NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Saijaku Hakugai Made Sareta Kedo - Chou Nankan Meikyuu de 10 Mannen Shuugyoushita Kekka Volume 8 Chapter 2

Chapter 2

Arc Insiden Teror Librat


Hari ini adalah upacara penerimaan siswa baru Babel.

Aku telah memberikan pesanan tertentu pada Daedalus untuk memaksimalkan sifat bangunan ciptaannya. 

Bangunan itu memiliki fungsi di mana penampilan luar, struktur, dan berbagai fungsinya bisa diubah dengan bebas.

Dia dengan senang hati menerima pesananku. Alhasil, kediaman yang kami tinggali kini menjadi bangunan berlantai tiga yang tampak biasa saja.

Tentu saja, aku sudah menginstruksikan Daedalus untuk memperketat keamanan internalnya meski harus sedikit berlebihan. 

Karena itu, tingkat keamanannya pasti sudah berada di dimensi yang sama sekali berbeda.

Bagian dalam bangunan ini juga telah diperluas dengan mendistorsi ruang. Namun, sepertinya Rose dan Anna yang tinggal di sini masih belum menyadarinya sampai sekarang.

Paling-paling, mereka hanya mengulang-ulang kalimat kekaguman yang nyaris merepotkan soal toilet bilas yang bersih di kamar masing-masing, atau bak mandi yang bisa diisi air panas hanya dengan satu tombol.

Rose sepertinya mengira kalau aku yang menyuruh Daedalus untuk merombaknya. 

Namun, karena kurasa tidak butuh penjelasan khusus, aku tetap merahasiakan kebenaran tentang rumah ini.

Lagi pula, kalau kuceritakan yang sebenarnya, pasti akan jadi keributan besar.

Sekarang, kami sedang menyantap sarapan di ruang makan.

"Kai, akhir-akhir ini kamu punya kecenderungan untuk terlalu mencolok dalam hal buruk. Tolong bertindaklah dalam batas kewajaran di upacara penerimaan siswa baru hari ini, ya."

Rose mengajukan permohonan yang entah sudah keberapa kalinya itu padaku.

"Tentu saja, aku memang berniat begitu."

Aku juga tidak berniat melakukan hal-hal mencolok karena suka. Terlebih lagi, tidak ada untungnya sama sekali melakukan hal itu.

"Jangankan akhir-akhir ini, kamu memang selalu mencolok dalam hal buruk."

Saat Asta melontarkan komentar sindiran yang tidak penting itu,

"Mengingat posisi No. 1 dan No. 2 di Babel sudah diganti, kurasa Guru dan Tuan Putri sudah pasti akan jadi pusat perhatian."

Zack juga melontarkan gumaman firasat buruk itu dengan santai, sembari mengunyah daging di mulutnya.

"Y-Yang menggantinya itu Kai, bukan aku!"

Rose mengibaskan kedua tangannya dengan panik dan melimpahkan semua tanggung jawab kepadaku.

Memang benar aku telah menyingkirkan No. 2, Club Einstein, dari dunia nyata dalam satu serangan. 

Namun soal mantan Kepala Akademi, Inea Renren Lorelei, dia sendiri yang memutuskan untuk mengundurkan diri. 

Aku sama sekali tidak pernah memberikannya tekanan agar dia berhenti.

"Sejak awal, menyuruh Master agar tidak mencolok itu adalah permintaan yang sangat mustahil."

Asta melontarkan lelucon yang sangat tidak enak didengar itu sembari menyuapkan makanan dengan tangan kanannya dan membaca buku dengan tangan kirinya.

"Asta, apa memang mustahil mengharapkan akal sehat dari Kai, ya?"

Mendengar pertanyaan Rose yang terdengar memelas itu,

"Tentu saja sangat mustahil. Rumah yang sangat absurd ini saja sudah jadi buktinya. Master adalah wujud ketidakwajaran yang berjalan. Meminta akal sehat dari Master itu ibarat menyuruh ikan berenang di daratan."

Asta menegaskannya dengan penuh keyakinan. Hei! Asta, seperti biasa analogimu itu terlalu tidak masuk akal, tahu.

Lagipula, entah kenapa analogi itu memberiku firasat yang sangat buruk.

"Kak Asta, jangan! Jangan begitu! Kau tak seharusnya mengatakan hal semacam itu!"

Tidak seperti biasanya, Zack melontarkan seruan peringatan dengan nada panik. Siapa sangka, aku malah mendapat bantuan dari tembakan perlindunganmu, Zack. Bagus, Zack. Katakan lebih banyak lagi padanya!

"Kalau kau melontarkan lelucon seperti itu di depan Guru, ikan sungguhan pun bisa-bisa benar-benar berenang di darat, lho."

Seolah hal itu sudah sewajarnya terjadi, Zack malah menyiramkan bahan bakar baru ke dalam kobaran api omong kosong Asta.

"Ngomong-ngomong, belum lama ini kita baru saja berpapasan dengan ikan yang berjalan dengan dua kaki, kan."

Rose memegangi kepalanya dengan kedua tangan dan mengerang pelan.

"Ya, waktu itu ada ikan yang berlari sangat cepat di darat, ya...."

Zack meminum tehnya seraya memberikan kesan mendalam dengan pandangan menerawang jauh.

Kalau dipikir-pikir, memang ada monster aneh semacam itu di ujian milik Gil. 

Tapi, makhluk itu adalah monster, kan? Kalau itu monster, tak ada yang aneh jika ada ikan yang bisa berlari di darat.

Itu sama sekali bukan salahku, tahu!

Bagaimanapun juga aku ada di posisi yang tidak menguntungkan dalam perdebatan ini. Lebih baik aku mengubah topik pembicaraan saja.

"Ngomong-ngomong, bagaimana jadwal hari ini?"

"Setelah ini, kita akan mengikuti upacara penerimaan di Akademi Ouboro. Setelah itu, rencananya akan ada orientasi singkat."

Awalnya, ada dua upacara penerimaan di Babel. 

Yaitu upacara penerimaan umum yang diselenggarakan oleh pihak Babel, dan upacara penerimaan khusus dari masing-masing akademi.

Akan tetapi, sebagai bagian dari reformasi pendidikan yang dimulai tahun ini, upacara penerimaan yang diselenggarakan oleh Babel rupanya ditiadakan.

Menurut penjelasan Chloe, alasannya tak lain adalah hasil dari perebutan kekuasaan yang sia-sia antara faksi Kepala Akademi dan faksi Wakil Kepala Akademi. 

Padahal pasti banyak siswa yang sudah menantikan upacara penerimaan itu. Hal ini benar-benar membuatku merasa kasihan.

"Aku mengerti. Kalau begitu, Anna, tolong jaga Faf, ya."

Aku sudah mendapat izin dari Kepala Akademi Ouboro agar anak-anak seperti Faf dan Fen bisa keluar masuk dengan bebas. 

Di sisi lain, sebagai semacam syarat pertukaran, aku berjanji bahwa acara seperti upacara penerimaan hari ini pada dasarnya hanya akan dihadiri oleh pihak-pihak yang terkait dengan akademi saja.

"Ya, tentu saja!"

Anna membalasku dengan acungan jempol dan senyuman.

"Faf juga mau ikut."

Anna langsung memeluk dan menahan Faf yang berlari-lari kecil menghampiriku,

"Faf di sini saja sama kakak, ya."

Anna berbisik lembut di telinga Faf.

Syukurlah. Soalnya akhir-akhir ini, kalau Faf sudah menempel padaku, dia takkan mau melepaskannya sama sekali.

Anna memang hebat, dia sudah merawat Faf dengan sangat baik. Dia sudah benar-benar menjadi figur seorang kakak perempuan bagi Faf.

"Uuu, tapi Faf mau sama Tuan."

Aku mendekati Faf yang masih mengisap jempolnya dengan wajah tak puas, mengelus kepalanya, lalu berkata,

"Maaf, ya, Faf. Tahan dirimu untuk hari ini saja. Nanti saat pulang, aku akan membelikan sate burung kesukaanmu, deh."

Aku mengucapkan kata-kata yang sangat diharapkan oleh Faf.

"Wah, beneran, ya?!"

"Ya, aku janji."

"Burung, deh~ Sate burung, deh~♬"

Sambil tersenyum kecut melihat Faf yang kegirangan sembari menyenandungkan lagu yang tak jelas, aku bangkit dari tempat dudukku untuk bersiap-siap berangkat ke upacara penerimaan.

Rose berstatus sebagai siswa pindahan, jadi dia tidak harus menghadiri upacara penerimaan Akademi Ouboro hari ini. 

Sebenarnya ia bisa saja hadir kalau ia mau, tapi sayangnya hari ini sepertinya Rose juga punya urusan yang tak bisa ditinggalkan.

Padahal Rose itu biasanya orang yang selalu sebisa mungkin menghadiri acara seremonial semacam ini. Urusan yang membuatnya sampai harus absen itu sudah sangat mudah untuk ditebak.

Bagaimanapun juga, hari ini aku pergi sendirian ke Akademi Ouboro untuk menghadiri upacara penerimaan.

"Kak Kai!"

Begitu mendengar suara dari arah belakang, aku refleks menoleh. Kulihat Lumine berlari-lari kecil menghampiriku.

"Oh, Lumine. Kelihatannya kamu bersemangat sekali."

"Iya!"

Mendengar sapaan awalku, Lumine mengangguk gembira seraya mulai berjalan di sampingku.

"Bagaimana dengan Lyra?"

"Kak Lyra sudah berangkat duluan karena harus rapat soal sambutan di upacara penerimaan hari ini. Tapi, dia bilang pasti akan menjemputku waktu pulang nanti, kok!"

Siapa sangka gadis yang dulu tidak bisa melakukan apa-apa tanpa Lyra ini kini bisa pergi ke sekolah sendirian. 

Rasanya sangat mengharukan, persis seperti melihat balita yang baru pertama kali disuruh berbelanja sendirian.

Namun, kalau aku mengatakan hal itu, dia pasti akan langsung ngambek.

"Nona kecil ini senang banget bisa jalan bareng Tuan, makanya dia dandan habis-habisan pagi ini, lho!"

Tutup tas di pinggang Lumine sedikit terbuka. Seekor kucing bermata besar mengintip dari sana dan melaporkan hal tersebut kepadaku.

"Sue!"

Wajah Lumine seketika memerah padam seperti buah ceplukan saat ia segera menutup tasnya.

Sue adalah panggilan untuk Susanoo. Aku juga sudah pernah menjalin kontak dengan Susanoo.

Ia bersikeras ingin bertarung serius denganku, jadi aku menghajarnya habis-habisan. 

Semenjak saat itu, ia terus menantangku bertarung berulang kali, dan setiap kali kulayani, ia perlahan mulai memanggilku dengan sebutan 'Tuan'.

Awalnya ia sama sekali bukan tandinganku. Namun perlahan, gerakannya mulai menjadi semakin menarik.

Susanoo sudah bisa melihat aliran kekuatan sihir sejak awal. 

Tampaknya ia punya kemampuan bertarung sungguhan yang jauh lebih baik daripada si orang tak tahu diri bernama Tartarus di masa lalu itu.

Jika kekuatan aslinya kembali, ia pasti mampu mengalahkan sebagian besar musuh. Singkat kata, ia adalah pilihan yang sangat tepat untuk menjadi pengawal pribadi Lumine.

"Sue, kau juga sudah bekerja keras."

Aku mengangkat tangan kananku seraya menyapa Sue, si kucing berkaki dua yang kembali mengintip dari celah tas.

"Yo! Tuan, nanti kita minum-minum lagi, ya!"

"Ya, aku akan menemanimu."

Intinya, Sue itu peminum berat. Akhir-akhir ini, aku sering diminta menemaninya minum-minum di malam hari.

Namun, aku punya Skill penyerap semua efek status abnormal. Jadi, seberapa banyak pun aku minum alkohol, aku tidak akan pernah mabuk. Aku hanya sekadar menikmati suasananya saja.

"Kak Kai, ayo cepetan pergi!"

Lumine meraih tangan kiriku dan mulai berjalan dengan langkah cepat.

Setibanya kami di tujuan, tepat di depan gerbang sekolah.

"Kak Kai, Akademi Ouboro itu yang mana, sih?"

Lumine menunjuk ke arah dua gedung sekolah yang berjajar di hadapan kami secara bergantian, lalu melontarkan pertanyaan polos itu.

Benar sekali. Di hadapan kami, dua gerbang dan dua gedung sekolah berdiri berdampingan layaknya anak kembar.

Satu gedung merupakan bangunan berlantai empat yang tampak seperti baru dibangun. 

Di sepanjang jalan setapak menuju gedung sekolah itu, terdapat petak bunga tempat bunga-bunga beraneka warna bermekaran. 

Lantainya dipenuhi oleh ubin putih bersih, dan di tengah jalan setapak tersebut terdapat sebuah air mancur kecil.

Sedangkan gedung yang satu lagi merupakan bangunan kayu yang usianya sudah sangat tua. 

Bangunan itu sudah cukup lapuk, beberapa bagian atap dan pintu kawatnya rusak, serta ada sarang laba-laba yang bersarang di sebagian sudutnya. 

Sekilas, bangunan ini tampak reyot, tapi kalau diperhatikan lebih saksama, gedung ini dibangun dengan teknik arsitektur yang kokoh.

Singkat kata, bangunan ini menjadi menyedihkan seperti itu karena tidak dirawat dengan baik.

"Itu mah sudah tidak perlu ditanyakan lagi."

"Benar juga, ya."

Lumine mengangguk kuat-kuat menyetujui pendapatku dengan ekspresi jengah.

Perbedaan ini sangat jauh sampai-sampai membuatku bertanya-tanya, apakah memang perlu membedakannya sejauh ini. 

Pertanyaan terbesarku saat ini adalah, untuk apa repot-repot membangun gedung sekolah semewah itu di Distrik Enam ini.

"Tuan Kai!"

Di saat aku tengah larut dalam pikiranku, seorang gadis elf berlari menghampiri dari arah gedung sekolah yang baru itu. Itu pasti Nona Millefeuille.

"Mengapa kau ada di sini? Kalau aku tak salah ingat, kau berasal dari Akademi St.Clan, kan?"

Gadis ini pastinya berasal dari akademi yang sama dengan Rose. Akademi St.Clan tempatnya bersekolah bahkan disebut-sebut memiliki kelas setingkat Menara Babel semu, di mana muridnya diperlakukan sama dengan para siswa di Menara Babel.

Babel adalah lembaga publik yang menjamin kehidupan setara. 

Meskipun bagi masyarakat umum kehidupan di sana bagaikan mimpi, hal itu belum tentu berlaku bagi anggota keluarga kerajaan maupun bangsawan kelas atas.

Tak sedikit dari mereka yang nyawanya diincar akibat masalah seperti perebutan takhta, sehingga tingkat keamanannya dianggap kurang memadai.

Karena alasan tersebut, tiga akademi, yaitu Saint Clan, Shelton, dan Ringerfoot, bekerja sama erat dengan pihak Babel. 

Mereka memperdalam interaksi dengan mengizinkan para siswa berprestasi untuk mengikuti kelas di Menara Babel, sekaligus menggunakan metode ini agar kualitas mereka bisa mencapai level yang sama.

Dan tentu saja, sebagai hasilnya, mereka yang lulus dari akademi ini secara otomatis akan mendapatkan sertifikat kelulusan yang setara dengan siswa tahun keempat dari Menara Babel. 

Pertanyaannya adalah, mengapa seorang siswi dari sekolah super elit tersebut bisa bersekolah di Distrik Enam ini.

Jangan-jangan, gedung sekolah baru ini adalah....

"Kali ini, Akademi St.Clan kami telah direlokasi ke Distrik Enam."

"Relokasi... Berarti gedung baru itu adalah gedung Akademi St.Clan kalian, ya."

Memang benar dugaanku. Akan tetapi, orang-orang di Distrik Empat—baik pihak staf, jajaran direksi, maupun para siswa akademinya—seharusnya sangat membenci Distrik Enam.

Lalu kenapa mereka sampai repot-repot memindahkan akademinya ke Distrik Enam segala?

"Sebenarnya rencananya akademi baru akan dibuka di Distrik Enam sekitar tahun depan. Namun, karena rumah bermasalah yang selama ini mengganggu pemandangan itu sudah musnah, mereka memutuskan untuk memindahkannya secepat mungkin."

Mengganggu pemandangan, maksudnya pasti rumah terkutuk yang sangat menjijikkan itu. 

Rumah keji itu kini telah kami runtuhkan tanpa sisa, dan sekarang menjadi markas utama kami.

"Itu kan cuma alasan kenapa kalian mempercepat jadwal pindah ke Distrik Enam. Tapi kurasa itu bukan alasan kenapa kalian harus direlokasi ke Distrik Enam, kan?"

"Sejak dulu, pihak Babel ingin menghilangkan kesenjangan akademis antardistrik. Menanggapi hal itu, Akademi St.Clan kami akhirnya mengajukan diri. Mungkin saja pihak Akademi St.Clan mengambil keputusan tersebut setelah memprediksi bahwa Distrik Enam ini akan berkembang pesat ke depannya."

"Distrik Enam berkembang pesat, ya.... Tapi yang jadi pertanyaanku sejak awal adalah, kenapa mereka harus pindah di saat-saat seperti ini?"

Kalau memang mereka yakin Distrik Enam akan berkembang pesat, seharusnya mereka sudah bisa bertindak sejak jauh-jauh hari. 

Menilik dari alur pembicaraan ini, sepertinya jajaran petinggi Babel memang sudah berencana meruntuhkan rumah terkutuk yang jadi penghambat relokasi itu.

"Kukira, itu pasti karena ada orang tertentu yang tinggal di distrik ini."

Orang tertentu, ya. Yah, aku sudah bisa menebaknya. Itu pasti mantan Kepala Akademi Umum Babel, Inea Renren Lorelei.

Inea adalah orang yang mendirikan Babel. 

Akhir-akhir ini, Inea rela menggelontorkan harta pribadinya untuk bekerja sama dengan para bawahanku memulai proyek perluasan dan renovasi besar-besaran di Distrik Enam.

Mungkin cepat atau lambat, Distrik Enam ini akan berubah secara drastis. Tapi, kalaupun begitu—

"Apakah para siswa bisa menerima alasan seperti itu?"

Pemindahan akademi ke Distrik Enam ini sepenuhnya adalah masalah pihak akademi sendiri. 

Jika mereka dipaksa pindah tiba-tiba dari sekolah yang sudah sangat mereka kenal dengan alasan semacam itu, tentu takkan bisa ditolerir.

Terlebih lagi, imej Distrik Enam yang merupakan distrik bagi akademi tingkat rendah masih sangat kuat di mata masyarakat.

"Tentu saja ada penolakan. Akan tetapi, pada akhirnya keputusan ini diambil melalui pemungutan suara di dalam akademi."

Pemungutan suara akademi, ya. 

Trik sulap macam apa yang digunakan oleh pihak akademi? 

Kerugian pindah ke distrik ini terlalu besar, dan tanpa adanya keuntungan yang sepadan, mustahil para siswa mau menyetujui relokasi ini.

"Yah, selama kalian para siswanya setuju, buatku sih tak jadi soal."

Setidaknya, aku punya sedikit tanggung jawab atas pensiunnya Inea. 

Dan aku tak berniat merampas fondasi kehidupan yang telah dikenal baik oleh para siswa hanya karena alasan tersebut.

Akan tetapi, kalau pihak-pihak yang terlibat langsung sudah memberi persetujuan, maka ini bukanlah hal yang pantas untuk kucampuri.

"Kalau begitu, sampai jumpa lagi, Tuan Kai."

Sembari mengangkat tangan kanannya tanpa menghilangkan senyum segarnya, Millefeuille bergegas pergi meninggalkan kami.

"Kak Kai, orang itu siapa?"

Lumine yang berada di sampingku melontarkan pertanyaannya dengan raut wajah yang agak aneh.

"Dia adalah teman Rose."

"Hee, begitu, ya. Kak Rose, ya."

Ia mengangguk beberapa kali dengan ekspresi lega,

"Kak Kai, ayo kita ke sana!"

Mendesakku, Lumine menarik tanganku dan kami mulai melangkah menuju gedung Akademi Ouboro.

Saat kami memasuki gedung sekolah, kerumunan siswa terlihat berdesakan di dekat pintu masuk sekolah tempat daftar pembagian kelas ditempel.

"Ternyata aku dan kamu ada di kelas yang sama, Lumine."

"Sama!"

Lumine mengangguk dengan wajah semringah. 

Kalau saja ini Lumine yang beberapa waktu lalu, dia pasti akan langsung mengejekku. 

Melihatnya sekarang, perubahannya benar-benar luar biasa.

Atau mungkin lebih tepatnya, hubungan kami telah kembali seperti saat kami masih anak-anak dulu. 

Soalnya, waktu itu Lumine bahkan jauh lebih lengket padaku daripada pada Lyra.

"Ada beberapa wajah yang sudah kukenal, ya."

Ada beberapa nama yang familier bagiku di daftar kelas A1 yang sama denganku. Ariel; lalu pengikutnya yang bernama Sicke, makhluk dari dunia lain yang mengaku sebagai Dewa Perang Suci Ares.

Kusuki, bocah yang dilindungi di rumah terkutuk itu. 

Dan juga Seth Accard, sosok yang belum pernah kutemui secara langsung, namun karena dia adalah putri pemimpin elf yang penuh misteri, dia juga menjadi sosok yang terus kuperhatikan.

Selain mereka, masih ada beberapa nama lain. Tak pernah sekalipun terlintas di mimpiku kalau mereka semua bakal ada di satu kelas yang sama.

Tentu saja, aku tak sebodoh itu untuk menganggap ini sebagai kebetulan semata. Ini pasti ada campur tangan dari pihak akademi.

Kalau begitu, apakah ini ulah Chloe? Padahal aku sudah bilang padanya agar tidak memberikan tekanan berlebih pada para siswa.

Tak mungkin ia berani mengkhianatiku sekarang. Lalu, campur tangan siapa ini?

"Yah, sudahlah."

Biar bagaimanapun, buatku lebih menguntungkan kalau mereka semua berada di satu kelas yang sama denganku. 

Terlebih lagi, dari anggota-anggota ini, jelas sekali kalau ada maksud tertentu di baliknya.

"Lumine, ayo kita ke kelas."

"Iya!"

Lumine menarik tanganku dan kami mulai berjalan sambil ia bergantung di lenganku. 

Saat di depan Lyra, ia selalu menjaga jarak yang agak aneh. 

Namun jika Lyra tidak ada, ia kembali menjadi Lumine yang manja seperti dulu.

Yah, karena ini tak jadi soal buatku, kurasa tak masalah sama sekali.

Kami pun mulai melangkah menuju ke kelas A1 yang telah ditentukan.




Meskipun aku sudah masuk ke kelas, tidak ada satu orang pun yang memperhatikanku. Hmm, baguslah.

Akhir-akhir ini aku memang terlalu sering menjadi pusat perhatian dengan hal-hal yang tidak menyenangkan. Ruangan yang senormal ini terasa sangat menyamankan.

Aku pun duduk di sudut barisan paling belakang kelas. Nah, kira-kira orang seperti apa saja yang ada di kelas ini, dan siapa saja yang akan masuk nanti, ya.

Sudah ada beberapa orang di kelas yang menarik perhatianku.

Yang pertama adalah Kusuki Baccano, bocah lelaki yang kami lindungi dalam insiden rumah terkutuk waktu itu.

Yang kedua adalah Seth Accard, seorang gadis elf dengan rambut hitam yang diikat setengah. Aku punya sedikit masalah dengannya. Lebih tepatnya ibuku sih.

Yang jelas, dia adalah orang yang lumayan terkenal dalam artian tertentu. Buktinya, lumayan banyak anak di kelas ini yang mencuri-curi pandang ke arahnya.

Dua orang lainnya adalah kelompok dunia lain yang kupanggil ke dunia ini. Gadis cantik berambut pirang ikal dengan potongan bob itu pasti Ares, dan pemuda tampan berotot ramping dengan kumis tipis itu pasti pelayannya.

Aku tidak menyadarinya saat melihat daftar kelas tadi, tapi pria mungil dengan potongan rambut mangkuk dan perempuan pendiam berambut pirang panjang yang dikepang itu aku kenal.

Kalau tidak salah, mereka adalah Ramune dan Kiki, rekan satu timku saat ujian praktik masuk.

Sepertinya mereka juga masuk Akademi Ouboro. Aku tidak bisa menahan perasaan kalau kami memang ditakdirkan untuk bertemu.

Lalu—melihat pemuda dengan rambut hitam yang sangat panjang memasuki kelas,

"Pfft!"

Tanpa sadar aku menyemburkan tawaku.

Chloe, kau benar-benar pandai memilih orang. Sejak aku kembali ke dunia ini, dialah orang pertama yang sepertinya bisa melawanku secara serius, asalkan dengan batasan kekuatan.

Aku tak sengaja bertemu dengannya di tengah kota Babel, tapi dia tidak ada di ujian masuk waktu itu.

Bisa jadi, dia inilah yang disebut-sebut sebagai senjata pamungkas Babel.

Siapa sangka mereka malah menjebloskannya ke sekolah tempatku bersekolah. Keputusan yang cukup berani, bukan?

"Ada apa?"

Melihat wajah Lumine yang terkejut di sebelahku,

"Bukan apa-apa."

Saat aku mengelus kepalanya untuk mengalihkan pembicaraan, dia duduk di kursi tepat di depanku.

"Kau, waktu itu kau yang menyapaku, kan?"

Dan tiba-tiba menanyakan hal itu.

"Itu hanya perasaanmu saja."

"Tidak, waktu itu kau jelas-jelas bilang kalau kau mengharapkanku—"

"Aku tidak bilang apa-apa. Mungkin kau salah dengar."

"..."

Pemuda berambut hitam itu menatapku tajam selama beberapa saat.

Sambil menghela napas panjang, ia bergumam,

"Anggap saja begitu."

Lalu ia menelungkupkan kepalanya ke meja dan berhenti bicara.

"Semuanya, silakan duduk!"

Seseorang yang memasuki kelas dan berdiri di podium adalah seorang wanita dengan rambut biru panjang bermodel asimetris.

"..."

Erysh. Kenapa anak ini ada di sini? Erysh masih terdaftar sebagai siswi Menara, dan syarat mutlak untuk menjadi pengajar adalah sudah lulus.

Kemunculan Erysh yang tampak sangat percaya diri mungkin membuat para siswa percaya kalau dia memang pengajar, karena mereka langsung duduk di tempat masing-masing.

"Namaku Erysh Excel. Aku masih berstatus sebagai siswi Menara, tapi kali ini aku akan mengajar kalian sihir dasar selama satu tahun sebagai guru praktik. Mohon kerja samanya."

Kesunyian sesaat menyelimuti kelas tepat setelah sapaan Erysh. Detik berikutnya, sorak sorai meledak.

"Luar biasa! Siswi Menara yang bakal ngajar kita!"

"Ini pasti gara-gara Akademi St.Clan pindah ke sebelah!"

Para siswa tampak bersemangat dan mulai mengobrol dengan riuh satu sama lain.

"Kenapa mereka sebegitunya gembira?"

Wajarnya, diajar oleh sesama murid akan menimbulkan kecemasan.

Aku tidak mengerti alasan mereka begitu gembira.

"Konon, dari seluruh staf pengajar di akademi Babel, hanya 1% yang merupakan lulusan Menara. Tentu saja, segelintir lulusan Menara itu memegang jabatan tinggi seperti kepala sekolah di sekolah-sekolah top Babel. Singkatnya, wanita bernama Erysh itu adalah elit dari para elit, dan posisinya lebih tinggi dari pengajar di akademi ini."

Pria berambut hitam di depanku menjawab pertanyaanku yang tidak penting itu dengan sopan, sambil menopang dagunya.

"Oh, pengetahuanmu luas juga, ya."

"Yah, lumayanlah."

Sesuai dugaanku, pria ini adalah orang Babel. Chloe, Chloe. Kau punya bawahan yang cukup berbakat rupanya.

"Harap tenang!"

Teguran Erysh seketika membuat seisi ruangan hening. Sepertinya para siswa di kelas ini sangat menghormati Erysh.

"Upacara penerimaan siswa baru akan segera dimulai. Mulai tahun ini, upacara ini akan digabung dengan beberapa akademi lain, termasuk Akademi St.Clan di sebelah."

Para siswa langsung riuh mengobrol layaknya sekawanan anak burung.

Saat Erysh mengetuk meja beberapa kali dengan telapak tangan kirinya, suara bising itu pun langsung lenyap.

Nama besar Menara memang luar biasa. Dia benar-benar seperti pawang.

"Setiap orang tolong perkenalkan diri kalian dengan singkat, baru kemudian kita pindah ke aula besar Akademi St.Clan di sebelah. Satu per satu, sebutkan nama, kebangsaan, keahlian, target kalian untuk tahun ini, dan cita-cita kalian dengan singkat. Kalau begitu—dimulai dari Kai Heineman."

Setelah mengedarkan pandangan ke seluruh kelas, Erysh langsung menunjuk ke arahku.

"Namaku Kai Heineman. Statusku mungkin orang Kerajaan Amelia, ya? Menurutmu bagaimana, Lumine?"

100.000 tahun telah berlalu sejak aku tertelan oleh dungeon itu. Waktu terkadang terasa kejam.

Secara fisik maupun mental, aku sama sekali berbeda dari diriku yang dulu.

Tentu saja, aku pribadi tidak merasa sedikit pun kalau aku ini orang Kerajaan Amelia.

Tapi, untuk saat ini, aku berstatus sebagai Royal Guard sementara Rose—.

"Kenapa tanya padaku? Lagi pula, kurasa statusmu memang orang Amelia, kok."

Lumine menjawab dengan nada terkejut dari sebelahku.

"Begitulah. Keahlianku adalah ilmu pedang. Targetku tahun ini adalah menjalani kehidupan yang santai. Dan cita-citaku di masa depan, tentu saja, menjadi orang yang menjalani hidup santai."

"Kurasa kehidupan yang santai itu mustahil buat Kak Kai."

Lumine melontarkan sindiran yang tidak penting mirip Asta.

"Benar juga, ya."

Erysh mengangguk setuju. Tapi menyadari kalau semua orang menatap kami dengan pandangan aneh, ia langsung berdeham untuk menutupi kecanggungannya.

(Kai, apa sebenarnya yang sudah kau lakukan selama ini?)

Pria berambut hitam di kursi depanku bertanya dengan nada suara heran.

"Umm, pada dasarnya aku cuma tukang bersih-bersih jalan. Yah, akhir-akhir ini mungkin aku sedikit lebih proaktif, sih."

Memang benar, aku turun tangan secara langsung saat masalah Gil.

Setelah perkenalanku selesai dan aku kembali duduk, Erysh menunjuk Lumine. Lumine terlihat agak gugup, tapi dia berhasil memperkenalkan diri dengan jauh lebih baik dariku.

Giliran pun berlanjut sampai ke mereka berdua. Ares bernama Ariel, dan pelayan lelakinya bernama Sicke. Mereka berdua terdaftar sebagai orang Kerajaan Amelia.

Ah, aku ingat Chloe pernah bilang kalau dia mengatur pendaftarannya seperti itu.

Tujuan Ariel dan Sicke adalah menemukan teman mereka yang hilang dan kembali ke kampung halaman.

Asal Ramune dan Kiki adalah Kekaisaran Glitnir. Hmm... Apakah ini sebuah kebetulan?

Mereka bahkan sampai menyapaku dengan sopan.

Aku sama sekali tak merasakan niat jahat dari mereka, jadi kurasa tak ada masalah membiarkannya untuk saat ini.

Lagipula, Ramune dan Kiki adalah salah satu dari segelintir orang yang mengetahui pertarunganku di dunia ini.

Terlepas dari seberapa besar kekuatan fisik maupun sihir mereka, keterampilan bertarung mereka jelas berada di level yang sama sekali berbeda dari murid-murid biasa lainnya.

Chloe sengaja memasukkan mereka ke kelas A1 ini. Kira-kira, apa yang dia rencanakan dengan kelas ini?

Kusuki Baccano dan Seth Accard masing-masing memperkenalkan diri dengan suara pelan dan aman. Keduanya pasti sudah terbiasa melindungi diri dengan cara seperti itu.

Tidak, bukan itu. Akan lebih tepat jika dibilang mereka tidak bisa melindungi diri kalau tak berbuat seperti itu.

Namun, kata-kata yang tidak mengandung setitik pun perasaan tulus terdengar kosong melompong. Jawaban yang sangat membosankan, sampai-sampai membuatku muak.

Ya sudahlah. Nanti akan kubuat mereka menunjukkan jati diri mereka.

Akhirnya giliran pria berambut hitam di depanku. Ia berdiri,

"Namaku Shou. Nama keluargaku... sudah kubuang. Kewarganegaraanku... aku berasal dari negara yang sangat jauh, dan kurasa kalian tak akan paham kalaupun kusebutkan, jadi aku takkan mengatakannya. Keahlianku sihir dan bela diri. Targetku untuk tahun ini adalah memastikan aku menemukannya kali ini. Satu-satunya tujuanku adalah—balas dendam."

Begitulah cara dia memperkenalkan dirinya secara singkat.

Sesekali terlihat sekilas pandangan buas bagai hewan buas dari raut wajahnya. Pasti ada banyak hal di balik pria ini.

Perkenalan Shou seketika membuat seisi kelas riuh, tapi,

"Karena perkenalannya sudah selesai, silakan semuanya menuju ke aula."

Erysh bertepuk tangan dan memberi instruksi. Kami pun menurutinya, berdiri, dan berjalan menuju gedung sekolah di sebelah.

—Inilah pertemuan mereka.

 Saat di mana monster terkuat yang kehilangan musuh di dunia ini, berpapasan dengan iblis pendendam yang mengorbankan segalanya demi balas dendam.

Bagi sang iblis, sang monster pada awalnya hanyalah sebuah pijakan untuk menemukan musuhnya.

Namun, rasa penasaran sang monster yang lapar akan sosok kuat itu justru membuatnya tertarik pada sang iblis pendendam, hingga akhirnya ia turut campur dalam kisah balas dendam tersebut.

Dalam artian, kegigihan sang iblis-lah yang menyeret monster tak masuk akal ini ke dalam ceritanya. Mungkin bisa dibilang begitu.

Pada saat itu, pintu yang tertutup rapat dan tak pernah terbuka, perlahan mulai terbuka paksa oleh tangan sang monster terkuat.

◇◆◇

Gedung Akademi St.Clan luasnya bukan main. Begitu luasnya sampai-sampai membuatku tak bisa berkata-kata, dan bangunan itu tampak sangat mewah, seolah seluruh harta benda dicurahkan untuk membangunnya.

Begitu kami memasuki tempat yang disebut Aula Besar di tengahnya, kami disambut oleh ruang yang dikelilingi kursi penonton bertingkat, dan para murid tampak terus berdatangan menempati tempat duduk mereka.

Tiga sekolah elit yang dikenal sebagai Tiga Raja Babel, yakni Akademi St.Clan, Akademi Shelton, dan Akademi Ringerfoot, yang sejajar dengan kelas Menara, selalu mengadakan upacara penerimaan secara bersamaan.

Kali ini, upacara akan diadakan di gedung baru Akademi St.Clan. Akademi Ouboro mendapat pengecualian untuk mengikuti upacara gabungan ini karena hubungan dekat mereka dengan Akademi St.Clan baru-baru ini. Mungkin seperti itu alasannya.

Dilihat dari seragamnya, Akademi St.Clan berada di sebelah kiri, Akademi Shelton di tengah, dan Akademi Ringerfoot di kanan, diurutkan dari depan.

Sepertinya para murid Akademi Ouboro ditempatkan di sudut belakang. Formasi yang sangat mudah ditebak.

"Kai! Lumine!"

Baru saja kami duduk, seseorang memanggil kami dari belakang.

Saat aku menoleh, kulihat teman masa kecilku yang memiliki rambut berwarna hijau willow berdiri sambil tersenyum.

"Kak Lyra!"

Lumine melompat dan memeluknya dengan mata berbinar-binar, Lyra pun membalas pelukannya dengan lembut.

"Oh. Lyra. Kau diterima di Akademi Shelton dan juga ditunjuk untuk memberikan pidato sambutan, ya? Selamat!"

Nilai tes bakat Lyra cukup tinggi.

Lagipula, ia juga mengumpulkan cukup banyak poin di tim Somni pada ujian praktik, lencananya pun tetap utuh, sehingga total nilainya menjadi cukup tinggi. Sangat wajar jika ia diterima di sekolah papan atas.

Yah, Akademi Shelton adalah sekolah elit papan atas tempat para bangsawan dan keluarga kerajaan bersekolah. Lulus ujian masuk ke sana membuktikan betapa hebatnya ia.

"Ya. Padahal aku lebih memilih masuk Akademi Ouboro, lho."

Ia membalas dengan nada sedikit sedih sambil membelai kepala Lumine.

Mengingat sifat Lyra, ia pasti tak peduli di sekolah mana ia diterima.

Justru, karena sifat protektifnya, Akademi Ouboro yang memungkinkan ia selalu berada di sisi Lumine pasti jauh lebih ia sukai.

"Kak Lyra, aku nggak apa-apa, kok! Toh, tempat tinggalku juga sekamar dengan Kakak."

"Begitu, ya."

Lyra menatap Lumine yang menjawab dengan senyum ceria ke arahnya, namun dengan tatapan yang entah kenapa terlihat sedih, lalu ia menatapku,

"Kai, tolong jaga Lumine."

Ia memohon padaku dengan wajah serius.

"Tentu saja. Lumine kan sering melakukan hal yang berbahaya, jadi aku akan mengawasinya dengan ketat."

Mendengar jawabanku itu,

"Huuu! Aku nggak berbahaya sama sekali, tahu!"

Lumine langsung cemberut dan melayangkan protes.

"Fufu!"

Melihat interaksi kami, Lyra tertawa tertahan seakan melihat sesuatu yang lucu.

"Hm? Ada apa?"

Aku pun menanyakan maksud dari tawanya itu.

"Tidak ada apa-apa. Hanya saja, melihat hubungan Lumine dan Kai kembali seperti dulu membuatku merasa sedikit senang."

"T-Tidak seperti itu, kok!"

Wajah Lumine memerah padam dan ia buru-buru menyangkalnya.

"Nona kecil, sangkalanmu itu terlalu berlebihan. Kau malah menggali kuburanmu sendiri, lho."

Sue mengintip dari tas dan melontarkan sindiran itu.

"—Eh!"

Sementara Lyra dengan penuh kasih sayang membelai kepala Lumine yang sudah memerah seperti teko air mendidih, seorang pemuda berambut cokelat yang sangat tampan menghampiri kami dan berkata,

"Nona Lyra, sebentar lagi upacara akan dimulai. Kita berdua harus menyampaikan pidato perwakilan sebentar lagi. Tidak ada waktu untuk meladeni orang-orang rendahan seperti mereka!"

Seperti biasa, ia mendesak Lyra dengan ekspresinya yang penuh percaya diri.

Roman, sama seperti Lyra, memperoleh nilai tertinggi di ujian bakat. Ia bahkan melawan undead sendirian sampai ia pingsan terkena racun lebah beracun.

Akibatnya, nilai totalnya tinggi, dan karena fakta bahwa ia adalah Gift Holder dari "Raja Tombak" juga ikut dipertimbangkan, ia diterima di Akademi Shelton sama seperti Lyra.

Roman sepertinya sangat bahagia bisa bersekolah di tempat yang sama dengan Lyra.

"Baiklah, Kai, Lumine. Sampai nanti, ya."

Tanpa menjawab perkataan Roman, Lyra hanya tersenyum padaku dan Lumine, lalu berjalan menuju barisan depan.

"Weeeek!"

Lumine menarik bibirnya dengan kedua jari telunjuk dan terang-terangan menunjukkan permusuhan pada Roman.

Lumine memang sudah lumayan melunak padaku, tapi sepertinya ia tetap membenci Roman.

Upacara penerimaan siswa baru pun dimulai, namun sejak awal acaranya sudah penuh dengan kekacauan.

Pertama, diumumkan bahwa Akademi Ouboro dan Akademi St.Clan akan menjadi sekolah bersaudara.

Ini adalah kabar mengejutkan yang mendadak, terutama bagi siswa dan staf Akademi St.Clan, yang langsung menyuarakan penolakan keras.

Di tengah penolakan itu, diumumkan bahwa mantan Kepala Akademi Umum Babel, Inea Renren Lorelei, akan menjabat sebagai Kepala Sekolah Akademi Ouboro yang baru.

Pengumuman tentang penunjukan Bligh Stamp sebagai guru bela diri semakin menambah kehebohan di dalam aula.

Tentu saja, yang sebenarnya terjadi adalah protes keras dari para siswa Tiga Raja.

Mana mungkin mereka bisa menerima bahwa hanya Akademi Ouboro yang dipenuhi murid buangan yang mendapat pelajaran berkualitas tertinggi.

Di tengah badai protes itu, ketika diumumkan bahwa Inea dan Bligh juga akan mengajar di sekolah bersaudara Saint Clan, Akademi Shelton, dan Akademi Ringerfoot, seketika protes pun reda.

Jika dipikirkan secara tenang, melihat fakta bahwa Akademi St.Clan dipaksa pindah ke Distrik Enam dan Inea serta staf elit lainnya dipekerjakan sebagai staf pengajar, jelas bahwa semua ini diatur demi Tiga Raja, terutama Akademi St.Clan.

Akademi Ouboro hanyalah dimanfaatkan untuk menutupi perasaan tak adil dari akademi unggulan Babel lainnya. Begitulah pemikiran yang sangat masuk akal.

Setelah sempat terjadi keributan yang luar biasa, upacara kembali berjalan lancar. Pidato demi pidato disampaikan oleh para siswa berprestasi yang sangat menjanjikan dari Tiga Akademi tersebut, termasuk Lyra dan Roman.

Tentu saja, tidak ada satu pun siswa dari Akademi Ouboro yang mendapatkan kesempatan itu. Yah, ini benar-benar mudah dipahami, sampai-sampai rasanya melegakan.

Meskipun begitu, pidato Lyra terdengar sangat berwibawa, dan bagiku ini adalah upacara penerimaan siswa baru yang bagus.

Terakhir, orang yang naik ke mimbar adalah seorang pria muda tinggi kurus berjubah biru tua. Suasana ruang pertemuan seketika hening, sampai-sampai terasa menyakitkan telinga.

"Oh...."

Dalam hal tertentu, karismanya lebih besar daripada Inea. Identitasnya pun terungkap melalui perkenalan pembawa acara.

—Rasputin Grahart. Wakil Kepala Akademi Umum Babel saat ini.

Aku kira ia akan menjadi orang duniawi seperti mantan Wakil Kepala Akademi, tapi kenyataannya ia memancarkan keagungan yang tidak sesuai dengan usianya yang baru beberapa puluh tahun.

"Saudara-saudara sekalian, selamat atas penerimaan kalian di sini. Kepindahan Akademi St.Clan ke Distrik Enam dan kerja samanya dengan Akademi Ouboro sebagai sekolah bersaudara merupakan eksperimen untuk melihat apakah mereka yang tak kompeten pada saat masuk bisa mengejar mereka yang memiliki bakat alami melalui pendidikan."

Tiba-tiba seisi aula menjadi riuh. Sebagian besar orang tampak meragukan ide tersebut. Ajaran Gereja Pusat menyatakan bahwa Gift adalah ukuran cinta kasih Tuhan dan menentukan bakat manusia.

Pemikiran tentang menciptakan kejeniusan melalui pendidikan ala Rasputin benar-benar bertentangan dengan ajaran Gereja Pusat ini. Bagi penganut setia Dewa Perang Suci, ide ini sendiri sulit diterima.

"Ini adalah upaya terbesar yang pernah dilakukan Babel, dan sekaligus menjadi petualangan. Oleh karena itu, penerapannya pun harus ketat. Penilaian akhir bagi siswa Menara dan siswa dari keempat akademi ini akan ditentukan secara adil dan ketat berdasarkan ujian yang sama, dengan standar penilaian yang setara pula. Siapa pun yang gagal akan langsung dikeluarkan tanpa kompromi. Hanya bagi mereka yang mampu bertahan, Babel akan menganugerahkan penghargaan tertinggi. Demikian dari saya!"

Setelah menyampaikannya secara sepihak, Rasputin langsung meninggalkan aula dengan cepat.

Keriuhan yang sempat memenuhi aula perlahan kembali tenang. Ini karena pandangan mereka bahwa jika kemampuan yang jadi standar penilaian, maka seluruh murid Akademi Ouboro pasti akan terdepak.

Intinya, mereka menyimpulkan kalau Rasputin hanya menjadikan eksperimen ini sebagai alasan untuk melenyapkan Akademi Ouboro.

Perlahan-lahan, para murid Tiga Raja mulai mencari-cari apa maksud dari kata-kata Rasputin tentang memberikan penghargaan tertinggi itu.

Artinya, Babel menerapkan sistem pendidikan kali ini untuk membimbing dan mengasah bibit-bibit unggul di dalam lembaga pendidikan Babel.

Sementara para murid Tiga Raja tengah asyik membicarakan cara-cara mengalahkan rival-rival dari sekolah lain beserta komitmen mereka, murid-murid Akademi Ouboro malah sibuk meratapi nasib karena mengira mereka semua bakal dikeluarkan.

Meskipun begitu—.

"Kenapa mereka sebegitunya putus asa? Lagipula, semuanya kan belum dimulai...."

Pernyataan Rasputin barusan hanyalah penegasan akan hal-hal yang sepatutnya dilakukan oleh lembaga pendidikan.

Mengandalkan ujian masuk untuk menentukan segalanya sama saja dengan mengabaikan tanggung jawab sebagai lembaga pendidikan.

Malahan, mereka sepatutnya berterima kasih kepada Rasputin yang sudah berikrar bakal mengevaluasi mereka berdasarkan kemampuan yang sesungguhnya.

Padahal, sebelum bertanding saja mereka sudah mengeluh tidak akan bisa meraih nilai lulus ujian.

Itu artinya, mereka sudah tidak mau berusaha sama sekali. Ini tidak ada hubungannya dengan nilai.

Dari awal, murid-murid ini memang tidak memiliki sesuatu yang sangat penting.

"Percuma saja, Kai. Mata mereka sudah memancarkan tatapan pecundang."

Shou yang duduk di kursi depanku bergumam tanpa membalikkan badan ke arahku.

"Sepertinya begitu."

Inikah tantangan berat yang dimaksud Chloe di Akademi Ouboro ini. Kalau dari permukaannya saja sudah bobrok, maka isinya pun pasti tak ada yang bisa diandalkan.

Akan tetapi, aku sudah sangat piawai mengolah buah busuk saat menangani masalah Gil.

Baiklah, Chloe. Akan kulakukan apa yang kau harapkan, tidak, akan kulakukan lebih baik dari yang kau harapkan.

"Kak Kai, tahu nggak sekarang muka Kakak kayak gimana?"

Lumine, dengan ekspresi mata yang setengah tertutup seolah tak percaya, menegurku dari bangku sebelah.

"Muka?"

Ketika kusentuh menggunakan tangan kiriku, ternyata sudut bibirku sudah terangkat sangat tinggi.

"Yah, aku paham sekarang. Maksudmu kau tak bisa hidup santai karena yang beginian, ya."

Shou juga menoleh ke arahku dan bergumam sendiri melihat raut wajahku sambil pipinya berkedut.

◇◆◇

Setelah upacara penerimaan siswa baru Akademi Ouboro usai, Erysh, selaku pengajar di akademi tersebut, memberikan pengarahan singkat. Setelah itu, Ares dan Silkette pun bergegas pulang.

Sebelum masuk ke Akademi Ouboro, ia hanya berpikir bahwa sekolah ini hanyalah sekolah biasa tempat manusia kelas bawah bersekolah.

Namun, pandangannya langsung berubah setelah ia menginjakkan kaki di ruang kelas itu.

Tiga sosok yang terutama menarik perhatian Ares.

Yang pertama, Lumine Herner. Gadis ini sekilas terlihat seperti gadis biasa.

Akan tetapi, ketika ia mengeluarkan boneka kucing dari tasnya di dalam kelas, sosok sesosok dewa laki-laki yang memegang pedang besar di tangan kanannya sekilas terlihat.

Meskipun hanya sekejap, Silkette juga menyadarinya. Jadi, itu bukan sekadar salah lihat Ares semata.

Dewa pria itu memancarkan tekanan kuat yang membuat kakeknya, sang Dewa Tertinggi, Zeus, tampak seolah-olah berada tepat di depannya.

Kedua, Kusuki Baccano. Ia kurang begitu mengenalnya. Akan tetapi, kapasitas sihir yang dimilikinya sangat jauh melampaui manusia biasa.

Berdasarkan penilaiannya, ia setidaknya berada di kelas dewa tingkat bawah.

Manusia memiliki kapasitas sihir yang setara dengan dewa?

Belum pernah ia mendengar hal semacam itu. Ia juga benar-benar tak wajar. Sudah bisa dipastikan ia bukanlah manusia, melainkan anggota dari silsilah dewa.

Yang terakhir adalah yang paling tak wajar. Pemuda berambut hitam panjang yang menyebut dirinya sebagai Shou. Tak ada tanda-tanda kehadiran dewa seperti Lumine, juga tidak ada kekuatan sihir yang sangat besar seperti Kusuki.

Namun, hanya dengan bertatapan dengannya saja, ia merasa seolah terperangkap dalam jaring laba-laba raksasa.

Perasaan ini sama seperti saat ia bertemu dengan Dewa Kehancuran terkuat, Poseidon, dan keringat dingin langsung bercucuran membasahi sekujur tubuhnya.

"Bagaimana pendapat Anda tentang kelas tadi?"

Baru saja melewati gerbang sekolah, Silkette menanyakan hal yang sangat membingungkan baginya.

"Ketiga orang itu, ya?"

"Benar, pada dasarnya mereka itu bukanlah manusia. Mereka adalah—"

"Orang-orang yang merupakan bagian dari silsilah dewa seperti kita, ya...."

"Bisa dipastikan."

Kalau hanya ada satu sosok aneh, ia masih bisa memakluminya. Tapi kalau sampai tiga sosok, itu urusan yang berbeda.

Mungkin, pendaftaran Ares dan yang lainnya di akademi ini juga bukan sebuah kebetulan belaka.

Pasti ini adalah hasil dari kehendak seseorang. Tapi apa sebenarnya niat mereka....

(Tuan Ares!)

Silkett berbisik seraya menunjuk ke suatu arah. Di tanah kosong yang tak jauh dari situ, beberapa siswa tampak tengah mengerumuni seorang perempuan.

Seragam para siswa elf yang mengelilinginya itu sangatlah familier baginya, seragam yang sama dengan siswa yang menghadiri upacara penerimaan hari ini. Seragam Akademi St.Clan yang prestisius.

Sebaliknya, gadis yang tengah jadi pusat kebencian itu adalah Seth Accard, siswi kelas A1 Akademi Ouboro yang sama dengan Ares dan Silkette.

"Dasar aib elf! Beraninya kau datang ke Babel ini!"

Seorang elf pria bertubuh kurus berseru lantang.

"Bikin najis saja! Melihatmu saja membuatku merinding!"

Sesaat kemudian, seorang elf perempuan menyemburkan hinaannya.

"Ya, rasanya mau muntah membayangkan berada di gedung sebelah wanita menjijikkan ini!"

Seorang elf bertubuh tinggi besar pun ikut mencibir.

Sembari berjongkok di hadapan sang gadis, seorang pria elf bertubuh tinggi berambut pirang yang disisir ke belakang, yang sepertinya adalah ketua kelompok, menjambak rambut Seth kuat-kuat.

"Dengar, ya. Aku tidak mau memaksamu. Jadi cepat angkat kaki dari Babel ini sekarang juga."

Ia memberikan perintah bernada mengancam. Sambil gemetar, gadis itu menggelengkan kepala.

"Tidak mau...."

Ia menolak dengan suara yang lirih.

"Kau tak mengerti, ya. Ini bukan saran, tapi perintah dari Lorelei."

Sambil memamerkan senyum tipis, elf berambut pirang itu menampar wajah Seth.

(Dasar pengecut!)

Selama ini, Ares memiliki persepsi bahwa elf adalah ras yang cerdas dan berbudaya.

Setidaknya ia tak pernah menyangka mereka akan melakukan tindakan barbar seperti menampar perempuan yang tak berdaya.

Yang pasti, Ares tidak cukup sabar untuk bisa melihat hal ini terus-menerus.

"Berhenti!"

Mendengar teriakan peringatan dari Ares, pandangan para elf langsung tertuju padanya.

Sesaat kemudian, sorot mata mereka berubah drastis menjadi sesuatu yang tak pernah ia saksikan seumur hidupnya.

"Kalian...."

Menyadari makna di balik tatapan mereka, Silkette langsung menatap tajam ke arah para elf dengan mata setajam elang.

Pria berambut pirang yang disisir ke belakang itu melemparkan Seth Accard dengan kasar, lalu berdiri perlahan.

"Hah! Anak gagal dari sekolah reyot itu berani menceramahiku, siswa Saint Clan?"

Ia bangkit dari tanah, memamerkan senyum tipis, mendekat, lalu memiringkan kepalanya seolah ingin mengintimidasi.

Berdasarkan informasi yang dikumpulkan Silkette, di Babel, yaitu kota bagi manusia, para siswa dipetakan ke setiap sekolah berdasarkan nilai ujian masuk mereka, yang akhirnya membentuk struktur hierarki unik.

Puncak hierarki ditempati oleh para siswa yang bersekolah di 'Menara'. Mereka dipersiapkan untuk menjadi calon petinggi di segala bidang dan organisasi di dunia ini, dan mendapat pendidikan elit secara intens.

Namun, tekanan pendidikan ini sangat brutal sehingga beberapa bangsawan dan keluarga kerajaan ragu untuk menyekolahkan putra-putri mereka ke sana.

Sebagai solusinya, terdapat tiga akademi Babel unggulan yang sejajar dengan kelas Menara semu dan dihadiri oleh bangsawan dan keluarga kerajaan.

Tiga akademi unggulan ini menerima anggaran sangat besar dari pusat Babel tanpa syarat setiap tahun, mendapat guru-guru berkualitas tinggi, dan mendapat fasilitas pendidikan terbaik dunia.

