NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Ore no Tsuihou Saretai Ganbou - Zenin ni Sukarete Kanawanai Volume 1 Chapter 4

Chapter 4

Apa yang Akan Terjadi Jika Aku Memicu Peristiwa yang Mengancam Nyawa?


Tanpa terasa, hari sudah sore.

 

"Fuuuh... capek banget!"

 

Sambil meregangkan tubuh sebentar, aku kembali ke kota.

 

Hari ini entah kenapa banyak sekali orang yang meminta bantuanku.

 

Aku memulainya dengan membantu menyiapkan makanan untuk dibagikan di panti asuhan terdekat, lalu mengangkut pakan ternak dalam jumlah besar menggunakan kemampuan 【Storage】.

 

Menjelang siang, para ibu di rumah makan meminta bantuanku, jadi aku ikut membantu di dapur. Sampai beberapa saat yang lalu, aku juga sibuk membantu mencari hewan peliharaan yang hilang.

 

Aku senang bisa diandalkan dan rasanya menyenangkan karena bisa berkontribusi bagi orang lain. Namun... aku ingin merasakan pengalaman yang lebih menyenangkan lagi.

 

Hei, jangan salah paham, ya? Bukan dalam arti mesum!

 

"Aku tetap ingin mencoba menjadi tak terkalahkan tanpa kusadari berkat kemampuan curang!"

 

Pasti sensasi menyenangkannya luar biasa!

 

Tapi, yah, sensasi menyegarkan saat meminum air dingin setelah banyak bergerak dan berkeringat juga tidak kalah menyenangkan.

 

"Hei, Rokuto!"

 

"Hm?"

 

Orang yang melambaikan tangan kepadaku adalah seorang pria berkumis lebat yang menjalankan toko ikan segar.

 

Untuk sementara, karena dia memanggilku, aku pun menghampirinya.

 

"Kebetulan sekali kamu lewat, Rokuto! Ada banyak sekali monster jenis ikan yang baru saja dikirim ke sini! Kalau ada waktu, bantu aku membersihkannya, dong!"

 

"Boleh! Tapi dengan satu syarat! Aku juga harus kebagian makan!"

 

"Ya, ya, aku tahu! Kalau kamu membantu, aku akan memberimu banyak makanan untuk dibawa pulang, seperti aneka sashimi, ikan bakar garam, kaisen-don, steak, dan macam-macam lainnya. Tentu saja, termasuk bagian untuk anggota party-mu juga. Dengan kemampuan 【Storage】 milikmu, menyimpannya pasti bukan masalah, kan?"

 

"Ooh! Kalau begitu, aku tidak punya pilihan selain mengerahkan seluruh kemampuanku!"

 

Semangatku langsung membara sampai-sampai rasa lelah tadi terasa lenyap.

 

"Tidak boleh, Rokkun! Jam kerja Rokkun sebagai orang baik hati sudah berakhir untuk hari ini!"

 

"Ugh?!"

 

Tiba-tiba, kerah bajuku ditarik kuat-kuat dari belakang.

 

Ketika aku menolehkan wajah, ternyata Honoka ada di sana dengan ekspresi sedikit cemberut.

 

"Ooh, Honoka. Kebetulan sekali kita bertemu. Kamu suka ikan?"

 

"Bukan ‘kebetulan sekali kita bertemu’, Rokkun! Lagipula, aku memang suka ikan, dan lebih dari apa pun, aku suka masakan buatan Rokkun!"

 

"Ooh, aku senang mendengarnya! Terima kasih, ya!"

 

"Ya, sama-sama. Aku juga selalu berterima kasih kepadamu. Ngomong-ngomong, kamu tidak lupa hari apa ini, kan?"

 

Honoka mendekatkan wajahnya kepadaku dengan ekspresi tidak puas.

 

"Hari apa...?"

 

Eh? Memangnya ada sesuatu hari ini?

 

"Hei, Rokuto... Jangan-jangan hari ini hari jadi pernikahanmu dengan Honoka-chan?! Kalau begitu, cepat pulang dan temani dia! Hari-hari peringatan seperti ini harus diperhatikan sejak awal, tahu! Ini nasihat dari suami yang lebih berpengalaman!"

 

"Tidak, bukan begitu?! Aku dan Honoka bukan suami istri!"

 

Aku langsung membantah, tetapi si paman hanya menyeringai lebar.

 

Rumor bahwa aku dan Honoka adalah pasangan suami istri ternyata masih belum hilang. Padahal aku sudah berkeliling menjelaskan bahwa itu tidak benar.

 

Dan Honoka sendiri tidak pernah membantahnya.

 

...Kenapa, ya?

 

"Maaf, ya, Honoka-chan! Nah, nah, kalian berdua cepat pulang bersama!"

 

"Terima kasih banyak~♪ Kalau begitu, ayo pulang, Rokkun!"

 

"Yaaah, padahal hari ini aku sedang ingin makan ikan~"

 

"Besok kita tinggal berburu monster jenis ikan saja, kok~"

 

Honoka menarik lenganku, lalu kami berjalan menjauhi toko ikan segar menuju rumah besar tempat kami tinggal.

 

"Jadi, Rokkun~? Hari ini hari apa?"

 

"Aku tahu, kok, Honoka. Hari ini adalah hari libur yang sudah ditentukan oleh party kita."

 

"Benar, kan? Hari libur, kan? Kalau hari libur, berarti waktunya beristirahat atau melakukan hal yang disukai untuk menyegarkan pikiran, kan? Kalau begitu, kenapa Rokkun bekerja dari pagi sampai sore?"

 

Honoka tersenyum cerah.

 

Namun, perasaan seolah-olah dia sedang marah sambil mengeluarkan aura mengerikan—Gogogogo...—kurasa bukan sekedar khayalanku.

 

"Yah, itu karena mereka meminta bantuanku. Kalau menurut aturan, itu boleh, kan?"

 

"Kalau satu atau dua permintaan, sih, boleh! Lagipula, biasanya orang hanya meminta bantuan sebanyak satu atau dua kali!"

 

"Menurutku, membantu satu orang atau lima orang itu sama saja."

 

Kalau ada orang yang sedang kesulitan, bukankah lebih baik segera membantu menyelesaikan masalahnya?

 

Eh, bukankah itu hal yang wajar?

 

Kalau punya kemampuan curang, kita bisa menyelesaikan masalah dalam sekejap dan terlihat keren, bukan?

 

"Dasar... Rokkun memang selalu baik hati seperti biasanya. TapI, meskipun begitu, kamu tidak boleh menerima semua permintaan begitu saja, ya?"

 

"Aku tahu, kok."

 

Aku juga tidak akan menerima permintaan yang mencurigakan!

 

Bahkan kalau ada yang berkata bahwa aku harus menukar kemampuanku dengan sesuatu, aku pasti menolaknya!

 

Soal kemampuan, aku sudah memutuskan untuk percaya kepada Dewi.

 

"Ngomong-ngomong, justru apa yang Honoka lakukan hari ini?"

 

"Berbeda dengan Rokkun, aku menikmati hari liburku sepenuhnya!"

 

"Ooh, begitu. Baguslah kalau begitu."

 

Honoka selalu banyak bergerak saat bertarung.

 

Aku ingin dia benar-benar beristirahat dengan baik.

 

"Iya! Aku bersenang-senang, kok~ Aku bermain bersama anak-anak yang orang tuanya sedang pergi keluar."

 

"Bukankah itu... sama saja dengan bekerja?!"

 

Mengasuh anak-anak juga merupakan pekerjaan yang tidak bisa dianggap remeh. Bagi orang tua mereka, bantuan seperti itu pasti sangat berarti.

 

Honoka ceria, ramah, dan pandai mengurus orang lain.

 

Dia juga sangat kuat sebagai petualang, jadi tidak ada orang yang bisa memberikan rasa aman sebesar dirinya.

