Chapter 17
Sahabat Tahu
“Phew…”
Aku sedang mencuci muka di dekat wastafel
di dalam Gedung Kaikan dan mengeringkannya menggunakan handuk.
“Oh, Kiyomiya. Lagi latihan tarian
tradisionalmu?”
“…Fujikawa.”
Tiba-tiba, sebuah tangan merangkul
pundakku dari belakang.
Siswa laki-laki berbadan tinggi
itu—Fujikawa—berdiri di sebelahku sambil tersenyum meringis.
Dia mengenakan pakaian olahraga, kaus dan
celana pendek olahraga, meskipun aku mengenakan pakaian yang serupa.
“Sepertinya kamu serius banget ngurusin
aktivitas faksi kalian.”
“Tentu saja. Kan isinya cewek-cewek semua
kayak harem. Itu benar-benar bikin aku termotivasi.”
Ups, meskipun aku berniat keluar dari fase
diriku yang tidak berguna, kebiasaan lama memang susah dihilangkan, dan
komentar sembarangan itu malah lolos begitu saja tanpa kupikirkan.
“Jadi, di mana para wanita haremmu itu?”
“Aku satu-satunya cowok di sini. Sebagai seorang gentleman, aku
keluar saat mereka sedang ganti baju.”
Kenyataannya, Sayaka dan yang
lainnya sedang ganti baju di Ruang Belajar saat ini.
Karena saat ini sudah musim panas,
bahkan di dalam Gedung Kaikan yang ber-AC sekalipun, berolahraga tetap saja
membuat keringat bercucuran.
“Jangan ngintip ya, Fujikawa.
Kudengar hobi kelompok kalian itu suka ambil foto diam-diam, kan?”
“Hih, aku minta maaf soal itu. Mondar-mandir menyelidiki privasi
orang lain itu tindakan yang murahan. Aku bakal minta maaf ke Hisaka pas ketemu dia nanti.”
“Begitu ya.”
Bukannya Fujikawa benar-benar merenungi
perbuatannya lalu jadi orang baik—dia mungkin cuma baru saja dimarahi
habis-habisan oleh pihak sekolah dan orang tuanya.
Mengingat sudah cukup lama sejak Sayaka
terbongkar sebagai Maid dan dia masih belum minta maaf, sepertinya dia belum
sepenuhnya membuang harga dirinya.
“Katanya para bangsawan itu cepat sekali
minta maaf kalau situasinya menguntungkan mereka.”
“Hah? Kamu barusan ngomong sesuatu?”
“Bukan, tidak ada apa-apa. Kamu
akhir-akhir ini kelihatan agak tenang, Fujikawa.”
“Belakangan ini aku lagi serius.
Turnamen bola basket tingkat prefektur juga sudah dekat. Jujur saja, ngadakan
Festival Hōki di tengah kesibukan seperti ini bikin acara jadi berat buat cowok
yang harus bagi waktu antara klub dan faksi.”
“Kamu kan seharusnya bisa
menangani hal segitu gampang tanpa masalah, kan?”
Setelah mengatakan itu, aku
mendadak menyadari sesuatu.
“…Latihan untuk Festival Hōki
padahal turnamen bola basket sudah dekat?”
“Secara teknis aku kan ketuanya.
Aku nggak bisa cuma mengandalkan segalanya ke Hiromichi-senpai.”
“…?” Sepertinya Hiro-niisan yang mengurus
semuanya saat Fujikawa tidak ada.
“Tapi Hiro-niisan nggak kelihatan seperti
tipe orang yang suka ngurusin hal-hal semacam itu, sih.”
“Orang itu punya karisma; dia tipe orang
yang bakal diikuti orang lain secara alami. Dia pemimpin yang ideal, kan?”
“Emangnya kamu nggak takut posisi ketuamu
bakal direbut pada akhirnya?”
