Chapter 2
Arc Insiden Teror Librat
Hari ini adalah upacara penerimaan siswa baru Babel.
Aku telah memberikan pesanan tertentu pada Daedalus untuk memaksimalkan sifat bangunan ciptaannya.
Bangunan itu memiliki fungsi di mana penampilan luar, struktur, dan berbagai fungsinya bisa diubah dengan bebas.
Dia dengan senang hati menerima pesananku. Alhasil, kediaman yang kami tinggali kini menjadi bangunan berlantai tiga yang tampak biasa saja.
Tentu saja, aku sudah menginstruksikan Daedalus untuk memperketat keamanan internalnya meski harus sedikit berlebihan.
Karena itu, tingkat keamanannya pasti sudah berada di dimensi yang sama sekali berbeda.
Bagian dalam bangunan ini juga telah diperluas dengan mendistorsi ruang. Namun, sepertinya Rose dan Anna yang tinggal di sini masih belum menyadarinya sampai sekarang.
Paling-paling, mereka hanya mengulang-ulang kalimat kekaguman yang nyaris merepotkan soal toilet bilas yang bersih di kamar masing-masing, atau bak mandi yang bisa diisi air panas hanya dengan satu tombol.
Rose sepertinya mengira kalau aku yang menyuruh Daedalus untuk merombaknya.
Namun, karena kurasa tidak butuh penjelasan khusus, aku tetap merahasiakan kebenaran tentang rumah ini.
Lagi pula, kalau kuceritakan yang sebenarnya, pasti akan jadi keributan besar.
Sekarang, kami sedang menyantap sarapan di ruang makan.
"Kai, akhir-akhir ini kamu punya kecenderungan untuk terlalu mencolok dalam hal buruk. Tolong bertindaklah dalam batas kewajaran di upacara penerimaan siswa baru hari ini, ya."
Rose mengajukan permohonan yang entah sudah keberapa kalinya itu padaku.
"Tentu saja, aku memang berniat begitu."
Aku juga tidak berniat melakukan hal-hal mencolok karena suka. Terlebih lagi, tidak ada untungnya sama sekali melakukan hal itu.
"Jangankan akhir-akhir ini, kamu memang selalu mencolok dalam hal buruk."
Saat Asta melontarkan komentar sindiran yang tidak penting itu,
"Mengingat posisi No. 1 dan No. 2 di Babel sudah diganti, kurasa Guru dan Tuan Putri sudah pasti akan jadi pusat perhatian."
Zack juga melontarkan gumaman firasat buruk itu dengan santai, sembari mengunyah daging di mulutnya.
"Y-Yang menggantinya itu Kai, bukan aku!"
Rose mengibaskan kedua tangannya dengan panik dan melimpahkan semua tanggung jawab kepadaku.
Memang benar aku telah menyingkirkan No. 2, Club Einstein, dari dunia nyata dalam satu serangan.
Namun soal mantan Kepala Akademi, Inea Renren Lorelei, dia sendiri yang memutuskan untuk mengundurkan diri.
Aku sama sekali tidak pernah memberikannya tekanan agar dia berhenti.
"Sejak awal, menyuruh Master agar tidak mencolok itu adalah permintaan yang sangat mustahil."
Asta melontarkan lelucon yang sangat tidak enak didengar itu sembari menyuapkan makanan dengan tangan kanannya dan membaca buku dengan tangan kirinya.
"Asta, apa memang mustahil mengharapkan akal sehat dari Kai, ya?"
Mendengar pertanyaan Rose yang terdengar memelas itu,
"Tentu saja sangat mustahil. Rumah yang sangat absurd ini saja sudah jadi buktinya. Master adalah wujud ketidakwajaran yang berjalan. Meminta akal sehat dari Master itu ibarat menyuruh ikan berenang di daratan."
Asta menegaskannya dengan penuh keyakinan. Hei! Asta, seperti biasa analogimu itu terlalu tidak masuk akal, tahu.
Lagipula, entah kenapa analogi itu memberiku firasat yang sangat buruk.
"Kak Asta, jangan! Jangan begitu! Kau tak seharusnya mengatakan hal semacam itu!"
Tidak seperti biasanya, Zack melontarkan seruan peringatan dengan nada panik. Siapa sangka, aku malah mendapat bantuan dari tembakan perlindunganmu, Zack. Bagus, Zack. Katakan lebih banyak lagi padanya!
"Kalau kau melontarkan lelucon seperti itu di depan Guru, ikan sungguhan pun bisa-bisa benar-benar berenang di darat, lho."
Seolah hal itu sudah sewajarnya terjadi, Zack malah menyiramkan bahan bakar baru ke dalam kobaran api omong kosong Asta.
"Ngomong-ngomong, belum lama ini kita baru saja berpapasan dengan ikan yang berjalan dengan dua kaki, kan."
Rose memegangi kepalanya dengan kedua tangan dan mengerang pelan.
"Ya, waktu itu ada ikan yang berlari sangat cepat di darat, ya...."
Zack meminum tehnya seraya memberikan kesan mendalam dengan pandangan menerawang jauh.
Kalau dipikir-pikir, memang ada monster aneh semacam itu di ujian milik Gil.
Tapi, makhluk itu adalah monster, kan? Kalau itu monster, tak ada yang aneh jika ada ikan yang bisa berlari di darat.
Itu sama sekali bukan salahku, tahu!
Bagaimanapun juga aku ada di posisi yang tidak menguntungkan dalam perdebatan ini. Lebih baik aku mengubah topik pembicaraan saja.
"Ngomong-ngomong, bagaimana jadwal hari ini?"
"Setelah ini, kita akan mengikuti upacara penerimaan di Akademi Ouboro. Setelah itu, rencananya akan ada orientasi singkat."
Awalnya, ada dua upacara penerimaan di Babel.
Yaitu upacara penerimaan umum yang diselenggarakan oleh pihak Babel, dan upacara penerimaan khusus dari masing-masing akademi.
Akan tetapi, sebagai bagian dari reformasi pendidikan yang dimulai tahun ini, upacara penerimaan yang diselenggarakan oleh Babel rupanya ditiadakan.
Menurut penjelasan Chloe, alasannya tak lain adalah hasil dari perebutan kekuasaan yang sia-sia antara faksi Kepala Akademi dan faksi Wakil Kepala Akademi.
Padahal pasti banyak siswa yang sudah menantikan upacara penerimaan itu. Hal ini benar-benar membuatku merasa kasihan.
"Aku mengerti. Kalau begitu, Anna, tolong jaga Faf, ya."
Aku sudah mendapat izin dari Kepala Akademi Ouboro agar anak-anak seperti Faf dan Fen bisa keluar masuk dengan bebas.
Di sisi lain, sebagai semacam syarat pertukaran, aku berjanji bahwa acara seperti upacara penerimaan hari ini pada dasarnya hanya akan dihadiri oleh pihak-pihak yang terkait dengan akademi saja.
"Ya, tentu saja!"
Anna membalasku dengan acungan jempol dan senyuman.
"Faf juga mau ikut."
Anna langsung memeluk dan menahan Faf yang berlari-lari kecil menghampiriku,
"Faf di sini saja sama kakak, ya."
Anna berbisik lembut di telinga Faf.
Syukurlah. Soalnya akhir-akhir ini, kalau Faf sudah menempel padaku, dia takkan mau melepaskannya sama sekali.
Anna memang hebat, dia sudah merawat Faf dengan sangat baik. Dia sudah benar-benar menjadi figur seorang kakak perempuan bagi Faf.
"Uuu, tapi Faf mau sama Tuan."
Aku mendekati Faf yang masih mengisap jempolnya dengan wajah tak puas, mengelus kepalanya, lalu berkata,
"Maaf, ya, Faf. Tahan dirimu untuk hari ini saja. Nanti saat pulang, aku akan membelikan sate burung kesukaanmu, deh."
Aku mengucapkan kata-kata yang sangat diharapkan oleh Faf.
"Wah, beneran, ya?!"
"Ya, aku janji."
"Burung, deh~ Sate burung, deh~♬"
Sambil tersenyum kecut melihat Faf yang kegirangan sembari menyenandungkan lagu yang tak jelas, aku bangkit dari tempat dudukku untuk bersiap-siap berangkat ke upacara penerimaan.
Rose berstatus sebagai siswa pindahan, jadi dia tidak harus menghadiri upacara penerimaan Akademi Ouboro hari ini.
Sebenarnya ia bisa saja hadir kalau ia mau, tapi sayangnya hari ini sepertinya Rose juga punya urusan yang tak bisa ditinggalkan.
Padahal Rose itu biasanya orang yang selalu sebisa mungkin menghadiri acara seremonial semacam ini. Urusan yang membuatnya sampai harus absen itu sudah sangat mudah untuk ditebak.
Bagaimanapun juga, hari ini aku pergi sendirian ke Akademi Ouboro untuk menghadiri upacara penerimaan.
"Kak Kai!"
Begitu mendengar suara dari arah belakang, aku refleks menoleh. Kulihat Lumine berlari-lari kecil menghampiriku.
"Oh, Lumine. Kelihatannya kamu bersemangat sekali."
"Iya!"
Mendengar sapaan awalku, Lumine mengangguk gembira seraya mulai berjalan di sampingku.
"Bagaimana dengan Lyra?"
"Kak Lyra sudah berangkat duluan karena harus rapat soal sambutan di upacara penerimaan hari ini. Tapi, dia bilang pasti akan menjemputku waktu pulang nanti, kok!"
Siapa sangka gadis yang dulu tidak bisa melakukan apa-apa tanpa Lyra ini kini bisa pergi ke sekolah sendirian.
Rasanya sangat mengharukan, persis seperti melihat balita yang baru pertama kali disuruh berbelanja sendirian.
Namun, kalau aku mengatakan hal itu, dia pasti akan langsung ngambek.
"Nona kecil ini senang banget bisa jalan bareng Tuan, makanya dia dandan habis-habisan pagi ini, lho!"
Tutup tas di pinggang Lumine sedikit terbuka. Seekor kucing bermata besar mengintip dari sana dan melaporkan hal tersebut kepadaku.
"Sue!"
Wajah Lumine seketika memerah padam seperti buah ceplukan saat ia segera menutup tasnya.
Sue adalah panggilan untuk Susanoo. Aku juga sudah pernah menjalin kontak dengan Susanoo.
Ia bersikeras ingin bertarung serius denganku, jadi aku menghajarnya habis-habisan.
Semenjak saat itu, ia terus menantangku bertarung berulang kali, dan setiap kali kulayani, ia perlahan mulai memanggilku dengan sebutan 'Tuan'.
Awalnya ia sama sekali bukan tandinganku. Namun perlahan, gerakannya mulai menjadi semakin menarik.
Susanoo sudah bisa melihat aliran kekuatan sihir sejak awal.
Tampaknya ia punya kemampuan bertarung sungguhan yang jauh lebih baik daripada si orang tak tahu diri bernama Tartarus di masa lalu itu.
Jika kekuatan aslinya kembali, ia pasti mampu mengalahkan sebagian besar musuh. Singkat kata, ia adalah pilihan yang sangat tepat untuk menjadi pengawal pribadi Lumine.
"Sue, kau juga sudah bekerja keras."
Aku mengangkat tangan kananku seraya menyapa Sue, si kucing berkaki dua yang kembali mengintip dari celah tas.
"Yo! Tuan, nanti kita minum-minum lagi, ya!"
"Ya, aku akan menemanimu."
Intinya, Sue itu peminum berat. Akhir-akhir ini, aku sering diminta menemaninya minum-minum di malam hari.
Namun, aku punya Skill penyerap semua efek status abnormal. Jadi, seberapa banyak pun aku minum alkohol, aku tidak akan pernah mabuk. Aku hanya sekadar menikmati suasananya saja.
"Kak Kai, ayo cepetan pergi!"
Lumine meraih tangan kiriku dan mulai berjalan dengan langkah cepat.
Setibanya kami di tujuan, tepat di depan gerbang sekolah.
"Kak Kai, Akademi Ouboro itu yang mana, sih?"
Lumine menunjuk ke arah dua gedung sekolah yang berjajar di hadapan kami secara bergantian, lalu melontarkan pertanyaan polos itu.
Benar sekali. Di hadapan kami, dua gerbang dan dua gedung sekolah berdiri berdampingan layaknya anak kembar.
Satu gedung merupakan bangunan berlantai empat yang tampak seperti baru dibangun.
Di sepanjang jalan setapak menuju gedung sekolah itu, terdapat petak bunga tempat bunga-bunga beraneka warna bermekaran.
Lantainya dipenuhi oleh ubin putih bersih, dan di tengah jalan setapak tersebut terdapat sebuah air mancur kecil.
Sedangkan gedung yang satu lagi merupakan bangunan kayu yang usianya sudah sangat tua.
Bangunan itu sudah cukup lapuk, beberapa bagian atap dan pintu kawatnya rusak, serta ada sarang laba-laba yang bersarang di sebagian sudutnya.
Sekilas, bangunan ini tampak reyot, tapi kalau diperhatikan lebih saksama, gedung ini dibangun dengan teknik arsitektur yang kokoh.
Singkat kata, bangunan ini menjadi menyedihkan seperti itu karena tidak dirawat dengan baik.
"Itu mah sudah tidak perlu ditanyakan lagi."
"Benar juga, ya."
Lumine mengangguk kuat-kuat menyetujui pendapatku dengan ekspresi jengah.
Perbedaan ini sangat jauh sampai-sampai membuatku bertanya-tanya, apakah memang perlu membedakannya sejauh ini.
Pertanyaan terbesarku saat ini adalah, untuk apa repot-repot membangun gedung sekolah semewah itu di Distrik Enam ini.
"Tuan Kai!"
Di saat aku tengah larut dalam pikiranku, seorang gadis elf berlari menghampiri dari arah gedung sekolah yang baru itu. Itu pasti Nona Millefeuille.
"Mengapa kau ada di sini? Kalau aku tak salah ingat, kau berasal dari Akademi St.Clan, kan?"
Gadis ini pastinya berasal dari akademi yang sama dengan Rose. Akademi St.Clan tempatnya bersekolah bahkan disebut-sebut memiliki kelas setingkat Menara Babel semu, di mana muridnya diperlakukan sama dengan para siswa di Menara Babel.
Babel adalah lembaga publik yang menjamin kehidupan setara.
Meskipun bagi masyarakat umum kehidupan di sana bagaikan mimpi, hal itu belum tentu berlaku bagi anggota keluarga kerajaan maupun bangsawan kelas atas.
Tak sedikit dari mereka yang nyawanya diincar akibat masalah seperti perebutan takhta, sehingga tingkat keamanannya dianggap kurang memadai.
Karena alasan tersebut, tiga akademi, yaitu Saint Clan, Shelton, dan Ringerfoot, bekerja sama erat dengan pihak Babel.
Mereka memperdalam interaksi dengan mengizinkan para siswa berprestasi untuk mengikuti kelas di Menara Babel, sekaligus menggunakan metode ini agar kualitas mereka bisa mencapai level yang sama.
Dan tentu saja, sebagai hasilnya, mereka yang lulus dari akademi ini secara otomatis akan mendapatkan sertifikat kelulusan yang setara dengan siswa tahun keempat dari Menara Babel.
Pertanyaannya adalah, mengapa seorang siswi dari sekolah super elit tersebut bisa bersekolah di Distrik Enam ini.
Jangan-jangan, gedung sekolah baru ini adalah....
"Kali ini, Akademi St.Clan kami telah direlokasi ke Distrik Enam."
"Relokasi... Berarti gedung baru itu adalah gedung Akademi St.Clan kalian, ya."
Memang benar dugaanku. Akan tetapi, orang-orang di Distrik Empat—baik pihak staf, jajaran direksi, maupun para siswa akademinya—seharusnya sangat membenci Distrik Enam.
Lalu kenapa mereka sampai repot-repot memindahkan akademinya ke Distrik Enam segala?
"Sebenarnya rencananya akademi baru akan dibuka di Distrik Enam sekitar tahun depan. Namun, karena rumah bermasalah yang selama ini mengganggu pemandangan itu sudah musnah, mereka memutuskan untuk memindahkannya secepat mungkin."
Mengganggu pemandangan, maksudnya pasti rumah terkutuk yang sangat menjijikkan itu.
Rumah keji itu kini telah kami runtuhkan tanpa sisa, dan sekarang menjadi markas utama kami.
"Itu kan cuma alasan kenapa kalian mempercepat jadwal pindah ke Distrik Enam. Tapi kurasa itu bukan alasan kenapa kalian harus direlokasi ke Distrik Enam, kan?"
"Sejak dulu, pihak Babel ingin menghilangkan kesenjangan akademis antardistrik. Menanggapi hal itu, Akademi St.Clan kami akhirnya mengajukan diri. Mungkin saja pihak Akademi St.Clan mengambil keputusan tersebut setelah memprediksi bahwa Distrik Enam ini akan berkembang pesat ke depannya."
"Distrik Enam berkembang pesat, ya.... Tapi yang jadi pertanyaanku sejak awal adalah, kenapa mereka harus pindah di saat-saat seperti ini?"
Kalau memang mereka yakin Distrik Enam akan berkembang pesat, seharusnya mereka sudah bisa bertindak sejak jauh-jauh hari.
Menilik dari alur pembicaraan ini, sepertinya jajaran petinggi Babel memang sudah berencana meruntuhkan rumah terkutuk yang jadi penghambat relokasi itu.
"Kukira, itu pasti karena ada orang tertentu yang tinggal di distrik ini."
Orang tertentu, ya. Yah, aku sudah bisa menebaknya. Itu pasti mantan Kepala Akademi Umum Babel, Inea Renren Lorelei.
Inea adalah orang yang mendirikan Babel.
Akhir-akhir ini, Inea rela menggelontorkan harta pribadinya untuk bekerja sama dengan para bawahanku memulai proyek perluasan dan renovasi besar-besaran di Distrik Enam.
Mungkin cepat atau lambat, Distrik Enam ini akan berubah secara drastis. Tapi, kalaupun begitu—
"Apakah para siswa bisa menerima alasan seperti itu?"
Pemindahan akademi ke Distrik Enam ini sepenuhnya adalah masalah pihak akademi sendiri.
Jika mereka dipaksa pindah tiba-tiba dari sekolah yang sudah sangat mereka kenal dengan alasan semacam itu, tentu takkan bisa ditolerir.
Terlebih lagi, imej Distrik Enam yang merupakan distrik bagi akademi tingkat rendah masih sangat kuat di mata masyarakat.
"Tentu saja ada penolakan. Akan tetapi, pada akhirnya keputusan ini diambil melalui pemungutan suara di dalam akademi."
Pemungutan suara akademi, ya.
Trik sulap macam apa yang digunakan oleh pihak akademi?
Kerugian pindah ke distrik ini terlalu besar, dan tanpa adanya keuntungan yang sepadan, mustahil para siswa mau menyetujui relokasi ini.
"Yah, selama kalian para siswanya setuju, buatku sih tak jadi soal."
Setidaknya, aku punya sedikit tanggung jawab atas pensiunnya Inea.
Dan aku tak berniat merampas fondasi kehidupan yang telah dikenal baik oleh para siswa hanya karena alasan tersebut.
Akan tetapi, kalau pihak-pihak yang terlibat langsung sudah memberi persetujuan, maka ini bukanlah hal yang pantas untuk kucampuri.
"Kalau begitu, sampai jumpa lagi, Tuan Kai."
Sembari mengangkat tangan kanannya tanpa menghilangkan senyum segarnya, Millefeuille bergegas pergi meninggalkan kami.
"Kak Kai, orang itu siapa?"
Lumine yang berada di sampingku melontarkan pertanyaannya dengan raut wajah yang agak aneh.
"Dia adalah teman Rose."
"Hee, begitu, ya. Kak Rose, ya."
Ia mengangguk beberapa kali dengan ekspresi lega,
"Kak Kai, ayo kita ke sana!"
Mendesakku, Lumine menarik tanganku dan kami mulai melangkah menuju gedung Akademi Ouboro.
Saat kami memasuki gedung sekolah, kerumunan siswa terlihat berdesakan di dekat pintu masuk sekolah tempat daftar pembagian kelas ditempel.
"Ternyata aku dan kamu ada di kelas yang sama, Lumine."
"Sama!"
Lumine mengangguk dengan wajah semringah.
Kalau saja ini Lumine yang beberapa waktu lalu, dia pasti akan langsung mengejekku.
Melihatnya sekarang, perubahannya benar-benar luar biasa.
Atau mungkin lebih tepatnya, hubungan kami telah kembali seperti saat kami masih anak-anak dulu.
Soalnya, waktu itu Lumine bahkan jauh lebih lengket padaku daripada pada Lyra.
"Ada beberapa wajah yang sudah kukenal, ya."
Ada beberapa nama yang familier bagiku di daftar kelas A1 yang sama denganku. Ariel; lalu pengikutnya yang bernama Sicke, makhluk dari dunia lain yang mengaku sebagai Dewa Perang Suci Ares.
Kusuki, bocah yang dilindungi di rumah terkutuk itu.
Dan juga Seth Accard, sosok yang belum pernah kutemui secara langsung, namun karena dia adalah putri pemimpin elf yang penuh misteri, dia juga menjadi sosok yang terus kuperhatikan.
Selain mereka, masih ada beberapa nama lain. Tak pernah sekalipun terlintas di mimpiku kalau mereka semua bakal ada di satu kelas yang sama.
Tentu saja, aku tak sebodoh itu untuk menganggap ini sebagai kebetulan semata. Ini pasti ada campur tangan dari pihak akademi.
Kalau begitu, apakah ini ulah Chloe? Padahal aku sudah bilang padanya agar tidak memberikan tekanan berlebih pada para siswa.
Tak mungkin ia berani mengkhianatiku sekarang. Lalu, campur tangan siapa ini?
"Yah, sudahlah."
Biar bagaimanapun, buatku lebih menguntungkan kalau mereka semua berada di satu kelas yang sama denganku.
Terlebih lagi, dari anggota-anggota ini, jelas sekali kalau ada maksud tertentu di baliknya.
"Lumine, ayo kita ke kelas."
"Iya!"
Lumine menarik tanganku dan kami mulai berjalan sambil ia bergantung di lenganku.
Saat di depan Lyra, ia selalu menjaga jarak yang agak aneh.
Namun jika Lyra tidak ada, ia kembali menjadi Lumine yang manja seperti dulu.
Yah, karena ini tak jadi soal buatku, kurasa tak masalah sama sekali.
Kami pun mulai melangkah menuju ke kelas A1 yang telah ditentukan.
Meskipun aku
sudah masuk ke kelas, tidak ada satu orang pun yang memperhatikanku. Hmm,
baguslah.
Akhir-akhir ini
aku memang terlalu sering menjadi pusat perhatian dengan hal-hal yang tidak
menyenangkan. Ruangan yang senormal ini terasa sangat menyamankan.
Aku pun duduk di sudut barisan paling belakang kelas.
Nah, kira-kira orang seperti apa saja yang ada di kelas ini, dan siapa saja
yang akan masuk nanti, ya.
Sudah ada beberapa orang di kelas yang menarik
perhatianku.
Yang pertama adalah Kusuki Baccano, bocah lelaki yang
kami lindungi dalam insiden rumah terkutuk waktu itu.
Yang kedua adalah Seth Accard, seorang gadis elf dengan
rambut hitam yang diikat setengah. Aku punya sedikit masalah dengannya. Lebih
tepatnya ibuku sih.
Yang jelas, dia adalah orang yang lumayan terkenal dalam
artian tertentu. Buktinya, lumayan banyak anak di kelas ini yang mencuri-curi
pandang ke arahnya.
Dua orang lainnya adalah kelompok dunia lain yang
kupanggil ke dunia ini. Gadis cantik berambut pirang ikal dengan potongan bob
itu pasti Ares, dan pemuda tampan berotot ramping dengan kumis tipis itu pasti
pelayannya.
Aku tidak menyadarinya saat melihat daftar kelas tadi,
tapi pria mungil dengan potongan rambut mangkuk dan perempuan pendiam berambut
pirang panjang yang dikepang itu aku kenal.
Kalau tidak salah, mereka adalah Ramune dan Kiki, rekan
satu timku saat ujian praktik masuk.
Sepertinya mereka juga masuk Akademi Ouboro. Aku tidak
bisa menahan perasaan kalau kami memang ditakdirkan untuk bertemu.
Lalu—melihat pemuda dengan rambut hitam yang sangat
panjang memasuki kelas,
"Pfft!"
Tanpa sadar aku menyemburkan tawaku.
Chloe, kau benar-benar pandai memilih orang. Sejak aku
kembali ke dunia ini, dialah orang pertama yang sepertinya bisa melawanku
secara serius, asalkan dengan batasan kekuatan.
Aku tak sengaja bertemu dengannya di tengah kota Babel,
tapi dia tidak ada di ujian masuk waktu itu.
Bisa jadi, dia inilah yang disebut-sebut sebagai senjata
pamungkas Babel.
Siapa sangka mereka malah menjebloskannya ke sekolah
tempatku bersekolah. Keputusan yang cukup berani, bukan?
"Ada apa?"
Melihat wajah Lumine yang terkejut di sebelahku,
"Bukan apa-apa."
Saat aku mengelus kepalanya untuk mengalihkan
pembicaraan, dia duduk di kursi tepat di depanku.
"Kau, waktu itu kau yang menyapaku, kan?"
Dan tiba-tiba menanyakan hal itu.
"Itu hanya perasaanmu saja."
"Tidak, waktu itu kau jelas-jelas bilang kalau kau
mengharapkanku—"
"Aku tidak bilang apa-apa. Mungkin kau salah
dengar."
"..."
Pemuda berambut hitam itu menatapku tajam selama
beberapa saat.
Sambil menghela napas panjang, ia bergumam,
"Anggap saja begitu."
Lalu ia menelungkupkan kepalanya ke meja dan berhenti
bicara.
"Semuanya, silakan duduk!"
Seseorang yang memasuki kelas dan berdiri di podium
adalah seorang wanita dengan rambut biru panjang bermodel asimetris.
"..."
Erysh. Kenapa anak ini ada di sini? Erysh masih terdaftar
sebagai siswi Menara, dan syarat mutlak untuk menjadi pengajar adalah sudah
lulus.
Kemunculan Erysh yang tampak sangat percaya diri mungkin
membuat para siswa percaya kalau dia memang pengajar, karena mereka langsung
duduk di tempat masing-masing.
"Namaku Erysh Excel. Aku masih berstatus sebagai
siswi Menara, tapi kali ini aku akan mengajar kalian sihir dasar selama satu
tahun sebagai guru praktik. Mohon kerja samanya."
Kesunyian sesaat menyelimuti kelas tepat setelah sapaan
Erysh. Detik berikutnya, sorak sorai meledak.
"Luar biasa! Siswi Menara yang bakal ngajar
kita!"
"Ini pasti gara-gara Akademi St.Clan pindah ke
sebelah!"
Para siswa tampak bersemangat dan mulai mengobrol dengan
riuh satu sama lain.
"Kenapa mereka sebegitunya gembira?"
Wajarnya, diajar oleh sesama murid akan menimbulkan
kecemasan.
Aku tidak mengerti alasan mereka begitu gembira.
"Konon, dari seluruh staf pengajar di akademi
Babel, hanya 1% yang merupakan lulusan Menara. Tentu saja, segelintir lulusan
Menara itu memegang jabatan tinggi seperti kepala sekolah di sekolah-sekolah
top Babel. Singkatnya, wanita bernama Erysh itu adalah elit dari para elit, dan
posisinya lebih tinggi dari pengajar di akademi ini."
Pria berambut hitam di depanku menjawab pertanyaanku
yang tidak penting itu dengan sopan, sambil menopang dagunya.
"Oh, pengetahuanmu luas juga, ya."
"Yah, lumayanlah."
Sesuai dugaanku, pria ini adalah orang Babel. Chloe,
Chloe. Kau punya bawahan yang cukup berbakat rupanya.
"Harap tenang!"
Teguran Erysh seketika membuat seisi ruangan hening.
Sepertinya para siswa di kelas ini sangat menghormati Erysh.
"Upacara penerimaan siswa baru akan segera dimulai.
Mulai tahun ini, upacara ini akan digabung dengan beberapa akademi lain,
termasuk Akademi St.Clan di sebelah."
Para siswa langsung riuh mengobrol layaknya sekawanan
anak burung.
Saat Erysh mengetuk meja beberapa kali dengan telapak
tangan kirinya, suara bising itu pun langsung lenyap.
Nama besar Menara memang luar biasa. Dia benar-benar
seperti pawang.
"Setiap orang tolong perkenalkan diri kalian
dengan singkat, baru kemudian kita pindah ke aula besar Akademi St.Clan di
sebelah. Satu per satu, sebutkan nama, kebangsaan, keahlian,
target kalian untuk tahun ini, dan cita-cita kalian dengan singkat. Kalau
begitu—dimulai dari Kai Heineman."
Setelah mengedarkan pandangan ke seluruh kelas, Erysh
langsung menunjuk ke arahku.
"Namaku Kai Heineman. Statusku mungkin orang
Kerajaan Amelia, ya? Menurutmu bagaimana, Lumine?"
100.000 tahun telah berlalu sejak aku tertelan oleh
dungeon itu. Waktu terkadang terasa kejam.
Secara fisik maupun mental, aku sama sekali berbeda dari
diriku yang dulu.
Tentu saja, aku pribadi tidak merasa sedikit pun kalau
aku ini orang Kerajaan Amelia.
Tapi, untuk saat ini, aku berstatus sebagai Royal
Guard sementara Rose—.
"Kenapa tanya padaku? Lagi pula, kurasa statusmu
memang orang Amelia, kok."
Lumine menjawab dengan nada terkejut dari sebelahku.
"Begitulah. Keahlianku adalah ilmu pedang. Targetku
tahun ini adalah menjalani kehidupan yang santai. Dan cita-citaku di masa
depan, tentu saja, menjadi orang yang menjalani hidup santai."
"Kurasa kehidupan yang santai itu mustahil buat Kak
Kai."
Lumine melontarkan sindiran yang tidak penting mirip
Asta.
"Benar juga, ya."
Erysh mengangguk setuju. Tapi menyadari kalau semua
orang menatap kami dengan pandangan aneh, ia langsung berdeham untuk menutupi
kecanggungannya.
(Kai, apa sebenarnya yang sudah kau lakukan selama ini?)
Pria berambut hitam di kursi depanku bertanya dengan nada
suara heran.
"Umm, pada dasarnya aku cuma tukang bersih-bersih
jalan. Yah, akhir-akhir ini mungkin aku sedikit lebih proaktif, sih."
Memang benar, aku turun tangan secara langsung saat
masalah Gil.
Setelah perkenalanku selesai dan aku kembali duduk,
Erysh menunjuk Lumine. Lumine terlihat agak gugup, tapi dia berhasil
memperkenalkan diri dengan jauh lebih baik dariku.
Giliran pun berlanjut sampai ke mereka berdua. Ares
bernama Ariel, dan pelayan lelakinya bernama Sicke. Mereka berdua terdaftar
sebagai orang Kerajaan Amelia.
Ah, aku ingat Chloe pernah bilang kalau dia mengatur
pendaftarannya seperti itu.
Tujuan Ariel dan Sicke adalah menemukan teman mereka yang
hilang dan kembali ke kampung halaman.
Asal Ramune dan Kiki adalah Kekaisaran Glitnir. Hmm...
Apakah ini sebuah kebetulan?
Mereka bahkan sampai menyapaku dengan sopan.
Aku sama sekali tak merasakan niat jahat dari mereka,
jadi kurasa tak ada masalah membiarkannya untuk saat ini.
Lagipula, Ramune dan Kiki adalah salah satu dari
segelintir orang yang mengetahui pertarunganku di dunia ini.
Terlepas dari seberapa besar kekuatan fisik maupun sihir
mereka, keterampilan bertarung mereka jelas berada di level yang sama sekali
berbeda dari murid-murid biasa lainnya.
Chloe sengaja memasukkan mereka ke kelas A1 ini.
Kira-kira, apa yang dia rencanakan dengan kelas ini?
Kusuki Baccano dan Seth Accard masing-masing
memperkenalkan diri dengan suara pelan dan aman. Keduanya pasti sudah terbiasa
melindungi diri dengan cara seperti itu.
Tidak, bukan itu. Akan lebih tepat jika dibilang mereka
tidak bisa melindungi diri kalau tak berbuat seperti itu.
Namun, kata-kata yang tidak mengandung setitik pun
perasaan tulus terdengar kosong melompong. Jawaban yang sangat membosankan,
sampai-sampai membuatku muak.
Ya sudahlah. Nanti akan kubuat mereka menunjukkan
jati diri mereka.
Akhirnya giliran pria berambut hitam di depanku. Ia
berdiri,
"Namaku Shou. Nama keluargaku... sudah kubuang.
Kewarganegaraanku... aku berasal dari negara yang sangat jauh, dan kurasa
kalian tak akan paham kalaupun kusebutkan, jadi aku takkan mengatakannya.
Keahlianku sihir dan bela diri. Targetku untuk tahun ini adalah memastikan aku
menemukannya kali ini. Satu-satunya tujuanku adalah—balas dendam."
Begitulah cara dia memperkenalkan dirinya secara singkat.
Sesekali terlihat sekilas pandangan buas bagai hewan buas
dari raut wajahnya. Pasti ada banyak hal di balik pria ini.
Perkenalan Shou seketika membuat seisi kelas riuh, tapi,
"Karena perkenalannya sudah selesai, silakan
semuanya menuju ke aula."
Erysh bertepuk tangan dan memberi instruksi. Kami pun
menurutinya, berdiri, dan berjalan menuju gedung sekolah di sebelah.
—Inilah pertemuan mereka.
Saat di mana
monster terkuat yang kehilangan musuh di dunia ini, berpapasan dengan iblis
pendendam yang mengorbankan segalanya demi balas dendam.
Bagi sang iblis, sang monster pada awalnya hanyalah
sebuah pijakan untuk menemukan musuhnya.
Namun, rasa penasaran sang monster yang lapar akan
sosok kuat itu justru membuatnya tertarik pada sang iblis pendendam, hingga
akhirnya ia turut campur dalam kisah balas dendam tersebut.
Dalam artian, kegigihan sang iblis-lah yang menyeret
monster tak masuk akal ini ke dalam ceritanya. Mungkin bisa dibilang begitu.
Pada saat itu, pintu yang tertutup rapat dan tak
pernah terbuka, perlahan mulai terbuka paksa oleh tangan sang monster terkuat.
◇◆◇
Gedung Akademi St.Clan luasnya bukan main. Begitu
luasnya sampai-sampai membuatku tak bisa berkata-kata, dan bangunan itu tampak
sangat mewah, seolah seluruh harta benda dicurahkan untuk membangunnya.
Begitu kami memasuki tempat yang disebut Aula Besar
di tengahnya, kami disambut oleh ruang yang dikelilingi kursi penonton
bertingkat, dan para murid tampak terus berdatangan menempati tempat duduk
mereka.
Tiga sekolah elit yang dikenal sebagai Tiga Raja
Babel, yakni Akademi St.Clan, Akademi Shelton, dan Akademi Ringerfoot, yang
sejajar dengan kelas Menara, selalu mengadakan upacara penerimaan secara
bersamaan.
Kali ini, upacara akan diadakan di gedung baru Akademi
St.Clan. Akademi Ouboro mendapat pengecualian untuk mengikuti upacara gabungan
ini karena hubungan dekat mereka dengan Akademi St.Clan baru-baru ini. Mungkin
seperti itu alasannya.
Dilihat dari seragamnya, Akademi St.Clan berada di
sebelah kiri, Akademi Shelton di tengah, dan Akademi Ringerfoot di kanan,
diurutkan dari depan.
Sepertinya para murid Akademi Ouboro ditempatkan di
sudut belakang. Formasi yang sangat mudah ditebak.
"Kai! Lumine!"
Baru saja kami duduk, seseorang memanggil kami dari
belakang.
Saat aku menoleh, kulihat teman masa kecilku yang
memiliki rambut berwarna hijau willow berdiri sambil tersenyum.
"Kak Lyra!"
Lumine melompat dan memeluknya dengan mata
berbinar-binar, Lyra pun membalas pelukannya dengan lembut.
"Oh. Lyra. Kau diterima di Akademi Shelton dan
juga ditunjuk untuk memberikan pidato sambutan, ya? Selamat!"
Nilai tes bakat Lyra cukup tinggi.
Lagipula, ia juga mengumpulkan cukup banyak poin di
tim Somni pada ujian praktik, lencananya pun tetap utuh, sehingga total
nilainya menjadi cukup tinggi. Sangat wajar jika ia diterima di sekolah papan
atas.
Yah, Akademi Shelton adalah sekolah elit papan atas
tempat para bangsawan dan keluarga kerajaan bersekolah. Lulus ujian masuk ke
sana membuktikan betapa hebatnya ia.
"Ya. Padahal aku lebih memilih masuk Akademi
Ouboro, lho."
Ia membalas dengan nada sedikit sedih sambil membelai
kepala Lumine.
Mengingat sifat Lyra, ia pasti tak peduli di sekolah mana
ia diterima.
Justru, karena sifat protektifnya, Akademi Ouboro yang
memungkinkan ia selalu berada di sisi Lumine pasti jauh lebih ia sukai.
"Kak Lyra, aku nggak apa-apa, kok! Toh, tempat tinggalku juga sekamar dengan Kakak."
"Begitu, ya."
Lyra menatap Lumine yang menjawab dengan senyum ceria
ke arahnya, namun dengan tatapan yang entah kenapa terlihat sedih, lalu ia
menatapku,
"Kai, tolong jaga Lumine."
Ia memohon padaku dengan wajah serius.
"Tentu saja. Lumine kan sering melakukan hal yang
berbahaya, jadi aku akan mengawasinya dengan ketat."
Mendengar jawabanku itu,
"Huuu! Aku nggak berbahaya sama sekali, tahu!"
Lumine langsung cemberut dan melayangkan protes.
"Fufu!"
Melihat interaksi kami, Lyra tertawa tertahan seakan
melihat sesuatu yang lucu.
"Hm? Ada apa?"
Aku pun menanyakan maksud dari tawanya itu.
"Tidak ada apa-apa. Hanya saja, melihat hubungan
Lumine dan Kai kembali seperti dulu membuatku merasa sedikit senang."
"T-Tidak seperti itu, kok!"
Wajah Lumine memerah padam dan ia buru-buru
menyangkalnya.
"Nona kecil, sangkalanmu itu terlalu berlebihan. Kau
malah menggali kuburanmu sendiri, lho."
Sue mengintip dari tas dan melontarkan sindiran itu.
"—Eh!"
Sementara Lyra dengan penuh kasih sayang membelai kepala
Lumine yang sudah memerah seperti teko air mendidih, seorang pemuda berambut
cokelat yang sangat tampan menghampiri kami dan berkata,
"Nona Lyra, sebentar lagi upacara akan dimulai. Kita
berdua harus menyampaikan pidato perwakilan sebentar lagi. Tidak ada waktu untuk meladeni orang-orang rendahan seperti
mereka!"
Seperti biasa, ia mendesak Lyra dengan ekspresinya
yang penuh percaya diri.
Roman, sama seperti Lyra, memperoleh nilai tertinggi di
ujian bakat. Ia bahkan melawan undead sendirian sampai ia pingsan
terkena racun lebah beracun.
Akibatnya, nilai totalnya tinggi, dan karena fakta bahwa
ia adalah Gift Holder dari "Raja Tombak" juga ikut
dipertimbangkan, ia diterima di Akademi Shelton sama seperti Lyra.
Roman sepertinya sangat bahagia bisa bersekolah di tempat
yang sama dengan Lyra.
"Baiklah, Kai, Lumine. Sampai nanti, ya."
Tanpa menjawab perkataan Roman, Lyra hanya tersenyum
padaku dan Lumine, lalu berjalan menuju barisan depan.
"Weeeek!"
Lumine menarik bibirnya dengan kedua jari telunjuk dan
terang-terangan menunjukkan permusuhan pada Roman.
Lumine memang sudah lumayan melunak padaku, tapi
sepertinya ia tetap membenci Roman.
Upacara penerimaan siswa baru pun dimulai, namun sejak
awal acaranya sudah penuh dengan kekacauan.
Pertama, diumumkan bahwa Akademi Ouboro dan Akademi
St.Clan akan menjadi sekolah bersaudara.
Ini adalah kabar mengejutkan yang mendadak, terutama bagi
siswa dan staf Akademi St.Clan, yang langsung menyuarakan penolakan keras.
Di tengah penolakan itu, diumumkan bahwa mantan Kepala
Akademi Umum Babel, Inea Renren Lorelei, akan menjabat sebagai Kepala Sekolah
Akademi Ouboro yang baru.
Pengumuman tentang penunjukan Bligh Stamp sebagai guru
bela diri semakin menambah kehebohan di dalam aula.
Tentu saja, yang sebenarnya terjadi adalah protes keras
dari para siswa Tiga Raja.
Mana mungkin mereka bisa menerima bahwa hanya Akademi
Ouboro yang dipenuhi murid buangan yang mendapat pelajaran berkualitas
tertinggi.
Di tengah badai protes itu, ketika diumumkan bahwa Inea
dan Bligh juga akan mengajar di sekolah bersaudara Saint Clan, Akademi Shelton,
dan Akademi Ringerfoot, seketika protes pun reda.
Jika dipikirkan secara tenang, melihat fakta bahwa Akademi
St.Clan dipaksa pindah ke Distrik Enam dan Inea serta staf elit lainnya
dipekerjakan sebagai staf pengajar, jelas bahwa semua ini diatur demi Tiga
Raja, terutama Akademi St.Clan.
Akademi Ouboro hanyalah dimanfaatkan untuk menutupi
perasaan tak adil dari akademi unggulan Babel lainnya. Begitulah pemikiran yang
sangat masuk akal.
Setelah sempat terjadi keributan yang luar biasa, upacara
kembali berjalan lancar. Pidato demi pidato disampaikan oleh para siswa
berprestasi yang sangat menjanjikan dari Tiga Akademi tersebut, termasuk Lyra
dan Roman.
Tentu saja, tidak ada satu pun siswa dari Akademi Ouboro
yang mendapatkan kesempatan itu. Yah, ini benar-benar mudah dipahami,
sampai-sampai rasanya melegakan.
Meskipun begitu, pidato Lyra terdengar sangat berwibawa,
dan bagiku ini adalah upacara penerimaan siswa baru yang bagus.
Terakhir, orang yang naik ke mimbar adalah seorang pria
muda tinggi kurus berjubah biru tua. Suasana ruang pertemuan seketika hening,
sampai-sampai terasa menyakitkan telinga.
"Oh...."
Dalam hal tertentu, karismanya lebih besar daripada Inea.
Identitasnya pun terungkap melalui perkenalan pembawa acara.
—Rasputin Grahart. Wakil Kepala Akademi Umum Babel saat
ini.
Aku kira ia akan menjadi orang duniawi seperti mantan
Wakil Kepala Akademi, tapi kenyataannya ia memancarkan keagungan yang tidak
sesuai dengan usianya yang baru beberapa puluh tahun.
"Saudara-saudara sekalian, selamat atas penerimaan
kalian di sini. Kepindahan Akademi St.Clan ke Distrik Enam dan kerja samanya
dengan Akademi Ouboro sebagai sekolah bersaudara merupakan eksperimen untuk
melihat apakah mereka yang tak kompeten pada saat masuk bisa mengejar mereka
yang memiliki bakat alami melalui pendidikan."
Tiba-tiba seisi aula menjadi riuh. Sebagian besar orang tampak meragukan ide tersebut. Ajaran
Gereja Pusat menyatakan bahwa Gift adalah ukuran cinta kasih Tuhan dan
menentukan bakat manusia.
Pemikiran tentang menciptakan kejeniusan melalui
pendidikan ala Rasputin benar-benar bertentangan dengan ajaran Gereja Pusat
ini. Bagi penganut setia Dewa Perang Suci, ide ini sendiri
sulit diterima.
"Ini adalah upaya terbesar yang pernah dilakukan
Babel, dan sekaligus menjadi petualangan. Oleh karena itu, penerapannya pun
harus ketat. Penilaian akhir bagi siswa Menara dan siswa dari keempat akademi
ini akan ditentukan secara adil dan ketat berdasarkan ujian yang sama, dengan
standar penilaian yang setara pula. Siapa pun yang gagal akan langsung
dikeluarkan tanpa kompromi. Hanya bagi mereka yang mampu bertahan, Babel akan
menganugerahkan penghargaan tertinggi. Demikian dari saya!"
Setelah menyampaikannya secara sepihak, Rasputin
langsung meninggalkan aula dengan cepat.
Keriuhan yang sempat memenuhi aula perlahan kembali
tenang. Ini karena pandangan mereka bahwa jika kemampuan yang jadi standar
penilaian, maka seluruh murid Akademi Ouboro pasti akan terdepak.
Intinya, mereka menyimpulkan kalau Rasputin hanya
menjadikan eksperimen ini sebagai alasan untuk melenyapkan Akademi Ouboro.
Perlahan-lahan, para murid Tiga Raja mulai mencari-cari
apa maksud dari kata-kata Rasputin tentang memberikan penghargaan tertinggi
itu.
Artinya, Babel menerapkan sistem pendidikan kali ini
untuk membimbing dan mengasah bibit-bibit unggul di dalam lembaga pendidikan
Babel.
Sementara para murid Tiga Raja tengah asyik
membicarakan cara-cara mengalahkan rival-rival dari sekolah lain beserta
komitmen mereka, murid-murid Akademi Ouboro malah sibuk meratapi nasib karena
mengira mereka semua bakal dikeluarkan.
Meskipun begitu—.
"Kenapa mereka sebegitunya putus asa? Lagipula, semuanya kan belum dimulai...."
Pernyataan Rasputin barusan hanyalah penegasan akan
hal-hal yang sepatutnya dilakukan oleh lembaga pendidikan.
Mengandalkan ujian masuk untuk menentukan segalanya
sama saja dengan mengabaikan tanggung jawab sebagai lembaga pendidikan.
Malahan, mereka sepatutnya berterima kasih kepada
Rasputin yang sudah berikrar bakal mengevaluasi mereka berdasarkan kemampuan
yang sesungguhnya.
Padahal, sebelum bertanding saja mereka sudah
mengeluh tidak akan bisa meraih nilai lulus ujian.
Itu artinya, mereka sudah tidak mau berusaha sama sekali.
Ini tidak ada hubungannya dengan nilai.
Dari awal, murid-murid ini memang tidak memiliki
sesuatu yang sangat penting.
"Percuma saja, Kai. Mata mereka sudah memancarkan
tatapan pecundang."
Shou yang duduk di kursi depanku bergumam tanpa
membalikkan badan ke arahku.
"Sepertinya begitu."
Inikah tantangan berat yang dimaksud Chloe di Akademi
Ouboro ini. Kalau dari permukaannya saja sudah bobrok, maka isinya pun pasti
tak ada yang bisa diandalkan.
Akan tetapi, aku sudah sangat piawai mengolah buah busuk
saat menangani masalah Gil.
Baiklah, Chloe. Akan kulakukan apa yang kau harapkan,
tidak, akan kulakukan lebih baik dari yang kau harapkan.
"Kak Kai, tahu nggak sekarang muka Kakak kayak
gimana?"
Lumine, dengan ekspresi mata yang setengah tertutup
seolah tak percaya, menegurku dari bangku sebelah.
"Muka?"
Ketika kusentuh menggunakan tangan kiriku, ternyata sudut
bibirku sudah terangkat sangat tinggi.
"Yah, aku paham sekarang. Maksudmu kau tak bisa
hidup santai karena yang beginian, ya."
Shou juga menoleh ke arahku dan bergumam sendiri melihat
raut wajahku sambil pipinya berkedut.
◇◆◇
Setelah upacara penerimaan siswa baru Akademi Ouboro
usai, Erysh, selaku pengajar di akademi tersebut, memberikan pengarahan
singkat. Setelah itu, Ares dan Silkette pun bergegas pulang.
Sebelum masuk ke Akademi Ouboro, ia hanya berpikir bahwa
sekolah ini hanyalah sekolah biasa tempat manusia kelas bawah bersekolah.
Namun, pandangannya langsung berubah setelah ia
menginjakkan kaki di ruang kelas itu.
Tiga sosok yang terutama menarik perhatian Ares.
Yang pertama, Lumine Herner. Gadis ini sekilas terlihat
seperti gadis biasa.
Akan tetapi, ketika ia mengeluarkan boneka kucing dari
tasnya di dalam kelas, sosok sesosok dewa laki-laki yang memegang pedang besar
di tangan kanannya sekilas terlihat.
Meskipun hanya sekejap, Silkette juga menyadarinya. Jadi,
itu bukan sekadar salah lihat Ares semata.
Dewa pria itu memancarkan tekanan kuat yang membuat
kakeknya, sang Dewa Tertinggi, Zeus, tampak seolah-olah berada tepat di
depannya.
Kedua, Kusuki Baccano. Ia kurang begitu mengenalnya. Akan
tetapi, kapasitas sihir yang dimilikinya sangat jauh melampaui manusia biasa.
Berdasarkan penilaiannya, ia setidaknya berada di kelas
dewa tingkat bawah.
Manusia memiliki kapasitas sihir yang setara dengan
dewa?
Belum pernah ia mendengar hal semacam itu. Ia juga
benar-benar tak wajar. Sudah bisa dipastikan ia bukanlah manusia, melainkan
anggota dari silsilah dewa.
Yang terakhir adalah yang paling tak wajar. Pemuda
berambut hitam panjang yang menyebut dirinya sebagai Shou. Tak ada tanda-tanda
kehadiran dewa seperti Lumine, juga tidak ada kekuatan sihir yang sangat besar
seperti Kusuki.
Namun, hanya dengan bertatapan dengannya saja, ia
merasa seolah terperangkap dalam jaring laba-laba raksasa.
Perasaan ini sama seperti saat ia bertemu dengan Dewa
Kehancuran terkuat, Poseidon, dan keringat dingin langsung bercucuran membasahi
sekujur tubuhnya.
"Bagaimana pendapat Anda tentang kelas
tadi?"
Baru saja melewati gerbang sekolah, Silkette
menanyakan hal yang sangat membingungkan baginya.
"Ketiga orang itu, ya?"
"Benar, pada dasarnya mereka itu bukanlah
manusia. Mereka adalah—"
"Orang-orang yang merupakan bagian dari silsilah
dewa seperti kita, ya...."
"Bisa dipastikan."
Kalau hanya ada satu sosok aneh, ia masih bisa
memakluminya. Tapi kalau sampai tiga sosok, itu urusan yang berbeda.
Mungkin, pendaftaran Ares dan yang lainnya di akademi ini
juga bukan sebuah kebetulan belaka.
Pasti ini adalah hasil dari kehendak seseorang. Tapi apa
sebenarnya niat mereka....
(Tuan Ares!)
Silkett berbisik seraya menunjuk ke suatu arah. Di
tanah kosong yang tak jauh dari situ, beberapa siswa tampak tengah mengerumuni
seorang perempuan.
Seragam para siswa elf yang mengelilinginya itu
sangatlah familier baginya, seragam yang sama dengan siswa yang menghadiri
upacara penerimaan hari ini. Seragam Akademi St.Clan yang prestisius.
Sebaliknya, gadis yang tengah jadi pusat kebencian
itu adalah Seth Accard, siswi kelas A1 Akademi Ouboro yang sama dengan Ares dan
Silkette.
"Dasar aib elf! Beraninya kau datang ke Babel
ini!"
Seorang elf pria bertubuh kurus berseru lantang.
"Bikin najis saja! Melihatmu saja membuatku
merinding!"
Sesaat kemudian, seorang elf perempuan menyemburkan
hinaannya.
"Ya, rasanya mau muntah membayangkan berada di
gedung sebelah wanita menjijikkan ini!"
Seorang elf bertubuh tinggi besar pun ikut mencibir.
Sembari berjongkok di hadapan sang gadis, seorang
pria elf bertubuh tinggi berambut pirang yang disisir ke belakang, yang
sepertinya adalah ketua kelompok, menjambak rambut Seth kuat-kuat.
"Dengar, ya. Aku tidak mau memaksamu. Jadi cepat
angkat kaki dari Babel ini sekarang juga."
Ia memberikan perintah bernada mengancam. Sambil
gemetar, gadis itu menggelengkan kepala.
"Tidak mau...."
Ia menolak dengan suara yang lirih.
"Kau tak mengerti, ya. Ini bukan saran, tapi
perintah dari Lorelei."
Sambil memamerkan senyum tipis, elf berambut pirang itu
menampar wajah Seth.
(Dasar pengecut!)
Selama ini, Ares memiliki persepsi bahwa elf adalah ras
yang cerdas dan berbudaya.
Setidaknya ia tak pernah menyangka mereka akan melakukan
tindakan barbar seperti menampar perempuan yang tak berdaya.
Yang pasti, Ares tidak cukup sabar untuk bisa melihat
hal ini terus-menerus.
"Berhenti!"
Mendengar teriakan peringatan dari Ares, pandangan
para elf langsung tertuju padanya.
Sesaat kemudian, sorot mata mereka berubah drastis
menjadi sesuatu yang tak pernah ia saksikan seumur hidupnya.
"Kalian...."
Menyadari makna di balik tatapan mereka, Silkette
langsung menatap tajam ke arah para elf dengan mata setajam elang.
Pria berambut pirang yang disisir ke belakang itu
melemparkan Seth Accard dengan kasar, lalu berdiri perlahan.
"Hah! Anak gagal dari sekolah reyot itu berani
menceramahiku, siswa Saint Clan?"
Ia bangkit dari tanah, memamerkan senyum tipis,
mendekat, lalu memiringkan kepalanya seolah ingin mengintimidasi.
Berdasarkan informasi yang dikumpulkan Silkette, di
Babel, yaitu kota bagi manusia, para siswa dipetakan ke setiap sekolah
berdasarkan nilai ujian masuk mereka, yang akhirnya membentuk struktur hierarki
unik.
Puncak hierarki ditempati oleh para siswa yang
bersekolah di 'Menara'. Mereka dipersiapkan untuk menjadi calon petinggi di
segala bidang dan organisasi di dunia ini, dan mendapat pendidikan elit secara
intens.
Namun, tekanan pendidikan ini sangat brutal sehingga
beberapa bangsawan dan keluarga kerajaan ragu untuk menyekolahkan putra-putri
mereka ke sana.
Sebagai solusinya, terdapat tiga akademi Babel
unggulan yang sejajar dengan kelas Menara semu dan dihadiri oleh bangsawan dan
keluarga kerajaan.
Tiga akademi unggulan ini menerima anggaran sangat
besar dari pusat Babel tanpa syarat setiap tahun, mendapat guru-guru
berkualitas tinggi, dan mendapat fasilitas pendidikan terbaik dunia.
Di bawah tiga sekolah tersebut, terdapat
akademi-akademi umum kelas menengah.
Anggaran mereka ditetapkan setiap tahun, dengan
tambahan anggaran yang didasarkan pada prestasi akademis yang diraih para
siswa.
Karena itu, para pengajar maupun siswa akademi kelas
menengah cenderung kompetitif dalam mencari dan mendidik siswa berprestasi.
Di dasar hierarki adalah sekolah terburuk. Anggaran
yang mereka terima hanya sekadar untuk memenuhi kebutuhan pokok, dan merupakan
akademi yang dihadiri oleh para pecundang di Babel.
