akan pernah bertemu orang tidak waras seperti itu seumur hidupku."
Mashiro menanggapi ucapanku dengan
nada bersungguh-sungguh.
"Kuharap kamu tidak
mengatakan itu sambil memelototi wajahku begini."
Aku menyampaikan permintaan itu dengan penuh
harap.
"Kain dan Mashiro terlihat sangat dekat, ya?
Jangan-jangan, kalian berdua berpacaran?"
Makoto tiba-tiba melontarkan omong kosong yang
sama sekali tidak masuk akal. Mashiro tertegun dan menatapnya lekat-lekat,
sebelum akhirnya wajahnya memerah hingga ke telinga.
"Tentu saja tidak! Siapa juga
yang mau berpacaran dengan si mesum ini!"
Mashiro membantahnya dengan wajah
pucat pasi seraya menunjuk ke arahku.
"Dengar ya, sebutan mesum itu
rasanya terlalu berlebihan ...."
Tepat saat aku memprotes ucapan
Mashiro,
"Kau, berhentilah
main-main!"
Aku menoleh ke arah suara bentakan
itu, dan melihat Ran sedang memelototi Tatsuya dengan gigi gemeretak. Tatsuya
sama sekali tidak ikut bertarung dan tidak berguna dalam pengumpulan Batu
Sihir.
Sebenarnya kami terus bersabar
karena mengerti kondisi Tatsuya, namun kemarahan Ran sepertinya sudah mencapai
puncaknya.
"Benar sekali! Tatsuya, karena kau yang jadi
beban, semua kerja keras Mashiro dan Takeshi jadi terbuang sia-sia!"
Secara mengejutkan, Karina pun ikut menaikkan nada
suaranya.
"Kalau kamu memang tidak niat, sebaiknya kamu
segera keluar dari sekolah ini! Jangan menyusahkan kami dengan membebankan
masalahmu!"
Ada benarnya juga, dan itu bisa sekaligus menjadi
sebuah jawaban. Jika Tatsuya memang berniat menyerah, dia pasti sudah melarikan
diri dari lingkungan yang penuh tekanan dan menyiksa ini sejak lama.
Fakta bahwa dia masih bertahan di sini adalah
bukti kalau dia belum siap merelakan impiannya.
"Guru Akudou! Katakanlah sesuatu
padanya!"
Karina menoleh dengan panik, meminta arahan dari
instruktur pembimbing kami, Akudou. Pria botak berotot kekar yang mengenakan
kaus tanpa lengan itu adalah guru kami.
"Aku menolak. Selesaikan sendiri urusan
kalian."
Sambil mengisap rokoknya, Akudou menolak
mentah-mentah permintaan Karina, persis seperti yang kubayangkan.
Pria berpenampilan bak preman ini adalah Kidou
Akuto, Hunter Kelas S yang jumlahnya hanya empat orang di seluruh Jepang, dan
ia lebih dikenal dengan julukan Akudou.
Meski rumor buruk selalu menyelimutinya, dia
merupakan salah satu dari sedikit petarung yang mampu membantai kerabat Vampir
seorang diri, sekaligus senjata kelas strategis kebanggaan umat manusia.
Sejak diangkat sebagai penanggung jawab Kelas F,
Akudou tidak pernah ikut campur urusan tim kami.
Karena dia begitu konsisten melakukannya, kurasa
dia bukannya ingin menumbuhkan kemandirian, melainkan memang tidak peduli sama
sekali dengan pendidikan para siswanya.
Aku tidak punya niat ikut campur, tetapi apa boleh
buat. Mengulurkan tangan kepada jiwa muda yang tersesat adalah bagian dari
kewajiban seorang veteran.
... Lagi. Pemikiran ini muncul lagi.
Kenapa aku selalu menganggap diriku sebagai prajurit veteran tua?
Apapun itu, Tatsuya tidak akan
berkembang jika dibiarkan begini terus, jadi sudah waktunya aku bertindak.
"Akizuki, kali ini kamu juga harus ikut maju
ke barisan depan."
Mendengar perintahku yang bisa
dibilang sepihak itu,
"Siapa yang mau—!"
Tatsuya bersiap melontarkan
tolakan, tetapi aku segera mencengkeram kerah bajunya dan mengangkatnya.
"Berhentilah banyak alasan dan lakukan
saja!"
Aku menatapnya dari bawah dan memaksanya.
"..."
Tatsuya menatapku dalam diam sambil berkedip,
tetapi kemudian ia mengangguk ragu. Aku segera melepaskannya hingga ia terjatuh
ke tanah.
"Mashiro, tolong maju ke baris depan
bersamaku."
Aku meminta persetujuan Mashiro.
"Aku sih tidak keberatan. Tapi kalau aku ikut
bertarung, orang yang mengumpulkan Batu Sihir tinggal Kuonji sendirian,
loh?"
"Maaf, Karina. Bisakah kamu menggantikan
tugas Mashiro untuk memungut Batu Sihir hari ini?"
"Dimengerti. Lain kali traktir aku makan,
ya."
Karina mengangkat tangan kanannya, menyetujui
permintaanku dengan senang hati.
"Takeshi, tolong berikan Buff pada
kami bertiga."
"Serahkan padaku!"
Takeshi yang dari tadi hanya diam
menonton langsung mengangguk mantap. Dengan ini, persiapan sudah selesai.
"Kalau begitu, mari kita mulai."
Aku menarik kedua pisau belati dari sarung di
pinggangku lalu mulai melangkah maju.
"Itu mengarah ke sana!"
Aku dan Mashiro menggiring sekumpulan monster itu
ke arah Tatsuya.
"Uwaaa!"
Dia menebaskan pedang panjangnya
ke arah monster ular raksasa sambil menangis tersedu-sedu. Meski hanya
terserempet sedikit, efek sihir Enchant Takeshi langsung menghancurkan
tubuh ular itu seketika, mengubahnya menjadi partikel-partikel kecil yang
berjatuhan.
Tatsuya merosot jatuh dan duduk di
tanah dengan napas tersengal-sengal.
"Bersantailah kalau kita sudah
berada di area aman atau Safety Point."
Aku segera menyuruh Tatsuya untuk
berdiri kembali.
"..."
Dia pasti sadar bahwa keluhannya tidak akan
mengubah apapun. Tatsuya perlahan bangkit meskipun ia menatapku dengan penuh
rasa dendam.
Eksplorasi kembali dilanjutkan.
Saat Tatsuya terserang monster hingga menabrak
dinding, dinding tersebut runtuh dan memperlihatkan sebuah ruangan tersembunyi.
"Tampaknya ini adalah ruangan rahasia."
Menemukan tempat seperti ini pasti kejadian yang
sangat langka, buktinya Akudou sampai bersiul meresponsnya.
"Biar aku yang periksa!"
Mashiro memeriksa keadaan sekitar, lalu masuk ke
ruang tersembunyi itu untuk menyelidikinya.
Tepat ketika Mashiro berdiri di depan peti harta
karun yang terletak di tengah ruangan, lempengan batu di bawah kakinya amblas
ke dalam.
"Ga-gawat—"
Sesaat kemudian, formasi sihir muncul dan sosok
Mashiro menghilang tanpa jejak.
Sialan! Itu jebakan teleportasi!
Akudou dengan cepat menyadari situasi tersebut.
Dia mendecakkan lidah dan bersiap bergerak, tetapi aku langsung menahannya.
"Biar aku yang pergi! Akudou, aku serahkan
mereka semua padamu!"
Setelah meneriakkan hal itu, aku melompat dan
melesat maju dengan sekuat tenaga. Aku menyelinap tepat saat formasi sihir di
tanah hampir memudar.
Sejurus kemudian, aku telah berdiri di tengah
ruang asing di mana bunga-bunga merah cerah bermekaran dengan indahnya.
Di langit senja yang berhias perpaduan warna merah
dan emas, pemandangan tiang listrik dan bangunan pertokoan terpantul bagaikan
fatamorgana.
Aku mengedarkan pandanganku ke sekeliling untuk
mencari keberadaan Mashiro.
"Mashiro ...?"
Mataku menangkap sosok Mashiro yang terbaring
lemas di atas bunga-bunga merah, beserta monster Slime raksasa berwarna
kemerahan yang berada di belakangnya.
Tubuhku bergerak tanpa sadar begitu otakku
memproses kejadian tersebut.
Aku melesat ke arah Slime raksasa itu, lalu
mengayunkan dua pisau untuk mengiris-iris monster tersebut di titik
mematikannya.
Slime kemerahan raksasa itu langsung meledak hancur
seketika, menyemburkan cipratan cairan kental ke segala penjuru.
Tanpa jeda, sekawanan monster
buaya raksasa datang menyergap kami.
"Enyahlah."
Aku hanya melirik ke arah monster
itu, sekadar memberikan peringatan. Monster buaya itu tersentak sejenak,
berbalik, dan lari tunggang langgang.
"Mashiro!"
Aku menggendong Mashiro sambil
berteriak memastikan keadaannya.
Dia benar-benar dalam keadaan
sekarat. Setengah tubuhnya hampir meleleh, kulitnya terkelupas hingga tulangnya
terlihat, dan organ dalamnya pun sesekali tampak.
Sebentar lagi Mashiro akan mati.
Menyadari kenyataan yang akan segera tiba itu, aku berteriak—.
"Jangan bercanda!"
Emosi yang dahsyat menyembur dari
dalam tubuhku bagaikan magma, membuatku berteriak hingga tenggorokanku rasanya
mau pecah.
'Anak ini saja, bagaimanapun caranya harus
kuselamatkan!'
Dengan tekad yang kuat, saat aku mencoba
mengeluarkan Potion dari Item Box—.
—Bloop!
Tiba-tiba, seekor slime biru muncul di
depan mataku dan menyelimuti Mashiro. Lalu, seolah-olah waktu diputar kembali,
luka-lukanya sembuh seketika.
Memastikan dadanya perlahan bergerak naik turun
pada tubuhnya yang kini tak terluka sedikit pun, aku bergumam.
"Syukurlah..."
Karena rasa lega yang luar biasa, seluruh tenaga
di tubuhku terkuras dan aku jatuh terduduk di tanah.
Slime yang telah menyembuhkan Mashiro itu berputar
mengelilingiku beberapa kali.
"Terima kasih. Aku sangat tertolong."
Mendengar ucapan terima kasihku, slime itu
tampak senang dan menggetarkan seluruh tubuhnya sebelum akhirnya menghilang
perlahan.
"Uu... ng..."
Mashiro perlahan membuka matanya.
"Syukurlah! Kamu sudah sadar!"
Rasa hangat menyala di dalam hatiku, dan tanpa
sadar aku memeluknya erat-erat.
"U, mi?"
Dengan wajah bingung, dia
menatapku dan bergumam pelan.
"Kain?"
Begitu dia menyebut namaku.
"—ッ!?"
Matanya terbelalak lebar.
Kemudian, seolah tersentak, dia menatap tubuhnya sendiri dan diriku bergantian.
"..."
Seketika, seluruh tubuh Mashiro
merona merah pekat, dan bibirnya bergetar tanpa suara. Dan kemudian—.
"Apa yang kamu lakukan!"
Mashiro mendorongku menjauh, lalu
berjongkok untuk menyembunyikan dadanya yang besar dan terekspos.
Kalau dipikir-pikir, pakaiannya
juga ikut meleleh gara-gara slime merah tadi, membuatnya nyaris
telanjang.
"Kamu tadi hampir dilelehkan
oleh monster yang berserakan di sana. Apa kamu bisa mengingatnya?"
Aku mengeluarkan jaket dan
celanaku dari Item Box, memberikannya kepada Mashiro, lalu memalingkan
wajah dan bertanya dengan ragu.
Jujur saja, aku sangat berharap
dia mengingatnya. Kalau tidak, anak ini pasti akan mulai berdelusi yang
tidak-tidak lagi.
"Ya, aku selamat."
Syukurlah! Aku tidak perlu
diperlakukan seperti binatang buas lagi.
Sebelumnya, karena alasan yang
tidak jelas, aku dianggap sebagai makhluk buas dan diabaikan sepenuhnya oleh
Mashiro. Butuh waktu yang cukup lama sampai dia mau berbicara normal lagi
denganku, dan itu sangat merepotkan.
...Ng... merepotkan? Tunggu sebentar. Kenapa aku harus merasa
repot?
Aku tidak terlalu mengenal gadis
ini. Seharusnya, aku tidak peduli apa yang dia pikirkan tentangku. Tapi
anehnya, aku merasa cukup kesal saat diabaikan olehnya.
Akhir-akhir ini, aku sering
mengalami ingatan yang tidak kukenali atau pemikiran yang rasanya bukan
milikku. Apa sebaiknya aku
periksa ke rumah sakit saja?
"Kita ada di mana?"
Aku menoleh saat mendengar suara dari belakang,
dan melihat Mashiro yang sudah selesai berganti pakaian sedang mengamati
sekeliling.
"Kurasa kita dipindahkan secara paksa ke
lantai bawah Dungeon karena jebakan di ruang rahasia."
"Ini gawat. Tapi kenapa kamu bisa setenang
itu?"
"Karena aku sudah berhasil bertemu denganmu
dengan selamat, Mashiro. Sisanya pasti bisa kita atasi."
Skenario terburuknya adalah aku kesulitan
menemukan Mashiro dan terus merasa cemas, jadi bisa melindunginya sejak awal
adalah hal yang besar. Sekarang, kami hanya perlu menjelajahi tempat ini sambil
mencari jalan ke permukaan.
Lagi pula, aku punya banyak persediaan makanan dan
minuman di Item Box, cukup untuk bertahan beberapa bulan dengan santai.
"B-begitu ya..."
Entah kenapa, Mashiro memalingkan wajahnya dariku.
"Apa kamu bisa bertarung?"
"Kamu pikir kamu sedang bicara dengan
siapa!"
Dia mengeluarkan pedang sucinya dan mengayunkannya
di depanku. Syukurlah, sepertinya tidak ada efek samping dari luka parahnya
tadi.
"Kalau begitu, ayo kita pergi."
Aku menghunus pisauku, mengajak Mashiro, dan mulai
berjalan.
Setelah menjelajahi area sekitar, kami mulai
memahami detail tempat ini. Ruangan yang dipenuhi bunga merah ini luasnya
kira-kira setara dengan satu lantai, tidak terlalu besar.
Strukturnya seperti ditutupi oleh selaput
berbentuk kubah. Mungkin butuh waktu sekitar setengah hari lagi untuk
menjelajahinya sampai ke setiap sudut.
Saat aku menebas inti slime raksasa
berwarna merah yang menyerang dengan pisauku, wujudnya mencair menjadi cairan
lengket. Ketika aku
sedang mengambil Magic Stone dari sisa monster itu.
"Kenapa kamu bisa sekuat itu?"
Mashiro bertanya dengan wajah yang tampak tidak
puas.
"Yah, karena aku berlatih."
"Apa kekuatanmu itu sesuatu yang bisa dicapai
hanya dengan berlatih?"
"Kamu bilang 'hanya dengan
berlatih', ya. Justru lebih jarang ada kekuatan yang tidak bisa diraih melalui
latihan, tahu."
"Hmph! Perkataan seorang
jenius memang berbeda, ya!"
Mendengar sindiran Mashiro itu,
aku langsung merespons.
"Aku jenius? Lelucon yang lucu sekali."
Aku tanpa sadar tertawa
mendengarnya.
"Apa kamu mau bilang kalau kamu bukan
jenius!?"
Mungkin karena merasa diremehkan, dia mendesakku
dengan raut wajah kesal.
"Ya, kamu salah besar. Aku
ini tidak kompeten."
"Aku tidak bisa menggunakan
sihir, dan bakat bertarungku juga nol. Justru karena ketidakmampuanku itulah,
aku terus mengasah diriku setiap hari hingga mendapatkan kekuatanku yang
sekarang."
Karena itulah, aku bisa dibilang masih jauh dari
kata sempurna.
"Kamu tidak kompeten? Kamu,
yang bisa mengalahkan monster buas ini dalam sekejap?"
"Iya."
Untuk sesaat, Mashiro melebarkan matanya yang
besar itu.
"Begitu... ya..."
Dia bergumam pelan lalu terdiam, dan tidak pernah
lagi membahas topik ini.
"Hei."
Tumben sekali Mashiro datang mendekatiku,
memanggil sambil membuang muka.
"Ada apa? Kalau kamu mau ke toilet—"
"Jangan bilang apa-apa lagi! Itu pun kalau kamu masih mau hidup!"
Aku benar-benar berharap dia berhenti menodongkan
pedang sucinya padaku dengan tatapan tajam seperti itu.
"Lalu, ada apa?"
"B-bukan berarti aku penasaran, ya. Habisnya, aku ditanya tentang
hubungan antara kamu dan aku..."
Sambil memainkan jari-jarinya yang
bertautan, dia mengalihkan pandangan dan bergumam pelan.
"Hm? Maaf, aku tidak dengar.
Bisa tolong ulangi lagi?"
"Apa pendapatmu tentang
Kuonji!?"
Mashiro bertanya dengan wajah merah
padam, terdengar seperti sedang marah. Kirain ada apa, ternyata malah bahas
soal cinta, dan topik semacam itu terlalu tinggi levelnya untukku.
"Kalau maksudmu sebagai lawan jenis, kurasa
Karina sama sekali tidak menganggapku seperti itu. Dia mungkin hanya
menginginkanku sebagai tenaga tempur."
"Lihat saja juga sudah jelas! Yang aku bicarakan itu tentang
Makoto!"
"Makotooo? Dengar ya, aku
menghormati minoritas seksual, tapi aku ini heteroseksual."
"Lagipula, Makoto itu
sahabatku. Meskipun kami akrab, tolong jangan memaksakan dunia Boys Love
ke dalam hubungan kami."
Tidak mungkin aku dan Makoto
memiliki hubungan mesra seperti itu. Tapi sekarang aku paham kenapa aku
diperlakukan seperti binatang buas waktu itu.
Dia pasti salah paham mengira aku dan Makoto punya
hubungan seperti itu. Kebiasaan berdelusinya ini benar-benar merepotkan.
"..."
Selama beberapa saat, Mashiro menatapku dengan
mulut ternganga, tampak kebingungan seperti baru saja ditipu rubah.
"Kamu, ngomong begitu serius!?"
Dia bertanya dengan wajah pucat pasi.
"Iya, memangnya kenapa?"
"..."
Dia memejamkan mata, meletakkan jari telunjuk dan
jari tengah kanannya di pelipis, lalu terdiam dengan wajah meringis seperti
menelan pil pahit.
"Mashiro?"
"Dasar batu."
Mashiro bergumam sambil menatapku dengan pandangan
kasihan, lalu kembali berjalan.
Entah angin apa yang merasukinya, sikapnya berubah
drastis dari yang tadinya kesal kini jadi lebih aktif mengajakku bicara.
"Bagaimana cara kamu melakukan teknik
itu?"
"Meskipun kamu tanya bagaimana... bagiku itu
sama alaminya seperti bernapas."
"Tolong beritahu aku secara spesifik
bagaimana kamu melakukannya! Kumohon!"
Dia menyatukan kedua tangannya dan memohon. Jarang
sekali Mashiro bersikap seperti ini padaku.
Ini pasti keinginan yang sangat mendalam baginya.
"Yah, toh pengetahuanku tidak akan berkurang,
jadi boleh saja..."
Bagaimana cara aku melakukan seni bela diriku,
ya... Tentu saja, sebagian besar mengandalkan insting, dan nyaris mustahil
baginya untuk menguasai teknik itu sendiri.
Tapi sejak awal, yang ingin diketahui Mashiro
pastilah cara untuk menjadi lebih kuat. Kalau begitu, manipulasi kekuatan sihir
yang merupakan dasar dari semua seni bela diri mungkin adalah jawaban terbaik.
Bahkan dalam Seni Bela Diri Kuno Tsukishiro,
memvisualisasikan dan memanipulasi sihir adalah teknik paling dasar dan penting
yang diajarkan pertama kali.
"Menurutmu ini warna apa?"
Aku mengalirkan kekuatan sihir ke ujung jari
telunjukku dan mengubah-ubah warnanya.
"Warna? Aku tidak melihat apa-apa."
Dia menjawab dengan wajah bingung. Sudah kuduga.
Kalau begitu—.
"Permisi sebentar, ya."
Aku menggenggam kedua tangan
Mashiro.
"T-tunggu sebentar?"
Melihat Mashiro yang menjadi merah
padam dan panik, aku menginstruksikannya.
"Tolong tutup matamu."
"Y-ya."
Tumben sekali dia tidak menolak
dan langsung memejamkan matanya. Dari tubuhnya yang menegang, sepertinya dia
sangat gugup.
Padahal aku tidak akan memakannya
hidup-hidup.
"Sekarang aku akan mengalirkan kekuatan
sihir. Cobalah rasakan alirannya."
Saat aku perlahan mengalirkan kekuatan sihir
berwarna putih, dia bereaksi.
"Ah..."
Mashiro mengembuskan napas pelan.
"Apa kamu bisa melihatnya?"
"A-aku bisa melihatnya!"
Mendengar jawaban antusias Mashiro, aku menyadari
wajahku tersenyum. Aku tidak pernah bermimpi dia bisa mengenalinya secepat ini.
Gadis ini pasti yang namanya jenius. Melihat bakat
yang dianugerahkan langsung oleh surga selalu membuat hatiku berdebar kagum.
"Kalau begitu, selanjutnya—"
Kesimpulannya, dia berhasil memvisualisasikan
kekuatan sihir dengan sangat mudah. Terlebih lagi—.
"Haah!"
Dia mengayunkan pedang sucinya ke arah slime
raksasa merah itu dengan santai.
Kekuatan sihir perak-putih yang menyelimuti pedang
suci itu berubah menjadi bilah yang membelah slime raksasa secara
vertikal, sekaligus menghancurkannya hingga ke partikel terkecil.
"Bagus!"
Dengan wajah gembira, Mashiro mengepalkan tinjunya
dan mendekat ke arahku.
"Padahal bahkan tidak mengenai intinya, tapi
dampaknya luar biasa. Seperti yang diharapkan dari kekuatan sihir
perak-putih."
Siapa sangka warna kekuatan sihirnya sama dengan
milik Takeshi... Orang yang memiliki sihir perak-putih dan bisa
mengendalikannya secara bebas adalah rasio astronomis.
Lalu dua orang seperti itu kebetulan berada di
kelompok yang sama. Aku tidak cukup bodoh untuk menganggap ini hanya kebetulan
belaka.
Faktor penentu warna kekuatan sihir sangat
dipengaruhi oleh genetik. Pasti ada hubungan yang jelas antara Takeshi dan
Mashiro. Kurasa aku harus menanyakannya.
"Apa kamu ini kerabat Takeshi atau
semacamnya?"
"Mana mungkin! Aku baru kenal
dia di praktikum kali ini!"
"Begitu ya..."
Takeshi dan Mashiro sama-sama menyangkalnya. Apa
ini benar-benar kebetulan? Tapi, apakah hal seperti itu mungkin terjadi?
Di saat aku sedang asyik berpikir, dia melontarkan
pertanyaan.
"Kamu ini benar-benar manusia
bumi, kan?"
Mashiro tiba-tiba menanyakan hal
yang tidak masuk akal.
"Aku tidak mengerti maksud
pertanyaanmu?"
"...Melihat jawaban itu, sepertinya kamu
benar-benar manusia bumi... Begitu ya..."
Dia bergumam pelan dengan nada
yang sedikit sedih.
"Mashiro?"
"Panggil aku Mashiro saja!"
"Eh?"
"Makanya, aku bilang panggil Mashiro saja
sudah cukup!"
Dia melipat tangannya dan membuang
muka sambil berseru.
"Memang lebih mudah dipanggil
begitu, tapi aku tidak keberatan dengan panggilanku yang sekarang, kok."
Kalau tiba-tiba aku memanggilnya
tanpa sapaan formal, itu bisa memicu kesalahpahaman yang tidak perlu dari
orang-orang sekitar.
"Kamu mau memanggilku begitu,
kan?"
Sambil tersenyum, Mashiro
mengarahkan ujung pedang sucinya padaku dan meminta hal itu. Bukankah ini
namanya ancaman? Benar, kan?
Apalagi dia menggunakan
spesifikasi penuh lengkap dengan kekuatan sihir perak-putihnya. Gadis ini
benar-benar serius.
"Baiklah, aku mengerti."
Aku menundukkan bahu dan
menyetujuinya. Saat itu, aku
merasakan deja vu yang aneh terhadap sikapnya ini.
Kami tiba di sebuah pohon besar yang dikelilingi
hamparan bunga merah.
Seolah sedang melindungi pohon besar itu, slime
raksasa merah dan monster buaya tampak berkerumun.
"Biar aku saja yang
mengurusnya!"
"Silakan saja."
Lagi pula, kalau dia sudah memutuskan, dia tidak
akan mau mendengarkan. Kalau mulai berbahaya, aku tinggal menyelamatkannya.
Mashiro memanggul pedang sucinya dan berlari
kencang ke arah mereka.
Dengan menyelimuti seluruh tubuhnya menggunakan
sihir perak-putih, dia mendapatkan Buff kemampuan fisik yang luar biasa
sekaligus memberikan efek Status Effect Immunity.
Berkat itu, dia berhasil menetralkan cairan
peleleh dari slime raksasa merah dan napas pembatu dari monster buaya.
Serangan utama para monster itu telah dinetralkan.
Dalam sekejap, Mashiro menghabisi semua slime
raksasa dan monster buaya, hingga hanya menyisakan monster pohon besar di
akhir.
"Inikah yang dinamakan bakat
bawaan."
Aku tanpa sadar mendesah kagum.
Tidak kusangka dalam waktu sesingkat ini, dia sudah bisa mengendalikan sihir
perak-putih dengan begitu bebas.
Meskipun begitu—.
"Mashiro, biarkan aku yang
mengurus makhluk yang satu itu."
Tentu saja monster pohon besar itu terlalu
mustahil baginya. Dengan kemampuannya yang belum matang saat ini, dia akan
hancur menjadi daging cincang dalam sekejap.
"...Aku mengerti."
Kukira dia akan meledak marah, tapi ternyata dia
mundur dengan mudahnya.
Sebagai gantinya, aku melangkah maju sambil
menghunuskan dua pisauku, lalu sebuah wajah manusia muncul di monster pohon
besar tersebut. Kemudian buah-buah berjatuhan dari pohon besar itu ke tanah,
berubah menjadi monster kadal raksasa kayu yang muncul dalam jumlah tak
terhitung dan mengepungku sepenuhnya.
"—ッ!"
Aku bisa mendengar Mashiro menahan napasnya dari
belakang.
Aku merendahkan pusat gravitasi tubuhku dan
merentangkan benang sihir ke arah mereka semua, mengunci kerumunan kadal kayu
raksasa yang memenuhi tanah serta monster pohon tersebut.
Mengincar monster-monster yang
mendekat dengan suara gemuruh itu, aku merapal.
"Tsukishiro Short Sword
Technique, Intermediate — Arachne."
Aku mengayunkan pisauku dalam satu tebasan.
Seketika, monster pohon besar dan kawanan kadal
kayu raksasa itu terkoyak membentuk pola salib. Dalam sekejap mata, yang
tersisa hanyalah mayat-mayat monster tersebut.