“Kalau itu Hiromichi-senpai, dia sudah
lebih dari layak buat posisi itu. Yah, kami kan kelompok anak kelas satu, jadi
Senpai itu lebih mirip seperti pelindung kami. Orang itu juga sepertinya nggak
tertarik jadi pemimpin. Tapi ya, meskipun dia nggak tertarik, orang-orang di
sekitarnya mungkin bakal tetap mendesaknya, kan?”
“Benar juga.”
Maksudnya, meskipun Hiro-niisan sendiri
tidak tertarik menjadi kepala keluarga Kiyomiya, orang-orang di sekitarnya akan
tetap mendukungnya.
Aku tidak tahu apakah Fujikawa ingin aku
menjadi kepala keluarga Kiyomiya atau ingin aku kembali menjadi orang payah.
“Tapi ya, tahu nggak, kita kan sudah
latihan untuk Festival Hōki sejak lama. Kita nggak perlu panik cuma karena hari
H-nya sudah dekat. Aku yakin faksi baru seperti kalian nggak punya keleluasaan
kayak gitu, kan?”
“Maki itu ahli, dan Sayaka punya kemampuan
atletik yang luar biasa. Kalau Maritsuji… yah, biarpun dia bikin kesalahan,
nggak bakal ada orang yang berani menertawakannya.”
“Baru ngebayanginnya saja sudah bikin
ngeri. Katanya ada satu lagi, senior bertubuh mungil, ya?”
“Sugawara-senpai. Orang itu juga
berpengalaman. Secara keseluruhan, sebagai kekuatan tempur, kelompok kami nggak
buruk. Kami bakal nunjukin kesenian yang bahkan bisa kalian nikmati.”
“Kuharap begitu?”
“…?”
Cowok ini sedang merencanakan
sesuatu—tidak, mustahil kalau dia tidak merencanakan apa-apa.
Entah aku bangkit ke puncak atau jatuh
kembali menjadi orang payah, kurasa dia bukan tipe orang yang membiarkan hasil
seri di situasi apa pun.
Karena Fujikawa mengharapkan aku melakukan
sesuatu yang gila—
“Biar kukasih tahu hal bagus, Kiyomiya.
Kami kan faksi anak kelas satu terbesar. Kalau kami nggak nunjukin penampilan
yang layak di atas panggung, kami bakal kehilangan muka. Kamu sendiri belum tahu kan apa
yang bakal kami tampilkan?”
“Betul, betul, Keiji. Sepertinya
kelompok Fujikawa mau manggung tarian.”
“Eh?” Saat aku menoleh ke arah
suara itu, Maki tahu-tahu sudah muncul di sebelah kami sebelum aku
menyadarinya.
Sepertinya dia sudah selesai ganti
baju; tadinya dia basah kuyup karena keringat, tapi dia sudah berganti dengan
kaus dan celana pendek baru.
“Apa-apan sih, Sogano. Kamu sudah tahu,
dasar jalang? Kami bahkan belum mengumumkannya secara resmi.”
“Aku nggak suka dipanggil jalang.
Fujikawa, bukannya di sekitarmu itu ada banyak orang yang mulutnya ember? Itu
bisa berakibat fatal buatmu pada akhirnya, tahu.”
“Tch, informan sialan. Kamu sendiri yang mondar-mandir
ngintip urusan orang di belakang punggung mereka. Kamu nggak ada bedanya sama
cowok-cowok yang membuntuti Hisaka.”
“Iya, itu benar sih, tapi?”
“K-Kamu… Hei, Kiyomiya, Sogano itu
bakal menyeretmu jatuh, tahu!”
“Diam. Percaya atau tidak, Maki
adalah temanku. Yang lebih penting—”
Aku sempat teralihkan oleh
perdebatan antara Maki dan Fujikawa, tapi bukankah Maki barusan bilang sesuatu
yang tidak bisa diabaikan?
“Hei, Maki. Apa benar kelompok Fujikawa
mau manggung tarian?”
