Penerjemah: Miru-chan
Proffreader: Miru-chan
Chapter 1
Dicium oleh Teman Masa Kecil
Bulan Juli, sepulang sekolah saat kelas dua SMA.
Hari ini pun aku, Akahori Renji, kembali menunggu teman masa kecilku di taman dekat sekolah.
Aku duduk di bangku taman kecil yang terletak di kawasan perumahan tenang, agak jauh dari jalan raya utama, lalu meletakkan satu kotak jus anggur yang baru kubeli dari mesin penjual otomatis.
Tanpa disadari, ini telah menjadi sebuah kebiasaan—salah satu kesenangan kecilku yang terjadi sesekali. Disebut kebiasaan tetapi hanya terjadi sesekali, takaran waktu seperti itulah yang justru terasa pas sebagai bentuk apresiasi untuk diriku sendiri.
"Renji~! Maaf ya sudah membuatmu menunggu!"
Alasan di balik semua ini tidak lain karena teman masa kecilku yang berambut putih, Yakumo Sagiri, yang sedang melambaikan tangan sambil berjalan mendekat dari pintu masuk taman, adalah seorang gadis yang terlalu cantik sehingga dia sangat populer.
"Panas banget, ya. Dasimu tidak bikin sesak?"
"Ini kan peraturan sekolah. Malah kamu sendiri yang dasinya terlalu longgar."
"Ah, jus anggur yang biasa!"
"Dengarkan aku dulu, dong. Jangan main minum saja."
"Bisa tidak sengaja ciuman tidak langsung dengan gadis tercantik nomor satu di sekolah, apa jantungmu berdegup kencang?"
"Bukannya sudah terlambat untuk membahas itu? Kita 'kan teman masa kecil. Ayo, mari pulang."
"Buuu~! Padahal aku masih ingin istirahat sebentar lagi~!"
Sembari memegang jus anggur yang direbutnya dariku, Sagiri mengerucutkan bibirnya. Sambil melirik teman masa kecilku yang bertindak semaunya sendiri itu, aku bangkit berdiri dan mulai berjalan, lalu dia pun segera menyusul untuk berjalan di sampingku.
"...Terima kasih ya, seperti biasa. Padahal aku yang ditembak orang, tapi malah membuatmu ikut menunggu."
"Jangan dipikirkan. Kalau itu melelahkan untukmu, kamu tidak perlu datang menemui mereka, 'kan?"
"Tidak boleh begitu. Mereka sudah mengumpulkan keberanian untuk menyatakan perasaan, jadi aku harus menolaknya dengan penuh rasa hormat dan tulus."
Sagiri adalah gadis yang sangat baik. Meski dia tidak tahu wajah ataupun belum pernah mengobrol dengan orang tersebut, jika dipanggil, dia akan datang dan mendengarkan perkataan mereka dengan baik.
Ya, walaupun begitu... selama 1 tahun penuh sejak awal masuk sekolah, Sagiri terus-menerus menolak semua pernyataan cinta dari orang-orang yang tak terhitung jumlahnya itu.
"Kamu benar-benar orang yang taat asas dan punya sopan santun, ya."
"Masa, sih? Kamu sendiri juga selalu setia menungguku, Renji."
"Aku hanya tidak mau repot kalau kamu sampai pingsan lagi."
"Ih~! Itu 'kan cerita masa kita masih kecil dulu!"
Dulu, fisik Sagiri sangat lemah. Sekarang pun dia tidak bisa dibilang kuat, tetapi dulu dia jauh lebih rapuh; tipe anak yang bisa langsung pingsan hanya karena pergi ke luar rumah.
"...Ini untukmu."
"Hm?"
"Sebagai ucapan terima kasih karena selalu menungguku!"
"Tunggu dulu, ini 'kan jus anggurku."
"Ini jus anggur yang sudah diminum oleh gadis tercantik nomor 1 di sekolah, lho?"
"Kamu ini, ya..."
Sagiri yang berjalan di sampingku menyodorkan kotak jus anggur yang penutupnya sudah terbuka itu dengan sedikit memaksa. Karena sejak awal ini memang milikku, aku menerimanya dengan ekspresi biasa saja lalu meminumnya.
Seperti biasa, rasanya manis dan asam dengan aroma khas buah anggur.
"Kamu benar-benar meminumnya tanpa ragu sedikit pun, ya."
"Karena ini memang punyaku."
Masalah ciuman tidak langsung atau apa pun namanya, hubungan antara aku dan Sagiri sudah melampaui hal semacam itu. Sudah bukan waktunya lagi untuk merasa malu sekarang.
"Renji, kamu memang selalu menungguku, tapi..."
"Ada apa tiba-tiba?"
"...Apa kamu tidak pernah berpikir, bagaimana kalau suatu saat aku menerima pernyataan cinta seseorang dan tidak datang ke tempatmu lagi?"
Benar-benar tiba-tiba, sebenarnya apa yang sedang dipikirkan oleh anak ini?
"Tidak pernah. Lagipula kalau hal itu sampai terjadi, ya baru akan kupikirkan saat saatnya tiba."
"Eh? Wah, apa-apaan itu? Curang! Itu namanya curang, 'kan!"
Sejujurnya, aku memang tidak pernah memikirkan hal tersebut. Sebab, Sagiri selalu berada di sampingku selama ini.
"Kamu sendiri pun menolak pernyataan cinta mereka bukan karena sekadar benci, 'kan?"
"Ugh. Ya, itu benar, sih..."
Dia mulai memainkan rambut putihnya yang indah di bagian samping dengan canggung. Karena Sagiri adalah orang yang baik, aku tahu betul bahwa dia tidak akan mencampakkan perasaan tulus seseorang begitu saja tanpa alasan.
"Yah, intinya aku akan selalu menunggumu. Minum ini dan santai saja."
Aku mengatakannya dengan nada bercanda sambil mengocok kotak jus yang sudah kosong untuk dipamerkan padanya. Sisa-sisa tetesan jus di bagian dasar kotak mengeluarkan bunyi gemercik kecil.
"...Apakah itu berarti... hal yang seperti 'itu'?"
Sagiri mempersempit jarak di antara kami seolah ingin memastikan, lalu mendongak menatapku. Entah hanya perasaanku saja atau bukan, wajahnya tampak memerah.
Jangan-jangan, dia sedang demam?
"Hm? Ah, iya, tentu saja."
"Eh? Ah... be-benarkah...?"
Kami adalah sepasang sahabat yang bisa saling memahami meski tanpa kata-kata. Oleh karena itu, ketika suasana mendadak berubah menjadi serius seperti ini, keadaan malah terasa semakin canggung.
Justru karena itulah, aku melemparkan senyuman hangat kepada Sagiri.
"Tentu saja, karena kita 'kan sahabat?"
"—"
Benar, kami adalah sahabat. Kami tahu segalanya tentang satu sama lain, dan bisa membicarakan apa saja secara terbuka. Ikatan kami setara dengan keluarga, bahkan merupakan ikatan pertemanan yang jauh lebih kuat dari itu.
"Mari kita terus menjadi sahabat selamanya, ya."
Mungkin Sagiri sempat merasa cemas. Dia mungkin berpikir bahwa tindakannya yang selalu membuatku menunggu demi mendengarkan pernyataan cinta orang lain telah menjadi beban bagiku.
"...Sa...habat?"
"Ya, benar 'kan?"
Karena dasarnya dia adalah orang yang sangat baik, dia pasti memikirkan hal-hal yang tidak perlu secara berlebihan.
"...Sahabat."
Kemudian, Sagiri menggumamkan kata itu dengan suara yang sangat pelan.
"Kalau kita sahabat, berarti tidak apa-apa, 'kan?"
"Hah? Ah, iya, karena kita sahabat jadi jangan sungkan-sungkan—"
Sret! Dasi seragamku ditarik dengan kuat.
Bukkkk... Terdengar suara kotak kosong yang terjatuh dan menggelinding di atas tanah.
"—Ngh!"
"—Mmph?!"
Bibirku dan bibir Sagiri saling bertautan. Rasanya seolah-olah waktu mendadak berhenti berputar.
Tepat di depan mataku, tampak wajah Sagiri yang sedang memejamkan matanya rapat-rapat. Bulu matanya yang panjang, pelupuk matanya yang tertutup. Dari bibir yang saling bersentuhan itu, aku dapat merasakan kelembutan, kehangatan, dan juga sebuah getaran yang halus.
Aku dicium oleh Sagiri.
Sebuah ciuman yang mendadak dan menggebu-gebu, seakan dia sedang meluapkan seluruh emosinya.
Itu adalah... ciuman pertamaku.
"......Rasa anggur."
"......Eh, hah? Apa-apaan!"
Sagiri, yang perlahan menjauh dariku, tersenyum seolah-olah tidak terjadi apa-apa.
"Hmm—ada apa?"
"Bukan ada apa-apa, kamu! Barusan itu... barusan kamu!"
Melihatku yang panik setengah mati, Sagiri mendongak menatapku dengan tatapan jahil yang tampak terhibur. Aku sama sekali tidak bisa mengalihkan pandanganku dari bibir tipisnya yang berwarna merah muda itu.
"Kita 'kan sahabat... Ciuman seperti ini biasa saja, 'kan?"
Dia menyentuhkan ujung jari telunjuknya ke bibir itu sendiri seolah sedang menyembunyikannya. Isyarat yang berarti 'ini rahasia kita'. Hanya dengan gerakan sekecil itu saja sudah sukses membuat jantungku berdegup kencang.
"Fufu, Sahabat. Sampai jumpa besok, ya?"
Sembari mengulas senyum lebar yang begitu manis, dia... sahabatku itu, langsung berlari pergi.
Aku tidak mampu mengulurkan tangan ataupun memanggilnya untuk berhenti. Aku hanya bisa berdiri terpaku, di mana hatiku telah sepenuhnya dicuri oleh sensasi sentuhan bibir tadi serta senyuman yang seharusnya sudah sangat familier bagiku.
◆
Aku telah berciuman dengan Sagiri. Teman masa kecil yang selalu bersamaku sejak dulu, teman masa kecil yang sudah kuanggap seperti keluarga sendiri, teman masa kecil yang merupakan gadis tercantik nomor 1 di sekolah, sekaligus sahabatku, Sagiri... Kami berciuman.
Apakah ciuman itu berarti... hubungan yang 'seperti itu'?
Apakah Sagiri menyukaiku...? Tapi, dia juga bilang kalau berciuman bagi sepasang sahabat itu adalah hal yang biasa...
Tidak, tunggu, memangnya ada sahabat yang biasa berciuman?
"Yo, Akahori! ...Eh, kantung matamu parah banget, loh?!"
"Oh, ternyata kamu, Hasegawa... teman sekelasku..."
"Dialog penjelasan macam apa itu?! Kaku amat kaya sandiwara jelek! Lagian jalanmu sempoyongan begitu! Duduk dulu, buruan duduk!!"
Pagi hari di sekolah, di dalam kelas sebelum jam bimbingan wali kelas dimulai. Aku ditarik oleh teman sekelasku yang berbadan tegap, Hasegawa Gou, lalu didudukkan di kursiku sendiri. Kursi paling belakang di dekat jendela.
Sinar matahari musim panas yang menembus masuk dari luar hari ini terasa teramat menyengat.
"Jangan-jangan kamu tertular flu juga?! Kalau kondisi badanmu seburuk itu, lebih baik pulang saja, lho."
"Aman, aman. Aku cuma... agak kurang tidur semalam..."
"Orang aneh yang kelewat serius sepertimu begadang sampai pagi? Jangan-jangan, ini ada hubungannya dengan Yakumo-chan?"
"Ugh! Ba-ba-bagaimana bisa kamu tahu?!"
"......Eh, seriusan?"
Hasegawa mendadak memajukan tubuhnya dari kursi depan dengan sangat dekat. Karena dia pria bertubuh besar dan tegap, gerakannya memberikan tekanan intimidasi yang entah mengapa terasa kuat.
"Ka-kamu akhirnya meresmikan hubungan dengan Yakumo-chan, ya? Dasar ka—"
"Ti-tidak! Tidak ada apa-apa! Tidak terjadi apa-apa! Lagipula, apa maksudmu dengan kata 'akhirnya'!"
"Jangan bohong, bodoh! Mustahil tidak terjadi apa-apa melihat reaksimu yang sekacau ini, padahal biasanya kamu selalu bersama gadis tercantik di sekolah itu dengan muka lempeng!"
"Sungguh, tidak ada apa-apa! Sagiri itu cuma teman masa kecilku, dan dia adalah—"
"Hmm—apanya Renji~?"
"Uwaah?!"
Sebuah suara familier yang terdengar menggemaskan tiba-tiba menyela dari samping, membuatku spontan melonjak saking terkejutnya.
Sagiri, yang membawa hawa segar udara pagi, entah sejak kapan sudah berdiri di sampingku sambil tersenyum.