Di bawah tiga sekolah tersebut, terdapat akademi-akademi umum kelas menengah.

Anggaran mereka ditetapkan setiap tahun, dengan tambahan anggaran yang didasarkan pada prestasi akademis yang diraih para siswa.

Karena itu, para pengajar maupun siswa akademi kelas menengah cenderung kompetitif dalam mencari dan mendidik siswa berprestasi.

Di dasar hierarki adalah sekolah terburuk. Anggaran yang mereka terima hanya sekadar untuk memenuhi kebutuhan pokok, dan merupakan akademi yang dihadiri oleh para pecundang di Babel.

Pengajar di sekolah tersebut kualitasnya dan antusiasmenya sangat rendah, dan mereka diperlakukan dengan sangat buruk dalam semua aspek.

Di antara sekolah-sekolah terburuk ini, Akademi Ouboro adalah yang terburuk dari yang terburuk.

Mereka menerima perlakuan buruk di semua aspek, dan acap kali menjadi korban diskriminasi dari sekolah-sekolah lainnya.

"Aku tak tahu seberapa berkuasanya kau, tapi hal itu tak memberimu hak untuk menyiksa gadis lemah seperti dia. Menyakiti seseorang yang lemah dan tak bisa melawan... Di dunia kami, orang seperti itu disebut pengecut."

Ia menyatakan pendapatnya sembari menggeram marah.

"Hah?! Apa kau baru saja menyebutku pengecut?!"

Pria elf berambut pirang klimis itu berteriak murka, memperlihatkan urat biru yang menonjol di dahinya.

"Iya, dan akan kupertegas sekali lagi. Kalian semua ini benar-benar pengecut terburuk."

"Beraninya anak buangan sekolah reyot menceramahi kami!"

Sesaat kemudian, cemoohan dari para elf meledak.

Omong kosong belaka. Klaim yang mereka buat ini semua hanyalah argumen picik dari dunia sempit yang cuma berlaku di dalam Babel ini. Akademi Ouboro dianggap sebelah mata, itu cuma kedok.

Pada kenyataannya, kelas yang dihadiri oleh para siswa dari akademi itu dijejali oleh para monster berkelas dewa. Sudah jelas seberapa penting Akademi Ouboro di mata Babel.

Intinya, mereka hanyalah boneka bodoh yang tak sadar akan kenyataan dan cuma menari-nari dalam batasan stereotip yang dangkal. Ini tak cuma memalukan, tapi sudah sampai taraf memilukan.

"Masih soal itu lagi? Jika budaya Akademi St.Clan itu merundung yang lemah, maka sekolah macam itu sudah sepantasnya tak ada. Sekolah sampah seperti itu harusnya ditutup sekarang juga!"

Ares mengedarkan pandangan ke arah mereka dan mendeklarasikannya dengan raut wajah jijik.

"Jangan bercanda! Dasar pecundang dari sekolah reyot!"

"Sombong sekali untuk seukuran anak buangan!"

"Mana ada pecundang dari sekolah terburuk Babel yang bisa ngoceh hal sok suci seperti itu!"

Para elf kembali melontarkan ejekan seperti dugaannya.

"Terus? Bahkan kalaupun kemampuanku ini rendahan, hal itu tak bisa menjustifikasi kelakuan memalukan kalian. Ejekan kalian itu benar-benar salah sasaran."

"Banyak bacot kau! Pada akhirnya, dunia ini berputar di sekitar kekuatan! Kalau begitu, coba buktikan kebenaran kalian pada kami!"

Elf berambut pirang klimis itu mengepalkan tinjunya dengan erat dan melangkah maju, diiringi suara yang bergetar saking emosinya.

"Kalau tak bisa berdebat dengan kata-kata, langsung bertindak anarkis, ya. Kau ini benar-benar orang yang memalukan!"

Ia menangkis seluruh pukulan yang menghampirinya dengan selisih yang sangat tipis.

"Sialan! Kenapa nggak kena?!"

"Dengan kemampuanmu, kau takkan bisa mengenalku."

Sekarang ini, Ares memang seorang manusia. Ia tak bisa lagi memakai kekuatan dewanya.

Meskipun begitu, ia telah diajarkan segala teknik pertempuran dari saudara-saudara perempuannya, sang Dewi Perang, semenjak ia masih kecil.

Saat ia kecil dulu, ia bahkan acap kali dipukuli sampai pingsan.

Tentu saja serangan amatiran seperti anak-anak begini mustahil mengenalnya.

"A-Anak buangan sekolah reyot tak berguna!"

Mungkin ini adalah rasa malu yang luar biasa baginya.

Urat nadinya yang nyaris pecah terlihat jelas di dahinya, dan ia mengarahkan tongkat di pinggangnya ke arah Ares dengan raut wajah penuh amarah dan kebencian seperti membenci musuh bebuyutannya.

"Mundur, Tuan Ariel!"

Silkett maju selangkah ke depan untuk melindungi Ares dan mengambil kuda-kuda bersiap dengan merendahkan pusat gravitasinya.

"Hei, teman-teman, kita habisi dia!"

"T-Tapi, Torura—"

"Kalau kita kalah dari mereka, kita bakal dicap sebagai murid Saint Clan pertama yang dikalahkan oleh sekolah reyot! Apa kalian rela dianggap seperti itu?!"

"Tch!"

Mendengar provokasi Torura, sang pemuda elf berambut pirang klimis, sorot mata para elf di sekelilingnya seketika berubah. Mereka semua mengarahkan tongkat mereka ke arah Ares dan Silkett.

"Ayo hujani dia dengan Flame Slug Shot bersama-sama!"

Setelah Torura meneriakkan aba-aba, ia mulai merapal mantranya dengan cepat, dan elf lainnya mengikuti. Perlahan, bola-bola api mulai bermunculan dan berkumpul di ujung tongkat Torura.

"Flame Slug Shot!"

Torura menjerit. Sejumlah besar bola api seketika melesat ke arah Ares dan Silkett dengan kecepatan tinggi.

Silkett mencabut pedangnya dan menghambat pergerakan molekul udara di hadapannya. Uap air yang ada di udara seketika membeku menjadi bentuk menyerupai payung es.

Ratusan bola api yang ditembakkan kemudian mengenai payung es tersebut dan seketika berubah wujud menjadi uap dan lenyap tak bersisa.

"D-Dihalau...?"

Diikuti oleh si pemuda elf mungil berkacamata yang menggumam kebingungan,

"Sihir elemen es tanpa rapal! Itu kemampuan yang dimiliki penyihir istana, kan!"

"Kenapa murid buangan dari sekolah reyot bisa menggunakan sihir sekelas itu?!"

Para elf di sekitarnya silih berganti menyerukan kekaguman mereka.

Silkett mengarahkan ujung pedangnya pada kelompok pemuda dan pemudi elf yang tengah dilanda kepanikan,

"Dengan kekuatan kalian yang setengah matang itu, kalian takkan mampu melukaiku seujung kuku pun. Pergilah dari sini sekarang juga, aku takkan mengejar kalian."

Ujarnya tegas dengan nada keras. Silkett pada dasarnya bukanlah seorang Utusan Dewa yang bertindak secara sewenang-wenang. Ia pasti benar-benar marah melihat perbuatan mereka.

"Hei, Torura, sekarang bagaimana?"

Seorang elf raksasa menanyakan pada Torura dengan nada penuh kecemasan.

"Dia baru saja mencabut pedang padaku. Pada kami, murid Saint Clan! Ini adalah kejahatan besar yang pantas dihukum mati! Demi menjaga perdamaian Babel, kita wajib menghukum mereka!"

Begitu Torura berseru, ia mengarahkan tongkatnya dan kembali merapal mantranya.

"Hei, Vulcan! Waktunya bekerja! Bangunlah!"

Sesaat setelah rapalannya selesai, Torura berseru lantang. Tepat sesudahnya—.

"Bising! Aku sudah dengar!"

Diiringi suara seorang pria tua yang terdengar tidak senang, muncullah sesosok pria tua yang tubuhnya terbuat dari api di hadapan Torura. Ia melipat kedua tangannya di dada.

"Torura, kurasa ini sudah kelewatan."

"Y-Ya. Kita sudahi saja hari ini. Nanti kita laporkan pada akademi soal tindakan dia mencabut pedang pada kita."

Teman-teman di sekitar Torura berusaha membujuknya agar mengurungkan niatnya. Namun,

"Apa kalian lupa ajaran Libra?! Kalau kita takut dan kabur dari mereka, itu akan membuktikan bahwa kita lebih lemah dari mereka! Hal itu akan mencoreng kehormatan ras elf kita!"

"..."

Mendengar Torura yang sedang tersulut amarah, para murid elf itu hanya bisa menunduk dan gemetar, dilanda dilema yang mendalam.

"Itu benar. Kita tak boleh kalah!"

Seolah tengah meyakinkan dirinya sendiri, Torura memelototi Ares dan Silkett seraya berteriak.

(Sepertinya masalah ini akan cukup merepotkan, ya....)

Makhluk manusiawi berelemen api itu mungkin adalah makhluk elemen alam atau peri.

Terlebih lagi, sekilas saja sudah terlihat jelas bahwa ia termasuk di tingkatan yang lebih tinggi. Meski begitu—.

(Dari sekian banyak elemen, kenapa harus berelemen api....)

Di dunia ini, peri dan makhluk sihir berelemen api memperoleh kekuatan dari Dewa Api Surtr.

Dewa Api Surtr adalah dewa kuno yang pernah membuat dunia ini menjadi lautan api jauh sebelum Dewa Jahat Raja Busuk lahir ke dunia ini.

Ia hanya berhasil disegel oleh sang ayah dan kakak laki-lakinya setelah mereka bertarung habis-habisan dengan mempertaruhkan jiwa raga.

Sihir segelnya khususnya, adalah kemampuan dari ayahnya. Secara kodrat, ayahnya adalah seorang ahli sihir penyegelan.

Karena itulah, ia telah dikunci dengan begitu ketat. Jadi, segel tersebut mustahil bisa dilepas.

Namun, kekuatan Dewa Api Surtr sangatlah besar, kekuatan magis yang meluap dari dalam tubuhnya bahkan ketika sedang tersegel memberikan pengaruh pada para makhluk tingkat tinggi berelemen api.

Tampaknya, peri bernama Vulcan ini juga telah diperkuat secara signifikan berkat kekuatan sihirnya.

Akan sangat sulit untuk mengalahkannya meski dengan menggunakan ilmu berpedang tingkat mahir pun.

"Terus, kau mau apakan mereka? Apapun itu tak masalah bagiku, sih."

"Vulcan, lumpuhkan sepasang manusia yang tak tahu diri itu!"

"Jangan lupa dengan bayaranku, ya."

"Tentu saja! Kuberikan sepertiga nyawa mana milik pelayanku ini!"

Sambil menunjuk salah seorang murid perempuan elf yang ada di belakangnya, Torura meneriakkan kalimat itu.

Perempuan ini adalah satu-satunya di antara mereka yang sedari tadi tak ikut melancarkan serangan terhadap Ares.

"..."

Dengan tangan bertautan, si murid perempuan elf itu menutup matanya erat-erat.

Seketika, aura berwarna hijau merembes keluar dari tubuhnya yang mungil, disusul ia yang kehilangan seluruh kekuatannya.

Melihat para siswa elf yang tak peduli terhadapnya, ini jelas menunjukkan betapa rendahnya kedudukan perempuan ini.

"Lezat. Sesuai dugaanku, rasanya sangat lezat. Baiklah, kontrak telah dibuat. Kau mau kedua orang itu dilumpuhkan, bukan?"

"Benar! Begitu juga si wanita elf itu!"

Torula berteriak sambil menunjuk Seth Accard. Seth tersentak, tubuhnya meringkuk dan mulai gemetar.

"Baiklah. Ini layanan khusus. Akan kuhancurkan kau."

Vulcan menjilat bibirnya, mengangkat tangan kanan dan membentuk segel aneh. Seketika, cincin api dalam jumlah yang mengerikan muncul di langit.

"Nona Ariel, bawalah anak itu dan larilah!"

Silkett berdecak pelan melihat cincin api yang mengepung mereka. Ia lalu memohon hal itu pada Ares.

"Nah, karena kau tidak akan bisa bangkit lagi. Pertama-tama, aku akan membakar kedua tangan dan kakimu, lalu membakar wajah cantikmu itu."

"Tentu saja, secara perlahan. Kau akan pingsan karena rasa sakit, lalu terbangun lagi karena rasa sakit."

"Yang sulit adalah memastikan agar kau tidak langsung mati karena rasa sakit itu. Sungguh merepotkan."

Vulcan memutar wajahnya menjadi ekspresi yang buruk rupa. Ia menatap Seth, lalu menatap Ares seolah ingin melahap mereka.

"Keparat! Tidak akan kubiarkan!"

Silkett menyiapkan pedangnya dan mencoba membangun sihir pertahanan. Namun, cincin api yang muncul dari tanah menahan tubuhnya.

"Gawat—!"

Tepat setelah percikan api muncul, pilar api raksasa bergejolak naik disertai suara gemuruh rendah. Api itu langsung menelan tubuh Silkett.

"Cepat sekali kau keluar dari panggung."

Silkett berubah menjadi arang hitam dan terkapar di tanah.

"Hii!"

Seth menjerit ketakutan. Ia berjongkok sambil memegangi kepalanya.

"Silkett!"

Ares refleks mencoba berlari menghampirinya. Namun, dinding api muncul di depan mata dan menghalangi jalannya.

(Ugh! Kenapa aku selalu tidak berdaya seperti ini!)

Mengapa setiap tindakan dan ucapan Ares belakangan ini selalu menjadi bumerang?

Demi menyelamatkan Lemuria yang ia cintai, ia diam-diam mengirim bawahan berharganya, Ramiel, ke Lemuria di belakang kakeknya, tetapi Ramiel malah hilang tanpa jejak.

Saat mencoba menyelamatkan Ramiel, sihirnya lepas kendali hingga ia jatuh ke tubuh manusia. Lalu, karena tindakannya yang ceroboh, ia membuat lawan marah.

Pada akhirnya, ia malah membuat gadis yang sedang diserang berada dalam bahaya yang lebih besar. Kini ia bahkan hampir kehilangan Silkett.

"Jika perbuatanku menyinggung perasaanmu, aku minta maaf. Karena itu, tolong selamatkan mereka berdua!"

Ia sangat putus asa. Ia tidak ingin kehilangan bawahan berharganya lagi karena tindakan bodohnya sendiri.

Dengan perasaan yang kuat itu, ia membuang keyakinannya begitu saja ke selokan dan melontarkan kata-kata permohonan.

"To-Torula, ini sudah keterlaluan. Lagipula, apa orang itu baik-baik saja?"

Dengan suara cemas, seorang elf bertubuh mungil bertanya pada Torula. Ia menunjuk Silkett dengan jari telunjuknya.

"Aku tahu! Hei, Vulcan, bukankah aku bilang buat dia tidak bisa bangkit lagi! Aku tidak bilang sampai membunuhnya!"

"Aku belum membunuhnya. Jantan itu juga masih hidup dengan baik."

"B-Begitu ya, syukurlah kalau begitu."

"Nah, mari kita laksanakan kontraknya. Aku ini seorang perfeksionis."

"Aku punya standar tersendiri dalam membuat seseorang tidak bisa bangkit lagi. Menyiksa tubuh hingga batas maksimal, lalu menghancurkan mentalnya hingga ke ujung tanduk."

"Itulah arti sebenarnya dari menghancurkan makhluk lemah!"

Sekilas melihat Vulcan yang berteriak dengan ekspresi mabuk kepayang itu, aku yakin kata-kataku tidak akan pernah sampai padanya. Aku sangat yakin akan hal itu.

(Tidak! Aku tidak mau kehilangannya!)

Bagi Ares, Silkett adalah sosok yang sudah seperti orang tua asuh baginya. Mana mungkin ia membiarkannya mati di tempat seperti ini!

"Siapa saja! Tolong kami!"

Kata-kata yang meluncur dari mulutnya adalah permohonan bantuan yang sama sekali tidak terdengar seperti ucapan seorang dewa. Menghadapi situasi yang sangat tidak masuk akal dan tak tertolong ini, rasa frustrasi meluap, membuat air matanya mengalir tanpa henti.

"Tidak mungkin ada bantuan yang datang!"

Aku tahu. Apa yang dikatakannya memang benar. Dunia ini tidak semanis itu.

Sebaliknya, dunia ini diciptakan dengan sangat kejam. Aku sempat berpikir seperti itu.

"Tidak juga."

Bersamaan dengan ucapan anak laki-laki itu, seluruh cincin api yang melayang di sekitarku lenyap seketika. Di dekat Silkett, berdiri dengan gagah seorang pemuda berambut abu-abu yang mengenakan seragam Akademi Ouboro, sama seperti Ares.

Ares mengenalnya karena pemuda itu baru saja memperkenalkan diri hari ini. Namanya Kai Heineman, teman sekelas Ares di Kelas A1 Akademi Ouboro, sekaligus teman masa kecil Lumine Helner.

Terlebih lagi, ia terlihat akrab dengan Shou, sehingga secara alami menarik perhatian Ares.

"Siapa kau?"

Kai mengabaikan intimidasi Vulcan yang menyipitkan sebelah matanya dengan tenang. Ia memunculkan sesuatu seperti buku di tangan kirinya, membalik-balik halamannya, dan menggumamkan beberapa kata.

Tepat setelah itu, seekor Slime muncul dan hinggap di atas kepala Kai.

"Sembuhkan pria itu dan gadis elf di sana."

Kai menunjuk Silkett, lalu menunjuk Seth Accard. Ia memerintahkan Slime itu untuk melakukan penyembuhan.

Slime itu bergoyang kenyal, lalu menyelimuti Silkett dengan kecepatan yang tak terlihat oleh mata. Slime itu memulihkannya seolah-olah memutar balik waktu dengan kecepatan tinggi.

Kemudian, Slime itu menyelimuti Seth yang masih berjongkok. Memar bekas pukulan di tubuhnya seketika menghilang.

"Silkett!"

Ares berlari mendekat untuk memastikan kondisi Silkett yang pingsan. Namun, tidak ada satu pun luka bakar yang terlihat di tubuhnya.

"..."

Kejadian yang begitu luar biasa itu membuat Ares tidak bisa berkata-kata. Tentu saja, luka Silkett sangat fatal.

Bahkan kelangsungan hidupnya pun masih diragukan. Namun, luka itu sembuh dalam sekejap.

Slime seperti itu hanya ada satu di Alam Surga. Itu adalah bawahan utama dari mantan Enam Dewa Langit, Dewa Apollo, yang telah pensiun dari Pasukan Surga, yaitu Healing Slime.

(Tidak mungkin! Tidak, itu sungguh mustahil!)

Konon, Healing Slime telah musnah dalam perang besar melawan Pasukan Iblis. Rumor yang beredar luas menyebutkan bahwa Dewa Apollo pensiun dari posisinya karena syok akibat kehilangan Healing Slime tersebut.

Namun, selain itu, tidak mungkin ada Slime konyol dengan kemampuan sehebat itu....

Di tengah kebingungan Ares yang luar biasa, Slime itu melompat-lompat riang mengelilingi Kai, lalu menghilang tanpa bekas. Setelah memastikan hal itu, barulah Kai menatap Vulcan.

"—?!"

Hanya dengan melihat sosok Kai, sensasi gemetar yang menusuk menjalar di punggung.

Ekspresi Kai tidak berubah menjadi jelek dan menakutkan seperti Vulcan. Itu hanyalah senyuman biasa. Seharusnya begitu, tetapi—

(Aku ketakutan?)

Ares merasakan ketakutan hebat seolah sedang berdiri dengan satu kaki di tepi jurang. Perasaan ini sama seperti saat berhadapan dengan perwira tingkat tertinggi dari Pasukan Iblis maupun Pasukan Surga—

(Konyol sekali!)

Dilihat dari sudut mana pun, pemuda itu hanyalah manusia biasa dan tidak terlihat kuat sama sekali.

Karena telah kehilangan kekuatan dewa dan berubah menjadi manusia biasa, Ares berpikir bahwa kemampuan mendeteksi bahayanya sedang kacau.

Tepat saat ia menyimpulkan hal itu,

"Seragam itu... kau juga sampah dari Akademi rongsokan itu ya! Yang tadi—"

Setelah tahu bahwa Kai adalah siswa Akademi Ouboro, Torula tampaknya merasa lebih percaya diri. Ia mencoba mengatakan sesuatu kepada Kai dengan wajah angkuh.

"Diamlah sebentar. Nanti aku akan membuatmu membayar kebodohanmu ini secara perlahan."

"Hii?!"

Hanya ditatap tajam lewat ekor mata Kai, Torula langsung menjerit dan terdiam.

Kenyataan bahwa dirinya diintimidasi oleh siswa dari akademi kelas bawah, Akademi Ouboro, membuat wajah Torula memerah karena malu dan marah.

"Vulcan, nanti aku akan memberimu tambahan Mana, jadi hancurkan dia juga!"

Ia memberikan perintah sambil meludah ke arah roh api, Vulcan.

"..."

Berbeda dengan sikap santainya tadi, Vulcan kini mengamati Kai dengan ekspresi yang sangat serius.

"Hei, Vulcan, kau dengar tidak!"

"..."

"Vulcan!"

"Berisik sekali kau. Aku mengerti."

"Fakta bahwa ia mengendalikan Slime dengan sihir penyembuh gila tadi dan memadamkan apiku, membuatku sempat waspada. Namun, aku tidak merasakan kekuatan apa pun darinya."

"Sepertinya dia hanya bocah manusia biasa. Meskipun begitu—"

Vulcan menjentikkan tangan kanannya. Seketika, sabit api dalam jumlah tak terhitung memenuhi sekeliling Kai.

"Akan kusingkirkan kekhawatiran ini sepenuhnya. Dengan sangat hati-hati tentunya."

Mungkin karena merasa yakin akan menang setelah mengurungnya dengan api, wajah Vulcan berubah menjadi senyum kepuasan.

"Boleh aku mengatakan satu hal?"

"Apa? Aku tidak menerima permohonan ampun. Bagaimanapun juga, kau telah mengganggu kesenanganku, Bocah."

"Sebagai gantinya, kau harus menjadi mainanku. Benar juga, bagaimana kalau kubakar ujung kakimu perlahan-lahan? Atau kau lebih suka seluruh kulitmu dibakar pelan-pelan?"

"—?!"

Dalam sekejap mata, bayangan di belakang Kai membesar secara tidak wajar. Sesuatu yang menyerupai cakar hitam merentang keluar dari bayangan tersebut.

Ares terperangkap dalam sensasi aneh seolah keringat mengucur deras dari seluruh tubuhnya.

Ia membayangkan sesuatu yang jauh lebih kuat sedang menghancurkannya dari atas kepala.

"Tidak apa-apa, Beelze. Biar aku yang mengurusnya."

Kai melontarkan kalimat yang tidak bisa dipahami.

Tiba-tiba, seolah tak ada apa-apa sejak awal, benda hitam yang merayap keluar dari bayangan itu lenyap sepenuhnya beserta tekanan kuat yang menyertainya.

Vulcan sama sekali tidak melepaskan ekspresi santainya seolah tidak terjadi apa-apa. Padahal, Vulcan berada lebih dekat dengan bayangan itu dibandingkan Ares.

Vulcan bahkan tidak menyadarinya. Apakah semua itu hanya perasaanku saja?

"Ada apa? Katanya kau punya permintaan padaku?"

"Tidak, aku sudah paham tanpa perlu bertanya, jadi lupakan saja."

"Kupikir kau akan memohon ampun, tapi sepertinya kau menyerah karena tahu itu sia-sia. Membosankan."

"Padahal serangga lemah sepertimu seharusnya merayap di tanah dan menangis menjerit dengan menyedihkan."

"Hah! Toh kalaupun aku memohon ampun, kau tidak akan memedulikannya, kan?"

Mendengar Kai mengatakan hal itu,

"Tentu saja! Serangga yang menangis menjerit dan bergantung pada secercah harapan kecil."

"Lalu aku akan menginjak dan menghancurkan harapan itu. Hal itulah yang paling membuatku bergairah!"

Kai menatap dingin ke arah Vulcan yang merentangkan kedua tangannya dan berteriak seolah sedang bernyanyi.

"Kau memang hebat."

Ia hanya melontarkan kalimat pujian itu.

"Tidak ada gunanya kau menyanjungku. Sejak awal, aku sangat menyukai wajah putus asa dari serangga seperti kalian!"

"Aku tahu. Alasan aku menyebutmu hebat hanya ada satu, yaitu karena kau berhasil membuatku sangat kesal sejauh ini."

Tepat ketika Kai mengucapkan kata-kata itu dengan suara rendah, seluruh sabit api di sekitarnya terpental hancur.

"Hah?"

Merespons Vulcan yang mengeluarkan suara kebingungan,

"Ada apa? Bukankah kau ingin bermain-main dengan membakarku? Api yang paling penting itu sudah hilang, lho?"

Kai mengarahkan ujung pedang panjang yang digenggam di tangan kirinya. Sejak kapan ia mencabutnya?

Ares sama sekali tidak bisa melihat gerakan sekecil apa pun dari pemuda itu. Hal yang sama juga berlaku bagi Vulcan. Ini pasti—

"K-Kau! Skill apa yang baru saja kau gunakan!?"

Vulcan menanyakan kesimpulan yang baru saja dipikirkan oleh Ares.

"Skill? Aku tidak menggunakan hal semacam itu."

"Jangan berbohong! Aku sama sekali tidak merasakan Mana sihir darimu barusan!"

"Kau ini benar-benar perusak suasana, ya. Kalapun aku menggunakan Skill, kenapa aku harus menjelaskannya padamu dengan ramah?"

Vulcan menggertakkan giginya mendengar bantahan masuk akal dari Kai.

"Wahai para bawahanku!"

Ia meneriakkan perintah sambil membentuk segel dengan kedua tangannya. Api berwarna jingga menyembur di udara, memunculkan banyak burung berwajah manusia.

"Burung Kepala Api!"

Seth Accard berseru dengan suara melengking.

"Oh, kau tahu ya! Benar sekali! Burung Kepala Api ini adalah bawahanku!"

"Setiap ekornya memiliki kekuatan setingkat naga kecil! Serangga terbang sepertimu akan berubah menjadi abu dalam sekejap!"

"Bagaimana! Inilah kekuatan kami, kelompok Libra! Vulcan yang awalnya hanya roh tingkat menengah, kini telah berevolusi menjadi sekuat Raja Roh berkat kekuatan Libra!"

Torula menyombongkan diri dengan suara keras dan penuh kemenangan. Memang benar, makhluk itu tidak bisa lagi disebut sebagai roh biasa.

Masing-masing burung berwajah manusia yang terbuat dari api itu memiliki kekuatan setara roh tingkat tinggi. Jika begitu, Vulcan yang sekarang—

"Banyak omong...."

Kai sama sekali tidak memedulikan burung-burung berwajah manusia yang terbang di sekitarnya. Sambil menatap tajam ke arah Vulcan, ia bergumam pelan.

"Ada apa? Apa akhirnya kau ketakutan karena—"

"Berhenti mengoceh dan cepat maju sini!!"

Kai hanya meninggikan suaranya dengan wajah penuh amarah.

"Guh?!"

Gelombang kejut yang terasa seperti ilusi angin panas bertiup keluar dari Kai sebagai pusatnya.

Vulcan mengeluarkan jeritan kecil dengan wajah berkedut ketakutan.

Hal yang sama juga dialami oleh para burung berwajah manusia yang melayang di udara.

Semuanya mengambil jarak jauh dari Kai dan menatap ngeri ke arah monster kecil di bawah sana.

Fakta bahwa dirinya ketakutan pada serangga manusia kecil membuat Vulcan gemetar karena merasa terhina.

"Bunuh dia!"

Ia memberikan perintah kepada burung-burung berwajah manusia di sekitarnya.

Namun, mereka sama sekali tidak bergerak dan hanya melayang di udara, mengabaikan perintah tuan mereka.

"Ada apa! Cepat bunuh serangga itu! Siapa pun yang ragu akan kuberikan hukuman berat nanti!"

Vulcan memamerkan gigi taringnya dan mengaum marah.

"..."

Burung-burung api berwajah manusia itu menatap Kai dan Vulcan bergantian. Sambil memekik aneh, mereka serentak menerjang ke arah Kai.

Tepat di depan mata, saat cakar dan taring tajam itu hampir mencapai Kai, beberapa garis cahaya melintas di tubuh burung-burung api tersebut. Detik berikutnya, mereka hancur berkeping-keping.

Di tengah hujan darah dan daging burung api berwajah manusia yang berjatuhan ke tanah, Ares merinding hebat saat melihat Kai berdiri dengan wajah bak iblis.

"Hanya segini saja? Kalau begitu, akan segera kuakhiri."

Kai mengibaskan pedang panjangnya untuk membuang noda darah. Ia lalu menyandarkan bilah pedang itu di bahunya, mengintimidasi Vulcan.

"J-Jangan meremehkanku!!"

Urat-urat bermunculan di seluruh wajah Vulcan, dan tubuhnya mulai bergejolak mengerikan. Mana miliknya meledak dengan hebat.

Ia berubah wujud menjadi monster dengan banyak kaki tentakel dan berkepala burung.

"I-Itu... tidak mungkin menang melawannya."

Mahluk itu bukan lagi roh. Jelas sekali, kekuatannya sudah berada di kelas Dewa Tanah. Manusia tidak akan pernah bisa mengalahkan dewa, jadi hasilnya sudah sangat jelas.

"Kau lihat wujud fisik yang indah dan suci ini! Kekuatan dan tubuh ini adalah harta tertinggi yang diberikan oleh Beliau!"

"Bagaimana, luar biasa, bukan!!"

Kai menghela napas panjang sambil menunduk saat Vulcan merentangkan kedua tangannya yang telah berubah menjadi sayap dan memuji dirinya sendiri.

"Begitu ya! Kau takut! Benar, kan! Sudah pasti begitu! Serangga kecil dan lemah sepertimu pantasnya menangis, mengompol, dan memohon ampun padaku!"

Kai mengangkat wajahnya.

"Ihiih!?"

Hanya dengan melihat wajah itu, ekspresi Vulcan langsung berkedut ketakutan.

"Bukankah sudah kubilang berhenti mengoceh. Kalau kau ingin membuatku takut, tunjukkan dengan tindakan."

Ia menunjuk Vulcan dengan ujung pedangnya, mengucapkan kalimat itu dengan nada rendah.

"Dasar serangga kurang ajar!!"

Vulcan meluncur terbang tinggi ke angkasa, lalu menembakkan tentakel tak terhitung jumlahnya ke arah Kai.

Tentakel-tentakel itu melesat mendekati Kai. Namun, sebelum sempat mencapainya, semuanya terpotong-potong dan jatuh ke tanah.

Di tengah jeritan yang memekakkan telinga, Kai menyarungkan pedang panjangnya dan melompat ke arah Vulcan yang mencoba kabur.

"Guh?!"

Vulcan berusaha mati-matian melarikan diri ke atas, tetapi Kai sudah berada jauh di atasnya.

Di tengah suara jeritan yang bercampur antara keterkejutan dan ketakutan yang hebat, kepalan tangan kanan Kai menghantam pipi kanan Vulcan yang sedang meluncur jatuh dengan kecepatan tinggi.

Vulcan terlempar lurus dan menghantam tanah. Ares mati-matian menahan pijakannya agar tidak ikut terhempas oleh gelombang kejut dari benturan tersebut.

Kepulan debu yang menghalangi pandangan perlahan menipis. Sebuah kawah raksasa yang mengoyak tanah mulai terlihat.

Di tengahnya, monster burung sekarat bernama Vulcan tampak tergeletak sambil kejang-kejang.

"Tidak mungkin..."

Seth Accard bergumam pelan. Itu adalah pikiran yang ada di benak semua orang, termasuk aku.

Kekuatan Vulcan saat ini berada di tingkat dewa.

Meninjunya hingga tak berdaya?

Bahkan Ares yang dulunya memiliki tubuh dewa pun tidak yakin bisa melakukan hal itu.

Kai berjalan mendekati Vulcan yang masih pingsan, lalu menendang wajahnya hingga terlempar ke udara.

"Ugh? ...."

Vulcan menatap Kai dengan wajah linglung.

"Guhiii—!?"

Saat Vulcan mencoba terbang sambil berteriak nyaring, Kai dengan santai mencengkeram lehernya menggunakan tangan kiri dan membantingnya ke tanah.

"Guhh!"

Sambil menginjak Vulcan yang memuntahkan darah dengan ekspresi penderitaan, Kai berkata,

"Kudengar kau suka menyiksa secara perlahan. Kalau begitu, biar kubantu. Jangan khawatir, aku punya banyak ramuan kelas atas."

"Jika kau hampir mati, aku akan menyembuhkanmu berkali-kali."

"A-Aku yang salah. Aku berjanji tidak akan mendekati wanita-wanita itu lagi!"

"Begitu ya, begitu ya! Kau sangat senang sampai ingin melompat, kan! Syukurlah kalau begitu!"

Kai memamerkan senyum yang sangat kejam. Dengan mudah, ia mengangkat leher Vulcan dengan tangan kirinya, lalu menarik siku kanannya kuat-kuat ke belakang.

Setelah itu, ia melempar Vulcan tinggi-tinggi ke udara.

"Aaaaaaah—!"

Jeritan Vulcan terdengar seperti sutra yang dirobek. Detik berikutnya, rentetan pukulan menghujani tubuhnya.

Berkali-kali Vulcan memohon belas kasihan, tetapi Kai sama sekali tidak memedulikannya dan terus memukul tanpa henti. Saat Vulcan hampir mati, Kai menyiramkan cairan merah untuk menyembuhkannya.

Hal itu terus diulang berulang kali.

Selama tindakan tak kenal ampun itu berlangsung, para pemuda dan pemudi elf hanya bisa berkerumun di satu tempat sambil gemetar ketakutan.

Wajah mereka semua pucat pasi, dan beberapa di antaranya bahkan lumpuh karena saking takutnya.

Aku tidak menganggap mental mereka lemah. Siapa pun pasti akan ketakutan setelah disuguhi pemandangan mengerikan seperti itu.

(Iblis...)

Mungkin kata itulah yang paling tepat untuk mendeskripsikan dirinya saat ini.

Sambil tersenyum tipis, ia terus mendaratkan pukulan tanpa ragu sedikit pun kepada Vulcan yang memohon belas kasihan.

Sosoknya tak ubahnya seperti Pasukan Iblis yang terkenal kejam, tidak, dia lebih terlihat seperti inkarnasi kejahatan yang melampaui mereka.

"Tadi bicaranya besar sekali, tapi cuma segini saja sudah tumbang, ya...."

Kai berdecak pelan, lalu membuang Vulcan secara kasar ke tanah layaknya membuang sampah yang tak berguna. Wajah Vulcan saat ini telah hancur hingga tak berbentuk.

Pandangannya kosong menerawang ke arah yang tak jelas sambil menggumamkan sesuatu.

Tiba-tiba, api berwarna merah dan hitam jatuh dari langit dan membentuk wujud manusia.

Jin api itu berlutut dan menyejajarkan kedua tangannya secara horizontal untuk menyembunyikan wajah bagian atasnya.

"Wahai Tuan kami yang agung, dengan penuh rasa hormat, saya memohon kepada Anda."

Jin api itu mengajukan permintaannya dengan penuh hormat.

"Ada apa?"

"Makhluk itu adalah bawahan Putri kami. Bolehkah Anda menyerahkan penanganan sampah itu kepada hamba?"

"Oh, kau ingin membereskannya? Makhluk itu adalah pendosa yang merasa puas saat menyiksa yang lemah."

"Aku sama sekali tidak berniat menjadikan hama seperti itu sebagai bawahanku."

Kai menegaskannya dengan nada yang penuh amarah.

"Tentu saja. Ini semata-mata untuk meredakan amarah Sang Putri."

Jin api itu menjawab dengan nada tegang.

"Kalau begitu, tak masalah. Lakukan sesukamu. Setelah hukuman selesai, serahkan pada Beelze."

"Hamba sangat berterima kasih atas kemurahan hati Anda!"

Jin api itu menunduk hormat, lalu mendekati Vulcan.

Ia mencengkeram kepala Vulcan yang masih bergumam dengan pandangan kosong, sebelum akhirnya menghilang layaknya asap.

"Sekarang giliranmu, kan?"

Kai membunyikan persendian lehernya, lalu menoleh ke arah Torula.

"Hii!"

Kai melangkah perlahan mendekati Torula yang menjerit dan bergerak mundur.

"T-Tunggu sebentar! Tolong, tunggu! Ayahku adalah Perdana Menteri Lorelei!"

Sambil mengarahkan kedua telapak tangannya kepada Kai, Torula mengoceh dengan panik yang luar biasa.

"Lalu?"

"Apa maksudmu dengan 'lalu'!? Kalau kau berani melakukan kekerasan padaku, ini akan jadi masalah internasional!"

"Oh, jadi kalau aku melukaimu, ini akan jadi masalah internasional?"

"Benar! Tepat sekali!! Coba saja sentuh aku!! Seluruh negara Lorelei akan menjadi musuhmu!!"

"Jika ucapanmu benar, berarti kau sudah mencoba menghancurkanku. Jadi ini sudah menjadi masalah internasional, kan? Bukankah begitu?"

"A-Apa maksudmu?"

"Jangan bilang kalau kekerasan sepihak darimu bisa dimaafkan, tetapi kalau aku melawan, itu baru menjadi masalah internasional. Jangan berharap kau bisa berlindung di balik teori semanis gula seperti itu."

"Kalau kau berpikir begitu, kau salah besar. Jika apa yang kau katakan benar, maka saat ini Lorelei telah memposisikan dirinya sebagai musuhku."

"K-Kau akan dianggap sebagai target yang harus disingkirkan oleh Lorelei, lho!?"

"Yang menentukan hal itu tak lain adalah dirimu sendiri. Nah, pilihlah, apakah kau menganggap dirimu benar dan ingin memicu perang antaraku dan Lorelei."

"Ataukah kau mau mengakui kesalahanmu dan menerima pendidikan dariku? Bagiku, yang mana pun tak jadi masalah."

"T-Tapi, musuhmu adalah... Lorelei yang merupakan negara besar!"

"Ya, karena itulah aku bertanya padamu, apakah negaramu benar-benar siap untuk bermusuhan denganku?"

"A-Apa kau sudah gila?"

Kai mengedikkan bahu menanggapi Torula yang bertanya tentang kewarasannya dengan wajah tercengang.

"Aku masih waras. Dan aku tidak berniat kalah melawan siapa pun. Sekali aku bertindak, aku akan mempertaruhkan harga diriku untuk menghancurkan Lorelei."

Kai menegaskan hal itu dengan penuh keyakinan.

"..."

Kai mendekati Torula yang mulutnya terbuka-tutup tak bisa berkata-kata.

"Waktumu sudah habis. Akan kutanyakan lagi setelah aku selesai mendidikmu."

Sambil menampilkan senyum kejam, Kai membunyikan kepalan tangan kanannya menggunakan telapak tangan kirinya, lalu melangkah maju.

"J-Jangan mendekat! Dasar Monster!!"

Merespons ucapan memohon dari Torula,

"Aku tidak mau. Aku akan membuatmu membayar kebodohanmu ini. Bukankah aku sudah mengatakannya?"

"Uaaaaargh!!"

Torula berbalik dan langsung lari terbirit-birit. Kai menghela napas panjang, lalu berkata,

"Di situasi seperti ini, kau masih mencoba kabur dan menelantarkan rekanmu. Kau benar-benar sampah tak tertolong."

Gumamnya. Detik berikutnya, sosok Kai menghilang. Tiba-tiba tubuh Torula melayang di udara, berputar beberapa kali, dan terbanting keras ke tanah dalam posisi telentang.

"Guhak!"

Kai mencengkeram kerah baju Torula yang wajahnya berkerut kesakitan karena kesulitan bernapas, lalu mengangkatnya.

"Dengar ya, Nak, akan kuajari satu hal. Dunia ini tidak seindah dan penuh belas kasih seperti yang kau pikirkan."

"Sekali kau mengotori tanganmu dengan kejahatan, kau akan dihancurkan berkeping-keping oleh kekuatan yang jauh lebih besar."

"Itulah hukum alam di dunia yang dipenuhi oleh makhluk-makhluk kuat ini. Oleh karena itu, sebagai petarung, kita harus selalu bertindak dengan mempertimbangkan akhir dari perbuatan kita."

Setelah mengucapkan nasihat itu dengan tenang, Kai melayangkan pukulan tangan kanannya yang terkepal erat tepat ke wajah Torula.

Hanya dengan beberapa pukulan dari Kai, Torula memuntahkan busa dan pingsan akibat ketakutan serta rasa sakit yang amat sangat.

Tidak seperti saat menyembuhkan Vulcan, Kai meninggalkan Torula begitu saja. Ia berjalan mendekati Silkett yang sedang berbaring, dan bertanya,

"Kau baik-baik saja?"

Kai memeriksa keadaannya, lalu menanyakan hal itu kepada Ares dan Seth.

"I-Iya... terima kasih banyak."

"Terima kasih, ya."

Sambil menatap kosong wajahnya yang masih memancarkan aura kanak-kanak, Ares menjawab.

Saat ini, hanya pertanyaan kuat tentang identitas pemuda itu yang ada di benak Ares.

Kai Heineman—sebenarnya siapa dia? Awalnya, melihat tindakannya yang tak kenal ampun serta auranya yang mengerikan, Ares menganggap Kai sebagai kejahatan yang lebih berbahaya dari perwira Pasukan Iblis sekalipun.

Namun, setelah sekilas melihat tindakan serta keyakinannya, Ares menyadari bahwa asumsinya salah besar.

Pemuda itu jelas bukan orang baik, dan tindakannya murni sebuah kejahatan. Pemahaman itu memang tidak salah.

Namun, ia bukan sekadar Pasukan Iblis yang menyebarkan kehancuran dan keputusasaan tanpa arti. Ia bergerak berdasarkan keyakinan teguh yang dimilikinya.

Hanya saja, karena cara yang digunakannya untuk mewujudkan keyakinan tersebut terlalu ekstrem dan di luar nalar, pada akhirnya, ia hanya terlihat sebagai penjelmaan kejahatan.

"Keributan apa ini!"

Dua pria elf yang tampaknya merupakan guru dari Akademi St.Clan berlari menerobos masuk ke alun-alun dengan wajah panik. Melihat pemandangan mengerikan di alun-alun tersebut, mereka membentak,

"Hei, kalian! Jelaskan apa yang sebenarnya terjadi di sini!"

Salah satu guru mendesak dan menuntut penjelasan kepada Kai yang kepalan tangannya bersimbah darah.

"Jangan berteriak seperti itu. Aku dengar, kok."

"Aku bertanya apa yang sudah kau lakukan pada mereka!?"

"Entahlah, coba tanyakan sendiri saja pada mereka."

Kai membalas dengan menunjuk para elf di sudut sana yang wajahnya berantakan oleh air mata dan ingus.

"Hei—!"

Tepat ketika guru elf itu mengulurkan tangan untuk mencengkeram kerah Kai,

"Hentikan. Dia hanya membantu menyelesaikan masalah ini."

Seorang wanita yang mengenakan jubah putih bersih dengan tudung yang menutupi wajahnya melangkah maju. Ia mencoba meredakan situasi yang kacau ini.

"Siapa kau!? Apa kau temannya!?"

"Lepaskan tudungmu!"

Guru yang lain menarik tudung wanita itu dengan kasar. Di baliknya, terlihat sosok seorang wanita elf cantik berambut pirang. Sekilas melihat penampilannya,

"Y-Yang Mulia Avery!! Kami mohon maaf yang sebesar-besarnya!"

Guru elf itu melompat mundur beberapa langkah, lalu membenarkan posturnya dan memberi hormat. Mendengar nama Avery disebut, guru yang hendak mencengkeram dada Kai pun panik dan buru-buru mengambil sikap hormat.

"Biar aku yang menjelaskan situasinya. Meskipun baru melihatnya dari pertengahan, aku tahu apa yang terjadi."

"Avery, kau yang akan membereskan semua ini?"

"Iya. Anak ini adalah keponakanku, dan aku sudah bisa menebak garis besar kejadiannya. Mengingat posisiku, bisakah kau membiarkan masalah ini berlalu?"

Avery berlutut dengan satu kaki di hadapan Kai sambil memohon.

Saat semua orang menatap Avery dengan ekspresi tercengang,

"...Baiklah. Avery, aku juga tidak ingin memancing peperangan dengan Lorelei. Aku akan menghargai posisimu dan membiarkan semuanya berlalu kali ini."

"Akan tetapi, semuanya ada batasnya. Jika mereka berani melanggar pantanganku lagi, Lorelei sekalipun akan menjadi musuhku. Jangan pernah melupakan hal itu."

Peringatan dari Kai dengan nada sedingin es yang membuat merinding itu dijawab oleh Avery,

"Hal itu akan selalu tertanam dalam benakku!"

Avery menunduk hormat dengan tetap dalam posisi berlutut, lalu berdiri. Kemudian—

"Kalian juga setuju, kan?"

Saat Avery bertanya kepada para murid dan guru elf yang masih gemetar,

"S-Siap! Tentu saja!"

Kedua guru elf itu memberi hormat tanda setuju. Para murid elf juga mengangguk berkali-kali sambil menangis.

Saat itulah, Silkett sadar dari pingsannya.

"Silkett, kau tidak apa-apa!?"

Saat Ares memastikan keselamatannya, Silkett menatapnya dengan tatapan kosong sejenak.

"Tuan ... Ares? .... Di mana para bajingan itu!?"

Sepertinya ia sudah mengingat kembali situasi krisis yang mereka alami. Kesadarannya pulih sepenuhnya. Ia segera berdiri, melangkah ke depan Ares, lalu melihat ke kiri dan kanan dengan sigap.

"Semuanya sudah berakhir."

Saat Ares memberitahunya hal itu,

"Sudah berakhir ... syukurlah ...."

Rasa lega sepertinya telah menguras seluruh tenaganya. Silkett terduduk lemas di tanah. Wajar saja, bagaimanapun juga, ia baru saja hangus terbakar dan hampir mati.

"Silke, kau sepertinya sudah membaik. Apa kalian juga bisa berdiri?"

Kai mendekati Ares dan Seth. Berbeda 180 derajat dengan sikap dinginnya pada Avery dan kelompoknya tadi, kini ia bertanya dengan nada lembut.

"I-Iya."

Ares buru-buru mencoba berdiri. Namun, kakinya bergetar hebat hingga ia nyaris terjatuh dengan memalukan. Kai dengan lembut merangkul pinggang Ares dan menahannya.

"M-Maaf! Aku sudah bisa berjalan sendiri!"

Ini adalah pertama kalinya ia disentuh oleh pria selain Silkett maupun keluarganya sendiri. Menyadari wajahnya yang memerah panas dengan cepat, Ares buru-buru menjauh dari Kai. Entah kenapa, kakinya sudah berhenti bergetar.

"Maaf ya. Aku belum bisa berdiri."




Dia mungkin sudah lemas hingga tidak bisa berdiri. Saat Seth menundukkan kepala dengan wajah bersalah, Kai dengan mudah mengangkat dan menggendongnya dengan kedua tangannya.

"Kita pergi ke ruang perawatan Akademi Ouboro dulu."

Didesak oleh Kai, Ares dan yang lainnya pun entah bagaimana berhasil menyusul di belakang.

Kai menyerahkan urusan selanjutnya kepada wali kelas mereka, Guru Elish, yang bergegas datang, lalu pergi meninggalkan ruang perawatan.

Setelah menjelaskan situasinya secara singkat kepada Guru Elish, Ares dan yang lainnya pun segera diizinkan pergi.

"Tuan Ares, sebenarnya siapa dia—siapa sebenarnya Kai Heineman itu?"

Setelah menjelaskan bagaimana Kai menghancurkan Vulcan dengan kekuatan yang luar biasa, Silket tenggelam dalam pikirannya dan baru sekarang membuka mulutnya.

"Dilihat dari fakta bahwa Guru Elish dan beberapa staf Akademi Babel mengenalnya, aku yakin dia adalah dewa pelindung wilayah yang menjaga Babel ini."

Vulcan yang telah berubah menjadi wujud mengerikan itu sudah pasti memiliki kekuatan setara dewa kelas bawah. Namun, pria itu menghancurkan Vulcan seolah-olah hanya menginjak semut kecil yang merayap di tanah.

Terlebih lagi, kekuatan inkarnasi api yang sepertinya adalah bawahannya itu benar-benar di luar imajinasi. Apakah eksistensi yang disebut putri oleh inkarnasi api itu sungguhan ada?

Sejujurnya, hal itu hanya membuat bulu kuduk merinding. Meski begitu, pandangan Ares terhadap pria itu telah berubah seratus delapan puluh derajat dari sebelumnya.

"Apa menurutmu Kai Heineman bisa menjadi musuh kita?"

"Tidak akan."

Entah kenapa, Ares bisa menegaskannya dengan begitu natural.

"Kenapa begitu? Bagaimana jika dia adalah dewa bawahan yang telah membunuh Tuan Tartarus—"

"Kamu tidak perlu khawatir. Selama kita tidak melakukan kejahatan, dia tidak akan menyakiti kita."

Saat Ares memberikan jawaban yang sama sekali tidak berdasar itu,

"Begitu, ya."

Semenjak itu, Silket tidak pernah lagi menanyakan masalah ini.

Benar. Aku yakin pada saat itu, Ares merasakan semacam takdir dalam pertemuannya dengan Kai Heineman.

Terlebih lagi, dia juga merasakan semacam déjà vu samar pada sosok pria itu.

Dan di kemudian hari, Ares akan menyadari dari lubuk hatinya yang terdalam bahwa perasaannya itu memang sepenuhnya benar.

◇◆◇

Ini adalah asrama siswa yang baru dibangun di Distrik Keenam, khusus untuk siswa Akademi St.Clan. Di salah satu kamar di rumah mewah yang megah itu, beberapa siswa Elf berkumpul dan mengumpat raja mereka sendiri.

"Sialan!"

Torla menendang kursi di dekatnya. Tentu saja dia marah. Setelah kalah telak dari sampah Akademi Ouboro, dia juga kehilangan kartu trufnya, Vulcan.

Vulcan adalah roh istimewa yang diberikan oleh Dagon, petinggi Libra yang sangat dihormatinya. Padahal roh itu sudah diperkuat, tapi malah kalah dengan begitu mudahnya.

Dengan begini, Torla mungkin akan ditinggalkan oleh Dagon.

"Kalau begini terus, kita akan dibuang oleh Libra. Kalau nasib kita buruk, kita bisa dicap sebagai manusia rendahan!"

Libra adalah sebuah organisasi mulia yang menyerukan revolusi di dalam ras Elf.

Ajaran mereka sangat beragam, tetapi yang paling menarik perhatian Torla dan kawan-kawannya adalah klaim bahwa Elf adalah ras yang paling mulia dan unggul di antara semua ras.

Menurut mereka, Elf memiliki kewajiban untuk membimbing dunia ini ke arah yang benar.

Demi mencapai tujuan mulia itu, segala cara dihalalkan demi membangun masyarakat ideal yang dipimpin oleh Elf.

Awalnya Torla merasa curiga, tetapi dia segera tertarik dengan kuat. Bagaimanapun juga, sejujurnya dia sudah muak dengan cara bibinya, Avery, menjalankan negara yang terlalu lemah.

Terutama sekarang, rumor yang tidak bisa dipercaya tentang monster dan iblis yang bekerja sama untuk mendirikan negara baru sedang santer dibicarakan di mana-mana.

Terlebih lagi, kabarnya tanah air mereka, Lorelei, telah secara resmi mengakui pendirian negara tersebut.

Padahal monster adalah makhluk paling rendah yang pada dasarnya setara dengan hama bagi umat manusia. Menerima negara seperti itu benar-benar sebuah kegilaan.

"Kenapa Yang Mulia Avery lebih memilih menerima klaim orang rendahan itu daripada mendengar pendapat kita!"

Saat salah satu teman sekelasnya melampiaskan ketidakpuasannya terhadap Avery,

"Memberikan skorsing sepihak pada kita, dia benar-benar mempermainkan kita!"

"Benar! Kita tidak bisa lagi mengikuti raja seperti itu!"

Satu demi satu, suara kecaman dilontarkan kepada Avery, yang tak lain adalah raja sekaligus bibi mereka.

Setelah diselamatkan dari monster itu, Torla dan kawan-kawannya dibawa sementara ke kediaman Avery untuk dimintai keterangan.

Awalnya mereka yakin Avery yang sudah mengetahui situasinya akan memberikan hukuman pada monster tersebut.

Namun sebaliknya, Avery malah menampar pipi Torla, mengecam tindakan mereka, menyuruh mereka merenung, dan menjatuhkan hukuman skorsing selama dua minggu. Sungguh tidak bisa dipercaya.

Sangat tidak masuk akal jika Avery tidak memercayai kebenaran dari keponakannya sendiri yang sedarah dan sesama warga Lorelei, lalu malah mendukung manusia semacam itu. Padahal manusia itu telah berulang kali memukul Torla, putra Perdana Menteri Lorelei.

Seperti yang Dagon katakan, negara Lorelei ini mungkin memang sedang dalam situasi yang benar-benar gawat.

"Pemikiran Libra tidak salah! Kita harus menyelamatkan tanah air kita yang mencoba berjalan ke arah yang salah!"

Saat Torla bersikeras dengan mengepalkan tangan kanannya kuat-kuat,

"Tepat sekali!"

"Kita harus menyelamatkannya!"

Teman-teman sekelasnya yang memiliki pandangan sama pun satu per satu menyuarakan persetujuan mereka.

Tiba-tiba terdengar suara tepuk tangan.

Saat Torla terkejut dan mengalihkan pandangannya ke arah suara tersebut, terlihat seorang pria jangkung berambut panjang yang mengenakan mantel biru tua dan topi berdiri di depan pintu besar ruangan itu.

"Tuan Torla, semangat indah Anda yang mengkhawatirkan tanah air dan tidak menyerah pada bencana kali ini, benar-benar membuat saya, Dagon, sangat kagum."

Dagon meletakkan tangan kirinya di dada dan membungkuk dengan gaya yang dilebih-lebihkan.

"Ah, Tuan Dagon, ternyata Anda sudah datang!"