 

"Bagiku, bermain bersama anak-anak bukan pekerjaan, melainkan cara untuk menyegarkan pikiran!"

 

"Benarkah?"

 

"Iya! Aku suka bermain bersama anak-anak~ Mungkin ini juga kebiasaan yang tersisa sejak aku tinggal di panti asuhan."

 

"Ooh, jadi Honoka pernah bekerja di panti asuhan?"

 

Ketika aku bertanya begitu, Honoka yang sebelumnya tersenyum ceria sambil bercerita tiba-tiba menghentikan langkahnya.

 

"...Honoka?"

 

Aku ikut berhenti dan mengamati wajahnya.

 

Ekspresi Honoka... terasa sedikit kaku.

 

"Bukan. Sebenarnya sedikit berbeda."

 

"Begitu, ya?"

 

"Iya..."

 

Melihat perubahan suasana Honoka, ekspresiku pun berubah serius.

 

"Sebenarnya, aku... dibesarkan di panti asuhan."

 

Panti asuhan. Hanya dengan satu kalimat itu, aku sudah bisa membayangkan berbagai hal tentang masa lalu Honoka.

 

Namun... setiap orang pasti memiliki masa lalu yang menyakitkan, dan aku tidak boleh sembarangan mengungkitnya.

 

Meski begitu, kalau aku ingin bertanya sesuatu...

 

"Apakah waktu yang kamu habiskan di panti asuhan menyenangkan?"

 

"Iya. Menyenangkan."

 

"Syukurlah. Kalau begitu, sekarang juga menyenangkan?"

 

"Iya! Menyenangkan!"

 

Sepertinya nada suara Honoka sedikit meninggi.

 

"Kalau sekarang kamu bahagia, menurutku itu sudah cukup. Tapi kalau masa lalu dan sekarang sama-sama menyenangkan, berarti lebih bagus lagi!"

 

Aku menyeringai sambil menjawabnya.

 

Aku hanya akan bertanya sampai di situ.

 

Setelah ini, kalau suatu saat Honoka mengalami sesuatu yang menyakitkan, aku akan mendengarkan ceritanya! Karena aku adalah anggota party sekaligus temannya.

 

"Fufu. Rokkun pandai sekali menjaga perasaan orang lain, ya~"

 

"Aku cuma menanyakan hal yang membuatku penasaran, kok."

 

"Hmm~? Kalau begitu, anggap saja begitu. Tapi, mungkin karena Rokkun mirip denganku, kamu jadi bersikap baik secara alami."

 

"Eh? Mirip?"

 

"Iya. Rokkun juga... sendirian, kan?"

 

Honoka mengatakannya dengan nada yang agak sedih.

 

Ah, begitu rupanya. Sepertinya Honoka salah paham.

 

Dalam kasusku, orang tuaku bukan meninggal. Lebih tepatnya, Dewi tanpa sengaja membuatku mati...

 

Pokoknya, bukan berarti aku merasa sedih karena hal itu.

 

"Aku bahagia, baik dulu maupun sekarang! Lagipula, sekarang aku tidak sendirian."

 

"Iya. Benar, kan? Sekarang ada aku juga!"

 

Honoka merapatkan tubuhnya kepadaku. Akibatnya, dadanya yang lembut menempel erat padaku...

 

"D-dekat sekali! Nanti rumor aneh tentang kita akan menyebar lagi!"

 

"Tidak masalah bagiku~♪"

 

Honoka memasang senyum jahil seperti anak kecil yang sedang mengerjai seseorang.

 

Benar-benar, Honoka ini...Entah bagaimana, rasanya dia seperti adik perempuan bagiku...

 

"Aduh...!"

 

"Hm?"

 

Tiba-tiba, terdengar suara seorang pria dari seberang jalan. Aku pun tanpa sadar menoleh ke arah sana.

 

Ada dua orang pria. Salah satunya berjalan sambil menopang bahu temannya.

 

Pria yang tampak kesakitan sedang memegangi perutnya. Noda merah perlahan menyebar di sana...Darah.

 

"Hei, kamu benar-benar tidak apa-apa?!"

 

"Ah... Tidak kusangka aku sampai terkena serangan goblin..."

 

"Goblin itu ternyata cukup tangguh, ya... Yah, sesekali memang ada hari seperti ini."

 

Kedua pria itu sedang berjalan menuju Guild Petualang.

 

Di sana, mereka bisa membeli ramuan penyembuh untuk mengobati luka. Jika membayar, mereka juga bisa meminta penyihir penyembuh untuk mengobati mereka.

 

Namun...

 

"Akhir-akhir ini... kejadian seperti ini semakin sering, ya."

 

Benar. Selama beberapa hari terakhir, tingkat cedera para petualang yang kembali ke kota cukup tinggi.

 

Memang ada banyak petualang pemula, tetapi monster yang muncul di sekitar sini pada dasarnya adalah monster tingkat rendah.

 

Seharusnya mereka tidak sampai mengalami luka parah sesering ini...

 

"Honoka, akhir-akhir ini kamu merasa monster-monster menjadi lebih kuat, tidak?"

 

"Hmm, aku tidak begitu tahu. Soalnya, setiap kali kutebas, monster-monster itu langsung tumbang."

 

"B-begitu, ya. Kalau kamu tidak mengalami masalah, syukurlah."

 

"Iya!"

 

Pada level Honoka, meskipun monster menjadi sedikit lebih kuat, dia tetap bisa mengalahkannya dengan satu serangan.

 

Jadi, beginilah rasanya menjadi tak terkalahkan tanpa menyadarinya, ya.

 

"Tenang saja, Rokkun. Kalau terjadi sesuatu, aku akan mengatasinya."

 

"Begitu, ya. Kalau begitu, aku merasa tenang!"

 

Honoka memang kuat!

 

"Benar, aku yang akan mengatasinya. Seandainya ada seseorang yang mencoba merenggut nyawa Rokkun, maka saat itu..."

 

"Honoka?"

 

"Tidak apa-apa! Ayo, kita cepat pulang!"

 

Honoka kembali memasang senyum cerianya seperti biasa.

 

◆◆

 

Keesokan harinya.

 

Saat kami sedang berdiskusi di depan papan pengumuman Guild Petualang seperti biasa untuk menentukan misi yang akan diambil...

 

"...Eh?"

 

"Hm? Honoka? Ada apa?"

 

Mendengar pertanyaanku, Honoka menatapku dengan mata yang dipenuhi kebingungan. Kemudian, ketika aku melihat surat permintaan yang sedang dipandanginya...

 

Aku sampai menahan napas.

 

Tempat yang disebutkan di sana adalah sebuah panti asuhan yang tidak terlalu jauh dari rumah guild kami.

 

Tempat yang kudatangi kemarin untuk membantu menyiapkan makanan bagi anak-anak.

 

Isi permintaannya adalah... pencarian orang hilang. Semua anak yang tinggal di panti asuhan itu dikabarkan menghilang pagi ini.

 

"Orang hilang...? Kenapa...?"

 

Padahal kemarin kami memasak bersama, lalu duduk mengelilingi meja makan dengan damai sambil menikmati makanan dan berkata bahwa semuanya enak.

 

"Shion!"

 

"Shii-chan!"

 

Aku dan Honoka berseru bersamaan sambil menoleh ke arah Shion.

 

"Aku mengerti, kalian berdua. Benar, Marlun?"

 

"...Ya. Kita harus segera menuju ke sana. Perasaanku benar-benar tidak enak."

 

◆◆

 

Tak lama kemudian, kami tiba di panti asuhan.

 

Padahal, aku baru saja datang ke sini kemarin...

 

"Apa-apaan ini...?"

 

Pemandangan yang terbentang di hadapanku begitu kacau, seolah-olah kehidupan damai di tempat ini telah diinjak-injak begitu saja.