Pengajar di sekolah tersebut kualitasnya dan
antusiasmenya sangat rendah, dan mereka diperlakukan dengan sangat buruk dalam
semua aspek.
Di antara sekolah-sekolah terburuk ini, Akademi
Ouboro adalah yang terburuk dari yang terburuk.
Mereka menerima perlakuan buruk di semua aspek, dan
acap kali menjadi korban diskriminasi dari sekolah-sekolah lainnya.
"Aku tak tahu seberapa berkuasanya kau, tapi hal
itu tak memberimu hak untuk menyiksa gadis lemah seperti dia. Menyakiti seseorang yang lemah dan tak bisa melawan... Di dunia kami,
orang seperti itu disebut pengecut."
Ia menyatakan pendapatnya sembari menggeram marah.
"Hah?! Apa kau baru saja menyebutku
pengecut?!"
Pria elf berambut pirang klimis itu berteriak murka,
memperlihatkan urat biru yang menonjol di dahinya.
"Iya, dan akan kupertegas sekali lagi. Kalian semua
ini benar-benar pengecut terburuk."
"Beraninya anak buangan sekolah reyot menceramahi
kami!"
Sesaat kemudian, cemoohan dari para elf meledak.
Omong kosong belaka. Klaim yang mereka buat ini semua
hanyalah argumen picik dari dunia sempit yang cuma berlaku di dalam Babel ini.
Akademi Ouboro dianggap sebelah mata, itu cuma kedok.
Pada kenyataannya, kelas yang dihadiri oleh para siswa
dari akademi itu dijejali oleh para monster berkelas dewa. Sudah jelas seberapa
penting Akademi Ouboro di mata Babel.
Intinya, mereka hanyalah boneka bodoh yang tak sadar akan
kenyataan dan cuma menari-nari dalam batasan stereotip yang dangkal. Ini tak
cuma memalukan, tapi sudah sampai taraf memilukan.
"Masih soal itu lagi? Jika budaya Akademi St.Clan
itu merundung yang lemah, maka sekolah macam itu sudah sepantasnya tak ada.
Sekolah sampah seperti itu harusnya ditutup sekarang juga!"
Ares mengedarkan pandangan ke arah mereka dan
mendeklarasikannya dengan raut wajah jijik.
"Jangan bercanda! Dasar pecundang dari sekolah
reyot!"
"Sombong sekali untuk seukuran anak buangan!"
"Mana ada pecundang dari sekolah terburuk Babel yang
bisa ngoceh hal sok suci seperti itu!"
Para elf kembali melontarkan ejekan seperti dugaannya.
"Terus? Bahkan kalaupun kemampuanku ini rendahan,
hal itu tak bisa menjustifikasi kelakuan memalukan kalian. Ejekan kalian itu
benar-benar salah sasaran."
"Banyak bacot kau! Pada akhirnya, dunia ini berputar
di sekitar kekuatan! Kalau begitu, coba buktikan kebenaran kalian pada
kami!"
Elf berambut pirang klimis itu mengepalkan tinjunya
dengan erat dan melangkah maju, diiringi suara yang bergetar saking emosinya.
"Kalau tak bisa berdebat dengan kata-kata,
langsung bertindak anarkis, ya. Kau ini benar-benar orang yang memalukan!"
Ia menangkis seluruh pukulan yang menghampirinya
dengan selisih yang sangat tipis.
"Sialan! Kenapa nggak kena?!"
"Dengan kemampuanmu, kau takkan bisa
mengenalku."
Sekarang ini, Ares memang seorang manusia. Ia
tak bisa lagi memakai kekuatan dewanya.
Meskipun begitu, ia telah diajarkan segala teknik
pertempuran dari saudara-saudara perempuannya, sang Dewi Perang, semenjak ia
masih kecil.
Saat ia kecil dulu, ia bahkan acap kali dipukuli sampai
pingsan.
Tentu saja serangan amatiran seperti anak-anak begini
mustahil mengenalnya.
"A-Anak buangan sekolah reyot tak berguna!"
Mungkin ini adalah rasa malu yang luar biasa baginya.
Urat nadinya yang nyaris pecah terlihat jelas di dahinya,
dan ia mengarahkan tongkat di pinggangnya ke arah Ares dengan raut wajah penuh
amarah dan kebencian seperti membenci musuh bebuyutannya.
"Mundur, Tuan Ariel!"
Silkett maju selangkah ke depan untuk melindungi Ares dan
mengambil kuda-kuda bersiap dengan merendahkan pusat gravitasinya.
"Hei, teman-teman, kita habisi dia!"
"T-Tapi, Torura—"
"Kalau kita kalah dari mereka, kita bakal dicap
sebagai murid Saint Clan pertama yang dikalahkan oleh sekolah reyot! Apa kalian
rela dianggap seperti itu?!"
"Tch!"
Mendengar provokasi Torura, sang pemuda elf berambut
pirang klimis, sorot mata para elf di sekelilingnya seketika berubah. Mereka
semua mengarahkan tongkat mereka ke arah Ares dan Silkett.
"Ayo hujani dia dengan Flame Slug Shot
bersama-sama!"
Setelah Torura meneriakkan aba-aba, ia mulai merapal
mantranya dengan cepat, dan elf lainnya mengikuti. Perlahan, bola-bola api
mulai bermunculan dan berkumpul di ujung tongkat Torura.
"Flame Slug Shot!"
Torura menjerit. Sejumlah besar bola api seketika melesat
ke arah Ares dan Silkett dengan kecepatan tinggi.
Silkett mencabut pedangnya dan menghambat pergerakan
molekul udara di hadapannya. Uap air yang ada di udara seketika membeku menjadi
bentuk menyerupai payung es.
Ratusan bola api yang ditembakkan kemudian mengenai
payung es tersebut dan seketika berubah wujud menjadi uap dan lenyap tak
bersisa.
"D-Dihalau...?"
Diikuti oleh si pemuda elf mungil berkacamata yang
menggumam kebingungan,
"Sihir elemen es tanpa rapal! Itu kemampuan yang
dimiliki penyihir istana, kan!"
"Kenapa murid buangan dari sekolah reyot bisa
menggunakan sihir sekelas itu?!"
Para elf di sekitarnya silih berganti menyerukan
kekaguman mereka.
Silkett mengarahkan ujung pedangnya pada kelompok pemuda
dan pemudi elf yang tengah dilanda kepanikan,
"Dengan kekuatan kalian yang setengah matang itu,
kalian takkan mampu melukaiku seujung kuku pun. Pergilah dari sini sekarang
juga, aku takkan mengejar kalian."
Ujarnya tegas dengan nada keras. Silkett pada dasarnya
bukanlah seorang Utusan Dewa yang bertindak secara sewenang-wenang. Ia pasti
benar-benar marah melihat perbuatan mereka.
"Hei, Torura, sekarang bagaimana?"
Seorang elf raksasa menanyakan pada Torura dengan nada
penuh kecemasan.
"Dia baru saja mencabut pedang padaku. Pada kami,
murid Saint Clan! Ini adalah kejahatan besar yang pantas dihukum mati! Demi
menjaga perdamaian Babel, kita wajib menghukum mereka!"
Begitu Torura berseru, ia mengarahkan tongkatnya dan
kembali merapal mantranya.
"Hei, Vulcan! Waktunya bekerja! Bangunlah!"
Sesaat setelah rapalannya selesai, Torura berseru
lantang. Tepat sesudahnya—.
"Bising! Aku sudah dengar!"
Diiringi suara seorang pria tua yang terdengar tidak
senang, muncullah sesosok pria tua yang tubuhnya terbuat dari api di hadapan
Torura. Ia melipat kedua tangannya di dada.
"Torura, kurasa ini sudah kelewatan."
"Y-Ya. Kita sudahi saja hari ini. Nanti kita
laporkan pada akademi soal tindakan dia mencabut pedang pada kita."
Teman-teman di sekitar Torura berusaha membujuknya agar
mengurungkan niatnya. Namun,
"Apa kalian lupa ajaran Libra?! Kalau kita takut dan
kabur dari mereka, itu akan membuktikan bahwa kita lebih lemah dari mereka! Hal
itu akan mencoreng kehormatan ras elf kita!"
"..."
Mendengar Torura yang sedang tersulut amarah, para murid
elf itu hanya bisa menunduk dan gemetar, dilanda dilema yang mendalam.
"Itu benar. Kita tak boleh kalah!"
Seolah tengah meyakinkan dirinya sendiri, Torura
memelototi Ares dan Silkett seraya berteriak.
(Sepertinya masalah ini akan cukup merepotkan, ya....)
Makhluk manusiawi berelemen api itu mungkin adalah
makhluk elemen alam atau peri.
Terlebih lagi, sekilas saja sudah terlihat jelas bahwa ia
termasuk di tingkatan yang lebih tinggi. Meski
begitu—.
(Dari sekian banyak elemen, kenapa harus berelemen
api....)
Di dunia ini, peri dan makhluk sihir berelemen api
memperoleh kekuatan dari Dewa Api Surtr.
Dewa Api Surtr adalah dewa kuno yang pernah membuat
dunia ini menjadi lautan api jauh sebelum Dewa Jahat Raja Busuk lahir ke dunia
ini.
Ia hanya berhasil disegel oleh sang ayah dan kakak
laki-lakinya setelah mereka bertarung habis-habisan dengan mempertaruhkan jiwa
raga.
Sihir segelnya khususnya, adalah kemampuan dari
ayahnya. Secara kodrat, ayahnya adalah seorang ahli sihir penyegelan.
Karena itulah, ia telah dikunci dengan begitu ketat.
Jadi, segel tersebut mustahil bisa dilepas.
Namun, kekuatan Dewa Api Surtr sangatlah besar,
kekuatan magis yang meluap dari dalam tubuhnya bahkan ketika sedang tersegel
memberikan pengaruh pada para makhluk tingkat tinggi berelemen api.
Tampaknya, peri bernama Vulcan ini juga telah
diperkuat secara signifikan berkat kekuatan sihirnya.
Akan sangat sulit untuk mengalahkannya meski dengan
menggunakan ilmu berpedang tingkat mahir pun.
"Terus, kau mau apakan mereka? Apapun itu tak
masalah bagiku, sih."
"Vulcan, lumpuhkan sepasang manusia yang tak tahu
diri itu!"
"Jangan lupa dengan bayaranku, ya."
"Tentu saja! Kuberikan sepertiga nyawa mana milik
pelayanku ini!"
Sambil menunjuk salah seorang murid perempuan elf yang
ada di belakangnya, Torura meneriakkan kalimat itu.
Perempuan ini adalah satu-satunya di antara mereka yang
sedari tadi tak ikut melancarkan serangan terhadap Ares.
"..."
Dengan tangan bertautan, si murid perempuan elf itu
menutup matanya erat-erat.
Seketika, aura berwarna hijau merembes keluar dari
tubuhnya yang mungil, disusul ia yang kehilangan seluruh kekuatannya.
Melihat para siswa elf yang tak peduli terhadapnya, ini
jelas menunjukkan betapa rendahnya kedudukan perempuan ini.
"Lezat. Sesuai dugaanku, rasanya sangat lezat.
Baiklah, kontrak telah dibuat. Kau mau kedua orang itu dilumpuhkan,
bukan?"
"Benar! Begitu juga si wanita elf itu!"
Torula berteriak sambil menunjuk Seth Accard. Seth
tersentak, tubuhnya meringkuk dan mulai gemetar.
"Baiklah. Ini layanan khusus. Akan kuhancurkan
kau."
Vulcan menjilat bibirnya, mengangkat tangan kanan dan
membentuk segel aneh. Seketika, cincin api dalam jumlah yang mengerikan muncul
di langit.
"Nona Ariel, bawalah anak itu dan larilah!"
Silkett berdecak pelan melihat cincin api yang
mengepung mereka. Ia lalu memohon hal itu pada Ares.
"Nah, karena kau tidak akan bisa bangkit lagi.
Pertama-tama, aku akan membakar kedua tangan dan kakimu, lalu membakar wajah
cantikmu itu."
"Tentu saja, secara perlahan. Kau akan pingsan
karena rasa sakit, lalu terbangun lagi karena rasa sakit."
"Yang sulit adalah memastikan agar kau tidak
langsung mati karena rasa sakit itu. Sungguh merepotkan."
Vulcan memutar wajahnya menjadi ekspresi yang buruk rupa.
Ia menatap Seth, lalu menatap Ares seolah ingin melahap mereka.
"Keparat! Tidak akan kubiarkan!"
Silkett menyiapkan pedangnya dan mencoba membangun sihir
pertahanan. Namun, cincin api yang muncul dari tanah menahan tubuhnya.
"Gawat—!"
Tepat setelah percikan api muncul, pilar api raksasa
bergejolak naik disertai suara gemuruh rendah. Api itu langsung menelan tubuh
Silkett.
"Cepat sekali kau keluar dari panggung."
Silkett berubah menjadi arang hitam dan terkapar di
tanah.
"Hii!"
Seth menjerit ketakutan. Ia berjongkok sambil
memegangi kepalanya.
"Silkett!"
Ares refleks mencoba berlari menghampirinya. Namun,
dinding api muncul di depan mata dan menghalangi jalannya.
(Ugh! Kenapa aku selalu tidak berdaya seperti ini!)
Mengapa setiap tindakan dan ucapan Ares belakangan
ini selalu menjadi bumerang?
Demi menyelamatkan Lemuria yang ia cintai, ia
diam-diam mengirim bawahan berharganya, Ramiel, ke Lemuria di belakang
kakeknya, tetapi Ramiel malah hilang tanpa jejak.
Saat mencoba menyelamatkan Ramiel, sihirnya lepas kendali
hingga ia jatuh ke tubuh manusia. Lalu, karena tindakannya yang ceroboh, ia
membuat lawan marah.
Pada akhirnya, ia malah membuat gadis yang sedang
diserang berada dalam bahaya yang lebih besar. Kini ia bahkan hampir kehilangan
Silkett.
"Jika perbuatanku menyinggung perasaanmu, aku minta
maaf. Karena itu, tolong selamatkan mereka berdua!"
Ia sangat putus asa. Ia tidak ingin kehilangan bawahan
berharganya lagi karena tindakan bodohnya sendiri.
Dengan perasaan yang kuat itu, ia membuang keyakinannya
begitu saja ke selokan dan melontarkan kata-kata permohonan.
"To-Torula, ini sudah keterlaluan. Lagipula, apa
orang itu baik-baik saja?"
Dengan suara cemas, seorang elf bertubuh mungil bertanya
pada Torula. Ia menunjuk Silkett dengan jari telunjuknya.
"Aku tahu! Hei, Vulcan, bukankah aku bilang buat dia
tidak bisa bangkit lagi! Aku tidak bilang sampai membunuhnya!"
"Aku belum membunuhnya. Jantan itu juga masih hidup
dengan baik."
"B-Begitu ya, syukurlah kalau begitu."
"Nah, mari kita laksanakan kontraknya. Aku ini
seorang perfeksionis."
"Aku punya standar tersendiri dalam membuat
seseorang tidak bisa bangkit lagi. Menyiksa tubuh hingga batas maksimal, lalu
menghancurkan mentalnya hingga ke ujung tanduk."
"Itulah arti sebenarnya dari menghancurkan makhluk
lemah!"
Sekilas melihat Vulcan yang berteriak dengan ekspresi
mabuk kepayang itu, aku yakin kata-kataku tidak akan pernah sampai padanya. Aku
sangat yakin akan hal itu.
(Tidak! Aku tidak mau kehilangannya!)
Bagi Ares, Silkett adalah sosok yang sudah seperti orang
tua asuh baginya. Mana mungkin ia membiarkannya mati di tempat seperti ini!
"Siapa saja! Tolong kami!"
Kata-kata yang meluncur dari mulutnya adalah permohonan
bantuan yang sama sekali tidak terdengar seperti ucapan seorang dewa.
Menghadapi situasi yang sangat tidak masuk akal dan tak tertolong ini, rasa
frustrasi meluap, membuat air matanya mengalir tanpa henti.
"Tidak mungkin ada bantuan yang datang!"
Aku tahu. Apa yang dikatakannya memang benar. Dunia ini
tidak semanis itu.
Sebaliknya, dunia ini diciptakan dengan sangat kejam. Aku
sempat berpikir seperti itu.
"Tidak juga."
Bersamaan dengan ucapan anak laki-laki itu, seluruh
cincin api yang melayang di sekitarku lenyap seketika. Di dekat Silkett,
berdiri dengan gagah seorang pemuda berambut abu-abu yang mengenakan seragam
Akademi Ouboro, sama seperti Ares.
Ares mengenalnya karena pemuda itu baru saja
memperkenalkan diri hari ini. Namanya Kai Heineman, teman sekelas Ares di Kelas
A1 Akademi Ouboro, sekaligus teman masa kecil Lumine Helner.
Terlebih lagi, ia terlihat akrab dengan Shou, sehingga
secara alami menarik perhatian Ares.
"Siapa kau?"
Kai mengabaikan intimidasi Vulcan yang menyipitkan
sebelah matanya dengan tenang. Ia memunculkan sesuatu seperti buku di tangan
kirinya, membalik-balik halamannya, dan menggumamkan beberapa kata.
Tepat setelah itu, seekor Slime muncul dan hinggap di
atas kepala Kai.
"Sembuhkan pria itu dan gadis elf di sana."
Kai menunjuk Silkett, lalu menunjuk Seth Accard. Ia
memerintahkan Slime itu untuk melakukan penyembuhan.
Slime itu bergoyang kenyal, lalu menyelimuti Silkett
dengan kecepatan yang tak terlihat oleh mata. Slime itu memulihkannya
seolah-olah memutar balik waktu dengan kecepatan tinggi.
Kemudian, Slime itu menyelimuti Seth yang masih
berjongkok. Memar bekas pukulan di tubuhnya seketika menghilang.
"Silkett!"
Ares berlari mendekat untuk memastikan kondisi
Silkett yang pingsan. Namun, tidak ada satu pun luka bakar yang terlihat di
tubuhnya.
"..."
Kejadian yang begitu luar biasa itu membuat Ares
tidak bisa berkata-kata. Tentu saja, luka Silkett sangat fatal.
Bahkan kelangsungan hidupnya pun masih diragukan. Namun,
luka itu sembuh dalam sekejap.
Slime seperti itu hanya ada satu di Alam Surga. Itu
adalah bawahan utama dari mantan Enam Dewa Langit, Dewa Apollo, yang telah
pensiun dari Pasukan Surga, yaitu Healing Slime.
(Tidak mungkin! Tidak, itu sungguh mustahil!)
Konon, Healing Slime telah musnah dalam perang
besar melawan Pasukan Iblis. Rumor yang beredar luas menyebutkan bahwa Dewa
Apollo pensiun dari posisinya karena syok akibat kehilangan Healing Slime
tersebut.
Namun, selain itu, tidak mungkin ada Slime konyol dengan
kemampuan sehebat itu....
Di tengah kebingungan Ares yang luar biasa, Slime itu
melompat-lompat riang mengelilingi Kai, lalu menghilang tanpa bekas. Setelah
memastikan hal itu, barulah Kai menatap Vulcan.
"—?!"
Hanya dengan melihat sosok Kai, sensasi gemetar yang
menusuk menjalar di punggung.
Ekspresi Kai tidak berubah menjadi jelek dan menakutkan
seperti Vulcan. Itu hanyalah senyuman biasa. Seharusnya begitu, tetapi—
(Aku ketakutan?)
Ares merasakan ketakutan hebat seolah sedang berdiri
dengan satu kaki di tepi jurang. Perasaan ini sama seperti saat berhadapan
dengan perwira tingkat tertinggi dari Pasukan Iblis maupun Pasukan Surga—
(Konyol sekali!)
Dilihat dari sudut mana pun, pemuda itu hanyalah manusia
biasa dan tidak terlihat kuat sama sekali.
Karena telah kehilangan kekuatan dewa dan berubah menjadi
manusia biasa, Ares berpikir bahwa kemampuan mendeteksi bahayanya sedang kacau.
Tepat saat ia menyimpulkan hal itu,
"Seragam itu... kau juga sampah dari Akademi
rongsokan itu ya! Yang tadi—"
Setelah tahu bahwa Kai adalah siswa Akademi Ouboro,
Torula tampaknya merasa lebih percaya diri. Ia mencoba mengatakan sesuatu
kepada Kai dengan wajah angkuh.
"Diamlah sebentar. Nanti aku akan membuatmu membayar
kebodohanmu ini secara perlahan."
"Hii?!"
Hanya ditatap tajam lewat ekor mata Kai, Torula langsung
menjerit dan terdiam.
Kenyataan bahwa dirinya diintimidasi oleh siswa dari
akademi kelas bawah, Akademi Ouboro, membuat wajah Torula memerah karena malu
dan marah.
"Vulcan, nanti aku akan memberimu tambahan Mana,
jadi hancurkan dia juga!"
Ia memberikan perintah sambil meludah ke arah roh api,
Vulcan.
"..."
Berbeda dengan sikap santainya tadi, Vulcan kini
mengamati Kai dengan ekspresi yang sangat serius.
"Hei, Vulcan, kau dengar tidak!"
"..."
"Vulcan!"
"Berisik sekali kau. Aku mengerti."
"Fakta bahwa ia mengendalikan Slime dengan sihir
penyembuh gila tadi dan memadamkan apiku, membuatku sempat waspada. Namun,
aku tidak merasakan kekuatan apa pun darinya."
"Sepertinya dia hanya bocah manusia biasa. Meskipun
begitu—"
Vulcan menjentikkan tangan kanannya. Seketika, sabit api
dalam jumlah tak terhitung memenuhi sekeliling Kai.
"Akan kusingkirkan kekhawatiran ini sepenuhnya. Dengan sangat hati-hati tentunya."
Mungkin karena merasa yakin akan menang setelah
mengurungnya dengan api, wajah Vulcan berubah menjadi senyum kepuasan.
"Boleh aku mengatakan satu hal?"
"Apa? Aku tidak menerima permohonan ampun.
Bagaimanapun juga, kau telah mengganggu kesenanganku, Bocah."
"Sebagai gantinya, kau harus menjadi mainanku. Benar
juga, bagaimana kalau kubakar ujung kakimu perlahan-lahan? Atau kau lebih suka
seluruh kulitmu dibakar pelan-pelan?"
"—?!"
Dalam sekejap mata, bayangan di belakang Kai membesar
secara tidak wajar. Sesuatu yang menyerupai cakar hitam merentang keluar dari
bayangan tersebut.
Ares terperangkap dalam sensasi aneh seolah keringat
mengucur deras dari seluruh tubuhnya.
Ia membayangkan sesuatu yang jauh lebih kuat sedang
menghancurkannya dari atas kepala.
"Tidak apa-apa, Beelze. Biar aku yang
mengurusnya."
Kai melontarkan kalimat yang tidak bisa dipahami.
Tiba-tiba, seolah tak ada apa-apa sejak awal, benda hitam
yang merayap keluar dari bayangan itu lenyap sepenuhnya beserta tekanan kuat
yang menyertainya.
Vulcan sama sekali tidak melepaskan ekspresi santainya
seolah tidak terjadi apa-apa. Padahal, Vulcan berada lebih dekat
dengan bayangan itu dibandingkan Ares.
Vulcan bahkan tidak menyadarinya. Apakah semua itu hanya
perasaanku saja?
"Ada apa? Katanya kau punya permintaan padaku?"
"Tidak, aku sudah paham tanpa perlu bertanya, jadi
lupakan saja."
"Kupikir kau akan memohon ampun, tapi sepertinya kau
menyerah karena tahu itu sia-sia. Membosankan."
"Padahal serangga lemah sepertimu seharusnya merayap
di tanah dan menangis menjerit dengan menyedihkan."
"Hah! Toh kalaupun aku memohon ampun, kau tidak akan
memedulikannya, kan?"
Mendengar Kai mengatakan hal itu,
"Tentu saja! Serangga yang menangis menjerit dan
bergantung pada secercah harapan kecil."
"Lalu aku akan menginjak dan menghancurkan harapan
itu. Hal itulah yang paling membuatku bergairah!"
Kai menatap dingin ke arah Vulcan yang merentangkan
kedua tangannya dan berteriak seolah sedang bernyanyi.
"Kau memang hebat."
Ia hanya melontarkan kalimat pujian itu.
"Tidak ada gunanya kau menyanjungku. Sejak awal, aku
sangat menyukai wajah putus asa dari serangga seperti kalian!"
"Aku tahu. Alasan aku menyebutmu hebat hanya ada
satu, yaitu karena kau berhasil membuatku sangat kesal sejauh ini."
Tepat ketika Kai mengucapkan kata-kata itu dengan suara
rendah, seluruh sabit api di sekitarnya terpental hancur.
"Hah?"
Merespons Vulcan yang mengeluarkan suara kebingungan,
"Ada apa? Bukankah kau ingin bermain-main dengan
membakarku? Api yang paling penting itu sudah hilang, lho?"
Kai mengarahkan ujung pedang panjang yang digenggam
di tangan kirinya. Sejak kapan ia mencabutnya?
Ares sama sekali tidak bisa melihat gerakan sekecil apa
pun dari pemuda itu. Hal yang sama juga berlaku bagi Vulcan. Ini pasti—
"K-Kau! Skill apa yang baru saja kau
gunakan!?"
Vulcan menanyakan kesimpulan yang baru saja dipikirkan
oleh Ares.
"Skill? Aku tidak menggunakan hal semacam
itu."
"Jangan berbohong! Aku sama sekali tidak merasakan Mana
sihir darimu barusan!"
"Kau ini benar-benar perusak suasana, ya. Kalapun
aku menggunakan Skill, kenapa aku harus menjelaskannya padamu dengan
ramah?"
Vulcan menggertakkan giginya mendengar bantahan masuk
akal dari Kai.
"Wahai para bawahanku!"
Ia meneriakkan perintah sambil membentuk segel dengan
kedua tangannya. Api berwarna jingga menyembur di udara, memunculkan banyak
burung berwajah manusia.
"Burung Kepala Api!"
Seth Accard berseru dengan suara melengking.
"Oh, kau tahu ya! Benar
sekali! Burung Kepala Api ini adalah bawahanku!"
"Setiap ekornya memiliki kekuatan setingkat naga
kecil! Serangga terbang sepertimu akan berubah menjadi abu dalam sekejap!"
"Bagaimana! Inilah kekuatan kami, kelompok Libra!
Vulcan yang awalnya hanya roh tingkat menengah, kini telah berevolusi menjadi
sekuat Raja Roh berkat kekuatan Libra!"
Torula menyombongkan diri dengan suara keras dan penuh
kemenangan. Memang benar, makhluk itu tidak bisa lagi disebut sebagai roh
biasa.
Masing-masing burung berwajah manusia yang terbuat dari
api itu memiliki kekuatan setara roh tingkat tinggi. Jika begitu, Vulcan yang
sekarang—
"Banyak omong...."
Kai sama sekali tidak memedulikan burung-burung berwajah
manusia yang terbang di sekitarnya. Sambil menatap tajam ke arah Vulcan, ia
bergumam pelan.
"Ada apa? Apa akhirnya kau ketakutan karena—"
"Berhenti mengoceh dan cepat maju sini!!"
Kai hanya meninggikan suaranya dengan wajah penuh amarah.
"Guh?!"
Gelombang kejut yang terasa seperti ilusi angin panas
bertiup keluar dari Kai sebagai pusatnya.
Vulcan mengeluarkan jeritan kecil dengan wajah berkedut
ketakutan.
Hal yang sama juga dialami oleh para burung berwajah
manusia yang melayang di udara.
Semuanya mengambil jarak jauh dari Kai dan menatap ngeri
ke arah monster kecil di bawah sana.
Fakta bahwa dirinya ketakutan pada serangga manusia kecil
membuat Vulcan gemetar karena merasa terhina.
"Bunuh dia!"
Ia memberikan perintah kepada burung-burung berwajah
manusia di sekitarnya.
Namun, mereka sama sekali tidak bergerak dan hanya
melayang di udara, mengabaikan perintah tuan mereka.
"Ada apa! Cepat bunuh serangga itu! Siapa pun yang
ragu akan kuberikan hukuman berat nanti!"
Vulcan memamerkan gigi taringnya dan mengaum marah.
"..."
Burung-burung api berwajah manusia itu menatap Kai
dan Vulcan bergantian. Sambil memekik aneh, mereka serentak menerjang ke arah
Kai.
Tepat di depan mata, saat cakar dan taring tajam itu
hampir mencapai Kai, beberapa garis cahaya melintas di tubuh burung-burung api
tersebut. Detik berikutnya, mereka hancur berkeping-keping.
Di tengah hujan darah dan daging burung api berwajah
manusia yang berjatuhan ke tanah, Ares merinding hebat saat melihat Kai berdiri
dengan wajah bak iblis.
"Hanya segini saja? Kalau begitu, akan segera
kuakhiri."
Kai mengibaskan pedang panjangnya untuk membuang noda
darah. Ia lalu menyandarkan bilah pedang itu di bahunya, mengintimidasi Vulcan.
"J-Jangan meremehkanku!!"
Urat-urat bermunculan di seluruh wajah Vulcan, dan
tubuhnya mulai bergejolak mengerikan. Mana miliknya meledak dengan hebat.
Ia berubah wujud menjadi monster dengan banyak kaki
tentakel dan berkepala burung.
"I-Itu... tidak mungkin menang melawannya."
Mahluk itu bukan lagi roh. Jelas sekali, kekuatannya
sudah berada di kelas Dewa Tanah. Manusia tidak akan pernah bisa mengalahkan
dewa, jadi hasilnya sudah sangat jelas.
"Kau lihat wujud fisik yang indah dan suci ini!
Kekuatan dan tubuh ini adalah harta tertinggi yang diberikan oleh Beliau!"
"Bagaimana, luar biasa, bukan!!"
Kai menghela napas panjang sambil menunduk saat
Vulcan merentangkan kedua tangannya yang telah berubah menjadi sayap dan memuji
dirinya sendiri.
"Begitu ya! Kau takut! Benar, kan! Sudah pasti
begitu! Serangga kecil dan lemah sepertimu pantasnya menangis, mengompol, dan
memohon ampun padaku!"
Kai mengangkat wajahnya.
"Ihiih!?"
Hanya dengan melihat wajah itu, ekspresi Vulcan
langsung berkedut ketakutan.
"Bukankah sudah kubilang berhenti mengoceh.
Kalau kau ingin membuatku takut, tunjukkan dengan tindakan."
Ia menunjuk Vulcan dengan ujung pedangnya,
mengucapkan kalimat itu dengan nada rendah.
"Dasar serangga kurang ajar!!"
Vulcan meluncur terbang tinggi ke angkasa, lalu
menembakkan tentakel tak terhitung jumlahnya ke arah Kai.
Tentakel-tentakel itu melesat mendekati Kai. Namun,
sebelum sempat mencapainya, semuanya terpotong-potong dan jatuh ke tanah.
Di tengah jeritan yang memekakkan telinga, Kai
menyarungkan pedang panjangnya dan melompat ke arah Vulcan yang mencoba kabur.
"Guh?!"
Vulcan berusaha mati-matian melarikan diri ke atas,
tetapi Kai sudah berada jauh di atasnya.
Di tengah suara jeritan yang bercampur antara
keterkejutan dan ketakutan yang hebat, kepalan tangan kanan Kai menghantam pipi
kanan Vulcan yang sedang meluncur jatuh dengan kecepatan tinggi.
Vulcan terlempar lurus dan menghantam tanah. Ares
mati-matian menahan pijakannya agar tidak ikut terhempas oleh gelombang kejut
dari benturan tersebut.
Kepulan debu yang menghalangi pandangan perlahan
menipis. Sebuah kawah raksasa yang mengoyak tanah mulai terlihat.
Di tengahnya, monster burung sekarat bernama Vulcan
tampak tergeletak sambil kejang-kejang.
"Tidak mungkin..."
Seth Accard bergumam pelan. Itu adalah pikiran yang
ada di benak semua orang, termasuk aku.
Kekuatan Vulcan saat ini berada di tingkat dewa.
Meninjunya hingga tak berdaya?
Bahkan Ares yang dulunya memiliki tubuh dewa pun tidak
yakin bisa melakukan hal itu.
Kai berjalan mendekati Vulcan yang masih pingsan, lalu
menendang wajahnya hingga terlempar ke udara.
"Ugh? ...."
Vulcan menatap Kai dengan wajah linglung.
"Guhiii—!?"
Saat Vulcan mencoba terbang sambil berteriak nyaring,
Kai dengan santai mencengkeram lehernya menggunakan tangan kiri dan
membantingnya ke tanah.
"Guhh!"
Sambil menginjak Vulcan yang memuntahkan darah dengan
ekspresi penderitaan, Kai berkata,
"Kudengar kau suka menyiksa secara perlahan. Kalau
begitu, biar kubantu. Jangan khawatir, aku punya banyak ramuan kelas
atas."
"Jika kau hampir mati, aku akan menyembuhkanmu
berkali-kali."
"A-Aku yang salah. Aku berjanji tidak akan mendekati
wanita-wanita itu lagi!"
"Begitu ya, begitu ya! Kau sangat senang sampai
ingin melompat, kan! Syukurlah kalau begitu!"
Kai memamerkan senyum yang sangat kejam. Dengan
mudah, ia mengangkat leher Vulcan dengan tangan kirinya, lalu menarik siku
kanannya kuat-kuat ke belakang.
Setelah itu, ia melempar Vulcan tinggi-tinggi ke
udara.
"Aaaaaaah—!"
Jeritan Vulcan terdengar seperti sutra yang dirobek. Detik
berikutnya, rentetan pukulan menghujani tubuhnya.
Berkali-kali Vulcan memohon belas kasihan, tetapi Kai
sama sekali tidak memedulikannya dan terus memukul tanpa henti. Saat Vulcan
hampir mati, Kai menyiramkan cairan merah untuk menyembuhkannya.
Hal itu terus diulang berulang kali.
Selama tindakan tak kenal ampun itu berlangsung, para
pemuda dan pemudi elf hanya bisa berkerumun di satu tempat sambil gemetar
ketakutan.
Wajah mereka semua pucat pasi, dan beberapa di antaranya
bahkan lumpuh karena saking takutnya.
Aku tidak menganggap mental mereka lemah. Siapa
pun pasti akan ketakutan setelah disuguhi pemandangan mengerikan seperti itu.
(Iblis...)
Mungkin kata itulah yang paling tepat untuk
mendeskripsikan dirinya saat ini.
Sambil tersenyum tipis, ia terus mendaratkan pukulan
tanpa ragu sedikit pun kepada Vulcan yang memohon belas kasihan.
Sosoknya tak ubahnya seperti Pasukan Iblis yang terkenal
kejam, tidak, dia lebih terlihat seperti inkarnasi kejahatan yang melampaui
mereka.
"Tadi bicaranya besar sekali, tapi cuma segini saja
sudah tumbang, ya...."
Kai berdecak pelan, lalu membuang Vulcan secara kasar ke
tanah layaknya membuang sampah yang tak berguna. Wajah Vulcan saat ini telah
hancur hingga tak berbentuk.
Pandangannya kosong menerawang ke arah yang tak jelas
sambil menggumamkan sesuatu.
Tiba-tiba, api berwarna merah dan hitam jatuh dari langit
dan membentuk wujud manusia.
Jin api itu berlutut dan menyejajarkan kedua tangannya
secara horizontal untuk menyembunyikan wajah bagian atasnya.
"Wahai Tuan kami yang agung, dengan penuh rasa
hormat, saya memohon kepada Anda."
Jin api itu mengajukan permintaannya dengan penuh hormat.
"Ada apa?"
"Makhluk itu adalah bawahan Putri kami. Bolehkah
Anda menyerahkan penanganan sampah itu kepada hamba?"
"Oh, kau ingin membereskannya? Makhluk itu adalah
pendosa yang merasa puas saat menyiksa yang lemah."
"Aku sama sekali tidak berniat menjadikan hama
seperti itu sebagai bawahanku."
Kai menegaskannya dengan nada yang penuh amarah.
"Tentu saja. Ini semata-mata untuk meredakan amarah
Sang Putri."
Jin api itu menjawab dengan nada tegang.
"Kalau begitu, tak masalah. Lakukan sesukamu.
Setelah hukuman selesai, serahkan pada Beelze."
"Hamba sangat berterima kasih atas kemurahan hati
Anda!"
Jin api itu menunduk hormat, lalu mendekati Vulcan.
Ia mencengkeram kepala Vulcan yang masih bergumam dengan
pandangan kosong, sebelum akhirnya menghilang layaknya asap.
"Sekarang giliranmu, kan?"
Kai membunyikan persendian lehernya, lalu menoleh ke arah
Torula.
"Hii!"
Kai melangkah perlahan mendekati Torula yang menjerit
dan bergerak mundur.
"T-Tunggu sebentar! Tolong, tunggu! Ayahku
adalah Perdana Menteri Lorelei!"
Sambil mengarahkan kedua telapak tangannya kepada Kai,
Torula mengoceh dengan panik yang luar biasa.
"Lalu?"
"Apa maksudmu dengan 'lalu'!? Kalau kau berani
melakukan kekerasan padaku, ini akan jadi masalah internasional!"
"Oh, jadi kalau aku melukaimu, ini akan jadi masalah
internasional?"
"Benar! Tepat sekali!! Coba saja sentuh aku!!
Seluruh negara Lorelei akan menjadi musuhmu!!"
"Jika ucapanmu benar, berarti kau sudah mencoba
menghancurkanku. Jadi ini sudah menjadi masalah internasional, kan? Bukankah
begitu?"
"A-Apa maksudmu?"
"Jangan bilang kalau kekerasan sepihak darimu bisa
dimaafkan, tetapi kalau aku melawan, itu baru menjadi masalah internasional. Jangan berharap kau bisa berlindung di balik teori semanis gula seperti
itu."
"Kalau kau berpikir begitu, kau salah besar. Jika
apa yang kau katakan benar, maka saat ini Lorelei telah memposisikan dirinya
sebagai musuhku."
"K-Kau akan dianggap sebagai target yang harus
disingkirkan oleh Lorelei, lho!?"
"Yang menentukan hal itu tak lain adalah dirimu
sendiri. Nah, pilihlah, apakah kau menganggap dirimu benar dan ingin memicu
perang antaraku dan Lorelei."
"Ataukah kau mau mengakui kesalahanmu dan menerima
pendidikan dariku? Bagiku, yang mana pun tak jadi masalah."
"T-Tapi, musuhmu adalah... Lorelei
yang merupakan negara besar!"
"Ya, karena itulah aku bertanya padamu, apakah
negaramu benar-benar siap untuk bermusuhan denganku?"
"A-Apa kau sudah gila?"
Kai mengedikkan bahu menanggapi Torula yang bertanya
tentang kewarasannya dengan wajah tercengang.
"Aku masih waras. Dan aku tidak berniat kalah
melawan siapa pun. Sekali aku bertindak, aku akan mempertaruhkan harga diriku
untuk menghancurkan Lorelei."
Kai menegaskan hal itu dengan penuh keyakinan.
"..."
Kai mendekati Torula yang mulutnya terbuka-tutup tak bisa
berkata-kata.
"Waktumu sudah habis. Akan kutanyakan lagi setelah
aku selesai mendidikmu."
Sambil menampilkan senyum kejam, Kai membunyikan kepalan
tangan kanannya menggunakan telapak tangan kirinya, lalu melangkah maju.
"J-Jangan mendekat! Dasar Monster!!"
Merespons ucapan memohon dari Torula,
"Aku tidak mau. Aku akan membuatmu membayar
kebodohanmu ini. Bukankah aku sudah mengatakannya?"
"Uaaaaargh!!"
Torula berbalik dan langsung lari terbirit-birit. Kai
menghela napas panjang, lalu berkata,
"Di situasi seperti ini, kau masih mencoba kabur dan
menelantarkan rekanmu. Kau benar-benar sampah tak tertolong."
Gumamnya. Detik berikutnya, sosok Kai menghilang.
Tiba-tiba tubuh Torula melayang di udara, berputar beberapa kali, dan
terbanting keras ke tanah dalam posisi telentang.
"Guhak!"
Kai mencengkeram kerah baju Torula yang wajahnya berkerut
kesakitan karena kesulitan bernapas, lalu mengangkatnya.
"Dengar ya, Nak, akan kuajari satu hal. Dunia ini
tidak seindah dan penuh belas kasih seperti yang kau pikirkan."
"Sekali kau mengotori tanganmu dengan kejahatan, kau
akan dihancurkan berkeping-keping oleh kekuatan yang jauh lebih besar."
"Itulah hukum alam di dunia yang dipenuhi oleh
makhluk-makhluk kuat ini. Oleh karena itu, sebagai petarung, kita harus selalu
bertindak dengan mempertimbangkan akhir dari perbuatan kita."
Setelah mengucapkan nasihat itu dengan tenang, Kai
melayangkan pukulan tangan kanannya yang terkepal erat tepat ke wajah Torula.
Hanya dengan beberapa pukulan dari Kai, Torula
memuntahkan busa dan pingsan akibat ketakutan serta rasa sakit yang amat
sangat.
Tidak seperti saat menyembuhkan Vulcan, Kai meninggalkan
Torula begitu saja. Ia berjalan mendekati Silkett yang sedang berbaring,
dan bertanya,
"Kau baik-baik saja?"
Kai memeriksa keadaannya, lalu menanyakan hal itu kepada
Ares dan Seth.
"I-Iya... terima kasih banyak."
"Terima kasih, ya."
Sambil menatap kosong wajahnya yang masih memancarkan
aura kanak-kanak, Ares menjawab.
Saat ini, hanya pertanyaan kuat tentang identitas pemuda
itu yang ada di benak Ares.
Kai Heineman—sebenarnya siapa dia? Awalnya, melihat
tindakannya yang tak kenal ampun serta auranya yang mengerikan, Ares menganggap
Kai sebagai kejahatan yang lebih berbahaya dari perwira Pasukan Iblis
sekalipun.
Namun, setelah sekilas melihat tindakan serta
keyakinannya, Ares menyadari bahwa asumsinya salah besar.
Pemuda itu jelas bukan orang baik, dan tindakannya murni
sebuah kejahatan. Pemahaman itu memang tidak salah.
Namun, ia bukan sekadar Pasukan Iblis yang menyebarkan
kehancuran dan keputusasaan tanpa arti. Ia bergerak berdasarkan keyakinan teguh
yang dimilikinya.
Hanya saja, karena cara yang digunakannya untuk
mewujudkan keyakinan tersebut terlalu ekstrem dan di luar nalar, pada akhirnya,
ia hanya terlihat sebagai penjelmaan kejahatan.
"Keributan apa ini!"
Dua pria elf yang tampaknya merupakan guru dari Akademi
St.Clan berlari menerobos masuk ke alun-alun dengan wajah panik. Melihat
pemandangan mengerikan di alun-alun tersebut, mereka membentak,
"Hei, kalian! Jelaskan apa yang sebenarnya terjadi
di sini!"
Salah satu guru mendesak dan menuntut penjelasan kepada
Kai yang kepalan tangannya bersimbah darah.
"Jangan berteriak seperti itu. Aku dengar,
kok."
"Aku bertanya apa yang sudah kau lakukan pada
mereka!?"
"Entahlah, coba tanyakan sendiri saja pada
mereka."
Kai membalas dengan menunjuk para elf di sudut sana yang
wajahnya berantakan oleh air mata dan ingus.
"Hei—!"
Tepat ketika guru elf itu mengulurkan tangan untuk
mencengkeram kerah Kai,
"Hentikan. Dia hanya membantu menyelesaikan masalah
ini."
Seorang wanita yang mengenakan jubah putih bersih dengan
tudung yang menutupi wajahnya melangkah maju. Ia mencoba meredakan situasi yang
kacau ini.
"Siapa kau!? Apa kau temannya!?"
"Lepaskan tudungmu!"
Guru yang lain menarik tudung wanita itu dengan kasar. Di
baliknya, terlihat sosok seorang wanita elf cantik berambut pirang. Sekilas
melihat penampilannya,
"Y-Yang Mulia Avery!! Kami mohon maaf yang
sebesar-besarnya!"
Guru elf itu melompat mundur beberapa langkah, lalu
membenarkan posturnya dan memberi hormat. Mendengar nama Avery disebut, guru
yang hendak mencengkeram dada Kai pun panik dan buru-buru mengambil sikap
hormat.
"Biar aku yang menjelaskan situasinya. Meskipun
baru melihatnya dari pertengahan, aku tahu apa yang terjadi."
"Avery, kau yang akan membereskan semua
ini?"
"Iya. Anak ini adalah keponakanku, dan aku sudah
bisa menebak garis besar kejadiannya. Mengingat posisiku, bisakah kau
membiarkan masalah ini berlalu?"
Avery berlutut dengan satu kaki di hadapan Kai sambil
memohon.
Saat semua orang menatap Avery dengan ekspresi
tercengang,
"...Baiklah. Avery, aku juga tidak ingin
memancing peperangan dengan Lorelei. Aku akan menghargai posisimu dan
membiarkan semuanya berlalu kali ini."
"Akan tetapi, semuanya ada batasnya. Jika mereka
berani melanggar pantanganku lagi, Lorelei sekalipun akan menjadi musuhku.
Jangan pernah melupakan hal itu."
Peringatan dari Kai dengan nada sedingin es yang membuat
merinding itu dijawab oleh Avery,
"Hal itu akan selalu tertanam dalam benakku!"
Avery menunduk hormat dengan tetap dalam posisi berlutut,
lalu berdiri. Kemudian—
"Kalian juga setuju, kan?"
Saat Avery bertanya kepada para murid dan guru elf yang
masih gemetar,
"S-Siap! Tentu saja!"
Kedua guru elf itu memberi hormat tanda setuju. Para murid elf juga mengangguk berkali-kali sambil menangis.
Saat itulah, Silkett sadar dari pingsannya.
"Silkett, kau tidak apa-apa!?"
Saat Ares memastikan keselamatannya, Silkett menatapnya
dengan tatapan kosong sejenak.
"Tuan ... Ares? .... Di mana para bajingan
itu!?"
Sepertinya ia sudah mengingat kembali situasi krisis yang
mereka alami. Kesadarannya pulih sepenuhnya. Ia segera berdiri, melangkah ke
depan Ares, lalu melihat ke kiri dan kanan dengan sigap.
"Semuanya sudah berakhir."
Saat Ares memberitahunya hal itu,
"Sudah berakhir ... syukurlah ...."
Rasa lega sepertinya telah menguras seluruh tenaganya.
Silkett terduduk lemas di tanah. Wajar saja, bagaimanapun juga, ia baru saja
hangus terbakar dan hampir mati.
"Silke, kau sepertinya sudah membaik. Apa
kalian juga bisa berdiri?"
Kai mendekati Ares dan Seth. Berbeda 180 derajat
dengan sikap dinginnya pada Avery dan kelompoknya tadi, kini ia bertanya dengan
nada lembut.
"I-Iya."
Ares buru-buru mencoba berdiri. Namun, kakinya
bergetar hebat hingga ia nyaris terjatuh dengan memalukan. Kai dengan lembut
merangkul pinggang Ares dan menahannya.
"M-Maaf! Aku sudah bisa berjalan sendiri!"
Ini adalah pertama kalinya ia disentuh oleh pria selain
Silkett maupun keluarganya sendiri. Menyadari wajahnya yang memerah panas
dengan cepat, Ares buru-buru menjauh dari Kai. Entah kenapa, kakinya sudah
berhenti bergetar.
"Maaf ya. Aku belum bisa berdiri."
Dia mungkin sudah
lemas hingga tidak bisa berdiri. Saat Seth menundukkan kepala dengan wajah
bersalah, Kai dengan mudah mengangkat dan menggendongnya dengan kedua
tangannya.
"Kita pergi ke ruang perawatan Akademi Ouboro
dulu."
Didesak oleh Kai, Ares dan yang lainnya pun entah
bagaimana berhasil menyusul di belakang.
Kai menyerahkan urusan selanjutnya kepada wali kelas
mereka, Guru Elish, yang bergegas datang, lalu pergi meninggalkan ruang
perawatan.
Setelah menjelaskan situasinya secara singkat kepada Guru
Elish, Ares dan yang lainnya pun segera diizinkan pergi.
"Tuan Ares, sebenarnya siapa dia—siapa sebenarnya
Kai Heineman itu?"
Setelah menjelaskan bagaimana Kai menghancurkan Vulcan
dengan kekuatan yang luar biasa, Silket tenggelam dalam pikirannya dan baru
sekarang membuka mulutnya.
"Dilihat dari fakta bahwa Guru Elish dan beberapa
staf Akademi Babel mengenalnya, aku yakin dia adalah dewa pelindung wilayah
yang menjaga Babel ini."
Vulcan yang telah berubah menjadi wujud mengerikan itu
sudah pasti memiliki kekuatan setara dewa kelas bawah. Namun, pria itu
menghancurkan Vulcan seolah-olah hanya menginjak semut kecil yang merayap di
tanah.
Terlebih lagi, kekuatan inkarnasi api yang sepertinya
adalah bawahannya itu benar-benar di luar imajinasi. Apakah eksistensi yang
disebut putri oleh inkarnasi api itu sungguhan ada?
Sejujurnya, hal itu hanya membuat bulu kuduk merinding.
Meski begitu, pandangan Ares terhadap pria itu telah berubah seratus delapan
puluh derajat dari sebelumnya.
"Apa menurutmu Kai Heineman bisa menjadi musuh
kita?"
"Tidak akan."
Entah kenapa, Ares bisa menegaskannya dengan begitu
natural.
"Kenapa begitu? Bagaimana jika dia adalah dewa
bawahan yang telah membunuh Tuan Tartarus—"
"Kamu tidak perlu khawatir. Selama kita tidak
melakukan kejahatan, dia tidak akan menyakiti kita."
Saat Ares memberikan jawaban yang sama sekali tidak
berdasar itu,
"Begitu, ya."
Semenjak itu, Silket tidak pernah lagi menanyakan masalah
ini.
Benar. Aku yakin pada saat itu, Ares merasakan semacam
takdir dalam pertemuannya dengan Kai Heineman.
Terlebih lagi, dia juga merasakan semacam déjà vu
samar pada sosok pria itu.
Dan di kemudian hari, Ares akan menyadari dari lubuk
hatinya yang terdalam bahwa perasaannya itu memang sepenuhnya benar.
◇◆◇
Ini adalah asrama siswa yang baru dibangun di Distrik
Keenam, khusus untuk siswa Akademi St.Clan. Di salah satu kamar di rumah mewah
yang megah itu, beberapa siswa Elf berkumpul dan mengumpat raja mereka sendiri.
"Sialan!"
Torla menendang kursi di dekatnya. Tentu saja dia
marah. Setelah kalah telak dari sampah Akademi Ouboro, dia juga kehilangan
kartu trufnya, Vulcan.
Vulcan adalah roh istimewa yang diberikan oleh Dagon,
petinggi Libra yang sangat dihormatinya. Padahal roh itu sudah diperkuat, tapi
malah kalah dengan begitu mudahnya.
Dengan begini, Torla mungkin akan ditinggalkan oleh
Dagon.
"Kalau begini terus, kita akan dibuang oleh
Libra. Kalau nasib kita buruk, kita bisa dicap sebagai manusia rendahan!"
Libra adalah sebuah organisasi mulia yang menyerukan
revolusi di dalam ras Elf.
Ajaran mereka sangat beragam, tetapi yang paling
menarik perhatian Torla dan kawan-kawannya adalah klaim bahwa Elf adalah ras
yang paling mulia dan unggul di antara semua ras.
Menurut mereka, Elf memiliki kewajiban untuk
membimbing dunia ini ke arah yang benar.
Demi mencapai tujuan mulia itu, segala cara
dihalalkan demi membangun masyarakat ideal yang dipimpin oleh Elf.
Awalnya Torla merasa curiga, tetapi dia segera
tertarik dengan kuat. Bagaimanapun juga, sejujurnya dia sudah muak dengan cara
bibinya, Avery, menjalankan negara yang terlalu lemah.
Terutama sekarang, rumor yang tidak bisa dipercaya
tentang monster dan iblis yang bekerja sama untuk mendirikan negara baru sedang
santer dibicarakan di mana-mana.
Terlebih lagi, kabarnya tanah air mereka, Lorelei,
telah secara resmi mengakui pendirian negara tersebut.
Padahal monster adalah makhluk paling rendah yang
pada dasarnya setara dengan hama bagi umat manusia. Menerima negara seperti itu
benar-benar sebuah kegilaan.
"Kenapa Yang Mulia Avery lebih memilih menerima
klaim orang rendahan itu daripada mendengar pendapat kita!"
Saat salah satu teman sekelasnya melampiaskan
ketidakpuasannya terhadap Avery,
"Memberikan skorsing sepihak pada kita, dia
benar-benar mempermainkan kita!"
"Benar! Kita tidak bisa lagi mengikuti raja seperti
itu!"
Satu demi satu, suara kecaman dilontarkan kepada Avery,
yang tak lain adalah raja sekaligus bibi mereka.
Setelah diselamatkan dari monster itu, Torla dan
kawan-kawannya dibawa sementara ke kediaman Avery untuk dimintai keterangan.
Awalnya mereka yakin Avery yang sudah mengetahui
situasinya akan memberikan hukuman pada monster tersebut.
Namun sebaliknya, Avery malah menampar pipi Torla,
mengecam tindakan mereka, menyuruh mereka merenung, dan menjatuhkan hukuman
skorsing selama dua minggu. Sungguh tidak bisa dipercaya.
Sangat tidak masuk akal jika Avery tidak memercayai
kebenaran dari keponakannya sendiri yang sedarah dan sesama warga Lorelei, lalu
malah mendukung manusia semacam itu. Padahal manusia itu telah berulang kali
memukul Torla, putra Perdana Menteri Lorelei.
Seperti yang Dagon katakan, negara Lorelei ini
mungkin memang sedang dalam situasi yang benar-benar gawat.
"Pemikiran Libra tidak salah! Kita harus
menyelamatkan tanah air kita yang mencoba berjalan ke arah yang salah!"
Saat Torla bersikeras dengan mengepalkan tangan kanannya
kuat-kuat,
"Tepat sekali!"
"Kita harus menyelamatkannya!"
Teman-teman sekelasnya yang memiliki pandangan sama pun
satu per satu menyuarakan persetujuan mereka.
Tiba-tiba terdengar suara tepuk tangan.
Saat Torla terkejut dan mengalihkan pandangannya ke arah
suara tersebut, terlihat seorang pria jangkung berambut panjang yang mengenakan
mantel biru tua dan topi berdiri di depan pintu besar ruangan itu.
"Tuan Torla, semangat indah Anda yang
mengkhawatirkan tanah air dan tidak menyerah pada bencana kali ini, benar-benar
membuat saya, Dagon, sangat kagum."
Dagon meletakkan tangan kirinya di dada dan membungkuk
dengan gaya yang dilebih-lebihkan.
"Ah, Tuan Dagon, ternyata Anda sudah datang!"
Dipuji oleh Dagon sang petinggi Libra, harga dirinya
merasa tersanjung, dan dia pun menjawab dengan suara yang ceria.
"Ya, karena kebetulan saya sedang berada di dekat
sini, saya pun menyempatkan diri untuk mampir."
"Tuan Dagon, bisa-bisanya manusia sampah itu
melakukan ini padaku—"
"Saya sudah mendengarnya. Orang rendahan tak
berharga yang bersekolah di Akademi Ouboro itu telah bersikap kurang ajar pada
kalian yang merupakan ras unggul, bukan?"
