NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Suki Datta Ko wo Meido ni Shitara Volume 2 Chapter 6

Chapter 07

Maid Tersentuh oleh Tuannya


Ujian tengah semester satu di kelas satu SMA—

Semuanya datang dalam sekejap mata, berakhir dalam sekejap mata, dan hasilnya pun keluar dalam sekejap mata.

Kerumunan murid berkumpul di depan papan peringkat yang tertempel di lorong. Aku pun berada di antara mereka.

"Astaga."

"Apa maksudmu dengan 'astaga', Sayaka?"

Aku spontan menatap tajam ke arah Sayaka yang berdiri di sebelahku.

"Tidak, hanya sedikit mengejutkan saja, kok."

"Begitu ya."

Pandangan Sayaka tertuju bukan pada namanya sendiri, melainkan pada nama tuan yang dia layani.

Wajahnya tampak dingin seperti biasa, membuatku tidak bisa membaca emosinya.

"Peringkat dua puluh pas... Ini sama sekali nggak bagus."

"Aku setuju."

"Kamu nggak punya kata-kata penghiburan atau apa gitu?"

Melonjak dari peringkat 100 ke peringkat 20 adalah lompatan yang sangat besar, dan hasilnya jauh lebih baik dari dugaanku. Bahkan situasi ini seharusnya pantas mendapat sedikit pujian.

Namun—

"Nggak, aku nggak butuh penghiburan. Biarpun sudah banyak omong, aku tetap saja gagal mencapai targetku."

"Aku setuju."

"Perlu kuajari kalau dalam bahasa Jepang masih ada kata lain selain 'aku setuju'?"

"Pengetahuanku soal bahasa Jepang cukup luas, kok. Bagaimanapun juga, aku kan cerdas."

"...Iya deh, si peringkat satu."

Nama Hisaka Sayaka tentu saja tertulis di kolom peringkat "1".

Ngomong-ngomong, peringkat keduanya adalah—

"Wah, wah, sepertinya aku ingat ada seseorang yang heboh koar-koar mau masuk sepuluh besar."

"...Selamat atas peringkat keduamu, Fujikawa."

"Ugh, menjijikkan. Tumben banget tiba-tiba muji?"

Sosok yang muncul di belakangku adalah Fujikawa yang tampan tapi menyebalkan.

"Fakta bahwa kamu bahkan nggak masuk sepuluh besar itu beneran khas dirimu yang payah dalam menuntaskan sesuatu. Haha, kamu cuma selisih satu poin doang dari peringkat sembilan belas."

"Kalau nggak masuk sepuluh besar, mau peringkat sembilan belas atau dua puluh sama saja."

"Oh? Tumben kamu rendah hati begini, Kiyomiya. Yah, untuk ukuranmu, ini hasil yang lumayan bagus."

"..."

Fujikawa Kōtarō ini memang sudah menyebalkan dan selalu menggangguku sejak zaman SD.

Satu-satunya alasan gangguannya tidak sampai meningkat ke tingkat perundungan mungkin karena dia takut hal itu terbongkar ke publik—atau begitulah pikirku. Namun, entah kenapa Fujikawa tampaknya punya penilaian yang sangat tinggi terhadapku.

Dia sepertinya beranggapan bahwa Kiyomiya Keiji sengaja berlagak bodoh dan berpura-pura menjadi sampah.

Dugaannya sekitar setengah benar, tapi kenyataannya aku memang benar-benar sampah.

"Kalau begini terus, lain kali kamu pasti masuk sepuluh besar... Aku malah jadi beneran menantikannya, nih."

"Fujikawa, kamu..."

Sebelum sempat membalas, Fujikawa sudah berjalan menjauh menyusuri lorong sambil menyeringai.

Tampaknya keberhasilanku meraih peringkat dua puluh justru makin menaikkan penilaian Fujikawa terhadapku.

Dia itu orang mesum, jadi mengharapkan sesuatu dariku begini rasanya malah bikin ngeri.

"Tidakkah kamu berpikir ini bakal bikin Fujikawa makin terobsesi padamu?"

"Jangan ngomong blak-blakan gitu dong. Bikin aku jadi pengin nyerah dari tekad 'berhenti jadi sampah'-ku saja."

Aku akhirnya sudah termotivasi, jadi sungguh tidak adil kalau tekadku dihancurkan oleh seorang mesum.

"Untuk sekarang, lupain saja soal Fujikawa."

"Nggak, kamu nggak boleh melupakan dia. Biarpun orangnya seperti itu, Fujikawa sepertinya memegang peringkat dua secara permanen. Kamu harus melampauinya, lalu kamu juga harus melampauiku, kalau tidak aku yang akan kesulitan."

"Apa aku beneran harus melampauimu juga, Sayaka...?"

Sejujurnya, peringkat dua puluh sudah merupakan keberhasilan yang cukup sebagai langkah awal untuk berhenti menjadi sampah. Namun, tampaknya Sayaka tidak akan puas hanya dengan hasil ini.

Apakah Sayaka mengakuinya atau tidak—bukankah itu tolok ukur untuk berhenti menjadi sampah?

"Untuk sekarang, kufoto dulu ah. Ini mungkin pertama sekaligus terakhir kalinya Keiji dapat peringkat dua puluh."

"...Jangan nakut-nakutin begitu dong."