 

Bahkan pintu masuknya sudah berantakan. Kebun sayur yang sebelumnya ada di sini juga telah diinjak-injak, sementara bagian dalam bangunan dipenuhi barang-barang yang berserakan.

 

Anak-anak... tidak ada.

 

"...Kemungkinan besar ini penculikan."

 

Suara Shion yang tenang memecah kesunyian.

 

"Kalau ini ulah monster, pasti akan ada lebih banyak bekas darah dan kerusakan. Jadi, kemungkinan besar pelakunya manusia. Seseorang sengaja melakukan ini."

 

"Benar... Tujuan utama mereka adalah membawa pergi anak-anak itu. Entah untuk dijual sebagai budak atau karena memiliki tujuan lain... Apa pun alasannya, perbuatan ini tidak bisa dimaafkan."

 

Marlun-san juga mengangguk pelan sambil mengamati keadaan dengan tenang.

 

Namun... aku dan Honoka berbeda. Melihat pemandangan di depan mata, dadaku terasa sesak. Amarah pun perlahan meluap dalam diriku.

 

"Hal seperti ini... Aku benar-benar tidak bisa memaafkannya...!"

 

Suara Honoka bergetar. Di matanya terpancar kemarahan... dan sepertinya juga bayangan masa lalunya.

 

Honoka pernah bercerita bahwa dia menghabiskan masa kecilnya di panti asuhan. Karena itulah, mungkin perasaannya jauh lebih...

 

"Benar... Siapa pun yang melakukan ini, aku tidak akan pernah memaafkannya!"

 

Aku mengepalkan tangan erat-erat.

 

"Kalian berdua, coba tenangkan diri dulu. Seharusnya masih ada petunjuk yang tertinggal. Mari kita cari terlebih dahulu."

 

Mendengar perkataan Shion, aku dan Honoka sedikit menenangkan diri.

 

"Ya, aku mengerti, Shion..."

 

"...Benar juga. Untuk saat ini, anak-anak hanya menghilang dari panti asuhan."

 

"Betul. Kalau begitu, semuanya, mari kita berpencar dan mencari."

 

Setelah mendengar perkataan Shion, kami pun menentukan apa yang harus dilakukan.

 

Kami akan mencari di sekitar bangunan maupun di dalamnya. Saat masing-masing mulai melangkah untuk melakukan pencarian...Plak!

 

Terdengar suara seperti seseorang menjentikkan jari.

 

"Hm? Suara apa tadi... Tunggu, apa-apaan ini?!"

 

Ketika melihat ke bawah, aku mendapati sebuah lingkaran sihir yang memancarkan cahaya hitam keunguan muncul di bawah kaki kami.

 

Lebih parahnya lagi, aku tidak bisa bergerak!

 

"...Perangkap teleportasi, ya. Begitu rupanya. Jadi, inilah alasan anak-anak itu menghilang secara bersamaan."

 

"Benar. Sepertinya kita juga sengaja dipancing agar datang ke sini."

 

"Tapi, kalau dipikir-pikir, kita jadi tidak perlu repot-repot mencari mereka. ...Sepertinya kali ini kita harus membereskan semuanya sampai tuntas."

 

Ketiganya bergumam seolah-olah telah memahami situasinya...

 

Dan kemudian, kami diselimuti cahaya yang menyilaukan.

 

◆◆

 

"Hmm... Di mana ini?"

 

Ketika membuka mata, aku mendapati diriku berdiri sendirian di tengah hutan entah di mana.

 

"Shion tadi bilang ini perangkap teleportasi, kan...? Dan seperti yang sudah kuduga, kami akhirnya terpisah satu sama lain."

 

Perangkap teleportasi.

 

Perangkap semacam ini juga sering muncul dalam karya fiksi di kehidupan sebelumnya. Efeknya di dunia ini mungkin tidak jauh berbeda.

 

Begitu seseorang terkena perangkapnya, dia akan dipindahkan ke tempat lain.

 

Dan hal paling menyebalkan dari perangkap teleportasi adalah kita bisa terpisah dari rekan-rekan sendiri. Apalagi jika sedang beraktivitas bersama sebuah party.

 

Meski begitu...

 

"Kalau aku tidak bergerak, tidak akan ada yang berubah. Shion tadi juga menyuruh kami melakukan pencarian. Untuk sekarang, aku harus mulai bergerak."

 

Aku mengeluarkan pedang dari 【Storage】, lalu berjalan maju sambil tetap waspada terhadap keadaan sekitar...

 

Setelah berjalan beberapa lama, aku melihat sebuah gua kecil di balik bebatuan di kejauhan.

 

"~~!"

 

Sepertinya aku mendengar suara samar dari dalam gua itu.

 

Aku berjalan mendekat dengan perlahan... lalu mengintip ke dalam.

 

"Ah... Onii-san...?"

 

"...Hah?"

 

Mendengar suara itu, jantungku berdegup kencang.

 

Anak-anak yang berada di dalam gua itu ternyata... anak-anak panti asuhan yang kutemui kemarin.

 

Setelah terdengar beberapa langkah kaki kecil yang berlarian, empat orang anak keluar dari dalam gua.

 

"Onii-san!"

 

"Itu Onii-san yang kemarin...!"

 

Mereka semua langsung memelukku.

 

"Kalian semua baik-baik saja, kan?! Syukurlah!"

 

Setelah memberi mereka waktu untuk menenangkan diri, aku mulai mendengarkan cerita mereka.

 

Tadi malam, seorang pria asing tiba-tiba menerobos masuk ke panti asuhan dengan kasar. Setelah itu, pandangan mereka mendadak menjadi putih seluruhnya... dan ketika tersadar, mereka sudah berada di tengah hutan ini.

 

Setelah itu, mereka menemukan gua ini dan menghabiskan malam di dalamnya.

 

"Yang penting, kalian semua selamat. Oh, bagaimana kalau kita makan sup hangat dan roti dulu supaya perut kalian terisi?"

 

Dengan begitu, mereka seharusnya bisa sedikit lebih tenang.

 

Anak-anak langsung asyik menyantap makanan.

 

Setelah ini, aku hanya perlu bergabung kembali dengan Shion dan yang lainnya, lalu mengantarkan anak-anak ini ke tempat yang aman.

 

Sambil memperhatikan anak-anak yang makan dengan lahap, aku keluar dari gua. Aku ingin memastikan apakah ada monster atau sesuatu yang berbahaya di sekitar sini.

 

"Ngomong-ngomong, siapa yang tega melakukan hal seperti ini...?"

 

Bukan hanya mengacak-acak panti asuhan, pelakunya juga telah membuat anak-anak itu ketakutan.

 

Aku benar-benar... tidak bisa memaafkannya.

 

Saat aku mengamati sekeliling dengan dahi berkerut...

 

"──Syukurlah, anak-anak itu selamat, ya."

 

"!"

 

Sosok yang muncul dari hutan di hadapanku adalah seorang pria berambut pendek yang kukenal. Sebuah pedang besar tersampir di punggungnya.

 

"Oatmeal...! Kenapa kau ada di tempat seperti ini...? Hei, tolong bantu aku! Kita harus membawa anak-anak itu kembali ke kota bersama-sama..."

 

Tiba-tiba...Seseorang menarik ujung bajuku dengan kuat.

 

Ketika melihat ke samping, ternyata keempat anak yang seharusnya sedang asyik makan di dalam gua kini sudah berada di dekatku.

 

"Rokuto Onii-san... Monster itu yang menculik kami...!"

 

"Eh...? Monster...?"

 

Mendengar perkataan itu, aku kembali mengalihkan pandangan kepada Oatmeal.

 

Jika diperhatikan baik-baik, lengan, wajah, dan seluruh tubuh Oatmeal dipenuhi bintik-bintik hitam yang tampak mengerikan...