"Luar biasa..."
Suara Mashiro terdengar gemetar.
Setelah mengalahkan monster pohon besar itu,
sebuah peti harta karun muncul, dan di belakangnya terdapat sebuah Magic
Circle. Kemungkinan besar, lingkaran sihir itu adalah lingkaran sihir
teleportasi untuk kembali ke tempat semula.
Saat aku membuka peti harta karun merah yang megah
itu, di dalamnya terdapat sebuah cincin dengan hiasan mawar.
Pasti ini Magic Item. Aku pun mencoba
memakainya.
"Apa ini efek Buff..."
Hanya sedikit, tapi aku merasakan kemampuan
fisikku meningkat. Sepertinya cincin ini juga memiliki beberapa fungsi lainnya.
Ini pasti yang disebut sebagai perlengkapan sihir
tempur. Kejadian kali ini benar-benar membuatku ketakutan setengah mati.
Mashiro selalu saja menempatkan dirinya dalam
bahaya. Tidak peduli seberapa banyak peningkatan yang dia terima, itu tidak
akan pernah berlebihan.
Dalam hal itu, cincin ini sangat
cocok untuknya.
"Mashiro, tolong kamu saja yang
menyimpan ini."
Aku melepaskan cincin itu dan
menyodorkannya pada Mashiro.
"I-itu cincin? A-aku tidak mau
hal semacam itu—"
Sudah kuduga, wajahnya memerah dan
dia menolaknya.
Aku meraih tangan kirinya dengan
santai dan memasangkan cincin itu di jarinya.
Mashiro adalah tipe orang yang
mementingkan efisiensi. Kalau
dia sudah merasakan efek Buff-nya, dia pasti akan terus menggunakannya.
Lagipula, mengenakan perlengkapan sihir tempur
bukanlah sesuatu yang bisa dipaksakan. Kalau dia tidak suka, dia bisa
melepasnya nanti.
"..."
Melihat Mashiro yang menatap tajam cincin itu, aku
berkata.
"Ayo kita kembali."
Saat aku mengulurkan tanganku, dia menjawab.
"Y-ya."
Mashiro buru-buru mengalihkan pandangannya dari
cincin itu, mengangguk kecil dengan wajah tertunduk, lalu meraih tanganku.
Kami melangkah masuk ke dalam Magic Circle.
Saat tersadar, kami sudah berteleportasi ke Safety
Point lantai 22 di Shuuga.
"Kain, Mashiro!"
Takeshi berteriak dengan suara melengking.
Perhatian semua orang langsung tertuju pada kami.
"—ッ!?"
Dengan panik Mashiro melepaskan
tanganku dan melompat mundur.
"Mashiro! Syukurlah, kamu
selamat!"
Dengan mata berkaca-kaca, Sakuraba
berlari menghampiri Mashiro, menggenggam kedua tangannya, dan berseru
kegirangan.
"Y-ya. Terima kasih, Sakuraba-kun."
Sambil tersenyum canggung, Mashiro
melepaskan genggaman tangannya. Murid-murid lain pun ikut berkumpul untuk
mensyukuri keselamatannya.
Seperti yang diduga, Mashiro
memang sangat populer.
"Aku tahu kamu pasti selamat."
Arata mengulurkan kepalan tangan kanannya padaku.
"Tentu saja."
Aku membalasnya dengan kepalan tangan kananku.
"Syukurlah! Kain!"
Takeshi memelukku dengan mata berkaca-kaca.
"Maaf karena sudah membuat kalian
khawatir."
Setelah menyampaikan permintaan maaf pada Takeshi
dan yang lainnya, aku berjalan menghampiri Akudou yang sedang bersandar di
dinding dengan tangan bersedekap.
"Terima kasih, dan maaf karena telah
merepotkan Anda."
Aku menundukkan kepala pada instruktur kami.
Dilihat dari situasinya, Akudou sepertinya mendengarkan permintaanku untuk
membujuk semuanya agar tetap berlindung di sini.
Kalau dibiarkan begitu saja, Takeshi pasti sudah
melompat ke dalam lingkaran sihir teleportasi itu, dan aku yakin dia pasti
sudah kehilangan nyawanya.
Ada bekas memar karena pukulan di wajah Akudou.
Itu pasti bekas pukulan dari Takeshi.
"Kamu tidak perlu meminta maaf. Kejadian kali
ini sepenuhnya karena kelalaian pengawasanku."
Seorang pemuda tampan dengan rambut hitam panjang
yang diikat satu di belakang menegur Akudou dengan tatapan tajam.
Di Jepang, pria ini sama
terkenalnya dengan selebritas. Dia adalah salah satu dari empat S-Rank Hunter
yang ada di Jepang, Saber, Yoshimine Masayoshi.
Dia juga dikenal sebagai sosok
hati nurani yang hidup di dunia Hunter.
"Aku tidak menyangkalnya. Aku siap menerima
hukuman dari Kepala Pangkalan."
"Aku tidak akan melupakan kata-katamu
itu."
Setelah melontarkan kata-kata tersebut, dia
berbalik menghadap murid-murid Kelas S-1.
"Semuanya, kita sudah memastikan keselamatan
murid-murid yang sempat hilang. Mari kita lanjutkan perjalanan."
Sambil menepuk tangannya dua kali, dia memberikan
instruksi dengan nada suara yang tenang.
"B-baik!"
Para siswi Kelas S-1 mengangguk dan mengambil
senjata mereka dengan pipi yang sedikit merona merah.
Sakuraba juga berlari kecil menghampiri Saber
dengan raut wajah enggan berpisah.
"Sampai jumpa nanti, ceritakan semuanya
padaku saat kita kembali!"
Arata mengangkat tangan kanannya sebelum
meninggalkan Safety Point bersama anggota kelompoknya.
Aku memberikan penjelasan singkat kepada seluruh
anggota Kelompok F mengenai kronologi kejadian setelah kami dipindahkan secara
paksa ke ruangan ladang bunga merah tersebut.
Karena ini jelas merupakan situasi darurat, Akudou
memutuskan bahwa penjelajahan hari ini resmi diakhiri.
Hari ini secara khusus, Akudou mengizinkan kami
untuk bersantai di pemandian air panas dalam fasilitas Gedung B. Waktu
keberangkatan bus juga masih cukup lama, jadi kurasa kami bisa beristirahat
sejenak.
"Takeshi, apa kamu benar-benar
tidak mau ke pemandian air panas?"
"Ah, maaf. Entah kenapa aku merasa sangat mengantuk.
Kain, tolong bangunkan aku sebelum waktu keberangkatan, ya."
Setelah mengatakan itu, Takeshi
menyilangkan lengannya dan tertidur sambil bersandar di kursi lobi.
Tatsuya—begitu melihatku, dia
langsung memalingkan wajahnya. Sepertinya kejadian hari ini membuatku dianggap
sebagai sosok yang menakutkan baginya.
Aku berniat mengajak Makoto, tapi dia tidak ada di
mana-mana. Mungkin dia sedang mandi di ruang khusus karena insiden percobaan
mengintip sebelumnya.
Padahal untuk hari ini saja seharusnya tidak
masalah, kan.
"Haaah, pada akhirnya cuma aku
sendirian..."
Mulai dari sekarang, sepertinya pemandian air
panas ini disewa eksklusif untuk kami berdua. Pantas saja Akudou menelepon saat
kami tiba di permukaan.
Mungkin ini adalah bentuk permintaan maaf Akudou
atas insiden teleportasi kali ini. Ternyata dia adalah pria yang jauh lebih
peduli pada kewajibannya daripada yang kubayangkan.
"Mandi sendirian di pemandian air panas yang
luas mungkin bisa jadi pengalaman yang menyenangkan."
Sambil mencoba menutupi sedikit rasa kesepian, aku
berjalan menuju pemandian air panas.
Pemandian air panas itu terletak di bagian kiri
belakang Gedung B.
"Tempat ini jauh lebih luas dari
dugaanku."
Setidaknya sepuluh kali lipat dari tempat
pemandian umum biasa. Mandi sendirian di tempat sebesar ini, entah kenapa aku
merasa sedikit canggung.
Saat aku sedang berendam santai sambil
merentangkan kedua lengan di kolam air panas yang sepi, aku merasakan kehadiran
seseorang yang masuk.
Dilihat dari situasinya, tidak mungkin itu
Tatsuya. Pilihannya antara si pria plin-plan Takeshi yang berubah pikiran, atau
Makoto yang akhirnya diizinkan masuk ke pemandian air panas hari ini.
Aku tidak bisa melihat siapa itu karena terhalang
uap tebal, tapi aku bisa mendengar suara seseorang sedang menggosok tubuh dan
rambutnya. Dan kehadiran itu perlahan mendekat ke arahku.
"Kain..."
Suara ini milik Makoto. Namun, suaranya sangat
pelan dan nyaris menghilang, sama sekali berbeda dari Makoto yang biasanya
ceria.
"Makoto, ada ap—"
Perkataanku tidak selesai. Memang benar ada Makoto
di sana, tapi penampilannya sama sekali bukan seperti yang kubayangkan—.
"Makoto, apa kamu... seorang perempuan?"
"..."
Menjawab pertanyaanku dengan anggukan kecil tanpa
suara, Makoto duduk di sebelahku.
Bahkan dari balik handuk mandi yang melilitnya,
terlihat jelas bukit kembar yang penuh, pinggang ramping, serta pinggul besar
yang jelas berbeda dari pria.
Dilihat dari sudut manapun, dia adalah sosok
perempuan tulen.
Memang, kalau dipikir-pikir lagi,
ada hal-hal ganjil dari dirinya. Dibandingkan siswa laki-laki lain, dia
terlihat mungil dan rapuh, belum lagi dia selalu memakai baju bebas yang
menutupi kulitnya serapat mungkin di cuaca panas ini.
Meskipun SMA Kazuki memperbolehkan
penggunaan seragam atau baju bebas, dari yang kuingat, hanya Makoto yang selalu
ngotot mengenakan baju bebas sepanjang waktu.
Kemungkinan besar, dia menggunakan
perban di dada saat jam olahraga. Untuk ganti baju atau ke toilet, kurasa dia
berhasil mengatasinya menggunakan sihir atau Magic Item untuk
menyembunyikan wujud aslinya.
"Lalu, kenapa kamu berpakaian seperti
laki-laki?"
Aku menanyakan hal yang paling membuatku penasaran
saat ini.
"Mungkin karena aku ingin mendekati orang
yang sudah lama aku kagumi..."
"Orang yang kamu kagumi...
Jangan bilang, itu Takeshi?"
Makoto menatapku dengan mata terbelalak lebar.
"Kenapa kamu bisa tahu?"
Dia bertanya dengan suara
melengking.
"Hanya firasat saja."
"Kamu tidak mau bertanya
lebih lanjut?"
"Ya, lagipula aku bisa menebak
alasannya."
Kalau dipikir-pikir lagi, semua perkataan dan
tindakan Makoto selama ini selalu tertuju pada Takeshi. Kemungkinan besar,
alasannya masuk ke Departemen Dukungan dan semua obrolan mesum yang ekstrem itu
dilakukannya hanya untuk mendekati Takeshi.
"Benar. Sejak dulu aku sangat mengagumi
Takeshi. Makanya, aku merombak penampilanku saat masuk sekolah ini agar bisa
lebih dekat dengannya."
"Kelihatan menakutkan seperti penguntit
parah, kan?"
Mendengar ucapan Makoto sambil mengarahkan kedua
ibu jarinya pada dirinya sendiri, aku menjawab.
"Soal penguntit biarkan saja dulu, tapi aku
benar-benar kagum pada tekadmu itu. Meskipun berdandan seperti pria agak berbeda dengan konsep 'merombak
penampilan', sih."
Aku mengangkat bahuku dan
mengucapkan sindiran itu.
"Mungkin juga."
Makoto tertawa renyah seolah-olah
itu hal yang lucu.
"Lalu, kamu mengungkapkan identitas aslimu
padaku karena ingin aku menjadi mak comblang antara kamu dan Takeshi?"
Kalau kedua sahabatku bisa bahagia bersama, aku
tentu akan ikut senang. Aku tidak keberatan membantu menyatukan mereka berdua.
Dari segi penampilan luar, Makoto yang sekarang
benar-benar tipe idaman Takeshi. Masalahnya ada pada sifat merepotkan si
pengecut itu...
"Tentu saja bukan. Kain, kamu yang paling
tahu kalau cara itu tidak akan berhasil, kan?"
"Mungkin saja..."
Walaupun aku belum lama berteman dengan Takeshi,
aku berani memastikan kalau dia tidak akan mengubah sikapnya meskipun tahu
Makoto adalah perempuan. Setidaknya, sangat mudah dibayangkan kalau dia akan
benci jika aku ikut campur mencampuri urusan mereka.
"Lagipula, Takeshi sudah punya orang yang dia
sukai sejak lama."
Dari raut wajah Makoto yang tampak lega dan
pasrah, terlihat jelas bahwa dia tidak sekadar berpura-pura tegar, melainkan
benar-benar memercayai hal itu.
Aku pribadi tidak merasa si kaku itu punya sosok
yang disukai, tapi Makoto—yang memiliki insting observasi jauh lebih tajam
dariku—yang mengatakannya. Jadi mungkin itu benar.
Meskipun begitu, apa pun alasannya, tidak mudah
menyerah begitu saja pada seseorang yang pernah kau sukai. Entah kenapa, aku
sangat yakin akan hal itu.
"Guh!?"
Tiba-tiba, rasa sakit kepala yang hebat
menyerangku. Bersamaan dengan itu, bayangan seorang wanita cantik yang sedang
menyibakkan rambut hijau willow-nya yang tertiup angin melintas di benakku.
"Kain?"
Makoto bertanya dengan wajah bingung, tapi aku
menahannya dengan tangan kananku.
"Tidak, bukan apa-apa. Lebih dari itu, kamu
benar-benar akan menyerah pada Takeshi? Apa kamu sungguh tidak menyesal?"
"Iya. Karena sekarang aku tahu, perasaan yang
kumiliki ini bukanlah cinta, melainkan kekaguman."
"Kekaguman?"
"Benar. Kekaguman, rasa iriku pada
pahlawanku."
"Pahlawan? Takeshi yang mengidap sindrom
kelas delapan itu?"
"Iya benar, Takeshi yang
itu!"
Melihat Makoto tertawa renyah, aku
bertanya lagi tentang hal yang sempat terlupa.
"Tapi, lalu kenapa kamu memberi tahu aku
kalau kamu itu perempuan?"
"Karena aku menyadarinya."
"Menyadari apa?"
"Sejak saat itu, aku terus mengawasimu setiap
pagi. Awalnya kupikir itu hanya ketertarikan biasa, dan kurasa memang
begitu."
"Tapi karena kejadian itu, aku jadi menyadari
perasaanku sendiri."
"Syukurlah kalau begitu."
Ternyata Makoto juga sudah menemukan sosok yang
benar-benar dia sukai.
"Ya, terus terang, aku merasa tidak adil
kalau hanya aku yang terus diperlakukan seperti laki-laki dan tidak diberi
kesempatan untuk bersaing. Apalagi saat muncul rival yang kuat, aku jadi merasa
cemas."
"Hah..."
Aku benar-benar tidak mengerti apa hubungannya
antara munculnya saingan cinta Makoto dengan fakta bahwa dia mengaku sebagai
perempuan kepadaku.
"Kamu tidak mengerti?"
Dengan meletakkan kedua tangannya di dadanya yang
montok dari balik handuk, dia menatapku dengan mata yang berbinar.
"Maaf."
"Sudah kuduga. Kain ini memang tipe orang
yang kaku layaknya batu."
"Ya, hari ini aku juga baru dibilang begitu
oleh Mashiro."
"Mashiro ya... Benar, dialah
alasan kenapa aku mengumpulkan keberanianku hari ini. Kain, kamu satu-satunya yang tidak akan pernah aku
serahkan pada siapa pun!"
Sensasi lembut khas wanita dan aroma wangi sampo
tiba-tiba menyergapku.
Saat dipeluk oleh Makoto, otakku akhirnya mulai
mencerna situasi ini.
"Makoto—"
Wajah Makoto mendekat, dan saat aku hendak membuka
mulut, dia menutup bibirku.
Melalui air pemandian ini, aku merasakan
kelembutan bibir Makoto dan kehangatan tubuhnya yang mendekapku, namun aku
tidak bisa menggerakkan satu jari pun.
"..."
Makoto yang seluruh tubuhnya kini semerah tomat
segera bangkit dan berlari keluar layaknya orang yang melarikan diri.
Aku hanya bisa mematung tak
berdaya, tenggelam di dalam bak pemandian tanpa bisa bergerak.
Setelah keluar dari ruang ganti
dan pergi ke ruang istirahat, aku melihat Makoto mengenakan gaun panjang
berwarna biru muda.
Tentu saja, ini adalah jenis gaun
yang biasa dipakai oleh para gadis muda.
Meski begitu, entah kenapa aku
merasa pernah melihat gaya pakaiannya ini sebelumnya...
"..."
Di tengah suasana canggung, tanpa
saling bertukar kata, kami duduk di bangku sambil minum susu kopi seperti
biasa.
"Hei, Kain?"
"Hm? Ada apa?"
Makoto merapalkan sihir pendek. Seketika, rambut
merahnya memanjang, dan wujudnya berubah menjadi seorang gadis dengan gaya
rambut diikat setengah.
"Pertanyaan untuk Kain! Coba tebak siapa
aku!?"
Melihat gadis berambut merah yang tersenyum jahil
itu, otakku perlahan mulai mengenali keberadaannya.
"Jadi itu... kamu?"
Dengan pipi merona, Makoto mengangguk pelan.
Dia adalah gadis yang selalu mengawasi latihanku
setiap pagi. Kalau begitu, orang yang terus ditatapnya setiap pagi itu adalah
aku?
Tidak, tidak mungkin! Karena ini aku dan Makoto,
tahu? Kalau dipikir-pikir, sangat berlebihan jika dia menganggap dirinya
menyukaiku.
Lebih dari itu, aku sama sekali tidak bisa
memikirkan momen apa pun dalam obrolan kami yang bisa membuat perasaannya
berubah drastis padaku.
Tindakannya di pemandian air panas tadi rasanya
lebih masuk akal jika dianggap sebagai candaan mesum khas Makoto.
"Kain, aku serius!"
Seolah bisa membaca isi hatiku, dia berseru.
Makoto lalu berdiri dan menatapku yang masih duduk di bangku.
Dia mencondongkan tubuhnya ke
depan dan tersenyum nakal.
"Semuanya sudah menunggu.
Ayo!"
Seakan mencoba menutupi rasa
malunya, dia tersenyum malu-malu, lalu meraih tanganku yang ragu-ragu dan
menarikku keluar.
"Eh?"
Seseorang melontarkan suara keheranan saat melihat
kami keluar dari pintu pemandian pria, dan itu tak lain adalah Mashiro.
Sama seperti sebelumnya, matanya terbelalak lebar
menatap kami berdua.
"..."
Dalam situasi di mana aku membeku tak tahu harus
berkata apa, Makoto melangkah maju ke depanku.
"Pemandiannya sangat nyaman, ya."
Sambil sedikit berjinjit, dia mencium pipiku.
"Kain, aku duluan, ya."
Dengan pipi merona, dia mengucapkan kata-kata itu
dengan cepat lalu berlari kecil menjauh.
Mashiro berjalan ke arahku dan menampar pipi
kananku dengan keras.
"Pria berengsek!"
Setelah meneriaki itu, dia berlari menjauh.
Melihat genangan air mata di sudut mata Mashiro
saat dia pergi, kali ini aku benar-benar hanya bisa mematung tak berdaya.
◇◆◇
Di tengah kegelapan hutan, seorang pria yang
mengenakan jubah hitam menutupi kepalanya mengirimkan pesan melalui aplikasi
Rain di ponsel pintarnya.
'Pengawasan di dalam labirin
terlalu ketat, kontak dengan target sangat sulit dilakukan. Dimohon untuk
segera memindahkan lokasi praktikum.'
Pesan tersebut segera dibaca, dan
balasannya pun masuk.
―Selesai. Mengenai perubahan lokasi pelatihan,
akan segera kami tangani.
Merespons satu kalimat pendek itu,
"Pria yang berhasil kembali dengan selamat
dari penalti kematian di lantai terbawah ya... tampaknya dia lawan yang cukup
menyebalkan."
Ucapnya seorang diri diselingi
desahan.
"Tapi ya, bukannya mereka berdua berhasil
selamat dan lolos?"
Wanita yang mengenakan topeng menutupi mata dan
hidungnya, mendadak muncul dari kegelapan, bertanya dengan suara manja kepada
pria berkerudung itu.
"Begitulah, sejujurnya darahku terasa
membeku."
"Begitu ya, perintah dari dewa kita adalah
menyerahkan seluruh anggota Kelas F, kan?"
"Ah, di situlah masalahnya! Bagian itulah
yang menyulitkan!"
"Menculik seluruh anggota Kelas F dengan
menyamar sebagai kecelakaan tentu saja membutuhkan banyak tenaga."
"Terlebih lagi, insiden kali ini membuktikan
kalau Tsukishiro Kain pasti memiliki kekuatan di atas Kelas A."
"Tingkat kesulitan untuk menculiknya,
termasuk dirinya, akan meningkat drastis."
"Jika tujuannya memusnahkan semuanya, itu
akan sangat mudah, kan?"
"Tetap saja, menggunakan mayat tidak bisa,
bukan?"
"Perintahnya adalah bawa mereka kembali dalam
keadaan hidup."
"Begitu ya. Jadi, pada akhirnya, apa yang
akan kita lakukan dari sekarang?"
"Tentu saja memprioritaskan perintah dari
dewa kita."
"Ah, wajah jahat itu lagi. Apa kamu sedang
merencanakan keburukan lagi?"
Wanita bertopeng itu tertawa cekikikan tanpa rasa
tegang.
"Tampaknya celah pada diri mereka terlihat
dengan mudah."
"Kita akan memanfaatkan celah itu."
"Pahlawan Pedang Suci itu, ya? Kasihan
sekali, anak selucu itu pada akhirnya akan dihabisi sampai ke tulang-tulang
olehmu dan dihancurkan, begitu ya?"
"Sayangnya, aku tidak diperintahkan untuk
menghancurkan mentalnya."
"Kalau begitu, jika berhasil menangkapnya
dengan baik, biarkan aku mencicipinya juga, ya?"
"Anak itu benar-benar tipeku
♪"
Wanita bertopeng itu menjilat
bibirnya dengan lidah berukir lambang sekop, memperlihatkan ekspresi penuh
ekstasi.
"Silakan sesuka hatimu asalkan tidak
mengganggu rencana."
"Akan kulakukan. Jadi, secara spesifik apa
yang akan kita lakukan?"
"Kebetulan ada organisasi ilegal terkait
politisi busuk yang bisa kita manfaatkan."
"Jika kita menggunakan mereka dengan baik,
kita pasti bisa menangkap seluruh berandal Kelas F itu."
"Baguslah jika persiapannya sudah
matang."
"Kalau begitu, beri tahu aku kalau detail
rencananya sudah diputuskan."
Mengucapkan kalimat itu dengan suara riang, wanita
bertopeng tersebut menghilang ke dalam kegelapan malam.
"Cih! Rubah betina sialan!"
Pria berjas hitam itu meludah, lalu,
"Dewa kita yang agung, Yang Mulia Spade! Aku
pasti akan menunaikan perintahmu!"
Sambil menyatukan kedua tangannya, ia meneriakkan
suara doa ke dalam kegelapan malam.
Beginilah situasi seputar Pangkalan Akiyayama dan
kota tetangga Yuni mulai bergerak dalam bentuk paling kejam.
Skenario terburuk ini digambarkan oleh dewa agung
yang sesat, pengikut yang mengaku saleh dari monster terkuat.
Sosok itu sama sekali tidak memiliki kompromi
maupun belas kasihan.
Berdasarkan iman dan keyakinannya sendiri, ia
menyajikan kemalangan serta keputusasaan luar biasa kepada orang-orang bodoh.
Kini, para vampir dan pengikut malang mereka mulai
menaiki tangga kehancuran yang tujuannya telah ditentukan, sambil
melompat-lompat kecil.
◇◆◇
Sejak menyaksikan pemandangan mengejutkan itu, aku, Mikage Mashiro, terus
melamun.
Pemandangan mengejutkan yang kumaksud adalah saat
Kain dan Makoto keluar dari pemandian air panas yang sama, lalu Makoto mencium
Kain tepat di depan mataku.
Aku bukan lagi anak kecil yang
polos. Aku paham betul apa yang mereka lakukan di dalam sana. Ditambah lagi
dengan ciuman penegas itu. Tidak perlu dipikirkan lagi hubungan seperti apa
yang mereka miliki.
Kain sangat buruk dalam berakting.
Karena itulah aku bisa
memastikan satu hal.
Setidaknya sampai saat kami berada di ruang
teleportasi akibat jebakan itu, Kain masih menganggap Makoto sebagai seorang
laki-laki.
Mungkin hubungan mereka makin dekat saat berada di
pemandian air panas itu. Situasi seperti itu tidak akan terjadi kecuali jika
Makoto yang bergerak aktif.
Lagipula, melihat senyum bahagia Makoto yang belum
pernah kulihat sebelumnya, mustahil Kain memaksa atau mendesaknya.
"Aku ini... sedang melakukan apa,
sih...?"
Aku memegang kepalaku dan merintih, diliputi rasa
malu dan penyesalan yang mendalam.
Jika mereka berdua saling menyukai, tidak ada hak
bagiku untuk ikut campur.
Namun, dari sekian banyak hal yang bisa kulakukan,
aku malah menampar pipi Kain dan mengucapkan kata-kata menghina seperti itu.
Sebagai manusia, aku harus minta maaf. Namun
ketika berada di depan Kain, aku bahkan tidak sanggup menatap wajahnya dan
malah mengabaikannya.
"Tunggu, Mashiro, Kamu tidak apa-apa!?"
Ketika menyadari bahuku digoyangkan, aku
menengadah dan melihat Otome Utako, teman yang kudapat selama pelatihan ini,
menatap wajahku dengan cemas.
"E-eh, iya, tidak apa-apa kok."
Aku terburu-buru menutupi kekagetahanku. Utako duduk di kursi tepat di
depanku dan memperhatikanku dengan lekat.
"Mashiro, apa terjadi sesuatu antara Kamu dan
Kain-kun?"
Dia mengucapkan nama yang sama sekali tidak
kuduga.
Hanya dengan mendengar namanya saja, aku bisa
merasakan jantungku berdetak kencang.
"T-tidak ada apa-apa kok... K-kenapa
memangnya?"
"Dengar ya, Kamu kelihatan aneh banget kalau
di depannya. Padahal dulunya kelihatan dekat, tapi sekarang kalau dia mengajak
bicara malah Kamu abaikan total."
"S-sungguh tidak ada apa-apa kok..."
Aku berhasil mengucapkannya dengan
bersusah payah.
Utako menatap tangan kiriku, lalu menghela napas
panjang.
"Diucapkan dengan wajah seolah dunia mau
kiamat begitu membuat katamu tidak ada buktinya sama sekali. Kalau ada
kesalahpahaman, biarlah aku yang memberitahu Kain-kun untuk membicarakannya
baik-baik."
