Epilog
―???
Di sana terdapat sebuah ruangan yang sangat luas dan remang-remang.
Dinding dan langit-langitnya yang hitam pekat terbuat dari kumpulan pipa, membangkitkan gambaran organ dalam di dalam perut makhluk raksasa bagi siapa pun yang melihatnya.
Di tengah ruangan tersebut, berdiri sebuah takhta yang megah dan mewah.
Di atasnya, sesosok kabut hitam berbentuk manusia dengan beberapa pusaran tampak duduk bersandar acuh tak acuh.
Kabut hitam berbentuk manusia yang memancarkan ketakutan mendasar itu memalingkan wajahnya ke arah para makhluk abnormal yang berlutut di hadapan takhta.
"Jadi? Bagaimana dengan pedang mukjizat itu?"
Ia bertanya kepada para makhluk abnormal yang berlutut di ruang takhta. Suaranya tidak terlalu keras atau galak, tetapi tubuh para makhluk abnormal itu mulai gemetar hebat.
"Aku tanya sekali lagi. Bagaimana dengan pedang mukjizat itu?"
Sesuatu yang menyerupai bola mata pada kabut hitam itu bersinar redup dan mengerikan. Seketika, beberapa makhluk abnormal di barisan depan meleleh dari kepala mereka.
"Laporan berkala dari Viscount Dagon terputus, sehingga keberadaan pedang tersebut tidak diketahui. Kemungkinan besar... ia telah gagal..."
Salah satu makhluk abnormal yang seluruh tubuhnya dipenuhi mulut berucap dengan suara gemetar seraya menempelkan wajahnya ke lantai.
"Gagal? Maksudmu dia kalah dalam permainan kali ini?"
Seolah merespons rasa jengkel si kabut hitam, separuh tubuh makhluk ber-mulut banyak itu ikut meleleh.
"Benar sekali."
Namun, ia menjawab tanpa memekikkan rasa sakit sedikit pun.
"Dia kalah darinya, ya... Ini permainan yang serius. Kalah sih tidak masalah, lagipula tidak akan seru kalau tidak begitu. Tapi ya, ada cara kalah yang benar!"
"Harusnya dia menghancurkan hal terpenting milik orang itu dan membuat kebenciannya padaku makin membara. Harus seperti itu! Tapi apa ini, putus kontak? Sejak permainan ini dimulai, ini adalah kekalahan terburuk!"
Tepat saat kabut hitam berbentuk manusia itu meluapkan amarahnya, sebuah lingkaran sihir berwarna hitam muncul di lantai.
"Apa?"
Kabut hitam itu mencengkeram sandaran tangan takhta dan mengarahkan pandangannya ke lingkaran sihir seraya mengerutkan sesuatu yang menyerupai alis.
Yang muncul dari lingkaran sihir itu adalah sebuah kotak putih polos tanpa hiasan apa pun.
"Yang Mulia, bolehkah hamba memeriksa benda itu?"
Monster yang memiliki wajah di dalam mulutnya mengajukan diri dengan penuh hormat.
"Izin diberikan."
Mendapatkan izin dari kabut hitam, monster itu mendekat perlahan, lalu membuka dan mengintip ke dalam kotak.
"―!"
Hanya dengan sekali lihat pada isi kotak tersebut, wajah si monster terdistorsi oleh rasa terkejut yang luar biasa.
"Ada apa?"
"..."
Monster itu bergeming tanpa menjawab sepatah kata pun.
"Apa isinya?!"
Kabut hitam memekik gusar.
"Mo-mohon maaf. Yang ada di dalam kotak ini adalah potongan mayat Dagon yang telah tercincang..."
Itu menjadi kata-kata terakhir dari monster tersebut. Tiba-tiba, sesuatu menyerupai mulut raksasa merayap keluar dari dalam kotak dan mencabiknya hingga hancur.
Di tengah tebaran darah segar dan suara kunyah yang mengerikan, makhluk berkepala Dagon raksasa itu mengedarkan matanya yang melotot ke sekeliling ruangan.
Ia merentangkan telapak tangan kanannya ke arah kabut hitam di atas takhta, lalu mencondongkan tubuhnya ke belakang.
"Hei, siapa pun kau yang berada di sana, salam kenal. Kau sudah cukup banyak mengacaukan rencanaku, ya. Serangkaian gangguan dari kalian sungguh sangat menyebalkan. Gara-gara itu, tidak seperti biasanya, aku jadi ingin menyampaikan deklarasi perang."
Setelah berkata demikian, makhluk yang dulunya Dagon itu menyeringai lebar hingga sudut mulutnya tertarik tinggi.
"Kalian sudah benar-benar membuatku murka! Mau menangis atau menjerit sekalipun, aku tidak akan pernah memaafkan kalian! Lari ke mana pun akan sia-sia! Aku takkan pernah memberi kalian kesempatan untuk bernapas lega lagi!"
"Setiap hari, setiap malam, penderitaan dan ketakutan akan kematian akan terus menggerogoti kalian hingga kalian lenyap dengan mengenaskan!"
Begitu ia berteriak dengan suara yang menggetarkan udara, tubuh makhluk yang dulunya Dagon itu membengkak diliputi aura merah kehitaman, lalu bermunculan banyak sekali mulut di sekujur tubuhnya. Dan kemudian―
"Gekyakyakyakya gegegegegegegegegee―!"
Seraya menyemburkan serangga-serangga kecil yang tak terhitung jumlahnya dari mulutnya, ia menerjang ke arah para makhluk abnormal di seluruh ruangan.
Kejadian itu mungkin hanya berlangsung beberapa menit.