"Yo, Yakumo-chan! Kemarin ada kejadian sesuatu ya antara kamu sama Akahori?"
"Hasegawa?!"
Sialan, berani-beraninya kamu langsung menanyakan hal sesensitif itu secara tiba-tiba!
"Selamat pagi, Hasegawa-kun! Nggak, kok, semuanya berjalan seperti biasa. Iya 'kan, Renji?"
Berbanding terbalik denganku yang panik setengah mati, Sagiri justru tersenyum kepadaku seperti biasa. Hanya dengan begitu saja, dadaku kembali berdegup kencang.
"A-ah, iya..."
"Eh, beneran?"
"Beneran dong, beneran~"
Entah kenapa Sagiri mengulang perkataannya sambil membentuk gestur double peace dengan jemarinya.
"Kalau begitu, kenapa kantung matamu sampai sejelas itu, Bro?"
"......Cuma tidak bisa tidur saja."
"Masa, sih... Tidur yang cukup, ya."
Kehilangan minatnya, Hasegawa akhirnya kembali ke kursinya sendiri.
Bagi diriku yang sesama pria, dia adalah laki-laki yang murni dan baik karena tidak menaruh curiga yang aneh-aneh dan justru mencemaskan kondisi kesehatanku.
"Jadi, kalian tadi sedang membicarakan apa?"
Terlepas dari masalah Hasegawa, Sagiri yang kini menumpukan lengannya di mejaku mulai mendongak menatapku. Sepasang mata berwarna emas pucat laksana batu ambar yang sendu menatap lurus ke arahku; sebuah tatapan manja dari bawah yang sangat sempurna.
Bagaimana bisa aku dibuat berdebar-debar hanya karena gestur seperti ini dari teman masa kecil yang sudah biasa kulihat sehari-hari...
"......Ka-karena kurang tidur, kok."
"Eh, kamu tidak apa-apa? Kalau Renji sampai pingsan, aku pasti akan menolongmu!"
"......Aku akan berusaha sebaik mungkin agar hal itu tidak terjadi."
Semuanya terasa normal.
Sagiri tampak sama seperti biasanya. Dia adalah teman masa kecil yang tidak berubah sedikit pun, padahal kemarin dia sudah melakukan tindakan seberani itu.
Tapi, kalau dipikir-pikir lagi, kemarin... Kami benar-benar berciuman, 'kan...?
Teng-tong-teng-tong
"Ah, sudah bel."
"I-iya, benar..."
Bel sekolah berbunyi, dan Sagiri pun bangkit berdiri. Gerakan itu saja sudah cukup untuk membuat rambut putih panjangnya bergoyang di dekat wajahku, mengembuskan aroma harum yang menggelitik hidungku.
"—Kalau begitu, sampai nanti, Sahabat."
"Eh?"
Tanpa sadar aku mendongak menatapnya, namun semuanya sudah terlambat.
"Nanti kita lanjut lagi, ya?"
Sembari berjalan lewat, Sagiri membisikkan kata-kata itu tepat di telingaku, lalu dengan ekspresi tanpa dosa dia langsung duduk di kursinya yang berada tepat di sebelahku.
"A-apa......?!"
"Ssttt...!"
Melihat diriku yang kebingungan, Sagiri kembali menyentuhkan jari telunjuknya ke bibir sambil tersenyum, persis seperti yang dilakukannya kemarin.
Mungkin karena aku terlalu banyak memikirkan soal kata "sahabat" itu, ingatanku jadi agak samar. Aku hanya ingat kalau istirahat siang sudah berakhir, lalu bel masuk pelajaran jam kelima berbunyi.
"Ah, Sahabat. Selamat pagi."
Saat membuka mata, paras cantik nan jelita yang sudah sangat familier bagiku berada tepat di depan mata. Rambut putih panjangnya yang sehalus sutra terurai jatuh, seolah membentuk tirai yang mengitari kami.
"......Sagiri?"
"Iya, ini aku, lho."
Teman masa kecil yang menjadi sumber kegelisahanku ini sedang menatapku dari atas...... dari atas?
"......Sekarang, ini situasi macam apa?"
"Ini di kelas, dan kamu sedang pangkun bantal paha~!"
Sebuah kenyataan yang sulit dicerna telingaku disodorkan begitu saja dengan nada yang berirama.
Saat Sagiri menegakkan punggungnya, dadanya yang besar langsung menghalangi separuh pandanganku, sementara separuh sisanya hanya memperlihatkan langit-langit ruang kelas.
"Pahaku empuk dan nyaman, 'kan?"
"Hah?!"
Sensasi kelembutan dari paha Sagiri terasa jelas di bagian belakang kepalaku. Senyuman yang ditujukan hanya untukku, tanpa memberiku celah untuk kabur, kembali terulur dari tepat di atas wajahku.
"Guru saja sampai kaget, lho. Renji yang biasanya rajin ternyata bisa ketiduran di kelas."
"Tu-tunggu sebentar! Jadi maksudmu, aku..."
"Tidur nyenyak dari jam kelima sampai jam bimbingan wali kelas selesai."
Rasa malu.
"Wajah tidurmu imut banget, lho."
Seketika langsung melanda diriku dengan dahsyat.
"Tidak boleh kabur, ya."
Tangan rampingnya dengan sangat mudah menahan kepalaku yang hendak bangkit berdiri. Baik dari segi posisi, situasi, hingga sosok yang kuhadapi saat ini, aku tidak bisa menemukan satu pun celah di mana aku bisa menang melawannya.
"Ka-kabur apa maksudmu?!"
"Kita 'kan sahabat, jadi tidak perlu sungkan."
Sahabat.
Kata yang paling membuatku pusing belakangan ini kembali menyerangku. Memang benar kalau sahabat adalah orang yang bisa kita ajak berinteraksi tanpa rasa canggung, tetapi aku sangat sangsi apakah pangkun bantal paha termasuk di dalamnya.
"Kemarin aku sudah bilang, 'kan? Kalau Renji sampai pingsan, aku pasti akan menolongmu."
"......Bukankah ini terlalu cepat?"
"Renji sendiri yang salah karena langsung tepar secepat ini."
Sebuah argumen telak yang sama sekali tidak bisa kubantah.
"......He-hei."
"Hmm~?"
"So-soal yang kemarin itu...... maksudku......"
Niat hati ingin mengalihkan pembicaraan, tetapi tempatku melarikan diri justru adalah jalan menuju neraka yang lebih jahanam. Kenapa juga aku harus menanyakan soal ciuman kemarin di saat aku sedang dipangku di atas pahanya seperti ini?
"......Ciuman?"
"I-iya......"
Setelah menjeda perkataannya sejenak, Sagiri kembali menyentuhkan jari telunjuk ke bibirnya sendiri.
"Habisnya, kita 'kan sahabat?"
"Ngh?!"
Jari telunjuk itu berpindah dari bibir Sagiri ke bibirku. Meskipun hanya sebuah jari, rasanya terasa sangat lembut.
Ini adalah ciuman tidak langsung.
"Kalau sahabat, pasti tidak akan keberatan, 'kan?"
"......Ugh, ah."
Sebuah lenguhan payah lolos dari mulutku. Jari telunjuk yang menjauh dari bibirku itu kini kembali ke bibir Sagiri. Dari bibir ke bibir, sebuah perjalanan bolak-balik yang singkat namun terasa sebagai petualangan yang begitu intim.
Jika bicara soal rasa dari ciuman tidak langsung, mungkin jus anggur yang kemarin rasanya jauh lebih pekat. Namun, semenjak aku merasakan ciuman yang sesungguhnya, aku sama sekali tidak bisa berhenti memikirkan dan menyadari kehadiran Sagiri yang sekarang.
"Lagipula, Renji sendiri yang mengatakannya."
"Apa—"
Sebelum aku sempat membuka mulut, Sagiri sudah bergerak lebih cepat. Tangan sahabatku yang ramping dan lembut kini menangkup pipiku. Seolah-olah sedang mendekapku, jarak antara diriku dan Sagiri pun terkikis.
"—Ngh."
"Mmph?!"
Bibir kami kembali saling bersentuhan.
Berbeda dengan yang kemarin, ini adalah ciuman lembut yang kulakukan dalam keadaan sadar sepenuhnya. Namun, fakta bahwa Sagiri memegang kendali penuh atas situasi ini sama sekali tidak berubah.
"......Jadi, tidak apa-apa 'kan kalau kita melakukannya setiap hari?"
"......A-ah."
Bibir kami perlahan menjauh. Dalam jarak sedekat itu, di mana napas kami masih saling berembus, Sagiri mengulas senyum jahil.
Parasnya benar-benar cantik dan menawan. Padahal aku sudah melihat wajah ini setiap hari sejak kami masih kecil, tetapi sekarang, hanya dengan melihat wajahnya saja rasanya jantungku mau meledak.
Melanjutkan kejadian kemarin, aku pun melakukan ciuman kedua dengan sahabatku secepat ini.
◆
Dua hari berturut-turut aku berciuman dengan Sagiri.
Total 2 kali. Bibir atas dan bibir bawah, bibir ada 2 dan ciuman pun 2 kali. Aku sendiri tidak paham apa yang sedang kupikirkan. Aku juga tidak mengerti apa arti kata sahabat yang dimaksud oleh Sagiri.
Katanya, kalau sahabat, boleh berciuman setiap hari.
......Sebenarnya, apa itu sahabat?
Konsep tentang sahabat di dalam diriku perlahan mulai bergeser.
Setelah ciuman itu berakhir, sikap Sagiri kembali normal.
Tidak, sebenarnya definisi kata normal di kepalaku sudah mulai rancu, tapi dia memang bersikap biasa saja. Dia menjelma kembali menjadi teman masa kecil yang biasa kukenal sehari-hari.
Lalu, bagaimana dengan sikapnya saat berciuman tadi?
Di saat itu, ada sosok Sagiri yang tidak kukenal. Seorang teman masa kecil yang bertindak berani dengan menciumku, padahal status kami adalah sahabat.
Ciuman, ciuman, ciuman.
Orang yang diajak berciuman itu, biasanya adalah orang yang disukai, 'kan......
"......Hei, Hasegawa. Jangan-jangan, Sagiri itu suka padaku, ya?"
"Akahori, apa hari ini kamu masih mengigau?"
Pertanyaan logis yang kuajukan langsung dipatahkan begitu saja oleh Hasegawa, teman sekelasku yang berbadan tegap itu.
"Bukan begitu, tadi malam aku sebenarnya bisa tidur, sih..."
"Serius? Padahal sudah tidur siang selama itu tapi malamnya masih bisa tidur nyenyak, sehat banget dong kamu! ...Eh, bukan itu intinya, hei!"
—Brak!!
Sebuah kombinasi straight-line dan punchline yang ritmis meledak, seiring dengan tangan Hasegawa yang menggebrak mejaku. Hantaman yang tercipta dari tubuh besarnya itu menghasilkan suara berdentum rendah yang berat, menggema ke seisi ruang kelas di pagi hari.
Hal itu mengejutkan teman-teman sekelas yang lain, dan dalam sekejap suasana kelas langsung hening seketika.
"......Maaf semuanya."
Berbanding terbalik dengan penampilannya, Hasegawa ternyata seorang penakut. Teman-teman sekelas yang sudah terbiasa dengan tabiatnya pun hanya bergumam, "Oh, ternyata Hasegawa," dan kembali ke obrolan mereka masing-masing.
"......Aku kena batunya, dah."
"Yang bikin ulah 'kan kamu sendiri, Hasegawa."
"Ini semua gara-gara kau, tahu!"
Sebuah teriakan sepenuh jiwa dari pria yang bisa dibilang sangat kekar ini dihujamkan tepat di depanku dalam jarak dekat. Kalau boleh jujur, tekanannya benar-benar luar biasa.
"Itu karena kamu menanyakan hal aneh seperti apakah Yakumo-chan suka padamu atau tidak."
"......Habisnya, kami 'kan cuma teman masa kecil."
"Kenapa kesimpulannya bisa begitu, sih?!"
—Brak-brak!!
Akibat Hasegawa yang mencondongkan badannya ke depan, mejaku menghasilkan suara dentuman yang jauh lebih keras daripada yang tadi.
"......Sungguh, maafkan aku."
Permintaan maaf untuk kedua kalinya.
Teman-teman sekelas yang sudah beradaptasi dengan cepat langsung kembali ke aktivitas normal mereka, dan Hasegawa pun duduk kembali dengan lesu.
"......Yuzuru-chan, cepatlah kembali! Aku ingin melakukan jibuken, dan aku tidak akan sanggup menghadapi si kepala batu ini sendirian!"
"Siapa yang kamu sebut kepala batu, hah?"
"Kamulah! Dasar si pelayan setia, tukang tidur di kelas, yang kelewat serius!"
Jibuken yang dia maksud adalah nama klub—atau lebih tepatnya singkatan dari asosiasi tempat kami bernaung.