"T-tidak, tidak usah!"
Aku menggelengkan kepala dengan
panik. Utako menatap wajahku
sejenak, lalu...
"Baiklah kalau begitu. Aku menyerahkannya
padamu, Mashiro. Tapi kalau butuh bantuan, kapan saja bisa cerita padaku,
ya."
Dia mengedipkan sebelah matanya. Di dalam dadaku
yang dingin, terasa ada kehangatan yang perlahan menyala.
"Terima kasih."
Aku mengucapkan rasa terima kasih yang mendalam
pada teman yang mau memahami perasaanku tanpa mengintrogasiku lebih jauh.
Pelatihan praktis untuk menyelesaikan Quest Misi
akhirnya dimulai.
Ini adalah pelatihan tempat kami mengatasi
berbagai masalah di Kota Yuni bersama para Hunter profesional. Pelatihan ini
dilakukan bergantian bersama para Ranker tingkat atas untuk menyelesaikan Quest
Misi secara langsung.
Pertama-tama adalah Quest Misi menyembuhkan
orang-orang terluka di rumah sakit lapangan di bawah bimbingan
"Angels", Misumi Chika—Anggota No. 2 dari Clan Rank S 【Glorious】 yang dipimpin oleh
Yoshimine Masayoshi alias "Saviour".
"Pria dengan luka robek di kepala itu cuma
luka ringan. Pakai Heal!"
Instruksi tegas terdengar dari seorang wanita yang
mengenakan jas laboratorium putih di atas gaun terusan hitam bertali rendah.
"Baik!"
Ran mengangguk patuh lalu merapal Heal pada
pria yang mengalami luka di kepala akibat kejatuhan batu. Karina dan Makoto
yang juga bisa menggunakan Heal terus merapal sihir tanpa henti.
Beruntung bagiku, Tatsuya dan Kain yang tidak bisa
menggunakan Heal berada di ruangan lain, bertugas memindahkan pasien dan
mengangkat barang-barang.
Ngomong-ngomong, menyadari perlawanannya sia-sia,
Tatsuya mulai bergerak mengikuti instruksi Kain.
Mungkin Kain dasarnya suka mengasuh, dia
mengajarkan sihir penguat fisik tanpa rapalan kepada Tatsuya. Tadi para staf
medis sampai melotot tak percaya saat melihat Tatsuya membawa peralatan medis
yang ukurannya beberapa kali lipat dari tubuhnya.
Dan aku pun...
Ketika aku menyalurkan mana berwarna perak
keputihan dan merapal Heal, luka bakar yang parah langsung sembuh
seketika.
"Wah~ Heal milik Mashiro-chan daya
pemulihannya luar biasa banget, ya."
Takeshi yang ada di sampingku bersuara dengan nada
santai. Dia juga salah satu orang yang mencemaskan hubunganku dengan Kain.
"Benar, itu sih sudah bukan di tingkat Heal
biasa lagi."
Karina ikut bergumam terhenyak.
"Tidak kok, aku pikir ini berkat Takeshi.
Mungkin kecocokan mana milikku dengannya sangat baik."
Takeshi memberikan buff peningkatan efek mana pada
kami, sehingga menghasilkan peningkatan daya pemulihan Heal yang amat
signifikan.
Terlebih lagi warna mana milik Takeshi adalah
perak keputihan. Warna yang sama dengan manaku, jadi efek sinerginya semakin
mendongkrak efek dari Heal milikku.
"B-begitu ya..."
Takeshi menggaruk-garuk rambutnya dengan canggung
karena merasa malu.
"Hei, kalian di sana, jangan melamun!
Gerakkan tangan kalian, bukan mulut kalian!"
Suara teguran datang dari sang
"Angels", dan kami kembali berkonsentrasi pada pengobatan.
Setelah pengobatan selesai, sang
"Angels" mendekati kami yang sudah kelelahan.
"Ya~i! Dengan ini pelatihan
pertolongan medis dua minggu telah selesai~ Beristirahatlah yang cukup di
asrama, ya~"
Berbeda dari ketegasannya tadi,
dia memberikan instruksi kepada kami berlima dengan suara yang amat santai dan
terseret.
"Terima kasih banyak!"
Kami berlima membungkuk pada
instruktur wanita tersebut.
Misumi Chika yang berjuluk
"Angels" adalah Hunter tipe medis terkemuka di Jepang dan orang yang
sangat terkenal karena sering muncul di media.
Banyak orang menjadi Hunter karena
mengaguminya, dan karismanya jauh melebihi idola biasa. Awalnya kami semua
merasa tegang saat berinteraksi dengannya, namun karena dia perhatian dan
dasarnya baik hati, semua orang akhirnya menjadi akrab. Aku sendiri juga merasakan kekaguman yang kuat
padanya.
(Seandainya aku punya pesona seperti itu...)
Saat aku buru-buru menggelengkan kepala untuk
mengusir pemikiran yang tiba-tiba muncul itu...
"Mashiro-chan~ Sebagai perwakilan Kelas F,
ada masukan dari Master kami nih. Bisakah kamu datang ke lantai dua setelah
ini~?"
Sang "Angels" memegang bahuku sembari
tersenyum dan mengedipkan sebelah matanya. Lalu...
"Kalau begitu, selamat berjuang ya~"
Sambil mengucapkan kata-kata itu dengan suara
jernih, dia berjalan menuju ruangan berdinding kaca di mana Kain dan Tatsuya
berada.
"Enak banget ya, aku juga mau
dipanggil."
Ran mengerucutkan bibirnya dan
mengeluh, tapi...
"Mau bagaimana lagi. Menurutku memang
kelompok ini berpusat pada Mashiro dan Kain-kun. Lagipula lihat tuh, Kain-kun
sekarang kelihatan sibuk, kan?"
Karina menimpali dengan nada riang entah kenapa.
"..."
Tatapan tanpa kata dari kami semua langsung
tertuju pada Karina.
"A-apaan sih?"
"Karina, apa Kamu suka Tatsuya?"
Mendengar teguran Makoto, wajah Karina seketika
berubah merah padam.
"Mana mungkin lah! Si bertubuh gemuk yang
tidak punya perasaan begitu adalah kebalikan total dari tipe idealku!"
Dia berteriak penuh emosi dan membantahnya dengan
galak.
Akhir-akhir ini Karina sering membicarakan
Tatsuya, dan aku sendiri sempat berpikir jangan-jangan memang begitu. Melihat
reaksinya yang berlebihan, sepertinya dia memang tidak sepenuhnya membencinya.
"Hmm~ Begitu ya. Karina toh~"
Ran menyunggingkan senyum jahat
dan menyeringai sambil menutup mulutnya.
"Kan sudah kubilang
bukan!"
Sambil tersenyum kecut melihat
Takeshi yang mencoba melerai mereka berdua yang akhirnya bertengkar fisik, aku
berjalan menuju lantai dua yang ditentukan oleh sang "Angels".
"Eh?"
Pernyataan dari pemimpin 【Glorious】, Yoshimine
Masayoshi alias "Saviour", adalah sesuatu yang benar-benar tidak bisa
kupercaya.
"Wajar jika Kamu tidak
percaya. Dia bukan penghuni
dunia ini. Tsukishiro Kanon pasti adalah kerabat dari para Vampir. Terlebih
lagi, tingkatannya cukup tinggi."
Dokumen yang diserahkan oleh "Saviour"
adalah laporan penyelidikan mengenai Kain, yang berisi tiga poin utama.
Pertama, hasil pemeriksaan panah yang dilepaskan
Kain menunjukkan bahwa bahannya terdiri dari zat yang berbeda dari dunia ini.
Kedua, DNA dari air liur yang diambil setelah Kain
makan menunjukkan adanya wilayah tak tertandingi yang berbeda dari manusia
biasa.
Ketiga, penelitian Asosiasi menyimpulkan bahwa
perubahan DNA ini mirip dengan reaksi yang terjadi saat kerabat Vampir merasuki
manusia.
"K-seberapa besar tingkat
kepercayaan dari fakta ini!?"
Meskipun merasa shock seolah-olah
kepalaku dipukul langsung dengan palu, aku tetap bertanya pada
"Saviour".
"Ini adalah kesimpulan yang
diambil oleh Departemen Penelitian berdasarkan sampel yang diambil oleh
Departemen Penyelidikan Asosiasi Hunter. Kami berpikir kemungkinan besar dia
adalah tubuh yang dirasuki oleh kerabat Vampir."
"Kain... kerabat Vampir?"
Aku merenungkannya berkali-kali, tapi aku tidak
bisa benar-benar merasakannya.
Tidak, bukan begitu. Aku pasti cuma tidak ingin
percaya. Bahwa dia adalah musuh yang membunuh adik laki-lakiku.
"Kami juga telah melakukan penyelidikan
rahasia, dan Tsukishiro Kanon beserta 【Akudou】 dan anggota 【Akuki Guraku】 lainnya kemungkinan
besar bersalah. Mereka ada hubungannya dengan para Vampir. Mungkin berpindahnya
kamu ke lantai bawah Dungeon juga bukan suatu kebetulan."
"Tapi, dia sudah menyelamatkanku!"
"Benar! Karena itulah kami awalnya mengira
dia berada di pihak kemanusiaan. Namun, dari penyelidikan nyata Departemen
Penyelidikan, dia berada di area abu-abu yang sangat mendekati bersalah."
"Ini baru dugaan kami, tapi kami berpikir
apakah dia bukan pembunuh bayaran yang dikirim oleh para Vampir."
"Pembunuh bayaran... dari Vampir?"
"Benar. Kamu juga tahu soal kasus pembunuhan
yang menargetkan anggota Asosiasi baru-baru ini, kan?"
"I-iya."
Kalau dipikir-pikir, siaran berita nasional di TV
memang sering melaporkan bahwa kediaman para petinggi Asosiasi di sekitar Kota
Yuni diserang secara beruntun.
"Di antara korbannya, ada juga Hunter Rank S,
【Meido
Gaeshi】.
Menurutmu, apa ada orang lain yang bisa melakukan hal seperti ini selain
dia?"
Aku tidak berpikir ada orang lain.
Hunter Rank S adalah keberadaan di luar nalar manusia. Mereka tidak akan bisa
diinsafkan atau dibunuh dengan mudah, dan kalaupun diserang, penyerangnya pasti
akan dihabisi balik.
Seandainya terjadi pertarungan, daerah sekitarnya
pasti akan mengalami kerusakan parah.
Benar. Kecuali jika penyerangnya adalah Kain.
Dengan teknik bertarung Kain, membunuh lawan tanpa memberi kesempatan untuk
melawan sedikit pun adalah hal yang sangat mungkin. Namun...
"Jika dia adalah tubuh yang dirasuki oleh
kerabat Vampir, mengapa dia bisa bergerak bebas di dalam Tembok Putih?"
Jika seorang yang dirasuki bisa bergerak bebas di
dalam dan di luar tembok, kemanusiaan pasti sudah punah sejak lama. Perbedaan
kekuatan antara manusia dan pihak Vampir memang sebesar itu.
"Pengamatan yang sangat bagus! Ini adalah
informasi yang disembunyikan oleh Asosiasi, tapi tubuh yang dirasuki kerabat
Vampir yang menyusup ke dalam tembok bukanlah yang pertama kalinya."
"Bukan yang pertama kalinya!?"
"Benar. Sampai saat ini sudah ada tiga kasus
penyusupan ke dalam tembok oleh tubuh yang dirasuki. Semuanya hanya memiliki
kekuatan yang tidak berbeda jauh dengan manusia biasa."
"Pasti ada batasan yang membuat kekuatan
Vampir tidak bisa digunakan sama sekali di dalam tembok. Di bawah batasan
itulah dia bergerak sesuai perintah para Vampir. Kasus pembunuhan petinggi
Asosiasi adalah contohnya. Dan tujuan akhir mereka, sembilan puluh sembilan
persen adalah penghancuran tembok."
"Penghancuran tembok!? Apa hal seperti itu
mungkin!?"
"Ya, mungkin saja. Ini adalah masalah dengan
tingkat kerahasiaan tertinggi, tapi tidak apa-apa jika kuberitahukan padamu
yang akan memikul masa depan dunia Hunter."
"Tembok itu bisa dikatakan sebagai kotak
hitam. Diperlakukan sebagai informasi rahasia tingkat tertinggi yang hanya
dikuasai oleh jajaran atas Asosiasi. Kasus penyerangan petinggi Asosiasi kali
ini juga dilakukan untuk menggali informasi demi menghancurkan tembok."
Perbedaan kekuatan antara Vampir dan manusia sudah
sangat jelas. Jika tembok itu lenyap, dalam hitungan hari umat manusia akan
punah.
Untuk memecahkan situasi jalan buntu ini, mereka
mengirimkan monster bernama Kain ke pihak manusia. Memang benar, jika
dipikir-pikir seperti itu, semuanya jadi masuk akal. Tidak, segalanya justru
terlalu pas.
"T-tapi, apa ada buktinya!? Apa ada bukti
bahwa dialah yang menyergap mereka!?"
Aku bertanya dengan suara gemetar. Itu wajar.
Karena aku sama sekali tidak ingin percaya bahwa pria selembut dia adalah
kerabat Vampir.
"Ada. Sidik jarinya ditemukan di tempat
kejadian pembunuhan 【Meido Gaeshi】."
"Maafkan saya. Saya sungguh tidak bisa
mempercayainya. Tolong beri saya waktu sebentar lagi."
Aku sama sekali tidak mau membenarkannya. Yang ada
di kepalaku saat itu hanyalah bagaimana cara membuktikan bahwa dia tidak
bersalah.
"Baiklah. Dua minggu setelah pelatihan
Dungeon nanti, kalian bersama 【Akuki Guraku】 akan berpartisipasi dalam misi pemusnahan
organisasi perdagangan manusia, 'Gremlin'. Sebelum saat itu tiba, aku ingin
jawaban."
"Karena itu, ada sesuatu yang ingin kuminta
padamu. Bagaimana?"
"Bagaimana jika aku menolaknya?"
"Kamu sudah mengetahui banyak hal, jadi aku
berencana melaksanakan pelatihan ini tanpamu. Tapi tidak perlu khawatir.
Kalaupun begitu, aku akan berusaha meminimalkan korban dari anggota Kelas F
sedapat mungkin."
Seharusnya aku menolak permintaan seperti ini.
Namun aku...
"Saya mengerti. Mohon bantuannya."
Aku justru menyetujuinya.
Selama dua minggu setelahnya, aku terus tidak
ingin percaya. Aku sangat menginginkan bukti untuk membantahnya.
Hanya dengan pemikiran itu, aku menuruti instruksi
"Saviour" untuk menggeledah barang-barang Kain.
"Maafkan aku, Kain!"
Sambil meminta maaf berkali-kali di dalam hati,
aku memeriksa isi tasnya saat dia sedang mandi.
"Ini kan..."
Di dalam amplop cokelat di dasar tas Kain,
terdapat kartu keanggotaan Hunter milik 【Meido Gaeshi】 yang berlumuran darah.
"Tidak mungkin! Ini pasti ada yang
salah!"
Sambil berjuang keras memikirkan alasan bagus
bahwa Kain bukanlah pelakunya, aku menggeledah lebih jauh, dan menemukan benda
itu.
"Eh?"
Suara serak keluar dari mulutku. Benda itu terlipat rapi dan
tersimpan di bagian paling dalam tas.
Sebuah saputangan lusuh berwarna
putih dengan gambar kelinci. Aku sangat mengenal saputangan itu.
"Kenapa Kain bisa memiliki ini?"
Aku bertanya pada diriku sendiri, namun entah
bagaimana aku bisa menebak alasannya.
Sebab, saputangan itu adalah hadiah yang kuberikan
dulu kepada adik tiriku, Mikage Umi.
Memang dia agak mirip dengan Umi.
Namun, tidak mungkin dia adalah Umi.
Pertama, warna rambutnya abu-abu,
bukan hitam. Kain juga
bukannya hilang ingatan. Dia punya kampung halaman di dunia ini, punya teman,
dan punya keluarga.
Dan yang paling penting—Umi tewas tertimpa
bangunan tepat di depan mataku. Aku mengingat momen terakhir itu dengan sangat
jelas.
Dengan kata lain, saputangan ini dirampas dari Umi
yang tewas di tengah kekacauan saat itu. Artinya—artinya itu—
"Kain adalah... musuh yang membunuh
Umi?"
Aku pernah mendengar bahwa di antara kerabat
Vampir, ada yang mengumpulkan barang-barang milik manusia yang sudah mati dan
mengenakannya seolah-olah sebagai piala kemenangan.
Jika Kain adalah komandan dari monster-monster
ular itu, dan dia mengambil saputangan itu dari jasad Umi...
"Tidak..."
Pertahananku yang terakhir hancur
berantakan.
Mengetahui dengan pasti bahwa Kain
adalah orang yang telah merebut sosok paling berharga bagiku, segala hal yang
tidak kupahami selama ini tiba-tiba menjadi sangat masuk akal.
"Aku... konyol sekali..."
Air mata menetes membasahi pipiku. Lagipula,
selama ini aku terus dibodohi.
"Tapi, ini sungguh menyakitkan..."
Di saat yang sama, aku menyadarinya dengan sangat
jelas. Bahwa aku telah jatuh cinta pada Tsukishiro Kanon.
"Aku tidak akan memaafkanmu!"
Mengecap air mata dan berusaha membuang
perasaanku, aku melepas cincin dari Kain yang terpasang di jari tangan kiriku
lalu melemparkannya sekuat tenaga keluar jendela.
Cincin itu membentuk garis lengkung melayang dan
jatuh terperosok ke sungai di dekat situ.
"Aku benar-benar tidak akan memaafkanmu! Aku
tidak akan membiarkanmu melakukan sesukamu! Aku sendiri yang akan melindungi
semuanya!"
Saat aku berteriak seperti itu, aku menyadari
sesuatu yang sangat pekat dan gelap lahir di dalam diriku.
Sesuatu itu seolah membilas habis diriku yang
sempat tertarik pada Kain, dan kurasa di saat yang sama aku merasakan kepedihan
yang amat sangat beserta rasa rindu yang aneh.
◇◆◇
Setelah pelatihan pertolongan medis dan dua minggu
pelatihan Dungeon, kami dari Kelas F bergabung dengan Clan Rank S 【Akuki Guraku】 untuk menjalankan
misi pemusnahan organisasi perdagangan manusia yang konon berada di Kota Yuni,
'Gremlin'.
'Gremlin' adalah organisasi kriminal Rank A yang
menangkap manusia lalu mengirim mereka ke luar Tembok Hitam demi mendapat
imbalan dari para Vampir.
Sebuah organisasi sampah terburuk yang menjual
sesama manusianya kepada para Vampir. Karena itulah, Clan yang paling keras dan
kejam seperti 【Akuki Guraku】 yang dipilih.
Monster berwujud seperti belut
lamprey yang mendekat sambil menggelegarkan tanah, Ruroujuu.
Mereka adalah binatang buas yang
muncul di wilayah tak bertuan antara Tembok Putih dan Tembok Hitam, dan
menyerang baik manusia maupun Vampir.
"Double Boost! ― Physical
Boost! ― Magic Boost!"
Saat Takeshi menggoreskan sesuatu di
udara dengan jari telunjuk kanannya, seluruh tubuh Mashiro bersinar terang.
"Hap!"
Dengan kecepatan tinggi, Mashiro
memenggal leher empat monster berwajah belut lamprey menggunakan Pedang Suci
sebelum mereka sempat bereaksi sedikit pun.
Di saat bersamaan, dia menebas
monster yang menyerang dari belakang secara vertikal hingga terbelah dua dengan
tebasan angin dari Pedang Suci.
"Hyuu~!"
Pria berkacamata hitam dengan
penampilan berandalan yang merupakan Anggota No. 2 dari 【Akuki Guraku】 menyeringai
lebar dan bersiul melihat pertarungan Mashiro.
Monster-monster memang terus
bermunculan seperti ini, namun Mashiro selalu menghabisi mereka dalam satu
pukulan.
Para anggota 【Akuki Guraku】, termasuk 【Akudou】, hanya diam
mengamati dari jauh.
Kombinasi Mashiro dan Takeshi semakin lama semakin
luar biasa bagaikan dewa.
"Kelihatannya makin bagus saja, ya."
Pria berkepala botak dan berotot kekar yang
mengenakan kaos kutang, 【Akudou】, bersuara gembira sambil mengapit rokok di mulutnya.
"Master, tolong jangan
main-main pakai bocah-bocah itu, ya. Soalnya kalau nanti diamuk Tuan Mekora,
yang bakal kena omel kan kami juga."
Melihat hal itu, pria berkacamata
hitam yang berada di sisinya menyampaikan permohonan yang teramat sangat kepada
【Akudou】.
"Bakal kuusahakan!"
Jawab 【Akudou】 lalu melangkah pergi sambil
mengapit rokoknya.
"Mashiro, kamu terlalu maju sendirian. Jangan
bertindak nekat."
Aku mendekati Mashiro dan memberinya peringatan
sekadarnya dengan suara pelan.
Entah kenapa Mashiro belakangan ini agak aneh. Dia
tidak mau bekerja sama dengan siapa pun selain Takeshi, dan berusaha
mengalahkan semua monster sendirian.
Lebih tepatnya, dia kelihatan bertarung karena
didorong oleh rasa benci terhadap monster.
"Jangan mendekatiku! Jangan bicara
padaku!"
Dengan mata yang menatapku seolah aku ini musuh
bebuyutan keluarganya, dia membentakku dengan keras lalu berjalan menjauh.
(Hei, apa terjadi sesuatu antara kamu dan
Mashiro?)
Karina dan Ran mendekat dengan ekspresi tak tahan
cemas lalu bertanya dengan suara bisik-bisik.
(Aku sendiri sama sekali tidak tahu. Sejak empat
hari lalu dia terus-terusan begitu.)
Aku tidak merasa telah melakukan apa pun, tapi
sejak empat hari lalu sikap Mashiro padaku berubah drastis dan selalu meluapkan
kebencian padaku setiap ada kesempatan.
(Apa kamu tidak sengaja mengintip Mashiro saat
ganti baju?)
(Atau waktu jatuh, kamu tidak sengaja meremas dada
dahsyatnya itu?)
Karina dan Ran mulai berbicara asal-asalan sesuka
hati mereka.
(Kalian berdua ini sebenarnya menganggap aku ini
apa, sih?)
Aku bertanya pada mereka berdua dengan tatapan
sipit.
(Si mesum beruntung tanpa
sengaja.)
(Pria tidak peka dan tidak sadar
diri yang suka salah paham.)
Jawaban yang sangat tidak
menyenangkan datang dari mereka.
Mendengar itu, Takeshi menutupi
mulutnya dan menahan tawa. Tatsuya juga memalingkan wajah dan gemetaran menahan
tawa.
Si Tatsuya itu, padahal sejak ikut
bertarung dia sudah makin terbiasa, tapi wajahnya masih cemberut sepanjang
waktu... Kenapa cuma di saat seperti ini saja dia tertawa!
(Tapi, kalau dia bertindak gegabah
sendiri terus begini bakal merepotkan. Paling parah, kita juga bisa kena
bahaya.)
Mendengar teguran masuk akal
Makoto...
(Kalau menurutku sih, Ane-sama
juga punya andil atas penyebabnya.)
Karina menyela dengan mata menyipit seolah ingin
menyalahkan.
(Maaf. Tapi sampai sekarang pun aku tidak
menyesali pilihanku.)
Ucap Makoto dengan tegas dan wajah
serius.
(Cukup bahas soal ini! Kan janjinya
begitu!)
Ran menembakkan pandangan tajam pada
mereka berdua sebagai peringatan.
(Pokoknya, yang dimusuhi Mashiro cuma Kain-kun.
Kain-kun harus bertanggung jawab untuk meluruskan kesalahpahaman ini. Ane-sama
juga setuju, kan?)
Karina memastikan dengan senyuman.
(Terserah kalian saja...)
Makoto melirikku sekilas, lalu memalingkan wajah
saat bicara.
"Hei, bocah-bocah! Malah asyik mengobrol! Ini
area musuh! Jangan lengah!"
Kami dimarahi oleh 【Akudou】.
"Benar juga. Ayo jalan!"
Saat aku mulai melangkah, yang lain pun
mengikutiku berjalan maju.
(Takeshi, nanti aku akan bicara dengan Mashiro.
Bisakah aku menyerahkannya padamu sampai saat itu?)
Aku mendekati Takeshi dan mengatakannya dengan
suara pelan yang hanya bisa didengar olehnya.
(Sip, serahkan padaku.)
Dengan ekspresi serius, Takeshi mengacungkan
jempolnya sambil berbisik, dan aku pun mengangguk pelan.
Saat kami memasuki area depan stasiun yang sudah
hancur, serangan dari Ruroujuu mendadak berhenti.
Di saat yang sama, aku merasakan sensasi hambatan
unik seolah-olah memasuki air.
Meski begitu, yang menyadarinya hanyalah 【Akudou】 yang sedikit
mengernyitkan alis, aku, dan Takeshi yang terus-menerus memiringkan kepalanya
bingung.
Mashiro dan murid-murid lainnya, tentu saja,
bahkan para anggota 【Akuki Guraku】 pun tetap melanjutkan penyelidikan tanpa mengubah ekspresi mereka seolah
tidak terjadi apa-apa.
Lagipula...
"Buruk sekali..."
Penghalang ini terlalu amatir. Levelnya bisa
langsung kuhancurkan dengan pisauku dalam sekejap.
Mungkin efektivitasnya cuma sebatas menahan gerak
orang yang masuk ke dalam penghalang.
"Ada apa, Kain?"
Tanya Takeshi sambil mengernyitkan alis.
"Tidak, bukan apa-apa kok."
Jawabku sambil tersenyum.
"Hei, dari tadi rasanya ada yang menempel
licin di kulitku, ya?"
"Kalau kamu membicarakan hal mesum di situasi
begini, nanti bisa kena omel lho."
Sambil memandang 【Akudou】 yang masih menyunggingkan senyum
jahatnya, aku menggedikkan bahu prihatin.
"B-bukan begitu maksudku!"
Sambil merinding, Takeshi menggenggam erat tongkat
senjatanya dan mulai celingukan memeriksa sekeliling.
Bahkan aku dan Takeshi saja menyadarinya. Walau
berpura-pura tenang, anggota 【Akuki Guraku】 pun pasti menyadarinya. Kurasa mereka
sudah cukup menyiapkan antisipasi terhadap penghalang ini.
"Ada yang datang!"
Mendengar suara tajam Mashiro, seluruh anggota
Kelas F langsung pasang kuda-kuda. Dari dalam bangunan stasiun, muncul seorang
bocah laki-laki berusia sekitar tujuh hingga delapan tahun yang berjalan pelan.
Pakaiannya rombeng dengan wajah terbalut lumpur
dan jelaga. Ditambah lagi sebuah kerah yang terpasang di lehernya serta tali
tak kasatmata yang membentang di belakangnya.
Meskipun dinamakan tak kasatmata, karena mana
terus-menerus terpancar darinya, bagiku hal itu terlihat sangat jelas.
(Sampah-sampah ini...!)
Mengetahui dengan pasti apa yang coba dilakukan
oleh mereka, aku berbisik pelan tanpa sadar.