Kabut hitam berbentuk manusia itu menyaksikan pemandangan saat makhluk yang dulunya Dagon membantai anak buahnya tanpa mengulurkan tangan sedikit pun untuk membantu.
"Sepertinya sudah hampir selesai..."
Ia bergumam pelan.
Segera setelah itu, makhluk yang dulunya Dagon membengkak seperti balon lalu meletus. Selang satu helaan napas, serangga-serangga yang mengamuk itu pun ikut meletus.
"M-sebenarnya apa orang itu..."
Salah satu makhluk abnormal memegang kepalanya seraya berucap dengan suara gemetar.
Mereka yang berada di sini adalah monster-monster gaib generasi lama yang berhasil bertahan hidup dari Perang Besar.
Bisa dikatakan, mereka adalah jajaran makhluk terkuat yang mutlak di dunia ini.
Namun, mereka justru dilalap begitu saja oleh makhluk yang dulunya Dagon tanpa bisa berbuat apa-apa.
Terlebih lagi, hancurnya makhluk yang dulunya Dagon itu murni karena meledakkan diri.
Wajar saja jika mereka merasa sangat ketakutan.
"Tindakan kejam yang sanggup membuatku terpukau, ditambah pembantaian sepihak tanpa belas kasihan. Apalagi menerobos paksa Armed Self-Control Domain milikku yang bagaikan landak ini... jangankan orang lain, aku sendiri pun mustahil melakukannya. Tentu saja Pasukan Kejahatan maupun Pasukan Surga juga tidak akan sanggup. Kalau begitu, siapa? Buntut siapa yang telah kupijak?"
Kabut hitam berbentuk manusia itu menengadah ke langit-langit yang pekat dan bertanya pada dirinya sendiri.
"Si bodoh Dagon itu, berniat menghindari masalah kecil malah mengundang bencana besar. Ya sudahlah. Lagipula, ini memang sudah bukan waktunya bermain-main lagi."
Kabut hitam berbentuk manusia itu bergumam pelan, lalu bangkit dari duduknya.
"Hentikan semua permainan yang sedang berlangsung dan susun ulang rencananya dari awal! Segera panggil kembali Empat Pilar Kegelapan!"
Kabut hitam berbentuk manusia itu berdiri dari takhta dan berteriak dengan suara yang seakan merobek angkasa.
Seluruh makhluk abnormal di ruangan itu menundukkan kepala secara serentak, dan tirai panggung untuk babak berikutnya pun perlahan mulai terangkat.
◇◆◇
Sudah tiga hari berlalu sejak insiden teror di Akademi St.Clan.
Berdasarkan laporan dari Departemen Penyelidikan Babel dan anak buahku, gambaran utuh dari insiden teror ini mulai terlihat jelas.
Singkatnya, monster bernama Dagon menyusup ke dalam Libra, sebuah organisasi supremasi darah elf yang marak di Negara Lorelei, lalu menyebarkan pemikiran menyimpang itu kepada para elf.
Tampaknya, target utama Dagon adalah beberapa manusia yang berada di Babel.
Namun, begitu mengetahui bahwa pedang tidak berguna itu berada di Negara Lorelei, ia mendadak memajukan jadwal rencananya.
Ia memicu kekacauan teror di Akademi St.Clan dan berniat merebut pedang tersebut di tengah kekacauan. Kira-kira seperti itulah situasinya.
Dagon tampaknya memiliki kemampuan cuci otak tingkat tinggi, sehingga ia memanipulasi para siswa dan pengajar, termasuk Torula, untuk bergerak sesuai kehendaknya.
Selain itu, Dagon juga mengendalikan para elf sebagai bawahannya dengan cara menginfeksikan sebagian jaringan tubuhnya ke dalam diri mereka.
Mengingat situasi yang rumit ini, tidak mungkin untuk menjatuhkan hukuman mati kepada seluruh elf yang terlibat dalam teror.
Meskipun begitu, beberapa pengajar seperti Kuko ternyata sudah menunjukkan perilaku mencurigakan bahkan sebelum bergabung dengan Libra.
Berdasarkan hasil penyelidikan, berbagai kejahatan mereka terungkap satu demi satu.
Mengingat kecurigaan bahwa mereka mungkin tidak berada di bawah pengaruh cuci otak, tidak ada alasan untuk meringankan hukuman mereka.
Mereka akan dipindahkan ke Negara Lorelei untuk dijatuhi hukuman berat.
Lagipula, Berze tampaknya telah menyiksa mereka dengan sangat kejam, hingga kondisi mereka saat ini tak ubahnya vegetasi hidup.
Ditambah lagi, para petinggi Lorelei sangat murka kepada anggota Libra yang merencanakan pembunuhan terhadap Ratu Avery dan bahkan menganiayanya.
Jadi, kepulangan mereka ke tanah air dipastikan tidak akan berakhir baik.
Masalah utamanya adalah para siswa Akademi St.Clan yang secara tidak langsung terlibat dalam insiden teror ini.
Walaupun beberapa murid bertindak kejam atas kehendak sendiri, tak dapat dimungkiri bahwa gara-gara Kuko dan kawan-kawan, mereka ditempatkan dalam lingkungan yang membuat mereka tak bisa berpikir jernih.
Oleh karena itu, masalah bagi para murid tersebut diselesaikan dengan tindakan dikeluarkan dari Akademi St.Clan, dideportasi kembali ke Negara Lorelei, dan berada di bawah pengawasan pasca-kejadian.
Torula dan yang lainnya memang terlibat dalam penculikan Mai, tetapi besar kemungkinan hal itu dilakukan secara paksa akibat cuci otak Dagon.