"Manusia keparat itu!"
Teringat bagaimana dia diperlakukan seenaknya oleh
manusia itu, amarah yang tak tertahankan meluap dalam dirinya hingga dia
berteriak marah.
"Saya sangat mengerti betapa sakitnya perasaan Anda.
Lagipula, orang rendahan itu telah meludahi tatanan mulia yang ada di dunia
ini."
"Benar! Kami, ras unggul, telah dipermalukan!
Kami harus segera memberinya hukuman agar dia tahu tempatnya!"
Dagon bertepuk tangan sambil tersenyum,
"Semangat yang luar biasa. Lalu, apa yang akan
dilakukan oleh Lorelei?"
"Orang rendahan yang telah bertindak semena-mena
pada kami itu dibiarkan tanpa hukuman. Terlebih lagi, bisa-bisanya kami yang
malah dijatuhi skorsing..."
Saking kesalnya, dia menggigit bibir bawahnya kuat-kuat
hingga terasa sakit.
"Kalau begitu, tatanan yang salah itu harus segera
dipulihkan."
"Ya, tapi bagaimana caranya..."
Meski menyebalkan, karena kali ini Lorelei memihak pada
orang rendahan itu, jika dia membuat masalah dengan alasan itu, dia bisa saja
dijatuhi hukuman.
"Saya punya ide yang bagus. Tenang
saja, semuanya akan berjalan lancar."
"Apa Anda bersedia membantu kami!?"
Di masa lalu, dalam beberapa kejadian serupa, Dagon telah
memberikan rencana kepada Torla dan kawan-kawannya untuk merebut kembali harga
diri mereka.
"Tentu saja, sudah pasti, ya. Kebetulan sekali, saya
punya urusan penting di akademi tempatmu bersekolah. Jika kita memanfaatkan hal
itu, ini akan menjadi pertunjukan yang paling luar biasa."
Sambil berputar-putar di dalam ruangan, Dagon mulai
menceritakan rencananya.
Insiden yang bermula dari Seth Accard ini pun
perlahan-lahan memasuki puncaknya.
◇◆◇
Seluruh kegiatan sekolah hari ini telah usai, dan Layla
datang menjemput Lumine.
Sambil memeluk lengan kanan Layla, Lumine dengan bangga
menceritakan apa saja yang terjadi di sekolah hari ini, persis seperti seorang
anak yang sedang melapor pada ibunya.
Faf yang sekarang tidak bisa bertahan lama tanpa
kehadiranku.
Memang benar, setelah berteman dengan Miu, Fen, Marli,
dan anak-anak lainnya, dia sempat bisa menghabiskan waktu tanpaku untuk
sementara waktu.
Namun, karena insiden Gil yang membuatnya harus sering
berpisah denganku, dia kembali mencari-cariku begitu aku menghilang sebentar,
persis seperti dulu.
Saat aku hendak pulang, Nemesis menghubungiku dan
mengatakan bahwa Ariel sedang berseteru dengan murid Elf.
Sepertinya, dia terlibat bentrok saat mencoba
menghentikan murid dari sekolah sebelah, Akademi St.Clan, yang sedang merundung
Seth Accard, teman sekelasnya.
Memang benar akulah yang memanggil Ariel ke tempat
ini, tapi pada dasarnya aku hanya berniat menjadi pengamat dan tidak ingin ikut
campur lebih dari yang diperlukan. Tentu saja, aku juga tidak pernah
memerintahkan Nemesis dan yang lainnya untuk mengawasinya.
Dengan kata lain, saat ini Nemesis sedang bergerak
berdasarkan penilaiannya sendiri.
Dan sudah menjadi rahasia umum bahwa setiap kali
Nemesis bergerak, pasti akan ada hal merepotkan yang terjadi.
Aku segera bergegas menuju lokasi yang dilaporkan. Di
sana, aku melihat pelayannya, Sicke, yang sedang sekarat karena dibakar oleh
monster tua berelemen api, sementara Ariel berusaha mati-matian meminta tolong.
Bertindak demi menyelamatkan yang lemah tanpa
memedulikan bahaya, serta membuang rasa malu dan gengsi demi memohon bantuan
rekannya. Entah bagaimana, dia benar-benar sosok yang suci dan bersih.
Namun, jika dia memiliki keyakinan luhur seperti itu,
kenapa selama ini dia membiarkan para bajingan yang menyebut diri mereka
sebagai Utusan Tuhan menyebarkan begitu banyak tragedi dan kontradiksi di dunia
ini?
Setidaknya, semua orang yang mengaku sebagai Utusan
Tuhan dari Ariel yang pernah kutemui sejauh ini adalah sampah yang tidak bisa
ditolong lagi.
Sekalipun itu adalah tindakan bawahannya yang lepas
kendali, jika dia tidak bisa menghentikan mereka, maka itu tetap menjadi
tanggung jawab sang tuan. Lagi pula, bagi mereka yang menjadi korban, niat dari
tuan tersebut sama sekali tidak ada hubungannya.
Aku masuk untuk menolong Ariel. Perkataan dan
perbuatan monster api itu membuat amarahku meledak melewati batas, sehingga aku
terus mengulangi siklus menyembuhkan dan memukulinya.
Aku merasa dia sempat memohon ampun, tapi aku terus
menghajarnya tanpa peduli sampai dia tidak memberikan respons apa pun.
Sebagai amatir, kemampuanku hanya sampai di sini. Sisanya
adalah pekerjaan profesional.
Beelze, yang amarahnya memuncak karena perkataan makhluk
itu kepadaku, mendesak keras melalui telepati agar monster ini diserahkan
padanya, jadi aku berniat menyerahkannya.
Namun di saat itu, Ifrit datang dan dengan tegas meminta
agar dirinya yang mengurus hukuman untuk monster ini.
Di antara para monster laki-laki berelemen api, yang
dipimpin oleh Ifrit, gadis egois bernama Surtr itu sangat populer, dan
sepertinya mereka telah membentuk faksi baru dengan menjadikannya sebagai
putri. Yah, ini fenomena yang sama dengan para naga yang
mengidolakan Faf.
Secara teknis, Ifrit termasuk dalam faksi Dunia
Jahat, tetapi dengan izin dari sang pemimpin, Girimekhala, dia biasanya
melayani Surtr. Singkatnya, dia tergabung dalam dua faksi sekaligus.
Bagaimanapun juga, karena tidak ada alasan untuk
menolaknya, aku akhirnya menyerahkan eksekusinya kepada faksi Surtr dengan
syarat mereka akan menyerahkannya kepada Beelze pada akhirnya.
Setelah itu, aku menggendong Seth Accard yang sudah
lemas tidak bisa berdiri dan membawanya ke ruang perawatan.
Aku menjelaskan situasinya secara singkat kepada
Elish yang bergegas masuk dengan wajah pucat, lalu menitipkan Seth kepadanya
sebelum akhirnya aku benar-benar pulang.
Begitu aku kembali ke kamarku di kediaman, Nemesis
sudah berlutut di depanku.
"Aku sudah menduga kamu akan muncul sekitar
waktu ini."
"Saya sangat bersyukur."
Mengabaikan sindiranku dengan tenang, Nemesis
meletakkan tangan di dada sintalnya dan membungkuk.
"Kali ini, apa yang rencananya akan kamu lakukan
dengan memanfaatkan Ariel?"
"Dia baru saja mengalami pertemuan yang takdirkan.
Dia tidak akan bisa lagi kembali menjadi dirinya yang bodoh seperti dulu. Yang
saya lakukan hanyalah memberikan dorongan padanya."
Pertemuan yang ditakdirkan, ya. Nemesis
memang memiliki kecenderungan kuat untuk mementingkan hal-hal yang tak kasat
mata dan samar seperti takdir.
Terlebih lagi, perkataannya juga sering kali abstrak,
sehingga aku sama sekali tidak bisa memahaminya sebelum semuanya benar-benar
terjadi.
"Aku sangat berharap doronganmu itu tidak akan
menjerumuskannya ke dalam rawa tanpa dasar."
Menanggapi kata-kata perlawananku yang sekuat tenaga,
"Seperti yang diharapkan dari Anda, Tuanku, Anda
memahaminya! Benar, saat ini dia benar-benar telah menginjakkan satu kakinya ke
dalam rawa yang dalam! Karena itulah, kami perlu memberinya dorongan!"
Nemesis mengepalkan tangan kanannya dengan erat dan
menyatakannya dengan penuh semangat.
Hmm, percakapan ini saja sudah sangat memancarkan firasat
buruk. Lagipula, kalau ada orang yang hampir tenggelam di rawa, wajarnya kita
menolongnya. Di dunia mana ada orang yang malah memberinya dorongan!
Ah tidak, ternyata orangnya ada di sini...
"Nemesis, kumohon, jangan bertindak terlalu
nekat."
Aku mencoba menyampaikan perasaan setiaku, tetapi,
"Saya pasti akan mengabulkan harapannya di masa
lalu! Ya, pasti!"
Menyadari Nemesis yang menyalakan api membara di matanya
dan meninggikan suaranya, aku paham bahwa apa pun yang kukatakan padanya
sekarang tidak akan ada gunanya.
Kalau sudah begini, Nemesis dan yang lainnya tidak akan
berhenti apa pun yang terjadi. Mereka akan bertindak berdasarkan keyakinan
mereka dan pasti akan mencapai tujuan tersebut.
Aliansi Dewi seperti Nemesis adalah entitas yang paling
memahami hati wanita dan sangat menghormatinya.
Oleh karena itu, penderitaan yang akan menimpa Ariel
mulai saat ini harus dipandang sebagai sesuatu yang mutlak harus dilaluinya
dengan usahanya sendiri demi kehidupannya.
"Kamu bilang akan memberikan dorongan, tapi apa yang
sebenarnya akan terjadi padanya mulai sekarang?"
Aku mencoba bertanya padanya meski tahu kemungkinannya
kecil.
"Ini adalah awal dari sebuah ujian. Melalui ujian
itu, dia harus mengingatnya kembali."
Sudah kuduga, dia tidak akan memberitahuku secara
spesifik. Nemesis dan kawan-kawannya tidak akan pernah memaksakan penderitaan
pada seorang wanita dengan tangan mereka sendiri, melainkan hanya memanfaatkan
penderitaan yang sudah ada.
Mereka tampaknya merasa bahwa jika aku mengetahui hal ini
sebelumnya, itu tidak akan menjadi ujian baginya.
Oleh karena itu, mereka tidak akan buka mulut, bahkan
kepadaku yang merupakan tuan mereka sekalipun.
"Baiklah. Semuanya ini demi Ariel, kan?"
"Benar."
Dengan ekspresi serius seolah menantang takdir,
Nemesis mengangguk kuat.
Bertanya lebih jauh pada Nemesis pun sudah tidak ada
gunanya lagi.
"Kalau begitu, tidak apa-apa. Aku serahkan semuanya
kepada kalian."
Nemesis menundukkan kepalanya dalam-dalam, lalu segera
menghilang dari pandangan.
"Tuan, Faf lapar!"
Faf yang baru masuk ke kamar melompat ke arahku dan mulai
merengek seperti biasanya.
"Benar juga. Sudah waktunya makan malam. Ayo kita
pergi ke ruang makan."
"Baiklah!"
Tersenyum kecut melihat Faf yang menjawab dengan penuh
semangat, aku menuntun tangan kecilnya dan berjalan menuju ruang makan di
lantai satu.
◇◆◇
Kegiatan belajar di Akademi Ouboro akhirnya dimulai.
Selama beberapa minggu ini, kami diisi dengan kuliah di
kelas dari masing-masing guru pengajar.
Mungkin karena Babel adalah kota pelajar yang berpusat
pada sihir, sebagian besar pelajaran yang kami terima berkaitan dengan sihir.
Isi pelajarannya sendiri, entah baik atau buruk,
menunjukkan perbedaan yang sangat mencolok dalam kualitas para guru.
Kelas yang diajar Elish dan Inea sangat spesifik dan
mudah dipahami, sehingga banyak siswa, terutama para senior, yang rela berdiri
untuk mendengarkan.
Sebaliknya, sebagian besar guru lainnya tampak tidak
termotivasi dan hanya sekadar menjelaskan mantra dari buku teks.
Tentu saja, pelajaran seperti ilmu politik dan ekonomi
terlalu kaku dan feodal, sehingga sama sekali tidak bisa dijadikan referensi.
Satu-satunya hal yang menarik minatku adalah pelajaran
tentang sejarah dunia Lemuria ini.
Buku tentang sejarah Lemuria ini bahkan tidak ada di Easy
Dungeon waktu itu.
Pelajaran sejarah yang kupelajari di kampung halamanku,
Ramur, juga tidak pernah menyimpang dari kitab suci Gereja Pusat, dan sebagian
besar hanya berfokus pada Dewa Bela Diri Suci dan Kerajaan Amelia, bukan
tentang seluruh Lemuria ini.
Oleh karena itu, mendengar cerita tentang pembentukan
berbagai negara kecil serta mitos dan legenda yang diyakini di setiap negara
membuat hatiku cukup bersemangat.
Setelah beberapa minggu pelajaran teori, pelatihan
praktik pun dimulai. Hari ini adalah hari pertamanya.
Sepertinya pelatihan praktik ini akan digabung dengan Akademi
St.Clan. Di bawah bimbingan Elish, kami pun berangkat menuju Akademi St.Clan
yang menjadi lokasi pelatihan praktik.
Tempat yang ditunjukkan oleh Elish adalah sebuah bangunan
berbentuk kubah raksasa. Fasilitas ini saja sudah melampaui ukuran seluruh
bangunan Akademi Ouboro.
Begitu, ya. Sekarang aku mengerti dengan jelas alasan Akademi
St.Clan dipindahkan ke Distrik Keenam ini.
Tidak ada ruang tersisa di distrik lain untuk membangun
fasilitas sebesar ini, yang artinya mereka tidak punya pilihan selain Distrik
Keenam.
Jika Akademi St.Clan yang pindah ke tempat ini berhasil
menorehkan prestasi, sekolah-sekolah elite lainnya mungkin akan
mempertimbangkan untuk pindah ke distrik ini juga.
Singkatnya, kesenjangan antardistrik di dalam Babel akan
memudar perlahan, dan Distrik Keenam akan berkembang pesat.
Aku yakin, Babel berniat menggunakan Akademi St.Clan ini
sebagai sarana untuk merenovasi Distrik Keenam secara besar-besaran.
Mengikuti Elish dari belakang, kami memasuki bangunan
berbentuk kubah itu.
Di dalam gedung tersebut terdapat sebuah arena berbentuk
silinder raksasa di bagian tengahnya, dikelilingi oleh serangkaian area
berbentuk bulat yang saling terhubung.
Saat kami berjalan ke arah siswa Akademi St.Clan yang
sudah berkumpul, seorang guru Elf bermata sipit yang mengenakan lambang sekolah
Akademi St.Clan menahan kami dengan telapak tangan kirinya dan berkata,
"Guru Elish, kita tidak punya banyak waktu. Saya
akan sangat kesulitan jika kalian tidak bisa berkumpul lebih awal."
Sambil menatap kami dari Kelas A1 yang baru masuk dengan
pandangan seolah melihat kotoran, guru itu meludahkannya kata-kata tersebut.
"Tapi ini masih lima menit sebelum waktu yang
dijadwalkan, kan?"
"Aturannya adalah sekolah lain harus berkumpul tiga
puluh menit sebelumnya. Dasar amatir yang tidak tahu aturan..."
Guru itu menggeleng-gelengkan kepalanya dengan
berlebihan, seolah merasa tak habis pikir. Suara ejekan dari para siswa Akademi
St.Clan pun terdengar di sekitar kami.
"Kalian sendirilah yang menyuruh kami datang pada
jam ini dengan alasan kalau kami menunggu malah akan mengganggu!"
Elish membantah dengan penuh kekesalan. Dilihat dari
alur pembicaraannya, Elish pasti sudah melakukan konfirmasi dengan pihak Akademi
St.Clan sebelumnya, dan mereka mungkin menyuruh kami untuk datang tepat pukul
sembilan pagi ini.
"Siapa yang mengatakan kebohongan semacam itu
kepada Anda? Setidaknya, saya tidak pernah mengatakan hal itu, ya?"
Sambil menyunggingkan senyum menjijikkan, guru itu
melontarkan pertanyaan retorik.
"Anda—"
(Hentikan, Guru Elish. Menanggapinya dengan serius
hanya membuang-buang waktu saja.)
Aku meraih bahu kiri Elish dan berbisik menegurnya di
telinganya. Elish mengertakkan giginya karena frustrasi, namun dia akhirnya
menurut dan mundur.
"Para siswa dari Kelas A1 Ouboro yang reyot,
gunakan area di bagian paling belakang."
Area yang ditunjuk oleh guru Elf itu adalah kelompok
ruangan berbentuk bulat yang terletak paling jauh dari pintu masuk.
Kemungkinan besar itu adalah area persis di depan
gudang, tempat berbagai peralatan magis dan perangkat yang digunakan untuk
latihan disimpan.
Saat kami menunggu di area tersebut sesuai arahan Akademi
St.Clan,
"Bukan, bukan! Bukan di situ! Tempat latihan
untuk murid-murid Ouboro yang reyot itu ada di bagian lebih dalam lagi!"
Guru Elf tadi menunjuk ke sebuah tempat yang sama
sekali tidak terlihat seperti apa pun selain gudang, lalu berteriak marah.
"Hei, Kai. Tempat ini gudang, kan?"
Shou meminta pendapatku dengan ekspresi tidak
percaya.
"Ini sama sekali tidak terlihat seperti hal lain.
Sungguh mengejutkan. Sepertinya mereka ingin kita mendekam di gudang ini."
Ada berbagai macam peralatan sihir dan alat-alat lainnya
yang diletakkan di sana, sehingga sama sekali tidak ada ruang yang cukup untuk
berlatih.
Lagipula, mana ada sekolah tuan rumah dalam latihan
gabungan yang menyuruh tamu mereka berlatih di gudang?
Sepertinya orang-orang ini sudah meninggalkan rasa malu
mereka entah di mana.
"Mereka bahkan tidak membiarkan kita memakai area
yang kosong, licik sekali. Atau lebih tepatnya, ini terlalu licik. Akademi
St.Clan itu sekolah yang separuh siswanya adalah Elf, kan? Apa semua Elf di
dunia ini memang seperti itu?"
Sambil terus menatap guru Elf itu, Shou melontarkan
pertanyaan lugunya.
"Aku ingin bilang 'tidak semua'—tapi Elf yang
kutemui akhir-akhir ini rata-rata bersikap seperti itu."
Sambil melirik guru Elf di depanku, aku menghela napas
panjang dan membenarkannya.
"Benar-benar membuat kecewa, ya. Aku kira Elf itu
punya citra yang lebih suci dan bersih."
Mendengar ucapan Shou yang santai itu,
"Itulah yang dinamakan stereotip dan ilusi.
Ketulusan seseorang tidak ditentukan oleh rasnya. Ada juga Elf yang picik dan
berpikiran sempit seperti pria ini. Akan lebih baik jika kamu berpikir seperti
itu."
Aku mengoreksi kesalahpahaman tersebut.
"Memang benar, orang-orang menyebalkan dengan
kepala sekeras batu seperti ini ada di mana-mana, ya."
Saat Shou mengangguk berkali-kali seolah menyetujuinya,
"Kak Kai dan yang lainnya, suara kalian terdengar
sangat jelas, lho."
Sambil memegang lengan baju kiriku, Lumine menunjukkan
hal itu dengan ekspresi wajah yang anehnya terlihat puas.
Walau agak aneh jika aku yang mengatakannya, tapi Lumine,
kau juga sudah berubah menjadi jauh lebih berani, ya.
Aku menatap guru Elf yang kini wajahnya memerah seperti
gurita rebus karena merasa terhina.
"Aku sangat mengerti maksudmu. Dengan senang
hati, kami akan menggunakan gudang ini."
Aku menjawabnya menggantikan Elish yang masih gemetar
karena marah.
"Kai—!"
Sambil menahan Elish yang melontarkan kecaman keras
dengan tangan kananku,
(Kita telah mendapat izin dari pihak sekolah untuk
menggunakan ruangan ini. Sisanya, kita bisa melakukan apa pun yang kita mau.
Jadi, kau tidak perlu khawatir.)
Aku membisikkan hal itu di telinganya.
"Jangan sok hebat kau, si tidak kompeten!"
Sambil melontarkan kalimat meremehkan itu, guru Elf
bermata sipit tersebut melangkah pergi menuju lingkaran para siswa Akademi
St.Clan. Oh, dia memanggilku si tidak kompeten?
Kalau begitu, sepertinya aku sudah cukup dikenal di
kalangan Elf akademi ini. Aku memang sempat memberikan bimbingan edukasi kepada
bocah bernama Torla itu sebelumnya, jadi pasti itu penyebabnya.
"Kita tidak bisa berlatih di tempat seperti
ini!"
Elish masih sangat marah hingga urat kebiruan muncul
di dahinya. Sambil memegang kedua bahunya,
"Di sini juga tidak apa-apa. Lagipula,
sepertinya latihan hari ini akan lebih berpusat pada pengukuran
kemampuan."
Aku menenangkannya dengan nada bicara yang lembut.
Sepertinya, lokasi pengukurannya sama bagi Akademi
St.Clan maupun Akademi Ouboro. Paksaan untuk berlatih di gudang baru akan
berlaku pada pelajaran berikutnya.
Sebelum waktu itu tiba, aku hanya perlu merenovasi area
ini secara menyeluruh agar menjadi tempat yang layak untuk berlatih.
"Kai, apa kamu tidak merasa kesal!?"
"Sayangnya, usiaku sudah tidak semuda itu untuk
marah-marah hanya karena masalah sepele seperti ini."
"Tidak semuda itu apanya? Umurmu kan masih belasan,
Kai?"
Terhadap komentar Rose yang tak penting itu,
"Oh iya, benar juga."
Aku mengangguk mengiyakan saja.
"Tidak apa-apa, kok, Guru Elish. Lagi pula, melihat
sikapnya yang seperti itu, pada akhirnya dia pasti akan mencari gara-gara
dengan Kak Kai lalu dihancurkan."
Oi, Lumine. Akhir-akhir ini gaya bicaramu benar-benar
mulai mirip dengan Zack dan Anna, tahu.
"Kai, apa hanya itu saja yang kamu lakukan selama
ini?"
Shou bertanya dengan wajah masam, melontarkan pertanyaan
yang mempertaruhkan reputasiku.
"Tentu saja tidak. Mereka hanya salah paham besar.
Daripada membicarakan itu, sepertinya apa yang disebut pengukuran gabungan ini
sudah mau dimulai."
Untuk mengalihkan pembicaraan, aku mengalihkan perhatian
semua orang ke kelompok Akademi St.Clan.
Awalnya aku mengira mereka akan kembali melakukan
pelecehan terang-terangan pada saat pengukuran gabungan, tetapi ternyata proses
pengukuran itu sendiri dilakukan dengan cukup adil.
Adapun hasil pengukuran yang paling penting, saat Shou,
Kusuki, Lumine, dan Seth melakukan pengukuran kapasitas sihir, kristal berubah
menjadi hitam pekat dan hasilnya menjadi tidak dapat diukur. Mengabaikan yang
lain, seharusnya pengukuran Lumine sebelumnya berjalan normal.
Aku yakin kebangkitan Gift miliknya, Fallen God
Life, telah menyebabkan perubahan pada jumlah energi sihirnya. Omong-omong,
belajar dari kegagalan saat ujian masuk sebelumnya, aku mengatur jumlah
energiku menjadi satu menggunakan Sarung Tangan Penyegel Dewa saat melakukan
pengukuran.
Jika dipikir-pikir lagi, aku adalah pemegang Gift
The Most Incompetent in the World dan tidak bisa menggunakan sihir
dasar.
Menurut pandangan umum, akan lebih wajar jika jumlah
sihirku berada di bawah rata-rata orang normal. Dan seperti dugaanku,
sepertinya tidak ada satu pun orang yang mencurigai hasil tersebut.
Tes lainnya adalah pengukuran waktu aktivasi,
jangkauan, dan Power dengan menggunakan sihir dasar.
Tentu saja aku sama sekali tidak bisa menggunakan
sihir dasar, sehingga aku kembali menjadi pusat perhatian dalam arti yang
berbeda.
Sepertinya murid-murid lain selain aku dan Kusuki
sudah bisa mengaktifkan sihir dasar dengan cukup baik.
Di sisi lain, Ariel dan Sicke mencetak nilai yang
sangat memuaskan dalam pengukuran kapasitas sihir dan aktivasi magis mereka.
Hal ini memicu rumor di antara guru dan murid Akademi
St.Clan mengenai mengapa mereka bisa bersekolah di tempat seperti Akademi
Ouboro.
Dengan begitu, kelas pengukuran di pagi hari pun
selesai, dan kini tiba waktunya makan siang.
Sepertinya Elish masih melakukan pengukuran aktivasi
sihir dasar untuk murid-murid Akademi St.Clan.
Pada awalnya, Elish sedikit ragu untuk mengajari para
murid dari Akademi St.Clan karena insiden penyerangan Seth.
Namun, setelah Ketua Dewan Avery memberikan penjelasan
dan permintaan maaf atas kebodohan Torla dan kawan-kawannya, ditambah fakta
bahwa mereka juga akan dihukum karena masalah ini, sepertinya Elish akhirnya
bisa menerimanya.
Pada dasarnya dia memang orang yang serius. Dia
memberikan nasihat tentang aktivasi sihir dasar satu per satu kepada setiap
murid Akademi Ouboro maupun Akademi St.Clan yang mengikuti tes pengukuran.
Sepertinya cara mengajarnya sangat bagus, karena
sekarang sudah terbentuk antrean panjang di depan Elish. Dilihat dari
situasinya, dia tidak akan bisa kembali dalam waktu dekat.
Rose telah menerima instruksi lisan dari Elish untuk
makan siang terlebih dahulu, dan sekarang kami baru saja kembali ke area
gudang.
Seth Accard yang bergegas ke sudut gudang dengan
penuh semangat, tiba-tiba mematung saat membuka tasnya.
Saat aku mendekat dan mengintipnya, isi bekal makan
siangnya berhamburan dan hancur berantakan di dalam tasnya.
Ini adalah apa yang disebut sebagai pelecehan. Mereka
dari Akademi St.Clan pasti melakukannya saat kami dipanggil untuk melakukan
pengukuran.
Tidak, belum tentu juga, sih... Yah, apa
pun itu—
"Kita kena, ya..."
Tas berisi makan siangku juga diinjak-injak dengan cara
yang sama.
"Punyamu juga, ya."
Shou ikut menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Dasar Elf keparat! Beraninya mereka menghancurkan
bekal yang dibuatkan oleh Kakak!"
Lumine memamerkan gigi taringnya dan meninggikan
suaranya. Omong-omong, saat menjauh dari tas, Susanoo selalu berpindah ke dalam
tas pinggang anti-pencurian milik Lumine, jadi dia tidak bertugas menjaga tas
berisi makan siang.
"Sepertinya semuanya bernasib sama, ya."
Sambil membuka tasnya, Ariel juga menghela napas pendek.
Itu mungkin karena dia merasa muak dengan pelecehan yang kekanak-kanakan ini.
Aku yakin Ariel juga sudah bisa menebak siapa pelakunya.
"Aku akan melayangkan protes!"
Dengan nada marah yang kental dalam suaranya, Rose meraih
tasnya lalu berlari menuju guru Elf bermata sipit itu.
"Apa yang akan kamu lakukan?"
Menjawab pertanyaan Shou,
"Tentu saja kita akan ke sana."
Setelah menjawabnya, aku pun mulai berjalan menyusul
Rose.
Rose menatap garang guru Elf bermata sipit itu dengan
ekspresi seolah ingin menggigitnya hidup-hidup.
"Begitu, ya. Bekal di dalam tas Anda hancur
berantakan, ya. Benar-benar sebuah musibah, ya."
Guru Elf bermata sipit itu melontarkan kata-kata
penghiburan dengan nada menyanyi seolah-olah hal itu sangat lucu.
"Aku bertanya mengapa tas kami bisa berada dalam
kondisi berantakan seperti ini!?"
"Entahlah, mana saya tahu hal semacam itu.
Paling-paling juga karena tertiup angin kencang."
Sambil memegang jenggot panjangnya, guru Elf bermata
sipit itu mengajukan kemungkinan yang mustahil bagi siapa pun yang
memikirkannya.
Dilihat dari ekspresinya yang begitu gembira dan
perkataannya yang tidak masuk akal itu, sudah hampir bisa dipastikan bahwa dia
terlibat. Namun—
"Mana mungkin angin bisa membuat isi tas berantakan!
Kalian pasti yang melakukannya!"
"Nona Rose, ucapan lebih dari ini akan dianggap
sebagai penghinaan terhadap Akademi St.Clan kami. Tas itu hancur karena tertiup
angin kencang. Dalam situasi ini, menerima hal tersebut adalah langkah yang
paling bijak."
Dia mendekati Rose dengan ekspresi kemenangan, lalu
menatapnya rendah sambil mengucapkan omong kosong seolah sedang menasihatinya.
"Guru Kuko, Anda—"
Aku meraih bahu kiri Rose yang hendak meledak dalam
amarah.
"Rose, percuma saja. Kita tidak punya bukti."
Aku menahan tubuh Rose.
"Ta-tapi Kai!"
"Tahan dirimu untuk sekarang. Ini juga sebuah
pengalaman."
Mendengar perkataanku, Rose gemetar menahan kesal.
Sebagai anggota keluarga kerajaan, Rose pasti belum pernah mengalami pelecehan
semacam ini.
Aku sangat mengerti perasaan marahnya.
Namun, aku tidak sebersemangat itu hingga harus
marah-marah hanya karena masalah makan siang yang dirusak. Bagiku, mereka semua
tidak lebih dari sekadar bayi yang tak berdaya.
Selain itu, kejadian yang tidak masuk akal seperti ini
akan sering terjadi dalam hidup.
Aku tidak ingin Rose berpikir bahwa dia bisa
menyelesaikannya dengan kekerasan setiap saat. Astaga, hari ini aku hanya
mendapatkan peran-peran semacam ini, ya.
"Ya ampun, benar-benar. Tinggal kelas lalu
dikeluarkan dari akademi kami yang penuh tradisi ini. Dan sekarang, memanggil
orang lain sebagai penjahat tanpa ada bukti sedikit pun. Jika pengikutnya tidak
berguna dan tidak kompeten, itu berarti tuannya juga tidak kompeten, ya."
Mendengar kalimat memancing kemarahan dari Kuko sang Elf
bermata sipit yang tertawa meremehkan itu,
"Kai bukanlah orang yang bisa dihina oleh orang
rendahan sepertimu!"
Rose berteriak marah.
"Orang rendahan sepertiku!? Putri Rose, itu adalah
penghinaan terbesar bagi saya!"
Dengan nada kesal, Kuko juga ikut meninggikan suaranya.
Di tengah tatapan penuh rasa ingin tahu dari para siswa Akademi St.Clan yang
terpusat pada dua orang yang saling berteriak itu,
"Ada apa ini?"
Millefeuille menampakkan diri dengan membawa para siswa
pengikutnya.
"Ah, sebuah kehormatan bagi saya, Nona Millefeuille.
Semoga harimu menyenangkan!"
Berubah total dari sikap sombong sebelumnya, Kuko
memperbaiki posturnya dan membungkuk dengan hormat.
Millefeuille hanya meliriknya sekilas, lalu saat melihat
Rose dan tas yang dipegangnya, wajahnya mengerut karena jijik.
Kemudian, dengan wajah yang tampak serius,
"Saya akan mendengarkan pembicaraan tentang masalah
ini di ruangan lain. Maaf merepotkan, tapi apakah Anda bersedia?"
Dia mengatakan hal itu kepadaku.
"Aku tidak keberatan. Tapi sebelum itu, bekal makan
siang yang kami bawa sudah hancur. Bisakah kami memakai ruang makan tempat ini
khusus untuk hari ini saja?"
Saat aku mengusulkan hal itu, tiba-tiba seruan protes
yang luar biasa keras meledak dari orang-orang di sekitar kami. Sebaliknya,
Millefeuille memasang wajah bingung dan berkata,
"Anda ingin memakai ruang makan di Akademi St.Clan
ini?"
"Ya. Kalau tidak bisa, aku berpikir untuk meminta
bawahanku mengantarkan makan siang."
"Guru Kuko, apa maksudnya ini?"
Saat Millefeuille bertanya pada guru bermata sipit itu
sambil tersenyum dengan nada suara yang bahkan membuatku bergidik, suara protes
itu pun langsung mereda.
"Maksud dari apa?"
Kepada Kuko yang berpura-pura tidak tahu dengan wajah
datar, Millefeuille perlahan-lahan mendekatinya dan berkata,
"Akademi Ouboro dan sekolah kita sekarang telah
menjadi sekolah kembar. Saya yakin saya sudah berulang kali meminta Anda untuk
membimbing dan menjelaskan kepada mereka agar bisa menggunakan seluruh
fasilitas di akademi ini, bukan?"
Dia bertanya sambil meletakkan kedua tangannya di
pinggang, tepat di depan mata Kuko.
"Mereka adalah manusia, bukan Elf! Dan lagi, anak haram Accard juga ada di sini! Sebagai seorang Elf, saya
tidak bisa menuruti perintah seperti itu!"
Meski menyadari betapa besarnya amarah Millefeuille, Kuko
membalasnya dengan suara keras sambil tersenyum sinis.
"Apa yang membuat guru rendahan seperti Anda
bertingkah sok berkuasa seperti ini!? Selain itu, mendiskriminasi perlakuan
berdasarkan ras jelas-jelas membuat Anda gagal menjadi seorang guru! Anda
adalah aib bagi para Elf!"
"Yang Mulia Millefeuille, sehebat apa pun Anda,
ketidaksopanan terhadap saya yang merupakan anggota Keluarga Rosette ini, tidak
akan pernah bisa dimaafkan!"
Kepada Kuko yang membantahnya dengan memperlihatkan
gigi taringnya,
"Sudahlah, cepat antarkan mereka! Ini adalah
perintah!"
Millefeuille mencengkeram kerah baju Kuko dan memberikan
perintah dengan suara yang berat. Melihat Millefeuille yang memelototi Kuko
dengan tatapan seolah ingin menusuknya, terdengar suara menelan ludah dari
orang-orang di sekitarnya.
"A-Anda memberikan perintah kepada saya!? Saya akan
mempermasalahkan penghinaan ini!"
Setelah menepis tangan itu, Kuko berteriak marah dan
secara terang-terangan menunjukkan permusuhan.
"Millefeuille, kami sudah cukup merasa puas jika
diizinkan menggunakan ruang makan saja. Lagipula, tanpa alasan yang jelas, aku
sama sekali tidak berniat untuk memanfaatkan fasilitas di akademi ini. Kalian
juga tidak masalah dengan hal itu, kan?"
Aku dengan tegas menolak perintah Millefeuille yang hanya
akan menimbulkan masalah, lalu meminta kepastian pada Rose dan yang lainnya.
"Ya, tentu saja."
"Bahkan jika disuruh pun aku tidak mau!"
Rose dan Lumine menolaknya dengan tegas, dan para siswa
Akademi Ouboro lainnya pun setuju dengan mereka dalam diam.
"Begitu... ya."
"Biar aku saja yang menjelaskan situasinya. Kau
tidak keberatan, kan?"
Kepada Millefeuille yang memasang wajah seolah ingin
menangis karena penolakan keras dari para siswa Akademi Ouboro, aku melanjutkan
pembicaraan terkait alasannya datang ke tempat ini.
"Iya. Malah, kami juga akan sangat terbantu jika
Anda yang menjelaskannya."
Dilihat dari cara bicara Millefeuille yang seolah
menyembunyikan sesuatu ini, hampir bisa dipastikan bahwa ini adalah sesuatu
yang merepotkan.
"Kalau begitu, Tuan Kai, saya akan memandu
jalan."
"Tolong, ya. Rose, aku serahkan sisanya
padamu."
Setelah memastikan Rose mengangguk, aku pun berjalan
mengikuti Millefeuille dari belakang.
Millefeuille memanduku ke sebuah ruangan dengan pintu
besar di pusat Akademi St.Clan. Aku diberitahu untuk menunggu sebentar di depan
pintu.
Lima menit setelah Millefeuille masuk, beberapa Elf
keluar dari pintu besar itu. Sambil gemetar karena gugup, mereka membuka pintu
lebar-lebar lalu berkata,
"Si-Silakan masuk!"
Mereka berteriak dengan suara yang melengking. Sambil
memiringkan kepala keheranan, aku melangkah masuk ke dalam ruangan.
Di ruangan yang luas dan mewah secara sia-sia itu,
beberapa Elf paruh baya sedang berlutut dengan satu kaki.
Sosok yang menundukkan kepalanya di barisan paling
depan adalah orang yang baru saja kutemui belum lama ini, yang juga merupakan
kepala negara Lorelei, yakni Avery Lenlen Lorelei.
Kadang merendahkan, kadang juga sangat menghormati. Elf benar-benar kelompok yang sulit dipahami.
"Aku akan menjelaskan situasinya kali ini.
Kami—"
Saat aku mencoba menyampaikan tujuan utamaku dipanggil ke
sini,
"Tidak perlu! Kami sangat menyadari ketidaksopanan
kami yang sepihak dan terjadi berulang kali ini! Kami siap menerima hukuman apa
pun!"
"Namun kumohon, tolong jangan jadikan negara kami
sebagai musuhmu! Tolong ampuni kami!"
Melihat para Elf yang menundukkan kepala satu per satu,
Avery hanya merengut tanpa bergerak sedikit pun. Tentu saja begitu.
Sikap mereka terhadapku saat ini adalah cara meminta maaf
yang paling rendah dan terburuk.
"Avery, kamu juga pasti sangat kerepotan."
"Saya tidak punya alasan apa pun untuk membela
diri."
Mendengar jawaban Avery yang terdengar getir,
"Soal insiden Ariel sebelumnya, aku dan Avery
sudah menyelesaikannya. Apa itu berarti kalian telah membahayakan diriku atau
kerabatku selain dari insiden itu?"
Mendengar pertanyaanku, para Elf paruh baya yang merayap
memohon ampun itu untuk pertama kalinya saling memandang dengan bingung.
"Avery, coba kamu jelaskan pada mereka."
Avery berdiri, membungkuk ke arahku, lalu berdiri di
depan mereka. Kemudian—
"Berdirilah!"
Dia meninggikan suaranya.
"B-Baik!"
Para Elf paruh baya itu pun segera berdiri tegak.
"Kalian telah salah paham terhadap Tuan Kai. Sejak
awal, Tuan Kai bukanlah orang yang akan marah hanya karena ketidaksopanan
sekelas Kuko."
"Meski begitu, jika kalian merasa bersalah atas
ketidaksopanan sesama kaum kita, mengapa kalian tidak meminta maaf dengan tulus
sejak awal?"
"Ah..."
Seolah akhirnya menyadarinya, para Elf paruh baya itu
menunduk dengan wajah penuh penyesalan.
"Tuan Kai, saya menggunakan kesempatan ini untuk
memohon maaf yang sebesar-besarnya atas segala ketidaksopanan kaum saya."
Avery kembali membungkuk ke arahku.
"Aku sama sekali tidak memedulikannya. Jadi, bisakah
kita masuk ke inti pembicaraan?"
Saat aku mendesak Avery dan yang lainnya,
"Kalau begitu, silakan duduk di sini."
Aku dipersilakan untuk duduk di kursi yang berhadapan,
lalu aku pun duduk. Cerita dari Avery pun selesai.
"Organisasi bernama Libra, dan sosok di luar nalar
yang bersembunyi di baliknya... Ini memang terdengar cukup merepotkan."
Libra menganut paham supremasi keturunan, sesuatu yang
mungkin akan disukai oleh para bangsawan tingkat tinggi di Kerajaan Amelia.
Organisasi itu menyebarkan delusi bahwa Elf adalah ras dengan keturunan
tertinggi dan memiliki hak untuk menguasai yang lain.
Entah kenapa, cara kerja mereka mirip dengan Gereja
Pusat. Mungkin saja mereka terhubung di balik layar.
"Apa Seth Accard yang menjadi target kali
ini?"
Gadis itu adalah mantan anggota salah satu dari tiga
keluarga adipati besar di negara Lorelei. Di masa
lalu, ibukota Lorelei pernah hampir hancur karena sebuah insiden.
Orang yang menarik pemicu insiden itu adalah dirinya,
Seth Accard. Namun, Seth hanyalah sekadar pemicunya, bukan berarti dia yang
harus bertanggung jawab penuh atas hal itu.
Oleh karena itu, Lorelei telah menyatakan secara resmi
bahwa dia secara pribadi tidak bersalah.
Meski begitu, mereka yang kehilangan kerabat dan
keluarganya tetap menjadikannya sebagai pelampiasan dendam dan memperlakukannya
dengan sangat kejam.
"Bukan, target Libra kali ini adalah Artefak
Dewa."
"Artefak Dewa? Tunggu dulu, percakapan ini
memberiku firasat yang sangat buruk. Jangan bilang, benda itu adalah—"
"Tebakan Anda sangat tepat. Incaran Libra adalah
harta karun paling rahasia negara kami yang diberikan oleh Tuan Kai, yang akan
dipamerkan pada upacara peresmian akademi ini seminggu lagi—'Pedang Penciptaan
Langit dan Bumi'."
"Benda itu, ya... Jangan-jangan, para idiot dari
Libra itu akan menyerang akademi ini hanya demi benda seperti itu?"
Kenapa para Elf selalu berlebihan seperti ini? Itu sama
sekali bukan benda yang bisa disebut sebagai harta karun paling rahasia.
Tepat setelah menyelesaikan insiden penculikan Rena oleh
Kyou, aku tak sengaja bertemu dengan Millefeuille di Balse, yang sedang
kesulitan memperbaiki pedang kakaknya yang rusak. Saat aku mencoba
memperbaikinya, pedang itu malah mendapat efek yang aneh dan menjadi tidak
berguna.
Tentu saja aku segera menawarkan untuk mengembalikannya
ke keadaan semula, tetapi Millefeuille memohon agar dia diizinkan menyimpan
pedang itu dalam kondisi tersebut karena hanya akan digunakan saat festival.
Karena tidak yakin apakah pedang itu bisa dikembalikan
seperti semula, ditambah rasa bersalah karena telah merusak pedang yang penting
baginya, aku pun dengan senang hati menyetujuinya.
"Ya. Mengingat mukjizat luar biasa yang bisa
ditimbulkan oleh pedang itu, tidak heran jika mereka mengincarnya."
"Mukjizat yang luar biasa, ya. Kalau tidak salah,
efeknya adalah 'mengubah apa pun yang ditebasnya sesuai dengan imajinasi
pemegang pedang', kan?"
"Ya, dari hasil penyelidikan kami, segala hal yang
ditebas oleh pedang itu tidak hanya berubah wujudnya, tetapi juga isinya."
"Isinya juga berubah?"
Ini pertama kalinya aku mendengarnya. Aku langsung
memeriksanya dengan Skill Appraisal tak lama setelah membuatnya dan
langsung memberikannya pada Millefeuille.
Aku belum pernah menggunakannya secara langsung, jadi hal
ini memang wajar.
"Sesuatu yang ditebas dengan pedang itu akan berubah
eksistensinya sesuai dengan imajinasi sang pemegang pedang. Dan ternyata, efek
itu sama sekali tidak memiliki batas."
"Itu konyol. Jika kau bilang tidak ada batasnya, itu
berarti pedang itu benar-benar bisa menciptakan apa saja, kan?"
"Benar sekali. Kami telah mengulang eksperimen
pembuktian berkali-kali, jadi hal itu sudah pasti."
"Begitu ya, pantas saja waktu itu Asta terus
mendesakku untuk menyegelnya..."
Tentu saja, bagaimanapun juga itu hanyalah pedang
buatanku. Tidak mungkin pedang itu tidak memiliki batasan.
Namun sialnya, Lorelei dan organisasi bernama Libra itu
sepertinya telah mempercayainya.
"Lalu, apa tujuan mereka sampai rela mengambil
risiko berbahaya untuk merebut pedang itu?"
Meskipun itu hanya pedang rongsokan yang kutempa, mereka
akan merampasnya dari negara Lorelei sendiri.
Jika tertangkap, mereka pasti akan dihukum mati, dan
organisasi mereka juga akan dihancurkan habis-habisan dengan kejadian ini
sebagai pemicunya.
Normalnya, mereka harus bergerak dengan sangat
hati-hati.
Fakta bahwa Avery dan yang lainnya bisa mengetahui
rencana ini dengan sangat rinci membuktikan bahwa mereka bertindak dengan
sangat gegabah.
Jika begitu, pasti ada alasan besar yang memaksa mereka
melakukannya.
"Sepertinya, Libra dan dalang di balik layar
bermaksud menggunakannya untuk ritual pemanggilan dewa."
"Dewa lagi, ya..."
Kenapa orang-orang di dunia ini sangat suka bergantung
pada eksistensi fiktif yang tidak nyata seperti dewa? Pada akhirnya, selalu aku
yang harus membereskan kekacauan yang mereka buat.
Sejujurnya, aku tidak ingin direpotkan lebih dari ini.
"Oleh karena itu, kami ingin memohon pada Anda untuk
melindungi 'Pedang Penciptaan Langit dan Bumi'."
Sudah kuduga akan jadi begitu. Kalau begitu—
"Lebih baik pedang berbahaya seperti itu dihancurkan
saja, kan? Menghancurkannya sangatlah mudah."
Dengan kemampuan berpedangku, hal itu bisa dilakukan
dalam sekejap. Meskipun begitu, pedang itu awalnya adalah barang berharga yang
diterima Millefeuille dari kakaknya.
Aku yakin jawabannya pasti—
"Mohon maaf. Hal itu... tidak bisa kami
lakukan."
Sudah kuduga. Di saat yang sama, meminta Hephaestus untuk
mengembalikannya menjadi pedang aslinya juga hal yang mustahil.
Lagipula, tidak diketahui apakah efek buruk itu bisa
dihilangkan, dan kemungkinanku untuk bisa meyakinkan Hephaestus juga sangat
meragukan.
Aku tidak tahu jika itu adalah senjata lain, tapi orang
itu menunjukkan reaksi penolakan yang sangat kuat jika diminta untuk mengubah
senjata maupun armor buatanku.
"Aku mengerti. Aku juga bersalah karena telah
memberikan efek seburuk itu pada pedang milik kakak Millefeuille. Aku akan
menerima permintaan itu."
"Jika gadis itu mendengarnya, dia pasti akan
melompat kegirangan. Bagaimanapun juga, gadis itu menangis bahagia karena Anda
telah menempa pedang untuknya."
Avery melontarkan lelucon yang mustahil terjadi itu,
membuat kerutan tegang di dahi semua orang sedikit mengendur.
"Apa hanya itu saja yang ingin dibicarakan? Kalau begitu, aku akan pamit undur diri."
"Kami sangat berterima kasih atas kedatangan
Anda."
"Ya."
Saat aku mengangkat tangan kananku dan hendak
meninggalkan ruangan,
"Akademi ini dikelola oleh negara kami. Dengan
menggunakan wewenang tersebut, kami telah menginstruksikan kembali secara
menyeluruh kepada seluruh siswa dan staf agar siswa Akademi Ouboro diizinkan
untuk menggunakan seluruh fasilitas di akademi ini."
"Tentu saja, mulai pertemuan berikutnya, kalian
tidak akan lagi berlatih di tempat yang seperti gudang itu, melainkan akan
diberikan satu area khusus untuk siswa Akademi Ouboro."
Avery menyampaikannya dari balik punggungku, jadi aku
membalasnya.
"Aku berterima kasih untuk itu. Namun, siswa Akademi
Ouboro sendiri tidak menginginkannya. Karena itu, kecuali untuk acara khusus
atau semacamnya, kantin saja sudah cukup."
"Begitu... ya. Meskipun demikian, saya akan
menyampaikan agar kalian bisa menggunakannya kapan saja."
"Mungkin itu ide yang bagus. Yah, untuk area
pelatihan praktik, dengan senang hati aku akan menerima kebaikanmu itu."
"Aku akan memberitahu teman-teman sekelasku bahwa Akademi
St.Clan telah memberikan satu area untuk kita."
Lagipula, kami tidak akan bisa melakukan pelatihan dengan
benar di tempat yang menyerupai gudang seperti itu. Aku awalnya berpikir untuk
turun tangan sendiri demi memperbaiki ketidakadilan ini.
Jika Akademi St.Clan bersedia menyediakan tempat
pelatihan untuk kami, tentu saja itu adalah hal yang terbaik.
"Saya sangat berterima kasih atas pengertian
Anda."
"Tidak, itu seharusnya menjadi kalimatku."
Avery menatapku dengan wajah serius.
"Akademi ini menyimpan banyak kontradiksi. Kami
mungkin akan melakukan kesalahan besar lagi di masa depan."
Dia melontarkan pernyataan yang penuh makna.
"Sudah kuduga."
Selama ideologi seperti milik Libra masih menyebar,
orang-orang yang melakukan tindakan bodoh seperti Torla pasti akan terus
bermunculan satu per satu.
"Kumohon, jangan pernah meninggalkan para siswa, dan
tolong tunjukkan jalan yang benar kepada mereka."
"Selama mereka tidak menyimpang dari jalan sebagai
manusia, aku berniat melakukannya."
Segala sesuatu ada batasnya. Sekalipun mereka masih
pelajar, aku sama sekali tidak berniat memberikan belas kasihan kepada orang
bodoh yang melanggar batas aturan minimal sebagai seorang manusia.
"Itu saja sudah lebih dari cukup."
Avery kembali berdiri dari kursinya dan berlutut dengan
satu kaki, sementara yang lain ikut mengikutinya.
"Maaf sudah mengganggu."
Kali ini aku benar-benar meninggalkan ruangan itu dan
bergerak menuju kantin tempat Lumine dan yang lainnya menunggu.
◇◆◇
Segera setelah Kai pergi, sebuah pengumuman disampaikan
menggunakan peralatan magis bahwa siswa dari sekolah saudari mereka, Akademi
Ouboro, juga diizinkan untuk menggunakan seluruh fasilitas di Akademi St.Clan,
termasuk kantin.
Namun, setelah kejadian seperti itu, pasti tidak akan ada
seorang pun yang ingin menggunakannya.
Tiba saatnya untuk makan siang, tetapi karena tidak suka
keramaian, Shou menghilang entah ke mana. Pada siang hari, kakak Lumine yang
bernama Layla datang menjenguk dan mendengarkan penjelasan singkat tentang
situasinya dari Lumine.
Setelah mengetahui bahwa Kai tidak ada, Layla pun membawa
Lumine keluar untuk makan di luar akademi.
Ramune dan Kiki bersaudara juga langsung membaur ke dalam
kerumunan begitu Kai pergi, seolah mereka telah kehilangan semua minatnya.
Meskipun mereka mengenakan seragam Akademi Ouboro, para
siswa lain sama sekali tidak menyadari kehadiran mereka berdua.
Aku yakin itu adalah Skill. Setidaknya, itu
bukanlah gerakan sekelas seorang siswa biasa. Aku merasa mereka berdua juga
memiliki alasan tersendiri.
Para siswa yang tersisa, termasuk Ares, kini baru saja
tiba di kantin Akademi St.Clan setelah dituntun oleh Rose.
"Kantin yang sangat besar, ya..."
"Ya, memang benar."
Aku mengangguk kecil, menyetujui gumaman Silket.
Kantin Akademi St.Clan adalah kantin super besar yang
dapat menampung ratusan siswa sekaligus.
Sepertinya mereka menggunakan sistem prasmanan, di
mana kita bisa dengan bebas mengambil makanan favorit dari piring-piring
hidangan yang telah berjejer.
Kantin dengan skala sebesar ini bahkan sangat jarang
ditemui di Alam Surga. Tingkah manusia selalu saja membuatku takjub setiap
saat.
Saat ini kami sedang berbaur dengan siswa Akademi
St.Clan, mengambil makanan dan mencari tempat duduk.
Ketika aku baru saja menemukan tempat duduk yang pas
di dekat jendela,
"Hei, kenapa anak haram itu makan siang di
kantin yang sama dengan kita!"
Kepada siswa yang menghentakkan kakinya dengan kesal
itu,
"Membiarkan orang sial seperti itu masuk, apa
sih yang sedang dipikirkan pihak akademi!"
Seorang siswi ikut menaikkan suaranya dengan nada marah
seolah menyahutinya.
Di ujung tatapan para siswa itu, terdapat seorang gadis
dari kelas kami, Seth Accard.
Di tengah badai permusuhan itu, kaki Seth yang mencoba
pindah ke sudut dekat jendela dijegal oleh seorang siswa laki-laki berambut
pirang cepak yang berbadan kekar dan tampak seperti kakak kelas. Seth pun
terjatuh ke lantai bersama dengan makanan di atas nampannya.
"Hei, hei, anak ini malah tersandung dan jatuh
sendiri, lho!"
Siswa Elf berambut pirang cepak yang menjegal kakinya itu
berteriak.
"Hati-hati dong! Makanan di sini bukan barang
murahan yang bisa dimakan dengan mudah oleh orang-orang miskin reyot seperti
kalian. Benar begitu kan, semuanya?"
Seorang siswa Elf yang tampaknya adalah temannya juga
merentangkan kedua tangannya, mencari persetujuan dari orang-orang di kantin.
Hujatan terhadap Seth dan Akademi Ouboro langsung meledak
secara serempak.
Alur ini sama persis seperti kejadian Torla. Ini adalah alur yang sangat tidak menyenangkan. Rose yang merupakan
anggota keluarga kerajaan Amelia pasti bisa menghentikannya, namun sayangnya,
tepat setelah tiba di kantin bersama yang lain, dia dipanggil oleh staf sekolah
Akademi St.Clan dan harus meninggalkan tempat ini.
"Tuh, dengar. Rakyat jelata yang bekerja di
kantin pun tak ingin masakan yang sudah susah payah mereka buat jadi sia-sia
karena sampah sepertimu, tahu."
Siswa laki-laki Elf berambut pirang cepak itu
mendekati Seth lalu menendang perutnya. Tubuh kecil Seth melengkung seperti
busur, dan dia pun berjongkok di lantai dengan ekspresi kesakitan.
"..."
Jika itu adalah Ares yang biasanya, dia pasti akan
terdorong oleh rasa keadilan murahan dan pergi menolongnya. Namun,
dari kejadian sebelumnya, dia menyadari satu hal.
Ares dan kelompoknya lemah. Mereka begitu lemah sampai
dengan mudahnya dikalahkan oleh roh yang dipanggil oleh anak manusia seperti
itu.
Jika hasil dari tindakan nekat Ares yang lemah itu hanya
berdampak padaku, aku tidak akan mempermasalahkannya. Tapi sekarang aku tahu,
dampaknya akan mengarah pada Silket, bawahanku yang berharga. Karena itulah,
aku harus menahannya.
"Hei, rakyat jelata, kamu juga berpikir begitu,
kan?"
Siswa laki-laki Elf berambut pirang cepak itu meminta
persetujuan dari seorang pelayan wanita.
"Sa-Saya..."
Pelayan wanita yang dilibatkan secara tiba-tiba itu
sangat terkejut dan melangkah mundur.
"Oh, benar juga. Bagaimana kalau kamu saja yang
menyuruh anak ini memakan makanan yang berserakan di lantai."