 

Tepat pada saat itu, bintik-bintik hitam tersebut mulai memancarkan cahaya.

 

"U, agh, gaa... graaaaaaaahhhh!!"

 

Oatmeal memegangi wajahnya, lalu berlutut di tanah sambil menggeliat kesakitan.

 

"O-Oatmeal?!"

 

Aku merasa khawatir... sekaligus takut.

 

Tidak, yang kurasakan hanyalah ketakutan. Pemandangan di depan mataku benar-benar mengerikan.

 

Seluruh tubuh Oatmeal perlahan berubah menjadi hitam.

 

Otot-ototnya membesar, sepasang sayap seperti kelelawar tumbuh dari punggungnya, dan sebuah ekor hitam muncul dari sekitar pinggangnya.

 

"Aku tidak bisa membiarkan orang tidak berguna sepertimu terus berkeliaran sesuka hati, tahu..."

 

Suara itu memang benar-benar suara Oatmeal. Namun, aura dan penampilannya... sudah tidak menyerupai manusia lagi.

 

Melihat sosok itu, aku... tanpa sadar membuka mulut.

 

"J-Jangan-jangan, kau... berubah menjadi iblis?"

 

Benar, iblis. Makhluk mengerikan yang berdiri di hadapanku itu hanya bisa disebut demikian.

 

Namun, bagaimana bisa...? Bagaimana caranya...?

 

Aku belum pernah mendengar manusia tiba-tiba berubah menjadi iblis.

 

"Iblis?! Aku telah terpilih! Terpilih untuk menjadi makhluk terkuat!"

 

Mendengar pernyataannya, aku segera mengubah cara berpikirku.

 

Orang ini bukan lagi Oatmeal, seorang petualang.

 

Dia sudah sepenuhnya menjadi iblis.

 

Musuh umat manusia...

 

"A-Aku takut...!"

 

"Onii-san...!"

 

"Hiks... Hiks..."

 

"Aku tidak mau dibunuh...!"

 

Tidak, sekarang dia telah menjadi musuh terbesarku.

 

Melihat anak-anak yang ketakutan di belakangku, aku semakin yakin akan hal itu. Namun, kenapa anak-anak ini sampai terseret ke dalam masalah...?

 

Saat itulah, aku menyadari sesuatu.

 

Oatmeal yang sebelumnya selalu menunjukkan ketidaksukaannya kepadaku dalam berbagai kesempatan...

 

"Jangan-jangan... karena kemarin aku pergi ke panti asuhan? Apa kau sengaja menyasar panti asuhan itu untuk memancingku keluar...? Lalu kau menculik anak-anak yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan masalah ini?! Benar begitu?!"

 

Mendengar perkataanku, iblis itu menyeringai menjijikkan. Senyumnya seolah membenarkan semua dugaanku.

 

Bulu kudukku merinding, dan aku diliputi penyesalan yang luar biasa. Kalau saja aku tidak pergi ke panti asuhan itu, anak-anak ini tidak perlu mengalami ketakutan seperti ini...

 

Tidak, sekarang bukan waktunya untuk terus memikirkan hal itu. Aku harus fokus menghadapi keadaan saat ini.

 

Lagi pula, jika targetnya memang aku, berarti aku bisa menyusun strategi yang menguntungkan.

 

Jika aku dan anak-anak ini menghilang dari pandangannya secara bersamaan... dia pasti secara refleks akan mengejarku.

 

Bagaimanapun juga, akulah orang yang paling ingin dia singkirkan.

 

Aku hanyalah pembawa barang yang cuma memiliki kemampuan sederhana bernama 【Storage】.

 

Aku juga selalu dilindungi oleh anggota party-ku.

 

Meski begitu... aku benar-benar tidak ingin membiarkan anak-anak ini tidak tertolong.

 

Aku pasti bisa melakukannya. Kalau aku tidak melakukan sesuatu sekarang, barulah aku benar-benar pantas disebut orang tidak berguna!

 

"...Oke."

 

Pikiranku akhirnya tersusun.

 

Aku sedikit membungkuk, lalu berbisik kepada anak-anak.

 

"Semuanya, dengarkan aku. Begitu aku berkata, ‘Lari!’, kalian harus segera masuk ke bagian terdalam gua itu dan bersembunyi di sana."

 

Kalau mereka melarikan diri dalam keadaan panik seperti sekarang, lalu tersandung atau berpencar, justru itu yang akan menguntungkan iblis tersebut.

 

Aku harus membuat mereka sedikit lebih tenang. Selain itu, aku hanya perlu membuat keberadaan anak-anak ini tidak diketahui selama beberapa saat.

 

Dengan begitu, dia seharusnya hanya akan mengejarku.

 

Gua itu juga cukup dalam. Dari kejauhan, ditambah dengan kegelapan di dalamnya, keberadaan seseorang di sana pasti sulit diketahui.

 

"Aku akan mengalihkan perhatiannya selama mungkin. Jadi, begitu kalian sudah tenang, keluarlah dari gua dan larilah sejauh mungkin bersama-sama."

 

"Rokuto Onii-san juga ikut...?"

 

"Kalau begitu, rencana ini tidak akan berhasil, kan? Maaf, ya. Aku memang tidak punya kekuatan yang cukup. Tapi, aku akan berusaha dengan caraku sendiri."

 

Seandainya aku memiliki kemampuan curang yang luar biasa, aku pasti bisa menghadapinya secara langsung... dan tidak perlu membuat anak-anak ini ketakutan seperti sekarang.

 

"Hei, apa yang sedang kalian bicarakan, Rokuto? Sedang menyusun rencana untuk melarikan diri, hah? Perlawanan terakhir, begitu? Yah, apa pun yang kau lakukan, kau tidak mungkin bisa mengalahkan Yang Mulia ini!"

 

Memang benar, apa yang dikatakannya...

 

"Ayo! Tunjukkan kepadaku betapa menyedihkannya dirimu, Rokuto! Menangislah, berteriaklah, memohonlah agar nyawamu diampuni, lalu pada akhirnya kau akan kalah telak di tanganku──"

 

Ada celah! Dia terlalu santai dan terlalu percaya diri dengan kekuatannya sendiri.

 

Sekarang!

 

"《Release》!"

 

Benda yang kukeluarkan dari 【Storage】 adalah bom asap yang kubuat bersama Marlun-san.

 

Aku bahkan tidak perlu memegangnya… Aku langsung menjatuhkannya ke tanah. Namun, itu memang sudah cukup.

 

Begitu menyentuh tanah, bom asap tersebut mengeluarkan suara keras, bssshhhhhh!!, lalu menyemburkan asap putih.

 

Asap putih pekat memenuhi seluruh area hingga siluet siapa pun yang berada di tempat itu tidak lagi terlihat.

 

"A-Apa-apaan ini?!"

 

Begitu mendengar suara kebingungan sang iblis...

 

"Semuanya, lari──!!"

 

Aku berteriak sekuat tenaga.

 

Meskipun aku mengatakan itu, maksud sebenarnya adalah menyuruh mereka masuk ke bagian terdalam gua. Dengan begitu, dia akan mengira anak-anak itu telah berlari melarikan diri.

 

Walaupun tidak bisa melihat mereka, sepertinya maksudku tersampaikan...

 

"O-onii-san!"

 

"Onii-san!"

 

Padahal, mereka seharusnya diam saja...

 

Anak-anak ini benar-benar baik hati. Berkat mereka, semangatku justru semakin membara.

 

Selain itu, efek bom asap tersebut seharusnya membuat sang iblis mati rasa dan tidak bisa bergerak untuk sementara waktu.

 

Namun, efeknya tidak akan bertahan selama beberapa menit. Karena itu, aku juga harus berlari sekuat tenaga ke dalam hutan.

 

Aku harus mengulur waktu!