Torula pada dasarnya memiliki harga diri tinggi dan cenderung terlalu mengagungkan elf, tetapi sebelum bergabung dengan Libra, dia bukanlah orang yang akan menggunakan kekerasan pada orang lain.
Meskipun tidak diketahui pasti sejak kapan dia dicuci otak, fakta bahwa pada akhirnya dia mempertaruhkan nyawa demi menyelamatkan Mai dan Ariel membuktikan bahwa pikirannya memang telah dikendalikan.
Saat situasi ini dijelaskan kepada orang tua Mai untuk meminta pendapat, mereka menyatakan tidak menuntut hukuman berat.
Pada akhirnya, pihak Babel, Akademi St.Clan, dan Negara Lorelei berdiskusi dan hampir secara acak menyepakati skorsing tiga bulan untuk Torula.
Namun, yang bersangkutan menolak keras hal itu dan justru memohon hukuman yang lebih berat.
Akhirnya, tercapai jalan tengah di mana aku yang akan mengawasi dan membimbing mereka. Dengan kata lain, mereka dipindahkan ke Kelas A1 di Akademi Ouboro.
Sebagai gantinya, siswa dari Akademi Ouboro akan ditransfer ke Akademi St.Clan.
Alasan resminya adalah karena banyaknya siswa yang dikeluarkan secara paksa dari Akademi St.Clan sehingga operasional sekolah terganggu, maka diputuskan untuk mengambil siswa pengganti dari sekolah saudara. Namun, sepertinya ada maksud lain di balik ini.
Dengan demikian, untuk sementara waktu insiden teror ini resmi berakhir.
Saat ini aku sedang mengunjungi lantai teratas Pusat Sentral Guild Hunter.
Di lantai teratas, Musashi dan istrinya sebagai perwakilan Negara Butou, Avery beserta para petinggi Lorelei, serta para petinggi Guild Hunter telah berkumpul lengkap.
Saat aku melangkah masuk ke dalam ruangan,
"Kai~!"
Mai berlari mendekat dan memelukku dengan ekspresi penuh kegembiraan.
"Mai, senang melihatmu baik-baik saja."
Aku memeluknya ringan seraya mengelus kepalanya.
"Ehm! Permainan bersama Kakak-kakak kemarin seru banget, lho!"
Tampaknya yang diculik Torula dan kawan-kawan adalah Girimehkala yang menyamar. Mai sendiri dilindungi oleh Aliansi Dewi bersama Nemesis dan terus bermain selama ini.
Karena sangat menyenangkan, Mai sendiri terlihat begitu puas. Walau tentu saja, orang tuanya pasti jauh lebih cemas dariku.
"Tuan Musashi, Nyonya Arisa, mengenai insiden Mai kali ini, aku sungguh meminta maaf."
Setelah menyerahkan perawatan Mai kepada Shirayuki yang mendampingiku, aku berjalan ke hadapan mereka berdua yang berdiri tegak tanpa bergeming, lalu menundukkan kepala dalam-dalam.
Alasan Mai diincar kali ini adalah untuk membalas dendam padaku.
Sama sekali tak terlintas dalam benakku bahwa mereka akan mengincar seorang gadis kecil yang tak sengaja kutemui di pinggir jalan dan tak memiliki hubungan darah denganku.
Ini bagaimana pun adalah kesalahanku dalam memperhitungkan situasi. Aku harus meminta maaf agar bertanggung jawab.
"Mengenai hal Mai, kami sudah menerima penjelasan dari Lady Nemesis, jadi tidak masalah. Langkah yang diambil pun sudah dengan persetujuan kami. Lagipula, kami mendengar dari Putri Millefeuille bahwa Anda benar-benar murka demi Mai. Sebagai orang tua, kami sangat bahagia mendengarnya. Terima kasih banyak."
Mendengar ucapan terima kasih yang salah sasaran dari Musashi, aku berniat langsung menyangkalnya.
"Melihat bagaimana Mai begitu menempel pada Anda saja kami sudah paham, Tuan Kai. Anda sangat menyayangi Mai, dan kami amat bersyukur atas hal itu."
"Bukankah sudah sepantasnya orang dewasa mengkhawatirkan anak kecil?"
Ini bukan semata-mata karena aku seorang manusia.
Buktinya, Ariel yang merupakan penghuni dunia lain pun hilang kendali saat mendengar Mai diculik hingga nekat melakukan tindakan berbahaya seperti itu.
"Ya, benar sekali. Justru karena itulah Anda sangat dapat dipercaya."
Arisa mengagungkannya dengan nada tegas seraya tersenyum.
"Tuan Kai, kami senang bisa mengetahui sosok seperti apa Anda sebenarnya. Ke depannya, kami dari Negara Butou takkan segan mengulurkan bantuan untuk Anda. Sekali lagi, mohon kerjasamanya."
Aku membalas genggaman tangan kanan yang diulurkan Musashi.
"Ya, mohon kerjasamanya juga."
Aku pun mengangguk dan membalas salamnya.
"Tuan Kai, atas kebaikan Anda membantu menyelesaikan masalah akademi kami dan merebut kembali pusaka negara kami, kami tak sanggup mengungkapkan rasa terima kasih kami."
Avery menundukkan kepalanya padaku.
"Ah, Avery. Apa lukamu sudah tidak apa-apa?"
Aku mendengar dia dihajar cukup parah oleh Kuko.
Meskipun lukanya sendiri sudah sembuh total berkat Healing Slime, kondisi mentalnya tidak bisa pulih secepat itu. Rasa lelah pasti masih tersisa di tubuhnya.