Dipuji oleh Dagon sang petinggi Libra, harga dirinya merasa tersanjung, dan dia pun menjawab dengan suara yang ceria.

"Ya, karena kebetulan saya sedang berada di dekat sini, saya pun menyempatkan diri untuk mampir."

"Tuan Dagon, bisa-bisanya manusia sampah itu melakukan ini padaku—"

"Saya sudah mendengarnya. Orang rendahan tak berharga yang bersekolah di Akademi Ouboro itu telah bersikap kurang ajar pada kalian yang merupakan ras unggul, bukan?"

"Manusia keparat itu!"

Teringat bagaimana dia diperlakukan seenaknya oleh manusia itu, amarah yang tak tertahankan meluap dalam dirinya hingga dia berteriak marah.

"Saya sangat mengerti betapa sakitnya perasaan Anda. Lagipula, orang rendahan itu telah meludahi tatanan mulia yang ada di dunia ini."

"Benar! Kami, ras unggul, telah dipermalukan! Kami harus segera memberinya hukuman agar dia tahu tempatnya!"

Dagon bertepuk tangan sambil tersenyum,

"Semangat yang luar biasa. Lalu, apa yang akan dilakukan oleh Lorelei?"

"Orang rendahan yang telah bertindak semena-mena pada kami itu dibiarkan tanpa hukuman. Terlebih lagi, bisa-bisanya kami yang malah dijatuhi skorsing..."

Saking kesalnya, dia menggigit bibir bawahnya kuat-kuat hingga terasa sakit.

"Kalau begitu, tatanan yang salah itu harus segera dipulihkan."

"Ya, tapi bagaimana caranya..."

Meski menyebalkan, karena kali ini Lorelei memihak pada orang rendahan itu, jika dia membuat masalah dengan alasan itu, dia bisa saja dijatuhi hukuman.

"Saya punya ide yang bagus. Tenang saja, semuanya akan berjalan lancar."

"Apa Anda bersedia membantu kami!?"

Di masa lalu, dalam beberapa kejadian serupa, Dagon telah memberikan rencana kepada Torla dan kawan-kawannya untuk merebut kembali harga diri mereka.

"Tentu saja, sudah pasti, ya. Kebetulan sekali, saya punya urusan penting di akademi tempatmu bersekolah. Jika kita memanfaatkan hal itu, ini akan menjadi pertunjukan yang paling luar biasa."

Sambil berputar-putar di dalam ruangan, Dagon mulai menceritakan rencananya.

Insiden yang bermula dari Seth Accard ini pun perlahan-lahan memasuki puncaknya.

◇◆◇

Seluruh kegiatan sekolah hari ini telah usai, dan Layla datang menjemput Lumine.

Sambil memeluk lengan kanan Layla, Lumine dengan bangga menceritakan apa saja yang terjadi di sekolah hari ini, persis seperti seorang anak yang sedang melapor pada ibunya.

Faf yang sekarang tidak bisa bertahan lama tanpa kehadiranku.

Memang benar, setelah berteman dengan Miu, Fen, Marli, dan anak-anak lainnya, dia sempat bisa menghabiskan waktu tanpaku untuk sementara waktu.

Namun, karena insiden Gil yang membuatnya harus sering berpisah denganku, dia kembali mencari-cariku begitu aku menghilang sebentar, persis seperti dulu.

Saat aku hendak pulang, Nemesis menghubungiku dan mengatakan bahwa Ariel sedang berseteru dengan murid Elf.

Sepertinya, dia terlibat bentrok saat mencoba menghentikan murid dari sekolah sebelah, Akademi St.Clan, yang sedang merundung Seth Accard, teman sekelasnya.

Memang benar akulah yang memanggil Ariel ke tempat ini, tapi pada dasarnya aku hanya berniat menjadi pengamat dan tidak ingin ikut campur lebih dari yang diperlukan. Tentu saja, aku juga tidak pernah memerintahkan Nemesis dan yang lainnya untuk mengawasinya.

Dengan kata lain, saat ini Nemesis sedang bergerak berdasarkan penilaiannya sendiri.

Dan sudah menjadi rahasia umum bahwa setiap kali Nemesis bergerak, pasti akan ada hal merepotkan yang terjadi.

Aku segera bergegas menuju lokasi yang dilaporkan. Di sana, aku melihat pelayannya, Sicke, yang sedang sekarat karena dibakar oleh monster tua berelemen api, sementara Ariel berusaha mati-matian meminta tolong.

Bertindak demi menyelamatkan yang lemah tanpa memedulikan bahaya, serta membuang rasa malu dan gengsi demi memohon bantuan rekannya. Entah bagaimana, dia benar-benar sosok yang suci dan bersih.

Namun, jika dia memiliki keyakinan luhur seperti itu, kenapa selama ini dia membiarkan para bajingan yang menyebut diri mereka sebagai Utusan Tuhan menyebarkan begitu banyak tragedi dan kontradiksi di dunia ini?

Setidaknya, semua orang yang mengaku sebagai Utusan Tuhan dari Ariel yang pernah kutemui sejauh ini adalah sampah yang tidak bisa ditolong lagi.

Sekalipun itu adalah tindakan bawahannya yang lepas kendali, jika dia tidak bisa menghentikan mereka, maka itu tetap menjadi tanggung jawab sang tuan. Lagi pula, bagi mereka yang menjadi korban, niat dari tuan tersebut sama sekali tidak ada hubungannya.

Aku masuk untuk menolong Ariel. Perkataan dan perbuatan monster api itu membuat amarahku meledak melewati batas, sehingga aku terus mengulangi siklus menyembuhkan dan memukulinya.

Aku merasa dia sempat memohon ampun, tapi aku terus menghajarnya tanpa peduli sampai dia tidak memberikan respons apa pun.

Sebagai amatir, kemampuanku hanya sampai di sini. Sisanya adalah pekerjaan profesional.

Beelze, yang amarahnya memuncak karena perkataan makhluk itu kepadaku, mendesak keras melalui telepati agar monster ini diserahkan padanya, jadi aku berniat menyerahkannya.

Namun di saat itu, Ifrit datang dan dengan tegas meminta agar dirinya yang mengurus hukuman untuk monster ini.

Di antara para monster laki-laki berelemen api, yang dipimpin oleh Ifrit, gadis egois bernama Surtr itu sangat populer, dan sepertinya mereka telah membentuk faksi baru dengan menjadikannya sebagai putri. Yah, ini fenomena yang sama dengan para naga yang mengidolakan Faf.

Secara teknis, Ifrit termasuk dalam faksi Dunia Jahat, tetapi dengan izin dari sang pemimpin, Girimekhala, dia biasanya melayani Surtr. Singkatnya, dia tergabung dalam dua faksi sekaligus.

Bagaimanapun juga, karena tidak ada alasan untuk menolaknya, aku akhirnya menyerahkan eksekusinya kepada faksi Surtr dengan syarat mereka akan menyerahkannya kepada Beelze pada akhirnya.

Setelah itu, aku menggendong Seth Accard yang sudah lemas tidak bisa berdiri dan membawanya ke ruang perawatan.

Aku menjelaskan situasinya secara singkat kepada Elish yang bergegas masuk dengan wajah pucat, lalu menitipkan Seth kepadanya sebelum akhirnya aku benar-benar pulang.

Begitu aku kembali ke kamarku di kediaman, Nemesis sudah berlutut di depanku.

"Aku sudah menduga kamu akan muncul sekitar waktu ini."

"Saya sangat bersyukur."

Mengabaikan sindiranku dengan tenang, Nemesis meletakkan tangan di dada sintalnya dan membungkuk.

"Kali ini, apa yang rencananya akan kamu lakukan dengan memanfaatkan Ariel?"

"Dia baru saja mengalami pertemuan yang takdirkan. Dia tidak akan bisa lagi kembali menjadi dirinya yang bodoh seperti dulu. Yang saya lakukan hanyalah memberikan dorongan padanya."

Pertemuan yang ditakdirkan, ya. Nemesis memang memiliki kecenderungan kuat untuk mementingkan hal-hal yang tak kasat mata dan samar seperti takdir.

Terlebih lagi, perkataannya juga sering kali abstrak, sehingga aku sama sekali tidak bisa memahaminya sebelum semuanya benar-benar terjadi.

"Aku sangat berharap doronganmu itu tidak akan menjerumuskannya ke dalam rawa tanpa dasar."

Menanggapi kata-kata perlawananku yang sekuat tenaga,

"Seperti yang diharapkan dari Anda, Tuanku, Anda memahaminya! Benar, saat ini dia benar-benar telah menginjakkan satu kakinya ke dalam rawa yang dalam! Karena itulah, kami perlu memberinya dorongan!"

Nemesis mengepalkan tangan kanannya dengan erat dan menyatakannya dengan penuh semangat.

Hmm, percakapan ini saja sudah sangat memancarkan firasat buruk. Lagipula, kalau ada orang yang hampir tenggelam di rawa, wajarnya kita menolongnya. Di dunia mana ada orang yang malah memberinya dorongan!

Ah tidak, ternyata orangnya ada di sini...

"Nemesis, kumohon, jangan bertindak terlalu nekat."

Aku mencoba menyampaikan perasaan setiaku, tetapi,

"Saya pasti akan mengabulkan harapannya di masa lalu! Ya, pasti!"

Menyadari Nemesis yang menyalakan api membara di matanya dan meninggikan suaranya, aku paham bahwa apa pun yang kukatakan padanya sekarang tidak akan ada gunanya.

Kalau sudah begini, Nemesis dan yang lainnya tidak akan berhenti apa pun yang terjadi. Mereka akan bertindak berdasarkan keyakinan mereka dan pasti akan mencapai tujuan tersebut.

Aliansi Dewi seperti Nemesis adalah entitas yang paling memahami hati wanita dan sangat menghormatinya.

Oleh karena itu, penderitaan yang akan menimpa Ariel mulai saat ini harus dipandang sebagai sesuatu yang mutlak harus dilaluinya dengan usahanya sendiri demi kehidupannya.

"Kamu bilang akan memberikan dorongan, tapi apa yang sebenarnya akan terjadi padanya mulai sekarang?"

Aku mencoba bertanya padanya meski tahu kemungkinannya kecil.

"Ini adalah awal dari sebuah ujian. Melalui ujian itu, dia harus mengingatnya kembali."

Sudah kuduga, dia tidak akan memberitahuku secara spesifik. Nemesis dan kawan-kawannya tidak akan pernah memaksakan penderitaan pada seorang wanita dengan tangan mereka sendiri, melainkan hanya memanfaatkan penderitaan yang sudah ada.

Mereka tampaknya merasa bahwa jika aku mengetahui hal ini sebelumnya, itu tidak akan menjadi ujian baginya.

Oleh karena itu, mereka tidak akan buka mulut, bahkan kepadaku yang merupakan tuan mereka sekalipun.

"Baiklah. Semuanya ini demi Ariel, kan?"

"Benar."

Dengan ekspresi serius seolah menantang takdir, Nemesis mengangguk kuat.

Bertanya lebih jauh pada Nemesis pun sudah tidak ada gunanya lagi.

"Kalau begitu, tidak apa-apa. Aku serahkan semuanya kepada kalian."

Nemesis menundukkan kepalanya dalam-dalam, lalu segera menghilang dari pandangan.

"Tuan, Faf lapar!"

Faf yang baru masuk ke kamar melompat ke arahku dan mulai merengek seperti biasanya.

"Benar juga. Sudah waktunya makan malam. Ayo kita pergi ke ruang makan."

"Baiklah!"

Tersenyum kecut melihat Faf yang menjawab dengan penuh semangat, aku menuntun tangan kecilnya dan berjalan menuju ruang makan di lantai satu.

◇◆◇

Kegiatan belajar di Akademi Ouboro akhirnya dimulai.

Selama beberapa minggu ini, kami diisi dengan kuliah di kelas dari masing-masing guru pengajar.

Mungkin karena Babel adalah kota pelajar yang berpusat pada sihir, sebagian besar pelajaran yang kami terima berkaitan dengan sihir.

Isi pelajarannya sendiri, entah baik atau buruk, menunjukkan perbedaan yang sangat mencolok dalam kualitas para guru.

Kelas yang diajar Elish dan Inea sangat spesifik dan mudah dipahami, sehingga banyak siswa, terutama para senior, yang rela berdiri untuk mendengarkan.

Sebaliknya, sebagian besar guru lainnya tampak tidak termotivasi dan hanya sekadar menjelaskan mantra dari buku teks.

Tentu saja, pelajaran seperti ilmu politik dan ekonomi terlalu kaku dan feodal, sehingga sama sekali tidak bisa dijadikan referensi.

Satu-satunya hal yang menarik minatku adalah pelajaran tentang sejarah dunia Lemuria ini.

Buku tentang sejarah Lemuria ini bahkan tidak ada di Easy Dungeon waktu itu.

Pelajaran sejarah yang kupelajari di kampung halamanku, Ramur, juga tidak pernah menyimpang dari kitab suci Gereja Pusat, dan sebagian besar hanya berfokus pada Dewa Bela Diri Suci dan Kerajaan Amelia, bukan tentang seluruh Lemuria ini.

Oleh karena itu, mendengar cerita tentang pembentukan berbagai negara kecil serta mitos dan legenda yang diyakini di setiap negara membuat hatiku cukup bersemangat.

Setelah beberapa minggu pelajaran teori, pelatihan praktik pun dimulai. Hari ini adalah hari pertamanya.

Sepertinya pelatihan praktik ini akan digabung dengan Akademi St.Clan. Di bawah bimbingan Elish, kami pun berangkat menuju Akademi St.Clan yang menjadi lokasi pelatihan praktik.

Tempat yang ditunjukkan oleh Elish adalah sebuah bangunan berbentuk kubah raksasa. Fasilitas ini saja sudah melampaui ukuran seluruh bangunan Akademi Ouboro.

Begitu, ya. Sekarang aku mengerti dengan jelas alasan Akademi St.Clan dipindahkan ke Distrik Keenam ini.

Tidak ada ruang tersisa di distrik lain untuk membangun fasilitas sebesar ini, yang artinya mereka tidak punya pilihan selain Distrik Keenam.

Jika Akademi St.Clan yang pindah ke tempat ini berhasil menorehkan prestasi, sekolah-sekolah elite lainnya mungkin akan mempertimbangkan untuk pindah ke distrik ini juga.

Singkatnya, kesenjangan antardistrik di dalam Babel akan memudar perlahan, dan Distrik Keenam akan berkembang pesat.

Aku yakin, Babel berniat menggunakan Akademi St.Clan ini sebagai sarana untuk merenovasi Distrik Keenam secara besar-besaran.

Mengikuti Elish dari belakang, kami memasuki bangunan berbentuk kubah itu.

Di dalam gedung tersebut terdapat sebuah arena berbentuk silinder raksasa di bagian tengahnya, dikelilingi oleh serangkaian area berbentuk bulat yang saling terhubung.

Saat kami berjalan ke arah siswa Akademi St.Clan yang sudah berkumpul, seorang guru Elf bermata sipit yang mengenakan lambang sekolah Akademi St.Clan menahan kami dengan telapak tangan kirinya dan berkata,

"Guru Elish, kita tidak punya banyak waktu. Saya akan sangat kesulitan jika kalian tidak bisa berkumpul lebih awal."

Sambil menatap kami dari Kelas A1 yang baru masuk dengan pandangan seolah melihat kotoran, guru itu meludahkannya kata-kata tersebut.

"Tapi ini masih lima menit sebelum waktu yang dijadwalkan, kan?"

"Aturannya adalah sekolah lain harus berkumpul tiga puluh menit sebelumnya. Dasar amatir yang tidak tahu aturan..."

Guru itu menggeleng-gelengkan kepalanya dengan berlebihan, seolah merasa tak habis pikir. Suara ejekan dari para siswa Akademi St.Clan pun terdengar di sekitar kami.

"Kalian sendirilah yang menyuruh kami datang pada jam ini dengan alasan kalau kami menunggu malah akan mengganggu!"

Elish membantah dengan penuh kekesalan. Dilihat dari alur pembicaraannya, Elish pasti sudah melakukan konfirmasi dengan pihak Akademi St.Clan sebelumnya, dan mereka mungkin menyuruh kami untuk datang tepat pukul sembilan pagi ini.

"Siapa yang mengatakan kebohongan semacam itu kepada Anda? Setidaknya, saya tidak pernah mengatakan hal itu, ya?"

Sambil menyunggingkan senyum menjijikkan, guru itu melontarkan pertanyaan retorik.

"Anda—"

(Hentikan, Guru Elish. Menanggapinya dengan serius hanya membuang-buang waktu saja.)

Aku meraih bahu kiri Elish dan berbisik menegurnya di telinganya. Elish mengertakkan giginya karena frustrasi, namun dia akhirnya menurut dan mundur.

"Para siswa dari Kelas A1 Ouboro yang reyot, gunakan area di bagian paling belakang."

Area yang ditunjuk oleh guru Elf itu adalah kelompok ruangan berbentuk bulat yang terletak paling jauh dari pintu masuk.

Kemungkinan besar itu adalah area persis di depan gudang, tempat berbagai peralatan magis dan perangkat yang digunakan untuk latihan disimpan.

Saat kami menunggu di area tersebut sesuai arahan Akademi St.Clan,

"Bukan, bukan! Bukan di situ! Tempat latihan untuk murid-murid Ouboro yang reyot itu ada di bagian lebih dalam lagi!"

Guru Elf tadi menunjuk ke sebuah tempat yang sama sekali tidak terlihat seperti apa pun selain gudang, lalu berteriak marah.

"Hei, Kai. Tempat ini gudang, kan?"

Shou meminta pendapatku dengan ekspresi tidak percaya.

"Ini sama sekali tidak terlihat seperti hal lain. Sungguh mengejutkan. Sepertinya mereka ingin kita mendekam di gudang ini."

Ada berbagai macam peralatan sihir dan alat-alat lainnya yang diletakkan di sana, sehingga sama sekali tidak ada ruang yang cukup untuk berlatih.

Lagipula, mana ada sekolah tuan rumah dalam latihan gabungan yang menyuruh tamu mereka berlatih di gudang?

Sepertinya orang-orang ini sudah meninggalkan rasa malu mereka entah di mana.

"Mereka bahkan tidak membiarkan kita memakai area yang kosong, licik sekali. Atau lebih tepatnya, ini terlalu licik. Akademi St.Clan itu sekolah yang separuh siswanya adalah Elf, kan? Apa semua Elf di dunia ini memang seperti itu?"

Sambil terus menatap guru Elf itu, Shou melontarkan pertanyaan lugunya.

"Aku ingin bilang 'tidak semua'—tapi Elf yang kutemui akhir-akhir ini rata-rata bersikap seperti itu."

Sambil melirik guru Elf di depanku, aku menghela napas panjang dan membenarkannya.

"Benar-benar membuat kecewa, ya. Aku kira Elf itu punya citra yang lebih suci dan bersih."

Mendengar ucapan Shou yang santai itu,

"Itulah yang dinamakan stereotip dan ilusi. Ketulusan seseorang tidak ditentukan oleh rasnya. Ada juga Elf yang picik dan berpikiran sempit seperti pria ini. Akan lebih baik jika kamu berpikir seperti itu."

Aku mengoreksi kesalahpahaman tersebut.

"Memang benar, orang-orang menyebalkan dengan kepala sekeras batu seperti ini ada di mana-mana, ya."

Saat Shou mengangguk berkali-kali seolah menyetujuinya,

"Kak Kai dan yang lainnya, suara kalian terdengar sangat jelas, lho."

Sambil memegang lengan baju kiriku, Lumine menunjukkan hal itu dengan ekspresi wajah yang anehnya terlihat puas.

Walau agak aneh jika aku yang mengatakannya, tapi Lumine, kau juga sudah berubah menjadi jauh lebih berani, ya.

Aku menatap guru Elf yang kini wajahnya memerah seperti gurita rebus karena merasa terhina.

"Aku sangat mengerti maksudmu. Dengan senang hati, kami akan menggunakan gudang ini."

Aku menjawabnya menggantikan Elish yang masih gemetar karena marah.

"Kai—!"

Sambil menahan Elish yang melontarkan kecaman keras dengan tangan kananku,

(Kita telah mendapat izin dari pihak sekolah untuk menggunakan ruangan ini. Sisanya, kita bisa melakukan apa pun yang kita mau. Jadi, kau tidak perlu khawatir.)

Aku membisikkan hal itu di telinganya.

"Jangan sok hebat kau, si tidak kompeten!"

Sambil melontarkan kalimat meremehkan itu, guru Elf bermata sipit tersebut melangkah pergi menuju lingkaran para siswa Akademi St.Clan. Oh, dia memanggilku si tidak kompeten?

Kalau begitu, sepertinya aku sudah cukup dikenal di kalangan Elf akademi ini. Aku memang sempat memberikan bimbingan edukasi kepada bocah bernama Torla itu sebelumnya, jadi pasti itu penyebabnya.

"Kita tidak bisa berlatih di tempat seperti ini!"

Elish masih sangat marah hingga urat kebiruan muncul di dahinya. Sambil memegang kedua bahunya,

"Di sini juga tidak apa-apa. Lagipula, sepertinya latihan hari ini akan lebih berpusat pada pengukuran kemampuan."

Aku menenangkannya dengan nada bicara yang lembut.

Sepertinya, lokasi pengukurannya sama bagi Akademi St.Clan maupun Akademi Ouboro. Paksaan untuk berlatih di gudang baru akan berlaku pada pelajaran berikutnya.

Sebelum waktu itu tiba, aku hanya perlu merenovasi area ini secara menyeluruh agar menjadi tempat yang layak untuk berlatih.

"Kai, apa kamu tidak merasa kesal!?"

"Sayangnya, usiaku sudah tidak semuda itu untuk marah-marah hanya karena masalah sepele seperti ini."

"Tidak semuda itu apanya? Umurmu kan masih belasan, Kai?"

Terhadap komentar Rose yang tak penting itu,

"Oh iya, benar juga."

Aku mengangguk mengiyakan saja.

"Tidak apa-apa, kok, Guru Elish. Lagi pula, melihat sikapnya yang seperti itu, pada akhirnya dia pasti akan mencari gara-gara dengan Kak Kai lalu dihancurkan."

Oi, Lumine. Akhir-akhir ini gaya bicaramu benar-benar mulai mirip dengan Zack dan Anna, tahu.

"Kai, apa hanya itu saja yang kamu lakukan selama ini?"

Shou bertanya dengan wajah masam, melontarkan pertanyaan yang mempertaruhkan reputasiku.

"Tentu saja tidak. Mereka hanya salah paham besar. Daripada membicarakan itu, sepertinya apa yang disebut pengukuran gabungan ini sudah mau dimulai."

Untuk mengalihkan pembicaraan, aku mengalihkan perhatian semua orang ke kelompok Akademi St.Clan.

Awalnya aku mengira mereka akan kembali melakukan pelecehan terang-terangan pada saat pengukuran gabungan, tetapi ternyata proses pengukuran itu sendiri dilakukan dengan cukup adil.

Adapun hasil pengukuran yang paling penting, saat Shou, Kusuki, Lumine, dan Seth melakukan pengukuran kapasitas sihir, kristal berubah menjadi hitam pekat dan hasilnya menjadi tidak dapat diukur. Mengabaikan yang lain, seharusnya pengukuran Lumine sebelumnya berjalan normal.

Aku yakin kebangkitan Gift miliknya, Fallen God Life, telah menyebabkan perubahan pada jumlah energi sihirnya. Omong-omong, belajar dari kegagalan saat ujian masuk sebelumnya, aku mengatur jumlah energiku menjadi satu menggunakan Sarung Tangan Penyegel Dewa saat melakukan pengukuran.

Jika dipikir-pikir lagi, aku adalah pemegang Gift The Most Incompetent in the World dan tidak bisa menggunakan sihir dasar.

Menurut pandangan umum, akan lebih wajar jika jumlah sihirku berada di bawah rata-rata orang normal. Dan seperti dugaanku, sepertinya tidak ada satu pun orang yang mencurigai hasil tersebut.

Tes lainnya adalah pengukuran waktu aktivasi, jangkauan, dan Power dengan menggunakan sihir dasar.

Tentu saja aku sama sekali tidak bisa menggunakan sihir dasar, sehingga aku kembali menjadi pusat perhatian dalam arti yang berbeda.

Sepertinya murid-murid lain selain aku dan Kusuki sudah bisa mengaktifkan sihir dasar dengan cukup baik.

Di sisi lain, Ariel dan Sicke mencetak nilai yang sangat memuaskan dalam pengukuran kapasitas sihir dan aktivasi magis mereka.

Hal ini memicu rumor di antara guru dan murid Akademi St.Clan mengenai mengapa mereka bisa bersekolah di tempat seperti Akademi Ouboro.

Dengan begitu, kelas pengukuran di pagi hari pun selesai, dan kini tiba waktunya makan siang.

Sepertinya Elish masih melakukan pengukuran aktivasi sihir dasar untuk murid-murid Akademi St.Clan.

Pada awalnya, Elish sedikit ragu untuk mengajari para murid dari Akademi St.Clan karena insiden penyerangan Seth.

Namun, setelah Ketua Dewan Avery memberikan penjelasan dan permintaan maaf atas kebodohan Torla dan kawan-kawannya, ditambah fakta bahwa mereka juga akan dihukum karena masalah ini, sepertinya Elish akhirnya bisa menerimanya.

Pada dasarnya dia memang orang yang serius. Dia memberikan nasihat tentang aktivasi sihir dasar satu per satu kepada setiap murid Akademi Ouboro maupun Akademi St.Clan yang mengikuti tes pengukuran.

Sepertinya cara mengajarnya sangat bagus, karena sekarang sudah terbentuk antrean panjang di depan Elish. Dilihat dari situasinya, dia tidak akan bisa kembali dalam waktu dekat.

Rose telah menerima instruksi lisan dari Elish untuk makan siang terlebih dahulu, dan sekarang kami baru saja kembali ke area gudang.

Seth Accard yang bergegas ke sudut gudang dengan penuh semangat, tiba-tiba mematung saat membuka tasnya.

Saat aku mendekat dan mengintipnya, isi bekal makan siangnya berhamburan dan hancur berantakan di dalam tasnya.

Ini adalah apa yang disebut sebagai pelecehan. Mereka dari Akademi St.Clan pasti melakukannya saat kami dipanggil untuk melakukan pengukuran.

Tidak, belum tentu juga, sih... Yah, apa pun itu—

"Kita kena, ya..."

Tas berisi makan siangku juga diinjak-injak dengan cara yang sama.

"Punyamu juga, ya."

Shou ikut menggeleng-gelengkan kepalanya.

"Dasar Elf keparat! Beraninya mereka menghancurkan bekal yang dibuatkan oleh Kakak!"

Lumine memamerkan gigi taringnya dan meninggikan suaranya. Omong-omong, saat menjauh dari tas, Susanoo selalu berpindah ke dalam tas pinggang anti-pencurian milik Lumine, jadi dia tidak bertugas menjaga tas berisi makan siang.

"Sepertinya semuanya bernasib sama, ya."

Sambil membuka tasnya, Ariel juga menghela napas pendek. Itu mungkin karena dia merasa muak dengan pelecehan yang kekanak-kanakan ini.

Aku yakin Ariel juga sudah bisa menebak siapa pelakunya.

"Aku akan melayangkan protes!"

Dengan nada marah yang kental dalam suaranya, Rose meraih tasnya lalu berlari menuju guru Elf bermata sipit itu.

"Apa yang akan kamu lakukan?"

Menjawab pertanyaan Shou,

"Tentu saja kita akan ke sana."

Setelah menjawabnya, aku pun mulai berjalan menyusul Rose.

Rose menatap garang guru Elf bermata sipit itu dengan ekspresi seolah ingin menggigitnya hidup-hidup.

"Begitu, ya. Bekal di dalam tas Anda hancur berantakan, ya. Benar-benar sebuah musibah, ya."

Guru Elf bermata sipit itu melontarkan kata-kata penghiburan dengan nada menyanyi seolah-olah hal itu sangat lucu.

"Aku bertanya mengapa tas kami bisa berada dalam kondisi berantakan seperti ini!?"

"Entahlah, mana saya tahu hal semacam itu. Paling-paling juga karena tertiup angin kencang."

Sambil memegang jenggot panjangnya, guru Elf bermata sipit itu mengajukan kemungkinan yang mustahil bagi siapa pun yang memikirkannya.

Dilihat dari ekspresinya yang begitu gembira dan perkataannya yang tidak masuk akal itu, sudah hampir bisa dipastikan bahwa dia terlibat. Namun—

"Mana mungkin angin bisa membuat isi tas berantakan! Kalian pasti yang melakukannya!"

"Nona Rose, ucapan lebih dari ini akan dianggap sebagai penghinaan terhadap Akademi St.Clan kami. Tas itu hancur karena tertiup angin kencang. Dalam situasi ini, menerima hal tersebut adalah langkah yang paling bijak."

Dia mendekati Rose dengan ekspresi kemenangan, lalu menatapnya rendah sambil mengucapkan omong kosong seolah sedang menasihatinya.

"Guru Kuko, Anda—"

Aku meraih bahu kiri Rose yang hendak meledak dalam amarah.

"Rose, percuma saja. Kita tidak punya bukti."

Aku menahan tubuh Rose.

"Ta-tapi Kai!"

"Tahan dirimu untuk sekarang. Ini juga sebuah pengalaman."

Mendengar perkataanku, Rose gemetar menahan kesal. Sebagai anggota keluarga kerajaan, Rose pasti belum pernah mengalami pelecehan semacam ini.

Aku sangat mengerti perasaan marahnya.

Namun, aku tidak sebersemangat itu hingga harus marah-marah hanya karena masalah makan siang yang dirusak. Bagiku, mereka semua tidak lebih dari sekadar bayi yang tak berdaya.

Selain itu, kejadian yang tidak masuk akal seperti ini akan sering terjadi dalam hidup.

Aku tidak ingin Rose berpikir bahwa dia bisa menyelesaikannya dengan kekerasan setiap saat. Astaga, hari ini aku hanya mendapatkan peran-peran semacam ini, ya.

"Ya ampun, benar-benar. Tinggal kelas lalu dikeluarkan dari akademi kami yang penuh tradisi ini. Dan sekarang, memanggil orang lain sebagai penjahat tanpa ada bukti sedikit pun. Jika pengikutnya tidak berguna dan tidak kompeten, itu berarti tuannya juga tidak kompeten, ya."

Mendengar kalimat memancing kemarahan dari Kuko sang Elf bermata sipit yang tertawa meremehkan itu,

"Kai bukanlah orang yang bisa dihina oleh orang rendahan sepertimu!"

Rose berteriak marah.

"Orang rendahan sepertiku!? Putri Rose, itu adalah penghinaan terbesar bagi saya!"

Dengan nada kesal, Kuko juga ikut meninggikan suaranya. Di tengah tatapan penuh rasa ingin tahu dari para siswa Akademi St.Clan yang terpusat pada dua orang yang saling berteriak itu,

"Ada apa ini?"

Millefeuille menampakkan diri dengan membawa para siswa pengikutnya.

"Ah, sebuah kehormatan bagi saya, Nona Millefeuille. Semoga harimu menyenangkan!"

Berubah total dari sikap sombong sebelumnya, Kuko memperbaiki posturnya dan membungkuk dengan hormat.

Millefeuille hanya meliriknya sekilas, lalu saat melihat Rose dan tas yang dipegangnya, wajahnya mengerut karena jijik.

Kemudian, dengan wajah yang tampak serius,

"Saya akan mendengarkan pembicaraan tentang masalah ini di ruangan lain. Maaf merepotkan, tapi apakah Anda bersedia?"

Dia mengatakan hal itu kepadaku.

"Aku tidak keberatan. Tapi sebelum itu, bekal makan siang yang kami bawa sudah hancur. Bisakah kami memakai ruang makan tempat ini khusus untuk hari ini saja?"

Saat aku mengusulkan hal itu, tiba-tiba seruan protes yang luar biasa keras meledak dari orang-orang di sekitar kami. Sebaliknya, Millefeuille memasang wajah bingung dan berkata,

"Anda ingin memakai ruang makan di Akademi St.Clan ini?"

"Ya. Kalau tidak bisa, aku berpikir untuk meminta bawahanku mengantarkan makan siang."

"Guru Kuko, apa maksudnya ini?"

Saat Millefeuille bertanya pada guru bermata sipit itu sambil tersenyum dengan nada suara yang bahkan membuatku bergidik, suara protes itu pun langsung mereda.

"Maksud dari apa?"

Kepada Kuko yang berpura-pura tidak tahu dengan wajah datar, Millefeuille perlahan-lahan mendekatinya dan berkata,

"Akademi Ouboro dan sekolah kita sekarang telah menjadi sekolah kembar. Saya yakin saya sudah berulang kali meminta Anda untuk membimbing dan menjelaskan kepada mereka agar bisa menggunakan seluruh fasilitas di akademi ini, bukan?"

Dia bertanya sambil meletakkan kedua tangannya di pinggang, tepat di depan mata Kuko.

"Mereka adalah manusia, bukan Elf! Dan lagi, anak haram Accard juga ada di sini! Sebagai seorang Elf, saya tidak bisa menuruti perintah seperti itu!"

Meski menyadari betapa besarnya amarah Millefeuille, Kuko membalasnya dengan suara keras sambil tersenyum sinis.

"Apa yang membuat guru rendahan seperti Anda bertingkah sok berkuasa seperti ini!? Selain itu, mendiskriminasi perlakuan berdasarkan ras jelas-jelas membuat Anda gagal menjadi seorang guru! Anda adalah aib bagi para Elf!"

"Yang Mulia Millefeuille, sehebat apa pun Anda, ketidaksopanan terhadap saya yang merupakan anggota Keluarga Rosette ini, tidak akan pernah bisa dimaafkan!"

Kepada Kuko yang membantahnya dengan memperlihatkan gigi taringnya,

"Sudahlah, cepat antarkan mereka! Ini adalah perintah!"

Millefeuille mencengkeram kerah baju Kuko dan memberikan perintah dengan suara yang berat. Melihat Millefeuille yang memelototi Kuko dengan tatapan seolah ingin menusuknya, terdengar suara menelan ludah dari orang-orang di sekitarnya.

"A-Anda memberikan perintah kepada saya!? Saya akan mempermasalahkan penghinaan ini!"

Setelah menepis tangan itu, Kuko berteriak marah dan secara terang-terangan menunjukkan permusuhan.

"Millefeuille, kami sudah cukup merasa puas jika diizinkan menggunakan ruang makan saja. Lagipula, tanpa alasan yang jelas, aku sama sekali tidak berniat untuk memanfaatkan fasilitas di akademi ini. Kalian juga tidak masalah dengan hal itu, kan?"

Aku dengan tegas menolak perintah Millefeuille yang hanya akan menimbulkan masalah, lalu meminta kepastian pada Rose dan yang lainnya.

"Ya, tentu saja."

"Bahkan jika disuruh pun aku tidak mau!"

Rose dan Lumine menolaknya dengan tegas, dan para siswa Akademi Ouboro lainnya pun setuju dengan mereka dalam diam.

"Begitu... ya."

"Biar aku saja yang menjelaskan situasinya. Kau tidak keberatan, kan?"

Kepada Millefeuille yang memasang wajah seolah ingin menangis karena penolakan keras dari para siswa Akademi Ouboro, aku melanjutkan pembicaraan terkait alasannya datang ke tempat ini.

"Iya. Malah, kami juga akan sangat terbantu jika Anda yang menjelaskannya."

Dilihat dari cara bicara Millefeuille yang seolah menyembunyikan sesuatu ini, hampir bisa dipastikan bahwa ini adalah sesuatu yang merepotkan.

"Kalau begitu, Tuan Kai, saya akan memandu jalan."

"Tolong, ya. Rose, aku serahkan sisanya padamu."

Setelah memastikan Rose mengangguk, aku pun berjalan mengikuti Millefeuille dari belakang.

Millefeuille memanduku ke sebuah ruangan dengan pintu besar di pusat Akademi St.Clan. Aku diberitahu untuk menunggu sebentar di depan pintu.

Lima menit setelah Millefeuille masuk, beberapa Elf keluar dari pintu besar itu. Sambil gemetar karena gugup, mereka membuka pintu lebar-lebar lalu berkata,

"Si-Silakan masuk!"

Mereka berteriak dengan suara yang melengking. Sambil memiringkan kepala keheranan, aku melangkah masuk ke dalam ruangan.

Di ruangan yang luas dan mewah secara sia-sia itu, beberapa Elf paruh baya sedang berlutut dengan satu kaki.

Sosok yang menundukkan kepalanya di barisan paling depan adalah orang yang baru saja kutemui belum lama ini, yang juga merupakan kepala negara Lorelei, yakni Avery Lenlen Lorelei.

Kadang merendahkan, kadang juga sangat menghormati. Elf benar-benar kelompok yang sulit dipahami.

"Aku akan menjelaskan situasinya kali ini. Kami—"

Saat aku mencoba menyampaikan tujuan utamaku dipanggil ke sini,

"Tidak perlu! Kami sangat menyadari ketidaksopanan kami yang sepihak dan terjadi berulang kali ini! Kami siap menerima hukuman apa pun!"

"Namun kumohon, tolong jangan jadikan negara kami sebagai musuhmu! Tolong ampuni kami!"

Melihat para Elf yang menundukkan kepala satu per satu, Avery hanya merengut tanpa bergerak sedikit pun. Tentu saja begitu.

Sikap mereka terhadapku saat ini adalah cara meminta maaf yang paling rendah dan terburuk.

"Avery, kamu juga pasti sangat kerepotan."

"Saya tidak punya alasan apa pun untuk membela diri."

Mendengar jawaban Avery yang terdengar getir,

"Soal insiden Ariel sebelumnya, aku dan Avery sudah menyelesaikannya. Apa itu berarti kalian telah membahayakan diriku atau kerabatku selain dari insiden itu?"

Mendengar pertanyaanku, para Elf paruh baya yang merayap memohon ampun itu untuk pertama kalinya saling memandang dengan bingung.

"Avery, coba kamu jelaskan pada mereka."

Avery berdiri, membungkuk ke arahku, lalu berdiri di depan mereka. Kemudian—

"Berdirilah!"

Dia meninggikan suaranya.

"B-Baik!"

Para Elf paruh baya itu pun segera berdiri tegak.

"Kalian telah salah paham terhadap Tuan Kai. Sejak awal, Tuan Kai bukanlah orang yang akan marah hanya karena ketidaksopanan sekelas Kuko."

"Meski begitu, jika kalian merasa bersalah atas ketidaksopanan sesama kaum kita, mengapa kalian tidak meminta maaf dengan tulus sejak awal?"

"Ah..."

Seolah akhirnya menyadarinya, para Elf paruh baya itu menunduk dengan wajah penuh penyesalan.

"Tuan Kai, saya menggunakan kesempatan ini untuk memohon maaf yang sebesar-besarnya atas segala ketidaksopanan kaum saya."

Avery kembali membungkuk ke arahku.

"Aku sama sekali tidak memedulikannya. Jadi, bisakah kita masuk ke inti pembicaraan?"

Saat aku mendesak Avery dan yang lainnya,

"Kalau begitu, silakan duduk di sini."

Aku dipersilakan untuk duduk di kursi yang berhadapan, lalu aku pun duduk. Cerita dari Avery pun selesai.

"Organisasi bernama Libra, dan sosok di luar nalar yang bersembunyi di baliknya... Ini memang terdengar cukup merepotkan."

Libra menganut paham supremasi keturunan, sesuatu yang mungkin akan disukai oleh para bangsawan tingkat tinggi di Kerajaan Amelia. Organisasi itu menyebarkan delusi bahwa Elf adalah ras dengan keturunan tertinggi dan memiliki hak untuk menguasai yang lain.

Entah kenapa, cara kerja mereka mirip dengan Gereja Pusat. Mungkin saja mereka terhubung di balik layar.

"Apa Seth Accard yang menjadi target kali ini?"

Gadis itu adalah mantan anggota salah satu dari tiga keluarga adipati besar di negara Lorelei. Di masa lalu, ibukota Lorelei pernah hampir hancur karena sebuah insiden.

Orang yang menarik pemicu insiden itu adalah dirinya, Seth Accard. Namun, Seth hanyalah sekadar pemicunya, bukan berarti dia yang harus bertanggung jawab penuh atas hal itu.

Oleh karena itu, Lorelei telah menyatakan secara resmi bahwa dia secara pribadi tidak bersalah.

Meski begitu, mereka yang kehilangan kerabat dan keluarganya tetap menjadikannya sebagai pelampiasan dendam dan memperlakukannya dengan sangat kejam.

"Bukan, target Libra kali ini adalah Artefak Dewa."

"Artefak Dewa? Tunggu dulu, percakapan ini memberiku firasat yang sangat buruk. Jangan bilang, benda itu adalah—"

"Tebakan Anda sangat tepat. Incaran Libra adalah harta karun paling rahasia negara kami yang diberikan oleh Tuan Kai, yang akan dipamerkan pada upacara peresmian akademi ini seminggu lagi—'Pedang Penciptaan Langit dan Bumi'."

"Benda itu, ya... Jangan-jangan, para idiot dari Libra itu akan menyerang akademi ini hanya demi benda seperti itu?"

Kenapa para Elf selalu berlebihan seperti ini? Itu sama sekali bukan benda yang bisa disebut sebagai harta karun paling rahasia.

Tepat setelah menyelesaikan insiden penculikan Rena oleh Kyou, aku tak sengaja bertemu dengan Millefeuille di Balse, yang sedang kesulitan memperbaiki pedang kakaknya yang rusak. Saat aku mencoba memperbaikinya, pedang itu malah mendapat efek yang aneh dan menjadi tidak berguna.

Tentu saja aku segera menawarkan untuk mengembalikannya ke keadaan semula, tetapi Millefeuille memohon agar dia diizinkan menyimpan pedang itu dalam kondisi tersebut karena hanya akan digunakan saat festival.

Karena tidak yakin apakah pedang itu bisa dikembalikan seperti semula, ditambah rasa bersalah karena telah merusak pedang yang penting baginya, aku pun dengan senang hati menyetujuinya.

"Ya. Mengingat mukjizat luar biasa yang bisa ditimbulkan oleh pedang itu, tidak heran jika mereka mengincarnya."

"Mukjizat yang luar biasa, ya. Kalau tidak salah, efeknya adalah 'mengubah apa pun yang ditebasnya sesuai dengan imajinasi pemegang pedang', kan?"

"Ya, dari hasil penyelidikan kami, segala hal yang ditebas oleh pedang itu tidak hanya berubah wujudnya, tetapi juga isinya."

"Isinya juga berubah?"

Ini pertama kalinya aku mendengarnya. Aku langsung memeriksanya dengan Skill Appraisal tak lama setelah membuatnya dan langsung memberikannya pada Millefeuille.

Aku belum pernah menggunakannya secara langsung, jadi hal ini memang wajar.

"Sesuatu yang ditebas dengan pedang itu akan berubah eksistensinya sesuai dengan imajinasi sang pemegang pedang. Dan ternyata, efek itu sama sekali tidak memiliki batas."

"Itu konyol. Jika kau bilang tidak ada batasnya, itu berarti pedang itu benar-benar bisa menciptakan apa saja, kan?"

"Benar sekali. Kami telah mengulang eksperimen pembuktian berkali-kali, jadi hal itu sudah pasti."

"Begitu ya, pantas saja waktu itu Asta terus mendesakku untuk menyegelnya..."

Tentu saja, bagaimanapun juga itu hanyalah pedang buatanku. Tidak mungkin pedang itu tidak memiliki batasan.

Namun sialnya, Lorelei dan organisasi bernama Libra itu sepertinya telah mempercayainya.

"Lalu, apa tujuan mereka sampai rela mengambil risiko berbahaya untuk merebut pedang itu?"

Meskipun itu hanya pedang rongsokan yang kutempa, mereka akan merampasnya dari negara Lorelei sendiri.

Jika tertangkap, mereka pasti akan dihukum mati, dan organisasi mereka juga akan dihancurkan habis-habisan dengan kejadian ini sebagai pemicunya.

Normalnya, mereka harus bergerak dengan sangat hati-hati.

Fakta bahwa Avery dan yang lainnya bisa mengetahui rencana ini dengan sangat rinci membuktikan bahwa mereka bertindak dengan sangat gegabah.

Jika begitu, pasti ada alasan besar yang memaksa mereka melakukannya.

"Sepertinya, Libra dan dalang di balik layar bermaksud menggunakannya untuk ritual pemanggilan dewa."

"Dewa lagi, ya..."

Kenapa orang-orang di dunia ini sangat suka bergantung pada eksistensi fiktif yang tidak nyata seperti dewa? Pada akhirnya, selalu aku yang harus membereskan kekacauan yang mereka buat.

Sejujurnya, aku tidak ingin direpotkan lebih dari ini.

"Oleh karena itu, kami ingin memohon pada Anda untuk melindungi 'Pedang Penciptaan Langit dan Bumi'."

Sudah kuduga akan jadi begitu. Kalau begitu—

"Lebih baik pedang berbahaya seperti itu dihancurkan saja, kan? Menghancurkannya sangatlah mudah."

Dengan kemampuan berpedangku, hal itu bisa dilakukan dalam sekejap. Meskipun begitu, pedang itu awalnya adalah barang berharga yang diterima Millefeuille dari kakaknya.

Aku yakin jawabannya pasti—

"Mohon maaf. Hal itu... tidak bisa kami lakukan."

Sudah kuduga. Di saat yang sama, meminta Hephaestus untuk mengembalikannya menjadi pedang aslinya juga hal yang mustahil.

Lagipula, tidak diketahui apakah efek buruk itu bisa dihilangkan, dan kemungkinanku untuk bisa meyakinkan Hephaestus juga sangat meragukan.

Aku tidak tahu jika itu adalah senjata lain, tapi orang itu menunjukkan reaksi penolakan yang sangat kuat jika diminta untuk mengubah senjata maupun armor buatanku.

"Aku mengerti. Aku juga bersalah karena telah memberikan efek seburuk itu pada pedang milik kakak Millefeuille. Aku akan menerima permintaan itu."

"Jika gadis itu mendengarnya, dia pasti akan melompat kegirangan. Bagaimanapun juga, gadis itu menangis bahagia karena Anda telah menempa pedang untuknya."

Avery melontarkan lelucon yang mustahil terjadi itu, membuat kerutan tegang di dahi semua orang sedikit mengendur.

"Apa hanya itu saja yang ingin dibicarakan? Kalau begitu, aku akan pamit undur diri."

"Kami sangat berterima kasih atas kedatangan Anda."

"Ya."

Saat aku mengangkat tangan kananku dan hendak meninggalkan ruangan,

"Akademi ini dikelola oleh negara kami. Dengan menggunakan wewenang tersebut, kami telah menginstruksikan kembali secara menyeluruh kepada seluruh siswa dan staf agar siswa Akademi Ouboro diizinkan untuk menggunakan seluruh fasilitas di akademi ini."

"Tentu saja, mulai pertemuan berikutnya, kalian tidak akan lagi berlatih di tempat yang seperti gudang itu, melainkan akan diberikan satu area khusus untuk siswa Akademi Ouboro."

Avery menyampaikannya dari balik punggungku, jadi aku membalasnya.

"Aku berterima kasih untuk itu. Namun, siswa Akademi Ouboro sendiri tidak menginginkannya. Karena itu, kecuali untuk acara khusus atau semacamnya, kantin saja sudah cukup."

"Begitu... ya. Meskipun demikian, saya akan menyampaikan agar kalian bisa menggunakannya kapan saja."

"Mungkin itu ide yang bagus. Yah, untuk area pelatihan praktik, dengan senang hati aku akan menerima kebaikanmu itu."

"Aku akan memberitahu teman-teman sekelasku bahwa Akademi St.Clan telah memberikan satu area untuk kita."

Lagipula, kami tidak akan bisa melakukan pelatihan dengan benar di tempat yang menyerupai gudang seperti itu. Aku awalnya berpikir untuk turun tangan sendiri demi memperbaiki ketidakadilan ini.

Jika Akademi St.Clan bersedia menyediakan tempat pelatihan untuk kami, tentu saja itu adalah hal yang terbaik.

"Saya sangat berterima kasih atas pengertian Anda."

"Tidak, itu seharusnya menjadi kalimatku."

Avery menatapku dengan wajah serius.

"Akademi ini menyimpan banyak kontradiksi. Kami mungkin akan melakukan kesalahan besar lagi di masa depan."

Dia melontarkan pernyataan yang penuh makna.

"Sudah kuduga."

Selama ideologi seperti milik Libra masih menyebar, orang-orang yang melakukan tindakan bodoh seperti Torla pasti akan terus bermunculan satu per satu.

"Kumohon, jangan pernah meninggalkan para siswa, dan tolong tunjukkan jalan yang benar kepada mereka."

"Selama mereka tidak menyimpang dari jalan sebagai manusia, aku berniat melakukannya."

Segala sesuatu ada batasnya. Sekalipun mereka masih pelajar, aku sama sekali tidak berniat memberikan belas kasihan kepada orang bodoh yang melanggar batas aturan minimal sebagai seorang manusia.

"Itu saja sudah lebih dari cukup."

Avery kembali berdiri dari kursinya dan berlutut dengan satu kaki, sementara yang lain ikut mengikutinya.

"Maaf sudah mengganggu."

Kali ini aku benar-benar meninggalkan ruangan itu dan bergerak menuju kantin tempat Lumine dan yang lainnya menunggu.

◇◆◇

Segera setelah Kai pergi, sebuah pengumuman disampaikan menggunakan peralatan magis bahwa siswa dari sekolah saudari mereka, Akademi Ouboro, juga diizinkan untuk menggunakan seluruh fasilitas di Akademi St.Clan, termasuk kantin.

Namun, setelah kejadian seperti itu, pasti tidak akan ada seorang pun yang ingin menggunakannya.

Tiba saatnya untuk makan siang, tetapi karena tidak suka keramaian, Shou menghilang entah ke mana. Pada siang hari, kakak Lumine yang bernama Layla datang menjenguk dan mendengarkan penjelasan singkat tentang situasinya dari Lumine.

Setelah mengetahui bahwa Kai tidak ada, Layla pun membawa Lumine keluar untuk makan di luar akademi.

Ramune dan Kiki bersaudara juga langsung membaur ke dalam kerumunan begitu Kai pergi, seolah mereka telah kehilangan semua minatnya.

Meskipun mereka mengenakan seragam Akademi Ouboro, para siswa lain sama sekali tidak menyadari kehadiran mereka berdua.

Aku yakin itu adalah Skill. Setidaknya, itu bukanlah gerakan sekelas seorang siswa biasa. Aku merasa mereka berdua juga memiliki alasan tersendiri.

Para siswa yang tersisa, termasuk Ares, kini baru saja tiba di kantin Akademi St.Clan setelah dituntun oleh Rose.

"Kantin yang sangat besar, ya..."

"Ya, memang benar."

Aku mengangguk kecil, menyetujui gumaman Silket.

Kantin Akademi St.Clan adalah kantin super besar yang dapat menampung ratusan siswa sekaligus.

Sepertinya mereka menggunakan sistem prasmanan, di mana kita bisa dengan bebas mengambil makanan favorit dari piring-piring hidangan yang telah berjejer.

Kantin dengan skala sebesar ini bahkan sangat jarang ditemui di Alam Surga. Tingkah manusia selalu saja membuatku takjub setiap saat.

Saat ini kami sedang berbaur dengan siswa Akademi St.Clan, mengambil makanan dan mencari tempat duduk.

Ketika aku baru saja menemukan tempat duduk yang pas di dekat jendela,

"Hei, kenapa anak haram itu makan siang di kantin yang sama dengan kita!"

Kepada siswa yang menghentakkan kakinya dengan kesal itu,

"Membiarkan orang sial seperti itu masuk, apa sih yang sedang dipikirkan pihak akademi!"

Seorang siswi ikut menaikkan suaranya dengan nada marah seolah menyahutinya.

Di ujung tatapan para siswa itu, terdapat seorang gadis dari kelas kami, Seth Accard.

Di tengah badai permusuhan itu, kaki Seth yang mencoba pindah ke sudut dekat jendela dijegal oleh seorang siswa laki-laki berambut pirang cepak yang berbadan kekar dan tampak seperti kakak kelas. Seth pun terjatuh ke lantai bersama dengan makanan di atas nampannya.

"Hei, hei, anak ini malah tersandung dan jatuh sendiri, lho!"

Siswa Elf berambut pirang cepak yang menjegal kakinya itu berteriak.

"Hati-hati dong! Makanan di sini bukan barang murahan yang bisa dimakan dengan mudah oleh orang-orang miskin reyot seperti kalian. Benar begitu kan, semuanya?"

Seorang siswa Elf yang tampaknya adalah temannya juga merentangkan kedua tangannya, mencari persetujuan dari orang-orang di kantin.

Hujatan terhadap Seth dan Akademi Ouboro langsung meledak secara serempak.

Alur ini sama persis seperti kejadian Torla. Ini adalah alur yang sangat tidak menyenangkan. Rose yang merupakan anggota keluarga kerajaan Amelia pasti bisa menghentikannya, namun sayangnya, tepat setelah tiba di kantin bersama yang lain, dia dipanggil oleh staf sekolah Akademi St.Clan dan harus meninggalkan tempat ini.

"Tuh, dengar. Rakyat jelata yang bekerja di kantin pun tak ingin masakan yang sudah susah payah mereka buat jadi sia-sia karena sampah sepertimu, tahu."

Siswa laki-laki Elf berambut pirang cepak itu mendekati Seth lalu menendang perutnya. Tubuh kecil Seth melengkung seperti busur, dan dia pun berjongkok di lantai dengan ekspresi kesakitan.

"..."

Jika itu adalah Ares yang biasanya, dia pasti akan terdorong oleh rasa keadilan murahan dan pergi menolongnya. Namun, dari kejadian sebelumnya, dia menyadari satu hal.

Ares dan kelompoknya lemah. Mereka begitu lemah sampai dengan mudahnya dikalahkan oleh roh yang dipanggil oleh anak manusia seperti itu.

Jika hasil dari tindakan nekat Ares yang lemah itu hanya berdampak padaku, aku tidak akan mempermasalahkannya. Tapi sekarang aku tahu, dampaknya akan mengarah pada Silket, bawahanku yang berharga. Karena itulah, aku harus menahannya.