"Kami yang mulia ini tidak sudi menyentuh makanan
yang sudah jatuh ke lantai. Kalau rakyat jelata sepertimu, pasti tidak masalah
dengan hal itu, kan?"
Siswa Elf bertubuh mungil dengan rambut pirang model bob
juga memberikan instruksi tak tahu malu kepada pelayan wanita itu.
"Tolong ampuni saya!"
Pelayan wanita itu membungkuk dalam-dalam untuk memohon
ampun.
"Begitu ya, jadi kamu menerimanya dengan senang
hati! Oh, ya! Aku kebetulan sedang membawa bumbu semacam ini. Bisakah kamu
mencampurkannya juga secara khusus?"
Melihat sesuatu yang menggeliat di dalam botol kecil
yang diambil dari saku siswa itu, sang pelayan wanita pun menjerit ketakutan.
"Bagaimana, imut kan? Ini salah satu peliharaanku.
Ah, tenang saja, aku masih punya banyak, jadi kalau hilang sedikit tidak akan
jadi masalah sama sekali."
Anak laki-laki Elf berambut bob itu mengacungkan
jempolnya dengan senyum lebar.
"To-Tolong!"
Pelayan wanita itu meminta tolong ke sekeliling, tetapi
para staf kantin yang lain memalingkan wajah mereka yang pucat pasi. Sementara
itu, para siswa yang lain—
"Bagus! Bagus sekali! Terus lakukan!"
"Itu adalah balasan yang pantas bagi anak haram yang
penuh dosa!"
Suara dukungan muncul satu demi satu.
—Mereka sudah tidak waras.
Itulah pendapat jujur Ares tentang mereka. Saat berada
di Alam Surga, dia mengira umat manusia adalah makhluk yang lebih suci.
Namun, sejak turun ke bumi ini, dia baru mengetahui
bahwa ada kegelapan yang dalam dan pekat di dalam hati manusia.
Secara jujur dalam hatinya, Ares tidak bisa memahami
makhluk hidup yang disebut manusia ini.
Kenapa mereka bisa melakukan hal yang begitu kejam dan
mengerikan kepada sesamanya? Ares sama sekali tidak bisa memahaminya.
"Aku akan menahannya!"
Siswa laki-laki berambut pirang cepak itu mencengkeram
erat rambut Seth dan mengangkatnya.
"Nih, aku serahkan anak-anak ini juga padamu."
Dia menyerahkan botol kecil itu kepada sang pelayan
wanita. Di dalam botol tersebut, sekumpulan serangga berbentuk seperti
laba-laba berkaki panjang merayap menggelitik.
"Hiii!?"
Tanpa sadar menerima botol kecil itu karena dipaksa, sang
pelayan wanita memekik pelan.
"Ayo, cepat campurkan anak-anak itu ke dalam
makanannya lalu suapkan pada anak haram itu."
"Ti-Tidak bisa!"
"Yakin? Rakyat jelata sepertimu ini bisa dipecat
kapan saja lho. Tentu saja, aku juga bisa membuat keluargamu tidak bisa tinggal
lagi di Babel ini."
Sambil merubah ekspresinya menjadi jelek dan menjijikkan,
siswa laki-laki Elf berambut bob itu melontarkan kata-kata yang bernada
ancaman.
"..."
Pelayan wanita itu mengambil makanan yang berserakan di
lantai dengan tangan kanannya, lalu mencoba membawanya ke mulut Seth sambil
menangis. Seth tidak menangis atau menjerit, dia hanya—
"Maafkan aku, ya..."
Seth mengucapkan kata permintaan maaf kepada pelayan
wanita itu. Saat melihat ekspresi kepasrahan dan menyerah dalam pandangannya,
—Jleb!
Rasa sakit yang luar biasa menusuk jantungku, seolah-olah
diremas dengan sangat kuat.
Aku sudah memutuskan untuk tidak bertindak hanya
berdasarkan emosi sesaat seperti rasa keadilan. Aku juga telah bersumpah untuk
tidak pernah membiarkan Silket berada dalam bahaya lagi.
Meskipun begitu, setelah melihat ekspresi gadis itu,
secara naluriah Ares menyadari dengan jelas.
Jika dia menutup mata terhadap pemandangan ini, maka Ares
akan terus menyesali kejadian hari ini seumur hidupnya!
(Aku tidak mau...)
Aku benar-benar tidak mau itu terjadi! Aku tidak akan
membiarkan hal itu. Lagipula, jika sampai hal itu terjadi—
Sebuah bayangan terlintas di pikirannya sejenak.
Pemandangan acak dan terfragmentasi yang tidak bisa dimengerti itu menyulut api
keberanian di lubuk hati Ares.
"Sicke, maafkan aku."
Bersamaan dengan kalimat itu, tubuh Ares bergerak secara
alamiah.
"Itu baru Tuanku!"
Ares berlari kencang menuju Seth, lalu menendang wajah
Elf berambut pirang cepak itu.
Pada saat yang sama, dia menginjak botol kecil yang
menggelinding di dekat sang pelayan wanita, menghancurkan serangga di dalamnya,
dan mendaratkan pukulan pada anak laki-laki Elf berambut pirang model bob itu.
"Kita lari dari sini!"
Aku mendesak Seth dan pelayan wanita itu, lalu aku meraih
tangan kanan Seth dan berniat lari. Namun, kakiku terjegal dan aku terjatuh ke
lantai.
Saat aku secara refleks melihat ke arah kakiku, ada
tanaman merambat yang telah melilit kakiku.
"Ternyata kamu lumayan juga, ya. Aku jadi sedikit
tertarik padamu."
Seorang pria berjubah dengan rambut merah dan memakai
kacamata bundar, duduk di sebuah meja sambil menodongkan tongkatnya ke arahku.
"Sicke!"
Asalkan kami bisa menyelamatkan Seth dan pelayan wanita
itu, maka kamilah pemenangnya. Karena itulah, aku memberikan perintah kepada
Silket.
"Dimengerti!"
Saat Silket berteriak seperti itu, dia bergegas berlari
menuju Seth dan yang lainnya. Namun, kakinya dijegal oleh seorang siswi
berambut hitam panjang yang dikepang cepol, membuatnya terpelanting ke udara.
"Ugh!?"
Silket mencoba mengatur posisi tubuhnya sebaik mungkin,
tetapi kedua kakinya ditebas oleh sesuatu yang tak kasatmata seperti tongkat.
Kepada Silket yang terjatuh tanpa bisa menahannya lagi,
"Gah!"
Seorang Elf bertubuh tinggi yang mengenakan masker
mendekatinya, lalu mengarahkan telapak tangan kanannya ke tubuh Silket.
Sesaat kemudian, sesuatu seperti tanaman merambat melilit
seluruh tubuh Silket, mengikatnya dengan sangat kuat.
Pria berjubah merah dengan rambut merah itu datang
mendekati Ares, kemudian berjongkok.
"Aku punya tawaran untuk kalian, tidak masalah
kan?"
Wajah pria berjubah merah itu menyatakan hal tersebut
secara sepihak dengan nada yang tidak menerima penolakan.
Pria itu memang tersenyum, tetapi matanya benar-benar
menatap dengan sangat serius dan berbanding terbalik dengan ekspresinya.
"Hentikan!"
Seorang wanita berjubah hitam dengan topi kerucut dan
memakai ban lengan OSIS di lengan kanannya, menaikkan suaranya sambil
mengarahkan tongkat ke arah pria berjubah merah tersebut.
"Ternyata Ketua OSIS yang muncul, ya."
Sambil memandang wanita berjubah hitam itu, dia
bergumam dengan penuh kebencian.
"Cid, OSIS akan mengambil alih dan menyelesaikan
masalah ini. Kau tidak keberatan, kan?"
"Baiklah, ayo kita pergi."
Setelah berdecak kesal, Cid mendesak siswi lain yang
berambut hitam dengan gaya cepol dan siswa Elf tinggi bermasker itu untuk
segera melangkah gagah meninggalkan kantin.
"Nah, drama ini sudah berakhir. Saya akan meminta
keterangan tentang keributan ini, jadi semua pihak yang terlibat harap segera
melapor."
Siswi anggota OSIS itu menepuk kedua tangannya dan
mengumumkan akhir dari insiden tersebut.
"Itu tidak perlu."
Wajah siswi anggota OSIS yang sebelumnya terlihat
tenang itu, tiba-tiba berubah memutar menjadi penuh kebencian yang mendalam.
"Guru Kuko, bukankah perselisihan antar siswa
adalah wilayah wewenang kami dari pihak OSIS?"
"Siswa? Syarat keterlibatan OSIS hanyalah terbatas
pada perselisihan antar sesama siswa sekolah ini. Anak-anak ini adalah siswa
Akademi Ouboro yang reyot."
"Rakyat jelata pelayan di sana juga bukan siswa
sekolah ini. Hanya kami para guru yang berhak menangani perselisihan dari
serangga tak berharga yang tidak ada hubungannya dengan sekolah kita ini.
Menjabat sebagai Ketua OSIS, masa kau tidak tahu hal seperti itu?"
"Jika Anda melakukan tindakan gegabah seperti ini,
nantinya pasti akan jadi masalah, lho."
Sambil memelototi Kuko dengan sorot mata yang tajam,
wanita berjubah hitam itu meludahkannya kata-katanya.
"Masalah? Anjing-anjing berdarah kotor ini telah
bertindak jahat pada siswa sekolah kita yang mulia. Ini hanyalah sekadar sebuah
disiplin."
"Hukuman untuk anjing liar yang suka menggigit
sembarangan. Kalian semua juga berpikir begitu, kan?"
Kuko bertanya kepada siswa-siswa lain yang ada di kantin.
"Guru Kuko benar!"
"OSIS menyingkir saja!"
Serentak terdengar sorak-sorai umpatan yang diarahkan
kepada anggota OSIS.
"Ketua... ini sudah tidak mungkin lagi."
Mendengar badai suara kecaman terhadap pihak OSIS, siswa
laki-laki yang mengenakan ban lengan yang sama menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Kuko!"
Mendapat teriakan marah dan pelototan dari siswi yang
dipanggil Ketua itu,
"Ooh, menakutkan, benar-benar menakutkan, ya.
Jangan-jangan gadis kecil yang hanya seorang bangsawan biasa ini berniat
menunjukkan permusuhan padaku yang berasal dari keluarga Rosette ini, hm?"
Kuko melontarkan pertanyaan itu pada sang siswi dengan
ekspresi wajah yang sangat puas.
"Ketua!"
"Aku tahu!"
Siswi berjubah hitam itu menggemeretakkan gigi gerahamnya
menahan geram.
"Kuko, aku pasti akan mengusirmu dari akademi
ini!"
Sambil melontarkan kata-kata ancaman seperti itu, dia
pergi meninggalkan kantin sambil menuntun para siswa yang sepertinya adalah
anggota OSIS yang lain.
"Nah, mari kita lanjutkan hukumannya. Lakukan
tugasmu dengan baik, ya!"
Kuko memberikan instruksi itu kepada siswa Elf berambut
pirang cepak yang memegangi hidungnya akibat tendangan Ares.
"Sial, aku jadi dipermalukan di depan semua
orang!"
Siswa Elf berambut pirang cepak itu berteriak marah
sambil mendekatiku, lalu menendang perutku ke atas.
"Ugh!"
Untuk sesaat aku tidak bisa bernapas, lalu sedikit
tertunda, rasa sakit tumpul menjalar. Saat aku membulatkan tubuhku untuk
menahan rasa sakit dari rentetan tendangan itu berkali-kali,
"Baguslah. Kita juga sudah mendapat persetujuan dari
Guru Kuko. Ayo kita bersenang-senang melanjutkan yang
tadi!"
Elf berambut bob itu mengambil sebuah botol dari saku
dengan mata merah menyala. Di dalamnya, ada serangga yang bergerak-gerak yang
ukurannya sedikit lebih besar dari yang tadi.
"Tentu saja! Kita mulai dari anak ini dulu!"
Saat dia mendekati Ares, siswa Elf berambut pirang cepak
itu menjambak rambut Ares dengan tangan kirinya dan mencengkeram dagunya dengan
tangan kanannya.
Anak Elf berambut bob itu mengambil serangga dari dalam
botol, lalu perlahan-lahan mendekati Ares dan berjalan memutarinya.
"Hei, semuanya, anak-anak ini berani menentang kita.
Menurut kalian apa yang harus kita lakukan pada mereka?"
Dia melontarkan pertanyaan itu kepada siswa-siswa yang
ada di kantin.
"Tentu saja hukuman mati!"
Terdengar balasan dari suatu tempat.
"Kalau begitu, aku minta kalian semua menyerukannya
dengan suara lantang."
—Bunuh! Bunuh! Bunuh! Bunuh!
Di tengah paduan suara memekakkan telinga yang menuntut
hukuman mati itu,
"Tuan Ariel!"
Terdengar teriakan pilu dari Silket. Usaha
penyelamatanku benar-benar gagal, aku dikelilingi oleh musuh, dan tidak ada
jalan keselamatan lagi bagiku.
Namun, rasa tidak nyaman yang membuatku mual hingga
rasanya ingin muntah yang kurasakan beberapa saat lalu lenyap seketika, dan aku
sendiri terkejut karena merasa begitu lega di dalam hatiku.
"Aku baik-baik saja. Setidaknya, aku berhasil
untuk tidak menjadi seperti para pengecut yang sedang berteriak-teriak
ini."
Sebanyak apa pun aku meminta maaf pada Silket karena
telah menyeretnya dalam situasi ini tidak akan pernah cukup. Tetapi, aku yakin
Silket akan memahamiku.
Di tengah badai caci-maki yang terus menerus
dilontarkan pada Ares,
"Hentikan—!"
Seth, yang tak sedikitpun menangis meratapi atas
segala perilaku yang menimpanya, memohon ampunan sambil berurai air mata.
"Terima kasih atas usahamu menahan sakit. Tapi,
kira-kira sampai mana batasan daya tahanmu itu, ya?"
Sambil mengeluarkan serangga besar dari dalam botol
dan memainkannya dengan kedua tangannya,
"Sensasi saat serangga ini bergerak merayap di
dalam perutmu sangatlah luar biasa, lho. Kamu lihat kan, aku ini adalah orang
yang baik hati, jadi aku ingin kamu menikmatinya sepuas mungkin."
Anak laki-laki Elf berambut bob itu bergumam seolah
sangat senang, lalu dengan tangan kanannya dia memegang serangga itu dan
mendekat ke arah Ares.
"Maaf aku datang terlambat. Aku sedikit
meremehkan situasinya."
Mendengar suara yang entah kenapa terasa sangat
menenangkan itu, aku mendongakkan kepalaku dan melihat Kai Heineman berdiri
dengan wajah tegang, sambil memegang erat pergelangan tangan kanan anak
laki-laki Elf berambut bob yang sedang menggenggam serangga itu.
◇◆◇
Saat aku meninggalkan Ruang Kepala Sekolah Akademi
St.Clan dan menuju ke kantin, ada kerumunan orang yang berkumpul di sana.
Seth Accard yang menangis menjerit memohon agar
semuanya dihentikan, dan Ariel yang ditahan oleh dua siswa dan nyaris dipaksa
memakan sesuatu seperti serangga.
Aku yakin, dalang yang menghasutnya adalah guru
bernama Kuko yang kini sedang menatap dengan ekspresi gembira.
Sejujurnya, kupikir masalah Torla hanyalah kasus
khusus. Tapi ternyata, dugaanku salah besar.
Menginjak-injak harga diri orang lain sambil melindungi
diri di tempat yang aman adalah salah satu hal yang paling aku benci.
Terlebih lagi, seorang guru yang malah berinisiatif
menghasut tindakan sekeji itu, dan murid-murid di sana malah menyambutnya
dengan sorak sorai kegembiraan.
"Dasar rendahan! Lepaskan aku!"
Aku melempar bocah Elf berambut bob itu ke samping.
"Kalian sudah bertindak terlalu jauh. Karena itu,
aku akan memberikan perlakuan khusus orang dewasa pada kalian. Tunggu sebentar
di sana."
Aku hanya memberikan perintah tegas. Merespons sikapku
yang merendahkan itu, sorakan caci-maki pun menghujaniku dari seluruh penjuru
kantin.
Dengan tenang aku mengabaikan badai celaan dan makian
itu, lalu menghampiri Ariel dan Silket untuk menebas tanaman rambat yang
mengikat mereka. Dan kemudian—
"Tolong bawa Seth dan pelayan perempuan itu ke ruang
perawatan Akademi Ouboro. Aku akan menyusul setelah selesai menjinakkan
hewan-hewan buas ini."
"Tetapi—"
Kepada Ariel yang masih ragu-ragu di saat seperti ini,
"Cepat pergi! Tempat
ini sekarang hanyalah sebuah kandang babi. Ini bukanlah tempat di mana pemuda
yang punya masa depan cerah seperti kalian berada."
Aku menaikkan suaraku dan membentaknya.
"B-Baik!"
Ariel mengangguk seolah-olah dia terpental dan segera
bangkit berdiri.
"Terima kasih atas perhatian Anda! Tuan Ariel!"
Silket segera merangkul Seth dan pelayan perempuan itu,
lalu lari keluar dari kantin besar itu bersama Ariel.
"Aku tidak akan membiarkanmu kabur!"
Kepada beberapa murid yang hendak menembakkan sihir pada
Silket, aku meraih pisau dan garpu dari meja terdekat lalu melemparkannya.
"Gah!"
"Gugh!"
Pisau yang kulemparkan menancap dalam-dalam di punggung
tangan para murid yang hendak menggunakan sihir itu.
Kupikir setidaknya mereka akan berteriak marah, tapi
ternyata mereka hanya mengerang kesakitan dan berjongkok.
Apa hanya dengan luka sekecil itu saja mereka langsung
kehilangan semangat bertarung dan jadi tak berdaya?
Memangnya apa saja yang diajarkan oleh orang-orang
Lorelei kepada para murid ini?
"Dasar tak kompeten, berani-beraninya kamu melukai
siswa sekolahku. Kamu sudah tamat."
Kuko menyunggingkan senyum menjijikkan sambil mengarahkan
ujung tongkatnya kepadaku, melontarkan kata-kata bodoh. Memang benar, dramanya
sudah berakhir. Terlebih lagi—
"Ini semua salahku..."
Pemikiranku terlalu naif. Aku memang sudah menduga akan
ada perkelahian di antara murid, tapi aku sama sekali tidak menyangka mereka
adalah sekelompok orang yang dengan santainya melakukan kekejaman sejauh ini.
Setidaknya, aku mengira bahwa mereka tidak akan semudah
itu melewati batas nilai-nilai kemanusiaan. Namun...
"Sudah terlambat untuk menyesalinya sekarang! Pria
tak berguna, kau adalah pengawal pribadi Putri Pertama Kerajaan Amelia,
Rosemarie. Tindakan kekerasan yang kau lakukan akan dianggap sebagai tindakan
Putri Rosemarie sendiri."
"Itu artinya masalah ini telah secara resmi menjadi
insiden internasional. Lorelei akan menjadi musuh. Kerajaan Amelia sudah pasti
akan membuangmu. Sekarang kau hanyalah buronan!"
Sungguh menyedihkan. Terlalu menyedihkan. Siapa pun yang
menjadi musuhku sekarang, itu bukanlah sebuah masalah besar.
Kerajaan Amelia? Lorelei?
Jika mereka memang memilih untuk menantangku dalam
pertempuran hidup dan mati yang sungguhan, tentu saja akan kuterima.
Aku hanya perlu menghancurkan mereka sampai ke
akar-akarnya, hingga tak akan ada lagi harapan yang tersisa sedikit pun.
"Cukup omong kosongnya. Majulah. Tentu saja,
pertarungan ini tidak main-main. Jadi, kalian juga boleh memakai senjata
kalian. Akan kuhadapi kalian semua sekaligus."
Sambil memutar telapak tangan kiriku menghadap ke atas,
aku melipat jari-jariku ke dalam untuk memprovokasi mereka.
Para siswa yang terlihat cemas tidak bergerak sama sekali
sambil menatapku dan siswa-siswa yang masih merintih kesakitan itu bergantian.
Jangan bilang kalian langsung kehilangan semangat
juang cuma gara-gara insiden kecil tadi?
"Ada apa? Seperti kata si idiot di sana, aku ini
hanyalah pria tak berguna. Padahal kalian tadi sudah mengocehkan kata-kata sok
jagoan, apa sekarang kalian mau melarikan diri karena takut padaku?"
Aku kembali memancing amarah mereka untuk bertarung.
"Jangan bercanda!"
"Akan kulakukan!"
"Kalau kita sampai dipermalukan oleh sekolah reyot
seperti itu, harga diri kita mau ditaruh di mana!"
Satu per satu para siswa meraih senjatanya masing-masing
dan mulai menunjukkan niat bertarung mereka.
"Asta, apa kau ada di sana?"
"Aku selalu berada di sisimu."
Melihat kemunculan wanita berpenampilan layaknya pria
paruh baya dengan pakaian necis secara tiba-tiba itu, para murid mengernyitkan
dahi dan mulai berjaga-jaga.
"Jangan khawatir. Hanya aku yang akan bertarung
melawan kalian. Asta—"
"Bahkan tanpa kau perintahkan pun, aku sudah
memahaminya."
Saat Asta menjentikkan jarinya, para siswa yang tadinya
tidak mengarahkan senjata dan kehilangan semangat bertarung pun segera
menghilang.
Sesaat kemudian, pintu besar kantin itu pun tertutup
dengan suara yang nyaring.
"Dengan begini kalian tidak akan bisa lari. Kalau
kalian ingin keluar dari sini, bunuh saja diriku."
Aku juga mengeluarkan Absolutely Unbreakable Stick,
memandang berkeliling ke arah para siswa, lalu menjelaskan aturan permainan ini
yang begitu sederhana dan jelas.
"Bu-Membunuhmu!? Ja-Jangan bercanda!"
Mendengar teriakan histeris dari salah seorang siswa
itu,
"Aku tidak sedang bercanda. Aku ini sangat
serius. Berhubung kalian sudah mengangkat senjata, aku tidak akan membiarkan
kalian mundur di tengah jalan. Kerahkan seluruh kekuatan kalian dan seranglah
aku dengan tekad untuk mati!"
Sambil memegang Unbreakable Stick di satu
tanganku, aku mulai melancarkan penindasan yang sesungguhnya.
Api, air, tanah, angin—berbagai macam sihir
berwarna-warni melesat ke arahku.
"Mainan anak-anak."
Aku menangkis semuanya dengan Unbreakable Stick
dan memantulkan kembali serangan itu kepada mereka. Seolah-olah waktu diputar
mundur, sihir-sihir itu menghantam para murid telak dari depan.
Tanpa membuang waktu, aku menendang lantai dan
berjalan santai melewati para murid yang baru saja merapalkan sihir.
Saat melewatinya, aku menebas kedua lengan mereka
menggunakan Unbreakable Stick.
"Hah?"
Sambil menatap darah segar yang menyembur dan lengan
mereka sendiri yang tergeletak di lantai, mereka mengeluarkan suara bodoh.
Namun tak lama kemudian, mereka mulai menjerit dan
berguling-guling kesakitan.
"T-Tertebas?!"
"Ini sungguhan?!"
Jeritan penuh keterkejutan terdengar, dan dalam sekejap,
ekspresi meremehkan dan aura kehidupan menghilang dari wajah para murid yang
mengepungku.
"Sudah pasti. Kita ini sedang bertarung sungguhan
sekarang. Wajar jika nyawamu terancam saat kamu mengangkat senjata, kan?
Bukankah kalian juga menyiksa Seth dengan kejam setelah mempersiapkan tekad
semacam itu?"
Saat aku mengibaskan darah yang menempel di tongkatku,
ujung luka sayatan di kedua lengan para murid seketika terbakar.
Mereka kembali menjerit histeris lalu pingsan dengan mata
melotot.
Besar kemungkinan Asta telah membakar luka mereka untuk
menghentikan pendarahan. Toh, pada akhirnya mereka akan dipulihkan juga.
Aku akan menghajar mereka habis-habisan. Tentu saja, ada
risiko mereka akan mati syok kalau sedang sial, tapi ya sudahlah. Biarkan saja
mereka menganggapnya sebagai takdir.
"T-Tidak..."
"Aku tidak mau mati!"
Dipicu oleh teriakan seseorang, para murid serempak
berlarian menuju pintu besar kantin.
"Mana ada orang bodoh yang menunjukkan punggungnya
pada musuh di tengah pertarungan sungguhan!"
Aku menebas kedua kaki para murid yang melarikan diri itu
dari bagian pangkal paha. Bersamaan dengan itu, luka sayatannya pun terbakar.
"T-Tolong aku..."
Dengan wajah yang berlepotan air mata dan ingus, seorang
murid mengarahkan ujung pedangnya ke arahku dengan tangan gemetar.
Aku menendangnya, membuatnya terlempar lurus dan menabrak
murid-murid lain. Mereka semua terbanting keras ke dinding dengan punggung
menghantam duluan.
"A-Aku akan membunuhmu sebelum kau membunuhku!"
Seorang murid bertubuh besar dengan luka di dahi
mengarahkan ujung tongkatnya kepadaku dan bersiap merapalkan sihir.
"Semangatmu patut diacungi jempol, tapi apa kau
benar-benar berpikir punya waktu untuk merapal mantra panjang dalam pertarungan
seperti ini?"
Aku melangkah santai mendekati murid berluka dahi yang
sedang merapal mantra itu, lalu meninju perutnya dengan tangan kiriku.
Mengabaikan gravitasi, dia melesat dengan kecepatan
peluru dan menghantam langit-langit hingga membuat bangunan ini bergetar hebat.
Setelah itu, barulah dia jatuh berdebum ke lantai.
"Gangan kalah..."
"Mustahil... Kita tidak mungkin menang!"
"Kita semua akan dibunuh!"
Secara praktis, kalimat itu menjadi penanda hilangnya
semangat bertarung mereka. Sambil menjerit ketakutan, seluruh murid membuang
senjata mereka dan meringkuk gemetar di sudut ruangan.
"Maaf saja, tapi kehilangan semangat bertarung
bukanlah syarat berakhirnya pertarungan kali ini."
Setelah menyatakan hal itu dengan tegas, aku memegang Unbreakable
Stick di satu tanganku dan mulai bergerak untuk menghancurkan keempat
anggota tubuh mereka.
Tujuanku kali ini adalah menghancurkan seluruh tubuh
mereka hingga berkeping-keping.
"Sekarang tinggal kalian saja, ya?"
Orang-orang yang berdiri di hadapanku saat ini
hanyalah Kuko sang guru Akademi St.Clan, bocah Elf berambut pirang cepak yang
tadi mencoba memaksa Ariel memakan serangga, dan si bocah Elf berambut bob.
Yang lainnya sudah kubereskan dan kubiarkan tertidur
untuk sementara waktu. Pertunjukan utamanya baru akan dimulai sekarang.
"A-Apa kau tahu apa akibatnya jika kau melakukan
hal seperti ini!"
Aku memotong keempat anggota tubuh Kuko yang berteriak
histeris itu. Sambil menginjak Kuko yang menjerit memekakkan telinga, aku
menjawab,
"Tentu saja aku tahu. Dan aku sama sekali tidak
berniat membiarkan kalian lolos begitu saja."
"Hiiiik!"
Aku menghancurkan keempat anggota tubuh bocah Elf
berambut pirang cepak dan bocah Elf berambut bob yang berusaha melarikan diri
sambil tersandung-sandung.
"Tolong aku!"
Kepada dua bocah yang kehilangan anggota gerak dan
memohon ampun sambil menangis itu, aku melontarkan kata-kata belas kasih.
"Boleh juga. Akan kukabulkan permintaan kalian untuk
saat ini."
"Asta, pulihkan semua orang di kantin ini dan buat
mereka sadar! Batalkan semua batasan yang ada di kantin ini."
Lagi pula, hukuman yang akan kulakukan mulai sekarang
akan lebih efisien jika ada penontonnya. Biar kubuat mereka menyaksikannya
sepuasnya.
"Dimengerti."
Bersamaan dengan kata persetujuan Asta, cairan merah
turun mengguyur, dan seolah waktu diputar kembali, luka Kuko serta para murid
di ruangan itu langsung pulih sepenuhnya.
Selanjutnya, meja, dinding, dan lantai kantin yang hancur
juga ikut pulih. Setelah semua makhluk hidup maupun benda mati kembali seperti
semula, terdengar suara jentikan jari.
Semua murid yang tadi terkapar langsung tersadar, lalu
mereka bangun dan menengok ke sekeliling dengan kebingungan.
Paling-paling, mereka mengira hal-hal mengerikan yang
baru saja terjadi pada mereka hanyalah sejenis halusinasi. Sungguh pemikiran
yang sangat egois.
"Nah, kalau begitu, mari kita mulai."
Aku berlari mengejar bocah Elf berambut pirang cepak yang
berusaha kabur sambil berteriak melengking.
Aku menyapu kakinya, membuatnya berputar beberapa kali di
udara sebelum akhirnya punggungnya menghantam lantai keras-keras.
"Kau benar-benar tidak punya kemampuan belajar, ya.
Setelah melihat kejadian tadi, apa kau sungguh berpikir bisa lari dariku?"
"T-Tolong maafkan aku!"
Sambil terbatuk-batuk, bocah berambut pirang cepak itu
bangkit. Dengan wajah berlepotan air mata dan ingus, dia menyatukan kedua
tangannya dan memohon ampun padaku dengan putus asa.
Aku menjambak rambutnya, mendekatkan wajahku, lalu
berbisik.
"Dunia ini tidak seindah itu, Nak."
Setelah menjawabnya dengan senyuman, aku menghancurkan
kedua tangan dan kaki bocah Elf berambut pirang cepak itu hingga
berkeping-keping.
Sambil mencengkeram kerah belakang bocah Elf berambut
pirang cepak yang merangkak di lantai seperti ulat sembari menjerit kesakitan,
aku melemparkannya ke samping si bocah Elf berambut bob yang sudah lemas dan
mengompol.
Lalu, aku menata kembali makanan yang berserakan di
lantai ke atas piring.
Aku menangkap beberapa ekor serangga yang masih
merayap-rayap dan memasukkannya ke dalam makanan itu.
"M-Mustahil!"
"J-Jangan bercanda!"
Aku mendekati mereka berdua yang wajahnya berkerut
ketakutan dan ngeri.
"Kalian bilang ini lezat, kan? Biar kusuapi
langsung."
"H-Hentikan!"
"Aku menolak. Bukankah memakan serangga
hidup-hidup itu lezat? Kalau begitu, nikmatilah sepuas-puasnya."
Sambil memegang dagu bocah Elf berambut bob dan si rambut
pirang cepak yang menjerit histeris itu, aku menjejalkan makanan berisi
serangga tersebut ke dalam mulut mereka.
Tidak ada satu pun orang di kantin yang berani membuka
suara.
Hanya suara kunyahan dari dua bocah yang kusuapi serta
suara gemeretak gigi para murid yang berpadu bak paduan suara di dalam kantin
besar ini.
Setelah semua makanannya habis, kedua bocah Elf itu
pingsan dengan mulut berbusa.
"Tugas kedua murid itu sudah selesai. Selanjutnya
giliranmu. Ini adalah akibat dari perbuatanmu sendiri. Tentu saja, aku tidak berniat memberikanmu hukuman seringan dua murid
tadi. Persiapkan dirimu dan jalankan tugasmu dengan baik, ya."
Sambil membunyikan tulang-tulang jariku, aku
melangkah mendekati Kuko.
"T-Tunggu! Aku ini putra sulung keluarga
Rosette, Kuko Rosette, salah satu dari Tiga Keluarga Besar Lorelei!"
"Aku sudah muak mendengar omong kosong klise
kalian."
Aku menyusup ke jarak serangnya, lalu menendangnya
keras-keras dengan kaki kananku.
"Gugeeehk!"
Sambil mengeluarkan jeritan aneh yang lucu, dia melesat
ke atas dengan kecepatan tinggi, lalu menghantam langit-langit yang jauh di
atas sana sebelum akhirnya jatuh tepat di atasku.
Aku menghujani seluruh tubuh Kuko dengan pukulan
bertubi-tubi, lalu membantingnya ke lantai dengan tinju kananku.
Terdengar suara tulang yang remuk dan daging yang robek,
tubuh Kuko memantul di lantai sebelum akhirnya terkapar telentang.
Sambil menatap Kuko yang keempat anggota tubuhnya
terpelintir ke arah yang tidak wajar dan sekujur tubuhnya kejang-kejang ringan,
aku memberikan perintah.
"Pulihkan."
Cairan merah mengguyur Kuko, dan dia langsung pulih
sepenuhnya. Begitu dia mengangkat wajahnya dan pandangan kami bertemu, dia
memekikkan jeritan yang memekakkan telinga.
"J-Jangan mendekat! Jika kau melukaiku lebih dari
ini, Lorelei tidak akan tinggal diam—"
Karena sudah mulai muak, aku mencengkeram dan mengangkat
dagunya untuk menutup mulutnya yang berisik.
"Berhenti bicara. Segala ucapan dan tindakanmu hanya
akan memperburuk keadaan."
Aku memerintahkan hal itu dengan nada tegas kepada Kuko
yang wajahnya berkerut ketakutan. Kemudian, aku menarik siku kananku jauh ke
belakang.
"Mgh!"
Kepada Kuko yang berusaha mati-matian melepaskan diri,
aku berbisik.
"Mulai sekarang aku akan memukulimu habis-habisan.
Kau boleh melawan atau kabur sesukamu. Tapi, karena ini adalah hukuman, aku
tidak akan bersikap lembut seperti pada bocah-bocah di sana. Ingatlah hal itu
baik-baik."
Setelah menyatakan hal itu, aku mendaratkan tinju kananku
tepat di wajahnya.
Aku menghajar Kuko habis-habisan berkali-kali. Tentu
saja, persis seperti yang kulakukan pada roh sialan bernama Vulcan itu, aku
menyembuhkannya setiap kali dia hampir mati.
Awalnya dia mencoba kabur dari aula ini, tetapi setelah
sadar bahwa semua usahanya sia-sia, dia menyerangku dengan setengah putus asa.
Setiap kali dia menyerang, aku membalasnya dengan
serangan yang kekuatannya puluhan kali lipat dari apa yang dia lakukan.
Sekalipun dia pingsan, Asta akan membangunkannya kembali,
dan aku terus menyerangnya tanpa henti.
"Kai, sudahlah."
Saat mendengar suara teguran yang sarat akan rasa
jengkel, aku menoleh dan mendapati Shou bersama Millefeuille sedang berdiri di
pintu masuk dengan tangan terlipat di dada.
Semua batasan di kantin ini sudah dicabut oleh Asta. Staf
akademi yang melihat pemandangan mengerikan di kantin ini pasti merengek
meminta tolong pada Millefeuille.
Dan kemudian, Millefeuille meminta bantuan Shou.
Menurut Asta, Millefeuille memiliki kemampuan
menganalisis orang lain tingkat tinggi.
Tindakannya ini pasti karena dia sangat memahami
ketidaknormalan Shou.
"Baiklah, aku setuju. Lagipula, aku memang berniat
menyudahinya."
Aku melempar Kuko ke lantai dengan kasar. Sepertinya
dia tidak bisa mendarat dengan baik. Akibat benturan itu, Kuko langsung
jatuh pingsan.
"Apa yang kau lakukan pada mereka? Mereka semua jadi
bersikap aneh, lho?"
"Aku hanya latih tanding sebentar dengan
mereka."
Sambil menjawab demikian, aku mengalihkan pandanganku ke
arah para murid di kantin besar.
Berkat hukumanku pada Kuko dan kawanannya, mereka pasti
sudah sadar sepenuhnya bahwa mimpi buruk tadi adalah kenyataan.
Ada yang muntah berkali-kali sambil merangkak, ada yang
meringkuk sambil memegangi kepala dan menangis memohon ampun, ada yang memeluk
tubuhnya sendiri sambil memekik aneh, dan ada pula yang tertawa hampa dengan
wajah bodoh. Semuanya menunjukkan reaksi yang sangat unik.
"Jangan bohong! Mana mungkin latihan tanding bisa
bikin orang jadi begini! Tolonglah, bersikaplah lebih normal sedikit."
Shou memohon padaku dengan wajah kaku dan kedua tangan
bergetar.
"Hmm, lawanku kan cuma murid-murid. Ini saja aku
sudah cukup menahan diri, lho?"
Yah, meskipun kuperlakukan sebagai orang dewasa, mereka
sebenarnya masih anak-anak. Karena itulah, aku merasa sudah sangat menahan
diri.
"Jadi ini yang namanya... menahan diri, ya?
Millefeuille, sekarang aku paham apa maksudmu. Kai memang sedikit terlalu
ekstrem untuk mereka."
Shou mengerang sambil menutupi wajahnya dengan tangan
kiri.
Ini sudah cukup untuk mendisiplinkan para binatang liar
itu. Kalau mereka berbuat ulah lagi, aku tinggal memikirkan hukuman baru untuk
mereka nanti.
"Tuan Kai, apakah kita sudah selesai untuk hari
ini?"
Kepada Millefeuille yang bertanya dengan penuh hormat,
aku menghampiri si bocah Elf berambut bob dan bocah berambut pirang cepak, lalu
menepuk pipi mereka beberapa kali.
Tentu saja, aku sudah memerintahkan Asta untuk memulihkan
mereka sepenuhnya selagi pingsan, jadi tidak ada luka sedikit pun di tubuh
mereka.
"Guhiii!"
Aku berjongkok dan menatap mata kedua bocah yang
menjerit, mundur, dan saling berpelukan ketakutan itu.
"Kali ini, kalian berdua telah jelas-jelas
menyimpang dari jalan kemanusiaan. Hanya ada satu tempat yang menanti para
bedebah. Bahkan jika aku tidak turun tangan, kalian akan terus terjerumus ke
dasar jurang terdalam. Selama kalian tidak berubah. Cobalah renungkan kembali
pada diri kalian sendiri, apa yang benar dan apa yang salah."
Setelah memberikan peringatan singkat, aku berdiri dan
membalikkan badanku dari mereka.
Orang-orang ini sekarang adalah sampah yang merasa senang
menindas yang lemah. Aku sudah sering melihat orang-orang seperti ini di
Kerajaan Amelia.
Jika mereka adalah orang dewasa yang punya akal
sehat, maka mereka sudah tidak bisa diselamatkan lagi.
Tapi, mereka masih anak-anak. Kanvas mereka belum
sepenuhnya ternoda hitam. Jadi, mungkin masih ada jalan kembali bagi mereka.
Itulah yang kuyakini dari kejadian Gil.
"Millefeuille, apa sisanya kuserahkan padamu
saja?"
"T-Tentu saja!"
"Kalau begitu, aku akan kembali ke Akademi Ouboro,
ya."
Hari ini aku terlalu banyak berbuat onar. Kurasa aku
tidak mungkin mengikuti kelas siang dalam kondisi seperti ini.
"Ada yang ingin kutanyakan pada mereka. Kalau sudah
selesai, aku juga akan kembali."
"Baiklah, aku menunggumu."
Aku mengangkat tangan kiriku dan mulai berjalan menuju
ruang kesehatan Akademi Ouboro.
◇◆◇
Setelah Ares dan kawan-kawan menunggu belasan menit sejak
diantar ke ruang medis, Elish berlari masuk dengan wajah pucat pasi.
Begitu diberitahu bahwa luka Ares dan yang lainnya tidak
serius serta kronologi kejadiannya, Elish langsung berlari keluar ruangan
dengan raut wajah seganas iblis.
Setelah itu, Kepala Sekolah Inea yang berkunjung ke ruang
medis memerintahkan kami untuk bersiaga di asrama siswa pada siang harinya.
Saat ini, aku baru saja kembali ke asrama bersama Silket.
Orang itu telah menolongku dua kali. Pertama, dia
menyelamatkan nyawa bawahanku yang berharga, Silket, dan kedua, dia
menyelamatkan harga diriku, Ares.
Terlebih lagi, dia selalu muncul di saat aku berada
dalam situasi krisis. Seolah-olah dia selalu mengawasiku dari jauh. Ini adalah
pengalaman pertama dalam hidupku.
"Kira-kira siapa dia sebenarnya..."
"Dia adalah Kai Heineman, kan? Dengan kekuatan yang
begitu luar biasa, dia pasti salah satu dari pilar dewa yang mendiami dunia
ini."
Atas jawaban Silket itu, aku pun membalas.
"Bukan, bukan itu maksudku..."
Itu bukanlah jawaban yang kuharapkan. Tapi, kalau begitu,
jawaban seperti apa yang sebenarnya sedang kutunggu?
"..."
Silket menatapku lekat-lekat untuk beberapa saat, lalu
seolah menyadari sesuatu, dia menyatukan kedua tangannya dan mengangguk
berulang kali dengan senyum gembira.
"Begitu rupanya! Nona Ares penasaran dengan pria
itu, ya! Syukurlah! Kalau itu dia, Ayahanda dan Kakekanda pasti akan
merestuinya!"
Sejak kejadian kali ini, segala kewaspadaan Silket
terhadapnya telah lenyap tak berbekas.
Silket adalah mantan perwira militer. Selain karena
kekuatannya yang luar biasa, kurasa dia juga bersimpati dengan cara hidupnya
yang tidak terikat oleh apa pun.
"B-Bukan begitu! Maksudku bukan seperti
itu!"
Aku berusaha keras menyangkalnya, tapi aku sadar
wajahku terasa panas.
"Ariel, Silket, boleh aku mengganggu
sebentar?"
Hanya dengan mendengar suara itu, jantungku langsung
berdegup kencang.
Saat kulihat, Silket mengangguk dengan wajah penuh
kebanggaan, lalu membuka pintu kamar. Di pintu masuk, berdirilah orang yang
baru saja kupikirkan.
"Oh, Tuan Kai. Kalau begitu, aku akan kembali ke
kamarku untuk mengulang pelajaran. Sampai jumpa!"
"Tunggu, Silket—"
Silket mengacungkan jempolnya padaku lalu keluar dari
kamar. Dia memang pilar yang sangat pengertian dan sangat kompeten, tapi
terkadang dia suka salah paham.
"Kalian berdua, apa kalian baik-baik saja?"
"I-Iya."
Dia mengkhawatirkan keselamatanku. Menyadari kenyataan
itu, kurasakan kehangatan menjalar di lubuk hatiku.
"Maaf soal yang tadi. Ini benar-benar di luar
perhitunganku. Aku sudah menduga dia akan mencari masalah dengan Seth lagi,
tapi aku tidak menyangka akan sampai seperti itu."
"Eh? Seth?"
Aku bisa merasakan perasaanku mengempis dengan cepat.
Sebagai gantinya, rasa malu yang luar biasa mulai menyelimuti diriku.
Begitu ya. Jadi yang dilindungi Kai bukanlah Ares,
melainkan gadis bernama Seth itu.
"Dia punya sedikit masalah. Tolong perhatikan juga
dia mulai sekarang, ya."
"Baik... saya mengerti. Apakah hanya itu yang ingin
Anda sampaikan?"
Tujuan kedatangannya ke sini pun ternyata untuk memintaku
melindungi gadis bernama Seth itu.
"Y-Ya, begitulah. Tapi, apa mungkin kau sedang marah
sekarang?"
Mungkin karena jarang-jarang dia merasa bingung, suara
Kai yang menanyakan hal itu terdengar sedikit melengking.
"Tidak, saya tidak marah! Saya baru ingat ada
urusan! Silakan Anda pergi sekarang!"
Aku bangkit berdiri dan berteriak layaknya anak kecil
yang sedang mengamuk.
Kai menghela napas panjang dan berkata,
"Hari ini ada banyak hal yang terjadi, jadi
beristirahatlah dengan tenang."
Tepat saat dia melontarkan kata-kata manis semacam itu,
Kai berbalik dan bersiap untuk pergi.
Sembari merasakan penyesalan mendalam atas kata-kata
kasarku tadi, rasa gelisah yang hebat muncul saat membiarkannya pergi begitu
saja.
"Tunggu—"
Saat aku mengulurkan tangan kiriku untuk memanggilnya,
kakiku tersandung dan aku pun terjatuh.
Tepat sebelum wajahku menghantam lantai dengan memalukan,
seseorang menangkapku.
Wajah Kai berada tepat di depan mata dan hidungku. Fakta
itu membuat wajahku memanas seperti teko mendidih, dan mulutku bergetar tak
karuan.
"Hati-hati. Walaupun kau, kalau jatuhnya parah, kau
bisa terluka parah, lho."
Sambil memegang kedua bahuku, Kai tersenyum dan berkata
demikian, lalu dia benar-benar meninggalkan kamar.
Tiba-tiba, seluruh tenagaku terkuras habis, dan aku
menjatuhkan diri ke sofa di asrama.
(Apa yang terjadi padaku?)
Aku mencoba bertanya pada diriku sendiri, tapi aku bahkan
tidak mengerti perasaanku sendiri. Mana mungkin aku bisa menemukan jawabannya.
Kalau dipikir-pikir lagi, dari sikapnya terhadap teman
masa kecilnya, Lumine, terlihat jelas bahwa Kai jauh lebih perhatian daripada
kelihatannya.
Lagipula, pertemanannya di Babel ini sangatlah luas.
Khususnya dengan Inea, Kepala Sekolah Akademi Ouboro saat
ini, dia juga tampaknya sudah mengenalnya.
Jadi, wajar saja jika Inea memintanya untuk melindungi
teman sekelasnya, Seth Accard.
Oleh karena itu, kemungkinan hubungan antara Kai dan Seth
seperti yang sedang kubayangkan sangatlah kecil. Tapi, kenapa ya? Kenapa dadaku
terasa sesak begini?
"Aku ingin lebih mengenalnya..."
Pada saat itu, kurasa aku benar-benar ingin tahu pilar
seperti apakah dirinya itu.
Keesokan harinya,
karena penyelidikan atas serangkaian insiden tersebut, kegiatan belajar
mengajar Kelas A1 diliburkan.
Karena ingin memikirkan sesuatu sendirian, aku
memberitahu Silket bahwa aku akan pergi ke kota untuk membeli bahan makan
malam.
Awalnya aku mengira dia akan menentang keras karena
berbahaya, tetapi entah kenapa dia langsung menyetujuinya dengan mudah.
Hal yang ingin kupikirkan hanya satu, yaitu tentang Kai
Heineman.
Kemarin, Ares malah mengusir orang yang sudah seperti
pahlawan penyelamat karena telah menolong Ares dan Silket sebanyak dua kali.
Jika Ares berada di posisinya, dia pasti akan merasa
marah karena diperlakukan tidak sopan seperti itu.
Meskipun begitu, pria itu tetap bersikap lembut pada Ares
hingga akhir dan bahkan memberikan kata-kata penyemangat.
Namun, dia hanya menolong Ares sebagai kebetulan saat
melindungi Seth Accard.
Tidak ada makna mendalam di balik tindakannya itu. Memikirkan hal tersebut membuat dadaku terasa sesak.
Percuma saja. Sebanyak apa pun aku memikirkannya,
ujung-ujungnya hanya berputar di tempat.
Bagaimanapun juga, Ares sudah terlalu terobsesi
dengannya.
Aku benar-benar ingin menghindari agar tidak dibenci
olehnya seperti ini.
"Aku akan menemuinya dan meminta maaf!"
Saat aku akhirnya membulatkan tekad, terdengar suara
tangisan anak kecil.
Ketika mataku mengembara mencari sumber suara tersebut,
kulihat seorang gadis kecil berusia sekitar tujuh hingga delapan tahun sedang
menangis keras.
Baru saja aku hendak mendekat, orang yang paling ingin
kutemui saat ini malah berjongkok di depan gadis itu.
"Ada apa?"
Kai Heineman bertanya alasan gadis itu menangis dengan
nada bicara yang lembut.
"―!?"
Namun, begitu melihat wajah Kai, wajah gadis itu langsung
menegang dan dia mulai menangis dengan suara yang lebih keras.
Dari sini wajahnya terhalang oleh punggungnya sehingga
aku tidak bisa melihatnya.
Sebenarnya ekspresi seperti apa yang dia buat sampai bisa
membuat anak kecil menangis seperti itu?
"Gawat juga, nih. Kalau begini, aku benar-benar bisa
kehilangan kepercayaan diri."
Melihat Kai yang biasanya selalu tenang secara
menyebalkan itu kini malah memegangi wajahnya dengan tangan kiri dan terlihat
kebingungan, entah kenapa hal itu terasa sangat lucu.
Sambil menahan tawa sekuat tenaga, aku mendekatinya.
"Kai, biarkan aku yang mengurusnya."
Aku memberitahu Kai secara singkat bahwa Ares yang akan
mengambil alih. Dan kemudian—
"Siapa namamu?"
Aku berdiri di depan gadis itu lalu berjongkok untuk
menyejajarkan pandangan, dan bertanya dengan lembut.
"Mai Miyato."
Mendengar nama itu, alis Kai sedikit terangkat.
Setidaknya, tidak diragukan lagi bahwa dia mengenali nama itu.
"Mai, ada apa?"
"Ibuku menghilang!"
Anak hilang, ya. Dilihat dari pakaiannya, anak ini
mungkin berasal dari Butou, sebuah negara besar di timur.
Ada banyak orang dari berbagai negara di seluruh
dunia yang mengunjungi Babel ini dengan berbagai macam tujuan.
Jadi, bukan hal yang aneh jika ada anak kecil di
sini.
"Begitu, ya. Kalau begitu, ayo kita cari
sama-sama."
"Iya!"
"Kai, Anda tidak keberatan, kan?"
"Ya, tentu saja."
Kai tersenyum dan mengangguk pelan. Gadis itu memandangi
Kai dari balik punggung Ares dengan sembunyi-sembunyi.
"Paman tidak takut?"
Dia bertanya pada Ares.
"Tidak apa-apa. Meski penampilannya seperti itu, dia
orang yang baik, lho."
"Bagian 'meski penampilannya seperti itu'
benar-benar tidak perlu. Ya ampun, dewa raja iblis dari mana yang bisa membuat
anak kecil menangis hanya dengan tersenyum."
Kai bergumam mengeluh.
"Kalau begitu, mari kita pergi mencari ibu anak
ini."
"Benar juga."
Kai juga mengangguk dan mulai berjalan.
Awalnya saja gadis itu takut pada Kai. Tak lama kemudian,
dia sudah menggandeng tangan Ares dan Kai di kedua sisinya sambil berbicara
dengan riang.
Malahan, pada akhirnya dia jadi lebih lengket pada Kai
daripada Ares.
"Hee, jadi kamu datang ke Babel ini untuk menolong
ayahmu yang akan bertemu dengan orang yang lebih menakutkan dari raja
iblis?"
"Iya! Ayah sangat ketakutan sampai tidak bisa tidur
nyenyak di malam hari, jadi aku ikut untuk menemaninya."
Jika itu adalah pertemuan dengan orang semenakutkan itu,
aku yakin kedua orang tuanya pasti tidak ingin membawanya serta.
"Begitu, ya... Jadi dia sebegitu ketakutannya,
ya..."
Melihat Kai yang mengerang dengan wajah seolah baru
saja menelan pil pahit,
"Iya! Dia saaaangat saaangat ketakutan dan mengigau
setiap hari."
"Aku benar-benar telah melakukan hal yang
kejam..."
Mendengar Kai bergumam pelan sambil menundukkan
bahunya yang lemas,
"Kenapa Kai yang minta maaf?"
Mai bertanya dengan wajah kebingungan.
"Tidak, ini urusan orang dewasa."
Kai mengelus kepala Mai untuk mengalihkan pembicaraan,
namun Mai malah menggembungkan pipinya.
"Uuuh, jangan perlakukan aku seperti anak
kecil!"
Dia melontarkan protes.
"Maaf, maaf."
Melihat Kai yang tersenyum kecut,
"Aku maafkan, deh! Hei, apa Kai dan Ariel itu
sepasang kekasih?"
Mai bertanya sambil tersipu malu-malu.
"A-A-Apa!?"
Tubuhku terasa panas seperti terbakar karena malu hingga
aku tidak bisa membalas perkataannya dengan baik.
"Bukan, kok. Aku dan dia cuma berteman. Dia
punya seseorang yang lebih pantas untuknya."
Tanpa menunjukkan sedikit pun kegoyahan, Kai menjawabnya.
"Begitu, ya! Tentu saja. Habisnya Kai sepertinya
tidak populer, sih! Kalau begitu, Mai saja yang jadi istrimu!"
"Bagian 'tidak populer' itu tidak perlu. Tapi
baiklah, jika saat kamu dewasa nanti perasaan Mai belum berubah, aku akan
mengajukan diri sebagai kandidat."
Mendengar Kai mengucapkan kalimat ajaib yang biasa
digunakan orang dewasa untuk mengelabui anak-anak sambil kembali mengelus
kepalanya,
"Iya! Tunggu saja, ya! Kata Ibu, Mai akan tumbuh
jadi wanita cantik, lho!"
Dia merespons dengan penuh semangat.
"Begitu, ya. Aku akan menunggunya."
Saking lucunya, aku memalingkan wajah dan menutup
mulutku untuk menahan tawa.
"Menunggu saja tidak cukup! Kai juga harus
memperbaiki diri agar jadi pria yang lebih baik!"
Mai melepaskan tangannya dari kami, lalu berdiri di
depanku sambil meletakkan kedua tangan di pinggang dan menunjuk Kai sambil
berseru.
"B-Baiklah. Akan kuusahakan."
Sudah tidak tertahan lagi. Ini benar-benar curang. Pada
akhirnya aku tertawa terbahak-bahak.
"Apa itu selucu itu?"
Saat Kai menatapku dengan mata setengah tertutup,
"Tidak, tidak. Syukurlah, Kai. Anda harus
memperbaiki diri agar bisa menjadi suami yang hebat, lho."
Melihat Kai yang biasanya seperti itu malah terseret ke
dalam ritme seorang anak kecil, entah bagaimana hal itu sangat mengenai titik
tawaku. Aku benar-benar tidak bisa berhenti tertawa.
"Mai!"
Terdengar suara seorang wanita. Saat aku menoleh,
kulihat seorang wanita berambut hitam panjang berlari ke arah kami.
"Ibu!"
Mai juga berteriak dan memeluk wanita berambut hitam
itu.
"Kai dan Ariel membantuku mencari Ibu,
lho!"
"Kai..."
Ibu Mai menoleh kaku seperti boneka kaleng. Begitu melihat Kai, wajahnya langsung menegang pucat pasi dengan luar
biasa.
"Mai, sampai jumpa lagi, ya."
Hanya mengatakan hal itu, Kai langsung berbalik dan
menjauh dari Mai dan ibunya. Aku buru-buru menyusul Kai.
"Kai, apakah Anda mengenal ibu Mai?"
"Sedikit. Bukan kenalan yang penting, kok.
Lagipula, sepertinya kamu sudah kembali ceria, ya?"
"I-Iya."
"Syukurlah kalau begitu."
Setelah itu, aku memberitahunya bahwa aku sedang
dalam perjalanan untuk membeli makan malam. Dengan sangat baik hati, Kai
menemaniku.
Kami membeli bahan makan malam di pusat perbelanjaan
Distrik Barat Babel, lalu berjalan berdua menuju asrama siswa Akademi Ouboro.
Karena Kai menawarkan diri untuk mengantarku sampai ke
asrama, aku pun menerima kebaikannya itu.