"Ya... ingin rasanya saya katakan demikian, tetapi sungguh memalukan, untuk berdiri saja saya masih kewalahan. Bolehkan saya meminta izin untuk duduk?"
"Ah, silakan."
Mendapat izinku, Avery pun duduk di kursinya.
Jika Avery masih segan dan takut padaku seperti dulu, kalimat semacam itu takkan pernah keluar dari mulutnya.
Sepertinya aku sudah mendapatkan tingkat kepercayaan tertentu darinya.
"Kalau begitu, mari kita beralih ke topik utama hari ini."
Saat aku duduk di meja bundar,
"Mai juga mau dengar!"
Mungkin mengira akan dibawa ke ruangan lain, Mai duduk dengan imut di kursi sebelah kiriku seraya menggenggam lengan baju kiriku.
"Mai..."
Melihat Musashi yang menutupi wajahnya dengan telapak tangan kanan seraya merintih, aku tersenyum kecil.
"Tidak masalah. Lagipula, aku juga punya sedikit usulan untuk Mai. Baik, mari kita mulai rapatnya."
Aku mendorong dimulainya rapat tersebut.
Sebagian besar topik yang dibicarakan adalah informasi yang sudah kulaporkan sebelumnya dari para anak buahku.
"Jadi aku bisa menganggap bahwa pedang itu akan tetap disimpan oleh kalian, pihak Lorelei, kan?"
Kali ini, pedang itu menjadi pemicu insiden yang hampir meruntuhkan Lorelei.
Aku tidak ingin terus-menerus terlibat masalah hanya gara-gara pedang yang kubetulkan sekadar untuk mengisi waktu luang. Harus ada langkah yang diambil.
"Benar. Kali ini negara kami telah memamerkan Artefak Ilahi tersebut di hadapan publik. Setelah menyaksikan mukjizat itu secara langsung, rakyat tidak akan terima jika kami mendadak menyegelnya kembali. Kami mohon izinkan negara kami untuk terus menyimpannya."
Aku bisa mendengar tegukan ludah dari para petinggi Negara Lorelei.
Pada akhirnya, hanya Avery yang tidak lagi memperlakukanku seperti monster. Elf lainnya tiga kali lipat lebih takut padaku.
"Baiklah. Namun, ada syarat jika Negara Lorelei ingin menyimpan pedang itu."
"Mohon beritahu kami apa syaratnya."
Berbeda dengan para petinggi Lorelei yang panik, Avery tampak tenang. Dia pasti sudah bisa menebak arah usulanku.
"Pedang itu adalah pedang berharga yang diterima Millefeuille dari kakaknya, kan?"
"Benar sekali."
"Kalau begitu, biarkan Millefeuille yang memegang pedang itu mulai sekarang. Mungkin agak sedikit merepotkan membawanya, tetapi khasiatnya cukup untuk mengusir penjahat yang menyerang."
"Maksud Anda... Anda mengizinkan Millefeuille untuk menggunakan pedang tersebut?"
"Dia takkan menyalahgunakannya. Lagipula, pedang itu sejak awal adalah pemberian kakaknya yang memiliki ikatan emosional dengannya. Dialah yang paling berhak memegangnya."
"Kami sangat berterima kasih atas kebaikan Anda, tetapi..."
Avery tertahan, lalu melirik sejenak ke arah Musashi dan para petinggi Guild Hunter.
"Kau khawatir putrimu akan diincar lagi? Aku sudah menyiapkan antisipasinya."
Aku meletakkan dua buah cincin di atas meja.
"Cincin apa itu?"
"Itu adalah cincin khusus untuk memanggil pelindung bagi pemakainya. Aku tidak ingin kalian terus-menerus diserang seperti ini. Aku ingin Millefeuille dan Mai memakainya. Tenang saja, tidak ada efek samping berbahaya bagi pemakainya."
Cincin ini kubuat bersama si kutubuku pembuat Magic Item dari Buku Panduan Pembantaian (Extermination Index), sehingga kekuatan sang pelindung cukup untuk menjaga mereka berdua.
"Kai, tunggu sebentar. Firasatku benar-benar buruk. Jelaskan lebih detail soal pelindung itu!"
Ralph bangkit dari kursinya dengan wajah pucat dan meminta penjelasan dengan suara meninggi.
"Baiklah. Mai, ulurkan tangan kananmu."
"Ehm!"
Dengan pipi merona, Mai mengulurkan tangan kanannya. Sambil memiringkan kepala, aku memasangkan cincin itu ke jari telunjuknya.
Cincin itu bersinar terang dan berubah bentuk. Tak lama kemudian, seekor kelinci putih kecil muncul dari cincin tersebut.
"Eh? Eeee! Kelinci~!"
Mai bermata berbinar-binar seraya memeluk kelinci itu.
"Tuan Kai... kelinci itu...?"
Avery bertanya dengan ekspresi agak kaku.
"Itu pelindungnya. Dia jauh lebih kuat dari kelihatannya, jadi tidak perlu khawatir."
Aku mengutarakannya dengan penuh percaya diri.
Pas sekali, saat aku mendengar Inea dan yang lainnya sedang meneliti sihir pemanggilan dari dunia lain, teknik yang belum sempurna itu disempurnakan oleh Asta yang ahli dalam sihir hingga ke tingkat yang dapat dipraktikkan.
Kemudian, keberadaan yang dipanggil dari dunia lain itu diberi wujud fisik menggunakan Magic Item khusus buatanku sebagai intinya.
Tentu saja, karena pelindung ini kulatih sendiri secara langsung, kekuatannya setara dengan Hunter Kelas B-Rank.