 

Asapnya sebentar lagi akan menghilang. Saat itu terjadi, aku dan anak-anak sudah tidak akan berada di hadapannya lagi.

 

Lalu, tindakan yang akan dia ambil berikutnya pasti...

 

"Berhenti kauuuuu!! Rokutooooo!!"

 

"Sudah jelas kau bakal mengejarku, kan?!"




Dari belakang terdengar teriakan keras yang memekakkan telinga, disertai tekanan yang luar biasa kuat.

 

"Lagi pula, efek bom asap ternyata cuma bertahan sekitar dua menit kalau digunakan terhadap kaum iblis, ya. Setidaknya, sekarang aku tahu sesuatu yang berguna! Selain itu, kalau lawannya aku, justru lebih baik kau mengamuk sehebat mungkin!"

 

Siapa tahu, Shion dan yang lainnya bisa menyadari suara ini.

 

Namun, daripada menolong orang sepertiku, aku lebih ingin mereka mengutamakan keselamatan diri sendiri.

 

Nyawa itu berharga. Sementara itu, aku akan mempertaruhkan nyawaku untuk menjalankan tugasku dengan baik.

 

"Rukutoooo!!"

 

"Ck, cepat sekali kau menyusulku!"

 

Saat menoleh ke belakang, aku bisa melihat sosok kaum iblis itu. Sepertinya, dia terbang menggunakan sayap hitamnya.

 

Pepohonan beterbangan setelah diterjang kekuatannya, tetapi sayap raksasa itu sama sekali tidak terluka, dan lajunya pun tidak melambat sedikit pun.

 

...Sungguh makhluk yang mengerikan.

 

Jauh lebih mengerikan daripada makhluk yang pernah menyerangku dahulu...

 

"Rokutooo! Mati kauuuu!!"

 

"Ck!"

 

Lengan tebal kaum iblis itu menjulur dengan cepat, berusaha mencengkeramku. Kalau sampai tertangkap oleh lengan itu, aku akan... gawat...!

 

"Guh!"

 

Aku hendak menggunakan pedang untuk setidaknya membelokkan arah serangan lengannya, tetapi saat itulah...

 

"Gyaahhhhhhh!!"

 

Yang menjerit kesakitan ternyata... kaum iblis itu. Pasalnya, salah satu lengannya yang tebal telah terputus!

 

"Ketemu!"

 

"H-Honoka!"

 

Aku berseru kaget. Aku langsung menyadari bahwa lengan itu telah ditebas oleh Honoka yang muncul dari samping.

 

Darah merah kehitaman menetes dari kedua pedang yang dipegangnya...

 

"A... apa-apaan kau bisa ada di sini!? Bukankah kalian seharusnya sedang menghadapi banyak monster yang mengamuk, yang disiapkan oleh ‘orang itu’!?"

 

"Aku memang pandai mendeteksi keberadaan sesuatu. Lagipula, semua monsternya sudah kukalahkan. Shii-chan dan Ma-san sepertinya juga mengalami hal yang sama."

 

...Orang itu? Banyak monster yang mengamuk?

 

Ada banyak hal yang membuatku penasaran…Sepertinya, seseorang telah memasang jebakan di tempat tujuan perpindahan Honoka dan yang lainnya.

 

Namun, karena Honoka dan kawan-kawannya kuat, mereka justru berhasil mengalahkan para monster itu.

 

Benar-benar hebat!

 

"Rokkun, bolehkah serahkan yang ini kepadaku?"

 

Honoka maju ke hadapanku dan berhadapan langsung dengan kaum iblis itu. Sepertinya, dia berniat menghadapi makhluk mengerikan tersebut sendirian.

 

Terlebih lagi, ketika kulihat kaum iblis itu, lengan yang sebelumnya ditebas Honoka ternyata... sudah tumbuh kembali.

 

Setelah berubah menjadi kaum iblis, dia mungkin memperoleh kemampuan regenerasi... Bahkan, mungkin saja dia abadi. Kalau begitu, justru semakin...

 

"Honoka, terima kasih. Tapi, dia mengincarku. Lebih tepatnya, dia ingin membunuhku. Jadi, aku juga akan ikut bertarung. Kalau aku ikut mengalihkan perhatiannya, Honoka mungkin bisa bertarung sedikit lebih mudah..."

 

Aku menggenggam pedangku erat-erat.

 

"...Dia ingin membunuh Rokkun, ya. Kalau begitu, aku malah semakin tidak ingin Rokkun berada di sini."

 

"H-Honoka?"

 

Kurasa nada suara Honoka menjadi sedikit lebih rendah. Namun, pada detik berikutnya, dia kembali tersenyum lebar.

 

"Kamu tidak perlu khawatir. Kamu sendiri yang paling tahu kalau aku kuat, kan, Rokkun?"

 

"Memang benar, tapi..."

 

Aku tahu betul.

 

Aku sudah menyaksikan kekuatannya dari dekat selama ini.

 

Honoka memang kuat. Namun, apakah dia cukup kuat untuk mengalahkan kaum iblis ini... Sejujurnya, aku tidak tahu.

 

Yang lebih penting, aku tidak ingin Honoka ikut terseret ke dalam bahaya gara-gara diriku...

 

"Lagipula, bukankah ada hal yang bisa dilakukan oleh Rokkun sendiri?"

 

Mendengar perkataan Honoka, aku langsung teringat kepada anak-anak. Mungkin sekarang mereka sudah keluar dari gua dan sedang melarikan diri sejauh mungkin.

 

Namun, kalau benar ada monster yang mengamuk seperti yang dikatakannya tadi... aku tetap khawatir.

 

"Sepertinya kamu sudah tahu apa yang harus dilakukan. Ayo, pergi sana!"

 

Setelah berkata begitu, Honoka mengalihkan pandangannya ke arah kaum iblis itu.

 

Dia tidak lagi menoleh ke arahku. Sepertinya, dia sudah menentukan apa yang harus dilakukannya.

 

"B-Baiklah, Honoka. Aku juga akan menjalankan tugasku dengan baik!"

 

"Ya, serahkan saja kepadaku."

 

Ketika kaum iblis itu mengejarku, dia merobohkan pepohonan dengan begitu dahsyat sehingga jalan yang tadi kulewati kini menjadi lebih mudah dikenali.

 

Kalau aku kembali melewati jalan ini, seharusnya aku bisa menuju ke arah anak-anak melarikan diri.

 

"Jangan kira kau bisa pergi!! Rokutooo!!"

 

"Itu justru kalimatku!"

 

Terdengar suara benturan logam yang berat. Sepertinya, Honoka sedang menahan serangan kaum iblis itu.

 

"Honoka, semuanya... kita harus pulang dengan selamat, lengkap tanpa ada yang tertinggal!"

 

Aku mengatupkan gigi erat-erat dan memusatkan seluruh perhatianku pada satu hal untuk saat ini: berlari.

 

◆◆

 

Setelah Rokuto pergi.

 

Oatmeal—yang kini telah berubah menjadi kaum iblis hingga penampilan aslinya tidak lagi bisa dikenali—mulai melancarkan serangan bertubi-tubi.

 

"Sialan, sialan, sialan!!"

 

"............"

 

Honoka... dengan mudah menangkis semua serangan itu. Bahkan, pikirannya justru melayang ke masa lalu.

 

Bukan masa ketika mereka tinggal di panti asuhan. Melainkan hari ketika Rokuto pernah berada di ambang kematian.

 

Saat itu, Honoka baru saja pulang setelah bermain bersama anak-anak.

 

"Masakan apa yang akan kita makan hari ini, ya~? Yah, semua masakan Rokkun memang enak, sih!"

 

Dia mengira hari itu akan berakhir dengan menyenangkan seperti biasanya. Namun, kali ini berbeda...

 

Di dekat pintu masuk kota, ada kerumunan orang yang tidak biasa.