"Orang yang butuh
pertolongan!? Ayo segera selamatkan!"
"Dimengerti!"
Menghentikan langkah Makoto dan
Karina yang bersiap berlari dengan lengan kananku...
"Itu jebakan."
Ucapku tegas dengan nada suara
dingin yang bahkan membuat diriku sendiri merinding.
"T-tapi, Kain, anak itu cuma sendirian!"
Tanpa menjawab Makoto yang menyampaikan sanggahan
wajar sambil kebingungan melihat perubahanku yang tiba-tiba...
"Bagian ini biar aku yang
urus. Kalian semua harap tunggu di belakang."
Deklarasiku dengan nada bicara
yang kuat.
"Jangan bercanda! Di saat
nyawa seorang anak terancam begini, mana bisa kuserahkan padamu!"
Mashiro meninggikan suaranya dan mengucapkan
kalimat penolakan, namun...
"Kamu harusnya sadar, kan? Itu jelas-jelas
jebakan."
Ucapku perlahan seolah menasihatinya. Mana sejelas
itu terpancar. Jika Mashiro punya intuisi yang tajam, dia pasti bisa melihat
tali tak kasatmata itu.
"Masa bodoh! Akan kuhancurkan bersama
jebakannya sekalian!"
Mashiro berteriak penuh emosi sambil menampakkan
giginya. Benar-benar seperti anak kecil.
Begitu memberikan jawaban nekat seperti ini, sudah
pasti dia sedang tidak tenang.
Jika Mashiro bertindak dalam kondisi begini, bisa
saja terjadi hal yang tidak diinginkan. Lebih baik aku saja yang
membereskannya.
"Itu namanya terlalu percaya diri. Apa Kamu
jadi sombong hanya karena sudah bisa mengendalikan warna mana? Padahal, orang selevel Kamu itu
ada banyak sekali bertebaran di dunia ini. Kamu yang lemah ini mau
menghancurkan jebakan sekalian? Paling-paling Kamu cuma bakal mati bersama anak
itu."
Setelah menyampaikan hal itu
secara sepihak kepada Mashiro, aku berbalik menghadap 【Akudou】.
"【Akudou】-san,
bolehkah saya yang menanganinya?"
Aku meminta izin padanya.
"Lakukan sesukamu."
Seperti yang sudah kuduga, 【Akudou】 mengangkat sudut
bibirnya dan memberikan izin dengan mudah.
"【Akudou】-san, kalau itu sih terlalu..."
Pria berkacamata hitam mencoba membujuknya untuk
mengubah pikiran secara terburu-buru, tapi...
"Hei, Kazu. Apa kamu tidak mendengar apa yang
kukatakan tadi!?"
"T-tidak..."
Dengan satu gertakan, 【Akudou】 membungkam Kazu,
pria berkacamata hitam itu.
Dengan ini, persiapannya sudah selesai.
Sambil menyunggingkan senyum lembut, aku berjalan
pelan mendekati bocah itu.
Wajah bocah itu merengut kesal dan meneteskan air
mata, namun jauh di dalam matanya, terlihat kemarahan yang amat sangat.
Artinya, dia sama sekali belum menyerah sedikit pun.
Tekad hidup bocah ini yang begitu kuat mungkin
bisa memberikan pengaruh bagus bagi Tatsuya. Lagipula, aku memang berencana
melangkah ke tahap selanjutnya dalam mendidik Tatsuya. Mari kita serahkan bocah
ini pada Tatsuya.
Aku mendekati bocah itu, memutus tali tak
kasatmata yang membentang dari kerah lehernya, lalu menggenggam tali tak
kasatmata itu dengan tangan kananku.
Di saat yang sama, aku merangkul bocah yang hendak
roboh itu dengan lengan kiriku, mundur ke arah Tatsuya yang ada di belakang,
lalu menyerahkannya padanya.
"Tatsuya, lindungi dia."
Ucapku memberikan instruksi seperti biasa pada
Tatsuya yang menerima bocah itu dengan ekspresi terkejut.
"K-kenapa harus aku...!"
Kepada Tatsuya yang masih menolak instruksi di
saat seperti ini...
"Lindungi dia. Mengerti?"
Aku hanya memalingkan wajah dan
menakut-nakutinya seperti biasa sambil memberikan tekanan lewat senyuman lebar.
"Sir, yes sir!"
Dia membusungkan dada dan
menganggukkan kepalanya berkali-kali. Padahal dia pasti tahu kalau tidak akan
bisa menolaknya.
"Ngomong-ngomong, kalau bocah
itu tergores luka sedikit saja, perlakukanmu di kelompok ini akan beralih ke
Mode Hard."
"Jadi selama ini masih belum
Mode Hard, toh..."
Mendengar tanggapan Tatsuya yang
penuh keputusasaan...
"Ya. Masih Mode Tamu."
Pipi Tatsuya kedutan mendengar
jawabanku. Dia lalu maju ke depan untuk melindungi bocah itu sambil mencabut
pedang panjangnya dan mengambil posisi siap bertarung.
Sisa hal lainnya adalah...
"Gigagagagiiiiiii~!"
Mungkin karena marah. Suara pekikan
yang menggetarkan udara membuat tali tak kasatmata yang kugenggam di tangan
kanan ikut bergetar. Sepertinya
monster itu sangat murka saat menyadari mangsanya telah lolos.
"Apa Kamu begitu ingin
bertemu dengan kami sang mangsa? Kalau begitu akan kubuat Kamu bertemu!"
Aku menarik tali tak kasatmata yang kugenggam di
tangan kanan sekuat tenaga.
"Gigigiiii~!"
Sambil mengeluarkan pekikan,
sebuah gumpalan cokelat besar terangkat ke udara.
Aku mengendalikan tali tak
kasatmata yang masih kugenggam, lalu menghempaskannya sekuat tenaga ke area
tanah yang kosong.
Diiringi suara letupan sesuatu
yang hancur berkeping-keping, gumpalan cokelat besar itu menyemprotkan darah
hijau dan potongan daging ke segala arah.
Dari dalam stasiun, muncul tiga
monster laba-laba raksasa secara bergerombol.
"Sampah-sampah ini...!"
Aku meludah gusar lalu mencabut
dua pisau dari pinggangku. Sambil melintas cepat di antara mereka, aku
mencincang semua laba-laba raksasa itu hingga hancur dan melesat masuk ke dalam
stasiun.
Monster-monster laba-laba tampak
menggeliat dan berkerumun di aula stasiun yang luas.
Di tengah-tengah perlindungan
monster-monster itu, aku melihat seorang pria paruh baya berkepala botak
mengenakan hoodie hitam yang mengenakan kupluk, dengan tato iblis di pipinya
berdiri tegak.
"Apakah kamu yang menjadikan
bocah itu sebagai umpan?"
Suara pertanyaan yang keluar dari
mulutku terasa sangat dingin hingga membuat diriku sendiri merinding.
"Mana mungkin bocah seperti ini bisa membunuh
Poison Spider milikku. Tidak salah lagi kalau hunter tingkat tinggi
sedang menyerang. Haruskah aku segera kabur dari sini dan melapor pada
Bos...?"
Pria paruh baya berkepala botak itu sama sekali
tidak menjawab pertanyaanku. Dia melipat tangan dan bergumam sendiri, lalu naik
ke atas kepala laba-laba raksasa di belakangnya.
Dengan teknik langkah kaki khas yang diwariskan
dalam Seni Beladiri Kuno Tsukishiro, aku memangkas jarak.
Lalu memotong laba-laba raksasa yang
ditungganginya menjadi serpihan halus menggunakan Seni Pisau Tsukishiro Tingkat
Dasar―【Shisen】.
Seketika kemudian, garis tebasan muncul di tubuh
laba-laba raksasa itu―
"Uwogh!?"
Laba-laba raksasa di bawah kakiku hancur menjadi
serpihan daging. Pria paruh baya berkepala plontos itu kehilangan keseimbangan
dan terlempar ke atas lantai yang keras.
"Aku tanya sekali lagi. Apakah kamu yang
menjadikan anak laki-laki itu sebagai umpan?"
Aku memastikannya lagi dengan nada bicara yang
tidak menerima bantahan.
"Mustahil! Keparat, apa yang baru saja kamu
laku— Gugek!?"
Aku mendekati pria paruh baya berkepala plontos
yang meracau dengan ekspresi terkejut itu. Aku menahan kekuatanku dan menendang
ulu hatinya. Lalu....
"Jawab saja apa yang kutanyakan."
Aku mengintimidasinya sambil memamerkan senyum
palsu.
"Gogek! Gohak!"
Ia memuntahkan seluruh isi perutnya. Dengan wajah
putus asa, ia melompat ke belakang untuk menjaga jarak dariku.
"Pasukan Poison Spider, bunuh bocah
itu!"
Ia memberikan perintah. Monster-monster laba-laba raksasa itu serentak
menerjang ke arahku.
"Mengganggu saja."
Aku meludahkan kata-kata itu. Menggunakan garis
kematian, aku memotong-motong dan membunuh semua laba-laba raksasa di dalam
stasiun.
Dalam sekejap, cairan tubuh berwarna hijau
berhamburan. Pemandangannya seperti ember raksasa yang baru saja ditumpahkan.
"Hihe?"
Pria itu celingukan menatap sekeliling. Wajahnya
dengan cepat memucat, seolah ia akhirnya memahami situasi yang sedang
menimpanya.
"Ini kesempatan terakhirmu. Apakah kamu yang
menjadikan anak laki-laki itu sebagai umpan?"
"A-Ampuni aku! Aku akan melakukan apa pu—
Aaah!?"
Aku memotong lengan kanannya. Ia pun meronta-ronta
sambil berteriak histeris.
"Jika kamu tidak mau bicara, aku hanya perlu
membuatmu ingin bicara."
Aku mendekat dan menendangnya
melambung. Ia berteriak seperti katak yang terinjak, memantul di lantai
berkali-kali, lalu kepalanya menabrak gerbang tiket.
"T-Tunggu! Aku akan bicara,
aku akan bicara! Aku yang melakukannya!"
Pria paruh baya berkepala plontos
itu berteriak kencang. Wajahnya sudah berantakan oleh air mata dan ingus.
"Begitu, ya...."
Aku berjalan pelan mendekatinya. Kutendang wajahnya ke atas hingga ia
kehilangan kesadaran.
Mereka adalah bajingan yang menjual umat manusia
kepada vampir. Apalagi pria ini, ia berniat mengumpankan anak itu beserta kami
semua kepada laba-laba.
Orang dewasa kotor mencoba
mengorbankan seorang anak kecil. Sampah semacam ini bahkan lebih hina dari
monster.
Lebih tepatnya, orang-orang
seperti ini lebih aman jika disingkirkan dari dunia ini secepatnya. Ya, kalau
aku yang biasanya, aku pasti sudah langsung membereskannya.
Hm? Aku yang biasanya? Seingatku,
aku tidak memiliki pola pikir untuk langsung membunuh meskipun berhadapan
dengan orang jahat.
Yah, biarlah. Lagipula, membunuh
pria ini sekarang adalah langkah yang buruk. Ada alasan yang sangat jelas untuk
itu, yaitu—
"Kenapa kamu tidak
membunuhnya!?"
Aku menolehkan wajah ke arah
sumber suara tajam itu. Kulihat Mashiro sedang menatap pria plontos yang
pingsan itu dengan kebencian layaknya binatang buas.
Di sampingnya, Akudou menatapku
sambil melipat tangan dengan wajah serius.
Benar. Inilah alasanku tidak bisa
membunuh sampah ini. Kebencian Mashiro terhadap vampir benar-benar tidak
normal.
Lebih tepatnya, Mashiro membenci
segala sesuatu yang berhubungan dengan vampir secara mendalam dan murni.
Bagi Mashiro, vampir dan para
kerabatnya, monster yang menyerupai mereka, bahkan manusia yang bersekutu
dengan mereka hanyalah target untuk dimusnahkan.
Hal itu sudah sangat bisa kutebak dari obrolanku
dengannya selama ini.
Tentu saja, dari perkataan dan perbuatan sampah
yang sedang pingsan itu, kelompok Little Devil Gremlin telah melakukan dosa
yang setimpal. Kematian mereka pun sebenarnya menjadi hasil yang kuharapkan.
Namun, jika sampah ini ternyata tidak ada
hubungannya dengan vampir, tindakan itu hanya akan menjadi pembunuhan biasa di
mata Mashiro.
Fondasi kebenaran di dalam dirinya
akan hancur berantakan. Jika
ia membunuh para sampah ini dalam situasi seperti itu, jiwanya pasti akan
terluka parah.
Selain itu, jika aku membunuh pria paruh baya ini
sekarang, hal itu bisa memicu lepasnya kendali Mashiro. Ia bisa saja membantai
semua orang yang kami tangkap dalam misi ini.
Ada bahaya semacam itu dalam dirinya saat ini.
Karena itulah, aku harus menyatakan dengan tegas kebijakan untuk tidak membunuh
dan membuatnya mengerti.
"Perintah kita bukanlah untuk membantai
seluruh anggota Little Devil Gremlin, melainkan menghancurkan organisasinya.
Orang ini adalah sumber informasi yang penting. Masih banyak yang harus
kutanyakan padanya."
Mendengar pernyataanku yang penuh penekanan itu,
ia merespons.
"Berarti kita boleh membunuhnya setelah
menggali informasi, kan!?"
Mashiro memastikannya dengan suara rendah. Aku
sudah menduga ia akan bereaksi seperti itu.
"Membunuh tawanan itu melanggar hukum
internasional, lho."
Tidak salah lagi. Mashiro yang sekarang sedang
dirasuki oleh monster merepotkan bernama kebencian.
"Begitu, ya. Apapun yang terjadi, kita tetap
tidak boleh membunuhnya?"
"Iya."
"Kamu pasti berkomplot dengan para vampir
itu! Kamu sedang melindungi sekutumu, kan!"
Ia menodongkan ujung pedang sucinya ke
tenggorokanku. Ia menuntut jawaban dengan mata yang memerah.
"Kamu sangat salah paham. Sejujurnya, aku
sama sekali tidak peduli dengan nyawa mereka."
Aku melontarkan kata-kata itu sambil terus
menghalangi langkahnya.
"Kalau begitu, kenapa kamu
menghentikanku!"
Mashiro berteriak secara emosional.
"Karena itu adalah aturan minimum di dunia
ini sebagai seorang pejuang! Jika kita melanggarnya, kita tidak akan ada
bedanya dengan mereka."
Yah, kedengarannya munafik keluar dari mulutku
sendiri. Namun, nyawa tetaplah nyawa, meskipun itu milik bajingan tengik.
Seseorang tidak berhak membunuh orang lain tanpa
kesiapan memikul semua beban itu. Melangkah maju meski tahu ujungnya adalah
neraka.
Mashiro tidak memiliki kesiapan mental itu, dan ia
memang tidak seharusnya memilikinya. Begitulah menurutku.
"Mashiro, kamu kalah. Mundurlah."
Akudou memberikan instruksi. Namun,
"T-Tapi—!"
Mashiro langsung mencoba membantah.
"Ini adalah keputusanku! Apa bocah ingusan
sepertimu berniat menentangnya!?"
Mashiro menggigit bibir bawahnya saat dipelototi
dengan ekspresi mengerikan. Dengan tubuh gemetar karena marah, ia pergi menuju
bagian dalam stasiun.
Padahal ini di wilayah musuh, kumohon jangan
membuang amarah seperti anak kecil. Benar-benar merepotkan!
"Akudou-san, tolong ikat orang itu!"
Aku mengumpat dalam hati sambil bersiap
menyusulnya. Saat itu,
"Terlalu melindunginya juga tidak akan baik
untuk bocah itu, tahu?"
Akudou menggumamkan hal itu dengan senyum jahat
saat kami berpapasan.
Aku mengejar Mashiro dari
belakang, namun,
"Jangan ikuti aku!"
Ia melontarkan kata-kata penolakan sesuai
dugaanku. Ia
mengintimidasiku dengan gigi menggeram. Aku benar-benar sudah dianggap sebagai
musuh, ya.
"Aku menolak. Tempat ini berbahaya, mari kita
kembali."
"Jangan bicara dengan nada
menggurui!"
Amarah dan kebencian telah
membutakannya. Mungkin berbahaya jika dibiarkan lebih dari ini.
Aku mendekati Mashiro,
mencengkeram pergelangan tangan kanannya, dan menghentikan langkahnya.
"—!? Lepaskan! Lepaskan!"
Aku menghela napas panjang melihatnya
meronta-ronta layaknya anak kecil. Aku tetap berdiri di tempat sambil terus menggenggam erat pergelangan
tangannya.
"Sudah tenang?"
Latihanku tidak selunak itu sampai
bisa dikalahkan oleh kekuatan fisik gadis remaja. Sehebat apa pun Mashiro
meronta, cengkeramanku tidak akan terlepas.
Akhirnya menyadari usahanya
sia-sia, ia berhenti memberontak. Ia memalingkan wajahnya dengan sikap merajuk.
Penampilannya adalah wanita suci
yang dikagumi semua orang, tetapi isi hatinya tak ubahnya anak kecil.
Melihatnya kembali menjadi sosok
yang penuh kontradiksi seperti biasa, aku tertawa kecil. Aku tanpa sadar kalah
oleh emosi yang meluap.
"A-Apa yang lucu!?"
Ia segera menyadari hal itu.
Dengan wajah memerah, ia langsung membentakku.
"Tidak, bukan apa-apa, kok. Kalau begitu, ayo
kembali ke tempat yang lain."
Aku melepaskan tangan dari pergelangan tangannya.
Aku lalu berbalik dan mulai berjalan.
"Aku... membencimu...."
Mendengar suaranya yang pelan dari
balik punggungku,
"Aku tahu."
Aku hanya menjawab singkat seperti itu.
Sesampainya di sana, para anggota sudah berkumpul
di dalam stasiun. Berdasarkan hasil penyelidikan kelompok Akkigura, mereka
menyadari ada sebuah Barrier yang terpasang.
Sepertinya, itulah alasan yang akan mereka gunakan
untuk menjelaskan situasi kepada kami para siswa.
"Barrier ini tampaknya memiliki efek Weaken
sekaligus mengurung kita dari dalam."
Semua orang terdiam dengan wajah masam saat
mendengar laporan dari anggota Akkigura yang memiliki Skill tipe Appraisal.
Efek Weaken, ya. Sayangnya, aku sama sekali
tidak merasa terkena dampak pelemahan itu.
Namun, kurasa itu karena aku terlahir dengan fisik
khusus yang memiliki Status Resistance sangat tinggi terhadap segala
bentuk anomali.
Lagi pula, Barrier ini sendiri sangat
lemah. Semua akan selesai jika kami menghancurkannya.
Sebenarnya, tidak perlu cemas berlebihan seperti
ini. Kemungkinan besar, mereka hanya berpura-pura demi kelancaran praktik
lapangan kami.
Lagipula, pria paruh baya berkepala plontos tadi
sangatlah lemah. Tidak mungkin anggota organisasi perdagangan manusia kelas
dunia, Little Devil Gremlin, hanyalah kroco sekelas itu.
Kemungkinan besar, organisasi
kroco yang mirip telah dijadikan target latihan kali ini.
Kalau dipikir-pikir lagi, mustahil
mereka membawa amatiran seperti kami untuk menumpas organisasi kriminal kelas A
Little Devil Gremlin. Ini pasti cuma kelompok kroco kelas E.
Di tengah situasi tersebut—
"Mikan ditangkap oleh mereka!
Tolong selamatkan dia!"
Anak laki-laki yang tengah dirawat
oleh Karina dan Makoto bersaudara itu memohon. Wajahnya dipenuhi keputusasaan
dan kedua matanya berlinang air mata.
"Apakah Mikan adalah adik
perempuanmu?"
"Adikku! Kumohon! Aku akan melakukan apa
saja! Jadi, tolong selamatkan Mikan!"
Menyelamatkan adiknya, ya....
"—!?"
Tiba-tiba, sebuah memori menyusup ke dalam
benakku. Sebuah adegan saat aku menyerahkan kucing ukiran kayu kepada seorang
gadis berambut pirang sebahu. Secara refleks, tangan kananku memegangi kepala.
Aku tidak ingat pernah memberikan kucing ukiran
kayu kepada siapa pun. Terlebih lagi, aku sama sekali tidak memiliki ingatan
tentang gadis berambut sebahu itu.
"Ada apa?"
Takeshi bertanya dengan wajah
curiga.
"Bukan, bukan apa-apa."
Mari kita rapikan sedikit pemikiranku. Menilai
dari kekuatan Barrier yang dipasang di area ini, musuh yang bersembunyi
hanyalah organisasi kroco yang lemah. Mereka tidak sebanding dengan Little
Devil Gremlin.
Namun, mereka tetaplah organisasi rendahan yang
menculik dan menyekap anak di bawah umur. Aku harus memastikan mereka hancur
berkeping-keping di sini.
Fakta bahwa mereka membiarkan Barrier lemah
ini tetap aktif membuktikan bahwa situasi ini bukanlah kondisi tak terduga.
Kemungkinan besar ini adalah bagian dari praktik lapangan yang dirancang pihak
akademi.
Mashiro masih menatap tajam pria paruh baya
berkepala plontos yang pingsan itu dengan ekspresi penuh kebencian.
Sebaliknya, Tatsuya yang mendengar bahwa kami
terperangkap dalam Barrier terlihat pucat pasi di sebelah anak itu.
Mungkin ini adalah kesempatan emas.
Organisasi kroco ini bisa menjadi bahan yang tepat
untuk memicu mereka berdua mengambil langkah maju.
Akan kumanfaatkan musuh-musuh ini semaksimal
mungkin, dari ujung rambut hingga potongan daging terakhir.
"Cain, wajahmu benar-benar menyeramkan,
tahu?"
Takeshi menegurku sambil sedikit menjauh.
"Terima kasih...."
Gawat, gawat. Ekspresi wajahku saat merencanakan
hal jahat memang sering dibilang lebih mengerikan daripada raja iblis.
Aku berjongkok di hadapan bocah itu. Menyamakan
pandangan dengannya, lalu berkata,
"Apakah kamu tahu di mana adikmu
ditahan?"
"Ya! Aku tahu!"
Wajah anak itu seketika cerah dan ia menjawab
dengan penuh semangat. Aku mengelus kepalanya, lalu berkata,
"Kelompok F yang akan menangani Little Devil
Gremlin. Akudou-san,
tidak masalah, kan?"
Aku meminta persetujuan Akudou
yang memperhatikan kami dengan tatapan geli dari samping. Sesuai dugaanku,
pilihan itulah yang memang direncanakan oleh Akudou.
"Tentu saja, boleh. Toh,
karena Barrier sialan ini, anak buahku juga tidak bisa leluasa bergerak.
Kamu tidak terpengaruh oleh efek Barrier ini, kan?"
"Iya, aku memiliki ketahanan
fisik seperti itu sejak lahir."
Para anggota Akkigura mulai riuh
berbisik-bisik.
"Mengingat ini adalah Cain,
aku sudah menduga akan jadi begini."
Makoto bergumam dengan nada
ringan.
"Aku setuju. Kalau Cain, ya
wajar saja."
"Cain itu sekarang sudah
benar-benar seperti monster!"
Karina dan Ran ikut menyetujui
sambil melontarkan celetukan yang tidak sedap didengar.
"Kalau kalian berkata begitu,
Akudou-san, Anda juga sama, kan?"
"Kenapa kamu berpikir
begitu?"
Mendengar pancinganku, senyum
Akudou semakin lebar. Ia balas bertanya dengan nada yang tidak menerima
bantahan.
"Hanya firasat."
Sebenarnya itu lebih merupakan
kesimpulan logis ketimbang firasat. Akudou adalah Hunter Rank-S, salah satu entitas terkuat di dunia
ini.
Di sisi lain, Barrier ini sangat lemah.
Mustahil efeknya bisa mempengaruhi Hunter Rank-S.
Pada saat yang sama, Mashiro dan Takeshi pasti
juga tidak akan terpengaruh. Mana yang dimiliki Mashiro dan Takeshi
berwarna perak keputihan.
Menurut dugaanku, Mana perak keputihan
adalah tingkat evolusi yang lebih tinggi dari Mana putih. Ia memiliki
kekuatan untuk menetralkan segala bentuk status abnormal.
Berkat sejumlah kecil Mana yang dipancarkan
secara konstan dari tubuh mereka, efek Weaken dari Barrier itu
pasti langsung ternetralkan dalam sekejap.
"Anggap saja begitu. Lalu, bocah-bocah
ingusan selain dirimu pasti terkena efek pelemahan dengan parah. Bagaimana kamu
akan mengatasinya?"
"Ya, aku juga sudah punya rencana untuk itu.
Takeshi, tolong berikan Support Magic berdurasi panjang kepada semua
orang. Kurasa itu bisa menetralkan efek pelemahannya."
Jika menggunakan Support Magic dari Mana
perak keputihan, menyelimuti tubuh dengan sihir itu saja sudah cukup untuk
membatalkan semua status abnormal.
"B-Baik."
Takeshi mengangguk dengan ragu. Tiba-tiba,
"A- Akudou-san, apakah Anda
yakin!? Biarpun mereka kuat,
mereka masih siswa, lho! Kalau sampai Mezora-san mengetahui hal ini...."
Kazu, pria berkacamata hitam dengan penampilan
berandalan, menggigil pucat pasi dan berusaha mengubah pikiran Akudou.
"Jangan khawatir. Kalau sampai terjadi
kondisi darurat kali ini, biarkan para siswa melakukan apa pun yang mereka
inginkan. Itu adalah instruksi langsung dari Tuan Mezora."
"Tetapi, situasinya sedang tidak mendukung!
Kalau sampai terjadi sesuatu pada para siswa—"
Merespons saran Kazu yang tak biasanya begitu
panik, Akudou merangkulkan lengan kanannya yang sebesar batang pohon ke bahu
Kazu dan membisikkan sesuatu di telinganya. Wajah Kazu langsung berkerut.
"I-Itu mungkin memang benar,
tetapi.... Tidak, itu pasti
benar, ya."
Ia melirikku sekilas. Kemudian bergumam seolah
berusaha meyakinkan dirinya sendiri.
Setelah itu, Kazu mengumpulkan para anggotanya,
sedikit menjauh dari kami, lalu mulai berdiskusi.
Sejak saat itu, Kazu dan yang lainnya berhenti
memprotes pendapat Akudou yang sama sekali tidak masuk akal tersebut.
Akudou berdeham pelan, lalu berkata,
"Baiklah, aku akan menyampaikan rencananya. Kelompok F dan aku akan
menaklukkan Little Devil Gremlin.
Anggota lain akan mendirikan tenda
di sini untuk menonaktifkan Barrier dan menjaga kontak dengan pihak
luar.
Terus, Cain, tinggalkan pengikutmu untuk
melindungi mereka. Itu adalah syarat agar aku menerima rencanamu."
Syarat, ya.... Kemungkinan besar musuh kami dari
kelompok Little Devil Gremlin kali ini hanyalah kroco lemah. Sebenarnya,
perlindungan Chrono-Grasshopper tidaklah dibutuhkan.