Ditambah dengan kemampuan khusus dari Magic Item, mereka bisa melarikan diri dari sebagian besar penyerang.
"Hei Kai, bolehkah aku memberi nama untuk kelinci ini?"
"Ya, berilah nama padanya."
"Ehm! Kelinci manis, mulai sekarang namamu adalah Haku!"
Mai menunjuk kelinci itu dan berteriak riang, lalu menempelkan pipinya.
"Haku, aku percayakan padamu."
Mendengar permintaanku,
"Kyu!"
Kelinci putih itu mengangkat tangan kanan kecilnya dan menjawab.
"Kalau Kai bilang kuat, monster macam apa lagi itu... Dan benda itu dipegang oleh putri perwakilan negara besar... Ini sih sudah bukan masalah keseimbangan antarnegara lagi..."
Ralph memegang kepalanya seraya menggerutu bagai mengucapkan mantra kutukan.
Maksudku, Ralph mungkin agak membenciku gara-gara ini, tetapi Mai sangat rawan bahaya. Dia membutuhkan pengasuh semacam ini.
"Cincin milik Millefeuille juga bisa memanggil pelindung. Dengan cincin itu, tidak akan ada masalah meski dia membawa pedang kakaknya, kan?"
Avery menatap kelinci itu dengan wajah terperangah. Setelah menghela napas panjang, ia pun berucap,
"Bagi negara kami, dapat memamerkan 'Pedang Genesis' dalam upacara kenegaraan sudah lebih dari cukup. Ke depannya, Artefak Ilahi tersebut akan dimiliki oleh Millefeuille."
Dengan langkah yang agak limbung, ia berdiri lalu membungkuk sedikit padaku untuk mendeklarasikannya.
"Sepertinya pembahasan kita sudah selesai, dan aku masih ada tempat yang harus dikunjungi. Aku pamit dulu di sini."
Saat aku bangkit dari kursi,
"Kai, kamu mau pergi?"
Mai bertanya dengan nada kesepian seraya memeluk erat si kelinci putih.
"Selama masih berada di Babel, kamu boleh main ke kediamanku kapan saja."
Aku mengelus kepala Mai untuk menenanghkannya.
"Ehm! Aku pasti datang! Sampai jumpa lagi, Kai!"
Dengan senyum merekah, ia mengayunkan tangan kirinya lebar-lebar.
"Ya, sampai jumpa."
Aku pun mengangkat tangan kiriku, lalu kali ini benar-benar meninggalkan ruang rapat.
Saat ini aku sedang mengunjungi asrama siswa Akademi Ouboro, tempat Ariel berada.
Ketika tiba di depan asrama, aku bertemu dengan dua orang yang sedang berbincang di koridor.
Salah satunya adalah Sikke yang dipanggil ke tanah ini bersama Ariel, dan satunya lagi adalah Sho, si pemuda misterius.
"Yo, Sho, Sikke."
"Aku dengar kabarnya. Kau berbuat nekad lagi, ya?"
"Entahlah, bagaimana ya."
Sho menatapku tajam dengan wajah serius.
"Yah, yang penting semuanya berakhir dengan selamat tanpa masalah."
Ia mengucapkannya dengan kalimat ala kadarnya. Lalu,
"Kalau begitu, aku balik ke kamar dulu."
Setelah berucap sepihak, Sho mengangkat tangan kanannya dan melangkah pergi meninggalkan kami.
"Tuan Kai, apakah Anda ada keperluan dengan Ariel?"
Setelah Sho pergi, Sikke menanyakan keperluanku hari ini.
"Benar. Tapi tolong hentikan panggilan 'Tuan Kai', panggil Kai saja."
Aku memintanya dengan nada tegas.
"Siap! Kalau begitu, Tuan Kai!"
Ia mengoperasikan posturnya dan menempelkan tangan kanan ke dahi. Sejak insiden itu, Sikke selalu bersikap seperti ini.
Sikke baru saja bertemu dengan Ramiel beberapa hari lalu.
Aku yakin Ramiel telah menghasutnya dengan berbagai hal yang tidak-tidak tentangku. Sungguh menyebalkan.
Pasalnya, Ramiel saat ini dilindungi oleh Aliansi Dewi dan sudah sangat membaur di sana.
Karena terpengaruh oleh omongan Ramiel, sikap Sikke kepadaku pun jadi mirip dengan anggota Buku Panduan Pembantaian (Extermination Index) lainnya.
Bagaimanapun juga, alasan awal memanggil Ariel ke dunia ini sebagian besar adalah sebagai bentuk hukuman karena anak buahnya yang mengaku sebagai Utusan Dewa telah berulang kali mengganggu milikku.
Tentu saja ada tujuan untuk mengendalikan Gereja Pusat, tetapi itu hanyalah harapan tak langsung agar pengalaman di dunia ini bisa membimbing Gereja Pusat dengan benar setelah ia kembali ke dunia asalnya.
Namun, setelah memahami sosok Ariel, aku tidak lagi bermaksud memberikan hukuman atau ujian kepadanya.
Seseorang yang perlu dihukum takkan mungkin mempertaruhkan nyawa demi menyelamatkan teman sekelas maupun anak manusia.
Tujuan awal memanggil Ariel ke dunia ini pada dasarnya sudah tercapai.
Maka dari itu, aku mengusulkan kepada para bawahan untuk mengembalikan Ariel ke dunia asalnya, tetapi ditolak bulat-bulat oleh semuanya.
Terlebih lagi, Sikke yang sudah dianggap seperti orang tuanya sendiri pun kabarnya berharap untuk tinggal di sini sedikit lebih lama.