 

"Hei, Rokuto sedang sekarat!"

 

"Dia pasti diserang monster!"

 

"Rokuto, jangan mati! Kamu belum boleh mati!"

 

Begitu mendengar nama itu, wajah Honoka langsung pucat.

 

Pikirannya seketika berhenti bekerja, bahkan suaranya pun tidak keluar. Meski begitu, dia berusaha sekuat tenaga untuk segera menghampiri Rokuto.

 

Dia menerobos kerumunan hingga akhirnya melihat sosoknya.

 

Tubuh Rokuto yang terbaring di tanah berlumuran darah...

 

"Rokkun! Rokkun, Rokkun! Apa yang sebenarnya terjadi!? Siapa yang melakukan ini kepadamu!? Hei, kumohon, jawablah aku...!"

 

Dengan tangan gemetar, Honoka mengguncang bahu Rokuto.

 

Namun, tidak ada jawaban. Rokuto masih bernapas, meskipun sangat lemah... tetapi tubuhnya sama sekali tidak bergerak.

 

Seorang pria yang menyaksikan kejadian itu kemudian berteriak keras.

 

"Honoka-chan! Lupakan itu dulu, kita harus menangani luka-lukanya! Kalau pendarahan ini tidak segera dihentikan, Rokuto benar-benar bisa mati!"

 

Honoka tersentak dan kembali tersadar.

 

"Rokkun... akan mati? ...Tidak. Aku tidak mau. Aku tidak mau itu terjadi... Aku benar-benar tidak mau!!"

 

Air mata terus mengalir deras dari matanya. Meski begitu, Honoka berusaha keras memikirkan sesuatu yang bisa dilakukan.

 

(Benar! Aku masih punya ramuan pemulih yang selalu kubawa. Masih ada dua botol!)

 

Dengan tangan gemetar, Honoka mengeluarkan salah satu botol itu dan mendekatkannya ke mulut Rokuto.

 

"Kumohon... berfungslah. Kumohon...!"

 

Namun...

 

"Lho...? Kenapa...?"

 

Ramuan itu sama sekali tidak menunjukkan efek apa pun.

 

Botol kedua juga sama. Bahkan, suhu tubuh Rokuto semakin menurun. Honoka tidak tahu apa penyebabnya.

 

Satu-satunya hal yang dia pahami adalah kondisi Rokuto di hadapannya terus memburuk.

 

"Rokkun tidak juga sadar... Ramuan ini tidak mempan... Kenapa...? Kenapa, kenapa bisa begini...!"

 

Pandangannya mulai kabur oleh air mata.

 

Tubuhnya terus gemetar tanpa henti. Honoka dilanda kepanikan. Meski begitu... masih ada harapan.

 

"Aku harus menemui Ma-san... Aku harus membawanya ke tempat Ma-san...!"

 

Dia memutuskan untuk meminta bantuan Marlun, anggota kelompok mereka yang sangat ahli dalam sihir penyembuhan.

 

Honoka menggendong Rokuto di punggungnya dan bergegas kembali ke kediaman mereka.

 

Pada akhirnya, Rokuto berhasil selamat dari maut.

 

Berkat sihir penyembuhan Marlun, seluruh lukanya pulih tanpa meninggalkan bekas sedikit pun. Tubuhnya kembali bersih seperti semula.

 

Namun, menurut Marlun, ada sesuatu yang menghalangi efek ramuan pemulih tersebut. Jika dibiarkan lebih lama, nyawa Rokuto benar-benar akan terancam...

 

Bahkan, seandainya Honoka terlambat sedikit saja, Marlun pun mungkin akan kesulitan menyembuhkannya.

 

Malam ketika Rokuto akhirnya sadar.

 

Honoka menangis diam-diam di sudut kamarnya.

 

Bahkan ketika diberi tahu bahwa dirinya telah dibuang oleh kedua orang tuanya, dia tidak pernah menangis. Namun, kali ini, air matanya tidak bisa berhenti mengalir.

 

"...Aku tidak bisa melakukan apa-apa. Padahal, Rokkun mengalami kesakitan separah itu tanpa sepengetahuanku... Aku tidak bisa melakukan apa-apa. Sama sekali tidak bisa..."

 

Rasa frustrasi, ketidakberdayaan, dan ketakutan. Segala macam emosi bercampur aduk di dalam diri Honoka.

 

"...Seandainya aku lebih kuat. Seandainya aku memiliki kekuatan yang cukup untuk segera menolong Rokkun, di mana pun dia berada..."

 

Honoka berhenti menangis dan membulatkan tekadnya.

 

"Aku tidak akan membiarkan Rokkun merasakan sakit seperti itu lagi. Aku tidak akan memaafkan siapa pun yang menyakiti Rokkun. Aku sendiri yang akan membuat mereka menderita...!"

 

Sejak hari itu, Honoka berubah.

 

Gerakannya menjadi sangat lincah, seolah-olah dia orang yang berbeda. Dia mampu menebas dan mengalahkan musuh mana pun dengan mudah.

 

Seolah-olah, suatu kemampuan dalam dirinya telah terbangkitkan. Dan sekarang, di hadapannya...Kaum iblis itu tampak pucat pasi dan gemetar ketakutan.

 

"Seranganku bahkan tidak bisa mengenainya dengan benar!? tidak mungkin... ini tidak mungkin, kan!? Lagipula, monster-monster yang kukerahkan untuk menghalangi kalian itu awalnya semuanya memiliki tingkat kesulitan C ke atas! Kalau mereka mengamuk, kekuatan mereka setara dengan monster kelas A! Bahkan petualang tangguh dari ibu kota kerajaan pun akan kesulitan menghadapi mereka! Lalu, kenapa kau yang masih berada di ‘Kota Pemula’ bisa mengalahkan mereka!? Kenapaaa!!"

 

Oat berbicara dengan penuh keberanian, tetapi ekspresinya jelas dipenuhi kegelisahan dan ketakutan.

 

Dan itu memang wajar.

 

Seperti yang dikatakan Oat, monster yang mengamuk dan dihadapi Honoka serta yang lainnya bukanlah lawan yang bisa dikalahkan dengan mudah.

 

Monster itu telah berubah menjadi makhluk buas setelah darah ras iblis, yang bisa dianggap sebagai musuh umat manusia, bercampur di dalam tubuhnya.

 

Namun, makhluk itu justru dikalahkan hanya dengan satu ayunan pedang.

 

Terlebih lagi, melihat sikap Honoka, anggota kelompok lainnya mungkin juga memiliki kemampuan yang kurang lebih setara dengannya.

 

Oat benar-benar kesulitan menerima kenyataan tersebut.

 

"Ini tidak masuk akal... Tidak masuk akal, sialan! Kenapa aku selalu mengalami hal seperti ini?!"

 

Iblis itu berteriak penuh amarah.

 

Honoka menatapnya dengan dingin, lalu tanpa mengucapkan sepatah kata pun, dia menebas kedua kakinya.

 

"Aaaaaaah!! Kakiku... kakikuuuu!!"

 

Kedua kaki iblis itu terputus. Darah menyembur ke mana-mana. Namun, beberapa saat kemudian, kedua kakinya kembali seperti semula.

 

"Hmmm... Kecepatan regenerasimu lebih lambat daripada tadi, ya. Apa perubahan menjadi iblisnya masih belum sepenuhnya menyatu dengan tubuhmu? Yah, meskipun kamu masih hidup, itu sudah tidak ada artinya lagi. Aku tidak akan membiarkanmu menghina Rokkun lagi, untuk selamanya. Lagi pula, orang yang sampai mabuk oleh kekuatan iblis sudah tidak pantas disebut petualang. Tidak ada lagi tempat bagimu di bawah sinar matahari."

 

Kata-kata itu mengiris dada Oat seperti sebilah pisau.