“Tanya aku saja, Kiyomiya. Faksi kami
adalah kelompok riset ilmu olahraga—meneliti pelatihan modern lintas batas klub
atletik. Kami bakal memamerkan kemampuan fisik yang diasah dari teori ilmiah
itu.”
“Tarian kan latihan seluruh tubuh, ya.
Kekuatan fisik itu mutlak diperlukan.”
“Kamu paham betul, Sogano. Presentasi di
Festival Hōki itu singkat. Menampilkan tarian itu lebih mudah dipahami dan jauh
lebih baik daripada menampilkan bola basket atau sepak bola, kan?”
“…?”
Pembohong, keparat.
Kamu sengaja menjiplak tarian di atas
kelompok kami persis karena kami mendeklarasikan “Tarian Tradisional” sebagai
dalih kami.
Terlebih lagi, kami mencampurkan tarian
modern ke dalam tarian tradisional kami—bagaimanapun juga, itu pasti bakal
tumpang tindih dengan kelompok Fujikawa.
“Kami main-main secara total. Dengan
dua puluh anggota pilihan, kami menyewa musisi profesional untuk membuatkan
lagu asli yang garang khusus buat kami, dan koreografinya juga dibuat oleh
profesional. Omong-omong, bentuknya kurang lebih kayak gini.”
Fujikawa mengangkat ponselnya dan
memutar sebuah video.
Di dalam sebuah ruangan di Kaikan,
para anggota yang berpusat pada Fujikawa menari dengan penuh semangat mengikuti
lagu yang berirama cepat.
Itu benar-benar terlihat mencolok,
memiliki daya tarik glamor yang tidak tampak seperti penampilan amatir.
“…Maki, kamu sudah tahu soal ini?”
“Siapa yang ngelakuin apa itu bukan
masalahnya. Masalahnya adalah seberapa bagus penampilan yang bisa kita bawakan,
kan?”
“Jangan bikin itu kedengaran
seperti hal yang bagus. Kalau kamu tahu dari awal, kita setidaknya bisa
berusaha supaya penampilan kita nggak tumpang tindih…”
“Kita sudah mendeklarasikan riset
tarian tradisional sebagai tema kita, jadi mau apa pun yang kelompok Fujikawa
lakuin, kita nggak bakal bisa mengubahnya sekarang.”
“Hahaha, Sogano jauh lebih tenang
darimu. Yah, tepat sekali.
Kiyomiya, kalian sudah nggak punya tempat buat lari. Kalau mau, aku bisa
nunjukin tarian kami secara langsung sekali?”
“Tuan Muda.”
Tiba-tiba, sebuah suara berat bergema, dan
seorang siswa laki-laki berjalan memutari sudut lorong.
Alih-alih mengenakan jas musim panas
Sōshūkan, dia mengenakan seragam musim dingin dengan dasi yang terikat rapi.
Dibandingkan dengan Fujikawa yang tinggi,
dia bertubuh pendek, kira-kira setinggi aku, tapi ketebalan tubuhnya jelas
berbeda.
“Hei, Ryū. Sudah kubilang jangan panggil
aku ‘Tuan Muda’ di tempat umum. Itu bikin kita kelihatan kayak kelompok
antisocial.”
“Saya minta maaf.”
Siswa laki-laki yang mendekat itu berhenti
tepat di belakang Fujikawa dan membungkuk singkat.
“Ryūdouji, ya…”
“Sudah lama tidak berjumpa, Keiji-san.
Saya minta maaf karena belum sempat memberikan salam dengan layak.”
“Nggak selama itu juga. Aku kan masih
sering lihat mukamu dari waktu ke waktu.”
“Ya.”
Ryūdouji membungkuk dalam-dalam kepadaku
juga.
“Hih, jadi kamu juga kenal sama
Ryūdouji-kun, Keiji?”
“Dulu sekali, keluarga Ryūdouji adalah
pengikut setia keluarga Kiyomiya. Jadi pada dasarnya, keluarga Kiyomiya adalah
junjungan mereka. Tapi sekarang, Ryūdouji berada di bawah naungan kelompok
Fujikawa.”
