Chapter 07
Maid Tersentuh oleh Tuannya
Ujian tengah semester satu di kelas satu
SMA—
Semuanya datang dalam sekejap mata,
berakhir dalam sekejap mata, dan hasilnya pun keluar dalam sekejap mata.
Kerumunan murid berkumpul di depan
papan peringkat yang tertempel di lorong. Aku pun berada di antara mereka.
"Astaga."
"Apa maksudmu dengan 'astaga',
Sayaka?"
Aku spontan menatap tajam ke arah Sayaka
yang berdiri di sebelahku.
"Tidak, hanya sedikit mengejutkan
saja, kok."
"Begitu ya."
Pandangan Sayaka tertuju bukan pada
namanya sendiri, melainkan pada nama tuan yang dia layani.
Wajahnya tampak dingin seperti biasa,
membuatku tidak bisa membaca emosinya.
"Peringkat dua puluh pas... Ini sama
sekali nggak bagus."
"Aku setuju."
"Kamu nggak punya kata-kata
penghiburan atau apa gitu?"
Melonjak dari peringkat 100 ke peringkat
20 adalah lompatan yang sangat besar, dan hasilnya jauh lebih baik dari
dugaanku. Bahkan situasi ini seharusnya pantas mendapat sedikit pujian.
Namun—
"Nggak, aku nggak butuh penghiburan.
Biarpun sudah banyak omong, aku tetap saja gagal mencapai targetku."
"Aku setuju."
"Perlu kuajari kalau dalam bahasa
Jepang masih ada kata lain selain 'aku setuju'?"
"Pengetahuanku soal bahasa Jepang
cukup luas, kok. Bagaimanapun juga, aku kan cerdas."
"...Iya deh, si peringkat
satu."
Nama Hisaka Sayaka tentu saja tertulis di
kolom peringkat "1".
Ngomong-ngomong, peringkat keduanya
adalah—
"Wah, wah, sepertinya aku ingat
ada seseorang yang heboh koar-koar mau masuk sepuluh besar."
"...Selamat atas peringkat keduamu,
Fujikawa."
"Ugh, menjijikkan. Tumben banget
tiba-tiba muji?"
Sosok yang muncul di belakangku adalah
Fujikawa yang tampan tapi menyebalkan.
"Fakta bahwa kamu bahkan nggak masuk
sepuluh besar itu beneran khas dirimu yang payah dalam menuntaskan sesuatu.
Haha, kamu cuma selisih satu poin doang dari peringkat sembilan belas."
"Kalau nggak masuk sepuluh besar, mau
peringkat sembilan belas atau dua puluh sama saja."
"Oh? Tumben kamu rendah hati begini,
Kiyomiya. Yah, untuk ukuranmu, ini hasil yang lumayan bagus."
"..."
Fujikawa Kōtarō ini memang sudah
menyebalkan dan selalu menggangguku sejak zaman SD.
Satu-satunya alasan gangguannya tidak
sampai meningkat ke tingkat perundungan mungkin karena dia takut hal itu
terbongkar ke publik—atau begitulah pikirku. Namun, entah kenapa Fujikawa
tampaknya punya penilaian yang sangat tinggi terhadapku.
Dia sepertinya beranggapan bahwa Kiyomiya
Keiji sengaja berlagak bodoh dan berpura-pura menjadi sampah.
Dugaannya sekitar setengah benar, tapi
kenyataannya aku memang benar-benar sampah.
"Kalau begini terus, lain kali kamu
pasti masuk sepuluh besar... Aku malah jadi beneran menantikannya, nih."
"Fujikawa, kamu..."
Sebelum sempat membalas, Fujikawa sudah
berjalan menjauh menyusuri lorong sambil menyeringai.
Tampaknya keberhasilanku meraih peringkat
dua puluh justru makin menaikkan penilaian Fujikawa terhadapku.
Dia itu orang mesum, jadi mengharapkan
sesuatu dariku begini rasanya malah bikin ngeri.
"Tidakkah kamu berpikir ini bakal
bikin Fujikawa makin terobsesi padamu?"
"Jangan ngomong blak-blakan
gitu dong. Bikin aku jadi
pengin nyerah dari tekad 'berhenti jadi sampah'-ku saja."
Aku akhirnya sudah termotivasi, jadi
sungguh tidak adil kalau tekadku dihancurkan oleh seorang mesum.
"Untuk sekarang, lupain saja soal
Fujikawa."
"Nggak, kamu nggak boleh melupakan
dia. Biarpun orangnya seperti itu, Fujikawa sepertinya memegang peringkat dua
secara permanen. Kamu
harus melampauinya, lalu kamu juga harus melampauiku, kalau tidak aku yang akan
kesulitan."
"Apa aku beneran harus melampauimu
juga, Sayaka...?"
Sejujurnya, peringkat dua puluh sudah
merupakan keberhasilan yang cukup sebagai langkah awal untuk berhenti menjadi
sampah. Namun, tampaknya Sayaka tidak akan puas hanya dengan hasil ini.
Apakah Sayaka mengakuinya atau
tidak—bukankah itu tolok ukur untuk berhenti menjadi sampah?
"Untuk sekarang, kufoto dulu ah. Ini
mungkin pertama sekaligus terakhir kalinya Keiji dapat peringkat dua
puluh."
"...Jangan nakut-nakutin begitu
dong."