Jika Sikke sendiri yang ingin bertahan, aku tidak bisa memaksa mengembalikannya. Dengan berbagai alasan itu, status quo pun dipertahankan untuk sementara.
Jika ia akan berada di dunia ini untuk beberapa waktu, aku harus melakukan sesuatu terhadap sifatnya yang sangat rentan diserang itu.
Mengingat kepribadiannya, ia pasti akan mendatangi bahaya sambil menari-nari bagaikan serangga yang mengerumuni madu.
Kedatanganku ke kamar Ariel hari ini adalah untuk menawarkan jalan tengah atas masalah tersebut.
"Bisa tolong antarkan aku ke kamar Ariel?"
"Tentu saja."
Sikke menepuk dada kanannya lalu menjawab dengan sigap dan mulai melangkah.
"Kalau begitu, hamba permisi dulu."
Di depan kamar Ariel, Sikke pergi dengan wajah penuh rasa bangga yang entah apa alasannya. Sambil merasa heran, aku mengetuk pintu kamar dengan tangan kanan.
"Ya!"
Bersamaan dengan suaranya yang merdu, pintu pun terbuka.
"Ah..."
Di balik pintu yang terbuka, Ariel berdiri dengan senyuman.
Melihat sosoknya yang polos dan ceria seperti biasa, aku menyadari diriku merasa lega seolah beban berat telah terangkat dari pundakku. Sungguh, ada apa dengan diriku ini?
"Yo. Apa kabarmu?"
Aku melemparkan pertanyaan yang rasanya ingin dijawab 'kan bisa kau lihat sendiri' kepada gadis yang membeku dalam senyumannya itu.
"E-ehm."
Ariel mengangguk agak canggung.
"Maaf ya sudah melibatkanmu dalam banyak hal. Hari ini aku datang karena ingin kau menerima ini."
Aku menyodorkan cincin pelindung yang diletakkan di tangan kiri kepadanya.
Seketika, pipi hingga seluruh tubuh Ariel merona merah padam bagaikan buah apel. Matanya bergerak gelisah seraya jarinya sibuk memilin-milin.
"Cincin... apa itu?"
Ia bertanya dengan suara yang hampir tak terdengar.
"Ah, ini cincin untuk melindungimu."
Begitu aku menyampaikannya,
"Melindungi? Aku?"
Jari-jari Ariel mendadak berhenti bergerak.
"Benar. Ariel, kamu itu terlalu rawan bahaya. Kalau punya cincin ini, kamu akan aman meskipun aku tidak ada."
"Meskipun Kai tidak ada... aman?"
"Benar. Karena pelindung ini kulatih sendiri, kekuatannya setara dengan Hunter Kelas B-Rank."
"Begitu ya... anak itu kuat, ya."
Ariel bergumam dengan nada suara yang terasa mengerikan.
"Kamu... tidak marah, kan?"
Meskipun ia tersenyum, matanya yang biasanya lembut kini terasa jauh lebih tajam dari biasanya.
Bagaimanapun, dari pengalamanku bersama para teman masa kecil, jika seorang wanita memasang ekspresi seperti ini, artinya dia sedang sangat murka.
"Aku tidak marah. Tapi, walau aku menghargai tawaran ini, aku tidak butuh cincin itu."
Ia menolaknya begitu saja tanpa ragu.
"Tapi kan―"
Saat aku berusaha membujuknya, mulutku mendadak terkunci. Tepat ketika aku menyadari bahwa yang membungkamku adalah bibir Ariel, ia memelukku erat.
Setelah melepaskan pelukannya, Ariel menunjukku dengan jari telunjuknya.
"Kalau aku dalam bahaya, tolong selamatkan aku lagi! Janji, ya!"
Setelah berteriak cepat seperti itu, Ariel langsung masuk ke dalam kamarnya.
"Sebenarnya ada apa..."
Aku menyentuh bibirku yang masih menyisakan sensasi tadi dengan tangan kiri.
Seraya mengenang wajah Ariel yang tampak begitu bahagia di akhir pertemuan tadi, aku hanya bisa berbisik penuh tanya.
◇◆◇
―Ruang rapat lantai dua kediaman milik keluarga kerajaan di Negara Elf Lorelei yang bertempat di Babel.
Saat ini rapat yang dihadiri oleh para petinggi sedang berlangsung. Ratu Negara Lorelei saat ini, Avery Renren Lorelei, bersandar di kursi kayunya dan berkata,
"Syukurlah, segalanya berjalan dengan lancar."
Ia menghembuskan napas lega.
Kai Heinemann, Transcenden terkuat dan teragung sepanjang sejarah dunia ini.
Di antara para menteri petinggi Lorelei, tidak ada satu pun yang meragukan kenyataan itu.
Hal itu dikarenakan mereka mengetahui kronologi bagaimana Negara Lorelei bisa memiliki pedang mukjizat itu, 'Pedang Genesis'.
Asal-usul pedang mukjizat itu bermula saat Millefeuille menerima pedang tersebut dari kakak laki-lakinya yang terpaut usia jauh dengannya, Silver, sebagai hadiah kelulusan masuk Babel.
Silver adalah pahlawan besar dan ahli pedang yang disebut-sebut sebagai makhluk terkuat dalam sejarah Lorelei. Millefeuille pasti sangat bahagia menerima pedang itu, hingga ia menggunakannya untuk berlatih setiap hari.
Akibatnya, timbul retakan pada mata pedang.
Saat mencari pandai besi yang bisa memperbaikinya di Barse, ia tak sengaja bertemu dengan Kai Heinemann.