 

Baru sekarang... penyesalan akhirnya membanjiri dirinya.

 

Dia teringat kembali masa lalunya.

 

Dirinya terlahir dari keluarga terhormat yang telah lama menghasilkan para ksatria pengawal, dan seharusnya memiliki masa depan yang cerah.

 

Namun, lihatlah keadaannya sekarang. Kedudukannya sebagai petualang telah hancur... dan pada akhirnya, dia bahkan menggunakan kekuatan iblis.

 

Sekarang, dia sedang merasakan kekalahan mutlak.

 

Tidak ada lagi kemungkinan bagi Oat untuk tampil dan meraih kejayaan di dunia ini.

 

...Tidak ada jalan untuk kembali lagi.

 

"Bu... Bunuh aku!! Orang sepertiku ini... Bunuh akuuuu!!"

 

Dengan wajah berantakan oleh air mata dan ingus, Oat menjerit sekeras-kerasnya.

 

"...Berisik."

 

Honoka menyayat mulut Oat secara horizontal. Namun, karena telah berubah menjadi iblis, tubuh Oat terus beregenerasi.

 

Dia tidak bisa mati, bagaimanapun caranya.

 

Dan kemudian...

 

"Aku tidak akan membunuhmu. Peraturan tak tertulis dalam party kami melarang membunuh orang. Tapi..."

 

Honoka sedikit mengangkat sudut bibirnya.

 

Itu bukanlah senyuman.

 

Ekspresinya benar-benar... tanpa belas kasihan.

 

"Sudah ditetapkan bahwa siapa pun yang menyakiti Rokkun boleh dihajar sampai hampir mati. Jadi... bagaimana kalau kita lanjutkan?"

 

"Hiik!!"

 

Oat mundur ketakutan.

 

Padahal, tubuhnya sama sekali tidak terluka. Kalaupun terluka, tubuhnya akan beregenerasi. Namun, satu-satunya hal yang bisa dipikirkannya hanyalah melarikan diri.

 

Honoka perlahan mengangkat kedua pedangnya dan hendak kembali menyerang...

 

"Honoka!"

 

"Eh...?! Rokkun?"

 

Suara yang tidak mungkin salah didengarnya.

 

Namun, itu adalah suara Rokuto, orang yang seharusnya tidak berada di sini... dan yang sebenarnya tidak ingin Honoka berada di dekat tempat ini.

 

Ketika melihat ke arah sumber suara, ternyata Rokuto benar-benar ada di sana.

 

"Rokkun, kenapa kamu...?"

 

Honoka segera berlari menghampiri Rokuto. Rokuto masih terengah-engah, tetapi tatapan matanya tampak serius.

 

"Honoka, terima kasih untuk tadi. Memercayakan semuanya kepada Honoka memang merupakan hal penting sebagai sesama anggota kelompok, tapi... bagaimanapun juga, aku ingin menyelesaikan masalah ini dengan tanganku sendiri. Semua ini terjadi karena aku. Aku ingin tetap berguna sampai akhir. Aku sendiri yang akan mengalahkan orang itu, apa pun yang terjadi."

 

"...Rokkun."

 

Mendengar kata-kata itu dan melihat sosoknya, Honoka tidak lagi mengkhawatirkannya dengan kata-kata.

 

Bahkan, lebih dari itu…

 

Sisi dirinya yang seperti ini juga kusukai. Aku sangat menyukainya, sampai-sampai tidak tahan lagi. Aku ingin terus bersama Rokkun, selamanya dan selamanya...♡

 

Melihat sisi baru Rokuto membuat suasana hati Honoka menjadi sangat baik.

 

"Kalau begitu, Rokkun. Ayo kita kalahkan dia berdua."

 

"Ya."

 

Mereka berdiri berdampingan dan bersiap untuk bertarung.

 

Pada detik berikutnya, Honoka langsung memperpendek jarak dengan Oat.

 

"...Syukurlah. Rokkun datang menemuimu. Setidaknya, kamu tidak perlu melihat neraka yang lebih mengerikan lagi."

 

"...Cih!"

 

Bersamaan dengan bisikan itu, Honoka menebas kedua lengan dan kedua kaki iblis tersebut hingga terputus.

 

"Giaaalaaaaaah!!"

 

Itu adalah jeritan iblis paling keras yang terdengar hari itu.

 

Rokuto pun segera menyusul dan mendekat.

 

"Aku tidak akan memberimu belas kasihan dengan mengatakan bahwa aku memaafkanmu. Justru kamulah yang harus meminta maaf kepada anak-anak itu dan semua orang yang sudah kamu rugikan... minta maaf!!"

 

Rokuto mengayunkan pedangnya dengan segenap kekuatan.

 

Pedang yang digenggamnya erat itu telah diberi perlindungan oleh Shion sebagai semacam jimat. Berkat hal tersebut, tubuh iblis itu terbelah menjadi dua dan ambruk ke tanah.

 

Namun... pertarungan itu ternyata belum berakhir.

 

Regenerasi mulai berlangsung.

 

Dagingnya menggembung dengan suara menjijikkan, sementara kulitnya kembali menyatu.

 

Tak lama kemudian, tubuh iblis itu kembali seperti semula.

 

"Maafkan aku maafkan aku maafkan aku maafkan aku maafkan aku maafkan aku maafkan aku maafkan aku... maafkan aku... bunuh aku..."

 

Meskipun demikian, dia tidak berusaha berdiri dengan kedua kakinya yang kuat. Dia juga tidak menyerang dengan kedua lengannya yang besar. Tubuhnya hanya tergeletak begitu saja di tanah. Hanya mulutnya yang terus bergerak seperti rusak.

 

Niat membunuh dan semangat bertarungnya telah lenyap sepenuhnya.

 

"Honoka... apa yang harus kita lakukan selanjutnya?"

 

Meski begitu, Rokuto tetap menggenggam pedangnya erat-erat dan tidak mengalihkan pandangan dari Oat... atau lebih tepatnya, iblis itu.

 

Matanya hanya menunjukkan satu hal: keinginan untuk mengalahkannya.

 

Honoka meletakkan tangannya di bahu Rokuto.

 

"Rokkun, semuanya sudah berakhir. Sepertinya dia juga belum berubah menjadi iblis sampai ke dalam hatinya. Ironisnya, itu salah satu hal yang membuatku bersyukur karena Oat masih manusia."

 

Setelah mengucapkan kata-kata dingin itu, Honoka menurunkan kedua pedangnya.

 

Pertarungan pun berakhir.

 

◆◆

 

"...Kukuku, siapa sangka monster dan kelinci percobaan itu bisa dikalahkan dengan begitu mudahnya... Terutama kelinci percobaan itu. Dia sudah berubah menjadi iblis dan tubuhnya kini terus beregenerasi, sama seperti kami. Seharusnya dia bukan lawan yang lemah... Namun, selama asalnya tetap manusia, rupanya dia memang masih lemah. Astaga, sepertinya akulah yang selama ini meremehkan manusia."

 

Ada seseorang yang mengamati seluruh kejadian itu dari udara.

 

Seorang pria yang seluruh tubuhnya tertutup jubah bertudung. Namun, dari punggungnya tumbuh sepasang sayap besar berwarna hitam pekat...

 

"Aku sudah melihat sesuatu yang menarik. Aku jadi menantikan kejadian berikutnya."

 

Setelah bergumam demikian, pria bertudung itu menghilang tanpa suara, seolah-olah berubah menjadi kabut.

 

Siapakah sebenarnya pria yang menjadi dalang di balik kejadian kali ini...?

 

Rokuto dan yang lainnya masih belum mengetahui jawabannya.

 

◆◆

 

Malam harinya.

 

"Haaaaaaah..."

 

Aku berendam di pemandian besar yang tersedia di kediaman itu sambil menghela napas panjang.