Setelah berjalan beberapa saat, asrama Akademi Ouboro pun
mulai terlihat.
Karena itulah, aku membulatkan tekad dan menanyakan hal
yang paling ingin kuketahui saat ini.
"Hei, Kai?"
"Hm, ada apa?"
"Jika aku berada dalam bahaya lagi, apakah Anda akan
datang menolongku?"
Di tengah jantungku yang berdebar kencang,
"Tentu saja aku akan menolongmu."
"B-Begitu, ya! Terima kasih! Sampai jumpa lagi di
sekolah, ya!"
Sadar wajahku memanas mendengar jawaban itu, Ares
berbalik memunggungi Kai dan berlari menuju asrama.
◇◆◇
Di dalam sebuah rumah tua yang lapuk di ujung tenggara
Distrik Keenam, terdapat belasan Elf dan seorang pria jangkung bertopi.
"Si tak berguna sialan itul—! Aku
ini adalah penerus utama keluarga Rosette, Kuko Rosette!"
Dengan separuh kiri wajahnya yang berkedut-kedut karena
kejang, dia berteriak marah.
Sejak nyaris dibunuh oleh si tak berguna itu, otot-otot
di separuh wajahnya mengalami kejang dan tak bisa berhenti berkedut.
"Guru Kuko, aku juga pernah dibuat menderita
olehnya! Makanya aku sangat mengerti perasaan Anda!"
Torla mencoba memahami perasaan Kuko. Tindakan itu justru
memicu rasa malu dan amarah yang luar biasa dalam dirinya.
"Ah, terima kasih, Torla."
Dia sama sekali tidak bisa memaafkan bocah manja yang
hanya bermodal bakat tapi miskin pengalaman ini, yang merasa sok mengerti
tentang dirinya.
Satu-satunya yang benar-benar memahami Kuko hanyalah Tuan
Dagon yang berdiri di depan dan menatap mereka dengan penuh belas kasihan.
Tuan Dagon bangkit dari kursinya, mendekati Kuko dan
Torla, lalu menepuk bahu mereka. Dan kemudian—
"Tidak diragukan lagi, kalian adalah ras unggul yang
dipilih oleh surga. Namun, kalian berdua yang merupakan ras unggul ini, malah
kalah dari orang tak berguna yang merupakan ras rendahan."
"Ini adalah fakta yang tak terbantahkan. Tahukah
kalian betapa besar guncangan yang ditimbulkan oleh fakta ini pada para siswa
dan guru Akademi St.Clan, ya?"
Dengan wajah penuh kesedihan yang mendalam, dia
melontarkan pertanyaan itu.
"Te-Tentu saja kami tahu!"
"Ya, aku juga tahu!"
Mereka sangat memahami apa yang ingin disampaikan oleh
Tuan Dagon. Elf adalah ras unggul di dunia ini, eksistensi mulia yang berhak
menguasai yang lain.
Namun, Kuko dan Torla yang merupakan petinggi ras unggul
itu, malah kalah dari Kai Heineman, orang paling rendah dan tak berbakat di
dunia ini.
Jika fakta ini tersebar, masyarakat mungkin akan mulai
meragukan ideologi luhur Libra. Jika itu terjadi, dunia ini mungkin akan
melangkah ke jalan yang salah. Dan itu semua gara-gara Kuko.
"Kalau begitu, kalian harus membuktikannya! Bahwa
ras unggul jauh lebih hebat daripada ras rendahan! Kepada siswa dan guru Akademi
St.Clan! Dan lebih dari itu, kepada seluruh makhluk yang hidup di dunia
ini!"
Dagon merentangkan kedua tangannya lebar-lebar dan
menengadah ke langit sambil berseru lantang.
"Aku akan melakukannya! Aku pasti akan melenyapkan
si tak berguna itu!"
Kuko memuntahkan hasrat yang membara di dalam hatinya.
"Aku juga tidak akan pernah kalah lagi!"
Torla juga mengepalkan kedua tangannya erat-erat dan
melontarkan sumpah.
"Tepat satu minggu dari sekarang, festival
pembangunan gedung baru akan diselenggarakan di Akademi St.Clan. Pada hari itu,
para petinggi dari berbagai negara di seluruh dunia juga akan hadir, ya."
"Di sanalah kalian akan mempermalukan si tak berguna
itu di depan umum! Ya, hancurkan dia secara menyeluruh, ya!"
"Tapi, si tak berguna itu sangat kuat dan di
luar nalar, lho?"
Salah satu siswa laki-laki pengikut Torla bertanya
ragu-ragu kepada Dagon.
"Aku tahu hal itu, ya. Kemungkinan
besar, si tak berguna itu telah membuat kontrak dengan dewa jahat, ya."
"De-Dewa jahat!?"
"Benar, dewa yang jahat, ya. Berdasarkan
penyelidikan, si tak berguna itu selalu memicu keributan di seluruh dunia
setelah melakukan perjalanan kerja dari kota perbatasan, ya."
"Lalu, selama berada di kota terpencil bernama Ramur
itu, si tak berguna itu benar-benar tidak bisa apa-apa. Ini adalah fakta pasti
yang terungkap dari hasil penyelidikan, ya."
"Itu berarti, setelah pergi dari kota bernama Ramur
itu, dia menjadi tawanan dewa jahat?"
"Yah, alih-alih tawanan, dia mungkin lebih cocok
disebut budak, ya. Tapi, meski hanya seorang budak, kekuatan dewa adalah
sesuatu yang mutlak!"
"Di dalam hukum dunia fana ini, tidak ada cara untuk
bisa melawannya, ya!"
"Ta-Tapi, kalau si tak berguna itu memiliki kekuatan
dewa, kita tidak mungkin bisa menang, kan..."
Seorang Elf perempuan berkata dengan suara bergetar
pelan.
"Kalian tidak perlu khawatir! Jika musuh meminjam
kekuatan dewa, maka kita hanya perlu menjadi dewa juga, ya!"
Sambil berputar-putar riang, Dagon berpose aneh sambil
menggerak-gerakkan tangannya seperti gelombang, lalu melambaikan tangan
kirinya.
"Kita menjadi dewa!? Apa hal seperti itu mungkin
dilakukan!?"
"Ya, itu bisa dilakukan dengan menggunakan Artefak
Dewa Transenden yang dianugerahkan dewa kepada negara Lorelei, yakni 'Pedang
Penciptaan Langit dan Bumi', ya!"
"Kudengar itu adalah pedang yang terlibat dalam
berdirinya negara Lorelei dan baru-baru ini digali dari ruang harta karun.
Memangnya efek apa yang dimiliki Artefak Dewa itu?"
"Itu adalah Artefak Dewa yang bisa mengubah apa pun
yang ditebasnya sesuai dengan keinginan kita, ya."
"Mengubah apa pun yang ditebasnya sesuai
keinginan..."
Melihat para Elf di ruangan itu memasang ekspresi
kebingungan.
"Sepertinya kalian belum memahaminya, ya. Secara
harafiah, kalian bisa mengubah apa pun yang kalian tebas menjadi apa yang
kalian bayangkan, ya."
"Jika membayangkan emas, ia akan menjadi emas. Jika
membayangkan binatang buas, ia akan menjadi binatang buas. Jika membayangkan
monster, ia akan menjadi monster."
"Dan mungkin saja—jika kalian membayangkan dewa, ia
akan menjadi dewa, ya."
Mendengar perkataan Dagon yang seolah penuh penekanan
itu, tidak ada satu pun yang berani membuka mulut. Tentu saja.
Jika pedang semacam itu benar-benar ada, itu berarti
mereka bisa menciptakan eksistensi yang bahkan menguasai hukum dunia ini. Dan
itu artinya—
"Jika kita bisa mendapatkan pedang itu—"
"Ya, kita bahkan akan bisa melampaui dewa itu
sendiri, yaaaa!"
Dagon kembali menengadah ke langit dan berteriak dengan
suara yang memekakkan telinga.
Sesaat kemudian, sorak-sorai bagaikan raungan meledak
dari para Elf di seluruh penjuru ruangan.
Orang ini memang berada di level yang berbeda. Meski
hanya firasat, tapi pria ini bukanlah manusia. Melainkan sesuatu yang jauh
lebih besar.
"Tuan Dagon, kumohon tunjukkanlah jalan kepada
kami!"
Kuko berlutut dan menundukkan kepalanya, dan secara
alami, para Elf di ruangan itu pun ikut melakukan hal yang sama.
"Si tak berguna yang sekarang sudah memiliki
kekuatan dewa. Jika kalian melawannya secara langsung, kekalahan adalah sesuatu
yang mutlak. Karena itu, kita harus memanfaatkan 'alat bermain' dengan
efisien, ya!"
"Alat bermain yang Anda maksud?"
"Kelemahan yang memaksa pria itu untuk melindunginya
dua kali berturut-turut! Gadis kuil dari dewa jahat yang telah dicuci otaknya
oleh bajingan yang jatuh ke dalam kejahatan itu!"
"Kita akan menggunakan wanita terkutuk itu sebagai
umpan untuk menyelesaikan misi kita, ya!"
"Oh, jadi maksudnya kita akan menghajar
habis-habisan si tak berguna itu setelah kita berubah menjadi dewa, ya!?"
Mendengar pertanyaan Torla, Tuan Dagon mengangguk
dalam diam.
Dasar bodoh! Mana mungkin orang sepertimu akan
dijadikan dewa. Yang akan menjadi dewa adalah Kuko ini, eksekutor setia Tuan
Dagon.
Aku tidak akan pernah menyerahkan hak istimewa untuk bisa
berada di sisinya kepada siapa pun! Karena itu—
"Tuan Dagon! Tolong berikanlah kehormatan besar
untuk menjadi orang pertama yang menggunakan Artefak Dewa itu kepada saya, Kuko
ini!"
"Guru Kuko, Anda ini—"
Torla dengan tidak sopan mencoba menyela pembicaraan,
namun,
"Tidak masalah, ya. Pada akhirnya, kalian semua akan
dijadikan dewa, ya. Seperti kata Torla, setelah menjadi dewa, kalian bisa
menghukum si tak berguna itu secara perlahan, ya."
"Guru Kuko, tolong sisakan juga jatah untukku,
ya!"
"Ya, tentu saja."
Kuko mengangguk mantap, melontarkan kata-kata dusta. Sampah seperti anak ini tidak pantas menjadi dewa.
Hanya mereka yang pantas mendampingi Tuan Dagon
sajalah yang berhak mendapatkan kualifikasi sebagai dewa!
"Kalau begitu, semuanya, saya pamit undur diri
dulu, ya."
"Baik!"
"Terima kasih atas kedatangan Anda."
Kuko dan yang lainnya berlutut dan menyampaikan rasa
terima kasih mereka yang tulus. Dagon melepas topinya dan meletakkannya di
dada, membungkuk ringan, lalu keluar dari ruangan tersebut.
Setelah keluar dari pintu depan, Dagon menatap rumah tua
yang lapuk itu.
"Benar-benar makhluk bersel tunggal yang sudah tidak
bisa diselamatkan, ya. Mau sekuat apa pun makhluk rendahan seperti kalian
diperkuat, tidak mungkin kalian bisa menang melawan kerabat dari makhluk 'itu',
ya."
"Mereka hanyalah mainan kesayangan Yang Mulia dari
jurang terdalam. Peran kalian tidak lebih dari sekadar tumbal."
"Tumbal untuk mewujudkan Yang Mulia ke dunia ini,
ya."
Dagon mengangkat sudut bibirnya dan menyeringai jelek
sambil menggumamkan hal itu.
"Tapi, mengabaikan si kerabat yang bernama Kai
Heineman itu, kalau eksistensi aslinya sendiri yang maju, ini akan jadi sedikit
merepotkan, ya. Sepertinya memusnahkannya adalah sesuatu yang mutlak, ya."
Saat menggumamkan kata-kata itu, rupa Dagon
benar-benar tampak seperti monster yang muncul dalam dongeng-dongeng
mengerikan.
—Pada saat itu, Dagon melakukan kesalahan yang sangat
fatal. Dia telah salah menilai lawan yang seharusnya paling dihindarinya.
Dagon adalah salah satu pilar dari organisasi terkuat
yang pernah merajalela di masa lalu. Jumlah lawan yang bisa menjadi ancaman
baginya di dunia yang lemah ini sangatlah terbatas.
Mungkin ini adalah kesalahan kecil yang tak terelakkan.
Namun, kesalahpahaman sepele yang sangat masuk akal itu
justru membangkitkan murka dari monster terkuat di dunia ini.
Suara kehancuran yang bermula dari obsesi sang iblis
balas dendam mulai terwujud dengan jelas, dan bersiap bergema tepat di atas
kepala Dagon dan para pembawa bencana dari masa lalu lainnya.
◇◆◇
Sebuah alun-alun yang dikelilingi oleh tebing tinggi
tanpa batas—tempat itu bisa dibilang sebagai titik awal bagi orang-orang dari
Ensiklopedia Penaklukan.
Lebih tepatnya, ini adalah tempat suci yang dibuat
semirip mungkin dengan tempat bermulanya Gods' Ordeal, masa di mana
mereka menghabiskan waktu bertahun-tahun bersama Yang Mulia Tertinggi.
Hanya segelintir orang dari Ensiklopedia Penaklukan yang
diizinkan untuk menginjakkan kaki di tempat ini.
Di meja bundar raksasa yang berada di tengah alun-alun
itu, para pemimpin dari masing-masing faksi sedang duduk berkumpul.
"Kekuatan asing yang menyusup ke Lemuria ini, ya.
Kalau levelnya cuma segitu, kalian pasti bisa meremukkannya dalam sekejap,
kan?"
Arch, yang hadir mewakili fraksi Asmodeus sebagai
pengganti Shiro Bear, menyilangkan kedua tangan di belakang lehernya dan
bersandar santai di sandaran kursi.
Sambil melirik monster-monster lain yang duduk
bersamanya, dia melontarkan komentar tanpa ketegangan sedikit pun.
"Maaf atas kelancangan pendatang baru ini. Tapi
aku juga setuju dengannya. Aku tidak yakin ada makhluk di dunia ini yang bisa
mengalahkan jajaran orang-orang di sini."
"Siapa pun mereka, kita tinggal menginjaknya sampai
hancur lalu masalah selesai."
Asura menyilangkan lengannya dan melontarkan pernyataan
tegas. Perkataan Asura yang merupakan kekuatan tempur tertinggi Pasukan Jahat
itu sangatlah akurat.
Buktinya, hampir tidak ada satupun yang mengajukan
keberatan atas kata-katanya.
Namun—
"Masalahnya bukan soal kuat atau tidaknya
mereka."
"Benar juga... Tujuan mereka pasti untuk
menciptakan kembali medan perang yang kacau balau waktu itu, kan."
Shuten-doji meneguk sake dari botolnya dan melontarkan
kalimat penuh makna tersebut.
"Medan perang yang kacau balau?"
Athena mengernyitkan alis indahnya dan melontarkan
pertanyaan.
"Ya ampun, kalian dari generasi baru ternyata tidak
tahu, ya. Itu adalah perang besar dan terburuk yang pernah terjadi di era masa
lalu..."
Melihat ekspresi muram Ladon yang tidak seperti biasanya,
semua orang memasang raut wajah kebingungan.
"Ragnarok... Perang besar kuno tempat para dewa
besar generasi masa lalu musnah satu per satu..."
"Lalu, setelah perang itu berakhir, mereka yang
selamat mendirikan Pasukan Surga dan Pasukan Jahat demi memperkuat kekuasaan
mereka agar kesalahan yang sama tidak terulang lagi... Benar begitu, kan?"
Mendengar pertanyaan Nemesis,
"Benar sekali. Meskipun pada akhirnya Pasukan
Surga dan Pasukan Jahat itu pun langsung berubah menjadi kawah perebutan
kepentingan dan perebutan kekuasaan yang tidak berguna."
Ladon memutar wajah naganya dengan muak dan
meludahkannya kata-katanya.
"Mari kembali ke topik utama. Apa sebenarnya tujuan
kekuatan asing itu untuk memicu kembali perang besar dari masa lalu?"
Yang menjawab pertanyaan inti dari Girimekhala itu
adalah,
"Hanya sekadar untuk membuang-buang waktu."
Itu adalah suara Asta.
"Membuang-buang waktu?"
"Ada seorang psikopat yang sangat menjijikkan yang
menjadikan amarah, kebencian, kecemburuan, ketakutan, keterkejutan, dan
penghinaan yang meluap di dunia ini sebagai makanannya."
"Dalam perang besar kala itu, banyak dewa besar yang
kuat musnah akibat menari di atas telapak tangannya. Tuan yang kulayani pun
bernasib sama."
Asta bergumam dengan nada yang agak sedih.
"Psikopat yang kau maksud itu, belum musnah,
kan?"
Mata ketiga Girimekhala bersinar misterius saat bertanya
pada Asta.
"Perang besar kala itu berakhir setelah para
psikopat penguasa masa lalu disegel di ruang dimensi lain. Karena itulah, aku
tidak pernah memedulikannya sampai sekarang."
"Tapi, aku telah menemukan celah dari segel
tersebut."
"Apa itu berarti Dagon, si eksistensi misterius yang
dilaporkan itu?"
"Dia tidak diragukan lagi adalah kerabatnya. Itu berarti, segel itu sudah..."
"Sudah terlepas... begitu, ya."
Untuk sesaat, api kebencian yang begitu kuat hingga
bisa disebut sebagai dendam membara di dasar kedua mata Shuten-doji.
"Asta, kau bermaksud bilang agar kita tidak
perlu lagi mencampuri rencana mereka karena orang itu sangat berbahaya. Kau
ingin bilang begitu, kan?"
"Ini bukan soal kuat atau lemah! Bahayanya bukan
hal sesederhana itu! Begitu dia tertarik padamu, dia akan terus menempel dan
menguntitmu tanpa henti."
"Dan di akhir pertarungan panjang yang
berlarut-larut seperti rawa lumpur itu, sebagian besar hal penting milik Master
pasti akan terampas! Aku tidak ingin melihat pemandangan seperti itu untuk yang
kedua kalinya!"
Mendengar teriakan Asta yang penuh kepedihan itu,
"Guha! Gufufuguhahaha—!"
Tiba-tiba, Girimekhala tertawa terbahak-bahak.
"Apa yang lucu!?"
Saat Asta bertanya dengan nada kesal,
"Pemikiran yang benar-benar bodoh. Tentu saja
itu lucu."
Sambil memegangi perutnya, Girimekhala terus tertawa
hingga matanya berair.
"Girimekhala, kau—"
Asta bangkit berdiri dan hendak menerjangnya, tapi,
"Aku juga setuju dengan Girimekhala."
"Nemea! Kau juga—"
"Lagipula, Yang Mulia dikuntit dan hartanya
dirampas? Bukankah yang terjadi justru sebaliknya?"
Mendengar ucapan Nemea yang sedang mengorek telinga
dengan jari kelingking kiri tanpa merasa tegang sedikit pun, semua orang di
sana terdiam dan berpikir sejenak.
"Benar juga. Kalau dipikir-pikir, jawaban yang benar
adalah mereka akan memancing amarah Tuan Kai lalu lari pontang-panting demi
menyelamatkan nyawa, kan? Sama seperti yang terjadi pada kita dulu, tahu?"
Mendengar poin yang sangat masuk akal dari Asura
tersebut,
"Aku setuju. Kau bilang dia suka menempel, tapi
kurasa Yang Mulia juga tidak jauh berbeda."
"Kenyataannya, empat dari Enam Jenderal Besar
Pasukan Jahat telah dikalahkan, dan kita praktis berada di ambang kehancuran.
Di pihak Pasukan Surga pun, salah satu dari Enam Dewa Langit, Tartarus, dengan
mudahnya dibunuh oleh Yang Mulia, lalu kepalanya yang terpenggal dikirimkan ke
markas mereka."
"Terlebih lagi, kepala itu dilengkapi dengan kutukan
mengerikan sebagai oleh-oleh. Bukankah banyak dari mereka yang tewas karena
itu?"
Mengirimkan bom kutukan ke markas Pasukan Surga.
Itu secara tidak langsung menunjukkan bahwa ia memiliki
kekuatan untuk menembus segala bentuk pertahanan musuh.
Jika perasaan Pasukan Surga harus diungkapkan dengan
kata-kata, itu sama halnya dengan memiliki pisau tajam yang terus-menerus
ditempelkan di leher mereka.
Dengan kata lain, pesan dari Kai Heineman yang tersirat
dalam bom tersebut adalah, "Jika kalian membuatku merasa tidak nyaman
lagi, aku akan langsung membunuh kalian." Sebuah pesan ancaman yang sangat
kuat.
"Di kastil tempat tinggal Odin, dia juga menanam
kepala terpenggal Mayor Jenderal Pasukan Surga, Veig, di sebuah pot tanaman
lalu mengirimkannya ke sana. Menurutku, si Odin itu pasti sangat ketakutan
melihatnya."
Dengan pandangan menerawang, Shuten Douji bergumam dengan
ekspresi yang benar-benar muak.
"K-kalian, apa kalian benar-benar melakukan hal
semacam itu?!"
Asura berteriak dengan nada ngeri.
"Yang mengeksekusinya, sebagian besar adalah
kelompok faksi Raja Lalat, kan?"
Shuten Douji melemparkan topik pembicaraan pada P.
Princess Fly yang duduk di sebelahnya.
"Itu bukan kehendak kami, melainkan instruksi dari
Tuan. Beliau sangatlah kejam terhadap orang yang dianggap tidak bisa
diselamatkan, sampai-sampai hal itu membuatku merinding kegirangan!"
Sembari memeluk tubuhnya sendiri dengan ekspresi ekstasi,
P. Princess Fly berbicara dengan penuh gairah. Dia hadir mewakili Beelzebub
yang sedang absen.
"P. Princess Fly, menurutmu, apakah Tuan kita akan
direbut?"
Menanggapi pertanyaan Girimekhala, P. Princess Fly
mendengus tawa seolah meremehkannya.
"Pertanyaan bodoh. Memberi atau merebut, semuanya
murni tergantung pada kehendak Tuan."
"Pada zaman kuno tidak ada sosok seperti Beliau,
makanya perang besar yang konyol semacam itu bisa terjadi. Sesederhana
itu."
Dia menjawab dengan cepat dan santai.
"Benar, kengerian Tuan kita yang sebenarnya bukan
hanya pada kekuatannya! Melainkan pada kemampuannya membaca masa depan yang
begitu dalam, seolah Beliau bisa melihat segalanya!"
"Benar sekali! Tidak ada satu hal pun yang luput
dari prediksi Beliau! Oleh karena itu, jika ada kemungkinan Tuan kita direbut,
pasti penyebabnya adalah pemikiran kita yang lamban!"
"Singkatnya, kewajiban kita sebagai serangga hina
ini hanyalah bergerak sesuai keinginan Beliau!"
Girimekhala berdiri dari kursinya dengan mata merah
membelalak. Dia melontarkan omong kosong yang seharusnya
ditertawakan begitu saja.
"Tentu saja, tidak mungkin Tuan kita yang sangat
licik itu bisa dikalahkan oleh siapa pun."
"Kukuku, aku seperti bisa melihat wujud mereka yang
ketakutan dan lari kocar-kacir!"
Melihat Ladon yang mengangguk berkali-kali, yang lain pun
ikut menyetujuinya satu per satu.
"Lagi pula, Asta, kau juga sudah melihat pedang yang
diciptakan oleh Tuan kita, kan? Dengan menggunakan pedang itu, Beliau berencana
untuk menghukum serangga-serangga sialan yang beterbangan di sekitarnya!"
Mendengar perkataan Girimekhala yang begitu
bersemangat, Asta bereaksi.
"Kalian ini, apa kalian berniat menjadikan
pedang yang sangat berbahaya itu sebagai mainan? Barang itu bukanlah sesuatu
yang bisa diremehkan seperti itu—"
Asta yang pipinya berkedut, melontarkan kecaman yang
justru seperti menyiram minyak ke dalam kobaran api bagi Girimekhala dan yang
lainnya.
"Asalkan itu adalah keinginan dari Tuan Agung yang
kita percayai!"
Melihat ketiga mata Girimekhala yang tanpa keraguan dan
telah kehilangan kewarasannya, Asta terdiam.
"..."
Asta membuka mulutnya setengah dan menatap tanpa kata
sejenak, lalu menghela napas panjang. Kemudian dia kembali bersuara.
"Bisa-bisanya aku sampai benar-benar melupakan hal
itu. Dia adalah seorang pemain permainan yang mempermainkan dan mengendalikan
orang lain."
"Dengan kesadaran sebagai pelaku utama, dia
menggerakkan papan permainan dan menebarkan kebencian ke seluruh dunia.
Sementara itu, kelompok monster di sini bahkan tidak sadar bahwa mereka adalah
pemain."
"Mereka memaksakan ideologi mereka pada dunia dan
menjerumuskan dunia ini ke dalam kuali kekacauan. Entah mana yang sebenarnya
lebih buruk."
Asta bergumam dengan nada yang terdengar sangat lelah
dari lubuk hatinya.
"Kalau begitu, mari kita pikirkan rencana untuk
menjalankan kehendak dari Dewa Tertinggi kita!"
Bahkan tanpa mempedulikan sindiran Asta, seruan
Girimekhala itu menjadi pemicunya.
Para monster paling jahat dan terkuat di dunia ini pun
mulai merencanakan konspirasi jahat mereka dengan penuh suka cita.
◇◆◇
Akibat penjinakan hewan yang aku lakukan di kantin Akademi
St.Clan, banyak siswa yang mentalnya hancur dan membutuhkan perawatan di rumah.
Hasilnya, latihan gabungan di Akademi St.Clan pun ditunda
selama satu minggu.
Kemudian, terungkap juga alasan mengapa Nona Seth mencoba
makan siang di kantin pada saat itu.
Bahkan aku pun tidak pernah berpikir dia akan bisa makan
siang sendirian di kantin besar yang tidak tertib itu.
Aku pikir Rose yang sangat perhatian pasti akan makan
siang bersamanya.
Meskipun dibenci oleh beberapa orang, Rose adalah
satu-satunya wanita di dunia yang memiliki Gift 'Orang Suci' dan bahkan
merupakan seorang Tuan Putri yang memiliki hak waris takhta.
Aku terlalu meremehkan keadaan dengan berpikir bahwa
tidak akan ada orang bodoh yang berani meludahi temannya secara
terang-terangan.
Namun kenyataannya, Rose malah dipanggil oleh pihak Akademi
St.Clan.
Sepertinya tim investigasi akademi bergerak setelah
menerima laporan dari Kuko bahwa dia telah dihina oleh Rose terkait insiden
bekal makanan sebelumnya.
Tentu saja, masalah itu sebenarnya sudah diselesaikan
dengan petinggi akademi. Dilihat dari waktunya, instruksi dari Avery dan yang
lainnya pasti sudah turun.
Membawa paksa Rose setelah semua itu terjadi, sangat
masuk akal jika menganggap ini semua telah direncanakan.
Mulai dari sini hanyalah intuisiku, tapi kurasa anggota
tim investigasi itu juga merupakan elf yang sudah teracuni oleh ideologi
organisasi busuk bernama Libra. Libra sangat memusuhi Nona Seth dengan gigih.
Akan sangat wajar jika berpikir bahwa mereka bertindak
karena terhasut oleh kata-kata manis Kuko, didasari oleh ideologi Libra yang
ingin mempermalukan Nona Seth di depan umum.
Semenjak kejadian itu, Rose jatuh sakit karena terus
dihantui rasa bersalah.
Padahal itu sama sekali bukan salah Rose.
Lagipula, meskipun Rose tidak ada, insiden ini bisa
dihindari seandainya Nona Seth tidak makan siang sendirian di kandang babi itu.
Seperti dugaanku, awalnya Nona Seth sama sekali tidak
berniat makan di kantin Akademi St.Clan.
Nona Seth akhirnya makan siang di sana karena diajak oleh
teman sekelasnya dari kelas A1 Akademi Ouboro.
Teman-teman sekelasnya yang melihat langsung hukumanku
kepada para bedebah itu di kantin, menangis sambil melaporkan seluruh
kejadiannya kepada Elish.
Singkatnya, mereka diinstruksikan untuk mengajak Nona
Seth makan siang dengan ancaman yang menyangkut nasib orang tua, saudara, dan
kerabat mereka.
Mereka benar-benar kelompok yang otaknya hanya jalan
untuk urusan licik dan pengecut.
Saat ini, aku baru saja menerima laporan lanjutan
mengenai insiden tersebut di ruang kepala sekolah Akademi Ouboro.
"Saat ini Akademi St.Clan dan Akademi Ouboro sedang
dalam keadaan tegang. Bukankah kehadiran kita di upacara pemindahan fasilitas
akademi besok hanya akan berisiko memicu masalah baru?"
"Fakta bahwa Akademi St.Clan dan Akademi Ouboro
menjadi sekolah saudara akan diumumkan secara resmi di depan para tokoh penting
dari berbagai negara pada upacara besok. Kehadiran siswa Akademi Ouboro adalah
hal yang wajib."
Aku bisa merasakan tekad yang sangat kuat dari Avery saat
ini. Aku tidak tahu apa alasannya, tapi dia tidak akan mengubah keputusannya
tidak peduli apa yang kukatakan.
Kemungkinan besar, pameran pedang yang kuciptakan,
'Pedang Penciptaan Langit dan Bumi' itu sendiri, hanyalah umpan untuk menarik
para tokoh penting dari berbagai negara ke tempat ini. Avery berniat melakukan
sesuatu dengan memanfaatkan pedang ciptaanku dan Akademi Ouboro.
"Baiklah, aku mengerti. Jika itu pilihan kalian, aku
tidak berhak banyak bicara. Lakukan saja sesuka kalian."
Urusanku sudah selesai. Jika Akademi Ouboro juga hadir
besok, sembilan dari sepuluh kemungkinan pasti akan terjadi masalah.
Terutama dengan organisasi bodoh entah dari mana yang
berniat melakukan 'Penurunan Dewa' dan mengincar pedang itu.
"Ngomong-ngomong, dari mana kau mendapat informasi
soal menggunakan pedang itu untuk melakukan 'Penurunan Dewa'?"
"Itu... informasi dari mata-mata yang kususupkan ke
dalam Libra."
Dia berbohong. Entah itu hal baik atau buruk, Avery
bukanlah orang yang pandai berbohong.
Kemungkinan besar dia disuruh tutup mulut oleh orang yang
memberinya informasi tersebut. Yah, lagipula aku tidak terlalu peduli.
"Kalau begitu, aku permisi dulu."
"Tuan Kai—"
"Kau tidak perlu meminta maaf kepadaku."
"T-tapi—"
"Kau sudah meminta maaf kepada Nona Seth dan Ariel,
kan?"
"I-iya. Tentu saja sudah!"
"Kalau begitu permintaan maaf untukku tidak
diperlukan. Aku hanya menyingkirkan pengganggu saja."
"Selain itu aku sangat memahami posisimu yang sulit
saat ini. Tidak ada alasan bagimu untuk meminta maaf kepadaku."
Meski mulutku berkata demikian, sejujurnya aku merasa
akan segera terjadi bentrokan dengan Negara Lorelei.
Tentu saja aku ini bukan orang yang gila bertarung, dan
tidak seperti Pahlawan Mashiro, aku tidak memiliki hobi buruk membunuh orang
tak berdosa.
Karena itu, aku tidak akan bertarung jika Negara Lorelei
tidak menyinggung tabuku.
Namun, setelah merasakan langsung cara kerja kelompok
Libra, aku yakin bahwa hanya masalah waktu sebelum mereka benar-benar melewati
batas.
Saat ini Libra telah menyusup jauh ke pusat politik dan
ekonomi Negara Lorelei.
Jika organisasi Libra terus membesar seperti ini, maka
aku dan Negara Lorelei akan masuk ke dalam kondisi perang dalam waktu dekat.
"...Saya... mengerti."
Avery gemetar dengan ekspresi wajah yang penuh
kepahitan.
Dia memiliki intuisi yang tajam.
Dari percakapan singkat ini saja, dia pasti sudah cukup
memahami maksud dari perkataanku.
"Sampai jumpa."
Aku mengangkat tangan kananku lalu keluar dari ruangan
itu. Aku berjalan menuju halaman tengah setelah keluar dari ruangan.
Para guru Akademi Ouboro juga dikerahkan untuk persiapan
upacara Akademi St.Clan besok.
Karena hari ini sekolah diliburkan, tidak ada siapa pun
di jam segini, jadi tidak akan ada masalah jika aku memanggil bawahanku di
sini.
"Shirayuki, bagaimana pergerakan mereka?"
Tiba-tiba, seorang wanita cantik mengenakan pakaian serba
putih muncul di hadapanku.
"Serangga sampah dari Negara Lorelei yang bernama Kuko,
sepertinya sedang merencanakan sesuatu untuk festival akademi besok."
"Hm? Hanya itu saja?"
Ini adalah Shirayuki yang sangat kompeten. Aku
benar-benar mengira dia sudah mencari tahu secara detail sampai ke jam dan
menit ke berapa, serta di mana mereka akan bergerak.
"I-iya..."
Melihat Shirayuki yang menunduk dan ragu-ragu dalam
berbicara, aku yang tidak terlalu peka ini pun akhirnya menyadarinya.
Sepertinya kebiasaan buruk mereka kumat lagi.
Pertama-tama, entitas yang bisa memerintahkan Shirayuki
untuk menyembunyikan informasi dariku sangatlah terbatas. Tentu saja, aku bisa
memaksanya untuk memberitahuku kalau aku mau.
"Jangan pasang wajah seperti itu. Aku selalu
tertolong olehmu."
Aku mendekati Shirayuki dan mengelus kepalanya dengan
lembut. Jika dibiarkan, posisi Shirayuki akan serba salah.
"Tuan Kai!"
Tiba-tiba, Shirayuki memelukku dan membenamkan wajahnya
di dadaku. Saat aku terkejut dengan tindakan anehnya yang tiba-tiba itu, dia
kembali berbicara.
"Ini adalah permintaan seumur hidupku! Tolong peluk aku dengan erat!"
Dia mendongak menatapku dengan wajah yang memerah
seperti apel, sambil memohon hal yang tidak masuk akal seperti itu.
"A-ah, baiklah, tidak masalah."
Melihat wajah Shirayuki yang begitu serius, aku
mengangguk kuat dan memeluknya.
Saat aku merasakan kehangatan khas seorang wanita, aku
merasakan hawa seseorang menahan napas di belakangku.
Aku menoleh melewati bahuku, dan melihat Ariel sedang
membelalakkan matanya menatap kami.
"Gasp!"
Ariel berlari pergi dari tempat itu seolah terpental.
Saat aku kebingungan dengan situasi yang begitu tiba-tiba ini, aku mendengar
suara panggilannya.
"Tuan Kai!"
"Hm?"
Saat aku menoleh kembali ke arah Shirayuki yang
memanggilku, dia berjinjit dan menempelkan bibirnya padaku.
"Tuan Kai, aku sangat bahagia. Terima...
kasih."
Sambil tersenyum dengan wajah semerah tomat, Shirayuki
menggumamkan kalimat itu dengan cepat dan pelan, lalu pergi seakan melarikan
diri dariku.
"Jadi, apa kejadian barusan itu adalah bagian dari
rencana kalian?"
Aku bertanya dengan pandangan setengah tertutup kepada
Nemesis yang sejak tadi berlutut dengan satu kaki di belakangku.
"Tidak, bagian terakhir itu murni improvisasi dan
tindakan sepihak dari anak itu."
Nemesis yang menjawab seperti itu memang sedang
tersenyum, tapi urat tebal terlihat menonjol di pelipisnya. Entah apa
alasannya, tapi dia pasti sedang sangat marah.
"Sebenarnya apa yang sedang kalian coba lakukan
dengan memanfaatkan Ariel?"
Keberadaan Ariel pada saat yang tepat itu tidak mungkin
hanya kebetulan. Shirayuki pun ikut terlibat, sehingga sudah hampir bisa
dipastikan bahwa seluruh Aliansi Dewi bergerak bersama.
"Semuanya akan menjadi jelas besok."
Nemesis hanya menyampaikan hal itu padaku. Ya, ya, pada
akhirnya pasti akan jadi seperti ini.
Lagipula, sangat mudah ditebak bahwa penderitaan dengan
tingkat kesulitan tertinggi sedang menanti Ariel.
Tidak apa-apa. Toh, apa yang harus kulakukan tetap tidak
berubah.
Aku memiliki alasanku sendiri memanggil Ariel ke dunia
ini. Aku tidak akan kehilangannya hanya karena perselisihan konyol semacam ini,
apa pun yang terjadi!
◇◆◇
—Ruang OSIS Akademi St.Clan.
Sid Suspend menerima panggilan mendadak dari OSIS tepat
pada hari sebelum upacara peringatan berdirinya Akademi St.Clan.
Sid dan Departemen Klub Sastra juga sangat sibuk hingga
rasanya butuh bantuan sekecil apa pun, karena mereka harus mengelola festival
besok.
Karena itu, saat mengetahui bahwa dia dipanggil karena
rumor omong kosong yang beredar di akademi, Sid meradang.
"Kai Heineman, pemilik Gift 'Orang Paling
Tidak Berguna di Dunia' yang merupakan orang terlemah sedunia. Kalian bilang
hampir seratus siswa Akademi St.Clan dikalahkan oleh pecundang semacam
itu?"
Dia bertanya dengan suara lantang.
Sid sebenarnya sedang mengamati pertunjukan
menjijikkan Kuko dengan niat menghancurkannya untuk melihat wajah sombong pria
itu memutar balik.
Namun, dia melihat seorang siswi berambut pirang dari
Akademi Ouboro yang sangat cantik hingga membuatnya terpesona, berusaha
melindungi anak terkutuk Nona Seth dan mencoba kabur.
Jika siswi itu hanya gadis lemah yang tidak berarti,
Sid berniat untuk terus menonton saja.
Namun, teknik bertarung gadis itu tidak kalah
hebatnya dengan siswa tingkat atas terbaik di Akademi St.Clan.
Karena itulah, Sid berpikir untuk memanfaatkan gadis
itu demi mematahkan kesombongan Kuko yang berlebihan.
Caranya adalah dengan menahan siswi pirang itu agar
tidak kabur, lalu mengajaknya untuk membentuk Party sementara dengan
kelompok Sid.
Party—di Babel, para siswa diizinkan
membentuk tim untuk menghadapi dungeon atau area yang telah dibebaskan.
Ini disebut Party, dan aturan ini juga berlaku sampai batas tertentu
dalam perselisihan antar siswa.
Pada prinsipnya, anggota Party ini hanya boleh
terdiri dari siswa di akademi yang sama, namun sebagai pengecualian, siswa dari
sekolah saudara juga diperbolehkan.
Kali ini, Akademi St.Clan dan Akademi Ouboro telah
menjadi sekolah saudara, jadi mereka bisa membentuk Party.
Dengan cara ini, mereka bisa melawan kelompok Kuko
secara legal karena pihak lawan telah melakukan pelanggaran.
Selama Sid dan kelompoknya memiliki alasan yang sah,
meskipun mereka melukai lawannya, mereka tidak akan dipermasalahkan sama
sekali.
Tepat saat Sid hendak menawarkan rencana itu, Ketua OSIS
yang merupakan seorang High Elf, Sylphid Evans, ikut campur.
Sylphid memang menyebalkan, tapi dia bukan orang jahat,
sehingga tidak akan membiarkan lelucon konyol seperti ini berlalu begitu saja.
Oleh karena itu, Sid menghentikan permainannya di tengah
jalan, membiarkan semuanya begitu saja, dan pulang.
Setelah itu, dia mendengar bahwa Kuko menyingkirkan OSIS
dan memaksakan kelakuannya, tapi berhasil diatasi dengan aman oleh pihak
Akademi Ouboro.
Wali Kelas A1 Akademi Ouboro adalah si jenius, Elish
Excel.
Siswa tingkat akhir yang berafiliasi dengan Menara
jauh lebih kuat daripada guru sembarangan.
Berapa puluh pun siswa yang berkumpul, mereka tidak
akan bisa menang. Sid memang sudah menduga hal itu.
"Kau tidak percaya dengan apa yang aku
katakan?"
"Tentu saja tidak. Dinding bakat itu sangatlah
kejam. Bagaimanapun caranya, mustahil si Bocah Tidak Berguna itu bisa
mengalahkan siswa akademi kita."
"Sejujurnya, aku pun setengah tidak percaya. Tapi
faktanya, semua siswa yang terlibat serempak bersikeras bahwa mereka dikalahkan
oleh satu orang saja, yaitu Kai Heineman."
"Apa mereka bilang dia benar-benar kuat?"
"Kekuatannya seperti iblis, kata mereka. Selain
itu—"
Sylphid mengalihkan pandangannya pada bawahan elf yang
berdiri menanti di sampingnya.
"Dari hasil investigasi, Kai Heineman adalah Royal
Guard dari Tuan Putri Rosemarie dari Kerajaan Amelia. Dia juga telah
mengalahkan Zack Power di Turnamen Bela Diri Suci yang diadakan di kota bela
diri Luzahal."
"Selain itu, dia dikatakan sebagai Hunter terkuat
kebanggaan Serikat Hunter."
Elf itu melapor dengan datar.
"Tapi, rumor yang beredar kuat mengatakan bahwa
dia bisa menang di Turnamen Bela Diri Suci itu karena dia memiliki alat sihir
khusus."
Saat komentar itu terlontar dari salah satu anggota OSIS,
anggota lainnya menimpali.
"Aku juga dengar soal itu. Katanya dia menang dengan
menggunakan cara licik untuk membuat lawan menyerah, kan?"
"Turnamen Bela Diri Suci di Luzahal juga punya
dugaan pengaturan skor, dan wasitnya sendiri pun mengakuinya, kan?"
"Yang benar saja... Itu hanyalah tipikal rumor
yang dilebih-lebihkan."
Cacian dan hinaan terhadap Kai Heineman terus mengalir
silih berganti dari seluruh penjuru ruangan. Di tengah situasi itu—
"Kukukuha! Hunter terkuat!? Royal Guard!?
Dia itu bukan makhluk semacam itu!"
Gangan, seorang siswa bertubuh besar dengan luka di
dahinya, tiba-tiba tertawa lalu menjerit histeris.
"Gangan, kau sempat bertarung dengannya, kan?
Dia benar-benar lemah, ya?"
Gangan sebenarnya sedang diskors, tapi dia dipanggil
ke tempat ini untuk memberikan penjelasan mengenai insiden tersebut.
"Dia itu manusia? Bukan, bukan, BUKAN—!! Dia itu
monster yang hanya memakai kulit manusia!"
"Kalian juga akan paham kalau coba bertarung
dengannya! Aku masih bisa hidup sekarang ini hanya karena suasana hatinya
sedang baik saja!"
"Kalau sampai terjadi hal serupa lagi, aku pasti
akan mati! Tidak, kalau aku bisa mati dengan tenang pun, itu sudah sangat
beruntung!"
Dia berteriak-teriak dengan mata yang memerah. Semua
orang menatap bingung pada Gangan yang biasanya sering melontarkan kata-kata
sombong, tapi kini tiba-tiba membuat pengakuan mengerikan.
"Inilah penilaian dari orang yang benar-benar
bertarung dengannya. Semua orang memberikan kesimpulan yang sama
sepertinya."
Sylphid menegaskan hal itu dengan penuh keyakinan.
Gangan yang bertarung secara langsung bahkan sampai berbicara sejauh ini.
Entah itu dengan menggunakan alat sihir atau
keajaiban semacamnya, fakta bahwa Kai Heineman kuat sudah bisa dipastikan.
"Anggap saja Kai Heineman itu memang kuat. Lalu,
kenapa?"
"Bagi kami, tidak peduli dia kuat atau lemah, itu
bukan urusan kami. Biar kuperjelas, dalam masalah kali ini aku tidak berada di
pihak kalian, melainkan lebih condong pada Kai Heineman."
Dari yang kudengar, pihak yang kalah kali ini adalah
mereka yang menyetujui lelucon konyol nan menjijikkan itu.
Sekalipun mereka dihajar habis-habisan, tidak ada sedikit
pun rasa simpati yang muncul di hatiku.
Sebaliknya, kalau ada Kai Heineman di depanku, aku
mungkin akan memberinya tepuk tangan dan memujinya karena kerja bagus.
"Kau keterlaluan. Padahal OSIS juga berpikiran sama
denganmu, tahu."
"Hah! Berani-beraninya orang yang mengabaikan Nona
Seth mengatakan hal itu?"
Setelah kejadian itu, kabarnya OSIS meninggalkan Nona
Seth dan yang lainnya begitu saja di kantin, lalu membubarkan diri.
Gara-gara hal itu, meskipun hanya akibat tak langsung,
Sid pada akhirnya malah seperti membantu kelompok Kuko.
Jarang ada penghinaan sebesar ini. Semua ini terjadi
karena OSIS yang terlalu lamban dan tidak kompeten.
"Telingaku panas mendengarnya. Tapi mau bagaimana
lagi, karena alasan Kuko sekilas memang masuk akal."
"Jika kami pihak OSIS secara aktif dan
terang-terangan melanggar peraturan, maka ketertiban akademi akan hancur dari
akarnya. Karena itulah, aku berlari menuju Direktur untuk segera menghentikan
amukan Kuko."
"Yah, walaupun pada akhirnya tindakan itu malah
menjadi penyelamat bagi Kuko."
Sylphid menggigit bibir bawahnya dengan ekspresi
kesal.
"Aku tidak peduli dengan pengakuan dosa yang
terdengar seperti alasan itu. Sudahlah, cepat masuk ke intinya."
"Sepertinya beberapa siswa yang dihasut oleh Kuko
berencana memberikan hukuman kepada Kai Heineman pada upacara besok."
Sylphid melontarkan kabar yang benar-benar
mengejutkan.
"Bajingan sampah itu! Mau sampai sejauh mana dia
mempermalukan kita?!"
Terbawa amarah, Sid menendang kursi di dekatnya.
Libra yang menjadi basis ideologi mereka, telah
menyebarkan paham mementingkan garis keturunan yang konyol di akademi dan
bersikap seolah mereka yang berkuasa.
Keluhan dari sebagian siswa bahkan sudah sampai ke
Departemen Klub Sastra.
"Aku sama sekali tidak masalah jika mereka kalah
secara diam-diam, bahkan aku justru berharap mereka kalah. Tapi
kita harus menghindari situasi di mana mereka kalah di depan umum oleh siswa
sekolah lain untuk yang kedua kalinya."
"Sid, kau juga tahu alasannya, kan?"
Sylphid menembak tepat di titik yang menyakitkan
dengan ekspresi masam. Kekalahan dari sekolah lain akan merusak martabat
akademi.
Apalagi lawan mereka adalah siswa Akademi Ouboro yang
menduduki peringkat terendah.
Jika fakta itu sampai terdengar oleh komite manajemen
Babel, sudah jelas mereka pasti akan dengan senang hati memotong anggaran Akademi
St.Clan.
Jika anggaran akademi berkurang, maka anggaran untuk
Departemen Klub Sastra pun pasti akan dipotong.
Eksplorasi dan latihan ilmu sihir memakan biaya yang
tidak sedikit.
Anggaran mereka tidak boleh sampai dikurangi.
Bagaimanapun caranya, kesalahan lebih lanjut harus dihindari.
"Aku mengerti. Lalu apa yang harus kami
lakukan?"
"Kalian bekerjasamalah dengan Komite Disiplin dan
berusahalah untuk menjaga ketertiban pada upacara besok! Lalu, Sid, aku punya
permintaan terpisah untukmu."
"Dimengerti. Aku akan membantu sebisa yang aku
mampu."
—Dengan demikian, Sid dan kelompoknya menerima permintaan
tersebut.
Saat ini, sedikit pun Sid tidak pernah menyangka bahwa
dirinya akan ikut campur dalam krisis terbesar yang belum pernah terjadi
sebelumnya di dalam Babel.
◇◆◇
Hari ini adalah upacara peringatan berdirinya gedung
sekolah baru di Akademi St.Clan sebelah. Aku harus bangun lebih awal dari
biasanya.
Saat waktu bangun tiba, dengan lambat aku berganti
mengenakan seragam Akademi Ouboro. Pada akhirnya, aku sama sekali tidak bisa
memejamkan mata gara-gara memikirkan adegan yang kulihat kemarin.
Kemarin, Akademi Ouboro menyatakan ingin mendengar
keterangan lebih lanjut mengenai insiden di kantin, sehingga Ares pergi ke
sekolah pada waktu yang ditentukan.
Dalam perjalanan pulang setelah menceritakan kejadian
tersebut pada pihak sekolah, dia tak sengaja menyaksikan pemandangan
mengejutkan itu di halaman tengah.
Itu adalah pemandangan di mana Kai sedang berpelukan
dengan seorang wanita cantik berpakaian serba putih.
Hanya dengan melihat pipi kemerahan dan ekspresi bahagia
wanita itu, sekilas saja sudah cukup untuk mengerti bahwa dia menyimpan
perasaan pada Kai.
"Jangan diingat-ingat lagi!"
Aku menggelengkan kepala ke kiri dan ke kanan, berusaha
keras untuk menghapus pemandangan itu dari ingatanku.
Namun, pemandangan itu sudah membekas kuat di kedalaman
mataku, bagaikan kerak gosong yang menempel erat di dasar panci logam.
"Bukan urusanku Kai mau berpelukan dengan siapa
pun!"
Meski aku mengatakannya sendiri, rasa frustrasi dan
kepedihan justru membuat air mataku menetes.
Lagipula, sejak awal, melontarkan ucapan seperti ini
justru menjadi bukti bahwa aku memedulikannya.
Terdengar ketukan di pintu, dan aku dengan panik menyeka
air mata di kedua mataku dengan lengan baju.
"Silakan masuk."
Mendengar suara panggilan Ares, Silkhat masuk ke dalam
ruangan dan membungkuk memberi salam. Lalu, saat dia melihat wajah Ares yang
sembab, matanya terbelalak.
"Tuan Ares, apa yang terjadi?!"
Dia bertanya khawatir dengan raut wajah pucat pasi.
"T-tidak apa-apa! Aku hanya teringat masa lalu
sedikit!"
Aku sangat panik mencoba menutupinya, tapi gagal total
dengan mudahnya.
"...Hari ini biar saya saja yang membuatkan
makanannya."
Mungkin Silkhat menyadari sesuatu, dia pun berjalan
menuju dapur sambil tersenyum seperti biasanya.
Sejak tiba di dunia ini aku juga selalu membantu membuat
sarapan, tapi hari ini perasaanku benar-benar sedang tidak enak.
Meski merasa bersalah, kuserahkan urusan sarapan pada
Silkhat sementara aku menunduk lemas di atas meja. Masakan selesai dan kami
berdua menyantap sarapan.
Sarapan buatan Silkhat biasanya selalu sangat lezat
sampai-sampai rasanya membuat pipi meleleh.
Namun entah mengapa pagi ini tidak terasa rasa apa pun di
lidahku.
Hari ini rencananya kami akan pergi ke gedung Akademi
Ouboro terlebih dahulu, lalu bersama Guru Elish berpartisipasi dalam upacara di
Akademi St.Clan sebelah. Karena itu, tujuan kami saat ini adalah Akademi
Ouboro.
Selama sarapan maupun saat berangkat ke Akademi Ouboro,
aku sangat berterima kasih pada kepedulian Silkhat yang tidak menanyakan
masalahku secara detail, sambil terus melangkah dengan kaki yang terasa seberat
batu. Aku tahu betul apa alasannya.
Itu karena kalau aku pergi ke akademi, aku pasti akan
bertemu dengan Kai dan teringat kembali pada adegan kemarin.
Hanya dengan sekelebat bayangan Kai yang melintas di
benakku saja, aku merasa seolah banyak duri tak kasat mata menusuk-nusuk
dadaku.
Rasanya begitu menyakitkan. Seharusnya begitu, tapi entah
mengapa, aku juga sangat ingin bertemu dengannya.
Akhirnya kami tiba di depan gerbang akademi.
"Ariel, selamat pagi."
Karena dipanggil dari belakang, aku refleks menoleh.
Di sana, orang yang paling membuatku menderita jika bertemu saat ini, sedang
berdiri sambil tersenyum.
"Selamat... pagi."
Aku membalas sapaan dengan suara pelan yang nyaris
menghilang, lalu berlari cepat menuju pintu masuk gedung sekolah.
Setelah itu, Kai mencoba mengajakku bicara beberapa
kali, namun rasanya terlalu menyakitkan untuk bertatap muka dengannya sehingga
aku terus menghindarinya.
Elish yang salah paham mengira suasana hati Ares
memburuk karena masih memikirkan insiden di kantin tempo hari, berkali-kali
menanyakan kabarku dengan penuh simpati.
Terkait insiden itu, siswa kelas A1 yang terancam
oleh siswa Akademi St.Clan hingga terpaksa mengajak Nona Seth makan di kantin,
telah menerima hukuman skors dua minggu dari pihak akademi dan tidak hadir di
upacara hari ini.
Menurut penjelasan akademi, pada awalnya pihak akademi
hanya berniat memberikan teguran keras.
Ini mengingat mereka mengajak Nona Seth makan siang
semata-mata karena diancam, serta karena mereka juga menyerahkan diri dan
menunjukkan penyesalan atas kesalahannya.
Namun kabarnya, siswa-siswa yang menerima hukuman itu
menangis memohon agar diberi hukuman yang berat, sehingga akhirnya mereka
dijatuhi hukuman skors selama dua minggu.
Di pihak Akademi Ouboro bahkan sampai ada siswa yang
secara mental menjadi tidak stabil akibat dihantui rasa bersalah karena menjual
teman sekelasnya.
Sementara itu, siswa Akademi St.Clan yang sebenarnya
menghasut tindakan bodoh tersebut justru hanya menerima hukuman yang sama,
yaitu skors dua minggu.
Begitulah, insiden kali ini berujung pada hasil yang
terlalu kejam bagi pihak Akademi Ouboro.
Elish dan sebagian guru Akademi Ouboro melakukan protes
keras terhadap fakta ini.
Sayangnya, Akademi Ouboro dan Akademi St.Clan sudah
bersepakat menyelesaikan masalah ini dengan hukuman tersebut, sehingga
keputusannya tidak dapat dibatalkan.
Meskipun merupakan sekolah saudara, kini kedua belah
pihak yaitu Akademi Ouboro dan Akademi St.Clan sedang berada dalam kondisi
tegang yang hebat.
Karena itu, sebelum berangkat menuju Akademi St.Clan,
Elish meminta seluruh murid di kelas Ares untuk bersumpah atas dua hal.
Pertama, mereka tidak boleh sendirian di Akademi St.Clan
dalam kondisi apa pun.
Kedua, jika ada siswa, guru, maupun staf dari Akademi
St.Clan yang memberikan tekanan sekecil apa pun, mereka harus segera melapor
kepada Elish.
Melihat sorot matanya yang tajam dan tidak goyah itu,
kurasa Elish benar-benar sudah tidak bisa menahan amarahnya lagi.
Dengan dipimpin oleh Elish, kami berangkat menuju Akademi
St.Clan yang berada tepat di sebelah.
Mungkin ini karena insiden sebelumnya. Melihat sikap
Elish yang seolah-olah sedang memasuki wilayah musuh, sebagian besar guru Akademi
St.Clan terlihat tidak senang, walau di antara mereka ada juga seorang guru elf
yang datang untuk meminta maaf mewakili pihak akademi.