"Hei, rakyat jelata, kamu juga berpikir begitu, kan?"

Siswa laki-laki Elf berambut pirang cepak itu meminta persetujuan dari seorang pelayan wanita.

"Sa-Saya..."

Pelayan wanita yang dilibatkan secara tiba-tiba itu sangat terkejut dan melangkah mundur.

"Oh, benar juga. Bagaimana kalau kamu saja yang menyuruh anak ini memakan makanan yang berserakan di lantai."

"Kami yang mulia ini tidak sudi menyentuh makanan yang sudah jatuh ke lantai. Kalau rakyat jelata sepertimu, pasti tidak masalah dengan hal itu, kan?"

Siswa Elf bertubuh mungil dengan rambut pirang model bob juga memberikan instruksi tak tahu malu kepada pelayan wanita itu.

"Tolong ampuni saya!"

Pelayan wanita itu membungkuk dalam-dalam untuk memohon ampun.

"Begitu ya, jadi kamu menerimanya dengan senang hati! Oh, ya! Aku kebetulan sedang membawa bumbu semacam ini. Bisakah kamu mencampurkannya juga secara khusus?"

Melihat sesuatu yang menggeliat di dalam botol kecil yang diambil dari saku siswa itu, sang pelayan wanita pun menjerit ketakutan.

"Bagaimana, imut kan? Ini salah satu peliharaanku. Ah, tenang saja, aku masih punya banyak, jadi kalau hilang sedikit tidak akan jadi masalah sama sekali."

Anak laki-laki Elf berambut bob itu mengacungkan jempolnya dengan senyum lebar.

"To-Tolong!"

Pelayan wanita itu meminta tolong ke sekeliling, tetapi para staf kantin yang lain memalingkan wajah mereka yang pucat pasi. Sementara itu, para siswa yang lain—

"Bagus! Bagus sekali! Terus lakukan!"

"Itu adalah balasan yang pantas bagi anak haram yang penuh dosa!"

Suara dukungan muncul satu demi satu.

—Mereka sudah tidak waras.

Itulah pendapat jujur Ares tentang mereka. Saat berada di Alam Surga, dia mengira umat manusia adalah makhluk yang lebih suci.

Namun, sejak turun ke bumi ini, dia baru mengetahui bahwa ada kegelapan yang dalam dan pekat di dalam hati manusia.

Secara jujur dalam hatinya, Ares tidak bisa memahami makhluk hidup yang disebut manusia ini.

Kenapa mereka bisa melakukan hal yang begitu kejam dan mengerikan kepada sesamanya? Ares sama sekali tidak bisa memahaminya.

"Aku akan menahannya!"

Siswa laki-laki berambut pirang cepak itu mencengkeram erat rambut Seth dan mengangkatnya.

"Nih, aku serahkan anak-anak ini juga padamu."

Dia menyerahkan botol kecil itu kepada sang pelayan wanita. Di dalam botol tersebut, sekumpulan serangga berbentuk seperti laba-laba berkaki panjang merayap menggelitik.

"Hiii!?"

Tanpa sadar menerima botol kecil itu karena dipaksa, sang pelayan wanita memekik pelan.

"Ayo, cepat campurkan anak-anak itu ke dalam makanannya lalu suapkan pada anak haram itu."

"Ti-Tidak bisa!"

"Yakin? Rakyat jelata sepertimu ini bisa dipecat kapan saja lho. Tentu saja, aku juga bisa membuat keluargamu tidak bisa tinggal lagi di Babel ini."

Sambil merubah ekspresinya menjadi jelek dan menjijikkan, siswa laki-laki Elf berambut bob itu melontarkan kata-kata yang bernada ancaman.

"..."

Pelayan wanita itu mengambil makanan yang berserakan di lantai dengan tangan kanannya, lalu mencoba membawanya ke mulut Seth sambil menangis. Seth tidak menangis atau menjerit, dia hanya—

"Maafkan aku, ya..."

Seth mengucapkan kata permintaan maaf kepada pelayan wanita itu. Saat melihat ekspresi kepasrahan dan menyerah dalam pandangannya,

—Jleb!

Rasa sakit yang luar biasa menusuk jantungku, seolah-olah diremas dengan sangat kuat.

Aku sudah memutuskan untuk tidak bertindak hanya berdasarkan emosi sesaat seperti rasa keadilan. Aku juga telah bersumpah untuk tidak pernah membiarkan Silket berada dalam bahaya lagi.

Meskipun begitu, setelah melihat ekspresi gadis itu, secara naluriah Ares menyadari dengan jelas.

Jika dia menutup mata terhadap pemandangan ini, maka Ares akan terus menyesali kejadian hari ini seumur hidupnya!

(Aku tidak mau...)

Aku benar-benar tidak mau itu terjadi! Aku tidak akan membiarkan hal itu. Lagipula, jika sampai hal itu terjadi—

Sebuah bayangan terlintas di pikirannya sejenak. Pemandangan acak dan terfragmentasi yang tidak bisa dimengerti itu menyulut api keberanian di lubuk hati Ares.

"Sicke, maafkan aku."

Bersamaan dengan kalimat itu, tubuh Ares bergerak secara alamiah.

"Itu baru Tuanku!"

Ares berlari kencang menuju Seth, lalu menendang wajah Elf berambut pirang cepak itu.

Pada saat yang sama, dia menginjak botol kecil yang menggelinding di dekat sang pelayan wanita, menghancurkan serangga di dalamnya, dan mendaratkan pukulan pada anak laki-laki Elf berambut pirang model bob itu.

"Kita lari dari sini!"

Aku mendesak Seth dan pelayan wanita itu, lalu aku meraih tangan kanan Seth dan berniat lari. Namun, kakiku terjegal dan aku terjatuh ke lantai.

Saat aku secara refleks melihat ke arah kakiku, ada tanaman merambat yang telah melilit kakiku.

"Ternyata kamu lumayan juga, ya. Aku jadi sedikit tertarik padamu."

Seorang pria berjubah dengan rambut merah dan memakai kacamata bundar, duduk di sebuah meja sambil menodongkan tongkatnya ke arahku.

"Sicke!"

Asalkan kami bisa menyelamatkan Seth dan pelayan wanita itu, maka kamilah pemenangnya. Karena itulah, aku memberikan perintah kepada Silket.

"Dimengerti!"

Saat Silket berteriak seperti itu, dia bergegas berlari menuju Seth dan yang lainnya. Namun, kakinya dijegal oleh seorang siswi berambut hitam panjang yang dikepang cepol, membuatnya terpelanting ke udara.

"Ugh!?"

Silket mencoba mengatur posisi tubuhnya sebaik mungkin, tetapi kedua kakinya ditebas oleh sesuatu yang tak kasatmata seperti tongkat. Kepada Silket yang terjatuh tanpa bisa menahannya lagi,

"Gah!"

Seorang Elf bertubuh tinggi yang mengenakan masker mendekatinya, lalu mengarahkan telapak tangan kanannya ke tubuh Silket.

Sesaat kemudian, sesuatu seperti tanaman merambat melilit seluruh tubuh Silket, mengikatnya dengan sangat kuat.

Pria berjubah merah dengan rambut merah itu datang mendekati Ares, kemudian berjongkok.

"Aku punya tawaran untuk kalian, tidak masalah kan?"

Wajah pria berjubah merah itu menyatakan hal tersebut secara sepihak dengan nada yang tidak menerima penolakan.

Pria itu memang tersenyum, tetapi matanya benar-benar menatap dengan sangat serius dan berbanding terbalik dengan ekspresinya.

"Hentikan!"

Seorang wanita berjubah hitam dengan topi kerucut dan memakai ban lengan OSIS di lengan kanannya, menaikkan suaranya sambil mengarahkan tongkat ke arah pria berjubah merah tersebut.

"Ternyata Ketua OSIS yang muncul, ya."

Sambil memandang wanita berjubah hitam itu, dia bergumam dengan penuh kebencian.

"Cid, OSIS akan mengambil alih dan menyelesaikan masalah ini. Kau tidak keberatan, kan?"

"Baiklah, ayo kita pergi."

Setelah berdecak kesal, Cid mendesak siswi lain yang berambut hitam dengan gaya cepol dan siswa Elf tinggi bermasker itu untuk segera melangkah gagah meninggalkan kantin.

"Nah, drama ini sudah berakhir. Saya akan meminta keterangan tentang keributan ini, jadi semua pihak yang terlibat harap segera melapor."

Siswi anggota OSIS itu menepuk kedua tangannya dan mengumumkan akhir dari insiden tersebut.

"Itu tidak perlu."

Wajah siswi anggota OSIS yang sebelumnya terlihat tenang itu, tiba-tiba berubah memutar menjadi penuh kebencian yang mendalam.

"Guru Kuko, bukankah perselisihan antar siswa adalah wilayah wewenang kami dari pihak OSIS?"

"Siswa? Syarat keterlibatan OSIS hanyalah terbatas pada perselisihan antar sesama siswa sekolah ini. Anak-anak ini adalah siswa Akademi Ouboro yang reyot."

"Rakyat jelata pelayan di sana juga bukan siswa sekolah ini. Hanya kami para guru yang berhak menangani perselisihan dari serangga tak berharga yang tidak ada hubungannya dengan sekolah kita ini. Menjabat sebagai Ketua OSIS, masa kau tidak tahu hal seperti itu?"

"Jika Anda melakukan tindakan gegabah seperti ini, nantinya pasti akan jadi masalah, lho."

Sambil memelototi Kuko dengan sorot mata yang tajam, wanita berjubah hitam itu meludahkannya kata-katanya.

"Masalah? Anjing-anjing berdarah kotor ini telah bertindak jahat pada siswa sekolah kita yang mulia. Ini hanyalah sekadar sebuah disiplin."

"Hukuman untuk anjing liar yang suka menggigit sembarangan. Kalian semua juga berpikir begitu, kan?"

Kuko bertanya kepada siswa-siswa lain yang ada di kantin.

"Guru Kuko benar!"

"OSIS menyingkir saja!"

Serentak terdengar sorak-sorai umpatan yang diarahkan kepada anggota OSIS.

"Ketua... ini sudah tidak mungkin lagi."

Mendengar badai suara kecaman terhadap pihak OSIS, siswa laki-laki yang mengenakan ban lengan yang sama menggeleng-gelengkan kepalanya.

"Kuko!"

Mendapat teriakan marah dan pelototan dari siswi yang dipanggil Ketua itu,

"Ooh, menakutkan, benar-benar menakutkan, ya. Jangan-jangan gadis kecil yang hanya seorang bangsawan biasa ini berniat menunjukkan permusuhan padaku yang berasal dari keluarga Rosette ini, hm?"

Kuko melontarkan pertanyaan itu pada sang siswi dengan ekspresi wajah yang sangat puas.

"Ketua!"

"Aku tahu!"

Siswi berjubah hitam itu menggemeretakkan gigi gerahamnya menahan geram.

"Kuko, aku pasti akan mengusirmu dari akademi ini!"

Sambil melontarkan kata-kata ancaman seperti itu, dia pergi meninggalkan kantin sambil menuntun para siswa yang sepertinya adalah anggota OSIS yang lain.

"Nah, mari kita lanjutkan hukumannya. Lakukan tugasmu dengan baik, ya!"

Kuko memberikan instruksi itu kepada siswa Elf berambut pirang cepak yang memegangi hidungnya akibat tendangan Ares.

"Sial, aku jadi dipermalukan di depan semua orang!"

Siswa Elf berambut pirang cepak itu berteriak marah sambil mendekatiku, lalu menendang perutku ke atas.

"Ugh!"

Untuk sesaat aku tidak bisa bernapas, lalu sedikit tertunda, rasa sakit tumpul menjalar. Saat aku membulatkan tubuhku untuk menahan rasa sakit dari rentetan tendangan itu berkali-kali,

"Baguslah. Kita juga sudah mendapat persetujuan dari Guru Kuko. Ayo kita bersenang-senang melanjutkan yang tadi!"

Elf berambut bob itu mengambil sebuah botol dari saku dengan mata merah menyala. Di dalamnya, ada serangga yang bergerak-gerak yang ukurannya sedikit lebih besar dari yang tadi.

"Tentu saja! Kita mulai dari anak ini dulu!"

Saat dia mendekati Ares, siswa Elf berambut pirang cepak itu menjambak rambut Ares dengan tangan kirinya dan mencengkeram dagunya dengan tangan kanannya.

Anak Elf berambut bob itu mengambil serangga dari dalam botol, lalu perlahan-lahan mendekati Ares dan berjalan memutarinya.

"Hei, semuanya, anak-anak ini berani menentang kita. Menurut kalian apa yang harus kita lakukan pada mereka?"

Dia melontarkan pertanyaan itu kepada siswa-siswa yang ada di kantin.

"Tentu saja hukuman mati!"

Terdengar balasan dari suatu tempat.

"Kalau begitu, aku minta kalian semua menyerukannya dengan suara lantang."

—Bunuh! Bunuh! Bunuh! Bunuh!

Di tengah paduan suara memekakkan telinga yang menuntut hukuman mati itu,

"Tuan Ariel!"

Terdengar teriakan pilu dari Silket. Usaha penyelamatanku benar-benar gagal, aku dikelilingi oleh musuh, dan tidak ada jalan keselamatan lagi bagiku.

Namun, rasa tidak nyaman yang membuatku mual hingga rasanya ingin muntah yang kurasakan beberapa saat lalu lenyap seketika, dan aku sendiri terkejut karena merasa begitu lega di dalam hatiku.

"Aku baik-baik saja. Setidaknya, aku berhasil untuk tidak menjadi seperti para pengecut yang sedang berteriak-teriak ini."

Sebanyak apa pun aku meminta maaf pada Silket karena telah menyeretnya dalam situasi ini tidak akan pernah cukup. Tetapi, aku yakin Silket akan memahamiku.

Di tengah badai caci-maki yang terus menerus dilontarkan pada Ares,

"Hentikan—!"

Seth, yang tak sedikitpun menangis meratapi atas segala perilaku yang menimpanya, memohon ampunan sambil berurai air mata.

"Terima kasih atas usahamu menahan sakit. Tapi, kira-kira sampai mana batasan daya tahanmu itu, ya?"

Sambil mengeluarkan serangga besar dari dalam botol dan memainkannya dengan kedua tangannya,

"Sensasi saat serangga ini bergerak merayap di dalam perutmu sangatlah luar biasa, lho. Kamu lihat kan, aku ini adalah orang yang baik hati, jadi aku ingin kamu menikmatinya sepuas mungkin."

Anak laki-laki Elf berambut bob itu bergumam seolah sangat senang, lalu dengan tangan kanannya dia memegang serangga itu dan mendekat ke arah Ares.

"Maaf aku datang terlambat. Aku sedikit meremehkan situasinya."

Mendengar suara yang entah kenapa terasa sangat menenangkan itu, aku mendongakkan kepalaku dan melihat Kai Heineman berdiri dengan wajah tegang, sambil memegang erat pergelangan tangan kanan anak laki-laki Elf berambut bob yang sedang menggenggam serangga itu.

◇◆◇

Saat aku meninggalkan Ruang Kepala Sekolah Akademi St.Clan dan menuju ke kantin, ada kerumunan orang yang berkumpul di sana.

Seth Accard yang menangis menjerit memohon agar semuanya dihentikan, dan Ariel yang ditahan oleh dua siswa dan nyaris dipaksa memakan sesuatu seperti serangga.

Aku yakin, dalang yang menghasutnya adalah guru bernama Kuko yang kini sedang menatap dengan ekspresi gembira.

Sejujurnya, kupikir masalah Torla hanyalah kasus khusus. Tapi ternyata, dugaanku salah besar.

Menginjak-injak harga diri orang lain sambil melindungi diri di tempat yang aman adalah salah satu hal yang paling aku benci.

Terlebih lagi, seorang guru yang malah berinisiatif menghasut tindakan sekeji itu, dan murid-murid di sana malah menyambutnya dengan sorak sorai kegembiraan.

"Dasar rendahan! Lepaskan aku!"

Aku melempar bocah Elf berambut bob itu ke samping.

"Kalian sudah bertindak terlalu jauh. Karena itu, aku akan memberikan perlakuan khusus orang dewasa pada kalian. Tunggu sebentar di sana."

Aku hanya memberikan perintah tegas. Merespons sikapku yang merendahkan itu, sorakan caci-maki pun menghujaniku dari seluruh penjuru kantin.

Dengan tenang aku mengabaikan badai celaan dan makian itu, lalu menghampiri Ariel dan Silket untuk menebas tanaman rambat yang mengikat mereka. Dan kemudian—

"Tolong bawa Seth dan pelayan perempuan itu ke ruang perawatan Akademi Ouboro. Aku akan menyusul setelah selesai menjinakkan hewan-hewan buas ini."

"Tetapi—"

Kepada Ariel yang masih ragu-ragu di saat seperti ini,

"Cepat pergi! Tempat ini sekarang hanyalah sebuah kandang babi. Ini bukanlah tempat di mana pemuda yang punya masa depan cerah seperti kalian berada."

Aku menaikkan suaraku dan membentaknya.

"B-Baik!"

Ariel mengangguk seolah-olah dia terpental dan segera bangkit berdiri.

"Terima kasih atas perhatian Anda! Tuan Ariel!"

Silket segera merangkul Seth dan pelayan perempuan itu, lalu lari keluar dari kantin besar itu bersama Ariel.

"Aku tidak akan membiarkanmu kabur!"

Kepada beberapa murid yang hendak menembakkan sihir pada Silket, aku meraih pisau dan garpu dari meja terdekat lalu melemparkannya.

"Gah!"

"Gugh!"

Pisau yang kulemparkan menancap dalam-dalam di punggung tangan para murid yang hendak menggunakan sihir itu.

Kupikir setidaknya mereka akan berteriak marah, tapi ternyata mereka hanya mengerang kesakitan dan berjongkok.

Apa hanya dengan luka sekecil itu saja mereka langsung kehilangan semangat bertarung dan jadi tak berdaya?

Memangnya apa saja yang diajarkan oleh orang-orang Lorelei kepada para murid ini?

"Dasar tak kompeten, berani-beraninya kamu melukai siswa sekolahku. Kamu sudah tamat."

Kuko menyunggingkan senyum menjijikkan sambil mengarahkan ujung tongkatnya kepadaku, melontarkan kata-kata bodoh. Memang benar, dramanya sudah berakhir. Terlebih lagi—

"Ini semua salahku..."

Pemikiranku terlalu naif. Aku memang sudah menduga akan ada perkelahian di antara murid, tapi aku sama sekali tidak menyangka mereka adalah sekelompok orang yang dengan santainya melakukan kekejaman sejauh ini.

Setidaknya, aku mengira bahwa mereka tidak akan semudah itu melewati batas nilai-nilai kemanusiaan. Namun...

"Sudah terlambat untuk menyesalinya sekarang! Pria tak berguna, kau adalah pengawal pribadi Putri Pertama Kerajaan Amelia, Rosemarie. Tindakan kekerasan yang kau lakukan akan dianggap sebagai tindakan Putri Rosemarie sendiri."

"Itu artinya masalah ini telah secara resmi menjadi insiden internasional. Lorelei akan menjadi musuh. Kerajaan Amelia sudah pasti akan membuangmu. Sekarang kau hanyalah buronan!"

Sungguh menyedihkan. Terlalu menyedihkan. Siapa pun yang menjadi musuhku sekarang, itu bukanlah sebuah masalah besar.

Kerajaan Amelia? Lorelei?

Jika mereka memang memilih untuk menantangku dalam pertempuran hidup dan mati yang sungguhan, tentu saja akan kuterima.

Aku hanya perlu menghancurkan mereka sampai ke akar-akarnya, hingga tak akan ada lagi harapan yang tersisa sedikit pun.

"Cukup omong kosongnya. Majulah. Tentu saja, pertarungan ini tidak main-main. Jadi, kalian juga boleh memakai senjata kalian. Akan kuhadapi kalian semua sekaligus."

Sambil memutar telapak tangan kiriku menghadap ke atas, aku melipat jari-jariku ke dalam untuk memprovokasi mereka.

Para siswa yang terlihat cemas tidak bergerak sama sekali sambil menatapku dan siswa-siswa yang masih merintih kesakitan itu bergantian.

Jangan bilang kalian langsung kehilangan semangat juang cuma gara-gara insiden kecil tadi?

"Ada apa? Seperti kata si idiot di sana, aku ini hanyalah pria tak berguna. Padahal kalian tadi sudah mengocehkan kata-kata sok jagoan, apa sekarang kalian mau melarikan diri karena takut padaku?"

Aku kembali memancing amarah mereka untuk bertarung.

"Jangan bercanda!"

"Akan kulakukan!"

"Kalau kita sampai dipermalukan oleh sekolah reyot seperti itu, harga diri kita mau ditaruh di mana!"

Satu per satu para siswa meraih senjatanya masing-masing dan mulai menunjukkan niat bertarung mereka.

"Asta, apa kau ada di sana?"

"Aku selalu berada di sisimu."

Melihat kemunculan wanita berpenampilan layaknya pria paruh baya dengan pakaian necis secara tiba-tiba itu, para murid mengernyitkan dahi dan mulai berjaga-jaga.

"Jangan khawatir. Hanya aku yang akan bertarung melawan kalian. Asta—"

"Bahkan tanpa kau perintahkan pun, aku sudah memahaminya."

Saat Asta menjentikkan jarinya, para siswa yang tadinya tidak mengarahkan senjata dan kehilangan semangat bertarung pun segera menghilang.

Sesaat kemudian, pintu besar kantin itu pun tertutup dengan suara yang nyaring.

"Dengan begini kalian tidak akan bisa lari. Kalau kalian ingin keluar dari sini, bunuh saja diriku."

Aku juga mengeluarkan Absolutely Unbreakable Stick, memandang berkeliling ke arah para siswa, lalu menjelaskan aturan permainan ini yang begitu sederhana dan jelas.

"Bu-Membunuhmu!? Ja-Jangan bercanda!"

Mendengar teriakan histeris dari salah seorang siswa itu,

"Aku tidak sedang bercanda. Aku ini sangat serius. Berhubung kalian sudah mengangkat senjata, aku tidak akan membiarkan kalian mundur di tengah jalan. Kerahkan seluruh kekuatan kalian dan seranglah aku dengan tekad untuk mati!"

Sambil memegang Unbreakable Stick di satu tanganku, aku mulai melancarkan penindasan yang sesungguhnya.

Api, air, tanah, angin—berbagai macam sihir berwarna-warni melesat ke arahku.

"Mainan anak-anak."

Aku menangkis semuanya dengan Unbreakable Stick dan memantulkan kembali serangan itu kepada mereka. Seolah-olah waktu diputar mundur, sihir-sihir itu menghantam para murid telak dari depan.

Tanpa membuang waktu, aku menendang lantai dan berjalan santai melewati para murid yang baru saja merapalkan sihir.

Saat melewatinya, aku menebas kedua lengan mereka menggunakan Unbreakable Stick.

"Hah?"

Sambil menatap darah segar yang menyembur dan lengan mereka sendiri yang tergeletak di lantai, mereka mengeluarkan suara bodoh.

Namun tak lama kemudian, mereka mulai menjerit dan berguling-guling kesakitan.

"T-Tertebas?!"

"Ini sungguhan?!"

Jeritan penuh keterkejutan terdengar, dan dalam sekejap, ekspresi meremehkan dan aura kehidupan menghilang dari wajah para murid yang mengepungku.

"Sudah pasti. Kita ini sedang bertarung sungguhan sekarang. Wajar jika nyawamu terancam saat kamu mengangkat senjata, kan? Bukankah kalian juga menyiksa Seth dengan kejam setelah mempersiapkan tekad semacam itu?"

Saat aku mengibaskan darah yang menempel di tongkatku, ujung luka sayatan di kedua lengan para murid seketika terbakar.

Mereka kembali menjerit histeris lalu pingsan dengan mata melotot.

Besar kemungkinan Asta telah membakar luka mereka untuk menghentikan pendarahan. Toh, pada akhirnya mereka akan dipulihkan juga.

Aku akan menghajar mereka habis-habisan. Tentu saja, ada risiko mereka akan mati syok kalau sedang sial, tapi ya sudahlah. Biarkan saja mereka menganggapnya sebagai takdir.

"T-Tidak..."

"Aku tidak mau mati!"

Dipicu oleh teriakan seseorang, para murid serempak berlarian menuju pintu besar kantin.

"Mana ada orang bodoh yang menunjukkan punggungnya pada musuh di tengah pertarungan sungguhan!"

Aku menebas kedua kaki para murid yang melarikan diri itu dari bagian pangkal paha. Bersamaan dengan itu, luka sayatannya pun terbakar.

"T-Tolong aku..."

Dengan wajah yang berlepotan air mata dan ingus, seorang murid mengarahkan ujung pedangnya ke arahku dengan tangan gemetar.

Aku menendangnya, membuatnya terlempar lurus dan menabrak murid-murid lain. Mereka semua terbanting keras ke dinding dengan punggung menghantam duluan.

"A-Aku akan membunuhmu sebelum kau membunuhku!"

Seorang murid bertubuh besar dengan luka di dahi mengarahkan ujung tongkatnya kepadaku dan bersiap merapalkan sihir.

"Semangatmu patut diacungi jempol, tapi apa kau benar-benar berpikir punya waktu untuk merapal mantra panjang dalam pertarungan seperti ini?"

Aku melangkah santai mendekati murid berluka dahi yang sedang merapal mantra itu, lalu meninju perutnya dengan tangan kiriku.

Mengabaikan gravitasi, dia melesat dengan kecepatan peluru dan menghantam langit-langit hingga membuat bangunan ini bergetar hebat. Setelah itu, barulah dia jatuh berdebum ke lantai.

"Gangan kalah..."

"Mustahil... Kita tidak mungkin menang!"

"Kita semua akan dibunuh!"

Secara praktis, kalimat itu menjadi penanda hilangnya semangat bertarung mereka. Sambil menjerit ketakutan, seluruh murid membuang senjata mereka dan meringkuk gemetar di sudut ruangan.

"Maaf saja, tapi kehilangan semangat bertarung bukanlah syarat berakhirnya pertarungan kali ini."

Setelah menyatakan hal itu dengan tegas, aku memegang Unbreakable Stick di satu tanganku dan mulai bergerak untuk menghancurkan keempat anggota tubuh mereka.

Tujuanku kali ini adalah menghancurkan seluruh tubuh mereka hingga berkeping-keping.

"Sekarang tinggal kalian saja, ya?"

Orang-orang yang berdiri di hadapanku saat ini hanyalah Kuko sang guru Akademi St.Clan, bocah Elf berambut pirang cepak yang tadi mencoba memaksa Ariel memakan serangga, dan si bocah Elf berambut bob.

Yang lainnya sudah kubereskan dan kubiarkan tertidur untuk sementara waktu. Pertunjukan utamanya baru akan dimulai sekarang.

"A-Apa kau tahu apa akibatnya jika kau melakukan hal seperti ini!"

Aku memotong keempat anggota tubuh Kuko yang berteriak histeris itu. Sambil menginjak Kuko yang menjerit memekakkan telinga, aku menjawab,

"Tentu saja aku tahu. Dan aku sama sekali tidak berniat membiarkan kalian lolos begitu saja."

"Hiiiik!"

Aku menghancurkan keempat anggota tubuh bocah Elf berambut pirang cepak dan bocah Elf berambut bob yang berusaha melarikan diri sambil tersandung-sandung.

"Tolong aku!"

Kepada dua bocah yang kehilangan anggota gerak dan memohon ampun sambil menangis itu, aku melontarkan kata-kata belas kasih.

"Boleh juga. Akan kukabulkan permintaan kalian untuk saat ini."

"Asta, pulihkan semua orang di kantin ini dan buat mereka sadar! Batalkan semua batasan yang ada di kantin ini."

Lagi pula, hukuman yang akan kulakukan mulai sekarang akan lebih efisien jika ada penontonnya. Biar kubuat mereka menyaksikannya sepuasnya.

"Dimengerti."

Bersamaan dengan kata persetujuan Asta, cairan merah turun mengguyur, dan seolah waktu diputar kembali, luka Kuko serta para murid di ruangan itu langsung pulih sepenuhnya.

Selanjutnya, meja, dinding, dan lantai kantin yang hancur juga ikut pulih. Setelah semua makhluk hidup maupun benda mati kembali seperti semula, terdengar suara jentikan jari.

Semua murid yang tadi terkapar langsung tersadar, lalu mereka bangun dan menengok ke sekeliling dengan kebingungan.

Paling-paling, mereka mengira hal-hal mengerikan yang baru saja terjadi pada mereka hanyalah sejenis halusinasi. Sungguh pemikiran yang sangat egois.

"Nah, kalau begitu, mari kita mulai."

Aku berlari mengejar bocah Elf berambut pirang cepak yang berusaha kabur sambil berteriak melengking.

Aku menyapu kakinya, membuatnya berputar beberapa kali di udara sebelum akhirnya punggungnya menghantam lantai keras-keras.

"Kau benar-benar tidak punya kemampuan belajar, ya. Setelah melihat kejadian tadi, apa kau sungguh berpikir bisa lari dariku?"

"T-Tolong maafkan aku!"

Sambil terbatuk-batuk, bocah berambut pirang cepak itu bangkit. Dengan wajah berlepotan air mata dan ingus, dia menyatukan kedua tangannya dan memohon ampun padaku dengan putus asa.

Aku menjambak rambutnya, mendekatkan wajahku, lalu berbisik.

"Dunia ini tidak seindah itu, Nak."

Setelah menjawabnya dengan senyuman, aku menghancurkan kedua tangan dan kaki bocah Elf berambut pirang cepak itu hingga berkeping-keping.

Sambil mencengkeram kerah belakang bocah Elf berambut pirang cepak yang merangkak di lantai seperti ulat sembari menjerit kesakitan, aku melemparkannya ke samping si bocah Elf berambut bob yang sudah lemas dan mengompol.

Lalu, aku menata kembali makanan yang berserakan di lantai ke atas piring.

Aku menangkap beberapa ekor serangga yang masih merayap-rayap dan memasukkannya ke dalam makanan itu.

"M-Mustahil!"

"J-Jangan bercanda!"

Aku mendekati mereka berdua yang wajahnya berkerut ketakutan dan ngeri.

"Kalian bilang ini lezat, kan? Biar kusuapi langsung."

"H-Hentikan!"

"Aku menolak. Bukankah memakan serangga hidup-hidup itu lezat? Kalau begitu, nikmatilah sepuas-puasnya."

Sambil memegang dagu bocah Elf berambut bob dan si rambut pirang cepak yang menjerit histeris itu, aku menjejalkan makanan berisi serangga tersebut ke dalam mulut mereka.

Tidak ada satu pun orang di kantin yang berani membuka suara.

Hanya suara kunyahan dari dua bocah yang kusuapi serta suara gemeretak gigi para murid yang berpadu bak paduan suara di dalam kantin besar ini.

Setelah semua makanannya habis, kedua bocah Elf itu pingsan dengan mulut berbusa.

"Tugas kedua murid itu sudah selesai. Selanjutnya giliranmu. Ini adalah akibat dari perbuatanmu sendiri. Tentu saja, aku tidak berniat memberikanmu hukuman seringan dua murid tadi. Persiapkan dirimu dan jalankan tugasmu dengan baik, ya."

Sambil membunyikan tulang-tulang jariku, aku melangkah mendekati Kuko.

"T-Tunggu! Aku ini putra sulung keluarga Rosette, Kuko Rosette, salah satu dari Tiga Keluarga Besar Lorelei!"

"Aku sudah muak mendengar omong kosong klise kalian."

Aku menyusup ke jarak serangnya, lalu menendangnya keras-keras dengan kaki kananku.

"Gugeeehk!"

Sambil mengeluarkan jeritan aneh yang lucu, dia melesat ke atas dengan kecepatan tinggi, lalu menghantam langit-langit yang jauh di atas sana sebelum akhirnya jatuh tepat di atasku.

Aku menghujani seluruh tubuh Kuko dengan pukulan bertubi-tubi, lalu membantingnya ke lantai dengan tinju kananku.

Terdengar suara tulang yang remuk dan daging yang robek, tubuh Kuko memantul di lantai sebelum akhirnya terkapar telentang.

Sambil menatap Kuko yang keempat anggota tubuhnya terpelintir ke arah yang tidak wajar dan sekujur tubuhnya kejang-kejang ringan, aku memberikan perintah.

"Pulihkan."

Cairan merah mengguyur Kuko, dan dia langsung pulih sepenuhnya. Begitu dia mengangkat wajahnya dan pandangan kami bertemu, dia memekikkan jeritan yang memekakkan telinga.

"J-Jangan mendekat! Jika kau melukaiku lebih dari ini, Lorelei tidak akan tinggal diam—"

Karena sudah mulai muak, aku mencengkeram dan mengangkat dagunya untuk menutup mulutnya yang berisik.

"Berhenti bicara. Segala ucapan dan tindakanmu hanya akan memperburuk keadaan."

Aku memerintahkan hal itu dengan nada tegas kepada Kuko yang wajahnya berkerut ketakutan. Kemudian, aku menarik siku kananku jauh ke belakang.

"Mgh!"

Kepada Kuko yang berusaha mati-matian melepaskan diri, aku berbisik.

"Mulai sekarang aku akan memukulimu habis-habisan. Kau boleh melawan atau kabur sesukamu. Tapi, karena ini adalah hukuman, aku tidak akan bersikap lembut seperti pada bocah-bocah di sana. Ingatlah hal itu baik-baik."

Setelah menyatakan hal itu, aku mendaratkan tinju kananku tepat di wajahnya.

Aku menghajar Kuko habis-habisan berkali-kali. Tentu saja, persis seperti yang kulakukan pada roh sialan bernama Vulcan itu, aku menyembuhkannya setiap kali dia hampir mati.

Awalnya dia mencoba kabur dari aula ini, tetapi setelah sadar bahwa semua usahanya sia-sia, dia menyerangku dengan setengah putus asa.

Setiap kali dia menyerang, aku membalasnya dengan serangan yang kekuatannya puluhan kali lipat dari apa yang dia lakukan.

Sekalipun dia pingsan, Asta akan membangunkannya kembali, dan aku terus menyerangnya tanpa henti.

"Kai, sudahlah."

Saat mendengar suara teguran yang sarat akan rasa jengkel, aku menoleh dan mendapati Shou bersama Millefeuille sedang berdiri di pintu masuk dengan tangan terlipat di dada.

Semua batasan di kantin ini sudah dicabut oleh Asta. Staf akademi yang melihat pemandangan mengerikan di kantin ini pasti merengek meminta tolong pada Millefeuille.

Dan kemudian, Millefeuille meminta bantuan Shou.

Menurut Asta, Millefeuille memiliki kemampuan menganalisis orang lain tingkat tinggi.

Tindakannya ini pasti karena dia sangat memahami ketidaknormalan Shou.

"Baiklah, aku setuju. Lagipula, aku memang berniat menyudahinya."

Aku melempar Kuko ke lantai dengan kasar. Sepertinya dia tidak bisa mendarat dengan baik. Akibat benturan itu, Kuko langsung jatuh pingsan.

"Apa yang kau lakukan pada mereka? Mereka semua jadi bersikap aneh, lho?"

"Aku hanya latih tanding sebentar dengan mereka."

Sambil menjawab demikian, aku mengalihkan pandanganku ke arah para murid di kantin besar.

Berkat hukumanku pada Kuko dan kawanannya, mereka pasti sudah sadar sepenuhnya bahwa mimpi buruk tadi adalah kenyataan.

Ada yang muntah berkali-kali sambil merangkak, ada yang meringkuk sambil memegangi kepala dan menangis memohon ampun, ada yang memeluk tubuhnya sendiri sambil memekik aneh, dan ada pula yang tertawa hampa dengan wajah bodoh. Semuanya menunjukkan reaksi yang sangat unik.

"Jangan bohong! Mana mungkin latihan tanding bisa bikin orang jadi begini! Tolonglah, bersikaplah lebih normal sedikit."

Shou memohon padaku dengan wajah kaku dan kedua tangan bergetar.

"Hmm, lawanku kan cuma murid-murid. Ini saja aku sudah cukup menahan diri, lho?"

Yah, meskipun kuperlakukan sebagai orang dewasa, mereka sebenarnya masih anak-anak. Karena itulah, aku merasa sudah sangat menahan diri.

"Jadi ini yang namanya... menahan diri, ya? Millefeuille, sekarang aku paham apa maksudmu. Kai memang sedikit terlalu ekstrem untuk mereka."

Shou mengerang sambil menutupi wajahnya dengan tangan kiri.

Ini sudah cukup untuk mendisiplinkan para binatang liar itu. Kalau mereka berbuat ulah lagi, aku tinggal memikirkan hukuman baru untuk mereka nanti.

"Tuan Kai, apakah kita sudah selesai untuk hari ini?"

Kepada Millefeuille yang bertanya dengan penuh hormat, aku menghampiri si bocah Elf berambut bob dan bocah berambut pirang cepak, lalu menepuk pipi mereka beberapa kali.

Tentu saja, aku sudah memerintahkan Asta untuk memulihkan mereka sepenuhnya selagi pingsan, jadi tidak ada luka sedikit pun di tubuh mereka.

"Guhiii!"

Aku berjongkok dan menatap mata kedua bocah yang menjerit, mundur, dan saling berpelukan ketakutan itu.

"Kali ini, kalian berdua telah jelas-jelas menyimpang dari jalan kemanusiaan. Hanya ada satu tempat yang menanti para bedebah. Bahkan jika aku tidak turun tangan, kalian akan terus terjerumus ke dasar jurang terdalam. Selama kalian tidak berubah. Cobalah renungkan kembali pada diri kalian sendiri, apa yang benar dan apa yang salah."

Setelah memberikan peringatan singkat, aku berdiri dan membalikkan badanku dari mereka.

Orang-orang ini sekarang adalah sampah yang merasa senang menindas yang lemah. Aku sudah sering melihat orang-orang seperti ini di Kerajaan Amelia.

Jika mereka adalah orang dewasa yang punya akal sehat, maka mereka sudah tidak bisa diselamatkan lagi.

Tapi, mereka masih anak-anak. Kanvas mereka belum sepenuhnya ternoda hitam. Jadi, mungkin masih ada jalan kembali bagi mereka. Itulah yang kuyakini dari kejadian Gil.

"Millefeuille, apa sisanya kuserahkan padamu saja?"

"T-Tentu saja!"

"Kalau begitu, aku akan kembali ke Akademi Ouboro, ya."

Hari ini aku terlalu banyak berbuat onar. Kurasa aku tidak mungkin mengikuti kelas siang dalam kondisi seperti ini.

"Ada yang ingin kutanyakan pada mereka. Kalau sudah selesai, aku juga akan kembali."

"Baiklah, aku menunggumu."

Aku mengangkat tangan kiriku dan mulai berjalan menuju ruang kesehatan Akademi Ouboro.

◇◆◇

Setelah Ares dan kawan-kawan menunggu belasan menit sejak diantar ke ruang medis, Elish berlari masuk dengan wajah pucat pasi.

Begitu diberitahu bahwa luka Ares dan yang lainnya tidak serius serta kronologi kejadiannya, Elish langsung berlari keluar ruangan dengan raut wajah seganas iblis.

Setelah itu, Kepala Sekolah Inea yang berkunjung ke ruang medis memerintahkan kami untuk bersiaga di asrama siswa pada siang harinya. Saat ini, aku baru saja kembali ke asrama bersama Silket.

Orang itu telah menolongku dua kali. Pertama, dia menyelamatkan nyawa bawahanku yang berharga, Silket, dan kedua, dia menyelamatkan harga diriku, Ares.

Terlebih lagi, dia selalu muncul di saat aku berada dalam situasi krisis. Seolah-olah dia selalu mengawasiku dari jauh. Ini adalah pengalaman pertama dalam hidupku.

"Kira-kira siapa dia sebenarnya..."

"Dia adalah Kai Heineman, kan? Dengan kekuatan yang begitu luar biasa, dia pasti salah satu dari pilar dewa yang mendiami dunia ini."

Atas jawaban Silket itu, aku pun membalas.

"Bukan, bukan itu maksudku..."

Itu bukanlah jawaban yang kuharapkan. Tapi, kalau begitu, jawaban seperti apa yang sebenarnya sedang kutunggu?

"..."

Silket menatapku lekat-lekat untuk beberapa saat, lalu seolah menyadari sesuatu, dia menyatukan kedua tangannya dan mengangguk berulang kali dengan senyum gembira.

"Begitu rupanya! Nona Ares penasaran dengan pria itu, ya! Syukurlah! Kalau itu dia, Ayahanda dan Kakekanda pasti akan merestuinya!"

Sejak kejadian kali ini, segala kewaspadaan Silket terhadapnya telah lenyap tak berbekas.

Silket adalah mantan perwira militer. Selain karena kekuatannya yang luar biasa, kurasa dia juga bersimpati dengan cara hidupnya yang tidak terikat oleh apa pun.

"B-Bukan begitu! Maksudku bukan seperti itu!"

Aku berusaha keras menyangkalnya, tapi aku sadar wajahku terasa panas.

"Ariel, Silket, boleh aku mengganggu sebentar?"

Hanya dengan mendengar suara itu, jantungku langsung berdegup kencang.

Saat kulihat, Silket mengangguk dengan wajah penuh kebanggaan, lalu membuka pintu kamar. Di pintu masuk, berdirilah orang yang baru saja kupikirkan.

"Oh, Tuan Kai. Kalau begitu, aku akan kembali ke kamarku untuk mengulang pelajaran. Sampai jumpa!"

"Tunggu, Silket—"

Silket mengacungkan jempolnya padaku lalu keluar dari kamar. Dia memang pilar yang sangat pengertian dan sangat kompeten, tapi terkadang dia suka salah paham.

"Kalian berdua, apa kalian baik-baik saja?"

"I-Iya."

Dia mengkhawatirkan keselamatanku. Menyadari kenyataan itu, kurasakan kehangatan menjalar di lubuk hatiku.

"Maaf soal yang tadi. Ini benar-benar di luar perhitunganku. Aku sudah menduga dia akan mencari masalah dengan Seth lagi, tapi aku tidak menyangka akan sampai seperti itu."

"Eh? Seth?"

Aku bisa merasakan perasaanku mengempis dengan cepat. Sebagai gantinya, rasa malu yang luar biasa mulai menyelimuti diriku.

Begitu ya. Jadi yang dilindungi Kai bukanlah Ares, melainkan gadis bernama Seth itu.

"Dia punya sedikit masalah. Tolong perhatikan juga dia mulai sekarang, ya."

"Baik... saya mengerti. Apakah hanya itu yang ingin Anda sampaikan?"

Tujuan kedatangannya ke sini pun ternyata untuk memintaku melindungi gadis bernama Seth itu.

"Y-Ya, begitulah. Tapi, apa mungkin kau sedang marah sekarang?"

Mungkin karena jarang-jarang dia merasa bingung, suara Kai yang menanyakan hal itu terdengar sedikit melengking.

"Tidak, saya tidak marah! Saya baru ingat ada urusan! Silakan Anda pergi sekarang!"

Aku bangkit berdiri dan berteriak layaknya anak kecil yang sedang mengamuk.

Kai menghela napas panjang dan berkata,

"Hari ini ada banyak hal yang terjadi, jadi beristirahatlah dengan tenang."

Tepat saat dia melontarkan kata-kata manis semacam itu, Kai berbalik dan bersiap untuk pergi.

Sembari merasakan penyesalan mendalam atas kata-kata kasarku tadi, rasa gelisah yang hebat muncul saat membiarkannya pergi begitu saja.

"Tunggu—"

Saat aku mengulurkan tangan kiriku untuk memanggilnya, kakiku tersandung dan aku pun terjatuh.

Tepat sebelum wajahku menghantam lantai dengan memalukan, seseorang menangkapku.

Wajah Kai berada tepat di depan mata dan hidungku. Fakta itu membuat wajahku memanas seperti teko mendidih, dan mulutku bergetar tak karuan.

"Hati-hati. Walaupun kau, kalau jatuhnya parah, kau bisa terluka parah, lho."

Sambil memegang kedua bahuku, Kai tersenyum dan berkata demikian, lalu dia benar-benar meninggalkan kamar.

Tiba-tiba, seluruh tenagaku terkuras habis, dan aku menjatuhkan diri ke sofa di asrama.

(Apa yang terjadi padaku?)

Aku mencoba bertanya pada diriku sendiri, tapi aku bahkan tidak mengerti perasaanku sendiri. Mana mungkin aku bisa menemukan jawabannya.

Kalau dipikir-pikir lagi, dari sikapnya terhadap teman masa kecilnya, Lumine, terlihat jelas bahwa Kai jauh lebih perhatian daripada kelihatannya.

Lagipula, pertemanannya di Babel ini sangatlah luas.

Khususnya dengan Inea, Kepala Sekolah Akademi Ouboro saat ini, dia juga tampaknya sudah mengenalnya.

Jadi, wajar saja jika Inea memintanya untuk melindungi teman sekelasnya, Seth Accard.

Oleh karena itu, kemungkinan hubungan antara Kai dan Seth seperti yang sedang kubayangkan sangatlah kecil. Tapi, kenapa ya? Kenapa dadaku terasa sesak begini?

"Aku ingin lebih mengenalnya..."

Pada saat itu, kurasa aku benar-benar ingin tahu pilar seperti apakah dirinya itu.




Keesokan harinya, karena penyelidikan atas serangkaian insiden tersebut, kegiatan belajar mengajar Kelas A1 diliburkan.

Karena ingin memikirkan sesuatu sendirian, aku memberitahu Silket bahwa aku akan pergi ke kota untuk membeli bahan makan malam.

Awalnya aku mengira dia akan menentang keras karena berbahaya, tetapi entah kenapa dia langsung menyetujuinya dengan mudah.

Hal yang ingin kupikirkan hanya satu, yaitu tentang Kai Heineman.

Kemarin, Ares malah mengusir orang yang sudah seperti pahlawan penyelamat karena telah menolong Ares dan Silket sebanyak dua kali.

Jika Ares berada di posisinya, dia pasti akan merasa marah karena diperlakukan tidak sopan seperti itu.

Meskipun begitu, pria itu tetap bersikap lembut pada Ares hingga akhir dan bahkan memberikan kata-kata penyemangat.

Namun, dia hanya menolong Ares sebagai kebetulan saat melindungi Seth Accard.

Tidak ada makna mendalam di balik tindakannya itu. Memikirkan hal tersebut membuat dadaku terasa sesak.

Percuma saja. Sebanyak apa pun aku memikirkannya, ujung-ujungnya hanya berputar di tempat.

Bagaimanapun juga, Ares sudah terlalu terobsesi dengannya.

Aku benar-benar ingin menghindari agar tidak dibenci olehnya seperti ini.

"Aku akan menemuinya dan meminta maaf!"

Saat aku akhirnya membulatkan tekad, terdengar suara tangisan anak kecil.

Ketika mataku mengembara mencari sumber suara tersebut, kulihat seorang gadis kecil berusia sekitar tujuh hingga delapan tahun sedang menangis keras.

Baru saja aku hendak mendekat, orang yang paling ingin kutemui saat ini malah berjongkok di depan gadis itu.

"Ada apa?"

Kai Heineman bertanya alasan gadis itu menangis dengan nada bicara yang lembut.

"―!?"

Namun, begitu melihat wajah Kai, wajah gadis itu langsung menegang dan dia mulai menangis dengan suara yang lebih keras.

Dari sini wajahnya terhalang oleh punggungnya sehingga aku tidak bisa melihatnya.

Sebenarnya ekspresi seperti apa yang dia buat sampai bisa membuat anak kecil menangis seperti itu?

"Gawat juga, nih. Kalau begini, aku benar-benar bisa kehilangan kepercayaan diri."

Melihat Kai yang biasanya selalu tenang secara menyebalkan itu kini malah memegangi wajahnya dengan tangan kiri dan terlihat kebingungan, entah kenapa hal itu terasa sangat lucu.

Sambil menahan tawa sekuat tenaga, aku mendekatinya.

"Kai, biarkan aku yang mengurusnya."

Aku memberitahu Kai secara singkat bahwa Ares yang akan mengambil alih. Dan kemudian—

"Siapa namamu?"

Aku berdiri di depan gadis itu lalu berjongkok untuk menyejajarkan pandangan, dan bertanya dengan lembut.

"Mai Miyato."

Mendengar nama itu, alis Kai sedikit terangkat. Setidaknya, tidak diragukan lagi bahwa dia mengenali nama itu.

"Mai, ada apa?"

"Ibuku menghilang!"

Anak hilang, ya. Dilihat dari pakaiannya, anak ini mungkin berasal dari Butou, sebuah negara besar di timur.

Ada banyak orang dari berbagai negara di seluruh dunia yang mengunjungi Babel ini dengan berbagai macam tujuan.

Jadi, bukan hal yang aneh jika ada anak kecil di sini.

"Begitu, ya. Kalau begitu, ayo kita cari sama-sama."

"Iya!"

"Kai, Anda tidak keberatan, kan?"

"Ya, tentu saja."

Kai tersenyum dan mengangguk pelan. Gadis itu memandangi Kai dari balik punggung Ares dengan sembunyi-sembunyi.

"Paman tidak takut?"

Dia bertanya pada Ares.

"Tidak apa-apa. Meski penampilannya seperti itu, dia orang yang baik, lho."

"Bagian 'meski penampilannya seperti itu' benar-benar tidak perlu. Ya ampun, dewa raja iblis dari mana yang bisa membuat anak kecil menangis hanya dengan tersenyum."

Kai bergumam mengeluh.

"Kalau begitu, mari kita pergi mencari ibu anak ini."

"Benar juga."

Kai juga mengangguk dan mulai berjalan.

Awalnya saja gadis itu takut pada Kai. Tak lama kemudian, dia sudah menggandeng tangan Ares dan Kai di kedua sisinya sambil berbicara dengan riang.

Malahan, pada akhirnya dia jadi lebih lengket pada Kai daripada Ares.

"Hee, jadi kamu datang ke Babel ini untuk menolong ayahmu yang akan bertemu dengan orang yang lebih menakutkan dari raja iblis?"

"Iya! Ayah sangat ketakutan sampai tidak bisa tidur nyenyak di malam hari, jadi aku ikut untuk menemaninya."

Jika itu adalah pertemuan dengan orang semenakutkan itu, aku yakin kedua orang tuanya pasti tidak ingin membawanya serta.

"Begitu, ya... Jadi dia sebegitu ketakutannya, ya..."

Melihat Kai yang mengerang dengan wajah seolah baru saja menelan pil pahit,

"Iya! Dia saaaangat saaangat ketakutan dan mengigau setiap hari."

"Aku benar-benar telah melakukan hal yang kejam..."

Mendengar Kai bergumam pelan sambil menundukkan bahunya yang lemas,

"Kenapa Kai yang minta maaf?"

Mai bertanya dengan wajah kebingungan.

"Tidak, ini urusan orang dewasa."

Kai mengelus kepala Mai untuk mengalihkan pembicaraan, namun Mai malah menggembungkan pipinya.

"Uuuh, jangan perlakukan aku seperti anak kecil!"

Dia melontarkan protes.

"Maaf, maaf."

Melihat Kai yang tersenyum kecut,

"Aku maafkan, deh! Hei, apa Kai dan Ariel itu sepasang kekasih?"

Mai bertanya sambil tersipu malu-malu.

"A-A-Apa!?"

Tubuhku terasa panas seperti terbakar karena malu hingga aku tidak bisa membalas perkataannya dengan baik.

"Bukan, kok. Aku dan dia cuma berteman. Dia punya seseorang yang lebih pantas untuknya."

Tanpa menunjukkan sedikit pun kegoyahan, Kai menjawabnya.

"Begitu, ya! Tentu saja. Habisnya Kai sepertinya tidak populer, sih! Kalau begitu, Mai saja yang jadi istrimu!"

"Bagian 'tidak populer' itu tidak perlu. Tapi baiklah, jika saat kamu dewasa nanti perasaan Mai belum berubah, aku akan mengajukan diri sebagai kandidat."

Mendengar Kai mengucapkan kalimat ajaib yang biasa digunakan orang dewasa untuk mengelabui anak-anak sambil kembali mengelus kepalanya,

"Iya! Tunggu saja, ya! Kata Ibu, Mai akan tumbuh jadi wanita cantik, lho!"

Dia merespons dengan penuh semangat.

"Begitu, ya. Aku akan menunggunya."

Saking lucunya, aku memalingkan wajah dan menutup mulutku untuk menahan tawa.

"Menunggu saja tidak cukup! Kai juga harus memperbaiki diri agar jadi pria yang lebih baik!"

Mai melepaskan tangannya dari kami, lalu berdiri di depanku sambil meletakkan kedua tangan di pinggang dan menunjuk Kai sambil berseru.

"B-Baiklah. Akan kuusahakan."

Sudah tidak tertahan lagi. Ini benar-benar curang. Pada akhirnya aku tertawa terbahak-bahak.

"Apa itu selucu itu?"

Saat Kai menatapku dengan mata setengah tertutup,

"Tidak, tidak. Syukurlah, Kai. Anda harus memperbaiki diri agar bisa menjadi suami yang hebat, lho."

Melihat Kai yang biasanya seperti itu malah terseret ke dalam ritme seorang anak kecil, entah bagaimana hal itu sangat mengenai titik tawaku. Aku benar-benar tidak bisa berhenti tertawa.

"Mai!"

Terdengar suara seorang wanita. Saat aku menoleh, kulihat seorang wanita berambut hitam panjang berlari ke arah kami.

"Ibu!"

Mai juga berteriak dan memeluk wanita berambut hitam itu.

"Kai dan Ariel membantuku mencari Ibu, lho!"

"Kai..."

Ibu Mai menoleh kaku seperti boneka kaleng. Begitu melihat Kai, wajahnya langsung menegang pucat pasi dengan luar biasa.

"Mai, sampai jumpa lagi, ya."

Hanya mengatakan hal itu, Kai langsung berbalik dan menjauh dari Mai dan ibunya. Aku buru-buru menyusul Kai.

"Kai, apakah Anda mengenal ibu Mai?"

"Sedikit. Bukan kenalan yang penting, kok. Lagipula, sepertinya kamu sudah kembali ceria, ya?"

"I-Iya."

"Syukurlah kalau begitu."