“Tuan Muda, yang lebih penting,
Iwakura-san dan yang lain sedang memanggil Anda.”
“Paham. Kiyomiya, lakukan yang terbaik.
Aku menantikan panggung kalian.”
Fujikawa tersenyum meringis lalu
mengatakan itu sebelum berjalan pergi.
Ryūdouji juga membungkuk sekali lagi
kepadaku sebelum mengikuti di belakangnya.
“Aku nggak begitu tahu banyak soal
Ryūdouji-kun. Dia kelihatan menyeramkan, tapi sopan juga ya.”
“Ryūdouji itu yang biasa disebut
‘Aosamurai’. Keturunan para samurai yang dulunya mengabdi pada kaum bangsawan.”
“Hih, Aosamurai… Jangan-jangan dia
mewarisi gaya ilmu pedang atau semacamnya.”
“Nggak mungkinlah, mereka kan
nggak se-anarkronis itu. Yah, dia memang pengikut Fujikawa, tapi cowok itu agak
menakutkan.”
“Dia memang nggak sebesar
Fujikawa, tapi dia punya aura. Kayak prajurit garang gitu?”
Layaknya informan Maki, sepertinya
dia punya kemampuan pengamatan yang tajam.
Di masa lalu, keluarga Ryūdouji
bertindak sebagai pengawal keluarga Kiyomiya, dan konon mereka mempertaruhkan
nyawa demi melindungi klon Kiyomiya yang sering kali menjadi target pembunuhan.
“Aku juga nggak tahu kalau dia
bergabung di faksi Fujikawa. Apa dia biasanya memang suka mengintai di balik
bayang-bayang?”
“Bahkan aku sendiri nggak tahu
banyak soal dia, jadi mungkin dia memang berusaha buat nggak menonjol.”
“Benar juga… Ah, lupakan soal
Ryūdouji.”
Aku hampir lupa.
Kami bahkan belum tentu bisa
membawakan pertunjukan kami dengan benar, dan sekarang kami malah dihadapkan
pada kekuatan musuh yang tangguh.
“Fujikawa dan kelompoknya
jelas-jelas berniat menghancurkan kita. Apa yang harus kita lakukan?”
“Memutuskan hal itu adalah tugas seorang
ketua… begitulah kira-kira yang ingin kukatakan, tapi serahkan saja padaku. Aku
ingin memperjelas di Festival Hōki bahwa Keiji adalah ketua kita.”
“Hm? Secara teknis, aku kan terdaftar
sebagai orang yang bertanggung jawab atas faksi ini, tahu?”
“Aku nggak lagi ngomongin di atas kertas.
Dengan cara yang gampang dipahami, ada sesuatu yang mencolok yang ingin
kulakuin di atas panggung bersama Keiji… Maki-chan bakal mengajarimu jurus
spesial.”
“Jurus spesial!?”
Tarian tradisional macam apa sebenarnya
yang berencana kalian pamerkan?
“Sebenarnya apa yang dipikirkan anak
ini… Lagipula, panggung itu juga. Aku penasaran apa yang bakal terjadi.”
Aku tidak sedang meremehkan
Fujikawa. Mengenal cowok itu, aku ragu semuanya bakal berakhir hanya dengan dia
mementaskan pertunjukan yang tumpang tindih.
“Ya, bajingan itu pasti bakal berulah.
Makanya, aku sebenarnya punya satu permintaan buatmu, Keiji.”
“Kamu ini banyak mikir juga ya, Maki.
Permintaan apa?”
“Ya, barang berhakuasaku—aku ingin kamu
menerimanya.”
“…?”
Bisa nggak berhenti ngomong dengan
nada yang ambigu begitu?
Terutama saat kita sedang berada
dalam situasi pelik gara-gara faksi ini.
Waktu kita sampai hari H sudah
tidak banyak, tapi masa depan sama sekali tidak terlihat cerah…
Chapter 16 | ToC | Chapter 18



Post a Comment