Sambil mengarahkan telunjuknya tepat ke wajahku, Hasegawa tampak merindukan salah satu teman sekelas kami yang mendirikan jibuken tersebut.
"Dengar ya? Selama 1 tahun ini... Yakumo-chan, gadis tercantik nomor 1 di sekolah yang tidak pernah menerima pernyataan cinta dari siapa pun, selalu bersamaku sepanjang waktu, 'kan? Kalau itu bukan cinta, lalu disebut apa lagi coba?"
"......Tidak, itu karena kami cuma teman masa kecil."
"Nggak butuh! Alasan klise begitu nggak butuh! Kamu 'kan juga anggota jibuken, jadi cobalah lebih jujur pada perasaanmu sendiri!"
Ini benar-benar amarah yang tidak masuk akal. Namun, tidak ada gebrakan ketiga untuk mejaku. Hasegawa tampaknya menunjukkan pertumbuhan karakter yang nyata dalam waktu singkat ini.
"Lagipula, kalau kamu suka, jangan bilang padaku, tapi cepat katakan langsung pada Yakumo-chan, dong?"
"Su-suka bagaimana, bukan begitu..."
"Kamu ini masih masa puber, ya?"
"Memang masih puber, tahu!"
"Hmm~? Hari ini kalian sedang meributkan apa?"
"Uwaah?!"
Lagi-lagi teman masa kecilku muncul dari samping seperti sebuah serangan mendadak.
Sagiri tersenyum layaknya anak kecil yang baru saja berhasil menjahili orang, dan senyuman itu kembali membuat dadaku terasa sesak hari ini.
"Yo, Yakumo-chan! Kebetulan banget!"
"Selamat pagi, Hasegawa-kun. Kebetulan bagaimana?"
"Ini lho, Yakumo-chan. Akahori lagi kepikiran banget tentang apakah kamu suka padanya atau tidak."
"Apa yang kamu bicarakan, bodoh?!"
Eksposure mendadak itu membuat dadaku terasa semakin sesak.
"Aku... suka pada Renji?"
"Sa-Sagiri! Kamu tidak perlu menjawab pertanyaan mendadak sepert—"
"Aku suka, kok?"
—Bisik-bisik...!!
Sagiri mengucapkannya dengan ekspresi lempeng tanpa beban, dan seketika itu juga ruang kelas kembali menjadi hening.
Sagiri... suka padaku...?
Mendengar kata-kata itu, rasa sesak yang menghimpit dadaku perlahan-lahan mulai sirna.
"Aku dan Renji itu——"
Namun, Sagiri kemudian menyentuhkan jari telunjuk ke bibirnya sendiri.
"——'kan sahabat!"
Dia mengatakan itu sembari melemparkan senyuman manis kepadaku. Rasanya jantungku seperti copot saat itu juga.
"Ah—anu, sahabat?" tanya Hasegawa dengan ekspresi luar biasa bingung.
"Iya. Sahabat!" jawab Sagiri tanpa ragu.
"......Sungguh, maafkan aku."
Hasegawa menepuk pundakku sekilas, lalu berjalan pergi dengan ekspresi canggung.
Seolah menyelaraskan diri dengan situasi tersebut, ruang kelas yang sempat hening kembali ke rutinitas biasa mereka. Gerakan mereka tampak seperti orang-orang yang sengaja mengalihkan pandangan karena merasa iba pada seseorang.
"Eh, ada apa? Kenapa suasananya jadi begini?"
"Nggak, bukan apa-apa..."
"Hmm~?"
Melihat Sagiri yang memiringkan kepalanya bingung, aku tidak bisa melakukan apa pun selain menggelengkan kepala. Sebab, definisi kata "sahabat" bagi Sagiri adalah...
"Hei, Sahabat."
"Hiih?!"
Bagi dia, sahabat adalah...
"Kamu suka, 'kan?"
"Bu-bukan begitu...!"
...Sosok yang diajak untuk berciuman.
"Ini untukmu!"
"......Eh?"
Sebuah kaleng berwarna ungu yang dikeluarkan dari dalam tas sekolah model selempang diletakkan di atas mejaku.
Itu adalah jus anggur. Minuman kaleng yang selalu kuminum saat menunggunya, jenis minuman yang sama persis dengan yang ada saat ciuman pertama kami.
"Supaya hari ini kamu tidak ketiduran lagi, ini hadiah dari sahabat untuk sahabat."
Dia mengatakannya sambil tersenyum manis, seperti biasanya.
Sagiri perlahan menyusuri bibir kaleng minuman itu dengan jari telunjuknya.
Aku tidak mengerti bagaimana jalan pikiran teman masa kecilku ini. Aku tidak paham apa arti kata "sahabat" baginya. Aku benar-benar tidak mengerti apa yang dipikirkan oleh Sagiri. Meskipun masalah ini terus-menerus memusingkanku selama 24 jam penuh secara real-time, dalam kehidupan sebagai murid sekolah, banyak situasi lain yang menuntut perhatianku secara bergantian.
"Hei, Renji. Biar aku bawa sebagian lagi, dong?"
"Tidak usah, tidak apa-apa. Aku hargai niat baikmu."
"Muu."
Saat istirahat siang, aku dan Sagiri yang merupakan perwakilan kelas sedang membawa lembaran materi untuk pelajaran berikutnya dari ruang guru ke kelas.
Guru sejarah dunia kami adalah orang yang sangat perfeksionis. Setiap kali mengajar, selain buku teks, beliau selalu membagikan beberapa lembar rangkuman materi buatannya sendiri kepada setiap murid. Jika dihitung secara kasar, jumlahnya mencapai lebih dari seratus lembar—sebuah antusiasme yang luar biasa. Sebagai informasi, berkas rangkuman itu biasa disebut sebagai lembar materi pengayaan atau semacamnya.
"Renji dasar tidak peka..."
"Kamu bicara sesuatu?"
"Nggak, kok~? Perasaan Renji saja kali~?"
"Hei, kenapa begitu?! Jangan menendang kakiku, berbahaya tahu!"
Sambil mendekap tumpukan lembar materi, Sagiri dengan gigih mengincar betis kananku menggunakan ujung sepatunya. Sejak dulu, jika dia merasa tidak puas denganku, dia adalah tipe anak yang mengekspresikannya lewat tindakan daripada kata-kata.
......Padahal biasanya kalau memanggilku dengan nama "Renji", sikapnya normal-normal saja, sih.
"Hasegawa-kun bilang, tendangan dari gadis cantik itu adalah sebuah hadiah, lho?"
"Jangan berpikir kalau jadi gadis cantik lalu semua hal bisa dimaafkan, ya."
Aku tidak menampik opininya, tapi itu hanyalah pendapat dari sebagian kecil orang saja.
"Sudahlah, ini sedang di tangga, jadi berhenti menendang. Ini benar-benar berbahaya."
"Baik~"
Hanya dalam urusan seperti ini dia langsung penurut.
Di tangga naik, aku membiarkan Sagiri berjalan duluan dan mengikutinya dari belakang. Rok seragam bermotif kotak-kotaknya yang pendek bergoyang di depan mataku, memperlihatkan kakinya yang putih pucat, jenjang, dan indah.
Sagiri seharusnya lebih waspada. Dalam banyak hal.
"Tidak boleh mengintip, ya?"
"Si-siapa juga yang mengintip!"
"Masa, sih~? Padahal kamu sudah pernah melihat tubuh telanjangku juga~?"
"Itu 'kan cerita waktu kita masih kecil, bodoh!"
Dari atas tangga, Sagiri berbalik dan menatapku dari atas. Rasanya jantungku seperti mau copot. Berani-beraninya anak ini mengatakan hal seperti itu di sekolah. Masalah melihat tubuh telanjang itu 'kan terjadi saat kami masih di taman kanak-kanak atau kelas satu sekolah dasar, dan tentu saja sekarang aku tidak melihatnya lagi.
Dibandingkan saat masih kecil dulu, dia sekarang jauh lebih tinggi, bentuk tubuhnya sangat bagus, kakinya jenjang, dan dadanya pun... besar...
"Ah, barusan kamu memikirkan hal yang mesum lagi, ya!"
"Ti-tidak memikirkan apa-apa!"
"Eh? Apa Renji tidak sadar, kalau dari dulu setiap kali kamu memikirkan hal yang aneh, frekuensi kedipan matamu pasti jadi lebih banyak?"
"Ben-benarkah?!"
"Fufu, bo-hong!"
"Ka-kamu ini, ya!"
Aku benar-benar dipermainkan oleh teman masa kecilku. Namun, waktu-waktu seperti ini terasa sangat nyaman bagiku.
Melihat Sagiri tampak bersenang-senang.
Sejak dulu, hanya dengan melihat hal itu saja sudah membuatku merasa bahagia.
"Tapi wajahmu memang mudah ditebak, sih. Renji kalau sedang malu-malu itu kelihatan imut sekali."
"Ugh...! Sudahlah, lihat ke depan kalau jalan, nanti bahaya!"
"Tenang saja, ini 'kan sudah sampai di atas—Kyaa?!"
Tepat pada saat itu, kaki Sagiri tersandung pada anak tangga teratas.
"Sagiri?!"
—Sret-sret-sret!
Secara refleks, lembaran materi yang didekapnya terlepas, melayang di udara, dan jatuh berserakan ke bawah tangga.
"Astaga! Baru saja dibilang... Kamu tidak apa-apa?"
"U-un..."
Benar-benar nyaris saja. Aku mendekap pundak Sagiri yang hampir jatuh telentang, lalu menopangnya dari belakang. Meskipun tubuhnya sudah tumbuh lebih besar, dalam situasi ceroboh seperti ini, dia benar-benar tidak berubah sejak dulu.
"Re-Renji. Materi yang kita bawa..."
"Hm? Cuma berserakan saja, kok. Tinggal dipungut lagi nanti juga beres."
"Ta-tapi..."
"Daripada memikirkan hal itu, yang paling penting adalah kamu tidak terluka, Sagiri. Syukurlah..."
"......Lagi-lagi, kamu bersikap begitu."
Lembaran materi pengayaan yang tak seorang pun memanggilnya dengan sebutan itu, kini telah menjelma menjadi tumpukan dokumen dan kertas biasa yang berserakan.
Di sisi lain, Sagiri yang masih didekap pundaknya olehku tampak menundukkan kepalanya. Karena dasarnya Sagiri adalah gadis yang baik, dia pasti merasa bersalah dan berpikir kalau dialah penyebab dokumen-dokumen ini menjadi berantakan.
Di saat seperti ini, aku harus melemparkan lelucon yang pas... Ah.
"Ta-tapi...! Aku... malah merepotkan Renji lagi..."
Aku menyadari bahwa ini adalah sebuah kesempatan emas.
"Kamu tidak perlu memikirkan hal itu, tahu? Lagipula kita 'kan—"
Ini adalah serangan balasan terkuat untuk membalas perbuatan teman masa kecilku yang sudah mempermainkanku sejak hari ini, kemarin, dan lusa.
"—sahabat, 'kan?"
Sembari mengulas senyum, aku mengusap dengan lembut kepala Sagiri yang berada di dalam dekapanku.
Sensasi rambut panjangnya yang putih, sehalus sutra, dan sangat lembut saat disentuh mengalir ke telapak tanganku.
"............"
Sepasang mata emas pucat milik Sagiri terbelalak, dan setelah menjeda sesaat, dia mengerjapkan matanya berkali-kali.
—Seranganku berhasil telak.
Aku yang selama ini terus-menerus dipojokkan, akhirnya berhasil meluncurkan sebuah counter-attack terbesar tepat ke arah Sagiri!
"......Ua-uam..."
Mulut Sagiri bergetar canggung, mengeluarkan suara yang tidak jelas. Itu adalah suara menggemaskan yang belum pernah kudengar darinya selama ini.
"Wa-wah-wah! Kalau begitu, aku terima kebaikanmu! Aku duluan, ya!"
"......Gaya bicara macam apa itu?"
"Te-terima kasih, ya! Terus... terima kasih! ...Ah, terima kasih banyak!"
"Kenapa sampai bilang 3 kali... Eh, tunggu dulu!"
Sembari mendekap sisa materi yang dipegangnya, Sagiri—yang entah kenapa mengucapkan terima kasih sampai tiga kali dengan sedikit mengubah intonasi di setiap akhir kalimatnya—langsung berlari terbirit-birit menuju ruang kelas.
"......Ini di luar dugaanku."
Aku tidak menyangka akan mendapatkan reaksi seimut itu darinya. Padahal kupikir dia akan tertawa sambil melontarkan lelucon seperti biasanya......
"......Mari kita pungut saja."
Aku pun memunguti tumpukan lembar materi pengayaan yang berhamburan di bawah tangga sendirian dengan nelangsa demi menopang Sagiri tadi. Begitu aku kembali ke ruang kelas, istirahat siang pun berakhir tepat waktu. Dan jika harus menceritakan apa yang terjadi setelah itu...
"Sagiri, yang tadi itu......"
"Awawawawa?!"