Setelah itu, aku memberitahunya bahwa aku sedang dalam perjalanan untuk membeli makan malam. Dengan sangat baik hati, Kai menemaniku.

Kami membeli bahan makan malam di pusat perbelanjaan Distrik Barat Babel, lalu berjalan berdua menuju asrama siswa Akademi Ouboro.

Karena Kai menawarkan diri untuk mengantarku sampai ke asrama, aku pun menerima kebaikannya itu.

Setelah berjalan beberapa saat, asrama Akademi Ouboro pun mulai terlihat.

Karena itulah, aku membulatkan tekad dan menanyakan hal yang paling ingin kuketahui saat ini.

"Hei, Kai?"

"Hm, ada apa?"

"Jika aku berada dalam bahaya lagi, apakah Anda akan datang menolongku?"

Di tengah jantungku yang berdebar kencang,

"Tentu saja aku akan menolongmu."

"B-Begitu, ya! Terima kasih! Sampai jumpa lagi di sekolah, ya!"

Sadar wajahku memanas mendengar jawaban itu, Ares berbalik memunggungi Kai dan berlari menuju asrama.

◇◆◇

Di dalam sebuah rumah tua yang lapuk di ujung tenggara Distrik Keenam, terdapat belasan Elf dan seorang pria jangkung bertopi.

"Si tak berguna sialan itul—! Aku ini adalah penerus utama keluarga Rosette, Kuko Rosette!"

Dengan separuh kiri wajahnya yang berkedut-kedut karena kejang, dia berteriak marah.

Sejak nyaris dibunuh oleh si tak berguna itu, otot-otot di separuh wajahnya mengalami kejang dan tak bisa berhenti berkedut.

"Guru Kuko, aku juga pernah dibuat menderita olehnya! Makanya aku sangat mengerti perasaan Anda!"

Torla mencoba memahami perasaan Kuko. Tindakan itu justru memicu rasa malu dan amarah yang luar biasa dalam dirinya.

"Ah, terima kasih, Torla."

Dia sama sekali tidak bisa memaafkan bocah manja yang hanya bermodal bakat tapi miskin pengalaman ini, yang merasa sok mengerti tentang dirinya.

Satu-satunya yang benar-benar memahami Kuko hanyalah Tuan Dagon yang berdiri di depan dan menatap mereka dengan penuh belas kasihan.

Tuan Dagon bangkit dari kursinya, mendekati Kuko dan Torla, lalu menepuk bahu mereka. Dan kemudian—

"Tidak diragukan lagi, kalian adalah ras unggul yang dipilih oleh surga. Namun, kalian berdua yang merupakan ras unggul ini, malah kalah dari orang tak berguna yang merupakan ras rendahan."

"Ini adalah fakta yang tak terbantahkan. Tahukah kalian betapa besar guncangan yang ditimbulkan oleh fakta ini pada para siswa dan guru Akademi St.Clan, ya?"

Dengan wajah penuh kesedihan yang mendalam, dia melontarkan pertanyaan itu.

"Te-Tentu saja kami tahu!"

"Ya, aku juga tahu!"

Mereka sangat memahami apa yang ingin disampaikan oleh Tuan Dagon. Elf adalah ras unggul di dunia ini, eksistensi mulia yang berhak menguasai yang lain.

Namun, Kuko dan Torla yang merupakan petinggi ras unggul itu, malah kalah dari Kai Heineman, orang paling rendah dan tak berbakat di dunia ini.

Jika fakta ini tersebar, masyarakat mungkin akan mulai meragukan ideologi luhur Libra. Jika itu terjadi, dunia ini mungkin akan melangkah ke jalan yang salah. Dan itu semua gara-gara Kuko.

"Kalau begitu, kalian harus membuktikannya! Bahwa ras unggul jauh lebih hebat daripada ras rendahan! Kepada siswa dan guru Akademi St.Clan! Dan lebih dari itu, kepada seluruh makhluk yang hidup di dunia ini!"

Dagon merentangkan kedua tangannya lebar-lebar dan menengadah ke langit sambil berseru lantang.

"Aku akan melakukannya! Aku pasti akan melenyapkan si tak berguna itu!"

Kuko memuntahkan hasrat yang membara di dalam hatinya.

"Aku juga tidak akan pernah kalah lagi!"

Torla juga mengepalkan kedua tangannya erat-erat dan melontarkan sumpah.

"Tepat satu minggu dari sekarang, festival pembangunan gedung baru akan diselenggarakan di Akademi St.Clan. Pada hari itu, para petinggi dari berbagai negara di seluruh dunia juga akan hadir, ya."

"Di sanalah kalian akan mempermalukan si tak berguna itu di depan umum! Ya, hancurkan dia secara menyeluruh, ya!"

"Tapi, si tak berguna itu sangat kuat dan di luar nalar, lho?"

Salah satu siswa laki-laki pengikut Torla bertanya ragu-ragu kepada Dagon.

"Aku tahu hal itu, ya. Kemungkinan besar, si tak berguna itu telah membuat kontrak dengan dewa jahat, ya."

"De-Dewa jahat!?"

"Benar, dewa yang jahat, ya. Berdasarkan penyelidikan, si tak berguna itu selalu memicu keributan di seluruh dunia setelah melakukan perjalanan kerja dari kota perbatasan, ya."

"Lalu, selama berada di kota terpencil bernama Ramur itu, si tak berguna itu benar-benar tidak bisa apa-apa. Ini adalah fakta pasti yang terungkap dari hasil penyelidikan, ya."

"Itu berarti, setelah pergi dari kota bernama Ramur itu, dia menjadi tawanan dewa jahat?"

"Yah, alih-alih tawanan, dia mungkin lebih cocok disebut budak, ya. Tapi, meski hanya seorang budak, kekuatan dewa adalah sesuatu yang mutlak!"

"Di dalam hukum dunia fana ini, tidak ada cara untuk bisa melawannya, ya!"

"Ta-Tapi, kalau si tak berguna itu memiliki kekuatan dewa, kita tidak mungkin bisa menang, kan..."

Seorang Elf perempuan berkata dengan suara bergetar pelan.

"Kalian tidak perlu khawatir! Jika musuh meminjam kekuatan dewa, maka kita hanya perlu menjadi dewa juga, ya!"

Sambil berputar-putar riang, Dagon berpose aneh sambil menggerak-gerakkan tangannya seperti gelombang, lalu melambaikan tangan kirinya.

"Kita menjadi dewa!? Apa hal seperti itu mungkin dilakukan!?"

"Ya, itu bisa dilakukan dengan menggunakan Artefak Dewa Transenden yang dianugerahkan dewa kepada negara Lorelei, yakni 'Pedang Penciptaan Langit dan Bumi', ya!"

"Kudengar itu adalah pedang yang terlibat dalam berdirinya negara Lorelei dan baru-baru ini digali dari ruang harta karun. Memangnya efek apa yang dimiliki Artefak Dewa itu?"

"Itu adalah Artefak Dewa yang bisa mengubah apa pun yang ditebasnya sesuai dengan keinginan kita, ya."

"Mengubah apa pun yang ditebasnya sesuai keinginan..."

Melihat para Elf di ruangan itu memasang ekspresi kebingungan.

"Sepertinya kalian belum memahaminya, ya. Secara harafiah, kalian bisa mengubah apa pun yang kalian tebas menjadi apa yang kalian bayangkan, ya."

"Jika membayangkan emas, ia akan menjadi emas. Jika membayangkan binatang buas, ia akan menjadi binatang buas. Jika membayangkan monster, ia akan menjadi monster."

"Dan mungkin saja—jika kalian membayangkan dewa, ia akan menjadi dewa, ya."

Mendengar perkataan Dagon yang seolah penuh penekanan itu, tidak ada satu pun yang berani membuka mulut. Tentu saja.

Jika pedang semacam itu benar-benar ada, itu berarti mereka bisa menciptakan eksistensi yang bahkan menguasai hukum dunia ini. Dan itu artinya—

"Jika kita bisa mendapatkan pedang itu—"

"Ya, kita bahkan akan bisa melampaui dewa itu sendiri, yaaaa!"

Dagon kembali menengadah ke langit dan berteriak dengan suara yang memekakkan telinga.

Sesaat kemudian, sorak-sorai bagaikan raungan meledak dari para Elf di seluruh penjuru ruangan.

Orang ini memang berada di level yang berbeda. Meski hanya firasat, tapi pria ini bukanlah manusia. Melainkan sesuatu yang jauh lebih besar.

"Tuan Dagon, kumohon tunjukkanlah jalan kepada kami!"

Kuko berlutut dan menundukkan kepalanya, dan secara alami, para Elf di ruangan itu pun ikut melakukan hal yang sama.

"Si tak berguna yang sekarang sudah memiliki kekuatan dewa. Jika kalian melawannya secara langsung, kekalahan adalah sesuatu yang mutlak. Karena itu, kita harus memanfaatkan 'alat bermain' dengan efisien, ya!"

"Alat bermain yang Anda maksud?"

"Kelemahan yang memaksa pria itu untuk melindunginya dua kali berturut-turut! Gadis kuil dari dewa jahat yang telah dicuci otaknya oleh bajingan yang jatuh ke dalam kejahatan itu!"

"Kita akan menggunakan wanita terkutuk itu sebagai umpan untuk menyelesaikan misi kita, ya!"

"Oh, jadi maksudnya kita akan menghajar habis-habisan si tak berguna itu setelah kita berubah menjadi dewa, ya!?"

Mendengar pertanyaan Torla, Tuan Dagon mengangguk dalam diam.

Dasar bodoh! Mana mungkin orang sepertimu akan dijadikan dewa. Yang akan menjadi dewa adalah Kuko ini, eksekutor setia Tuan Dagon.

Aku tidak akan pernah menyerahkan hak istimewa untuk bisa berada di sisinya kepada siapa pun! Karena itu—

"Tuan Dagon! Tolong berikanlah kehormatan besar untuk menjadi orang pertama yang menggunakan Artefak Dewa itu kepada saya, Kuko ini!"

"Guru Kuko, Anda ini—"

Torla dengan tidak sopan mencoba menyela pembicaraan, namun,

"Tidak masalah, ya. Pada akhirnya, kalian semua akan dijadikan dewa, ya. Seperti kata Torla, setelah menjadi dewa, kalian bisa menghukum si tak berguna itu secara perlahan, ya."

"Guru Kuko, tolong sisakan juga jatah untukku, ya!"

"Ya, tentu saja."

Kuko mengangguk mantap, melontarkan kata-kata dusta. Sampah seperti anak ini tidak pantas menjadi dewa.

Hanya mereka yang pantas mendampingi Tuan Dagon sajalah yang berhak mendapatkan kualifikasi sebagai dewa!

"Kalau begitu, semuanya, saya pamit undur diri dulu, ya."

"Baik!"

"Terima kasih atas kedatangan Anda."

Kuko dan yang lainnya berlutut dan menyampaikan rasa terima kasih mereka yang tulus. Dagon melepas topinya dan meletakkannya di dada, membungkuk ringan, lalu keluar dari ruangan tersebut.

Setelah keluar dari pintu depan, Dagon menatap rumah tua yang lapuk itu.

"Benar-benar makhluk bersel tunggal yang sudah tidak bisa diselamatkan, ya. Mau sekuat apa pun makhluk rendahan seperti kalian diperkuat, tidak mungkin kalian bisa menang melawan kerabat dari makhluk 'itu', ya."

"Mereka hanyalah mainan kesayangan Yang Mulia dari jurang terdalam. Peran kalian tidak lebih dari sekadar tumbal."

"Tumbal untuk mewujudkan Yang Mulia ke dunia ini, ya."

Dagon mengangkat sudut bibirnya dan menyeringai jelek sambil menggumamkan hal itu.

"Tapi, mengabaikan si kerabat yang bernama Kai Heineman itu, kalau eksistensi aslinya sendiri yang maju, ini akan jadi sedikit merepotkan, ya. Sepertinya memusnahkannya adalah sesuatu yang mutlak, ya."

Saat menggumamkan kata-kata itu, rupa Dagon benar-benar tampak seperti monster yang muncul dalam dongeng-dongeng mengerikan.

—Pada saat itu, Dagon melakukan kesalahan yang sangat fatal. Dia telah salah menilai lawan yang seharusnya paling dihindarinya.

Dagon adalah salah satu pilar dari organisasi terkuat yang pernah merajalela di masa lalu. Jumlah lawan yang bisa menjadi ancaman baginya di dunia yang lemah ini sangatlah terbatas.

Mungkin ini adalah kesalahan kecil yang tak terelakkan.

Namun, kesalahpahaman sepele yang sangat masuk akal itu justru membangkitkan murka dari monster terkuat di dunia ini.

Suara kehancuran yang bermula dari obsesi sang iblis balas dendam mulai terwujud dengan jelas, dan bersiap bergema tepat di atas kepala Dagon dan para pembawa bencana dari masa lalu lainnya.

◇◆◇

Sebuah alun-alun yang dikelilingi oleh tebing tinggi tanpa batas—tempat itu bisa dibilang sebagai titik awal bagi orang-orang dari Ensiklopedia Penaklukan.

Lebih tepatnya, ini adalah tempat suci yang dibuat semirip mungkin dengan tempat bermulanya Gods' Ordeal, masa di mana mereka menghabiskan waktu bertahun-tahun bersama Yang Mulia Tertinggi.

Hanya segelintir orang dari Ensiklopedia Penaklukan yang diizinkan untuk menginjakkan kaki di tempat ini.

Di meja bundar raksasa yang berada di tengah alun-alun itu, para pemimpin dari masing-masing faksi sedang duduk berkumpul.

"Kekuatan asing yang menyusup ke Lemuria ini, ya. Kalau levelnya cuma segitu, kalian pasti bisa meremukkannya dalam sekejap, kan?"

Arch, yang hadir mewakili fraksi Asmodeus sebagai pengganti Shiro Bear, menyilangkan kedua tangan di belakang lehernya dan bersandar santai di sandaran kursi.

Sambil melirik monster-monster lain yang duduk bersamanya, dia melontarkan komentar tanpa ketegangan sedikit pun.

"Maaf atas kelancangan pendatang baru ini. Tapi aku juga setuju dengannya. Aku tidak yakin ada makhluk di dunia ini yang bisa mengalahkan jajaran orang-orang di sini."

"Siapa pun mereka, kita tinggal menginjaknya sampai hancur lalu masalah selesai."

Asura menyilangkan lengannya dan melontarkan pernyataan tegas. Perkataan Asura yang merupakan kekuatan tempur tertinggi Pasukan Jahat itu sangatlah akurat.

Buktinya, hampir tidak ada satupun yang mengajukan keberatan atas kata-katanya.

Namun—

"Masalahnya bukan soal kuat atau tidaknya mereka."

"Benar juga... Tujuan mereka pasti untuk menciptakan kembali medan perang yang kacau balau waktu itu, kan."

Shuten-doji meneguk sake dari botolnya dan melontarkan kalimat penuh makna tersebut.

"Medan perang yang kacau balau?"

Athena mengernyitkan alis indahnya dan melontarkan pertanyaan.

"Ya ampun, kalian dari generasi baru ternyata tidak tahu, ya. Itu adalah perang besar dan terburuk yang pernah terjadi di era masa lalu..."

Melihat ekspresi muram Ladon yang tidak seperti biasanya, semua orang memasang raut wajah kebingungan.

"Ragnarok... Perang besar kuno tempat para dewa besar generasi masa lalu musnah satu per satu..."

"Lalu, setelah perang itu berakhir, mereka yang selamat mendirikan Pasukan Surga dan Pasukan Jahat demi memperkuat kekuasaan mereka agar kesalahan yang sama tidak terulang lagi... Benar begitu, kan?"

Mendengar pertanyaan Nemesis,

"Benar sekali. Meskipun pada akhirnya Pasukan Surga dan Pasukan Jahat itu pun langsung berubah menjadi kawah perebutan kepentingan dan perebutan kekuasaan yang tidak berguna."

Ladon memutar wajah naganya dengan muak dan meludahkannya kata-katanya.

"Mari kembali ke topik utama. Apa sebenarnya tujuan kekuatan asing itu untuk memicu kembali perang besar dari masa lalu?"

Yang menjawab pertanyaan inti dari Girimekhala itu adalah,

"Hanya sekadar untuk membuang-buang waktu."

Itu adalah suara Asta.

"Membuang-buang waktu?"

"Ada seorang psikopat yang sangat menjijikkan yang menjadikan amarah, kebencian, kecemburuan, ketakutan, keterkejutan, dan penghinaan yang meluap di dunia ini sebagai makanannya."

"Dalam perang besar kala itu, banyak dewa besar yang kuat musnah akibat menari di atas telapak tangannya. Tuan yang kulayani pun bernasib sama."

Asta bergumam dengan nada yang agak sedih.

"Psikopat yang kau maksud itu, belum musnah, kan?"

Mata ketiga Girimekhala bersinar misterius saat bertanya pada Asta.

"Perang besar kala itu berakhir setelah para psikopat penguasa masa lalu disegel di ruang dimensi lain. Karena itulah, aku tidak pernah memedulikannya sampai sekarang."

"Tapi, aku telah menemukan celah dari segel tersebut."

"Apa itu berarti Dagon, si eksistensi misterius yang dilaporkan itu?"

"Dia tidak diragukan lagi adalah kerabatnya. Itu berarti, segel itu sudah..."

"Sudah terlepas... begitu, ya."

Untuk sesaat, api kebencian yang begitu kuat hingga bisa disebut sebagai dendam membara di dasar kedua mata Shuten-doji.

"Asta, kau bermaksud bilang agar kita tidak perlu lagi mencampuri rencana mereka karena orang itu sangat berbahaya. Kau ingin bilang begitu, kan?"

"Ini bukan soal kuat atau lemah! Bahayanya bukan hal sesederhana itu! Begitu dia tertarik padamu, dia akan terus menempel dan menguntitmu tanpa henti."

"Dan di akhir pertarungan panjang yang berlarut-larut seperti rawa lumpur itu, sebagian besar hal penting milik Master pasti akan terampas! Aku tidak ingin melihat pemandangan seperti itu untuk yang kedua kalinya!"

Mendengar teriakan Asta yang penuh kepedihan itu,

"Guha! Gufufuguhahaha—!"

Tiba-tiba, Girimekhala tertawa terbahak-bahak.

"Apa yang lucu!?"

Saat Asta bertanya dengan nada kesal,

"Pemikiran yang benar-benar bodoh. Tentu saja itu lucu."

Sambil memegangi perutnya, Girimekhala terus tertawa hingga matanya berair.

"Girimekhala, kau—"

Asta bangkit berdiri dan hendak menerjangnya, tapi,

"Aku juga setuju dengan Girimekhala."

"Nemea! Kau juga—"

"Lagipula, Yang Mulia dikuntit dan hartanya dirampas? Bukankah yang terjadi justru sebaliknya?"

Mendengar ucapan Nemea yang sedang mengorek telinga dengan jari kelingking kiri tanpa merasa tegang sedikit pun, semua orang di sana terdiam dan berpikir sejenak.

"Benar juga. Kalau dipikir-pikir, jawaban yang benar adalah mereka akan memancing amarah Tuan Kai lalu lari pontang-panting demi menyelamatkan nyawa, kan? Sama seperti yang terjadi pada kita dulu, tahu?"

Mendengar poin yang sangat masuk akal dari Asura tersebut,

"Aku setuju. Kau bilang dia suka menempel, tapi kurasa Yang Mulia juga tidak jauh berbeda."

"Kenyataannya, empat dari Enam Jenderal Besar Pasukan Jahat telah dikalahkan, dan kita praktis berada di ambang kehancuran. Di pihak Pasukan Surga pun, salah satu dari Enam Dewa Langit, Tartarus, dengan mudahnya dibunuh oleh Yang Mulia, lalu kepalanya yang terpenggal dikirimkan ke markas mereka."

"Terlebih lagi, kepala itu dilengkapi dengan kutukan mengerikan sebagai oleh-oleh. Bukankah banyak dari mereka yang tewas karena itu?"

Mengirimkan bom kutukan ke markas Pasukan Surga.

Itu secara tidak langsung menunjukkan bahwa ia memiliki kekuatan untuk menembus segala bentuk pertahanan musuh.

Jika perasaan Pasukan Surga harus diungkapkan dengan kata-kata, itu sama halnya dengan memiliki pisau tajam yang terus-menerus ditempelkan di leher mereka.

Dengan kata lain, pesan dari Kai Heineman yang tersirat dalam bom tersebut adalah, "Jika kalian membuatku merasa tidak nyaman lagi, aku akan langsung membunuh kalian." Sebuah pesan ancaman yang sangat kuat.

"Di kastil tempat tinggal Odin, dia juga menanam kepala terpenggal Mayor Jenderal Pasukan Surga, Veig, di sebuah pot tanaman lalu mengirimkannya ke sana. Menurutku, si Odin itu pasti sangat ketakutan melihatnya."

Dengan pandangan menerawang, Shuten Douji bergumam dengan ekspresi yang benar-benar muak.

"K-kalian, apa kalian benar-benar melakukan hal semacam itu?!"

Asura berteriak dengan nada ngeri.

"Yang mengeksekusinya, sebagian besar adalah kelompok faksi Raja Lalat, kan?"

Shuten Douji melemparkan topik pembicaraan pada P. Princess Fly yang duduk di sebelahnya.

"Itu bukan kehendak kami, melainkan instruksi dari Tuan. Beliau sangatlah kejam terhadap orang yang dianggap tidak bisa diselamatkan, sampai-sampai hal itu membuatku merinding kegirangan!"

Sembari memeluk tubuhnya sendiri dengan ekspresi ekstasi, P. Princess Fly berbicara dengan penuh gairah. Dia hadir mewakili Beelzebub yang sedang absen.

"P. Princess Fly, menurutmu, apakah Tuan kita akan direbut?"

Menanggapi pertanyaan Girimekhala, P. Princess Fly mendengus tawa seolah meremehkannya.

"Pertanyaan bodoh. Memberi atau merebut, semuanya murni tergantung pada kehendak Tuan."

"Pada zaman kuno tidak ada sosok seperti Beliau, makanya perang besar yang konyol semacam itu bisa terjadi. Sesederhana itu."

Dia menjawab dengan cepat dan santai.

"Benar, kengerian Tuan kita yang sebenarnya bukan hanya pada kekuatannya! Melainkan pada kemampuannya membaca masa depan yang begitu dalam, seolah Beliau bisa melihat segalanya!"

"Benar sekali! Tidak ada satu hal pun yang luput dari prediksi Beliau! Oleh karena itu, jika ada kemungkinan Tuan kita direbut, pasti penyebabnya adalah pemikiran kita yang lamban!"

"Singkatnya, kewajiban kita sebagai serangga hina ini hanyalah bergerak sesuai keinginan Beliau!"

Girimekhala berdiri dari kursinya dengan mata merah membelalak. Dia melontarkan omong kosong yang seharusnya ditertawakan begitu saja.

"Tentu saja, tidak mungkin Tuan kita yang sangat licik itu bisa dikalahkan oleh siapa pun."

"Kukuku, aku seperti bisa melihat wujud mereka yang ketakutan dan lari kocar-kacir!"

Melihat Ladon yang mengangguk berkali-kali, yang lain pun ikut menyetujuinya satu per satu.

"Lagi pula, Asta, kau juga sudah melihat pedang yang diciptakan oleh Tuan kita, kan? Dengan menggunakan pedang itu, Beliau berencana untuk menghukum serangga-serangga sialan yang beterbangan di sekitarnya!"

Mendengar perkataan Girimekhala yang begitu bersemangat, Asta bereaksi.

"Kalian ini, apa kalian berniat menjadikan pedang yang sangat berbahaya itu sebagai mainan? Barang itu bukanlah sesuatu yang bisa diremehkan seperti itu—"

Asta yang pipinya berkedut, melontarkan kecaman yang justru seperti menyiram minyak ke dalam kobaran api bagi Girimekhala dan yang lainnya.

"Asalkan itu adalah keinginan dari Tuan Agung yang kita percayai!"

Melihat ketiga mata Girimekhala yang tanpa keraguan dan telah kehilangan kewarasannya, Asta terdiam.

"..."

Asta membuka mulutnya setengah dan menatap tanpa kata sejenak, lalu menghela napas panjang. Kemudian dia kembali bersuara.

"Bisa-bisanya aku sampai benar-benar melupakan hal itu. Dia adalah seorang pemain permainan yang mempermainkan dan mengendalikan orang lain."

"Dengan kesadaran sebagai pelaku utama, dia menggerakkan papan permainan dan menebarkan kebencian ke seluruh dunia. Sementara itu, kelompok monster di sini bahkan tidak sadar bahwa mereka adalah pemain."

"Mereka memaksakan ideologi mereka pada dunia dan menjerumuskan dunia ini ke dalam kuali kekacauan. Entah mana yang sebenarnya lebih buruk."

Asta bergumam dengan nada yang terdengar sangat lelah dari lubuk hatinya.

"Kalau begitu, mari kita pikirkan rencana untuk menjalankan kehendak dari Dewa Tertinggi kita!"

Bahkan tanpa mempedulikan sindiran Asta, seruan Girimekhala itu menjadi pemicunya.

Para monster paling jahat dan terkuat di dunia ini pun mulai merencanakan konspirasi jahat mereka dengan penuh suka cita.

◇◆◇

Akibat penjinakan hewan yang aku lakukan di kantin Akademi St.Clan, banyak siswa yang mentalnya hancur dan membutuhkan perawatan di rumah.

Hasilnya, latihan gabungan di Akademi St.Clan pun ditunda selama satu minggu.

Kemudian, terungkap juga alasan mengapa Nona Seth mencoba makan siang di kantin pada saat itu.

Bahkan aku pun tidak pernah berpikir dia akan bisa makan siang sendirian di kantin besar yang tidak tertib itu.

Aku pikir Rose yang sangat perhatian pasti akan makan siang bersamanya.

Meskipun dibenci oleh beberapa orang, Rose adalah satu-satunya wanita di dunia yang memiliki Gift 'Orang Suci' dan bahkan merupakan seorang Tuan Putri yang memiliki hak waris takhta.

Aku terlalu meremehkan keadaan dengan berpikir bahwa tidak akan ada orang bodoh yang berani meludahi temannya secara terang-terangan.

Namun kenyataannya, Rose malah dipanggil oleh pihak Akademi St.Clan.

Sepertinya tim investigasi akademi bergerak setelah menerima laporan dari Kuko bahwa dia telah dihina oleh Rose terkait insiden bekal makanan sebelumnya.

Tentu saja, masalah itu sebenarnya sudah diselesaikan dengan petinggi akademi. Dilihat dari waktunya, instruksi dari Avery dan yang lainnya pasti sudah turun.

Membawa paksa Rose setelah semua itu terjadi, sangat masuk akal jika menganggap ini semua telah direncanakan.

Mulai dari sini hanyalah intuisiku, tapi kurasa anggota tim investigasi itu juga merupakan elf yang sudah teracuni oleh ideologi organisasi busuk bernama Libra. Libra sangat memusuhi Nona Seth dengan gigih.

Akan sangat wajar jika berpikir bahwa mereka bertindak karena terhasut oleh kata-kata manis Kuko, didasari oleh ideologi Libra yang ingin mempermalukan Nona Seth di depan umum.

Semenjak kejadian itu, Rose jatuh sakit karena terus dihantui rasa bersalah.

Padahal itu sama sekali bukan salah Rose.

Lagipula, meskipun Rose tidak ada, insiden ini bisa dihindari seandainya Nona Seth tidak makan siang sendirian di kandang babi itu.

Seperti dugaanku, awalnya Nona Seth sama sekali tidak berniat makan di kantin Akademi St.Clan.

Nona Seth akhirnya makan siang di sana karena diajak oleh teman sekelasnya dari kelas A1 Akademi Ouboro.

Teman-teman sekelasnya yang melihat langsung hukumanku kepada para bedebah itu di kantin, menangis sambil melaporkan seluruh kejadiannya kepada Elish.

Singkatnya, mereka diinstruksikan untuk mengajak Nona Seth makan siang dengan ancaman yang menyangkut nasib orang tua, saudara, dan kerabat mereka.

Mereka benar-benar kelompok yang otaknya hanya jalan untuk urusan licik dan pengecut.

Saat ini, aku baru saja menerima laporan lanjutan mengenai insiden tersebut di ruang kepala sekolah Akademi Ouboro.

"Saat ini Akademi St.Clan dan Akademi Ouboro sedang dalam keadaan tegang. Bukankah kehadiran kita di upacara pemindahan fasilitas akademi besok hanya akan berisiko memicu masalah baru?"

"Fakta bahwa Akademi St.Clan dan Akademi Ouboro menjadi sekolah saudara akan diumumkan secara resmi di depan para tokoh penting dari berbagai negara pada upacara besok. Kehadiran siswa Akademi Ouboro adalah hal yang wajib."

Aku bisa merasakan tekad yang sangat kuat dari Avery saat ini. Aku tidak tahu apa alasannya, tapi dia tidak akan mengubah keputusannya tidak peduli apa yang kukatakan.

Kemungkinan besar, pameran pedang yang kuciptakan, 'Pedang Penciptaan Langit dan Bumi' itu sendiri, hanyalah umpan untuk menarik para tokoh penting dari berbagai negara ke tempat ini. Avery berniat melakukan sesuatu dengan memanfaatkan pedang ciptaanku dan Akademi Ouboro.

"Baiklah, aku mengerti. Jika itu pilihan kalian, aku tidak berhak banyak bicara. Lakukan saja sesuka kalian."

Urusanku sudah selesai. Jika Akademi Ouboro juga hadir besok, sembilan dari sepuluh kemungkinan pasti akan terjadi masalah.

Terutama dengan organisasi bodoh entah dari mana yang berniat melakukan 'Penurunan Dewa' dan mengincar pedang itu.

"Ngomong-ngomong, dari mana kau mendapat informasi soal menggunakan pedang itu untuk melakukan 'Penurunan Dewa'?"

"Itu... informasi dari mata-mata yang kususupkan ke dalam Libra."

Dia berbohong. Entah itu hal baik atau buruk, Avery bukanlah orang yang pandai berbohong.

Kemungkinan besar dia disuruh tutup mulut oleh orang yang memberinya informasi tersebut. Yah, lagipula aku tidak terlalu peduli.

"Kalau begitu, aku permisi dulu."

"Tuan Kai—"

"Kau tidak perlu meminta maaf kepadaku."

"T-tapi—"

"Kau sudah meminta maaf kepada Nona Seth dan Ariel, kan?"

"I-iya. Tentu saja sudah!"

"Kalau begitu permintaan maaf untukku tidak diperlukan. Aku hanya menyingkirkan pengganggu saja."

"Selain itu aku sangat memahami posisimu yang sulit saat ini. Tidak ada alasan bagimu untuk meminta maaf kepadaku."

Meski mulutku berkata demikian, sejujurnya aku merasa akan segera terjadi bentrokan dengan Negara Lorelei.

Tentu saja aku ini bukan orang yang gila bertarung, dan tidak seperti Pahlawan Mashiro, aku tidak memiliki hobi buruk membunuh orang tak berdosa.

Karena itu, aku tidak akan bertarung jika Negara Lorelei tidak menyinggung tabuku.

Namun, setelah merasakan langsung cara kerja kelompok Libra, aku yakin bahwa hanya masalah waktu sebelum mereka benar-benar melewati batas.

Saat ini Libra telah menyusup jauh ke pusat politik dan ekonomi Negara Lorelei.

Jika organisasi Libra terus membesar seperti ini, maka aku dan Negara Lorelei akan masuk ke dalam kondisi perang dalam waktu dekat.

"...Saya... mengerti."

Avery gemetar dengan ekspresi wajah yang penuh kepahitan.

Dia memiliki intuisi yang tajam.

Dari percakapan singkat ini saja, dia pasti sudah cukup memahami maksud dari perkataanku.

"Sampai jumpa."

Aku mengangkat tangan kananku lalu keluar dari ruangan itu. Aku berjalan menuju halaman tengah setelah keluar dari ruangan.

Para guru Akademi Ouboro juga dikerahkan untuk persiapan upacara Akademi St.Clan besok.

Karena hari ini sekolah diliburkan, tidak ada siapa pun di jam segini, jadi tidak akan ada masalah jika aku memanggil bawahanku di sini.

"Shirayuki, bagaimana pergerakan mereka?"

Tiba-tiba, seorang wanita cantik mengenakan pakaian serba putih muncul di hadapanku.

"Serangga sampah dari Negara Lorelei yang bernama Kuko, sepertinya sedang merencanakan sesuatu untuk festival akademi besok."

"Hm? Hanya itu saja?"

Ini adalah Shirayuki yang sangat kompeten. Aku benar-benar mengira dia sudah mencari tahu secara detail sampai ke jam dan menit ke berapa, serta di mana mereka akan bergerak.

"I-iya..."

Melihat Shirayuki yang menunduk dan ragu-ragu dalam berbicara, aku yang tidak terlalu peka ini pun akhirnya menyadarinya. Sepertinya kebiasaan buruk mereka kumat lagi.

Pertama-tama, entitas yang bisa memerintahkan Shirayuki untuk menyembunyikan informasi dariku sangatlah terbatas. Tentu saja, aku bisa memaksanya untuk memberitahuku kalau aku mau.

"Jangan pasang wajah seperti itu. Aku selalu tertolong olehmu."

Aku mendekati Shirayuki dan mengelus kepalanya dengan lembut. Jika dibiarkan, posisi Shirayuki akan serba salah.

"Tuan Kai!"

Tiba-tiba, Shirayuki memelukku dan membenamkan wajahnya di dadaku. Saat aku terkejut dengan tindakan anehnya yang tiba-tiba itu, dia kembali berbicara.

"Ini adalah permintaan seumur hidupku! Tolong peluk aku dengan erat!"

Dia mendongak menatapku dengan wajah yang memerah seperti apel, sambil memohon hal yang tidak masuk akal seperti itu.

"A-ah, baiklah, tidak masalah."

Melihat wajah Shirayuki yang begitu serius, aku mengangguk kuat dan memeluknya.

Saat aku merasakan kehangatan khas seorang wanita, aku merasakan hawa seseorang menahan napas di belakangku.

Aku menoleh melewati bahuku, dan melihat Ariel sedang membelalakkan matanya menatap kami.

"Gasp!"

Ariel berlari pergi dari tempat itu seolah terpental. Saat aku kebingungan dengan situasi yang begitu tiba-tiba ini, aku mendengar suara panggilannya.

"Tuan Kai!"

"Hm?"

Saat aku menoleh kembali ke arah Shirayuki yang memanggilku, dia berjinjit dan menempelkan bibirnya padaku.

"Tuan Kai, aku sangat bahagia. Terima... kasih."

Sambil tersenyum dengan wajah semerah tomat, Shirayuki menggumamkan kalimat itu dengan cepat dan pelan, lalu pergi seakan melarikan diri dariku.

"Jadi, apa kejadian barusan itu adalah bagian dari rencana kalian?"

Aku bertanya dengan pandangan setengah tertutup kepada Nemesis yang sejak tadi berlutut dengan satu kaki di belakangku.

"Tidak, bagian terakhir itu murni improvisasi dan tindakan sepihak dari anak itu."

Nemesis yang menjawab seperti itu memang sedang tersenyum, tapi urat tebal terlihat menonjol di pelipisnya. Entah apa alasannya, tapi dia pasti sedang sangat marah.

"Sebenarnya apa yang sedang kalian coba lakukan dengan memanfaatkan Ariel?"

Keberadaan Ariel pada saat yang tepat itu tidak mungkin hanya kebetulan. Shirayuki pun ikut terlibat, sehingga sudah hampir bisa dipastikan bahwa seluruh Aliansi Dewi bergerak bersama.

"Semuanya akan menjadi jelas besok."

Nemesis hanya menyampaikan hal itu padaku. Ya, ya, pada akhirnya pasti akan jadi seperti ini.

Lagipula, sangat mudah ditebak bahwa penderitaan dengan tingkat kesulitan tertinggi sedang menanti Ariel.

Tidak apa-apa. Toh, apa yang harus kulakukan tetap tidak berubah.

Aku memiliki alasanku sendiri memanggil Ariel ke dunia ini. Aku tidak akan kehilangannya hanya karena perselisihan konyol semacam ini, apa pun yang terjadi!

◇◆◇

—Ruang OSIS Akademi St.Clan.

Sid Suspend menerima panggilan mendadak dari OSIS tepat pada hari sebelum upacara peringatan berdirinya Akademi St.Clan.

Sid dan Departemen Klub Sastra juga sangat sibuk hingga rasanya butuh bantuan sekecil apa pun, karena mereka harus mengelola festival besok.

Karena itu, saat mengetahui bahwa dia dipanggil karena rumor omong kosong yang beredar di akademi, Sid meradang.

"Kai Heineman, pemilik Gift 'Orang Paling Tidak Berguna di Dunia' yang merupakan orang terlemah sedunia. Kalian bilang hampir seratus siswa Akademi St.Clan dikalahkan oleh pecundang semacam itu?"

Dia bertanya dengan suara lantang.

Sid sebenarnya sedang mengamati pertunjukan menjijikkan Kuko dengan niat menghancurkannya untuk melihat wajah sombong pria itu memutar balik.

Namun, dia melihat seorang siswi berambut pirang dari Akademi Ouboro yang sangat cantik hingga membuatnya terpesona, berusaha melindungi anak terkutuk Nona Seth dan mencoba kabur.

Jika siswi itu hanya gadis lemah yang tidak berarti, Sid berniat untuk terus menonton saja.

Namun, teknik bertarung gadis itu tidak kalah hebatnya dengan siswa tingkat atas terbaik di Akademi St.Clan.

Karena itulah, Sid berpikir untuk memanfaatkan gadis itu demi mematahkan kesombongan Kuko yang berlebihan.

Caranya adalah dengan menahan siswi pirang itu agar tidak kabur, lalu mengajaknya untuk membentuk Party sementara dengan kelompok Sid.

Party—di Babel, para siswa diizinkan membentuk tim untuk menghadapi dungeon atau area yang telah dibebaskan. Ini disebut Party, dan aturan ini juga berlaku sampai batas tertentu dalam perselisihan antar siswa.

Pada prinsipnya, anggota Party ini hanya boleh terdiri dari siswa di akademi yang sama, namun sebagai pengecualian, siswa dari sekolah saudara juga diperbolehkan.

Kali ini, Akademi St.Clan dan Akademi Ouboro telah menjadi sekolah saudara, jadi mereka bisa membentuk Party.

Dengan cara ini, mereka bisa melawan kelompok Kuko secara legal karena pihak lawan telah melakukan pelanggaran.

Selama Sid dan kelompoknya memiliki alasan yang sah, meskipun mereka melukai lawannya, mereka tidak akan dipermasalahkan sama sekali.

Tepat saat Sid hendak menawarkan rencana itu, Ketua OSIS yang merupakan seorang High Elf, Sylphid Evans, ikut campur.

Sylphid memang menyebalkan, tapi dia bukan orang jahat, sehingga tidak akan membiarkan lelucon konyol seperti ini berlalu begitu saja.

Oleh karena itu, Sid menghentikan permainannya di tengah jalan, membiarkan semuanya begitu saja, dan pulang.

Setelah itu, dia mendengar bahwa Kuko menyingkirkan OSIS dan memaksakan kelakuannya, tapi berhasil diatasi dengan aman oleh pihak Akademi Ouboro.

Wali Kelas A1 Akademi Ouboro adalah si jenius, Elish Excel.

Siswa tingkat akhir yang berafiliasi dengan Menara jauh lebih kuat daripada guru sembarangan.

Berapa puluh pun siswa yang berkumpul, mereka tidak akan bisa menang. Sid memang sudah menduga hal itu.

"Kau tidak percaya dengan apa yang aku katakan?"

"Tentu saja tidak. Dinding bakat itu sangatlah kejam. Bagaimanapun caranya, mustahil si Bocah Tidak Berguna itu bisa mengalahkan siswa akademi kita."

"Sejujurnya, aku pun setengah tidak percaya. Tapi faktanya, semua siswa yang terlibat serempak bersikeras bahwa mereka dikalahkan oleh satu orang saja, yaitu Kai Heineman."

"Apa mereka bilang dia benar-benar kuat?"

"Kekuatannya seperti iblis, kata mereka. Selain itu—"

Sylphid mengalihkan pandangannya pada bawahan elf yang berdiri menanti di sampingnya.

"Dari hasil investigasi, Kai Heineman adalah Royal Guard dari Tuan Putri Rosemarie dari Kerajaan Amelia. Dia juga telah mengalahkan Zack Power di Turnamen Bela Diri Suci yang diadakan di kota bela diri Luzahal."

"Selain itu, dia dikatakan sebagai Hunter terkuat kebanggaan Serikat Hunter."

Elf itu melapor dengan datar.

"Tapi, rumor yang beredar kuat mengatakan bahwa dia bisa menang di Turnamen Bela Diri Suci itu karena dia memiliki alat sihir khusus."

Saat komentar itu terlontar dari salah satu anggota OSIS, anggota lainnya menimpali.

"Aku juga dengar soal itu. Katanya dia menang dengan menggunakan cara licik untuk membuat lawan menyerah, kan?"

"Turnamen Bela Diri Suci di Luzahal juga punya dugaan pengaturan skor, dan wasitnya sendiri pun mengakuinya, kan?"

"Yang benar saja... Itu hanyalah tipikal rumor yang dilebih-lebihkan."

Cacian dan hinaan terhadap Kai Heineman terus mengalir silih berganti dari seluruh penjuru ruangan. Di tengah situasi itu—

"Kukukuha! Hunter terkuat!? Royal Guard!? Dia itu bukan makhluk semacam itu!"

Gangan, seorang siswa bertubuh besar dengan luka di dahinya, tiba-tiba tertawa lalu menjerit histeris.

"Gangan, kau sempat bertarung dengannya, kan? Dia benar-benar lemah, ya?"

Gangan sebenarnya sedang diskors, tapi dia dipanggil ke tempat ini untuk memberikan penjelasan mengenai insiden tersebut.

"Dia itu manusia? Bukan, bukan, BUKAN—!! Dia itu monster yang hanya memakai kulit manusia!"

"Kalian juga akan paham kalau coba bertarung dengannya! Aku masih bisa hidup sekarang ini hanya karena suasana hatinya sedang baik saja!"

"Kalau sampai terjadi hal serupa lagi, aku pasti akan mati! Tidak, kalau aku bisa mati dengan tenang pun, itu sudah sangat beruntung!"

Dia berteriak-teriak dengan mata yang memerah. Semua orang menatap bingung pada Gangan yang biasanya sering melontarkan kata-kata sombong, tapi kini tiba-tiba membuat pengakuan mengerikan.

"Inilah penilaian dari orang yang benar-benar bertarung dengannya. Semua orang memberikan kesimpulan yang sama sepertinya."

Sylphid menegaskan hal itu dengan penuh keyakinan. Gangan yang bertarung secara langsung bahkan sampai berbicara sejauh ini.

Entah itu dengan menggunakan alat sihir atau keajaiban semacamnya, fakta bahwa Kai Heineman kuat sudah bisa dipastikan.

"Anggap saja Kai Heineman itu memang kuat. Lalu, kenapa?"

"Bagi kami, tidak peduli dia kuat atau lemah, itu bukan urusan kami. Biar kuperjelas, dalam masalah kali ini aku tidak berada di pihak kalian, melainkan lebih condong pada Kai Heineman."

Dari yang kudengar, pihak yang kalah kali ini adalah mereka yang menyetujui lelucon konyol nan menjijikkan itu.

Sekalipun mereka dihajar habis-habisan, tidak ada sedikit pun rasa simpati yang muncul di hatiku.

Sebaliknya, kalau ada Kai Heineman di depanku, aku mungkin akan memberinya tepuk tangan dan memujinya karena kerja bagus.

"Kau keterlaluan. Padahal OSIS juga berpikiran sama denganmu, tahu."

"Hah! Berani-beraninya orang yang mengabaikan Nona Seth mengatakan hal itu?"

Setelah kejadian itu, kabarnya OSIS meninggalkan Nona Seth dan yang lainnya begitu saja di kantin, lalu membubarkan diri.

Gara-gara hal itu, meskipun hanya akibat tak langsung, Sid pada akhirnya malah seperti membantu kelompok Kuko.

Jarang ada penghinaan sebesar ini. Semua ini terjadi karena OSIS yang terlalu lamban dan tidak kompeten.

"Telingaku panas mendengarnya. Tapi mau bagaimana lagi, karena alasan Kuko sekilas memang masuk akal."

"Jika kami pihak OSIS secara aktif dan terang-terangan melanggar peraturan, maka ketertiban akademi akan hancur dari akarnya. Karena itulah, aku berlari menuju Direktur untuk segera menghentikan amukan Kuko."

"Yah, walaupun pada akhirnya tindakan itu malah menjadi penyelamat bagi Kuko."

Sylphid menggigit bibir bawahnya dengan ekspresi kesal.

"Aku tidak peduli dengan pengakuan dosa yang terdengar seperti alasan itu. Sudahlah, cepat masuk ke intinya."

"Sepertinya beberapa siswa yang dihasut oleh Kuko berencana memberikan hukuman kepada Kai Heineman pada upacara besok."

Sylphid melontarkan kabar yang benar-benar mengejutkan.

"Bajingan sampah itu! Mau sampai sejauh mana dia mempermalukan kita?!"

Terbawa amarah, Sid menendang kursi di dekatnya.

Libra yang menjadi basis ideologi mereka, telah menyebarkan paham mementingkan garis keturunan yang konyol di akademi dan bersikap seolah mereka yang berkuasa.

Keluhan dari sebagian siswa bahkan sudah sampai ke Departemen Klub Sastra.

"Aku sama sekali tidak masalah jika mereka kalah secara diam-diam, bahkan aku justru berharap mereka kalah. Tapi kita harus menghindari situasi di mana mereka kalah di depan umum oleh siswa sekolah lain untuk yang kedua kalinya."

"Sid, kau juga tahu alasannya, kan?"

Sylphid menembak tepat di titik yang menyakitkan dengan ekspresi masam. Kekalahan dari sekolah lain akan merusak martabat akademi.

Apalagi lawan mereka adalah siswa Akademi Ouboro yang menduduki peringkat terendah.

Jika fakta itu sampai terdengar oleh komite manajemen Babel, sudah jelas mereka pasti akan dengan senang hati memotong anggaran Akademi St.Clan.

Jika anggaran akademi berkurang, maka anggaran untuk Departemen Klub Sastra pun pasti akan dipotong.

Eksplorasi dan latihan ilmu sihir memakan biaya yang tidak sedikit.

Anggaran mereka tidak boleh sampai dikurangi. Bagaimanapun caranya, kesalahan lebih lanjut harus dihindari.

"Aku mengerti. Lalu apa yang harus kami lakukan?"

"Kalian bekerjasamalah dengan Komite Disiplin dan berusahalah untuk menjaga ketertiban pada upacara besok! Lalu, Sid, aku punya permintaan terpisah untukmu."

"Dimengerti. Aku akan membantu sebisa yang aku mampu."

—Dengan demikian, Sid dan kelompoknya menerima permintaan tersebut.

Saat ini, sedikit pun Sid tidak pernah menyangka bahwa dirinya akan ikut campur dalam krisis terbesar yang belum pernah terjadi sebelumnya di dalam Babel.

◇◆◇

Hari ini adalah upacara peringatan berdirinya gedung sekolah baru di Akademi St.Clan sebelah. Aku harus bangun lebih awal dari biasanya.

Saat waktu bangun tiba, dengan lambat aku berganti mengenakan seragam Akademi Ouboro. Pada akhirnya, aku sama sekali tidak bisa memejamkan mata gara-gara memikirkan adegan yang kulihat kemarin.

Kemarin, Akademi Ouboro menyatakan ingin mendengar keterangan lebih lanjut mengenai insiden di kantin, sehingga Ares pergi ke sekolah pada waktu yang ditentukan.

Dalam perjalanan pulang setelah menceritakan kejadian tersebut pada pihak sekolah, dia tak sengaja menyaksikan pemandangan mengejutkan itu di halaman tengah.

Itu adalah pemandangan di mana Kai sedang berpelukan dengan seorang wanita cantik berpakaian serba putih.

Hanya dengan melihat pipi kemerahan dan ekspresi bahagia wanita itu, sekilas saja sudah cukup untuk mengerti bahwa dia menyimpan perasaan pada Kai.

"Jangan diingat-ingat lagi!"

Aku menggelengkan kepala ke kiri dan ke kanan, berusaha keras untuk menghapus pemandangan itu dari ingatanku.

Namun, pemandangan itu sudah membekas kuat di kedalaman mataku, bagaikan kerak gosong yang menempel erat di dasar panci logam.

"Bukan urusanku Kai mau berpelukan dengan siapa pun!"

Meski aku mengatakannya sendiri, rasa frustrasi dan kepedihan justru membuat air mataku menetes.

Lagipula, sejak awal, melontarkan ucapan seperti ini justru menjadi bukti bahwa aku memedulikannya.

Terdengar ketukan di pintu, dan aku dengan panik menyeka air mata di kedua mataku dengan lengan baju.

"Silakan masuk."

Mendengar suara panggilan Ares, Silkhat masuk ke dalam ruangan dan membungkuk memberi salam. Lalu, saat dia melihat wajah Ares yang sembab, matanya terbelalak.

"Tuan Ares, apa yang terjadi?!"

Dia bertanya khawatir dengan raut wajah pucat pasi.

"T-tidak apa-apa! Aku hanya teringat masa lalu sedikit!"

Aku sangat panik mencoba menutupinya, tapi gagal total dengan mudahnya.

"...Hari ini biar saya saja yang membuatkan makanannya."

Mungkin Silkhat menyadari sesuatu, dia pun berjalan menuju dapur sambil tersenyum seperti biasanya.

Sejak tiba di dunia ini aku juga selalu membantu membuat sarapan, tapi hari ini perasaanku benar-benar sedang tidak enak.

Meski merasa bersalah, kuserahkan urusan sarapan pada Silkhat sementara aku menunduk lemas di atas meja. Masakan selesai dan kami berdua menyantap sarapan.

Sarapan buatan Silkhat biasanya selalu sangat lezat sampai-sampai rasanya membuat pipi meleleh.

Namun entah mengapa pagi ini tidak terasa rasa apa pun di lidahku.

Hari ini rencananya kami akan pergi ke gedung Akademi Ouboro terlebih dahulu, lalu bersama Guru Elish berpartisipasi dalam upacara di Akademi St.Clan sebelah. Karena itu, tujuan kami saat ini adalah Akademi Ouboro.

Selama sarapan maupun saat berangkat ke Akademi Ouboro, aku sangat berterima kasih pada kepedulian Silkhat yang tidak menanyakan masalahku secara detail, sambil terus melangkah dengan kaki yang terasa seberat batu. Aku tahu betul apa alasannya.

Itu karena kalau aku pergi ke akademi, aku pasti akan bertemu dengan Kai dan teringat kembali pada adegan kemarin.

Hanya dengan sekelebat bayangan Kai yang melintas di benakku saja, aku merasa seolah banyak duri tak kasat mata menusuk-nusuk dadaku.

Rasanya begitu menyakitkan. Seharusnya begitu, tapi entah mengapa, aku juga sangat ingin bertemu dengannya.

Akhirnya kami tiba di depan gerbang akademi.

"Ariel, selamat pagi."

Karena dipanggil dari belakang, aku refleks menoleh. Di sana, orang yang paling membuatku menderita jika bertemu saat ini, sedang berdiri sambil tersenyum.

"Selamat... pagi."

Aku membalas sapaan dengan suara pelan yang nyaris menghilang, lalu berlari cepat menuju pintu masuk gedung sekolah.

Setelah itu, Kai mencoba mengajakku bicara beberapa kali, namun rasanya terlalu menyakitkan untuk bertatap muka dengannya sehingga aku terus menghindarinya.

Elish yang salah paham mengira suasana hati Ares memburuk karena masih memikirkan insiden di kantin tempo hari, berkali-kali menanyakan kabarku dengan penuh simpati.

Terkait insiden itu, siswa kelas A1 yang terancam oleh siswa Akademi St.Clan hingga terpaksa mengajak Nona Seth makan di kantin, telah menerima hukuman skors dua minggu dari pihak akademi dan tidak hadir di upacara hari ini.

Menurut penjelasan akademi, pada awalnya pihak akademi hanya berniat memberikan teguran keras.

Ini mengingat mereka mengajak Nona Seth makan siang semata-mata karena diancam, serta karena mereka juga menyerahkan diri dan menunjukkan penyesalan atas kesalahannya.

Namun kabarnya, siswa-siswa yang menerima hukuman itu menangis memohon agar diberi hukuman yang berat, sehingga akhirnya mereka dijatuhi hukuman skors selama dua minggu.

Di pihak Akademi Ouboro bahkan sampai ada siswa yang secara mental menjadi tidak stabil akibat dihantui rasa bersalah karena menjual teman sekelasnya.

Sementara itu, siswa Akademi St.Clan yang sebenarnya menghasut tindakan bodoh tersebut justru hanya menerima hukuman yang sama, yaitu skors dua minggu.

Begitulah, insiden kali ini berujung pada hasil yang terlalu kejam bagi pihak Akademi Ouboro.

Elish dan sebagian guru Akademi Ouboro melakukan protes keras terhadap fakta ini.

Sayangnya, Akademi Ouboro dan Akademi St.Clan sudah bersepakat menyelesaikan masalah ini dengan hukuman tersebut, sehingga keputusannya tidak dapat dibatalkan.

Meskipun merupakan sekolah saudara, kini kedua belah pihak yaitu Akademi Ouboro dan Akademi St.Clan sedang berada dalam kondisi tegang yang hebat.

Karena itu, sebelum berangkat menuju Akademi St.Clan, Elish meminta seluruh murid di kelas Ares untuk bersumpah atas dua hal.

Pertama, mereka tidak boleh sendirian di Akademi St.Clan dalam kondisi apa pun.

Kedua, jika ada siswa, guru, maupun staf dari Akademi St.Clan yang memberikan tekanan sekecil apa pun, mereka harus segera melapor kepada Elish.

Melihat sorot matanya yang tajam dan tidak goyah itu, kurasa Elish benar-benar sudah tidak bisa menahan amarahnya lagi.

Dengan dipimpin oleh Elish, kami berangkat menuju Akademi St.Clan yang berada tepat di sebelah.