Kali ini giliran Maki yang tiba-tiba
muncul di sampingku.
Dia sedang mengangkat ponselnya
dan memotret papan peringkat.
"Gimana peringkatmu sendiri,
Maki?"
"Nanya peringkat ujian ke
seorang gadis itu beneran nggak peka tahu."
"Apa hubungannya sama jenis kelamin
coba?!"
"Fotonya kurasa sudah cukup. Bakal
kusebarkan ini barengan sama video deklarasi 'sepuluh besar'-mu tempo
hari."
"Tunggu sebentar, kamu
merekamnya?!"
Maki saat itu memang ada di dekatku, tapi
aku tidak melihatnya mengangkat ponsel sama sekali.
Jangan bilang dia menyembunyikan kamera
kecil di dalam seragamnya atau semacamnya?
"Oh, sebenarnya aku juga beli
action camera. Tahu sendiri kan, keluarga Sogano juga keluarga terpandang, jadi
kita mampu beli kamera mahal."
"Aku nggak nanya soal kondisi
keuangan keluarga Sogano."
Banyak murid di Sōshūkan yang
berasal dari keluarga kaya, tetapi jarang sekali melihat mereka memakai
barang-barang mewah.
Justru karena kaya, banyak orang tua
yang mendidik anak-anak mereka cara menggunakan uang sejak dini dan melarang
membeli barang mewah yang tidak perlu.
Maki sepertinya tipe orang yang
membeli apa pun sesuka hatinya tanpa berpikir panjang.
"Nih, lihat. Lebih gampang
dipegang daripada ponsel, baterainya lebih awet, dan kualitas gambarnya bagus.
Kalau aku membuntuti kamu dan Sa-chan pakai ini, yakin deh bisa dapat rekaman
yang bisa dijual."
"Jangan nyari duit dari teman
sendiri dong."
"Nggak apa-apa, jangan ambil
pusing hal sepele begitu."
Maki mengarahkan action camera yang dia
keluarkan dari sakunya ke arahku.
"Jadi, Kiyomiya Keiji-kun. Kamu yang
di tes penempatan kemarin pas peringkat seratus, kali ini melesat naik ke
peringkat dua puluh. Gimana perasaanmu sekarang?"
"Aku malu mengatakannya, tapi meski
sudah mendeklarasikan bakal masuk sepuluh besar, hasilnya malah mengecewakan di
peringkat dua puluh. Namun, aku pasti akan masuk sepuluh besar pada ujian akhir
di bulan Juli nanti."
"Ooooh, mantap banget ngomongnya
penuh keyakinan! Keren juga... kayaknya!"
Apa-apaan dengan kata 'kayaknya' itu?
Aku memang tidak begitu suka meladeni
kelakuan konyol Maki, tetapi membuat deklarasi di sini bukanlah ide yang buruk.
Informan tidak cuma mengumpulkan informasi, mereka juga punya cara untuk
menyebarkannya.
Tidak peduli apa pun identitasku yang
sebenarnya—tidak ada ruginya berusaha untuk berhenti menjadi sampah.
"Namun, cuma dapat nilai bagus saat
ujian masih belum cukup hebat. Aku akan membuktikan bahwa diriku layak
menyandang nama keluarga Kiyomiya, sang keluarga taika."
"Ooooh! Sama sekali nggak spesifik
sih, tapi beneran sombong banget omonganmu, Keiji."
"..."
Aku memalingkan pandanganku dan
menatap ke luar jendela.
Apa tadi aku terlalu berlebihan,
ya...? Memang tidak spesifik, tapi bukankah omongan tadi malah jauh lebih
muluk-muluk daripada mengincar sepuluh besar?
"..."
"Hm?"
Rasanya aku mendengar suara yang
aneh...?
"Lho, Sa-chan? Ada apa?"
"T-Tidak..."
Sayaka melepas kacamata berbingkai
hitam yang selalu dikenakannya di sekolah lalu mengusap matanya—
"Hiks, hiks..."
"Eh? Sayaka?"
Tunggu, apa dia sedang menyeka air
mata?!
"H-Hei, Sayaka, kamu kenapa?"
"...Soalnya, Keiji-kun yang dulunya
anak tak berguna dan payah seperti itu, sudah berusaha begitu keras dalam
belajar bahkan sampai mendeklarasikan bakal bangkit di lingkungan bangsawan...
padahal dulunya sangat tidak berguna dan payah..."
"Perlu banget ya diulangi
sampai dua kali?"
Apa dia sedang pura-pura memujiku
sambil sebenarnya mengejekku?
"Lho, Hisaka-san nangis
lagi."
"Tempo hari dia juga nangis
kan, atau lebih tepatnya, Kiyomiya yang bikin dia nangis."
"Ternyata Kiyomiya-kun beneran
sampah, ya... Biarpun nilainya membaik, sampah tetaplah sampah, kan."
"..."
Murid-murid di sekitar kami mulai
berbisik-bisik satu sama lain. Nilaiku memang naik, tapi bukankah reputasiku
malah merosot tajam?
Sayaka pernah menangis di depanku
sebelumnya—bahkan di dalam kelas pula.
Ini sudah kedua kalinya, semua orang pasti
mengira aku telah berbuat macam-macam padanya.
Ditinjau dari cara pandang orang lain
terhadapku, langkahku untuk berhenti menjadi sampah jelas-jelas malah mengalami
kemunduran...



Post a Comment