Sampai jam pulang sekolah tiba, Sagiri sama sekali tidak mau bertatapan muka denganku.
"Hei, Sahabat."
"Hah?!"
Momen itu tiba tepat saat jam bimbingan wali kelas berakhir.
Sagiri, yang sejak istirahat siang berakhir tidak mau melihat wajahku sekali pun, kini melemparkan senyuman manis seolah-olah kejadian yang tadi tidak pernah terjadi. Terlebih lagi, dia memanggilku dengan sebutan 'sahabat'.
"Ikut aku sebentar."
"Ka-kamu?!"
Tangannya mencengkeram dasi seragamku.
Ini di dalam kelas. Terlebih lagi, ini adalah situasi tepat setelah bel pulang berbunyi, di mana semua teman sekelas tentu saja masih berada di tempat. Di hadapan mereka semua, dia memanggilku sahabat sambil mencengkeram dasiku.
Situasi di mana Sagiri memanggilku sahabat dan menarik dasiku ini persis seperti saat ciuman pertama kami. Bedanya, kali ini semua orang masih ada di sini. Tanpa ragu sedikit pun, Sagiri terus menarik dasiku sembari mendekatkan paras cantiknya yang bak peri itu.
"Ayo, ke sini."
"......Eh?"
Wajahnya berhenti tepat di depan mataku. Bahkan hal itu saja sudah menjadi sebuah skandal besar. Wajah gadis tercantik nomor satu di sekolah berada tepat di depan mataku. Apalagi di tempat umum seperti ruang kelas. Meskipun status kami adalah teman masa kecil, dampak yang ditimbulkannya benar-benar luar biasa.
"......Eh, ciuman? Mereka ciuman?!"
"Ngg-nggak, belum! Masih aman! Sepertinya Yakumo-san sedang memelototi Akahori!"
"Bertengkar! Pertengkaran sepasang kekasih? Yang mana?!"
"Jadi mereka berdua memang punya hubungan seperti itu?!"
"Ta-tapi...... Baik tadi pagi maupun sekarang, dia memanggilnya 'sahabat', 'kan......?"
Sudah bisa ditebak, ruang kelas langsung menjadi sangat gempar. Bagaimana jadinya sosok aku dan Sagiri di mata mereka? Memikirkannya saja sudah membuatku ngeri.
Padahal aku sendiri pun tidak memahaminya......
"Ayo, berdiri."
"Tu-tunggu dulu...... ugh, le-leherku?!"
Meskipun senyuman yang memikat semua orang itu sudah menjauh, tangan yang mencengkeram dasiku sama sekali tidak terlepas.
"Akahori ditarik pergi, tuh!"
"Wah, kelihatan seperti anjing peliharaan!"
"Eh, eh...... itu selera siapa? Selera siapa yang seperti itu?!"
"Hya-hyawaa...... a-aku iri banget......! A-aku juga ingin dicekik seperti itu~"
"A-apakah ini hubungan rahasia di antara teman masa kecil?!"
Berbagai spekulasi benar dan salah bersahut-sautan dari teman-teman sekelas yang tampak terhibur. Sembari mendengarkan selentingan itu, aku ditarik oleh Sagiri meninggalkan ruang kelas—atau lebih tepatnya, diseret paksa.
Aku tidak ingin memikirkan isi dari spekulasi yang simpang siur itu, atau lebih tepatnya, aku tidak punya waktu untuk memikirkannya.
"Sa-Sagiri! Mau ke mana?!"
"Kalau tidak cepat, nanti orang-orang keburu datang, lho?"
Langkah kaki teman masa kecilku yang menarik dasiku menyusuri koridor sama sekali tidak melambat. Dia berjalan cepat, dan leherku rasanya tercekik. Mungkin karena jam bimbingan di kelas-kelas lain berlangsung lama, tidak adanya murid lain di koridor benar-benar sebuah keberuntungan yang menyelamatkan kami.
"Tanggapannya berbahaya, jadi hati-hati, ya?"
"Kalau kamu melepaskanku, aku bisa berjalan normal, tahu!"
Seolah-olah membalas dendam atas kejadian di istirahat siang tadi, aku dipaksa menaiki tangga.
Karena Sagiri berjalan di depan, perbedaan tinggi di antara kami yang membuat leherku tersiksa sedikit diringankan oleh undakan anak tangga. Namun, poin pentingnya bukan di situ.
"Ah—aku gugup sekali."
"Ka-kamu ini, ya......!"
Tempat yang kami tuju adalah ujung dari tangga, sebuah area terbuka di depan pintu yang menuju ke atap sekolah. Karena pintu menuju atap selalu dikunci, tempat ini praktis menjadi ujung jalan yang mati.
"Kalau di sini, tidak apa-apa, 'kan?"
Dan karena area ini terisolasi, artinya tidak akan ada orang yang datang ke mari.
"Tung—"
"—Ngh."
Sebelum aku sempat memberi jawaban, bibir kami sudah bertautan, dan mulutku terkunci rapat. Ciuman ketiga kami terjadi di ujung tangga yang sepi, di saat dasiku ditarik olehnya.
"......Ini untuk jatah hari ini."
"......Ka-ka-kamu..."
Bibir lembutnya perlahan menjauh. Pipinya yang putih pucat saat mendongak menatapku tampak merona merah, laksana diwarnai oleh warna jingga senja.
Karena ini sudah yang ketiga kalinya, aku sudah bisa menebaknya. Namun, hal seperti ciuman tidak akan bisa membuatku terbiasa hanya dalam waktu satu atau dua hari saja; jantungku masih terus berdegup dengan kencang.
"—Ngh!"
"—Mmph?!"
Dan di sanalah ciuman keempat kami terjadi. Sebuah ciuman yang terasa lebih menggebu-gebu dan berlangsung lebih lama dari yang sebelumnya.
Melihat paras jelita di depan mataku serta merasakan kelembutan bibirnya, aku sampai lupa bagaimana caranya bernapas. Namun, sensasi itu terasa sangat menyenangkan.
"............"
"............"
Paras indahnya yang diwarnai oleh semburat cahaya matahari terbenam perlahan-lahan menjauh.
Dari arah bawah tangga, kebisingan khas sepulang sekolah mulai menggema, seolah-olah dunia di tempat kami berada saat ini telah terpotong dari dunia luar.
"Kalau yang ini, sebagai ucapan terima kasih untuk yang tadi......"
"A-ah......"
Yang dia maksud dengan 'yang tadi' pastilah kejadian saat istirahat siang. Namun, saat itu otakku sudah tidak punya ruang lagi untuk berpikir bahwa menjadikan ciuman sebagai ucapan terima kasih adalah sesuatu yang tidak patut. Sebab, setiap kali bibir kami bersentuhan, isi kepalaku seakan terus dipenuhi oleh sosok Sagiri.
"Nee."
Sembari tetap mencengkeram dasiku, teman masa kecilku itu menatapku dengan mata yang berkaca-kaca. Aku belum pernah melihat ekspresi yang seperti ini darinya.
Aku memang sudah sering melihatnya menangis, namun tatapan yang mendongak ke arahku kali ini berbeda; tatapan yang menyiratkan sebuah kehangatan yang mendalam.
"Sahabat."
Kemudian, dia memanggilku dengan sebutan 'sahabat'.
"—Ngh."
Dan kami pun melakukan ciuman yang kelima.
Sagiri sama sekali tidak memberi tahu apa arti di balik ciuman ini.
◆
Rumor adalah sesuatu yang menyebar jauh lebih cepat daripada langkah kaki manusia.
Rasa penasaran, ketertarikan, spekulasi, hingga rasa iri—berbagai faktor itu saling tumpang-tindih, membuat sebuah cerita berkembang dengan bumbu-bumbu yang berlebihan.
"Hei, Akahori... Kemarin siang di tangga, apa benar kamu berlutut demi mengintip celana dalam Yakumo-chan, lalu kamu ditampar sampai terpental, dan akhirnya dimaafkan setelah menjilat sepatu dalam ruangan miliknya? ...Seriusan?!"
"Bagaimana bisa ceritanya melenceng sejauh itu?!"
Namun, ini sudah bukan sekadar bumbu cerita lagi, melainkan sudah berubah menjadi makhluk hidup jenis lain. Semua orang tahu kalau Sagiri adalah gadis tercantik nomor 1 di sekolah.
Rambut putih panjangnya yang indah, parasnya yang menawan, bentuk tubuhnya yang ideal, atmosfer misterius yang menyelimuti dirinya, serta kontras dari kepribadiannya yang ceria saat melepaskan imej misterius tersebut—gadis yang selalu menjadi pusat perhatian dan tampil menonjol di mana pun dia berada ini memang magnet bagi pandangan orang lain. Pasti kemarin siang ada yang melihat kami sedang membawa tumpukan lembar materi bersama-sama.
Akan tetapi, fakta yang beredar benar-benar telah diputarbalikkan secara ekstrem.
"Eh... Kalau aku bertanyanya lain lagi. Kudengar Yakumo-san dan Akahori-kun punya hubungan majikan dan pelayan, dan saat pulang sekolah, Akahori merangkak seperti anjing untuk menemaninya berjalan-jalan di sekitar gedung sekolah?"
"Sebenarnya, aku mendengar dari senior kalau Akahori yang berperan sebagai anjing itu justru pihak yang mengancam Yakumo-san. Yang benar yang mana?!"
"Jangan-jangan, kalian berdua diam-diam sudah berpacaran tanpa memberi tahu siapa pun... lalu bersenang-senang dengan permainan peran seperti itu?"
"Ka-kamu cuma bisa bergairah kalau lehermu dicekik, 'kan... A-aku paham kok perasaanmu...!"
Rumor yang menyebar liar itu telah melahirkan monster hibrida yang tak terhitung jumlahnya. Terlebih lagi, masing-masing dari mereka adalah monster ganas yang berevolusi dengan caranya sendiri.
Melihat teman-teman sekelas yang berkerumun di sekelilingku seperti ini, rasanya mirip dengan sekumpulan ikan mas yang berebut umpan. Mereka semua membuka dan menutup mulut seolah tidak sabar untuk melahap umpan yang bernama 'kebenaran'.
"Selamat pagi~! ...Eh, ada apa ini? Renji akhirnya resmi jadi laki-laki populer juga, ya? Fufu, aku ikut bangga karena kebaikan Renji mulai diketahui oleh orang-orang..."
Di tengah ruang kelas yang kacau itu, sosok yang menjadi tokoh utama lainnya dalam rumor ini, yaitu Sagiri, mendadak muncul.
Tanpa memahami situasi yang sedang terjadi, dia tampak santai dan dengan bangga mengusap bagian bawah hidungnya dengan jari telunjuk.
"Selamat pagi, Yakumo-san! Sebenarnya bagaimana hubunganmu dengan Akahori-kun?!"
"Apa benar kalian sudah terlibat hubungan fisik?!"
"Siapa yang menyatakan cinta duluan?!"
"A-apa yang kamu pikirkan saat sedang mencekik lehernyaaa...?"
"Uwaah?!"
Dan tentu saja, Sagiri yang muncul di waktu yang sangat tepat langsung menjadi sasaran empuk.
Separuh dari teman-teman sekelas yang awalnya mengerumuniku—terutama hampir semua siswi perempuan—kini langsung beralih menyerbu Sagiri.
Rumor yang mengarah padanya setidaknya masih masuk dalam kategori urusan asmara yang jauh lebih mendingan daripada rumor tentangku. Meski begitu, aku tetap tidak bisa mengabaikan fakta bahwa ada satu siswi yang entah mengapa terus-menerus terobsesi dengan topik pencekikan leher itu.
"Anu, hubunganku dengan Renji?"
Tidak, daripada memikirkan hal itu, yang paling penting sekarang adalah jawaban dari Sagiri.
Yah, karena ini Sagiri, dia pasti tidak akan memberikan jawaban yang aneh-aneh. Kemarin dia bahkan sengaja membawaku ke tempat yang sepi dari pandangan orang lain hanya untuk... me-melakukan ciuman...
......Se-seharusnya aman-aman saja, 'kan?
"Kami tidak pacaran, kok."
Berbanding terbalik dengan kecemasanku. Dengan ekspresi lempeng tanpa beban, Sagiri melontarkan bantahan itu dalam satu kalimat singkat yang tegas.
Aku tahu. Aku sudah tahu hal itu. Namun, entah mengapa ada rasa mengganjal yang kian meluas di dalam dadaku.
Teng-tong-teng-tong......
Seolah ingin menghapus rasa mengganjal tersebut, bel yang menandakan dimulainya jam bimbingan wali kelas pagi hari pun bergema.
"Ah, gawat! Duduk, duduk!"
"Nanti kita bisa dimarahi!"
"Yakumo-san, nanti ceritakan lebih detail lagi, ya!"
Teman-teman sekelas yang tadinya berkerumun langsung kocar-kacir kembali ke kursi mereka masing-masing. Di saat yang sama, guru wali kelas masuk ke dalam ruangan, dan jam bimbingan pagi pun dimulai seperti biasanya.