Mungkin ini karena insiden sebelumnya. Melihat sikap Elish yang seolah-olah sedang memasuki wilayah musuh, sebagian besar guru Akademi St.Clan terlihat tidak senang, walau di antara mereka ada juga seorang guru elf yang datang untuk meminta maaf mewakili pihak akademi.

Upacara dimulai dengan sambutan pembukaan dari Avery yang juga menjabat sebagai Direktur Akademi St.Clan, serta Inea, kepala sekolah baru dari sekolah saudari Akademi Ouboro. Upacara pun terselenggara dengan lancar.

Pada upacara tersebut, para petinggi dari Babel dan tokoh penting dari berbagai negara bergiliran memberikan ucapan selamat di atas mimbar sepanjang pagi hari.

Setelah semua sambutan selesai, berbagai acara yang diselenggarakan oleh Akademi St.Clan mulai dibuka di ruang kelas dan aula besar.

Satu-satunya jadwal tampil bagi Ares dan kelas A1 Akademi Ouboro adalah pada pukul dua siang, yaitu dalam pertarungan latihan bela diri yang dilaksanakan di Arena Pertarungan Utama Akademi St.Clan.

Acara tersebut merupakan pertarungan simulasi kelompok, di mana pihak penyelenggara upacara kali ini akan memilih beberapa orang dari Akademi Ouboro dan Akademi St.Clan untuk bertarung di bawah persyaratan tertentu.

Ada banyak suara penolakan mengenai diadakannya pertarungan tiruan secara kelompok dalam situasi seperti ini.

Namun, karena jadwal acara sudah terlanjur diumumkan ke publik, membatalkannya sekarang sama saja dengan mengumumkan kepada dunia bahwa ada masalah yang sedang terjadi. Sepertinya, tidak ada pilihan lain selain tetap melaksanakannya.

Baru saja, Elish memberitahukan bahwa kami memiliki waktu bebas hingga jadwal pertarungan tiruan seni bela diri pada sore harinya.

"Sepertinya Shou tidak ada, apa terjadi sesuatu?"

Menjawab pertanyaan Kai yang diucapkannya sambil menguap lebar,

"Aku baru saja menerima kabar bahwa Shou tidak bisa hadir hari ini karena ada kerabatnya yang meninggal kemarin."

Elish menjawabnya dengan tegang. Sikapnya ini benar-benar terlalu berlebihan, apa pun alasannya.

Aku rasa Elish berpikir bahwa masalah akan kembali terjadi di upacara peresmian ini.

"Sekarang waktunya bebas, tapi pada dasarnya kalian harus membentuk kelompok yang terdiri dari tiga orang atau lebih. Ah ya, khusus untuk Seth, kau wajib berada di kelompok yang sama dengan Kai."

Niat Elish agar Kai melindungi seluruh murid benar-benar terlihat jelas.

Namun, atas nama Kepala Sekolah Saint Clan, pihak manajemen Akademi St.Clan telah mengeluarkan perintah tegas bahwa selama waktu bebas, siswa harus membentuk kelompok maksimal empat orang demi mencegah kepadatan.

Tidak mungkin Elish membatalkan aturan yang berlaku untuk seluruh siswa Akademi St.Clan hanya untuk Akademi Ouboro. Aku yakin, sebagai langkah putus asa, Elish memutuskan untuk memasukkan Seth yang sedang diincar ke dalam kelompok yang sama denganku.

"Dimengerti. Seth, mohon kerja samanya, ya."

"Ya, mohon kerja samanya."

Seth membalas uluran tangan kanan Kai yang tersenyum ke arahnya dengan ragu-ragu.

"Ariel, Sicke, untuk berjaga-jaga, kalian berdua juga bergabunglah di kelompok yang sama dengan Kai—"

"Aku bisa melindungi diriku sendiri. Menurutku, sebaiknya Kai berkelompok dengan orang lain saja."

Mendengar jawaban Ares, Elish menyilangkan kedua tangannya dan berpikir sejenak.

"Benar juga. Alasanmu sampai dua kali terlibat dalam keributan itu karena mencoba menolong Seth, ditambah lagi kau adalah manusia biasa, jadi mereka tidak akan gigih mengincarmu di akademi ini. Mengingat kemampuanmu, kurasa itu masuk akal."

Dia memberikan jawaban yang seharusnya diinginkan oleh Ares.

(Apa... aku merasa sedih?)

Padahal aku sendiri yang meminta untuk dipisahkan dari Kai, tapi begitu diputuskan bahwa aku akan berada di kelompok lain, aku langsung dilanda rasa kesepian hingga dadaku terasa sesak.

(Tuan Ares, apakah tidak apa-apa?)

Silket berbisik di telinga Ares.

(Ya, tidak masalah sama sekali.)

Seolah meyakinkan dirinya sendiri, Ares mengangguk tegas.

Pada akhirnya, kelompok Ares terdiri dari empat orang, yaitu Ares, Ramune dan Kiki, serta seorang siswi dari ras Dwarf bernama Uno.

Alasan Silket tidak ada di kelompok ini adalah karena dia dinilai memiliki kemampuan yang setara dengan Ares, sehingga dia ditempatkan sebagai pemimpin kelompok lain untuk berjaga-jaga seandainya dia harus melindungi siswa lainnya.

Saat ini, mereka sedang berkeliling melihat-lihat pertunjukan dari setiap kelas di masing-masing ruang kelas bersama anggota kelompoknya.

Padahal hanya dengan mengingat Kai saja sudah terasa sangat menyakitkan, tapi sampai sekarang aku masih terus memikirkannya.

Aku ingin melupakannya, tapi begitu aku lengah, pemandangan kemarin kembali terlintas di ingatanku.

(Ada apa denganku ini?)

Ini pertama kalinya aku merasakan perasaan seperti ini, dan sejujurnya, meski ini adalah diriku sendiri, aku sama sekali tidak mengerti.

Aku sempat mencoba menanyakan perasaan ini secara tidak langsung pada Silket.

Namun, dia malah mencubit pangkal hidungnya sambil berlinang air mata dan berkata, "Begitu, ya. Tuan Ares juga sudah tumbuh besar, ya," lalu mulai menceritakan tentang masa kecilku.

Pada akhirnya, aku sama sekali tidak mendapatkan jawaban yang ingin kuketahui.

"—!"

Mungkin karena aku sedang melamun, aku tak sengaja menabrak bahu seorang Elf laki-laki yang mengenakan pakaian tradisional Lorelei saat berpapasan. Kemungkinan besar dia adalah tamu undangan di acara ini.

"Maafkan saya."

Pria itu melepas topinya dan membungkuk.

"Tidak, saya juga sedang melamun dan tidak melihat ke depan. Saya benar-benar minta maaf."

Aku menundukkan kepala dalam-dalam.

Pria itu kembali mengangguk kecil, lalu berjalan melewati Ares dan yang lainnya.

"Apa pria barusan itu kenalanmu?"

Ramune bertanya sambil memandangi Elf laki-laki tadi.

"Bukan, ini pertama kalinya kami bertemu. Memangnya ada apa?"

"Begitu, ya... Jadi begitu rupanya..."

Seolah baru saja menyadari sesuatu, Ramune mengangguk setuju dan kemudian terdiam.

Setelah itu, saat sedang melihat pertunjukan di ruang kelas berikutnya bersama Ramune dan yang lainnya,

(Salam kenal. Saya Dagon, senang bertemu dengan Anda, ya.)

"—!? A—"

Mendengar suara parau yang bergema di kepalaku, aku hampir saja berteriak. Namun—

(Ups, tutup mulutmu! Jika kau berani mengatakan sesuatu sekecil apa pun, Mai Miyato akan mati, ya.)

Mendengar nama Mai Miyato disebut, sosok gadis kecil berambut hitam nan imut yang kutemui beberapa hari lalu kembali terlintas di ingatanku.

(Sebagai bonus khusus, aku akan membiarkanmu mendengar suaranya, ya.)

Sesaat, suara di kepalaku terhenti—

(Gelap! Aku takut! Di mana ini!? Ayah! Ibu! Kai! Ariel! Tolong aku!)

Terdengar suara teriakan pilu Mai yang menangis tersedu-sedu. Begitu mendengarnya, rasa gelisah yang tak tertahankan dan amarah yang membara melonjak dari lubuk tubuhku.

(Anda mengerti posisi Anda saat ini, ya? Kalau sudah paham, hentakkan kakimu ke lantai dua kali, ya.)

Sesuai instruksi, aku menghentakkan telapak kakiku ke lantai sebanyak dua kali.

(Bagus. Buatlah alasan yang masuk akal pada teman-temanmu lalu menjauhlah dari mereka, kemudian datanglah ke tempat yang akan saya tunjukkan berikutnya, ya! Tentu saja, jika Anda memberitahu hal ini kepada siapa pun, saya akan langsung membunuh anak ini, ya.)

Setelah mengatakan hal itu, sebuah peta muncul memenuhi seluruh pandangan Ares.

Ada tanda seperti pin yang menancap di ujung tenggara Distrik Keenam.

Maksudnya pasti menyuruhku datang ke tempat itu.

"Ada barangku yang tertinggal, jadi aku akan pergi mengambilnya sebentar. Kalian bertiga silakan lihat-lihat dulu. Nanti aku akan menyusul."

Tanpa menunggu jawaban mereka, Ares langsung berlari pergi.

◇◆◇

Saat ini, kami berempat—aku, Seth Accard, Lumine, dan Kusuki—sedang berjalan-jalan melihat-lihat pameran.

Mengingat situasi akhir-akhir ini, ada kemungkinan orang-orang dari Akademi St.Clan akan kembali mengganggu murid-murid Kelas A1. Oleh karena itu, Rose diputuskan untuk membentuk kelompok dengan murid lain.

Meskipun begitu, Rose tetaplah Putri Kerajaan Amelia. Tentu saja mereka tidak akan berani melakukan pelecehan terang-terangan kepadanya.

Sebelumnya pun, alasan mereka menjauhkan Seth dari Rose adalah karena Rose dianggap mengganggu.

Ini adalah keputusan yang sangat masuk akal.

"Apa Layla tidak datang ke acara hari ini?"

Pada dasarnya, acara hari ini bebas dihadiri oleh seluruh murid dari tiga sekolah akademi besar. Namun karena sifatnya hanya opsional, murid yang hadir bisa dihitung dengan jari.

Meski begitu, jika itu adalah Layla yang bisa dibilang terlalu protektif, aku yakin dia pasti akan datang hari ini.

"Iya, Kak Layla bilang jadwalnya bertabrakan dengan pelatihan praktik di Babel. Dia terlihat sangat kecewa, lho."

Benar juga, sepertinya murid berprestasi dari tiga sekolah akademi besar secara rutin mengikuti pelajaran di Babel, jadi itu tidak bisa dihindari.

Menerobos kerumunan orang, seorang wanita berjubah biru tua datang menghampiriku dan melepaskan tudung yang dikenakannya dalam-dalam. Yang muncul adalah seorang wanita Elf berambut pirang yang cantik jelita bagaikan dewi.

"Tuan Kai, bolehkah saya meminjam Lumine sebentar?"

Inea meletakkan tangan di dadanya dan mengajukan permohonan padaku.

"Ada apa memangnya?"

"Begini, sepertinya tingkat kecocokan dengan roh akan melonjak drastis jika ada gadis ini, jadi saya ingin meminta bantuan darinya."

Kalau dipikir-pikir lagi, Inea pernah bilang bahwa persentase keberhasilan dalam membuat kontrak dengan roh atau siluman akan meningkat drastis hanya dengan berada di ruangan yang sama dengan Lumine.

Ini adalah hasil penelitian Inea yang baru saja ditemukannya. Kemungkinan besar ini adalah efek samping dari Gift 'Fallen God Life' yang dimiliki Lumine.

Sepertinya Inea sedang berguru pada Asta akhir-akhir ini dan menenggelamkan dirinya dalam penelitian bersama Deimos.

"Lumine, apa kau tidak keberatan?"

"Iya! Tidak masalah, kok! Aku juga senang bisa bermain dengan anak-anak imut itu!"

Lumine merespons dengan senyum lebar sambil mengacungkan jempol.

"Apa Asta juga ada di sana?"

"Ya, Guru dan Kakak Seperguruan Deimos juga ada di sana."

Kalau begitu, seharusnya tidak ada masalah. Lagipula, Lumine juga punya Susanoo, ini malah bisa dibilang kelebihan tenaga.

"Baiklah, pergilah."

"Kak Kai juga cepat datang, ya!"

Lumine berputar-putar dengan penuh semangat, lalu menghilang ke dalam kerumunan bersama Inea.

"Hei Kai, apa hubunganmu dengan Nona Inea?"

Sambil memegang lengan baju kiriku, Seth Accard bertanya dengan ragu-ragu.

"Menurutmu apa hubungan kami?"

Saat aku bertanya balik,

"Uhm..."

Entah kenapa, wajahnya memerah dan dia bergumam pelan tentang sesuatu.

"Hm? Maaf, aku sama sekali tidak dengar. Bisa tolong ulangi lagi?"

"Tidak, bukan apa-apa."

Seth memalingkan wajahnya.

"Kalau begitu, ayo kita lanjut melihat-lihat."

Aku mendorong mereka berdua dan mulai berjalan menuju kelas di sebelah.

"Sudah waktunya. Ayo kita ke arena pertarungan."

Pertarungan tiruan seni bela diri akan dimulai dalam 15 menit, jadi sudah saatnya kami menuju ke lokasi acara.

Sepertinya karena keributan di kantin besar sebelumnya, aku telah dikeluarkan dari daftar peserta pertarungan tiruan, jadi aku hanya akan menjadi penonton.

Meski begitu, bukan berarti aku tidak punya peran.

Setelah mengetahui bahwa aku tidak akan berpartisipasi dalam pertarungan tiruan, pihak Lorelei memutuskan untuk memamerkan 'Pedang Penciptaan Langit dan Bumi' sebelum pertarungan dimulai dan menyerahkan tugas untuk melindunginya padaku.

Hanya sedikit orang yang mengetahui detail tentang pedang itu. Jika pedang rongsokan itu dicampur dengan banyak pedang lain, hampir tidak mungkin pedang itu bisa dikenali karena efeknya akan tersembunyi bagaikan menyembunyikan sebatang pohon di dalam hutan.

Setelah dipamerkan, jika pedang rongsokan itu disimpan di gudang penyimpanan milik negara Lorelei yang ada di Babel, kemungkinan pedang itu ditemukan hampir tidak ada.

Setelah itu, mereka akan menunggu saat yang tepat untuk memindahkannya ke gudang penyimpanan resmi di negara asalnya.

Agak sulit dipercaya bahwa negara Lorelei akan melakukan hal yang begitu rumit hanya demi pedang rongsokan seperti itu, tapi begitulah keinginan mereka.

Sebagai pembuat pedang rongsokan itu, aku harus menemaninya sampai akhir.

Dari sudut pandang pengamanan, awalnya aku berencana untuk masuk 30 menit sebelum acara dimulai, namun staf penyelenggara acara mengatakan bahwa aku cukup datang tepat waktu saja.

Komite penyelenggara menegaskannya dengan cukup kuat.

Sepertinya, mereka sangat tidak ingin seorang pembuat onar sepertiku menghadiri acara bertaraf internasional seperti ini, sebisa mungkin.

Aku tidak sebodoh itu untuk bersikeras memberikan perlindungan saat pihak akademi dan negara Lorelei sendiri tidak menginginkannya.

Karena itulah, aku memutuskan untuk datang tepat saat pertarungan tiruan seni bela diri dimulai.

"Dimengerti."

"Baiklah, ayo kita pergi."

Setelah memastikan Seth dan Kusuki mengangguk, aku mulai berjalan menuju arena pertarungan.

Tepat saat aku melangkahkan kaki, aku dilanda sensasi air kental berbau amis yang perlahan-lahan menyapu.

Sensasi unik yang terasa seperti berada di dalam lumpur ini adalah—

"K-Kai! Apa ini!?"

Kusuki berteriak dengan suara melengking.

"Ini pelindung gaib!?"

Seth merendahkan titik berat tubuhnya dan mengamati sekeliling dengan waspada, sambil berkeringat dingin.

"Kemungkinan besar ini adalah Area Terkutuk. Ya, bisa dibilang ini semacam pelindung gaib."

Sensasi unik ini sangat mirip dengan Area Terkutuk milik Girimekhala. Meski begitu, Area Terkutuk Girimekhala memiliki efek tambahan seperti kabut hitam, jadi sekilas mungkin terlihat jelas.

Namun, jika dia benar-benar berniat menyembunyikannya, aku hanya akan merasakan sedikit ketidakwajaran. Yang ini benar-benar jauh berbeda ibarat langit dan bumi.

Jika ini disebut Area Terkutuk, maka itu akan menjadi penghinaan bagi Area Terkutuk yang sebenarnya. Melainkan—

"Area Terkutuk... Kalau begitu, ini seperti saat kita berhadapan dengan Raja Kutukan waktu itu—"

Kusuki bertanya padaku dengan wajah pucat pasi. Padahal aku sudah menyuruh Satori untuk menghapus ingatannya, tapi entah kenapa ingatannya kembali.

Menurut pengakuannya, seiring berjalannya waktu dia perlahan-lahan mulai mengingat kejadian di rumah itu, dan akhirnya belum lama ini dia mengingatnya dengan sangat jelas.

Aku yakin ini karena efek dari Gift khususnya.

"Ya, benar sekali. Kurang lebih seperti itu."

Orang-orang di sekitar sama sekali tidak menyadari keberadaan Area Terkutuk yang begitu jelas ini.

Sudah cukup jika aku menyimpulkan bahwa ini hanyalah Area Terkutuk murahan yang hanya mempan pada pemula, yang diciptakan oleh dalang amatir yang hanya bisa mengaktifkan Area Terkutuk semacam itu.

Sebaliknya, aku ingin memberikan pujian pada Seth dan Kusuki yang dengan jelas menyadari keberadaan Area Terkutuk ini.

Setidaknya, mereka jauh lebih baik daripada para idiot yang sampai sekarang pun tidak menyadarinya sama sekali.

"Apa Anda tidak takut, Kai?"

"Takut? Takut pada apa?"

Anak ini menanyakan hal yang aneh. Dari situasi ini, di bagian mana ada sesuatu yang menakutkan?

Lumine juga bersama Asta, Inea, dan Deimos. Jika mereka diserang oleh lawan setingkat ini, mereka pasti bisa memukul mundurnya dengan mudah.

"Soalnya, ini adalah bahaya yang setingkat dengan Raja Kutukan itu, lho!"

"Benar juga. Karena itulah, kubilang tidak ada masalah."

Yah, sebenarnya jika melawan kroco sekelas Raja Kutukan, aku hanya akan menganggap mereka sebagai serangga terbang yang sangat lemah. Ini sama seperti manusia yang tidak bisa mengukur kekuatan tempur serangga yang sedang terbang.

"..."

Mendengar jawabanku, Kusuki membiarkan mulutnya setengah terbuka karena terkejut.

"Untuk saat ini begitulah. Sepertinya orang-orang di sekitar tidak menyadarinya, jadi mari kita pergi ke arena pertarungan sambil membasmi para idiot itu."

Aku mendorong mereka berdua untuk melangkah.

"Para idiot?"

"Ya, sebentar lagi kamu akan tahu."

Tepat setelah perkataanku, terdengar suara ledakan keras.

"Tuh kan, benar?"

Sudah kuduga mereka akan menggunakan kekerasan. Sepertinya firasat buruk Avery dan yang lainnya menjadi kenyataan.

Melihat waktunya yang sangat pas, ini pasti perbuatan orang-orang bodoh yang terobsesi dengan delusi tentang menurunkan dewa atau semacamnya itu.

"Sungguh orang-orang yang bodoh. Mana mungkin ada dewa di dunia ini..."

"Apa Anda tidak percaya pada dewa?"

Merespons gumamanku yang santai, Seth melontarkan pertanyaan yang jawabannya sudah sangat jelas bagiku.

"Tidak."

"Ta-Tapi aku pernah bertemu dengannya!"

Gadis ini mengatakan hal yang menarik, ya.

"Masih muda rupanya. Di masa lalu, aku juga pernah percaya pada keberadaan mukjizat besar dari dewa. Tapi, hal itu hanyalah ilusi semata, khayalan."

Sampai aku diculik ke dalam Easy Dungeon itu, aku memang pernah percaya pada dewa.

Namun, aku tidak menganggapnya sebagai Dewa Bela Diri Suci, melainkan sebagai eksistensi transenden yang menguasai hukum alam dunia ini.

"Masih muda bagaimana? Anda kan lebih muda dariku, Kai."

Kusuki menegurku dengan wajah muak. Hmmm, bisa-bisanya dia mengatakan itu di situasi seperti ini. Ternyata bocah ini cukup bernyali juga.

"Hal itu tidak penting sekarang! Dewa itu ada! Dia benar-benar ada!"

"Sepertinya kamu punya alasan tersendiri untuk percaya pada dewa. Aku sama sekali tidak berniat menyangkal keyakinanmu. Namun, dunia ini tidaklah semanis dan sebaik itu sampai ada dewa dari cerita dongeng yang akan melindungi kita, lho."

Dewa adalah eksistensi yang memiliki kekuatan mukjizat yang melampaui nalar manusia.

Sosok yang menciptakan dan menguasai langit dan bumi, serta melampaui waktu, ruang, dan segala fenomena maupun konsep.

Hal yang kupahami sampai ke tulang selama seratus ribu tahun ini adalah: tidak ada yang namanya mukjizat yang melampaui nalar manusia, dan segala fenomena serta konsep pada akhirnya memiliki alasan yang jelas.

Singkat kata, dewa tidak ada di dunia ini. Begitulah kenyataan yang membosankan ini.

"Hal seperti itu aku juga sudah tahu meski tanpa kau beritahu!"

"Begitu, ya. Kalau begitu, syukurlah. Daripada itu, sepertinya kita kedatangan tamu."

Tiba-tiba, belasan orang berpakaian hitam mengepungku.

"Rambut abu-abu itu, dan penampilan yang terlihat kekanak-kanakan serta lemah, kau Kai Heineman, kan?"

Pria jangkung berpakaian hitam yang tampaknya adalah kapten mereka, tersenyum merendahkan sambil memutar-mutar pisau di tangan kanannya dan menanyakan fakta yang sangat jelas itu.

"Benar. Akulah Kai Heineman."

"Bisa-bisanya Akademi St.Clan kalah telak dari orang seperti ini, mereka benar-benar tidak sehebat itu, ya. Dilihat dari sudut pandang mana pun, ini benar-benar pemborosan tenaga tempur."

Sosok berpakaian hitam yang tampak seperti kapten itu menjentikkan jarinya, lalu sosok reptil-reptil merah dalam jumlah tak terhitung yang menempel di langit-langit dan dinding pun mulai terlihat.

Tentu saja aku sudah menyadari keberadaan mereka.

Terlebih lagi, meski menyembunyikan diri, mereka menyebarkan kekuatan magis secara terang-terangan.

Akan lebih sulit jika tidak menyadarinya.

"Sa-Salamander!?"

Kusuki berteriak kaget.

"Hoo. Inikah yang dinamakan Salamander? Penampilannya cukup jauh dari bayanganku, ya."

Memang benar dia memiliki wujud luar seperti kadal api, namun kedua tangan dan kakinya telah berubah menjadi jumlah tentakel yang tak terhitung.

Singkatnya, ini mungkin adalah monster kadal yang lengan dan kakinya telah berubah menjadi tentakel.

Apa pun itu, aku sama sekali tidak merasakan kekuatan dari monster ini. Seingatku Salamander itu adalah roh tingkat tinggi, kan.

"Bukan! Itu bukan Salamander!"

Dengan wajah yang kaku karena ketakutan dan keterkejutan, Seth berteriak dengan suara melengking.

"Benar sekali. Ini adalah makhluk super Neo Salamander yang diciptakan dengan kekuatan supernormal, yang diberikan kepada kami oleh Tuan Dagon, pemimpin kami yang agung! Hanya dengan satu ekor Neo Salamander ini, sudah cukup untuk memusnahkan sekelas pasukan militer negara kecil!"

Orang berpakaian hitam yang tampaknya adalah kapten bertubuh tinggi itu melontarkan omong kosong dengan bangga.

"Begitu rupanya, aku mengerti sekarang."

Intinya, itu adalah tiruan Salamander, kan. Wajar saja benda tiruan yang dibuat meniru aslinya memiliki kekuatan yang selemah ini.

"Hah! Akhirnya kau sadar akan kekuatan tempur kami, ya! Tapi, percuma saja kau mencoba lari! Kau tidak akan bisa melarikan diri dari Neo Salamander sebanyak ini! Kalian semua akan menjadi makanan mereka sambil menjerit dalam ketakutan dan rasa sakit!"

"Karena itulah kubilang makhluk ini lemah."

Bersamaan dengan menarik keluar Raikiri, aku menebas semua Salamander tiruan yang mengepung kami dengan satu serangan.

"Hah?"

Pria berpakaian hitam tinggi yang tampaknya adalah kapten mereka, melebarkan matanya dan berteriak seolah tercengang melihat tiruan Salamander yang terbelah rapi dari kepala hingga ekor, memercikkan cairan tubuh berwarna hijau dan berjatuhan ke lantai.

"Aku ini pendekar pedang sekaligus Hunter. Sayangnya, aku tidak selemah itu sampai bisa dikalahkan oleh monster buatan semacam ini. Kau masih menyembunyikan kartu as, kan? Cepat keluarkan."

Lagipula, mereka telah melancarkan serangan teroris berskala besar di akademi sekelas Akademi St.Clan, sudah sepantasnya mereka memiliki kemampuan yang sepadan.

Setidaknya, tidak mungkin Salamander tiruan semacam ini adalah kartu as mereka.

"—!?"

Pria berpakaian hitam tinggi yang tampaknya adalah kapten mereka, merubah ekspresi wajahnya karena kesal lalu melompat mundur seolah terpental. Dan kemudian—

"Apa barusan itu adalah semacam serangan khusus!?"

"Orang ini berbahaya!"

"Ka-Kapten!"

Para penjahat berpakaian hitam itu mulai berteriak-teriak layaknya burung berkicau.

"Aku tahu! Kai Heineman, bukankah dia ini benar-benar monster! Si keparat Kuko! Berani-beraninya dia berbohong dengan bilang kalau dia kalah karena kebetulan!"

"Lalu?"

"Ya, aku izinkan untuk melepaskan kekuatan kita!"

Setelah meneriakkan hal itu, kapten berpakaian hitam tersebut mulai berteriak dengan urat-urat yang bermunculan di dahinya.

Saking tidak berdayanya mereka, aku sempat berpikir untuk langsung membunuh mereka semua.

Tapi aku yakin sebagian besar kekuatan utama mereka pasti berada di arena pertarungan.

Oleh karena itu, aku memutuskan untuk mengutamakan mencari informasi tentang kekuatan tempur musuh terlebih dahulu.

(Gunuoooooo!)

Permukaan tubuh mereka membengkak, sesuatu seperti tentakel tumbuh dari mana-mana, dan dalam sekejap mereka berubah menjadi monster dengan wajah menyerupai gurita.

(Kai Heineman, orang ini berbahaya! Buang harga diri kalian! Kita akan menghajarnya dengan kekuatan terkuat kita!)

Tentakel melilit senjata mereka, lalu mengarahkan ujungnya ke arahku.

"Begitu, ya. Ternyata kalian bukan manusia, melainkan monster. Pantas saja kalian sangat lemah."

Aku melesat cepat melintasi lantai dengan teknik berjalan khususku, lalu saat berpapasan dengan mereka, aku memenggal seluruh leher monster-monster yang mengepung kami kecuali sang kapten, kemudian kembali ke tempat asalku.

(Ada apa!? Cepat serang!)

Mungkin karena kesal melihat bawahannya tidak kunjung bergerak, si monster gurita yang sepertinya sang kapten itu berteriak konyol.

"Percuma saja. Mereka semua sudah kubunuh."

Sambil mengibaskan Raikiri untuk membuang darah hijau yang menempel di bilahnya, aku mengumumkan hal tersebut.

(Kau... bunuh?)

"Ya, ini buktinya."

Saat aku menginjakkan kakiku kuat-kuat ke lantai, leher dari para monster berwajah gurita yang mengepung kami dan tidak bergerak sedikit pun sejak tadi, mulai bergeser dan berjatuhan ke lantai.

(...)

Aku berpindah ke belakangnya yang hanya bisa membelalakkan mata dan tak mampu menggerakkan satu jari pun.

"Nah, waktu kita tinggal sedikit. Cepat katakan padaku siapa dalang dan garis besar dari insiden ini."

Sambil mencengkeram erat bahu kiri monster berpakaian hitam yang terlihat seperti kapten itu, aku menuntutnya dengan nada tegas.

Saat aku menanyainya sambil menggunakan item yang membuat monster berpakaian hitam itu ingin bercerita atas kemauannya sendiri, dia dengan senang hati menceritakan semuanya.

Pemimpin teroris kali ini adalah Dagon, seorang petinggi dari Libra.

Sementara kapten unit eksekusi teroris yang menerima perintah darinya adalah pria bertubuh besar bernama Nightgone.

Pria bertubuh besar itu rupanya memberikan perintah kepadanya untuk mengamuk di dalam Akademi St.Clan ini, dan segera membawaku padanya begitu menemukanku.

Sudah kuduga, ini perbuatan Libra, ya. Ini akan menjadi akhir dari segalanya.

Aku dan mereka kini telah resmi menjadi musuh. Tidak ada jalan untuk kembali.

Selama Lorelei tidak menyingkirkan organisasi bernama Libra itu dengan tangan mereka sendiri, maka aku akan berada dalam status perang dengan mereka.

Ah, tidak. Masih ada satu jalan lagi yang tersisa.

(Aku sudah menceritakan semuanya padamu! Jadi tolong ampuni aku! Kumohon!)

"Tidak bisa. Kau belum membicarakan bagian paling penting dari insiden terorisme ini, yaitu apa tujuannya. Cepat katakan."

(Itu... aku tidak bisa mengatakannya.)

"Begitu, ya."

(Gugyaaaa!)

Aku kembali memotong telinganya, membuatnya berteriak histeris.

"Kita tidak punya banyak waktu, cepat katakan!"

Saat aku melambaikan bilah Raikiri di depan matanya,

(Ba-Baiklah, akan kukatakan! Jadi, tolong hentikan!)

Saat monster kapten itu berteriak histeris,

(Guge?)

Wajah monster kapten berpakaian hitam itu membengkak dengan cepat, lalu meledak berkeping-keping ke segala arah disertai suara ledakan yang keras.

Membentuk unit eksekutor dengan mainan sekali pakai, lalu membuangnya jika gagal, ya. Sepertinya manajemen krisis mereka terorganisir dengan cukup baik.

Meski begitu, aku benar-benar muak dari lubuk hatiku yang terdalam.

"Sekarang—"

"—!?"

Saat aku mengalihkan pandanganku pada mereka berdua, tubuh mereka tersentak dan mundur selangkah.

Gawat juga, ternyata mereka berdua lebih ketakutan padaku daripada pada monster tadi.

Padahal aku sudah melakukan metode penundukan serupa sebanyak dua kali di depan Seth, tapi dia masih sebegitu ketakutannya.

Sepertinya, metode interogasi gaya Easy Dungeon tadi benar-benar menakutkan baginya.

"Mungkin ini sedikit terlalu merangsang bagi pelajar, ya..."

Mungkin sebaiknya aku menahan diri jika berada di depan pelajar.

"Tidak usah pelajar, itu sudah cukup merangsang bagiku, Tuan."

Mendengar suara yang terdengar muak dari belakangku, aku menoleh ke belakang bahuku dan melihat Zack berdiri dengan wajah lelah.

"Umu, Zack. Kau datang di waktu yang tepat. Bisa tolong jaga mereka berdua?"

"Ya, Kak Asta sudah memberiku instruksi soal itu sejak awal. Serahkan saja padaku!"

"Kau sangat membantu."

Aku mengangkat tangan kananku lalu mulai berlari menuju arena pertarungan.

◇◆◇

(Kenapa, harus aku!)

Elish yang tiba-tiba ditunjuk sebagai salah satu staf komite penyelenggara, mengulang-ulang gumaman itu berkali-kali di dalam hatinya.

Saat ini, Elish adalah guru magang di Akademi Ouboro.

Bahkan sebagai pujian pun, dia tidak pernah berpikir bahwa dirinya cocok menjadi guru.

Tujuan utamanya tetaplah menjadi seorang Hunter yang sukses. Dia sama sekali tidak memiliki gairah yang begitu besar terhadap pekerjaan ini.

Sejak awal, alasannya menerima tawaran magang sebagai guru di Akademi Ouboro adalah karena dia tahu Kai Heineman bersekolah di akademi ini.

Itu benar-benar alasan yang tidak pantas sebagai seorang pendidik.

Pada dasarnya, dia tidak benci mengajar.

Buktinya, mengajar murid-murid Akademi Ouboro terasa sangat memuaskan dan menyenangkan.

Lebih penting lagi, sebagai hasil dari mempelajari ulang dasar-dasar sihir agar bisa mengajarkannya pada orang lain, dia menyadari bahwa ketepatan sihirnya telah meningkat drastis.

Karena itu, pada awalnya Elish tidak ragu sedikit pun untuk mengajar siswa dari akademi lain, yaitu Akademi St.Clan.

Namun, setelah Seth Accard, yang merupakan seorang murid Akademi Ouboro sekaligus anak haram, diserang oleh murid Akademi St.Clan dengan alasan yang tidak jelas, Elish mulai merasakan keraguan yang kuat.

Meski begitu, setelah Kepala Sekolah Akademi St.Clan sekaligus Ratu negara Lorelei saat ini, Yang Mulia Avery, menyampaikan permintaan maaf resmi, menjatuhkan hukuman bagi para siswa yang terlibat dalam perundungan Seth, serta menjelaskan langkah-langkah pencegahan di masa depan, Elish percaya bahwa insiden tersebut hanyalah kejadian pengecualian.

Dia menyembunyikan keraguannya di dalam hati dan memutuskan untuk kembali menjalankan tugasnya dengan tulus.

Namun, tindakan tidak manusiawi yang terjadi di kantin besar itu membuat keraguan yang seharusnya sudah disegelnya kembali muncul sebagai sesuatu yang nyata.

Siswa Akademi St.Clan menjegal kaki Seth Accard, seorang siswa Akademi Ouboro, hingga terjatuh, dan mencoba memaksanya memakan makanan yang berserakan di lantai.

Dan yang lebih parahnya, mereka bahkan memasukkan serangga hidup ke dalamnya.

Alasannya sama seperti sebelumnya. Karena Seth Accard adalah anak haram sekaligus siswa Akademi Ouboro.

Lebih buruk lagi, siswa-siswa di sekitarnya tidak menyalahkan tindakan itu, melainkan malah menyemangati mereka.

Terlebih lagi, mereka mengancam akan menyakiti keluarga murid Elish, dan bahkan menyuruh Seth datang ke kantin besar.

Perlakuan kejam semacam ini bukanlah hal yang bisa dilihat setiap hari di dunia nyata.

Selain itu, hukuman yang diberikan kepada murid Akademi St.Clan hanyalah skorsing selama dua minggu, yang mana itu sangatlah ringan.

Rangkaian perlakuan tidak adil dari Yang Mulia Avery dan stafnya itu membuat Elish mulai memendam rasa ketidakpercayaan yang kuat terhadap organisasi yang disebut Akademi St.Clan.

Pertama-tama, meski hanya guru magang, Elish adalah pengajar di Akademi Ouboro, sehingga pada dasarnya dia tidak memiliki kewajiban untuk mengajar murid Akademi St.Clan.

Mengapa Elish, yang tidak memiliki kewajiban apa pun, harus mengajar orang-orang yang berulang kali menghina dan menyakiti muridnya dengan alasan yang tidak masuk akal?

Terutama para guru di Akademi St.Clan yang memperlakukan murid Akademi Ouboro layaknya kotoran dan sama sekali tidak berniat mengajari mereka.

Sebaliknya, para guru Akademi St.Clan sepertinya berpikir bahwa sudah sepantasnya para guru Akademi Ouboro memprioritaskan murid-murid Akademi St.Clan.

Ketidakadilan semacam ini benar-benar tidak bisa ditoleransi oleh Elish.

Kini, bagi Elish, Akademi St.Clan tidak lebih dari sebuah organisasi musuh yang sangat dibencinya.

Karena itulah, dia merasa sangat marah dan menolak keras karena ditunjuk secara sepihak sebagai anggota komite penyelenggara dan disuruh bekerja tanpa persetujuan untuk organisasi seperti itu.

"Elish, maafkan aku."

Guru Bry, yang tahun ini menjabat sebagai Instruktur Ilmu Pedang di Akademi Ouboro dan selalu memakai bandana merah cerah, menghampiri Elish dan menundukkan kepalanya pelan.

"Anda juga merasa marah dengan semua ini, kan, Guru Bry?"

"Yah, begitulah. Tapi kau lebih dekat dengan mereka daripada aku. Aku bisa sedikit membayangkan betapa kesalnya dirimu."

"Tidak, Anda tidak perlu merasa—"

"Tapi, apa kau yakin mau menjadi juri di pertarungan tiruan kali ini? Kalau kau mau, aku bisa menggantikanmu—"

Elish bisa dengan mudah menebak apa yang dikhawatirkan Guru Bry.

Kenyataannya, terjadi banyak perdebatan sengit tentang siapa yang akan menjadi juri di pertarungan tiruan bela diri ini.

Awalnya, staf pengajar Akademi St.Clan yang direncanakan menjadi juri, namun karena insiden di kantin besar itu, ada indikasi kuat bahwa mereka akan memberikan penilaian yang memihak Akademi St.Clan.

Melalui proses eliminasi, akhirnya diputuskan bahwa guru dari Akademi Ouboro yang akan dipilih, tetapi semua guru di sana menolak untuk menjadi juri.

Mereka mungkin enggan untuk mengambil peran juri yang seharusnya mereka jalankan karena takut akan diawasi oleh pihak penyelenggara Akademi St.Clan jika terjadi kesalahan.

Kemudian, pilihan jatuh pada Guru Bry, seorang instruktur pedang yang dikirim dari Menara.

Namun, Guru Bry memiliki tugas penting hari ini, yaitu bekerja sama dengan Kai untuk melindungi 'Pedang Penciptaan Langit dan Bumi', Artefak Dewa terbaik Lorelei yang akan dipamerkan di samping arena pertarungan tiruan.

Terkait hal ini, Elish, seorang guru magang di Akademi Ouboro tahun ini yang tidak memiliki ikatan dengan faksi mana pun, dinilai mampu memberikan penilaian yang adil, sehingga ia ditunjuk sebagai semacam kompromi.

"Tidak apa-apa. Saya berniat untuk menyelesaikan tugas saya di upacara peresmian ini hingga akhir."

Merespons jawaban Elish, Guru Bry mengangguk mantap,

"Begitu, ya. Baiklah. Kalau begitu, aku serahkan padamu, ya."

Mengangkat tangan kanannya dan berjalan menuju pintu masuk arena pertarungan.

Di sanalah terdengar sorakan yang luar biasa meriah. Ratu Kerajaan Lorelei saat ini, Yang Mulia Avery, telah memasuki arena pertarungan.

Arena pertarungan tersebut terdiri dari arena bundar yang dikelilingi oleh tribun penonton. Di tengah arena, sebuah altar sementara untuk meletakkan pedang yang baru saja dibangun oleh para staf Lorelei telah rampung.

Pedang panjang mewah bersarung putih yang dibawa dengan penuh hati-hati oleh Yang Mulia Avery itu, pasti adalah harta karun paling rahasia kerajaan, 'Pedang Penciptaan Langit dan Bumi'.

Kudengar, itu adalah pedang yang dianugerahkan oleh dewa yang menciptakan Elf kepada pendiri negara Lorelei, yang mampu menciptakan apa saja sesuai dengan keinginan penggunanya.

Bakal repot jadinya kalau pedang seperti itu benar-benar ada. Aku yakin itu hanya sekadar hiperbola, tapi karena sepertinya pihak Lorelei akan melakukan demonstrasi singkat, kupikir efeknya pasti mirip dengan rumor yang beredar.

Yang Mulia Avery dan para pendeta berjalan menuju altar di tengah arena. Sesampainya di sana, Yang Mulia Avery meletakkan pedang panjang itu di atas altar, lalu berlutut bersama para pendeta dan mulai berdoa.

Setelah mengambil pedang panjang itu, Yang Mulia Avery menghunusnya dari sarungnya. Kemudian, dia menebasnya ke arah buah kecil yang diletakkan di atas altar.

Pedang panjang itu membelah buah tersebut menjadi dua.

Untuk sebuah senjata yang bahkan disebut pedang suci oleh negara besar Lorelei, aku berekspektasi buah merah itu setidaknya akan kembali utuh.

Namun—buah yang terbelah dua itu bersinar keemasan, menempel satu sama lain, membesar, dan membentuk sebuah wujud.

"Eh..."

Terdengar suara keterkejutan singkat dari mulut Elish.

Tentu saja, buah yang tadinya berwarna merah itu kini telah berubah menjadi seekor elang yang terbang mengitari Yang Mulia Avery dan hinggap di bahunya.

Di tengah keheningan, mulai terdengar suara kasak-kusuk kecil, yang kemudian berubah menjadi gelombang keributan yang lebih besar. Akhirnya, sorakan uwoooo pecah membahana.

"Pasti bercanda... kan. Menciptakan makhluk hidup dari benda mati, cerita seperti itu kan hanya ada dalam mitos..."

Keponakan dari Hunter tingkat A, Olga Evans, yaitu Silud Evans, bergumam dengan suara bergetar menyuarakan pendapat yang sama dengan yang dipikirkan Elish.

"Lihatlah kenyataannya, Silud! Itu benar-benar anugerah dari dewa! Tentu saja! Manusia tidak mungkin bisa membuat pedang seperti ini!"

Adik kandung dari Guru Sigma, Cid Rockwell, juga membenarkannya dengan anggukan kuat dan wajah memerah.

Atmosfer di tempat kejadian terbagi menjadi dua. Satu sisi menyuarakan keterkejutan murni seolah sedang menonton pertunjukan sulap.

Sementara yang lain, percaya bahwa pedang tersebut benar-benar anugerah dari dewa dan dengan murni merasakan keajaibannya.

Tipe yang kedua ini terutama sangat terlihat di kalangan para Mage, bahkan ada yang sampai melolong saking phấn khích (bersemangat)-nya.

Upacara selesai, dan altar dipindahkan beserta pedangnya ke sudut arena, tepat di bawah tribun penonton tempat ruang tamu kehormatan berada.

Guru Bry, bersama beberapa petugas keamanan dari Babel, berdiri berjaga di sampingnya untuk melindungi pedang tersebut.

Elish, beserta Silud, Cid, dan Millefeuille, anggota komite siswa, sedang berjalan menuju tenda di dekat pintu keluar arena pertarungan untuk membicarakan secara singkat mengenai juri pertandingan tiruan.

Yang Mulia Avery memuji semangat bertarung kedua belah pihak di laga simulasi mendatang dan berniat meninggalkan arena pertarungan. Tepat di saat beliau tiba di pintu keluar arena pertarungan—

Tiba-tiba, Elish dilanda sensasi ketidaknyamanan yang khas, seolah-olah area di sekelilingnya telah berubah menjadi rawa yang transparan.

"Ini pelindung gaib!"

Segera setelah suara tegas Cid bergema, suara ledakan yang memekakkan telinga terdengar di udara, dan asap tebal berwarna ungu menutupi area di sekitar pintu keluar arena pertarungan tempat Yang Mulia Avery berada.

Dari balik asap ungu itu, Elish dapat melihat beberapa orang turun ke arena dari bagian atas tribun penonton.

Di dalam asap ungu, terdengar suara dentingan logam yang saling beradu dan teriakan marah. Dan kemudian—

"Nah, semuanya, silakan angkat tangan."

Elish merasa familier dengan suara ini, suara yang hanya dengan mendengarnya saja sudah membuat bulu kuduknya merinding.

Yah, tidak mungkin Elish melupakannya, sih.

Sepertinya, salah satu pengawal telah menggunakan sihir angin untuk menyingkirkan asap tersebut.

Asap ungu pun lenyap tertiup angin kencang, dan menampakkan sosok seorang guru Elf yang sedang mencekik leher Yang Mulia Avery dengan tangan kanannya, sementara tangan kirinya menodongkan pisau ke tenggorokannya.

"Kuko! Apa yang sedang kau rencanakan!"

Dia adalah bajingan sampah yang telah melukai dan menghina murid-murid berharga Elish, Kuko Rosette.

"Elishhhhh, panggil aku Guru Kuko! Kau ini benar-benar tidak paham soal hierarki, ya!"

Kuko memelototkan matanya dan marah besar.

"Lepaskan Nyonya Avery dan menyerahlah! Masih belum terlambat untuk mundur sekarang!"

Meskipun dia berkata begitu, keluarga Rosette milik Kuko adalah salah satu dari Tiga Keluarga Besar Kerajaan Lorelei.

Namun, jika dia melukai sang Ratu, hukumannya paling ringan adalah menjadi budak kriminal di tambang seumur hidup, atau yang terburuk adalah hukuman mati.

Pria itu pasti sangat menyadari hal tersebut. Karena itu, tanpa perlu mendengar jawabannya pun, semuanya sudah jelas.

"Aku menolak. Saat aku berhasil menyandera nenek tua ini, kemenangan kami sudah dipastikan."

Kuko menyunggingkan senyum menyeramkan dan mendeklarasikan kemenangannya.

"Apa tujuanmu sebenarnya?"

Di saat seperti ini. Alasannya sudah pasti sangat jelas.

"Hei, Bry, serahkan Pedang Penciptaan Langit dan Bumi itu!"

Sudah kuduga. Mengingat mukjizat tak masuk akal yang bisa dihasilkan oleh pedang itu, tindakan terorisme ini memang memiliki nilai tersendiri untuk dilakukan.

Lagipula, efek pedang itu dikabarkan sama sekali tidak memiliki batasan. Jika disalahgunakan, benda itu bahkan mampu menciptakan monster tingkat bencana.

"Aku tidak mau."

Nyonya Avery adalah adik perempuan dari Nyonya Inea yang sangat dipuja oleh Guru Bry. Seharusnya dia sedikit ragu karena ada Nyonya Avery di sana.

"Kau tidak peduli jika nenek tua ini kubunuh?"

"Lakukan saja sesukamu. Tapi, kalau kau melakukannya, kau akan berubah menjadi daging cincang dalam sekejap."

Saat Guru Bry mencabut pedangnya, orang-orang bersenjata di kursi penonton langsung mengarahkan busur dan tongkat sihir mereka ke arah Kuko. Taktik Guru Bry sangat mudah ditebak.

Dia sengaja mempertahankan kebuntuan ini demi menunggu kedatangan pria itu. Dia adalah Hunter terkuat, Kai Heineman.

Jika pria itu tiba, Kuko pasti akan hancur lebur. Kuko yang sudah pernah merasakan sendiri kengerian monster bernama Kai itu seharusnya juga sangat memahaminya.

Karena itu, dia seharusnya merasa goyah. Namun, Kuko lagi-lagi hanya menyunggingkan senyuman yang mengerikan.

"Begitu, ya. Tapi, semuanya sudah berakhir, tahu."

Saat Kuko melontarkan kata-kata dengan firasat buruk itu, sebilah pedang menembus perut Guru Bry dari arah belakang. Luka tebasan itu pun langsung berkobar dilalap api.

"Cih!"

Guru Bry berdecak kesal dan memotong pergelangan tangan staf Babel di belakangnya dengan pedang. Seorang staf lain lalu mengayunkan kapak perangnya yang raksasa ke arah Guru Bry.

Guru Bry menangkisnya dengan pedang panjang, melompat mundur, dan mencabut pedang yang menancap di perutnya. Setelah itu, dia mulai merapal Heal.

Pada saat yang sama, beberapa staf Elf yang sebelumnya membidik Kuko dari dekat ruang VIP melompat turun. Mereka langsung mengelilingi Pedang Penciptaan Langit dan Bumi.

"Tomatle, kenapa kau melakukannya?"

Guru Bry memamerkan gigi taringnya dan membentak pria paruh baya berambut pendek dari ras Manusia yang pergelangan tangannya baru saja ia potong, Tomatle.

"Maafkan aku. Aku terpaksa mengambil langkah kotor ini. Kalau aku tidak melakukannya, mereka semua akan mati."

Entah karena rasa sakit atau rasa bersalah karena telah mengkhianati temannya, Tomatle memaksakan diri untuk berbicara dengan ekspresi tersiksa.

"Keparat! Kau ini benar-benar sampah sejati, ya!"

Dengan ekspresi buas layaknya binatang, Guru Bry memelototi Kuko dan melontarkan cacian tersebut.

"Katakan saja sesukamu. Dengan begini, skakmat. Kemenangan ada di tangan kami."

Setelah mengambil Pedang Penciptaan Langit dan Bumi, para Elf itu berlari kencang menuju Kuko.

Saat Elish dan yang lainnya hendak berlari untuk menghentikan mereka, Kuko berseru.

"Oops, jangan bergerak. Kalau kalian bergerak, aku akan membunuh nenek ini. Kalian paham, kan! Keadaan sudah berbalik!"

Bersamaan dengan deklarasi itu, peluru api magis dan anak panah melesat di udara. Serangan itu menembus sekitar separuh anggota keamanan di kursi penonton yang sedang membidik Kuko, membuat mereka tumbang bersimbah darah.

Separuh penembak yang berkhianat itu kemudian mengarahkan senjata mereka ke arah Elish dan yang lainnya dengan santai.

Di tengah situasi tersebut, Pedang Penciptaan Langit dan Bumi akhirnya diserahkan ke tangan Kuko.

"Pegang nenek tua ini!"

Dia menyerahkan Nyonya Avery kepada seorang Elf yang tampaknya adalah bawahannya. Kuko lalu menerima Pedang Penciptaan Langit dan Bumi dan mencabut bilahnya.

"Jadi ini senjata zaman dewa yang diinginkan oleh Tuan Dagon. Indah sekali...."

Kuko memandangi bilah pedang itu dengan ekspresi terpesona.

"Sekarang, tinggal mengujinya, kan."

Dia lalu menebas hiasan yang tampak seperti lampu di dekatnya. Sama seperti buah sebelumnya, lampu itu memancarkan cahaya keemasan.

Ketika cahaya yang menyilaukan itu memudar, sesuatu pun muncul.

"Gugoooooo!"

Benda itu berubah menjadi naga kecil dan mengaum ke arah langit.

"Kekuatan supernatural yang melahirkan sesuatu yang besar dari sesuatu yang kecil! Benar-benar pantas disebut sebagai mukjizat Tuhan! Dengan benda ini, aku bisa melakukan apa saja!"

Kuko berseru penuh kegembiraan.

"Apa kalian semua mengkhianati tanah air kita?"

Sylud menatap para Elf yang mengarahkan senjata ke arah Kuko, Elish, dan yang lainnya dengan tatapan penuh kebencian. Dia melontarkan pertanyaan yang sebenarnya sudah sangat jelas itu.

"Tanah air? Kesetiaan kami bukanlah untuk negara penuh penipuan bernama Lorelei ini, melainkan untuk organisasi agung bernama Libra yang akan membimbing Elf menjadi ras tertinggi! Benar begitu, kawan-kawan!"

Begitu Kuko meminta persetujuan, auman terdengar dari para siswa Elf, guru, dan beberapa petinggi Kerajaan Lorelei di kursi penonton. Mereka berdiri satu per satu dan mulai menyiapkan senjata.

Permusuhan itu diarahkan kepada Elish dan kawan-kawannya. Meskipun jumlah mereka hanya sebagian kecil dari keseluruhan, kekuatan tempur mereka jelas tidak bisa diabaikan begitu saja.

"Dan inilah alasan mengapa kemenangan kami tak tergoyahkan!"

Kabut ungu mengepul dari seluruh tubuh Kuko, lalu kulitnya yang seputih salju dengan cepat berubah menjadi ungu.

Di saat yang sama, para Elf yang ikut serta dalam aksi terorisme itu juga diselimuti kabut ungu, dan warna kulit mereka perlahan ikut berubah menjadi ungu.

"Inilah wujud sejati dari Elder Elf, puncak evolusi dari para Elf dan ras keajaiban yang tercipta berkat buah anugerah Tuan Dagon!"

Kuko berbicara dengan nada bangga layaknya sedang bernyanyi.

"Tujuan kalian sudah tercapai, kan. Biarkan para siswa dan guru biasa yang tidak terlibat pergi dari sini."

Menanggapi permohonan Nyonya Avery itu, Kuko menyahut.

"Tentu saja, ti-dak-bo-leh♩"

Kuko menyeringai dengan ekspresi yang sangat buruk. Dia kemudian menghantamkan kepalan tangan kirinya yang diselimuti kabut ungu ke perut Nyonya Avery.

Tubuh Nyonya Avery melengkung tajam layaknya busur, diiringi suara mengerikan dari sesuatu yang keras hancur di dalam sana.

"Guh!"

Nyonya Avery memuntahkan darah dalam jumlah yang sangat banyak dari mulutnya.

"Ibu!"

Jeritan panik Mille-feuille di sebelahnya menggetarkan gendang telinga. Tepat ketika perhatian semua orang teralih pada Mille-feuille selama sedetik, sebuah tombak berkecepatan tinggi menembus dahi Elf yang sedang menahan Nyonya Avery.

Elf musuh itu ambruk bagaikan boneka yang tali pengikatnya terputus. Di tengah kekacauan itu, seorang Elf tampan berambut pirang yang mengenakan baju zirah putih murni bergegas berlari ke arah Nyonya Avery.

"Bodoh, aku tak akan membiarkanmu!"

Kuko mengarahkan telapak tangan kanannya ke arah Elf itu dengan nada suara meremehkan. Detik berikutnya.

"Dasar bajingan kurang ajar!"

Seorang Elf bertubuh raksasa dengan rambut pendek yang juga mengenakan zirah putih melesat cepat seolah merayap di tanah. Dia mendaratkan pukulan keras ke wajah Kuko dengan kepalan tangan kanannya yang bersinar keemasan.

Suara retakan tumpul terdengar nyaring, dan kepala Kuko langsung berputar ke arah yang tidak wajar.