Upacara dimulai dengan sambutan pembukaan dari Avery yang
juga menjabat sebagai Direktur Akademi St.Clan, serta Inea, kepala sekolah baru
dari sekolah saudari Akademi Ouboro. Upacara pun terselenggara dengan lancar.
Pada upacara tersebut, para petinggi dari Babel dan tokoh
penting dari berbagai negara bergiliran memberikan ucapan selamat di atas
mimbar sepanjang pagi hari.
Setelah semua sambutan selesai, berbagai acara yang
diselenggarakan oleh Akademi St.Clan mulai dibuka di ruang kelas dan aula
besar.
Satu-satunya jadwal tampil bagi Ares dan kelas A1 Akademi
Ouboro adalah pada pukul dua siang, yaitu dalam pertarungan latihan bela diri
yang dilaksanakan di Arena Pertarungan Utama Akademi St.Clan.
Acara tersebut merupakan pertarungan simulasi kelompok,
di mana pihak penyelenggara upacara kali ini akan memilih beberapa orang dari
Akademi Ouboro dan Akademi St.Clan untuk bertarung di bawah persyaratan
tertentu.
Ada banyak suara penolakan mengenai diadakannya
pertarungan tiruan secara kelompok dalam situasi seperti ini.
Namun, karena jadwal acara sudah terlanjur diumumkan ke
publik, membatalkannya sekarang sama saja dengan mengumumkan kepada dunia bahwa
ada masalah yang sedang terjadi. Sepertinya, tidak ada pilihan lain selain
tetap melaksanakannya.
Baru saja, Elish memberitahukan bahwa kami memiliki waktu
bebas hingga jadwal pertarungan tiruan seni bela diri pada sore harinya.
"Sepertinya Shou tidak ada, apa terjadi
sesuatu?"
Menjawab pertanyaan Kai yang diucapkannya sambil menguap
lebar,
"Aku baru saja menerima kabar bahwa Shou tidak bisa
hadir hari ini karena ada kerabatnya yang meninggal kemarin."
Elish menjawabnya dengan tegang. Sikapnya ini benar-benar
terlalu berlebihan, apa pun alasannya.
Aku rasa Elish berpikir bahwa masalah akan kembali
terjadi di upacara peresmian ini.
"Sekarang waktunya bebas, tapi pada dasarnya kalian
harus membentuk kelompok yang terdiri dari tiga orang atau lebih. Ah ya, khusus
untuk Seth, kau wajib berada di kelompok yang sama dengan Kai."
Niat Elish agar Kai melindungi seluruh murid
benar-benar terlihat jelas.
Namun, atas nama Kepala Sekolah Saint Clan, pihak
manajemen Akademi St.Clan telah mengeluarkan perintah tegas bahwa selama waktu
bebas, siswa harus membentuk kelompok maksimal empat orang demi mencegah
kepadatan.
Tidak mungkin Elish membatalkan aturan yang berlaku
untuk seluruh siswa Akademi St.Clan hanya untuk Akademi Ouboro. Aku yakin,
sebagai langkah putus asa, Elish memutuskan untuk memasukkan Seth yang sedang
diincar ke dalam kelompok yang sama denganku.
"Dimengerti. Seth, mohon kerja samanya, ya."
"Ya, mohon kerja samanya."
Seth membalas uluran tangan kanan Kai yang tersenyum ke
arahnya dengan ragu-ragu.
"Ariel, Sicke, untuk berjaga-jaga, kalian berdua
juga bergabunglah di kelompok yang sama dengan Kai—"
"Aku bisa melindungi diriku sendiri. Menurutku,
sebaiknya Kai berkelompok dengan orang lain saja."
Mendengar jawaban Ares, Elish menyilangkan kedua
tangannya dan berpikir sejenak.
"Benar juga. Alasanmu sampai dua kali terlibat
dalam keributan itu karena mencoba menolong Seth, ditambah lagi kau adalah
manusia biasa, jadi mereka tidak akan gigih mengincarmu di akademi ini.
Mengingat kemampuanmu, kurasa itu masuk akal."
Dia memberikan jawaban yang seharusnya diinginkan
oleh Ares.
(Apa... aku merasa sedih?)
Padahal aku sendiri yang meminta untuk dipisahkan
dari Kai, tapi begitu diputuskan bahwa aku akan berada di kelompok lain, aku
langsung dilanda rasa kesepian hingga dadaku terasa sesak.
(Tuan Ares, apakah tidak apa-apa?)
Silket berbisik di telinga Ares.
(Ya, tidak masalah sama sekali.)
Seolah meyakinkan dirinya sendiri, Ares mengangguk
tegas.
Pada akhirnya, kelompok Ares terdiri dari empat
orang, yaitu Ares, Ramune dan Kiki, serta seorang siswi dari ras Dwarf bernama
Uno.
Alasan Silket tidak ada di kelompok ini adalah karena
dia dinilai memiliki kemampuan yang setara dengan Ares, sehingga dia
ditempatkan sebagai pemimpin kelompok lain untuk berjaga-jaga seandainya dia
harus melindungi siswa lainnya.
Saat ini, mereka sedang berkeliling melihat-lihat
pertunjukan dari setiap kelas di masing-masing ruang kelas bersama anggota
kelompoknya.
Padahal hanya dengan mengingat Kai saja sudah terasa
sangat menyakitkan, tapi sampai sekarang aku masih terus memikirkannya.
Aku ingin melupakannya, tapi begitu aku lengah,
pemandangan kemarin kembali terlintas di ingatanku.
(Ada apa denganku ini?)
Ini pertama kalinya aku merasakan perasaan seperti ini,
dan sejujurnya, meski ini adalah diriku sendiri, aku sama sekali tidak
mengerti.
Aku sempat mencoba menanyakan perasaan ini secara tidak
langsung pada Silket.
Namun, dia malah mencubit pangkal hidungnya sambil
berlinang air mata dan berkata, "Begitu, ya. Tuan Ares juga sudah tumbuh
besar, ya," lalu mulai menceritakan tentang masa kecilku.
Pada akhirnya, aku sama sekali tidak mendapatkan jawaban
yang ingin kuketahui.
"—!"
Mungkin karena aku sedang melamun, aku tak sengaja
menabrak bahu seorang Elf laki-laki yang mengenakan pakaian tradisional Lorelei
saat berpapasan. Kemungkinan besar dia adalah tamu undangan di acara ini.
"Maafkan saya."
Pria itu melepas topinya dan membungkuk.
"Tidak, saya juga sedang melamun dan tidak melihat
ke depan. Saya benar-benar minta maaf."
Aku menundukkan kepala dalam-dalam.
Pria itu kembali mengangguk kecil, lalu berjalan melewati
Ares dan yang lainnya.
"Apa pria barusan itu kenalanmu?"
Ramune bertanya sambil memandangi Elf laki-laki tadi.
"Bukan, ini pertama kalinya kami bertemu. Memangnya
ada apa?"
"Begitu, ya... Jadi begitu rupanya..."
Seolah baru saja menyadari sesuatu, Ramune mengangguk
setuju dan kemudian terdiam.
Setelah itu, saat sedang melihat pertunjukan di ruang
kelas berikutnya bersama Ramune dan yang lainnya,
(Salam kenal. Saya Dagon, senang bertemu dengan Anda,
ya.)
"—!? A—"
Mendengar suara parau yang bergema di kepalaku, aku
hampir saja berteriak. Namun—
(Ups, tutup mulutmu! Jika kau berani mengatakan sesuatu
sekecil apa pun, Mai Miyato akan mati, ya.)
Mendengar nama Mai Miyato disebut, sosok gadis kecil
berambut hitam nan imut yang kutemui beberapa hari lalu kembali terlintas di
ingatanku.
(Sebagai bonus khusus, aku akan membiarkanmu mendengar
suaranya, ya.)
Sesaat, suara di kepalaku terhenti—
(Gelap! Aku takut! Di mana ini!? Ayah! Ibu! Kai! Ariel!
Tolong aku!)
Terdengar suara teriakan pilu Mai yang menangis
tersedu-sedu. Begitu mendengarnya, rasa gelisah yang tak tertahankan dan amarah
yang membara melonjak dari lubuk tubuhku.
(Anda mengerti posisi Anda saat ini, ya? Kalau sudah
paham, hentakkan kakimu ke lantai dua kali, ya.)
Sesuai instruksi, aku menghentakkan telapak kakiku ke
lantai sebanyak dua kali.
(Bagus. Buatlah alasan yang masuk akal pada teman-temanmu
lalu menjauhlah dari mereka, kemudian datanglah ke tempat yang akan saya
tunjukkan berikutnya, ya! Tentu saja, jika Anda memberitahu hal ini kepada
siapa pun, saya akan langsung membunuh anak ini, ya.)
Setelah mengatakan hal itu, sebuah peta muncul memenuhi
seluruh pandangan Ares.
Ada tanda seperti pin yang menancap di ujung tenggara
Distrik Keenam.
Maksudnya pasti menyuruhku datang ke tempat itu.
"Ada barangku yang tertinggal, jadi aku akan
pergi mengambilnya sebentar. Kalian bertiga silakan lihat-lihat
dulu. Nanti aku akan menyusul."
Tanpa menunggu jawaban mereka, Ares langsung berlari
pergi.
◇◆◇
Saat ini, kami berempat—aku, Seth Accard, Lumine, dan
Kusuki—sedang berjalan-jalan melihat-lihat pameran.
Mengingat situasi akhir-akhir ini, ada kemungkinan
orang-orang dari Akademi St.Clan akan kembali mengganggu murid-murid Kelas A1.
Oleh karena itu, Rose diputuskan untuk membentuk kelompok dengan murid lain.
Meskipun begitu, Rose tetaplah Putri Kerajaan Amelia.
Tentu saja mereka tidak akan berani melakukan pelecehan terang-terangan
kepadanya.
Sebelumnya pun, alasan mereka menjauhkan Seth dari Rose
adalah karena Rose dianggap mengganggu.
Ini adalah keputusan yang sangat masuk akal.
"Apa Layla tidak datang ke acara hari ini?"
Pada dasarnya, acara hari ini bebas dihadiri oleh seluruh
murid dari tiga sekolah akademi besar. Namun karena sifatnya hanya opsional,
murid yang hadir bisa dihitung dengan jari.
Meski begitu, jika itu adalah Layla yang bisa dibilang
terlalu protektif, aku yakin dia pasti akan datang hari ini.
"Iya, Kak Layla bilang jadwalnya bertabrakan
dengan pelatihan praktik di Babel. Dia terlihat sangat kecewa, lho."
Benar juga, sepertinya murid berprestasi dari tiga
sekolah akademi besar secara rutin mengikuti pelajaran di Babel, jadi itu tidak
bisa dihindari.
Menerobos kerumunan orang, seorang wanita berjubah
biru tua datang menghampiriku dan melepaskan tudung yang dikenakannya
dalam-dalam. Yang muncul adalah seorang wanita Elf berambut pirang yang cantik
jelita bagaikan dewi.
"Tuan Kai, bolehkah saya meminjam Lumine
sebentar?"
Inea meletakkan tangan di dadanya dan mengajukan
permohonan padaku.
"Ada apa memangnya?"
"Begini, sepertinya tingkat kecocokan dengan roh
akan melonjak drastis jika ada gadis ini, jadi saya ingin meminta bantuan
darinya."
Kalau dipikir-pikir lagi, Inea pernah bilang bahwa
persentase keberhasilan dalam membuat kontrak dengan roh atau siluman akan
meningkat drastis hanya dengan berada di ruangan yang sama dengan Lumine.
Ini adalah hasil penelitian Inea yang baru saja
ditemukannya. Kemungkinan besar ini adalah efek samping dari Gift
'Fallen God Life' yang dimiliki Lumine.
Sepertinya Inea sedang berguru pada Asta akhir-akhir ini
dan menenggelamkan dirinya dalam penelitian bersama Deimos.
"Lumine, apa kau tidak keberatan?"
"Iya! Tidak masalah, kok! Aku juga senang bisa
bermain dengan anak-anak imut itu!"
Lumine merespons dengan senyum lebar sambil
mengacungkan jempol.
"Apa Asta juga ada di sana?"
"Ya, Guru dan Kakak Seperguruan Deimos juga ada di
sana."
Kalau begitu, seharusnya tidak ada masalah. Lagipula,
Lumine juga punya Susanoo, ini malah bisa dibilang kelebihan tenaga.
"Baiklah, pergilah."
"Kak Kai juga cepat datang, ya!"
Lumine berputar-putar dengan penuh semangat, lalu
menghilang ke dalam kerumunan bersama Inea.
"Hei Kai, apa hubunganmu dengan Nona Inea?"
Sambil memegang lengan baju kiriku, Seth Accard bertanya
dengan ragu-ragu.
"Menurutmu apa hubungan kami?"
Saat aku bertanya balik,
"Uhm..."
Entah kenapa, wajahnya memerah dan dia bergumam pelan
tentang sesuatu.
"Hm? Maaf, aku sama sekali tidak dengar. Bisa tolong
ulangi lagi?"
"Tidak, bukan apa-apa."
Seth memalingkan wajahnya.
"Kalau begitu, ayo kita lanjut melihat-lihat."
Aku mendorong mereka berdua dan mulai berjalan menuju
kelas di sebelah.
"Sudah waktunya. Ayo kita ke arena
pertarungan."
Pertarungan tiruan seni bela diri akan dimulai dalam 15
menit, jadi sudah saatnya kami menuju ke lokasi acara.
Sepertinya karena keributan di kantin besar sebelumnya,
aku telah dikeluarkan dari daftar peserta pertarungan tiruan, jadi aku hanya
akan menjadi penonton.
Meski begitu, bukan berarti aku tidak punya peran.
Setelah mengetahui bahwa aku tidak akan
berpartisipasi dalam pertarungan tiruan, pihak Lorelei memutuskan untuk
memamerkan 'Pedang Penciptaan Langit dan Bumi' sebelum pertarungan dimulai dan
menyerahkan tugas untuk melindunginya padaku.
Hanya sedikit orang yang mengetahui detail tentang
pedang itu. Jika pedang rongsokan itu dicampur dengan banyak pedang lain,
hampir tidak mungkin pedang itu bisa dikenali karena efeknya akan tersembunyi
bagaikan menyembunyikan sebatang pohon di dalam hutan.
Setelah dipamerkan, jika pedang rongsokan itu
disimpan di gudang penyimpanan milik negara Lorelei yang ada di Babel,
kemungkinan pedang itu ditemukan hampir tidak ada.
Setelah itu, mereka akan menunggu saat yang tepat
untuk memindahkannya ke gudang penyimpanan resmi di negara asalnya.
Agak sulit dipercaya bahwa negara Lorelei akan
melakukan hal yang begitu rumit hanya demi pedang rongsokan seperti itu, tapi
begitulah keinginan mereka.
Sebagai pembuat pedang rongsokan itu, aku harus
menemaninya sampai akhir.
Dari sudut pandang pengamanan, awalnya aku berencana
untuk masuk 30 menit sebelum acara dimulai, namun staf penyelenggara acara
mengatakan bahwa aku cukup datang tepat waktu saja.
Komite penyelenggara menegaskannya dengan cukup kuat.
Sepertinya, mereka sangat tidak ingin seorang pembuat
onar sepertiku menghadiri acara bertaraf internasional seperti ini, sebisa
mungkin.
Aku tidak sebodoh itu untuk bersikeras memberikan
perlindungan saat pihak akademi dan negara Lorelei sendiri tidak
menginginkannya.
Karena itulah, aku memutuskan untuk datang tepat saat
pertarungan tiruan seni bela diri dimulai.
"Dimengerti."
"Baiklah, ayo kita pergi."
Setelah memastikan Seth dan Kusuki mengangguk, aku mulai
berjalan menuju arena pertarungan.
Tepat saat aku melangkahkan kaki, aku dilanda sensasi air
kental berbau amis yang perlahan-lahan menyapu.
Sensasi unik yang terasa seperti berada di dalam lumpur
ini adalah—
"K-Kai! Apa ini!?"
Kusuki berteriak dengan suara melengking.
"Ini pelindung gaib!?"
Seth merendahkan titik berat tubuhnya dan mengamati
sekeliling dengan waspada, sambil berkeringat dingin.
"Kemungkinan besar ini adalah Area Terkutuk. Ya, bisa dibilang ini semacam pelindung gaib."
Sensasi unik ini sangat mirip dengan Area Terkutuk
milik Girimekhala. Meski begitu, Area Terkutuk Girimekhala memiliki efek
tambahan seperti kabut hitam, jadi sekilas mungkin terlihat jelas.
Namun, jika dia benar-benar berniat
menyembunyikannya, aku hanya akan merasakan sedikit ketidakwajaran. Yang ini
benar-benar jauh berbeda ibarat langit dan bumi.
Jika ini disebut Area Terkutuk, maka itu akan menjadi
penghinaan bagi Area Terkutuk yang sebenarnya. Melainkan—
"Area Terkutuk... Kalau begitu, ini seperti saat
kita berhadapan dengan Raja Kutukan waktu itu—"
Kusuki bertanya padaku dengan wajah pucat pasi.
Padahal aku sudah menyuruh Satori untuk menghapus ingatannya, tapi entah kenapa
ingatannya kembali.
Menurut pengakuannya, seiring berjalannya waktu dia
perlahan-lahan mulai mengingat kejadian di rumah itu, dan akhirnya belum lama
ini dia mengingatnya dengan sangat jelas.
Aku yakin ini karena efek dari Gift khususnya.
"Ya, benar sekali. Kurang lebih seperti
itu."
Orang-orang di sekitar sama sekali tidak menyadari
keberadaan Area Terkutuk yang begitu jelas ini.
Sudah cukup jika aku menyimpulkan bahwa ini hanyalah
Area Terkutuk murahan yang hanya mempan pada pemula, yang diciptakan oleh
dalang amatir yang hanya bisa mengaktifkan Area Terkutuk semacam itu.
Sebaliknya, aku ingin memberikan pujian pada Seth dan
Kusuki yang dengan jelas menyadari keberadaan Area Terkutuk ini.
Setidaknya, mereka jauh lebih baik daripada para idiot
yang sampai sekarang pun tidak menyadarinya sama sekali.
"Apa Anda tidak takut, Kai?"
"Takut? Takut pada apa?"
Anak ini menanyakan hal yang aneh. Dari situasi ini, di
bagian mana ada sesuatu yang menakutkan?
Lumine juga bersama Asta, Inea, dan Deimos. Jika mereka
diserang oleh lawan setingkat ini, mereka pasti bisa memukul mundurnya dengan
mudah.
"Soalnya, ini adalah bahaya yang setingkat dengan
Raja Kutukan itu, lho!"
"Benar juga. Karena itulah, kubilang tidak ada
masalah."
Yah, sebenarnya jika melawan kroco sekelas Raja Kutukan,
aku hanya akan menganggap mereka sebagai serangga terbang yang sangat lemah.
Ini sama seperti manusia yang tidak bisa mengukur kekuatan tempur serangga yang
sedang terbang.
"..."
Mendengar jawabanku, Kusuki membiarkan mulutnya setengah
terbuka karena terkejut.
"Untuk saat ini begitulah. Sepertinya orang-orang di
sekitar tidak menyadarinya, jadi mari kita pergi ke arena pertarungan sambil
membasmi para idiot itu."
Aku mendorong mereka berdua untuk melangkah.
"Para idiot?"
"Ya, sebentar lagi kamu akan tahu."
Tepat setelah perkataanku, terdengar suara ledakan keras.
"Tuh kan, benar?"
Sudah kuduga mereka akan menggunakan kekerasan.
Sepertinya firasat buruk Avery dan yang lainnya menjadi kenyataan.
Melihat waktunya yang sangat pas, ini pasti perbuatan
orang-orang bodoh yang terobsesi dengan delusi tentang menurunkan dewa atau
semacamnya itu.
"Sungguh orang-orang yang bodoh. Mana
mungkin ada dewa di dunia ini..."
"Apa Anda tidak percaya pada dewa?"
Merespons gumamanku yang santai, Seth melontarkan
pertanyaan yang jawabannya sudah sangat jelas bagiku.
"Tidak."
"Ta-Tapi aku pernah bertemu dengannya!"
Gadis ini mengatakan hal yang menarik, ya.
"Masih muda rupanya. Di masa lalu, aku juga
pernah percaya pada keberadaan mukjizat besar dari dewa. Tapi, hal itu hanyalah
ilusi semata, khayalan."
Sampai aku diculik ke dalam Easy Dungeon itu,
aku memang pernah percaya pada dewa.
Namun, aku tidak menganggapnya sebagai Dewa Bela Diri
Suci, melainkan sebagai eksistensi transenden yang menguasai hukum alam dunia
ini.
"Masih muda bagaimana? Anda kan lebih muda dariku,
Kai."
Kusuki menegurku dengan wajah muak. Hmmm, bisa-bisanya
dia mengatakan itu di situasi seperti ini. Ternyata bocah ini cukup bernyali
juga.
"Hal itu tidak penting sekarang! Dewa itu ada! Dia benar-benar ada!"
"Sepertinya kamu punya alasan tersendiri untuk
percaya pada dewa. Aku sama sekali tidak berniat menyangkal keyakinanmu. Namun,
dunia ini tidaklah semanis dan sebaik itu sampai ada dewa dari cerita dongeng
yang akan melindungi kita, lho."
Dewa adalah eksistensi yang memiliki kekuatan mukjizat
yang melampaui nalar manusia.
Sosok yang menciptakan dan menguasai langit dan bumi,
serta melampaui waktu, ruang, dan segala fenomena maupun konsep.
Hal yang kupahami sampai ke tulang selama seratus ribu
tahun ini adalah: tidak ada yang namanya mukjizat yang melampaui nalar manusia,
dan segala fenomena serta konsep pada akhirnya memiliki alasan yang jelas.
Singkat kata, dewa tidak ada di dunia ini. Begitulah
kenyataan yang membosankan ini.
"Hal seperti itu aku juga sudah tahu meski tanpa kau
beritahu!"
"Begitu, ya. Kalau begitu, syukurlah. Daripada itu,
sepertinya kita kedatangan tamu."
Tiba-tiba, belasan orang berpakaian hitam
mengepungku.
"Rambut abu-abu itu, dan penampilan yang terlihat
kekanak-kanakan serta lemah, kau Kai Heineman, kan?"
Pria jangkung berpakaian hitam yang tampaknya adalah
kapten mereka, tersenyum merendahkan sambil memutar-mutar pisau di tangan
kanannya dan menanyakan fakta yang sangat jelas itu.
"Benar. Akulah Kai Heineman."
"Bisa-bisanya Akademi St.Clan kalah telak dari orang
seperti ini, mereka benar-benar tidak sehebat itu, ya. Dilihat dari sudut
pandang mana pun, ini benar-benar pemborosan tenaga tempur."
Sosok berpakaian hitam yang tampak seperti kapten itu
menjentikkan jarinya, lalu sosok reptil-reptil merah dalam jumlah tak terhitung
yang menempel di langit-langit dan dinding pun mulai terlihat.
Tentu saja aku sudah menyadari keberadaan mereka.
Terlebih lagi, meski menyembunyikan diri, mereka
menyebarkan kekuatan magis secara terang-terangan.
Akan lebih sulit jika tidak menyadarinya.
"Sa-Salamander!?"
Kusuki berteriak kaget.
"Hoo. Inikah yang dinamakan Salamander?
Penampilannya cukup jauh dari bayanganku, ya."
Memang benar dia memiliki wujud luar seperti kadal
api, namun kedua tangan dan kakinya telah berubah menjadi jumlah tentakel yang
tak terhitung.
Singkatnya, ini mungkin adalah monster kadal yang
lengan dan kakinya telah berubah menjadi tentakel.
Apa pun itu, aku sama sekali tidak merasakan kekuatan
dari monster ini. Seingatku Salamander itu adalah roh tingkat tinggi, kan.
"Bukan! Itu bukan Salamander!"
Dengan wajah yang kaku karena ketakutan dan keterkejutan,
Seth berteriak dengan suara melengking.
"Benar sekali. Ini adalah makhluk super Neo
Salamander yang diciptakan dengan kekuatan supernormal, yang diberikan kepada
kami oleh Tuan Dagon, pemimpin kami yang agung! Hanya dengan satu ekor Neo
Salamander ini, sudah cukup untuk memusnahkan sekelas pasukan militer negara
kecil!"
Orang berpakaian hitam yang tampaknya adalah kapten
bertubuh tinggi itu melontarkan omong kosong dengan bangga.
"Begitu rupanya, aku mengerti sekarang."
Intinya, itu adalah tiruan Salamander, kan. Wajar saja
benda tiruan yang dibuat meniru aslinya memiliki kekuatan yang selemah ini.
"Hah! Akhirnya kau sadar akan kekuatan tempur kami,
ya! Tapi, percuma saja kau mencoba lari! Kau
tidak akan bisa melarikan diri dari Neo Salamander sebanyak ini! Kalian
semua akan menjadi makanan mereka sambil menjerit dalam ketakutan dan rasa
sakit!"
"Karena itulah kubilang makhluk ini lemah."
Bersamaan dengan menarik keluar Raikiri, aku
menebas semua Salamander tiruan yang mengepung kami dengan satu serangan.
"Hah?"
Pria berpakaian hitam tinggi yang tampaknya adalah kapten
mereka, melebarkan matanya dan berteriak seolah tercengang melihat tiruan
Salamander yang terbelah rapi dari kepala hingga ekor, memercikkan cairan tubuh
berwarna hijau dan berjatuhan ke lantai.
"Aku ini pendekar pedang sekaligus Hunter.
Sayangnya, aku tidak selemah itu sampai bisa dikalahkan oleh monster buatan
semacam ini. Kau masih menyembunyikan kartu as, kan? Cepat keluarkan."
Lagipula, mereka telah melancarkan serangan teroris
berskala besar di akademi sekelas Akademi St.Clan, sudah sepantasnya mereka
memiliki kemampuan yang sepadan.
Setidaknya, tidak mungkin Salamander tiruan semacam
ini adalah kartu as mereka.
"—!?"
Pria berpakaian hitam tinggi yang tampaknya adalah
kapten mereka, merubah ekspresi wajahnya karena kesal lalu melompat mundur
seolah terpental. Dan kemudian—
"Apa barusan itu adalah semacam serangan
khusus!?"
"Orang ini berbahaya!"
"Ka-Kapten!"
Para penjahat berpakaian hitam itu mulai
berteriak-teriak layaknya burung berkicau.
"Aku tahu! Kai Heineman, bukankah dia ini
benar-benar monster! Si keparat Kuko! Berani-beraninya dia berbohong dengan
bilang kalau dia kalah karena kebetulan!"
"Lalu?"
"Ya, aku izinkan untuk melepaskan kekuatan
kita!"
Setelah meneriakkan hal itu, kapten berpakaian hitam
tersebut mulai berteriak dengan urat-urat yang bermunculan di dahinya.
Saking tidak berdayanya mereka, aku sempat berpikir untuk
langsung membunuh mereka semua.
Tapi aku yakin sebagian besar kekuatan utama mereka pasti
berada di arena pertarungan.
Oleh karena itu, aku memutuskan untuk mengutamakan
mencari informasi tentang kekuatan tempur musuh terlebih dahulu.
(Gunuoooooo!)
Permukaan tubuh mereka membengkak, sesuatu seperti
tentakel tumbuh dari mana-mana, dan dalam sekejap mereka berubah menjadi
monster dengan wajah menyerupai gurita.
(Kai Heineman, orang ini berbahaya! Buang harga diri
kalian! Kita akan menghajarnya dengan kekuatan terkuat kita!)
Tentakel melilit senjata mereka, lalu mengarahkan
ujungnya ke arahku.
"Begitu, ya. Ternyata kalian bukan manusia,
melainkan monster. Pantas saja kalian sangat lemah."
Aku melesat cepat melintasi lantai dengan teknik berjalan
khususku, lalu saat berpapasan dengan mereka, aku memenggal seluruh leher
monster-monster yang mengepung kami kecuali sang kapten, kemudian kembali ke
tempat asalku.
(Ada apa!? Cepat serang!)
Mungkin karena kesal melihat bawahannya tidak kunjung
bergerak, si monster gurita yang sepertinya sang kapten itu berteriak konyol.
"Percuma saja. Mereka semua sudah kubunuh."
Sambil mengibaskan Raikiri untuk membuang darah
hijau yang menempel di bilahnya, aku mengumumkan hal tersebut.
(Kau... bunuh?)
"Ya, ini buktinya."
Saat aku menginjakkan kakiku kuat-kuat ke lantai, leher
dari para monster berwajah gurita yang mengepung kami dan tidak bergerak
sedikit pun sejak tadi, mulai bergeser dan berjatuhan ke lantai.
(...)
Aku berpindah ke belakangnya yang hanya bisa
membelalakkan mata dan tak mampu menggerakkan satu jari pun.
"Nah, waktu kita tinggal sedikit. Cepat katakan padaku siapa dalang dan garis besar dari insiden
ini."
Sambil mencengkeram erat bahu kiri monster berpakaian
hitam yang terlihat seperti kapten itu, aku menuntutnya dengan nada tegas.
Saat aku menanyainya sambil menggunakan item yang
membuat monster berpakaian hitam itu ingin bercerita atas kemauannya sendiri,
dia dengan senang hati menceritakan semuanya.
Pemimpin teroris kali ini adalah Dagon, seorang
petinggi dari Libra.
Sementara kapten unit eksekusi teroris yang menerima
perintah darinya adalah pria bertubuh besar bernama Nightgone.
Pria bertubuh besar itu rupanya memberikan perintah
kepadanya untuk mengamuk di dalam Akademi St.Clan ini, dan segera membawaku
padanya begitu menemukanku.
Sudah kuduga, ini perbuatan Libra, ya. Ini akan menjadi
akhir dari segalanya.
Aku dan mereka kini telah resmi menjadi musuh. Tidak ada
jalan untuk kembali.
Selama Lorelei tidak menyingkirkan organisasi bernama
Libra itu dengan tangan mereka sendiri, maka aku akan berada dalam status
perang dengan mereka.
Ah, tidak. Masih ada satu jalan lagi yang tersisa.
(Aku sudah menceritakan semuanya padamu! Jadi tolong
ampuni aku! Kumohon!)
"Tidak bisa. Kau belum membicarakan bagian paling
penting dari insiden terorisme ini, yaitu apa tujuannya. Cepat katakan."
(Itu... aku tidak bisa mengatakannya.)
"Begitu, ya."
(Gugyaaaa!)
Aku kembali memotong telinganya, membuatnya berteriak
histeris.
"Kita tidak punya banyak waktu, cepat katakan!"
Saat aku melambaikan bilah Raikiri di depan
matanya,
(Ba-Baiklah, akan kukatakan! Jadi, tolong hentikan!)
Saat monster kapten itu berteriak histeris,
(Guge?)
Wajah monster kapten berpakaian hitam itu membengkak
dengan cepat, lalu meledak berkeping-keping ke segala arah disertai suara
ledakan yang keras.
Membentuk unit eksekutor dengan mainan sekali pakai,
lalu membuangnya jika gagal, ya. Sepertinya manajemen krisis mereka
terorganisir dengan cukup baik.
Meski begitu, aku benar-benar muak dari lubuk hatiku
yang terdalam.
"Sekarang—"
"—!?"
Saat aku mengalihkan pandanganku pada mereka berdua,
tubuh mereka tersentak dan mundur selangkah.
Gawat juga, ternyata mereka berdua lebih ketakutan
padaku daripada pada monster tadi.
Padahal aku sudah melakukan metode penundukan serupa
sebanyak dua kali di depan Seth, tapi dia masih sebegitu ketakutannya.
Sepertinya, metode interogasi gaya Easy Dungeon
tadi benar-benar menakutkan baginya.
"Mungkin ini sedikit terlalu merangsang bagi
pelajar, ya..."
Mungkin sebaiknya aku menahan diri jika berada di
depan pelajar.
"Tidak usah pelajar, itu sudah cukup merangsang
bagiku, Tuan."
Mendengar suara yang terdengar muak dari belakangku,
aku menoleh ke belakang bahuku dan melihat Zack berdiri dengan wajah lelah.
"Umu, Zack. Kau datang di waktu yang tepat. Bisa
tolong jaga mereka berdua?"
"Ya, Kak Asta sudah memberiku instruksi soal itu
sejak awal. Serahkan saja padaku!"
"Kau sangat membantu."
Aku mengangkat tangan kananku lalu mulai berlari menuju
arena pertarungan.
◇◆◇
(Kenapa, harus aku!)
Elish yang tiba-tiba ditunjuk sebagai salah satu staf
komite penyelenggara, mengulang-ulang gumaman itu berkali-kali di dalam
hatinya.
Saat ini, Elish adalah guru magang di Akademi Ouboro.
Bahkan sebagai pujian pun, dia tidak pernah berpikir
bahwa dirinya cocok menjadi guru.
Tujuan utamanya tetaplah menjadi seorang Hunter
yang sukses. Dia sama sekali tidak memiliki gairah yang begitu besar terhadap
pekerjaan ini.
Sejak awal, alasannya menerima tawaran magang sebagai
guru di Akademi Ouboro adalah karena dia tahu Kai Heineman bersekolah di
akademi ini.
Itu benar-benar alasan yang tidak pantas sebagai
seorang pendidik.
Pada dasarnya, dia tidak benci mengajar.
Buktinya, mengajar murid-murid Akademi Ouboro terasa
sangat memuaskan dan menyenangkan.
Lebih penting lagi, sebagai hasil dari mempelajari
ulang dasar-dasar sihir agar bisa mengajarkannya pada orang lain, dia menyadari
bahwa ketepatan sihirnya telah meningkat drastis.
Karena itu, pada awalnya Elish tidak ragu sedikit pun
untuk mengajar siswa dari akademi lain, yaitu Akademi St.Clan.
Namun, setelah Seth Accard, yang merupakan seorang
murid Akademi Ouboro sekaligus anak haram, diserang oleh murid Akademi St.Clan
dengan alasan yang tidak jelas, Elish mulai merasakan keraguan yang kuat.
Meski begitu, setelah Kepala Sekolah Akademi St.Clan
sekaligus Ratu negara Lorelei saat ini, Yang Mulia Avery, menyampaikan
permintaan maaf resmi, menjatuhkan hukuman bagi para siswa yang terlibat dalam
perundungan Seth, serta menjelaskan langkah-langkah pencegahan di masa depan,
Elish percaya bahwa insiden tersebut hanyalah kejadian pengecualian.
Dia menyembunyikan keraguannya di dalam hati dan
memutuskan untuk kembali menjalankan tugasnya dengan tulus.
Namun, tindakan tidak manusiawi yang terjadi di
kantin besar itu membuat keraguan yang seharusnya sudah disegelnya kembali
muncul sebagai sesuatu yang nyata.
Siswa Akademi St.Clan menjegal kaki Seth Accard,
seorang siswa Akademi Ouboro, hingga terjatuh, dan mencoba memaksanya memakan
makanan yang berserakan di lantai.
Dan yang lebih parahnya, mereka bahkan memasukkan
serangga hidup ke dalamnya.
Alasannya sama seperti sebelumnya. Karena Seth Accard
adalah anak haram sekaligus siswa Akademi Ouboro.
Lebih buruk lagi, siswa-siswa di sekitarnya tidak
menyalahkan tindakan itu, melainkan malah menyemangati mereka.
Terlebih lagi, mereka mengancam akan menyakiti
keluarga murid Elish, dan bahkan menyuruh Seth datang ke kantin besar.
Perlakuan kejam semacam ini bukanlah hal yang bisa
dilihat setiap hari di dunia nyata.
Selain itu, hukuman yang diberikan kepada murid Akademi
St.Clan hanyalah skorsing selama dua minggu, yang mana itu sangatlah ringan.
Rangkaian perlakuan tidak adil dari Yang Mulia Avery
dan stafnya itu membuat Elish mulai memendam rasa ketidakpercayaan yang kuat
terhadap organisasi yang disebut Akademi St.Clan.
Pertama-tama, meski hanya guru magang, Elish adalah
pengajar di Akademi Ouboro, sehingga pada dasarnya dia tidak memiliki kewajiban
untuk mengajar murid Akademi St.Clan.
Mengapa Elish, yang tidak memiliki kewajiban apa pun,
harus mengajar orang-orang yang berulang kali menghina dan menyakiti muridnya
dengan alasan yang tidak masuk akal?
Terutama para guru di Akademi St.Clan yang
memperlakukan murid Akademi Ouboro layaknya kotoran dan sama sekali tidak
berniat mengajari mereka.
Sebaliknya, para guru Akademi St.Clan sepertinya
berpikir bahwa sudah sepantasnya para guru Akademi Ouboro memprioritaskan
murid-murid Akademi St.Clan.
Ketidakadilan semacam ini benar-benar tidak bisa
ditoleransi oleh Elish.
Kini, bagi Elish, Akademi St.Clan tidak lebih dari
sebuah organisasi musuh yang sangat dibencinya.
Karena itulah, dia merasa sangat marah dan menolak
keras karena ditunjuk secara sepihak sebagai anggota komite penyelenggara dan
disuruh bekerja tanpa persetujuan untuk organisasi seperti itu.
"Elish, maafkan aku."
Guru Bry, yang tahun ini menjabat sebagai Instruktur
Ilmu Pedang di Akademi Ouboro dan selalu memakai bandana merah cerah,
menghampiri Elish dan menundukkan kepalanya pelan.
"Anda juga merasa marah dengan semua ini, kan,
Guru Bry?"
"Yah, begitulah. Tapi kau lebih dekat dengan
mereka daripada aku. Aku bisa sedikit membayangkan betapa kesalnya
dirimu."
"Tidak, Anda tidak perlu merasa—"
"Tapi, apa kau yakin mau menjadi juri di pertarungan
tiruan kali ini? Kalau kau mau, aku bisa menggantikanmu—"
Elish bisa dengan mudah menebak apa yang dikhawatirkan
Guru Bry.
Kenyataannya, terjadi banyak perdebatan sengit tentang
siapa yang akan menjadi juri di pertarungan tiruan bela diri ini.
Awalnya, staf pengajar Akademi St.Clan yang direncanakan
menjadi juri, namun karena insiden di kantin besar itu, ada indikasi kuat bahwa
mereka akan memberikan penilaian yang memihak Akademi St.Clan.
Melalui proses eliminasi, akhirnya diputuskan bahwa guru
dari Akademi Ouboro yang akan dipilih, tetapi semua guru di sana menolak untuk
menjadi juri.
Mereka mungkin enggan untuk mengambil peran juri yang
seharusnya mereka jalankan karena takut akan diawasi oleh pihak penyelenggara Akademi
St.Clan jika terjadi kesalahan.
Kemudian, pilihan jatuh pada Guru Bry, seorang instruktur
pedang yang dikirim dari Menara.
Namun, Guru Bry memiliki tugas penting hari ini, yaitu
bekerja sama dengan Kai untuk melindungi 'Pedang Penciptaan Langit dan Bumi',
Artefak Dewa terbaik Lorelei yang akan dipamerkan di samping arena pertarungan
tiruan.
Terkait hal ini, Elish, seorang guru magang di Akademi
Ouboro tahun ini yang tidak memiliki ikatan dengan faksi mana pun, dinilai
mampu memberikan penilaian yang adil, sehingga ia ditunjuk sebagai semacam
kompromi.
"Tidak apa-apa. Saya berniat untuk menyelesaikan
tugas saya di upacara peresmian ini hingga akhir."
Merespons jawaban Elish, Guru Bry mengangguk mantap,
"Begitu, ya. Baiklah. Kalau begitu, aku serahkan
padamu, ya."
Mengangkat tangan kanannya dan berjalan menuju pintu
masuk arena pertarungan.
Di sanalah terdengar sorakan yang luar biasa meriah. Ratu
Kerajaan Lorelei saat ini, Yang Mulia Avery, telah memasuki arena pertarungan.
Arena pertarungan tersebut terdiri dari arena bundar yang
dikelilingi oleh tribun penonton. Di tengah arena, sebuah altar sementara untuk
meletakkan pedang yang baru saja dibangun oleh para staf Lorelei telah rampung.
Pedang panjang mewah bersarung putih yang dibawa dengan
penuh hati-hati oleh Yang Mulia Avery itu, pasti adalah harta karun paling
rahasia kerajaan, 'Pedang Penciptaan Langit dan Bumi'.
Kudengar, itu adalah pedang yang dianugerahkan oleh dewa
yang menciptakan Elf kepada pendiri negara Lorelei, yang mampu menciptakan apa
saja sesuai dengan keinginan penggunanya.
Bakal repot jadinya kalau pedang seperti itu benar-benar
ada. Aku yakin itu hanya sekadar hiperbola, tapi karena sepertinya pihak
Lorelei akan melakukan demonstrasi singkat, kupikir efeknya pasti mirip dengan
rumor yang beredar.
Yang Mulia Avery dan para pendeta berjalan menuju
altar di tengah arena. Sesampainya di sana, Yang Mulia Avery meletakkan pedang
panjang itu di atas altar, lalu berlutut bersama para pendeta dan mulai berdoa.
Setelah mengambil pedang panjang itu, Yang Mulia
Avery menghunusnya dari sarungnya. Kemudian, dia menebasnya ke arah buah kecil
yang diletakkan di atas altar.
Pedang panjang itu membelah buah tersebut menjadi
dua.
Untuk sebuah senjata yang bahkan disebut pedang suci
oleh negara besar Lorelei, aku berekspektasi buah merah itu setidaknya akan
kembali utuh.
Namun—buah yang terbelah dua itu bersinar keemasan,
menempel satu sama lain, membesar, dan membentuk sebuah wujud.
"Eh..."
Terdengar suara keterkejutan singkat dari mulut
Elish.
Tentu saja, buah yang tadinya berwarna merah itu kini
telah berubah menjadi seekor elang yang terbang mengitari Yang Mulia Avery dan
hinggap di bahunya.
Di tengah keheningan, mulai terdengar suara
kasak-kusuk kecil, yang kemudian berubah menjadi gelombang keributan yang lebih
besar. Akhirnya, sorakan uwoooo pecah membahana.
"Pasti bercanda... kan. Menciptakan makhluk
hidup dari benda mati, cerita seperti itu kan hanya ada dalam mitos..."
Keponakan dari Hunter tingkat A, Olga Evans,
yaitu Silud Evans, bergumam dengan suara bergetar menyuarakan pendapat yang
sama dengan yang dipikirkan Elish.
"Lihatlah kenyataannya, Silud! Itu benar-benar
anugerah dari dewa! Tentu saja! Manusia tidak mungkin bisa membuat pedang
seperti ini!"
Adik kandung dari Guru Sigma, Cid Rockwell, juga
membenarkannya dengan anggukan kuat dan wajah memerah.
Atmosfer di tempat kejadian terbagi menjadi dua. Satu
sisi menyuarakan keterkejutan murni seolah sedang menonton pertunjukan sulap.
Sementara yang lain, percaya bahwa pedang tersebut
benar-benar anugerah dari dewa dan dengan murni merasakan keajaibannya.
Tipe yang kedua ini terutama sangat terlihat di
kalangan para Mage, bahkan ada yang sampai melolong saking phấn khích
(bersemangat)-nya.
Upacara selesai, dan altar dipindahkan beserta
pedangnya ke sudut arena, tepat di bawah tribun penonton tempat ruang tamu
kehormatan berada.
Guru Bry, bersama beberapa petugas keamanan dari
Babel, berdiri berjaga di sampingnya untuk melindungi pedang tersebut.
Elish, beserta Silud, Cid, dan Millefeuille, anggota
komite siswa, sedang berjalan menuju tenda di dekat pintu keluar arena
pertarungan untuk membicarakan secara singkat mengenai juri pertandingan
tiruan.
Yang Mulia Avery memuji semangat bertarung kedua
belah pihak di laga simulasi mendatang dan berniat meninggalkan arena
pertarungan. Tepat di saat beliau tiba di pintu keluar arena
pertarungan—
Tiba-tiba, Elish dilanda sensasi ketidaknyamanan yang
khas, seolah-olah area di sekelilingnya telah berubah menjadi rawa yang
transparan.
"Ini pelindung gaib!"
Segera setelah suara tegas Cid bergema, suara ledakan
yang memekakkan telinga terdengar di udara, dan asap tebal berwarna ungu
menutupi area di sekitar pintu keluar arena pertarungan tempat Yang Mulia Avery
berada.
Dari balik asap ungu itu, Elish dapat melihat beberapa
orang turun ke arena dari bagian atas tribun penonton.
Di dalam asap ungu, terdengar suara dentingan logam
yang saling beradu dan teriakan marah. Dan kemudian—
"Nah, semuanya, silakan angkat tangan."
Elish merasa familier dengan suara ini, suara yang
hanya dengan mendengarnya saja sudah membuat bulu kuduknya merinding.
Yah, tidak mungkin Elish melupakannya, sih.
Sepertinya, salah satu pengawal telah menggunakan sihir
angin untuk menyingkirkan asap tersebut.
Asap ungu pun lenyap tertiup angin kencang, dan
menampakkan sosok seorang guru Elf yang sedang mencekik leher Yang Mulia Avery
dengan tangan kanannya, sementara tangan kirinya menodongkan pisau ke
tenggorokannya.
"Kuko! Apa yang sedang kau rencanakan!"
Dia adalah bajingan sampah yang telah melukai dan
menghina murid-murid berharga Elish, Kuko Rosette.
"Elishhhhh, panggil aku Guru Kuko! Kau ini benar-benar tidak paham soal hierarki, ya!"
Kuko memelototkan matanya dan marah besar.
"Lepaskan Nyonya Avery dan menyerahlah! Masih belum terlambat untuk mundur sekarang!"
Meskipun dia berkata begitu, keluarga Rosette milik
Kuko adalah salah satu dari Tiga Keluarga Besar Kerajaan Lorelei.
Namun, jika dia melukai sang Ratu, hukumannya paling
ringan adalah menjadi budak kriminal di tambang seumur hidup, atau yang
terburuk adalah hukuman mati.
Pria itu pasti sangat menyadari hal tersebut. Karena itu,
tanpa perlu mendengar jawabannya pun, semuanya sudah jelas.
"Aku menolak. Saat aku berhasil menyandera nenek tua
ini, kemenangan kami sudah dipastikan."
Kuko menyunggingkan senyum menyeramkan dan
mendeklarasikan kemenangannya.
"Apa tujuanmu sebenarnya?"
Di saat seperti ini. Alasannya sudah pasti sangat jelas.
"Hei, Bry, serahkan Pedang Penciptaan Langit dan
Bumi itu!"
Sudah kuduga. Mengingat mukjizat tak masuk akal yang bisa
dihasilkan oleh pedang itu, tindakan terorisme ini memang memiliki nilai
tersendiri untuk dilakukan.
Lagipula, efek pedang itu dikabarkan sama sekali tidak
memiliki batasan. Jika disalahgunakan, benda itu bahkan mampu menciptakan
monster tingkat bencana.
"Aku tidak mau."
Nyonya Avery adalah adik perempuan dari Nyonya Inea yang
sangat dipuja oleh Guru Bry. Seharusnya dia sedikit ragu karena ada Nyonya
Avery di sana.
"Kau tidak peduli jika nenek tua ini kubunuh?"
"Lakukan saja sesukamu. Tapi, kalau kau
melakukannya, kau akan berubah menjadi daging cincang dalam sekejap."
Saat Guru Bry mencabut pedangnya, orang-orang bersenjata
di kursi penonton langsung mengarahkan busur dan tongkat sihir mereka ke arah
Kuko. Taktik Guru Bry sangat mudah ditebak.
Dia sengaja mempertahankan kebuntuan ini demi menunggu
kedatangan pria itu. Dia adalah Hunter terkuat, Kai Heineman.
Jika pria itu tiba, Kuko pasti akan hancur lebur. Kuko
yang sudah pernah merasakan sendiri kengerian monster bernama Kai itu
seharusnya juga sangat memahaminya.
Karena itu, dia seharusnya merasa goyah. Namun, Kuko lagi-lagi hanya menyunggingkan senyuman yang mengerikan.
"Begitu, ya. Tapi, semuanya sudah berakhir,
tahu."
Saat Kuko melontarkan kata-kata dengan firasat buruk
itu, sebilah pedang menembus perut Guru Bry dari arah belakang. Luka tebasan
itu pun langsung berkobar dilalap api.
"Cih!"
Guru Bry berdecak kesal dan memotong pergelangan
tangan staf Babel di belakangnya dengan pedang. Seorang staf lain lalu
mengayunkan kapak perangnya yang raksasa ke arah Guru Bry.
Guru Bry menangkisnya dengan pedang panjang, melompat
mundur, dan mencabut pedang yang menancap di perutnya. Setelah itu, dia mulai
merapal Heal.
Pada saat yang sama, beberapa staf Elf yang
sebelumnya membidik Kuko dari dekat ruang VIP melompat turun. Mereka langsung
mengelilingi Pedang Penciptaan Langit dan Bumi.
"Tomatle, kenapa kau melakukannya?"
Guru Bry memamerkan gigi taringnya dan membentak pria
paruh baya berambut pendek dari ras Manusia yang pergelangan tangannya baru
saja ia potong, Tomatle.
"Maafkan aku. Aku terpaksa mengambil langkah
kotor ini. Kalau aku tidak melakukannya, mereka semua akan
mati."
Entah karena rasa sakit atau rasa bersalah karena telah
mengkhianati temannya, Tomatle memaksakan diri untuk berbicara dengan ekspresi
tersiksa.
"Keparat! Kau ini benar-benar sampah sejati,
ya!"
Dengan ekspresi buas layaknya binatang, Guru Bry
memelototi Kuko dan melontarkan cacian tersebut.
"Katakan saja sesukamu. Dengan begini, skakmat.
Kemenangan ada di tangan kami."
Setelah mengambil Pedang Penciptaan Langit dan Bumi, para
Elf itu berlari kencang menuju Kuko.
Saat Elish dan yang lainnya hendak berlari untuk
menghentikan mereka, Kuko berseru.
"Oops, jangan bergerak. Kalau
kalian bergerak, aku akan membunuh nenek ini. Kalian paham, kan! Keadaan sudah
berbalik!"
Bersamaan dengan deklarasi itu, peluru api magis dan
anak panah melesat di udara. Serangan itu menembus sekitar separuh anggota
keamanan di kursi penonton yang sedang membidik Kuko, membuat mereka tumbang
bersimbah darah.
Separuh penembak yang berkhianat itu kemudian
mengarahkan senjata mereka ke arah Elish dan yang lainnya dengan santai.
Di tengah situasi tersebut, Pedang Penciptaan Langit
dan Bumi akhirnya diserahkan ke tangan Kuko.
"Pegang nenek tua ini!"
Dia menyerahkan Nyonya Avery kepada seorang Elf yang
tampaknya adalah bawahannya. Kuko lalu menerima Pedang Penciptaan Langit dan
Bumi dan mencabut bilahnya.
"Jadi ini senjata zaman dewa yang diinginkan
oleh Tuan Dagon. Indah sekali...."
Kuko memandangi bilah pedang itu dengan ekspresi
terpesona.
"Sekarang, tinggal mengujinya, kan."
Dia lalu menebas hiasan yang tampak seperti lampu di
dekatnya. Sama seperti buah sebelumnya, lampu itu memancarkan cahaya keemasan.
Ketika cahaya yang menyilaukan itu memudar, sesuatu pun
muncul.
"Gugoooooo!"
Benda itu berubah menjadi naga kecil dan mengaum ke arah
langit.
"Kekuatan supernatural yang melahirkan sesuatu yang
besar dari sesuatu yang kecil! Benar-benar pantas disebut sebagai mukjizat
Tuhan! Dengan benda ini, aku bisa melakukan apa saja!"
Kuko berseru penuh kegembiraan.
"Apa kalian semua mengkhianati tanah air kita?"
Sylud menatap para Elf yang mengarahkan senjata ke arah
Kuko, Elish, dan yang lainnya dengan tatapan penuh kebencian. Dia melontarkan
pertanyaan yang sebenarnya sudah sangat jelas itu.
"Tanah air? Kesetiaan kami bukanlah untuk negara
penuh penipuan bernama Lorelei ini, melainkan untuk organisasi agung bernama
Libra yang akan membimbing Elf menjadi ras tertinggi! Benar begitu,
kawan-kawan!"
Begitu Kuko meminta persetujuan, auman terdengar dari
para siswa Elf, guru, dan beberapa petinggi Kerajaan Lorelei di kursi penonton.
Mereka berdiri satu per satu dan mulai menyiapkan senjata.
Permusuhan itu diarahkan kepada Elish dan kawan-kawannya.
Meskipun jumlah mereka hanya sebagian kecil dari keseluruhan, kekuatan tempur
mereka jelas tidak bisa diabaikan begitu saja.
"Dan inilah alasan mengapa kemenangan kami tak
tergoyahkan!"
Kabut ungu mengepul dari seluruh tubuh Kuko, lalu
kulitnya yang seputih salju dengan cepat berubah menjadi ungu.
Di saat yang sama, para Elf yang ikut serta dalam aksi
terorisme itu juga diselimuti kabut ungu, dan warna kulit mereka perlahan ikut
berubah menjadi ungu.
"Inilah wujud sejati dari Elder Elf, puncak evolusi
dari para Elf dan ras keajaiban yang tercipta berkat buah anugerah Tuan
Dagon!"
Kuko berbicara dengan nada bangga layaknya sedang
bernyanyi.
"Tujuan kalian sudah tercapai, kan. Biarkan para siswa dan guru biasa yang tidak terlibat pergi dari
sini."
Menanggapi permohonan Nyonya Avery itu, Kuko menyahut.
"Tentu saja, ti-dak-bo-leh♩"
Kuko menyeringai dengan ekspresi yang sangat buruk. Dia
kemudian menghantamkan kepalan tangan kirinya yang diselimuti kabut ungu ke
perut Nyonya Avery.
Tubuh Nyonya Avery melengkung tajam layaknya busur,
diiringi suara mengerikan dari sesuatu yang keras hancur di dalam sana.
"Guh!"
Nyonya Avery memuntahkan darah dalam jumlah yang sangat
banyak dari mulutnya.
"Ibu!"
Jeritan panik Mille-feuille di sebelahnya
menggetarkan gendang telinga. Tepat ketika perhatian semua orang teralih pada
Mille-feuille selama sedetik, sebuah tombak berkecepatan tinggi menembus dahi
Elf yang sedang menahan Nyonya Avery.
Elf musuh itu ambruk bagaikan boneka yang tali
pengikatnya terputus. Di tengah kekacauan itu, seorang Elf tampan berambut
pirang yang mengenakan baju zirah putih murni bergegas berlari ke arah Nyonya
Avery.
"Bodoh, aku tak akan membiarkanmu!"
Kuko mengarahkan telapak tangan kanannya ke arah Elf itu
dengan nada suara meremehkan. Detik berikutnya.
"Dasar bajingan kurang ajar!"
Seorang Elf bertubuh raksasa dengan rambut pendek yang
juga mengenakan zirah putih melesat cepat seolah merayap di tanah. Dia
mendaratkan pukulan keras ke wajah Kuko dengan kepalan tangan kanannya yang
bersinar keemasan.
Suara retakan tumpul terdengar nyaring, dan kepala Kuko
langsung berputar ke arah yang tidak wajar.
Dalam jeda waktu yang sangat singkat itu, Elf tampan
berambut pirang berhasil mencapai Nyonya Avery. Dia merangkul sang ratu dengan
tangan kanannya dan mulai berlari ke arah Elish.