"Katanya kita sudah berpacaran, lho."
"......Padahal tadi kamu sendiri yang membantahnya."
"Iya. Habisnya kita 'kan sahabat."
Sembari mencuri kesempatan saat guru sedang lengah, Sagiri berbisik di telingaku, lalu menjulurkan lidahnya sedikit dan memberikan kedipan mata yang menggemaskan.
Seluruh tindakan yang dilakukannya itu benar-benar menjadi racun yang teramat mematikan bagi mata, telinga, dan hatiku.
◆
Menghabiskan waktu bersama Sagiri tidak hanya terbatas di sekolah saja. Karena kami adalah teman masa kecil, rumah kami saling berdekatan sejak dulu; jaraknya hanya terpisah sekitar 3 menit berjalan kaki saja.
"Renji~, jilid berikutnya dari manga ini di mana?"
"Hm? Ah, ada di dalam tumpukan buku di atas meja."
"Ah, pantas saja tidak ada di rak buku! Terima kasih~"
"Sama-sama."
Sebuah hari libur yang tenang.
Berbeda dengan di sekolah, ini adalah waktu yang sepenuhnya privat di mana kami tidak perlu mengkhawatirkan pandangan orang lain.
"Renji~, makan siang hari ini apa?"
"Hmm, bagaimana kalau yakisoba saja?"
"Boleh juga, rasanya pas dengan suasana musim panas. Oh, tolong sayurnya sedikit saja, ya!"
"Di rumahku cuma menyediakan porsi yang banyak sayurnya, tahu."
"Buh, pelit!"
"Ya sudah. Khusus untuk Sagiri, aku akan beri pelayanan ekstra dengan porsi sayur yang melimpah ruah."
"Eh, kok begitu?!"
Sebuah kehidupan sehari-hari yang damai.
Hari-hari yang berjalan seperti biasanya, tanpa ada satu pun hal yang perlu dikhawatirkan.
"Renji, Renji! Yuzurun bilang minggu depan dia sudah bisa masuk sekolah lagi!"
"Oh, ya? Hasegawa juga kelihatan kesepian belakangan ini, syukurlah kalau begitu."
"Flu musim panas memang merepotkan, ya. Aku juga harus berhati-hati."
"......Kalau begitu, pertama-tama cepat ganti pakaian minimalismu itu, dong?"
"Memangnya kenapa? Hubungan kita 'kan sudah sedekat ini...... Atau jangan-jangan, kamu jadi kepikiran?"
"Ti-tidak, mana mungkin begitu......"
"Renji mesum."
"............"
Hari Sabtu pagi.
Sagiri, teman masa kecilku, sedang bersantai di kamarku dengan pakaian yang sangat minim. Kaus oblong putihnya yang longgar dan agak melar tampak terlalu besar untuk ukuran tubuh Sagiri, sedangkan celana pendek jeans warna biru tua yang dipakainya di bawah kaus itu memiliki potongan yang sangat pendek.
Sekilas, dia terlihat seperti tidak memakai celana sama sekali, dan kaki putih pucatnya yang jenjang dan terekspos dari balik pakaian itu benar-benar menjadi racun yang teramat mematikan bagi mataku.
Kasur di kamarku kini telah sepenuhnya dikuasai oleh gadis tercantik nomor satu di sekolah itu.
"A-aku kan cuma mengkhawatirkan kesehatanmu!"
"Hmm, iya, kah~?"
Melihat reaksiku, Sagiri merebahkan tubuhnya di atas kasur dengan ekspresi senang. Tindakan yang tanpa ragu dan sangat santai ini bisa tercipta justru karena ikatan kami yang sudah terjalin sejak lama.
Benar. Kami adalah sepasang sahabat yang bisa saling merasa nyaman saat bersama satu sama lain.
......Setidaknya, begitulah hubungan kami sampai sebelum ini terjadi.
Tentu saja aku jadi sangat kepikiran semenjak dia menciumku! Bagaimana bisa tidak, coba?! Sekarang gadis cantik yang belakangan ini selalu menciumku sedang berbaring telentang di atas kasurku! Rambut putih panjangnya terurai berantakan di atas kasur, sepasang matanya yang menatapku entah mengapa terlihat begitu menggoda, dan meski dalam posisi telentang pun dadanya yang besar tetap terlihat sangat menonjol! Belum lagi kombinasi kaus longgar dan celana pendeknya yang benar-benar membuat dia terlihat seperti tidak memakai bawahan sama sekali!
"......Jadi, kamu mengkhawatirkanku, ya?"
"Ya-ya jelas, tentu saja!"
Meskipun sekarang dia tumbuh dengan sangat sehat...... bahkan rasanya agak kelewat sehat, dulu fisik Sagiri selalu lemah dalam waktu yang lama. Sangat wajar jika aku mencemaskan teman masa kecilku yang seperti itu. Benar, tindakan ini adalah hal yang sangat wajar.
"Kamu mencemaskanku, 'kan?"
"Iya...... Kamu berniat membuatku mengatakannya berapa kali, hah?!"
"Hmm, mungkin sekitar 1000 kali?"
"Hari keburu malam, tahu?!"
Selama aku tidak memikirkan hal yang aneh-aneh, interaksi kami akan tetap berjalan seperti obrolan santai yang tidak berarti seperti biasanya.
Sagiri yang mengencangkan candaannya padaku, lalu aku yang membalas perkataannya, dan kami yang akhirnya tertawa bersama. Namun, di setiap sudut dari keseharian kami yang biasa itu, kini telah dipenuhi oleh gestur-gestur yang sanggup membuat jantungku berdegup kencang.
Tidak, mungkin lebih tepat jika dikatakan bahwa gestur-gestur itu selama ini memang sudah tersembunyi di sana. Kesadaranku kini telah sepenuhnya diubah dan didominasi oleh sosok 'sahabat' yang sedang memamerkan posisi tidur tanpa kewaspadaan sedikit pun di depanku ini.
"Kalau begitu, menu makan malam hari ini aku mau kari, ya."
"Apa maksudmu dengan kata 'kalau begitu'? Lagipula, apa kamu berniat menumpang makan di sini sampai malam?"
"Hari ini di rumahku...... sedang tidak ada orang."
"Jangan gunakan kalimat yang ambigu begitu cuma demi bisa menumpang makan di rumah orang lain."
"Tapi jantungmu sempat berdebar-debar, 'kan?"
"......Tergantung situasinya."
"Renji ternyata tipe orang yang cukup romantis, ya."
"......Berisik."
Sambil tetap berbaring telentang, dia menertawakanku seolah sedang menggodaku.
Ke mana sebaiknya aku harus mengarahkan pandanganku? Istilah 'bingung harus melihat ke mana' benar-benar menggambarkan kondisiku saat ini, dan isi kepalaku terus-menerus dibuat kacau olehnya.
"Kalimat romantis seperti apa ya yang bisa membuat Renji merasa senang......"
"Jangan memikirkan hal yang tidak-tidak."
"Tapi melihat wajah malu-malu Renji itu seru, habisnya kelihatan imut banget."
Padahal aku tahu betul kalau Sagiri adalah tipe anak yang selalu mengatakan hal-hal seperti ini tanpa merasa bersalah dengan ekspresi lempeng, tetap saja debaran di dadaku tidak bisa berhenti.
"Hmm, wajah Renji yang hanya diketahui olehku seorang......"
Mungkin karena aku terlalu terdistraksi oleh teman masa kecilku yang seperti itu.
Saat aku menyadarinya, semuanya sudah terlambat; sebuah tombol di dalam dirinya tampaknya telah bergeser.
"......Ah, iya."
Mulut Sagiri yang tadinya sedikit terbuka, kini tertutup rapat.
"Nee, Sahabat."
Sisi baru dari teman masa kecilku—yang belakangan ini terus diperlihatkan kepadaku hingga membuatku pusing setengah mati—kini kembali muncul di hadapanku.
"Kamar ini... tidak terasa dingin?"
Sebuah tatapan provokatif kini diarahkan tepat kepadaku.
Meskipun dia mengeluh kedinginan, sepasang matanya justru memancarkan tatapan yang teramat hangat dan intens.
"Ma-makanya sudah kubilang pakaianmu itu terlalu minim! Astaga, biar kunaikkan suhu AC-nya, ya?"
Namun, aku yang sekarang bukanlah aku yang akan terus-menerus dipermainkan oleh Sagiri seperti dulu.
Aku pun mengalami pertumbuhan karakter. Demi melarikan diri dari tatapan intensnya itu, aku mengulurkan tangan untuk mengambil remote AC yang ada di atas meja.
"......Hangatkan aku, dong."
Namun, usaha perlawananku langsung runtuh seketika hanya karena satu kalimat singkat darinya.
"Sini, mendekatlah?"
Teman masa kecilku yang kini mengubah posisi tidurnya menjadi menyamping itu menepuk-nepuk ruang kosong di atas kasurku.
"Kalau dibiarkan begini, aku bisa masuk angin, lho—"
Gadis tercantik nomor satu di sekolah itu mengulas senyum manis.
"Kamu mencemaskanku, 'kan?"
Dia seolah menyuruhku untuk tidak banyak alasan dan segera datang ke sisinya.
"Iya 'kan, Sahabat?"
Dan pada akhirnya, aku kembali kalah telak dari godaan tersebut.
Ini adalah rumahku, kamarku, dan kasurku. Dengan kata lain, ini adalah duniaku sendiri; tempat di mana aku menghabiskan waktu paling lama sepanjang hidupku.
Namun, alasan mengapa aku merasa sangat tersudut bagai di kandang lawan seperti ini pastilah karena sosok Sagiri yang ada di depan mataku. Kaus oblong putih berukuran longgar yang sudah melar hingga ke tahap mirip pakaian bekas itu memiliki potongan leher yang sangat longgar, memperlihatkan tulang selangkangnya dari sana.
Hal itu saja sudah cukup menjadi senjata mematikan bagi seorang pria, ditambah lagi dengan lekukan dadanya yang besar di balik kaus itu yang seolah terus menonjolkan diri, membuat otakku rasanya mau eror akibat kontras antara tubuhnya yang ramping dan dadanya yang besar.
Siapa pun, tolong selamatkan aku.
"Jadi, bagaimana cara sahabat mau menghangatkanku?"
Sembari bersandar pada dinding dan duduk di atas kasur, sahabatku yang sedang menyilangkan kaki jenjangnya yang indah—yang terekspos dari balik celana pendek biru tua yang sedikit mengintip—mengulas senyum jahil.
Aku berada di atas kasur yang sama dengan Sagiri. Hal seperti ini sudah sering aku alami sejak dulu, dan kami bahkan pernah tidur bersama. Namun, itu adalah cerita saat kami masih anak-anak. Sekarang, kami adalah seorang remaja laki-laki dan perempuan kelas dua SMA yang sudah sama-sama bertumbuh, dan kami sedang berada di atas kasur yang sama.
Laki-laki dan perempuan. Karakteristik biologis yang berbeda secara jelas terpampang nyata di hadapanku...... Singkat cerita, teman masa kecilku ini benar-benar terlihat sangat seksi.
"Ka-kamu sendiri, ingin diapakan......?"
Menghadapi Sagiri yang terus memamerkan keseksian tanpa kewaspadaan dan pertahanan seperti itu, aku tidak punya pilihan selain bertanya.
Habisnya, meskipun dia teman masa kecilku, dia tetaplah seorang gadis cantik, tahu?
Untuk menghangatkan tubuhnya, orang normal pun pasti tidak akan tahu harus berbuat apa!
"Hmm~?"
Sagiri tampak menikmati penampilanku yang menyedihkan itu sembari tersenyum penuh arti.
Itu adalah ekspresi yang sering kulihat sejak dulu saat dia berhasil menjahiliku. Sejak kapan ya ekspresi wajah yang seperti itu mulai membuat dadaku berdegup sekencang ini?
Ya, tidak salah lagi, itu dimulai sejak kami berciuman.
"Kamu sengaja ingin membuatku yang mengatakannya, ya?"
"Ti-tidak! Aku sama sekali tidak punya niat begitu!"
"Ahaha, bercanda kok, bercanda! Sahabatku saat sedang panik benar-benar imut, ya."
"......Sifatmu buruk sekali."
"Tidak apa-apa, 'kan? Lagipula aku hanya melakukan ini kepada sahabatku saja."
Bagaimana caranya aku harus menganggap kata 'tidak apa-apa' itu sebagai hal yang aman?
"Kalau begitu...... ini."
"......Eh?"
"Makanya...... ini."
"Hah?"
Sagiri berhenti bersandar pada dinding dan memosisikan ulang duduknya dengan rapi di atas kasur. Kemudian, dia merentangkan kedua tangannya lebar-lebar ke arahku yang berada di depannya. Kausnya yang melar itu menjuntai dengan longgar, kembali mengekspos tulang selangkangnya.