Setelah mengetahui situasinya, Kai Heinemann menawarkan diri untuk memperbaikinya, dan akhirnya dialah yang membetulkan pedang itu.
Millefeuille pun pasti tak pernah bermimpi bahwa hanya dengan memperbaiki pedang, mukjizat luar biasa semacam itu bisa terjadi.
Ya, pedang Silver yang diperbaiki oleh Kai Heinemann menyimpan mukjizat tingkat tinggi yaitu 'mengubah apa pun yang ditebas sesuai dengan imajinasi pemakainya'.
Millefeuille segera pulang ke Lorelei, lalu memanggil Silver dan para petinggi Lorelei untuk melaporkan hal ini secara rahasia.
Seiring dengan pengujian performa pedang tersebut, terungkaplah bahwa benda itu benar-benar Artefak Ilahi yang sanggup merusak hukum alam dunia ini.
Di antara para petinggi, ada pendapat bijak yang mengusulkan agar pedang itu disegel atau meminta Kai Heinemann untuk menghilangkan efek tak masuk akal tersebut.
Itu wajar saja, sebab pedang itu sudah melampaui batas kemampuan ras elf untuk mengendalikannya.
Namun, mayoritas besar yang dipimpin oleh Silver menginginkan pedang tersebut tetap dilestarikan.
Terutama Silver, ia bahkan merasakan takdir tertentu pada Kai Heinemann yang telah mengubah pedangnya menjadi Artefak Ilahi, sehingga ia gigih mendesak agar pedang itu diperlakukan sebagai Artefak Ilahi.
Setelah rapat berhari-hari, disepakati bahwa pedang mukjizat itu hanya akan digunakan dalam upacara keagamaan.
Kai Heinemann adalah sosok yang mampu menciptakan Artefak Ilahi sedahsyat itu hanya sebagai pekerjaan sampingan.
Bentrokan dengan Beliau adalah hal yang harus dihindari sama sekali.
Sayangnya, saat ini ideologi supremasi elf yang dinamakan Libra sedang merajalela di dalam negeri Lorelei. Jika Libra sampai memicu kemurkaan Kai Heinemann, negara ini pasti akan hancur.
Memikirkan hal tersebut, para petinggi Lorelei pun bergerak di bawah tanah untuk segera menjalin kontak dengan Kai Heinemann.
Namun tepat saat itu, masuk informasi bahwa Wakil Kepala Sekolah Krub Anstein yang menduduki posisi No. 2 di Babel telah dimusnahkan karena berupaya mencelakai gadis manusia kenalan Kai Heinemann saat ujian masuk, dan kakak perempuannya, Inea, telah dilengserkan.
Avery dan seluruh petinggi Lorelei dibuat pusing bukan main oleh kabar ini.
Kakak perempuannya, Inea, adalah legenda hidup kaum elf—bisa dikatakan sebagai ikon Lorelei.
Namun Inea justru bertindak kurang ajar kepada Tuan Kai. Tak diragukan lagi, Lorelei berada dalam posisi yang sangat sulit.
Saat mendiskusikan langkah antisipasi mengenai masalah ini, rumor bahwa negara iblis dan monster baru saja berdiri di North Ground mulai berembus kencang.
Awalnya seluruh petinggi Lorelei menganggap itu sekadar rumor jahat, tetapi fakta demi fakta yang membenarkan kabar tersebut terus bermunculan, dan begitu mengetahui bahwa Kai Heinemann berada di balik semua itu, seluruh istana mendadak gempar tak terkendali.
Atas desakan kuat para petinggi Lorelei, pertemuan dengan Kai Heinemann pun digelar.
Di sana, mereka mendengar niat Beliau yang tidak berencana campur tangan lebih jauh dari yang diperlukan terhadap negara baru para iblis dan monster, Negara Faesta.
Terlebih lagi, sebuah pakta non-agresi berhasil disepakati antara Negara Lorelei dan Negara Faesta, membuat semua orang menghela napas lega.
Dan tepat setelah itulah rangkaian insiden kali ini meletus. Pemicu insiden tersebut adalah organisasi diskriminatif itu, Libra.
Libra adalah organisasi yang menyatakan bahwa kaum elf adalah yang paling mulia dan unggul di antara ras manusia, sebuah organisasi eksklusif supremasi ras yang biasa ditemui di antara manusia.
Mungkin karena klaimnya yang mudah dipahami, saat ini mereka mendapat dukungan besar terutama dari kalangan pemuda Lorelei.
Para petinggi Libra memanfaatkan para siswa dan pengajar Akademi St.Clan untuk melancarkan kudeta kali ini.
Namun krisis yang tak pernah terjadi sebelumnya di Lorelei ini pun berakhir dengan kegagalan total akibat memicu kemurkaan sang monster sejati, Kai Heinemann.
"Jujur saja, saya sempat berpikir semuanya sudah berakhir."
Mendengar ucapan tulus dari lubuk hati Avery,
"Benar-benar mengeringkan darah, ya."
Ayah Torula yang juga menjabat sebagai Perdana Menteri Negara Lorelei mengangguk setuju dengan wajah lelah luar biasa.
Andaikata saat itu pemerintahan berhasil diambil alih oleh Libra, mereka dipastikan akan masuk ke dalam kondisi perang dengan Tuan Kai dan Lorelei pasti akan binasa tanpa sisa.
"Perdana Menteri, surat pengunduran diri Anda sudah saya musnahkan."
Perdana Menteri sempat mengajukan diri untuk mundur dari roda pemerintahan dengan alasan kelalaian putranya, Torula, dalam insiden kali ini.
Padahal, jika sosok secerdas dirinya mundur sekarang, roda pemerintahan Lorelei akan runtuh.