Niat Akudou mengajukan syarat itu pastilah sebagai
belenggu untuk membatasi pergerakan kami. Jika Chrono-Grasshopper ikut dalam
misi penaklukan, tingkat kesulitannya akan menjadi terlalu rendah. Ini pasti
permintaan dari pihak akademi.
"Baiklah. Chrono-Grasshopper!"
Menanggapi panggilanku, sesosok monster belalang
berkaki dua dengan cangkang berwarna hitam muncul dan berlutut.
"Gagigigugigugigi (Masterku yang agung),
gigigugugigugigigi (perintahkan apa pun kepadaku!)"
Ia berteriak dengan lantang.
"Tolong jaga keamanan mereka
di sekitar area ini."
"Gigigi (Siap
laksanakan)!"
Anggota Akkigura menelan ludah
dengan ekspresi tegang saat melihat Chrono-Grasshopper menundukkan kepalanya
dalam-dalam mengikuti perintahku.
Sementara itu, hanya Akudou yang
matanya berbinar-binar begitu melihat Chrono-Grasshopper.
"Luar biasa! Tsukishiro Cain,
kamu benar-benar keberadaan yang spesial!"
Ia bersorak dengan suara penuh
sukacita.
Kami menyerahkan keselamatan
Akkigura kepada Chrono-Grasshopper, lalu memulai penyusupan ke dalam stasiun
yang menjadi markas musuh.
Setelah maju sedikit, segerombolan
monster ngengat raksasa yang sepertinya dipanggil oleh Mage dari
organisasi kroco Gremlin datang menyerang kami.
"Double Boost! —Physical
Reinforcement! —Mana Reinforcement!"
Berkat Support Magic milik
Takeshi, tubuh seluruh anggota bersinar terang.
Ini adalah sihir andalan Takeshi
saat ini, sihir yang dapat meningkatkan kemampuan fisik dan Mana secara
drastis.
Mashiro berlari melesat ke segala
arah dan membelah ngengat raksasa itu menjadi dua dengan pedang sucinya.
"Spider Thread Bind!"
Dengan mantra Makoto, benang-benang
putih menutupi seluruh tubuh ngengat raksasa. Mereka jatuh berdebum dan
mengejang di lantai. Pada ngengat raksasa itu—
"Flame Calamity Sphere!"
"Lightning Stray Bullet!"
Karina dan Ran menembakkan bola-bola
api dan petir yang menembus para monster, membunuh mereka dalam satu serangan.
Sejauh ini, semuanya berjalan sesuai prediksiku.
Yang sedikit di luar dugaan adalah
Tatsuya.
Padahal ia begitu ketakutan pada
monster musuh, tetapi ia menggunakan tubuhnya sendiri sebagai tameng untuk
melindungi anak laki-laki itu dari serangan ngengat raksasa.
Terlebih lagi, ia melakukannya
sambil menerima beberapa luka di tubuhnya.
"J-Jangan bergerak!"
Tatsuya menebas ngengat raksasa,
menahan mereka agar tidak mendekat, sembari meneriakkan instruksi kepada anak
di belakangnya.
"I-Iya!"
Bocah yang bernama Murayama Akito
itu mengangguk di balik punggung Tatsuya.
Pada awalnya, Akito tampak segan
dengan wajah cemberut Tatsuya. Ia tidak pernah mendekatinya dan memilih terus
berada di dekat Makoto dan yang lainnya.
Namun, setelah melihat sosok Tatsuya
yang mempertaruhkan nyawa untuk melindunginya meskipun lemah, Akito kini tidak
mau beranjak dari sisi Tatsuya walau sedang waktu istirahat.
Aku melesatkan anak panah yang
menembus tengkorak ngengat raksasa yang mencoba menyerang Tatsuya. Monster itu
langsung mati seketika.
"Kerja bagus, Tatsuya."
Aku mengucapkan kata-kata pujian
pada Tatsuya yang sedang terengah-engah.
"..."
Tanpa berkata apa-apa, Tatsuya
memalingkan wajah dariku dan mengangguk pelan.
"Untuk ukuran dirimu, itu
tadi hebat juga! Tatsuya!"
Karina mendekat dan menepuk
punggung Tatsuya dengan keras.
"B-Berisik!"
Hmmm. Seluruh tubuhnya memerah. Ia pasti sedang malu.
Nah, sekarang saatnya aku menyelesaikan tugasku
sendiri.
Aku melesat di atas lantai. Dalam sekejap, aku
menutup jarak menuju hawa keberadaan di balik pilar.
"Hihe?"
Pria tampan berjaket hoodie hitam itu melontarkan
suara konyol. Tanpa ampun, aku menghancurkan keempat anggota tubuhnya beserta
persendiannya.
"Gyaaaaakkhhh!!!"
"Berisik!"
Aku memberondong seluruh tubuh pria yang menjerit
itu dengan hujan pukulan. Kesadarannya pun langsung terenggut, dan mulutnya
akhirnya tertutup rapat.
Aku menyeretnya dari kerah baju, lalu
melemparkannya seperti sampah ke hadapan Akudou yang berada sedikit jauh dari
anggota Kelompok F. Kemudian,
"Apa orang itu tidak akan
mati gara-gara seranganmu tadi?"
Akudou bertanya padaku dengan
ragu.
"Aku menahan kekuatanku
dengan baik. Manusia tidak
akan mati hanya karena luka tingkat ini."
"Begitu menurutmu menahan kekuatan,
ya...."
Akudou tersentak kaku saat menatap lekat-lekat
pria ber-hoodie hitam yang kini mengejang-ngejang kecil sambil mengeluarkan
busa dari mulutnya.
Hmmm, melihat reaksinya, sepertinya ia cukup
ketakutan melihat perbuatanku.
"Iya. Aku sudah memastikannya menghindari
luka fatal, jadi nyawanya aman, kok."
"Begitu sadar, dia akan merasakan neraka
dunia akibat rasa sakitnya. Jika bertemu dengan monster yang berkeliaran, dia pasti langsung mati. Dia harus terus menahan kengerian itu
sambil menunggu bala bantuan Hunter setelah penaklukan selesai.... Kamu
ini sungguh-sungguh iblis sejati."
Merespons kesan buruk yang diutarakan Akudou
dengan penuh penghayatan itu, aku membalas,
"Benarkah begitu? Menyia-nyiakan tali untuk
mengikat sampah seperti ini terasa tidak sepadan. Menyakiti mereka hingga tidak
bisa pulih dengan mudah jauh lebih efisien. Bukankah ini metode yang cukup
masuk akal?"
Aku mencoba memberikan argumen balik yang logis.
Dengan menghancurkan tubuhnya hingga ke akar-akarnya, butuh waktu sangat lama
baginya untuk sembuh.
Kalaupun dia mati dibunuh oleh monster yang
dilepaskan rekan-rekannya, itu murni balasan atas perbuatannya sendiri. Aku
bukanlah orang suci. Aku sama sekali tidak peduli dengan nyawa sampah-sampah
ini.
"... Haa, menyebut metode ini
masuk akal benar-benar membuktikan betapa tak kenal ampunnya dirimu.
Mengerikan...."
Akudou menghela napas seraya
mengangkat telapak tangan kanannya. Ia mengarahkannya pada pria ber-hoodie
hitam yang masih mengejang dan berbusa.
Detik berikutnya, kabut hitam
melilit dan menutupi seluruh tubuh pria tersebut.
Dengan ini, target sudah ditandai.
Langkah selanjutnya adalah menanti para Hunter spesialis penaklukan
untuk mengamankan lokasi ini.
"Terima kasih atas bantuan Anda mengurus
mereka."
Aku berbalik ke arah Akudou dan menundukkan
kepala.
Penangkapan kelompok gadungan Little Devil Gremlin
hanya akan dilakukan olehku.
Aku memastikan Mashiro dan anggota Kelompok F
lainnya tidak perlu turun tangan.
Selain itu, aku juga sebisa mungkin menyembunyikan
proses eksekusi ini dari pandangan mereka.
Itulah permintaan yang kuajukan pada Akudou kali
ini.
Akudou langsung mengiyakannya dan menggunakan Skill
Silhouette miliknya untuk menyelesaikan prosedur ini.
"Bukan hal yang merepotkan. Daripada itu, ada
yang ingin kutanyakan padamu."
Akudou mengangkat bahu lalu
menatapku dengan lekat.
"Ada apa?"
"Kenapa kamu begitu terobsesi pada
Mashiro?"
"Aku tidak bermaksud menganggapnya lebih dari
sekadar anggota kelompok yang sama. Apakah terlihat seperti itu?"
"Ya, sangat terlihat. Bahkan dengan melihat
sikapmu terhadap sampah-sampah ini, tidak pernah terlintas dalam benakku kamu
mengkhawatirkan nyawa mereka. Alasanmu melakukan hal merepotkan ini murni demi
Mashiro."
"Itu mungkin benar. Akan tetapi, perlakuanku
pada anggota kelompok lainnya juga sama, kan?"
Memang benar aku tidak ingin melihat Mashiro
semakin tenggelam dalam pusaran kebencian.
Namun, hal itu harusnya setara dengan perlakuanku
terhadap Takeshi, Makoto, dan anggota kelompok lainnya.
"Apa kamu tidak menyadarinya? Atau kamu
sedang menutupi hal itu? Kamu memberikan perhatian yang tidak wajar khusus pada
Mashiro. Kamu melindunginya secara berlebihan seolah dia adalah harta karun
yang berharga."
Tuduhan Akudou itu seharusnya salah alamat, tetapi
entah mengapa aku tidak bisa membantahnya. Karena itulah—
"Harta karun, ya.... Kata-katamu terdengar
seperti puisi murahan. Itu sama sekali tidak mirip dengan gaya bicara Anda,
Akudou-san."
Aku mencoba mengalihkan pembicaraan sekuat tenaga.
"...Yah, baiklah. Aku tidak peduli dengan
urusan kalian berdua. Namun, biarkan aku memberimu satu nasihat sebagai orang
tua. Kamu bahkan tidak akan bisa bertengkar dengannya kalau dia sudah
menghilang. Cobalah untuk lebih jujur."
Tampaknya, Akudou salah paham dan mengira aku
memiliki perasaan khusus pada Mashiro.
Sayangnya, aku belum cukup mengenalnya untuk
memiliki rasa tertarik sebagai lawan jenis.
Meskipun itu sebuah kesalahpahaman, dia sudah
berbaik hati peduli dan memberiku nasihat. Membantahnya mentah-mentah juga
bukan respons yang tepat.
"Akan kuingat itu."
Oleh karena itu, aku hanya membalasnya dengan
singkat.
"Nah, sudah waktunya?"
Akudou menghapus seluruh senyum dari wajahnya.
Rupanya ini adalah pembicaraan utamanya.
"Ya. Menurut informasi dari Akito, ini adalah
lokasi target. Akudou-san, terkait masalah itu—"
Berkat interogasi terhadap para kroco tolol itu,
aku sudah mengetahui apa yang sebenarnya mereka rencanakan.
"Aku mengerti. Penyelidikan di lokasi target
hanya akan dilakukan oleh aku dan dirimu, Cain. Tidak masalah, kan?"
Benar-benar luar biasa untuk
sekelas Hunter Rank-S. Dia cepat tanggap sehingga sangat membantuku.
Di depan sana, ada sesuatu yang
mutlak tidak boleh dilihat oleh anggota Kelompok F, terutama Mashiro.
"Tentu, aku sangat menghargai
pengertian Anda."
Aku memperbaiki postur tubuhku, lalu menundukkan
kepala sedikit.
Kami berjalan masuk menuju hotel mewah yang
terhubung dengan stasiun.
"Di sini! Mikan ada di tempat ini!"
"Tidak boleh! Jangan pergi
sendirian!"
Dengan panik, Tatsuya memeluk dan
menghentikan Akito yang hampir berlari dalam keadaan bersemangat.
"Memangnya kenapa!"
Akito memanyunkan bibirnya tanda
tidak puas. Lalu,
"Akito, tempat ini adalah markas musuh. Jika
kamu menolak mendengarkan instruksi kami, kamu harus menunggu di pintu masuk
stasiun, lho."
Aku menamparnya dengan kenyataan melalui senyuman
dan nada bicara yang tak menerima bantahan.
"Aku mengerti...."
Ia terus mengerucutkan bibir
sambil menggenggam erat tangan kanan Tatsuya. Aku mengelus kepalanya, lalu berkata,
"Tidak apa-apa. Kamu pasti akan segera
bertemu dengannya."
Demi menenangkan perasaannya, aku mengucapkan hal
yang lebih pantas disebut harapan hampa.
"Kalau begitu, mari kita jalan!"
Berbanding terbalik dengan sikapnya yang selalu
mengikuti kami dari belakang, Akudou kini berjalan memimpin barisan.
Sambil saling bertukar pandang penuh keheranan
melihat perubahan drastis pria itu, anggota Kelompok F menyusul di belakangnya.
Lantai delapan hotel mewah ini tampaknya merupakan
area hiburan yang terdiri dari teater dan ruang pesta.
"Mulai sekarang, aku dan Cain yang akan
menyelidiki lantai ini. Sisanya
harus bersiaga di lobi! Mashiro, kamu bertugas menjadi pemimpin untuk
melindungi semuanya!"
Menghadapi lawan setingkat ini,
kerja sama Mashiro dan Takeshi sudah lebih dari cukup untuk menang mudah. Itulah opini yang kami berdua sepakati.
"Tindakan semena-mena seperti itu—"
Seperti dugaanku, Mashiro langsung
mencoba melayangkan protes. Namun,
"Ini adalah perintahku!"
Akudou segera mengangkat tangan kanannya untuk
menahan protes Mashiro. Gadis itu pun akhirnya menuruti perintahnya dengan
enggan.
Syukurlah. Karena Mashiro saat ini menatapku
sebagai musuh, aku mengira dia akan menolak usulanku dan memicu keributan
besar. Kurasa tantangan pertama berhasil kami lewati.
"Tatsuya, aku percayakan Akito padamu!"
"Ya...."
Tatsuya merespons sambil membuang
muka.
Kami menelusuri koridor sebelah
kiri di lantai delapan dan menemukan sebuah teater di bagian dalam.
Jika informasi yang kami dapatkan
benar, permainan selera rendahan sedang berlangsung di tempat ini.
Begitu kami memasuki teater, bau darah dan aroma
kematian pekat langsung menusuk hidungku.
Jeritan melengking seorang gadis
remaja menggema dan menggetarkan gendang telingaku.
Di atas panggung teater, terdapat
beberapa meja di mana para wanita terluka yang memiliki tanduk di kepala mereka
diikat dengan kejam.
Di atas meja paling tengah,
seorang gadis dengan tanduk kecil di dahi terikat dalam posisi terlentang.
Ia dikelilingi oleh pria-pria
bertopeng yang menyembunyikan wajah sambil memegang senjata tajam. Di kursi
penonton, sekelompok pria dan wanita dengan pakaian rapi bersorak kegirangan.
Sepertinya kroco-kroco yang kami
tangkap tadi memang mengatakan kebenaran.
"Akudou-san, kecuali beberapa
orang yang memiliki koneksi langsung, aku akan mengeksekusi semua orang yang
ada di sini. Tidak keberatan, kan?"
Semenjak awal, Akudou dan aku
sudah bersepakat. Jika kasus itu ternyata benar, kami tidak akan menjadikan
mereka tahanan, melainkan mengeksekusi mereka semua sebagai teroris yang
berafiliasi dengan vampir.
"Ya, silakan. Lagi pula
instruksinya memang begitu."
Aku menggemeretakkan jemari lalu
berjalan pelan mendekati panggung.
Seorang pria tegap berjaket hoodie
hitam, seragam organisasi mereka, menghalangi jalanku. Kemungkinan ia bertugas sebagai petugas keamanan.
"Tamu yang terhormat, pementasan masih belum
selesai. Tolong
segera kembali ke kursi Anda."
Pria itu memberiku peringatan dengan nada tegas.
"Matilah."
Aku berpindah ke belakang pria itu, lalu memutar
dan mematahkan lehernya dengan tangan kananku.
Terdengar suara patahan tulang, dan ia langsung
kehilangan nyawa sebelum jatuh tersungkur layaknya boneka putus benang.
"Tidaaaak! Tolong hentikaaaan!"
Jeritan pilu gadis itu bergema di penjuru ruangan,
memicu sorak-sorai penonton yang kian bergemuruh.
Bermandikan sorak penonton, seorang pria bertubuh
besar dengan setelan jas mengangkat pisau besarnya tinggi-tinggi, membidik
tubuh gadis yang sedang menangis tersedu-sedu.
Aku melesat melewati koridor teater, melompat naik
ke atas panggung, lalu menangkap dan menghancurkan mata pisau sang pria raksasa
yang sedang diayunkan.
"A-Apa!?"
Pria raksasa itu melebarkan matanya dengan
terkejut. Aku
langsung mendaratkan tendangan ke atas yang menerbangkannya.
Menggunakan pisau belati, aku
memotong ikatan sang gadis, memeluknya erat, dan melesat ke arah pintu keluar.
"P-Penyusup! Bunuh dia!"
Pria berjenggot lebat yang
sepertinya menjabat sebagai pengelola teater itu segera memberikan komando.
Ketika para petugas keamanan baru
mulai bergerak untuk membereskan kami, aku sudah sampai di depan Akudou dan
menyerahkan gadis itu kepadanya.
"Cain, kuserahkan sisanya
padamu!"
Sambil menggendong sang gadis,
Akudou mendorong pintu sekuat tenaga dan melesat keluar.
"Jangan biarkan mereka kabur! Jika mereka
berhasil keluar dari sini, kita semua akan dihabisi oleh bos!"
Mendengar prediksi pria berjenggot, si pengelola
teater, yang sangat konyol dan terlalu naif itu, aku merespons,
"Kabur? Tidak mungkin aku
kabur. Tempat tujuan kalian
sudah diputuskan dari awal."
Sepertinya, aku jauh lebih membenci orang-orang
ini ketimbang yang aku perkirakan.
Aku mencabut dua pisau belatiku. Dengan mengincar
garis kematian musuh, aku mencincang halus tiga petugas keamanan yang sedang
menyerangku.
"..."
Keheningan sejenak, lalu detik berikutnya,
kengerian meledak di seluruh ruangan. Para penonton menjerit histeris dan
mencoba melarikan diri melalui pintu darurat samping.
Aku menjulurkan benang Mana dan menjerat
mereka yang bergegas menuju pintu keluar. Kemudian—
"Tsukishiro Dagger Art, Chuden—Arachne!"
Aku membacakan mantra sihir dan mengayunkan kedua
pisauku hingga ke titik terjauh.
Anggota tubuh para pria dan wanita bertopeng yang
berdesakan di pintu keluar terpotong. Kaki, lengan, beserta tubuh mereka jatuh
berdebum ke lantai.
"Kalian telah mencampuri hal yang tidak
seharusnya kalian sentuh. Tidak ada celah untuk belas kasihan. Teruslah
menyesali perbuatan kalian dan membusuklah menuju kematian."
Sambil tersenyum, aku melontarkan kalimat yang
setara dengan vonis mati itu. Penaklukan sepihak pun dimulai.
"T-Tunggu! Aku akan bicara pada bos untuk—
Kueh!?"
Pria berjenggot yang merupakan satu-satunya
anggota pengelola teater tersisa mengemis nyawa padaku. Karena suaranya berisik
dan menjengkelkan, aku membelah wajahnya menjadi dua dan membungkamnya.
Tepat ketika aku menyarungkan pisauku—
"Ugaaaaaaahhhhh!!!!"
Teriakan buas bergema dari arah luar. Suara ini,
mungkinkah Mashiro!?
Aku telah meremehkan situasi karena mengira Akudou
akan segera kembali mengawasi Kelompok F.
Aku bergegas meninggalkan teater
dan berlari kembali ke rute semula. Tepat di persimpangan lorong, aku
berpapasan dengan Akudou.
"Mashiro lepas kendali.
Sepertinya dia pergi menuju ruang pesta di depan sana!"
"Ini skenario terburuk."
Di ruang pesta yang berada di
ujung lorong sebelah kanan, kemungkinan besar di sanalah bos dari kelompok yang
mengaku sebagai Little Devil Gremlin berada.
Awalnya, kami memilih untuk
menyerang teater di lorong kiri lebih dulu agar dapat membasmi mereka hingga
akar-akarnya, tetapi rencana itu justru menjadi bumerang.
"Aku tidak ingin ada lebih
banyak kerusakan dari ini. Aku akan pergi sendiri mulai dari titik ini.
Akudou-san, tolong jaga keselamatan seluruh anggota Kelompok F!"
"Dimengerti!"
Segera setelah mendengar
jawabannya, aku langsung melesat menuju lorong sebelah kanan.
Ketika aku tiba di depan ruang
pesta, kulihat Takeshi sedang berdiri di sana—
"Cain, Mashiro! Mashiro ada
di dalam! Tidak peduli apapun yang kulakukan, aku tidak bisa masuk ke
dalam!"
Takeshi sedang dilanda kepanikan
yang luar biasa. Begitu
rupanya, ini adalah sebuah Barrier.
Kalau begitu, aku sudah bisa menebak
apa yang sedang terjadi di dalam sana tanpa perlu diberitahu.
"Serahkan urusan Mashiro
padaku! Takeshi, kamu harus bergabung dengan Akudou-san dan berikan dukungan! Ini adalah momen krusial untuk kita!"
"T-Tapi bagaimana caranya!? Pintu ini tidak
bisa terbuka, lho!"
"Jangan cemas!"
Aku membalas pertanyaannya dengan suara lantang,
lalu mengayunkan pisauku dengan satu tebasan kilat untuk membelah pintu
tersebut. Aku melangkah masuk ke dalam ruang pesta.
Sama seperti dugaanku, pria dan wanita yang
mengenakan setelan jas serta gaun rapi sedang bersantai dan menenggak minuman
keras.
"Tidak tahu malu! Aku tidak akan pernah
memaafkan perbuatan kalian!"
Pandanganku menangkap sosok Mashiro yang sedang
dipiting jatuh ke lantai oleh pria bertubuh besar dengan tato iblis.
Dia menangis terisak. Mantel yang ia kenakan
terkoyak di berbagai sisi dan mengekspos kulit putihnya.
Ironisnya, putihnya kulit gadis itu semakin
menonjolkan kengerian dari luka dan memar yang tersebar di tubuhnya.
Meski terisak keras, ia terus berusaha meronta,
menggerakkan kaki dan tangannya sekuat tenaga demi membebaskan diri.
Fakta ini menjadi saksi bisu bahwa ia bergegas
kemari tanpa sempat memanggil pedang sucinya, dan hanya mengandalkan tangan
kosong.
Kondisinya yang begitu kacau dan putus asa itu
pastilah disebabkan oleh hal itu.
"Para bajingan tengik...."
Di tengah ruangan, para wanita berbentuk tidak
wajar disalib dalam kondisi menyedihkan. Fakta inilah yang menghancurkan dan
meremukkan hati Mashiro.
Aku bisa memprediksi alasannya. Mashiro membenci
vampir dan entitas non-manusia lainnya sebagai simbol kejahatan absolut.
Baginya, makhluk bukan manusia adalah pendosa yang
menginjak-injak kehidupan damai umat manusia.
Ia percaya sepenuhnya bahwa memusnahkan mereka
semua adalah satu-satunya cara untuk menyelamatkan umat manusia.
Itulah sebabnya, ia bisa bersikap begitu kejam
tanpa kenal ampun pada monster.
Namun, para korban dalam kejadian ini adalah
wanita-wanita non-manusia yang tidak memiliki kekuatan sedikit pun.
Sedangkan pelakunya adalah sekumpulan manusia
biasa yang dilumuri nafsu dan keserakahan.
Kebingungan dalam benak Mashiro pasti sulit
dibayangkan.
"Ara araaaa, hari ini kita kedatangan banyak
tamu, ya. Setelah nona muda yang tak tahu dunia, apakah tamu selanjutnya adalah
pacarnya?"
Seorang pria gagah berjaket hitam duduk menyandar
pongah di atas sofa di bagian belakang ruangan. Pria itu menanyakan hal
tersebut padaku.
Ia memiliki wajah kasar yang dipenuhi riasan
tebal, rambut tipis di puncak kepala, dan separuh wajah kirinya ditutupi tato
iblis. Deskripsi fisiknya sangat cocok dengan informasi yang kuperoleh saat
interogasi.
Pria itu pasti adalah bos dari organisasi Little
Devil Gremlin ini, yaitu MacBeth.
"Apa yang sudah kamu bicarakan dengan
Mashiro?"
Jika itu adalah Mashiro yang sekarang, yang sangat
membenci makhluk non-manusia, dia pasti akan langsung menyimpulkan bahwa
orang-orang ini adalah kaki tangan para vampir, penguasa makhluk non-manusia,
dan mengurung diri dalam cangkangnya sendiri.
Tapi lihatlah dia yang begitu kebingungan
sekarang. Jelas sekali kalau gerombolan ini telah menjejali pikirannya dengan
hal-hal yang tidak berguna.
"Bukan apa-apaaa. Setelah aku menunjukkan
permainan agung kami kepada nona muda di sana, dia tiba-tiba menangis dan
mengamuk, lalu menyebut kami sebagai kaki tangan para vampir, lho! Sungguh
tidak sopan, ya!"
"Ho, begitu bukan?"
"Tentu saja tidak! Mana mungkin vampir
kelelawar sepertinya bisa memikirkan permainan yang begitu menyenangkan!"
"Permainan yang menyenangkan, ya..."
Memotong-motong orang tak berdosa dan tanpa
perlawanan seperti ini disebut sebagai permainan yang menyenangkan. Perutku benar-benar mual
mendengarnya.
"Hei, kan begitu? Tuan
Sponsor?"
MacBeth menunjuk ke arah seorang
pria paruh baya berpenampilan mengenakan kemeja bergaya kantoran berlumuran
darah sambil memegang gergaji, lalu meninggikan suaranya.
"Sponsor, ya. Begitu ya,
wajahnya memang sering kulihat di TV."
Kalau tidak salah, dia adalah
ketua fraksi partai berkuasa, adik kandung dari komentator super populer
beraliran hak asasi manusia, Nagirou Hamamuro, bukan?
Mashiro pernah diwawancarai secara
eksklusif di televisi terestrial sebagai sosok yang akan memikul masa depan
dunia pemburu yang mampu menggunakan Pedang Suci. Dia pasti berkenalan dengan
bajingan ini saat itu.
Sungguh, ketepatan waktu yang
sangat buruk. Rasanya benar-benar tidak menyenangkan, seolah-olah semuanya
sudah diincar secara presisi.
"Aduh aduh, padahal kau
adalah senjata yang bertarung melawan para vampir kelelawar demi kami, kaum
kelas atas. Sayang
sekali, tapi karena kau tidak bisa berempati dengan permainan ini... Sayang
sekali, kau harus tersingkir. Tentu saja, kamu tidak perlu khawatir. Kami akan
menikmati keberadaanmu semaksimal mungkin."
Nagirou Hamamuro mendekati Mashiro
dan menatapnya rendah dengan wajah penuh ekstasi.
"Keparat kauuuuu!"
Saat dia menendang wajah Mashiro
yang sedang meneteskan air mata penyesuaian,
"Wajah yang indah dan tidak
ternoda itu menjadi kejang karena rasa sakit dan penghinaan. Itu benar-benar
sangat, sangat luar biasa nikmatnya!"