"......Peluk aku, dong."
"Haaah?!"
Sebuah bom baru saja dilemparkan kepadaku, sebuah permintaan yang membuat hal-hal lain yang mengganjal di pikiranku langsung lenyap seketika.
"Pe-peluk katamu......!"
"Memangnya kenapa? Tidak perlu semalu itu, 'kan?"
"Ya-ya jelas perlulah! Laki-laki dan perempuan berpelukan di atas kasur yang sama itu benar-benar tidak patut—"
"Kita 'kan sahabat?"
Kepanikanku langsung diredam seketika hanya dengan satu kalimat itu. Mungkin aku sudah benar-benar jinak oleh kata 'sahabat' ini.
"Kalau cuma berpelukan itu hal yang biasa, tahu."
"Ber-berpelukan...... kedengarannya memang biasa, tapi pada akhirnya itu tetap saja—"
"Padahal kalau ciuman tidak apa-apa?"
Melihat teman masa kecilku yang memiringkan kepalanya dengan tatapan mata seolah sedang mengujiku, aku pun menjadi bungkam tidak bisa berkata apa-apa lagi.
"Nee, Sahabat."
Sebuah suara yang manis.
"Peluk aku dengan lembut, ya?"
Suara itu dibisikkan tepat di telingaku.
"I-iya......"
Jawaban yang kulontarkan secara refleks terdengar sangat cempreng karena suaraku yang pecah. Namun, rasa malu setingkat itu sudah tidak kupedulikan lagi. Isi kepalaku kini sudah tidak bisa memikirkan hal lain selain memeluk sahabatku yang sedang kedinginan ini.
"Kya?! Ka-kamu ini...... mendadak sekali."
"Ma-ma-ma-maaf!"
Tubuh yang kupeluk di tengah jepitan antara akal sehat dan dorongan impulsif itu terasa sangat lembut. Kelembutan dari seorang sahabat yang selama ini tidak pernah kuketahui, padahal dia selalu berada di sisiku.
"Tidak apa-apa, kamu tidak perlu sungkan begitu."
"Ta-tapi tetap saja!"
"Hangat sekali, ya? Sahabat......"
"Ugh......?!"
Sembari berbisik demikian, Sagiri melingkarkan kedua tangannya di punggungku.
Aku sedang berpelukan dengan sahabatku. Aku sedang berpelukan dengan teman masa kecilku.
Aku sedang berpelukan dengan Sagiri. Di atas kasur yang berada di dalam kamarku sendiri, bukan di tempat lain. Suhu tubuh Sagiri dapat kurasakan sepenuhnya di sekujur tubuh bagian atasku. Kelembutan yang terasa di dadaku ini pastilah berasal dari dadanya yang besar dan telah tumbuh dengan sangat baik. Meskipun terhalang oleh pakaian, dadaku dan dada Sagiri saling bersentuhan.
Apakah debaran kencang ini adalah milikku, ataukah......
"Ehehe, rasanya seperti sedang melakukan sedikit hal yang terlarang."
"Kupikir ini bukan sekadar 'sedikit' lagi......"
"Jadi ini hal yang terlarang, ya? Kalau begitu, kita adalah kaki tangan dalam kejahatan, 'kan?"
"............"
Melihat Sagiri yang tertawa seperti itu, dadaku berdegup jauh lebih kencang lagi.
Akhir-akhir ini, aku sering didekati oleh Sagiri yang biasanya, sembari dia memanggilku dengan sebutan sahabat. Namun saat ini, aku bisa melihat sekilas sosok Sagiri yang biasanya di saat dia memanggilku sahabat.
—Ah, ini adalah teman masa kecil yang kukenal.
Aku telah dibuat jatuh hati oleh sosok Sagiri yang selama ini kukenal.
"Kalau kamu terus menatapku seperti itu, aku jadi malu, tahu."
"......Sagiri."
Tanpa sadar, aku memanggil namanya.
"Ah, iya......"
Kupikir, perasaanku sudah tersampaikan hanya dengan hal itu saja.
"Habisnya...... kita 'kan sahabat."
Debaran di dalam dadaku kian mengencang.
Secara perlahan, sembari mendongak menatapku, sepasang mata Sagiri tampak sedikit gelisah dan beralih pandang.
"......Mau ciuman, tidak?"
Dengan wajah yang memerah padam dan pandangan yang tertuju ke bawah, dia tersenyum tersipu-sipu. Padahal dalam beberapa hari terakhir kami sudah berciuman berkali-kali...... Namun, ini adalah pertama kalinya aku melihat wajah malu-malu dari sahabatku ini.
"......Iya."
Aku pun melingkarkan tanganku ke punggung dan pinggang Sagiri.
"—Ngh."
Kemudian, seolah-olah sudah tidak tahan lagi, Sagiri segera menautkan bibirnya ke bibirku. Bibir yang sangat lembut. Bagian itu terasa jauh lebih lembut daripada bagian tubuh mana pun dari dirinya yang sedang menyentuhku saat ini.
"......Sahabat."
Setelah ciuman singkat itu, Sagiri menjauhkan bibirnya lalu menatap lekat-lekat ke arahku. Suaranya menyiratkan kehangatan yang mendalam, sepasang matanya tampak berkaca-kaca, dan seluruh hal itu benar-benar mengacaukan isi kepalaku.
"A-apa tubuhmu sudah terasa hangat......?"
Sahabatku ini benar-benar terlalu imut. Namun, kata-kata yang keluar dari mulutku bukanlah untaian kalimat yang keren, melainkan sebuah pelarian yang tercipta dari sisa akal sehatku akibat rasa malu.
"Mungkin...... masih agak dingin......"
Namun, aku tetap tidak bisa lari dari sahabatku.
Sagiri mengatakan hal itu sembari memalingkan wajahnya, lalu dia menarik tangannya yang tadi melingkar di punggungku agar tubuh kami semakin merapat.
"—Ngh."
Tanpa jeda, ciuman kedua kami di atas kasur mengalir begitu saja. Akan tetapi pada kenyataannya—atau lebih tepatnya aku—tidak bisa melakukan ciuman yang tampak indah seperti dalam adegan film atau drama. Aku justru sedikit membuka mata dan memperhatikan paras jelita Sagiri yang sedang menciumku. Alisnya yang terbentuk rapi, bulu matanya yang panjang, dan kelopak matanya yang terpejam.
Karena jarak kami yang selama ini terlalu dekat, aku tidak pernah menyadari pesona tersebut, dan baru setelah berada di jarak nol inilah aku akhirnya menyadarinya.
"......Ah."
Ciuman yang berlangsung lebih lama dari sebelumnya itu berakhir, lalu Sagiri mengembuskan napas kecil. Padahal kami hanya saling menautkan bibir, namun dia tampak kelelahan hingga bahunya naik-turun saat bernapas. Kulitnya yang putih pucat kini terlihat jelas berubah warna, bahkan hingga ke ujung telinganya pun telah memerah padam. Sosoknya saat ini terlihat sangat seksi dan menawan.
"......Dingin, ya?"
Tanpa membuang waktu, ciuman ketiga langsung dimulai. Kami bahkan tidak diberi kesempatan untuk sekadar mengatur napas yang memburu.
"......Sahabat."
Ciuman keempat.
Hembusan napas yang lolos tampak membasahi bibir kami.
"......Sahabat."
Ciuman kelima.
Dia melingkarkan kedua tangannya di leherku.
"......Sahabat."
Ciuman keenam.
Dia perlahan-lahan menekan tubuhnya ke arahku, membuat tingkat kerapatan di antara kami semakin intens.
"......Sahabat."
Ciuman ketujuh.
Tubuhku didorong hingga telentang di atas kasur.
"......Sahabat~"
Ciuman kedelapan.
Sagiri memanggilku dengan suara yang menggebu-gebu seolah kehilangan kendali.
"......Sahabat~"
Ciuman kesembilan.
Suara yang dikeluarkannya terdengar sangat pilu sekaligus manis.
"............Renji."
Dan yang kesepuluh.
Ciuman yang teramat manis dengan sahabatku ini pun akhirnya berakhir.
"......Haa...... Fua......"
"......Haa...... Haa......"
Bagaikan anak burung yang sedang mencari makan, dia mematuk bibirku berulang-ulang kali. Setiap kecupan tunggal yang diberikannya bekerja bagai obat bius dosis tinggi yang perlahan mengikis habis kesadaranku.
Isi kepalaku seakan terus dipenuhi setiap kali dia menciumku. Sampai-sampai di satu momen instan saat kami sedang tidak berciuman seperti sekarang, aku langsung merasa kedinginan. Mungkin aku sudah benar-benar terbuai oleh kehangatan tubuh Sagiri.
"Pa-panas, ya......"
"......Eh, ah?!"
"......Hah?"
Saat berniat membalas perkataannya, kedua mataku langsung terbelalak lebar. Sebab, hal itu mendadak terlihat olehku.
Saat ini posisiku sedang ditubruk dan ditindih oleh Sagiri dari atas. Dan di posisi itu, Sagiri sedang mengenakan kaus oblong putih lama berukuran longgar yang bagian lehernya sudah melar. Dalam kondisi tubuh yang saling menempel rapat dan saling menatap saat berpelukan seperti ini, dia perlu sedikit menegakkan tubuh bagian atasnya. Dan arah pandanganku saat ini kebetulan tertuju tepat ke arah belahan dadanya yang longgar tanpa pertahanan sedikit pun......
"Sa-Sagiri! Da-dadamu?!"
Biar kupertegas sekali lagi, hal itu benar-benar terlihat olehku.
Sesuatu yang tersembunyi di balik pakaiannya—atau lebih tepatnya, bahkan sama sekali tidak tersembunyi...... Dadanya yang besar, indah, dan tampak turun mengikuti gaya gravitasi.
"Hyaaaaahhhhhhhhhuuuuuuuu?!"
Sagiri melompat mundur dengan sangat kencang dan menjauh dariku.
Dalam sekejap mata, dia sudah mengambil jarak di atas kasur, lalu sembari duduk bersimpuh, dia mendekap bagian depan dadanya dengan kedua tangan.
Wajah Sagiri memerah padam seakan hampir meledak, dan dia menatapku dengan sepasang mata yang berkaca-kaca seolah ingin menangis......
"To-tolong...... lu-lupakan...... kejadian tadi......"
"I-iya...... ba-baiklah, aku mengerti......"
Dia bergumam lirih dengan nada yang menyiratkan rasa malu yang teramat sangat dari dasar hatinya.
Sejak momen itu, entah mengapa kami berdua mendadak saling berbicara dengan bahasa yang sangat formal dan kaku, padahal status kami adalah teman masa kecil sekaligus sahabat.
◆
Bagi seorang sahabat, berciuman tampaknya diperbolehkan, tetapi melihat dada sepertinya adalah hal yang terlarang.
Tidak, bukankah dua-duanya sama-sama tidak boleh?
"Sebenarnya apa yang sedang dipikirkan oleh Sagiri......"
Hari Senin pagi.
Sembari mengambil sepatu dalam ruangan dari rak loker, hal yang terlintas kembali di kepalaku adalah salah satu adegan pada hari Sabtu kemarin.
Sensasi ciuman yang kami lakukan berkali-kali di atas kasur. Suhu tubuh Sagiri yang saling bersentuhan dan menyatu denganku. Lalu dadanya yang besar, yang terlihat dengan sangat jelas setelah dia mendorongku hingga telentang dan menciumku.
‘To-tolong...... lu-lupakan...... kejadian tadi......’
—Sisi lemah dari sahabatku yang mendadak menjadi begitu penurut.
"Mana mungkin bisa kulupakan begitu saja......"
Sambil mengembuskan napas panjang, aku berjalan menyusuri koridor dan membuka pintu ruang kelas. Isi kepalaku terus berputar memikirkan ekspresi wajah seperti apa yang harus kutunjukkan saat bertemu dengan Sagiri hari ini.
"Haaaaaaaahhhhhhhhhhhhhh......!!"
"............"
Namun ternyata, ada suara helaan napas yang jauh lebih panjang dari seorang pria yang berbadan jauh lebih besar dariku.
Hasegawa, yang duduk di kursiku—kursi paling belakang di dekat jendela—sedang mengembuskan napas panjang dengan intensitas yang seolah-olah sanggup menembakkan sinar laser dari mulutnya.
"......Hasegawa, apa yang sedang kamu lakukan?"
"............Oh, Akahori, toh."
"Jangan menunjukkan ekspresi wajah seolah ini sebuah kebetulan, padahal kamu sudah merebut kursi orang lain."
"Aku sedang berada di dalam masa penantian yang menyiksa. Kalau kamu...... pasti mengerti perasaan ini, 'kan?"
"Mana kutahu."
Awal pekan ini harus kumulai dengan meladeni pria berbadan bongsor yang jelas-jenis sedang mengalami syok berat. Rasanya pekan ini pun akan dipenuhi oleh banyak rintangan.