Leher Kuko patah, dan dilihat dari sudut pandang mana
pun, dia pasti sudah mati. Bos mereka telah tiada, dan sandera pun berhasil
diselamatkan.
Sisanya hanyalah pertarungan habis-habisan. Namun, tepat
ketika Elish memikirkan hal itu.
"Sialan, dasar kroco!"
Teriakan marah menyembur dari mulut Kuko yang lehernya
masih dalam keadaan patah. Pada saat yang sama, Elf bertubuh raksasa itu
terpental dengan kecepatan luar biasa dan memantul beberapa kali di tanah
sebelum akhirnya menabrak dinding pembatas.
Suara ledakan keras bergema, dan benturan dahsyat itu
membuat seluruh arena bergetar hebat. Elf bertubuh raksasa itu hancur remuk dan
tidak bergerak sedikit pun.
Kemudian, lengan kanan ksatria Elf yang berlari membawa
Nyonya Avery terpotong dari pangkalnya, membuatnya terjatuh terguling-guling.
Seseorang dengan mudahnya mencengkeram kerah baju Nyonya
Avery yang terlempar ke udara. Dia adalah seorang pria Elf bertubuh besar
dengan telinga panjang, mengenakan topi tinggi dan pakaian formal.
Wajah pria itu memiliki rahang yang menonjol aneh, hidung
yang panjang dan besar, serta tubuh kekar berotot yang bisa terlihat jelas dari
balik pakaiannya.
Dalam sekejap, dia berpindah ke depan Kuko dan
melemparkan Nyonya Avery kepada Elf berkulit ungu lainnya.
"Kuko, kau membuat kesalahan besar. Benda ini masih ada gunanya, kan?"
Pria berahang menonjol itu mencubit kumis stang
panjangnya dan bertanya pada Kuko dengan nada sombong.
Kuko adalah orang yang sangat tinggi hati, bahkan dia
selalu bersikap tidak sopan pada Ratu Avery. Elish
mengira Kuko pasti akan marah, tapi ternyata tidak.
"Tepat sekali! Tuan Nightgone, saya sangat berterima
kasih atas bantuan Anda dari lubuk hati yang terdalam!"
Kuko meletakkan Pedang Penciptaan Langit dan Bumi di
tanah, lalu berlutut dengan satu kaki. Dengan tangan kirinya, dia mengembalikan
lehernya yang patah ke posisi semula dengan suara retakan keras, lalu
membungkuk penuh hormat.
Para Elf berkulit ungu di sekitarnya pun mengikuti jejak
Kuko, berlutut dan menundukkan kepala mereka dalam-dalam.
"Gastald...."
Di tengah situasi itu, Nyonya Avery mengulurkan tangan
kirinya dengan tatapan kosong tak berdaya. Dia terus memanggil nama Gastald,
Elf raksasa yang terlempar ke dinding arena dan entah masih hidup atau tidak.
"Kau ini cuma Elf biasa! Kita sedang berada di
hadapan Tuan Nightgone! Berlututlah!"
Kuko berteriak histeris seperti anak kecil yang sedang
tantrum. Dia lalu bangkit berdiri dengan cepat dan memukul wajah Nyonya Avery
dengan keras.
Suara tulang retak terdengar ngilu, dan Nyonya Avery pun
akhirnya benar-benar kehilangan kesadaran dan terkulai lemas.
"Ibuuu! Beraninya kau, menyakiti Ibuku!"
Dengan air mata berlinang, Mille-feuille menatap Kuko
dengan penuh amarah dan berlari menerjangnya.
"Jangan!"
Elish berlari menghampiri Mille-feuille dan merengkuhnya
erat. Dia menempelkan telapak tangan kirinya ke wajah gadis itu dan menggunakan
Paralysis untuk melumpuhkan tubuhnya sementara waktu.
Untuk saat ini, lebih baik tidak memancing kemarahan
mereka secara gegabah.
Akal sehat tidak berlaku bagi bajingan-bajingan itu. Jika
dia hanya diam dan menonton, hampir bisa dipastikan Mille-feuille akan
terbunuh.
Lagipula, insiden ini pasti akan berbalik arah begitu
pria itu muncul. Hal terbaik yang bisa dilakukan sekarang adalah menekan jumlah
korban seminimal mungkin.
Mengabaikan Elish dan kawan-kawannya, Kuko kembali
berlutut dan mulai memuji-muji Nightgone.
"Jadi, di mana pedang yang kau bicarakan itu?
Bisakah kau menunjukkannya padaku sekarang?"
"Ba-baiklah!"
Kuko mengambil Pedang Penciptaan Langit dan Bumi yang
diletakkan di sampingnya dan menyerahkannya kepada Nightgone, sang Elf dengan
rahang aneh.
Nightgone mencabut pedang itu dari sarungnya dan
memandanginya dari berbagai sudut selama beberapa saat. Namun, secara
mengejutkan, dia tiba-tiba menebas leher Kuko dengan satu gerakan mulus.
"Hah?"
Sebuah garis lurus muncul di leher Kuko, diikuti oleh
darah yang merembes keluar sebelum kepalanya menggelinding jatuh ke tanah. Pada
saat yang sama, leher dan tubuh Kuko bersinar dalam warna keemasan.
Ketika cahaya menyilaukan itu menghilang, Kuko muncul
kembali dalam keadaan utuh tanpa kehilangan kepalanya. Kuko meraba-raba
tubuhnya sendiri dengan panik.
"Ke-kekuatan yang meluap-luap ini!"
Dia bersorak kegirangan. Tanpa mengalihkan pandangannya
sedikit pun kepada Kuko, Nightgone bergumam.
"Dia punya kekuatan sihir setara dengan bawahan
sejatiku!? Jadi, pedang ini benar-benar bisa mewujudkan imajinasi secara paksa!
Kalau begitu...!"
Dengan tangan gemetar, dia menggenggam Pedang
Penciptaan Langit dan Bumi dan memotong lengan kirinya sendiri.
Nightgone dan lengan kirinya memancarkan cahaya yang
menyilaukan. Ketika cahaya itu mereda, Nightgone berdiri tanpa luka sedikit pun
di tubuhnya.
"Guha! Guhahahaha! Aku sama sekali tidak menyangka
akan ada hal luar biasa seperti ini!"
Nightgone tertawa terbahak-bahak seperti orang gila.
"Tu-Tuan Nightgone?"
Melihat penampilannya yang begitu janggal, Kuko
bertanya dengan ragu-ragu.
"Sekarang kekuatan eksistensiku sudah setara
dengan Tuan Dagon! Pedang ini benar-benar harta karun suci yang tidak
seharusnya ada di dunia bawah! Jika aku menggunakannya...."
Kedua mata Nightgone memerah karena darah, dan dia
menjulurkan lidahnya yang panjang sembari memasang ekspresi gembira yang gila.
Namun, tiba-tiba dia langsung menyembunyikan ekspresinya.
Dan kemudian....
"Tidak, sebaiknya aku tidak memikirkan hal-hal
yang gegabah."
Dia menggelengkan kepalanya beberapa kali dan merapal
mantra singkat. Tiba-tiba, wujud Pedang Penciptaan Langit dan Bumi menghilang
begitu saja.
"Tuan Nightgone, ke mana perginya pusaka dewa
itu?"
"Kalian tidak perlu tahu. Daripada itu, Kuko, kau
ingin menunjukkan pada kami sebuah pertunjukan yang menyenangkan, bukan?
Cepatlah mulai."
Berbeda dengan ekspresi penuh emosinya tadi, Nightgone
menatap Kuko dengan tatapan dingin dan berbicara dengan angkuh.
"Tentu saja. Ini adalah pertunjukan penghakiman bagi
para pecundang dari diriku, Kuko Rosette, yang telah mencapai tingkat Elder
Elf. Saya sedang menggiring orang-orang tak berguna itu kemari, jadi mohon
tunggu sebentar lagi!"
Kuko kembali berlutut dengan satu kaki dan membungkuk
hormat.
"Sedang menggiring mereka? Waktu kita itu
terbatas. Dan aku ini tidak punya banyak waktu luang. Apa kau mengerti
itu?"
Nightgone melangkah mendekat dan menginjak bagian
belakang kepala Kuko yang sedang berlutut. Dia bertanya dengan suara dingin.
"Tentu saja, saya mengerti!"
"Kalau begitu, kau tahu apa yang harus kau
lakukan, kan?"
Saat Nightgone menjentikkan jarinya, seorang pria
besar berpakaian hitam dengan mata dan mulut yang dijahit melangkah maju. Pria
yang tadi bersiap di belakangnya itu meletakkan sebuah piring besar berwarna
hitam di tanah.
Pria besar lainnya yang berpenampilan serupa
menuangkan isi karung kain yang dibawanya ke atas piring besar tersebut.
Piring raksasa itu penuh dengan gumpalan daging
berwarna ungu yang berdenyut-denyut layaknya makhluk hidup.
"Ka-kalau begitu, sembari menunggu para
pecundang itu tiba, kita akan memajukan jadwal sedikit dan memulai ritual
pemilihan umat manusia baru!"
Kuko meraih sebongkah daging ungu itu dan
mengangkatnya tinggi-tinggi untuk diperlihatkan kepada semua orang di arena.
"Ini adalah buah mukjizat! Hanya dengan
memakannya, para Elf akan berevolusi menjadi umat manusia baru, Elder Elf, sama
seperti kami!"
Kuko lalu mengangkat tangan kirinya dan berseru.
"Fireball!"
Hanya dengan merapalkan nama sihirnya saja, sebuah
bola api bersuhu sangat panas dengan radius tiga meter mendadak muncul. Bola
api itu berputar kencang, menembus dinding arena dan memicu ledakan besar.
"Lihat ini! Begitu kalian menjadi Elder Elf,
bahkan Fireball biasa akan memiliki daya hancur sebesar ini! Tidak ada
lagi yang perlu kita takuti! Bagaimana, kawan-kawan!?"
"Bukankah kalian sudah muak hidup dengan selalu
mempedulikan ras Manusia selama ini!? Kita memiliki misi suci untuk membimbing
ras Elf ke jalan yang benar, bukankah begitu!?"
Kuko meminta persetujuan dari para penonton di arena atas
omong kosong basi yang tidak akan dipercayai oleh siapa pun itu.
"Apa aku juga bisa menjadi Elder Elf?"
Seorang bocah Elf gemuk yang mendengarkan dari barisan
paling depan di kursi penonton mengangkat tangannya yang gemetar. Dia
menyuarakan keraguannya.
"Hei, kau sudah gila, ya! Mereka itu teroris yang
mencoba membunuh Nyonya Avery!"
Seorang bocah ras Manusia di sebelahnya yang tampaknya
adalah temannya mencengkeram bahu kirinya untuk mencegahnya.
"Berisik! Jangan sentuh aku, ras rendahan! Aku ini
bagian dari ras yang unggul!"
Dia menepis tangan bocah Manusia itu dan berteriak
marah.
"...Kau...."
Mengabaikan temannya yang ras Manusia yang sedang
berdiri terpaku kebingungan, Kuko tersenyum.
"Tentu saja kau bisa! Kau akan menjadi entitas
tertinggi seperti kami!"
"Kalau begitu, aku akan memakannya!"
"Kalau begitu, turunlah ke sini."
Bagai terlempar, anak laki-laki itu berlari menuju arena.
Dari berbagai penjuru bangku penonton, siswa-siswa Elf
lainnya juga ikut bangkit berdiri. Mereka mengikuti jejak anak gemuk itu dan
berlari menuju arena.
Begitu anak gemuk itu sampai di depan piring, dia
mengambil bongkahan daging ungu itu dan memakannya dengan rakus. Permukaan
tubuh Elf gemuk itu langsung membengkak, dan kulitnya berubah menjadi ungu.
Seluruh lemak di tubuhnya seakan terkikis habis,
menyisakan seorang pemuda Elf berparas rupawan.
"Inikah... diriku?"
"Benar sekali, kawanku. Kau telah berevolusi menjadi
Elder Elf seperti kami!"
Sorak-sorai dari para Elf meledak menyambut deklarasi
Kuko. Sorakan itu seolah menjadi pemicu segalanya.
Para Elf yang berkerumun di belakang anak gemuk itu, yang
diyakini sebagai pengikut organisasi Libra, bergegas ke piring dan mulai
melahap buah itu.
Sementara semua orang berubah menjadi Elf dengan
penampilan yang tampan dan cantik rupawan, ada satu Elf yang tiba-tiba
menggaruk tenggorokannya dengan ekspresi kesakitan.
"Ah, sepertinya ada barang cacat yang tercampur,
ya."
Kuko melontarkan kata-kata itu tanpa berusaha
menyembunyikan rasa jijiknya. Dalam sekejap, kulit di sekujur tubuh Elf itu
meleleh menjadi cairan kental.
"Aku lupa memberitahu kalian. Buah ini hanya bisa
mengubah mereka yang memiliki darah Elf murni menjadi Elder Elf. Jika dimakan
oleh ras rendahan yang tercampur dengan darah ras Manusia sedikit
saja...."
"...mereka akan berubah menjadi boneka daging yang
jelek, tanpa akal dan tanpa pikiran, yang hanya hidup untuk menuruti perintah
kami."
Kuko kembali merentangkan kedua tangannya.
"Kami, Libra, akan membuat seluruh orang di dunia
memakan buah ini. Kami akan membagi dunia menjadi dua kelas: Ras unggul dan ras
rendahan yang akan menjadi budak setia kami."
"Ini adalah tujuan akhir dari Libra dan juga
kehendak sang penuntun kami, Tuan Dagon. Bagaimana, bukankah ini rencana yang
sangat menakjubkan hingga membuat tubuh kalian merinding?"
Rasa ngeri yang teramat sangat membuat hawa dingin terasa
merayap naik dari ujung kaki.
Mereka ingin mengubah tubuh ras selain Elf menjadi
monster yang mengerikan. Pada saat itu, Elish mungkin ingin percaya bahwa para
siswa Libra yang telah memakan buah tersebut akan menyuarakan penolakan.
Namun....
"Ide yang luar biasa!"
"Tentu saja! Ras rendahan itu tak lebih dari hewan
ternak. Kita akan menjadikan mereka makhluk yang hanya patuh kepada kita.
Itulah jalan yang benar bagi bangsa Elf!"
Harapan Elish itu dengan mudah dihancurkan
berkeping-keping.
"Sepertinya evolusi menjadi umat manusia baru sudah
hampir selesai. Kalau begitu, selanjutnya adalah mengubah ras rendahan menjadi
binatang buas."
"Benar juga, Elish. Tadi kau sudah berani menghina
diriku yang jenius ini, kan! Demi kebaikan dunia, ras rendahan yang tidak
mengerti hierarki sepertimu harus menjadi yang pertama diubah menjadi binatang
buas."
Setelah Kuko berteriak, sosoknya seketika kabur dari
pandangan dan tiba-tiba saja ia sudah mencengkeram kerah baju Elish.
Pria itu kemudian menyeretnya hingga ke depan piring di
arena dan melemparkannya ke tanah.
"Pegang dia!"
Atas perintah Kuko, dua orang Elf langsung menahan
kedua lengan Elish.
Kuko mengambil sebuah buah dari piring, mendekati
Elish, dan menjambak rambut gadis itu dengan tangan kirinya untuk mengangkat
wajahnya.
"Buka mulutmu."
Seorang siswa Elf yang lain dengan paksa membuka mulut
Elish.
(Sial!)
Dia berusaha sekuat tenaga untuk melawan, namun mulutnya
berhasil dibuka secara paksa dengan tenaga yang sangat kuat layaknya catok.
Tidak... tidak! Tidak mau!! Aku sama sekali tidak mau
memiliki wujud meleleh dan menjijikkan seperti itu.
Jika aku berubah menjadi monster seperti itu, pria yang
akan segera datang itu akan melihat sosokku yang jelek ini. Aku lebih baik mati
daripada harus melihat wajahnya dipenuhi rasa jijik saat memandang diriku.
"Berbahagialah. Kau akan menjadi percobaan pertama
dari perubahan ras Manusia menjadi binatang buas."
Buah itu benar-benar hampir masuk ke dalam mulut
Elish. Ingatan masa lalunya seketika bermunculan bagaikan kilas
balik.
Dan saat bayangan dirinya yang sedang berjalan sambil
menggandeng tangan seorang bocah laki-laki berambut abu-abu terlintas di
benaknya....
"Entah itu Ariel atau Elish, apa kalian berdua ini
memancarkan feromon yang membuat orang lain selalu ingin menyerang kalian,
ya?"
Bersamaan dengan suara yang terdengar sedikit jengkel
itu, buah di depan matanya serta tangan kanan Kuko meledak hancur
berkeping-keping.
Di tempat itu, sang pahlawan milik Elish tengah berdiri dengan raut wajah penuh amarah.
◇◆◇
Sihir dengan berbagai macam warna melesat di udara ke
arahku, tetapi aku menangkap semuanya dengan Raikiri dan
mengembalikannya kepada mereka.
"Ti-Tidak mungkin!"
Sihir-sihir itu berbalik arah dan menghantam para Elf
berkulit ungu yang menembakkannya. Mereka terbakar, membeku, hangus tersambar
petir, lalu tersungkur ke tanah.
Aku menghindari dua Elf berkulit ungu yang menyerangku
dari belakang dengan pisau.
Di saat yang bersamaan, aku menghantam perut salah
satunya dengan gagang pedangku, lalu mendaratkan tendangan memutar ke kanan
pada Elf yang satu lagi.
Kedua Elf itu terpental keluar jendela dan menghilang
dari pandangan.
Sejak saat itu, aku terus berjalan menuju arena
pertarungan, sementara para monster yang menyerupai Elf itu terus menyerangku
bagaikan kerumunan semut.
Jika mereka adalah lawan yang kuat, mungkin aku akan
sedikit bersemangat.
Namun kenyataannya, semua yang menyerangku hanyalah
kroco-kroco amatir. Karena saat ini aku masih belum bisa membaca situasinya,
aku membiarkan para penyerang Elf yang belum berubah menjadi monster itu tetap
hidup, setidaknya untuk saat ini.
"Ini tidak ada habisnya. Sejujurnya, menahan diri
seperti ini sangatlah merepotkan."
Sejak datang ke dunia ini, aku sudah banyak belajar
tentang cara menahan diri. Meski begitu, tetap saja ada batasnya.
Menahan diri saat menghadapi musuh yang sangat lemah
seperti ini adalah pekerjaan yang cukup sulit.
Soalnya, jika aku memberikan sedikit saja tenaga lebih,
mereka bisa langsung hancur berkeping-keping.
Setelah keluar dari gedung melalui jendela dan naik ke
atap, puluhan Elf berkulit ungu menyerangku.
"Benar-benar, kalian ini bukan kecoak,
tahu."
Sambil terus mengeluh, aku menangkap semua Elf
berkulit ungu yang berkeliaran di dalam maupun di luar gedung Akademi St.Clan
menggunakan benang sihir.
Kemudian, aku memegang sarung pedang Raikiri
dengan tangan kiriku, dan menyentuh gagangnya dengan tangan kananku.
"Shinkairyu Kenjutsu, Itto-ryu, Shi no Kata—Arachne."
Aku memotong keempat anggota tubuh dari seluruh Elf
berkulit ungu yang telah terikat oleh benang sihirku.
Syukurlah, musuh kali ini memiliki ciri khas berupa kulit
berwarna ungu. Jika mereka memiliki penampilan yang sama persis dengan Elf
biasa, aku pasti akan membutuhkan waktu yang cukup lama untuk menaklukkan
mereka.
Kalaupun ada beberapa orang yang bukan musuh bercampur di
antara para Elf berkulit ungu itu, aku sudah memerintahkan bawahanku untuk
menghentikan pendarahan mereka agar mereka tidak sampai mati, jadi tidak akan
ada masalah.
Saat aku memandang ke sekeliling dari atas atap gedung
sekolah, aku bisa melihat sebuah pelindung yang menutupi seluruh area Akademi
St.Clan.
"Hoo."
Aku melihat dengan mata kepalaku sendiri fenomena di mana
seekor burung yang seharusnya sudah masuk ke dalam pelindung, malah keluar dari
tempat yang sama. Pada saat yang sama, beberapa siswa yang mencoba melarikan
diri ke luar karena takut dengan keributan ini tampaknya malah kembali ke
tempat semula.
"Jadi, efek dari pelindung ini adalah memutus akses
keluar masuk, ya."
Mungkin saja hal ini juga dibarengi dengan pemutusan
informasi. Jika begitu, ini justru menguntungkan bagiku. Jika Babel atau Guild Hunter
ikut campur secara gegabah, situasinya bisa menjadi semakin rumit.
"Arena pertarungannya di sana, ya."
Aku melompat jauh dari atap menuju arena pertarungan.
Di arena pertarungan, di dekat panggung bela diri
berbentuk lingkaran, kulihat Elish sedang ditahan oleh para Elf berkulit ungu,
sementara guru sampah bernama Kuko itu mencoba memaksanya memakan bongkahan
daging berwarna ungu.
Elish itu, dia benar-benar berada dalam bahaya lagi, ya.
"Ariel dan Elish, apa kalian berdua memancarkan
feromon yang membuat orang lain ingin menyerang kalian, ya."
Sambil mengeluh seperti itu, aku mencincang tangan kanan Kuko
beserta bongkahan dagingnya menjadi kepingan kecil, lalu mendarat di samping
Elish. Selanjutnya, aku memotong kedua lengan Elf yang menahan Elish dari
pangkalnya, dan menendang mereka dengan pelan.
Setiap Elf yang kutendang melesat dengan kecepatan
peluru, menabrak dinding arena pertarungan dengan keras hingga punggung mereka
menghantamnya. Aku sedikit salah memperhitungkan kekuatanku. Mereka mungkin
saja mati karena tendangan barusan, tapi ini adalah akibat dari perbuatan
mereka sendiri. Biarkan saja mereka menanggungnya.
Sambil menatap dingin ke arah Elf yang memegangi dagu
Elish dengan ekspresi wajah tercengang, aku berkata,
"Pergilah."
Aku hanya mengatakan hal itu.
"Hiikk!"
Aku memotong kedua kaki Elf itu yang berlari menjauh
sambil memekik kecil dan terguling-guling.
Kemudian, aku mengarahkan ujung pedangku ke arah Kuko
yang masih menjerit kesakitan sambil memegangi tangan kanannya, dan berkata,
"Berisik. Diamlah."
Untuk membungkam mulutnya, aku menendang dagunya ke atas.
Tubuh Kuko terlempar tinggi ke udara, lalu jatuh terbalik karena gravitasi, dan
kepalanya hancur berkeping-keping saat menghantam tanah.
Aku telah memunculkan Healing Slime di pundakku
dan memerintahkannya untuk menyembuhkan orang-orang yang terluka. Dengan begini, aku tidak perlu memikirkan tentang perawatan luka berat
mereka.
"Nah, jadi kau dalangnya?"
Aku bertanya blak-blakan pada Elf dengan dagu
menonjol yang sedang menatap kami. Semenjak masuk ke Akademi Ouboro, aku sering
kali terlibat dalam masalah yang berhubungan dengan Elf, dan jujur saja, hal
itu sangat merepotkan.
Yang paling menyebalkan adalah, lawannya adalah
sekelompok kroco super lemah.
Menahan diri sangat membuatku stres, sampai-sampai
aku sempat berpikir untuk memusnahkan Libra beserta negara Lorelei sekalian.
Tetapi, ceritanya akan berbeda jika Avery dan yang
lainnya terluka parah hingga hampir mati. Ini adalah kudeta yang dilakukan oleh
Libra.
Kalau begitu, aku akan menghancurkan dalang dari
Libra ini dengan saksama untuk menghilangkan semua kekhawatiran di masa depan.
Ngomong-ngomong, sepertinya tidak ada seorang pun
dari orang-orangku di sini, termasuk Rose. Cara kerja
yang sangat rapi. Jangan bilang...
"Kuko! Sampai kapan kau mau tidur! Bukankah kau yang
akan memberikan hukuman pada Kai Heineman untuk menyelesaikan masalah
ini!"
Mendapat teguran keras dari pria Elf dengan dagu yang
anehnya panjang itu, Kuko pun merangkak keluar dari tumpukan puing-puing.
"Tentu saja! Kurang ajar, dasar pria tak
berguna! Berani-beraninya kau mempermalukanku di depan Tuan Nightgone—!"
Mungkin karena marah, dia memelototiku dengan mata merah
menyala dan berteriak dengan suara keras.
"Hmm, memangnya kenapa kalau aku
mempermalukanmu?"
"Pria tak berguna, aku akan membuatmu merasakan
neraka yang akan membuatmu menyesal karena pernah hidup! Aku akan menguliti
tubuhmu, memotong jari tangan dan kakimu, dan memberikanmu segala macam
penderitaan!"
"Benar! Aku akan membiarkan wanita murahan itu
diserang oleh para binatang buas tepat di depan matamu! Saat dia merintih
kesakitan—"
"Beelze, tidak apa-apa, biarkan aku yang
mengurusnya."
Aura hitam Beelze yang memancar dari bayanganku dipenuhi
dengan emosi amarah yang seolah-olah bisa membuatnya menjadi gila.
Sambil menenangkannya, aku melompat ke arah pria itu,
lalu memotong hidungnya yang mancung secara sia-sia itu, dan mendaratkan
pukulan balik dengan punggung tanganku.
Tubuhnya berputar-putar dengan kecepatan tinggi dan
kembali menabrak dinding arena pertarungan. Aku segera mendekatinya dan
berkata,
"Aku pastikan kau akan hancur di sini."
Fakta bahwa kata-kata seperti itu bisa keluar dari
mulutnya, berarti dia pasti sudah sering melakukan hal serupa sebelumnya. Aku
sama sekali tidak berniat memberikan belas kasihan pada orang jahat semacam
ini.
Jika begitu, tempat tujuan akhirnya hanya ada satu. Pada
saat yang sama, Libra yang memproduksi massal orang-orang jahat sepertinya,
juga harus dimusnahkan sepenuhnya dari dunia ini.
Jika kelak takhta kerajaan berpindah dari Avery ke tangan
Libra ini, aku akan melenyapkan negara Lorelei itu sendiri hingga tak berbekas.
Tubuh Kuko yang remuk redam kembali utuh.
"Beraninya kau—"
Aku menendang tubuhnya tinggi ke udara, lalu melompat ke
belakangnya dan menghantamnya ke tanah dengan tinju kananku.
Tubuh Kuko hancur berkeping-keping saat menghujam tanah
dalam-dalam.
Aku menunggu tubuhnya pulih kembali.
"Sialan!"
Aku bergerak ke belakang Kuko yang baru saja berdiri,
lalu mencincang seluruh tubuhnya tanpa henti hingga dia hampir mati.
Sambil menatapnya dari dekat, aku menunggunya kembali
pulih. Sepertinya dia akhirnya menyadari niatku.
"Ja-Jangan-jangan—"
Aku kembali memukulnya dan mengubahnya menjadi gumpalan
daging yang hancur berantakan.
"Am-Ampu—"
Semangatnya yang menyala-nyala tadi entah pergi ke mana,
dan aku terus menghajar Kuko yang kini dengan mudahnya memohon ampun tanpa
ampun.
"Tolong, ampun..."
Aku mendekati Kuko yang meringkuk dan gemetar ketakutan,
lalu berkata,
"Tidak bisa mati bukanlah sebuah keuntungan sama
sekali. Bagi orang lemah sepertimu, itu hanyalah sebuah belenggu. Sudahlah, aku
sudah tidak tertarik sedikit pun padamu."
Begitu kata-kata itu keluar dari mulutku, seluruh tubuh Kuko
tersedot ke dalam lantai yang berwarna hitam pekat.
"Luar biasa! Pantas saja Yang Mulia itu menyiapkan
asuransi! Orang sekelas Kuko itu tidak akan bisa menjadi lawanmu! Kalau aku
belum berevolusi, mungkin aku akan sedikit kesulitan!"
Nightgone, pria dengan dagu menonjol itu, menepukkan
kedua tangannya dengan keras.
"Pujianmu sekarang tidak akan ada gunanya. Aku juga
sudah sangat kesal padamu."
Aku sama sekali tidak peduli dengan guru Elf dewasa
sepertinya, tetapi tanggung jawab karena telah melibatkan para pemuda yang
memiliki masa depan cerah sangatlah besar.
Aku akan memastikan dia membayarnya dengan tubuhnya
sendiri. Termasuk orang yang bernama Dagon itu.
"Entah kau ini dewa tanah dari mana, tapi sepertinya
kau tidak tahu cara menjaga ucapanmu, ya."
"Dewa tanah? Kau membicarakan khayalan itu
lagi..."
Khayalan itu benar-benar sangat tidak menyenangkan.
Sambil menghela napas panjang, aku mendekati pria
yang terus-menerus melontarkan kata-kata kemarahan itu dan menusukkan pedang Raikiri
dalam-dalam ke perutnya.
"Hihe?"
Nightgone mengeluarkan suara yang konyol.
"Jangan bilang, kau sama sekali tidak bisa
bereaksi? Lemah sekali, benar-benar menjijikkan."
Apa makhluk selemah ini yang membuatku merasa sangat
kesal? Benar-benar sulit dipercaya.
Aku menarik gagang pedang Raikiri yang
tertancap ke atas perlahan-lahan.
"Gugii! Ja-Jangan bilang, kauuu!"
Sambil mendengarkan jeritan kesakitannya sebagai
musik latar, aku perlahan-lahan membelah tubuhnya menjadi dua.
Aku menginjak salah satu bagian kepalanya yang
terbelah dua dengan kaki kananku.
"Membosankan. Apa bedanya kau dengan si Kuko
tadi?"
Aku sama sekali tidak melihat perbedaannya. Tepat setelah
keluar dari dungeon, aku juga tidak bisa membedakan kekuatan orang lain
dengan baik. Soalnya, aku hanya bisa menilai mereka semua sebagai makhluk yang
lemah.
Namun, meski mereka semua lemah, aku masih bisa merasakan
sedikit perbedaan melalui instingku. Belakangan ini, hal itu pun menjadi
semakin sulit untuk dilakukan.
"Beraninya kau membandingkan diriku ini dengan
sekelas Kuko—!"
Aku menyarungkan Raikiri, lalu mencengkeram
kepalanya yang terus-menerus berteriak berisik dengan tangan kiriku dan mulai
memukulinya dengan tinju kananku.
"Henti—gigigegegegegegeee—!"
Aku menggunakan Raikiri untuk membelah
Nightgone yang telah berubah menjadi gumpalan daging dalam sekejap menjadi
bentuk salib, lalu menancapkan sebagian tubuhnya ke tanah.
"Merepotkan sekali. Sebaiknya kuakhiri saja
sekarang."
Orang ini terlalu lemah, aku sama sekali tidak tertarik
padanya. Bagaimana kalau kuserahkan saja dia pada Beelze? Jika itu Beelze yang
sedang mengamuk saat ini, dia pasti bisa menyiapkan teror terbaik untuk orang
ini.
"Beelze—"
Tepat saat aku hendak meminta tolong pada Beelze—
"Bocah kecil bernama Mai dan gadis bernama Ariel itu
ada di tangan kami!"
Nightgone yang telah pulih hingga bisa berbicara,
berteriak lantang.
Sejenak aku tidak bisa memahami apa yang dikatakannya,
tetapi aku langsung mengerti. Di saat yang sama, amarah yang membara melonjak
dari lubuk hatiku.
"Hoo. Lalu?"
"Cepat menjauh dariku sekarang juga!"
Aku melepaskan Raikiri dari tubuhnya dan
menyarungkannya.
Dalam sekejap dia menyembuhkan semua lukanya, lalu
melompat mundur untuk menjauh dariku.
"Jangan berani melawan! Jika kau sedikit saja
melawan, bocah dan gadis itu akan merasakan penderitaan di neraka yang paling
buruk!"
Seolah-olah baru saja memenggal kepala iblis, Nightgone
memperingatkanku dengan sombong. Dasar bodoh.
Alasanku menjauh darinya bukanlah seperti yang dia
pikirkan. Justru sebaliknya. Singkatnya, aku—
"Dengan begini, skakmat!"
Tubuhnya membengkak, dan sudut bibirnya robek. Bola
matanya mencuat keluar, kelopak matanya menghilang, dan pupilnya mengecil
menjadi garis tipis.
Dalam sekejap, dia berubah wujud menjadi seperti ikan
dan menatapku rendah, lalu dia menjentikkan jarinya dan berkata,
(Hei, para pelayanku, makanlah semua isi sekolah ini!)
Dia memberikan perintah tegas kepada para pelayannya.
Sesaat kemudian, para Elf berkulit ungu yang tadi ketakutan padaku dan mundur
ke sudut arena sambil gemetar, tiba-tiba mulai meronta kesakitan.
Mereka juga berubah wujud menjadi ikan atau katak, lalu
membungkuk hormat kepada Nightgone.
(Kalau kau menggerakkan satu jari pun, kubunuh bocah dan
gadis itu! Ditambah lagi, kekuatan wujud perubahanku ini 1.000 kali lebih kuat
dari wujud asliku. Sekalipun kita bertarung secara normal, tidak mungkin aku
akan kalah darimu!)
Sangat berbeda dengan wajahnya yang penuh keputusasaan
tadi, kini Nightgone berbicara dengan angkuh layaknya pemenang.
"Asta, kau di sana, kan?"
"Tentu saja aku ada di sini."
Asta langsung muncul saat kupanggil.
(Apa!? Bagaimana bisa kau menyusup ke sini!? Karena
adanya Area Terkutukku ini, selain dari orang yang kuizinkan, seharusnya tidak
ada yang bisa masuk ke tempat ini!)
Nightgone sangat terkejut melihat kemunculan Asta yang
tiba-tiba.
"Apa mungkin informasi tentang tempat ini akan
bocor?"
Aku mengabaikan pria yang berisik itu dan menanyakan
hal yang paling krusial pada Asta.
"Area Terkutuk murahan yang terbentang di
sekitar sini telah kutimpa berkali-kali dengan pelindung milikku. Karena
itulah, selain orang yang kuizinkan, segala macam bentuk komunikasi dan akses
keluar masuk dari dan menuju luar adalah hal yang mustahil."
"Begitulah katanya. Sayang sekali, ya."
(Apa maksud perka—)
Seolah memotong perkataan Nightgone, aku mendekatinya dan
menjegal kakinya. Sambil berputar dengan kecepatan luar biasa, Nightgone
menghantamkan wajahnya ke tanah dengan keras.
Aku menginjak wajahnya yang tertelungkup,
(Ka-Kau, bocah dan gadis itu—)
"Tutup mulut busukmu itu!"
Bersamaan dengan teriakanku, aku menambahkan sedikit
tenaga pada kaki kananku yang sedang menginjak belakang kepala Nightgone.
Diikuti dengan suara letupan yang keras, kepalanya hancur
berkeping-keping. Gawat, saking lemahnya dia, tanpa sadar aku malah
membunuhnya...
(...gi...ge...)
Ah tidak, dia masih kejang-kejang dan sepertinya masih
hidup. Benar-benar punya daya tahan hidup layaknya kecoak, ya.
Aku segera memerintahkan Healing Slime untuk
menyembuhkannya.
Setelah sembuh, Nightgone menggelengkan kepalanya dan
berdiri, lalu pandangan kami bertemu.
Seketika, darah di wajahnya menghilang, dan dia melompat
mundur dengan panik untuk menjauhiku.
Lalu, dia merendahkan titik berat tubuhnya dan
bersiaga. Melihat tubuhnya yang gemetar hebat, sepertinya dia akhirnya mengerti
situasi kritis yang sedang dihadapinya. Benar-benar makhluk yang lamban seperti
dinosaurus.
"Di mana Mai dan Ariel berada?"
Aku bertanya dengan nada suara yang sangat dingin,
hingga aku sendiri hampir tidak percaya bahwa itu adalah suaraku.
(Mana mungkin aku menjawabnya! Cepat lepaskan aku! Kalau
tidak, aku akan langsung membunuh bocah dan gadis itu!)
Nightgone berteriak panik bagaikan binatang buas yang
tersudut. Benar-benar makhluk yang konyol.
Dalam situasi mendesak seperti ini, mana mungkin aku
bertanya pada makhluk sepertimu.
(Mereka ada di sebuah rumah di ujung tenggara kota ini.
Biar kutunjukkan jalannya.)
Tiba-tiba, suara Beelze terdengar dari atas kepalaku.
Bagus, sepertinya lokasinya sudah diketahui.
Sekarang tinggal menyelesaikan masalah di sini.
Aku mengeluarkan Ensiklopedia Penaklukan dan membuka
lembaran halamannya.
(Ka-Kali ini, apa lagi!?)
Meski panik setengah mati, Nightgone melihat ke
sekeliling, mencari sumber suara tersebut.
"Hei kalian, ada tugas! Semuanya, keluar!"
Suara panggilanku bergema, dan ribuan petinggi yang
mewakili setiap faksi petarung muncul tiba-tiba di arena pertarungan, di atas
kursi penonton, di atas tiang yang tinggi, dan di udara, lalu mereka semua
berlutut serentak di hadapanku.
(Hihe?)
Sambil mengeluarkan suara bodoh, Nightgone menatap
tercengang ke arah bawahanku yang sedang berlutut di hadapanku.
(Guhiiiiiii—!)
Wajahnya berubah kaku karena ketakutan, dan dia pun
menjerit histeris.
(Yang Mulia, tolong perintahkan kami!)
Naga bernama Ladon, yang telah mengambil wujud manusia,
mengulurkan lengan kirinya dengan hormat dan menundukkan kepalanya dalam-dalam.
"Baru saja, sampah bernama Dagon itu telah
mengumumkan deklarasi perang! Terlebih lagi, dengan cara yang
paling terburuk! Aku tidak akan pernah memaafkan dalang dari insiden ini! Demi
kehormatanku, aku akan memusnahkan mereka semua, tanpa menyisakan setetes darah
atau sepotong daging pun!"
Mendengar kata-kataku yang begitu kuat dan bermusuhan
yang belum pernah kulakukan sebelumnya, para petinggi dari Ensiklopedia
Penaklukan menelan ludah mereka. Aku mengerti.
Saat ini aku sedang tidak tenang. Aku sangat panik,
dan juga marah dari lubuk hatiku yang terdalam.
Membiarkan Mai, anak kecil yang tak bersalah, diculik
oleh sekumpulan serangga rendahan ini pada awalnya adalah kesalahanku.
Aku sama sekali tidak menyangka mereka akan
melibatkan gadis kecil yang tidak ada hubungannya.
Karena pemikiranku yang terlalu naif itulah, Ariel
jadi ikut berada dalam bahaya.
Jika mereka sampai melakukan sesuatu padanya—
"K-Kai?"
Merespons Elish yang dengan takut-takut bertanya
tentang niatku,
"Ada tempat yang harus kutuju sekarang."
Aku hanya menyampaikan poin pentingnya saja, dan kemudian
berkata,
"Kalian mengerti, kan? Seberapapun lemahnya lawan
kalian, hancurkan mereka sepenuhnya, dan bereskan keributan di akademi
ini!"
Aku memberikan perintah tegas kepada para bawahanku yang
masih berlutut, lalu melompat ke dalam bayangan yang dibuat oleh Beelze.
◇◆◇
Elish dan yang lainnya, melalui gambar yang diproyeksikan
di langit, menatap kosong pada pertarungan tanpa ampun yang lebih pantas
disebut pembantaian.
Bawahan Kai berada pada level yang sama dengan Tuan Zenki
dan yang lainnya. Memang sejak awal aku tahu mereka kuat.
Namun, kupikir Tuan Zenki adalah orang yang spesial. Tapi
sekarang, aku sangat yakin bahwa dugaanku itu jelas-jelas salah.
Mantan Elf dengan wajah ikan atau katak itu berlarian
menyelamatkan diri dengan ekspresi keputusasaan. Dan dengan kejamnya, bawahan
Kai memburu mereka satu per satu.
"Hei, hei, bukankah itu ras manusia naga, Dragonewt!?"
Cid, yang berada di sebelahnya, berbicara dengan suara
riang, wajahnya memerah karena antusias.
"Tidak, ada juga sosok naga seutuhnya. Makhluk itu
sama sekali berbeda. Terlebih lagi..."
Kepada Silud yang kehabisan kata-kata,
"Mereka semua adalah kumpulan Transcenden
tingkat atas."
Millefeuille, yang menonton di sebelah mereka,
menyatakannya dengan nada tegas.
Millefeuille, setelah disembuhkan kelumpuhannya oleh
Slime bawahan Kai, segera berlari menghampiri ibunya, Avery, dan Komandan
Kesatria Pengawal Kerajaan, Gastalt.
Dan setelah mengetahui bahwa mereka sudah pulih dan tidak
terluka sedikit pun, dia menyerahkan perawatan mereka kepada tim medis dan
bergabung untuk menonton pertarungan tersebut.
"Transcenden. Eksistensi yang kita sebut
sebagai dewa..."
Aku sudah sedikit menduganya. Raja Kutukan yang waktu
itu juga, seharusnya merupakan bencana besar yang dapat menghancurkan Babel.
Hanya karena Kai dan Tuan Zenki yang dengan mudahnya
menghancurkan mereka, musuh itu terasa sangat lemah.
"Ya, dan orang-orang itu adalah Transcenden
kelas tertinggi yang pernah tercatat dalam sejarah!"
Millefeuille menegaskannya dengan nada yang agak
bangga.
Di sebelah Millefeuille, kakak Ariel yang baru saja
tiba, Sicke, bergumam sambil memutar wajahnya.
"Apakah itu Letnan Jenderal Pasukan Jahat,
Drekavac!? Lalu Malaikat Jatuh Azazel, serta mantan komandan Ruin
dari Pasukan Jahat, Ronove! Kalau begitu, apakah dia Dewa dari Pasukan Jahat!?
Bukan, itu mantan salah satu dari Empat Jenderal Langit Pasukan Surga, Dewi
Athena, dan Dewi Waktu Norn yang disebut sebagai Harta Karun Surga! Apakah ada
juga Shuten-doji dari masa lalu, dan Dewa Naga Ladon!? Aku sudah tidak mengerti
apa-apa lagi!"
Sejak tadi dia bergumam sendiri sambil menatap kosong
pada pertarungan tidak masuk akal yang sedang berlangsung.
"Tuan Sicke? Apakah terjadi sesuatu?"
"Tidak, tidak ada apa-apa."
Sicke buru-buru menutup mulutnya. Namun,
"Sicke, kami punya beberapa penjelasan dan
permintaan untukmu. Kau tidak keberatan, kan?"
Salah satu tangan kanan Kai, Asta, muncul di belakang
Sicke, meletakkan tangannya di bahu kirinya, dan bertanya dengan nada yang
tidak menerima penolakan.
"Baiklah. Berdasarkan hal itu, bolehkah saya
menanyakan satu hal?"
"Apa itu?"
"Apakah Anda semua adalah musuh kami?"
"Apakah kau menganggap kami sebagai musuh?"
Sicke menghela napas panjang, menggelengkan kepalanya
perlahan, dan berkata,
"Tuan Kai telah menyelamatkan kami dua kali.
Terlebih lagi, kali ini beliau marah besar demi adikku, Ariel. Aku sendiri
sangat memahami keberadaan beliau itu."
Dia menjawab dengan ekspresi pasrah. Memang benar, sejak
mengetahui bahwa gadis bernama Mai dan Ariel diculik, sikap santai yang
biasanya ditunjukkan oleh Kai menghilang sepenuhnya.
Terutama, karena Kai telah menyelamatkan Ariel dua kali. Setidaknya, Kai menganggap Ariel sebagai orang yang penting baginya.
Memikirkan fakta tentang obsesi Kai terhadap Ariel, dada
Elish terasa sakit.
(Eh, aku... sekarang...)
Mengabaikan Elish yang sedang kebingungan karena
merasakan emosi yang bahkan tidak bisa dijelaskan oleh dirinya sendiri, Cid
berkata,
"Intinya, karena dia bisa menundukkan Transcenden
kelas terkuat itu, maka Kai Heineman itu... apakah kita bisa menganggapnya
sebagai seorang Transcenden juga!?"
Dengan wajah memerah karena antusias, Cid menanyakan hal
itu pada semua orang.
Bagi Cid yang seorang Mage, dewa adalah eksistensi
yang spesial.
Karena itulah, wajar jika dia menganggap Kai, yang
bisa menundukkan mereka, sebagai makhluk bukan manusia.
Namun—
"Tidak! Dia itu manusia!"
Elish segera membantah pernyataan Cid dengan sekuat
tenaga. Kai bukanlah manusia. Fakta itu saja yang tidak akan
pernah bisa diakuinya.
"Yah, setidaknya dia sendiri percaya bahwa
dirinya adalah manusia."
Asta menepuk pelan kepala Elish dan menjawabnya dengan
lembut sambil tersenyum. Dilihat dari situasinya, Asta sepertinya merasa senang
karena Elish menganggap Kai sebagai seorang manusia.
"Ngomong-ngomong, apa yang akan dilakukan pihak
akademi pada para idiot bodoh yang telah membuat masalah ini, yang sedang tidur
di sana itu?"
Cid bertanya pada Silud dengan ekspresi penuh
kebencian, matanya tertuju pada para Elf yang tertidur di arena pertarungan.
Para Elf yang telah berubah menjadi monster itu,
setelah tubuh fisiknya dihancurkan oleh para Transcenden bawahan Kai,
mereka dikembalikan ke wujud semula oleh Slime bawahan Kai dan dibaringkan di
arena pertarungan ini.
Fakta ini juga menjadi salah satu alasan mengapa Elish
dan yang lainnya bisa menonton pertarungan ini dengan tenang.
"Tentu saja mereka akan diadili dalam sidang
gabungan antara Babel dan negara Lorelei. Lagipula, mereka merencanakan
pembunuhan Yang Mulia Avery dan berencana menggulingkan negara Lorelei. Pelaku
dan sampah yang mendukung tindakan bodoh itu tidak akan luput dari hukuman
mati. Lebih tepatnya, aku juga benar-benar marah dari lubuk hatiku atas
kejadian kali ini! Siapapun yang terlibat dengan Libra, meskipun tidak ada
hubungannya dengan insiden ini, aku akan mengusir mereka selamanya dari akademi
ini!"
Sambil tersenyum mengerikan, Silud melontarkan
kata-katanya, dan Cid mengangguk puas sambil menyeringai.
"Itu bagus. Kalau para rasis keras kepala itu
tidak ada, akademi ini akan menjadi tempat yang jauh lebih baik."
"Bahkan jika ada penganut Libra yang bersembunyi
sekalipun, melihat situasi ini, kurasa mereka akan kehilangan niat untuk
mendukungnya."
"Tentu saja, melihat ketua mereka dalam keadaan
seperti itu..."
Nightgone, yang awalnya bersikap sangat sombong dan
bertingkah seolah-olah dia adalah orang penting, kini telah dihajar
habis-habisan oleh seorang pemuda bermata satu berpakaian putih yang diyakini
sebagai bawahan Kai, dan sekarang dia sedang sekarat.
Pemuda bermata satu itu mengangkat tangan kanannya dengan
santai. Di tangan kanannya, dia memegang lengan kiri Nightgone.
Detik berikutnya, percikan darah menyembur dari potongan
lengan kiri Nightgone.
(Tolong bunuh saja aku!)
Nightgone, yang awalnya menangis dan memohon ampun, kini
telah memohon akhir hidupnya sendiri akibat kekerasan yang berulang kali tak
masuk akal dan tak dapat dijelaskan itu.
(Kuhi!?)
Wajah Nightgone terbelah menjadi dua, dan sekali lagi,
kematian datang menjemputnya.
"Tuan Asta, serangan apa itu?"
"Hanya serangan mata-mata itu sajalah yang tidak
bisa kupahami. Kemungkinan besar, dia bergerak di dalam ruang waktu
yang berhenti."
Mendengar jawaban Asta, Sicke berkata,
"Pergerakan dalam ruang waktu yang berhenti!?
Itu adalah keajaiban yang hanya dimiliki oleh dewi Norn dan jajaran enam
jenderal Typhon, serta eksistensi spesial lainnya!"
Sicke yang terkejut panik, mencecar Asta dengan
pertanyaannya.
"Karena berbagai alasan, pria bermata satu itu
kini memegang kendali penuh atas kekuatan Typhon tersebut."
"..."
Setelah terdiam tanpa kata-kata, Sicke sejak saat itu
mengatupkan mulutnya rapat-rapat.
"Sudah waktunya ini berakhir. Menurutku mereka sudah
berjuang cukup keras melawan para psikopat itu."
Setelah mendeklarasikan akhir pertarungan dengan nada
tanpa beban, Asta menghilang entah ke mana.
"Aku akan memintanya menjadikanku sebagai
bawahannya!"
Mendengar deklarasi dadakan Cid yang konyol ini,
"Tentu saja tindakan tidak sopan seperti itu
tidak boleh!"
Silud menaikkan suaranya penuh kepanikan, dengan
sekuat tenaga menyangkal deklarasi Cid.
"Kalau tidak boleh jadi bawahan, aku akan minta
diangkat jadi murid. Meski ditolak, aku takkan menyerah. Aku akan memohon
berkali-kali padanya."
Cid meninggikan suaranya seraya mengepalkan kedua
tangannya erat.
"Aku menolak keras tindakan curi start seperti
itu!"
"Curi start? Toh pada akhirnya, kamu juga punya
pemikiran yang sama, kan?"
Mendengar perkataan Cid yang bernada muak,
"..."
Silud pun memalingkan wajahnya, pipinya sedikit merona.
"Bagaimanapun juga, dengan kejadian kali ini,
ideologi Libra bisa disingkirkan dari akademi ini. Bisa dibilang pada akhirnya
semua berjalan baik, kan?"
"Begitulah. Kalau setelah melihat kejadian ini masih
ada yang mengoceh bahwa Elf adalah ras unggul, dia benar-benar orang bodoh yang
tidak bisa diselamatkan. Dia tidak pantas berada di Akademi St.Clan ini.
Setidaknya, itu bukan hal yang boleh dilakukan. Bagaimanapun juga, akademi ini
adalah salah satu akademi terbaik di Babel, kan."
"Entahlah soal itu."
Elish menyangkal pernyataan Silud.
"Guru Elish, apa Anda tahu sesuatu?"
Cid langsung mendesak Elish untuk menjelaskan dasar
perkataannya.
"Mengingat besarnya dampak insiden ini pada
Babel secara keseluruhan, aku yakin pada prinsipnya memori para siswa Akademi
St.Clan yang tidak terlibat langsung dalam insiden ini akan dihapus."
"Tunggu, tunggu sebentar! Jangan bilang kami
juga!"
"Itu tergantung hasil diskusi antara petinggi
Babel dan Akademi St.Clan. Tapi, jika memori semua orang dihapus, justru ada
kemungkinan hal itu akan menghambat jalannya manajemen sekolah ke depannya. Aku
rasa memori orang-orang seperti kalian yang terlibat langsung dalam operasional
sekolah tidak akan dihapus."
"Begitu, ya..."
Melihat Cid dan Silud yang dengan jelas menghela
napas lega,
"Meskipun demikian, Akademi St.Clan juga punya
niat untuk menyingkirkan pengaruh Libra. Mereka mungkin akan mencoba menyisakan
ingatan tentang betapa berbahayanya Libra dengan suatu cara."
Tapi, itu adalah urusan Kai dan Yang Mulia Avery. Kurasa
mereka akan mengaturnya dengan baik.
"Kalau begitu, mari kita pergi membantu juga.
Sekitar separuh dari jumlah guru keluar karena kejadian ini, jadi sekolah
sedang benar-benar kekurangan staf."
"Benar juga. Kalau begitu, Guru Elish!"
"Ya."
Elish juga perlu berdiskusi dengan Yang Mulia Avery
tentang penyelesaian insiden kali ini.
(Mungkin nanti aku akan mengirimkan makanan untuknya,)
Sambil memikirkan hal itu secara samar, Elish pun mulai
berjalan untuk memberikan bantuan.
◇◆◇
Sesuai dengan petunjuk suara itu, Ares tiba di sebuah
rumah lapuk di ujung tenggara Distrik Keenam.
Begitu masuk ke dalam rumah, di pintu masuk, Torla dan
siswa-siswa Elf lainnya sudah menunggu dengan senjata terhunus.
"Di mana Mai? Dia baik-baik saja, kan?"
Sambil menahan amarah yang meledak-ledak di dalam
hatinya, Ares bertanya pada Torla.
"Dia ada di ruang tamu di lantai dua. Kami
adalah Elf Libra yang penuh harga diri. Kami tidak akan melukai
anak-anak."
Dengan wajah masam, Torla memberikan jawaban yang
konyol.
Sejak awal, orang yang memiliki harga diri tinggi
tidak mungkin menyandera anak kecil.
Dilihat dari ekspresi kaku Torla, sepertinya dia sendiri
pun menyadari kontradiksi itu.
"Antarkan aku ke tempat Mai sekarang juga!"
Ares mendesak Torla dengan nada tegas.
"Ikuti aku!"
Saat dituntun Torla memasuki ruang tamu di lantai dua,
"Ariel!"
Begitu melihat Ares, Mai langsung berseru. Gadis itu
terikat di sebuah kursi besi di tengah ruangan.
"Mai!"
Didorong oleh rasa panik yang kuat, Ares mencoba
mendekati Mai.
Namun, sebuah kekuatan tak kasat mata dari atas
menekannya ke bawah dan menguncinya di lantai.
Dalam sekali kedipan mata, seorang pria tinggi berambut
panjang, mengenakan mantel biru tua dan topi, sudah berdiri di depan kursi
tempat Mai duduk.
"Nah, nah, naah... perkenalkan, saya Dagon. Salah
satu petinggi Libra dan seorang pendeta yang mengemban tugas untuk menyampaikan
firman agung dewa kita ke dunia bawah ini, ya. Salam kenal, ya."
Seolah sedang mengejek Ares dan yang lainnya, pria tinggi
bernama Dagon itu sengaja melepas topinya dan membungkuk dengan gaya yang
berlebihan.
Menilai dari reaksi Torla, sepertinya mereka masih
memiliki penolakan psikologis untuk melibatkan Mai yang masih kecil.
Tidak mungkin Torla dan teman-temannya yang merencanakan
insiden ini. Pasti Dagon-lah yang mencuci otak Torla dan merancang penculikan
kali ini.
"Lepaskan Mai!"
Ares tahu ini percuma, tapi tanpa sadar dia meninggikan
suaranya.
Jika mereka bersedia melepaskannya semudah itu, mereka
takkan menculiknya sedari awal.
Fakta bahwa mereka berniat melenyapkan Ares sekaligus
Mai hampir bisa dipastikan.
"Tuan Dagon, wanita yang menjadi kelemahan si
tak berguna itu sudah kita tangkap. Bisakah kita lepaskan saja anak kecil itu
sekarang?"
Dengan ekspresi wajah yang tampak terdesak, Torla
mengajukan permintaan yang sama sekali tidak pernah diduganya kepada Dagon.
"Hmm, mungkinkah mantranya sudah terlepas dari
kalian, ya?"
Menyipitkan matanya, Dagon menggumamkan pertanyaan
yang membingungkan.
"Mantra, maksud Anda?"
Torla mengerutkan kening dan bertanya balik.
"Padahal baru-baru ini efeknya masih bekerja
dengan sempurna, ya. Mantra saya tidak selemah itu hingga bisa menghilang
dengan sendirinya. Kalau begitu..."