Dalam jeda waktu yang sangat singkat itu, Elf tampan berambut pirang berhasil mencapai Nyonya Avery. Dia merangkul sang ratu dengan tangan kanannya dan mulai berlari ke arah Elish.

Leher Kuko patah, dan dilihat dari sudut pandang mana pun, dia pasti sudah mati. Bos mereka telah tiada, dan sandera pun berhasil diselamatkan.

Sisanya hanyalah pertarungan habis-habisan. Namun, tepat ketika Elish memikirkan hal itu.

"Sialan, dasar kroco!"

Teriakan marah menyembur dari mulut Kuko yang lehernya masih dalam keadaan patah. Pada saat yang sama, Elf bertubuh raksasa itu terpental dengan kecepatan luar biasa dan memantul beberapa kali di tanah sebelum akhirnya menabrak dinding pembatas.

Suara ledakan keras bergema, dan benturan dahsyat itu membuat seluruh arena bergetar hebat. Elf bertubuh raksasa itu hancur remuk dan tidak bergerak sedikit pun.

Kemudian, lengan kanan ksatria Elf yang berlari membawa Nyonya Avery terpotong dari pangkalnya, membuatnya terjatuh terguling-guling.

Seseorang dengan mudahnya mencengkeram kerah baju Nyonya Avery yang terlempar ke udara. Dia adalah seorang pria Elf bertubuh besar dengan telinga panjang, mengenakan topi tinggi dan pakaian formal.

Wajah pria itu memiliki rahang yang menonjol aneh, hidung yang panjang dan besar, serta tubuh kekar berotot yang bisa terlihat jelas dari balik pakaiannya.

Dalam sekejap, dia berpindah ke depan Kuko dan melemparkan Nyonya Avery kepada Elf berkulit ungu lainnya.

"Kuko, kau membuat kesalahan besar. Benda ini masih ada gunanya, kan?"

Pria berahang menonjol itu mencubit kumis stang panjangnya dan bertanya pada Kuko dengan nada sombong.

Kuko adalah orang yang sangat tinggi hati, bahkan dia selalu bersikap tidak sopan pada Ratu Avery. Elish mengira Kuko pasti akan marah, tapi ternyata tidak.

"Tepat sekali! Tuan Nightgone, saya sangat berterima kasih atas bantuan Anda dari lubuk hati yang terdalam!"

Kuko meletakkan Pedang Penciptaan Langit dan Bumi di tanah, lalu berlutut dengan satu kaki. Dengan tangan kirinya, dia mengembalikan lehernya yang patah ke posisi semula dengan suara retakan keras, lalu membungkuk penuh hormat.

Para Elf berkulit ungu di sekitarnya pun mengikuti jejak Kuko, berlutut dan menundukkan kepala mereka dalam-dalam.

"Gastald...."

Di tengah situasi itu, Nyonya Avery mengulurkan tangan kirinya dengan tatapan kosong tak berdaya. Dia terus memanggil nama Gastald, Elf raksasa yang terlempar ke dinding arena dan entah masih hidup atau tidak.

"Kau ini cuma Elf biasa! Kita sedang berada di hadapan Tuan Nightgone! Berlututlah!"

Kuko berteriak histeris seperti anak kecil yang sedang tantrum. Dia lalu bangkit berdiri dengan cepat dan memukul wajah Nyonya Avery dengan keras.

Suara tulang retak terdengar ngilu, dan Nyonya Avery pun akhirnya benar-benar kehilangan kesadaran dan terkulai lemas.

"Ibuuu! Beraninya kau, menyakiti Ibuku!"

Dengan air mata berlinang, Mille-feuille menatap Kuko dengan penuh amarah dan berlari menerjangnya.

"Jangan!"

Elish berlari menghampiri Mille-feuille dan merengkuhnya erat. Dia menempelkan telapak tangan kirinya ke wajah gadis itu dan menggunakan Paralysis untuk melumpuhkan tubuhnya sementara waktu.

Untuk saat ini, lebih baik tidak memancing kemarahan mereka secara gegabah.

Akal sehat tidak berlaku bagi bajingan-bajingan itu. Jika dia hanya diam dan menonton, hampir bisa dipastikan Mille-feuille akan terbunuh.

Lagipula, insiden ini pasti akan berbalik arah begitu pria itu muncul. Hal terbaik yang bisa dilakukan sekarang adalah menekan jumlah korban seminimal mungkin.

Mengabaikan Elish dan kawan-kawannya, Kuko kembali berlutut dan mulai memuji-muji Nightgone.

"Jadi, di mana pedang yang kau bicarakan itu? Bisakah kau menunjukkannya padaku sekarang?"

"Ba-baiklah!"

Kuko mengambil Pedang Penciptaan Langit dan Bumi yang diletakkan di sampingnya dan menyerahkannya kepada Nightgone, sang Elf dengan rahang aneh.

Nightgone mencabut pedang itu dari sarungnya dan memandanginya dari berbagai sudut selama beberapa saat. Namun, secara mengejutkan, dia tiba-tiba menebas leher Kuko dengan satu gerakan mulus.

"Hah?"

Sebuah garis lurus muncul di leher Kuko, diikuti oleh darah yang merembes keluar sebelum kepalanya menggelinding jatuh ke tanah. Pada saat yang sama, leher dan tubuh Kuko bersinar dalam warna keemasan.

Ketika cahaya menyilaukan itu menghilang, Kuko muncul kembali dalam keadaan utuh tanpa kehilangan kepalanya. Kuko meraba-raba tubuhnya sendiri dengan panik.

"Ke-kekuatan yang meluap-luap ini!"

Dia bersorak kegirangan. Tanpa mengalihkan pandangannya sedikit pun kepada Kuko, Nightgone bergumam.

"Dia punya kekuatan sihir setara dengan bawahan sejatiku!? Jadi, pedang ini benar-benar bisa mewujudkan imajinasi secara paksa! Kalau begitu...!"

Dengan tangan gemetar, dia menggenggam Pedang Penciptaan Langit dan Bumi dan memotong lengan kirinya sendiri.

Nightgone dan lengan kirinya memancarkan cahaya yang menyilaukan. Ketika cahaya itu mereda, Nightgone berdiri tanpa luka sedikit pun di tubuhnya.

"Guha! Guhahahaha! Aku sama sekali tidak menyangka akan ada hal luar biasa seperti ini!"

Nightgone tertawa terbahak-bahak seperti orang gila.

"Tu-Tuan Nightgone?"

Melihat penampilannya yang begitu janggal, Kuko bertanya dengan ragu-ragu.

"Sekarang kekuatan eksistensiku sudah setara dengan Tuan Dagon! Pedang ini benar-benar harta karun suci yang tidak seharusnya ada di dunia bawah! Jika aku menggunakannya...."

Kedua mata Nightgone memerah karena darah, dan dia menjulurkan lidahnya yang panjang sembari memasang ekspresi gembira yang gila. Namun, tiba-tiba dia langsung menyembunyikan ekspresinya.

Dan kemudian....

"Tidak, sebaiknya aku tidak memikirkan hal-hal yang gegabah."

Dia menggelengkan kepalanya beberapa kali dan merapal mantra singkat. Tiba-tiba, wujud Pedang Penciptaan Langit dan Bumi menghilang begitu saja.

"Tuan Nightgone, ke mana perginya pusaka dewa itu?"

"Kalian tidak perlu tahu. Daripada itu, Kuko, kau ingin menunjukkan pada kami sebuah pertunjukan yang menyenangkan, bukan? Cepatlah mulai."

Berbeda dengan ekspresi penuh emosinya tadi, Nightgone menatap Kuko dengan tatapan dingin dan berbicara dengan angkuh.

"Tentu saja. Ini adalah pertunjukan penghakiman bagi para pecundang dari diriku, Kuko Rosette, yang telah mencapai tingkat Elder Elf. Saya sedang menggiring orang-orang tak berguna itu kemari, jadi mohon tunggu sebentar lagi!"

Kuko kembali berlutut dengan satu kaki dan membungkuk hormat.

"Sedang menggiring mereka? Waktu kita itu terbatas. Dan aku ini tidak punya banyak waktu luang. Apa kau mengerti itu?"

Nightgone melangkah mendekat dan menginjak bagian belakang kepala Kuko yang sedang berlutut. Dia bertanya dengan suara dingin.

"Tentu saja, saya mengerti!"

"Kalau begitu, kau tahu apa yang harus kau lakukan, kan?"

Saat Nightgone menjentikkan jarinya, seorang pria besar berpakaian hitam dengan mata dan mulut yang dijahit melangkah maju. Pria yang tadi bersiap di belakangnya itu meletakkan sebuah piring besar berwarna hitam di tanah.

Pria besar lainnya yang berpenampilan serupa menuangkan isi karung kain yang dibawanya ke atas piring besar tersebut.

Piring raksasa itu penuh dengan gumpalan daging berwarna ungu yang berdenyut-denyut layaknya makhluk hidup.

"Ka-kalau begitu, sembari menunggu para pecundang itu tiba, kita akan memajukan jadwal sedikit dan memulai ritual pemilihan umat manusia baru!"

Kuko meraih sebongkah daging ungu itu dan mengangkatnya tinggi-tinggi untuk diperlihatkan kepada semua orang di arena.

"Ini adalah buah mukjizat! Hanya dengan memakannya, para Elf akan berevolusi menjadi umat manusia baru, Elder Elf, sama seperti kami!"

Kuko lalu mengangkat tangan kirinya dan berseru.

"Fireball!"

Hanya dengan merapalkan nama sihirnya saja, sebuah bola api bersuhu sangat panas dengan radius tiga meter mendadak muncul. Bola api itu berputar kencang, menembus dinding arena dan memicu ledakan besar.

"Lihat ini! Begitu kalian menjadi Elder Elf, bahkan Fireball biasa akan memiliki daya hancur sebesar ini! Tidak ada lagi yang perlu kita takuti! Bagaimana, kawan-kawan!?"

"Bukankah kalian sudah muak hidup dengan selalu mempedulikan ras Manusia selama ini!? Kita memiliki misi suci untuk membimbing ras Elf ke jalan yang benar, bukankah begitu!?"

Kuko meminta persetujuan dari para penonton di arena atas omong kosong basi yang tidak akan dipercayai oleh siapa pun itu.

"Apa aku juga bisa menjadi Elder Elf?"

Seorang bocah Elf gemuk yang mendengarkan dari barisan paling depan di kursi penonton mengangkat tangannya yang gemetar. Dia menyuarakan keraguannya.

"Hei, kau sudah gila, ya! Mereka itu teroris yang mencoba membunuh Nyonya Avery!"

Seorang bocah ras Manusia di sebelahnya yang tampaknya adalah temannya mencengkeram bahu kirinya untuk mencegahnya.

"Berisik! Jangan sentuh aku, ras rendahan! Aku ini bagian dari ras yang unggul!"

Dia menepis tangan bocah Manusia itu dan berteriak marah.

"...Kau...."

Mengabaikan temannya yang ras Manusia yang sedang berdiri terpaku kebingungan, Kuko tersenyum.

"Tentu saja kau bisa! Kau akan menjadi entitas tertinggi seperti kami!"

"Kalau begitu, aku akan memakannya!"

"Kalau begitu, turunlah ke sini."

Bagai terlempar, anak laki-laki itu berlari menuju arena.

Dari berbagai penjuru bangku penonton, siswa-siswa Elf lainnya juga ikut bangkit berdiri. Mereka mengikuti jejak anak gemuk itu dan berlari menuju arena.

Begitu anak gemuk itu sampai di depan piring, dia mengambil bongkahan daging ungu itu dan memakannya dengan rakus. Permukaan tubuh Elf gemuk itu langsung membengkak, dan kulitnya berubah menjadi ungu.

Seluruh lemak di tubuhnya seakan terkikis habis, menyisakan seorang pemuda Elf berparas rupawan.

"Inikah... diriku?"

"Benar sekali, kawanku. Kau telah berevolusi menjadi Elder Elf seperti kami!"

Sorak-sorai dari para Elf meledak menyambut deklarasi Kuko. Sorakan itu seolah menjadi pemicu segalanya.

Para Elf yang berkerumun di belakang anak gemuk itu, yang diyakini sebagai pengikut organisasi Libra, bergegas ke piring dan mulai melahap buah itu.

Sementara semua orang berubah menjadi Elf dengan penampilan yang tampan dan cantik rupawan, ada satu Elf yang tiba-tiba menggaruk tenggorokannya dengan ekspresi kesakitan.

"Ah, sepertinya ada barang cacat yang tercampur, ya."

Kuko melontarkan kata-kata itu tanpa berusaha menyembunyikan rasa jijiknya. Dalam sekejap, kulit di sekujur tubuh Elf itu meleleh menjadi cairan kental.

"Aku lupa memberitahu kalian. Buah ini hanya bisa mengubah mereka yang memiliki darah Elf murni menjadi Elder Elf. Jika dimakan oleh ras rendahan yang tercampur dengan darah ras Manusia sedikit saja...."

"...mereka akan berubah menjadi boneka daging yang jelek, tanpa akal dan tanpa pikiran, yang hanya hidup untuk menuruti perintah kami."

Kuko kembali merentangkan kedua tangannya.

"Kami, Libra, akan membuat seluruh orang di dunia memakan buah ini. Kami akan membagi dunia menjadi dua kelas: Ras unggul dan ras rendahan yang akan menjadi budak setia kami."

"Ini adalah tujuan akhir dari Libra dan juga kehendak sang penuntun kami, Tuan Dagon. Bagaimana, bukankah ini rencana yang sangat menakjubkan hingga membuat tubuh kalian merinding?"

Rasa ngeri yang teramat sangat membuat hawa dingin terasa merayap naik dari ujung kaki.

Mereka ingin mengubah tubuh ras selain Elf menjadi monster yang mengerikan. Pada saat itu, Elish mungkin ingin percaya bahwa para siswa Libra yang telah memakan buah tersebut akan menyuarakan penolakan.

Namun....

"Ide yang luar biasa!"

"Tentu saja! Ras rendahan itu tak lebih dari hewan ternak. Kita akan menjadikan mereka makhluk yang hanya patuh kepada kita. Itulah jalan yang benar bagi bangsa Elf!"

Harapan Elish itu dengan mudah dihancurkan berkeping-keping.

"Sepertinya evolusi menjadi umat manusia baru sudah hampir selesai. Kalau begitu, selanjutnya adalah mengubah ras rendahan menjadi binatang buas."

"Benar juga, Elish. Tadi kau sudah berani menghina diriku yang jenius ini, kan! Demi kebaikan dunia, ras rendahan yang tidak mengerti hierarki sepertimu harus menjadi yang pertama diubah menjadi binatang buas."

Setelah Kuko berteriak, sosoknya seketika kabur dari pandangan dan tiba-tiba saja ia sudah mencengkeram kerah baju Elish.

Pria itu kemudian menyeretnya hingga ke depan piring di arena dan melemparkannya ke tanah.

"Pegang dia!"

Atas perintah Kuko, dua orang Elf langsung menahan kedua lengan Elish.

Kuko mengambil sebuah buah dari piring, mendekati Elish, dan menjambak rambut gadis itu dengan tangan kirinya untuk mengangkat wajahnya.

"Buka mulutmu."

Seorang siswa Elf yang lain dengan paksa membuka mulut Elish.

(Sial!)

Dia berusaha sekuat tenaga untuk melawan, namun mulutnya berhasil dibuka secara paksa dengan tenaga yang sangat kuat layaknya catok.

Tidak... tidak! Tidak mau!! Aku sama sekali tidak mau memiliki wujud meleleh dan menjijikkan seperti itu.

Jika aku berubah menjadi monster seperti itu, pria yang akan segera datang itu akan melihat sosokku yang jelek ini. Aku lebih baik mati daripada harus melihat wajahnya dipenuhi rasa jijik saat memandang diriku.

"Berbahagialah. Kau akan menjadi percobaan pertama dari perubahan ras Manusia menjadi binatang buas."

Buah itu benar-benar hampir masuk ke dalam mulut Elish. Ingatan masa lalunya seketika bermunculan bagaikan kilas balik.

Dan saat bayangan dirinya yang sedang berjalan sambil menggandeng tangan seorang bocah laki-laki berambut abu-abu terlintas di benaknya....

"Entah itu Ariel atau Elish, apa kalian berdua ini memancarkan feromon yang membuat orang lain selalu ingin menyerang kalian, ya?"

Bersamaan dengan suara yang terdengar sedikit jengkel itu, buah di depan matanya serta tangan kanan Kuko meledak hancur berkeping-keping.

Di tempat itu, sang pahlawan milik Elish tengah berdiri dengan raut wajah penuh amarah.




◇◆◇

Sihir dengan berbagai macam warna melesat di udara ke arahku, tetapi aku menangkap semuanya dengan Raikiri dan mengembalikannya kepada mereka.

"Ti-Tidak mungkin!"

Sihir-sihir itu berbalik arah dan menghantam para Elf berkulit ungu yang menembakkannya. Mereka terbakar, membeku, hangus tersambar petir, lalu tersungkur ke tanah.

Aku menghindari dua Elf berkulit ungu yang menyerangku dari belakang dengan pisau.

Di saat yang bersamaan, aku menghantam perut salah satunya dengan gagang pedangku, lalu mendaratkan tendangan memutar ke kanan pada Elf yang satu lagi.

Kedua Elf itu terpental keluar jendela dan menghilang dari pandangan.

Sejak saat itu, aku terus berjalan menuju arena pertarungan, sementara para monster yang menyerupai Elf itu terus menyerangku bagaikan kerumunan semut.

Jika mereka adalah lawan yang kuat, mungkin aku akan sedikit bersemangat.

Namun kenyataannya, semua yang menyerangku hanyalah kroco-kroco amatir. Karena saat ini aku masih belum bisa membaca situasinya, aku membiarkan para penyerang Elf yang belum berubah menjadi monster itu tetap hidup, setidaknya untuk saat ini.

"Ini tidak ada habisnya. Sejujurnya, menahan diri seperti ini sangatlah merepotkan."

Sejak datang ke dunia ini, aku sudah banyak belajar tentang cara menahan diri. Meski begitu, tetap saja ada batasnya.

Menahan diri saat menghadapi musuh yang sangat lemah seperti ini adalah pekerjaan yang cukup sulit.

Soalnya, jika aku memberikan sedikit saja tenaga lebih, mereka bisa langsung hancur berkeping-keping.

Setelah keluar dari gedung melalui jendela dan naik ke atap, puluhan Elf berkulit ungu menyerangku.

"Benar-benar, kalian ini bukan kecoak, tahu."

Sambil terus mengeluh, aku menangkap semua Elf berkulit ungu yang berkeliaran di dalam maupun di luar gedung Akademi St.Clan menggunakan benang sihir.

Kemudian, aku memegang sarung pedang Raikiri dengan tangan kiriku, dan menyentuh gagangnya dengan tangan kananku.

"Shinkairyu Kenjutsu, Itto-ryu, Shi no Kata—Arachne."

Aku memotong keempat anggota tubuh dari seluruh Elf berkulit ungu yang telah terikat oleh benang sihirku.

Syukurlah, musuh kali ini memiliki ciri khas berupa kulit berwarna ungu. Jika mereka memiliki penampilan yang sama persis dengan Elf biasa, aku pasti akan membutuhkan waktu yang cukup lama untuk menaklukkan mereka.

Kalaupun ada beberapa orang yang bukan musuh bercampur di antara para Elf berkulit ungu itu, aku sudah memerintahkan bawahanku untuk menghentikan pendarahan mereka agar mereka tidak sampai mati, jadi tidak akan ada masalah.

Saat aku memandang ke sekeliling dari atas atap gedung sekolah, aku bisa melihat sebuah pelindung yang menutupi seluruh area Akademi St.Clan.

"Hoo."

Aku melihat dengan mata kepalaku sendiri fenomena di mana seekor burung yang seharusnya sudah masuk ke dalam pelindung, malah keluar dari tempat yang sama. Pada saat yang sama, beberapa siswa yang mencoba melarikan diri ke luar karena takut dengan keributan ini tampaknya malah kembali ke tempat semula.

"Jadi, efek dari pelindung ini adalah memutus akses keluar masuk, ya."

Mungkin saja hal ini juga dibarengi dengan pemutusan informasi. Jika begitu, ini justru menguntungkan bagiku. Jika Babel atau Guild Hunter ikut campur secara gegabah, situasinya bisa menjadi semakin rumit.

"Arena pertarungannya di sana, ya."

Aku melompat jauh dari atap menuju arena pertarungan.

Di arena pertarungan, di dekat panggung bela diri berbentuk lingkaran, kulihat Elish sedang ditahan oleh para Elf berkulit ungu, sementara guru sampah bernama Kuko itu mencoba memaksanya memakan bongkahan daging berwarna ungu.

Elish itu, dia benar-benar berada dalam bahaya lagi, ya.

"Ariel dan Elish, apa kalian berdua memancarkan feromon yang membuat orang lain ingin menyerang kalian, ya."

Sambil mengeluh seperti itu, aku mencincang tangan kanan Kuko beserta bongkahan dagingnya menjadi kepingan kecil, lalu mendarat di samping Elish. Selanjutnya, aku memotong kedua lengan Elf yang menahan Elish dari pangkalnya, dan menendang mereka dengan pelan.

Setiap Elf yang kutendang melesat dengan kecepatan peluru, menabrak dinding arena pertarungan dengan keras hingga punggung mereka menghantamnya. Aku sedikit salah memperhitungkan kekuatanku. Mereka mungkin saja mati karena tendangan barusan, tapi ini adalah akibat dari perbuatan mereka sendiri. Biarkan saja mereka menanggungnya.

Sambil menatap dingin ke arah Elf yang memegangi dagu Elish dengan ekspresi wajah tercengang, aku berkata,

"Pergilah."

Aku hanya mengatakan hal itu.

"Hiikk!"

Aku memotong kedua kaki Elf itu yang berlari menjauh sambil memekik kecil dan terguling-guling.

Kemudian, aku mengarahkan ujung pedangku ke arah Kuko yang masih menjerit kesakitan sambil memegangi tangan kanannya, dan berkata,

"Berisik. Diamlah."

Untuk membungkam mulutnya, aku menendang dagunya ke atas. Tubuh Kuko terlempar tinggi ke udara, lalu jatuh terbalik karena gravitasi, dan kepalanya hancur berkeping-keping saat menghantam tanah.

Aku telah memunculkan Healing Slime di pundakku dan memerintahkannya untuk menyembuhkan orang-orang yang terluka. Dengan begini, aku tidak perlu memikirkan tentang perawatan luka berat mereka.

"Nah, jadi kau dalangnya?"

Aku bertanya blak-blakan pada Elf dengan dagu menonjol yang sedang menatap kami. Semenjak masuk ke Akademi Ouboro, aku sering kali terlibat dalam masalah yang berhubungan dengan Elf, dan jujur saja, hal itu sangat merepotkan.

Yang paling menyebalkan adalah, lawannya adalah sekelompok kroco super lemah.

Menahan diri sangat membuatku stres, sampai-sampai aku sempat berpikir untuk memusnahkan Libra beserta negara Lorelei sekalian.

Tetapi, ceritanya akan berbeda jika Avery dan yang lainnya terluka parah hingga hampir mati. Ini adalah kudeta yang dilakukan oleh Libra.

Kalau begitu, aku akan menghancurkan dalang dari Libra ini dengan saksama untuk menghilangkan semua kekhawatiran di masa depan.

Ngomong-ngomong, sepertinya tidak ada seorang pun dari orang-orangku di sini, termasuk Rose. Cara kerja yang sangat rapi. Jangan bilang...

"Kuko! Sampai kapan kau mau tidur! Bukankah kau yang akan memberikan hukuman pada Kai Heineman untuk menyelesaikan masalah ini!"

Mendapat teguran keras dari pria Elf dengan dagu yang anehnya panjang itu, Kuko pun merangkak keluar dari tumpukan puing-puing.

"Tentu saja! Kurang ajar, dasar pria tak berguna! Berani-beraninya kau mempermalukanku di depan Tuan Nightgone—!"

Mungkin karena marah, dia memelototiku dengan mata merah menyala dan berteriak dengan suara keras.

"Hmm, memangnya kenapa kalau aku mempermalukanmu?"

"Pria tak berguna, aku akan membuatmu merasakan neraka yang akan membuatmu menyesal karena pernah hidup! Aku akan menguliti tubuhmu, memotong jari tangan dan kakimu, dan memberikanmu segala macam penderitaan!"

"Benar! Aku akan membiarkan wanita murahan itu diserang oleh para binatang buas tepat di depan matamu! Saat dia merintih kesakitan—"

"Beelze, tidak apa-apa, biarkan aku yang mengurusnya."

Aura hitam Beelze yang memancar dari bayanganku dipenuhi dengan emosi amarah yang seolah-olah bisa membuatnya menjadi gila.

Sambil menenangkannya, aku melompat ke arah pria itu, lalu memotong hidungnya yang mancung secara sia-sia itu, dan mendaratkan pukulan balik dengan punggung tanganku.

Tubuhnya berputar-putar dengan kecepatan tinggi dan kembali menabrak dinding arena pertarungan. Aku segera mendekatinya dan berkata,

"Aku pastikan kau akan hancur di sini."

Fakta bahwa kata-kata seperti itu bisa keluar dari mulutnya, berarti dia pasti sudah sering melakukan hal serupa sebelumnya. Aku sama sekali tidak berniat memberikan belas kasihan pada orang jahat semacam ini.

Jika begitu, tempat tujuan akhirnya hanya ada satu. Pada saat yang sama, Libra yang memproduksi massal orang-orang jahat sepertinya, juga harus dimusnahkan sepenuhnya dari dunia ini.

Jika kelak takhta kerajaan berpindah dari Avery ke tangan Libra ini, aku akan melenyapkan negara Lorelei itu sendiri hingga tak berbekas.

Tubuh Kuko yang remuk redam kembali utuh.

"Beraninya kau—"

Aku menendang tubuhnya tinggi ke udara, lalu melompat ke belakangnya dan menghantamnya ke tanah dengan tinju kananku.

Tubuh Kuko hancur berkeping-keping saat menghujam tanah dalam-dalam.

Aku menunggu tubuhnya pulih kembali.

"Sialan!"

Aku bergerak ke belakang Kuko yang baru saja berdiri, lalu mencincang seluruh tubuhnya tanpa henti hingga dia hampir mati.

Sambil menatapnya dari dekat, aku menunggunya kembali pulih. Sepertinya dia akhirnya menyadari niatku.

"Ja-Jangan-jangan—"

Aku kembali memukulnya dan mengubahnya menjadi gumpalan daging yang hancur berantakan.

"Am-Ampu—"

Semangatnya yang menyala-nyala tadi entah pergi ke mana, dan aku terus menghajar Kuko yang kini dengan mudahnya memohon ampun tanpa ampun.

"Tolong, ampun..."

Aku mendekati Kuko yang meringkuk dan gemetar ketakutan, lalu berkata,

"Tidak bisa mati bukanlah sebuah keuntungan sama sekali. Bagi orang lemah sepertimu, itu hanyalah sebuah belenggu. Sudahlah, aku sudah tidak tertarik sedikit pun padamu."

Begitu kata-kata itu keluar dari mulutku, seluruh tubuh Kuko tersedot ke dalam lantai yang berwarna hitam pekat.

"Luar biasa! Pantas saja Yang Mulia itu menyiapkan asuransi! Orang sekelas Kuko itu tidak akan bisa menjadi lawanmu! Kalau aku belum berevolusi, mungkin aku akan sedikit kesulitan!"

Nightgone, pria dengan dagu menonjol itu, menepukkan kedua tangannya dengan keras.

"Pujianmu sekarang tidak akan ada gunanya. Aku juga sudah sangat kesal padamu."

Aku sama sekali tidak peduli dengan guru Elf dewasa sepertinya, tetapi tanggung jawab karena telah melibatkan para pemuda yang memiliki masa depan cerah sangatlah besar.

Aku akan memastikan dia membayarnya dengan tubuhnya sendiri. Termasuk orang yang bernama Dagon itu.

"Entah kau ini dewa tanah dari mana, tapi sepertinya kau tidak tahu cara menjaga ucapanmu, ya."

"Dewa tanah? Kau membicarakan khayalan itu lagi..."

Khayalan itu benar-benar sangat tidak menyenangkan.

Sambil menghela napas panjang, aku mendekati pria yang terus-menerus melontarkan kata-kata kemarahan itu dan menusukkan pedang Raikiri dalam-dalam ke perutnya.

"Hihe?"

Nightgone mengeluarkan suara yang konyol.

"Jangan bilang, kau sama sekali tidak bisa bereaksi? Lemah sekali, benar-benar menjijikkan."

Apa makhluk selemah ini yang membuatku merasa sangat kesal? Benar-benar sulit dipercaya.

Aku menarik gagang pedang Raikiri yang tertancap ke atas perlahan-lahan.

"Gugii! Ja-Jangan bilang, kauuu!"

Sambil mendengarkan jeritan kesakitannya sebagai musik latar, aku perlahan-lahan membelah tubuhnya menjadi dua.

Aku menginjak salah satu bagian kepalanya yang terbelah dua dengan kaki kananku.

"Membosankan. Apa bedanya kau dengan si Kuko tadi?"

Aku sama sekali tidak melihat perbedaannya. Tepat setelah keluar dari dungeon, aku juga tidak bisa membedakan kekuatan orang lain dengan baik. Soalnya, aku hanya bisa menilai mereka semua sebagai makhluk yang lemah.

Namun, meski mereka semua lemah, aku masih bisa merasakan sedikit perbedaan melalui instingku. Belakangan ini, hal itu pun menjadi semakin sulit untuk dilakukan.

"Beraninya kau membandingkan diriku ini dengan sekelas Kuko—!"

Aku menyarungkan Raikiri, lalu mencengkeram kepalanya yang terus-menerus berteriak berisik dengan tangan kiriku dan mulai memukulinya dengan tinju kananku.

"Henti—gigigegegegegegeee—!"

Aku menggunakan Raikiri untuk membelah Nightgone yang telah berubah menjadi gumpalan daging dalam sekejap menjadi bentuk salib, lalu menancapkan sebagian tubuhnya ke tanah.

"Merepotkan sekali. Sebaiknya kuakhiri saja sekarang."

Orang ini terlalu lemah, aku sama sekali tidak tertarik padanya. Bagaimana kalau kuserahkan saja dia pada Beelze? Jika itu Beelze yang sedang mengamuk saat ini, dia pasti bisa menyiapkan teror terbaik untuk orang ini.

"Beelze—"

Tepat saat aku hendak meminta tolong pada Beelze—

"Bocah kecil bernama Mai dan gadis bernama Ariel itu ada di tangan kami!"

Nightgone yang telah pulih hingga bisa berbicara, berteriak lantang.

Sejenak aku tidak bisa memahami apa yang dikatakannya, tetapi aku langsung mengerti. Di saat yang sama, amarah yang membara melonjak dari lubuk hatiku.

"Hoo. Lalu?"

"Cepat menjauh dariku sekarang juga!"

Aku melepaskan Raikiri dari tubuhnya dan menyarungkannya.

Dalam sekejap dia menyembuhkan semua lukanya, lalu melompat mundur untuk menjauh dariku.

"Jangan berani melawan! Jika kau sedikit saja melawan, bocah dan gadis itu akan merasakan penderitaan di neraka yang paling buruk!"

Seolah-olah baru saja memenggal kepala iblis, Nightgone memperingatkanku dengan sombong. Dasar bodoh.

Alasanku menjauh darinya bukanlah seperti yang dia pikirkan. Justru sebaliknya. Singkatnya, aku—

"Dengan begini, skakmat!"

Tubuhnya membengkak, dan sudut bibirnya robek. Bola matanya mencuat keluar, kelopak matanya menghilang, dan pupilnya mengecil menjadi garis tipis.

Dalam sekejap, dia berubah wujud menjadi seperti ikan dan menatapku rendah, lalu dia menjentikkan jarinya dan berkata,

(Hei, para pelayanku, makanlah semua isi sekolah ini!)

Dia memberikan perintah tegas kepada para pelayannya. Sesaat kemudian, para Elf berkulit ungu yang tadi ketakutan padaku dan mundur ke sudut arena sambil gemetar, tiba-tiba mulai meronta kesakitan.

Mereka juga berubah wujud menjadi ikan atau katak, lalu membungkuk hormat kepada Nightgone.

(Kalau kau menggerakkan satu jari pun, kubunuh bocah dan gadis itu! Ditambah lagi, kekuatan wujud perubahanku ini 1.000 kali lebih kuat dari wujud asliku. Sekalipun kita bertarung secara normal, tidak mungkin aku akan kalah darimu!)

Sangat berbeda dengan wajahnya yang penuh keputusasaan tadi, kini Nightgone berbicara dengan angkuh layaknya pemenang.

"Asta, kau di sana, kan?"

"Tentu saja aku ada di sini."

Asta langsung muncul saat kupanggil.

(Apa!? Bagaimana bisa kau menyusup ke sini!? Karena adanya Area Terkutukku ini, selain dari orang yang kuizinkan, seharusnya tidak ada yang bisa masuk ke tempat ini!)

Nightgone sangat terkejut melihat kemunculan Asta yang tiba-tiba.

"Apa mungkin informasi tentang tempat ini akan bocor?"

Aku mengabaikan pria yang berisik itu dan menanyakan hal yang paling krusial pada Asta.

"Area Terkutuk murahan yang terbentang di sekitar sini telah kutimpa berkali-kali dengan pelindung milikku. Karena itulah, selain orang yang kuizinkan, segala macam bentuk komunikasi dan akses keluar masuk dari dan menuju luar adalah hal yang mustahil."

"Begitulah katanya. Sayang sekali, ya."

(Apa maksud perka—)

Seolah memotong perkataan Nightgone, aku mendekatinya dan menjegal kakinya. Sambil berputar dengan kecepatan luar biasa, Nightgone menghantamkan wajahnya ke tanah dengan keras.

Aku menginjak wajahnya yang tertelungkup,

(Ka-Kau, bocah dan gadis itu—)

"Tutup mulut busukmu itu!"

Bersamaan dengan teriakanku, aku menambahkan sedikit tenaga pada kaki kananku yang sedang menginjak belakang kepala Nightgone.

Diikuti dengan suara letupan yang keras, kepalanya hancur berkeping-keping. Gawat, saking lemahnya dia, tanpa sadar aku malah membunuhnya...

(...gi...ge...)

Ah tidak, dia masih kejang-kejang dan sepertinya masih hidup. Benar-benar punya daya tahan hidup layaknya kecoak, ya.

Aku segera memerintahkan Healing Slime untuk menyembuhkannya.

Setelah sembuh, Nightgone menggelengkan kepalanya dan berdiri, lalu pandangan kami bertemu.

Seketika, darah di wajahnya menghilang, dan dia melompat mundur dengan panik untuk menjauhiku.

Lalu, dia merendahkan titik berat tubuhnya dan bersiaga. Melihat tubuhnya yang gemetar hebat, sepertinya dia akhirnya mengerti situasi kritis yang sedang dihadapinya. Benar-benar makhluk yang lamban seperti dinosaurus.

"Di mana Mai dan Ariel berada?"

Aku bertanya dengan nada suara yang sangat dingin, hingga aku sendiri hampir tidak percaya bahwa itu adalah suaraku.

(Mana mungkin aku menjawabnya! Cepat lepaskan aku! Kalau tidak, aku akan langsung membunuh bocah dan gadis itu!)

Nightgone berteriak panik bagaikan binatang buas yang tersudut. Benar-benar makhluk yang konyol.

Dalam situasi mendesak seperti ini, mana mungkin aku bertanya pada makhluk sepertimu.

(Mereka ada di sebuah rumah di ujung tenggara kota ini. Biar kutunjukkan jalannya.)

Tiba-tiba, suara Beelze terdengar dari atas kepalaku. Bagus, sepertinya lokasinya sudah diketahui.

Sekarang tinggal menyelesaikan masalah di sini.

Aku mengeluarkan Ensiklopedia Penaklukan dan membuka lembaran halamannya.

(Ka-Kali ini, apa lagi!?)

Meski panik setengah mati, Nightgone melihat ke sekeliling, mencari sumber suara tersebut.

"Hei kalian, ada tugas! Semuanya, keluar!"

Suara panggilanku bergema, dan ribuan petinggi yang mewakili setiap faksi petarung muncul tiba-tiba di arena pertarungan, di atas kursi penonton, di atas tiang yang tinggi, dan di udara, lalu mereka semua berlutut serentak di hadapanku.

(Hihe?)

Sambil mengeluarkan suara bodoh, Nightgone menatap tercengang ke arah bawahanku yang sedang berlutut di hadapanku.

(Guhiiiiiii—!)

Wajahnya berubah kaku karena ketakutan, dan dia pun menjerit histeris.

(Yang Mulia, tolong perintahkan kami!)

Naga bernama Ladon, yang telah mengambil wujud manusia, mengulurkan lengan kirinya dengan hormat dan menundukkan kepalanya dalam-dalam.

"Baru saja, sampah bernama Dagon itu telah mengumumkan deklarasi perang! Terlebih lagi, dengan cara yang paling terburuk! Aku tidak akan pernah memaafkan dalang dari insiden ini! Demi kehormatanku, aku akan memusnahkan mereka semua, tanpa menyisakan setetes darah atau sepotong daging pun!"

Mendengar kata-kataku yang begitu kuat dan bermusuhan yang belum pernah kulakukan sebelumnya, para petinggi dari Ensiklopedia Penaklukan menelan ludah mereka. Aku mengerti.

Saat ini aku sedang tidak tenang. Aku sangat panik, dan juga marah dari lubuk hatiku yang terdalam.

Membiarkan Mai, anak kecil yang tak bersalah, diculik oleh sekumpulan serangga rendahan ini pada awalnya adalah kesalahanku.

Aku sama sekali tidak menyangka mereka akan melibatkan gadis kecil yang tidak ada hubungannya.

Karena pemikiranku yang terlalu naif itulah, Ariel jadi ikut berada dalam bahaya.

Jika mereka sampai melakukan sesuatu padanya—

"K-Kai?"

Merespons Elish yang dengan takut-takut bertanya tentang niatku,

"Ada tempat yang harus kutuju sekarang."

Aku hanya menyampaikan poin pentingnya saja, dan kemudian berkata,

"Kalian mengerti, kan? Seberapapun lemahnya lawan kalian, hancurkan mereka sepenuhnya, dan bereskan keributan di akademi ini!"

Aku memberikan perintah tegas kepada para bawahanku yang masih berlutut, lalu melompat ke dalam bayangan yang dibuat oleh Beelze.

◇◆◇

Elish dan yang lainnya, melalui gambar yang diproyeksikan di langit, menatap kosong pada pertarungan tanpa ampun yang lebih pantas disebut pembantaian.

Bawahan Kai berada pada level yang sama dengan Tuan Zenki dan yang lainnya. Memang sejak awal aku tahu mereka kuat.

Namun, kupikir Tuan Zenki adalah orang yang spesial. Tapi sekarang, aku sangat yakin bahwa dugaanku itu jelas-jelas salah.

Mantan Elf dengan wajah ikan atau katak itu berlarian menyelamatkan diri dengan ekspresi keputusasaan. Dan dengan kejamnya, bawahan Kai memburu mereka satu per satu.

"Hei, hei, bukankah itu ras manusia naga, Dragonewt!?"

Cid, yang berada di sebelahnya, berbicara dengan suara riang, wajahnya memerah karena antusias.

"Tidak, ada juga sosok naga seutuhnya. Makhluk itu sama sekali berbeda. Terlebih lagi..."

Kepada Silud yang kehabisan kata-kata,

"Mereka semua adalah kumpulan Transcenden tingkat atas."

Millefeuille, yang menonton di sebelah mereka, menyatakannya dengan nada tegas.

Millefeuille, setelah disembuhkan kelumpuhannya oleh Slime bawahan Kai, segera berlari menghampiri ibunya, Avery, dan Komandan Kesatria Pengawal Kerajaan, Gastalt.

Dan setelah mengetahui bahwa mereka sudah pulih dan tidak terluka sedikit pun, dia menyerahkan perawatan mereka kepada tim medis dan bergabung untuk menonton pertarungan tersebut.

"Transcenden. Eksistensi yang kita sebut sebagai dewa..."

Aku sudah sedikit menduganya. Raja Kutukan yang waktu itu juga, seharusnya merupakan bencana besar yang dapat menghancurkan Babel.

Hanya karena Kai dan Tuan Zenki yang dengan mudahnya menghancurkan mereka, musuh itu terasa sangat lemah.

"Ya, dan orang-orang itu adalah Transcenden kelas tertinggi yang pernah tercatat dalam sejarah!"

Millefeuille menegaskannya dengan nada yang agak bangga.

Di sebelah Millefeuille, kakak Ariel yang baru saja tiba, Sicke, bergumam sambil memutar wajahnya.

"Apakah itu Letnan Jenderal Pasukan Jahat, Drekavac!? Lalu Malaikat Jatuh Azazel, serta mantan komandan Ruin dari Pasukan Jahat, Ronove! Kalau begitu, apakah dia Dewa dari Pasukan Jahat!? Bukan, itu mantan salah satu dari Empat Jenderal Langit Pasukan Surga, Dewi Athena, dan Dewi Waktu Norn yang disebut sebagai Harta Karun Surga! Apakah ada juga Shuten-doji dari masa lalu, dan Dewa Naga Ladon!? Aku sudah tidak mengerti apa-apa lagi!"

Sejak tadi dia bergumam sendiri sambil menatap kosong pada pertarungan tidak masuk akal yang sedang berlangsung.

"Tuan Sicke? Apakah terjadi sesuatu?"

"Tidak, tidak ada apa-apa."

Sicke buru-buru menutup mulutnya. Namun,

"Sicke, kami punya beberapa penjelasan dan permintaan untukmu. Kau tidak keberatan, kan?"

Salah satu tangan kanan Kai, Asta, muncul di belakang Sicke, meletakkan tangannya di bahu kirinya, dan bertanya dengan nada yang tidak menerima penolakan.

"Baiklah. Berdasarkan hal itu, bolehkah saya menanyakan satu hal?"

"Apa itu?"

"Apakah Anda semua adalah musuh kami?"

"Apakah kau menganggap kami sebagai musuh?"

Sicke menghela napas panjang, menggelengkan kepalanya perlahan, dan berkata,

"Tuan Kai telah menyelamatkan kami dua kali. Terlebih lagi, kali ini beliau marah besar demi adikku, Ariel. Aku sendiri sangat memahami keberadaan beliau itu."

Dia menjawab dengan ekspresi pasrah. Memang benar, sejak mengetahui bahwa gadis bernama Mai dan Ariel diculik, sikap santai yang biasanya ditunjukkan oleh Kai menghilang sepenuhnya.

Terutama, karena Kai telah menyelamatkan Ariel dua kali. Setidaknya, Kai menganggap Ariel sebagai orang yang penting baginya.

Memikirkan fakta tentang obsesi Kai terhadap Ariel, dada Elish terasa sakit.

(Eh, aku... sekarang...)

Mengabaikan Elish yang sedang kebingungan karena merasakan emosi yang bahkan tidak bisa dijelaskan oleh dirinya sendiri, Cid berkata,

"Intinya, karena dia bisa menundukkan Transcenden kelas terkuat itu, maka Kai Heineman itu... apakah kita bisa menganggapnya sebagai seorang Transcenden juga!?"

Dengan wajah memerah karena antusias, Cid menanyakan hal itu pada semua orang.

Bagi Cid yang seorang Mage, dewa adalah eksistensi yang spesial.

Karena itulah, wajar jika dia menganggap Kai, yang bisa menundukkan mereka, sebagai makhluk bukan manusia.

Namun—

"Tidak! Dia itu manusia!"

Elish segera membantah pernyataan Cid dengan sekuat tenaga. Kai bukanlah manusia. Fakta itu saja yang tidak akan pernah bisa diakuinya.

"Yah, setidaknya dia sendiri percaya bahwa dirinya adalah manusia."

Asta menepuk pelan kepala Elish dan menjawabnya dengan lembut sambil tersenyum. Dilihat dari situasinya, Asta sepertinya merasa senang karena Elish menganggap Kai sebagai seorang manusia.

"Ngomong-ngomong, apa yang akan dilakukan pihak akademi pada para idiot bodoh yang telah membuat masalah ini, yang sedang tidur di sana itu?"

Cid bertanya pada Silud dengan ekspresi penuh kebencian, matanya tertuju pada para Elf yang tertidur di arena pertarungan.

Para Elf yang telah berubah menjadi monster itu, setelah tubuh fisiknya dihancurkan oleh para Transcenden bawahan Kai, mereka dikembalikan ke wujud semula oleh Slime bawahan Kai dan dibaringkan di arena pertarungan ini.

Fakta ini juga menjadi salah satu alasan mengapa Elish dan yang lainnya bisa menonton pertarungan ini dengan tenang.

"Tentu saja mereka akan diadili dalam sidang gabungan antara Babel dan negara Lorelei. Lagipula, mereka merencanakan pembunuhan Yang Mulia Avery dan berencana menggulingkan negara Lorelei. Pelaku dan sampah yang mendukung tindakan bodoh itu tidak akan luput dari hukuman mati. Lebih tepatnya, aku juga benar-benar marah dari lubuk hatiku atas kejadian kali ini! Siapapun yang terlibat dengan Libra, meskipun tidak ada hubungannya dengan insiden ini, aku akan mengusir mereka selamanya dari akademi ini!"

Sambil tersenyum mengerikan, Silud melontarkan kata-katanya, dan Cid mengangguk puas sambil menyeringai.

"Itu bagus. Kalau para rasis keras kepala itu tidak ada, akademi ini akan menjadi tempat yang jauh lebih baik."

"Bahkan jika ada penganut Libra yang bersembunyi sekalipun, melihat situasi ini, kurasa mereka akan kehilangan niat untuk mendukungnya."

"Tentu saja, melihat ketua mereka dalam keadaan seperti itu..."

Nightgone, yang awalnya bersikap sangat sombong dan bertingkah seolah-olah dia adalah orang penting, kini telah dihajar habis-habisan oleh seorang pemuda bermata satu berpakaian putih yang diyakini sebagai bawahan Kai, dan sekarang dia sedang sekarat.

Pemuda bermata satu itu mengangkat tangan kanannya dengan santai. Di tangan kanannya, dia memegang lengan kiri Nightgone.

Detik berikutnya, percikan darah menyembur dari potongan lengan kiri Nightgone.

(Tolong bunuh saja aku!)

Nightgone, yang awalnya menangis dan memohon ampun, kini telah memohon akhir hidupnya sendiri akibat kekerasan yang berulang kali tak masuk akal dan tak dapat dijelaskan itu.

(Kuhi!?)

Wajah Nightgone terbelah menjadi dua, dan sekali lagi, kematian datang menjemputnya.

"Tuan Asta, serangan apa itu?"

"Hanya serangan mata-mata itu sajalah yang tidak bisa kupahami. Kemungkinan besar, dia bergerak di dalam ruang waktu yang berhenti."

Mendengar jawaban Asta, Sicke berkata,

"Pergerakan dalam ruang waktu yang berhenti!? Itu adalah keajaiban yang hanya dimiliki oleh dewi Norn dan jajaran enam jenderal Typhon, serta eksistensi spesial lainnya!"

Sicke yang terkejut panik, mencecar Asta dengan pertanyaannya.

"Karena berbagai alasan, pria bermata satu itu kini memegang kendali penuh atas kekuatan Typhon tersebut."

"..."

Setelah terdiam tanpa kata-kata, Sicke sejak saat itu mengatupkan mulutnya rapat-rapat.

"Sudah waktunya ini berakhir. Menurutku mereka sudah berjuang cukup keras melawan para psikopat itu."

Setelah mendeklarasikan akhir pertarungan dengan nada tanpa beban, Asta menghilang entah ke mana.

"Aku akan memintanya menjadikanku sebagai bawahannya!"

Mendengar deklarasi dadakan Cid yang konyol ini,

"Tentu saja tindakan tidak sopan seperti itu tidak boleh!"

Silud menaikkan suaranya penuh kepanikan, dengan sekuat tenaga menyangkal deklarasi Cid.

"Kalau tidak boleh jadi bawahan, aku akan minta diangkat jadi murid. Meski ditolak, aku takkan menyerah. Aku akan memohon berkali-kali padanya."

Cid meninggikan suaranya seraya mengepalkan kedua tangannya erat.

"Aku menolak keras tindakan curi start seperti itu!"

"Curi start? Toh pada akhirnya, kamu juga punya pemikiran yang sama, kan?"

Mendengar perkataan Cid yang bernada muak,

"..."

Silud pun memalingkan wajahnya, pipinya sedikit merona.

"Bagaimanapun juga, dengan kejadian kali ini, ideologi Libra bisa disingkirkan dari akademi ini. Bisa dibilang pada akhirnya semua berjalan baik, kan?"

"Begitulah. Kalau setelah melihat kejadian ini masih ada yang mengoceh bahwa Elf adalah ras unggul, dia benar-benar orang bodoh yang tidak bisa diselamatkan. Dia tidak pantas berada di Akademi St.Clan ini. Setidaknya, itu bukan hal yang boleh dilakukan. Bagaimanapun juga, akademi ini adalah salah satu akademi terbaik di Babel, kan."

"Entahlah soal itu."

Elish menyangkal pernyataan Silud.

"Guru Elish, apa Anda tahu sesuatu?"

Cid langsung mendesak Elish untuk menjelaskan dasar perkataannya.

"Mengingat besarnya dampak insiden ini pada Babel secara keseluruhan, aku yakin pada prinsipnya memori para siswa Akademi St.Clan yang tidak terlibat langsung dalam insiden ini akan dihapus."

"Tunggu, tunggu sebentar! Jangan bilang kami juga!"

"Itu tergantung hasil diskusi antara petinggi Babel dan Akademi St.Clan. Tapi, jika memori semua orang dihapus, justru ada kemungkinan hal itu akan menghambat jalannya manajemen sekolah ke depannya. Aku rasa memori orang-orang seperti kalian yang terlibat langsung dalam operasional sekolah tidak akan dihapus."

"Begitu, ya..."

Melihat Cid dan Silud yang dengan jelas menghela napas lega,

"Meskipun demikian, Akademi St.Clan juga punya niat untuk menyingkirkan pengaruh Libra. Mereka mungkin akan mencoba menyisakan ingatan tentang betapa berbahayanya Libra dengan suatu cara."

Tapi, itu adalah urusan Kai dan Yang Mulia Avery. Kurasa mereka akan mengaturnya dengan baik.

"Kalau begitu, mari kita pergi membantu juga. Sekitar separuh dari jumlah guru keluar karena kejadian ini, jadi sekolah sedang benar-benar kekurangan staf."

"Benar juga. Kalau begitu, Guru Elish!"

"Ya."

Elish juga perlu berdiskusi dengan Yang Mulia Avery tentang penyelesaian insiden kali ini.

(Mungkin nanti aku akan mengirimkan makanan untuknya,)

Sambil memikirkan hal itu secara samar, Elish pun mulai berjalan untuk memberikan bantuan.

◇◆◇

Sesuai dengan petunjuk suara itu, Ares tiba di sebuah rumah lapuk di ujung tenggara Distrik Keenam.

Begitu masuk ke dalam rumah, di pintu masuk, Torla dan siswa-siswa Elf lainnya sudah menunggu dengan senjata terhunus.

"Di mana Mai? Dia baik-baik saja, kan?"

Sambil menahan amarah yang meledak-ledak di dalam hatinya, Ares bertanya pada Torla.

"Dia ada di ruang tamu di lantai dua. Kami adalah Elf Libra yang penuh harga diri. Kami tidak akan melukai anak-anak."

Dengan wajah masam, Torla memberikan jawaban yang konyol.

Sejak awal, orang yang memiliki harga diri tinggi tidak mungkin menyandera anak kecil.

Dilihat dari ekspresi kaku Torla, sepertinya dia sendiri pun menyadari kontradiksi itu.

"Antarkan aku ke tempat Mai sekarang juga!"

Ares mendesak Torla dengan nada tegas.

"Ikuti aku!"

Saat dituntun Torla memasuki ruang tamu di lantai dua,

"Ariel!"

Begitu melihat Ares, Mai langsung berseru. Gadis itu terikat di sebuah kursi besi di tengah ruangan.

"Mai!"

Didorong oleh rasa panik yang kuat, Ares mencoba mendekati Mai.

Namun, sebuah kekuatan tak kasat mata dari atas menekannya ke bawah dan menguncinya di lantai.

Dalam sekali kedipan mata, seorang pria tinggi berambut panjang, mengenakan mantel biru tua dan topi, sudah berdiri di depan kursi tempat Mai duduk.

"Nah, nah, naah... perkenalkan, saya Dagon. Salah satu petinggi Libra dan seorang pendeta yang mengemban tugas untuk menyampaikan firman agung dewa kita ke dunia bawah ini, ya. Salam kenal, ya."

Seolah sedang mengejek Ares dan yang lainnya, pria tinggi bernama Dagon itu sengaja melepas topinya dan membungkuk dengan gaya yang berlebihan.

Menilai dari reaksi Torla, sepertinya mereka masih memiliki penolakan psikologis untuk melibatkan Mai yang masih kecil.

Tidak mungkin Torla dan teman-temannya yang merencanakan insiden ini. Pasti Dagon-lah yang mencuci otak Torla dan merancang penculikan kali ini.

"Lepaskan Mai!"

Ares tahu ini percuma, tapi tanpa sadar dia meninggikan suaranya.

Jika mereka bersedia melepaskannya semudah itu, mereka takkan menculiknya sedari awal.

Fakta bahwa mereka berniat melenyapkan Ares sekaligus Mai hampir bisa dipastikan.

"Tuan Dagon, wanita yang menjadi kelemahan si tak berguna itu sudah kita tangkap. Bisakah kita lepaskan saja anak kecil itu sekarang?"

Dengan ekspresi wajah yang tampak terdesak, Torla mengajukan permintaan yang sama sekali tidak pernah diduganya kepada Dagon.

"Hmm, mungkinkah mantranya sudah terlepas dari kalian, ya?"

Menyipitkan matanya, Dagon menggumamkan pertanyaan yang membingungkan.

"Mantra, maksud Anda?"

Torla mengerutkan kening dan bertanya balik.

"Padahal baru-baru ini efeknya masih bekerja dengan sempurna, ya. Mantra saya tidak selemah itu hingga bisa menghilang dengan sendirinya. Kalau begitu..."