 

Kalau dipikir-pikir... ini lebih tepat disebut keluhan daripada sekadar embusan napas.

 

Setelah meninggalkan iblis itu dan Honoka tadi...

 

Aku berlari mati-matian menyusuri hutan dan akhirnya berhasil menemukan anak-anak tersebut.

 

Kebetulan, tidak jauh dari sana, Shion dan Marlun-san juga berada di tempat itu, jadi kami bisa berkumpul kembali. Selama aku tidak melihat mereka, Shion dan Marlun-san ternyata sudah mengalahkan semua monster yang mengamuk serta berkeliling menyelamatkan anak-anak.

 

Setelah menitipkan seluruh anak kepada Shion dan Marlun-san, yang bisa diandalkan dari segi kekuatan dan mampu membuatku merasa tenang, aku kembali menyusuri jalan yang tadi kulewati.

 

Aku pergi menuju tempat Honoka berada.

 

Tubuh iblis itu memang terus beregenerasi, tetapi sepertinya Honoka telah menekannya dengan kekuatan yang luar biasa.

 

Ketika aku tiba di sana, semangat bertarungnya hampir sepenuhnya lenyap...

 

—"Aku tidak akan memberimu belas kasihan dengan mengatakan bahwa aku memaafkanmu. Justru kamulah yang harus meminta maaf kepada anak-anak itu dan semua orang yang sudah kamu rugikan... minta maaf!!"

 

Aku tetap mengayunkan pedang dengan segenap kekuatanku. Namun, tubuhnya beregenerasi dan kembali seperti semula.

 

Meskipun begitu, sepertinya aku berhasil memberikan pukulan terakhir kepada mentalnya… Karena itu, tidak ada lagi pertarungan setelahnya.

 

Semua anak selamat. Semua anggota kelompokku juga baik-baik saja dan tidak ada yang mengalami luka berarti.

 

Namun, kalau dipikir-pikir, semua ini terjadi karena diriku, yang telah membuat Oat menaruh dendam kepadaku...

 

"Tidak, tidak! Ini tidak boleh begini! Semua orang sudah bilang agar aku tidak memikirkannya lagi. Anak-anak juga sudah berterima kasih kepadaku. Aku ini orang yang selalu berpikir positif! Terlalu banyak memikirkan hal negatif itu tidak baik!"

 

Aku memercikkan air ke wajahku berkali-kali untuk menjernihkan pikiran yang hampir kembali dipenuhi pemikiran negatif.

 

Masalahnya sudah selesai. Syukurlah, syukurlah!

 

"Rokkun, kamu di dalam, kan?"

 

Tiba-tiba, seseorang memanggilku dari balik pintu.

 

Panggilan "Rokkun" dan suara ceria itu...

 

Tidak salah lagi, pasti Honoka.

 

"Ooh, aku di sini!"

 

"Berarti kamu benar-benar ada di sana, ya~"

 

Hah? Bukankah tadi aku sudah memasang tanda bahwa kamar mandi sedang digunakan di depan pintu?

 

Saat aku sedang memikirkan hal itu, terdengar suara pintu bergeser terbuka.

 

Hm? Suara pintu terbuka...?

 

"Rokkun, aku masuk, ya~"

 

Honoka masuk dengan santai sambil mengenakan handuk mandi yang melilit tubuhnya.

 

"Silakan— Eh, kenapa kamu malah masuk?! Terus, tadi kamu bertanya untuk apa?!"

 

"Eh? Aku cuma memastikan apakah Rokkun ada di dalam atau tidak, kok?"

 

"Kalau tahu aku sedang mandi, kenapa malah masuk?!"

 

Biasanya orang tidak masuk, kan?! Bukankah aku memasang tanda itu supaya orang tahu bahwa kamar mandi sedang digunakan?!

 

Aku mengambil handuk yang terletak di dekatku, melilitkannya di pinggang, lalu keluar dari bak mandi.

 

"Sudah, sudah, tenang dulu, Rokkun~"

 

"Justru kenapa Honoka bisa setenang itu?!"

 

Meskipun tubuhnya tertutup handuk mandi sehingga tidak ada bagian yang benar-benar terbuka, lekuk tubuh Honoka terlihat jelas.

 

Pinggangnya ramping, tetapi bagian tubuhnya yang lain juga memiliki bentuk yang sangat menonjol...

 

"Bukan berarti aku juga benar-benar tenang di dalam hati, kok."

 

"B-be begitu, ya. Kalau begitu, aku lega... Eh, tidak juga! Pokoknya, sebelum Shion atau Marlun-san melihatmu, cepat keluar dari sini...! Tidak, lebih baik aku saja yang keluar!"

 

"Rokkun..."

 

"Kenapa kamu malah mendekat?!"

 

Tanpa memedulikan kebingunganku, Honoka perlahan-lahan mendekat.

 

"Aku tahu, aku sangat mengkhawatirkan Rokkun."

 

"M-mengkhawatirkanku...?"

 

"Iya, mengkhawatirkanmu. Rokkun itu terlalu baik hati, sampai-sampai aku yakin kamu tidak akan keberatan mengorbankan dirimu sendiri demi orang lain. Tapi, aku tidak akan pernah... benar-benar tidak akan pernah membiarkan Rokkun mengalami hal yang menyakitkan dan menyiksa lagi."

 

"H-Honoka?"

 

Honoka melingkarkan kedua tangannya di leherku... lalu memelukku erat-erat.

 

Bagaimana mengatakannya, ya... Sepertinya kejadian kali ini benar-benar membuat Honoka sangat mengkhawatirkanku.

 

Tidak, bukan hanya kali ini saja.

 

"Terima kasih untuk semuanya selama ini, Honoka."

 

Setelah mengatakan itu, aku menepuk-nepuk kepalanya dengan lembut. Honoka pun melepaskan pelukannya.

 

Baiklah... ini kesempatan untuk melarikan diri dari situasi ini!

 

"Ngomong-ngomong, Rokkun, bagaimana menurutmu tentang tubuhku?"

 

"Eh... t-tubuhmu?"

 

Topik pembicaraan tiba-tiba berubah, membuatku kebingungan. Sementara itu, Honoka memasang senyum yang agak menggoda.

 

"Iya, tubuhku ini."

 

Sambil berkata demikian, dia sengaja mengangkat dadanya sedikit.

 

"B-bagaimana, ya..."

 

Bukankah ini bisa dianggap pelecehan seksual?

 

Apa pun jawabanku, ini seperti peristiwa yang bakal menurunkan tingkat kesukaan karakter!

 

Kalau begitu, lebih baik aku jujur saja sekalian.

 

"Menurutku tubuh Honoka itu seksi. Dadamu juga cukup besar! Kurasa para cowok pasti bakal tergila-gila melihatnya!"

 

"Oh begitu~. Jadi, menurut Rokkun, aku punya daya tarik sebagai seorang wanita, ya~."

 

Alih-alih merasa jijik, Honoka justru menekan dadanya ke dadaku.

 

"...Honoka? Honoka-san?"

 

"Hm~? Soalnya, Rokkun tidak keberatan dengan tubuhku, kan? Kamu juga menganggapku seksi, kan? Sudah saatnya kamu bertanggung jawab atas perkataanmu sendiri, dong~."

 

Ekspresi Honoka benar-benar terlihat senang.

 

"Tapi, yang akan terjadi mulai sekarang jauh lebih hebat lagi... Jadi, menurutku Rokkun harus mempersiapkan diri, ya~."

 

"M-mulai sekarang?"

 

"Iya. Mulai sekarang dan seterusnya, selamanya~♪"

 

Seolah-olah tidak akan membiarkanku melarikan diri atau melepaskan diri darinya, Honoka semakin menekan dadanya ke tubuhku sambil mengatakan hal itu.



Chapter 3 | ToC | Epilog

Post a Comment

Post a Comment

close