Nagirou Hamamuro berseru dengan
suara yang melompat-lompat gembira.
"Mashiro, inilah kenyataannya.
Di antara para sampah, tidak ada bedanya manusia atau monster. Ada orang baik,
ada juga orang jahat. Orang-orang yang menyikramu di masa lalu kebetulan saja
adalah makhluk non-manusia seperti vampir."
Aku mendeklarasikan kata-kata itu
seolah-olah mengunyahnya di dalam mulut, lalu berjalan ke arah Mashiro sambil
membunyikan persendian kedua tangg Kanan dan kiriku.
"Hmm―Kau berencana melawan,
yaaa? Rupanya kamu ini mirip seperti monyet yang baut di kepalanya sudah
longgar, yaaa."
Lebih dari seratus orang bersenjata
mengenakan hoodie hitam masing-masing mulai memasang senjata mereka.
"Menjijikkan. Benar-benar menjijikkan..."
Aku sama sekali tidak merasakan kekuatan apa pun
dari gerombolan ini. Mereka bahkan berada di bawah level Goblin.
Apakah aku benar-benar sempat berada di posisi
bertahan melawan bajingan level rendah seperti ini?
"Fufuuun, kalau menjijikkan memangnya kenapa,
hah?"
"Kalian ini, berniat menyentuh Mashiro sampai
kapan, hah!"
Didorong oleh amarah yang membara, aku berlari
kencang hingga tiba di sisi Mashiro, lalu menendang kepala pria ber-hoodie
hitam yang sedang mencekal tubuhnya.
―Bokyu!
Bersamaan dengan suara tumpul yang terdengar
seperti buah yang dihancurkan berkeping-keping, bagian wajah pria itu meledak
ke segala arah.
Di tengah percikan darah yang turun seperti hujan,
aku memelintir dan menghancurkan kedua tangan serta kedua kaki Nagirou
Hamamuro.
"Kehe? Gyaaaaaaー!"
Nagirou Hamamuro terjatuh terduduk sambil
melengkingkan jeritan yang membelah udara, lalu aku mencabut pisau dari
pinggangku dan mengarahkan ujungnya tepat ke tenggorokannya.
"Diamlah sedikit. Aku tidak
suka situasi yang berisik sekarang. Apakah kau mengerti?"
Saat aku memberikan perintah tegas
dengan nada yang tidak membantah,
"..."
Nagirou Hamamuro menutup mulutnya
dan mengangguk berulang kali dengan mata berlinang air mata.
Begitu aku berjalan ke sisi para
gadis yang tergantung, aku melepaskan ikatan mereka menggunakan pisau dan
membaringkan mereka ke lantai.
Dada mereka nyawa-nyawa hidup.
Napas mereka masih ada.
Tapi, luka-luka ini jelas merupakan luka fatal.
Sihir atau Skill pemulihan biasa sama sekali tidak akan mampu
menyelamatkan mereka.
Aku harus melakukan sesuatu untuk menyelamatkan
mereka. Ini hanya firasatku, tapi jika aku tidak bisa menyelamatkan mereka,
Mashiro pasti akan hancur. Aku punya perasaan seperti itu.
Tiba-tiba, area di bawah kaki bersinar terang, dan
seekor slime yang pernah kulihat sebelumnya muncul lalu menyelimuti para
gadis tersebut. Itu terjadi hanya dalam sekejap.
Para gadis itu kini berbaring dalam kondisi tanpa
luka sedikit pun.
Slime ini adalah monster yang muncul saat aku
menyelamatkan Mashiro sebelumnya.
Aku sudah mencoba memanggilnya beberapa kali sejak
saat itu, tetapi tidak pernah berhasil, namun kali ini pemanggilan itu sukses
dengan mudah. Pasti ada kondisi tertentu agar pemanggilan itu berhasil.
Slime itu berputar-putar di sekelilingku, lalu melompat
ke arahku dan menggosokkan pipinya sebelum akhirnya menghilang.
"Kain..."
Mashiro mendongak menatapku dengan wajah yang
berantakan karena air mata.
Ekspresi kekanak-kanakan yang rapuh dan tidak
seperti dirinya itu entah bagaimana membuat hatiku bergemuruh hebat.
"Mashiro, lindungi mereka!"
Begitu aku memberikan instruksi tersebut, dia
menghapus air matanya, bangkit berdiri meskipun sedikit terhuyung-huyung, dan
berjalan menuju ke arah para gadis-gadis itu.
"Dilihat dari gerakan itu, dan slime
yang kau panggil tadi... Sebenarnya siapa kamu, hah?"
Bos iblis kecil Gremlin, MacBeth,
melontarkan pertanyaan klise yang sama sekali tidak penting itu dengan ekspresi
tanpa emosi.
"Aku tidak melihat arti
penting untuk menjawab orang-orang yang toh akan segera mati."
Setelah memberikan jawaban acuh
tak acuh sambil mengganti posisi dua bilah pisaunya, aku memulai pembantaian.
Waktu berputar mundur ke saat tepat
setelah Kain memasuki teater bersama [The Bad Boy].
Kain dan [The Bad Boy]
langsung berlari pergi setelah menyuruhku, Mashiro, untuk tetap tinggal di lobi
ini dan memimpin para anggota Kelas F. Seolah-olah hal itu memang sudah
direncanakan sebelumnya.
(Tidak bisa dipercaya! Begitu ya!
Aku tidak boleh percaya!)
Aku memperingatkan diriku sendiri
dengan kuat.
Berdasarkan bukti yang kutemukan,
Asosiasi Pemburu menyimpulkan bahwa Kazune Tsukishiro adalah manusia yang
dirasuki oleh pelayan vampir.
Alasan dia tidak langsung
ditangkap adalah untuk memancing keluar pengkhianat lain yang diprediksi masih
ada.
Khususnya Kain dan [The Bad
Boy] yang tampaknya memiliki kecurigaan terhubung dengan Little Demon
Gremlin untuk menculik manusia dan menyerahkannya kepada para vampir.
Alasan aku berpartisipasi dalam
misi kali ini adalah untuk melindungi anggota Kelas F dari bajingan-bajingan
itu.
(Dia benar-benar wadah rasukan
musuh, tidak mungkin salah lagi!)
Ada bukti konkret bahwa dia adalah
wadah rasukan pelayan vampir. Lebih dari itu, aku memiliki alasan yang memaksa
diriku untuk mempercayai fakta tersebut.
Informasi tentang Kai Heinemann
yang dikumpulkan di dunia paralel Lemuria adalah bahwa dia adalah pendekar
pedang terkuat di dunia yang menjadikan beberapa monster tingkat tinggi sebagai
pelayannya.
Aku memang belum pernah melihat
ilmu pedang Kai Heinemann, tapi aku melihat dengan mata kepalaku sendiri saat
dia merobek monster ular musuh bebuyutanku―Naga, yang tidak bisa
kupermalukan sama sekali, hanya dengan tangan kosong. Itu bukanlah kekuatan
fisik manusia.
Lebih dari itu, penampilan Kazune
Tsukishiro sangat mirip dengan Kai Heinemann.
Paling tidak, jauh lebih natural
untuk menganggap bahwa ada hubungan tertentu antara Kai Heinemann dan Kazune
Tsukishiro.
Selain itu, saputangan tersebut.
Itu adalah benda yang kuberikan sebagai hadiah untuk Umi Mikage.
Mengingat dia bukanlah Umi, asumsi
yang paling masuk akal adalah dia merebutnya dari Umi yang sudah mati lalu
menyimpannya sebagai koleksi. Setelah itu, dia berpindah ke Lemuria dengan
suatu cara.
Mengingat aku bisa berpindah
antara Lemuria dan Bumi dua kali, secara teori hal itu sama sekali bukan hal
yang mustahil.
Dan dia kembali ke Bumi bersamaku
dengan mengorbankan Naga tersebut.
Alasan dia menyelamatkanku kemungkinan besar ada
dua.
Pertama, agar bisa berbaur dengan
baik di tengah manusia.
Kedua, kupikir itu karena darahku. Kudengar para
vampir sangat menyukai darah manusia favorit sebagai makanan mereka.
(Dia adalah musuh terkutuk yang merenggut
segalanya dariku!)
Aku tidak bisa memaafkannya―Aku tidak bisa
memaafkan kenyataan bahwa Ayah telah direnggut dariku!
Aku tidak bisa memaafkannya―Aku tidak bisa
memaafkan kenyataan bahwa Ibu telah direnggut dariku!
Tidak mungkin aku bisa memaafkannya―Merenggut Umi
dariku adalah hal yang mutlak tidak bisa dimaafkan!
Itulah sebabnya aku harus membenci mereka!
Para vampir yang telah menghancurkan
kebahagiaanku!
Manusia-manusia bodoh yang tunduk kepada para
vampir!
Monster non-manusia yang pada dasarnya jahat dan
hanya melahirkan tragedi!
Dan Kazune Tsukishiro yang bahkan telah
mempermainkan hatiku!
(Ini adalah saatnya kamu bertahan, Mashiro Mikage!
Bukankah [Savior] juga mengatakan hal itu pada dirimu?)
Aku menampar kedua pipiku sendiri dengan tangan,
memberikan semangat pada diriku yang nyaris terlihat menyedihkan karena mencoba
mempercayai Kain.
Jika aku tidak menghentikan konspirasi Kain di
sini, orang-orang yang merasakan hal yang sama sepertiku mungkin akan
bermunculan mulai sekarang.
Sambil mengerahkan tenaga pada
genggaman gagang Pedang Suci,
"Aku akan maju sendirian ke depan,"
Aku mendeklarasikan hal itu kepada semua anggota
Kelas F.
"T-Tunggu sebentar! Mashiro, apa kamu sadar
apa yang kamu katakan!? Instruktur [The Bad Boy] telah memerintahkan
kita dengan tegas untuk menunggu di sini!"
Kana Rina menyuarakan pertentangannya dengan nada
penuh kecemasan.
Semua orang mempercayai Kain.
Sekalipun aku tiba-tiba mengatakan bahwa dia
mencurigakan sekarang, mereka tidak akan mempercayaiku.
Di sisi lain, bahkan jika aku mencoba keluar dari
sini dengan berbohong, Makoto, yang bisa menggunakan sihir untuk mendeteksi
kebenaran atau kepalsuan, pasti akan mengetahuinya. Itulah sebabnya aku harus
menipu mereka dengan baik.
"Aku diperintahkan oleh Hunter Kelas S, [Savior],
untuk mengawasi Instruktur [The Bad Boy]!"
[Savior] menduga bahwa [The Bad Boy] bersekongkol
dengan Kain, dan menginstruksikannya agar tidak melepaskan pandangan darinya
selama latihan praktis berlangsung. Oleh karena itu, tidak ada kepalsuan dalam
poin ini.
"Kakak?"
Kana Rina mengarahkan tatapan penuh makna ke arah
Makoto, dan
"Dia tidak sedang berbohong,"
Makoto menjawab dengan wajah serius.
"..."
Mengetahui bahwa [Savior]
menaruh kecurigaan terhadap [The Bad Boy], sementara semua orang terdiam
membisu,
"Kalau begitu, aku juga ikut,"
Takeshi melontarkan klaim yang sama sekali tidak
kuduga.
"I-Itu―!"
"Latihan praktis secara mandiri itu dilarang
keras! Aku akan ikut denganmu. Itulah syarat jika Mashiro-chan ingin
meninggalkan tempat ini!"
Takeshi, sama seperti Makoto, adalah teman akrab
Kain, namun dia juga merupakan figur yang dinilai bersih dalam laporan divisi
investigasi.
Di atas segalanya, aku yakin bahwa dalam latihan
praktis ini, dia adalah orang baik sejati dan tidak memiliki kejanggalan
seperti Kain.
Dia pasti tidak terhubung dengan para vampir.
Kurasa tujuannya menawarkan diri untuk ikut
semata-mata karena mengkhawatirkanku.
"Aku mengerti. Takeshi,
tolong temani aku!"
"Baiklah!"
Nama [Savior] memberikan
efek yang jauh melebihi bayangannya, dan anggota Kelas F lainnya tidak lagi
melontarkan sanggahan setelah itu. Hanya satu orang―.
(Tidak kusangka, Mashiro, kamu
benar-benar mempercayai perkataan pria berengsek dangkal itu dibandingkan orang
tersebut... Kupikir kamu adalah orang yang memiliki sedikit lebih banyak daya
nilai...)
Hanya Tatsuya yang bergumam
mengucapkan sindiran kecil di belakangku. Mendengar kata-kata yang bernada
meremehkan itu,
"―!?`"
Aku langsung menoleh ke arah
Tatsuya, namun dia saat itu sedang menerima makanan darurat dari tas punggung
Akito.
Tatsuya telah berubah secara
drastis sejak Kain menawarkan diri sebagai instruktur.
Dari sorot mata seperti orang mati
di awal, matanya berubah menjadi penuh percaya diri dan tekad, serta mulai
menjalin interaksi minimal dengan anggota Kelas F lainnya.
Kata-kata Tatsuya itu meninggalkan kesan yang aneh
di benakku.
Saat aku berjalan menyusuri lorong bersama
Takeshi, jalan itu terbelah menjadi dua. [The Bad Boy] dan Kain pasti
menuju ke salah satu arah ini.
Aku sendiri tidak tahu jalur mana yang mereka
ambil. Aku hanya bisa memilih berdasarkan firasat.
Pada akhirnya, ketika aku melangkah maju melalui
lorong sebelah kanan, aku tiba di depan pintu aula pesta yang besar. Suara sorak-sorai terdengar dari
dalam. Dan seolah berpadu dengan sorak-sorai itu―.
"Ini suara jeritan?!"
Itu sudah pasti jeritan seorang wanita. Kain
adalah wadah rasukan pelayan vampir.
Jika demikian, kemungkinan besar jeritan ini
berasal dari sesama manusia. Mengingat kekejaman para vampir, apa yang sedang
dilakukan di tempat ini―.
"Mashiro-chan, apa yang harus kita
lakukan!?"
"Takeshi, tolong beritahu yang lain tentang
hal ini! Tolong minta bantuan bala bantuan ke luar juga!"
"Mashiro-chan, bagaimana denganmu!?"
"Aku akan memeriksa situasi di dalam!"
"Tapi..."
"Cepatlah! Jika ada korban yang butuh
diselamatkan, kita bisa terlambat!"
Jika kedua orang itu berada di pihak musuh,
seluruh anggota Kelas F harus segera meninggalkan tempat ini.
Jika Takeshi sampai ikut masuk ke dalam sini dan
tertangkap, evakuasi akan menjadi lambat dan dalam skenario terburuk mereka
semua bisa musnah.
Jika setidaknya ada satu orang yang berhasil
keluar, para anggota [Glorious] termasuk [Savior] yang bersiaga
di luar seharusnya bisa menyelamatkan Mashiro dan yang lainnya.
"Aku mengerti! Jangan melakukan hal yang
ceroboh, ya!"
Aku membuka pintu dengan kencang lalu masuk ke
dalam.
Bau besi yang merangsang indra
penciuman. Itu adalah bau yang sudah terlalu sering kukenal hingga membuatku
muak.
Yaitu―bau darah dalam jumlah
besar.
Didorong oleh rasa cemas yang
kuat, aku memeriksa sekeliling.
"Eh?"
Pemandangan yang mustahil itu
membuat kata-kata pertanyaan bodoh meluncur keluar dari mulutku.
Di sana ada monster dan manusia.
Lebih tepatnya, seorang wanita yang sekujur
tubuhnya ditumbuhi bulu halus yang diikatkan ke meja, seorang gadis bertanduk
yang diikat pada tiang logam, dan seorang wanita bersisik berlumuran darah yang
diikat pada cincin logam.
Dan di hadapan para wanita non-manusia itu, pria
dan wanita yang mengenakan jubah biru tua sedang menusukkan pedang ke tubuh
para wanita tersebut.
"..."
Mereka tampaknya sudah sekarat. Wanita bersisik
itu hanya berkedut kejang tanpa mengeluarkan suara rintihan sama sekali.
"A-ah, apa sudah berakhir? Membosankan sekali ya. Karena mereka itu
monster, kalian harusnya berusaha sedikit lebih keras."
Mendengar suara yang tidak asing
lagi,
(Tidak mungkin!)
Ketika aku secara refleks
mengarahkan pandangan ke sumber suara tersebut, aku melihat seorang pria paruh
baya bertubuh jangkung dengan kumis tipis yang mencabut pedang panjang
berlumuran darah dari tubuh wanita bersisik itu.
Aku mengenal pria ini. Baru minggu
lalu, komentator yang mewawanku atas rekomendasi kuat dari para eksekutif
Asosiasi Pemburu, komentator beraliran hak asasi manusia yang mewakili negara
ini, Nagirou Hamamuro.
Dia mengajarkan kepadaku tentang
kejahatan bawaan yang dimiliki oleh makhluk non-manusia dan menegaskan dengan
kuat bahwa mereka harus dimusnahkan.
Argumen itu persis seperti apa yang telah
kulaksanakan di dunia paralel Lemuria, dan aku merasakan empati yang kuat
padanya.
Apa yang sebenarnya sedang dilakukan oleh manusia
yang diakui sebagai sosok adil oleh dirinya sendiri maupun orang lain ini?
Keadaan ini terlihat persis seperti... persis seperti―!
"Nona muda di sana, rekomendasi dari siapa
kamu masuk ke sini?"
Pria berbadan tegap dengan rambut hanya di bagian
atas kepala yang mengenakan hoodie hitam, yang duduk di sofa mewah di
bagian dalam aula, bertanya kepada pria dan wanita berbusana formal di dalam
ruangan.
"..."
Melihat pria dan wanita berbusana formal saling
bertukar pandang, pria berambut di puncak kepala itu menampakkan banyak urat
timbul di wajahnya,
"Kalian ini, apa kalian lupa memasang
penghalang penghalang, hah? Kalian benar-benar sudah kendur!"
Dia melontarkan bentakan amarah. Mengabaikan para
pria berbusana hitam yang menciut ketakutan,
"Yah, yah, memang benar aku tidak
memberikannya rekomendasi, tapi dia adalah kenalanku. Sama seperti kita, dia
adalah gadis yang membenci makhluk non-manusia."
Nagirou Hamamuro tersenyum menyeringai lalu
memperkenalkanku kepada semua orang. Kewaspadaan orang-orang berbusana formal di sekitarnya terhadap diriku
pun mereda,
"Nah, kamu juga boleh melakukannya."
Wanita berambut pirang yang baru saja menusukkan
pedang ke tubuh gadis bertanduk itu menyerahkan pedang panjang kepadaku.
"Semuanya, dia adalah Mashiro Mikage, ace
dari SMA Kazuki, seorang wanita yang akan memikul masa depan para
pemburu!"
Berkat perkenalan dari Nagirou Hamamuro,
sorak-sorai yang memekakkan telinga pun bergema.
Pikiranku tidak bisa memproses
situasi ini dengan baik.
Apakah memutilasi wanita dan anak-anak tanpa
perlawanan adalah keadilan?
Memang benar aku tidak pernah mengakui hak asasi
para monster dan mengharapkan kepunahan mereka.
Meskipun begitu, menyiksa makhluk tak berdaya
seperti ini demi kesenangan adalah tindakan yang tidak jauh berbeda dari
makhluk-makhluk berbentuk aneh itu. Mana mungkin hal semacam ini bisa diterima!
"Kenapa...?"
"Hah? Apa maksudmu?"
"Kenapa melakukan hal kejam seperti
ini?"
"Kejam? Bukankah mereka ini monster
non-manusia? Bagi kita, monster itu setara dengan hama. Bukankah tidak masalah
cara pembunuhan apa pun yang digunakan untuk menyingkirkan hama tersebut?"
Dia benar-benar berpikir begitu
dari lubuk hatinya yang paling dalam. Nagirou Hamamuro bertanya kepadaku dengan
wajah polos tanpa dosa.
Seorang pemuda mengenakan topeng
berkata,
"Betul sekali! Induk monster
beserta anaknya yang kita singkirkan tadi benar-benar mahakarya, tahu! Saking menyebalkannya, 'Hanya anak ini
saja! Tolong selamatkan anak ini saja!' katanya! Tentu saaaaja, aku langsung
membantai anak monster itu duluan. Ekspresi keputusasaan sang ibu saat itu,
nah, apa kamu ingin melihatnya?"
Dia tertawa polos seperti anak kecil yang
mendapatkan nilai bagus dengan nada sombong, lalu menunjukkan benda bulat di
tangan kanannya kepadaku.
Wajah wanita yang berlumuran darah dan air mata,
yang dipelintir oleh amarah dan kebencian itu, terhubung secara jelas dengan
wajahku sendiri di masa lalu saat aku kehilangan segalanya.
Ini pastinya adalah suara kehancuran. Keyakinan
dan harga diri paling suci yang selama ini aku yakini runtuh berantakan dengan
suara berderak.
"Begitu ya... Kalian ini adalah
kaki tangan para vampir, kan!?"
Didorong oleh sisa-sisa rasionalitas yang tersisa,
aku meninggikan suaraku dengan nada memohon.
Jika mereka adalah musuh yang mengkhianati umat
manusia, maka tindakan biadab seperti ini masuk akal untuk dilakukan.
"Hah? Kami ini kaki tangan para vampiriii?
Mana mungkin begitu. Acara pertunjukan terhebat seperti ini tidak mungkin
dipikirkan oleh para kelelawar!"
Pria berbadan tegap dengan rambut hanya di bagian
atas kepala yang mengenakan hoodie hitam memutar wajahnya karena tidak
suka dan meludahkannya.
"Bohong..."
Mana mungkin manusia bisa memikirkan perbuatan
keji seperti ini!
"Tidak bohong. Tapi, yah, aku sangat-sangat
berterima kasih karena kalian telah membawa mainan luar biasa seperti ini ke
dunia ini."
Tidak ada alasan bagi mereka untuk berbohong dalam
situasi seperti ini. Dengan kata lain―dengan kata lain, mereka adalah manusia,
dan mereka melakukan perbuatan ini sebagai manusia.
"Ughaaaaaaaahhhhhhh―!"
Aku mengeluarkan suara seperti binatang buas yang
bahkan tidak terdengar seperti suaraku sendiri.
Benteng bernama keyakinan yang selama ini berhasil
kupertahankan dengan susah payah berubah menjadi pasir dan runtuh begitu saja
pada saat itu.
Aku menangis seperti anak kecil sambil mencoba
melancarkan serangan kepada mereka. Namun, Pedang Suci tidak bisa dipanggil,
dan kekuatan sihir berwarna perak yang tadinya bisa aku gunakan seolah-olah aku
sedang bernapas pun tidak dapat digunakan.
Itu wajar saja. Pedang Suci adalah bentuk dari
hatiku. Begitu pula
dengan sihir berwarna perak itu. Kekuatan itu tidak akan meminjamkan
kekuatannya kepada seseorang yang bahkan tidak percaya pada dirinya sendiri
barang sedikit pun.
Hal ini sama saja dengan menyegel semua senjata
yang menjadi andalanku.
Aku mencoba menyerang mereka dengan tangan kosong,
namun jumlah musuh jauh lebih banyak.
Sebaliknya, aku dipukuli,
ditendang, dan disayat dengan pisau.
Akhirnya aku dibanting oleh
mereka, sambil menangis dan mengeluarkan suara penuh dendam.
Rasa sakit dari luka sayatan pisau
itu tidak ada apa-apanya; yang kurasakan adalah penyesalan, kepedihan, dan
ketidakmampuan yang luar biasa karena tidak bisa berbuat apa-apa, dan aku
benar-benar tidak bisa memaafkan keadaan ini.
Di tengah dasar keputusasaan itulah, dia muncul.
Dia mendekatiku yang ditahan oleh mereka tanpa
memiliki cara untuk melawan dan hanya bisa menangis meraung-raung dengan
menyedihkan,
"Mashiro, inilah kenyataannya. Di antara para
sampah, tidak ada bedanya manusia atau monster. Ada orang baik, ada juga orang
jahat. Orang-orang yang menyikramu di masa lalu kebetulan saja adalah makhluk
non-manusia seperti vampir."
Dia berucap dengan tenang untuk
menasihatiku sambil mendekat.
Di tengah gelombang niat membunuh
yang dilemparkan oleh banyak anggota Little Demon Gremlin,
"Menjijikkan. Benar-benar
menjijikkan..."
Dia bergumam pelan seperti itu,
"Kalian ini, berniat
menyentuh Mashiro sampai kapan, hah!"
Dia berteriak marah dengan volume
suara yang bahkan membuat bangunan bergetar.
Sesaat kemudian, kepala pria ber-hoodie
hitam yang memitingku meledak hancur, sementara kedua tangan dan kaki Nagirou
Hamamuro tertekuk ke arah yang tidak wajar lalu jatuh ke lantai sambil menjerit
histeris.
Dia mengancam Nagirou Hamamuro
yang seperti itu dengan pisau dan memerintahkannya untuk diam.
Selanjutnya, dia menggunakan pisau
di tangan kanannya untuk melepaskan ikatan para gadis non-manusia dan
membaringkan mereka ke lantai, lalu memanggil seekor slime dengan Skill
pemanggilan untuk menyembuhkan para gadis non-manusia tersebut.
Sambil menunjuk para gadis
non-manusia yang terbaring tanpa luka sedikit pun, dia memerintahkan,
"Mashiro, lindungi
mereka!"
Begitu perintah itu meluncur darinya.
Aku sudah kehilangan akal sehat. Sesuai dengan
instruksinya, aku berjalan ke sisi para gadis non-manusia dan berlutut. Setelah
itu, aku terus mengawasi pertarungannya.
"Luar biasa..."
Itulah kesan jujur yang kurasakan.
Itu pastinya bukanlah masalah kecepatan atau
kekuatan fisik. Karena gerakan dia yang sekarang pun masih bisa kulihat dengan
jelas oleh mataku.
"B-Bunuh dia!"
Pembacaan mantra sihir dari para Little Demon
Gremlin telah selesai, dan pita cahaya berwarna-warni meluncur dengan
kecepatan tinggi menyerang ke arahnya.
Dia mengibaskan dua bilah pisaunya seolah-olah
sedang menepis lalat. Setibanya di sana, seolah-olah waktu telah diputar balik,
berbagai pita cahaya tersebut berbalik dengan kekuatan beberapa kali lipat
lebih besar ke arah orang yang melepaskannya, lalu menghantam dan merenggut
nyawa mereka.
"Hiii!"
Kepala pria dan wanita berbusana formal yang
berlarian ketakutan berterbangan di udara, sementara tubuh para anggota Little
Demon Gremlin yang berniat melarikan diri dari medan pertempuran ini juga
dicabik-cabik menjadi bentuk salib.
Di tengah situasi yang penuh jeritan keputusasaan
semacam ini,
"Gorgo!"
Bos mereka, pria dengan rambut hanya di bagian
atas kepala, telah menyelesaikan mantranya, dan sesosok monster berupa kepala
tua yang menyerupai hantu gentayangan muncul dari lantai.
"Jadikan dia batu! Imbalannya adalah semua
jiwa di aula ini selain dirikuuu!"
Bos itu memberikan perintah kepada monster kepala
melayang Gorgo dengan suara emosional sementara wajahnya berkedut ketakutan.