Melihat Dagon yang tampak berpikir,

"Tuan Dagon?"

Begitu Torla memanggil dengan ragu, tiba-tiba Dagon sudah berada tepat di depan wajahnya.

"Tunggu, apa yang—!?"

Dagon mencengkeram erat kepala Torla yang sedang panik dengan tangan kanannya.

"Tidak ada efeknya... mungkinkah ini penghapusan mantra dan kekebalan, ya."

"Tuan Dagon!"

Torla menepis tangan kanan Dagon dan menjaga jarak.

"Torla, maukah kamu menjadi Elder Elf, ya?"

"Elder Elf? Mana mungkin ada yang bisa menjadi makhluk legendaris seperti itu!"

Mungkin mengira Dagon sedang bercanda dan mengejeknya, Torla meninggikan suaranya dengan nada kesal.

"Hal seperti ini tak mungkin terjadi secara alami. Pasti ada campur tangan pihak ketiga, ya. Merepotkan sekali. Sungguh sangat merepotkan, ya."

Melihat Dagon yang bergumam sambil mengusap dagunya dengan tangan kanan, Elf-Elf lain menarik Torla ke sudut ruangan dan mulai berbisik-bisik.

(Hei, Torla. Bukankah ini sudah jelas-jelas gawat!)

(Benar! Lagipula, masa sih ras Elf yang mulia menyandera anak kecil dari ras manusia! Kenapa kita bisa sampai ikut bekerja sama dalam hal seperti ini!?)

(Aku tahu! Aku juga sudah tidak tahan lagi! Aku tidak mau ikut campur lagi!)

Bahkan dari samar-samar percakapan yang terdengar, terlihat jelas bahwa mereka tidak setuju dengan perlakuan terhadap anak ini.

Atau lebih tepatnya, kalau memang begitu, kenapa mereka bersedia bekerja sama dalam rencana ini?

Lalu tentang perkataan mantra yang terlepas, penghapusan mantra, dan kekebalan. Mungkin, sejak awal Torla dan teman-temannya...

"Saya penasaran bagaimana keadaan di arena pertarungan, ya."

Dagon menepukkan kedua tangannya, dan sebuah pemandangan pun muncul di udara.

"Ka-Kai!?"

Tanpa sadar, Ares menjerit panik.

Di sana, tergambar sosok Kai yang berlumuran darah dan tertelungkup tak bernyawa, dengan Kuko yang menusukkan pedangnya ke dada Kai.

"Kaaaaiiiii! Tidak mau! Jangan! Aku bilang tidaaaaak!"

Ada kemungkinan Kai telah pergi untuk selamanya. Memikirkan hal itu saja sudah membuat Ares menangis dan menjerit menyedihkan seperti anak kecil.

"Kumohon, bangunlah!"

Ares terus berteriak memanggil dengan putus asa, tapi sosok Kai dalam proyeksi itu tak bergerak sedikit pun.

Luka dengan pendarahan hebat dan pedang yang menancap tepat di jantungnya adalah sebuah kenyataan. Kai sudah...

"Tidak mungkin..."

Setelah menyadari fakta yang terasa bagaikan mimpi buruk itu, keputusasaan yang kelam menusuk dada Ares, membuatnya bergumam pelan.

"Hmm, sepertinya Nightgone berhasil melakukannya dengan baik, ya. Sekarang tinggal pedang ini..."

Sebuah pedang panjang nan indah melayang di depan Dagon.

Dagon mencengkeram gagangnya dan berjalan mendekati jendela, lalu menebas sebuah kursi yang terjatuh di dekatnya.

Kursi itu bersinar menyilaukan, lalu berubah menjadi monster humanoid berbentuk gurita dan berlutut di hadapan Dagon.

Kemunculan monster yang tiba-tiba itu membuat Torla dan teman-temannya memekik kaget.

"Pedang yang secara akurat bisa mewujudkan imajinasi orang yang menebasnya... ia bahkan bisa membengkokkan hukum sebab akibat, ya. Dan lagi, sepertinya tidak ada batasan sama sekali..."

Untuk pertama kalinya, Dagon menunjukkan emosinya. Itu bukanlah kegembiraan, ataupun perasaan positif seperti sukacita.

Itu pastilah emosi yang paling purba dan tak tertahankan, yaitu rasa takut yang luar biasa.

"Benda seperti ini seharusnya tidak ada di dunia tempat makhluk-makhluk rendahan tinggal, ya. Apakah monster itu yang menciptakannya? Tidak, seberapapun gilanya dia, benda ini berada di dimensi yang sama sekali berbeda."

"Jika memang ada eksistensi yang mampu menciptakan benda seperti ini, itu pasti..."

Melihat Dagon yang bergumam pada dirinya sendiri,

"Tu-Tuan Dagon, benda apa itu sebenarnya?"

Sebagai perwakilan yang lain, Torla menunjuk ke arah monster gurita berwajah manusia itu dan bertanya pada Dagon dengan ragu.

"Hmm, sepertinya ada eksistensi yang sangat merepotkan di dunia ini, ya. Apakah sebaiknya saya menyarankan untuk segera membatalkan inkarnasi dan menarik diri dari dunia ini, ya."

Dagon terus bergumam mengabaikan Torla, seolah-olah eksistensi mereka tidak ada.

"Sepertinya itu pilihan yang terbaik, ya. Lagipula, bahkan jika saya ingin bertemu dengan monster sejati yang bisa menciptakan pedang semacam ini, kemungkinan hal itu terjadi sangatlah kecil."

"Mungkin sebaiknya kita kembali setelah cukup bersenang-senang, ya."

Sambil tersenyum menyeringai, Dagon menatap tajam Torla, kawan-kawannya, dan Mai dengan matanya yang melotot. Kemudian, ia mengamati seluruh tubuh Ares dari ujung kepala hingga ujung kaki, seolah-olah sedang menjilatnya.

"Hii!"

Melihat ekspresi menjijikkan yang sama sekali tidak terlihat seperti manusia dan hanya menimbulkan rasa jijik itu, Torla dan yang lainnya sontak menjerit ngeri.

Sepertinya, mereka akhirnya menyadari monster mengerikan macam apa yang selama ini mereka percayai sebagai sang Mesias.

"...Tuan Dagon, si tak berguna itu sudah mati... Berarti anak kecil dan wanita itu sudah tidak ada hubungannya lagi, kan. Tolong segera lepaskan mereka."

Sambil mengernyitkan wajahnya karena rasa pahit yang mendalam, Torla memaksa dirinya untuk berbicara.

Ares sangat memahami perasaan yang dirasakan Torla saat dia harus mengucapkan sendiri fakta kematian Kai.

Soalnya, itu adalah perasaan yang terus mendera Ares sejak dia tiba di dunia ini. Yaitu rasa penyesalan yang mendalam dan penyesalan yang tiada henti.

"Hmm, tidak boleh, tidak boleh, itu tidak boleh, ya. Wanita itu adalah teman sekelasnya. Saya membutuhkannya sebagai pion permainan untuk melawannya, ya. Dan untuk bocah itu... dia adalah kesukaan saya, ya."

"Saya sangat menyukai daging anak manusia yang direndam dengan rasa takut yang melimpah, ya. Apalagi jika ada iringan musik berupa tangisan, itu semakin luar biasaa, ya!"

Dagon mengerutkan wajahnya penuh kepuasan, sambil meliuk-liukkan jari-jarinya yang panjang tidak normal.

"Apakah selama ini Anda menipu kami?"

Bukan rasa takut ataupun marah, dengan wajah yang diwarnai kesedihan mendalam, Torla bertanya pada Dagon.

"Hmm, saya merasa terhina jika Anda menuduh saya menipu, ya. Kalian sajalah yang dengan seenaknya menganggap saya sebagai rekan sesama ras humanoid, ya."

Sudah cukup. Dagon hanya melihat Torla dan teman-temannya sebagai alat yang mudah dimanfaatkan. Jika mereka tak berguna lagi, mereka hanya akan dibuang begitu saja. Oleh karena itu...

"Tolong bawa Mai dan larilah dari sini! Cepat!"

Namun, peringatan Ares yang lebih terdengar seperti permohonan itu...

"Hei, ayo kita selamatkan wanita dan bocah itu!"

...langsung dibantah oleh keberanian Torla dan kawan-kawannya.

"Ya!"

Di bawah perlindungan teman-temannya, Torla berlari mendekati kursi Mai. Ia memutus ikatan yang mengikat gadis kecil itu dengan pedangnya, lalu menggendong Mai di punggungnya.

"Maafkan aku! Kami berjanji akan mengembalikan kalian ke tempat semula!"

Dia menyatakan tekadnya.

Teman-teman Torla juga mendekati Ares dan mencoba membawanya, namun mereka sama sekali tak bisa memindahkannya, seolah tertahan oleh kekuatan tak kasat mata.

"Aku sudah tidak bisa diselamatkan lagi! Larilah bersama Mai!"

Kekuatan yang menahanku ini tidak normal. Pasti ini kutukan yang kuat atau semacamnya.

Dengan kemampuan Ares dan Torla saat ini, mustahil untuk mematahkan kutukan ini.

Jalan keluar terbaik saat ini hanyalah melarikan diri, bahkan jika itu berarti hanya Mai yang selamat.

"Jangan bercanda! Aku harus membawamu kepada pria itu!"

Mendengar kata-kata Torla yang sangat tidak terduga,

"Tapi, pria itu sudah tak ada lagi di mana-mana!"

Tanpa sadar, aku membalasnya. Sang penyelamat yang selalu datang menolong Ares kini sudah tiada.

Jika terus begini, kita benar-benar takkan bisa menyelamatkan Mai.

"Akulah yang paling tahu seberapa kuat si tak berguna itu... bukan, maksudku Kai Heineman, karena aku pernah dihajar olehnya! Aku tahu dia takkan mungkin dikalahkan oleh seseorang seperti Kuko!"

"Apa kau benar-benar percaya dia sudah mati!?"

"Pria itu... masih hidup?"

Perkataan Torla seolah menyalakan api kecil di jiwaku yang sebelumnya membeku. Ini adalah perubahan hati yang kecil, tapi nyata.

"Ini bukan soal logika! Tapi aku yakin dia masih hidup!"

Ares bisa melihat dengan jelas bahwa sama sekali tak ada kebohongan dalam ekspresi tegas Torla, dan Torla pun benar-benar yakin dengan ucapannya itu.

(Tenanglah, Ares!)

Ares mengingatkan dirinya dengan kuat, dan mulai memikirkan kembali insiden kali ini.

Pemandangan yang Ares lihat tadi hanyalah ilusi yang diciptakan melalui mantra.

Memberikan informasi palsu menggunakan mantra untuk membingungkan lawan adalah teknik yang juga umum digunakan di Alam Surga.

Jika dipikir baik-baik, apakah mungkin Kai akan kalah dari Kuko hanya karena Mai dan Ares disandera?

Meski mereka belum lama saling mengenal, kekuatan Kai yang sebenarnya tidak hanya terletak pada kemampuan bertarungnya.

Tapi juga pada ketenangannya yang dingin untuk mencapai tujuannya dengan membuang semua batasan, serta semangatnya yang pantang menyerah meski dalam situasi sesulit apa pun.

Sekalipun Kai hanya memiliki kekuatan yang sama dengan Ares saat ini, dia pasti takkan kalah dari Kuko. Ares berani menjamin hal itu.

Sangat tidak masuk akal jika Kai hanya diam saja dan membiarkan Kuko membunuhnya hanya karena ancaman penyanderaan. Akan lebih masuk akal jika menganggap itu adalah informasi palsu.

Lagipula, Dagon tak punya alasan untuk sengaja memperlihatkan informasi palsu itu pada Ares. Berarti, semua ini...

"Kai masih hidup."

Begitu menyadarinya lagi, rasa putus asa dan kelelahan yang Ares rasakan sebelumnya, telah tergantikan oleh harapan yang berwujud keberanian.

Torla benar. Kenapa Ares malah menjadi lemah hanya karena melihat pemandangan dari mantra ilusi semacam itu.

"Yang menahanku ini kemungkinan besar adalah sebuah mantra! Tolong menjauh dariku sebentar!"

"B-Baiklah!"

Sambil melihat Torla mengangguk dari sudut matanya, Ares menutup kedua matanya.

Ini adalah metode konstruksi mantra yang diajarkan oleh ayahnya di masa lalu.

Ia menciptakan sebuah kotak di tengah dadanya, dan dari sana ia membangun energi suci. Tentu saja, Ares yang sekarang tidak memiliki kekuatan suci.

Namun, pada akhirnya ini hanya soal jenis kekuatan yang berbeda; cara menggunakan kekuatan itu pada dasarnya tidak banyak berubah.

Ares juga telah menyadarinya sendiri sejak ia bereinkarnasi sebagai manusia di Lemuria.

Ares perlahan mengeluarkan kekuatan yang telah ia kumpulkan di dalam kotak itu, dan menyebarkannya ke seluruh tubuhnya.

"Guh!"

Setiap kali kekuatan itu menyebar, rasa sakit yang luar biasa seolah-olah tubuhnya tercabik-cabik menjalar ke seluruh tubuhnya.

"Aku tak tahu! Aku tak pernah tahu ada sihir seperti ini!"

Di tengah seruan kaget dari Elf perempuan itu, kutukan tak kasat mata yang menahan Ares mulai retak.

"Hmm, itu sihir dari Era Dewa, ya."

Tepat saat Dagon bergumam, kutukan tak kasat mata itu hancur berkeping-keping.

"Sudah lepas!"

Begitu Ares membuka matanya, aura keemasan menyelimuti seluruh tubuhnya.

Ini adalah energi suci Ares. Padahal selama ini tak peduli bagaimanapun ia mencobanya, ia tak pernah bisa menghasilkan energi suci dengan tubuh ini, namun di saat kritis seperti ini ia malah berhasil melakukannya dengan mudah.

Meski Ares tak tahu alasannya, mungkin tubuh ini belum sepenuhnya kehilangan esensi dewa. Jika begitu, Ares seharusnya bisa memanggil kartu asnya.

"Ka-Kamu ini..."

Kepada Torla yang tertegun di tempat yang salah pada waktu yang salah,

"Ayo lari!"

Ares membalasnya sembari memanggil pusaka suci, partner andalannya, dengan menggunakan energi sucinya.

Sensasi gagang Gram muncul di kedua tangan Ares.

Pusaka Suci Gram—ini adalah salah satu Pusaka Suci terkuat di Alam Surga yang Ares warisi dari sang ayah bersamaan dengan tanggung jawab untuk mengelola Lemuria.

Gram juga merupakan senjata serba guna yang dapat mengubah bentuknya sesuai dengan energi suci Ares.

Ares berlari kencang menuju pintu ruang tamu, menggunakan Gram yang telah diubahnya menjadi sebuah godam raksasa untuk menghancurkan pintu itu, dan berlari keluar.

Saat ia berlari menuruni tangga dan hendak mencapai lobi depan, ruang di depan pintu masuk utama melengkung secara tidak wajar, dan monster-monster berkepala gurita yang berjalan dengan dua kaki dan membawa senjata bermunculan satu per satu dari sana.

Tepat saat Ares dan yang lainnya menuruni tangga, mereka benar-benar terkepung oleh monster-monster berkepala gurita itu.

"Percuma saja, ya. Bahkan jika Anda bisa menggunakan sihir Era Dewa sekalipun, dengan kekuatan Anda saat ini Anda tak mungkin bisa melarikan diri dari saya, ya."

Ruang di tengah lobi utama kembali melengkung, dan Dagon yang bersandar santai di sebuah kursi muncul dari sana.

"Hii!"

Melihat kursi itu, sebuah jeritan kecil lolos dari mulut Elf perempuan itu. Wajar saja.

Kursi itu benar-benar terbuat dari ras manusia yang dipadatkan, dan dari mata, hidung, serta mulut di wajah-wajah manusia tersebut, darah mengalir keluar.

Tidak salah lagi. Dari perbuatan ini, dia pasti tergabung dalam kelompok dewa jahat.

Itu berarti monster-monster berwajah gurita yang mengepung mereka saat ini adalah bawahan dewa jahat. Ini takkan mudah diatasi.

"Aku akan membuka jalan untuk mundur! Sisanya kuserahkan pada kalian!"

Sambil berseru, Ares mengubah Gram menjadi pedang besar dan menebaskannya ke arah Dagon. Sinar cahaya menerjang Dagon dan monster gurita yang sepertinya adalah bawahannya itu.

Ketika cahaya itu mereda, monster gurita yang tadinya ada di depan pintu utama rumah sudah musnah akibat tebasan Gram, namun seperti yang bisa ditebak, Dagon masih duduk santai di kursinya yang menjijikkan itu tanpa bergeming, bahkan tanpa luka sedikit pun.

"Hmm, jadi serangan semacam ini saja sudah cukup untuk memusnahkannya, ya. Wajar saja, karena memang hanya terbuat dari Elf, kekuatannya cuma segini, ya. Kalau begitu, mulai sekarang—"

Ares mengubah Gram menjadi senapan dan menembakkannya berkali-kali ke arah Dagon.

"Sekarang! Cepat lari!"

"O-Oke!"

Di tengah rentetan tembakan garis cahaya yang menyerang Dagon, Torla yang menggendong Mai beserta yang lainnya berlari melewatinya.

Tepat saat mereka hampir mencapai pintu besar, bayangan hitam seperti tangan tiba-tiba menahan Torla dan kawan-kawannya dengan mudah.

"Le-Lepaskan!"

Mengabaikan Torla dan kawan-kawannya yang berusaha keras melepaskan diri dari bayangan hitam itu, segerombolan monster berwujud humanoid terus-menerus muncul.

Semua monster itu memiliki gigi tajam yang tak wajar, bola matanya mencuat tanpa kelopak, dan tersenyum mengerikan dengan sudut bibir terangkat.

"Sekarang giliran bawahan resmiku, ya."

Dagon menjentikkan jarinya.

Sejurus kemudian, salah satu bawahan resmi Dagon, monster berkepala plontos, memiting Ares dari belakang.

"Nah, nah... bagaimana ini baiknya, ya. Padahal kamu berada di tubuh manusia, tapi kamu punya energi suci yang cukup hebat, ya. Pasti dulunya kamu adalah seorang dewi yang sangat suci, ya."

"Saya penasaran seperti apa rasa daging perpaduan antara dewi dan manusia ini, ya."

Dagon menjilat bibirnya dengan ekspresi penuh nafsu.

"Awalnya saya berniat menggunakannya sebagai pion permainan melawannya, tapi tak harus wanita ini juga tak masalah. Mengingat dewa pelindung bawahannya itu sudah dimusnahkan, nilai gunanya juga menurun drastis, itu fakta, ya. Hmm, saya sudah putuskan!"

"Cincang dan jadikan dia daging saja, ya. Ah, kesegarannya sangat penting, jadi hati-hatilah saat memotong dagingnya, ya."

Monster berkepala plontos itu melepaskan Ares, dan sebagai gantinya, beberapa monster berwajah gurita yang sejak awal mengepung Ares mulai berkerumun, membalikkan tubuh Ares dan merobek pakaiannya.

Monster-monster itu menahan kedua tangan dan kaki Ares, yang kini telanjang tanpa sehelai benang pun, ke lantai.

Kemudian, salah satu monster berkepala gurita itu berdiri di dekat leher Ares, lalu mengangkat pedang besar di kedua tangannya dan mengarahkannya ke leher Ares.

Jika pedang itu diayunkan, leher Ares akan tertebas dan ia akan mati. Lawannya adalah bawahan dewa jahat, dan dengan tubuh manusia ini, Ares tak mungkin bisa menghindar.

Namun, entah kenapa, Ares sama sekali tidak merasa takut, juga tidak pesimis.

Itu karena pria itu pasti akan datang lagi. Ares sangat yakin akan hal itu.

"Kenapa Anda tersenyum, ya?"

Untuk pertama kalinya, Dagon mengerutkan dahi dan bertanya pada Ares mengenai makna senyumannya itu.

"Karena ini adalah akhir dari kalian."

"Akhir?"

"Sebentar lagi, Kai akan datang dan mengakhiri semuanya."

"Kai? Ah, maksud Anda si dewa pelindung bawahannya, ya. Sayang sekali, dia sudah mati dengan sangat mudahnya, ya. Anda juga sudah memastikannya sendiri tadi, kan?"

"Ya, aku memang sudah memastikannya. Tapi Kai takkan pernah kalah, apalagi mati. Karena itu, gambar tadi hanyalah ilusi. Kalian akan dimusnahkan olehnya, yang akan segera datang ke sini."

Entah bagaimana, suaraku terdengar penuh percaya diri, hingga aku sendiri pun terkejut.

"...Sepertinya Anda sudah gila karena ketakutan, ya. Sudahlah. Cepat potong lehernya."

Dagon memberikan instruksi.

"Kaaaaiiiii!"

Ares berteriak sekeras-kerasnya.

Monster-monster berwajah gurita di sekitar Ares, beserta pedang besar yang hendak ditebaskan, berubah menjadi debu hijau.

Kemudian, tubuh Ares diangkat oleh seseorang.

Di sana, berdirilah seorang pemuda yang paling ingin Ares temui saat ini.

"Syukurlah aku tiba tepat waktu."

Tepat setelah Kai bergumam, bayangan hitam yang mengikat Torla dan Mai hancur berkeping-keping.

"Kai!"

Saat Ares memeluk leher ramping Kai, perasaan lega yang luar biasa dan kebahagiaan menyelimutinya.

Bersamaan dengan itu, tiba-tiba saja air matanya tak bisa berhenti mengalir.

Memeluk Ares yang sedang menangis, Kai membelai lembut bagian belakang kepalanya.

"Maafkan aku. Ini semua salahku karena aku terlalu naif. Sisanya serahkan padaku, tidurlah sebentar."

Seiring dengan kata-kata hangat Kai itu, kesadaran Ares perlahan-lahan memudar menjadi putih bersih.

◇◆◇

Lagi. Aku gagal lagi.

Setiap kali hal itu melibatkan wanita bernama Ariel itu, entah kenapa aku jadi tak bisa berpikir jernih. Mengapa bisa begitu, ya?

Awalnya, dia hanyalah makhluk dari dunia lain yang tidak diketahui asal usulnya dan selalu mencampuri urusanku. Dia seharusnya hanya eksistensi yang tidak penting.

Jika aku harus mendeskripsikan perasaan ini dengan kata-kata, apakah ini semacam sensasi déjà vu?

Namun, tentu saja, aku dan Ariel hidup di tempat dan waktu yang berbeda. Mustahil kami punya hubungan.

Menganggap ini hanyalah sekadar perasaanku saja adalah jawaban yang paling tepat.

(Rumah ini, Tuan.)

Begitu keluar dari bayangan Beelze, di depanku berdiri sebuah rumah berlantai tiga yang sudah usang.

"Kerja bagus."

Aku menerjang masuk melalui jendela.

Di dalam, aku melihat Ariel telanjang ditahan di lantai oleh sekumpulan monster berwajah gurita, dan lehernya hampir ditebas oleh pedang besar yang dipegang oleh salah satu monster itu.

"Kaaaaaaaiiiii!"

Ariel meneriakkan namaku. Seolah didorong oleh suara itu, tubuhku bergerak secara alami.

Aku menghunus Murasame, lalu mencincang monster yang menahan Ariel serta monster berwajah gurita yang hendak mengayunkan pedang besar itu, membelahnya bersamaan dengan pedang yang diayunkannya melalui garis kematian.

Di saat yang sama, aku mengangkat Ariel dengan tangan kiriku, lalu mencari orang lain yang sedang kucari, yaitu Mai.

Mai sedang digendong oleh anak laki-laki bernama Torla, namun mereka berdua tertangkap oleh bayangan hitam.

Aku segera memusnahkan bayangan hitam yang mengikat Mai dan Torla melalui garis kematian hingga tak bersisa.

Setelah terbebas dari ikatan bayangan hitam, Torla menjaga jarak hingga ke depan pintu masuk sambil tetap memeluk Mai.

Para pemuda dan pemudi Elf yang juga terbebas menggenangkan air mata di sudut mata mereka karena ketakutan.

Meski begitu, mereka memunggungi Mai seolah ingin melindunginya, lalu mengarahkan pedang dan tongkat sihir ke arah para monster.

Sepertinya Mai sedari awal telah dilindungi dengan aman. Dengan begini, untuk sementara masalah terselesaikan.

Saat aku menyarungkan Murasame,

"Kai!"

Dia pasti sangat ketakutan. Ariel memeluk leherku erat-erat dan mulai menangis.

Melihat sosoknya itu, perasaan yang sangat kuat bergejolak di dadaku, dan aku pun balas memeluknya dengan erat.

Sambil mengelus kepalanya seperti yang biasa kulakukan pada Faf,

"Maafkan aku. Ini semua salahku karena pemikiranku yang terlalu naif. Sisanya serahkan padaku, tidurlah sebentar."

Saat aku menggumamkan kata-kata itu, tubuh Ariel langsung lemas. Manusia biasanya tidak akan kehilangan kesadaran di saat yang sangat tepat seperti ini.

Kemungkinan besar, ini adalah perbuatan...

"Nemesis, tolong jaga dia."

Aku menyerahkan Ariel kepada Nemesis yang sedang berlutut tepat di belakangku.

"Sesuai kehendak Anda!"

Setelah menerima Ariel dariku, Nemesis menghilang.

"Hmm, jadi kamu adalah dewa tanah bernama Kai Heineman yang menjadi target pemusnahan itu, ya. Padahal kamu seharusnya sudah dibunuh oleh Kuko dan Nightgone, ya. Terlebih lagi, kemampuan yang baru saja memusnahkan bayangan hitam milik saya, apakah itu Skill khusus milik dewa tanah, ya."

Pria jangkung berambut panjang yang memakai mantel biru tua dan topi, duduk dengan sombong di atas kursi berselera buruk.

Dia menatapku dan melontarkan komentar konyol yang sangat tidak masuk akal dengan wajah bodoh.

"Menyedihkan sekali..."

Yah, aku sama sekali tidak merasa bersimpati. Lebih dari apa pun, aku benar-benar merasa marah pada mereka.

Meskipun ini semua adalah skenario yang telah disusun oleh para bawahanku, orang-orang ini tetap saja mencoba merenggut Ariel dan Mai dariku. Hal itu saja sudah pantas diganjar dengan ribuan kali kematian.

"Apanya yang menyedihkan, ya?"

Pria jangkung berambut panjang bertopi itu menggerakkan alisnya dan membalas pertanyaanku.

"Entahlah, aku tidak punya alasan untuk memberitahumu."

Kalau biasanya, setidaknya aku akan menjawabnya. Tapi sekarang, aku bahkan tidak sudi berbicara dengan mereka.

Rasa muak yang sangat sulit dikendalikan seperti ini baru kurasakan lagi sejak berhadapan dengan makhluk tak tahu diri bernama Raja Busuk yang menculik Layla dan mencoba melukai Lumine dulu.

"Tuan Dagon, serahkan serangga sampah yang tidak sopan ini padaku, Dekuno! Kroco rendahan yang tidak lebih baik dari manusia biasa itu, akan kuhancurkan di depan mata Anda!"

Dekuno, monster berkepala plontos yang mengepung kami, melangkah maju dan menawarkan diri pada Dagon.

"Begitu, ya. Lagipula dia hanyalah dewa tanah di dunia ini, ya. Aku serahkan padamu. Lakukanlah sesukamu."

"Izin dari Tuan Dagon telah kuterima! Jangan besar kepala hanya karena kau berhasil mengalahkan bawahan kroco tingkat terendah yang terbuat dari bahan baku Elf itu. Kekuatan sepertimu tak lebih dari seekor semut yang merayap di tanah bagi kami, Kageboushi, bawahan langsung Tuan Dagon!"

Dekuno berjalan mendekat ke arahku, lalu mengarahkan ujung gada besi di tangan kanannya kepadaku.

"Cukup omong kosongnya. Cepat mulai."

Aku benar-benar sudah mencapai batasku. Aku tidak sudi melihat wajah mereka barang sedetik pun.

"Yaaa, kelar deeeeh~!"

Sambil menyunggingkan senyum kemenangan, dia mengayunkan gada besinya tepat ke atas kepalaku.

"A-Awas!"

"Lari!"

Di tengah jeritan para Elf yang meneriakiku, aku menahan gada besi itu hanya dengan tangan kiri.

"Hah?"

Mengabaikan suara bodoh yang keluar dari mulut Dekuno, aku mengalirkan tenaga dan kekuatan sihir ke tangan kiriku yang mencengkeram gada besi tersebut.

Di bawah genggaman tanganku yang dilapisi sihir, gada besi itu meleleh menjadi cairan.

"..."

Dekuno menatap kosong pada gada besinya yang ujungnya telah meleleh dan memendek itu.

"Lalu?"

Begitu pandangan kami bertemu, tubuhnya menegang seolah tersambar petir, dan dia langsung melompat mundur.

"Woi woi, Dekuno, apa yang sedang kau lakukan?"

"Apa kau ketakutan pada kroco semacam itu!"

Diejek oleh rekan-rekannya yang lain, wajah Dekuno langsung memerah padam menahan malu.

"Berani-beraninya kau mempermalukan diriku ini!"

Terdengar suara derak mengerikan yang membangkitkan rasa jijik naluriah, saat daging di sekujur tubuh Dekuno membengkak. Dia berubah menjadi monster raksasa berwajah humanoid dengan mulut yang dipenuhi alat pengisap.

Mendengar jeritan ketakutan dari para siswa Elf,

"Bagaimana, Bocah!? Mengerikan, bukan!? Inilah wujud asliku—"

"Kau berisik sekali. Akan kubunuh kau, jadi cepatlah maju."

Aku memprovokasi si bodoh yang sedang menyombongkan diri itu dengan melambaikan tangan kiriku.

"Dasar kroco rendahan!"

Dekuno membuang gada besinya yang telah meleleh, lalu kembali memunculkan gada besi raksasa di tangan kanannya. Dia mengayunkannya ke arahku dengan segenap kekuatannya.

Aku menarik siku kananku dan bersiap menyambut serangannya.

Tinju kananku menciptakan hempasan angin yang kencang saat berbenturan dengan gada besi itu.

Tinju kananku langsung menghancurkan gada besi tersebut dalam sekejap, lalu mengoyak sebagian besar tubuh raksasa milik Dekuno.

"Ghah! Ti-Tidak mungkin..."

Dekuno mengerang kesakitan dengan sebagian besar tubuhnya yang terpotong rapi membentuk cekungan bundar. Dia melontarkan kata-kata yang menolak kenyataan.

"Kalian kaum lemah memang selalu begitu. Mengumbar omong kosong besar, tapi kalah dengan begitu mudahnya hanya dengan satu pukulanku yang sudah kutahan.

Tapi kali ini, aku tidak peduli meski kalian bukan orang yang kuat. Lagi pula, aku tak sudi menghirup udara yang sama dengan kalian lebih lama lagi."

Aku melangkah mendekati Dekuno, lalu menghantamnya dengan tinju kananku. Hantaman itu membuat tubuhnya meledak hancur berkeping-keping hingga tak bersisa.

"Ke-Kekuatan gila macam apa itu! Jangan bilang kau punya kekuatan fisik yang setara dengan monster itu!?"

Dagon meninggikan suaranya tanpa menyembunyikan kepanikannya. Hah! Gaya bicaranya kembali seperti semula. Kalau mau pura-pura jadi aktor, jangan langsung memperlihatkan wujud aslimu hanya karena hal sepele ini.

"Tu-Tuan Dagon, apa yang harus kita lakukan?"

Para monster menanyakan arahan bertarung pada Dagon dengan tatapan penuh kepanikan yang tak tertahankan.

"Kekuatan fisiknya setara dengan monster itu! Hancurkan dia dengan segenap kekuatan kalian!"

Dagon bangkit dari kursinya, lalu melompat dengan ringan ke lantai dua untuk menjaga jarak dariku sambil memberikan instruksi pada bawahannya.

Mendapat instruksi itu, satu per satu monster berubah dari wujud humanoid menjadi wujud yang jelek dan aneh. Mereka mengepungku dan mengarahkan senjata masing-masing.

"Mantra Penyegel Pemusnah!"

Dagon membentuk segel tangan, lalu sesuatu yang menyerupai lingkaran sihir muncul di bawah kakiku.

Kemudian, cahaya berbentuk kubah berwarna hitam menyebar dari lingkaran sihir itu dalam bentuk konsentris, dengan sekejap mengubah tanah di sekitarku menjadi tempat yang menakutkan.

Ini adalah Area Terkutuk. Selain itu, pemandangan ini sangat mirip dengan tempat Beelze disegel di lantai 949 Easy Dungeon.

"Selama dia berada di dalam area ini, kekuatannya sama saja dengan sampah! Tidak mungkin kalian bisa kalah lagi sekarang, ya!"

Mungkin karena dia sudah merasa sedikit lebih tenang, nada bicaranya kembali ke nada merendahkan yang dibuat-buat seperti sebelumnya.

"Kau merasa sudah menang hanya dengan Area Terkutuk tingkat rendah ini? Makanya kubilang kalian itu kroco rendahan."

Instingku bisa merasakannya. Area Terkutuk ini apalagi membunuhku, melukaiku sedikit pun tidak akan bisa.

Mengandalkan hal seperti ini sebagai kartu as sudah cukup menunjukkan tingkat kemampuan mereka.

Namun, aku tak punya niat sedikit pun untuk menahan diri sekarang, meskipun lawan-lawanku hanyalah orang lemah yang tak ada nilainya.

"Apa kau hanya berpura-pura kuat?"

"Gaya bicaramu kembali ke aslinya lagi, tuh?"

"Persetan, cepat bunuh dia!"

Dagon memberikan perintah untuk mulai menyerang dengan suara histeris, persis seperti anak kecil yang sedang mengamuk.

Para monster langsung menerjangku secara serempak.

Aku menghunus pedang Murasame, lalu menciptakan pelindung berbentuk setengah bola di sekelilingku, menargetkan semua monster yang ada di sini kecuali Dagon.

"Shinkairyu Kenjutsu, Itto-ryu, Go no Kata—Eishi (Eternal Death)."

Aku melepaskan tebasan Murasame seiring dengan mantra tersebut.

Gerakan para monster yang baru saja hendak menerkamku terhenti dengan cara yang tidak wajar.

"Gugigigigyaaaaaa!"

Terdengar jeritan yang meluncur sangat lambat dari mulut para monster.

Aku dengan sengaja menebas bagian tubuh mereka yang akan menimbulkan rasa sakit paling parah secara terus-menerus.

Di dalam waktu yang diregangkan hingga batas maksimal, mereka mati secara perlahan sambil merasakan sakitnya tubuh yang terpotong dan ketakutan akan kematian.

"I-Ini, apakah kau mengendalikan waktu! Mustahil kau bisa melakukan hal gila semacam itu!"

Dengan mata terbelalak kaget dan keringat dingin bercucuran deras, Dagon menyangkal kenyataan yang ada di depan matanya.

"Aku sama sekali tidak peduli dengan apa yang kau pikirkan. Sekarang hanya tersisa dirimu saja.

Aku tidak akan membunuhmu dengan mudah seperti mereka. Setelah kau memuntahkan semua informasi tentang dalang di balik semua ini, kau akan merasakan sendiri seluruh amarah yang selama ini kupendam."

Sambil mengarahkan ujung pedang Murasame padanya, aku mengutarakan pernyataan itu dengan suara berat yang menggelegar dari dasar bumi.

"K-Kesalahpahaman! Ya, ini adalah kesalahpahaman!"

Dagon melambaikan kedua tangannya dengan panik dan melontarkan kalimat yang sama sekali tidak membantunya keluar dari masalah.

"Kesalahpahaman? Kalian menculik Mai dan melakukan tindakan keji pada Ariel, dan kau bilang itu kesalahpahaman?

Kau benar-benar luar biasa. Pasti kau memiliki bakat alami untuk membuatku marah besar."

Aku tidak akan pernah bisa memaafkan tindakan yang telah mereka lakukan ini.

Aku akan mengejar kalian hingga ke ujung dunia, termasuk bajingan yang berada di balik layar, dan membuat kalian membayar lunas atas kejadian kali ini. Pada dasarnya, aku ini adalah orang yang muram dan pendendam.

"Benar juga! Kau pasti tertarik pada wanita di dunia ini, kan!?

Kali ini, aku telah menaklukkan Lorelei! Aku akan mempersembahkan para wanita Elf muda yang cantik jelita, jauh lebih baik daripada si Ariel itu!

Kalau kau mau, aku bisa mengubah perempuan murahan itu menjadi boneka penurut untukmu!"

"Kuhaha! Kau benar-benar luar biasa!"

Tidak kusangka dia bisa merendahkan dirinya sampai sejauh ini...

"Begitu, ya! Jadi kau mau menerimanya! Kalau begitu—"

Kepada Dagon yang memasang ekspresi lega itu,

"Mana mungkin aku mauuu!"

Bersamaan dengan teriakanku yang penuh amarah membara bagaikan magma, aku menghentakkan kaki ke lantai dan melesat maju, menebasnya dalam bentuk salib saat berpapasan.

"Gugyaaaaahhhhh!"

Aku bernapas lega melihat Dagon berteriak histeris dan berlebihan karena rasa sakit, lalu perlahan mendekatinya.

Syukurlah, luka separah ini belum cukup untuk membunuhnya.

Dalam keadaan di mana aku tak bisa mengendalikan amarah ini, sedikit saja aku lengah, aku bisa saja tak sengaja membunuh kroco ini. Hal itu... hal itu saja yang benar-benar tidak bisa kuterima.

"Tu-Tunggu, tunggu! Tungguuu!"

Seperti dugaanku, lukanya segera sembuh, dan Dagon berusaha keras melarikan diri dariku.

"Para sampah yang disebut Pasukan Jahat, orang-orang seperti kalian, maupun para penguasa di dunia ini, semuanya selalu sama.

Kalian memaksakan penderitaan yang luar biasa pada orang lain, tapi bereaksi berlebihan terhadap penderitaan kalian sendiri.

Karmapala—ketidakadilan yang kalian paksakan pada orang lain, pada akhirnya akan berbalik menyerang kalian berkali-kali lipat. Kenapa kalian tidak bisa memahami hukum alam yang sangat mendasar itu?"

Aku melangkah maju, masuk ke dalam jarak serangku, lalu menghujani seluruh tubuhnya dengan pukulan beruntun.

Dalam sekejap, Dagon berubah menjadi gumpalan daging tak bernyawa.

"Kalian tidak memahaminya, karena itulah kalian tidak bisa diselamatkan lagi."

"Sialan!"

Setelah lukanya sembuh dalam sekejap, dia membentuk segel dengan kedua tangannya dan mengaktifkan semacam sihir ke arahku.

Aku menerjang ke arahnya, lalu mengibaskan aliran sihir itu dengan tangan kiri hingga musnah tak tersisa.

"Hah? Kenapa sihirku tidak berfungsi!?"

Aku kembali masuk ke dalam jarak serang pria yang berteriak panik itu, lalu memukulnya ke udara dengan tangan kiriku.

Saat tubuhnya menembus atap rumah dan melayang tinggi, aku menendang tanah dan melompat melampauinya dalam sekejap, lalu mendaratkan sikutan telak ke wajahnya. Bersamaan dengan sensasi hancurnya tulang dan daging, tubuh Dagon berputar dan jatuh ke tanah dengan kecepatan tinggi.

Sebelum dia jatuh, aku menendang udara dan menggunakan tekanan anginnya untuk bergerak ke bawah, lalu melepaskan pukulan ke atas dengan tangan kananku yang menghantam perut pria yang sedang jatuh itu.

"Gugagaga..."

Tangan, kaki, dan leher Dagon membengkok ke arah yang tak wajar, dia jelas-jelas berada dalam kondisi sekarat.

"Jangan harap ini semua berakhir begitu saja. Aku sama sekali tidak berniat mengakhiri penderitaanmu dengan mudah."

Aku memberikan ancaman dengan suara rendah, lalu menunggunya kembali pulih.

Dagon yang segera pulih berusaha kabur dariku dengan ekspresi putus asa, namun aku langsung membelah tubuhnya menjadi delapan bagian.

Saat Dagon kembali utuh,

"Sialaaan!"

Dia kembali membentuk segel tangan. Seketika itu juga, lingkaran sihir raksasa muncul di atas tanah, dan tentakel ungu menjulur keluar dari lingkaran itu dan menyatu dengan tubuhnya.

Dia kemudian berubah wujud menjadi monster raksasa menyerupai gurita.

"Matilaah! Dasar monsteer!"

Dagon mengaum dan menerjang ke arahku, namun aku menebasnya dalam bentuk salib dengan Murasame yang telah kuhunus.

"Ja-Jangan mendekaaaat!"

Dagon kembali berteriak menolak kehadiranku saat memulihkan diri.

"Kutolak."

Tepat saat aku melangkah maju dengan Murasame terarah padanya,

"Sialaaaan!"

Dagon menangis tersedu-sedu sambil mengeluarkan pedang panjang dari ruang dimensi lain, lalu menusukkannya tepat ke jantungnya sendiri.

Benda itu... pedang rongsokan yang kubuat waktu itu?

Seluruh tubuhnya berubah keemasan, diselimuti cahaya terang yang menyilaukan.

Cahaya itu perlahan berubah menjadi hitam pekat, lalu membentuk wujud seekor monster.

Monster besar yang muncul memiliki kepala gurita dan tubuh laba-laba. Monster itu mengaum ke arah langit.

"Luar biasa! Dengan membayangkan kekuatan Yang Mulia, aku akhirnya memperoleh kekuatan yang setara dengan beliau.

Terlebih lagi, dengan menyerap pedang ini, aku kini mampu terus berevolusi tanpa batas!

Artinya—secara teknis, sudah tak ada lagi satu makhluk pun yang bisa mengalahkanku! Hari ini, aku resmi menjadi entitas terkuat di dunia ini!

Sekarang kau hanyalah cacing yang merayap di tanah!"

"Kau berani mengklaim gelar terkuat dengan kemampuan cetek semacam itu... Kau sebaiknya belajar lebih banyak tentang luasnya dunia ini."

Entitas dengan kekuatan selemah itu sangatlah banyak di dunia ini. Orang ini bahkan tidak pantas jadi lawan mainku.

Dan dia berani bilang kalau dirinya yang terkuat? Benar-benar membuatku ingin tertawa.

"Kau masih saja jadi bocah sombong yang menyebalkan!"

Tiba-tiba, dari badan laba-labanya bermunculan jumlah tentakel tak terhitung yang memanjang dengan kecepatan tinggi ke arahku.

Aku memotong semuanya menjadi bongkahan-bongkahan kecil dengan Murasame.

"A-Apa—"

"Kalau kau punya waktu untuk kaget, mending pikirkan langkah selanjutnya."

Aku melesat menggunakan teknik bergerak unikku, membelah tubuhnya menjadi dua secara vertikal sambil berpapasan dengannya.

"Hah? Terbelah? Gyaaaaaa!"

Dagon berteriak histeris, berusaha keras menyatukan kembali tubuhnya yang terbelah dengan kedua tangannya.

Tentakel merambat dari potongan lukanya, menempelkannya kembali hingga tubuh Dagon utuh kembali dalam sekejap mata.

Benar-benar makhluk yang berumur panjang dan alot.

"Sialan!"

Aku bergerak ke punggungnya saat dia mencoba melarikan diri ke belakang, lalu mencincangnya berkali-kali dengan Murasame.

Dagingnya tercerai-berai dan bertebaran ke segala arah, tapi lagi-lagi, tentakel dari lukanya menarik semuanya kembali utuh.

Matanya menatapku dengan napas tersengal-sengal, memancarkan rasa takut yang sangat kuat.

"Kenapa? Seharusnya aku sudah menjadi makhluk terkuat di dunia ini berkat pedang ajaib ini!"

"Pedang rongsokan semacam itu tidak akan pernah bisa membawamu ke puncak kekuatan."

Sekalipun pedang itu bisa mengubahmu menjadi apapun sesuai imajinasimu, seseorang yang tidak tahu seberapa tingginya puncak kekuatan yang sesungguhnya tak akan pernah bisa membayangkan dan mewujudkannya, tak peduli sekeras apa pun dia mencoba. Hasil ini sudah bisa ditebak sejak awal.

"Sialaaaaan!"

Tentakel hitam legam tiba-tiba muncul dari bayangan Torla, menyambar Mai dan mengangkatnya tinggi-tinggi, melilitnya dengan erat.

"Dengan ini situasi berbalik! Kalau kau tak ingin bocah ini mati, bunuh dirimu sekarang juga!"

Dagon menjerit histeris dengan mata merah karena putus asa.

"Hei, Girimekhala, mau sampai kapan kau bermain-main?"

Aku menanyakan tujuan dari lelucon konyol yang disiapkan bawahanku ini.

Sudut bibir Mai melebar, hidungnya memanjang, dan otot-ototnya membesar.

Dalam sekejap, dia berubah wujud menjadi monster raksasa berhidung panjang yang dengan mudah merobek tentakel itu, lalu berlutut di hadapanku.

"Itulah kenapa sejak awal kubilang kau ini menyedihkan. Kau hanya menari di atas telapak tangan bawahanku.

Tapi, sekalipun kau hanyalah boneka yang menyedihkan dan konyol, kau telah memancing amarahku atas keinginanmu sendiri. Karena itu, kau harus menanggung akibatnya."

"Ti-Ti-Tidaaaakkkk!"

Wajah Dagon berubah pucat diliputi keputusasaan, dia mencoba menjauhiku sambil merayap lincah menggunakan delapan kaki laba-labanya.

Aku mengalirkan kekuatan sihir ke Murasame dan menargetkannya dengan pelindungku. Dan kemudian—

"Eishi—Kai (Revised)!"

Seiring dengan mantranya, aku melepaskan seluruh amarahku dan mencincang tubuhnya berulang kali tanpa henti.

"Gugya...a...a...a..."

Aku melangkah mendekati Dagon yang mengerang dalam sakratulmaut saat tubuhnya terpotong-potong secara perlahan.

"Oh ya, aku harus meminta kembali pedang ini. Ini kan buatanku."

Aku menarik pedang rongsokan yang tertancap di tengah tubuhnya.

"Dengan kemampuan regenerasimu itu, luka tebasan ini pasti akan segera sembuh.

Tapi, karena efek Eishi—Kai, luka akibat tebasan yang diulang-ulang akan kembali muncul. Bersukacitalah, mesin abadimu telah selesai."

Aku melontarkan ucapan itu dan memunggunginya.

Aku menoleh pada Beelze dan Girimekhala yang berlutut di hadapanku.

"Aku serahkan nasib sisa-sisa ini pada kalian berdua. Berikan 'salam hangat' yang pantas untuk si dalang di balik layar. Lagipula, dia akan jadi teman bermainku selanjutnya."

Aku memberikan perintah dengan nada yang tegas. Dia telah membuatku sebegitu muaknya.

Aku tidak akan membiarkan dia lolos begitu saja. Aku akan mengejarnya hingga ke ujung dunia dan memberinya kehancuran yang terbaik.

"Sesuai perintah Anda!"

"Sesuai kehendak Anda!"

Aku melirik mereka berdua yang menundukkan kepala dalam-dalam, lalu melangkah ke arah Torla dan kawan-kawannya.

"Kalian telah melindungi mereka berdua dengan baik. Aku berterima kasih."

Saat aku mengusap kepalanya yang gemetaran dengan sedikit kasar,

"Tidak, maafkan... maafkan kami! Aku! Aku!"

Torla dan kawan-kawannya mulai menangis tersedu-sedu.

"Aku tahu. Aku juga sudah cukup mengerti apa saja dosa dan jasa kalian. Kalian pasti merasa perlu untuk menebusnya.

Tetapi, tak bisa dipungkiri bahwa kalian mempertaruhkan nyawa untuk melindungi Mai dan Ariel kali ini. Kalian berhak merasa bangga akan hal itu."

Memang benar. Saat kami bertemu sebelumnya, mereka bukanlah tipe orang yang rela bertaruh nyawa untuk melindungi ras lain.

Dan sekarang, mereka justru melakukan tindakan berani ini. Tindakan mereka terlalu kontradiktif.

Sebelumnya mereka mungkin berada di bawah pengaruh cuci otak, lalu pengaruh itu hilang berkat campur tangan Girimekhala dan yang lainnya pada insiden ini.

Kalau dipikir begitu, semuanya terasa masuk akal. Yah, kebenarannya akan terungkap jika penyelidikan terus berlanjut.

"Terima kasih banyak!"

Aku mengangkat tangan kananku kepada Torla dan teman-teman yang menangis dan membungkuk berulang kali, lalu melangkah pulang ke markas kami di Babel tempat Faf dan yang lainnya berada.

◇◆◇

Saat ini, kota Piranor yang terletak di ujung tenggara Kerajaan Amelia sedang diserang oleh kawanan monster berkepala gurita yang muncul tiba-tiba.

Di tengah para penduduk kota yang bersembunyi dan gemetar ketakutan di dalam bangunan Gereja Pusat, pintu utama gereja itu hancur didobrak, dan gerombolan monster berkepala gurita merangsek masuk.

Seolah menikmati jeritan ketakutan warga, tubuh para monster berwajah gurita yang perlahan mendekat itu mulai melepuh dan membengkak.

"Gii?"

Saat salah satu monster berkepala gurita menatap tubuhnya dengan ekspresi kebingungan, tubuhnya membesar dengan cepat.

Fenomena itu menyebar ke monster berwajah gurita lainnya secara berantai, dan akhirnya mereka meledak berkeping-keping ke segala arah disertai bunyi pshuun.

Di tengah percikan darah dan daging berwarna hijau yang beterbangan, seorang pemuda tampan berambut hitam panjang yang disisir rapi ke belakang berdiri di depan pintu gereja.

Pemuda itu melangkah keluar dari gereja setelah memastikan keselamatan para penduduk di dalamnya.

Di jalanan di depan gereja, berdiri seorang pria bertubuh besar dengan rambut pirang dan janggut tipis yang kepalanya tertutup rapat oleh tudung hitam.

"Bagianku sudah hampir selesai, Shou."

Sambil memasukkan tangannya ke dalam saku, pria itu melapor kepada sang pemuda berambut hitam.

"Aku juga. Ini adalah pemusnahan terakhir kawanan bawahan mereka di kota ini."

"Bagaimana pun juga, perlawanan mereka terlalu lemah untuk ukuran musuh kita, ya."

"Ya, monster-monster yang menyerang kota-kota di sekitar sini semuanya cuma kroco. Kemungkinan besar ini adalah pengalih perhatian untuk menjauhkanku dari Babel. Sepertinya kita harus menganggap bahwa ada pergerakan besar di sana."

Pemuda berambut hitam bernama Shou bergumam pelan sambil menopang dagunya.

"Pergerakan besar di Babel? Berarti situasi Babel sekarang sedang sangat gawat, kan?"

"Begitulah."

"Apa yang ada di pikiranmu?"

Pria pirang besar itu mengernyitkan alisnya dan menanyakan maksud Shou.

Orang-orang yang berharga bagi Shou berada di Babel.

Jika mereka benar-benar berhasil diperdaya oleh musuh, sementara Shou dan dirinya kini berada jauh dari sana, Babel pasti sudah berubah menjadi neraka kepanikan dan kekacauan.

Tidak mungkin Shou bisa bersikap tenang seperti ini.

"Mungkin mereka berniat menjauhkanku. Tapi kali ini mereka salah langkah. Di Babel, ada Kai."

"Kai? Orang aneh yang pernah kau ceritakan sebelumnya itu?"

"Ya, bajingan-bajingan pendendam itu tidak mungkin tidak memancing amarah Kai. Sekarang, mereka pasti sedang menangis memohon ampun padanya."

"...Apa si Kai itu sangat kuat sampai-sampai bisa menghajar mereka tanpa ampun?"

"Sejujurnya, aku tidak begitu tahu."

"Oi, oi!"

"Tapi, anehnya dia itu tipe orang yang membuatmu berpikir bahwa semuanya akan baik-baik saja asalkan dia ada."

Pria pirang besar itu membelalakkan matanya sesaat, lalu tiba-tiba tertawa terbahak-bahak.

"Apanya yang lucu?"

"Tidak, aku hanya merasa lucu memikirkan bahwa ternyata ada bocah gila sepertimu di luar sana."

"Apa maksudmu?"

"Entahlah, pikirkan saja sendiri. Lagipula, kau akan segera kembali ke Babel, kan?"

Pria pirang besar itu merubah ekspresi wajahnya menjadi serius dan bertanya pada Shou.

"Ya, rencananya begitu. Kita akan segera berangkat."

Saat Shou hendak berlari,

"Sepertinya, insiden di Babel telah terselesaikan. Jadi, kalian tidak perlu terburu-buru."

Terdengar suara seorang pria paruh baya yang menggema di dalam kepalanya.

"Bingo!"

Pria pirang besar itu menjentikkan jarinya dan bersiul menggoda. Ketegangan yang sejak tadi selalu menyelimutinya kini sirna sepenuhnya.

"Begitu, ya. Kalau begitu, kami akan kembali dengan santai."

Sambil tersenyum kecut, tepat setelah Shou mengangguk,

"Ada banyak hal yang berhasil kami ketahui dari insiden kali ini, jadi saya harap Anda bisa meluangkan waktu di lain hari."

Suara pria paruh baya itu terdengar lebih cepat dari biasanya, sangat jelas menunjukkan bahwa dia sedang sangat terguncang.

"Apakah itu tentang Kai Heineman?"

"Ya."

Shou menarik sudut bibirnya mendengar balasan singkat dari bawahannya itu.

"Baiklah. Setelah aku kembali ke Babel, mari kita bicarakan perlahan sambil makan malam."

"Kalau begitu, aku mau ke kedai Kuroneko-tei yang baru buka itu! Makanan di sana benar-benar enak, lho!"

Menanggapi permintaan pria pirang besar itu,

"Dimengerti. Bisakah kau memesan tempat?"

Shou mengangguk dan mengonfirmasi pada pemilik suara di kepalanya.

"Akan saya siapkan."

Setelah jawaban itu, komunikasi telepati pun terputus.

"Kalau begitu, ayo kita pergi juga!"

Shou mendesak si pria pirang besar, lalu mereka pun mulai melangkah menuju kota berikutnya.



Chapter 1 | ToC | Epilog

Post a Comment

Post a Comment

close