"Yang Mulia Avery, tapi itu..."
"Hal itu sudah diputuskan. Lagipula, mengenai Torula, Tuan Kai sendiri yang meminta agar ia diberikan keringanan hukuman. Jika Anda ikut dihukum padahal Torula sudah bertanggung jawab atas perbuatannya, hal itu justru akan merusak kepercayaan Beliau pada kita. Orang secerdas Anda pasti memahami kepribadian Beliau, bukan?"
Awalnya, Avery dan yang lainnya menganggap Beliau sekadar seorang Transcenden yang sangat kuat. Namun setelah mengenal Tuan Kai dalam kesempatan ini, mereka sadar bahwa pemahaman itu salah besar.
Tindakan Libra dalam insiden teror kali ini adalah sesuatu yang takkan pernah dimaafkan oleh seorang Transcenden.
Bahkan, bukan cuma seorang Transcenden, bagi seorang raja pun itu adalah tindakan yang tak terpuji. Walau begitu, Tuan Kai tidak menuntut hukuman berat bagi mayoritas siswa dan menyerahkan keputusannya pada Akademi St.Clan.
Mengingat tindak-tanduknya selama ini, Beliau sama sekali bukanlah sosok yang semata-mata penuh belas kasihan.
Batas toleransinya sama sekali tidak tinggi. Satu-satunya alasan para siswa bernasib baik diizinkan untuk tetap hidup adalah karena Beliau menilai mereka hanyalah murid yang menimba ilmu di Babel dan masih bisa dibimbing kembali.
Sanggup menyesuaikan tindakan berdasarkan perkembangan fisik dan mental seseorang... hal serumit itu takkan bisa dilakukan jika tidak memahami manusia luar dalam.
Yang bisa memahami manusia adalah manusia itu sendiri. Itu adalah fakta yang tak terbantahkan.
Ternyata, apa yang dikatakan Millefeuille tidak sepenuhnya salah.
―Seorang Transcenden terkuat dalam sejarah yang menganggap dirinya sendiri sebagai manusia.
Meskipun sudah pernah mendengarnya dari Millefeuille, eksistensi yang terdengar bagai lelucon itu awalnya membuat Avery ragu.
Pertama-tama, untuk bisa keliru menganggap diri sendiri sebagai manusia, dibutuhkan keberlanjutan kesadaran sebagai manusia.
Itu artinya, Beliau pernah menjadi manusia di masa lalu.
Berada di jajaran dewa dari tubuh seorang manusia saja sudah tidak masuk akal, apalagi menjadi yang terkuat sepanjang sejarah—sesuatu yang hampir mustahil dipercayai.
Namun, Avery dan para petinggi Lorelei kali ini telah memahami fakta yang seharusnya tak mungkin itu sebagai sebuah kebenaran nyata. Dan hasilnya―
"Tapi, hal itu sama saja dengan saya menentang dewa kita. Saya tetap tidak bisa melanjutkan jabatan ini."
Keberadaannya melahirkan pengikut fanatik seperti dirinya.
Saat ini sebagian besar petinggi Lorelei telah menjadi pengikut setia Kai Heinemann yang sangat fanatik.
Alasan mereka begitu mengaguminya bukan sekadar karena kekuatannya semata.
Hal itu terpancar dari fakta bahwa ia mencapai kedudukan dewa dari sosok seorang manusia biasa.
Dia adalah pemuda yang paling tidak berguna di dunia. Namun melalui usaha keras dan penderitaan yang luar biasa, ia berhasil mencapai tingkat dewa.
Itu benar-benar sebuah kisah pahlawan yang keluar dari mitologi. Mereka semua telah tersihir sepenuhnya oleh mukjizat tersebut.
"Saya sudah menduga Anda akan berkata begitu, jadi saya sudah menerima surat dari Tuan Kai."
"Dari Tuan Kai?!"
Avery menyerahkan surat yang sempat ditulis oleh Tuan Kai tadi kepada sang Perdana Menteri. Perdana Menteri memegang surat itu dengan tangan gemetar, lalu saat membacanya, air matanya menetes perlahan. Dengan ini, untuk sementara waktu semuanya akan baik-baik saja.
(Justru perjuangan yang sebenarnya dimulai dari sekarang.)
Di dalam Lorelei, akar-akar Libra masih tertanam kuat dan bertahan. Yang berhasil disingkirkan kali ini hanyalah para petinggi pemerintah dan anggota Libra di Akademi St.Clan.
Insiden ini memang akan mengikis pengaruh Libra di Lorelei untuk sementara. Namun itu hanya bertahan sebentar.
Di masa depan, sangat mungkin terjadi kudeta berskala besar di dalam negeri.
Jika saat itu Avery dan para petinggi sampai kalah dari Libra, Lorelei akan berbenturan dengan Tuan Kai dan hancur seketika.
Agar hal itu tidak terjadi, mulai sekarang mereka harus bergerak sangat hati-hati tanpa boleh lengah sedikit pun.
"Perdana Menteri, Anda masih mau meminjamkan kekuatan Anda untuk saya, bukan?"
"Y-ya! Tentu saja!"
Sambil menangis, sang Perdana Menteri mengangguk mantap, membuat Avery bisa menghela napas lega.
(Tenang saja, semuanya pasti akan berjalan lancar.)
Seraya meyakinkan dirinya sendiri dengan kuat di dalam hati,
"Kalau begitu semuanya, terima kasih banyak atas kerja keras kalian."
Avery pun memberikan ucapan terima kasih kepada para petinggi lainnya yang berada di ruang rapat.



Post a Comment