"B-Boss, apa yang kamu katakan?!"
"Apa kamu berniat menjadikan kami sebagai
kurban?!"
Di tengah rentetan suara kecaman
bernada jeritan dari para Little Demon Gremlin,
"Fuhii, kelihatannya tidak enak sekali,
ya."
Gorgo berputar mengedarkan pandangan lalu
melontarkan kesan tersebut sambil mengerutkan kening.
Kemudian, begitu melihat kami berdua, wajahnya
terpuntir dalam kenikmatan,
"Mereka itu kelihatan enak, apa boleh
kumakan?"
Dia meminta konfirmasi kepada bos Little Demon
Gremlin.
"Tentu saja! Makanya bunuh dia!"
"Kontrak disetujui!"
Kedua mata Gorgo bersinar merah secara misterius,
dan semua pria serta wanita berbusana formal yang lemas di lantai, maupun
anggota Little Demon Gremlin yang terlambat melarikan diri, semuanya
berubah menjadi batu.
Pada saat yang sama, sinar cahaya merah melesat ke
arahnya.
Dengan ekspresi seolah-olah itu adalah hal yang
merepotkan, dia menjerat cahaya merah tersebut dengan pisaunya lalu menjawab
dengan ketus,
"Kukembalikan."
Cahaya merah itu berbalik kembali ke arah Gorgo
dan mengubah separuh wajahnya menjadi batu.
"T-Tubuhku―"
Mendengar Gorgo yang mengeluarkan suara keheranan,
"Bahkan tidak bisa menetralkan anomali status
dari kemampuan diri sendiri... Seberapa sampah sebenarnya kamu ini?"
Dia meninggikan suaranya dengan nada tidak senang.
Detik berikutnya, wujudnya telah berada di belakang Gorgo.
"Hike? Jyureru?"
Sejumlah garis melintas di kepala Gorgo yang
melayang di udara, dan pada saat berikutnya, kepala itu tersebar di lantai
dalam bentuk potongan daging yang hancur berkeping-keping.
"B-B-B-Bagaimana bisaaa―!"
Saat sang bos melengkingkan jeritan,
"Bubebebebebebette!"
Rentetan kepalan tinju menghantam sekujur tubuh
bos tersebut dengan kecepatan luar biasa hingga dia terlempar menabrak dinding
dan membentur dengan keras.
"Sudah berakhir...?"
Kekuatan di pinggangku lenyap, dan aku jatuh
terduduk lemas di lantai.
"Kamu sudah berjuang dengan
baik."
Begitu dia datang ke sisiku, dia
berjongkok, lalu melontarkan kalimat tersebut sambil tersenyum—kenapa harus
tersenyum di saat seperti ini—sambil mengelus kepalaku.
Entah kenapa, sentuhan tangan yang menenangkan itu
membuatku,
"―!?"
Perasaan lega, penyesalan, keraguan, serta
berbagai emosi dan pikiran bermunculan di kepalaku, bercampur aduk menjadi
satu, hingga aku akhirnya memeluknya erat-erat sambil menangis tersedu-sedu.
◇◆◇
Saat aku memberikan kata-kata pujian kepada
Mashiro, dia malah memelukku erat-erat dan menangis.
Baru saja aku mengira dia sudah mulai tenang, dia
malah buru-buru menjauh dariku. Dia kemudian menatapku dengan sorot mata penuh
dendam.
Jujur saja, kuharap dia berhenti menatapku tajam
dengan air mata di sudut matanya sambil menutupi dadanya.
Akibat pertarungan tadi, jaket Mashiro robek di
mana-mana. Pemandangan menakjubkan dari dua bukit kembarnya pun mengintip dari
balik kain.
Penampilan Mashiro saat ini pasti akan menimbulkan
kesalahpahaman yang tidak-tidak bagi siapa pun yang melihatnya.
"Da—sar mesum!"
Dan sebagai tambahannya, dia malah melontarkan
kata-kata itu.
"Asal kamu tahu saja, yang tiba-tiba
memelukku itu kamu, loh?"
"Kamu kegirangan kan,
menempel padaku tanpa busana begitu! Dasar mesum!"
"Itu benar-benar tuduhan yang
tak berdasar."
"Lagi pula, yang pertama kali mengelus
kepalaku kan kamu!"
Berdasarkan pengalamanku, saat seorang wanita
menjadi sekeras kepala ini, alasan yang konyol malah akan berakibat fatal. Hal
itu sudah sangat jelas dari pengalamanku di kampung halaman.
Kampung halaman? Tunggu dulu, seingatku aku sama
sekali tidak punya teman masa kecil perempuan. Apakah ini perasaan dejavu lagi?
"Maafkan aku soal itu."
Sambil menghela napas, aku menundukkan kepalaku.
Mashiro lalu memalingkan wajahnya dengan pipi yang merona merah.
(Terima kasih.)
Kemudian, dia menggumamkan kata itu pelan dengan
bibir yang mengerucut.
"Hah? Kamu bilang sesuatu?"
"Aku tidak bilang
apa-apa!"
Dia menatapku tajam sambil
meninggikan suaranya. Sepertinya dia menyuruhku untuk tidak bertanya lebih jauh
lagi.
Mungkin ini hanya perasaanku saja, tapi sikap
Mashiro sepertinya sudah berubah. Dia kembali menjadi gadis bermulut tajam
seperti sebelumnya, bukan lagi gadis kegelapan yang penuh kebencian seperti
tadi.
Yah, meski kata-katanya masih saja pedas, tapi
setidaknya sekarang dia pasti bisa mendengarkan ucapanku dengan tenang.
Aku mengeluarkan sebuah mantel besar dari dalam Item
Box dan memakaikannya ke bahunya.
"Mashiro, ada yang ingin aku bicarakan."
Aku menyampaikan keinginanku yang sungguh-sungguh
kepadanya.
"Aku juga punya sesuatu yang sangat ingin
kutanyakan padamu."
Dia membalas permintaanku dengan nada suara yang
tegas.
"Kalau begitu, silakan kamu duluan. Aku akan
menjawab apa pun yang kubisa."
"Aku akan bertanya langsung
ke intinya. Apa kamu ini
adalah wadah kerasukan dari bawahan vampir?"
"Hah? Aku ini wadah kerasukan bawahan vampir?
Tentu saja tidak. Bagaimana bisa kamu berpikir begitu?"
Yah, sebenarnya aku sudah merasa sedikit curiga
kalau aku dianggap punya hubungan dengan para vampir itu.
"Habisnya, hasil penyelidikan Asosiasi Hunter
bilang ada sidik jarimu di lokasi terbunuhnya Underworld Returner!"
Tepat saat dia meninggikan
suaranya, ponsel di sakuku berdering nyaring. Aneh sekali. Padahal aku yakin
sudah mematikannya sesaat sebelum penyusupan.
Begitu aku mengeluarkan ponsel
dari saku, terdengar sebuah suara dari sana.
"Ini aku, Akatsuki Eisei dari Asosiasi Hunter
Cabang Jepang. Sepertinya pemusnahan Little Devil Gremlin sudah selesai,
ya?"
Terdengar suara berat seorang pria dari ponselku.
Padahal aku belum menyentuh layar ponselnya sama sekali.
Ponsel ini pasti dikendalikan dari jarak jauh.
Dengan waktu dering yang terlalu pas ini, kurasa semua percakapan kami sejak
tadi sudah disadap.
"Biar kujawab pertanyaan kalian berdua.
Insiden kali ini adalah ulah salah satu petinggi Asosiasi Hunter yang
bermusuhan dengan Keluarga Akatsuki."
"Dia bersekongkol dengan
Departemen Penyelidikan untuk membunuh para Ranker tingkat tinggi dari faksi
kami, termasuk Underworld Returner."
"Mereka berencana melimpahkan
semua kesalahannya pada kalian berdua, Tsukishiro Kain dan si Bad Boy
yang punya hubungan dekat dengan kami. Namun tentu saja, kami sudah
menggagalkan semua rencana pembunuhan itu sebelum terjadi."
Gawat juga. Semua ini benar-benar
baru pertama kali kudengar. Aku hanya diberitahu oleh Bad Boy bahwa
Kepala Basis Yoshizato memerintahkan kami untuk menghancurkan Little Devil
Gremlin.
Lagi pula, mengesampingkan soal Bad
Boy, aku sendiri hampir tidak punya hubungan apa pun dengan Keluarga
Akatsuki.
"Pem... pembunuhannya
gagal...?"
Mashiro melontarkan pertanyaan itu
dengan suara gemetar.
"Orang-orang bodoh itu menyewa S-Class
Criminal dari luar negeri untuk menyerang kami. Tapi Yoshizato sudah
menyadari situasinya lebih dulu dan memasang jaring peringatan."
"Faksiku itu sangat kompeten, kau tahu.
Mengalahkan mereka bukanlah hal yang sulit jika kami sudah tahu akan ada
serangan."
"Kami menangkap mereka semua dalam satu
sapuan bersih. Jadi, meski ada yang terluka, tidak ada satupun dari mereka yang
mati, termasuk Underworld Returner."
"Ta-tapi, kami diberitahu oleh sang Savior
kalau Kain dan Instruktur Bad Boy itu punya hubungan dengan Little
Devil Gremlin!"
"Kami menyebarkan berbagai informasi yang
belum jelas kebenarannya demi mengungkap serentak para pembuat onar di dalam
negeri."
"Sang Savior mungkin
bertindak berdasarkan salah satu informasi tersebut. Padahal kenyataannya,
kamilah yang memerintahkan Bad Boy untuk bekerja sama dengan Tsukishiro
Kain demi menghancurkan Little Devil Gremlin."
"Artinya, kalian sengaja
menyebarkan informasi palsu untuk melihat siapa yang akan mengambil tindakan
mencurigakan dengan memanfaatkan insiden ini?"
"Tepat sekali. Tsukishiro Kain, kekuatanmu
itu sangat tidak normal."
"Tidak heran jika orang-orang dari Glorious
seperti Savior memercayai rumor tersebut. Tapi yang pasti, mereka sudah
benar-benar bergerak kali ini."
"Kami berniat untuk menyelidiki mereka secara
menyeluruh mulai dari sekarang."
Yah, sebelumnya aku memang mendapat perintah dari Bad
Boy untuk memusnahkan semua orang selain beberapa pihak yang terlibat dalam
insiden ini. Tapi ternyata itu adalah keinginan kuat dari para petinggi
Asosiasi Hunter.
"Singkatnya, bukan Kain, melainkan akulah
yang dicurigai dalam kasus ini, kan?"
Mashiro mencondongkan tubuhnya ke
arah ponsel dan bertanya.
"Benar. Orang-orang Glorious
seperti Savior itu sudah sering bertingkah mencurigakan sejak lama. Saat
kami melakukan penyelidikan internal, kami mendeteksi bahwa kau, Mikage
Mashiro, telah melakukan kontak dengan Savior."
"Itulah sebabnya kami memutuskan untuk
bersandiwara sedikit kali ini. Aku minta maaf karena telah mencurigaimu."
"Aku sudah mendengar semua kejadian di lokasi
insiden dengan telingaku sendiri. Kamu tidak bersalah."
"Lalu, soal Kain dan Instruktur Bad Boy
yang pergi hanya berdua saja itu...?"
Tanpa jeda sedetik pun, dia kembali bertanya. Aku
kira dia akan marah atau tertekan karena tahu dirinya telah dicurigai.
Namun sebaliknya, kehidupan kembali terpancar di
wajah Mashiro setiap kali kami berbincang.
"Kami tidak ingin memperlihatkan pemandangan
mengerikan pada anak-anak. Anggap saja itu rasa sayang orang tua."
"Lagi pula, melihat sifatnya itu, dia pasti
akan mengamuk habis-habisan kalau melihat langsung perbuatan Little Devil
Gremlin, kan?"
Sambil tertawa terbahak-bahak, dia malah
melontarkan kata-kata yang sangat terang-terangan.
"Tunggu dulu. Aku ini juga salah satu dari
anak-anak itu, loh?"
"Maaf saja, tapi tidak ada satupun petinggi
di Asosiasi Hunter yang menganggapmu cuma sekadar anak kecil."
"Itu pujian yang tidak kuinginkan."
"Yah, bagaimanapun juga, kerja bagus untuk
misinya. Aku akan memberimu imbalan yang besar segera setelah kau kembali, jadi
nantikan saja."
Setelah menyampaikan hal itu secara sepihak,
sambungan telepon pun terputus.
"Aku sudah mengerti situasinya. Tapi, ada
satu hal terakhir yang ingin kutanyakan padamu."
Mashiro bertanya dengan ekspresi wajah yang tampak
memohon.
"Ada apa?"
"Sapu tangan kelinci yang kamu pegang tadi,
itu benda apa?"
Jangan-jangan, dia melihatnya? Tapi bagaimana
bisa? Padahal aku sudah menyimpannya dalam-dalam di dasar tasku.
"Mashiro, kamu menggeledah tasku, ya?"
"Aku minta maaf karena sudah melihatnya
sembarangan! Makanya, kumohon jawablah!"
Dengan raut wajah putus asa, dia berpegangan erat
padaku dan memohon dengan suara keras.
Melihatnya seperti itu, aku menghela napas
panjang.
"Sapu tangan itu pemberian dari teman masa
kecilku."
Aku menjawab pertanyaannya dengan singkat.
"Teman masa kecil?"
"Ya, itu pemberian dari anak yang tinggal di
sebelah rumahku dulu."
"Aku sudah tidak ingat wajah maupun namanya,
tapi aku selalu menyimpannya dengan baik sejak dulu."
"Itu sungguhan, kan?"
Mashiro menanyakannya dengan ekspresi serius,
seolah-olah dia sedang mempertaruhkan takdirnya.
"Tentu saja. Aku bersumpah demi jiwaku."
Aku meletakkan telapak tangan
kananku di dada dan menjawabnya dengan mantap.
"Begitu... ya..."
"Meski begitu, kamu jahat sekali, ya. Kamu
benar-benar mengira kalau aku ini komplotan vampir?"
Tentu saja aku sama sekali tidak merasa terluka
karena kebenarannya sudah sangat jelas, tapi aku mencoba berpura-pura depresi.
"M-mau bagaimana lagi, kan! Habisnya tingkah
lakumu itu terlalu mencurigakan!"
Dia mengibas-ngibaskan kedua tangannya dengan
panik dan melimpahkan kesalahannya padaku.
"Kalau kamu bilang mencurigakan seterus
terang itu sih, ya..."
Orang lain mungkin akan sakit hati mendengarnya.
Tapi sayang sekali, hatiku terbuat dari baja, jadi kata-kata semacam itu tak
mempengaruhiku.
"B-bukan! M-maksudku bukan
begitu! Sapu tangan kelinci
itu sangat mirip dengan sapu tangan yang kuberikan pada adik laki-lakiku!"
Mashiro memberikan pembelaan dengan wajah yang
hampir menangis. Aku memang tidak akan pernah bosan melihatnya begini, tapi
kurasa sudah waktunya untuk berhenti menggodanya.
"Syukurlah kalau kamu memercayaiku."
Aku menyampaikan perasaanku yang tulus sambil
tersenyum kepadanya.
"Ah..."
Wajahnya memerah dan dia pun memalingkan
pandangannya. Tepat saat aku membelai kepalanya dengan tangan kananku,
terdengar sebuah seruan.
"Permisi..."
Seorang gadis kecil bertanduk berjalan memimpin di
depan dua wanita monster lainnya, lalu menghampiri Mashiro.
"Ada apa?"
Mashiro menanyakan niat mereka dengan wajah yang
menegang.
"Terima kasih banyak karena sudah
menyelamatkan kami semua."
Ketiga wanita itu menundukkan kepala dalam-dalam
dan menyampaikan rasa terima kasih mereka.
Begitu kami keluar dari tempat pesta, Takeshi
langsung menghujani aku dan Mashiro dengan pertanyaan tentang keselamatan kami
dengan wajah yang hampir menangis. Takeshi benar-benar orang yang sangat
memedulikan temannya.
Setelah kami menunggu selama beberapa jam,
sejumlah besar Hunter datang berbondong-bondong dan menangkap para penjahat
yang masih hidup. Dengan begitu, Quest kami pun telah berakhir.
Saat ini, kami sedang menuju ke fasilitas
berbentuk kubah sesuai dengan instruksi yang diberikan.
"Kalian semua sudah bekerja keras dalam
memusnahkan Little Devil Gremlin. Silakan beristirahat dengan tenang sampai Quest
selanjutnya yang lebih spesifik diberikan."
"Oh ya, hadiah untuk Quest
kali ini juga sudah ditransfer ke rekening kalian masing-masing."
Kata-kata tak terduga itu meluncur
dari mulut Kepala Basis Akigayama, Yoshizato Megaku.
"Serius!? Ini semacam bonus
gaji dadakan, kan!?"
"Kebetulan aku punya baju
yang ingin kubeli. Uang sakuku rasanya tidak akan cukup!"
"Bagus! Mantap!"
Karina, Ran, dan Makoto
mengekspresikan kegembiraan mereka dengan cara masing-masing. Namun, mereka
langsung memperbaiki postur tubuh dengan panik setelah mendengar dehaman dari
Amagi Tokisada.
"Pihak akademi punya dua instruksi tambahan
untuk kalian. Pertama, Akatsuki Tatsuya, kau harus mengurus Murayama Akito dan
Murayama Mikan!"
Tatsuya membelalakkan matanya lebar-lebar untuk
beberapa saat, seolah tak pernah menduga hal ini. Namun, dia pun merespons.
"Aku mengerti."
Dia memalingkan wajahnya dan
mengangguk tegas.
"Kemudian, Mikage Mashiro,
aku perintahkan kau untuk tinggal bersama Arisa, gadis monster yang kau
selamatkan kali ini!"
"Hah!? Kenapa harus
aku!?"
Bahkan Bad Boy pun merasa
ngeri melihat Yoshizato Megaku. Namun Mashiro membantahnya dengan ekspresi
wajah yang sangat marah.
Di saat Amagi Tokisada pun ikut
menegang, Yoshizato melanjutkan penjelasannya.
"Insiden kali ini adalah
skandal yang benar-benar bisa menjungkirbalikkan dunia. Kita tidak bisa
membiarkannya bocor ke publik."
"Di saat yang sama, muncul
juga situasi di mana kita harus segera memastikan hak asasi para monster cerdas
yang dipanggil ke dunia ini. Lagi pula, kini kita tahu kalau tidak semuanya adalah bawahan vampir."
Gadis-gadis monster yang kami
lindungi kali ini berasal dari dua latar belakang. Kelompok pertama adalah para
monster yang dipanggil oleh penyihir manusia menggunakan sihir pemanggilan
khusus.
Monster-monster itu lalu
diperjualbelikan di pasar gelap dan digunakan untuk permainan yang
diselenggarakan oleh Little Devil Gremlin.
Kelompok lainnya adalah mereka
yang dibawa paksa ke dunia ini sebagai budak oleh para vampir. Berdasarkan
informasi dari Bad Boy, kali ini terungkap bahwa para vampir melepaskan
banyak monster berkelas non-petarung ke dalam masyarakat manusia sebagai
pengintai.
Mereka menyusup tanpa perlu
mengikat kontrak sebagai bawahan. Selama mereka bukan bawahan vampir, tidak ada
batasan ruang gerak meskipun berada di dalam perlindungan dinding putih.
Para vampir sepertinya telah
memanfaatkan titik buta ini dengan sangat baik. Sejak lama, keberadaan anak ras
campuran dengan monster yang disebut youkai asli Jepang seperti Akito memang
sudah diketahui secara luas.
Jadi kehadiran mereka di Jepang
sebenarnya bukanlah hal yang terlalu aneh, dan para vampir kemungkinan besar
telah memanfaatkan celah tersebut. Tentu saja, berbeda dengan kelompok asli
Akito, gadis-gadis itu tidak memiliki catatan keluarga maupun tempat tinggal.
Kebanyakan dari mereka ditangkap
oleh manusia saat sedang berkeliaran sebagai gelandangan. Pada akhirnya, mereka
pun terbawa arus dan berakhir di tangan Little Devil Gremlin.
Kesamaan dari kedua kelompok itu adalah mereka
sama-sama korban yang murni tak bersalah. Fakta ini menjadi jelas setelah
mendengarkan keterangan dari mereka kali ini.
"Meski begitu, kenapa harus aku!?"
"Menurut dua pengikutnya, Nona Arisa
sepertinya adalah seorang putri dari negara monster di dunianya yang dulu. Para
atasan memutuskan bahwa dia harus disambut dengan sopan demi kemungkinan
menjalin hubungan diplomatik di masa depan."
"Apalagi, Nona Arisa hanya memercayai dua
manusia di dunia ini, yaitu dirimu dan Tsukishiro Kain."
"..."
Pasti ada ketidakpuasan di hatinya, terlebih lagi
Arisa adalah sesosok monster. Mashiro belum bisa sepenuhnya menerima kenyataan
itu.
Namun, dia tidak setega itu untuk menolak saat
seorang gadis kecil mengatakan langsung bahwa ia memercayainya. Hal ini memang
terasa seperti obat perangsang yang kuat, tapi kurasa keputusan ini bisa jadi
hal yang baik baginya.
"Jangan khawatir. Tentu saja tidak realistis
kalau hanya kau dan Arisa yang tinggal berdua. Oleh karena itu—"
Yoshizato Megaku menoleh ke arahku.
"Tsukishiro Kain, aku perintahkan kau untuk
bekerja sama dengan Mikage Mashiro dalam mengurus gadis monster Arisa!"
Ia baru saja menjatuhkan perintah yang sudah pasti
akan menimbulkan keributan itu.
Anggota Tim F, terutama para gadis seperti Makoto,
langsung menentang keras gagasan tinggal bersama lawan jenis. Namun, Takeshi
justru menyetujuinya, dan Tatsuya pun menunjukkan persetujuannya dalam diam.
Meski begitu, keputusan ini sudah ditetapkan oleh
akademi dan Asosiasi Hunter. Kami yang hanya seorang siswa tak punya hak untuk
menolak, jadi kami pun dipaksa untuk hidup bersama.
Hal yang paling mengejutkan adalah reaksi dari
Mashiro. Kupikir dia akan menolak mentah-mentah tinggal bersamaku, bahkan
sampai berniat keluar dari Akademi Kagetsu. Namun—
"Kalau kamu berani menyerangku, aku akan
langsung menebasmu sampai mati."
Ujung pedang suci Mashiro diarahkan padaku,
disertai ancaman pembunuhan tanpa belas kasihan sama sekali. Tapi
mengejutkannya, ia tak menolak ide hidup bersama ini.
Yah, karena ini adalah perintah langsung dari
Yoshizato Megaku, mungkin ia memang tak punya pilihan selain menyerah.
Begitulah kisahnya, saat ini kami sudah kembali ke
kamar asrama untuk mengemas barang-barang. Rencananya kami akan segera pindah
ke apartemen yang telah disiapkan oleh Asosiasi Hunter.
Takeshi sedang pulang ke kampung halamannya hari
ini karena punya urusan mendadak. Jadi yang tersisa di kamar ini hanyalah
Tatsuya.
Sepertinya, Tatsuya juga akan tinggal bersama
Akito dan Mikan di apartemen yang sama seperti kami. Apartemen itu memang
terlihat biasa saja dari luar, tapi sepertinya para Hunter tingkat tinggi juga
menetap di sana.
Jadi sebenarnya itu bukanlah tempat yang pantas
ditinggali oleh seorang siswa. Melihat pemaksaan ini, kurasa apartemen itu
adalah bangunan bermasalah milik kakek Tatsuya.
Saat aku baru saja akan melangkah keluar kamar,
terdengar sebuah seruan.
"Tsukishiro Kain, ah, bukan, Tuan Kain!"
Sebuah suara memanggilku dari arah belakang. Saat
aku menoleh, kulihat Tatsuya sedang berjongkok dengan kedua tangan menempel ke
lantai.
"Tatsuya, ada apa?"
Melihat tingkah Tatsuya yang aneh, aku
mengernyitkan dahi seraya menanyakan maksudnya.
"Aku akan membayar dengan apa pun yang
kubisa! Latihlah aku! Kumohon!"
Tatsuya menggesekkan dahinya ke lantai, lalu
memohon kepadaku.
Memintaku melatihnya, ya. Dia sampai rela
merendahkan dirinya seperti ini. Pasti tekadnya sudah sangat bulat.
"Apa alasanmu ingin menjadi kuat? Apa demi
Akito dan Mikan?"
"...Bukan."
"Lalu, untuk apa kamu ingin jadi lebih
kuat?"
"Demi diriku sendiri."
"Apa untuk balas dendam pada orang-orang yang
sudah meremehkanmu?"
"Bukan! Selama ini aku
hanyalah bajingan yang paling rendah! Aku sama sekali tak menaruh dendam atas perlakuan yang kuterima saat
ini!"
"Hanya saja, jika aku tetap lemah seperti
ini, semuanya akan terlepas dari tanganku. Itulah yang kusadari dari Quest
sebelumnya!"
Betapa bodohnya. Pada akhirnya, itu sama saja
artinya dengan berjuang demi Akito dan Mikan, kan?
Tapi rasanya kurang pantas kalau aku harus
repot-repot menyindirnya.
"Jawaban yang tidak buruk. Baiklah, aku akan
melatihmu. Tapi latihanku ini cukup berat."
"Ini jauh berbeda dengan permainan yang biasa
kau lakukan. Apa kau tetap bersedia?"
Setelah menelan ludah dengan susah payah, Tatsuya
pun menganggukkan kepalanya kuat-kuat.
"Tentu saja! Aku sangat berutang budi
padamu!"
Ia meluapkan rasa syukurnya dengan suara yang
lantang.
"Kalau begitu, latihan akan dimulai besok
pagi. Bersiaplah di depan asrama ini pada jam lima pagi."
Setelah menyampaikan pesanku sepihak, kali ini aku
benar-benar beranjak meninggalkan kamar.
◇◆◇
Di sebuah ruangan luas bergaya Jepang milik keluarga utama Akatsuki. Di
sana, para anggota klan tengah menyaksikan sebuah rekaman video.
Video itu memperlihatkan pergerakan Akatsuki
Tatsuya dalam Quest penghancuran Little Devil Gremlin. Tampak
adegan di mana Tatsuya bersujud memohon untuk menjadi murid Tsukishiro Kain.
Terlihat juga kehidupan sehari-harinya saat
tinggal bersama Akito dan Mikan. Semua orang dari Keluarga Akatsuki yang hadir
di ruangan itu hanya bisa melongo menatap pemandangan tersebut.
Ya, hanya beberapa orang saja yang tidak
menunjukkan reaksi keterkejutan semacam itu!
"Ohh! Tatsuya! Syukurlah! Syukurlah kau
baik-baik saja!"
Pria tua bertubuh besar dengan rambut putih yang
bersorak kegirangan sambil menitikkan air mata itu adalah Akatsuki Kouzen. Ia
adalah penyihir terkuat di Jepang sekaligus kepala Keluarga Akatsuki saat ini.
"Ayah, apakah Ayah sudah tahu kalau
memasukkan Tatsuya ke Tim F akan berakhir seperti ini?"
Eisei bertanya pada Kouzen dengan raut wajah
serius.
"Tentu saja! Aku percaya kalau Beliau pasti
akan menuntun Tatsuya ke jalan yang benar!"