Melihat Dagon yang tampak berpikir,
"Tuan Dagon?"
Begitu Torla memanggil dengan ragu, tiba-tiba Dagon
sudah berada tepat di depan wajahnya.
"Tunggu, apa yang—!?"
Dagon mencengkeram erat kepala Torla yang sedang
panik dengan tangan kanannya.
"Tidak ada efeknya... mungkinkah ini penghapusan
mantra dan kekebalan, ya."
"Tuan Dagon!"
Torla menepis tangan kanan Dagon dan menjaga jarak.
"Torla, maukah kamu menjadi Elder Elf,
ya?"
"Elder Elf? Mana mungkin ada yang bisa
menjadi makhluk legendaris seperti itu!"
Mungkin mengira Dagon sedang bercanda dan
mengejeknya, Torla meninggikan suaranya dengan nada kesal.
"Hal seperti ini tak mungkin terjadi secara alami.
Pasti ada campur tangan pihak ketiga, ya. Merepotkan sekali. Sungguh sangat
merepotkan, ya."
Melihat Dagon yang bergumam sambil mengusap dagunya
dengan tangan kanan, Elf-Elf lain menarik Torla ke sudut ruangan dan mulai
berbisik-bisik.
(Hei, Torla. Bukankah ini sudah jelas-jelas gawat!)
(Benar! Lagipula, masa sih ras Elf yang mulia menyandera
anak kecil dari ras manusia! Kenapa kita bisa sampai ikut bekerja sama dalam
hal seperti ini!?)
(Aku tahu! Aku juga sudah tidak tahan lagi! Aku tidak mau
ikut campur lagi!)
Bahkan dari samar-samar percakapan yang terdengar,
terlihat jelas bahwa mereka tidak setuju dengan perlakuan terhadap anak ini.
Atau lebih tepatnya, kalau memang begitu, kenapa mereka
bersedia bekerja sama dalam rencana ini?
Lalu tentang perkataan mantra yang terlepas, penghapusan
mantra, dan kekebalan. Mungkin, sejak awal Torla dan teman-temannya...
"Saya penasaran bagaimana keadaan di arena
pertarungan, ya."
Dagon menepukkan kedua tangannya, dan sebuah pemandangan
pun muncul di udara.
"Ka-Kai!?"
Tanpa sadar, Ares menjerit panik.
Di sana, tergambar sosok Kai yang berlumuran darah dan
tertelungkup tak bernyawa, dengan Kuko yang menusukkan pedangnya ke dada Kai.
"Kaaaaiiiii! Tidak mau! Jangan! Aku bilang
tidaaaaak!"
Ada kemungkinan Kai telah pergi untuk selamanya.
Memikirkan hal itu saja sudah membuat Ares menangis dan menjerit menyedihkan
seperti anak kecil.
"Kumohon, bangunlah!"
Ares terus berteriak memanggil dengan putus asa, tapi
sosok Kai dalam proyeksi itu tak bergerak sedikit pun.
Luka dengan pendarahan hebat dan pedang yang menancap
tepat di jantungnya adalah sebuah kenyataan. Kai sudah...
"Tidak mungkin..."
Setelah menyadari fakta yang terasa bagaikan mimpi buruk
itu, keputusasaan yang kelam menusuk dada Ares, membuatnya bergumam pelan.
"Hmm, sepertinya Nightgone berhasil melakukannya
dengan baik, ya. Sekarang tinggal pedang ini..."
Sebuah pedang panjang nan indah melayang di depan Dagon.
Dagon mencengkeram gagangnya dan berjalan mendekati
jendela, lalu menebas sebuah kursi yang terjatuh di dekatnya.
Kursi itu bersinar menyilaukan, lalu berubah menjadi
monster humanoid berbentuk gurita dan berlutut di hadapan Dagon.
Kemunculan monster yang tiba-tiba itu membuat Torla dan
teman-temannya memekik kaget.
"Pedang yang secara akurat bisa mewujudkan imajinasi
orang yang menebasnya... ia bahkan bisa membengkokkan hukum sebab akibat, ya.
Dan lagi, sepertinya tidak ada batasan sama sekali..."
Untuk pertama kalinya, Dagon menunjukkan emosinya. Itu
bukanlah kegembiraan, ataupun perasaan positif seperti sukacita.
Itu pastilah emosi yang paling purba dan tak tertahankan,
yaitu rasa takut yang luar biasa.
"Benda seperti ini seharusnya tidak ada di dunia
tempat makhluk-makhluk rendahan tinggal, ya. Apakah monster itu yang
menciptakannya? Tidak, seberapapun gilanya dia, benda ini berada di dimensi
yang sama sekali berbeda."
"Jika memang ada eksistensi yang mampu menciptakan
benda seperti ini, itu pasti..."
Melihat Dagon yang bergumam pada dirinya sendiri,
"Tu-Tuan Dagon, benda apa itu sebenarnya?"
Sebagai perwakilan yang lain, Torla menunjuk ke arah
monster gurita berwajah manusia itu dan bertanya pada Dagon dengan ragu.
"Hmm, sepertinya ada eksistensi yang sangat
merepotkan di dunia ini, ya. Apakah sebaiknya saya menyarankan untuk segera
membatalkan inkarnasi dan menarik diri dari dunia ini, ya."
Dagon terus bergumam mengabaikan Torla, seolah-olah
eksistensi mereka tidak ada.
"Sepertinya itu pilihan yang terbaik, ya. Lagipula,
bahkan jika saya ingin bertemu dengan monster sejati yang bisa menciptakan
pedang semacam ini, kemungkinan hal itu terjadi sangatlah kecil."
"Mungkin sebaiknya kita kembali setelah cukup
bersenang-senang, ya."
Sambil tersenyum menyeringai, Dagon menatap tajam Torla,
kawan-kawannya, dan Mai dengan matanya yang melotot. Kemudian, ia mengamati
seluruh tubuh Ares dari ujung kepala hingga ujung kaki, seolah-olah sedang
menjilatnya.
"Hii!"
Melihat ekspresi menjijikkan yang sama sekali tidak
terlihat seperti manusia dan hanya menimbulkan rasa jijik itu, Torla dan yang
lainnya sontak menjerit ngeri.
Sepertinya, mereka akhirnya menyadari monster mengerikan
macam apa yang selama ini mereka percayai sebagai sang Mesias.
"...Tuan Dagon, si tak berguna itu sudah mati...
Berarti anak kecil dan wanita itu sudah tidak ada hubungannya lagi, kan. Tolong
segera lepaskan mereka."
Sambil mengernyitkan wajahnya karena rasa pahit yang
mendalam, Torla memaksa dirinya untuk berbicara.
Ares sangat memahami perasaan yang dirasakan Torla saat
dia harus mengucapkan sendiri fakta kematian Kai.
Soalnya, itu adalah perasaan yang terus mendera Ares
sejak dia tiba di dunia ini. Yaitu rasa penyesalan yang mendalam dan penyesalan
yang tiada henti.
"Hmm, tidak boleh, tidak boleh, itu tidak boleh, ya.
Wanita itu adalah teman sekelasnya. Saya membutuhkannya sebagai pion permainan
untuk melawannya, ya. Dan untuk bocah itu... dia adalah kesukaan saya,
ya."
"Saya sangat menyukai daging anak manusia yang
direndam dengan rasa takut yang melimpah, ya. Apalagi jika ada iringan musik
berupa tangisan, itu semakin luar biasaa, ya!"
Dagon mengerutkan wajahnya penuh kepuasan, sambil
meliuk-liukkan jari-jarinya yang panjang tidak normal.
"Apakah selama ini Anda menipu kami?"
Bukan rasa takut ataupun marah, dengan wajah yang
diwarnai kesedihan mendalam, Torla bertanya pada Dagon.
"Hmm, saya merasa terhina jika Anda menuduh saya
menipu, ya. Kalian sajalah yang dengan seenaknya menganggap saya sebagai rekan
sesama ras humanoid, ya."
Sudah cukup. Dagon hanya melihat Torla dan teman-temannya
sebagai alat yang mudah dimanfaatkan. Jika mereka tak berguna lagi, mereka
hanya akan dibuang begitu saja. Oleh karena itu...
"Tolong bawa Mai dan larilah dari sini! Cepat!"
Namun, peringatan Ares yang lebih terdengar seperti
permohonan itu...
"Hei, ayo kita selamatkan wanita dan bocah
itu!"
...langsung dibantah oleh keberanian Torla dan
kawan-kawannya.
"Ya!"
Di bawah perlindungan teman-temannya, Torla berlari
mendekati kursi Mai. Ia memutus ikatan yang mengikat gadis kecil itu dengan
pedangnya, lalu menggendong Mai di punggungnya.
"Maafkan aku! Kami berjanji akan mengembalikan
kalian ke tempat semula!"
Dia menyatakan tekadnya.
Teman-teman Torla juga mendekati Ares dan mencoba
membawanya, namun mereka sama sekali tak bisa memindahkannya, seolah tertahan
oleh kekuatan tak kasat mata.
"Aku sudah tidak bisa diselamatkan lagi! Larilah
bersama Mai!"
Kekuatan yang menahanku ini tidak normal. Pasti ini
kutukan yang kuat atau semacamnya.
Dengan kemampuan Ares dan Torla saat ini, mustahil untuk
mematahkan kutukan ini.
Jalan keluar terbaik saat ini hanyalah melarikan diri,
bahkan jika itu berarti hanya Mai yang selamat.
"Jangan bercanda! Aku harus membawamu kepada pria
itu!"
Mendengar kata-kata Torla yang sangat tidak terduga,
"Tapi, pria itu sudah tak ada lagi di
mana-mana!"
Tanpa sadar, aku membalasnya. Sang penyelamat yang selalu
datang menolong Ares kini sudah tiada.
Jika terus begini, kita benar-benar takkan bisa
menyelamatkan Mai.
"Akulah yang paling tahu seberapa kuat si tak
berguna itu... bukan, maksudku Kai Heineman, karena aku pernah dihajar olehnya!
Aku tahu dia takkan mungkin dikalahkan oleh seseorang seperti Kuko!"
"Apa kau benar-benar percaya dia sudah
mati!?"
"Pria itu... masih hidup?"
Perkataan Torla seolah menyalakan api kecil di jiwaku
yang sebelumnya membeku. Ini adalah perubahan hati yang kecil, tapi nyata.
"Ini bukan soal logika! Tapi aku
yakin dia masih hidup!"
Ares bisa melihat dengan jelas bahwa sama sekali tak ada
kebohongan dalam ekspresi tegas Torla, dan Torla pun benar-benar yakin dengan
ucapannya itu.
(Tenanglah, Ares!)
Ares mengingatkan dirinya dengan kuat, dan mulai
memikirkan kembali insiden kali ini.
Pemandangan yang Ares lihat tadi hanyalah ilusi yang
diciptakan melalui mantra.
Memberikan informasi palsu menggunakan mantra untuk
membingungkan lawan adalah teknik yang juga umum digunakan di Alam Surga.
Jika dipikir baik-baik, apakah mungkin Kai akan kalah
dari Kuko hanya karena Mai dan Ares disandera?
Meski mereka belum lama saling mengenal, kekuatan Kai
yang sebenarnya tidak hanya terletak pada kemampuan bertarungnya.
Tapi juga pada ketenangannya yang dingin untuk mencapai
tujuannya dengan membuang semua batasan, serta semangatnya yang pantang
menyerah meski dalam situasi sesulit apa pun.
Sekalipun Kai hanya memiliki kekuatan yang sama dengan
Ares saat ini, dia pasti takkan kalah dari Kuko. Ares berani menjamin hal itu.
Sangat tidak masuk akal jika Kai hanya diam saja dan
membiarkan Kuko membunuhnya hanya karena ancaman penyanderaan. Akan lebih masuk
akal jika menganggap itu adalah informasi palsu.
Lagipula, Dagon tak punya alasan untuk sengaja
memperlihatkan informasi palsu itu pada Ares. Berarti, semua ini...
"Kai masih hidup."
Begitu menyadarinya lagi, rasa putus asa dan kelelahan
yang Ares rasakan sebelumnya, telah tergantikan oleh harapan yang berwujud
keberanian.
Torla benar. Kenapa Ares malah menjadi lemah hanya karena
melihat pemandangan dari mantra ilusi semacam itu.
"Yang menahanku ini kemungkinan besar adalah sebuah
mantra! Tolong menjauh dariku sebentar!"
"B-Baiklah!"
Sambil melihat Torla mengangguk dari sudut matanya,
Ares menutup kedua matanya.
Ini adalah metode konstruksi mantra yang diajarkan
oleh ayahnya di masa lalu.
Ia menciptakan sebuah kotak di tengah dadanya, dan
dari sana ia membangun energi suci. Tentu saja, Ares yang sekarang tidak
memiliki kekuatan suci.
Namun, pada akhirnya ini hanya soal jenis kekuatan
yang berbeda; cara menggunakan kekuatan itu pada dasarnya tidak banyak berubah.
Ares juga telah menyadarinya sendiri sejak ia
bereinkarnasi sebagai manusia di Lemuria.
Ares perlahan mengeluarkan kekuatan yang telah ia
kumpulkan di dalam kotak itu, dan menyebarkannya ke seluruh tubuhnya.
"Guh!"
Setiap kali kekuatan itu menyebar, rasa sakit yang
luar biasa seolah-olah tubuhnya tercabik-cabik menjalar ke seluruh tubuhnya.
"Aku tak tahu! Aku tak pernah tahu ada sihir
seperti ini!"
Di tengah seruan kaget dari Elf perempuan itu, kutukan
tak kasat mata yang menahan Ares mulai retak.
"Hmm, itu sihir dari Era Dewa, ya."
Tepat saat Dagon bergumam, kutukan tak kasat mata itu
hancur berkeping-keping.
"Sudah lepas!"
Begitu Ares membuka matanya, aura keemasan menyelimuti
seluruh tubuhnya.
Ini adalah energi suci Ares. Padahal selama ini tak
peduli bagaimanapun ia mencobanya, ia tak pernah bisa menghasilkan energi suci
dengan tubuh ini, namun di saat kritis seperti ini ia malah berhasil
melakukannya dengan mudah.
Meski Ares tak tahu alasannya, mungkin tubuh ini belum
sepenuhnya kehilangan esensi dewa. Jika begitu, Ares seharusnya bisa memanggil
kartu asnya.
"Ka-Kamu ini..."
Kepada Torla yang tertegun di tempat yang salah pada
waktu yang salah,
"Ayo lari!"
Ares membalasnya sembari memanggil pusaka suci, partner
andalannya, dengan menggunakan energi sucinya.
Sensasi gagang Gram muncul di kedua tangan Ares.
Pusaka Suci Gram—ini adalah salah satu Pusaka Suci
terkuat di Alam Surga yang Ares warisi dari sang ayah bersamaan dengan tanggung
jawab untuk mengelola Lemuria.
Gram juga merupakan senjata serba guna yang dapat
mengubah bentuknya sesuai dengan energi suci Ares.
Ares berlari kencang menuju pintu ruang tamu,
menggunakan Gram yang telah diubahnya menjadi sebuah godam raksasa untuk
menghancurkan pintu itu, dan berlari keluar.
Saat ia berlari menuruni tangga dan hendak mencapai
lobi depan, ruang di depan pintu masuk utama melengkung secara tidak wajar, dan
monster-monster berkepala gurita yang berjalan dengan dua kaki dan membawa
senjata bermunculan satu per satu dari sana.
Tepat saat Ares dan yang lainnya menuruni tangga,
mereka benar-benar terkepung oleh monster-monster berkepala gurita itu.
"Percuma saja, ya. Bahkan jika Anda bisa
menggunakan sihir Era Dewa sekalipun, dengan kekuatan Anda saat ini Anda tak
mungkin bisa melarikan diri dari saya, ya."
Ruang di tengah lobi utama kembali melengkung, dan
Dagon yang bersandar santai di sebuah kursi muncul dari sana.
"Hii!"
Melihat kursi itu, sebuah jeritan kecil lolos dari mulut
Elf perempuan itu. Wajar saja.
Kursi itu benar-benar terbuat dari ras manusia yang
dipadatkan, dan dari mata, hidung, serta mulut di wajah-wajah manusia tersebut,
darah mengalir keluar.
Tidak salah lagi. Dari perbuatan ini, dia pasti tergabung
dalam kelompok dewa jahat.
Itu berarti monster-monster berwajah gurita yang
mengepung mereka saat ini adalah bawahan dewa jahat. Ini takkan mudah diatasi.
"Aku akan membuka jalan untuk mundur! Sisanya
kuserahkan pada kalian!"
Sambil berseru, Ares mengubah Gram menjadi pedang besar
dan menebaskannya ke arah Dagon. Sinar cahaya menerjang Dagon dan monster
gurita yang sepertinya adalah bawahannya itu.
Ketika cahaya itu mereda, monster gurita yang tadinya ada
di depan pintu utama rumah sudah musnah akibat tebasan Gram, namun seperti yang
bisa ditebak, Dagon masih duduk santai di kursinya yang menjijikkan itu tanpa
bergeming, bahkan tanpa luka sedikit pun.
"Hmm, jadi serangan semacam ini saja sudah cukup
untuk memusnahkannya, ya. Wajar saja, karena memang hanya terbuat dari Elf,
kekuatannya cuma segini, ya. Kalau begitu, mulai sekarang—"
Ares mengubah Gram menjadi senapan dan menembakkannya
berkali-kali ke arah Dagon.
"Sekarang! Cepat lari!"
"O-Oke!"
Di tengah rentetan tembakan garis cahaya yang menyerang
Dagon, Torla yang menggendong Mai beserta yang lainnya berlari melewatinya.
Tepat saat mereka hampir mencapai pintu besar, bayangan
hitam seperti tangan tiba-tiba menahan Torla dan kawan-kawannya dengan mudah.
"Le-Lepaskan!"
Mengabaikan Torla dan kawan-kawannya yang berusaha keras
melepaskan diri dari bayangan hitam itu, segerombolan monster berwujud humanoid
terus-menerus muncul.
Semua monster itu memiliki gigi tajam yang tak wajar,
bola matanya mencuat tanpa kelopak, dan tersenyum mengerikan dengan sudut bibir
terangkat.
"Sekarang giliran bawahan resmiku, ya."
Dagon menjentikkan jarinya.
Sejurus kemudian, salah satu bawahan resmi Dagon, monster
berkepala plontos, memiting Ares dari belakang.
"Nah, nah... bagaimana ini baiknya, ya. Padahal kamu
berada di tubuh manusia, tapi kamu punya energi suci yang cukup hebat, ya.
Pasti dulunya kamu adalah seorang dewi yang sangat suci, ya."
"Saya penasaran seperti apa rasa daging perpaduan
antara dewi dan manusia ini, ya."
Dagon menjilat bibirnya dengan ekspresi penuh nafsu.
"Awalnya saya berniat menggunakannya sebagai
pion permainan melawannya, tapi tak harus wanita ini juga tak masalah.
Mengingat dewa pelindung bawahannya itu sudah dimusnahkan, nilai gunanya juga
menurun drastis, itu fakta, ya. Hmm, saya sudah putuskan!"
"Cincang dan jadikan dia daging saja, ya. Ah,
kesegarannya sangat penting, jadi hati-hatilah saat memotong dagingnya,
ya."
Monster berkepala plontos itu melepaskan Ares, dan
sebagai gantinya, beberapa monster berwajah gurita yang sejak awal mengepung
Ares mulai berkerumun, membalikkan tubuh Ares dan merobek pakaiannya.
Monster-monster itu menahan kedua tangan dan kaki
Ares, yang kini telanjang tanpa sehelai benang pun, ke lantai.
Kemudian, salah satu monster berkepala gurita itu
berdiri di dekat leher Ares, lalu mengangkat pedang besar di kedua tangannya
dan mengarahkannya ke leher Ares.
Jika pedang itu diayunkan, leher Ares akan tertebas
dan ia akan mati. Lawannya adalah bawahan dewa jahat, dan dengan tubuh manusia
ini, Ares tak mungkin bisa menghindar.
Namun, entah kenapa, Ares sama sekali tidak merasa takut,
juga tidak pesimis.
Itu karena pria itu pasti akan datang lagi. Ares sangat
yakin akan hal itu.
"Kenapa Anda tersenyum, ya?"
Untuk pertama kalinya, Dagon mengerutkan dahi dan
bertanya pada Ares mengenai makna senyumannya itu.
"Karena ini adalah akhir dari kalian."
"Akhir?"
"Sebentar lagi, Kai akan datang dan mengakhiri
semuanya."
"Kai? Ah, maksud Anda si dewa pelindung
bawahannya, ya. Sayang sekali, dia sudah mati dengan sangat mudahnya, ya. Anda
juga sudah memastikannya sendiri tadi, kan?"
"Ya, aku memang sudah memastikannya. Tapi
Kai takkan pernah kalah, apalagi mati. Karena itu, gambar tadi hanyalah ilusi.
Kalian akan dimusnahkan olehnya, yang akan segera datang ke sini."
Entah bagaimana, suaraku terdengar penuh percaya diri,
hingga aku sendiri pun terkejut.
"...Sepertinya Anda sudah gila karena ketakutan, ya.
Sudahlah. Cepat potong lehernya."
Dagon memberikan instruksi.
"Kaaaaiiiii!"
Ares berteriak sekeras-kerasnya.
Monster-monster berwajah gurita di sekitar Ares, beserta
pedang besar yang hendak ditebaskan, berubah menjadi debu hijau.
Kemudian, tubuh Ares diangkat oleh seseorang.
Di sana, berdirilah seorang pemuda yang paling ingin Ares
temui saat ini.
"Syukurlah aku tiba tepat waktu."
Tepat setelah Kai bergumam, bayangan hitam yang
mengikat Torla dan Mai hancur berkeping-keping.
"Kai!"
Saat Ares memeluk leher ramping Kai, perasaan lega
yang luar biasa dan kebahagiaan menyelimutinya.
Bersamaan dengan itu, tiba-tiba saja air matanya tak
bisa berhenti mengalir.
Memeluk Ares yang sedang menangis, Kai membelai
lembut bagian belakang kepalanya.
"Maafkan aku. Ini semua salahku karena aku terlalu
naif. Sisanya serahkan padaku, tidurlah sebentar."
Seiring dengan kata-kata hangat Kai itu, kesadaran Ares
perlahan-lahan memudar menjadi putih bersih.
◇◆◇
Lagi. Aku gagal lagi.
Setiap kali hal itu melibatkan wanita bernama Ariel itu,
entah kenapa aku jadi tak bisa berpikir jernih. Mengapa bisa begitu, ya?
Awalnya, dia hanyalah makhluk dari dunia lain yang tidak
diketahui asal usulnya dan selalu mencampuri urusanku. Dia seharusnya hanya
eksistensi yang tidak penting.
Jika aku harus mendeskripsikan perasaan ini dengan
kata-kata, apakah ini semacam sensasi déjà vu?
Namun, tentu saja, aku dan Ariel hidup di tempat dan
waktu yang berbeda. Mustahil kami punya hubungan.
Menganggap ini hanyalah sekadar perasaanku saja
adalah jawaban yang paling tepat.
(Rumah ini, Tuan.)
Begitu keluar dari bayangan Beelze, di depanku
berdiri sebuah rumah berlantai tiga yang sudah usang.
"Kerja bagus."
Aku menerjang masuk melalui jendela.
Di dalam, aku melihat Ariel telanjang ditahan di
lantai oleh sekumpulan monster berwajah gurita, dan lehernya hampir ditebas
oleh pedang besar yang dipegang oleh salah satu monster itu.
"Kaaaaaaaiiiii!"
Ariel meneriakkan namaku. Seolah didorong oleh suara
itu, tubuhku bergerak secara alami.
Aku menghunus Murasame, lalu mencincang monster yang
menahan Ariel serta monster berwajah gurita yang hendak mengayunkan pedang
besar itu, membelahnya bersamaan dengan pedang yang diayunkannya melalui garis
kematian.
Di saat yang sama, aku mengangkat Ariel dengan tangan
kiriku, lalu mencari orang lain yang sedang kucari, yaitu Mai.
Mai sedang digendong oleh anak laki-laki bernama
Torla, namun mereka berdua tertangkap oleh bayangan hitam.
Aku segera memusnahkan bayangan hitam yang mengikat
Mai dan Torla melalui garis kematian hingga tak bersisa.
Setelah terbebas dari ikatan bayangan hitam, Torla
menjaga jarak hingga ke depan pintu masuk sambil tetap memeluk Mai.
Para pemuda dan pemudi Elf yang juga terbebas
menggenangkan air mata di sudut mata mereka karena ketakutan.
Meski begitu, mereka memunggungi Mai seolah ingin
melindunginya, lalu mengarahkan pedang dan tongkat sihir ke arah para monster.
Sepertinya Mai sedari awal telah dilindungi dengan
aman. Dengan begini, untuk sementara masalah terselesaikan.
Saat aku menyarungkan Murasame,
"Kai!"
Dia pasti sangat ketakutan. Ariel memeluk leherku
erat-erat dan mulai menangis.
Melihat sosoknya itu, perasaan yang sangat kuat
bergejolak di dadaku, dan aku pun balas memeluknya dengan erat.
Sambil mengelus kepalanya seperti yang biasa kulakukan
pada Faf,
"Maafkan aku. Ini semua salahku karena pemikiranku
yang terlalu naif. Sisanya serahkan padaku, tidurlah sebentar."
Saat aku menggumamkan kata-kata itu, tubuh Ariel langsung
lemas. Manusia biasanya tidak akan kehilangan kesadaran di saat yang sangat
tepat seperti ini.
Kemungkinan besar, ini adalah perbuatan...
"Nemesis, tolong jaga dia."
Aku menyerahkan Ariel kepada Nemesis yang sedang berlutut
tepat di belakangku.
"Sesuai kehendak Anda!"
Setelah menerima Ariel dariku, Nemesis menghilang.
"Hmm, jadi kamu adalah dewa tanah bernama Kai
Heineman yang menjadi target pemusnahan itu, ya. Padahal kamu seharusnya sudah
dibunuh oleh Kuko dan Nightgone, ya. Terlebih lagi, kemampuan yang baru saja
memusnahkan bayangan hitam milik saya, apakah itu Skill khusus milik
dewa tanah, ya."
Pria jangkung berambut panjang yang memakai mantel
biru tua dan topi, duduk dengan sombong di atas kursi berselera buruk.
Dia menatapku dan melontarkan komentar konyol yang
sangat tidak masuk akal dengan wajah bodoh.
"Menyedihkan sekali..."
Yah, aku sama sekali tidak merasa bersimpati. Lebih dari
apa pun, aku benar-benar merasa marah pada mereka.
Meskipun ini semua adalah skenario yang telah disusun
oleh para bawahanku, orang-orang ini tetap saja mencoba merenggut Ariel dan Mai
dariku. Hal itu saja sudah pantas diganjar dengan ribuan kali kematian.
"Apanya yang menyedihkan, ya?"
Pria jangkung berambut panjang bertopi itu menggerakkan
alisnya dan membalas pertanyaanku.
"Entahlah, aku tidak punya alasan untuk
memberitahumu."
Kalau biasanya, setidaknya aku akan menjawabnya. Tapi sekarang, aku bahkan tidak sudi berbicara dengan mereka.
Rasa muak yang sangat sulit dikendalikan seperti ini
baru kurasakan lagi sejak berhadapan dengan makhluk tak tahu diri bernama Raja
Busuk yang menculik Layla dan mencoba melukai Lumine dulu.
"Tuan Dagon, serahkan serangga sampah yang tidak
sopan ini padaku, Dekuno! Kroco rendahan yang tidak lebih baik dari manusia
biasa itu, akan kuhancurkan di depan mata Anda!"
Dekuno, monster berkepala plontos yang mengepung
kami, melangkah maju dan menawarkan diri pada Dagon.
"Begitu, ya. Lagipula dia hanyalah dewa tanah di
dunia ini, ya. Aku serahkan padamu. Lakukanlah sesukamu."
"Izin dari Tuan Dagon telah kuterima! Jangan besar
kepala hanya karena kau berhasil mengalahkan bawahan kroco tingkat terendah
yang terbuat dari bahan baku Elf itu. Kekuatan sepertimu tak lebih dari seekor
semut yang merayap di tanah bagi kami, Kageboushi, bawahan langsung Tuan
Dagon!"
Dekuno berjalan mendekat ke arahku, lalu mengarahkan
ujung gada besi di tangan kanannya kepadaku.
"Cukup omong kosongnya. Cepat mulai."
Aku benar-benar sudah mencapai batasku. Aku tidak sudi
melihat wajah mereka barang sedetik pun.
"Yaaa, kelar deeeeh~!"
Sambil menyunggingkan senyum kemenangan, dia mengayunkan
gada besinya tepat ke atas kepalaku.
"A-Awas!"
"Lari!"
Di tengah jeritan para Elf yang meneriakiku, aku menahan
gada besi itu hanya dengan tangan kiri.
"Hah?"
Mengabaikan suara bodoh yang keluar dari mulut Dekuno,
aku mengalirkan tenaga dan kekuatan sihir ke tangan kiriku yang mencengkeram
gada besi tersebut.
Di bawah genggaman tanganku yang dilapisi sihir, gada
besi itu meleleh menjadi cairan.
"..."
Dekuno menatap kosong pada gada besinya yang ujungnya
telah meleleh dan memendek itu.
"Lalu?"
Begitu pandangan kami bertemu, tubuhnya menegang seolah
tersambar petir, dan dia langsung melompat mundur.
"Woi woi, Dekuno, apa yang sedang kau lakukan?"
"Apa kau ketakutan pada kroco semacam itu!"
Diejek oleh rekan-rekannya yang lain, wajah Dekuno
langsung memerah padam menahan malu.
"Berani-beraninya kau mempermalukan diriku
ini!"
Terdengar suara derak mengerikan yang membangkitkan
rasa jijik naluriah, saat daging di sekujur tubuh Dekuno membengkak. Dia
berubah menjadi monster raksasa berwajah humanoid dengan mulut yang dipenuhi
alat pengisap.
Mendengar jeritan ketakutan dari para siswa Elf,
"Bagaimana, Bocah!? Mengerikan, bukan!? Inilah
wujud asliku—"
"Kau berisik sekali. Akan kubunuh kau, jadi
cepatlah maju."
Aku memprovokasi si bodoh yang sedang menyombongkan
diri itu dengan melambaikan tangan kiriku.
"Dasar kroco rendahan!"
Dekuno membuang gada besinya yang telah meleleh, lalu
kembali memunculkan gada besi raksasa di tangan kanannya. Dia mengayunkannya ke
arahku dengan segenap kekuatannya.
Aku menarik siku kananku dan bersiap menyambut
serangannya.
Tinju kananku menciptakan hempasan angin yang kencang
saat berbenturan dengan gada besi itu.
Tinju kananku langsung menghancurkan gada besi
tersebut dalam sekejap, lalu mengoyak sebagian besar tubuh raksasa milik
Dekuno.
"Ghah! Ti-Tidak mungkin..."
Dekuno mengerang kesakitan dengan sebagian besar
tubuhnya yang terpotong rapi membentuk cekungan bundar. Dia
melontarkan kata-kata yang menolak kenyataan.
"Kalian kaum lemah memang selalu begitu. Mengumbar
omong kosong besar, tapi kalah dengan begitu mudahnya hanya dengan satu
pukulanku yang sudah kutahan.
Tapi kali ini, aku tidak peduli meski kalian bukan orang
yang kuat. Lagi pula, aku tak sudi menghirup udara yang sama dengan kalian
lebih lama lagi."
Aku melangkah mendekati Dekuno, lalu menghantamnya dengan
tinju kananku. Hantaman itu membuat tubuhnya meledak hancur berkeping-keping
hingga tak bersisa.
"Ke-Kekuatan gila macam apa itu! Jangan bilang kau punya kekuatan fisik yang setara dengan monster
itu!?"
Dagon meninggikan suaranya tanpa menyembunyikan
kepanikannya. Hah! Gaya bicaranya kembali seperti semula. Kalau mau pura-pura
jadi aktor, jangan langsung memperlihatkan wujud aslimu hanya karena hal sepele
ini.
"Tu-Tuan Dagon, apa yang harus kita lakukan?"
Para monster menanyakan arahan bertarung pada Dagon
dengan tatapan penuh kepanikan yang tak tertahankan.
"Kekuatan fisiknya setara dengan monster itu!
Hancurkan dia dengan segenap kekuatan kalian!"
Dagon bangkit dari kursinya, lalu melompat dengan
ringan ke lantai dua untuk menjaga jarak dariku sambil memberikan instruksi
pada bawahannya.
Mendapat instruksi itu, satu per satu monster berubah
dari wujud humanoid menjadi wujud yang jelek dan aneh. Mereka mengepungku dan
mengarahkan senjata masing-masing.
"Mantra Penyegel Pemusnah!"
Dagon membentuk segel tangan, lalu sesuatu yang
menyerupai lingkaran sihir muncul di bawah kakiku.
Kemudian, cahaya berbentuk kubah berwarna hitam
menyebar dari lingkaran sihir itu dalam bentuk konsentris, dengan sekejap
mengubah tanah di sekitarku menjadi tempat yang menakutkan.
Ini adalah Area Terkutuk. Selain itu, pemandangan ini
sangat mirip dengan tempat Beelze disegel di lantai 949 Easy Dungeon.
"Selama dia berada di dalam area ini, kekuatannya
sama saja dengan sampah! Tidak mungkin kalian bisa kalah lagi sekarang,
ya!"
Mungkin karena dia sudah merasa sedikit lebih tenang,
nada bicaranya kembali ke nada merendahkan yang dibuat-buat seperti sebelumnya.
"Kau merasa sudah menang hanya dengan Area Terkutuk
tingkat rendah ini? Makanya kubilang kalian itu kroco rendahan."
Instingku bisa merasakannya. Area Terkutuk ini apalagi
membunuhku, melukaiku sedikit pun tidak akan bisa.
Mengandalkan hal seperti ini sebagai kartu as sudah cukup
menunjukkan tingkat kemampuan mereka.
Namun, aku tak punya niat sedikit pun untuk menahan diri
sekarang, meskipun lawan-lawanku hanyalah orang lemah yang tak ada nilainya.
"Apa kau hanya berpura-pura kuat?"
"Gaya bicaramu kembali ke aslinya lagi, tuh?"
"Persetan, cepat bunuh dia!"
Dagon memberikan perintah untuk mulai menyerang dengan
suara histeris, persis seperti anak kecil yang sedang mengamuk.
Para monster langsung menerjangku secara serempak.
Aku menghunus pedang Murasame, lalu menciptakan
pelindung berbentuk setengah bola di sekelilingku, menargetkan semua monster
yang ada di sini kecuali Dagon.
"Shinkairyu Kenjutsu, Itto-ryu, Go no
Kata—Eishi (Eternal Death)."
Aku melepaskan tebasan Murasame seiring dengan mantra
tersebut.
Gerakan para monster yang baru saja hendak menerkamku
terhenti dengan cara yang tidak wajar.
"Gugigigigyaaaaaa!"
Terdengar jeritan yang meluncur sangat lambat dari
mulut para monster.
Aku dengan sengaja menebas bagian tubuh mereka yang
akan menimbulkan rasa sakit paling parah secara terus-menerus.
Di dalam waktu yang diregangkan hingga batas
maksimal, mereka mati secara perlahan sambil merasakan sakitnya tubuh yang
terpotong dan ketakutan akan kematian.
"I-Ini, apakah kau mengendalikan waktu! Mustahil kau
bisa melakukan hal gila semacam itu!"
Dengan mata terbelalak kaget dan keringat dingin
bercucuran deras, Dagon menyangkal kenyataan yang ada di depan matanya.
"Aku sama sekali tidak peduli dengan apa yang kau
pikirkan. Sekarang hanya tersisa dirimu saja.
Aku tidak akan membunuhmu dengan mudah seperti mereka.
Setelah kau memuntahkan semua informasi tentang dalang di balik semua ini, kau
akan merasakan sendiri seluruh amarah yang selama ini kupendam."
Sambil mengarahkan ujung pedang Murasame padanya, aku
mengutarakan pernyataan itu dengan suara berat yang menggelegar dari dasar
bumi.
"K-Kesalahpahaman! Ya, ini adalah
kesalahpahaman!"
Dagon melambaikan kedua tangannya dengan panik dan
melontarkan kalimat yang sama sekali tidak membantunya keluar dari masalah.
"Kesalahpahaman? Kalian menculik Mai dan melakukan
tindakan keji pada Ariel, dan kau bilang itu kesalahpahaman?
Kau benar-benar luar biasa. Pasti kau
memiliki bakat alami untuk membuatku marah besar."
Aku tidak akan pernah bisa memaafkan tindakan yang telah
mereka lakukan ini.
Aku akan mengejar kalian hingga ke ujung dunia, termasuk
bajingan yang berada di balik layar, dan membuat kalian membayar lunas atas
kejadian kali ini. Pada dasarnya, aku ini adalah orang yang muram dan
pendendam.
"Benar juga! Kau pasti tertarik pada wanita di dunia
ini, kan!?
Kali ini, aku telah menaklukkan Lorelei! Aku akan
mempersembahkan para wanita Elf muda yang cantik jelita, jauh lebih baik
daripada si Ariel itu!
Kalau kau mau, aku bisa mengubah perempuan murahan itu
menjadi boneka penurut untukmu!"
"Kuhaha! Kau benar-benar luar biasa!"
Tidak kusangka dia bisa merendahkan dirinya sampai sejauh
ini...
"Begitu, ya! Jadi kau mau menerimanya! Kalau
begitu—"
Kepada Dagon yang memasang ekspresi lega itu,
"Mana mungkin aku mauuu!"
Bersamaan dengan teriakanku yang penuh amarah membara
bagaikan magma, aku menghentakkan kaki ke lantai dan melesat maju, menebasnya
dalam bentuk salib saat berpapasan.
"Gugyaaaaahhhhh!"
Aku bernapas lega melihat Dagon berteriak histeris dan
berlebihan karena rasa sakit, lalu perlahan mendekatinya.
Syukurlah, luka separah ini belum cukup untuk
membunuhnya.
Dalam keadaan di mana aku tak bisa mengendalikan amarah
ini, sedikit saja aku lengah, aku bisa saja tak sengaja membunuh kroco ini. Hal
itu... hal itu saja yang benar-benar tidak bisa kuterima.
"Tu-Tunggu, tunggu! Tungguuu!"
Seperti dugaanku, lukanya segera sembuh, dan Dagon
berusaha keras melarikan diri dariku.
"Para sampah yang disebut Pasukan Jahat, orang-orang
seperti kalian, maupun para penguasa di dunia ini, semuanya selalu sama.
Kalian memaksakan penderitaan yang luar biasa pada orang
lain, tapi bereaksi berlebihan terhadap penderitaan kalian sendiri.
Karmapala—ketidakadilan yang kalian paksakan pada orang
lain, pada akhirnya akan berbalik menyerang kalian berkali-kali lipat. Kenapa
kalian tidak bisa memahami hukum alam yang sangat mendasar itu?"
Aku melangkah maju, masuk ke dalam jarak serangku, lalu
menghujani seluruh tubuhnya dengan pukulan beruntun.
Dalam sekejap, Dagon berubah menjadi gumpalan daging tak
bernyawa.
"Kalian tidak memahaminya, karena itulah kalian
tidak bisa diselamatkan lagi."
"Sialan!"
Setelah lukanya sembuh dalam sekejap, dia membentuk segel
dengan kedua tangannya dan mengaktifkan semacam sihir ke arahku.
Aku menerjang ke arahnya, lalu mengibaskan aliran sihir
itu dengan tangan kiri hingga musnah tak tersisa.
"Hah? Kenapa sihirku tidak berfungsi!?"
Aku kembali masuk ke dalam jarak serang pria yang
berteriak panik itu, lalu memukulnya ke udara dengan tangan kiriku.
Saat tubuhnya menembus atap rumah dan melayang tinggi,
aku menendang tanah dan melompat melampauinya dalam sekejap, lalu mendaratkan
sikutan telak ke wajahnya. Bersamaan dengan sensasi hancurnya tulang dan
daging, tubuh Dagon berputar dan jatuh ke tanah dengan kecepatan tinggi.
Sebelum dia jatuh, aku menendang udara dan menggunakan
tekanan anginnya untuk bergerak ke bawah, lalu melepaskan pukulan ke atas
dengan tangan kananku yang menghantam perut pria yang sedang jatuh itu.
"Gugagaga..."
Tangan, kaki, dan leher Dagon membengkok ke arah yang tak
wajar, dia jelas-jelas berada dalam kondisi sekarat.
"Jangan harap ini semua berakhir begitu saja. Aku
sama sekali tidak berniat mengakhiri penderitaanmu dengan mudah."
Aku memberikan ancaman dengan suara rendah, lalu
menunggunya kembali pulih.
Dagon yang segera pulih berusaha kabur dariku dengan
ekspresi putus asa, namun aku langsung membelah tubuhnya menjadi delapan
bagian.
Saat Dagon kembali utuh,
"Sialaaan!"
Dia kembali membentuk segel tangan. Seketika itu juga,
lingkaran sihir raksasa muncul di atas tanah, dan tentakel ungu menjulur keluar
dari lingkaran itu dan menyatu dengan tubuhnya.
Dia kemudian berubah wujud menjadi monster raksasa
menyerupai gurita.
"Matilaah! Dasar monsteer!"
Dagon mengaum dan menerjang ke arahku, namun aku
menebasnya dalam bentuk salib dengan Murasame yang telah kuhunus.
"Ja-Jangan mendekaaaat!"
Dagon kembali berteriak menolak kehadiranku saat
memulihkan diri.
"Kutolak."
Tepat saat aku melangkah maju dengan Murasame terarah
padanya,
"Sialaaaan!"
Dagon menangis tersedu-sedu sambil mengeluarkan pedang
panjang dari ruang dimensi lain, lalu menusukkannya tepat ke jantungnya
sendiri.
Benda itu... pedang rongsokan yang kubuat waktu itu?
Seluruh tubuhnya berubah keemasan, diselimuti cahaya
terang yang menyilaukan.
Cahaya itu perlahan berubah menjadi hitam pekat, lalu
membentuk wujud seekor monster.
Monster besar yang muncul memiliki kepala gurita dan
tubuh laba-laba. Monster itu mengaum ke arah langit.
"Luar biasa! Dengan membayangkan kekuatan Yang
Mulia, aku akhirnya memperoleh kekuatan yang setara dengan beliau.
Terlebih lagi, dengan menyerap pedang ini, aku kini
mampu terus berevolusi tanpa batas!
Artinya—secara teknis, sudah tak ada lagi satu makhluk
pun yang bisa mengalahkanku! Hari ini, aku resmi menjadi entitas terkuat di
dunia ini!
Sekarang kau hanyalah cacing yang merayap di tanah!"
"Kau berani mengklaim gelar terkuat dengan kemampuan
cetek semacam itu... Kau sebaiknya belajar lebih banyak tentang luasnya dunia
ini."
Entitas dengan kekuatan selemah itu sangatlah banyak di
dunia ini. Orang ini bahkan tidak pantas jadi lawan mainku.
Dan dia berani bilang kalau dirinya yang terkuat? Benar-benar membuatku ingin tertawa.
"Kau masih saja jadi bocah sombong yang
menyebalkan!"
Tiba-tiba, dari badan laba-labanya bermunculan jumlah
tentakel tak terhitung yang memanjang dengan kecepatan tinggi ke arahku.
Aku memotong semuanya menjadi bongkahan-bongkahan
kecil dengan Murasame.
"A-Apa—"
"Kalau kau punya waktu untuk kaget, mending
pikirkan langkah selanjutnya."
Aku melesat menggunakan teknik bergerak unikku,
membelah tubuhnya menjadi dua secara vertikal sambil berpapasan dengannya.
"Hah? Terbelah? Gyaaaaaa!"
Dagon berteriak histeris, berusaha keras menyatukan
kembali tubuhnya yang terbelah dengan kedua tangannya.
Tentakel merambat dari potongan lukanya,
menempelkannya kembali hingga tubuh Dagon utuh kembali dalam sekejap mata.
Benar-benar makhluk yang berumur panjang dan alot.
"Sialan!"
Aku bergerak ke punggungnya saat dia mencoba
melarikan diri ke belakang, lalu mencincangnya berkali-kali dengan Murasame.
Dagingnya tercerai-berai dan bertebaran ke segala
arah, tapi lagi-lagi, tentakel dari lukanya menarik semuanya kembali utuh.
Matanya menatapku dengan napas tersengal-sengal,
memancarkan rasa takut yang sangat kuat.
"Kenapa? Seharusnya aku sudah menjadi makhluk
terkuat di dunia ini berkat pedang ajaib ini!"
"Pedang rongsokan semacam itu tidak akan pernah bisa
membawamu ke puncak kekuatan."
Sekalipun pedang itu bisa mengubahmu menjadi apapun
sesuai imajinasimu, seseorang yang tidak tahu seberapa tingginya puncak
kekuatan yang sesungguhnya tak akan pernah bisa membayangkan dan mewujudkannya,
tak peduli sekeras apa pun dia mencoba. Hasil ini sudah bisa ditebak sejak
awal.
"Sialaaaaan!"
Tentakel hitam legam tiba-tiba muncul dari bayangan
Torla, menyambar Mai dan mengangkatnya tinggi-tinggi, melilitnya dengan erat.
"Dengan ini situasi berbalik! Kalau kau tak ingin
bocah ini mati, bunuh dirimu sekarang juga!"
Dagon menjerit histeris dengan mata merah karena putus
asa.
"Hei, Girimekhala, mau sampai kapan kau
bermain-main?"
Aku menanyakan tujuan dari lelucon konyol yang disiapkan
bawahanku ini.
Sudut bibir Mai melebar, hidungnya memanjang, dan
otot-ototnya membesar.
Dalam sekejap, dia berubah wujud menjadi monster raksasa
berhidung panjang yang dengan mudah merobek tentakel itu, lalu berlutut di
hadapanku.
"Itulah kenapa sejak awal kubilang kau ini
menyedihkan. Kau hanya menari di atas telapak tangan bawahanku.
Tapi, sekalipun kau hanyalah boneka yang menyedihkan dan
konyol, kau telah memancing amarahku atas keinginanmu sendiri. Karena itu, kau
harus menanggung akibatnya."
"Ti-Ti-Tidaaaakkkk!"
Wajah Dagon berubah pucat diliputi keputusasaan, dia
mencoba menjauhiku sambil merayap lincah menggunakan delapan kaki laba-labanya.
Aku mengalirkan kekuatan sihir ke Murasame dan
menargetkannya dengan pelindungku. Dan kemudian—
"Eishi—Kai (Revised)!"
Seiring dengan mantranya, aku melepaskan seluruh amarahku
dan mencincang tubuhnya berulang kali tanpa henti.
"Gugya...a...a...a..."
Aku melangkah mendekati Dagon yang mengerang dalam
sakratulmaut saat tubuhnya terpotong-potong secara perlahan.
"Oh ya, aku harus meminta kembali pedang ini. Ini
kan buatanku."
Aku menarik pedang rongsokan yang tertancap di tengah
tubuhnya.
"Dengan kemampuan regenerasimu itu, luka tebasan ini
pasti akan segera sembuh.
Tapi, karena efek Eishi—Kai, luka akibat tebasan
yang diulang-ulang akan kembali muncul. Bersukacitalah, mesin abadimu telah
selesai."
Aku melontarkan ucapan itu dan memunggunginya.
Aku menoleh pada Beelze dan Girimekhala yang berlutut di
hadapanku.
"Aku serahkan nasib sisa-sisa ini pada kalian
berdua. Berikan 'salam hangat' yang pantas untuk si dalang di
balik layar. Lagipula, dia akan jadi teman bermainku selanjutnya."
Aku memberikan perintah dengan nada yang tegas. Dia
telah membuatku sebegitu muaknya.
Aku tidak akan membiarkan dia lolos begitu saja. Aku akan
mengejarnya hingga ke ujung dunia dan memberinya kehancuran yang terbaik.
"Sesuai perintah Anda!"
"Sesuai kehendak Anda!"
Aku melirik mereka berdua yang menundukkan kepala
dalam-dalam, lalu melangkah ke arah Torla dan kawan-kawannya.
"Kalian telah melindungi mereka berdua dengan
baik. Aku berterima kasih."
Saat aku mengusap kepalanya yang gemetaran dengan
sedikit kasar,
"Tidak, maafkan... maafkan kami! Aku! Aku!"
Torla dan kawan-kawannya mulai menangis tersedu-sedu.
"Aku tahu. Aku juga sudah cukup mengerti apa saja
dosa dan jasa kalian. Kalian pasti merasa perlu untuk menebusnya.
Tetapi, tak bisa dipungkiri bahwa kalian mempertaruhkan
nyawa untuk melindungi Mai dan Ariel kali ini. Kalian berhak merasa bangga akan
hal itu."
Memang benar. Saat kami bertemu sebelumnya, mereka
bukanlah tipe orang yang rela bertaruh nyawa untuk melindungi ras lain.
Dan sekarang, mereka justru melakukan tindakan berani
ini. Tindakan mereka terlalu kontradiktif.
Sebelumnya mereka mungkin berada di bawah pengaruh cuci
otak, lalu pengaruh itu hilang berkat campur tangan Girimekhala dan yang
lainnya pada insiden ini.
Kalau dipikir begitu, semuanya terasa masuk akal. Yah,
kebenarannya akan terungkap jika penyelidikan terus berlanjut.
"Terima kasih banyak!"
Aku mengangkat tangan kananku kepada Torla dan
teman-teman yang menangis dan membungkuk berulang kali, lalu melangkah pulang
ke markas kami di Babel tempat Faf dan yang lainnya berada.
◇◆◇
Saat ini, kota Piranor yang terletak di ujung tenggara
Kerajaan Amelia sedang diserang oleh kawanan monster berkepala gurita yang
muncul tiba-tiba.
Di tengah para penduduk kota yang bersembunyi dan gemetar
ketakutan di dalam bangunan Gereja Pusat, pintu utama gereja itu hancur
didobrak, dan gerombolan monster berkepala gurita merangsek masuk.
Seolah menikmati jeritan ketakutan warga, tubuh para
monster berwajah gurita yang perlahan mendekat itu mulai melepuh dan
membengkak.
"Gii?"
Saat salah satu monster berkepala gurita menatap tubuhnya
dengan ekspresi kebingungan, tubuhnya membesar dengan cepat.
Fenomena itu menyebar ke monster berwajah gurita lainnya
secara berantai, dan akhirnya mereka meledak berkeping-keping ke segala arah
disertai bunyi pshuun.
Di tengah percikan darah dan daging berwarna hijau yang
beterbangan, seorang pemuda tampan berambut hitam panjang yang disisir rapi ke
belakang berdiri di depan pintu gereja.
Pemuda itu melangkah keluar dari gereja setelah
memastikan keselamatan para penduduk di dalamnya.
Di jalanan di depan gereja, berdiri seorang pria bertubuh
besar dengan rambut pirang dan janggut tipis yang kepalanya tertutup rapat oleh
tudung hitam.
"Bagianku sudah hampir selesai, Shou."
Sambil memasukkan tangannya ke dalam saku, pria itu
melapor kepada sang pemuda berambut hitam.
"Aku juga. Ini adalah pemusnahan terakhir kawanan
bawahan mereka di kota ini."
"Bagaimana pun juga, perlawanan mereka terlalu lemah
untuk ukuran musuh kita, ya."
"Ya, monster-monster yang menyerang kota-kota di
sekitar sini semuanya cuma kroco. Kemungkinan besar ini adalah pengalih
perhatian untuk menjauhkanku dari Babel. Sepertinya kita harus menganggap bahwa
ada pergerakan besar di sana."
Pemuda berambut hitam bernama Shou bergumam pelan
sambil menopang dagunya.
"Pergerakan besar di Babel? Berarti situasi
Babel sekarang sedang sangat gawat, kan?"
"Begitulah."
"Apa yang ada di pikiranmu?"
Pria pirang besar itu mengernyitkan alisnya dan
menanyakan maksud Shou.
Orang-orang yang berharga bagi Shou berada di Babel.
Jika mereka benar-benar berhasil diperdaya oleh musuh,
sementara Shou dan dirinya kini berada jauh dari sana, Babel pasti sudah
berubah menjadi neraka kepanikan dan kekacauan.
Tidak mungkin Shou bisa bersikap tenang seperti ini.
"Mungkin mereka berniat menjauhkanku. Tapi kali ini
mereka salah langkah. Di Babel, ada Kai."
"Kai? Orang aneh yang pernah kau ceritakan
sebelumnya itu?"
"Ya, bajingan-bajingan pendendam itu tidak mungkin
tidak memancing amarah Kai. Sekarang, mereka pasti sedang menangis memohon
ampun padanya."
"...Apa si Kai itu sangat kuat sampai-sampai bisa
menghajar mereka tanpa ampun?"
"Sejujurnya, aku tidak begitu tahu."
"Oi, oi!"
"Tapi, anehnya dia itu tipe orang yang membuatmu
berpikir bahwa semuanya akan baik-baik saja asalkan dia ada."
Pria pirang besar itu membelalakkan matanya sesaat, lalu
tiba-tiba tertawa terbahak-bahak.
"Apanya yang lucu?"
"Tidak, aku hanya merasa lucu memikirkan bahwa
ternyata ada bocah gila sepertimu di luar sana."
"Apa maksudmu?"
"Entahlah, pikirkan saja sendiri. Lagipula, kau akan
segera kembali ke Babel, kan?"
Pria pirang besar itu merubah ekspresi wajahnya menjadi
serius dan bertanya pada Shou.
"Ya, rencananya begitu. Kita akan segera
berangkat."
Saat Shou hendak berlari,
"Sepertinya, insiden di Babel telah terselesaikan.
Jadi, kalian tidak perlu terburu-buru."
Terdengar suara seorang pria paruh baya yang menggema di
dalam kepalanya.
"Bingo!"
Pria pirang besar itu menjentikkan jarinya dan bersiul
menggoda. Ketegangan yang sejak tadi selalu menyelimutinya kini sirna
sepenuhnya.
"Begitu, ya. Kalau begitu, kami akan kembali dengan
santai."
Sambil tersenyum kecut, tepat setelah Shou
mengangguk,
"Ada banyak hal yang berhasil kami ketahui dari
insiden kali ini, jadi saya harap Anda bisa meluangkan waktu di lain
hari."
Suara pria paruh baya itu terdengar lebih cepat dari
biasanya, sangat jelas menunjukkan bahwa dia sedang sangat terguncang.
"Apakah itu tentang Kai Heineman?"
"Ya."
Shou menarik sudut bibirnya mendengar balasan singkat
dari bawahannya itu.
"Baiklah. Setelah aku kembali ke Babel, mari kita
bicarakan perlahan sambil makan malam."
"Kalau begitu, aku mau ke kedai Kuroneko-tei yang
baru buka itu! Makanan di sana benar-benar enak, lho!"
Menanggapi permintaan pria pirang besar itu,
"Dimengerti. Bisakah kau memesan tempat?"
Shou mengangguk dan mengonfirmasi pada pemilik suara
di kepalanya.
"Akan saya siapkan."
Setelah jawaban itu, komunikasi telepati pun terputus.
"Kalau begitu, ayo kita pergi juga!"
Shou mendesak si pria pirang besar, lalu mereka pun mulai
melangkah menuju kota berikutnya.



Post a Comment