NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Nee Shinyuu. Kyou mo Kisu, Shiyokka? V1 Prologue

 Penerjemah: Miru-chan

Proffreader: Miru-chan


Prologue

"Nee, Sahabat. Hari ini kita ciuman lagi, yuk?"


Sembari menarik dasi seragamku dengan kuat, sahabatku mendongak menatap wajahku.


Namanya adalah Yakumo Sagiri. Seorang gadis kelas 2 SMA. Dan tak perlu disembunyikan lagi, dia adalah teman masa kecilku, sekaligus satu-satunya sosok tak tergantikan yang bisa kusebut sebagai sahabat bagi diriku, Akahori Renji.


"Lho, jangan-jangan kamu masih gugup?"


Kata sahabatku itu sambil tersenyum. 


Senyuman itu pastinya memiliki daya hancur yang sanggup membuat jantung laki-laki mana pun di seluruh dunia berdegup kencang.


Sagiri itu populer. Pokoknya, sangat populer. Dia bahkan sampai dijuluki sebagai gadis tercantik nomor 1 di sekolah.


"Kalau kamu terus-terusan menatapku begitu, aku jadi malu, lho."


Gerakannya yang memainkan rambut putih panjangnya—yang sejak lahir memang kekurangan pigmen—terlihat begitu luwes dan menawan. Ditambah lagi dengan mata berwarna jingga yang tampak sendu, bibir tipis berwarna merah muda, serta kulit putih pucat karena dulunya dia sering sakit-sakitan; perpaduan yang menjadikannya sosok gadis tercantik yang tiada tanding.


Tidak berhenti sampai di situ, bentuk tubuhnya pun sangat bagus, benar-benar bagus. Dia tinggi, kakinya jenjang, pinggangnya ramping, dan dadanya pun besar.


"Ah, barusan kamu memikirkan hal yang mesum, ya?"


Dan yang paling pamungkas adalah kepribadiannya ini.


Meskipun dia memberikan kesan sebagai gadis yang pendiam dan misterius, nyatanya tidak demikian. Dia justru termasuk tipe orang yang banyak bicara—sangat suka mengobrol, bahkan ramah sekali. Dia sangat menyukai lelucon, toleran terhadap humor dewasa yang konyol, dan memiliki selera humor tinggi sehingga kepribadiannya yang ceria membuat dia bisa berteman dengan siapa saja.


Hampir semua orang yang baru pertama kali bertemu dengan Sagiri akan mengatakan bahwa setelah diajak bicara, ternyata dia adalah orang yang jauh lebih asyik daripada yang dibayangkan. Tanpa sadar, dia memancarkan pesona alami dari kontras antara penampilan dan kepribadiannya itu.


"Kita 'kan sahabat. Aku pasti tahu, lah."


Dengan semua itu, mustahil rasanya kalau dia tidak populer.


Dia diberkati dengan penampilan layaknya seorang peri, sehingga dari kejauhan tampak seperti sosok yang misterius. Namun, begitu didekati dan diajak bicara, dia menjelma menjadi sosok menyenangkan yang bisa diajak mengobrol tanpa perlu merasa sungkan. Sangat wajar jika dia disebut sebagai gadis tercantik di sekolah. Sebagai teman masa kecil... tidak, sebagai sahabatnya, aku pun ikut merasa bangga.


"Jadi, apa jawabannya?"


Dan sekarang, wajah gadis tercantik nomor satu di sekolah itu berada tepat di depan mataku.


Paras menawan yang mendekat secara tiba-tiba ini sebenarnya sudah familier bagiku sejak kami masih anak-anak. Namun, semakin aku melihatnya, semakin aku menjadi sadar akan kehadirannya. Tidak, mungkin lebih tepat jika dikatakan bahwa aku dipaksa untuk menyadarinya.


"Wajahmu merah merona, lho. Sahabat?"


Sagiri memanggilku dengan sebutan 'sahabat'.


Tak peduli seberapa dekat dia menatapku hingga membuat jantungku berdegup kencang, bagi dirinya, ini hanyalah sebuah aba-aba, bahkan belum bisa disebut sebagai pemanasan.


"Wajah malu-malu sahabatku ini imut sekali, ya."


Karena, acara utamanya baru akan dimulai setelah ini.


"...Ampun, deh."


Kata-kata yang akhirnya berhasil keluar dari mulutku hanyalah sebuah tanda menyerah.


"Fufu... melihat wajah sahabatku ini, aku jadi tidak bisa menahannya lagi."


Benar, sahabat.


Aku dan Sagiri adalah sahabat.


"Sudah boleh, 'kan?"


Setelah saling bertatapan, dan setelah dia memastikan posisi bibirku—yang pasti sudah dihafal luar kepala olehnya—Sagiri perlahan memejamkan matanya.


Tubuhku lebih tinggi darinya. Demi mengikis jarak yang hanya bisa dicapai jika dia berjinjit, dasi seragamku pun ditarik.


"—Ngh."


Kami berciuman.


Sebuah ciuman di mana bibir kami hanya saling bersentuhan.


Aku dan Sagiri berciuman setiap hari.


Sebab, kami adalah sahabat.


—Bagaimana bisa keadaan berubah menjadi seperti ini?


Benar, semua ini bermula dari hari musim panas yang terik... sebuah kalimat klise untuk memulai cerita.


Sejak hari di mana aku dan teman masa kecilku yang kukira sekadar teman biasa ini berubah status menjadi 'sahabat', hubungan kami pun menjadi sesuatu yang tidak berubah namun berubah... sebuah hubungan istimewa yang hanya milik kami berdua.


Itulah arti sahabat bagi kami.


"...Hei, Sahabat. Mau sekali lagi?"


Dan hari ini pun, aku kembali berciuman dengan sahabatku.


Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close