Selain sebagai penyihir terkuat di Jepang, Kouzen
juga merupakan penguasa mutlak di Keluarga Akatsuki. Tak heran jika ia memiliki
harga diri yang sangat tinggi, sehingga pada dasarnya ia bukanlah tipe orang
yang suka menggunakan bahasa sopan kepada orang lain.
Bahkan, tidak berlebihan rasanya jika menyebut ini
adalah pemandangan langka yang baru pertama kali terjadi seumur hidup.
"Meski begitu, aku tak menyangka Tuan Tatsuya
akan berubah sejauh ini..."
Tak ada satupun orang yang hadir di ruangan itu
melayangkan protes atas kata-kata yang meluncur begitu saja dari mulut ajudan
tersebut. Bahkan
sebaliknya—
"Tatsuya memang terlahir
dengan bakat, dia juga anak yang baik. Ini bukanlah hal yang mengejutkan, dia
hanya sedikit tersesat saja."
Ibu kandung Tatsuya, seorang
wanita berambut merah panjang dengan setelan jas merah bernama Akatsuki Akane
menyeka rambutnya seraya menyatakan hal itu dengan gembira.
"Namun, faktanya, Tuan
Tatsuya juga yang telah membahayakan posisi Keluarga Akatsuki kita. Meski sekarang ia sudah bertobat, kita tak
bisa serta merta menerimanya kembali, kan."
Pemimpin cabang Keluarga Akatsuki kembali
menegaskan hal itu, tetapi—
"Sejak awal, aku sama sekali tak berniat
menarik Tatsuya kembali ke Keluarga Akatsuki! Lagipula, potensinya itu tak akan
puas hanya dengan hal semacam ini!"
"Terlebih lagi kali ini, dia telah menjadi
murid dari Beliau!"
Mendengar ucapan Kouzen yang penuh rasa percaya
diri itu, Akane pun merespons.
"Ayah, sebenarnya kau menganggap dia itu
sebagai apa?"
Akatsuki Akane mencondongkan tubuhnya ke depan dan
menanyakannya pada Kouzen.
"Beliau adalah eksistensi tingkat atas.
Apalagi posisinya lumayan tinggi."
"Ayah, apa itu benar!?"
"Ada apa ini, apa kalian semua tak
menyadarinya!? Hanya dengan melihat sekilas saja sudah jelas! Aura yang
terpancar darinya sangat berbeda dari manusia biasa!"
"Tentu saja kami tak punya mata dewa
sepertimu, Ayah. Tapi kalau itu yang keluar dari mulutmu, berarti sudah pasti
Tsukishiro Kain punya kekuatan yang setara dengan dewa..."
"Kalau begitu, ceritanya akan berubah, kan?
Tatsuya sudah resmi menjadi murid dari eksistensi tingkat atas, bukan?"
Ruangan itu mendadak riuh akibat saran dari salah
satu anggota keluarga utama Akatsuki.
"Memang benar. Jika kelak Tuan Tatsuya
semakin menguasai kekuatannya, kekuatan itu akan jadi milik Keluarga
Akatsuki..."
Diawali oleh kata-kata pemimpin cabang keluarga
yang sebelumnya telah menolaknya tadi, ruangan pun semakin dipenuhi berbagai
tanggapan.
"Belum pernah ada satu orang pun yang menjadi
murid dewa! Itu juga merupakan impian pamungkas kita sebagai penyihir!"
"Sebagai seorang penyihir, tujuan tertinggi
dan puncaknya adalah bisa bertatap muka dengan dewa dan diberkahi kekuatannya.
Setidaknya satu dari impian itu kini telah terkabul, kan?"
Suara yang menuntut Tatsuya kembali ke Keluarga
Akatsuki menggema riuh dari penjuru ruangan. Namun—
"Sudah kubilang aku takkan mengembalikannya,
kan!"
"Ya, aku juga setuju dengan pendapat Ayah.
Apalagi melihat situasinya, dia tak akan mau kembali walaupun kita
memintanya."
Eisei mengangkat sudut bibirnya
dan memastikannya dengan tegas.
"Eisei, jangan bilang kalau
Asosiasi Hunter yang akan mengambilnya lagi!"
"Jangan bercanda! Kita baru
saja berhasil mencapai tahap kebenaran ini!"
Di saat hujan kritikan terus berdatangan, Eisei
menanggapinya.
"Dasar bodoh! Saat ini kita sedang berada di
tengah pertempuran antara vampir dan kelangsungan hidup umat manusia! Masa
bodoh dengan impian konyol penyihir itu!"
Eisei bangkit berdiri dan meluapkan kemarahannya.
"Tenang saja. Kalaupun Tatsuya tidak kembali
ke Keluarga Akatsuki, kita masih punya Narumi, kan?"
"Biarkan saja Narumi dan dia memiliki anak,
lalu jadikan anak itu sebagai penerus Keluarga Akatsuki. Bukankah begitu
Keluarga Akatsuki akan jadi lebih aman?"
Kesunyian melanda ruangan sesaat usai Akane
melontarkan usulan itu. Namun di detik berikutnya, sorak sorai kegembiraan
langsung meledak.
"Bila itu terwujud, itu benar-benar impian
yang jadi nyata untuk kita semua. Tapi apakah itu mungkin terjadi?"
Kepala cabang keluarga berkumis tipis itu
melontarkan keraguannya.
"Setidaknya Narumi kelihatannya memendam
perasaan yang cukup kuat padanya. Meskipun aku sama sekali tak tahu apa
alasannya."
Akane membalasnya dengan mengangkat bahu acuh.
"Kalau memang Nona Narumi yang turun tangan,
kurasa takkan ada masalah."
"Benar juga. Apalagi dengan kecantikan Nona
Narumi yang luar biasa itu!"
Di saat wajah semua orang tersorot oleh cahaya
harapan, Akane kembali angkat bicara.
"Sekarang tinggal soal pembasmian para vampir
saja. Ayah yakin kalau Tsukishiro Kain mampu mengalahkan para vampir, kan?
Habisnya kau kelihatan santai sekali."
Akane bertanya untuk memastikan hal itu pada
Kouzen sembari tersenyum penuh arti.
"Untuk saat ini, jawabanku adalah ya."
Ruangan langsung bergemuruh riuh saat Kouzen
mengiakan pertanyaannya.
"Bisakah kau memberitahu kami
alasannya?"
Salah satu pengikutnya bertanya tentang dasar
keyakinan Kouzen. Namun, Kouzen malah mengarahkan pandangannya ke sudut
ruangan, bangkit berdiri, lalu bersujud.
"Tuan Atom, bisakah Anda
menjelaskannya?"
Dia menanyakan hal itu dengan penuh hormat pada
seorang pria paruh baya berambut abu-abu panjang yang diikat ke belakang, yang
tengah meneguk minuman keras di sudut ruangan.
"Tu-Tuan Atom!"
Begitu Eisei berlutut dan menundukkan kepalanya,
orang-orang yang hanya bisa tertegun melihatnya pun ikut-ikutan berlutut dan
menundukkan kepala dengan panik.
"Dia itu kuat. Hanya dengan melihatnya
sekilas, aku tahu kalau dia punya kekuatan yang cukup untuk berhadapan dengan
monster dari generasi lama."
"Baginya, vampir-vampir di sini hanyalah
seperti semut yang merayap di tanah."
"Ka-kalau begitu... Umat
manusia akan selamat!"
Cahaya harapan bersinar di wajah
semua orang, sebelum akhirnya Tuan Atom kembali angkat bicara.
"Sayangnya, tak semudah itu.
Kelihatannya, bos mereka si Vlad itu tengah mencoba untuk mendapatkan kekuatan
monster yang sangat merepotkan."
"Jika kekuatan itu berhasil
jatuh ke tangan mereka, dia pun harus bertaruh nyawa untuk melawannya."
Eisei tanpa ragu langsung menanyakan
kelanjutan kalimat Atom yang diucapkannya seolah sedang merenungi sesuatu itu.
"Kekuatan apa yang Anda maksud?"
"Super God Behemoth. Makhluk itu sudah
masuk dalam kategori bencana di mana kekalahan adalah hal yang pasti jika kau
berani melawannya. Bahkan kekuatanku tak mempan padanya."
Mendengar pernyataan tegas dari Atom, Eisei
kembali bersuara.
"Jika saja Tuan Susanoo—"
Seolah sedang mencari jalan keluar, Eisei
menyebutkan nama yang menjadi secercah harapan.
"Percuma saja. Makhluk itu
benar-benar berbeda dimensi. Bahkan seorang Susanoo sekalipun akan terpaksa menjalani pertempuran yang
pasti berujung pada kekalahan."
"Sialan! Padahal kupikir kita sudah punya
cara untuk mengusir mereka dari bumi ini, tapi malah muncul ancaman baru yang
lebih mengerikan dari itu!"
Di saat Eisei meninju tikar tatami dengan tangan
kanannya, suara lain menimpali.
"Kalau begitu, bagaimana jika kita memohon
pada Tsukishiro Kain agar segera membasmi para vampir itu?"
"Itu mustahil."
"Mengapa mustahil!?"
"Karena saat ini sepertinya dia kehilangan
ingatan aslinya. Anggap saja itu adalah syarat baginya untuk bisa bertahan di
dunia ini."
"Di dalam pikirannya saat ini, dia percaya
kalau dirinya itu lemah, dan vampir adalah makhluk kuat yang tidak bisa dia
menangkan. Sepanjang apa pun kita mencoba menjelaskannya, dia takkan pernah
menerimanya."
"Kenapa dia harus berada dalam situasi
serumit itu!?"
Pertanyaan yang sangat wajar dari Eisei itu
langsung ditanggapi oleh Atom dengan senyum percaya diri.
"Karena mungkin ada hal yang takkan bisa
dilakukannya jika dia tidak menjelma sebagai manusia biasa yang lemah, kan? Singkatnya
begini. Tsukishiro Kain datang ke dunia ini demi mewujudkan suatu tujuan
tertentu. Demi mencapai tujuan itu, dia harus menjadi manusia biasa yang lemah.
Ketika dia berhasil mencapai tujuannya sebagai manusia, barulah dia akan
mendapatkan kekuatannya kembali dan mau membasmi para vampir demi kita.
Sebaliknya, jika kita memprovokasinya dengan ceroboh sehingga tujuannya tak
pernah tercapai, maka dia takkan pernah bisa mendapatkan kekuatannya kembali
dan akan langsung pergi meninggalkan tempat ini."
Kepala keluarga cabang yang memiliki kumis
melintang itu merangkum seluruh pembicaraan sejauh ini, lalu
mengonfirmasikannya kepada Atom.
"Memang benar seperti
itu."
"Tuan Atom! Mohon beri tahu kami, apa sebenarnya
tujuan Anda melakukan semua ini?!"
Mendengar teriakan putus asa dari Eisei, Atom
hanya menggelengkan kepalanya ke kiri dan ke kanan.
"Aku sudah bisa menduganya. Betapa besarnya
tekad itu, dan betapa sebuah keajaiban hal ini bisa terjadi. Namun, hanya ini yang tidak bisa
kuungkapkan demi prinsipku sendiri. Jika aku membocorkannya, aku benar-benar
akan menjadi sampah paling hina. Maafkan aku."
Atom menundukkan kepalanya
dalam-dalam.
"Tidak apa-apa. Anda pasti memiliki posisi yang sulit,
justru kami yang memohon maaf."
Eisei pun ikut menundukkan kepalanya saat itu
juga.
"Lagipula, syarat-syarat yang kutentukan
dengan kekuatanku sendiri kini sudah tidak berarti lagi. Mulai dari sini,
pertarungan yang sesungguhnya baru saja dimulai. Dari lubuk hati yang paling
dalam, aku mendoakan kemenangan kalian."
Setelah menyampaikan hal tersebut,
sosok Atom perlahan menghilang tanpa bekas.
"Apakah kalian sudah memahami situasinya?
Menurutku, diterimanya Tatsuya sebagai murid juga merupakan salah satu dari
syarat tersebut. Karena itulah, saat ini yang harus kita lakukan hanyalah
mengawasi. Apakah kalian setuju?"
Kousen berdiri, lalu mengedarkan pandangannya ke
seluruh orang yang hadir untuk mengonfirmasi niat mereka.
Seluruh pihak yang berhubungan dengan keluarga
Akitsuki pun berdiri, lalu menundukkan kepala mereka secara bersamaan.
◇◆◇
Di kediaman keluarga Hamuro yang megah namun
terasa sia-sia, seorang pria berbadan besar dengan kumis kaisar bernama Kagerou
Hamuro sedang murka hingga rambutnya seolah berdiri.
"Adikku tertangkap! Ini berbeda dari rencana
awal! Seharusnya kalian menjadi instruktur penanggung jawab dan menggiring
bocah-bocah Kelas F itu dengan rapi untuk ditangkap. Itu kesepakatan kita, kan?
Tapi kenapa sekarang jangankan menangkap, tak ada satu pun dari mereka yang
berhasil kalian bekuk?!"
Ia membentak sambil menyemburkan ludah ke arah
pria yang mengenakan tudung hitam pekat.
"Itu karena seseorang bergerak terlalu
gegabah, sehingga membuat Yoshizato menaruh kecurigaan. Akibatnya, posisi
instruktur penanggung jawab Kelas F malah jatuh ke tangan 'Si Bocah Nakal' yang
merupakan anteknya. Kami juga sangat dirugikan oleh hal ini."
Pria bertudung hitam pekat itu merengut jijik,
lalu membalas dengan nada datar. Sebuah masker hitam tampak menutupi wajahnya.
"Aku tidak mau mendengar alasanmu! Lalu,
bagaimana dengan urusan adikku? Masalah ini tidak akan tercium oleh publik,
kan?!"
Jika sampai terbongkar, reputasi Hamuro sebagai
politikus pembela hak asasi manusia akan hancur lebur. Jika dampaknya sangat
buruk, gara-gara adik bodohnya itu, Hamuro bisa saja dipaksa pensiun dari dunia
politik.
"Anda tidak perlu khawatir. Asosiasi Hunter
telah memutuskan skenario resmi bahwa Jiyou Hamuro dirawat di rumah sakit
karena kondisi kesehatan yang memburuk, lalu meninggal secara mendadak akibat
penyakit akut."
"Kau bilang tidak perlu
khawatir, hah?! Sudah pasti
pengawasan Asosiasi Hunter terhadapku akan makin diperketat! Rencana ini harus
segera dibatalkan! Sampaikan juga hal ini kepada para vampir itu!"
"Sudah terlambat untuk mundur.
Rencana ini sudah mulai berjalan."
"Jangan bercanda!"
Hamuro berteriak murka, tetapi kedua
tangan pria bertudung hitam itu mendadak mencengkeram wajahnya dengan erat.
"Jika Anda berniat menolak
rencana ini, Anda benar-benar akan hancur. Tentu saja, ini bukan sekadar kiasan. Anda akan
dipaksa drop out dari jalan hidup Anda."
Pria bertudung hitam itu mengumbar senyum licik
sembari menatap Hamuro dengan sepasang mata hitam pekatnya, menyuarakan ancaman
tersebut.
Hanya dengan menatap mata tanpa kehangatan yang
mengintip dari balik topeng itu saja, Hamuro merasakan ketakutan yang luar
biasa.
Seolah tanah di bawah kakinya melenyap dan
melemparnya ke dalam jurang tanpa dasar.
"...Ba-baiklah. Aku akan menurut..."
Saat Hamuro akhirnya berhasil menjawab, pria
bertopeng dan bertudung hitam itu melepaskan cengkeramannya.
"Tetapkan tekad Anda mulai dari sekarang.
Tidak ada jalan lain bagi Anda selain hidup berdampingan bersama Tuan Spade dan
para vampir lainnya."
Ia melontarkan vonis yang tidak ubahnya seperti
mimpi buruk. Tentu saja demikian.
Hal itu menandakan seluruh usaha Hamuro yang telah
merangkak naik hingga ke posisi Sekretaris Jenderal partai penguasa akan
berakhir sia-sia.
"Anda tidak perlu berkecil
hati. Saya telah menyarankan kepada Tuan Spade agar menjadikan Anda sebagai
ikatan klan beliau. Jika hal
itu terwujud, Anda bisa menjadi raja di negara ini."
"Apakah... para vampir itu benar-benar mau
menerimaku?"
"Tentu saja. Dengan syarat rencana kali ini
berhasil, kami akan mengatur agar Anda tetap terlibat di jajaran inti
pemerintahan negara ini. Begitu negara ini jatuh ke dalam genggaman vampir,
Tuan Spade berjanji akan mengizinkan Anda menguasai seluruh negeri ini secara
de facto sebagai ikatan klan beliau. Beliau sendiri yang menyampaikannya."
Selama bisa menguasai negara ini secara de facto,
Hamuro tidak peduli dengan formalitas semacam itu. Justru ia sudah muak karena
selama ini harus selalu menjaga perasaan para rakyat jelata.
Jika negara ini jatuh ke tangan vampir, ia bisa
melakukan apa saja terhadap wanita yang menyukainya. Bagi Hamuro, situasi ini
malah terlalu menguntungkan.
"Baiklah! Aku akan tunduk pada vampir!"
Dengan demikian, Hamuro resmi menjual seluruh umat
manusia kepada para vampir, baik secara nama maupun tindakan.
"Kalau begitu, dari lubuk hati yang paling
dalam, saya mendoakan keberhasilan rencana ini."
Pria bertudung hitam itu bangkit dari sofa,
memberi hormat secara singkat, lalu melangkah pergi meninggalkan kediaman megah
tersebut.
Di bawah paparan cahaya bulan,
"Bodoh sekali! Mana mungkin sosok seperti
Tuan Spade mau memanfaatkan sampah seperti dirimu. Tapi yah, tidak bisa
dimungkiri kalau untuk sementara waktu kau memang pion yang berguna. Setelah
rencana ini selesai, aku akan memberimu sedikit kemudahan."
Sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman
miring.
"Tapi, Tsukishiro Kanon, ya...
Sebenarnya siapa dia sebenarnya...? Mungkinkah dia adalah utusan dewa lain yang
mewujud di dunia ini...? Tidak, tidak mungkin..."
Pria bertudung hitam itu
menggelengkan kepalanya ke kiri dan ke kanan.
"Bagaimanapun juga, dia jelas menjadi
penghalang terbesar untuk rencana kali ini. Aku harus segera mengambil tindakan."
Ia bersedekap, lalu bergumam
seorang diri.
◇◆◇
Di malam hari, aku sedang masuk ke
dalam sungai yang terletak di belakang Gedung B untuk mencari sesuatu. Benda
itu adalah cincin pemberian darinya yang sempat kulempar begitu saja.
Aku baru menyadarinya setelah
ditunjuk oleh Utako, tetapi sepertinya aku sering mengelus cincin itu di jari
tanganku dengan penuh kasih sayang. Ketika hal itu diungkit, tentu saja aku
merasa malu.
Namun lebih dari itu, aku
menyadari bahwa keberadaan cincin tersebut terasa makin membesar di dalam
hatiku setiap harinya.
Sebab itulah, bagiku, membuang
cincin tersebut merupakan sebuah keputusan sekali seumur hidup untuk memutuskan
hubungan dengan Cain.
Meskipun begitu, pada akhirnya aku
tahu bahwa kabar mengenai dirinya yang mengkhianati umat manusia maupun tuduhan
bahwa ia adalah wadah kesurupan klan vampir, semuanya hanyalah omong kosong
belaka.
Padahal aku sudah melakukan
kesalahpahaman yang sangat memalukan, tetapi cowok itu sama sekali tidak
menyalahkanku.
Ia malah menyelamatkanku dari
bahaya seperti biasa, dan setelah itu tetap memperlakukanku seperti biasa
seolah tidak terjadi apa-apa.
Hal itu membuatku merasa sangat bahagia hingga
ingin menangis. Di saat yang sama, cincin itu adalah hadiah pertama sekaligus
bukti ikatan dengannya.
Hasrat yang kuat untuk mendapatkannya kembali
mendadak bergejolak, dan di sinilah aku sekarang, sibuk mencari cincin itu.
Padahal aku sudah mencarinya selama tiga jam,
tetapi sama sekali tidak ada tanda-tanda bakal ketemu.
Ini sudah bulan November, dan suhu di malam hari
terasa sangat dingin. Saat aku menggigil dingin hingga gigiku bergelatuk—
"Mashiro, apa yang sedang Kamu
lakukan?!"
Saat aku menoleh ke arah suara yang penuh
kejengkelan itu, Cain sedang berdiri diam sambil memegang senter.
Wajahnya tampak menekuk gusar, sebuah pemandangan
yang sangat langka.
"Tidak, aku cuma sedang
mencari barang yang hilang!"
"Kenapa harus sengaja mencari di jam begini?!
Mencari kan bisa
dilanjutkan besok! Bagaimana kalau Kamu masuk angin?!"
Ia berjalan mendekat ke arahku,
lalu menarik tanganku secara paksa untuk membawaku naik ke tepi sungai.
Pasti alasan dia marah karena aku melakukan hal
yang nekat seperti ini.
Meskipun di dalam hatiku rasa bahagia
meletup-letup, aku tetap berusaha bersikap tidak mau kalah.
"Jangan ikut campur! Ini barang yang sangat
penting!"
Aku mengempaskan tangannya, berpura-pura tangguh
sekuat tenaga.
"Kalau begitu aku ikut mencari. Barang apa yang sedang Kamu
cari?"
"..."
Mana mungkin aku bisa mengatakannya. Mengaku kalau
aku telah melemparkan cincin yang ia berikan ke sungai... Jika aku
mengatakannya, kali ini ia benar-benar bisa membenciku.
Karena itulah, aku hanya bisa mengatupkan bibirku
rapat-rapt dan memalingkan wajah.
Ia menggaruk kepalanya dengan wajah cemberut,
tetapi kemudian angkat bicara.
"Baiklah. Kalau begitu, aku akan mengajarimu
cara menemukannya. Tadahkan kedua telapak tanganmu ke atas dan pejamkan
matamu."
Aku tidak paham apa maksudnya, tetapi Cain tidak
pernah melakukan hal yang sia-sia selama ini. Jadi, aku memejamkan kedua mataku
sesuai dengan yang ia perintahkan.
"Bayangkan benda yang ingin Kamu cari, lalu
alirkan Magic Power milikmu secara perlahan dari bawah kaki hingga
membentuk lingkaran konsentris. Dengan teknik kontrol Magic Power yang
Kamu miliki, Kamu pasti bisa menemukannya."
"Y-ya."
Sesuai dengan petunjuknya, aku menyalurkan Magic
Power berwarna perak dari pusat tubuhku menuju ke ujung kaki, lalu
melepaskannya perlahan hingga membentuk pola lingkaran.
"Ugh?!"
Wajahku merengut saat sejumlah besar informasi
mendadak melonjak masuk ke dalam kepalaku. Sensasi seolah-olah dipaksa dijejali
informasi ini terasa mirip dengan rasa sakit.
"Kuncinya adalah menutup akses informasi
selain objek yang Kamu bayangkan. Kalau Kamu mencoba memasukkan seluruh
informasi itu ke dalam kepala sekaligus, otakmu bisa terbakar."
Cain mengucapkan hal yang
mengerikan itu dengan santai.
(Makanya, kalau bisa dilakukan
segampang itu, aku juga tidak bakal kesusahan!)
Meski menggerutu di dalam hati,
aku tetap fokus membayangkan wujud cincin tersebut sesuai petunjuknya.
"Eh?"
Tepat di posisi sekitar lima puluh
meter dariku, aku bisa merasakan keberadaan sebuah cincin kecil.
Seolah terlempar, aku langsung
berlari menuju lokasi tersebut dan mencelupkan tanganku ke dalam air sungai.
"Ketemu!"
Aku bisa menyadarinya lewat sentuhan. Benda yang
ada di dalam genggaman tangan kananku adalah cincin itu.
"Sepertinya sudah ketemu, ya. Kalau begitu,
ayo kita pulang."
Ia membalikkan badannya, lalu melangkah berjalan
menuju ke tepi sungai.
Setelah mengenakan cincin itu di jari manis tangan
kiriku, aku menyusul ke tepi sungai. Di sana, Cain sudah menunggu sambil
membawakan handuk mandi, pakaian, dan sepatu.
Setelah menegaskannya berulang kali agar tidak
menoleh ke belakang, aku segera berganti pakaian dengan cepat, lalu kami berdua
berjalan pulang.
Begitu Cain tahu aku belum makan malam, ia
menghela napas panjang dengan raut wajah jengkel, lalu menyuruhku memesan makan
malam di restoran keluarga. Hmm, hari ini sikap Cain agak sedikit memaksa, ya.
"Apakah Alisa tidak apa-apa sendirian?"
"Ya, aku sudah minta tolong pada As dan Min
yang tinggal di sebelah. Aku juga sudah menyiagakan Battaman sebagai pengawal,
jadi tidak ada masalah."
As dan Min adalah pelayan Alisa yang tinggal di
kamar sebelah apartemen kami. Konon pada awalnya mereka berdua bersikeras ingin
tinggal satu atap bersama Alisa, tetapi atas permintaan kuat dari Alisa
sendiri, mereka akhirnya menyerah dan setuju untuk tinggal di kamar sebelah.
"Begitu, ya. Aku jadi merepotkan..."
"Kalau Kamu merasa begitu, tolong jangan buat
kami khawatir lagi."
Sejak tadi Cain terus memasang wajah cemberut,
sepertinya suasana hatinya sedang agak buruk. Mungki karena aku pergi tanpa
memberi tahu apa pun, ia jadi sangat mengkhawatirkanku.
"Maaf ya..."
Saat aku memanyunkan bibir dan memalingkan wajah,
Cain akhirnya kembali tersenyum manis seperti biasanya.
"Alisa juga sangat mengkhawatirkanmu. Jangan
lupa minta maaf padanya begitu sampai di rumah, ya."
Di dalam hati, aku merasa lega.
Namun tiba-tiba—
"Aku sudah lama ingin
menanyakannya, Mashiro pernah mengira aku sebagai orang lain, kan? Apakah
wajahnya mirip denganku?"
Ia menanyakan hal yang sama sekali
tidak kuduga.
"Hanya penampilan luarnya
saja. Kai Heinemann, pria itu adalah musuh umat manusia yang melindungi monster
dan iblis di Remuria, dunia asalku..."
Penilaian mengenai musuh
bebuyutanku itu mendadak terhenti di tengah jalan. Padahal jika itu beberapa
waktu lalu, aku bisa mengucapkannya dengan penuh keyakinan atas prinsipku
sendiri.
Namun, setelah menyentuh keburukan
manusia dan kebaikan para monster seperti Alisa, aku yang sekarang tidak lagi
bisa menampik keberadaan monster maupun klan iblis.
Dan aku bisa meramalkan dengan
jelas bahwa hal ini akan menuntutku menuju ke dasar jurang yang dalam dan
gelap, tempat di mana tidak ada secercah pun cahaya harapan.
"Mashiro, Kamu itu sangat murni. Tak seperti
kami, Kamu masih bisa kembali. Jadi, jangan terlalu menyalahkan dirimu
sendiri."
Perkataan Cain saat itu merasuk dengan sangat kuat dan berat di dalam hatiku.



Post a Comment