Kali ini giliran Maki yang tiba-tiba muncul di sampingku.

Dia sedang mengangkat ponselnya dan memotret papan peringkat.

"Gimana peringkatmu sendiri, Maki?"

"Nanya peringkat ujian ke seorang gadis itu beneran nggak peka tahu."

"Apa hubungannya sama jenis kelamin coba?!"

"Fotonya kurasa sudah cukup. Bakal kusebarkan ini barengan sama video deklarasi 'sepuluh besar'-mu tempo hari."

"Tunggu sebentar, kamu merekamnya?!"

Maki saat itu memang ada di dekatku, tapi aku tidak melihatnya mengangkat ponsel sama sekali.

Jangan bilang dia menyembunyikan kamera kecil di dalam seragamnya atau semacamnya?

"Oh, sebenarnya aku juga beli action camera. Tahu sendiri kan, keluarga Sogano juga keluarga terpandang, jadi kita mampu beli kamera mahal."

"Aku nggak nanya soal kondisi keuangan keluarga Sogano."

Banyak murid di Sōshūkan yang berasal dari keluarga kaya, tetapi jarang sekali melihat mereka memakai barang-barang mewah.

Justru karena kaya, banyak orang tua yang mendidik anak-anak mereka cara menggunakan uang sejak dini dan melarang membeli barang mewah yang tidak perlu.

Maki sepertinya tipe orang yang membeli apa pun sesuka hatinya tanpa berpikir panjang.

"Nih, lihat. Lebih gampang dipegang daripada ponsel, baterainya lebih awet, dan kualitas gambarnya bagus. Kalau aku membuntuti kamu dan Sa-chan pakai ini, yakin deh bisa dapat rekaman yang bisa dijual."

"Jangan nyari duit dari teman sendiri dong."

"Nggak apa-apa, jangan ambil pusing hal sepele begitu."

Maki mengarahkan action camera yang dia keluarkan dari sakunya ke arahku.

"Jadi, Kiyomiya Keiji-kun. Kamu yang di tes penempatan kemarin pas peringkat seratus, kali ini melesat naik ke peringkat dua puluh. Gimana perasaanmu sekarang?"

"Aku malu mengatakannya, tapi meski sudah mendeklarasikan bakal masuk sepuluh besar, hasilnya malah mengecewakan di peringkat dua puluh. Namun, aku pasti akan masuk sepuluh besar pada ujian akhir di bulan Juli nanti."

"Ooooh, mantap banget ngomongnya penuh keyakinan! Keren juga... kayaknya!"

Apa-apaan dengan kata 'kayaknya' itu?

Aku memang tidak begitu suka meladeni kelakuan konyol Maki, tetapi membuat deklarasi di sini bukanlah ide yang buruk. Informan tidak cuma mengumpulkan informasi, mereka juga punya cara untuk menyebarkannya.

Tidak peduli apa pun identitasku yang sebenarnya—tidak ada ruginya berusaha untuk berhenti menjadi sampah.

"Namun, cuma dapat nilai bagus saat ujian masih belum cukup hebat. Aku akan membuktikan bahwa diriku layak menyandang nama keluarga Kiyomiya, sang keluarga taika."

"Ooooh! Sama sekali nggak spesifik sih, tapi beneran sombong banget omonganmu, Keiji."

"..."

Aku memalingkan pandanganku dan menatap ke luar jendela.

Apa tadi aku terlalu berlebihan, ya...? Memang tidak spesifik, tapi bukankah omongan tadi malah jauh lebih muluk-muluk daripada mengincar sepuluh besar?

"..."

"Hm?"

Rasanya aku mendengar suara yang aneh...?

"Lho, Sa-chan? Ada apa?"

"T-Tidak..."

Sayaka melepas kacamata berbingkai hitam yang selalu dikenakannya di sekolah lalu mengusap matanya—

"Hiks, hiks..."

"Eh? Sayaka?"

Tunggu, apa dia sedang menyeka air mata?!

"H-Hei, Sayaka, kamu kenapa?"

"...Soalnya, Keiji-kun yang dulunya anak tak berguna dan payah seperti itu, sudah berusaha begitu keras dalam belajar bahkan sampai mendeklarasikan bakal bangkit di lingkungan bangsawan... padahal dulunya sangat tidak berguna dan payah..."

"Perlu banget ya diulangi sampai dua kali?"

Apa dia sedang pura-pura memujiku sambil sebenarnya mengejekku?

"Lho, Hisaka-san nangis lagi."

"Tempo hari dia juga nangis kan, atau lebih tepatnya, Kiyomiya yang bikin dia nangis."

"Ternyata Kiyomiya-kun beneran sampah, ya... Biarpun nilainya membaik, sampah tetaplah sampah, kan."

"..."

Murid-murid di sekitar kami mulai berbisik-bisik satu sama lain. Nilaiku memang naik, tapi bukankah reputasiku malah merosot tajam?

Sayaka pernah menangis di depanku sebelumnya—bahkan di dalam kelas pula.

Ini sudah kedua kalinya, semua orang pasti mengira aku telah berbuat macam-macam padanya.

Ditinjau dari cara pandang orang lain terhadapku, langkahku untuk berhenti menjadi sampah jelas-jelas malah mengalami kemunduran...



Chapter 5 | ToC | Chapter 7

Post a Comment

Post a Comment

close