"Apa kamu sudah mendengar kabar tentang Yuzuru-chan?"
"Hm? Ah, tentang flu musim panasnya yang sepertinya sudah mau sembuh, 'kan?"
Aku teringat kembali pada perkataan Sagiri yang diucapkannya dengan nada gembira di kamarku pada hari Sabtu kemarin.
Benar, hari Sabtu kemarin......
"Padahal kukira sudah sembuh, tapi ternyata kondisinya masih belum memungkinkan, tahu! Dia baru saja mengabariku kalau hari ini dia harus pergi ke rumah sakit sekali lagi~......!"
Hasrat duniawi yang sempat bangkit kembali di dalam diriku langsung sirna seketika oleh akhiran kalimat "~......!" yang diucapkan dengan nada merengek oleh pria bongsor berbadan tegap bak atlet rugbi tersebut.
Tanpa memedulikan apakah gaya bicara itu cocok dengan perawakannya atau tidak, aura melankolis yang luar biasa tampak terpancar jelas dari dirinya.
"Begitu, ya. Semoga dia cepat sembuh."
"Bagi aku sedikit energi dong......"
"Kalimatku yang tadi itu buat dia, bukan buatmu."
"Jadi maksudmu kamu tidak peduli pada keselamatan Yuzuru-chan?! Hah?!"
"Kamu ini merepotkan sekali, sih?!"
Pria bongsor itu mendadak mengamuk layaknya orang yang sengaja mencari keributan. Tampaknya emosinya sedang tidak stabil karena terlalu mengkhawatirkan gadis pujaan hatinya. Padahal aku belum bertemu dengan Sagiri, tetapi rasanya energiku sudah terkuras habis.
"Ya-Yakumo-san?! Ada apa dengan penampilanmu itu?!"
Tepat pada saat itulah, terdengar suara terkejut dari salah satu siswi perempuan yang memanggil nama belakang Sagiri.
"Hah......?"
Saat aku berbalik, tanpa sadar sebuah suara lolos dari mulutku.
Di pintu masuk kelas, berdiri Sagiri, gadis tercantik nomor satu di sekolah dengan rambut putihnya yang berkibar. Paras wajahnya masih tetap secantik biasanya, proporsi tubuhnya masih tetap seideal biasanya, dan pembawaannya pun masih terlihat sama seperti biasanya—
"Ha-halo...... Selamat pagi, semuanya......"
"Pakaian macam apa yang sedang kamu kenakan itu, hah?!"
—Namun, dia mengenakan pakaian yang benar-benar sangat berbeda dari biasanya.
Saat ini adalah musim panas, tepatnya di awal bulan Juli. Jendela di ruang kelas yang tidak ber-AC ini dibuka lebar-lebar, dan hawa panas yang pengap mulai masuk sejak pagi hari, menciptakan cuaca panas yang sangat menyengat.
Di tengah situasi seperti itu, Sagiri yang muncul dengan rambut putih panjangnya yang berkibar memang terlihat sangat cantik dan menyegarkan bak peri salju...... Namun, masalah utamanya terletak pada pakaian yang dikenakannya.
Dia memakai rok panjang dengan potongan yang lebih panjang dari biasanya hingga mencapai bawah lutut. Kaki putihnya yang jenjang tertutup rapat oleh stocking hitam. Meskipun kemeja yang dikenakannya adalah seragam resmi sekolah, semua kancingnya terpasang rapat hingga ke bagian paling atas, dan pita di dadanya pun diikat dengan sangat kencang. Terlebih lagi, dia memakai jas blazer abu-abu di luar kemejanya, dan yang paling ekstrem adalah lehernya dilengkapi secara sempurna dengan sehelai syal merah.
—Itu adalah seragam musim dingin yang sempurna.
Biar kupertegas sekali lagi. Saat ini adalah musim panas, awal bulan Juli di mana gelombang panas yang ekstrem sedang menyerang.
"Ka-kamu kenapa memakai baju seperti itu?!"
"Kamu kelihatan sempoyongan begitu, apa kamu baik-baik saja?!"
"Apa ini roleplay baru dengan Akahori-kun......?"
"Akahori juga terus-menerus memakai dasi padahal ini musim panas, jadi apa jangan-jangan......?"
"Su-sudah kuduga, ini tentang pencekikan leher......! Kalian akan saling melilitkan syal dan dasi itu satu sama lain, 'kan?!"
Tentu saja sangat wajar jika ruang kelas langsung menjadi gempar dalam sekejap saat gadis tercantik nomor 1 di sekolah mendadak muncul dengan peralatan musim dingin lengkap di hari pertengahan musim panas yang suhunya melebihi tiga puluh derajat ini.
Meskipun aku masih merasa terganggu oleh keberadaan siswi perempuan yang memiliki pemikiran menyimpang sejak pekan lalu itu, saat ini fokusku sepenuhnya teralihkan karena terlalu mengkhawatirkan Sagiri.
"......Renji, selamat pagi."
"O-oh...... selamat pagi......"
Aku bertanya kepada Sagiri yang sedang mengucurkan keringat deras bagai air terjun dengan pandangan mata yang tampak kosong.
"A-apa kamu tidak merasa kepanasan......?"
"......?!"
Seketika itu juga, Sagiri langsung mencengkeram syal di lehernya dengan erat seolah ingin menyembunyikan belahan dadanya.
"......Aku tidak kepanasan, kok."
Sembari mengalihkan pandangan matanya dariku secara terang-terangan, dia menjatuhkan dirinya ke atas kursi tempat duduknya.
Wajahnya yang memerah padam hingga ke ujung telinga itu, bagaimana pun aku memikirkannya, bukan hanya karena cuaca panas, melainkan pastilah karena ulahku.
"Be-begitu, ya......"
"I-iya......"
Tanpa saling bertatapan muka, atmosfer canggung pun mengalir di antara kami. Ini juga sudah pasti karena kesalahanku......
"Yuzuru-chaaan......!"
Namun, fakta bahwa Hasegawa sama sekali tidak mau menyingkir dari kursiku, itu jelas-jelas bukan salahku. Dan kemudian. Seperti yang sudah diduga—atau lebih tepatnya, persis seperti perkiraan awal.
"Haa...... hie...... u-ugh...... aah......"
"Sa-Sagiri?!"
Pada jam pelajaran keempat yaitu mata pelajaran olahraga, Sagiri pingsan karena terserang sengatan panas.
Hal ini terjadi karena Sagiri terus bersikeras melanjutkan hidupnya dengan pakaian musim dingin di tengah-tengah musim panas, bahkan saat jam pelajaran olahraga pun dia menjadi satu-satunya murid yang berlarian di lapangan dengan mengenakan setelan jaket training lengan panjang.
"Kamu ini, ya......"
"Habisnya......"
"Jangan bilang 'habisnya'. Tapi, aku lega karena kondisinya tidak sampai ke tahap harus memanggil mobil ambulans seperti waktu dulu."
"Iya......"
Dan sekarang, di sinilah kami, sedang menumpang di ruang UKS yang ber-AC dingin.
Aku menyesal karena tidak memaksa Sagiri untuk melepas pakaian musim dinginnya tadi.
Sekarang setelah dia dipindahkan ke UKS, dia memang sudah berganti pakaian menggunakan kaus polo dan celana pendek. Namun, sebagai orang yang tahu betul bahwa fisiknya sejak awal tidak begitu kuat, seharusnya aku bisa bertindak dan peka lebih cepat......
"......Apa kamu bisa makan bekalmu?"
"......Kalau cuma sedikit saja, mungkin bisa."
Namun, karena aku tidak tega melihat sosok Sagiri yang tampak murung dengan bahu yang merosot lesu melebihi diriku, aku pun mengalihkan topik pembicaraan.
Melihat Sagiri yang tampak sedih di atas kasur seperti ini mengingatkanku pada masa kanak-kanak kami dulu.
Aku sudah tidak ingin lagi melihat wajahnya yang tampak menderita karena menjadi satu-satunya orang yang tidak bisa pergi ke luar ruangan.
"......Renji juga belum makan, 'kan?"
Sagiri bertanya sembari mengarahkan pandangannya ke bawah.
Saat ini bel tanda masuk jam pelajaran kelima baru saja berbunyi. Sejak pertengahan jam pelajaran keempat hingga sepanjang istirahat siang, aku terus mendampingi Sagiri tanpa beranjak sedikit pun, jadi dia pasti merasa tidak enak kepadaku.
"Tidak perlu dipikirkan. Berkat ini, aku malah bisa menghindari komando rasa kantuk tingkat jahanam setelah berolahraga lalu makan siang dan dilanjutkan pelajaran sejarah. Lagipula, Sagiri sendiri langsung tidur mendengkur dengan nyenyak setelah kondisinya tenang begitu dibawa ke UKS."
"Me-mendengkur dengan nyenyak?! A-aku tidak pernah mendengkur seperti itu, tahu!"
"......Kamu tidak tahu, ya? Sejak dulu, setiap kali kamu tidur siang...... Ah, tidak, maaf...... lupakan saja."
"Eh, bohong, 'kan......? Kamu bohong 'kan, Renji?! Apa saat tidur aku benar-benar mendengkur sekencang itu?!"
"Maaf, aku cuma bohong, kok."
"Ugaaa—!!"
Bagus, usahaku berhasil.
Sagiri adalah anak yang baik. Jika dia tahu aku belum makan siang karena dirinya, dia pasti akan merasa sangat bersalah dan kepikiran.
Aku juga bisa melihat kembali reaksinya yang sudah lama tidak kulihat ini, jadi ini adalah hasil yang sangat bagus.
"Iya, iya, aku yang salah. Tapi jangan berteriak, dong? Kamu 'kan baru saja pingsan, dan yang terpenting, ini di ruang UKS."
"Ini 'kan semua karena ulah Renji......! Lagipula, sekarang di sini tidak ada siapa-siapa......"
"Tetap saja tidak boleh. Lupakan saja guru UKS bermasalah yang malah merokok dan menyerahkan tugas merawat pasien kepada muridnya sendiri."
"Ugh......"
Sembari mengatakan hal-hal yang tidak jelas seperti 'kalau rokok elektrik tidak apa-apa, 'kan?', senyuman guru wanita yang tidak bertanggung jawab pada tugasnya saat melangkah pergi itu sempat terlintas sejenak di kepalaku, namun aku segera melupakannya.
Karena saat ini, Sagiri adalah prioritas utamaku.
"......Kita sedang berdua saja, ya?"
"Sudah, cepat makan saja."
"Aduh?!"
Karena aku mendeteksi dia sedang mencuri pandang ke arahku dan sepertinya akan mengatakan hal yang aneh-aneh lagi, aku langsung melayangkan sebuah pukulan chop ke kepalanya sebagai serangan balik.
Melihat wajahnya yang menahan air mata sambil mengusap kepalanya dengan kedua tangan, sejujurnya sempat membuat jantungku berdebar kencang, tapi itu adalah rahasia.
"Renji yang sekarang susah sekali dihadapi......"
"Kamunya saja yang sedang lemas, 'kan?"
Lagipula, sebenarnya Sagiri ini sedang bertarung melawan apa, sih? Melawanku? Apa dia sedang bertarung melawanku?
"......Rasanya agak familier, ya. Situasi yang seperti ini."
"......Habisnya belakangan ini aku selalu dibuat pusing dan diseret-seret olehmu terus."
"Bukan begitu maksudku. Maksudku adalah situasi di saat aku pingsan, lalu Renji datang merawatku."
"......Ah."
Kalau dipikir-pikir kembali, ucapan dia memang benar.
Karena ingatanku tentang kejadian belakangan ini terlalu intens, ingatan masa lalu sempat menjadi kabur di kepalaku. Namun sejak dulu, aku memang selalu menghabiskan waktu bersama Sagiri yang sedang duduk di atas kasur seperti ini.
Agar Sagiri kecil yang sering tidak bisa masuk sekolah karena fisiknya yang lemah tidak merasa kesepian, setiap hari, benar-benar setiap hari, aku selalu menceritakan kejadian yang terjadi pada hari itu......
Setiap kali aku menceritakan kisahnya dengan nada yang berlebih-lebihan, Sagiri akan tertawa...... dan hal itu membuatku merasa teramat senang.
"Sagiri yang sekarang malah menjadi terlalu aktif dengan cara yang aneh, sampai-sampai memaksakan diri dan berakhir pingsan seperti ini."
"I-itu...... juga ada...... hubungannya dengan kesalahan Renji, kok......"
Saat aku menggodanya seperti waktu dulu, sebuah serangan balik yang tak terduga justru dilayangkannya kepadaku.
Gawat. Setiap kali melihat sosok Sagiri yang bersikap penurut dan manja seperti ini, aku jadi selalu teringat pada sosok Sagiri di masa lalu. Padahal dulu aku hanya ingin berada di sisinya dan melindunginya, namun semenjak kami berciuman, aku mendapati diriku mulai menginginkan imbalan yang lebih dari sekadar hal itu.
"Ma-maaf......"
Padahal aku sendiri yang menyuruhnya untuk melupakan kejadian hari Sabtu, tetapi justru Sagiri sendiri yang secara tidak langsung memancingku untuk mengingat kembali kejadian di hari itu.
Karena merasa malu, aku pun mengulurkan tangan ke kotak bekalku sendiri yang ada di dekatku.
"Kalau kamu meminta maaf dengan begitu jujur, aku juga jadi......"
Demi mengalihkan perhatian, aku membuka kotak bekal dan menyuapkan nasi putih beserta lauknya hingga memenuhi mulutku.
"............"
Tindakan sekecil itu justru menjadi pemicu bagi hal berikutnya.
"Renji, ada butiran nasi yang menempel di bibirmu......"
"Hm? Di ma—"
Pada detik berikutnya, dasiku ditarik dengan kekuatan yang sangat kencang.
"—Mmph."
"—Mmph?!"
Aku kembali dicium olehnya.
Di atas kasur, oleh Sagiri yang seharusnya sedang kurawat.
"Ka-kamu ini, tadi itu 'kan berbahaya!"
"......Akuh uhah amhil kok (......Aku sudah ambil kok)."
"――?!"
Dia menjulurkan lidahnya dengan ekspresi jahil, dan di atas lidahnya itu terdapat sebutir nasi yang tadi menempel di bibirku.
Sosoknya yang tampak menggoda itu benar-benar sudah terlalu jauh berbeda dari ingatanku tentang dirinya yang lemah dan sakit-sakitan saat masih kecil dulu.
"Kamu...... penuh dengan celah, tahu?"
Dia mendongakkan dagunya dengan sengaja, membuat gerakan tenggorokannya saat menelan butiran nasi itu terlihat dengan sangat jelas di mataku.
"Terima kasih atas makanannya, Sahabat."
Melihat senyuman kemenangan yang ditunjukkannya itu, aku merasa tidak akan pernah punya kesempatan untuk menang melawannya.
◆
"Hasegawa, aku memandangmu sebagai seorang pria sejati, jadi aku punya satu permintaan."
"Eh, malas......"
Di dalam ruang kelas setelah jam pulang sekolah. Permintaan seriusku langsung kandas begitu saja hanya karena satu kalimat penolakan darinya.
"Tolonglah, aku mohon! Hanya kamu satu-satunya yang punya badan besar dan hati yang lapang yang bisa kuandalkan!"
"Makanya aku bilang tidak mau! Lagipula apa hubungannya dengan badan besar, coba?!"
"Kalau begitu, demi hatimu yang murah hati itu, tolonglah! Ini permintaan seumur hidupku!"
"Permintaan seumur hidupmu mau kamu pakai di tempat seperti ini?!"
"Aku...... aku tidak akan bisa menang melawan Sagiri kalau sendirian! Makanya aku ingin meminjam kekuatanmu!"
"Sudah kuduga pasti masalah itu! Kamu sengaja ya? Apa kamu sengaja memamerkan kemesraan di depanku yang sedang kesepian karena ditinggal Yuzuru-chan?! Begitu, 'kan?! Kalau mau menantang berkelahi, ayo maju sini, hah?!"
"Aku ini sedang serius, tahu?!"
"Kalau begitu, sifatmu malah jauh lebih buruk lagi!!"
Perdebatan antara dua orang pria ini terus berjalan tanpa ada titik temu.
Hasegawa, si pria sejati berbadan bongsor itu, akhirnya bertopang dagu sambil mengembuskan napas panjang.
"Dengar ya, jangan libatkan aku ke dalam pertengkaran sepasang kekasih seperti ini, dong? Pria-pria lain yang tidak tahu situasi aslinya sedang bersusah payah setengah mati karena ingin berpacaran dengan Yakumo-chan yang merupakan gadis tercantik nomor 1 di sekolah. Sedangkan kamu, alih-alih ingin berpacaran, kamu malah bilang ingin menang melawannya. Aku tidak tahu persaingan macam apa yang sedang kalian lakukan sesama teman masa kecil, tapi kalau memang ingin menang, cepat pacari saja dia sana! Nah, pembahasan ini selesai!"
"Meskipun mengeluh begini, pada akhirnya kamu tetap mendengarkan keluh kesahku dengan serius. Hasegawa, kamu memang orang yang baik ya......"
"Hei, apa kamu mendengarkan perkataanku tidak, sih?"
"Aku mendengarnya, dan karena situasinya sudah tidak bisa ditolong lagi, makanya aku memujimu."
"Kamu ini bukan sekadar kelewat jujur lagi, tapi sudah benar-benar bodoh, tahu?!"
Meskipun selalu bersikap seolah merasa direpotkan, Hasegawa tetap mau memikirkan masalahku dengan tulus. Dia benar-benar panutan bagi para pria.
Yah, meskipun dia sendiri sebenarnya agak sensitif jika ada yang menyinggung perawakan tubuhnya yang bongsor dan namanya yang terdengar seperti pria jantan yang bisa diandalkan, jadi aku tidak akan mengatakannya langsung di depannya.
"......Pokoknya, Akahori. Hal yang harus kamu lakukan sekarang bukan mengobrol denganku, melainkan pergi ke UKS untuk menjemput Yakumo-chan. Sekarang juga."
"Sagiri baru saja mengirimiku pesan, katanya dia sedang berganti pakaian dan harus mampir ke ruang guru dulu, jadi dia menyuruhku untuk menunggunya di kelas saja."
"Apa aku baru saja dipaksa mendengarkan pamer kemesraan lagi? Harus berapa kali kukatakan kalau posisimu itu sebenarnya sudah menang telak, hah?!"
"Kalau memenangkan hal ini mudah, aku tidak akan sampai menderita seperti sekarang......"
"Oke! Sekarang aku paham kalau semua perkataanku tadi sama sekali tidak ada yang masuk ke otakmu!"
Hasegawa kembali mengembuskan napas panjang. Sama sepertiku, dia adalah pria yang tampaknya tidak pernah lepas dari penderitaan.
"Kalau begitu, besok coba tanyakan saja pada Yuzuru-chan? Kalau ingin tahu tentang perempuan, tanyanya ya kepada sesama perempuan!"
"Hasegawa...... kamu ini, jenius ya?"
"Fufu, pujilah aku lebih banyak lagi. Tapi, kalau kamu sampai berani macam-macam pada Yuzuru-chan...... AKAN KUBUNUH KAU."
Meskipun mulutnya tersenyum, sepasang matanya sama sekali tidak menyiratkan tawa.
Di saat aku sedang menerima intimidasi berupa aura membunuh yang tidak berdasar dari Hasegawa, pintu ruang kelas mendadak terbuka.
"Renji, maaf membuatmu menunggu lama! Ah, Hasegawa-kun juga, halo~!"
Sagiri, sosok yang menjadi pusat dari seluruh rumor ini, melangkah masuk ke dalam kelas. Seragam yang dikenakannya sudah berubah dari setelan musim dingin yang dipakainya tadi pagi. Kemeja lengan panjangnya kini digulung hingga ke siku, dua kancing teratasnya dibiarkan terbuka, jas blazernya sudah dilepas, dan syalnya pun sudah tidak ada lagi.
Tampaknya dia tidak bisa berbuat apa-apa soal rok panjangnya sehingga pakaian itu tetap dibiarkan begitu saja, namun stocking hitamnya sudah dilepas, memperlihatkan sekilas kaki putihnya yang jenjang. Tas sekolah yang disampirkan di bahunya terlihat sangat penuh dan menggembung, kemungkinan karena dia memaksa memasukkan seragam musim dinginnya ke dalam sana.
Meskipun aku memperingatkannya bahwa pakaian itu bisa kusut jika dimasukkan secara sembarangan, Sagiri—gadis cantik yang pada dasarnya selalu ceroboh jika menyangkut pakaian yang dikenakannya sendiri—pasti tidak akan mau mendengarkan.
Namun bagaimana pun juga, ini adalah waktu yang sangat tepat. Jika obrolan tadi terus berlanjut, nyawaku bisa saja benar-benar terancam oleh Hasegawa......
"Sagiri, apa kamu sudah benar-benar tidak apa-apa?"
"Iya! Habisnya sepanjang siang tadi aku terus beristirahat di UKS, kok!"
"Akahori. Yakumo-chan yang kamu tunggu-tunggu sudah datang, jadi cepat antarkan dia pulang sana?"
"Hasegawa-kun, terima kasih ya sudah mau menemani Renji mengobrol! Hasegawa-kun sendiri belum mau pulang?"
Entah mengapa, justru Sagiri yang membalas pertanyaan yang diarahkan kepadaku.
"Aku sedang menyusun rencana untuk menyambut kedatangan Yuzuru-chan besok! Jadi jangan cemaskan aku, tidak apa-apa kok!"
"Begitu, ya! Wah, rasanya jadi ingin cepat-cepat bertemu dengan Yuzurun juga, ya."
"Aku juga ingin kita berempat bisa belajar bersama lagi......!"
Mereka berdua tampak saling memikirkan teman sekelas kami yang sedang absen karena terserang flu musim panas.
Aku pun merasakan hal yang sama, namun untuk saat ini, Sagiri adalah prioritas utamaku yang paling utama.
"Kalau begitu, Hasegawa-kun, sampai jumpa lagi ya~"
"Sampai jumpa, Hasegawa. Terima kasih, kamu sudah sangat membantuku."
"Yo! Pulanglah dengan akur, ya!"
Sembari menerima wejangan tidak penting dari Hasegawa, aku dan Sagiri pun melangkah meninggalkan ruang kelas.
Mungkin karena libur musim panas sudah semakin dekat, suasana sekolah setelah jam pulang terasa sangat sepi dan koridor pun sudah tidak dilewati oleh siapa-siapa lagi. Di sepanjang koridor yang hanya menyisakan gema suara teriakan sayup-sayup dari para murid yang sedang mengikuti kegiatan klub di luar ruangan, aku dan Sagiri berjalan beriringan.
"Kalian tadi sedang mengobrolkan apa?"
"Hmm, itu, cuma obrolan sesama pria...... semacam konsultasi begitu."
Secara tidak terduga, Sagiri langsung melayangkan pertanyaan yang menusuk tepat ke inti masalah tanpa jeda sedikit pun.
Tentu saja aku sama sekali tidak bisa membeberkan fakta bahwa aku sedang mencari cara untuk bisa menang melawannya.
"Hmm...... obrolan sesama pria, ya......"
Sagiri bergumam dengan nada yang penuh arti. Aku pun terus berjalan sembari sebisa mungkin mengalihkan pandangan mataku darinya. Keheningan ini terasa menakutkan. Kuharap kami bisa segera sampai di area rak loker sepatu.
"Apakah itu sesuatu yang tidak bisa diceritakan bahkan kepada sahabatmu sendiri?"
"I-ini 'kan obrolan rahasia sesama pria!"
Saat menatap Sagiri yang sedang mendongak ke arahku, kata-kataku sempat tercekat selama sesaat.
"Hmm...... begitu, ya?"
Dia mengangguk kecil sebanyak tiga kali, lalu......
"Hei, Sahabat."
"Tung—ah?!"
Dasiku ditarik olehnya.
"—Mmph."
Di tengah koridor sekolah, aku kembali dicium olehnya.
"......Dasar mulut nakal."
Dari kejauhan, sayup-sayup suara hiruk-pikuk termasuk teriakan dari para anggota klub olahraga masih terus terdengar. Namun, seolah terisolasi dari dunia luar, hal yang bisa kulihat saat ini hanyalah senyuman penuh percaya diri dari Sagiri.
"Ayo, kita pulang?"
Dari posisi itu, Sagiri langsung mengulas kembali senyuman cerianya yang seperti biasa. Alih-alih menarik dasiku, kali ini dia menggenggam tanganku dan menuntunku berjalan bersama.
"......Ka-kamu ini, berani sekali melakukannya di tempat seperti ini?!"
"Habisnya Renji sendiri yang nakal!"
Dan setelah itu, interaksi santai dan tidak berarti seperti biasanya kembali mengalir di antara kami.
Aku tidak mengerti. Sebenarnya apa arti dari seorang 'sahabat' itu, aku sama sekali tidak memahaminya. Namun, satu-satunya hal yang aku pahami dengan jelas adalah......
Bagi seorang sahabat, berciuman adalah hal yang diperbolehkan, dan aku masih belum bisa menang melawan Sagiri.
"Hei, Sahabat. Besok kita ciuman lagi, yuk?"
"Ka-kamu 'kan pasti akan tetap melakukannya sesuka hatimu walau tidak bertanya dulu!"
Benar. Aku sama sekali tidak akan pernah bisa menang melawan senyuman ini.
Sebab, senyuman inilah yang selama ini selalu ingin kulihat...... sebuah tawa yang tulus dari dasar hati milik Sagiri yang ceria dan penuh dengan energi.





Post a Comment